Mimpi-Mimpi Ibu

Sewaktu sirih-pinang masih betah
di gigi ibu, jalan setapak kampung penuh
remah raut pensil dan angka-angka yang jatuh
dari buku-buku tanpa sampul.

Di masa itu, ibu selalu luput dari lelap tidur,
sebab hama-hama selalu datang sebagai
mimpi buruk yang saban sembunyi
pada sunyi malam: kebodohan di kemudian hari
dan kecemasan pada hidup yang terasing.

Setelah ibu melarung tubuh ke pantai timur,
ia kembali sebagai sampan penuh bibit subur.
Maka ranumlah seluruh pulau dengan tumbuhan asing
dari mimpi-mimpi buruk ibu dahulu; vanili, cengkih, pala,
dan sebatang pokok yang menjulang serupa roket.

Pohon-pohon itu, Ibu, yang akan terbangkan kita
ke mimpi-mimpi indah di tanah baru.

2019


Mayang

Adalah bayang-bayang kematian itu
bagi siapa yang datang di depan pintu.

Pada setiap kepergian, kata-kata kadang
pantang terucap kepada pokok-pokok takdir
sepahit kopi dan semanis nira pagi.

Mungkin telah usai cecap daun sirsak
dan akar-akar, kauteguk sadapan
enau sebelum tubuhmu berubah mayang
berpalut seludang, subur di tepi kebun
tanpa nama tempat dua malaikat
berkunjung di gerbang pagi dan senja.

Yang dipanen orang kemudian hari:
ihwal bayang-bayang kematian itu
serupa nyiur pelepah, tumbuh ke segala arah.

2019

Ziarah

Lubang-lubang di batu karang dan kapur
bicara padaku tentang segala gua di tubuhmu
yang lama tak kusapa kabarnya. Telah lupakah
pada seorang peziarah?

Pada jalan lengang menuju matamu,
puing-puing ingatan tak bisa lagi diterka.
Ialah kenangan yang rubuh sehabis disapu
air mata dan diguncang kata-kata berupa
terka-terka tak masuk akal tentang perpisahan
di kemudian hari. Adakah keramat lain
tempat peziarah itu berpulang?

Setelah mati di dalam liar rimbanya rindu,
di sebuah gua tak jauh
dari dua buah bukit yang telah rimbun,
seorang peziarah berharap kembali hidup
sebagai doa atau nyanyian sebelum tidur.

2019

Katasrofe

            -1667
Benteng mana yang masih bertahan
setelah langit siang dikelami jelaga
bakaran sulang ribuan mayat dan pandan
di tepi jeladri tempat seekor penyu mati tenggelam?

Hingga ke cakrawala, ujung pandang penuh
ombak dendam dan amarah. Kapal-kapal
datang dengan armada bertombak dan suara letusan
yang menembus segala riuh gelombang.

Di hari ketika langit mulai merah saga,
hanya tersisa pudar ingatan, lapuk padas,
riak darah dan desau nama-nama
yang hilang meletup ke udara.

2019


Setelah 1667

Sejauh mana kita ingat para perompak yang berlayar
ke pantai-pantai barat setelah membakar
kapal-kapal para sultan dan serdadu bersenapan?
Bandar-bandar ramai oleh monopoli dan pajak tinggi,
para petarung melarung diri menuju laut:
hidup dan mati di (dan untuk) laut.

Tak ada perkabungan untuk itu
sebab orang-orang sibuk menabur pandan
dan melati di kubur mereka sendiri.

Tapi mungkin yang nahas dari kepergian
dan memutuskan hidup sebagai penjarah adalah putusnya ikatan dan ingatan tentang tanah
dan keluarga. Sejarah adalah laut,
dan di laut, semua orang adalah musuh,
sama halnya semua ikan adalah lauk.

Sejarah saban sembunyikan hal-hal berbahaya
dalam kedalaman. Ia memang mengenang nama,
namun ia memilah nama mana yang harus tenggelam
dalam arus tubuhnya. Adakah yang tahu satu
saja nama dari ratusan perampok itu?

Demikianlah, bagaimana nama-nama mereka
tak ubahnya lapuk kayu yang karam diamuk
gelombang selat Makassar, tak sepadan
dengan kokoh batang welenreng tempat Sawerigading
berlayar jauh ke ruang-ruang diskusi dan pertunjukan
seni. Ingatan tentang perompak itu, bahkan,
tak ada yang pulang ke kepala anak-cucu.  

2019

Stargazer

Mengapa bintang di kota tenggelam dalam
langit malam? Muara jawabannya sama mengapa
kunang-kunang tidak pernah berlalu lalang di
pekarangan dan beranda: lampu kota mengusirnya
dengan cara paling kurang ajar.

Pijar bintang dan seluruh pendar cahaya itu dikuras habis
demi energi yang menyuplai mimpi-mimpi orang kota
tentang desau angin pantai atau embun pagi di atas
teratai. Sebab pada mulanya, selain fusi nuklir,
Tuhan titahkan terang lahir dari bioluminesensi
untuk dunia yang mahakecil.

Cerita ibu lain lagi.
Katanya, bintang adalah
kunang-kunang yang terbang jauh tinggalkan rumah.
Mereka awalnya lahir bersama tawa bayi persis
seperti peri dunia magis dalam film animasi.
Namun semakin hari, bayi-bayi lucu seperti itu
tidak lagi lahir. Mereka keluar merobek rahim
sebagai tuan bagi ibu-bapaknya sendiri.

2019

Di Kaki Langit

Dimana batas cakrawala tempat pelangi mukim
dengan anak-anak hujan? Sepanjang pandang,
sejauh langit membentang, jalan yang kita lihat
melingkar di antara laut dan awan sebenarnya tidak ada.
Fana seperti semua teori tentang bumi dan manusia,
kosmologi yang kita pahami dengan berpura-pura.

Mungkin cakrawala adalah wujud masa lalu
dalam dimensi ketiga: ia terlihat sekaligus tidak nyata.
Ia ada di sekitar kita, hidup sebagai cerita, tapi tak
ada jalan dan tempat mukim di sana.

Aku mengajukan pernyataan itu untuk menggenapi
pertanyaanmu. Kita sepasang petualang yang jauh
dari diri sendiri. Mencari banyak jalan dan kemustahilan
namun lupa yang paling rintang adalah mendamaikan
mengapa di masa lalu dengan siapa di masa kini.

2019

Kepada Air

Kepada air yang mengubah tiada ke ada
juga dari ada ke tiada, keinginan Tuhankah
yang kaubawa mengalir sebagai pelampiasan
dosa dan rahmat?

Siapa yang menentukan?

Jumlah hujan yang jatuh di gersang padang
tempat nabi-nabi mati dan hidup sekali lagi
jauh lebih sedikit ketimbang yang turun di rimbun rimba
tempat tanah dahulu belum terpetakan. Ketimpangan itu
hanya serupa aliran kecil irigasi dari induk Nil.
Setimpalkah usaha utusan-utusan itu untuk sebuah
keesaan dengan seteguk air yang basahi tenggorokan?

Di banyak kota, air mengalir dimana-mana sebagai
konsekuensi logis dari hujan panjang. Dari bantaran kali
ke jalan raya, dari hati yang patah ke mata. Dimana saja,
sampah dan rindu bereproduksi lebih cepat dan berlipat
ganda dari cendawan. Keinginan Tuhankah hingga kau
akhirnya disebut nikmat atau bencana?

Siapa yang menentukan?

2019

***

Batara Al Isra lahir di Ujung Pandang, 9 Januari 1994. Sedang pusing kuliah antropologi di University of Auckland. Karyanya berupa cerpen dan puisi telah diterbitkan di berbagai media, juga pernah dimuat dalam beberapa buku antologi bersama, Selain itu, karya-karyanya pernah menjuarai beberapa lomba penulisan tingkat nasional. Bergelut di Forum Lingkar Pena, Komunitas Sastra Sungai Aksara dan Perpustakaan Antropologi FISIP Unhas.