Ibu dan adikku dibawa kapal barang bertahun-tahun lalu dan aku selalu menunggu di tepi pantai hingga mereka datang. Aku duduk di sana setiap hari dari pagi sampai sore dan kadang dari pagi hingga pagi jika aku terlalu murung. Rutinitas melelahkan macam itu terjadi selama entah berapa tahun lamanya. Aku tinggalkan pekerjaan dan pacarku. Aku tinggalkan kehidupanku hingga orang kira aku mungkin sudah gila.

Aku tidak yakin apakah aku sudah gila atau belum, tetapi aku tidak dapat lepas dari pikiran soal ibu dan adikku yang pergi dibawa kapal ke tempat yang entah di mana. Aku bayangkan mereka kembali suatu hari nanti dan “suatu hari” itu sering kali cuma berupa “besok”. Dan tentu saja “besok” akan selalu berulang sepanjang waktu.

“Besok pasti mereka pulang,” pikirku tiap malam.

Jika besoknya ibu dan adikku tetap tidak muncul, malam berikutnya aku sekali lagi berkata, “Besok pasti mereka pulang.”

Ayah tak pernah berkata apa-apa tentang kepergian mereka; dia hanya menghidupi diri kami dengan pekerjaannya sebagai nelayan yang sederhana dan tidak banyak uang. Ingin sekali suatu hari aku membantu lelaki tua itu di laut, tapi jika nanti ibu dan adikku pulang dan tidak ada yang menunggu kedatangan mereka di pantai, tidak ada seorang pun yang menyambut, aku takut mereka tidak jadi pulang.

Bisa-bisa ibuku akan berkata, “Wah, seharusnya kita tak lagi ke sini. Lihat saja tak ada yang peduli menunggu kita pulang!”

“Iya, Bu, semua orang tak mengharapkan kita pulang, termasuk keluarga sendiri,” begitu mungkin sahut adikku.

Jadi aku harus tetap menunggu.

“Kampung tepi pantai ini sudah banyak berubah, dan jika suatu kali mereka datang dan melihat kondisi ini, mungkin mereka tidak percaya kita masih di sini, dan mungkin juga mereka akan pergi lagi dengan kapal itu untuk selamanya.” Itu kusampaikan pada Ayah yang kebanyakan cuma diam.

Aku tidak pernah tahu kejadian malam itu. Kabarnya Ibu dan Adik pergi gara-gara utang Ayah yang menggunung hingga mereka harus melarikan diri dari seorang juragan yang ingin mengawini adikku. Versi lain mengatakan kalau ibu dan adikku memang sengaja pergi sejauh mungkin dari sini karena muak menjalani hidup yang melarat.

Aku tidak pernah tahu apakah Ayah memang memiliki utang menggunung, tapi ia tidak pernah bercerita soal itu dan aku sendiri segan bertanya dan pula tak pernah ada tukang tagih utang mengobrak-abrik rumah kami, misalnya. Aku tahu selama aku di rumah ini, sebelum pergi ke kota sebelah demi mendapat pekerjaan yang lebih layak, Ayah bukan orang yang mudah berutang. Jadi, pikiranku terus menuju ke kemungkinan lain, yakni bahwa ibu dan adikku diculik entah oleh siapa.

Aku tidak tahu siapa penculik itu, tetapi benar-benar percaya memang itulah yang terjadi. Hanya karena aku tahu betapa adikku cukup cerdik saja, maka aku tetap percaya jika suatu hari nanti mereka bisa kembali setelah kabur dari si penculik. Mereka jelas dapat kabur dengan mudah oleh ide-ide brilian adikku. Mungkin pada saat ini mereka sudah lepas dari si penculik dan mungkin juga adikku sudah mendapat pekerjaan yang bagus di suatu kota yang sangat maju dan modern, dan dia perlu menabung dulu untuk bisa pulang ke sini.

Aku terus membayangkan kemungkinan baik macam itu, sepanjang hari, bertahun lamanya hingga memancang diriku di pantai ini bak pasak abadi yang mengawasi setiap pergerakan apa pun di perairan sekitar. Mataku sampai sangat terlatih karenanya. Aku bisa melihat bentuk-bentuk benda dari kejauhan yang mungkin saja tak mudah ditelaah mata normal. Mungkin, karena kebiasaan menunggu ini pula aku bukan sekadar pasak. Bisa dibilang akulah mercusuar hidup. Aku sendirian dan menua oleh angin pantai, dan itu terjadi demi alasan yang masuk akal.

Aku tidak peduli jika suatu kali ada sekumpulan bocah melempariku atau beberapa orang menggodaku meninggalkan pantai busuk ini demi bersenang-senang seperti yang seharusnya kulakukan sebagai seorang lelaki.

“Kamu belum terlalu tua, belum kepala empat. Kami pikir kamu dapat berbuat apa pun di luar sana ketimbang sekadar duduk menunggu sesuatu yang tidak pasti begini!” kata mereka selalu.

Aku tidak pernah peduli. Aku tetap pada rutinitasku. Pergi ke pantai sewaktu subuh dan pulang menjelang maghrib dan kadang pulang subuh jika terlalu asyik terbenam dalam pikiran-pikiran, seperti kataku tadi. Itu terjadi terus menerus tanpa peduli musim apa pun.

Suatu kali badai menghempas pantai ini dan aku terpaksa berlindung di kumpulan karang yang cukup jauh dari dermaga dan kembali pulang dengan tubuh remuk redam oleh dinginnya angin dan siraman air hujan. Di saat-saat seperti itulah Ayah baru dapat berbicara beberapa patah kata kepadaku, tetapi sebagian besar yang dia ucapkan tidak ada kaitannya dengan ibu atau adikku.

Ayah hanya berbicara soal masa kecilku yang bermakna baginya. Dia bilang, aku pernah hampir tenggelam di dekat dermaga. Saat itu yang dia pikirkan hanya bagaimana aku dapat diselamatkan.

“Jika saja seseorang harus mati pada hari itu, Nak, aku berharap itu bukan kamu,” tuturnya dengan suara yang begitu tua. “Aku harap dapat menukar nasib denganmu dan biarlah aku saja yang mati di tempat yang sama saat itu juga.”

“Tapi, sekarang aku masih hidup.”

“Ya, kamu masih hidup dan tumbuh jadi lebih besar dari anak-anak seumuranmu. Tak pernah kamu bertubuh lebih kecil daripada mereka. Semua anak selalu kalah besar darimu.”

“Dan kemudian aku pergi dari sini seakan-akan tidak ada yang berarti di antara kita. Bukan begitu?”

Aku ingat pengalaman saat masih remaja. Ketika itu adikku masih berumur empat atau lima tahun. Aku membantah nasihat Ayah tentang mencari pekerjaan di luar sana, dan kami bertengkar selama semalam dengan ucapan-ucapan yang tidak pernah kuduga dapat muncul dari mulut kami. Aku tidak pernah berpikiran dapat menyumpahi ayahku, dan barangkali begitu juga halnya yang Ayah pikirkan. Seumur-umur baru kali itu Ayah mengatakan hal-hal kasar di depanku, khusus ditujukan untukku. Itu terjadi sekali dalam satu malam itu. Sesudah itu aku pergi dari sini dan baru kembali setahun kemudian saat datang kabar dari tetanggaku bahwa ibu dan adikku pergi dibawa kapal barang.

Kejadian itu tidak pernah ada yang tahu bagaimana persisnya, tapi ada seorang gila dari kampung kami, yang agak tua dan biasanya berkata jujur tentang bencana-bencana, dan orang ini bersumpah melihat ibu dan adikku berada di atas kapal barang yang ketika itu berangkat berlayar entah ke mana.

Tidak pernah ada yang tahu kapal barang itu milik siapa serta pergi ke tujuan mana. Aku bicara tentang kapal barang, bukan berarti berbicara tentang kapal-kapal besar yang biasa ditemui di pelabuhan. Di kampung kami, sebutan kapal barang juga berlaku untuk perahu-perahu kecil yang memuat berkarung-karung barang yang hendak dijual dari dan ke pasar-pasar di pulau lain.

Tentu saja ada berbagai kemungkinan soal perginya ibu dan adikku, dan dua sebab tadi yang paling sering dibicarakan orang kampung. Aku sendiri tidak lagi memikirkan apa pun, kecuali bahwa ibu dan adikku tidak benar-benar menginginkan pergi dari sini, dan cuma ada seseorang yang secara paksa membawa mereka pergi dan bertahun-tahun kemudian kondisi mereka sudah menjadi lebih baik dan aman, lalu setelah itu mereka berusaha untuk kembali ke kampung asal mereka di mana aku selalu setia menunggu.

Yah, aku akan tetap menunggu mereka sebagai lelaki yang mengubah diri sendiri menjadi mercusuar.

Aku tidak peduli berapa lama lagi menunggu keduanya pulang, tetapi diriku di sini ditakdirkan sebagai mercusuar bernyawa yang memang harus sebatang kara sampai tua demi tujuan yang lebih besar.

“Barangkali inilah makna keberadaanku. Untuk memastikan mereka pulang. Jika tidak ada mercusuar, mereka akan tersesat dan tak jadi pulang. Tak jadi kembali kepada Ayah yang sudah renta dan kesepian,” pikirku selalu.

Ayah sungguh terlalu tua untuk ini dan aku hanya berharap kembalinya ibu dan adikku kelak dapat membawa ketenangan baginya. Aku tidak peduli bagaimana akhir kisah ini untukku pribadi. Tapi, yang jelas tidak ada yang dapat menghentikanku sampai mereka benar-benar kembali.

Pada saatnya, aku yang kelelahan berbaring di atas pasir dan berdoa kepada Tuhan di atas sana, bahwa kuatkan tubuhku sampai waktu yang tak terbatas hingga dua orang itu benar-benar kembali untuk kami. Setelah doa itu selesai, aku kembali duduk dengan tegak dan penuh percaya diri.

Aku tidak tahu apakah ibu dan adikku berpikir hal yang sama, tentang kami yang dapat berkumpul kembali, tetapi kuharap mereka tetaplah merasa betapa aku dan Ayah masih hidup dan menunggu di tempat yang sama, di dermaga yang sama, yang dahulu mereka pijaki sebelum hengkang dari pulau ini.

Hanya saja sampai Ayah meninggal, bahkan sampai tubuhku keropos dan ringkih oleh waktu, keduanya tidak pernah kembali.

Aku masih tetap memikirkan betapa adikku telah mendapatkan pekerjaan yang bagus dan mencoba berbagai cara untuk bisa kembali pulang. Aku terus memikirkan itu. Aku juga memikirkan soal Ibu yang masih hidup, sekalipun tubuhku sendiri (sebagai anaknya) sudah serenta ini.

Sampai pada titik ini, orang tidak lagi menyebutku gila. Orang hanya akan datang dan duduk tepekur, di kejauhan, dan saling berbisik. Aku tidak pernah mendengar suara mereka, tetapi angin mengabarkan padaku perihal gosip-gosip itu, yakni soal lelaki yang mengubah dirinya menjadi mercusuar demi sesuatu yang sia-sia. [ ]

Gempol, 2019-2020




======================
KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018). Segera terbit buku kumpulan cerita terbarunya berjudul Pengetahuan Baru Umat Manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here