Cerita-cerita menghilang dari kepalaku. Komputerku sampai bosan menunggu jari-jemariku menyentuh tutsnya, sehingga benda itu memadamkan layarnya sendiri. Mungkin ini semua karena otakku sudah lama sekali tak kugunakan untuk menghasilkan cerita pun mencerna tulisan; dalam waktu amat lama, otakku hanya memikirkan cara terbaik untuk menerima kesakitan dan kesepian di dalam sel.

***

Seminggu setelah novel terakhirku terbit, para polisi menangkapku pada pagi buta di rumahku, atas tuduhan pencemaran nama baik presiden. Entah di bagian manakah novelku mencemarkan nama baik presiden, para polisi menolak untuk menjelaskan. Mereka menutup kepalaku dengan karung, membawaku menempuh perjalanan panjang dengan mobil, dan baru melepaskan karung itu setibanya aku di sebuah ruangan kecil, yang tak lebih bagus ketimbang kamar mandi umum jika lupa dibersihkan selama setahun.

Aku tinggal di sana hingga menua secara menyedihkan. Aku tak pernah dijenguk istri pun anak-anakku, tak pernah sekali pun menjejakkan kaki di luar sel, dan jarang diberi makanan—kalaupun diberikan, jangan tanya bagaimana rasa makanan itu. Yang paling membuatku merasa hidup terkutuk adalah aku disiksa hampir tiap hari oleh salah seorang polisi, karena tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh yang dilontarkannya. Hingga pada suatu hari, pintu selku didobrak, dan terlihatlah beberapa orang—aku tak pernah melihat mereka sebelumnya—berdiri dengan mulut menganga, seolah aku adalah seekor naga dalam dongeng-dongeng yang tanpa diduga nyata adanya.

“Tiga puluh tahun menghilang, dan ternyata penulis itu masih hidup …” gumam salah seorang di antara mereka.

Mereka membawaku keluar dari ruangan ini, dari bangunan ini, yang ternyata adalah sebuah rumah tua di tengah hutan. Di sana tak ada sel-sel lain selain sel yang mengurungku, maupun tahanan-tahanan lain selain aku.

Mereka memasukkanku ke jok belakang sebuah mobil dan membawaku ke rumah sakit. Di tengah perjalanan, untuk pertama kalinya aku berbicara pada mereka, “Apakah sebentar lagi aku sudah boleh membaca dan menulis? Apakah sebentar lagi aku sudah boleh bertemu dengan istri dan anak-anakku?”

“Tentu saja Anda sudah boleh membaca dan menulis lagi,” sahut orang yang duduk di sampingku. “Kami bahkan akan membelikan Anda banyak buku bagus serta komputer untuk menulis.”

“Komputer?!” Aku terkejut.

“Benar sekali. Sekarang sudah tidak ada yang menggunakan mesin tik.”

“Oh ya, apa kabar istri dan anak-anakku?”

Tidak ada jawaban. Para penyelamatku seperti tak mendengar pertanyaanku. Belakangan, aku mengerti bahwa mereka tak mau membuatku syok dengan kabar buruk itu: rumah dan keluarga kecilku dibakar beberapa hari setelah aku dipenjara, beberapa hari sebelum novel terbaruku ditarik peredarannya dari toko-toko buku dan dibakar juga.

Setelah kira-kira sebulan menjalani perawatan mental dan fisik di rumah sakit, serta sesekali menerima kehadiran para wartawan yang bertanya banyak hal tentang menghilangnya aku selama ini, aku dipindahkan ke apartemen sederhana oleh para penyelamatku, apartemen yang terletak di lantai dua puluh. Di sana terdapat komputer dan rak berisi penuh buku bagus, selain properti-properti lain yang umum ditemukan dalam sebuah apartemen. Kata salah satu dari mereka, “Ini semua hadiah dari pemerintah.”

“Dari pemerintah? Cih! Jadi, ini cara mereka meminta maaf karena telah menghancurkanku, heh?!”

“Hmm … sebenarnya, Tuan, pemerintah yang memenjarakan Anda sudah lengser sekitar dua puluh enam tahun lalu. Yang memberikan Anda semua ini adalah pemerintah yang baru memerintah selama empat tahun.”

Heninglah sejenak. Setelah berpikir agak keras, aku bertanya, “Jika pemerintah yang memenjarakanku sudah lengser sekitar dua puluh enam tahun lalu, kenapa aku tidak diselamatkan sekitar dua puluh enam tahun lalu pula?”

Mereka tak menjawab dan saling bertukar pandang ….

Para penyelamatku pergi setelah menyerahkan amplop tebal berisi uang bekal untukku. Aku lantas mencoba mengoperasikan komputer, kemudian mencoba menulis lagi, dan mendapati cerita-cerita menghilang dari kepalaku. Setelah berjam-jam duduk menghadap komputer tanpa menghasilkan satu kalimat pun, aku memutuskan untuk membaca sebuah buku yang kupilih secara acak dari rak, tetapi aku tak bisa berkonsentrasi membaca. Maka aku berbaring di sofa, memejamkan mata, dan memaksa cerita-cerita bertumbuhan dalam kepalaku.

Dan karena cerita-cerita tak kunjung muncul, aku mulai merasa marah. Amat marah. Marah kepada orang-orang yang menculikku, kepada sel tempatku dikurung, dan kepada pemerintah yang sudah lengser sekitar dua puluh enam tahun lalu. Memang mereka sudah tak menahan tubuhku, tetapi ternyata mereka masih menahan cerita-ceritaku entah di mana!

Tanpa cerita-cerita di kepalaku, bagaimana bisa aku bertahan hidup?!

Tentu saja kau bisa bertahan hidup, jawab suara asing di dalam pikiranku. Bukankah selama di penjara kau bisa hidup tanpa cerita-cerita di kepalamu? Kenapa sekarang, di luar penjara, kau malah tidak bisa?

Apakah memang sebaiknya aku dipenjara lagi?

Malamnya, saat aku pergi ke restoran untuk sedikit bersantai, aku melihat seorang pria yang tak asing duduk beberapa jarak dari mejaku. Ia adalah polisi yang biasa  menyiksaku di sel; ia duduk semeja bersama seorang gadis kecil yang kuduga adalah anaknya. Berdasar gestur, ekspresi, dan tutur kata yang ditujukannya kepada sang anak, sama sekali tak tergambar bahwa ia adalah orang yang pernah berkali-kali hampir membunuh seorang penulis. Dan keberadaan orang itu membuatku mendadak merasa marah. Amat marah.

Bunuhlah ia, agar kau tak marah. Lalu cerita-cerita pasti akan kembali ke kepalamu.

Omong kosong! Aku tak percaya suara di kepalaku sendiri. Jika aku membunuhnya, jelas aku akan dipenjara lagi, dan kehilangan kesempatan untuk membaca-menulis, yang berujung pada semakin sulitnya memunculkan cerita-cerita di kepalaku.

Kalau begitu, kau boleh menyiramkan kopi ke kepalanya.

Itu juga tidak. Aku tak mau terlibat keributan; aku hanya ingin mengisi sisa hidupku dengan menulis cerita-cerita.

Bagaimana kalau kau menghampirinya dan bertanya soal bagian novelmu yang manakah yang mencemarkan nama baik presiden?

Aku benar-benar ingin bertanya demikian. Namun mendadak adegan-adegan penyiksaan yang dilakukannya terhadapku melintas amat jelas, membuatku seketika ketakutan. Aku pun berlari kembali ke apartemenku, merebahkan diri di kasur, menenangkan diri, dan tertidur.

Aku bermimpi berada di dalam selku. Aku duduk menghadap komputer di sebuah meja dan berusaha menulis cerita, tetapi tak kunjung ada cerita yang muncul di kepalaku. Tiba-tiba pria yang biasa menyiksaku itu memasuki sel. Ia bergerak cepat ke sampingku, menatap layar komputer yang belum menampakkan sedikit pun kalimat, dan langsung meninju wajahku hingga aku terjungkal dari kursi.

Kalau sampai satu jam kedepan kau belum juga menghasilkan cerita, aku akan membunuh kau! ucapnya, suaranya sama persis dengan suara asing di kepalaku!

Aku langsung terbangun, meraih komputer, dan melayangkannya ke arah jendela yang segera saja kacanya pecah! Semua kulakukan dengan begitu cepat, dengan ketakutan mengoyak seisi kepala, tanpa sempat mencerna pukul berapakah waktu itu, bagaimanakah cuacanya saat itu, dan lain sebagainya, termasuk soal ke manakah komputer itu akan mendarat.

Terdengar jeritan dari luar sana, dari jalanan yang gelap ….

***

Aku ditahan di sebuah sel, yang untungnya lumayan bersih, karena membunuh seorang gadis kecil dengan melempar sebuah komputer dari ketinggian dua puluh lantai. Sang gadis kecil adalah anak dari pria yang biasa menyiksaku di sel pertamaku. Karena itulah, kupikir aku akan disiksa lagi oleh pria yang sama. Ternyata, tidak. Di sel ini aku tidak disiksa oleh siapa pun; malah aku mendapatkan teman-teman satu sel yang lumayan menyenangkan, dan diizinkan membaca buku di waktu luang. (Bagaimanapun, aku tak bisa menulis, karena di sini selalu berisik, kecuali tengah malam ketika aku begitu mengantuk.) Kombinasi antara teman-teman baru, izin membaca buku di waktu luang, dan sejumlah pekerjaan rutin di penjara membuatku dapat meredakan perasaan sakit akibat kebobrokan hidupku.

Belakangan, beberapa hari sebelum aku sekarat dan dipindahkan ke rumah sakit ini, dari beberapa sumber aku mendapatkan sebuah informasi: gadis kecil yang tak sengaja kubunuh itu, bersama ayahnya, hendak bertamu ke apartemenku sebelum tragedi tersebut terjadi. Katanya, sang ayah memiliki urusan pribadi denganku, entah urusan apa tepatnya. Itu adalah sebuah kebetulan yang agak ajaib, menurutku, dan membuatku ingin menulis sebuah cerita pendek tentang kebetulan tersebut—bahkan kalimat-kalimat penyusunnya telah tersedia di kepalaku. Namun aku yang sekarat hampir tak bisa lagi menggerakkan tangan, dan di rumah sakit ini tak ada komputer pun mesin tik yang bisa kupinjam.


====================
Surya Gemilang, lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Buku-bukunya antara lain: Mengejar Bintang Jatuh (kumpulan cerpen, 2015), Cara Mencintai Monster (kumpulan puisi, 2017), Mencicipi Kematian (kumpulan puisi, 2018), dan Mencari Kepala untuk Ibu (kumpulan cerpen, 2019). Karya-karya tulisnya yang lain dapat dijumpai di lebih dari sepuluh antologi bersama dan sejumlah media massa, seperti: Kompas, Suara NTB, Bali Post, Riau Pos, Rakyat Sumbar, Medan Bisnis, Basabasi.co, Litera, Tatkala.co, dan lain-lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here