Kecoak

Pagi itu Ranti belanja di Pasar Tawangsari. Beberapa saudaranya dari desa akan datang ke rumah. Karenanya ia belanja lebih banyak dari biasanya. Setelah belanjanya selesai, ia ingin langsung pulang. Tapi ketika sampai di pintu keluar pasar, ia ingat masih ada satu bumbu masak yang belum terbeli. Ranti putuskan membelinya di kios dekat pintu keluar itu. Agar tidak kerepotan, ia meletakkan tas kresek yang penuh berisi barang belanjaannya di samping kios. Hampir bersamaan itu, sekerumunan kecoak keluar dari lubang got depan kios. Layaknya satu pleton tentara, mereka gegas berpencar, gesit mencari tempat perlindungan.

Salah satu kecoak terbirit menyeberangi jalan, dan pada saat itu sepeda motor melintas hingga rodanya menggilas ludas tepat tubuhnya yang ramping. Seekor kecoak lain memilih melipir di teritis kios di mana ada seorang tante-tante sedang lewat. Sepatunya yang berhak tinggi tanpa sadar menginjak tubuhnya hingga remuk. Kecoak yang lainnya lagi berhasil menyelinap masuk ke mobil pick up yang kebetulan sedang diparkir depan kios. Dan sebagian besar dari mereka kembali masuk got melalui lubang lain.

Satu lagi, seekor kecoak ternyata masuk ke tas kresek Ranti dan bersembunyi di sela-sela barang belanjaannya. Sementara itu setelah Ranti selesai membeli bumbu meraih tasnya lalu pulang. Ketika Ranti sampai di rumah, tas kresek diletakkan di amben dapur. Kecoak itu keluar dari plastik lalu bersembunyi di bawah amben.

Ranti belum lama tinggal di desa itu. Karenanya kemungkinan besar warga desa belum tahu siapa jati dirinya, di mana sesungguhnya ia seorang pelacur. Ranti tidak ingin warga tahu hal itu. Harapannya semata agar hidupnya tidak bertambah ruwet. Karena sudah jadi kebiasaan jika warga sampai tahu hidupnya tidak akan nyaman lagi. Di mana-mana selalu ada orang yang tidak menghendaki bila keberadaannya berdekatan hidup mereka. Tapi karena hal itu tidak mudah disembunyikan maka ia pun menyadari harapannya itu memang sulit diwujudkan. Lalu ia berpikir bila memang terpaksa ada warga yang tahu, iapun tidak akan menganggapnya masalah. Hanya saja, terkhusus kepada saudara-saudaranya, entah mengapa ia berharap banyak, semoga mereka tidak sampai tahu.

Kembali perihal sikap warga, andai mereka tahu ia pelacur, biasanya sikap mereka tak ubahnya sikap yang ditunjukkan sebagian besar orang terhadap kecoak. Dan menyinggung tentang kecoak, rupanya begitu jugalah yang dialami kecoak yang tadi pagi berhasil menyelinap masuk dalam mobil pick up. Sesampainya mobil itu tiba di rumah, pemiliknya langsung mencucinya. Pada saat itulah pemilik mobil melihat kecoak itu yang akhirnya menjadikannya bulan-bulanan hingga mampus.

Sementara kecoak yang masuk ke kresek Ranti kini sudah berpindah di bawah meja. Ia mendengar perbincangan yang terjadi antara Ranti dan saudara-saudaranya yang baru datang. Tiba waktunya makan siang, Ranti segera menyiapkan makanannya. Pada saat mereka sedang asyik-asyiknya menikmati makanan, salah satu saudara Ranti tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat Ranti ternganga kaget.

“Aku membaui sesuatu yang tak sedap di sini.”

“Seperti apa itu?” tanya saudara Ranti yang lain.

“Seperti bau Kecoak.”

“Seperti apa bau Kecoak itu?”

“Masa kamu belum tahu bau Kecoak?”

“Yang gimana sih?”

“Seperti bau keringat lonte.” Setelah mengatakan begitu, saudara Ranti itu tertawa, lantas diikuti yang lain. Mungkin perkataan saudara Ranti itu dimaksud melucu, tapi di telinga Ranti pernyataan itu terdengar seperti suara petir paling ganas.

Sementara kecoak yang berada di bawah meja bergeming. Meski dia mendengar obrolan itu tapi sepertinya tidak ambil pusing. Bisa jadi dia justru bersyukur karena di rumah Ranti yang sederhana itu dirinya masih bisa menghirup udara dengan bebasnya. ***




Jodoh

Kawanku bilang, jodoh ditentukan sebelum manusia lahir. Sedangkan penetapan lamanya hidup ditentukan saat kelahiran. Hal itu menjadi sebab, ada orang tidak menikah, karena jodohnya lebih dulu mati sebelum mereka menikah.

Saat Nita jadi pacarku, aku yakin dia jodohku. Karenanya saat Nita meninggal, aku terjangkiti sepi. Kesepian itu menancap di jantung dan tak mau pergi. Sejak itu hidupku tak berpengharapan, hingga tanpa sadar kututup hatiku bagi orang lain. Sebenarnya aku ingin ikut mati, tetapi ketika ingat kematian bukan urusan manusia, kupikir akan sia-sia jika aku nekat ingin mati tetapi waktu kematianku belum tiba. Terpaksa kujalani hidup sampai datang ajal. Namun, agar aku tetap bahagia, aku tak pernah berharap lagi perihal jodoh.

Agar mudah melewatinya aku berkarib kenangan, khususnya dengan hal yang berhubungan dengan Nita. Kenangan kurawat, bahkan dengan kenangan itu aku seperti masih bisa berhubungan dengannya. Tetapi kenyamananku terkoyak saat kehadiran Neni yang menurutku mengganggu ritme hidupku. Kehadiran Neni layaknya hantu. Tiba-tiba menyeruak dalam hidupku hingga aku tak punya daya halau. Setiap dia ada, kegaduhan meruangi kegiatanku. Keberadaannya adalah kekacauan. Kehadirannya sama dengan masalah. Puncak kejengkelan, kukatakan tak ingin berjumpa lagi dengannya.

Neni tidak marah, bahkan dia tetap baik dengan cara memberiku pemahaman lain. Menurutnya, aku tipe orang sulit move on. Padahal – ini juga menurutnya – ada cara gampang move on. Aku hanya butuh terbuka.

“Patah hati itu seperti bau kencing di ruang toilet. Meski kamu menyentor air kencingmu, bau pesing tetap ada. Bau itu gas yang baru hilang jika udara dalam ruang toilet telah berganti,” tambah Neni.

Aku tidak menyanggah pendapatnya, tapi menurutku konteksnya berbeda. Yang kuanggap masalah bukan sulit move on, tetapi jodoh. Ketika kuutarakan kepada Neni, dia justru memberiku pernyataan yang membuatku terhenyak.

“Kau lupa. Kita tidak tahu, siapa jodoh kita. Bisa jadi Tuhan tidak menentukan jodoh manusia.” ***




Lelaki Tak Beriman

Allah selalu memberi berkah. Aku merasa cobaan hidup yang Dia berikan padaku tidak sampai membuatku limbung, karena setiap Dia memberi cobaan itu, dan aku berusaha menghadapinya, ternyata berhasil melewati. Aku menyadari semua itu sesungguhnya bukan karena kekuatanku, tetapi karena kuasa-Nya, dan tak sedikit pun aku menyangsikan.

Tapi cobaan yang datang kali ini kurasakan berat, meski mungkin ada beberapa orang menganggapnya biasa karena mereka merasa mudah melakukan sesuatu tanpa pertimbangan pelik. Sementara aku tidak bisa berpikir dan bertindak secepat itu. Aku merasa tidak punya hak atas jiwa seseorang, bahkan terhadap anak sendiri.

Zai, anak satu-satu kami telah waktunya menikah, dan selama ini sudah ada beberapa orang melamar, ingin meminang dirinya. Aku bingung harus bersikap bagaimana, karena dari semua yang melamarnya, bisa dibilang orang-orang mumpuni, terlebih masalah keimanan. Bahkan beberapa dari mereka sahabatku sendiri, dan dua di antaranya sangat dekat denganku.

Mereka orang-orang baik, paling tidak mereka tumbuh di pesantren, sama halnya yang selama ini aku akrabi. Lingkungan keimanan itulah yang menempa mereka hingga tumbuh menjadi pribadi tangguh. Karenanya, jika aku menerima salah satu dari mereka, tentu saja akan mengecewakan yang lain.

Lalu aku ingat keyakinanku, hanya atas kehendak-Nya segalanya bisa terjadi, dan itu semakin membuatku tidak punya kuasa untuk itu. Terlebih karena keyakinanku yang selama ini kupegang bahwa segalanya pasti bermula dari Allah dan akan berakhir kepada-Nya pula.

Bagaimana dengan Zai? Apakah aku perlu melibatkannya? Karena itulah aku menghadap Allah, tempat di mana selama ini aku memohon bantuan untuk menyelesaikan setiap masalah. Kali ini aku meminta petunjuk tentang Zai.

Bukan perkara aku tidak mau pusing, tetapi karena aku menyadari tidak mampu memilih mana pasangan yang pantas buat Zai. Zai pun pasti juga tidak ingin hidupnya kucurangi. Setelah melewati permenungan, aku memutuskan melibatkan Zai, karena dia yang akan menjalani, hingga kepada dia pula aku seharusnya memberi kebebasan untuk memilih.

Namun, dari sini muncul masalah baru, Zai tidak tertarik dengan mereka yang telah melamarnya, termasuk kedua sahabat dekatku. Karena itu aku datang lagi kepada Allah. Mohon petunjuk apa yang seharusnya kulakukan. Hasil dari permenunganku kali itu, aku tetap menganggap Zai-lah penentu pilihan. Jika dari mereka tidak ada yang dipilih, mungkin Zai telah punya pilihan sendiri. Meski aku telah memutuskan memberi kebebasan kepada Zai, tapi jika benar ada pilihan lain bukan serta merta aku setuju dengan pilihannya itu. Lalu aku menganjurkan kepada Zai, jika memang ada lelaki yang dia kehendaki, kusarankan untuk melakukan lamaran.

Ketika aku bilang begitu, wajah Zai cerah, dan esok harinya ada lelaki datang ke rumah melamar Zai. Ternyata aku belum mengenal lelaki itu, bahkan belum pernah bertemu sebelumnya. Pada saat lelaki itu melamar Zai, beberapa orang sengaja menemuiku dan dengan suka rela memberi penjelasan perihal lelaki itu. Dari seluruh cerita yang sampai ke telingaku hampir semuanya tentang keburukan lelaki itu. Dan cerita yang paling membuatku resah tentang kabar yang mengatakan lelaki itu termasuk golongan orang-orang tak beriman. Jika apa yang dikatakan orang-orang itu benar, sama halnya aku membiarkan Zai akan tinggal bersama orang yang tak beriman. Artinya aku membiarkan Zai dalam bahaya besar. Karena itu lagi-lagi aku datang kepada Allah, memohon petunjuk-Nya, apa yang mesti aku lakukan. Hasil dari permenunganku, aku akan memberi izin kepada Zai bersama lelaki itu bila lelaki itu dapat memenuhi permintaanku. Dia harus belajar tentang keimanan kepada orang-orang yang dulu melamar Zai. Jika lelaki itu bersedia, tanpa ragu aku menerimanya sebagai menantu.

Pada mulanya aku sangsi dengan keputusanku, paling tidak aku takut keputusanku itu langkah ketidakadilanku kepada Zai. Tapi pada saat aku mengutarakan syarat tersebut kepada lelaki itu, sekilas aku melihat bibir Zai tersenyum. Detik itu juga aku mengucap syukur, dan memuji kebesaran nama Allah. ***




Makarim

Makarim seharian menekuri google. Dia ingin mencari quote yang akan dijadikan status whatsApp, tapi belum menemukan yang cocok. Makarim ingin memberi pengertian kepada orang yang sombong, khususnya mereka yang selama ini suka pamer keberhasilan di bidang materi. Pasalnya dari sekian grup whatsApp miliknya, dia sering mendapati anggota grup itu pamer kekayaan.

Sebenarnya Makarim bisa membuat quote sendiri, dan dia yakin quote buatannya sesuai dengan apa yang dia maksud. Tapi Makarim merasa jika quote itu buatan sendiri, menurutnya dia tak ada bedanya dengan mereka, sama-sama sombong. Yang membedakan hanya modal kesombongannya. Bahkan Makarim merasa jika dia nekat memakai quote sendiri bisa jadi orang-orang bukan hanya menganggapnya sombong, tapi juga mengatainya sebagai orang miskin yang frustasi. Karenanya Makarim ingin meminjam perkataan orang lain terkait masalah kehartaan itu, agar kritik yang dia lakukan bisa masuk dan terkesan adil.

Di sebuah laman bernama Orang-Orang Senja, Makarim menemukan tulisan yang membahas tentang bagaimana caranya menyiapkan hari tua. Di sana Makarim menemukan selarik kalimat menarik; Uang tidak bisa membeli waktu dan kesehatanmu, padahal kedua hal itu syarat agar kamu bisa menikmati hidup. Dipasanglah kalimat di status whatsApp-nya. Tentu saja Makarim juga menyertakan sumber tulisan itu. Sebagian besar anggota beberapa grup whatsApp-nya membaca status Makarim itu. Dari seluruh yang membaca kalimat itu tidak ada yang memberi tanggapan. Makarim bertanya-tanya, apakah mereka tidak tahu makna kalimat itu, atau sebenarnya mereka tahu tetapi hanya dipendam dalam hati.

Tidak lama kemudian ada kabar Makarim meninggal. Anggota keluarganya mendapati dia terbaring di tempat tidur sudah tak bernyawa. Kabar duka menyebar juga di grup whatsApp, lalu teman-teman Makarim heboh membicarakannya. Mereka merasa kepergiannya begitu cepat dan terkesan mudah. Dari obrolan itu banyak orang menanggapi, sesungguhnya Makarim telah berusaha menulis pesan dalam statusnya. Mereka menduga Makarim frustrasi dengan keadaannya. Mereka menganggap status whatsApp Makarim itu sebagai sebuah kata pamit darinya.***




Bom Waktu

Selesai sudah. Pikiran kalut yang menghantuiku beberapa hari ini akhirnya reda juga. Menjauh dari kehidupan Mas Fajar dan kini mendapat tempat tinggal yang menurutku aman. Selama sebulan tinggal di kampung ini tidak ada sesuatu yang membuatku merasa tidak nyaman. Prosedur yang ada hubungannya dengan status kependudukan pun kujalani dengan tidak berbelit. Bahkan ketika mengurus hal itu di rumah Pak RT, aku merasa sepertinya dia cukup memaklumi keadaanku tanpa aku harus bicara banyak. Aku sangat beruntung karenanya, meski sesungguhnya aku sempat berpikir, alangkah bahayanya jika yang mengurus keperluan seperti ini orang-orang yang dari awal memang sudah punya niat jahat. Aku bilang begitu bukan berarti aku orang baik karena sesungguhnya siapapun bisa dianggap tidak baik oleh orang lain. Yang kumaksud orang jahat semacam mereka yang  memalsukan identitas demi melancarkan maksud jahat yang telah mereka rencanakan.

Lalu siapa aku? Aku hanya perempuan ringkih yang ingin mencari tempat tinggal yang nyaman, dan aku senang bisa mendapatkannya di kampung ini. Aku merasa warga di sini cukup pengertian. Tampaknya mereka tidak suka mencampuri urusan orang lain. Terlebih Mbak Ratih, tetangga sebelahku, orangnya sangat baik. Kami cepat menjadi akrab. Keluarga mereka tampak bahagia, bahkan Mbak Ratih sempat mengucap syukur atas keharmonisan keluarganya. Meski begitu dia selalu menjaga untuk tidak mengulik tentang siapa jati diriku. Karenanya aku juga mengimbangi tidak terlalu ingin tahu tentang keluarganya. Bahkan ketika aku merasa selama ini jarang melihat suaminya pun tidak pernah ada keinginanku untuk menanyakannya. Setahuku suaminya kerja di kota yang pulangnya tidak tentu. Selama ini aku baru melihat dua kali, itupun saat suaminya hendak pergi.

Mengobrol dengan Mbak Ratih terasa gayeng. Dia selalu heboh jika membicarakan perihal kuliner dan hal itu cocok dengan minatku yang memang di bidang itu. Bahkan sebelum aku tinggal di sini kerjaku di restoran yang punya banyak menu. Mungkin karena itu pula di tempat baru ini aku bisa dengan cepat memulihkan kondisi mentalku yang sebenarnya masih terlalu lemah untuk hidup mandiri seperti ini. Tadi aku mengatakan tidak ingin mengaku sebagai orang baik karena aku menyadari senyatanya selama ini aku tidak seperti itu. Tapi sekarang aku berani mengatakan di dalam diriku ada keinginan untuk menjadi orang baik. Dan salah satu alasan mengapa aku berada di kampung ini karena keinginan itu. Hanya saja dalam proses mewujudkannya aku harus melakukan satu hal yang buruk.

Aku telah memalsukan identitas tentang status pernikahanku. Aku mengatakan kepada Pak RT, juga kepada warga yang kebetulan bertanya, aku janda cerai beranak satu. Padahal sesungguhnya aku belum pernah menikah, sementara Juwita yang kini berumur tiga tahun dan tinggal bersamaku ini anakku hasil hubungan gelap dengan Mas Fajar. Selama ini aku menjadi orang ketiga dari rumah tangganya. Tapi sejak dua bulan lalu aku memutuskan pergi dari kehidupan Mas Fajar dan tidak ingin lagi menjadi perempuan pengganggu keluarganya, hingga sampailah aku di sini.

Malam ini, setelah membobokkan Juwita aku bersantai di teras, menikmati keheningan kampung sembari memikirkan tentang nasibku selanjutnya dengan merenda-renda harapan. Seperti yang sudah pernah aku bicarakan dengan Mbak Ratih, untuk menyambung hidupku, aku ingin membuka warung dan Mbak Ratih mendukungnya, bahkan dia berjanji akan membantuku.

Belum genap aku membayangkan itu, aku mendengar suara, seperti suara barang-barang yang sengaja dilempar dan pecah. Sesekali dibarengi teriakan sumpah serapah. Aku masih belum menyadari asal suara itu, tampak di kejauhan aku melihat Mbak Ratih keluar rumah dan berlari menuju ke arahku. Begitu sampai di hadapanku, Mbak Ratih meminta izin malam ini tidur di rumahku. Selanjutnya sekilas dari bicaranya yang masih bergetar, mungkin karena menahan emosi aku dapat menyimpulkan Mbak Ratih baru saja mengetahui suaminya yang selama ini sangat dia cintai menghamili perempuan lain.***




====================
Yuditeha, penulis tinggal di Karanganyar, Jawa Tengah. Pendiri ideide.id