DALAM tradisi kemanusiaan, benda tak pernah lepas dari keseharian beraktivitas. Mereka selalu ambil bagian di setiap kegiatan. Ponsel, pulpen, tas, sepatu, baju, sepeda motor sampai sabun wajah tak pernah ketingalan dimiliki. Tidak cuma itu, bahkan ada sejumlah benda-benda yang teranggapi sebagai barang yang dilihat tidak sebatas fungsi gunanya saja, dan patut untuk dikoleksi. Wujud benda itu terus terjaga di tangan segelintir orang.

Filateli, sebuah istilah bagi orang-orang yang mengoleksi benda bernama perangko. Menyimpan dan mengumpulkan perangko tanpa melihat sebatas perannya. Juga ada filomeni, julukan bagi orang-orang yang menghimpun bungkus-bungkus korek api. Memang ada yang melihat benda tidak hanya kegunaannya. Namun, rasanya mereka tak mungkin mayoritas dari seluruh umat manusia. Mereka tak lebih dari sekadar minoritas kecil yang menganggap benda punya arti lebih.

Kebanyakan manusia memandang benda dengan peran yang minim. Dan sepertinya  tidak semua manusia pandai untuk melihat benda bisa memberikan makna lain bagi dirinya. Tetapi kita bisa sepakat bahwa manusia tidak mampu bertindak tanpa ditemani benda-benda. Sering kali entitas kebendaan memang terartikan sebatas alat penunjang bagi manusia untuk hidup. Tidak ada yang lain. Seperti dalam cerpen Iksaka Banu yang Berjudul Belati di buku Ratu Sekop (2017). Iksaka menghidupi tokoh Armin Kelana bersama bendanya: belati. Ambang hidup-mati Armin tak bisa lepas dari belatinya. Belati selalu menemani Armin di setiap kegiatan.. Armin seperti tak dibiarkan lepas dari belatinya.

Kita kerap melihat benda hanya sebatas fungsi gunanya, atau bahkan sekadar untuk dipunyai saja. Mereka tidak jarang tiba di tempat pembuangan dan menjadi terbengkalai tanpa makna di sana. Tindakan itu dilahirkan oleh manusia urban yang tumbuh dan hidup dengan tradisi rabat di pasar digital. Entitas-entitas kebendaan bergulir ke segala arah setiap waktu. Penjelasan pernah terbungkus lagu yang berjudul Belanja Terus Sampai Mati (2007) dari band Efek Rumah Kaca. Kita cermati liriknya “Duhai korban keganasan/ Peliknya kehidupan urban/ … //Atas bujukan setan/ Hasrat yang dijebak zaman/ Kita belanja terus sampai mati//. Lirik mengukuhkan bahwa begitu peliknya kehidupan manusia kota. Mereka tak mungkin lepas dari rayuan-rayuan promo berbagai macam produk yang tersuguhkan secara daring maupun luring. Berbelanja akan terus dilakukan sampai akhir terlepasnya jiwa dari raga. Dan penghimpunan benda akan terus bergulir.

Belakangan, muncul gejala untuk hidup dengan kepemilikan benda yang minim. Barang-barang disingkirkan dan ditata ulang agar ruang nampak terlihat tak riuh dan penuh. Tatkala menyingkirkan benda-benda, ruang pun dihiasi warna-warna selaras supaya memantapkan  kesan-kesan sederhana. Keselarasan, kesederhanaan, dan keharmonisan jadi akar jiwa kegiatan ini. Fenomena ini kita kenali sebagai gaya hidup minimalis.

Situasi itu muncul di kehidupan manusia urban. Ia timbul sebagai antitesis yang seakan menyatakan bahwa denyut nadi urbanisasi tak melulu urusan belanja barang dan perihal diskon saja. Mereka seperti ingin melawan narasi yang mengolok-olok pribadi-pribadi perkotaan yang amat boros. Perlawanan dilakukan dengan membingkai konsep minimalis ke dalam rumah orang-orang kota. Sangkalan itu jadi ujung tombak perlawanan masyarakat kota terhadap ejekan gaya belanja barang mereka.

Film yang digarap sutradara Nawapol Thamrongrattanarit berjudul Happy Years Old (2019) memotret dengan apik gambaran hidup minimalis dengan latar sebuah rumah di perkotaan Thailand. Film yang diawali kisah tokoh Jean yang diperankan Chutimon Chuengcharoensukying hidup di rumah yang memiliki banyak barang dengan tata letak yang sembarang. Jean berambisi menyingkirkan dan menghilangkan semua benda, serta mengawali penataan ulang benda-benda di seluruh ruang yang berada di rumah. Ketika adegan beralih ke proses penyingkiran, peristiwa tak berjalan mulus, malah justru menimbulkan pergolakan-pergolakan ingatan di benak. Jean dipaksa menelusuri jejak-jejak kepemilikan benda yang ingin dibuangnya.

Gejolak itu makin mendalam dan mengusik saat piano jadi giliran untuk dibuang. Bukan perihal nomial yang membuat batin Jean jadi begitu gundah. Ini sebab siempunya benda—piano—ialah Ayah yang sudah lama melepaskan diri dari lingkaran keluarga. Kenangan-kenangan hadir tanpa pernah dipanggil. Ia menimbulkan kesenyapan dan memaksa air mata keluar. Benda teringat tidak sebatas entitas sepele yang mudah dilenyapkan dan dihempaskan ke selokan. Ia tak hanya terdefinisikan dalam segi fungsi dan manfaat, namun juga pemicu keresahan ingatan dan perasaan.

Kita beralih ke film Up (2009) yang dibuat rumah produksi ternama, Walt Disney. Tokoh kakek Carl dan nenek Elli yang memiliki harapan untuk tinggal di dekat air terjun bernama Paradise Falls, jadi kisah yang dipertunjukan. Kita membiarkan jalan cerita keseluruhan film, dan melompat ke adegan di mana si kakek kebingungan antara tetap tinggal di air terjun, atau pergi menyelamatkan Russel. Kakek memilih membuang barang-barang untuk bisa pergi dengan rumah terbangnya dan menanggalkan ambisinya.

Menyelamatkan jiwa bocah dinilai lebih baik ketimbang ambisi tunggalnya. Karena sikapnya itu, dua buah kursi yang menjadi tempat menetap untuk istirahat bersama istri dulu, juga dibuangnya. Penyingkiran benda bukan dimaknai sebagai keinginan melupakan ingatan terdahulu. Itu justru berarti langkah awal dengan harapan yang baru. Ia memilih untuk meneruskan hidup, bukan malah terhanyut dalam bekapan masa lalu.

Namun, arti kebendaan di kepala para pengantar barang—kurir—akan menjadi lain hal. Ia tak punya ingatan khusus terhadap benda yang dibawa dan diantarnya. Perjalanan benda pun tidak akan terhenti sebab pergolakan perasaan dan ingatan. Tidak ada tumpahan air mata karena kenangan atau ingatan atas jati diri si pemilik benda . Luapan emosi tidak dipicu karena hal itu.

Jumlah barang yang sedikit saat dibawa dalam kantong plastik maupun tas ransel, justru akan menimbulkan kegundahan yang berputar di kepala. Itu pertanda bahwa akan ada sedikit rupiah yang terbawa ke rumah. Lalu, bisa melunturkan sedikit senyum dan keceriaan para penghuni rumah si pengantar barang.

Pengantar barang hanya mengingat benda-benda sebagai kebutuhan hidup diri dan keluarga: ayah, ibu atau anak. Benda itu tidak memantik ingatan bersama masa lalu, ia justru pemicu setitik masa depan. Kesederhanaan bukan saja ihwal kepemilikan ruang dengan minim barang dan warna. Dan gaya hidup minimalis, tidak juga teramat baik bagi lingkungan dan jiwa individu. Tapi mungkin, itu berarti sumber untuk meneruskan kehidupan yang baru.



===============
Pernah menulis di Jalastoria.id, Remedial.id, Ide-ide.com, Koran Sindo dan Solopos (Mimbar Mahasiswa). Dan seorang penulis iseng, juga mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here