PADA suatu malam yang tidak begitu gelap di sebuah pantai, seekor ibu penyu menyeret tubuhnya di atas hamparan pasir. Ia datang bersama suara ombak dan tepukan angin pada daun-daun kelapa. Sepotong bulan bergantung di langit, membantu ibu penyu menemukan tempat yang tepat. Tak tampak siapa-siapa di mana-mana, kecuali bayangan hitam barisan pohon dan rumpun semak di bawahnya. Sungguh malam yang sempurna bagi seekor penyu untuk melepas telur-telurnya.

Setelah dua puluh tahun, inilah pertama kalinya ia akan mengantar kehidupan ke dunia. Karena itulah, ia kini sedikit gugup dan bertanya-tanya dalam hati. Apakah penyu lain yang sudah berkali-kali bertelur masih segugup dirinya?

Di bawah cahaya bulan dan kedip bintang, ia terus memikirkan pertanyaan itu sambil membuat lubang. Dengan kedua sirip belakangnya, ia menggali dan terus menggali seolah-olah itu saja yang perlu ia kerjakan. Perlahan-lahan, pasir menumpuk di kiri dan kanannya. Ia mulai letih, tapi usaha menyiapkan sarang tidak boleh berhenti.

Ketika lubang sudah cukup dalam, ia bernapas dengan tenang. Lalu keluarlah satu telur, satu lagi, satu lagi, ah… seratus butir pada akhirnya. Setelah beberapa jam yang melelahkan, tak ada lagi yang tersisa. Ia memandang bola-bola putih yang rapuh itu dengan puas. Ia pikir sungguh ajaib bahwa telur sebanyak itu berasal dari dalam dirinya.

“Selamat tinggal, telur-telur kecilku,” kata ibu penyu saat ia selesai menutup telurnya dengan pasir, “semoga nasib baik senantiasa bersama kalian.” Ia merangkak kembali ke laut dan tidak menoleh lagi.  

***

Musim itu dipenuhi cahaya matahari. Pantai menjadi tempat yang hangat dan sangat nyaman untuk berbaring. Tepat dua bulan kemudian, satu-satu bayi penyu mulai menggeliat. Dengan ujung paruhnya, mereka pecahkan cangkang telur lalu berusaha membebaskan diri dari pasir lembut di atasnya. Timbunan pasir itu kini bergerak-gerak oleh bayi penyu yang saling tindih satu sama lain.

“Di mana kita?” kata seekor bayi penyu ketika kepalanya muncul ke permukaan.

“Kita sama-sama baru keluar, jadi jangan tanya padaku,” balas bayi penyu lain yang tampak persis seperti dirinya—berwarna hitam dari kepala hingga ekor, empat sirip pendek, kulit bersisik, tempurung seperti perisai di punggung, dan sepasang mata yang mengantuk seakan-akan belum pernah tidur.

“Ayo, terus naik! Ini tidak terlalu sulit. Kita pasti bisa,” sahut yang lain lagi.

“Hei, jangan injak kepalaku!” terdengar protes kecil di antara keriuhan itu.

“Apa gunanya ribut-ribut? Bicara saja tidak akan membantu.” Akhirnya ada yang berpikir untuk membuat mereka diam dan memanjat dengan tenang. Ia cukup kesal karena tidak satu pun penyu peduli pada anjurannya.

Bau laut begitu segar. Ombak berbuih-buih putih dan mengeluarkan suara gemuruh setiap kali menyentuh pantai. Ke sanalah bayi-bayi itu berpawai. Sungguh mengagumkan, mereka semua langsung tahu apa yang harus dilakukan tanpa diajari siapa-siapa.

Di atas mereka, langit tiba-tiba dipenuhi bintik hitam. Dalam sekejap, apa yang tampak sebagai bintik itu menjadi jelas; sayap-sayap burung elang yang terkembang menghalangi matahari dan membuat bayangan gelap di pasir. Dari ketinggian, burung-burung lapar itu bersyukur atas kemurahan hati alam semesta menyediakan makanan segar. Entah dari mana, muncul segerombolan bangau dengan kaki-kakinya yang ramping dan panjang, dalam keadaan lapar pula.

“Lari! Lari! Lari, Saudara-saudaraku!” teriak bayi penyu yang mencium bahaya.

“Apa katamu?”

Sebelum semua penyu sadar apa yang terjadi, burung elang sudah mendapatkan seekor di antara mereka. Kepak sayap mendesing di udara. Elang itu menukik dan menyambar dengan cakarnya, menggenggam kuat-kuat tangkapannya kemudian terbang sangat tinggi.

“Wah! Dunia ini ternyata besar sekali, dan aku cukup beruntung bisa melihatnya walau sebentar saja.” Anak penyu itu tersenyum memandang cakrawala sebelum pergi untuk selamanya. Sementara di darat, kepanikan semakin menjadi-jadi.

Seekor bangau mematuk penyu kecil yang bergegas ke arah ombak. Penyu malang itu tidak dapat menarik kepala dan siripnya ke dalam tempurung untuk berlindung. Si bangau ingin menjejali paruhnya dengan sebanyak mungkin makanan, karena itulah ia jadi ceroboh. Ketika ia membuka paruh untuk mematuk lagi, penyu yang sudah ia dapatkan terjatuh ke pasir dan melarikan diri secepat ia mampu. Burung bangau itu tampak marah namun tak mau repot mengejar. Di atas hamparan pasir puluhan anak penyu tercerai-berai. Ia tidak akan membiarkan mereka sampai di laut sebelum perutnya kenyang.

Belum selesai bahaya dari atas, kini anak-anak penyu harus menghadapi kawanan kepiting. Capit dan kakinya yang berbulu tajam membuat makhluk itu tampak mengerikan. Tak akan ada yang mau berurusan dengannya.

“Ayo lebih cepat! Sedikit lagi kita sam…”

Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, anak penyu penuh semangat itu ditarik sepasang capit.

“Oh, tidak!” Penyu-penyu lain terbirit-birit ketakutan.

Tidak begitu lama, pantai kembali sepi seperti sediakala. Tidak ada burung-burung pemangsa, tidak ada kepiting yang berjalan miring, dan tidak tampak anak penyu di mana pun. Kecuali di satu gua sempit di bawah pasir. Kepiting yang membawa anak penyu itu mengira korbannya sudah tak berdaya, lalu meninggalkannya sebagai simpanan untuk makan malam. Ia lantas pergi entah ke mana, barangkali sedang mengintai buruan berikutnya.

Si anak penyu tergeletak, tak punya tenaga bahkan untuk sekedar menggerakkan sirip. Ia khawatir kepiting itu akan kembali, tapi sekarang ia selemah rumput laut yang telah terjemur selama tiga hari. Embusan angin mengusap tempurungnya dan ia tertidur tanpa sanggup berpikir apa-apa lagi.  

Senja tiba. Langit tampak merah tua seperti luka di sirip si anak penyu, luka akibat terjepit capit kepiting. Anak penyu itu terbangun dengan lega menyadari bahwa kehidupan masih miliknya. Merasa lebih kuat, ia berusaha keluar dari sarang itu sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk. Setelah saat-saat menegangkan berlalu, akhirnya ia bisa merasakan pasir basah di bawah perutnya. Batas air semakin dekat. Lalu, hup! Ia menceburkan diri. Tapi ombak yang terlalu kencang selalu mendorongnya kembali ke pantai. Berkali-kali. Ia tidak berputus asa hingga laut di depannya menerima satu penghuni baru.

Ia menyelam sambil memperhatikan sekelilingnya. Mungkin saja ada saudaranya yang berhasil mencapai air. Namun lautan pada perbatasan siang dan malam adalah dunia yang samar-samar. Perlu beberapa lama untuk membuat matanya terbiasa dengan sedikit cahaya. “Mudah-mudahan mereka dapat menyelamatkan diri,” harapnya ketika tak melihat penyu seekor pun.

Di sebuah batu karang, ia berhenti sambil berpikir apa yang perlu dilakukan. Lalu ia berenang ke permukaan, mengambil napas, dan melihat laut begitu sepi. Di atasnya, tak ada apapun kecuali sebutir bulan bersinar redup dikerumuni awan. Ia sendiri. Benar-benar sendiri. Dengan sedih, ia kembali menyelam. Tanpa sadar arus membawanya semakin jauh. Semakin jauh… Ia terkejut ketika sesuatu bergerak seperti kilat. Sesosok hiu muda mendekat, menatapnya dengan mata besar yang sangat menakutkan.

“Jangan sakiti aku!” Penyu kecil itu memohon sambil menoleh ke segala arah. Tidak ada tempat sembunyi, hanya air di mana-mana.

“Tentu saja,” balas si hiu, “kau tidak akan merasakan sakit, karena aku akan menyelesaikannya dengan cepat.”

“Inilah akhir segalanya,” pikir anak penyu itu saat gigi hiu yang runcing menekan tempurungnya yang belum kuat betul. Sebentar lagi ia remuk. Tetapi kemudian terdengar seruan.

“Mangiwang, jangan ganggu dia!”

Hiu itu melepaskan mangsanya lalu melarikan diri ke dalam kegelapan setelah merasakan sengat dari ekor ikan pari. Sang penolong membawa anak penyu yang terluka itu di siripnya, berenang menuju suatu tempat penuh terumbu karang.  

“Kenapa kau ada di sini?” ikan pari bertanya.

Anak penyu itu menahan sakit saat bercerita tentang semua yang terjadi.

“Mulai sekarang, aku adalah temanmu. Kau bisa mengandalkan bantuanku, kapan saja kau perlu,” kata ikan pari ketika cerita itu selesai.

“Kalau begitu, aku harus memanggilmu apa?” balas si anak penyu.

“Kau bisa memanggilku Lambaru. Kau sendiri bagaimana?”

“Ibuku pergi sebelum memberi nama. Aku cukup senang dipanggil sebagai ‘Anak Penyu’.”

“Setelah yang kau lalui, kau beruntung masih bisa bertahan, dan aku harap keberuntungan akan terus bersamamu. Hmmm… sepertinya aku punya nama yang sesuai untukmu.”

“Terima kasih. Kau baik sekali. Jadi, siapa namaku?”

“Maupa. Kata lain dari Keberuntungan.”

***

Sejak bersama Lambaru, anak penyu yang kini bernama Maupa itu merasa lebih aman. Setiap pagi saat ia bangun, ketika cahaya matahari telah menembus lapisan air dan memberi warna pada setiap benda, segala sesuatu terlihat lebih jelas. Udang, ubur-ubur, dan siput kecil-kecil merayapi batu karang yang indah. Ia bersenang-senang bersama kerumunan ikan. Dan tentu saja, Lambaru memastikan ia jauh dari bahaya.

Semuanya sangat menyenangkan, tapi ia terlahir untuk menjadi penjelajah laut. Maka ia pun mengucapkan sampai berjumpa lagi pada teman-temannya. Mereka membiarkan Maupa pergi, percaya bahwa sejauh apa pun jaraknya dan di mana pun ia berada, tetap laut jugalah tempatnya. Dengan kata lain, sebenarnya mereka tidak pernah berpisah.

Maupa mengayuh siripnya, terus berenang mengikuti arah arus, sesekali mengambang di permukaan laut, dan bila malam tiba ia akan tidur di bawah bebatuan atau sela-sela karang.

Pada suatu hari, sebuah jaring terlempar dan menjebak Maupa di dalamnya. Jaring itu penuh sesak oleh ikan yang bertumpuk mengimpit tubuhnya. Tak ada jalan keluar. Ia tak bisa bergerak sedikit pun. Semakin lama, ia semakin sulit bernapas. Ia perlu mendapatkan udara. Saat itu, ia tiba-tiba terpikir tentang ayah dan ibunya. Di manakah mereka? Di kedalaman laut yang bagaimana? Jika ia bertemu keduanya, apakah mereka akan saling mengenali?  

Sebelumnya ia tidak pernah sesedih ini. Tapi sekarang ia berharap ayah dan ibunya ada untuk melindunginya. Namun tentu saja itu tidak terjadi. Ia hanya menunggu sebuah keajaiban atau hidupnya akan selesai beberapa saat lagi.

Tampaknya Lambaru memberi anak penyu itu nama yang benar. Pada saat ia pingsan, jaring itu ditarik ke permukaan. Di atas perahu, seorang anak lelaki duduk mengamati ayahnya. Ia masih delapan tahun, tapi ia sudah sering ikut melaut. Ia membantu mengeluarkan ikan dari jaring lalu memasukkannya ke dalam keranjang.

“Kelihatannya ini anak penyu,” kata si anak lelaki ketika menemukan tangkapan yang berbeda. “Ayah, bolehkah saya memeliharanya?”

“Jika kau berjanji akan merawatnya, tentu saja Ayah ijinkan.”

Maupa ditempatkan di sebuah kolam kecil, diberi makanan yang ia sukai, kadang diajak bicara. Tentu saja mereka tak mengerti satu sama lain, dan itu sama sekali bukan masalah. Maupa dan si anak lelaki tumbuh bersama. Namun seiring berjalannya waktu, anak lelaki itu bertambah sibuk dan sering lupa pada penyu yang memerlukan dirinya. Akhirnya, sang ayah meminta penyu itu dilepaskan.

Dan di sanalah ia, kembali ke laut sebagai penyu yang bingung. Ia harus belajar lagi bagaimana cara menemukan makanannya sendiri. Belum terlalu jauh dari pantai ketika ia melihat sesuatu mengapung, bergerak ringan seperti ubur-ubur yang lezat. Ia mengejarnya dan mulai mengunyah… terus mengunyah. Tiba-tiba ia tersedak karena apa yang disangka sebagai ubur-ubur itu tak dapat ditelan. Tenggorokannya tersumbat, ia tak bisa bernapas. Dengan panik ia berenang menuju daratan.

Saat itu malam hari. Ada cahaya terang di pantai. Maupa mengira bulan telah jatuh ke bumi. Ia pergi ke arah api unggun di mana sekelompok remaja sedang berpesta, terseok-seok di atas pasir lalu tidak bergerak lagi.

Kebetulan saja, satu orang terdesak ingin membuang sesuatu dari dalam perutnya. Ia bergegas menuju bagian pantai yang gelap, dan sinar lentera yang dipegangnya menerpa punggung seekor penyu.

“Hei, Kawan-kawan! Coba lihat kemari!” Ia berteriak ketika urusannya telah selesai.

“Wah, kita makan sup malam ini!” ada yang berkata dengan gembira.

“Jangan senang dulu,” sahut temannya sambil menarik kantong yang tersangkut di mulut Maupa. Saat itu pula, Maupa terlepas dari genggaman kematian. Kepalanya terangkat lemah, dan paru-parunya mendapat kesempatan untuk kembali menikmati udara.

Jadi mereka mulai berdebat tentang nasib penyu itu. Keputusan dibuat. Maupa akan dipelihara sampai ia kuat lalu dilepaskan kembali ke laut.

***

Tahun-tahun berlalu. Maupa menjadi penyu betina muda. Dia bukan lagi bayi penyu lemah yang selalu gemetar ketakutan. Kini tempurungnya telah tumbuh lebih keras, siap mematahkan gigi binatang apapun yang mencoba menggigitnya. Makanannya pun berganti. Ia kadangkala masih menyantap ubur-ubur, namun sekarang ia lebih sering makan ganggang dan rumput di dasar laut. Tak lama lagi tiba waktunya meninggalkan laut lepas menuju perairan yang lebih hangat. Bahaya-bahaya tak terduga akan selalu mengintai, tapi ia telah siap untuk memulai petualangan baru.

Jika burung-burung yang dulu mengancam jiwanya memiliki sayap untuk terbang, maka ia punya sirip. Dengan sepasang sirip serupa sayap itulah ia bagai terbang di dalam air, bergerak dari satu perairan ke perairan lain. Dan selama perjalanannya, ia bertambah dewasa. Setiap kali ia berhasil mengatasi satu kesulitan, semakin bertambah pula keberaniannya. Ia tidak pernah menyesal keluar dari cangkang telurnya untuk bertemu dengan semua kesulitan yang harus ia hadapi. Ia percaya bahwa dirinya sanggup melewati ujian-ujian itu bukan hanya karena keberuntungan, tapi juga kemauan untuk tetap bertahan. Ia seekor penyu, dan tidak ada yang lebih baik selain menjadi penyu yang tumbuh dengan tabah.

Ketika tempurungnya berkembang selebar piring raksasa, ia mencari jalan kembali ke pantai tempat ia dulu dilahirkan. Di antara perjalanan pulang itu, ia menemukan pasangannya. Beberapa minggu berlalu, saat matahari terbenam, pelan-pelan ia mendorong tubuhnya ke tempat yang tidak dapat dicapai oleh ombak. Ia menggali lubang pasir untuk membuat sarang. Semuanya berakhir dengan cerita yang sama; seratus butir telur yang rapuh, seratus butir telur yang sebentar lagi ditinggalkan, seratus butir telur yang ia serahkan penjagaannya pada alam semesta…

Hatinya hangat dan jiwanya terasa penuh saat ia berkata kepada telur-telurnya, “Aku telah melintasi lautan, pergi ke tempat yang jauh untuk diingatkan tentang siapa diriku sebenarnya. Aku memang beruntung mampu melalui semua bahaya. Tapi kupikir, keberuntungan tidak akan kumiliki jika aku menyerah. Aku tidak akan ada di sini untuk menceritakan segala kisah itu. Anak-anakku, petualangan hebat telah menunggu di luar cangkang. Kalian harus menjalaninya sendiri dengan berani, seperti yang seharusnya terjadi.”

Lalu seperti ibunya dahulu, ia pun merangkak kembali ke laut dan tidak menoleh lagi.




==================
Mariati Atkah. Mengikuti program residensi yang diadakan oleh Rumata’ ArtSpace bekerja sama dengan British Council Indonesia pada tahun 2019. Dari program ini, terbit buku anak berjudul Tenri dan Kisah Jari-Jari. Buku puisi tunggalnya berjudul Selama Laut Masih Bergelombang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2020). Sekarang menetap di Ternate.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here