ADA
sepotong adagium menarik terkait bahasa. Bunyinya, “Siapa yang menguasai bahasa, ia akan menguasai dunia.” Dari yang sepotong itu terlihat betapa pentingnya kedudukan bahasa. Tidak perlu mengangkat senjata, melakukan penjajahan, ataupun mengobarkan perang Dunia Ketiga. Cukup dengan bahasa, seseorang bisa menaklukkan dunia.

Bahasa merupakan unsur yang senantiasa melekat pada manusia di sepanjang hidupnya. Dari bangun tidur sampai terlelap lagi. Dari A hingga Z, semua aktivitas manusia pasti menggunakan bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi, sarana untuk berekspresi, dan instrumen kemanusiaan. Tak berlebihan kiranya apabila mengatakan bahasa adalah segala-galanya. Sebab segala apa yang ada di alam semesta ini pun, baik yang nyata maupun yang niskala, dapat dikenali, dipahami, dan dimaknai lewat perantaraan bahasa.

Lantas, bagaimana jadinya jika manusia tidak berbahasa, atau tak mampu berbahasa dengan baik? Oh, tentu ia akan kehilangan kemanusiaannya, kesejatiannya, karena bahasa bersifat eksistensial—ia yang membedakan manusia dengan selainnya. Maka, fardu hukumnya bagi seseorang untuk menguasai bahasa, terampil menggunakannya.

Kecakapan berbahasa yang paling dasar yang mesti dimiliki ialah menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Menyimak dan membaca bersifat reseptif, berbicara dan menulis bersifat ekspresif.

Menyimak menjadi keterampilan berbahasa yang pertama dimiliki manusia, tentu dari level yang paling sederhana. Bermula sejak ia dilahirkan—kecuali kalau menangis dianggap sebagai bagian dari berbicara, dan barangkali juga menjadi keterampilan berbahasa yang terakhir merekat pada manusia.

Meski sudah dimiliki sejak seseorang muncul pertama kali ke dunia, menyimak bukan perkara yang bisa dianggap kecil. Ada orang yang menyimak, tetapi tidak memahami. Bila disampaikan sesuatu kepadanya, sesuatu itu hanya melintas masuk dari kuping kiri, keluar lewat kuping kanan. Orang-orang yang seperti tempayan tertiarap dalam air. Orang-orang bebal. Ditambah lagi, pada zaman kiwari ini, orang-orang sudah mulai enggan menyimak suatu penuturan berlama-lama. Semua inginnya serba cepat dan instan, to the point, antibasa-basi. Sehingga efeknya bukan saja menimbulkan ketidakpahaman, tetapi lebih buruk lagi, yaitu kesalahpahaman—dan kesalahpahaman, sebagaimana lazim diketahui, adalah pangkal dari banyak kekacauan.

Sedangkan membaca, walau fungsinya paralel dengan menyimak, menjadi keterampilan berbahasa yang lebih atau bahkan yang paling populer. “Literasi, tingkatkan literasi!” Orang-orang berseru sambil menggunakan buku sebagai simbol di mana-mana. Menandakan kepedulian terhadap aktivitas membaca—walau literasi bukan hanya berarti kemampuan membaca. Namun, sepertinya saat ini seruan-seruan untuk menggairahkan minat membaca masih sebatas slogan dan formalitas belaka. Tengoklah hasil survei-survei terkait tingkat minat membaca orang-orang dan akan ditemukan betapa mungilnya angka-angka yang muncul. Padahal membaca adalah kegiatan yang punya banyak keajaiban.

Ialah Maria Keller, sebagai contoh salah satu orang yang menemukan keajaiban membaca dan membagikan keajaiban tersebut pada orang lain. Bayangkan saja, di umurnya yang baru tiga belas tahun (pada tahun 2013) ia sudah mendirikan organisasi bernama Read Indeed dan telah mendonasikan lebih dari satu juta buku! Kepada anak-anak yang tidak memiliki akses bacaan ia mendedikasikan kepeduliannya tersebut.

Pertanyaan yang penting untuk diajukan: dari mana munculnya kesadaran untuk bertindak luar biasa seperti itu? Ternyata sejak kecil Keller sudah diajarkan oleh orang tuanya untuk bertamasya bersama buku. Dari aktivitas membaca sejak kecil itulah semua kisah heroiknya bermula. Maka, alangkah indahnya jika semua orang punya hobi membaca seperti dirinya sehingga bisa melahirkan lebih banyak lagi keajaiban untuk dunia.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa dua keterampilan berbahasa tersebut punya pengaruh yang signifikan terhadap kualitas seseorang. Melalui menyimak dan membaca seseorang bisa memiliki ilmu pengetahuan. Lewat menyimak dan membaca jugalah perbendaharaan pengalaman dan pemikiran manusia dibangun. Dua aktivitas tersebut merupakan gerbang yang mengantarkan seseorang untuk memahami realitas, mengungkap pelbagai rahasia kehidupan dan dunia, sampai puncaknya menggapai derajat kemanusiaan yang lebih tinggi.

Tentu menyimak dan membaca yang dimaksud bukan sekadar menerima atau mengonsumsi rangkaian aksara. Lebih dari itu. Menyimak dan membaca yang baik ialah mencerna, menguraikan, menganalisis, mengkritisi. Bukan sebatas terhadap “kata-kata”, tetapi segenap bahasa yang diciptakan manusia—perilaku, sifat, dan segala sistem tanda. Setelah semua proses menyimak dan membaca, yang sangat penting juga, adalah mengejawantahkan seluruh hasilnya melalui perilaku, sikap, dan cara-cara melakoni kehidupan.

Dua keterampilan itu pula yang selanjutnya akan meningkatkan kecakapan berbicara dan menulis. Makin baik kemampuan menyimak dan membaca seseorang, kian baik juga potensi keterampilannya untuk berbicara dan menulis. Telah menjadi aksioma bahwa mereka yang hebat dalam mengekspresikan diri adalah mereka yang hebat dalam menyerap ilmu pengetahuan. Sebaliknya, pepatah tong kosong nyaring bunyinya selalu menempel pada mereka yang tidak memiliki kecakapan menyimak dan membaca, tetapi banyak bualnya, entah melalui bicara atau tulisannya.

Jika dianalogikan, pentingnya keterampilan berbicara seperti pentingnya keahlian mengoper bola dalam permainan sepak bola. Tidak mungkin permainan sepak bola bisa berlangsung tanpa adanya oper-operan bola, begitu pula tak terbayangkan bagaimana kehidupan tanpa komunikasi lisan atawa berbicara. Sebagaimana juga permainan sepak bola akan berantakan apabila para pemainnya begitu buruk dalam mengoper bola, jalannya kehidupan seseorang pun akan menemui banyak kendala kalau keterampilan berbicaranya berada di bawah level rata-rata.

Seiras berbicara, menulis juga punya posisi yang vital dalam kumpulan hal-hal penting kehidupan seseorang. Jika berbicara berguna untuk komunikasi langsung, menulis bermanfaat untuk komunikasi tak langsung. Verba volant scripta manent, begitu bunyi ungkapan dalam bahasa Latin yang jika diterjemahkan secara sederhana berarti ‘yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi’. Jika dijelajahi, tidak akan terbilang jumlah ungkapan, peribahasa, ataupun nasihat dari para bijaksanawan yang juga tak terbilang jumlahnya tentang keutamaan menulis.

Dengan demikian, akhirnya, intelektualitas seseorang dapat diukur melalui apa yang ia tulis dan bicarakan serta bagaimana ia menyampaikannya. Tentu, sebagaimana menyimak dan membaca, berbicara dan menulis pun tak bisa disimplifikasi begitu saja. Bahaya akibatnya jika seseorang hanya asbun, asal bunyi. Bukan sekadar menjadikan dirinya sulit dimengerti dan membuat orang lain susah memahami, tetapi juga merendahkan bahasa itu sendiri. Apa gunanya bahasa kalau pemakainya tetap saja tidak dapat menangkap maksud satu sama lain?

Empat keterampilan berbahasa itu yang apabila ada dalam diri seseorang, lengkaplah dirinya. Memang hampir semua orang memiliki kemampuan untuk menyimak, membaca, berbicara, dan menulis, tetapi sedikit jumlahnya mereka yang benar-benar terampil. Untuk itu penting kiranya disadari bahwa untuk terampil dalam menggunakan senjata yang bernama bahasa itu dibutuhkan proses belajar dan latihan yang panjang dan melelahkan. Sebab bukan main dahsyatnya kemampuan bahasa itu. Sebab dengan bahasa seseorang bisa menjelajahi apa saja dan berpetualang ke mana saja. Ia dapat menjelajahi dirinya dan orang lain, menelusuri dunia dan alam semesta. Memahami kehidupan dan bahkan kematian—serta hal-hal yang menyertainya. Sepenuhnya.

Yogyakarta, 7 Agustus 2021




====================
Febrian Eka Ramadhan. Masih belajar di Universitas Negeri Yogyakarta pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Juga aktif sebagai anggota di Komunitas Literasi Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta. Beralamat di Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here