Lemari
: Wregas Bhanuteja – Lemantun

Lembar usia terlipat dalam lemari
di sudut-sudut rumah ibu
tiap satu anaknya lahir
satu lemari juga hadir
Waktu adalah keris keramat
yang ingin digenggam erat
Jika suatu waktu
ajal hampir labuh
Dikeluarkannya keris itu
memerang malaikat maut
datang untuk menjemput

Anak-anak serupa panah
terlepas luncur dari busur
Yang melenting jauh mendapat puji
Yang mendarat dekat sering dicaci
Adakah bakti diukur dari angka gaji
Adakah cinta diuji dari gelar nama

Sebilah panah yang tak melenting
Tertinggal di rumah ibu
Ia menjelma bakti tak bergaji
Ia menjadi kasih tanpa nama
Ia yang tidak menyemat bangga
Mengiba ibu hingga waktu tiba.

(2021)



Mandi

Di pekarangan rumahku
bulan menumpang mandi
dalam sendang berbilik bambu
Sebelum magrib tabuh
lekas ia guyur tubuh

Dari balik bilik
ia lepas mata, telinga,
kaki, tangan dan kemaluan
ia tanggalkan celana
dan baju
disikatinya satu-satu
mengalir limbah-limbah
menuju pembuangan
yang mengaliri kebun tobat

Bulan hendak bertemu Tuhan
dengan telanjang
di depan pintu malam,
ia dihadang
“Tunggu dulu!
Hatimu belum kau bersihkan”

(2022)




Balapan Liar

So little time
Try to understand that I’m
trying to make a move just to stay in the game
– Keane

Selepas tigapuluh
waktu meluncur bak balap liar
kamu yang tertegun
tak sempat memakai helm
dipaksa bonceng laju kebutuhan
untuk hidup, untuk tabung, untuk main
luar biasa perencana keuangan itu
menginspirasi para pekerja
untuk tak pulang sebelum kaya

Semua di sekelilingmu menjelma pembalap
teman-teman selow mu sudah lenyap
ada pembalap sirkuit
kerjanya jadi budak korporat
ada pebalap sepeda
banyak kerja tak seberapa dapatnya
dan kau pembalap cupu
masih tak tahu lintasanmu

Lain waktu kau coba menyalip kereta
si penggendong para buruh
pulang ke rumah subsidi nun jauh
Lalu kau menghitung panjang umurmu
dengan tenor KPR yang wagu
menghitung warisan orang tua
yang tak berbunyi apa-apa di kota
sepertinya kau akan bergabung
dengan para buruh itu

Waktu terus balapan
hingga jauh larut malam
Tawadu’ yang tabah
Panik melihat semua orang berubah
tak ada lagi yang sama
semua orang serba tergesa.

(2022)




Reuni Sedehana
: sdd

Aku ingin reuni sederhana
seperti kolang-kaling
bertemu bulan puasa
keduanya bungah bersua
Pada biji putih itu
puasa tak bertanya:
kau sudah jadi apa?

Opor ayam bertemu rendang
tak bertikai siapa paling nyaman
ia yang lunak
hormat pada ia yang tanak
Lauk itu tak saling bertanya:
Nasibmu kok begini saja?

Aku ingin reuni sederhana
pertemuan sangkal dan terima
persuaan tunda dan semoga
Aku ingin reuni sendiri
diri bertemu sepi
lalu saling bertukar
puisi.

(2022)






==================
Arnis Silvia lahir di Jember, Jawa Timur, mengajar sebagai dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Melanjutkan studi S-3 dan mengajar sebagai tutor Creative Writing di University of South Australia. Saat ini Arnis tinggal di Tangerang Selatan sembari menyelesaikan studinya. Buku tunggalnya antara lain: Titi Kala Mangsa (2017), Behind the Closed Door (2017) dan Niskala (2019). Puisi-puisinya dimuat di media, jurnal dan majalah daring. Tergabung dalam Kelas Puisi Bekasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here