Buku

Home Buku

Kampung Kekasih (Info Buku)

0

Jenis: Kumpulan Puisi
Penulis: Daviatul Umam
Pengantar: Raedu Basha
Penerbit: Halaman Indonesia, Yogyakarta.
Cetakan: Pertama, November 2019
Tebal: 69 halaman
ISBN: 978-602-0848-30-7

Davit bicara tentang sisi-sisi pencitraan yang memungkinkan dapat kita nikmati imajinasi-imajinasinya. Sisi yang paling mencolok, puisi-puisi Davit menunjukkan sketsa-sketsa tentang spiritualitas masyarakat agraris dan maritim, hampir di semua sajak-sajaknya.
Citra-citra spiritualitas petani, juga nelayan, terhidangkan. Kita akan tahu bagaimana masyarakat Madura memandang kehidupan dari puisi-puisi Davit. Minimalnya dari sudut pandang seorang penyair muda ini.
Kita juga akan berjumpa sajak-sajak yang ingin dimanja sebagai puisi-puisi cinta. Semua penyair dapat melakukan hal serupa di belahan dunia. Kesan yang saya tangkap adalah pantulan lirik-lirik musik dangdut. Khas sekali sebagai selera musik dunia agraris dan alam kaum maritim.

(Raedu Basha, penyair, prosais, penulis buku Matapangara & Hadrah Kiai)
*
Puisi-puisi yang terhimpun dalam Kampung Kekasih menyandarkan diri pada peristiwa-peristiwa kecil yang riang menampilkan gambaran kampung halaman. Lewat pengungkapan diksi-diksinya yang khas, ia tidak hanya bergulat menampilkan apa yang telah terhampar di tengah riuh fitur-fitur alam pedesaan, tetapi sekaligus menuturkan tinjauan tentang rantauan, suara dari jauh, dengan melakukan perbandingan romantik antar keduanya. Menyelami Kampung Kekasih adalah menyelami dambaan perasaan penyair akan kemesraan, kedamaian, ketulusan pengabdian dan kerelaan yang lantang. Pendekatan puisi-puisi Daviatul Umam berpegang pada bentuk bait yang runut, menjadikan pengalaman di dalamnya memiliki pertautan dengan tafsir pembaca.

(Iin Farliani, penyair & cerpenis, penulis buku Taman itu Menghadap ke Laut)

Mengintip Kehidupan Keras di Jakarta Lewat Wesel Pos Milik Ratih Kumala

1



KALAU memosisikan diri sebagai pendatang yang mengadu nasib di Jakarta, bagi saya, hidup di sana pasti betul-betul tidak mudah melebihi hidup di kampung sendiri. Jangankan mengadu nasib, sehari berada di Jakarta saja saya sudah tidak betah dan menyerah dengan kemacetan, keruwetan, dan udaranya yang begitu panas. Memang, “Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.” (hlm. 1). Lantaran perlu kesabaran, kesiapan fisik dan mental, serta ketahanan yang tinggi agar tidak mati dikalahkan oleh kerasnya Jakarta. Kehidupan keras di Jakarta cukup jelas tergambar dalam Wesel Pos karya Ratih Kumala melalui kisah Elisa Fatunisa yang merantau.

Elisa hendak mengabarkan kematian Ibu pada kakaknya, Ikbal Hanafi, di Jakarta sekaligus mencari peruntungan dengan bekerja di sana. Belum lama tiba di Jakarta, Elisa sudah dihadapkan pada ketidakberuntungan, merasakan kerasnya Jakarta, dan kenyataan-kenyataan yang mengejutkan dirinya. Hidupnya sudah dramatis dan penuh ujian. Mulai dari kehilangan tas yang ia titipkan kepada ibu-ibu penjual kopi keliling, terjebak berjam-jam di kantor polisi, kesulitan menemukan kakaknya akibat informasi yang ia punya tidak lengkap, dicap perek oleh tetangga, hingga disebut sebagai cewek hot oleh bos penjual narkoba.

Berbekal alamat yang tertera pada wesel pos yang dikirim Ikbal, Elisa mencari Ikbal yang sudah lebih dari dua tahun tidak menjumpainya di Purwodadi. Namun, nyatanya tidak segampang yang ia duga. Minimnya informasi membuat Elisa kebingungan ketika ditanya mengenai Ikbal. Beruntung, sekuriti penjaga gerbang gedung di mana Ikbal bekerja menyuruh Elisa bertanya pada Fahri, sopir kantor pribadi Bos Lukman—pemilik Megantara Grup. Selagi mencari Ikbal, Elisa menumpang di rusun tempat Fahri tinggal. Tinggal bersama Fahri pun tidak mudah. Ia kerap menjadi bahan gunjingan dan menerima tatapan penuh curiga yang kurang menyenangkan dari tetangga.

Keesokan harinya, ketika Elisa sedang membereskan isi laci-laci lemari, ia terkejut sekaligus bingung mendapati bukti pengiriman wesel pos dan surat untuk Ikbal yang masih utuh dan belum terbuka—yang ia kirim beberapa minggu sebelum Ibu meninggal. Tak lama setibanya Fahri di rumah, Elisa langsung menanyakan hal tersebut dan mendapati jawaban yang membuatnya kehabisan kata-kata dan tak percaya. Kebenaran akan kiriman wesel pos yang rutin Elisa terima setiap bulan sekaligus menghapus rasa penasaran yang selama ini mengganjalnya. Kenyataan kadang memang menyakitkan dan pada akhirnya diam menjadi satu-satunya hal yang bisa kita lakukan.

Kabar dan segala hal yang ingin diketahui Elisa perihal Ikbal sudah ia dapatkan. Jelas tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain kembali ke kampung. Namun, terjadi sesuatu pada Fahri dan membuat Elisa memutuskan untuk tetap tinggal. Keputusan Elisa merawat Fahri dan kepedulian terhadapnya telah mengubah rencana dan ikatan antara keduanya. Elisa semakin mengenal Fahri dan mengetahui fakta kehidupan keras yang dijalaninya, baik untuk bertahan hidup dan menggantikan Ikbal maupun membantu keluarga yang kesusahan. Cerita kemudian berfokus pada Fahri dan upayanya untuk bisa lepas dari pekerjaan sampingannya sebagai kurir narkoba.

Penokohan yang Kuat dan Wesel Pos sebagai Penutur

Sama dengan dua buku Ratih yang sudah saya baca, penokohan dalam novelet ini pun kuat. Para tokoh yang dihadirkan, baik tokoh utama maupun tokoh yang hanya hadir sekejap, semuanya memiliki peran yang pas dan menggerakkan cerita. Tidak ada tokoh yang sekadar tampil dan mubazir. Salah satunya bisa kita lihat dari sikap empat tokoh yang paling menarik perhatian sejak awal; Elisa, Fahri, Bu Hilda, dan Mas Memet. Keempat tokoh yang, menurut saya, paling menghidupkan cerita. Elisa dengan keluguannya, Fahri dan kehidupan kerasnya, Bu Hilda dengan kekepoan dan penilaian negatifnya, serta Mas Memet dengan kelucuannya.

Kenaifan dan keluguan Elisa tampak jelas sejak cerita dimulai. Kita bisa lihat dari sikap Elisa yang percaya begitu saja kepada penjual yang kelihatannya baik dan menganggap semua pelaku kriminal bisa ditangkap dengan melapor pada polisi—termasuk percaya polisi bisa menangkap gembong narkoba dan membereskan masalah Fahri. Kesederhanaannya terus diuji selama tinggal di Jakarta. Di mata Elisa seperti tidak ada orang yang betul-betul jahat dan semua masalah bisa diselesaikan dengan cara yang menurutnya benar meskipun tidak sesederhana kelihatannya.

Pilihan-pilihan yang diambil Fahri mulanya muncul atas dasar peduli dan pertalian saudara yang, walaupun tidak baik, tetap ada keterikatan. Hal ini terlihat dari niat baiknya untuk memperbaiki hubungan dan menolong sekalipun harus bekerja dengan bos penjual narkoba. Gaji yang pas-pasan dan banyaknya biaya yang mesti Fahri penuhi memaksanya untuk mengambil jalan pintas. Kalau melihat realitas, tokoh Fahri ini tampaknya hampir mustahil ada. Mungkin ada, tetapi saya pikir sangat sulit menemukan laki-laki yang masih bisa bersikap baik ketika bertemu perempuan naif seperti Elisa.

Ratih menggambarkan secara jelas bagaimana kebanyakan orang sering menilai dan berasumsi yang tidak-tidak terhadap seseorang seakan-akan asumsinya benar—misalnya, anggapan umum tentang laki-laki dan perempuan yang tinggal seatap dan bukan muhrim—dan rasa kepo yang besar atas kehidupan seseorang lewat Bu Hilda dan gunjingan lain yang diselipkan dalam narasi. Mas Memet boleh dibilang sebagai penyimbang tokoh Bu Hilda yang cukup menyebalkan. Sebab, kelucuannya mampu menetralkan kesebalan, baik dari cara berbicara, banyolan, maupun ucapannya.

Deskripsi yang detail tentang kebiasaan tokoh, tempat, dan lain-lain membuat ceritanya semakin terasa nyata dan dekat. Namun, sayangnya, penggunaan Wesel Pos sebagai penutur justru terasa semakin hilang menjelang pertengahan buku. Cerita dari kacamata Wesel Pos hanya ada pada empat bagian awal, kemudian keberadaannya tidak diketahui dan sampai bab sepuluh tidak diceritakan lagi sehingga memunculkan keanehan. Lantaran pada bab akhir tiba-tiba muncul penuturan Wesel Pos yang seolah-olah selalu melihat atau tahu setiap peristiwa yang terjadi, baik di unit Fahri maupun di luar. Sudut pandang yang digunakan pun berujung kurang jelas.

Kehidupan kaum kecil yang disajikan dalam Wesel Pos cukup menarik dan memperlihatkan Jakarta yang sulit ditaklukkan, serta orang sakti dan orang sakit yang hidup di Jakarta—meskipun dari segi cerita kurang memuaskan dan kurang gereget karena konflik yang sederhana dan plot yang mudah tertebak. Selain itu, hampir serupa dengan cerita-cerita yang biasa kita jumpai dalam film televisi (FTV). Namun, wajar saja kalau melihat dari bentuknya dan mungkin memang Ratih sengaja mengambil tema yang ringan agar bisa dihabiskan dalam sekali duduk.

Novelet ini tidak berhasil membuat saya takjub seperti ketika membaca Gadis Kretek—novel sarat pesan yang memuat sejarah kretek di Indonesia—maupun kumpulan cerpen menyenangkan berisi cerita-cerita tidak membahagiakan dalam Bastian dan Jamur Ajaib. Akan tetapi, Wesel Pos berhasil menghibur lewat penokohan yang kuat dan penceritaan yang apik. Keadaan kadang mengharuskan kita untuk bertahan dan memilih pilihan ataupun jalan yang bertentangan dengan hati—seperti yang dilakukan Fahri dan Elisa—sekalipun kita tidak tahu kedua hal itu akan membawa kita pada keberuntungan atau kemalangan lainnya, bahkan akhir yang tragis.

Menganyam Delusi, Mengikhtiarkan Masa Depan dan Menyalakan Api di Sorot Mata yang Padam

0

Judul      : Memetik Keberanian: Kumpulan Cerita Anak-Anak
Jenis      : Cerita Anak
Penulis    : Deasy Tirayoh, dkk.
Penerbit   : Gora Pustaka, Makassar
Cetakan    : Pertama, April 2019
Tebal      : 140 halaman 
ISBN       : 978-623-90475-1-1

Menghargai anak-anak sama dengan menghargai masa depan. 

Gempa yang terjadi di Lombok pada akhir bulan Juli 2018 lalu, disusul tsunami di Palu dan Donggala, masih segar dalam ingatan. Seruan doa, jerit tangis dan air mata dari berbagai penjuru terbentang di seluruh siaran berita. 

Duka ini menepuk haru biru ingatan kita pada tujuh peristiwa bencana tsunami, setidaknya, yang melanda Indonesia sejak bertahun-tahun silam. Dimulai dari bencana tsunami di Sulawesi Tenggara (1968), tsunami Sumba (1977), tsunami Flores (1992), tsunami Banyuwangi (1994), tsunami Banggai (2000), tsunami Aceh 2004) dan tsunami Pangandaran (2006). 

Seperti halnya tsunami di Aceh, bencana tsunami Pangandaran dimulai dari gempa yang disertai gelombang tsunami yang membuat warga di pantai selatan Jawa Tengah dari Kebumen hingga Cilacap panik. 

Bencana tsunami di Aceh membawa korban paling besar. Sekitar 230.000 orang dari 14 negara tewas akibat tsunami dahsyat yang melanda Samudra Hindia pada 26 Desember 2004. Tsunami ini dipicu gempa berkekuatan 9,1 skala Richter yang episentrumnya berada Samudra Hindia, sekitar 85 km di barat laut Banda.

Bencana, seperti apa pun bentuknya tentu selalu membawa korban. Baik materi dan non materi, baik nyawa mau pun harta benda. Tak terkecuali kaum dewasa dan anak-anak. Traumatika kemudian berdiri sebagai momok yang disisakan sesudahnya. 

Pasca bencana gempa Lombok, senyum anak-anak raib dari rautnya. Keceriaan hilang dari matanya. Ketakutan dan trauma mengambil mimpi mereka. Masa depan yang membayang di luar sana, bahkan turut lantak bersama luruhnya tembok-tembok sekolah.

Seorang anak kecil pada sebuah wawancara di televisi mengatakan ingin kembali ke sekolah dan bermain bersama teman-temannya. Di matanya yang bersih tak tersirat kekhawatiran pada rasa lapar, tak tersirat rasa kehilangan atas harta benda orang tuanya yang terkubur di bawah reruntuhan bangunan. 

Bisa jadi mereka belum memiliki kecemasan sejauh perasaan yang terdapat di dalam benak manusia dewasa. Bisa jadi mereka belum mempunyai getir sejauh luka kekecewaan yang ditanggung orang dewasa. 

Adakah mereka merasakan takut pada ancaman bencana? Tentu, mereka pun merasakannya. Pada wawancara yang sama, beberapa dari mereka mengungkapkan, bahwa pengungsian merupakan tempat yang paling membosankan. Di sinilah kita dapat mengukur ketakutan yang hinggap di hati mereka. 

Terpisah dari sekolah dan berjarak dari teman-teman sepermainan dalam kurun waktu yang tak jelas hingga kapan di pengungsian, adalah salah satu dari sekian masalah yang mereka hadapi, selain persoalan logistik dan kesehatan yang tak bisa dipandang remeh. 

Di luar wujud dukungan material, Lombok, sebagai salah satu lingkungan terdampak bencana, tentu saja masih membutuhkan perhatian dari para pihak demi pemulihan. 

Dukungan yang bersifat fisik dan temporal bisa jadi lebih dari cukup. Sayangnya, bentuk dukungan dari para pihak, tak banyak yang terkonsentrasi pada kebutuhan pemulihan psikis anak-anak korban bencana. Trauma healing barangkali merupakan salah satu bentuk upaya yang dapat dilakukan. 

Anak-anak korban terdampak bencana perlu dipulihkan kembali mimpi-mimpinya. Anak-anak korban terdampak bencana membutuhkan pendampingan agar mereka tidak pernah merasa sendiri. Anak-anak korban terdampak bencana harus dapat memetik dan memiliki keberanian kembali. 

Dan kehadiran buku cerita anak ini sedianya merupakan jembatan untuk mempertemukan kembali dengan segala yang pernah raib dari mereka disebab bencana. Melalui bacaan yang menggugah harapan-harapan inilah, kita ingin meyakini, supaya anak-anak dapat segera pulang menemui keceriaannya. Menyalakan api di sorot mata yang padam. 

Terakhir, penyusunan cerita anak ini tentu bukanlah hal yang mudah. Kami, tim penyusun berterima kasih terhadap tingginya antusias dari rekan-rekan penulis yang mengirimkan karya, hingga kami merasa perlu untuk melakukan kerja kurasi.

Kerja kurasi yang sesungguhnya merupakan bentuk penyesuaikan dengan perihal yang berkaitan dengan penerbitan buku ini, termasuk di antaranya, penyesuaian tema dan komposisi. 

Kami mohon maaf, dengan sangat terpaksa tidak dapat mengikut sertakan semua naskah yang kami terima. Persoalan terkait pendanaan merupakan alasan riil yang dihadapi oleh penerbitan buku ini. 

Kami memutuskan menaruh harapan tersebut kepada kerelaan kita semua untuk memberikan donasi. Kita menyadari, bahwa ada saatnya kita benar-benar ingin memberi. Kesempatan tersebut salah satunya saat kita turut membantu menyebarkan ide atau cerita-cerita dalam buku ini. Silakan bagi yang berminat bisa menghubungi
via email:
storybookforlombok@gmail.com

atau via Whatsapp
(0819 4222 249/0813 3156 9963)

* Harga Rp. 100 ribu (satu examplar)
* Harga Rp.150 ribu (dua examplar)
* Harga Rp.200 ribu (tiga examplar)
* Setiap pembelian hanya dibatasi tiga examplar saja.

Ingatan dari Kehilangan Ibu

0
Judul      : Please Look After Mom
Penulis : Kyung Sook Shin
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetak : Kelima, Februari 2020
Tebal : 296 halaman
ISBN : 978-602-031-540-9


Novel mengharukan berjudul Please Look After Mom (2020) garapan Kyung Sook Shin, bercerita tentang hilangnya Ibu saat hendak mengunjungi anak-anaknya di Seoul. Ayah tidak sadar Ibu terpisah di stasiun kereta bawah tanah dan mengira masih mengikuti dari belakang. Hilangnya Ibu menjadi titik balik memikirkan hal-hal emosional; kasih sayang, buku, makanan, rumah, kelelahan, kebanggaan, kenakalan, sakit, atau cinta yang lain. Namun secara sosial-kultural, kejadian sangat sehari-hari digunakan penulis untuk memikirkan pola asuh, capaian pendidikan, tata kehidupan patriarki, peran domestik, dan masyarakat yang berubah seiring Korea Selatan menjelang modernitas-dari kehidupan agraris ke industri.

Ibu memiliki lima anak dan hampir mengabdikan hidupnya untuk mengurusi keluarga dan rumah. Anak-anak jelas mencintai Ibu, tapi sayangnya Ibu lebih jauh tidak terukur. Ketika Ibu hilang, anak-anak tergugat rasa bersalah dan saling menyalahkan. Ada ketakutan mengakui bahwa mereka tidak lagi menganggap terlalu “penting” Ibu. Kehidupan kerja, karir, dan rumah tangga membuat hubungan berubah. Cerap, “Di suatu titik, percakapan-percakapan antara kau dan Ibu menjadi seperlunya saja. Bahkan itu pun tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui telepon. Paling-paling kau sekadar bertanya apakah Ibu sudah makan, apakah Ibu sehat-sehat saja, bagaimana keadaan Ayah, bahwa Ibu harus menjaga kesehatan supaya tidak masuk angin, bahwa kau akan mengirimkan uang.”

Sering yang terpikirkan Ibu bukan uang dikirim anak, tapi suatu kunjungan atau lebih emosional “kepulangan” ke rumah. Bagi anak menetapkan jejak di kota, pulang justru permintaan terlalu mewah dan sulit. Sebaliknya, Ibu menjelmakan diri pada kiriman-kiriman, terutama makanan yang selalu jadi penghubung sejak anak-anak belia di desa, “Ibu bercerita bahwa dia membuat kimchi dan mengirimkannya sedikit, bahwa dia suka bermimpi aneh-aneh, bahwa dia mengirimkan nasi, atau saus bumbu, bahwa dia merebus sedikit tanaman obat untuk dikirimkan padamu, dan bahwa kau jangan sampai mematikan teleponmu, sebab kurir akan menelepon dulu sebelum mengantarkan paket-paket itu.”

Pendidikan dan Makanan

Dalam kehidupan tradisional bahkan sulit dihilangkan dalam kehidupan modern, keistimewaan selalu milik anak pertama. Kepada Hyong-chol, Ibu meletakkan kasih sekaligus kebanggaan. Hyong-chol pun membalas Ibu dengan personal sangat membanggakan; patuh, pintar, dan mandiri. Anak pertama sering terbebas dari tugas rumah tangga, mendapat makanan terenak, dan setiap kebutuhan didahulukan meski anak pertama juga paling dulu meninggalkan rumah, “Ketika makanan lezat bernama mi ini memasuki hidupmu, dia pun mengalahkan setiap masakan yang pernah dibuat Ibu. Ibu akan membeli mi dan menyembunyikannya di dalam guci kosong di antara deretan guci tanah liat, untuk disimpan sambil menunggu kedatangan Hyong-chol. Tetapi walaupun sudah larut malam, aroma mi rebus pasti membuat kau dan saudara-saudaramu terbangun. Kalau Ibu berkata tegas, “Kalian semua tidur lagi,” kalian semua akan menatap Hyong-chol yang hendak makan. Karena kasihan, dia akan menawarkan sedikit mi pada kalian.”

Meski mengistimewakan anak pertama, masalah pendidikan anak sama ambisius bagi ibu tradisional ataupun modern Korea-di desa dan di kota. Sejak Korea memodernkan diri usai Perang Korea, pendidikan tidak hanya dinikmati oleh kaum ningrat dan konglomerat. Di sini, kegigihan Ibu mengumpulkan uang tampak di sela kerja dosmetik. Bahkan, jenis kesempatan ekonomi Ibu sangat domestik. Cerap, “Di desa ada keluarga yang memproduksi tahu, dan ketika ibu membawa raginya kepada mereka, mereka menjualnya ke pabrik bir dan memberikan uangnya kepada Ibu. Ibu menyimpan uang di dalam sebuah mangkuk putih, menumpuknya di bawah enam atau tujuh mangkuk lainnya, lalu menaruhnya di atas deretan lemari […] Kalau kau membawa pulang lembar tagihan uang kuliah, Ibu mengambil uang di mangkuk itu, menghitungnya, dan menaruhnya di tanganmu.”

Pukulan telak datang ketika Hyong-chol ternyata tidak lulus ujian universitas. Rencana hidup harus lekas dibelokkan. Hyong-chol memilih ikut ujian pegawai negeri, bekerja, dan mengambil kelas hukum di malam hari. Hyong-chol tidak bisa “berleha-leha” menunggu pendaftaran tahun depan. Di kondisi ini, jelas Ibu paling merasa bersalah dan terus mengatakan, “Maafkan Ibu, Hyong-chol.” Meski Hyong-chol akhirnya makmur bekerja di wilayah properti, tetap ada kekecewaan besar tidak bisa menyokong mimpi anak laki-laki.  

“Tidak ada yang namanya orangtua yang santai,” tulis jurnalis Myung Oak Kim dan Sam Jaffe di buku The New Korea (2013). Orangtua di Korea sangat mengemban peran dan pengasuhan dengan sangat serius. Capaian pendidikan salah satunya, menjadi indikator keberhasilan menjadi orangtua. Jika anak sakit atau gagal bahkan gagal sebagai manusia sukses kala dewasa, selalu berarti orangtua salah. Setiap tindakan perlindungan, semangat, dan tata asuh yang teliti sejak belia, memuat konsekuensi pada nasib anak di masa mendapat.

Secara emosional, Ibu hampir selalu ada dalam hari-hari tumbuh anak meski secara intelektual Ibu bukan orang terdidik. Hari-hari Ibu di dapur pun dijadikan Kyung Sook Shin membabar peran domestik yang terlalu dibebankan pada perempuan. Setelah Ibu menghilang, mereka sadar tidak pernah menanyakan apa benar-benar disukai Ibu. Ibu selalu di dapur sebagai keharusan dan tidak pernah ada anak yang menggugatnya. Begini, “Masih ingat betapa besar periuk nasi kita? Dan ibu mesti menyiapkan makan siang juga untuk kita semua, termasuk semua lauk sampingan yang dibuatnya dengan bahan apa pun yang bisa didapatnya di desa…Bagaimana Ibu menjalani itu setiap hari? […] Kau tak pernah membayangkan sosok Ibu di luar dapur. Ibu dan dapur seolah sudah menyatu dan tak terpisahkan. Ibu adalah dapur dan dapur adalah ibu. Kau tidak pernah bertanya-tanya, “Sukakah Ibu berada di dapur?”

Ingatan dapur secara sengaja disodorkan kepada Chi-hon, anak ketiga, perempuan, mandiri, berkarir sebagai penulis cerita anak, dan belum menikah di usia yang menurut tata sosial sudah seharusnya menikah. Di sini, dapur pun menjadi ruang antara gagasan modern dan tradisional. Bagi Ibu, memasak harus dilakukan suka atau tidak suka. Tata sosial dan pengasuhan menjadikannya seolah wajib. Bagi Chi-hon, peristiwa dapur dipersepsikan sebagai pilihan untuk dijalani atau ditolak.

Penikmat film, drama, atau prosa Korea, tentu sangat sadar peristiwa makan sesederhana apa pun bentuknya, pasti hadir dalam kehidupan para tokoh. Bahkan meski arus urbanisasi semakin menuntut berpindah dari kehidupan komunal ke individual, makan tetap membawa pengingatan kepada keluarga, kebersamaan, kasih sayang. Anjuran selamat makan, makan yang banyak, makanlah dengan kenyang, atau ayo makan dulu memang terdengar biasa saja, tapi menyiratkan ekspresi penguatan mental menghadapi hidup. Korea memiliki masa lalu menyakitkan dijajah Jepang lalu perang saudara yang pernah membawa pada krisis identitas sekaligus pangan. Makan dengan kenyang secara politis, juga menunjukkan ekspresi pembebasan.

Di Look After Mom, Kyung Sook Shin memang akan selalu membawa ingatan kembali pada makan dan makanan. Ibu sering tampak di pekarangan, dapur, dan rumah. Lewat makanan, Ibu menciptakan dunia yang aman, membebaskan anak dari lapar, dan menyiapkan amunisi paling emosional. Cerap, “Bahkan waktu aku sibuk bukan main sehingga tidak sempat membetulkan ikatan handuk di kepalaku, kalau melihat kalian duduk di seputar meja, sambil makan dan menyembunyikan sendok dengan berisik di mangkuk-mangkuk, rasanya tidak ada lagi yang kuinginkan di dunia ini. Kalian semua begitu gampang. Kalian makan dengan lahap walau aku hanya membuat sayur labu dan kacang yang sederhana, dan wajah kalian berseri-seri kalau aku mengukus ikan sesekali […] Kalau aku menanak nasi sepanci besar dan membuat sup di panci yang lebih kecil, aku tidak memikirkan betapa capeknya aku. Aku hanya merasa senang karena semua makanan itu untuk mengenyangkan anak-anakku.”

Sembilan bulan Ibu menghilang, sama lama Ibu mengandung anak-anak. Sampai akhir novel Kyung Sook Shin tetap membuat Ibu tidak ditemukan. Lacakan mengarahkan ke tempat-tempat yang dulu pernah didatangi Ibu. Jangan-jangan, Ibu memang sengaja menghilang-sengaja tidak ingin ditemukan. Ibu barangkali sadar kehidupan (anak-anak) perlahan berubah. Segala upaya Ibu tidak akan sanggup melawan dekapan modernitas, terutama yang ditawarkan oleh pesona kota.



====================
Setyaningsih, Esais dan penulis Kitab Cerita (2019). Tinggal di Boyolali.


Menelusuri Sejarah Sepak Bola Dengan Sukacita

0


Judul Buku   : Mengapa Sebelas Lawan Sebelas? 
               Dan Serba-Serbi Sejarah Sepak Bola.
Penulis      : Luciano Wernicke
Penerbit     : Marjin Kiri
Penerjemah   : Mahir Perdana
Cetakan      : Pertama, September 2020
Halaman      : x + 175 halaman
ISBN         : 978-979-1260-91-6

Sepak bola adalah olah raga dengan paling banyak penggemar di muka bumi. Kecintaan masyarakat global terhadap tim-tim sepak bola dan para pemain bintangnya mampu menghapus batas jarak, ruang, dan waktu. Sebagai ilustrasi,  Real Madrid (Spanyol) memiliki akun Instagram yang diikuti oleh lebih dari 85 juta orang yang tersebar di berbagai negara. Cristiano Ronaldo, pemain Portugal yang kini bermain di Juventus (Italia), memiliki akun Instagram yang diikuti oleh lebih dari 200 juta orang seantero dunia.

Mereka yang menggemari sepak bola tentu memahami bahwa olah raga tersebut dimainkan oleh dua buah kesebelasan yang saling berhadapan dalam waktu 2 x 45 menit. Setiap tim akan berusaha mencetak gol ke gawang lawan demi meraih kemenangan. Ada wasit yang memimpin pertandingan dan ada aturan main yang mesti dipatuhi oleh kedua tim yang bertanding. Setiap gol yang tercipta akan menciptakan euforia bagi para pendukung setia yang menyaksikan langsung di dalam stadion maupun yang berada di depan televisi belaka. Senantiasa terdapat banyak momen berkesan saban menyaksikan sebuah pertandingan. Kegembiraan atau kedukaan secara silih berganti akan dirasakan dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya.

Namun, pernahkah kita mengetahui dari mana asal sepak bola? Siapa penyusun aturan-aturan awal sepak bola? Mengapa sepak bola dimainkan sebelas lawan sebelas? Mengapa pertandingan sepak bola berdurasi 90 menit? Siapa wasit pertama dalam sejarah?

Buku ini menjelaskan asal-usul dan evolusi olah raga terpopuler tersebut. Ada 100 teka-teki yang barangkali tidak bisa dijawab dengan mudah melalui sumber-sumber daring. Luciano Wernicke, penulis olah raga terkenal Argentina, melakukan penelitian mendalam dari buku-buku, surat kabar, dan dokumen di perpustakaan seluruh dunia untuk menemukan jawabannya dan merangkumnya dalam wujud sebuah buku yang terbit pertama kali di Kolombia pada 2017 dalam bahasa Spanyol.

Setelah rancangan peraturan umum pertama disusun pada 1863, sepak bola terus berkembang dipengaruhi berbagai peristiwa dunia selama lebih dari satu setengah abad kompetisi resmi. Dinamika permainan sepak bola menciptakan berbagai situasi unik dan lucu. Kemunculan berbagai elemen yang kini telah umum, seperti durasi pertandingan, aturan tentang jaring gawang, atau kartu kuning dan merah, dijelaskan secara gamblang di buku ini.

Sejarah awal Piala Dunia, Copa America, Liga Champions di Eropa, dan Copa Libertadores di Amerika Selatan menjadi materi yang dibahas pula oleh Wernicke. Sungguh banyak hal menarik dan fakta unik yang disampaikan dalam buku ini. Misalnya, ada pertandingan yang ditunda karena kembang api untuk pertama kalinya. Ternyata pernah ada seorang penonton yang diajak bermain di tengah pertandingan tim nasional.  

Siapa pemain yang mencetak skor terbanyak sepanjang karier? Siapa kiper yang paling banyak menahan penalti di satu pertandingan? Siapa pemain paling sukses mengeksekusi penalti? Wernicke memiliki data yang lengkap untuk menjawabnya.

Perlakuan diskriminatif terhadap pemain kulit hitam adalah salah satu masalah besar dalam sepak bola yang belum kunjung usai. Rasisme masih saja terjadi hingga awal tahun 2020 ini, seperti yang menimpa Mario Balotelli di Liga Italia Serie A 2019/2020. Balotelli adalah pemain Italia berkulit hitam keturunan Ghana yang pernah menjadi andalan timnas negaranya. Lantas, siapa pemain kulit hitam pertama dalam pertandingan resmi? Siapa pesepak bola pertama yang mengalami hinaan rasis?

Mungkin comeback paling dramatis yang pernah terjadi di laga final adalah pada 25 Mei 2005 di Istanbul, tempat tempat dimainkannya final ke-50 Liga Champions UEFA. AC Milan sudah unggul 3-0 di babak pertama. Liverpool berhasil menyamakan kedudukan di babak kedua menjadi 3-3 hingga menit ke-90.. The Reds akhirnya mampu merebut Piala Champions setelah menundukkan I Rossoneri dalam adu penalti.

Sebenarnya kemenangan Manchester United atas Bayern Muenchen dalam final Liga Champions Eropa 1998/1999 pada 26 Mei 1999 juga menyimpan kisah comeback yang dramatis. Muenchen sudah unggul 1-0 hingga menit ke-89. Ternyata United berhasil membuat dua gol dalam menit tambahan dan akhirnya sukses menjadi juara. Namun, pertandingan yang sungguh impresif tersebut tidak dicatat oleh Wernicke dalam buku ini.

Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mahir Pradana dari bahasa Spanyol. Yang menarik, sejarah awal sepak bola sebagai olah raga modern kebanyakan berasal dari Inggris. Judul-judul buku yang mengisi daftar pustaka pun sebagian besar berbahasa Inggris. Jadi, Luciano Wernicke mendapatkan sejumlah data penelitiannya dalam bahasa Inggris, lalu ditulis sebagai sebuah buku dalam bahasa Spanyol, dan akhirnya bisa dinikmati penggemar sepak bola di tanah air dalam bahasa Indonesia.

Buku ini menambah jumlah buku bertema sepak bola yang beredar di Indonesia, yang mesti diakui masih cukup sedikit jumlahnya. Apalagi sejak 2018 lalu sudah tidak ada lagi media cetak sepak bola yang beredar setelah Tabloid BOLA dan majalah Bolavaganza berhenti terbit. Pencinta sepakbola yang gemar membaca bisa sedikit memuaskan dahaganya akan bacaan berkualitas dan bisa menelusuri sejarah sepak bola dengan sukacita.


===================
Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpen dan esainya pernah dimuat di sejumlah media cetak maupun daring. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).  

Terbaru

Critical Pedagogy: Menggugat Pragmatisme Kampus Merdeka

Belum lama ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membuat gebrakan dengan menggulirkan kebijakan Kampus Merdeka. Belakangan gebrakan...

Menanti Kau Mekar, Suatu Hari

Dari Redaksi