Buku

Home Buku

Pembelajaran Merdeka Ala Guru Aini

0
Judul Buku   : Guru Aini (Prekuel Novel Orang-Orang Biasa)
Penulis      : Andrea Hirata
Penerbit     : Bentang
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Februari 2020
Halaman      : xii + 336 halaman
ISBN         : 978-602-291-686-4



“Karena gempa bumi sekalipun tak dapat menggeser keinginan si bungsu manis itu untuk menjadi guru matematika,” halaman 7.

Tekadnya sudah bulat, ia hanya ingin menjadi guru, guru matematika. Bukan menjadi dokter, insinyur, sarjana hukum, sarjana ekonomi atau yang lainnya.

Ibu kandungnya, kepala sekolah, bahkan lelaki yang menjadi cinta pertamanya, merayu agar ia memilih yang lain, asalkan bukan guru. Tapi, ia tetap kukuh terhadap pilihannya. Ia telah jatuh cinta pada ilmu hitung itu. Ia merasa, menjadi guru matematika adalah alasan mengapa ia ada di dunia ini. Ayahnya, ya, ayahnyalah satu-satunya yang mendukung pilihannya.

Tak tanggung-tanggung Guru Desi, rela mengorbankan masa mudanya, mengajar di tempat yang paling jauh, dan tak pernah dibayangkan sebelumnya. Rela berjauhan dengan keluarganya dan fasilitas sekolah yang lebih baik, dibanding dengan sekolah tempatnya mengabdi. Ia rela bertukar tempat pengabdian dengan seorang temannya. Tapi, ia tidak pernah menyesal dengan pilihannya tersebut. Padahal waktu dinyatakan sebagai lulusan terbaik, di sekolah ikatan dinas itu, ia bisa saja menggunakan haknya untuk memilih tempat mengajar, di mana saja yang ia mau. Tetapi ia memilih untuk ikut dalam pengambilan undian.

Desi Istiqamah, demikianlah nama lengkapnya, dan keistiqamahannya pada idealisme pilihan hidupnya telah mewujudkan makna di balik namanya.

Sepatu kets berwarna putih strip merah, menjadi teman perjalanannya sejak awal meninggalkan rumah dan kampung halamannya. Bahkan dia telah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia tak akan pernah mengganti sepatunya, jika belum menemukan sosok murid yang genius dalam matematika.

Guru Desi juga menolak undangan pemberian penghargaan sebagai guru terbaik tingkat kabupaten yang disematkan kepadanya. Hanya karena alasan belum menemukan sosok murid yg hebat dalam matematika. Padahal, kecerdasan, dan idealismenya itu tak terbantahkan dan diakui seluruh guru, juga para murid yang telah diajarnya. Iming-iming dari kepala sekolahnya, menjadi guru terhebat sedunia pun, ditampiknya.

Pernah suatu ketika, dia sudah hampir menukar sepatu bututnya dengan sepatu baru. Karena telah merasa menemukan anak genius yang didambakannya. Tapi, si genius yang sudah disiapkan tempat khusus di rumahnya, telah meninggalkannya dengan begitu saja. (Kepergian Debut Awaluddin dari sekolah dapat pula dibaca pada novel Andrea Hirata yang berjudul Orang-Orang Biasa, 2019).

Kemampuan Guru Desi dalam mengajar, mendidik murid-muridnya, sungguh mumpuni. Tidak hanya menguasai ilmu matematika sebagai fokus keahliannya. Tapi, ia juga menguasai psikologi pendidikan, metode pengajaran yang beragam, serta ilmu pedagogik. Sehingga ia tidak pernah mati langkah atau menyerah dalam menghadapi murid-muridnya yang sama sekali tak punya minat atau bakat pada mata pelajarannya. Meskipun mencari murid impiannya di SMA Belantik, amatlah sulit.

Kemampuan Guru Desi, bukanlah kecerdasan yang given, atau semacam ilham, wangsit yang langsung jadi. Semua itu didapatkannya melalui proses yang panjang, dimulai saat ia masih duduk di les 3 SD. Ia terinspirasi dari gurunya yang bernama Ibu Marlis.

Salah satu kebiasan baik Guru Desi adalah melahap buku-buku. Tidak hanya sebatas matematika. Sangat doyan terhadap buku-buku sastra, novel dan sebagainya. Sejak masih sekolah, hingga saat menjadi guru pun ia terus membaca dan membaca.

Kontras dengan kelaziman kita sebagai guru. Rasanya, hampir tidak ada lagi waktu untuk membaca, memperbarui, dan mengembangkan ilmu yang sudah dimiliki. Buku yang dibaca sebatas buku teks pelajaran yang akan diajarkan di depan para siswa. Sementara ilmu untuk membangkitkan semangat belajar para siswa, nyaris tak pernah dibaca. Padahal, itu menjadi tuntutan kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, selain kompetensi profesional.

Jika Guru Desi di waktu luang memanfaatkannya ke perpustakaan, dan memperkaya literaturnya dengan buku-buku. Kebanyakan guru pada kenyataannya tidak demikian. Lebih senang berkumpul untuk ngerumpi, sibuk dengan gadget masing-masing. Serta lebih suka berbelanja barang-barang mewah tinimbang membeli buku.

Sebuah ironi, jika para guru mengajak siswa kita untuk mencintai buku, mencintai membaca. Tapi, guru itu tak memiliki sense, kepekaan dan dan kedekatan rasa pada hal tersebut.

Hingga pada suatu masa, Guru Desi bertemu dengan Aini. Awalnya, Aini termasuk murud yang tidak ingin diajar oleh Guru Desi, karena reputasi Guru Desi terkenal sebagai guru yang idealis, khususnya dalam pelajaran matematika. Bahkan, Aini dan teman-temannya, sangat bersyukur jika tidak sampai bertemu dan diajar oleh Guru Desi. Aini lebih senang diajar oleh Guru Tabah.

Kekuatan cita-cita dan cinta, itulah yang menggerakaan Aini, untuk mendatangi Guru Desi. Meskipun berkali-kali Guru Desi menolaknya, secara terang-terangan.

Ayah Aini jatuh sakit, dan tidak seorang pun yang bisa menyembuhkannya. Dukun maupun dokter di puskesmas. Kecuali, jika ditangani oleh dokter ahli. Tapi karena ketidakmampuan biaya, Ayah Aini, hanya dirawat di rumah saja.

Aini, bertekad akan menjadi seorang dokter yang akan mengobati dan menyembuhkan ayahnya. Dan untuk menjadi seorang dokter, Aini harus kuliah di fakultas kedokteran, dan untuk lolos ke fakultas bergengsi itu, Aini harus menguasai ilmu hitung-hitung, matematika.  

Guru Desi merasa takjub melihat keinginan Aini untuk belajar langsung matematika kepadanya. Sedangkan yang lain menghindarinya. Karena akan menjadi sebuah keberuntungan besar bila tidak sempat diajar oleh Guru Desi.

Tetapi, penyerahan diri Aini, ke Guru Desi, membuahkan hasil yang cemerlang, meskipun harus dilalui dengan perjuangan yang berat. Tidak hanya keringat yang bercucuran, air mata pun menetes, karena sulitnya belajar matematika.

Guru Desi mendidik Aini mulai dari 0 (baca: NOL), hingga ia betul-betul menguasai matematika. Dari murid yang paling buntut namanya dipanggil saat pembagian hasil ulangan, hingga ia menjadi bintang baru di kelasnya, bahkan di sekolahnya pasca ujian akhir SMA. Dari yang paling sering mendapat hukuman berdiri di depan kelas, hingga ia menjadi jawara lomba menjawab soal matematika di kelasnya.

Kemauan dan kegigihan Aini untuk belajar, meskipun diusir, didamprat dengan kata-kata kasar sekalipun, tak membuatnya menyerah dan mundur dari cita-citanya menguasai matematika demi menjadi seorang dokter, dan demi menyembuhkan ayahnya. Demikian pula kesabaran Guru Desi dalam mendidik dan mengajar Aini. Meskipun, dalam pandangan awal, Guru Desi, rasanya amat sangat sulit bagi Aini untuk menguasai matematika.

Kecintaan Guru Desi pada buku, pada membaca, berimbas kepada muridnya, Aini.

“Aini pun telah menjelma menjadi pembaca buku yang rajin. Dipinjamnya banyak buku dari perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah lalu digempurnya buku-buku itu tanpa ampun. Dia membaca sambil duduk, sambil berdiri, sambil berjalan, sambil naik angkot, sambil memencet-mencet balon ngik-ngok saat berjualan minan anak-anak di kaki lima,” halaman 252.

Demikianlah pentingnya kesabaran bagi pendidik dalam mengajarkan ilmu. juga kesabaran, keuletan dan kesungguhan seorang murid dalam berusaha meraih ilmu tersebut. Keduanya harus berkolaborasi, bekerjasama dengan baik.

Meskipun buku 336 halaman ini, 35 judul, banyak membahas matematika. Bukan berarti, novel ini hanya cocok untuk guru matematika. Bahkan bagi semua guru di pelosok negeri ini, orang tua dan peserta didik sekalipun,

Buku yang bergendre fiksi, misalnya novel, tidak harus selalu dipandang sebagai sesuatu yang fiktif. Tapi, ia bisa hadir menjadi pengisi relung jiwa. Bahkan bisa menjadi alat rekayasa sosial atau masyarakat. Karena ia hadir bukan di ruang hampa. Demikian halnya buku anggitan penulis Laskar Pelangi ini,

Bagi saya yang awam tentang matematika dan istilah-istilah yang melingkupinya, tentu menjadikannya sebagai tantangan tersendiri untuk memahaminya. Sekaligus merefresh kembali ingatan pembelajaran matematika yang saya dapatkan saat sekolah dulu.

Novel ini sungguh asyik dibaca, layak dijadikan buku referensi, terutama bagi yang berprofesi sebagai seorang guru.

Ada rasa haru, kocak, lucu, menggelitik nan kritik sosial secara halus, satire. Tanpa menghilangkan esensi pesan yang ingin disampaikannya. Dari novel pertamanya yang saya baca hingga yang sekarang ini, seperti itulah Andrea Hirata menghipnotis para pembacanya.

===================
Ahmad Rusaidi, pengajar di SMA Negeri 9 Takalar dan penggiat literasi di Sudut Baca Al-Syifa Ereng-Ereng dan Boetta Ilmoe Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Menelusuri Sejarah Sepak Bola Dengan Sukacita

0


Judul Buku   : Mengapa Sebelas Lawan Sebelas? 
               Dan Serba-Serbi Sejarah Sepak Bola.
Penulis      : Luciano Wernicke
Penerbit     : Marjin Kiri
Penerjemah   : Mahir Perdana
Cetakan      : Pertama, September 2020
Halaman      : x + 175 halaman
ISBN         : 978-979-1260-91-6

Sepak bola adalah olah raga dengan paling banyak penggemar di muka bumi. Kecintaan masyarakat global terhadap tim-tim sepak bola dan para pemain bintangnya mampu menghapus batas jarak, ruang, dan waktu. Sebagai ilustrasi,  Real Madrid (Spanyol) memiliki akun Instagram yang diikuti oleh lebih dari 85 juta orang yang tersebar di berbagai negara. Cristiano Ronaldo, pemain Portugal yang kini bermain di Juventus (Italia), memiliki akun Instagram yang diikuti oleh lebih dari 200 juta orang seantero dunia.

Mereka yang menggemari sepak bola tentu memahami bahwa olah raga tersebut dimainkan oleh dua buah kesebelasan yang saling berhadapan dalam waktu 2 x 45 menit. Setiap tim akan berusaha mencetak gol ke gawang lawan demi meraih kemenangan. Ada wasit yang memimpin pertandingan dan ada aturan main yang mesti dipatuhi oleh kedua tim yang bertanding. Setiap gol yang tercipta akan menciptakan euforia bagi para pendukung setia yang menyaksikan langsung di dalam stadion maupun yang berada di depan televisi belaka. Senantiasa terdapat banyak momen berkesan saban menyaksikan sebuah pertandingan. Kegembiraan atau kedukaan secara silih berganti akan dirasakan dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya.

Namun, pernahkah kita mengetahui dari mana asal sepak bola? Siapa penyusun aturan-aturan awal sepak bola? Mengapa sepak bola dimainkan sebelas lawan sebelas? Mengapa pertandingan sepak bola berdurasi 90 menit? Siapa wasit pertama dalam sejarah?

Buku ini menjelaskan asal-usul dan evolusi olah raga terpopuler tersebut. Ada 100 teka-teki yang barangkali tidak bisa dijawab dengan mudah melalui sumber-sumber daring. Luciano Wernicke, penulis olah raga terkenal Argentina, melakukan penelitian mendalam dari buku-buku, surat kabar, dan dokumen di perpustakaan seluruh dunia untuk menemukan jawabannya dan merangkumnya dalam wujud sebuah buku yang terbit pertama kali di Kolombia pada 2017 dalam bahasa Spanyol.

Setelah rancangan peraturan umum pertama disusun pada 1863, sepak bola terus berkembang dipengaruhi berbagai peristiwa dunia selama lebih dari satu setengah abad kompetisi resmi. Dinamika permainan sepak bola menciptakan berbagai situasi unik dan lucu. Kemunculan berbagai elemen yang kini telah umum, seperti durasi pertandingan, aturan tentang jaring gawang, atau kartu kuning dan merah, dijelaskan secara gamblang di buku ini.

Sejarah awal Piala Dunia, Copa America, Liga Champions di Eropa, dan Copa Libertadores di Amerika Selatan menjadi materi yang dibahas pula oleh Wernicke. Sungguh banyak hal menarik dan fakta unik yang disampaikan dalam buku ini. Misalnya, ada pertandingan yang ditunda karena kembang api untuk pertama kalinya. Ternyata pernah ada seorang penonton yang diajak bermain di tengah pertandingan tim nasional.  

Siapa pemain yang mencetak skor terbanyak sepanjang karier? Siapa kiper yang paling banyak menahan penalti di satu pertandingan? Siapa pemain paling sukses mengeksekusi penalti? Wernicke memiliki data yang lengkap untuk menjawabnya.

Perlakuan diskriminatif terhadap pemain kulit hitam adalah salah satu masalah besar dalam sepak bola yang belum kunjung usai. Rasisme masih saja terjadi hingga awal tahun 2020 ini, seperti yang menimpa Mario Balotelli di Liga Italia Serie A 2019/2020. Balotelli adalah pemain Italia berkulit hitam keturunan Ghana yang pernah menjadi andalan timnas negaranya. Lantas, siapa pemain kulit hitam pertama dalam pertandingan resmi? Siapa pesepak bola pertama yang mengalami hinaan rasis?

Mungkin comeback paling dramatis yang pernah terjadi di laga final adalah pada 25 Mei 2005 di Istanbul, tempat tempat dimainkannya final ke-50 Liga Champions UEFA. AC Milan sudah unggul 3-0 di babak pertama. Liverpool berhasil menyamakan kedudukan di babak kedua menjadi 3-3 hingga menit ke-90.. The Reds akhirnya mampu merebut Piala Champions setelah menundukkan I Rossoneri dalam adu penalti.

Sebenarnya kemenangan Manchester United atas Bayern Muenchen dalam final Liga Champions Eropa 1998/1999 pada 26 Mei 1999 juga menyimpan kisah comeback yang dramatis. Muenchen sudah unggul 1-0 hingga menit ke-89. Ternyata United berhasil membuat dua gol dalam menit tambahan dan akhirnya sukses menjadi juara. Namun, pertandingan yang sungguh impresif tersebut tidak dicatat oleh Wernicke dalam buku ini.

Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mahir Pradana dari bahasa Spanyol. Yang menarik, sejarah awal sepak bola sebagai olah raga modern kebanyakan berasal dari Inggris. Judul-judul buku yang mengisi daftar pustaka pun sebagian besar berbahasa Inggris. Jadi, Luciano Wernicke mendapatkan sejumlah data penelitiannya dalam bahasa Inggris, lalu ditulis sebagai sebuah buku dalam bahasa Spanyol, dan akhirnya bisa dinikmati penggemar sepak bola di tanah air dalam bahasa Indonesia.

Buku ini menambah jumlah buku bertema sepak bola yang beredar di Indonesia, yang mesti diakui masih cukup sedikit jumlahnya. Apalagi sejak 2018 lalu sudah tidak ada lagi media cetak sepak bola yang beredar setelah Tabloid BOLA dan majalah Bolavaganza berhenti terbit. Pencinta sepakbola yang gemar membaca bisa sedikit memuaskan dahaganya akan bacaan berkualitas dan bisa menelusuri sejarah sepak bola dengan sukacita.


===================
Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpen dan esainya pernah dimuat di sejumlah media cetak maupun daring. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).  

Mengintip Kehidupan Keras di Jakarta Lewat Wesel Pos Milik Ratih Kumala

1



KALAU memosisikan diri sebagai pendatang yang mengadu nasib di Jakarta, bagi saya, hidup di sana pasti betul-betul tidak mudah melebihi hidup di kampung sendiri. Jangankan mengadu nasib, sehari berada di Jakarta saja saya sudah tidak betah dan menyerah dengan kemacetan, keruwetan, dan udaranya yang begitu panas. Memang, “Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.” (hlm. 1). Lantaran perlu kesabaran, kesiapan fisik dan mental, serta ketahanan yang tinggi agar tidak mati dikalahkan oleh kerasnya Jakarta. Kehidupan keras di Jakarta cukup jelas tergambar dalam Wesel Pos karya Ratih Kumala melalui kisah Elisa Fatunisa yang merantau.

Elisa hendak mengabarkan kematian Ibu pada kakaknya, Ikbal Hanafi, di Jakarta sekaligus mencari peruntungan dengan bekerja di sana. Belum lama tiba di Jakarta, Elisa sudah dihadapkan pada ketidakberuntungan, merasakan kerasnya Jakarta, dan kenyataan-kenyataan yang mengejutkan dirinya. Hidupnya sudah dramatis dan penuh ujian. Mulai dari kehilangan tas yang ia titipkan kepada ibu-ibu penjual kopi keliling, terjebak berjam-jam di kantor polisi, kesulitan menemukan kakaknya akibat informasi yang ia punya tidak lengkap, dicap perek oleh tetangga, hingga disebut sebagai cewek hot oleh bos penjual narkoba.

Berbekal alamat yang tertera pada wesel pos yang dikirim Ikbal, Elisa mencari Ikbal yang sudah lebih dari dua tahun tidak menjumpainya di Purwodadi. Namun, nyatanya tidak segampang yang ia duga. Minimnya informasi membuat Elisa kebingungan ketika ditanya mengenai Ikbal. Beruntung, sekuriti penjaga gerbang gedung di mana Ikbal bekerja menyuruh Elisa bertanya pada Fahri, sopir kantor pribadi Bos Lukman—pemilik Megantara Grup. Selagi mencari Ikbal, Elisa menumpang di rusun tempat Fahri tinggal. Tinggal bersama Fahri pun tidak mudah. Ia kerap menjadi bahan gunjingan dan menerima tatapan penuh curiga yang kurang menyenangkan dari tetangga.

Keesokan harinya, ketika Elisa sedang membereskan isi laci-laci lemari, ia terkejut sekaligus bingung mendapati bukti pengiriman wesel pos dan surat untuk Ikbal yang masih utuh dan belum terbuka—yang ia kirim beberapa minggu sebelum Ibu meninggal. Tak lama setibanya Fahri di rumah, Elisa langsung menanyakan hal tersebut dan mendapati jawaban yang membuatnya kehabisan kata-kata dan tak percaya. Kebenaran akan kiriman wesel pos yang rutin Elisa terima setiap bulan sekaligus menghapus rasa penasaran yang selama ini mengganjalnya. Kenyataan kadang memang menyakitkan dan pada akhirnya diam menjadi satu-satunya hal yang bisa kita lakukan.

Kabar dan segala hal yang ingin diketahui Elisa perihal Ikbal sudah ia dapatkan. Jelas tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain kembali ke kampung. Namun, terjadi sesuatu pada Fahri dan membuat Elisa memutuskan untuk tetap tinggal. Keputusan Elisa merawat Fahri dan kepedulian terhadapnya telah mengubah rencana dan ikatan antara keduanya. Elisa semakin mengenal Fahri dan mengetahui fakta kehidupan keras yang dijalaninya, baik untuk bertahan hidup dan menggantikan Ikbal maupun membantu keluarga yang kesusahan. Cerita kemudian berfokus pada Fahri dan upayanya untuk bisa lepas dari pekerjaan sampingannya sebagai kurir narkoba.

Penokohan yang Kuat dan Wesel Pos sebagai Penutur

Sama dengan dua buku Ratih yang sudah saya baca, penokohan dalam novelet ini pun kuat. Para tokoh yang dihadirkan, baik tokoh utama maupun tokoh yang hanya hadir sekejap, semuanya memiliki peran yang pas dan menggerakkan cerita. Tidak ada tokoh yang sekadar tampil dan mubazir. Salah satunya bisa kita lihat dari sikap empat tokoh yang paling menarik perhatian sejak awal; Elisa, Fahri, Bu Hilda, dan Mas Memet. Keempat tokoh yang, menurut saya, paling menghidupkan cerita. Elisa dengan keluguannya, Fahri dan kehidupan kerasnya, Bu Hilda dengan kekepoan dan penilaian negatifnya, serta Mas Memet dengan kelucuannya.

Kenaifan dan keluguan Elisa tampak jelas sejak cerita dimulai. Kita bisa lihat dari sikap Elisa yang percaya begitu saja kepada penjual yang kelihatannya baik dan menganggap semua pelaku kriminal bisa ditangkap dengan melapor pada polisi—termasuk percaya polisi bisa menangkap gembong narkoba dan membereskan masalah Fahri. Kesederhanaannya terus diuji selama tinggal di Jakarta. Di mata Elisa seperti tidak ada orang yang betul-betul jahat dan semua masalah bisa diselesaikan dengan cara yang menurutnya benar meskipun tidak sesederhana kelihatannya.

Pilihan-pilihan yang diambil Fahri mulanya muncul atas dasar peduli dan pertalian saudara yang, walaupun tidak baik, tetap ada keterikatan. Hal ini terlihat dari niat baiknya untuk memperbaiki hubungan dan menolong sekalipun harus bekerja dengan bos penjual narkoba. Gaji yang pas-pasan dan banyaknya biaya yang mesti Fahri penuhi memaksanya untuk mengambil jalan pintas. Kalau melihat realitas, tokoh Fahri ini tampaknya hampir mustahil ada. Mungkin ada, tetapi saya pikir sangat sulit menemukan laki-laki yang masih bisa bersikap baik ketika bertemu perempuan naif seperti Elisa.

Ratih menggambarkan secara jelas bagaimana kebanyakan orang sering menilai dan berasumsi yang tidak-tidak terhadap seseorang seakan-akan asumsinya benar—misalnya, anggapan umum tentang laki-laki dan perempuan yang tinggal seatap dan bukan muhrim—dan rasa kepo yang besar atas kehidupan seseorang lewat Bu Hilda dan gunjingan lain yang diselipkan dalam narasi. Mas Memet boleh dibilang sebagai penyimbang tokoh Bu Hilda yang cukup menyebalkan. Sebab, kelucuannya mampu menetralkan kesebalan, baik dari cara berbicara, banyolan, maupun ucapannya.

Deskripsi yang detail tentang kebiasaan tokoh, tempat, dan lain-lain membuat ceritanya semakin terasa nyata dan dekat. Namun, sayangnya, penggunaan Wesel Pos sebagai penutur justru terasa semakin hilang menjelang pertengahan buku. Cerita dari kacamata Wesel Pos hanya ada pada empat bagian awal, kemudian keberadaannya tidak diketahui dan sampai bab sepuluh tidak diceritakan lagi sehingga memunculkan keanehan. Lantaran pada bab akhir tiba-tiba muncul penuturan Wesel Pos yang seolah-olah selalu melihat atau tahu setiap peristiwa yang terjadi, baik di unit Fahri maupun di luar. Sudut pandang yang digunakan pun berujung kurang jelas.

Kehidupan kaum kecil yang disajikan dalam Wesel Pos cukup menarik dan memperlihatkan Jakarta yang sulit ditaklukkan, serta orang sakti dan orang sakit yang hidup di Jakarta—meskipun dari segi cerita kurang memuaskan dan kurang gereget karena konflik yang sederhana dan plot yang mudah tertebak. Selain itu, hampir serupa dengan cerita-cerita yang biasa kita jumpai dalam film televisi (FTV). Namun, wajar saja kalau melihat dari bentuknya dan mungkin memang Ratih sengaja mengambil tema yang ringan agar bisa dihabiskan dalam sekali duduk.

Novelet ini tidak berhasil membuat saya takjub seperti ketika membaca Gadis Kretek—novel sarat pesan yang memuat sejarah kretek di Indonesia—maupun kumpulan cerpen menyenangkan berisi cerita-cerita tidak membahagiakan dalam Bastian dan Jamur Ajaib. Akan tetapi, Wesel Pos berhasil menghibur lewat penokohan yang kuat dan penceritaan yang apik. Keadaan kadang mengharuskan kita untuk bertahan dan memilih pilihan ataupun jalan yang bertentangan dengan hati—seperti yang dilakukan Fahri dan Elisa—sekalipun kita tidak tahu kedua hal itu akan membawa kita pada keberuntungan atau kemalangan lainnya, bahkan akhir yang tragis.

Anjing Gunung: Pengalaman Spasial, Pengalaman Temporal, dan Kesimpangsiuran

0
Judul      : Anjing Gunung
Jenis      : Kumpulan Puisi
Penulis    : Irma Agryanti
Penerbit   : BasaBasi, Yogyakarta
Cetakan    : Pertama, Desember 2018
Tebal      : 88 halaman + sampul
ISBN       : 978-602-5783-61-6

Sesuatu yang visual menawarkan kepada kita pengalaman spasial. Itu karena hal-hal yang tersaji padanya menghambur ke arah kita secara simultan, hampir-hampir di detik yang sama, dan kita seperti diberi kebebasan untuk menentukan hal-hal mana yang akan kita nikmati terlebih dahulu. Sesuatu yang tekstual, sementara itu, menawarkan kepada kita pengalaman temporal, di mana upaya kita untuk menikmatinya sangat terbatasi oleh adanya urutan-urutan. Sekarang bayangkan kedua hal ini dibenturkan. Tentulah, dengan sendirinya, kita akan berada dalam tarik-menarik antara pengalaman spasial dan pengalaman temporal.

         Benturan seperti inilah kiranya yang kita hadapi saat membaca puisi-puisi Irma Agryanti yang terkumpul dalam Anjing Gunung (BasaBasi, 2018), buku puisi yang menyabet Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 untuk kategori puisi. Dengan terang-benderang, sebagaimana tersaji di halaman belakang buku ini, Irma mengatakan bahwa (puisi-puisinya di) Anjing Gunung adalah bentuk hubungan antara tangkapan visual dan teks. Konkretnya, seperti diutarakannya di kata pengantarnya di buku ini, yang dilakukannya adalah memindahkan tangkapan visual itu ke dalam bahasa puisi.

         Tentu saja pemindahan seperti ini problematis. Sementara tangkapan visual yang dimaksud Irma itu menawarkan spasialitas dan simultanitas, bahasa puisi yang ditulisnya akan selalu berada di dalam kekangan temporalitas. Selain itu, apa-apa yang hadir pada tangkapan visual itu adalah hal-hal yang cenderung konkret, sedangkan apa-apa yang hadir di dalam bahasa puisinya justru adalah hal-hal yang cenderung abstrak, atau hal-hal konkret yang terabstrakkan. Tidak mudah mendamaikan dua hal yang berseberangan seperti ini. Salah-salah, yang kelak tersaji ke hadapan pembaca adalah sebuah kekacauan, sebuah kesimpangsiuran, bukannya harmoni.

         Simak, misalnya, puisi “Dingin”. Bait pertamanya: sebab terpisah dari api/ mangsi jatuh/ di hitam mata—tanda cetak miring dari saya. Mudah memang melafalkannya dan menikmatinya sebagai sesuatu yang puitis, tetapi ketika memvisualkannya kita lekas mendapati betapa abstraknya permainan visual bait tersebut. Mulanya kita diajak untuk membayangkan mangsi terpisah dari api. Sebelum kita bisa benar-benar menerimanya, kita sudah diajak untuk membayangkan si mangsi ini jatuh di hitam mata, dan itu pun entah mata siapa. Ingat, yang dilakukan Irma di puisinya ini adalah memindahkan tangkapan visual, sesuatu yang dihadapi dan dialaminya di dunia nyata, ke dalam bahasa puisi, ke dalam wujud teks yang dianggapnya puitis. Katakanlah yang dimaksud puitis oleh Irma salah satunya adalah melenyapkan makna praktis sesuatu hal untuk kemudian menggantinya dengan maknanya yang lain, yang non-praktis, dan dalam hal ini ia terbilang berhasil. Hanya saja, kita jadi bertanya-tanya situasi seperti apa yang dihadapi Irma di dunia nyata, di realitas yang dijalaninya, yang kira-kira “sebangun” dengan bentukan kalimatnya yang puitis itu.

         Dan ketika kita mencoba meraba-raba situasi tersebut, kita dihadapkan pada masalah yang kita singgung tadi: kekangan temporalitas. Kita dipaksa untuk membayangkan gambar demi gambar secara runut, diawali dengan munculnya api lalu bagian hitamnya—jika bukan mangsi itu sendiri—terpisah darinya dan setelah itu muncul mata, dan diikuti oleh menetesnya—atau tercipratnya—hitam itu ke mata tersebut. Meski di benak kita munculnya gambar-gambar ini mungkin berlangsung dalam rentang waktu yang sangat singkat, tak bisa dimungkiri bahwa kita mengalami tiap-tiap gambar sendiri-sendiri, secara terpisah, di mana yang satu menggantikan yang lain. Padahal, di dunia nyata, di dalam situasi yang dihadapi Irma itu, gambar-gambar tersebut mestilah muncul secara serentak, sebagai sebuah kesatuan. Sesuatu yang spasial, bukan temporal.

         Ini membawa kita ke sebuah pemahaman—atau setidaknya dugaan—bahwa puisi, di mata Irma, adalah diri lain yang lumayan jauh berbeda dari sesuatu hal di dunia nyata yang tertangkap oleh matanya. Pengalaman yang ditempuh Irma saat sesuatu itu hadir di hadapan matanya ia transformasikan menjadi sesuatu yang sangat lain, di mana ia menyingkirkan spasialitas dan simultanitas yang sejatinya melekat padanya dan menggantinya dengan temporalitas yang dipadukan dengan wujud visual yang lain, yang sangat abstrak itu. Pertanyaannya: kenapa hal ini dilakukan? Irma, dalam paparannya yang ditampilkan di sampul belakang buku, memang mengatakan bahwa puisi memunculkan detail-detail klise dari sesuatu hal untuk memungkinkan pemaknaan kita atasnya meluas; itu berarti penting bagi dirinya, selaku si penyair, untuk membubuhkan detail-detail lain ke dalam bahasa puisi hasil transformasinya itu—detail-detail yang tak ditemukannya saat sesuatu hal di dunia nyata itu tertangkap oleh matanya. Maka, mungkin bisa dikatakan seperti ini: Irma, selaku si penyair, memosisikan aktivitas menulis puisi sebagai upaya untuk melengkapi diri visual sesuatu hal, namun sekaligus juga mengganti diri visualnya ini dengan diri visual lain, yang bisa sangat berbeda dengannya. Sebuah upaya untuk melengkapi, sekaligus mengkhianati.

___

Sebenarnya, upaya semacam ini telah coba dilakukan oleh beberapa penyair sebelum Irma. Nirwan Dewanto adalah salah satunya. Di beberapa puisinya di Jantung Lebah Ratu (GPU, 2008) Nirwan membenturkan yang spasial dengan yang temporal dan ia membawanya lebih jauh lagi: bukan hanya menyajikan kesimpangsiuran, ia pun mengolah kesimpangsiuran ini menjadi semacam harmoni yang tak biasa. Baca, misalnya, puisi “Perenang Buta”. Dua kalimat pertamanya: Sepuluh atau seribu depa/ ke depan sana, terang semata./ Dan arus yang membimbingnya/ seperti sobekan pada jubah/ tanjung yang dicurinya.  Bisa dilihat bahwa Nirwan awalnya menawarkan hasil transformasi tangkapan-tangkapan visual yang masih terbilang konkret, lalu di satu titik ia menghancurkannya dengan menawarkan hasil transformasi yang terbilang astrak, yang tidak mudah kita terima sebagai sebuah tangkapan visual yang wajar. Dan strategi ini kembali dilakukan Nirwan di kalimat-kalimat berikutnya, di sepanjang tubuh puisi. Sebelumnya kita mungkin curiga Nirwan hendak melemparkan kita kepada kesimpangsiuran dengan menghancurkan struktur yang tengah berusaha dibangunnya itu, namun lambat-laun kita memahami bahwa yang coba dilakukan Nirwan adalah mengarahkan kita untuk menikmati tawaran harmoninya yang tak biasa itu. Semacam harmoni yang terbentuk dari sejumlah kesimpangsiuran yang terpola.

         Sekarang, mari kita bandingkan strategi Nirwan ini dengan strategi Irma. Tentu, kita tidak akan begitu saja menentukan mana yang lebih baik. Alih-alih demikian, yang akan kita coba lakukan adalah mengaitkan strategi yang berbeda ini dengan konteks yang melatarinya, supaya kita bisa memahami seperti apa relasi yang terbangun di antara keduanya. Dan dari situ, mungkin saja, kita pun bisa meraba-raba sikap si penyair—baik itu terhadap konteks tersebut maupun terhadap puisi itu sendiri.

         Jantung Lebah Ratu terbit pada 2008. Ketika itu, situasi sosial-politik di negeri ini masih terbilang kondusif, dan belum ada hantaman yang mengguncang dari pertumbuhan teknologi informasi dan hal-hal lain yang terkait dengannya. Ini kiranya menjadi alasan tersendiri mengapa puisi-puisinya Nirwan di buku ini relatif tidak mengaitkan dirinya dengan realitas yang tengah berlangsung ketika itu. Alih-alih dengan realitas yang konkret ini, Nirwan justru mengaitkan puisi-puisinya itu dengan teks-teks yang berasal dari khazanah yang abstrak, entah itu seni rupa, seni musik, teater, puisi itu sendiri, ataupun yang lainnya. Memang, apabila kita cermati beberapa puisinya di buku ini, seperti “Semu” dan “Apel”, Nirwan tampaknya memfokuskan pengalaman puitiknya sebagai pengalaman yang “kosong”, yang tidak mengarahkan pembaca kepada apa pun selain si puisi itu sendiri. Ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Melani Budianta di sampul belakang buku ini, bahwa puisi-puisi Nirwan bukanlah teka-teki melainkan sehamparan momen estetika; juga bahwa sejauh manapun maknanya berkelana pada akhirnya puisi-puisi Nirwan ini akan menariknya kembali ke dirinya sendiri.

         Anjing Gunung, sementara itu, terbit pada 2018, ketika situasi sosial-politik di negeri ini sedang sangat tidak kondusif, di mana rakyat masih terjebak dalam bineritas pasca-Pilpres 2014 dan pra-Pilpres 2019, di mana pertumbuhan teknologi informasi yang begitu pesat diikuti oleh dampak-dampak negatifnya seperti maraknya hoaks dan susutnya kedalaman—digantikan oleh momen dan reaktivitas. Maka mudah dipahami mengapa yang disajikan Irma dalam puisi-puisinya itu adalah kesimpangsiuran, adalah kekacauan, bukannya harmoni. Dalam hal keterkaitan dengan realitas yang tengah berlangsung itu sendiri, kita jelas-jelas menemukannya, seperti di puisi “Anjing Gunung”. Puisi ini menggambarkan sebuah situasi di mana perubahan besar akan terjadi, dan ini perubahan yang buruk sebab akan menyebabkan sungai-sungai mati dan para penggembala tak lagi ada. Musim kemarau yang panjang, katakanlah, yang bisa jadi adalah simbol dari sesuatu yang lebih gawat seperti matinya demokrasi atau bangkit kembalinya rezim otoriter. Dan, di tengah upaya untuk memaknai situasi ini, Irma menghadirkan tangkapan-tangkapan visual yang terabstrakkan, di titik-titik di mana struktur yang kemudian terbentuk adalah representasi dari kesimpangsiuran—bukannya harmoni.

___

Adapun kesimpangsiuran ini sendiri sejatinya bukan hal baru. Telah ada banyak orang yang mencoba menawarkannya, entah itu penyair, prosais, pemikir, ataupun yang lainnya. Afrizal Malna, misalnya, menawarkannya lewat puisi-puisinya, di mana ia melangkah sangat jauh hingga menjadikan kesimpangsiuran ini sesuatu yang akut, pekat, sekaligus legit; di mana pembaca, apabila ia membiarkan dirinya terlarut dalam racikan Afrizal ini, bisa terus terjebak di dalam pusaran demi pusaran, ledakan demi ledakan, sambil diam-diam menuju ekstase dan menikmati prosesnya. Baca, misalnya, “Seminar Puisi di Selat Sunda”, salah satu puisi di Berlin Proposal (Nuansa Cendekia, 2015). Puisi ini, bahkan dari sejak bait pertamanya, sudah kuat menjerat kita ke dalam kesimpangsiuran. Dan ia kesimpangsiuran yang akut, pekat, sekaligus legit, sebab bukan saja yang dibenturkan di sana adalah yang spasial dan yang temporal melainkan juga yang bergerak dan yang diam, yang tercatat dan tak tercatat, yang ada di saat ini dan yang ada jauh di masa silam. Afrizal bermain-main dengan kata dan bentukan kalimat, untuk memunculkan bukan hanya efek bunyi melainkan juga efek imaji, untuk membuat ruang yang ditampilkannya lebih mampu membangkitkan indra-indra pembaca dan setelah itu memerangkapnya. Pengalaman sekompleks ini tidak kita temukan di puisi-puisi Irma. Sehingga, apabila kita bicara soal kesimpangsiuran, apa yang ditawarkan Afrizal ini kiranya jauh melebihi apa yang ditawarkan Irma.

         Dan ini membawa kita ke sebuah pertanyaan penting: apakah puisi-puisi Irma di Anjing Gunung itu telah cukup mewarnai kesusastraan kita, juga realitas kita? Jawabannya barangkali adalah belum. Belum cukup. Ini karena, sebagaimana telah kita lihat bersama, dalam puisi-puisinya itu Irma masih sebatas menghadirkan kesimpangsiuran dengan cara membenturkan yang visual dengan yang tekstual, dan ini masih jauh dari sebuah kesegaran—hanya sebuah variasi saja. Dan kalaupun kita mau menyoroti sifatnya yang representasional, bahwa puisi-puisinya itu merepresentasikan situasi sosial-politik yang tengah kita hadapi saat ini, jujur saja, rasanya masih tertahan di tahap nanggung. Soal maraknya hoaks, misalnya, ficciones ala Borges jauh lebih berhasil merepresentasikannya, sebab pembaca benar-benar dibuat tak bisa membedakan mana fakta mana fiksi, mana yang benar-benar terjadi mana yang hanya bualan belaka. Dan beberapa prosais kita telah cukup baik melakukannya, seperti A.S. Laksana dan Dea Anugrah.

         Maka, kita pun sampai pada kesimpulan ini: Anjing Gunung, meski menawarkan puisi-puisi yang cukup menarik untuk dinikmati dan diresapi, dari segi konsep masihlah belum cukup kuat; tawaran-tawaran pemaknaan dan perspektifnya belum cukup mampu menggoyahkan kenyamanan dan keterbiasaan kita, seperti soal bagaimana kita membaca teks dan realitas. Memang, buku ini menyabet sebuah penghargaan bergengsi di tanah air, dan untuk capaiannya ini ia—juga Irma selaku si penyair—tentu patut diapresiasi. Tetapi, sebagai seorang pembaca yang kritis dan independen, kita harus selalu mengedepankan kejujuran. Kita, misalnya, harus berani mengatakan bahwa puisi-puisi Irma di buku ini, terlepas dari segala kelebihan dan daya tariknya, sesungguhnya masih akan kita kategorikan sebagai puisi-puisi yang biasa saja.(*)

Bogor, 30-31 Oktober 2019

Ardy Kresna Crenata menulis puisi, cerpen, esai, dan novela. Kumpulan cerpen termutakhirnya: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelnya: Realitas & Kesadaran (BasaBasi, 2019).

Kampung Kekasih (Info Buku)

0

Jenis: Kumpulan Puisi
Penulis: Daviatul Umam
Pengantar: Raedu Basha
Penerbit: Halaman Indonesia, Yogyakarta.
Cetakan: Pertama, November 2019
Tebal: 69 halaman
ISBN: 978-602-0848-30-7

Davit bicara tentang sisi-sisi pencitraan yang memungkinkan dapat kita nikmati imajinasi-imajinasinya. Sisi yang paling mencolok, puisi-puisi Davit menunjukkan sketsa-sketsa tentang spiritualitas masyarakat agraris dan maritim, hampir di semua sajak-sajaknya.
Citra-citra spiritualitas petani, juga nelayan, terhidangkan. Kita akan tahu bagaimana masyarakat Madura memandang kehidupan dari puisi-puisi Davit. Minimalnya dari sudut pandang seorang penyair muda ini.
Kita juga akan berjumpa sajak-sajak yang ingin dimanja sebagai puisi-puisi cinta. Semua penyair dapat melakukan hal serupa di belahan dunia. Kesan yang saya tangkap adalah pantulan lirik-lirik musik dangdut. Khas sekali sebagai selera musik dunia agraris dan alam kaum maritim.

(Raedu Basha, penyair, prosais, penulis buku Matapangara & Hadrah Kiai)
*
Puisi-puisi yang terhimpun dalam Kampung Kekasih menyandarkan diri pada peristiwa-peristiwa kecil yang riang menampilkan gambaran kampung halaman. Lewat pengungkapan diksi-diksinya yang khas, ia tidak hanya bergulat menampilkan apa yang telah terhampar di tengah riuh fitur-fitur alam pedesaan, tetapi sekaligus menuturkan tinjauan tentang rantauan, suara dari jauh, dengan melakukan perbandingan romantik antar keduanya. Menyelami Kampung Kekasih adalah menyelami dambaan perasaan penyair akan kemesraan, kedamaian, ketulusan pengabdian dan kerelaan yang lantang. Pendekatan puisi-puisi Daviatul Umam berpegang pada bentuk bait yang runut, menjadikan pengalaman di dalamnya memiliki pertautan dengan tafsir pembaca.

(Iin Farliani, penyair & cerpenis, penulis buku Taman itu Menghadap ke Laut)

Terbaru

Dari Redaksi