Ping & Pong

Rumah Bangkai

Deadzone

Sepanjang Perlanaan-Medan

Saudara Kembar Teman Sekantor

Cerpen

Home Cerpen

Sungai Tanpa Nama

0


Bagi orang yang sedang gila, apa pun bisa dilakukan, termasuk merindukan gadis yang ada di mimpinya. Pemuda itu bernama Sunyi.

Beberapa bulan terakhir, ia menderita gangguan jiwa yang sukar disembuhkan kecuali pemuda itu dikawinkan dengan gadis yang ada di mimpinya. Aneh-aneh saja pemuda itu. Tapi terkadang cinta memang gila dan tidak masuk akal.

Sebenarnya, Sunyi adalah pemuda yang tampan, namun semenjak ia gila, ia tak pernah mandi. Tidak pernah mau menyisir rambut. Tak pernah gosok gigi. Tak pernah ganti baju. Kumisnya tak pernah dirapikan. Ia tak pernah risau dengan bau badannya, kecuali orang waras yang ada di dekatnya. Dan memang di dalam cerita ini, Sunyi diceritakan sebagai orang gila yang memiliki cinta yang tak main-main sampai akhir hayatnya.

Setiap sore, Sunyi tidak pernah melewatkan pemandangan senja yang menggantung di langit sebelah barat. Ia di atas jembatan menghadap sungai. Semilir angin membawanya tenggelam dalam lamunan. Tempias cahaya kuning senja dipantulkan oleh air sungai yang jernih. Terkadang, ia melihat bocah-bocah itu mandi di sungai dengan riang gembira. Terkadang, mereka terjun bebas dari jembatan untuk menceburkan diri di sungai. Teriakan canda tawa mereka mampu diredam oleh suara aliran sungai dan angin yang bergemuruh dari jembatan. Di sebelah sungai ada sebuah lahan kosong yang biasa digunakan untuk menerbangkan layang-layang bocah-bocah itu.

Sunyi melamun di atas jembatan dengan kaki menjuntai seperti mengayuh sepeda, berada di pagar besi jembatan. Keadaan kendaraan yang lalu-lalang di jembatan tak mampu untuk membuyarkan lamunannya. Terkadang, ia tertawa sendiri tanpa sebab. Ia merasa bahagia, ketika berada di jembatan itu.

Ia dengan setia menunggu gadis yang ada di mimpinya sampai matahari tenggelam. Ia akan kembali lagi di waktu yang sama keesokan harinya. Dan begitu seterusnya, sampai waktu ditentukan oleh maut.

Sunyi selalu menunggu gadisnya di jembatan itu. Baginya jembatan itu merupakan jembatan untuk menghubungkan dirinya dengan gadis impiannya. Ia menamakan jembatan itu dengan nama Jembatan Impian. Ia juga memberikan nama sungai itu dengan nama Sungai Tanpa Nama.

Jembatan itu menghubungkan antara dua kecamatan. Belasan tahun yang lalu, jembatan itu dibangun. Peresmiannya juga tidak main-main meriahnya. Dulu, sebelum jembatan itu dibangun, orang-orang memakai sampan untuk menyeberang agar sampai ke pasar.

***

Ayah dan ibu Sunyi sedih dengan keadaan putranya. Ayahnya seorang pengusaha tambang pasir, sekaligus seorang kepala desa.

Berbagai upaya dilakukannya untuk menyembuhkan Sunyi. Dari pengobatan secara medis maupun menggunakan non medis. Setiap dibawa ke rumah sakit jiwa, dokter tidak bisa mendiagnosis syaraf yang terganggu. Kadang kala, Sunyi bercakap-cakap seorang diri.

“Apakah kau mencintaiku?” ucap Sunyi.

“Tentu saja aku mencintaimu, kita akan menikah dan hidup bersama, apakah kau senang?”

“Aku senang sekali, jika kau bisa menjadi istriku. Kau akan aku ajak mengunjungi penangkaran rusa. Kau juga akan aku ajak ke jembatan untuk melihat senja yang lamat-lamat akan tenggelam.” Ia bercakap-cakap sendiri, dan ia menjawab sendiri.

Ayahnya berupaya mencari gadis itu. Ia mengadakan sayembara, siapa yang menemukan gadis yang dimaksud oleh putranya, akan diberi hadiah berupa beberapa petak sawah dan sepuluh sapi.

Tak jarang, orang-orang yang menginginkan hadiah itu mengakali dengan segala cara. Ada yang mengaku sebagai gadis itu. Ada juga yang kongkalikong dengan dukun desa supaya memberi tahu jika itu gadis yang dicari. Namun semua upaya licik itu tidak pernah berhasil, sebab Sunyi tahu siapa gadis yang dimaksud.

***

Rencana pembangunan tambang pasir itu akan segera dilaksanakan. Ayah Sunyi sudah merencanakan pembangunan tambang pasir itu sudah lama. Dulu, ia dan beberapa orang proyek sudah survei lokasi untuk menyiapkan segala sesuatunya. Dan, satu minggu ke depan, mereka mulai mengangkut alat-alat pertambangan dan mulai memproduksi pasir.

Perubahan pada sungai pun mulai tampak. Sungai menjadi keruh. Kedalamannya terus bertambah. Orang-orang yang memancing sudah sulit mendapat ikan. Bangau dan angsa yang biasa menghiasi permukaan dan bantaran sungai pun tak tampak lagi. Bahkan tumbuhan teratai dan enceng gondok yang biasanya menjalari di permukaan sungai juga musnah. Setiap hari terdengar suara bising mesin diesel dan alat-alat berat.

Beberapa hari kemudian, ada kabar bahwa Sunyi menghilang dari rumah. Ia minggat. Ayahnya dan para warga sudah mencari di berbagai tempat, termasuk tempat yang biasa disinggahinya, namun Sunyi tidak ditemukan.

Ayah Sunyi sudah melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib. Bahkan ia juga melibatkan paranormal. Menurut paranormal, Sunyi telah diculik oleh penunggu sungai. Ia menggambarkan, jika yang menculik Sunyi sesosok makhluk astral yang menjelma sebagai wanita cantik yang sudah lama masuk ke dalam mimpinya. Mendengar kabar itu, ayah Sunyi semakin resah atas keselamatan nyawa anaknya. Paranormal itu dimintai tolong agar menyelamatkan anaknya. Namun, menurut paranormal itu, itu pekerjaan yang sangat sulit, sebab jin yang menculik Sunyi telah menguasai raga Sunyi. Mendengar itu, ayah Sunyi pun tertunduk lesu. Kekhawatirannya semakin membuncah.

Keesokan harinya, warga dikagetkan dengan mayat Sunyi yang mengapung di sungai dengan keadaan kaku dan hampir busuk. Lalat mengerumuni mayatnya. Beberapa warga yang bisa berenang menceburkan diri mengambil mayat Sunyi untuk dibawa ke tepi. Sementara di bantaran sungai dan di jembatan ramai oleh pasang mata. Lalu lintas kendaraan di jembatan agak terhambat karena banyak orang yang menyaksikan mayat Sunyi dievakuasi.

***

Pak Joko mendesak agar ayah Sunyi untuk meneruskan proyek produksi pasir. Dengan terpaksa, ia meneruskan proyek itu. Hal ini sudah menjadi kesepakatan antara pemerintah desa dengan investor. Mau tak mau kedua belah pihak harus melaksanakan perjanjian yang sudah tertulis itu.

Dengan berat hati ayah Sunyi melanjutkan penambangan pasir yang ada di desanya. Selain di sungai, pertambangan juga dilakukan di bibir sungai di sebelah barat. Beberapa alat berat digunakan dalam penambangan itu. Kian hari, di wilayah itu semakin memprihatinkan. Beberapa bibir sungai mulai longsor. Beberapa jalan mulai rusak.

Setahun berlalu, area pertambangan menjadi tempat yang mengerikan. Akhir-akhir ini ditemukan dua mayat. Dua mayat itu mengapung di sungai. Dua orang yang diduga terpeleset saat buang hajat. Hal ini membuat geger warga.

Dari kurun waktu setahun, sungai itu sudah memakan tiga korban setelah dibangun pertambangan pasir. Menurut beberapa warga, peristiwa itu ada kaitannya dengan pembangunan pertambangan.

“Mungkin saja, penunggu sungai sedang marah karena keberadaannya terusik,” ucap salah seorang warga yang kebetulan sedang mengamati evakuasi jenazah.

“Kalau memang begitu, kita perlu adakan musyawarah dengan warga untuk membicarakan tentang ini. Jika ini tidak ditanggulangi dengan cepat, dikhawatirkan akan memakan korban lagi.”

“Betul. Ini masalah yang tidak sederhana. Kita harus segera membicarakan hal ini kepada Pak Kades.”

Beberapa hari kemudian, warga dipimpin oleh ketua adat beserta pemerintah desa melakukan ritual tolak bala. Warga menyembelih seekor kerbau dan kemudian kepalanya diapungkan ke sungai. Hal itu sebagai tumbal atas berdirinya pertambangan tersebut.

Beberapa bulan kemudian, terjadi longsor di area pertambangan. Tanahnya menjadi amblas kurang lebih sepuluh meter dari permukaan tanah.




===================
Anas S. Malo, lahir di Bojonegoro. Sekarang aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) Karya-karyanya sudah tersiar di media lokal maupun nasional. Finalis National Community Investors Award 2018. Antologi Cerpennya “Si Penembak Jitu” akan diterbitkan Belibis Pustaka.

Seperti Ramaparasu

0




Telah berkata seorang saleh dari masa kecilnya bahwa kiamat tidak akan terjadi sebelum matahari terbit dari barat. Namun jauh sebelumnya, binatang-binatang melata dari dasar bumi keluar dan angin yang lembut berhembus mengelus ubun-ubun, dan setiap yang beriman akan mangkat, meninggalkan bumi yang fana bagi orang-orang celaka, orang-orang ahli neraka belaka.

***

Pada hari ke-53 semenjak wabah merebak, seorang lelaki melihat dari balik kaca jendela kamarnya, binatang-binatang berwarna putih merangkak di halaman. Binatang-binatang itu berkaki empat, memiliki selaput tipis yang menghubungkan leher hingga paha kaki belakang serupa sayap kelelawar. Mereka bermoncong dan sesekali meringis memamerkan sepasang taring tajam. Lidah mereka terjulur seperti anjing.

Sepanjang hidup lelaki itu, 36 tahun, ia belum pernah melihat binatang-binatang semacam itu.

“Wabah yang datang bersama angin,” ia bergumam, “binatang-binatang aneh yang tiba-tiba keluar entah dari mana,” lanjutnya.

Lelaki itu mengusap wajahnya. Rambutnya acak-acakan. Ia beranjak ke kamar mandi. Mengguyur sekujur badan. Ia menggigil oleh air dingin.

“Tak diragukan lagi….”

***

Masih subuh. Lelaki itu baru saja menyelesaikan santap sahur ketika ia melongok ke luar jendela dan melihat binatang-binatang melata itu di bawah guyuran lampu halaman. Namun ia telah selesai mandi dan bersalin baju yang paling bagus, baju andalan yang ia beli ramadhan sebelumnya sebagai baju lebaran. Dengan baju itu, hampir setahun lalu, ia bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya dan memohon ampun atas segala kesalahan yang ia perbuat, sebagaimana lazimnya ritual lebaran yang ia kerjakan. Lebaran tahun ini, ia tahu ia tak akan pulang kampung seperti tahun-tahun sebelumnya. Semenjak wabah pecah dan pemerintah menerapkan peraturan bagi setiap warga untuk berdiam diri di rumah dalam rangka mencegah penularan, ia memang telah memutuskan untuk tidak mudik. Tidak ada yang tahu apa yang mungkin terjadi dalam perjalanan mudik. Bisa saja ia tertular wabah dan kemudian menularkannya kepada orang tuanya di kampung. Ia tak ingin melihat orang tuanya yang sudah lebih dari tujuh puluh tahun usianya, tercekik meregang nyawa karena kedatangannya. Dan seperti seorang warga negara yang baik, ia mematuhi peraturan. Sudah berhari-hari semenjak peraturan itu resmi dikeluarkan, ia mengurung diri dalam rumah. Lelaki itu telah mengosongkan tabungannya demi menimbun bahan makanan sebagai bekal karantina diri.

Subuh ini, dengan tangan gemetar, ia memutar kenop pintu rumah kontrakannya di Surabaya.

“Angin yang bertiup mengelus ubun-ubun orang-orang beriman,” gumamnya, seperti memberi kekuatan kepada dirinya sendiri. “Dan hanya orang-orang celaka yang tinggal di bumi yang fana dan tua ini.”

Rumahnya menghadap ke timur. Cahaya parak fajar yang hangat menyambutnya. Ia sedikit silau. Ia letakkan telapak tangan kananya di atas mata.

“Sebelum matahari terbit dari barat,” lafalnya, serupa mantra.

Di halaman, ia berjingkat menghindari binatang-binatang melata. Ia takut menginjak mereka. Siapa bisa memastikan bahwa binatang-binatang itu bukanlah makluk suci yang bertugas memberi peringatan kepada orang-orang beriman?

***

Jalanan lengang. Daun-daun kering yang diluruhkan angin berserakan di mana-mana. Plastik-plastik bekas teronggok di sembarang tempat. Seekor kucing liar menatap lelaki itu tajam, lantas melompat ke balik tempat sampah. Dua ekor tikus yang berat masing-masingnya tak kurang dari dua kilogram mengintipnya dari selokan. Adzan subuh sudah beberapa waktu menguap dari udara.

Lelaki itu menghirup napas dalam-dalam. Udara terasa begitu segar. Ia melihat langit. Biru jernih. Beberapa gumpalan awan berarak. Awan-awan itu terlihat seperti kuda dan sapi. Angin bertiup lembut mengelus ubun-ubunnya.

“Beri aku mati yang damai, Tuhan,” gumamnya.

Lalu ia teringat orang tuanya di kampung, di lereng Welirang yang dingin. “Beri mereka mati yang damai, Tuhan,” tambahnya. Lalu kedua telapak tangannya bertangkup di wajahnya. Matanya basah oleh doa yang khusuk.

Lelaki itu terus berjalan.

***

Delapan ratus tiga puluh empat meter kemudian, lelaki itu teringat satu hal. Ia merogoh kantongnya. Kosong belaka. Ponselnya pasti ketinggalan di rumah. Ia ingin mengecek media sosial, memastikan apakah kawan-kawannya di dunia maya tahu apa yang ia ketahui. Ia mendengus kesal. Fakta bahwa ia telah menyaksikan binatang-binatang melata, dan kesadaran bahwa wabah yang tengah melanda saat ini bergerak bersama angin, telah membuatnya kehilangan ketenangan. Ia lupa membawa ponselnya. Ia lupa mengabarkan fakta penting ini ke seluruh dunia.

Namun, pikirnya kemudian, bukankah setiap orang seharusnya sudah menyadari apa yang sedang terjadi? Atau, kalau pun ada yang belum menyadarinya, pasti sudah ada orang lain yang lebih dulu sadar dan menyebarkan kesadarannya ke khalayak.

Memikirkan hal itu, ia jadi sentimental. “Saat ini,” gumamnya seraya menatap pucuk akasia peneduh trotoar, “kematian sedang membunyikan loncengnya di internet, di televisi, di koran dan majalah. Semua orang pasti sudah menyadarinya.”

***

Lelaki itu terus berjalan. Sesekali, satu dua pengendara melintas di jalanan yang sepi. Mereka melaju dengan kecepatan tinggi.

“Sepertiku,” kata lelaki itu kepada dirinya sendiri, “mereka juga tengah memburu mati.”

Suara kenalpot yang meraung itu tiba-tiba berubah seperti madah dari surga. Madah yang hanya bisa didengar oleh orang-orang beriman, agar mereka buru-buru memburu mati. Sebab, seperti yang ia ketahui dari seorang saleh dari masa kecilnya, setiap orang yang masih memiliki keimanan, sekecil apa pun kadar keimanan itu, akan meninggal oleh angin lembut yang bertiup mengelus ubun-ubun sebelum matahari terbit dari barat dan bumi meletus dalam kiamat kubro.

Ia bayangkan orang-orang kini berada dalam kepanikan yang berbeda dari kepanikan ketika wabah pertama merebak. Bila awalnya mereka panik karena takut tertular wabah, kini mereka panik karena belum juga tertular wabah dan meninggal. Hanya orang-orang celaka yang tak akan meninggal karena hembusan angin lembut ini, gumamnya lagi, seperti menambah energi dan semangat dalam dirinya.

“Celakalah orang-orang yang masih memutuskan berdiam di rumah untuk menghindari wabah,” teriaknya. Angin Surabaya mengikis teriakannya.

“Ayo keluar dari rumah, jemputlah kematian kalian, kematian yang indah di bulan yang penuh berkah, sebelum kalian menyesal dan masuk ke dalam golongan orang-orang celaka yang akan menyaksikan dunia meletus!”

Kembali angin melenyapkan teriakannya.

***

Bahkan tak dijumpainya gelandangan atau orang gila selama ia berjalan. Apakah orang-orang yang sebelumnya ia anggap bernasib malang itu telah lebih dulu meninggal? Kalau memang mereka telah meninggal, alangkah beruntungnya mereka. Ah, pikirnya, nasib malang dan nasib baik, alangkah cepatnya bertukar tempat.

Ia mendengus. Ia kembali berjalan. Ia berharap angin yang membawa wabah segera mengelus ubun-ubunnya, mencekik tenggorokannya, menyesakkan dadanya, lantas menghancurkan paru-parunya, dan menghentikan detak jantungnya.

Ia ingin bertemu seseorang yang menyimpan wabah dalam napas dan air liurnya, lantas menularinya sesegera mungkin. Ia sampai di taman kota. Tangannya bergerak mengusap seluruh kursi logam yang ada di sana. Ia tahu, virus yang menjadi perantara wabah ini juga bisa berdiam di permukaan benda-benda. Setelah mengusap kursi-kursi logam itu, ia menciumi permukaan tangannya.

“Jangan masukkan aku ke dalam golongan orang-orang celaka, Tuhan,” isaknya, lalu ia jatuh berlutut dan menangis dengan kedua tangan tertangkup di wajahnya. Pundaknya berguncang pelan.

***

Ia terus berjalan. Ia telah memutuskan tak akan kembali ke rumahnya. Ia hanya ingin sesegera mungkin menemui mati. Segala yang dilarang oleh pemerintah sebagai upaya penanggulangan wabah telah ia langgar. Ia tidak memakai masker, ia berkeliaran di jalanan, ia tidak mencuci tangan, ia memegang segala benda yang ia temui dan segera menciumi telapak tangannya. Namun maut yang ia nanti-nantikan dalam wabah itu tak kunjung menjemputnya.

Lalu ia teringat dongeng bapaknya yang sering didengarnya sebelum tidur. “Ada seorang kesatria yang mengembara mencari mati. Namanya Ramaparasu. Ia menenteng gendewa ke mana-mana dan menantang setiap kesatria yang ia temui. Namun, tak satu pun kesatria itu yang bisa membunuhnya. Dan ia terus berjalan. Ia terus mengembara. Ia terus mencari mati.”

Kalimat-kalimat dari bapaknya itu kini terngiang-ngiang di telinganya. Ia menoleh, mengira bapaknya tengah berbisik di telinganya. Namun tak ada siapa-siapa di sampingnya.

Ia kini merasa bahwa dirinya sendirilah Ramaparasu itu. Mengembara mencari mati, namun tak mati-mati. Ia sudah hampir putus asa. Dan segera ia teringat bahwa pada akhirnya, Ramaparasu bertemu Ramawijaya, dan di tangan titisan Wisnu itulah akhirnya Ramaparasu menemui ajalnya.

Semangatnya kembali menyala. Lelaki itu tahu, ia harus berusaha lebih keras. Seperti Ramaparasu. Ia berhenti sebentar, memikirkan di mana Ramawijaya berada. Sejauh ini, hanya satu dua orang yang melintas di jalanan mengendarai kendaraan. Ia belum berpapasan dengan sesama pejalan kaki, ia belum bersalaman atau bercakap dengan orang asing. Orang-orang barangkali terlalu pengecut. Atau mungkin, orang-orang itu memang termasuk golongan orang-orang celaka yang tak memiliki kadar keimanan secuil pun.

“Rumah sakit,” matanya tiba-tiba bercahaya. “Di mana lagi tempat yang menyimpan lebih banyak wabah hari ini ketimbang rumah sakit?”

***

Menjelang sore, ia telah berhasil menyelinap ke dalam tiga rumah sakit berbeda, berkeliaran dari satu lorong ke lorong lain, dari satu bangsal ke bangsal lain, bertemu dari satu orang ke orang lain, dan mereka semua menatapnya dengan  pandangan heran dan cemas. Beberapa di antaranya bertanya, “Kenapa kau tidak memakai masker?”

***

Lelaki itu masih berjalan. Perutnya menjerit. Otot-ototnya terasa linu. Ia telah menempuh banyak kilometer dengan berjalan kaki. Keringat membanjiri tubuhnya. Namun ia merasa dirinya masih sesegar alang-alang di musim hujan. Dan udara masih terasa begitu segar.

“Tuhan, kenapa aku belum juga mati?” rintihnya.

Malam perlahan-lahan datang. Ia lupa salat, ia bahkan meluputkan buka puasa. Namun lelaki itu melihat hari yang semakin panjang di depan sana. Ia bergidik. Dan ia terus berjalan, seperti Ramaparasu.

==================

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

Menerbangkan Perahu

0



Delisa begitu mengikat kuat dalam pekat pikiran. Tetapi, sebagai perantau yang tak memiliki hak atas tanah pengikat, Madin harus segera sadar, ada hati lain yang menunggu untuk membangun mimpi, lalu menerbangkannya sesuai arah mata angin hati.

Di tengah kemelut undangan kesedihan yang mendatanginya itu. Madin perlahan bangkit, lalu membuang undangan pernikahan Delisa ke bak sampah. Tak sampai di situ, lelaki itu langsung membakar barang-barang yang pernah diberikan Delisa. Ia juga membubuhi kata keterangan “sedang bakar sampah nih!”.

Setelah puas membakar sisa-sisa kenangan itu. Madin segera menegok keadaan di dalam rumah. Bapak dan Ibu lumayan aman untuk ditinggal beberapa saat. Maka, ia pun segera mengambil sepeda matic yang selama ini sudah menemaninya.

Sungguh, Madin tak tahu harus ke mana dan bagaimana. Ia hanya merasa suntuk di dalam rumah. Sebab bayang-bayang Delisa hadir di pelupuk mata. Dan, baginya sulit untuk menepisnya.

Di tengah perjalanan itu, Madin kemudian tersadar bahwa tidak boleh terlalu jauh berjalan. Ada Bapak dan Ibu yang tak bisa menunggu lama di rumah. Akhirnya, Madin pun memutuskan untuk ke Alun-alun Kota Situbondo saja. Madin hanya membutuhkan beberapa menit lagi untuk sampai di tempat yang memiliki hutan kota itu.

***

Sebuah perahu emas bertengger kokoh di tengah alun-alun. Perahu itu seolah-olah menjadi simbol kota yang memiliki garis pantai terpanjang di Jawa Timur ini. perahu yang juga menyiratkan harapan para nelayan. Harapan agar hidup mereka serupa emas. Dicari dan diburu banyak orang.

Memandang perahu itu, Madin jadi teringat akan kisah Bapak selama menjadi nelayan. Ada banyak sekali badai yang pernah lelaki bertubuh matahari itu temui. Badai-badai itu membentuk kekuatan dalam tubuh Bapak. Bapak tak sedikit pun mengeluh ketika bertemu badai. Karena Madin tahu, sebagai seorang pelaut yang hebat Bapak tak lahir dari laut yang aman-aman saja.

Badai yang dialami Bapak tentu tak sebanding seperti yang dialami Madin. Madin hanya merasakan sakit hati lantaran kekasih yang pernah singgah di hati itu malah mengirimkan undangan kesedihan. Padahal, harapan Bapak dan Ibu dulu ada pada perempuan itu. Dan, harapan itu telah berganti dengan yang baru.

Madin kembali memandang perahu itu dari jauh. Ia tersenyum. Seolah harapan baru menunggu di ujung sana. Maka sebab itu, ia melajukan langkah menuju si perahu. Perahu itu seperti memanggil Madin mendekat.

Dan, ketika kaki sudah begitu dekat, Madin begitu terkejut. Ia melihat aroma kesedihan lain. Aroma kesedihan itu seperti dikenalnya. Bahkan sangat kenal.

“Delisa!” pekik Madin tak percaya.

Si perempuan itu menoleh ke arah Madin. Wajah mantan pemilik hati Madin itu begitu senduh. Madin langsung menyimpulkan jika ada sesuatu yang tidak beres.

“Aku batal menikah,” tutur Delisa, begitu halus tapi penuh kebingungan.

Madin tak menjawab. Ia hanya mendekatkan langkah. Kemudian, ketika dekat, ia memberikan jarak pada Delisa.

“Kenapa?” tanya Madin.

Delisa menambah debit air matanya.

Melihat itu, sungguh Madin ingin mendekat. Tetapi, kalau mengingat kisahnya dengan Delisa yang kandas secara sepihak dan tanpa alasan yang masuk akal. Madin berusaha menata hati. Ia tak boleh dianggap sebagai lelaki gampangan, apalagi pengemis cinta.

“Belum menikah saja, ia sudah berani selingkuh,” ungkap Delisa menahan segala pertahanan emosinya.

Madin tak terkejut mendengar ungkapan mantan kekasihnya itu. Terlebih di dunia saat ini, sulit sekali mencari cinta yang sejati. Cinta yang hanya terdiri dari dua orang yang sama-sama memiliki hati, mengikat hati, dan tak akan pergi ke lain hati.

Awalnya, Madin merasa jika Delisa adalah cinta sejatinya. Hanya saja, fakta cerita merengsek maju mengungkap segala gerak-gerik Delisa. Lalu, struktur cerita kemudian berbicara bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah. Delisa mundur, tanpa pamit di saat Madin benar-benar membutuhkannya.

“Bersyukurlah, kamu diberi kesempatan untuk mengetahuinya lebih dulu. Ketimbang ketika berumah tangga nanti!”

“Ya, aku bersyukur, Madin. Apalagi, sama selingkuhannya, ia berani main tangan,” kenang Delisa, lalu menghapus air matanya.

Madin mengangguk membenarkan pernyataan perempuan itu. kemudian, mencuri pandang dan menikmati kecantikan parasnya. Kecantikan yang dulu dipuja-puja itu kini  berubah menjadi sesuatu yang entah tak menarik lagi.

“Kamu mau kembali padaku?” tanya Delisa membuatku kaget.

Aku kontan menggeleng cepat-cepat.

“Mengapa?”

“Ini hati bukan stasiun. Kamu tidak bisa pergi sesuka hati!”

“Aku tahu kemarin aku salah!”

“Terus?”

“Aku khilaf.”

“Aku tak mungkin bersama perempuan yang tak bisa menerima keadaan orang tuaku.”

“Aku akan belajar menerima.”

“Ah, sudahlah, aku mau pulang,” putus Madin mengakhiri percakapan yang semakin membuatnya pusing.

Madin sudah berikrar untuk meninggalkan segenap kenangan dengan Delisa. Dan, ia memang berusaha untuk tak memberikan minat, sedikit pun. Makanya, ketika ada penawaran hati untuk singgah kembali, ia benar-benar sudah tidak ada hati.

“Madin, tunggu!”

Madin tetap melangkah pergi. Ia malah mempertegas langkahnya. Meninggalkan Delisa yang seperti kehilangan arah. Langkah Madin begitu tegas, tanpa perlu melihat ke belakang. Delisa adalah masa lalu yang tak perlu dilirik lagi. Masa depan menunggunya untuk menjemput mimpi yang entah dengan siapa dan akan memulainya dengan cara apa. Tapi, sebagaimana hidup, masa depan itu harapan setiap orang dan masa lalu harus dihapus sedikit demi sedikit. Agar hidup ini tidak terlalu dramatisir.

“Madin, tunggu!” panggil Delisa begitu serak.

Madin pura-pura tak mendengar. Ia kini malah berlari ke arah parkir. Hanya saja, orang-orang di sekitarnya meneriakinya. Madin pun menoleh ke belakang. Di sana Delisa begitu kehilangan arah. Tubuhnya yang kering mendadak kehilangan tenaga.

Madin pun segera berlari. Ia bersama orang-orang di alun-alun langsung membawa Delisa ke klinik terdekat. Sekalipun Madin tak lagi menaruh harapan pada perempuan itu, tapi ia tak pernah menghilangkan sisi kemanusiaannya. Ia harus tetap membantu Delisa.

Pun, sesampainya di klinik di utara alun-alun, ia segera menghubungi keluarga Delisa. Beberapa menit kemudian, keluarga Delisa datang dan Madin mendapat tatapan tajam plus sinis. Seolah-olah Madin serupa kuman kecil yang tak pantas keberadaannya di sini.

Melihat situasi yang tak enak itu, Madin pun memutuskan untuk segera pergi. Hanya saja, panggilan Delisa dari ruang perawatan membuatnya menghentikan rencana.

“Delisa memanggilmu!” ungkap Bapak Delisa.

Madin langsung masuk ke kamar perawatan.

“Ada apa?”

“Kamu bisa bantu aku?”

“Katakan saja, Del!”

“Nikahi aku. Aku hamil!”

Permintaan Delisa benar-benar di luar nalar Madin. Mengapa perempuan yang menelantarkannya kini malah menjadi pengemis cinta yang sesungguhnya. Terlebih kondisinya yang meminta dinikahi karena hamil.

“Kita tidak pernah melakukan apa-apa! Dan, aku tidak bisa!”

“Kita memang tidak pernah melakukan apa-apa. Dan, ini bukan anakmu juga.”

“Baguslah, cari laki-laki lain!” ucap Madin langsung pergi tanpa pamit.

Kaki Madin yang panjang-panjang itu segera bergarap keluar dari rumah sakit yang begitu penuh sesak kebingungan ini. Hanya saja, semakin jauh melangkah, ia menjadi begitu bingung. Mengapa bisa Delisa memintanya menikahi perempuan itu? Bisa saja kan kehamilan perempuan itu karena lelaki yang berstatus calon tidak jadi suaminya.

Madin bukanlah malaikat yang begitu baik hati. Ia tak mau menanggung dosa yang sama sekali tak ia perbuat. Terlebih mengingat kondisi Bapak dan Ibu yang bisa fluktuatif perasaan dan kesehatannya, bisa-bisa kalau mendengar kabar ini, beban psikisnya malah bertambah.

***

“Madin, tunggu!”

Madin menoleh ke asal suara. Ia tak menyangka jika bapaknya Delisa mengejarnya.

“Ada apa, Pak?”

“Saya mohon turuti permintaan anak saya.”

Madin menghela napas agak panjang. Sungguh ia tak mengerti mengapa jalan pikiran anak dan bapak bisa sama saja.

“Saya tidak bisa,” tolak Madin.

“Saya akan beri apa pun sama kamu.”

“Saya tidak minat.”

Setelah itu, Madin benar-benar menyetop sebuah ojek pengkolan yang akan membawanya ke alun-alun. Dari sana, ia akan kembali ke rumahnya. Bertemu Bapak dan Ibu, serta memberitahukan kabar Delisa yang penuh kejutan tak terkira. Bercerita tentang Delisa bukan berarti Madin ingin menceritakan aib mantan kekasihnya itu. tapi, ia memang merasa orang tuanya perlu tahu.

Toh, sekalipun tahu, orang tua Madin bukanlah orang yang begitu repot dengan urusan orang lain. Mereka lebih banyak berfokus dengan diri sendiri. Bapak yang berfokus melawan rasa sakit hampir setahun dideritanya. Sementara, Ibu berfokus untuk berjualan ikan di pasar serta terus mendoa untuk segala kebaikan kami. Bagi Bapak dan Ibu mengurusi urusan orang lain sama saja dengan menguras kehormatan sekaligus melunturkan harga diri. Dan, setiap urusan mereka tak perlu ikut berkomentar. Hanya sekadar tahu, tanpa perlu memberikan pandangan yang barangkali bisa menjadi kesalahan baru.

***

Perjalanan dari alun-alun menuju rumah tak begitu banyak kendala. Madin beberapa menit lagi akan tiba di rumah. Hanya saja, saat tiba di dekat pohon gayam tak jauh dari gang menuju rumah. Ia merasa ada keanehan.

Tentu keanehan itu tidak lahir dari pohon gayam yang memiliki batang kokoh dan beralur kuat. Atau juga karena bijinya yang keras jatuh dan diambil oleh banyak kanak-kanak agar bisa direbus lama sehingga bisa dimakan dengan penuh rasa enak dan gurih. Bukan karena pohon itu yang menjadi keanehan Madin. Tapi, dari tanaman yang memiliki filosofi gayuh yang berarti cita-cita dan ayem yang berarti damai, tenang dan bahagia itu, Madin melihat ada keanehan lain yang meledak tak jauh dari rumahnya.

Madin pun mencoba mempercepat kecepatan. Hanya saja, lalu lalang orang membuatnya benar-benar menyerah. Ia pun meletakkan motornya di pekaran orang. Lalu berlari menuju rumahnya.

Di sana Madin menemui pertengkaran. Bapak Delisa mendatangi rumah Madin. Ibuk menjerit tak keruan. Orang-orang menjadi pagar pelindung bagi keluarga Madin. Madin pun segera menjerit dari arah belakang. Orang-orang melihatnya dengan tatapan penuh kasihan.

“Menghamili anak orang kok tidak mau tanggung jawab!” ucap sebagian orang.

Madin mendidih mendengar itu. Ia segera meledakkan amarah. Ditatapnya Bapak mantan kekasihnya itu. Ia segera memberikan perhitungan.

“Anak Bapak dan saya sudah putus hubungan begitu lama. Beberapa waktu lalu, ia memberikan undangan pernikahan. Dan, kini menuntut pertanggungjawaban atas hal yang tak pernah saya lakukan!”

Bapak Delisa bungkam.

Madin kembali bersuara, “Bapak telah menginjak ke tanah yang salah. Saya bisa saja mencobloskan Bapak ke polisi lantaran pencemaran nama baik. Dan, saya jamin Bapak akan menyesal pernah ke sini!”

Bapak Delisa terdiam.

“Saya punya banyak bukti tentang Delisa dan kehamilannya. Saya telah merekam semua yang ia katakan!”

Bapak Delisa mundur bersama orang-orangnya.

Madin segera maju, “Kini kalian tahu ‘kan, siapa yang salah? Lalu, kalian akan diam saja, warga yang tak berdosa dihinakan begitu saja!”

Ucapan Madin sontak membuat keberanian orang-orang bangkit. Bapak Delisa dan orang langsung dipukul mundur. Walaupun begitu, Madin begitu histeris melihat tanah segar di hidung Bapak. Ia sungguh-sungguh akan menuntut pembalasan atas kelakuan Delisa dan keluarga atas apa yang telah dilakukan.

Keadaan Bapak yang sedemikian lemah itu membuat Madin tak berhenti menangis. Puncaknya, ketika ia mencoba memberikan tangan agar bisa menuntun Bapak berjalan. Bapak tak bisa meraih tangan itu. Akhirnya, Madin langsung menggendong Bapak serupa yang dilakukan Bapak masih kecil.

Sehabis menggendong Bapak ke kamar. Madin langsung menutup pintu rumah. Ia lalu menelepon Delisa di hadapan Bapak dan Ibu.

“Kamu gila!” ucap Madin.

Delisa tak menjawab di ujung sana.

“Selama kita dekat, tak sedikit pun aku menyentuhmu. Dan, kini kamu hamil. Lalu bilang aku penyebabnya!”

Delisa tak menjawab kembali.

“Jawab!”

“Aku tahu memang bukan kamu pelakunya. Bukan kamu yang menghamiliku. Tapi, aku yakin aku tumbuh bahagia bersamamu.”

“Bahagia yang seperti apa? Bapakmu itu tidak punya perikemanusiaan. Bapakku yang sakit harus menerima ganjaran yang tak mengenakkan. Membuat darah segar terus-terusan keluar di hidungnya!”

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu Bapak akan berbuat sekejam itu.”

“Kamu gila, Delisa!”

Setelah itu, aku tak bisa berkata-kata apalagi. Tubuhku begitu terguncang melihat Bapak yang terbaring lemah. Padahal, beberapa saat lalu perahu kehidupan, tempatku berlayar itu begitu semangat dalam menghadapi pesakitannya. Kini, karena kabar yang tak mengenakkan itu membuat semua harapan perahuku itu terbang. Dan, aku tak tahu bagaimana harus memperbaikinya.




==================
Gusti Trisno. Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang yang memiliki nama lengkap Sutrisno Gustiraja Alfarizi.  Peraih juara 2 Penulisan Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur 2016 dan Penerima Anugerah Sastra Apajake 2019. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul “Seperti Skripsi, Kamu Patut Kuperjuangkan” (Elexmedia Komputindo). Nomor rekening BNI cabang Jember 0649910933 atas nama Sutrisno Gustiraja Alfarizi.

Sepasang Mata, Sepasang Burung, dan Sepotong Gambaran Masa Depan

0



Sepasang Mata

Aku meyakini sepenuhnya bahwa suara ini adalah suara tuanku. Suara yang dilahirkan setelah memandang sesuatu yang membahagiakan hatinya. Suara ini tak jauh beda ketika di suatu waktu selepas memandang hijaunya gunung, tuanku berkata tentang betapa damainya jika setiap hari bisa melihat yang demikian. Kedamaian dilahirkan oleh apa yang dilihat dan dirasakan. Sehingga ketika apa yang dilihat sesuai dengan keinginannya, maka tentu kedamaian menyertainya.

Suara tuanku begitu keras kudengar ketika ia tak henti-henti memandangi awan yang saling berkejaran di langit. Suara kekaguman dan raut wajah yang begitu sedap dipandang. Langit begitu cerah karena ini musim kemarau. Seperti gerombolan domba, awan-awan berarak berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya tanpa tergesa. Langit memang tak ubahnya sabana, bedanya hanya pada warna. Jika sabana berwarna hijau atau cokelat dalam dua waktu yang berbeda, maka langit berwarna biru tanpa noda. Lalu, domba-domba saling bersisian tanpa saling mendahului. Menuju sabana lain yang tak pernah mampu dijangkau oleh tuanku. Tapi tentu semua itu tak jadi masalah selama apa yang dipandang tuanku masih menghibur hatinya.

Pernah di suatu waktu, tuanku sedang menyandarkan diri pada pagar balkon. Tangannya menyilang dan menumpu pada besi pembatas itu. Lulutnya disandarkan dan sedikit ditekuk untuk menahan beban tubuhnya. Sementara itu, badannya agak condong ke belakang menjauhi besi pengaman. Ia tak henti-henti memandang langit. Ia sibuk menghitung koloni domba dan sibuk menebak apa yang sedang domba-domba itu lakukan. Hal itu ia lakukan karena merasa ketika di langit, domba-domba sering bercanda dan melakukan hal-hal konyol. Misalnya saja ketika awan-awan membentuk tanda hati, itu artinya domba-domba itu sedang mengalami musim kawin. Ketika awan-awan membentuk monster, itu adalah tanda bahwa domba di langit sedang ada masalah. Lalu ketika awan-awan berubah gelap, itu artinya domba-domba sedang murung atau bersedih. Begitu yang kudengar dari perasaannya.

Akan tetapi, di sisi lain, suara tuanku begitu sendu. Dari dekat diriku, kurasakan ada sesuatu yang melintas begitu hangat. Kadang ada yang deras meluncur begitu saja, kadang ada yang tertahan, kadang ada pula yang menyakitkan untukku. Tuanku menyebutnya kesedihan. Salah satu kesedihan yang begitu kurasakan dan kuketahui secara langsung adalah ketika tuanku mengarahkanku untuk memandangi sepasang burung. Aku seolah tak percaya dengan apa yang kulihat. Ia memaksaku memandangi sepasang burung itu meski sebenarnya aku sendiri tidak tahan. Mulai dari bentuknya, kicaunya, juga bulunya. Semua tentang burung itu.

Rasanya begitu perih ketika mengingat hal yang tidak kuinginkan itu. Tuanku sesekali berkedip. Ah, bukan sesekali, melainkan ia berusaha menutup kelopak yang melindungiku, tapi tak bisa. Rasa takut telanjur menyergap tubuhnya. Ia bergetar hebat. Diriku begitu perih merasakannya. Aku harus memandang dan meneruskan apa yang ada di depanku ke dalam kepala tuanku sehingga membuat dirinya mengalirkan air melalui sela-sela diriku.

“Hentikan! Hentikan!” kata tuanku meraung. Aku bisa merasakan suaranya. Ia mengatakan ketika pertama kali memasuki ruangan yang sebenarnya tidak asing bagiku. Aku sering masuk ruangan yang demikian adanya. Di ruangan itu, benda-benda juga tidak asing. Memang aku seringkali menjumpai benda-benda semacam ini. Seperti yang kulihat biasanya, tempat tidur berwarna putih susu dengan selimut beraneka warna, sebuah kursi berlapis sesuatu yang mengembang berwarna coklat, vas bunga dengan tiga helai daun, serta lukisan yang menghiasi dinding. Untuk yang terakhir yang kusebutkan, memang tidak sesering yang lainnya.

Penolakan tuanku begitu kurasakan, bahkan diriku hampir tak tahan mendengarnya. Suaranya nyaring tanpa kata-kata. Mulutnya bungkam. Tapi aku tahu bahwa dari dalam diriku memancarkan sesuatu yang tak mampu kutafsirkan sendiri. Tuanku yang lebih paham. Saat itu, seseorang dengan rambut cepak menggelandang tuanku. Memaksanya merebahkan badan di kasur yang seputih susu. Aku menatap mata yang lain. Begitu penuh amarah. Aku ketakutan. Tapi aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku hanya menuruti kehendak tuanku. Seorang lagi, yang jangkung dan bermata coklat hanya memandangi tanpa rasa bersalah dan tanpa belas kasih. Ia duduk di kursi dengan lapisan dan matanya menatap lekat tuanku. Matanya memandangku. Tapi dalam matanya menunjukkan hinaan.

“Kenapa harus seperti ini?” tanya tuanku. Ia mengarahkanku pada wajah kepala yang berambut cepak dan lekas mengalihkan ke arah lukisan di dinding. Ia seperti menolak. Akan tetapi, kepala tuanku dipaksa memandang ke arah semula.

Sesosok yang bertubuh jangkung menggerakkan kepalanya memberi perintah. Mulutnya bergerak tapi aku tak paham dengan suaranya. Memang, aku tak mampu mendengar suara orang lain selain dari matanya dan sepasang burung yang terus menatapku penuh iba. Ya, aku memahami rasa iba mereka. Tapi di sisi lain, aku ingin mereka mematukku sehingga aku tidak dapat lagi melihat dan mengantarkan kesedihan tuanku. Aku berharap sepasang burung yang sedang menatapku menyelamatkan dan menghindarkan kegetiran yang dirasakan tuanku.

Tak lama setelahnya, dua sosok itu mendekat ke tuanku. Tetapi aku merasakan ada yang aneh dengan dua burung yang ada di hadapanku. Mereka tak mengepakkan sayap. Mereka tak berkicau. Mereka tidur. Mereka terpengkur. Lalu setelahnya hening. Aku tak melihat apa pun.

Ah, kenapa kesedihan selalu saja diingat. Padahal hal itu menyakitkan. Kupikir memang sebaiknya dan haruslah aku berbahagia saat ini. Menemani tuanku. Memandang hal-hal yang menyenangkan dan membahagiakan hatinya. Tanpa menghadirkan lagi kesedihan. Sedikit pun.



Sepasang Burung

“Apa kau tak kasihan dengannya?”

“Tentu saja kasihan.”

“Bagaimana cara menyelamatkannya?”

“Jangan melakukan apa pun.”

“Maksudmu?”

“Pokoknya jangan melakukan apa pun seperti biasanya. Jika kau mengoceh, maka sama saja kau menyakitinya.”

“Bagaimana caranya agar kita tidak mengoceh? Pasti tuan kita akan memaksa kita mengoceh. Mereka telah merawat kita. Memberi hidup yang baik.”

“Tahan dirimu. Bayangkan, dirimu akan melukainya. Ia terus saja memandangi kita. Jujur, aku malu dan tidak tega jika harus menyakitinya.”

“Aku ingin mematuk matanya. Agar tidak menyaksikan kesedihan itu.”

“Lakukanlah jika hal itu memang bisa menyelamatkannya.”

“Bagaimana caranya?”

“Pikir saja sendiri.”

“Aku tidak tahu caranya.”

“Kalau begitu, cukup jangan mengoceh. Jangan turuti kemauan tuanmu.”

“Ya, aku akan melakukannya. Aku akan berusaha sekeras mungkin untuk tidak menyakitinya. Aku baru pertama kali menjumpai kesedihan semacam ini. Aku juga tidak ingin disalahkan atas keegoisan tuanku. Sudah cukup rasanya selalu dikorbankan dan dituduh sebagai sesuatu yang melatarbelakangi tindakan keparat itu.”

“Terpengkurlah. Mari kita tidur. Tidur untuk sementara waktu.”

“Sementara waktu? Kenapa tidak seterusnya saja?”

“Mengapa begitu?”

“Sepertinya aku tidak tega mengepakkan sayap lagi. Jika aku terus bertualang dan menghinggapi tempat baru lagi, aku akan mengingat ia seterusnya. Dan itu membuatku tidak tega untuk mengoceh lagi. Sebaiknya aku tidak melakukan apa pun lagi. Seterusnya.”

“Kau benar. Aku juga akan mengerami tempat ini dalam keadaan paling sunyi. Sesunyi mata itu.”



Sepotong Gambaran Masa Depan

Sejak peristiwa di kamar nomor 218 itu, aku menyaksikan Veronika begitu terpukul. Matanya sayu, pikirannya tak menentu. Apa yang ada di kepalanya tak lagi mampu kubaca. Kejadian itu begitu memukul dirinya. Mengingat kejadian itu, aku tak sanggup untuk mengatakan apapun. Aku mulai berpikir tentang masa lalu dan masa depan. Kenyataan bahwa hidup hanya mengejar masa depan adalah kesalahan besar. Sebab, masa depan akan selalu dipenuhi intrik dan impian-impian yang tak ada habisnya.

Pengalaman telah menyadarkan Veronika tentang bagaimana rasanya membayangkan kebahagiaan di masa yang akan datang, tak lain sesungguhnya semu. Kebahagiaan, dulu Veronika berpikir, dapat dicapai dengan hidup di kota besar, hidup mewah, serta segala keinginan dapat lekas tersedia. Namun ternyata segala tentang masa depan tak ubahnya sengaja mengirim diri ke neraka.

Ternyata, anggapan tentang masa depan telah salah. Kebahagiaan adalah ketika bisa memandang tanah kelahiranmu tanpa kau berpikir tentang masa depan yang sebenarnya samar. Sebab di tanah kelahiranmu yang katanya selalu berkutat pada masa lalu itu, kita masih bisa memandang hijaunya gunung, memandang awan yang berkejaran dan membayangkan apa yang terjadi di atas sana, serta kau juga dapat mendengar ocehan burung yang saling bersahutan. Apalagi ketika musim kawin tiba, kicau burung itu akan terdengar sepanjang hari.

Lantas, masa depan semacam apa yang layak dipikirkan, diyakini, dan dipercayai? Apakah seperti yang kupikirkan sekarang atau mungkin yang sebelumnya? Atau tidak sama sekali? Kebahagiaan macam apa yang kau inginkan Veronika?






========================
EKO SETYAWAN, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017) & Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020). Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen.

Cerita-Cerita Menghilang dari Kepalaku

0

Cerita-cerita menghilang dari kepalaku. Komputerku sampai bosan menunggu jari-jemariku menyentuh tutsnya, sehingga benda itu memadamkan layarnya sendiri. Mungkin ini semua karena otakku sudah lama sekali tak kugunakan untuk menghasilkan cerita pun mencerna tulisan; dalam waktu amat lama, otakku hanya memikirkan cara terbaik untuk menerima kesakitan dan kesepian di dalam sel.

***

Seminggu setelah novel terakhirku terbit, para polisi menangkapku pada pagi buta di rumahku, atas tuduhan pencemaran nama baik presiden. Entah di bagian manakah novelku mencemarkan nama baik presiden, para polisi menolak untuk menjelaskan. Mereka menutup kepalaku dengan karung, membawaku menempuh perjalanan panjang dengan mobil, dan baru melepaskan karung itu setibanya aku di sebuah ruangan kecil, yang tak lebih bagus ketimbang kamar mandi umum jika lupa dibersihkan selama setahun.

Aku tinggal di sana hingga menua secara menyedihkan. Aku tak pernah dijenguk istri pun anak-anakku, tak pernah sekali pun menjejakkan kaki di luar sel, dan jarang diberi makanan—kalaupun diberikan, jangan tanya bagaimana rasa makanan itu. Yang paling membuatku merasa hidup terkutuk adalah aku disiksa hampir tiap hari oleh salah seorang polisi, karena tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh yang dilontarkannya. Hingga pada suatu hari, pintu selku didobrak, dan terlihatlah beberapa orang—aku tak pernah melihat mereka sebelumnya—berdiri dengan mulut menganga, seolah aku adalah seekor naga dalam dongeng-dongeng yang tanpa diduga nyata adanya.

“Tiga puluh tahun menghilang, dan ternyata penulis itu masih hidup …” gumam salah seorang di antara mereka.

Mereka membawaku keluar dari ruangan ini, dari bangunan ini, yang ternyata adalah sebuah rumah tua di tengah hutan. Di sana tak ada sel-sel lain selain sel yang mengurungku, maupun tahanan-tahanan lain selain aku.

Mereka memasukkanku ke jok belakang sebuah mobil dan membawaku ke rumah sakit. Di tengah perjalanan, untuk pertama kalinya aku berbicara pada mereka, “Apakah sebentar lagi aku sudah boleh membaca dan menulis? Apakah sebentar lagi aku sudah boleh bertemu dengan istri dan anak-anakku?”

“Tentu saja Anda sudah boleh membaca dan menulis lagi,” sahut orang yang duduk di sampingku. “Kami bahkan akan membelikan Anda banyak buku bagus serta komputer untuk menulis.”

“Komputer?!” Aku terkejut.

“Benar sekali. Sekarang sudah tidak ada yang menggunakan mesin tik.”

“Oh ya, apa kabar istri dan anak-anakku?”

Tidak ada jawaban. Para penyelamatku seperti tak mendengar pertanyaanku. Belakangan, aku mengerti bahwa mereka tak mau membuatku syok dengan kabar buruk itu: rumah dan keluarga kecilku dibakar beberapa hari setelah aku dipenjara, beberapa hari sebelum novel terbaruku ditarik peredarannya dari toko-toko buku dan dibakar juga.

Setelah kira-kira sebulan menjalani perawatan mental dan fisik di rumah sakit, serta sesekali menerima kehadiran para wartawan yang bertanya banyak hal tentang menghilangnya aku selama ini, aku dipindahkan ke apartemen sederhana oleh para penyelamatku, apartemen yang terletak di lantai dua puluh. Di sana terdapat komputer dan rak berisi penuh buku bagus, selain properti-properti lain yang umum ditemukan dalam sebuah apartemen. Kata salah satu dari mereka, “Ini semua hadiah dari pemerintah.”

“Dari pemerintah? Cih! Jadi, ini cara mereka meminta maaf karena telah menghancurkanku, heh?!”

“Hmm … sebenarnya, Tuan, pemerintah yang memenjarakan Anda sudah lengser sekitar dua puluh enam tahun lalu. Yang memberikan Anda semua ini adalah pemerintah yang baru memerintah selama empat tahun.”

Heninglah sejenak. Setelah berpikir agak keras, aku bertanya, “Jika pemerintah yang memenjarakanku sudah lengser sekitar dua puluh enam tahun lalu, kenapa aku tidak diselamatkan sekitar dua puluh enam tahun lalu pula?”

Mereka tak menjawab dan saling bertukar pandang ….

Para penyelamatku pergi setelah menyerahkan amplop tebal berisi uang bekal untukku. Aku lantas mencoba mengoperasikan komputer, kemudian mencoba menulis lagi, dan mendapati cerita-cerita menghilang dari kepalaku. Setelah berjam-jam duduk menghadap komputer tanpa menghasilkan satu kalimat pun, aku memutuskan untuk membaca sebuah buku yang kupilih secara acak dari rak, tetapi aku tak bisa berkonsentrasi membaca. Maka aku berbaring di sofa, memejamkan mata, dan memaksa cerita-cerita bertumbuhan dalam kepalaku.

Dan karena cerita-cerita tak kunjung muncul, aku mulai merasa marah. Amat marah. Marah kepada orang-orang yang menculikku, kepada sel tempatku dikurung, dan kepada pemerintah yang sudah lengser sekitar dua puluh enam tahun lalu. Memang mereka sudah tak menahan tubuhku, tetapi ternyata mereka masih menahan cerita-ceritaku entah di mana!

Tanpa cerita-cerita di kepalaku, bagaimana bisa aku bertahan hidup?!

Tentu saja kau bisa bertahan hidup, jawab suara asing di dalam pikiranku. Bukankah selama di penjara kau bisa hidup tanpa cerita-cerita di kepalamu? Kenapa sekarang, di luar penjara, kau malah tidak bisa?

Apakah memang sebaiknya aku dipenjara lagi?

Malamnya, saat aku pergi ke restoran untuk sedikit bersantai, aku melihat seorang pria yang tak asing duduk beberapa jarak dari mejaku. Ia adalah polisi yang biasa  menyiksaku di sel; ia duduk semeja bersama seorang gadis kecil yang kuduga adalah anaknya. Berdasar gestur, ekspresi, dan tutur kata yang ditujukannya kepada sang anak, sama sekali tak tergambar bahwa ia adalah orang yang pernah berkali-kali hampir membunuh seorang penulis. Dan keberadaan orang itu membuatku mendadak merasa marah. Amat marah.

Bunuhlah ia, agar kau tak marah. Lalu cerita-cerita pasti akan kembali ke kepalamu.

Omong kosong! Aku tak percaya suara di kepalaku sendiri. Jika aku membunuhnya, jelas aku akan dipenjara lagi, dan kehilangan kesempatan untuk membaca-menulis, yang berujung pada semakin sulitnya memunculkan cerita-cerita di kepalaku.

Kalau begitu, kau boleh menyiramkan kopi ke kepalanya.

Itu juga tidak. Aku tak mau terlibat keributan; aku hanya ingin mengisi sisa hidupku dengan menulis cerita-cerita.

Bagaimana kalau kau menghampirinya dan bertanya soal bagian novelmu yang manakah yang mencemarkan nama baik presiden?

Aku benar-benar ingin bertanya demikian. Namun mendadak adegan-adegan penyiksaan yang dilakukannya terhadapku melintas amat jelas, membuatku seketika ketakutan. Aku pun berlari kembali ke apartemenku, merebahkan diri di kasur, menenangkan diri, dan tertidur.

Aku bermimpi berada di dalam selku. Aku duduk menghadap komputer di sebuah meja dan berusaha menulis cerita, tetapi tak kunjung ada cerita yang muncul di kepalaku. Tiba-tiba pria yang biasa menyiksaku itu memasuki sel. Ia bergerak cepat ke sampingku, menatap layar komputer yang belum menampakkan sedikit pun kalimat, dan langsung meninju wajahku hingga aku terjungkal dari kursi.

Kalau sampai satu jam kedepan kau belum juga menghasilkan cerita, aku akan membunuh kau! ucapnya, suaranya sama persis dengan suara asing di kepalaku!

Aku langsung terbangun, meraih komputer, dan melayangkannya ke arah jendela yang segera saja kacanya pecah! Semua kulakukan dengan begitu cepat, dengan ketakutan mengoyak seisi kepala, tanpa sempat mencerna pukul berapakah waktu itu, bagaimanakah cuacanya saat itu, dan lain sebagainya, termasuk soal ke manakah komputer itu akan mendarat.

Terdengar jeritan dari luar sana, dari jalanan yang gelap ….

***

Aku ditahan di sebuah sel, yang untungnya lumayan bersih, karena membunuh seorang gadis kecil dengan melempar sebuah komputer dari ketinggian dua puluh lantai. Sang gadis kecil adalah anak dari pria yang biasa menyiksaku di sel pertamaku. Karena itulah, kupikir aku akan disiksa lagi oleh pria yang sama. Ternyata, tidak. Di sel ini aku tidak disiksa oleh siapa pun; malah aku mendapatkan teman-teman satu sel yang lumayan menyenangkan, dan diizinkan membaca buku di waktu luang. (Bagaimanapun, aku tak bisa menulis, karena di sini selalu berisik, kecuali tengah malam ketika aku begitu mengantuk.) Kombinasi antara teman-teman baru, izin membaca buku di waktu luang, dan sejumlah pekerjaan rutin di penjara membuatku dapat meredakan perasaan sakit akibat kebobrokan hidupku.

Belakangan, beberapa hari sebelum aku sekarat dan dipindahkan ke rumah sakit ini, dari beberapa sumber aku mendapatkan sebuah informasi: gadis kecil yang tak sengaja kubunuh itu, bersama ayahnya, hendak bertamu ke apartemenku sebelum tragedi tersebut terjadi. Katanya, sang ayah memiliki urusan pribadi denganku, entah urusan apa tepatnya. Itu adalah sebuah kebetulan yang agak ajaib, menurutku, dan membuatku ingin menulis sebuah cerita pendek tentang kebetulan tersebut—bahkan kalimat-kalimat penyusunnya telah tersedia di kepalaku. Namun aku yang sekarat hampir tak bisa lagi menggerakkan tangan, dan di rumah sakit ini tak ada komputer pun mesin tik yang bisa kupinjam.


====================
Surya Gemilang, lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Buku-bukunya antara lain: Mengejar Bintang Jatuh (kumpulan cerpen, 2015), Cara Mencintai Monster (kumpulan puisi, 2017), Mencicipi Kematian (kumpulan puisi, 2018), dan Mencari Kepala untuk Ibu (kumpulan cerpen, 2019). Karya-karya tulisnya yang lain dapat dijumpai di lebih dari sepuluh antologi bersama dan sejumlah media massa, seperti: Kompas, Suara NTB, Bali Post, Riau Pos, Rakyat Sumbar, Medan Bisnis, Basabasi.co, Litera, Tatkala.co, dan lain-lain.

Menjaga Nenek yang Sakit

0



Ada beberapa hal aneh yang bisa kulakukan mulai dari berubah menjadi ular, hingga memerintah jiwa orang sakit sebelum meninggal, namun ada baiknya kuceritakan awal mulanya.

Selama beberapa minggu aku merawat nenekku yang sudah renta, usianya yang sudah hampir sembilan puluh tahun menjadikannya lumrah untuk menderita sakit tua seperti yang dialaminya sekarang. Aku yang saat itu baru lulus dari sekolah tinggi keperawatan dikirim khusus ibuku untuk merawat nenek menggantikan Kumala, kakak sepupuku yang dua bulan terakhir menjaga nenek.

Di rumah itu hanya ada aku dan nenek. Rumah nenek bukanlah rumah yang terpencil dan jauh terpisah dari rumah lainnya, tetangga di sini cukup mepet kiri dan kanan paling hanya sekira dua setengah meter, sehingga suara anak kecil yang menangis pun masih bisa kedengaran, percekcokan kecil antara suami dan istri yang biasanya karena masalah uang atau kecemburuan juga cukup jelas terdengar. Namun, tidak begitu jika suara bersumber dari rumah nenek, satu orang pun tetangga tidak akan bisa mendengarnya. Tentang mengapa itu bisa terjadi, tentu akan kalian paham setelah kulanjutkan ceritaku.

Awalnya semua berjalan biasa saja, aku merawat nenek sebagaimana mestinya seorang lansia harus diperlakukan, membersikan badannya, menyuapi saat makan, memberi bebarapa obat dan ramuan herbal sesekali, mengganti popok dan pakaian, hingga membersihkan duburnya setiap kali selesai buang hajat. Selebihnya adalah mendengarkan nenek berceloteh tentang apa saja. Rupanya di usia tua, seseorang bisa sangat cerewet dan penggerutu yang bisa mengutuk apa saja seharian terutama mengutuk anak-anaknya yang kurang berbakti karena dinilai jarang mengunjunginya.

Menjelang minggu kelima aku menemani nenek, mulai sering kulihat nenek bertingkah aneh. Hal yang paling menyita perhatianku adalah tatapan nenek ke arahku yang sering kali dia tatap bergantian dengan guci berukuran sedang yang terletak di atas meja di samping tempat tidurnya. Guci keramik berwarna putih bercorak biru tua. Setelah menatap aku dan guci itu bergantian biasanya nenek akan langsung tertidur, lebih tepatnya pura-pura tertidur karena jika aku beranjak dari sana aku tahu dia diam-diam meraih guci itu dan memeriksa sesuatu di dalamnya. Cara memeriksanya bukan memeriksa biasa, melainkan berubah menjadi seekor burung yang hinggap di bibir guci lalu melompat ke dalam guci.

Aku berteriak sejadi-jadinya saat itu tapi tak ada suara keluar dari mulutku. Aku bahkan tak bisa berlari kembali ke kamarku, aku khawatir saat itu aku akan pingsan. Tapi aku tertahan di sana berdiri tepat di depan pintu kamar nenek yang sedikit terbuka sampai akhirnya nenek kembali utuh meringkuk di bawah selimutnya.

Baru setelah itu pelan-pelan aku menyeret kakiku menuju kamar yang hanya hitungan sepuluh langkah dari sana. Malam itu juga aku menelepon ibuku untuk dijemput, tapi tak kuceritakan apa yang baru saja kulihat, pasti tak akan dipercayanya apa yang akan kuceritakan. Ibuku berjanji akan segera menjemputku di akhir bulan, itu berarti masih dua pekan lagi.

Melihat tingkahku yang kikuk, nenek berulang kali menanyaiku tapi kujawab bahwa aku hanya sedang tidak enak badan. Dalam hati aku sungguh ketakutan dan ingin segera pergi dari rumah ini, setelah kejadian itu aku mulai semakin awas dengan keadaan sekitar, dan benar saja, ternyata selama ini aku terlalu abai akan kejadian di sekitarku misalnya bagaimana setiap sore hari menjelang magrib ada bunyi terompah kayu kolong rumah atau bagaimana tempayang air selalu habis setengahnya menjelang subuh meski aku ingat betul aku tak menggunakan air sedikitpun semalaman, juga sudah kuperiksa jika sekiranya ada rembesan air akibat kebocoran, tapi tak ada. Belum lagi bunyi kebyar-kebyur dari dasar sumur semalaman.

Selain kejadian itu aku bahkan pernah mendapati sekujur tubuh nenek basah kuyup beserta ranjangnya di suatu pagi seperti orang yang habis berenang atau hujan-hujanan semalaman. Tapi anehnya tak ada rembesan air di lantai padahal tubuh nenek layaknya kucing basah yang baru saja tercebur ke dalam kolam: kisut, lembab, apek dan menjijikkan.

Aku mencoba diam dan tak bertanya apa-apa meski aku sangat tertekan dan ketakutan. Pernah sekali waktu aku ingin lari tapi aku tak berani melakukannya, bukan karena tidak tega tapi aku takut hal jahat akan mengikuti dan mencelakaiku. Jadi kupilih bertahan di rumah nenek, sepanjang nenek tidak tahu kalau aku pernah melihatnya dan aku mencurigai banyak hal di rumah itu, aku pasti aman.

“Nenek mau diantar ke rumah sakit hari ini, antarkan!” begitu katanya suatu pagi. Aku mencoba menolak halus dengan alasan kondisi nenek agak membaik beberapa hari ini dan tidak perlu penanganan dokter, tapi nenek menatap tajam ke arahku sepanjang hari dan itu menyiksa. Maka kuputuskan besok paginya membawa nenek ke rumah sakit terdekat, nenek berkeras dimasukan ke bangsal kelas tiga bergabung dengan pasien lain ketimbang masuk ke ruangan VIP yang lebih nyaman dimana anak-anaknya lebih dari mampu untuk membayarkan biayanya.

Selama dua hari aku menemani nenek di sana dan mulai akrab dengan beberapa keluarga penunggu pasien yang lain. “Bawa aku pulang, sekarang!” kata nenek tiba-tiba. Aku benar-benar menghindari perdebatan dengan nenek, apapun bentuknya.

Sesampai di rumah, nenek menyuruhku mengunci pintu kamarnya dan melarangku memasukinya sampai hari berikutnya. Meski penasaran aku tak berani mengintip, aku yakin banyak mata di rumah ini yang bisa melaporkanku kepada nenek jika aku coba-coba membangkang.

Keesokan harinya aku bersegera ke kamar nenek. Nenek seperti biasa terbaring di ranjangnya dan kurasa semalaman dia memang hanya tidak ingin diganggu. Aku cukup lega, tapi sesuatu tertangkap mataku di pinggir ranjang di ujung selimut nenek ada sisik ular menjuntai hingga ke lantai kamar. Sungguh aku sangat ingin menjerit tapi kutahan dengan menggigit bibir bawahku. Apakah ada ular dalam selimut nenek yang baru saja berganti kulit, tanyaku dalam hati. Aku terpaku sejenak, tapi buru-buru nenek mengibaskan tangannya tanda menyuruhku segera keluar dari kamarnya.

Menjelang makan siang saat sedang menyuapi nenek aku mencuri pandang sekali lagi ke arah selimut nenek, sisik itu masih di sana dan ternyata lumayan panjang. Meski tidak bisa kupastikan karena tidak melihatnya langsung, aku menduga nenek bisa berubah menjadi ular.

Nenek mendapati ekor mataku melirik ke arah sisik itu, dia mendehem beberapa kali, sementara tanganku yang menyendokinya sangat gemetaran dan tidak bisa kusembunyikan lagi darinya.

Nenek menepis tanganku, “Sudah, sudah, nenek mau tanya, apa kamu mencurigai sesuatu pada diri nenek?”

Tubuhku terdorong sedikit ke belakang, “Tidak, Nek. Putri tidak mengerti…” kataku tetap berusaha tenang.

“Nenek sudah tahu kalau kamu beberapa hari ini mencurigai nenek kan, kamu melihat nenek berubah menjadi pipit, kamu menelpon ibumu minta dijemput dan hari ini kamu mencurigai nenek bisa berubah jadi ular. Iya kan, Putri?”

“Nek, Putri…Putri…” itu kata yang terakhir aku ingat sebelum akhirnya aku bangun dan mendapati diriku ada di sebuah ruangan yang temaram karena sedikit sekali cahaya di sana. Perlahan kuamati sekeliling aku seperti berada di sebuah cekungan mirip sumur, aku memandang ke atas, di sana lebih terang dan refleks aku mengibaskan sayap dan terbang ke arah cahaya tersebut. Rupanya aku seekor burung sekarang, nenek masih tetap terbaring di ranjangnya dengan senyum lebar memandang ke arahku.

“Kemari pipit kecil, mendekatlah kemari,” nenek mengulurkan tangannya, refleks aku terbang dan hinggap di tangan keriput itu. “Kamu sudah menghabiskan biji-bijian di dalam guci itu, kamu sekarang mewarisi apa yang nenek punya. Mulai sekarang kamu bisa berubah-berubah menjadi binatang yang kamu inginkan, kamu juga sudah bisa membuat basi masakan orang lain yang kamu tidak sukai, dan kamu bisa menggunakan jiwa melarat seseorang yang sekarat untuk kamu tanyai rahasia-rahasia yang ingin kamu ketahui. Seperti cara nenek mengetahui rahasia-rahasiamu melalui jiwa sekarat orang yang ada di rumah sakit tempo hari.” Nenek lalu terbatuk-batuk dan terengah-engah tapi terlihat puas.

Mendengar itu aku sungguh marah, betapa teganya seorang nenek mewariskan ilmu iblis kepada cucunya. Aku memaki-maki tak karuan tapi yang terdengat hanya bunyi ciiit, ciiit, ciiit. Seketika aku berubah jadi harimau marah dan menerkam tubuh nenek, seketika itu pula tubuh nenek berubah menjadi singa yang sangat besar dan melakukan perlawanan.

Aku berubah menjadi kobra dan mematuk-matuk leher si singa betina, tapi lalu dia berubah menjadi landak. Ada sekitar setengah jam kami berganti dari satu binatang ke binatang lain sampai akhirnya aku merasa seluruh badanku lumpuh kehabisan tenaga. Aku kembali jadi manusia.

“Kamu cepat belajar, Putri,” kata nenek dilanjutkan suara tawa yang renyah. Aku segera keluar dari kamar itu sambil membanting pintu. Semenjak itu aku tak lagi bicara padanya. Aku hanya berharap ibu segera datang menjemputku.

Saat berada di dalam kamar, anehnya aku justru ketagihan mencoba-coba ilmu baruku. Jauh di dasar hatiku sesungguhnya selain rasa marah dan takut, juga terselip rasa senang yang malu-malu. Aku sekali waktu menjadi cicak, di lain waktu aku bisa menjadi kupu-kupu yang terbang sampai ke jamban tetangga. Aku tak peduli lagi apakah nenek akan mengetahui kelakuanku atau tidak, toh sekarang ilmu kami sudah setara, setidaknya aku sudah bisa melawan jika dia menyerangku.

Ibuku akhirnya datang, secepat kilat kumasukkan barang-barangku ke dalam bagasi mobil lalu melesat ke kursi depan sambil mendesak ibu untuk segera berangkat. Ibu lalu pamit sewajarnya pada nenek.

Sore nanti Fatma salah satu sepupuku yang lain akan menjaga nenek, kami memang akan terus bergantian sampai wanita peot itu mampus ke neraka.

Hanya berselang dua hari setelah pulang ke rumah, aku mendapat kabar ada seorang tetangga yang sakit keras dan sepertinya sudah sakaratul maut. Aku buru-buru ke rumah si sakit bahkan tanpa pamit pada ibu. Aku berpura-pura menjenguk di antara kerumunan tetangga yang lain, aku tatap mata sang calon mayat lekat-lekat, mengendus-endus aroma khas kematian di sekitarnya untuk memastikan apa benar dia betulan akan mati segera atau tidak. Aku memaksa jiwanya menemuiku, aku perintahkan jiwa terlantar dan tergantung antara dua dunia itu mencari tahu satu rahasia yang ingin kuketahui. “Bersegeralah, kalau tidak akan kupecut jiwamu, cari tahu ke rumah seorang pemuda bernama Fajar di Jalan Kesatuan, anak Pak Haji Naim, apakah di dalam hatinya dia menyukaiku atau tidak.”

Beberapa jam kemudian saat aku sudah kembali ke rumah, jiwa itu datang menemuiku dan memberitahuku jawabannya. Aku menjadi bungah, sementara dia akhirnya meninggal dunia dan jiwa itu tidak bisa lagi kugunakan.

Sebagai calon perawat, aku terbayang-bayang ada berapa banyak jiwa yang bisa kuperintahkan kelak. Aku tersenyum bungah, terbayang olehku wajah nenek tersenyum melihat cucu kebanggaannya dari ranjang sakitnya atau jangan-jangan dia telah menjelma cicak di langit-langit kamarku.

“Terima kasih, Nek,” bisikku lirih dan benar-benar tulus sambil tersipu malu.

Gowa, 2020




================
Saharuddin Daeng Ronrong, seorang karyawan yang juga senang menulis. Pemenang lomba puisi Tulis Nusantara oleh Kemenpar RI tahun 2014, ini telah menerbitkan bukunya: Novel Pulang Kampung (2012), dan Kumpulan cerpen Lebaran Mayat (2018).

Hilangnya Badut-badut

0





TIADA lagi badut-badut di sekitar lampu lalu lintas. Atau, badut-badut yang disewa oleh seseorang demi membuat tawa anaknya terkembang. Baru-baru ini, para pelawak itu seperti dilahap bumi. Kabar itu, lantas membuat Nio ketakutan setengah mati.

***

Nio menjadi badut lantaran peruntungan sebagai loper tidak membawa kemujuran. Ia mengungkapkan pada Nurmala, bahwa profesi badut sedang digandrungi. Badut-badut di kota ini tak ubahnya selebriti. Keberhasilan menghibur menjadi buah ketenaran. Nio tergiur. Sejak kecil, ia kepengin dielu-elukan oleh banyak orang. Karena itulah, ia banting setir, memutuskan jadi badut. Kendatipun hanya sebagai badut jalanan.

“Aku ingin menjelma penghibur, macam entertainment di TV. Seandainya tidak ada yang terhibur, setidaknya aku dapat menghibur diriku sendiri,” kelakar Nio pada Nurmala di pagi yang hangat. Lelaki itu seperti menjumpai matahari terbit di wajahnya.

“Semoga, kau dapat mengembalikan senyum orang-orang yang hilang,” riang Nurmala, mengelus pipi Nio. Barangkali, ia bermaksud supaya matahari di wajah suaminya itu tidak lantas pudar maupun terbenam.

Profesi badut memanglah sedang digandrungi banyak orang. Itu lantaran kesedihan tengah merajalela. Semua orang percaya, bahwa kota mereka tengah dijadikan persinggahan bagi kesedihan. Kesedihan laksana banjir yang menenggelamkan orang-orang. Tiap hari, selalu ada orang yang menangis. Tempo waktu, Juleha menangis tergugu-gugu. Matanya beriak, lalu meluap bagai Sungai Ciliwung menenggelamkan Jakarta.

“Kaulihat, Juleha menangis. Istri Pak Walikota itu bersedih. Dan, barangkali aku juga bakal menangis. Istriku juga akan menangis dan anak-anakku meniru tangisan kami berdua. Apakah suatu saat nanti, kami akan menangis bersama seperti festival?”

Itulah yang dirasakan oleh orang-orang. Di tengah kesedihan yang mewabah, Nio merasa menjadi pahlawan. Tidak hanya sekadar selebriti, ia serasa jadi superhero. Nio, dengan pijar di matanya serta senyum yang selalu terkembang, mengenakan kostum badut; wig pelangi, hidung tomat, perut buncit, serta pakaian cerah lagi meriah.

Saban pagi, Nio mengangsurkan punggung tangannya supaya dicium Nurmala. Lepas itu, Nurmala menyiapkan keningnya buat dicium Nio. Mereka laksana pengantin yang baru menikah. Sebelum pergi, Nio merapikan kostum badutnya dan diakhiri dengan mengucap salam. Nurmala melambaikan tangannya, seraya membalas salam suaminya. Nio—dengan gagah—melangkah pergi, seperti pegawai hendak masuk kantor.

Hari ini merupakan hari keberuntungan Nio. Ia tak perlu berjoget bersama badut-badut lainnya di pinggir lampu lalu lintas. Tak perlu berkeringat di bawah terik matahari demi mendapat sepeser uang dari pengendara. Sebab, Kaji Moekijat telah menyewa jasanya untuk menghibur anaknya yang kini tengah merayakan ulang tahun.

“Dua juta rupiah, kurang tidak?” Begitu ucap Kaji Moekijat tempo waktu, yang lantas membuat senyum Nio mengembang seperti adonan kue berangsur matang.

Kaji Moekijat menyambut Nio seumpama pahlawan baru tiba di medan laga.

Begitu Nio selesai menghibur anak Kaji Moekijat, ia lantas pulang dengan membawa segepok uang. Senyumnya tak henti-hentinya meriap di bibirnya. Dan, sampai saat Nio pulang ke rumah, undangan demi undangan datang silih berganti. Tiap hari, selalu saja ada yang membutuhkan jasanya. Ada saja yang bertandang ke rumah Nio, membawa iming-iming berupa imbalan yang menggiurkan. Nio senang dan mulai membeli barang-barang.

Nurmala merasa senang, lantaran punya baju baru. Anak-anak Nio gembira, memiliki mainan anyar. Mereka tidak lagi menjadi keluarga yang menyedihkan. Dan, Bahkan, mereka mulai merencanakan vakansi ke luar negeri. Betapa kehidupan yang hangat.

Tetapi, Nio lupa bahwa dunia tidak akan berlangsung secara baik-baik saja. Hampir semua orang mungkin saja sudah mengenalnya sebagai pembawa berkah; badut kenamaan yang dielu-elukan banyak orang demi menyirnakan kesedihan. Dan, bahkan, sebagian telah memujanya. Menganggap Nio sebagai dewa. Akan tetapi (ya, tetapi), ia tidak sadar kalau dirinya tengah jadi incaran. Itulah yang dialami Nio ketika sekelompok orang menamakan diri sebagai Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu.

Seumpama sebuah rezim, komisi tersebut bertekad memberantas para pencemar kota. Pencemaran yang mereka maksud tatkala mendapati kualitas badut yang buruk dan kualitas itu dinilai berdasarkan lelucon yang para badut itu peragakan.

Badut-badut yang masuk DPO acap kali hilang tak keruan juntrungan. Minggu lalu, Kirun sudah tidak tampak batang hidungnya. Sehari setelah melawak di pinggir lampu lalu lintas, badut malang itu hilang bagai dilahap bumi. Tidak hanya Kirun semata. Bagio juga pernah mengalami hal serupa. Bahkan, lebih parah. Hanya berselang waktu beberapa jam setelah melawak, mayat Bagio ditemukan hanyut di mulut sungai.

“Mereka memperlakukan badut serupa seekor anjing. Bahkan, lebih dari itu; mereka membunuh belasan badut tanpa proses peradilan. Dan, yang jadi soal, apa kesalahan para badut itu hingga mereka tega membunuhnya? Apakah hanya karena dinilai kurang jenaka? Ladalah, kota ini makin lama makin kacau,” sedih seseorang.

“Profesi badut pun dihukumi macam koruptor saja. Padahal, sudah jelas-jelas bahwa mereka berusaha menghibur, bukan mengerat uang rakyat!”

Protes sebagian orang tidak akan menghasilkan apa-apa, selain kesia-siaan belaka. Anggota Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu tersebar di mana-mana. Mereka seperti hantu yang bergentayangan di tiap penjuru. Mata mereka mirip teropong. Dari jarak jauh, mereka lekas tahu: siapa badut yang mesti mereka hilangkan. Hingga, sejauh mata mereka memandang, berjumpalah para anggota komisi itu dengan sosok Nio.

“Surat kabar mewartakan bahwa namaku termaktub dalam DPO para komisi keparat itu,” sedih Nio, kepalanya terjerembap di ketiak Nurmala.

“Tenanglah. Tenang, Suamiku. Kau tidak akan kenapa-kenapa.”

“Tetapi, Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu tidak pernah mengingkari ucapan mereka. Aku takut bila esok, nyawaku melayang begitu saja hanya karena gagal menghibur anak Bu Juleha, istri Walikota itu.” Nio menangis sesenggukan seperti bayi.

“Kau, kan, dapat berkilah, bahwa kejadian itu hanyalah kecelakaan belaka.” Nurmala merangkul Nio, semupama merangkul seorang bocah. “Lagi pula, kau bermaksud mengibur, bukan beritikad membunuh anak Bu Juleha.”

“Apakah komisi itu akan membebaskanku?” cemas Nio, matanya beriak.

“Katakanlah pada komisi berengsek itu, bahwa kau telah mengembalikan senyum anak-anak yang hilang. Setidaknya, anak-anak di kota ini kembali mengenal senyuman. Kebahagiaan kembali merekah laksana setangkai mawar menjumpai musim berbunga. Kau tak ubahnya pahlawan, kendatipun tidak berperang melawan bala tentara.”

Nio tersenyum simpul. Kalimat Nurmala membikin kecemasan Nio menguap. Ia tak perlu khawatir terhadap ancaman Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu. Sebab, ia merasa tidak bersalah dan dapat berkilah, atau membalikkan tuntutan. Hingga, sampailah Nio pada hari berikutnya. Hari di mana kebahagiaan datang bagai hantu yang sering tidak terduga. Kebahagiaan itu berupa seamplop undangan dari seseorang.

“Kau lihat, seseorang menawariku jadi badut di pesta ulang tahun anaknya. Dan, coba kautengok! Seseorang itu mengupahiku sepuluh juta. Sepuluh juta,” girang Nio, sembari menyerahkan surat undangan itu pada Nurmala. Sesaat, ia berjingkrak-jingkrak serupa anak SD dapat mobil-mobilan. “Sebentar lagi, kita akan bervakansi ke Jerman.”

Hari itu, Nio mulai berangkat. Dan, seperti hari-hari sebelumnya, ia mengangsurkan punggung tangannya buat dicium Nurmala. Setelahnya, Nurmala menyiapkan kening untuk dicium Nio. Lantas, Nio merapikan kostum badutnya. Menyapunya dari debu-debu yang merajalela. Nio juga memasang hidung tomat, serta memasukkan sejumlah perca, agar perut tak terlihat mengerut. Tampaklah ia serupa badut pahlawan pengusir kesedihan.

Nio beranjak pergi bagai pegawai kantor hendak menerima gaji. Dari jauh, Nurmala melambai-lambaikan tangannya. Melepas kepergian suaminya menuju medan laga. Sekilas, keluarga kecil itu tampak hangat. Sehangat matahari pukul tujuh pagi. Kendatipun mereka tidak sadar, bahwa Nio tidak akan pernah kembali pulang. ***

Kota Gadis, 2019





======================

Hendy Pratama, Lahir dan menetap di Madiun, Gemar menulis puisi, cerpen, dan esai. Berkegiatan di komunitas sastra Langit Malam. Heliofilia merupakan buku kumpulan cerpen perdananya

Katrina

0

Ketika radio di mobil memberitakan kasus orang hilang, Katrina menatap dedaunan oak mulai gugur, meriung ringkai di sepanjang sisi jalan. Kesenduan yang manis, desirnya. “Ini perempuan ketiga yang hilang secara misterius,” ucap Igors, hanya diserap bagai dengungan tak mengusik di telinganya.

Ia acuh tak acuh pada apa pun yang mengalihkan pandang. Sejam perjalanan dari pusat kota Riga menawarkan banyak keindahan. Mata Katrina menanar jauh ke rimbunan ilalang yang melintas. Ia ingat, ketika kecil sering berlari-lari membelah padang rumput liar yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah, meniup bulir-bulir dandelion hingga melayang terbawa embusan angin. Menurut Klavs, sahabat kecilnya, serbuk-serbuk itu akan terbang sejauh sayap-sayap halusnya mengepak hingga lelah—mencari kehidupan lain—lalu hinggap di suatu tempat dan tumbuh menjadi batang dandelion baru.

Ia menatap sepenuh arti lelaki di sampingnya. Cahaya senja mengelir sebagian rahang tegas di belakang kemudi. Bulir-bulir dandelion seolah menguar di atap kepala, bertebaran mengisi relung hati yang pernah kosong, gersang tak berbentuk.

***

“Jadi, bagaimana rupa wajah-wajah mati itu?”

“Seperti wajah yang hidup.”

“Kau kenal orang yang menyerupainya?”

Katrina menggeleng. Pandangannya bertolak ke luar jendela kafe, menatap mereka yang lalu-lalang di pedestrian.

“Ceritakanlah awal pertemuanmu dengan Igors.”

“Akan cukup panjang. Kau punya banyak waktu?”

“Cukup banyak sampai ada jatuh korban lagi.” Petugas berpakaian kasual itu menunggu Katrina sambil memainkan jempolnya, membuka-tutup Zippo.

“Awalnya sangat pedih.”

***

Ibu pernah bilang, “Semua perempuan itu cantik, Katrina,” sambil memeluk dan mengelus ubun-ubunku. Klavs melapor pada Ibu. Mereka menyebutku beruang bunting, kuda nil, “Anak babi pantasnya berkubang di lumpur,” sambil melempar tanah becek yang bau dan pekat di hari ulang tahunku. Itu bukan kado kejutan. Itu petaka. Mereka tak melakukan itu pada anak lain di hari ulang tahunnya. Hari-hari setelahnya menjadi tak lebih baik bahkan saat mereka urung merajalela, hanya senyum sinis setengah berbisik acap aku lewat, rasanya sungguh meremas jantung. Suatu sore, tergopoh-gopoh Ibu memasuki kamar. Dilihatnya pecahan kaca telah berserakan di lantai. Aku benci sekolah. Aku benci cermin. Aku benci tubuhku sendiri!

Setelah kelulusan, kuputuskan untuk pergi dari Lielvarde, mencari kehidupan baru di Riga. Masa-masa menyebalkan itu nyatanya mesti kutebus dengan waktu yang tak pernah cukup untuk sehari. Pagi kuliah, sisanya bekerja sambilan di beberapa tempat. Langkah gontai membawaku pulang ke flat tua yang sempit. Hari-hari selanjutnya tak jauh beda. Hidup sendirian di kota asing membuatku kerap memakai kacamata pengamat. Kursi-kursi kafe lebih banyak tertata ke dalam meja. Orang-orang saling mengambil jarak saat berjalan. Tak ada bunyi yang lebih nyaring selain deru mobil yang melintas dan obrolan singkat para turis. Jarang sekali ada karnaval atau parade tahunan. Para penghuni flat seperti saling menunggu untuk keluar, agar terhindar dari keharusan menyapa satu sama lain. Tiap orang bertanggung jawab dengan kehidupannya sendiri. Aku jadi terbiasa dengan kondisi ini setelah mengenal Janis, tetangga sebelahku yang kikuk. Aku lupa bagaimana, suatu kali kami sempat berbincang di depan pintu kamar. Sejak itu, ia agak mencair. Darinya, kutahu beberapa hal garib: tentang flat yang namanya diambil dari nama seorang pemimpin Soviet saat program komunal digencarkan, eksodus penduduk ke negara lain beserta hal-hal politisnya, utopia Baltik Raya, dan sekian narasi aneh yang menggebu-gebu ia ceritakan.

“Ada gap dan perubahan budaya setelah berakhirnya era Soviet,” tukas Janis dengan raut serius ketika kutanyakan mengapa suasana kota begitu sepi dan orang-orang cenderung tertutup.

Mungkin kita hanya harus saling mengenal. Tanpa diduga, dengan nada gugup, pada suatu hari tiba-tiba Janis mengajakku keluar untuk melihat aurora di sebuah Taman Nasional yang tak jauh dari Riga. Meski tertarik, aku tunda tawarannya dengan bahasa paling baik. Ia bukan tipeku. Mungkin agak jual mahal. Jika jalan dengan seseorang, aku harus merasa nyaman. Seperti dengan Klavs. Oya, setelah bertahun-tahun pisah, akhirnya aku berjumpa Klavs di sebuah restoran. Saat itu ia bilang hanya sebentar lewat Riga untuk urusan logistik. Ia bekerja di perusahaan ekspedisi. Sedangkan aku baru diangkat menjadi asisten pribadi di sebuah perusahaan konsultan. Ia pangling melihatku.

“Kau bukan lagi beruang bunting, Kat,” selorohnya memburai tawa. Waktu itu aku memang sedang getol berlatih dan berlatih di gym sampai lupa waktu. Tapi rasanya itu hanya basa-basi kawan lama.

Tubuhku tak sesusut sesuai pujian. Wajahnya yang berubah. Pipinya tak berbintik seperti dulu. Potongan rambutnya kekinian. Kami bercakap-cakap sore itu. Bercerita banyak tentang kampung halaman yang membikin kangen. Sebelum berpisah, ia berkata sesuatu; aku harus mulai membuka diri. Mungkin dia benar. Tapi tidak dengan tetangga aneh macam Janis. Beberapa kali pula aku tolak ajakan teman kantor untuk melepas weekend di pub lokal. Sampai seseorang memperkenalkanku dengan Si Brengsek, bayangan para Geng Ratu Kecantikan sekolah itu mencuat lagi merusak hari-hariku. Sebenarnya aku malas membicarakannya. Untuk kebutuhan penyelidikan, baiknya kusebut nama itu: Olegs. Perawakannya atletis, hingga perempuan mana pun dijamin tak bakal menolak ajakannya untuk minum dan berdansa, keluar mencari udara segar, lalu bersenang-senang di parkiran. Tak terkecuali aku. Si bodoh ini.

***

“Kau suka musik folk?”

Aku tak tahu apakah Igors termasuk tipe dokter yang kerap mengajak kencan pasiennya. Aku sendiri tak yakin bila ini sebuah kencan. Di kota ini jarang terjadi interaksi antara orang yang tak saling kenal. Bila mereka bilang menyukaimu, mereka memang menyukaimu. Bila mereka mengajakmu pergi, berarti mereka ingin mengenalmu lebih jauh.

Kami duduk bersebelahan di sebuah kafe menikmati alunan musik folk tradisional bercampur distorsi dengan volume sedang. Aku suka saat ia menerangkan sesuatu meski beberapa lesap dari pendengaran. Rona visual lebih teramat sayang terabaikan.  

“Aku membuat wajah mati,” tuturnya datar, menjawab pertanyaanku perihal hobi senggang.

“Wajah mati?” Mungkin aku terlalu banyak minum.

“Prostetik. Seperti wajah-wajah iblis yang kau lihat dalam film. Meski sekolah kedokteran, aku suka seni. Kupelajari serius lewat internet.”

“Terlalu serius untuk sebuah hobi.”

“Yah, tak banyak yang bisa kau lakukan saat musim dingin. Semacam anekdot dari buku komik yang pernah kubaca: salju kerap menolong orang memperkecil pertemuan beresiko.”

“Mungkin banyak penulis di kota ini.” Kalimatku barusan membuatnya tertawa.

“Jangan-jangan kau penulis.”

“Mengapa aku terlihat seperti penulis?”

“Entahlah, penulis suka satir pada kehidupannya sendiri. Bukumu tentang apa?” tanyanya yakin sekali menebak.

“Tentang rasa kehilangan,” jawabku sekenanya.

“Jadi, apa kau akan menelitiku?” tuturnya menatap lembut mataku, memperpendek jarak hingga napasnya tercium.

Awalnya aku mengenal Igors secara acak dari daftar dokter bedah yang ada di kota ini. Si Brengsek itu membuat duniaku anjlok. Saat sedang cinta-cintanya, ia main api dengan seseorang. Perempuan itu sangat cantik, tinggi semampai dengan rupa elok sempurna. Aku ingin Igors membantuku. Aku ingin mengubah bentuk hidungku. Tinggi badanku. Kelopak mataku. Apa pun hingga membuatku cantik sempurna. Tak seperti beruang bunting atau anak babi yang jelek. Alih-alih langsung setuju, Igors malah merujukku ke psikolog—setelah kuceritakan masalah pribadi tanpa canggung. Meski teknologi dapat membantu, beberapa hal lebih terkait kondisi emosional ketimbang kebutuhan, katanya, “Dan setiap operasi, semacam osteogenesis distraksi atau rhinoplasty pun, ada resikonya.” Beberapa kali aku datang, jawabannya selalu sama. Igors terkesan tak semangat bila kedatangan pasien untuk permintaan operasi. Dokter yang aneh.

Kami jadi lebih sering bertemu sejak malam folk itu. Mengunjungi museum rumah kayu tradisional, kastil di tepi sungai Daugava, merekam aurora di Kemeri yang urung kulakukan dengan Janis.

Nyala cahaya di langit begitu indah, seolah bergemulai, menaungi sepasang bibir kedinginan.

***

“Buatkan aku wajah itu,” pinta Katrina di rebahan bahu Igors.

“Kukira kita sudah membahasnya beberapa kali,”

“Bukan tentang operasi, Igors. Topeng wajah itu.”

Wajah-wajah mati terpampang di tembok. Rautnya seperti para pelaku bom bunuh diri. Di ruangan yang disebut workshop itu segala tekstur serupa kulit dan sayatan daging berbaur dengan potongan mirip tubuh manusia, rangka, dan wadah ukur berisi cairan merah pekat yang teronggok acak di setiap sudut. Satu wajah perempuan menarik perhatian Katrina sejak pertama datang ke tempat ini—rumah besar di pinggiran kota tempat Igors tinggal.

Setelah menutupi sekujur dadanya dengan kaus, Igors mengajak Katrina menuju ruangan lain. Ia duduk di sebuah kursi ketika Igors mulai mengaduk campuran silikon berwarna putih, berbau menyengat. Sapuan pertama membuat Katrina bergidik.

“Dingin, dan lembut seperti adonan. Apa semua wajah itu dicetak dengan cara begini?” tanya Katrina, melirik ke arah tembok.

“Ya. Supaya identik.”

“Banyak wajah perempuan di sini.”

Mata Igors fokus, terpaku menguas wajah.

“Siapa mereka?”

Igors tak langsung menjawab. Tangannya mengambil beberapa bahan di meja, mempersiapkan adonan yang disebutnya resin. Selapis demi selapis silikon akan menutupi seluruh wajah Katrina.

“Apakah satu dari mereka itu mantan pacarmu?”

 “Ya, beberapa.”

“Beberapa?”

“Pejamkan matamu.”

Gelap. Situasi begini mengundang perasaan ganjil. Bayangan masa lalu melintas. Kegelapan Rumah Hantu yang pernah Katrina masuki di sebuah pasar malam datang menyergap. Ia ditinggal pergi beberapa temannya hingga meringis ketakutan. Hantu-hantu itu semakin mendekat, hendak merengkuhnya.

 “Namanya Sovya. Sehari menjelang pertunangan, ia tiba-tiba hilang. Sejak itu aku mencetak wajah orang-orang yang kukenal agar mereka abadi, meski suatu saat nanti mereka pergi. Mereka bukan perempuan jelek, Katrina. Mereka adalah pasien-pasienku yang tak pernah merasa cukup. Buat mereka, jalan bagi cantik sempurna adalah upaya yang tak terbatas.”

Katrina kesulitan bicara. Wajahnya telah mengeras. Degub jantungnya mengencang.

Sovya adalah nama yang sama dengan nama perempuan yang membuat Si Brengsek tergoda. Nama salah satu korban yang turut menghilang sampai sekarang.

Di luar, cuaca menusuk. November akan berakhir dan salju-salju tetap turun menutupi jalan. Beberapa waktu sebelum sekarang, di sebuah kamar sempit, seseorang tengah duduk berteman lampu redup memerhatikan foto-foto perempuan cantik yang berserakan di meja. Sebuah tulisan diary bergaya fiksi tergeletak di sampingnya. Nampaknya ia sudah cukup lama menguntit calon korban.

“Tak boleh ada lagi yang membuatmu kecewa, Katrina.”

Sebuah foto bertanda silang ia raih.

“Tak boleh ada perempuan cantik selain kamu.”

Bojongsoang, 2019




====================
D. Hardi, Cerpenis, tinggal di Bandung. Tulisan telah tersiar di beberapa media cetak dan elektronik seperti Pikiran Rakyat, Jawa Pos, Solopos, Padang Ekspres, Detik.com, Bacapetra.co, Magrib.id, Satupena.id, dan lainnya. Kini sedang menyusun naskah kumpulan cerpen.

Hikayat Lelaki Musafir

0



Kisah ini bermula ketika Qudamah, lelaki alim dari timur hendak mengembara ke negeri Syam. Ia terpikat oleh kisah-kisah dalam kitab tarikh yang menceritakan perjuangan Sang Rasul. Baginya, meyakini saja tak akan cukup. Rasa cintanya terhadap Sang Rasul membuatnya bertekad akan menziarahi tempat-tempat perjuangannya semasa hidup, meski harus menempuh jarak ratusan bahkan ribuan mil sekalipun.

Pada hari, minggu, bulan dan tahun yang diyakininya dapat memperlancar misinya, ia mulai mengembara. Dengan berbekal restu ibu dan secarik peta usang, ia berjalan menembus gurun tandus, mendaki pegunungan berlembah curam, serta menyeberangi puluhan sungai berarus deras. Ia juga kerap singgah di kota-kota tua bersejarah yang menyimpan banyak kisah.

Pada hari keseratus satu perjalanan panjangnya, Qudamah singgah di sebuah kota kecil di tengah gurun tandus. Ia berteduh di sebuah gubuk yang lama ditinggal pemiliknya. Sejenak ia melepas lelah. Panas yang teramat sangat membuatnya kehilangan banyak tenaga. Namun demikian, tak sedikitpun dalam benaknya akan mengakhiri perjalanan. Ia beranggapan apa yang dilakukannya belum seberapa jika dibanding dengan perjuangan Sang Rasul dalam bersyiar.

Menjelang sore, di tengah persiapannya hendak melanjutkan perjalanan, Qudamah dikejutkan oleh kedatangan seorang kakek bongkok berpakaian lusuh. Sejenak ia tertegun memandang sang kakek, sebelum kemudian mempersilakannya untuk duduk.

“Apa Kakek musafir?” tanya Qudamah membuka keran pembicaraan.

Kakek mengangguk, “Benar. Apa kau juga musafir?”

“Ya, Kek.”

“Dari mana asalmu?” 

“Nun jauh dari timur sana, Kek.”

“Hendak kemana?”

“Ke Syam?”

“Syam?”

“Benar.”

“Apa yang akan kau cari di sana?”

“Berziarah, Kek. Mengunjungi jejak-jejak Sang Rasul.”

“Muhammad maksudmu?”

“Tentu. Siapa lagi?”

Kakek tergelak, “Kau sedang bermimpi atau sedang mencari sensasi?”

“Maksud Kakek?” Qudamah heran dengan sikap kakek yang menertawakannya.

“Tadi kau bilang beziarah mencari jejak Rasul di negeri Syam?”

Ia mengangguk.

“Tak ada jejak apapun di sana. Yang ada hanyalah padang tandus dan gersang, pokok-pokok kurma layu, unta-unta kurus, dan mata orang-orang yang kehilangan semangat hidup. Syam hanyalah negeri tua dengan setumpuk kisah usang yang mulai hilang ditelan zaman. Percayalah, kau tak akan menemukan apapun di sana.”

Qudamah terdiam. Sejenak ia bergelut dengan batinnya. Mencerna setiap perkataan si kakek dengan sedikit keraguan. Kemudian ia teringat perkataan guru ngajinya bahwa ia akan menemukan berbagai macam rintangan. Tak hanya sulitnya medan dan jauhnya perjalanan. Ia juga akan bertemu dengan jin yang menjelma manusia dengan tujuan akan menggagalkan perjalanannya.

“Sebaiknya kau pikirkan lagi niatmu, anak muda. Perjalanan ke Syam bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kau akan menemukan banyak rintangan. Jangan sampai niat baikmu hanya akan memperoleh kekecewaan.”

Qudamah mengangguk-angguk kecil.

“Apakah kau pernah ke Syam?”

Qudamah menggeleng.

Si kakek tertawa ringan, “Ya, kau memang masih sangat muda. Pengalamanmu masih terbilang hijau. Lain denganku. Aku sudah banyak makan asam garam di dunia pengembaraan. Apalagi Syam. Hampir seluk-beluk di sana aku sudah  sangat hafal.”

Sejenak Qudamah terdiam. Dipandanginya sang kakek dengan penuh kewaspadaan. Dan benar adanya, kewaspadaan Qudamah mulai menemukan titik terang ketika azan asar berkumandang. Sang kakek mendadak gelisah. Wajahnya pucat pasi. Tak lama berselang ia pamit untuk melanjutkan perjalanan. Dan, kewaspadaan Qudamah terbukti setelah keluar gubuk tak menemukan jejak apapun di atas tanah.

***

Senja baru saja purna ketika Qudamah menghentikan perjalanannya. Gelap malam membuatnya memutuskan untuk beristirahat. Karena tak juga menemukan perkampungan, ia pun memutuskan untuk bermalam di bawah sebuah pohon rindang. Setelah menggelar kain untuk alas tidur, ia pun merebahkan tubuhnya. Dan tak membutuhkan waktu lama, Qudamah pun terlelap.

Malam semakin pekat. Suara angin gurun yang datang bergemuruh membuat Qudamah terlempar dari mimpinya. Meski  demikian, Qudamah masih terpejam dan meringkuk di balik selimut.

Setelah angin selesai bergemuruh, Qudamah kembali mencoba membenamkan dirinya ke dalam mimpi. Namun gagal. Hingga tak lama kemudian ia mendengar suara orang bercakap-cakap.

“Sepertinya kau kedatangan tamu wahai Sahabi.”

“Ya, seorang musafir. Sepertinya ia sangat kelelahan.”

“Syukurlah, kau tak akan kesepian malam ini.”

Mendengar ada yang bercakap-cakap, kantuk Qudamah mendadak sirna. Ia pun terjaga. Kedua matanya waspada. Kalau-kalau yang bercakap-cakap orang jahat yang hendak mencelakainya. Lalu perlahan tangan Qudamah merogoh ke balik pinggang untuk mengambil badik.

“Benar. Sudah cukup lama tak ada orang yang datang ke sini. Terakhir kali ketika sepasang lelaki yang hendak mencelakaiku. Bersyukur kau datang datang dan menggigit salah satu diantara mereka.”

Qudamah bangkit, lalu memasang kuda-kuda sembari menghunus badik. Kedua matanya menyapu keseluruh penjuru mata angin. Dahan-dahan pohon yang menaunginya pun tak luput dari tatapannya. Namun ia tak menemukan apapun kecuali seekor ular derik yang bergegas pergi ke balik batu.

Sejenak Qudamah terdiam. Jelas-jelas ia mendengar orang bercakap-cakap. Namun kini ia hanya menemukan kekosongan. Hanya angin gurun yang sesekali menampar-nampar wajahnya. Setelah memastikan tak ada siapa-siapa, Qudamah pun melanjutkan tidurnya.

***

Matahari telah sepenggalah ketika Qudamah terbangun. Meski demikian, ia masih meringkuk di balik selimut. Tak lama berselang seekor pungguk terbang rendah, lalu hinggap disalah satu dahan. Tepat di atas Qudamah.

“Kau kedatangan tamu rupanya wahai Sahabi?”

“Ya. Seorang musafir. Sejak semalam ia tidur di sini.”

Qudamah tersentak dalam batin. Suara percakapan yang ia dengar semalam kini terdengar lagi. Namun kini ia yakin tak ada siapapun selain dirinya, seekor pungguk, dan pohon yang dijadikannya tempat berteduh.

“Apakah ia telah mengenalmu?”

“Sepertinya belum. Buktinya semalam ia tebangun dan tampak bingung ketika aku berbincang dengan Derik. Bahkan ia menghunuskan badik. Dipikirnya ada orang jahat yang hendak mencelakainya.”

“Hahaha… rupanya ia tak tahu siapa dirimu. Semestinya ia sangat beruntung ada di sini. Di dekat pohon Sahabi yang menjadi saksi sejarah orang termulia. Orang yang sedang ia cari jejak-jejaknya.”

Qudamah kembali tersentak dalam batin.

“Maksudmu apa wahai Pungguk?”

“Ya, aku telah mengikuti musafir ini sejak dari Kota Aswad. Ia mengemban misi mencari jejak-jejak Sang Rasul.”

Mendengar percakapan yang tak biasa, Qudamah hanya terdiam. Ingatannya menghambur pada kitab-kitab tarikh yang menceritakan tentang pohon sahabi. Hingga pada akhirnya ia teringat. Lalu serta-merta bangun.

“Benarkah kau pohon sahabi yang terkenal itu?” tanya Qudamah penasaran. Matanya tajam menatap pohon sahabi. “Benarkah kau yang menjadi saksi sejarah atas pertemuan Rasul dengan Buhaira?”

Angin gurun berhembus lirih menerpa wajah Qudamah.

“Ayo jawablah pertanyaanku. Aku tahu kau pandai berbicara layaknya manusia.” Qudamah berjalan mendekati pungguk, namun pungguk dengan segera berpindah ke dahan lain. “Aku tahu kau tadi berbicara dengan pohon ini wahai pungguk. Tolong jawablah. Bantulah aku mengatasi keraguanku.” Pungguk masih juga terdiam. Matanya tampak tak berkedip menatap Qudamah.

“Baiklah jika kalian tak hendak bicara padaku. “Qudamah kembali ke bawah pohon sahabi. Benaknya kembali menyimpan tanya. Apakah kedua makhluk yang baru saja diajaknya bicara sebenar-benarnya makhluk kasat mata atau sama halnya dengan perwujudan makhluk serupa jelmaan kakek bongkok? Untuk menjawab keraguannya, Qudamah menunda perjalanannya. Ia masih berdiam diri di bawah pohon sahabi sembari menunggu pertanyaannya terjawab.

***

Matahari kian menerik ketika Qudamah tak lagi sabar menunggu jawaban. Ia merasa apa yang ditunggu hanyalah sebuah kesia-siaan. Ia bangkit dan menghadap pohon sahabi.

“Baiklah jika kau tak mau menjawab pertanyaanku. Akan kucari jawaban di tempat lain.”

Dengan sedikit dongkol, Qudamah pun mengemasi barang-barangnya, lalu meninggalkan pohon sahabi. Namun baru duapuluh langkah, Qudamah terhenti ketika sekoloni awan tiba-tiba datang dan berhenti tepat di atas pohon sahabi.

“Apakah pemuda itu sedang mencari tahu jati dirimu wahai Sahabi?”

“Ya, benar sekali. Tapi aku memilih diam ketika ia bertanya.”

Merasa dipermainkan, Qudamah pun jengkel. Ia berbalik badan dan kembali menghampiri pohon sahabi dan awan.

“Beginikah cara kalian memperlakukanku? Wahai sahabi, sesungguhnya kau tengah menghinakan dirimu sendiri sebab sengaja tak bicara denganku. Kau tak lebih baik dari pohon-pohon tua yang lain! Dan kau awan, tak lebih baik dari musafir yang kehilangan arah dan tujuan.”

Sejenak suasana sunyi. Namun tak berapa lama, awan yang semula putih berubah menghitam seolah menyiratkan kemarahan. Lalu disusul suara gemuruh di langit dan angin kencang. Qudamah yang sedari tadi terdiam langsung menghambur ke bawah pohon sahabi untuk berlindung.

Menyadari apa yang diucapkannya menuai badai, Qudamah pun meminta maaf. Ia memohon agar awan tak lagi memanggil angin.

“Demi Tuhan. Demi Zat yang paling agung. Aku tak bermaksud meremehkan kalian.”

Mendengar Qudamah bersumpah, angin pun berangsur-angsur mereda.

“Baiklah jika kalian tak menghendaki kehadiranku di sini. Aku akan pergi.”

Qudamah pun meninggalkan pohon sahabi dan awan dengan harapan ia akan mendapatkan belas kasihan dari keduanya dengan memanggilnya untuk kembali. Namun semakin jauh ia berjalan, tak ada sepatah kata pun keluar dari keduanya. Akhirnya Qudamah menoleh ke belakang dan ia pun terkaget ketika tak mendapati apa pun di sana kecuali padang tandus dan gersang.




====================
M Arif Budiman, lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Buku kumpulan cerpen terbarunya Anjing Bersayap Malaikat (2020). Sekarang menetap di Kudus.

Penghuni Lantai 18

0

Seorang laki-laki meloncat dari balkon lantai 18 sebuah apartemen tua di pinggir kota, tempat di mana Tokoh Kita tinggal sendirian selama hampir lima tahun belakangan. Kepala laki-laki malang itu menghantam tembok lapangan bermain anak-anak, yang pada pagi dan sore hari biasanya menjadi tempat berkumpul ibu-ibu dan para pengasuh. Untung saja, saat laki-laki itu terjun bebas dari balkon apartemennya selepas azan Magrib, lapangan itu sedang sepi. Namun, bunyi berdebam dari benturan keras antara kepala dan tembok semen jelas telah menarik banyak mata untuk menoleh. Beberapa penghuni yang kebetulan duduk atau tengah lewat di sekitar situ langsung menghambur ke titik tempat laki-laki itu kini telah menjadi mayat. Dan, tak butuh waktu lama hingga kemudian orang-orang datang mengerubungi. Bukan untuk menolong, tentu saja, tapi untuk mengambil foto atau merekam video lalu membagikannya di media sosial masing-masing.

Kehebohan sempat berlangsung selama beberapa menit. Mungkin orang-orang di sana ingin memastikan bahwa yang bunuh diri itu bukan keluarga, kenalan, kekasih, ataupun simpanan mereka. Namun, begitu mereka yakin bahwa laki-laki itu bukanlah orang yang mereka kenal, satu per satu segera mundur, lalu kembali asyik-masyuk dengan gawai di tangan. Komentar teman-teman di dunia maya tentu lebih penting ketimbang berusaha sedikit saja menutupi jenazah korban dengan koran atau apa saja.

Dan, seperti biasa, seperti yang mungkin juga sudah Anda duga, petugas datang hampir setengah jam kemudian. Tentu saja bukan karena mereka tidak tahu tentang kejadian naas itu, melainkan karena demikianlah prosedur yang harus mereka patuhi.

Tokoh Kita hanya bisa bergidik menyaksikan pemandangan tak mengenakkan itu. Ia sebenarnya tak ingin ambil pusing dengan apa yang terjadi di sana, dan seperti biasa, seperti yang sudah-sudah, ia bergegas menuju lift untuk naik ke unit kontrakannya. Tapi, mulut para penghuni yang tak henti membicarakan tentang kemalangan laki-laki pelaku bunuh diri itu tetap saja sampai ke telinganya, dan bahkan, dari percakapan-percakapan mereka, ia bisa mendapatkan gambaran yang sangat rinci mengenai kondisi terakhir laki-laki itu: pinggangnya yang terpelintir patah; kedua bola matanya yang mendelik; hingga benaknya yang berceceran.

Kejadian seperti ini sebenarnya bukanlah hal baru di kota ini. Berita tentang orang bunuh diri terdengar hampir terjadi setiap hari, dengan motif yang beragam. Media pun seolah berlomba-lomba memburu berita tentang fenomena bunuh diri ini, menceritakan setiap detail peristiwa, sebab-musabab, hingga mewawancarai orang-orang terdekat pelaku. Meski sempat dilarang pemerintah karena alasan tertentu, orang-orang media sepertinya punya taring yang lebih kuat. Bahwa memberitakan peristiwa bunuh diri adalah cara terbaik untuk mencegah korban berikutnya, demikian mereka berargumen.

Bagaimanapun, kejadian orang mengakhiri nyawanya secara paksa tetap tak bisa dihentikan. Bahkan, belakangan, media pun tak lagi bisa mengulik motif para pelaku bunuh diri, yang beberapa di antaranya sengaja meninggalkan pesan singkat bahwa mereka bunuh diri hanya karena begitulah mereka ingin mengakhiri hidup, bukan karena himpitan masalah, depresi, ataupun sebab-sebab lainnya yang biasa dijadikan alasan oleh para pelaku.

Orang-orang mengarahkan telunjuk pada pemerintah, menyalahkan lambannya upaya pencegahan yang dilakukan selama ini. Pemerintah pun dinilai tidak tegas dalam menghentikan media mengabarkan berita terkait bunuh diri, yang oleh kelompok tertentu dianggap menjadi pembenaran bagi calon pelaku untuk melancarkan niatnya. Mereka pun menuduh pemerintah kongkalikong dengan media, dan pada beberapa kesempatan, isu ini dimanfaatkan oleh opisisi sebagai amunisi untuk menyerang pemerintah.   

Tokoh Kita, bagaimanapun, tak ingin melibatkan diri dengan semua itu. Sudah sejak lama ia tak lagi peduli dengan segala kebijakan yang diambil oleh pemerintah, pun dengan berbagai protes dan kritik yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok tertentu terhadap pemerintah. Hidup sudah terlalu rumit, dan ia tak ingin menambah pusing kepalanya dengan semua itu.

Begitulah, ketika akhirnya ia masuk ke apartemennya, Tokoh Kita akan segera memulai ritual malamnya: mengunci pintu dan jendela, menyalakan AC (yang suhunya selalu ia set pada 23 derajat), mengguyur badannya selama beberapa menit, lalu dengan telanjang bulat, ia akan masuk ke dalam sungkupan selimut. Biasanya ia akan tertidur pada menit ketujuh setelah kepalanya menyentuh bantal, atau jika matanya susah terpejam, ia akan memutar lagu-lagu kesukaannya, yang biasanya ampuh mengantarnya ke alam mimpi.

Alarm akan membangunkannya pada pukul lima lewat dua puluh menit. Lima menit akan ia habiskan dengan menatap langit-langit kamarnya, mengumpulkan kesadaran dari kelana malam. Bangkit, ia akan menuju lemari pendingin, mengambil segelas air dan menenggaknya hingga habis. Lima menit berikutnya, ia akan menuntaskan segala hajat di kamar mandi, membasuh diri sesegera mungkin, dan segera bersiap ke tempat kerja. Memulai rutinitas sebagai mesin pekerja, demikian ia mengistilahkan kesehariannya sebagai seorang karyawan di sekolah bahasa tempat ia bekerja.

Awalnya, bermodal ijazah yang ia peroleh dengan susah payah selama hampir lima tahun, Tokoh Kita melamar ke sekolah itu sebagai tenaga pengajar, seperti yang selalu ia cita-citakan sejak lama. Pendidikan adalah intervensi paling beradab untuk mengubah dunia ke arah yang lebih baik, begitu prinsip yang ia pegang. Ia ingin menuliskan jalan kebaikan di kepala anak-anak yang masih putih bersih, menuntun mereka secara perlahan menjadi manusia yang tidak hanya bisa menambah kerusakan di dunia yang sudah sakit ini.

Namun, liukan takdir membawanya ke jalan yang sedikit berbeda: ia tidak diterima sebagai tenaga pengajar di sana, tapi karena kebetulan mereka sedang mencari seorang tenaga administrasi untuk menggantikan petugas lama yang baru mengundurkan diri, ia pun ditawari posisi tersebut. Saya bersedia, jawabnya waktu itu, penuh keyakinan. Ia berpikir, meski tak bisa terjun langsung mengajar anak-anak, dengan menjadi petugas administrasi di sekolah, ia tentu masih bisa mempelajari perkembangan mereka, yang semoga suatu hari kelak bisa ia pergunakan untuk hal-hal lain seperti menulis buku, menjadi pembicara, dan – seperti yang terus ia usahakan – jika ia menjadi pengajar nantinya.

Tentu saja waktu itu Tokoh Kita tak pernah membayangkan bahwa kerja yang menunggunya adalah tumpukan kebosanan yang tak pernah berujung. Lembar-lembar kertas, dokumen dan surat-surat, buku-buku, semua menunggunya setiap pagi, menyita lebih dari delapan jam yang harus ia berikan untuk sekolah itu, di luar panggilan-panggilan telepon serta tugas-tugas lain yang tidak disebutkan secara rinci di kontrak kerja.

Meski sempat mencoba peruntungan dengan mengajukan surat lamaran ke tempat kerja lain, Tokoh Kita akhirnya belajar satu hal: ia tak seistimewa yang ia pikir. Dan, pekerjaan yang kini ia tekuni adalah hal yang sepatutnya ia syukuri, mengingat jutaan orang di luar sana masih terus terombang-ambing dalam gelombang pengangguran. Bukankah pekerjaan inilah yang mampu membawanya keluar dari kamar kontarakan kumuh di pusat kota dan mampu menyewa apartemen – terlepas dari kondisinya yang ternyata juga memperihatinkan – yang lebih layak?

Demikianlah, hingga tahun-tahun berlalu, hingga ia tak lagi bisa membedakan antara dirinya dengan mesin yang sudah disetel oleh teknisi untuk bekerja sesuai instruksi yang sistem yang ada. Bahkan, pada hari-hari yang sangat membosankan, ia merasa telah menjadi bagian dari lembaran-lembaran kertas dan dokumen-dokumen sekolah yang selalu menumpuk di meja kerjanya.

***

Tokoh kita pernah jatuh cinta, tentu saja. Seorang guru bahasa Prancis yang sedang magang di sekolah itu berhasil mencuri hatinya. Senyum rekah gadis itu adalah api yang menghangatkan hari-hari Tokoh Kita yang dingin, yang membuatnya bangun dengan lebih bersemangat dan melupakan kebosanan hidup yang memaksanya berputar pada siklus yang sama hampir setiap waktu. Kehadiran gadis berkacamata itu mampu mengubah warna langit menjadi lebih biru dan bunga-bunga apa saja yang tumbuh di halaman sekolah terlihat lebih indah. Lidahnya pun terasa lebih sensitif, bisa mencecap rasa yang lebih dalam, menikmati sensasi yang belum pernah hadir sebelumnya. Ia makan lebih banyak, memuji dan menandaskan makanan yang sebelumnya bahkan tak pernah sanggup ia habiskan.

Sebagai guru magang yang membutuhkan ini-itu terkait administrasi dan dokumentasi, ia mendapatkan banyak kesempatan untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan gadis itu. Namun, Tokoh Kita yang sopan tak pernah mempunyai keberanian yang cukup untuk membicarakan hal-hal lain di luar topik yang berkaitan dengan apa yang dibutuhkan oleh gadis itu. Bahkan, untuk sekadar menanyakan apakah gadis itu bersedia makan bersamanya di kantin sekolah pada saat jam istirahat saja – sesuatu yang rasanya sangat wajar dilakukan oleh seorang lelaki kepada gadis yang dipujanya – ia sungguh tak mampu. Akan datang masanya, begitu ia berulang-ulang mengatakan pada dirinya sendiri setiap kali godaan untuk melontarkan pertanyaan itu muncul. Akan datang waktu yang tepat untuk memulai semuanya dengan cara baik-baik, pikirnya. Diam-diam, Tokoh Kita mulai belajar beberapa frasa dan kalimat dalam bahasa Prancis yang rencananya akan ia ucapkan saat mereka bisa mengobrol santai suatu hari nanti.

Namun, genap tiga bulan gadis itu bekerja di sana, saat masa percobaan mengajarnya selesai, Tokoh Kita yang masih menunggu waktu yang tepat itu, akhirnya mengerti konsekuensi dari kepengecutannya. Pada hari saat ia tak lagi menyandang status guru magang, gadis itu datang ke mejanya bersama Eric, rekannya sesama guru bahasa Prancis yang blasteran. Setelah mengambil beberapa dokumen terkait pengangkatannya, gadis itu mengajak Tokoh Kita untuk bergabung bersama mereka di kantin sekolah siang itu. Tokoh Kita tentu paham bahwa ajakan itu tak lebih hanyalah basa-basi yang tak perlu ia tanggapi dengan serius. Ia hanya mengatakan, “Terima kasih banyak, tapi saya masih punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan….” lalu buru-buru mengangkat setumpuk besar dokumen ke meja kerjanya dan berpura-pura tak melihat genggaman tangan keduanya yang sedari tadi melekat seolah tak ingin dipisahkan barang sedekit pun.

Begitulah, hingga perlahan Tokoh Kita kembali menjalani kesehariannya dengan ritme yang sama: bangun pukul lima lewat dua puluh menit, menghabiskan waktu beberapa menit berikutnya untuk menatap langit-langit kamar, masuk ke kamar mandi untuk membuang hajat dan membersihkan diri, untuk kemudian segera bersiap berangkat ke tempat kerja. Di meja kerjanya, tumpukan laporan, surat, dan dokumen sudah menunggu untuk ia pilah, pelajari, salin, dan memasukkan semuanya ke dalam tabel-tabel atau grafik yang bisa dibaca dengan cepat oleh bagian manajemen. Begitu jam kerja usai, ia akan bergegas menuju halte, menunggu bus ke arah apartemen tua tempat ia tinggal.

Selama bertahun-tahun, semua akan berjalan persis seperti itu setiap hari, kecuali terjadi gangguan-gangguan kecil seperti kasus laki-laki yang meloncat dari lantai 18 itu. Dan, entah kapan Tokoh Kita akan menyadari bahwa laki-laki itu tak lain adalah dirinya sendiri. ***

Bekasi, 30 Desember 2019





======================
Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, Hikayat Bujang Jilatang terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul Di Palung Terdalam Surga bisa dibaca di Pitu Loka (2019). Kini menetap di Bekasi, Jawa Barat.

Terbaru

Seperti Ramaparasu

Telah berkata seorang saleh dari masa kecilnya bahwa kiamat tidak akan terjadi sebelum matahari terbit dari barat. Namun...

Kritik Sastra Dalam Kemandirian

10 Kisah-Kisah Kecil Kafka

Rumah Kanak-Kanak

Dari Redaksi