Rumah Kanak-Kanak

Anggur

Kutukan Kematian

Ingatan pada Satu Nama

Cerpen

Home Cerpen

Sejarah Anggrek di Pohon Mangga

0

“Ayahku sebatang pohon mangga dan tumbuhan anggrek adalah ibuku,” demikian kata-kata yang berlompatan dari mulutku mendadak menjadi bibit asap pekat yang memenuhi setiap sudut ruang itu. Empat orang di dalamnya—kecuali aku—merasakan sesak napas dan perih mata yang sangat karenanya. Aroma kematian mendadak menguar dan menjejali setiap kepala.

Lalu, semua menduga-duga di mana sumber asap itu. Mungkinkah ada api di dalam mulutku. Mulutku memang patut disigi dengan saksama untuk menemukan tersangka utama, ada lidah, langit-langit mulut, gigi seri geraham atau taring, lebih ke dalam pangkal tenggorokan. Tidak, semua yang di dalam mulut itu hanya ada seperangkat artikulator, alat. Mungkinkah alat ditersangkakan? Sebagai umpama, seseorang terbunuh setelah ditikam dengan pisau. Mungkinkah polisi menjadikan pisau sebagai tersangka. Begitu maksudku.

Lalu, apakah sebab musabab di balik asap pekat dari mulutku yang justru mengancam membunuh siapa saja yang mendengarnya? Akan sangat sia-sia mengusir asap, tanpa usaha mematikan sumber asap itu. Siapa pun yang ingin menolongku harus menyelam ke dalam pikiran dan hatiku. Lalu memadamkan api di dalamnya. Betapa pun, aku tahu ada titik panas di sana, tapi aku sendiri tak bisa memadamkan atau mengendalikannya.

*

Dengan asap yang terus mengepul dari mulutku, aku memenuhi undangannya ke Baturraden. Matanya menyala saat melihat gulungan asap raksasa mengekor di belakangku. Sesekali warna api menjilat-jilat, mengejek kekasihku yang merwajah masygul.

“Kamu tahu, kenapa aku mengajakmu ke sini?”

Aku menggeleng tak acuh, asap menghambur dari mulutku bagai permainan asap rokok.

“Ayah dan ibu melarang hubungan kita berlanjut,” suaranya mendadak lesap tertahan sesuatu di pangkal tenggorokan.

“Tak ada gunanya menangis.”

“Kamu memang harus belajar bersikap lebih baik agar tak mudah memicu pertengkaran.”

Setelah mengatur napas hingga kembali teratur dan meredakan gemuruh di dadaku yang bergolak, aku katakan padanya, “Kupikir, ayah dan ibumu benar.”

“Kamu menyerah, Sayang?”

Aku hanya mendesis mendengar kegusarannya. Sejak awal, aku tahu, cepat atau lambat, hal sepelik itu akan terjadi. Dengan mangajakku ke Baturraden, dia tengah menguji daya tahan cinta kami. Sejarah Baturraden mengajarkan kami, cinta yang buta dapat dikalahkan dinginnya kabut yang turun dari puncak Gunung Slamet. Cinta yang buta dapat diredam dengan menempuh jalan yang terjal berliku. Cinta yang buta dapat digugat dengan keterbatasan dan kekurangan materi. Yang mampu bertahan dari dinginnya kabut, jalan yang terjal berliku, dan keterbatasan dan kekurangan materi, pastilah bukan cinta yang buta, melainkan cinta sejati.

Aku adalah anak pohon mangga. Tentu dia tampan dan gagah seperti seharusnya seorang ayah di mata anaknya. Pohon yang tumbuh tegak di depan rumah yang dulu kutinggali berdua dengan ibu sebelum kematiannya. Bertiga, saat seorang laki-laki yang konon suami ibuku masih hidup meskipun aku tak pernah mengingatnya barang sebiji zaroh. Pohon mangga peneduh halaman rumah kami itu setiap tahun selalu berbuah. Buahnya selalu lebat dan berukuran besar, sangat memuaskan. Dagingnya bertekstur lembut dengan kemanisan yang sempurna, tak berlebihan. Sungguh buah mangga kami tiada duanya di pasar. Setiap sel dalam akar, batang dan ranting, daun, bunga, dan buahnya adalah persembahan cinta dari ayah dan suami untuk anak dan istrinya. Begitu kata ibu padaku suatu ketika dan kalimat itu selalu diulang-ulangnya pada kesempatan yang lain. Bahkan, pada hari-hari terakhirnya masih bernapas.

Aku dibesarkan dan dirawat pohon mangga sebagaimana ibu merawat dan membesarkan pohon mangga dengan penuh cinta. Pohon mangga itu tak pernah tumbuh lebih tinggi dari atap rumah kami, akar tunggang dan batang utamanya yang kokoh membuat ibu tak pernah khawatir jika aku memanjatnya berlama-lama. Hanya dengan pohon cintalah aku berkawan, selain ibu tentu, sementara teman-teman kampung seusiaku bercengkerama dengan ayah-ibu mereka. Dari kejauhan, aku sesungguhnya iri. Entahlah, aku tak pernah mengatakan kepadanya atas kecemburuanku kepada mereka yang memiliki ayah seorang manusia. Aku tak ingin menyakiti hati ibu.

Pohon cinta adalah rumah bagi burung, belalang, semuat, ulat sebelum berubah jadi kupu-kupu. Mereka adalah saudaraku sedarah, kami berbagi suka dan duka, saling menjaga. Kami pun sesekali bertengkar untuk beberapa saat sebagaimana sebuah keluarga normal.

Dari atas pohon, aku sering kali melihat ibu bicara dengan pohon mangga, penuh cinta dan takzim. Ibu membicarakan tentang apa saja. Pada saat-saat tertentu, aku bahkan mendengarkan ibu bersenandung untuknya sambil menyiramkan air di tanah atau menyapu daun-daunnya yang kering berserakan di tanah. Ibu tak pernah menyembunyikan rahasia apapun darinya, bahkan yang tak boleh aku tahu. Pada saat seperti itu, aku merasa iri padanya. Tapi itu terlintas sebentar saja. Sebagai balasan cintanya, pohon cinta menjatuhkan daun keringnya sesedikit mungkin dan menunggu datang angin yang berembus kencang sehingga ibu atau aku tak perlu susah payah menyapu halaman rumah kami, kekcuali sedikit.

“Untuk apa memulai pelayaran dengan bahtera yang bocor sejak awal, kita bukan Khidir dan Musa bukan?” kataku lirih.

“Kita punya cinta yang harus diselamatkan. Kecuali, itu tak bernilai di matamu.”

“Untuk menyelematkan cinta, terlalu banyak yang harus dikorbankan. Itu tak adil buatmu bukan. Percayalah!”

“Aku tak peduli, ceritakan tentang pohon mangga ayahmu dan anggrek ibumu padaku.”

“Kau akan mati karenanya?”

“Aku akan mati karena cinta. Itu mengagumkan, Sayang.”

Semua itu hanyalah delusi ibu. Sementara aku kecil dengan segenap keluguan meyakininya sebagai kebenaran. Aku menyadarinya pada hari paling menyedihkan seumur hidupku. Ketika aku berusia tujuh belas, petir itu menyambarku tiba-tiba, ibu meninggal tanpa firasat atau pertanda apa pun sebelumnya.

Satu-persatu simpul rahasia mengendur dan terbuka dengan sendirinya. Petir pertama sungguh menggetarkan. Aku dibuatnya tak sadarkan diri ketika kudengar sendiri orang sekampung tak mengizinkan tanah kuburan digali untuk ditanam mayat ibuku.

Petir kedua menyambar, aku lebih kuat karena sambaran petir yang pertama. Ayahku mati bunuh diri saat usiaku belum genap setahun. Ibu tak pernah mengatakan apa pun tentang itu. Kebenaran yang kudapat beberapa tahun kemudian adalah ayahku pelaku peledakan bom bunuh diri di sebuah gereja. Orang kampung tak sudi kuburan mereka ditanami jenazah ayahku yang badannya bercerai berai, bahkan tak utuh. Ibu mengalah, menanam sendiri dengan tangannya mayat suaminya di halaman rumah. Beberapa hari kemudian biji mangga bertunas di dekat gundukan tanah tanpa nisan itu. Ibu membiarkannya sebagai peneduh makam ayah saat siang hari dan dari derasnya guyuran air di puncak musim hujan. Pohon itu tumbuh besar bersamaku hingga hari ini.

Aku tumbuh tanpa interaksi dengan teman-teman seusiaku dan tetangga. Anak-anak kampung itu tak pernah diizinkan bermain denganku. Orang tua mereka mengatakan jika mereka nekat bermain denganku atau sekadar datang ke halaman rumahku, mereka akan dimakan sosok gergasi yang tinggal dalam sebatang pohon mangga besar dan angker. Pohon itulah yang oleh ibuku disebut sebagai pohon cinta, ayahku. Mereka menghukum keluarga kami dengan pengucilan. Mereka menyebut kami bersekutu dengan makhluk gaib. Makhluk-makhluk itulah yang menghidupi kami sehingga aku dan ibu tak pernah berkukurangan materi. Sampai hari ini, aku sendiri tak pernah tahu dari mana ibu memenuhi kebutuhan hidup kami, sementara ia tak berkerja.

Aku mengulangi apa yang dilakukan ibu ketika menguburkan mayat ayahku, sedangkan aku mengubur mayat ibu di dekat pohon cinta. Hanya di tempat itulah orang kampung tak bisa melarang apa yang ingin kulakukan. Itulah, mungkin, alasan ibu pernah berwasiat padaku ingin dikuburkan bersanding dengan pohon cinta.

Beberapa hari setelah kematian ibu, muncul anggek di batang pohon cinta. Beberapa bulan kemudian, di musim kemarau, anggrek itu berbunga. Bagiku, anggrek kuning itu adalah ibuku yang memeluk dengan erat tubuh ayah yang begitu dicintainya penuh pengabdian dan kesetiaan. Aku merasa lega telah mempertemukan dua perasaan cinta yang pernah berjarak antara manusia dengan sebatang pohon. Kini, sepenuhnya mereka hidup bersama, besanding, dan tentu berbahagia.

*

Dan, hari paling terkutuk itu datang. Saat seorang kolektor tanaman hias menemukan dan tersihir keeksotikan bunga anggrek di pohon mangga di depan rumahku yang biasa mekar di tengah musim kemarau. Dia memengiming-imingiku segepok uang untuk mendapat anggrek jenis baru dan tentu saja langka di dunia. Aku tak punya pilihan selain menjadi pendurhaka. Tiga bulan sebelum pernikahan kami, aku tak mengantongi sepeserpun uang untuk dijadikan mahar pernikahan.

Bunga Pustaka, 2019



=================
Mufti Wibowo lahir dan berdomisili di Purbalingga; penggiat di Komunitas Bunga Pustaka.

Dilarang Menangis

0

Mendadak segalanya jadi begitu genting di Desa Salbut. Ya, genting dan berbahaya. Itu semua setelah Klebun Ladrak mengeluarkan surat keputusan yang kontroversial sekaligus menjengkelkan; melarang warga desanya menangis. Sebelum surat keputusan itu diedarkan, sebenarnya Care’ Tarkam sudah mewanti-wanti untuk mempertimbangkan kembali keputusan itu. Apalagi para bengatoah banyak tak setuju. Tapi Tarkam justru kena marah.

“Apa kau tuli, hah?! Apa kau tak dengar tangisan setiap malam sebagian warga yang memekakkan telinga itu?” Ladrak membentak.

“Dengar, Bun!”

“Nah! Kita sama mendengar. Sama menderita. Jadi, keputusan ini untuk kemaslahatan warga.”

“Tapi, Bun…” belum selesai Tarkam menyelesaikan omongannya, Ladrak sudah berteriak.

“Halah, tak usah lagi tapi tapi. Segera stempel. Perbanyak lalu bagikan pada warga. Titik. Aku sudah jenuh dengan suara tangisan. Sudah jengkel dengan airmata. Apalagi airmata buaya,” sergahnya lalu ngeloyor pergi. Tarkam hanya diam membisu sambil memandangi pantat klebunnya yang tepos yang perlahan-lahan lenyap ditelan pengkolan jalan. Sambil menarik napas panjang ia menyetempel surat keputusan itu.

Memang sudah hampir sebulan hari Desa Salbut dikepung suara tangis yang seolah-olah turun dari udara seperti embun. Menyusup ke rumah-rumah warga, mengganggu tidur bagai mimpi buruk yang memecahkan indera pendengaran dan jika dibiarkan lebih lama lagi bisa membuat gila. Sebab suara tangis itu seperti suara gerombolan mesin giling tua yang dinyalakan bersama-sama. Bising dan makin lama makin terdengar mengerikan.

Mula-mula tangis itu berasal dari rumah Julaiha. Perempuan yang melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika suaminya mati dibakar warga karena mencuri sapi itu meraung-raung di jalan sambil memeluk tubuh suaminya yang gosong. Namun hingga Julaiha diseret pulang ke rumah, tangisannya tak juga berhenti dari malam hingga malamnya lagi. Kadang suara tangisnya terdengar seperti suara tangis bayi baru lahir. Kadang seperti suara tangis anak kecil yang kena gampar bapaknya karena memecahkan kaca jendela rumah tetangga saat main bola. Kadang seperti erang binatang sekarat yang meregang nyawa.

Sebenarnya warga desa tak peduli dengan tangis Julaiha. Toh dua hari lagi berhenti, begitu batin warga. Tapi nyatanya tidak. Tangis Julaiha meluber ke mana-mana seperti banjir yang meluap dari sungai Kamoning. Tetangga Julaiha mulai ikut-ikutan menangis. Anak-anak mulai menangis. Nenek-nenek menangis. Tak lama kemudian sebagian warga desa mulai menangis tak berhenti hingga menjadikan malam-malam di desa Salbut diselimuti tangisan. Seperti flu, tangis itu menular pada mereka yang tak sanggup menahan kesedihan.

Warga yang tak menangis, mulai mengeluh. Kemudian mendatangi kantor kepala desa dan menuntut kepala desa mengambil tindakan. Kemudian muncullah ide mengeluarkan surat keputusan larangan menangis itu.

***

Sejak larangan menangis itu keluar, seluruh sudut desa dipasangi plang bertuliskan: DILARANG MENANGIS DI SINI! Dengan huruf besar. Tak hanya itu, Klebun Ladrak juga menyewa algojo-algojo pencabut kenangan. Sebab sanksi bagi para pelanggar surat larangan itu jelas. Menangis adalah tindakan mengganggu ketertiban umum. Barang siapa menangis, maka akan dikenai hukuman buang ke sebuah pulau di tengah laut selatan tanpa batas waktu yang ditentukan. Sebelum itu para pelanggar akan dicabut kenangannya hingga tak ingat apa-apa. Kebanyakan berakhir gila. Sanksi itu berlaku buat siapapun.

”Bahkan kalau aku atau keluargaku melanggar, akan kuterima semua hukuman sebagai kepatuhan pada undang-undang,” ujar Klebun Ladrak.

Korban pertama dari surat keputusan itu tentu saja Julaiha. Selain karena dia dianggap biang keladi segala tangisan di desa Salbut juga sebagai daya kejut agar tak lagi ada orang menangis kecuali bayi. Saat Julaiha dijemput paksa pasukan gabungan penegak larangan menangis yang dibentuk Ladrak banyak warga desa yang bersedih. Tapi sama sekali tak berani menangis. Sebab sanksi dibuang ke pulau di laut selatan sungguh mengerikan. Para pelancong di pulau itu suka sekali menangkap perempuan gila dan membawanya ke losmen. Entah sebagai teman kencan atau diperkosa ramai-ramai.

Berturut-turut kemudian seorang ibu yang menangis karena dompetnya kecopetan di pasar, ditangkap. Seorang istri yang menangis karena digampar suaminya, dibui. Seorang remaja yang menangis karena diperkosa supir angkot sepulang sekolah, ditangkap.

Dan mendadak desa langsung sepi dari tangisan. Orang tak lagi berani menonton reality show yang menjual airmata untuk mendapatkan rating tinggi. Ketika ada warga yang mati, sanak keluarganya hanya diam membisu. Tak ada tangis yang mengalun sayup-sayup bersama kesedihan angin yang melintasi lading-ladang dan sungai-sungai hingga lari ke pantai. Tak ada lagi orang yang diluapi kesenduan setiap tangisan itu timbul tenggelam. Yang tersisa kini adalah gerundelan dan keresahan.

Larangan itu menjadi perbincangan di mana-mana. Dari ranjang sampai ladang, dari restoran cepat saji hingga meja-meja kantor administrasi, dari tukang sayur sampai tukang cukur, dari pejabat sampai para penjahat. Beberapa kali terjadi unjuk rasa agar larangan tersebut dicabut. Tapi Ladrak bergeming.

Malah Ladrak kemudian menggelar jumpa pers untuk menjelaskan secara rinci alasan diberlakukan larangan itu.

“Kita selama ini hanya diperalat perasaan sedih kita. Sebenarnya kita bisa bersikap sebaliknya, yakni bersikap serius terhadap segala macam kesedihan dan tidak menangisi setiap penderitaan. Kita bisa memulai dengan menertawai setiap kesedihan seolah-olah menertawai nasib sial. Daripada meributkan larangan menangis, bukankah lebih positif jika kita mulai memasyarakatkan tertawa dan menertawakan masyarakat.”

Sejak jumpa pers itu mendadak Desa Salbut mulai didatangi para pelancong yang ingin menyaksikan desa yang tak memiliki kesedihan. Para komedian berdatangan mencoba mengais rejeki dengan menjual tawa. Kini setiap ada warga mati, orang-orang tak mengundang ulama yang tak pandai melucu. Mereka lebih senang mengundang pelawak karena dengan begitu para warga tertawa. Semua bentuk kesedihan disikapi dengan humor. Di gerbang desa dipasang sebuah plang besar yang mengutip Budha: tertawa adalah energi. Meskipun sebenarnya kutipan itu sama sekali tidak tepat karena warga desa tertawa karena terpaksa. Segala yang dilakukan dengan terpaksa adalah penderitaan.

Kabar tentang desa tanpa airmata itu sampai juga ke telinga menteri dan presiden. Terutama kebijakannya yang melarang warganya menangis yang membuat desa itu menggeliat ekonominya demikian menarik perhatian pemerintah pusat. Sehingga pemerintah kemudian memberikan anugerah pada Klebun Ladrak sebagai kepala desa dengan inovasi ekonomi kreatif terbaik.

“Tapi semua itu sudah keterlaluan, Pak,” ujar istrinya yang sama sekali tak bangga suaminya dapat penghargaan dari pemerintah.

“Keterlaluan bagaimana maksudmu?! Lihat desa kita. Sekarang ramai. Perekonomian bergerak. Turis berdatangan. Itu semua menambah pendapatan desa,” bantah Ladrak sambil memperbaiki dasinya di muka cermin.

”Menangkapi orang-orang yang menangis. Itu keterlaluan.”

”Itu konsekwensi dari peraturan. Ada sanksi tegas.”

”Itu namanya kejam.”

”Salah. Itu namanya cemerlang. Buktinya suamimu sekarang dipanggil presiden. Menginap di istana. Seminggu. Mungkin tahu depan aku bisa dapat nobel.”

”Persetan dengan presiden jika semua itu didapat dari merugikan hati nurani rakyat.”

”Tapi kau menikmatinya, bukan?! Semua kemewahan ini. Baju baru, perhiasan baru. Itu semua dari pendapatan desa yang meningkat yang berimbas pada pendapatan suaminya yang juga meningkat.”

Kali ini istrinya diam. Ladrak tersenyum penuh kepuasan. Ladrak tetap berangkat ke Jakarta.

***

Klebun Ladrak kembali ke desa dijemput orang-orang kepercayaannya menggunakan Limosin. Ia menenteng piala besar setinggi satu meter.

“Kemenangan kita,” ujar Klebun Ladrak sambil tertawa. Seisi mobil ikut tertawa. ”bagaimana kabar desa, Kam?” Tanya Ladrak pada Tarkam yang duduk di sampingnya.

”Aman, Bun! Normal seperti biasa.”

”Ada orang yang ditangkap lagi karena menangis?”

”Ada … ”

”Laki-laki apa perempuan?”

”Perempuan.”

“Dasar cengeng!” Seisi mobil tertawa. ”Bagaimana ceritanya?”

”Seorang perempuan membawa anaknya ke pasar. Tanpa sengaja anaknya menginjak apel yang menggelinding dari becak. Anak itu terpeleset dan jatuh. Kepalanya membentur kaki lincak. Di atas lincak ada sebuah pisau pemotong daging milik penjual daging yang diletakkan terlalu ke pinggir. Pisau besar itu jatuh tepat di leher anak itu. Matilah dia!”

Seisi mobil tertawa. Termasuk Klebun Ladrak. Ia terpingkal-pingkal.

”Lantas ibunya sedih. Saking sedihnya sampai lupa kalau ada larangan lantas menangis?” Tanya Klebun Ladrak menebak-nebak.

“Tepat!” seisi mobil lagi-lagi tertawa.

”Kebanyakan perempuan ternyata memang cengeng. Hahaha … siapa perempuan warga kita yang sial itu?”

“Istri Klebun Ladrak,” ujar Tarkam. Seisi mobil kembali tertawa terpingkal-pingkal sambil menggebrak dasbor dan kursi mobil.

Ladrak mendadak bungkam. Jantungnya berdebar. Lantas meraung-raung, menangis. Seisi mobil terus tertawa dan tertawa hingga keluar airmata.

Setelah peristiwa itu larangan menangis itu telah dicabut. Sekarang kepala desa Salbut yang baru, Tarkam, mengeluarkan aturan baru: dilarang tertawa. ***


Keterangan:

Klebun : sebutan orang Madura untuk kepala desa
Care’ : sebutan untuk Sekretaris Desa di Madura
Bengatoah : tokoh masyarakat yang dituakan di Madura



====================
Edy Firmansyah seorang penulis kelahiran Pamekasan, Madura. Kumpulan cerpennya yang pernah terbit adalah “Selaput Dara Lastri” (IBC, Oktober 2010). Buku puisinya yang telah terbit adalah “Derap Sepatu Hujan” (IBC, 2011) dan “Ciuman Pertama” (Gardu, 2012). Cerpennya tersebar di banyak media cetak maupun online, di antaranya; JAWA POS, SURYA, RADAR SURABAYA, RADAR MADURA, SURABAYA POST, KOMPAS.com, CENDANANEWS.com, Majalah STORY, Majalah SURAMADU, dan Majalah ANNIDA.

Tom dan Malam yang Pergi

0

Ini masih senja, ketika aku berbincang dengan Tom di beranda rumah. Lelaki itu kutemukan dengan segelas kopi hitamnya, berwajah sedikit suram dan kepala yang tertunduk. Mujur aku datang, dengan senyum terkulum ia seperti sudah menanti-nanti kedatanganku dalam hitungan jamnya yang kesekian.

Tom memakai topinya. Ia bilang seperti hendak menuntaskan harinya petang itu, entah bagaimana. Ada semacam gelisah terbenam di bola matanya yang sedikit merah. Ia bilang kesal pada malam. Sebab dalam gelap ia harus menyusuri jalanan, mencari-cari sesuatu yang orang lain belum terpikirkan.

Pekerjaan itu benar-benar merampas kebahagiaannya. Dia bilang begitu. Bukankah meneguk kopi akan lebih nikmat jika diteguk sedikit demi sedikit, lalu menyentuh hujung lidah? Bukan menuntaskannya begitu saja dalam hitungan satu cawan? Itulah yang membuat Tom muak. Ia rindu menikmati kopi dengan santai di teras itu.

Tom, dia bilang jenuh jadi wartawan. Dia ingin pulang ke kampung jadi petani gandum saja. Bukankah itu lebih manusiawi? Ketika kita bisa tersenyum di pagi hari tanpa harus takut dengan pahitnya kopi yang terburu-buru diteguk dalam suhu yang panas?

Kadang Tom tertawa. Ia menertawakan nasibnya. Sudah puluhan tahun menjadi budak malam, tetapi hanya sekedar sepatu kulit baru pun sulit ia ganti setiap awal bulan. Tom sebenarnya rajin, teramat rajin. Bahkan di antara pria-pria beruntung di kota ini, Tom lah yang paling beruntung. Suatu malam ia dijemput seorang redaktur ternama sebuah koran di kota ini. Ia dilamar dengan rayuan paling jalang untuk bekerja di media itu. Bukan tanpa pertimbangan, Tom terpaksa menerimanya karena ia ingat dulu pernah memiliki semacam kamera mirror di kampung. Ia jaga dan simpan kamera itu, hingga 10 tahun kemudian ibunya berpulang. Dan di tengah kata-kata ibunya yang terakhir, Tom diminta menjaga kamera itu, dengan cara apapun.

Tom pun tak ada pilihan. Permintaan redaktur itu terlalu sulit ditolak. Tom bilang ia tersanjung. Satu hal langka yang tak pernah dialami pemuda seusianya. Ya, saat itu Tom baru berusia 18 tahun.  

Bertahun-tahun Tom menikmati pekerjaannya. Ia senang, bahagia, suka, ceria. Hingga tibalah kabar buruk, paling buruk dalam sejarah yang pernah kudengar. Bukan Tom yang dipecat, bukan pula redaktur itu mengkhianatinya. Entah kenapa, Tom seolah-olah dikhianati para pembacanya. Koran-koran yang ia tulis dalam malam-malamnya tak lagi disukai orang. Sebenarnya terlalu tak pantas mengatakan orang-orang kehabisan uang membeli lembar-lembar berita itu. Sebab rupanya mereka punya benda-benda baru dengan layar bergerak yang menyambut pagi mereka dengan senyuman, suara indah dan musik-musik yang mengalun. Orang-orang tak lagi tertarik membaca tulisan-tulisan Tom.

“Aku tak putus asa, aku masih menjaga kameraku, kamera titipan ibuku,” ujar Tom dengan suara paraunya.

“Kau jadi fotografer?”

“Terlalu indah,”

“Lalu?”

“Lebih tepatnya memotret setiap kabar buruk manusia. Mereka yang terbangun akan terkejut melihat foto-fotoku, bahkan mereka menangis.”

“Tapi kau dapat uang kan?”

“Mungkin kau berpikir uang segalanya, tapi kau akan tahu pekerjaan yang kujalani itu demikian buruknya saat kau melihat orang-orang menangis melihat apa yang kutampilkan dalam pekerjaan itu.”

“Aku tak mengerti, tapi kau bilang ingin menyelamatkan kameramu.”

“Entahlah, aku seperti tak sanggup lagi bekerja di malam hari.”

“Kau ingin pulang? Aku ada uang untuk sekedar beli tiket. Kereta ke Minneapolis untuk minggu depan bisa kupesan.”

“Kau terlalu baik, nanti sajalah. Aku ingin menuntaskan malamku dulu.”

“Ya setidaknya mungkin bisa untuk menjernihkan pikiran. Aku ingat kolam di belakang rumahmu itu airnya hijau dengan ikan-ikan merah yang mungkin sekarang sudah berkembang biak.”

Tom tersenyum geli. Untuk pertama kalinya sejak tiga bulan terakhir Tom tertawa lepas. Ia senang. Tetapi kembali matanya meredup.

“Sudah mulai malam, aku harus pergi.”

“Sampai kapan kau akan menjaga kameramu itu?”

“Setidaknya malam ini, kau simpankan satu buah tiket untukku. Besok pagi aku akan pulang. Jangan  lupa kau buatkan kopi hitam paling pahit untukku, pertanda aku sudah menuntaskan malam.”

“Hanya itu?”

“Satu lagi, satu gelas bir.”

“Kau masih berpikir menyambut kemenangan dengan minuman itu?”

“Dan kau masih selalu jadi ustadz kampung dari negaramu.”

“Oh no,”

“Sudahlah, aku pergi.”

Tom pun pergi. Sebuah ransel yang jarang dibawanya ia bawa. Apa benar ia ingin menuntaskan malam terakhirnya dengan benda-benda itu. Pikiran di kepalaku terasa rumit

***

Seperti permintaan Tom, aku tinggal di flat ini untuk menghabiskan malam. Menunggu Tom pulang di pagi hari lalu mungkin akan benar-benar membelikannya tiket kereta ke Minneapolis. Menikmati malam di atas bangunan setinggi enam meter ini memang istimewa. Patutlah Tom sangat bahagia jika satu malam saja tak ada panggilan di telponnya. Ia biasa menikmati bulan separuh di teras kamar. Kadang-kadang ia mengundang Kris dan kadang juga aku. Tom bilang malam itu indah. Malam itu kehidupan dan kebahagiaan. Mungkin suatu hari ia ingin bersahabat dengan malam lebih akrab lagi, tak seperti sekarang.

Malam itu aku menggantikan posisi Tom. Duduk menyendiri di teras sambil memandang terang benderang kota yang bersinar. Aku merasakan waktu yang begitu panjang. Mungkin itulah yang namanya kesendirian, sesuatu yang sebenarnya nama lain dari kejenuhan.

Ini pekerjaan membosankan. Menunggui sahabatmu pulang di pagi hari lalu tidur di tempat yang sedikit kotor. Tom tak punya alasan untuk membersihkan kamar itu. Bahkan ia pun sebenarnya membencinya. Tom ingin bersih-bersih, tetapi panggilan dari redaktur itu selalu membuat wajahnya suram.

“Kadang aku berpikir kerapihan itu tak penting, nyatanya aku tetap sehat dengan kamarku yang begini.”

Sebenarnya itu bahasa halus Tom agar akulah yang merapikan kamarnya. Kadang-kadang karena tak tahan melihatnya, aku memilih membantunya.

“Kau orang Indonesia yang baik, kenapa kau bisa berbenah di kamar orang asing sepertiku? Atau karena, ya karena pekerjaan rutinmu itu ya? Maksudnya lima waktu itu. Aku pernah membacanya dalam sebuah jurnal dosen di kampusku dulu. Katanya begitu, kau bisa jadi disiplin dari rapi dengan pekerjaanmu itu. Lima waktu? Apa ya, aku benar-benar lupa namanya.”

Tak pernah tuntas memang menceritakan Tom. Kufokuskan saja suasana hatiku pada malam. Entah sudah berpuluh kali jarum jam berputar di jam weker hitam sudut kamar. Aku mengusap-usap mata. Benarkah? Atau benda itu benar-benar sudah kehabisan baterai sehingga ia melaju begitu cepat. Jarum pendeknya menepati angka delapan. Tetap suasana di balik jendela masih hitam. Malam belum pergi. Jam itu benar-benar sudah gila. Lalu aku berlari menatap ponsel. Rupanya ponselku sama gilanya, angkanya pun sudah delapan di sana. Kuputuskan turun ke bawah, menyapa pedagang roti di bawah yang rupanya juga sama sepertiku.

“Jam kami semua gila. Ada apa?”

Lelaki itu pun tampak panik. Ia menutup kedua matanya, entah masih mengantuk atau benar-benar pusing dengan keadaan. Lalu aku berjalan ke halte bus. Ternyata banyak orang-orang yang kebingungan sepertiku.

“Apakah telah terjadi kerusakan bersama semua jam di rumah-rumah kita?”

“Aku tak tahu, cobalah melihat televisi. Apa yang terjadi?”

Sesuatu telah terjadi. Mungkin Tuhan sedang menghukum Tom yang begitu benci dengan malam. Atau mungkin ingin memberi hadiah cinta pada Tom yang suka menikmati malam di kamar kotornya itu. Tetapi ini musibah buruk bagiku. Aku tak punya waktu kembali ke flatku. Tugas menjaga kamar Tom belum selesai, hingga ia benar-benar datang.

Aku tak peduli lagi, entah sudah berapa kali jarum jam itu berputar-putar berubah posisi. Dan Tom tak kunjung pulang.

“Kau dimana? Kenapa kau tak pulang? Apa kau masih terus bekerja? Bodoh sekali redakturmu itu.”

“Aku akan pulang, tak lama lagi.”

“Ya setelah aku bosan di kamarmu ini.”

“Tunggulah sekejap lagi, bus akan segera sampai.”

Tom menepati janjinya. Ia memang pulang dalam malam yang masih gulita. Ia mendapati kamarnya yang sama kotornya dengan saat ia pergi. Sebab beberapa makanan yang kumakan berhari-hari masih belum dibuang.

“Kau? Tak biasa begini?”

“Kau pikir ini malam yang biasa? Dan kau pikir apa aku sekotor ini? Tukang sampah di bawah memilih tidur sepanjang malam.”

“Martin, aku pulang. Aku telah menuntaskan malamku.”

“Kau resign?”

“Tidak, lihatlah di balik jendela itu, matahari mulai muncul.”

“Oh ya,”

“Dan aku membawa sesuatu.”

“Apa?”

Tom mengeluarkan sebuah buku biru dari dalam tas ranselnya. Aku tersentak. Itu Al Quran, kenapa dia bisa membawanya?

“Kau bertemu dengan mahasiswa Indonesia?”

“Tidak, kitab ini kutemukan di kantor. Seorang wartawan baru asal Turki memberiku kitab itu.”

“Lalu?”

“Ajarkan aku membacanya.”

“Kau yakin?”

“Ya..”

“Bukalah!”

Tom membuka kitab itu. Satu, dua, tiga hingga sepuluh halaman tak kunjung ia temukan satu huruf pun.

“Kitab ini terlalu tebal.”

“Teruskan.”

Tom terus membukanya, hingga ke lembaran ke seratus tetapi kitab itu masih terus kosong. Tom meneteskan air mata. Dan aku pun merapat ke dinding memandang matahari marun jingga yang sangat besar pagi itu.

TAMAT

Biodata Penulis:

Nafi’ah al-Ma’rab merupakan nama pena dari Sugiarti. Berdomisili di Pekanbaru, Riau. Cerpen-cerpennya dimuat di Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos, Padang Express dan sebagainya. Cerpennya berjudul Lanai memenangi lomba nasional seperti Green Pen Award 2019 oleh Raya Kultura, Cerpen Tandan Sawit sebagai naskah pemenang Lomba Cerpen Nulisbuku dan Kemenegpora tahun 2012, Cerpen Lelaki Pohon menjadi salah satu naskah pemenang LCMR Rayakultura 2013. Selain cerpen, ia juga menulis novel, di antaranya Lelaki Pembawa Mushaf (Tinta Medina 2016), Jodohku dalam Proposal (Tinta Medina 2016), Suraya (Bhuana Ilmu Populer, 2018), Luka Perempuan Asap (Tinta Medina, 2016). Penulis bisa dihubungi di WA 085278740869 dan IG @sugiarti.flp

Dongeng-dongeng Sebelum Lelap

0


MATA PENYAIR

Penyair yang menyepi di dalam gua itu sebenarnya betah dengan hidupnya. Tapi semakin lama semakin tumbuh suatu keyakinan di dalam hatinya. Keyakinan bahwa ada yang lebih indah selain di dalam gua. Makanya dia selalu berdoa seperti ini: “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku pemandangan terindahMu. Aku yakin, semua pemandangan yang ada di sini bukanlah pemandangan terindahMu.”

Penyair itu pun lalu berdiri di mulut gua. Angin semilir menebarkan sejuk-segar. Matahari mulai terbit di ufuk timur. Cahayanya memendar di awan-awan di barisan pegunungan dipantulkan dedaunan dan danau yang terhampar luas. Tapi penyair itu yakin, bukan itu pemandangan terindah.

Suatu sepertiga malam saat penyair itu khusuk berdoa, dia mendapat bisikan untuk turun gunung menuju ke keramaian. Pagi masih sunyi ketika penyair itu memasuki gerbang perkampungan. Orang pertama yang melihatnya, tidak berkedip matanya. Orang kedua dan selanjutnya masih sama saja. Mereka terpesona dengan penyair itu. Terpesona dengan indah dan cemerlangnya mata penyair itu.

Penyair itu semakin masuk ke perkampungan. Semakin banyak orang yang tidak bisa mengedipkan matanya. Mereka diam-diam mengikuti ke mana penyair itu melangkah. Semakin jauh mereka mengikuti semakin tumbuh keyakinan di dalam hati mereka. Keyakinan bahwa dengan mata seindah itu mereka pasti bisa melihat keindahan dunia. Keindahan dunia yang sudah lama hilang dari hidup mereka.

Ketika sampai ke sebuah lapangan, tiba-tiba orang-orang kampung itu menyerbu sang penyair. Mereka menangkap, menjatuhkan, memiting dan mencongkel dua mata sang penyair dengan sendok. Sepasang mata indah itu seperti bola, jatuh ke tanah lalu memantul tinggi dan jatuh di tempat jauh. Orang-orang mengejarnya. Berebutan. Dan lapangan itu pun sepi kembali.

Penyair itu berdiri. Dia terpesona, sehingga memar dan nyeri sekujur tubuhnya tidak dirasakannya. “Tuhan,” katanya dengan suara bergetar. “Keindahan hakiki itu, keindahan abadi itu, terasa sampai ke seluruh pori terkecil tubuh ini. Keindahan terindah itu, keindahan menggetarkan itu, ternyata terlihat begitu nyata, setelah tidak punya mata.”



MONYET BERTAPA

Seekor monyet bertapa di tengah hutan. Dia berdoa dan berdoa, kepada Tuhan, agar dijadikan seekor kupu-kupu. Ya, monyet itu sangat terpesona dengan keindahan kupu-kupu. Saat itu musim bunga tiba. Di pinggiran dan lembah hutan bunga-bunga bermekaran. Monyet itu terpana melihat kupu-kupu terbang dari bunga ke bunga. Warna-warni tubuhnya begitu indah. Gemulai terbangnya begitu mempesona.

“Ya, Tuhan, betapa indahnya kupu-kupu yang terbang di taman-taman bebungaan. Betapa saya baru sadar, tubuh ini begitu buruk rupanya. Sekali dalam hidup yang singkat ini, ya Tuhan, jadikanlah saya seekor kupu-kupu yang indah,” doa monyet itu.

Karena doanya terus diulang dan begitu khusuk, lambat laun tubuh monyet yang bertapa itu berubah. Siang dan malam perubahan itu terjadi, perlahan, dan semakin nyata. Monyet itu tidak menyadarinya karena khusuk berdoa. Dan saat perasaannya menjadi lain, monyet itu bahagia. Dia merasa tubuhnya sudah berubah. Dia berlari ke sana ke mari mencari cermin.

Di tepi sebuah danau berair bening, monyet itu terkejut. Hatinya begitu sakit. Tubuhnya menggigil. Perasaannya hancur. Ya, karena monyet itu sekarang sudah berubah menjadi seekor ulat bulu. “Engkau begitu kejam, ya Tuhan. Engkau begitu kejam!” teriaknya. “Aku berdoa minta sesuatu yang indah malah dijadikan yang buruk rupa.”  

Sejak itu, monyet yang sudah berubah jadi ulat bulu itu, tidak mau lagi berdoa. Dia marah kepada Tuhan.




DUA PEMBURU

Dua orang pemburu sedang di tengah hutan. Senapan laras panjang terikat di punggungnya. Pistol terselip di pinggangnya. Tidak lupa golok untuk mencincang hewan buruan dan belati kecil untuk menguliti. Ransel isi perbekalan juga mereka bawa.

Sejak memasuki hutan lebat itu, dua orang pemburu yang bersahabat itu tidak berhenti saling cerita.

“Bila nanti kita mendapatkan seekor harimau, untuk saya saja kulitnya,” kata pemburu satu. “Katanya harganya mahal di kota. Saya butuh buat biaya membetulkan rumah yang sudah bocor-bocor. Takut rubuh duluan.”

“Bukannya menghalangi, saya juga sedang butuh buat modal menanam padi di sawah. Kita berangkat bareng saja ke kota, kita jual juga dagingnya, katanya daging harimau itu mahal juga,” kata pemburu dua.

“Begitu juga bagus.”

Dua pemburu itu tidak menyadari, tidak jauh dari mereka ada seekor harimau Jawa yang mencium adanya manusia. Harimau itu mengintip. Dua pemburu itu terkejut ketika ada harimau sebesar anak sapi meloncat ke hadapan mereka. Pemburu satu berlari menubruk apapun di sekitarnya. Dia menjatuhkan ransel dan senapannya, lalu naik ke pohon besar. Pemburu dua yang tidak sempat kabur, terduduk lemas. Celananya basah. Dia memejamkan mata saking takutnya. Pasrah kepada nasib. Harimau itu berjalan perlahan mendekat pemburu dua. Suara auuummm-nya menggetarkan hutan. Tapi dia tidak menerkam. Harimau itu hanya berbisik, lalu berlalu.

Setelah sadar dari ketakutannya, pemburu dua wajahnya berdarah lagi. Pemburu satu juga turun dari pohon.

“Alhamdulillah kita selamat. Tapi saya heran, harimau itu tidak menerkam, malah hanya berbisik kepadamu. Apa sebenarnya yang dibisikkannya?” tanya pemburu satu.

“Kata harimau, jangan banyak omong tentang kulit dan daging harimau sebelum menangkap harimau!”

(Kisah ini ditulis sambil membayangkan salah satu cerita Jalaludin Rumi)




TAMAN TERINDAH

Sampai ke taman terindah itu saat senja memancarkan pesonanya. Lembayung kuning menyebar di langit barat. Memantul di bebungaan. Mawar, aster, melati, bakung, dahlia, menyerap pesona lembayung, memantulkan cahaya jingga yang menggetarkan semua jiwa. Melati, sedap malam, kemuning, menebarkan harum  ke setiap tarikan napas membuat mata terpejam, mengalir di dalam darah di dalam tulang di dalam daging di dalam pori-pori terkecil dari tubuh.

Kupu-kupu warna-warni beterbangan lalu hinggap di bebungaan menyerap madu nektar yang manis yang harum yang menyehatkan jiwa dan raga. Air telaga yang bening beriak ketika selembar daun jatuh. Sepasang semut yang hinggap di daun kuning terkejut cemas tapi kemudian merasa sedang berbulan madu di lautan luas yang tenang. Ikan mas warna-warni merah kuning hitam menari di permukaan menyambut lembayung kuning dan menunggu cahaya rembulan. Sepasang burung dalam perjalanan pulang masih sempat hinggap di reranting pohon dan bernyanyi riang sebelum melanjutkan pulang ke sarang.

“Taman apa ini, begitu indah dan mempesona,” bisik saya dengan suara bergetar.

Bidadari yang memandu perjalanan ini tersenyum lembut. “Taman ini, taman yang selalu indah ini, ada di dalam hatimu yang paling rahasia, di dalam perasaan terdalammu, di dalam kebijaksanaan paling menggetarkanmu, yang sepanjang usiamu belum pernah kamu kunjungi,” katanya merdu.

Saya menunduk dan menangis, tanpa airmata, tanpa suara. Begitu indah.

============================
Yus R. Ismail, menulis cerpen, novel dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of The Night terjemahan C.W. Watson (Lontar, 2019) memuat 5 carpon-nya. Novel Tragedi Buah Apel terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Novel Anak penerbit Indiva 2019. Cerpen dan puisinya pernah dipublikasikan Media Indonesia, Jawa Pos, detik.com, Kompas.id, Magrib.id, Koran Tempo, Kompas, Femina, Nova, basabasi.com, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Lampung Pos, Padang Ekspress, Republika, dsb.
Sekarang tinggal di kampung Rancakalong, menanam bebungaan dan menulis.

Di Tubuhku, Durjana Itu Meledak, Teta

0

Teta-ku, Um Halimah sudah lama meninggal, jauh sebelum Zionis berhasil menduduki sebagian wilayah Gaza. Ia sering mengatakan bahwa peperangan tidak pernah memberikan belas kasihan kepada siapa pun yang terlibat di dalamnya. Teta-ku betul. Banyak orang-orang mati di dalamnya: Palestina dan Israel sama-sama telah kehilangan banyak nyawa, sementara perang tidak tahu kapan berakhirnya.

“Jika aku adalah Allah. Aku akan dengan mudah menghentikan semuanya,” kata Teta. Aku menyetujuinya. Tapi, siapalah aku dan Teta ini selain segelintir orang yang harus merasakan betapa kejamnya penindasan Kaum Yahudi, dan menjadi saksi bahwa perang tidak menghasilkan apa pun kecuali derita dan kepahitan.

Ketika Teta-ku meninggal, karena sakit tua, aku tidak terlalu larut dalam kesedihan. Bagiku, kematian Teta-ku jauh lebih manusiawi ketimbang kematian orang-orang Palestina lainnya yang kebanyakan mati mengenaskan: karena ledakan bom, granat yang terinjak, peluru dari senapan tentara Israel, atau tertimbun puing-puing dari bangunan yang roboh terkena ledakan misil.

“Tak perlu takut akan kematian, cucuku,” nasihat Teta, sehari sebelum malaikat maut menjemputnya. “Sekarang atau nanti, apa bedanya? Perang tidak bisa memberikan pilihan lebih baik bagi kita,” tambahnya. Aku mengangguk dan mencoba memahami akan maksud omongan Teta.

Mariam mendatangiku terlalu pagi. Aku yang sedang menyiapkan Ghada untuk keluargaku terkejut akan kedatangannya yang tidak sesuai rencana. Keluarga yang kumaksud adalah Khalto Sha’adah, suami, beserta dua anaknya, yang telah menampungku selama ini, setelah aku tidak memiliki keluarga dan tempat hunian.

Mariam datang dengan mengenakan galabiyas berwarna kelabu, sewarna dengan niqab-nya juga. Bola matanya yang secerah matahari, mengilatkan semangat luar biasa yang sempat hilang dari dirinya. Aku menyapanya dalam kesibukan yang aku lakukan.

“Sepagi ini?” tanyaku.

“Apa salahnya?” Mariam mengerlingkan matanya.

“Tak sesuai rencana,” sesalku.

“Kau keberatan?”

“Ya … dan tidak.”

Aku menyuruh Mariam untuk menunggu sebentar. Seraya menuangkan karkadeh ke dalam cangkir, untuk menjamu Mariam, aku mencari Khalto Sha’adah untuk sekadar berpamitan. Aku menemukannya di ruang tengah dengan tangan kanannya yang belepotan labneh

“Khalto, aku pergi sebentar,” pamitku. “Bersama Mariam.”

Khalto menatapku dengan bola mata kuatir. Aku tahu, ledakan bom bisa terjadi kapan dan di mana saja. Aku mengelus punggung tangannya untuk menenangkan. “Aku akan baik-baik saja,” ucapku.

Allah ma’ek, Habibti,” ujarnya lirih. Aku mengangguk.

***

Ledakan itu terdengar begitu dekat dari tempat aku berdiri. Mariam, sudah sejak tadi bersembunyi di antara puing-puing yang terserak di sekitar kami: tempat bangunan sekolah kami dulu berdiri, juga tempat pelayanan publik lainnya semisal kantor pos. Aku tidak berusaha untuk bersembunyi seperti yang dilakukan oleh temanku itu.

Beberapa bulan lalu mungkin aku akan begitu ketakutan ketika bom-bom itu meledak. Letusan senapan dan bau mesiu sama sekali tidak berpengaruh banyak terhadapku, untuk sekali ini. Semenjak Israel menyerang daerah kami, aku mulai terbiasa dengan bunyi-bunyi dahsyat sang angkara murka yang menamakan dirinya Perang. Dulu, enam bulan yang lalu, tatkala ledakan bom disertai jerit tangis dan teriakan orang-orang, aku kerap membayangkan bahwa itu adalah jeritan Ibu, atau Ayah, atau adikku, Anwar, atau Sallamah, kakakku, atau teriakan aku sendiri yang terlempar serpihan puing dan ledakan bom. Dan aku merasa begitu ketakutan bahwa aku akan kehilangan mereka semua.

Ketakutan itu telah hilang. Semenjak aku tidak lagi bisa mendengar jeritan mereka—mereka semua telah tewas ketika serangan udara Israel meluluh-lantakkan Naqba, kampung pinggiran di Jalur Gaza, tempat keluarga kami tinggal. Tidak ada yang tersisa kecuali aku dan kepiluan akan kehilangan atas orang-orang yang kucintai.

“Harusnya aku ikut mati, seperti orang-orang yang kucintai.” Aku kerap berpikir bahwa Allah masih berbaik hati padaku, walau pada kenyataannya, pada satu kesempatan dalam sebuah perenungan, aku lebih menginginkan mati bersama mereka semua, ketimbang harus hidup dihantui oleh ketakutan dan kenangan buruk perihal mereka.

Ledakan itu terdengar lagi. Asap hitam mengepul-ngepul di udara. Siapa lagi yang tewas dan menjadi korban kebuasan para durjana? Pikirku, apa yang mereka inginkan selain nyawa-nyawa tak berdosa kami? Kekuasaankah? Pengakuan sebagai Penguasa Baru di tanah kami, atau apa?

Jawaban itu meledak beberapa meter di belakang tempatku berdiri. Tubuhku terlempar beberapa meter ke depan, berguling-guling, lantas mendarat dengan mulut mencium tanah berpasir yang sudah lama berbau mesiu, tempat jiwa kami terabaikan.

“Najmiyeh! Cepat lari. Aku di sini!” Dari celah puing-puing bangunan yang terserak, suara Mariam terdengar dengan getar yang dibalut kecemasan. Aku masih berbaring di atas tanah berpasir sementara dentuman-dentuman keras terdengar silih berganti dari radius yang saling berdekatan.

Seperti kebiasaan kami berdua, tempat ini adalah tempat terbaik bagi kami untuk berbincang perihal apa saja. Lebih sering kami saling berbagi penderitaan satu sama lain perihal kehilangan demi kehilangan yang harus kami lewati. Siang ini rencananya kami hanya singgah sebentar sekadar mengenang kepergian orang-orang tercinta di antara kami. Mariam menunjukkan shabka yang dikenakannya dengan kesedihan yang mencoba disembunyikannya. Mariam tiga tahun lebih tua dariku ketika menerima pertunangan dari lelaki bernama Mahmoud, yang pada masa berikutnya pertunangan itu tidak pernah lanjut ke jenjang pernikahan sehubungan kematian Mahmoud di tangan seorang tentara Israel. Mariam sedih, namun tetap berusaha untuk tidak melepas cincin itu. Aku mafhum.

Bukan hanya aku yang merasakan penderitaan sepedih itu, sebagian besar kami merasakannya. Mariam tidak kehilangan ayah, ibu, atau adik laki-lakinya, kecuali Mahmoud dan juga Najmiyeh Ullum, kakak perempuannya yang nama depanya sama denganku. Najmiyeh ditemukan tewas di pinggir sungai dengan tubuh nyaris telanjang sementara selangkangannya yang tertutup kain tipis tampak mengalirkan darah dan noda berbau amis sperma. Najmiyeh hilang semalaman, menyisakan kepanikan dan rasa kuatir Mariam dan keluarganya. Semenjak itu, ke mana pun Mariam pergi, ia selalu menyembunyikan pisau yang terlilit kain di pangkal paha yang ia sembunyikan dibalik thobe yang dikenakannya. Mariam berdalih akan membunuh orang Israel mana pun yang hendak menjamahnya sebagai upaya pembalasan dendam. Itu tidak pernah terjadi, hingga saat ini.

“Bangsat Israel!” geramku seraya berusaha bangkit dari tempatku terlempar.

Tidak ada yang bisa kulakukan selain memaki. Aku yang dua belas tahun tak lebih ringkih dari perempuan remaja manapun sepanjang Jalur Gaza ini.

Sebenarnya aku ingin membalas semua yang telah mereka lakukan dengan menjadi prajurit dan ikut berjuang membela hak-hak kaum kami. Sayangnya, ayah tidak mengizinkan.

“Ayahmu tidak ingin kehilanganmu, Nak?” cegahnya suatu saat.

“Apa bedanya?” pikirku. “Sekarang atau nanti kita akan hilang atau tewas ditembaki para Zionis.” Namun, aku tidak mengatakannya.

Ayahku seorang pejuang, dulunya, sebelum kehilangan kedua kakinya akibat ranjau darat yang dipasang tentara Israel di Beit Daras, ketika berperang. Saat itu ayahku hanya mampu berbaring di atas tempat tidur dalam keringkihannya dengan air mata kerap tak terbendung tatkala saudaranya tewas satu persatu dalam peperangan tak berkesudahan ini. Ayahku meninggal saat bom meledak di perkampungan kami, Naqba, bersama Ibu, dan kedua saudaraku, sementara aku selamat sendirian.

“Aku harus membalas mereka semua!” teriakku setelah mampu berdiri. Aku tidak berlari ke arah puing-puing tempat Mariam bersembunyi ketakutan, melainkan sebaliknya, berlari ke arah tempat ledakan-ledakan itu pecah bergantian.

“Apa yang kamu lakukan, Najmiyeh? Bahkan kamu tidak sedang menyandang senjata apa pun!” teriak Mariam. Aku tidak peduli.

“Najmiyeh! Kembali!” teriak Mariam lagi.

Aku tak peduli. Aku mungkin tak bisa membunuh mereka dengan senjata. Setidaknya ada banyak orang terluka di sana yang membutuhkan pertolongan. Itu yang ingin kulakukan dalam kegeraman yang tidak memiliki muara ini.

“Najmiyeh! Kembali! Kembali kataku!” teriakkan itu berkelindan dengan desingan dan ledakan yang muncul tiba-tiba dari arah belakang puing-puing. Aku menyadari bahwa hawa panas menerjangku tiba-tiba. Aku menyadari bahwa hawa panas itu berasal dari udara yang terbakar yang kini menjilati tubuhku ini. Aku kehilangan tubuhku dalam kesakitan yang janggal. Aku merasakan kesakitan yang teramat perih. Walau setelahnya aku merasakan sebongkah kebahagiaan yang tidak terperi meletup dalam dadaku. Aku mungkin akan segera bertemu dengan Ayah, Ibu, saudaraku. “Persetan dengan perang! Persetan dengan segala ketakutan dan kengerian! Persetan semuanya!”

Mariam keluar dari persembunyiannya setelah suara ledakan itu tak terdengar lagi. Semuanya mulai sunyi kecuali kepulan asap yang membubung tinggi ke udara, bau mesiu, dan rintihan pilu orang-orang yang terluka. Mariam tak menemukan utuh tubuhku selain serpihan daging-daging yang gosong terpanggang api. Aku menangis saat menyaksikan Mariam menangis di atas tubuhku yang tak lagi utuh.

“Allahu Akbar! Aku berdoa kepadamu agar perang ini cepat usai, dan izinkan Mariam tetap hidup dan kembali kepada keluarganya dalam keadaan utuh. Dan izinkan aku bertemu dengan orang-orang yang aku cintai. Kesakitan dan segala kepiluan ini telah berakhir bagiku. Ya, Allah, hentikan semuanya dan biarkan hidup mereka damai seperti sedia kala.”

Garut, Maret 2020



===========================

Utep Sutiana, lahir dan besar di Garut, 28 Juni. Pernah tergabung dalam beberapa Buku Antologi, baik berupa cerpen maupun puisi.

Tentang Kepulangan

0

Sengaja kurahasiakan kepulanganku. Saya tidak mau orang-orang di kampung menyambutku penuh kemenangan yang membuat Ibu menceritakan ulang caranya mendidik anak dan Bapak akan memborong berbungkus rokok di warung Mak Sari untuk dihidangkan pada tetangga kemudian selanjutnya menjawab segala tanya.

Saya tidak mau itu semua terulang sebagaimana kepulanganku yang pertama 20 tahun yang lalu; mendadak rumah seramai pasar, orang mengantre menyentuh tanganku. Sebagian besar memelukku tak mau melepas. Seminggu, saban pagi saya sudah harus melayani banyak sekali pertanyaan yang membuatku lupa menziarahi makam kakek dan nenekku. Apa boleh buat, nisan mereka hanya saya tatap di balik kaca jendela mobil kala harus kembali lagi ke kota.

Kali ini, saya tidak mau itu terjadi. Kupikir orang-orang di kampung sudah mengenalku sebagai orang yang sukses di rantau. Jadi, mereka tak punya lagi alasan datang menemuiku mengucap selamat dan mengharap derma. Semuanya telah saya sisihkan melalui koperasi yang dikelola bapak sebagai aktivitasnya setelah pensiun. Bapak dulunya seorang guru agama di sekolah dasar satu-satunya di kampung kami.

Saya masih ingat, Bapak akan membangunkanku sebelum suara azan Haji Sattar membangunkan seisi kampung melalui pengeras suara di surau. Itu terjadi bila musim kemarau. Dua gentong di dapur sudah harus penuh sebelum menunaikan salat subuh. Setelahnya, kami kembali bergegas ke sumur Wa Lau, seorang tua yang membangun rumah seorang diri di tengah persawahan warga. Hanya dia yang tinggal di sana, terpisah dari keramaian. Tetapi, saban sore rumahnya selalu ramai dikunjungi warga yang hendak mengambil air. Wa Lau, hanya mengizinkan menimba air di sumurnya sebelum subuh dan sore hari. Jangan harap ia akan membuka pintu pagarnya bila matahari sudah muncul. Tidak ada yang berani membongkar pintu yang terbuat dari bambu itu. Aturan ini berlaku pula untuk kepala desa yang pernah menegurnya. Wa Lau bergeming dan mendamprat ulang. Wa Lau melempari ludah dari atas rumahnya. Kejadian itu terus dikenang oleh kepala desa. Ia malu karena menjadi bahan gunjingan sekaligus bahan humor di setiap obrolan warga yang mengenang peristiwa tersebut.

Sebelum kampung terang, saya sudah siap dengan balutan seragam, siap ke sekolah bersama Bapak. Kami hanya berjalan kaki melewati jalan tanpa aspal, retakan tanah terlihat jelas sebagai bukti perkasanya kemarau. Sebaliknya, di musim penghujan, jalan itu serupa sungai. Menjadi jalur air mencari titik rendah. Di sanalah, saya dan teman sebaya bermain mengadu kulit jantung pisang sebagai perahu mainan. Kami terus mengikutinya hingga berakhir di depan rumah Wa Lau.

***

Guna menjaga rahasia, saya mengutus salah satu asisten ke rumah. Menyampaikan kepada Ibu dan Bapak perihal kedatanganku kali ini. Semuanya perlu ditempuh karena di kampung belum ada jaringan telepon. Melalui asisten itu, saya membekalinya foto dan sepucuk surat yang menjelaskan maksud kedatanganku. Foto itu tentu saja sebagai penjelas agar asisten saya itu dapat dipercayai orang di rumah.

Metode itu berhasil, di malam buta, ketika warga pada lelap di rumahnya, saya sudah berhasil menjumpai Bapak dan Ibuku. Mereka sudah semakin menua. Pelukanku sepertinya tak mau lepas di tubuh mereka. Malam ini saya tuntaskan rindu dengan tidur di samping Ibu.

Kepulanganku kali ini, saya tidak membawa mobil. Sengaja kutinggal di kota bersama asisten yang menyewa kamar di salah satu hotel. Setelah diantar di pintu masuk jalur ke kampung, saya menggunakan ojek. Jasa ini mulai marak sejak dealer memberlakukan pinjaman lunak bagi masyarakat.

Penyamaranku berhasil. Herman tak mengenaliku ketika saya duduk di belakangnya. Dia teman sekolahku dulu di sekolah dasar. Usia kami terpaut empat tahun. Saya akrab dengannya saat kelas tiga. Rupanya sudah empat tahun ia mendekam di sana karena gagal naik kelas. Teman seangkatannya sudah pada kelas satu SMP dan dia masih perlu belajar berhitung. Beruntunglah, kepala sekolah dan guru-guru di sekolah tak lagi membiarkannya menutup usia di sekolah dasar. Hingga akhirnya kami sama-sama menamatkan pendidikan dasar. Setelahnya, ia menolak bersekolah lagi.

Rupanya, ia sudah berkeluarga. Ia peristrikan seorang perempuan dari kampung sebelah. Kini, ia sudah punya rumah dan dua orang anak. Dia kaget kala saya menepuk pundaknya untuk berhenti di depan rumah Haji Bahri.

“Anda mau bertemu Haji Bahri, Pak?”

Saya tidak menjawab dan menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah.

“Maaf, saya tidak punya kembalian, Pak,” katanya lagi.

Saya masih diam, lalu membuka syal yang menutup sebagian wajahku. Rupanya ia masih belum mengenalku. Setelah topi saya lepas, barulah ia menyunggingkan senyum. Memarkir sepeda motornya lalu kami melepas kangen. Berkali-kali ia memukul pundak saya dan mengulang kalimat: kau hebat, sudah jadi orang sukses.

Agak lama kami duduk di bale bambu di depan Bapak. Mungkin kami telah menyulut tiga batang rokok sebelum saya memintanya pulang dan tak lupa menitipkan pesan agar menjaga rahasia kedatangan saya. Awalnya ia kaget dan menolak, tetapi luluh juga setelah kujelaskan kalau dia boleh menjemputku di malam hari untuk menjumpai teman-teman di pos ronda. Hanya di waktu malam saja, saya tidak mau muncul di siang hari.

Rumah ini tak berubah, dindingnya masih sama ketika saya masih sekolah dasar. Bapak tidak mau menggantinya walau sudah kuyakinkan kalau saya bisa membangunkan rumah yang baru. Ibu berpendapat sama. “Buat apa, kau tidak memiliki saudara. Tidak ada warisan yang perlu dipersiapkan,” demikian Bapak pernah berujar.

Di kepulanganku yang kedua, 15 tahun lalu. Bapak dan Ibu tak banyak mengajukan tanya mengenai pekerjaan yang kulakoni di kota. Bila kuingat-ingat, sejak Bapak menitipkanku pada Paman Gaffar, adiknya yang membangun usaha warung kopi di kota. Beliau juga tak pernah banyak menuntut menyangkut prestasi sekolahku sejak SMP hingga saya tamat SMA. Keduanya sekadar menuntut keberadaanku yang tak kekurangan apa pun. Bahkan, ketika saya memutuskan untuk kuliah setahun setelah tamat SMA, kedunya juga tidak keberatan. Untuk hal itu, mulanya saya menduga kalau beliau tidak bisa lagi menyiapkan biaya. Bapak sudah pensiun dan uang pensiunnya tidaklah seberapa. Cukup untuk makan saja karena Bapak tidak menggarap sawah.

Bila ada yang bertanya pada Bapak, cukup ia menjawab kalau Hadri merupakan pengusaha, berjualan apa saja. Dan, orang-orang akan mengangguk memercayai. Itu yang kudengar di kepulanganku yang pertama ketika Bapak sibuk meladeni warga dan Ibuku tak kala sibuk di dapur menyiapkan menu untuk tetamu.

Bapak sepakat saja ketika kutawari untuk memimpin koperasi di kepulanganku yang ketiga, 10 tahun yang lalu. Saya jelaskan kalau koperasi itu merupakan ruang bagi warga yang hendak meminjam modal guna membangun usaha. Metode ini memungkinkan warga agar memiliki kemandirian dan tidak selalu meminta derma bila saya pulang. Jadi, dana bisa bermanfaat dan bergulir untuk warga. Kepala desa saat itu merasa terbantukan dengan ide yang kutawarkan. Belakangan, saya ketahui kalau pak desa turut meminjam dana yang kemudian digunakan membangun saluran pipa dari sumur Wa Lau. Tujuannya, agar warga tak perlu lagi berjalan jauh melintasi pematang menuju rumah Wa Lau di musim kemarau.

Semula sulit kupercaya, saya tahu siapa Wa Lau. Lelaki tua yang tak pernah saya tatap wajahnya. Ia selalu berada di atas rumah panggungnya. Sewaktu kecil, saya menganggapnya sebangsa malaikat atau iblis. Makhluk Tuhan yang tidak membutuhkan makanan. Ibukulah yang meyakinkan kalau Wa Lau adalah manusia sebagaimana umumnya. Butuh makan dan minum. Setiap pagi, kemanakannyalah yang membawakan makanan untuknya. Katanya, Wa Lau memilih menyepi ke tengah sawah setelah mengidap penyakit gula yang mengakibatkannya lumpuh.

Kena damprat darinya bukan hanya sekali, seingat saya. Bapak juga pernah dilarang mengambil air terlalu banyak. Aturan yang diterapkan Wa Lau, bukan hanya waktu-waktu tertentu, tetapi juga jumlah ember yang boleh dibawa. Meski gelap, rupanya ia selalu awas dari jendela mengintai warga di pekat subuh. Aturan itu berlaku bagi siapa saja, termasuk kemanakannya.

Jadi, saya tidak begitu yakin kalau Pak desa mampu meluluhkan wataknya. Namun, saya harus memercayainya juga. Di kepulanganku yang kedua, 5 tahun lalu. Kulihat bak besar berdiri di depan rumah Pak desa yang dilengkapi dua keran air. Di sanalah warga mengantre sepanjang hari di musim kemarau. Belakangan kuketahui kalau Wa Lau telah wafat, rumahnya sengaja tidak dibongkar, malah dipasangi listrik sebagai sumber tenaga yang mengalirkan daya ke mesin pompa air agar mampu menyedot air dari sumur dan selanjutnya mengalir ke bak. Sayang, itu tidak berjalan lama. Kata Bapak, hanya bertahan semusim saja. Selanjutnya, muncullah petaka, sebab sumur peninggalan Wa Lau benar-benar telah kering. Jadilah warga membeli air di musim kemarau pada seorang pedagang air dari kampung jauh di kaki bukit. Parahnya, warga harus membagi rata, karena pedagang itu hanya mampu menampung 20 jergen ukuran 20 liter di dokarnya sekali jalan setiap hari.

***

Kini, di kepulanganku yang keenam. Genaplah 25 tahun saya merantau, itu terhitung sejak kuputuskan kuliah, saya tidak mencampurnya dengan tapak masa SMP dan SMA. Sejak itu, saya balik ke kampung sekali dalam lima tahun. Pagi pertama di kepulanganku keenam ini, saya menemukan guling Bapak di sampingku. Adakah semalam ia bertukar dengan Ibu tidur di sampingku. Entahlah, pagi ini saya menemukan diriku di masa kecil. Menunggu ibu menghidangkan secangkir kopi dan sepiring nasi dingin sisa santapan semalam. Tidak seperti pagi di kepulanganku yang pertama. Namun, itu tidak mengapa, sebagai bentuk kebahagiaan warga menyambut perantau yang dianggapnya sukses.

Di dapur, Ibu masih menggunakan kayu bakar bila menjerang air. Kompor gas yang kubelikan dari kota di kepulangaku yang pertama tak kelihatan. Padahal, Ibu sudah pandai menggunakannya. Kala kutanya, Ibu lebih senang menggunakan kayu bakar ketimbang memutar pemantik api kompor itu.

Bapak semakin tua, pagi ini saya memintanya bercerita tentang koperasi. Dijawabnya, kalau ada baiknya ditutup saja dan memintaku lebih baik langsung menyumbangkan uang ke masjid atau ke panti asuhan bila ada rezeki. Gelagatnya menghendaki agar saya tidak banyak bertanya. Kepulan rokok kreteknya seketika bercampur dengan asap dari tungku.

“Koperasi itu hanya membuat warga semakin marah pada Pak desa, kalau saja bukan Bapakmu, mungkin Pak desa sudah digantung,” ucap Ibu kemudian.

“Sudahlah, tidak perlu kau ceritakan itu,” Bapak mencegat.

“Saya belum mengerti apa yang terjadi,”

“Ada baiknya, kau segera saja ke kota, jangan kira Pak desa tidak mengetahui kedatanganmu,” ucap Bapak lagi.

“Tetapi, tidakkah Bapak dan Ibu melihatku di sini dan bertanya lebih jauh tentang pekerjaanku di kota tanpa perlu meladeni warga yang datang. Sekaranglah saatnya kita memiliki waktu bersama.”

“Bapak percaya, nak, kau tidak akan membuat kami malu. Pak desalah yang membuat kami malu.”

“Saya semakin tidak paham.”

“Setelah kau mandi dan meminum kopi buatan Ibumu. Pergilah, pintu itu bukan hanya untuk kedatangan, tetapi disiapkan juga sebagai jalan keberangkatan,”

“Bapak mengusirku?”

“Tidak, nak, pergilah. Dengarlah kata Bapakmu,” kali ini Ibuku bangkit dan berdiri di sampingku.

“Saya akan pergi, jika Bapak dan Ibu menjelaskan alasan yang bisa kuterima.”

Bapak memelukku. Sangat erat.

“Kau harus tahu, Pak desalah yang membunuh Wa Lau, agar ia punya alasan meminjam uang di koperasi membangun saluran air karena anggaran dana desa tidak cukup. Polisi sudah mengetahui itu, Pak desa kini sudah dipenjara. Tetapi, dalam keterangannya yang saya peroleh dari Polisi, namamu disebut. Katanya, kau bekerja sama dengan pak desa untuk menyingkirkan Wa Lau.”

Ibu berbalik dan Bapak melepas pelukannya, “Pergilah! Jangan kembali lagi!”

***



===================

F Daus AR, cerpenis, narablog kamar-bawah.blogspot.com dan terlibat kerja apa saja.

Allesandra dan Ksatria Bertapa

0


INGIN menghayati peran bidadari dalam tari “Begawan Mintaraga”, Allesandra menetap di padepokan. Ia sengaja tinggal di padepokan, ingin suntuk belajar menari pada Ki Broto. Lelaki muda itu telah menambat perasaannya. Allesandra, seperti menemukan tempat tinggal yang damai di desanya, di lereng Pegunungan Alpen, wilayah Italia. Ia menempati rumah klasik peninggalan leluhur, langit bergayut kabut es, dan di kejauhan membentang bayang-bayang salju puncak Mont Blanc.

Allesandra – yang diundang untuk melakukan restorasi lukisan keraton – tak pernah menduga bakal terdampar di lereng Gunung Merapi. Ia juga tak pernah menduga akan mengenal Ki Broto, lelaki muda pemilik padepokan dan seorang penata tari. Lelaki muda itu putra seorang dalang yang memiliki padepokan, penata tari, suka bermain musik, dan menghidupkan pergelaran seni di daerah sekitar lereng Gunung Merapi.

Dalam tari “Begawan Mintaraga”, Allesandra berperan sebagai seorang bidadari yang menggoda tapa Arjuna. Ada tujuh bidadari, seorang di antaranya Dewi Supraba. Dan peran yang dibawakan Allesandra tak begitu penting: hanya menggoda tapa Arjuna. Ksatria  itu tak pernah memudarkan tapanya. Allesandra ingin berperan sebagai Dewi Supraba, bidadari yang dapat meluruhkan hati Arjuna – yang diperankan Ki Broto. Sungguh memikat, Dewi Supraba dipersunting sebagai istri Arjuna.

Tak ada hal yang paling menarik bagi Allesandra, kecuali ia bisa menari, merasakan getar tubuh dan rasa keindahan, yang membangkitkan ketakjuban pada setiap gerak yang  diselubungi getaran gaib. Sungguh di mata Allesandra, setiap gerakan untuk menyentuh Arjuna yang hening bertapa, membuat jiwanya melayang di awan-awan dunia para dewa. Sejak ia dengar suara gamelan pertama kali di keraton Yogya mengiringi bedaya Arjuna Wiwaha, dan melihat pergelaran tari yang diperankan Ki Broto, sangat ingin datang ke padepokan  penari itu.

Tiap kali berlatih menari, Allesandra selalu menemukan kegairahan baru, gerakan yang bangkit dari dalam getaran rasa – sesuatu yang mengalir dari sanubari. Ia jadi sangat cepat bisa mengikuti gerak tari yang diajarkan Ki Broto. Tidak hanya menirukan gerak tari Ki Broto, melainkan juga menikmati kedalaman rasa dari tiap aliran darah di sekujur tubuhnya.

Tapi kenapa tiap kali Allesandra berpapasan dengan Laksmita, yang tiap pagi berkunjung ke padepokan, hatinya berdebar, seperti bakal tersingkir dari sisi Ki Broto? Ia mulai menimbang-nimbang: bagaimana cara merebut perhatian Ki Broto dari daya pikat Laksmita. Allesandra tak pernah bisa menduga: keakraban yang terjalin antara Ki Broto dan Laksmita. Apakah Laksmita calon istri Ki Broto? Allesandra diam-diam mengamati mereka. Ia menaruh curiga, bila gadis itu, yang jarang bicara, dan cenderung menghindar dari pergaulan, calon istri Ki Broto. Laksmita selalu dijemput pagi hari dan diantar pulang dengan mobil Ki Broto pada sore harinya.

                                                                  ***

HAMPIR larut malam, Allesandra mengikuti latihan tari “Begawan Mintaraga”,  merasa sangat menikmati kesunyian lereng Gunung Merapi, kabut yang mulai mengendap, dan suara belalang kecek di ranting pepohonan. Allesandra mencoba memahami kisah Arjuna sebagai pertapa untuk mencapai kesaktian dan memperoleh senjata dalam sunyi Goa Mintaraga, menampik kegairahan para bidadari yang menggoda. Mengapa menampik kegairahan bidadari untuk meluluhkan anugerah para dewa?

Allesandra yang memperoleh kesempatan bersama para penari dan penabuh gamelan, ketika Laksmita sudah pulang malam hari, sengaja  menggoda Ki Broto, “Apa memang Arjuna mesti kawin dengan Dewi Supraba?”

“Saya tak berani membuat kisah yang menyimpang.”

“Mengapa tak kau rancang sendiri sebuah tari yang meninggalkan kisah lama? Apa tak boleh mencipta tari, Arjuna kawin dengan salah seorang bidadari?”

“Mungkin suatu saat nanti, aku akan mencipta tari yang menyimpang dari kisah itu. Aku memerlukan keberanian untuk itu.”

“Kenapa tak kau coba mulai saat ini?”

“Mencipta tari serupa itu memerlukan banyak waktu, renungan, dan latihan. Aku juga memerlukan teman untuk merancang tari itu.”

Allesandra masih menimbang-nimbang untuk mendesak Ki Broto agar bercerita tentang pertapaan Arjuna, dan kesaktian sesudahnya: keperkasaan, ketangguhan, atau kemenangan pertempuran yang dicapainya. Allesandra kini mulai menyadari makna kesunyian lereng Gunung Merapi, dan mencari kepekaan hatinya sendiri. Justru rasa takjubnya pada Ki Broto, pemeran Arjuna, berkembang menjadi hasrat untuk memiliki lelaki itu. Tapi Ki Broto, yang membaca gelagat akan rasa takjub Allesandra, menenggelamkannya di bawah genangan kabut gunung. Allesandra seperti leleh terkena awan panas yang bergumpal dari puncak Gunung Merapi.

Di kamarnya Allesandra menenangkan diri. Mengambil kertas, mencoret-coret kertas itu, menuangkan segala harapan, kegundahan, dan kemasgulan-kemasgulannya. Terus ia menulis. Memuntahkan kegalauan hatinya. Ia memuntahkan perasaan-perasaan itu, yang tak mungkin diucapkannya. Ia masih terus menuliskan kegundahan itu. Kebiasaan ini dilakukannya dari semenjak ia kecil, kebiasaan bila ia marah pada seseorang. Ketika  ia tak memperoleh tanggapan seperti yang diharapkan, ia mencorat-coret kertas, dan membakarnya dalam api lilin.

Allesandra tak paham benar, apakah ia seorang yang tersesat dari tujuan semula sebagai seseorang yang diundang melakukan restorasi lukisan keraton. Ia didatangkan untuk menyelamatkan beberapa koleksi lukisan keraton – temasuk di antaranya lukisan Raden Saleh – dengan mengikuti goresan-goresan yang asali. Goresan-goresan lukisan itu memudar setelah lebih dari seratus tahun, kusam warna catnya. Saat ia menonton pergelaran tari bedaya Arjuna Wiwaha – yang melakonkan sultan –  di pendapa keraton, ia takjub, terkesima, bergetar, dan terpusat pada penari yang memerankan sultan. Pemeran sultan itu seorang perancang tari, yang memiliki padepokan di lereng Gunung Merapi. Ia kagum pada sang penari, Ki Broto, masih bujangan, yang tampak sangat tenang, agung, dan rendah hati. Di panggung ia begitu karismatis. Dalam kehidupan sehari-hari, ia jejaka kebanyakan. Ia tak menampakkan keagungan sebagaimana tampak di panggung.

Allesandra merasa sangat penasaran, ingin bisa menari, dan karena itu ia tak buru-buru kembali ke Italia ketika selesai merestorasi beberapa koleksi lukisan keraton. Ia berguru menari pada Ki Broto, tinggal di padepokan lereng Gunung Merapi, belajar menari, sesekali ia melukis. Ia ingin disertakan sebagai penari bidadari dalam “Begawan Mintaraga”, yang menggoda menggugurkan tapa Arjuna. Allesandra mulai melihat dan merasakan keagungan yang berbeda pada diri Ki Broto, ketika memerankan sultan dalam “Arjuna Wiwaha”, dan memerankan Arjuna dalam tarian “Begawan Mintaraga”. Kali ini Ki Broto memerankan ksatria  dengan penuh kesabaran, tangguh dalam pertapaan, unggul dalam peperangan melawan raja raksasa Niwatakawaca. Tarian ini sungguh memberi ekspresi beraneka wajah pada Ki Broto. Tarian ini memberi ekspresi pembebasan di panggung bagi lelaki muda itu.

Allesandra menunggu kesempatan untuk menyatakan keinginannya mendampingi hidup Ki Broto, bila pertunjukan tari sudah digelar di padepokan. Ia memang selalu mencurigai Laksmita, sebagai perempuan yang memiliki kedekatan jiwa dengan Ki Broto. Tapi Laksmita tak pernah manampakkan bakatnya menari. Perhatian Ki Broto pada gadis itu melebihi siapa pun. Pada Arum yang memerankan Dewi Supraba, perempuan yang sangat penuh daya pikat, Ki Broto tak pernah memberikan  perhatian mendalam. Allesandra tidak yakin benar bila Laksmita calon istri Ki Broto – lelaki yang memiliki keagungan sebagai pencipta tari dan penari.

Menempati salah satu kamar di padepokan Ki Broto, Allesandra kepalang memahami semua kebiasaan lelaki itu. Ki Broto biasa beranjak tidur hingga larut. Lelaki muda itu berlatih menari, menemukan gerak, dan menemukan kelembutan rasa bagian-bagian tariannya. Kadang lelaki muda itu menabuh gamelan, pelan, hening, menyentuh relung pagi. Kadang Ki Broto menghentak kendang, pelan, dan mencipta irama yang kadang dramatis, kadang jenaka.

Subuh dini hari Ki Broto sudah berada di sendang, mengambil air wudu, dan salat di surau kayu yang didirikan tak jauh dari sendang itu. Air pancuran mengucur di sendang yang gemericik, dan tangan yang dibasuh air pancuran, terdengar sampai ke kamar Allesandra. Ia membuka jendela: menatap ke arah sendang. Menatap Ki Broto yang tersenyum ke arahnya, dengan wajah terbasuh air wudu.    

                                                      ***

TARI “Begawan Mintaraga” yang dipergelarkan di padepokan Ki Broto disaksikan begitu banyak penonton yang berdatangan dari banyak kota yang jauh, tamu-tamu hotel, dan pecinta tari. Padepokan Ki Broto belum lama didirikan, dan senantiasa mempergelarkan tari, musik, dan pertunjukan seni rakyat yang diangkat dari masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi.  Selama tinggal di padepokan, ia telah menyaksikan begitu banyak pergelaran tari, musik, teater dan seni rakyat yang membuatnya takjub. Ki Broto tak pernah berhenti  mempergelarkan tari yang seringkali terbuka bagi masyarakat sekitar lereng Merapi.

Kali  ini pergelaran tari “Begawan Mintaraga” berada di gedung teater yang baru selesai dibangun di antara kawasan padepokan, yang senantiasa penuh selama tiga hari berturut-turut pertunjukan. Pada pergelaran hari ketiga, yang terakhir, Allesandra sampai batas penantian untuk menyatakan keinginannya tetap tinggal di negeri ini, mendampingi Ki Broto, tinggal di lereng Gunung Merapi, dalam kesunyian. Ia bisa melukis, menari, dan mendampingi Ki Broto mengelola padepokan.

Allesandra telah mendengar kisah tentang Laksmita dari para penari. Mereka  menggunjing Laksmita sebagai putri seorang preman, yang melakukan pelarian dari penembak misterius sampai lereng Gunung Merapi. Tiap hari di antara para penari membuka kisah tentang Laksmita, anak preman yang pernah memiliki pekarangan dan rumah di padepokan Ki Broto, sebelum ayahnya meninggal. Mengapa Ki Broto begitu dekat dengan Laksmita, putri seorang preman? Allesandra tak habis pikir. Ada sesuatu rahasia yang mesti dibongkar.

Riuh tepuk tangan penonton di akhir pergelaran tari “Begawan Mintaraga” yang gemuruh,  membuat jantung Allesandra berdegup keras. Inilah saatnya ia mesti mengungkapkan perasaannya pada Ki Broto, dan memutuskan nasibnya untuk terus menetap atau meninggalkan negeri ini. Ia bersandar nasib Ki Broto. Ia  menjadi gelisah berhadapan lelaki muda itu dan juga Laksmita, perempuan yang begitu tenang dan menaruh kepercayaan pada Ki Broto.

                                                            ***

PARA penari mengelilingi tumpeng. Duduk bersila di pendapa rumah Ki Broto. Para penari menanti menerima sepiring potongan nasi tumpeng dan ingkung ayam yang berbumbu pekat rempah-rempah. Ki Broto memimpin doa sebelum tumpeng itu dipotong. Di sisinya duduk Laksmita, tenang dan penuh keyakinan. Diakah itu, perempuan yang duduk tenang di sisi Ki Broto, sesungguhnya Dewi Supraba, yang merenggut hati Arjuna?

“Ini tumpeng selamatan kita atas sukses pentas “Begawan Mintaraga”. Sekalian minta restu, kami, saya dan Laksmita, bakal menikah!” kata Ki Broto tenang. Ia memotong tumpeng, mengambil gudangan, bergedel, dan sayatan daging ingkung ayam. Menempatkannya pada sebuah piring. Dipersembahkan sepiring potongan tumpeng itu pada Allesandra.

“Untuk Allesandra, semoga berkah, terimakasih sudah terlibat dalam pergelaran tari ini. Kalau kau masih berkenan tinggal di padepokan ini, kami akan sangat bahagia. Kau akan jadi penari ternama.”

Tangan Allesandra bergetar menerima sepiring tumpeng. Ia tak bisa berucap, sedih atau bahagia. Ia  segera meletakkan piring, beringsut ke arah Laksmita dan menyalaminya. Mencium pipi. Memeluk. Tubuhnya bergetar. Getaran yang sangat dahsyat dalam dada. Tak kan pernah dilupakan.

                                                           ***

Pandana Merdeka, Maret 2020        


====================
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”.  

Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa seperti Horison, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Bisnis Indonesia, Nova, Seputar Indonesia,  Suara Karya,  Majalah Noor, Majalah Esquire, Basabaasi.

Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Novel yang telah diterbitkannya dalam bentuk buku adalah Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009), Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Kumpulan cerpen yang segera terbit adalah Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020).  

Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Dialog Antar Orang Mati

0


Lelaki itu tiba lebih cepat dari selatan Inggris pada suatu pagi di musim dingin tahun 1877. Dia pria merah, atletis, namun berat badannya berlebihan. Tidak dapat dipungkiri, hampir semua orang berpikir bahwa ia orang Inggris, dan memang dia terlihat mirip seperti John Bull. Dia memakai topi bowler dan berjubah wol dengan celah di tengah. Sekelompok pria, perempuan, dan bayi telah menunggunya dengan cemas ; banyak dari mereka memiliki garis merah di tenggorokan, lainnya tanpa kepala dan berjalan ragu-ragu dengan langkah yang menakutkan, seakan meraba-raba menembus kegelapan. Sedikit demi sedikit, mereka mengelilingi orang asing itu, dan dari belakang kerumunan seseorang berteriak mengutuk, tapi teror yang lama menghentikan mereka dan mereka tidak berani melangkah lebih jauh. Dari tengah, seorang prajurit kulit pucat dengan mata seperti bara api melangkah ; rambutnya yang panjang kusut, dan janggutnya yang murung tampak memenuhi wajahnya ; sepuluh sampai dua belas luka mematikan ada di sekujur tubuhnya, seperti garis-garis pada kulit harimau. Ketika ada yang datang melihatnya, dia memucat, tapi melangkah maju dan mengulurkan tangan.

     “Betapa menyedihkan melihat seorang prajurit direndahkan oleh aparat pengkhianat!” katanya dengan penuh wibawa. “Dan lagi kepuasan yang luar biasa telah memerintahkan bahwa para penyiksa dan pembunuh menebus kejahatan mereka pada perancah di Plazade laVictoria!”

     “Jika itu Santos Pérez dan Reinafé bersaudara yang kamu maksud, yakinlah bahwa saya sudah berterima kasih pada mereka,” kata lelaki berdarah itu dengan serius.

     Laki-laki lain memandangnya seolah mencium ancaman, tetapi Quiroga melanjutkan:

     “Kamu tidak pernah mengerti saya, Rosas. Tapi bagaimana kamu bisa mengerti saya, jika hidup kita sangat berbeda? Nasibmu adalah memerintah di kota yang menghadap ke Eropa dan suatu hari akan menjadi salah satu kota paling terkenal di dunia. Dunia saya berperang melintasi kesendirian di Amerika, di negeri miskin yang dihuni oleh para pedagang miskin. Kerajaanku adalah salah satu tombak, teriakan, tanah terlantar berpasir, dan kemenangan rahasia di tempat-tempat terkutuk. Apa itu seperti klaim yang terkenal? Saya hidup dalam ingatan orang-orang — dan akan terus tinggal di sana selama bertahun-tahun — karena saya dibunuh dalam kereta kuda di tempat yang disebut BarrancaYacoby oleh sekelompok pria dengan pedang dan kuda. Saya berhutang budi padamu atas kematian yang kesatria, yang tidak bisa kukatakan saat itu, tetapi generasi berikutnya enggan untuk melupakannya. Anda pasti akrab dengan litograf primitif tertentu dan karya sastra menarik yang ditulis oleh seorang yang layak dari San Juan?”

     Rosas, memulihkan ketenangannya, memandang lelaki itu dengan jijik.

     “Kamu orang yang romantis,” katanya sambil mencibir. “Sanjungan anak cucu tidak lebih berharga dari sanjungan orang sezamannya, yang tidak bernilai apa-apa, dan dapat dibeli dengan sekantong uang receh.”

     “Saya tahu bagaimana kamu berpikir,” jawab Quiroga. “Di tahun 1852 takdir bermurah hati, serta ingin menyelami kamu sangat mendalam, menawan kematian pria-pria dalam pertempuran. Kamu telah menunjukkan dirimu sendiri tidak layak menerima hadiah itu, karena perkelahian, pertumpahan darah, membuatmu takut.”

     “Membuatku takut?” ulang Rosas. “Saya telah menjinakkan kuda hitam di selatan, dan kemudian menjinakkan seluruh negara.”

     Untuk pertama kalinya, Quiroga tersenyum.

     “Saya tahu,” dia berkata pelan, “dari kesaksian tidak memihak prajurit Anda dan kedua perintah Anda, bahwa Anda melakukan lebih dari satu giliran balik yang menakjubkan, tetapi kembali pada masa itu, melintasi AS—dan menunggang kuda juga—ketakjuban lainnya dilakukan di tempat bernama Chacabuco dan Junin dan Palma Redondo dan Caseros.”

     Rosas mendengarkan tanpa ekspresi, dan menjawab.

     “Saya tidak perlu berani. Salah satu ketakjuban milikku, seperti yang Anda katakan, adalah untuk mengelola serta meyakinkan pria pemberani, saya berjuang dan mati untuk diri saya sendiri. Santos Perez contohnya, yang lebih sepadan untukmu. Keberanian sangat mendukung ; beberapa pria bertahan lebih baik dari yang lain, tapi cepat atau lambat, setiap orang menyerah.”

     “Itu mungkin,” kata Quiroga, “Tapi saya sudah tinggal dan saya sudah mati, dan sampai hari ini saya tidak tahu apa itu takut. Dan sekarang saya pergi ke tempat di mana saya diberikan wajah baru dan takdir baru, karena sejarah lelah dengan pria kejam. Saya tidak tahu siapa pria selanjutnya, apa yang akan dilakukan terhadapku, tapi saya tahu saya tidak akan takut.”

     “Saya puas jadi diri sendiri,” kata Rosas, “dan saya tidak ingin menjadi orang lain.”

     “Batu tetap terus jadi batu, selalu, selama-lamanya,” jawab Quiroga. “Dan selama berabad-abad mereka batu—sampai mereka hancur jadi debu. Ketika saya pertama kali masuk ke dalam kematian, saya memikirkan caramu, tapi saya sudah belajar banyak hal di sini sejak itu. Jika kamu perhatikan, kita berdua sudah berubah.”

     Tapi Rosas tidak memperhatikannya,  dia hanya melanjutkan, seolah berpikir keras, “Mungkin saya tidak bisa mati, tapi tempat ini dan percakapan ini sepertinya tampak mimpi bagiku dan bukan mimpi yang hanya sekadar mimpi, juga. Lebih seperti mimpi yang diimpikan orang lain, seseorang belum dilahirkan.”

     Lalu percakapan mereka berakhir, karena saat itu seseorang memanggil mereka.*

Diterjemahkan dari edisi berbahasa Inggris berjudul, “A Dialog Between Dead Men” yang ada pada antologi Jorge Luis Borges, Collected Ficciones, diterjemahan dari bahasa Spanyol oleh Andrew Hurley. Alih bahasa Indonesia oleh Risen Dhawuh Abdullah.


======================
Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Sepasang Pohon Jambu Bahagia

0


Pohon itu terlihat bahagia, mungkin karena ayah merawatnya dengan baik. Ayah tidak pernah lupa menyiraminya setiap pagi dan sore. Terkadang malah ia mendandani pohon itu dengan beraneka pakaian wanita. Ia tempelkan potong-potongan kain pada batang kayunya yang kokoh. Bahkan, ayah pernah makan malam berdua dengan pohon itu, lengkap dengan cahaya lilin yang tembaga dan denging musik jazz yang terdengar begitu romantis.

Tak ada yang berani menyinggung tingkah ganjil ayah, termasuk paman dan bibi. Hal aneh itu sudah menjadi wajar di dalam biduk keluargaku. Mereka lebih memilih ayah berperilaku demikian daripada uring-uringan. Karena, pernah suatu ketika, ayah disindir oleh kakek sebab memerlakukan sebuah pohon seperti memanjakan seorang wanita. Ayah pun marah dan sepanjang hari ia mencercau tak jelas seperti orang gila.

Aku pun demikian, tidak pernah berani menyinggung soal pohon itu. Walau sebenarnya, aku merasa ayah memang sudah kehilangan akal warasnya.  Ia pernah bercerita kepadaku, kalau pohon jambu air itu adalah jelmaan seorang wanita yang pernah melahirkanku. Aku tercengang tak percaya dan mengutuki kisah ayah yang ganjil itu.

“Lihatlah, pohon itu, begitu cantik, Ipang,” katanya, ketika kami bersantai di suatu sore. Aku perhatikan pohon jambu air itu, yang tidak ada apapun di sana, selain keriput kulit kayunya yang muram. Tetapi, ayah seperti sedang memandang seorang perempuan cantik yang begitu dicintainya di pohon itu. Aku tersenyum samar seraya mengangguk. Aku tidak mau menyakiti hati ayah—yang mungkin sedang terluka itu. “Matanya mirip denganmu, Ipang.”

Ahh, apa yang sebenarnya terjadi dengan ayah? Mengapa ia menganggap pohon itu menjadi ibuku?

Aku sebenarnya tidak pernah tahu, siapa wanita yang melahirkanku. Sejak lahir aku tidak mengenal sosok yang bernama  ibu itu. Mungkin saja aku adalah anak jalanan yang dipungut oleh ayah di tong sampah, atau seorang anak malang yang ditinggal oleh ibunya karena tidak ingin hidup susuh bersama suaminya—mengingat ayah hanya seorang pedangang batik kecil di pasar Beringharjo. Tetapi, apa hubungannya antara pohon jambu air itu dengan ibu? Aku tidak pernah dapat mengerti dengan hal itu.

***

Malam itu hujan kembali turun begitu deras, dan aku melihat ayah termenung di samping jendela, memerhatikan pohon jambu air yang terpacak beku di belakang rumah. Ayah yang mendadak terjangkit demam, lunglai tak berdaya di tepi bibir jendela. Tetapi, ia tampak gamang. Sepanjang malam, ayah tidak juga lelah mengawasi sebatang pohon di luar—yang kelu dicercah hujan.

“Ia pasti kedinginan. Kasihan!” gumamnya lirih kepadaku. “Aku melihat wajahnya menjadi pucat, bahkan ia ketakutan, karena sendirian.”

Bulu kudukku meremang. Aku tidak tahu siapa yang ayah maksud sendirian, karena tidak ada siapa pun di luar selain sebatang pohon itu.

“Aku harus menemani ibumu, Ipang.”

Ahh, lagi-lagi pohon itu. Apakah ayah memang benar-benar sudah gila, karena cinta butanya kepada ibu yang sampai detik ini? Aku juga tidak tahu seperti apa wujud ibu? Siapa ibu sebenarnya? Apakah pohon itu memiliki riwayat tertentu tentang ibu yang tidak pernah aku ketahui? Atau, pohon itu adalah jelmaan seorang wanita yang telah dikutuk oleh Tuhan, dan harus menghabiskan sisa hidupnya menjadi pohon, karena sifatnya yang gemar membangkang kepada suami? Kutukan sifat lalim yang juga menimpa Malin Kundang? Kepalaku selalu pening apa bila merunut riwayat tentang ibu dan pohon jambu air di belakang rumah.

Ayah melesat seperti angin; mengambil payung; merengkuh hujan di luar. Aku gagal menahannya. Ketika aku mencoba menghentikan langkahnya, ia malah menjadi murka, kemudian mengutukiku dengan sumpah-serapah.

“Ingat, Ipang, surga ada di telapak kaki ibu,” katanya bengis.

Aku pun menyerah dan membiarkan ayah keluar untuk berhujan-hujanan bersama pohon jambu air itu. Aku melihat ayah yang terpekur takzim di bawah pohon itu. Ia seolah sedang menikmati kebersamaannya di bawah hujan dengan pohon jambu air itu. Mendadak, hatiku pun bergetar hebat melihat pemandangan pilu antara ayah dan pohon jambu air itu. Betapa cinta telah mengutuknya menjadi makhluk  ganjil di dalam rumah ini.

Aku ingin lekas menyusulnya. Gontai, aku menuju gudang, dan di dalam gudang yang gelap ketika ingin mengambil payung, aku tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak kayu tua. Dari dalam kotak itu, aku menemukan puluhan lembar foto seorang wanita yang terlihat sangat seksi, mengenakan pakaian serba ketat, yang memamerkan belah dada dan jenjang pahanya yang mulus. Wanita di dalam foto itu pun sedang menikmati sebatang rokok di sela bibirnya. Selain itu, aku melihat, ada puluhan kaleng bir pula di mejanya. Sepintas, di dalam benakku, wanita itu begitu mirip dengan seorang pelacur.

Tetapi sebelum aku memikirkan lebih lanjut siapa wanita di dalam foto itu, sebuah petir mengerjap dan guntur susul menggelegar nyaring, memekakan telinga. Aku terperanjat meninggalkan foto-foto itu. Aku berlari menyusul ayah di belakang rumah. Pria itu sudah tampak tertegun, meratapi kobaran api yang membakar pohon jambu air.

“Ia terbakar,” gumamnya sembari menitikkan air mata. “Aku tidak bisa menyelamatkan ibumu.”

“Itu hanya pohon jambu air tua, bukan ibu, Yah.”

“Kau anak durhaka!” Balasnya sengit dengan nada tinggi. Ia pun menatapku bengis, “Kau memang tidak pantas disebut anak!”

Aku tertunduk. Aku merasa begitu sedih meratapi kenyatan kalau ayah sebenaranya sudah gila. Namun, di sisi lain, aku semakin tidak mengerti tentang riwayat pohon jambu air serta ibu. Mengapa setiap pertanyaan di dalam kepalaku kini malah menjadi bertambah rumit? Aku mengerling ke arah ayah yang masih terus mengumpatiku tak karuan. Aku tinggalkan ia seorang diri untuk meratapi kekasihnya: pohon jambu air. Sepanjang malam ia kukuh di luar besama puing-puing pohon jambu air yang telah menjadi arang.

***

Setelah tumbangnya pohon jambu air itu masih ada saja yang manganjal di benakku, yaitu tentang foto-foto wanita yang aku temukan di gudang tadi. Aku kumpulkan foto itu kembali dan memerhatikan satu per satu. Aku merasa tak asing dengan wajahnya dan terlebih pada matanya. Aku seolah telah mengenalnya begitu lama, bahkan pernah berjumpa dengannya. Tapi, aku tidak pernah tahu, di mana kami pernah bertemu, dan siapa nama wanita itu? Pertanyaan-pertanyaan muskil di dalam benakku hanya membuat kepalaku semakin berat. Aku pun semakin tersesat di dalam pemikiran rumit, yang barangkali memang tak ada jawabannya. Akhirnya, aku terlelap dengan benang kusut yang gagal terurai.

Pagi harinya, matahari bersinar ganjil. Aku tercengang ketika terbangun melihat ada dua buah pohon jambu air yang tak terlalu besar tumbuh di belakang rumah. Melihat pemandangan aneh itu, aku pun lekas berlari sempoyongan mencari ayah. Aku ingin mengabarinya kalau ada sebuah peristiwa yang tak normal itu di belakang rumah.

Tetapi, setelah menyusuri setiap sudut rumah, ayah tidak aku temukan. Termasuk di tempat biasa ia melamun. Ia tidak ada di sana. Ayah seolah menghilang ditelan bumi. Aku terus mencarinya seiring waktu yang terus berjalan dan meninggalkan apa-apa yang tak pernah terjawab di benakku. Aku terus mencarinya. Akan tetapi, ayah seperti benar-benar lenyap.

Sedangkan, setiap hari dua pohon itu tampak semakin bahagia berdiri di belakang rumah. Aku pun sering memandangnya penuh wasangka dengan berneka macam pertanyaan ganjil: Bagaiamana hal itu bisa terjadi, sebatang pohon yang semalam tumbang, pagi harinya dapat kembali tumbuh? Bahkan, ada pohon baru di sampingnya, yang tidak kalah kokoh dan bahagia. Kalau dipikir, hal ini tidak mungkin. Ya, sebatang pohon tak dapat tumbuh dalam waktu semalam.

***

Dua puluh tahun berlalu, sejak kejadian ganjil itu. Ayah memang tidak lagi terlihat. Kami semua merasa sangat kehilangan, tetapi aku harus mengikhlaskan juga. Aku pikir memang suatu saat manusia harus siap hidup seorang diri atau bertahan dalam lautan kenangan yang terus menyiksa dengan segala yang hilang, yang akan kembali pulang.

Aku kembali melirik ke sepasang pohon jambu air yang mendadak tumbuh dalam waktu semalam itu, yang kini tampak semakin tumbuh subur. Sepasang pohon yang selalu tampak bahagia. Tiba-tiba, aku pun ingat ayah.

“Di mana sebenarnya kau, Ayah? Apakah sekarang kau sudah bahagia?” Pekikku lirih seraya menitikkan air mata. (*) 



====================
Risda Nur Widia. Buku tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing (2018). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Sungai di Wajah Ibu

0

           Sungai di wajah Ibu bermuara pertama kali sejak belasan tahun lalu, ketika kehilangan itu mempora-porandakan hidupnya. Sungai itu berasal dari ceruk matanya, mengalir perlahan melewati pipi dan berakhir menetes di ujung dagu. Air mata yang menetes akan senantiasa membasahi dada dan pangkuannya. Dari balik jendela kamarnya, Ibu tak pernah lelah menunggu meski yang ditunggu tak kunjung kembali. Pagar rumah sudah berkali-kali diganti dengan yang baru, tapi kaki yang diharapkan melintasinya tak pernah datang.

            Air mata Ibu selalu mengalir seperti anak sungai yang membelah lembah. Setiap hari, setiap waktu. Dari atas kursi rodanya, Ibu akan selalu menatap keluar jendela dengan penuh harapan, penuh penantian yang tak kunjung usang. Dia setia menunggu. Setia berdoa kepada Tuhan, meski selama belasan tahun itu juga doanya tak kunjung terjawab.

            “Jika kau sudah lelah berpetualang, Nak. Pulanglah …”

            Satu kalimat itu yang selalu diucapkan Ibu di sela-sela penantiannya. Bibirnya yang memucat akan bergetar hebat tatkala mengucapkan kalimat itu. Lalu, sungai di wajahnya akan mengalir di kerut-merut wajahnya. Di ambang pintu, aku hanya menatap Ibu secara diam-diam. Pemandangan itu sudah aku akrabi sejak bertahun lalu.

***

            Aku masih ingat betul kejadian itu. Awal sebab Ibu memiliki sungai di wajahnya. Kejadian itu sudah belasan tahun lalu, tapi aku sangat mengingatnya. Andai belasan tahun lalu kakakku Aswin tak hilang, mungkin Ibu tak perlu merajut penantian yang sedemikian panjangnya hingga detik ini. Dan sungai yang berasal dari kedua ceruk matanya tak perlu mengalir saban hari.

            Tak ada tanda-tanda bahwa kami akan kehilangan Aswin pagi itu. Segala sesuatunya berjalan seperti biasanya. Aswin dengan semangat mudanya menyiapkan diri untuk kuliahnya. Aku masih kelas satu sekolah menengah pertama saat itu. Kakakku Aswin adalah manusia yang semangat, ia begitu menginginkan kebebasan dalam wujud demokrasi dan sebagainya. Meski jiwanya ingin bebas seperti burung yang lepas dari sangkar, tapi dia amatlah patuh kepada Ibu. Malam itu aku melihat kakakku memeluk Ibu. Seakan-akan mereka tak akan bertemu dalam waktu yang lama.

            Hari selanjutnya, kami memang kehilangan Aswin. Kakakku menghilang, dan tak kembali. Seminggu setelah Aswin menghilang, Ibu berkeras mencarinya ke kota. Semenjak ayah meninggal, Ibu yang memegang kemudi rumah tangga. Tatkala Aswin menghilang, maka Ibu seakan memiliki kewajiban mencarinya.

            Namun nyatanya kota tak ubahnya petaka saat itu. Semua sudut terlihat kacau. Bangunan-bangunan dihancurkan, toko-toko dijarah, gedung-gedung dibakar. Banyak orang-orang berteriak sepanjang jalan sembari merusak apa saja yang mereka temui. Mobil-mobil di sepanjang jalan digulingkan lalu dibakar beramai-ramai. Perempuan-perempuan berteriak ketakutan dikejar pria-pria buas yang memburu mereka secara membabi buta. Penjarahan, tindakan-tindakan vandalisme sampai pemerkosaan terjadi di mana-mana. Banyak orang yang terperangkap dalam kungkungan api turut tewas terbakar.

            Aku menggelepar ketakutan. Kota yang kami datangi tak aman. Tapi dengan tegar dan berani, Ibu bersikukuh untuk mencari Aswin. Para petugas keamaan menghimbau agar kami segera menyingkir. Tapi Ibu tetap maju, dia mencari Aswin di setiap sudut kota. Tapi kami tak menemukan Aswin, bayang-bayangnya pun tak terlihat.

            Ketika lelah mencari mendera, Ibu baru memutuskan pulang. Kota yang rusak kami tinggalkan, meski di sepanjang perjalanan aku menggigil di atas angkutan kota. Ibu bergeming, wajahnya membeku.

            “Bagaimana kalau anakku mati karena orang-orang yang marah itu? Bagaimana kalau dia menjadi salah satu korban yang dibakar?” Suara Ibu terdengar di tengah bisingnya suara angkutan kota yang mendengus-dengus di atas jalanan.

            “Apa Bang Aswin benar dibakar, Bu?” Aku menggigil membayangkan kejadian di kota tadi.

            “Orang-orang yang marah itu sedang hilang ingatan, Muni. Mereka bisa merusak dan membakar apa saja yang mereka mau,”

            Aku tak ingin mengangguk atau menggeleng. Sejujurnya aku bingung dengan jawaban Ibu. Ibu mengatakan bahwa orang-orang yang merusak kota itu sedang hilang ingatan dan marah. Tapi aku melihat mereka berteriak-teriak mengagungkan nama Tuhan ketika marah tadi.

            “Mereka tadi juga menyebut nama Tuhan, Ibu. Saat mereka menggulingkan mobil dan membakarnya. Juga saat menyerang orang-orang yang mereka anggap berbeda,” aku semakin erat menggenggam tangan Ibu. Tangan Ibu terasa begitu dingin dan berkeringat.

            “Tuhan tak bisa dijadikan tameng ketika marah, Muni. Karena Tuhan terlalu suci untuk disentuh amarah. Mereka hanya mencoba meredam dosa mereka sendiri, meski itu hal yang percuma. Kita terlahir berbeda bukan untuk saling membenci, Muni,” Ibu menatap keluar lewat jendela angkutan kota. “Saat ini kita tak perlu meributkan mereka yang pemarah itu, mereka punya dunia yang berbeda dengan kita. Kita cari kakakmu saja, karena tak seharusnya dia pergi tanpa kabar seperti saat ini.”

            Aku mengangguk. Benar kata Ibu, yang kami perlukan hanyalah mencari keberadaan Aswin. Kakakku benar-benar menghilang tanpa kabar. Satu demi satu teman-temannya ditanyai Ibu, tapi tak ada satu pun yang tahu kemana Aswin pergi. Terakhir Aswin terlihat di kampusnya, setelahnya tak ada lagi yang melihatnya.

            “Kenapa Bang Aswin bisa hilang, Ibu? Dia orang baik kan? Penurut juga,” aku bertanya ketika sudah berbulan-bulan tak ada kabar tentang Aswin.

            “Aswin terlalu banyak bicara, Muni. Abangmu itu terlalu jujur menjadi orang. Terlalu keras kepala sebagai seorang pemuda. Andai dia banyak bungkam seperti yang lain, mungkin dia tidak perlu hilang,” Ibu menatapku dalam-dalam. Dari kedua matanya yang semakin redup, aku tahu bahwa Ibu sangat lelah.

            “Ibu menyesal karena Bang Aswin banyak bicara?” Aku memijat punggung tangan Ibu yang jauh lebih kurus dibandingkan beberapa waktu sebelum Aswin hilang.

            “Ibu tak pernah menyesal memiliki anak seperti Aswin. Dia berani berbicara karena memang cakap dan paham dengan apa yang dia ucapkan. Tapi, ibu hanya menyesali, kenapa ada orang-orang yang berbuat curang kepadanya, membawanya pergi dan tak mengijinkannya kembali. Atau andai dia pergi atas kehendaknya sendiri, betapa pengecutnya abangmu itu, Muni.”

            Aku membenarkan ucapan Ibu. Andai benar Aswin pergi lantaran keinginannya sendiri, betapa pengecutnya dia, membiarkan aku dan Ibu bersusah payah mencarinya. Tapi, andai dia dibawa pergi orang dan tak diizinkan untuk pulang, betapa kejinya orang yang membawanya pergi. Lantaran mereka ada seorang Ibu yang terperangkap dalam rindu dan penantian yang tak pasti.

            Ibu masih bersemangat mencari Aswin, meski hitungan bulan sudah menyentuh tahun. Ibu dengan sabar menyebarkan info tentang hilangnya Aswin. Kantor polisi sudah didatangi. Selebaran-selebaran tentang info hilangnya Aswin ditempelnya di tiang-tiang listrik, di papan pengumuman gardu di kampung-kampung, sampai di pintu-pintu warteg. Tapi tak ada satu pun kabar yang diterima Ibu tentang Aswin. Abangku itu seakan hilang, lenyap ditelan bumi.

            Pencarian Ibu terhenti ketika pengapuran mendera kedua lutut kakinya. Kaki Ibu tak bisa digunakan seperti dulu. Sehari-hari Ibu hanya menghabiskan waktu di atas kursi roda. Meski kakinya tak bisa lagi menyusuri jalan-jalan di kota dan gang-gang kampung untuk mencari kabar Aswin, tapi Ibu tak berhenti menunggu. Di balik jendela kamarnya, Ibu selalu bersemangat memohon dan berdoa agar anaknya dikembalikan. Mengetuk belas kasih Tuhan agar anaknya yang hilang segera dipulangkan.

***

            Kini sudah belasan tahun Ibu menunggu. Tak hanya wajahnya saja yang dipenuhi kerut-merut lantaran digerus usia. Kedua matanya yang dulu bersorot penuh percaya diri menuntut keadilan untuk anaknya yang hilang kini berubah kelabu, seiring warna rambutnya yang memutih. Tangannya yang dulu tak lelah mengetuk pintu untuk sekadar menanyakan keberadaan Aswin kini selalu bergetar.

            “Sudah berapa lama abangmu hilang, Muni?” Suara lemah Ibu terdengar. Memang sudah beberapa waktu ini aku kehilangan suara Ibu yang tegas dalam kelembutan seorang wanita. Kini, hanya suara lemah yang terkadang bahkan tak  terdengar di telingaku yang bisa dia ucapkan.

            “Sudah cukup lama, Ibu. Sudah belasan tahun,” aku menjawab sembari menatap mata Ibu.

            “Dia benar-benar tak ingat pulang rupanya,”

            “Bang Aswin bukannya tak ingat pulang, Ibu. Mungkin dia memang tak diijinkan pulang,”

            “Terkadang ibu berpikir, Muni. Tidak rindukah dia kepada kita?”

            “Abang pasti rindu, Ibu. Hanya saja mungkin dia belum bisa kembali menemui kita.” Aku menggenggam erat tangan Ibu.

            Ibu hanya mengangguk samar, kedua matanya dipejamkan. Perlahan aku berdiri meninggalkannya. Tapi ketika sampai di ambang pintu kamar, aku mendengar suara Ibu yang lirih.

            “Jika sudah lelah berpetualang, Nak. Pulanglah, ibumu ini tak akan marah jika kau kembali ke rumah.”

            Lalu sungai di wajah Ibu mengalir lagi, dari ceruk matanya, turun ke pipi lalu berakhir di ujung dagu. Tetesan air mata itu membasahi dada dan pangkuannya. Aku hanya menatap Ibu dari ambang pintu, bagiku sungai di wajahnya bukanlah hal baru.[]

======================

Artie Ahmad lahir dan besar di Salatiga. Beberapa cerpennya dimuat media massa, dan sampai saat ini dia memiliki empat buku. Buku terbarunya ‘Sunyi di Dada Sumirah’ Penerbit Buku Mojok, Agustus 2018 dan kumpulan cerita pendek ‘Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri’ Penerbit Buku Mojok, Januari 2019.

Terbaru

Rumah Idaman

Saya tertegun di depan sebuah rumah. Tatapan saya kembali tertuju kepada tulisan yang menempel di dindingnya:

Dari Redaksi