Menjaga Nenek yang Sakit

Hilangnya Badut-badut

Katrina

Hikayat Lelaki Musafir

Penghuni Lantai 18

Cerpen

Home Cerpen

Lelaki Mercusuar

0

Ibu dan adikku dibawa kapal barang bertahun-tahun lalu dan aku selalu menunggu di tepi pantai hingga mereka datang. Aku duduk di sana setiap hari dari pagi sampai sore dan kadang dari pagi hingga pagi jika aku terlalu murung. Rutinitas melelahkan macam itu terjadi selama entah berapa tahun lamanya. Aku tinggalkan pekerjaan dan pacarku. Aku tinggalkan kehidupanku hingga orang kira aku mungkin sudah gila.

Aku tidak yakin apakah aku sudah gila atau belum, tetapi aku tidak dapat lepas dari pikiran soal ibu dan adikku yang pergi dibawa kapal ke tempat yang entah di mana. Aku bayangkan mereka kembali suatu hari nanti dan “suatu hari” itu sering kali cuma berupa “besok”. Dan tentu saja “besok” akan selalu berulang sepanjang waktu.

“Besok pasti mereka pulang,” pikirku tiap malam.

Jika besoknya ibu dan adikku tetap tidak muncul, malam berikutnya aku sekali lagi berkata, “Besok pasti mereka pulang.”

Ayah tak pernah berkata apa-apa tentang kepergian mereka; dia hanya menghidupi diri kami dengan pekerjaannya sebagai nelayan yang sederhana dan tidak banyak uang. Ingin sekali suatu hari aku membantu lelaki tua itu di laut, tapi jika nanti ibu dan adikku pulang dan tidak ada yang menunggu kedatangan mereka di pantai, tidak ada seorang pun yang menyambut, aku takut mereka tidak jadi pulang.

Bisa-bisa ibuku akan berkata, “Wah, seharusnya kita tak lagi ke sini. Lihat saja tak ada yang peduli menunggu kita pulang!”

“Iya, Bu, semua orang tak mengharapkan kita pulang, termasuk keluarga sendiri,” begitu mungkin sahut adikku.

Jadi aku harus tetap menunggu.

“Kampung tepi pantai ini sudah banyak berubah, dan jika suatu kali mereka datang dan melihat kondisi ini, mungkin mereka tidak percaya kita masih di sini, dan mungkin juga mereka akan pergi lagi dengan kapal itu untuk selamanya.” Itu kusampaikan pada Ayah yang kebanyakan cuma diam.

Aku tidak pernah tahu kejadian malam itu. Kabarnya Ibu dan Adik pergi gara-gara utang Ayah yang menggunung hingga mereka harus melarikan diri dari seorang juragan yang ingin mengawini adikku. Versi lain mengatakan kalau ibu dan adikku memang sengaja pergi sejauh mungkin dari sini karena muak menjalani hidup yang melarat.

Aku tidak pernah tahu apakah Ayah memang memiliki utang menggunung, tapi ia tidak pernah bercerita soal itu dan aku sendiri segan bertanya dan pula tak pernah ada tukang tagih utang mengobrak-abrik rumah kami, misalnya. Aku tahu selama aku di rumah ini, sebelum pergi ke kota sebelah demi mendapat pekerjaan yang lebih layak, Ayah bukan orang yang mudah berutang. Jadi, pikiranku terus menuju ke kemungkinan lain, yakni bahwa ibu dan adikku diculik entah oleh siapa.

Aku tidak tahu siapa penculik itu, tetapi benar-benar percaya memang itulah yang terjadi. Hanya karena aku tahu betapa adikku cukup cerdik saja, maka aku tetap percaya jika suatu hari nanti mereka bisa kembali setelah kabur dari si penculik. Mereka jelas dapat kabur dengan mudah oleh ide-ide brilian adikku. Mungkin pada saat ini mereka sudah lepas dari si penculik dan mungkin juga adikku sudah mendapat pekerjaan yang bagus di suatu kota yang sangat maju dan modern, dan dia perlu menabung dulu untuk bisa pulang ke sini.

Aku terus membayangkan kemungkinan baik macam itu, sepanjang hari, bertahun lamanya hingga memancang diriku di pantai ini bak pasak abadi yang mengawasi setiap pergerakan apa pun di perairan sekitar. Mataku sampai sangat terlatih karenanya. Aku bisa melihat bentuk-bentuk benda dari kejauhan yang mungkin saja tak mudah ditelaah mata normal. Mungkin, karena kebiasaan menunggu ini pula aku bukan sekadar pasak. Bisa dibilang akulah mercusuar hidup. Aku sendirian dan menua oleh angin pantai, dan itu terjadi demi alasan yang masuk akal.

Aku tidak peduli jika suatu kali ada sekumpulan bocah melempariku atau beberapa orang menggodaku meninggalkan pantai busuk ini demi bersenang-senang seperti yang seharusnya kulakukan sebagai seorang lelaki.

“Kamu belum terlalu tua, belum kepala empat. Kami pikir kamu dapat berbuat apa pun di luar sana ketimbang sekadar duduk menunggu sesuatu yang tidak pasti begini!” kata mereka selalu.

Aku tidak pernah peduli. Aku tetap pada rutinitasku. Pergi ke pantai sewaktu subuh dan pulang menjelang maghrib dan kadang pulang subuh jika terlalu asyik terbenam dalam pikiran-pikiran, seperti kataku tadi. Itu terjadi terus menerus tanpa peduli musim apa pun.

Suatu kali badai menghempas pantai ini dan aku terpaksa berlindung di kumpulan karang yang cukup jauh dari dermaga dan kembali pulang dengan tubuh remuk redam oleh dinginnya angin dan siraman air hujan. Di saat-saat seperti itulah Ayah baru dapat berbicara beberapa patah kata kepadaku, tetapi sebagian besar yang dia ucapkan tidak ada kaitannya dengan ibu atau adikku.

Ayah hanya berbicara soal masa kecilku yang bermakna baginya. Dia bilang, aku pernah hampir tenggelam di dekat dermaga. Saat itu yang dia pikirkan hanya bagaimana aku dapat diselamatkan.

“Jika saja seseorang harus mati pada hari itu, Nak, aku berharap itu bukan kamu,” tuturnya dengan suara yang begitu tua. “Aku harap dapat menukar nasib denganmu dan biarlah aku saja yang mati di tempat yang sama saat itu juga.”

“Tapi, sekarang aku masih hidup.”

“Ya, kamu masih hidup dan tumbuh jadi lebih besar dari anak-anak seumuranmu. Tak pernah kamu bertubuh lebih kecil daripada mereka. Semua anak selalu kalah besar darimu.”

“Dan kemudian aku pergi dari sini seakan-akan tidak ada yang berarti di antara kita. Bukan begitu?”

Aku ingat pengalaman saat masih remaja. Ketika itu adikku masih berumur empat atau lima tahun. Aku membantah nasihat Ayah tentang mencari pekerjaan di luar sana, dan kami bertengkar selama semalam dengan ucapan-ucapan yang tidak pernah kuduga dapat muncul dari mulut kami. Aku tidak pernah berpikiran dapat menyumpahi ayahku, dan barangkali begitu juga halnya yang Ayah pikirkan. Seumur-umur baru kali itu Ayah mengatakan hal-hal kasar di depanku, khusus ditujukan untukku. Itu terjadi sekali dalam satu malam itu. Sesudah itu aku pergi dari sini dan baru kembali setahun kemudian saat datang kabar dari tetanggaku bahwa ibu dan adikku pergi dibawa kapal barang.

Kejadian itu tidak pernah ada yang tahu bagaimana persisnya, tapi ada seorang gila dari kampung kami, yang agak tua dan biasanya berkata jujur tentang bencana-bencana, dan orang ini bersumpah melihat ibu dan adikku berada di atas kapal barang yang ketika itu berangkat berlayar entah ke mana.

Tidak pernah ada yang tahu kapal barang itu milik siapa serta pergi ke tujuan mana. Aku bicara tentang kapal barang, bukan berarti berbicara tentang kapal-kapal besar yang biasa ditemui di pelabuhan. Di kampung kami, sebutan kapal barang juga berlaku untuk perahu-perahu kecil yang memuat berkarung-karung barang yang hendak dijual dari dan ke pasar-pasar di pulau lain.

Tentu saja ada berbagai kemungkinan soal perginya ibu dan adikku, dan dua sebab tadi yang paling sering dibicarakan orang kampung. Aku sendiri tidak lagi memikirkan apa pun, kecuali bahwa ibu dan adikku tidak benar-benar menginginkan pergi dari sini, dan cuma ada seseorang yang secara paksa membawa mereka pergi dan bertahun-tahun kemudian kondisi mereka sudah menjadi lebih baik dan aman, lalu setelah itu mereka berusaha untuk kembali ke kampung asal mereka di mana aku selalu setia menunggu.

Yah, aku akan tetap menunggu mereka sebagai lelaki yang mengubah diri sendiri menjadi mercusuar.

Aku tidak peduli berapa lama lagi menunggu keduanya pulang, tetapi diriku di sini ditakdirkan sebagai mercusuar bernyawa yang memang harus sebatang kara sampai tua demi tujuan yang lebih besar.

“Barangkali inilah makna keberadaanku. Untuk memastikan mereka pulang. Jika tidak ada mercusuar, mereka akan tersesat dan tak jadi pulang. Tak jadi kembali kepada Ayah yang sudah renta dan kesepian,” pikirku selalu.

Ayah sungguh terlalu tua untuk ini dan aku hanya berharap kembalinya ibu dan adikku kelak dapat membawa ketenangan baginya. Aku tidak peduli bagaimana akhir kisah ini untukku pribadi. Tapi, yang jelas tidak ada yang dapat menghentikanku sampai mereka benar-benar kembali.

Pada saatnya, aku yang kelelahan berbaring di atas pasir dan berdoa kepada Tuhan di atas sana, bahwa kuatkan tubuhku sampai waktu yang tak terbatas hingga dua orang itu benar-benar kembali untuk kami. Setelah doa itu selesai, aku kembali duduk dengan tegak dan penuh percaya diri.

Aku tidak tahu apakah ibu dan adikku berpikir hal yang sama, tentang kami yang dapat berkumpul kembali, tetapi kuharap mereka tetaplah merasa betapa aku dan Ayah masih hidup dan menunggu di tempat yang sama, di dermaga yang sama, yang dahulu mereka pijaki sebelum hengkang dari pulau ini.

Hanya saja sampai Ayah meninggal, bahkan sampai tubuhku keropos dan ringkih oleh waktu, keduanya tidak pernah kembali.

Aku masih tetap memikirkan betapa adikku telah mendapatkan pekerjaan yang bagus dan mencoba berbagai cara untuk bisa kembali pulang. Aku terus memikirkan itu. Aku juga memikirkan soal Ibu yang masih hidup, sekalipun tubuhku sendiri (sebagai anaknya) sudah serenta ini.

Sampai pada titik ini, orang tidak lagi menyebutku gila. Orang hanya akan datang dan duduk tepekur, di kejauhan, dan saling berbisik. Aku tidak pernah mendengar suara mereka, tetapi angin mengabarkan padaku perihal gosip-gosip itu, yakni soal lelaki yang mengubah dirinya menjadi mercusuar demi sesuatu yang sia-sia. [ ]

Gempol, 2019-2020




======================
KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018). Segera terbit buku kumpulan cerita terbarunya berjudul Pengetahuan Baru Umat Manusia.

Stasiun Perpisahan

0




“Jika kereta ini sampai, kita tidak saling mencintai?” Tanyamu membuka percakapan di dalam kereta. Aku tidak menjawab.

Gerimis di luar gerbong terdengar sendu dari rintiknya yang bertampias pada kaca jendela. Wajah-wajah sepi di dalam gerbong takzim mengamati objek-objek yang mulai bergerak seolah mengejar tubuh kereta Bogowonto tujuan stasiun Tugu. Setelah kereta dengan gerbong panjang ini melaju, rasa rindu, sedih, dan kehilangan bercampur dalam hatiku. Bahkan carut-marut keadaan dari rumah kardus, sampah, gelandangan, bagai ikut menepi dari suntuknya Ibu Kota yang kini sedang ribut oleh gejolak detik-detik tumbangnya Orde Baru.

Kerusuhan telah membuat wajah Ibu Kota menjadi sendu. Apalagi pada pertengahan bulan Mei lalu, kekacauan seperti dilahirkan secara bertubi-tubi. Tidak aneh, ketika kereta ini melintasi sebuah stasiun, tampak lalu-lalang anak-anak muda yang datang atau pergi di Jakarta. Mereka yang datang seperti membawa harapan. Sementara mereka yang pergi terlihat malas membawa tubuh serta segala mimpi yang roboh. Dan, kekacauan ini juga bagai ikut mengusik kisah kita.

Ya, kau, di dalam gerbong ini hanya diam. Matamu tidak lelah menempel untuk memandang carut-marut keadaan yang ingin kau lupakan.

“Jadi setelah kita sampai nanti, segalanya berakhir?” Lagi kau berbicara.

Aku termangu dengan seribu kata yang ingin meledak di dada. Tetapi kata-kata itu mengeras bagai batu nisan di dalam rongga tenggorokanku. Aku hanya bisa menarik napas pelan. Lalu dengan harapan, dan segala mimpi yang memar, aku memincingkan mata. Syahdan, tanpa aku sangka, aku kembali mendengar teriakan, letus tembakan, pintu yang terbanting, serta segala keributan yang tak bisa aku bendung.

“Rasanya konyol,” katamu menyetak kesadaranku. “Kita jatuh cinta pada kesia-sian dan harapan.”

Mungkin apa yang kau katakan itu benar, tandasku dalam hati.

Cinta kita tidak lebih dari sekejap cahaya terang yang kemudian membuyar. Nasib cinta kita layaknya letusan kebang api di langit malam dalam suatu perayaan yang hinggar untuk kemudian surut. Tetapi, siapa yang bisa menghindari sebuah perayaan atas nasib dan cinta. Karena, takdir—seperti yang pernah kau bilang setelah banyak membaca buku karya Albert Camus—adalah sebuah festival yang berisik hingga seorang yang tuli pun bisa mendengarnya.

Dadaku seperti dijejali gabus basah dan membuatnya semakin berat. Apalagi ketika mengingat jauh ke belakang, pada pertemuan pertama kita dahulu…

***

Aku masih ingat, bagaimana dahulu waktu bertemu denganmu. Aku ketika itu adalah seorang ativis mahasiswa yang begitu tergila-gila dengan Albert Camus. Seluruh bukunya dari La Peste, Caligula, hingga L’tranger sudah aku baca tuntas. Karena kutipan pentingnya, ‘aku berontak, maka aku ada’ itu, akhirnya aku sering ikut demonstrasi. Pada waktu berdemonstrasilah, aku pertama menjumpaimu.

Kau, sebagai seorang wanita yang memiliki darah campuran Indonesia-Jerman, yang kuliah di sebuah universitas negeri Jogja dan memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi, acap ikut dalam demonstrasi-demonstrasi yang aku serta teman-teman buat.

“Aku Louisa Heathcote,” katamu memperkenalkan diri pertama kali.

Setelah pertemuan itu, hubunganmu denganku semakin dekat. Kami pun semakin dekat lagi karena sering berdiskusi mengenai buku Albert Camus.

“Albert Camus adalah pemikir yang gila,” katamu. “Dia tidak saja seorang pemikir di belakang meja, tapi ia mau turun ke jalan.”

“Benar!” Timpalku. “Dia seperti Jean Paul Satre. Dia melihat pembebasan baru terjadi ketika kata-kata digerakan secara politik. Maksudku, kata-kata adalah manifestasi atas politik pengetahuan. Dan pengetahuan ini perlu gerakan. Maka, ia memanfaatkan benar politik gerakan dalam arti yang nyata. Bukan sebagai politik praktis yang banyak kita temukan di negeri ini.”

Pertemana kami semakin erat. Karena banyaknya rapat rahasia, demonstrasi-demonstrasi yang panas dan menegangkan, penculikan rekan-rekan seperjuangan di bahwa pemerintah Orde Baru, semua itu seakan merekatkan kita pada satu perasan senasib. Hingga kemudian, kita menjadi sepasang kekasih.

Tetapi, cinta kita kembali dihadang oleh keadaan rumit di penghujung tumbangnya Orde Baru. Kau secara mendadak mengundurkan diri dari kelompok demonstran.

“Aku tidak bisa melanjutkannya,” katamu padaku. “Jika aku semakin jauh melangkah, aku sama seperti membunuh ayahku.”

Aku sangat terkejut saat tahu kalau ayahmu adalah salah satu dari antek penguasa yang terus membuat bodoh negeri ini. Tetapi, aku tidak bisa menyalahkanmu.

“Maafkan aku,” tambahmu lagi. “Seandainya Ayahku bukan seorang dari para penguasa yang sedang ingin kau dan teman-teman gulingkan, aku pasti ada di sana.”

“Sudahlah, Louisa!” Tandasku. “Aku tahu bagaimana posisimu.”

Kau akhirnya mengundurkan diri. Tetapi kita masih sering bertemu. Ketika bertemu, aku acap mendapatkan informasi-informasi penting mengenai rencana intelegen terhadap para mahasiswa.

Akhir-akhir ini, aku sering mendengar mengenai seorang mahasiswa yang hilang. Mereka kebanyakan diculik oleh aparat yang menyamar jadi masyarakat. Para mahasiswa itu kemudian disiksa dan diperas informasinya. Mereka yang tak kuat dengan siksaan biasanya akan berkhianat dan membocorkan keberadaan teman-temannya.

Dari sinilah, aku mengerti, kepercayaan dan keyakinan adalah hal yang nilainya hampir serupa dengan jiwa seseorang.

“Kini banyak penghianat yang  memilih mengorbankan nyawa temannya agar selamat,” ujarmu risau.

“Ketakuan memang sering membuat seseorang berubah,” jawabku.

Kau mendekap tubuhku, “Apakah kau akan melakukan hal yang sama bila tertangkap?”

Aku tak tahu harus menjawab apa. Hanya saja waktu itu melintas wajah kawan-kawanku yang penuh harapan untuk sebuah perubahan.

Aku menjawab, “Aku lebih memilih bungkam untuk perubahan yang lebih baik.”

“Jadi kau memilih mati?” Tanyamu.

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa memelukmu sembari berdoa agar takdir tidak memisahkan kita. Hanya yang terjadi dua minggu kemudian, adalah peristiwa lain…

Hari itu, kau tidak datang. Aku menunggumu berjam-jam lamanya di sebuah kontrakan kecil tempat biasa kita bertemu. Sampai tepat pada pukul sepuluh malam, datang seorang aparat yang meringkusku. Pria dengan pakaian militer itu menghajarku hingga babak belur. Ketika mataku terbuka, aku sudah berada di tempat lain yang gelap, pengap, dan bau.

Di sana, aku dipaksa untuk mengatakan keberadaan teman-temanku. Tetapi, aku memilih tidak mengatakannya.

“Di mana para bajingan itu sembunyi?!” Tanya aparat.

“Aku tidak tahu,” jawabku tegas.

Aku senantiasa menolak menjawab pertanyaan yang diacungkan lewat pukulan dan hantaman. Hingga dua hari kemudian, aku dibuang begitu saja di pembuangan sampah. Tetapi dalam keadaan tidak sadar, aku sempat melihatmu memohon kepada Ayahmu untuk melepaskanku. Usai drama tangisan itu, aku tidak tahu kejadian apa menimpaku.

Begitulah saat tersadar, aku sudah berada di ruangan asing lainnya. Ternyata kaulah yang membawaku. Kau merawatku hingga aku sedikit bisa mengunyah nasi dan berjalan dengan benar. Ketika aku sudah pulih, kau menuntutku untuk lekas meninggalkan kota ini dengan menangis.

“Kau harus meninggalkan kota ini,” katamu. “Sesegera mungkin!”

Aku sempat menolaknya. Tetapi, kau meyakinkan apabila aku masih bertahan di kota ini, teman-temanku yang lain akan terancam. Mendengar nasib rekan-rekan dan mimpi-mimpi perjuang dari pemberontakan menggulingkan rezim kolot ini, aku memutuskan untuk pulang ke Solo. Sementara itu kau dikirim Ayahmu untuk kembali ke Jogja—tinggal bersama nenekmu.

***

Kau masih diam di dalam gerbong kereta yang membawa seluruh kesedihan kita. Tanganmu semakin erat menjabatku. Dan ketika kereta melintasi Jembatan Serayu dengan senja menguning di ufuk barat, kau bekata bahwa ‘harapan memang tidak pernah diciptakan bagi orang-orang yang kalah.’ Aku tak bisa membalas apapun selain meremat tanganmu kencang.

“Jadi kalau kita sudah sampai nanti, semua ini akan berakhir?” Lanjutmu.

“Bila satu hal itu bisa menyelamatkan banyak hal,” aku ragu mengatakannya, tapi tetap meluncur juga. “Kita harus melakukannya.”

“Jadi kita tidak akan saling mencintai?”

Kereta terus melaju ke arah kotamu; ke arah kotaku; ke arah perpisahan yang sudah kita pahami pasti terjadi. Kereta ini melaju seperti cahaya yang begitu cepat. Bahkan kereta ini seperti tidak melaju di atas tanah—melainkan berjalan di atas bantalan udara yang membuatnya jauh lebih ringan.

Seketika aku ingin menghentikan kereta ini untuk beberapa waktu saja. Aku ingin menghentikan jalannya sebuah perpisahan yang sudah menunggu pelan-pelan di hadapanku. Mendadak, aku meraih bahumu dan kupeluk dirimu.

“Tubuhmu dingin,” ungkapmu. “Wajahmu pucat.”

“Aku lupa makan,” timpalku.

Setelah melintasi sungai Serayu, kereta menembus Stasiun Kebasen, Randengan, Kroya, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Ijo, hingga sampai stasiun di Kedundungan. Kereta terus melaju membawa rasa kehilanganku yang semakin mendekat.

Kau menatapku nanar. Kau tidak ingin perpisahan ini terjadi. Tetapi kita tidak memiliki pilihan lagi untuk bertahan. Aku harus lekas melepaskanmu untuk keselamatan rekan-rekanku yang kini sedang berjuang.

 Kereta melintasi stasiun kecil Patukan di Wates. Kita lantas saling tatap untuk membaca kesedihan masing-masing.

“Apakah kau masih mencitaiku bila kita sudah berpisah?”

Tidak ingin berkata-kata lagi, aku mengambil ranselku. Aku mengobrak-abrik isi ransel itu mencari sesuatu. Saat menemukanya, aku cepat menyodorkan sebuah kotak dengan ukuran sekepal tangan kepadamu.

“Apa ini?” Kau bertanya. “Hadiah terakhir untuk sebuah perpisahan?”

“Ini adalah cinta yang bisa kuberikan padamu,” jawabku menitikkan air mata.

“Jadi kau masih akan mencintaiku setelah kereta ini sampai?”

Aku tidak menjawab. Kau tampak kecewa. Kereta pun berhenti di stasiun Tugu. Kau turun bersama penumpang lainya—bersama air mata dan lubang di dada.

Kereta kembali berjalan. Aku menatapmu yang perlahan tertinggal dengan segala perasaan hampa di dadak.

***

Setelah kereta berhenti tak ada lagi hal yang bisa dipertahankan. Bahkan cinta kita. Hanya ketika kau sudah sampai rumah dan membuka isi kotak itu, kau terkejut. Kau menemukan sebuah jantung kering di dalamnya. Kau juga mendapati sebuah kalimat yang bertuliskan: Tubuhku memang bisa remuk dihancurkan oleh kekuasan, Louisa, tapi tidak untuk cintaku kepadamu. Tulisan dan jantung kering itu membuatmu bergetar.

Kau semakin berlinang air mata ketika mendapatkan kabar dari tayangan televisi bahwa terdapat seorang pemuda yang mati dengan luka pukul di tubuhnya pada area stasiun di Jakarta. Kau menangis saat mengetahui bahwa sosok itu adalah aku: orang yang menemanimu sepanjang perjalan menuju stasiun perpisahan. (*)



=====================
Risda Nur Widia. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Berburu Buaya di Hindia Timur (2020). Cerpennya telah tersiar di berbagai media nasional dan lokal.

Pulang

1




Aku kembali mengepulkan asap rokok ke udara sambil berjoged dengan dua orang pemandu lagu wanita. Kulihat Baron dan Maung, dua temanku itu tengah asyik cekikikkan dengan dua wanita seksi yang kusewa sambil menenggak minuman beralkohol yang dibawa diam-diam olehku ke tempat karaoke. Aku tertawa melihat mereka menikmati jamuanku malam ini sebagai imbalan karena mereka telah membantuku menghabisi musuh bebuyutanku, Si Godeg.

Dua hari yang lalu, Si Godeg mati. Mayatnya dibuang ke sungai Sarihurip. Aku yang membunuh laki-laki yang terkenal keji itu, memotong-motong tubuhnya hingga tujuh bagian. Mungkin sekarang tubuh busuknya itu sebagian besar sudah dimakan ikan-ikan di sungai. Aku terpaksa menghabisinya, karena bajingan itu telah memperkosa Marni, adikku yang baru enam belas tahun saat sepulang sekolah. Gadis polos yang selalu ceria itu ditemukan mati gantung diri di pohon mahoni dekat kuburan. Sebelum mati, Si Godeg berkali-kali menjelaskan bahwa dirinya tidak memperkosa Marni, tapi Si Maunglah pelakunya. Tapi aku tak percaya, Maung adalah anak buahku, tidak mungkin dia berani memperkosa adik bosnya sendiri.

Dulu aku dan Godeg berteman baik, sebelum kami berdua menjadi preman, kami sama-sama perantau dari kampung yang mencoba merubah nasib di ibukota. Namun, seiring berjalannya waktu kami malah berakhir sebagai preman yang menguasai terminal. Karena berselisih paham, aku dan Godeg bermusuhan. Si Godeg dan anak buahnya juga beberapa kali pernah mencelakakanku, tapi aku berhasil selamat. Awalnya aku diam dengan ulahnya selagi dia tidak mengganggu keluargaku. Tapi bajingan tengik itu membunuh titik terlemahku yaitu mengambil satu-satunya seseorang yang berharga dariku yaitu Marni. Bagaimana mungkin aku membiarkan laki-laki yang telah membuat adikku mati itu berkeliaran tanpa dosa? Dengan sedikit konspirasi akhirnya bajingan tengik itu masuk perangkapku. Tapi aku masih belum puas membalas dendam, kudengar Si Godeg masih memiliki seorang istri yang katanya cantik. Heh, aku menyeringai licik.

Kulihat Baron, pergi entah kemana dengan wanita yang kusewa, sedangkan Maung tengah menenggakkan minuman beralkohol pada wanita yang satunya lagi. Hah, aku bisa menerka apa yang akan diperbuat Maung pada si wanita itu jika mabuk. Tapi aku tak peduli. Aku kembali berjoged dengan dua pemandu lagu yang kutaksir masih berumur belasan tahun itu.

***

Seminggu kemudian, aku berhasil menemukan tempat tinggal istri Si Godeg di sebuah desa terpencil. Namanya Siti. Memang benar kata anak-anak buahku bahwa istri Si Godeg itu sangat cantik. Kulitnya putih bersih, matanya sipit, wajahnya mengingatkanku pada aktris Hongkong Zhang Zi Yi yang terkenal itu. Pesona Siti begitu mengagumkan dengan kerudung di kepalanya. Entah kenapa perempuan secantik dan seagamis itu mau dinikahi oleh preman bengis macam Si Godeg?

Aku mengucapkan salam beberapa kali. Kulihat Siti tergopoh-gopoh menuju pintu sambil membalas salamku. Ketika melihat wajahku dia langsung menundukkan kepalanya.

“Apa benar ini rumahnya Pak Wahyu yang baru meninggal itu?” Tanyaku ramah, Wahyu adalah nama asli Si Godeg. Sengaja aku mengenakan pakaian rapi agar tidak dicurigai sebagai preman oleh orang sekitar.

“Benar, anda siapa dan ada keperluan apa?” Jawabnya lembut, kulihat matanya sembab dan agak merah. Beruntung sekali Si Godeg, kematiannya ditangisi oleh wanita cantik. Apa Siti tidak tahu kelakuan suaminya di luar itu seperti apa?

“Saya temannya saat kami masih sama-sama bekerja di pabrik, saya turut berduka cita atas kematian Wahyu dan saya kemari untuk melayat.” Ujarku sedikit diplomatis, aku memuji kepandaianku bersandiwara. Siti hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih pelan. Aku dipersilakannya masuk, di dalam rumah ada mertuanya Si Godeg dan beberapa saudara yang masih berkumpul. Aku mengobrol banyak dengan anggota keluarga Si Godeg sambil menceritakan pertemananku dengan Si Godeg yang tentu saja hasil karangan. Ternyata Si Godeg pintar juga menutupi kebengisannya itu. Di mata istri dan mertuanya Si Godeg dikenal dengan sifat santun dan penyayang. Hahaha, ingin sekali aku menguraikan beribu kejahatan yang telah dilakukan oleh Si Godeg, salah satunya adalah memperkosa adikku.

***

Aku memutuskan tinggal di desa tersebut selama beberapa minggu seraya memuluskan rencana yang telah kusiapkan untuk menculik Siti. Untuk sementara waktu aku tinggal di rumah pamannya Siti, karena aku dianggap satu-satunya kerabat Si Godeg. Jelas ini membuat rencanaku semakin mudah.

Aku berusaha menyesuaikan diri di lingkungan keluarga Siti yang agamis. Untungnya aku cepat beradaptasi karena waktu kecil aku sering diajarkan sholat dan mengaji oleh almarhum ayahku. Meskipun sebenarnya hal itu sangat sulit, mengingat sudah puluhan tahun aku meninggalkan apa yang diajarkan ayahku dulu.

Pak Rusdi, paman Siti selalu mengajakku ikut serta ke kajian-kajian yang diselenggarakan di mesjid desa, aku juga sering diajaknya ke mesjid setiap lima kali sehari untuk melaksanakan sholat. Tiga dekade lebih aku meninggalkan semua yang diajarkan ayahku, bahkan aku sudah lupa bagaimana gerakan sholat. Aku sudah merasa letih dan hampir menyerah bersandiwara. Tujuan utamaku ke desa ini bukan untuk belajar agama, melainkan untuk membalas dendam. Aku harus segera bertindak, jika tidak identitasku akan segera ketahuan, tekadku. Aku kembali merumuskan rencanaku yang tertunda.

“Hijrah adalah meninggalkan kemungkaran menuju keshalihan, dari kekufuran menuju keimanan, dari dunia kelam menuju cahaya hidayah.” Kata Ustadz Fatan saat mengisi khutbah jumat. Sudah seminggu aku tinggal di desa ini, membuatku mengenal hampir semua orang yang tinggal di daerah ini. Sebenarnya banyak hal yang kudapatkan dari tempat ini, selain belajar agama aku juga diajarkan cara bercocok tanam, yang sebagian besar penduduk di desa tersebut adalah para petani. Disamping itu orang-orangnya sangat ramah, dalam lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya aku nyaman berada di lingkungan ini, lingkungan ini mengingatkanku pada kampung halamanku. Aku juga sempat memutuskan untuk tidak balas dendam, tapi mengingat apa yang sudah dilakukan Godeg pada Marni, darahku kembali mendidih. Aku harus balas dendam.

***

Malam beranjak tua, aku bersembunyi di balik pohon akasia. Jalanan sepi, semakin memudahkanku untuk beraksi. kamar Siti tak jauh dari tempat persembunyianku. Aku berjalan mengendap-endap menuju jendela kamarnya. Namun kulihat ada dua bayangan yang tengah mengendap-endap ke tempat yang kutuju. Dua bayangan itu ternyata adalah dua orang yang kukenal, Baron dan Maung, ‘sedang apa mereka?’ Batinku. Aku segera bersembunyi di balik pohon angsana ingin mengetahui apa yang sedang mereka lakukan disini.

“Beneran nih, istrinya Si Godeg itu cantik kayak bintang film?” Tanya Baron sambil menelan ludah.

“Aku jamin seratus persen deh, kecantikannya benar-benar alami, pokoknya yahud, kecantikannya itu sebelas dua belaslah sama Si Marni yang tempo hari aku perkosa.” Jawab Maung sambil cekikikan. Darahku berdesir, amarahku benar-benar di ujung tanduk. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Godeg bahwa Si Maunglah yang telah memperkosa adikku.

“Ah, sayang sekali aku tidak ikut mencicipi adiknya Si Bos, kau sih tidak ajak-ajak.” Sergah Baron yang membuatku sudah tidak tahan lagi dengan percakapan yang menyulut kemarahanku. Aku mencoba mencari parang yang kusimpan di kandang domba, dan aku langsung membacok mereka. Para warga segera berdatangan ke arah kami yang sedang berkelahi termasuk Siti dan keluarganya. Kami segera dileraikan oleh para penduduk desa. Kulihat Baron dan Maung terluka sangat parah akibat kibasan parang di kepala. Aku yakin dalam beberapa hari ke depan, mereka akan segera mati, karena hantaman parangku cukup dalam di kepala mereka.

***

Malam itu aku langsung menceritakan kejadian yang sebenarnya termasuk niatku datang ke desa ini. Kulihat Siti tampak pucat, airmatanya juga mengalir deras. Paman Siti juga terlihat menutup wajahnya, aku tahu aku telah membuat orang sebaik mereka kecewa.

Malam itu juga aku pergi dari desa, dendamku sudah selesai tapi perasaan bersalah diam-diam menjalar hebat dalam dadaku. Mungkin sebaiknya aku menyerahkan diri saja pada pihak yang berwajib atas perbuatan sadisku. Atau aku memilih jalan pulang, berserah diri, memohon ampunan Tuhan. Tapi jalan mana pun yang aku pilih, jika sempat aku menua, maka selama itu aku akan hidup bersama bayangan wajah Siti.

Tasikmalaya, Januari 2020




===================

Asih Purwanti, tinggal di Tasikmalaya, sering menulis cerpen berbahasa sunda, karyanya sering dimuat di majalah Mangle.

Kengi

0



“Oi, apa kabar, Lenin Bro,” katanya menyapa Lenin yang tak sengaja bertemu mata dengan dengannya; Kengi, salah satu pelanggan tetap bar yang setiap malam menonton pertandingan Rugby, Cricket, dan Darts. Malam terakhir pertandingan Darts yang dimenangkan oleh seorang wanita yang tak seberapa tinggi, tak seberapa berotot, berkaca mata, dan tak seberapa cantik itu mengejutkannya. Tiap kali terpikir pada wanita itu -yang bahkan tak bisa ia ingat namanya, akibat betapa asing melihat seorang wanita dalam pertandingan Darts kelas dunia- otaknya tak bisa menerima apa yang disaksikannya.

     Wanita itu melakukannya dengan sangat mengagumkan. Rasanya ruangan bar yang bertembok hijau tua dengan kesan lembab dan mengantuk itu jadi demikian hening; hening yang asing untuk bar yang biasanya riuh dengan apa saja. Setiap laki-laki yang menemani Kengi mungkin merasakan hal yang sama dengannya, termasuk Lenin. Ada sesuatu yang begitu memesona -yang gerak atau perawakan laki-laki tak bisa mengekspresikannya. Mungkin karena lengannya yang tak seberapa besar dan tak seberapa indah itu memanjang ketika melemparkan Dart terakhir yang menentukan akhir pertandingan itu. Suasana hening, tak ada pembicaraan apapun, hanya beberapa desahan dan cegukan dari buih bir dan lemon yang dipukul naik oleh asam lambung yang terlalu sulit untuk dihindari.

     Saat itu, belum ada yang tahu siapa yang akan memenangkan pertandingan. Wanita mungil berkaca mata itu memamerkan permainan yang memukau. Tapi lawannya, yang berdiri di belakangnya adalah seorang laki-laki berkulit putih, yang namanya sudah terkenal bertahun-tahun dalam perlombaan itu. Bahkan sebelum ia bisa melemparkan Dart, ayahnya sudah terlebih dahulu memasuki panggung Darts yang penuh puntung rokok dan tumpahan bir dari orang-orang mabuk.

     Dart melesat menembus cahaya lampu di dalam layar. Mendadak semua seperti melambat, mungkin karena orang-orang tak ingin cepat-cepat mengakhiri dugaan-dugaan yang akan segera mereka ketahui kebenarannya. Beberapa saat kemudian, mereka seperti bisa mendengar suara benturan Dart di titik biru yang melapisi titik merah tepat di tengah papan bundar; “Dug!

     Wanita berkaca mata, membelalak, membuat matanya terlihat lebih besar. Kengi melompat dan bertepuk-tepuk riuh, Lenin melihat Kengi, tak mengerti cara merespons teman duduknya itu. Ia ikut mengangkat gelas dengan tawa canggung yang aneh. Tak lama kemudian semua mata yang sudah mabuk, hampir mabuk, belum mabuk, dan mata-mata naif yang berusaha memikat wanita di hadapan mereka mengangkat gelas dan bersorak bersama Kengi. Bar itu riuh, berguncang seolah marah karena dipaksa bangkit dari tidur masa-bodoh masa tuanya. Kengi tentu saja sangat bahagia, jam 4 sore tadi ia sudah menitipkan $200 dolar taruhan untuk wanita itu. Ia bisa minum lebih banyak dan merokok lebih banyak dari biasanya.

     “Hari yang baik untuk Darts!” teriaknya sambil tertawa-tawa histeris.

     “Baik, hanya terlalu banyak yang masih harus dikerjakan, kau tahu!” jawab Lenin sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya.

     “Yah, lama-lama semua akan menjadi sama saja, kesibukan yang sama, makan pagi yang sama dan malam-malam yang tak banyak bedanya juga,” timpal Kengi. Sesaat kemudian ia tertawa kecil, “Hahaha, aku mendengar Koro terus mengeluhkan hal itu. Mengerti atau tidak, aku jadi pandai menirunya,” lanjutnya.

     “Sial, kukira kau benar-benar sudah muak?” Lenin meletakkan gelas bourbon-nya.

     “Yeah, Koro sudah terlalu tua untuk menikmati hidup,”

     “Jangan katakan hal semacam itu tentangnya, ia laki-laki yang baik.”

     “Aku tidak mengatakan ia tidak baik, ia hanya sudah tua,” katanya melawan.

     “Baiklah, aku dengar ibumu akan segera membawanya ke rumah.”

     “Sial, di kota ini berita bisa cepat sekali tersebar, lebih cepat dari penyakit,” katanya tertawa. “Ya, Koro sudah tidak lagi mampu diajak bicara, mungkin sudah bosan meladeni kami seumur hidupnya. Ia semakin keras kepala, dan menurutku membawanya ke rumah juga demi kebaikannya sendiri. Kau tahu, perempuan tuaku tinggal sendirian, sangat sulit baginya yang sudah mulai lelah juga menangani Koro.”  

     “Tentu, dia bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya dan mungkin akan punya waktu luang untuk bertemu kawan-kawannya. Tak lagi hanya menghabiskan waktu mengurung diri di rumahnya.”

     “Oh, tidak separah itu. Dia masih bisa pergi ke mana saja, hanya tidak bisa berlama-lama. Koro semakin cepat lupa pada hal-hal sepele. Kemarin, dia masuk ke toilet, tiga puluh menit setelah itu dia keluar sambil menggerutu. Aku tanya apa yang mengganggunya dia malah membentak-bentak. Ya, hal-hal semacam itu lah…”

     “Semoga saja keadaan akan membaik. Ngomong-ngomong bagaimana denganmu?” tanya Lenin.

     “Masih sama saja. Masih terjebak dengan kaki kiri ini.” Kengi berkata sambil mengangkat sedikit lutut kirinya untuk meyakinkan Lenin kaki mana yang ia bicarakan. Lenin tertawa, tak tahu harus berkata apa. “Kakimu baik-baik saja.”

     “Selalu seperti ini memang, baik-baik saja ketika ada orang lain bersamaku. Aku sedang mencari cara untuk melepaskannya dariku,” katanya acuh.

     “Maksudmu kau mau melepaskan kaki kirimu?” Lenin tak tahu akan ke mana pembicaraan mereka sekarang.

     “Ya, kaki ini bukan punyaku. Kurasa Tuhan sengaja menukarnya. Aku pernah berencana menunggu sampai orang yang memiliki kaki ini datang mencarinya. Tapi sudah bertahun-tahun tak pernah kutemukan pamflet pencarian kaki kiri.” Ia meneguk birnya yang masih berbuih “Aku pikir tak apa menunggu sedikit lebih lama, tapi bertahun-tahun membuatku semakin muak saja.”

     “Bagaimana kau tahu kaki itu bukan milikmu, Bro?”

     “Kau tahu kenyataan absolut?” Ia membakar sebatang rokok yang sudah sedari tadi disiapkannya. “Tak perlu cara-cara tertentu untuk meyakini sesuatu. Begitu, ya, begitulah.” Kengi menghentikan penjelasannya begitu saja. Senyap sejenak.

     “Sepertinya susah juga mengatasi kaki kirimu itu,” ujar Lenin karena terganggu oleh kesenyapan yang mendadak dari Kengi.

     “Yah, Bro, tidur dan bangun masih dengan kaki kiri yang sama. Aku tak ingin terlalu banyak bermimpi, tapi pasti akan sangat menyenangkan bangun tanpa kaki kiri sialan ini.” Diangkatnya lagi lutut kirinya, lalu berseru, “Cheers, Bro!” sambil mengacungkan gelas. Mereka bersulang dan sama-sama memutuskan untuk tinggal lebih lama, mengawasi lampu penyeberangan jalan. Seorang wanita berpakaian minim sibuk mengelus-elus layar telepon genggamnya.  

     Kengi menggaruk kaki kirinya.***

*Darts adalah olahraga melempar misil seperti anak panah ke papan bundar di dinding. Biasanya dimainkan oleh dua orang.

===================
Maywin Dwi-Asmara, lahir di Mataram, Lombok, 3 Mei 1992. Cerpenis dan peneliti. Kumpulan cerpennya berjudul Surat-surat Lenin Endrou (Basabasi, 2019). Kini, ia bermukim di Palmerston North, Selandia Baru.

Rahasia-rahasia

0




Dalam homilinya yang singkat, Romo Benediktus bicara tentang janji setia sehidup-semati yang sama artinya dengan membuka seluruh diri. “Tak boleh ada rahasia. Apa saja. Dari waktu kapan saja. Ceritakan seluruhnya. Utuh. Pada pasanganmu,” kata pastor muda itu. Aku ingat bagian itu sebab disampaikan setengah berteriak karena gerimis yang turun sejak kami tiba di pintu kapela, menjelma hujan yang deras ketika homili sudah setengah jalan. Kapela itu sudah tua. Beratap rendah dan tanpa plafon.

Perihal rahasia yang tak boleh ada dalam hidup perkawinan itu menjadi kekal dalam ingatan—dan hari ini meruak, selain oleh sebab disampaikan setengah berteriak (membuatnya terdengar sebagai perintah) juga karena alasan yang lain: aku abaikan perintah itu sejak pertama kali mendengarnya meski perintah itu datang dari pastor yang menikahkan kami. Sebuah rahasia akan aku simpan sendiri hingga waktu bercerita tiba. Aku telah berjanji, dalam hati, tak akan bercerita apa pun tentang Joshua, kepada siapa pun—mungkin nanti, jika saat kematianku menjelang.

Aku bertemu Joshua di luar negeri. Di kota B, pada sebuah acara pembacaan puisi. Perjumpaan tak sengaja yang kemudian membawaku pada babak hidup yang sama sekali berbeda. Dari penggemar puisi-puisi John Keats kepada seorang yang kini menyandang gelar penyair. Gelar itulah, kupikir begitu, yang kemudian memudahkanku menaklukkan Magda.

Jauh sebelum kami menikah di kapela tua itu, kepada gadis itu pernah kukirim penggalan puisi: … Dan di dalam hatimu masuklah aku!/ Oh, cintai aku dengan sungguh-sungguh!. Aku comot begitu saja kata-kata itu dari buku harian seorang teman. Tak membuat Magda mencintaiku seketika, tetapi membuka kesempatanku bercakap-cakap dengan siswi paling populer di sekolah kami itu. Itu percakapan pertama kami setelah sekian lama kutunggu kesempatan itu datang—keputusan nekat mengiriminya puisi terbukti membawa hasil—sekaligus membuatku tahu bahwa dia mencintai puisi dan bahwa penggalan yang kukirimkan padanya berasal dari puisi Keats.

Magda, hari itu, bahkan menunjukkan bait lengkapnya: O breathe a word or two of fire!/ Smile, as if those words should burn be,/ Squeeze as lovers should – O kiss/ And in thy heart inurn me!/ O love me truly!// 

Sejak hari itu aku mulai gemar membaca buku puisi. Semula hanya agar dapat lebih sering bercakap-cakap dengan Magda, aku lalu jadi pemuja puisi-puisi Keats. Ketika akhirnya pindah ke kota B dan tahu bahwa di kota itu, pada waktu-waktu tertentu, orang-orang melaksanakan malam pembacaan puisi, aku ke sana. Sekadar mengisi waktu luang sembari memelihara ingatan tentang Magda yang jauh—tempat dia tinggal dan juga hatinya, mengenal lebih banyak penyair dari mulut para peserta yang hadir, hingga akhirnya bertemu Joshua.

Kelak ketika kami menyewa kamar yang sama, Joshua berkisah bahwa di matanya aku adalah satu-satunya orang yang dengan jujur mengaku bukan penyair (dan hanya becus membacakan puisi penyair lain). Sebab aku bukanlah orang yang sok—Joshua melabel yang suka menamakan dirinya penyair dan membaca puisi-puisinya sendiri padahal puisi-puisi mereka tidak bermutu sebagai orang yang sok—dia mau berteman denganku.

Joshua penyakitan. Dia hidup menderita hingga waktu kematiannya. Barangkali satu-satunya hal yang membuat hari-harinya bahagia adalah dengan menulis puisi. Mungkin juga tidak. Sebab dia tak pernah merasa puisi-puisinya baik. Puisi-puisi itulah yang dia tinggalkan padaku bersama utang sewa kamar yang dibawanya mati. Puisi-puisi yang bagus menurutku. Lalu kusertakan pada sebuah lomba. Mendapat peringkat tiga. Tak ada nama Joshua di manuskrip yang kukirim itu.

Bahwa aku jadi pemenang ketiga lomba cipta puisi di luar negeri, kuceritakan pada semua orang di kota ini. Kepada pimpinan redaksi sebuah koran besar yang baru saja ditinggal mati redaktur puisi mereka, kepada orang-orang rumah, juga kepada Magda yang belum bersuami.

Aku akhirnya diterima kerja di koran besar itu sebab mereka membutuhkan seorang redaktur puisi yang baru dan aku adalah pemenang sebuah lomba di luar negeri. Gajiku lebih dari cukup sehingga aku bisa menyewa rumah, Magda sering berkunjung sebab bercakap-cakap dengan redaktur puisi sebuah koran terkenal adalah hal yang menyenangkannya.

Dia menangis bahagia ketika kupinang. Sangat bahagia ketika selain cincin pinangan, kuberikan padanya buku puisiku yang pertama; puisi-puisi peninggalan Joshua tentu saja.

Aku mencintainya sepenuh hati, cinta pertama yang tak akan kutukar dengan apa pun. Segala hal kulakukan agar tetap bersamanya: menjadi tua di bawah atap yang sama, mati dalam pelukannya jika boleh, dan dari surga melihatnya bercerita tentang betapa hidupnya telah sungguh bahagia sebab telah menikah dengan lelaki yang mencintai puisi. Karena itulah, tak pernah kuceritakan tentang Joshua; siapakah yang ingin merusak fantasi kekasihnya?

“Kita sudah tua,” katanya suatu malam, beberapa pekan yang lalu.

“Ya. Dan kita berhasil menua bersama.” Aku beringsut mendekat, mengecup keningnya, mengelus lembut rambutnya yang telah seluruhnya putih, lalu rebah rapat di sisinya. Dia bicara lagi, bahwa hidupnya sejak hari kami menikah adalah sebenar-benarnya kebahagiaan.

“Kau ingat Romo Benediktus?” Tanyanya kemudian.

Tentu saja aku ingat pastor itu (semoga dia beristirahat dalam damai) sebab seminggu setelah kami menikah aku menemuinya di sakristi, meminta pengakuan dosa: jika merahasiakan sesuatu dari istri adalah dosa, ampuni aku sebab tak akan pernah kuceritakan tentang Joshua padanya.

“Kau ingat homilinya pada hari pernikahan kita? Katanya, tak boleh ada rahasia, apa saja, dari waktu kapan saja, ceritakan seluruhnya, utuh pada pasanganmu. Kau ingat? Apa kau akan marah kalau tahu bahwa aku menyimpan satu rahasia selama ini?”

Kukatakan padanya, sekali lagi, bahwa kami telah berhasil menua bersama dan bahwa menyimpan satu rahasia bukanlah apa-apa.

“Tapi ini besar sekali,” katanya setengah berbisik, “dan kupikir tak boleh kubawa mati.”

“Rahasia apakah yang lebih besar dari kisah yang kau simpan bertahun-tahun bahwa rahimmu telah diangkat, Magda-ku sayang?”

Setelahnya, dalam kalimat yang diejanya perlahan, dia bercerita panjang lebar tentang buku-buku puisiku. Juga rahasia yang disimpannya tentang buku-buku itu: “Setelah buku kumpulan puisimu yang pertama, sepertinya, kau tak lagi bisa menulis puisi. Buku-bukumu berikutnya tak pernah mampu kubaca tuntas sebab mereka begitu buruk. Maaf aku merahasiakannya selama ini.”

Kukecup keningnya sekali lagi. Mengelus lembut rambutnya yang telah seluruhnya putih. Membisikkan selamat malam dan berjanji dalam hati: kelak, jika aku tahu hari kematianku sudah dekat, akan kuceritakan padanya rahasia di balik buku puisi yang pertama itu. Tetapi Magda tidak bangun lagi. Dia pergi untuk selamanya malam itu. Dengan damai. Sebab tak membawa rahasia apa-apa.



=====================
Armin Bell. Bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra, Ruteng. Cerpennya “Monolog di Penjara” meraih penghargaan Cerpen Terbaik Anugerah Sastra Litera 2018.

Tak Seperti Dendam, Cinta Tak Perlu Berbalas

1


Tetanggaku yang buta itu tiba-tiba saja membelah malam gulita dengan berteriak, “Cinta tak akan pernah berakhir! Cinta tak akan pernah berakhir!!!” Sambil berlari-lari tak tentu arah, ia terus meneriakkan kalimat itu. Namun, seketika ia terhenti, persis di depan pintu rumahnya, dan rubuh ke tanah.

Aku yang saat itu tengah membaca buku puisi penyair lokal di teras rumahku tercenung. Hantu jenis apa pula yang merasuk si buta Kipling malam-malam begini. Awalnya aku menduga ia mabuk, tapi melihat sikap anehnya itu aku bertanya-tanya. Dan keterkejutanku kian memuncak ketika tiba-tiba ia rubuh, bagai batang kayu rapuh.

Tak ayal, suasana sebelumnya yang sungguh lengang berubah menjadi bagai malam pergantian tahun. Semua mata yang dengan hadir ingin melihat apa yang terjadi. Dan, aku menjadi bulan-bulanan lontaran tanya mereka, “Ada apa!? Ada maling? Siapa, siapa? Pembunuhan? Ada apa!? Ada apa? Siapa yang mati!?” Rentet pertanyaan mereka aku bungkam dengan diam. Sebab, aku sendiri pun belum tahu pasti kronologi yang sebenarnya.

Tak berapa lama kemudian ambulance menderu. Tubuh kaku si buta Kipling diangkat, sempat kulihat wajahnya memutih, begitu kaku dan pucat. Begitu ambulance mengaung pergi, aku mengambil kesempatan lari balik ke rumahku. Segera menutup pintu. Tak kupedulikan buku puisi yang masih tertinggal di meja terasku.

***
Hari ini Minggu: pagi yang cerah. Aku membuka daun jendela lebar-lebar. Kudengar diluar suara-suara ribut. Kulongok kepalaku keluar. Terlihat orang-orang begitu ramai, bahkan ada juga beberapa polisi. Kulihat sekeliling rumah si buta Kipling dibatasi police-line.

Aku mengingat-ingat, memutar memori ke masa lalu tentang si buta Kipling. Hanya sekitar dua tahun lamanya kami bertetangga. Awalnya, ia hanya menyewa rumah di sebelahku. Namun, karena pemilik rumah itu mendadak butuh uang untuk biaya berobat orang tuanya, si buta Kipling pun bersedia membelinya. Selama dua tahun yang singkat itu, yang kulihat kehidupan sehari-harinya berjalan lancar. Ia jarang keluar rumah. Pada awal masa kepindahannya, aku tak begitu memperhatikannya. Hanya sekedar bertegur sapa untuk beramah-tamah saja. Tak lebih dari itu.

Namun, pada awal tahun kedua bertetangga, ia memberi kesaksian padaku bahwa ia memutuskan tidak akan pernah menikah. Ini membuatku tersentak. Ia mengakui selama hidupnya ia hanya pernah mencintai seorang wanita. “Namanya Ariel, ya Ariel Smithless. Ayahnya seorang pialang kaya-raya. Sangat kaya, hingga rumahnya hampir-hampir mengalahkan istana Ratu Inggris. Ayahnya telah bersumpah di depan mataku tak akan pernah merestui hubungan kami. Sungguh ayah yang kejam. Tidak punya hati! Kepada anaknya, putri tunggalnya, ia tega memisahkan dari lelaki yang dicintai putrinya. Sungguh sangat… ah!”

Di waktu yang lain, ada lagi cerita menarik darinya, masih seputar kisah cintanya. “Dulu aku tidak buta. Mataku terang-benderang memandang segala rupa, segala warna. Pandanganku senantiasa jernih, tanpa pernah kabus, apalagi rabun sedikitpun. Tapi, sejak itu… ya, sejak kejadian itu… jiwaku merasa tertutup. Tak lagi dapat merasakan apa-apa. Segalanya sirna, segalanya hampa! Hingga akhirnya mataku hanya dapat melihat kekelaman, kegelapan yang abadi.”

“Kau begitu mencintainya?” ujarku merespon ceritanya.

“Mencintainya? Pertanyaanmu konyol sekali, Kal. Tentu saja aku mencintainya. Mencintai setiap mili dari tubuhnya, mencintai seluruh isi jiwanya. Dia begitu sempurna, di mataku setidaknya. Dia selalu bilang aku telah melengkapi dirinya. Sepenuhnya aku mencintai Ariel dengan tulus. Bahkan, aku lebih rela menyembah Ariel daripada Tuhan.”

Aku tercenung mendengar ceritanya. Betapa cinta dapat merusak pengakuannya terhadap Tuhan. Betapa seorang wanita bernama Ariel begitu berharga di matanya dibanding Tuhan, sang penciptanya.

“Aku ingin tanya padamu, Kal, apakah semua orang akan menemukan kebahagiaan?”

“Tentu saja!” ujarku pasti.

“Ehmm, begini, begini. Pertama, mengertikah kau kebahagiaan? Maksudku kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang hakiki?”

“Ya, ya.. aku kira aku mengerti.”

“Kau paham maksudku?”

“Hmm, ya, aku kira sumber kebahagiaanmu adalah Ariel. Ia adalah kebahagiaanmu yang sesungguhnya, yang hakiki, begitu bukan?”

“Tepat, tepat sekali! Dan kini kebahagiaan itu hanyalah omong kosong dan hampa!”

Suasana mendadak hening. Aku menatapnya. Kulihat kedua matanya berkaca-kaca, menahan agar air matanya tidak tumpah. Bibirnya bergetar.

“Ariel adalah seorang wanita, yang mengumpulkan kepingan diriku. Seperti mengumpulkan pecahan kristal kembali bersatu,” ujarnya terisak.

“Lantas setelah kau berpisah dari Ariel, kristal itu kembali pecah?”

“Ya, pecah! Kristal itu pecah, dan tiap kepingnya menjadi sembilu di seluruh tubuhku.”

“Kau terlihat sebagai perangkai kata yang baik. Kau layaknya penyair…”

Tiba-tiba dia tersenyum, begitu simpul, seraya menghapus air mata yang coba dia sembunyikan. “Haa-haa, kau suka puisi, Kal?”

“Ya, khususnya puisi-pusi terjemahan. Aku penikmat Auden, Syzmborska, Rimbaud, Neruda, Slauerhoff, Paz…”

Ia mendadak sumringah. “Duhai, duhai… Erkal yang baik, yang sungguh budiman, bagaimana kau bisa tahu nama-nama itu? Mereka adalah para idolaku! Penyair yang sangat kukagumi! Aku selalu terpesona membaca puisi-puisi mereka. Tapi, tunggu dulu… apa yang kau lakukan dengan puisi-puisi itu?”

“Aku membacanya, menikmatinya, tentu saja.”

“Hmm, aku tak menduga dari wajahmu yang kaku, kau juga seorang penikmat puisi.”

“Lantas dari wajahmu yang sangar itu…”

“Haa-haaa..sudah, sudah, kau jangan tersinggung, Kal. Aku hanya bercanda. Biarlah orang tua ini sesekali tertawa, dan kuharap kau tidak keberatan.”

“Tidak, sama sekali tidak,” ujarku agak ketus.

“Baiklah, izinkan orang tua ini bercerita sedikit. Jadi, ya.. selepas Ariel tiada, atau tepatnya pergi menghilang bagai ditelan bumi, aku menjadi seorang penempa kata-kata. Pensil yang tumpul, kuraut menjadi seruncing luka yang aku derita. Ya, aku menulis ratusan, atau ribuan puisi, aku tak menghitung secara pasti. Diantara sekian banyak puisi itu, aku telah mengatakan hal-hal bodoh. Hal-hal yang terlalu kekanakan, layaknya kisah para remaja yang jatuh cinta, yang kemudian patah hati, lantas hendak mencoba bunuh diri. Ah, kira-kira begitulah… Namun, aku terus merangkai kata demi kata, waktu demi waktu terus menetaskan puisi demi puisi. Sebab setiap menuliskannya, ada perasaan lega yang hadir di rahang jiwaku. Jiwa yang telah terbakar oleh cinta, serasa menjadi sejuk seperti taman-taman surga…”

Aku bergumam sebentar, lantas menjawab, “Aku belum begitu yakin kau seorang penyair. Aku tidak pernah melihat nama Kipling di ruang sastra koran ataupun buku puisi. Sama sekali tidak pernah, sungguh.”

“Hmm, aku tak pernah merasa diriku seorang penyair. Dan perlu kau ketahui, aku tidak ingin mempublikasikan puisi-puisiku. Terlalu banyak hal pribadi yang memedihkan di situ, luka yang sedemikian perih ada di situ. Aku tak ingin membawa pembaca puisiku kepada hal-hal yang barangkali mereka anggap konyol. Aku tak ingin kisah pedihku ditertawakan. Puisi-puisi yang kutulis itu cukup menjadi pelipur lara bagiku di masa-masa sulit, masa dimana aku teringat akan Ariel. Ya, Ariel yang kucintai…”

Kali ini ia tak mampu menahan bendungan air dari mata butanya.

***
Pagi hari esoknya, setelah cerita panjang dengan si buta Kipling, ketika akan berangkat kerja, aku dikejutkan oleh setumpuk, oh ya, bukan setumpuk melainkan bertumpuk-tumpuk buku di meja terasku. Kuperhatikan satu demi satu. Semuanya buku puisi. Beberapa diantaranya ada karya-karya monumental dari penyair legendaris yang belum pernah kutemukan. Kemudian kutemukan sebuah kumpulan lembaran yang dililitkan dengan benang. Layaknya dijilid agar menyatu dan tidak lepas. Di lembar paling depan tertulis dengan huruf yang agak miring: Puisi dari Jiwa yang Terbakar.

Aku penasaran, kubalik-balik beberapa saat, beberapa dari lembaran itu sudah menguning. Isinya adalah puisi-puisi. Tiba-tiba sebuah kertas kecil berwarna merah terjatuh dari dalamnya, semacam memo, bertuliskan: “Kal, aku titip semua ini padamu. Terima kasih, dari Kipling yang telah buta karena cinta.”



=====================
Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Menyelesaikan studi ekonomi di Universitas Sumatera Utara. Menulis untuk Horison, Kompas, Koran Tempo, Utusan Malaysia, The Jakarta Post, Media Indonesia dan terangkum dalam sejumlah buku antologi.



Kamera Pak Burhan

0



Apa pasal kasur tak mengering meski telah berhari-hari dijemur? Tentu tak ada jika hujan usai bergeser ke timur. Namun karena basah hati tak jua bersua penawar, maka basah kasur oleh amuk sungai Deli beberapa hari yang lampau tentulah menjadi amat sulit mengering.

Sedianya, sewaktu hendak menegakkan rukun Islam di hulu hari, Pak Burhan malah mendapati istrinya tak bangun subuh bersamanya. Tak ada yang menyangka sekalipun Pak Burhan juga Mak Sarinah barangkali, jika salat isya semalam adalah salat terakhir mereka sebagai pasangan yang terikat sumpah setia. Sumpah yang seperempat abad lebih mereka gotong dalam mengarungi legitnya suka dan bangkarnya duka. Lebih memilukan, sebelum tanggal di almanak gugur berganti, Mak Sarinah sama sekali tak merasakan ganjil di tubuhnya. Namun makhluk apa yang dapat menawar datangnya janji? Mak Sarinah pun pamit tanpa berpamitan.

Selesai mengembalikan Mak Sarinah ke muasal segala asal, satu demi satu tetangga yang mengantarkan Mak Sarinah menyodorkan pamit kepada Pak Burhan, kecuali seorang anak remaja tanggung tetangga Pak Burhan yang bernama Imam. Saban sore ia memang selalu main ke rumah Pak Burhan.  

Sekiranya Imam diberikan pilihan saat itu, pulang ke rumahnya atau tetap menemani Pak Burhan, pastilah ia memilih pulang beristirahat. Sebab sejak kabar duka itu menghampirinya, tak sedetik pun ia beranjak dari bahu Pak Burhan. Namun karena si bungsu Taufik yang suka mabuk tak terlihat urat lehernya, Imam pun menarik niat yang nyaris menjulur dari mulutnya.

Sungguh, selain Taufik pemabuk itu, Pak Burhan sebenarnya masih memiliki seorang lagi jantung hati. Marina namanya. Mula-mula merantau, Marina ingat pada orang tua. Selain mengirim uang, Marina pun tak luput berkabar. Minimal seminggu sekali. Tetapi beberapa tahun belakangan, jangankan uang, suaranya pun sudah tak terdengar lagi di telinga Pak Burhan.

”Ayah, Marina boleh cari kerja ke Bali?”

Lama Pak Burhan memilih-milih jawaban. Kecemasan begitu amat kasat mata terbit dari air mukanya. Wajarlah! Orang tua mana yang tak risau anak perawan jauh dari rumah. Dalam kebuntuan itu, Pak Burhan malah terjatuh menyorongkan pertanyaan.

”Mau kerja apa kau, Na? Ada saudara kau di sana?”

”Ina punya kawan kok, Yah. Si Nita, kawan sekolah Ina yang pernah Ina bawa menginap tempo hari. Ayah ingat tidak? Dia sudah sebulan di Bali. Katanya enak cari uang di sana.”

”Iya, tapi kerja kau di sana, apa? Sekolah saja kau belum tamat. Nanti kesasar-sasar kau baru tahu!”

”Kan ada si Nita! Kalau soal kerja banyak, Yah. Ina bisa kerja di restoran, kafe atau bar. Gajinya besar! Nanti Ina bisa bantu-bantu ayah dan mamak di sini. Boleh, Yah?”

Benteng pertahanan Pak Burhan roboh, habis digempur Marina. Bendera putih pun Pak Burhan kibarkan—tak kuat melihat nyala api memancar dari mata Marina. Setali dengan Pak Burhan, Mak Sarinah pun lebih-lebih tak berdaya bahkan tatkala Marina dengan sedikit tertatih menyeret koper—milik mereka dulu saat merantau ke Tanah Deli dari Bukittinggi—ke cerat pintu.

***

Nyaris sepertiga bulan setelah Mak Sarinah kembali kepada Sang Khalik, batang hidung Taufik dan Marina tak juga tampak. Begitu pula Pak Burhan, masih enggan menyapa kicau burung pagi. Beruntungnya, Imam selalu sedia mengeringi hati Pak Burhan yang basah. Sampai-sampai urusan makan-minum ia kerjakan.

Amboi, seakrab itukah Imam? Ya, bak empedu lekat di hati. Berlebih lagi Imam yatim sejak lahir. Ditambah pula Pak Burhan selalu mengajak Imam memotret turis-turis lokal ataupun mancanegara yang berkunjung ke Masjid Raya Al Mashun, Istana Maimun, dan sekitar Taman Sri Deli.   

Itulah mengapa saat malang menerjang Pak Burhan, sempat terbetik niat Imam mengambil alih pekerjaan memotret turis. Akan tetapi sungguh berat lidah menyampaikan, mungkin Imam khawatir tak mendapat restu. Terlebih kamera SLR Canon G III QL milik Pak Burhan tergolong sulit ditakluki.

“Ini kamera lama, Mam. Jika tak pakai hati memegangnya, bisa tak nyala dia,” gurau Pak Burhan sekali waktu.

Sungguh tak berlebihan orang tua itu perihal kameranya. Kisah yang melekat pada kamera itu bukan sembarang.

“Kau tahu, Mam? Ini kamera bapak dapat dari kawan di Kowilhan pasca meletusnya Peristiwa 65. Waktu itu kawan bapak kasihan melihat bapak luntang-lantung tak ada pekerjaan. Alkisah, dimintanya bapak datang ke Kowilhan untuk membantu dia memotret orang-orang yang dituduh PKI. Tentu saja tawaran itu bapak terima. Meski sebenarnya bapak tak pandai menyalakan kamera. Apalagi menggunakannya,” cerita Pak Burhan bersemangat diselipi tawanya yang khas.   

”Tapi jujur, bapak tak sampai hati memotret mereka, Mam.” Tiba-tiba suara Pak Burhan parau seperti mengisyaratkan kesedihan dan penyesalan yang dalam.

”Kenapa, Pak?” sela Imam.

”Tak mengapa, Mam,” Pak Burhan memungut nafas panjang melepaskan segumpal beban yang jenak menindih tipis dadanya.

”Nah, setelah pekerjaan memotret orang-orang itu selesai, kamera bapak kembalikan. Semula diterima kawan bapak. Tapi seminggu kemudian dia mendatangi rumah kontrakan bapak dan menyerahkan kembali kamera itu,” Pak Burhan memetik udara lalu menyambung cerita. ”Katanya, dia selalu mimpi buruk setiap malam setelah membawa pulang kamera itu ke rumah. Mimpi didatangi manusia-manusia tanpa kepala.”

”Lalu kenapa bapak terima kamera itu? Tidak takut mimpi didatangi manusia tanpa kepala seperti mimpi kawan, bapak?” kejar Imam penasaran.

”Ya, semula bapak juga takut, Mam. Tapi karena tak punya pekerjaan, bapak terima saja kamera itu. Bapak pikir kamera itu pasti ada gunanya. Ternyata benar, sampai hari ini kamera itu yang menopang bapak menafkahi keluarga.”

”Bapak tidak pernah mimpi didatangi manusia-manusia tanpa kepala itu?”

”Tidak, Mam. Sekalipun tak pernah bapak mimpi seperti itu. Mungkin pandai-pandainya kawan bapak saja bercerita.”

”Maksudnya, Pak?”

”Ya, maksudnya, biar kamera itu untuk bapak. Lagi pula diakan tahu kalau bapak pengangguran. Hitung-hitung dia bantu bapaklah, Mam.”

”Ooo…” sambut Imam dengan anggukan kepala.

Ihwal itulah yang akhirnya menyeret Pak Burhan menyelami profesi tukang potret keliling. Entah sudah berapa banyak kenangan diawetkan Pak Burhan dalam kamera, bahkan ketika teknologi semakin menepikan segala hal yang berbau manual, Pak Burhan surut mundur dari pekerjaan yang telah membuatnya dikenal orang banyak.

Jika pun sungguh ditelisik, cintanya pada kamera serta pengabdiannya mengawetkan kenangan bukanlah semata alasan ia masih lihai berseloroh dengan para pelanggan. Apalagi usia tentu tak pandai bersembunyi. Namun janji haruslah tunai dibayar! Meskipun kepada anak kandung sendiri—janji membelikan Taufik sepeda motor. Konon, itulah penyebab si Taufik pemabuk enggan berlama-lama duduk di bangku perguruan tinggi.

Ampun! Seperti mendapat label pembenaran, Taufik pun merasa pantas serta berhak uring-uringan jika sedang di rumah dan mabuk jika di luar rumah. Hidup teratur sekarang adalah yang tak teratur menurutnya. Sujud pun kontan tak dikerjakan bahkan melayangkan lengan ke wajah orang tuanya, sungguh tak sungkan Taufik lakukan.

***

Sepertinya kasur sudah mengering dan matahari sungguh teramat terik. Lagi pula tak elok terlalu lama menjemur duka. Bukankah hidup pantang hanyut ke belakang? Ya, itulah mengapa hari ini dengan semangat yang masih menyembul-nyembul Pak Burhan tekad keluar mengekas rezeki. Sekalipun sangon duka yang Pak Burhan terima cukup berdaging, tetap saja jerih keringat lebih lempang di kerongkongan. 

Lantas, siapa sangka istirahat panjang malah melicinkan rezeki! Sampai-sampai Pak Burhan tak lepas sahut-menyambut panggilan turis mancanegara. Walaupun hanya dibesarkan dengan sekolah bambu, dua bahasa asing benua biru begitu gemulai di lidah Pak Burhan.

Demikianlah, untung-malang adalah mempelai teka teki. Pak Burhan niat membagi sukacitanya dan ingin mengajak Imam makan enak selepas magrib. Betapa bahagia seharusnya pulang ke rumah nanti. Namun, setiba kaki menjejak di moncong pintu, Taufik yang terlihat gayang langsung melantas Pak Burhan.

”Sini! Sini, kamera itu!” kata Taufik dengan mulut busuk tuak.

”Untuk apa sama kau, Fik?” pelan Pak Burhan bertanya.

”Bukan urusan, Ayah! Sudah sini! Cepatlah!” suara Taufik meninggi ke udara. Pak Burhan bergeming. Ia masuk ke kamarnya, meninggalkan Taufik di ruang tamu yang mulai beringas. Darah Taufik mendaki makin ke puncak. Disusulnya Pak Burhan ke kamar dengan sebilah pisau lipat.

Sungguh, baru satu-dua kancing kemeja yang Pak Burhan lepaskan, Taufik yang sudah seleher tiba-tiba masuk sambil mengayunkan pisau ke arah perut Ayah kandungnya. Nasib baik. Tusukan Taufik meleset. Tapi, sehebat apakah orang tua seperti Pak Burhan sanggup terus-menerus mengelak?

Taufik muntab. Melaung mengeluarkan kata-kata kotor. Didekatinya Pak Burhan yang semakin tersudut. Dan…

Krepaaaak.

Taufik roboh. Kental darah lamat-lamat menggenangi lantai kamar Pak Burhan. Hening sesaat. Kemudian…

“Lari! Cepat lari! Tak usah pedulikan dia! 

Surabaya, 2019



=====================
Ilham Wahyudi lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Ia seorang fundraiser dan penggemar berat Chelsea Football Club. Beberapa karyanya telah dimuat di koran-koran dan antologi.

Pohon-pohon Belakang Rumah

0


Sejak kecil, Selamet selalu tertarik pada pohon-pohon yang tumbuh di belakang rumah. Entah apa yang dipikir Selamet saat melihat pohon-pohon. Kadang ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berada di sisi pohon. Tidak ada yang dilakukannya selain memandang dan kadang pula tertidur di bawah pohon. Ibu dan bapak Selamet tak habis pikir bahwa anak mereka adalah anak yang aneh.

Dalam pertumbuhannya, tidak ada yang ingin menjadi teman Selamet. Menurut beberapa anak sebayanya, Selamet adalah anak aneh yang pernah lahir di dunia ini. Seharusnya Selamet jadi anak kera atau domba yang bisa menghabiskan sepenuh hidupnya untuk berdekatan dengan pohon.

Bapak Selamet pernah marah-marah karena kebebalannya itu.

“Lanang tidak normal! Sana ke sungai. Pergi main tembak-tembakan! Bodoh!”

Tapi, bentakan-bentakan itu tak secuil membuat Selamet gentar serta menurut, bahkan Selamet tak pernah menghiraukan keseriusan bapaknya saat marah. Karena kelewat batas bapak terpaksa main tangan. Tapi tak seperti anak lain yang menangis, Slamet malah menantang dan tetap pergi ke belakang rumah untuk melihat pohon-pohon.

Bapak merasa harga dirinya dilecehkan oleh anaknya sendiri. Kelakuan Selamet baginya sungguh sudah keterlaluan. Meski ibu terus membela Selamet, kali ini bapak tak hirau. Bapak marah besar hari itu. setelah menghantam kepala Selamet dengan tinju tangan kanan, bapak mengunci selamet di dalam kamar tanpa mempedulikan bekas pukulan yang mengeram lebam itu.

Ibu tidak bisa berbuat apa-apa selain terus-terusan memohon pada bapak, agar tidak berlebihan memberlakukan Selamet. “Apa salahnya Selamet melihat pohon di belakang rumah?”

“Salahnya tidak mendengar apa kataku! Ia akan jadi bodoh kalau terus-terusan melihat pohon! Dan asal kau tahu, tidak ada anak lanang yang menghabiskan waktu untuk melihat pohon. Bodoh!”

Selamet mulai tak henti-henti menangis, berteriak-teriak memberontak, mulai pula memukul daun pintu—mengundang kegelisahan yang amat menyiksa hati ibu. Tapi bapak justru senang mendengar Selamet meronta-ronta, tanda kesadaran akan segera mengilhami anak itu. Dalam beberapa jam ke depan bapak yakin Selamet akan menyesal dan memohon maaf atas kebodohannya melihat pohon dan tidak mendengar apa yang dikatakan bapaknya.

Setelah beberapa jam itu berlalu, bapak tidak mendengar penyesalan yang keluar dari mulut Selamet. Telinganya hanya dipenuhi suara tangis-menangis dan rintihan permohonan dari ibu yang sungguh tidak tega. Bapak tak mau merasa kalah, ia biarkan anak itu mendekam dalam kamar sampai benar-benar sadar. Selamet diberi makan lewat celah lubang jendela rakitan. Hingga menjelang malam, tidur ibu tidak tenang. Suara tangisan Selamet menghantuinya terus-menerus. Pelan-pelan ibu bicarakan pada bapak, namun, bapak tetap tak bisa melepaskan Selamet untuk kembali melihat pohon, bukan bapak atau ibunya.

Setelah dua kali dua puluh empat jam, tak lagi terdengar suara tangisan dari kamar di mana Selamet dikunci. Karena cemas, ibu tegas meminta bapak untuk memeriksa kondisi Selamet. Setelah membuka pintu kamar, Selamet didapati dalam posisi tak sadarkan diri. Piring-piring berisi makanan tak sedikit tersentuh, air di dalam gelas tak setitik berkurang. Melihat hal itu, ibu langsung memeluk Selamet yang tak berdaya, bapak yang tanpa aba-aba langsung merebut Selamet, segera membopongnya ke rumah sakit dengan tergesa-gesa.

Bapak baru merasa bersalah atas perlakuannya yang sangat keras terhadap Selamet. Ia tidak menyangka bahwa kejadianya akan serumit ini. Di rumah sakit, ibu terus-terusan menyalahkan bapak yang hampir membuat Selamet meregang nyawa. Untunglah dokter bisa menangani Selamet dengan baik. Sehari setelah dirawat Selamet sudah diperbolehkan pulang. Tapi, apa yang terjadi setelah Selamet pulang, tentu saja ia langsung berlari menuju pohon tanpa menghiraukan kedua orangtuanya yang gundah merasa salah besar terhadapnya. Sambil menahan amuk badai air mata, bapak hanya bisa melihat Selamet meringkup di bawah pohon.

Setelah kejadian itu, ibu dan bapak hanya membiarkan Selamet menghabiskan waktu untuk berdekatan dengan pohon. Jika ia lapar, ia akan pulang untuk mengisi perut. Jika ia merasa kusam, ia akan pulang ke rumah untuk mandi. Meski dia takkan pernah pulang karena merasa rindu pelukan bapak dan ibu.

Hari-hari di rumah menjadi sepi. Bapak tak banyak berbicara karena masih merasa bersalah, meski ibu sudah melupakan kejadian lalu. Di warung-warung, Selamet mendapat tempat sebagai bahan pembicaraan. Tak jarang, ibu mendapat celaan dan berbagai macam lainnya. Tetapi ada satu kawan yang datang menyarankan supaya ibu datang ke dukun ternama di dusun seberang. Barangkali dengan bantuan dukun ternama itu, Selamet dapat ditolong.

Setelah cukup mempertimbangkannya, diam-diam ibu pergi ke dukun ternama itu. Ia menceritakan tentang Selamet dan kejanggalannya. Sang dukun ternama ingin melihat secara langsung kiranya apa yang salah dari anak itu dapat dibantu. Mungkin roh jahat telah menguasai tubuhnya.

Setelah pulang bersama dukun ternama, mereka sibuk melihat Selamet yang hanya berdiri melihat pohon. Setelah cukup lama dan setelah membaca mantra yang terdengar rumit, sang dukun ternama menganjurkan agar nama Selamet diganti.

Ketika matahari tenggelam, Selamet pulang dan menggulung tubuhnya di kamar. Sedangkan ibu dan bapak sibuk memikirkan anjuran dukun ternama untuk sebuah nama yang tepat mengganti Selamet. Tidak ada anjuran khusus kata dukun ternama, cukup ganti karena mungkin nama itu terlalu berat untuknya. Setelah menimang beberapa nama, keputusan jatuh pada nama Alif.

Ibu menggadai kalung emas untuk membeli kambing gendut dari seorang penggembala.  Sembari pulang menuju rumah dengan menggeret kambing gendut, bapak dan ibu memberitakan syukuran tentang pergantian nama Selamet menjadi Alif. Tak lupa mereka berdua meminta doa agar semua berjalan baik, Selamet diharap berubah dan tak lagi menghabiskan waktu untuk melihat pohon.

Seorang lelaki tua yang biasa menyembelih diundang. Ibu menyiapkan segala bumbu di dapur dan mulai mengolah daging sampai menguar aroma gulai ke segala penjuru. Sedangkan bapak menata segala ruangan sedemikian rupa. Hingga menjelang petang mulai berdatangan satu per satu para tetangga. Berjalanlah syukuran pergantian nama Selamet menjadi Alif penuh iringan doa baik. Selamet atau yang sekarang sudah menjadi Alif kebingungan dengan keramaian yang ada di rumahnya.

Tetapi tidak ada yang berubah dari diri Alif. Pagi sekali ia sudah berlari menuju pohon belakang rumah. Bapak dan ibu yang baru terjaga berharap akan menghirup aroma berbeda di hari ini terkejut-kejut melihat anak mereka masih diam melihat pohon. Dan berlangsung selama satu minggu.

“Barangkali nama Alif juga terlalu berat untuknya,” kata ibu.

“Syukuran lagi dong?”

“Iya, Pak.

“Beli kambing lagi?”

“Ibu masih punya celengan,” sebut ibu sambil menjepit dua celengan ayam jago di ketiaknya.

“Celengan?” bapak terkejut, “kalau tidak cukup?”

“Insyaallah cukup.”

“Kalau insyaallah tidak cukup?”

“Insyaallah, Pak!”

Ibu membelah dua celengan ayam jago di hadapan bapak. Setelah menghitung lima kali, hasil uang dalam kandungan ayam jago selama beberapa tahun itu belum cukup untuk meminang seekor kambing gendut. Ibu mengingat kawan lama, bapak pun terpaksa mengingat kawan lama. Karena alasan demi kebaikan Alif, kawan lama pun berkenan meminjamkan sedikit uang untuk melengkapi kekurangan bapak dan ibu.

Seekor kambing yang lebih gendut dari minggu lalu dibawa pulang. Ibu dan bapak mengundang orang untuk berdoa lagi. Nama Alif diganti Akbar.

Setelah Alif menjadi Akbar juga tak ada bedanya. Ia masih melihat pohon.

“Setan,” gerutu bapak.

“Sabar, Pak.”

“Apa. Mau bikin syukuran lagi?”

“Tidak, Pak. Sabar saja.”

Melihat anak yang aneh itu, bapak ingin menghajarnya. Tetapi, rasa bersalah di masa lalu yang masih membekas dalam diri, membuat bapak tak sampai hati untuk mengulang main tangan atau mengurung anak itu lagi. Sepertinya kekerasan memang bukan jalan yang tepat. Dan pergantian nama anjuran dukun ternama yang dipercayai ibu, juga tidak membantu. Malah menambah beban baru. Semalaman bapak melamun dan tidak tidur, merencanakan sesuatu. Sesuatu hal yang tidak diduga-duga.

Sejak pagi sampai sore selesai, bapak mengintai Akbar di pohon belakang rumah, Akbar pulang menggulung tubuhnya di kamar seperti biasa tanpa mencurigai bapak yang seharian memata-matainya. Tepat pukul sebelas malam setelah memikirkan sebuah rencana matang-matang—yang membuat bapak tidak tidur itu. Bapak akhirnya berangkat. Dengan bekal satu parang tajam yang sudah diasahnya diam-diam, bapak memandang pohon-pohon di belakang rumah. Tanpa berpikir ulang, bapak mengayunkan parang beberapa kali hingga menumbangkan satu pohon. Untunglah suara sabetan parang itu tak membangunkan Akbar dan ibu. Ternyata tidak sulit bagi bapak untuk menumbangkan pohon. Bapak beralih pandang ke pohon lain dan melakukan hal serupa. Dua pohon tumbang. Tiga dan seterusnya pohon-pohon di belakang rumah menyisakan tunggul. Dalam beberapa jam menumbangkan pohon di belakang rumah bapak pun kelelahan. Beberapa pohon berbalut daging yang tebal dan usaha itu sangat menguras tenaganya. Tinggal satu pohon terakhir malam itu. Dengan sisa-sisa tenaganya menjelang azan subuh berkumandang, bapak kembali mengayunkan parang.

Klerr semua beres tak tersisa, walaupun otot-otot bapak lebur tak menyisakan tenaga untuk beranjak menuju ranjang melepas kesempurnaan tidur lelap setelah hampir dua hari tak tidur, bapak hanya mampu merangkak untuk berhasil menggapai kamar tidur. Bapak lega dan merasa sudah menang. Sebelum memejamkan mata, lebih dulu bapak mendengkur lalu sampai ke kesempurnaan tidur lelap.

Apa yang terjadi ketika pagi harinya. Akbar terpekik-pekik saat melihat semua pohon di belakang rumahnya. Ia meronta-ronta seperti orang gila kesetanan. Ibu langsung terjaga mendengar suara teriakan Akbar yang memang amat keras membuat orang-orang terganggu dan mulai berdatangan. Kecuali bapak yang masih sempurna dalam lelapnya. Orang-orang Muncul dari berbagai arah, meski pun kemunculan mereka tidak untuk memberi jalan keluar, justru ingin mendapat tontonan yang lebih seru dibanding sinetron di tipi.

Tak ada yang bisa mengobati hati Akbar kecuali kemustahilan untuk membuat pohon-pohon itu berdiri lagi.

Bapak sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Ibu sangat terpukul dengan segala hal yang berlangsung aneh semasa hidupnya. Akbar tak ingin diajak bicara oleh siapa pun. Bahkan ia tak pernah lagi berbicara.

Seperti ingin menebus kesalahan, setiap malam hari bapak datang dari tempat yang tidak disadarainya. Bapak melihat semua pohon yang sudah ditebangnya, bapak mengeluarkan air mata. Bapak tidak tahu dengan apa yang telah terjadi pada anaknya yang selalu melihat pohon dan menangis ketika tidak melihatnya. Meski bapak sudah menangis sejadi-jadinya di antara pohon tumbang, bapak tidak pernah mengerti dan tidak pernah merasakan apa yang dirasakan anaknya bahkan ia tidak merasakan apa-apa lagi dengan dirinya sendiri. Dan air mata yang sejadi-jadinya itu seperti hambar tak mengena siapa-siapa.

Dan ibu, di setiap malam hari datang dari tempat yang tidak disadarinya. Ibu menatap parang yang digunakan bapak telah lama berdarah. Ibu tak bisa memungkiri dirinya dengan tangisan yang sejadi-jadinya, namun terasa hambar.

Air mata ibu dan bapak telah menjadi darah yang mengalir. Menenggelamkan parang dan tunggul dan rumah mereka menjadi lautan darah.

Dan juga, di setiap malam hari yang sama namun terasa berbeda itu, Akbar, berdiri di antara pohon tumbang. Sekilas-sekilas di matanya, bapak dan ibu ada di sana.***



===================
Beri Hanna bergiat di Kamar Kata Karanganyar & kelompokseseme.

Jadi Cerpenis Lagi

1


Sepuluh tahun, nyaris membuat lelaki itu lupa pada masa-masa di mana ia begitu masyhur sebagai seorang penulis cerita. Orang-orang mengaguminya, bukan pula karena wajahnya yang tampan, akan tetapi karena kepiawaian lelaki itu dalam mengolah kata-kata. Layaknya seorang musisi berbakat yang ditakdirkan Tuhan lahir ke dunia ini dalam periode waktu tigapuluh tahun sekali.

Cerita pendeknya telah memenuhi koran-koran. Dan ia cukup paham, bahwa dengan menulis, seseorang tidak akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Kalimat itu, seperti yang banyak dikutip dari seorang sastrawan besar. Namun kiranya tak ada yang benar-benar tahu ihwal mengapa lelaki itu memutuskan untuk berhenti menulis sepuluh tahun yang silam, bertepatan pula dengan cerita pendeknya yang pada saat itu dimuat di koran untuk yang ke seratus satu kalinya. Sungguh, sebagaimana kehidupan ini dijejali oleh orang-orang dengan pemikiran yang besar, terkadang hidup memang penuh dengan tanda tanya yang besar.

Di satu pagi, ketika pandemi dari virus corona belum menghampiri Indonesia, lelaki itu tampak sedang minum kopi di warung bersama seorang teman, tiba-tiba temannya itu bertanya.

“Kenapa kau tak menulis cerpen lagi?” seraya mengambil pisang goreng hangat di meja.

“Bosan.”

“Maksudmu?” tanyanya lagi.

“Ya, mungkin aku tengah bosan, dan pastinya pembaca juga bosan mendapati tulisan-tulisanku lagi.”

“Tapi, sudah sepuluh tahun, kan? Tak bisa disebut bosan. Itu kebablasan!”

“Ya, tapi di luar sana, banyak juga orang berlomba ingin jadi penulis cerpen. Itung-itung kasih kesempatan buat yang lain, dong.” Bebernya.

Terdengar seperti alasan-alasan yang memiliki kebijaksanaan paripurna. Temannya itu geleng-geleng kepala. Tapi lagi-lagi, sebagaimana mulut manusia yang bisa mengatakan apa saja untuk mengelabui orang, ia juga sadar bahwa semakin ia berbohong, semakin pula hatinya itu porak poranda. Pasalnya, hanya ia sendiri yang tahu alasan sebenarnya kenapa ia memutuskan untuk berhenti menulis. Baiklah, akan aku ceritakan kisah tersebut.

Alkisah, tigabelas tahun yang lalu, lelaki itu jatuh hati pada seorang wanita yang punya air muka memesona. Binar matanya meneduhkan dunia. Senyumnya ayu. Sebagaimana senyumnya, nama wanita itu pun adalah Ayu, tepatnya Dewi Ayu. Terdengar layaknya nama seorang tokoh di dalam sebuah novel, bukan?

Pada suatu hari, di mana si lelaki sudah tak tahan menahan cintanya, ia pun mendatangi rumah kost pujaan hatinya itu, dengan maksud ingin melamarnya.

“Bersediakah kau menjadi istriku? Sungguh, aku ingin menjadi pendamping hidupmu. Selamanya.”

Seperti kebanyakan wanita yang penuh dengan pesona, Dewi Ayu tak ingin semudah itu si lelaki mendapatkannya. Karenanya, ia pun memberikan sebuah prasyarat.

“Orang-orang tahu kau adalah seorang penulis cerita. Karenanya, aku punya satu permintaan.”

“Apa itu? Katakan saja! Apa kau ingin dibangunkan candi seperti kisah-kisah dalam legenda?”

Perempuan itu tersenyum manis. Ia hela napasnya. Ia arahkan tatapan matanya pada si lelaki.

“Begini. Tentunya cintamu butuh diuji. Aku akan menerimamu, manakala cerita pendekmu yang dimuat di koran mencapai angka seratus satu kali.”

Dan angin pun bertiup sepoi-sepoi, menggoyangkan janggut si lelaki yang tampak mulai memanjang. Burung-burung di dalam sangkar milik bapak kost pun seketika diam. Padahal sebelumnya mereka bersorak sorai.

“Baiklah.” Ucap si lelaki. “Hingga kini, cerita pendekku yang telah dimuat mencapai 66 cerita. Masih ada waktu. Kupikir, itu bukan perkara yang sulit-sulit amat.”

Lalu keduanya pun berpisah setelah menyepakati perjanjian yang sayangnya tak sempat ditulis di kertas apalagi ditandatangani di atas materai itu.

Hari demi hari berlalu, lelaki itu makin giat menulis cerita dan mengirimkannya ke koran-koran. Lewat grup Facebook “Sastra Minggu”, ia mendapati apakah cerita-ceritanya dimuat ataukah tidak. Satu dua cerita berhasil lolos, namun tidak sedikit juga yang harus kandas. Tapi ia tak berkecil hati. Karena perlahan tulisannya toh semakin mendekati angka yang ke 101. Pertanda bahwa semakin dekat pula kesempatannya untuk bisa memiliki Dewi Ayu, pujaan hatinya itu, cinta pertama dan terakhirnya.

Pembaca mungkin pernah mendengar kisah tentang Florentino Ariza yang menantikan cintanya Fermina Daza selama 51 tahun, 9 bulan, 4 hari? Sebuah penantian yang menyakitkan. Meskipun pada akhirnya waktu menyatukan mereka. Akan tetapi, dalam penantiannya akan cinta sejati, Florentino Ariza telah meniduri banyak wanita. Adapun lelaki dalam kisah ini memiliki kesabaran yang hakiki. Ia hanya ingin menyentuh Dewi Ayu. Bukan yang lain.

Maka, ketabahan macam apa yang dimiliki seorang lelaki yang semakin hari semakin pucat karena banyak menghabiskan waktunya di depan laptop? Menuliskan cerita hingga larut malam, kurang berolahraga, juga minum bergelas-gelas kopi tanpa memperhatikan makanan apa yang sebaiknya ia konsumsi. Tak jarang, ia jatuh sakit dan harus dirawat. Namun, cinta yang besar telah pula merawat semangatnya untuk terus menulis. Ia pun bangkit lagi. Menulis lagi.

Hingga pada akhirnya, di satu pagi di hari Minggu, sekitar sepuluh tahun yang lalu, wajah lelaki itu tampak semringah. Hari itu adalah hari pembuktian, di mana di malam sebelumnya seorang redaktur memberi kabar bahwa tulisan lelaki itu akan dimuat esok hari, yang artinya, cerita pendeknya dimuat sebanyak seratus satu cerita. Lengkaplah sudah.

Maka, lelaki itu pun lekas mendatangi si wanita dengan dada yang serasa mau pecah. Sedangkan angin bertiup mengempas rambutnya. Ia bersiul dan bernyanyi sepanjang jalan tak henti-henti, layaknya orang tersinting dari yang paling sinting yang pernah sinting yang ada di dunia ini. Sampai akhirnya, ia telah berada di depan rumah kos wanita itu. Lekas ia mengetuk pintu kamarnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga akhirnya berkali-kali, tak ada jawaban dari dalam kamar itu kecuali keheningan yang memacu banyak tanya.

“Dewi Ayu sudah satu minggu yang lalu meninggalkan tempat ini.” ucap ibu kos tiba-tiba mengagetkannya.

“Ke mana ia, Bu?” tanya lelaki itu. Senyumnya mulai surut.

“Dia bilang mau pindah kos. Tapi tak tahu di mana.” Jawab perempuan tua itu lagi.

Lalu, tiba-tiba saja, seperti ada neraka di dalam kepala lelaki itu. Ia pun gusar. Ia coba menghubungi nomornya, tapi tak lagi aktif. Ia bertanya pada teman-teman dekatnya, merekapun tak tahu. Ia sambangi setiap indekos di kota itu, namun sia-sia saja. Sama sekali ia tak mendapati wanita pujaan hatinya itu. Di sepanjang jalan, lelaki itu pun meraung-raung. Layaknya ia orang yang paling menyedihkan dari orang yang paling sedih yang pernah sedih yang ada di dunia ini.

Demikianlah kiranya, kisah itu aku ceritakan kepada Anda semua. Jelas kini, mengapa lelaki itu memutuskan untuk berhenti menulis, adalah karena ia begitu kecewa tak bisa mendapatkan cintanya si pujaan hati yang malah kabur entah ke mana. Sampai akhirnya waktu melaju mengubah musim, sepuluh tahun lamanya lelaki itu telah meninggalkan dunia tulis menulis.

Terkadang tumbuh setitik keinginan di hatinya untuk kembali menulis cerita dan mengirimkannya ke koran. Sepuluh tahun berlalu telah menenggelamkan namanya. Tak lagi ada yang benar-benar mengenalnya. Tak lagi ada yang membaca karya-karyanya. Kecuali ia sendiri yang terkadang iseng membuka laman www.lakonhidup.com dan membaca cerpen-cerpennya sambil tersenyum. Betapa romantisnya menyumbu kenangan.

Sampai di satu pagi, di mana ia tengah minum kopi bersama temannya, sebagaimana diceritakan di bagian awal kisah ini, keduanya pun terlibat obrolan.

“Lagian, sastra di koran sekarang sedang banyak polemik.” Tambahnya lagi. Tangan kanannya mengambil bala-bala.

“Polemik gimana?” tanya temannya itu.

“Terkadang, tak semua karya yang dimuat itu karya yang baik. Belum lama ini, aku membaca cerpen di koran, dan itu buruk sekali.”

“Oh, ya?” temannya seolah tak percaya.

“Bahkan, beberapa bulan lalu, ada puisi yang dimuat di koran, eh, ternyata plagiat dari lirik lagu yang pernah ditulis seorang sastrawan hebat.” Beber lelaki itu.  

“Kenapa bisa begitu?”

“Ya, demikianlah. Selama orang menulis untuk menjadi tenar, kupikir hal-hal demikian akan selalu terjadi. Belum lagi, sering sekali terjadi pemuatan ganda. Sampai ada istilah tebar jala segala.”

“Wah, seperti menangkap ikan saja.” celetuk temannya itu dan keduanya pun tertawa lepas.

Syahdan, direguknya kopi yang tinggal sedikit itu dan kepada temannya lelaki itu pun mohon pamit.

Di rumah, lelaki itu pun segera meraih laptop-nya, dan meneguhkan hatinya untuk menulis sebuah cerita. Cerita itu pertama-tama ia beri judul, “Seorang Cerpenis yang Telah Lama Menghilang”. Lalu ia memulai paragraf pertamanya dengan kata-kata “Sepuluh Tahun Lamanya”. Demikian, perlahan namun pasti, lelaki itu menuliskan cerita. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Paragraf demi paragraf. Ia susun cerita itu dengan sebaik-baiknya. Hingga, manakala paragraf terakhir selesai, ia pun mengganti judul cerita tersebut yang menurutnya terlalu panjang.

“Seperti kebanyakan orang saat ini saja, buat judul cerpen kok, panjang-panjang.” Gumamnya, sembari menghapus judul tersebut dan mulai menggantinya dengan judul yang baru yaitu “Jadi Cerpenis Lagi.” Setelah tulisan itu selesai, ia pun mengirimkannya pada salah satu redaktur koran. Tapi naas, berbulan-bulan cerpennya tak juga tayang. Lalu, ia pun menyunting kembali cerpen itu, dan mengirimkannya pada salah satu media daring ternama. Hingga akhirnya cerpen itu pun ada di hadapan Anda semua.

Sebuah kisah yang memilukan, bukan?

Batujajar, 27-12-2019.

=====================
Anggi Nugraha. Lahir di Batumarta 2 Kab. OKU, Sum-Sel. Alumnus Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya dimuat di : Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat, Tribun Sum-Sel, Lampung Post, Malang Post, Padang Ekspres, Palembang Ekspres, Radar Surabaya, Koran Singgalang, Radar Mojokerto, Koran Berita Pagi, Radar Cirebon,  Majalah SUAKA, dll. Saat ini bekerja di Nurul Fikri Boarding School Lembang, sebagai Pustakawan.

Setelah Bunuh Diri

0


“Malam ini, ada yang hening setelah suara anjing liar itu muncul di dekat jendela, dan firasat itu tiba-tiba terus berhamburan. Dada disesaki penuh curiga, sedang cemas bergelantung di wajah, peristiwa apa yang terjadi setelah dua malam aku kehilangan ibu?”

Gundukan tanah di pemakaman masih basah, aroma bunga dan suara desing ingatan tentang ibu masih belum lerai, namun kabar kepulangan kembali menghampiri, empat puluh delapan jam ditinggal seorang ibu, kini terdengar lagi berita bahwa aku kehilangan adik bungsu yang mati bunuh diri.

Pertanyaan-pertanyaan tersiarkan, sesungguhnya kehilangan dari bagian anggota keluarga sama seperti kehilangan nafas panjang. Liwang adalah adik bungsuku, setelah usianya beranjak remaja, ia semakin latah kepada agama, kehilangan didikan ayah dan ibu. Ia tak bisa memungkiri, bahwa sejatinya hidup yang ia jalani kini tidak berada pada satu jalan yang benar..

Suatu pernah, Liwang berlari sambil berteriak di lorong-lorong, ia menyebut sesuatu yang teramat ganjil dalam telinga. Apa itu? Nadanya seperti ia sedang kerasukan dengan mantra dan komat-kamitnya, memang akhir-akhir ini Liwang terangsang dengan pelajaran  Kaburakneang atau pelajaran  kitab laki-laki. Dada membusung, urat di tangannya mengembang ia memegang sebuah kertas bertulis lontarak.

Ilmu Kaburakneang atau kitab laki-laki dahulu dipelajari tidak hanya sebatas pelajaran ilmu kebal tubuh dan bela diri, tapi ilmu ini juga mengandung pelajaran menggaet atau wangsi wanita, menimpali musuh dengan suara, bahkan sampai penguasaan jelajah laki-laki dalam segala bidang. Saya teringat kisah yang sering dituturkan oleh Ibu, bahwa dahulu moyang saya I Manakku adalah lelaki pilihan Sombaya atau Raja di Gowa, ia berperan sebagai juru pembuka dari hal-hal yang ingin dilakukan oleh raja, nubuatnya sampai dan pesannya berkelindang dari zaman ke zaman. Ramalannya benar.

Moyang saya sering berpesan, “Bunuhlah dirimu dahulu, sebelum engkau terlahir ke dunia”. Ia menegaskan bahwa segala ilmu yang kita miliki tentu kita pasrahkan pada pemilik ilmu dan mengembalikannya setelah kita pergunakan, “Jangan sombong, apalagi terbang karena ilmu sedikitmu.” Ini yang menjadi rentetan pesan yang kami pegang. Namun sayang, kejadian naas terjadi pada adikku Liwang, setelah ia menguasai ilmu ini, ia sempoyongan, tak mampu menunjukkan itikat baik ilmu ini, ia terasa dahaga, suhu tubuhnya meningkat serta amarahnya kian menjadi-jadi.

***

Aku menemui Pak Daming, ia adalah seorang ustad di Kampung yang cukup terkenal, banyak hal yang ia ajarkan lantas orang menjadi segan padanya, salah satunya bijaksana dalam berpikir. Buru-buru aku berjalan, ingin membantu adik bungsuku yang kini sudah di ambang batas. Perjanjian itu dimulai pukul lima sore, mencoba menemukan biang masalah yang terjadi.

“Apa yang membuat kita termakan oleh mantra sendiri?”

“ Pantangan yang ditentang!”

“ Ilmu ini sudah saya tangkal dengan batu atau pengganti.”

“ Ilmu itu kuncinya adalah sembahyang. Sudahkah kau sembahyang, Nak?

“ Ia, aku sembahyang.”

“ Sudahkah kau matikan dirimu di sana?”

“ Mati?”

Dari rahasia bahasanya, Pak Daming menyimpan rahasia pada setiap pertanyaannya, pikiranku menggelayut, mencoba menziarahi peristiwa apa dahulu yang terjadi, hingga pada suatu titik aku dan Liwang pernah terjebak dalam pencarian. Waktu itu pelajaran Kaburakneang membahas Bab Aru Tubarani. Sebuah sumpah atau ikrar lantang kepada  Tuan Yang Mulia. I Manakku mengisahkan bahwa dalam tiap syairnya, tersimpan zikir-zikir yang mesti dikuasai. Misal maknanya, orang baru berjanji ketika selatan dan utara tertutup, barat dan timur saling memanggil.

***

“Liwang Pongoro’! Liwang gila!” Ejek seorang kawannya yang benci. Kegilaan itu terjadi akibat hilangnya masa dimana kenyataan tertolak atau terabai, Liwang selalu bermimpi diserang binatang, entah seekor ular, anjing, harimau, kuda dan monyet. Jurus dan gerak binatang itu selalu ia ikuti, persis cara membuka bunga mancak bela diri yang ia pelajari. Pesan moyangku dulu, ketika kita tak menemukan diri kita, maka kita akan menjadi sesuatu, huff… barangkali sesuatu itu adalah yang menimpa Liwang.

“Bunuh dirimu.”

“Setelah itu?”

“Kau menemukan dirimu setelah itu.”

Ajakan bunuh diri ini memang terus menghantui, menguras keringat dan pikiran. Sejak kami berikrar, pintu-pintu rahasia itu terbuka dengan lebar. Daun yang kering diterbangkan oleh angin, batang pohon tumbang hanyut oleh air, jarum patah berkelindang dengan benang. Ini adalah bahasa filsuf yang tertera pada bab Aru Tubarania.

***

Di tengah malam sunyi, hujan deras tiba-tiba jatuh ke bumi, seseorang datang dari jauh dengan tubuhnya yang gigil, bajunya kuyup, perlahan ia mendekat ke pagar depan rumah, sesekali kututup gorden putih, mengintip perlahan siapa lelaki itu yang sempoyongan datang dari jauh. Tanpa ketuk dan suara panggilan, seseorang itu langsung menuju pintu rumah, ia terkena bola lampu kuning di teras rumah, tampak wajahnya beku, bibirnya putih, mungkin rasa dingin yang berlebih membuatnya demikian.

Potongan rambutnya acakan, itu faktor air hujan yang membuatnya demikian, sesekali ia mendesir, juga melepaskan dahak basah. Suara itu kukenal, ia adikku. Liwang. Tetiba saya berlari, menghampiri pintu, namun ada rasa cemas, buat apa Liwang datang? Tidakkah ia sedang gila? Jangan-jangan ada dendam denganku. Suara jantungku memompa begitu cepat, wajahku memerah, nada ketakutan muncul dan pikiran-pikiran bahwa Liwang datang mencelakaiku. Itu pasti terjadi, sebab kutahu, Liwang memang begitu lama tak pernah kupeduli, bahkan saat pengajian terakhir kematian ibuku ia tak kuajak. Sebab kenapa? Orang-orang takut pada Liwang, mereka mengaku bahwa, apabila Liwang datang, maka jamaah pengajian akan bubar, bahkan tak akan ada lagi yang datang ke rumah duka.

Tapi aku kasihan pada Adikku. Batinku, merasa bersalah.

“Kak Anto… buka pintunya!” Suara Liwang bergetar.

Sengaja aku mencoba mengulur waktu, meski tanganku sudah berada di gagang pintu, namun kecemasanku belum hilang, ketakutan terbesarku adalah, jangan sampai aku dibunuh oleh adikku sendiri, karena kutahu, bila amarah telah memuncak, juga tak ada pengingat, segala daya dan upaya bisa saja ia lakukan, bahkan menghabisiku, kakak kandungnya sendiri. Namun saya mencoba menyeimbangkan hal negatif tadi. Saya berusaha meyakinkan diriku pula bahwa Liwang butuh pertolongan, ia adik kandungku, tentu akulah orang yang ia datangi bila ia membutuhkan sesuatu.

“Kak Anto, aku butuh badik itu!” Liwang meminta senjata besi. “Buat apa Liwang? Aku tidak akan memberikanmu,” timpalku.

“Aku butuh.. Darah memang menjadi tanda-tanda yang mesti kita buka.”

“Aku tidak mengerti apa maksudmu,” jawabku.

“Sungguh kematian itu tak pernah ada yang menyambutnya, tapi aku tidak, aku ingin coba lepas dari ini,” Liwang menjelaskan.

“Tapi tidak benar kematian itu diundang secara terpaksa,” selaku, “Untuk apa badik itu, Liwang?”

Tiba-tiba Liwang berlari ke ruangan paling belakang, di sana kamar mendiang ayah dan ibunya dahulu ketika masih hidup, ia berusaha mengambil warisan besi orang tuanya. Aku tak dapat melerai dan menghalaunya. Tiba-tiba Liwang menggapai sebuah besi, ia dapatkan yang dicari. Liwang ke luar rumah, berlari seratus meter menuju peristirahatan terakhir ibunya, sesampai di sana ia melepas besi itu dari sarungnya lalu tiba-tiba badannya gemetar, memejamkan mata, dan menghadap kiblat. Mampus.

“Aku bunuh diri, guru. Aku ingin hidup dengan diri sendiri.” Badik itu menyasar ke perutnya. Aku berteriak mencoba menghentikan Liwang. Namun sayang, Liwang tersungkur jatuh di sisi gundukan makam ibu, ia mati bunuh diri. Menunggu setelah bunuh diri.




==================
Damar I Manakku nama pena dari Rahmat R. S.S. Lahir di Takalar, Sulawesi Selatan, 13 Agustus 1995. Pendiri Komunitas Sastra Berkata (Kosakata) Makassar, direktur Pakalawaki Institute, Alumni Fakultas Sastra UMI, sekarang menjadi tenaga pengajar di Alfityan School Gowa. Telah menerbitkan beberapa buku puisi dan cerpen, Kumpulan puisi Pulanglah Daeng (2017), Kumpulan Puisi “Di Tubuh Puisiku, Ada Tubuh Memeluk Kekasihnya”, Kumpulan Cerpen “Matinya Penyair Di Tangan Almanak” dan kumpulan cerpen “Surat Kematian Cinta”

Terbaru

Sophia

Apakah kenangan sesungguhnya berbatas ruang dan waktu? Aku tak memiliki kenangan masa kecil. Aku hanya mengingat perihal lelaki yang saban Sabtu...

Stasiun Perpisahan

Serumpun Folklor

Menanti Kau Mekar, Suatu Hari

Dari Redaksi