Cerpen

Home Cerpen

Lingkar Waktu dan Tamu dari Masa Lalu

0

Hujan salju turun deras sore ini. Saya berdiri di depan rumah keluarga Andersen dan bertanya-tanya di dalam hati; beginikah perubahan musim di masa depan? Saya belum pernah melihat hujan salju selebat ini. Beberapa kepingnya melekat di wajah, di bahu, di rambut, lalu ‘bum’ sebongkah es terjatuh dari dahan mapel. Saya terkejut dan bergeser.

Saya memperhatikan pohon-pohon lain, yang tumbuh berbaris di pinggir jalan. Bentuknya begitu elok, mengembang, persis rok seorang balerina. Daun-daunnya berwarna kekuningan dan tampak tua. Rasanya aneh, menyaksikan pohon-pohon itu menjadi tua dalam tempo semalam saja.

Dalam urutan acak, saya mengingat rangkaian kejadian demi kejadian yang membawa saya berada di sini. Tadi malam, seharusnya saya bersama Patti, menanti komet Halley melintas sambil menikmati segelas cokelathangat. Namun rencana itu buyar, karena sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan, kecuali samar-samar.

Beberapa jam yang lalu, saya baru pulang dari pesta ulang tahun Simon. Di dapur, saya menemukan genangan air. Saya menduga ada kebocoran di pipa ledeng. Saya lantas mengambil peralatan dan membuka pintu ruang bawah tanah. Terowongan itu terasa lebih panjang dari yang pernah saya ingat. Di ujungnya ada seberkas cahaya. Saya merangkak ke sana dan sesampainya di ujung cahaya itu, baru saya sadari, saya telah berada di masa depan.

Sekarang di sinilah saya berdiri, tepat di bawah pohon mapel, berlindap dari guyuran hujan salju yang lebat. Di seberang sana, saya melihat pria tua sedang membersihkan bongkahan salju. Rambutnya merah dan kulitnya cerah. Dia memakai celana panjang dan kemeja hitam dengan kerah sedikit terbuka, seolah-olah baru saja pulang kerja. Pria tua itu menyadari jika saya sedang memperhatikannya. Dia menaruh sekop dan mengelap tangan ke celana panjangnya.

“Hei, kemarilah!” teriaknya sambil melambai.

Wajah pria tua itu bundar dan klimis. Dia terlihat feminim seperti gadis-gadis remaja yang belum matang. Tubuhnya agak melengkung, mungkin karena termakan usia. Sekali lagi dia melambaikan tangan. Saya mengangguk dan mendekat.

“Anda tampaknya sedang kebingungan,” ucapnya saat saya sudah berdiri di balik pagar. “Anda mencari seseorang?”

“Mungkin begitu,” jawab saya. Saya memperhatikan bangunan rumah di belakangnya. Tidak ada yang berubah. Hanya pada bagian pintu, catnya sedikit terkelupas, tapi warnanya masih seperti kemarin. Hijau toska.

Pria tua itu tertawa. Meski renta, giginya masih tetap sempurna. “Kalau boleh tahu, ke mana tujuan Anda?”

“Saya datang dari jauh. Jauh sekali.”

Kata ‘jauh sekali’ yang saya sampaikan memang bermakna sesungguhnya. Antara saya dan pria tua itu memang terpaut jarak puluhan tahun. Dia mengangguk, lalu mengusap rambut peraknya. Serpih-serpih salju membintik di atas kemeja hitamnya.

“Masuklah,” katanya sambil membuka pintu pagar. “Saya akan membuatkan cokelat panas untuk Anda.”

Saat memasuki pekarangan, saya merasa waktu tidak pernah beranjak. Suara derit engsel rumah itu bahkan tidak berubah sedikit pun. Saya duduk di kursi kayu, mengambil koran yang tergeletak di atas meja, membaca berita tentang kelahiran seekor bayi panda. Pada tanggal yang tertera, saya merasa sangatlah tua.

“Minumlah.”

 Koran itu saya lipat dan saya letakkan kembali ke atas meja. Dia meletakkan gelas cokelat panas ke samping koran. Aroma manis menggugah selera. Sekilas saya menatap tangannya, pada punggung telapak tangan kanan itu, saya melihat bekas luka.

“Saya tahu apa penyebabnya.”

“Apa?”

“Bekas luka itu,” jawab saya sambil menunjuk punggung telapak tangannya. “Saya tahu penyebabnya.”

“Bekas luka ini punya kisah tersendiri.” Dia menyentakkan lengan kemejanya yang tergulung untuk menutupi bekas lukanya. Dia duduk dan melanjutkan kata-katanya. “Saat itu musim panas. Saya sedang menarik gerobak pengangkut gandum milik ayah, saat seekor sapi yang sedang berahi melanggar saya dan …”

“Dan Anda bersembunyi di lumbung gandum sampai malam. Anda tak beranjak meski ibu Anda menangis dan menganggap Anda hilang.”

“Anda banyak tahu tentang saya, heh?” Dia menoleh cepat, menatap penuh keterkejutan. Saya pikir, itu reaksi wajar. Saya menyesal telah bersikap tidak sopan.

“Anggap saja tebakan saya akurat,” jawab saya. Dia terkekeh, lalu menyeruput cokelat panasnya.

“Anda tadi bilang sedang mencari seseorang?” tanyanya sambil meletakkan gelas ke atas meja. Matanya mengerling jenaka. “Bagaimana jika ternyata yang Anda cari itu adalah saya?”

“Saya tak mengerti?” sahut saya terus terang.

Dia berdeham sekali, menarik lengan kemejanya sebatas siku. “Buktinya Anda tahu riwayat luka ini. Bukankah itu artinya Anda sangat mengenal saya? Anda cucu Pattinson? Kisah luka di tangan ini hanya diketahui tiga orang; ayah dan ibu, dan Patti.”

Saya terdiam dan menggeleng. Di jalanan, bus kuning berhenti. Anak-anak berseragam turun berebutan. Anak-anak pria dan perempuan membawa tas sekolah kecil, berlari menuju rumah masing-masing. Sesekali tawa mereka melengking, menari-nari sambil merentangkan tangan menampung butiran hujan salju.

Saya memandang ke langit, melewati pohon mapel, melewati kanopi rumah keluarga Andersen, tempat pertama saya menyadari bahwa sesuatu yang ganjil telah terjadi. Tetapi, saya berusaha membuat keganjilan itu mampu ditoleransi akal sehat, terutama oleh pria tua ini.

“Dengar, saya merasa kita sudah saling mengenal sebelumnya,” ucapnya memandangi saya lekat-lekat. “Ini memang terdengar aneh, tapi saya yakin Anda bisa menjelaskannya.”

“Entahlah.” Saya menggeleng pelan. “Saya tidak bisa menjelaskan.”

Pria tua itu berdecak, menunjukkan gestur kecewa. “Ya, saya bisa saja salah. Tapi dalam pandangan saya, Anda jauh lebih pintar dari keledai tua setengah buta yang saat ini sedang berbicara dengan anak muda berumur dua puluh lima.”

“Apa yang membuat Anda mengira saya berumur dua puluh lima?” tanya saya kaget.

“Mudah saja,” katanya tersenyum simpul. “Saya pernah berumur dua puluh lima, dan masih ingat semuanya. Saya pikir, saya mirip Anda.” Dia mengangkat tangan dan membuat bahasa isyarat ‘sedikit’ itu dengan ujung telunjuk dan ujung jempol yang ditautkan.

Saya tersenyum. “Saya genap dua puluh lima pada Desember nanti,” kata saya.

“Saya juga. Hei! Hari ulang tahun kita sama!” Dia berseru senang, namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah murung. “Tapi saya genap tujuh puluh lima. Tua sekali, bukan?”

“Tidak juga. Anda masih tampak muda,” ucap saya menghiburnya.

“Menjadi tua itu kutukan.” Dia mengatakan kalimat itu sambil mengibaskan tangan. “Jika boleh—maksud saya, jika bisa—saya ingin kembali ke masa lalu. Di tahun saat saya seusia Anda.”

“Saya kira itu salah. Seharusnya menua bisa membuat Anda terlihat lebih matang. Hmm… maksud saya bijaksana.”

“O tidak, tidak,” katanya serius. “Justru menjadi tua, sebatang kara, adalah kutukan. Saya benci menjadi tua.”

“Saya tak ingin serapuh Anda saat menjadi tua.”

“Maaf? Anda bilang apa tadi?”

“Saya bilang, saya ingin hidup setua Anda. Mungkin rasanya menyenangkan.” Sengaja saya mengganti ucapan tadi agar dia tidak tersinggung.

“Telinga saya sedikit bermasalah. Kalau tak keberatan, tolong bicara agak keras.”

“Tentu saja,” jawab saya merasa tak enak.

“Nah, sekarang ceritakan tentang diri Anda. Mungkin saya bisa membantu Anda menemukan orang yang Anda cari.” Dia menyeruput cokelat hangat dengan tergesa, lantas berkata dengan senyum simpul dan wajah merona. “Entah kenapa, saya tetap merasa Anda ada hubungan dengan Pattinson. Gadis dari masa lalu saya.”

Saya mengabaikan perkataan pedih itu dan kemudian saya mulai bercerita. Tentang pertama kali saat saya mencium bibir Patti di belakang sekolah, lalu beralih pada adegan saat saya kehilangan ayah dan ibu—mereka kecelakaan di tikungan dekat danau Praden saat saya berusia 19 tahun. Dan terakhir, saat saya terluka melihat Patti berdansa dengan Frank di ulang tahun Simon.

“Brengsek!”

Rangkaian cerita saya terhenti oleh makiannya. Saya memandangi wajahnya dan dia memandangi wajah saya juga. Rasanya ganjil sekali. Mata itu—meski sedikit dinodai bercak katarak—adalah mata yang biasa saya pandangi setiap kali bercermin. Kulit keriput di tepiannya berkedut sedikit, lalu hilang saat dia berpaling.

“Cerita Anda itu, rasanya sulit untuk mengakuinya omong kosong.” Dia memijat ruang di pertengahan alisnya. “Jadi, kisah hidup kita sama?”

Saya mengangguk. Pandangan matanya menajam, menusuk dengan rasa ingin tahu. “Siapa Anda sebenarnya?”

“Setelah saya menceritakan semuanya, Anda tak bisa menebak siapa?”

Pria tua itu menggeleng.

“Saya adalah diri Anda sendiri.”

“Oh, yang benar saja…”

Tawanya menggelegar, terbahak sampai air mata meleleh di pipinya. Pria tua itu melipat lutut, menyandarkan tubuh ke kursi.

“Lebih baik Anda tak berbohong.”

“Apa saya terlihat berbohong?”

“Baiklah. Anggaplah saya percaya. Hmmm… jadi Anda datang dari masa lalu saya, begitu?”

Saya mengangguk.

“Anda tidak sedang mempermainkan saya, bukan?” tanyanya dengan nada cemas, seakan dia sedang terjebak di persimpangan jalan dan semua orang membunyikan klakson.

“Sama sekali tidak.”

“Kalau begitu, bunuhlah saya,” katanya dengan nada bicara yang aneh. “Dengan begitu Anda akan menyelamatkan diri Anda sendiri.”

“Menyelamatkan dari apa?” tanya saya kaget.

“Dari nasib buruk menjadi tua.”

Saya membayangkan memenuhi permintaannya dan dia jatuh berlutut dengan tangan menutupi leher. Darah menyembur di antara jemarinya. Tapi raungan sirene patroli polisi membuat saya tersadar. Seandainya saya membunuhnya, bagaimana hukum menjerat saya. Saya dan pria tua itu adalah orang yang sama. Bagaimana agar semua ini masuk akal. Saya kesulitan menjelaskannya. Sore semakin redup, pikiran saya dilanda keabsurdan tak terpermanai. (*)



=================

Adam Yudhistira (1985). Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktifitas bersastra, ia juga mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Ia aktif di komunitas sastra Pondok Cerita. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Penyair Maun Bin Saun

0

Cinta mereka terhalang tembok pembatas. Pesantren sengaja membuat tembok tinggi-tinggi agar santri dan santriwati tak kumpul seperti kerbau. Sehingga, mereka tak punya kesempatan menjalin asmara dengan lawan jenis. Mereka kerap dikasih makan ilmu, namun dibiarkan dahaga akan cinta. Oh, sungguh malang nasib mereka.

Namun ketahuilah—seperti kebanyakan orang—di mana ada peraturan, di situlah para pelanggar merajalela, tak terkecuali di pesantren. Sebut saja mereka Solmat dan Solmet, di tengah malam yang kelam mereka berjalan mengendap-endap. Mereka berjalan cukup pelan, sehingga tak menimbulkan bunyi yang biasa tercipta dari gesekan sepasang sandal jepit. Pupil mata mereka tak henti-henti mengerling waspada, takut-takut ada saksi mata atau malah ustaz-ustaz memergoki.

Mereka tak peduli pada angin malam yang berembus dingin. Mereka juga tak peduli pada kenakalan angin yang kerap menyingkap sarung-sarung mereka. Mereka tetap berjalan, dan pintu yang sedari tadi terbayang di kepala mereka, kini telah di depan mata. Mereka senang bukan alang kepalang, hanya saja perihal senang ia ciptakan tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.

Ini bukan kali pertama mereka mengendap-endap pergi ke pintu itu. Pintu itu telah menjadi penyelamat bagi mereka yang telah dahaga akan cinta. Pintu itu adalah penghubung asmara seorang santri pada santriwati. Dengan pintu itulah, para santri dapat mengirim kata-kata rayuan yang sudah tertulis dalam bentuk surat. Dan dengan pintu itu pula, para santriwati dapat membalas surat-surat sang pujaan hati.

Pintu itu memiliki cela, ada lubang kecil memanjang di bawah pintu itu. Di lubang kecil itulah, para santri menyelipkan surat dan santriwati membalas surat. Mereka sangat beruntung, sebab pintu itu dekat dengan kamar-kamar para santriwati. Sehingga, para santriwati tak harus jauh-jauh mengambil surat beramplop merah muda itu. Ah, ada-ada saja  sepasang darah muda itu.

“Cepat, selipkan,” bisik Solmat pada Solmet.

Solmet pun dengan tangkas mengambil beberapa surat yang tersembunyi di balik songkok hitamnya. Satu per satu surat itu masuk ke dalam lubang kecil di bawah pintu. Tak berselang lama, santriwati memberi kode dengan ketukan kecil pada pintu. Ketukan itu adalah sinyal bahwa santriwati telah menerima surat-surat itu. Yes, misi mereka berhasil.

Sebenarnya mereka ingin berlama-lama di pintu itu, bercakap-cakap lirih dengan para santriwati. Namun, tetiba seekor cecak merayap di dinding, lantas mengeluarkan bunyi, “Cek, cek, cek!” bergemuruhlah dada mereka. “Pertanda buruk,” ucap Solmet lirih mengingatkan. Dengan langkah pelan-pelan dan mengendap-endap pula, mereka menjauh dari pintu itu.

Mereka percaya, suara cecak adalah sebuah pertanda buruk. Cecak bersuara, sebab ia ingin bilang sesuatu. Maka, saat mereka pergi dari pintu itu, ia percaya ada seseorang yang datang mendekat. Namun mereka tak tahu, cecak bersuara bukan karena perihal ada orang mendekat. Cecak bersuara sebab si cecak ingin kawin dengan lawan jenis. Cecak oh cecak, mengapa orang-orang kerap bersangka buruk padamu?

“Gimana, lancar kan?” tanya salah satu santri mewakili. Di dalam kamar, beberapa santri memang telah menunggu kedatangan Solmat dan Solmet. Mereka terdiri dari santri-santri yang menitip surat.

“Tenang, semua beres pada kami,” jawab Solmat membanggakan diri.

“Betul, semua pasti beres. Hanya saja, nyaris barusan kami ditangkap basah,” Solmet menimpali.

Perihal kalimat nyaris ditangkap basah itu memancing santri-santri lain. Mereka memasang telinga baik-baik teruntuk mendengarkan kisah menegangkan itu. Solmat dan Solmet pun tak masalah menceritakan perihal itu. Mereka bercerita dari awal—benar-benar awal—dari ketika mereka mengendap-endap menuju pintu penghubung asmara itu. Solmat dan Solmet sangat asik bercerita, begitu pun dengan para pendengarnya asik mendengarkan. Eh, tahu-tahu azan subuh telah berkumandang.

Ya, begitulah hubungan asrama santri dan santriwati, tembok tak dapat menghalangi cinta mereka. Meski mereka jarang ketemu dan saling bertatap muka, masih ada surat-surat cinta yang mewarnai hari-hari mereka. Namun, perlu kalian sekalian ketahui, semua perihal itu berkat jasa Maun. Ialah orang yang menulis surat-surat itu.

Maun memang bercita-cita menjadi penyair. Dan sekarang, ia mengabdi pada handai tolan. Ia rela membuatkan teman-temannya kata-kata indah. Ia akan bergadang sepanjang malam, hanya demi menulis surat-surat untuk santriwati. Tentu, ia tak memberi namanya di surat itu, melainkan nama temannya.

Maka dari itu, teman-temannya sangat mencintainya. Mereka percaya, Maun akan berhasil menjadi penyair suatu saat nanti. Sebab, kata-kata indah yang ditulis Maun berhasil membuat santriwati klepek-klepek. Kata-katanya seperti mengandung sebuah sihir, sehingga para gadis akan terpikat.

Dan tentu, teman-temannya tahu diri. Mereka tak minta jasa Maun secara cuma-cuma. Bila datang waktu mereka harus mengirim surat pada santriwati, mereka akan beli makanan ringan banyak-banyak, lantas disuguhkan kepada penyair kita Maun bin Saun. Saat itulah, Maun akan tersenyum dan mulai menulis rayuan-rayuan memikat pada sebuah kertas. Sebab ia tahu, saat-saat itulah kepenyairannya benar-benar dibutuhkan dan diperhitungkan.

Tak hanya itu, Maun juga diizinkan membaca surat balasan dari santriwati. Sebab dengan begitu, Maun bisa menulis surat berikutnya. Seperti kala ini, Solmat dan Solmet membawakan beberapa surat balasan. Dengan didengarkan beberapa santri, termasuk Maun, Solmat pun membacakan salah satu isi surat balasan tersebut.

“Sungguh hatiku bagai terbang ke awang-awang kala membaca suratmu, Kekasih,” baca Solmat sembari menirukan gaya bicara seorang perempuan. Dan saat itulah santri-santri lain akan berseru, “Oh…!” sementara Maun hanya tersenyum penuh kemenangan. “Sungguh! Barangkali inilah yang dinamakan candu akan surat-suratmu,” terus Solmat.

Setelah rampung surat-surat itu dibacakan, Maun akan mengambil pena dan kertas. Santri lain akan mencermati apa yang dilakukan seorang Maun. Calon penyair itu mulai menulis surat balasan, tentu sambil tersenyum bangga. Wahai bidadari tanpa sayap, maukah engkau menginap di hatiku barang sejenak? Aku tak bisa hidup tanpamu, apalagi mati, aku juga tak bisa mati tanpamu.

Kertas itu ia lipat, dijadikannya sebuah surat, lantas diberikan pada temannya secara percuma. Ia betul-betul berjasa bagi hubungan asmara santri-santri lain. Setelah ia memberikan surat itu, ia pun pergi dengan gagahnya. Ketahuilah, meski ia kerap membantu teman-temannya membuat surat, ia sendiri masih jomlo alias tak memiliki kekasih.

***

Kini saatnya untuk Maun mencari tulang rusuknya. Ia telah lulus dari pesantren, dan mencari calon istri. Bila diingat-ingat lagi, dahulu di pesantren ia adalah si jago pembuat surat teman kepada kekasihnya. Tentu dengan bakat yang ia miliki, tak sulit baginya untuk mendapatkan seorang kekasih.

Dan benar, dengan hitungan bulan ia telah memiliki seorang kekasih, dan sebentar lagi ia akan memutuskan untuk segera menikah. Bukankah menikah adalah jalan untuk menyempurnakan separuh agama, kenapa harus ditunda-tunda? Ia senyum-senyum sendiri, sebab beruntung memiliki kekasih yang aduhai jelita, dari pesantren yang sama pula.

Si Maun kerap memabukkan kekasihnya dengan kata-kata indahnya. Begitupun dengan si kekasih, ia benar-benar nyaris mabuk dengan kata-kata sang penyair Maun. Suatu hari yang cerah, Maun dan kekasihnya pergi berjalan-jalan, Maun memutuskan untuk melamar kekasihnya saat itu juga.

Maun sedikit merayu kekasihnya kala itu, dan alangkah terperanjatnya si Maun kala kekasihnya membalas rayuannya dengan kata-kata yang cukup indah. Sebenarnya, bukan hanya kata-kata indah yang membuat Maun agak terpesona, melainkan karena kata-kata itu tak asing di telinganya. Kira-kira begini kata-kata si kekasih, “Sungguh hatiku seperti terbang hingga ke awang-awang mendengar rayuanmu. Barangkali, inilah yang disebut candu akan kata-katamu itu.” Ya, tak salah lagi, kata-kata itu sempat Maun dengar di pesantren. Kata-kata itu sunguh persis dengan isi surat seorang santriwati dahulu.

Maun sangat senang dapat berjodoh dengan seorang perempuan, bekas santriwati yang mengirim surat balasan dengan kata-kata indah itu. Ia pun tak ingin kalah. Ia ingin menunjukkan bahwa ia yang menulis surat-surat untuknya dahulu. Maka dengan penuh semangat, Maut merayu kekasihnya lagi dengan kata-kata yang dahulu sempat menjadi sebuah surat, “Wahai bidadari tanpa sayap, maukah engkau menginap di hatiku barang sejenak? Aku tak bisa hidup tanpamu, apalagi mati, aku pun tak bisa mati tanpamu.”

Kali ini giliran si kekasih yang terperanjat mendengar kata-kata itu. Kata-kata itu tak asing di telinganya. Kata-kata itu sungguh persis dengan isi surat seorang santri yang mengirim surat dahulu. Maun tersenyum menang, sebab menyadari ekspresi heran kekasihnya. Namun, tak seperti dugaan Maun, beginilah jawaban si kekasih, “Dasar pembohong!”

Dahi Maun berkerut-kerut.

“Itu bukan kata-katamu. Kau plagiat. Aku tahu, kau mencuri kata-kata itu dari seseorang. Dasar pembohong!” kekasihnya meradang, dan saat itu pula penyesalan baru Maun rasakan. [] 

=======================

Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura.Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak.

Allesandra dan Ksatria Bertapa

0


INGIN menghayati peran bidadari dalam tari “Begawan Mintaraga”, Allesandra menetap di padepokan. Ia sengaja tinggal di padepokan, ingin suntuk belajar menari pada Ki Broto. Lelaki muda itu telah menambat perasaannya. Allesandra, seperti menemukan tempat tinggal yang damai di desanya, di lereng Pegunungan Alpen, wilayah Italia. Ia menempati rumah klasik peninggalan leluhur, langit bergayut kabut es, dan di kejauhan membentang bayang-bayang salju puncak Mont Blanc.

Allesandra – yang diundang untuk melakukan restorasi lukisan keraton – tak pernah menduga bakal terdampar di lereng Gunung Merapi. Ia juga tak pernah menduga akan mengenal Ki Broto, lelaki muda pemilik padepokan dan seorang penata tari. Lelaki muda itu putra seorang dalang yang memiliki padepokan, penata tari, suka bermain musik, dan menghidupkan pergelaran seni di daerah sekitar lereng Gunung Merapi.

Dalam tari “Begawan Mintaraga”, Allesandra berperan sebagai seorang bidadari yang menggoda tapa Arjuna. Ada tujuh bidadari, seorang di antaranya Dewi Supraba. Dan peran yang dibawakan Allesandra tak begitu penting: hanya menggoda tapa Arjuna. Ksatria  itu tak pernah memudarkan tapanya. Allesandra ingin berperan sebagai Dewi Supraba, bidadari yang dapat meluruhkan hati Arjuna – yang diperankan Ki Broto. Sungguh memikat, Dewi Supraba dipersunting sebagai istri Arjuna.

Tak ada hal yang paling menarik bagi Allesandra, kecuali ia bisa menari, merasakan getar tubuh dan rasa keindahan, yang membangkitkan ketakjuban pada setiap gerak yang  diselubungi getaran gaib. Sungguh di mata Allesandra, setiap gerakan untuk menyentuh Arjuna yang hening bertapa, membuat jiwanya melayang di awan-awan dunia para dewa. Sejak ia dengar suara gamelan pertama kali di keraton Yogya mengiringi bedaya Arjuna Wiwaha, dan melihat pergelaran tari yang diperankan Ki Broto, sangat ingin datang ke padepokan  penari itu.

Tiap kali berlatih menari, Allesandra selalu menemukan kegairahan baru, gerakan yang bangkit dari dalam getaran rasa – sesuatu yang mengalir dari sanubari. Ia jadi sangat cepat bisa mengikuti gerak tari yang diajarkan Ki Broto. Tidak hanya menirukan gerak tari Ki Broto, melainkan juga menikmati kedalaman rasa dari tiap aliran darah di sekujur tubuhnya.

Tapi kenapa tiap kali Allesandra berpapasan dengan Laksmita, yang tiap pagi berkunjung ke padepokan, hatinya berdebar, seperti bakal tersingkir dari sisi Ki Broto? Ia mulai menimbang-nimbang: bagaimana cara merebut perhatian Ki Broto dari daya pikat Laksmita. Allesandra tak pernah bisa menduga: keakraban yang terjalin antara Ki Broto dan Laksmita. Apakah Laksmita calon istri Ki Broto? Allesandra diam-diam mengamati mereka. Ia menaruh curiga, bila gadis itu, yang jarang bicara, dan cenderung menghindar dari pergaulan, calon istri Ki Broto. Laksmita selalu dijemput pagi hari dan diantar pulang dengan mobil Ki Broto pada sore harinya.

                                                                  ***

HAMPIR larut malam, Allesandra mengikuti latihan tari “Begawan Mintaraga”,  merasa sangat menikmati kesunyian lereng Gunung Merapi, kabut yang mulai mengendap, dan suara belalang kecek di ranting pepohonan. Allesandra mencoba memahami kisah Arjuna sebagai pertapa untuk mencapai kesaktian dan memperoleh senjata dalam sunyi Goa Mintaraga, menampik kegairahan para bidadari yang menggoda. Mengapa menampik kegairahan bidadari untuk meluluhkan anugerah para dewa?

Allesandra yang memperoleh kesempatan bersama para penari dan penabuh gamelan, ketika Laksmita sudah pulang malam hari, sengaja  menggoda Ki Broto, “Apa memang Arjuna mesti kawin dengan Dewi Supraba?”

“Saya tak berani membuat kisah yang menyimpang.”

“Mengapa tak kau rancang sendiri sebuah tari yang meninggalkan kisah lama? Apa tak boleh mencipta tari, Arjuna kawin dengan salah seorang bidadari?”

“Mungkin suatu saat nanti, aku akan mencipta tari yang menyimpang dari kisah itu. Aku memerlukan keberanian untuk itu.”

“Kenapa tak kau coba mulai saat ini?”

“Mencipta tari serupa itu memerlukan banyak waktu, renungan, dan latihan. Aku juga memerlukan teman untuk merancang tari itu.”

Allesandra masih menimbang-nimbang untuk mendesak Ki Broto agar bercerita tentang pertapaan Arjuna, dan kesaktian sesudahnya: keperkasaan, ketangguhan, atau kemenangan pertempuran yang dicapainya. Allesandra kini mulai menyadari makna kesunyian lereng Gunung Merapi, dan mencari kepekaan hatinya sendiri. Justru rasa takjubnya pada Ki Broto, pemeran Arjuna, berkembang menjadi hasrat untuk memiliki lelaki itu. Tapi Ki Broto, yang membaca gelagat akan rasa takjub Allesandra, menenggelamkannya di bawah genangan kabut gunung. Allesandra seperti leleh terkena awan panas yang bergumpal dari puncak Gunung Merapi.

Di kamarnya Allesandra menenangkan diri. Mengambil kertas, mencoret-coret kertas itu, menuangkan segala harapan, kegundahan, dan kemasgulan-kemasgulannya. Terus ia menulis. Memuntahkan kegalauan hatinya. Ia memuntahkan perasaan-perasaan itu, yang tak mungkin diucapkannya. Ia masih terus menuliskan kegundahan itu. Kebiasaan ini dilakukannya dari semenjak ia kecil, kebiasaan bila ia marah pada seseorang. Ketika  ia tak memperoleh tanggapan seperti yang diharapkan, ia mencorat-coret kertas, dan membakarnya dalam api lilin.

Allesandra tak paham benar, apakah ia seorang yang tersesat dari tujuan semula sebagai seseorang yang diundang melakukan restorasi lukisan keraton. Ia didatangkan untuk menyelamatkan beberapa koleksi lukisan keraton – temasuk di antaranya lukisan Raden Saleh – dengan mengikuti goresan-goresan yang asali. Goresan-goresan lukisan itu memudar setelah lebih dari seratus tahun, kusam warna catnya. Saat ia menonton pergelaran tari bedaya Arjuna Wiwaha – yang melakonkan sultan –  di pendapa keraton, ia takjub, terkesima, bergetar, dan terpusat pada penari yang memerankan sultan. Pemeran sultan itu seorang perancang tari, yang memiliki padepokan di lereng Gunung Merapi. Ia kagum pada sang penari, Ki Broto, masih bujangan, yang tampak sangat tenang, agung, dan rendah hati. Di panggung ia begitu karismatis. Dalam kehidupan sehari-hari, ia jejaka kebanyakan. Ia tak menampakkan keagungan sebagaimana tampak di panggung.

Allesandra merasa sangat penasaran, ingin bisa menari, dan karena itu ia tak buru-buru kembali ke Italia ketika selesai merestorasi beberapa koleksi lukisan keraton. Ia berguru menari pada Ki Broto, tinggal di padepokan lereng Gunung Merapi, belajar menari, sesekali ia melukis. Ia ingin disertakan sebagai penari bidadari dalam “Begawan Mintaraga”, yang menggoda menggugurkan tapa Arjuna. Allesandra mulai melihat dan merasakan keagungan yang berbeda pada diri Ki Broto, ketika memerankan sultan dalam “Arjuna Wiwaha”, dan memerankan Arjuna dalam tarian “Begawan Mintaraga”. Kali ini Ki Broto memerankan ksatria  dengan penuh kesabaran, tangguh dalam pertapaan, unggul dalam peperangan melawan raja raksasa Niwatakawaca. Tarian ini sungguh memberi ekspresi beraneka wajah pada Ki Broto. Tarian ini memberi ekspresi pembebasan di panggung bagi lelaki muda itu.

Allesandra menunggu kesempatan untuk menyatakan keinginannya mendampingi hidup Ki Broto, bila pertunjukan tari sudah digelar di padepokan. Ia memang selalu mencurigai Laksmita, sebagai perempuan yang memiliki kedekatan jiwa dengan Ki Broto. Tapi Laksmita tak pernah manampakkan bakatnya menari. Perhatian Ki Broto pada gadis itu melebihi siapa pun. Pada Arum yang memerankan Dewi Supraba, perempuan yang sangat penuh daya pikat, Ki Broto tak pernah memberikan  perhatian mendalam. Allesandra tidak yakin benar bila Laksmita calon istri Ki Broto – lelaki yang memiliki keagungan sebagai pencipta tari dan penari.

Menempati salah satu kamar di padepokan Ki Broto, Allesandra kepalang memahami semua kebiasaan lelaki itu. Ki Broto biasa beranjak tidur hingga larut. Lelaki muda itu berlatih menari, menemukan gerak, dan menemukan kelembutan rasa bagian-bagian tariannya. Kadang lelaki muda itu menabuh gamelan, pelan, hening, menyentuh relung pagi. Kadang Ki Broto menghentak kendang, pelan, dan mencipta irama yang kadang dramatis, kadang jenaka.

Subuh dini hari Ki Broto sudah berada di sendang, mengambil air wudu, dan salat di surau kayu yang didirikan tak jauh dari sendang itu. Air pancuran mengucur di sendang yang gemericik, dan tangan yang dibasuh air pancuran, terdengar sampai ke kamar Allesandra. Ia membuka jendela: menatap ke arah sendang. Menatap Ki Broto yang tersenyum ke arahnya, dengan wajah terbasuh air wudu.    

                                                      ***

TARI “Begawan Mintaraga” yang dipergelarkan di padepokan Ki Broto disaksikan begitu banyak penonton yang berdatangan dari banyak kota yang jauh, tamu-tamu hotel, dan pecinta tari. Padepokan Ki Broto belum lama didirikan, dan senantiasa mempergelarkan tari, musik, dan pertunjukan seni rakyat yang diangkat dari masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi.  Selama tinggal di padepokan, ia telah menyaksikan begitu banyak pergelaran tari, musik, teater dan seni rakyat yang membuatnya takjub. Ki Broto tak pernah berhenti  mempergelarkan tari yang seringkali terbuka bagi masyarakat sekitar lereng Merapi.

Kali  ini pergelaran tari “Begawan Mintaraga” berada di gedung teater yang baru selesai dibangun di antara kawasan padepokan, yang senantiasa penuh selama tiga hari berturut-turut pertunjukan. Pada pergelaran hari ketiga, yang terakhir, Allesandra sampai batas penantian untuk menyatakan keinginannya tetap tinggal di negeri ini, mendampingi Ki Broto, tinggal di lereng Gunung Merapi, dalam kesunyian. Ia bisa melukis, menari, dan mendampingi Ki Broto mengelola padepokan.

Allesandra telah mendengar kisah tentang Laksmita dari para penari. Mereka  menggunjing Laksmita sebagai putri seorang preman, yang melakukan pelarian dari penembak misterius sampai lereng Gunung Merapi. Tiap hari di antara para penari membuka kisah tentang Laksmita, anak preman yang pernah memiliki pekarangan dan rumah di padepokan Ki Broto, sebelum ayahnya meninggal. Mengapa Ki Broto begitu dekat dengan Laksmita, putri seorang preman? Allesandra tak habis pikir. Ada sesuatu rahasia yang mesti dibongkar.

Riuh tepuk tangan penonton di akhir pergelaran tari “Begawan Mintaraga” yang gemuruh,  membuat jantung Allesandra berdegup keras. Inilah saatnya ia mesti mengungkapkan perasaannya pada Ki Broto, dan memutuskan nasibnya untuk terus menetap atau meninggalkan negeri ini. Ia bersandar nasib Ki Broto. Ia  menjadi gelisah berhadapan lelaki muda itu dan juga Laksmita, perempuan yang begitu tenang dan menaruh kepercayaan pada Ki Broto.

                                                            ***

PARA penari mengelilingi tumpeng. Duduk bersila di pendapa rumah Ki Broto. Para penari menanti menerima sepiring potongan nasi tumpeng dan ingkung ayam yang berbumbu pekat rempah-rempah. Ki Broto memimpin doa sebelum tumpeng itu dipotong. Di sisinya duduk Laksmita, tenang dan penuh keyakinan. Diakah itu, perempuan yang duduk tenang di sisi Ki Broto, sesungguhnya Dewi Supraba, yang merenggut hati Arjuna?

“Ini tumpeng selamatan kita atas sukses pentas “Begawan Mintaraga”. Sekalian minta restu, kami, saya dan Laksmita, bakal menikah!” kata Ki Broto tenang. Ia memotong tumpeng, mengambil gudangan, bergedel, dan sayatan daging ingkung ayam. Menempatkannya pada sebuah piring. Dipersembahkan sepiring potongan tumpeng itu pada Allesandra.

“Untuk Allesandra, semoga berkah, terimakasih sudah terlibat dalam pergelaran tari ini. Kalau kau masih berkenan tinggal di padepokan ini, kami akan sangat bahagia. Kau akan jadi penari ternama.”

Tangan Allesandra bergetar menerima sepiring tumpeng. Ia tak bisa berucap, sedih atau bahagia. Ia  segera meletakkan piring, beringsut ke arah Laksmita dan menyalaminya. Mencium pipi. Memeluk. Tubuhnya bergetar. Getaran yang sangat dahsyat dalam dada. Tak kan pernah dilupakan.

                                                           ***

Pandana Merdeka, Maret 2020        


====================
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”.  

Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa seperti Horison, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Bisnis Indonesia, Nova, Seputar Indonesia,  Suara Karya,  Majalah Noor, Majalah Esquire, Basabaasi.

Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Novel yang telah diterbitkannya dalam bentuk buku adalah Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009), Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Kumpulan cerpen yang segera terbit adalah Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020).  

Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Nikotopia dan Ular Sawah di Kepalanya

1

Rasa kehilanganmu terhadap kepergian Nikotopia masih menyesakkan dadamu. Padahal yang kutahu dia salah satu sahabat yang justru paling jarang bertemu denganmu. Meski begitu, tampaknya kalian memang sangat akrab. Jarang bertemunya kalian selama ini pastinya semata-mata jarak tinggal kalian yang berjauhan. Tapi kesedihanmu itu mungkin lebih karena tentang rencana menerbitkan novel yang sedianya akan kalian kerjakan bersama. Aku tahu hal itu karena kamu pernah mengatakannya. Sekarang, bukan saja kalian tidak bisa menyelesaikan, bahkan ketika novel itu baru akan kalian mulai kerjakan, keburu Niko pergi untuk selamanya.

Kupikir karena hal itu pula yang kini memengaruhi kegiatanmu menulis. Kepergian Niko tidak lantas membuatmu semakin rajin, tapi justru membuatmu malas, bukan hanya tentang menulis, bahkan juga malas melakukan apa-apa. Hari-hari yang berlalu hanya kamu habiskan termenung di samping rumah sambil membaca karya-karya Niko. Aku menyadari, kehilangan sahabat dekat memang bisa membuat semangat hidup menjadi loyo, tapi masalahnya kamu harus melanjutkan hidupmu. Masih banyak orang yang menyayangimu dan kupikir mereka ingin melihatmu terus berkarya seperti semula. Demikian juga aku dan anak-anak, tidak ingin melihatmu jatuh.

“Tidak tentang karya, juga tidak buku itu,” sahutmu ketika aku mencoba mengajakmu membicarakannya.

“Lalu?” tanyaku sedikit heran, hingga karena itu tiba-tiba aku merasa ada sebagian di dirimu yang belum aku tahu.

“Kalau toh ada hubungannya, hal itu bukan serius.”

“Terus?”

“Bagaimana perasaanmu…”

“Tentang apa?” sahutku cepat.

“Aku belum selesai bicara. Maksudku, bagaimana perasaanmu jika berada pada kondisi seperti ini?”

Aku bingung dengan pertanyaanmu, tapi aku juga tidak lantas menanyakan kepadamu apa yang membuatku bingung. Aku merasa keruwetan itu hanya ada padamu. Kekhawatiranku, jika aku mendesakmu dengan pertanyaan-pertanyaan justru bisa membuat kita tidak nyaman.

“Aku tidak mengerti,” jawabku sekadar memberimu tanggapan.

“Perempuan sukanya begitu.”

“Maksudmu?”

“Perasaan selalu maju lebih dulu, tidak berusaha memikirkannya.”

Aduh, malah aku yang kena. Bagaimana ini? Apakah aku perlu mendebatmu? Paling tidak untuk membetulkan persepsi pemikiranmu itu.

“Bukankah ketika Niko terakhir datang ke rumah kita, kamu ada?”

“Lalu?”

“Bahkan setelah Niko pulang, kita sempat membicarakannya.”

“Iya. Maksudmu tentang keanehan-keanehannya itu?”

“Persis?”

“Terus, terus?”

“Menurutmu, di antara keanehan-keanehan itu, apa yang menurutmu paling aneh?”

Sesungguhnya aku tidak terlalu perhatian dengan apa yang dikatakan, dan apa yang dilakukan Niko. Belum lagi waktu itu aku sibuk mengurusi makanan dan minuman yang harus kita suguhkan pada Niko waktu itu. Aku tahu lebih jelas kalau dia aneh justru dari ceritamu. Di antaranya, kamu mengatakan di sepanjang percakapanmu dengan Niko, sering terjadi salah pengertian. Jawaban dan pernyataan Niko tidak sesuai dengan hal yang kamu obrolkan. Jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu dengan pas. Jika terpaksa menjawab, itu pun atas dasar pilihan dari beberapa hal yang kamu ceritakan.

“Bicaranya sering tidak nyambung,” jawabku.

“Semuanya memang tentang itu.”

Aku mengangkat bahu, semacam tanda menyerah.

“Aku lupa, apakah waktu itu aku sudah cerita tentang Ular Sawah?”

“Ular Sawah?” sahutku sembari menggeleng.

“Menurutku, saat itulah dia mengatakan keadaannya.”

“Apa yang dia katakan?”

“Sesungguhnya, ada Ular Sawah terjebak di kepalaku. Dia ingin keluar dan kembali ke alamnya. Dia mengatakan begitu.”

“Lantas kamu menanggapi gimana?”

Aku langsung tertawa.

“Hah? Tertawa? Tega sekali kamu.”

“Di mana letak teganya?”

Kamu benar juga. Di mana letak teganya. Waktu itu kita belum benar-benar tahu apa yang terjadi pada Niko. Mungkin sama halnya dengan apa yang dulu kamu ceritakan padaku. Perihal kamu yang langsung tertawa ketika Niko mengatakan ingin pulang ke desa, tinggal di sana dengan hidup bertani. Bahkan seingatku, kamu menceritakan sempat mengucap serapah menanggapi keinginan Niko itu. Kamu pikir, peralihan profesi dari pekerja kreatif di sebuah stasiun televisi di Ibu Kota lantas menjadi petani di desa adalah sesuatu yang lucu. Mungkin menurutmu tak ada korelasinya sama sekali. Kalau sekadar penulis cerita, mungkin masih bisa, karena menulis dapat dilakukan di mana pun, termasuk di desa yang paling pelosok sekali pun.

“Hm. Tapi waktu itu ekspresi Niko gimana?” tanyaku.

“Dia tampak serius,” sahutmu.

“Maksudnya?”

“Iya. Waktu itu dia bilang apa yang dikatakan itu serius.”

“Lantas?”

“Pada saat itulah, seharusnya aku bisa mengerti apa maksudnya.”

“Sekarang aku yang tidak mengerti apa maksudmu.”

“Andai kita tahu apa yang terjadi pada diri seseorang, kita bisa melakukan sesuatu yang mungkin dapat berarti bagi seseorang itu, tapi karena kenyataannya kita tidak tahu ceritanya hingga kita tidak melakukan apa pun,” terangmu.

Ah, kupikir dalam hal ini yang main perasaan itu kamu. Karena jika kamu sudah tahu begitu, mengapa kamu masih memasalahkannya? Bukankah waktu itu kita memang tidak tahu  kalau Niko menderita kanker otak. Kupikir jika kita tahu pun sebenarnya kita tidak bisa melakukan apa pun terhadap penyakit itu.

“Kamu hanya terbawa perasaan,” sahutku.

“Bukan.”

“Terus, apa namanya kalau itu bukan terbawa perasaan?”

“Ya itu tadi. Aku terlambat menyadari, sebenarnya dia sudah berusaha memberitahu keadaannya kepada kita.”

Dengan keanehan-keanehannya waktu itu? Sepertinya ada yang salah pada pemikiranmu. Karena menurutku, apa yang terjadi pada perilakunya, sesungguhnya di luar kontrol dirinya. Dan aku yakin jika dia dalam keadaan sadar, tentu saja dia akan melakukan sesuatu yang wajar, dan kita tidak akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh.

“Kupikir kamu harus merelakannya.”

“Aku sudah ikhlas.”

“Lalu mengapa kamu masih merasa kecewa? Bukankah takdir seseorang tidak bisa diubah?”

“Maksudmu tentang apa?”

“Kematian, kan? Dan kita tidak bisa menghindarinya.”

“Siapa bilang aku memasalahkannya? Yang kupikirkan hanya tentang pengertian dan sikap antar sahabat. Bukan tentang kematian.”

Kulihat kamu seperti tersinggung dengan pernyataanku. Rupanya aku memang tidak mengerti apa yang membuatmu kecewa dalam hal ini. Aku takut membuat hal yang sebenarnya sepele itu akan memperunyam keadaan. Sejak kamu mengatakan itu aku tidak lagi mengusikmu perihal Niko. Dan kupikir dia sudah nyaman di rumah Tuhan. Dengan membiarkanmu berlama-lama bernostalgia bersamanya kupikir lebih bijaksana. Lima belas tahun pertemanan kalian tentu saja telah melewati banyak riuh rendahnya masalah dan pengalaman.

“Jika bisa, sebenarnya aku hanya ingin meralat satu hal,” katamu setelah beberapa waktu berlalu.

“Ini tentang apa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Tentang sikapku terhadap Niko.”

“Oh.”

“Andai saja kita bisa mengulang waktu.”

“Maksudmu?”

“Aku hanya ingin menghapus tawaku, saat Niko mengatakan tentang Ular Sawah di kepalanya itu,” terangmu.***

Mengenang Niko.




=====================
Yuditeha, penulis, penata rambut, tinggal di Karanganyar Jawa Tengah. Pendiri ideide-id.

Ludah

0


Laki-laki tua itu berjalan
terpincang-pincang menyeret langkahnya, disertai derai batuk menguncang bidang dadanya. Dengan sepotong tongkat di sebelah tangan kanan, ia memasuki perkampungan, dan akan bersimpuh di depan rumah siapapun sembari menadahkan kedua tangannya. Baju yang lusuh, hampir robek seluruhnya lekat di badannya dibasuh oleh keringat yang mengucur.

Ia duduk di halaman rumah seseorang. Menunggu si pemilik rumah keluar. Memangil-manggil tuan rumah diantara tarikan napasnya yang lambat dan goyah. Berharap seseorang keluar dari dalam rumah membawa uang, seberapa besar jumlahnya akan ia terima asal si pemberi ikhlas memberinya pada laki-laki tua itu, dengan keriput di sekujur tubuhnya.

Terus ia duduk di teras rumah seseorang itu. Rumah mewah berupa bangunan gedung bertingkat, dengan lampu-lampu menghias di setiap sudutnya membuat laki-laki itu yakin si pemilik rumah adalah orang paling kaya di kampung itu. Karena sejak laki-laki tua itu berkeliling semenjak matahari muncul di permukaan langit hingga kini menjelang sore hari, ia cuma menemukan rumah itu sebagai satu-satunya tempat tinggal yang megah dibanding rumah-rumah reyot yang ditemuinya sebelumnya.

Maksar, begitu nama laki-laki tua itu kemudian dikenal warga Tang-Batang. Selama lebih tiga puluh menit menunggu, seorang perempuan paruh baya agak gemuk berdiri di ambang pintu. Berpandangan beringas pada Maksar. Ia meminta Maksar segera angkat kaki dari rumahnya, lantang ia berteriak di depan muka laki-laki tua itu sampai Maksar menunduk, mengambil napas dalam-dalam, lalu bersama napas yang ia lepas, Maksar membuang ludah di wajah perempuan paruh baya itu.

“Dasar pengemis!” Terbungkus sumpah serapah ucapan perempuan itu mengumpat. Dengan cepat ia mendorong tubuh Maksar hingga laki-laki itu tersungkur. Pelan-pelan Maksar meraih tongkatnya dan berjalan pulang.

Matahari hampir tenggelam di ujung barat. Laki-laki tua tersandung batu hingga terpelanting jatuh. Gelap sudah mulai membungkus permukaan langit. Dengan sisa napas terengah-engah ia coba meraba-raba tanah, mencari tongkatnya yang terlempar jauh dari tempat ia tersungkur. Angin menggesek daun-daun jati. Maksar belum sanggup mengangkat tubuhnya sendiri. Ia memutuskan membaringkan saja tubuhnya, melepas penat karena berjalan sepanjang hari keluar masuk kampung.

“Ini tongkatnya, Kek.” Laki-laki muda yang menghampiri Maksar, membawakan tongkatnya. Terkaget Maksar mendengar suara Kasno, laki-laki muda itu. Kebetulan Kasno lewat di tempat itu dan tanpa sengaja telinganya mendengar suara lelaki tua merintih.

“Dimana rumah kakek? Mari saya antar,” kata Kasno menawarkan kebaikan pada lelaki tua itu. Maksar tak membuka katup mulutnya. Tak juga mengucap terimkasih pada Kasno karena berkat laki-laki muda itu ia bisa berjalan pulang dengan mengetuk-ngetukkan tongkatnya, mencari jalan setapak menuju rumah.

Belum juga Maksar menanggapi ucapan Kasno. Ia berdiri dan memandang raut muka Kasno, dalam remang-remang menjelang gelap malam hari. Tanpa perlu berucap apapun pada Kasno, justru malah Maksar melempar ludah ke wajah Kasno. Laki-laki muda itu terkejut dan berperasangka macam-macam soal Maksar. Apa lelaki tua itu tak waras? Ingin Kasno balas meludah, bahkan jika ia mau bisa dengan mudah menendang tubuh ringkih Maksar, tapi ia urungkan semua itu karena dianggapnya Maksar kehilangan akal, jiwa laki-laki tua yang dicekik kesepian. Begitu pikir Kasno.

Sudah berpuluh-puluh kali Maksar kerap membuang ludah ke wajah seseorang tanpa sebab. Seiring jarum bergeser, perilaku laki-laki tua itu dianggap meresahkan dan tak disukai banyak orang. Hingga kemudian setiap kali Maksar menginjakkan kaki di halaman rumah seseorang, ia langsung akan menerima umpatan, diusirnya seperti layaknya pecundang. Menanggapi sikap warga Tang-Batang Maksar tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Mungkin karena perlakuan orang-orang yang tak lagi ramah padanya menyebabkan laki-laki separuh abad itu tak dapat ditemukan lagi keberadaannya hingga saat ini. Tak terdengar lagi suara ketukan tongkatnya berseiring dengan laju napasnya. Tapi, menjelang sore hari, yang begerimis ketika orang-orang bekumpul di rumah Maksum dikarenakan Misdar, anak dari  lelaki paruh baya itu kejang-kejang, menjerit kesakitan, seperti disusupi arwah. Mendadak Maksar muncul tiba-tiba membuat orang-orang terbelalak menatap laki-laki tua itu.

Dengan tampil mencengangkan Maksar mengunyah ludahnya sendiri dalam mulut. Sejurus kemudian, laki-laki renta itu membuang ludahnya tepat mengenai wajah Misdar, anak lelaki Maksum. Orang-orang mengernyitkan dahi melihat tingkah Maksar yang kembali berulah. Laki-laki tua itu memejamkan mata. Ia membuka matanya beberapa menit kemudian. Bersamaan dengan terbukanya mata Maksar, saat itu juga Misdar berhenti mengejang dan bocah laki-laki itu langsung berdiri di depan orang banyak, memperlihatkan dirinya yang sembuh seketika.

Sejak itu masyarakat percaya, Maksar adalah lelaki sakti. Ludah Maksar dianggap mujarab oleh penduduk. Kabar kesaktian Maksar tersebar secepat kilat dari mulut ke mulut, dari waktu ke waktu. Justru laki-laki tua itu kini selalalu diharap kedatangannya. Tapi selepas kejadian menakjubkan waktu itu Maksar kembali tak menunjukkan batang hidungnya di depan orang-orang.

Walaupun laki-laki sepuh itu tak lagi diketahui dimana kini ia berada. Ia justru semakin termasyhur setelah beredar desas-desus bahwa orang-orang yang diludahinya dulu kini mengalami bermacam perubahan. Perubahan yang beragam diterima orang-orang itu. Perempuan gempal itu, yang mengusir Maksar dulu kini jatuh miskin dan terpaksa melacurkan diri demi sesuap nasi. Sementara Kasno, laki-laki yang diludahi Maksar tanpa sebab itu kini sudah jadi orang kaya, dan telah naik haji.

Suatu hari saat Kasno berkunjung ke rumah Maksum, ia berceloteh banyak mengenai Maksar, laki-laki tua pemilik ludah mujarab itu. Orang-orang sudah mengakui sangat mengagumi betapa mujarabnya ludah Maksar. Kasno berdehem sebentar melegakan tenggorokannya dari sesuatu yang menyumbat.

“Sekalipun ludah laki-laki tua itu mujarab, berhati-hatilah. Ludahnya bisa menyembuhkan, memberi keuntungan, atau justru ludah itu bisa jadi penyakit, mendatangkan celaka. Maka bersikaplah baik kepadanya jika tidak ingin bernasib celaka.” Kasno menceritakan dengan binar-binar di matanya. Tanpa mengurangi debar-debar di dadanya, Kasno selalu membangga-banggakan Maksar.

Beberapa bulan berlalu terdengar kabar bahwa Maksar tengah menyepi di bawah kaki bukit. Tinggal di rumah berupa gubuk terbuat dari anyaman bambu. Laki-laki tua itu tak lagi sanggup menyeret kakinya, singgah dari satu rumah penduduk ke rumah lain, menyusuri ruas-ruas jalan kampung. Diam-diam Maksum terobsesi menemui laki-laki renta itu, dan niat itu pun ia kerjakan. Pergi tak bilang siapa-siapa, dalam gelap malam dini hari.

Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Maksum duduk dalam gemetar sembari menatap wajah Maksar. Tanpa diminta terlebih dahulu oleh Maksum, tiba-tiba saja laki-laki tua itu membuang ludahnya ke wajah Maksum. Temaram lampu teplok memantulkan bayangan dua lelaki yang saling berhadapan. Angin bergemuruh di luar. Maksum tersenyum, merasa terberkahi mendapat ludah Maksar di wajahnya. Sebab maksud kedatangan laki-laki itu kesana memang ingin mukanya diludahi agar istrinya mengijinkan menikah lagi dengan perempuan simpanannya selama ini.

Dan beberapa detik berikutnya, Maksum malah merasakan nyeri di kedua matanya. Begitu Maksar mendekatkan mulutnya di tepi telinga Maksum, laki-laki itu sudah tak dapat melihat apapun di sekitarnya, kecuali gelap membungkus dua bola matanya. Kebencian terbungkus umpatan dan sumpah serapah terhadap Maksar, karena laki-laki tua telah membutakan kedua matanya.

“Dengan begini, akan kau tahu siapa sesungguhnya yang benar-benar mencintaimu. Istrimu atau perempuan simpananmu,” ujar Maksar, lelaki tua itu dengan sangat lembut. Jantung Maksum hampir copot dari tangkainya mendengar ucapan Maksar, karena laki-laki paruh baya itu belum mengucap apapun perihal maksud kedatangannya, tetapi lelaki tua itu sudah mengetahuinya lebih dulu.

Tak ada yang bisa dilakukan Maksum selain meminta lelaki tua itu mengembalikan penglihatannya. Dalam buta mata seperti itu, Maksum tak merasakan keberadaan Maksar di dekatnya. Laki-laki tua itu keluar rumah sejak tiga puluh menit lalu meninggalkan Maksum seorang diri di dalam rumah gubuknya. Maksum cuma mendengar suara cicak dan desah napasnya sendiri.

Pulau Garam, 2019

===================

Zainul Muttaqin Lahir di. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019).

Dilarang Menangis

0

Mendadak segalanya jadi begitu genting di Desa Salbut. Ya, genting dan berbahaya. Itu semua setelah Klebun Ladrak mengeluarkan surat keputusan yang kontroversial sekaligus menjengkelkan; melarang warga desanya menangis. Sebelum surat keputusan itu diedarkan, sebenarnya Care’ Tarkam sudah mewanti-wanti untuk mempertimbangkan kembali keputusan itu. Apalagi para bengatoah banyak tak setuju. Tapi Tarkam justru kena marah.

“Apa kau tuli, hah?! Apa kau tak dengar tangisan setiap malam sebagian warga yang memekakkan telinga itu?” Ladrak membentak.

“Dengar, Bun!”

“Nah! Kita sama mendengar. Sama menderita. Jadi, keputusan ini untuk kemaslahatan warga.”

“Tapi, Bun…” belum selesai Tarkam menyelesaikan omongannya, Ladrak sudah berteriak.

“Halah, tak usah lagi tapi tapi. Segera stempel. Perbanyak lalu bagikan pada warga. Titik. Aku sudah jenuh dengan suara tangisan. Sudah jengkel dengan airmata. Apalagi airmata buaya,” sergahnya lalu ngeloyor pergi. Tarkam hanya diam membisu sambil memandangi pantat klebunnya yang tepos yang perlahan-lahan lenyap ditelan pengkolan jalan. Sambil menarik napas panjang ia menyetempel surat keputusan itu.

Memang sudah hampir sebulan hari Desa Salbut dikepung suara tangis yang seolah-olah turun dari udara seperti embun. Menyusup ke rumah-rumah warga, mengganggu tidur bagai mimpi buruk yang memecahkan indera pendengaran dan jika dibiarkan lebih lama lagi bisa membuat gila. Sebab suara tangis itu seperti suara gerombolan mesin giling tua yang dinyalakan bersama-sama. Bising dan makin lama makin terdengar mengerikan.

Mula-mula tangis itu berasal dari rumah Julaiha. Perempuan yang melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika suaminya mati dibakar warga karena mencuri sapi itu meraung-raung di jalan sambil memeluk tubuh suaminya yang gosong. Namun hingga Julaiha diseret pulang ke rumah, tangisannya tak juga berhenti dari malam hingga malamnya lagi. Kadang suara tangisnya terdengar seperti suara tangis bayi baru lahir. Kadang seperti suara tangis anak kecil yang kena gampar bapaknya karena memecahkan kaca jendela rumah tetangga saat main bola. Kadang seperti erang binatang sekarat yang meregang nyawa.

Sebenarnya warga desa tak peduli dengan tangis Julaiha. Toh dua hari lagi berhenti, begitu batin warga. Tapi nyatanya tidak. Tangis Julaiha meluber ke mana-mana seperti banjir yang meluap dari sungai Kamoning. Tetangga Julaiha mulai ikut-ikutan menangis. Anak-anak mulai menangis. Nenek-nenek menangis. Tak lama kemudian sebagian warga desa mulai menangis tak berhenti hingga menjadikan malam-malam di desa Salbut diselimuti tangisan. Seperti flu, tangis itu menular pada mereka yang tak sanggup menahan kesedihan.

Warga yang tak menangis, mulai mengeluh. Kemudian mendatangi kantor kepala desa dan menuntut kepala desa mengambil tindakan. Kemudian muncullah ide mengeluarkan surat keputusan larangan menangis itu.

***

Sejak larangan menangis itu keluar, seluruh sudut desa dipasangi plang bertuliskan: DILARANG MENANGIS DI SINI! Dengan huruf besar. Tak hanya itu, Klebun Ladrak juga menyewa algojo-algojo pencabut kenangan. Sebab sanksi bagi para pelanggar surat larangan itu jelas. Menangis adalah tindakan mengganggu ketertiban umum. Barang siapa menangis, maka akan dikenai hukuman buang ke sebuah pulau di tengah laut selatan tanpa batas waktu yang ditentukan. Sebelum itu para pelanggar akan dicabut kenangannya hingga tak ingat apa-apa. Kebanyakan berakhir gila. Sanksi itu berlaku buat siapapun.

”Bahkan kalau aku atau keluargaku melanggar, akan kuterima semua hukuman sebagai kepatuhan pada undang-undang,” ujar Klebun Ladrak.

Korban pertama dari surat keputusan itu tentu saja Julaiha. Selain karena dia dianggap biang keladi segala tangisan di desa Salbut juga sebagai daya kejut agar tak lagi ada orang menangis kecuali bayi. Saat Julaiha dijemput paksa pasukan gabungan penegak larangan menangis yang dibentuk Ladrak banyak warga desa yang bersedih. Tapi sama sekali tak berani menangis. Sebab sanksi dibuang ke pulau di laut selatan sungguh mengerikan. Para pelancong di pulau itu suka sekali menangkap perempuan gila dan membawanya ke losmen. Entah sebagai teman kencan atau diperkosa ramai-ramai.

Berturut-turut kemudian seorang ibu yang menangis karena dompetnya kecopetan di pasar, ditangkap. Seorang istri yang menangis karena digampar suaminya, dibui. Seorang remaja yang menangis karena diperkosa supir angkot sepulang sekolah, ditangkap.

Dan mendadak desa langsung sepi dari tangisan. Orang tak lagi berani menonton reality show yang menjual airmata untuk mendapatkan rating tinggi. Ketika ada warga yang mati, sanak keluarganya hanya diam membisu. Tak ada tangis yang mengalun sayup-sayup bersama kesedihan angin yang melintasi lading-ladang dan sungai-sungai hingga lari ke pantai. Tak ada lagi orang yang diluapi kesenduan setiap tangisan itu timbul tenggelam. Yang tersisa kini adalah gerundelan dan keresahan.

Larangan itu menjadi perbincangan di mana-mana. Dari ranjang sampai ladang, dari restoran cepat saji hingga meja-meja kantor administrasi, dari tukang sayur sampai tukang cukur, dari pejabat sampai para penjahat. Beberapa kali terjadi unjuk rasa agar larangan tersebut dicabut. Tapi Ladrak bergeming.

Malah Ladrak kemudian menggelar jumpa pers untuk menjelaskan secara rinci alasan diberlakukan larangan itu.

“Kita selama ini hanya diperalat perasaan sedih kita. Sebenarnya kita bisa bersikap sebaliknya, yakni bersikap serius terhadap segala macam kesedihan dan tidak menangisi setiap penderitaan. Kita bisa memulai dengan menertawai setiap kesedihan seolah-olah menertawai nasib sial. Daripada meributkan larangan menangis, bukankah lebih positif jika kita mulai memasyarakatkan tertawa dan menertawakan masyarakat.”

Sejak jumpa pers itu mendadak Desa Salbut mulai didatangi para pelancong yang ingin menyaksikan desa yang tak memiliki kesedihan. Para komedian berdatangan mencoba mengais rejeki dengan menjual tawa. Kini setiap ada warga mati, orang-orang tak mengundang ulama yang tak pandai melucu. Mereka lebih senang mengundang pelawak karena dengan begitu para warga tertawa. Semua bentuk kesedihan disikapi dengan humor. Di gerbang desa dipasang sebuah plang besar yang mengutip Budha: tertawa adalah energi. Meskipun sebenarnya kutipan itu sama sekali tidak tepat karena warga desa tertawa karena terpaksa. Segala yang dilakukan dengan terpaksa adalah penderitaan.

Kabar tentang desa tanpa airmata itu sampai juga ke telinga menteri dan presiden. Terutama kebijakannya yang melarang warganya menangis yang membuat desa itu menggeliat ekonominya demikian menarik perhatian pemerintah pusat. Sehingga pemerintah kemudian memberikan anugerah pada Klebun Ladrak sebagai kepala desa dengan inovasi ekonomi kreatif terbaik.

“Tapi semua itu sudah keterlaluan, Pak,” ujar istrinya yang sama sekali tak bangga suaminya dapat penghargaan dari pemerintah.

“Keterlaluan bagaimana maksudmu?! Lihat desa kita. Sekarang ramai. Perekonomian bergerak. Turis berdatangan. Itu semua menambah pendapatan desa,” bantah Ladrak sambil memperbaiki dasinya di muka cermin.

”Menangkapi orang-orang yang menangis. Itu keterlaluan.”

”Itu konsekwensi dari peraturan. Ada sanksi tegas.”

”Itu namanya kejam.”

”Salah. Itu namanya cemerlang. Buktinya suamimu sekarang dipanggil presiden. Menginap di istana. Seminggu. Mungkin tahu depan aku bisa dapat nobel.”

”Persetan dengan presiden jika semua itu didapat dari merugikan hati nurani rakyat.”

”Tapi kau menikmatinya, bukan?! Semua kemewahan ini. Baju baru, perhiasan baru. Itu semua dari pendapatan desa yang meningkat yang berimbas pada pendapatan suaminya yang juga meningkat.”

Kali ini istrinya diam. Ladrak tersenyum penuh kepuasan. Ladrak tetap berangkat ke Jakarta.

***

Klebun Ladrak kembali ke desa dijemput orang-orang kepercayaannya menggunakan Limosin. Ia menenteng piala besar setinggi satu meter.

“Kemenangan kita,” ujar Klebun Ladrak sambil tertawa. Seisi mobil ikut tertawa. ”bagaimana kabar desa, Kam?” Tanya Ladrak pada Tarkam yang duduk di sampingnya.

”Aman, Bun! Normal seperti biasa.”

”Ada orang yang ditangkap lagi karena menangis?”

”Ada … ”

”Laki-laki apa perempuan?”

”Perempuan.”

“Dasar cengeng!” Seisi mobil tertawa. ”Bagaimana ceritanya?”

”Seorang perempuan membawa anaknya ke pasar. Tanpa sengaja anaknya menginjak apel yang menggelinding dari becak. Anak itu terpeleset dan jatuh. Kepalanya membentur kaki lincak. Di atas lincak ada sebuah pisau pemotong daging milik penjual daging yang diletakkan terlalu ke pinggir. Pisau besar itu jatuh tepat di leher anak itu. Matilah dia!”

Seisi mobil tertawa. Termasuk Klebun Ladrak. Ia terpingkal-pingkal.

”Lantas ibunya sedih. Saking sedihnya sampai lupa kalau ada larangan lantas menangis?” Tanya Klebun Ladrak menebak-nebak.

“Tepat!” seisi mobil lagi-lagi tertawa.

”Kebanyakan perempuan ternyata memang cengeng. Hahaha … siapa perempuan warga kita yang sial itu?”

“Istri Klebun Ladrak,” ujar Tarkam. Seisi mobil kembali tertawa terpingkal-pingkal sambil menggebrak dasbor dan kursi mobil.

Ladrak mendadak bungkam. Jantungnya berdebar. Lantas meraung-raung, menangis. Seisi mobil terus tertawa dan tertawa hingga keluar airmata.

Setelah peristiwa itu larangan menangis itu telah dicabut. Sekarang kepala desa Salbut yang baru, Tarkam, mengeluarkan aturan baru: dilarang tertawa. ***


Keterangan:

Klebun : sebutan orang Madura untuk kepala desa
Care’ : sebutan untuk Sekretaris Desa di Madura
Bengatoah : tokoh masyarakat yang dituakan di Madura



====================
Edy Firmansyah seorang penulis kelahiran Pamekasan, Madura. Kumpulan cerpennya yang pernah terbit adalah “Selaput Dara Lastri” (IBC, Oktober 2010). Buku puisinya yang telah terbit adalah “Derap Sepatu Hujan” (IBC, 2011) dan “Ciuman Pertama” (Gardu, 2012). Cerpennya tersebar di banyak media cetak maupun online, di antaranya; JAWA POS, SURYA, RADAR SURABAYA, RADAR MADURA, SURABAYA POST, KOMPAS.com, CENDANANEWS.com, Majalah STORY, Majalah SURAMADU, dan Majalah ANNIDA.

Jadi Cerpenis Lagi

1


Sepuluh tahun, nyaris membuat lelaki itu lupa pada masa-masa di mana ia begitu masyhur sebagai seorang penulis cerita. Orang-orang mengaguminya, bukan pula karena wajahnya yang tampan, akan tetapi karena kepiawaian lelaki itu dalam mengolah kata-kata. Layaknya seorang musisi berbakat yang ditakdirkan Tuhan lahir ke dunia ini dalam periode waktu tigapuluh tahun sekali.

Cerita pendeknya telah memenuhi koran-koran. Dan ia cukup paham, bahwa dengan menulis, seseorang tidak akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Kalimat itu, seperti yang banyak dikutip dari seorang sastrawan besar. Namun kiranya tak ada yang benar-benar tahu ihwal mengapa lelaki itu memutuskan untuk berhenti menulis sepuluh tahun yang silam, bertepatan pula dengan cerita pendeknya yang pada saat itu dimuat di koran untuk yang ke seratus satu kalinya. Sungguh, sebagaimana kehidupan ini dijejali oleh orang-orang dengan pemikiran yang besar, terkadang hidup memang penuh dengan tanda tanya yang besar.

Di satu pagi, ketika pandemi dari virus corona belum menghampiri Indonesia, lelaki itu tampak sedang minum kopi di warung bersama seorang teman, tiba-tiba temannya itu bertanya.

“Kenapa kau tak menulis cerpen lagi?” seraya mengambil pisang goreng hangat di meja.

“Bosan.”

“Maksudmu?” tanyanya lagi.

“Ya, mungkin aku tengah bosan, dan pastinya pembaca juga bosan mendapati tulisan-tulisanku lagi.”

“Tapi, sudah sepuluh tahun, kan? Tak bisa disebut bosan. Itu kebablasan!”

“Ya, tapi di luar sana, banyak juga orang berlomba ingin jadi penulis cerpen. Itung-itung kasih kesempatan buat yang lain, dong.” Bebernya.

Terdengar seperti alasan-alasan yang memiliki kebijaksanaan paripurna. Temannya itu geleng-geleng kepala. Tapi lagi-lagi, sebagaimana mulut manusia yang bisa mengatakan apa saja untuk mengelabui orang, ia juga sadar bahwa semakin ia berbohong, semakin pula hatinya itu porak poranda. Pasalnya, hanya ia sendiri yang tahu alasan sebenarnya kenapa ia memutuskan untuk berhenti menulis. Baiklah, akan aku ceritakan kisah tersebut.

Alkisah, tigabelas tahun yang lalu, lelaki itu jatuh hati pada seorang wanita yang punya air muka memesona. Binar matanya meneduhkan dunia. Senyumnya ayu. Sebagaimana senyumnya, nama wanita itu pun adalah Ayu, tepatnya Dewi Ayu. Terdengar layaknya nama seorang tokoh di dalam sebuah novel, bukan?

Pada suatu hari, di mana si lelaki sudah tak tahan menahan cintanya, ia pun mendatangi rumah kost pujaan hatinya itu, dengan maksud ingin melamarnya.

“Bersediakah kau menjadi istriku? Sungguh, aku ingin menjadi pendamping hidupmu. Selamanya.”

Seperti kebanyakan wanita yang penuh dengan pesona, Dewi Ayu tak ingin semudah itu si lelaki mendapatkannya. Karenanya, ia pun memberikan sebuah prasyarat.

“Orang-orang tahu kau adalah seorang penulis cerita. Karenanya, aku punya satu permintaan.”

“Apa itu? Katakan saja! Apa kau ingin dibangunkan candi seperti kisah-kisah dalam legenda?”

Perempuan itu tersenyum manis. Ia hela napasnya. Ia arahkan tatapan matanya pada si lelaki.

“Begini. Tentunya cintamu butuh diuji. Aku akan menerimamu, manakala cerita pendekmu yang dimuat di koran mencapai angka seratus satu kali.”

Dan angin pun bertiup sepoi-sepoi, menggoyangkan janggut si lelaki yang tampak mulai memanjang. Burung-burung di dalam sangkar milik bapak kost pun seketika diam. Padahal sebelumnya mereka bersorak sorai.

“Baiklah.” Ucap si lelaki. “Hingga kini, cerita pendekku yang telah dimuat mencapai 66 cerita. Masih ada waktu. Kupikir, itu bukan perkara yang sulit-sulit amat.”

Lalu keduanya pun berpisah setelah menyepakati perjanjian yang sayangnya tak sempat ditulis di kertas apalagi ditandatangani di atas materai itu.

Hari demi hari berlalu, lelaki itu makin giat menulis cerita dan mengirimkannya ke koran-koran. Lewat grup Facebook “Sastra Minggu”, ia mendapati apakah cerita-ceritanya dimuat ataukah tidak. Satu dua cerita berhasil lolos, namun tidak sedikit juga yang harus kandas. Tapi ia tak berkecil hati. Karena perlahan tulisannya toh semakin mendekati angka yang ke 101. Pertanda bahwa semakin dekat pula kesempatannya untuk bisa memiliki Dewi Ayu, pujaan hatinya itu, cinta pertama dan terakhirnya.

Pembaca mungkin pernah mendengar kisah tentang Florentino Ariza yang menantikan cintanya Fermina Daza selama 51 tahun, 9 bulan, 4 hari? Sebuah penantian yang menyakitkan. Meskipun pada akhirnya waktu menyatukan mereka. Akan tetapi, dalam penantiannya akan cinta sejati, Florentino Ariza telah meniduri banyak wanita. Adapun lelaki dalam kisah ini memiliki kesabaran yang hakiki. Ia hanya ingin menyentuh Dewi Ayu. Bukan yang lain.

Maka, ketabahan macam apa yang dimiliki seorang lelaki yang semakin hari semakin pucat karena banyak menghabiskan waktunya di depan laptop? Menuliskan cerita hingga larut malam, kurang berolahraga, juga minum bergelas-gelas kopi tanpa memperhatikan makanan apa yang sebaiknya ia konsumsi. Tak jarang, ia jatuh sakit dan harus dirawat. Namun, cinta yang besar telah pula merawat semangatnya untuk terus menulis. Ia pun bangkit lagi. Menulis lagi.

Hingga pada akhirnya, di satu pagi di hari Minggu, sekitar sepuluh tahun yang lalu, wajah lelaki itu tampak semringah. Hari itu adalah hari pembuktian, di mana di malam sebelumnya seorang redaktur memberi kabar bahwa tulisan lelaki itu akan dimuat esok hari, yang artinya, cerita pendeknya dimuat sebanyak seratus satu cerita. Lengkaplah sudah.

Maka, lelaki itu pun lekas mendatangi si wanita dengan dada yang serasa mau pecah. Sedangkan angin bertiup mengempas rambutnya. Ia bersiul dan bernyanyi sepanjang jalan tak henti-henti, layaknya orang tersinting dari yang paling sinting yang pernah sinting yang ada di dunia ini. Sampai akhirnya, ia telah berada di depan rumah kos wanita itu. Lekas ia mengetuk pintu kamarnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga akhirnya berkali-kali, tak ada jawaban dari dalam kamar itu kecuali keheningan yang memacu banyak tanya.

“Dewi Ayu sudah satu minggu yang lalu meninggalkan tempat ini.” ucap ibu kos tiba-tiba mengagetkannya.

“Ke mana ia, Bu?” tanya lelaki itu. Senyumnya mulai surut.

“Dia bilang mau pindah kos. Tapi tak tahu di mana.” Jawab perempuan tua itu lagi.

Lalu, tiba-tiba saja, seperti ada neraka di dalam kepala lelaki itu. Ia pun gusar. Ia coba menghubungi nomornya, tapi tak lagi aktif. Ia bertanya pada teman-teman dekatnya, merekapun tak tahu. Ia sambangi setiap indekos di kota itu, namun sia-sia saja. Sama sekali ia tak mendapati wanita pujaan hatinya itu. Di sepanjang jalan, lelaki itu pun meraung-raung. Layaknya ia orang yang paling menyedihkan dari orang yang paling sedih yang pernah sedih yang ada di dunia ini.

Demikianlah kiranya, kisah itu aku ceritakan kepada Anda semua. Jelas kini, mengapa lelaki itu memutuskan untuk berhenti menulis, adalah karena ia begitu kecewa tak bisa mendapatkan cintanya si pujaan hati yang malah kabur entah ke mana. Sampai akhirnya waktu melaju mengubah musim, sepuluh tahun lamanya lelaki itu telah meninggalkan dunia tulis menulis.

Terkadang tumbuh setitik keinginan di hatinya untuk kembali menulis cerita dan mengirimkannya ke koran. Sepuluh tahun berlalu telah menenggelamkan namanya. Tak lagi ada yang benar-benar mengenalnya. Tak lagi ada yang membaca karya-karyanya. Kecuali ia sendiri yang terkadang iseng membuka laman www.lakonhidup.com dan membaca cerpen-cerpennya sambil tersenyum. Betapa romantisnya menyumbu kenangan.

Sampai di satu pagi, di mana ia tengah minum kopi bersama temannya, sebagaimana diceritakan di bagian awal kisah ini, keduanya pun terlibat obrolan.

“Lagian, sastra di koran sekarang sedang banyak polemik.” Tambahnya lagi. Tangan kanannya mengambil bala-bala.

“Polemik gimana?” tanya temannya itu.

“Terkadang, tak semua karya yang dimuat itu karya yang baik. Belum lama ini, aku membaca cerpen di koran, dan itu buruk sekali.”

“Oh, ya?” temannya seolah tak percaya.

“Bahkan, beberapa bulan lalu, ada puisi yang dimuat di koran, eh, ternyata plagiat dari lirik lagu yang pernah ditulis seorang sastrawan hebat.” Beber lelaki itu.  

“Kenapa bisa begitu?”

“Ya, demikianlah. Selama orang menulis untuk menjadi tenar, kupikir hal-hal demikian akan selalu terjadi. Belum lagi, sering sekali terjadi pemuatan ganda. Sampai ada istilah tebar jala segala.”

“Wah, seperti menangkap ikan saja.” celetuk temannya itu dan keduanya pun tertawa lepas.

Syahdan, direguknya kopi yang tinggal sedikit itu dan kepada temannya lelaki itu pun mohon pamit.

Di rumah, lelaki itu pun segera meraih laptop-nya, dan meneguhkan hatinya untuk menulis sebuah cerita. Cerita itu pertama-tama ia beri judul, “Seorang Cerpenis yang Telah Lama Menghilang”. Lalu ia memulai paragraf pertamanya dengan kata-kata “Sepuluh Tahun Lamanya”. Demikian, perlahan namun pasti, lelaki itu menuliskan cerita. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Paragraf demi paragraf. Ia susun cerita itu dengan sebaik-baiknya. Hingga, manakala paragraf terakhir selesai, ia pun mengganti judul cerita tersebut yang menurutnya terlalu panjang.

“Seperti kebanyakan orang saat ini saja, buat judul cerpen kok, panjang-panjang.” Gumamnya, sembari menghapus judul tersebut dan mulai menggantinya dengan judul yang baru yaitu “Jadi Cerpenis Lagi.” Setelah tulisan itu selesai, ia pun mengirimkannya pada salah satu redaktur koran. Tapi naas, berbulan-bulan cerpennya tak juga tayang. Lalu, ia pun menyunting kembali cerpen itu, dan mengirimkannya pada salah satu media daring ternama. Hingga akhirnya cerpen itu pun ada di hadapan Anda semua.

Sebuah kisah yang memilukan, bukan?

Batujajar, 27-12-2019.

=====================
Anggi Nugraha. Lahir di Batumarta 2 Kab. OKU, Sum-Sel. Alumnus Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya dimuat di : Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat, Tribun Sum-Sel, Lampung Post, Malang Post, Padang Ekspres, Palembang Ekspres, Radar Surabaya, Koran Singgalang, Radar Mojokerto, Koran Berita Pagi, Radar Cirebon,  Majalah SUAKA, dll. Saat ini bekerja di Nurul Fikri Boarding School Lembang, sebagai Pustakawan.

Sungai di Wajah Ibu

1

           Sungai di wajah Ibu bermuara pertama kali sejak belasan tahun lalu, ketika kehilangan itu mempora-porandakan hidupnya. Sungai itu berasal dari ceruk matanya, mengalir perlahan melewati pipi dan berakhir menetes di ujung dagu. Air mata yang menetes akan senantiasa membasahi dada dan pangkuannya. Dari balik jendela kamarnya, Ibu tak pernah lelah menunggu meski yang ditunggu tak kunjung kembali. Pagar rumah sudah berkali-kali diganti dengan yang baru, tapi kaki yang diharapkan melintasinya tak pernah datang.

            Air mata Ibu selalu mengalir seperti anak sungai yang membelah lembah. Setiap hari, setiap waktu. Dari atas kursi rodanya, Ibu akan selalu menatap keluar jendela dengan penuh harapan, penuh penantian yang tak kunjung usang. Dia setia menunggu. Setia berdoa kepada Tuhan, meski selama belasan tahun itu juga doanya tak kunjung terjawab.

            “Jika kau sudah lelah berpetualang, Nak. Pulanglah …”

            Satu kalimat itu yang selalu diucapkan Ibu di sela-sela penantiannya. Bibirnya yang memucat akan bergetar hebat tatkala mengucapkan kalimat itu. Lalu, sungai di wajahnya akan mengalir di kerut-merut wajahnya. Di ambang pintu, aku hanya menatap Ibu secara diam-diam. Pemandangan itu sudah aku akrabi sejak bertahun lalu.

***

            Aku masih ingat betul kejadian itu. Awal sebab Ibu memiliki sungai di wajahnya. Kejadian itu sudah belasan tahun lalu, tapi aku sangat mengingatnya. Andai belasan tahun lalu kakakku Aswin tak hilang, mungkin Ibu tak perlu merajut penantian yang sedemikian panjangnya hingga detik ini. Dan sungai yang berasal dari kedua ceruk matanya tak perlu mengalir saban hari.

            Tak ada tanda-tanda bahwa kami akan kehilangan Aswin pagi itu. Segala sesuatunya berjalan seperti biasanya. Aswin dengan semangat mudanya menyiapkan diri untuk kuliahnya. Aku masih kelas satu sekolah menengah pertama saat itu. Kakakku Aswin adalah manusia yang semangat, ia begitu menginginkan kebebasan dalam wujud demokrasi dan sebagainya. Meski jiwanya ingin bebas seperti burung yang lepas dari sangkar, tapi dia amatlah patuh kepada Ibu. Malam itu aku melihat kakakku memeluk Ibu. Seakan-akan mereka tak akan bertemu dalam waktu yang lama.

            Hari selanjutnya, kami memang kehilangan Aswin. Kakakku menghilang, dan tak kembali. Seminggu setelah Aswin menghilang, Ibu berkeras mencarinya ke kota. Semenjak ayah meninggal, Ibu yang memegang kemudi rumah tangga. Tatkala Aswin menghilang, maka Ibu seakan memiliki kewajiban mencarinya.

            Namun nyatanya kota tak ubahnya petaka saat itu. Semua sudut terlihat kacau. Bangunan-bangunan dihancurkan, toko-toko dijarah, gedung-gedung dibakar. Banyak orang-orang berteriak sepanjang jalan sembari merusak apa saja yang mereka temui. Mobil-mobil di sepanjang jalan digulingkan lalu dibakar beramai-ramai. Perempuan-perempuan berteriak ketakutan dikejar pria-pria buas yang memburu mereka secara membabi buta. Penjarahan, tindakan-tindakan vandalisme sampai pemerkosaan terjadi di mana-mana. Banyak orang yang terperangkap dalam kungkungan api turut tewas terbakar.

            Aku menggelepar ketakutan. Kota yang kami datangi tak aman. Tapi dengan tegar dan berani, Ibu bersikukuh untuk mencari Aswin. Para petugas keamaan menghimbau agar kami segera menyingkir. Tapi Ibu tetap maju, dia mencari Aswin di setiap sudut kota. Tapi kami tak menemukan Aswin, bayang-bayangnya pun tak terlihat.

            Ketika lelah mencari mendera, Ibu baru memutuskan pulang. Kota yang rusak kami tinggalkan, meski di sepanjang perjalanan aku menggigil di atas angkutan kota. Ibu bergeming, wajahnya membeku.

            “Bagaimana kalau anakku mati karena orang-orang yang marah itu? Bagaimana kalau dia menjadi salah satu korban yang dibakar?” Suara Ibu terdengar di tengah bisingnya suara angkutan kota yang mendengus-dengus di atas jalanan.

            “Apa Bang Aswin benar dibakar, Bu?” Aku menggigil membayangkan kejadian di kota tadi.

            “Orang-orang yang marah itu sedang hilang ingatan, Muni. Mereka bisa merusak dan membakar apa saja yang mereka mau,”

            Aku tak ingin mengangguk atau menggeleng. Sejujurnya aku bingung dengan jawaban Ibu. Ibu mengatakan bahwa orang-orang yang merusak kota itu sedang hilang ingatan dan marah. Tapi aku melihat mereka berteriak-teriak mengagungkan nama Tuhan ketika marah tadi.

            “Mereka tadi juga menyebut nama Tuhan, Ibu. Saat mereka menggulingkan mobil dan membakarnya. Juga saat menyerang orang-orang yang mereka anggap berbeda,” aku semakin erat menggenggam tangan Ibu. Tangan Ibu terasa begitu dingin dan berkeringat.

            “Tuhan tak bisa dijadikan tameng ketika marah, Muni. Karena Tuhan terlalu suci untuk disentuh amarah. Mereka hanya mencoba meredam dosa mereka sendiri, meski itu hal yang percuma. Kita terlahir berbeda bukan untuk saling membenci, Muni,” Ibu menatap keluar lewat jendela angkutan kota. “Saat ini kita tak perlu meributkan mereka yang pemarah itu, mereka punya dunia yang berbeda dengan kita. Kita cari kakakmu saja, karena tak seharusnya dia pergi tanpa kabar seperti saat ini.”

            Aku mengangguk. Benar kata Ibu, yang kami perlukan hanyalah mencari keberadaan Aswin. Kakakku benar-benar menghilang tanpa kabar. Satu demi satu teman-temannya ditanyai Ibu, tapi tak ada satu pun yang tahu kemana Aswin pergi. Terakhir Aswin terlihat di kampusnya, setelahnya tak ada lagi yang melihatnya.

            “Kenapa Bang Aswin bisa hilang, Ibu? Dia orang baik kan? Penurut juga,” aku bertanya ketika sudah berbulan-bulan tak ada kabar tentang Aswin.

            “Aswin terlalu banyak bicara, Muni. Abangmu itu terlalu jujur menjadi orang. Terlalu keras kepala sebagai seorang pemuda. Andai dia banyak bungkam seperti yang lain, mungkin dia tidak perlu hilang,” Ibu menatapku dalam-dalam. Dari kedua matanya yang semakin redup, aku tahu bahwa Ibu sangat lelah.

            “Ibu menyesal karena Bang Aswin banyak bicara?” Aku memijat punggung tangan Ibu yang jauh lebih kurus dibandingkan beberapa waktu sebelum Aswin hilang.

            “Ibu tak pernah menyesal memiliki anak seperti Aswin. Dia berani berbicara karena memang cakap dan paham dengan apa yang dia ucapkan. Tapi, ibu hanya menyesali, kenapa ada orang-orang yang berbuat curang kepadanya, membawanya pergi dan tak mengijinkannya kembali. Atau andai dia pergi atas kehendaknya sendiri, betapa pengecutnya abangmu itu, Muni.”

            Aku membenarkan ucapan Ibu. Andai benar Aswin pergi lantaran keinginannya sendiri, betapa pengecutnya dia, membiarkan aku dan Ibu bersusah payah mencarinya. Tapi, andai dia dibawa pergi orang dan tak diizinkan untuk pulang, betapa kejinya orang yang membawanya pergi. Lantaran mereka ada seorang Ibu yang terperangkap dalam rindu dan penantian yang tak pasti.

            Ibu masih bersemangat mencari Aswin, meski hitungan bulan sudah menyentuh tahun. Ibu dengan sabar menyebarkan info tentang hilangnya Aswin. Kantor polisi sudah didatangi. Selebaran-selebaran tentang info hilangnya Aswin ditempelnya di tiang-tiang listrik, di papan pengumuman gardu di kampung-kampung, sampai di pintu-pintu warteg. Tapi tak ada satu pun kabar yang diterima Ibu tentang Aswin. Abangku itu seakan hilang, lenyap ditelan bumi.

            Pencarian Ibu terhenti ketika pengapuran mendera kedua lutut kakinya. Kaki Ibu tak bisa digunakan seperti dulu. Sehari-hari Ibu hanya menghabiskan waktu di atas kursi roda. Meski kakinya tak bisa lagi menyusuri jalan-jalan di kota dan gang-gang kampung untuk mencari kabar Aswin, tapi Ibu tak berhenti menunggu. Di balik jendela kamarnya, Ibu selalu bersemangat memohon dan berdoa agar anaknya dikembalikan. Mengetuk belas kasih Tuhan agar anaknya yang hilang segera dipulangkan.

***

            Kini sudah belasan tahun Ibu menunggu. Tak hanya wajahnya saja yang dipenuhi kerut-merut lantaran digerus usia. Kedua matanya yang dulu bersorot penuh percaya diri menuntut keadilan untuk anaknya yang hilang kini berubah kelabu, seiring warna rambutnya yang memutih. Tangannya yang dulu tak lelah mengetuk pintu untuk sekadar menanyakan keberadaan Aswin kini selalu bergetar.

            “Sudah berapa lama abangmu hilang, Muni?” Suara lemah Ibu terdengar. Memang sudah beberapa waktu ini aku kehilangan suara Ibu yang tegas dalam kelembutan seorang wanita. Kini, hanya suara lemah yang terkadang bahkan tak  terdengar di telingaku yang bisa dia ucapkan.

            “Sudah cukup lama, Ibu. Sudah belasan tahun,” aku menjawab sembari menatap mata Ibu.

            “Dia benar-benar tak ingat pulang rupanya,”

            “Bang Aswin bukannya tak ingat pulang, Ibu. Mungkin dia memang tak diijinkan pulang,”

            “Terkadang ibu berpikir, Muni. Tidak rindukah dia kepada kita?”

            “Abang pasti rindu, Ibu. Hanya saja mungkin dia belum bisa kembali menemui kita.” Aku menggenggam erat tangan Ibu.

            Ibu hanya mengangguk samar, kedua matanya dipejamkan. Perlahan aku berdiri meninggalkannya. Tapi ketika sampai di ambang pintu kamar, aku mendengar suara Ibu yang lirih.

            “Jika sudah lelah berpetualang, Nak. Pulanglah, ibumu ini tak akan marah jika kau kembali ke rumah.”

            Lalu sungai di wajah Ibu mengalir lagi, dari ceruk matanya, turun ke pipi lalu berakhir di ujung dagu. Tetesan air mata itu membasahi dada dan pangkuannya. Aku hanya menatap Ibu dari ambang pintu, bagiku sungai di wajahnya bukanlah hal baru.[]

======================

Artie Ahmad lahir dan besar di Salatiga. Beberapa cerpennya dimuat media massa, dan sampai saat ini dia memiliki empat buku. Buku terbarunya ‘Sunyi di Dada Sumirah’ Penerbit Buku Mojok, Agustus 2018 dan kumpulan cerita pendek ‘Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri’ Penerbit Buku Mojok, Januari 2019.

Jejak Nama Kami Dalam Lukisan

2



Rumah ini bagaikan galeri. Dindingnya rapat tertutup lukisan. Lekuk punggung pegunungan, halaman lapang, rerumputan, dan pohon rimbun. Ada kami berempat saling bergandengan tangan. Aku, istriku, putra kami yang duduk di kelas 3 SD, dan si bungsu, sang pelukis ulung yang saat ini masih belajar di TK kelas nol besar.

Di sudut dinding yang lain tampak gambar deretan gedung tinggi dan tangan-tangan panjang alat berat yang sedang bekerja. Ada pula gambar-gambar abstrak. Mungkin ini yang paling banyak. Tarikan garis memanjang, meliuk-liuk, bahkan melingkar liar. Indah sekali. Beraneka warna. Betah berlama-lama memandangnya. Seperti lukisan purba di dinding gua. Dilihat berapa kalipun semuanya selalu terasa baru. Mengantarkan penikmatnya ke dunia dengan cerita-cerita luar biasa yang tak pernah ada habisnya.

Kami beruntung bisa menyaksikan lukisan-lukisan dahsyat ini. Sejumlah kerabat dan sahabat yang datang ke rumah juga ikut memuji. Kualitasnya memang baik, sesuai usianya.

Tak terhitung krayon dan spidol air yang sudah dihabiskan. Hampir setiap bulan  minta dibelikan lagi. Kami turuti. Apalagi, setelah dia mulai menggambar di atas kertas. Meski begitu, gambar-gambar di dinding tetap kami biarkan begitu saja. Gambar-gambar itu terlalu istimewa untuk sekadar digantikan dengan warna-warna monoton, mulus, dan bersih. Dinding rumah seperti itu terlalu membosankan. Setidaknya begitu perasaan kami sekarang.

Bulan lalu beberapa lukisannya di lembar-lembar kertas itu mulai kami pajang di sisi dinding atas. Masih banyak bagian kosong yang selama ini belum tersentuh karya goresan tangannya. Kami memang bukan ahli desain interior. Tapi, terus terang saja, kami puas. Tampilan rumah ini dari hari ke hari bertambah sempurna.

Objek gambarnya pun terus berkembang. Dia kini mulai membuat gambar pesawat, kapal perang, dan kereta api dengan gerbong yang superpanjang. Sampai lima helai kertas gambar harus dijejer dan disambung dengan isolasi. Keesokan hari tiba-tiba dia sudah bisa menyajikan pemandangan bawah air. Gambar yang ramai. Ikan-ikan bertubuh jumbo berenang kesana kemari dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara berukuran besar yang mengapung menuju permukaan. Ada orang-orang di dalam gelembung itu. Terkadang satu, dua, bahkan empat.

’’Masak ada orang di dalam gelembung udara, ’’ celetukku, sambil tersenyum menggoda.

’’Lagi ngapain mereka di dalam gelembung napas ikan? ’’ potong istriku. Saat mengucapkan itu, dia sempat melirikku tajam. Dari tatapannya, aku tahu dia berusaha mengingatkan aku agar tidak merusak bangunan imajinasi buah hati kami yang masih polos itu.

’’Mereka teman-teman nabi Yunus, ’’ katanya, sambil terus menggoreskan krayon membuat degradasi warna ungu yang sendu.

’’Guru ngaji di masjid bilang, nabi Yunus diselamatkan ikan raksasa waktu tenggelam di laut. Semua orang di dalam gelembung udara ini juga diselamatkan ikan-ikan itu. Sekarang mereka dilepas agar mengapung dan terbang ke angkasa,’’ lanjutnya.

’’Bukannya ikan itu dikisahkan hanya menyelamatkan Nabi Yunus. Dan, hanya seekor ikan, bukan banyak ikan?’’ tanyaku lagi.

’’Awalnya iya. Tapi, ikannya bertelur dan bertambah banyak. Mereka terus menyelamatkan orang. Sampai sekarang,’’ tuturnya dengan mata berkedip.

Kami tertegun. Berusaha mencerna penjelasannya. Nabi Yunus. Orang-orang yang tenggelam. Segerombolan ikan raksasa keturunan Nun. Gelembung udara. Penyelamatan. Banyak kata kunci yang belum kami pahami. Tapi, kami tidak mau mendesaknya untuk terus bercerita. Biarlah dia menyempurnakan imajinasinya terlebih dulu. Sepuasnya. Toh, masih banyak ruang terbuka di dinding rumah ini yang bisa dipakai untuk memajang gambar-gambar itu.

***

Seharian kami sekeluarga pergi ke water park di dekat perumahan. Anak-anak bermain beragam wahana dengan gembira. Termasuk, walking ball. Sebenarnya aku khawatir saat mereka masuk ke dalam bola berukuran besar dan berlarian ke sana kemari di atas air seperti hamster. Tapi, manakala teringat kembali gelembung udara dengan manusia yang muncul dalam gambar putra kami itu, aku berharap imajinasinya tidak berkembang lebih aneh lagi. Teralihkan dengan serunya bermain walking ball. Entahlah, setiap melihat gambar itu aku merasa sangat tidak nyaman.

Tapi, harapanku jauh panggang dari api. Menjelang waktu makan malam, saat hendak menuju ruang tengah, tanpa sengaja pandanganku tertuju kepada beberapa lukisan itu. Sekarang tampilannya seperti komik. Manusia-manusia dalam gelembung sudah memiliki identitas. Dengan cepat aku memanggilnya.

’’Ini tulisan adik?’’ tanyaku, pelan. Dia mengangguk. Tulisannya memang belum rapi, tapi sudah bisa dibaca.

’’Ada yang menyuruh atau adik mengarangnya sendiri?’’. Kali ini dia sudah tidak peduli dengan pertanyaanku dan langsung berlari ke depan televisi. Kembali menonton film para ksatria dan monster raksasa dari Jepang yang sempat terganggu oleh panggilanku.

Aku hendah mengejarnya. Tapi, istriku yang tadi berada di dapur rupanya sudah datang menghampiri. Dia membawa sendok berisi kuah asam pedas kepala ikan sembilang dan memintaku untuk mencicipinya. Aku langsung memberi kode oke dengan jariku.

’’Tadi tanya apa sama adik?’’.

’’Gak apa-apa. Cuma mau ngajak ngobrol soal gambarnya. Coba lihat itu,’’ jawabku sambil menunjuk salah satu lukisannya. Lukisan gelembung udara yang keluar dari mulut ikan dengan tiga manusia di dalamnya. Istriku tampak mengernyit. Dia melangkah mendekat.

Di sekitar gelembung ada coretan kecil. Nama-nama. Setiap coretan sepertinya mewakili identitas dari tiga manusia di dalam gelembung udara itu. Masing-masing tertulis: Kuy-Sabi, Okse-Vida, dan Ravi-Darum.

’’Ini nama-nama siapa?’’ ujar istriku. Ekspresi wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang begitu besar.

’’Tadi aku juga tanya begitu sama adik. Tapi, dia lagi asyik sekali sama filmnya,’’ kataku. Kami pun sepakat untuk sejenak melupakan perbincangan soal nama-nama misterius itu dengan beranjak ke meja makan. Piring-piring beredar dengan cepat. Anak-anak makan dengan lahap. Suasana sangat menyenangkan.

Dalam kondisi perut yang kenyang, kami menuntaskan malam dalam kesibukan masing-masing. Tak terpikir lagi untuk membahas nama-nama dalam gambar. Kebetulan ada beberapa bagian dari laporan keuangan minimarket milikku yang harus aku periksa. Istriku sendiri kelihatannya sudah lelah dan memilih untuk rebahan di sofa sambil menonton kompetisi stand up comedy di televisi.

Keesokan pagi aku dan istriku kembali gempar. Dua manusia dalam gambar gelembung ikan yang lain juga ikut memiliki nama. Lukisan itu kami tempel persis di sebelah pintu kamar mandi. Dari bentuk huruf-hurufnya, kami yakin adik juga yang menuliskannya.

Posisi lukisan ini agak tinggi. Pastilah dia menyeret kursi untuk bisa menjangkaunya. Kami tak habis pikir, kapan adik melakukannya. Istriku sudah bangun sejak pagi buta untuk menyiapkan sarapan. Apa buah hati kami yang lucu membuat tulisan sebelum kami semua terjaga?

Hingga beberapa menit kemudian kami masih termangu. Berulang-ulang kami membaca kombinasi nama yang tertulis dengan pensil. Endo-Ola dan Fibro-Epi. Nama-nama siapa lagi ini? Pikiran kami benar-benar buntu.

Secara spontan kami mengecek lagi tujuh gambar lain dengan tema serupa. Pemandangan bawah laut atau suasana dermaga dengan ikan-ikan berenang di bawahnya sambil mengeluarkan gelembung berisi manusia-manusia. Kecurigaan kami terbukti. Semua manusia dalam gelembung udara ikan sekarang sudah memiliki nama. Persisnya dua suku nama.

Saat masih asyik memperhatikan nama-nama itu, tiba-tiba adik sudah berdiri di belakang kami. Sembari menghabiskan susu di gelas yang tinggal setengah, dia meminta untuk segera diantar ke sekolah. Lokasi TK masih dalam komplek perumahan. Hanya berjarak sekitar 200 meter.

’’Siang nanti aku akan ajak adik ngobrol. Pelan-pelan,’’ ujar istriku. Aku mengangguk. Pikiranku agak kacau. Aku merasa khawatir. Tiba-tiba sangat khawatir. Entah terhadap apa.

***

Petugas berseragam hilir mudik keluar masuk satu kavling ruko tiga lantai di tepi jalan yang masih masuk dalam lingkungan perumahan kami. Puluhan awak media juga berkerumun. Ada yang memotret, ada pula yang sibuk merekam. Warga sekitar tak menyangka ruko itu menjadi klinik aborsi ilegal. Dari depan sekilas seperti agen travel merangkap toko obat tradisional biasa.

Sisi belakang klinik aborsi itu berada persis di depan TK. Hanya dipisahkan oleh tembok setinggi dua meter dan akses jalan perumahan selebar lima meter. Di balik pagar terdapat lubang septic tank. Petugas sudah membongkar dan menemukan banyak serpihan tulang belulang calon jabang bayi.

Dari berita yang kami ikuti, petugas mengamankan sejumlah orang. Dokter, asisten dokter, dan perawat. Termasuk, dua perempuan yang masih dirawat di klinik tersebut beserta pasangannya masing-masing.Yang membuat aku dan istriku terperanjat adalah kami seperti mengenal nama mereka.

Buru-buru kami memeriksa lagi lukisan pemandangan bawah laut dengan ikan yang mengeluarkan gelembung di sebelah pintu kamar mandi. Benar saja. Nama-namanya memang sama. Endo-Ola dan Fibro-Epi. Ola dan Epi, dua gadis belia yang dipaksa untuk menggugurkan kandungannya.

Ada lagi tiga perempuan lain yang juga sudah diketahui identitasnya dan langsung diamankan. Dari berkas catatan klinik, mereka diduga melakukan aborsi sekitar dua bulan  lalu. Bergidik kami sewaktu membaca nama-namanya. Sabi, Vida, dan Darum. Bukankah nama-nama ini pula yang muncul dalam gambar karya si bungsu? Kuy-Sabi, Okse-Vida, dan Ravi-Darum.

Wajah istriku tampak sangat prihatin. Dia mulai curiga, bahkan meyakini bahwa puluhan nama lain dalam gambar si bungsu masih berkaitan dengan praktik aborsi yang terjadi entah dimana. ’’Anak-anak malang itu tidak sempat terlahir dan memiliki nama. Mereka membawa nama kedua orang tuanya,’’ ucapnya dengan suara bergetar. Ada kengerian yang bercampur dengan kegeraman.

’’Apa anak kita mampu berkomunikasi dengan makhluk gaib atau mungkin ruh dari janin-janin penasaran?’’ lanjut istriku.

Aku hanya mengangkat bahuku. ’’Enggak tahu,’’ jawabku. Sebenarnya aku sekarang ikut khawatir. Berbagai kasus penemuan orok atau janin yang terbungkus dalam plastik kresek berseliweran di benakku. Pikiranku bertambah kacau.

Istriku mengajakku untuk segera mendekati si bungsu yang kembali sibuk dengan kegiatan melukisnya. Kali ini dia melukis sebuah kapal dengan pemandangan bawah lautnya yang khas. Seekor ikan berukuran raksasa tampak berenang sambil mengeluarkan gelembung udara dari mulutnya. Seperti yang sudah-sudah, ada satu tubuh manusia di dalam gelembung yang dalam pandangan kami sekarang tampak sebagai tubuh janin atau orok. Lengkap dengan tulisan nama di sebelahnya.

Jantungku seperti mau copot. Telingaku berdenging. Keningku berdenyut. Aku hampir tak bisa lagi mengikuti perbincangan sederhana antara si bungsu dengan ibunya. Sesekali mereka tertawa cekikikan.

Berulang kali kulirik istriku. Semoga saja dia tidak menyadari betapa kalut diriku sekarang. Sebab, dua kombinasi nama yang tertulis dalam coretan gambar si bungsu adalah penggalan namaku dan pegawaiku di kantor. Seorang perempuan yang hampir sebulan terakhir mengambil cuti pasca menggugurkan kandungannya di klinik tersembunyi luar kota.(*)



=================
Priyo Handoko,
mantan jurnalis (2006-2018) yang suka menulis prosa. Cerpennya dipublikasikan di beberapa media, antara lain: Majalah Femina, Jawa Pos, Radar Banyuwangi, dan Ideide.Id. Kini menjadi komisioner KPU Provinsi Kepulauan Riau, kampung halamannya.

Dialog Antar Orang Mati

0


Lelaki itu tiba lebih cepat dari selatan Inggris pada suatu pagi di musim dingin tahun 1877. Dia pria merah, atletis, namun berat badannya berlebihan. Tidak dapat dipungkiri, hampir semua orang berpikir bahwa ia orang Inggris, dan memang dia terlihat mirip seperti John Bull. Dia memakai topi bowler dan berjubah wol dengan celah di tengah. Sekelompok pria, perempuan, dan bayi telah menunggunya dengan cemas ; banyak dari mereka memiliki garis merah di tenggorokan, lainnya tanpa kepala dan berjalan ragu-ragu dengan langkah yang menakutkan, seakan meraba-raba menembus kegelapan. Sedikit demi sedikit, mereka mengelilingi orang asing itu, dan dari belakang kerumunan seseorang berteriak mengutuk, tapi teror yang lama menghentikan mereka dan mereka tidak berani melangkah lebih jauh. Dari tengah, seorang prajurit kulit pucat dengan mata seperti bara api melangkah ; rambutnya yang panjang kusut, dan janggutnya yang murung tampak memenuhi wajahnya ; sepuluh sampai dua belas luka mematikan ada di sekujur tubuhnya, seperti garis-garis pada kulit harimau. Ketika ada yang datang melihatnya, dia memucat, tapi melangkah maju dan mengulurkan tangan.

     “Betapa menyedihkan melihat seorang prajurit direndahkan oleh aparat pengkhianat!” katanya dengan penuh wibawa. “Dan lagi kepuasan yang luar biasa telah memerintahkan bahwa para penyiksa dan pembunuh menebus kejahatan mereka pada perancah di Plazade laVictoria!”

     “Jika itu Santos Pérez dan Reinafé bersaudara yang kamu maksud, yakinlah bahwa saya sudah berterima kasih pada mereka,” kata lelaki berdarah itu dengan serius.

     Laki-laki lain memandangnya seolah mencium ancaman, tetapi Quiroga melanjutkan:

     “Kamu tidak pernah mengerti saya, Rosas. Tapi bagaimana kamu bisa mengerti saya, jika hidup kita sangat berbeda? Nasibmu adalah memerintah di kota yang menghadap ke Eropa dan suatu hari akan menjadi salah satu kota paling terkenal di dunia. Dunia saya berperang melintasi kesendirian di Amerika, di negeri miskin yang dihuni oleh para pedagang miskin. Kerajaanku adalah salah satu tombak, teriakan, tanah terlantar berpasir, dan kemenangan rahasia di tempat-tempat terkutuk. Apa itu seperti klaim yang terkenal? Saya hidup dalam ingatan orang-orang — dan akan terus tinggal di sana selama bertahun-tahun — karena saya dibunuh dalam kereta kuda di tempat yang disebut BarrancaYacoby oleh sekelompok pria dengan pedang dan kuda. Saya berhutang budi padamu atas kematian yang kesatria, yang tidak bisa kukatakan saat itu, tetapi generasi berikutnya enggan untuk melupakannya. Anda pasti akrab dengan litograf primitif tertentu dan karya sastra menarik yang ditulis oleh seorang yang layak dari San Juan?”

     Rosas, memulihkan ketenangannya, memandang lelaki itu dengan jijik.

     “Kamu orang yang romantis,” katanya sambil mencibir. “Sanjungan anak cucu tidak lebih berharga dari sanjungan orang sezamannya, yang tidak bernilai apa-apa, dan dapat dibeli dengan sekantong uang receh.”

     “Saya tahu bagaimana kamu berpikir,” jawab Quiroga. “Di tahun 1852 takdir bermurah hati, serta ingin menyelami kamu sangat mendalam, menawan kematian pria-pria dalam pertempuran. Kamu telah menunjukkan dirimu sendiri tidak layak menerima hadiah itu, karena perkelahian, pertumpahan darah, membuatmu takut.”

     “Membuatku takut?” ulang Rosas. “Saya telah menjinakkan kuda hitam di selatan, dan kemudian menjinakkan seluruh negara.”

     Untuk pertama kalinya, Quiroga tersenyum.

     “Saya tahu,” dia berkata pelan, “dari kesaksian tidak memihak prajurit Anda dan kedua perintah Anda, bahwa Anda melakukan lebih dari satu giliran balik yang menakjubkan, tetapi kembali pada masa itu, melintasi AS—dan menunggang kuda juga—ketakjuban lainnya dilakukan di tempat bernama Chacabuco dan Junin dan Palma Redondo dan Caseros.”

     Rosas mendengarkan tanpa ekspresi, dan menjawab.

     “Saya tidak perlu berani. Salah satu ketakjuban milikku, seperti yang Anda katakan, adalah untuk mengelola serta meyakinkan pria pemberani, saya berjuang dan mati untuk diri saya sendiri. Santos Perez contohnya, yang lebih sepadan untukmu. Keberanian sangat mendukung ; beberapa pria bertahan lebih baik dari yang lain, tapi cepat atau lambat, setiap orang menyerah.”

     “Itu mungkin,” kata Quiroga, “Tapi saya sudah tinggal dan saya sudah mati, dan sampai hari ini saya tidak tahu apa itu takut. Dan sekarang saya pergi ke tempat di mana saya diberikan wajah baru dan takdir baru, karena sejarah lelah dengan pria kejam. Saya tidak tahu siapa pria selanjutnya, apa yang akan dilakukan terhadapku, tapi saya tahu saya tidak akan takut.”

     “Saya puas jadi diri sendiri,” kata Rosas, “dan saya tidak ingin menjadi orang lain.”

     “Batu tetap terus jadi batu, selalu, selama-lamanya,” jawab Quiroga. “Dan selama berabad-abad mereka batu—sampai mereka hancur jadi debu. Ketika saya pertama kali masuk ke dalam kematian, saya memikirkan caramu, tapi saya sudah belajar banyak hal di sini sejak itu. Jika kamu perhatikan, kita berdua sudah berubah.”

     Tapi Rosas tidak memperhatikannya,  dia hanya melanjutkan, seolah berpikir keras, “Mungkin saya tidak bisa mati, tapi tempat ini dan percakapan ini sepertinya tampak mimpi bagiku dan bukan mimpi yang hanya sekadar mimpi, juga. Lebih seperti mimpi yang diimpikan orang lain, seseorang belum dilahirkan.”

     Lalu percakapan mereka berakhir, karena saat itu seseorang memanggil mereka.*

Diterjemahkan dari edisi berbahasa Inggris berjudul, “A Dialog Between Dead Men” yang ada pada antologi Jorge Luis Borges, Collected Ficciones, diterjemahan dari bahasa Spanyol oleh Andrew Hurley. Alih bahasa Indonesia oleh Risen Dhawuh Abdullah.


======================
Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Terbaru

10 Kisah-Kisah Kecil Kafka

1mengapa aku hidup? apakah makna kelahiran dan kematian?kafka kali ini menjadi jalan buntu dalam...

Mencari Karya yang Problematis

Dari Redaksi