Cerpen

Home Cerpen

Kesaksian Lakasse

0


Menggelesot di lantai, di samping Undung yang menggigil ketakutan, Lakasse butuh berpuluh kali mengatur hela napas baru mampu bercerita. Ia bilang ke polisi, ketika kakinya hendak menjejak anak tangga pertama terdengar suara letusan, dan ia yakin saat itulah kepala Tuan Bulke ditembus peluru. Masih separuh dari tiga belas anak tangga menuju lantai dua, tempat kejadian itu, belum ia jejaki, saat dua orang muncul tergopoh dari atas. Kedua orang itu sampai melompati dua anak tangga sekaligus setiap melangkah ke bawah. Ia mengaku mengenal kedua orang itu seperti ia mengenal Undung.

Sampai di atas, demikian ia meneruskan ceritanya, ia masuk ke tempat kejadian dan mendapati Undung menggigil serupa meriang. Tubuh Tuan Bulke ada di lantai, duduk bersandar ke tembok, kepala terkulai dan dinding di belakangnya bernoda percik darah. Tersentak melihat kondisi tubuh blasteran bule itu, sontak membuat baki yang menadah empat gelas kopi yang ia antar lepas terpelanting.

Bermaksud mengkonfrontir keterangan yang Lakasse berikan, polisi berpaling ke Undung. Yang ditatap hanya mangap, tanpa ada kata tercetus dari mulutnya, dan lama baru polisi menyadari Undung ternyata gagu.

***

Lakasse merasa hidupnya betapa sial. Ia ada di tempat yang salah pada saat yang salah pula. Tak usai-usai ia termangu dirundung sesal. Kisruh pikirannya kian kusut kasau saat ada teman membisiki, “Kalau keteranganmu di depan polisi tidak meyakinkan, bisa-bisa kamu yang jadi tersangka.” Lakasse bergidik membayangkan bila ia yang harus diterungku sebagai pembunuh Tuan Bulke.

Undung masih saja panik. Tak mungkin mengorek keterangan darinya. Di depan polisi yang memeriksanya, Undung malah kehilangan kemampuan berbahasa isyarat. Gerak tangan dan geletar bibirnya tak terpahami. Sesekali dia melempar pandang ke arah Lakasse, seakan minta dibantu. Dalam gigil ketakutan akibat impitan syok, akhirnya dia dirawat di rumah sakit.

Anca dan Dengka, dua saksi lain yang ada di tempat kejadian dan sempat berpapasan dengan Lakasse di tangga, langsung pula menghilang, dan selang dua hari Anca malah menyusul jadi mayat. Tubuhnya ditemukan menggembung terapung di bawah jembatan. Dugaan serampangan mengatakan Anca terjatuh, atau malah sengaja menceburkan diri ke dalam luap air sungai karena tekanan insiden tertembaknya Tuan Bulke. Sedang Dengka, masih belum ditemukan. Runtunan kejadian itu membuat posisi Lakasse kian sulit; ia jadi satu-satunya saksi yang bisa dimintai keterangan.

Akal Lakasse jadi mampet. Saat termangu, teman yang bersimpati kembali membisiki, “Lebih baik kamu minta pengakuan langsung dari kedua almarhum.”

“Dia kan sudah mati?” Lakasse mengerucutkan hidung, mengernyit.

“Sini, kuajarkan caranya …,” temannya menjelaskan. “Ingat, orang yang semasa hidupnya baik pada kita, biasanya setelah dia tiada, arwahnya akan baik pula pada kita. Aku yakin mereka bisa membantu melengkapi kesaksianmu.”

Serupa api, semangat Lakasse mulai murup. Tuan Bulke dan Anca yang telah tiada itu, saat hidup memang baik padanya. Malah suka memberinya tip. Sontak ia berpikir, arwah keduanya tentu baik pula padanya, pasti bersedia memberi tahu kronologi kejadian agar ia terelak dari kemungkinan jadi tersangka.

***

Sehari jelang agenda pemeriksaan, Lakasse memutuskan menemui saja arwah kedua almarhum. Seorang diri ia datang ke pekuburan. Pucuk dicinta, bulan sedang berbaik hati mengirim sebagian cahayanya, membuat ia tidak sulit menemukan posisi nisan yang ia cari. Ia hadir pada penguburan keduanya, jadi ia tahu di mana nisan mereka terpacak.

Nisan Tuan Bulke berada pada tanah menanjak di sisi bukit. Sedikit ke bawah, pada tanah landai, tempat Anca dikuburkan. Lakasse yakin arwah keduanya belum ingin terlalu jauh dari jasad masing-masing, dan tentu mau menemuinya. Berjongkok di antara nisan itu, sedikit lebih dekat ke nisan Tuan Bulke, ia mencoba memusatkan pikiran: dengan khidmat mengenang wajah dan sosok kedua almarhum.

Di sela riuh kerik serangga malam yang saling-timpa, ia berharap akan muncul pula suara-suara pelan arwah itu. Namun, hingga separuh malam terlampaui, sampai bagian kulitnya yang terbuka mulai perih dicucuki nyamuk, yang ia harap tidak terjadi. Jangankan bisik lirih, tanda-tanda keberadaan makhluk dari dunia gaib, dengan ciri bulu tengkuk meremang, tidak juga ia rasakan. Yang meremangkan bulu di lengannya hanya embus angin, membuatnya menggigil.

Dingin dan perih pada permukaan kulitnya, membuat Lakasse menyerah. Sempat terpikir untuk mengubah posisi, sedikit lebih merapat ke nisan Anca, tapi ia urungkan begitu ada pikiran lain melintas di benaknya: jangan-jangan arwah kedua orang itu malah masih berkeliaran di tempat kejadian?

***

Sejak peristiwa penembakan di salah satu unit pada gedung itu, sebagian penyewa memilih pindah, membuat beberapa bagian bangunan agak gelap. Lakasse masuk dari bagian belakang gedung. Kamarnya menyempil di pojok, dari mana ia bisa menyusuri lorong menuju tangga ke lantai dua. Sembari membesarkan hati bahwa arwah kedua orang itu masih ada di dalam ruangan, siapa tahu malah sedang bertengkar, ia mendorong pintu yang tidak rapat dan menunduk dari garis polisi. Ia masuk, berharap segera mendengar pertengkaran itu.

Unit yang disewa Tuan Bulke sedikit lebih besar dari yang lain, memiliki ruang tamu tersendiri. Lakasse bingung ketika ada di dalam. Apa sebaiknya berteriak saja memanggil arwah itu? Nyala bohlam di atas kepalanya redup, memaksimalkan belalak matanya. Bercak darah yang sudah mengering di dinding sempat ia lirik, sebelum duduk di kursi. Ia menduga kursi itu yang diduduki Tuan Bulke sebelum ditembak.

Sebagai petugas pembersih, senyampang ia bertugas kerap pula dimintai jasanya oleh penyewa untuk dibuatkan kopi atau mi siram, kadang juga membelikan rokok. Makanya ia cukup mengenal Tuan Bulke, termasuk ketiga tamunya yang sering berkunjung. Seraya menduga-duga saat kejadian mungkin Tuan Bulke sedang marah, lalu berdiri dan bergeser ke sisi kiri kursi sebelum terempas ke tembok oleh sentak peluru, Lakasse melengketkan tengkuk ke sandaran kursi. Ketika ia rasakan bulu-bulu di kuduknya meremang, ia yakin arwah korban sudah masuk ke dalam ruangan.

Segera ia bertafakur, berupaya lebih dalam mengenang sosok kedua almarhum. Ia berharap sebentar lagi ada di antara kedua arwah itu yang berkenan mengajak bercakap, atau lebih bagus bila mereka saja yang bertengkar, agar ia bisa menyimak apa yang menjadi penyebab sampai kepala Tuan Bulke dilubangi peluru. 

Namun, dalam detak jam demi jam tubuh Lakasse terhenyak di kursi, jangankan mendengar bisik paling lirih, kehadiran arwah itu malah ia rasa menjauh. Remang bulu di kuduknya hilang, membuat ia menduga arwah itu tidak berkenan melakukan persamuhan karena ia ada di situ.

Dalam dera lelah dan kantuk yang tak kuat lagi ia tahan, ia tertidur. Saat sedang tertidur itulah ia baru bisa melihat arwah itu datang, berebut memberi penjelasan: sangat riuh, saling tunjuk dan saling bentak, sebelum diakhiri suara letusan pistol. Suara itu membuat Lakasse terlonjak dari kursi.

Matanya memicing ke arah kaca jendela yang sudah benderang. Kepalanya terasa pengar. Perlahan ia sadar telah tertidur hingga pagi. Dugaan suara letusan yang membuatnya terlonjak bangun cuma suara empas salah satu pintu yang berjejer di luar, buru-buru ia sisihkan.

***

Dengan semangat berlambak, Lakasse membabar pengakuan di depan polisi, “Anca, Dengka, dan Undung itu, memang sering datang ke tempat Tuan Bulke. Ketiganya ke situ untuk bermain kartu … berjudi, maksud saya. Dan Tuan Bulke selalu saja menang, sedang tamunya selalu kalah. Oya, Tuan Bulke itu kerjanya memperanakkan uang … maksud saya, membungakan uang, semacam rentenirlah. Jadi, setelah kalah dan masih ingin bermain, ketiga tamunya akan meminjam uang dari Tuan Bulke. Pinjaman itu berbunga sangat tinggi. Begitulah seterusnya, berulang-ulang. Akibat selalu kalah, dan terus juga minta tambahan pinjaman, membuat utang ketiga tamunya makin menumpuk. Karena kesal, mulai pula curiga, ketiganya lalu menuding Tuan Bulke telah membodohi mereka. Ketiganya seia-sekata menuduh Tuan Bulke menggunakan trik-trik sulap pada kartu-kartu permainan mereka, sampai mereka selalu saja kalah dan cuma Tuan Bulke yang selalu menang. Akhirnya mereka cekcok, ribut saling tuding. Dengka dan Anca lalu bersepakat mengeroyok Tuan Bulke. Tuan Bulke buru-buru menarik laci, mengambil pistolnya. Kemudian terjadi perebutan pistol itu. Dengka yang berhasil merebut pistol, langsung mengarahkan ke Tuan Bulke, tapi Anca menghalangi. Anca tidak ingin bila sampai harus menembak tuan rumah, makanya dia berusaha merebut kembali pistol itu. Undung ikut pula membantu, kembali terjadi rebutan dan … pistol itu meletus….”

Lakasse merasa baru saja melepas impit cekik di leher. Namun, pertanyaan polisi kemudian, serasa memberi cekikan lain. “Bukankah sebelumnya kamu bilang tidak melihat kejadian itu?” 

Buru-buru melonggarkan napas, Lakasse membalas, “Arwah mereka, yang telah mati itu, yang datang dan menjelaskan pada saya, Pak. Percayalah, Pak, tidak seperti orang hidup, arwah pasti tidak pandai berbohong.”

Seperti menemukan sesuatu, polisi menatap tajam ke arah Lakasse. ***



====================

Pangerang P. Muda menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Telah menerbitkan 3 buku kumpulan cerpen, yang terbaru Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Menjadi guru SMK dan berdomisili di Parepare.  

Penyair Maun Bin Saun

0

Cinta mereka terhalang tembok pembatas. Pesantren sengaja membuat tembok tinggi-tinggi agar santri dan santriwati tak kumpul seperti kerbau. Sehingga, mereka tak punya kesempatan menjalin asmara dengan lawan jenis. Mereka kerap dikasih makan ilmu, namun dibiarkan dahaga akan cinta. Oh, sungguh malang nasib mereka.

Namun ketahuilah—seperti kebanyakan orang—di mana ada peraturan, di situlah para pelanggar merajalela, tak terkecuali di pesantren. Sebut saja mereka Solmat dan Solmet, di tengah malam yang kelam mereka berjalan mengendap-endap. Mereka berjalan cukup pelan, sehingga tak menimbulkan bunyi yang biasa tercipta dari gesekan sepasang sandal jepit. Pupil mata mereka tak henti-henti mengerling waspada, takut-takut ada saksi mata atau malah ustaz-ustaz memergoki.

Mereka tak peduli pada angin malam yang berembus dingin. Mereka juga tak peduli pada kenakalan angin yang kerap menyingkap sarung-sarung mereka. Mereka tetap berjalan, dan pintu yang sedari tadi terbayang di kepala mereka, kini telah di depan mata. Mereka senang bukan alang kepalang, hanya saja perihal senang ia ciptakan tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.

Ini bukan kali pertama mereka mengendap-endap pergi ke pintu itu. Pintu itu telah menjadi penyelamat bagi mereka yang telah dahaga akan cinta. Pintu itu adalah penghubung asmara seorang santri pada santriwati. Dengan pintu itulah, para santri dapat mengirim kata-kata rayuan yang sudah tertulis dalam bentuk surat. Dan dengan pintu itu pula, para santriwati dapat membalas surat-surat sang pujaan hati.

Pintu itu memiliki cela, ada lubang kecil memanjang di bawah pintu itu. Di lubang kecil itulah, para santri menyelipkan surat dan santriwati membalas surat. Mereka sangat beruntung, sebab pintu itu dekat dengan kamar-kamar para santriwati. Sehingga, para santriwati tak harus jauh-jauh mengambil surat beramplop merah muda itu. Ah, ada-ada saja  sepasang darah muda itu.

“Cepat, selipkan,” bisik Solmat pada Solmet.

Solmet pun dengan tangkas mengambil beberapa surat yang tersembunyi di balik songkok hitamnya. Satu per satu surat itu masuk ke dalam lubang kecil di bawah pintu. Tak berselang lama, santriwati memberi kode dengan ketukan kecil pada pintu. Ketukan itu adalah sinyal bahwa santriwati telah menerima surat-surat itu. Yes, misi mereka berhasil.

Sebenarnya mereka ingin berlama-lama di pintu itu, bercakap-cakap lirih dengan para santriwati. Namun, tetiba seekor cecak merayap di dinding, lantas mengeluarkan bunyi, “Cek, cek, cek!” bergemuruhlah dada mereka. “Pertanda buruk,” ucap Solmet lirih mengingatkan. Dengan langkah pelan-pelan dan mengendap-endap pula, mereka menjauh dari pintu itu.

Mereka percaya, suara cecak adalah sebuah pertanda buruk. Cecak bersuara, sebab ia ingin bilang sesuatu. Maka, saat mereka pergi dari pintu itu, ia percaya ada seseorang yang datang mendekat. Namun mereka tak tahu, cecak bersuara bukan karena perihal ada orang mendekat. Cecak bersuara sebab si cecak ingin kawin dengan lawan jenis. Cecak oh cecak, mengapa orang-orang kerap bersangka buruk padamu?

“Gimana, lancar kan?” tanya salah satu santri mewakili. Di dalam kamar, beberapa santri memang telah menunggu kedatangan Solmat dan Solmet. Mereka terdiri dari santri-santri yang menitip surat.

“Tenang, semua beres pada kami,” jawab Solmat membanggakan diri.

“Betul, semua pasti beres. Hanya saja, nyaris barusan kami ditangkap basah,” Solmet menimpali.

Perihal kalimat nyaris ditangkap basah itu memancing santri-santri lain. Mereka memasang telinga baik-baik teruntuk mendengarkan kisah menegangkan itu. Solmat dan Solmet pun tak masalah menceritakan perihal itu. Mereka bercerita dari awal—benar-benar awal—dari ketika mereka mengendap-endap menuju pintu penghubung asmara itu. Solmat dan Solmet sangat asik bercerita, begitu pun dengan para pendengarnya asik mendengarkan. Eh, tahu-tahu azan subuh telah berkumandang.

Ya, begitulah hubungan asrama santri dan santriwati, tembok tak dapat menghalangi cinta mereka. Meski mereka jarang ketemu dan saling bertatap muka, masih ada surat-surat cinta yang mewarnai hari-hari mereka. Namun, perlu kalian sekalian ketahui, semua perihal itu berkat jasa Maun. Ialah orang yang menulis surat-surat itu.

Maun memang bercita-cita menjadi penyair. Dan sekarang, ia mengabdi pada handai tolan. Ia rela membuatkan teman-temannya kata-kata indah. Ia akan bergadang sepanjang malam, hanya demi menulis surat-surat untuk santriwati. Tentu, ia tak memberi namanya di surat itu, melainkan nama temannya.

Maka dari itu, teman-temannya sangat mencintainya. Mereka percaya, Maun akan berhasil menjadi penyair suatu saat nanti. Sebab, kata-kata indah yang ditulis Maun berhasil membuat santriwati klepek-klepek. Kata-katanya seperti mengandung sebuah sihir, sehingga para gadis akan terpikat.

Dan tentu, teman-temannya tahu diri. Mereka tak minta jasa Maun secara cuma-cuma. Bila datang waktu mereka harus mengirim surat pada santriwati, mereka akan beli makanan ringan banyak-banyak, lantas disuguhkan kepada penyair kita Maun bin Saun. Saat itulah, Maun akan tersenyum dan mulai menulis rayuan-rayuan memikat pada sebuah kertas. Sebab ia tahu, saat-saat itulah kepenyairannya benar-benar dibutuhkan dan diperhitungkan.

Tak hanya itu, Maun juga diizinkan membaca surat balasan dari santriwati. Sebab dengan begitu, Maun bisa menulis surat berikutnya. Seperti kala ini, Solmat dan Solmet membawakan beberapa surat balasan. Dengan didengarkan beberapa santri, termasuk Maun, Solmat pun membacakan salah satu isi surat balasan tersebut.

“Sungguh hatiku bagai terbang ke awang-awang kala membaca suratmu, Kekasih,” baca Solmat sembari menirukan gaya bicara seorang perempuan. Dan saat itulah santri-santri lain akan berseru, “Oh…!” sementara Maun hanya tersenyum penuh kemenangan. “Sungguh! Barangkali inilah yang dinamakan candu akan surat-suratmu,” terus Solmat.

Setelah rampung surat-surat itu dibacakan, Maun akan mengambil pena dan kertas. Santri lain akan mencermati apa yang dilakukan seorang Maun. Calon penyair itu mulai menulis surat balasan, tentu sambil tersenyum bangga. Wahai bidadari tanpa sayap, maukah engkau menginap di hatiku barang sejenak? Aku tak bisa hidup tanpamu, apalagi mati, aku juga tak bisa mati tanpamu.

Kertas itu ia lipat, dijadikannya sebuah surat, lantas diberikan pada temannya secara percuma. Ia betul-betul berjasa bagi hubungan asmara santri-santri lain. Setelah ia memberikan surat itu, ia pun pergi dengan gagahnya. Ketahuilah, meski ia kerap membantu teman-temannya membuat surat, ia sendiri masih jomlo alias tak memiliki kekasih.

***

Kini saatnya untuk Maun mencari tulang rusuknya. Ia telah lulus dari pesantren, dan mencari calon istri. Bila diingat-ingat lagi, dahulu di pesantren ia adalah si jago pembuat surat teman kepada kekasihnya. Tentu dengan bakat yang ia miliki, tak sulit baginya untuk mendapatkan seorang kekasih.

Dan benar, dengan hitungan bulan ia telah memiliki seorang kekasih, dan sebentar lagi ia akan memutuskan untuk segera menikah. Bukankah menikah adalah jalan untuk menyempurnakan separuh agama, kenapa harus ditunda-tunda? Ia senyum-senyum sendiri, sebab beruntung memiliki kekasih yang aduhai jelita, dari pesantren yang sama pula.

Si Maun kerap memabukkan kekasihnya dengan kata-kata indahnya. Begitupun dengan si kekasih, ia benar-benar nyaris mabuk dengan kata-kata sang penyair Maun. Suatu hari yang cerah, Maun dan kekasihnya pergi berjalan-jalan, Maun memutuskan untuk melamar kekasihnya saat itu juga.

Maun sedikit merayu kekasihnya kala itu, dan alangkah terperanjatnya si Maun kala kekasihnya membalas rayuannya dengan kata-kata yang cukup indah. Sebenarnya, bukan hanya kata-kata indah yang membuat Maun agak terpesona, melainkan karena kata-kata itu tak asing di telinganya. Kira-kira begini kata-kata si kekasih, “Sungguh hatiku seperti terbang hingga ke awang-awang mendengar rayuanmu. Barangkali, inilah yang disebut candu akan kata-katamu itu.” Ya, tak salah lagi, kata-kata itu sempat Maun dengar di pesantren. Kata-kata itu sunguh persis dengan isi surat seorang santriwati dahulu.

Maun sangat senang dapat berjodoh dengan seorang perempuan, bekas santriwati yang mengirim surat balasan dengan kata-kata indah itu. Ia pun tak ingin kalah. Ia ingin menunjukkan bahwa ia yang menulis surat-surat untuknya dahulu. Maka dengan penuh semangat, Maut merayu kekasihnya lagi dengan kata-kata yang dahulu sempat menjadi sebuah surat, “Wahai bidadari tanpa sayap, maukah engkau menginap di hatiku barang sejenak? Aku tak bisa hidup tanpamu, apalagi mati, aku pun tak bisa mati tanpamu.”

Kali ini giliran si kekasih yang terperanjat mendengar kata-kata itu. Kata-kata itu tak asing di telinganya. Kata-kata itu sungguh persis dengan isi surat seorang santri yang mengirim surat dahulu. Maun tersenyum menang, sebab menyadari ekspresi heran kekasihnya. Namun, tak seperti dugaan Maun, beginilah jawaban si kekasih, “Dasar pembohong!”

Dahi Maun berkerut-kerut.

“Itu bukan kata-katamu. Kau plagiat. Aku tahu, kau mencuri kata-kata itu dari seseorang. Dasar pembohong!” kekasihnya meradang, dan saat itu pula penyesalan baru Maun rasakan. [] 

=======================

Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura.Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak.

Allesandra dan Ksatria Bertapa

0


INGIN menghayati peran bidadari dalam tari “Begawan Mintaraga”, Allesandra menetap di padepokan. Ia sengaja tinggal di padepokan, ingin suntuk belajar menari pada Ki Broto. Lelaki muda itu telah menambat perasaannya. Allesandra, seperti menemukan tempat tinggal yang damai di desanya, di lereng Pegunungan Alpen, wilayah Italia. Ia menempati rumah klasik peninggalan leluhur, langit bergayut kabut es, dan di kejauhan membentang bayang-bayang salju puncak Mont Blanc.

Allesandra – yang diundang untuk melakukan restorasi lukisan keraton – tak pernah menduga bakal terdampar di lereng Gunung Merapi. Ia juga tak pernah menduga akan mengenal Ki Broto, lelaki muda pemilik padepokan dan seorang penata tari. Lelaki muda itu putra seorang dalang yang memiliki padepokan, penata tari, suka bermain musik, dan menghidupkan pergelaran seni di daerah sekitar lereng Gunung Merapi.

Dalam tari “Begawan Mintaraga”, Allesandra berperan sebagai seorang bidadari yang menggoda tapa Arjuna. Ada tujuh bidadari, seorang di antaranya Dewi Supraba. Dan peran yang dibawakan Allesandra tak begitu penting: hanya menggoda tapa Arjuna. Ksatria  itu tak pernah memudarkan tapanya. Allesandra ingin berperan sebagai Dewi Supraba, bidadari yang dapat meluruhkan hati Arjuna – yang diperankan Ki Broto. Sungguh memikat, Dewi Supraba dipersunting sebagai istri Arjuna.

Tak ada hal yang paling menarik bagi Allesandra, kecuali ia bisa menari, merasakan getar tubuh dan rasa keindahan, yang membangkitkan ketakjuban pada setiap gerak yang  diselubungi getaran gaib. Sungguh di mata Allesandra, setiap gerakan untuk menyentuh Arjuna yang hening bertapa, membuat jiwanya melayang di awan-awan dunia para dewa. Sejak ia dengar suara gamelan pertama kali di keraton Yogya mengiringi bedaya Arjuna Wiwaha, dan melihat pergelaran tari yang diperankan Ki Broto, sangat ingin datang ke padepokan  penari itu.

Tiap kali berlatih menari, Allesandra selalu menemukan kegairahan baru, gerakan yang bangkit dari dalam getaran rasa – sesuatu yang mengalir dari sanubari. Ia jadi sangat cepat bisa mengikuti gerak tari yang diajarkan Ki Broto. Tidak hanya menirukan gerak tari Ki Broto, melainkan juga menikmati kedalaman rasa dari tiap aliran darah di sekujur tubuhnya.

Tapi kenapa tiap kali Allesandra berpapasan dengan Laksmita, yang tiap pagi berkunjung ke padepokan, hatinya berdebar, seperti bakal tersingkir dari sisi Ki Broto? Ia mulai menimbang-nimbang: bagaimana cara merebut perhatian Ki Broto dari daya pikat Laksmita. Allesandra tak pernah bisa menduga: keakraban yang terjalin antara Ki Broto dan Laksmita. Apakah Laksmita calon istri Ki Broto? Allesandra diam-diam mengamati mereka. Ia menaruh curiga, bila gadis itu, yang jarang bicara, dan cenderung menghindar dari pergaulan, calon istri Ki Broto. Laksmita selalu dijemput pagi hari dan diantar pulang dengan mobil Ki Broto pada sore harinya.

                                                                  ***

HAMPIR larut malam, Allesandra mengikuti latihan tari “Begawan Mintaraga”,  merasa sangat menikmati kesunyian lereng Gunung Merapi, kabut yang mulai mengendap, dan suara belalang kecek di ranting pepohonan. Allesandra mencoba memahami kisah Arjuna sebagai pertapa untuk mencapai kesaktian dan memperoleh senjata dalam sunyi Goa Mintaraga, menampik kegairahan para bidadari yang menggoda. Mengapa menampik kegairahan bidadari untuk meluluhkan anugerah para dewa?

Allesandra yang memperoleh kesempatan bersama para penari dan penabuh gamelan, ketika Laksmita sudah pulang malam hari, sengaja  menggoda Ki Broto, “Apa memang Arjuna mesti kawin dengan Dewi Supraba?”

“Saya tak berani membuat kisah yang menyimpang.”

“Mengapa tak kau rancang sendiri sebuah tari yang meninggalkan kisah lama? Apa tak boleh mencipta tari, Arjuna kawin dengan salah seorang bidadari?”

“Mungkin suatu saat nanti, aku akan mencipta tari yang menyimpang dari kisah itu. Aku memerlukan keberanian untuk itu.”

“Kenapa tak kau coba mulai saat ini?”

“Mencipta tari serupa itu memerlukan banyak waktu, renungan, dan latihan. Aku juga memerlukan teman untuk merancang tari itu.”

Allesandra masih menimbang-nimbang untuk mendesak Ki Broto agar bercerita tentang pertapaan Arjuna, dan kesaktian sesudahnya: keperkasaan, ketangguhan, atau kemenangan pertempuran yang dicapainya. Allesandra kini mulai menyadari makna kesunyian lereng Gunung Merapi, dan mencari kepekaan hatinya sendiri. Justru rasa takjubnya pada Ki Broto, pemeran Arjuna, berkembang menjadi hasrat untuk memiliki lelaki itu. Tapi Ki Broto, yang membaca gelagat akan rasa takjub Allesandra, menenggelamkannya di bawah genangan kabut gunung. Allesandra seperti leleh terkena awan panas yang bergumpal dari puncak Gunung Merapi.

Di kamarnya Allesandra menenangkan diri. Mengambil kertas, mencoret-coret kertas itu, menuangkan segala harapan, kegundahan, dan kemasgulan-kemasgulannya. Terus ia menulis. Memuntahkan kegalauan hatinya. Ia memuntahkan perasaan-perasaan itu, yang tak mungkin diucapkannya. Ia masih terus menuliskan kegundahan itu. Kebiasaan ini dilakukannya dari semenjak ia kecil, kebiasaan bila ia marah pada seseorang. Ketika  ia tak memperoleh tanggapan seperti yang diharapkan, ia mencorat-coret kertas, dan membakarnya dalam api lilin.

Allesandra tak paham benar, apakah ia seorang yang tersesat dari tujuan semula sebagai seseorang yang diundang melakukan restorasi lukisan keraton. Ia didatangkan untuk menyelamatkan beberapa koleksi lukisan keraton – temasuk di antaranya lukisan Raden Saleh – dengan mengikuti goresan-goresan yang asali. Goresan-goresan lukisan itu memudar setelah lebih dari seratus tahun, kusam warna catnya. Saat ia menonton pergelaran tari bedaya Arjuna Wiwaha – yang melakonkan sultan –  di pendapa keraton, ia takjub, terkesima, bergetar, dan terpusat pada penari yang memerankan sultan. Pemeran sultan itu seorang perancang tari, yang memiliki padepokan di lereng Gunung Merapi. Ia kagum pada sang penari, Ki Broto, masih bujangan, yang tampak sangat tenang, agung, dan rendah hati. Di panggung ia begitu karismatis. Dalam kehidupan sehari-hari, ia jejaka kebanyakan. Ia tak menampakkan keagungan sebagaimana tampak di panggung.

Allesandra merasa sangat penasaran, ingin bisa menari, dan karena itu ia tak buru-buru kembali ke Italia ketika selesai merestorasi beberapa koleksi lukisan keraton. Ia berguru menari pada Ki Broto, tinggal di padepokan lereng Gunung Merapi, belajar menari, sesekali ia melukis. Ia ingin disertakan sebagai penari bidadari dalam “Begawan Mintaraga”, yang menggoda menggugurkan tapa Arjuna. Allesandra mulai melihat dan merasakan keagungan yang berbeda pada diri Ki Broto, ketika memerankan sultan dalam “Arjuna Wiwaha”, dan memerankan Arjuna dalam tarian “Begawan Mintaraga”. Kali ini Ki Broto memerankan ksatria  dengan penuh kesabaran, tangguh dalam pertapaan, unggul dalam peperangan melawan raja raksasa Niwatakawaca. Tarian ini sungguh memberi ekspresi beraneka wajah pada Ki Broto. Tarian ini memberi ekspresi pembebasan di panggung bagi lelaki muda itu.

Allesandra menunggu kesempatan untuk menyatakan keinginannya mendampingi hidup Ki Broto, bila pertunjukan tari sudah digelar di padepokan. Ia memang selalu mencurigai Laksmita, sebagai perempuan yang memiliki kedekatan jiwa dengan Ki Broto. Tapi Laksmita tak pernah manampakkan bakatnya menari. Perhatian Ki Broto pada gadis itu melebihi siapa pun. Pada Arum yang memerankan Dewi Supraba, perempuan yang sangat penuh daya pikat, Ki Broto tak pernah memberikan  perhatian mendalam. Allesandra tidak yakin benar bila Laksmita calon istri Ki Broto – lelaki yang memiliki keagungan sebagai pencipta tari dan penari.

Menempati salah satu kamar di padepokan Ki Broto, Allesandra kepalang memahami semua kebiasaan lelaki itu. Ki Broto biasa beranjak tidur hingga larut. Lelaki muda itu berlatih menari, menemukan gerak, dan menemukan kelembutan rasa bagian-bagian tariannya. Kadang lelaki muda itu menabuh gamelan, pelan, hening, menyentuh relung pagi. Kadang Ki Broto menghentak kendang, pelan, dan mencipta irama yang kadang dramatis, kadang jenaka.

Subuh dini hari Ki Broto sudah berada di sendang, mengambil air wudu, dan salat di surau kayu yang didirikan tak jauh dari sendang itu. Air pancuran mengucur di sendang yang gemericik, dan tangan yang dibasuh air pancuran, terdengar sampai ke kamar Allesandra. Ia membuka jendela: menatap ke arah sendang. Menatap Ki Broto yang tersenyum ke arahnya, dengan wajah terbasuh air wudu.    

                                                      ***

TARI “Begawan Mintaraga” yang dipergelarkan di padepokan Ki Broto disaksikan begitu banyak penonton yang berdatangan dari banyak kota yang jauh, tamu-tamu hotel, dan pecinta tari. Padepokan Ki Broto belum lama didirikan, dan senantiasa mempergelarkan tari, musik, dan pertunjukan seni rakyat yang diangkat dari masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi.  Selama tinggal di padepokan, ia telah menyaksikan begitu banyak pergelaran tari, musik, teater dan seni rakyat yang membuatnya takjub. Ki Broto tak pernah berhenti  mempergelarkan tari yang seringkali terbuka bagi masyarakat sekitar lereng Merapi.

Kali  ini pergelaran tari “Begawan Mintaraga” berada di gedung teater yang baru selesai dibangun di antara kawasan padepokan, yang senantiasa penuh selama tiga hari berturut-turut pertunjukan. Pada pergelaran hari ketiga, yang terakhir, Allesandra sampai batas penantian untuk menyatakan keinginannya tetap tinggal di negeri ini, mendampingi Ki Broto, tinggal di lereng Gunung Merapi, dalam kesunyian. Ia bisa melukis, menari, dan mendampingi Ki Broto mengelola padepokan.

Allesandra telah mendengar kisah tentang Laksmita dari para penari. Mereka  menggunjing Laksmita sebagai putri seorang preman, yang melakukan pelarian dari penembak misterius sampai lereng Gunung Merapi. Tiap hari di antara para penari membuka kisah tentang Laksmita, anak preman yang pernah memiliki pekarangan dan rumah di padepokan Ki Broto, sebelum ayahnya meninggal. Mengapa Ki Broto begitu dekat dengan Laksmita, putri seorang preman? Allesandra tak habis pikir. Ada sesuatu rahasia yang mesti dibongkar.

Riuh tepuk tangan penonton di akhir pergelaran tari “Begawan Mintaraga” yang gemuruh,  membuat jantung Allesandra berdegup keras. Inilah saatnya ia mesti mengungkapkan perasaannya pada Ki Broto, dan memutuskan nasibnya untuk terus menetap atau meninggalkan negeri ini. Ia bersandar nasib Ki Broto. Ia  menjadi gelisah berhadapan lelaki muda itu dan juga Laksmita, perempuan yang begitu tenang dan menaruh kepercayaan pada Ki Broto.

                                                            ***

PARA penari mengelilingi tumpeng. Duduk bersila di pendapa rumah Ki Broto. Para penari menanti menerima sepiring potongan nasi tumpeng dan ingkung ayam yang berbumbu pekat rempah-rempah. Ki Broto memimpin doa sebelum tumpeng itu dipotong. Di sisinya duduk Laksmita, tenang dan penuh keyakinan. Diakah itu, perempuan yang duduk tenang di sisi Ki Broto, sesungguhnya Dewi Supraba, yang merenggut hati Arjuna?

“Ini tumpeng selamatan kita atas sukses pentas “Begawan Mintaraga”. Sekalian minta restu, kami, saya dan Laksmita, bakal menikah!” kata Ki Broto tenang. Ia memotong tumpeng, mengambil gudangan, bergedel, dan sayatan daging ingkung ayam. Menempatkannya pada sebuah piring. Dipersembahkan sepiring potongan tumpeng itu pada Allesandra.

“Untuk Allesandra, semoga berkah, terimakasih sudah terlibat dalam pergelaran tari ini. Kalau kau masih berkenan tinggal di padepokan ini, kami akan sangat bahagia. Kau akan jadi penari ternama.”

Tangan Allesandra bergetar menerima sepiring tumpeng. Ia tak bisa berucap, sedih atau bahagia. Ia  segera meletakkan piring, beringsut ke arah Laksmita dan menyalaminya. Mencium pipi. Memeluk. Tubuhnya bergetar. Getaran yang sangat dahsyat dalam dada. Tak kan pernah dilupakan.

                                                           ***

Pandana Merdeka, Maret 2020        


====================
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”.  

Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa seperti Horison, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Bisnis Indonesia, Nova, Seputar Indonesia,  Suara Karya,  Majalah Noor, Majalah Esquire, Basabaasi.

Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Novel yang telah diterbitkannya dalam bentuk buku adalah Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009), Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Kumpulan cerpen yang segera terbit adalah Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020).  

Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Nikotopia dan Ular Sawah di Kepalanya

1

Rasa kehilanganmu terhadap kepergian Nikotopia masih menyesakkan dadamu. Padahal yang kutahu dia salah satu sahabat yang justru paling jarang bertemu denganmu. Meski begitu, tampaknya kalian memang sangat akrab. Jarang bertemunya kalian selama ini pastinya semata-mata jarak tinggal kalian yang berjauhan. Tapi kesedihanmu itu mungkin lebih karena tentang rencana menerbitkan novel yang sedianya akan kalian kerjakan bersama. Aku tahu hal itu karena kamu pernah mengatakannya. Sekarang, bukan saja kalian tidak bisa menyelesaikan, bahkan ketika novel itu baru akan kalian mulai kerjakan, keburu Niko pergi untuk selamanya.

Kupikir karena hal itu pula yang kini memengaruhi kegiatanmu menulis. Kepergian Niko tidak lantas membuatmu semakin rajin, tapi justru membuatmu malas, bukan hanya tentang menulis, bahkan juga malas melakukan apa-apa. Hari-hari yang berlalu hanya kamu habiskan termenung di samping rumah sambil membaca karya-karya Niko. Aku menyadari, kehilangan sahabat dekat memang bisa membuat semangat hidup menjadi loyo, tapi masalahnya kamu harus melanjutkan hidupmu. Masih banyak orang yang menyayangimu dan kupikir mereka ingin melihatmu terus berkarya seperti semula. Demikian juga aku dan anak-anak, tidak ingin melihatmu jatuh.

“Tidak tentang karya, juga tidak buku itu,” sahutmu ketika aku mencoba mengajakmu membicarakannya.

“Lalu?” tanyaku sedikit heran, hingga karena itu tiba-tiba aku merasa ada sebagian di dirimu yang belum aku tahu.

“Kalau toh ada hubungannya, hal itu bukan serius.”

“Terus?”

“Bagaimana perasaanmu…”

“Tentang apa?” sahutku cepat.

“Aku belum selesai bicara. Maksudku, bagaimana perasaanmu jika berada pada kondisi seperti ini?”

Aku bingung dengan pertanyaanmu, tapi aku juga tidak lantas menanyakan kepadamu apa yang membuatku bingung. Aku merasa keruwetan itu hanya ada padamu. Kekhawatiranku, jika aku mendesakmu dengan pertanyaan-pertanyaan justru bisa membuat kita tidak nyaman.

“Aku tidak mengerti,” jawabku sekadar memberimu tanggapan.

“Perempuan sukanya begitu.”

“Maksudmu?”

“Perasaan selalu maju lebih dulu, tidak berusaha memikirkannya.”

Aduh, malah aku yang kena. Bagaimana ini? Apakah aku perlu mendebatmu? Paling tidak untuk membetulkan persepsi pemikiranmu itu.

“Bukankah ketika Niko terakhir datang ke rumah kita, kamu ada?”

“Lalu?”

“Bahkan setelah Niko pulang, kita sempat membicarakannya.”

“Iya. Maksudmu tentang keanehan-keanehannya itu?”

“Persis?”

“Terus, terus?”

“Menurutmu, di antara keanehan-keanehan itu, apa yang menurutmu paling aneh?”

Sesungguhnya aku tidak terlalu perhatian dengan apa yang dikatakan, dan apa yang dilakukan Niko. Belum lagi waktu itu aku sibuk mengurusi makanan dan minuman yang harus kita suguhkan pada Niko waktu itu. Aku tahu lebih jelas kalau dia aneh justru dari ceritamu. Di antaranya, kamu mengatakan di sepanjang percakapanmu dengan Niko, sering terjadi salah pengertian. Jawaban dan pernyataan Niko tidak sesuai dengan hal yang kamu obrolkan. Jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu dengan pas. Jika terpaksa menjawab, itu pun atas dasar pilihan dari beberapa hal yang kamu ceritakan.

“Bicaranya sering tidak nyambung,” jawabku.

“Semuanya memang tentang itu.”

Aku mengangkat bahu, semacam tanda menyerah.

“Aku lupa, apakah waktu itu aku sudah cerita tentang Ular Sawah?”

“Ular Sawah?” sahutku sembari menggeleng.

“Menurutku, saat itulah dia mengatakan keadaannya.”

“Apa yang dia katakan?”

“Sesungguhnya, ada Ular Sawah terjebak di kepalaku. Dia ingin keluar dan kembali ke alamnya. Dia mengatakan begitu.”

“Lantas kamu menanggapi gimana?”

Aku langsung tertawa.

“Hah? Tertawa? Tega sekali kamu.”

“Di mana letak teganya?”

Kamu benar juga. Di mana letak teganya. Waktu itu kita belum benar-benar tahu apa yang terjadi pada Niko. Mungkin sama halnya dengan apa yang dulu kamu ceritakan padaku. Perihal kamu yang langsung tertawa ketika Niko mengatakan ingin pulang ke desa, tinggal di sana dengan hidup bertani. Bahkan seingatku, kamu menceritakan sempat mengucap serapah menanggapi keinginan Niko itu. Kamu pikir, peralihan profesi dari pekerja kreatif di sebuah stasiun televisi di Ibu Kota lantas menjadi petani di desa adalah sesuatu yang lucu. Mungkin menurutmu tak ada korelasinya sama sekali. Kalau sekadar penulis cerita, mungkin masih bisa, karena menulis dapat dilakukan di mana pun, termasuk di desa yang paling pelosok sekali pun.

“Hm. Tapi waktu itu ekspresi Niko gimana?” tanyaku.

“Dia tampak serius,” sahutmu.

“Maksudnya?”

“Iya. Waktu itu dia bilang apa yang dikatakan itu serius.”

“Lantas?”

“Pada saat itulah, seharusnya aku bisa mengerti apa maksudnya.”

“Sekarang aku yang tidak mengerti apa maksudmu.”

“Andai kita tahu apa yang terjadi pada diri seseorang, kita bisa melakukan sesuatu yang mungkin dapat berarti bagi seseorang itu, tapi karena kenyataannya kita tidak tahu ceritanya hingga kita tidak melakukan apa pun,” terangmu.

Ah, kupikir dalam hal ini yang main perasaan itu kamu. Karena jika kamu sudah tahu begitu, mengapa kamu masih memasalahkannya? Bukankah waktu itu kita memang tidak tahu  kalau Niko menderita kanker otak. Kupikir jika kita tahu pun sebenarnya kita tidak bisa melakukan apa pun terhadap penyakit itu.

“Kamu hanya terbawa perasaan,” sahutku.

“Bukan.”

“Terus, apa namanya kalau itu bukan terbawa perasaan?”

“Ya itu tadi. Aku terlambat menyadari, sebenarnya dia sudah berusaha memberitahu keadaannya kepada kita.”

Dengan keanehan-keanehannya waktu itu? Sepertinya ada yang salah pada pemikiranmu. Karena menurutku, apa yang terjadi pada perilakunya, sesungguhnya di luar kontrol dirinya. Dan aku yakin jika dia dalam keadaan sadar, tentu saja dia akan melakukan sesuatu yang wajar, dan kita tidak akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh.

“Kupikir kamu harus merelakannya.”

“Aku sudah ikhlas.”

“Lalu mengapa kamu masih merasa kecewa? Bukankah takdir seseorang tidak bisa diubah?”

“Maksudmu tentang apa?”

“Kematian, kan? Dan kita tidak bisa menghindarinya.”

“Siapa bilang aku memasalahkannya? Yang kupikirkan hanya tentang pengertian dan sikap antar sahabat. Bukan tentang kematian.”

Kulihat kamu seperti tersinggung dengan pernyataanku. Rupanya aku memang tidak mengerti apa yang membuatmu kecewa dalam hal ini. Aku takut membuat hal yang sebenarnya sepele itu akan memperunyam keadaan. Sejak kamu mengatakan itu aku tidak lagi mengusikmu perihal Niko. Dan kupikir dia sudah nyaman di rumah Tuhan. Dengan membiarkanmu berlama-lama bernostalgia bersamanya kupikir lebih bijaksana. Lima belas tahun pertemanan kalian tentu saja telah melewati banyak riuh rendahnya masalah dan pengalaman.

“Jika bisa, sebenarnya aku hanya ingin meralat satu hal,” katamu setelah beberapa waktu berlalu.

“Ini tentang apa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Tentang sikapku terhadap Niko.”

“Oh.”

“Andai saja kita bisa mengulang waktu.”

“Maksudmu?”

“Aku hanya ingin menghapus tawaku, saat Niko mengatakan tentang Ular Sawah di kepalanya itu,” terangmu.***

Mengenang Niko.




=====================
Yuditeha, penulis, penata rambut, tinggal di Karanganyar Jawa Tengah. Pendiri ideide-id.

Ludah

0


Laki-laki tua itu berjalan
terpincang-pincang menyeret langkahnya, disertai derai batuk menguncang bidang dadanya. Dengan sepotong tongkat di sebelah tangan kanan, ia memasuki perkampungan, dan akan bersimpuh di depan rumah siapapun sembari menadahkan kedua tangannya. Baju yang lusuh, hampir robek seluruhnya lekat di badannya dibasuh oleh keringat yang mengucur.

Ia duduk di halaman rumah seseorang. Menunggu si pemilik rumah keluar. Memangil-manggil tuan rumah diantara tarikan napasnya yang lambat dan goyah. Berharap seseorang keluar dari dalam rumah membawa uang, seberapa besar jumlahnya akan ia terima asal si pemberi ikhlas memberinya pada laki-laki tua itu, dengan keriput di sekujur tubuhnya.

Terus ia duduk di teras rumah seseorang itu. Rumah mewah berupa bangunan gedung bertingkat, dengan lampu-lampu menghias di setiap sudutnya membuat laki-laki itu yakin si pemilik rumah adalah orang paling kaya di kampung itu. Karena sejak laki-laki tua itu berkeliling semenjak matahari muncul di permukaan langit hingga kini menjelang sore hari, ia cuma menemukan rumah itu sebagai satu-satunya tempat tinggal yang megah dibanding rumah-rumah reyot yang ditemuinya sebelumnya.

Maksar, begitu nama laki-laki tua itu kemudian dikenal warga Tang-Batang. Selama lebih tiga puluh menit menunggu, seorang perempuan paruh baya agak gemuk berdiri di ambang pintu. Berpandangan beringas pada Maksar. Ia meminta Maksar segera angkat kaki dari rumahnya, lantang ia berteriak di depan muka laki-laki tua itu sampai Maksar menunduk, mengambil napas dalam-dalam, lalu bersama napas yang ia lepas, Maksar membuang ludah di wajah perempuan paruh baya itu.

“Dasar pengemis!” Terbungkus sumpah serapah ucapan perempuan itu mengumpat. Dengan cepat ia mendorong tubuh Maksar hingga laki-laki itu tersungkur. Pelan-pelan Maksar meraih tongkatnya dan berjalan pulang.

Matahari hampir tenggelam di ujung barat. Laki-laki tua tersandung batu hingga terpelanting jatuh. Gelap sudah mulai membungkus permukaan langit. Dengan sisa napas terengah-engah ia coba meraba-raba tanah, mencari tongkatnya yang terlempar jauh dari tempat ia tersungkur. Angin menggesek daun-daun jati. Maksar belum sanggup mengangkat tubuhnya sendiri. Ia memutuskan membaringkan saja tubuhnya, melepas penat karena berjalan sepanjang hari keluar masuk kampung.

“Ini tongkatnya, Kek.” Laki-laki muda yang menghampiri Maksar, membawakan tongkatnya. Terkaget Maksar mendengar suara Kasno, laki-laki muda itu. Kebetulan Kasno lewat di tempat itu dan tanpa sengaja telinganya mendengar suara lelaki tua merintih.

“Dimana rumah kakek? Mari saya antar,” kata Kasno menawarkan kebaikan pada lelaki tua itu. Maksar tak membuka katup mulutnya. Tak juga mengucap terimkasih pada Kasno karena berkat laki-laki muda itu ia bisa berjalan pulang dengan mengetuk-ngetukkan tongkatnya, mencari jalan setapak menuju rumah.

Belum juga Maksar menanggapi ucapan Kasno. Ia berdiri dan memandang raut muka Kasno, dalam remang-remang menjelang gelap malam hari. Tanpa perlu berucap apapun pada Kasno, justru malah Maksar melempar ludah ke wajah Kasno. Laki-laki muda itu terkejut dan berperasangka macam-macam soal Maksar. Apa lelaki tua itu tak waras? Ingin Kasno balas meludah, bahkan jika ia mau bisa dengan mudah menendang tubuh ringkih Maksar, tapi ia urungkan semua itu karena dianggapnya Maksar kehilangan akal, jiwa laki-laki tua yang dicekik kesepian. Begitu pikir Kasno.

Sudah berpuluh-puluh kali Maksar kerap membuang ludah ke wajah seseorang tanpa sebab. Seiring jarum bergeser, perilaku laki-laki tua itu dianggap meresahkan dan tak disukai banyak orang. Hingga kemudian setiap kali Maksar menginjakkan kaki di halaman rumah seseorang, ia langsung akan menerima umpatan, diusirnya seperti layaknya pecundang. Menanggapi sikap warga Tang-Batang Maksar tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Mungkin karena perlakuan orang-orang yang tak lagi ramah padanya menyebabkan laki-laki separuh abad itu tak dapat ditemukan lagi keberadaannya hingga saat ini. Tak terdengar lagi suara ketukan tongkatnya berseiring dengan laju napasnya. Tapi, menjelang sore hari, yang begerimis ketika orang-orang bekumpul di rumah Maksum dikarenakan Misdar, anak dari  lelaki paruh baya itu kejang-kejang, menjerit kesakitan, seperti disusupi arwah. Mendadak Maksar muncul tiba-tiba membuat orang-orang terbelalak menatap laki-laki tua itu.

Dengan tampil mencengangkan Maksar mengunyah ludahnya sendiri dalam mulut. Sejurus kemudian, laki-laki renta itu membuang ludahnya tepat mengenai wajah Misdar, anak lelaki Maksum. Orang-orang mengernyitkan dahi melihat tingkah Maksar yang kembali berulah. Laki-laki tua itu memejamkan mata. Ia membuka matanya beberapa menit kemudian. Bersamaan dengan terbukanya mata Maksar, saat itu juga Misdar berhenti mengejang dan bocah laki-laki itu langsung berdiri di depan orang banyak, memperlihatkan dirinya yang sembuh seketika.

Sejak itu masyarakat percaya, Maksar adalah lelaki sakti. Ludah Maksar dianggap mujarab oleh penduduk. Kabar kesaktian Maksar tersebar secepat kilat dari mulut ke mulut, dari waktu ke waktu. Justru laki-laki tua itu kini selalalu diharap kedatangannya. Tapi selepas kejadian menakjubkan waktu itu Maksar kembali tak menunjukkan batang hidungnya di depan orang-orang.

Walaupun laki-laki sepuh itu tak lagi diketahui dimana kini ia berada. Ia justru semakin termasyhur setelah beredar desas-desus bahwa orang-orang yang diludahinya dulu kini mengalami bermacam perubahan. Perubahan yang beragam diterima orang-orang itu. Perempuan gempal itu, yang mengusir Maksar dulu kini jatuh miskin dan terpaksa melacurkan diri demi sesuap nasi. Sementara Kasno, laki-laki yang diludahi Maksar tanpa sebab itu kini sudah jadi orang kaya, dan telah naik haji.

Suatu hari saat Kasno berkunjung ke rumah Maksum, ia berceloteh banyak mengenai Maksar, laki-laki tua pemilik ludah mujarab itu. Orang-orang sudah mengakui sangat mengagumi betapa mujarabnya ludah Maksar. Kasno berdehem sebentar melegakan tenggorokannya dari sesuatu yang menyumbat.

“Sekalipun ludah laki-laki tua itu mujarab, berhati-hatilah. Ludahnya bisa menyembuhkan, memberi keuntungan, atau justru ludah itu bisa jadi penyakit, mendatangkan celaka. Maka bersikaplah baik kepadanya jika tidak ingin bernasib celaka.” Kasno menceritakan dengan binar-binar di matanya. Tanpa mengurangi debar-debar di dadanya, Kasno selalu membangga-banggakan Maksar.

Beberapa bulan berlalu terdengar kabar bahwa Maksar tengah menyepi di bawah kaki bukit. Tinggal di rumah berupa gubuk terbuat dari anyaman bambu. Laki-laki tua itu tak lagi sanggup menyeret kakinya, singgah dari satu rumah penduduk ke rumah lain, menyusuri ruas-ruas jalan kampung. Diam-diam Maksum terobsesi menemui laki-laki renta itu, dan niat itu pun ia kerjakan. Pergi tak bilang siapa-siapa, dalam gelap malam dini hari.

Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Maksum duduk dalam gemetar sembari menatap wajah Maksar. Tanpa diminta terlebih dahulu oleh Maksum, tiba-tiba saja laki-laki tua itu membuang ludahnya ke wajah Maksum. Temaram lampu teplok memantulkan bayangan dua lelaki yang saling berhadapan. Angin bergemuruh di luar. Maksum tersenyum, merasa terberkahi mendapat ludah Maksar di wajahnya. Sebab maksud kedatangan laki-laki itu kesana memang ingin mukanya diludahi agar istrinya mengijinkan menikah lagi dengan perempuan simpanannya selama ini.

Dan beberapa detik berikutnya, Maksum malah merasakan nyeri di kedua matanya. Begitu Maksar mendekatkan mulutnya di tepi telinga Maksum, laki-laki itu sudah tak dapat melihat apapun di sekitarnya, kecuali gelap membungkus dua bola matanya. Kebencian terbungkus umpatan dan sumpah serapah terhadap Maksar, karena laki-laki tua telah membutakan kedua matanya.

“Dengan begini, akan kau tahu siapa sesungguhnya yang benar-benar mencintaimu. Istrimu atau perempuan simpananmu,” ujar Maksar, lelaki tua itu dengan sangat lembut. Jantung Maksum hampir copot dari tangkainya mendengar ucapan Maksar, karena laki-laki paruh baya itu belum mengucap apapun perihal maksud kedatangannya, tetapi lelaki tua itu sudah mengetahuinya lebih dulu.

Tak ada yang bisa dilakukan Maksum selain meminta lelaki tua itu mengembalikan penglihatannya. Dalam buta mata seperti itu, Maksum tak merasakan keberadaan Maksar di dekatnya. Laki-laki tua itu keluar rumah sejak tiga puluh menit lalu meninggalkan Maksum seorang diri di dalam rumah gubuknya. Maksum cuma mendengar suara cicak dan desah napasnya sendiri.

Pulau Garam, 2019

===================

Zainul Muttaqin Lahir di. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019).

Dilarang Menangis

0

Mendadak segalanya jadi begitu genting di Desa Salbut. Ya, genting dan berbahaya. Itu semua setelah Klebun Ladrak mengeluarkan surat keputusan yang kontroversial sekaligus menjengkelkan; melarang warga desanya menangis. Sebelum surat keputusan itu diedarkan, sebenarnya Care’ Tarkam sudah mewanti-wanti untuk mempertimbangkan kembali keputusan itu. Apalagi para bengatoah banyak tak setuju. Tapi Tarkam justru kena marah.

“Apa kau tuli, hah?! Apa kau tak dengar tangisan setiap malam sebagian warga yang memekakkan telinga itu?” Ladrak membentak.

“Dengar, Bun!”

“Nah! Kita sama mendengar. Sama menderita. Jadi, keputusan ini untuk kemaslahatan warga.”

“Tapi, Bun…” belum selesai Tarkam menyelesaikan omongannya, Ladrak sudah berteriak.

“Halah, tak usah lagi tapi tapi. Segera stempel. Perbanyak lalu bagikan pada warga. Titik. Aku sudah jenuh dengan suara tangisan. Sudah jengkel dengan airmata. Apalagi airmata buaya,” sergahnya lalu ngeloyor pergi. Tarkam hanya diam membisu sambil memandangi pantat klebunnya yang tepos yang perlahan-lahan lenyap ditelan pengkolan jalan. Sambil menarik napas panjang ia menyetempel surat keputusan itu.

Memang sudah hampir sebulan hari Desa Salbut dikepung suara tangis yang seolah-olah turun dari udara seperti embun. Menyusup ke rumah-rumah warga, mengganggu tidur bagai mimpi buruk yang memecahkan indera pendengaran dan jika dibiarkan lebih lama lagi bisa membuat gila. Sebab suara tangis itu seperti suara gerombolan mesin giling tua yang dinyalakan bersama-sama. Bising dan makin lama makin terdengar mengerikan.

Mula-mula tangis itu berasal dari rumah Julaiha. Perempuan yang melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika suaminya mati dibakar warga karena mencuri sapi itu meraung-raung di jalan sambil memeluk tubuh suaminya yang gosong. Namun hingga Julaiha diseret pulang ke rumah, tangisannya tak juga berhenti dari malam hingga malamnya lagi. Kadang suara tangisnya terdengar seperti suara tangis bayi baru lahir. Kadang seperti suara tangis anak kecil yang kena gampar bapaknya karena memecahkan kaca jendela rumah tetangga saat main bola. Kadang seperti erang binatang sekarat yang meregang nyawa.

Sebenarnya warga desa tak peduli dengan tangis Julaiha. Toh dua hari lagi berhenti, begitu batin warga. Tapi nyatanya tidak. Tangis Julaiha meluber ke mana-mana seperti banjir yang meluap dari sungai Kamoning. Tetangga Julaiha mulai ikut-ikutan menangis. Anak-anak mulai menangis. Nenek-nenek menangis. Tak lama kemudian sebagian warga desa mulai menangis tak berhenti hingga menjadikan malam-malam di desa Salbut diselimuti tangisan. Seperti flu, tangis itu menular pada mereka yang tak sanggup menahan kesedihan.

Warga yang tak menangis, mulai mengeluh. Kemudian mendatangi kantor kepala desa dan menuntut kepala desa mengambil tindakan. Kemudian muncullah ide mengeluarkan surat keputusan larangan menangis itu.

***

Sejak larangan menangis itu keluar, seluruh sudut desa dipasangi plang bertuliskan: DILARANG MENANGIS DI SINI! Dengan huruf besar. Tak hanya itu, Klebun Ladrak juga menyewa algojo-algojo pencabut kenangan. Sebab sanksi bagi para pelanggar surat larangan itu jelas. Menangis adalah tindakan mengganggu ketertiban umum. Barang siapa menangis, maka akan dikenai hukuman buang ke sebuah pulau di tengah laut selatan tanpa batas waktu yang ditentukan. Sebelum itu para pelanggar akan dicabut kenangannya hingga tak ingat apa-apa. Kebanyakan berakhir gila. Sanksi itu berlaku buat siapapun.

”Bahkan kalau aku atau keluargaku melanggar, akan kuterima semua hukuman sebagai kepatuhan pada undang-undang,” ujar Klebun Ladrak.

Korban pertama dari surat keputusan itu tentu saja Julaiha. Selain karena dia dianggap biang keladi segala tangisan di desa Salbut juga sebagai daya kejut agar tak lagi ada orang menangis kecuali bayi. Saat Julaiha dijemput paksa pasukan gabungan penegak larangan menangis yang dibentuk Ladrak banyak warga desa yang bersedih. Tapi sama sekali tak berani menangis. Sebab sanksi dibuang ke pulau di laut selatan sungguh mengerikan. Para pelancong di pulau itu suka sekali menangkap perempuan gila dan membawanya ke losmen. Entah sebagai teman kencan atau diperkosa ramai-ramai.

Berturut-turut kemudian seorang ibu yang menangis karena dompetnya kecopetan di pasar, ditangkap. Seorang istri yang menangis karena digampar suaminya, dibui. Seorang remaja yang menangis karena diperkosa supir angkot sepulang sekolah, ditangkap.

Dan mendadak desa langsung sepi dari tangisan. Orang tak lagi berani menonton reality show yang menjual airmata untuk mendapatkan rating tinggi. Ketika ada warga yang mati, sanak keluarganya hanya diam membisu. Tak ada tangis yang mengalun sayup-sayup bersama kesedihan angin yang melintasi lading-ladang dan sungai-sungai hingga lari ke pantai. Tak ada lagi orang yang diluapi kesenduan setiap tangisan itu timbul tenggelam. Yang tersisa kini adalah gerundelan dan keresahan.

Larangan itu menjadi perbincangan di mana-mana. Dari ranjang sampai ladang, dari restoran cepat saji hingga meja-meja kantor administrasi, dari tukang sayur sampai tukang cukur, dari pejabat sampai para penjahat. Beberapa kali terjadi unjuk rasa agar larangan tersebut dicabut. Tapi Ladrak bergeming.

Malah Ladrak kemudian menggelar jumpa pers untuk menjelaskan secara rinci alasan diberlakukan larangan itu.

“Kita selama ini hanya diperalat perasaan sedih kita. Sebenarnya kita bisa bersikap sebaliknya, yakni bersikap serius terhadap segala macam kesedihan dan tidak menangisi setiap penderitaan. Kita bisa memulai dengan menertawai setiap kesedihan seolah-olah menertawai nasib sial. Daripada meributkan larangan menangis, bukankah lebih positif jika kita mulai memasyarakatkan tertawa dan menertawakan masyarakat.”

Sejak jumpa pers itu mendadak Desa Salbut mulai didatangi para pelancong yang ingin menyaksikan desa yang tak memiliki kesedihan. Para komedian berdatangan mencoba mengais rejeki dengan menjual tawa. Kini setiap ada warga mati, orang-orang tak mengundang ulama yang tak pandai melucu. Mereka lebih senang mengundang pelawak karena dengan begitu para warga tertawa. Semua bentuk kesedihan disikapi dengan humor. Di gerbang desa dipasang sebuah plang besar yang mengutip Budha: tertawa adalah energi. Meskipun sebenarnya kutipan itu sama sekali tidak tepat karena warga desa tertawa karena terpaksa. Segala yang dilakukan dengan terpaksa adalah penderitaan.

Kabar tentang desa tanpa airmata itu sampai juga ke telinga menteri dan presiden. Terutama kebijakannya yang melarang warganya menangis yang membuat desa itu menggeliat ekonominya demikian menarik perhatian pemerintah pusat. Sehingga pemerintah kemudian memberikan anugerah pada Klebun Ladrak sebagai kepala desa dengan inovasi ekonomi kreatif terbaik.

“Tapi semua itu sudah keterlaluan, Pak,” ujar istrinya yang sama sekali tak bangga suaminya dapat penghargaan dari pemerintah.

“Keterlaluan bagaimana maksudmu?! Lihat desa kita. Sekarang ramai. Perekonomian bergerak. Turis berdatangan. Itu semua menambah pendapatan desa,” bantah Ladrak sambil memperbaiki dasinya di muka cermin.

”Menangkapi orang-orang yang menangis. Itu keterlaluan.”

”Itu konsekwensi dari peraturan. Ada sanksi tegas.”

”Itu namanya kejam.”

”Salah. Itu namanya cemerlang. Buktinya suamimu sekarang dipanggil presiden. Menginap di istana. Seminggu. Mungkin tahu depan aku bisa dapat nobel.”

”Persetan dengan presiden jika semua itu didapat dari merugikan hati nurani rakyat.”

”Tapi kau menikmatinya, bukan?! Semua kemewahan ini. Baju baru, perhiasan baru. Itu semua dari pendapatan desa yang meningkat yang berimbas pada pendapatan suaminya yang juga meningkat.”

Kali ini istrinya diam. Ladrak tersenyum penuh kepuasan. Ladrak tetap berangkat ke Jakarta.

***

Klebun Ladrak kembali ke desa dijemput orang-orang kepercayaannya menggunakan Limosin. Ia menenteng piala besar setinggi satu meter.

“Kemenangan kita,” ujar Klebun Ladrak sambil tertawa. Seisi mobil ikut tertawa. ”bagaimana kabar desa, Kam?” Tanya Ladrak pada Tarkam yang duduk di sampingnya.

”Aman, Bun! Normal seperti biasa.”

”Ada orang yang ditangkap lagi karena menangis?”

”Ada … ”

”Laki-laki apa perempuan?”

”Perempuan.”

“Dasar cengeng!” Seisi mobil tertawa. ”Bagaimana ceritanya?”

”Seorang perempuan membawa anaknya ke pasar. Tanpa sengaja anaknya menginjak apel yang menggelinding dari becak. Anak itu terpeleset dan jatuh. Kepalanya membentur kaki lincak. Di atas lincak ada sebuah pisau pemotong daging milik penjual daging yang diletakkan terlalu ke pinggir. Pisau besar itu jatuh tepat di leher anak itu. Matilah dia!”

Seisi mobil tertawa. Termasuk Klebun Ladrak. Ia terpingkal-pingkal.

”Lantas ibunya sedih. Saking sedihnya sampai lupa kalau ada larangan lantas menangis?” Tanya Klebun Ladrak menebak-nebak.

“Tepat!” seisi mobil lagi-lagi tertawa.

”Kebanyakan perempuan ternyata memang cengeng. Hahaha … siapa perempuan warga kita yang sial itu?”

“Istri Klebun Ladrak,” ujar Tarkam. Seisi mobil kembali tertawa terpingkal-pingkal sambil menggebrak dasbor dan kursi mobil.

Ladrak mendadak bungkam. Jantungnya berdebar. Lantas meraung-raung, menangis. Seisi mobil terus tertawa dan tertawa hingga keluar airmata.

Setelah peristiwa itu larangan menangis itu telah dicabut. Sekarang kepala desa Salbut yang baru, Tarkam, mengeluarkan aturan baru: dilarang tertawa. ***


Keterangan:

Klebun : sebutan orang Madura untuk kepala desa
Care’ : sebutan untuk Sekretaris Desa di Madura
Bengatoah : tokoh masyarakat yang dituakan di Madura



====================
Edy Firmansyah seorang penulis kelahiran Pamekasan, Madura. Kumpulan cerpennya yang pernah terbit adalah “Selaput Dara Lastri” (IBC, Oktober 2010). Buku puisinya yang telah terbit adalah “Derap Sepatu Hujan” (IBC, 2011) dan “Ciuman Pertama” (Gardu, 2012). Cerpennya tersebar di banyak media cetak maupun online, di antaranya; JAWA POS, SURYA, RADAR SURABAYA, RADAR MADURA, SURABAYA POST, KOMPAS.com, CENDANANEWS.com, Majalah STORY, Majalah SURAMADU, dan Majalah ANNIDA.

Sungai di Wajah Ibu

1

           Sungai di wajah Ibu bermuara pertama kali sejak belasan tahun lalu, ketika kehilangan itu mempora-porandakan hidupnya. Sungai itu berasal dari ceruk matanya, mengalir perlahan melewati pipi dan berakhir menetes di ujung dagu. Air mata yang menetes akan senantiasa membasahi dada dan pangkuannya. Dari balik jendela kamarnya, Ibu tak pernah lelah menunggu meski yang ditunggu tak kunjung kembali. Pagar rumah sudah berkali-kali diganti dengan yang baru, tapi kaki yang diharapkan melintasinya tak pernah datang.

            Air mata Ibu selalu mengalir seperti anak sungai yang membelah lembah. Setiap hari, setiap waktu. Dari atas kursi rodanya, Ibu akan selalu menatap keluar jendela dengan penuh harapan, penuh penantian yang tak kunjung usang. Dia setia menunggu. Setia berdoa kepada Tuhan, meski selama belasan tahun itu juga doanya tak kunjung terjawab.

            “Jika kau sudah lelah berpetualang, Nak. Pulanglah …”

            Satu kalimat itu yang selalu diucapkan Ibu di sela-sela penantiannya. Bibirnya yang memucat akan bergetar hebat tatkala mengucapkan kalimat itu. Lalu, sungai di wajahnya akan mengalir di kerut-merut wajahnya. Di ambang pintu, aku hanya menatap Ibu secara diam-diam. Pemandangan itu sudah aku akrabi sejak bertahun lalu.

***

            Aku masih ingat betul kejadian itu. Awal sebab Ibu memiliki sungai di wajahnya. Kejadian itu sudah belasan tahun lalu, tapi aku sangat mengingatnya. Andai belasan tahun lalu kakakku Aswin tak hilang, mungkin Ibu tak perlu merajut penantian yang sedemikian panjangnya hingga detik ini. Dan sungai yang berasal dari kedua ceruk matanya tak perlu mengalir saban hari.

            Tak ada tanda-tanda bahwa kami akan kehilangan Aswin pagi itu. Segala sesuatunya berjalan seperti biasanya. Aswin dengan semangat mudanya menyiapkan diri untuk kuliahnya. Aku masih kelas satu sekolah menengah pertama saat itu. Kakakku Aswin adalah manusia yang semangat, ia begitu menginginkan kebebasan dalam wujud demokrasi dan sebagainya. Meski jiwanya ingin bebas seperti burung yang lepas dari sangkar, tapi dia amatlah patuh kepada Ibu. Malam itu aku melihat kakakku memeluk Ibu. Seakan-akan mereka tak akan bertemu dalam waktu yang lama.

            Hari selanjutnya, kami memang kehilangan Aswin. Kakakku menghilang, dan tak kembali. Seminggu setelah Aswin menghilang, Ibu berkeras mencarinya ke kota. Semenjak ayah meninggal, Ibu yang memegang kemudi rumah tangga. Tatkala Aswin menghilang, maka Ibu seakan memiliki kewajiban mencarinya.

            Namun nyatanya kota tak ubahnya petaka saat itu. Semua sudut terlihat kacau. Bangunan-bangunan dihancurkan, toko-toko dijarah, gedung-gedung dibakar. Banyak orang-orang berteriak sepanjang jalan sembari merusak apa saja yang mereka temui. Mobil-mobil di sepanjang jalan digulingkan lalu dibakar beramai-ramai. Perempuan-perempuan berteriak ketakutan dikejar pria-pria buas yang memburu mereka secara membabi buta. Penjarahan, tindakan-tindakan vandalisme sampai pemerkosaan terjadi di mana-mana. Banyak orang yang terperangkap dalam kungkungan api turut tewas terbakar.

            Aku menggelepar ketakutan. Kota yang kami datangi tak aman. Tapi dengan tegar dan berani, Ibu bersikukuh untuk mencari Aswin. Para petugas keamaan menghimbau agar kami segera menyingkir. Tapi Ibu tetap maju, dia mencari Aswin di setiap sudut kota. Tapi kami tak menemukan Aswin, bayang-bayangnya pun tak terlihat.

            Ketika lelah mencari mendera, Ibu baru memutuskan pulang. Kota yang rusak kami tinggalkan, meski di sepanjang perjalanan aku menggigil di atas angkutan kota. Ibu bergeming, wajahnya membeku.

            “Bagaimana kalau anakku mati karena orang-orang yang marah itu? Bagaimana kalau dia menjadi salah satu korban yang dibakar?” Suara Ibu terdengar di tengah bisingnya suara angkutan kota yang mendengus-dengus di atas jalanan.

            “Apa Bang Aswin benar dibakar, Bu?” Aku menggigil membayangkan kejadian di kota tadi.

            “Orang-orang yang marah itu sedang hilang ingatan, Muni. Mereka bisa merusak dan membakar apa saja yang mereka mau,”

            Aku tak ingin mengangguk atau menggeleng. Sejujurnya aku bingung dengan jawaban Ibu. Ibu mengatakan bahwa orang-orang yang merusak kota itu sedang hilang ingatan dan marah. Tapi aku melihat mereka berteriak-teriak mengagungkan nama Tuhan ketika marah tadi.

            “Mereka tadi juga menyebut nama Tuhan, Ibu. Saat mereka menggulingkan mobil dan membakarnya. Juga saat menyerang orang-orang yang mereka anggap berbeda,” aku semakin erat menggenggam tangan Ibu. Tangan Ibu terasa begitu dingin dan berkeringat.

            “Tuhan tak bisa dijadikan tameng ketika marah, Muni. Karena Tuhan terlalu suci untuk disentuh amarah. Mereka hanya mencoba meredam dosa mereka sendiri, meski itu hal yang percuma. Kita terlahir berbeda bukan untuk saling membenci, Muni,” Ibu menatap keluar lewat jendela angkutan kota. “Saat ini kita tak perlu meributkan mereka yang pemarah itu, mereka punya dunia yang berbeda dengan kita. Kita cari kakakmu saja, karena tak seharusnya dia pergi tanpa kabar seperti saat ini.”

            Aku mengangguk. Benar kata Ibu, yang kami perlukan hanyalah mencari keberadaan Aswin. Kakakku benar-benar menghilang tanpa kabar. Satu demi satu teman-temannya ditanyai Ibu, tapi tak ada satu pun yang tahu kemana Aswin pergi. Terakhir Aswin terlihat di kampusnya, setelahnya tak ada lagi yang melihatnya.

            “Kenapa Bang Aswin bisa hilang, Ibu? Dia orang baik kan? Penurut juga,” aku bertanya ketika sudah berbulan-bulan tak ada kabar tentang Aswin.

            “Aswin terlalu banyak bicara, Muni. Abangmu itu terlalu jujur menjadi orang. Terlalu keras kepala sebagai seorang pemuda. Andai dia banyak bungkam seperti yang lain, mungkin dia tidak perlu hilang,” Ibu menatapku dalam-dalam. Dari kedua matanya yang semakin redup, aku tahu bahwa Ibu sangat lelah.

            “Ibu menyesal karena Bang Aswin banyak bicara?” Aku memijat punggung tangan Ibu yang jauh lebih kurus dibandingkan beberapa waktu sebelum Aswin hilang.

            “Ibu tak pernah menyesal memiliki anak seperti Aswin. Dia berani berbicara karena memang cakap dan paham dengan apa yang dia ucapkan. Tapi, ibu hanya menyesali, kenapa ada orang-orang yang berbuat curang kepadanya, membawanya pergi dan tak mengijinkannya kembali. Atau andai dia pergi atas kehendaknya sendiri, betapa pengecutnya abangmu itu, Muni.”

            Aku membenarkan ucapan Ibu. Andai benar Aswin pergi lantaran keinginannya sendiri, betapa pengecutnya dia, membiarkan aku dan Ibu bersusah payah mencarinya. Tapi, andai dia dibawa pergi orang dan tak diizinkan untuk pulang, betapa kejinya orang yang membawanya pergi. Lantaran mereka ada seorang Ibu yang terperangkap dalam rindu dan penantian yang tak pasti.

            Ibu masih bersemangat mencari Aswin, meski hitungan bulan sudah menyentuh tahun. Ibu dengan sabar menyebarkan info tentang hilangnya Aswin. Kantor polisi sudah didatangi. Selebaran-selebaran tentang info hilangnya Aswin ditempelnya di tiang-tiang listrik, di papan pengumuman gardu di kampung-kampung, sampai di pintu-pintu warteg. Tapi tak ada satu pun kabar yang diterima Ibu tentang Aswin. Abangku itu seakan hilang, lenyap ditelan bumi.

            Pencarian Ibu terhenti ketika pengapuran mendera kedua lutut kakinya. Kaki Ibu tak bisa digunakan seperti dulu. Sehari-hari Ibu hanya menghabiskan waktu di atas kursi roda. Meski kakinya tak bisa lagi menyusuri jalan-jalan di kota dan gang-gang kampung untuk mencari kabar Aswin, tapi Ibu tak berhenti menunggu. Di balik jendela kamarnya, Ibu selalu bersemangat memohon dan berdoa agar anaknya dikembalikan. Mengetuk belas kasih Tuhan agar anaknya yang hilang segera dipulangkan.

***

            Kini sudah belasan tahun Ibu menunggu. Tak hanya wajahnya saja yang dipenuhi kerut-merut lantaran digerus usia. Kedua matanya yang dulu bersorot penuh percaya diri menuntut keadilan untuk anaknya yang hilang kini berubah kelabu, seiring warna rambutnya yang memutih. Tangannya yang dulu tak lelah mengetuk pintu untuk sekadar menanyakan keberadaan Aswin kini selalu bergetar.

            “Sudah berapa lama abangmu hilang, Muni?” Suara lemah Ibu terdengar. Memang sudah beberapa waktu ini aku kehilangan suara Ibu yang tegas dalam kelembutan seorang wanita. Kini, hanya suara lemah yang terkadang bahkan tak  terdengar di telingaku yang bisa dia ucapkan.

            “Sudah cukup lama, Ibu. Sudah belasan tahun,” aku menjawab sembari menatap mata Ibu.

            “Dia benar-benar tak ingat pulang rupanya,”

            “Bang Aswin bukannya tak ingat pulang, Ibu. Mungkin dia memang tak diijinkan pulang,”

            “Terkadang ibu berpikir, Muni. Tidak rindukah dia kepada kita?”

            “Abang pasti rindu, Ibu. Hanya saja mungkin dia belum bisa kembali menemui kita.” Aku menggenggam erat tangan Ibu.

            Ibu hanya mengangguk samar, kedua matanya dipejamkan. Perlahan aku berdiri meninggalkannya. Tapi ketika sampai di ambang pintu kamar, aku mendengar suara Ibu yang lirih.

            “Jika sudah lelah berpetualang, Nak. Pulanglah, ibumu ini tak akan marah jika kau kembali ke rumah.”

            Lalu sungai di wajah Ibu mengalir lagi, dari ceruk matanya, turun ke pipi lalu berakhir di ujung dagu. Tetesan air mata itu membasahi dada dan pangkuannya. Aku hanya menatap Ibu dari ambang pintu, bagiku sungai di wajahnya bukanlah hal baru.[]

======================

Artie Ahmad lahir dan besar di Salatiga. Beberapa cerpennya dimuat media massa, dan sampai saat ini dia memiliki empat buku. Buku terbarunya ‘Sunyi di Dada Sumirah’ Penerbit Buku Mojok, Agustus 2018 dan kumpulan cerita pendek ‘Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri’ Penerbit Buku Mojok, Januari 2019.

Dialog Antar Orang Mati

0


Lelaki itu tiba lebih cepat dari selatan Inggris pada suatu pagi di musim dingin tahun 1877. Dia pria merah, atletis, namun berat badannya berlebihan. Tidak dapat dipungkiri, hampir semua orang berpikir bahwa ia orang Inggris, dan memang dia terlihat mirip seperti John Bull. Dia memakai topi bowler dan berjubah wol dengan celah di tengah. Sekelompok pria, perempuan, dan bayi telah menunggunya dengan cemas ; banyak dari mereka memiliki garis merah di tenggorokan, lainnya tanpa kepala dan berjalan ragu-ragu dengan langkah yang menakutkan, seakan meraba-raba menembus kegelapan. Sedikit demi sedikit, mereka mengelilingi orang asing itu, dan dari belakang kerumunan seseorang berteriak mengutuk, tapi teror yang lama menghentikan mereka dan mereka tidak berani melangkah lebih jauh. Dari tengah, seorang prajurit kulit pucat dengan mata seperti bara api melangkah ; rambutnya yang panjang kusut, dan janggutnya yang murung tampak memenuhi wajahnya ; sepuluh sampai dua belas luka mematikan ada di sekujur tubuhnya, seperti garis-garis pada kulit harimau. Ketika ada yang datang melihatnya, dia memucat, tapi melangkah maju dan mengulurkan tangan.

     “Betapa menyedihkan melihat seorang prajurit direndahkan oleh aparat pengkhianat!” katanya dengan penuh wibawa. “Dan lagi kepuasan yang luar biasa telah memerintahkan bahwa para penyiksa dan pembunuh menebus kejahatan mereka pada perancah di Plazade laVictoria!”

     “Jika itu Santos Pérez dan Reinafé bersaudara yang kamu maksud, yakinlah bahwa saya sudah berterima kasih pada mereka,” kata lelaki berdarah itu dengan serius.

     Laki-laki lain memandangnya seolah mencium ancaman, tetapi Quiroga melanjutkan:

     “Kamu tidak pernah mengerti saya, Rosas. Tapi bagaimana kamu bisa mengerti saya, jika hidup kita sangat berbeda? Nasibmu adalah memerintah di kota yang menghadap ke Eropa dan suatu hari akan menjadi salah satu kota paling terkenal di dunia. Dunia saya berperang melintasi kesendirian di Amerika, di negeri miskin yang dihuni oleh para pedagang miskin. Kerajaanku adalah salah satu tombak, teriakan, tanah terlantar berpasir, dan kemenangan rahasia di tempat-tempat terkutuk. Apa itu seperti klaim yang terkenal? Saya hidup dalam ingatan orang-orang — dan akan terus tinggal di sana selama bertahun-tahun — karena saya dibunuh dalam kereta kuda di tempat yang disebut BarrancaYacoby oleh sekelompok pria dengan pedang dan kuda. Saya berhutang budi padamu atas kematian yang kesatria, yang tidak bisa kukatakan saat itu, tetapi generasi berikutnya enggan untuk melupakannya. Anda pasti akrab dengan litograf primitif tertentu dan karya sastra menarik yang ditulis oleh seorang yang layak dari San Juan?”

     Rosas, memulihkan ketenangannya, memandang lelaki itu dengan jijik.

     “Kamu orang yang romantis,” katanya sambil mencibir. “Sanjungan anak cucu tidak lebih berharga dari sanjungan orang sezamannya, yang tidak bernilai apa-apa, dan dapat dibeli dengan sekantong uang receh.”

     “Saya tahu bagaimana kamu berpikir,” jawab Quiroga. “Di tahun 1852 takdir bermurah hati, serta ingin menyelami kamu sangat mendalam, menawan kematian pria-pria dalam pertempuran. Kamu telah menunjukkan dirimu sendiri tidak layak menerima hadiah itu, karena perkelahian, pertumpahan darah, membuatmu takut.”

     “Membuatku takut?” ulang Rosas. “Saya telah menjinakkan kuda hitam di selatan, dan kemudian menjinakkan seluruh negara.”

     Untuk pertama kalinya, Quiroga tersenyum.

     “Saya tahu,” dia berkata pelan, “dari kesaksian tidak memihak prajurit Anda dan kedua perintah Anda, bahwa Anda melakukan lebih dari satu giliran balik yang menakjubkan, tetapi kembali pada masa itu, melintasi AS—dan menunggang kuda juga—ketakjuban lainnya dilakukan di tempat bernama Chacabuco dan Junin dan Palma Redondo dan Caseros.”

     Rosas mendengarkan tanpa ekspresi, dan menjawab.

     “Saya tidak perlu berani. Salah satu ketakjuban milikku, seperti yang Anda katakan, adalah untuk mengelola serta meyakinkan pria pemberani, saya berjuang dan mati untuk diri saya sendiri. Santos Perez contohnya, yang lebih sepadan untukmu. Keberanian sangat mendukung ; beberapa pria bertahan lebih baik dari yang lain, tapi cepat atau lambat, setiap orang menyerah.”

     “Itu mungkin,” kata Quiroga, “Tapi saya sudah tinggal dan saya sudah mati, dan sampai hari ini saya tidak tahu apa itu takut. Dan sekarang saya pergi ke tempat di mana saya diberikan wajah baru dan takdir baru, karena sejarah lelah dengan pria kejam. Saya tidak tahu siapa pria selanjutnya, apa yang akan dilakukan terhadapku, tapi saya tahu saya tidak akan takut.”

     “Saya puas jadi diri sendiri,” kata Rosas, “dan saya tidak ingin menjadi orang lain.”

     “Batu tetap terus jadi batu, selalu, selama-lamanya,” jawab Quiroga. “Dan selama berabad-abad mereka batu—sampai mereka hancur jadi debu. Ketika saya pertama kali masuk ke dalam kematian, saya memikirkan caramu, tapi saya sudah belajar banyak hal di sini sejak itu. Jika kamu perhatikan, kita berdua sudah berubah.”

     Tapi Rosas tidak memperhatikannya,  dia hanya melanjutkan, seolah berpikir keras, “Mungkin saya tidak bisa mati, tapi tempat ini dan percakapan ini sepertinya tampak mimpi bagiku dan bukan mimpi yang hanya sekadar mimpi, juga. Lebih seperti mimpi yang diimpikan orang lain, seseorang belum dilahirkan.”

     Lalu percakapan mereka berakhir, karena saat itu seseorang memanggil mereka.*

Diterjemahkan dari edisi berbahasa Inggris berjudul, “A Dialog Between Dead Men” yang ada pada antologi Jorge Luis Borges, Collected Ficciones, diterjemahan dari bahasa Spanyol oleh Andrew Hurley. Alih bahasa Indonesia oleh Risen Dhawuh Abdullah.


======================
Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Jejak Nama Kami Dalam Lukisan

2



Rumah ini bagaikan galeri. Dindingnya rapat tertutup lukisan. Lekuk punggung pegunungan, halaman lapang, rerumputan, dan pohon rimbun. Ada kami berempat saling bergandengan tangan. Aku, istriku, putra kami yang duduk di kelas 3 SD, dan si bungsu, sang pelukis ulung yang saat ini masih belajar di TK kelas nol besar.

Di sudut dinding yang lain tampak gambar deretan gedung tinggi dan tangan-tangan panjang alat berat yang sedang bekerja. Ada pula gambar-gambar abstrak. Mungkin ini yang paling banyak. Tarikan garis memanjang, meliuk-liuk, bahkan melingkar liar. Indah sekali. Beraneka warna. Betah berlama-lama memandangnya. Seperti lukisan purba di dinding gua. Dilihat berapa kalipun semuanya selalu terasa baru. Mengantarkan penikmatnya ke dunia dengan cerita-cerita luar biasa yang tak pernah ada habisnya.

Kami beruntung bisa menyaksikan lukisan-lukisan dahsyat ini. Sejumlah kerabat dan sahabat yang datang ke rumah juga ikut memuji. Kualitasnya memang baik, sesuai usianya.

Tak terhitung krayon dan spidol air yang sudah dihabiskan. Hampir setiap bulan  minta dibelikan lagi. Kami turuti. Apalagi, setelah dia mulai menggambar di atas kertas. Meski begitu, gambar-gambar di dinding tetap kami biarkan begitu saja. Gambar-gambar itu terlalu istimewa untuk sekadar digantikan dengan warna-warna monoton, mulus, dan bersih. Dinding rumah seperti itu terlalu membosankan. Setidaknya begitu perasaan kami sekarang.

Bulan lalu beberapa lukisannya di lembar-lembar kertas itu mulai kami pajang di sisi dinding atas. Masih banyak bagian kosong yang selama ini belum tersentuh karya goresan tangannya. Kami memang bukan ahli desain interior. Tapi, terus terang saja, kami puas. Tampilan rumah ini dari hari ke hari bertambah sempurna.

Objek gambarnya pun terus berkembang. Dia kini mulai membuat gambar pesawat, kapal perang, dan kereta api dengan gerbong yang superpanjang. Sampai lima helai kertas gambar harus dijejer dan disambung dengan isolasi. Keesokan hari tiba-tiba dia sudah bisa menyajikan pemandangan bawah air. Gambar yang ramai. Ikan-ikan bertubuh jumbo berenang kesana kemari dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara berukuran besar yang mengapung menuju permukaan. Ada orang-orang di dalam gelembung itu. Terkadang satu, dua, bahkan empat.

’’Masak ada orang di dalam gelembung udara, ’’ celetukku, sambil tersenyum menggoda.

’’Lagi ngapain mereka di dalam gelembung napas ikan? ’’ potong istriku. Saat mengucapkan itu, dia sempat melirikku tajam. Dari tatapannya, aku tahu dia berusaha mengingatkan aku agar tidak merusak bangunan imajinasi buah hati kami yang masih polos itu.

’’Mereka teman-teman nabi Yunus, ’’ katanya, sambil terus menggoreskan krayon membuat degradasi warna ungu yang sendu.

’’Guru ngaji di masjid bilang, nabi Yunus diselamatkan ikan raksasa waktu tenggelam di laut. Semua orang di dalam gelembung udara ini juga diselamatkan ikan-ikan itu. Sekarang mereka dilepas agar mengapung dan terbang ke angkasa,’’ lanjutnya.

’’Bukannya ikan itu dikisahkan hanya menyelamatkan Nabi Yunus. Dan, hanya seekor ikan, bukan banyak ikan?’’ tanyaku lagi.

’’Awalnya iya. Tapi, ikannya bertelur dan bertambah banyak. Mereka terus menyelamatkan orang. Sampai sekarang,’’ tuturnya dengan mata berkedip.

Kami tertegun. Berusaha mencerna penjelasannya. Nabi Yunus. Orang-orang yang tenggelam. Segerombolan ikan raksasa keturunan Nun. Gelembung udara. Penyelamatan. Banyak kata kunci yang belum kami pahami. Tapi, kami tidak mau mendesaknya untuk terus bercerita. Biarlah dia menyempurnakan imajinasinya terlebih dulu. Sepuasnya. Toh, masih banyak ruang terbuka di dinding rumah ini yang bisa dipakai untuk memajang gambar-gambar itu.

***

Seharian kami sekeluarga pergi ke water park di dekat perumahan. Anak-anak bermain beragam wahana dengan gembira. Termasuk, walking ball. Sebenarnya aku khawatir saat mereka masuk ke dalam bola berukuran besar dan berlarian ke sana kemari di atas air seperti hamster. Tapi, manakala teringat kembali gelembung udara dengan manusia yang muncul dalam gambar putra kami itu, aku berharap imajinasinya tidak berkembang lebih aneh lagi. Teralihkan dengan serunya bermain walking ball. Entahlah, setiap melihat gambar itu aku merasa sangat tidak nyaman.

Tapi, harapanku jauh panggang dari api. Menjelang waktu makan malam, saat hendak menuju ruang tengah, tanpa sengaja pandanganku tertuju kepada beberapa lukisan itu. Sekarang tampilannya seperti komik. Manusia-manusia dalam gelembung sudah memiliki identitas. Dengan cepat aku memanggilnya.

’’Ini tulisan adik?’’ tanyaku, pelan. Dia mengangguk. Tulisannya memang belum rapi, tapi sudah bisa dibaca.

’’Ada yang menyuruh atau adik mengarangnya sendiri?’’. Kali ini dia sudah tidak peduli dengan pertanyaanku dan langsung berlari ke depan televisi. Kembali menonton film para ksatria dan monster raksasa dari Jepang yang sempat terganggu oleh panggilanku.

Aku hendah mengejarnya. Tapi, istriku yang tadi berada di dapur rupanya sudah datang menghampiri. Dia membawa sendok berisi kuah asam pedas kepala ikan sembilang dan memintaku untuk mencicipinya. Aku langsung memberi kode oke dengan jariku.

’’Tadi tanya apa sama adik?’’.

’’Gak apa-apa. Cuma mau ngajak ngobrol soal gambarnya. Coba lihat itu,’’ jawabku sambil menunjuk salah satu lukisannya. Lukisan gelembung udara yang keluar dari mulut ikan dengan tiga manusia di dalamnya. Istriku tampak mengernyit. Dia melangkah mendekat.

Di sekitar gelembung ada coretan kecil. Nama-nama. Setiap coretan sepertinya mewakili identitas dari tiga manusia di dalam gelembung udara itu. Masing-masing tertulis: Kuy-Sabi, Okse-Vida, dan Ravi-Darum.

’’Ini nama-nama siapa?’’ ujar istriku. Ekspresi wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang begitu besar.

’’Tadi aku juga tanya begitu sama adik. Tapi, dia lagi asyik sekali sama filmnya,’’ kataku. Kami pun sepakat untuk sejenak melupakan perbincangan soal nama-nama misterius itu dengan beranjak ke meja makan. Piring-piring beredar dengan cepat. Anak-anak makan dengan lahap. Suasana sangat menyenangkan.

Dalam kondisi perut yang kenyang, kami menuntaskan malam dalam kesibukan masing-masing. Tak terpikir lagi untuk membahas nama-nama dalam gambar. Kebetulan ada beberapa bagian dari laporan keuangan minimarket milikku yang harus aku periksa. Istriku sendiri kelihatannya sudah lelah dan memilih untuk rebahan di sofa sambil menonton kompetisi stand up comedy di televisi.

Keesokan pagi aku dan istriku kembali gempar. Dua manusia dalam gambar gelembung ikan yang lain juga ikut memiliki nama. Lukisan itu kami tempel persis di sebelah pintu kamar mandi. Dari bentuk huruf-hurufnya, kami yakin adik juga yang menuliskannya.

Posisi lukisan ini agak tinggi. Pastilah dia menyeret kursi untuk bisa menjangkaunya. Kami tak habis pikir, kapan adik melakukannya. Istriku sudah bangun sejak pagi buta untuk menyiapkan sarapan. Apa buah hati kami yang lucu membuat tulisan sebelum kami semua terjaga?

Hingga beberapa menit kemudian kami masih termangu. Berulang-ulang kami membaca kombinasi nama yang tertulis dengan pensil. Endo-Ola dan Fibro-Epi. Nama-nama siapa lagi ini? Pikiran kami benar-benar buntu.

Secara spontan kami mengecek lagi tujuh gambar lain dengan tema serupa. Pemandangan bawah laut atau suasana dermaga dengan ikan-ikan berenang di bawahnya sambil mengeluarkan gelembung berisi manusia-manusia. Kecurigaan kami terbukti. Semua manusia dalam gelembung udara ikan sekarang sudah memiliki nama. Persisnya dua suku nama.

Saat masih asyik memperhatikan nama-nama itu, tiba-tiba adik sudah berdiri di belakang kami. Sembari menghabiskan susu di gelas yang tinggal setengah, dia meminta untuk segera diantar ke sekolah. Lokasi TK masih dalam komplek perumahan. Hanya berjarak sekitar 200 meter.

’’Siang nanti aku akan ajak adik ngobrol. Pelan-pelan,’’ ujar istriku. Aku mengangguk. Pikiranku agak kacau. Aku merasa khawatir. Tiba-tiba sangat khawatir. Entah terhadap apa.

***

Petugas berseragam hilir mudik keluar masuk satu kavling ruko tiga lantai di tepi jalan yang masih masuk dalam lingkungan perumahan kami. Puluhan awak media juga berkerumun. Ada yang memotret, ada pula yang sibuk merekam. Warga sekitar tak menyangka ruko itu menjadi klinik aborsi ilegal. Dari depan sekilas seperti agen travel merangkap toko obat tradisional biasa.

Sisi belakang klinik aborsi itu berada persis di depan TK. Hanya dipisahkan oleh tembok setinggi dua meter dan akses jalan perumahan selebar lima meter. Di balik pagar terdapat lubang septic tank. Petugas sudah membongkar dan menemukan banyak serpihan tulang belulang calon jabang bayi.

Dari berita yang kami ikuti, petugas mengamankan sejumlah orang. Dokter, asisten dokter, dan perawat. Termasuk, dua perempuan yang masih dirawat di klinik tersebut beserta pasangannya masing-masing.Yang membuat aku dan istriku terperanjat adalah kami seperti mengenal nama mereka.

Buru-buru kami memeriksa lagi lukisan pemandangan bawah laut dengan ikan yang mengeluarkan gelembung di sebelah pintu kamar mandi. Benar saja. Nama-namanya memang sama. Endo-Ola dan Fibro-Epi. Ola dan Epi, dua gadis belia yang dipaksa untuk menggugurkan kandungannya.

Ada lagi tiga perempuan lain yang juga sudah diketahui identitasnya dan langsung diamankan. Dari berkas catatan klinik, mereka diduga melakukan aborsi sekitar dua bulan  lalu. Bergidik kami sewaktu membaca nama-namanya. Sabi, Vida, dan Darum. Bukankah nama-nama ini pula yang muncul dalam gambar karya si bungsu? Kuy-Sabi, Okse-Vida, dan Ravi-Darum.

Wajah istriku tampak sangat prihatin. Dia mulai curiga, bahkan meyakini bahwa puluhan nama lain dalam gambar si bungsu masih berkaitan dengan praktik aborsi yang terjadi entah dimana. ’’Anak-anak malang itu tidak sempat terlahir dan memiliki nama. Mereka membawa nama kedua orang tuanya,’’ ucapnya dengan suara bergetar. Ada kengerian yang bercampur dengan kegeraman.

’’Apa anak kita mampu berkomunikasi dengan makhluk gaib atau mungkin ruh dari janin-janin penasaran?’’ lanjut istriku.

Aku hanya mengangkat bahuku. ’’Enggak tahu,’’ jawabku. Sebenarnya aku sekarang ikut khawatir. Berbagai kasus penemuan orok atau janin yang terbungkus dalam plastik kresek berseliweran di benakku. Pikiranku bertambah kacau.

Istriku mengajakku untuk segera mendekati si bungsu yang kembali sibuk dengan kegiatan melukisnya. Kali ini dia melukis sebuah kapal dengan pemandangan bawah lautnya yang khas. Seekor ikan berukuran raksasa tampak berenang sambil mengeluarkan gelembung udara dari mulutnya. Seperti yang sudah-sudah, ada satu tubuh manusia di dalam gelembung yang dalam pandangan kami sekarang tampak sebagai tubuh janin atau orok. Lengkap dengan tulisan nama di sebelahnya.

Jantungku seperti mau copot. Telingaku berdenging. Keningku berdenyut. Aku hampir tak bisa lagi mengikuti perbincangan sederhana antara si bungsu dengan ibunya. Sesekali mereka tertawa cekikikan.

Berulang kali kulirik istriku. Semoga saja dia tidak menyadari betapa kalut diriku sekarang. Sebab, dua kombinasi nama yang tertulis dalam coretan gambar si bungsu adalah penggalan namaku dan pegawaiku di kantor. Seorang perempuan yang hampir sebulan terakhir mengambil cuti pasca menggugurkan kandungannya di klinik tersembunyi luar kota.(*)



=================
Priyo Handoko,
mantan jurnalis (2006-2018) yang suka menulis prosa. Cerpennya dipublikasikan di beberapa media, antara lain: Majalah Femina, Jawa Pos, Radar Banyuwangi, dan Ideide.Id. Kini menjadi komisioner KPU Provinsi Kepulauan Riau, kampung halamannya.

Sepasang Pohon Jambu Bahagia

0


Pohon itu terlihat bahagia, mungkin karena ayah merawatnya dengan baik. Ayah tidak pernah lupa menyiraminya setiap pagi dan sore. Terkadang malah ia mendandani pohon itu dengan beraneka pakaian wanita. Ia tempelkan potong-potongan kain pada batang kayunya yang kokoh. Bahkan, ayah pernah makan malam berdua dengan pohon itu, lengkap dengan cahaya lilin yang tembaga dan denging musik jazz yang terdengar begitu romantis.

Tak ada yang berani menyinggung tingkah ganjil ayah, termasuk paman dan bibi. Hal aneh itu sudah menjadi wajar di dalam biduk keluargaku. Mereka lebih memilih ayah berperilaku demikian daripada uring-uringan. Karena, pernah suatu ketika, ayah disindir oleh kakek sebab memerlakukan sebuah pohon seperti memanjakan seorang wanita. Ayah pun marah dan sepanjang hari ia mencercau tak jelas seperti orang gila.

Aku pun demikian, tidak pernah berani menyinggung soal pohon itu. Walau sebenarnya, aku merasa ayah memang sudah kehilangan akal warasnya.  Ia pernah bercerita kepadaku, kalau pohon jambu air itu adalah jelmaan seorang wanita yang pernah melahirkanku. Aku tercengang tak percaya dan mengutuki kisah ayah yang ganjil itu.

“Lihatlah, pohon itu, begitu cantik, Ipang,” katanya, ketika kami bersantai di suatu sore. Aku perhatikan pohon jambu air itu, yang tidak ada apapun di sana, selain keriput kulit kayunya yang muram. Tetapi, ayah seperti sedang memandang seorang perempuan cantik yang begitu dicintainya di pohon itu. Aku tersenyum samar seraya mengangguk. Aku tidak mau menyakiti hati ayah—yang mungkin sedang terluka itu. “Matanya mirip denganmu, Ipang.”

Ahh, apa yang sebenarnya terjadi dengan ayah? Mengapa ia menganggap pohon itu menjadi ibuku?

Aku sebenarnya tidak pernah tahu, siapa wanita yang melahirkanku. Sejak lahir aku tidak mengenal sosok yang bernama  ibu itu. Mungkin saja aku adalah anak jalanan yang dipungut oleh ayah di tong sampah, atau seorang anak malang yang ditinggal oleh ibunya karena tidak ingin hidup susuh bersama suaminya—mengingat ayah hanya seorang pedangang batik kecil di pasar Beringharjo. Tetapi, apa hubungannya antara pohon jambu air itu dengan ibu? Aku tidak pernah dapat mengerti dengan hal itu.

***

Malam itu hujan kembali turun begitu deras, dan aku melihat ayah termenung di samping jendela, memerhatikan pohon jambu air yang terpacak beku di belakang rumah. Ayah yang mendadak terjangkit demam, lunglai tak berdaya di tepi bibir jendela. Tetapi, ia tampak gamang. Sepanjang malam, ayah tidak juga lelah mengawasi sebatang pohon di luar—yang kelu dicercah hujan.

“Ia pasti kedinginan. Kasihan!” gumamnya lirih kepadaku. “Aku melihat wajahnya menjadi pucat, bahkan ia ketakutan, karena sendirian.”

Bulu kudukku meremang. Aku tidak tahu siapa yang ayah maksud sendirian, karena tidak ada siapa pun di luar selain sebatang pohon itu.

“Aku harus menemani ibumu, Ipang.”

Ahh, lagi-lagi pohon itu. Apakah ayah memang benar-benar sudah gila, karena cinta butanya kepada ibu yang sampai detik ini? Aku juga tidak tahu seperti apa wujud ibu? Siapa ibu sebenarnya? Apakah pohon itu memiliki riwayat tertentu tentang ibu yang tidak pernah aku ketahui? Atau, pohon itu adalah jelmaan seorang wanita yang telah dikutuk oleh Tuhan, dan harus menghabiskan sisa hidupnya menjadi pohon, karena sifatnya yang gemar membangkang kepada suami? Kutukan sifat lalim yang juga menimpa Malin Kundang? Kepalaku selalu pening apa bila merunut riwayat tentang ibu dan pohon jambu air di belakang rumah.

Ayah melesat seperti angin; mengambil payung; merengkuh hujan di luar. Aku gagal menahannya. Ketika aku mencoba menghentikan langkahnya, ia malah menjadi murka, kemudian mengutukiku dengan sumpah-serapah.

“Ingat, Ipang, surga ada di telapak kaki ibu,” katanya bengis.

Aku pun menyerah dan membiarkan ayah keluar untuk berhujan-hujanan bersama pohon jambu air itu. Aku melihat ayah yang terpekur takzim di bawah pohon itu. Ia seolah sedang menikmati kebersamaannya di bawah hujan dengan pohon jambu air itu. Mendadak, hatiku pun bergetar hebat melihat pemandangan pilu antara ayah dan pohon jambu air itu. Betapa cinta telah mengutuknya menjadi makhluk  ganjil di dalam rumah ini.

Aku ingin lekas menyusulnya. Gontai, aku menuju gudang, dan di dalam gudang yang gelap ketika ingin mengambil payung, aku tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak kayu tua. Dari dalam kotak itu, aku menemukan puluhan lembar foto seorang wanita yang terlihat sangat seksi, mengenakan pakaian serba ketat, yang memamerkan belah dada dan jenjang pahanya yang mulus. Wanita di dalam foto itu pun sedang menikmati sebatang rokok di sela bibirnya. Selain itu, aku melihat, ada puluhan kaleng bir pula di mejanya. Sepintas, di dalam benakku, wanita itu begitu mirip dengan seorang pelacur.

Tetapi sebelum aku memikirkan lebih lanjut siapa wanita di dalam foto itu, sebuah petir mengerjap dan guntur susul menggelegar nyaring, memekakan telinga. Aku terperanjat meninggalkan foto-foto itu. Aku berlari menyusul ayah di belakang rumah. Pria itu sudah tampak tertegun, meratapi kobaran api yang membakar pohon jambu air.

“Ia terbakar,” gumamnya sembari menitikkan air mata. “Aku tidak bisa menyelamatkan ibumu.”

“Itu hanya pohon jambu air tua, bukan ibu, Yah.”

“Kau anak durhaka!” Balasnya sengit dengan nada tinggi. Ia pun menatapku bengis, “Kau memang tidak pantas disebut anak!”

Aku tertunduk. Aku merasa begitu sedih meratapi kenyatan kalau ayah sebenaranya sudah gila. Namun, di sisi lain, aku semakin tidak mengerti tentang riwayat pohon jambu air serta ibu. Mengapa setiap pertanyaan di dalam kepalaku kini malah menjadi bertambah rumit? Aku mengerling ke arah ayah yang masih terus mengumpatiku tak karuan. Aku tinggalkan ia seorang diri untuk meratapi kekasihnya: pohon jambu air. Sepanjang malam ia kukuh di luar besama puing-puing pohon jambu air yang telah menjadi arang.

***

Setelah tumbangnya pohon jambu air itu masih ada saja yang manganjal di benakku, yaitu tentang foto-foto wanita yang aku temukan di gudang tadi. Aku kumpulkan foto itu kembali dan memerhatikan satu per satu. Aku merasa tak asing dengan wajahnya dan terlebih pada matanya. Aku seolah telah mengenalnya begitu lama, bahkan pernah berjumpa dengannya. Tapi, aku tidak pernah tahu, di mana kami pernah bertemu, dan siapa nama wanita itu? Pertanyaan-pertanyaan muskil di dalam benakku hanya membuat kepalaku semakin berat. Aku pun semakin tersesat di dalam pemikiran rumit, yang barangkali memang tak ada jawabannya. Akhirnya, aku terlelap dengan benang kusut yang gagal terurai.

Pagi harinya, matahari bersinar ganjil. Aku tercengang ketika terbangun melihat ada dua buah pohon jambu air yang tak terlalu besar tumbuh di belakang rumah. Melihat pemandangan aneh itu, aku pun lekas berlari sempoyongan mencari ayah. Aku ingin mengabarinya kalau ada sebuah peristiwa yang tak normal itu di belakang rumah.

Tetapi, setelah menyusuri setiap sudut rumah, ayah tidak aku temukan. Termasuk di tempat biasa ia melamun. Ia tidak ada di sana. Ayah seolah menghilang ditelan bumi. Aku terus mencarinya seiring waktu yang terus berjalan dan meninggalkan apa-apa yang tak pernah terjawab di benakku. Aku terus mencarinya. Akan tetapi, ayah seperti benar-benar lenyap.

Sedangkan, setiap hari dua pohon itu tampak semakin bahagia berdiri di belakang rumah. Aku pun sering memandangnya penuh wasangka dengan berneka macam pertanyaan ganjil: Bagaiamana hal itu bisa terjadi, sebatang pohon yang semalam tumbang, pagi harinya dapat kembali tumbuh? Bahkan, ada pohon baru di sampingnya, yang tidak kalah kokoh dan bahagia. Kalau dipikir, hal ini tidak mungkin. Ya, sebatang pohon tak dapat tumbuh dalam waktu semalam.

***

Dua puluh tahun berlalu, sejak kejadian ganjil itu. Ayah memang tidak lagi terlihat. Kami semua merasa sangat kehilangan, tetapi aku harus mengikhlaskan juga. Aku pikir memang suatu saat manusia harus siap hidup seorang diri atau bertahan dalam lautan kenangan yang terus menyiksa dengan segala yang hilang, yang akan kembali pulang.

Aku kembali melirik ke sepasang pohon jambu air yang mendadak tumbuh dalam waktu semalam itu, yang kini tampak semakin tumbuh subur. Sepasang pohon yang selalu tampak bahagia. Tiba-tiba, aku pun ingat ayah.

“Di mana sebenarnya kau, Ayah? Apakah sekarang kau sudah bahagia?” Pekikku lirih seraya menitikkan air mata. (*) 



====================
Risda Nur Widia. Buku tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing (2018). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Terbaru

Lima Cerita Ringkas

1. ANJING DAN BANGSA Kemarin pagi, ketika aku berangkat menuju tempat kerja, aku melihat dua selebaran besar...

Ali Sabidin Menengok Bayinya

Serumpun Folklor

Dari Redaksi