Cerpen

Home Cerpen

Kesaksian Lakasse

0


Menggelesot di lantai, di samping Undung yang menggigil ketakutan, Lakasse butuh berpuluh kali mengatur hela napas baru mampu bercerita. Ia bilang ke polisi, ketika kakinya hendak menjejak anak tangga pertama terdengar suara letusan, dan ia yakin saat itulah kepala Tuan Bulke ditembus peluru. Masih separuh dari tiga belas anak tangga menuju lantai dua, tempat kejadian itu, belum ia jejaki, saat dua orang muncul tergopoh dari atas. Kedua orang itu sampai melompati dua anak tangga sekaligus setiap melangkah ke bawah. Ia mengaku mengenal kedua orang itu seperti ia mengenal Undung.

Sampai di atas, demikian ia meneruskan ceritanya, ia masuk ke tempat kejadian dan mendapati Undung menggigil serupa meriang. Tubuh Tuan Bulke ada di lantai, duduk bersandar ke tembok, kepala terkulai dan dinding di belakangnya bernoda percik darah. Tersentak melihat kondisi tubuh blasteran bule itu, sontak membuat baki yang menadah empat gelas kopi yang ia antar lepas terpelanting.

Bermaksud mengkonfrontir keterangan yang Lakasse berikan, polisi berpaling ke Undung. Yang ditatap hanya mangap, tanpa ada kata tercetus dari mulutnya, dan lama baru polisi menyadari Undung ternyata gagu.

***

Lakasse merasa hidupnya betapa sial. Ia ada di tempat yang salah pada saat yang salah pula. Tak usai-usai ia termangu dirundung sesal. Kisruh pikirannya kian kusut kasau saat ada teman membisiki, “Kalau keteranganmu di depan polisi tidak meyakinkan, bisa-bisa kamu yang jadi tersangka.” Lakasse bergidik membayangkan bila ia yang harus diterungku sebagai pembunuh Tuan Bulke.

Undung masih saja panik. Tak mungkin mengorek keterangan darinya. Di depan polisi yang memeriksanya, Undung malah kehilangan kemampuan berbahasa isyarat. Gerak tangan dan geletar bibirnya tak terpahami. Sesekali dia melempar pandang ke arah Lakasse, seakan minta dibantu. Dalam gigil ketakutan akibat impitan syok, akhirnya dia dirawat di rumah sakit.

Anca dan Dengka, dua saksi lain yang ada di tempat kejadian dan sempat berpapasan dengan Lakasse di tangga, langsung pula menghilang, dan selang dua hari Anca malah menyusul jadi mayat. Tubuhnya ditemukan menggembung terapung di bawah jembatan. Dugaan serampangan mengatakan Anca terjatuh, atau malah sengaja menceburkan diri ke dalam luap air sungai karena tekanan insiden tertembaknya Tuan Bulke. Sedang Dengka, masih belum ditemukan. Runtunan kejadian itu membuat posisi Lakasse kian sulit; ia jadi satu-satunya saksi yang bisa dimintai keterangan.

Akal Lakasse jadi mampet. Saat termangu, teman yang bersimpati kembali membisiki, “Lebih baik kamu minta pengakuan langsung dari kedua almarhum.”

“Dia kan sudah mati?” Lakasse mengerucutkan hidung, mengernyit.

“Sini, kuajarkan caranya …,” temannya menjelaskan. “Ingat, orang yang semasa hidupnya baik pada kita, biasanya setelah dia tiada, arwahnya akan baik pula pada kita. Aku yakin mereka bisa membantu melengkapi kesaksianmu.”

Serupa api, semangat Lakasse mulai murup. Tuan Bulke dan Anca yang telah tiada itu, saat hidup memang baik padanya. Malah suka memberinya tip. Sontak ia berpikir, arwah keduanya tentu baik pula padanya, pasti bersedia memberi tahu kronologi kejadian agar ia terelak dari kemungkinan jadi tersangka.

***

Sehari jelang agenda pemeriksaan, Lakasse memutuskan menemui saja arwah kedua almarhum. Seorang diri ia datang ke pekuburan. Pucuk dicinta, bulan sedang berbaik hati mengirim sebagian cahayanya, membuat ia tidak sulit menemukan posisi nisan yang ia cari. Ia hadir pada penguburan keduanya, jadi ia tahu di mana nisan mereka terpacak.

Nisan Tuan Bulke berada pada tanah menanjak di sisi bukit. Sedikit ke bawah, pada tanah landai, tempat Anca dikuburkan. Lakasse yakin arwah keduanya belum ingin terlalu jauh dari jasad masing-masing, dan tentu mau menemuinya. Berjongkok di antara nisan itu, sedikit lebih dekat ke nisan Tuan Bulke, ia mencoba memusatkan pikiran: dengan khidmat mengenang wajah dan sosok kedua almarhum.

Di sela riuh kerik serangga malam yang saling-timpa, ia berharap akan muncul pula suara-suara pelan arwah itu. Namun, hingga separuh malam terlampaui, sampai bagian kulitnya yang terbuka mulai perih dicucuki nyamuk, yang ia harap tidak terjadi. Jangankan bisik lirih, tanda-tanda keberadaan makhluk dari dunia gaib, dengan ciri bulu tengkuk meremang, tidak juga ia rasakan. Yang meremangkan bulu di lengannya hanya embus angin, membuatnya menggigil.

Dingin dan perih pada permukaan kulitnya, membuat Lakasse menyerah. Sempat terpikir untuk mengubah posisi, sedikit lebih merapat ke nisan Anca, tapi ia urungkan begitu ada pikiran lain melintas di benaknya: jangan-jangan arwah kedua orang itu malah masih berkeliaran di tempat kejadian?

***

Sejak peristiwa penembakan di salah satu unit pada gedung itu, sebagian penyewa memilih pindah, membuat beberapa bagian bangunan agak gelap. Lakasse masuk dari bagian belakang gedung. Kamarnya menyempil di pojok, dari mana ia bisa menyusuri lorong menuju tangga ke lantai dua. Sembari membesarkan hati bahwa arwah kedua orang itu masih ada di dalam ruangan, siapa tahu malah sedang bertengkar, ia mendorong pintu yang tidak rapat dan menunduk dari garis polisi. Ia masuk, berharap segera mendengar pertengkaran itu.

Unit yang disewa Tuan Bulke sedikit lebih besar dari yang lain, memiliki ruang tamu tersendiri. Lakasse bingung ketika ada di dalam. Apa sebaiknya berteriak saja memanggil arwah itu? Nyala bohlam di atas kepalanya redup, memaksimalkan belalak matanya. Bercak darah yang sudah mengering di dinding sempat ia lirik, sebelum duduk di kursi. Ia menduga kursi itu yang diduduki Tuan Bulke sebelum ditembak.

Sebagai petugas pembersih, senyampang ia bertugas kerap pula dimintai jasanya oleh penyewa untuk dibuatkan kopi atau mi siram, kadang juga membelikan rokok. Makanya ia cukup mengenal Tuan Bulke, termasuk ketiga tamunya yang sering berkunjung. Seraya menduga-duga saat kejadian mungkin Tuan Bulke sedang marah, lalu berdiri dan bergeser ke sisi kiri kursi sebelum terempas ke tembok oleh sentak peluru, Lakasse melengketkan tengkuk ke sandaran kursi. Ketika ia rasakan bulu-bulu di kuduknya meremang, ia yakin arwah korban sudah masuk ke dalam ruangan.

Segera ia bertafakur, berupaya lebih dalam mengenang sosok kedua almarhum. Ia berharap sebentar lagi ada di antara kedua arwah itu yang berkenan mengajak bercakap, atau lebih bagus bila mereka saja yang bertengkar, agar ia bisa menyimak apa yang menjadi penyebab sampai kepala Tuan Bulke dilubangi peluru. 

Namun, dalam detak jam demi jam tubuh Lakasse terhenyak di kursi, jangankan mendengar bisik paling lirih, kehadiran arwah itu malah ia rasa menjauh. Remang bulu di kuduknya hilang, membuat ia menduga arwah itu tidak berkenan melakukan persamuhan karena ia ada di situ.

Dalam dera lelah dan kantuk yang tak kuat lagi ia tahan, ia tertidur. Saat sedang tertidur itulah ia baru bisa melihat arwah itu datang, berebut memberi penjelasan: sangat riuh, saling tunjuk dan saling bentak, sebelum diakhiri suara letusan pistol. Suara itu membuat Lakasse terlonjak dari kursi.

Matanya memicing ke arah kaca jendela yang sudah benderang. Kepalanya terasa pengar. Perlahan ia sadar telah tertidur hingga pagi. Dugaan suara letusan yang membuatnya terlonjak bangun cuma suara empas salah satu pintu yang berjejer di luar, buru-buru ia sisihkan.

***

Dengan semangat berlambak, Lakasse membabar pengakuan di depan polisi, “Anca, Dengka, dan Undung itu, memang sering datang ke tempat Tuan Bulke. Ketiganya ke situ untuk bermain kartu … berjudi, maksud saya. Dan Tuan Bulke selalu saja menang, sedang tamunya selalu kalah. Oya, Tuan Bulke itu kerjanya memperanakkan uang … maksud saya, membungakan uang, semacam rentenirlah. Jadi, setelah kalah dan masih ingin bermain, ketiga tamunya akan meminjam uang dari Tuan Bulke. Pinjaman itu berbunga sangat tinggi. Begitulah seterusnya, berulang-ulang. Akibat selalu kalah, dan terus juga minta tambahan pinjaman, membuat utang ketiga tamunya makin menumpuk. Karena kesal, mulai pula curiga, ketiganya lalu menuding Tuan Bulke telah membodohi mereka. Ketiganya seia-sekata menuduh Tuan Bulke menggunakan trik-trik sulap pada kartu-kartu permainan mereka, sampai mereka selalu saja kalah dan cuma Tuan Bulke yang selalu menang. Akhirnya mereka cekcok, ribut saling tuding. Dengka dan Anca lalu bersepakat mengeroyok Tuan Bulke. Tuan Bulke buru-buru menarik laci, mengambil pistolnya. Kemudian terjadi perebutan pistol itu. Dengka yang berhasil merebut pistol, langsung mengarahkan ke Tuan Bulke, tapi Anca menghalangi. Anca tidak ingin bila sampai harus menembak tuan rumah, makanya dia berusaha merebut kembali pistol itu. Undung ikut pula membantu, kembali terjadi rebutan dan … pistol itu meletus….”

Lakasse merasa baru saja melepas impit cekik di leher. Namun, pertanyaan polisi kemudian, serasa memberi cekikan lain. “Bukankah sebelumnya kamu bilang tidak melihat kejadian itu?” 

Buru-buru melonggarkan napas, Lakasse membalas, “Arwah mereka, yang telah mati itu, yang datang dan menjelaskan pada saya, Pak. Percayalah, Pak, tidak seperti orang hidup, arwah pasti tidak pandai berbohong.”

Seperti menemukan sesuatu, polisi menatap tajam ke arah Lakasse. ***



====================

Pangerang P. Muda menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Telah menerbitkan 3 buku kumpulan cerpen, yang terbaru Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Menjadi guru SMK dan berdomisili di Parepare.  

Ludah

0


Laki-laki tua itu berjalan
terpincang-pincang menyeret langkahnya, disertai derai batuk menguncang bidang dadanya. Dengan sepotong tongkat di sebelah tangan kanan, ia memasuki perkampungan, dan akan bersimpuh di depan rumah siapapun sembari menadahkan kedua tangannya. Baju yang lusuh, hampir robek seluruhnya lekat di badannya dibasuh oleh keringat yang mengucur.

Ia duduk di halaman rumah seseorang. Menunggu si pemilik rumah keluar. Memangil-manggil tuan rumah diantara tarikan napasnya yang lambat dan goyah. Berharap seseorang keluar dari dalam rumah membawa uang, seberapa besar jumlahnya akan ia terima asal si pemberi ikhlas memberinya pada laki-laki tua itu, dengan keriput di sekujur tubuhnya.

Terus ia duduk di teras rumah seseorang itu. Rumah mewah berupa bangunan gedung bertingkat, dengan lampu-lampu menghias di setiap sudutnya membuat laki-laki itu yakin si pemilik rumah adalah orang paling kaya di kampung itu. Karena sejak laki-laki tua itu berkeliling semenjak matahari muncul di permukaan langit hingga kini menjelang sore hari, ia cuma menemukan rumah itu sebagai satu-satunya tempat tinggal yang megah dibanding rumah-rumah reyot yang ditemuinya sebelumnya.

Maksar, begitu nama laki-laki tua itu kemudian dikenal warga Tang-Batang. Selama lebih tiga puluh menit menunggu, seorang perempuan paruh baya agak gemuk berdiri di ambang pintu. Berpandangan beringas pada Maksar. Ia meminta Maksar segera angkat kaki dari rumahnya, lantang ia berteriak di depan muka laki-laki tua itu sampai Maksar menunduk, mengambil napas dalam-dalam, lalu bersama napas yang ia lepas, Maksar membuang ludah di wajah perempuan paruh baya itu.

“Dasar pengemis!” Terbungkus sumpah serapah ucapan perempuan itu mengumpat. Dengan cepat ia mendorong tubuh Maksar hingga laki-laki itu tersungkur. Pelan-pelan Maksar meraih tongkatnya dan berjalan pulang.

Matahari hampir tenggelam di ujung barat. Laki-laki tua tersandung batu hingga terpelanting jatuh. Gelap sudah mulai membungkus permukaan langit. Dengan sisa napas terengah-engah ia coba meraba-raba tanah, mencari tongkatnya yang terlempar jauh dari tempat ia tersungkur. Angin menggesek daun-daun jati. Maksar belum sanggup mengangkat tubuhnya sendiri. Ia memutuskan membaringkan saja tubuhnya, melepas penat karena berjalan sepanjang hari keluar masuk kampung.

“Ini tongkatnya, Kek.” Laki-laki muda yang menghampiri Maksar, membawakan tongkatnya. Terkaget Maksar mendengar suara Kasno, laki-laki muda itu. Kebetulan Kasno lewat di tempat itu dan tanpa sengaja telinganya mendengar suara lelaki tua merintih.

“Dimana rumah kakek? Mari saya antar,” kata Kasno menawarkan kebaikan pada lelaki tua itu. Maksar tak membuka katup mulutnya. Tak juga mengucap terimkasih pada Kasno karena berkat laki-laki muda itu ia bisa berjalan pulang dengan mengetuk-ngetukkan tongkatnya, mencari jalan setapak menuju rumah.

Belum juga Maksar menanggapi ucapan Kasno. Ia berdiri dan memandang raut muka Kasno, dalam remang-remang menjelang gelap malam hari. Tanpa perlu berucap apapun pada Kasno, justru malah Maksar melempar ludah ke wajah Kasno. Laki-laki muda itu terkejut dan berperasangka macam-macam soal Maksar. Apa lelaki tua itu tak waras? Ingin Kasno balas meludah, bahkan jika ia mau bisa dengan mudah menendang tubuh ringkih Maksar, tapi ia urungkan semua itu karena dianggapnya Maksar kehilangan akal, jiwa laki-laki tua yang dicekik kesepian. Begitu pikir Kasno.

Sudah berpuluh-puluh kali Maksar kerap membuang ludah ke wajah seseorang tanpa sebab. Seiring jarum bergeser, perilaku laki-laki tua itu dianggap meresahkan dan tak disukai banyak orang. Hingga kemudian setiap kali Maksar menginjakkan kaki di halaman rumah seseorang, ia langsung akan menerima umpatan, diusirnya seperti layaknya pecundang. Menanggapi sikap warga Tang-Batang Maksar tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Mungkin karena perlakuan orang-orang yang tak lagi ramah padanya menyebabkan laki-laki separuh abad itu tak dapat ditemukan lagi keberadaannya hingga saat ini. Tak terdengar lagi suara ketukan tongkatnya berseiring dengan laju napasnya. Tapi, menjelang sore hari, yang begerimis ketika orang-orang bekumpul di rumah Maksum dikarenakan Misdar, anak dari  lelaki paruh baya itu kejang-kejang, menjerit kesakitan, seperti disusupi arwah. Mendadak Maksar muncul tiba-tiba membuat orang-orang terbelalak menatap laki-laki tua itu.

Dengan tampil mencengangkan Maksar mengunyah ludahnya sendiri dalam mulut. Sejurus kemudian, laki-laki renta itu membuang ludahnya tepat mengenai wajah Misdar, anak lelaki Maksum. Orang-orang mengernyitkan dahi melihat tingkah Maksar yang kembali berulah. Laki-laki tua itu memejamkan mata. Ia membuka matanya beberapa menit kemudian. Bersamaan dengan terbukanya mata Maksar, saat itu juga Misdar berhenti mengejang dan bocah laki-laki itu langsung berdiri di depan orang banyak, memperlihatkan dirinya yang sembuh seketika.

Sejak itu masyarakat percaya, Maksar adalah lelaki sakti. Ludah Maksar dianggap mujarab oleh penduduk. Kabar kesaktian Maksar tersebar secepat kilat dari mulut ke mulut, dari waktu ke waktu. Justru laki-laki tua itu kini selalalu diharap kedatangannya. Tapi selepas kejadian menakjubkan waktu itu Maksar kembali tak menunjukkan batang hidungnya di depan orang-orang.

Walaupun laki-laki sepuh itu tak lagi diketahui dimana kini ia berada. Ia justru semakin termasyhur setelah beredar desas-desus bahwa orang-orang yang diludahinya dulu kini mengalami bermacam perubahan. Perubahan yang beragam diterima orang-orang itu. Perempuan gempal itu, yang mengusir Maksar dulu kini jatuh miskin dan terpaksa melacurkan diri demi sesuap nasi. Sementara Kasno, laki-laki yang diludahi Maksar tanpa sebab itu kini sudah jadi orang kaya, dan telah naik haji.

Suatu hari saat Kasno berkunjung ke rumah Maksum, ia berceloteh banyak mengenai Maksar, laki-laki tua pemilik ludah mujarab itu. Orang-orang sudah mengakui sangat mengagumi betapa mujarabnya ludah Maksar. Kasno berdehem sebentar melegakan tenggorokannya dari sesuatu yang menyumbat.

“Sekalipun ludah laki-laki tua itu mujarab, berhati-hatilah. Ludahnya bisa menyembuhkan, memberi keuntungan, atau justru ludah itu bisa jadi penyakit, mendatangkan celaka. Maka bersikaplah baik kepadanya jika tidak ingin bernasib celaka.” Kasno menceritakan dengan binar-binar di matanya. Tanpa mengurangi debar-debar di dadanya, Kasno selalu membangga-banggakan Maksar.

Beberapa bulan berlalu terdengar kabar bahwa Maksar tengah menyepi di bawah kaki bukit. Tinggal di rumah berupa gubuk terbuat dari anyaman bambu. Laki-laki tua itu tak lagi sanggup menyeret kakinya, singgah dari satu rumah penduduk ke rumah lain, menyusuri ruas-ruas jalan kampung. Diam-diam Maksum terobsesi menemui laki-laki renta itu, dan niat itu pun ia kerjakan. Pergi tak bilang siapa-siapa, dalam gelap malam dini hari.

Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Maksum duduk dalam gemetar sembari menatap wajah Maksar. Tanpa diminta terlebih dahulu oleh Maksum, tiba-tiba saja laki-laki tua itu membuang ludahnya ke wajah Maksum. Temaram lampu teplok memantulkan bayangan dua lelaki yang saling berhadapan. Angin bergemuruh di luar. Maksum tersenyum, merasa terberkahi mendapat ludah Maksar di wajahnya. Sebab maksud kedatangan laki-laki itu kesana memang ingin mukanya diludahi agar istrinya mengijinkan menikah lagi dengan perempuan simpanannya selama ini.

Dan beberapa detik berikutnya, Maksum malah merasakan nyeri di kedua matanya. Begitu Maksar mendekatkan mulutnya di tepi telinga Maksum, laki-laki itu sudah tak dapat melihat apapun di sekitarnya, kecuali gelap membungkus dua bola matanya. Kebencian terbungkus umpatan dan sumpah serapah terhadap Maksar, karena laki-laki tua telah membutakan kedua matanya.

“Dengan begini, akan kau tahu siapa sesungguhnya yang benar-benar mencintaimu. Istrimu atau perempuan simpananmu,” ujar Maksar, lelaki tua itu dengan sangat lembut. Jantung Maksum hampir copot dari tangkainya mendengar ucapan Maksar, karena laki-laki paruh baya itu belum mengucap apapun perihal maksud kedatangannya, tetapi lelaki tua itu sudah mengetahuinya lebih dulu.

Tak ada yang bisa dilakukan Maksum selain meminta lelaki tua itu mengembalikan penglihatannya. Dalam buta mata seperti itu, Maksum tak merasakan keberadaan Maksar di dekatnya. Laki-laki tua itu keluar rumah sejak tiga puluh menit lalu meninggalkan Maksum seorang diri di dalam rumah gubuknya. Maksum cuma mendengar suara cicak dan desah napasnya sendiri.

Pulau Garam, 2019

===================

Zainul Muttaqin Lahir di. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019).

Nikotopia dan Ular Sawah di Kepalanya

0

Rasa kehilanganmu terhadap kepergian Nikotopia masih menyesakkan dadamu. Padahal yang kutahu dia salah satu sahabat yang justru paling jarang bertemu denganmu. Meski begitu, tampaknya kalian memang sangat akrab. Jarang bertemunya kalian selama ini pastinya semata-mata jarak tinggal kalian yang berjauhan. Tapi kesedihanmu itu mungkin lebih karena tentang rencana menerbitkan novel yang sedianya akan kalian kerjakan bersama. Aku tahu hal itu karena kamu pernah mengatakannya. Sekarang, bukan saja kalian tidak bisa menyelesaikan, bahkan ketika novel itu baru akan kalian mulai kerjakan, keburu Niko pergi untuk selamanya.

Kupikir karena hal itu pula yang kini memengaruhi kegiatanmu menulis. Kepergian Niko tidak lantas membuatmu semakin rajin, tapi justru membuatmu malas, bukan hanya tentang menulis, bahkan juga malas melakukan apa-apa. Hari-hari yang berlalu hanya kamu habiskan termenung di samping rumah sambil membaca karya-karya Niko. Aku menyadari, kehilangan sahabat dekat memang bisa membuat semangat hidup menjadi loyo, tapi masalahnya kamu harus melanjutkan hidupmu. Masih banyak orang yang menyayangimu dan kupikir mereka ingin melihatmu terus berkarya seperti semula. Demikian juga aku dan anak-anak, tidak ingin melihatmu jatuh.

“Tidak tentang karya, juga tidak buku itu,” sahutmu ketika aku mencoba mengajakmu membicarakannya.

“Lalu?” tanyaku sedikit heran, hingga karena itu tiba-tiba aku merasa ada sebagian di dirimu yang belum aku tahu.

“Kalau toh ada hubungannya, hal itu bukan serius.”

“Terus?”

“Bagaimana perasaanmu…”

“Tentang apa?” sahutku cepat.

“Aku belum selesai bicara. Maksudku, bagaimana perasaanmu jika berada pada kondisi seperti ini?”

Aku bingung dengan pertanyaanmu, tapi aku juga tidak lantas menanyakan kepadamu apa yang membuatku bingung. Aku merasa keruwetan itu hanya ada padamu. Kekhawatiranku, jika aku mendesakmu dengan pertanyaan-pertanyaan justru bisa membuat kita tidak nyaman.

“Aku tidak mengerti,” jawabku sekadar memberimu tanggapan.

“Perempuan sukanya begitu.”

“Maksudmu?”

“Perasaan selalu maju lebih dulu, tidak berusaha memikirkannya.”

Aduh, malah aku yang kena. Bagaimana ini? Apakah aku perlu mendebatmu? Paling tidak untuk membetulkan persepsi pemikiranmu itu.

“Bukankah ketika Niko terakhir datang ke rumah kita, kamu ada?”

“Lalu?”

“Bahkan setelah Niko pulang, kita sempat membicarakannya.”

“Iya. Maksudmu tentang keanehan-keanehannya itu?”

“Persis?”

“Terus, terus?”

“Menurutmu, di antara keanehan-keanehan itu, apa yang menurutmu paling aneh?”

Sesungguhnya aku tidak terlalu perhatian dengan apa yang dikatakan, dan apa yang dilakukan Niko. Belum lagi waktu itu aku sibuk mengurusi makanan dan minuman yang harus kita suguhkan pada Niko waktu itu. Aku tahu lebih jelas kalau dia aneh justru dari ceritamu. Di antaranya, kamu mengatakan di sepanjang percakapanmu dengan Niko, sering terjadi salah pengertian. Jawaban dan pernyataan Niko tidak sesuai dengan hal yang kamu obrolkan. Jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu dengan pas. Jika terpaksa menjawab, itu pun atas dasar pilihan dari beberapa hal yang kamu ceritakan.

“Bicaranya sering tidak nyambung,” jawabku.

“Semuanya memang tentang itu.”

Aku mengangkat bahu, semacam tanda menyerah.

“Aku lupa, apakah waktu itu aku sudah cerita tentang Ular Sawah?”

“Ular Sawah?” sahutku sembari menggeleng.

“Menurutku, saat itulah dia mengatakan keadaannya.”

“Apa yang dia katakan?”

“Sesungguhnya, ada Ular Sawah terjebak di kepalaku. Dia ingin keluar dan kembali ke alamnya. Dia mengatakan begitu.”

“Lantas kamu menanggapi gimana?”

Aku langsung tertawa.

“Hah? Tertawa? Tega sekali kamu.”

“Di mana letak teganya?”

Kamu benar juga. Di mana letak teganya. Waktu itu kita belum benar-benar tahu apa yang terjadi pada Niko. Mungkin sama halnya dengan apa yang dulu kamu ceritakan padaku. Perihal kamu yang langsung tertawa ketika Niko mengatakan ingin pulang ke desa, tinggal di sana dengan hidup bertani. Bahkan seingatku, kamu menceritakan sempat mengucap serapah menanggapi keinginan Niko itu. Kamu pikir, peralihan profesi dari pekerja kreatif di sebuah stasiun televisi di Ibu Kota lantas menjadi petani di desa adalah sesuatu yang lucu. Mungkin menurutmu tak ada korelasinya sama sekali. Kalau sekadar penulis cerita, mungkin masih bisa, karena menulis dapat dilakukan di mana pun, termasuk di desa yang paling pelosok sekali pun.

“Hm. Tapi waktu itu ekspresi Niko gimana?” tanyaku.

“Dia tampak serius,” sahutmu.

“Maksudnya?”

“Iya. Waktu itu dia bilang apa yang dikatakan itu serius.”

“Lantas?”

“Pada saat itulah, seharusnya aku bisa mengerti apa maksudnya.”

“Sekarang aku yang tidak mengerti apa maksudmu.”

“Andai kita tahu apa yang terjadi pada diri seseorang, kita bisa melakukan sesuatu yang mungkin dapat berarti bagi seseorang itu, tapi karena kenyataannya kita tidak tahu ceritanya hingga kita tidak melakukan apa pun,” terangmu.

Ah, kupikir dalam hal ini yang main perasaan itu kamu. Karena jika kamu sudah tahu begitu, mengapa kamu masih memasalahkannya? Bukankah waktu itu kita memang tidak tahu  kalau Niko menderita kanker otak. Kupikir jika kita tahu pun sebenarnya kita tidak bisa melakukan apa pun terhadap penyakit itu.

“Kamu hanya terbawa perasaan,” sahutku.

“Bukan.”

“Terus, apa namanya kalau itu bukan terbawa perasaan?”

“Ya itu tadi. Aku terlambat menyadari, sebenarnya dia sudah berusaha memberitahu keadaannya kepada kita.”

Dengan keanehan-keanehannya waktu itu? Sepertinya ada yang salah pada pemikiranmu. Karena menurutku, apa yang terjadi pada perilakunya, sesungguhnya di luar kontrol dirinya. Dan aku yakin jika dia dalam keadaan sadar, tentu saja dia akan melakukan sesuatu yang wajar, dan kita tidak akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh.

“Kupikir kamu harus merelakannya.”

“Aku sudah ikhlas.”

“Lalu mengapa kamu masih merasa kecewa? Bukankah takdir seseorang tidak bisa diubah?”

“Maksudmu tentang apa?”

“Kematian, kan? Dan kita tidak bisa menghindarinya.”

“Siapa bilang aku memasalahkannya? Yang kupikirkan hanya tentang pengertian dan sikap antar sahabat. Bukan tentang kematian.”

Kulihat kamu seperti tersinggung dengan pernyataanku. Rupanya aku memang tidak mengerti apa yang membuatmu kecewa dalam hal ini. Aku takut membuat hal yang sebenarnya sepele itu akan memperunyam keadaan. Sejak kamu mengatakan itu aku tidak lagi mengusikmu perihal Niko. Dan kupikir dia sudah nyaman di rumah Tuhan. Dengan membiarkanmu berlama-lama bernostalgia bersamanya kupikir lebih bijaksana. Lima belas tahun pertemanan kalian tentu saja telah melewati banyak riuh rendahnya masalah dan pengalaman.

“Jika bisa, sebenarnya aku hanya ingin meralat satu hal,” katamu setelah beberapa waktu berlalu.

“Ini tentang apa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Tentang sikapku terhadap Niko.”

“Oh.”

“Andai saja kita bisa mengulang waktu.”

“Maksudmu?”

“Aku hanya ingin menghapus tawaku, saat Niko mengatakan tentang Ular Sawah di kepalanya itu,” terangmu.***

Mengenang Niko.




=====================
Yuditeha, penulis, penata rambut, tinggal di Karanganyar Jawa Tengah. Pendiri ideide-id.

Cerita Gudang di Belakang Rumah

0


Bapak tidak pernah memperbolehkanku membuka gudang di belakang rumah. Aku tidak pernah tahu mengapa bapak tidak memperbolehkanku, yang jelas bapak menyimpan sesuatu yang memang sangat rahasia dan mungkin hanya dia saja yang berhak tahu.

Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku. Pertanyaan yang tidak akan pernah menemukan jawabannya apabila gudang itu belum bisa aku buka.

Dugaan-dugaan juga mulai mengaliri hari-hariku. Dugaan yang paling kuat tentang isi gudang yang sangat dirahasiakan bapak adalah burung-burung kecintaannya yang bernilai mahal dan hanya dia yang boleh memegang atau melihat atau merawatnya. Maka dengan itu, ia menyimpannya di gudang belakang rumah. Mungkin bapak menyulap gudang itu menjadi sangkar burung—untuk burung-burung kesayangannya.

Bapak memang gemar burung sejak aku kecil. Ia sering mengikuti perlombaan dan sayembara burung-burung. Baik yang diadakan di kampung sendiri atau di kampung lainnya. Bahkan pernah juga bapak ke luar provinsi hanya untuk melombakan burung-burungnya itu.

Pernah suatu kali aku diajak pergi ke luar kota untuk mengikuti perlombaan burung. Bapak bilang, bila burung yang dibawa bapak ini menang, maka nilai jualnya akan berlipat-lipat ganda naiknya.

Waktu itu bapak mengajakku naik kereta. Aku lupa di mana tepatnya, yang jelas kota itu lebih mewah dari tempat tinggal kita. Bangunan-bangunan menjulang tinggi ke atas, banyak juga kendaraan dan mobil-mobil. Jalanan yang biasa aku lihat lengang saat di rumah, kini terlihat padat seolah jalan itu begitu sempit.

Bapak membawa dua sangkar burung yang tentu di dalamnya berisikan burung. Katanya, bapak ingin melombakan keduanya. Bapak telah melatih dua burung itu selama tiga bulan lebih. Aku yang menyaksikan bapak hampir setiap malam memutarkan suara burung melalui HP dan mendekatkan hp itu ke kedua burung itu merasa aneh juga. Bukannya lagu-lagu malah suara burung yang memenuhi list lagu di HP bapak.

Namun namanya kesukaan, mau bagaimana pun tetap akan dilakukan. Sempat aku juga iri dengan burung-burung bapak, karena waktu untuk burung lebih banyak ketimbang waktu denganku. Kecintaannya pada burung tidak ada yang bisa menandinginya.

Hampir setiap hari kesibukan bapak berkutat pada burung-burung kesukaannya itu. percaya atau tidak, kehidupan sehari-hari kami juga bergantung dari perlombaan burung dan penjualan burung yang bapak menangkan.

Bapak pandai dalam hal ini seolah memiliki trik jitu agar burung-burungnya terus berkembang dan bisa menghasilkan uang yang melimpah. Sepertinya dulu sekali bapak membeli indukan burung itu dengan harga mahal, sehingga indukan itu selalu menghasilkan burung-burung yang berkualitas. Bapak pandai, ia tidak menjual induk itu, bahkan bapak juga berhasil menghasilkan induk-induk lainnya dan yang untuk diperlombakan biasanya anak-anak yang lahir dari induk berkualitas itu, tentu dengan latihan yang senantiasa bapak berikan.

Jika dari induknya sudah berkualitas, kata bapak, melatih anak-anaknya itu sangat mudah dilatih. Pantas saja bapak selalu menang di setiap perlombaan. Namanya juga roda kehidupan, pasti tidak selalu di atas, bapak juga pernah kalah dalam perlombaan. Dan burung-burung bapak juga pernah terserang penyakit sehingga hampir semua ternaknya mati. Musibah itu sempat membuat bapak sakit keras, namun bapak bangkit lagi guna menghidupiku.

Selain merawat burung-burungnya, bapak juga sering mendatangi gudang belakang rumah setiap pagi dan sore. Anehnya bapak mendatanginya ketika hendak mandi. Aku sempat mengikuti bapak, namun aku selalu ketahuan. Bapak memarahiku habis-habisan bahkan dulu bapak pernah memukuliku dengan rotan karena ulahku ini.

Semenjak itu aku tidak berani lagi membuntuti bapak dari belakang ketika hendak mendatangi gudang belakang rumah. Aku hanya mampu menduga-duga saja dan tidak pernah mengetahui apa sebenarnya isi dari gudang tersebut.

Gudang itu juga sudah dilengkapi bapak dengan duri-duri yang bapak buat sendiri dari besi. Selain itu bapak juga menutup rapat gudang itu sehingga tidak ada sedikit pun celah untukku mengintip isi dari gudang itu.

Aku pernah mencoba mengintipnya, tetapi yang terjadi malahan tanganku tergores duri itu. Aku meringis kesakitan sepanjang malam dan esoknya aku sembunyikan luka itu dari bapak. Aku tidak ingin bapak mengetahui luka akibat ulahku yang hendak mengintip isi gudang tersebut, bisa-bisa rotan andalan bapak mendarat lagi di tubuhku. Aku tidak ingin menderita sakitnya lagi.

Rasa penasaranku perlahan sirna. Meskipun masih ada sedikit di benakku, tetapi tidak sehebat dulu. Hari berganti hari, usia bapak semakin tua, begitu juga denganku. Aku sudah tumbuh menjadi dewasa yang menurut bapak berhasil. Aku bekerja di Bank bagian keuangan.

Tentu keberhasilanku ini tidak luput dari usaha bapak dan burung-burungnya. Untuk mengungkapkan rasa terima kasihku, aku yang menggantikan merawat burung-burungnya ketika bapak sakit. Bapak mengajariku banyak hal tentang burung. Ajaran itu menumbuhkan rasa suka padaku. Dunia perburungan aku tekuni. Setiap pulang dari kerja, aku langsung menuju kandang-kandang bapak yang tepatnya di samping gudang belakang rumah.

Namun bapak juga belum memperbolehkanku masuk ke gudang itu. Hanya bapak yang akan mengurus sendiri isi di dalam gudang itu. meskipun tubuhnya sudah tidak setegak dulu untuk berdiri, tetapi tetap saja bapak akan memaksakan diri untuk mengurus isi gudang itu setiap pagi dan sore.

Aku sudah tidak terlalu memusingkan lagi masalah itu. Toh aku juga senang bisa mengelola burung-burungnya sendiri yang mulai memberiku kebahagiaan dan hiburan baru untukku saat ini.

Mungkin andaikan di dalam gudang itu burung, maka suatu saat pasti bapak akan memberiku kesempatan untuk mengelola dan merawatnya, karena bapak mengatakan padaku cara merawat sama dengan cara merawat bapak. Katanya aku mengibaratkan burung-burung itu kekasih sehingga ketika memegangnya aku seperti sedang mengelus-elus punggung kekasihku. Sangat pelan, sangat teliti dan hati-hati.

Keanehan yang pernah aku ungkapkan, kini malah aku rasakan menjadi kebahagiaan yang selalu menuntunku agar tidak jauh-jauh dari burung-burung ini. “Jadi begini rasanya kebiasaan bapak dulu” batinku sembari tertawa-tawa sendiri karena geli membayangkan diriku menjadi seperti bapak.

Suatu waktu, sakit bapak semakin parah. Aku yang khawatir, langsung membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit bapak mendapatkan perawatan intens di UGD. Sakitnya sudah bukan sakit biasa lagi, begitulah kata dokter ketika aku sampai di rumah sakit dan bapak di bawa langsung ke UGD.

Tiga puluh menit aku menunggu. Akhirnya dokter keluar. Katanya bapak memintaku untuk masuk ke ruangan. Aku mengangguk, mengekor dokter masuk ke ruangan UGD.

“Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, Nak.” Bapak berkata serius sambil terbatuk-batuk.

“Ada apa, Pak?” Tanyaku dengan penuh hati-hati. Apakah bapak ingin memberiku wasiat? Atau semacam pesan terakhir? Tidak, aku tidak ingin itu terjadi. Aku berharap bapak sembuh dan menemani hari-hariku lagi.

“Bapak sudah mengajarkanmu cara merawat burung-burung itu kan, Nak?” bapak terbatuk lagi setelah mengucapkan kalimat itu. Namun kali ini batuknya agak parah, suster yang mengetahui itu segera mengambilkan segelas air putih.

“Iya, Pak, aku tahu.” Kesedihan mulai menyelimutiku ketika melihat bapak seperti itu. tanganku mengggenggam tangan bapak secara erat.

Sebelum bapak melanjutkan lagi. dokter meminta agar bapak beristirahat sejenak, baru diperbolehkan berbicara lagi. bapak menyetujui. Aku masih berada di ruangan itu dengan pakaian khusus.

Dokter dan suster meninggalkan kami. Katanya kalau ada apa-apa tinggal pencet bel saja. Dokter tidak keluar ruangan, hanya saja di kantor kecil yang ada di dekat pintu ruangan UGD.

“Tolong jaga burung-burung bapak. Jangan sampai burung-burung itu mati, Nak.” Bapak berujar lagi setelah merasa agak enakkan.

“Dan bapak ingin memberitahumu rahasia yang selama ini bapak sembunyikan darimu. Bapak merahasiakan ini bukan karena kamu tidak boleh tahu, tetapi karena waktunya saja belum tepat.” Bapak menambahi lagi, namun kali ini dengan derai air mata.

“Tentang isi gudang di belakang rumah, Pak?” Aku langsung bisa menebak.

Bapak mengangguk, “Sebenarnya isi gudang itu bukanlah burung-burung kesayangan bapak atau burung-burung istimewa yang hanya bapak ketahui. Tetapi di dalam gudang itu ada mayat ibumu yang bapak awetkan.” Tangisan bapak menjadi-jadi disaat aku terperangah mendengar penjelasan itu.

“Kenapa bapak melakukan itu?”

“Selama ini aku selalu membohongimu perihal ibumu Nak. Ibumu meninggal sejak usiamu dua tahun. Bapak tidak ingin menguburkannya karena bapak masih mencintai ibumu dan tak mau kehilangan ibumu. Bapak ingin ibumu dimakamkan bersamaan dengan dimakamnya bapak, Nak. Setiap pagi dan sore kenapa bapak masuk ke gudang itu? Karena bapak memandikan ibumu agar tubuh ibumu tetap utuh dan tidak menimbulkan bau.” Setelah mengucap itu bapak batuk hingga muntah darah. Aku menjerit, lalu memencet bel. Dokter dan suster datang menangani bapak.

Aku menangis, antara sedih, bingung, menyesal atau apalah bercampur menjadi satu di pikiranku saat ini. Tangisku semakin pecah ketika kondisi bapak semakin parah.

“Nak, mungkin sudah saatnya bapak dan ibumu dimakamkan bersamaan.” Bapak tersenyum lalu tiba-tiba tersedak, aku menangis karena dokter mengatakan kalau bapak telah meninggal.

***

Aku membuka gudang itu dan menemukan sebuah kamar dengan tempat tidur dan penghiasan seperti kamar pengantin. Dengan dibantu tetangga aku membopong jenazah ibu sambil terus-terusan menangis.

Prosesi pemakaman berlangsung. Bapak dan ibu dimakamkan berjejer di sebuah pemakaman yang tak jauh dari rumah. Tidak ada yang bisa aku perbuat lagi, selain menangis. (*)

Solo, 9 Februari 2020


=================
Khairul Anam nama panggilan dari Muhammad Khairul Anam. Lahir di Surakarta, 14 Februari 1998. Mahasiswa IAIN Surakarta. Aktif menulis Cerpen, puisi, dan resensi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Novel yang pernah di terbitkan: Cahaya-Nya(Oase Pustaka, 2016)

Allesandra dan Ksatria Bertapa

0


INGIN menghayati peran bidadari dalam tari “Begawan Mintaraga”, Allesandra menetap di padepokan. Ia sengaja tinggal di padepokan, ingin suntuk belajar menari pada Ki Broto. Lelaki muda itu telah menambat perasaannya. Allesandra, seperti menemukan tempat tinggal yang damai di desanya, di lereng Pegunungan Alpen, wilayah Italia. Ia menempati rumah klasik peninggalan leluhur, langit bergayut kabut es, dan di kejauhan membentang bayang-bayang salju puncak Mont Blanc.

Allesandra – yang diundang untuk melakukan restorasi lukisan keraton – tak pernah menduga bakal terdampar di lereng Gunung Merapi. Ia juga tak pernah menduga akan mengenal Ki Broto, lelaki muda pemilik padepokan dan seorang penata tari. Lelaki muda itu putra seorang dalang yang memiliki padepokan, penata tari, suka bermain musik, dan menghidupkan pergelaran seni di daerah sekitar lereng Gunung Merapi.

Dalam tari “Begawan Mintaraga”, Allesandra berperan sebagai seorang bidadari yang menggoda tapa Arjuna. Ada tujuh bidadari, seorang di antaranya Dewi Supraba. Dan peran yang dibawakan Allesandra tak begitu penting: hanya menggoda tapa Arjuna. Ksatria  itu tak pernah memudarkan tapanya. Allesandra ingin berperan sebagai Dewi Supraba, bidadari yang dapat meluruhkan hati Arjuna – yang diperankan Ki Broto. Sungguh memikat, Dewi Supraba dipersunting sebagai istri Arjuna.

Tak ada hal yang paling menarik bagi Allesandra, kecuali ia bisa menari, merasakan getar tubuh dan rasa keindahan, yang membangkitkan ketakjuban pada setiap gerak yang  diselubungi getaran gaib. Sungguh di mata Allesandra, setiap gerakan untuk menyentuh Arjuna yang hening bertapa, membuat jiwanya melayang di awan-awan dunia para dewa. Sejak ia dengar suara gamelan pertama kali di keraton Yogya mengiringi bedaya Arjuna Wiwaha, dan melihat pergelaran tari yang diperankan Ki Broto, sangat ingin datang ke padepokan  penari itu.

Tiap kali berlatih menari, Allesandra selalu menemukan kegairahan baru, gerakan yang bangkit dari dalam getaran rasa – sesuatu yang mengalir dari sanubari. Ia jadi sangat cepat bisa mengikuti gerak tari yang diajarkan Ki Broto. Tidak hanya menirukan gerak tari Ki Broto, melainkan juga menikmati kedalaman rasa dari tiap aliran darah di sekujur tubuhnya.

Tapi kenapa tiap kali Allesandra berpapasan dengan Laksmita, yang tiap pagi berkunjung ke padepokan, hatinya berdebar, seperti bakal tersingkir dari sisi Ki Broto? Ia mulai menimbang-nimbang: bagaimana cara merebut perhatian Ki Broto dari daya pikat Laksmita. Allesandra tak pernah bisa menduga: keakraban yang terjalin antara Ki Broto dan Laksmita. Apakah Laksmita calon istri Ki Broto? Allesandra diam-diam mengamati mereka. Ia menaruh curiga, bila gadis itu, yang jarang bicara, dan cenderung menghindar dari pergaulan, calon istri Ki Broto. Laksmita selalu dijemput pagi hari dan diantar pulang dengan mobil Ki Broto pada sore harinya.

                                                                  ***

HAMPIR larut malam, Allesandra mengikuti latihan tari “Begawan Mintaraga”,  merasa sangat menikmati kesunyian lereng Gunung Merapi, kabut yang mulai mengendap, dan suara belalang kecek di ranting pepohonan. Allesandra mencoba memahami kisah Arjuna sebagai pertapa untuk mencapai kesaktian dan memperoleh senjata dalam sunyi Goa Mintaraga, menampik kegairahan para bidadari yang menggoda. Mengapa menampik kegairahan bidadari untuk meluluhkan anugerah para dewa?

Allesandra yang memperoleh kesempatan bersama para penari dan penabuh gamelan, ketika Laksmita sudah pulang malam hari, sengaja  menggoda Ki Broto, “Apa memang Arjuna mesti kawin dengan Dewi Supraba?”

“Saya tak berani membuat kisah yang menyimpang.”

“Mengapa tak kau rancang sendiri sebuah tari yang meninggalkan kisah lama? Apa tak boleh mencipta tari, Arjuna kawin dengan salah seorang bidadari?”

“Mungkin suatu saat nanti, aku akan mencipta tari yang menyimpang dari kisah itu. Aku memerlukan keberanian untuk itu.”

“Kenapa tak kau coba mulai saat ini?”

“Mencipta tari serupa itu memerlukan banyak waktu, renungan, dan latihan. Aku juga memerlukan teman untuk merancang tari itu.”

Allesandra masih menimbang-nimbang untuk mendesak Ki Broto agar bercerita tentang pertapaan Arjuna, dan kesaktian sesudahnya: keperkasaan, ketangguhan, atau kemenangan pertempuran yang dicapainya. Allesandra kini mulai menyadari makna kesunyian lereng Gunung Merapi, dan mencari kepekaan hatinya sendiri. Justru rasa takjubnya pada Ki Broto, pemeran Arjuna, berkembang menjadi hasrat untuk memiliki lelaki itu. Tapi Ki Broto, yang membaca gelagat akan rasa takjub Allesandra, menenggelamkannya di bawah genangan kabut gunung. Allesandra seperti leleh terkena awan panas yang bergumpal dari puncak Gunung Merapi.

Di kamarnya Allesandra menenangkan diri. Mengambil kertas, mencoret-coret kertas itu, menuangkan segala harapan, kegundahan, dan kemasgulan-kemasgulannya. Terus ia menulis. Memuntahkan kegalauan hatinya. Ia memuntahkan perasaan-perasaan itu, yang tak mungkin diucapkannya. Ia masih terus menuliskan kegundahan itu. Kebiasaan ini dilakukannya dari semenjak ia kecil, kebiasaan bila ia marah pada seseorang. Ketika  ia tak memperoleh tanggapan seperti yang diharapkan, ia mencorat-coret kertas, dan membakarnya dalam api lilin.

Allesandra tak paham benar, apakah ia seorang yang tersesat dari tujuan semula sebagai seseorang yang diundang melakukan restorasi lukisan keraton. Ia didatangkan untuk menyelamatkan beberapa koleksi lukisan keraton – temasuk di antaranya lukisan Raden Saleh – dengan mengikuti goresan-goresan yang asali. Goresan-goresan lukisan itu memudar setelah lebih dari seratus tahun, kusam warna catnya. Saat ia menonton pergelaran tari bedaya Arjuna Wiwaha – yang melakonkan sultan –  di pendapa keraton, ia takjub, terkesima, bergetar, dan terpusat pada penari yang memerankan sultan. Pemeran sultan itu seorang perancang tari, yang memiliki padepokan di lereng Gunung Merapi. Ia kagum pada sang penari, Ki Broto, masih bujangan, yang tampak sangat tenang, agung, dan rendah hati. Di panggung ia begitu karismatis. Dalam kehidupan sehari-hari, ia jejaka kebanyakan. Ia tak menampakkan keagungan sebagaimana tampak di panggung.

Allesandra merasa sangat penasaran, ingin bisa menari, dan karena itu ia tak buru-buru kembali ke Italia ketika selesai merestorasi beberapa koleksi lukisan keraton. Ia berguru menari pada Ki Broto, tinggal di padepokan lereng Gunung Merapi, belajar menari, sesekali ia melukis. Ia ingin disertakan sebagai penari bidadari dalam “Begawan Mintaraga”, yang menggoda menggugurkan tapa Arjuna. Allesandra mulai melihat dan merasakan keagungan yang berbeda pada diri Ki Broto, ketika memerankan sultan dalam “Arjuna Wiwaha”, dan memerankan Arjuna dalam tarian “Begawan Mintaraga”. Kali ini Ki Broto memerankan ksatria  dengan penuh kesabaran, tangguh dalam pertapaan, unggul dalam peperangan melawan raja raksasa Niwatakawaca. Tarian ini sungguh memberi ekspresi beraneka wajah pada Ki Broto. Tarian ini memberi ekspresi pembebasan di panggung bagi lelaki muda itu.

Allesandra menunggu kesempatan untuk menyatakan keinginannya mendampingi hidup Ki Broto, bila pertunjukan tari sudah digelar di padepokan. Ia memang selalu mencurigai Laksmita, sebagai perempuan yang memiliki kedekatan jiwa dengan Ki Broto. Tapi Laksmita tak pernah manampakkan bakatnya menari. Perhatian Ki Broto pada gadis itu melebihi siapa pun. Pada Arum yang memerankan Dewi Supraba, perempuan yang sangat penuh daya pikat, Ki Broto tak pernah memberikan  perhatian mendalam. Allesandra tidak yakin benar bila Laksmita calon istri Ki Broto – lelaki yang memiliki keagungan sebagai pencipta tari dan penari.

Menempati salah satu kamar di padepokan Ki Broto, Allesandra kepalang memahami semua kebiasaan lelaki itu. Ki Broto biasa beranjak tidur hingga larut. Lelaki muda itu berlatih menari, menemukan gerak, dan menemukan kelembutan rasa bagian-bagian tariannya. Kadang lelaki muda itu menabuh gamelan, pelan, hening, menyentuh relung pagi. Kadang Ki Broto menghentak kendang, pelan, dan mencipta irama yang kadang dramatis, kadang jenaka.

Subuh dini hari Ki Broto sudah berada di sendang, mengambil air wudu, dan salat di surau kayu yang didirikan tak jauh dari sendang itu. Air pancuran mengucur di sendang yang gemericik, dan tangan yang dibasuh air pancuran, terdengar sampai ke kamar Allesandra. Ia membuka jendela: menatap ke arah sendang. Menatap Ki Broto yang tersenyum ke arahnya, dengan wajah terbasuh air wudu.    

                                                      ***

TARI “Begawan Mintaraga” yang dipergelarkan di padepokan Ki Broto disaksikan begitu banyak penonton yang berdatangan dari banyak kota yang jauh, tamu-tamu hotel, dan pecinta tari. Padepokan Ki Broto belum lama didirikan, dan senantiasa mempergelarkan tari, musik, dan pertunjukan seni rakyat yang diangkat dari masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi.  Selama tinggal di padepokan, ia telah menyaksikan begitu banyak pergelaran tari, musik, teater dan seni rakyat yang membuatnya takjub. Ki Broto tak pernah berhenti  mempergelarkan tari yang seringkali terbuka bagi masyarakat sekitar lereng Merapi.

Kali  ini pergelaran tari “Begawan Mintaraga” berada di gedung teater yang baru selesai dibangun di antara kawasan padepokan, yang senantiasa penuh selama tiga hari berturut-turut pertunjukan. Pada pergelaran hari ketiga, yang terakhir, Allesandra sampai batas penantian untuk menyatakan keinginannya tetap tinggal di negeri ini, mendampingi Ki Broto, tinggal di lereng Gunung Merapi, dalam kesunyian. Ia bisa melukis, menari, dan mendampingi Ki Broto mengelola padepokan.

Allesandra telah mendengar kisah tentang Laksmita dari para penari. Mereka  menggunjing Laksmita sebagai putri seorang preman, yang melakukan pelarian dari penembak misterius sampai lereng Gunung Merapi. Tiap hari di antara para penari membuka kisah tentang Laksmita, anak preman yang pernah memiliki pekarangan dan rumah di padepokan Ki Broto, sebelum ayahnya meninggal. Mengapa Ki Broto begitu dekat dengan Laksmita, putri seorang preman? Allesandra tak habis pikir. Ada sesuatu rahasia yang mesti dibongkar.

Riuh tepuk tangan penonton di akhir pergelaran tari “Begawan Mintaraga” yang gemuruh,  membuat jantung Allesandra berdegup keras. Inilah saatnya ia mesti mengungkapkan perasaannya pada Ki Broto, dan memutuskan nasibnya untuk terus menetap atau meninggalkan negeri ini. Ia bersandar nasib Ki Broto. Ia  menjadi gelisah berhadapan lelaki muda itu dan juga Laksmita, perempuan yang begitu tenang dan menaruh kepercayaan pada Ki Broto.

                                                            ***

PARA penari mengelilingi tumpeng. Duduk bersila di pendapa rumah Ki Broto. Para penari menanti menerima sepiring potongan nasi tumpeng dan ingkung ayam yang berbumbu pekat rempah-rempah. Ki Broto memimpin doa sebelum tumpeng itu dipotong. Di sisinya duduk Laksmita, tenang dan penuh keyakinan. Diakah itu, perempuan yang duduk tenang di sisi Ki Broto, sesungguhnya Dewi Supraba, yang merenggut hati Arjuna?

“Ini tumpeng selamatan kita atas sukses pentas “Begawan Mintaraga”. Sekalian minta restu, kami, saya dan Laksmita, bakal menikah!” kata Ki Broto tenang. Ia memotong tumpeng, mengambil gudangan, bergedel, dan sayatan daging ingkung ayam. Menempatkannya pada sebuah piring. Dipersembahkan sepiring potongan tumpeng itu pada Allesandra.

“Untuk Allesandra, semoga berkah, terimakasih sudah terlibat dalam pergelaran tari ini. Kalau kau masih berkenan tinggal di padepokan ini, kami akan sangat bahagia. Kau akan jadi penari ternama.”

Tangan Allesandra bergetar menerima sepiring tumpeng. Ia tak bisa berucap, sedih atau bahagia. Ia  segera meletakkan piring, beringsut ke arah Laksmita dan menyalaminya. Mencium pipi. Memeluk. Tubuhnya bergetar. Getaran yang sangat dahsyat dalam dada. Tak kan pernah dilupakan.

                                                           ***

Pandana Merdeka, Maret 2020        


====================
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”.  

Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa seperti Horison, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Bisnis Indonesia, Nova, Seputar Indonesia,  Suara Karya,  Majalah Noor, Majalah Esquire, Basabaasi.

Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Novel yang telah diterbitkannya dalam bentuk buku adalah Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009), Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Kumpulan cerpen yang segera terbit adalah Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020).  

Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Sungai di Wajah Ibu

0

           Sungai di wajah Ibu bermuara pertama kali sejak belasan tahun lalu, ketika kehilangan itu mempora-porandakan hidupnya. Sungai itu berasal dari ceruk matanya, mengalir perlahan melewati pipi dan berakhir menetes di ujung dagu. Air mata yang menetes akan senantiasa membasahi dada dan pangkuannya. Dari balik jendela kamarnya, Ibu tak pernah lelah menunggu meski yang ditunggu tak kunjung kembali. Pagar rumah sudah berkali-kali diganti dengan yang baru, tapi kaki yang diharapkan melintasinya tak pernah datang.

            Air mata Ibu selalu mengalir seperti anak sungai yang membelah lembah. Setiap hari, setiap waktu. Dari atas kursi rodanya, Ibu akan selalu menatap keluar jendela dengan penuh harapan, penuh penantian yang tak kunjung usang. Dia setia menunggu. Setia berdoa kepada Tuhan, meski selama belasan tahun itu juga doanya tak kunjung terjawab.

            “Jika kau sudah lelah berpetualang, Nak. Pulanglah …”

            Satu kalimat itu yang selalu diucapkan Ibu di sela-sela penantiannya. Bibirnya yang memucat akan bergetar hebat tatkala mengucapkan kalimat itu. Lalu, sungai di wajahnya akan mengalir di kerut-merut wajahnya. Di ambang pintu, aku hanya menatap Ibu secara diam-diam. Pemandangan itu sudah aku akrabi sejak bertahun lalu.

***

            Aku masih ingat betul kejadian itu. Awal sebab Ibu memiliki sungai di wajahnya. Kejadian itu sudah belasan tahun lalu, tapi aku sangat mengingatnya. Andai belasan tahun lalu kakakku Aswin tak hilang, mungkin Ibu tak perlu merajut penantian yang sedemikian panjangnya hingga detik ini. Dan sungai yang berasal dari kedua ceruk matanya tak perlu mengalir saban hari.

            Tak ada tanda-tanda bahwa kami akan kehilangan Aswin pagi itu. Segala sesuatunya berjalan seperti biasanya. Aswin dengan semangat mudanya menyiapkan diri untuk kuliahnya. Aku masih kelas satu sekolah menengah pertama saat itu. Kakakku Aswin adalah manusia yang semangat, ia begitu menginginkan kebebasan dalam wujud demokrasi dan sebagainya. Meski jiwanya ingin bebas seperti burung yang lepas dari sangkar, tapi dia amatlah patuh kepada Ibu. Malam itu aku melihat kakakku memeluk Ibu. Seakan-akan mereka tak akan bertemu dalam waktu yang lama.

            Hari selanjutnya, kami memang kehilangan Aswin. Kakakku menghilang, dan tak kembali. Seminggu setelah Aswin menghilang, Ibu berkeras mencarinya ke kota. Semenjak ayah meninggal, Ibu yang memegang kemudi rumah tangga. Tatkala Aswin menghilang, maka Ibu seakan memiliki kewajiban mencarinya.

            Namun nyatanya kota tak ubahnya petaka saat itu. Semua sudut terlihat kacau. Bangunan-bangunan dihancurkan, toko-toko dijarah, gedung-gedung dibakar. Banyak orang-orang berteriak sepanjang jalan sembari merusak apa saja yang mereka temui. Mobil-mobil di sepanjang jalan digulingkan lalu dibakar beramai-ramai. Perempuan-perempuan berteriak ketakutan dikejar pria-pria buas yang memburu mereka secara membabi buta. Penjarahan, tindakan-tindakan vandalisme sampai pemerkosaan terjadi di mana-mana. Banyak orang yang terperangkap dalam kungkungan api turut tewas terbakar.

            Aku menggelepar ketakutan. Kota yang kami datangi tak aman. Tapi dengan tegar dan berani, Ibu bersikukuh untuk mencari Aswin. Para petugas keamaan menghimbau agar kami segera menyingkir. Tapi Ibu tetap maju, dia mencari Aswin di setiap sudut kota. Tapi kami tak menemukan Aswin, bayang-bayangnya pun tak terlihat.

            Ketika lelah mencari mendera, Ibu baru memutuskan pulang. Kota yang rusak kami tinggalkan, meski di sepanjang perjalanan aku menggigil di atas angkutan kota. Ibu bergeming, wajahnya membeku.

            “Bagaimana kalau anakku mati karena orang-orang yang marah itu? Bagaimana kalau dia menjadi salah satu korban yang dibakar?” Suara Ibu terdengar di tengah bisingnya suara angkutan kota yang mendengus-dengus di atas jalanan.

            “Apa Bang Aswin benar dibakar, Bu?” Aku menggigil membayangkan kejadian di kota tadi.

            “Orang-orang yang marah itu sedang hilang ingatan, Muni. Mereka bisa merusak dan membakar apa saja yang mereka mau,”

            Aku tak ingin mengangguk atau menggeleng. Sejujurnya aku bingung dengan jawaban Ibu. Ibu mengatakan bahwa orang-orang yang merusak kota itu sedang hilang ingatan dan marah. Tapi aku melihat mereka berteriak-teriak mengagungkan nama Tuhan ketika marah tadi.

            “Mereka tadi juga menyebut nama Tuhan, Ibu. Saat mereka menggulingkan mobil dan membakarnya. Juga saat menyerang orang-orang yang mereka anggap berbeda,” aku semakin erat menggenggam tangan Ibu. Tangan Ibu terasa begitu dingin dan berkeringat.

            “Tuhan tak bisa dijadikan tameng ketika marah, Muni. Karena Tuhan terlalu suci untuk disentuh amarah. Mereka hanya mencoba meredam dosa mereka sendiri, meski itu hal yang percuma. Kita terlahir berbeda bukan untuk saling membenci, Muni,” Ibu menatap keluar lewat jendela angkutan kota. “Saat ini kita tak perlu meributkan mereka yang pemarah itu, mereka punya dunia yang berbeda dengan kita. Kita cari kakakmu saja, karena tak seharusnya dia pergi tanpa kabar seperti saat ini.”

            Aku mengangguk. Benar kata Ibu, yang kami perlukan hanyalah mencari keberadaan Aswin. Kakakku benar-benar menghilang tanpa kabar. Satu demi satu teman-temannya ditanyai Ibu, tapi tak ada satu pun yang tahu kemana Aswin pergi. Terakhir Aswin terlihat di kampusnya, setelahnya tak ada lagi yang melihatnya.

            “Kenapa Bang Aswin bisa hilang, Ibu? Dia orang baik kan? Penurut juga,” aku bertanya ketika sudah berbulan-bulan tak ada kabar tentang Aswin.

            “Aswin terlalu banyak bicara, Muni. Abangmu itu terlalu jujur menjadi orang. Terlalu keras kepala sebagai seorang pemuda. Andai dia banyak bungkam seperti yang lain, mungkin dia tidak perlu hilang,” Ibu menatapku dalam-dalam. Dari kedua matanya yang semakin redup, aku tahu bahwa Ibu sangat lelah.

            “Ibu menyesal karena Bang Aswin banyak bicara?” Aku memijat punggung tangan Ibu yang jauh lebih kurus dibandingkan beberapa waktu sebelum Aswin hilang.

            “Ibu tak pernah menyesal memiliki anak seperti Aswin. Dia berani berbicara karena memang cakap dan paham dengan apa yang dia ucapkan. Tapi, ibu hanya menyesali, kenapa ada orang-orang yang berbuat curang kepadanya, membawanya pergi dan tak mengijinkannya kembali. Atau andai dia pergi atas kehendaknya sendiri, betapa pengecutnya abangmu itu, Muni.”

            Aku membenarkan ucapan Ibu. Andai benar Aswin pergi lantaran keinginannya sendiri, betapa pengecutnya dia, membiarkan aku dan Ibu bersusah payah mencarinya. Tapi, andai dia dibawa pergi orang dan tak diizinkan untuk pulang, betapa kejinya orang yang membawanya pergi. Lantaran mereka ada seorang Ibu yang terperangkap dalam rindu dan penantian yang tak pasti.

            Ibu masih bersemangat mencari Aswin, meski hitungan bulan sudah menyentuh tahun. Ibu dengan sabar menyebarkan info tentang hilangnya Aswin. Kantor polisi sudah didatangi. Selebaran-selebaran tentang info hilangnya Aswin ditempelnya di tiang-tiang listrik, di papan pengumuman gardu di kampung-kampung, sampai di pintu-pintu warteg. Tapi tak ada satu pun kabar yang diterima Ibu tentang Aswin. Abangku itu seakan hilang, lenyap ditelan bumi.

            Pencarian Ibu terhenti ketika pengapuran mendera kedua lutut kakinya. Kaki Ibu tak bisa digunakan seperti dulu. Sehari-hari Ibu hanya menghabiskan waktu di atas kursi roda. Meski kakinya tak bisa lagi menyusuri jalan-jalan di kota dan gang-gang kampung untuk mencari kabar Aswin, tapi Ibu tak berhenti menunggu. Di balik jendela kamarnya, Ibu selalu bersemangat memohon dan berdoa agar anaknya dikembalikan. Mengetuk belas kasih Tuhan agar anaknya yang hilang segera dipulangkan.

***

            Kini sudah belasan tahun Ibu menunggu. Tak hanya wajahnya saja yang dipenuhi kerut-merut lantaran digerus usia. Kedua matanya yang dulu bersorot penuh percaya diri menuntut keadilan untuk anaknya yang hilang kini berubah kelabu, seiring warna rambutnya yang memutih. Tangannya yang dulu tak lelah mengetuk pintu untuk sekadar menanyakan keberadaan Aswin kini selalu bergetar.

            “Sudah berapa lama abangmu hilang, Muni?” Suara lemah Ibu terdengar. Memang sudah beberapa waktu ini aku kehilangan suara Ibu yang tegas dalam kelembutan seorang wanita. Kini, hanya suara lemah yang terkadang bahkan tak  terdengar di telingaku yang bisa dia ucapkan.

            “Sudah cukup lama, Ibu. Sudah belasan tahun,” aku menjawab sembari menatap mata Ibu.

            “Dia benar-benar tak ingat pulang rupanya,”

            “Bang Aswin bukannya tak ingat pulang, Ibu. Mungkin dia memang tak diijinkan pulang,”

            “Terkadang ibu berpikir, Muni. Tidak rindukah dia kepada kita?”

            “Abang pasti rindu, Ibu. Hanya saja mungkin dia belum bisa kembali menemui kita.” Aku menggenggam erat tangan Ibu.

            Ibu hanya mengangguk samar, kedua matanya dipejamkan. Perlahan aku berdiri meninggalkannya. Tapi ketika sampai di ambang pintu kamar, aku mendengar suara Ibu yang lirih.

            “Jika sudah lelah berpetualang, Nak. Pulanglah, ibumu ini tak akan marah jika kau kembali ke rumah.”

            Lalu sungai di wajah Ibu mengalir lagi, dari ceruk matanya, turun ke pipi lalu berakhir di ujung dagu. Tetesan air mata itu membasahi dada dan pangkuannya. Aku hanya menatap Ibu dari ambang pintu, bagiku sungai di wajahnya bukanlah hal baru.[]

======================

Artie Ahmad lahir dan besar di Salatiga. Beberapa cerpennya dimuat media massa, dan sampai saat ini dia memiliki empat buku. Buku terbarunya ‘Sunyi di Dada Sumirah’ Penerbit Buku Mojok, Agustus 2018 dan kumpulan cerita pendek ‘Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri’ Penerbit Buku Mojok, Januari 2019.

Tas Rotan di Tangan Sukap

0



Tas rotan berpelipir hiasan lokan dan manik itu sudah tiga hari ada di tangan Sukap. Isinya tetap utuh; dua lingkar cincin emas dan beberapa lembar uang kertas berjumlah tiga ratus ribu rupiah. Ia menemukan tas itu di depan sebuah toko bekas, tempat dirinya biasa istirahat saat lelah mengemis.

Sukap sudah mengumumkannya dengan berbagai cara, ditulis di selembar kertas dan ditempel di tempat-tempat umum, dituturkannya dari mulut ke mulut, hingga minta bantu takmir masjid untuk diumumkan lewat pengeras suara. Terakhir, ia minta seorang pemuda untuk megumumkannya di media sosial. Tapi barang itu tetap tak diparani oleh tuannya.

Setelah sebulan tak ada yang memarani, Anis, istri Sukap mulai menyarankan agar cincin dan uang yang ada di dalam tas itu segera diambil.

“Barang itu kan sudah sebulan ditemukan dan diumumkan, Mas. Jika memang tidak ada yang mengakuinya, berarti barang itu sudah milikmu,” istrinya  meyakinkan Sukap untuk mengambil barang temuan itu, pelan tangannya memungut satu cincin di dalam tas itu, dan mencobanya di jari manis.

“Tidak! Aku tak ingin mengambil hak orang. Barang ini harus kuumumkan hingga purna satu tahun, sebagaimana aturan Islam. Jika satu tahun tak ada yang mengakuinya, aku akan menyerahkan uang dan cincin ini ke panti yatim,” jawab Sukap dengan nada tegas.

“Jadi Mas Sukap tak akan mengambil barang temuanmu ini?” istri Sukap melirik tajam.

“Tidak. Aku tidak akan mengambilnya.”

Istri Sukap lekas melepas cincin yang dicobanya dan menaruh begitu saja di atas meja. Wajahnya memerah. Ia menuju kamar dengan langkah yang cepat, dan menutup pintu keras sekali, hingga pintu yang terbuat dari bambu itu, bagian pojoknya patah, berhambur di lantai.

###

Supat melipat bibir bawahnya ke dalam, rasa haus menimbulkan bunyi mirip air mendidih dari dalam tenggorokannya. Sejak pagi hingga menjelang zuhur, ia hanya sempat minum air, seusai subuh, sebelum dirinya berangkat mengemis. Air yang diambil dari lambung gentong tua bermulut patah itu, ia bayangkan menjadi nasi, demi menyiasati peruntnya agar tak berbunyi.

Seperti biasa, setelah berkeliling di sekitar pasar Anom, ia akan istirahat di sebuah emperan toko bekas, duduk bersandar pada hamparan pintu kayu, sembari melihat lalu-lalang kendaraan, atau kadang menghitung hasil mengemisnya selama setengah hari yang ditampung dalam kantong kain lusuh.

Sukap menguap dan mengucek matanya yangtampak lelah. Ia kembali menyimpul ujung kantong kain lusuh berisi uang receh itu, lalu ditaruh sebagai bantal saat dirinya rebah. Tas rotan yang juga biasa ia bawa, ditimang di atas dadanya, isi yang ada di dalamnya terdengar  samar sedang bergulir-gulir.

Sembari mengamati tas itu, Sukap teringat kepada istrinya di rumah, betapa ia sangat mengharap tas rotan dan isinya itu jadi mililknya. Sejak kemarin ia bahkan mengancam akan kabur jika Sukap tetap tak mau mengambil barang temuannya itu. Sukap pun mulai berpikir, seandainya uang dan cincin itu ia ambil, maka jumlah uang yang ia miliki akan jauh lebih banyak dari hasil tujuh hari mengemis.

Sukap lalu tengkurap, tas rotan itu masih di tangannya, ia amati dengan teliti, bagian samping yang bercelah halus dan rapi, bagian bawahnya beralas tempelan kain songket hijau berjahit sejajar dan teratur. Sukap pun mulai sedikit tergoda untuk mengambilnya. Tapi ia tetap bimbang, khawatir suatu saat pemiliknya datang dan mengambil tas itu lagi. Kadang Sukap beranggapan, tas itu tas ajaib yang memang dikirim malaikat untuk dirinya.

“Jika tas ini kuambil, maka dua keuntungan yang bisa kudapatkan. Pertama, aku punya uang dan cincin. Kedua, istriku akan bahagia dan tidak akan meninggalkanku,” Sukap membatin. Bibirrnya memincuk senyum.

“Tapi, kata guru ngajiku, jika barang temuan yang tidak sampai satu tahun diambil oleh si penemu dan orangnya tidak rida, maka si penemu sama dengan pencuri, ia akan makan uang haram, dan haram itu adalah neraka,” Sukap bergidik, ia menyentuhakan ujung dagunya ke lantai, lurus dengan tas rotan yang dipegang, matanya masih mengamati tas itu dengan teliti.

Sukap memilih lebih baik lapar daripada kenyang dari hasil menjual milik orang lain.

Pikiran Sukap terus melayang, hingga teringat masa kecilnya, tentang almarhum ibunya yang bekerja sebagai penjual sayur. Dulu, ibu Sukap selalu menenteng tas rotan setiap kali pergi ke pasar menjual sayur. Tas itu ia gunakan untuk menyimpan uang dan aneka barang bawaan. Suatu hari, tas itu hilang beserta sejumlah uang yang ada di dalamnya. Pengumuman disebar ke berbagai tempat. Pencarian pun dilakuan, tapi hasilnya sia-sia. Tas itu tetap tak ditemukan. Di detik-detik sebelum mengembuskan napas terakhirnya, ibunya sempat berbisik kepada Sukap, jika suatu saat tas itu ada yang mengembalikan, uang yang ada di dalamnya suruh kasih kepada si penemu dan tas rotan itu jadi milik Sukap. Tapi setelah ibunya meninggal, tak ada yang mengembalikan tas itu. Kini Sukap menduga, tas yang ditemukan dirinya itu kemungkinan tas milik ibunya yang pernah hilang, walau ia juga bimbang, karena mata uang yang ada di dalamnya adalah keluaran baru, lagi pula tas milik ibunya tak berisi cincin.

Sukap bangkit, duduk bersandar kembali ke hamparan pintu kayu, wajahnya tampak didera rasa letih, matanya yang temaram memandang paksa lalu-lalang kendaraan, sesekali ia menguap dan punggung tangannya menggosok pelan bibirnya yang kering. Dan di sela suara keriuhan kota itu, bunyi perutnya terdengar lagi.

Ia memutuskan pulang untuk menemui istrinya. Tas rotan itu ia jinjing, satu genggam dengan kantong lusuh miliknya, seolah dirinya sedang membawa barang yang bisa mengantarkannya ke surga, atau ke neraka.

###

Hari  itu, di rumah bambu yang dibedaki pintalan jaring laba-laba, Sukap purna merasakan luka. Ia duduk lemas pada kursi lapuk yang dijalar sarang rayap, air matanya merembes, menuruti jalur garis keriput pipinya yang tirus. Selain perutnya yang lapar, ditambah satu beban lagi, istrinya kabur dan hanya meninggalkan selembar kertas berisi tulisan, bahwa ia sudah tidak kuat dengan kemiskinan Sukap, ia juga tidak kuat dengan sikap jujur Sukap yang menurutnya kian menambah penderitaannya.

“Andai tas rotan beserta isinya itu Mas Sukap ambil, pasti aku tak akan kabur,” begitu baris kalimat terakhir dari surat yang ia tulis dengan huruf berlarik penuh tikai mirip cacing.

Sukap meraba tas rotan yang ada di sampingnya. Memandanginya sejenak, terbersit keinginan untuk membuang barang sial itu ke sebuah sungai di perbatasan dusun, ia rasa hal itu adalah jalan tengah yang bisa menyelamatkan dirinya dari dosa dan  petaka.

Ia berencana akan membuang tas itu di sungai Jumari, lewat jalur selatan yang menghubungkan liuk jalan setapak ke sebuah pemandian hewan ternak yang biasanya sangat sepi jika pagi hari. Setelah tas itu dibuang, ia akan mencari istrinya, dan jika bertemu si istri ia akan bilang jika tas itu sudah diambil pemiliknya.

###

Akhirnya tangan Sukap pasrah melempar tas rotan ke sungai. Tas itu terombang-ambing dipermainkan arus, timbul-tenggelam, dibenturkan ke punggung batu, kadang tersangkut rimbun ujung pandan, sebelum akhirnya lepas dijerat arus.

Sukap memandangnya dari atas tebing sungai, ia bersedekap karena kepungan angin pagi sangat dingin, ditambah lumatan embun yang digesekkan rumput ke datar betis dan kakinya. Ia berdiri ditemani bayangannya sendiri. Matanya tetap terpaku ke arah tas rotan yang dibawa arus. Ia membayangkan cincin dan uang di dalamnya telah habis diretakkan air. Sukap tersenyum, satu tugas ia rasa sudah selesai dilaksanakan dengan baik.

Sukap menarik napas panjang, mengelus-elus dagunya, dan sejenak menatap matahari.

Tiba-tiba saja sekelompok orang datang dari belakang, beramai-ramai, berlari-lari. Dua di antaranya berjenis kelamin perempuan, satu sedang menunjuk ke arah Sukap, yang satunya terus memberi isyarat kepada para lelaki yang ada di belakangnya untuk terus maju. Sukap membalikkan badan dengan tangan, memastikan gerangan siapa yang datang.

“Itu dia lelaki yang telah mencuri tas ibu,”

Sukap terkejut, ternyata perempuan yang menunjukkan keberadaan dirinya adalah istrinya sendiri yang tiga hari terakhir kabur.

“Ternyata kamu, Nis. Tapi maaf bapak-bapak dan ibu-ibu, saya tidak mencuri tas itu, saya hanya menemukannya, dan sejak enam bulan yang lalu saya sudah mengumumkannya,” jawab Sukap tegas.

Semua terdiam.

Perempuan si pemilik tas rotan itu mendekat perlahan ke arah Sukap. Sepasang matanya tak berkedip, seolah menayangkan kilasan sebuah kisah masa lalu yang rahasia. Perempuan itu berhenti di depan Sukap.

“Kamu anak Bu Saura kan, penjual sayur itu?”

“Benar, Bu!”

Perempuan itu perlahan jongkok sambil meneteskan air mata, lalu memeluk lutut Sukap dengan tangis yang keras. Semua mata terperanjat menatapnya.

“Tas rotan itu memang milik ibumu, dulu aku sengaja mengambilnya saat keadaan hidup terdesak, beruntung tas itu tak jadi kujual. Sejak dulu, aku memang berusaha untuk mengembalikannya ke Bu Saura atau ahli warisnya. Maafkan aku, Nak!”

Sukap menoleh ke arah tas yang dibuang itu, ke bagian hilir sungai yang dirimbun semak dan daun pandan, tas itu sudah lenyap, seperti menempuh jalan pergi, ke pangkuan ibunya di alam sunyi.

Gaptim, 2019


=====================

A. Warits Rovi adalah Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura, Sumenep Madura. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal  antara lain: Kompas, Tempo, Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018).  

Dialog Antar Orang Mati

0


Lelaki itu tiba lebih cepat dari selatan Inggris pada suatu pagi di musim dingin tahun 1877. Dia pria merah, atletis, namun berat badannya berlebihan. Tidak dapat dipungkiri, hampir semua orang berpikir bahwa ia orang Inggris, dan memang dia terlihat mirip seperti John Bull. Dia memakai topi bowler dan berjubah wol dengan celah di tengah. Sekelompok pria, perempuan, dan bayi telah menunggunya dengan cemas ; banyak dari mereka memiliki garis merah di tenggorokan, lainnya tanpa kepala dan berjalan ragu-ragu dengan langkah yang menakutkan, seakan meraba-raba menembus kegelapan. Sedikit demi sedikit, mereka mengelilingi orang asing itu, dan dari belakang kerumunan seseorang berteriak mengutuk, tapi teror yang lama menghentikan mereka dan mereka tidak berani melangkah lebih jauh. Dari tengah, seorang prajurit kulit pucat dengan mata seperti bara api melangkah ; rambutnya yang panjang kusut, dan janggutnya yang murung tampak memenuhi wajahnya ; sepuluh sampai dua belas luka mematikan ada di sekujur tubuhnya, seperti garis-garis pada kulit harimau. Ketika ada yang datang melihatnya, dia memucat, tapi melangkah maju dan mengulurkan tangan.

     “Betapa menyedihkan melihat seorang prajurit direndahkan oleh aparat pengkhianat!” katanya dengan penuh wibawa. “Dan lagi kepuasan yang luar biasa telah memerintahkan bahwa para penyiksa dan pembunuh menebus kejahatan mereka pada perancah di Plazade laVictoria!”

     “Jika itu Santos Pérez dan Reinafé bersaudara yang kamu maksud, yakinlah bahwa saya sudah berterima kasih pada mereka,” kata lelaki berdarah itu dengan serius.

     Laki-laki lain memandangnya seolah mencium ancaman, tetapi Quiroga melanjutkan:

     “Kamu tidak pernah mengerti saya, Rosas. Tapi bagaimana kamu bisa mengerti saya, jika hidup kita sangat berbeda? Nasibmu adalah memerintah di kota yang menghadap ke Eropa dan suatu hari akan menjadi salah satu kota paling terkenal di dunia. Dunia saya berperang melintasi kesendirian di Amerika, di negeri miskin yang dihuni oleh para pedagang miskin. Kerajaanku adalah salah satu tombak, teriakan, tanah terlantar berpasir, dan kemenangan rahasia di tempat-tempat terkutuk. Apa itu seperti klaim yang terkenal? Saya hidup dalam ingatan orang-orang — dan akan terus tinggal di sana selama bertahun-tahun — karena saya dibunuh dalam kereta kuda di tempat yang disebut BarrancaYacoby oleh sekelompok pria dengan pedang dan kuda. Saya berhutang budi padamu atas kematian yang kesatria, yang tidak bisa kukatakan saat itu, tetapi generasi berikutnya enggan untuk melupakannya. Anda pasti akrab dengan litograf primitif tertentu dan karya sastra menarik yang ditulis oleh seorang yang layak dari San Juan?”

     Rosas, memulihkan ketenangannya, memandang lelaki itu dengan jijik.

     “Kamu orang yang romantis,” katanya sambil mencibir. “Sanjungan anak cucu tidak lebih berharga dari sanjungan orang sezamannya, yang tidak bernilai apa-apa, dan dapat dibeli dengan sekantong uang receh.”

     “Saya tahu bagaimana kamu berpikir,” jawab Quiroga. “Di tahun 1852 takdir bermurah hati, serta ingin menyelami kamu sangat mendalam, menawan kematian pria-pria dalam pertempuran. Kamu telah menunjukkan dirimu sendiri tidak layak menerima hadiah itu, karena perkelahian, pertumpahan darah, membuatmu takut.”

     “Membuatku takut?” ulang Rosas. “Saya telah menjinakkan kuda hitam di selatan, dan kemudian menjinakkan seluruh negara.”

     Untuk pertama kalinya, Quiroga tersenyum.

     “Saya tahu,” dia berkata pelan, “dari kesaksian tidak memihak prajurit Anda dan kedua perintah Anda, bahwa Anda melakukan lebih dari satu giliran balik yang menakjubkan, tetapi kembali pada masa itu, melintasi AS—dan menunggang kuda juga—ketakjuban lainnya dilakukan di tempat bernama Chacabuco dan Junin dan Palma Redondo dan Caseros.”

     Rosas mendengarkan tanpa ekspresi, dan menjawab.

     “Saya tidak perlu berani. Salah satu ketakjuban milikku, seperti yang Anda katakan, adalah untuk mengelola serta meyakinkan pria pemberani, saya berjuang dan mati untuk diri saya sendiri. Santos Perez contohnya, yang lebih sepadan untukmu. Keberanian sangat mendukung ; beberapa pria bertahan lebih baik dari yang lain, tapi cepat atau lambat, setiap orang menyerah.”

     “Itu mungkin,” kata Quiroga, “Tapi saya sudah tinggal dan saya sudah mati, dan sampai hari ini saya tidak tahu apa itu takut. Dan sekarang saya pergi ke tempat di mana saya diberikan wajah baru dan takdir baru, karena sejarah lelah dengan pria kejam. Saya tidak tahu siapa pria selanjutnya, apa yang akan dilakukan terhadapku, tapi saya tahu saya tidak akan takut.”

     “Saya puas jadi diri sendiri,” kata Rosas, “dan saya tidak ingin menjadi orang lain.”

     “Batu tetap terus jadi batu, selalu, selama-lamanya,” jawab Quiroga. “Dan selama berabad-abad mereka batu—sampai mereka hancur jadi debu. Ketika saya pertama kali masuk ke dalam kematian, saya memikirkan caramu, tapi saya sudah belajar banyak hal di sini sejak itu. Jika kamu perhatikan, kita berdua sudah berubah.”

     Tapi Rosas tidak memperhatikannya,  dia hanya melanjutkan, seolah berpikir keras, “Mungkin saya tidak bisa mati, tapi tempat ini dan percakapan ini sepertinya tampak mimpi bagiku dan bukan mimpi yang hanya sekadar mimpi, juga. Lebih seperti mimpi yang diimpikan orang lain, seseorang belum dilahirkan.”

     Lalu percakapan mereka berakhir, karena saat itu seseorang memanggil mereka.*

Diterjemahkan dari edisi berbahasa Inggris berjudul, “A Dialog Between Dead Men” yang ada pada antologi Jorge Luis Borges, Collected Ficciones, diterjemahan dari bahasa Spanyol oleh Andrew Hurley. Alih bahasa Indonesia oleh Risen Dhawuh Abdullah.


======================
Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Magrib dan Sebuah Pertikaian

0

Setengah bulan yang lalu aku disambut baik oleh warga setempat di lembah kendeng, desa yang ditutup oleh bukit kendeng, tempat pabrik semen itu beberapa bulan yang lalu mulai beroperasi menggeruk batu kapur dari tubuhnya. Magrib mulai samar-samar, karena cahaya lampu di arah barat bukan lagi cahaya dari mentari yang turun di ufuk Barat, tapi cahaya lampu pabrik yang menyala di malam hari. Jadi, cahaya magrib tampak sepanjang malam, terlihat dari lembah kendeng.

Tak banyak yang tahu bagaimana kehidupan orang lembah kendeng, karena daerahnya memang jauh dari desa-desa maju lainya. Apalagi bukit kendeng seperti pagar tinggi yang menghalangi pandangan seseorang pada desa terpencil ini. Pak Mudin yang bersamaku saat ini bercerita jika Desa mereka memang masih tertinggal. Apalagi persoalan pendidikan, terutama pendidikan keagamaan.

“Pemuda yang saya kader semuanya pada keluar dari desa ini kok, Mas. Makanya di sini sepi. Pelajaran agama geh ngene iki. Hanya belajar membaca al-Qur’an, itu pun tidak fasih.” Cerita Pak Mudin kepada saya dan teman-teman yang duduk bersila di hadapannya. Pak Mudin adalah seorang santri Alumni Lasem. Dia salah tokoh agama yang disegani di desa ini.

“Iya, mereka antusias lho, Pak.”

“Sesuatu yang baru bagi seseorang memang asyik. Saya saja mendengar puji-pujian apik seperti tadi di loudspeaker, yang asalnya capek sepulang dari ladang, menjadi semangat.” Katanya. Wajahnya nampak benar-benar bahagia. “Teringat masa lalu ketika di pondok, Mas.” Lanjut Pak Mudin.

“Saya lihat ada satu anak yang rajin dan pintar di sini, Pak.”

“Siapa?”

“Si Didik itu.”

“Owh yang sering adzan itu?”

“Iya.”

“Dia sebenarnya asalnya ngaji di Musollah di sebelah Barat sana, Mas. Dia orangnya rajin memang. Kesayangan Pak Mar.”

“Maksudnya sekarang pindah?” Celetuk teman saya.

“Iya.” Pak Mudin melepaskan pandangan ke luar masjid. Seakan ada sesuatu yang masih disimpan.

“Lho kok bisa?” Aku penasaran.

“Ceritanya panjang.” Jawab Pak Mudin pendek.

Aku tidak bisa menelusuri alur ceritanya lagi dari Pak Mudin malam ini, sepertinya dia tidak ingin bercerita apa-apa. Yang kutahu, Musollah itu sekarang memang sepi. Tak ada adzan dan kegiatan apapun.

Anjing milik warga mulai menggonggong sedang menyapa anjing-anjing yang lain untuk segera waspada jika ada orang berjalan tengah malam. Warga di lembah kendeng ini masih menggunakan anjing sebgai satpam rumah. Sebentar lagi akan beranjak pukul sembilan malam, warga akan menutup pintu untuk segera tidur.

Pak Mudin pamitan. Aku dan teman-teman juga segera pulang ke pondokan. Malam hari, tidak baik masih ada di luar rumah di desa ini. Seperti suatu hal yang asing.

Aku pulang sembari berpikir kenapa Didik sampai pindah dari Musollah ke Masjid. Apa karena kemauannya sendiri atau faktor lain.

“Aku mendengar dari Ibu Fatimah katanya persoalan pemilihan kepala desa.” Di tengah perjalanan Joko, temanku yang asli Jawa itu tiba-tiba nyeletuk, memberi tahu.

“Ibu Fatimah Ketua Forum Anak Desa itu?”

“Iya.”

“Kau lihat TPQ di sebelah utara pondokan kita itu. Mati tak dipakai kan?”

Aku tidak menjawab. Tapi Joko sudah tahu jika aku mengiyakan karena semua teman-temanku sudah tahu perihal itu. TPQ pindah ke Musollah dukuh atas.

“Memang tidak di mana-mana, persoalan pemilihan kepala desa membuat beberapa warga jadi saling berselisih.” Pungkasku, sebelum kami masuk ke pondokan.

“Tapi ya, paling nanti reda sendiri.”

Percakapan pun ditutup. Malam mulai mencekam. Gongongan anjing beberapa kali terdengar di dekat pondokanku.

***

“Aku punya ide.” Kataku pada Joko. Joko yang bermain Handphone berlagak tak memperhatikanku. Dia mungkin sudah mengerti apa yang akan aku bicarakan. “Ajak Didik untuk kembali ke Musollah.”

Joko terperanjat. “Bukan hanya persoalan Didik. Orang tuanya juga terlibat di dalamnya.”

“Jika Didik kembali ke tempat semula apa yang akan terjadi coba?”

“Aku tahu.”

“Lantas?”

“Persoalan itu tidak bisa diselesaikan secara singkat.”

“Tapi aku tidak ingin Didik ikut menjadi korban.”

Tak ada kesepakatan antara aku dan Joko. Aku pun memutuskan pergi ke rumah Didik. Ingin mengajaknya datang ke musollah Pak Mar.

Pagi ini, aku tergerak untuk beranjak dari pondokan. Dalam hati, aku ingin pergi ke rumah Didik saja, membujuknya agar nanti pergi ke Musollah bersama-sama. Iya. Aku pun berangkat ke rumah Didik. Kebetulan hari Minggu adalah hari libur SD. Didik pasti ada di rumah. Aku mengambil motor dan segera pergi.

Tak lama, aku sampai di depan rumah Didik yang berpagar besi. Didik termasuk orang berada di antara warga yang masih mempunyai rumah kuno berdinding kayu jati. Rumahnya besar. Orang tuanya termasuk disegani. Namun persoalan pelik tentang kepala desa membuat Bapaknya hilang kepercayaan dari sebagian warga yang tidak satu pendapat dengannya.

Aku mengucapkan salam. Keluarlah seseorang dari dalam. Ibu Didik.

“Eh, mari masuk.”

Njeh, Buk.”

Aku masuk ke rumah yang megah itu. Dalam artian lebih bagus dari rumah kebanyakan. Ada ruang tamu yang nyaman dan Vas bunga indah di sudut ruangan.

“Tumben sekali main ke sini.”

“Iya. Dari kemaren belum sempat, karena kami sibuk merancang kegiatan.”

Jenengan Sudah kenal Didik, kan?”

“Kenal sekali. Dia anak yang paling pintar di desa ini.”

“Oh ya?”

“Iya, Buk. Saya paham sekali dengan karakter Didik dari awal mengajarinya mengaji di Masjid.”

“Dia baru-baru ini sebenarnya di masjid.”

Ibu Didik mulai membuka percakapan. Aku ingin memancing lebih dalam lagi persoalan yang sebenarnya.

“Maksudnya, pindah?”

“He’eh.” Jawabnya.

“Asalnya ngaji di mana?”

“Di musollah Pak Mar.”

“Berarti Didik pintar karena hasil Pak Mar.”

“Pak Mar itu sekarang bukan gurunya lagi. Dia tidak sepemikiran dengan kami.”

“Apakah Didik setuju dia berpindah guru?”

“Entah.”

“Pernah bertanya sebelumnya?”

“Tidak. Tidak pernah.”

Aku diam dulu, sebelum melontarkan pertanyaan yang dapat merusak kehangatan. Sepertinya Ibu Didik tidak ingin diintrogasi lagi. Aku membuka toples yang berisi jajan. Membiarkan Ibu Didik meleburkan panas dingin yang seperti hendak tumpah. Ingatannya beberapa waktu yang lalu tentang pertikaian pendapat seperti hendak muncul kembali.

“Boleh aku ajak Didik pergi ke musollah nanti magrib, Buk?”

“Ke musollah?”

“Ya, ke musollah. Mungkin Didik rindu ke sana.”

Ibu Didik tertegun sejenak. “Ya, boleh boleh saja.”

Aku tidak melihat dia sedang marah. Tapi ekspresinya dingin sekali. Didik lalu datang membawa jagung bakar di tangannya. Dia datang dan bersalaman denganku. Didik adalah kanak-kanak yang mempunyai sifat dewasa. Tidak banyak berkata-kata. Aku yakin dia mampu berpikir kenapa dia harus mengaji di masjid bukan di musollah tempat asalnya dia mengaji kepada Pak Mar.

Didik duduk di sebelahku mengeluarkan jagung bakar. “Kakak suka jagung bakar?”

“Iya.” Ucapku. Aku mengambil separuh lalu memakannya untuk menyenangkan hati Didik.

“Malam ini ikut Kakak ya?”

“Ke mana?”

“Ke musollah Pak Mar,” jawabku. “Sebelum magrib kita berangkat.”

Dia mengalihkan pandangan ke arah ibunya. Aku juga ikut meliriknya. Ibunya tersenyum dengan terpaksa. Dia pun mengangguk meski sebenarnya tidak mengizinkan.

Dendam masih nampak di wajah Ibu Didik. Matanya dingin menatapku. Aku pun merasakan ketakutan, takut disangka mengalihkan perhatian kepadanya. Tapi aku lihat Didik sangat antusias hendak pergi denganku. Dia memakai pakaian dengan antusias serta membawa al-Qur’an di tangannya. Seolah ada rindu kepada Pak Mar yang sejak kecil sudah mendidiknya.

“Sudah siap?”

“Siap, Kak.”

“Buk, kami pamit,” ucapku pamitan pada ibunya Didik. Tak kulihat Bapaknya. Kata Ibunya dia sedang ada di ladang mencabut singkong. Petang nanti, baru dia akan kembali ke rumah.

Aku menggandeng tangan Didik. Segera beranjak untuk pergi ke musollah.

Saat ini sangat menggetarkan bagiku. Karena aku bisa merasakan ketegangan sebelumnya. Jantung berdegup kencang. Aku berjalan menuju arah musollah rasanya seperti terbang. Aku seakan tak merasakan sedang melangkah di tanah.

Berbeda dengan Didik yang santai-santai saja. Dia masih kanak-kanak. Tak tahu apa-apa, meskipun secara pemikiran dia sudah bisa membedakan mana yang baik untuk dirinya dan yang tidak.

Beberapa saat aku sudah sampai di musollah kecil yang tak bercat itu. Sebuah gedung berwarna abu-abu yang hanya dilapisi dengan semen. Aku naik. Lampu belum dihidupkan. Aku bertanya dalam hati, ke mana Pak Mar.

“Dua menit lagi adzan ya,” perintahku kepada Didik yang masih menyapu lantai di teras depan.

Beberapa saat kemudian, seseorang datang kepadaku di musollah. “Sebaiknya kau pergi dari sini. Biarkan Didik pulang. Aku lihat Bapaknya tadi mencarinya.”

Aku tak menghiraukan itu. Paling hanya orang yang tidak suka juga pada Pak Mar. Dia mencoba menakut-nakutiku. Aku berdiri di beranda musollah. Menunggu ada yang datang. Pak Mar pun belum keluar. Dua menit berlalu. Matahari sempurna tenggelam. Aku menyuruh Didik segera adzan. Suara seruak dari loudspeaker ketika tombol on dipencet terdengar. Aku melihat tetangga musollah celingukan di ambang pintu mereka. Mereka bingung siapa yang sedang menghidupkan loudspeaker musollah. Takbir pertama dikumandangkan. Pak Mar keluar. Memandangku dengan nanar. Wajahnya dingin. Namun matanya aku lihat dia sedang heran mendengar adzan itu berkumandang.

Allahu akbar allahu akbar

Asyhadu an laa ilaaha illallaah

Pak Mar menatapku dengan lekat. Aku lihat mulutnya berkomat-kamit menjawab adzan dari suara merdu Didik. Pak Mar Masih tertegun di depan pintu. Seakan tak percaya musollah yang dia asuh sedang berkumandang adzan maghrib. Aku membiarkan dia menikmati suara adzan itu. Pasti dia sudah lama tidak mendengarnya.

Tak lama, setelah adzan itu selesai. Dia pun masuk dan keluar dengan pakaian rapi. Menggunakan baju putih, sarung kotak, dan kopiah haji. Dia nampak bersahaja. Orang-orang semua keluar rumah mendengar adzan yang sudah lama tak didengar dari musollah itu. Beberapa Ibu-Ibu dan Bapak datang. Musollah mulai hidup.

Aku berjabat tangan dengan Pak Mar. Tangannya masih kuat. Walaupun wajahnya mulai nampak tua.

“Sehat, Pak Mar?”

“Alhamdulillah….”

Tak sempat Pak Mar menjawab ketika terdengar teriakan lantang dari arah Timur. Bapak Didik tampak membawa arit yang diacungkan ke atas langit. “Siapa yang membawa anakku ke Pak Mar tanpa izin dariku?” Suaranya menggelegar.

Aku mulai ketakutan. Bayanganku dia akan menyabet leherku nanti. Tapi aku mencoba tenang. Dia pun mendekat, tanpa izin atau kode, dia dengan cepat mengayunkan aritnya ke arahku. Aku menghindar. “Kau jangan ikut campur dengan persoalan kami.” Ucapnya.

Bapak Didik kemudian mengayunkan sekali lagi aritnya itu. Tak sampai aku menghindar, Pak Mar memegang tangannya. “Dia tak punya urusan denganmu. Urusanmu denganku.” Pak Mar yang sedari tadi diam bersuara tak kalah sangarnya.

Bapak Didik mengalihkan serangan. Dia menyerang Pak Mar. Orang di dalam rumah ikut keluar setelah mendengar pertikaian itu. Pak Mar berusaha menghindari sabetan arit bapak Didik. Perempuan yang melihat pertarungan ini berteriak-teriak. Bapak Didik masih terus mengayunkan aritnya. Pak Mar terpojok. Bapak Didik makin bernafsu. Satu sabetan akan membelah perutnya.

“Bapak!” Didik muncul tiba-tiba, berteriak kencang hendak menghadang bapaknya. Bapaknya mengurungkan sabetan itu.

“Bapak, Pak Mar adalah guruku.”

Aku lihat arit itu bergetar di tangan bapak Didik sesaat Didik menghambur memeluk bapaknya.

Rembang, 2019

==========

Toni Kahar, Kelahiran Sumenep, 03 Desember. Aktif di Komunitaas Sastra ATAP dan SAKA Sarang Rembang, Pemred Majalah al-Hibr STAI Al-Anwar. Saat ini menimba ilmu di PP. Al-Anwar Sarang Rembang. Beberapa karyanya sudah diterbitkan di beberapa antologi dan pernah dimuat di Media Online, sedang buku kumcernya yang telah terbit berujudul “Ketapel dan Burung-Burung di Pohon Asam” (FAM, 2019)

Sepasang Pohon Jambu Bahagia

0


Pohon itu terlihat bahagia, mungkin karena ayah merawatnya dengan baik. Ayah tidak pernah lupa menyiraminya setiap pagi dan sore. Terkadang malah ia mendandani pohon itu dengan beraneka pakaian wanita. Ia tempelkan potong-potongan kain pada batang kayunya yang kokoh. Bahkan, ayah pernah makan malam berdua dengan pohon itu, lengkap dengan cahaya lilin yang tembaga dan denging musik jazz yang terdengar begitu romantis.

Tak ada yang berani menyinggung tingkah ganjil ayah, termasuk paman dan bibi. Hal aneh itu sudah menjadi wajar di dalam biduk keluargaku. Mereka lebih memilih ayah berperilaku demikian daripada uring-uringan. Karena, pernah suatu ketika, ayah disindir oleh kakek sebab memerlakukan sebuah pohon seperti memanjakan seorang wanita. Ayah pun marah dan sepanjang hari ia mencercau tak jelas seperti orang gila.

Aku pun demikian, tidak pernah berani menyinggung soal pohon itu. Walau sebenarnya, aku merasa ayah memang sudah kehilangan akal warasnya.  Ia pernah bercerita kepadaku, kalau pohon jambu air itu adalah jelmaan seorang wanita yang pernah melahirkanku. Aku tercengang tak percaya dan mengutuki kisah ayah yang ganjil itu.

“Lihatlah, pohon itu, begitu cantik, Ipang,” katanya, ketika kami bersantai di suatu sore. Aku perhatikan pohon jambu air itu, yang tidak ada apapun di sana, selain keriput kulit kayunya yang muram. Tetapi, ayah seperti sedang memandang seorang perempuan cantik yang begitu dicintainya di pohon itu. Aku tersenyum samar seraya mengangguk. Aku tidak mau menyakiti hati ayah—yang mungkin sedang terluka itu. “Matanya mirip denganmu, Ipang.”

Ahh, apa yang sebenarnya terjadi dengan ayah? Mengapa ia menganggap pohon itu menjadi ibuku?

Aku sebenarnya tidak pernah tahu, siapa wanita yang melahirkanku. Sejak lahir aku tidak mengenal sosok yang bernama  ibu itu. Mungkin saja aku adalah anak jalanan yang dipungut oleh ayah di tong sampah, atau seorang anak malang yang ditinggal oleh ibunya karena tidak ingin hidup susuh bersama suaminya—mengingat ayah hanya seorang pedangang batik kecil di pasar Beringharjo. Tetapi, apa hubungannya antara pohon jambu air itu dengan ibu? Aku tidak pernah dapat mengerti dengan hal itu.

***

Malam itu hujan kembali turun begitu deras, dan aku melihat ayah termenung di samping jendela, memerhatikan pohon jambu air yang terpacak beku di belakang rumah. Ayah yang mendadak terjangkit demam, lunglai tak berdaya di tepi bibir jendela. Tetapi, ia tampak gamang. Sepanjang malam, ayah tidak juga lelah mengawasi sebatang pohon di luar—yang kelu dicercah hujan.

“Ia pasti kedinginan. Kasihan!” gumamnya lirih kepadaku. “Aku melihat wajahnya menjadi pucat, bahkan ia ketakutan, karena sendirian.”

Bulu kudukku meremang. Aku tidak tahu siapa yang ayah maksud sendirian, karena tidak ada siapa pun di luar selain sebatang pohon itu.

“Aku harus menemani ibumu, Ipang.”

Ahh, lagi-lagi pohon itu. Apakah ayah memang benar-benar sudah gila, karena cinta butanya kepada ibu yang sampai detik ini? Aku juga tidak tahu seperti apa wujud ibu? Siapa ibu sebenarnya? Apakah pohon itu memiliki riwayat tertentu tentang ibu yang tidak pernah aku ketahui? Atau, pohon itu adalah jelmaan seorang wanita yang telah dikutuk oleh Tuhan, dan harus menghabiskan sisa hidupnya menjadi pohon, karena sifatnya yang gemar membangkang kepada suami? Kutukan sifat lalim yang juga menimpa Malin Kundang? Kepalaku selalu pening apa bila merunut riwayat tentang ibu dan pohon jambu air di belakang rumah.

Ayah melesat seperti angin; mengambil payung; merengkuh hujan di luar. Aku gagal menahannya. Ketika aku mencoba menghentikan langkahnya, ia malah menjadi murka, kemudian mengutukiku dengan sumpah-serapah.

“Ingat, Ipang, surga ada di telapak kaki ibu,” katanya bengis.

Aku pun menyerah dan membiarkan ayah keluar untuk berhujan-hujanan bersama pohon jambu air itu. Aku melihat ayah yang terpekur takzim di bawah pohon itu. Ia seolah sedang menikmati kebersamaannya di bawah hujan dengan pohon jambu air itu. Mendadak, hatiku pun bergetar hebat melihat pemandangan pilu antara ayah dan pohon jambu air itu. Betapa cinta telah mengutuknya menjadi makhluk  ganjil di dalam rumah ini.

Aku ingin lekas menyusulnya. Gontai, aku menuju gudang, dan di dalam gudang yang gelap ketika ingin mengambil payung, aku tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak kayu tua. Dari dalam kotak itu, aku menemukan puluhan lembar foto seorang wanita yang terlihat sangat seksi, mengenakan pakaian serba ketat, yang memamerkan belah dada dan jenjang pahanya yang mulus. Wanita di dalam foto itu pun sedang menikmati sebatang rokok di sela bibirnya. Selain itu, aku melihat, ada puluhan kaleng bir pula di mejanya. Sepintas, di dalam benakku, wanita itu begitu mirip dengan seorang pelacur.

Tetapi sebelum aku memikirkan lebih lanjut siapa wanita di dalam foto itu, sebuah petir mengerjap dan guntur susul menggelegar nyaring, memekakan telinga. Aku terperanjat meninggalkan foto-foto itu. Aku berlari menyusul ayah di belakang rumah. Pria itu sudah tampak tertegun, meratapi kobaran api yang membakar pohon jambu air.

“Ia terbakar,” gumamnya sembari menitikkan air mata. “Aku tidak bisa menyelamatkan ibumu.”

“Itu hanya pohon jambu air tua, bukan ibu, Yah.”

“Kau anak durhaka!” Balasnya sengit dengan nada tinggi. Ia pun menatapku bengis, “Kau memang tidak pantas disebut anak!”

Aku tertunduk. Aku merasa begitu sedih meratapi kenyatan kalau ayah sebenaranya sudah gila. Namun, di sisi lain, aku semakin tidak mengerti tentang riwayat pohon jambu air serta ibu. Mengapa setiap pertanyaan di dalam kepalaku kini malah menjadi bertambah rumit? Aku mengerling ke arah ayah yang masih terus mengumpatiku tak karuan. Aku tinggalkan ia seorang diri untuk meratapi kekasihnya: pohon jambu air. Sepanjang malam ia kukuh di luar besama puing-puing pohon jambu air yang telah menjadi arang.

***

Setelah tumbangnya pohon jambu air itu masih ada saja yang manganjal di benakku, yaitu tentang foto-foto wanita yang aku temukan di gudang tadi. Aku kumpulkan foto itu kembali dan memerhatikan satu per satu. Aku merasa tak asing dengan wajahnya dan terlebih pada matanya. Aku seolah telah mengenalnya begitu lama, bahkan pernah berjumpa dengannya. Tapi, aku tidak pernah tahu, di mana kami pernah bertemu, dan siapa nama wanita itu? Pertanyaan-pertanyaan muskil di dalam benakku hanya membuat kepalaku semakin berat. Aku pun semakin tersesat di dalam pemikiran rumit, yang barangkali memang tak ada jawabannya. Akhirnya, aku terlelap dengan benang kusut yang gagal terurai.

Pagi harinya, matahari bersinar ganjil. Aku tercengang ketika terbangun melihat ada dua buah pohon jambu air yang tak terlalu besar tumbuh di belakang rumah. Melihat pemandangan aneh itu, aku pun lekas berlari sempoyongan mencari ayah. Aku ingin mengabarinya kalau ada sebuah peristiwa yang tak normal itu di belakang rumah.

Tetapi, setelah menyusuri setiap sudut rumah, ayah tidak aku temukan. Termasuk di tempat biasa ia melamun. Ia tidak ada di sana. Ayah seolah menghilang ditelan bumi. Aku terus mencarinya seiring waktu yang terus berjalan dan meninggalkan apa-apa yang tak pernah terjawab di benakku. Aku terus mencarinya. Akan tetapi, ayah seperti benar-benar lenyap.

Sedangkan, setiap hari dua pohon itu tampak semakin bahagia berdiri di belakang rumah. Aku pun sering memandangnya penuh wasangka dengan berneka macam pertanyaan ganjil: Bagaiamana hal itu bisa terjadi, sebatang pohon yang semalam tumbang, pagi harinya dapat kembali tumbuh? Bahkan, ada pohon baru di sampingnya, yang tidak kalah kokoh dan bahagia. Kalau dipikir, hal ini tidak mungkin. Ya, sebatang pohon tak dapat tumbuh dalam waktu semalam.

***

Dua puluh tahun berlalu, sejak kejadian ganjil itu. Ayah memang tidak lagi terlihat. Kami semua merasa sangat kehilangan, tetapi aku harus mengikhlaskan juga. Aku pikir memang suatu saat manusia harus siap hidup seorang diri atau bertahan dalam lautan kenangan yang terus menyiksa dengan segala yang hilang, yang akan kembali pulang.

Aku kembali melirik ke sepasang pohon jambu air yang mendadak tumbuh dalam waktu semalam itu, yang kini tampak semakin tumbuh subur. Sepasang pohon yang selalu tampak bahagia. Tiba-tiba, aku pun ingat ayah.

“Di mana sebenarnya kau, Ayah? Apakah sekarang kau sudah bahagia?” Pekikku lirih seraya menitikkan air mata. (*) 



====================
Risda Nur Widia. Buku tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing (2018). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Terbaru

Ingatan dari Kehilangan Ibu

Judul : Please Look After MomPenulis : Kyung Sook ShinPenerjemah : Tanti LesmanaPenerbit ...

Ingatan pada Satu Nama

Solawat Ikan-Ikan

Dari Redaksi