Penyair Maun Bin Saun

Kutukan Kematian

Dilarang Menangis

Sophia

Cerpen

Home Cerpen

Rumah Idaman

0

Saya tertegun di depan sebuah rumah. Tatapan saya kembali tertuju kepada tulisan yang menempel di dindingnya:

DIJUAL
TANPA PERANTARA

Ragu-ragu sebenarnya. Tapi kaki ini melangkah juga. Saya mengucapkan salam. Kebetulan tuan rumah ada dua-duanya, suami istri.

“Saya ingin melihat-lihat rumah. Kebetulan saya punya rencana untuk membeli rumah,” kata saya setelah duduk di ruang tamu.

“Oh, silahkan.” Tuan rumah berdiri mengajak melihat-lihat sekeliling rumah.

Saya pun diantar melihat-lihat dapur, kamar tidur, ruang tamu, loteng, dan semua penjuru rumah. Tuan rumah menerangkan tentang air, listrik, dan lingkungan seputar rumah. Setelah semua penjuru rumah ditengok, kami duduk lagi di ruang tamu.

“Berapa harga yang Bapak inginkan untuk rumah ini?” tanya saya.

“Karena ini tanpa perantara, sebenarnya enam ratus juta pun kami lepas,” kata sang suami yang kira-kira usianya menjelang enam puluh tahunan itu. “Tapi itu pun masih bisa nego.”

Saya terbatuk-batuk kecil.

“Begini sebenarnya, Pak, Bu,” kata saya akhirnya dengan suara tertahan. “Saya ingin membeli rumah ini. Tapi… uang saya hanya punya lima puluh ribu rupiah.”

Suami istri itu menatap saya. Sepertinya heran. Seperti terkejut. Seperti tidak mempercayai pendengarannya.  

“Maksudnya?” tanya sang suami.

“Iya, saya ingin membeli rumah Bapak. Tapi saya hanya punya uang lima puluh ribu rupiah saat ini.” Saya berusaha menerangkan setenang mungkin.

“Anda ini mempermainkan?”

“Tidak Pak, saya serius.”

Sang suami yang masih berbadan tegap itu berdiri. Dia masuk ke kamarnya. Beberapa detik sudah keluar lagi dengan pistol di tangannya. “Keluar kamu! Atau saya tembak kamu!” bentaknya.

Tentu saja saya terkejut. Saya meloncat, terburu-buru keluar rumah.

***

Pengalaman yang saya ceritakan itu adalah yang kesepuluh kalinya. Karena begitulah seperti yang dikatakan guru spiritual saya.

“Datangi saja sepuluh rumah yang mau dijual, katakan kamu berniat membelinya, dan katakan juga kamu punya uang berapa,” kata guru saya.

Awalnya saya berharap sesuatu yang ajaib terjadi, ada pemilik rumah yang mau memberikan rumahnya dengan harga lima puluh ribu rupiah. Tapi sampai sepuluh rumah saya datangi, semua pemiliknya mengusir saya dengan tidak hormat. Orang gila, sinting, setan, anjing, bodoh, pernah dikatakan para pemilik rumah sebagai pengganti nama saya.

Saya baru menyadari, guru saya itu mempermainkan. Alangkah bodohnya saya selama ini. Siapa yang mau memberikan rumahnya dengan harga lima puluh ribu rupiah? Makanya saya mencari lagi guru saya itu. Saya ingin marah kepadanya. Sebentar….

Guru saya? Sebenarnya dia adalah orang yang baru saya kenal. Suatu subuh, seperti biasanya, saya mencari jamur bersama teman-teman. Semalam hujan turun deras. Laron kemudian menyerbu lampu-lampu di depan rumah. Itu tandanya jamur akan banyak tumbuh esok pagi. Betul saja, teman-teman saya mendapatkan banyak jamur. Ada yang menemukan empat biji, ada juga yang sampai enam biji. Tapi sampai habis menyusuri perkebunan penduduk, saya tidak menemukan sebiji pun jamur. Ketika teman-teman saya pulang, saya meneruskan mencari jamur sampai ke puncak bukit. Saya harus menemukan jamur. Karena kalau tidak, bagaimana anak-istri saya bisa makan? Di rumah sudah tidak ada beras, apalagi makanan lainnya.

Di puncak bukit matahari sudah menampakan semburat merahnya. Semakin terang mencari jamur itu semakin susah. Karena saat masih gelap jamur akan kelihatan bercahaya. Saat saya merasa frustrasi, menyerah dan pulang dengan langkah lesu, seseorang yang membawa cangkul menyapa saya.

“Mencari jamur itu kadang memerlukan kerja keras sampai batas putus asa. Tapi kadang hanya melangkah ringan kita sudah menemukannya,” kata petani itu.

“Maksudnya?” Saya tentu saja terkejut.

“Tengoklah di balik batu itu. Cepat ke sana biar hati kamu tenang.”

Tanpa mengerti apa yang dikatakannya saya menghampiri batu sebesar perut kerbau. Betapa terpananya saya melihat dua biji jamur sebesar piring. Jamur yang sehat. Jamur yang membuat senyum di bibir saya. Jamur yang membuat hati saya gembira.

Awalnya saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada petani itu. Tapi kemudian saya malah beristirahat sejenak, mengeluhkan kesusahan saya.

“Saya ini sudah puluhan tahun disusahkan dengan rumah kontrakan, Pak,” kata saya. “Hanya dengan membayar satu juta rupiah saja per tahun saya sudah kesusahan. Bila dalam waktu seminggu saya tidak membayar, saya akan diusir. Entah ke mana saya akan membawa istri dan kedua anak saya.”

“Pergilah sekarang, jual jamurmu,” katanya. “Hasil penjualan jamur itu, berikan sebagian ke istrimu. Sebagian lagi bawa untuk membeli rumah. Datangi sepuluh rumah yang mau dijual, katakan kamu ingin membelinya, katakan juga uangmu ada berapa.”

***

Di hadapan petani guru saya itu, amarah saya seperti api berhadapan dengan air. Langsung padam tidak berbekas.

“Kenapa kamu selalu diusir pemilik rumah? Karena kamu tidak menyentuh hatinya,” kata petani guru saya itu. “Ada sebuah rumah yang tidak akan terbeli oleh uang sebanyak apapun. Itulah rumah idaman semua orang. Untuk mendapatkannya hanya perlu kemurahan dan kasih sayang pemiliknya. Tidak punya uang sepeser pun kita, bila pemiliknya sudah berkenan, rumah itu akan diberikannya.”

“Siapa yang pernah diberi rumah idaman seperti itu?” tanya saya penasaran.

“Pergilah ke kota kecil di balik bukit ini. Di sana kamu akan bertemu dengan seorang wanita tua. Dialah pengetuk kemurahan dan kasih sayang pemilik rumah itu.”

Saya pun pergi ke kota kecil di balik bukit itu. Orang-orang sedang sibuk bekerja. Jalanan mengepulkan debu setiap ada kendaraan yang lewat. Hari sangat panas karena kemarau begitu memanggang. Dari sebuah penginapan murahan saya melihat seorang wanita berjalan sempoyongan. Mungkin dia mabuk, terlalu banyak minum minuman keras. Dia berjalan menyusuri jalanan berdebu. Di tepi tempat pembuangan sampah dia berhenti. Matanya tidak berkedip melihat seekor anjing yang tergolek lemah. Lidah anjing kampung yang kurapan itu terjulur, pasti kehausan. Wanita itu terharu melihat anjing yang sudah tidak berdaya. Diambilnya segayung air dari sumur sebuah mushola yang lumayan jauh dari sana, lalu ditetesinya mulut anjing itu sampai segar kembali. Ketika anjing itu bisa berdiri dan berlalu, dari ujung mata wanita itu bergulir sebutir air menyusuri pipinya.*[1]

“Itu adalah pengalaman saya bertahun-tahun yang lalu,” kata wanita tua itu ketika saya menemuinya di sebuah rumah yang sederhana. “Pengalaman yang membuat saya berhenti melacur, profesi saya sejak muda.” Wanita tua itu memandang ke jauhnya. Dari ujung matanya mengalir sebutir air, menyusuri kulit pipinya yang mulai keriput.

“Tapi kenapa Ibu menangis?” tanya saya penasaran.

“Setiap ingat masa lalu yang hitam, hati ini bergetar begitu hebat. Setiap ingat ada makhluk yang menderita seperti anjing itu, hati ini bergetar begitu hebat. Ah, kamu mungkin belum bisa membayangkannya, Nak,” kata wanita tua itu sambil berurai airmata. Baru saya perhatikan, wajahnya itu bercahaya, seperti juga butiran air yang mengalir di pipinya.

Saya pun pulang. Saya menemui petani guru saya itu di kebunnya.

“Wanita tua itu memang indah, sepertinya begitu indah hatinya. Tapi rumahnya terlalu sederhana sebagai rumah idaman.”

“Rumah idaman itu bukan seperti yang kamu lihat,” kata petani guru saya itu. “Rumah idaman setiap orang itu ada di hati wanita tua itu. Rumah yang membuat wajahnya begitu bercahaya. Rumah yang selalu menguraikan airmatanya. Airmata yang begitu indah. Keindahan rumah idaman itu tidak akan bisa kamu bayangkan. Karena rumah idaman itu kepunyaan Tuhan yang Mahaindah.”

Saya pun pulang dengan hati yang bergetar. Hati yang terus berdoa: Ya Tuhan, tidak apa saya selalu disusahkan hanya untuk memiliki sebuah rumah sederhana di dunia ini. Asal saya diberi kesempatan menyentuh hatiMu. Saya ingin rumah yang indah di surga, rumah idaman semua orang.

Di rumah saya disambut istri, anak-anak, dan suami-istri yang sedang bertamu.

“Saya ini ketua RT di sebuah kota kecil. Seorang warga kami, wanita tua yang selalu berurai airmata, mewasiatkan rumah dan tanahnya untuk dimiliki Bapak sekeluarga,” kata tamu itu. “Ini adalah sertipikat dan surat wasiatnya. Maaf baru saya sampaikan sekarang. Karena di surat wasiat ini, Bapak sebagai penerima hanya dikatakan: Seorang lelaki penjual jamur yang berniat membeli rumah dengan uang lima puluh ribu rupiah.”

“Wanita tua itu sekarang ke mana?”

“Sudah meninggal… bertahun-tahun yang lalu.”

***

=========================

Yus R. Ismail, menulis cerpen, novel dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of the Night (Lontar 2019, memuat 5 carpon-nya yang diterjemahkan C.W. Watson). Novel Tragedi Buah Apel mendapat penghargaan Juara Pertama Lomba Novel Anak 2019 penerbit Indiva. Cerpen-cerpennya pernah dipublikasikan di Koran Tempo, Media Indonesia, Kompas, Jawa Pos, Republika, Suara Karya, Tribun Jabar, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Lampung Pos, Basa-basi.com, Bangka Pos, Padang Ekspres, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Femina, Hai, Esquere, NOVA, Citra, Horison, dsb.


[1] Kisah perempuan pelacur yang dimaafkan dosa-dosanya setelah memberi minum anjing yang kehausan, diambil dari hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah. Banyak tafsir kepada hadis ini. Presiden Soekarno pernah tidak mengerti dengan hadis ini, bagaimana bisa orang yang banyak melakukan dosa dimaafkan hanya karena memberi minum anjing yang kehausan? Jawaban yang memuaskan presiden pertama itu datang dari guru sufi Prof.Dr. Kadirun Yahya yang menyebutkan cinta Tuhan itu sama dengan angka nol. Seberapa banyaknya juga bila dikali nol maka hasilnya nol.

Daun-daun Sepat

0

Aku mau menceritakan tentang sebuah waduk. Tempat anak-anak kecil di kampungku melempar dirinya sampai ke dalam perut air. Aku akan berusaha mengingat apa-apa yang kuketahui selama aku menjadi bagian dari waduk itu. Kalau ada beberapa hal yang sekiranya luput dari pengamatanku, kalian boleh memberitahuku supaya aku segera mengoreksi cerita ini. Kalian, yang juga menjadi bagian dari waduk itu, sama sepertiku.

Dulu ibuku adalah seorang buruh baja, sementara Bapak tidak memiliki kesibukan yang menjanjikan sebab keahlian yang dia punya hanyalah memancing ikan. Jika diukur menggunakan pendapatan jaman sekarang, saat itu kami adalah keluarga yang terbilang miskin. Saat membeli seragam sekolah saja, Ibu sengaja membelikanku dengan ukuran yang dua kali lebih besar ketimbang ukuran tubuhku. Supaya lebih hemat dan bisa kugunakan sampai setidaknya tiga kali naik kelas.

Kalau dipikir-pikir, saat itu, aku lah satu-satunya beban keluarga. Aku orang yang paling sulit menahan lapar dibanding mereka. Namun ibuku kelewat hebat, dia bisa mensiasati biaya dapur sehemat mungkin dengan kualitas masakan yang boleh diadu dengan restoran mana pun.

Kadang-kadang, Bapak membantu melengkapi hidangan dengan ikan hasil pancingannya. Meski, aku dan ibu tahu, Bapak sering memancing dengan seorang gadis yang kemungkinan adalah selingkuhannya dan membagi hasilnya pada gadis itu. Ibu sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan itu. Mungkin dia sudah lelah mencari-cari alasan untuk mempertahankan hubungan keluarga mereka selain karena aku.

Ya. Aku memang pernah melihat Bapak menghabiskan waktu di waduk bersama seorang gadis. Ketika itu aku sedang bermain di pinggir waduk bersama teman-temanku. Tepatnya di bagian selatan yang ditumbuhi pohon-pohon sepat. Kami biasanya akan segera melakukan pertemuan panjang selepas pulang dari sekolah dan mengganti baju. Karena orangtua kami akan marah sekali jika kami bermain menggunakan seragam sekolah.

Kemudian kami akan pulang ketika menjelang magrib, sekadar untuk mengganti pakaian lagi lalu pergi mengaji di surau Baiturrohman. Di waduk, aku dan teman-teman bisa mandi tanpa takut dimarahi siapa pun karena menggunakan air terlalu banyak. Tidak jarang aku pulang ke rumah bersama Bapak. Tentu saja ini tanpa kami rencanakan. Aku juga sering membantu Bapak membawa hasil tangkapannya.

Pernah Ustad Rais bercerita, guru mengaji kami disurau, ikan-ikan yang kami makan dari waduk tidak seberapa besar dan tidak seberapa banyak jika dibandingkan dengan ikan yang didapatkannya saat dahulu. Bahkan saking makmurnya ikan-ikan dari waduk itu, banyak nelayan yang tinggal di daerah pesisir, datang kemari untuk ikut memancing.

Tidak hanya itu, Ustad Rais juga menganjurkan kami untuk berhenti memakan ikan dari waduk, karena ikan-ikan itu menurutnya sudah tercemar racun limbah, serta apa saja yang serba tidak sehat. Kesemuanya itu karena bangunan-bangunan besar yang mulai berdiri di dekat waduk.

Bahkan rumah-rumah mewah yang dibangun di balik tembok yang membatasi waduk dengan dunia luar, sering melemparkan sampah-sampah dapur secara sembarangan ke waduk kami. Ditambah lagi, beberapa pipa yang terhubung dari bangunan-bangunan besar itu, memuntahkan kotoran mereka ke permukaan waduk.

Tentu saja kami tidak tinggal diam. Kami pernah menyumpal pipa-pipa itu. Melempar balik sampah yang dibuang oleh para penghuni rumah di balik tembok waduk, namun usaha-usaha itu sia-sia belaka. Mereka selalu mendapat celah untuk mengulangi perilaku banal itu.

Pernah sekali aku menjumpai Ibu bersama teman-temannya berkumpul di rumah, mereka membicarakan tentang keselamatan waduk secara serius. Mereka mengepal-ngepalkan tangan ke langit seolah-olah sedang menantang Tuhan berkelahi.

Sebaliknya, Bapak tidak pernah ikut dengan kegiatan ini. Bapak juga sering melarang Ibu untuk berhenti mengundang teman-temannya ke rumah untuk membicarakan waduk itu. Kata Bapak, semua sudah diurus oleh pemerintah. Begitulah kemudian percakapan mereka berakhir dengan pertengkaran panjang.

Mereka tidak ragu menyembunyikan ketidak akraban itu di hadapanku. Suatu ketika Ibu ditampar oleh Bapak karena terlalu sering melawan perintah. Saat itu aku terpaku di pojok rumah, menyembunyikan diriku dari percikan amarah mereka. Ibu segera menyuruhku masuk ke dalam kamar dengan berbahasa-basi agar aku menyelesaikan tugas sekolah. Padahal saat itu Ibu tahu, aku sedang demam karena baru saja tersengat lebah yang bersarang di pohon-pohon sepat.

Dalam cerita ini, Bapak mungkin terkesan jahat bagi kalian. Namun perlu kalian ketahui, Bapak sungguh-sungguh menyayangiku meski sikapnya seperti penjahat. Selain karena Bapak sering membawakan ikan untuk makan malam kami di rumah, Bapak juga rutin membelikan aku bajusetiap kali tim kebanggaan kami menerbitkan jersey edisi terbarunya.

Tidak tanggung-tanggung, Bapak pula yang membelikan aku sepeda sehingga aku bisa pergi ke stadion menonton bola bersama kawan-kawan setiap ada pertandingan. Bapak juga tidak pelit untuk menemaniku menonton kalau memang aku ingin mengajaknya. Bilamana terjadi kerusuhan yang disebabkan para pendukung tidak terima karena tim kesayangan mereka kalah, Bapak segera menggendongku dan mencari tempat berlindung.

Bapak mendapatkan uang-uang itu terkadang dari menjual sebagian ikan hasil memancing kepada teman-temannya yang kebetulan tidak mendapatkan hasil tangkapan sama sekali, atau ibu-ibu rumah tangga yang sengaja datang ke waduk untuk membeli ikan. Namun itu tidak seberapa banyak dari uang yang diberikan oleh Pak Heri setiap kali Bapak mengerjakan sesuatu untuknya.

Pak Heri adalah seorang Kepala Lurah yang telah menjabat sebanyak dua kali. Saat aku lahir dia sudah menjadi orang terpandang di kampung kami. Ketika aku menjelang lulus SMP, Pak Heri menyiapkan diri menjabat untuk ketiga kalinya. Setiap menjelang pemilihan, anak-anak kecil biasanya diliburkan dari sekolah, karena guru dan para keluarga akan berpesta menyambut hasil pemilihan. Entah apa yang membuat perayaan itu menjadi berharga, namun bagi kami, hari libur tetaplah hari libur yang menyenangkan.

Pernah juga, aku melihat Bapak diberikan sebuah kantung pelastik berwarna merah. Yang tidak lama setelahnya kuketahui berisi lembaran-lembaran uang. Menjelang magrib, mereka berkeliling kampung untuk membagikan uang-uang itu ke setiap rumah. Aku dan teman-temanku mengiringi perjalanan mereka untuk sekadar memeriahkan. Bapak mengupahku seratus ribu rupiah, katanya untuk aku mentraktir teman-temanku membeli pentol.

Sepulangnya, aku menceritakan kejadian itu pada Ibu sebelum berangkat mengaji. Ibu menyuruhku untuk mengembalikan uang tersebut pada Bapak. Namun sekembaliku mengaji, Bapak tidak ada di rumah. Sedangkan Ibu tidur di kamarnya. Kemudian keesokan pagi mereka bertengkar. Pagi sekali. Sehingga aku terbangun lebih cepat dari seharusnya.

Karena kesal oleh perilaku mereka, aku membolos pada hari itu. Bersama teman-temanku, aku menghabiskan waktu di waduk, tempat pohon-pohon sepat tumbuh dengan rimbun. Kami merasa nyaman di tempat itu, walau bahaya sengatan lebah selalu mengintai keselamatan kami. Di sana, aku menghabiskan uang yang diberikan Bapak padaku.

Saat kami tengah bersenang-senang dengan es teh dan sebungkus rokok yang kami beli untuk belajar mengudut, segerombolan massa datang dari kampung memasang tulisan-tulisan dan poster besar yang mengitari setengah luas waduk. Ada pula foto Pak Heri dengan disertai gambar tanduk pada bagian kepalanya. Mereka berkumpul dan membuat barisan panjang. Kami melihatnya dari kejauhan sambil tetap menjaga waspada kalau-kalau di sana ada seseorang yang mengenali kami kemudian melaporkan ke sekolah karena kami membolos.

Aku mengintip dari balik tubuh-tubuh pohon, terlihat barisan manusia itu berteriak kencang-kencang. Tidak terlalu jelas apa yang mereka ucapkan, namun kobaran amarah terasa menyelimuti mereka. Setiap mereka berteriak, permukaan air akan bergetar, dan suara-suara itu, menimbulkan gelombang suara yang mampu menjatuhkan daun-daun sepat yang mengering.

Tidak lama berselang, segerombolan warga lain datang menghampiri bersama polisi. Awalnya tidak begitu jelas wajah-wajah mereka, namun akhirnya aku mengetahui Bapak berada di barisan paling depan bersama Pak Heri. Mereka bersama polisi sedang berbicara dengan barisan lain yang sebelumnya berteriak-teriak di bibir waduk.

Manakala terjadi ketegangan di antara mereka, kedua barisan manusia itu akan saling mendorong, sehingga beberapa orang yang berbaris di bibir waduk harus menahan tubuhnya sampai menyentuh air.

Aku melihat seorang wanita menghampiri Bapak. Wanita itu menamparnya. Wanita itu berteriak sambil menunjuk mata Bapak dengan begitu tegas. Bapak balik menampar wanita itu. Ketika wajahnya bertolak ke samping, segera aku mengetahui bahwa wanita itu adalah Ibu. Wajah Ibu yang memantulkan kegetiran mendalam. Tanpa berpikir panjang, sontak aku langsung berlari menghampiri mereka. Walau sesampaiya di keramaian itu, aku tetap tidak dapat melakukan apapun selain menonton lebih dekat pipi Ibu yang memerah bekas tamparan.

Hari itu adalah hari terakhir aku melihat Ibu. Ibu dibawa ke kantor polisi karena dituduh menjadi dalang kerusuhan dan semenjak itu tak pernah pulang ke rumah. Sampai terdengar kabar, Ibu mati di penjara.

Belum mengering sempurna kuburan Ibu dari bekas air ziarah, Bapak kawin lagi dengan seorang gadis yang sering menemaninya memancing di waduk. Kehidupan keluarga kami berubah drastis. Bapak semakin sering mendapat tugas dari Pak heri, dia juga mulai jarang memancing. Namun kebutuhan keluarga kami sudah serba terpenuhi.

Akhirnya aku meminta kepada Bapak supaya aku dimasukkan ke pesantren, menjadi peserta pondok di tempat Ustad Rais dulu juga belajar agama. Sepuluh tahun kemudian, setelah pulang merantau, aku kembali ke kota dan menghabiskan separuh waktuku setiap harinya bekerja di sebuah pabrik baja tempat ibu pernah bekerja. Namun dengan posisi yang lebih bergengsi.

Setiap sore, sebelum pulang ke rumah keluarga baruku, aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Bapak dan mampir ke waduk. Tidak ada barang istimewa lagi yang bisa ditemui di sana. Cuma ada pohon-pohon sepat yang sudah tua dan tersisa sedikit. Daun-daunnya yang kering mengapung di permukaan waduk. Tidak ada orang memancing, tidak ada gema suara. Anak-anak kecil atau remaja tidak lagi bermain di pinggir waduk.

Tampak jelas waduk lebih sempit dan dangkal ketimbang dahulu. Dan setiap aku datang kemari, suara Ibu selalu muncul bagai menyambutku, berdengung di dalam kepalaku seperti lebah.

======================

Robbyan Abel R, adalah penulis asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sejumlah cerpennya telah dimuat di berbagai media daring dan cetak. Turut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram. Sedang mempersiapkan buku kumpulan cerpen pertamanya.

Kita Pernah Hidup dalam Telur yang Sama

0

Lukisan merpati itu datang tanpa diminta. Seekor merpati di atas dahan dengan daun-daun mengelilinginya. Lukisan itu datang tanpa sebuah surat dari pengirimnya. Mei langsung membuka bungkusan cokelat di depan Pak Pos ketika tahu siapa pengirimnya. Bunga Hitam, dilihatnya lekat-lekat lukisan merpati itu.

“Lukisannya bagus, Mbak, saya permisi,” kata Pak Pos.

Mei mengangguk.

Dia masuk dengan masih memandang sendu lukisan merpati itu. Dulu merpati adalah pengirim pesan. Dia menebak pesan apa yang ingin disampaikan pengirim lukisan ini. Merpati itu murung dan sendiri. Mei meletakkan lukisan itu di meja lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.

“Pesan kekalahan,” tebaknya.

***

Merpati itu takkan mungkin terbang. Burung malang itu hanya bisa bertengger di sebuah dahan yang rapuh. Dia memiliki sayap kuat, Namun sayapnya tak bisa dikembangkan. Tak berguna. Sebab ada lem yang merekatkan sepasang kakinya pada dahan.

Pandangnya berpindah dari lukisan itu pada ujung kuas yang melamun di atas palet. Ujung kuas itu menyentuh cat warna hitam. Kemudian mulai menuliskan nama di ujung kanvas. Bukan namanya yang dia tulis. Namun hanya sebuah huruf: K.

Lalu dia memohon pada seorang sipir untuk mengirimkan lukisan itu pada Mei. Tentu sipir itu awalnya tak mau. Namun, akhirnya mau setelah mendapatkan lumatan di bibir.

“Tulis saja Bunga Hitam sebagai nama pengirim,” kata Wei menggigit pelan telinga si Sipir.

Wei kembali ke selnya yang gelap. Sipir itu mengunci perempuan dua empat tahun itu kembali dalam jeruji besi.

Wei menatap cat-cat minyak di palet. Lalu tangannya bergerak mencampur warna-warna itu hingga telapak tangannya berlumur cat. Ditempelkannya telapak itu pada dinding penjara. Hingga jejak tangannya tercetak di sana. Warna yang abstrak.

“Kau pasti tak pernah merasakan melukis di dinding penjara, Mei! Aku sering.” Wei mengingat penjara-penjara yang pernah dimasukinya. Dia selalu memberi jejak tangan di dinding penjara yang dia tinggali.

“Kau adalah burung yang bisa terbang tinggi. Sungguh tak adil! Kita pernah hidup dalam telur yang sama!” Wei menjerit, meninju dinding hingga tangannya berdarah.

***

Seharian Mei memecahkan teka-teki lukisan yang dikirim Wei untuknya. Lukisan merpati malang itu begitu mengganggu. Seharian pula dia tak bisa melukis apa pun. Bergelas-gelas kopi dia habiskan, berbatang-batang rokok, tidak pula memunculkan ide untuk mengisi kanvasnya.

Mei duduk di lantai dan menyandarkan diri di tembok. Dia memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam.

“Kalau saja kalian akur, pasti Bapak masih ada,” suara Ibu hadir di ruangan ini. Mei membuka mata, tak ada siapa pun. Mei memegang kepalanya, Ibu ada di desa, pikirnya.

Selalu kalimat itu yang dikatakan Ibu kepada Mei ketika dia pulang. Dia selalu pulang seorang diri. Wei tidak mungkin mau pulang bersamanya. Memiliki bakat yang sama tidak membuat semua ini menjadi lebih mudah.

Mereka memang sudah berbeda sejak dari awal. Mei tidak habis pikir kenapa Wei begitu membencinya. Padahal sedari kecil dia selalu berusaha menunjukan jalan yang benar untuk saudaranya itu.

Mei berdiri dari duduknya. Sekali lagi dia pandang lukisan dari Wei. Dia tersenyum. Ada baiknya dia memberi hadiah balasan kepada saudaranya itu.

“Kau akan menyukai lukisan ini adik, setidaknya biar kau ada kawan di sana, biar betah dan tidak merengek meminta pulang,” kata Mei.

***

Cih. Bakat yang sama! Wei ingat kata-kata ibunya dulu. Jelas kata-kata ibunya itu dia tentang. Sebab hanya dia yang punya bakat, Mei tidak sama sekali. Tangan seni milik bapak hanya menurun ke Wei.

Ketika Wei mengatakan itu, sabaten sapu lidi mendarat di betisnya. Berulang kali hingga betis itu merah tetap ibu tak mau menghentikan ayunan tangannya, sebelum Wei minta maaf pada kakaknya, Mei.

“Minta maaf pada kakakmu! Hormati kakakmu! Jangan jadi anak nakal!” perintah ibunya.

Wei hanya berteriak-teriak meminta ibunya berhenti. Tapi Wei tetap tak mau mengalah dan minta maaf, sampai ibunya lelah. Ibunya mengajak Mei makan, meninggalkan Wei yang menangis.

Wei tersenyum kecut. “Lem yang merekatkan kaki burung di ranting itu, ibulah yang melakukannya.”

***

Mei menyelesaikan lukisannya hingga larut. Merpati yang mematahkan sendiri sebelah sayapnya. Darah mengucur. Mei membanting paletnya ke lantai. Mei melihat lukisan yang baru saja diselesaikannya.

Bagaimana bisa dia akan mengirimkan lukisan itu kepada adiknya. Mungkin sampai nanti salah satu dari mereka mati baru akan selesai permasalahan.

Sekarang Mei memang menikmati hasil kerja kerasnya. Hidup dari hasil melukis. Tapi tak pernah sekali pun bapak memuji kemampuannya. Wei selalu yang sejak kecil digadang-gadang menjadi penerus bapak. Lukisan-lukisan di rumah hanyalah lukisan bapak dan Wei.

Setelah Bapak tidak ada, barulah Mei mengganti semua lukisan.

***

Andai Wei sedetik saja lebih dulu lahir. Pastilah dia tidak perlu menghormati Mei. Dan ibu tidak punya alasan, mengecapnya sebagai anak nakal.

Jelas Mei memang tidak punya bakat melukis. Dia hanya punya bakat menggunakan topeng polos. Wei benar-benar membenci ibu yang selalu membela Mei. Dia tidak tahu, alasan ibu jauh lebih sayang Mei dibandingkan dirinya. Sejak kecil, Bahkan ketika Mei menulis namanya di lukisan Wei dan mengakui lukisan itu buatannya. Ibu percaya.

“Ibu, itu lukisan buatanku! Mei mencurinya dariku!” Wei mencoba merebut lukisan itu dari tangan Mei.

Ibu malah memukul Wei dan berkata, “Jangan gara-gara lukisan Mei bagus, kau iri dan mengakuinya sebagai milikmu. Cepat minta maaf pada kakakmu!”

Wei menatap bayangannya yang terpantul pada sendok makan. Wajah itu wajah yang sama dengan kakaknya. Hanya berbeda karena wajah milik Wei lebih kurus dengan mata yang menyiratkan luka dan dendam.

***

Di mata Ibu, lukisan Mei adalah lukisan terbaik, tapi tidak dengan Bapak. Namun, dengan lebih dikenalnya nama Mei dibanding Wei harusnya sudah memberi pertanda bahwa dirinya lebih baik dari Wei. Memang seharusnya seperti itu. Sebagai kakak sudah semestinya dia lebih mumpuni.

Malam tadi Mei tidak dapat tidur tenang. Dia selalu segelisah ini setiap diingatkan tentang Wei. Mei melihat jam, setengah jam lagi, akan ada orang mengunjungi galerinya. Bila ada yang cocok maka akan dibeli. Mei memang tidak setiap saat membuka galerinya. Karena kesibukannya mengisi workshop dan karena dia sendiri yang melayani setiap orang yang datang berkunjung.

“Boleh saya melihat ruang kerja Nona?” tanya seorang laki-laki tua yang berkunjung. Mei terdiam sesaat.

“Tapi berantakan,” Dia nyengir sedikit malu mengatakannya.

“Tidak masalah, setelah dari sana dan mendengar cerita tentang proses kreatif Nona, bisa jadi saya tertarik untuk membeli.”

Mei mengiyakan permintaan salah satu pengunjung tersebut.

Ruangan itu tidak terlalu berantakan untuk ukuran seorang seniman. Si mbak juga sudah mengambil semua gelas kopi dan membersihkan lantai yang penuh cat karena palet yang dibanting Mei malam tadi.

Mei menceritakan bagaimana caranya melukis kepada pengunjung tadi. Laki-laki itu mengangguk-ngangguk dan bertanya beberapa hal. Lalu dia mendekati kanvas yang tertutup kain hitam. Mei melihat dengan cemas.

“Lukisan ini, berapa?” Laki-laki itu bertanya tentang lukisan burung merpati Wei.

“Em, itu tidak dijual,” kata Mei.

“Kenapa?” tanya laki-laki itu.

“Em, mungkin tuan bisa memilih lukisan yang lain,” kata Mei.

“Saya berani bayar mahal bila Nona mau melepas lukisan ini,” katanya tidak mengindahkan tawaran Mei.

***

“Besok kamu keluar, apa yang akan kau lakukan?” tanya si Sipir, ketika para narapida bersih-bersih halaman penjara.

Wei tak menjawab, dia sibuk mencabuti rumput.

“Apa kau akan mencuri lagi dan masuk penjara lagi?”

“Mungkin. Masuk penjara itu lebih gampang dibandingkan masuk surga. Jadi, kemungkinan besar aku akan masuk ke penjara. Bertemu sipir seksi yang lebih pintar melumat,” ujar Wei dengan nada bercanda.

“Berhentilah melarikan diri, Wei. Aku kasihan pada ibumu. Dia selalu menangis setiap memberikan perlengkapan melukis untukmu dan kau selalu menolak bertemu dengannya.”

“Ibu? Perempuan itu tidak menganggapku anak. Dia pasti berharap hanya si brengsek itu yang lahir!”

“Tidak mungkin dia tidak menganggapmu anak. Dia selalu memberikanmu peralatan melukis!”

“Tapi dia memasukan kakakku ke les lukis, ke institut seni, sampai akhirnya anak yang tidak berbakat itu menjadi pelukis terkenal. Sedangkan aku! Anaknya yang berbakat ini malah dia masukan ke penjara!”

 Wei marah pada matanya yang tidak bisa menahan air mata. Dia menjauhi sipir bernama Soni itu.

***

Mei melepas lukisan itu. Mungkin dengan begitu, dia tak akan teringat dengan Wei. Rasanya dia akan hidup damai bila dilahirkan seorang diri.

***

Keluar dari penjara bagi Wei bukanlah kebebasan. Entah, dia belum menemukan definisi kebebasan baginya. Hidupnya terlalu terkurung dalam dendam dan amarah. Sampai tak ada kebahagiaan yang tersisa.

Dia sudah berada di luar bangunan penjara dan tidak menemukan ibunya. Setiap dia keluar dari penjara, ibunya sudah berdiri di depan penjara. Menatap ke arah Wei dengan bibir tergigit, seakan-akan mencoba menahan air matanya agar tidak meledak.

Wei selalu mengabaikan keberadaan ibunya. Lagi pula untuk apa menyapa seorang yang menjebloskannya ke dalam penjara. Seorang ibu menjebloskan anak yang masih remaja ke penjara. Cuma gara-gara dituduh memasukan obat nyamuk ke cangkir kopi bapak. Hingga bapak meninggal.

Karena tidak ada bukti maka Wei dibebaskan. Tapi sebagai pemberontakan, dia mencuri dan mencuri. Wei ingin masuk penjara sesuai keinginan ibunya itu.

***

Mei mendapat kabar bahwa Wei sudah keluar dari penjara. Tapi kabar itu hanya diterimanya saja tanpa tindak lanjut. Dia hapal betul bahwa sebentar lagi Wei akan kembali ke penjara, seperti seorang anak yang pulang ke rumah ibunya. Mei tak habis pikir kenapa anak itu gemar sekali membuat masalah. Mei tak ambil pusing bila Wei ingin mencuri. Bagaimanapun setiap orang pasti pernah mencuri. Yang Mei tak habjs pikir hampir belasan kali Wei mencuri belum juga dia menjadi pencuri yang ulung. Belasan kali mencuri, belasan kali juga masuk penjara.

“Non, tadi ibu telpon, tapi Non Mei masih tidur,” kata si Mbak.

Mei menelepon ibunya. Menanyakan kenapa ibu menelepon pagi-pagi sekali.

“Adikmu masuk penjara lagi,” kata ibu di telepon. Suaranya sedikit terisak.

“Lagi? Baru beberapa hari, sekarang apa lagi yang dia curi?”

“Lukisan, lukisanmu.”

“Lukisanku yang mana?”

“Seekor merpati yang baru saja dibeli Pak Marlo.”

***

“Akui saja, kau akan mendapatkan keringanan jika mengakuinya!” bentak polisi.

“Itu lukisanku!”

Situasi ini mirip sekali seperti dulu ketika ibunya menyuruhnya mengakui telah memasukan obat nyamuk ke cangkir bapak. Tetapi jelas, Wei tak mingkin punya niat sedikitpun untuk melakukannya. Walaupun jelas hari itu hanya dia dan bapaknya di rumah.

Wei yakin ibu atau Mei yang memasukan obat nyamuk itu ke cangkir bapak. Mereka membenci bapak karena sering memukul ibu setiap ibu ketahuan memukulku. Sedangkan Mei pasti iri karena bapak lebih menyangi Wei dari pada dia. Tetapi kata polisi, bapaknya bunuh diri. Alasan bunuh diri tidak diketahui.

“Ini lukisanku. Dan kau boleh memasukanku ke penjara karena tuduhan mencuri lukisan ini. Toh, di dunia aku tidak berarti. Lebih baik orang semacamku dikurung saja agar tidak bisa terbang ke mana pun.”

Benar, di dunia ini untuk apa Wei ada. Tidak ada yang perlu dia buat bahagia. Dulu, dia hanya ingin melihat bapaknya bahagia setiap melihat lukisan yang dibuatnya.

Tetapi sekarang siapa yang pantas dia buat bahagia? Ibu dan kakaknya, cih! Najis.

***

Mei ikut mengurus kasus pencurian Wei kali ini. Bagaimanapun dia ada rasa bersalah kepada Wei. Mei mengakui bahwa lukisan yang itu adalah hadiah dari Wei untuknya. Wei bebas. Mei sedikit bernapas lega, paling tidak dia tidak harus menanggung rasa bersalah seumur hidupnya.

Wei menatap Mei. Dulu mereka berbagi tempat dalam satu rahim. Juga Berbagi makanan. Namun kini, walaupun wajah mereka sangat mirip, mereka berdua seperti orang asing. Wei tidak bisa mengilangkan semua dendamnya pada Mei dan ibunya. Lalu dia meninggalkan mereka begitu saja, tanpa mengucapkan apa pun.

Wei berjalan menuju sebuah jembatan. Dia menatap ke arah sungai. Setidaknya masuk penjara itu membuat keinginan Wei untuk lenyap dari bumi tertahan. Namun sekarang, dia bebas dan tak punya tujuan.

“Kau berniat masuk neraka?”

Wei menoleh dan menemukan si Sipir. Si Sipir itu memberikan barang-barang yang ditinggalkan Wei di penjara. Beberapa kotak cat minyak yang dibelakangnya ada tulisan tangan ibunya yang berbunyi; maafkan ibu.

“Untuk apa aku hidup? Tidak ada yang perlu kubahagiakan.”

“Jika tidak orang yang perlu kau bahagiakan. Berarti kau hanya perlu membahagiakan dirimu sendiri.”(*)

Pemalang dan Semarang, 2018

======================

Zahratul Wahdati dan Ratna Purnamasari, dua perempuan yang bertemu di UKM KIAS (Kajian Ilmu Apresiasi Sastra) Universitas PGRI Semarang. Beberapa karya mereka sudah dimuat di Suara Merdeka, Kompas, Basabasi.co, Solo Post, dan lain-lain.

Magrib dan Sebuah Pertikaian

0

Setengah bulan yang lalu aku disambut baik oleh warga setempat di lembah kendeng, desa yang ditutup oleh bukit kendeng, tempat pabrik semen itu beberapa bulan yang lalu mulai beroperasi menggeruk batu kapur dari tubuhnya. Magrib mulai samar-samar, karena cahaya lampu di arah barat bukan lagi cahaya dari mentari yang turun di ufuk Barat, tapi cahaya lampu pabrik yang menyala di malam hari. Jadi, cahaya magrib tampak sepanjang malam, terlihat dari lembah kendeng.

Tak banyak yang tahu bagaimana kehidupan orang lembah kendeng, karena daerahnya memang jauh dari desa-desa maju lainya. Apalagi bukit kendeng seperti pagar tinggi yang menghalangi pandangan seseorang pada desa terpencil ini. Pak Mudin yang bersamaku saat ini bercerita jika Desa mereka memang masih tertinggal. Apalagi persoalan pendidikan, terutama pendidikan keagamaan.

“Pemuda yang saya kader semuanya pada keluar dari desa ini kok, Mas. Makanya di sini sepi. Pelajaran agama geh ngene iki. Hanya belajar membaca al-Qur’an, itu pun tidak fasih.” Cerita Pak Mudin kepada saya dan teman-teman yang duduk bersila di hadapannya. Pak Mudin adalah seorang santri Alumni Lasem. Dia salah tokoh agama yang disegani di desa ini.

“Iya, mereka antusias lho, Pak.”

“Sesuatu yang baru bagi seseorang memang asyik. Saya saja mendengar puji-pujian apik seperti tadi di loudspeaker, yang asalnya capek sepulang dari ladang, menjadi semangat.” Katanya. Wajahnya nampak benar-benar bahagia. “Teringat masa lalu ketika di pondok, Mas.” Lanjut Pak Mudin.

“Saya lihat ada satu anak yang rajin dan pintar di sini, Pak.”

“Siapa?”

“Si Didik itu.”

“Owh yang sering adzan itu?”

“Iya.”

“Dia sebenarnya asalnya ngaji di Musollah di sebelah Barat sana, Mas. Dia orangnya rajin memang. Kesayangan Pak Mar.”

“Maksudnya sekarang pindah?” Celetuk teman saya.

“Iya.” Pak Mudin melepaskan pandangan ke luar masjid. Seakan ada sesuatu yang masih disimpan.

“Lho kok bisa?” Aku penasaran.

“Ceritanya panjang.” Jawab Pak Mudin pendek.

Aku tidak bisa menelusuri alur ceritanya lagi dari Pak Mudin malam ini, sepertinya dia tidak ingin bercerita apa-apa. Yang kutahu, Musollah itu sekarang memang sepi. Tak ada adzan dan kegiatan apapun.

Anjing milik warga mulai menggonggong sedang menyapa anjing-anjing yang lain untuk segera waspada jika ada orang berjalan tengah malam. Warga di lembah kendeng ini masih menggunakan anjing sebgai satpam rumah. Sebentar lagi akan beranjak pukul sembilan malam, warga akan menutup pintu untuk segera tidur.

Pak Mudin pamitan. Aku dan teman-teman juga segera pulang ke pondokan. Malam hari, tidak baik masih ada di luar rumah di desa ini. Seperti suatu hal yang asing.

Aku pulang sembari berpikir kenapa Didik sampai pindah dari Musollah ke Masjid. Apa karena kemauannya sendiri atau faktor lain.

“Aku mendengar dari Ibu Fatimah katanya persoalan pemilihan kepala desa.” Di tengah perjalanan Joko, temanku yang asli Jawa itu tiba-tiba nyeletuk, memberi tahu.

“Ibu Fatimah Ketua Forum Anak Desa itu?”

“Iya.”

“Kau lihat TPQ di sebelah utara pondokan kita itu. Mati tak dipakai kan?”

Aku tidak menjawab. Tapi Joko sudah tahu jika aku mengiyakan karena semua teman-temanku sudah tahu perihal itu. TPQ pindah ke Musollah dukuh atas.

“Memang tidak di mana-mana, persoalan pemilihan kepala desa membuat beberapa warga jadi saling berselisih.” Pungkasku, sebelum kami masuk ke pondokan.

“Tapi ya, paling nanti reda sendiri.”

Percakapan pun ditutup. Malam mulai mencekam. Gongongan anjing beberapa kali terdengar di dekat pondokanku.

***

“Aku punya ide.” Kataku pada Joko. Joko yang bermain Handphone berlagak tak memperhatikanku. Dia mungkin sudah mengerti apa yang akan aku bicarakan. “Ajak Didik untuk kembali ke Musollah.”

Joko terperanjat. “Bukan hanya persoalan Didik. Orang tuanya juga terlibat di dalamnya.”

“Jika Didik kembali ke tempat semula apa yang akan terjadi coba?”

“Aku tahu.”

“Lantas?”

“Persoalan itu tidak bisa diselesaikan secara singkat.”

“Tapi aku tidak ingin Didik ikut menjadi korban.”

Tak ada kesepakatan antara aku dan Joko. Aku pun memutuskan pergi ke rumah Didik. Ingin mengajaknya datang ke musollah Pak Mar.

Pagi ini, aku tergerak untuk beranjak dari pondokan. Dalam hati, aku ingin pergi ke rumah Didik saja, membujuknya agar nanti pergi ke Musollah bersama-sama. Iya. Aku pun berangkat ke rumah Didik. Kebetulan hari Minggu adalah hari libur SD. Didik pasti ada di rumah. Aku mengambil motor dan segera pergi.

Tak lama, aku sampai di depan rumah Didik yang berpagar besi. Didik termasuk orang berada di antara warga yang masih mempunyai rumah kuno berdinding kayu jati. Rumahnya besar. Orang tuanya termasuk disegani. Namun persoalan pelik tentang kepala desa membuat Bapaknya hilang kepercayaan dari sebagian warga yang tidak satu pendapat dengannya.

Aku mengucapkan salam. Keluarlah seseorang dari dalam. Ibu Didik.

“Eh, mari masuk.”

Njeh, Buk.”

Aku masuk ke rumah yang megah itu. Dalam artian lebih bagus dari rumah kebanyakan. Ada ruang tamu yang nyaman dan Vas bunga indah di sudut ruangan.

“Tumben sekali main ke sini.”

“Iya. Dari kemaren belum sempat, karena kami sibuk merancang kegiatan.”

Jenengan Sudah kenal Didik, kan?”

“Kenal sekali. Dia anak yang paling pintar di desa ini.”

“Oh ya?”

“Iya, Buk. Saya paham sekali dengan karakter Didik dari awal mengajarinya mengaji di Masjid.”

“Dia baru-baru ini sebenarnya di masjid.”

Ibu Didik mulai membuka percakapan. Aku ingin memancing lebih dalam lagi persoalan yang sebenarnya.

“Maksudnya, pindah?”

“He’eh.” Jawabnya.

“Asalnya ngaji di mana?”

“Di musollah Pak Mar.”

“Berarti Didik pintar karena hasil Pak Mar.”

“Pak Mar itu sekarang bukan gurunya lagi. Dia tidak sepemikiran dengan kami.”

“Apakah Didik setuju dia berpindah guru?”

“Entah.”

“Pernah bertanya sebelumnya?”

“Tidak. Tidak pernah.”

Aku diam dulu, sebelum melontarkan pertanyaan yang dapat merusak kehangatan. Sepertinya Ibu Didik tidak ingin diintrogasi lagi. Aku membuka toples yang berisi jajan. Membiarkan Ibu Didik meleburkan panas dingin yang seperti hendak tumpah. Ingatannya beberapa waktu yang lalu tentang pertikaian pendapat seperti hendak muncul kembali.

“Boleh aku ajak Didik pergi ke musollah nanti magrib, Buk?”

“Ke musollah?”

“Ya, ke musollah. Mungkin Didik rindu ke sana.”

Ibu Didik tertegun sejenak. “Ya, boleh boleh saja.”

Aku tidak melihat dia sedang marah. Tapi ekspresinya dingin sekali. Didik lalu datang membawa jagung bakar di tangannya. Dia datang dan bersalaman denganku. Didik adalah kanak-kanak yang mempunyai sifat dewasa. Tidak banyak berkata-kata. Aku yakin dia mampu berpikir kenapa dia harus mengaji di masjid bukan di musollah tempat asalnya dia mengaji kepada Pak Mar.

Didik duduk di sebelahku mengeluarkan jagung bakar. “Kakak suka jagung bakar?”

“Iya.” Ucapku. Aku mengambil separuh lalu memakannya untuk menyenangkan hati Didik.

“Malam ini ikut Kakak ya?”

“Ke mana?”

“Ke musollah Pak Mar,” jawabku. “Sebelum magrib kita berangkat.”

Dia mengalihkan pandangan ke arah ibunya. Aku juga ikut meliriknya. Ibunya tersenyum dengan terpaksa. Dia pun mengangguk meski sebenarnya tidak mengizinkan.

Dendam masih nampak di wajah Ibu Didik. Matanya dingin menatapku. Aku pun merasakan ketakutan, takut disangka mengalihkan perhatian kepadanya. Tapi aku lihat Didik sangat antusias hendak pergi denganku. Dia memakai pakaian dengan antusias serta membawa al-Qur’an di tangannya. Seolah ada rindu kepada Pak Mar yang sejak kecil sudah mendidiknya.

“Sudah siap?”

“Siap, Kak.”

“Buk, kami pamit,” ucapku pamitan pada ibunya Didik. Tak kulihat Bapaknya. Kata Ibunya dia sedang ada di ladang mencabut singkong. Petang nanti, baru dia akan kembali ke rumah.

Aku menggandeng tangan Didik. Segera beranjak untuk pergi ke musollah.

Saat ini sangat menggetarkan bagiku. Karena aku bisa merasakan ketegangan sebelumnya. Jantung berdegup kencang. Aku berjalan menuju arah musollah rasanya seperti terbang. Aku seakan tak merasakan sedang melangkah di tanah.

Berbeda dengan Didik yang santai-santai saja. Dia masih kanak-kanak. Tak tahu apa-apa, meskipun secara pemikiran dia sudah bisa membedakan mana yang baik untuk dirinya dan yang tidak.

Beberapa saat aku sudah sampai di musollah kecil yang tak bercat itu. Sebuah gedung berwarna abu-abu yang hanya dilapisi dengan semen. Aku naik. Lampu belum dihidupkan. Aku bertanya dalam hati, ke mana Pak Mar.

“Dua menit lagi adzan ya,” perintahku kepada Didik yang masih menyapu lantai di teras depan.

Beberapa saat kemudian, seseorang datang kepadaku di musollah. “Sebaiknya kau pergi dari sini. Biarkan Didik pulang. Aku lihat Bapaknya tadi mencarinya.”

Aku tak menghiraukan itu. Paling hanya orang yang tidak suka juga pada Pak Mar. Dia mencoba menakut-nakutiku. Aku berdiri di beranda musollah. Menunggu ada yang datang. Pak Mar pun belum keluar. Dua menit berlalu. Matahari sempurna tenggelam. Aku menyuruh Didik segera adzan. Suara seruak dari loudspeaker ketika tombol on dipencet terdengar. Aku melihat tetangga musollah celingukan di ambang pintu mereka. Mereka bingung siapa yang sedang menghidupkan loudspeaker musollah. Takbir pertama dikumandangkan. Pak Mar keluar. Memandangku dengan nanar. Wajahnya dingin. Namun matanya aku lihat dia sedang heran mendengar adzan itu berkumandang.

Allahu akbar allahu akbar

Asyhadu an laa ilaaha illallaah

Pak Mar menatapku dengan lekat. Aku lihat mulutnya berkomat-kamit menjawab adzan dari suara merdu Didik. Pak Mar Masih tertegun di depan pintu. Seakan tak percaya musollah yang dia asuh sedang berkumandang adzan maghrib. Aku membiarkan dia menikmati suara adzan itu. Pasti dia sudah lama tidak mendengarnya.

Tak lama, setelah adzan itu selesai. Dia pun masuk dan keluar dengan pakaian rapi. Menggunakan baju putih, sarung kotak, dan kopiah haji. Dia nampak bersahaja. Orang-orang semua keluar rumah mendengar adzan yang sudah lama tak didengar dari musollah itu. Beberapa Ibu-Ibu dan Bapak datang. Musollah mulai hidup.

Aku berjabat tangan dengan Pak Mar. Tangannya masih kuat. Walaupun wajahnya mulai nampak tua.

“Sehat, Pak Mar?”

“Alhamdulillah….”

Tak sempat Pak Mar menjawab ketika terdengar teriakan lantang dari arah Timur. Bapak Didik tampak membawa arit yang diacungkan ke atas langit. “Siapa yang membawa anakku ke Pak Mar tanpa izin dariku?” Suaranya menggelegar.

Aku mulai ketakutan. Bayanganku dia akan menyabet leherku nanti. Tapi aku mencoba tenang. Dia pun mendekat, tanpa izin atau kode, dia dengan cepat mengayunkan aritnya ke arahku. Aku menghindar. “Kau jangan ikut campur dengan persoalan kami.” Ucapnya.

Bapak Didik kemudian mengayunkan sekali lagi aritnya itu. Tak sampai aku menghindar, Pak Mar memegang tangannya. “Dia tak punya urusan denganmu. Urusanmu denganku.” Pak Mar yang sedari tadi diam bersuara tak kalah sangarnya.

Bapak Didik mengalihkan serangan. Dia menyerang Pak Mar. Orang di dalam rumah ikut keluar setelah mendengar pertikaian itu. Pak Mar berusaha menghindari sabetan arit bapak Didik. Perempuan yang melihat pertarungan ini berteriak-teriak. Bapak Didik masih terus mengayunkan aritnya. Pak Mar terpojok. Bapak Didik makin bernafsu. Satu sabetan akan membelah perutnya.

“Bapak!” Didik muncul tiba-tiba, berteriak kencang hendak menghadang bapaknya. Bapaknya mengurungkan sabetan itu.

“Bapak, Pak Mar adalah guruku.”

Aku lihat arit itu bergetar di tangan bapak Didik sesaat Didik menghambur memeluk bapaknya.

Rembang, 2019

==========

Toni Kahar, Kelahiran Sumenep, 03 Desember. Aktif di Komunitaas Sastra ATAP dan SAKA Sarang Rembang, Pemred Majalah al-Hibr STAI Al-Anwar. Saat ini menimba ilmu di PP. Al-Anwar Sarang Rembang. Beberapa karyanya sudah diterbitkan di beberapa antologi dan pernah dimuat di Media Online, sedang buku kumcernya yang telah terbit berujudul “Ketapel dan Burung-Burung di Pohon Asam” (FAM, 2019)

Kakek Yiu Wai Ip

2

“Dia terjatuh di kamar mandi. Lalu pingsan dan koma selama dua hari. Begitu ia tersadar, namamulah yang  ia cari. Jadi, kapan kau akan ke Hong Kong? Kungkung (1)sangat berharap kau kembali.”

Pesan singkat dari Atin,  perawat kungkung di Hongkong kubaca berulang kali. Aku tidak bisa mempercayai atau aku memang tidak siap atas apa yang diucapkannya. Pesan singkat itu berdengung di kepala, juga di dada.

Sampai akhirnya, ama memanggilku dari dapur. Aku mendapatinya sedang mengaduk masakan dengan aroma  menguar ke seluruh ruangan. Kulihat di wajan ada kapulaga, daun kari, dan kembang lawang. kemudian satu tangannya meraih daging sapi yang sejak siang sudah kurebus dengan panci presto. Aku berdiri di sampingnya, dengan maksud ingin meneruskan masakan, tapi dia menolak dengan satu tangan terangkat persis di depanku.

Dia membalikkan badan dengan cepat, lalu mengambil bubuk jintan, bubuk kunyit yang berjejer rapi di rak bumbu. Dengan cepat dituangkan kedua bubuk rempah tersebut. Kemudian,  tangannya meraih beberapa sendok curry powder yang sejak mula sudah kusiapkan di meja. Tangannya mengaduk kembali. Diusapnya peluh dengan punggung tangan. Dia tampak kelelahan.

“Tidak semua orang Singapore bisa memasak,” Ama membuka pembicaraan.

 Aku diam.

“Kau tahu,  kari  buatanku rasanya juara. Keluarga besarku menyukainya. Kau harus cermat belajar masak dariku! Kau beruntung bekerja di sini.”

Tangannya meraih gelas yang berisi susu bubuk yang sudah kularutkan. Dituangkan perlahan ke dalam kari. Tangannya  mengaduk kembali, lalu dia mengibaskan tangannya di atas masakan. Hidungnya menghidu dengan cermat setiap detail aromanya.

“Kau sepertinya ada masalah. Sejak tadi kuperhatikan kau diam,” Ama menilik pandangku.

“Aku tidak apa-apa, Ama.”

“Kalau begitu, tolong belikan aku asam kandis. Di rumah habis. Aku akan memasak asam pedas ikan pari,” ama mematikan kompor, kemudian mengambil 2 dolar uang Singapore.

Aku melangkah dengan kaki kebas menuju daun pintu dan segera pergi ke kedai. Berulang kali pesan itu membuatku teramat pening. Memoriku memutar ulang kejadian yang memilukan, sekaligus membuatku bersyukur telah dipertemukan dengan seseorang sebaik Kakek Yiu Wai Ip.

Ketika itu, dengan koper kecil yang kutarik dan tas punggung berwarna hitam di pundakku, aku meninggalkan rumah majikan di Taipo. Aku memutuskan kontrak dengan majikanku yang memiliki 3 pembantu. Aku pikir pilihanku benar, karena  intimidasi yang selalu kuterima dari dua pembantu lainnya.

Majikanku mengantarku menuju agency dengan Alphard berikut sopirnya, setelah aku menyodorkan selembar kertas one month notice(2). Dengan begitu, dia akan memberiku kesempatan bekerja selama satu bulan kedepan dan aku memiliki uang.

Agency yang kuharapkan sebagai tempat berlindung, ternyata membuatku kecewa. Dia memojokkanku dengan menumpahkan seluruh kesalahan  kepadaku. Argumentasinya mematahkan lidahku untuk membela diri. Dan aku hanya diam menunduk memandangi nat-nat lantai. Sampai akhirnya, aku tidak mendapat uang pengganti interminit(3). Aku kebingungan memikirkan lima hari kedepan akan mengisi perutku dengan apa.

“Kau boleh pergi sekarang dari kantorku!” tukas agencyku dengan ketus. Kukira, dia akan mempersilahkanku untuk tinggal di boarding house(4) miliknya dan mencarikanku majikan baru.

Kuseret koper dengan langkah gontai menuju Stasiun MTR(5). Mungkin di sana, aku bisa berpikir kemana aku harus pergi. Sampai akhirnya Dompet Dhuafa terbersit di kepalaku.

Dari stasiun Taipo aku mencari kereta jurusan Kowloon Tong. Dan aku turun di Kowloon Tong. Kemudian aku mencari kereta lagi dengan tujuan Prince Edward dan aku hampir tertidur di kereta itu, kalau saja seorang turis tidak bertanya tentang alamat yang dicarinya. Kereta berhenti di Stasiun Prince Edward dan aku mencari kereta jurusan Admiralty. Ini adalah stasiun persinggahan terakhir dengan tujuan Causeway Bay. Tubuhku kembali ditelan badan kereta yang mengantarkanku menuju Causeway Bay.

Sepanjang perjalanan, lampu berpijar menerangi jalan dengan lineria keemasan,  dan juga gedung-gedung yang bersolek dengan cahaya lampu. Sementara, Langkahku panjang-panjang, memburu ruang dan waktu yang bersekutu. Langit tak lagi dipenuhi gemintang, ada mendung yang menggantung di sana. Aku harus segera.

Sialnya aku lupa letak Shelter Dompet Dhuafa, karena memang baru sekali aku ke sana ketika libur beberapa pekan lalu. Entah sudah berapa kali aku naik turun tangga gedung mengetuk satu pintu ke pintu lainnya.

Malam sudah mencapai kepekatannya. Mendung pun sudah siap-siap menumpahkan segala isinya. Aku berjalan menyeret koper dengan lemah. Aku sudah lelah. Kubiarkan saja angin mengusikku berkali-kali hingga akhirnya hujan berjatuhan bagai ratusan anak panah. Menghunjam bumi dan diriku tanpa ampun. Aku terbalut gigil yang amat akut hingga aku tergugu dalam kerasnya kehidupan Hong Kong.

Aku menuju stasiun setelah aku membeli sepotong roti dengan kartu patadongku(6). Aku duduk di  tangga stasiun. Di sana kunikmati rotiku. Hingga pada akhirnya, ada dua pasang kaki melangkah ke arahku. Seorang kakek dengan perawatnya.

Kakek itu memakai baju bergaya vintage berwarna turkuas yang sempat tenar di zaman Benjamin, dikombinasikan dengan rompi cokelat dan celana panjang corduroy cokelat. Kulihat sepatunya amat hitam berkilat terpantul sinar lampu. Tangan kanannya memegangi tongkat, tangan kirinya diapit perawat. Mereka menanyaiku, hingga akhirnya, kakek memintaku pulang ke rumahnya dan akan membawaku terlebih dahulu makan di restaurant. Aku menolak ajakannya. Kurasa, dia memberiku tumpangan sudah lebih dari cukup.

“Kamu hanya makan sepotong roti,” ucap kakek  sambil tersenyum memamerkan putih deretan giginya. Entah sejak menit keberapa kakek itu mengamatiku.

Kakiku mengikuti langkah pelan kakek  menuju Restaurant China yang berada di dalam bangunan Masjid Wanchai di lantai lima. Lalu kakek menuju ke sebuah meja bundar yang besar dengan empat kursi di sana. Kakek duduk di sampingku dan juga di samping perawatnya.

Kakek menulis pesanan, lalu sopir kakek yang berkewarganegaraan Filipina membawa kertas itu menuju meja waiter. Kami menunggu, dan kakek memapah pembicaraan, sehingga suasana menjadi cair. Sedikit demi sedikit kecanggunganku berkurang. Dari pembicaraan inilah aku mengetahui kakek itu bernama Yiu Wai Ip.

Pelayan datang dengan beberapa makanan di  tangannya. Empat bamboo steamer berisi dim sum yang masih mengepul asapnya. Sekeranjang Xiaolongbao(7), tiga piring nasi goreng oriental, dan empat mangkok kecil dong yhun(8).

                                                                        ***

Kakek hidup bersama istri dan perawatnya. Namun nenek lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Tidak ada komunikasi secara intens diantara keduanya. Mereka seolah-olah saling memberi jarak dan jeda. Aku tidak begitu memusingkan perkara ini, karena aku hanya orang yang singgah di rumah ini  dan sekejap aku pergi. Aku lebih memusatkan perhatianku menjaga kakek.

Pada hari keempat aku di rumahnya, kudapati kakek tidak seperti biasanya. Dia amat lesu dan lebih banyak diam. Dia duduk di sebuah kursi di tepi jendela, sementara televisi yang menyala dibiarkan saja.

“Kungkung, bolehkan aku memijat kakimu?” aku memancing suasana.

“Tidak perlu. Kau yakin akan pulang? Kau tidak ingin menuntut hakmu atas majikanmu?” tanyanya kemudian.

“Suamiku bersikeras menyuruhku pulang, Kek. Tanpa memberi alasan. Aku harus melupakan segalanya, dia memintaku.”

“Aku sedih kau hanya memiliki waktu lima hari di sini. Besok kau akan pulang. Aku seperti menemukan sesosok anak pada dirimu,” kakek berbicara dengan kekenesan yang berlebihan.

“Kau sungguh memiliki kemiripan dengan anakku, Yani,” kakek merogoh potret ukuran kecil dari dompet. Disodorkannya potret itu kepadaku. Sesosok gadis kecil berkepang, dengan kulitnya berwarna tembaga. Kulirik kulitku. Sama. Ah, ini hanya kebetulan.

“Aku harus berpisah darinya ketika ibunya memutuskan untuk pulang ke Indonesia, selamanya. Saat itu dia berusia 4 tahun. Namanya Yani Yiu Ip,” Kakek menggaruk lengan, aku segera mengambil cream gatal lalu kuoleskan ke lengannya. “Sama seperti namamu, kan?” kedua matanya menatapku.

“Namaku Yani Lestari, Kek.”

Dia diam cukup lama. Matanya berkaca-kaca lalu tangan kanannya mengibas, “Sudah tidak usah dipikirkan!”

Dia diam cukup lama. Matanya berkaca-kaca lalu tangan kanannya mengibas, “Sudah tidak usah dipikirkan!”

Aku langsung mengaitkan ketidakacuhan nenek kepada kakek. Apakah ini sebabnya? Pikiranku dipenuhi segala kemungkinan-kemungkinan.

“Jadi, kau memiliki dua istri, Kek?” tanyaku berusaha memancing jawaban untuk memastikan kemungkinan-kemunginan di kepalaku.

“Kau mengintrogasiku, Yani?” Kakek terkekeh, “Yah, memang. Perempuan Indonesia itu juga istriku.”

                                                                ***

Pagi itu tepat pukul 4 aku bersiap-siap untuk meninggalkan rumah Kakek. Kakek masih di kamar, mungkin dia masih tidur. Neneklah yang menemaniku. Sampai pada akhirnya, kakek berjalan gontai mendekatiku. Kulihat dia sesenggukkan. Bening air matanya membanjiri pipi, ia serupa anak kecil yang hendak ditinggal ibunya. Nenek entah mengomel apa melihat tingkah kakek. Karena suaranya yang cedal sulit bagiku untuk memahami pembicarannya, terlebih kantonisku sangat minim.

Kakek mengulurkan sejumlah uang. Aku hanya mematung.

“Ambil! Aku tahu kau tidak membawa uang. Apa yang akan kau katakan kepada anakmu jika kau kembali tanpa coklat, permen, atau mainan?” Kakek mengusap ingusnya.

Aku menatap ke arah nenek. Kulihat mulutnya merucut dan ia mulai menyadari aku menatapnya, “Ambilah, Yani! Untuk anakmu.” begitu ucap nenek akhirnya. Entah karena merasa tidak enak denganku atau memang dia menimbang-nimbang perkataan kakek.

***

Aku memutuskan mencari penerbangan tujuan Hong Kong. Aku hanya ingin menyambangi  kakek, setelah mengantongi izin dari majikanku di Singapore.

Mataku nanar ketika aku telah berada di Queen Elizabet Hospital, kakek dirawat di sana. Terakhir Atin mengabarkan, jika kakek masih dalam keadaan kritis, tidak kunjung membaik dan masih sering mencariku.

Aku melangkah masuk melewati security yang berjaga,  ia segera menghadangku, meminta ID Cardku(9) dan kartu pengunjung. Aku mengambil ID Card tanpa bisa menunjukkan kartu pengunjung. Dia menolak. Aku meyakinkan jika aku ingin menjenguk salah satu pasien yang kukenali. Namun sayang, security itu membuktikan kapasitasnya sebagai pekerja yang baik. Hingga akhirnya aku mengirimkan pesan ke Atin untuk menjemputku.

Begitu aku memasuki ruangan kakek, mataku memutari kamar di mana kakek dirawat, hingga akhirnya pandangku jatuh ke tubuhnya yang terbaring ringkih. Di sampingnya, kudapati nenek dan seorang perempuan yang kutaksir itu adalah anaknya.

“Yani,”  Wajah kakek tak lagi bersinar seperti saat bertemu dengannya di stasiun dulu. Aku mendekatinya.

“Oh, kamu ternyata yang namanya, Yani,” suara perempuan itu tidak bertanya juga tidak memastikan.

“Aku ingin memastikan, apakah kau baik-baik saja dalam perjalanan?” Aku mengangguk, sikap simpatinya tetap konsisten, “Aku tidak ingin kau seperti saat di stasiun.” Kakek menyunggingkan senyum.

Matanya mengerling ke arah Atin, seperti memberi suatu isyarat. Atin mengangguk. Lalu ia memberikan sebuah buku kecil. Semacam buku rekening. Namun, nenek segera menyambar buku tersebut.

“Kamu sebenarnya siapa?” Kedua bola mata nenek menganak sungai.

Mulutku mendadak kelu ketika hendak kubuka, dan kerongkonganku seperti tersumpal.  Aku baru tersadar jika aku berada di tempat yang salah.(*)

Keterangan:

1. Kungkung: kakek

2. One Month Notice: Surat sebulan pemberitahuan. Peraturan Hongkong mengharuskan jika pekerja akan mengakhiri kontrak kerjanya, harus menggunakan one month notice. Jika majikan tidak bisa mempekerjakannya sampai sebulan kedepan, dia harus membayar uang sebulan gaji.

3.Interminit: pemberhentian kerja secara sepihak tanpa pemberitahuan. Jika hal ini dilakukan majikan, maka majikan harus membayar satu bulan gaji dan gaji yang belum dibayar.

4. Boarding house: kos-kosan dan agency harus memilikinya.

5.MTR: Mass Transit Railway, kereta cepat.

6. Patadong: Kartu untuk naik MTR,  bus, dan bisa digunakan untuk berbelanja di beberapa toko.

7. Xiaolongbao: Pangsit isi

8. Dong Yhun: semacam wedang ronde

9. ID Card: Kartu Identitas



====================
Diani Anggarawati Lahir di kota Kendal, Jawa Tengah. Nama pena sebelumnya Diani Ramadhaniesta dan kini lebih nyaman menggunakan nama asli. Beberapa karyanya yang pernah terbit adalah: Hong Kong Bercerita, kumcer (Alif Gemilang Pressindo, 2013), Jejak Kartini di Negeri Beton, biografi TKW berprestasi di Hong Kong (Kaifa Publishing, 2013), Cinta Bertahta, novel (Rumah Orange, 2014) dan beberapa cerpennya pernah dipublikasikan di media berbahasa Indonesia di Hong Kong, Taiwan dan media online di Indonesia.

Kunci

0

BEBERAPA waktu ia tak kunjung mendapati kunci yang seharusnya dapat membuka pintu rumahnya. Ia juga tak tahu mengapa kunci yang semestinya berada di bawah keset raib tak tahu rimbanya. Ia mengingat-ingat, terakhir ia menaruhnya memang di situ dan tak pernah di tempat lain. Jika pun ia lupa, ia pernah lupa mengunci pintu itu seperti yang terjadi bulan lalu saat ia buru-buru berangkat kerja dan pulangnya mendapati pintu rumah terbuka dan di dalamnya berantakan bagai kapal pecah. Barangkali istrinya pulang sebentar untuk mengambil sisa barang-barangnya.

Di mana kunci itu ia letakkan?

Ia tak berpesan apapun pada Drio. Bukan sungkan atau tak ingin mengganggu aktivitas berkebunnya saban pagi, yakni merawat aneka sayuran hidroponik di halaman rumahnya. Tetangganya itu memang rajin sebagai petani rumahan. Aneka sayuran ia tanam: selada, kol, kacang panjang, hingga tomat dan cabai. Meski pekerjaan resmi yang senantiasa ia katakan adalah menulis novel–entah sudah diterbitkan atau belum. Dan ia sudah menganggap Drio sebagai saudara. Bukan lantaran sama-sama hidup sendiri sebagai duda. Namun, pagi itu, ia benar-benar buru-buru mengejar jadwal keberangkatan kereta.

Oleh karena keterburu-buruannya itu, ia sampai lupa membawa sebuah tas berisi hasil ulangan murid-muridnya. Ia hanya membawa tas berisi laptop beserta chargernya, smartphone beserta chargernya, buku-buku diktat mata pelajaran yang diampunya, dan beberapa pulpen dan spidol hitam (bahkan ia lupa membawa sisir dan pencuci muka). Seharusnya ia bagikan hasil ulangan itu dan memberikan tes perbaikan bagi murid yang nilainya kurang. Di kelas, ia tak bisa melaksanakan rencana itu. Ia harus berbohong bahwa ulangan mereka belum selesai dinilai dan akan dibagikan pada pertemuan berikutnya. Murid-murid sebagian kecewa, tapi banyak yang lega.

Hampir lima tahun ia menjalani profesi sebagai pengajar di sebuah sekolah swasta di luar kota. Meski itu tak sesuai dengan kualifikasi ijazahnya. Pekerjaan itu ia peroleh dari mertuanya yang menjadi kepala sekolah di tempat ia mengajar. Sebagai mertua tentu tak elok punya mantu pengangguran, apalagi bergelar sarjana. “Buat apa sekolah tinggi-tinggi jika tak memiliki pekerjaan yang mumpuni,” kata si mertua suatu kali. Maka, berkat jabatannya, masuklah si mantu-pengangguran-itu di sekolah yang dikepalainya, meski tak punya latar belakang sebagai sarjana kependidikan.

Ketika si mertua pensiun, ia tetap mengajar di sekolah itu, sambil melanjutkan studi penyetaraan ijazah. Dan di situlah pertengkaran dengan istrinya mulai tumbuh, mengakar kuat, menjulangkan dahan-dahan, hingga berbuah perceraian. Sebuah persoalan yang sengaja dibuat-buat supaya dapat dijadikan bahan pertengkaran. Sebuah masalah kecil yang dibesar-besarkan agar dapat dijadikan alibi sebuah perpisahan. Lantas istrinya melanjutkan studi ke Eropa–yang memang menjadi cita-citanya sedari kecil–dan mungkin tengah menjalin hubungan asmara dengan lelaki bule setempat. Meski demikian, mertuanya tetap menganggapnya anak sebab ia tak punya anak lain selain anaknya.

Dulu Arman hanya tahu bahwa menikahi kekasihnya adalah keniscayaan. Ialah perempuan yang menjadi istrinya. Tak ada yang lebih istimewa selain menikahi seseorang yang paling dikasihi sepenuh hati. Dan Arman  hanya tahu bahwa mencintainya adalah bukan kebetulan belaka. Ada semacam proses pencarian cinta yang amat luar biasa yang ia kerahkan sepenuh tenaga–semacam ijtihad lahir batin. Cinta yang kemudian bertunas menjadi harapan. Tumbuh menjadi keyakinan. Dan berbuah menjadi cahaya masa depan. Sebuah rencana memikat yang mudah disusun dalam angan-angan namun susah diwujudkan dalam kenyataan. Sedikit pun ia tak menyadari di balik ketergesaannya memutuskan perkara itu membuatnya kini meratapi penyesalan yang tak tertanggungkan. Ia kini hidup sendiri, di rumah yang dua tahun lalu dibelinya dengan cara kredit dari uang sertifikasi, tanpa seorang istri yang dulu begitu ia kasihi. Apalagi seorang buah hati. Ia benar-benar lelaki sepi.

Akan tetapi, buat apa menyesali yang telah terjadi?

Arman tampak waras saja meski tiada sedikit pun menampakkannya lewat gurat wajah atau perangai sehari-hari. Ia masih mengajar tiap pagi; menyapa Drio, novelis sekaligus petani rumahan–yang novel-novelnya belum ia beli di toko buku; dan mengejar kereta dan berjejalan di dalamnya. Lalu, sepulangnya, ia kerjakan pekerjaan rumah: menyapu lantai, membersihkan kaca jendela, sesekali mengelap lemari dan beberapa barang pecah belah di dalamnya, dan ketika usai, ia menyeruput kopi yang sengaja ia letakkan di meja tamu, dan jika capai, ia menonton tv yang menayangkan berita maupun informasi seputar selebriti. Ia jarang menonton sinema televisi yang tayang hingga ratusan episode, yang selalu berakhir tanpa klimaks.

“Rumput di halaman sudah meninggi. Sudah waktunya kau cabuti,” batinnya, kepada diri sendiri.

Sejatinya bukan itu yang ia permasalahkan. Namun, tangannya masih melepuh usai tertumpahi air panas sebelum berangkat ke sekolah yang membuatnya urung mencabuti rumput-rumput liar itu. Andai saja ia tak mengangkat telepon Ria, andai ia lebih sabar menuang air panas ke cangkir kopi, andai ia tak berpikir macam-macam soal mantan istrinya, tentu tangan itu sanggup mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sekaligus.

Yang terjadi tak demikian adanya.

Tak baik meratapi segala yang terjadi. Biarkan ia mengalir bagai air kali dan memuara ke laut. Begitu sebuah quote yang pernah ia baca di laman Facebook. Pemilik akunnya seorang ustaz karena di awal namanya ada gelar itu. Tapi ia tak peduli. Ia hanya mengakui bahwa ia terlampau mendalami keadaannya dan abai pada hal-hal penting di sekitarnya. Dan itu yang membuatnya makin larut dalam perbuatan yang telah diperbuatnya.

Sejak kecil ia dilatih untuk percaya diri. Percaya kepada kemampuan sendiri. Halangan sebesar apapun tak perlu gentar bahkan ditakuti. Semua adalah tantangan, yang bilamana sanggup dihadapi maka engkau akan menjadi orang yang kuat dan tahan banting. Demikian pesan bapaknya, tiga tahun sebelum ia masuk madrasah tsanawiyah. Ia begitu yakin bahwa apa yang dikatakan bapaknya benar. Ia buktikan itu ketika memilih masuk madrasah daripada sekolah umum. Ia yakin jika masuk madrasah ia makin mengerti ilmu agama di samping ilmu umum. Ia yakin mampu mengerjakan soal-soal ujian yang diberikan (baik UTS, UAS, maupun UN). Ia yakin akan menjadi seorang cerdik-cendekia yang mampu mengentaskan kebodohan di seluruh pelosok kampungnya. Ia yakin dengan mimpinya setinggi langit itu meski tak tahu akan jatuh di antara bintang-bintang atau terjun bebas ke bumi yang keras lahir batin. Ia hanya yakin.

Yakin yang terlampau menjulang.

Pada ujungnya, ia jatuh di comberan. Menjadi kuli batu dan bekerja apapun di malam hari untuk melunasi hutang-hutang yang dibuatnya semenjak kuliah–meski harus ia selesaikan dalam kurun tujuh tahun. Ia terjerembab dalam kerasnya dunia yang sebenarnya. Penyesalan memang senantiasa hadir belakangan.

Di balik itu semua, ia terlanjur mencintai seorang gadis teman kuliahnya. Begitu amat mencintainya dan bahkan ingin lekas menikahinya. Ia pun menikahi kekasihnya. Beruntung, ibu kekasihnya yang janda memberinya pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah yang dikepalainya, sehingga ia meninggalkan perkerjaan-pekerjaan kasarnya dan memulai merintis rumah tangganya. Meski kemudian keputusan buru-buru itu yang kini mesti ditanggungnya untuk melengkapi ketololannya menjalani hidup. Hidupnya jauh dari kata siap dan mapan.

Di rumah itu lengang. Jika Ria masih ada, tentu rumah itu berwarna. Arman hanya meratap pada dinding yang diam-beku, pucat warna putihnya, lumut menghijau di sana-sini.

“Semestinya hidup lebih adil kepadaku.”

Arman sempat meraba celah jendela kaca bersusun. Jerujinya yang longgar mudah bagiku merogohkan tangan kurusku, bisiknya pada dirinya sendiri. Kunci rumah tak ia temukan di situ. Ia beralih ke pot bunga cocor bebek. Rumput-rumput halus hampir memenuhi ruang itu dan ia abai tak sempat mencabutinya. Tak ada kunci.

Lalu di mana kunci itu berada?

Engkaukah yang menyimpannya? [*]

==========

M Firdaus Rahmatullah, lahir di Jombang. Menggemari sastra dan kopi. Tahun 2015, mengikuti workshop cerpen Kompas di Bali. Kini, tinggal di Situbondo.

Dongeng-dongeng Sebelum Lelap

0


MATA PENYAIR

Penyair yang menyepi di dalam gua itu sebenarnya betah dengan hidupnya. Tapi semakin lama semakin tumbuh suatu keyakinan di dalam hatinya. Keyakinan bahwa ada yang lebih indah selain di dalam gua. Makanya dia selalu berdoa seperti ini: “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku pemandangan terindahMu. Aku yakin, semua pemandangan yang ada di sini bukanlah pemandangan terindahMu.”

Penyair itu pun lalu berdiri di mulut gua. Angin semilir menebarkan sejuk-segar. Matahari mulai terbit di ufuk timur. Cahayanya memendar di awan-awan di barisan pegunungan dipantulkan dedaunan dan danau yang terhampar luas. Tapi penyair itu yakin, bukan itu pemandangan terindah.

Suatu sepertiga malam saat penyair itu khusuk berdoa, dia mendapat bisikan untuk turun gunung menuju ke keramaian. Pagi masih sunyi ketika penyair itu memasuki gerbang perkampungan. Orang pertama yang melihatnya, tidak berkedip matanya. Orang kedua dan selanjutnya masih sama saja. Mereka terpesona dengan penyair itu. Terpesona dengan indah dan cemerlangnya mata penyair itu.

Penyair itu semakin masuk ke perkampungan. Semakin banyak orang yang tidak bisa mengedipkan matanya. Mereka diam-diam mengikuti ke mana penyair itu melangkah. Semakin jauh mereka mengikuti semakin tumbuh keyakinan di dalam hati mereka. Keyakinan bahwa dengan mata seindah itu mereka pasti bisa melihat keindahan dunia. Keindahan dunia yang sudah lama hilang dari hidup mereka.

Ketika sampai ke sebuah lapangan, tiba-tiba orang-orang kampung itu menyerbu sang penyair. Mereka menangkap, menjatuhkan, memiting dan mencongkel dua mata sang penyair dengan sendok. Sepasang mata indah itu seperti bola, jatuh ke tanah lalu memantul tinggi dan jatuh di tempat jauh. Orang-orang mengejarnya. Berebutan. Dan lapangan itu pun sepi kembali.

Penyair itu berdiri. Dia terpesona, sehingga memar dan nyeri sekujur tubuhnya tidak dirasakannya. “Tuhan,” katanya dengan suara bergetar. “Keindahan hakiki itu, keindahan abadi itu, terasa sampai ke seluruh pori terkecil tubuh ini. Keindahan terindah itu, keindahan menggetarkan itu, ternyata terlihat begitu nyata, setelah tidak punya mata.”



MONYET BERTAPA

Seekor monyet bertapa di tengah hutan. Dia berdoa dan berdoa, kepada Tuhan, agar dijadikan seekor kupu-kupu. Ya, monyet itu sangat terpesona dengan keindahan kupu-kupu. Saat itu musim bunga tiba. Di pinggiran dan lembah hutan bunga-bunga bermekaran. Monyet itu terpana melihat kupu-kupu terbang dari bunga ke bunga. Warna-warni tubuhnya begitu indah. Gemulai terbangnya begitu mempesona.

“Ya, Tuhan, betapa indahnya kupu-kupu yang terbang di taman-taman bebungaan. Betapa saya baru sadar, tubuh ini begitu buruk rupanya. Sekali dalam hidup yang singkat ini, ya Tuhan, jadikanlah saya seekor kupu-kupu yang indah,” doa monyet itu.

Karena doanya terus diulang dan begitu khusuk, lambat laun tubuh monyet yang bertapa itu berubah. Siang dan malam perubahan itu terjadi, perlahan, dan semakin nyata. Monyet itu tidak menyadarinya karena khusuk berdoa. Dan saat perasaannya menjadi lain, monyet itu bahagia. Dia merasa tubuhnya sudah berubah. Dia berlari ke sana ke mari mencari cermin.

Di tepi sebuah danau berair bening, monyet itu terkejut. Hatinya begitu sakit. Tubuhnya menggigil. Perasaannya hancur. Ya, karena monyet itu sekarang sudah berubah menjadi seekor ulat bulu. “Engkau begitu kejam, ya Tuhan. Engkau begitu kejam!” teriaknya. “Aku berdoa minta sesuatu yang indah malah dijadikan yang buruk rupa.”  

Sejak itu, monyet yang sudah berubah jadi ulat bulu itu, tidak mau lagi berdoa. Dia marah kepada Tuhan.




DUA PEMBURU

Dua orang pemburu sedang di tengah hutan. Senapan laras panjang terikat di punggungnya. Pistol terselip di pinggangnya. Tidak lupa golok untuk mencincang hewan buruan dan belati kecil untuk menguliti. Ransel isi perbekalan juga mereka bawa.

Sejak memasuki hutan lebat itu, dua orang pemburu yang bersahabat itu tidak berhenti saling cerita.

“Bila nanti kita mendapatkan seekor harimau, untuk saya saja kulitnya,” kata pemburu satu. “Katanya harganya mahal di kota. Saya butuh buat biaya membetulkan rumah yang sudah bocor-bocor. Takut rubuh duluan.”

“Bukannya menghalangi, saya juga sedang butuh buat modal menanam padi di sawah. Kita berangkat bareng saja ke kota, kita jual juga dagingnya, katanya daging harimau itu mahal juga,” kata pemburu dua.

“Begitu juga bagus.”

Dua pemburu itu tidak menyadari, tidak jauh dari mereka ada seekor harimau Jawa yang mencium adanya manusia. Harimau itu mengintip. Dua pemburu itu terkejut ketika ada harimau sebesar anak sapi meloncat ke hadapan mereka. Pemburu satu berlari menubruk apapun di sekitarnya. Dia menjatuhkan ransel dan senapannya, lalu naik ke pohon besar. Pemburu dua yang tidak sempat kabur, terduduk lemas. Celananya basah. Dia memejamkan mata saking takutnya. Pasrah kepada nasib. Harimau itu berjalan perlahan mendekat pemburu dua. Suara auuummm-nya menggetarkan hutan. Tapi dia tidak menerkam. Harimau itu hanya berbisik, lalu berlalu.

Setelah sadar dari ketakutannya, pemburu dua wajahnya berdarah lagi. Pemburu satu juga turun dari pohon.

“Alhamdulillah kita selamat. Tapi saya heran, harimau itu tidak menerkam, malah hanya berbisik kepadamu. Apa sebenarnya yang dibisikkannya?” tanya pemburu satu.

“Kata harimau, jangan banyak omong tentang kulit dan daging harimau sebelum menangkap harimau!”

(Kisah ini ditulis sambil membayangkan salah satu cerita Jalaludin Rumi)




TAMAN TERINDAH

Sampai ke taman terindah itu saat senja memancarkan pesonanya. Lembayung kuning menyebar di langit barat. Memantul di bebungaan. Mawar, aster, melati, bakung, dahlia, menyerap pesona lembayung, memantulkan cahaya jingga yang menggetarkan semua jiwa. Melati, sedap malam, kemuning, menebarkan harum  ke setiap tarikan napas membuat mata terpejam, mengalir di dalam darah di dalam tulang di dalam daging di dalam pori-pori terkecil dari tubuh.

Kupu-kupu warna-warni beterbangan lalu hinggap di bebungaan menyerap madu nektar yang manis yang harum yang menyehatkan jiwa dan raga. Air telaga yang bening beriak ketika selembar daun jatuh. Sepasang semut yang hinggap di daun kuning terkejut cemas tapi kemudian merasa sedang berbulan madu di lautan luas yang tenang. Ikan mas warna-warni merah kuning hitam menari di permukaan menyambut lembayung kuning dan menunggu cahaya rembulan. Sepasang burung dalam perjalanan pulang masih sempat hinggap di reranting pohon dan bernyanyi riang sebelum melanjutkan pulang ke sarang.

“Taman apa ini, begitu indah dan mempesona,” bisik saya dengan suara bergetar.

Bidadari yang memandu perjalanan ini tersenyum lembut. “Taman ini, taman yang selalu indah ini, ada di dalam hatimu yang paling rahasia, di dalam perasaan terdalammu, di dalam kebijaksanaan paling menggetarkanmu, yang sepanjang usiamu belum pernah kamu kunjungi,” katanya merdu.

Saya menunduk dan menangis, tanpa airmata, tanpa suara. Begitu indah.

============================
Yus R. Ismail, menulis cerpen, novel dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of The Night terjemahan C.W. Watson (Lontar, 2019) memuat 5 carpon-nya. Novel Tragedi Buah Apel terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Novel Anak penerbit Indiva 2019. Cerpen dan puisinya pernah dipublikasikan Media Indonesia, Jawa Pos, detik.com, Kompas.id, Magrib.id, Koran Tempo, Kompas, Femina, Nova, basabasi.com, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Lampung Pos, Padang Ekspress, Republika, dsb.
Sekarang tinggal di kampung Rancakalong, menanam bebungaan dan menulis.

Rumah Kanak-Kanak

0



       “Sejak sering terjadi pemberontakan rakyat resah. Rumah-tumah orang kaya milik pendatang dirampok. Toko-toko milik babah-babah dijarah. Para pendatang dianiaya, bahkan ada yang dibunuh. Kehidupan tak lagi tenang. Kacau. Mereka ketakutan. Mereka memilih  hijrah ke kampung lain!”

        Sungguh, tiada yang lebih indah daripada hidup di rumah kanak-kanak. Dahulu, ia, Sam, Ahong, Ludi, dan Engku, adalah teman sepermainan. Tak ada yang lebih seru, selain mandi di sungai, berlomba renang dan menyelam, terjun dari ketinggian tebing di atas sungai, memandikan kerbau, memanjat pohon, berburu burung, dan pesta buah jamblang. Amboi, betapa elok mengenang masa kanak-kanak. Tak ada yang lebih menyenangkan selain kala bocah.

       “Kau ingin jadi apa kalau sudah besar, Ludi?” ulik Sam, kala itu mereka berlima tengah nggelosor di bawah pohon jamblang, kepayahan, setelah pesta buah jamblang. Demi mencapai pohon jamblang ini mereka harus jalan kaki kiloan meter, menyusuri sawah,  menyeberangi sungai. Pohon jamblang sebesar raksasa dan setegap batu gunung, adalah tempat asyik untuk berkumpul, apalagi saat musim jamblang berbuah. Buah jamblang sebesar kelereng, berwarna hitam keunguan, harum, dan manis rasanya, aih membuat mereka tak bosan menyantap. Buah jamblang yang sudah matang berjatuhan. Ludi mengambil jamblang, mengunyahnya, biji dilepehkan.

        “Aku ingin jadi tentara,” jawab Ludi tegas. Terbayang sosok panutan Ludi. Ayah yang   pemberani. Ayah Ludi seorang tentara. Ayah asli orang Jawa, namun ditugaskan di pulau elok ini. Bahkan Ludi dan adiknya juga dilahirkan di sini. Mereka sudah betah tinggal di pulau yang kaya rempah-rempah ini.

       “Mengapa jadi tentara?” tanya Engku, mulutnya pun  mengunyah buah jamblang.

       “Aku ingin seperti ayahku, memberantas kejahatan, menjaga keamanan.”  Ludi terbayang sosok  tinggi, badan tegap, kulit sawo matang. Kelihatannya sangar, tapi sikapnya ramah dan bersahabat. Beberapa kali sua saat main ke rumah Ludi, rumah separuh tembok berpagar barisan pohon singkong.

       “Namun nanti kau harus sering bepergian. Katanya ayahmu sedang tugas ketika ibumu melahirkanmu, Di,” ulik Ahong.

       “Ya. Kata Ayah, itu sudah tanggungjawab seorang prajurit. Mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan golongan atau pribadi. Kata Ayah, sebagai prajurit yang merupakan benteng negara, jika ada tugas negara memanggil, mereka harus berangkat, meskipun anak di rumah sedang sakit, atau istri sedang melahirkan. Kalian tahu, ayahku sangat gagah ketika mengenakan seragam loreng, menyandang senjata lars.”

       “Semoga cita-citamu menjadi tentara terwujud, Ludi.”

       “Amin.”

       “Engku, apa sih cita-citamu?” Ludi kali ini yang bertanya. Sam, dan ia menatap  bocah berumur 11 tahun yang tubuhnya paling kurus dan kecil. Engku berkulit langsat pucat. Sepasang matanya terlihat tajam.  Engku memang boncel, tapi otaknya  cemerlang.  Pernah mewakili sekolah   lomba siswa teladan di kabupaten, dan mendapat juara dua di provinsi.

        “Aku ingin jadi guru,” Engku menjawab pelan. Suara lembutnya berdesir seiring musim kemarau. Rerumputan masih menghijau. Sungai masih mengalir meskipun tiada deras. Angin lembah  mendedah.

        “Jadi guru?”Empat  pasang mata menatap, mengerjap.

       “Aku ingin seperti pak guru Kuat. Beliau sabar,  pandai dan cerdas. Setiap pertanyaan yang kita ajukan, Pak Kuat pasti bisa menjawabnya.”

        “Pak Kuat memang pintar, ” gumam Ludi.

        “Kata beliau, guru masih sangat dibutuhkan di dusun  ini. Kelak seandainya jadi guru aku ingin ditugaskan di  dusun Sawojajar ini. Mengajar anak-anak. Alangkah senangnya.  Kata Pak Kuat, tak ada yang lebih beruntung dalam hidup  ini selain bermanfaat pada orang lain,” untuk meraih cita-citanya Engku rajin belajar, menyimak ketika guru mengajar, menulis dan mencatat pengetahuan baru yang didapat dari hobinya membaca. Di halaman kantor Kecamatan dipasang papan surat kabar. Surat kabar nasional dan koran lokal dipajang. Setiap hari sebelum sekolah, Engku mengayuh sepeda mendatangi papan koran, menumpang membaca, demi menambah ilmu, wawasan, dan pengetahuan.

         “Kalau aku ingin kerja di bank. Pegawai bank banyak uangnya. Saban hari menghitung uang,” gumam Sam, santai.  Bocah usia 12 tahun bertubuh gemuk bagai tambur, teringat pada suatu hari diajak ibunya pergi ke bank di seberang pasar kecamatan. Ibu Sam seorang pedagang makanan. Pergi ke bank untuk menabung atau setor cicilan hutang. Pekerjaan pegawai bank sepertinya santai dan mengasyikkan. “Tapi apakah aku bisa, ya. Soalnya, matematikaku kan tak sepintar Engku, Ludi, Ahong, atau kamu, Bur. Aku tak pintar berhitung,” Sam menggeleng-gelengkan kepala, lucu. Teman-temannya tersenyum, bahkan Ludi tertawa tergelak-gelak. Ahong sampai berguling-guling. Tubuhnya yang tambun putih tampak lucu seperti panda.

       “Kau ingin jadi apa Ahong jika sudah besar kelak?” tanya Ludi tiba-tiba, setelah tawanya berhenti.

      “Aku ingin jadi bos sembako. Aku ingin punya toko sembako yang besar. Aku ingin punya gudang yang besar. Akan kutimbun sembako, kemudian aku jual hingga aku dapat untung besar. Hahahaha.”

       “Dasar Ahong matre.”

       “Bukan matre, Kawan. Aku akan beli barang sembako dengan harga murah, kemudian aku menjualnya, mengambil untung sedikit, enggak apa-apa, yang penting barangnya terjual banyak, jadi ya untung banyak. Itu cara berdagang sembako yang diajarkan oleh Papaku. Hahahaha.”

       “Ternyata gitu ya rahasia sukses dagang sembako,” gumam Engku. Sam mengangguk-angguk. Mengambil buah jamblang, kembali mengunyah. Engku menyelonjorkan kaki. Ludi dan Sam ikutan berbaring di sisinya. Sebuah buah jamblang yang sudah masak dan tua terjatuh di dada Ludi.

       “Eh, Burhan, kelak jika sudah besar apa cita-citamu?” Ludi bertanya seraya mengambil buah jamblang, menimang-nimang. Ahong merebut dan mengunyahnya. Nyam-nyam-nyam.

      “Aku ingin…menjadi ustaz.” Entah mengapa jawaban itu terlontar begitu saja dari bibir. Padahal di antara mereka berempat, ia yang ngajinya paling belepotan.

       “Kau ingin seperti ustaz Rohim, guru ngaji kita di surau?” Engku menepuk pundaknya. Ia mengangguk kecil.

      “Iya. Aku ingin pintar sekolah dan juga pintar ngaji. Menurut ustaz kita harus pintar keduanya, agar selamat dunia-akhirat.”

       “Sungguh mulia cita-citamu Burhan. Semoga terwujud,”  doa Engku khusyuk.

       “Semoga cita-cita Burhan terkabul,” Ahong turut mendoakan.

                                                        ***

        Tahun-tahun berlari seperti laju lori.  Selepas SD, ia harus meninggalkan dusun tercinta. Ayah yang pedagang mencari penghidupan yang lebih baik di kota.

      “Benarkah kau hendak pindah dari kampung ini, Han?” tanya Engku. Saat itu mereka berada di sungai. Bermain air.

     “Ya.”

     “Setelah kelulusan sekolah…,” Ahong memandang sedih.

     “Kita takkan bisa lagi pesta jamblang. Kita tak bisa mandiin kerbau, berenang, ngaji bareng.”

      “Entahlah.”

      “Sudah, Burhan, kan pindah masih lama. Kelulusan juga masih sebulan lagi,” cerocos Sam. “Hari ini kita masih bisa bertemu. Masih bisa bermain di sungai. Kita lomba renang, yuk.”

       “Ayo.”

       “Siapa takut air,” Ludi mencopoti baju dan celana. Engku, ia dan Sam, berbuat sama. Mereka telanjang bulat, seperti ikan berenang ke sana ke mari. Tinggalah Ahong yang sudah bertelanjang dada tapi masih berkolor.

       “Ahong, sini, ayo lomba berenang!”

       Ahong mendekat. Sam buru-buru naik ke darat. Mendekati Ahong dan meloroti celananya. Ahong telanjang bulat. Penisnya yang masih berkulup bergoyang-goyang ketika ia berlari, lalu dari ketinggian tebing melompat. Hup, ia sudah bergabung dengan keempat kawannya dan mereka mulai berlomba berenang. Setelah setengah permainan menyusuri sungai, di tengah kegiatan berenang Ahong bertanya…

      “Aku ingin bertanya pada kalian. Tapi sebelumnya aku mohon kalian jangan tertawa kalau nanti menganggap pertanyaanku lucu. Soalnya dari pertanyaanku nanti aku membutuhkan kejujuran, demi masa depanku nanti.”

       Sam melirik Ludi. Ludi melirik ia. Ia melirik Engku. Engku melirik Sam. Mereka saling lirik-lirikan.

      “Aduh, Ahong, apa yang ingin kau tanyakan. Bikin kami penasaran.”

       “Tolonglah segera katakan Ahong, agar rasa penasaran kami hilang.”

       “Baiklah,” Ahong duduk di batu besar. Keempat temannya merubunginya.

       “Apa yang ingin kau tanyakan, Ahong?”

       “Aku ingin bertanya pada kalian, apakah, apakah khitan itu sakit? Gimana rasanya dikhitan?”

       “Hahaha, rasanya seperti digigit semut.”

       “Aduh, sakitnya seperti terpotong pisau. Perih.”

       “Saat burungku dipotong aku tak merasakan sakit karena dibius. Tapi setelah biusnya hilang, auh sakit sekali. Aku sampai menangis-nangis. Padahal tanganku pernah kena pisau, tapi rasanya beda, tak sesakit saat….dipotong.”

       “Ahong, dikhitan itu tak sakit kok. Setelah khitan pertumbuhan badan kita bisa besar dan tinggi. Seperti aku, “ jelas Ludi yang dikhitan saat kelas tiga SD. Ia  dan Engku dikhitan ketika kelas lima. Sementara Sam dikhitan kala naik ke kelas enam.

      Ahong mengangguk-angguk mendengar pengalaman teman-temannya.“Aku akan mohon pada Papaku supaya aku dikhitan. Biar bentuk penisku sama seperti kalian. Hahaha.”  Ahong bangkit dan mulai kembali berenang.

      “Hore, hore, Ahong mau sunat!”

       “Ahong, kalau kau khitan nanti adain pesta kembang api, ya.”

      “Iya, nanti aku rayu papa, agar saat aku khitan, papa ngadain pesta dan nanggap solo organ.”

       Ludi, Sam, ia dan Engku bersorak-sorak, lalu kembali berlomba berenang. Sepuasnya. Sepuasnya.

                                                                     ***

       Ahong akhirnya dikhitan setelah kelulusan SD. Lima sekawan berpesta. Tapi seminggu kemudian mereka berselaput mendung, ketika ia harus meninggalkan dusun Sawojajar. Ayah sekeluarga memutuskan pindah ke luar kampung, bahkan menyeberang pulau.

       Perniagaan Ayah berkembang pesat. Ayah membuka cabang perniagaan di beberapa kota.

       Selulus SMA, ia melanjutkan ke fakultas ekonomi, menuruti kemauan Ayah. Sebagai anak sulung, Ayah menggantungkan harapan di pundaknya. Padahal ia tak berminat pada dunia  niaga.  Tak  mungkin menentang Ayah, yang sudah membesarkan, menghidupi,  memberinya kenyamanan.

        Ia masih sangat bergantung pada ayahnya.

        Namun usianya jelang 21 tahun, kala ia bersua seorang penulis pada komunitas menulis  di kota seberang. Ia sangat tercerahkan dengan motivasi yang diberikan sang penulis, “Jika hidup hanya sekali, maka lakukanlah apa yang kau inginkan. Sekarang, atau tak pernah sama sekali!”

        Ia memilih melanjutkan kuliah hingga tuntas. Ingin memberi kebanggaan pada Ayah, hingga tiba saatnya, seminggu usai diwisuda, ia menghadap Ayah, berbicara selayaknya dua lelaki dewasa. Ia menginginkan rehat sementara dari perniagaan. Ia ingin mondok di pesantren.

        Seperti yang diduga, Ayah marah, melarang. Ayah ingin ia meneruskan kuliah di luar negeri. Agar memiliki ilmu mumpuni, menjadi pewaris sekaligus  penerus perniagaan kelak. Ia tak menolak, namun tak menerima saran Ayah. Bukankah Ayah bisa memberi mandat pada Ahmad atau Ran, dua adik lelakinya. Mengapa harus anak sulung?

        Ia ingin meraih cita-cita tanpa menjadi anak durhaka.Ayah tak mau mengerti. Ayah memberi ultimatum. “Pergilah kalau kau ingin pergi. Tak usah kembali selamanya.”

         Ia memilih pergi menyembuhkan lara hati, berkelana menuruti ujaran sanubari.

                                                                          ***

          Ia tinggal di beberapa pesantren, menuntut ilmu agama dan kehidupan. Selepasnya, ia bersafari dari nusa ke nusa seraya menuliskan makna, melukiskan warna kehidupan, pengalaman dalam untaian kalimat dan tutur kata bermakna. Sebagai pendakwah muda namanya mewangi. Undangan datang dari berbagai kota, bahkan menyeberang pulau. Cara tutur yang menawan, menyentuh hati dan rasa menumbuhkan perasaan suka. Tentang berapa besaran tarif, ia tak pernah menentukan. Bahkan  ia  sukarela datang bila diundang pada kegiatan sosial, di panti asuhan, di panti jompo, di komunitas anak jalanan ataupun pada kegiatan sosial lain. Ia datang atas nama kemanusiaan dan panggilan hati atas kehendak Illahi.

        Suatu ketika ia mendapat undangan dari pulau di mana ia menghabiskan masa kecil. Menaiki pesawat dan kapal feri, sampai pada sebuah pondok pesantren modern nan megah. Selesai hajatan ia tiba-tiba teringat kampung halaman tempatnya dibesarkan. Ia menaiki kapal kecil hingga sampai pada sebuah pulau terpencil.

        Pada dusun kecil, tempat ia dilahirkan. Dusun molek, diapit dua gunung menjulang. Dikelilingi hutan perawan. Damai nan permai. Sayang semua tinggal cerita masa silam. Kini yang tersisa serupa sembilu. Kedamaian ternoda, kerukunan tercerai berai. Penduduk  pribumi tak bisa menerima keberadaan pendatang.

        Penduduk yang tak bisa lagi menjalankan pepatah nan sejujurnya di mana pun berlaku:  di mana langit dijunjung bumi dipijak. Rasa cemburu berselaput iri bergemuruh, dibisikkan, diembuskan orang-orang tak bertanggung jawab yang menyulutkan pertikaian. Pemberontakan beriming-iming melepaskan diri-merdeka-berdaulat sendiri-entah apa maksudnya. Entah bertujuan apa. Menimbulkan sejuta malapetaka.

        Ia mencari jejak masa lalu dan hanya mendengar cerita pilu Samuel, teman masa kecil-pemilik kedai kopi di ujung jalan kampung yang sepi seperti pemakaman.

        “Sejak sering terjadi pemberontakan, rakyat resah. Rumah-rumah orang kaya milik pendatang dirampok.Toko-toko sembako milik babah-babah dijarah. Kehidupan tak lagi tenang. Kacau. Mereka ketakutan. Mereka memilih  hijrah ke kampung lain. Jika pun bertahan di dusun ini, karena kecintaan mereka pada kampung halaman.”

         Ia mendengarkan kisah pilu yang tak ingin didengar.“Si Ludi sudah jadi tentara. Si  Engku guru SD. Juga guru madrasah dan guru ngaji. Ia sangat disukai teman, dan murid-murid. Pemberontakan menimbulkan kegemparan, ketika suatu hari guru Engku ditemukan  meninggal, bersama puluhan penduduk kampung. Mayat mereka berdarah-darah, ususnya terburai, ditemukan di punggung jalan dusun. Konon korban tentara. Padahal pada saat bersamaan si Ludi juga tewas di hutan-kondisinya tak kalah mengenaskan. Tanpa sebab yang jelas. Katanya  korban pemberontakan, mereka yang ingin merdeka.”

          Ia terperangah, terkenang masa-masa bocah.

          Ia termangu di padang rumput yang konon menjadi makam para korban pemberontakkan. “Tak ada lagi yang sempat menguburkan para jenazah. Mereka dimakamkan di dalam satu lubang, bahkan tanpa nisan,” jelas Ahong sambil mengusap air mata yang berlelehan campur ingus. Toko-toko sembakonya di kampung Sawojajar rata dengan tanah. Seorang anaknya ikut terbakar dalam musibah yang takkan terlupakan. Ahong memilih pindah ke lain kota. Membawa tabungan seadanya. Membuka perniagaan dan menata hidup baru.

         Ia tercenung, ia termenung. Ia mendengar jalan hidup teman-teman masa kecilnya, seperti ia menonton slide film. Betapa tiba-tiba ia teramat sangat merindukan rumah kanak-kanak. Ia tiba-tiba menangis terisak-isak.

                                                                  ***

Kota, Ukir, 05 November 2019




=====================
Kartika Catur Pelita, lahir 11 Januari 1971. Penulis 700-an cerpen, 100 cerpen sudah dimuat  di 60 media massa cetak dan daring, di antaranya: Media Indonesia, Republika, Kompas, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Haluan Padang, Sumut Pos, Analisa Medan, Koran Rakyat Sultra, Kendari Pos, Lampung Post, Solopos, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Info Muria, Okezone.com, Nova, dan Kartini. Buku fiksi “Perjaka”, “Balada Orang-orang Tercinta,”  “Kentut Presiden.”  Bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara(AMJ). Tinggal di Jepara.

Tom dan Malam yang Pergi

0

Ini masih senja, ketika aku berbincang dengan Tom di beranda rumah. Lelaki itu kutemukan dengan segelas kopi hitamnya, berwajah sedikit suram dan kepala yang tertunduk. Mujur aku datang, dengan senyum terkulum ia seperti sudah menanti-nanti kedatanganku dalam hitungan jamnya yang kesekian.

Tom memakai topinya. Ia bilang seperti hendak menuntaskan harinya petang itu, entah bagaimana. Ada semacam gelisah terbenam di bola matanya yang sedikit merah. Ia bilang kesal pada malam. Sebab dalam gelap ia harus menyusuri jalanan, mencari-cari sesuatu yang orang lain belum terpikirkan.

Pekerjaan itu benar-benar merampas kebahagiaannya. Dia bilang begitu. Bukankah meneguk kopi akan lebih nikmat jika diteguk sedikit demi sedikit, lalu menyentuh hujung lidah? Bukan menuntaskannya begitu saja dalam hitungan satu cawan? Itulah yang membuat Tom muak. Ia rindu menikmati kopi dengan santai di teras itu.

Tom, dia bilang jenuh jadi wartawan. Dia ingin pulang ke kampung jadi petani gandum saja. Bukankah itu lebih manusiawi? Ketika kita bisa tersenyum di pagi hari tanpa harus takut dengan pahitnya kopi yang terburu-buru diteguk dalam suhu yang panas?

Kadang Tom tertawa. Ia menertawakan nasibnya. Sudah puluhan tahun menjadi budak malam, tetapi hanya sekedar sepatu kulit baru pun sulit ia ganti setiap awal bulan. Tom sebenarnya rajin, teramat rajin. Bahkan di antara pria-pria beruntung di kota ini, Tom lah yang paling beruntung. Suatu malam ia dijemput seorang redaktur ternama sebuah koran di kota ini. Ia dilamar dengan rayuan paling jalang untuk bekerja di media itu. Bukan tanpa pertimbangan, Tom terpaksa menerimanya karena ia ingat dulu pernah memiliki semacam kamera mirror di kampung. Ia jaga dan simpan kamera itu, hingga 10 tahun kemudian ibunya berpulang. Dan di tengah kata-kata ibunya yang terakhir, Tom diminta menjaga kamera itu, dengan cara apapun.

Tom pun tak ada pilihan. Permintaan redaktur itu terlalu sulit ditolak. Tom bilang ia tersanjung. Satu hal langka yang tak pernah dialami pemuda seusianya. Ya, saat itu Tom baru berusia 18 tahun.  

Bertahun-tahun Tom menikmati pekerjaannya. Ia senang, bahagia, suka, ceria. Hingga tibalah kabar buruk, paling buruk dalam sejarah yang pernah kudengar. Bukan Tom yang dipecat, bukan pula redaktur itu mengkhianatinya. Entah kenapa, Tom seolah-olah dikhianati para pembacanya. Koran-koran yang ia tulis dalam malam-malamnya tak lagi disukai orang. Sebenarnya terlalu tak pantas mengatakan orang-orang kehabisan uang membeli lembar-lembar berita itu. Sebab rupanya mereka punya benda-benda baru dengan layar bergerak yang menyambut pagi mereka dengan senyuman, suara indah dan musik-musik yang mengalun. Orang-orang tak lagi tertarik membaca tulisan-tulisan Tom.

“Aku tak putus asa, aku masih menjaga kameraku, kamera titipan ibuku,” ujar Tom dengan suara paraunya.

“Kau jadi fotografer?”

“Terlalu indah,”

“Lalu?”

“Lebih tepatnya memotret setiap kabar buruk manusia. Mereka yang terbangun akan terkejut melihat foto-fotoku, bahkan mereka menangis.”

“Tapi kau dapat uang kan?”

“Mungkin kau berpikir uang segalanya, tapi kau akan tahu pekerjaan yang kujalani itu demikian buruknya saat kau melihat orang-orang menangis melihat apa yang kutampilkan dalam pekerjaan itu.”

“Aku tak mengerti, tapi kau bilang ingin menyelamatkan kameramu.”

“Entahlah, aku seperti tak sanggup lagi bekerja di malam hari.”

“Kau ingin pulang? Aku ada uang untuk sekedar beli tiket. Kereta ke Minneapolis untuk minggu depan bisa kupesan.”

“Kau terlalu baik, nanti sajalah. Aku ingin menuntaskan malamku dulu.”

“Ya setidaknya mungkin bisa untuk menjernihkan pikiran. Aku ingat kolam di belakang rumahmu itu airnya hijau dengan ikan-ikan merah yang mungkin sekarang sudah berkembang biak.”

Tom tersenyum geli. Untuk pertama kalinya sejak tiga bulan terakhir Tom tertawa lepas. Ia senang. Tetapi kembali matanya meredup.

“Sudah mulai malam, aku harus pergi.”

“Sampai kapan kau akan menjaga kameramu itu?”

“Setidaknya malam ini, kau simpankan satu buah tiket untukku. Besok pagi aku akan pulang. Jangan  lupa kau buatkan kopi hitam paling pahit untukku, pertanda aku sudah menuntaskan malam.”

“Hanya itu?”

“Satu lagi, satu gelas bir.”

“Kau masih berpikir menyambut kemenangan dengan minuman itu?”

“Dan kau masih selalu jadi ustadz kampung dari negaramu.”

“Oh no,”

“Sudahlah, aku pergi.”

Tom pun pergi. Sebuah ransel yang jarang dibawanya ia bawa. Apa benar ia ingin menuntaskan malam terakhirnya dengan benda-benda itu. Pikiran di kepalaku terasa rumit

***

Seperti permintaan Tom, aku tinggal di flat ini untuk menghabiskan malam. Menunggu Tom pulang di pagi hari lalu mungkin akan benar-benar membelikannya tiket kereta ke Minneapolis. Menikmati malam di atas bangunan setinggi enam meter ini memang istimewa. Patutlah Tom sangat bahagia jika satu malam saja tak ada panggilan di telponnya. Ia biasa menikmati bulan separuh di teras kamar. Kadang-kadang ia mengundang Kris dan kadang juga aku. Tom bilang malam itu indah. Malam itu kehidupan dan kebahagiaan. Mungkin suatu hari ia ingin bersahabat dengan malam lebih akrab lagi, tak seperti sekarang.

Malam itu aku menggantikan posisi Tom. Duduk menyendiri di teras sambil memandang terang benderang kota yang bersinar. Aku merasakan waktu yang begitu panjang. Mungkin itulah yang namanya kesendirian, sesuatu yang sebenarnya nama lain dari kejenuhan.

Ini pekerjaan membosankan. Menunggui sahabatmu pulang di pagi hari lalu tidur di tempat yang sedikit kotor. Tom tak punya alasan untuk membersihkan kamar itu. Bahkan ia pun sebenarnya membencinya. Tom ingin bersih-bersih, tetapi panggilan dari redaktur itu selalu membuat wajahnya suram.

“Kadang aku berpikir kerapihan itu tak penting, nyatanya aku tetap sehat dengan kamarku yang begini.”

Sebenarnya itu bahasa halus Tom agar akulah yang merapikan kamarnya. Kadang-kadang karena tak tahan melihatnya, aku memilih membantunya.

“Kau orang Indonesia yang baik, kenapa kau bisa berbenah di kamar orang asing sepertiku? Atau karena, ya karena pekerjaan rutinmu itu ya? Maksudnya lima waktu itu. Aku pernah membacanya dalam sebuah jurnal dosen di kampusku dulu. Katanya begitu, kau bisa jadi disiplin dari rapi dengan pekerjaanmu itu. Lima waktu? Apa ya, aku benar-benar lupa namanya.”

Tak pernah tuntas memang menceritakan Tom. Kufokuskan saja suasana hatiku pada malam. Entah sudah berpuluh kali jarum jam berputar di jam weker hitam sudut kamar. Aku mengusap-usap mata. Benarkah? Atau benda itu benar-benar sudah kehabisan baterai sehingga ia melaju begitu cepat. Jarum pendeknya menepati angka delapan. Tetap suasana di balik jendela masih hitam. Malam belum pergi. Jam itu benar-benar sudah gila. Lalu aku berlari menatap ponsel. Rupanya ponselku sama gilanya, angkanya pun sudah delapan di sana. Kuputuskan turun ke bawah, menyapa pedagang roti di bawah yang rupanya juga sama sepertiku.

“Jam kami semua gila. Ada apa?”

Lelaki itu pun tampak panik. Ia menutup kedua matanya, entah masih mengantuk atau benar-benar pusing dengan keadaan. Lalu aku berjalan ke halte bus. Ternyata banyak orang-orang yang kebingungan sepertiku.

“Apakah telah terjadi kerusakan bersama semua jam di rumah-rumah kita?”

“Aku tak tahu, cobalah melihat televisi. Apa yang terjadi?”

Sesuatu telah terjadi. Mungkin Tuhan sedang menghukum Tom yang begitu benci dengan malam. Atau mungkin ingin memberi hadiah cinta pada Tom yang suka menikmati malam di kamar kotornya itu. Tetapi ini musibah buruk bagiku. Aku tak punya waktu kembali ke flatku. Tugas menjaga kamar Tom belum selesai, hingga ia benar-benar datang.

Aku tak peduli lagi, entah sudah berapa kali jarum jam itu berputar-putar berubah posisi. Dan Tom tak kunjung pulang.

“Kau dimana? Kenapa kau tak pulang? Apa kau masih terus bekerja? Bodoh sekali redakturmu itu.”

“Aku akan pulang, tak lama lagi.”

“Ya setelah aku bosan di kamarmu ini.”

“Tunggulah sekejap lagi, bus akan segera sampai.”

Tom menepati janjinya. Ia memang pulang dalam malam yang masih gulita. Ia mendapati kamarnya yang sama kotornya dengan saat ia pergi. Sebab beberapa makanan yang kumakan berhari-hari masih belum dibuang.

“Kau? Tak biasa begini?”

“Kau pikir ini malam yang biasa? Dan kau pikir apa aku sekotor ini? Tukang sampah di bawah memilih tidur sepanjang malam.”

“Martin, aku pulang. Aku telah menuntaskan malamku.”

“Kau resign?”

“Tidak, lihatlah di balik jendela itu, matahari mulai muncul.”

“Oh ya,”

“Dan aku membawa sesuatu.”

“Apa?”

Tom mengeluarkan sebuah buku biru dari dalam tas ranselnya. Aku tersentak. Itu Al Quran, kenapa dia bisa membawanya?

“Kau bertemu dengan mahasiswa Indonesia?”

“Tidak, kitab ini kutemukan di kantor. Seorang wartawan baru asal Turki memberiku kitab itu.”

“Lalu?”

“Ajarkan aku membacanya.”

“Kau yakin?”

“Ya..”

“Bukalah!”

Tom membuka kitab itu. Satu, dua, tiga hingga sepuluh halaman tak kunjung ia temukan satu huruf pun.

“Kitab ini terlalu tebal.”

“Teruskan.”

Tom terus membukanya, hingga ke lembaran ke seratus tetapi kitab itu masih terus kosong. Tom meneteskan air mata. Dan aku pun merapat ke dinding memandang matahari marun jingga yang sangat besar pagi itu.

TAMAT

Biodata Penulis:

Nafi’ah al-Ma’rab merupakan nama pena dari Sugiarti. Berdomisili di Pekanbaru, Riau. Cerpen-cerpennya dimuat di Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos, Padang Express dan sebagainya. Cerpennya berjudul Lanai memenangi lomba nasional seperti Green Pen Award 2019 oleh Raya Kultura, Cerpen Tandan Sawit sebagai naskah pemenang Lomba Cerpen Nulisbuku dan Kemenegpora tahun 2012, Cerpen Lelaki Pohon menjadi salah satu naskah pemenang LCMR Rayakultura 2013. Selain cerpen, ia juga menulis novel, di antaranya Lelaki Pembawa Mushaf (Tinta Medina 2016), Jodohku dalam Proposal (Tinta Medina 2016), Suraya (Bhuana Ilmu Populer, 2018), Luka Perempuan Asap (Tinta Medina, 2016). Penulis bisa dihubungi di WA 085278740869 dan IG @sugiarti.flp

Ingatan pada Satu Nama

0


Terbuat dari apakah kesunyian? Apakah dari hembusan angin malam yang menggerakkan dedaun di saat termenung sendiri? Atau dari adonan bayang kenangan masa lalu menjemukan, yang tersusun dari kerumitan lipatan peristiwa yang menimbuni hidup? Ataukah mungkin dari ingatanku tentang seorang perempuan yang berjalan sendirian di gerimis hujan, ketika sepi masih menjalari pagi. Sejak kepulanganku sebulan lalu, hujan dan kenangan membuatku selalu tak berjarak dengan sunyi, menyeretku pada seutas senyum ganjil yang lekat di ingatan.

Ia datang saat fajar baru saja selesai. Angin belum berhembus, langit berwarna lembayung, hujan baru saja turun. Ada aroma basah tanah yang menyegarkan hidung. Ia berjalan ke arahku, saya curiga. Kukira setan kesasar yang iseng menakutiku dengan menjelma gadis manis. Bedanya, ia rapi. Seperti gadis-gadis yang akan berangkat ke gereja. Ia tersenyum, saya tersenyum. Sepagi ini.  

Cepat ia seperti mengurungkan niat. Lalu berdiri seperti patung, ragu. Aneh sekali. Ia mengedarkan pandangan ke bawah, barangkali menahan sesuatu, malu. Tetapi tetap saja sepi, tak sepatah kata pun keluar dimulutnya. Pelan ia melangkah mendekat, mengatur nafas yang mendadak sengal, lalu mengulungkan senyumnya dengan manis.

“Pak Guru kan? Yang dari Kota M itu?”

Saya terheran. Rupanya telah mengenaliku.

“Iya, kenapa, dek?” kataku dengan tidak biasa.

“Mohon bantuannya pak guru, ibuku jatuh di tangga. Butuh bantuan laki-laki.”

Lalu kami pun tergopoh menembus pagi yang sepi. Pagi belum selesai saat saya sampai di rumahnya. Telah ada seorang lelaki paruh baya yang berusaha menyadarkan ibu tersebut yang pingsan. Saya membantu mengangkat, dan membopongnya ke puskesmas pembantu kampung.

Saya pulang jam 7 pagi, diantar perempuan itu. Beribu terimakasih ia haturkan atas kesediaanku membantu. Ia lalu mengenalkan dirinya dengan nama M, merupakan guru honorer di sebuah sekolah. Astaga, saya belum mengenalnya. Semenjak kedatanganku sepekan lalu, saya memang belum banyak mengenal orang luar. Hanya Pak Kepala Sekolah, beberapa teman guru, dan beberapa teman di masjid yang baru sempat lekat di ingatan.

Saya menyampaikan penyesalanku karena sepekan ini tak berusaha membuka diri pada lingkungan baruku. Dan dia, adalah orang kesekian dari sedikit orang yang kukenali namanya di sini. Semenjak kedatanganku sepekan lalu, waktuku kuhabiskan beradaptasi dengan lingkungan sekitar, tapi kebanyakan baru kenal muka. Tak sempat melekat-lekatkan nama di ingatan.

Ya, saya adalah seorang guru, pengajar di pedalaman. Memenuhi keinginan nurani menjauh dari kampung sendiri, belajar hidup di kampung orang. Dan di sinilah saya, sebuah kampung kecil yang terletak di pedalaman Papua. Desa yang sepi memang membuatku telah dikenal seantero kampung. Di sini guru sangat dihargai, dianggap berharga sebagai orang pintar, seorang ahli, pembawa pencerahan.

***

Usianya masih muda. 23 tahun ia bilang, memperkenalkan dirinya sebagai perantau dari kota A, mengikuti orang tuanya sejak ia masih kecil. Setamat SMA ia langsung mengabdikan dirinya pada satu-satunya sekolah di kampung ini. Ekonomi yang mencekik leher merupakan satu-satunya alasannya tidak melanjutkan sekolah dan memilih mengabdi pada sekolah ini. Dan saya sungguh bangga padanya, bahwa dia memiliki kebesaran jiwa untuk mencerdaskan anak-anak di kampung, meski harus mengorbankan dirinya, impiannya untuk kuliah.

Saya mengajar di sebuah SMP, sekolah kecil yang sederhana, lumayan untuk seukuran pedalaman. Ruang kelas berlantaikan keramik, meski telah berlubang dan dinding yang retak, juga guru yang hanya 6 orang. Tapi itu bukan soal, dibalik kesederhanaan itu tersimpan potensi lain yang unik dan tidak dimiliki sekolah lain. Lingkungan sekolah tak pernah dibatasi oleh apapun, tak pernah ada pagar yang mengeliingi sekolah. Pekarangan sekolah adalah sepanjang hutan dan rimba-rimba, jalan yang menghubungkan antarkampung, sungai-sungai yang besar, serta padang yang membentang panjang di hadapan dan disamping sekolah. Kalau sore tempat itu biasa dijadikan tempat bermain bola dan layang-layang bersama siswa-siswa.

Saat jam pembelajaran, saya juga sering mengajak siswa untuk belajar di bawah pepohon Mahoni rindang yang tumbuh satu-satu di samping sekolah, meminta mereka menulis puisi sambil melihati gunung yang jauh, atau padang yang membentang, atau tentang burung-burung yang sering singgah. Apa saja. Di sana juga pernah mereka belajar bermain drama, membedakan kalimat langsung dan tak langsung, juga mengajari mereka membuat kalimat sampiran pantun berdasarkan identifikasi langsung pada alam sekitar.

Dan mereka, siswa-siswa yang bahagia. Hari-hari di sekolah mereka habiskan dengan ceria. Keakraban kami berjarak, terbatas penghargaan mereka kepada gurunya, sekeras apapun berupaya akrab. Kalau sore mereka sering datang ke rumah, membawa sayur dan buah hasil kebun.

***

Malam yang selalu memanggil kenangan, pagi yang selalu bersama lengang. Sejak pertama, telah ada kebisuan yang menggantung di pelupuk mata. Sunyi, sunyi sekali. Selalu, setelah masa kuliah selesai, setelah menjauh dari kota sendiri dan menyepi di pedalaman, dan tak ada lagi panggilan-panggilan ngumpul dari teman-teman, dan perasaan sudah saatnya menikah muncul, saya sering berpikir, hanya untuk satu nama. Sebuah judul cerpen yang pernah saya baca, sebuah karya sahabat. Saya menyukainya.

Minggu pagi, biasanya sepi terusir. Anak-anak sekolah minggu baru saja usai ramai terdengar menyanyi di gereja. Tak ada gerimis hujan, tak ada langit lembayung, dan tak ada angin yang berhembus seperti pertama melihatnya. Perempuan itu datang dengan tak lupa menyapa ‘selamat pagi’. Terus terang senyumnya manis sekali, pakaiannya rapi, sepertinya baru pulang dari gereja.

Diajaknya saya jalan-jalan bersama beberapa siswa, mengunjungi tulip yang tumbuh di pinggiran sungai. Saya tertarik, atas nama penasaran dan atas nama ingatanku pada cerpen “Hanya untuk satu nama” itu yang berlatar cerita tulip dan Belanda.

Setelah bersiap, kami berangkat. Tempatnya agak jauh, dijangkau dengan perahu kecil, menyusur sungai hingga ke hulu, ke kapala air mereka bilang. Di perjalanan, ia bercerita banyak sekali, panjang dan mengembang, dan memaksaku tersenyum. Saya menghargainya. Dan saya tahu dia sering melirikku. Kami menemui lapangan yang luas, angin yang berhembus dari jauh, buaya-buaya, berbagai jenis burung langka, dan pepohon menjulang. Hampir tak percayaku, bahwa, daerah di timur Indonesia ini betul-betul terdapat tulip. Asri dan tak terjamah.

Kami pulang menjelang dhuhur, berkali kuucap terimakasih dan berkali dia tersenyum.

***

“Itu si M, Pak Guru, anak si G, cantik” seru Pak T, teman guru di sekolah tempatku mengajar yang menjumpaiku suatu pagi. “Baru 23 tahun…” sambungnya, entah apa maksudnya.

Ini hal yang tidak mungkin. Tiba-tiba serasa ada yang datang menyerbu, mengepungku. Sungguh dia cobaan hidup anak muda yang sudah merasa ingin menikah, sekaligus ingin hidup baik-baik. Laki-laki memang mahluk yang suka tergoda, yang kalau tergoda butuh tempat pulang dan mengadu. Dia menyukaiku, dikatakan terang-terangan suatu hari, dan saya seperti mendengar tabuhan benderang di hatiku. Saya tentu saja menolak, dibawah langit lembayung, dan angin yang bertiup dari utara, kukatakan itu dengan benderang.

Saya meminta maaf, dia tersenyum. Saya tersenyum, dia menangis. Saya ingin menangis dia meminta maaf, kemudian berlalu dengan sopan. Sejak saat itu, tak pernah lagi kami jumpa, bahkan meski sekedar melihatnya lewat depan rumah saat hendak ke gereja. Tak pernah.

Lalu saya pulang ke kampung. Sering saya mengingatnya, perempuan yang pertama menemuiku ketika hari sedang gerimis. Menyeretku pada seutas senyum ganjil, lekat diingatan. Kalaulah mungkin takdir mau berbaik hati, saya masih ingin jumpa dengannya. Entah kapan dan di mana. Sekedar menanyai kabar, mengajaknya ngobrol basa-basi tentang perkembangan kampungnya, lalu sudah, itu saja.  

Makassar, 2020



======================
Dhito Nur Ahmad, dilahirkan di Jeneponto, Sulawesi Selatan, 12 Maret 1989. Menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana pada Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar (UNM), Maret 2013. Beberapa kali memenangkan lomba menulis yang dilaksanakan secara online. Aktif menulis sastra sejak kuliah. Saat ini tinggal di Ambon-Maluku.

Terbaru

Kutukan Kematian

Jangan pernah menghitung kematian. Begitulah ia selalu mengingatkan dirinya, apabila...

Dari Redaksi