Cerpen

Home Cerpen

Rumah Kanak-Kanak

0



       “Sejak sering terjadi pemberontakan rakyat resah. Rumah-tumah orang kaya milik pendatang dirampok. Toko-toko milik babah-babah dijarah. Para pendatang dianiaya, bahkan ada yang dibunuh. Kehidupan tak lagi tenang. Kacau. Mereka ketakutan. Mereka memilih  hijrah ke kampung lain!”

        Sungguh, tiada yang lebih indah daripada hidup di rumah kanak-kanak. Dahulu, ia, Sam, Ahong, Ludi, dan Engku, adalah teman sepermainan. Tak ada yang lebih seru, selain mandi di sungai, berlomba renang dan menyelam, terjun dari ketinggian tebing di atas sungai, memandikan kerbau, memanjat pohon, berburu burung, dan pesta buah jamblang. Amboi, betapa elok mengenang masa kanak-kanak. Tak ada yang lebih menyenangkan selain kala bocah.

       “Kau ingin jadi apa kalau sudah besar, Ludi?” ulik Sam, kala itu mereka berlima tengah nggelosor di bawah pohon jamblang, kepayahan, setelah pesta buah jamblang. Demi mencapai pohon jamblang ini mereka harus jalan kaki kiloan meter, menyusuri sawah,  menyeberangi sungai. Pohon jamblang sebesar raksasa dan setegap batu gunung, adalah tempat asyik untuk berkumpul, apalagi saat musim jamblang berbuah. Buah jamblang sebesar kelereng, berwarna hitam keunguan, harum, dan manis rasanya, aih membuat mereka tak bosan menyantap. Buah jamblang yang sudah matang berjatuhan. Ludi mengambil jamblang, mengunyahnya, biji dilepehkan.

        “Aku ingin jadi tentara,” jawab Ludi tegas. Terbayang sosok panutan Ludi. Ayah yang   pemberani. Ayah Ludi seorang tentara. Ayah asli orang Jawa, namun ditugaskan di pulau elok ini. Bahkan Ludi dan adiknya juga dilahirkan di sini. Mereka sudah betah tinggal di pulau yang kaya rempah-rempah ini.

       “Mengapa jadi tentara?” tanya Engku, mulutnya pun  mengunyah buah jamblang.

       “Aku ingin seperti ayahku, memberantas kejahatan, menjaga keamanan.”  Ludi terbayang sosok  tinggi, badan tegap, kulit sawo matang. Kelihatannya sangar, tapi sikapnya ramah dan bersahabat. Beberapa kali sua saat main ke rumah Ludi, rumah separuh tembok berpagar barisan pohon singkong.

       “Namun nanti kau harus sering bepergian. Katanya ayahmu sedang tugas ketika ibumu melahirkanmu, Di,” ulik Ahong.

       “Ya. Kata Ayah, itu sudah tanggungjawab seorang prajurit. Mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan golongan atau pribadi. Kata Ayah, sebagai prajurit yang merupakan benteng negara, jika ada tugas negara memanggil, mereka harus berangkat, meskipun anak di rumah sedang sakit, atau istri sedang melahirkan. Kalian tahu, ayahku sangat gagah ketika mengenakan seragam loreng, menyandang senjata lars.”

       “Semoga cita-citamu menjadi tentara terwujud, Ludi.”

       “Amin.”

       “Engku, apa sih cita-citamu?” Ludi kali ini yang bertanya. Sam, dan ia menatap  bocah berumur 11 tahun yang tubuhnya paling kurus dan kecil. Engku berkulit langsat pucat. Sepasang matanya terlihat tajam.  Engku memang boncel, tapi otaknya  cemerlang.  Pernah mewakili sekolah   lomba siswa teladan di kabupaten, dan mendapat juara dua di provinsi.

        “Aku ingin jadi guru,” Engku menjawab pelan. Suara lembutnya berdesir seiring musim kemarau. Rerumputan masih menghijau. Sungai masih mengalir meskipun tiada deras. Angin lembah  mendedah.

        “Jadi guru?”Empat  pasang mata menatap, mengerjap.

       “Aku ingin seperti pak guru Kuat. Beliau sabar,  pandai dan cerdas. Setiap pertanyaan yang kita ajukan, Pak Kuat pasti bisa menjawabnya.”

        “Pak Kuat memang pintar, ” gumam Ludi.

        “Kata beliau, guru masih sangat dibutuhkan di dusun  ini. Kelak seandainya jadi guru aku ingin ditugaskan di  dusun Sawojajar ini. Mengajar anak-anak. Alangkah senangnya.  Kata Pak Kuat, tak ada yang lebih beruntung dalam hidup  ini selain bermanfaat pada orang lain,” untuk meraih cita-citanya Engku rajin belajar, menyimak ketika guru mengajar, menulis dan mencatat pengetahuan baru yang didapat dari hobinya membaca. Di halaman kantor Kecamatan dipasang papan surat kabar. Surat kabar nasional dan koran lokal dipajang. Setiap hari sebelum sekolah, Engku mengayuh sepeda mendatangi papan koran, menumpang membaca, demi menambah ilmu, wawasan, dan pengetahuan.

         “Kalau aku ingin kerja di bank. Pegawai bank banyak uangnya. Saban hari menghitung uang,” gumam Sam, santai.  Bocah usia 12 tahun bertubuh gemuk bagai tambur, teringat pada suatu hari diajak ibunya pergi ke bank di seberang pasar kecamatan. Ibu Sam seorang pedagang makanan. Pergi ke bank untuk menabung atau setor cicilan hutang. Pekerjaan pegawai bank sepertinya santai dan mengasyikkan. “Tapi apakah aku bisa, ya. Soalnya, matematikaku kan tak sepintar Engku, Ludi, Ahong, atau kamu, Bur. Aku tak pintar berhitung,” Sam menggeleng-gelengkan kepala, lucu. Teman-temannya tersenyum, bahkan Ludi tertawa tergelak-gelak. Ahong sampai berguling-guling. Tubuhnya yang tambun putih tampak lucu seperti panda.

       “Kau ingin jadi apa Ahong jika sudah besar kelak?” tanya Ludi tiba-tiba, setelah tawanya berhenti.

      “Aku ingin jadi bos sembako. Aku ingin punya toko sembako yang besar. Aku ingin punya gudang yang besar. Akan kutimbun sembako, kemudian aku jual hingga aku dapat untung besar. Hahahaha.”

       “Dasar Ahong matre.”

       “Bukan matre, Kawan. Aku akan beli barang sembako dengan harga murah, kemudian aku menjualnya, mengambil untung sedikit, enggak apa-apa, yang penting barangnya terjual banyak, jadi ya untung banyak. Itu cara berdagang sembako yang diajarkan oleh Papaku. Hahahaha.”

       “Ternyata gitu ya rahasia sukses dagang sembako,” gumam Engku. Sam mengangguk-angguk. Mengambil buah jamblang, kembali mengunyah. Engku menyelonjorkan kaki. Ludi dan Sam ikutan berbaring di sisinya. Sebuah buah jamblang yang sudah masak dan tua terjatuh di dada Ludi.

       “Eh, Burhan, kelak jika sudah besar apa cita-citamu?” Ludi bertanya seraya mengambil buah jamblang, menimang-nimang. Ahong merebut dan mengunyahnya. Nyam-nyam-nyam.

      “Aku ingin…menjadi ustaz.” Entah mengapa jawaban itu terlontar begitu saja dari bibir. Padahal di antara mereka berempat, ia yang ngajinya paling belepotan.

       “Kau ingin seperti ustaz Rohim, guru ngaji kita di surau?” Engku menepuk pundaknya. Ia mengangguk kecil.

      “Iya. Aku ingin pintar sekolah dan juga pintar ngaji. Menurut ustaz kita harus pintar keduanya, agar selamat dunia-akhirat.”

       “Sungguh mulia cita-citamu Burhan. Semoga terwujud,”  doa Engku khusyuk.

       “Semoga cita-cita Burhan terkabul,” Ahong turut mendoakan.

                                                        ***

        Tahun-tahun berlari seperti laju lori.  Selepas SD, ia harus meninggalkan dusun tercinta. Ayah yang pedagang mencari penghidupan yang lebih baik di kota.

      “Benarkah kau hendak pindah dari kampung ini, Han?” tanya Engku. Saat itu mereka berada di sungai. Bermain air.

     “Ya.”

     “Setelah kelulusan sekolah…,” Ahong memandang sedih.

     “Kita takkan bisa lagi pesta jamblang. Kita tak bisa mandiin kerbau, berenang, ngaji bareng.”

      “Entahlah.”

      “Sudah, Burhan, kan pindah masih lama. Kelulusan juga masih sebulan lagi,” cerocos Sam. “Hari ini kita masih bisa bertemu. Masih bisa bermain di sungai. Kita lomba renang, yuk.”

       “Ayo.”

       “Siapa takut air,” Ludi mencopoti baju dan celana. Engku, ia dan Sam, berbuat sama. Mereka telanjang bulat, seperti ikan berenang ke sana ke mari. Tinggalah Ahong yang sudah bertelanjang dada tapi masih berkolor.

       “Ahong, sini, ayo lomba berenang!”

       Ahong mendekat. Sam buru-buru naik ke darat. Mendekati Ahong dan meloroti celananya. Ahong telanjang bulat. Penisnya yang masih berkulup bergoyang-goyang ketika ia berlari, lalu dari ketinggian tebing melompat. Hup, ia sudah bergabung dengan keempat kawannya dan mereka mulai berlomba berenang. Setelah setengah permainan menyusuri sungai, di tengah kegiatan berenang Ahong bertanya…

      “Aku ingin bertanya pada kalian. Tapi sebelumnya aku mohon kalian jangan tertawa kalau nanti menganggap pertanyaanku lucu. Soalnya dari pertanyaanku nanti aku membutuhkan kejujuran, demi masa depanku nanti.”

       Sam melirik Ludi. Ludi melirik ia. Ia melirik Engku. Engku melirik Sam. Mereka saling lirik-lirikan.

      “Aduh, Ahong, apa yang ingin kau tanyakan. Bikin kami penasaran.”

       “Tolonglah segera katakan Ahong, agar rasa penasaran kami hilang.”

       “Baiklah,” Ahong duduk di batu besar. Keempat temannya merubunginya.

       “Apa yang ingin kau tanyakan, Ahong?”

       “Aku ingin bertanya pada kalian, apakah, apakah khitan itu sakit? Gimana rasanya dikhitan?”

       “Hahaha, rasanya seperti digigit semut.”

       “Aduh, sakitnya seperti terpotong pisau. Perih.”

       “Saat burungku dipotong aku tak merasakan sakit karena dibius. Tapi setelah biusnya hilang, auh sakit sekali. Aku sampai menangis-nangis. Padahal tanganku pernah kena pisau, tapi rasanya beda, tak sesakit saat….dipotong.”

       “Ahong, dikhitan itu tak sakit kok. Setelah khitan pertumbuhan badan kita bisa besar dan tinggi. Seperti aku, “ jelas Ludi yang dikhitan saat kelas tiga SD. Ia  dan Engku dikhitan ketika kelas lima. Sementara Sam dikhitan kala naik ke kelas enam.

      Ahong mengangguk-angguk mendengar pengalaman teman-temannya.“Aku akan mohon pada Papaku supaya aku dikhitan. Biar bentuk penisku sama seperti kalian. Hahaha.”  Ahong bangkit dan mulai kembali berenang.

      “Hore, hore, Ahong mau sunat!”

       “Ahong, kalau kau khitan nanti adain pesta kembang api, ya.”

      “Iya, nanti aku rayu papa, agar saat aku khitan, papa ngadain pesta dan nanggap solo organ.”

       Ludi, Sam, ia dan Engku bersorak-sorak, lalu kembali berlomba berenang. Sepuasnya. Sepuasnya.

                                                                     ***

       Ahong akhirnya dikhitan setelah kelulusan SD. Lima sekawan berpesta. Tapi seminggu kemudian mereka berselaput mendung, ketika ia harus meninggalkan dusun Sawojajar. Ayah sekeluarga memutuskan pindah ke luar kampung, bahkan menyeberang pulau.

       Perniagaan Ayah berkembang pesat. Ayah membuka cabang perniagaan di beberapa kota.

       Selulus SMA, ia melanjutkan ke fakultas ekonomi, menuruti kemauan Ayah. Sebagai anak sulung, Ayah menggantungkan harapan di pundaknya. Padahal ia tak berminat pada dunia  niaga.  Tak  mungkin menentang Ayah, yang sudah membesarkan, menghidupi,  memberinya kenyamanan.

        Ia masih sangat bergantung pada ayahnya.

        Namun usianya jelang 21 tahun, kala ia bersua seorang penulis pada komunitas menulis  di kota seberang. Ia sangat tercerahkan dengan motivasi yang diberikan sang penulis, “Jika hidup hanya sekali, maka lakukanlah apa yang kau inginkan. Sekarang, atau tak pernah sama sekali!”

        Ia memilih melanjutkan kuliah hingga tuntas. Ingin memberi kebanggaan pada Ayah, hingga tiba saatnya, seminggu usai diwisuda, ia menghadap Ayah, berbicara selayaknya dua lelaki dewasa. Ia menginginkan rehat sementara dari perniagaan. Ia ingin mondok di pesantren.

        Seperti yang diduga, Ayah marah, melarang. Ayah ingin ia meneruskan kuliah di luar negeri. Agar memiliki ilmu mumpuni, menjadi pewaris sekaligus  penerus perniagaan kelak. Ia tak menolak, namun tak menerima saran Ayah. Bukankah Ayah bisa memberi mandat pada Ahmad atau Ran, dua adik lelakinya. Mengapa harus anak sulung?

        Ia ingin meraih cita-cita tanpa menjadi anak durhaka.Ayah tak mau mengerti. Ayah memberi ultimatum. “Pergilah kalau kau ingin pergi. Tak usah kembali selamanya.”

         Ia memilih pergi menyembuhkan lara hati, berkelana menuruti ujaran sanubari.

                                                                          ***

          Ia tinggal di beberapa pesantren, menuntut ilmu agama dan kehidupan. Selepasnya, ia bersafari dari nusa ke nusa seraya menuliskan makna, melukiskan warna kehidupan, pengalaman dalam untaian kalimat dan tutur kata bermakna. Sebagai pendakwah muda namanya mewangi. Undangan datang dari berbagai kota, bahkan menyeberang pulau. Cara tutur yang menawan, menyentuh hati dan rasa menumbuhkan perasaan suka. Tentang berapa besaran tarif, ia tak pernah menentukan. Bahkan  ia  sukarela datang bila diundang pada kegiatan sosial, di panti asuhan, di panti jompo, di komunitas anak jalanan ataupun pada kegiatan sosial lain. Ia datang atas nama kemanusiaan dan panggilan hati atas kehendak Illahi.

        Suatu ketika ia mendapat undangan dari pulau di mana ia menghabiskan masa kecil. Menaiki pesawat dan kapal feri, sampai pada sebuah pondok pesantren modern nan megah. Selesai hajatan ia tiba-tiba teringat kampung halaman tempatnya dibesarkan. Ia menaiki kapal kecil hingga sampai pada sebuah pulau terpencil.

        Pada dusun kecil, tempat ia dilahirkan. Dusun molek, diapit dua gunung menjulang. Dikelilingi hutan perawan. Damai nan permai. Sayang semua tinggal cerita masa silam. Kini yang tersisa serupa sembilu. Kedamaian ternoda, kerukunan tercerai berai. Penduduk  pribumi tak bisa menerima keberadaan pendatang.

        Penduduk yang tak bisa lagi menjalankan pepatah nan sejujurnya di mana pun berlaku:  di mana langit dijunjung bumi dipijak. Rasa cemburu berselaput iri bergemuruh, dibisikkan, diembuskan orang-orang tak bertanggung jawab yang menyulutkan pertikaian. Pemberontakan beriming-iming melepaskan diri-merdeka-berdaulat sendiri-entah apa maksudnya. Entah bertujuan apa. Menimbulkan sejuta malapetaka.

        Ia mencari jejak masa lalu dan hanya mendengar cerita pilu Samuel, teman masa kecil-pemilik kedai kopi di ujung jalan kampung yang sepi seperti pemakaman.

        “Sejak sering terjadi pemberontakan, rakyat resah. Rumah-rumah orang kaya milik pendatang dirampok.Toko-toko sembako milik babah-babah dijarah. Kehidupan tak lagi tenang. Kacau. Mereka ketakutan. Mereka memilih  hijrah ke kampung lain. Jika pun bertahan di dusun ini, karena kecintaan mereka pada kampung halaman.”

         Ia mendengarkan kisah pilu yang tak ingin didengar.“Si Ludi sudah jadi tentara. Si  Engku guru SD. Juga guru madrasah dan guru ngaji. Ia sangat disukai teman, dan murid-murid. Pemberontakan menimbulkan kegemparan, ketika suatu hari guru Engku ditemukan  meninggal, bersama puluhan penduduk kampung. Mayat mereka berdarah-darah, ususnya terburai, ditemukan di punggung jalan dusun. Konon korban tentara. Padahal pada saat bersamaan si Ludi juga tewas di hutan-kondisinya tak kalah mengenaskan. Tanpa sebab yang jelas. Katanya  korban pemberontakan, mereka yang ingin merdeka.”

          Ia terperangah, terkenang masa-masa bocah.

          Ia termangu di padang rumput yang konon menjadi makam para korban pemberontakkan. “Tak ada lagi yang sempat menguburkan para jenazah. Mereka dimakamkan di dalam satu lubang, bahkan tanpa nisan,” jelas Ahong sambil mengusap air mata yang berlelehan campur ingus. Toko-toko sembakonya di kampung Sawojajar rata dengan tanah. Seorang anaknya ikut terbakar dalam musibah yang takkan terlupakan. Ahong memilih pindah ke lain kota. Membawa tabungan seadanya. Membuka perniagaan dan menata hidup baru.

         Ia tercenung, ia termenung. Ia mendengar jalan hidup teman-teman masa kecilnya, seperti ia menonton slide film. Betapa tiba-tiba ia teramat sangat merindukan rumah kanak-kanak. Ia tiba-tiba menangis terisak-isak.

                                                                  ***

Kota, Ukir, 05 November 2019




=====================
Kartika Catur Pelita, lahir 11 Januari 1971. Penulis 700-an cerpen, 100 cerpen sudah dimuat  di 60 media massa cetak dan daring, di antaranya: Media Indonesia, Republika, Kompas, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Haluan Padang, Sumut Pos, Analisa Medan, Koran Rakyat Sultra, Kendari Pos, Lampung Post, Solopos, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Info Muria, Okezone.com, Nova, dan Kartini. Buku fiksi “Perjaka”, “Balada Orang-orang Tercinta,”  “Kentut Presiden.”  Bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara(AMJ). Tinggal di Jepara.

Tentang Kepulangan

0

Sengaja kurahasiakan kepulanganku. Saya tidak mau orang-orang di kampung menyambutku penuh kemenangan yang membuat Ibu menceritakan ulang caranya mendidik anak dan Bapak akan memborong berbungkus rokok di warung Mak Sari untuk dihidangkan pada tetangga kemudian selanjutnya menjawab segala tanya.

Saya tidak mau itu semua terulang sebagaimana kepulanganku yang pertama 20 tahun yang lalu; mendadak rumah seramai pasar, orang mengantre menyentuh tanganku. Sebagian besar memelukku tak mau melepas. Seminggu, saban pagi saya sudah harus melayani banyak sekali pertanyaan yang membuatku lupa menziarahi makam kakek dan nenekku. Apa boleh buat, nisan mereka hanya saya tatap di balik kaca jendela mobil kala harus kembali lagi ke kota.

Kali ini, saya tidak mau itu terjadi. Kupikir orang-orang di kampung sudah mengenalku sebagai orang yang sukses di rantau. Jadi, mereka tak punya lagi alasan datang menemuiku mengucap selamat dan mengharap derma. Semuanya telah saya sisihkan melalui koperasi yang dikelola bapak sebagai aktivitasnya setelah pensiun. Bapak dulunya seorang guru agama di sekolah dasar satu-satunya di kampung kami.

Saya masih ingat, Bapak akan membangunkanku sebelum suara azan Haji Sattar membangunkan seisi kampung melalui pengeras suara di surau. Itu terjadi bila musim kemarau. Dua gentong di dapur sudah harus penuh sebelum menunaikan salat subuh. Setelahnya, kami kembali bergegas ke sumur Wa Lau, seorang tua yang membangun rumah seorang diri di tengah persawahan warga. Hanya dia yang tinggal di sana, terpisah dari keramaian. Tetapi, saban sore rumahnya selalu ramai dikunjungi warga yang hendak mengambil air. Wa Lau, hanya mengizinkan menimba air di sumurnya sebelum subuh dan sore hari. Jangan harap ia akan membuka pintu pagarnya bila matahari sudah muncul. Tidak ada yang berani membongkar pintu yang terbuat dari bambu itu. Aturan ini berlaku pula untuk kepala desa yang pernah menegurnya. Wa Lau bergeming dan mendamprat ulang. Wa Lau melempari ludah dari atas rumahnya. Kejadian itu terus dikenang oleh kepala desa. Ia malu karena menjadi bahan gunjingan sekaligus bahan humor di setiap obrolan warga yang mengenang peristiwa tersebut.

Sebelum kampung terang, saya sudah siap dengan balutan seragam, siap ke sekolah bersama Bapak. Kami hanya berjalan kaki melewati jalan tanpa aspal, retakan tanah terlihat jelas sebagai bukti perkasanya kemarau. Sebaliknya, di musim penghujan, jalan itu serupa sungai. Menjadi jalur air mencari titik rendah. Di sanalah, saya dan teman sebaya bermain mengadu kulit jantung pisang sebagai perahu mainan. Kami terus mengikutinya hingga berakhir di depan rumah Wa Lau.

***

Guna menjaga rahasia, saya mengutus salah satu asisten ke rumah. Menyampaikan kepada Ibu dan Bapak perihal kedatanganku kali ini. Semuanya perlu ditempuh karena di kampung belum ada jaringan telepon. Melalui asisten itu, saya membekalinya foto dan sepucuk surat yang menjelaskan maksud kedatanganku. Foto itu tentu saja sebagai penjelas agar asisten saya itu dapat dipercayai orang di rumah.

Metode itu berhasil, di malam buta, ketika warga pada lelap di rumahnya, saya sudah berhasil menjumpai Bapak dan Ibuku. Mereka sudah semakin menua. Pelukanku sepertinya tak mau lepas di tubuh mereka. Malam ini saya tuntaskan rindu dengan tidur di samping Ibu.

Kepulanganku kali ini, saya tidak membawa mobil. Sengaja kutinggal di kota bersama asisten yang menyewa kamar di salah satu hotel. Setelah diantar di pintu masuk jalur ke kampung, saya menggunakan ojek. Jasa ini mulai marak sejak dealer memberlakukan pinjaman lunak bagi masyarakat.

Penyamaranku berhasil. Herman tak mengenaliku ketika saya duduk di belakangnya. Dia teman sekolahku dulu di sekolah dasar. Usia kami terpaut empat tahun. Saya akrab dengannya saat kelas tiga. Rupanya sudah empat tahun ia mendekam di sana karena gagal naik kelas. Teman seangkatannya sudah pada kelas satu SMP dan dia masih perlu belajar berhitung. Beruntunglah, kepala sekolah dan guru-guru di sekolah tak lagi membiarkannya menutup usia di sekolah dasar. Hingga akhirnya kami sama-sama menamatkan pendidikan dasar. Setelahnya, ia menolak bersekolah lagi.

Rupanya, ia sudah berkeluarga. Ia peristrikan seorang perempuan dari kampung sebelah. Kini, ia sudah punya rumah dan dua orang anak. Dia kaget kala saya menepuk pundaknya untuk berhenti di depan rumah Haji Bahri.

“Anda mau bertemu Haji Bahri, Pak?”

Saya tidak menjawab dan menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah.

“Maaf, saya tidak punya kembalian, Pak,” katanya lagi.

Saya masih diam, lalu membuka syal yang menutup sebagian wajahku. Rupanya ia masih belum mengenalku. Setelah topi saya lepas, barulah ia menyunggingkan senyum. Memarkir sepeda motornya lalu kami melepas kangen. Berkali-kali ia memukul pundak saya dan mengulang kalimat: kau hebat, sudah jadi orang sukses.

Agak lama kami duduk di bale bambu di depan Bapak. Mungkin kami telah menyulut tiga batang rokok sebelum saya memintanya pulang dan tak lupa menitipkan pesan agar menjaga rahasia kedatangan saya. Awalnya ia kaget dan menolak, tetapi luluh juga setelah kujelaskan kalau dia boleh menjemputku di malam hari untuk menjumpai teman-teman di pos ronda. Hanya di waktu malam saja, saya tidak mau muncul di siang hari.

Rumah ini tak berubah, dindingnya masih sama ketika saya masih sekolah dasar. Bapak tidak mau menggantinya walau sudah kuyakinkan kalau saya bisa membangunkan rumah yang baru. Ibu berpendapat sama. “Buat apa, kau tidak memiliki saudara. Tidak ada warisan yang perlu dipersiapkan,” demikian Bapak pernah berujar.

Di kepulanganku yang kedua, 15 tahun lalu. Bapak dan Ibu tak banyak mengajukan tanya mengenai pekerjaan yang kulakoni di kota. Bila kuingat-ingat, sejak Bapak menitipkanku pada Paman Gaffar, adiknya yang membangun usaha warung kopi di kota. Beliau juga tak pernah banyak menuntut menyangkut prestasi sekolahku sejak SMP hingga saya tamat SMA. Keduanya sekadar menuntut keberadaanku yang tak kekurangan apa pun. Bahkan, ketika saya memutuskan untuk kuliah setahun setelah tamat SMA, kedunya juga tidak keberatan. Untuk hal itu, mulanya saya menduga kalau beliau tidak bisa lagi menyiapkan biaya. Bapak sudah pensiun dan uang pensiunnya tidaklah seberapa. Cukup untuk makan saja karena Bapak tidak menggarap sawah.

Bila ada yang bertanya pada Bapak, cukup ia menjawab kalau Hadri merupakan pengusaha, berjualan apa saja. Dan, orang-orang akan mengangguk memercayai. Itu yang kudengar di kepulanganku yang pertama ketika Bapak sibuk meladeni warga dan Ibuku tak kala sibuk di dapur menyiapkan menu untuk tetamu.

Bapak sepakat saja ketika kutawari untuk memimpin koperasi di kepulanganku yang ketiga, 10 tahun yang lalu. Saya jelaskan kalau koperasi itu merupakan ruang bagi warga yang hendak meminjam modal guna membangun usaha. Metode ini memungkinkan warga agar memiliki kemandirian dan tidak selalu meminta derma bila saya pulang. Jadi, dana bisa bermanfaat dan bergulir untuk warga. Kepala desa saat itu merasa terbantukan dengan ide yang kutawarkan. Belakangan, saya ketahui kalau pak desa turut meminjam dana yang kemudian digunakan membangun saluran pipa dari sumur Wa Lau. Tujuannya, agar warga tak perlu lagi berjalan jauh melintasi pematang menuju rumah Wa Lau di musim kemarau.

Semula sulit kupercaya, saya tahu siapa Wa Lau. Lelaki tua yang tak pernah saya tatap wajahnya. Ia selalu berada di atas rumah panggungnya. Sewaktu kecil, saya menganggapnya sebangsa malaikat atau iblis. Makhluk Tuhan yang tidak membutuhkan makanan. Ibukulah yang meyakinkan kalau Wa Lau adalah manusia sebagaimana umumnya. Butuh makan dan minum. Setiap pagi, kemanakannyalah yang membawakan makanan untuknya. Katanya, Wa Lau memilih menyepi ke tengah sawah setelah mengidap penyakit gula yang mengakibatkannya lumpuh.

Kena damprat darinya bukan hanya sekali, seingat saya. Bapak juga pernah dilarang mengambil air terlalu banyak. Aturan yang diterapkan Wa Lau, bukan hanya waktu-waktu tertentu, tetapi juga jumlah ember yang boleh dibawa. Meski gelap, rupanya ia selalu awas dari jendela mengintai warga di pekat subuh. Aturan itu berlaku bagi siapa saja, termasuk kemanakannya.

Jadi, saya tidak begitu yakin kalau Pak desa mampu meluluhkan wataknya. Namun, saya harus memercayainya juga. Di kepulanganku yang kedua, 5 tahun lalu. Kulihat bak besar berdiri di depan rumah Pak desa yang dilengkapi dua keran air. Di sanalah warga mengantre sepanjang hari di musim kemarau. Belakangan kuketahui kalau Wa Lau telah wafat, rumahnya sengaja tidak dibongkar, malah dipasangi listrik sebagai sumber tenaga yang mengalirkan daya ke mesin pompa air agar mampu menyedot air dari sumur dan selanjutnya mengalir ke bak. Sayang, itu tidak berjalan lama. Kata Bapak, hanya bertahan semusim saja. Selanjutnya, muncullah petaka, sebab sumur peninggalan Wa Lau benar-benar telah kering. Jadilah warga membeli air di musim kemarau pada seorang pedagang air dari kampung jauh di kaki bukit. Parahnya, warga harus membagi rata, karena pedagang itu hanya mampu menampung 20 jergen ukuran 20 liter di dokarnya sekali jalan setiap hari.

***

Kini, di kepulanganku yang keenam. Genaplah 25 tahun saya merantau, itu terhitung sejak kuputuskan kuliah, saya tidak mencampurnya dengan tapak masa SMP dan SMA. Sejak itu, saya balik ke kampung sekali dalam lima tahun. Pagi pertama di kepulanganku keenam ini, saya menemukan guling Bapak di sampingku. Adakah semalam ia bertukar dengan Ibu tidur di sampingku. Entahlah, pagi ini saya menemukan diriku di masa kecil. Menunggu ibu menghidangkan secangkir kopi dan sepiring nasi dingin sisa santapan semalam. Tidak seperti pagi di kepulanganku yang pertama. Namun, itu tidak mengapa, sebagai bentuk kebahagiaan warga menyambut perantau yang dianggapnya sukses.

Di dapur, Ibu masih menggunakan kayu bakar bila menjerang air. Kompor gas yang kubelikan dari kota di kepulangaku yang pertama tak kelihatan. Padahal, Ibu sudah pandai menggunakannya. Kala kutanya, Ibu lebih senang menggunakan kayu bakar ketimbang memutar pemantik api kompor itu.

Bapak semakin tua, pagi ini saya memintanya bercerita tentang koperasi. Dijawabnya, kalau ada baiknya ditutup saja dan memintaku lebih baik langsung menyumbangkan uang ke masjid atau ke panti asuhan bila ada rezeki. Gelagatnya menghendaki agar saya tidak banyak bertanya. Kepulan rokok kreteknya seketika bercampur dengan asap dari tungku.

“Koperasi itu hanya membuat warga semakin marah pada Pak desa, kalau saja bukan Bapakmu, mungkin Pak desa sudah digantung,” ucap Ibu kemudian.

“Sudahlah, tidak perlu kau ceritakan itu,” Bapak mencegat.

“Saya belum mengerti apa yang terjadi,”

“Ada baiknya, kau segera saja ke kota, jangan kira Pak desa tidak mengetahui kedatanganmu,” ucap Bapak lagi.

“Tetapi, tidakkah Bapak dan Ibu melihatku di sini dan bertanya lebih jauh tentang pekerjaanku di kota tanpa perlu meladeni warga yang datang. Sekaranglah saatnya kita memiliki waktu bersama.”

“Bapak percaya, nak, kau tidak akan membuat kami malu. Pak desalah yang membuat kami malu.”

“Saya semakin tidak paham.”

“Setelah kau mandi dan meminum kopi buatan Ibumu. Pergilah, pintu itu bukan hanya untuk kedatangan, tetapi disiapkan juga sebagai jalan keberangkatan,”

“Bapak mengusirku?”

“Tidak, nak, pergilah. Dengarlah kata Bapakmu,” kali ini Ibuku bangkit dan berdiri di sampingku.

“Saya akan pergi, jika Bapak dan Ibu menjelaskan alasan yang bisa kuterima.”

Bapak memelukku. Sangat erat.

“Kau harus tahu, Pak desalah yang membunuh Wa Lau, agar ia punya alasan meminjam uang di koperasi membangun saluran air karena anggaran dana desa tidak cukup. Polisi sudah mengetahui itu, Pak desa kini sudah dipenjara. Tetapi, dalam keterangannya yang saya peroleh dari Polisi, namamu disebut. Katanya, kau bekerja sama dengan pak desa untuk menyingkirkan Wa Lau.”

Ibu berbalik dan Bapak melepas pelukannya, “Pergilah! Jangan kembali lagi!”

***



===================

F Daus AR, cerpenis, narablog kamar-bawah.blogspot.com dan terlibat kerja apa saja.

Ludah

0


Laki-laki tua itu berjalan
terpincang-pincang menyeret langkahnya, disertai derai batuk menguncang bidang dadanya. Dengan sepotong tongkat di sebelah tangan kanan, ia memasuki perkampungan, dan akan bersimpuh di depan rumah siapapun sembari menadahkan kedua tangannya. Baju yang lusuh, hampir robek seluruhnya lekat di badannya dibasuh oleh keringat yang mengucur.

Ia duduk di halaman rumah seseorang. Menunggu si pemilik rumah keluar. Memangil-manggil tuan rumah diantara tarikan napasnya yang lambat dan goyah. Berharap seseorang keluar dari dalam rumah membawa uang, seberapa besar jumlahnya akan ia terima asal si pemberi ikhlas memberinya pada laki-laki tua itu, dengan keriput di sekujur tubuhnya.

Terus ia duduk di teras rumah seseorang itu. Rumah mewah berupa bangunan gedung bertingkat, dengan lampu-lampu menghias di setiap sudutnya membuat laki-laki itu yakin si pemilik rumah adalah orang paling kaya di kampung itu. Karena sejak laki-laki tua itu berkeliling semenjak matahari muncul di permukaan langit hingga kini menjelang sore hari, ia cuma menemukan rumah itu sebagai satu-satunya tempat tinggal yang megah dibanding rumah-rumah reyot yang ditemuinya sebelumnya.

Maksar, begitu nama laki-laki tua itu kemudian dikenal warga Tang-Batang. Selama lebih tiga puluh menit menunggu, seorang perempuan paruh baya agak gemuk berdiri di ambang pintu. Berpandangan beringas pada Maksar. Ia meminta Maksar segera angkat kaki dari rumahnya, lantang ia berteriak di depan muka laki-laki tua itu sampai Maksar menunduk, mengambil napas dalam-dalam, lalu bersama napas yang ia lepas, Maksar membuang ludah di wajah perempuan paruh baya itu.

“Dasar pengemis!” Terbungkus sumpah serapah ucapan perempuan itu mengumpat. Dengan cepat ia mendorong tubuh Maksar hingga laki-laki itu tersungkur. Pelan-pelan Maksar meraih tongkatnya dan berjalan pulang.

Matahari hampir tenggelam di ujung barat. Laki-laki tua tersandung batu hingga terpelanting jatuh. Gelap sudah mulai membungkus permukaan langit. Dengan sisa napas terengah-engah ia coba meraba-raba tanah, mencari tongkatnya yang terlempar jauh dari tempat ia tersungkur. Angin menggesek daun-daun jati. Maksar belum sanggup mengangkat tubuhnya sendiri. Ia memutuskan membaringkan saja tubuhnya, melepas penat karena berjalan sepanjang hari keluar masuk kampung.

“Ini tongkatnya, Kek.” Laki-laki muda yang menghampiri Maksar, membawakan tongkatnya. Terkaget Maksar mendengar suara Kasno, laki-laki muda itu. Kebetulan Kasno lewat di tempat itu dan tanpa sengaja telinganya mendengar suara lelaki tua merintih.

“Dimana rumah kakek? Mari saya antar,” kata Kasno menawarkan kebaikan pada lelaki tua itu. Maksar tak membuka katup mulutnya. Tak juga mengucap terimkasih pada Kasno karena berkat laki-laki muda itu ia bisa berjalan pulang dengan mengetuk-ngetukkan tongkatnya, mencari jalan setapak menuju rumah.

Belum juga Maksar menanggapi ucapan Kasno. Ia berdiri dan memandang raut muka Kasno, dalam remang-remang menjelang gelap malam hari. Tanpa perlu berucap apapun pada Kasno, justru malah Maksar melempar ludah ke wajah Kasno. Laki-laki muda itu terkejut dan berperasangka macam-macam soal Maksar. Apa lelaki tua itu tak waras? Ingin Kasno balas meludah, bahkan jika ia mau bisa dengan mudah menendang tubuh ringkih Maksar, tapi ia urungkan semua itu karena dianggapnya Maksar kehilangan akal, jiwa laki-laki tua yang dicekik kesepian. Begitu pikir Kasno.

Sudah berpuluh-puluh kali Maksar kerap membuang ludah ke wajah seseorang tanpa sebab. Seiring jarum bergeser, perilaku laki-laki tua itu dianggap meresahkan dan tak disukai banyak orang. Hingga kemudian setiap kali Maksar menginjakkan kaki di halaman rumah seseorang, ia langsung akan menerima umpatan, diusirnya seperti layaknya pecundang. Menanggapi sikap warga Tang-Batang Maksar tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Mungkin karena perlakuan orang-orang yang tak lagi ramah padanya menyebabkan laki-laki separuh abad itu tak dapat ditemukan lagi keberadaannya hingga saat ini. Tak terdengar lagi suara ketukan tongkatnya berseiring dengan laju napasnya. Tapi, menjelang sore hari, yang begerimis ketika orang-orang bekumpul di rumah Maksum dikarenakan Misdar, anak dari  lelaki paruh baya itu kejang-kejang, menjerit kesakitan, seperti disusupi arwah. Mendadak Maksar muncul tiba-tiba membuat orang-orang terbelalak menatap laki-laki tua itu.

Dengan tampil mencengangkan Maksar mengunyah ludahnya sendiri dalam mulut. Sejurus kemudian, laki-laki renta itu membuang ludahnya tepat mengenai wajah Misdar, anak lelaki Maksum. Orang-orang mengernyitkan dahi melihat tingkah Maksar yang kembali berulah. Laki-laki tua itu memejamkan mata. Ia membuka matanya beberapa menit kemudian. Bersamaan dengan terbukanya mata Maksar, saat itu juga Misdar berhenti mengejang dan bocah laki-laki itu langsung berdiri di depan orang banyak, memperlihatkan dirinya yang sembuh seketika.

Sejak itu masyarakat percaya, Maksar adalah lelaki sakti. Ludah Maksar dianggap mujarab oleh penduduk. Kabar kesaktian Maksar tersebar secepat kilat dari mulut ke mulut, dari waktu ke waktu. Justru laki-laki tua itu kini selalalu diharap kedatangannya. Tapi selepas kejadian menakjubkan waktu itu Maksar kembali tak menunjukkan batang hidungnya di depan orang-orang.

Walaupun laki-laki sepuh itu tak lagi diketahui dimana kini ia berada. Ia justru semakin termasyhur setelah beredar desas-desus bahwa orang-orang yang diludahinya dulu kini mengalami bermacam perubahan. Perubahan yang beragam diterima orang-orang itu. Perempuan gempal itu, yang mengusir Maksar dulu kini jatuh miskin dan terpaksa melacurkan diri demi sesuap nasi. Sementara Kasno, laki-laki yang diludahi Maksar tanpa sebab itu kini sudah jadi orang kaya, dan telah naik haji.

Suatu hari saat Kasno berkunjung ke rumah Maksum, ia berceloteh banyak mengenai Maksar, laki-laki tua pemilik ludah mujarab itu. Orang-orang sudah mengakui sangat mengagumi betapa mujarabnya ludah Maksar. Kasno berdehem sebentar melegakan tenggorokannya dari sesuatu yang menyumbat.

“Sekalipun ludah laki-laki tua itu mujarab, berhati-hatilah. Ludahnya bisa menyembuhkan, memberi keuntungan, atau justru ludah itu bisa jadi penyakit, mendatangkan celaka. Maka bersikaplah baik kepadanya jika tidak ingin bernasib celaka.” Kasno menceritakan dengan binar-binar di matanya. Tanpa mengurangi debar-debar di dadanya, Kasno selalu membangga-banggakan Maksar.

Beberapa bulan berlalu terdengar kabar bahwa Maksar tengah menyepi di bawah kaki bukit. Tinggal di rumah berupa gubuk terbuat dari anyaman bambu. Laki-laki tua itu tak lagi sanggup menyeret kakinya, singgah dari satu rumah penduduk ke rumah lain, menyusuri ruas-ruas jalan kampung. Diam-diam Maksum terobsesi menemui laki-laki renta itu, dan niat itu pun ia kerjakan. Pergi tak bilang siapa-siapa, dalam gelap malam dini hari.

Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Maksum duduk dalam gemetar sembari menatap wajah Maksar. Tanpa diminta terlebih dahulu oleh Maksum, tiba-tiba saja laki-laki tua itu membuang ludahnya ke wajah Maksum. Temaram lampu teplok memantulkan bayangan dua lelaki yang saling berhadapan. Angin bergemuruh di luar. Maksum tersenyum, merasa terberkahi mendapat ludah Maksar di wajahnya. Sebab maksud kedatangan laki-laki itu kesana memang ingin mukanya diludahi agar istrinya mengijinkan menikah lagi dengan perempuan simpanannya selama ini.

Dan beberapa detik berikutnya, Maksum malah merasakan nyeri di kedua matanya. Begitu Maksar mendekatkan mulutnya di tepi telinga Maksum, laki-laki itu sudah tak dapat melihat apapun di sekitarnya, kecuali gelap membungkus dua bola matanya. Kebencian terbungkus umpatan dan sumpah serapah terhadap Maksar, karena laki-laki tua telah membutakan kedua matanya.

“Dengan begini, akan kau tahu siapa sesungguhnya yang benar-benar mencintaimu. Istrimu atau perempuan simpananmu,” ujar Maksar, lelaki tua itu dengan sangat lembut. Jantung Maksum hampir copot dari tangkainya mendengar ucapan Maksar, karena laki-laki paruh baya itu belum mengucap apapun perihal maksud kedatangannya, tetapi lelaki tua itu sudah mengetahuinya lebih dulu.

Tak ada yang bisa dilakukan Maksum selain meminta lelaki tua itu mengembalikan penglihatannya. Dalam buta mata seperti itu, Maksum tak merasakan keberadaan Maksar di dekatnya. Laki-laki tua itu keluar rumah sejak tiga puluh menit lalu meninggalkan Maksum seorang diri di dalam rumah gubuknya. Maksum cuma mendengar suara cicak dan desah napasnya sendiri.

Pulau Garam, 2019

===================

Zainul Muttaqin Lahir di. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019).

Magrib dan Sebuah Pertikaian

0

Setengah bulan yang lalu aku disambut baik oleh warga setempat di lembah kendeng, desa yang ditutup oleh bukit kendeng, tempat pabrik semen itu beberapa bulan yang lalu mulai beroperasi menggeruk batu kapur dari tubuhnya. Magrib mulai samar-samar, karena cahaya lampu di arah barat bukan lagi cahaya dari mentari yang turun di ufuk Barat, tapi cahaya lampu pabrik yang menyala di malam hari. Jadi, cahaya magrib tampak sepanjang malam, terlihat dari lembah kendeng.

Tak banyak yang tahu bagaimana kehidupan orang lembah kendeng, karena daerahnya memang jauh dari desa-desa maju lainya. Apalagi bukit kendeng seperti pagar tinggi yang menghalangi pandangan seseorang pada desa terpencil ini. Pak Mudin yang bersamaku saat ini bercerita jika Desa mereka memang masih tertinggal. Apalagi persoalan pendidikan, terutama pendidikan keagamaan.

“Pemuda yang saya kader semuanya pada keluar dari desa ini kok, Mas. Makanya di sini sepi. Pelajaran agama geh ngene iki. Hanya belajar membaca al-Qur’an, itu pun tidak fasih.” Cerita Pak Mudin kepada saya dan teman-teman yang duduk bersila di hadapannya. Pak Mudin adalah seorang santri Alumni Lasem. Dia salah tokoh agama yang disegani di desa ini.

“Iya, mereka antusias lho, Pak.”

“Sesuatu yang baru bagi seseorang memang asyik. Saya saja mendengar puji-pujian apik seperti tadi di loudspeaker, yang asalnya capek sepulang dari ladang, menjadi semangat.” Katanya. Wajahnya nampak benar-benar bahagia. “Teringat masa lalu ketika di pondok, Mas.” Lanjut Pak Mudin.

“Saya lihat ada satu anak yang rajin dan pintar di sini, Pak.”

“Siapa?”

“Si Didik itu.”

“Owh yang sering adzan itu?”

“Iya.”

“Dia sebenarnya asalnya ngaji di Musollah di sebelah Barat sana, Mas. Dia orangnya rajin memang. Kesayangan Pak Mar.”

“Maksudnya sekarang pindah?” Celetuk teman saya.

“Iya.” Pak Mudin melepaskan pandangan ke luar masjid. Seakan ada sesuatu yang masih disimpan.

“Lho kok bisa?” Aku penasaran.

“Ceritanya panjang.” Jawab Pak Mudin pendek.

Aku tidak bisa menelusuri alur ceritanya lagi dari Pak Mudin malam ini, sepertinya dia tidak ingin bercerita apa-apa. Yang kutahu, Musollah itu sekarang memang sepi. Tak ada adzan dan kegiatan apapun.

Anjing milik warga mulai menggonggong sedang menyapa anjing-anjing yang lain untuk segera waspada jika ada orang berjalan tengah malam. Warga di lembah kendeng ini masih menggunakan anjing sebgai satpam rumah. Sebentar lagi akan beranjak pukul sembilan malam, warga akan menutup pintu untuk segera tidur.

Pak Mudin pamitan. Aku dan teman-teman juga segera pulang ke pondokan. Malam hari, tidak baik masih ada di luar rumah di desa ini. Seperti suatu hal yang asing.

Aku pulang sembari berpikir kenapa Didik sampai pindah dari Musollah ke Masjid. Apa karena kemauannya sendiri atau faktor lain.

“Aku mendengar dari Ibu Fatimah katanya persoalan pemilihan kepala desa.” Di tengah perjalanan Joko, temanku yang asli Jawa itu tiba-tiba nyeletuk, memberi tahu.

“Ibu Fatimah Ketua Forum Anak Desa itu?”

“Iya.”

“Kau lihat TPQ di sebelah utara pondokan kita itu. Mati tak dipakai kan?”

Aku tidak menjawab. Tapi Joko sudah tahu jika aku mengiyakan karena semua teman-temanku sudah tahu perihal itu. TPQ pindah ke Musollah dukuh atas.

“Memang tidak di mana-mana, persoalan pemilihan kepala desa membuat beberapa warga jadi saling berselisih.” Pungkasku, sebelum kami masuk ke pondokan.

“Tapi ya, paling nanti reda sendiri.”

Percakapan pun ditutup. Malam mulai mencekam. Gongongan anjing beberapa kali terdengar di dekat pondokanku.

***

“Aku punya ide.” Kataku pada Joko. Joko yang bermain Handphone berlagak tak memperhatikanku. Dia mungkin sudah mengerti apa yang akan aku bicarakan. “Ajak Didik untuk kembali ke Musollah.”

Joko terperanjat. “Bukan hanya persoalan Didik. Orang tuanya juga terlibat di dalamnya.”

“Jika Didik kembali ke tempat semula apa yang akan terjadi coba?”

“Aku tahu.”

“Lantas?”

“Persoalan itu tidak bisa diselesaikan secara singkat.”

“Tapi aku tidak ingin Didik ikut menjadi korban.”

Tak ada kesepakatan antara aku dan Joko. Aku pun memutuskan pergi ke rumah Didik. Ingin mengajaknya datang ke musollah Pak Mar.

Pagi ini, aku tergerak untuk beranjak dari pondokan. Dalam hati, aku ingin pergi ke rumah Didik saja, membujuknya agar nanti pergi ke Musollah bersama-sama. Iya. Aku pun berangkat ke rumah Didik. Kebetulan hari Minggu adalah hari libur SD. Didik pasti ada di rumah. Aku mengambil motor dan segera pergi.

Tak lama, aku sampai di depan rumah Didik yang berpagar besi. Didik termasuk orang berada di antara warga yang masih mempunyai rumah kuno berdinding kayu jati. Rumahnya besar. Orang tuanya termasuk disegani. Namun persoalan pelik tentang kepala desa membuat Bapaknya hilang kepercayaan dari sebagian warga yang tidak satu pendapat dengannya.

Aku mengucapkan salam. Keluarlah seseorang dari dalam. Ibu Didik.

“Eh, mari masuk.”

Njeh, Buk.”

Aku masuk ke rumah yang megah itu. Dalam artian lebih bagus dari rumah kebanyakan. Ada ruang tamu yang nyaman dan Vas bunga indah di sudut ruangan.

“Tumben sekali main ke sini.”

“Iya. Dari kemaren belum sempat, karena kami sibuk merancang kegiatan.”

Jenengan Sudah kenal Didik, kan?”

“Kenal sekali. Dia anak yang paling pintar di desa ini.”

“Oh ya?”

“Iya, Buk. Saya paham sekali dengan karakter Didik dari awal mengajarinya mengaji di Masjid.”

“Dia baru-baru ini sebenarnya di masjid.”

Ibu Didik mulai membuka percakapan. Aku ingin memancing lebih dalam lagi persoalan yang sebenarnya.

“Maksudnya, pindah?”

“He’eh.” Jawabnya.

“Asalnya ngaji di mana?”

“Di musollah Pak Mar.”

“Berarti Didik pintar karena hasil Pak Mar.”

“Pak Mar itu sekarang bukan gurunya lagi. Dia tidak sepemikiran dengan kami.”

“Apakah Didik setuju dia berpindah guru?”

“Entah.”

“Pernah bertanya sebelumnya?”

“Tidak. Tidak pernah.”

Aku diam dulu, sebelum melontarkan pertanyaan yang dapat merusak kehangatan. Sepertinya Ibu Didik tidak ingin diintrogasi lagi. Aku membuka toples yang berisi jajan. Membiarkan Ibu Didik meleburkan panas dingin yang seperti hendak tumpah. Ingatannya beberapa waktu yang lalu tentang pertikaian pendapat seperti hendak muncul kembali.

“Boleh aku ajak Didik pergi ke musollah nanti magrib, Buk?”

“Ke musollah?”

“Ya, ke musollah. Mungkin Didik rindu ke sana.”

Ibu Didik tertegun sejenak. “Ya, boleh boleh saja.”

Aku tidak melihat dia sedang marah. Tapi ekspresinya dingin sekali. Didik lalu datang membawa jagung bakar di tangannya. Dia datang dan bersalaman denganku. Didik adalah kanak-kanak yang mempunyai sifat dewasa. Tidak banyak berkata-kata. Aku yakin dia mampu berpikir kenapa dia harus mengaji di masjid bukan di musollah tempat asalnya dia mengaji kepada Pak Mar.

Didik duduk di sebelahku mengeluarkan jagung bakar. “Kakak suka jagung bakar?”

“Iya.” Ucapku. Aku mengambil separuh lalu memakannya untuk menyenangkan hati Didik.

“Malam ini ikut Kakak ya?”

“Ke mana?”

“Ke musollah Pak Mar,” jawabku. “Sebelum magrib kita berangkat.”

Dia mengalihkan pandangan ke arah ibunya. Aku juga ikut meliriknya. Ibunya tersenyum dengan terpaksa. Dia pun mengangguk meski sebenarnya tidak mengizinkan.

Dendam masih nampak di wajah Ibu Didik. Matanya dingin menatapku. Aku pun merasakan ketakutan, takut disangka mengalihkan perhatian kepadanya. Tapi aku lihat Didik sangat antusias hendak pergi denganku. Dia memakai pakaian dengan antusias serta membawa al-Qur’an di tangannya. Seolah ada rindu kepada Pak Mar yang sejak kecil sudah mendidiknya.

“Sudah siap?”

“Siap, Kak.”

“Buk, kami pamit,” ucapku pamitan pada ibunya Didik. Tak kulihat Bapaknya. Kata Ibunya dia sedang ada di ladang mencabut singkong. Petang nanti, baru dia akan kembali ke rumah.

Aku menggandeng tangan Didik. Segera beranjak untuk pergi ke musollah.

Saat ini sangat menggetarkan bagiku. Karena aku bisa merasakan ketegangan sebelumnya. Jantung berdegup kencang. Aku berjalan menuju arah musollah rasanya seperti terbang. Aku seakan tak merasakan sedang melangkah di tanah.

Berbeda dengan Didik yang santai-santai saja. Dia masih kanak-kanak. Tak tahu apa-apa, meskipun secara pemikiran dia sudah bisa membedakan mana yang baik untuk dirinya dan yang tidak.

Beberapa saat aku sudah sampai di musollah kecil yang tak bercat itu. Sebuah gedung berwarna abu-abu yang hanya dilapisi dengan semen. Aku naik. Lampu belum dihidupkan. Aku bertanya dalam hati, ke mana Pak Mar.

“Dua menit lagi adzan ya,” perintahku kepada Didik yang masih menyapu lantai di teras depan.

Beberapa saat kemudian, seseorang datang kepadaku di musollah. “Sebaiknya kau pergi dari sini. Biarkan Didik pulang. Aku lihat Bapaknya tadi mencarinya.”

Aku tak menghiraukan itu. Paling hanya orang yang tidak suka juga pada Pak Mar. Dia mencoba menakut-nakutiku. Aku berdiri di beranda musollah. Menunggu ada yang datang. Pak Mar pun belum keluar. Dua menit berlalu. Matahari sempurna tenggelam. Aku menyuruh Didik segera adzan. Suara seruak dari loudspeaker ketika tombol on dipencet terdengar. Aku melihat tetangga musollah celingukan di ambang pintu mereka. Mereka bingung siapa yang sedang menghidupkan loudspeaker musollah. Takbir pertama dikumandangkan. Pak Mar keluar. Memandangku dengan nanar. Wajahnya dingin. Namun matanya aku lihat dia sedang heran mendengar adzan itu berkumandang.

Allahu akbar allahu akbar

Asyhadu an laa ilaaha illallaah

Pak Mar menatapku dengan lekat. Aku lihat mulutnya berkomat-kamit menjawab adzan dari suara merdu Didik. Pak Mar Masih tertegun di depan pintu. Seakan tak percaya musollah yang dia asuh sedang berkumandang adzan maghrib. Aku membiarkan dia menikmati suara adzan itu. Pasti dia sudah lama tidak mendengarnya.

Tak lama, setelah adzan itu selesai. Dia pun masuk dan keluar dengan pakaian rapi. Menggunakan baju putih, sarung kotak, dan kopiah haji. Dia nampak bersahaja. Orang-orang semua keluar rumah mendengar adzan yang sudah lama tak didengar dari musollah itu. Beberapa Ibu-Ibu dan Bapak datang. Musollah mulai hidup.

Aku berjabat tangan dengan Pak Mar. Tangannya masih kuat. Walaupun wajahnya mulai nampak tua.

“Sehat, Pak Mar?”

“Alhamdulillah….”

Tak sempat Pak Mar menjawab ketika terdengar teriakan lantang dari arah Timur. Bapak Didik tampak membawa arit yang diacungkan ke atas langit. “Siapa yang membawa anakku ke Pak Mar tanpa izin dariku?” Suaranya menggelegar.

Aku mulai ketakutan. Bayanganku dia akan menyabet leherku nanti. Tapi aku mencoba tenang. Dia pun mendekat, tanpa izin atau kode, dia dengan cepat mengayunkan aritnya ke arahku. Aku menghindar. “Kau jangan ikut campur dengan persoalan kami.” Ucapnya.

Bapak Didik kemudian mengayunkan sekali lagi aritnya itu. Tak sampai aku menghindar, Pak Mar memegang tangannya. “Dia tak punya urusan denganmu. Urusanmu denganku.” Pak Mar yang sedari tadi diam bersuara tak kalah sangarnya.

Bapak Didik mengalihkan serangan. Dia menyerang Pak Mar. Orang di dalam rumah ikut keluar setelah mendengar pertikaian itu. Pak Mar berusaha menghindari sabetan arit bapak Didik. Perempuan yang melihat pertarungan ini berteriak-teriak. Bapak Didik masih terus mengayunkan aritnya. Pak Mar terpojok. Bapak Didik makin bernafsu. Satu sabetan akan membelah perutnya.

“Bapak!” Didik muncul tiba-tiba, berteriak kencang hendak menghadang bapaknya. Bapaknya mengurungkan sabetan itu.

“Bapak, Pak Mar adalah guruku.”

Aku lihat arit itu bergetar di tangan bapak Didik sesaat Didik menghambur memeluk bapaknya.

Rembang, 2019

==========

Toni Kahar, Kelahiran Sumenep, 03 Desember. Aktif di Komunitaas Sastra ATAP dan SAKA Sarang Rembang, Pemred Majalah al-Hibr STAI Al-Anwar. Saat ini menimba ilmu di PP. Al-Anwar Sarang Rembang. Beberapa karyanya sudah diterbitkan di beberapa antologi dan pernah dimuat di Media Online, sedang buku kumcernya yang telah terbit berujudul “Ketapel dan Burung-Burung di Pohon Asam” (FAM, 2019)

Daun-daun Sepat

0

Aku mau menceritakan tentang sebuah waduk. Tempat anak-anak kecil di kampungku melempar dirinya sampai ke dalam perut air. Aku akan berusaha mengingat apa-apa yang kuketahui selama aku menjadi bagian dari waduk itu. Kalau ada beberapa hal yang sekiranya luput dari pengamatanku, kalian boleh memberitahuku supaya aku segera mengoreksi cerita ini. Kalian, yang juga menjadi bagian dari waduk itu, sama sepertiku.

Dulu ibuku adalah seorang buruh baja, sementara Bapak tidak memiliki kesibukan yang menjanjikan sebab keahlian yang dia punya hanyalah memancing ikan. Jika diukur menggunakan pendapatan jaman sekarang, saat itu kami adalah keluarga yang terbilang miskin. Saat membeli seragam sekolah saja, Ibu sengaja membelikanku dengan ukuran yang dua kali lebih besar ketimbang ukuran tubuhku. Supaya lebih hemat dan bisa kugunakan sampai setidaknya tiga kali naik kelas.

Kalau dipikir-pikir, saat itu, aku lah satu-satunya beban keluarga. Aku orang yang paling sulit menahan lapar dibanding mereka. Namun ibuku kelewat hebat, dia bisa mensiasati biaya dapur sehemat mungkin dengan kualitas masakan yang boleh diadu dengan restoran mana pun.

Kadang-kadang, Bapak membantu melengkapi hidangan dengan ikan hasil pancingannya. Meski, aku dan ibu tahu, Bapak sering memancing dengan seorang gadis yang kemungkinan adalah selingkuhannya dan membagi hasilnya pada gadis itu. Ibu sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan itu. Mungkin dia sudah lelah mencari-cari alasan untuk mempertahankan hubungan keluarga mereka selain karena aku.

Ya. Aku memang pernah melihat Bapak menghabiskan waktu di waduk bersama seorang gadis. Ketika itu aku sedang bermain di pinggir waduk bersama teman-temanku. Tepatnya di bagian selatan yang ditumbuhi pohon-pohon sepat. Kami biasanya akan segera melakukan pertemuan panjang selepas pulang dari sekolah dan mengganti baju. Karena orangtua kami akan marah sekali jika kami bermain menggunakan seragam sekolah.

Kemudian kami akan pulang ketika menjelang magrib, sekadar untuk mengganti pakaian lagi lalu pergi mengaji di surau Baiturrohman. Di waduk, aku dan teman-teman bisa mandi tanpa takut dimarahi siapa pun karena menggunakan air terlalu banyak. Tidak jarang aku pulang ke rumah bersama Bapak. Tentu saja ini tanpa kami rencanakan. Aku juga sering membantu Bapak membawa hasil tangkapannya.

Pernah Ustad Rais bercerita, guru mengaji kami disurau, ikan-ikan yang kami makan dari waduk tidak seberapa besar dan tidak seberapa banyak jika dibandingkan dengan ikan yang didapatkannya saat dahulu. Bahkan saking makmurnya ikan-ikan dari waduk itu, banyak nelayan yang tinggal di daerah pesisir, datang kemari untuk ikut memancing.

Tidak hanya itu, Ustad Rais juga menganjurkan kami untuk berhenti memakan ikan dari waduk, karena ikan-ikan itu menurutnya sudah tercemar racun limbah, serta apa saja yang serba tidak sehat. Kesemuanya itu karena bangunan-bangunan besar yang mulai berdiri di dekat waduk.

Bahkan rumah-rumah mewah yang dibangun di balik tembok yang membatasi waduk dengan dunia luar, sering melemparkan sampah-sampah dapur secara sembarangan ke waduk kami. Ditambah lagi, beberapa pipa yang terhubung dari bangunan-bangunan besar itu, memuntahkan kotoran mereka ke permukaan waduk.

Tentu saja kami tidak tinggal diam. Kami pernah menyumpal pipa-pipa itu. Melempar balik sampah yang dibuang oleh para penghuni rumah di balik tembok waduk, namun usaha-usaha itu sia-sia belaka. Mereka selalu mendapat celah untuk mengulangi perilaku banal itu.

Pernah sekali aku menjumpai Ibu bersama teman-temannya berkumpul di rumah, mereka membicarakan tentang keselamatan waduk secara serius. Mereka mengepal-ngepalkan tangan ke langit seolah-olah sedang menantang Tuhan berkelahi.

Sebaliknya, Bapak tidak pernah ikut dengan kegiatan ini. Bapak juga sering melarang Ibu untuk berhenti mengundang teman-temannya ke rumah untuk membicarakan waduk itu. Kata Bapak, semua sudah diurus oleh pemerintah. Begitulah kemudian percakapan mereka berakhir dengan pertengkaran panjang.

Mereka tidak ragu menyembunyikan ketidak akraban itu di hadapanku. Suatu ketika Ibu ditampar oleh Bapak karena terlalu sering melawan perintah. Saat itu aku terpaku di pojok rumah, menyembunyikan diriku dari percikan amarah mereka. Ibu segera menyuruhku masuk ke dalam kamar dengan berbahasa-basi agar aku menyelesaikan tugas sekolah. Padahal saat itu Ibu tahu, aku sedang demam karena baru saja tersengat lebah yang bersarang di pohon-pohon sepat.

Dalam cerita ini, Bapak mungkin terkesan jahat bagi kalian. Namun perlu kalian ketahui, Bapak sungguh-sungguh menyayangiku meski sikapnya seperti penjahat. Selain karena Bapak sering membawakan ikan untuk makan malam kami di rumah, Bapak juga rutin membelikan aku bajusetiap kali tim kebanggaan kami menerbitkan jersey edisi terbarunya.

Tidak tanggung-tanggung, Bapak pula yang membelikan aku sepeda sehingga aku bisa pergi ke stadion menonton bola bersama kawan-kawan setiap ada pertandingan. Bapak juga tidak pelit untuk menemaniku menonton kalau memang aku ingin mengajaknya. Bilamana terjadi kerusuhan yang disebabkan para pendukung tidak terima karena tim kesayangan mereka kalah, Bapak segera menggendongku dan mencari tempat berlindung.

Bapak mendapatkan uang-uang itu terkadang dari menjual sebagian ikan hasil memancing kepada teman-temannya yang kebetulan tidak mendapatkan hasil tangkapan sama sekali, atau ibu-ibu rumah tangga yang sengaja datang ke waduk untuk membeli ikan. Namun itu tidak seberapa banyak dari uang yang diberikan oleh Pak Heri setiap kali Bapak mengerjakan sesuatu untuknya.

Pak Heri adalah seorang Kepala Lurah yang telah menjabat sebanyak dua kali. Saat aku lahir dia sudah menjadi orang terpandang di kampung kami. Ketika aku menjelang lulus SMP, Pak Heri menyiapkan diri menjabat untuk ketiga kalinya. Setiap menjelang pemilihan, anak-anak kecil biasanya diliburkan dari sekolah, karena guru dan para keluarga akan berpesta menyambut hasil pemilihan. Entah apa yang membuat perayaan itu menjadi berharga, namun bagi kami, hari libur tetaplah hari libur yang menyenangkan.

Pernah juga, aku melihat Bapak diberikan sebuah kantung pelastik berwarna merah. Yang tidak lama setelahnya kuketahui berisi lembaran-lembaran uang. Menjelang magrib, mereka berkeliling kampung untuk membagikan uang-uang itu ke setiap rumah. Aku dan teman-temanku mengiringi perjalanan mereka untuk sekadar memeriahkan. Bapak mengupahku seratus ribu rupiah, katanya untuk aku mentraktir teman-temanku membeli pentol.

Sepulangnya, aku menceritakan kejadian itu pada Ibu sebelum berangkat mengaji. Ibu menyuruhku untuk mengembalikan uang tersebut pada Bapak. Namun sekembaliku mengaji, Bapak tidak ada di rumah. Sedangkan Ibu tidur di kamarnya. Kemudian keesokan pagi mereka bertengkar. Pagi sekali. Sehingga aku terbangun lebih cepat dari seharusnya.

Karena kesal oleh perilaku mereka, aku membolos pada hari itu. Bersama teman-temanku, aku menghabiskan waktu di waduk, tempat pohon-pohon sepat tumbuh dengan rimbun. Kami merasa nyaman di tempat itu, walau bahaya sengatan lebah selalu mengintai keselamatan kami. Di sana, aku menghabiskan uang yang diberikan Bapak padaku.

Saat kami tengah bersenang-senang dengan es teh dan sebungkus rokok yang kami beli untuk belajar mengudut, segerombolan massa datang dari kampung memasang tulisan-tulisan dan poster besar yang mengitari setengah luas waduk. Ada pula foto Pak Heri dengan disertai gambar tanduk pada bagian kepalanya. Mereka berkumpul dan membuat barisan panjang. Kami melihatnya dari kejauhan sambil tetap menjaga waspada kalau-kalau di sana ada seseorang yang mengenali kami kemudian melaporkan ke sekolah karena kami membolos.

Aku mengintip dari balik tubuh-tubuh pohon, terlihat barisan manusia itu berteriak kencang-kencang. Tidak terlalu jelas apa yang mereka ucapkan, namun kobaran amarah terasa menyelimuti mereka. Setiap mereka berteriak, permukaan air akan bergetar, dan suara-suara itu, menimbulkan gelombang suara yang mampu menjatuhkan daun-daun sepat yang mengering.

Tidak lama berselang, segerombolan warga lain datang menghampiri bersama polisi. Awalnya tidak begitu jelas wajah-wajah mereka, namun akhirnya aku mengetahui Bapak berada di barisan paling depan bersama Pak Heri. Mereka bersama polisi sedang berbicara dengan barisan lain yang sebelumnya berteriak-teriak di bibir waduk.

Manakala terjadi ketegangan di antara mereka, kedua barisan manusia itu akan saling mendorong, sehingga beberapa orang yang berbaris di bibir waduk harus menahan tubuhnya sampai menyentuh air.

Aku melihat seorang wanita menghampiri Bapak. Wanita itu menamparnya. Wanita itu berteriak sambil menunjuk mata Bapak dengan begitu tegas. Bapak balik menampar wanita itu. Ketika wajahnya bertolak ke samping, segera aku mengetahui bahwa wanita itu adalah Ibu. Wajah Ibu yang memantulkan kegetiran mendalam. Tanpa berpikir panjang, sontak aku langsung berlari menghampiri mereka. Walau sesampaiya di keramaian itu, aku tetap tidak dapat melakukan apapun selain menonton lebih dekat pipi Ibu yang memerah bekas tamparan.

Hari itu adalah hari terakhir aku melihat Ibu. Ibu dibawa ke kantor polisi karena dituduh menjadi dalang kerusuhan dan semenjak itu tak pernah pulang ke rumah. Sampai terdengar kabar, Ibu mati di penjara.

Belum mengering sempurna kuburan Ibu dari bekas air ziarah, Bapak kawin lagi dengan seorang gadis yang sering menemaninya memancing di waduk. Kehidupan keluarga kami berubah drastis. Bapak semakin sering mendapat tugas dari Pak heri, dia juga mulai jarang memancing. Namun kebutuhan keluarga kami sudah serba terpenuhi.

Akhirnya aku meminta kepada Bapak supaya aku dimasukkan ke pesantren, menjadi peserta pondok di tempat Ustad Rais dulu juga belajar agama. Sepuluh tahun kemudian, setelah pulang merantau, aku kembali ke kota dan menghabiskan separuh waktuku setiap harinya bekerja di sebuah pabrik baja tempat ibu pernah bekerja. Namun dengan posisi yang lebih bergengsi.

Setiap sore, sebelum pulang ke rumah keluarga baruku, aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Bapak dan mampir ke waduk. Tidak ada barang istimewa lagi yang bisa ditemui di sana. Cuma ada pohon-pohon sepat yang sudah tua dan tersisa sedikit. Daun-daunnya yang kering mengapung di permukaan waduk. Tidak ada orang memancing, tidak ada gema suara. Anak-anak kecil atau remaja tidak lagi bermain di pinggir waduk.

Tampak jelas waduk lebih sempit dan dangkal ketimbang dahulu. Dan setiap aku datang kemari, suara Ibu selalu muncul bagai menyambutku, berdengung di dalam kepalaku seperti lebah.

======================

Robbyan Abel R, adalah penulis asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sejumlah cerpennya telah dimuat di berbagai media daring dan cetak. Turut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram. Sedang mempersiapkan buku kumpulan cerpen pertamanya.

Kesaksian Lakasse

0


Menggelesot di lantai, di samping Undung yang menggigil ketakutan, Lakasse butuh berpuluh kali mengatur hela napas baru mampu bercerita. Ia bilang ke polisi, ketika kakinya hendak menjejak anak tangga pertama terdengar suara letusan, dan ia yakin saat itulah kepala Tuan Bulke ditembus peluru. Masih separuh dari tiga belas anak tangga menuju lantai dua, tempat kejadian itu, belum ia jejaki, saat dua orang muncul tergopoh dari atas. Kedua orang itu sampai melompati dua anak tangga sekaligus setiap melangkah ke bawah. Ia mengaku mengenal kedua orang itu seperti ia mengenal Undung.

Sampai di atas, demikian ia meneruskan ceritanya, ia masuk ke tempat kejadian dan mendapati Undung menggigil serupa meriang. Tubuh Tuan Bulke ada di lantai, duduk bersandar ke tembok, kepala terkulai dan dinding di belakangnya bernoda percik darah. Tersentak melihat kondisi tubuh blasteran bule itu, sontak membuat baki yang menadah empat gelas kopi yang ia antar lepas terpelanting.

Bermaksud mengkonfrontir keterangan yang Lakasse berikan, polisi berpaling ke Undung. Yang ditatap hanya mangap, tanpa ada kata tercetus dari mulutnya, dan lama baru polisi menyadari Undung ternyata gagu.

***

Lakasse merasa hidupnya betapa sial. Ia ada di tempat yang salah pada saat yang salah pula. Tak usai-usai ia termangu dirundung sesal. Kisruh pikirannya kian kusut kasau saat ada teman membisiki, “Kalau keteranganmu di depan polisi tidak meyakinkan, bisa-bisa kamu yang jadi tersangka.” Lakasse bergidik membayangkan bila ia yang harus diterungku sebagai pembunuh Tuan Bulke.

Undung masih saja panik. Tak mungkin mengorek keterangan darinya. Di depan polisi yang memeriksanya, Undung malah kehilangan kemampuan berbahasa isyarat. Gerak tangan dan geletar bibirnya tak terpahami. Sesekali dia melempar pandang ke arah Lakasse, seakan minta dibantu. Dalam gigil ketakutan akibat impitan syok, akhirnya dia dirawat di rumah sakit.

Anca dan Dengka, dua saksi lain yang ada di tempat kejadian dan sempat berpapasan dengan Lakasse di tangga, langsung pula menghilang, dan selang dua hari Anca malah menyusul jadi mayat. Tubuhnya ditemukan menggembung terapung di bawah jembatan. Dugaan serampangan mengatakan Anca terjatuh, atau malah sengaja menceburkan diri ke dalam luap air sungai karena tekanan insiden tertembaknya Tuan Bulke. Sedang Dengka, masih belum ditemukan. Runtunan kejadian itu membuat posisi Lakasse kian sulit; ia jadi satu-satunya saksi yang bisa dimintai keterangan.

Akal Lakasse jadi mampet. Saat termangu, teman yang bersimpati kembali membisiki, “Lebih baik kamu minta pengakuan langsung dari kedua almarhum.”

“Dia kan sudah mati?” Lakasse mengerucutkan hidung, mengernyit.

“Sini, kuajarkan caranya …,” temannya menjelaskan. “Ingat, orang yang semasa hidupnya baik pada kita, biasanya setelah dia tiada, arwahnya akan baik pula pada kita. Aku yakin mereka bisa membantu melengkapi kesaksianmu.”

Serupa api, semangat Lakasse mulai murup. Tuan Bulke dan Anca yang telah tiada itu, saat hidup memang baik padanya. Malah suka memberinya tip. Sontak ia berpikir, arwah keduanya tentu baik pula padanya, pasti bersedia memberi tahu kronologi kejadian agar ia terelak dari kemungkinan jadi tersangka.

***

Sehari jelang agenda pemeriksaan, Lakasse memutuskan menemui saja arwah kedua almarhum. Seorang diri ia datang ke pekuburan. Pucuk dicinta, bulan sedang berbaik hati mengirim sebagian cahayanya, membuat ia tidak sulit menemukan posisi nisan yang ia cari. Ia hadir pada penguburan keduanya, jadi ia tahu di mana nisan mereka terpacak.

Nisan Tuan Bulke berada pada tanah menanjak di sisi bukit. Sedikit ke bawah, pada tanah landai, tempat Anca dikuburkan. Lakasse yakin arwah keduanya belum ingin terlalu jauh dari jasad masing-masing, dan tentu mau menemuinya. Berjongkok di antara nisan itu, sedikit lebih dekat ke nisan Tuan Bulke, ia mencoba memusatkan pikiran: dengan khidmat mengenang wajah dan sosok kedua almarhum.

Di sela riuh kerik serangga malam yang saling-timpa, ia berharap akan muncul pula suara-suara pelan arwah itu. Namun, hingga separuh malam terlampaui, sampai bagian kulitnya yang terbuka mulai perih dicucuki nyamuk, yang ia harap tidak terjadi. Jangankan bisik lirih, tanda-tanda keberadaan makhluk dari dunia gaib, dengan ciri bulu tengkuk meremang, tidak juga ia rasakan. Yang meremangkan bulu di lengannya hanya embus angin, membuatnya menggigil.

Dingin dan perih pada permukaan kulitnya, membuat Lakasse menyerah. Sempat terpikir untuk mengubah posisi, sedikit lebih merapat ke nisan Anca, tapi ia urungkan begitu ada pikiran lain melintas di benaknya: jangan-jangan arwah kedua orang itu malah masih berkeliaran di tempat kejadian?

***

Sejak peristiwa penembakan di salah satu unit pada gedung itu, sebagian penyewa memilih pindah, membuat beberapa bagian bangunan agak gelap. Lakasse masuk dari bagian belakang gedung. Kamarnya menyempil di pojok, dari mana ia bisa menyusuri lorong menuju tangga ke lantai dua. Sembari membesarkan hati bahwa arwah kedua orang itu masih ada di dalam ruangan, siapa tahu malah sedang bertengkar, ia mendorong pintu yang tidak rapat dan menunduk dari garis polisi. Ia masuk, berharap segera mendengar pertengkaran itu.

Unit yang disewa Tuan Bulke sedikit lebih besar dari yang lain, memiliki ruang tamu tersendiri. Lakasse bingung ketika ada di dalam. Apa sebaiknya berteriak saja memanggil arwah itu? Nyala bohlam di atas kepalanya redup, memaksimalkan belalak matanya. Bercak darah yang sudah mengering di dinding sempat ia lirik, sebelum duduk di kursi. Ia menduga kursi itu yang diduduki Tuan Bulke sebelum ditembak.

Sebagai petugas pembersih, senyampang ia bertugas kerap pula dimintai jasanya oleh penyewa untuk dibuatkan kopi atau mi siram, kadang juga membelikan rokok. Makanya ia cukup mengenal Tuan Bulke, termasuk ketiga tamunya yang sering berkunjung. Seraya menduga-duga saat kejadian mungkin Tuan Bulke sedang marah, lalu berdiri dan bergeser ke sisi kiri kursi sebelum terempas ke tembok oleh sentak peluru, Lakasse melengketkan tengkuk ke sandaran kursi. Ketika ia rasakan bulu-bulu di kuduknya meremang, ia yakin arwah korban sudah masuk ke dalam ruangan.

Segera ia bertafakur, berupaya lebih dalam mengenang sosok kedua almarhum. Ia berharap sebentar lagi ada di antara kedua arwah itu yang berkenan mengajak bercakap, atau lebih bagus bila mereka saja yang bertengkar, agar ia bisa menyimak apa yang menjadi penyebab sampai kepala Tuan Bulke dilubangi peluru. 

Namun, dalam detak jam demi jam tubuh Lakasse terhenyak di kursi, jangankan mendengar bisik paling lirih, kehadiran arwah itu malah ia rasa menjauh. Remang bulu di kuduknya hilang, membuat ia menduga arwah itu tidak berkenan melakukan persamuhan karena ia ada di situ.

Dalam dera lelah dan kantuk yang tak kuat lagi ia tahan, ia tertidur. Saat sedang tertidur itulah ia baru bisa melihat arwah itu datang, berebut memberi penjelasan: sangat riuh, saling tunjuk dan saling bentak, sebelum diakhiri suara letusan pistol. Suara itu membuat Lakasse terlonjak dari kursi.

Matanya memicing ke arah kaca jendela yang sudah benderang. Kepalanya terasa pengar. Perlahan ia sadar telah tertidur hingga pagi. Dugaan suara letusan yang membuatnya terlonjak bangun cuma suara empas salah satu pintu yang berjejer di luar, buru-buru ia sisihkan.

***

Dengan semangat berlambak, Lakasse membabar pengakuan di depan polisi, “Anca, Dengka, dan Undung itu, memang sering datang ke tempat Tuan Bulke. Ketiganya ke situ untuk bermain kartu … berjudi, maksud saya. Dan Tuan Bulke selalu saja menang, sedang tamunya selalu kalah. Oya, Tuan Bulke itu kerjanya memperanakkan uang … maksud saya, membungakan uang, semacam rentenirlah. Jadi, setelah kalah dan masih ingin bermain, ketiga tamunya akan meminjam uang dari Tuan Bulke. Pinjaman itu berbunga sangat tinggi. Begitulah seterusnya, berulang-ulang. Akibat selalu kalah, dan terus juga minta tambahan pinjaman, membuat utang ketiga tamunya makin menumpuk. Karena kesal, mulai pula curiga, ketiganya lalu menuding Tuan Bulke telah membodohi mereka. Ketiganya seia-sekata menuduh Tuan Bulke menggunakan trik-trik sulap pada kartu-kartu permainan mereka, sampai mereka selalu saja kalah dan cuma Tuan Bulke yang selalu menang. Akhirnya mereka cekcok, ribut saling tuding. Dengka dan Anca lalu bersepakat mengeroyok Tuan Bulke. Tuan Bulke buru-buru menarik laci, mengambil pistolnya. Kemudian terjadi perebutan pistol itu. Dengka yang berhasil merebut pistol, langsung mengarahkan ke Tuan Bulke, tapi Anca menghalangi. Anca tidak ingin bila sampai harus menembak tuan rumah, makanya dia berusaha merebut kembali pistol itu. Undung ikut pula membantu, kembali terjadi rebutan dan … pistol itu meletus….”

Lakasse merasa baru saja melepas impit cekik di leher. Namun, pertanyaan polisi kemudian, serasa memberi cekikan lain. “Bukankah sebelumnya kamu bilang tidak melihat kejadian itu?” 

Buru-buru melonggarkan napas, Lakasse membalas, “Arwah mereka, yang telah mati itu, yang datang dan menjelaskan pada saya, Pak. Percayalah, Pak, tidak seperti orang hidup, arwah pasti tidak pandai berbohong.”

Seperti menemukan sesuatu, polisi menatap tajam ke arah Lakasse. ***



====================

Pangerang P. Muda menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Telah menerbitkan 3 buku kumpulan cerpen, yang terbaru Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Menjadi guru SMK dan berdomisili di Parepare.  

Tak Seperti Dendam, Cinta Tak Perlu Berbalas

1


Tetanggaku yang buta itu tiba-tiba saja membelah malam gulita dengan berteriak, “Cinta tak akan pernah berakhir! Cinta tak akan pernah berakhir!!!” Sambil berlari-lari tak tentu arah, ia terus meneriakkan kalimat itu. Namun, seketika ia terhenti, persis di depan pintu rumahnya, dan rubuh ke tanah.

Aku yang saat itu tengah membaca buku puisi penyair lokal di teras rumahku tercenung. Hantu jenis apa pula yang merasuk si buta Kipling malam-malam begini. Awalnya aku menduga ia mabuk, tapi melihat sikap anehnya itu aku bertanya-tanya. Dan keterkejutanku kian memuncak ketika tiba-tiba ia rubuh, bagai batang kayu rapuh.

Tak ayal, suasana sebelumnya yang sungguh lengang berubah menjadi bagai malam pergantian tahun. Semua mata yang dengan hadir ingin melihat apa yang terjadi. Dan, aku menjadi bulan-bulanan lontaran tanya mereka, “Ada apa!? Ada maling? Siapa, siapa? Pembunuhan? Ada apa!? Ada apa? Siapa yang mati!?” Rentet pertanyaan mereka aku bungkam dengan diam. Sebab, aku sendiri pun belum tahu pasti kronologi yang sebenarnya.

Tak berapa lama kemudian ambulance menderu. Tubuh kaku si buta Kipling diangkat, sempat kulihat wajahnya memutih, begitu kaku dan pucat. Begitu ambulance mengaung pergi, aku mengambil kesempatan lari balik ke rumahku. Segera menutup pintu. Tak kupedulikan buku puisi yang masih tertinggal di meja terasku.

***
Hari ini Minggu: pagi yang cerah. Aku membuka daun jendela lebar-lebar. Kudengar diluar suara-suara ribut. Kulongok kepalaku keluar. Terlihat orang-orang begitu ramai, bahkan ada juga beberapa polisi. Kulihat sekeliling rumah si buta Kipling dibatasi police-line.

Aku mengingat-ingat, memutar memori ke masa lalu tentang si buta Kipling. Hanya sekitar dua tahun lamanya kami bertetangga. Awalnya, ia hanya menyewa rumah di sebelahku. Namun, karena pemilik rumah itu mendadak butuh uang untuk biaya berobat orang tuanya, si buta Kipling pun bersedia membelinya. Selama dua tahun yang singkat itu, yang kulihat kehidupan sehari-harinya berjalan lancar. Ia jarang keluar rumah. Pada awal masa kepindahannya, aku tak begitu memperhatikannya. Hanya sekedar bertegur sapa untuk beramah-tamah saja. Tak lebih dari itu.

Namun, pada awal tahun kedua bertetangga, ia memberi kesaksian padaku bahwa ia memutuskan tidak akan pernah menikah. Ini membuatku tersentak. Ia mengakui selama hidupnya ia hanya pernah mencintai seorang wanita. “Namanya Ariel, ya Ariel Smithless. Ayahnya seorang pialang kaya-raya. Sangat kaya, hingga rumahnya hampir-hampir mengalahkan istana Ratu Inggris. Ayahnya telah bersumpah di depan mataku tak akan pernah merestui hubungan kami. Sungguh ayah yang kejam. Tidak punya hati! Kepada anaknya, putri tunggalnya, ia tega memisahkan dari lelaki yang dicintai putrinya. Sungguh sangat… ah!”

Di waktu yang lain, ada lagi cerita menarik darinya, masih seputar kisah cintanya. “Dulu aku tidak buta. Mataku terang-benderang memandang segala rupa, segala warna. Pandanganku senantiasa jernih, tanpa pernah kabus, apalagi rabun sedikitpun. Tapi, sejak itu… ya, sejak kejadian itu… jiwaku merasa tertutup. Tak lagi dapat merasakan apa-apa. Segalanya sirna, segalanya hampa! Hingga akhirnya mataku hanya dapat melihat kekelaman, kegelapan yang abadi.”

“Kau begitu mencintainya?” ujarku merespon ceritanya.

“Mencintainya? Pertanyaanmu konyol sekali, Kal. Tentu saja aku mencintainya. Mencintai setiap mili dari tubuhnya, mencintai seluruh isi jiwanya. Dia begitu sempurna, di mataku setidaknya. Dia selalu bilang aku telah melengkapi dirinya. Sepenuhnya aku mencintai Ariel dengan tulus. Bahkan, aku lebih rela menyembah Ariel daripada Tuhan.”

Aku tercenung mendengar ceritanya. Betapa cinta dapat merusak pengakuannya terhadap Tuhan. Betapa seorang wanita bernama Ariel begitu berharga di matanya dibanding Tuhan, sang penciptanya.

“Aku ingin tanya padamu, Kal, apakah semua orang akan menemukan kebahagiaan?”

“Tentu saja!” ujarku pasti.

“Ehmm, begini, begini. Pertama, mengertikah kau kebahagiaan? Maksudku kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang hakiki?”

“Ya, ya.. aku kira aku mengerti.”

“Kau paham maksudku?”

“Hmm, ya, aku kira sumber kebahagiaanmu adalah Ariel. Ia adalah kebahagiaanmu yang sesungguhnya, yang hakiki, begitu bukan?”

“Tepat, tepat sekali! Dan kini kebahagiaan itu hanyalah omong kosong dan hampa!”

Suasana mendadak hening. Aku menatapnya. Kulihat kedua matanya berkaca-kaca, menahan agar air matanya tidak tumpah. Bibirnya bergetar.

“Ariel adalah seorang wanita, yang mengumpulkan kepingan diriku. Seperti mengumpulkan pecahan kristal kembali bersatu,” ujarnya terisak.

“Lantas setelah kau berpisah dari Ariel, kristal itu kembali pecah?”

“Ya, pecah! Kristal itu pecah, dan tiap kepingnya menjadi sembilu di seluruh tubuhku.”

“Kau terlihat sebagai perangkai kata yang baik. Kau layaknya penyair…”

Tiba-tiba dia tersenyum, begitu simpul, seraya menghapus air mata yang coba dia sembunyikan. “Haa-haa, kau suka puisi, Kal?”

“Ya, khususnya puisi-pusi terjemahan. Aku penikmat Auden, Syzmborska, Rimbaud, Neruda, Slauerhoff, Paz…”

Ia mendadak sumringah. “Duhai, duhai… Erkal yang baik, yang sungguh budiman, bagaimana kau bisa tahu nama-nama itu? Mereka adalah para idolaku! Penyair yang sangat kukagumi! Aku selalu terpesona membaca puisi-puisi mereka. Tapi, tunggu dulu… apa yang kau lakukan dengan puisi-puisi itu?”

“Aku membacanya, menikmatinya, tentu saja.”

“Hmm, aku tak menduga dari wajahmu yang kaku, kau juga seorang penikmat puisi.”

“Lantas dari wajahmu yang sangar itu…”

“Haa-haaa..sudah, sudah, kau jangan tersinggung, Kal. Aku hanya bercanda. Biarlah orang tua ini sesekali tertawa, dan kuharap kau tidak keberatan.”

“Tidak, sama sekali tidak,” ujarku agak ketus.

“Baiklah, izinkan orang tua ini bercerita sedikit. Jadi, ya.. selepas Ariel tiada, atau tepatnya pergi menghilang bagai ditelan bumi, aku menjadi seorang penempa kata-kata. Pensil yang tumpul, kuraut menjadi seruncing luka yang aku derita. Ya, aku menulis ratusan, atau ribuan puisi, aku tak menghitung secara pasti. Diantara sekian banyak puisi itu, aku telah mengatakan hal-hal bodoh. Hal-hal yang terlalu kekanakan, layaknya kisah para remaja yang jatuh cinta, yang kemudian patah hati, lantas hendak mencoba bunuh diri. Ah, kira-kira begitulah… Namun, aku terus merangkai kata demi kata, waktu demi waktu terus menetaskan puisi demi puisi. Sebab setiap menuliskannya, ada perasaan lega yang hadir di rahang jiwaku. Jiwa yang telah terbakar oleh cinta, serasa menjadi sejuk seperti taman-taman surga…”

Aku bergumam sebentar, lantas menjawab, “Aku belum begitu yakin kau seorang penyair. Aku tidak pernah melihat nama Kipling di ruang sastra koran ataupun buku puisi. Sama sekali tidak pernah, sungguh.”

“Hmm, aku tak pernah merasa diriku seorang penyair. Dan perlu kau ketahui, aku tidak ingin mempublikasikan puisi-puisiku. Terlalu banyak hal pribadi yang memedihkan di situ, luka yang sedemikian perih ada di situ. Aku tak ingin membawa pembaca puisiku kepada hal-hal yang barangkali mereka anggap konyol. Aku tak ingin kisah pedihku ditertawakan. Puisi-puisi yang kutulis itu cukup menjadi pelipur lara bagiku di masa-masa sulit, masa dimana aku teringat akan Ariel. Ya, Ariel yang kucintai…”

Kali ini ia tak mampu menahan bendungan air dari mata butanya.

***
Pagi hari esoknya, setelah cerita panjang dengan si buta Kipling, ketika akan berangkat kerja, aku dikejutkan oleh setumpuk, oh ya, bukan setumpuk melainkan bertumpuk-tumpuk buku di meja terasku. Kuperhatikan satu demi satu. Semuanya buku puisi. Beberapa diantaranya ada karya-karya monumental dari penyair legendaris yang belum pernah kutemukan. Kemudian kutemukan sebuah kumpulan lembaran yang dililitkan dengan benang. Layaknya dijilid agar menyatu dan tidak lepas. Di lembar paling depan tertulis dengan huruf yang agak miring: Puisi dari Jiwa yang Terbakar.

Aku penasaran, kubalik-balik beberapa saat, beberapa dari lembaran itu sudah menguning. Isinya adalah puisi-puisi. Tiba-tiba sebuah kertas kecil berwarna merah terjatuh dari dalamnya, semacam memo, bertuliskan: “Kal, aku titip semua ini padamu. Terima kasih, dari Kipling yang telah buta karena cinta.”



=====================
Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Menyelesaikan studi ekonomi di Universitas Sumatera Utara. Menulis untuk Horison, Kompas, Koran Tempo, Utusan Malaysia, The Jakarta Post, Media Indonesia dan terangkum dalam sejumlah buku antologi.



Allesandra dan Ksatria Bertapa

0


INGIN menghayati peran bidadari dalam tari “Begawan Mintaraga”, Allesandra menetap di padepokan. Ia sengaja tinggal di padepokan, ingin suntuk belajar menari pada Ki Broto. Lelaki muda itu telah menambat perasaannya. Allesandra, seperti menemukan tempat tinggal yang damai di desanya, di lereng Pegunungan Alpen, wilayah Italia. Ia menempati rumah klasik peninggalan leluhur, langit bergayut kabut es, dan di kejauhan membentang bayang-bayang salju puncak Mont Blanc.

Allesandra – yang diundang untuk melakukan restorasi lukisan keraton – tak pernah menduga bakal terdampar di lereng Gunung Merapi. Ia juga tak pernah menduga akan mengenal Ki Broto, lelaki muda pemilik padepokan dan seorang penata tari. Lelaki muda itu putra seorang dalang yang memiliki padepokan, penata tari, suka bermain musik, dan menghidupkan pergelaran seni di daerah sekitar lereng Gunung Merapi.

Dalam tari “Begawan Mintaraga”, Allesandra berperan sebagai seorang bidadari yang menggoda tapa Arjuna. Ada tujuh bidadari, seorang di antaranya Dewi Supraba. Dan peran yang dibawakan Allesandra tak begitu penting: hanya menggoda tapa Arjuna. Ksatria  itu tak pernah memudarkan tapanya. Allesandra ingin berperan sebagai Dewi Supraba, bidadari yang dapat meluruhkan hati Arjuna – yang diperankan Ki Broto. Sungguh memikat, Dewi Supraba dipersunting sebagai istri Arjuna.

Tak ada hal yang paling menarik bagi Allesandra, kecuali ia bisa menari, merasakan getar tubuh dan rasa keindahan, yang membangkitkan ketakjuban pada setiap gerak yang  diselubungi getaran gaib. Sungguh di mata Allesandra, setiap gerakan untuk menyentuh Arjuna yang hening bertapa, membuat jiwanya melayang di awan-awan dunia para dewa. Sejak ia dengar suara gamelan pertama kali di keraton Yogya mengiringi bedaya Arjuna Wiwaha, dan melihat pergelaran tari yang diperankan Ki Broto, sangat ingin datang ke padepokan  penari itu.

Tiap kali berlatih menari, Allesandra selalu menemukan kegairahan baru, gerakan yang bangkit dari dalam getaran rasa – sesuatu yang mengalir dari sanubari. Ia jadi sangat cepat bisa mengikuti gerak tari yang diajarkan Ki Broto. Tidak hanya menirukan gerak tari Ki Broto, melainkan juga menikmati kedalaman rasa dari tiap aliran darah di sekujur tubuhnya.

Tapi kenapa tiap kali Allesandra berpapasan dengan Laksmita, yang tiap pagi berkunjung ke padepokan, hatinya berdebar, seperti bakal tersingkir dari sisi Ki Broto? Ia mulai menimbang-nimbang: bagaimana cara merebut perhatian Ki Broto dari daya pikat Laksmita. Allesandra tak pernah bisa menduga: keakraban yang terjalin antara Ki Broto dan Laksmita. Apakah Laksmita calon istri Ki Broto? Allesandra diam-diam mengamati mereka. Ia menaruh curiga, bila gadis itu, yang jarang bicara, dan cenderung menghindar dari pergaulan, calon istri Ki Broto. Laksmita selalu dijemput pagi hari dan diantar pulang dengan mobil Ki Broto pada sore harinya.

                                                                  ***

HAMPIR larut malam, Allesandra mengikuti latihan tari “Begawan Mintaraga”,  merasa sangat menikmati kesunyian lereng Gunung Merapi, kabut yang mulai mengendap, dan suara belalang kecek di ranting pepohonan. Allesandra mencoba memahami kisah Arjuna sebagai pertapa untuk mencapai kesaktian dan memperoleh senjata dalam sunyi Goa Mintaraga, menampik kegairahan para bidadari yang menggoda. Mengapa menampik kegairahan bidadari untuk meluluhkan anugerah para dewa?

Allesandra yang memperoleh kesempatan bersama para penari dan penabuh gamelan, ketika Laksmita sudah pulang malam hari, sengaja  menggoda Ki Broto, “Apa memang Arjuna mesti kawin dengan Dewi Supraba?”

“Saya tak berani membuat kisah yang menyimpang.”

“Mengapa tak kau rancang sendiri sebuah tari yang meninggalkan kisah lama? Apa tak boleh mencipta tari, Arjuna kawin dengan salah seorang bidadari?”

“Mungkin suatu saat nanti, aku akan mencipta tari yang menyimpang dari kisah itu. Aku memerlukan keberanian untuk itu.”

“Kenapa tak kau coba mulai saat ini?”

“Mencipta tari serupa itu memerlukan banyak waktu, renungan, dan latihan. Aku juga memerlukan teman untuk merancang tari itu.”

Allesandra masih menimbang-nimbang untuk mendesak Ki Broto agar bercerita tentang pertapaan Arjuna, dan kesaktian sesudahnya: keperkasaan, ketangguhan, atau kemenangan pertempuran yang dicapainya. Allesandra kini mulai menyadari makna kesunyian lereng Gunung Merapi, dan mencari kepekaan hatinya sendiri. Justru rasa takjubnya pada Ki Broto, pemeran Arjuna, berkembang menjadi hasrat untuk memiliki lelaki itu. Tapi Ki Broto, yang membaca gelagat akan rasa takjub Allesandra, menenggelamkannya di bawah genangan kabut gunung. Allesandra seperti leleh terkena awan panas yang bergumpal dari puncak Gunung Merapi.

Di kamarnya Allesandra menenangkan diri. Mengambil kertas, mencoret-coret kertas itu, menuangkan segala harapan, kegundahan, dan kemasgulan-kemasgulannya. Terus ia menulis. Memuntahkan kegalauan hatinya. Ia memuntahkan perasaan-perasaan itu, yang tak mungkin diucapkannya. Ia masih terus menuliskan kegundahan itu. Kebiasaan ini dilakukannya dari semenjak ia kecil, kebiasaan bila ia marah pada seseorang. Ketika  ia tak memperoleh tanggapan seperti yang diharapkan, ia mencorat-coret kertas, dan membakarnya dalam api lilin.

Allesandra tak paham benar, apakah ia seorang yang tersesat dari tujuan semula sebagai seseorang yang diundang melakukan restorasi lukisan keraton. Ia didatangkan untuk menyelamatkan beberapa koleksi lukisan keraton – temasuk di antaranya lukisan Raden Saleh – dengan mengikuti goresan-goresan yang asali. Goresan-goresan lukisan itu memudar setelah lebih dari seratus tahun, kusam warna catnya. Saat ia menonton pergelaran tari bedaya Arjuna Wiwaha – yang melakonkan sultan –  di pendapa keraton, ia takjub, terkesima, bergetar, dan terpusat pada penari yang memerankan sultan. Pemeran sultan itu seorang perancang tari, yang memiliki padepokan di lereng Gunung Merapi. Ia kagum pada sang penari, Ki Broto, masih bujangan, yang tampak sangat tenang, agung, dan rendah hati. Di panggung ia begitu karismatis. Dalam kehidupan sehari-hari, ia jejaka kebanyakan. Ia tak menampakkan keagungan sebagaimana tampak di panggung.

Allesandra merasa sangat penasaran, ingin bisa menari, dan karena itu ia tak buru-buru kembali ke Italia ketika selesai merestorasi beberapa koleksi lukisan keraton. Ia berguru menari pada Ki Broto, tinggal di padepokan lereng Gunung Merapi, belajar menari, sesekali ia melukis. Ia ingin disertakan sebagai penari bidadari dalam “Begawan Mintaraga”, yang menggoda menggugurkan tapa Arjuna. Allesandra mulai melihat dan merasakan keagungan yang berbeda pada diri Ki Broto, ketika memerankan sultan dalam “Arjuna Wiwaha”, dan memerankan Arjuna dalam tarian “Begawan Mintaraga”. Kali ini Ki Broto memerankan ksatria  dengan penuh kesabaran, tangguh dalam pertapaan, unggul dalam peperangan melawan raja raksasa Niwatakawaca. Tarian ini sungguh memberi ekspresi beraneka wajah pada Ki Broto. Tarian ini memberi ekspresi pembebasan di panggung bagi lelaki muda itu.

Allesandra menunggu kesempatan untuk menyatakan keinginannya mendampingi hidup Ki Broto, bila pertunjukan tari sudah digelar di padepokan. Ia memang selalu mencurigai Laksmita, sebagai perempuan yang memiliki kedekatan jiwa dengan Ki Broto. Tapi Laksmita tak pernah manampakkan bakatnya menari. Perhatian Ki Broto pada gadis itu melebihi siapa pun. Pada Arum yang memerankan Dewi Supraba, perempuan yang sangat penuh daya pikat, Ki Broto tak pernah memberikan  perhatian mendalam. Allesandra tidak yakin benar bila Laksmita calon istri Ki Broto – lelaki yang memiliki keagungan sebagai pencipta tari dan penari.

Menempati salah satu kamar di padepokan Ki Broto, Allesandra kepalang memahami semua kebiasaan lelaki itu. Ki Broto biasa beranjak tidur hingga larut. Lelaki muda itu berlatih menari, menemukan gerak, dan menemukan kelembutan rasa bagian-bagian tariannya. Kadang lelaki muda itu menabuh gamelan, pelan, hening, menyentuh relung pagi. Kadang Ki Broto menghentak kendang, pelan, dan mencipta irama yang kadang dramatis, kadang jenaka.

Subuh dini hari Ki Broto sudah berada di sendang, mengambil air wudu, dan salat di surau kayu yang didirikan tak jauh dari sendang itu. Air pancuran mengucur di sendang yang gemericik, dan tangan yang dibasuh air pancuran, terdengar sampai ke kamar Allesandra. Ia membuka jendela: menatap ke arah sendang. Menatap Ki Broto yang tersenyum ke arahnya, dengan wajah terbasuh air wudu.    

                                                      ***

TARI “Begawan Mintaraga” yang dipergelarkan di padepokan Ki Broto disaksikan begitu banyak penonton yang berdatangan dari banyak kota yang jauh, tamu-tamu hotel, dan pecinta tari. Padepokan Ki Broto belum lama didirikan, dan senantiasa mempergelarkan tari, musik, dan pertunjukan seni rakyat yang diangkat dari masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi.  Selama tinggal di padepokan, ia telah menyaksikan begitu banyak pergelaran tari, musik, teater dan seni rakyat yang membuatnya takjub. Ki Broto tak pernah berhenti  mempergelarkan tari yang seringkali terbuka bagi masyarakat sekitar lereng Merapi.

Kali  ini pergelaran tari “Begawan Mintaraga” berada di gedung teater yang baru selesai dibangun di antara kawasan padepokan, yang senantiasa penuh selama tiga hari berturut-turut pertunjukan. Pada pergelaran hari ketiga, yang terakhir, Allesandra sampai batas penantian untuk menyatakan keinginannya tetap tinggal di negeri ini, mendampingi Ki Broto, tinggal di lereng Gunung Merapi, dalam kesunyian. Ia bisa melukis, menari, dan mendampingi Ki Broto mengelola padepokan.

Allesandra telah mendengar kisah tentang Laksmita dari para penari. Mereka  menggunjing Laksmita sebagai putri seorang preman, yang melakukan pelarian dari penembak misterius sampai lereng Gunung Merapi. Tiap hari di antara para penari membuka kisah tentang Laksmita, anak preman yang pernah memiliki pekarangan dan rumah di padepokan Ki Broto, sebelum ayahnya meninggal. Mengapa Ki Broto begitu dekat dengan Laksmita, putri seorang preman? Allesandra tak habis pikir. Ada sesuatu rahasia yang mesti dibongkar.

Riuh tepuk tangan penonton di akhir pergelaran tari “Begawan Mintaraga” yang gemuruh,  membuat jantung Allesandra berdegup keras. Inilah saatnya ia mesti mengungkapkan perasaannya pada Ki Broto, dan memutuskan nasibnya untuk terus menetap atau meninggalkan negeri ini. Ia bersandar nasib Ki Broto. Ia  menjadi gelisah berhadapan lelaki muda itu dan juga Laksmita, perempuan yang begitu tenang dan menaruh kepercayaan pada Ki Broto.

                                                            ***

PARA penari mengelilingi tumpeng. Duduk bersila di pendapa rumah Ki Broto. Para penari menanti menerima sepiring potongan nasi tumpeng dan ingkung ayam yang berbumbu pekat rempah-rempah. Ki Broto memimpin doa sebelum tumpeng itu dipotong. Di sisinya duduk Laksmita, tenang dan penuh keyakinan. Diakah itu, perempuan yang duduk tenang di sisi Ki Broto, sesungguhnya Dewi Supraba, yang merenggut hati Arjuna?

“Ini tumpeng selamatan kita atas sukses pentas “Begawan Mintaraga”. Sekalian minta restu, kami, saya dan Laksmita, bakal menikah!” kata Ki Broto tenang. Ia memotong tumpeng, mengambil gudangan, bergedel, dan sayatan daging ingkung ayam. Menempatkannya pada sebuah piring. Dipersembahkan sepiring potongan tumpeng itu pada Allesandra.

“Untuk Allesandra, semoga berkah, terimakasih sudah terlibat dalam pergelaran tari ini. Kalau kau masih berkenan tinggal di padepokan ini, kami akan sangat bahagia. Kau akan jadi penari ternama.”

Tangan Allesandra bergetar menerima sepiring tumpeng. Ia tak bisa berucap, sedih atau bahagia. Ia  segera meletakkan piring, beringsut ke arah Laksmita dan menyalaminya. Mencium pipi. Memeluk. Tubuhnya bergetar. Getaran yang sangat dahsyat dalam dada. Tak kan pernah dilupakan.

                                                           ***

Pandana Merdeka, Maret 2020        


====================
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”.  

Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa seperti Horison, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Bisnis Indonesia, Nova, Seputar Indonesia,  Suara Karya,  Majalah Noor, Majalah Esquire, Basabaasi.

Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Novel yang telah diterbitkannya dalam bentuk buku adalah Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009), Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Kumpulan cerpen yang segera terbit adalah Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020).  

Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Rumah Idaman

0

Saya tertegun di depan sebuah rumah. Tatapan saya kembali tertuju kepada tulisan yang menempel di dindingnya:

DIJUAL
TANPA PERANTARA

Ragu-ragu sebenarnya. Tapi kaki ini melangkah juga. Saya mengucapkan salam. Kebetulan tuan rumah ada dua-duanya, suami istri.

“Saya ingin melihat-lihat rumah. Kebetulan saya punya rencana untuk membeli rumah,” kata saya setelah duduk di ruang tamu.

“Oh, silahkan.” Tuan rumah berdiri mengajak melihat-lihat sekeliling rumah.

Saya pun diantar melihat-lihat dapur, kamar tidur, ruang tamu, loteng, dan semua penjuru rumah. Tuan rumah menerangkan tentang air, listrik, dan lingkungan seputar rumah. Setelah semua penjuru rumah ditengok, kami duduk lagi di ruang tamu.

“Berapa harga yang Bapak inginkan untuk rumah ini?” tanya saya.

“Karena ini tanpa perantara, sebenarnya enam ratus juta pun kami lepas,” kata sang suami yang kira-kira usianya menjelang enam puluh tahunan itu. “Tapi itu pun masih bisa nego.”

Saya terbatuk-batuk kecil.

“Begini sebenarnya, Pak, Bu,” kata saya akhirnya dengan suara tertahan. “Saya ingin membeli rumah ini. Tapi… uang saya hanya punya lima puluh ribu rupiah.”

Suami istri itu menatap saya. Sepertinya heran. Seperti terkejut. Seperti tidak mempercayai pendengarannya.  

“Maksudnya?” tanya sang suami.

“Iya, saya ingin membeli rumah Bapak. Tapi saya hanya punya uang lima puluh ribu rupiah saat ini.” Saya berusaha menerangkan setenang mungkin.

“Anda ini mempermainkan?”

“Tidak Pak, saya serius.”

Sang suami yang masih berbadan tegap itu berdiri. Dia masuk ke kamarnya. Beberapa detik sudah keluar lagi dengan pistol di tangannya. “Keluar kamu! Atau saya tembak kamu!” bentaknya.

Tentu saja saya terkejut. Saya meloncat, terburu-buru keluar rumah.

***

Pengalaman yang saya ceritakan itu adalah yang kesepuluh kalinya. Karena begitulah seperti yang dikatakan guru spiritual saya.

“Datangi saja sepuluh rumah yang mau dijual, katakan kamu berniat membelinya, dan katakan juga kamu punya uang berapa,” kata guru saya.

Awalnya saya berharap sesuatu yang ajaib terjadi, ada pemilik rumah yang mau memberikan rumahnya dengan harga lima puluh ribu rupiah. Tapi sampai sepuluh rumah saya datangi, semua pemiliknya mengusir saya dengan tidak hormat. Orang gila, sinting, setan, anjing, bodoh, pernah dikatakan para pemilik rumah sebagai pengganti nama saya.

Saya baru menyadari, guru saya itu mempermainkan. Alangkah bodohnya saya selama ini. Siapa yang mau memberikan rumahnya dengan harga lima puluh ribu rupiah? Makanya saya mencari lagi guru saya itu. Saya ingin marah kepadanya. Sebentar….

Guru saya? Sebenarnya dia adalah orang yang baru saya kenal. Suatu subuh, seperti biasanya, saya mencari jamur bersama teman-teman. Semalam hujan turun deras. Laron kemudian menyerbu lampu-lampu di depan rumah. Itu tandanya jamur akan banyak tumbuh esok pagi. Betul saja, teman-teman saya mendapatkan banyak jamur. Ada yang menemukan empat biji, ada juga yang sampai enam biji. Tapi sampai habis menyusuri perkebunan penduduk, saya tidak menemukan sebiji pun jamur. Ketika teman-teman saya pulang, saya meneruskan mencari jamur sampai ke puncak bukit. Saya harus menemukan jamur. Karena kalau tidak, bagaimana anak-istri saya bisa makan? Di rumah sudah tidak ada beras, apalagi makanan lainnya.

Di puncak bukit matahari sudah menampakan semburat merahnya. Semakin terang mencari jamur itu semakin susah. Karena saat masih gelap jamur akan kelihatan bercahaya. Saat saya merasa frustrasi, menyerah dan pulang dengan langkah lesu, seseorang yang membawa cangkul menyapa saya.

“Mencari jamur itu kadang memerlukan kerja keras sampai batas putus asa. Tapi kadang hanya melangkah ringan kita sudah menemukannya,” kata petani itu.

“Maksudnya?” Saya tentu saja terkejut.

“Tengoklah di balik batu itu. Cepat ke sana biar hati kamu tenang.”

Tanpa mengerti apa yang dikatakannya saya menghampiri batu sebesar perut kerbau. Betapa terpananya saya melihat dua biji jamur sebesar piring. Jamur yang sehat. Jamur yang membuat senyum di bibir saya. Jamur yang membuat hati saya gembira.

Awalnya saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada petani itu. Tapi kemudian saya malah beristirahat sejenak, mengeluhkan kesusahan saya.

“Saya ini sudah puluhan tahun disusahkan dengan rumah kontrakan, Pak,” kata saya. “Hanya dengan membayar satu juta rupiah saja per tahun saya sudah kesusahan. Bila dalam waktu seminggu saya tidak membayar, saya akan diusir. Entah ke mana saya akan membawa istri dan kedua anak saya.”

“Pergilah sekarang, jual jamurmu,” katanya. “Hasil penjualan jamur itu, berikan sebagian ke istrimu. Sebagian lagi bawa untuk membeli rumah. Datangi sepuluh rumah yang mau dijual, katakan kamu ingin membelinya, katakan juga uangmu ada berapa.”

***

Di hadapan petani guru saya itu, amarah saya seperti api berhadapan dengan air. Langsung padam tidak berbekas.

“Kenapa kamu selalu diusir pemilik rumah? Karena kamu tidak menyentuh hatinya,” kata petani guru saya itu. “Ada sebuah rumah yang tidak akan terbeli oleh uang sebanyak apapun. Itulah rumah idaman semua orang. Untuk mendapatkannya hanya perlu kemurahan dan kasih sayang pemiliknya. Tidak punya uang sepeser pun kita, bila pemiliknya sudah berkenan, rumah itu akan diberikannya.”

“Siapa yang pernah diberi rumah idaman seperti itu?” tanya saya penasaran.

“Pergilah ke kota kecil di balik bukit ini. Di sana kamu akan bertemu dengan seorang wanita tua. Dialah pengetuk kemurahan dan kasih sayang pemilik rumah itu.”

Saya pun pergi ke kota kecil di balik bukit itu. Orang-orang sedang sibuk bekerja. Jalanan mengepulkan debu setiap ada kendaraan yang lewat. Hari sangat panas karena kemarau begitu memanggang. Dari sebuah penginapan murahan saya melihat seorang wanita berjalan sempoyongan. Mungkin dia mabuk, terlalu banyak minum minuman keras. Dia berjalan menyusuri jalanan berdebu. Di tepi tempat pembuangan sampah dia berhenti. Matanya tidak berkedip melihat seekor anjing yang tergolek lemah. Lidah anjing kampung yang kurapan itu terjulur, pasti kehausan. Wanita itu terharu melihat anjing yang sudah tidak berdaya. Diambilnya segayung air dari sumur sebuah mushola yang lumayan jauh dari sana, lalu ditetesinya mulut anjing itu sampai segar kembali. Ketika anjing itu bisa berdiri dan berlalu, dari ujung mata wanita itu bergulir sebutir air menyusuri pipinya.*[1]

“Itu adalah pengalaman saya bertahun-tahun yang lalu,” kata wanita tua itu ketika saya menemuinya di sebuah rumah yang sederhana. “Pengalaman yang membuat saya berhenti melacur, profesi saya sejak muda.” Wanita tua itu memandang ke jauhnya. Dari ujung matanya mengalir sebutir air, menyusuri kulit pipinya yang mulai keriput.

“Tapi kenapa Ibu menangis?” tanya saya penasaran.

“Setiap ingat masa lalu yang hitam, hati ini bergetar begitu hebat. Setiap ingat ada makhluk yang menderita seperti anjing itu, hati ini bergetar begitu hebat. Ah, kamu mungkin belum bisa membayangkannya, Nak,” kata wanita tua itu sambil berurai airmata. Baru saya perhatikan, wajahnya itu bercahaya, seperti juga butiran air yang mengalir di pipinya.

Saya pun pulang. Saya menemui petani guru saya itu di kebunnya.

“Wanita tua itu memang indah, sepertinya begitu indah hatinya. Tapi rumahnya terlalu sederhana sebagai rumah idaman.”

“Rumah idaman itu bukan seperti yang kamu lihat,” kata petani guru saya itu. “Rumah idaman setiap orang itu ada di hati wanita tua itu. Rumah yang membuat wajahnya begitu bercahaya. Rumah yang selalu menguraikan airmatanya. Airmata yang begitu indah. Keindahan rumah idaman itu tidak akan bisa kamu bayangkan. Karena rumah idaman itu kepunyaan Tuhan yang Mahaindah.”

Saya pun pulang dengan hati yang bergetar. Hati yang terus berdoa: Ya Tuhan, tidak apa saya selalu disusahkan hanya untuk memiliki sebuah rumah sederhana di dunia ini. Asal saya diberi kesempatan menyentuh hatiMu. Saya ingin rumah yang indah di surga, rumah idaman semua orang.

Di rumah saya disambut istri, anak-anak, dan suami-istri yang sedang bertamu.

“Saya ini ketua RT di sebuah kota kecil. Seorang warga kami, wanita tua yang selalu berurai airmata, mewasiatkan rumah dan tanahnya untuk dimiliki Bapak sekeluarga,” kata tamu itu. “Ini adalah sertipikat dan surat wasiatnya. Maaf baru saya sampaikan sekarang. Karena di surat wasiat ini, Bapak sebagai penerima hanya dikatakan: Seorang lelaki penjual jamur yang berniat membeli rumah dengan uang lima puluh ribu rupiah.”

“Wanita tua itu sekarang ke mana?”

“Sudah meninggal… bertahun-tahun yang lalu.”

***

=========================

Yus R. Ismail, menulis cerpen, novel dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of the Night (Lontar 2019, memuat 5 carpon-nya yang diterjemahkan C.W. Watson). Novel Tragedi Buah Apel mendapat penghargaan Juara Pertama Lomba Novel Anak 2019 penerbit Indiva. Cerpen-cerpennya pernah dipublikasikan di Koran Tempo, Media Indonesia, Kompas, Jawa Pos, Republika, Suara Karya, Tribun Jabar, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Lampung Pos, Basa-basi.com, Bangka Pos, Padang Ekspres, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Femina, Hai, Esquere, NOVA, Citra, Horison, dsb.


[1] Kisah perempuan pelacur yang dimaafkan dosa-dosanya setelah memberi minum anjing yang kehausan, diambil dari hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah. Banyak tafsir kepada hadis ini. Presiden Soekarno pernah tidak mengerti dengan hadis ini, bagaimana bisa orang yang banyak melakukan dosa dimaafkan hanya karena memberi minum anjing yang kehausan? Jawaban yang memuaskan presiden pertama itu datang dari guru sufi Prof.Dr. Kadirun Yahya yang menyebutkan cinta Tuhan itu sama dengan angka nol. Seberapa banyaknya juga bila dikali nol maka hasilnya nol.

Sepasang Pohon Jambu Bahagia

0


Pohon itu terlihat bahagia, mungkin karena ayah merawatnya dengan baik. Ayah tidak pernah lupa menyiraminya setiap pagi dan sore. Terkadang malah ia mendandani pohon itu dengan beraneka pakaian wanita. Ia tempelkan potong-potongan kain pada batang kayunya yang kokoh. Bahkan, ayah pernah makan malam berdua dengan pohon itu, lengkap dengan cahaya lilin yang tembaga dan denging musik jazz yang terdengar begitu romantis.

Tak ada yang berani menyinggung tingkah ganjil ayah, termasuk paman dan bibi. Hal aneh itu sudah menjadi wajar di dalam biduk keluargaku. Mereka lebih memilih ayah berperilaku demikian daripada uring-uringan. Karena, pernah suatu ketika, ayah disindir oleh kakek sebab memerlakukan sebuah pohon seperti memanjakan seorang wanita. Ayah pun marah dan sepanjang hari ia mencercau tak jelas seperti orang gila.

Aku pun demikian, tidak pernah berani menyinggung soal pohon itu. Walau sebenarnya, aku merasa ayah memang sudah kehilangan akal warasnya.  Ia pernah bercerita kepadaku, kalau pohon jambu air itu adalah jelmaan seorang wanita yang pernah melahirkanku. Aku tercengang tak percaya dan mengutuki kisah ayah yang ganjil itu.

“Lihatlah, pohon itu, begitu cantik, Ipang,” katanya, ketika kami bersantai di suatu sore. Aku perhatikan pohon jambu air itu, yang tidak ada apapun di sana, selain keriput kulit kayunya yang muram. Tetapi, ayah seperti sedang memandang seorang perempuan cantik yang begitu dicintainya di pohon itu. Aku tersenyum samar seraya mengangguk. Aku tidak mau menyakiti hati ayah—yang mungkin sedang terluka itu. “Matanya mirip denganmu, Ipang.”

Ahh, apa yang sebenarnya terjadi dengan ayah? Mengapa ia menganggap pohon itu menjadi ibuku?

Aku sebenarnya tidak pernah tahu, siapa wanita yang melahirkanku. Sejak lahir aku tidak mengenal sosok yang bernama  ibu itu. Mungkin saja aku adalah anak jalanan yang dipungut oleh ayah di tong sampah, atau seorang anak malang yang ditinggal oleh ibunya karena tidak ingin hidup susuh bersama suaminya—mengingat ayah hanya seorang pedangang batik kecil di pasar Beringharjo. Tetapi, apa hubungannya antara pohon jambu air itu dengan ibu? Aku tidak pernah dapat mengerti dengan hal itu.

***

Malam itu hujan kembali turun begitu deras, dan aku melihat ayah termenung di samping jendela, memerhatikan pohon jambu air yang terpacak beku di belakang rumah. Ayah yang mendadak terjangkit demam, lunglai tak berdaya di tepi bibir jendela. Tetapi, ia tampak gamang. Sepanjang malam, ayah tidak juga lelah mengawasi sebatang pohon di luar—yang kelu dicercah hujan.

“Ia pasti kedinginan. Kasihan!” gumamnya lirih kepadaku. “Aku melihat wajahnya menjadi pucat, bahkan ia ketakutan, karena sendirian.”

Bulu kudukku meremang. Aku tidak tahu siapa yang ayah maksud sendirian, karena tidak ada siapa pun di luar selain sebatang pohon itu.

“Aku harus menemani ibumu, Ipang.”

Ahh, lagi-lagi pohon itu. Apakah ayah memang benar-benar sudah gila, karena cinta butanya kepada ibu yang sampai detik ini? Aku juga tidak tahu seperti apa wujud ibu? Siapa ibu sebenarnya? Apakah pohon itu memiliki riwayat tertentu tentang ibu yang tidak pernah aku ketahui? Atau, pohon itu adalah jelmaan seorang wanita yang telah dikutuk oleh Tuhan, dan harus menghabiskan sisa hidupnya menjadi pohon, karena sifatnya yang gemar membangkang kepada suami? Kutukan sifat lalim yang juga menimpa Malin Kundang? Kepalaku selalu pening apa bila merunut riwayat tentang ibu dan pohon jambu air di belakang rumah.

Ayah melesat seperti angin; mengambil payung; merengkuh hujan di luar. Aku gagal menahannya. Ketika aku mencoba menghentikan langkahnya, ia malah menjadi murka, kemudian mengutukiku dengan sumpah-serapah.

“Ingat, Ipang, surga ada di telapak kaki ibu,” katanya bengis.

Aku pun menyerah dan membiarkan ayah keluar untuk berhujan-hujanan bersama pohon jambu air itu. Aku melihat ayah yang terpekur takzim di bawah pohon itu. Ia seolah sedang menikmati kebersamaannya di bawah hujan dengan pohon jambu air itu. Mendadak, hatiku pun bergetar hebat melihat pemandangan pilu antara ayah dan pohon jambu air itu. Betapa cinta telah mengutuknya menjadi makhluk  ganjil di dalam rumah ini.

Aku ingin lekas menyusulnya. Gontai, aku menuju gudang, dan di dalam gudang yang gelap ketika ingin mengambil payung, aku tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak kayu tua. Dari dalam kotak itu, aku menemukan puluhan lembar foto seorang wanita yang terlihat sangat seksi, mengenakan pakaian serba ketat, yang memamerkan belah dada dan jenjang pahanya yang mulus. Wanita di dalam foto itu pun sedang menikmati sebatang rokok di sela bibirnya. Selain itu, aku melihat, ada puluhan kaleng bir pula di mejanya. Sepintas, di dalam benakku, wanita itu begitu mirip dengan seorang pelacur.

Tetapi sebelum aku memikirkan lebih lanjut siapa wanita di dalam foto itu, sebuah petir mengerjap dan guntur susul menggelegar nyaring, memekakan telinga. Aku terperanjat meninggalkan foto-foto itu. Aku berlari menyusul ayah di belakang rumah. Pria itu sudah tampak tertegun, meratapi kobaran api yang membakar pohon jambu air.

“Ia terbakar,” gumamnya sembari menitikkan air mata. “Aku tidak bisa menyelamatkan ibumu.”

“Itu hanya pohon jambu air tua, bukan ibu, Yah.”

“Kau anak durhaka!” Balasnya sengit dengan nada tinggi. Ia pun menatapku bengis, “Kau memang tidak pantas disebut anak!”

Aku tertunduk. Aku merasa begitu sedih meratapi kenyatan kalau ayah sebenaranya sudah gila. Namun, di sisi lain, aku semakin tidak mengerti tentang riwayat pohon jambu air serta ibu. Mengapa setiap pertanyaan di dalam kepalaku kini malah menjadi bertambah rumit? Aku mengerling ke arah ayah yang masih terus mengumpatiku tak karuan. Aku tinggalkan ia seorang diri untuk meratapi kekasihnya: pohon jambu air. Sepanjang malam ia kukuh di luar besama puing-puing pohon jambu air yang telah menjadi arang.

***

Setelah tumbangnya pohon jambu air itu masih ada saja yang manganjal di benakku, yaitu tentang foto-foto wanita yang aku temukan di gudang tadi. Aku kumpulkan foto itu kembali dan memerhatikan satu per satu. Aku merasa tak asing dengan wajahnya dan terlebih pada matanya. Aku seolah telah mengenalnya begitu lama, bahkan pernah berjumpa dengannya. Tapi, aku tidak pernah tahu, di mana kami pernah bertemu, dan siapa nama wanita itu? Pertanyaan-pertanyaan muskil di dalam benakku hanya membuat kepalaku semakin berat. Aku pun semakin tersesat di dalam pemikiran rumit, yang barangkali memang tak ada jawabannya. Akhirnya, aku terlelap dengan benang kusut yang gagal terurai.

Pagi harinya, matahari bersinar ganjil. Aku tercengang ketika terbangun melihat ada dua buah pohon jambu air yang tak terlalu besar tumbuh di belakang rumah. Melihat pemandangan aneh itu, aku pun lekas berlari sempoyongan mencari ayah. Aku ingin mengabarinya kalau ada sebuah peristiwa yang tak normal itu di belakang rumah.

Tetapi, setelah menyusuri setiap sudut rumah, ayah tidak aku temukan. Termasuk di tempat biasa ia melamun. Ia tidak ada di sana. Ayah seolah menghilang ditelan bumi. Aku terus mencarinya seiring waktu yang terus berjalan dan meninggalkan apa-apa yang tak pernah terjawab di benakku. Aku terus mencarinya. Akan tetapi, ayah seperti benar-benar lenyap.

Sedangkan, setiap hari dua pohon itu tampak semakin bahagia berdiri di belakang rumah. Aku pun sering memandangnya penuh wasangka dengan berneka macam pertanyaan ganjil: Bagaiamana hal itu bisa terjadi, sebatang pohon yang semalam tumbang, pagi harinya dapat kembali tumbuh? Bahkan, ada pohon baru di sampingnya, yang tidak kalah kokoh dan bahagia. Kalau dipikir, hal ini tidak mungkin. Ya, sebatang pohon tak dapat tumbuh dalam waktu semalam.

***

Dua puluh tahun berlalu, sejak kejadian ganjil itu. Ayah memang tidak lagi terlihat. Kami semua merasa sangat kehilangan, tetapi aku harus mengikhlaskan juga. Aku pikir memang suatu saat manusia harus siap hidup seorang diri atau bertahan dalam lautan kenangan yang terus menyiksa dengan segala yang hilang, yang akan kembali pulang.

Aku kembali melirik ke sepasang pohon jambu air yang mendadak tumbuh dalam waktu semalam itu, yang kini tampak semakin tumbuh subur. Sepasang pohon yang selalu tampak bahagia. Tiba-tiba, aku pun ingat ayah.

“Di mana sebenarnya kau, Ayah? Apakah sekarang kau sudah bahagia?” Pekikku lirih seraya menitikkan air mata. (*) 



====================
Risda Nur Widia. Buku tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing (2018). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Terbaru

Stasiun Perpisahan

“Jika kereta ini sampai, kita tidak saling mencintai?” Tanyamu membuka percakapan di dalam kereta. Aku tidak menjawab. Gerimis di...

Kesaksian Lakasse

Dari Redaksi