Deadzone

Anggur

Saudara Kembar Teman Sekantor

Ikan Besar

Tentang Kepulangan

Cerpen

Home Cerpen

Dongeng-dongeng Sebelum Lelap

0


MATA PENYAIR

Penyair yang menyepi di dalam gua itu sebenarnya betah dengan hidupnya. Tapi semakin lama semakin tumbuh suatu keyakinan di dalam hatinya. Keyakinan bahwa ada yang lebih indah selain di dalam gua. Makanya dia selalu berdoa seperti ini: “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku pemandangan terindahMu. Aku yakin, semua pemandangan yang ada di sini bukanlah pemandangan terindahMu.”

Penyair itu pun lalu berdiri di mulut gua. Angin semilir menebarkan sejuk-segar. Matahari mulai terbit di ufuk timur. Cahayanya memendar di awan-awan di barisan pegunungan dipantulkan dedaunan dan danau yang terhampar luas. Tapi penyair itu yakin, bukan itu pemandangan terindah.

Suatu sepertiga malam saat penyair itu khusuk berdoa, dia mendapat bisikan untuk turun gunung menuju ke keramaian. Pagi masih sunyi ketika penyair itu memasuki gerbang perkampungan. Orang pertama yang melihatnya, tidak berkedip matanya. Orang kedua dan selanjutnya masih sama saja. Mereka terpesona dengan penyair itu. Terpesona dengan indah dan cemerlangnya mata penyair itu.

Penyair itu semakin masuk ke perkampungan. Semakin banyak orang yang tidak bisa mengedipkan matanya. Mereka diam-diam mengikuti ke mana penyair itu melangkah. Semakin jauh mereka mengikuti semakin tumbuh keyakinan di dalam hati mereka. Keyakinan bahwa dengan mata seindah itu mereka pasti bisa melihat keindahan dunia. Keindahan dunia yang sudah lama hilang dari hidup mereka.

Ketika sampai ke sebuah lapangan, tiba-tiba orang-orang kampung itu menyerbu sang penyair. Mereka menangkap, menjatuhkan, memiting dan mencongkel dua mata sang penyair dengan sendok. Sepasang mata indah itu seperti bola, jatuh ke tanah lalu memantul tinggi dan jatuh di tempat jauh. Orang-orang mengejarnya. Berebutan. Dan lapangan itu pun sepi kembali.

Penyair itu berdiri. Dia terpesona, sehingga memar dan nyeri sekujur tubuhnya tidak dirasakannya. “Tuhan,” katanya dengan suara bergetar. “Keindahan hakiki itu, keindahan abadi itu, terasa sampai ke seluruh pori terkecil tubuh ini. Keindahan terindah itu, keindahan menggetarkan itu, ternyata terlihat begitu nyata, setelah tidak punya mata.”



MONYET BERTAPA

Seekor monyet bertapa di tengah hutan. Dia berdoa dan berdoa, kepada Tuhan, agar dijadikan seekor kupu-kupu. Ya, monyet itu sangat terpesona dengan keindahan kupu-kupu. Saat itu musim bunga tiba. Di pinggiran dan lembah hutan bunga-bunga bermekaran. Monyet itu terpana melihat kupu-kupu terbang dari bunga ke bunga. Warna-warni tubuhnya begitu indah. Gemulai terbangnya begitu mempesona.

“Ya, Tuhan, betapa indahnya kupu-kupu yang terbang di taman-taman bebungaan. Betapa saya baru sadar, tubuh ini begitu buruk rupanya. Sekali dalam hidup yang singkat ini, ya Tuhan, jadikanlah saya seekor kupu-kupu yang indah,” doa monyet itu.

Karena doanya terus diulang dan begitu khusuk, lambat laun tubuh monyet yang bertapa itu berubah. Siang dan malam perubahan itu terjadi, perlahan, dan semakin nyata. Monyet itu tidak menyadarinya karena khusuk berdoa. Dan saat perasaannya menjadi lain, monyet itu bahagia. Dia merasa tubuhnya sudah berubah. Dia berlari ke sana ke mari mencari cermin.

Di tepi sebuah danau berair bening, monyet itu terkejut. Hatinya begitu sakit. Tubuhnya menggigil. Perasaannya hancur. Ya, karena monyet itu sekarang sudah berubah menjadi seekor ulat bulu. “Engkau begitu kejam, ya Tuhan. Engkau begitu kejam!” teriaknya. “Aku berdoa minta sesuatu yang indah malah dijadikan yang buruk rupa.”  

Sejak itu, monyet yang sudah berubah jadi ulat bulu itu, tidak mau lagi berdoa. Dia marah kepada Tuhan.




DUA PEMBURU

Dua orang pemburu sedang di tengah hutan. Senapan laras panjang terikat di punggungnya. Pistol terselip di pinggangnya. Tidak lupa golok untuk mencincang hewan buruan dan belati kecil untuk menguliti. Ransel isi perbekalan juga mereka bawa.

Sejak memasuki hutan lebat itu, dua orang pemburu yang bersahabat itu tidak berhenti saling cerita.

“Bila nanti kita mendapatkan seekor harimau, untuk saya saja kulitnya,” kata pemburu satu. “Katanya harganya mahal di kota. Saya butuh buat biaya membetulkan rumah yang sudah bocor-bocor. Takut rubuh duluan.”

“Bukannya menghalangi, saya juga sedang butuh buat modal menanam padi di sawah. Kita berangkat bareng saja ke kota, kita jual juga dagingnya, katanya daging harimau itu mahal juga,” kata pemburu dua.

“Begitu juga bagus.”

Dua pemburu itu tidak menyadari, tidak jauh dari mereka ada seekor harimau Jawa yang mencium adanya manusia. Harimau itu mengintip. Dua pemburu itu terkejut ketika ada harimau sebesar anak sapi meloncat ke hadapan mereka. Pemburu satu berlari menubruk apapun di sekitarnya. Dia menjatuhkan ransel dan senapannya, lalu naik ke pohon besar. Pemburu dua yang tidak sempat kabur, terduduk lemas. Celananya basah. Dia memejamkan mata saking takutnya. Pasrah kepada nasib. Harimau itu berjalan perlahan mendekat pemburu dua. Suara auuummm-nya menggetarkan hutan. Tapi dia tidak menerkam. Harimau itu hanya berbisik, lalu berlalu.

Setelah sadar dari ketakutannya, pemburu dua wajahnya berdarah lagi. Pemburu satu juga turun dari pohon.

“Alhamdulillah kita selamat. Tapi saya heran, harimau itu tidak menerkam, malah hanya berbisik kepadamu. Apa sebenarnya yang dibisikkannya?” tanya pemburu satu.

“Kata harimau, jangan banyak omong tentang kulit dan daging harimau sebelum menangkap harimau!”

(Kisah ini ditulis sambil membayangkan salah satu cerita Jalaludin Rumi)




TAMAN TERINDAH

Sampai ke taman terindah itu saat senja memancarkan pesonanya. Lembayung kuning menyebar di langit barat. Memantul di bebungaan. Mawar, aster, melati, bakung, dahlia, menyerap pesona lembayung, memantulkan cahaya jingga yang menggetarkan semua jiwa. Melati, sedap malam, kemuning, menebarkan harum  ke setiap tarikan napas membuat mata terpejam, mengalir di dalam darah di dalam tulang di dalam daging di dalam pori-pori terkecil dari tubuh.

Kupu-kupu warna-warni beterbangan lalu hinggap di bebungaan menyerap madu nektar yang manis yang harum yang menyehatkan jiwa dan raga. Air telaga yang bening beriak ketika selembar daun jatuh. Sepasang semut yang hinggap di daun kuning terkejut cemas tapi kemudian merasa sedang berbulan madu di lautan luas yang tenang. Ikan mas warna-warni merah kuning hitam menari di permukaan menyambut lembayung kuning dan menunggu cahaya rembulan. Sepasang burung dalam perjalanan pulang masih sempat hinggap di reranting pohon dan bernyanyi riang sebelum melanjutkan pulang ke sarang.

“Taman apa ini, begitu indah dan mempesona,” bisik saya dengan suara bergetar.

Bidadari yang memandu perjalanan ini tersenyum lembut. “Taman ini, taman yang selalu indah ini, ada di dalam hatimu yang paling rahasia, di dalam perasaan terdalammu, di dalam kebijaksanaan paling menggetarkanmu, yang sepanjang usiamu belum pernah kamu kunjungi,” katanya merdu.

Saya menunduk dan menangis, tanpa airmata, tanpa suara. Begitu indah.

============================
Yus R. Ismail, menulis cerpen, novel dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of The Night terjemahan C.W. Watson (Lontar, 2019) memuat 5 carpon-nya. Novel Tragedi Buah Apel terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Novel Anak penerbit Indiva 2019. Cerpen dan puisinya pernah dipublikasikan Media Indonesia, Jawa Pos, detik.com, Kompas.id, Magrib.id, Koran Tempo, Kompas, Femina, Nova, basabasi.com, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Lampung Pos, Padang Ekspress, Republika, dsb.
Sekarang tinggal di kampung Rancakalong, menanam bebungaan dan menulis.

Pulang

1




Aku kembali mengepulkan asap rokok ke udara sambil berjoged dengan dua orang pemandu lagu wanita. Kulihat Baron dan Maung, dua temanku itu tengah asyik cekikikkan dengan dua wanita seksi yang kusewa sambil menenggak minuman beralkohol yang dibawa diam-diam olehku ke tempat karaoke. Aku tertawa melihat mereka menikmati jamuanku malam ini sebagai imbalan karena mereka telah membantuku menghabisi musuh bebuyutanku, Si Godeg.

Dua hari yang lalu, Si Godeg mati. Mayatnya dibuang ke sungai Sarihurip. Aku yang membunuh laki-laki yang terkenal keji itu, memotong-motong tubuhnya hingga tujuh bagian. Mungkin sekarang tubuh busuknya itu sebagian besar sudah dimakan ikan-ikan di sungai. Aku terpaksa menghabisinya, karena bajingan itu telah memperkosa Marni, adikku yang baru enam belas tahun saat sepulang sekolah. Gadis polos yang selalu ceria itu ditemukan mati gantung diri di pohon mahoni dekat kuburan. Sebelum mati, Si Godeg berkali-kali menjelaskan bahwa dirinya tidak memperkosa Marni, tapi Si Maunglah pelakunya. Tapi aku tak percaya, Maung adalah anak buahku, tidak mungkin dia berani memperkosa adik bosnya sendiri.

Dulu aku dan Godeg berteman baik, sebelum kami berdua menjadi preman, kami sama-sama perantau dari kampung yang mencoba merubah nasib di ibukota. Namun, seiring berjalannya waktu kami malah berakhir sebagai preman yang menguasai terminal. Karena berselisih paham, aku dan Godeg bermusuhan. Si Godeg dan anak buahnya juga beberapa kali pernah mencelakakanku, tapi aku berhasil selamat. Awalnya aku diam dengan ulahnya selagi dia tidak mengganggu keluargaku. Tapi bajingan tengik itu membunuh titik terlemahku yaitu mengambil satu-satunya seseorang yang berharga dariku yaitu Marni. Bagaimana mungkin aku membiarkan laki-laki yang telah membuat adikku mati itu berkeliaran tanpa dosa? Dengan sedikit konspirasi akhirnya bajingan tengik itu masuk perangkapku. Tapi aku masih belum puas membalas dendam, kudengar Si Godeg masih memiliki seorang istri yang katanya cantik. Heh, aku menyeringai licik.

Kulihat Baron, pergi entah kemana dengan wanita yang kusewa, sedangkan Maung tengah menenggakkan minuman beralkohol pada wanita yang satunya lagi. Hah, aku bisa menerka apa yang akan diperbuat Maung pada si wanita itu jika mabuk. Tapi aku tak peduli. Aku kembali berjoged dengan dua pemandu lagu yang kutaksir masih berumur belasan tahun itu.

***

Seminggu kemudian, aku berhasil menemukan tempat tinggal istri Si Godeg di sebuah desa terpencil. Namanya Siti. Memang benar kata anak-anak buahku bahwa istri Si Godeg itu sangat cantik. Kulitnya putih bersih, matanya sipit, wajahnya mengingatkanku pada aktris Hongkong Zhang Zi Yi yang terkenal itu. Pesona Siti begitu mengagumkan dengan kerudung di kepalanya. Entah kenapa perempuan secantik dan seagamis itu mau dinikahi oleh preman bengis macam Si Godeg?

Aku mengucapkan salam beberapa kali. Kulihat Siti tergopoh-gopoh menuju pintu sambil membalas salamku. Ketika melihat wajahku dia langsung menundukkan kepalanya.

“Apa benar ini rumahnya Pak Wahyu yang baru meninggal itu?” Tanyaku ramah, Wahyu adalah nama asli Si Godeg. Sengaja aku mengenakan pakaian rapi agar tidak dicurigai sebagai preman oleh orang sekitar.

“Benar, anda siapa dan ada keperluan apa?” Jawabnya lembut, kulihat matanya sembab dan agak merah. Beruntung sekali Si Godeg, kematiannya ditangisi oleh wanita cantik. Apa Siti tidak tahu kelakuan suaminya di luar itu seperti apa?

“Saya temannya saat kami masih sama-sama bekerja di pabrik, saya turut berduka cita atas kematian Wahyu dan saya kemari untuk melayat.” Ujarku sedikit diplomatis, aku memuji kepandaianku bersandiwara. Siti hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih pelan. Aku dipersilakannya masuk, di dalam rumah ada mertuanya Si Godeg dan beberapa saudara yang masih berkumpul. Aku mengobrol banyak dengan anggota keluarga Si Godeg sambil menceritakan pertemananku dengan Si Godeg yang tentu saja hasil karangan. Ternyata Si Godeg pintar juga menutupi kebengisannya itu. Di mata istri dan mertuanya Si Godeg dikenal dengan sifat santun dan penyayang. Hahaha, ingin sekali aku menguraikan beribu kejahatan yang telah dilakukan oleh Si Godeg, salah satunya adalah memperkosa adikku.

***

Aku memutuskan tinggal di desa tersebut selama beberapa minggu seraya memuluskan rencana yang telah kusiapkan untuk menculik Siti. Untuk sementara waktu aku tinggal di rumah pamannya Siti, karena aku dianggap satu-satunya kerabat Si Godeg. Jelas ini membuat rencanaku semakin mudah.

Aku berusaha menyesuaikan diri di lingkungan keluarga Siti yang agamis. Untungnya aku cepat beradaptasi karena waktu kecil aku sering diajarkan sholat dan mengaji oleh almarhum ayahku. Meskipun sebenarnya hal itu sangat sulit, mengingat sudah puluhan tahun aku meninggalkan apa yang diajarkan ayahku dulu.

Pak Rusdi, paman Siti selalu mengajakku ikut serta ke kajian-kajian yang diselenggarakan di mesjid desa, aku juga sering diajaknya ke mesjid setiap lima kali sehari untuk melaksanakan sholat. Tiga dekade lebih aku meninggalkan semua yang diajarkan ayahku, bahkan aku sudah lupa bagaimana gerakan sholat. Aku sudah merasa letih dan hampir menyerah bersandiwara. Tujuan utamaku ke desa ini bukan untuk belajar agama, melainkan untuk membalas dendam. Aku harus segera bertindak, jika tidak identitasku akan segera ketahuan, tekadku. Aku kembali merumuskan rencanaku yang tertunda.

“Hijrah adalah meninggalkan kemungkaran menuju keshalihan, dari kekufuran menuju keimanan, dari dunia kelam menuju cahaya hidayah.” Kata Ustadz Fatan saat mengisi khutbah jumat. Sudah seminggu aku tinggal di desa ini, membuatku mengenal hampir semua orang yang tinggal di daerah ini. Sebenarnya banyak hal yang kudapatkan dari tempat ini, selain belajar agama aku juga diajarkan cara bercocok tanam, yang sebagian besar penduduk di desa tersebut adalah para petani. Disamping itu orang-orangnya sangat ramah, dalam lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya aku nyaman berada di lingkungan ini, lingkungan ini mengingatkanku pada kampung halamanku. Aku juga sempat memutuskan untuk tidak balas dendam, tapi mengingat apa yang sudah dilakukan Godeg pada Marni, darahku kembali mendidih. Aku harus balas dendam.

***

Malam beranjak tua, aku bersembunyi di balik pohon akasia. Jalanan sepi, semakin memudahkanku untuk beraksi. kamar Siti tak jauh dari tempat persembunyianku. Aku berjalan mengendap-endap menuju jendela kamarnya. Namun kulihat ada dua bayangan yang tengah mengendap-endap ke tempat yang kutuju. Dua bayangan itu ternyata adalah dua orang yang kukenal, Baron dan Maung, ‘sedang apa mereka?’ Batinku. Aku segera bersembunyi di balik pohon angsana ingin mengetahui apa yang sedang mereka lakukan disini.

“Beneran nih, istrinya Si Godeg itu cantik kayak bintang film?” Tanya Baron sambil menelan ludah.

“Aku jamin seratus persen deh, kecantikannya benar-benar alami, pokoknya yahud, kecantikannya itu sebelas dua belaslah sama Si Marni yang tempo hari aku perkosa.” Jawab Maung sambil cekikikan. Darahku berdesir, amarahku benar-benar di ujung tanduk. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Godeg bahwa Si Maunglah yang telah memperkosa adikku.

“Ah, sayang sekali aku tidak ikut mencicipi adiknya Si Bos, kau sih tidak ajak-ajak.” Sergah Baron yang membuatku sudah tidak tahan lagi dengan percakapan yang menyulut kemarahanku. Aku mencoba mencari parang yang kusimpan di kandang domba, dan aku langsung membacok mereka. Para warga segera berdatangan ke arah kami yang sedang berkelahi termasuk Siti dan keluarganya. Kami segera dileraikan oleh para penduduk desa. Kulihat Baron dan Maung terluka sangat parah akibat kibasan parang di kepala. Aku yakin dalam beberapa hari ke depan, mereka akan segera mati, karena hantaman parangku cukup dalam di kepala mereka.

***

Malam itu aku langsung menceritakan kejadian yang sebenarnya termasuk niatku datang ke desa ini. Kulihat Siti tampak pucat, airmatanya juga mengalir deras. Paman Siti juga terlihat menutup wajahnya, aku tahu aku telah membuat orang sebaik mereka kecewa.

Malam itu juga aku pergi dari desa, dendamku sudah selesai tapi perasaan bersalah diam-diam menjalar hebat dalam dadaku. Mungkin sebaiknya aku menyerahkan diri saja pada pihak yang berwajib atas perbuatan sadisku. Atau aku memilih jalan pulang, berserah diri, memohon ampunan Tuhan. Tapi jalan mana pun yang aku pilih, jika sempat aku menua, maka selama itu aku akan hidup bersama bayangan wajah Siti.

Tasikmalaya, Januari 2020




===================

Asih Purwanti, tinggal di Tasikmalaya, sering menulis cerpen berbahasa sunda, karyanya sering dimuat di majalah Mangle.

Menerbangkan Perahu

0



Delisa begitu mengikat kuat dalam pekat pikiran. Tetapi, sebagai perantau yang tak memiliki hak atas tanah pengikat, Madin harus segera sadar, ada hati lain yang menunggu untuk membangun mimpi, lalu menerbangkannya sesuai arah mata angin hati.

Di tengah kemelut undangan kesedihan yang mendatanginya itu. Madin perlahan bangkit, lalu membuang undangan pernikahan Delisa ke bak sampah. Tak sampai di situ, lelaki itu langsung membakar barang-barang yang pernah diberikan Delisa. Ia juga membubuhi kata keterangan “sedang bakar sampah nih!”.

Setelah puas membakar sisa-sisa kenangan itu. Madin segera menegok keadaan di dalam rumah. Bapak dan Ibu lumayan aman untuk ditinggal beberapa saat. Maka, ia pun segera mengambil sepeda matic yang selama ini sudah menemaninya.

Sungguh, Madin tak tahu harus ke mana dan bagaimana. Ia hanya merasa suntuk di dalam rumah. Sebab bayang-bayang Delisa hadir di pelupuk mata. Dan, baginya sulit untuk menepisnya.

Di tengah perjalanan itu, Madin kemudian tersadar bahwa tidak boleh terlalu jauh berjalan. Ada Bapak dan Ibu yang tak bisa menunggu lama di rumah. Akhirnya, Madin pun memutuskan untuk ke Alun-alun Kota Situbondo saja. Madin hanya membutuhkan beberapa menit lagi untuk sampai di tempat yang memiliki hutan kota itu.

***

Sebuah perahu emas bertengger kokoh di tengah alun-alun. Perahu itu seolah-olah menjadi simbol kota yang memiliki garis pantai terpanjang di Jawa Timur ini. perahu yang juga menyiratkan harapan para nelayan. Harapan agar hidup mereka serupa emas. Dicari dan diburu banyak orang.

Memandang perahu itu, Madin jadi teringat akan kisah Bapak selama menjadi nelayan. Ada banyak sekali badai yang pernah lelaki bertubuh matahari itu temui. Badai-badai itu membentuk kekuatan dalam tubuh Bapak. Bapak tak sedikit pun mengeluh ketika bertemu badai. Karena Madin tahu, sebagai seorang pelaut yang hebat Bapak tak lahir dari laut yang aman-aman saja.

Badai yang dialami Bapak tentu tak sebanding seperti yang dialami Madin. Madin hanya merasakan sakit hati lantaran kekasih yang pernah singgah di hati itu malah mengirimkan undangan kesedihan. Padahal, harapan Bapak dan Ibu dulu ada pada perempuan itu. Dan, harapan itu telah berganti dengan yang baru.

Madin kembali memandang perahu itu dari jauh. Ia tersenyum. Seolah harapan baru menunggu di ujung sana. Maka sebab itu, ia melajukan langkah menuju si perahu. Perahu itu seperti memanggil Madin mendekat.

Dan, ketika kaki sudah begitu dekat, Madin begitu terkejut. Ia melihat aroma kesedihan lain. Aroma kesedihan itu seperti dikenalnya. Bahkan sangat kenal.

“Delisa!” pekik Madin tak percaya.

Si perempuan itu menoleh ke arah Madin. Wajah mantan pemilik hati Madin itu begitu senduh. Madin langsung menyimpulkan jika ada sesuatu yang tidak beres.

“Aku batal menikah,” tutur Delisa, begitu halus tapi penuh kebingungan.

Madin tak menjawab. Ia hanya mendekatkan langkah. Kemudian, ketika dekat, ia memberikan jarak pada Delisa.

“Kenapa?” tanya Madin.

Delisa menambah debit air matanya.

Melihat itu, sungguh Madin ingin mendekat. Tetapi, kalau mengingat kisahnya dengan Delisa yang kandas secara sepihak dan tanpa alasan yang masuk akal. Madin berusaha menata hati. Ia tak boleh dianggap sebagai lelaki gampangan, apalagi pengemis cinta.

“Belum menikah saja, ia sudah berani selingkuh,” ungkap Delisa menahan segala pertahanan emosinya.

Madin tak terkejut mendengar ungkapan mantan kekasihnya itu. Terlebih di dunia saat ini, sulit sekali mencari cinta yang sejati. Cinta yang hanya terdiri dari dua orang yang sama-sama memiliki hati, mengikat hati, dan tak akan pergi ke lain hati.

Awalnya, Madin merasa jika Delisa adalah cinta sejatinya. Hanya saja, fakta cerita merengsek maju mengungkap segala gerak-gerik Delisa. Lalu, struktur cerita kemudian berbicara bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah. Delisa mundur, tanpa pamit di saat Madin benar-benar membutuhkannya.

“Bersyukurlah, kamu diberi kesempatan untuk mengetahuinya lebih dulu. Ketimbang ketika berumah tangga nanti!”

“Ya, aku bersyukur, Madin. Apalagi, sama selingkuhannya, ia berani main tangan,” kenang Delisa, lalu menghapus air matanya.

Madin mengangguk membenarkan pernyataan perempuan itu. kemudian, mencuri pandang dan menikmati kecantikan parasnya. Kecantikan yang dulu dipuja-puja itu kini  berubah menjadi sesuatu yang entah tak menarik lagi.

“Kamu mau kembali padaku?” tanya Delisa membuatku kaget.

Aku kontan menggeleng cepat-cepat.

“Mengapa?”

“Ini hati bukan stasiun. Kamu tidak bisa pergi sesuka hati!”

“Aku tahu kemarin aku salah!”

“Terus?”

“Aku khilaf.”

“Aku tak mungkin bersama perempuan yang tak bisa menerima keadaan orang tuaku.”

“Aku akan belajar menerima.”

“Ah, sudahlah, aku mau pulang,” putus Madin mengakhiri percakapan yang semakin membuatnya pusing.

Madin sudah berikrar untuk meninggalkan segenap kenangan dengan Delisa. Dan, ia memang berusaha untuk tak memberikan minat, sedikit pun. Makanya, ketika ada penawaran hati untuk singgah kembali, ia benar-benar sudah tidak ada hati.

“Madin, tunggu!”

Madin tetap melangkah pergi. Ia malah mempertegas langkahnya. Meninggalkan Delisa yang seperti kehilangan arah. Langkah Madin begitu tegas, tanpa perlu melihat ke belakang. Delisa adalah masa lalu yang tak perlu dilirik lagi. Masa depan menunggunya untuk menjemput mimpi yang entah dengan siapa dan akan memulainya dengan cara apa. Tapi, sebagaimana hidup, masa depan itu harapan setiap orang dan masa lalu harus dihapus sedikit demi sedikit. Agar hidup ini tidak terlalu dramatisir.

“Madin, tunggu!” panggil Delisa begitu serak.

Madin pura-pura tak mendengar. Ia kini malah berlari ke arah parkir. Hanya saja, orang-orang di sekitarnya meneriakinya. Madin pun menoleh ke belakang. Di sana Delisa begitu kehilangan arah. Tubuhnya yang kering mendadak kehilangan tenaga.

Madin pun segera berlari. Ia bersama orang-orang di alun-alun langsung membawa Delisa ke klinik terdekat. Sekalipun Madin tak lagi menaruh harapan pada perempuan itu, tapi ia tak pernah menghilangkan sisi kemanusiaannya. Ia harus tetap membantu Delisa.

Pun, sesampainya di klinik di utara alun-alun, ia segera menghubungi keluarga Delisa. Beberapa menit kemudian, keluarga Delisa datang dan Madin mendapat tatapan tajam plus sinis. Seolah-olah Madin serupa kuman kecil yang tak pantas keberadaannya di sini.

Melihat situasi yang tak enak itu, Madin pun memutuskan untuk segera pergi. Hanya saja, panggilan Delisa dari ruang perawatan membuatnya menghentikan rencana.

“Delisa memanggilmu!” ungkap Bapak Delisa.

Madin langsung masuk ke kamar perawatan.

“Ada apa?”

“Kamu bisa bantu aku?”

“Katakan saja, Del!”

“Nikahi aku. Aku hamil!”

Permintaan Delisa benar-benar di luar nalar Madin. Mengapa perempuan yang menelantarkannya kini malah menjadi pengemis cinta yang sesungguhnya. Terlebih kondisinya yang meminta dinikahi karena hamil.

“Kita tidak pernah melakukan apa-apa! Dan, aku tidak bisa!”

“Kita memang tidak pernah melakukan apa-apa. Dan, ini bukan anakmu juga.”

“Baguslah, cari laki-laki lain!” ucap Madin langsung pergi tanpa pamit.

Kaki Madin yang panjang-panjang itu segera bergarap keluar dari rumah sakit yang begitu penuh sesak kebingungan ini. Hanya saja, semakin jauh melangkah, ia menjadi begitu bingung. Mengapa bisa Delisa memintanya menikahi perempuan itu? Bisa saja kan kehamilan perempuan itu karena lelaki yang berstatus calon tidak jadi suaminya.

Madin bukanlah malaikat yang begitu baik hati. Ia tak mau menanggung dosa yang sama sekali tak ia perbuat. Terlebih mengingat kondisi Bapak dan Ibu yang bisa fluktuatif perasaan dan kesehatannya, bisa-bisa kalau mendengar kabar ini, beban psikisnya malah bertambah.

***

“Madin, tunggu!”

Madin menoleh ke asal suara. Ia tak menyangka jika bapaknya Delisa mengejarnya.

“Ada apa, Pak?”

“Saya mohon turuti permintaan anak saya.”

Madin menghela napas agak panjang. Sungguh ia tak mengerti mengapa jalan pikiran anak dan bapak bisa sama saja.

“Saya tidak bisa,” tolak Madin.

“Saya akan beri apa pun sama kamu.”

“Saya tidak minat.”

Setelah itu, Madin benar-benar menyetop sebuah ojek pengkolan yang akan membawanya ke alun-alun. Dari sana, ia akan kembali ke rumahnya. Bertemu Bapak dan Ibu, serta memberitahukan kabar Delisa yang penuh kejutan tak terkira. Bercerita tentang Delisa bukan berarti Madin ingin menceritakan aib mantan kekasihnya itu. tapi, ia memang merasa orang tuanya perlu tahu.

Toh, sekalipun tahu, orang tua Madin bukanlah orang yang begitu repot dengan urusan orang lain. Mereka lebih banyak berfokus dengan diri sendiri. Bapak yang berfokus melawan rasa sakit hampir setahun dideritanya. Sementara, Ibu berfokus untuk berjualan ikan di pasar serta terus mendoa untuk segala kebaikan kami. Bagi Bapak dan Ibu mengurusi urusan orang lain sama saja dengan menguras kehormatan sekaligus melunturkan harga diri. Dan, setiap urusan mereka tak perlu ikut berkomentar. Hanya sekadar tahu, tanpa perlu memberikan pandangan yang barangkali bisa menjadi kesalahan baru.

***

Perjalanan dari alun-alun menuju rumah tak begitu banyak kendala. Madin beberapa menit lagi akan tiba di rumah. Hanya saja, saat tiba di dekat pohon gayam tak jauh dari gang menuju rumah. Ia merasa ada keanehan.

Tentu keanehan itu tidak lahir dari pohon gayam yang memiliki batang kokoh dan beralur kuat. Atau juga karena bijinya yang keras jatuh dan diambil oleh banyak kanak-kanak agar bisa direbus lama sehingga bisa dimakan dengan penuh rasa enak dan gurih. Bukan karena pohon itu yang menjadi keanehan Madin. Tapi, dari tanaman yang memiliki filosofi gayuh yang berarti cita-cita dan ayem yang berarti damai, tenang dan bahagia itu, Madin melihat ada keanehan lain yang meledak tak jauh dari rumahnya.

Madin pun mencoba mempercepat kecepatan. Hanya saja, lalu lalang orang membuatnya benar-benar menyerah. Ia pun meletakkan motornya di pekaran orang. Lalu berlari menuju rumahnya.

Di sana Madin menemui pertengkaran. Bapak Delisa mendatangi rumah Madin. Ibuk menjerit tak keruan. Orang-orang menjadi pagar pelindung bagi keluarga Madin. Madin pun segera menjerit dari arah belakang. Orang-orang melihatnya dengan tatapan penuh kasihan.

“Menghamili anak orang kok tidak mau tanggung jawab!” ucap sebagian orang.

Madin mendidih mendengar itu. Ia segera meledakkan amarah. Ditatapnya Bapak mantan kekasihnya itu. Ia segera memberikan perhitungan.

“Anak Bapak dan saya sudah putus hubungan begitu lama. Beberapa waktu lalu, ia memberikan undangan pernikahan. Dan, kini menuntut pertanggungjawaban atas hal yang tak pernah saya lakukan!”

Bapak Delisa bungkam.

Madin kembali bersuara, “Bapak telah menginjak ke tanah yang salah. Saya bisa saja mencobloskan Bapak ke polisi lantaran pencemaran nama baik. Dan, saya jamin Bapak akan menyesal pernah ke sini!”

Bapak Delisa terdiam.

“Saya punya banyak bukti tentang Delisa dan kehamilannya. Saya telah merekam semua yang ia katakan!”

Bapak Delisa mundur bersama orang-orangnya.

Madin segera maju, “Kini kalian tahu ‘kan, siapa yang salah? Lalu, kalian akan diam saja, warga yang tak berdosa dihinakan begitu saja!”

Ucapan Madin sontak membuat keberanian orang-orang bangkit. Bapak Delisa dan orang langsung dipukul mundur. Walaupun begitu, Madin begitu histeris melihat tanah segar di hidung Bapak. Ia sungguh-sungguh akan menuntut pembalasan atas kelakuan Delisa dan keluarga atas apa yang telah dilakukan.

Keadaan Bapak yang sedemikian lemah itu membuat Madin tak berhenti menangis. Puncaknya, ketika ia mencoba memberikan tangan agar bisa menuntun Bapak berjalan. Bapak tak bisa meraih tangan itu. Akhirnya, Madin langsung menggendong Bapak serupa yang dilakukan Bapak masih kecil.

Sehabis menggendong Bapak ke kamar. Madin langsung menutup pintu rumah. Ia lalu menelepon Delisa di hadapan Bapak dan Ibu.

“Kamu gila!” ucap Madin.

Delisa tak menjawab di ujung sana.

“Selama kita dekat, tak sedikit pun aku menyentuhmu. Dan, kini kamu hamil. Lalu bilang aku penyebabnya!”

Delisa tak menjawab kembali.

“Jawab!”

“Aku tahu memang bukan kamu pelakunya. Bukan kamu yang menghamiliku. Tapi, aku yakin aku tumbuh bahagia bersamamu.”

“Bahagia yang seperti apa? Bapakmu itu tidak punya perikemanusiaan. Bapakku yang sakit harus menerima ganjaran yang tak mengenakkan. Membuat darah segar terus-terusan keluar di hidungnya!”

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu Bapak akan berbuat sekejam itu.”

“Kamu gila, Delisa!”

Setelah itu, aku tak bisa berkata-kata apalagi. Tubuhku begitu terguncang melihat Bapak yang terbaring lemah. Padahal, beberapa saat lalu perahu kehidupan, tempatku berlayar itu begitu semangat dalam menghadapi pesakitannya. Kini, karena kabar yang tak mengenakkan itu membuat semua harapan perahuku itu terbang. Dan, aku tak tahu bagaimana harus memperbaikinya.




==================
Gusti Trisno. Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang yang memiliki nama lengkap Sutrisno Gustiraja Alfarizi.  Peraih juara 2 Penulisan Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur 2016 dan Penerima Anugerah Sastra Apajake 2019. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul “Seperti Skripsi, Kamu Patut Kuperjuangkan” (Elexmedia Komputindo). Nomor rekening BNI cabang Jember 0649910933 atas nama Sutrisno Gustiraja Alfarizi.

Stasiun Perpisahan

0




“Jika kereta ini sampai, kita tidak saling mencintai?” Tanyamu membuka percakapan di dalam kereta. Aku tidak menjawab.

Gerimis di luar gerbong terdengar sendu dari rintiknya yang bertampias pada kaca jendela. Wajah-wajah sepi di dalam gerbong takzim mengamati objek-objek yang mulai bergerak seolah mengejar tubuh kereta Bogowonto tujuan stasiun Tugu. Setelah kereta dengan gerbong panjang ini melaju, rasa rindu, sedih, dan kehilangan bercampur dalam hatiku. Bahkan carut-marut keadaan dari rumah kardus, sampah, gelandangan, bagai ikut menepi dari suntuknya Ibu Kota yang kini sedang ribut oleh gejolak detik-detik tumbangnya Orde Baru.

Kerusuhan telah membuat wajah Ibu Kota menjadi sendu. Apalagi pada pertengahan bulan Mei lalu, kekacauan seperti dilahirkan secara bertubi-tubi. Tidak aneh, ketika kereta ini melintasi sebuah stasiun, tampak lalu-lalang anak-anak muda yang datang atau pergi di Jakarta. Mereka yang datang seperti membawa harapan. Sementara mereka yang pergi terlihat malas membawa tubuh serta segala mimpi yang roboh. Dan, kekacauan ini juga bagai ikut mengusik kisah kita.

Ya, kau, di dalam gerbong ini hanya diam. Matamu tidak lelah menempel untuk memandang carut-marut keadaan yang ingin kau lupakan.

“Jadi setelah kita sampai nanti, segalanya berakhir?” Lagi kau berbicara.

Aku termangu dengan seribu kata yang ingin meledak di dada. Tetapi kata-kata itu mengeras bagai batu nisan di dalam rongga tenggorokanku. Aku hanya bisa menarik napas pelan. Lalu dengan harapan, dan segala mimpi yang memar, aku memincingkan mata. Syahdan, tanpa aku sangka, aku kembali mendengar teriakan, letus tembakan, pintu yang terbanting, serta segala keributan yang tak bisa aku bendung.

“Rasanya konyol,” katamu menyetak kesadaranku. “Kita jatuh cinta pada kesia-sian dan harapan.”

Mungkin apa yang kau katakan itu benar, tandasku dalam hati.

Cinta kita tidak lebih dari sekejap cahaya terang yang kemudian membuyar. Nasib cinta kita layaknya letusan kebang api di langit malam dalam suatu perayaan yang hinggar untuk kemudian surut. Tetapi, siapa yang bisa menghindari sebuah perayaan atas nasib dan cinta. Karena, takdir—seperti yang pernah kau bilang setelah banyak membaca buku karya Albert Camus—adalah sebuah festival yang berisik hingga seorang yang tuli pun bisa mendengarnya.

Dadaku seperti dijejali gabus basah dan membuatnya semakin berat. Apalagi ketika mengingat jauh ke belakang, pada pertemuan pertama kita dahulu…

***

Aku masih ingat, bagaimana dahulu waktu bertemu denganmu. Aku ketika itu adalah seorang ativis mahasiswa yang begitu tergila-gila dengan Albert Camus. Seluruh bukunya dari La Peste, Caligula, hingga L’tranger sudah aku baca tuntas. Karena kutipan pentingnya, ‘aku berontak, maka aku ada’ itu, akhirnya aku sering ikut demonstrasi. Pada waktu berdemonstrasilah, aku pertama menjumpaimu.

Kau, sebagai seorang wanita yang memiliki darah campuran Indonesia-Jerman, yang kuliah di sebuah universitas negeri Jogja dan memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi, acap ikut dalam demonstrasi-demonstrasi yang aku serta teman-teman buat.

“Aku Louisa Heathcote,” katamu memperkenalkan diri pertama kali.

Setelah pertemuan itu, hubunganmu denganku semakin dekat. Kami pun semakin dekat lagi karena sering berdiskusi mengenai buku Albert Camus.

“Albert Camus adalah pemikir yang gila,” katamu. “Dia tidak saja seorang pemikir di belakang meja, tapi ia mau turun ke jalan.”

“Benar!” Timpalku. “Dia seperti Jean Paul Satre. Dia melihat pembebasan baru terjadi ketika kata-kata digerakan secara politik. Maksudku, kata-kata adalah manifestasi atas politik pengetahuan. Dan pengetahuan ini perlu gerakan. Maka, ia memanfaatkan benar politik gerakan dalam arti yang nyata. Bukan sebagai politik praktis yang banyak kita temukan di negeri ini.”

Pertemana kami semakin erat. Karena banyaknya rapat rahasia, demonstrasi-demonstrasi yang panas dan menegangkan, penculikan rekan-rekan seperjuangan di bahwa pemerintah Orde Baru, semua itu seakan merekatkan kita pada satu perasan senasib. Hingga kemudian, kita menjadi sepasang kekasih.

Tetapi, cinta kita kembali dihadang oleh keadaan rumit di penghujung tumbangnya Orde Baru. Kau secara mendadak mengundurkan diri dari kelompok demonstran.

“Aku tidak bisa melanjutkannya,” katamu padaku. “Jika aku semakin jauh melangkah, aku sama seperti membunuh ayahku.”

Aku sangat terkejut saat tahu kalau ayahmu adalah salah satu dari antek penguasa yang terus membuat bodoh negeri ini. Tetapi, aku tidak bisa menyalahkanmu.

“Maafkan aku,” tambahmu lagi. “Seandainya Ayahku bukan seorang dari para penguasa yang sedang ingin kau dan teman-teman gulingkan, aku pasti ada di sana.”

“Sudahlah, Louisa!” Tandasku. “Aku tahu bagaimana posisimu.”

Kau akhirnya mengundurkan diri. Tetapi kita masih sering bertemu. Ketika bertemu, aku acap mendapatkan informasi-informasi penting mengenai rencana intelegen terhadap para mahasiswa.

Akhir-akhir ini, aku sering mendengar mengenai seorang mahasiswa yang hilang. Mereka kebanyakan diculik oleh aparat yang menyamar jadi masyarakat. Para mahasiswa itu kemudian disiksa dan diperas informasinya. Mereka yang tak kuat dengan siksaan biasanya akan berkhianat dan membocorkan keberadaan teman-temannya.

Dari sinilah, aku mengerti, kepercayaan dan keyakinan adalah hal yang nilainya hampir serupa dengan jiwa seseorang.

“Kini banyak penghianat yang  memilih mengorbankan nyawa temannya agar selamat,” ujarmu risau.

“Ketakuan memang sering membuat seseorang berubah,” jawabku.

Kau mendekap tubuhku, “Apakah kau akan melakukan hal yang sama bila tertangkap?”

Aku tak tahu harus menjawab apa. Hanya saja waktu itu melintas wajah kawan-kawanku yang penuh harapan untuk sebuah perubahan.

Aku menjawab, “Aku lebih memilih bungkam untuk perubahan yang lebih baik.”

“Jadi kau memilih mati?” Tanyamu.

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa memelukmu sembari berdoa agar takdir tidak memisahkan kita. Hanya yang terjadi dua minggu kemudian, adalah peristiwa lain…

Hari itu, kau tidak datang. Aku menunggumu berjam-jam lamanya di sebuah kontrakan kecil tempat biasa kita bertemu. Sampai tepat pada pukul sepuluh malam, datang seorang aparat yang meringkusku. Pria dengan pakaian militer itu menghajarku hingga babak belur. Ketika mataku terbuka, aku sudah berada di tempat lain yang gelap, pengap, dan bau.

Di sana, aku dipaksa untuk mengatakan keberadaan teman-temanku. Tetapi, aku memilih tidak mengatakannya.

“Di mana para bajingan itu sembunyi?!” Tanya aparat.

“Aku tidak tahu,” jawabku tegas.

Aku senantiasa menolak menjawab pertanyaan yang diacungkan lewat pukulan dan hantaman. Hingga dua hari kemudian, aku dibuang begitu saja di pembuangan sampah. Tetapi dalam keadaan tidak sadar, aku sempat melihatmu memohon kepada Ayahmu untuk melepaskanku. Usai drama tangisan itu, aku tidak tahu kejadian apa menimpaku.

Begitulah saat tersadar, aku sudah berada di ruangan asing lainnya. Ternyata kaulah yang membawaku. Kau merawatku hingga aku sedikit bisa mengunyah nasi dan berjalan dengan benar. Ketika aku sudah pulih, kau menuntutku untuk lekas meninggalkan kota ini dengan menangis.

“Kau harus meninggalkan kota ini,” katamu. “Sesegera mungkin!”

Aku sempat menolaknya. Tetapi, kau meyakinkan apabila aku masih bertahan di kota ini, teman-temanku yang lain akan terancam. Mendengar nasib rekan-rekan dan mimpi-mimpi perjuang dari pemberontakan menggulingkan rezim kolot ini, aku memutuskan untuk pulang ke Solo. Sementara itu kau dikirim Ayahmu untuk kembali ke Jogja—tinggal bersama nenekmu.

***

Kau masih diam di dalam gerbong kereta yang membawa seluruh kesedihan kita. Tanganmu semakin erat menjabatku. Dan ketika kereta melintasi Jembatan Serayu dengan senja menguning di ufuk barat, kau bekata bahwa ‘harapan memang tidak pernah diciptakan bagi orang-orang yang kalah.’ Aku tak bisa membalas apapun selain meremat tanganmu kencang.

“Jadi kalau kita sudah sampai nanti, semua ini akan berakhir?” Lanjutmu.

“Bila satu hal itu bisa menyelamatkan banyak hal,” aku ragu mengatakannya, tapi tetap meluncur juga. “Kita harus melakukannya.”

“Jadi kita tidak akan saling mencintai?”

Kereta terus melaju ke arah kotamu; ke arah kotaku; ke arah perpisahan yang sudah kita pahami pasti terjadi. Kereta ini melaju seperti cahaya yang begitu cepat. Bahkan kereta ini seperti tidak melaju di atas tanah—melainkan berjalan di atas bantalan udara yang membuatnya jauh lebih ringan.

Seketika aku ingin menghentikan kereta ini untuk beberapa waktu saja. Aku ingin menghentikan jalannya sebuah perpisahan yang sudah menunggu pelan-pelan di hadapanku. Mendadak, aku meraih bahumu dan kupeluk dirimu.

“Tubuhmu dingin,” ungkapmu. “Wajahmu pucat.”

“Aku lupa makan,” timpalku.

Setelah melintasi sungai Serayu, kereta menembus Stasiun Kebasen, Randengan, Kroya, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Ijo, hingga sampai stasiun di Kedundungan. Kereta terus melaju membawa rasa kehilanganku yang semakin mendekat.

Kau menatapku nanar. Kau tidak ingin perpisahan ini terjadi. Tetapi kita tidak memiliki pilihan lagi untuk bertahan. Aku harus lekas melepaskanmu untuk keselamatan rekan-rekanku yang kini sedang berjuang.

 Kereta melintasi stasiun kecil Patukan di Wates. Kita lantas saling tatap untuk membaca kesedihan masing-masing.

“Apakah kau masih mencitaiku bila kita sudah berpisah?”

Tidak ingin berkata-kata lagi, aku mengambil ranselku. Aku mengobrak-abrik isi ransel itu mencari sesuatu. Saat menemukanya, aku cepat menyodorkan sebuah kotak dengan ukuran sekepal tangan kepadamu.

“Apa ini?” Kau bertanya. “Hadiah terakhir untuk sebuah perpisahan?”

“Ini adalah cinta yang bisa kuberikan padamu,” jawabku menitikkan air mata.

“Jadi kau masih akan mencintaiku setelah kereta ini sampai?”

Aku tidak menjawab. Kau tampak kecewa. Kereta pun berhenti di stasiun Tugu. Kau turun bersama penumpang lainya—bersama air mata dan lubang di dada.

Kereta kembali berjalan. Aku menatapmu yang perlahan tertinggal dengan segala perasaan hampa di dadak.

***

Setelah kereta berhenti tak ada lagi hal yang bisa dipertahankan. Bahkan cinta kita. Hanya ketika kau sudah sampai rumah dan membuka isi kotak itu, kau terkejut. Kau menemukan sebuah jantung kering di dalamnya. Kau juga mendapati sebuah kalimat yang bertuliskan: Tubuhku memang bisa remuk dihancurkan oleh kekuasan, Louisa, tapi tidak untuk cintaku kepadamu. Tulisan dan jantung kering itu membuatmu bergetar.

Kau semakin berlinang air mata ketika mendapatkan kabar dari tayangan televisi bahwa terdapat seorang pemuda yang mati dengan luka pukul di tubuhnya pada area stasiun di Jakarta. Kau menangis saat mengetahui bahwa sosok itu adalah aku: orang yang menemanimu sepanjang perjalan menuju stasiun perpisahan. (*)



=====================
Risda Nur Widia. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Berburu Buaya di Hindia Timur (2020). Cerpennya telah tersiar di berbagai media nasional dan lokal.

Rahasia-rahasia

0




Dalam homilinya yang singkat, Romo Benediktus bicara tentang janji setia sehidup-semati yang sama artinya dengan membuka seluruh diri. “Tak boleh ada rahasia. Apa saja. Dari waktu kapan saja. Ceritakan seluruhnya. Utuh. Pada pasanganmu,” kata pastor muda itu. Aku ingat bagian itu sebab disampaikan setengah berteriak karena gerimis yang turun sejak kami tiba di pintu kapela, menjelma hujan yang deras ketika homili sudah setengah jalan. Kapela itu sudah tua. Beratap rendah dan tanpa plafon.

Perihal rahasia yang tak boleh ada dalam hidup perkawinan itu menjadi kekal dalam ingatan—dan hari ini meruak, selain oleh sebab disampaikan setengah berteriak (membuatnya terdengar sebagai perintah) juga karena alasan yang lain: aku abaikan perintah itu sejak pertama kali mendengarnya meski perintah itu datang dari pastor yang menikahkan kami. Sebuah rahasia akan aku simpan sendiri hingga waktu bercerita tiba. Aku telah berjanji, dalam hati, tak akan bercerita apa pun tentang Joshua, kepada siapa pun—mungkin nanti, jika saat kematianku menjelang.

Aku bertemu Joshua di luar negeri. Di kota B, pada sebuah acara pembacaan puisi. Perjumpaan tak sengaja yang kemudian membawaku pada babak hidup yang sama sekali berbeda. Dari penggemar puisi-puisi John Keats kepada seorang yang kini menyandang gelar penyair. Gelar itulah, kupikir begitu, yang kemudian memudahkanku menaklukkan Magda.

Jauh sebelum kami menikah di kapela tua itu, kepada gadis itu pernah kukirim penggalan puisi: … Dan di dalam hatimu masuklah aku!/ Oh, cintai aku dengan sungguh-sungguh!. Aku comot begitu saja kata-kata itu dari buku harian seorang teman. Tak membuat Magda mencintaiku seketika, tetapi membuka kesempatanku bercakap-cakap dengan siswi paling populer di sekolah kami itu. Itu percakapan pertama kami setelah sekian lama kutunggu kesempatan itu datang—keputusan nekat mengiriminya puisi terbukti membawa hasil—sekaligus membuatku tahu bahwa dia mencintai puisi dan bahwa penggalan yang kukirimkan padanya berasal dari puisi Keats.

Magda, hari itu, bahkan menunjukkan bait lengkapnya: O breathe a word or two of fire!/ Smile, as if those words should burn be,/ Squeeze as lovers should – O kiss/ And in thy heart inurn me!/ O love me truly!// 

Sejak hari itu aku mulai gemar membaca buku puisi. Semula hanya agar dapat lebih sering bercakap-cakap dengan Magda, aku lalu jadi pemuja puisi-puisi Keats. Ketika akhirnya pindah ke kota B dan tahu bahwa di kota itu, pada waktu-waktu tertentu, orang-orang melaksanakan malam pembacaan puisi, aku ke sana. Sekadar mengisi waktu luang sembari memelihara ingatan tentang Magda yang jauh—tempat dia tinggal dan juga hatinya, mengenal lebih banyak penyair dari mulut para peserta yang hadir, hingga akhirnya bertemu Joshua.

Kelak ketika kami menyewa kamar yang sama, Joshua berkisah bahwa di matanya aku adalah satu-satunya orang yang dengan jujur mengaku bukan penyair (dan hanya becus membacakan puisi penyair lain). Sebab aku bukanlah orang yang sok—Joshua melabel yang suka menamakan dirinya penyair dan membaca puisi-puisinya sendiri padahal puisi-puisi mereka tidak bermutu sebagai orang yang sok—dia mau berteman denganku.

Joshua penyakitan. Dia hidup menderita hingga waktu kematiannya. Barangkali satu-satunya hal yang membuat hari-harinya bahagia adalah dengan menulis puisi. Mungkin juga tidak. Sebab dia tak pernah merasa puisi-puisinya baik. Puisi-puisi itulah yang dia tinggalkan padaku bersama utang sewa kamar yang dibawanya mati. Puisi-puisi yang bagus menurutku. Lalu kusertakan pada sebuah lomba. Mendapat peringkat tiga. Tak ada nama Joshua di manuskrip yang kukirim itu.

Bahwa aku jadi pemenang ketiga lomba cipta puisi di luar negeri, kuceritakan pada semua orang di kota ini. Kepada pimpinan redaksi sebuah koran besar yang baru saja ditinggal mati redaktur puisi mereka, kepada orang-orang rumah, juga kepada Magda yang belum bersuami.

Aku akhirnya diterima kerja di koran besar itu sebab mereka membutuhkan seorang redaktur puisi yang baru dan aku adalah pemenang sebuah lomba di luar negeri. Gajiku lebih dari cukup sehingga aku bisa menyewa rumah, Magda sering berkunjung sebab bercakap-cakap dengan redaktur puisi sebuah koran terkenal adalah hal yang menyenangkannya.

Dia menangis bahagia ketika kupinang. Sangat bahagia ketika selain cincin pinangan, kuberikan padanya buku puisiku yang pertama; puisi-puisi peninggalan Joshua tentu saja.

Aku mencintainya sepenuh hati, cinta pertama yang tak akan kutukar dengan apa pun. Segala hal kulakukan agar tetap bersamanya: menjadi tua di bawah atap yang sama, mati dalam pelukannya jika boleh, dan dari surga melihatnya bercerita tentang betapa hidupnya telah sungguh bahagia sebab telah menikah dengan lelaki yang mencintai puisi. Karena itulah, tak pernah kuceritakan tentang Joshua; siapakah yang ingin merusak fantasi kekasihnya?

“Kita sudah tua,” katanya suatu malam, beberapa pekan yang lalu.

“Ya. Dan kita berhasil menua bersama.” Aku beringsut mendekat, mengecup keningnya, mengelus lembut rambutnya yang telah seluruhnya putih, lalu rebah rapat di sisinya. Dia bicara lagi, bahwa hidupnya sejak hari kami menikah adalah sebenar-benarnya kebahagiaan.

“Kau ingat Romo Benediktus?” Tanyanya kemudian.

Tentu saja aku ingat pastor itu (semoga dia beristirahat dalam damai) sebab seminggu setelah kami menikah aku menemuinya di sakristi, meminta pengakuan dosa: jika merahasiakan sesuatu dari istri adalah dosa, ampuni aku sebab tak akan pernah kuceritakan tentang Joshua padanya.

“Kau ingat homilinya pada hari pernikahan kita? Katanya, tak boleh ada rahasia, apa saja, dari waktu kapan saja, ceritakan seluruhnya, utuh pada pasanganmu. Kau ingat? Apa kau akan marah kalau tahu bahwa aku menyimpan satu rahasia selama ini?”

Kukatakan padanya, sekali lagi, bahwa kami telah berhasil menua bersama dan bahwa menyimpan satu rahasia bukanlah apa-apa.

“Tapi ini besar sekali,” katanya setengah berbisik, “dan kupikir tak boleh kubawa mati.”

“Rahasia apakah yang lebih besar dari kisah yang kau simpan bertahun-tahun bahwa rahimmu telah diangkat, Magda-ku sayang?”

Setelahnya, dalam kalimat yang diejanya perlahan, dia bercerita panjang lebar tentang buku-buku puisiku. Juga rahasia yang disimpannya tentang buku-buku itu: “Setelah buku kumpulan puisimu yang pertama, sepertinya, kau tak lagi bisa menulis puisi. Buku-bukumu berikutnya tak pernah mampu kubaca tuntas sebab mereka begitu buruk. Maaf aku merahasiakannya selama ini.”

Kukecup keningnya sekali lagi. Mengelus lembut rambutnya yang telah seluruhnya putih. Membisikkan selamat malam dan berjanji dalam hati: kelak, jika aku tahu hari kematianku sudah dekat, akan kuceritakan padanya rahasia di balik buku puisi yang pertama itu. Tetapi Magda tidak bangun lagi. Dia pergi untuk selamanya malam itu. Dengan damai. Sebab tak membawa rahasia apa-apa.



=====================
Armin Bell. Bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra, Ruteng. Cerpennya “Monolog di Penjara” meraih penghargaan Cerpen Terbaik Anugerah Sastra Litera 2018.

Ia yang Menjelma Bunga Matahari

0

Hujan pertama di bulan November langsung membadai. Deras tiada ada celah. Air seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Awan gelap. Hitam. Tak ada noktah putih pun di atas sana. Begitupun angin menderu membuat air yang tumpah pontang-panting ke sana ke sini.

Pohon-pohon berakar serabut banyak yang tumbang. Angin dan hujan badai seakan bersekongkol memporak-porandakan perdesaan itu. Di sebuah halaman rumah tembok di lereng bukit, sebuah bunga matahari tetap tegar berdiri. Tidak goyah oleh angin, hanya basah oleh hujan. Meski juga berakar serabut.

Ia di sana, sebab sebuah cerita.

***

Seharian wanita itu hanya berdiri di halaman depan rumahnya. Sesekali menatap jam di telepon genggamnya. Pun ia menunggu kabar dari suaminya yang belum juga pulang sampai senja mulai menyala.

Dihyan, wanita itu sebenarnya tahu tentang suaminya, Niscala. Banyak teman yang mengabarkan apa yang dilakukan suaminya di luar rumah. Kabar yang telah ia alami sendiri jauh sebelum teman-temannya mengetahui sikap sang suami.

Ia lihat sendiri ketika sebuah kesempatan datang untuk melihat isi galeri telepon genggam Niscala. Foto-foto sang suami berpose dengan perempuan-perempuan lain. Berswafoto dengan mereka dengan wajah-wajah tanpa derita. Dan meski hanya foto, itu sungguh menyiksanya.

“Ayah belum pulang, Bun?” tanya Aruna, anak lelakinya dari balik pintu.

“Belum,” jawab Dihyan itu datar.

Matanya tajam ke depan. Menatap udara petang yang beranjak pekat.

“Aku lapar, Bun.”

“Kita segera makan, Nak. Tanpa ayahmu.”

“Sekarang, ya, Bun?”

Dihyan berdiri. Ia langkahkan kaki, namun badannya terasa berat. Seperti ada akar yang menancap di kakinya. Suaminya belum pulang. Ia sebenarnya tahu, seperti biasa. Bahwa suaminya kerja atau tidak kerja, tidak akan membawa uang ke rumah. Tidak ada uang belanja, pun nafkah untuk keluarganya.

Dengan langkah yang berat, Dihyan masuk ke dalam rumah dan menyiapkan makan malam untuk Aruna. Niscala tidak memberi uang belanja, bahkan selama dua bulan ini. Maka ia masak sekadarnya. Membeli sayur dari uang upahnya sebagai guru honorer di sebuah sekolah.

Petang ini Aruna meminta makan. Seingatnya di dapur telah tandas bahan masakan. Niscala belum pulang, dan honor dari sekolah baru cair besok. Untung masih ada sisa sebutir telur, maka ia menggorengnya

“Di mana ayah, Bunda?”

“Ia bersama kesenangannya. Biarkan.”

Tapi anak laki-laki itu membaca apa yang dipikirkan ibunya. Aruna melihat duka di mata ibunya. Duka akan perilaku ayahnya yang hanya peduli dengan kesenangannya belaka.

Mata Dihyan menatap kosong pada tembok yang belum dicat. Dihyan ingat saat dua bulan lalu beberapa mahasiswa datang ke desanya untuk sebuah penelitian. Mereka menginap di rumahnya selama sebulan. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Sebagai warga desa yang terbuka, ia setuju atas keputusan suaminya meminjamkan dua kamar rumah mereka untuk kelima mahasiswa itu.

Ia sebenarnya khawatir dengan kedatangan mahasiswa itu. Tapi kekhawatiran justru tertuju pada sikap Niscala yang seperti biasa. Lebih memperhatikan perempuan-perempuan lain daripada istri dan anaknya.

Kekhawatiran yang terbukti. Salah satu mahasiswa perempuan seperti mendapat perhatian lebih dari Niscala. Dihyan menangis ketika melihat suaminya duduk di teras belakang bersama seorang mahasiswa perempuan.  

“Besok ikut saja denganku,” kata Niscala pada mahasiswa itu.

Ia mendengar dari balik jendela yang membatasi ruang tamu dan teras.

“Kemana?” jawab mahasiswa tersebut. Biasa, tapi terdengar lembut dan cukup untuk menuntut pertanggungjawaban.

“Ada pertunjukan musik di lapangan. Tapi kita berdua saja, tidak usah kasih tahu yang lain. Pun ibunya anakku.”

Dihyan jelas mendengar apa yang dikatakan Niscala. Maka ia berlari ke depan dan menangis di sana. Tersedu namun ia menahannya agar tidak terdengar dan terlihat siapapun. Untuk mengalihkan tangisnya, ia menuju halaman. Menyiram bunga-bunga yang ditanamnya. Memotong daun yang kering agar pohon tidak mati. Membersihkan debu yang menempel pada bunga-bunga itu.

“Bunga Matahari belum ada di halaman ini,” gumamnya saat melihat bunga-bunga kecil itu.

Hanya ada bunga warna merah, merah muda dan ungu. Tidak ada warna kuning ceria dan cukup besar untuk memanjakan pandangan. Maka terbersit di otaknya adalah Bunga Matahari.

“Yang selalu menghadap matahari, dan seakan terlihat paling bersinar diantara bunga lain,” imbuhnya. “Aku ingin menambahkannya di sini.”

Ia berdiri menghadap rumahnya dari halaman. Tidak ada tanda-tanda sang suami keluar. Berarti mereka masih menikmati obrolan yang menyakitkan hatinya. Ia tetap berdiri di sana.

Beberapa waktu kemudian Niscala keluar. Menstarter motornya. Sendiri dengan wajah yang penuh gembira.

“Mau kemana?” tanya Dihyan tetap berdiri diantara bunga-bunga kecil.

Niscala tidak memperhatikannya. Hanya menatap layar telepon genggamnya dengan senyum licik.

“Mau pergi?” tanyanya sekali lagi.

Dan sekali lagi tak ada jawaban. Hanya suara motor yang dikendarai Niscala yang menjawab. Dihyan tetap berdiri diantara bunga-bunga. Menatap warna-warni itu satu persatu seperti menatap pekerjaan murid-muridnya di sekolah. Mengusap kelopak bunga dengan lembut seperti mengusap kepala anaknya ketika akan berangkat sekolah. Membuang daun kering yang masih menempel di ranting, seperti membuang sakit hati akan sikap suaminya.

Hingga ia tak sadar malam kian pekat dan terus saja wanita itu berdiri di sana. Sambil sesekali menatap pintu rumah yang masih terbuka. Bunga-bunga yang sudah mekar menularkan bahagia di hatinya. Ia usap sambil bernyanyi kecil pada bunga yang masih kuncup.

Udara malam di lereng bukit itu semakin menggigit. Tapi Dihyan tidak merasakan gigil. Ia malah menikmati kedamaian bersama bunga-bunga yang ditanamnya dan dipeliharanya seperti anak sendiri.

Di awal hari ia melihat suaminya datang. Tapi seperti hari-hari sebelumnya, ia tidak mendapat perhatian, dan masih terus berdiri di sana. Di halaman depan rumah. Bersama bunga-bunga tanamannya.

Hanya Niscala melirik sekilas padanya sambil bicara pelan dengan nada yang tidak suka, “Halaman penuh bunga, seperti hutan. Besok akan kubabat habis!”

Wanita itu bertekad akan tetap di sana, agar bunga-bunganya besok tetap tumbuh tidak dirusak oleh suaminya. Ia akan menjaganya.

Dan pagi pun menjelang, matahari menyapa dari balik perbukitan. Wanita itu tersenyum menghadap matahari pagi.

“Lihat, sumber kehidupan kita telah terbit. Beri salam padanya,” ujar Dihyan pada bunga-bunga tanamannya.

Kehidupan hari itu sudah bermula. Lalu lalang orang-orang di jalan depan rumahnya menatap taman bunga itu dengan pandangan kagum. Anak lelakinya keluar sudah lengkap dengan pakaian seragam putih merahnya.

“Aku berangkat sekolah, Bun.” Anak lelaki itu mendekat dan berpamitan padanya.

Ia usap kepala anaknya, mencium keningnya dan berdoa akan kebaikan untuk anak lelakinya itu.

“Ayah masih tidur,” tambah Aruna.

“Biarkan, Nak. Biarkan. Biarkan ia melampiaskan kegemarannya. Bersabarlah bersama Bunda.”

Aruna tersenyum dan melangkah pergi berangkat ke sekolah. Sementara Dihyan masih menatap rumahnya, berharap kebaikan melimpah pada rumah mungilnya. Berharap ada cahaya matahari menerangi kegelapan rumah karena sikap dingin Niscala. Ia ingin menjadi cahaya, seperti namanya, Dihyan yang berarti matahari.

Dihyan terus memendam rasa sakit di hatinya. Terus membiarkan tingkah Niscala sebagai suami yang tidak pernah memperhatikan dia dan anaknya. Membesarkan anaknya dengan upah sebagai guru honorer sangatlah kurang. Sedangkan Niscala, ketika keluar kadang pamit untuk bekerja hingga dua atau tiga hari.

Wanita itu sangat ingat dan menggeram menahan sakit di hatinya saat Niscala pulang dari kerja yang dua atau tiga hari itu, Niscala tidak memberinya uang.

“Kamu, kan guru. Bisa dapat uang tiap bulan!” sengit ucap suaminya.

“Tapi kamu tiga hari bekerja tentu mendapat uang. Tidaklah kamu lihat Aruna butuh biaya sekolah?”

“Gampang. Pakai gaji gurumu dulu.” Dan asap rokok pun mengepul dari mulut Niscala.

“Tapi kamu ayahnya. Yang wajib memberinya nafkah!” balas Dihyan dengan nada tinggi.

Niscala memandang tajam pada Dihyan. Tangannya mengepal. Ia hantamkan pada udara dan masuk ke dalam rumah. Pintu dibantingnya. Selepasnya hanya menyisakan gemuruh di dada Dihyan.

Dihyan ingat, waktu itu air mata yang ditahan, tak dapat lagi dibendung. Ia berlari menuju halaman yang ditanami bunga. Dan menangis di sana. Air mata serupa pupuk yang membuat bunga-bunga di tamannya semakin subur

Setelah Aruna lenyap dari pandangannya pagi ini, Dihyan ingin beranjak pergi dari halaman, tapi kakinya berat untuk diangkat. Ada serabut serupa akar yang menghunjam ke tanah. Ia menunda keinginannya untuk beranjak dari taman itu. Ia benamkan diri bersama bunga-bunga. Mengalihkan hati dan pikiran dari sikap kasar Niscala. Hanya dengan itu ia berharap mampu mengubah watak sang suami. Bunga melambangkan kelembutan, dan Dihyan ingin kelembutannya menular dan melunakkan sikap Niscala.

Ia harap begitu.

***

Satu per satu orang desa mendatangi taman bunga Dihyan. Mereka mengagumi dan dibuat heran dengan satu bunga yang bersinar terang. Kelopak kuning mengelilingi lingkaran putik di tengah. Dengan pohon lurus dan disertai daun lebar di beberapa titik dahan berwarna hijau. Satu-satunya bunga matahari di taman itu. Paling tinggi di antara bunga lain. Dan tentunya, bunga itu bersinar, menghadap rumah dan menerangi rumah itu.

Niscala keluar rumah membawa sabit dengan wajah penuh amarah. Ia menyibak sekumpulan orang yang mengagumi bunga matahari yang tumbuh paling mencolok di sana.

“Pergi semua! Akan aku babat habis bunga-bunga tidak berguna ini!” kata Niscala penuh amarah. “Dan pergi kalian semua dari sini!”

Berangsur warga desa pergi dari halaman sambil berbisik, merasa kasihan akan sikap Niscala yang tidak memiliki kepedulian.

Setelah warga pergi, Niscala mendekati taman bunga di depan rumahnya itu. Ia tersentak melihat bunga matahari yang paling menarik perhatiannya. Langsung ia menuju bunga matahari yang bersinar. Ia kagum, ia dekatkan wajah pada kelopak bunga tersebut.

“Aku tahu kamu,” ujar Niscala pelan. Suaranya bergelombang.

Hatinya bergetar hebat, sabitnya jatuh ke tanah. Ia cium bunga itu. Aroma wangi menjalar ke seluruh tubuhnya. Dilihatnya dari putik bunga matahari itu muncul titik-titik air. Hati Niscala merasa tersiram embun.

“Kamu menangis? Hentikan tangismu. Kamu tak akan mudah menangis seperti ini.”

Angin menyusuri perbukitan itu. Mendung makin menggulung di langit. Niscala sekali lagi mencium bunga matahari yang menyinari rumahnya itu. Ia lalu beranjak menuju teras rumahnya. Rencananya membabat habis bunga-bunga itu dimusnahkan. Ia pandangi bunga-bunga itu. Dan pandangannya tertuju pada bunga matahari yang sinarnya menusuk jiwa Niscala.

“Kamu Dihyan,” gumamnya di teras rumah. “Ya, kamu Dihyan. Bunga Dihyan.”

Ada rasa kehilangan di hati Niscala. Seseorang baru merasa kehilangan sesuatu jika ia tak lagi memperhatikan sesuatu itu. Hati Niscala seketika kering dalam musim hujan bermula.

Hujan pertama di bulan November langsung membadai. Deras tiada ada celah. Air seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Awan gelap. Hitam. Tak ada noktah putih pun di atas sana. Begitupun angin menderu membuat air yang tumpah pontang-panting ke sana ke sini.

Hanya bunga matahari di depan rumah itu yang tak tergoyahkan badai hari itu.

            Untuk D

11 November 2018

========

Danang Febriansyah, mengelola Taman Baca Naturalitera dan tergabung dalam Forum Taman Baca Masyarakat Kab. Wonogiri. Belajar menulis bersama Sastra Alit Surakarta dan #KampusFiksi Jogja serta FLP. Beberapa karyanya, Cerpen, Puisi dan Resensi Buku pernah dimuat di media massa. Buku puisinya “Hujan Turun di Desa” terbit 2018. Novelnya “Arundaya” terbit pada 2019. Juga beberapa buku antologi yang diterbitkan baik melalui penerbit mayor maupun indie. Kini tinggal di Bulukerto, Wonogiri.

Di Tubuhku, Durjana Itu Meledak, Teta

0

Teta-ku, Um Halimah sudah lama meninggal, jauh sebelum Zionis berhasil menduduki sebagian wilayah Gaza. Ia sering mengatakan bahwa peperangan tidak pernah memberikan belas kasihan kepada siapa pun yang terlibat di dalamnya. Teta-ku betul. Banyak orang-orang mati di dalamnya: Palestina dan Israel sama-sama telah kehilangan banyak nyawa, sementara perang tidak tahu kapan berakhirnya.

“Jika aku adalah Allah. Aku akan dengan mudah menghentikan semuanya,” kata Teta. Aku menyetujuinya. Tapi, siapalah aku dan Teta ini selain segelintir orang yang harus merasakan betapa kejamnya penindasan Kaum Yahudi, dan menjadi saksi bahwa perang tidak menghasilkan apa pun kecuali derita dan kepahitan.

Ketika Teta-ku meninggal, karena sakit tua, aku tidak terlalu larut dalam kesedihan. Bagiku, kematian Teta-ku jauh lebih manusiawi ketimbang kematian orang-orang Palestina lainnya yang kebanyakan mati mengenaskan: karena ledakan bom, granat yang terinjak, peluru dari senapan tentara Israel, atau tertimbun puing-puing dari bangunan yang roboh terkena ledakan misil.

“Tak perlu takut akan kematian, cucuku,” nasihat Teta, sehari sebelum malaikat maut menjemputnya. “Sekarang atau nanti, apa bedanya? Perang tidak bisa memberikan pilihan lebih baik bagi kita,” tambahnya. Aku mengangguk dan mencoba memahami akan maksud omongan Teta.

Mariam mendatangiku terlalu pagi. Aku yang sedang menyiapkan Ghada untuk keluargaku terkejut akan kedatangannya yang tidak sesuai rencana. Keluarga yang kumaksud adalah Khalto Sha’adah, suami, beserta dua anaknya, yang telah menampungku selama ini, setelah aku tidak memiliki keluarga dan tempat hunian.

Mariam datang dengan mengenakan galabiyas berwarna kelabu, sewarna dengan niqab-nya juga. Bola matanya yang secerah matahari, mengilatkan semangat luar biasa yang sempat hilang dari dirinya. Aku menyapanya dalam kesibukan yang aku lakukan.

“Sepagi ini?” tanyaku.

“Apa salahnya?” Mariam mengerlingkan matanya.

“Tak sesuai rencana,” sesalku.

“Kau keberatan?”

“Ya … dan tidak.”

Aku menyuruh Mariam untuk menunggu sebentar. Seraya menuangkan karkadeh ke dalam cangkir, untuk menjamu Mariam, aku mencari Khalto Sha’adah untuk sekadar berpamitan. Aku menemukannya di ruang tengah dengan tangan kanannya yang belepotan labneh

“Khalto, aku pergi sebentar,” pamitku. “Bersama Mariam.”

Khalto menatapku dengan bola mata kuatir. Aku tahu, ledakan bom bisa terjadi kapan dan di mana saja. Aku mengelus punggung tangannya untuk menenangkan. “Aku akan baik-baik saja,” ucapku.

Allah ma’ek, Habibti,” ujarnya lirih. Aku mengangguk.

***

Ledakan itu terdengar begitu dekat dari tempat aku berdiri. Mariam, sudah sejak tadi bersembunyi di antara puing-puing yang terserak di sekitar kami: tempat bangunan sekolah kami dulu berdiri, juga tempat pelayanan publik lainnya semisal kantor pos. Aku tidak berusaha untuk bersembunyi seperti yang dilakukan oleh temanku itu.

Beberapa bulan lalu mungkin aku akan begitu ketakutan ketika bom-bom itu meledak. Letusan senapan dan bau mesiu sama sekali tidak berpengaruh banyak terhadapku, untuk sekali ini. Semenjak Israel menyerang daerah kami, aku mulai terbiasa dengan bunyi-bunyi dahsyat sang angkara murka yang menamakan dirinya Perang. Dulu, enam bulan yang lalu, tatkala ledakan bom disertai jerit tangis dan teriakan orang-orang, aku kerap membayangkan bahwa itu adalah jeritan Ibu, atau Ayah, atau adikku, Anwar, atau Sallamah, kakakku, atau teriakan aku sendiri yang terlempar serpihan puing dan ledakan bom. Dan aku merasa begitu ketakutan bahwa aku akan kehilangan mereka semua.

Ketakutan itu telah hilang. Semenjak aku tidak lagi bisa mendengar jeritan mereka—mereka semua telah tewas ketika serangan udara Israel meluluh-lantakkan Naqba, kampung pinggiran di Jalur Gaza, tempat keluarga kami tinggal. Tidak ada yang tersisa kecuali aku dan kepiluan akan kehilangan atas orang-orang yang kucintai.

“Harusnya aku ikut mati, seperti orang-orang yang kucintai.” Aku kerap berpikir bahwa Allah masih berbaik hati padaku, walau pada kenyataannya, pada satu kesempatan dalam sebuah perenungan, aku lebih menginginkan mati bersama mereka semua, ketimbang harus hidup dihantui oleh ketakutan dan kenangan buruk perihal mereka.

Ledakan itu terdengar lagi. Asap hitam mengepul-ngepul di udara. Siapa lagi yang tewas dan menjadi korban kebuasan para durjana? Pikirku, apa yang mereka inginkan selain nyawa-nyawa tak berdosa kami? Kekuasaankah? Pengakuan sebagai Penguasa Baru di tanah kami, atau apa?

Jawaban itu meledak beberapa meter di belakang tempatku berdiri. Tubuhku terlempar beberapa meter ke depan, berguling-guling, lantas mendarat dengan mulut mencium tanah berpasir yang sudah lama berbau mesiu, tempat jiwa kami terabaikan.

“Najmiyeh! Cepat lari. Aku di sini!” Dari celah puing-puing bangunan yang terserak, suara Mariam terdengar dengan getar yang dibalut kecemasan. Aku masih berbaring di atas tanah berpasir sementara dentuman-dentuman keras terdengar silih berganti dari radius yang saling berdekatan.

Seperti kebiasaan kami berdua, tempat ini adalah tempat terbaik bagi kami untuk berbincang perihal apa saja. Lebih sering kami saling berbagi penderitaan satu sama lain perihal kehilangan demi kehilangan yang harus kami lewati. Siang ini rencananya kami hanya singgah sebentar sekadar mengenang kepergian orang-orang tercinta di antara kami. Mariam menunjukkan shabka yang dikenakannya dengan kesedihan yang mencoba disembunyikannya. Mariam tiga tahun lebih tua dariku ketika menerima pertunangan dari lelaki bernama Mahmoud, yang pada masa berikutnya pertunangan itu tidak pernah lanjut ke jenjang pernikahan sehubungan kematian Mahmoud di tangan seorang tentara Israel. Mariam sedih, namun tetap berusaha untuk tidak melepas cincin itu. Aku mafhum.

Bukan hanya aku yang merasakan penderitaan sepedih itu, sebagian besar kami merasakannya. Mariam tidak kehilangan ayah, ibu, atau adik laki-lakinya, kecuali Mahmoud dan juga Najmiyeh Ullum, kakak perempuannya yang nama depanya sama denganku. Najmiyeh ditemukan tewas di pinggir sungai dengan tubuh nyaris telanjang sementara selangkangannya yang tertutup kain tipis tampak mengalirkan darah dan noda berbau amis sperma. Najmiyeh hilang semalaman, menyisakan kepanikan dan rasa kuatir Mariam dan keluarganya. Semenjak itu, ke mana pun Mariam pergi, ia selalu menyembunyikan pisau yang terlilit kain di pangkal paha yang ia sembunyikan dibalik thobe yang dikenakannya. Mariam berdalih akan membunuh orang Israel mana pun yang hendak menjamahnya sebagai upaya pembalasan dendam. Itu tidak pernah terjadi, hingga saat ini.

“Bangsat Israel!” geramku seraya berusaha bangkit dari tempatku terlempar.

Tidak ada yang bisa kulakukan selain memaki. Aku yang dua belas tahun tak lebih ringkih dari perempuan remaja manapun sepanjang Jalur Gaza ini.

Sebenarnya aku ingin membalas semua yang telah mereka lakukan dengan menjadi prajurit dan ikut berjuang membela hak-hak kaum kami. Sayangnya, ayah tidak mengizinkan.

“Ayahmu tidak ingin kehilanganmu, Nak?” cegahnya suatu saat.

“Apa bedanya?” pikirku. “Sekarang atau nanti kita akan hilang atau tewas ditembaki para Zionis.” Namun, aku tidak mengatakannya.

Ayahku seorang pejuang, dulunya, sebelum kehilangan kedua kakinya akibat ranjau darat yang dipasang tentara Israel di Beit Daras, ketika berperang. Saat itu ayahku hanya mampu berbaring di atas tempat tidur dalam keringkihannya dengan air mata kerap tak terbendung tatkala saudaranya tewas satu persatu dalam peperangan tak berkesudahan ini. Ayahku meninggal saat bom meledak di perkampungan kami, Naqba, bersama Ibu, dan kedua saudaraku, sementara aku selamat sendirian.

“Aku harus membalas mereka semua!” teriakku setelah mampu berdiri. Aku tidak berlari ke arah puing-puing tempat Mariam bersembunyi ketakutan, melainkan sebaliknya, berlari ke arah tempat ledakan-ledakan itu pecah bergantian.

“Apa yang kamu lakukan, Najmiyeh? Bahkan kamu tidak sedang menyandang senjata apa pun!” teriak Mariam. Aku tidak peduli.

“Najmiyeh! Kembali!” teriak Mariam lagi.

Aku tak peduli. Aku mungkin tak bisa membunuh mereka dengan senjata. Setidaknya ada banyak orang terluka di sana yang membutuhkan pertolongan. Itu yang ingin kulakukan dalam kegeraman yang tidak memiliki muara ini.

“Najmiyeh! Kembali! Kembali kataku!” teriakkan itu berkelindan dengan desingan dan ledakan yang muncul tiba-tiba dari arah belakang puing-puing. Aku menyadari bahwa hawa panas menerjangku tiba-tiba. Aku menyadari bahwa hawa panas itu berasal dari udara yang terbakar yang kini menjilati tubuhku ini. Aku kehilangan tubuhku dalam kesakitan yang janggal. Aku merasakan kesakitan yang teramat perih. Walau setelahnya aku merasakan sebongkah kebahagiaan yang tidak terperi meletup dalam dadaku. Aku mungkin akan segera bertemu dengan Ayah, Ibu, saudaraku. “Persetan dengan perang! Persetan dengan segala ketakutan dan kengerian! Persetan semuanya!”

Mariam keluar dari persembunyiannya setelah suara ledakan itu tak terdengar lagi. Semuanya mulai sunyi kecuali kepulan asap yang membubung tinggi ke udara, bau mesiu, dan rintihan pilu orang-orang yang terluka. Mariam tak menemukan utuh tubuhku selain serpihan daging-daging yang gosong terpanggang api. Aku menangis saat menyaksikan Mariam menangis di atas tubuhku yang tak lagi utuh.

“Allahu Akbar! Aku berdoa kepadamu agar perang ini cepat usai, dan izinkan Mariam tetap hidup dan kembali kepada keluarganya dalam keadaan utuh. Dan izinkan aku bertemu dengan orang-orang yang aku cintai. Kesakitan dan segala kepiluan ini telah berakhir bagiku. Ya, Allah, hentikan semuanya dan biarkan hidup mereka damai seperti sedia kala.”

Garut, Maret 2020



===========================

Utep Sutiana, lahir dan besar di Garut, 28 Juni. Pernah tergabung dalam beberapa Buku Antologi, baik berupa cerpen maupun puisi.

Penghuni Lantai 18

0

Seorang laki-laki meloncat dari balkon lantai 18 sebuah apartemen tua di pinggir kota, tempat di mana Tokoh Kita tinggal sendirian selama hampir lima tahun belakangan. Kepala laki-laki malang itu menghantam tembok lapangan bermain anak-anak, yang pada pagi dan sore hari biasanya menjadi tempat berkumpul ibu-ibu dan para pengasuh. Untung saja, saat laki-laki itu terjun bebas dari balkon apartemennya selepas azan Magrib, lapangan itu sedang sepi. Namun, bunyi berdebam dari benturan keras antara kepala dan tembok semen jelas telah menarik banyak mata untuk menoleh. Beberapa penghuni yang kebetulan duduk atau tengah lewat di sekitar situ langsung menghambur ke titik tempat laki-laki itu kini telah menjadi mayat. Dan, tak butuh waktu lama hingga kemudian orang-orang datang mengerubungi. Bukan untuk menolong, tentu saja, tapi untuk mengambil foto atau merekam video lalu membagikannya di media sosial masing-masing.

Kehebohan sempat berlangsung selama beberapa menit. Mungkin orang-orang di sana ingin memastikan bahwa yang bunuh diri itu bukan keluarga, kenalan, kekasih, ataupun simpanan mereka. Namun, begitu mereka yakin bahwa laki-laki itu bukanlah orang yang mereka kenal, satu per satu segera mundur, lalu kembali asyik-masyuk dengan gawai di tangan. Komentar teman-teman di dunia maya tentu lebih penting ketimbang berusaha sedikit saja menutupi jenazah korban dengan koran atau apa saja.

Dan, seperti biasa, seperti yang mungkin juga sudah Anda duga, petugas datang hampir setengah jam kemudian. Tentu saja bukan karena mereka tidak tahu tentang kejadian naas itu, melainkan karena demikianlah prosedur yang harus mereka patuhi.

Tokoh Kita hanya bisa bergidik menyaksikan pemandangan tak mengenakkan itu. Ia sebenarnya tak ingin ambil pusing dengan apa yang terjadi di sana, dan seperti biasa, seperti yang sudah-sudah, ia bergegas menuju lift untuk naik ke unit kontrakannya. Tapi, mulut para penghuni yang tak henti membicarakan tentang kemalangan laki-laki pelaku bunuh diri itu tetap saja sampai ke telinganya, dan bahkan, dari percakapan-percakapan mereka, ia bisa mendapatkan gambaran yang sangat rinci mengenai kondisi terakhir laki-laki itu: pinggangnya yang terpelintir patah; kedua bola matanya yang mendelik; hingga benaknya yang berceceran.

Kejadian seperti ini sebenarnya bukanlah hal baru di kota ini. Berita tentang orang bunuh diri terdengar hampir terjadi setiap hari, dengan motif yang beragam. Media pun seolah berlomba-lomba memburu berita tentang fenomena bunuh diri ini, menceritakan setiap detail peristiwa, sebab-musabab, hingga mewawancarai orang-orang terdekat pelaku. Meski sempat dilarang pemerintah karena alasan tertentu, orang-orang media sepertinya punya taring yang lebih kuat. Bahwa memberitakan peristiwa bunuh diri adalah cara terbaik untuk mencegah korban berikutnya, demikian mereka berargumen.

Bagaimanapun, kejadian orang mengakhiri nyawanya secara paksa tetap tak bisa dihentikan. Bahkan, belakangan, media pun tak lagi bisa mengulik motif para pelaku bunuh diri, yang beberapa di antaranya sengaja meninggalkan pesan singkat bahwa mereka bunuh diri hanya karena begitulah mereka ingin mengakhiri hidup, bukan karena himpitan masalah, depresi, ataupun sebab-sebab lainnya yang biasa dijadikan alasan oleh para pelaku.

Orang-orang mengarahkan telunjuk pada pemerintah, menyalahkan lambannya upaya pencegahan yang dilakukan selama ini. Pemerintah pun dinilai tidak tegas dalam menghentikan media mengabarkan berita terkait bunuh diri, yang oleh kelompok tertentu dianggap menjadi pembenaran bagi calon pelaku untuk melancarkan niatnya. Mereka pun menuduh pemerintah kongkalikong dengan media, dan pada beberapa kesempatan, isu ini dimanfaatkan oleh opisisi sebagai amunisi untuk menyerang pemerintah.   

Tokoh Kita, bagaimanapun, tak ingin melibatkan diri dengan semua itu. Sudah sejak lama ia tak lagi peduli dengan segala kebijakan yang diambil oleh pemerintah, pun dengan berbagai protes dan kritik yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok tertentu terhadap pemerintah. Hidup sudah terlalu rumit, dan ia tak ingin menambah pusing kepalanya dengan semua itu.

Begitulah, ketika akhirnya ia masuk ke apartemennya, Tokoh Kita akan segera memulai ritual malamnya: mengunci pintu dan jendela, menyalakan AC (yang suhunya selalu ia set pada 23 derajat), mengguyur badannya selama beberapa menit, lalu dengan telanjang bulat, ia akan masuk ke dalam sungkupan selimut. Biasanya ia akan tertidur pada menit ketujuh setelah kepalanya menyentuh bantal, atau jika matanya susah terpejam, ia akan memutar lagu-lagu kesukaannya, yang biasanya ampuh mengantarnya ke alam mimpi.

Alarm akan membangunkannya pada pukul lima lewat dua puluh menit. Lima menit akan ia habiskan dengan menatap langit-langit kamarnya, mengumpulkan kesadaran dari kelana malam. Bangkit, ia akan menuju lemari pendingin, mengambil segelas air dan menenggaknya hingga habis. Lima menit berikutnya, ia akan menuntaskan segala hajat di kamar mandi, membasuh diri sesegera mungkin, dan segera bersiap ke tempat kerja. Memulai rutinitas sebagai mesin pekerja, demikian ia mengistilahkan kesehariannya sebagai seorang karyawan di sekolah bahasa tempat ia bekerja.

Awalnya, bermodal ijazah yang ia peroleh dengan susah payah selama hampir lima tahun, Tokoh Kita melamar ke sekolah itu sebagai tenaga pengajar, seperti yang selalu ia cita-citakan sejak lama. Pendidikan adalah intervensi paling beradab untuk mengubah dunia ke arah yang lebih baik, begitu prinsip yang ia pegang. Ia ingin menuliskan jalan kebaikan di kepala anak-anak yang masih putih bersih, menuntun mereka secara perlahan menjadi manusia yang tidak hanya bisa menambah kerusakan di dunia yang sudah sakit ini.

Namun, liukan takdir membawanya ke jalan yang sedikit berbeda: ia tidak diterima sebagai tenaga pengajar di sana, tapi karena kebetulan mereka sedang mencari seorang tenaga administrasi untuk menggantikan petugas lama yang baru mengundurkan diri, ia pun ditawari posisi tersebut. Saya bersedia, jawabnya waktu itu, penuh keyakinan. Ia berpikir, meski tak bisa terjun langsung mengajar anak-anak, dengan menjadi petugas administrasi di sekolah, ia tentu masih bisa mempelajari perkembangan mereka, yang semoga suatu hari kelak bisa ia pergunakan untuk hal-hal lain seperti menulis buku, menjadi pembicara, dan – seperti yang terus ia usahakan – jika ia menjadi pengajar nantinya.

Tentu saja waktu itu Tokoh Kita tak pernah membayangkan bahwa kerja yang menunggunya adalah tumpukan kebosanan yang tak pernah berujung. Lembar-lembar kertas, dokumen dan surat-surat, buku-buku, semua menunggunya setiap pagi, menyita lebih dari delapan jam yang harus ia berikan untuk sekolah itu, di luar panggilan-panggilan telepon serta tugas-tugas lain yang tidak disebutkan secara rinci di kontrak kerja.

Meski sempat mencoba peruntungan dengan mengajukan surat lamaran ke tempat kerja lain, Tokoh Kita akhirnya belajar satu hal: ia tak seistimewa yang ia pikir. Dan, pekerjaan yang kini ia tekuni adalah hal yang sepatutnya ia syukuri, mengingat jutaan orang di luar sana masih terus terombang-ambing dalam gelombang pengangguran. Bukankah pekerjaan inilah yang mampu membawanya keluar dari kamar kontarakan kumuh di pusat kota dan mampu menyewa apartemen – terlepas dari kondisinya yang ternyata juga memperihatinkan – yang lebih layak?

Demikianlah, hingga tahun-tahun berlalu, hingga ia tak lagi bisa membedakan antara dirinya dengan mesin yang sudah disetel oleh teknisi untuk bekerja sesuai instruksi yang sistem yang ada. Bahkan, pada hari-hari yang sangat membosankan, ia merasa telah menjadi bagian dari lembaran-lembaran kertas dan dokumen-dokumen sekolah yang selalu menumpuk di meja kerjanya.

***

Tokoh kita pernah jatuh cinta, tentu saja. Seorang guru bahasa Prancis yang sedang magang di sekolah itu berhasil mencuri hatinya. Senyum rekah gadis itu adalah api yang menghangatkan hari-hari Tokoh Kita yang dingin, yang membuatnya bangun dengan lebih bersemangat dan melupakan kebosanan hidup yang memaksanya berputar pada siklus yang sama hampir setiap waktu. Kehadiran gadis berkacamata itu mampu mengubah warna langit menjadi lebih biru dan bunga-bunga apa saja yang tumbuh di halaman sekolah terlihat lebih indah. Lidahnya pun terasa lebih sensitif, bisa mencecap rasa yang lebih dalam, menikmati sensasi yang belum pernah hadir sebelumnya. Ia makan lebih banyak, memuji dan menandaskan makanan yang sebelumnya bahkan tak pernah sanggup ia habiskan.

Sebagai guru magang yang membutuhkan ini-itu terkait administrasi dan dokumentasi, ia mendapatkan banyak kesempatan untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan gadis itu. Namun, Tokoh Kita yang sopan tak pernah mempunyai keberanian yang cukup untuk membicarakan hal-hal lain di luar topik yang berkaitan dengan apa yang dibutuhkan oleh gadis itu. Bahkan, untuk sekadar menanyakan apakah gadis itu bersedia makan bersamanya di kantin sekolah pada saat jam istirahat saja – sesuatu yang rasanya sangat wajar dilakukan oleh seorang lelaki kepada gadis yang dipujanya – ia sungguh tak mampu. Akan datang masanya, begitu ia berulang-ulang mengatakan pada dirinya sendiri setiap kali godaan untuk melontarkan pertanyaan itu muncul. Akan datang waktu yang tepat untuk memulai semuanya dengan cara baik-baik, pikirnya. Diam-diam, Tokoh Kita mulai belajar beberapa frasa dan kalimat dalam bahasa Prancis yang rencananya akan ia ucapkan saat mereka bisa mengobrol santai suatu hari nanti.

Namun, genap tiga bulan gadis itu bekerja di sana, saat masa percobaan mengajarnya selesai, Tokoh Kita yang masih menunggu waktu yang tepat itu, akhirnya mengerti konsekuensi dari kepengecutannya. Pada hari saat ia tak lagi menyandang status guru magang, gadis itu datang ke mejanya bersama Eric, rekannya sesama guru bahasa Prancis yang blasteran. Setelah mengambil beberapa dokumen terkait pengangkatannya, gadis itu mengajak Tokoh Kita untuk bergabung bersama mereka di kantin sekolah siang itu. Tokoh Kita tentu paham bahwa ajakan itu tak lebih hanyalah basa-basi yang tak perlu ia tanggapi dengan serius. Ia hanya mengatakan, “Terima kasih banyak, tapi saya masih punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan….” lalu buru-buru mengangkat setumpuk besar dokumen ke meja kerjanya dan berpura-pura tak melihat genggaman tangan keduanya yang sedari tadi melekat seolah tak ingin dipisahkan barang sedekit pun.

Begitulah, hingga perlahan Tokoh Kita kembali menjalani kesehariannya dengan ritme yang sama: bangun pukul lima lewat dua puluh menit, menghabiskan waktu beberapa menit berikutnya untuk menatap langit-langit kamar, masuk ke kamar mandi untuk membuang hajat dan membersihkan diri, untuk kemudian segera bersiap berangkat ke tempat kerja. Di meja kerjanya, tumpukan laporan, surat, dan dokumen sudah menunggu untuk ia pilah, pelajari, salin, dan memasukkan semuanya ke dalam tabel-tabel atau grafik yang bisa dibaca dengan cepat oleh bagian manajemen. Begitu jam kerja usai, ia akan bergegas menuju halte, menunggu bus ke arah apartemen tua tempat ia tinggal.

Selama bertahun-tahun, semua akan berjalan persis seperti itu setiap hari, kecuali terjadi gangguan-gangguan kecil seperti kasus laki-laki yang meloncat dari lantai 18 itu. Dan, entah kapan Tokoh Kita akan menyadari bahwa laki-laki itu tak lain adalah dirinya sendiri. ***

Bekasi, 30 Desember 2019





======================
Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, Hikayat Bujang Jilatang terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul Di Palung Terdalam Surga bisa dibaca di Pitu Loka (2019). Kini menetap di Bekasi, Jawa Barat.

Kesaksian Lakasse

0


Menggelesot di lantai, di samping Undung yang menggigil ketakutan, Lakasse butuh berpuluh kali mengatur hela napas baru mampu bercerita. Ia bilang ke polisi, ketika kakinya hendak menjejak anak tangga pertama terdengar suara letusan, dan ia yakin saat itulah kepala Tuan Bulke ditembus peluru. Masih separuh dari tiga belas anak tangga menuju lantai dua, tempat kejadian itu, belum ia jejaki, saat dua orang muncul tergopoh dari atas. Kedua orang itu sampai melompati dua anak tangga sekaligus setiap melangkah ke bawah. Ia mengaku mengenal kedua orang itu seperti ia mengenal Undung.

Sampai di atas, demikian ia meneruskan ceritanya, ia masuk ke tempat kejadian dan mendapati Undung menggigil serupa meriang. Tubuh Tuan Bulke ada di lantai, duduk bersandar ke tembok, kepala terkulai dan dinding di belakangnya bernoda percik darah. Tersentak melihat kondisi tubuh blasteran bule itu, sontak membuat baki yang menadah empat gelas kopi yang ia antar lepas terpelanting.

Bermaksud mengkonfrontir keterangan yang Lakasse berikan, polisi berpaling ke Undung. Yang ditatap hanya mangap, tanpa ada kata tercetus dari mulutnya, dan lama baru polisi menyadari Undung ternyata gagu.

***

Lakasse merasa hidupnya betapa sial. Ia ada di tempat yang salah pada saat yang salah pula. Tak usai-usai ia termangu dirundung sesal. Kisruh pikirannya kian kusut kasau saat ada teman membisiki, “Kalau keteranganmu di depan polisi tidak meyakinkan, bisa-bisa kamu yang jadi tersangka.” Lakasse bergidik membayangkan bila ia yang harus diterungku sebagai pembunuh Tuan Bulke.

Undung masih saja panik. Tak mungkin mengorek keterangan darinya. Di depan polisi yang memeriksanya, Undung malah kehilangan kemampuan berbahasa isyarat. Gerak tangan dan geletar bibirnya tak terpahami. Sesekali dia melempar pandang ke arah Lakasse, seakan minta dibantu. Dalam gigil ketakutan akibat impitan syok, akhirnya dia dirawat di rumah sakit.

Anca dan Dengka, dua saksi lain yang ada di tempat kejadian dan sempat berpapasan dengan Lakasse di tangga, langsung pula menghilang, dan selang dua hari Anca malah menyusul jadi mayat. Tubuhnya ditemukan menggembung terapung di bawah jembatan. Dugaan serampangan mengatakan Anca terjatuh, atau malah sengaja menceburkan diri ke dalam luap air sungai karena tekanan insiden tertembaknya Tuan Bulke. Sedang Dengka, masih belum ditemukan. Runtunan kejadian itu membuat posisi Lakasse kian sulit; ia jadi satu-satunya saksi yang bisa dimintai keterangan.

Akal Lakasse jadi mampet. Saat termangu, teman yang bersimpati kembali membisiki, “Lebih baik kamu minta pengakuan langsung dari kedua almarhum.”

“Dia kan sudah mati?” Lakasse mengerucutkan hidung, mengernyit.

“Sini, kuajarkan caranya …,” temannya menjelaskan. “Ingat, orang yang semasa hidupnya baik pada kita, biasanya setelah dia tiada, arwahnya akan baik pula pada kita. Aku yakin mereka bisa membantu melengkapi kesaksianmu.”

Serupa api, semangat Lakasse mulai murup. Tuan Bulke dan Anca yang telah tiada itu, saat hidup memang baik padanya. Malah suka memberinya tip. Sontak ia berpikir, arwah keduanya tentu baik pula padanya, pasti bersedia memberi tahu kronologi kejadian agar ia terelak dari kemungkinan jadi tersangka.

***

Sehari jelang agenda pemeriksaan, Lakasse memutuskan menemui saja arwah kedua almarhum. Seorang diri ia datang ke pekuburan. Pucuk dicinta, bulan sedang berbaik hati mengirim sebagian cahayanya, membuat ia tidak sulit menemukan posisi nisan yang ia cari. Ia hadir pada penguburan keduanya, jadi ia tahu di mana nisan mereka terpacak.

Nisan Tuan Bulke berada pada tanah menanjak di sisi bukit. Sedikit ke bawah, pada tanah landai, tempat Anca dikuburkan. Lakasse yakin arwah keduanya belum ingin terlalu jauh dari jasad masing-masing, dan tentu mau menemuinya. Berjongkok di antara nisan itu, sedikit lebih dekat ke nisan Tuan Bulke, ia mencoba memusatkan pikiran: dengan khidmat mengenang wajah dan sosok kedua almarhum.

Di sela riuh kerik serangga malam yang saling-timpa, ia berharap akan muncul pula suara-suara pelan arwah itu. Namun, hingga separuh malam terlampaui, sampai bagian kulitnya yang terbuka mulai perih dicucuki nyamuk, yang ia harap tidak terjadi. Jangankan bisik lirih, tanda-tanda keberadaan makhluk dari dunia gaib, dengan ciri bulu tengkuk meremang, tidak juga ia rasakan. Yang meremangkan bulu di lengannya hanya embus angin, membuatnya menggigil.

Dingin dan perih pada permukaan kulitnya, membuat Lakasse menyerah. Sempat terpikir untuk mengubah posisi, sedikit lebih merapat ke nisan Anca, tapi ia urungkan begitu ada pikiran lain melintas di benaknya: jangan-jangan arwah kedua orang itu malah masih berkeliaran di tempat kejadian?

***

Sejak peristiwa penembakan di salah satu unit pada gedung itu, sebagian penyewa memilih pindah, membuat beberapa bagian bangunan agak gelap. Lakasse masuk dari bagian belakang gedung. Kamarnya menyempil di pojok, dari mana ia bisa menyusuri lorong menuju tangga ke lantai dua. Sembari membesarkan hati bahwa arwah kedua orang itu masih ada di dalam ruangan, siapa tahu malah sedang bertengkar, ia mendorong pintu yang tidak rapat dan menunduk dari garis polisi. Ia masuk, berharap segera mendengar pertengkaran itu.

Unit yang disewa Tuan Bulke sedikit lebih besar dari yang lain, memiliki ruang tamu tersendiri. Lakasse bingung ketika ada di dalam. Apa sebaiknya berteriak saja memanggil arwah itu? Nyala bohlam di atas kepalanya redup, memaksimalkan belalak matanya. Bercak darah yang sudah mengering di dinding sempat ia lirik, sebelum duduk di kursi. Ia menduga kursi itu yang diduduki Tuan Bulke sebelum ditembak.

Sebagai petugas pembersih, senyampang ia bertugas kerap pula dimintai jasanya oleh penyewa untuk dibuatkan kopi atau mi siram, kadang juga membelikan rokok. Makanya ia cukup mengenal Tuan Bulke, termasuk ketiga tamunya yang sering berkunjung. Seraya menduga-duga saat kejadian mungkin Tuan Bulke sedang marah, lalu berdiri dan bergeser ke sisi kiri kursi sebelum terempas ke tembok oleh sentak peluru, Lakasse melengketkan tengkuk ke sandaran kursi. Ketika ia rasakan bulu-bulu di kuduknya meremang, ia yakin arwah korban sudah masuk ke dalam ruangan.

Segera ia bertafakur, berupaya lebih dalam mengenang sosok kedua almarhum. Ia berharap sebentar lagi ada di antara kedua arwah itu yang berkenan mengajak bercakap, atau lebih bagus bila mereka saja yang bertengkar, agar ia bisa menyimak apa yang menjadi penyebab sampai kepala Tuan Bulke dilubangi peluru. 

Namun, dalam detak jam demi jam tubuh Lakasse terhenyak di kursi, jangankan mendengar bisik paling lirih, kehadiran arwah itu malah ia rasa menjauh. Remang bulu di kuduknya hilang, membuat ia menduga arwah itu tidak berkenan melakukan persamuhan karena ia ada di situ.

Dalam dera lelah dan kantuk yang tak kuat lagi ia tahan, ia tertidur. Saat sedang tertidur itulah ia baru bisa melihat arwah itu datang, berebut memberi penjelasan: sangat riuh, saling tunjuk dan saling bentak, sebelum diakhiri suara letusan pistol. Suara itu membuat Lakasse terlonjak dari kursi.

Matanya memicing ke arah kaca jendela yang sudah benderang. Kepalanya terasa pengar. Perlahan ia sadar telah tertidur hingga pagi. Dugaan suara letusan yang membuatnya terlonjak bangun cuma suara empas salah satu pintu yang berjejer di luar, buru-buru ia sisihkan.

***

Dengan semangat berlambak, Lakasse membabar pengakuan di depan polisi, “Anca, Dengka, dan Undung itu, memang sering datang ke tempat Tuan Bulke. Ketiganya ke situ untuk bermain kartu … berjudi, maksud saya. Dan Tuan Bulke selalu saja menang, sedang tamunya selalu kalah. Oya, Tuan Bulke itu kerjanya memperanakkan uang … maksud saya, membungakan uang, semacam rentenirlah. Jadi, setelah kalah dan masih ingin bermain, ketiga tamunya akan meminjam uang dari Tuan Bulke. Pinjaman itu berbunga sangat tinggi. Begitulah seterusnya, berulang-ulang. Akibat selalu kalah, dan terus juga minta tambahan pinjaman, membuat utang ketiga tamunya makin menumpuk. Karena kesal, mulai pula curiga, ketiganya lalu menuding Tuan Bulke telah membodohi mereka. Ketiganya seia-sekata menuduh Tuan Bulke menggunakan trik-trik sulap pada kartu-kartu permainan mereka, sampai mereka selalu saja kalah dan cuma Tuan Bulke yang selalu menang. Akhirnya mereka cekcok, ribut saling tuding. Dengka dan Anca lalu bersepakat mengeroyok Tuan Bulke. Tuan Bulke buru-buru menarik laci, mengambil pistolnya. Kemudian terjadi perebutan pistol itu. Dengka yang berhasil merebut pistol, langsung mengarahkan ke Tuan Bulke, tapi Anca menghalangi. Anca tidak ingin bila sampai harus menembak tuan rumah, makanya dia berusaha merebut kembali pistol itu. Undung ikut pula membantu, kembali terjadi rebutan dan … pistol itu meletus….”

Lakasse merasa baru saja melepas impit cekik di leher. Namun, pertanyaan polisi kemudian, serasa memberi cekikan lain. “Bukankah sebelumnya kamu bilang tidak melihat kejadian itu?” 

Buru-buru melonggarkan napas, Lakasse membalas, “Arwah mereka, yang telah mati itu, yang datang dan menjelaskan pada saya, Pak. Percayalah, Pak, tidak seperti orang hidup, arwah pasti tidak pandai berbohong.”

Seperti menemukan sesuatu, polisi menatap tajam ke arah Lakasse. ***



====================

Pangerang P. Muda menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Telah menerbitkan 3 buku kumpulan cerpen, yang terbaru Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Menjadi guru SMK dan berdomisili di Parepare.  

Tiga Burane

0

Adalah seorang gadis rupawan yang dipinang oleh tiga laki-laki tampan yang membuat cerita ini ditulis. Seorang lelaki ringkih dengan janggut serupa rambut jagung telah menuturkannya, dengan sudut mulut berbusa oleh sisa ludah. Ia bilang, tutur kisahnya akan hilang oleh embus angin ke arah timur, bila tidak ada yang menuliskan.

Maka mulai kutulis pembuka ceritanya: Seorang gadis rupawan dipinang oleh tiga laki-laki tampan. Ketiga laki-laki itu saudara kembar; tidak hanya raut rupanya yang sepersis, tapi bentuk dan tinggi tubuhnya pun tak ada beda, bahkan sifat dan keinginannya pun sama. Mereka bernama Burane Kanja, Burane Garetta, dan Burane Kessing.

Betapa bingung orang tua si gadis mendapat pinangan tiga laki-laki sekaligus. Tak mungkin anak perempuannya memiliki tiga suami! Untuk mengelak dari kerumitan, orang tua ini mengenakan syarat kepada ketiga peminang itu untuk mencari benda ajaib yang memiliki manfaat pada anak gadisnya.

Oleh dorongan rasa cinta pada gadis idamannya, ketiga laki-laki kembar itu pun memutuskan melakukan pengembaraan mencari benda-benda ajaib. Mereka berpencar demi menghindari menemukan benda yang sama. Burane Kanja menuju ke arah utara, Burane Garetta berjalan ke arah barat, dan Burane Kessing menyusur langkah ke arah selatan.

Sedang si gadis, dalam penantian, saban senja memilih duduk di tepi jendela kamarnya yang menguak ke hamparan lapangan berumput, di mana ketiga laki-laki pujaan itu berpencar melangkah menjauh. Siapa pun lebih dahulu tiba, tak masalah, baginya ketiga laki-laki itu sama saja.

Ratusan purnama kemudian datang silih berganti, tahun demi tahun luntur, yang terus pula menggerus penantian si gadis. Bercangkung menunggu seraya menatap hampar lapangan berumput di luar jendela kamarnya, membuat kondisi fisik si gadis terus melemah; pikirannya pun terus mengusut, dibebani dugaan demi dugaan pada keselamatan sang pujaan hati.

Akhirnya si gadis jatuh sakit; bertambah parah setiap pekan berganti, hingga sampai pada hari saat detik-detik kematian menjelang.

***

Adalah seorang lelaki tua dengan janggut serupa rambut jagung yang selalu membuatku menyusup ke reyot gubuk rumbianya. Angin pantai terus menggoyang gubuk itu, seakan hendak menerbangkan, seraya melawan ikatan erat tiang-tiang penyangganya pada tonjolan akar-akar bakau yang menyembul dari ceruk pasir.

Orang-orang tua di kampung kami mengatakan lelaki ringkih itu telah hilang ingatan. Ia tak mampu lagi mengurai kata tentang tanah muasalnya. Ia terdampar di tubir pantai kampung kami, di suatu hari, diduga setelah berhari-hari terapung berjuang mengulur nyawa dengan berpegangan pada serpih badan perahunya. Entah ia seorang nelayan, atau seorang pelaut, atau malah seorang perompak, yang perahunya telah digasak badai hingga menyerpih.

Anak-anak seusiaku enggan menyusup ke gubuknya. Beda dengan aku, sepulang dari belajar mengaji di surau selepas Asar, bersemangat kusurukkan tubuh kecilku ke dalam gubuk itu. Aku suka mendengar cerita-ceritanya, terutama kesahnya tentang kisah yang akan hilang oleh embus angin ke arah timur, begitu katanya, bila tak ada yang menuliskan.

Maka kutulis lanjutan ceritanya: Di ujung pengembaraan, ketiga saudara kembar itu ternyata bertemu di satu tempat. Persuaan mereka terjadi sesaat setelah ketiganya berhasil mendapatkan benda-benda ajaib temuan masing-masing. Ketiga benda itu tersimpan di lokasi yang tidak berjauhan, dan agaknya ketiga saudara kembar itu telah memutari separuh lingkar bumi hingga bertemu di titik yang sama.

Sekian lama memendam rindu pada kembarnya, membuat ketiganya sontak berpelukan dengan haru. Saking larut bertukar pengalaman, mereka tak sadar senja mulai lindap. Mereka tak ingin lagi mengeloni gelap malam di tempat pengembaraan yang sepi. Pada senja ini juga mereka ingin pulang.

“Bagaimana kalau kita melihat-lihat dulu keadaan kekasih kita?” usul Burane Kanja. “Dia tentu telah lelah menunggu. Dengan benda temuanku yang berwujud serupa cermin ini, akan dapat melihat keadaan kekasih kita saat ini.”

Dalam kilap pantul permukaan benda ajaib itu, nampak kondisi gadis pinangan mereka sedang dalam detik-detik jelang kematian.

Terperanjat berbarengan, ketiganya saling-tukar tatap bingung.

Burane Kessing lebih dulu menguasai diri. “Tenanglah,” sahutnya. “Dengan benda temuanku yang berwujud serupa batu permata ini, akan bisa menyembuhkan, mengembalikan ke kondisinya yang semula, bila secepatnya dapat disentuhkan ke tubuhnya.”

“Masalahnya,” sela Burane Kanja, “sejak kita memulai pengembaraan, telah ratusan purnama di langit malam kita lalui, baru kita tiba di tempat ini. Untuk kembali, tentu kita pun membutuhkan waktu yang sama. Dan kekasih kita pasti telah tiada.”

“Tenanglah,” giliran Burane Garetta menyela. “Dengan benda temuanku yang berwujud serupa tusuk konde ini, waktu perjalanan dapat dipersingkat dengan cepat. Berpeganganlah pada benda ini, pejamkan mata kalian; dan dalam beberapa kejap, kita akan tiba di sisi kekasih kita. Batu serupa permata temuan Burane Kessing, tentu dapat segera disentuhkan ke tubuhnya.”

Ketiganya berlekas memegang benda itu, berbarengan pula memejamkan mata; dan dalam beberapa kejap saja, ketiganya telah berdiri di depan pintu kamar si gadis pinangan.

Tergopoh orang tua si gadis menyongsong. “Cepatlah. Dia sakit parah. Sepertinya, ajalnya tinggal beberapa detik lagi….”

Ketiganya menyerbu masuk. Burane Kessing segera mengeluarkan benda ajaib serupa batu permata temuannya, lalu meminta orang tua si gadis menyentuhkan ke seluruh tubuh anaknya.

Hanya berbilang tiga hingga empat tarikan napas, si gadis terbangun dengan wajah berseri-seri.

“Oh, kamulah yang berkenan menyuntingnya,” ujar orang tua si gadis, dengan wajah tak kalah berserinya kepada Burane Kessing.

Burane Kanja dan Burane Garetta sontak menyela, “Tunggu dulu. Tidak bijak bila Bapak terburu-buru begitu mengambil keputusan. Bapak perlu mendengar cerita kami dulu.”

Ketiga saudara kembar itu lalu berjejer, tepat menghadap ke orang tua gadis pinangan mereka.

“Pada benda temuankulah, yang berwujud serupa cermin itu hingga kami dapat mengetahui kondisi sakit parah menjelang ajal pada putri Bapak,” papar Burane Kanja. “Tanpa mengetahui keadaan putri Bapak lewat benda itu, tentu kami belum kembali ke sini untuk menyentuhkan batu ajaib serupa permata itu.”

“Dengan benda temuankulah, yang berwujud serupa tusuk konde itu yang telah mempercepat perjalanan kami ke sini,” urai Burane Garetta pula. “Tanpa melalui bantuan benda itu, kami tidak bisa tiba tepat waktu di sini untuk menyentuhkan batu ajaib serupa permata itu.”

“Jadi, ketiga benda itu tak mungkin terpisahkan, Bapak,” ketiganya mempertegas.

“Benda ajaib yang serupa batu permata itu, akan menjadi induk kalung yang menghiasi leher jenjang putri Bapak, dan itu akan membuat kecantikannya kian terpancar,” tambah Burane Kessing.

“Benda ajaib serupa tusuk konde itu, akan menahan beraian rambut putri Bapak, akan bermahkota di rambut itu hingga keanggunan putri Bapak kian terpancar,” tambah Burane Garetta.

“Benda ajaib serupa cermin itu, akan memperjelas tata kecantikan putri Bapak, dan akan menjaga kecantikannya agar terus terpancar,” tambah Burane Kanja.

“Ketiganya benar-benar tak terpisahkan, Bapak!” Semringah wajah si gadis.

“Tapi tak mungkin kamu memiliki tiga suami sekaligus!” hardik orang tua si gadis marah. Kebingungan kembali menelikung pikirannya.

***

Adalah sebuah kapal nelayan milikku, yang membuat kami masih selalu bersama, berbilang puluhan tahun kemudian. Belakangan baru kuketahui, lelaki ringkih dengan janggut serupa rambut jagung itu ternyata seorang ‘penentu lokasi’ yang mumpuni. Di gulita malam sekalipun, kami tetap dapat tersasar ke tempat-tempat berkumpulnya ikan-ikan yang kemudian kami jala.

“Inginnya kita terus bergerak ke arah timur,” kataku, setelah lambung kapal kami disarati ikan-ikan tangkapan. “Supaya aku pun bisa tiba di tempat penemuan benda-benda ajaib itu. Dan dengan benda ajaib temuanku, akulah yang berhak menyunting si gadis rupawan.”

Lelaki itu, yang kian ringkih dan kian uzur, mengikikkan tawanya. “Tugasmu hanya menuliskan cerita tentangnya, bukan ikut meminang,” di sela tawanya ia menyahut. “Dan tak mungkin lagi ada yang bisa menyuntingnya; sejak aku sebagai bapaknya, tak bisa lagi mengingat arah mana pulang ke tanah muasal.” ***

Parepare, Okt. 2007/Versi revisi: Agust. 2019.

Catatan:

Cerpen ini ikut dibukukan dalam antologi cerpen: ‘Pohon yang Tumbuh Menjadi Tubuh’, 2018, Gora Pustaka Indonesia.

Terbaru

Rahasia-rahasia

Dalam homilinya yang singkat, Romo Benediktus bicara tentang janji setia sehidup-semati yang sama artinya dengan membuka seluruh diri....

Daun-daun Sepat

Menerbangkan Perahu

Kambing Hitam

Dari Redaksi