Menjaga Nenek yang Sakit

Hilangnya Badut-badut

Katrina

Hikayat Lelaki Musafir

Penghuni Lantai 18

Cerpen

Home Cerpen Page 2

Rumah Kanak-Kanak

0



       “Sejak sering terjadi pemberontakan rakyat resah. Rumah-tumah orang kaya milik pendatang dirampok. Toko-toko milik babah-babah dijarah. Para pendatang dianiaya, bahkan ada yang dibunuh. Kehidupan tak lagi tenang. Kacau. Mereka ketakutan. Mereka memilih  hijrah ke kampung lain!”

        Sungguh, tiada yang lebih indah daripada hidup di rumah kanak-kanak. Dahulu, ia, Sam, Ahong, Ludi, dan Engku, adalah teman sepermainan. Tak ada yang lebih seru, selain mandi di sungai, berlomba renang dan menyelam, terjun dari ketinggian tebing di atas sungai, memandikan kerbau, memanjat pohon, berburu burung, dan pesta buah jamblang. Amboi, betapa elok mengenang masa kanak-kanak. Tak ada yang lebih menyenangkan selain kala bocah.

       “Kau ingin jadi apa kalau sudah besar, Ludi?” ulik Sam, kala itu mereka berlima tengah nggelosor di bawah pohon jamblang, kepayahan, setelah pesta buah jamblang. Demi mencapai pohon jamblang ini mereka harus jalan kaki kiloan meter, menyusuri sawah,  menyeberangi sungai. Pohon jamblang sebesar raksasa dan setegap batu gunung, adalah tempat asyik untuk berkumpul, apalagi saat musim jamblang berbuah. Buah jamblang sebesar kelereng, berwarna hitam keunguan, harum, dan manis rasanya, aih membuat mereka tak bosan menyantap. Buah jamblang yang sudah matang berjatuhan. Ludi mengambil jamblang, mengunyahnya, biji dilepehkan.

        “Aku ingin jadi tentara,” jawab Ludi tegas. Terbayang sosok panutan Ludi. Ayah yang   pemberani. Ayah Ludi seorang tentara. Ayah asli orang Jawa, namun ditugaskan di pulau elok ini. Bahkan Ludi dan adiknya juga dilahirkan di sini. Mereka sudah betah tinggal di pulau yang kaya rempah-rempah ini.

       “Mengapa jadi tentara?” tanya Engku, mulutnya pun  mengunyah buah jamblang.

       “Aku ingin seperti ayahku, memberantas kejahatan, menjaga keamanan.”  Ludi terbayang sosok  tinggi, badan tegap, kulit sawo matang. Kelihatannya sangar, tapi sikapnya ramah dan bersahabat. Beberapa kali sua saat main ke rumah Ludi, rumah separuh tembok berpagar barisan pohon singkong.

       “Namun nanti kau harus sering bepergian. Katanya ayahmu sedang tugas ketika ibumu melahirkanmu, Di,” ulik Ahong.

       “Ya. Kata Ayah, itu sudah tanggungjawab seorang prajurit. Mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan golongan atau pribadi. Kata Ayah, sebagai prajurit yang merupakan benteng negara, jika ada tugas negara memanggil, mereka harus berangkat, meskipun anak di rumah sedang sakit, atau istri sedang melahirkan. Kalian tahu, ayahku sangat gagah ketika mengenakan seragam loreng, menyandang senjata lars.”

       “Semoga cita-citamu menjadi tentara terwujud, Ludi.”

       “Amin.”

       “Engku, apa sih cita-citamu?” Ludi kali ini yang bertanya. Sam, dan ia menatap  bocah berumur 11 tahun yang tubuhnya paling kurus dan kecil. Engku berkulit langsat pucat. Sepasang matanya terlihat tajam.  Engku memang boncel, tapi otaknya  cemerlang.  Pernah mewakili sekolah   lomba siswa teladan di kabupaten, dan mendapat juara dua di provinsi.

        “Aku ingin jadi guru,” Engku menjawab pelan. Suara lembutnya berdesir seiring musim kemarau. Rerumputan masih menghijau. Sungai masih mengalir meskipun tiada deras. Angin lembah  mendedah.

        “Jadi guru?”Empat  pasang mata menatap, mengerjap.

       “Aku ingin seperti pak guru Kuat. Beliau sabar,  pandai dan cerdas. Setiap pertanyaan yang kita ajukan, Pak Kuat pasti bisa menjawabnya.”

        “Pak Kuat memang pintar, ” gumam Ludi.

        “Kata beliau, guru masih sangat dibutuhkan di dusun  ini. Kelak seandainya jadi guru aku ingin ditugaskan di  dusun Sawojajar ini. Mengajar anak-anak. Alangkah senangnya.  Kata Pak Kuat, tak ada yang lebih beruntung dalam hidup  ini selain bermanfaat pada orang lain,” untuk meraih cita-citanya Engku rajin belajar, menyimak ketika guru mengajar, menulis dan mencatat pengetahuan baru yang didapat dari hobinya membaca. Di halaman kantor Kecamatan dipasang papan surat kabar. Surat kabar nasional dan koran lokal dipajang. Setiap hari sebelum sekolah, Engku mengayuh sepeda mendatangi papan koran, menumpang membaca, demi menambah ilmu, wawasan, dan pengetahuan.

         “Kalau aku ingin kerja di bank. Pegawai bank banyak uangnya. Saban hari menghitung uang,” gumam Sam, santai.  Bocah usia 12 tahun bertubuh gemuk bagai tambur, teringat pada suatu hari diajak ibunya pergi ke bank di seberang pasar kecamatan. Ibu Sam seorang pedagang makanan. Pergi ke bank untuk menabung atau setor cicilan hutang. Pekerjaan pegawai bank sepertinya santai dan mengasyikkan. “Tapi apakah aku bisa, ya. Soalnya, matematikaku kan tak sepintar Engku, Ludi, Ahong, atau kamu, Bur. Aku tak pintar berhitung,” Sam menggeleng-gelengkan kepala, lucu. Teman-temannya tersenyum, bahkan Ludi tertawa tergelak-gelak. Ahong sampai berguling-guling. Tubuhnya yang tambun putih tampak lucu seperti panda.

       “Kau ingin jadi apa Ahong jika sudah besar kelak?” tanya Ludi tiba-tiba, setelah tawanya berhenti.

      “Aku ingin jadi bos sembako. Aku ingin punya toko sembako yang besar. Aku ingin punya gudang yang besar. Akan kutimbun sembako, kemudian aku jual hingga aku dapat untung besar. Hahahaha.”

       “Dasar Ahong matre.”

       “Bukan matre, Kawan. Aku akan beli barang sembako dengan harga murah, kemudian aku menjualnya, mengambil untung sedikit, enggak apa-apa, yang penting barangnya terjual banyak, jadi ya untung banyak. Itu cara berdagang sembako yang diajarkan oleh Papaku. Hahahaha.”

       “Ternyata gitu ya rahasia sukses dagang sembako,” gumam Engku. Sam mengangguk-angguk. Mengambil buah jamblang, kembali mengunyah. Engku menyelonjorkan kaki. Ludi dan Sam ikutan berbaring di sisinya. Sebuah buah jamblang yang sudah masak dan tua terjatuh di dada Ludi.

       “Eh, Burhan, kelak jika sudah besar apa cita-citamu?” Ludi bertanya seraya mengambil buah jamblang, menimang-nimang. Ahong merebut dan mengunyahnya. Nyam-nyam-nyam.

      “Aku ingin…menjadi ustaz.” Entah mengapa jawaban itu terlontar begitu saja dari bibir. Padahal di antara mereka berempat, ia yang ngajinya paling belepotan.

       “Kau ingin seperti ustaz Rohim, guru ngaji kita di surau?” Engku menepuk pundaknya. Ia mengangguk kecil.

      “Iya. Aku ingin pintar sekolah dan juga pintar ngaji. Menurut ustaz kita harus pintar keduanya, agar selamat dunia-akhirat.”

       “Sungguh mulia cita-citamu Burhan. Semoga terwujud,”  doa Engku khusyuk.

       “Semoga cita-cita Burhan terkabul,” Ahong turut mendoakan.

                                                        ***

        Tahun-tahun berlari seperti laju lori.  Selepas SD, ia harus meninggalkan dusun tercinta. Ayah yang pedagang mencari penghidupan yang lebih baik di kota.

      “Benarkah kau hendak pindah dari kampung ini, Han?” tanya Engku. Saat itu mereka berada di sungai. Bermain air.

     “Ya.”

     “Setelah kelulusan sekolah…,” Ahong memandang sedih.

     “Kita takkan bisa lagi pesta jamblang. Kita tak bisa mandiin kerbau, berenang, ngaji bareng.”

      “Entahlah.”

      “Sudah, Burhan, kan pindah masih lama. Kelulusan juga masih sebulan lagi,” cerocos Sam. “Hari ini kita masih bisa bertemu. Masih bisa bermain di sungai. Kita lomba renang, yuk.”

       “Ayo.”

       “Siapa takut air,” Ludi mencopoti baju dan celana. Engku, ia dan Sam, berbuat sama. Mereka telanjang bulat, seperti ikan berenang ke sana ke mari. Tinggalah Ahong yang sudah bertelanjang dada tapi masih berkolor.

       “Ahong, sini, ayo lomba berenang!”

       Ahong mendekat. Sam buru-buru naik ke darat. Mendekati Ahong dan meloroti celananya. Ahong telanjang bulat. Penisnya yang masih berkulup bergoyang-goyang ketika ia berlari, lalu dari ketinggian tebing melompat. Hup, ia sudah bergabung dengan keempat kawannya dan mereka mulai berlomba berenang. Setelah setengah permainan menyusuri sungai, di tengah kegiatan berenang Ahong bertanya…

      “Aku ingin bertanya pada kalian. Tapi sebelumnya aku mohon kalian jangan tertawa kalau nanti menganggap pertanyaanku lucu. Soalnya dari pertanyaanku nanti aku membutuhkan kejujuran, demi masa depanku nanti.”

       Sam melirik Ludi. Ludi melirik ia. Ia melirik Engku. Engku melirik Sam. Mereka saling lirik-lirikan.

      “Aduh, Ahong, apa yang ingin kau tanyakan. Bikin kami penasaran.”

       “Tolonglah segera katakan Ahong, agar rasa penasaran kami hilang.”

       “Baiklah,” Ahong duduk di batu besar. Keempat temannya merubunginya.

       “Apa yang ingin kau tanyakan, Ahong?”

       “Aku ingin bertanya pada kalian, apakah, apakah khitan itu sakit? Gimana rasanya dikhitan?”

       “Hahaha, rasanya seperti digigit semut.”

       “Aduh, sakitnya seperti terpotong pisau. Perih.”

       “Saat burungku dipotong aku tak merasakan sakit karena dibius. Tapi setelah biusnya hilang, auh sakit sekali. Aku sampai menangis-nangis. Padahal tanganku pernah kena pisau, tapi rasanya beda, tak sesakit saat….dipotong.”

       “Ahong, dikhitan itu tak sakit kok. Setelah khitan pertumbuhan badan kita bisa besar dan tinggi. Seperti aku, “ jelas Ludi yang dikhitan saat kelas tiga SD. Ia  dan Engku dikhitan ketika kelas lima. Sementara Sam dikhitan kala naik ke kelas enam.

      Ahong mengangguk-angguk mendengar pengalaman teman-temannya.“Aku akan mohon pada Papaku supaya aku dikhitan. Biar bentuk penisku sama seperti kalian. Hahaha.”  Ahong bangkit dan mulai kembali berenang.

      “Hore, hore, Ahong mau sunat!”

       “Ahong, kalau kau khitan nanti adain pesta kembang api, ya.”

      “Iya, nanti aku rayu papa, agar saat aku khitan, papa ngadain pesta dan nanggap solo organ.”

       Ludi, Sam, ia dan Engku bersorak-sorak, lalu kembali berlomba berenang. Sepuasnya. Sepuasnya.

                                                                     ***

       Ahong akhirnya dikhitan setelah kelulusan SD. Lima sekawan berpesta. Tapi seminggu kemudian mereka berselaput mendung, ketika ia harus meninggalkan dusun Sawojajar. Ayah sekeluarga memutuskan pindah ke luar kampung, bahkan menyeberang pulau.

       Perniagaan Ayah berkembang pesat. Ayah membuka cabang perniagaan di beberapa kota.

       Selulus SMA, ia melanjutkan ke fakultas ekonomi, menuruti kemauan Ayah. Sebagai anak sulung, Ayah menggantungkan harapan di pundaknya. Padahal ia tak berminat pada dunia  niaga.  Tak  mungkin menentang Ayah, yang sudah membesarkan, menghidupi,  memberinya kenyamanan.

        Ia masih sangat bergantung pada ayahnya.

        Namun usianya jelang 21 tahun, kala ia bersua seorang penulis pada komunitas menulis  di kota seberang. Ia sangat tercerahkan dengan motivasi yang diberikan sang penulis, “Jika hidup hanya sekali, maka lakukanlah apa yang kau inginkan. Sekarang, atau tak pernah sama sekali!”

        Ia memilih melanjutkan kuliah hingga tuntas. Ingin memberi kebanggaan pada Ayah, hingga tiba saatnya, seminggu usai diwisuda, ia menghadap Ayah, berbicara selayaknya dua lelaki dewasa. Ia menginginkan rehat sementara dari perniagaan. Ia ingin mondok di pesantren.

        Seperti yang diduga, Ayah marah, melarang. Ayah ingin ia meneruskan kuliah di luar negeri. Agar memiliki ilmu mumpuni, menjadi pewaris sekaligus  penerus perniagaan kelak. Ia tak menolak, namun tak menerima saran Ayah. Bukankah Ayah bisa memberi mandat pada Ahmad atau Ran, dua adik lelakinya. Mengapa harus anak sulung?

        Ia ingin meraih cita-cita tanpa menjadi anak durhaka.Ayah tak mau mengerti. Ayah memberi ultimatum. “Pergilah kalau kau ingin pergi. Tak usah kembali selamanya.”

         Ia memilih pergi menyembuhkan lara hati, berkelana menuruti ujaran sanubari.

                                                                          ***

          Ia tinggal di beberapa pesantren, menuntut ilmu agama dan kehidupan. Selepasnya, ia bersafari dari nusa ke nusa seraya menuliskan makna, melukiskan warna kehidupan, pengalaman dalam untaian kalimat dan tutur kata bermakna. Sebagai pendakwah muda namanya mewangi. Undangan datang dari berbagai kota, bahkan menyeberang pulau. Cara tutur yang menawan, menyentuh hati dan rasa menumbuhkan perasaan suka. Tentang berapa besaran tarif, ia tak pernah menentukan. Bahkan  ia  sukarela datang bila diundang pada kegiatan sosial, di panti asuhan, di panti jompo, di komunitas anak jalanan ataupun pada kegiatan sosial lain. Ia datang atas nama kemanusiaan dan panggilan hati atas kehendak Illahi.

        Suatu ketika ia mendapat undangan dari pulau di mana ia menghabiskan masa kecil. Menaiki pesawat dan kapal feri, sampai pada sebuah pondok pesantren modern nan megah. Selesai hajatan ia tiba-tiba teringat kampung halaman tempatnya dibesarkan. Ia menaiki kapal kecil hingga sampai pada sebuah pulau terpencil.

        Pada dusun kecil, tempat ia dilahirkan. Dusun molek, diapit dua gunung menjulang. Dikelilingi hutan perawan. Damai nan permai. Sayang semua tinggal cerita masa silam. Kini yang tersisa serupa sembilu. Kedamaian ternoda, kerukunan tercerai berai. Penduduk  pribumi tak bisa menerima keberadaan pendatang.

        Penduduk yang tak bisa lagi menjalankan pepatah nan sejujurnya di mana pun berlaku:  di mana langit dijunjung bumi dipijak. Rasa cemburu berselaput iri bergemuruh, dibisikkan, diembuskan orang-orang tak bertanggung jawab yang menyulutkan pertikaian. Pemberontakan beriming-iming melepaskan diri-merdeka-berdaulat sendiri-entah apa maksudnya. Entah bertujuan apa. Menimbulkan sejuta malapetaka.

        Ia mencari jejak masa lalu dan hanya mendengar cerita pilu Samuel, teman masa kecil-pemilik kedai kopi di ujung jalan kampung yang sepi seperti pemakaman.

        “Sejak sering terjadi pemberontakan, rakyat resah. Rumah-rumah orang kaya milik pendatang dirampok.Toko-toko sembako milik babah-babah dijarah. Kehidupan tak lagi tenang. Kacau. Mereka ketakutan. Mereka memilih  hijrah ke kampung lain. Jika pun bertahan di dusun ini, karena kecintaan mereka pada kampung halaman.”

         Ia mendengarkan kisah pilu yang tak ingin didengar.“Si Ludi sudah jadi tentara. Si  Engku guru SD. Juga guru madrasah dan guru ngaji. Ia sangat disukai teman, dan murid-murid. Pemberontakan menimbulkan kegemparan, ketika suatu hari guru Engku ditemukan  meninggal, bersama puluhan penduduk kampung. Mayat mereka berdarah-darah, ususnya terburai, ditemukan di punggung jalan dusun. Konon korban tentara. Padahal pada saat bersamaan si Ludi juga tewas di hutan-kondisinya tak kalah mengenaskan. Tanpa sebab yang jelas. Katanya  korban pemberontakan, mereka yang ingin merdeka.”

          Ia terperangah, terkenang masa-masa bocah.

          Ia termangu di padang rumput yang konon menjadi makam para korban pemberontakkan. “Tak ada lagi yang sempat menguburkan para jenazah. Mereka dimakamkan di dalam satu lubang, bahkan tanpa nisan,” jelas Ahong sambil mengusap air mata yang berlelehan campur ingus. Toko-toko sembakonya di kampung Sawojajar rata dengan tanah. Seorang anaknya ikut terbakar dalam musibah yang takkan terlupakan. Ahong memilih pindah ke lain kota. Membawa tabungan seadanya. Membuka perniagaan dan menata hidup baru.

         Ia tercenung, ia termenung. Ia mendengar jalan hidup teman-teman masa kecilnya, seperti ia menonton slide film. Betapa tiba-tiba ia teramat sangat merindukan rumah kanak-kanak. Ia tiba-tiba menangis terisak-isak.

                                                                  ***

Kota, Ukir, 05 November 2019




=====================
Kartika Catur Pelita, lahir 11 Januari 1971. Penulis 700-an cerpen, 100 cerpen sudah dimuat  di 60 media massa cetak dan daring, di antaranya: Media Indonesia, Republika, Kompas, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Haluan Padang, Sumut Pos, Analisa Medan, Koran Rakyat Sultra, Kendari Pos, Lampung Post, Solopos, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Info Muria, Okezone.com, Nova, dan Kartini. Buku fiksi “Perjaka”, “Balada Orang-orang Tercinta,”  “Kentut Presiden.”  Bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara(AMJ). Tinggal di Jepara.

Jejak Nama Kami Dalam Lukisan

2



Rumah ini bagaikan galeri. Dindingnya rapat tertutup lukisan. Lekuk punggung pegunungan, halaman lapang, rerumputan, dan pohon rimbun. Ada kami berempat saling bergandengan tangan. Aku, istriku, putra kami yang duduk di kelas 3 SD, dan si bungsu, sang pelukis ulung yang saat ini masih belajar di TK kelas nol besar.

Di sudut dinding yang lain tampak gambar deretan gedung tinggi dan tangan-tangan panjang alat berat yang sedang bekerja. Ada pula gambar-gambar abstrak. Mungkin ini yang paling banyak. Tarikan garis memanjang, meliuk-liuk, bahkan melingkar liar. Indah sekali. Beraneka warna. Betah berlama-lama memandangnya. Seperti lukisan purba di dinding gua. Dilihat berapa kalipun semuanya selalu terasa baru. Mengantarkan penikmatnya ke dunia dengan cerita-cerita luar biasa yang tak pernah ada habisnya.

Kami beruntung bisa menyaksikan lukisan-lukisan dahsyat ini. Sejumlah kerabat dan sahabat yang datang ke rumah juga ikut memuji. Kualitasnya memang baik, sesuai usianya.

Tak terhitung krayon dan spidol air yang sudah dihabiskan. Hampir setiap bulan  minta dibelikan lagi. Kami turuti. Apalagi, setelah dia mulai menggambar di atas kertas. Meski begitu, gambar-gambar di dinding tetap kami biarkan begitu saja. Gambar-gambar itu terlalu istimewa untuk sekadar digantikan dengan warna-warna monoton, mulus, dan bersih. Dinding rumah seperti itu terlalu membosankan. Setidaknya begitu perasaan kami sekarang.

Bulan lalu beberapa lukisannya di lembar-lembar kertas itu mulai kami pajang di sisi dinding atas. Masih banyak bagian kosong yang selama ini belum tersentuh karya goresan tangannya. Kami memang bukan ahli desain interior. Tapi, terus terang saja, kami puas. Tampilan rumah ini dari hari ke hari bertambah sempurna.

Objek gambarnya pun terus berkembang. Dia kini mulai membuat gambar pesawat, kapal perang, dan kereta api dengan gerbong yang superpanjang. Sampai lima helai kertas gambar harus dijejer dan disambung dengan isolasi. Keesokan hari tiba-tiba dia sudah bisa menyajikan pemandangan bawah air. Gambar yang ramai. Ikan-ikan bertubuh jumbo berenang kesana kemari dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara berukuran besar yang mengapung menuju permukaan. Ada orang-orang di dalam gelembung itu. Terkadang satu, dua, bahkan empat.

’’Masak ada orang di dalam gelembung udara, ’’ celetukku, sambil tersenyum menggoda.

’’Lagi ngapain mereka di dalam gelembung napas ikan? ’’ potong istriku. Saat mengucapkan itu, dia sempat melirikku tajam. Dari tatapannya, aku tahu dia berusaha mengingatkan aku agar tidak merusak bangunan imajinasi buah hati kami yang masih polos itu.

’’Mereka teman-teman nabi Yunus, ’’ katanya, sambil terus menggoreskan krayon membuat degradasi warna ungu yang sendu.

’’Guru ngaji di masjid bilang, nabi Yunus diselamatkan ikan raksasa waktu tenggelam di laut. Semua orang di dalam gelembung udara ini juga diselamatkan ikan-ikan itu. Sekarang mereka dilepas agar mengapung dan terbang ke angkasa,’’ lanjutnya.

’’Bukannya ikan itu dikisahkan hanya menyelamatkan Nabi Yunus. Dan, hanya seekor ikan, bukan banyak ikan?’’ tanyaku lagi.

’’Awalnya iya. Tapi, ikannya bertelur dan bertambah banyak. Mereka terus menyelamatkan orang. Sampai sekarang,’’ tuturnya dengan mata berkedip.

Kami tertegun. Berusaha mencerna penjelasannya. Nabi Yunus. Orang-orang yang tenggelam. Segerombolan ikan raksasa keturunan Nun. Gelembung udara. Penyelamatan. Banyak kata kunci yang belum kami pahami. Tapi, kami tidak mau mendesaknya untuk terus bercerita. Biarlah dia menyempurnakan imajinasinya terlebih dulu. Sepuasnya. Toh, masih banyak ruang terbuka di dinding rumah ini yang bisa dipakai untuk memajang gambar-gambar itu.

***

Seharian kami sekeluarga pergi ke water park di dekat perumahan. Anak-anak bermain beragam wahana dengan gembira. Termasuk, walking ball. Sebenarnya aku khawatir saat mereka masuk ke dalam bola berukuran besar dan berlarian ke sana kemari di atas air seperti hamster. Tapi, manakala teringat kembali gelembung udara dengan manusia yang muncul dalam gambar putra kami itu, aku berharap imajinasinya tidak berkembang lebih aneh lagi. Teralihkan dengan serunya bermain walking ball. Entahlah, setiap melihat gambar itu aku merasa sangat tidak nyaman.

Tapi, harapanku jauh panggang dari api. Menjelang waktu makan malam, saat hendak menuju ruang tengah, tanpa sengaja pandanganku tertuju kepada beberapa lukisan itu. Sekarang tampilannya seperti komik. Manusia-manusia dalam gelembung sudah memiliki identitas. Dengan cepat aku memanggilnya.

’’Ini tulisan adik?’’ tanyaku, pelan. Dia mengangguk. Tulisannya memang belum rapi, tapi sudah bisa dibaca.

’’Ada yang menyuruh atau adik mengarangnya sendiri?’’. Kali ini dia sudah tidak peduli dengan pertanyaanku dan langsung berlari ke depan televisi. Kembali menonton film para ksatria dan monster raksasa dari Jepang yang sempat terganggu oleh panggilanku.

Aku hendah mengejarnya. Tapi, istriku yang tadi berada di dapur rupanya sudah datang menghampiri. Dia membawa sendok berisi kuah asam pedas kepala ikan sembilang dan memintaku untuk mencicipinya. Aku langsung memberi kode oke dengan jariku.

’’Tadi tanya apa sama adik?’’.

’’Gak apa-apa. Cuma mau ngajak ngobrol soal gambarnya. Coba lihat itu,’’ jawabku sambil menunjuk salah satu lukisannya. Lukisan gelembung udara yang keluar dari mulut ikan dengan tiga manusia di dalamnya. Istriku tampak mengernyit. Dia melangkah mendekat.

Di sekitar gelembung ada coretan kecil. Nama-nama. Setiap coretan sepertinya mewakili identitas dari tiga manusia di dalam gelembung udara itu. Masing-masing tertulis: Kuy-Sabi, Okse-Vida, dan Ravi-Darum.

’’Ini nama-nama siapa?’’ ujar istriku. Ekspresi wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang begitu besar.

’’Tadi aku juga tanya begitu sama adik. Tapi, dia lagi asyik sekali sama filmnya,’’ kataku. Kami pun sepakat untuk sejenak melupakan perbincangan soal nama-nama misterius itu dengan beranjak ke meja makan. Piring-piring beredar dengan cepat. Anak-anak makan dengan lahap. Suasana sangat menyenangkan.

Dalam kondisi perut yang kenyang, kami menuntaskan malam dalam kesibukan masing-masing. Tak terpikir lagi untuk membahas nama-nama dalam gambar. Kebetulan ada beberapa bagian dari laporan keuangan minimarket milikku yang harus aku periksa. Istriku sendiri kelihatannya sudah lelah dan memilih untuk rebahan di sofa sambil menonton kompetisi stand up comedy di televisi.

Keesokan pagi aku dan istriku kembali gempar. Dua manusia dalam gambar gelembung ikan yang lain juga ikut memiliki nama. Lukisan itu kami tempel persis di sebelah pintu kamar mandi. Dari bentuk huruf-hurufnya, kami yakin adik juga yang menuliskannya.

Posisi lukisan ini agak tinggi. Pastilah dia menyeret kursi untuk bisa menjangkaunya. Kami tak habis pikir, kapan adik melakukannya. Istriku sudah bangun sejak pagi buta untuk menyiapkan sarapan. Apa buah hati kami yang lucu membuat tulisan sebelum kami semua terjaga?

Hingga beberapa menit kemudian kami masih termangu. Berulang-ulang kami membaca kombinasi nama yang tertulis dengan pensil. Endo-Ola dan Fibro-Epi. Nama-nama siapa lagi ini? Pikiran kami benar-benar buntu.

Secara spontan kami mengecek lagi tujuh gambar lain dengan tema serupa. Pemandangan bawah laut atau suasana dermaga dengan ikan-ikan berenang di bawahnya sambil mengeluarkan gelembung berisi manusia-manusia. Kecurigaan kami terbukti. Semua manusia dalam gelembung udara ikan sekarang sudah memiliki nama. Persisnya dua suku nama.

Saat masih asyik memperhatikan nama-nama itu, tiba-tiba adik sudah berdiri di belakang kami. Sembari menghabiskan susu di gelas yang tinggal setengah, dia meminta untuk segera diantar ke sekolah. Lokasi TK masih dalam komplek perumahan. Hanya berjarak sekitar 200 meter.

’’Siang nanti aku akan ajak adik ngobrol. Pelan-pelan,’’ ujar istriku. Aku mengangguk. Pikiranku agak kacau. Aku merasa khawatir. Tiba-tiba sangat khawatir. Entah terhadap apa.

***

Petugas berseragam hilir mudik keluar masuk satu kavling ruko tiga lantai di tepi jalan yang masih masuk dalam lingkungan perumahan kami. Puluhan awak media juga berkerumun. Ada yang memotret, ada pula yang sibuk merekam. Warga sekitar tak menyangka ruko itu menjadi klinik aborsi ilegal. Dari depan sekilas seperti agen travel merangkap toko obat tradisional biasa.

Sisi belakang klinik aborsi itu berada persis di depan TK. Hanya dipisahkan oleh tembok setinggi dua meter dan akses jalan perumahan selebar lima meter. Di balik pagar terdapat lubang septic tank. Petugas sudah membongkar dan menemukan banyak serpihan tulang belulang calon jabang bayi.

Dari berita yang kami ikuti, petugas mengamankan sejumlah orang. Dokter, asisten dokter, dan perawat. Termasuk, dua perempuan yang masih dirawat di klinik tersebut beserta pasangannya masing-masing.Yang membuat aku dan istriku terperanjat adalah kami seperti mengenal nama mereka.

Buru-buru kami memeriksa lagi lukisan pemandangan bawah laut dengan ikan yang mengeluarkan gelembung di sebelah pintu kamar mandi. Benar saja. Nama-namanya memang sama. Endo-Ola dan Fibro-Epi. Ola dan Epi, dua gadis belia yang dipaksa untuk menggugurkan kandungannya.

Ada lagi tiga perempuan lain yang juga sudah diketahui identitasnya dan langsung diamankan. Dari berkas catatan klinik, mereka diduga melakukan aborsi sekitar dua bulan  lalu. Bergidik kami sewaktu membaca nama-namanya. Sabi, Vida, dan Darum. Bukankah nama-nama ini pula yang muncul dalam gambar karya si bungsu? Kuy-Sabi, Okse-Vida, dan Ravi-Darum.

Wajah istriku tampak sangat prihatin. Dia mulai curiga, bahkan meyakini bahwa puluhan nama lain dalam gambar si bungsu masih berkaitan dengan praktik aborsi yang terjadi entah dimana. ’’Anak-anak malang itu tidak sempat terlahir dan memiliki nama. Mereka membawa nama kedua orang tuanya,’’ ucapnya dengan suara bergetar. Ada kengerian yang bercampur dengan kegeraman.

’’Apa anak kita mampu berkomunikasi dengan makhluk gaib atau mungkin ruh dari janin-janin penasaran?’’ lanjut istriku.

Aku hanya mengangkat bahuku. ’’Enggak tahu,’’ jawabku. Sebenarnya aku sekarang ikut khawatir. Berbagai kasus penemuan orok atau janin yang terbungkus dalam plastik kresek berseliweran di benakku. Pikiranku bertambah kacau.

Istriku mengajakku untuk segera mendekati si bungsu yang kembali sibuk dengan kegiatan melukisnya. Kali ini dia melukis sebuah kapal dengan pemandangan bawah lautnya yang khas. Seekor ikan berukuran raksasa tampak berenang sambil mengeluarkan gelembung udara dari mulutnya. Seperti yang sudah-sudah, ada satu tubuh manusia di dalam gelembung yang dalam pandangan kami sekarang tampak sebagai tubuh janin atau orok. Lengkap dengan tulisan nama di sebelahnya.

Jantungku seperti mau copot. Telingaku berdenging. Keningku berdenyut. Aku hampir tak bisa lagi mengikuti perbincangan sederhana antara si bungsu dengan ibunya. Sesekali mereka tertawa cekikikan.

Berulang kali kulirik istriku. Semoga saja dia tidak menyadari betapa kalut diriku sekarang. Sebab, dua kombinasi nama yang tertulis dalam coretan gambar si bungsu adalah penggalan namaku dan pegawaiku di kantor. Seorang perempuan yang hampir sebulan terakhir mengambil cuti pasca menggugurkan kandungannya di klinik tersembunyi luar kota.(*)



=================
Priyo Handoko,
mantan jurnalis (2006-2018) yang suka menulis prosa. Cerpennya dipublikasikan di beberapa media, antara lain: Majalah Femina, Jawa Pos, Radar Banyuwangi, dan Ideide.Id. Kini menjadi komisioner KPU Provinsi Kepulauan Riau, kampung halamannya.

Anggur

0


Seorang pria dan wanita berjalan menuju bulevar dari sebuah hotel kecil di pinggir jalan.

Pepohonan masih tak berdaun, hitam, dingin; tetapi ranting-ranting yang runcing telah menonjol menjelang musim semi, sehingga menengadah ke atas dengan harapan akan menghijau berkilau untuk pertama kali. Namun semuanya tenang, dan langit biru teduh, klasik.

Pasangan itu melangkah perlahan. Berusaha, setelah berhari-hari bermalasan, tampak mustahil; dan hampir seketika mereka masuk ke dalam kafe dan menghilang, terpuruk seolah-olah lelah, di ruang berdinding kaca yang menjorok ke depan ke jalan.

Tempat itu kosong. Orang-orang memburu makan siang di restoran. Tidak semua: massa pagi itu berdemonstrasi, prosesi baru saja berlalu, dan ujungnya yang terurai masih bisa dilihat. Suara-suara kekerasan, meneriakkan slogan dan menyanyi, tidak lagi menyerap hiruk-pikuk lalu lintas Paris; tapi suara-suara inilah yang membangunkan pasangan itu dari tidur mereka.

Seorang pelayan bersandar di pintu, melihat kerumunan berlalu, dan dengan enggan pria itu memesan kopi.

Dia menguap; pasangannya ikut-ikutan; dan mereka tertawa dengan perasaan bersalah dan bertukar pandang di depan mata mereka sendiri, tanpa penyesalan, duduk terpisah. Ketika kopi datang, kopi itu tetap tidak tersentuh. Tidak ada yang berbicara. Sesaat wanita itu menguap lagi; dan kali ini pria itu berbalik dan memandangnya dengan tajam, dan yang dipandang menoleh ke belakang. Rasanya ingin tertidur, mereka menatap. Kali ini terasa tetap: bahwa sementara segala sesuatu mendorong mereka lelap, mereka menerima satu sama lain ironi yang menyedihkan; mereka bisa saling memandang tanpa ilusi, mata menatap mantap.

Dan kemudian, mau tidak mau, kesedihan semakin mendalam di dalam diri wanita itu sampai dia dengan sadar menepisnya; dan di dalam diri pria itu muncul sekejap keusilan.

“Hidungmu perlu bedak,” kata sang pria.

“Kamu butuh pelayan mencambukmu.”

Tapi pria itu selalu menolak untuk merasa sedih. Sang wanita mengangkat bahu, dan, membiarkannya, berbalik untuk melihat keluar. Begitu juga sang pria. Di ujung bulevar, ada kegelisahan yang samar, seperti semut yang berbaur, dan wanita itu mendengarnya bergumam, “Ya, dan itu masih berlanjut…”

Mengejek, sang wanita membalas, “Tidak ada yang berubah, semuanya selalu sama…”

Tapi pria itu sudah merona. “Aku ingat,” dia memulai, dengan suara yang berbeda. Dia berhenti, dan sang wanita tidak mendesaknya, karena lawan bicaranya sedang menatap demonstran yang jauh dengan wajah pahit penuh nostalgia.

Di luar lalu-lalang para pencinta, pasangan menikah, mahasiswa, orang tua. Di sana pohon-pohon telanjang; di atas langit biru teduh. Sebulan lagi pohon-pohon akan berwarna hijau cerah; matahari akan mencurahkan panas; kulit orang-orang akan menjadi cokelat, tertawa, telanjang kaki. Tidak, tidak, kata wanita itu pada dirinya sendiri, pada visi peristiwa ini. Lebih baik kesedihan statis. Dan, sekaligus, ketidakbahagiaan merebak di dalam dirinya, tercekat, dan ia kembali terkenang lima belas tahun silam di negara lain. Dia berdiri di bawah sinar bulan tropis yang terik, merentangkan kedua tangannya ke lanskap yang tidak menawarkan apa pun selain kesunyian; dan kemudian dia berlari menyusuri jalan setapak di mana batu-batu kecil berkilauan tajam di bawah kaki, sampai akhirnya dia jatuh di petak rumput yang berkilau. Limabelas tahun.

Pada saat itulah pria itu tiba-tiba berbalik dan memanggil pelayan dan memesan anggur.

“Apa,” katanya lucu, “sudah?”

“Kenapa tidak?”

Untuk saat ini sang wanita sangat mencintainya, sampai dia menekan kepura-puraan dan mengawasinya menunggu, gelisah, untuk anggur, menuangkannya, dan kemudian meletakkan dua gelas di depan mereka di samping cangkir kopi yang masih penuh. Tetapi dia ingat lagi malam itu, iri pada gadis yang gembira dengan cahaya bulan, yang berlari dengan gila-gilaan di antara pohon-pohon dalam keinginan yang tak tertandingi entah untuk apa — tapi itu intinya.

“Apa yang kamu pikirkan?” sang pria bertanya, masih sedikit jahil.

“Ohhh,” protesnya penuh humor.

“Itulah masalahnya, itu masalahnya.” Dia mengangkat gelasnya, meliriknya, dan meletakkannya. “Apakah kamu tidak ingin minum?”

“Belum.”

Dia meninggalkan gelasnya tanpa disentuh dan mulai merokok.

Momen-momen ini menuntut semacam isyarat — sesuatu yang kecil, bahkan santai, tetapi masih merupakan pengakuan atas keterpisahan dua orang satu sama lain; yang dilihat, mungkin, sebagai mata lembut yang tidak pernah tertutup, mengamati, selalu mencermati, dengan belas kasih yang letih; yang lain, bentuk kekerasan yang berkutat dalam siklus keinginan dan istirahat, kreasi dan prestasi.

Dia memberikannya pada sang wanita. Lagi-lagi mata mereka bertemu dalam ironi terkubur, sebelum pria itu berbalik, menjentikkan jari-jarinya ke meja; dan wanitanya berbalik juga, untuk memperhatikan ranting-ranting hitam tempat getah bergumpal.

“Aku ingat,” prianya memulai; dan sekali lagi wanita itu berkata, sebagai protes, “Ohhh!” Sang pria memeriksa dirinya sendiri. “Sayang,” katanya datar, “kaulah satu-satunya wanita yang pernah kucintai.” Mereka tertawa.

“Pasti jalan ini. Mungkin kafe ini — hanya saja mereka mengubahnya. Ketika aku kembali kemarin untuk melihat tempat di mana aku datang setiap musim panas, itu sebuah toko kue, dan wanita itu telah melupakan aku. Ada banyak sekali memori yang mendesak di antara kami — kami biasa pergi bersama-sama — dan aku bertemu seorang gadis di sini, kupikir, untuk pertama kalinya.

“Ada beberapa tempat yang dikenal untuk dihubungi; orang-orang yang datang dari Wina atau Praha, atau di mana pun itu, tahu tempat-tempat itu — tidak mungkin kafe ini, kecuali mereka sudah memperbaikinya. Kami tidak punya uang untuk menikmati semua sofa kulit dan kuningan ini.”

“Baiklah, lanjutkan.”

“Aku terus mengingatnya, untuk beberapa alasan. Sudah bertahun-tahun tidak memikirkannya. Dia sekitar enam belas, kurasa. Sangat cantik — tidak, kamu salah besar. Kami dulu belajar bersama. Dia biasa membawa buku-bukunya ke kamarku. Aku menyukainya, tetapi aku punya gadisku sendiri, hanya saja dia sedang mempelajari sesuatu yang lain, aku lupa apa.” Dia berhenti lagi, dan lagi wajahnya dipelintir nostalgia, dan tanpa sadar dia melirik ke belakang di jalan. Prosesi demo telah sepenuhnya menghilang; bahkan suara nyanyian dan teriakan tetap terdengar.

“Aku ingat dia karena…” Dan, setelah keheningan yang suntuk: “Mungkin selalu begitulah nasib perawan yang datang dan menawarkan dirinya sendiri, telanjang, untuk ditolak.” 

“Apa!” sang wanita berseru, kaget. Juga, kemarahan terbangkitkan dalam dirinya. Dia mencatatnya, dan menghela nafas. “Lanjutkan.”

“Aku tidak pernah bercinta dengannya. Kami belajar bersama sepanjang musim panas itu. Kemudian, suatu akhir pekan, kami semua pergi bergerombol. Tak satu pun dari kami yang punya uang, tentu saja, dan kami biasa berdiri di trotoar dan mengemis tumpangan, dan bertemu lagi di beberapa desa. Aku bersama gadisku sendiri, tetapi malam itu kami membantu petani mendapatkan buahnya, membayar karena memakai lumbungnya buat menumpang tidur, dan aku menemukan gadis ini Marie ada di sampingku. Disinari cahaya bulan, malam yang indah, dan kami semua bernyanyi dan bercinta. Aku menciumnya, tapi itu saja. Malam itu dia mendatangiku. Aku tidur di loteng dengan anak lain. Dia tertidur. Aku menyorongnya kembali ke yang lain. Mereka semua bersama di bawah jerami. Aku katakan padanya bahwa dia terlalu muda. Tapi dia tidak lebih muda dari gadisku sendiri.” Dia berhenti; dan setelah bertahun-tahun, wajahnya sedih dan bingung. “Aku tidak tahu,” katanya. “Aku tidak tahu mengapa aku mendorongnya kembali.” Lalu dia tertawa. “Kurasa itu tidak penting.”

“Bajingan yang tak tahu malu,” kata sang wanita. Kemarahannya kuat sekarang. “Kau menciumnya, bukan?”

Dia mengangkat bahu. “Tapi kita semua memainkan ketololan. Itu adalah malam yang indah — mengumpulkan buah apel, petani itu berteriak dan bersumpah pada kami karena kami bercinta lebih daripada bekerja, dan bernyanyi dan minum anggur. Selain itu, saat itu: gerakan pemuda. Kami menganggap kesetiaan dan kecemburuan dan semua hal semacam itu sebagai sisa-sisa moralitas borjuis.” Dia tertawa lagi, agak menyakitkan. “Aku menciumnya. Di sana dia, di sampingku, dan dia tahu gadisku bersamaku akhir pekan itu.”

“Kau menciumnya,” wanita itu menuduh.

Dia meraba batang gelas anggurnya, menatapnya dan menyeringai. “Ya, Sayang,” dia hampir membohongi wanita itu. “Aku menciumnya.”

Dia tersentak marah. “Ada seorang gadis yang siap untuk cinta. Kau memanfaatkannya untuk bekerja. Lalu kau menciumnya. Kau brengsek benar…”

“Apa yang aku tahu dengan baik?”

“Itu hal yang kejam untuk dilakukan.”

“Aku sendiri masih belia…”

“Tidak masalah.” Dia mencatat, dengan tidak nyaman, bahwa dia hampir menangis. “Bekerja dengannya! Bekerja dengan seorang gadis berusia enam belas tahun, sepanjang musim panas!”

“Tapi kami semua belajar dengan sangat serius. Dia adalah seorang dokter setelah itu, di Wina. Dia berhasil keluar ketika Nazi masuk, tetapi…”

Sang wanita berkata dengan tidak sabar, “Lalu kamu menciumnya, pada malam itu. Bayangkan dia, menunggu sampai yang lain tertidur, lalu dia naik tangga ke loteng, takut lelaki lain mungkin terbangun, lalu dia berdiri memperhatikanmu tidur, dan dia perlahan membuka pakaiannya dan…”

“Oh, aku tidak tidur. Aku pura-pura begitu. Dia datang berpakaian. Celana pendek dan sweater — gadis-gadis saat itu tidak mengenakan gaun dan lipstik — lebih banyak moralitas borjuis. Kusaksikan dia menelanjangi dirinya. Apartemen itu penuh dengan cahaya bulan. Dia meletakkan tangannya di mulutku dan turun di sampingku.” Sekali lagi, wajahnya dipenuhi dengan rasa takjub yang menyedihkan. “Tuhan tahu, aku sendiri tidak bisa memahaminya. Dia adalah makhluk yang cantik. Aku tidak tahu mengapa aku mengingatnya. Sudah menggelayuti pikiranku beberapa hari terakhir.” Setelah jeda, perlahan memutar gelas anggur: “Aku sudah gagal dalam banyak hal, tetapi tidak dengan…” Dia dengan cepat mengangkat tangan wanita itu, menciumnya, dan berkata dengan tulus, “Aku tidak tahu mengapa kuingat dia sekarang, ketika…”  Mata mereka bertemu, dan mereka menghela nafas.

Wanitanya berkata perlahan, tangannya tergeletak di tangan sang pria, “Jadi kau menolaknya.”

Dia tertawa. “Pagi berikutnya dia tidak mau bicara padaku. Dia memulai hubungan asmara dengan sahabatku — pria yang berada di sampingku malam itu di loteng, sebenarnya. Dia membenci nyaliku, dan kukira dia benar.”

“Pikirkan dia. Pikirkan dia pada saat itu. Dia memungut pakaiannya, hampir tidak berani menatapmu…”

“Sebenarnya, dia sangat marah. Dia memaki dengan semua cacian yang bisa dia pikirkan; Aku harus terus mengatakan padanya untuk tutup mulut, dia akan membangunkan orang satu rumah.”

“Dia menuruni tangga dan berpakaian lagi, dalam gelap. Kemudian dia keluar dari gudang, tidak bisa kembali ke yang lain. Dia pergi ke kebun. Sinar bulan masih terang. Segalanya sunyi dan sepi, dan dia ingat bagaimana kalian semua bernyanyi, tertawa, dan bercinta. Dia pergi ke pohon tempat kau menciumnya. Bulan bersinar di pohon apel. Dia tidak akan pernah melupakannya, tidak pernah, tidak akan pernah!”

Pria itu menatapnya dengan rasa ingin tahu. Air mata mengalir deras di wajah sang wanita.

“Mengerikan,” kata wanita itu. “Mengerikan. Tidak ada yang bisa menebusnya untuk itu. Tidak ada, selama dia hidup. Tepat ketika segala sesuatunya paling sempurna, seumur hidupnya, dia tiba-tiba teringat malam itu, berdiri sendirian, jiwanya tidak di mana pun, bermil-mil cahaya bulan hampa yang terkutuk…”

Dia menatap wanita itu dengan lihainya. Kemudian, lewat semacam seringai lucu dan tercela, dia membungkuk dan menciumnya dan berkata, “Sayang, itu bukan salahku; itu bukan salahku.”

“Tidak,” katanya.

Pria itu menaruh gelas anggur ke tangan sang wanita; dan wanita itu mengangkatnya, memandangi gumpalan kecil cairan penghangat, dan mereka minum bersama.

===================
Doris Lessing, nama lengkapnya Doris May Lessing, nama aslinya Doris May Tayler, dilahirkan 22 Oktober 1919 di Kermanshah, Persia (sekarang Iran) dan wafat 17 November 2013 di London. Penulis Inggris yang novel dan cerpennya sebagian besar berisi keprihatinan terhadap orang-orang yang terlibat dalam pergolakan sosial dan politik abad ke-20. Dia dianugerahi Hadiah Nobel untuk Sastra pada 2007. Cerpen ini diterjemahkan oleh Arpan Rachman, jurnalis lepas, menyelesaikan program sertifikasi English for Journalism dari University of Pennsylvania (2016).

Kutukan Kematian

0



Jangan pernah menghitung kematian. Begitulah ia selalu mengingatkan dirinya, apabila kabar kematian masuk ke indra pendengarannya. Tetapi sekuat apa pun ia mencoba tak menghitung dan gelisah, pertahanannya akan jebol, kemudian ia mulai menghitung, dan mengeja nama-nama yang telah tiada, plus mengingat peristiwa yang terjadi di rumah duka, atau hal-hal yang dialaminya bersama orang-orang yang telah mati itu semasa mereka masih hidup. Lalu ia akan teringat pada rentetan tahun yang memilukan. Baris nama yang ia rindukan, yang tak mungkin lagi ditemuinya. Ia akan mengingat bagaimana orang lain sibuk meramal kematian familinya dengan alasan tidak masuk akal, tetapi selalu terbukti di tahun berikutnya, di bulan yang sama, atau sebulan dua bulan lebih lama dari peristiwa kematian sebelumnya, seolah kematian yang seperti itu bukan kebetulan semata. Melainkan takdir yang aneh. Kutukan.

Ia tak ingat tanggal dan bulan di tahun Masehi ketika peristiwa yang mengawali kematian tiap tahun itu. Yang diingatnya ketika itu Rajab, tepat hari ke sembilan Ia dan keluarganya puasa sunnah di bulan Rajab. Bakda subuh, seseorang mengetuk pintu rumah. Ia tergesa membuka sebelum ayahnya mendahului. Didapatinya, pamannya berdiri lesu, memasang wajah muram. Arini tersentak, tubuhnya lemas ketika lelaki kurus itu mengatakan kabar kepergian neneknya.

Langit mendung menaungi makam dan rumah yang berderet di sisi kiri kanan jalan. Beberapa kali turun gerimis, seakan langit turut berduka akan kepergian ibu dari empat bersaudara itu. Keluarga diliputi duka yang lara. Sehari dua hari Arini dan ibunya menangis. Dua hingga tiga hari ia mulai mencoba kuat. Hingga satu minggu, ia mulai jarang menangis. Sepekan berlalu, berganti ke pekan berikutnya hingga satu tahun mereka mencoba melupakan duka, meski luka itu tak betul-betul pulih dari hati tergores kepergian yang mengejutkan.

Kabar kematian datang lagi. Kali ini datang dari ayahnya. Kakak tertuanya meninggal bakda salat duha. Di tahun kedua, kematian kedua, ia harus menerima kenyataan mengejutkan itu. Saat itu ia mulai membandingkan hal yang terjadi di kematian neneknya dan kematian berikutnya.

Pertama-tama, selalu terjadi ketika tengah ada perselisihan keluarga. Kala itu keempat saudara, tiga paman serta ibunya berselisih urusan tempat tinggal ibu mereka. Hal yang menyebabkan sang ibu memutuskan hidup sendiri, meski akhirnya pamannya yang paling muda mengalah untuk menemani, tentu dengan mengorbankan pekerjaannya di luar kota dan bekerja di kotanya meski dengan gaji yang kecil. Keempat bersaudara tak saling sapa dan berkabar, hingga akhirnya mereka dikumpulkan kembali oleh duka kepergian. Di tahun ke dua pun, ayahnya, beserta kedelapan saudaranya tengah berselisih. Lagi, kematian mempersatukan mereka dalam kubangan duka.

Hal kedua, di tahun kemarin dan berikutnya, sebelum dua kematian itu terjadi, beberapa tetangganya meninggal satu per satu. Terkadang di minggu yang sama, atau dua minggu setelah kabar kematian itu terdengar. Kabar kematian akan terus berdatangan memasuki lubang telinganya. Kemudian kabar kematian familinya seolah menjadi kabar penutup dari kematian secara terus menerus itu. Kematian yang janggal namun hanya kebetulan. Tetapi selalu memunculkan persepsi gila dari orang lain. Seolah kematian beruntun itu telah termaktub dalam garis takdir keluarga mereka sebagai kutukan.

Hal ketiga adalah mimpi. Tahun lalu, sebelum neneknya meninggal, selama dua pekan, secara berselang, ia bermimpi aneh. Ia melihat seluruh keluarganya berkumpul dalam suasana ramai dan muram, namun ada berkas-berkas cahaya keemasan yang menyinari kemuraman itu. Cahaya hangat dalam mendung yang suram.

Tiga hal itu mulanya ia tepis, ketika tiba-tiba muncul dalam benaknya. Semua kebetulan belaka. Tak perlu mengaitkan kejadian dengan kejadian lain tanpa alasan kuat dan logis. Apalagi urusan kematian. Begitu pikirnya. Namun tiga hal itu kembali muncul ketika keluarganya kembali berduka di tahun ketiga dan keempat di bulan yang sama. Bahkan di tahun ke lima, ia kehilangan sepupu terdekatnya, familinya yang masih muda, yang mati tanpa disangka, sehingga kematiannya menjadi kejutan menyakitkan, sebab saat itu—keluarganya tengah berselisih dengan sepupunya itu.

Di waktu-waktu menjelang kematian yang mengejutkan tersebut, keluarganya sering menggunjing sepupunya, bahkan mereka memutus tali silaturahmi karena teramat sakit hati oleh keputusannya yang menyinggung hati keluarga. Saat itu, sepupunya yang bernama Abdul Ghani menolak tawaran keluarga Arini untuk menikahkan mereka. Anggota keluarga besarnya bertambah dan berkurang seiring adanya kematian dan pernikahan yang menghasilkan kelahiran. Tiga hal itu mulai ia yakini sebagai firasat dan tanda.

Di tahun keenam, tepat ketika ia akan menikah, ia mulai bermimpi aneh. Kabar kematian bermunculan di kampungnya, pula beberapa sanak saudaranya sedang berseteru. Ia sangat cemas, terlebih pada ayahnya. Dalam mimpinya yang ia yakini sebagai tanda, ia sering melihat ayahnya dikelilingi cahaya keemasan yang terlihat menghangatkan. Ia kerap dilanda gelisah, bahkan menangis tiba-tiba di sudut ruangan. Setiap malam ia berdoa untuk kepanjangan umur orang tuanya, sebab tanpa mereka bagaimana mungkin adiknya yang masih sekolah dapat menerima. Terlebih, tak ada seorang pun yang mengharap kematian, kendati kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

“Pak, pokoknya saya ingin cuma Bapak yang jadi wali nikah saya,” katanya dengan wajah pucat, setelah tersadar dari pingsan.

“Ya jelas. Memangnya mau siapa lagi?” kata ayahnya seraya berlalu.

“Kamu ini kenapa sih, Rin? Tiba-tiba sering melamun dan tak sadarkan diri. Sekarang malah ngomong aneh. Sebentar lagi kamu akad, jangan terlalu stres, ibu khawatir riasan pengantinmu jelek pas acara.”

“Arini mimpi itu lagi, Bu.”

Ibunya terlonjak. Wajah tuanya terlihat pucat.

“Siapa yang tidak ada?”

“Semuanya lengkap.”

“Lalu, siapa yang sering muncul sendiri?” tanya ibunya lagi.

“Bapak,” jawabnya tertunduk.

Mimpi hanya bunga tidur, berhenti menafsirkan mimpi dengan serampangan, begitu kata kakak pertamanya menenangkan ia dan ibunya yang gelisah. Setenang apa pun raut wajah lelaki itu, masih ada kekhawatiran yang tersirat di bola matanya. Arini dapat melihat itu dengan jelas.

“Apa salahnya mendoakan beliau berumur panjang?” gumam ibunya.

Kakak sulung Arini mengangguk tanpa bicara, lantas meninggalkan kamar. Arini menatap punggung tegap itu lalu menatap ibunya, membayangkan wajah ayahnya, lantas terpejam. Kematian tak dapat dibatalkan meski dengan doa. Kematian adalah kepastian. Tak ada yang akan hidup abadi di dunia ini, pikirnya. Setidaknya, kematian dapat diulur.

Mimpi dan firasat itu terjawab ketika ia telah menikah. Satu minggu setelah acara pernikahan, seusai acara munjungan, kabar kematian ia dengar dari mulut suaminya setelah mengangkat telepon. Ibunya masuk rumah sakit karena terkejut mengetahui kabar kematian anak sulungnya yang baru tiba di Lampung. Ia termangu. Mimpi itu tak sesuai dengan prediksinya. Ia bingung mesti lega atau bersedih. Mungkin pula keduanya. Ayahnya tak mati, justru kakak sulungnya yang pergi. Orang yang sebelumnya ia marahi dan abaikan permintaan maafnya karena tak bisa ikut munjungan ke rumah mertua Arini. Kematian itu sungguh membuatnya terpukul dan bimbang.

Di tahun ketujuh, tepat ketika ia mendengar kabar kematian tetangganya–yang keempat kali setelah kematian yang lain di bulan itu, dalam kengerian wabah virus mematikan, ia merasakan firasat buruk itu lagi. Ia menelepon orang tuanya, memastikan kabar mereka baik, lantas entah mengapa ketika menelepon, mulutnya mengucap maaf begitu saja, seolah ia tengah melakukan sungkem, seperti yang dilakukannya dua belas bulan lalu. Matanya telah basah digenangi air. Seketika hatinya begitu hampa, ketika ia menyadari apa yang diucapkannya. Apa yang dilakukannya seolah mendukung kematian salah satu di antara kedua orang tuannya. Seharusnya ia tak meminta maaf seolah mereka akan benar-benar mati. Tetapi apa salahnya meminta maaf? Toh ia pun tak tahu kapan dan kepada siapa kematian akan menjemput.

Ia mulai sesak, lantas menatap bayi lelaki berusia satu bulan di sampingnya. Bagaimana nasibmu jika kau tinggal tanpa ibu? Batinnya.

“Rin, kau sudah selesai?” tanya seorang di seberang sana.

“Iya, Bu. Maaf mengganggu Ibu dan Bapak,” katanya menahan isak lalu menaruh kembali telepon pintarnya, setelah mengetahui sambungan telepon dimatikan.

Mimpi-mimpi yang kerap dialaminya di minggu terakhir ini terus berkelebat dalam pikirannya. Dalam mimpi itu ia berjalan di sebuah taman, di bawah langit mendung, tapi ada seberkas cahaya keemasan yang menyoroti tubuhnya. Mungkinkan kematian itu adalah gilirannya? Ia terguncang dan terisak, kembali memandangi tubuh mungil yang terlekap di sampingnya.

Setelah beberapa kali menyeka air matanya, ia memerhatikan sekeliling ruangan, terutama atap rumahnya. Benarkah ia akan segera mati? Batinnya. Jika ya, seharusnya ia telah dapat melihat sosok tinggi besar yang mengintainya, sebagaimana yang sering diceritakan sebagian orang, bahwa ketika kematian semakin mendekat, Azrail akan terlihat. Ia tidak merasakan ubun-ubunnya berkedut hebat, atau kehilangan bayangan tubuh. Arini menghela nafas berat, lantas menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar. Kematian belum mendekatinya. Ia seharusnya tahu, dan yang ia takutkan tadi hannyalah buah dari kepanikannya.

Tetapi ia kembali resah, mengingat mimpi dan tanda-tanda yang terus bermunculan. Siapakah yang akan menerima ajakan Azrail berikutnya? Sebab ia yakin tanda-tanda itu telah menjadi acuannya sebagai firasat akan ada kabar kematian dari keluarganya. Segalanya selalu akurat.

Ia teringat suaminya, lalu mengkhawatirkan lelaki yang tengah sibuk menyusun proposal acara untuk kantornya itu. Lelaki itu terlihat berbeda dewasa ini. Air mata Arini mengucur lagi. Sungguh ia tak akan pernah siap ditinggalkan lelaki itu. Bagaimana mungkin ia dapat hidup bahagia dengan membesarkan anak tanpa suami?

Arini menelepon suaminya, menanyai keadaan ia. Setelah mendapat kabar baik, ia tersenyum lega. Namun beberapa saat kemudian, hatinya kembali resah. Ia benar-benar takut menerima kematian atau kabar kematian. Perempuan itu membaca ayat-ayat suci guna menenangkan pikirannya. Iya. Seharusnya ia siap menerima apa pun yang terjadi, sebab kematian adalah sesuatu yang pasti dan tak dapat dihindari. Usaha menghindari kematian dengan mati-matian hannyalah kesia-siaan. Mestinya ia tidak panik dan bersiap diri, barangkali betul kematian tengah mendekatinya, dan sungguh, ia tidak akan bisa menghindari, atau memprotes Tuhan dan membujuk-Nya agar tak menunda kematian sampai waktu yang menurutnya tepat untuk mati. Sekali lagi, sekuat apa pun ia mengatakan kematian adalah kepastian, kegelisahan dan ketakutan menyelimutinya. Ia belum siap sungguh.

Ingatan pada Satu Nama

0


Terbuat dari apakah kesunyian? Apakah dari hembusan angin malam yang menggerakkan dedaun di saat termenung sendiri? Atau dari adonan bayang kenangan masa lalu menjemukan, yang tersusun dari kerumitan lipatan peristiwa yang menimbuni hidup? Ataukah mungkin dari ingatanku tentang seorang perempuan yang berjalan sendirian di gerimis hujan, ketika sepi masih menjalari pagi. Sejak kepulanganku sebulan lalu, hujan dan kenangan membuatku selalu tak berjarak dengan sunyi, menyeretku pada seutas senyum ganjil yang lekat di ingatan.

Ia datang saat fajar baru saja selesai. Angin belum berhembus, langit berwarna lembayung, hujan baru saja turun. Ada aroma basah tanah yang menyegarkan hidung. Ia berjalan ke arahku, saya curiga. Kukira setan kesasar yang iseng menakutiku dengan menjelma gadis manis. Bedanya, ia rapi. Seperti gadis-gadis yang akan berangkat ke gereja. Ia tersenyum, saya tersenyum. Sepagi ini.  

Cepat ia seperti mengurungkan niat. Lalu berdiri seperti patung, ragu. Aneh sekali. Ia mengedarkan pandangan ke bawah, barangkali menahan sesuatu, malu. Tetapi tetap saja sepi, tak sepatah kata pun keluar dimulutnya. Pelan ia melangkah mendekat, mengatur nafas yang mendadak sengal, lalu mengulungkan senyumnya dengan manis.

“Pak Guru kan? Yang dari Kota M itu?”

Saya terheran. Rupanya telah mengenaliku.

“Iya, kenapa, dek?” kataku dengan tidak biasa.

“Mohon bantuannya pak guru, ibuku jatuh di tangga. Butuh bantuan laki-laki.”

Lalu kami pun tergopoh menembus pagi yang sepi. Pagi belum selesai saat saya sampai di rumahnya. Telah ada seorang lelaki paruh baya yang berusaha menyadarkan ibu tersebut yang pingsan. Saya membantu mengangkat, dan membopongnya ke puskesmas pembantu kampung.

Saya pulang jam 7 pagi, diantar perempuan itu. Beribu terimakasih ia haturkan atas kesediaanku membantu. Ia lalu mengenalkan dirinya dengan nama M, merupakan guru honorer di sebuah sekolah. Astaga, saya belum mengenalnya. Semenjak kedatanganku sepekan lalu, saya memang belum banyak mengenal orang luar. Hanya Pak Kepala Sekolah, beberapa teman guru, dan beberapa teman di masjid yang baru sempat lekat di ingatan.

Saya menyampaikan penyesalanku karena sepekan ini tak berusaha membuka diri pada lingkungan baruku. Dan dia, adalah orang kesekian dari sedikit orang yang kukenali namanya di sini. Semenjak kedatanganku sepekan lalu, waktuku kuhabiskan beradaptasi dengan lingkungan sekitar, tapi kebanyakan baru kenal muka. Tak sempat melekat-lekatkan nama di ingatan.

Ya, saya adalah seorang guru, pengajar di pedalaman. Memenuhi keinginan nurani menjauh dari kampung sendiri, belajar hidup di kampung orang. Dan di sinilah saya, sebuah kampung kecil yang terletak di pedalaman Papua. Desa yang sepi memang membuatku telah dikenal seantero kampung. Di sini guru sangat dihargai, dianggap berharga sebagai orang pintar, seorang ahli, pembawa pencerahan.

***

Usianya masih muda. 23 tahun ia bilang, memperkenalkan dirinya sebagai perantau dari kota A, mengikuti orang tuanya sejak ia masih kecil. Setamat SMA ia langsung mengabdikan dirinya pada satu-satunya sekolah di kampung ini. Ekonomi yang mencekik leher merupakan satu-satunya alasannya tidak melanjutkan sekolah dan memilih mengabdi pada sekolah ini. Dan saya sungguh bangga padanya, bahwa dia memiliki kebesaran jiwa untuk mencerdaskan anak-anak di kampung, meski harus mengorbankan dirinya, impiannya untuk kuliah.

Saya mengajar di sebuah SMP, sekolah kecil yang sederhana, lumayan untuk seukuran pedalaman. Ruang kelas berlantaikan keramik, meski telah berlubang dan dinding yang retak, juga guru yang hanya 6 orang. Tapi itu bukan soal, dibalik kesederhanaan itu tersimpan potensi lain yang unik dan tidak dimiliki sekolah lain. Lingkungan sekolah tak pernah dibatasi oleh apapun, tak pernah ada pagar yang mengeliingi sekolah. Pekarangan sekolah adalah sepanjang hutan dan rimba-rimba, jalan yang menghubungkan antarkampung, sungai-sungai yang besar, serta padang yang membentang panjang di hadapan dan disamping sekolah. Kalau sore tempat itu biasa dijadikan tempat bermain bola dan layang-layang bersama siswa-siswa.

Saat jam pembelajaran, saya juga sering mengajak siswa untuk belajar di bawah pepohon Mahoni rindang yang tumbuh satu-satu di samping sekolah, meminta mereka menulis puisi sambil melihati gunung yang jauh, atau padang yang membentang, atau tentang burung-burung yang sering singgah. Apa saja. Di sana juga pernah mereka belajar bermain drama, membedakan kalimat langsung dan tak langsung, juga mengajari mereka membuat kalimat sampiran pantun berdasarkan identifikasi langsung pada alam sekitar.

Dan mereka, siswa-siswa yang bahagia. Hari-hari di sekolah mereka habiskan dengan ceria. Keakraban kami berjarak, terbatas penghargaan mereka kepada gurunya, sekeras apapun berupaya akrab. Kalau sore mereka sering datang ke rumah, membawa sayur dan buah hasil kebun.

***

Malam yang selalu memanggil kenangan, pagi yang selalu bersama lengang. Sejak pertama, telah ada kebisuan yang menggantung di pelupuk mata. Sunyi, sunyi sekali. Selalu, setelah masa kuliah selesai, setelah menjauh dari kota sendiri dan menyepi di pedalaman, dan tak ada lagi panggilan-panggilan ngumpul dari teman-teman, dan perasaan sudah saatnya menikah muncul, saya sering berpikir, hanya untuk satu nama. Sebuah judul cerpen yang pernah saya baca, sebuah karya sahabat. Saya menyukainya.

Minggu pagi, biasanya sepi terusir. Anak-anak sekolah minggu baru saja usai ramai terdengar menyanyi di gereja. Tak ada gerimis hujan, tak ada langit lembayung, dan tak ada angin yang berhembus seperti pertama melihatnya. Perempuan itu datang dengan tak lupa menyapa ‘selamat pagi’. Terus terang senyumnya manis sekali, pakaiannya rapi, sepertinya baru pulang dari gereja.

Diajaknya saya jalan-jalan bersama beberapa siswa, mengunjungi tulip yang tumbuh di pinggiran sungai. Saya tertarik, atas nama penasaran dan atas nama ingatanku pada cerpen “Hanya untuk satu nama” itu yang berlatar cerita tulip dan Belanda.

Setelah bersiap, kami berangkat. Tempatnya agak jauh, dijangkau dengan perahu kecil, menyusur sungai hingga ke hulu, ke kapala air mereka bilang. Di perjalanan, ia bercerita banyak sekali, panjang dan mengembang, dan memaksaku tersenyum. Saya menghargainya. Dan saya tahu dia sering melirikku. Kami menemui lapangan yang luas, angin yang berhembus dari jauh, buaya-buaya, berbagai jenis burung langka, dan pepohon menjulang. Hampir tak percayaku, bahwa, daerah di timur Indonesia ini betul-betul terdapat tulip. Asri dan tak terjamah.

Kami pulang menjelang dhuhur, berkali kuucap terimakasih dan berkali dia tersenyum.

***

“Itu si M, Pak Guru, anak si G, cantik” seru Pak T, teman guru di sekolah tempatku mengajar yang menjumpaiku suatu pagi. “Baru 23 tahun…” sambungnya, entah apa maksudnya.

Ini hal yang tidak mungkin. Tiba-tiba serasa ada yang datang menyerbu, mengepungku. Sungguh dia cobaan hidup anak muda yang sudah merasa ingin menikah, sekaligus ingin hidup baik-baik. Laki-laki memang mahluk yang suka tergoda, yang kalau tergoda butuh tempat pulang dan mengadu. Dia menyukaiku, dikatakan terang-terangan suatu hari, dan saya seperti mendengar tabuhan benderang di hatiku. Saya tentu saja menolak, dibawah langit lembayung, dan angin yang bertiup dari utara, kukatakan itu dengan benderang.

Saya meminta maaf, dia tersenyum. Saya tersenyum, dia menangis. Saya ingin menangis dia meminta maaf, kemudian berlalu dengan sopan. Sejak saat itu, tak pernah lagi kami jumpa, bahkan meski sekedar melihatnya lewat depan rumah saat hendak ke gereja. Tak pernah.

Lalu saya pulang ke kampung. Sering saya mengingatnya, perempuan yang pertama menemuiku ketika hari sedang gerimis. Menyeretku pada seutas senyum ganjil, lekat diingatan. Kalaulah mungkin takdir mau berbaik hati, saya masih ingin jumpa dengannya. Entah kapan dan di mana. Sekedar menanyai kabar, mengajaknya ngobrol basa-basi tentang perkembangan kampungnya, lalu sudah, itu saja.  

Makassar, 2020



======================
Dhito Nur Ahmad, dilahirkan di Jeneponto, Sulawesi Selatan, 12 Maret 1989. Menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana pada Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar (UNM), Maret 2013. Beberapa kali memenangkan lomba menulis yang dilaksanakan secara online. Aktif menulis sastra sejak kuliah. Saat ini tinggal di Ambon-Maluku.

Sejarah Anggrek di Pohon Mangga

0

“Ayahku sebatang pohon mangga dan tumbuhan anggrek adalah ibuku,” demikian kata-kata yang berlompatan dari mulutku mendadak menjadi bibit asap pekat yang memenuhi setiap sudut ruang itu. Empat orang di dalamnya—kecuali aku—merasakan sesak napas dan perih mata yang sangat karenanya. Aroma kematian mendadak menguar dan menjejali setiap kepala.

Lalu, semua menduga-duga di mana sumber asap itu. Mungkinkah ada api di dalam mulutku. Mulutku memang patut disigi dengan saksama untuk menemukan tersangka utama, ada lidah, langit-langit mulut, gigi seri geraham atau taring, lebih ke dalam pangkal tenggorokan. Tidak, semua yang di dalam mulut itu hanya ada seperangkat artikulator, alat. Mungkinkah alat ditersangkakan? Sebagai umpama, seseorang terbunuh setelah ditikam dengan pisau. Mungkinkah polisi menjadikan pisau sebagai tersangka. Begitu maksudku.

Lalu, apakah sebab musabab di balik asap pekat dari mulutku yang justru mengancam membunuh siapa saja yang mendengarnya? Akan sangat sia-sia mengusir asap, tanpa usaha mematikan sumber asap itu. Siapa pun yang ingin menolongku harus menyelam ke dalam pikiran dan hatiku. Lalu memadamkan api di dalamnya. Betapa pun, aku tahu ada titik panas di sana, tapi aku sendiri tak bisa memadamkan atau mengendalikannya.

*

Dengan asap yang terus mengepul dari mulutku, aku memenuhi undangannya ke Baturraden. Matanya menyala saat melihat gulungan asap raksasa mengekor di belakangku. Sesekali warna api menjilat-jilat, mengejek kekasihku yang merwajah masygul.

“Kamu tahu, kenapa aku mengajakmu ke sini?”

Aku menggeleng tak acuh, asap menghambur dari mulutku bagai permainan asap rokok.

“Ayah dan ibu melarang hubungan kita berlanjut,” suaranya mendadak lesap tertahan sesuatu di pangkal tenggorokan.

“Tak ada gunanya menangis.”

“Kamu memang harus belajar bersikap lebih baik agar tak mudah memicu pertengkaran.”

Setelah mengatur napas hingga kembali teratur dan meredakan gemuruh di dadaku yang bergolak, aku katakan padanya, “Kupikir, ayah dan ibumu benar.”

“Kamu menyerah, Sayang?”

Aku hanya mendesis mendengar kegusarannya. Sejak awal, aku tahu, cepat atau lambat, hal sepelik itu akan terjadi. Dengan mangajakku ke Baturraden, dia tengah menguji daya tahan cinta kami. Sejarah Baturraden mengajarkan kami, cinta yang buta dapat dikalahkan dinginnya kabut yang turun dari puncak Gunung Slamet. Cinta yang buta dapat diredam dengan menempuh jalan yang terjal berliku. Cinta yang buta dapat digugat dengan keterbatasan dan kekurangan materi. Yang mampu bertahan dari dinginnya kabut, jalan yang terjal berliku, dan keterbatasan dan kekurangan materi, pastilah bukan cinta yang buta, melainkan cinta sejati.

Aku adalah anak pohon mangga. Tentu dia tampan dan gagah seperti seharusnya seorang ayah di mata anaknya. Pohon yang tumbuh tegak di depan rumah yang dulu kutinggali berdua dengan ibu sebelum kematiannya. Bertiga, saat seorang laki-laki yang konon suami ibuku masih hidup meskipun aku tak pernah mengingatnya barang sebiji zaroh. Pohon mangga peneduh halaman rumah kami itu setiap tahun selalu berbuah. Buahnya selalu lebat dan berukuran besar, sangat memuaskan. Dagingnya bertekstur lembut dengan kemanisan yang sempurna, tak berlebihan. Sungguh buah mangga kami tiada duanya di pasar. Setiap sel dalam akar, batang dan ranting, daun, bunga, dan buahnya adalah persembahan cinta dari ayah dan suami untuk anak dan istrinya. Begitu kata ibu padaku suatu ketika dan kalimat itu selalu diulang-ulangnya pada kesempatan yang lain. Bahkan, pada hari-hari terakhirnya masih bernapas.

Aku dibesarkan dan dirawat pohon mangga sebagaimana ibu merawat dan membesarkan pohon mangga dengan penuh cinta. Pohon mangga itu tak pernah tumbuh lebih tinggi dari atap rumah kami, akar tunggang dan batang utamanya yang kokoh membuat ibu tak pernah khawatir jika aku memanjatnya berlama-lama. Hanya dengan pohon cintalah aku berkawan, selain ibu tentu, sementara teman-teman kampung seusiaku bercengkerama dengan ayah-ibu mereka. Dari kejauhan, aku sesungguhnya iri. Entahlah, aku tak pernah mengatakan kepadanya atas kecemburuanku kepada mereka yang memiliki ayah seorang manusia. Aku tak ingin menyakiti hati ibu.

Pohon cinta adalah rumah bagi burung, belalang, semuat, ulat sebelum berubah jadi kupu-kupu. Mereka adalah saudaraku sedarah, kami berbagi suka dan duka, saling menjaga. Kami pun sesekali bertengkar untuk beberapa saat sebagaimana sebuah keluarga normal.

Dari atas pohon, aku sering kali melihat ibu bicara dengan pohon mangga, penuh cinta dan takzim. Ibu membicarakan tentang apa saja. Pada saat-saat tertentu, aku bahkan mendengarkan ibu bersenandung untuknya sambil menyiramkan air di tanah atau menyapu daun-daunnya yang kering berserakan di tanah. Ibu tak pernah menyembunyikan rahasia apapun darinya, bahkan yang tak boleh aku tahu. Pada saat seperti itu, aku merasa iri padanya. Tapi itu terlintas sebentar saja. Sebagai balasan cintanya, pohon cinta menjatuhkan daun keringnya sesedikit mungkin dan menunggu datang angin yang berembus kencang sehingga ibu atau aku tak perlu susah payah menyapu halaman rumah kami, kekcuali sedikit.

“Untuk apa memulai pelayaran dengan bahtera yang bocor sejak awal, kita bukan Khidir dan Musa bukan?” kataku lirih.

“Kita punya cinta yang harus diselamatkan. Kecuali, itu tak bernilai di matamu.”

“Untuk menyelematkan cinta, terlalu banyak yang harus dikorbankan. Itu tak adil buatmu bukan. Percayalah!”

“Aku tak peduli, ceritakan tentang pohon mangga ayahmu dan anggrek ibumu padaku.”

“Kau akan mati karenanya?”

“Aku akan mati karena cinta. Itu mengagumkan, Sayang.”

Semua itu hanyalah delusi ibu. Sementara aku kecil dengan segenap keluguan meyakininya sebagai kebenaran. Aku menyadarinya pada hari paling menyedihkan seumur hidupku. Ketika aku berusia tujuh belas, petir itu menyambarku tiba-tiba, ibu meninggal tanpa firasat atau pertanda apa pun sebelumnya.

Satu-persatu simpul rahasia mengendur dan terbuka dengan sendirinya. Petir pertama sungguh menggetarkan. Aku dibuatnya tak sadarkan diri ketika kudengar sendiri orang sekampung tak mengizinkan tanah kuburan digali untuk ditanam mayat ibuku.

Petir kedua menyambar, aku lebih kuat karena sambaran petir yang pertama. Ayahku mati bunuh diri saat usiaku belum genap setahun. Ibu tak pernah mengatakan apa pun tentang itu. Kebenaran yang kudapat beberapa tahun kemudian adalah ayahku pelaku peledakan bom bunuh diri di sebuah gereja. Orang kampung tak sudi kuburan mereka ditanami jenazah ayahku yang badannya bercerai berai, bahkan tak utuh. Ibu mengalah, menanam sendiri dengan tangannya mayat suaminya di halaman rumah. Beberapa hari kemudian biji mangga bertunas di dekat gundukan tanah tanpa nisan itu. Ibu membiarkannya sebagai peneduh makam ayah saat siang hari dan dari derasnya guyuran air di puncak musim hujan. Pohon itu tumbuh besar bersamaku hingga hari ini.

Aku tumbuh tanpa interaksi dengan teman-teman seusiaku dan tetangga. Anak-anak kampung itu tak pernah diizinkan bermain denganku. Orang tua mereka mengatakan jika mereka nekat bermain denganku atau sekadar datang ke halaman rumahku, mereka akan dimakan sosok gergasi yang tinggal dalam sebatang pohon mangga besar dan angker. Pohon itulah yang oleh ibuku disebut sebagai pohon cinta, ayahku. Mereka menghukum keluarga kami dengan pengucilan. Mereka menyebut kami bersekutu dengan makhluk gaib. Makhluk-makhluk itulah yang menghidupi kami sehingga aku dan ibu tak pernah berkukurangan materi. Sampai hari ini, aku sendiri tak pernah tahu dari mana ibu memenuhi kebutuhan hidup kami, sementara ia tak berkerja.

Aku mengulangi apa yang dilakukan ibu ketika menguburkan mayat ayahku, sedangkan aku mengubur mayat ibu di dekat pohon cinta. Hanya di tempat itulah orang kampung tak bisa melarang apa yang ingin kulakukan. Itulah, mungkin, alasan ibu pernah berwasiat padaku ingin dikuburkan bersanding dengan pohon cinta.

Beberapa hari setelah kematian ibu, muncul anggek di batang pohon cinta. Beberapa bulan kemudian, di musim kemarau, anggrek itu berbunga. Bagiku, anggrek kuning itu adalah ibuku yang memeluk dengan erat tubuh ayah yang begitu dicintainya penuh pengabdian dan kesetiaan. Aku merasa lega telah mempertemukan dua perasaan cinta yang pernah berjarak antara manusia dengan sebatang pohon. Kini, sepenuhnya mereka hidup bersama, besanding, dan tentu berbahagia.

*

Dan, hari paling terkutuk itu datang. Saat seorang kolektor tanaman hias menemukan dan tersihir keeksotikan bunga anggrek di pohon mangga di depan rumahku yang biasa mekar di tengah musim kemarau. Dia memengiming-imingiku segepok uang untuk mendapat anggrek jenis baru dan tentu saja langka di dunia. Aku tak punya pilihan selain menjadi pendurhaka. Tiga bulan sebelum pernikahan kami, aku tak mengantongi sepeserpun uang untuk dijadikan mahar pernikahan.

Bunga Pustaka, 2019



=================
Mufti Wibowo lahir dan berdomisili di Purbalingga; penggiat di Komunitas Bunga Pustaka.

Dilarang Menangis

0

Mendadak segalanya jadi begitu genting di Desa Salbut. Ya, genting dan berbahaya. Itu semua setelah Klebun Ladrak mengeluarkan surat keputusan yang kontroversial sekaligus menjengkelkan; melarang warga desanya menangis. Sebelum surat keputusan itu diedarkan, sebenarnya Care’ Tarkam sudah mewanti-wanti untuk mempertimbangkan kembali keputusan itu. Apalagi para bengatoah banyak tak setuju. Tapi Tarkam justru kena marah.

“Apa kau tuli, hah?! Apa kau tak dengar tangisan setiap malam sebagian warga yang memekakkan telinga itu?” Ladrak membentak.

“Dengar, Bun!”

“Nah! Kita sama mendengar. Sama menderita. Jadi, keputusan ini untuk kemaslahatan warga.”

“Tapi, Bun…” belum selesai Tarkam menyelesaikan omongannya, Ladrak sudah berteriak.

“Halah, tak usah lagi tapi tapi. Segera stempel. Perbanyak lalu bagikan pada warga. Titik. Aku sudah jenuh dengan suara tangisan. Sudah jengkel dengan airmata. Apalagi airmata buaya,” sergahnya lalu ngeloyor pergi. Tarkam hanya diam membisu sambil memandangi pantat klebunnya yang tepos yang perlahan-lahan lenyap ditelan pengkolan jalan. Sambil menarik napas panjang ia menyetempel surat keputusan itu.

Memang sudah hampir sebulan hari Desa Salbut dikepung suara tangis yang seolah-olah turun dari udara seperti embun. Menyusup ke rumah-rumah warga, mengganggu tidur bagai mimpi buruk yang memecahkan indera pendengaran dan jika dibiarkan lebih lama lagi bisa membuat gila. Sebab suara tangis itu seperti suara gerombolan mesin giling tua yang dinyalakan bersama-sama. Bising dan makin lama makin terdengar mengerikan.

Mula-mula tangis itu berasal dari rumah Julaiha. Perempuan yang melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika suaminya mati dibakar warga karena mencuri sapi itu meraung-raung di jalan sambil memeluk tubuh suaminya yang gosong. Namun hingga Julaiha diseret pulang ke rumah, tangisannya tak juga berhenti dari malam hingga malamnya lagi. Kadang suara tangisnya terdengar seperti suara tangis bayi baru lahir. Kadang seperti suara tangis anak kecil yang kena gampar bapaknya karena memecahkan kaca jendela rumah tetangga saat main bola. Kadang seperti erang binatang sekarat yang meregang nyawa.

Sebenarnya warga desa tak peduli dengan tangis Julaiha. Toh dua hari lagi berhenti, begitu batin warga. Tapi nyatanya tidak. Tangis Julaiha meluber ke mana-mana seperti banjir yang meluap dari sungai Kamoning. Tetangga Julaiha mulai ikut-ikutan menangis. Anak-anak mulai menangis. Nenek-nenek menangis. Tak lama kemudian sebagian warga desa mulai menangis tak berhenti hingga menjadikan malam-malam di desa Salbut diselimuti tangisan. Seperti flu, tangis itu menular pada mereka yang tak sanggup menahan kesedihan.

Warga yang tak menangis, mulai mengeluh. Kemudian mendatangi kantor kepala desa dan menuntut kepala desa mengambil tindakan. Kemudian muncullah ide mengeluarkan surat keputusan larangan menangis itu.

***

Sejak larangan menangis itu keluar, seluruh sudut desa dipasangi plang bertuliskan: DILARANG MENANGIS DI SINI! Dengan huruf besar. Tak hanya itu, Klebun Ladrak juga menyewa algojo-algojo pencabut kenangan. Sebab sanksi bagi para pelanggar surat larangan itu jelas. Menangis adalah tindakan mengganggu ketertiban umum. Barang siapa menangis, maka akan dikenai hukuman buang ke sebuah pulau di tengah laut selatan tanpa batas waktu yang ditentukan. Sebelum itu para pelanggar akan dicabut kenangannya hingga tak ingat apa-apa. Kebanyakan berakhir gila. Sanksi itu berlaku buat siapapun.

”Bahkan kalau aku atau keluargaku melanggar, akan kuterima semua hukuman sebagai kepatuhan pada undang-undang,” ujar Klebun Ladrak.

Korban pertama dari surat keputusan itu tentu saja Julaiha. Selain karena dia dianggap biang keladi segala tangisan di desa Salbut juga sebagai daya kejut agar tak lagi ada orang menangis kecuali bayi. Saat Julaiha dijemput paksa pasukan gabungan penegak larangan menangis yang dibentuk Ladrak banyak warga desa yang bersedih. Tapi sama sekali tak berani menangis. Sebab sanksi dibuang ke pulau di laut selatan sungguh mengerikan. Para pelancong di pulau itu suka sekali menangkap perempuan gila dan membawanya ke losmen. Entah sebagai teman kencan atau diperkosa ramai-ramai.

Berturut-turut kemudian seorang ibu yang menangis karena dompetnya kecopetan di pasar, ditangkap. Seorang istri yang menangis karena digampar suaminya, dibui. Seorang remaja yang menangis karena diperkosa supir angkot sepulang sekolah, ditangkap.

Dan mendadak desa langsung sepi dari tangisan. Orang tak lagi berani menonton reality show yang menjual airmata untuk mendapatkan rating tinggi. Ketika ada warga yang mati, sanak keluarganya hanya diam membisu. Tak ada tangis yang mengalun sayup-sayup bersama kesedihan angin yang melintasi lading-ladang dan sungai-sungai hingga lari ke pantai. Tak ada lagi orang yang diluapi kesenduan setiap tangisan itu timbul tenggelam. Yang tersisa kini adalah gerundelan dan keresahan.

Larangan itu menjadi perbincangan di mana-mana. Dari ranjang sampai ladang, dari restoran cepat saji hingga meja-meja kantor administrasi, dari tukang sayur sampai tukang cukur, dari pejabat sampai para penjahat. Beberapa kali terjadi unjuk rasa agar larangan tersebut dicabut. Tapi Ladrak bergeming.

Malah Ladrak kemudian menggelar jumpa pers untuk menjelaskan secara rinci alasan diberlakukan larangan itu.

“Kita selama ini hanya diperalat perasaan sedih kita. Sebenarnya kita bisa bersikap sebaliknya, yakni bersikap serius terhadap segala macam kesedihan dan tidak menangisi setiap penderitaan. Kita bisa memulai dengan menertawai setiap kesedihan seolah-olah menertawai nasib sial. Daripada meributkan larangan menangis, bukankah lebih positif jika kita mulai memasyarakatkan tertawa dan menertawakan masyarakat.”

Sejak jumpa pers itu mendadak Desa Salbut mulai didatangi para pelancong yang ingin menyaksikan desa yang tak memiliki kesedihan. Para komedian berdatangan mencoba mengais rejeki dengan menjual tawa. Kini setiap ada warga mati, orang-orang tak mengundang ulama yang tak pandai melucu. Mereka lebih senang mengundang pelawak karena dengan begitu para warga tertawa. Semua bentuk kesedihan disikapi dengan humor. Di gerbang desa dipasang sebuah plang besar yang mengutip Budha: tertawa adalah energi. Meskipun sebenarnya kutipan itu sama sekali tidak tepat karena warga desa tertawa karena terpaksa. Segala yang dilakukan dengan terpaksa adalah penderitaan.

Kabar tentang desa tanpa airmata itu sampai juga ke telinga menteri dan presiden. Terutama kebijakannya yang melarang warganya menangis yang membuat desa itu menggeliat ekonominya demikian menarik perhatian pemerintah pusat. Sehingga pemerintah kemudian memberikan anugerah pada Klebun Ladrak sebagai kepala desa dengan inovasi ekonomi kreatif terbaik.

“Tapi semua itu sudah keterlaluan, Pak,” ujar istrinya yang sama sekali tak bangga suaminya dapat penghargaan dari pemerintah.

“Keterlaluan bagaimana maksudmu?! Lihat desa kita. Sekarang ramai. Perekonomian bergerak. Turis berdatangan. Itu semua menambah pendapatan desa,” bantah Ladrak sambil memperbaiki dasinya di muka cermin.

”Menangkapi orang-orang yang menangis. Itu keterlaluan.”

”Itu konsekwensi dari peraturan. Ada sanksi tegas.”

”Itu namanya kejam.”

”Salah. Itu namanya cemerlang. Buktinya suamimu sekarang dipanggil presiden. Menginap di istana. Seminggu. Mungkin tahu depan aku bisa dapat nobel.”

”Persetan dengan presiden jika semua itu didapat dari merugikan hati nurani rakyat.”

”Tapi kau menikmatinya, bukan?! Semua kemewahan ini. Baju baru, perhiasan baru. Itu semua dari pendapatan desa yang meningkat yang berimbas pada pendapatan suaminya yang juga meningkat.”

Kali ini istrinya diam. Ladrak tersenyum penuh kepuasan. Ladrak tetap berangkat ke Jakarta.

***

Klebun Ladrak kembali ke desa dijemput orang-orang kepercayaannya menggunakan Limosin. Ia menenteng piala besar setinggi satu meter.

“Kemenangan kita,” ujar Klebun Ladrak sambil tertawa. Seisi mobil ikut tertawa. ”bagaimana kabar desa, Kam?” Tanya Ladrak pada Tarkam yang duduk di sampingnya.

”Aman, Bun! Normal seperti biasa.”

”Ada orang yang ditangkap lagi karena menangis?”

”Ada … ”

”Laki-laki apa perempuan?”

”Perempuan.”

“Dasar cengeng!” Seisi mobil tertawa. ”Bagaimana ceritanya?”

”Seorang perempuan membawa anaknya ke pasar. Tanpa sengaja anaknya menginjak apel yang menggelinding dari becak. Anak itu terpeleset dan jatuh. Kepalanya membentur kaki lincak. Di atas lincak ada sebuah pisau pemotong daging milik penjual daging yang diletakkan terlalu ke pinggir. Pisau besar itu jatuh tepat di leher anak itu. Matilah dia!”

Seisi mobil tertawa. Termasuk Klebun Ladrak. Ia terpingkal-pingkal.

”Lantas ibunya sedih. Saking sedihnya sampai lupa kalau ada larangan lantas menangis?” Tanya Klebun Ladrak menebak-nebak.

“Tepat!” seisi mobil lagi-lagi tertawa.

”Kebanyakan perempuan ternyata memang cengeng. Hahaha … siapa perempuan warga kita yang sial itu?”

“Istri Klebun Ladrak,” ujar Tarkam. Seisi mobil kembali tertawa terpingkal-pingkal sambil menggebrak dasbor dan kursi mobil.

Ladrak mendadak bungkam. Jantungnya berdebar. Lantas meraung-raung, menangis. Seisi mobil terus tertawa dan tertawa hingga keluar airmata.

Setelah peristiwa itu larangan menangis itu telah dicabut. Sekarang kepala desa Salbut yang baru, Tarkam, mengeluarkan aturan baru: dilarang tertawa. ***


Keterangan:

Klebun : sebutan orang Madura untuk kepala desa
Care’ : sebutan untuk Sekretaris Desa di Madura
Bengatoah : tokoh masyarakat yang dituakan di Madura



====================
Edy Firmansyah seorang penulis kelahiran Pamekasan, Madura. Kumpulan cerpennya yang pernah terbit adalah “Selaput Dara Lastri” (IBC, Oktober 2010). Buku puisinya yang telah terbit adalah “Derap Sepatu Hujan” (IBC, 2011) dan “Ciuman Pertama” (Gardu, 2012). Cerpennya tersebar di banyak media cetak maupun online, di antaranya; JAWA POS, SURYA, RADAR SURABAYA, RADAR MADURA, SURABAYA POST, KOMPAS.com, CENDANANEWS.com, Majalah STORY, Majalah SURAMADU, dan Majalah ANNIDA.

Tom dan Malam yang Pergi

0

Ini masih senja, ketika aku berbincang dengan Tom di beranda rumah. Lelaki itu kutemukan dengan segelas kopi hitamnya, berwajah sedikit suram dan kepala yang tertunduk. Mujur aku datang, dengan senyum terkulum ia seperti sudah menanti-nanti kedatanganku dalam hitungan jamnya yang kesekian.

Tom memakai topinya. Ia bilang seperti hendak menuntaskan harinya petang itu, entah bagaimana. Ada semacam gelisah terbenam di bola matanya yang sedikit merah. Ia bilang kesal pada malam. Sebab dalam gelap ia harus menyusuri jalanan, mencari-cari sesuatu yang orang lain belum terpikirkan.

Pekerjaan itu benar-benar merampas kebahagiaannya. Dia bilang begitu. Bukankah meneguk kopi akan lebih nikmat jika diteguk sedikit demi sedikit, lalu menyentuh hujung lidah? Bukan menuntaskannya begitu saja dalam hitungan satu cawan? Itulah yang membuat Tom muak. Ia rindu menikmati kopi dengan santai di teras itu.

Tom, dia bilang jenuh jadi wartawan. Dia ingin pulang ke kampung jadi petani gandum saja. Bukankah itu lebih manusiawi? Ketika kita bisa tersenyum di pagi hari tanpa harus takut dengan pahitnya kopi yang terburu-buru diteguk dalam suhu yang panas?

Kadang Tom tertawa. Ia menertawakan nasibnya. Sudah puluhan tahun menjadi budak malam, tetapi hanya sekedar sepatu kulit baru pun sulit ia ganti setiap awal bulan. Tom sebenarnya rajin, teramat rajin. Bahkan di antara pria-pria beruntung di kota ini, Tom lah yang paling beruntung. Suatu malam ia dijemput seorang redaktur ternama sebuah koran di kota ini. Ia dilamar dengan rayuan paling jalang untuk bekerja di media itu. Bukan tanpa pertimbangan, Tom terpaksa menerimanya karena ia ingat dulu pernah memiliki semacam kamera mirror di kampung. Ia jaga dan simpan kamera itu, hingga 10 tahun kemudian ibunya berpulang. Dan di tengah kata-kata ibunya yang terakhir, Tom diminta menjaga kamera itu, dengan cara apapun.

Tom pun tak ada pilihan. Permintaan redaktur itu terlalu sulit ditolak. Tom bilang ia tersanjung. Satu hal langka yang tak pernah dialami pemuda seusianya. Ya, saat itu Tom baru berusia 18 tahun.  

Bertahun-tahun Tom menikmati pekerjaannya. Ia senang, bahagia, suka, ceria. Hingga tibalah kabar buruk, paling buruk dalam sejarah yang pernah kudengar. Bukan Tom yang dipecat, bukan pula redaktur itu mengkhianatinya. Entah kenapa, Tom seolah-olah dikhianati para pembacanya. Koran-koran yang ia tulis dalam malam-malamnya tak lagi disukai orang. Sebenarnya terlalu tak pantas mengatakan orang-orang kehabisan uang membeli lembar-lembar berita itu. Sebab rupanya mereka punya benda-benda baru dengan layar bergerak yang menyambut pagi mereka dengan senyuman, suara indah dan musik-musik yang mengalun. Orang-orang tak lagi tertarik membaca tulisan-tulisan Tom.

“Aku tak putus asa, aku masih menjaga kameraku, kamera titipan ibuku,” ujar Tom dengan suara paraunya.

“Kau jadi fotografer?”

“Terlalu indah,”

“Lalu?”

“Lebih tepatnya memotret setiap kabar buruk manusia. Mereka yang terbangun akan terkejut melihat foto-fotoku, bahkan mereka menangis.”

“Tapi kau dapat uang kan?”

“Mungkin kau berpikir uang segalanya, tapi kau akan tahu pekerjaan yang kujalani itu demikian buruknya saat kau melihat orang-orang menangis melihat apa yang kutampilkan dalam pekerjaan itu.”

“Aku tak mengerti, tapi kau bilang ingin menyelamatkan kameramu.”

“Entahlah, aku seperti tak sanggup lagi bekerja di malam hari.”

“Kau ingin pulang? Aku ada uang untuk sekedar beli tiket. Kereta ke Minneapolis untuk minggu depan bisa kupesan.”

“Kau terlalu baik, nanti sajalah. Aku ingin menuntaskan malamku dulu.”

“Ya setidaknya mungkin bisa untuk menjernihkan pikiran. Aku ingat kolam di belakang rumahmu itu airnya hijau dengan ikan-ikan merah yang mungkin sekarang sudah berkembang biak.”

Tom tersenyum geli. Untuk pertama kalinya sejak tiga bulan terakhir Tom tertawa lepas. Ia senang. Tetapi kembali matanya meredup.

“Sudah mulai malam, aku harus pergi.”

“Sampai kapan kau akan menjaga kameramu itu?”

“Setidaknya malam ini, kau simpankan satu buah tiket untukku. Besok pagi aku akan pulang. Jangan  lupa kau buatkan kopi hitam paling pahit untukku, pertanda aku sudah menuntaskan malam.”

“Hanya itu?”

“Satu lagi, satu gelas bir.”

“Kau masih berpikir menyambut kemenangan dengan minuman itu?”

“Dan kau masih selalu jadi ustadz kampung dari negaramu.”

“Oh no,”

“Sudahlah, aku pergi.”

Tom pun pergi. Sebuah ransel yang jarang dibawanya ia bawa. Apa benar ia ingin menuntaskan malam terakhirnya dengan benda-benda itu. Pikiran di kepalaku terasa rumit

***

Seperti permintaan Tom, aku tinggal di flat ini untuk menghabiskan malam. Menunggu Tom pulang di pagi hari lalu mungkin akan benar-benar membelikannya tiket kereta ke Minneapolis. Menikmati malam di atas bangunan setinggi enam meter ini memang istimewa. Patutlah Tom sangat bahagia jika satu malam saja tak ada panggilan di telponnya. Ia biasa menikmati bulan separuh di teras kamar. Kadang-kadang ia mengundang Kris dan kadang juga aku. Tom bilang malam itu indah. Malam itu kehidupan dan kebahagiaan. Mungkin suatu hari ia ingin bersahabat dengan malam lebih akrab lagi, tak seperti sekarang.

Malam itu aku menggantikan posisi Tom. Duduk menyendiri di teras sambil memandang terang benderang kota yang bersinar. Aku merasakan waktu yang begitu panjang. Mungkin itulah yang namanya kesendirian, sesuatu yang sebenarnya nama lain dari kejenuhan.

Ini pekerjaan membosankan. Menunggui sahabatmu pulang di pagi hari lalu tidur di tempat yang sedikit kotor. Tom tak punya alasan untuk membersihkan kamar itu. Bahkan ia pun sebenarnya membencinya. Tom ingin bersih-bersih, tetapi panggilan dari redaktur itu selalu membuat wajahnya suram.

“Kadang aku berpikir kerapihan itu tak penting, nyatanya aku tetap sehat dengan kamarku yang begini.”

Sebenarnya itu bahasa halus Tom agar akulah yang merapikan kamarnya. Kadang-kadang karena tak tahan melihatnya, aku memilih membantunya.

“Kau orang Indonesia yang baik, kenapa kau bisa berbenah di kamar orang asing sepertiku? Atau karena, ya karena pekerjaan rutinmu itu ya? Maksudnya lima waktu itu. Aku pernah membacanya dalam sebuah jurnal dosen di kampusku dulu. Katanya begitu, kau bisa jadi disiplin dari rapi dengan pekerjaanmu itu. Lima waktu? Apa ya, aku benar-benar lupa namanya.”

Tak pernah tuntas memang menceritakan Tom. Kufokuskan saja suasana hatiku pada malam. Entah sudah berpuluh kali jarum jam berputar di jam weker hitam sudut kamar. Aku mengusap-usap mata. Benarkah? Atau benda itu benar-benar sudah kehabisan baterai sehingga ia melaju begitu cepat. Jarum pendeknya menepati angka delapan. Tetap suasana di balik jendela masih hitam. Malam belum pergi. Jam itu benar-benar sudah gila. Lalu aku berlari menatap ponsel. Rupanya ponselku sama gilanya, angkanya pun sudah delapan di sana. Kuputuskan turun ke bawah, menyapa pedagang roti di bawah yang rupanya juga sama sepertiku.

“Jam kami semua gila. Ada apa?”

Lelaki itu pun tampak panik. Ia menutup kedua matanya, entah masih mengantuk atau benar-benar pusing dengan keadaan. Lalu aku berjalan ke halte bus. Ternyata banyak orang-orang yang kebingungan sepertiku.

“Apakah telah terjadi kerusakan bersama semua jam di rumah-rumah kita?”

“Aku tak tahu, cobalah melihat televisi. Apa yang terjadi?”

Sesuatu telah terjadi. Mungkin Tuhan sedang menghukum Tom yang begitu benci dengan malam. Atau mungkin ingin memberi hadiah cinta pada Tom yang suka menikmati malam di kamar kotornya itu. Tetapi ini musibah buruk bagiku. Aku tak punya waktu kembali ke flatku. Tugas menjaga kamar Tom belum selesai, hingga ia benar-benar datang.

Aku tak peduli lagi, entah sudah berapa kali jarum jam itu berputar-putar berubah posisi. Dan Tom tak kunjung pulang.

“Kau dimana? Kenapa kau tak pulang? Apa kau masih terus bekerja? Bodoh sekali redakturmu itu.”

“Aku akan pulang, tak lama lagi.”

“Ya setelah aku bosan di kamarmu ini.”

“Tunggulah sekejap lagi, bus akan segera sampai.”

Tom menepati janjinya. Ia memang pulang dalam malam yang masih gulita. Ia mendapati kamarnya yang sama kotornya dengan saat ia pergi. Sebab beberapa makanan yang kumakan berhari-hari masih belum dibuang.

“Kau? Tak biasa begini?”

“Kau pikir ini malam yang biasa? Dan kau pikir apa aku sekotor ini? Tukang sampah di bawah memilih tidur sepanjang malam.”

“Martin, aku pulang. Aku telah menuntaskan malamku.”

“Kau resign?”

“Tidak, lihatlah di balik jendela itu, matahari mulai muncul.”

“Oh ya,”

“Dan aku membawa sesuatu.”

“Apa?”

Tom mengeluarkan sebuah buku biru dari dalam tas ranselnya. Aku tersentak. Itu Al Quran, kenapa dia bisa membawanya?

“Kau bertemu dengan mahasiswa Indonesia?”

“Tidak, kitab ini kutemukan di kantor. Seorang wartawan baru asal Turki memberiku kitab itu.”

“Lalu?”

“Ajarkan aku membacanya.”

“Kau yakin?”

“Ya..”

“Bukalah!”

Tom membuka kitab itu. Satu, dua, tiga hingga sepuluh halaman tak kunjung ia temukan satu huruf pun.

“Kitab ini terlalu tebal.”

“Teruskan.”

Tom terus membukanya, hingga ke lembaran ke seratus tetapi kitab itu masih terus kosong. Tom meneteskan air mata. Dan aku pun merapat ke dinding memandang matahari marun jingga yang sangat besar pagi itu.

TAMAT

Biodata Penulis:

Nafi’ah al-Ma’rab merupakan nama pena dari Sugiarti. Berdomisili di Pekanbaru, Riau. Cerpen-cerpennya dimuat di Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos, Padang Express dan sebagainya. Cerpennya berjudul Lanai memenangi lomba nasional seperti Green Pen Award 2019 oleh Raya Kultura, Cerpen Tandan Sawit sebagai naskah pemenang Lomba Cerpen Nulisbuku dan Kemenegpora tahun 2012, Cerpen Lelaki Pohon menjadi salah satu naskah pemenang LCMR Rayakultura 2013. Selain cerpen, ia juga menulis novel, di antaranya Lelaki Pembawa Mushaf (Tinta Medina 2016), Jodohku dalam Proposal (Tinta Medina 2016), Suraya (Bhuana Ilmu Populer, 2018), Luka Perempuan Asap (Tinta Medina, 2016). Penulis bisa dihubungi di WA 085278740869 dan IG @sugiarti.flp

Dongeng-dongeng Sebelum Lelap

0


MATA PENYAIR

Penyair yang menyepi di dalam gua itu sebenarnya betah dengan hidupnya. Tapi semakin lama semakin tumbuh suatu keyakinan di dalam hatinya. Keyakinan bahwa ada yang lebih indah selain di dalam gua. Makanya dia selalu berdoa seperti ini: “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku pemandangan terindahMu. Aku yakin, semua pemandangan yang ada di sini bukanlah pemandangan terindahMu.”

Penyair itu pun lalu berdiri di mulut gua. Angin semilir menebarkan sejuk-segar. Matahari mulai terbit di ufuk timur. Cahayanya memendar di awan-awan di barisan pegunungan dipantulkan dedaunan dan danau yang terhampar luas. Tapi penyair itu yakin, bukan itu pemandangan terindah.

Suatu sepertiga malam saat penyair itu khusuk berdoa, dia mendapat bisikan untuk turun gunung menuju ke keramaian. Pagi masih sunyi ketika penyair itu memasuki gerbang perkampungan. Orang pertama yang melihatnya, tidak berkedip matanya. Orang kedua dan selanjutnya masih sama saja. Mereka terpesona dengan penyair itu. Terpesona dengan indah dan cemerlangnya mata penyair itu.

Penyair itu semakin masuk ke perkampungan. Semakin banyak orang yang tidak bisa mengedipkan matanya. Mereka diam-diam mengikuti ke mana penyair itu melangkah. Semakin jauh mereka mengikuti semakin tumbuh keyakinan di dalam hati mereka. Keyakinan bahwa dengan mata seindah itu mereka pasti bisa melihat keindahan dunia. Keindahan dunia yang sudah lama hilang dari hidup mereka.

Ketika sampai ke sebuah lapangan, tiba-tiba orang-orang kampung itu menyerbu sang penyair. Mereka menangkap, menjatuhkan, memiting dan mencongkel dua mata sang penyair dengan sendok. Sepasang mata indah itu seperti bola, jatuh ke tanah lalu memantul tinggi dan jatuh di tempat jauh. Orang-orang mengejarnya. Berebutan. Dan lapangan itu pun sepi kembali.

Penyair itu berdiri. Dia terpesona, sehingga memar dan nyeri sekujur tubuhnya tidak dirasakannya. “Tuhan,” katanya dengan suara bergetar. “Keindahan hakiki itu, keindahan abadi itu, terasa sampai ke seluruh pori terkecil tubuh ini. Keindahan terindah itu, keindahan menggetarkan itu, ternyata terlihat begitu nyata, setelah tidak punya mata.”



MONYET BERTAPA

Seekor monyet bertapa di tengah hutan. Dia berdoa dan berdoa, kepada Tuhan, agar dijadikan seekor kupu-kupu. Ya, monyet itu sangat terpesona dengan keindahan kupu-kupu. Saat itu musim bunga tiba. Di pinggiran dan lembah hutan bunga-bunga bermekaran. Monyet itu terpana melihat kupu-kupu terbang dari bunga ke bunga. Warna-warni tubuhnya begitu indah. Gemulai terbangnya begitu mempesona.

“Ya, Tuhan, betapa indahnya kupu-kupu yang terbang di taman-taman bebungaan. Betapa saya baru sadar, tubuh ini begitu buruk rupanya. Sekali dalam hidup yang singkat ini, ya Tuhan, jadikanlah saya seekor kupu-kupu yang indah,” doa monyet itu.

Karena doanya terus diulang dan begitu khusuk, lambat laun tubuh monyet yang bertapa itu berubah. Siang dan malam perubahan itu terjadi, perlahan, dan semakin nyata. Monyet itu tidak menyadarinya karena khusuk berdoa. Dan saat perasaannya menjadi lain, monyet itu bahagia. Dia merasa tubuhnya sudah berubah. Dia berlari ke sana ke mari mencari cermin.

Di tepi sebuah danau berair bening, monyet itu terkejut. Hatinya begitu sakit. Tubuhnya menggigil. Perasaannya hancur. Ya, karena monyet itu sekarang sudah berubah menjadi seekor ulat bulu. “Engkau begitu kejam, ya Tuhan. Engkau begitu kejam!” teriaknya. “Aku berdoa minta sesuatu yang indah malah dijadikan yang buruk rupa.”  

Sejak itu, monyet yang sudah berubah jadi ulat bulu itu, tidak mau lagi berdoa. Dia marah kepada Tuhan.




DUA PEMBURU

Dua orang pemburu sedang di tengah hutan. Senapan laras panjang terikat di punggungnya. Pistol terselip di pinggangnya. Tidak lupa golok untuk mencincang hewan buruan dan belati kecil untuk menguliti. Ransel isi perbekalan juga mereka bawa.

Sejak memasuki hutan lebat itu, dua orang pemburu yang bersahabat itu tidak berhenti saling cerita.

“Bila nanti kita mendapatkan seekor harimau, untuk saya saja kulitnya,” kata pemburu satu. “Katanya harganya mahal di kota. Saya butuh buat biaya membetulkan rumah yang sudah bocor-bocor. Takut rubuh duluan.”

“Bukannya menghalangi, saya juga sedang butuh buat modal menanam padi di sawah. Kita berangkat bareng saja ke kota, kita jual juga dagingnya, katanya daging harimau itu mahal juga,” kata pemburu dua.

“Begitu juga bagus.”

Dua pemburu itu tidak menyadari, tidak jauh dari mereka ada seekor harimau Jawa yang mencium adanya manusia. Harimau itu mengintip. Dua pemburu itu terkejut ketika ada harimau sebesar anak sapi meloncat ke hadapan mereka. Pemburu satu berlari menubruk apapun di sekitarnya. Dia menjatuhkan ransel dan senapannya, lalu naik ke pohon besar. Pemburu dua yang tidak sempat kabur, terduduk lemas. Celananya basah. Dia memejamkan mata saking takutnya. Pasrah kepada nasib. Harimau itu berjalan perlahan mendekat pemburu dua. Suara auuummm-nya menggetarkan hutan. Tapi dia tidak menerkam. Harimau itu hanya berbisik, lalu berlalu.

Setelah sadar dari ketakutannya, pemburu dua wajahnya berdarah lagi. Pemburu satu juga turun dari pohon.

“Alhamdulillah kita selamat. Tapi saya heran, harimau itu tidak menerkam, malah hanya berbisik kepadamu. Apa sebenarnya yang dibisikkannya?” tanya pemburu satu.

“Kata harimau, jangan banyak omong tentang kulit dan daging harimau sebelum menangkap harimau!”

(Kisah ini ditulis sambil membayangkan salah satu cerita Jalaludin Rumi)




TAMAN TERINDAH

Sampai ke taman terindah itu saat senja memancarkan pesonanya. Lembayung kuning menyebar di langit barat. Memantul di bebungaan. Mawar, aster, melati, bakung, dahlia, menyerap pesona lembayung, memantulkan cahaya jingga yang menggetarkan semua jiwa. Melati, sedap malam, kemuning, menebarkan harum  ke setiap tarikan napas membuat mata terpejam, mengalir di dalam darah di dalam tulang di dalam daging di dalam pori-pori terkecil dari tubuh.

Kupu-kupu warna-warni beterbangan lalu hinggap di bebungaan menyerap madu nektar yang manis yang harum yang menyehatkan jiwa dan raga. Air telaga yang bening beriak ketika selembar daun jatuh. Sepasang semut yang hinggap di daun kuning terkejut cemas tapi kemudian merasa sedang berbulan madu di lautan luas yang tenang. Ikan mas warna-warni merah kuning hitam menari di permukaan menyambut lembayung kuning dan menunggu cahaya rembulan. Sepasang burung dalam perjalanan pulang masih sempat hinggap di reranting pohon dan bernyanyi riang sebelum melanjutkan pulang ke sarang.

“Taman apa ini, begitu indah dan mempesona,” bisik saya dengan suara bergetar.

Bidadari yang memandu perjalanan ini tersenyum lembut. “Taman ini, taman yang selalu indah ini, ada di dalam hatimu yang paling rahasia, di dalam perasaan terdalammu, di dalam kebijaksanaan paling menggetarkanmu, yang sepanjang usiamu belum pernah kamu kunjungi,” katanya merdu.

Saya menunduk dan menangis, tanpa airmata, tanpa suara. Begitu indah.

============================
Yus R. Ismail, menulis cerpen, novel dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of The Night terjemahan C.W. Watson (Lontar, 2019) memuat 5 carpon-nya. Novel Tragedi Buah Apel terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Novel Anak penerbit Indiva 2019. Cerpen dan puisinya pernah dipublikasikan Media Indonesia, Jawa Pos, detik.com, Kompas.id, Magrib.id, Koran Tempo, Kompas, Femina, Nova, basabasi.com, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Lampung Pos, Padang Ekspress, Republika, dsb.
Sekarang tinggal di kampung Rancakalong, menanam bebungaan dan menulis.

Di Tubuhku, Durjana Itu Meledak, Teta

0

Teta-ku, Um Halimah sudah lama meninggal, jauh sebelum Zionis berhasil menduduki sebagian wilayah Gaza. Ia sering mengatakan bahwa peperangan tidak pernah memberikan belas kasihan kepada siapa pun yang terlibat di dalamnya. Teta-ku betul. Banyak orang-orang mati di dalamnya: Palestina dan Israel sama-sama telah kehilangan banyak nyawa, sementara perang tidak tahu kapan berakhirnya.

“Jika aku adalah Allah. Aku akan dengan mudah menghentikan semuanya,” kata Teta. Aku menyetujuinya. Tapi, siapalah aku dan Teta ini selain segelintir orang yang harus merasakan betapa kejamnya penindasan Kaum Yahudi, dan menjadi saksi bahwa perang tidak menghasilkan apa pun kecuali derita dan kepahitan.

Ketika Teta-ku meninggal, karena sakit tua, aku tidak terlalu larut dalam kesedihan. Bagiku, kematian Teta-ku jauh lebih manusiawi ketimbang kematian orang-orang Palestina lainnya yang kebanyakan mati mengenaskan: karena ledakan bom, granat yang terinjak, peluru dari senapan tentara Israel, atau tertimbun puing-puing dari bangunan yang roboh terkena ledakan misil.

“Tak perlu takut akan kematian, cucuku,” nasihat Teta, sehari sebelum malaikat maut menjemputnya. “Sekarang atau nanti, apa bedanya? Perang tidak bisa memberikan pilihan lebih baik bagi kita,” tambahnya. Aku mengangguk dan mencoba memahami akan maksud omongan Teta.

Mariam mendatangiku terlalu pagi. Aku yang sedang menyiapkan Ghada untuk keluargaku terkejut akan kedatangannya yang tidak sesuai rencana. Keluarga yang kumaksud adalah Khalto Sha’adah, suami, beserta dua anaknya, yang telah menampungku selama ini, setelah aku tidak memiliki keluarga dan tempat hunian.

Mariam datang dengan mengenakan galabiyas berwarna kelabu, sewarna dengan niqab-nya juga. Bola matanya yang secerah matahari, mengilatkan semangat luar biasa yang sempat hilang dari dirinya. Aku menyapanya dalam kesibukan yang aku lakukan.

“Sepagi ini?” tanyaku.

“Apa salahnya?” Mariam mengerlingkan matanya.

“Tak sesuai rencana,” sesalku.

“Kau keberatan?”

“Ya … dan tidak.”

Aku menyuruh Mariam untuk menunggu sebentar. Seraya menuangkan karkadeh ke dalam cangkir, untuk menjamu Mariam, aku mencari Khalto Sha’adah untuk sekadar berpamitan. Aku menemukannya di ruang tengah dengan tangan kanannya yang belepotan labneh

“Khalto, aku pergi sebentar,” pamitku. “Bersama Mariam.”

Khalto menatapku dengan bola mata kuatir. Aku tahu, ledakan bom bisa terjadi kapan dan di mana saja. Aku mengelus punggung tangannya untuk menenangkan. “Aku akan baik-baik saja,” ucapku.

Allah ma’ek, Habibti,” ujarnya lirih. Aku mengangguk.

***

Ledakan itu terdengar begitu dekat dari tempat aku berdiri. Mariam, sudah sejak tadi bersembunyi di antara puing-puing yang terserak di sekitar kami: tempat bangunan sekolah kami dulu berdiri, juga tempat pelayanan publik lainnya semisal kantor pos. Aku tidak berusaha untuk bersembunyi seperti yang dilakukan oleh temanku itu.

Beberapa bulan lalu mungkin aku akan begitu ketakutan ketika bom-bom itu meledak. Letusan senapan dan bau mesiu sama sekali tidak berpengaruh banyak terhadapku, untuk sekali ini. Semenjak Israel menyerang daerah kami, aku mulai terbiasa dengan bunyi-bunyi dahsyat sang angkara murka yang menamakan dirinya Perang. Dulu, enam bulan yang lalu, tatkala ledakan bom disertai jerit tangis dan teriakan orang-orang, aku kerap membayangkan bahwa itu adalah jeritan Ibu, atau Ayah, atau adikku, Anwar, atau Sallamah, kakakku, atau teriakan aku sendiri yang terlempar serpihan puing dan ledakan bom. Dan aku merasa begitu ketakutan bahwa aku akan kehilangan mereka semua.

Ketakutan itu telah hilang. Semenjak aku tidak lagi bisa mendengar jeritan mereka—mereka semua telah tewas ketika serangan udara Israel meluluh-lantakkan Naqba, kampung pinggiran di Jalur Gaza, tempat keluarga kami tinggal. Tidak ada yang tersisa kecuali aku dan kepiluan akan kehilangan atas orang-orang yang kucintai.

“Harusnya aku ikut mati, seperti orang-orang yang kucintai.” Aku kerap berpikir bahwa Allah masih berbaik hati padaku, walau pada kenyataannya, pada satu kesempatan dalam sebuah perenungan, aku lebih menginginkan mati bersama mereka semua, ketimbang harus hidup dihantui oleh ketakutan dan kenangan buruk perihal mereka.

Ledakan itu terdengar lagi. Asap hitam mengepul-ngepul di udara. Siapa lagi yang tewas dan menjadi korban kebuasan para durjana? Pikirku, apa yang mereka inginkan selain nyawa-nyawa tak berdosa kami? Kekuasaankah? Pengakuan sebagai Penguasa Baru di tanah kami, atau apa?

Jawaban itu meledak beberapa meter di belakang tempatku berdiri. Tubuhku terlempar beberapa meter ke depan, berguling-guling, lantas mendarat dengan mulut mencium tanah berpasir yang sudah lama berbau mesiu, tempat jiwa kami terabaikan.

“Najmiyeh! Cepat lari. Aku di sini!” Dari celah puing-puing bangunan yang terserak, suara Mariam terdengar dengan getar yang dibalut kecemasan. Aku masih berbaring di atas tanah berpasir sementara dentuman-dentuman keras terdengar silih berganti dari radius yang saling berdekatan.

Seperti kebiasaan kami berdua, tempat ini adalah tempat terbaik bagi kami untuk berbincang perihal apa saja. Lebih sering kami saling berbagi penderitaan satu sama lain perihal kehilangan demi kehilangan yang harus kami lewati. Siang ini rencananya kami hanya singgah sebentar sekadar mengenang kepergian orang-orang tercinta di antara kami. Mariam menunjukkan shabka yang dikenakannya dengan kesedihan yang mencoba disembunyikannya. Mariam tiga tahun lebih tua dariku ketika menerima pertunangan dari lelaki bernama Mahmoud, yang pada masa berikutnya pertunangan itu tidak pernah lanjut ke jenjang pernikahan sehubungan kematian Mahmoud di tangan seorang tentara Israel. Mariam sedih, namun tetap berusaha untuk tidak melepas cincin itu. Aku mafhum.

Bukan hanya aku yang merasakan penderitaan sepedih itu, sebagian besar kami merasakannya. Mariam tidak kehilangan ayah, ibu, atau adik laki-lakinya, kecuali Mahmoud dan juga Najmiyeh Ullum, kakak perempuannya yang nama depanya sama denganku. Najmiyeh ditemukan tewas di pinggir sungai dengan tubuh nyaris telanjang sementara selangkangannya yang tertutup kain tipis tampak mengalirkan darah dan noda berbau amis sperma. Najmiyeh hilang semalaman, menyisakan kepanikan dan rasa kuatir Mariam dan keluarganya. Semenjak itu, ke mana pun Mariam pergi, ia selalu menyembunyikan pisau yang terlilit kain di pangkal paha yang ia sembunyikan dibalik thobe yang dikenakannya. Mariam berdalih akan membunuh orang Israel mana pun yang hendak menjamahnya sebagai upaya pembalasan dendam. Itu tidak pernah terjadi, hingga saat ini.

“Bangsat Israel!” geramku seraya berusaha bangkit dari tempatku terlempar.

Tidak ada yang bisa kulakukan selain memaki. Aku yang dua belas tahun tak lebih ringkih dari perempuan remaja manapun sepanjang Jalur Gaza ini.

Sebenarnya aku ingin membalas semua yang telah mereka lakukan dengan menjadi prajurit dan ikut berjuang membela hak-hak kaum kami. Sayangnya, ayah tidak mengizinkan.

“Ayahmu tidak ingin kehilanganmu, Nak?” cegahnya suatu saat.

“Apa bedanya?” pikirku. “Sekarang atau nanti kita akan hilang atau tewas ditembaki para Zionis.” Namun, aku tidak mengatakannya.

Ayahku seorang pejuang, dulunya, sebelum kehilangan kedua kakinya akibat ranjau darat yang dipasang tentara Israel di Beit Daras, ketika berperang. Saat itu ayahku hanya mampu berbaring di atas tempat tidur dalam keringkihannya dengan air mata kerap tak terbendung tatkala saudaranya tewas satu persatu dalam peperangan tak berkesudahan ini. Ayahku meninggal saat bom meledak di perkampungan kami, Naqba, bersama Ibu, dan kedua saudaraku, sementara aku selamat sendirian.

“Aku harus membalas mereka semua!” teriakku setelah mampu berdiri. Aku tidak berlari ke arah puing-puing tempat Mariam bersembunyi ketakutan, melainkan sebaliknya, berlari ke arah tempat ledakan-ledakan itu pecah bergantian.

“Apa yang kamu lakukan, Najmiyeh? Bahkan kamu tidak sedang menyandang senjata apa pun!” teriak Mariam. Aku tidak peduli.

“Najmiyeh! Kembali!” teriak Mariam lagi.

Aku tak peduli. Aku mungkin tak bisa membunuh mereka dengan senjata. Setidaknya ada banyak orang terluka di sana yang membutuhkan pertolongan. Itu yang ingin kulakukan dalam kegeraman yang tidak memiliki muara ini.

“Najmiyeh! Kembali! Kembali kataku!” teriakkan itu berkelindan dengan desingan dan ledakan yang muncul tiba-tiba dari arah belakang puing-puing. Aku menyadari bahwa hawa panas menerjangku tiba-tiba. Aku menyadari bahwa hawa panas itu berasal dari udara yang terbakar yang kini menjilati tubuhku ini. Aku kehilangan tubuhku dalam kesakitan yang janggal. Aku merasakan kesakitan yang teramat perih. Walau setelahnya aku merasakan sebongkah kebahagiaan yang tidak terperi meletup dalam dadaku. Aku mungkin akan segera bertemu dengan Ayah, Ibu, saudaraku. “Persetan dengan perang! Persetan dengan segala ketakutan dan kengerian! Persetan semuanya!”

Mariam keluar dari persembunyiannya setelah suara ledakan itu tak terdengar lagi. Semuanya mulai sunyi kecuali kepulan asap yang membubung tinggi ke udara, bau mesiu, dan rintihan pilu orang-orang yang terluka. Mariam tak menemukan utuh tubuhku selain serpihan daging-daging yang gosong terpanggang api. Aku menangis saat menyaksikan Mariam menangis di atas tubuhku yang tak lagi utuh.

“Allahu Akbar! Aku berdoa kepadamu agar perang ini cepat usai, dan izinkan Mariam tetap hidup dan kembali kepada keluarganya dalam keadaan utuh. Dan izinkan aku bertemu dengan orang-orang yang aku cintai. Kesakitan dan segala kepiluan ini telah berakhir bagiku. Ya, Allah, hentikan semuanya dan biarkan hidup mereka damai seperti sedia kala.”

Garut, Maret 2020



===========================

Utep Sutiana, lahir dan besar di Garut, 28 Juni. Pernah tergabung dalam beberapa Buku Antologi, baik berupa cerpen maupun puisi.

Terbaru

Zikir Para Pendosa

Langgar Tabing* Di sana telah kami benamkan Segala kemungkinan dari suluk harapanMeski dengan dingin pagiYang terkadang selalu bermalam...

Tiga Burane

Dilarang Menangis

Penghuni Lantai 18

Dari Redaksi