Rumah Kanak-Kanak

Anggur

Kutukan Kematian

Ingatan pada Satu Nama

Cerpen

Home Cerpen Page 2

Cerita Gudang di Belakang Rumah

0


Bapak tidak pernah memperbolehkanku membuka gudang di belakang rumah. Aku tidak pernah tahu mengapa bapak tidak memperbolehkanku, yang jelas bapak menyimpan sesuatu yang memang sangat rahasia dan mungkin hanya dia saja yang berhak tahu.

Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku. Pertanyaan yang tidak akan pernah menemukan jawabannya apabila gudang itu belum bisa aku buka.

Dugaan-dugaan juga mulai mengaliri hari-hariku. Dugaan yang paling kuat tentang isi gudang yang sangat dirahasiakan bapak adalah burung-burung kecintaannya yang bernilai mahal dan hanya dia yang boleh memegang atau melihat atau merawatnya. Maka dengan itu, ia menyimpannya di gudang belakang rumah. Mungkin bapak menyulap gudang itu menjadi sangkar burung—untuk burung-burung kesayangannya.

Bapak memang gemar burung sejak aku kecil. Ia sering mengikuti perlombaan dan sayembara burung-burung. Baik yang diadakan di kampung sendiri atau di kampung lainnya. Bahkan pernah juga bapak ke luar provinsi hanya untuk melombakan burung-burungnya itu.

Pernah suatu kali aku diajak pergi ke luar kota untuk mengikuti perlombaan burung. Bapak bilang, bila burung yang dibawa bapak ini menang, maka nilai jualnya akan berlipat-lipat ganda naiknya.

Waktu itu bapak mengajakku naik kereta. Aku lupa di mana tepatnya, yang jelas kota itu lebih mewah dari tempat tinggal kita. Bangunan-bangunan menjulang tinggi ke atas, banyak juga kendaraan dan mobil-mobil. Jalanan yang biasa aku lihat lengang saat di rumah, kini terlihat padat seolah jalan itu begitu sempit.

Bapak membawa dua sangkar burung yang tentu di dalamnya berisikan burung. Katanya, bapak ingin melombakan keduanya. Bapak telah melatih dua burung itu selama tiga bulan lebih. Aku yang menyaksikan bapak hampir setiap malam memutarkan suara burung melalui HP dan mendekatkan hp itu ke kedua burung itu merasa aneh juga. Bukannya lagu-lagu malah suara burung yang memenuhi list lagu di HP bapak.

Namun namanya kesukaan, mau bagaimana pun tetap akan dilakukan. Sempat aku juga iri dengan burung-burung bapak, karena waktu untuk burung lebih banyak ketimbang waktu denganku. Kecintaannya pada burung tidak ada yang bisa menandinginya.

Hampir setiap hari kesibukan bapak berkutat pada burung-burung kesukaannya itu. percaya atau tidak, kehidupan sehari-hari kami juga bergantung dari perlombaan burung dan penjualan burung yang bapak menangkan.

Bapak pandai dalam hal ini seolah memiliki trik jitu agar burung-burungnya terus berkembang dan bisa menghasilkan uang yang melimpah. Sepertinya dulu sekali bapak membeli indukan burung itu dengan harga mahal, sehingga indukan itu selalu menghasilkan burung-burung yang berkualitas. Bapak pandai, ia tidak menjual induk itu, bahkan bapak juga berhasil menghasilkan induk-induk lainnya dan yang untuk diperlombakan biasanya anak-anak yang lahir dari induk berkualitas itu, tentu dengan latihan yang senantiasa bapak berikan.

Jika dari induknya sudah berkualitas, kata bapak, melatih anak-anaknya itu sangat mudah dilatih. Pantas saja bapak selalu menang di setiap perlombaan. Namanya juga roda kehidupan, pasti tidak selalu di atas, bapak juga pernah kalah dalam perlombaan. Dan burung-burung bapak juga pernah terserang penyakit sehingga hampir semua ternaknya mati. Musibah itu sempat membuat bapak sakit keras, namun bapak bangkit lagi guna menghidupiku.

Selain merawat burung-burungnya, bapak juga sering mendatangi gudang belakang rumah setiap pagi dan sore. Anehnya bapak mendatanginya ketika hendak mandi. Aku sempat mengikuti bapak, namun aku selalu ketahuan. Bapak memarahiku habis-habisan bahkan dulu bapak pernah memukuliku dengan rotan karena ulahku ini.

Semenjak itu aku tidak berani lagi membuntuti bapak dari belakang ketika hendak mendatangi gudang belakang rumah. Aku hanya mampu menduga-duga saja dan tidak pernah mengetahui apa sebenarnya isi dari gudang tersebut.

Gudang itu juga sudah dilengkapi bapak dengan duri-duri yang bapak buat sendiri dari besi. Selain itu bapak juga menutup rapat gudang itu sehingga tidak ada sedikit pun celah untukku mengintip isi dari gudang itu.

Aku pernah mencoba mengintipnya, tetapi yang terjadi malahan tanganku tergores duri itu. Aku meringis kesakitan sepanjang malam dan esoknya aku sembunyikan luka itu dari bapak. Aku tidak ingin bapak mengetahui luka akibat ulahku yang hendak mengintip isi gudang tersebut, bisa-bisa rotan andalan bapak mendarat lagi di tubuhku. Aku tidak ingin menderita sakitnya lagi.

Rasa penasaranku perlahan sirna. Meskipun masih ada sedikit di benakku, tetapi tidak sehebat dulu. Hari berganti hari, usia bapak semakin tua, begitu juga denganku. Aku sudah tumbuh menjadi dewasa yang menurut bapak berhasil. Aku bekerja di Bank bagian keuangan.

Tentu keberhasilanku ini tidak luput dari usaha bapak dan burung-burungnya. Untuk mengungkapkan rasa terima kasihku, aku yang menggantikan merawat burung-burungnya ketika bapak sakit. Bapak mengajariku banyak hal tentang burung. Ajaran itu menumbuhkan rasa suka padaku. Dunia perburungan aku tekuni. Setiap pulang dari kerja, aku langsung menuju kandang-kandang bapak yang tepatnya di samping gudang belakang rumah.

Namun bapak juga belum memperbolehkanku masuk ke gudang itu. Hanya bapak yang akan mengurus sendiri isi di dalam gudang itu. meskipun tubuhnya sudah tidak setegak dulu untuk berdiri, tetapi tetap saja bapak akan memaksakan diri untuk mengurus isi gudang itu setiap pagi dan sore.

Aku sudah tidak terlalu memusingkan lagi masalah itu. Toh aku juga senang bisa mengelola burung-burungnya sendiri yang mulai memberiku kebahagiaan dan hiburan baru untukku saat ini.

Mungkin andaikan di dalam gudang itu burung, maka suatu saat pasti bapak akan memberiku kesempatan untuk mengelola dan merawatnya, karena bapak mengatakan padaku cara merawat sama dengan cara merawat bapak. Katanya aku mengibaratkan burung-burung itu kekasih sehingga ketika memegangnya aku seperti sedang mengelus-elus punggung kekasihku. Sangat pelan, sangat teliti dan hati-hati.

Keanehan yang pernah aku ungkapkan, kini malah aku rasakan menjadi kebahagiaan yang selalu menuntunku agar tidak jauh-jauh dari burung-burung ini. “Jadi begini rasanya kebiasaan bapak dulu” batinku sembari tertawa-tawa sendiri karena geli membayangkan diriku menjadi seperti bapak.

Suatu waktu, sakit bapak semakin parah. Aku yang khawatir, langsung membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit bapak mendapatkan perawatan intens di UGD. Sakitnya sudah bukan sakit biasa lagi, begitulah kata dokter ketika aku sampai di rumah sakit dan bapak di bawa langsung ke UGD.

Tiga puluh menit aku menunggu. Akhirnya dokter keluar. Katanya bapak memintaku untuk masuk ke ruangan. Aku mengangguk, mengekor dokter masuk ke ruangan UGD.

“Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, Nak.” Bapak berkata serius sambil terbatuk-batuk.

“Ada apa, Pak?” Tanyaku dengan penuh hati-hati. Apakah bapak ingin memberiku wasiat? Atau semacam pesan terakhir? Tidak, aku tidak ingin itu terjadi. Aku berharap bapak sembuh dan menemani hari-hariku lagi.

“Bapak sudah mengajarkanmu cara merawat burung-burung itu kan, Nak?” bapak terbatuk lagi setelah mengucapkan kalimat itu. Namun kali ini batuknya agak parah, suster yang mengetahui itu segera mengambilkan segelas air putih.

“Iya, Pak, aku tahu.” Kesedihan mulai menyelimutiku ketika melihat bapak seperti itu. tanganku mengggenggam tangan bapak secara erat.

Sebelum bapak melanjutkan lagi. dokter meminta agar bapak beristirahat sejenak, baru diperbolehkan berbicara lagi. bapak menyetujui. Aku masih berada di ruangan itu dengan pakaian khusus.

Dokter dan suster meninggalkan kami. Katanya kalau ada apa-apa tinggal pencet bel saja. Dokter tidak keluar ruangan, hanya saja di kantor kecil yang ada di dekat pintu ruangan UGD.

“Tolong jaga burung-burung bapak. Jangan sampai burung-burung itu mati, Nak.” Bapak berujar lagi setelah merasa agak enakkan.

“Dan bapak ingin memberitahumu rahasia yang selama ini bapak sembunyikan darimu. Bapak merahasiakan ini bukan karena kamu tidak boleh tahu, tetapi karena waktunya saja belum tepat.” Bapak menambahi lagi, namun kali ini dengan derai air mata.

“Tentang isi gudang di belakang rumah, Pak?” Aku langsung bisa menebak.

Bapak mengangguk, “Sebenarnya isi gudang itu bukanlah burung-burung kesayangan bapak atau burung-burung istimewa yang hanya bapak ketahui. Tetapi di dalam gudang itu ada mayat ibumu yang bapak awetkan.” Tangisan bapak menjadi-jadi disaat aku terperangah mendengar penjelasan itu.

“Kenapa bapak melakukan itu?”

“Selama ini aku selalu membohongimu perihal ibumu Nak. Ibumu meninggal sejak usiamu dua tahun. Bapak tidak ingin menguburkannya karena bapak masih mencintai ibumu dan tak mau kehilangan ibumu. Bapak ingin ibumu dimakamkan bersamaan dengan dimakamnya bapak, Nak. Setiap pagi dan sore kenapa bapak masuk ke gudang itu? Karena bapak memandikan ibumu agar tubuh ibumu tetap utuh dan tidak menimbulkan bau.” Setelah mengucap itu bapak batuk hingga muntah darah. Aku menjerit, lalu memencet bel. Dokter dan suster datang menangani bapak.

Aku menangis, antara sedih, bingung, menyesal atau apalah bercampur menjadi satu di pikiranku saat ini. Tangisku semakin pecah ketika kondisi bapak semakin parah.

“Nak, mungkin sudah saatnya bapak dan ibumu dimakamkan bersamaan.” Bapak tersenyum lalu tiba-tiba tersedak, aku menangis karena dokter mengatakan kalau bapak telah meninggal.

***

Aku membuka gudang itu dan menemukan sebuah kamar dengan tempat tidur dan penghiasan seperti kamar pengantin. Dengan dibantu tetangga aku membopong jenazah ibu sambil terus-terusan menangis.

Prosesi pemakaman berlangsung. Bapak dan ibu dimakamkan berjejer di sebuah pemakaman yang tak jauh dari rumah. Tidak ada yang bisa aku perbuat lagi, selain menangis. (*)

Solo, 9 Februari 2020


=================
Khairul Anam nama panggilan dari Muhammad Khairul Anam. Lahir di Surakarta, 14 Februari 1998. Mahasiswa IAIN Surakarta. Aktif menulis Cerpen, puisi, dan resensi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Novel yang pernah di terbitkan: Cahaya-Nya(Oase Pustaka, 2016)

Kita Pernah Hidup dalam Telur yang Sama

0

Lukisan merpati itu datang tanpa diminta. Seekor merpati di atas dahan dengan daun-daun mengelilinginya. Lukisan itu datang tanpa sebuah surat dari pengirimnya. Mei langsung membuka bungkusan cokelat di depan Pak Pos ketika tahu siapa pengirimnya. Bunga Hitam, dilihatnya lekat-lekat lukisan merpati itu.

“Lukisannya bagus, Mbak, saya permisi,” kata Pak Pos.

Mei mengangguk.

Dia masuk dengan masih memandang sendu lukisan merpati itu. Dulu merpati adalah pengirim pesan. Dia menebak pesan apa yang ingin disampaikan pengirim lukisan ini. Merpati itu murung dan sendiri. Mei meletakkan lukisan itu di meja lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.

“Pesan kekalahan,” tebaknya.

***

Merpati itu takkan mungkin terbang. Burung malang itu hanya bisa bertengger di sebuah dahan yang rapuh. Dia memiliki sayap kuat, Namun sayapnya tak bisa dikembangkan. Tak berguna. Sebab ada lem yang merekatkan sepasang kakinya pada dahan.

Pandangnya berpindah dari lukisan itu pada ujung kuas yang melamun di atas palet. Ujung kuas itu menyentuh cat warna hitam. Kemudian mulai menuliskan nama di ujung kanvas. Bukan namanya yang dia tulis. Namun hanya sebuah huruf: K.

Lalu dia memohon pada seorang sipir untuk mengirimkan lukisan itu pada Mei. Tentu sipir itu awalnya tak mau. Namun, akhirnya mau setelah mendapatkan lumatan di bibir.

“Tulis saja Bunga Hitam sebagai nama pengirim,” kata Wei menggigit pelan telinga si Sipir.

Wei kembali ke selnya yang gelap. Sipir itu mengunci perempuan dua empat tahun itu kembali dalam jeruji besi.

Wei menatap cat-cat minyak di palet. Lalu tangannya bergerak mencampur warna-warna itu hingga telapak tangannya berlumur cat. Ditempelkannya telapak itu pada dinding penjara. Hingga jejak tangannya tercetak di sana. Warna yang abstrak.

“Kau pasti tak pernah merasakan melukis di dinding penjara, Mei! Aku sering.” Wei mengingat penjara-penjara yang pernah dimasukinya. Dia selalu memberi jejak tangan di dinding penjara yang dia tinggali.

“Kau adalah burung yang bisa terbang tinggi. Sungguh tak adil! Kita pernah hidup dalam telur yang sama!” Wei menjerit, meninju dinding hingga tangannya berdarah.

***

Seharian Mei memecahkan teka-teki lukisan yang dikirim Wei untuknya. Lukisan merpati malang itu begitu mengganggu. Seharian pula dia tak bisa melukis apa pun. Bergelas-gelas kopi dia habiskan, berbatang-batang rokok, tidak pula memunculkan ide untuk mengisi kanvasnya.

Mei duduk di lantai dan menyandarkan diri di tembok. Dia memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam.

“Kalau saja kalian akur, pasti Bapak masih ada,” suara Ibu hadir di ruangan ini. Mei membuka mata, tak ada siapa pun. Mei memegang kepalanya, Ibu ada di desa, pikirnya.

Selalu kalimat itu yang dikatakan Ibu kepada Mei ketika dia pulang. Dia selalu pulang seorang diri. Wei tidak mungkin mau pulang bersamanya. Memiliki bakat yang sama tidak membuat semua ini menjadi lebih mudah.

Mereka memang sudah berbeda sejak dari awal. Mei tidak habis pikir kenapa Wei begitu membencinya. Padahal sedari kecil dia selalu berusaha menunjukan jalan yang benar untuk saudaranya itu.

Mei berdiri dari duduknya. Sekali lagi dia pandang lukisan dari Wei. Dia tersenyum. Ada baiknya dia memberi hadiah balasan kepada saudaranya itu.

“Kau akan menyukai lukisan ini adik, setidaknya biar kau ada kawan di sana, biar betah dan tidak merengek meminta pulang,” kata Mei.

***

Cih. Bakat yang sama! Wei ingat kata-kata ibunya dulu. Jelas kata-kata ibunya itu dia tentang. Sebab hanya dia yang punya bakat, Mei tidak sama sekali. Tangan seni milik bapak hanya menurun ke Wei.

Ketika Wei mengatakan itu, sabaten sapu lidi mendarat di betisnya. Berulang kali hingga betis itu merah tetap ibu tak mau menghentikan ayunan tangannya, sebelum Wei minta maaf pada kakaknya, Mei.

“Minta maaf pada kakakmu! Hormati kakakmu! Jangan jadi anak nakal!” perintah ibunya.

Wei hanya berteriak-teriak meminta ibunya berhenti. Tapi Wei tetap tak mau mengalah dan minta maaf, sampai ibunya lelah. Ibunya mengajak Mei makan, meninggalkan Wei yang menangis.

Wei tersenyum kecut. “Lem yang merekatkan kaki burung di ranting itu, ibulah yang melakukannya.”

***

Mei menyelesaikan lukisannya hingga larut. Merpati yang mematahkan sendiri sebelah sayapnya. Darah mengucur. Mei membanting paletnya ke lantai. Mei melihat lukisan yang baru saja diselesaikannya.

Bagaimana bisa dia akan mengirimkan lukisan itu kepada adiknya. Mungkin sampai nanti salah satu dari mereka mati baru akan selesai permasalahan.

Sekarang Mei memang menikmati hasil kerja kerasnya. Hidup dari hasil melukis. Tapi tak pernah sekali pun bapak memuji kemampuannya. Wei selalu yang sejak kecil digadang-gadang menjadi penerus bapak. Lukisan-lukisan di rumah hanyalah lukisan bapak dan Wei.

Setelah Bapak tidak ada, barulah Mei mengganti semua lukisan.

***

Andai Wei sedetik saja lebih dulu lahir. Pastilah dia tidak perlu menghormati Mei. Dan ibu tidak punya alasan, mengecapnya sebagai anak nakal.

Jelas Mei memang tidak punya bakat melukis. Dia hanya punya bakat menggunakan topeng polos. Wei benar-benar membenci ibu yang selalu membela Mei. Dia tidak tahu, alasan ibu jauh lebih sayang Mei dibandingkan dirinya. Sejak kecil, Bahkan ketika Mei menulis namanya di lukisan Wei dan mengakui lukisan itu buatannya. Ibu percaya.

“Ibu, itu lukisan buatanku! Mei mencurinya dariku!” Wei mencoba merebut lukisan itu dari tangan Mei.

Ibu malah memukul Wei dan berkata, “Jangan gara-gara lukisan Mei bagus, kau iri dan mengakuinya sebagai milikmu. Cepat minta maaf pada kakakmu!”

Wei menatap bayangannya yang terpantul pada sendok makan. Wajah itu wajah yang sama dengan kakaknya. Hanya berbeda karena wajah milik Wei lebih kurus dengan mata yang menyiratkan luka dan dendam.

***

Di mata Ibu, lukisan Mei adalah lukisan terbaik, tapi tidak dengan Bapak. Namun, dengan lebih dikenalnya nama Mei dibanding Wei harusnya sudah memberi pertanda bahwa dirinya lebih baik dari Wei. Memang seharusnya seperti itu. Sebagai kakak sudah semestinya dia lebih mumpuni.

Malam tadi Mei tidak dapat tidur tenang. Dia selalu segelisah ini setiap diingatkan tentang Wei. Mei melihat jam, setengah jam lagi, akan ada orang mengunjungi galerinya. Bila ada yang cocok maka akan dibeli. Mei memang tidak setiap saat membuka galerinya. Karena kesibukannya mengisi workshop dan karena dia sendiri yang melayani setiap orang yang datang berkunjung.

“Boleh saya melihat ruang kerja Nona?” tanya seorang laki-laki tua yang berkunjung. Mei terdiam sesaat.

“Tapi berantakan,” Dia nyengir sedikit malu mengatakannya.

“Tidak masalah, setelah dari sana dan mendengar cerita tentang proses kreatif Nona, bisa jadi saya tertarik untuk membeli.”

Mei mengiyakan permintaan salah satu pengunjung tersebut.

Ruangan itu tidak terlalu berantakan untuk ukuran seorang seniman. Si mbak juga sudah mengambil semua gelas kopi dan membersihkan lantai yang penuh cat karena palet yang dibanting Mei malam tadi.

Mei menceritakan bagaimana caranya melukis kepada pengunjung tadi. Laki-laki itu mengangguk-ngangguk dan bertanya beberapa hal. Lalu dia mendekati kanvas yang tertutup kain hitam. Mei melihat dengan cemas.

“Lukisan ini, berapa?” Laki-laki itu bertanya tentang lukisan burung merpati Wei.

“Em, itu tidak dijual,” kata Mei.

“Kenapa?” tanya laki-laki itu.

“Em, mungkin tuan bisa memilih lukisan yang lain,” kata Mei.

“Saya berani bayar mahal bila Nona mau melepas lukisan ini,” katanya tidak mengindahkan tawaran Mei.

***

“Besok kamu keluar, apa yang akan kau lakukan?” tanya si Sipir, ketika para narapida bersih-bersih halaman penjara.

Wei tak menjawab, dia sibuk mencabuti rumput.

“Apa kau akan mencuri lagi dan masuk penjara lagi?”

“Mungkin. Masuk penjara itu lebih gampang dibandingkan masuk surga. Jadi, kemungkinan besar aku akan masuk ke penjara. Bertemu sipir seksi yang lebih pintar melumat,” ujar Wei dengan nada bercanda.

“Berhentilah melarikan diri, Wei. Aku kasihan pada ibumu. Dia selalu menangis setiap memberikan perlengkapan melukis untukmu dan kau selalu menolak bertemu dengannya.”

“Ibu? Perempuan itu tidak menganggapku anak. Dia pasti berharap hanya si brengsek itu yang lahir!”

“Tidak mungkin dia tidak menganggapmu anak. Dia selalu memberikanmu peralatan melukis!”

“Tapi dia memasukan kakakku ke les lukis, ke institut seni, sampai akhirnya anak yang tidak berbakat itu menjadi pelukis terkenal. Sedangkan aku! Anaknya yang berbakat ini malah dia masukan ke penjara!”

 Wei marah pada matanya yang tidak bisa menahan air mata. Dia menjauhi sipir bernama Soni itu.

***

Mei melepas lukisan itu. Mungkin dengan begitu, dia tak akan teringat dengan Wei. Rasanya dia akan hidup damai bila dilahirkan seorang diri.

***

Keluar dari penjara bagi Wei bukanlah kebebasan. Entah, dia belum menemukan definisi kebebasan baginya. Hidupnya terlalu terkurung dalam dendam dan amarah. Sampai tak ada kebahagiaan yang tersisa.

Dia sudah berada di luar bangunan penjara dan tidak menemukan ibunya. Setiap dia keluar dari penjara, ibunya sudah berdiri di depan penjara. Menatap ke arah Wei dengan bibir tergigit, seakan-akan mencoba menahan air matanya agar tidak meledak.

Wei selalu mengabaikan keberadaan ibunya. Lagi pula untuk apa menyapa seorang yang menjebloskannya ke dalam penjara. Seorang ibu menjebloskan anak yang masih remaja ke penjara. Cuma gara-gara dituduh memasukan obat nyamuk ke cangkir kopi bapak. Hingga bapak meninggal.

Karena tidak ada bukti maka Wei dibebaskan. Tapi sebagai pemberontakan, dia mencuri dan mencuri. Wei ingin masuk penjara sesuai keinginan ibunya itu.

***

Mei mendapat kabar bahwa Wei sudah keluar dari penjara. Tapi kabar itu hanya diterimanya saja tanpa tindak lanjut. Dia hapal betul bahwa sebentar lagi Wei akan kembali ke penjara, seperti seorang anak yang pulang ke rumah ibunya. Mei tak habis pikir kenapa anak itu gemar sekali membuat masalah. Mei tak ambil pusing bila Wei ingin mencuri. Bagaimanapun setiap orang pasti pernah mencuri. Yang Mei tak habjs pikir hampir belasan kali Wei mencuri belum juga dia menjadi pencuri yang ulung. Belasan kali mencuri, belasan kali juga masuk penjara.

“Non, tadi ibu telpon, tapi Non Mei masih tidur,” kata si Mbak.

Mei menelepon ibunya. Menanyakan kenapa ibu menelepon pagi-pagi sekali.

“Adikmu masuk penjara lagi,” kata ibu di telepon. Suaranya sedikit terisak.

“Lagi? Baru beberapa hari, sekarang apa lagi yang dia curi?”

“Lukisan, lukisanmu.”

“Lukisanku yang mana?”

“Seekor merpati yang baru saja dibeli Pak Marlo.”

***

“Akui saja, kau akan mendapatkan keringanan jika mengakuinya!” bentak polisi.

“Itu lukisanku!”

Situasi ini mirip sekali seperti dulu ketika ibunya menyuruhnya mengakui telah memasukan obat nyamuk ke cangkir bapak. Tetapi jelas, Wei tak mingkin punya niat sedikitpun untuk melakukannya. Walaupun jelas hari itu hanya dia dan bapaknya di rumah.

Wei yakin ibu atau Mei yang memasukan obat nyamuk itu ke cangkir bapak. Mereka membenci bapak karena sering memukul ibu setiap ibu ketahuan memukulku. Sedangkan Mei pasti iri karena bapak lebih menyangi Wei dari pada dia. Tetapi kata polisi, bapaknya bunuh diri. Alasan bunuh diri tidak diketahui.

“Ini lukisanku. Dan kau boleh memasukanku ke penjara karena tuduhan mencuri lukisan ini. Toh, di dunia aku tidak berarti. Lebih baik orang semacamku dikurung saja agar tidak bisa terbang ke mana pun.”

Benar, di dunia ini untuk apa Wei ada. Tidak ada yang perlu dia buat bahagia. Dulu, dia hanya ingin melihat bapaknya bahagia setiap melihat lukisan yang dibuatnya.

Tetapi sekarang siapa yang pantas dia buat bahagia? Ibu dan kakaknya, cih! Najis.

***

Mei ikut mengurus kasus pencurian Wei kali ini. Bagaimanapun dia ada rasa bersalah kepada Wei. Mei mengakui bahwa lukisan yang itu adalah hadiah dari Wei untuknya. Wei bebas. Mei sedikit bernapas lega, paling tidak dia tidak harus menanggung rasa bersalah seumur hidupnya.

Wei menatap Mei. Dulu mereka berbagi tempat dalam satu rahim. Juga Berbagi makanan. Namun kini, walaupun wajah mereka sangat mirip, mereka berdua seperti orang asing. Wei tidak bisa mengilangkan semua dendamnya pada Mei dan ibunya. Lalu dia meninggalkan mereka begitu saja, tanpa mengucapkan apa pun.

Wei berjalan menuju sebuah jembatan. Dia menatap ke arah sungai. Setidaknya masuk penjara itu membuat keinginan Wei untuk lenyap dari bumi tertahan. Namun sekarang, dia bebas dan tak punya tujuan.

“Kau berniat masuk neraka?”

Wei menoleh dan menemukan si Sipir. Si Sipir itu memberikan barang-barang yang ditinggalkan Wei di penjara. Beberapa kotak cat minyak yang dibelakangnya ada tulisan tangan ibunya yang berbunyi; maafkan ibu.

“Untuk apa aku hidup? Tidak ada yang perlu kubahagiakan.”

“Jika tidak orang yang perlu kau bahagiakan. Berarti kau hanya perlu membahagiakan dirimu sendiri.”(*)

Pemalang dan Semarang, 2018

======================

Zahratul Wahdati dan Ratna Purnamasari, dua perempuan yang bertemu di UKM KIAS (Kajian Ilmu Apresiasi Sastra) Universitas PGRI Semarang. Beberapa karya mereka sudah dimuat di Suara Merdeka, Kompas, Basabasi.co, Solo Post, dan lain-lain.

Nikotopia dan Ular Sawah di Kepalanya

0

Rasa kehilanganmu terhadap kepergian Nikotopia masih menyesakkan dadamu. Padahal yang kutahu dia salah satu sahabat yang justru paling jarang bertemu denganmu. Meski begitu, tampaknya kalian memang sangat akrab. Jarang bertemunya kalian selama ini pastinya semata-mata jarak tinggal kalian yang berjauhan. Tapi kesedihanmu itu mungkin lebih karena tentang rencana menerbitkan novel yang sedianya akan kalian kerjakan bersama. Aku tahu hal itu karena kamu pernah mengatakannya. Sekarang, bukan saja kalian tidak bisa menyelesaikan, bahkan ketika novel itu baru akan kalian mulai kerjakan, keburu Niko pergi untuk selamanya.

Kupikir karena hal itu pula yang kini memengaruhi kegiatanmu menulis. Kepergian Niko tidak lantas membuatmu semakin rajin, tapi justru membuatmu malas, bukan hanya tentang menulis, bahkan juga malas melakukan apa-apa. Hari-hari yang berlalu hanya kamu habiskan termenung di samping rumah sambil membaca karya-karya Niko. Aku menyadari, kehilangan sahabat dekat memang bisa membuat semangat hidup menjadi loyo, tapi masalahnya kamu harus melanjutkan hidupmu. Masih banyak orang yang menyayangimu dan kupikir mereka ingin melihatmu terus berkarya seperti semula. Demikian juga aku dan anak-anak, tidak ingin melihatmu jatuh.

“Tidak tentang karya, juga tidak buku itu,” sahutmu ketika aku mencoba mengajakmu membicarakannya.

“Lalu?” tanyaku sedikit heran, hingga karena itu tiba-tiba aku merasa ada sebagian di dirimu yang belum aku tahu.

“Kalau toh ada hubungannya, hal itu bukan serius.”

“Terus?”

“Bagaimana perasaanmu…”

“Tentang apa?” sahutku cepat.

“Aku belum selesai bicara. Maksudku, bagaimana perasaanmu jika berada pada kondisi seperti ini?”

Aku bingung dengan pertanyaanmu, tapi aku juga tidak lantas menanyakan kepadamu apa yang membuatku bingung. Aku merasa keruwetan itu hanya ada padamu. Kekhawatiranku, jika aku mendesakmu dengan pertanyaan-pertanyaan justru bisa membuat kita tidak nyaman.

“Aku tidak mengerti,” jawabku sekadar memberimu tanggapan.

“Perempuan sukanya begitu.”

“Maksudmu?”

“Perasaan selalu maju lebih dulu, tidak berusaha memikirkannya.”

Aduh, malah aku yang kena. Bagaimana ini? Apakah aku perlu mendebatmu? Paling tidak untuk membetulkan persepsi pemikiranmu itu.

“Bukankah ketika Niko terakhir datang ke rumah kita, kamu ada?”

“Lalu?”

“Bahkan setelah Niko pulang, kita sempat membicarakannya.”

“Iya. Maksudmu tentang keanehan-keanehannya itu?”

“Persis?”

“Terus, terus?”

“Menurutmu, di antara keanehan-keanehan itu, apa yang menurutmu paling aneh?”

Sesungguhnya aku tidak terlalu perhatian dengan apa yang dikatakan, dan apa yang dilakukan Niko. Belum lagi waktu itu aku sibuk mengurusi makanan dan minuman yang harus kita suguhkan pada Niko waktu itu. Aku tahu lebih jelas kalau dia aneh justru dari ceritamu. Di antaranya, kamu mengatakan di sepanjang percakapanmu dengan Niko, sering terjadi salah pengertian. Jawaban dan pernyataan Niko tidak sesuai dengan hal yang kamu obrolkan. Jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu dengan pas. Jika terpaksa menjawab, itu pun atas dasar pilihan dari beberapa hal yang kamu ceritakan.

“Bicaranya sering tidak nyambung,” jawabku.

“Semuanya memang tentang itu.”

Aku mengangkat bahu, semacam tanda menyerah.

“Aku lupa, apakah waktu itu aku sudah cerita tentang Ular Sawah?”

“Ular Sawah?” sahutku sembari menggeleng.

“Menurutku, saat itulah dia mengatakan keadaannya.”

“Apa yang dia katakan?”

“Sesungguhnya, ada Ular Sawah terjebak di kepalaku. Dia ingin keluar dan kembali ke alamnya. Dia mengatakan begitu.”

“Lantas kamu menanggapi gimana?”

Aku langsung tertawa.

“Hah? Tertawa? Tega sekali kamu.”

“Di mana letak teganya?”

Kamu benar juga. Di mana letak teganya. Waktu itu kita belum benar-benar tahu apa yang terjadi pada Niko. Mungkin sama halnya dengan apa yang dulu kamu ceritakan padaku. Perihal kamu yang langsung tertawa ketika Niko mengatakan ingin pulang ke desa, tinggal di sana dengan hidup bertani. Bahkan seingatku, kamu menceritakan sempat mengucap serapah menanggapi keinginan Niko itu. Kamu pikir, peralihan profesi dari pekerja kreatif di sebuah stasiun televisi di Ibu Kota lantas menjadi petani di desa adalah sesuatu yang lucu. Mungkin menurutmu tak ada korelasinya sama sekali. Kalau sekadar penulis cerita, mungkin masih bisa, karena menulis dapat dilakukan di mana pun, termasuk di desa yang paling pelosok sekali pun.

“Hm. Tapi waktu itu ekspresi Niko gimana?” tanyaku.

“Dia tampak serius,” sahutmu.

“Maksudnya?”

“Iya. Waktu itu dia bilang apa yang dikatakan itu serius.”

“Lantas?”

“Pada saat itulah, seharusnya aku bisa mengerti apa maksudnya.”

“Sekarang aku yang tidak mengerti apa maksudmu.”

“Andai kita tahu apa yang terjadi pada diri seseorang, kita bisa melakukan sesuatu yang mungkin dapat berarti bagi seseorang itu, tapi karena kenyataannya kita tidak tahu ceritanya hingga kita tidak melakukan apa pun,” terangmu.

Ah, kupikir dalam hal ini yang main perasaan itu kamu. Karena jika kamu sudah tahu begitu, mengapa kamu masih memasalahkannya? Bukankah waktu itu kita memang tidak tahu  kalau Niko menderita kanker otak. Kupikir jika kita tahu pun sebenarnya kita tidak bisa melakukan apa pun terhadap penyakit itu.

“Kamu hanya terbawa perasaan,” sahutku.

“Bukan.”

“Terus, apa namanya kalau itu bukan terbawa perasaan?”

“Ya itu tadi. Aku terlambat menyadari, sebenarnya dia sudah berusaha memberitahu keadaannya kepada kita.”

Dengan keanehan-keanehannya waktu itu? Sepertinya ada yang salah pada pemikiranmu. Karena menurutku, apa yang terjadi pada perilakunya, sesungguhnya di luar kontrol dirinya. Dan aku yakin jika dia dalam keadaan sadar, tentu saja dia akan melakukan sesuatu yang wajar, dan kita tidak akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh.

“Kupikir kamu harus merelakannya.”

“Aku sudah ikhlas.”

“Lalu mengapa kamu masih merasa kecewa? Bukankah takdir seseorang tidak bisa diubah?”

“Maksudmu tentang apa?”

“Kematian, kan? Dan kita tidak bisa menghindarinya.”

“Siapa bilang aku memasalahkannya? Yang kupikirkan hanya tentang pengertian dan sikap antar sahabat. Bukan tentang kematian.”

Kulihat kamu seperti tersinggung dengan pernyataanku. Rupanya aku memang tidak mengerti apa yang membuatmu kecewa dalam hal ini. Aku takut membuat hal yang sebenarnya sepele itu akan memperunyam keadaan. Sejak kamu mengatakan itu aku tidak lagi mengusikmu perihal Niko. Dan kupikir dia sudah nyaman di rumah Tuhan. Dengan membiarkanmu berlama-lama bernostalgia bersamanya kupikir lebih bijaksana. Lima belas tahun pertemanan kalian tentu saja telah melewati banyak riuh rendahnya masalah dan pengalaman.

“Jika bisa, sebenarnya aku hanya ingin meralat satu hal,” katamu setelah beberapa waktu berlalu.

“Ini tentang apa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Tentang sikapku terhadap Niko.”

“Oh.”

“Andai saja kita bisa mengulang waktu.”

“Maksudmu?”

“Aku hanya ingin menghapus tawaku, saat Niko mengatakan tentang Ular Sawah di kepalanya itu,” terangmu.***

Mengenang Niko.




=====================
Yuditeha, penulis, penata rambut, tinggal di Karanganyar Jawa Tengah. Pendiri ideide-id.

Kesaksian Lakasse

0


Menggelesot di lantai, di samping Undung yang menggigil ketakutan, Lakasse butuh berpuluh kali mengatur hela napas baru mampu bercerita. Ia bilang ke polisi, ketika kakinya hendak menjejak anak tangga pertama terdengar suara letusan, dan ia yakin saat itulah kepala Tuan Bulke ditembus peluru. Masih separuh dari tiga belas anak tangga menuju lantai dua, tempat kejadian itu, belum ia jejaki, saat dua orang muncul tergopoh dari atas. Kedua orang itu sampai melompati dua anak tangga sekaligus setiap melangkah ke bawah. Ia mengaku mengenal kedua orang itu seperti ia mengenal Undung.

Sampai di atas, demikian ia meneruskan ceritanya, ia masuk ke tempat kejadian dan mendapati Undung menggigil serupa meriang. Tubuh Tuan Bulke ada di lantai, duduk bersandar ke tembok, kepala terkulai dan dinding di belakangnya bernoda percik darah. Tersentak melihat kondisi tubuh blasteran bule itu, sontak membuat baki yang menadah empat gelas kopi yang ia antar lepas terpelanting.

Bermaksud mengkonfrontir keterangan yang Lakasse berikan, polisi berpaling ke Undung. Yang ditatap hanya mangap, tanpa ada kata tercetus dari mulutnya, dan lama baru polisi menyadari Undung ternyata gagu.

***

Lakasse merasa hidupnya betapa sial. Ia ada di tempat yang salah pada saat yang salah pula. Tak usai-usai ia termangu dirundung sesal. Kisruh pikirannya kian kusut kasau saat ada teman membisiki, “Kalau keteranganmu di depan polisi tidak meyakinkan, bisa-bisa kamu yang jadi tersangka.” Lakasse bergidik membayangkan bila ia yang harus diterungku sebagai pembunuh Tuan Bulke.

Undung masih saja panik. Tak mungkin mengorek keterangan darinya. Di depan polisi yang memeriksanya, Undung malah kehilangan kemampuan berbahasa isyarat. Gerak tangan dan geletar bibirnya tak terpahami. Sesekali dia melempar pandang ke arah Lakasse, seakan minta dibantu. Dalam gigil ketakutan akibat impitan syok, akhirnya dia dirawat di rumah sakit.

Anca dan Dengka, dua saksi lain yang ada di tempat kejadian dan sempat berpapasan dengan Lakasse di tangga, langsung pula menghilang, dan selang dua hari Anca malah menyusul jadi mayat. Tubuhnya ditemukan menggembung terapung di bawah jembatan. Dugaan serampangan mengatakan Anca terjatuh, atau malah sengaja menceburkan diri ke dalam luap air sungai karena tekanan insiden tertembaknya Tuan Bulke. Sedang Dengka, masih belum ditemukan. Runtunan kejadian itu membuat posisi Lakasse kian sulit; ia jadi satu-satunya saksi yang bisa dimintai keterangan.

Akal Lakasse jadi mampet. Saat termangu, teman yang bersimpati kembali membisiki, “Lebih baik kamu minta pengakuan langsung dari kedua almarhum.”

“Dia kan sudah mati?” Lakasse mengerucutkan hidung, mengernyit.

“Sini, kuajarkan caranya …,” temannya menjelaskan. “Ingat, orang yang semasa hidupnya baik pada kita, biasanya setelah dia tiada, arwahnya akan baik pula pada kita. Aku yakin mereka bisa membantu melengkapi kesaksianmu.”

Serupa api, semangat Lakasse mulai murup. Tuan Bulke dan Anca yang telah tiada itu, saat hidup memang baik padanya. Malah suka memberinya tip. Sontak ia berpikir, arwah keduanya tentu baik pula padanya, pasti bersedia memberi tahu kronologi kejadian agar ia terelak dari kemungkinan jadi tersangka.

***

Sehari jelang agenda pemeriksaan, Lakasse memutuskan menemui saja arwah kedua almarhum. Seorang diri ia datang ke pekuburan. Pucuk dicinta, bulan sedang berbaik hati mengirim sebagian cahayanya, membuat ia tidak sulit menemukan posisi nisan yang ia cari. Ia hadir pada penguburan keduanya, jadi ia tahu di mana nisan mereka terpacak.

Nisan Tuan Bulke berada pada tanah menanjak di sisi bukit. Sedikit ke bawah, pada tanah landai, tempat Anca dikuburkan. Lakasse yakin arwah keduanya belum ingin terlalu jauh dari jasad masing-masing, dan tentu mau menemuinya. Berjongkok di antara nisan itu, sedikit lebih dekat ke nisan Tuan Bulke, ia mencoba memusatkan pikiran: dengan khidmat mengenang wajah dan sosok kedua almarhum.

Di sela riuh kerik serangga malam yang saling-timpa, ia berharap akan muncul pula suara-suara pelan arwah itu. Namun, hingga separuh malam terlampaui, sampai bagian kulitnya yang terbuka mulai perih dicucuki nyamuk, yang ia harap tidak terjadi. Jangankan bisik lirih, tanda-tanda keberadaan makhluk dari dunia gaib, dengan ciri bulu tengkuk meremang, tidak juga ia rasakan. Yang meremangkan bulu di lengannya hanya embus angin, membuatnya menggigil.

Dingin dan perih pada permukaan kulitnya, membuat Lakasse menyerah. Sempat terpikir untuk mengubah posisi, sedikit lebih merapat ke nisan Anca, tapi ia urungkan begitu ada pikiran lain melintas di benaknya: jangan-jangan arwah kedua orang itu malah masih berkeliaran di tempat kejadian?

***

Sejak peristiwa penembakan di salah satu unit pada gedung itu, sebagian penyewa memilih pindah, membuat beberapa bagian bangunan agak gelap. Lakasse masuk dari bagian belakang gedung. Kamarnya menyempil di pojok, dari mana ia bisa menyusuri lorong menuju tangga ke lantai dua. Sembari membesarkan hati bahwa arwah kedua orang itu masih ada di dalam ruangan, siapa tahu malah sedang bertengkar, ia mendorong pintu yang tidak rapat dan menunduk dari garis polisi. Ia masuk, berharap segera mendengar pertengkaran itu.

Unit yang disewa Tuan Bulke sedikit lebih besar dari yang lain, memiliki ruang tamu tersendiri. Lakasse bingung ketika ada di dalam. Apa sebaiknya berteriak saja memanggil arwah itu? Nyala bohlam di atas kepalanya redup, memaksimalkan belalak matanya. Bercak darah yang sudah mengering di dinding sempat ia lirik, sebelum duduk di kursi. Ia menduga kursi itu yang diduduki Tuan Bulke sebelum ditembak.

Sebagai petugas pembersih, senyampang ia bertugas kerap pula dimintai jasanya oleh penyewa untuk dibuatkan kopi atau mi siram, kadang juga membelikan rokok. Makanya ia cukup mengenal Tuan Bulke, termasuk ketiga tamunya yang sering berkunjung. Seraya menduga-duga saat kejadian mungkin Tuan Bulke sedang marah, lalu berdiri dan bergeser ke sisi kiri kursi sebelum terempas ke tembok oleh sentak peluru, Lakasse melengketkan tengkuk ke sandaran kursi. Ketika ia rasakan bulu-bulu di kuduknya meremang, ia yakin arwah korban sudah masuk ke dalam ruangan.

Segera ia bertafakur, berupaya lebih dalam mengenang sosok kedua almarhum. Ia berharap sebentar lagi ada di antara kedua arwah itu yang berkenan mengajak bercakap, atau lebih bagus bila mereka saja yang bertengkar, agar ia bisa menyimak apa yang menjadi penyebab sampai kepala Tuan Bulke dilubangi peluru. 

Namun, dalam detak jam demi jam tubuh Lakasse terhenyak di kursi, jangankan mendengar bisik paling lirih, kehadiran arwah itu malah ia rasa menjauh. Remang bulu di kuduknya hilang, membuat ia menduga arwah itu tidak berkenan melakukan persamuhan karena ia ada di situ.

Dalam dera lelah dan kantuk yang tak kuat lagi ia tahan, ia tertidur. Saat sedang tertidur itulah ia baru bisa melihat arwah itu datang, berebut memberi penjelasan: sangat riuh, saling tunjuk dan saling bentak, sebelum diakhiri suara letusan pistol. Suara itu membuat Lakasse terlonjak dari kursi.

Matanya memicing ke arah kaca jendela yang sudah benderang. Kepalanya terasa pengar. Perlahan ia sadar telah tertidur hingga pagi. Dugaan suara letusan yang membuatnya terlonjak bangun cuma suara empas salah satu pintu yang berjejer di luar, buru-buru ia sisihkan.

***

Dengan semangat berlambak, Lakasse membabar pengakuan di depan polisi, “Anca, Dengka, dan Undung itu, memang sering datang ke tempat Tuan Bulke. Ketiganya ke situ untuk bermain kartu … berjudi, maksud saya. Dan Tuan Bulke selalu saja menang, sedang tamunya selalu kalah. Oya, Tuan Bulke itu kerjanya memperanakkan uang … maksud saya, membungakan uang, semacam rentenirlah. Jadi, setelah kalah dan masih ingin bermain, ketiga tamunya akan meminjam uang dari Tuan Bulke. Pinjaman itu berbunga sangat tinggi. Begitulah seterusnya, berulang-ulang. Akibat selalu kalah, dan terus juga minta tambahan pinjaman, membuat utang ketiga tamunya makin menumpuk. Karena kesal, mulai pula curiga, ketiganya lalu menuding Tuan Bulke telah membodohi mereka. Ketiganya seia-sekata menuduh Tuan Bulke menggunakan trik-trik sulap pada kartu-kartu permainan mereka, sampai mereka selalu saja kalah dan cuma Tuan Bulke yang selalu menang. Akhirnya mereka cekcok, ribut saling tuding. Dengka dan Anca lalu bersepakat mengeroyok Tuan Bulke. Tuan Bulke buru-buru menarik laci, mengambil pistolnya. Kemudian terjadi perebutan pistol itu. Dengka yang berhasil merebut pistol, langsung mengarahkan ke Tuan Bulke, tapi Anca menghalangi. Anca tidak ingin bila sampai harus menembak tuan rumah, makanya dia berusaha merebut kembali pistol itu. Undung ikut pula membantu, kembali terjadi rebutan dan … pistol itu meletus….”

Lakasse merasa baru saja melepas impit cekik di leher. Namun, pertanyaan polisi kemudian, serasa memberi cekikan lain. “Bukankah sebelumnya kamu bilang tidak melihat kejadian itu?” 

Buru-buru melonggarkan napas, Lakasse membalas, “Arwah mereka, yang telah mati itu, yang datang dan menjelaskan pada saya, Pak. Percayalah, Pak, tidak seperti orang hidup, arwah pasti tidak pandai berbohong.”

Seperti menemukan sesuatu, polisi menatap tajam ke arah Lakasse. ***



====================

Pangerang P. Muda menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Telah menerbitkan 3 buku kumpulan cerpen, yang terbaru Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Menjadi guru SMK dan berdomisili di Parepare.  

Di Kebun Nam-Nam

0



Di kebun nam-nam aku melihat kenangan. Seperti dekatnya tiap butir buah yang menggelayut di batangnya, rapat-rapat, serupa itulah kita membilah hari-hari di masa lampau. Ini tepat dua belas purnama, sejak pertama kali kita dipertemukan di pesta Wak Iyah. Kau berbalut kerudung merah, dengan sepeda phoenix biru yang tampak selalu baru. Lina, kau datang menyapa hari-hariku yang kelabu. Di tumpukan kopra yang menggunung, dalam munggu-munggu kelapa yang naik turun, wajahmu adalah kehidupan. Untuk aku, si penggalas kopra yang sehari-hari berkayuh sampan dalam sungai, engkau adalah purnama dalam temaram.

Kenapa aku bertaruh harap pada rasa yang berkelindan di pikiran? Tak lebih sebab pesona yang kian bertaburan padamu. Petang itu, aku melihat serombongan kanak-kanak memanggul bangkar-bangkar kering sebagai pelita bila malam tiba. Mereka berangkat ke rumahmu saat gelap hendak menjelang. Jalanan berlempung, sebagian gawangan kebun kelapa terendam air. Kaki mereka berlumpur, bau tubuh mereka langu. Tetapi wajah mereka seperti bersinar. “Kami ondak pogi mengaji tompat Buk Lina,” mereka tertawa-tawa, gembira.

Aku memang bukan siapa, hendak memendam rasa terlalu lama pada engkau penyentuh jiwa. Bila pagi tiba, waktuku hanya habis di tumpukan tempurung dan belahkampak. Kisaranlah tujuanku. Mengantar kopra berkarung-karung, itupun bila kelapa tak langkas. Adakalanya tukang kait memberi kabar buruk, tak ada kelapa hendak diturunkan. Maka, alamatlah aku hanya menjadi penjaga munggu. Mengenangmu dalam segenap rindu. Kehidupan bagiku hanyalah pertaruhan soal setumpuk nasi yang tersaji di pinggan. Terlampau rumit, hingga terkadang mengkhayal perihal perempuan menjadi satu kemustahilan.

Bila malam, kita pun dikurung kerinduan. Kegelapan membatasi kita dalam hujan yang turun meneduhkan kegelisahan. Bila angin darat datang, seperti itulah rasa hendak kukirim. Padamu yang tentu saja tengah menemani kanak-kanak di depan alif-alif yang mereka baca. Kau perempuan yang asing dengan malam, menunggumu hanya di musim terang. Dan bila kegelapan menjelang, kita hanya dipertemukan dalam impian. Seperti itulah kebaikan, sopan santun yang amat terjaga pada setiap tingkah yang kau tunjukkan. Kebahagiaanku hanyalah pada mengenangmu. Lalu sesekali bertemu curi-curi, dalam pandangan yang sepintas lalu. Tetapi aku begitu percaya, akulah bidadara yang selalu kau pinta dalam doa-doa.

***

Ini hari yang menggembirakan. Ada pesta perkawinan di kampung. Orang-orang akan datang berkunjung, dan akupun akan menantikan kehadiran Lina. Ia perempuan yang selalu dekat dengan bumbu-bumbu. Perempuan itu akan duduk bersama perempuan-perempuan lain yang lagan di rumah orang yang berpesta. Selepas menggalas aku akan datang ke pesta. Bukan untuk berbaris seperti undangan pada umumnya, tetapi sekadar mengaduk nasi dalam dandang besar. Inilah waktu yang dinanti-nanti, saat aku dan Lina bisa beradu pandang dalam sedapnya aroma masakan. Dan siang itu aku benar-benar melihat Lina dengan kerudung merahnya. Matanya merah berlinang. Rupanya perempuanku tengah tunak dengan potongan-potongan bawang. Semakin merona pipi perempuan itu, semakin pula tertunduk hatiku.

“Denan, cobalah kau bawa hidangan ke depan,” pemilik rumah memanggilku. Tugas menghidang dijatuhkan padaku. Ini hal yang kutunggu. Di mana aku bisa lalu-lalang di depan Lina, dan ia pun tentu akan ceria. Aku pun bergegas membawa talam. Dalam sajian kolak pisang merah, pajri nenas dan ayam masak putih. Hidangan dengan aroma yang tak terlupa, tetapi tak serupa aroma kerinduanku pada Lina.

“Tengok jalan baik-baik, Denan.”

Aku terkejut. Seorang bujang kampung berbaju putih memegang talam yang kupegang. Ia tersenyum mengalihkan pandangan.

“Kau tukang galas kopra di kebun Haji Somad?” ia bertanya.

Aku masih tak mampu berucap. Lelaki itu terus menatapku. Tangannya memapah talam yang kubawa dengan jemarinya.

“Bawalah makanan itu ke depan.” Ia berucap lagi sambil berlalu. Dan aku semakin tak mengerti dengan tingkah bujang itu. Aku berlalu, sejenak kulupakan bujang itu. Lalu aku kembali teringat Lina. Kucari-cari dalam pandangan, kemana ia menghilang. Dan senyumku mengembang saat menyaksikan seraut wajah Lina dengan kerudung putih dan baju kurung putih telah duduk di bagian depan pelamin. Ia menemani pengantin yang hendak berkhatam Al Quran. Demi jiwa yang mempunyai rasa, sungguh perempuan itu amat sempurna. Demikianlah hayalanku terus hanyut, pada perempuan berkerudung putih yang kini ada di depanku, bukan lagi di hayalan-hayalan malam yang terbentang. Ia benar-benar telah ada di hadapan.

Aku terus terbuai dengan pandangan mata. Dan saat orang-orang ramai di belakang, membincangkan makanan-makanan yang terbuang. Aku tersentak. Beberapa orang membawa talam-talam hidangan ke belakang. Makanan-makanan itu ditumpahkan dan dibuang. Termasuk talam yang kubawa ke depan.

“Ada apa?”

“Seperti biasa ada yang membuang.”

“Racun?”

“Ya, di depan sudah ada pawang.”

Lina? Bagaimana Lina? Seketika aku teringat perempuanku. Lalu bergegas aku datang ke arahnya. Dan kulihat perempuan itu hanya diam menyimak bacaan-bacaan mempelai. Hanya ada segelas air putih di hadapannya. Tuhan memberi kebaikan tak terkira. Lina tak makan makanan itu, dan aku pun bersyukur.

***

Aku tak mampu menanti lebih lama. Perihal rasa yang terus menumpuk-numpuk di setiap malam, semua ini harus diluahkan. Aku bukanlah bujang tanpa pemikiran panjang. Ini sudah lima kali musim panen kelapa, semenjak uangku kutabung dalam mug beras di lemari kamar. Uang itu kukumpulkan sebagai tanda rasaku yang benar-benar ingin bersama Lina. Aku tahu, adat istiadat teramat sulit bersahabat dengan penggalas kopra macam aku.

Bayangkan, saat datang ke rumah perempuan, kau akan ditanya soal isi kamar. Ada balai, lemari, tilam, pakaian dan apa saja yang bisa dimasukkan ke bilik pengantin. Semua itu akan dibebankan pada para bujang. Entah itu keadilan atau adat istiadat yang harus dipertahankan, tetapi bagi bujang macam aku tentu harus bersabar dari waktu ke waktu. Setiap pagi kujenguk tabunganku. Sudah berapa lembar kiranya yang ada dalam mug itu. Apakah bertambah, atau malah berkurang pada masa aku tak sadar?

Aku mengira-ngira, seandainya uang ini dibawa ke pajak di Kisaran, tentulah ada beberapa hantaran yang bisa kubeli. Aku berkerah-kerah, lalu kuingat wajah Emak Lina, sebenarnya ada sedikit beraliran darah Jawa, mungkin saja ia bisa menerima sedikit kekurangan dari hantaran ini. Atau yang lebih mungkin memberikan aku tempo beberapa bulan melengkapinya. Akankah bisa? Aku berkaca sejenak. Memandang wajah yang sebenarnya tak layak. Tetapi bukankah rasa bisa membuat orang berbuat apa saja, terlebih lagi pada sesuatu yang mengantarkan dirinya pada cinta?

Aku terus saja mengira-ngira. Di bawah batang kelapa yang masih muda aku menghirup angin. Setidaknya, ini hari terakhir aku akan begini. Esok tanggal muda, kukira saatnya untuk mencoba datang ke rumah Lina. Sebab bila terus menanti, aku tak tahu apa yang bakal terjadi. Bagaimana jika telah ada tambatan hati Lina yang ia diam-diamkan di hatinya. Atau pula Emak dan Ayah Lina terpukau matanya dengan hantaran bujang lain yang lebih banyak jumlahnya. Maka aku menghibur diri dengan bersahabat pada angin. Memejamkan mata, merasakan desirannya yang datang di balik bambu-bambu rimbun di seberang munggu. Mataku memandang jauh, di sebalik pohon-pohon kelapa yang rindang itu, di sanalah rumah Lina. Hanya terlihat bubung rumahnya saja dari tempat aku merebah badan. Itupun sudah cukup menalangi rinduku pada perempuan itu. Menatapnya tersenyum rasa, memandangnya terhirup aroma kehidupan yang lebih nyata. Aku pastikan, esok aku akan datang, Lina.

***

Ini pagi yang paling kunanti. Dengan subuh yang awal aku memintal harapan, doa-doa hingga fajar datang. Tak ada sesiapa hendak kubawa menghadap Emak Lina. Hanya keinginan yang begitu bergelora. Aku membawa keikhlasan, pada rasanya yang telah kutumpahkan sekian masa, dalam diam yang selalu kujaga. Bukankah menjaga rasa itu terasa bahagia ketimbang meluahkan tetapi berbuah hinaan?

Inilah masanya, di mana aku akan berhujan air mata atau berseri-seri harinya. Aku memandang ke cermin. Bagaimana bila nanti aku datang, ternyata bilik-bilik rumah Lina telah penuh dengan ranjang hantaran, bisa jadi dan mungkin saja terjadi. Maka hatiku pun semakin berdebar. Siapalah bujang macam aku, tiada benda dan tiada nama. Tetapi tiada yang tidak mungkin dengan doa? Bisa saja Emak Lina justru tak berharap apa-apa, memudahkan segalanya. Dan alamatlah aku akan gembira. Bisa jadi dan mungkin saja terjadi.

Aku berkemas. Dengan sebuah kemeja putih paling baru yang sengaja kubeli di pajak Tanjung Balai, petang semalam. Aku menata rambut, sedikit bergaya. Kubayangkan model rambut ayah Lina dulu, barangkali setakat mirip dengannya akan membuat Emak Lina merasa dekat, dengan sosok yang mungkin saja akan segera jadi menantu. Aku tertawa, begitu besar harapanku, seperti doa-doa petang semalam.

Ini hari yang baik, saat jalanan kering. Lumpur seperti bahagia menemani langkah-langkahku menuju rumah Lina. Rumah dengan rumput jepang yang luas dan hijau, varnish papan yang selalu berkilau. Tempayan besar yang selalu berisi di bagian depan talang rumah. Aku tersenyum. Barangkali tak lama lagi aku akan bermaustutin di sini, tinggal bersama Lina dan keluarganya. Aku berjalan mendekat, seperti ada keriuhan di dalam. Tetapi tak mungkin aku melongok pada tingkap yang tirainya tersingkap. Sejenak keriuhan itu hilang. Aku pun memberanikan diri mengucap salam.

“Assalamualaikum.”

Sekali saja, lalu hening. Dan aku tak mau kalah dengan rasa ragu di hatiku, maka kuucapkan lagi salam itu. Terus hingga lebih dari tiga kali. Semestinya aku pulang, sebab tak ada jawaban. Tetapi ada langkah-langkah di papan rumah yang terdengar. Seseorang membuka pintu.

“Denan…”

“Ya, Wak, ada hal yang ingin saya sampaikan. Bolehkah kiranya saya bertandang sejenak?”

Emak Lina terdiam, tetapi kemudian ia membuka pintu dan mempersilakan masuk. Aku bahagia sebab tak ada penolakan seperti yang membayangi ketakutan hatiku.

“Ada apa, Denan?”

“Maafkan saya, Wak, sebenarnya maksud hati saya kemari hendak bertemu Lina.”

“Oh ya, ada apa kiranya?”

“Kalau kiranya masih ada kesempatan, saya ingin sekali melamar Lina sebagai istri saya. Maaf jika lancang, tetapi saya hanya ingin datang dengan rasa terus terang.”

Emak Lina lagi-lagi diam. Tetapi senyum tetap mengembang di wajahnya. Dan ini pertanda baik, aku pun terus bicara tentang hal-hal yang kupikirkan.

“Soal hantaran, saya sudah siapkan. Tapi mungkin masih belum lengkap. Wak tak perlu khawatir, dalam tiga kali musim kait, saya akan bisa memenuhinya. Dan soal perkawinan pun saya akan usahakan kita bisa mengundang qosidah.”

Hening. Dan kegelisahan mulai terasa di hatiku. Emak Lina hanya meneguk air, bahkan tanpa mempersilakan aku minum.

“Wooooiiii cilakoooo, cilakoooo kaaaauuu! Kemano kau pogi? Cilakooooo!”

Sebuah suara melengking dari balik kamar. Aku tersentak, sebab aku ingat siapa pemilik suara itu. Cepat aku berdiri hendak melihat ke dalam.

“Tak perlu kau ke dalam, Denan, cukuplah kau tau di sini. Lina kini terkena puako. Si Rustam guna-guna dia sebab dia menolak cintanya. Dia cuma diberi air putih saat pesta perkawinan, tetapi sampai kini Lina terus begitu. Ia bahkan kami rantai di kamar.”

Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Emak Lina membuka pintu kamar. Di sana gadis yang mendiami hatiku seolah-olah telah berubah menjadi hantu yang menyeramkan. Rambut perempuan itu berserakan, matanya tajam dan liar. Mulutnya menggeram-geram dan bersuara tak jelas. Hatiku hancur, dan entah kemana hendak kulabuhkan segala rasa yang telah mengendap di jiwa. Perempuanku kini tinggal kenangan.(*)

=======================
Nafi’ah al-Ma’rab merupakan nama pena dari Sugiarti. Berdomisili di Pekanbaru, Riau. Cerpen-cerpennya dimuat di Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos, Padang Express dan sebagainya. Pemenang lomba nasional seperti Green Pen Award 2019 oleh Raya Kultura. Pemenang Lomba Cerpen Nulisbuku dan Kemenegpora tahun 2012. Selain cerpen, juga menulis novel, di antaranya Lelaki Pembawa Mushaf (Tinta Medina 2016), Suraya (Bhuana Ilmu Populer, 2018), Luka Perempuan Asap (Tinta Medina, 2016).

Kakek Yiu Wai Ip

2

“Dia terjatuh di kamar mandi. Lalu pingsan dan koma selama dua hari. Begitu ia tersadar, namamulah yang  ia cari. Jadi, kapan kau akan ke Hong Kong? Kungkung (1)sangat berharap kau kembali.”

Pesan singkat dari Atin,  perawat kungkung di Hongkong kubaca berulang kali. Aku tidak bisa mempercayai atau aku memang tidak siap atas apa yang diucapkannya. Pesan singkat itu berdengung di kepala, juga di dada.

Sampai akhirnya, ama memanggilku dari dapur. Aku mendapatinya sedang mengaduk masakan dengan aroma  menguar ke seluruh ruangan. Kulihat di wajan ada kapulaga, daun kari, dan kembang lawang. kemudian satu tangannya meraih daging sapi yang sejak siang sudah kurebus dengan panci presto. Aku berdiri di sampingnya, dengan maksud ingin meneruskan masakan, tapi dia menolak dengan satu tangan terangkat persis di depanku.

Dia membalikkan badan dengan cepat, lalu mengambil bubuk jintan, bubuk kunyit yang berjejer rapi di rak bumbu. Dengan cepat dituangkan kedua bubuk rempah tersebut. Kemudian,  tangannya meraih beberapa sendok curry powder yang sejak mula sudah kusiapkan di meja. Tangannya mengaduk kembali. Diusapnya peluh dengan punggung tangan. Dia tampak kelelahan.

“Tidak semua orang Singapore bisa memasak,” Ama membuka pembicaraan.

 Aku diam.

“Kau tahu,  kari  buatanku rasanya juara. Keluarga besarku menyukainya. Kau harus cermat belajar masak dariku! Kau beruntung bekerja di sini.”

Tangannya meraih gelas yang berisi susu bubuk yang sudah kularutkan. Dituangkan perlahan ke dalam kari. Tangannya  mengaduk kembali, lalu dia mengibaskan tangannya di atas masakan. Hidungnya menghidu dengan cermat setiap detail aromanya.

“Kau sepertinya ada masalah. Sejak tadi kuperhatikan kau diam,” Ama menilik pandangku.

“Aku tidak apa-apa, Ama.”

“Kalau begitu, tolong belikan aku asam kandis. Di rumah habis. Aku akan memasak asam pedas ikan pari,” ama mematikan kompor, kemudian mengambil 2 dolar uang Singapore.

Aku melangkah dengan kaki kebas menuju daun pintu dan segera pergi ke kedai. Berulang kali pesan itu membuatku teramat pening. Memoriku memutar ulang kejadian yang memilukan, sekaligus membuatku bersyukur telah dipertemukan dengan seseorang sebaik Kakek Yiu Wai Ip.

Ketika itu, dengan koper kecil yang kutarik dan tas punggung berwarna hitam di pundakku, aku meninggalkan rumah majikan di Taipo. Aku memutuskan kontrak dengan majikanku yang memiliki 3 pembantu. Aku pikir pilihanku benar, karena  intimidasi yang selalu kuterima dari dua pembantu lainnya.

Majikanku mengantarku menuju agency dengan Alphard berikut sopirnya, setelah aku menyodorkan selembar kertas one month notice(2). Dengan begitu, dia akan memberiku kesempatan bekerja selama satu bulan kedepan dan aku memiliki uang.

Agency yang kuharapkan sebagai tempat berlindung, ternyata membuatku kecewa. Dia memojokkanku dengan menumpahkan seluruh kesalahan  kepadaku. Argumentasinya mematahkan lidahku untuk membela diri. Dan aku hanya diam menunduk memandangi nat-nat lantai. Sampai akhirnya, aku tidak mendapat uang pengganti interminit(3). Aku kebingungan memikirkan lima hari kedepan akan mengisi perutku dengan apa.

“Kau boleh pergi sekarang dari kantorku!” tukas agencyku dengan ketus. Kukira, dia akan mempersilahkanku untuk tinggal di boarding house(4) miliknya dan mencarikanku majikan baru.

Kuseret koper dengan langkah gontai menuju Stasiun MTR(5). Mungkin di sana, aku bisa berpikir kemana aku harus pergi. Sampai akhirnya Dompet Dhuafa terbersit di kepalaku.

Dari stasiun Taipo aku mencari kereta jurusan Kowloon Tong. Dan aku turun di Kowloon Tong. Kemudian aku mencari kereta lagi dengan tujuan Prince Edward dan aku hampir tertidur di kereta itu, kalau saja seorang turis tidak bertanya tentang alamat yang dicarinya. Kereta berhenti di Stasiun Prince Edward dan aku mencari kereta jurusan Admiralty. Ini adalah stasiun persinggahan terakhir dengan tujuan Causeway Bay. Tubuhku kembali ditelan badan kereta yang mengantarkanku menuju Causeway Bay.

Sepanjang perjalanan, lampu berpijar menerangi jalan dengan lineria keemasan,  dan juga gedung-gedung yang bersolek dengan cahaya lampu. Sementara, Langkahku panjang-panjang, memburu ruang dan waktu yang bersekutu. Langit tak lagi dipenuhi gemintang, ada mendung yang menggantung di sana. Aku harus segera.

Sialnya aku lupa letak Shelter Dompet Dhuafa, karena memang baru sekali aku ke sana ketika libur beberapa pekan lalu. Entah sudah berapa kali aku naik turun tangga gedung mengetuk satu pintu ke pintu lainnya.

Malam sudah mencapai kepekatannya. Mendung pun sudah siap-siap menumpahkan segala isinya. Aku berjalan menyeret koper dengan lemah. Aku sudah lelah. Kubiarkan saja angin mengusikku berkali-kali hingga akhirnya hujan berjatuhan bagai ratusan anak panah. Menghunjam bumi dan diriku tanpa ampun. Aku terbalut gigil yang amat akut hingga aku tergugu dalam kerasnya kehidupan Hong Kong.

Aku menuju stasiun setelah aku membeli sepotong roti dengan kartu patadongku(6). Aku duduk di  tangga stasiun. Di sana kunikmati rotiku. Hingga pada akhirnya, ada dua pasang kaki melangkah ke arahku. Seorang kakek dengan perawatnya.

Kakek itu memakai baju bergaya vintage berwarna turkuas yang sempat tenar di zaman Benjamin, dikombinasikan dengan rompi cokelat dan celana panjang corduroy cokelat. Kulihat sepatunya amat hitam berkilat terpantul sinar lampu. Tangan kanannya memegangi tongkat, tangan kirinya diapit perawat. Mereka menanyaiku, hingga akhirnya, kakek memintaku pulang ke rumahnya dan akan membawaku terlebih dahulu makan di restaurant. Aku menolak ajakannya. Kurasa, dia memberiku tumpangan sudah lebih dari cukup.

“Kamu hanya makan sepotong roti,” ucap kakek  sambil tersenyum memamerkan putih deretan giginya. Entah sejak menit keberapa kakek itu mengamatiku.

Kakiku mengikuti langkah pelan kakek  menuju Restaurant China yang berada di dalam bangunan Masjid Wanchai di lantai lima. Lalu kakek menuju ke sebuah meja bundar yang besar dengan empat kursi di sana. Kakek duduk di sampingku dan juga di samping perawatnya.

Kakek menulis pesanan, lalu sopir kakek yang berkewarganegaraan Filipina membawa kertas itu menuju meja waiter. Kami menunggu, dan kakek memapah pembicaraan, sehingga suasana menjadi cair. Sedikit demi sedikit kecanggunganku berkurang. Dari pembicaraan inilah aku mengetahui kakek itu bernama Yiu Wai Ip.

Pelayan datang dengan beberapa makanan di  tangannya. Empat bamboo steamer berisi dim sum yang masih mengepul asapnya. Sekeranjang Xiaolongbao(7), tiga piring nasi goreng oriental, dan empat mangkok kecil dong yhun(8).

                                                                        ***

Kakek hidup bersama istri dan perawatnya. Namun nenek lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Tidak ada komunikasi secara intens diantara keduanya. Mereka seolah-olah saling memberi jarak dan jeda. Aku tidak begitu memusingkan perkara ini, karena aku hanya orang yang singgah di rumah ini  dan sekejap aku pergi. Aku lebih memusatkan perhatianku menjaga kakek.

Pada hari keempat aku di rumahnya, kudapati kakek tidak seperti biasanya. Dia amat lesu dan lebih banyak diam. Dia duduk di sebuah kursi di tepi jendela, sementara televisi yang menyala dibiarkan saja.

“Kungkung, bolehkan aku memijat kakimu?” aku memancing suasana.

“Tidak perlu. Kau yakin akan pulang? Kau tidak ingin menuntut hakmu atas majikanmu?” tanyanya kemudian.

“Suamiku bersikeras menyuruhku pulang, Kek. Tanpa memberi alasan. Aku harus melupakan segalanya, dia memintaku.”

“Aku sedih kau hanya memiliki waktu lima hari di sini. Besok kau akan pulang. Aku seperti menemukan sesosok anak pada dirimu,” kakek berbicara dengan kekenesan yang berlebihan.

“Kau sungguh memiliki kemiripan dengan anakku, Yani,” kakek merogoh potret ukuran kecil dari dompet. Disodorkannya potret itu kepadaku. Sesosok gadis kecil berkepang, dengan kulitnya berwarna tembaga. Kulirik kulitku. Sama. Ah, ini hanya kebetulan.

“Aku harus berpisah darinya ketika ibunya memutuskan untuk pulang ke Indonesia, selamanya. Saat itu dia berusia 4 tahun. Namanya Yani Yiu Ip,” Kakek menggaruk lengan, aku segera mengambil cream gatal lalu kuoleskan ke lengannya. “Sama seperti namamu, kan?” kedua matanya menatapku.

“Namaku Yani Lestari, Kek.”

Dia diam cukup lama. Matanya berkaca-kaca lalu tangan kanannya mengibas, “Sudah tidak usah dipikirkan!”

Dia diam cukup lama. Matanya berkaca-kaca lalu tangan kanannya mengibas, “Sudah tidak usah dipikirkan!”

Aku langsung mengaitkan ketidakacuhan nenek kepada kakek. Apakah ini sebabnya? Pikiranku dipenuhi segala kemungkinan-kemungkinan.

“Jadi, kau memiliki dua istri, Kek?” tanyaku berusaha memancing jawaban untuk memastikan kemungkinan-kemunginan di kepalaku.

“Kau mengintrogasiku, Yani?” Kakek terkekeh, “Yah, memang. Perempuan Indonesia itu juga istriku.”

                                                                ***

Pagi itu tepat pukul 4 aku bersiap-siap untuk meninggalkan rumah Kakek. Kakek masih di kamar, mungkin dia masih tidur. Neneklah yang menemaniku. Sampai pada akhirnya, kakek berjalan gontai mendekatiku. Kulihat dia sesenggukkan. Bening air matanya membanjiri pipi, ia serupa anak kecil yang hendak ditinggal ibunya. Nenek entah mengomel apa melihat tingkah kakek. Karena suaranya yang cedal sulit bagiku untuk memahami pembicarannya, terlebih kantonisku sangat minim.

Kakek mengulurkan sejumlah uang. Aku hanya mematung.

“Ambil! Aku tahu kau tidak membawa uang. Apa yang akan kau katakan kepada anakmu jika kau kembali tanpa coklat, permen, atau mainan?” Kakek mengusap ingusnya.

Aku menatap ke arah nenek. Kulihat mulutnya merucut dan ia mulai menyadari aku menatapnya, “Ambilah, Yani! Untuk anakmu.” begitu ucap nenek akhirnya. Entah karena merasa tidak enak denganku atau memang dia menimbang-nimbang perkataan kakek.

***

Aku memutuskan mencari penerbangan tujuan Hong Kong. Aku hanya ingin menyambangi  kakek, setelah mengantongi izin dari majikanku di Singapore.

Mataku nanar ketika aku telah berada di Queen Elizabet Hospital, kakek dirawat di sana. Terakhir Atin mengabarkan, jika kakek masih dalam keadaan kritis, tidak kunjung membaik dan masih sering mencariku.

Aku melangkah masuk melewati security yang berjaga,  ia segera menghadangku, meminta ID Cardku(9) dan kartu pengunjung. Aku mengambil ID Card tanpa bisa menunjukkan kartu pengunjung. Dia menolak. Aku meyakinkan jika aku ingin menjenguk salah satu pasien yang kukenali. Namun sayang, security itu membuktikan kapasitasnya sebagai pekerja yang baik. Hingga akhirnya aku mengirimkan pesan ke Atin untuk menjemputku.

Begitu aku memasuki ruangan kakek, mataku memutari kamar di mana kakek dirawat, hingga akhirnya pandangku jatuh ke tubuhnya yang terbaring ringkih. Di sampingnya, kudapati nenek dan seorang perempuan yang kutaksir itu adalah anaknya.

“Yani,”  Wajah kakek tak lagi bersinar seperti saat bertemu dengannya di stasiun dulu. Aku mendekatinya.

“Oh, kamu ternyata yang namanya, Yani,” suara perempuan itu tidak bertanya juga tidak memastikan.

“Aku ingin memastikan, apakah kau baik-baik saja dalam perjalanan?” Aku mengangguk, sikap simpatinya tetap konsisten, “Aku tidak ingin kau seperti saat di stasiun.” Kakek menyunggingkan senyum.

Matanya mengerling ke arah Atin, seperti memberi suatu isyarat. Atin mengangguk. Lalu ia memberikan sebuah buku kecil. Semacam buku rekening. Namun, nenek segera menyambar buku tersebut.

“Kamu sebenarnya siapa?” Kedua bola mata nenek menganak sungai.

Mulutku mendadak kelu ketika hendak kubuka, dan kerongkonganku seperti tersumpal.  Aku baru tersadar jika aku berada di tempat yang salah.(*)

Keterangan:

1. Kungkung: kakek

2. One Month Notice: Surat sebulan pemberitahuan. Peraturan Hongkong mengharuskan jika pekerja akan mengakhiri kontrak kerjanya, harus menggunakan one month notice. Jika majikan tidak bisa mempekerjakannya sampai sebulan kedepan, dia harus membayar uang sebulan gaji.

3.Interminit: pemberhentian kerja secara sepihak tanpa pemberitahuan. Jika hal ini dilakukan majikan, maka majikan harus membayar satu bulan gaji dan gaji yang belum dibayar.

4. Boarding house: kos-kosan dan agency harus memilikinya.

5.MTR: Mass Transit Railway, kereta cepat.

6. Patadong: Kartu untuk naik MTR,  bus, dan bisa digunakan untuk berbelanja di beberapa toko.

7. Xiaolongbao: Pangsit isi

8. Dong Yhun: semacam wedang ronde

9. ID Card: Kartu Identitas



====================
Diani Anggarawati Lahir di kota Kendal, Jawa Tengah. Nama pena sebelumnya Diani Ramadhaniesta dan kini lebih nyaman menggunakan nama asli. Beberapa karyanya yang pernah terbit adalah: Hong Kong Bercerita, kumcer (Alif Gemilang Pressindo, 2013), Jejak Kartini di Negeri Beton, biografi TKW berprestasi di Hong Kong (Kaifa Publishing, 2013), Cinta Bertahta, novel (Rumah Orange, 2014) dan beberapa cerpennya pernah dipublikasikan di media berbahasa Indonesia di Hong Kong, Taiwan dan media online di Indonesia.

Solawat Ikan-Ikan

0



Pagi masih pucat ketika Sarkum pamit pada Sitti. Ia harus bergegas sebelum matahari meninggi. Ia mesti berpacu dengan waktu agar pekerjaannya tak tergeser orang lain. Dengan sepeda kumbang peninggalan mendiang bapaknya, ia harus mengayuh sejauh lima kilometer untuk sampai di pelabuhan Tanjungpinggir.

Sesampainya di pelabuhan, ia cukup lega. Belum banyak orang-orang sepertinya di dermaga. Hingga tak lama kemudian sebuah kapal nelayan perlahan menepi dan bersandar ke dermaga.

Setelah seorang anak buah kapal melempar sauh, Sarkum bersama beberapa kawannya setengah berebut menaiki kapal. Mereka sudah paham apa yang harus dikerjakan. Puluhan keranjang berisi ikan harus segera mereka turunkan. Menaruhnya di dekat si tauke pemilik kapal yang sudah menunggu di pelelangan, sebelum menjual semua ikan pada para pedangang.

Setengah jam kemudian pekerjaan Sarkum pun selesai. Peluh di tubuhnya masih mengucur ketika tauke mengulurkan selembar uang lima puluh ribu sebagai upah. Dengan segera Sarkum  memasukannya ke dalam kantong celana. Kali ini si tauke tengah bermurah hati. Sebab ikan yang diperoleh anak buahnya cukup berlimpah.

“Terima kasih juragan,” tukas Sarkum, mengulum senyum. Lalu bergegas kembali ke dermaga. Bersiap menaiki kapal lain yang baru saja bersandar.

Matahari hampir sepenggalah ketika Sarkum mengakhiri pekerjaannya. Sebelum pulang, ia mampir ke kedai Mak Jum.

“Ramai, Kum?” tanya Mak Jum sembari mengulurkan segelas kopi.

“Alhamdulillah. Lumayan Mak. Setidaknya hari ini aku tidur nyenyak,” jawab Sarkum, lalu menyorongkan bibirnya ke mulut gelas.

“Syukurlah. Berapapun hasilnya harus disyukuri.”

Sarkum mengangguk sembari mengambil sekerat singkong goreng. Tak lama berselang Sugi datang.

“Sudah lama, Kum?” sapa Sugi, lalu duduk tak jauh dari Sarkum.

“Barusan.” Sarkum merogoh saku baju, mengeluarkan rokok, lalu menyulutnya. “Bagaimana hasilmu hari ini, Gi?”

Sugi meraih handuk di pundaknya, lalu dibanting di atas meja, “Buntung, Kum.”

“Maksudmu?”

“Baru menurunkan tiga keranjang, kakiku sudah keseleo,” gerutu Sugi, menyodorkan kakinya yang mulai bengkak ke hadapan Sarkum.

“Wah, sial benar nasibmu, Gi.”

“Beruntung Haji Ali bermurah hati. Ia tetap memberiku upah, meski tak seberapa.”

“Syukurlah. Setidaknya jerih payahmu tak sia-sia. Sebaiknya kau lekas ke tukang pijat. Kakimu harus segera ditangani.”

Sugi mengangguk. Lalu memesan segelas kopi pada Mak Jum.

***

Azan zuhur baru saja purna ketika Sarkum memasuki rumah. Dilihatnya Sitti tengah sibuk di dapur sembari bersenandung. Dengan mengendap-endap, Sarkum menghampiri Sitti, lalu memeluknya dari belakang.

“Apa yang kau masak hari ini, istriku?”

Sitti terkesiap, “Ah, Akang. Bikin kaget saja. Hampir saja jantungku copot.”

“Ah, kau ini terlalu berlebihan.”

Sitti tersenyum, “Hari ini aku masak sayur kesukaanmu. Lodeh terong, tempe bacem, sambal terasi, dan tak lupa…” Sitti menunjuk ke dalam bara tungku.

“Petai bakar?”

Sitti mengangguk. Mata Sarkum langsung berbinar. Ia pun memeluk Sitti kembali. Tak lama berselang, Sitti sudah menyajikan semuanya di atas meja makan.

“Tumben Akang pulangnya siang?” tanya Sitti sembari menyendok nasi dan menumpahkannya di piring Sarkum.

“Tadi selepas bongkar ikan, aku mampir ke kedai Mak Jum. Di sana bertemu Sugi. Kami sempatkan ngobrol sebentar. Kasihan benar ia. Belum juga selesai bongkar ikan, kakinya sudah keseleo.” Sarkum mengambil lauk. “Tapi mungkin ia kena Karma.”

“Maksud, Akang?”

“Tempo hari ia serobot jatah Sukar di kapal Koh Ahong. Hampir saja mereka adu jotos kalau tak dilerai kawan-kawan.”

“Orang cari rezeki tak harus begitu,” ujar Sitti sembari menyendok nasi.

“O iya, tadi sepulang dari kedai Mak Jum, niat hati aku mau langsung pulang. Tapi baru sampai di depan Pasar Baru, Haji Salim memanggilku. Rupanya ia butuh bantuan menurunkan karung-karung beras dari truk yang baru datang. Jadilah aku ikut bongkar beras di sana.” Sarkum merogoh saku celananya. Lalu meletakkan segenggam uang di atas meja. “Kau bisa hitung jumlahnya. Aku tak sempat menghitungnya. Mudah-mudah lebih dari cukup untuk membeli beras dan bumbu dapur.”

“Alhamdulillah. Mudah-mudahan masih ada sisa untuk besok pagi. Syukur-syukur masih ada juga untuk ditabung.”

Sarkum mengangguk-angguk, “Eh, aku dengar tadi ketika memasak, kau seperti menyenandungkan sesuatu?”

“Iya, Kang. Aku tadi bersolawat. Aku kemarin baru dapat resep dari Nyai Nur. Jika ingin masakanku enak, maka aku disuruhnya bersolawat.”

“Dan kau percaya akan hal itu?”

“Kenapa tidak? Bukankah bersolawat itu baik? Kata Nyai Nur juga tak hanya soal masak saja. Hal lain pun demikian, jika ingin urusan lancar, maka banyak-banyaklah bersolawat.”

Sarkum tak begitu menanggapi perkataan Sitti sebab mulutnya sudah tersumpal nasi.

***

Musim angin barat datang. Para nelayan tak berani melaut. Mereka menyandarkan kapal-kapal di dermaga. Aktivitas jual-beli ikan di pelabuhan Tanjungpinggir sejenak sirna hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Setali tiga uang dengan para nelayan, Sarkum pun bernasib sama. Musim angin barat membuatnya sejenak kehilangan pekerjaan di pelabuhan. Ia pun bekerja serabutan demi mencukupi kebutuhan keluarga. Pagi hingga siang hari ia pergi ke Pasar Baru menjajakan tenaganya, sementara sore hingga tengah malam ia ke dermaga untuk memancing ikan.

Seminggu berlalu. Angin barat belum ada tanda-tanda akan purna. Selepas magrib, Sarkum sudah bersiap dengan peralatan memancingnya. Meski hujan belum reda, Sarkum tetap pergi. Hujan yang mengguyurnya tak menyurutkan niatnya untuk mencari rezeki.

Sesampainya di dermaga, Sarkum pun melempar kail ke tengah ombak yang bergejolak menghantam dermaga. Lalu duduk terpekur di bawah guyuran hujan dan hanya diterangi berkas cahaya lampu dari tempat pelelangan ikan di kejauhan. Meski dingin menyelimut, ia terus bertahan. Ia tak ingin pulang dengan tangan hampa.

Sejam berlalu, kail Sarkum belum ada tanda-tanda disambar ikan. Namun ia masih setia menunggu di bibir dermaga. Tiba-tiba ia teringat perkataan Sitti tentang solawat.

“Tak ada salahnya jika aku mencoba,” gumam Sarkum. Ia pun bersolawat.

Sungguh ajaib. Tak membutuhkan waktu lama, seekor ikan belanak menyambar kailnya.

“Jangan-jangan memang benar,” gumam Sarkum.

Ia pun kembali memasang umpan pada mata kail dan melemparkannya ke laut. Lalu kembali bersolawat. Dan benar dugaannya, seekor ikan belanak kembali didapat. Sarkum pun mengulang beberapa kali hingga tak terasa ikan tangkapannya hampir memenuhi ember. Setelah dirasa cukup, ia pun bergegas pulang.

***

Pagi menguar. Matahari tengah menggugurkan embun-embun di atas daun ketika Sarkum dan Sugi mengobrol di warung Mak Jum.

“Semalam aku mancing di dermaga, Gi.”

“Hasilnya?”

“Di luar dugaan. Satu ember penuh!”

Sugi tergelak, “Mana mungkin. Kau ini suka berkhayal. Angin barat saja belum usai. Tak mungkin ada ikan yang menepi.”

“Terserah kau mau percaya atau tidak,” Sarkum memasang muka serius. “Tapi itulah kenyataannya. Aku bisa buktikan kalau kau mau.”

“Baik. Nanti malam kita buktikan. Aku yakin kau hanya membual.”

“Siapa takut. Jangan lupa bawa peralatan memancing.”

Malam harinya Sarkum dan Sugi bertemu di dermaga. Setelah mengambil tempat, mereka segera melempar kail. Dan tak membutuhkan waktu lama bagi Sarkum untuk mendapatkan ikan. Berulang kali ia menarik joran dan memasukkan ikan ke dalam ember. Apa yang dilakukan Sarkum membuat Sugi terhenyak. Ternyata omongan Sarkum benar adanya.

“Apa yang kau lakukan hingga ikan-ikan datang menghampirimu, Kum?” tanya Sugi terheran-heran.

Sarkum terkekeh, “Aku tak melakukan apapun. Aku hanya bersolawat?”

“Solawat?”

“Ya, aku mendapatkan resep ini dari istriku. Ia dapat resep dari Nyai Nur. Cobalah jika kau mau.”

Sugi pun kembali melemparkan kailnya ke laut seraya bersolawat. Dan benar adanya. Tak butuh waktu lama, Sugi pun mendapatkan ikan. Ia pun kembali melempar kail. Merasa telah menemukan cara memperoleh ikan dengan cepat, Sugi pun merasa ketagihan.

“Sebaiknya kita sudahi saja mancing malam ini, Gi,” ajak Sarkum.

“Kenapa? Emberku belum penuh, Kum.”

“Kita ambil secukupnya saja. Tak perlu berlebihan.”

“Tapi…”

“Sudahlah. Besok malam masih ada waktu.”

Dengan sedikit kecewa, Sugi pun menuruti ajakan Sarkum.

Di tegah perjalanan, Sugi masih juga merasa aneh dengan peristiwa yang baru saja dialaminya.

“Kau memang benar, Kum. Apa yang aku rasakan tadi seolah ikan-ikan mendatangiku setelah bersolawat. Besok malam aku akan bawa jala saja. Biar hasilnya lebih berlimpah.”

“Tapi itu berlebihan, Gi. Ambil saja secukupnya. Sekadar untuk kebutuhan hidup.”

“Lho, ini mumpung, Kum. Pokoknya besok malam aku mau bawa jala. Titik!”

Keesokan malamnya, Sarkum dan Sugi kembali ke dermaga. Sarkum tetap membawa joran dan sebuah ember, namun Sugi membawa jala dan dua ember. Dan sungguh diluar dugaan. Semua ember Sugi dapat terisi penuh. Kemudian pada malam-malam berikutnya, Sugi semakin banyak membawa wadah untuk hasil tangkapan.

Melihat tingkah laku Sugi, Sarkum berulang kali mengingatkan. Namun tak pernah diindahkan. Sugi beranggapan apa yang dilakukannya semata-mata untuk mencari nafkah. Hingga suatu malam, Sarkum benar-benar mencegah Sugi pergi.

“Malam ini kau jangan pergi. Lebih baik di rumah saja,” ujar Sarkum, di teras rumahnya.

“Maksudmu?”

“Sudah tiga malam aku bermimpi kau ditelan ikan paus.”

Sugi terkekeh, “Kau kira aku Nabi Yunus? Lagi pula mana ada ikan paus diperairan sekitar dermaga. Kau ini jangan mengada-ada. Sudahlah, kau tak perlu berpikir macam-macam.”

“Ya, mungkin itu hanya mimpi saja. Tapi malam ini aku tak hendak memancing. Firasatku sedang tak enak. O iya, ini terakhir kalinya aku mengingatkanmu. Sebaiknya kau berhenti menggunakan solawat ketika mencari ikan.”

“Maksudmu?”

“Kulihat semakin hari kau tak dapat mengontrol diri. Kau gunakan solawat untuk memperkaya diri.”  

“Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga menggunakan solawat ketika memancing?”

“Setidaknya aku tak memperkaya diri. Aku hanya mengambil secukupnya saja.”

“Alah, omong kosong. Itu sama saja. Aku pamit.”

Sugi pun pergi. Sementara Sarkum menatap kawannya dengan getir.

Sesampainya di dermaga, seperti hari-hari sebelumnya, Sugi pun bersolawat dengan tujuan memanggil ikan-ikan. Dan sungguh ajaib, tak lama berselang ikan-ikan mendekat, berkecipuk bersama ombak yang memukul-mukul dermaga. Dengan segera Sugi menebar jala. Lalu diangkatnya perlahan. Dalam keremangan cahaya dilihatnya ikan bergelantungan terjerat jala. Dengan segera ia masukkan ikan-ikan ke dalam ember. Setelah usai, ia kembali menebar jala. Diulanginya hingga tiga kali. Namun pada tebaran yang ketiga, ia kesulitan mengangkat jala. Ikan-ikan justru melawan dan berbalik menarik jala Sugi hingga kemudian ia tercebur ke laut. Dalam kegugupan yang luar biasa, Sugi seolah  mendengar ikan-ikan bersolawat. Lalu menyeretnya ke tengah  dan semakin ke tengah. Hingga ia tenggelam ditelan laut.

Kudus, Januari 2020

================

M Arif Budiman, lahir di Pemalang 5 November 1985. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

Daun-daun Sepat

0

Aku mau menceritakan tentang sebuah waduk. Tempat anak-anak kecil di kampungku melempar dirinya sampai ke dalam perut air. Aku akan berusaha mengingat apa-apa yang kuketahui selama aku menjadi bagian dari waduk itu. Kalau ada beberapa hal yang sekiranya luput dari pengamatanku, kalian boleh memberitahuku supaya aku segera mengoreksi cerita ini. Kalian, yang juga menjadi bagian dari waduk itu, sama sepertiku.

Dulu ibuku adalah seorang buruh baja, sementara Bapak tidak memiliki kesibukan yang menjanjikan sebab keahlian yang dia punya hanyalah memancing ikan. Jika diukur menggunakan pendapatan jaman sekarang, saat itu kami adalah keluarga yang terbilang miskin. Saat membeli seragam sekolah saja, Ibu sengaja membelikanku dengan ukuran yang dua kali lebih besar ketimbang ukuran tubuhku. Supaya lebih hemat dan bisa kugunakan sampai setidaknya tiga kali naik kelas.

Kalau dipikir-pikir, saat itu, aku lah satu-satunya beban keluarga. Aku orang yang paling sulit menahan lapar dibanding mereka. Namun ibuku kelewat hebat, dia bisa mensiasati biaya dapur sehemat mungkin dengan kualitas masakan yang boleh diadu dengan restoran mana pun.

Kadang-kadang, Bapak membantu melengkapi hidangan dengan ikan hasil pancingannya. Meski, aku dan ibu tahu, Bapak sering memancing dengan seorang gadis yang kemungkinan adalah selingkuhannya dan membagi hasilnya pada gadis itu. Ibu sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan itu. Mungkin dia sudah lelah mencari-cari alasan untuk mempertahankan hubungan keluarga mereka selain karena aku.

Ya. Aku memang pernah melihat Bapak menghabiskan waktu di waduk bersama seorang gadis. Ketika itu aku sedang bermain di pinggir waduk bersama teman-temanku. Tepatnya di bagian selatan yang ditumbuhi pohon-pohon sepat. Kami biasanya akan segera melakukan pertemuan panjang selepas pulang dari sekolah dan mengganti baju. Karena orangtua kami akan marah sekali jika kami bermain menggunakan seragam sekolah.

Kemudian kami akan pulang ketika menjelang magrib, sekadar untuk mengganti pakaian lagi lalu pergi mengaji di surau Baiturrohman. Di waduk, aku dan teman-teman bisa mandi tanpa takut dimarahi siapa pun karena menggunakan air terlalu banyak. Tidak jarang aku pulang ke rumah bersama Bapak. Tentu saja ini tanpa kami rencanakan. Aku juga sering membantu Bapak membawa hasil tangkapannya.

Pernah Ustad Rais bercerita, guru mengaji kami disurau, ikan-ikan yang kami makan dari waduk tidak seberapa besar dan tidak seberapa banyak jika dibandingkan dengan ikan yang didapatkannya saat dahulu. Bahkan saking makmurnya ikan-ikan dari waduk itu, banyak nelayan yang tinggal di daerah pesisir, datang kemari untuk ikut memancing.

Tidak hanya itu, Ustad Rais juga menganjurkan kami untuk berhenti memakan ikan dari waduk, karena ikan-ikan itu menurutnya sudah tercemar racun limbah, serta apa saja yang serba tidak sehat. Kesemuanya itu karena bangunan-bangunan besar yang mulai berdiri di dekat waduk.

Bahkan rumah-rumah mewah yang dibangun di balik tembok yang membatasi waduk dengan dunia luar, sering melemparkan sampah-sampah dapur secara sembarangan ke waduk kami. Ditambah lagi, beberapa pipa yang terhubung dari bangunan-bangunan besar itu, memuntahkan kotoran mereka ke permukaan waduk.

Tentu saja kami tidak tinggal diam. Kami pernah menyumpal pipa-pipa itu. Melempar balik sampah yang dibuang oleh para penghuni rumah di balik tembok waduk, namun usaha-usaha itu sia-sia belaka. Mereka selalu mendapat celah untuk mengulangi perilaku banal itu.

Pernah sekali aku menjumpai Ibu bersama teman-temannya berkumpul di rumah, mereka membicarakan tentang keselamatan waduk secara serius. Mereka mengepal-ngepalkan tangan ke langit seolah-olah sedang menantang Tuhan berkelahi.

Sebaliknya, Bapak tidak pernah ikut dengan kegiatan ini. Bapak juga sering melarang Ibu untuk berhenti mengundang teman-temannya ke rumah untuk membicarakan waduk itu. Kata Bapak, semua sudah diurus oleh pemerintah. Begitulah kemudian percakapan mereka berakhir dengan pertengkaran panjang.

Mereka tidak ragu menyembunyikan ketidak akraban itu di hadapanku. Suatu ketika Ibu ditampar oleh Bapak karena terlalu sering melawan perintah. Saat itu aku terpaku di pojok rumah, menyembunyikan diriku dari percikan amarah mereka. Ibu segera menyuruhku masuk ke dalam kamar dengan berbahasa-basi agar aku menyelesaikan tugas sekolah. Padahal saat itu Ibu tahu, aku sedang demam karena baru saja tersengat lebah yang bersarang di pohon-pohon sepat.

Dalam cerita ini, Bapak mungkin terkesan jahat bagi kalian. Namun perlu kalian ketahui, Bapak sungguh-sungguh menyayangiku meski sikapnya seperti penjahat. Selain karena Bapak sering membawakan ikan untuk makan malam kami di rumah, Bapak juga rutin membelikan aku bajusetiap kali tim kebanggaan kami menerbitkan jersey edisi terbarunya.

Tidak tanggung-tanggung, Bapak pula yang membelikan aku sepeda sehingga aku bisa pergi ke stadion menonton bola bersama kawan-kawan setiap ada pertandingan. Bapak juga tidak pelit untuk menemaniku menonton kalau memang aku ingin mengajaknya. Bilamana terjadi kerusuhan yang disebabkan para pendukung tidak terima karena tim kesayangan mereka kalah, Bapak segera menggendongku dan mencari tempat berlindung.

Bapak mendapatkan uang-uang itu terkadang dari menjual sebagian ikan hasil memancing kepada teman-temannya yang kebetulan tidak mendapatkan hasil tangkapan sama sekali, atau ibu-ibu rumah tangga yang sengaja datang ke waduk untuk membeli ikan. Namun itu tidak seberapa banyak dari uang yang diberikan oleh Pak Heri setiap kali Bapak mengerjakan sesuatu untuknya.

Pak Heri adalah seorang Kepala Lurah yang telah menjabat sebanyak dua kali. Saat aku lahir dia sudah menjadi orang terpandang di kampung kami. Ketika aku menjelang lulus SMP, Pak Heri menyiapkan diri menjabat untuk ketiga kalinya. Setiap menjelang pemilihan, anak-anak kecil biasanya diliburkan dari sekolah, karena guru dan para keluarga akan berpesta menyambut hasil pemilihan. Entah apa yang membuat perayaan itu menjadi berharga, namun bagi kami, hari libur tetaplah hari libur yang menyenangkan.

Pernah juga, aku melihat Bapak diberikan sebuah kantung pelastik berwarna merah. Yang tidak lama setelahnya kuketahui berisi lembaran-lembaran uang. Menjelang magrib, mereka berkeliling kampung untuk membagikan uang-uang itu ke setiap rumah. Aku dan teman-temanku mengiringi perjalanan mereka untuk sekadar memeriahkan. Bapak mengupahku seratus ribu rupiah, katanya untuk aku mentraktir teman-temanku membeli pentol.

Sepulangnya, aku menceritakan kejadian itu pada Ibu sebelum berangkat mengaji. Ibu menyuruhku untuk mengembalikan uang tersebut pada Bapak. Namun sekembaliku mengaji, Bapak tidak ada di rumah. Sedangkan Ibu tidur di kamarnya. Kemudian keesokan pagi mereka bertengkar. Pagi sekali. Sehingga aku terbangun lebih cepat dari seharusnya.

Karena kesal oleh perilaku mereka, aku membolos pada hari itu. Bersama teman-temanku, aku menghabiskan waktu di waduk, tempat pohon-pohon sepat tumbuh dengan rimbun. Kami merasa nyaman di tempat itu, walau bahaya sengatan lebah selalu mengintai keselamatan kami. Di sana, aku menghabiskan uang yang diberikan Bapak padaku.

Saat kami tengah bersenang-senang dengan es teh dan sebungkus rokok yang kami beli untuk belajar mengudut, segerombolan massa datang dari kampung memasang tulisan-tulisan dan poster besar yang mengitari setengah luas waduk. Ada pula foto Pak Heri dengan disertai gambar tanduk pada bagian kepalanya. Mereka berkumpul dan membuat barisan panjang. Kami melihatnya dari kejauhan sambil tetap menjaga waspada kalau-kalau di sana ada seseorang yang mengenali kami kemudian melaporkan ke sekolah karena kami membolos.

Aku mengintip dari balik tubuh-tubuh pohon, terlihat barisan manusia itu berteriak kencang-kencang. Tidak terlalu jelas apa yang mereka ucapkan, namun kobaran amarah terasa menyelimuti mereka. Setiap mereka berteriak, permukaan air akan bergetar, dan suara-suara itu, menimbulkan gelombang suara yang mampu menjatuhkan daun-daun sepat yang mengering.

Tidak lama berselang, segerombolan warga lain datang menghampiri bersama polisi. Awalnya tidak begitu jelas wajah-wajah mereka, namun akhirnya aku mengetahui Bapak berada di barisan paling depan bersama Pak Heri. Mereka bersama polisi sedang berbicara dengan barisan lain yang sebelumnya berteriak-teriak di bibir waduk.

Manakala terjadi ketegangan di antara mereka, kedua barisan manusia itu akan saling mendorong, sehingga beberapa orang yang berbaris di bibir waduk harus menahan tubuhnya sampai menyentuh air.

Aku melihat seorang wanita menghampiri Bapak. Wanita itu menamparnya. Wanita itu berteriak sambil menunjuk mata Bapak dengan begitu tegas. Bapak balik menampar wanita itu. Ketika wajahnya bertolak ke samping, segera aku mengetahui bahwa wanita itu adalah Ibu. Wajah Ibu yang memantulkan kegetiran mendalam. Tanpa berpikir panjang, sontak aku langsung berlari menghampiri mereka. Walau sesampaiya di keramaian itu, aku tetap tidak dapat melakukan apapun selain menonton lebih dekat pipi Ibu yang memerah bekas tamparan.

Hari itu adalah hari terakhir aku melihat Ibu. Ibu dibawa ke kantor polisi karena dituduh menjadi dalang kerusuhan dan semenjak itu tak pernah pulang ke rumah. Sampai terdengar kabar, Ibu mati di penjara.

Belum mengering sempurna kuburan Ibu dari bekas air ziarah, Bapak kawin lagi dengan seorang gadis yang sering menemaninya memancing di waduk. Kehidupan keluarga kami berubah drastis. Bapak semakin sering mendapat tugas dari Pak heri, dia juga mulai jarang memancing. Namun kebutuhan keluarga kami sudah serba terpenuhi.

Akhirnya aku meminta kepada Bapak supaya aku dimasukkan ke pesantren, menjadi peserta pondok di tempat Ustad Rais dulu juga belajar agama. Sepuluh tahun kemudian, setelah pulang merantau, aku kembali ke kota dan menghabiskan separuh waktuku setiap harinya bekerja di sebuah pabrik baja tempat ibu pernah bekerja. Namun dengan posisi yang lebih bergengsi.

Setiap sore, sebelum pulang ke rumah keluarga baruku, aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Bapak dan mampir ke waduk. Tidak ada barang istimewa lagi yang bisa ditemui di sana. Cuma ada pohon-pohon sepat yang sudah tua dan tersisa sedikit. Daun-daunnya yang kering mengapung di permukaan waduk. Tidak ada orang memancing, tidak ada gema suara. Anak-anak kecil atau remaja tidak lagi bermain di pinggir waduk.

Tampak jelas waduk lebih sempit dan dangkal ketimbang dahulu. Dan setiap aku datang kemari, suara Ibu selalu muncul bagai menyambutku, berdengung di dalam kepalaku seperti lebah.

======================

Robbyan Abel R, adalah penulis asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sejumlah cerpennya telah dimuat di berbagai media daring dan cetak. Turut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram. Sedang mempersiapkan buku kumpulan cerpen pertamanya.

Lingkar Waktu dan Tamu dari Masa Lalu

0

Hujan salju turun deras sore ini. Saya berdiri di depan rumah keluarga Andersen dan bertanya-tanya di dalam hati; beginikah perubahan musim di masa depan? Saya belum pernah melihat hujan salju selebat ini. Beberapa kepingnya melekat di wajah, di bahu, di rambut, lalu ‘bum’ sebongkah es terjatuh dari dahan mapel. Saya terkejut dan bergeser.

Saya memperhatikan pohon-pohon lain, yang tumbuh berbaris di pinggir jalan. Bentuknya begitu elok, mengembang, persis rok seorang balerina. Daun-daunnya berwarna kekuningan dan tampak tua. Rasanya aneh, menyaksikan pohon-pohon itu menjadi tua dalam tempo semalam saja.

Dalam urutan acak, saya mengingat rangkaian kejadian demi kejadian yang membawa saya berada di sini. Tadi malam, seharusnya saya bersama Patti, menanti komet Halley melintas sambil menikmati segelas cokelathangat. Namun rencana itu buyar, karena sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan, kecuali samar-samar.

Beberapa jam yang lalu, saya baru pulang dari pesta ulang tahun Simon. Di dapur, saya menemukan genangan air. Saya menduga ada kebocoran di pipa ledeng. Saya lantas mengambil peralatan dan membuka pintu ruang bawah tanah. Terowongan itu terasa lebih panjang dari yang pernah saya ingat. Di ujungnya ada seberkas cahaya. Saya merangkak ke sana dan sesampainya di ujung cahaya itu, baru saya sadari, saya telah berada di masa depan.

Sekarang di sinilah saya berdiri, tepat di bawah pohon mapel, berlindap dari guyuran hujan salju yang lebat. Di seberang sana, saya melihat pria tua sedang membersihkan bongkahan salju. Rambutnya merah dan kulitnya cerah. Dia memakai celana panjang dan kemeja hitam dengan kerah sedikit terbuka, seolah-olah baru saja pulang kerja. Pria tua itu menyadari jika saya sedang memperhatikannya. Dia menaruh sekop dan mengelap tangan ke celana panjangnya.

“Hei, kemarilah!” teriaknya sambil melambai.

Wajah pria tua itu bundar dan klimis. Dia terlihat feminim seperti gadis-gadis remaja yang belum matang. Tubuhnya agak melengkung, mungkin karena termakan usia. Sekali lagi dia melambaikan tangan. Saya mengangguk dan mendekat.

“Anda tampaknya sedang kebingungan,” ucapnya saat saya sudah berdiri di balik pagar. “Anda mencari seseorang?”

“Mungkin begitu,” jawab saya. Saya memperhatikan bangunan rumah di belakangnya. Tidak ada yang berubah. Hanya pada bagian pintu, catnya sedikit terkelupas, tapi warnanya masih seperti kemarin. Hijau toska.

Pria tua itu tertawa. Meski renta, giginya masih tetap sempurna. “Kalau boleh tahu, ke mana tujuan Anda?”

“Saya datang dari jauh. Jauh sekali.”

Kata ‘jauh sekali’ yang saya sampaikan memang bermakna sesungguhnya. Antara saya dan pria tua itu memang terpaut jarak puluhan tahun. Dia mengangguk, lalu mengusap rambut peraknya. Serpih-serpih salju membintik di atas kemeja hitamnya.

“Masuklah,” katanya sambil membuka pintu pagar. “Saya akan membuatkan cokelat panas untuk Anda.”

Saat memasuki pekarangan, saya merasa waktu tidak pernah beranjak. Suara derit engsel rumah itu bahkan tidak berubah sedikit pun. Saya duduk di kursi kayu, mengambil koran yang tergeletak di atas meja, membaca berita tentang kelahiran seekor bayi panda. Pada tanggal yang tertera, saya merasa sangatlah tua.

“Minumlah.”

 Koran itu saya lipat dan saya letakkan kembali ke atas meja. Dia meletakkan gelas cokelat panas ke samping koran. Aroma manis menggugah selera. Sekilas saya menatap tangannya, pada punggung telapak tangan kanan itu, saya melihat bekas luka.

“Saya tahu apa penyebabnya.”

“Apa?”

“Bekas luka itu,” jawab saya sambil menunjuk punggung telapak tangannya. “Saya tahu penyebabnya.”

“Bekas luka ini punya kisah tersendiri.” Dia menyentakkan lengan kemejanya yang tergulung untuk menutupi bekas lukanya. Dia duduk dan melanjutkan kata-katanya. “Saat itu musim panas. Saya sedang menarik gerobak pengangkut gandum milik ayah, saat seekor sapi yang sedang berahi melanggar saya dan …”

“Dan Anda bersembunyi di lumbung gandum sampai malam. Anda tak beranjak meski ibu Anda menangis dan menganggap Anda hilang.”

“Anda banyak tahu tentang saya, heh?” Dia menoleh cepat, menatap penuh keterkejutan. Saya pikir, itu reaksi wajar. Saya menyesal telah bersikap tidak sopan.

“Anggap saja tebakan saya akurat,” jawab saya. Dia terkekeh, lalu menyeruput cokelat panasnya.

“Anda tadi bilang sedang mencari seseorang?” tanyanya sambil meletakkan gelas ke atas meja. Matanya mengerling jenaka. “Bagaimana jika ternyata yang Anda cari itu adalah saya?”

“Saya tak mengerti?” sahut saya terus terang.

Dia berdeham sekali, menarik lengan kemejanya sebatas siku. “Buktinya Anda tahu riwayat luka ini. Bukankah itu artinya Anda sangat mengenal saya? Anda cucu Pattinson? Kisah luka di tangan ini hanya diketahui tiga orang; ayah dan ibu, dan Patti.”

Saya terdiam dan menggeleng. Di jalanan, bus kuning berhenti. Anak-anak berseragam turun berebutan. Anak-anak pria dan perempuan membawa tas sekolah kecil, berlari menuju rumah masing-masing. Sesekali tawa mereka melengking, menari-nari sambil merentangkan tangan menampung butiran hujan salju.

Saya memandang ke langit, melewati pohon mapel, melewati kanopi rumah keluarga Andersen, tempat pertama saya menyadari bahwa sesuatu yang ganjil telah terjadi. Tetapi, saya berusaha membuat keganjilan itu mampu ditoleransi akal sehat, terutama oleh pria tua ini.

“Dengar, saya merasa kita sudah saling mengenal sebelumnya,” ucapnya memandangi saya lekat-lekat. “Ini memang terdengar aneh, tapi saya yakin Anda bisa menjelaskannya.”

“Entahlah.” Saya menggeleng pelan. “Saya tidak bisa menjelaskan.”

Pria tua itu berdecak, menunjukkan gestur kecewa. “Ya, saya bisa saja salah. Tapi dalam pandangan saya, Anda jauh lebih pintar dari keledai tua setengah buta yang saat ini sedang berbicara dengan anak muda berumur dua puluh lima.”

“Apa yang membuat Anda mengira saya berumur dua puluh lima?” tanya saya kaget.

“Mudah saja,” katanya tersenyum simpul. “Saya pernah berumur dua puluh lima, dan masih ingat semuanya. Saya pikir, saya mirip Anda.” Dia mengangkat tangan dan membuat bahasa isyarat ‘sedikit’ itu dengan ujung telunjuk dan ujung jempol yang ditautkan.

Saya tersenyum. “Saya genap dua puluh lima pada Desember nanti,” kata saya.

“Saya juga. Hei! Hari ulang tahun kita sama!” Dia berseru senang, namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah murung. “Tapi saya genap tujuh puluh lima. Tua sekali, bukan?”

“Tidak juga. Anda masih tampak muda,” ucap saya menghiburnya.

“Menjadi tua itu kutukan.” Dia mengatakan kalimat itu sambil mengibaskan tangan. “Jika boleh—maksud saya, jika bisa—saya ingin kembali ke masa lalu. Di tahun saat saya seusia Anda.”

“Saya kira itu salah. Seharusnya menua bisa membuat Anda terlihat lebih matang. Hmm… maksud saya bijaksana.”

“O tidak, tidak,” katanya serius. “Justru menjadi tua, sebatang kara, adalah kutukan. Saya benci menjadi tua.”

“Saya tak ingin serapuh Anda saat menjadi tua.”

“Maaf? Anda bilang apa tadi?”

“Saya bilang, saya ingin hidup setua Anda. Mungkin rasanya menyenangkan.” Sengaja saya mengganti ucapan tadi agar dia tidak tersinggung.

“Telinga saya sedikit bermasalah. Kalau tak keberatan, tolong bicara agak keras.”

“Tentu saja,” jawab saya merasa tak enak.

“Nah, sekarang ceritakan tentang diri Anda. Mungkin saya bisa membantu Anda menemukan orang yang Anda cari.” Dia menyeruput cokelat hangat dengan tergesa, lantas berkata dengan senyum simpul dan wajah merona. “Entah kenapa, saya tetap merasa Anda ada hubungan dengan Pattinson. Gadis dari masa lalu saya.”

Saya mengabaikan perkataan pedih itu dan kemudian saya mulai bercerita. Tentang pertama kali saat saya mencium bibir Patti di belakang sekolah, lalu beralih pada adegan saat saya kehilangan ayah dan ibu—mereka kecelakaan di tikungan dekat danau Praden saat saya berusia 19 tahun. Dan terakhir, saat saya terluka melihat Patti berdansa dengan Frank di ulang tahun Simon.

“Brengsek!”

Rangkaian cerita saya terhenti oleh makiannya. Saya memandangi wajahnya dan dia memandangi wajah saya juga. Rasanya ganjil sekali. Mata itu—meski sedikit dinodai bercak katarak—adalah mata yang biasa saya pandangi setiap kali bercermin. Kulit keriput di tepiannya berkedut sedikit, lalu hilang saat dia berpaling.

“Cerita Anda itu, rasanya sulit untuk mengakuinya omong kosong.” Dia memijat ruang di pertengahan alisnya. “Jadi, kisah hidup kita sama?”

Saya mengangguk. Pandangan matanya menajam, menusuk dengan rasa ingin tahu. “Siapa Anda sebenarnya?”

“Setelah saya menceritakan semuanya, Anda tak bisa menebak siapa?”

Pria tua itu menggeleng.

“Saya adalah diri Anda sendiri.”

“Oh, yang benar saja…”

Tawanya menggelegar, terbahak sampai air mata meleleh di pipinya. Pria tua itu melipat lutut, menyandarkan tubuh ke kursi.

“Lebih baik Anda tak berbohong.”

“Apa saya terlihat berbohong?”

“Baiklah. Anggaplah saya percaya. Hmmm… jadi Anda datang dari masa lalu saya, begitu?”

Saya mengangguk.

“Anda tidak sedang mempermainkan saya, bukan?” tanyanya dengan nada cemas, seakan dia sedang terjebak di persimpangan jalan dan semua orang membunyikan klakson.

“Sama sekali tidak.”

“Kalau begitu, bunuhlah saya,” katanya dengan nada bicara yang aneh. “Dengan begitu Anda akan menyelamatkan diri Anda sendiri.”

“Menyelamatkan dari apa?” tanya saya kaget.

“Dari nasib buruk menjadi tua.”

Saya membayangkan memenuhi permintaannya dan dia jatuh berlutut dengan tangan menutupi leher. Darah menyembur di antara jemarinya. Tapi raungan sirene patroli polisi membuat saya tersadar. Seandainya saya membunuhnya, bagaimana hukum menjerat saya. Saya dan pria tua itu adalah orang yang sama. Bagaimana agar semua ini masuk akal. Saya kesulitan menjelaskannya. Sore semakin redup, pikiran saya dilanda keabsurdan tak terpermanai. (*)



=================

Adam Yudhistira (1985). Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktifitas bersastra, ia juga mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Ia aktif di komunitas sastra Pondok Cerita. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Sophia

0




Apakah kenangan sesungguhnya berbatas ruang dan waktu?

Aku tak memiliki kenangan masa kecil. Aku hanya mengingat perihal lelaki yang saban Sabtu mendatangi Aptekarsky Ogorod untuk sekadar memotret mekarnya bunga magnolia di musim semi. Itu adalah pertemuan kedua setelah dia—dengan maksud tertentu, menawarkanku setangkup roti dan teh panas sambil menikmati senja yang jatuh ke atap St. Andrei, jembatan, menara lonceng Ivan, dan Luzhniki sambil membicarakan sepakbola dan berkata, “Suatu saat kau harus berada di dalamnya. Merasakan dunia lelaki.”

Atau sekadar berjalan-jalan saja di sisi boulevard kota, Alun-alun Merah, mengamati tupai dan merpati di taman yang konon sering didatangi Chekhov dan Tolstoy yang di dalamnya terdapat tiang hati perak raksasa dengan mitosnya; buat permohonan lalu berjalanlah melewatinya maka keinginanmu akan terkabul. Mitos yang konyol memang, tapi hei! Setidaknya kami masih bersama sampai saat ini.

Dia adalah lelaki pertama yang aku kenal. Lelaki yang pernah menumbuhkan bunga-bunga di pelupuk mataku saat kali pertama bertemu.

Jadi aku tak ingin mengingat apa yang tak ingin dan mesti kukenang. Ketika rekaman-rekaman itu selalu muncul di kepalaku. Rekaman yang berulang tiap larut, setiap dia pulang dengan bau mulut menyengat.

Bau yang menyertai muntahan kata-kata melaknat, pecahan gelas, ocehan ngawur, dan pukulan-pukulan yang semakin hari semakin lazim melayang tanpa alasan. Dia akan berteriak bagai kesurupan hanya karena menu sarapan seadanya. Atau kemeja kerja yang tak terlipat sempurna. Lantai yang kusam. Aku yang lambat menyahut saat dia memanggil, atau dia yang kelupaan letak kunci mobil. Dia akan hilang akal. Seperti ritual. Seperti malam dan pagi yang tak pernah benar-benar pergi. Setelah berlaku di luar batas dia akan mematung laiknya onggokan es di musim dingin. Dunia lelaki yang tak pernah didamba.

Apakah aku memang ditakdirkan untuk terus bungkam menahan semuanya?

Bel intercom berbunyi. Jam pulang. Dia memanggil. Seperti biasa, aku akan membuka seperangkat sistem pengamanan di ruang tamu.

Seperti biasa, dia akan menaruh mantelnya di pengait kayu samping jendela sebelum meneguk dua blob air mineral di depan televisi. Memerhatikan layar sebentar. Mengganti-ganti kanal. Sepasang kaus di kakinya masih terpasang. Perhitungan algoritma di kepalaku terbiasa menebak laku perangainya.

Dan seperti biasa, aku seolah tak di sana. Tidak di sampingnya. Mungkin juga tidak di benaknya.

Dunia kami seolah bersekat, dibatasi tembok yang berdiri kukuh. Akan seketika rubuh jika dia sudah mulai bosan. Atau mengantuk. Atau gairahnya tiba-tiba merasuk. Aku tak begitu paham dengan hubungan ini. Awalnya semua terasa begitu indah dan menyenangkan. Aku yakin dia memiliki perasaan yang sama sebelum tragedi itu datang.

Kenangan terkuat tak akan pernah lenyap. Ia akan seketika muncul menggantikan kenangan sebelumnya.

Sore itu begitu hangat saat kami menonton pembukaan Piala Dunia di Moskow. Ya, Nikolai, lelaki kutu buku berkacamata tebal itu mengajak kencan ke stadion Luzhniki menyaksikan pertandingan sepakbola. Sebuah dunia yang asing buatku. Tampaknya dia ingin memberi sebuah kejutan. Saat itu memang bertepatan dengan hari ulang tahunku. Rautnya cerah menikmati suasana.

“Lihat, Presiden kita menyalami Pangeran. Saya yakin setelah ini mereka akan berbicara tentang bisnis rudal,” selorohnya menunjuk ke arah TV raksasa di tribune seberang. Suasana begitu gegap gempita. Mata kami sesekali bersitatap. Tetapi ada tanya yang mengendap.

Aku tak begitu yakin apakah tepat untuk mengatakannya di saat seperti ini. Aku hanya ingin dia mengetahuinya lebih dini.

“Aku mengandung, Nikolai.”

“Apa?”

Gemuruh seisi stadion menenggelamkan suaraku.

“Aku mengandung!”

Dia diam sesaat, lalu tersenyum. Membuat hatiku melega.

Tak ada angin tak ada badai, suratan itu datang tanpa pernah dipesan. Sepulangnya dari Luzhniki mobil yang kami tumpangi mengalami kecelakaan. Hanya mukjizat yang bisa menyelamatkanku. Lelakiku kehilangan ujung kakinya. Aku, menurut lelakiku, telah kehilangan hampir sebagian daging pembungkus badan. Dan kami telah kehilangan Sophia—seperti namaku, nama yang pernah kami rancang bersama jika kelak ia terlahir ke dunia.

Sejak itu, aku merasa asing dengan tubuhku sendiri. Kemampuan motorikku masih berfungsi. Namun terasa sedikit janggal. Menurut lelakiku itu efek pasca trauma. Aku telah beberapa kali masuk meja operasi untuk pembedahan. Dia coba menenangkanku: teknologi bisa melampaui ketakutan. Tapi ada yang selalu tertinggal. Semacam kolase ingatan yang acak, membuat semuanya tak lagi sama.

Lolongan anjing menggema parau di luar. Sejak sedari coba menerka apa yang bakal terjadi malam ini, tubuhnya telah beringsut menggesekkan kulit di balik punggung. Bau itu lagi. Deru napasnya kini memburu tengkuk.

***

Setelah seharian membereskan puing-puing serangan udara dini hari tadi ia duduk sebentar di atas sebuah sofa lapuk. Membuka laptop. Mengklik program ‘InLove 4.0’. Tak berapa lama figur hologram 4D muncul di hadapannya. Sosok itu menanyakan beberapa hal. Ia lalu mengetik sesuatu: lokasi Khmeimim-barat laut Latakia, untuk Moskow, perempuan 28-35 tahun, Sophia.

Beberapa gambar muncul dari daftar pencarian. Tak ada yang ia kenal.

“Apakah ia pernah menikah?”

“Setahuku belum pernah.”

“Kapan terakhir kali bertemu?”

“Beberapa tahun lalu. Dari Hermitage kami berniat akan menikah setelah penugasan akhirku di Syria. Ternyata misi diperpanjang. Markas berpindah-pindah karena serangan pemberontak. Tak ada sinyal dari Moskow akan menarik pasukan pulang. Saya dan Sophia terputus kontak sekian tahun lamanya. Alat komunikasi rentan diretas. Kini sebagian besar wilayah sudah dikuasai Tentara Nasional. Namun aku tak mengetahui keberadaannya sampai sekarang. Aku selalu memikirkannya. Ia perempuan sebatang kara.”

“Kata kunci lain yang mungkin saja berguna?”

Ia berpikir sesaat, mengingat-ingat, “Hati perak raksasa.”

***

Di sudut ruangan ini, nyeri apa yang kau rasakan dengan mata tumpul itu Sophia? Kau memendam suara di balik juntai rambutmu yang kusut dengan sekuat tenaga. Masih menyisakan tempat untuk lelaki brengsek di hadapanmu yang kini tergeletak layu. Mungkin berkali-kali kau pernah berpikir untuk memberinya pelajaran. Bukan, bukan sekadar pelajaran. Botol itu kau hempaskan telak ke batok kepalanya. Atau beranjak ke dapur untuk sebuah pisau daging yang mantap. Kau hanya perempuan berhati pualam yang selama ini memiliki sekian cadangan maaf. Kita tahu lelakimu akan siuman lalu berlagak amnesia.

“Itu hanya sebuah kebodohan yang tak penting, Sophia. Alkohol. Tak melibatkan perasaan. Dia bukan apa-apa.”

Mulutnya membeberkan sendiri segala wasangka setelah semua yang kautemukan: pesan pendek yang terhapus di ponsel, email menggoda, reservasi kamar hotel, bekas gincu dan bau Chanel yang menempel di baju. Kau mengambil keuntungan dari sang profesor. Kau belajar. Beradaptasi. Menganalisa. Tapi tak ada yang mampu kau perbuat sampai sepucuk FN 9x19mm kau genggam dari lemari besi yang biasa lelakimu simpan.

“Seolah kau berharap aku akan baik-baik saja. Kau tak berbeda dengan rezim penuntut kepatuhan. Aku akui keyakinanmu. Tapi kau tak melihat batas orang lain. Apa yang kau cari dari perempuan itu?”

Lelakimu diam. Dia tak memiliki kerabat. Hampir separuh hidupnya dihabiskan di Lab Tech militer sebagai ilmuwan. Kakeknya dulu menghilang, diburu kaum Bolshevik karena dianggap elit borjuis di era revolusi, sedangkan kedua orangtuanya tewas setelah dituduh mata-mata. Namun dia dibesarkan negara. Diberikan segalanya. Lalu merasa berhutang budi dan bersumpah setia pada rezim.

Lelaki yang kesepian. Mimik penyesalan terpapar di mukanya. Tapi semua ini cukuplah sudah tak tertanggungkan rasanya.

 “Sayang… Itu hanya sesaat.”

“Dan ini bayaran untuk kesetiaanku melayanimu selama ini?”

“Aku memang salah. Tolong, maafkan aku,” ujarnya mengiba.

Kau bisa saja menghabisinya dengan satu letusan. Tak akan ada yang mencurigai. Tak pernah ada tamu yang sesekali berkunjung. Hunianmu jauh dari perkotaan. Lelaki itu pun bukan tipe yang suka bercerita tentang keluarga.

“Aku bukan mesin, Nikolai. Selama ini kau menganggapku sesuatu yang bisa dimanipulasi. Menempatkanku satu derajat di bawah ketiak otoritasmu. Kau menetapkan aturan-aturan yang membuatku terpenjara. Dan entah kenapa, aku selalu patuh. Aku sempat percaya, bahwa keburukan lelaki akan memudar seiring waktu. Tapi aku salah.”

Dia hanya merunduk. Sesekali menggelengkan kepala. Hening menjeda hingga raut wajahnya kemudian berubah.

“Aku tak menyangka sensitifitasmu berkembang pesat di luar dugaan, Sophia. Seharusnya aku mengunci level emosimu di angka moderat. Aku memang bodoh.”

“Apa maksudmu? Kau pikir aku punya masalah mental?!”

“Menodongkan senjata ke seseorang terlebih ia pasanganmu jelas bermasalah. Kehendak bebas yang kebablasan.”

“Jangan mencobaku lagi, Nikolai. Kau tak merasakan luka yang kuterima selama ini!”

“Apa definisi luka bagimu? Kamu yakin kulitmu bisa terluka? Sayang…Apa kamu tak juga sadar? Kamu memang separuh mesin. Kamu hanya akan terancam oleh security password. Aku harus mengembalikanmu ke Lab…”

“Kaulah yang mesin, brengsek! Banting tulang larut malam demi bos besarmu yang maniak. Target-target yang muluk. Hukuman yang tak adil. Lalu semua tekanan itu kau timpakan ke rumah, kau lampiaskan padaku! Manusia macam apa yang tak mengetahui kemanusiaannya sendiri?!”

“Hati perak raksasa”

“Apa?!”

Seketika pandanganmu jadi kabur, seperti berkunang-kunang. Tubuhmu kaku.

“Hati perak raksasa.”

Kau mengerang hendak melawan. Lalu semuanya gelap.

***

Kau menatap sebuah cermin panjang. Matamu memerhatikan tiap lekuk yang tidak sama seperti tubuhmu sebelumnya. Wajah yang bukan wajahmu. Kakimu tegak di atas granit mulus yang berbeda dengan lantai yang pernah kau injak sebelumnya; lantai yang dikotori bercak merah pekat.

Kau menghirup udara sedalam-dalamnya seolah oksigen murni mengitari ruangan kaca yang berlatar pepohonan. Sebuah perasaan yang mengagumkan. Seperti pagi di Belukha. Tak ada kecemasan atau sesal yang berlarut-larut.

Kau menutup mata, sekelebat memori menyeruak. Ingatan yang tak akan pernah terhapus oleh  sistem operasi apapun di dunia ini; Jalanan moskow dan sebuah taman. Tempat dimana sang kekasih memuntal janji untuk kembali.

Suara yang lembut menyapamu, “Selamat pagi, Sophia.”

Lelaki itu menghampiri. Lelaki yang membuatmu merasakan bahagia. Lelaki yang tak sama seperti lelaki yang kau kenal sebelumnya.

 “Apa yang kau pikirkan?”

“Bukan apa-apa,” ujarmu pelan, “Igor, apakah kau bisa menerimaku apa adanya? Semua masa laluku?”

“Semua orang pasti punya masa lalu. Dan semua orang punya masa depan.”

“Bagaimana jika aku bukanlah seseorang yang kau pikirkan selama ini?”

“Maksudmu?”

Kau takut ia akan mengingatnya. Tidak, ia tak mungkin mengingatnya. Nikolai telah lenyap sejak insiden nahas itu. Teknologi android yang dikembangkannya telah menciptakanmu. Merekayasa kenanganmu. Kecelakaan mobil itu sejatinya tak pernah ada.

Kini teknologi itu menciptakan Igor lewat tanganmu.

“Bagaimana jika aku adalah seorang pembunuh?”

Ia memelukmu erat lalu menatapmu lekat.

“Lalu hukuman apa yang layak untuk seorang robot cantik yang khilaf?” ujarnya berbalik tanya dengan sebuah senyum yang membuatmu melega. Senyuman serupa Igor, lelaki yang kau ingat di masa lampau.

Lelaki yang saban Sabtu mendatangi Aptekarsky Ogorod untuk sekadar memotret mekarnya bunga magnolia di musim semi lalu mengajakmu berjalan-jalan di sisi boulevard kota, Alun-alun Merah, mengamati tupai dan merpati di taman yang konon sering didatangi Chekhov dan Tolstoy; yang di dalamnya terdapat tiang hati perak raksasa.

Nikmati saja romansamu kini, Sophia.

Kami akan selalu mengawasi dari tempat yang luput dari ingatanmu. Tak ada tempat untuk ide-ide pemberontakan.

(Bojongsoang, Juli 2018)

Keterangan:
Cerpen ini versi asli (panjang) dengan sedikit revisi dari cerpen yang pernah tergabung dalam antologi cerpen ‘Cerita dari Koding’, terbitan Jejak Publisher, 2018.

====================

D. Hardi. Lahir di Bandung, 26 Agustus. Mengarang fiksi. Buku terbaru, Antologi puisi tunggal ‘Sesuatu yang Tak Pergi di Malam Hari’-Jejak Publisher (2019), antologi cerpen bersama ‘Masa Depan Negara Masa Depan’-Surya Pustaka Ilmu (2019).

Terbaru

Waktu Akan Mencuci Tanganmu

Air Mata Para Petani Kata orang tanah kita tanah surgaKayu tongkat dan batu jadi...

Zikir Para Pendosa

Lima Cerita Ringkas

Dari Redaksi