Kamera Pak Burhan

Jadi Cerpenis Lagi

Setelah Bunuh Diri

Rumah Kanak-Kanak

Cerpen

Home Cerpen Page 2

Allesandra dan Ksatria Bertapa

0


INGIN menghayati peran bidadari dalam tari “Begawan Mintaraga”, Allesandra menetap di padepokan. Ia sengaja tinggal di padepokan, ingin suntuk belajar menari pada Ki Broto. Lelaki muda itu telah menambat perasaannya. Allesandra, seperti menemukan tempat tinggal yang damai di desanya, di lereng Pegunungan Alpen, wilayah Italia. Ia menempati rumah klasik peninggalan leluhur, langit bergayut kabut es, dan di kejauhan membentang bayang-bayang salju puncak Mont Blanc.

Allesandra – yang diundang untuk melakukan restorasi lukisan keraton – tak pernah menduga bakal terdampar di lereng Gunung Merapi. Ia juga tak pernah menduga akan mengenal Ki Broto, lelaki muda pemilik padepokan dan seorang penata tari. Lelaki muda itu putra seorang dalang yang memiliki padepokan, penata tari, suka bermain musik, dan menghidupkan pergelaran seni di daerah sekitar lereng Gunung Merapi.

Dalam tari “Begawan Mintaraga”, Allesandra berperan sebagai seorang bidadari yang menggoda tapa Arjuna. Ada tujuh bidadari, seorang di antaranya Dewi Supraba. Dan peran yang dibawakan Allesandra tak begitu penting: hanya menggoda tapa Arjuna. Ksatria  itu tak pernah memudarkan tapanya. Allesandra ingin berperan sebagai Dewi Supraba, bidadari yang dapat meluruhkan hati Arjuna – yang diperankan Ki Broto. Sungguh memikat, Dewi Supraba dipersunting sebagai istri Arjuna.

Tak ada hal yang paling menarik bagi Allesandra, kecuali ia bisa menari, merasakan getar tubuh dan rasa keindahan, yang membangkitkan ketakjuban pada setiap gerak yang  diselubungi getaran gaib. Sungguh di mata Allesandra, setiap gerakan untuk menyentuh Arjuna yang hening bertapa, membuat jiwanya melayang di awan-awan dunia para dewa. Sejak ia dengar suara gamelan pertama kali di keraton Yogya mengiringi bedaya Arjuna Wiwaha, dan melihat pergelaran tari yang diperankan Ki Broto, sangat ingin datang ke padepokan  penari itu.

Tiap kali berlatih menari, Allesandra selalu menemukan kegairahan baru, gerakan yang bangkit dari dalam getaran rasa – sesuatu yang mengalir dari sanubari. Ia jadi sangat cepat bisa mengikuti gerak tari yang diajarkan Ki Broto. Tidak hanya menirukan gerak tari Ki Broto, melainkan juga menikmati kedalaman rasa dari tiap aliran darah di sekujur tubuhnya.

Tapi kenapa tiap kali Allesandra berpapasan dengan Laksmita, yang tiap pagi berkunjung ke padepokan, hatinya berdebar, seperti bakal tersingkir dari sisi Ki Broto? Ia mulai menimbang-nimbang: bagaimana cara merebut perhatian Ki Broto dari daya pikat Laksmita. Allesandra tak pernah bisa menduga: keakraban yang terjalin antara Ki Broto dan Laksmita. Apakah Laksmita calon istri Ki Broto? Allesandra diam-diam mengamati mereka. Ia menaruh curiga, bila gadis itu, yang jarang bicara, dan cenderung menghindar dari pergaulan, calon istri Ki Broto. Laksmita selalu dijemput pagi hari dan diantar pulang dengan mobil Ki Broto pada sore harinya.

                                                                  ***

HAMPIR larut malam, Allesandra mengikuti latihan tari “Begawan Mintaraga”,  merasa sangat menikmati kesunyian lereng Gunung Merapi, kabut yang mulai mengendap, dan suara belalang kecek di ranting pepohonan. Allesandra mencoba memahami kisah Arjuna sebagai pertapa untuk mencapai kesaktian dan memperoleh senjata dalam sunyi Goa Mintaraga, menampik kegairahan para bidadari yang menggoda. Mengapa menampik kegairahan bidadari untuk meluluhkan anugerah para dewa?

Allesandra yang memperoleh kesempatan bersama para penari dan penabuh gamelan, ketika Laksmita sudah pulang malam hari, sengaja  menggoda Ki Broto, “Apa memang Arjuna mesti kawin dengan Dewi Supraba?”

“Saya tak berani membuat kisah yang menyimpang.”

“Mengapa tak kau rancang sendiri sebuah tari yang meninggalkan kisah lama? Apa tak boleh mencipta tari, Arjuna kawin dengan salah seorang bidadari?”

“Mungkin suatu saat nanti, aku akan mencipta tari yang menyimpang dari kisah itu. Aku memerlukan keberanian untuk itu.”

“Kenapa tak kau coba mulai saat ini?”

“Mencipta tari serupa itu memerlukan banyak waktu, renungan, dan latihan. Aku juga memerlukan teman untuk merancang tari itu.”

Allesandra masih menimbang-nimbang untuk mendesak Ki Broto agar bercerita tentang pertapaan Arjuna, dan kesaktian sesudahnya: keperkasaan, ketangguhan, atau kemenangan pertempuran yang dicapainya. Allesandra kini mulai menyadari makna kesunyian lereng Gunung Merapi, dan mencari kepekaan hatinya sendiri. Justru rasa takjubnya pada Ki Broto, pemeran Arjuna, berkembang menjadi hasrat untuk memiliki lelaki itu. Tapi Ki Broto, yang membaca gelagat akan rasa takjub Allesandra, menenggelamkannya di bawah genangan kabut gunung. Allesandra seperti leleh terkena awan panas yang bergumpal dari puncak Gunung Merapi.

Di kamarnya Allesandra menenangkan diri. Mengambil kertas, mencoret-coret kertas itu, menuangkan segala harapan, kegundahan, dan kemasgulan-kemasgulannya. Terus ia menulis. Memuntahkan kegalauan hatinya. Ia memuntahkan perasaan-perasaan itu, yang tak mungkin diucapkannya. Ia masih terus menuliskan kegundahan itu. Kebiasaan ini dilakukannya dari semenjak ia kecil, kebiasaan bila ia marah pada seseorang. Ketika  ia tak memperoleh tanggapan seperti yang diharapkan, ia mencorat-coret kertas, dan membakarnya dalam api lilin.

Allesandra tak paham benar, apakah ia seorang yang tersesat dari tujuan semula sebagai seseorang yang diundang melakukan restorasi lukisan keraton. Ia didatangkan untuk menyelamatkan beberapa koleksi lukisan keraton – temasuk di antaranya lukisan Raden Saleh – dengan mengikuti goresan-goresan yang asali. Goresan-goresan lukisan itu memudar setelah lebih dari seratus tahun, kusam warna catnya. Saat ia menonton pergelaran tari bedaya Arjuna Wiwaha – yang melakonkan sultan –  di pendapa keraton, ia takjub, terkesima, bergetar, dan terpusat pada penari yang memerankan sultan. Pemeran sultan itu seorang perancang tari, yang memiliki padepokan di lereng Gunung Merapi. Ia kagum pada sang penari, Ki Broto, masih bujangan, yang tampak sangat tenang, agung, dan rendah hati. Di panggung ia begitu karismatis. Dalam kehidupan sehari-hari, ia jejaka kebanyakan. Ia tak menampakkan keagungan sebagaimana tampak di panggung.

Allesandra merasa sangat penasaran, ingin bisa menari, dan karena itu ia tak buru-buru kembali ke Italia ketika selesai merestorasi beberapa koleksi lukisan keraton. Ia berguru menari pada Ki Broto, tinggal di padepokan lereng Gunung Merapi, belajar menari, sesekali ia melukis. Ia ingin disertakan sebagai penari bidadari dalam “Begawan Mintaraga”, yang menggoda menggugurkan tapa Arjuna. Allesandra mulai melihat dan merasakan keagungan yang berbeda pada diri Ki Broto, ketika memerankan sultan dalam “Arjuna Wiwaha”, dan memerankan Arjuna dalam tarian “Begawan Mintaraga”. Kali ini Ki Broto memerankan ksatria  dengan penuh kesabaran, tangguh dalam pertapaan, unggul dalam peperangan melawan raja raksasa Niwatakawaca. Tarian ini sungguh memberi ekspresi beraneka wajah pada Ki Broto. Tarian ini memberi ekspresi pembebasan di panggung bagi lelaki muda itu.

Allesandra menunggu kesempatan untuk menyatakan keinginannya mendampingi hidup Ki Broto, bila pertunjukan tari sudah digelar di padepokan. Ia memang selalu mencurigai Laksmita, sebagai perempuan yang memiliki kedekatan jiwa dengan Ki Broto. Tapi Laksmita tak pernah manampakkan bakatnya menari. Perhatian Ki Broto pada gadis itu melebihi siapa pun. Pada Arum yang memerankan Dewi Supraba, perempuan yang sangat penuh daya pikat, Ki Broto tak pernah memberikan  perhatian mendalam. Allesandra tidak yakin benar bila Laksmita calon istri Ki Broto – lelaki yang memiliki keagungan sebagai pencipta tari dan penari.

Menempati salah satu kamar di padepokan Ki Broto, Allesandra kepalang memahami semua kebiasaan lelaki itu. Ki Broto biasa beranjak tidur hingga larut. Lelaki muda itu berlatih menari, menemukan gerak, dan menemukan kelembutan rasa bagian-bagian tariannya. Kadang lelaki muda itu menabuh gamelan, pelan, hening, menyentuh relung pagi. Kadang Ki Broto menghentak kendang, pelan, dan mencipta irama yang kadang dramatis, kadang jenaka.

Subuh dini hari Ki Broto sudah berada di sendang, mengambil air wudu, dan salat di surau kayu yang didirikan tak jauh dari sendang itu. Air pancuran mengucur di sendang yang gemericik, dan tangan yang dibasuh air pancuran, terdengar sampai ke kamar Allesandra. Ia membuka jendela: menatap ke arah sendang. Menatap Ki Broto yang tersenyum ke arahnya, dengan wajah terbasuh air wudu.    

                                                      ***

TARI “Begawan Mintaraga” yang dipergelarkan di padepokan Ki Broto disaksikan begitu banyak penonton yang berdatangan dari banyak kota yang jauh, tamu-tamu hotel, dan pecinta tari. Padepokan Ki Broto belum lama didirikan, dan senantiasa mempergelarkan tari, musik, dan pertunjukan seni rakyat yang diangkat dari masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi.  Selama tinggal di padepokan, ia telah menyaksikan begitu banyak pergelaran tari, musik, teater dan seni rakyat yang membuatnya takjub. Ki Broto tak pernah berhenti  mempergelarkan tari yang seringkali terbuka bagi masyarakat sekitar lereng Merapi.

Kali  ini pergelaran tari “Begawan Mintaraga” berada di gedung teater yang baru selesai dibangun di antara kawasan padepokan, yang senantiasa penuh selama tiga hari berturut-turut pertunjukan. Pada pergelaran hari ketiga, yang terakhir, Allesandra sampai batas penantian untuk menyatakan keinginannya tetap tinggal di negeri ini, mendampingi Ki Broto, tinggal di lereng Gunung Merapi, dalam kesunyian. Ia bisa melukis, menari, dan mendampingi Ki Broto mengelola padepokan.

Allesandra telah mendengar kisah tentang Laksmita dari para penari. Mereka  menggunjing Laksmita sebagai putri seorang preman, yang melakukan pelarian dari penembak misterius sampai lereng Gunung Merapi. Tiap hari di antara para penari membuka kisah tentang Laksmita, anak preman yang pernah memiliki pekarangan dan rumah di padepokan Ki Broto, sebelum ayahnya meninggal. Mengapa Ki Broto begitu dekat dengan Laksmita, putri seorang preman? Allesandra tak habis pikir. Ada sesuatu rahasia yang mesti dibongkar.

Riuh tepuk tangan penonton di akhir pergelaran tari “Begawan Mintaraga” yang gemuruh,  membuat jantung Allesandra berdegup keras. Inilah saatnya ia mesti mengungkapkan perasaannya pada Ki Broto, dan memutuskan nasibnya untuk terus menetap atau meninggalkan negeri ini. Ia bersandar nasib Ki Broto. Ia  menjadi gelisah berhadapan lelaki muda itu dan juga Laksmita, perempuan yang begitu tenang dan menaruh kepercayaan pada Ki Broto.

                                                            ***

PARA penari mengelilingi tumpeng. Duduk bersila di pendapa rumah Ki Broto. Para penari menanti menerima sepiring potongan nasi tumpeng dan ingkung ayam yang berbumbu pekat rempah-rempah. Ki Broto memimpin doa sebelum tumpeng itu dipotong. Di sisinya duduk Laksmita, tenang dan penuh keyakinan. Diakah itu, perempuan yang duduk tenang di sisi Ki Broto, sesungguhnya Dewi Supraba, yang merenggut hati Arjuna?

“Ini tumpeng selamatan kita atas sukses pentas “Begawan Mintaraga”. Sekalian minta restu, kami, saya dan Laksmita, bakal menikah!” kata Ki Broto tenang. Ia memotong tumpeng, mengambil gudangan, bergedel, dan sayatan daging ingkung ayam. Menempatkannya pada sebuah piring. Dipersembahkan sepiring potongan tumpeng itu pada Allesandra.

“Untuk Allesandra, semoga berkah, terimakasih sudah terlibat dalam pergelaran tari ini. Kalau kau masih berkenan tinggal di padepokan ini, kami akan sangat bahagia. Kau akan jadi penari ternama.”

Tangan Allesandra bergetar menerima sepiring tumpeng. Ia tak bisa berucap, sedih atau bahagia. Ia  segera meletakkan piring, beringsut ke arah Laksmita dan menyalaminya. Mencium pipi. Memeluk. Tubuhnya bergetar. Getaran yang sangat dahsyat dalam dada. Tak kan pernah dilupakan.

                                                           ***

Pandana Merdeka, Maret 2020        


====================
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”.  

Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa seperti Horison, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Bisnis Indonesia, Nova, Seputar Indonesia,  Suara Karya,  Majalah Noor, Majalah Esquire, Basabaasi.

Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Novel yang telah diterbitkannya dalam bentuk buku adalah Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009), Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Kumpulan cerpen yang segera terbit adalah Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020).  

Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Dialog Antar Orang Mati

0


Lelaki itu tiba lebih cepat dari selatan Inggris pada suatu pagi di musim dingin tahun 1877. Dia pria merah, atletis, namun berat badannya berlebihan. Tidak dapat dipungkiri, hampir semua orang berpikir bahwa ia orang Inggris, dan memang dia terlihat mirip seperti John Bull. Dia memakai topi bowler dan berjubah wol dengan celah di tengah. Sekelompok pria, perempuan, dan bayi telah menunggunya dengan cemas ; banyak dari mereka memiliki garis merah di tenggorokan, lainnya tanpa kepala dan berjalan ragu-ragu dengan langkah yang menakutkan, seakan meraba-raba menembus kegelapan. Sedikit demi sedikit, mereka mengelilingi orang asing itu, dan dari belakang kerumunan seseorang berteriak mengutuk, tapi teror yang lama menghentikan mereka dan mereka tidak berani melangkah lebih jauh. Dari tengah, seorang prajurit kulit pucat dengan mata seperti bara api melangkah ; rambutnya yang panjang kusut, dan janggutnya yang murung tampak memenuhi wajahnya ; sepuluh sampai dua belas luka mematikan ada di sekujur tubuhnya, seperti garis-garis pada kulit harimau. Ketika ada yang datang melihatnya, dia memucat, tapi melangkah maju dan mengulurkan tangan.

     “Betapa menyedihkan melihat seorang prajurit direndahkan oleh aparat pengkhianat!” katanya dengan penuh wibawa. “Dan lagi kepuasan yang luar biasa telah memerintahkan bahwa para penyiksa dan pembunuh menebus kejahatan mereka pada perancah di Plazade laVictoria!”

     “Jika itu Santos Pérez dan Reinafé bersaudara yang kamu maksud, yakinlah bahwa saya sudah berterima kasih pada mereka,” kata lelaki berdarah itu dengan serius.

     Laki-laki lain memandangnya seolah mencium ancaman, tetapi Quiroga melanjutkan:

     “Kamu tidak pernah mengerti saya, Rosas. Tapi bagaimana kamu bisa mengerti saya, jika hidup kita sangat berbeda? Nasibmu adalah memerintah di kota yang menghadap ke Eropa dan suatu hari akan menjadi salah satu kota paling terkenal di dunia. Dunia saya berperang melintasi kesendirian di Amerika, di negeri miskin yang dihuni oleh para pedagang miskin. Kerajaanku adalah salah satu tombak, teriakan, tanah terlantar berpasir, dan kemenangan rahasia di tempat-tempat terkutuk. Apa itu seperti klaim yang terkenal? Saya hidup dalam ingatan orang-orang — dan akan terus tinggal di sana selama bertahun-tahun — karena saya dibunuh dalam kereta kuda di tempat yang disebut BarrancaYacoby oleh sekelompok pria dengan pedang dan kuda. Saya berhutang budi padamu atas kematian yang kesatria, yang tidak bisa kukatakan saat itu, tetapi generasi berikutnya enggan untuk melupakannya. Anda pasti akrab dengan litograf primitif tertentu dan karya sastra menarik yang ditulis oleh seorang yang layak dari San Juan?”

     Rosas, memulihkan ketenangannya, memandang lelaki itu dengan jijik.

     “Kamu orang yang romantis,” katanya sambil mencibir. “Sanjungan anak cucu tidak lebih berharga dari sanjungan orang sezamannya, yang tidak bernilai apa-apa, dan dapat dibeli dengan sekantong uang receh.”

     “Saya tahu bagaimana kamu berpikir,” jawab Quiroga. “Di tahun 1852 takdir bermurah hati, serta ingin menyelami kamu sangat mendalam, menawan kematian pria-pria dalam pertempuran. Kamu telah menunjukkan dirimu sendiri tidak layak menerima hadiah itu, karena perkelahian, pertumpahan darah, membuatmu takut.”

     “Membuatku takut?” ulang Rosas. “Saya telah menjinakkan kuda hitam di selatan, dan kemudian menjinakkan seluruh negara.”

     Untuk pertama kalinya, Quiroga tersenyum.

     “Saya tahu,” dia berkata pelan, “dari kesaksian tidak memihak prajurit Anda dan kedua perintah Anda, bahwa Anda melakukan lebih dari satu giliran balik yang menakjubkan, tetapi kembali pada masa itu, melintasi AS—dan menunggang kuda juga—ketakjuban lainnya dilakukan di tempat bernama Chacabuco dan Junin dan Palma Redondo dan Caseros.”

     Rosas mendengarkan tanpa ekspresi, dan menjawab.

     “Saya tidak perlu berani. Salah satu ketakjuban milikku, seperti yang Anda katakan, adalah untuk mengelola serta meyakinkan pria pemberani, saya berjuang dan mati untuk diri saya sendiri. Santos Perez contohnya, yang lebih sepadan untukmu. Keberanian sangat mendukung ; beberapa pria bertahan lebih baik dari yang lain, tapi cepat atau lambat, setiap orang menyerah.”

     “Itu mungkin,” kata Quiroga, “Tapi saya sudah tinggal dan saya sudah mati, dan sampai hari ini saya tidak tahu apa itu takut. Dan sekarang saya pergi ke tempat di mana saya diberikan wajah baru dan takdir baru, karena sejarah lelah dengan pria kejam. Saya tidak tahu siapa pria selanjutnya, apa yang akan dilakukan terhadapku, tapi saya tahu saya tidak akan takut.”

     “Saya puas jadi diri sendiri,” kata Rosas, “dan saya tidak ingin menjadi orang lain.”

     “Batu tetap terus jadi batu, selalu, selama-lamanya,” jawab Quiroga. “Dan selama berabad-abad mereka batu—sampai mereka hancur jadi debu. Ketika saya pertama kali masuk ke dalam kematian, saya memikirkan caramu, tapi saya sudah belajar banyak hal di sini sejak itu. Jika kamu perhatikan, kita berdua sudah berubah.”

     Tapi Rosas tidak memperhatikannya,  dia hanya melanjutkan, seolah berpikir keras, “Mungkin saya tidak bisa mati, tapi tempat ini dan percakapan ini sepertinya tampak mimpi bagiku dan bukan mimpi yang hanya sekadar mimpi, juga. Lebih seperti mimpi yang diimpikan orang lain, seseorang belum dilahirkan.”

     Lalu percakapan mereka berakhir, karena saat itu seseorang memanggil mereka.*

Diterjemahkan dari edisi berbahasa Inggris berjudul, “A Dialog Between Dead Men” yang ada pada antologi Jorge Luis Borges, Collected Ficciones, diterjemahan dari bahasa Spanyol oleh Andrew Hurley. Alih bahasa Indonesia oleh Risen Dhawuh Abdullah.


======================
Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Sepasang Pohon Jambu Bahagia

0


Pohon itu terlihat bahagia, mungkin karena ayah merawatnya dengan baik. Ayah tidak pernah lupa menyiraminya setiap pagi dan sore. Terkadang malah ia mendandani pohon itu dengan beraneka pakaian wanita. Ia tempelkan potong-potongan kain pada batang kayunya yang kokoh. Bahkan, ayah pernah makan malam berdua dengan pohon itu, lengkap dengan cahaya lilin yang tembaga dan denging musik jazz yang terdengar begitu romantis.

Tak ada yang berani menyinggung tingkah ganjil ayah, termasuk paman dan bibi. Hal aneh itu sudah menjadi wajar di dalam biduk keluargaku. Mereka lebih memilih ayah berperilaku demikian daripada uring-uringan. Karena, pernah suatu ketika, ayah disindir oleh kakek sebab memerlakukan sebuah pohon seperti memanjakan seorang wanita. Ayah pun marah dan sepanjang hari ia mencercau tak jelas seperti orang gila.

Aku pun demikian, tidak pernah berani menyinggung soal pohon itu. Walau sebenarnya, aku merasa ayah memang sudah kehilangan akal warasnya.  Ia pernah bercerita kepadaku, kalau pohon jambu air itu adalah jelmaan seorang wanita yang pernah melahirkanku. Aku tercengang tak percaya dan mengutuki kisah ayah yang ganjil itu.

“Lihatlah, pohon itu, begitu cantik, Ipang,” katanya, ketika kami bersantai di suatu sore. Aku perhatikan pohon jambu air itu, yang tidak ada apapun di sana, selain keriput kulit kayunya yang muram. Tetapi, ayah seperti sedang memandang seorang perempuan cantik yang begitu dicintainya di pohon itu. Aku tersenyum samar seraya mengangguk. Aku tidak mau menyakiti hati ayah—yang mungkin sedang terluka itu. “Matanya mirip denganmu, Ipang.”

Ahh, apa yang sebenarnya terjadi dengan ayah? Mengapa ia menganggap pohon itu menjadi ibuku?

Aku sebenarnya tidak pernah tahu, siapa wanita yang melahirkanku. Sejak lahir aku tidak mengenal sosok yang bernama  ibu itu. Mungkin saja aku adalah anak jalanan yang dipungut oleh ayah di tong sampah, atau seorang anak malang yang ditinggal oleh ibunya karena tidak ingin hidup susuh bersama suaminya—mengingat ayah hanya seorang pedangang batik kecil di pasar Beringharjo. Tetapi, apa hubungannya antara pohon jambu air itu dengan ibu? Aku tidak pernah dapat mengerti dengan hal itu.

***

Malam itu hujan kembali turun begitu deras, dan aku melihat ayah termenung di samping jendela, memerhatikan pohon jambu air yang terpacak beku di belakang rumah. Ayah yang mendadak terjangkit demam, lunglai tak berdaya di tepi bibir jendela. Tetapi, ia tampak gamang. Sepanjang malam, ayah tidak juga lelah mengawasi sebatang pohon di luar—yang kelu dicercah hujan.

“Ia pasti kedinginan. Kasihan!” gumamnya lirih kepadaku. “Aku melihat wajahnya menjadi pucat, bahkan ia ketakutan, karena sendirian.”

Bulu kudukku meremang. Aku tidak tahu siapa yang ayah maksud sendirian, karena tidak ada siapa pun di luar selain sebatang pohon itu.

“Aku harus menemani ibumu, Ipang.”

Ahh, lagi-lagi pohon itu. Apakah ayah memang benar-benar sudah gila, karena cinta butanya kepada ibu yang sampai detik ini? Aku juga tidak tahu seperti apa wujud ibu? Siapa ibu sebenarnya? Apakah pohon itu memiliki riwayat tertentu tentang ibu yang tidak pernah aku ketahui? Atau, pohon itu adalah jelmaan seorang wanita yang telah dikutuk oleh Tuhan, dan harus menghabiskan sisa hidupnya menjadi pohon, karena sifatnya yang gemar membangkang kepada suami? Kutukan sifat lalim yang juga menimpa Malin Kundang? Kepalaku selalu pening apa bila merunut riwayat tentang ibu dan pohon jambu air di belakang rumah.

Ayah melesat seperti angin; mengambil payung; merengkuh hujan di luar. Aku gagal menahannya. Ketika aku mencoba menghentikan langkahnya, ia malah menjadi murka, kemudian mengutukiku dengan sumpah-serapah.

“Ingat, Ipang, surga ada di telapak kaki ibu,” katanya bengis.

Aku pun menyerah dan membiarkan ayah keluar untuk berhujan-hujanan bersama pohon jambu air itu. Aku melihat ayah yang terpekur takzim di bawah pohon itu. Ia seolah sedang menikmati kebersamaannya di bawah hujan dengan pohon jambu air itu. Mendadak, hatiku pun bergetar hebat melihat pemandangan pilu antara ayah dan pohon jambu air itu. Betapa cinta telah mengutuknya menjadi makhluk  ganjil di dalam rumah ini.

Aku ingin lekas menyusulnya. Gontai, aku menuju gudang, dan di dalam gudang yang gelap ketika ingin mengambil payung, aku tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak kayu tua. Dari dalam kotak itu, aku menemukan puluhan lembar foto seorang wanita yang terlihat sangat seksi, mengenakan pakaian serba ketat, yang memamerkan belah dada dan jenjang pahanya yang mulus. Wanita di dalam foto itu pun sedang menikmati sebatang rokok di sela bibirnya. Selain itu, aku melihat, ada puluhan kaleng bir pula di mejanya. Sepintas, di dalam benakku, wanita itu begitu mirip dengan seorang pelacur.

Tetapi sebelum aku memikirkan lebih lanjut siapa wanita di dalam foto itu, sebuah petir mengerjap dan guntur susul menggelegar nyaring, memekakan telinga. Aku terperanjat meninggalkan foto-foto itu. Aku berlari menyusul ayah di belakang rumah. Pria itu sudah tampak tertegun, meratapi kobaran api yang membakar pohon jambu air.

“Ia terbakar,” gumamnya sembari menitikkan air mata. “Aku tidak bisa menyelamatkan ibumu.”

“Itu hanya pohon jambu air tua, bukan ibu, Yah.”

“Kau anak durhaka!” Balasnya sengit dengan nada tinggi. Ia pun menatapku bengis, “Kau memang tidak pantas disebut anak!”

Aku tertunduk. Aku merasa begitu sedih meratapi kenyatan kalau ayah sebenaranya sudah gila. Namun, di sisi lain, aku semakin tidak mengerti tentang riwayat pohon jambu air serta ibu. Mengapa setiap pertanyaan di dalam kepalaku kini malah menjadi bertambah rumit? Aku mengerling ke arah ayah yang masih terus mengumpatiku tak karuan. Aku tinggalkan ia seorang diri untuk meratapi kekasihnya: pohon jambu air. Sepanjang malam ia kukuh di luar besama puing-puing pohon jambu air yang telah menjadi arang.

***

Setelah tumbangnya pohon jambu air itu masih ada saja yang manganjal di benakku, yaitu tentang foto-foto wanita yang aku temukan di gudang tadi. Aku kumpulkan foto itu kembali dan memerhatikan satu per satu. Aku merasa tak asing dengan wajahnya dan terlebih pada matanya. Aku seolah telah mengenalnya begitu lama, bahkan pernah berjumpa dengannya. Tapi, aku tidak pernah tahu, di mana kami pernah bertemu, dan siapa nama wanita itu? Pertanyaan-pertanyaan muskil di dalam benakku hanya membuat kepalaku semakin berat. Aku pun semakin tersesat di dalam pemikiran rumit, yang barangkali memang tak ada jawabannya. Akhirnya, aku terlelap dengan benang kusut yang gagal terurai.

Pagi harinya, matahari bersinar ganjil. Aku tercengang ketika terbangun melihat ada dua buah pohon jambu air yang tak terlalu besar tumbuh di belakang rumah. Melihat pemandangan aneh itu, aku pun lekas berlari sempoyongan mencari ayah. Aku ingin mengabarinya kalau ada sebuah peristiwa yang tak normal itu di belakang rumah.

Tetapi, setelah menyusuri setiap sudut rumah, ayah tidak aku temukan. Termasuk di tempat biasa ia melamun. Ia tidak ada di sana. Ayah seolah menghilang ditelan bumi. Aku terus mencarinya seiring waktu yang terus berjalan dan meninggalkan apa-apa yang tak pernah terjawab di benakku. Aku terus mencarinya. Akan tetapi, ayah seperti benar-benar lenyap.

Sedangkan, setiap hari dua pohon itu tampak semakin bahagia berdiri di belakang rumah. Aku pun sering memandangnya penuh wasangka dengan berneka macam pertanyaan ganjil: Bagaiamana hal itu bisa terjadi, sebatang pohon yang semalam tumbang, pagi harinya dapat kembali tumbuh? Bahkan, ada pohon baru di sampingnya, yang tidak kalah kokoh dan bahagia. Kalau dipikir, hal ini tidak mungkin. Ya, sebatang pohon tak dapat tumbuh dalam waktu semalam.

***

Dua puluh tahun berlalu, sejak kejadian ganjil itu. Ayah memang tidak lagi terlihat. Kami semua merasa sangat kehilangan, tetapi aku harus mengikhlaskan juga. Aku pikir memang suatu saat manusia harus siap hidup seorang diri atau bertahan dalam lautan kenangan yang terus menyiksa dengan segala yang hilang, yang akan kembali pulang.

Aku kembali melirik ke sepasang pohon jambu air yang mendadak tumbuh dalam waktu semalam itu, yang kini tampak semakin tumbuh subur. Sepasang pohon yang selalu tampak bahagia. Tiba-tiba, aku pun ingat ayah.

“Di mana sebenarnya kau, Ayah? Apakah sekarang kau sudah bahagia?” Pekikku lirih seraya menitikkan air mata. (*) 



====================
Risda Nur Widia. Buku tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing (2018). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Sungai di Wajah Ibu

0

           Sungai di wajah Ibu bermuara pertama kali sejak belasan tahun lalu, ketika kehilangan itu mempora-porandakan hidupnya. Sungai itu berasal dari ceruk matanya, mengalir perlahan melewati pipi dan berakhir menetes di ujung dagu. Air mata yang menetes akan senantiasa membasahi dada dan pangkuannya. Dari balik jendela kamarnya, Ibu tak pernah lelah menunggu meski yang ditunggu tak kunjung kembali. Pagar rumah sudah berkali-kali diganti dengan yang baru, tapi kaki yang diharapkan melintasinya tak pernah datang.

            Air mata Ibu selalu mengalir seperti anak sungai yang membelah lembah. Setiap hari, setiap waktu. Dari atas kursi rodanya, Ibu akan selalu menatap keluar jendela dengan penuh harapan, penuh penantian yang tak kunjung usang. Dia setia menunggu. Setia berdoa kepada Tuhan, meski selama belasan tahun itu juga doanya tak kunjung terjawab.

            “Jika kau sudah lelah berpetualang, Nak. Pulanglah …”

            Satu kalimat itu yang selalu diucapkan Ibu di sela-sela penantiannya. Bibirnya yang memucat akan bergetar hebat tatkala mengucapkan kalimat itu. Lalu, sungai di wajahnya akan mengalir di kerut-merut wajahnya. Di ambang pintu, aku hanya menatap Ibu secara diam-diam. Pemandangan itu sudah aku akrabi sejak bertahun lalu.

***

            Aku masih ingat betul kejadian itu. Awal sebab Ibu memiliki sungai di wajahnya. Kejadian itu sudah belasan tahun lalu, tapi aku sangat mengingatnya. Andai belasan tahun lalu kakakku Aswin tak hilang, mungkin Ibu tak perlu merajut penantian yang sedemikian panjangnya hingga detik ini. Dan sungai yang berasal dari kedua ceruk matanya tak perlu mengalir saban hari.

            Tak ada tanda-tanda bahwa kami akan kehilangan Aswin pagi itu. Segala sesuatunya berjalan seperti biasanya. Aswin dengan semangat mudanya menyiapkan diri untuk kuliahnya. Aku masih kelas satu sekolah menengah pertama saat itu. Kakakku Aswin adalah manusia yang semangat, ia begitu menginginkan kebebasan dalam wujud demokrasi dan sebagainya. Meski jiwanya ingin bebas seperti burung yang lepas dari sangkar, tapi dia amatlah patuh kepada Ibu. Malam itu aku melihat kakakku memeluk Ibu. Seakan-akan mereka tak akan bertemu dalam waktu yang lama.

            Hari selanjutnya, kami memang kehilangan Aswin. Kakakku menghilang, dan tak kembali. Seminggu setelah Aswin menghilang, Ibu berkeras mencarinya ke kota. Semenjak ayah meninggal, Ibu yang memegang kemudi rumah tangga. Tatkala Aswin menghilang, maka Ibu seakan memiliki kewajiban mencarinya.

            Namun nyatanya kota tak ubahnya petaka saat itu. Semua sudut terlihat kacau. Bangunan-bangunan dihancurkan, toko-toko dijarah, gedung-gedung dibakar. Banyak orang-orang berteriak sepanjang jalan sembari merusak apa saja yang mereka temui. Mobil-mobil di sepanjang jalan digulingkan lalu dibakar beramai-ramai. Perempuan-perempuan berteriak ketakutan dikejar pria-pria buas yang memburu mereka secara membabi buta. Penjarahan, tindakan-tindakan vandalisme sampai pemerkosaan terjadi di mana-mana. Banyak orang yang terperangkap dalam kungkungan api turut tewas terbakar.

            Aku menggelepar ketakutan. Kota yang kami datangi tak aman. Tapi dengan tegar dan berani, Ibu bersikukuh untuk mencari Aswin. Para petugas keamaan menghimbau agar kami segera menyingkir. Tapi Ibu tetap maju, dia mencari Aswin di setiap sudut kota. Tapi kami tak menemukan Aswin, bayang-bayangnya pun tak terlihat.

            Ketika lelah mencari mendera, Ibu baru memutuskan pulang. Kota yang rusak kami tinggalkan, meski di sepanjang perjalanan aku menggigil di atas angkutan kota. Ibu bergeming, wajahnya membeku.

            “Bagaimana kalau anakku mati karena orang-orang yang marah itu? Bagaimana kalau dia menjadi salah satu korban yang dibakar?” Suara Ibu terdengar di tengah bisingnya suara angkutan kota yang mendengus-dengus di atas jalanan.

            “Apa Bang Aswin benar dibakar, Bu?” Aku menggigil membayangkan kejadian di kota tadi.

            “Orang-orang yang marah itu sedang hilang ingatan, Muni. Mereka bisa merusak dan membakar apa saja yang mereka mau,”

            Aku tak ingin mengangguk atau menggeleng. Sejujurnya aku bingung dengan jawaban Ibu. Ibu mengatakan bahwa orang-orang yang merusak kota itu sedang hilang ingatan dan marah. Tapi aku melihat mereka berteriak-teriak mengagungkan nama Tuhan ketika marah tadi.

            “Mereka tadi juga menyebut nama Tuhan, Ibu. Saat mereka menggulingkan mobil dan membakarnya. Juga saat menyerang orang-orang yang mereka anggap berbeda,” aku semakin erat menggenggam tangan Ibu. Tangan Ibu terasa begitu dingin dan berkeringat.

            “Tuhan tak bisa dijadikan tameng ketika marah, Muni. Karena Tuhan terlalu suci untuk disentuh amarah. Mereka hanya mencoba meredam dosa mereka sendiri, meski itu hal yang percuma. Kita terlahir berbeda bukan untuk saling membenci, Muni,” Ibu menatap keluar lewat jendela angkutan kota. “Saat ini kita tak perlu meributkan mereka yang pemarah itu, mereka punya dunia yang berbeda dengan kita. Kita cari kakakmu saja, karena tak seharusnya dia pergi tanpa kabar seperti saat ini.”

            Aku mengangguk. Benar kata Ibu, yang kami perlukan hanyalah mencari keberadaan Aswin. Kakakku benar-benar menghilang tanpa kabar. Satu demi satu teman-temannya ditanyai Ibu, tapi tak ada satu pun yang tahu kemana Aswin pergi. Terakhir Aswin terlihat di kampusnya, setelahnya tak ada lagi yang melihatnya.

            “Kenapa Bang Aswin bisa hilang, Ibu? Dia orang baik kan? Penurut juga,” aku bertanya ketika sudah berbulan-bulan tak ada kabar tentang Aswin.

            “Aswin terlalu banyak bicara, Muni. Abangmu itu terlalu jujur menjadi orang. Terlalu keras kepala sebagai seorang pemuda. Andai dia banyak bungkam seperti yang lain, mungkin dia tidak perlu hilang,” Ibu menatapku dalam-dalam. Dari kedua matanya yang semakin redup, aku tahu bahwa Ibu sangat lelah.

            “Ibu menyesal karena Bang Aswin banyak bicara?” Aku memijat punggung tangan Ibu yang jauh lebih kurus dibandingkan beberapa waktu sebelum Aswin hilang.

            “Ibu tak pernah menyesal memiliki anak seperti Aswin. Dia berani berbicara karena memang cakap dan paham dengan apa yang dia ucapkan. Tapi, ibu hanya menyesali, kenapa ada orang-orang yang berbuat curang kepadanya, membawanya pergi dan tak mengijinkannya kembali. Atau andai dia pergi atas kehendaknya sendiri, betapa pengecutnya abangmu itu, Muni.”

            Aku membenarkan ucapan Ibu. Andai benar Aswin pergi lantaran keinginannya sendiri, betapa pengecutnya dia, membiarkan aku dan Ibu bersusah payah mencarinya. Tapi, andai dia dibawa pergi orang dan tak diizinkan untuk pulang, betapa kejinya orang yang membawanya pergi. Lantaran mereka ada seorang Ibu yang terperangkap dalam rindu dan penantian yang tak pasti.

            Ibu masih bersemangat mencari Aswin, meski hitungan bulan sudah menyentuh tahun. Ibu dengan sabar menyebarkan info tentang hilangnya Aswin. Kantor polisi sudah didatangi. Selebaran-selebaran tentang info hilangnya Aswin ditempelnya di tiang-tiang listrik, di papan pengumuman gardu di kampung-kampung, sampai di pintu-pintu warteg. Tapi tak ada satu pun kabar yang diterima Ibu tentang Aswin. Abangku itu seakan hilang, lenyap ditelan bumi.

            Pencarian Ibu terhenti ketika pengapuran mendera kedua lutut kakinya. Kaki Ibu tak bisa digunakan seperti dulu. Sehari-hari Ibu hanya menghabiskan waktu di atas kursi roda. Meski kakinya tak bisa lagi menyusuri jalan-jalan di kota dan gang-gang kampung untuk mencari kabar Aswin, tapi Ibu tak berhenti menunggu. Di balik jendela kamarnya, Ibu selalu bersemangat memohon dan berdoa agar anaknya dikembalikan. Mengetuk belas kasih Tuhan agar anaknya yang hilang segera dipulangkan.

***

            Kini sudah belasan tahun Ibu menunggu. Tak hanya wajahnya saja yang dipenuhi kerut-merut lantaran digerus usia. Kedua matanya yang dulu bersorot penuh percaya diri menuntut keadilan untuk anaknya yang hilang kini berubah kelabu, seiring warna rambutnya yang memutih. Tangannya yang dulu tak lelah mengetuk pintu untuk sekadar menanyakan keberadaan Aswin kini selalu bergetar.

            “Sudah berapa lama abangmu hilang, Muni?” Suara lemah Ibu terdengar. Memang sudah beberapa waktu ini aku kehilangan suara Ibu yang tegas dalam kelembutan seorang wanita. Kini, hanya suara lemah yang terkadang bahkan tak  terdengar di telingaku yang bisa dia ucapkan.

            “Sudah cukup lama, Ibu. Sudah belasan tahun,” aku menjawab sembari menatap mata Ibu.

            “Dia benar-benar tak ingat pulang rupanya,”

            “Bang Aswin bukannya tak ingat pulang, Ibu. Mungkin dia memang tak diijinkan pulang,”

            “Terkadang ibu berpikir, Muni. Tidak rindukah dia kepada kita?”

            “Abang pasti rindu, Ibu. Hanya saja mungkin dia belum bisa kembali menemui kita.” Aku menggenggam erat tangan Ibu.

            Ibu hanya mengangguk samar, kedua matanya dipejamkan. Perlahan aku berdiri meninggalkannya. Tapi ketika sampai di ambang pintu kamar, aku mendengar suara Ibu yang lirih.

            “Jika sudah lelah berpetualang, Nak. Pulanglah, ibumu ini tak akan marah jika kau kembali ke rumah.”

            Lalu sungai di wajah Ibu mengalir lagi, dari ceruk matanya, turun ke pipi lalu berakhir di ujung dagu. Tetesan air mata itu membasahi dada dan pangkuannya. Aku hanya menatap Ibu dari ambang pintu, bagiku sungai di wajahnya bukanlah hal baru.[]

======================

Artie Ahmad lahir dan besar di Salatiga. Beberapa cerpennya dimuat media massa, dan sampai saat ini dia memiliki empat buku. Buku terbarunya ‘Sunyi di Dada Sumirah’ Penerbit Buku Mojok, Agustus 2018 dan kumpulan cerita pendek ‘Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri’ Penerbit Buku Mojok, Januari 2019.

Cerita Gudang di Belakang Rumah

0


Bapak tidak pernah memperbolehkanku membuka gudang di belakang rumah. Aku tidak pernah tahu mengapa bapak tidak memperbolehkanku, yang jelas bapak menyimpan sesuatu yang memang sangat rahasia dan mungkin hanya dia saja yang berhak tahu.

Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku. Pertanyaan yang tidak akan pernah menemukan jawabannya apabila gudang itu belum bisa aku buka.

Dugaan-dugaan juga mulai mengaliri hari-hariku. Dugaan yang paling kuat tentang isi gudang yang sangat dirahasiakan bapak adalah burung-burung kecintaannya yang bernilai mahal dan hanya dia yang boleh memegang atau melihat atau merawatnya. Maka dengan itu, ia menyimpannya di gudang belakang rumah. Mungkin bapak menyulap gudang itu menjadi sangkar burung—untuk burung-burung kesayangannya.

Bapak memang gemar burung sejak aku kecil. Ia sering mengikuti perlombaan dan sayembara burung-burung. Baik yang diadakan di kampung sendiri atau di kampung lainnya. Bahkan pernah juga bapak ke luar provinsi hanya untuk melombakan burung-burungnya itu.

Pernah suatu kali aku diajak pergi ke luar kota untuk mengikuti perlombaan burung. Bapak bilang, bila burung yang dibawa bapak ini menang, maka nilai jualnya akan berlipat-lipat ganda naiknya.

Waktu itu bapak mengajakku naik kereta. Aku lupa di mana tepatnya, yang jelas kota itu lebih mewah dari tempat tinggal kita. Bangunan-bangunan menjulang tinggi ke atas, banyak juga kendaraan dan mobil-mobil. Jalanan yang biasa aku lihat lengang saat di rumah, kini terlihat padat seolah jalan itu begitu sempit.

Bapak membawa dua sangkar burung yang tentu di dalamnya berisikan burung. Katanya, bapak ingin melombakan keduanya. Bapak telah melatih dua burung itu selama tiga bulan lebih. Aku yang menyaksikan bapak hampir setiap malam memutarkan suara burung melalui HP dan mendekatkan hp itu ke kedua burung itu merasa aneh juga. Bukannya lagu-lagu malah suara burung yang memenuhi list lagu di HP bapak.

Namun namanya kesukaan, mau bagaimana pun tetap akan dilakukan. Sempat aku juga iri dengan burung-burung bapak, karena waktu untuk burung lebih banyak ketimbang waktu denganku. Kecintaannya pada burung tidak ada yang bisa menandinginya.

Hampir setiap hari kesibukan bapak berkutat pada burung-burung kesukaannya itu. percaya atau tidak, kehidupan sehari-hari kami juga bergantung dari perlombaan burung dan penjualan burung yang bapak menangkan.

Bapak pandai dalam hal ini seolah memiliki trik jitu agar burung-burungnya terus berkembang dan bisa menghasilkan uang yang melimpah. Sepertinya dulu sekali bapak membeli indukan burung itu dengan harga mahal, sehingga indukan itu selalu menghasilkan burung-burung yang berkualitas. Bapak pandai, ia tidak menjual induk itu, bahkan bapak juga berhasil menghasilkan induk-induk lainnya dan yang untuk diperlombakan biasanya anak-anak yang lahir dari induk berkualitas itu, tentu dengan latihan yang senantiasa bapak berikan.

Jika dari induknya sudah berkualitas, kata bapak, melatih anak-anaknya itu sangat mudah dilatih. Pantas saja bapak selalu menang di setiap perlombaan. Namanya juga roda kehidupan, pasti tidak selalu di atas, bapak juga pernah kalah dalam perlombaan. Dan burung-burung bapak juga pernah terserang penyakit sehingga hampir semua ternaknya mati. Musibah itu sempat membuat bapak sakit keras, namun bapak bangkit lagi guna menghidupiku.

Selain merawat burung-burungnya, bapak juga sering mendatangi gudang belakang rumah setiap pagi dan sore. Anehnya bapak mendatanginya ketika hendak mandi. Aku sempat mengikuti bapak, namun aku selalu ketahuan. Bapak memarahiku habis-habisan bahkan dulu bapak pernah memukuliku dengan rotan karena ulahku ini.

Semenjak itu aku tidak berani lagi membuntuti bapak dari belakang ketika hendak mendatangi gudang belakang rumah. Aku hanya mampu menduga-duga saja dan tidak pernah mengetahui apa sebenarnya isi dari gudang tersebut.

Gudang itu juga sudah dilengkapi bapak dengan duri-duri yang bapak buat sendiri dari besi. Selain itu bapak juga menutup rapat gudang itu sehingga tidak ada sedikit pun celah untukku mengintip isi dari gudang itu.

Aku pernah mencoba mengintipnya, tetapi yang terjadi malahan tanganku tergores duri itu. Aku meringis kesakitan sepanjang malam dan esoknya aku sembunyikan luka itu dari bapak. Aku tidak ingin bapak mengetahui luka akibat ulahku yang hendak mengintip isi gudang tersebut, bisa-bisa rotan andalan bapak mendarat lagi di tubuhku. Aku tidak ingin menderita sakitnya lagi.

Rasa penasaranku perlahan sirna. Meskipun masih ada sedikit di benakku, tetapi tidak sehebat dulu. Hari berganti hari, usia bapak semakin tua, begitu juga denganku. Aku sudah tumbuh menjadi dewasa yang menurut bapak berhasil. Aku bekerja di Bank bagian keuangan.

Tentu keberhasilanku ini tidak luput dari usaha bapak dan burung-burungnya. Untuk mengungkapkan rasa terima kasihku, aku yang menggantikan merawat burung-burungnya ketika bapak sakit. Bapak mengajariku banyak hal tentang burung. Ajaran itu menumbuhkan rasa suka padaku. Dunia perburungan aku tekuni. Setiap pulang dari kerja, aku langsung menuju kandang-kandang bapak yang tepatnya di samping gudang belakang rumah.

Namun bapak juga belum memperbolehkanku masuk ke gudang itu. Hanya bapak yang akan mengurus sendiri isi di dalam gudang itu. meskipun tubuhnya sudah tidak setegak dulu untuk berdiri, tetapi tetap saja bapak akan memaksakan diri untuk mengurus isi gudang itu setiap pagi dan sore.

Aku sudah tidak terlalu memusingkan lagi masalah itu. Toh aku juga senang bisa mengelola burung-burungnya sendiri yang mulai memberiku kebahagiaan dan hiburan baru untukku saat ini.

Mungkin andaikan di dalam gudang itu burung, maka suatu saat pasti bapak akan memberiku kesempatan untuk mengelola dan merawatnya, karena bapak mengatakan padaku cara merawat sama dengan cara merawat bapak. Katanya aku mengibaratkan burung-burung itu kekasih sehingga ketika memegangnya aku seperti sedang mengelus-elus punggung kekasihku. Sangat pelan, sangat teliti dan hati-hati.

Keanehan yang pernah aku ungkapkan, kini malah aku rasakan menjadi kebahagiaan yang selalu menuntunku agar tidak jauh-jauh dari burung-burung ini. “Jadi begini rasanya kebiasaan bapak dulu” batinku sembari tertawa-tawa sendiri karena geli membayangkan diriku menjadi seperti bapak.

Suatu waktu, sakit bapak semakin parah. Aku yang khawatir, langsung membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit bapak mendapatkan perawatan intens di UGD. Sakitnya sudah bukan sakit biasa lagi, begitulah kata dokter ketika aku sampai di rumah sakit dan bapak di bawa langsung ke UGD.

Tiga puluh menit aku menunggu. Akhirnya dokter keluar. Katanya bapak memintaku untuk masuk ke ruangan. Aku mengangguk, mengekor dokter masuk ke ruangan UGD.

“Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, Nak.” Bapak berkata serius sambil terbatuk-batuk.

“Ada apa, Pak?” Tanyaku dengan penuh hati-hati. Apakah bapak ingin memberiku wasiat? Atau semacam pesan terakhir? Tidak, aku tidak ingin itu terjadi. Aku berharap bapak sembuh dan menemani hari-hariku lagi.

“Bapak sudah mengajarkanmu cara merawat burung-burung itu kan, Nak?” bapak terbatuk lagi setelah mengucapkan kalimat itu. Namun kali ini batuknya agak parah, suster yang mengetahui itu segera mengambilkan segelas air putih.

“Iya, Pak, aku tahu.” Kesedihan mulai menyelimutiku ketika melihat bapak seperti itu. tanganku mengggenggam tangan bapak secara erat.

Sebelum bapak melanjutkan lagi. dokter meminta agar bapak beristirahat sejenak, baru diperbolehkan berbicara lagi. bapak menyetujui. Aku masih berada di ruangan itu dengan pakaian khusus.

Dokter dan suster meninggalkan kami. Katanya kalau ada apa-apa tinggal pencet bel saja. Dokter tidak keluar ruangan, hanya saja di kantor kecil yang ada di dekat pintu ruangan UGD.

“Tolong jaga burung-burung bapak. Jangan sampai burung-burung itu mati, Nak.” Bapak berujar lagi setelah merasa agak enakkan.

“Dan bapak ingin memberitahumu rahasia yang selama ini bapak sembunyikan darimu. Bapak merahasiakan ini bukan karena kamu tidak boleh tahu, tetapi karena waktunya saja belum tepat.” Bapak menambahi lagi, namun kali ini dengan derai air mata.

“Tentang isi gudang di belakang rumah, Pak?” Aku langsung bisa menebak.

Bapak mengangguk, “Sebenarnya isi gudang itu bukanlah burung-burung kesayangan bapak atau burung-burung istimewa yang hanya bapak ketahui. Tetapi di dalam gudang itu ada mayat ibumu yang bapak awetkan.” Tangisan bapak menjadi-jadi disaat aku terperangah mendengar penjelasan itu.

“Kenapa bapak melakukan itu?”

“Selama ini aku selalu membohongimu perihal ibumu Nak. Ibumu meninggal sejak usiamu dua tahun. Bapak tidak ingin menguburkannya karena bapak masih mencintai ibumu dan tak mau kehilangan ibumu. Bapak ingin ibumu dimakamkan bersamaan dengan dimakamnya bapak, Nak. Setiap pagi dan sore kenapa bapak masuk ke gudang itu? Karena bapak memandikan ibumu agar tubuh ibumu tetap utuh dan tidak menimbulkan bau.” Setelah mengucap itu bapak batuk hingga muntah darah. Aku menjerit, lalu memencet bel. Dokter dan suster datang menangani bapak.

Aku menangis, antara sedih, bingung, menyesal atau apalah bercampur menjadi satu di pikiranku saat ini. Tangisku semakin pecah ketika kondisi bapak semakin parah.

“Nak, mungkin sudah saatnya bapak dan ibumu dimakamkan bersamaan.” Bapak tersenyum lalu tiba-tiba tersedak, aku menangis karena dokter mengatakan kalau bapak telah meninggal.

***

Aku membuka gudang itu dan menemukan sebuah kamar dengan tempat tidur dan penghiasan seperti kamar pengantin. Dengan dibantu tetangga aku membopong jenazah ibu sambil terus-terusan menangis.

Prosesi pemakaman berlangsung. Bapak dan ibu dimakamkan berjejer di sebuah pemakaman yang tak jauh dari rumah. Tidak ada yang bisa aku perbuat lagi, selain menangis. (*)

Solo, 9 Februari 2020


=================
Khairul Anam nama panggilan dari Muhammad Khairul Anam. Lahir di Surakarta, 14 Februari 1998. Mahasiswa IAIN Surakarta. Aktif menulis Cerpen, puisi, dan resensi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Novel yang pernah di terbitkan: Cahaya-Nya(Oase Pustaka, 2016)

Kita Pernah Hidup dalam Telur yang Sama

0

Lukisan merpati itu datang tanpa diminta. Seekor merpati di atas dahan dengan daun-daun mengelilinginya. Lukisan itu datang tanpa sebuah surat dari pengirimnya. Mei langsung membuka bungkusan cokelat di depan Pak Pos ketika tahu siapa pengirimnya. Bunga Hitam, dilihatnya lekat-lekat lukisan merpati itu.

“Lukisannya bagus, Mbak, saya permisi,” kata Pak Pos.

Mei mengangguk.

Dia masuk dengan masih memandang sendu lukisan merpati itu. Dulu merpati adalah pengirim pesan. Dia menebak pesan apa yang ingin disampaikan pengirim lukisan ini. Merpati itu murung dan sendiri. Mei meletakkan lukisan itu di meja lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.

“Pesan kekalahan,” tebaknya.

***

Merpati itu takkan mungkin terbang. Burung malang itu hanya bisa bertengger di sebuah dahan yang rapuh. Dia memiliki sayap kuat, Namun sayapnya tak bisa dikembangkan. Tak berguna. Sebab ada lem yang merekatkan sepasang kakinya pada dahan.

Pandangnya berpindah dari lukisan itu pada ujung kuas yang melamun di atas palet. Ujung kuas itu menyentuh cat warna hitam. Kemudian mulai menuliskan nama di ujung kanvas. Bukan namanya yang dia tulis. Namun hanya sebuah huruf: K.

Lalu dia memohon pada seorang sipir untuk mengirimkan lukisan itu pada Mei. Tentu sipir itu awalnya tak mau. Namun, akhirnya mau setelah mendapatkan lumatan di bibir.

“Tulis saja Bunga Hitam sebagai nama pengirim,” kata Wei menggigit pelan telinga si Sipir.

Wei kembali ke selnya yang gelap. Sipir itu mengunci perempuan dua empat tahun itu kembali dalam jeruji besi.

Wei menatap cat-cat minyak di palet. Lalu tangannya bergerak mencampur warna-warna itu hingga telapak tangannya berlumur cat. Ditempelkannya telapak itu pada dinding penjara. Hingga jejak tangannya tercetak di sana. Warna yang abstrak.

“Kau pasti tak pernah merasakan melukis di dinding penjara, Mei! Aku sering.” Wei mengingat penjara-penjara yang pernah dimasukinya. Dia selalu memberi jejak tangan di dinding penjara yang dia tinggali.

“Kau adalah burung yang bisa terbang tinggi. Sungguh tak adil! Kita pernah hidup dalam telur yang sama!” Wei menjerit, meninju dinding hingga tangannya berdarah.

***

Seharian Mei memecahkan teka-teki lukisan yang dikirim Wei untuknya. Lukisan merpati malang itu begitu mengganggu. Seharian pula dia tak bisa melukis apa pun. Bergelas-gelas kopi dia habiskan, berbatang-batang rokok, tidak pula memunculkan ide untuk mengisi kanvasnya.

Mei duduk di lantai dan menyandarkan diri di tembok. Dia memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam.

“Kalau saja kalian akur, pasti Bapak masih ada,” suara Ibu hadir di ruangan ini. Mei membuka mata, tak ada siapa pun. Mei memegang kepalanya, Ibu ada di desa, pikirnya.

Selalu kalimat itu yang dikatakan Ibu kepada Mei ketika dia pulang. Dia selalu pulang seorang diri. Wei tidak mungkin mau pulang bersamanya. Memiliki bakat yang sama tidak membuat semua ini menjadi lebih mudah.

Mereka memang sudah berbeda sejak dari awal. Mei tidak habis pikir kenapa Wei begitu membencinya. Padahal sedari kecil dia selalu berusaha menunjukan jalan yang benar untuk saudaranya itu.

Mei berdiri dari duduknya. Sekali lagi dia pandang lukisan dari Wei. Dia tersenyum. Ada baiknya dia memberi hadiah balasan kepada saudaranya itu.

“Kau akan menyukai lukisan ini adik, setidaknya biar kau ada kawan di sana, biar betah dan tidak merengek meminta pulang,” kata Mei.

***

Cih. Bakat yang sama! Wei ingat kata-kata ibunya dulu. Jelas kata-kata ibunya itu dia tentang. Sebab hanya dia yang punya bakat, Mei tidak sama sekali. Tangan seni milik bapak hanya menurun ke Wei.

Ketika Wei mengatakan itu, sabaten sapu lidi mendarat di betisnya. Berulang kali hingga betis itu merah tetap ibu tak mau menghentikan ayunan tangannya, sebelum Wei minta maaf pada kakaknya, Mei.

“Minta maaf pada kakakmu! Hormati kakakmu! Jangan jadi anak nakal!” perintah ibunya.

Wei hanya berteriak-teriak meminta ibunya berhenti. Tapi Wei tetap tak mau mengalah dan minta maaf, sampai ibunya lelah. Ibunya mengajak Mei makan, meninggalkan Wei yang menangis.

Wei tersenyum kecut. “Lem yang merekatkan kaki burung di ranting itu, ibulah yang melakukannya.”

***

Mei menyelesaikan lukisannya hingga larut. Merpati yang mematahkan sendiri sebelah sayapnya. Darah mengucur. Mei membanting paletnya ke lantai. Mei melihat lukisan yang baru saja diselesaikannya.

Bagaimana bisa dia akan mengirimkan lukisan itu kepada adiknya. Mungkin sampai nanti salah satu dari mereka mati baru akan selesai permasalahan.

Sekarang Mei memang menikmati hasil kerja kerasnya. Hidup dari hasil melukis. Tapi tak pernah sekali pun bapak memuji kemampuannya. Wei selalu yang sejak kecil digadang-gadang menjadi penerus bapak. Lukisan-lukisan di rumah hanyalah lukisan bapak dan Wei.

Setelah Bapak tidak ada, barulah Mei mengganti semua lukisan.

***

Andai Wei sedetik saja lebih dulu lahir. Pastilah dia tidak perlu menghormati Mei. Dan ibu tidak punya alasan, mengecapnya sebagai anak nakal.

Jelas Mei memang tidak punya bakat melukis. Dia hanya punya bakat menggunakan topeng polos. Wei benar-benar membenci ibu yang selalu membela Mei. Dia tidak tahu, alasan ibu jauh lebih sayang Mei dibandingkan dirinya. Sejak kecil, Bahkan ketika Mei menulis namanya di lukisan Wei dan mengakui lukisan itu buatannya. Ibu percaya.

“Ibu, itu lukisan buatanku! Mei mencurinya dariku!” Wei mencoba merebut lukisan itu dari tangan Mei.

Ibu malah memukul Wei dan berkata, “Jangan gara-gara lukisan Mei bagus, kau iri dan mengakuinya sebagai milikmu. Cepat minta maaf pada kakakmu!”

Wei menatap bayangannya yang terpantul pada sendok makan. Wajah itu wajah yang sama dengan kakaknya. Hanya berbeda karena wajah milik Wei lebih kurus dengan mata yang menyiratkan luka dan dendam.

***

Di mata Ibu, lukisan Mei adalah lukisan terbaik, tapi tidak dengan Bapak. Namun, dengan lebih dikenalnya nama Mei dibanding Wei harusnya sudah memberi pertanda bahwa dirinya lebih baik dari Wei. Memang seharusnya seperti itu. Sebagai kakak sudah semestinya dia lebih mumpuni.

Malam tadi Mei tidak dapat tidur tenang. Dia selalu segelisah ini setiap diingatkan tentang Wei. Mei melihat jam, setengah jam lagi, akan ada orang mengunjungi galerinya. Bila ada yang cocok maka akan dibeli. Mei memang tidak setiap saat membuka galerinya. Karena kesibukannya mengisi workshop dan karena dia sendiri yang melayani setiap orang yang datang berkunjung.

“Boleh saya melihat ruang kerja Nona?” tanya seorang laki-laki tua yang berkunjung. Mei terdiam sesaat.

“Tapi berantakan,” Dia nyengir sedikit malu mengatakannya.

“Tidak masalah, setelah dari sana dan mendengar cerita tentang proses kreatif Nona, bisa jadi saya tertarik untuk membeli.”

Mei mengiyakan permintaan salah satu pengunjung tersebut.

Ruangan itu tidak terlalu berantakan untuk ukuran seorang seniman. Si mbak juga sudah mengambil semua gelas kopi dan membersihkan lantai yang penuh cat karena palet yang dibanting Mei malam tadi.

Mei menceritakan bagaimana caranya melukis kepada pengunjung tadi. Laki-laki itu mengangguk-ngangguk dan bertanya beberapa hal. Lalu dia mendekati kanvas yang tertutup kain hitam. Mei melihat dengan cemas.

“Lukisan ini, berapa?” Laki-laki itu bertanya tentang lukisan burung merpati Wei.

“Em, itu tidak dijual,” kata Mei.

“Kenapa?” tanya laki-laki itu.

“Em, mungkin tuan bisa memilih lukisan yang lain,” kata Mei.

“Saya berani bayar mahal bila Nona mau melepas lukisan ini,” katanya tidak mengindahkan tawaran Mei.

***

“Besok kamu keluar, apa yang akan kau lakukan?” tanya si Sipir, ketika para narapida bersih-bersih halaman penjara.

Wei tak menjawab, dia sibuk mencabuti rumput.

“Apa kau akan mencuri lagi dan masuk penjara lagi?”

“Mungkin. Masuk penjara itu lebih gampang dibandingkan masuk surga. Jadi, kemungkinan besar aku akan masuk ke penjara. Bertemu sipir seksi yang lebih pintar melumat,” ujar Wei dengan nada bercanda.

“Berhentilah melarikan diri, Wei. Aku kasihan pada ibumu. Dia selalu menangis setiap memberikan perlengkapan melukis untukmu dan kau selalu menolak bertemu dengannya.”

“Ibu? Perempuan itu tidak menganggapku anak. Dia pasti berharap hanya si brengsek itu yang lahir!”

“Tidak mungkin dia tidak menganggapmu anak. Dia selalu memberikanmu peralatan melukis!”

“Tapi dia memasukan kakakku ke les lukis, ke institut seni, sampai akhirnya anak yang tidak berbakat itu menjadi pelukis terkenal. Sedangkan aku! Anaknya yang berbakat ini malah dia masukan ke penjara!”

 Wei marah pada matanya yang tidak bisa menahan air mata. Dia menjauhi sipir bernama Soni itu.

***

Mei melepas lukisan itu. Mungkin dengan begitu, dia tak akan teringat dengan Wei. Rasanya dia akan hidup damai bila dilahirkan seorang diri.

***

Keluar dari penjara bagi Wei bukanlah kebebasan. Entah, dia belum menemukan definisi kebebasan baginya. Hidupnya terlalu terkurung dalam dendam dan amarah. Sampai tak ada kebahagiaan yang tersisa.

Dia sudah berada di luar bangunan penjara dan tidak menemukan ibunya. Setiap dia keluar dari penjara, ibunya sudah berdiri di depan penjara. Menatap ke arah Wei dengan bibir tergigit, seakan-akan mencoba menahan air matanya agar tidak meledak.

Wei selalu mengabaikan keberadaan ibunya. Lagi pula untuk apa menyapa seorang yang menjebloskannya ke dalam penjara. Seorang ibu menjebloskan anak yang masih remaja ke penjara. Cuma gara-gara dituduh memasukan obat nyamuk ke cangkir kopi bapak. Hingga bapak meninggal.

Karena tidak ada bukti maka Wei dibebaskan. Tapi sebagai pemberontakan, dia mencuri dan mencuri. Wei ingin masuk penjara sesuai keinginan ibunya itu.

***

Mei mendapat kabar bahwa Wei sudah keluar dari penjara. Tapi kabar itu hanya diterimanya saja tanpa tindak lanjut. Dia hapal betul bahwa sebentar lagi Wei akan kembali ke penjara, seperti seorang anak yang pulang ke rumah ibunya. Mei tak habis pikir kenapa anak itu gemar sekali membuat masalah. Mei tak ambil pusing bila Wei ingin mencuri. Bagaimanapun setiap orang pasti pernah mencuri. Yang Mei tak habjs pikir hampir belasan kali Wei mencuri belum juga dia menjadi pencuri yang ulung. Belasan kali mencuri, belasan kali juga masuk penjara.

“Non, tadi ibu telpon, tapi Non Mei masih tidur,” kata si Mbak.

Mei menelepon ibunya. Menanyakan kenapa ibu menelepon pagi-pagi sekali.

“Adikmu masuk penjara lagi,” kata ibu di telepon. Suaranya sedikit terisak.

“Lagi? Baru beberapa hari, sekarang apa lagi yang dia curi?”

“Lukisan, lukisanmu.”

“Lukisanku yang mana?”

“Seekor merpati yang baru saja dibeli Pak Marlo.”

***

“Akui saja, kau akan mendapatkan keringanan jika mengakuinya!” bentak polisi.

“Itu lukisanku!”

Situasi ini mirip sekali seperti dulu ketika ibunya menyuruhnya mengakui telah memasukan obat nyamuk ke cangkir bapak. Tetapi jelas, Wei tak mingkin punya niat sedikitpun untuk melakukannya. Walaupun jelas hari itu hanya dia dan bapaknya di rumah.

Wei yakin ibu atau Mei yang memasukan obat nyamuk itu ke cangkir bapak. Mereka membenci bapak karena sering memukul ibu setiap ibu ketahuan memukulku. Sedangkan Mei pasti iri karena bapak lebih menyangi Wei dari pada dia. Tetapi kata polisi, bapaknya bunuh diri. Alasan bunuh diri tidak diketahui.

“Ini lukisanku. Dan kau boleh memasukanku ke penjara karena tuduhan mencuri lukisan ini. Toh, di dunia aku tidak berarti. Lebih baik orang semacamku dikurung saja agar tidak bisa terbang ke mana pun.”

Benar, di dunia ini untuk apa Wei ada. Tidak ada yang perlu dia buat bahagia. Dulu, dia hanya ingin melihat bapaknya bahagia setiap melihat lukisan yang dibuatnya.

Tetapi sekarang siapa yang pantas dia buat bahagia? Ibu dan kakaknya, cih! Najis.

***

Mei ikut mengurus kasus pencurian Wei kali ini. Bagaimanapun dia ada rasa bersalah kepada Wei. Mei mengakui bahwa lukisan yang itu adalah hadiah dari Wei untuknya. Wei bebas. Mei sedikit bernapas lega, paling tidak dia tidak harus menanggung rasa bersalah seumur hidupnya.

Wei menatap Mei. Dulu mereka berbagi tempat dalam satu rahim. Juga Berbagi makanan. Namun kini, walaupun wajah mereka sangat mirip, mereka berdua seperti orang asing. Wei tidak bisa mengilangkan semua dendamnya pada Mei dan ibunya. Lalu dia meninggalkan mereka begitu saja, tanpa mengucapkan apa pun.

Wei berjalan menuju sebuah jembatan. Dia menatap ke arah sungai. Setidaknya masuk penjara itu membuat keinginan Wei untuk lenyap dari bumi tertahan. Namun sekarang, dia bebas dan tak punya tujuan.

“Kau berniat masuk neraka?”

Wei menoleh dan menemukan si Sipir. Si Sipir itu memberikan barang-barang yang ditinggalkan Wei di penjara. Beberapa kotak cat minyak yang dibelakangnya ada tulisan tangan ibunya yang berbunyi; maafkan ibu.

“Untuk apa aku hidup? Tidak ada yang perlu kubahagiakan.”

“Jika tidak orang yang perlu kau bahagiakan. Berarti kau hanya perlu membahagiakan dirimu sendiri.”(*)

Pemalang dan Semarang, 2018

======================

Zahratul Wahdati dan Ratna Purnamasari, dua perempuan yang bertemu di UKM KIAS (Kajian Ilmu Apresiasi Sastra) Universitas PGRI Semarang. Beberapa karya mereka sudah dimuat di Suara Merdeka, Kompas, Basabasi.co, Solo Post, dan lain-lain.

Nikotopia dan Ular Sawah di Kepalanya

0

Rasa kehilanganmu terhadap kepergian Nikotopia masih menyesakkan dadamu. Padahal yang kutahu dia salah satu sahabat yang justru paling jarang bertemu denganmu. Meski begitu, tampaknya kalian memang sangat akrab. Jarang bertemunya kalian selama ini pastinya semata-mata jarak tinggal kalian yang berjauhan. Tapi kesedihanmu itu mungkin lebih karena tentang rencana menerbitkan novel yang sedianya akan kalian kerjakan bersama. Aku tahu hal itu karena kamu pernah mengatakannya. Sekarang, bukan saja kalian tidak bisa menyelesaikan, bahkan ketika novel itu baru akan kalian mulai kerjakan, keburu Niko pergi untuk selamanya.

Kupikir karena hal itu pula yang kini memengaruhi kegiatanmu menulis. Kepergian Niko tidak lantas membuatmu semakin rajin, tapi justru membuatmu malas, bukan hanya tentang menulis, bahkan juga malas melakukan apa-apa. Hari-hari yang berlalu hanya kamu habiskan termenung di samping rumah sambil membaca karya-karya Niko. Aku menyadari, kehilangan sahabat dekat memang bisa membuat semangat hidup menjadi loyo, tapi masalahnya kamu harus melanjutkan hidupmu. Masih banyak orang yang menyayangimu dan kupikir mereka ingin melihatmu terus berkarya seperti semula. Demikian juga aku dan anak-anak, tidak ingin melihatmu jatuh.

“Tidak tentang karya, juga tidak buku itu,” sahutmu ketika aku mencoba mengajakmu membicarakannya.

“Lalu?” tanyaku sedikit heran, hingga karena itu tiba-tiba aku merasa ada sebagian di dirimu yang belum aku tahu.

“Kalau toh ada hubungannya, hal itu bukan serius.”

“Terus?”

“Bagaimana perasaanmu…”

“Tentang apa?” sahutku cepat.

“Aku belum selesai bicara. Maksudku, bagaimana perasaanmu jika berada pada kondisi seperti ini?”

Aku bingung dengan pertanyaanmu, tapi aku juga tidak lantas menanyakan kepadamu apa yang membuatku bingung. Aku merasa keruwetan itu hanya ada padamu. Kekhawatiranku, jika aku mendesakmu dengan pertanyaan-pertanyaan justru bisa membuat kita tidak nyaman.

“Aku tidak mengerti,” jawabku sekadar memberimu tanggapan.

“Perempuan sukanya begitu.”

“Maksudmu?”

“Perasaan selalu maju lebih dulu, tidak berusaha memikirkannya.”

Aduh, malah aku yang kena. Bagaimana ini? Apakah aku perlu mendebatmu? Paling tidak untuk membetulkan persepsi pemikiranmu itu.

“Bukankah ketika Niko terakhir datang ke rumah kita, kamu ada?”

“Lalu?”

“Bahkan setelah Niko pulang, kita sempat membicarakannya.”

“Iya. Maksudmu tentang keanehan-keanehannya itu?”

“Persis?”

“Terus, terus?”

“Menurutmu, di antara keanehan-keanehan itu, apa yang menurutmu paling aneh?”

Sesungguhnya aku tidak terlalu perhatian dengan apa yang dikatakan, dan apa yang dilakukan Niko. Belum lagi waktu itu aku sibuk mengurusi makanan dan minuman yang harus kita suguhkan pada Niko waktu itu. Aku tahu lebih jelas kalau dia aneh justru dari ceritamu. Di antaranya, kamu mengatakan di sepanjang percakapanmu dengan Niko, sering terjadi salah pengertian. Jawaban dan pernyataan Niko tidak sesuai dengan hal yang kamu obrolkan. Jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu dengan pas. Jika terpaksa menjawab, itu pun atas dasar pilihan dari beberapa hal yang kamu ceritakan.

“Bicaranya sering tidak nyambung,” jawabku.

“Semuanya memang tentang itu.”

Aku mengangkat bahu, semacam tanda menyerah.

“Aku lupa, apakah waktu itu aku sudah cerita tentang Ular Sawah?”

“Ular Sawah?” sahutku sembari menggeleng.

“Menurutku, saat itulah dia mengatakan keadaannya.”

“Apa yang dia katakan?”

“Sesungguhnya, ada Ular Sawah terjebak di kepalaku. Dia ingin keluar dan kembali ke alamnya. Dia mengatakan begitu.”

“Lantas kamu menanggapi gimana?”

Aku langsung tertawa.

“Hah? Tertawa? Tega sekali kamu.”

“Di mana letak teganya?”

Kamu benar juga. Di mana letak teganya. Waktu itu kita belum benar-benar tahu apa yang terjadi pada Niko. Mungkin sama halnya dengan apa yang dulu kamu ceritakan padaku. Perihal kamu yang langsung tertawa ketika Niko mengatakan ingin pulang ke desa, tinggal di sana dengan hidup bertani. Bahkan seingatku, kamu menceritakan sempat mengucap serapah menanggapi keinginan Niko itu. Kamu pikir, peralihan profesi dari pekerja kreatif di sebuah stasiun televisi di Ibu Kota lantas menjadi petani di desa adalah sesuatu yang lucu. Mungkin menurutmu tak ada korelasinya sama sekali. Kalau sekadar penulis cerita, mungkin masih bisa, karena menulis dapat dilakukan di mana pun, termasuk di desa yang paling pelosok sekali pun.

“Hm. Tapi waktu itu ekspresi Niko gimana?” tanyaku.

“Dia tampak serius,” sahutmu.

“Maksudnya?”

“Iya. Waktu itu dia bilang apa yang dikatakan itu serius.”

“Lantas?”

“Pada saat itulah, seharusnya aku bisa mengerti apa maksudnya.”

“Sekarang aku yang tidak mengerti apa maksudmu.”

“Andai kita tahu apa yang terjadi pada diri seseorang, kita bisa melakukan sesuatu yang mungkin dapat berarti bagi seseorang itu, tapi karena kenyataannya kita tidak tahu ceritanya hingga kita tidak melakukan apa pun,” terangmu.

Ah, kupikir dalam hal ini yang main perasaan itu kamu. Karena jika kamu sudah tahu begitu, mengapa kamu masih memasalahkannya? Bukankah waktu itu kita memang tidak tahu  kalau Niko menderita kanker otak. Kupikir jika kita tahu pun sebenarnya kita tidak bisa melakukan apa pun terhadap penyakit itu.

“Kamu hanya terbawa perasaan,” sahutku.

“Bukan.”

“Terus, apa namanya kalau itu bukan terbawa perasaan?”

“Ya itu tadi. Aku terlambat menyadari, sebenarnya dia sudah berusaha memberitahu keadaannya kepada kita.”

Dengan keanehan-keanehannya waktu itu? Sepertinya ada yang salah pada pemikiranmu. Karena menurutku, apa yang terjadi pada perilakunya, sesungguhnya di luar kontrol dirinya. Dan aku yakin jika dia dalam keadaan sadar, tentu saja dia akan melakukan sesuatu yang wajar, dan kita tidak akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh.

“Kupikir kamu harus merelakannya.”

“Aku sudah ikhlas.”

“Lalu mengapa kamu masih merasa kecewa? Bukankah takdir seseorang tidak bisa diubah?”

“Maksudmu tentang apa?”

“Kematian, kan? Dan kita tidak bisa menghindarinya.”

“Siapa bilang aku memasalahkannya? Yang kupikirkan hanya tentang pengertian dan sikap antar sahabat. Bukan tentang kematian.”

Kulihat kamu seperti tersinggung dengan pernyataanku. Rupanya aku memang tidak mengerti apa yang membuatmu kecewa dalam hal ini. Aku takut membuat hal yang sebenarnya sepele itu akan memperunyam keadaan. Sejak kamu mengatakan itu aku tidak lagi mengusikmu perihal Niko. Dan kupikir dia sudah nyaman di rumah Tuhan. Dengan membiarkanmu berlama-lama bernostalgia bersamanya kupikir lebih bijaksana. Lima belas tahun pertemanan kalian tentu saja telah melewati banyak riuh rendahnya masalah dan pengalaman.

“Jika bisa, sebenarnya aku hanya ingin meralat satu hal,” katamu setelah beberapa waktu berlalu.

“Ini tentang apa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Tentang sikapku terhadap Niko.”

“Oh.”

“Andai saja kita bisa mengulang waktu.”

“Maksudmu?”

“Aku hanya ingin menghapus tawaku, saat Niko mengatakan tentang Ular Sawah di kepalanya itu,” terangmu.***

Mengenang Niko.




=====================
Yuditeha, penulis, penata rambut, tinggal di Karanganyar Jawa Tengah. Pendiri ideide-id.

Kesaksian Lakasse

0


Menggelesot di lantai, di samping Undung yang menggigil ketakutan, Lakasse butuh berpuluh kali mengatur hela napas baru mampu bercerita. Ia bilang ke polisi, ketika kakinya hendak menjejak anak tangga pertama terdengar suara letusan, dan ia yakin saat itulah kepala Tuan Bulke ditembus peluru. Masih separuh dari tiga belas anak tangga menuju lantai dua, tempat kejadian itu, belum ia jejaki, saat dua orang muncul tergopoh dari atas. Kedua orang itu sampai melompati dua anak tangga sekaligus setiap melangkah ke bawah. Ia mengaku mengenal kedua orang itu seperti ia mengenal Undung.

Sampai di atas, demikian ia meneruskan ceritanya, ia masuk ke tempat kejadian dan mendapati Undung menggigil serupa meriang. Tubuh Tuan Bulke ada di lantai, duduk bersandar ke tembok, kepala terkulai dan dinding di belakangnya bernoda percik darah. Tersentak melihat kondisi tubuh blasteran bule itu, sontak membuat baki yang menadah empat gelas kopi yang ia antar lepas terpelanting.

Bermaksud mengkonfrontir keterangan yang Lakasse berikan, polisi berpaling ke Undung. Yang ditatap hanya mangap, tanpa ada kata tercetus dari mulutnya, dan lama baru polisi menyadari Undung ternyata gagu.

***

Lakasse merasa hidupnya betapa sial. Ia ada di tempat yang salah pada saat yang salah pula. Tak usai-usai ia termangu dirundung sesal. Kisruh pikirannya kian kusut kasau saat ada teman membisiki, “Kalau keteranganmu di depan polisi tidak meyakinkan, bisa-bisa kamu yang jadi tersangka.” Lakasse bergidik membayangkan bila ia yang harus diterungku sebagai pembunuh Tuan Bulke.

Undung masih saja panik. Tak mungkin mengorek keterangan darinya. Di depan polisi yang memeriksanya, Undung malah kehilangan kemampuan berbahasa isyarat. Gerak tangan dan geletar bibirnya tak terpahami. Sesekali dia melempar pandang ke arah Lakasse, seakan minta dibantu. Dalam gigil ketakutan akibat impitan syok, akhirnya dia dirawat di rumah sakit.

Anca dan Dengka, dua saksi lain yang ada di tempat kejadian dan sempat berpapasan dengan Lakasse di tangga, langsung pula menghilang, dan selang dua hari Anca malah menyusul jadi mayat. Tubuhnya ditemukan menggembung terapung di bawah jembatan. Dugaan serampangan mengatakan Anca terjatuh, atau malah sengaja menceburkan diri ke dalam luap air sungai karena tekanan insiden tertembaknya Tuan Bulke. Sedang Dengka, masih belum ditemukan. Runtunan kejadian itu membuat posisi Lakasse kian sulit; ia jadi satu-satunya saksi yang bisa dimintai keterangan.

Akal Lakasse jadi mampet. Saat termangu, teman yang bersimpati kembali membisiki, “Lebih baik kamu minta pengakuan langsung dari kedua almarhum.”

“Dia kan sudah mati?” Lakasse mengerucutkan hidung, mengernyit.

“Sini, kuajarkan caranya …,” temannya menjelaskan. “Ingat, orang yang semasa hidupnya baik pada kita, biasanya setelah dia tiada, arwahnya akan baik pula pada kita. Aku yakin mereka bisa membantu melengkapi kesaksianmu.”

Serupa api, semangat Lakasse mulai murup. Tuan Bulke dan Anca yang telah tiada itu, saat hidup memang baik padanya. Malah suka memberinya tip. Sontak ia berpikir, arwah keduanya tentu baik pula padanya, pasti bersedia memberi tahu kronologi kejadian agar ia terelak dari kemungkinan jadi tersangka.

***

Sehari jelang agenda pemeriksaan, Lakasse memutuskan menemui saja arwah kedua almarhum. Seorang diri ia datang ke pekuburan. Pucuk dicinta, bulan sedang berbaik hati mengirim sebagian cahayanya, membuat ia tidak sulit menemukan posisi nisan yang ia cari. Ia hadir pada penguburan keduanya, jadi ia tahu di mana nisan mereka terpacak.

Nisan Tuan Bulke berada pada tanah menanjak di sisi bukit. Sedikit ke bawah, pada tanah landai, tempat Anca dikuburkan. Lakasse yakin arwah keduanya belum ingin terlalu jauh dari jasad masing-masing, dan tentu mau menemuinya. Berjongkok di antara nisan itu, sedikit lebih dekat ke nisan Tuan Bulke, ia mencoba memusatkan pikiran: dengan khidmat mengenang wajah dan sosok kedua almarhum.

Di sela riuh kerik serangga malam yang saling-timpa, ia berharap akan muncul pula suara-suara pelan arwah itu. Namun, hingga separuh malam terlampaui, sampai bagian kulitnya yang terbuka mulai perih dicucuki nyamuk, yang ia harap tidak terjadi. Jangankan bisik lirih, tanda-tanda keberadaan makhluk dari dunia gaib, dengan ciri bulu tengkuk meremang, tidak juga ia rasakan. Yang meremangkan bulu di lengannya hanya embus angin, membuatnya menggigil.

Dingin dan perih pada permukaan kulitnya, membuat Lakasse menyerah. Sempat terpikir untuk mengubah posisi, sedikit lebih merapat ke nisan Anca, tapi ia urungkan begitu ada pikiran lain melintas di benaknya: jangan-jangan arwah kedua orang itu malah masih berkeliaran di tempat kejadian?

***

Sejak peristiwa penembakan di salah satu unit pada gedung itu, sebagian penyewa memilih pindah, membuat beberapa bagian bangunan agak gelap. Lakasse masuk dari bagian belakang gedung. Kamarnya menyempil di pojok, dari mana ia bisa menyusuri lorong menuju tangga ke lantai dua. Sembari membesarkan hati bahwa arwah kedua orang itu masih ada di dalam ruangan, siapa tahu malah sedang bertengkar, ia mendorong pintu yang tidak rapat dan menunduk dari garis polisi. Ia masuk, berharap segera mendengar pertengkaran itu.

Unit yang disewa Tuan Bulke sedikit lebih besar dari yang lain, memiliki ruang tamu tersendiri. Lakasse bingung ketika ada di dalam. Apa sebaiknya berteriak saja memanggil arwah itu? Nyala bohlam di atas kepalanya redup, memaksimalkan belalak matanya. Bercak darah yang sudah mengering di dinding sempat ia lirik, sebelum duduk di kursi. Ia menduga kursi itu yang diduduki Tuan Bulke sebelum ditembak.

Sebagai petugas pembersih, senyampang ia bertugas kerap pula dimintai jasanya oleh penyewa untuk dibuatkan kopi atau mi siram, kadang juga membelikan rokok. Makanya ia cukup mengenal Tuan Bulke, termasuk ketiga tamunya yang sering berkunjung. Seraya menduga-duga saat kejadian mungkin Tuan Bulke sedang marah, lalu berdiri dan bergeser ke sisi kiri kursi sebelum terempas ke tembok oleh sentak peluru, Lakasse melengketkan tengkuk ke sandaran kursi. Ketika ia rasakan bulu-bulu di kuduknya meremang, ia yakin arwah korban sudah masuk ke dalam ruangan.

Segera ia bertafakur, berupaya lebih dalam mengenang sosok kedua almarhum. Ia berharap sebentar lagi ada di antara kedua arwah itu yang berkenan mengajak bercakap, atau lebih bagus bila mereka saja yang bertengkar, agar ia bisa menyimak apa yang menjadi penyebab sampai kepala Tuan Bulke dilubangi peluru. 

Namun, dalam detak jam demi jam tubuh Lakasse terhenyak di kursi, jangankan mendengar bisik paling lirih, kehadiran arwah itu malah ia rasa menjauh. Remang bulu di kuduknya hilang, membuat ia menduga arwah itu tidak berkenan melakukan persamuhan karena ia ada di situ.

Dalam dera lelah dan kantuk yang tak kuat lagi ia tahan, ia tertidur. Saat sedang tertidur itulah ia baru bisa melihat arwah itu datang, berebut memberi penjelasan: sangat riuh, saling tunjuk dan saling bentak, sebelum diakhiri suara letusan pistol. Suara itu membuat Lakasse terlonjak dari kursi.

Matanya memicing ke arah kaca jendela yang sudah benderang. Kepalanya terasa pengar. Perlahan ia sadar telah tertidur hingga pagi. Dugaan suara letusan yang membuatnya terlonjak bangun cuma suara empas salah satu pintu yang berjejer di luar, buru-buru ia sisihkan.

***

Dengan semangat berlambak, Lakasse membabar pengakuan di depan polisi, “Anca, Dengka, dan Undung itu, memang sering datang ke tempat Tuan Bulke. Ketiganya ke situ untuk bermain kartu … berjudi, maksud saya. Dan Tuan Bulke selalu saja menang, sedang tamunya selalu kalah. Oya, Tuan Bulke itu kerjanya memperanakkan uang … maksud saya, membungakan uang, semacam rentenirlah. Jadi, setelah kalah dan masih ingin bermain, ketiga tamunya akan meminjam uang dari Tuan Bulke. Pinjaman itu berbunga sangat tinggi. Begitulah seterusnya, berulang-ulang. Akibat selalu kalah, dan terus juga minta tambahan pinjaman, membuat utang ketiga tamunya makin menumpuk. Karena kesal, mulai pula curiga, ketiganya lalu menuding Tuan Bulke telah membodohi mereka. Ketiganya seia-sekata menuduh Tuan Bulke menggunakan trik-trik sulap pada kartu-kartu permainan mereka, sampai mereka selalu saja kalah dan cuma Tuan Bulke yang selalu menang. Akhirnya mereka cekcok, ribut saling tuding. Dengka dan Anca lalu bersepakat mengeroyok Tuan Bulke. Tuan Bulke buru-buru menarik laci, mengambil pistolnya. Kemudian terjadi perebutan pistol itu. Dengka yang berhasil merebut pistol, langsung mengarahkan ke Tuan Bulke, tapi Anca menghalangi. Anca tidak ingin bila sampai harus menembak tuan rumah, makanya dia berusaha merebut kembali pistol itu. Undung ikut pula membantu, kembali terjadi rebutan dan … pistol itu meletus….”

Lakasse merasa baru saja melepas impit cekik di leher. Namun, pertanyaan polisi kemudian, serasa memberi cekikan lain. “Bukankah sebelumnya kamu bilang tidak melihat kejadian itu?” 

Buru-buru melonggarkan napas, Lakasse membalas, “Arwah mereka, yang telah mati itu, yang datang dan menjelaskan pada saya, Pak. Percayalah, Pak, tidak seperti orang hidup, arwah pasti tidak pandai berbohong.”

Seperti menemukan sesuatu, polisi menatap tajam ke arah Lakasse. ***



====================

Pangerang P. Muda menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Telah menerbitkan 3 buku kumpulan cerpen, yang terbaru Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Menjadi guru SMK dan berdomisili di Parepare.  

Di Kebun Nam-Nam

0



Di kebun nam-nam aku melihat kenangan. Seperti dekatnya tiap butir buah yang menggelayut di batangnya, rapat-rapat, serupa itulah kita membilah hari-hari di masa lampau. Ini tepat dua belas purnama, sejak pertama kali kita dipertemukan di pesta Wak Iyah. Kau berbalut kerudung merah, dengan sepeda phoenix biru yang tampak selalu baru. Lina, kau datang menyapa hari-hariku yang kelabu. Di tumpukan kopra yang menggunung, dalam munggu-munggu kelapa yang naik turun, wajahmu adalah kehidupan. Untuk aku, si penggalas kopra yang sehari-hari berkayuh sampan dalam sungai, engkau adalah purnama dalam temaram.

Kenapa aku bertaruh harap pada rasa yang berkelindan di pikiran? Tak lebih sebab pesona yang kian bertaburan padamu. Petang itu, aku melihat serombongan kanak-kanak memanggul bangkar-bangkar kering sebagai pelita bila malam tiba. Mereka berangkat ke rumahmu saat gelap hendak menjelang. Jalanan berlempung, sebagian gawangan kebun kelapa terendam air. Kaki mereka berlumpur, bau tubuh mereka langu. Tetapi wajah mereka seperti bersinar. “Kami ondak pogi mengaji tompat Buk Lina,” mereka tertawa-tawa, gembira.

Aku memang bukan siapa, hendak memendam rasa terlalu lama pada engkau penyentuh jiwa. Bila pagi tiba, waktuku hanya habis di tumpukan tempurung dan belahkampak. Kisaranlah tujuanku. Mengantar kopra berkarung-karung, itupun bila kelapa tak langkas. Adakalanya tukang kait memberi kabar buruk, tak ada kelapa hendak diturunkan. Maka, alamatlah aku hanya menjadi penjaga munggu. Mengenangmu dalam segenap rindu. Kehidupan bagiku hanyalah pertaruhan soal setumpuk nasi yang tersaji di pinggan. Terlampau rumit, hingga terkadang mengkhayal perihal perempuan menjadi satu kemustahilan.

Bila malam, kita pun dikurung kerinduan. Kegelapan membatasi kita dalam hujan yang turun meneduhkan kegelisahan. Bila angin darat datang, seperti itulah rasa hendak kukirim. Padamu yang tentu saja tengah menemani kanak-kanak di depan alif-alif yang mereka baca. Kau perempuan yang asing dengan malam, menunggumu hanya di musim terang. Dan bila kegelapan menjelang, kita hanya dipertemukan dalam impian. Seperti itulah kebaikan, sopan santun yang amat terjaga pada setiap tingkah yang kau tunjukkan. Kebahagiaanku hanyalah pada mengenangmu. Lalu sesekali bertemu curi-curi, dalam pandangan yang sepintas lalu. Tetapi aku begitu percaya, akulah bidadara yang selalu kau pinta dalam doa-doa.

***

Ini hari yang menggembirakan. Ada pesta perkawinan di kampung. Orang-orang akan datang berkunjung, dan akupun akan menantikan kehadiran Lina. Ia perempuan yang selalu dekat dengan bumbu-bumbu. Perempuan itu akan duduk bersama perempuan-perempuan lain yang lagan di rumah orang yang berpesta. Selepas menggalas aku akan datang ke pesta. Bukan untuk berbaris seperti undangan pada umumnya, tetapi sekadar mengaduk nasi dalam dandang besar. Inilah waktu yang dinanti-nanti, saat aku dan Lina bisa beradu pandang dalam sedapnya aroma masakan. Dan siang itu aku benar-benar melihat Lina dengan kerudung merahnya. Matanya merah berlinang. Rupanya perempuanku tengah tunak dengan potongan-potongan bawang. Semakin merona pipi perempuan itu, semakin pula tertunduk hatiku.

“Denan, cobalah kau bawa hidangan ke depan,” pemilik rumah memanggilku. Tugas menghidang dijatuhkan padaku. Ini hal yang kutunggu. Di mana aku bisa lalu-lalang di depan Lina, dan ia pun tentu akan ceria. Aku pun bergegas membawa talam. Dalam sajian kolak pisang merah, pajri nenas dan ayam masak putih. Hidangan dengan aroma yang tak terlupa, tetapi tak serupa aroma kerinduanku pada Lina.

“Tengok jalan baik-baik, Denan.”

Aku terkejut. Seorang bujang kampung berbaju putih memegang talam yang kupegang. Ia tersenyum mengalihkan pandangan.

“Kau tukang galas kopra di kebun Haji Somad?” ia bertanya.

Aku masih tak mampu berucap. Lelaki itu terus menatapku. Tangannya memapah talam yang kubawa dengan jemarinya.

“Bawalah makanan itu ke depan.” Ia berucap lagi sambil berlalu. Dan aku semakin tak mengerti dengan tingkah bujang itu. Aku berlalu, sejenak kulupakan bujang itu. Lalu aku kembali teringat Lina. Kucari-cari dalam pandangan, kemana ia menghilang. Dan senyumku mengembang saat menyaksikan seraut wajah Lina dengan kerudung putih dan baju kurung putih telah duduk di bagian depan pelamin. Ia menemani pengantin yang hendak berkhatam Al Quran. Demi jiwa yang mempunyai rasa, sungguh perempuan itu amat sempurna. Demikianlah hayalanku terus hanyut, pada perempuan berkerudung putih yang kini ada di depanku, bukan lagi di hayalan-hayalan malam yang terbentang. Ia benar-benar telah ada di hadapan.

Aku terus terbuai dengan pandangan mata. Dan saat orang-orang ramai di belakang, membincangkan makanan-makanan yang terbuang. Aku tersentak. Beberapa orang membawa talam-talam hidangan ke belakang. Makanan-makanan itu ditumpahkan dan dibuang. Termasuk talam yang kubawa ke depan.

“Ada apa?”

“Seperti biasa ada yang membuang.”

“Racun?”

“Ya, di depan sudah ada pawang.”

Lina? Bagaimana Lina? Seketika aku teringat perempuanku. Lalu bergegas aku datang ke arahnya. Dan kulihat perempuan itu hanya diam menyimak bacaan-bacaan mempelai. Hanya ada segelas air putih di hadapannya. Tuhan memberi kebaikan tak terkira. Lina tak makan makanan itu, dan aku pun bersyukur.

***

Aku tak mampu menanti lebih lama. Perihal rasa yang terus menumpuk-numpuk di setiap malam, semua ini harus diluahkan. Aku bukanlah bujang tanpa pemikiran panjang. Ini sudah lima kali musim panen kelapa, semenjak uangku kutabung dalam mug beras di lemari kamar. Uang itu kukumpulkan sebagai tanda rasaku yang benar-benar ingin bersama Lina. Aku tahu, adat istiadat teramat sulit bersahabat dengan penggalas kopra macam aku.

Bayangkan, saat datang ke rumah perempuan, kau akan ditanya soal isi kamar. Ada balai, lemari, tilam, pakaian dan apa saja yang bisa dimasukkan ke bilik pengantin. Semua itu akan dibebankan pada para bujang. Entah itu keadilan atau adat istiadat yang harus dipertahankan, tetapi bagi bujang macam aku tentu harus bersabar dari waktu ke waktu. Setiap pagi kujenguk tabunganku. Sudah berapa lembar kiranya yang ada dalam mug itu. Apakah bertambah, atau malah berkurang pada masa aku tak sadar?

Aku mengira-ngira, seandainya uang ini dibawa ke pajak di Kisaran, tentulah ada beberapa hantaran yang bisa kubeli. Aku berkerah-kerah, lalu kuingat wajah Emak Lina, sebenarnya ada sedikit beraliran darah Jawa, mungkin saja ia bisa menerima sedikit kekurangan dari hantaran ini. Atau yang lebih mungkin memberikan aku tempo beberapa bulan melengkapinya. Akankah bisa? Aku berkaca sejenak. Memandang wajah yang sebenarnya tak layak. Tetapi bukankah rasa bisa membuat orang berbuat apa saja, terlebih lagi pada sesuatu yang mengantarkan dirinya pada cinta?

Aku terus saja mengira-ngira. Di bawah batang kelapa yang masih muda aku menghirup angin. Setidaknya, ini hari terakhir aku akan begini. Esok tanggal muda, kukira saatnya untuk mencoba datang ke rumah Lina. Sebab bila terus menanti, aku tak tahu apa yang bakal terjadi. Bagaimana jika telah ada tambatan hati Lina yang ia diam-diamkan di hatinya. Atau pula Emak dan Ayah Lina terpukau matanya dengan hantaran bujang lain yang lebih banyak jumlahnya. Maka aku menghibur diri dengan bersahabat pada angin. Memejamkan mata, merasakan desirannya yang datang di balik bambu-bambu rimbun di seberang munggu. Mataku memandang jauh, di sebalik pohon-pohon kelapa yang rindang itu, di sanalah rumah Lina. Hanya terlihat bubung rumahnya saja dari tempat aku merebah badan. Itupun sudah cukup menalangi rinduku pada perempuan itu. Menatapnya tersenyum rasa, memandangnya terhirup aroma kehidupan yang lebih nyata. Aku pastikan, esok aku akan datang, Lina.

***

Ini pagi yang paling kunanti. Dengan subuh yang awal aku memintal harapan, doa-doa hingga fajar datang. Tak ada sesiapa hendak kubawa menghadap Emak Lina. Hanya keinginan yang begitu bergelora. Aku membawa keikhlasan, pada rasanya yang telah kutumpahkan sekian masa, dalam diam yang selalu kujaga. Bukankah menjaga rasa itu terasa bahagia ketimbang meluahkan tetapi berbuah hinaan?

Inilah masanya, di mana aku akan berhujan air mata atau berseri-seri harinya. Aku memandang ke cermin. Bagaimana bila nanti aku datang, ternyata bilik-bilik rumah Lina telah penuh dengan ranjang hantaran, bisa jadi dan mungkin saja terjadi. Maka hatiku pun semakin berdebar. Siapalah bujang macam aku, tiada benda dan tiada nama. Tetapi tiada yang tidak mungkin dengan doa? Bisa saja Emak Lina justru tak berharap apa-apa, memudahkan segalanya. Dan alamatlah aku akan gembira. Bisa jadi dan mungkin saja terjadi.

Aku berkemas. Dengan sebuah kemeja putih paling baru yang sengaja kubeli di pajak Tanjung Balai, petang semalam. Aku menata rambut, sedikit bergaya. Kubayangkan model rambut ayah Lina dulu, barangkali setakat mirip dengannya akan membuat Emak Lina merasa dekat, dengan sosok yang mungkin saja akan segera jadi menantu. Aku tertawa, begitu besar harapanku, seperti doa-doa petang semalam.

Ini hari yang baik, saat jalanan kering. Lumpur seperti bahagia menemani langkah-langkahku menuju rumah Lina. Rumah dengan rumput jepang yang luas dan hijau, varnish papan yang selalu berkilau. Tempayan besar yang selalu berisi di bagian depan talang rumah. Aku tersenyum. Barangkali tak lama lagi aku akan bermaustutin di sini, tinggal bersama Lina dan keluarganya. Aku berjalan mendekat, seperti ada keriuhan di dalam. Tetapi tak mungkin aku melongok pada tingkap yang tirainya tersingkap. Sejenak keriuhan itu hilang. Aku pun memberanikan diri mengucap salam.

“Assalamualaikum.”

Sekali saja, lalu hening. Dan aku tak mau kalah dengan rasa ragu di hatiku, maka kuucapkan lagi salam itu. Terus hingga lebih dari tiga kali. Semestinya aku pulang, sebab tak ada jawaban. Tetapi ada langkah-langkah di papan rumah yang terdengar. Seseorang membuka pintu.

“Denan…”

“Ya, Wak, ada hal yang ingin saya sampaikan. Bolehkah kiranya saya bertandang sejenak?”

Emak Lina terdiam, tetapi kemudian ia membuka pintu dan mempersilakan masuk. Aku bahagia sebab tak ada penolakan seperti yang membayangi ketakutan hatiku.

“Ada apa, Denan?”

“Maafkan saya, Wak, sebenarnya maksud hati saya kemari hendak bertemu Lina.”

“Oh ya, ada apa kiranya?”

“Kalau kiranya masih ada kesempatan, saya ingin sekali melamar Lina sebagai istri saya. Maaf jika lancang, tetapi saya hanya ingin datang dengan rasa terus terang.”

Emak Lina lagi-lagi diam. Tetapi senyum tetap mengembang di wajahnya. Dan ini pertanda baik, aku pun terus bicara tentang hal-hal yang kupikirkan.

“Soal hantaran, saya sudah siapkan. Tapi mungkin masih belum lengkap. Wak tak perlu khawatir, dalam tiga kali musim kait, saya akan bisa memenuhinya. Dan soal perkawinan pun saya akan usahakan kita bisa mengundang qosidah.”

Hening. Dan kegelisahan mulai terasa di hatiku. Emak Lina hanya meneguk air, bahkan tanpa mempersilakan aku minum.

“Wooooiiii cilakoooo, cilakoooo kaaaauuu! Kemano kau pogi? Cilakooooo!”

Sebuah suara melengking dari balik kamar. Aku tersentak, sebab aku ingat siapa pemilik suara itu. Cepat aku berdiri hendak melihat ke dalam.

“Tak perlu kau ke dalam, Denan, cukuplah kau tau di sini. Lina kini terkena puako. Si Rustam guna-guna dia sebab dia menolak cintanya. Dia cuma diberi air putih saat pesta perkawinan, tetapi sampai kini Lina terus begitu. Ia bahkan kami rantai di kamar.”

Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Emak Lina membuka pintu kamar. Di sana gadis yang mendiami hatiku seolah-olah telah berubah menjadi hantu yang menyeramkan. Rambut perempuan itu berserakan, matanya tajam dan liar. Mulutnya menggeram-geram dan bersuara tak jelas. Hatiku hancur, dan entah kemana hendak kulabuhkan segala rasa yang telah mengendap di jiwa. Perempuanku kini tinggal kenangan.(*)

=======================
Nafi’ah al-Ma’rab merupakan nama pena dari Sugiarti. Berdomisili di Pekanbaru, Riau. Cerpen-cerpennya dimuat di Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos, Padang Express dan sebagainya. Pemenang lomba nasional seperti Green Pen Award 2019 oleh Raya Kultura. Pemenang Lomba Cerpen Nulisbuku dan Kemenegpora tahun 2012. Selain cerpen, juga menulis novel, di antaranya Lelaki Pembawa Mushaf (Tinta Medina 2016), Suraya (Bhuana Ilmu Populer, 2018), Luka Perempuan Asap (Tinta Medina, 2016).

Kakek Yiu Wai Ip

2

“Dia terjatuh di kamar mandi. Lalu pingsan dan koma selama dua hari. Begitu ia tersadar, namamulah yang  ia cari. Jadi, kapan kau akan ke Hong Kong? Kungkung (1)sangat berharap kau kembali.”

Pesan singkat dari Atin,  perawat kungkung di Hongkong kubaca berulang kali. Aku tidak bisa mempercayai atau aku memang tidak siap atas apa yang diucapkannya. Pesan singkat itu berdengung di kepala, juga di dada.

Sampai akhirnya, ama memanggilku dari dapur. Aku mendapatinya sedang mengaduk masakan dengan aroma  menguar ke seluruh ruangan. Kulihat di wajan ada kapulaga, daun kari, dan kembang lawang. kemudian satu tangannya meraih daging sapi yang sejak siang sudah kurebus dengan panci presto. Aku berdiri di sampingnya, dengan maksud ingin meneruskan masakan, tapi dia menolak dengan satu tangan terangkat persis di depanku.

Dia membalikkan badan dengan cepat, lalu mengambil bubuk jintan, bubuk kunyit yang berjejer rapi di rak bumbu. Dengan cepat dituangkan kedua bubuk rempah tersebut. Kemudian,  tangannya meraih beberapa sendok curry powder yang sejak mula sudah kusiapkan di meja. Tangannya mengaduk kembali. Diusapnya peluh dengan punggung tangan. Dia tampak kelelahan.

“Tidak semua orang Singapore bisa memasak,” Ama membuka pembicaraan.

 Aku diam.

“Kau tahu,  kari  buatanku rasanya juara. Keluarga besarku menyukainya. Kau harus cermat belajar masak dariku! Kau beruntung bekerja di sini.”

Tangannya meraih gelas yang berisi susu bubuk yang sudah kularutkan. Dituangkan perlahan ke dalam kari. Tangannya  mengaduk kembali, lalu dia mengibaskan tangannya di atas masakan. Hidungnya menghidu dengan cermat setiap detail aromanya.

“Kau sepertinya ada masalah. Sejak tadi kuperhatikan kau diam,” Ama menilik pandangku.

“Aku tidak apa-apa, Ama.”

“Kalau begitu, tolong belikan aku asam kandis. Di rumah habis. Aku akan memasak asam pedas ikan pari,” ama mematikan kompor, kemudian mengambil 2 dolar uang Singapore.

Aku melangkah dengan kaki kebas menuju daun pintu dan segera pergi ke kedai. Berulang kali pesan itu membuatku teramat pening. Memoriku memutar ulang kejadian yang memilukan, sekaligus membuatku bersyukur telah dipertemukan dengan seseorang sebaik Kakek Yiu Wai Ip.

Ketika itu, dengan koper kecil yang kutarik dan tas punggung berwarna hitam di pundakku, aku meninggalkan rumah majikan di Taipo. Aku memutuskan kontrak dengan majikanku yang memiliki 3 pembantu. Aku pikir pilihanku benar, karena  intimidasi yang selalu kuterima dari dua pembantu lainnya.

Majikanku mengantarku menuju agency dengan Alphard berikut sopirnya, setelah aku menyodorkan selembar kertas one month notice(2). Dengan begitu, dia akan memberiku kesempatan bekerja selama satu bulan kedepan dan aku memiliki uang.

Agency yang kuharapkan sebagai tempat berlindung, ternyata membuatku kecewa. Dia memojokkanku dengan menumpahkan seluruh kesalahan  kepadaku. Argumentasinya mematahkan lidahku untuk membela diri. Dan aku hanya diam menunduk memandangi nat-nat lantai. Sampai akhirnya, aku tidak mendapat uang pengganti interminit(3). Aku kebingungan memikirkan lima hari kedepan akan mengisi perutku dengan apa.

“Kau boleh pergi sekarang dari kantorku!” tukas agencyku dengan ketus. Kukira, dia akan mempersilahkanku untuk tinggal di boarding house(4) miliknya dan mencarikanku majikan baru.

Kuseret koper dengan langkah gontai menuju Stasiun MTR(5). Mungkin di sana, aku bisa berpikir kemana aku harus pergi. Sampai akhirnya Dompet Dhuafa terbersit di kepalaku.

Dari stasiun Taipo aku mencari kereta jurusan Kowloon Tong. Dan aku turun di Kowloon Tong. Kemudian aku mencari kereta lagi dengan tujuan Prince Edward dan aku hampir tertidur di kereta itu, kalau saja seorang turis tidak bertanya tentang alamat yang dicarinya. Kereta berhenti di Stasiun Prince Edward dan aku mencari kereta jurusan Admiralty. Ini adalah stasiun persinggahan terakhir dengan tujuan Causeway Bay. Tubuhku kembali ditelan badan kereta yang mengantarkanku menuju Causeway Bay.

Sepanjang perjalanan, lampu berpijar menerangi jalan dengan lineria keemasan,  dan juga gedung-gedung yang bersolek dengan cahaya lampu. Sementara, Langkahku panjang-panjang, memburu ruang dan waktu yang bersekutu. Langit tak lagi dipenuhi gemintang, ada mendung yang menggantung di sana. Aku harus segera.

Sialnya aku lupa letak Shelter Dompet Dhuafa, karena memang baru sekali aku ke sana ketika libur beberapa pekan lalu. Entah sudah berapa kali aku naik turun tangga gedung mengetuk satu pintu ke pintu lainnya.

Malam sudah mencapai kepekatannya. Mendung pun sudah siap-siap menumpahkan segala isinya. Aku berjalan menyeret koper dengan lemah. Aku sudah lelah. Kubiarkan saja angin mengusikku berkali-kali hingga akhirnya hujan berjatuhan bagai ratusan anak panah. Menghunjam bumi dan diriku tanpa ampun. Aku terbalut gigil yang amat akut hingga aku tergugu dalam kerasnya kehidupan Hong Kong.

Aku menuju stasiun setelah aku membeli sepotong roti dengan kartu patadongku(6). Aku duduk di  tangga stasiun. Di sana kunikmati rotiku. Hingga pada akhirnya, ada dua pasang kaki melangkah ke arahku. Seorang kakek dengan perawatnya.

Kakek itu memakai baju bergaya vintage berwarna turkuas yang sempat tenar di zaman Benjamin, dikombinasikan dengan rompi cokelat dan celana panjang corduroy cokelat. Kulihat sepatunya amat hitam berkilat terpantul sinar lampu. Tangan kanannya memegangi tongkat, tangan kirinya diapit perawat. Mereka menanyaiku, hingga akhirnya, kakek memintaku pulang ke rumahnya dan akan membawaku terlebih dahulu makan di restaurant. Aku menolak ajakannya. Kurasa, dia memberiku tumpangan sudah lebih dari cukup.

“Kamu hanya makan sepotong roti,” ucap kakek  sambil tersenyum memamerkan putih deretan giginya. Entah sejak menit keberapa kakek itu mengamatiku.

Kakiku mengikuti langkah pelan kakek  menuju Restaurant China yang berada di dalam bangunan Masjid Wanchai di lantai lima. Lalu kakek menuju ke sebuah meja bundar yang besar dengan empat kursi di sana. Kakek duduk di sampingku dan juga di samping perawatnya.

Kakek menulis pesanan, lalu sopir kakek yang berkewarganegaraan Filipina membawa kertas itu menuju meja waiter. Kami menunggu, dan kakek memapah pembicaraan, sehingga suasana menjadi cair. Sedikit demi sedikit kecanggunganku berkurang. Dari pembicaraan inilah aku mengetahui kakek itu bernama Yiu Wai Ip.

Pelayan datang dengan beberapa makanan di  tangannya. Empat bamboo steamer berisi dim sum yang masih mengepul asapnya. Sekeranjang Xiaolongbao(7), tiga piring nasi goreng oriental, dan empat mangkok kecil dong yhun(8).

                                                                        ***

Kakek hidup bersama istri dan perawatnya. Namun nenek lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Tidak ada komunikasi secara intens diantara keduanya. Mereka seolah-olah saling memberi jarak dan jeda. Aku tidak begitu memusingkan perkara ini, karena aku hanya orang yang singgah di rumah ini  dan sekejap aku pergi. Aku lebih memusatkan perhatianku menjaga kakek.

Pada hari keempat aku di rumahnya, kudapati kakek tidak seperti biasanya. Dia amat lesu dan lebih banyak diam. Dia duduk di sebuah kursi di tepi jendela, sementara televisi yang menyala dibiarkan saja.

“Kungkung, bolehkan aku memijat kakimu?” aku memancing suasana.

“Tidak perlu. Kau yakin akan pulang? Kau tidak ingin menuntut hakmu atas majikanmu?” tanyanya kemudian.

“Suamiku bersikeras menyuruhku pulang, Kek. Tanpa memberi alasan. Aku harus melupakan segalanya, dia memintaku.”

“Aku sedih kau hanya memiliki waktu lima hari di sini. Besok kau akan pulang. Aku seperti menemukan sesosok anak pada dirimu,” kakek berbicara dengan kekenesan yang berlebihan.

“Kau sungguh memiliki kemiripan dengan anakku, Yani,” kakek merogoh potret ukuran kecil dari dompet. Disodorkannya potret itu kepadaku. Sesosok gadis kecil berkepang, dengan kulitnya berwarna tembaga. Kulirik kulitku. Sama. Ah, ini hanya kebetulan.

“Aku harus berpisah darinya ketika ibunya memutuskan untuk pulang ke Indonesia, selamanya. Saat itu dia berusia 4 tahun. Namanya Yani Yiu Ip,” Kakek menggaruk lengan, aku segera mengambil cream gatal lalu kuoleskan ke lengannya. “Sama seperti namamu, kan?” kedua matanya menatapku.

“Namaku Yani Lestari, Kek.”

Dia diam cukup lama. Matanya berkaca-kaca lalu tangan kanannya mengibas, “Sudah tidak usah dipikirkan!”

Dia diam cukup lama. Matanya berkaca-kaca lalu tangan kanannya mengibas, “Sudah tidak usah dipikirkan!”

Aku langsung mengaitkan ketidakacuhan nenek kepada kakek. Apakah ini sebabnya? Pikiranku dipenuhi segala kemungkinan-kemungkinan.

“Jadi, kau memiliki dua istri, Kek?” tanyaku berusaha memancing jawaban untuk memastikan kemungkinan-kemunginan di kepalaku.

“Kau mengintrogasiku, Yani?” Kakek terkekeh, “Yah, memang. Perempuan Indonesia itu juga istriku.”

                                                                ***

Pagi itu tepat pukul 4 aku bersiap-siap untuk meninggalkan rumah Kakek. Kakek masih di kamar, mungkin dia masih tidur. Neneklah yang menemaniku. Sampai pada akhirnya, kakek berjalan gontai mendekatiku. Kulihat dia sesenggukkan. Bening air matanya membanjiri pipi, ia serupa anak kecil yang hendak ditinggal ibunya. Nenek entah mengomel apa melihat tingkah kakek. Karena suaranya yang cedal sulit bagiku untuk memahami pembicarannya, terlebih kantonisku sangat minim.

Kakek mengulurkan sejumlah uang. Aku hanya mematung.

“Ambil! Aku tahu kau tidak membawa uang. Apa yang akan kau katakan kepada anakmu jika kau kembali tanpa coklat, permen, atau mainan?” Kakek mengusap ingusnya.

Aku menatap ke arah nenek. Kulihat mulutnya merucut dan ia mulai menyadari aku menatapnya, “Ambilah, Yani! Untuk anakmu.” begitu ucap nenek akhirnya. Entah karena merasa tidak enak denganku atau memang dia menimbang-nimbang perkataan kakek.

***

Aku memutuskan mencari penerbangan tujuan Hong Kong. Aku hanya ingin menyambangi  kakek, setelah mengantongi izin dari majikanku di Singapore.

Mataku nanar ketika aku telah berada di Queen Elizabet Hospital, kakek dirawat di sana. Terakhir Atin mengabarkan, jika kakek masih dalam keadaan kritis, tidak kunjung membaik dan masih sering mencariku.

Aku melangkah masuk melewati security yang berjaga,  ia segera menghadangku, meminta ID Cardku(9) dan kartu pengunjung. Aku mengambil ID Card tanpa bisa menunjukkan kartu pengunjung. Dia menolak. Aku meyakinkan jika aku ingin menjenguk salah satu pasien yang kukenali. Namun sayang, security itu membuktikan kapasitasnya sebagai pekerja yang baik. Hingga akhirnya aku mengirimkan pesan ke Atin untuk menjemputku.

Begitu aku memasuki ruangan kakek, mataku memutari kamar di mana kakek dirawat, hingga akhirnya pandangku jatuh ke tubuhnya yang terbaring ringkih. Di sampingnya, kudapati nenek dan seorang perempuan yang kutaksir itu adalah anaknya.

“Yani,”  Wajah kakek tak lagi bersinar seperti saat bertemu dengannya di stasiun dulu. Aku mendekatinya.

“Oh, kamu ternyata yang namanya, Yani,” suara perempuan itu tidak bertanya juga tidak memastikan.

“Aku ingin memastikan, apakah kau baik-baik saja dalam perjalanan?” Aku mengangguk, sikap simpatinya tetap konsisten, “Aku tidak ingin kau seperti saat di stasiun.” Kakek menyunggingkan senyum.

Matanya mengerling ke arah Atin, seperti memberi suatu isyarat. Atin mengangguk. Lalu ia memberikan sebuah buku kecil. Semacam buku rekening. Namun, nenek segera menyambar buku tersebut.

“Kamu sebenarnya siapa?” Kedua bola mata nenek menganak sungai.

Mulutku mendadak kelu ketika hendak kubuka, dan kerongkonganku seperti tersumpal.  Aku baru tersadar jika aku berada di tempat yang salah.(*)

Keterangan:

1. Kungkung: kakek

2. One Month Notice: Surat sebulan pemberitahuan. Peraturan Hongkong mengharuskan jika pekerja akan mengakhiri kontrak kerjanya, harus menggunakan one month notice. Jika majikan tidak bisa mempekerjakannya sampai sebulan kedepan, dia harus membayar uang sebulan gaji.

3.Interminit: pemberhentian kerja secara sepihak tanpa pemberitahuan. Jika hal ini dilakukan majikan, maka majikan harus membayar satu bulan gaji dan gaji yang belum dibayar.

4. Boarding house: kos-kosan dan agency harus memilikinya.

5.MTR: Mass Transit Railway, kereta cepat.

6. Patadong: Kartu untuk naik MTR,  bus, dan bisa digunakan untuk berbelanja di beberapa toko.

7. Xiaolongbao: Pangsit isi

8. Dong Yhun: semacam wedang ronde

9. ID Card: Kartu Identitas



====================
Diani Anggarawati Lahir di kota Kendal, Jawa Tengah. Nama pena sebelumnya Diani Ramadhaniesta dan kini lebih nyaman menggunakan nama asli. Beberapa karyanya yang pernah terbit adalah: Hong Kong Bercerita, kumcer (Alif Gemilang Pressindo, 2013), Jejak Kartini di Negeri Beton, biografi TKW berprestasi di Hong Kong (Kaifa Publishing, 2013), Cinta Bertahta, novel (Rumah Orange, 2014) dan beberapa cerpennya pernah dipublikasikan di media berbahasa Indonesia di Hong Kong, Taiwan dan media online di Indonesia.

Terbaru

Sejarah Anggrek di Pohon Mangga

“Ayahku sebatang pohon mangga dan tumbuhan anggrek adalah ibuku,” demikian kata-kata yang berlompatan dari mulutku mendadak menjadi bibit asap pekat yang memenuhi...

Waktu Hanya Sebutir Apel

Dari Redaksi