Pulang

Ingatan pada Satu Nama

Dilarang Menangis

Kutukan Kematian

Cerpen

Home Cerpen Page 2

Tas Rotan di Tangan Sukap

0



Tas rotan berpelipir hiasan lokan dan manik itu sudah tiga hari ada di tangan Sukap. Isinya tetap utuh; dua lingkar cincin emas dan beberapa lembar uang kertas berjumlah tiga ratus ribu rupiah. Ia menemukan tas itu di depan sebuah toko bekas, tempat dirinya biasa istirahat saat lelah mengemis.

Sukap sudah mengumumkannya dengan berbagai cara, ditulis di selembar kertas dan ditempel di tempat-tempat umum, dituturkannya dari mulut ke mulut, hingga minta bantu takmir masjid untuk diumumkan lewat pengeras suara. Terakhir, ia minta seorang pemuda untuk megumumkannya di media sosial. Tapi barang itu tetap tak diparani oleh tuannya.

Setelah sebulan tak ada yang memarani, Anis, istri Sukap mulai menyarankan agar cincin dan uang yang ada di dalam tas itu segera diambil.

“Barang itu kan sudah sebulan ditemukan dan diumumkan, Mas. Jika memang tidak ada yang mengakuinya, berarti barang itu sudah milikmu,” istrinya  meyakinkan Sukap untuk mengambil barang temuan itu, pelan tangannya memungut satu cincin di dalam tas itu, dan mencobanya di jari manis.

“Tidak! Aku tak ingin mengambil hak orang. Barang ini harus kuumumkan hingga purna satu tahun, sebagaimana aturan Islam. Jika satu tahun tak ada yang mengakuinya, aku akan menyerahkan uang dan cincin ini ke panti yatim,” jawab Sukap dengan nada tegas.

“Jadi Mas Sukap tak akan mengambil barang temuanmu ini?” istri Sukap melirik tajam.

“Tidak. Aku tidak akan mengambilnya.”

Istri Sukap lekas melepas cincin yang dicobanya dan menaruh begitu saja di atas meja. Wajahnya memerah. Ia menuju kamar dengan langkah yang cepat, dan menutup pintu keras sekali, hingga pintu yang terbuat dari bambu itu, bagian pojoknya patah, berhambur di lantai.

###

Supat melipat bibir bawahnya ke dalam, rasa haus menimbulkan bunyi mirip air mendidih dari dalam tenggorokannya. Sejak pagi hingga menjelang zuhur, ia hanya sempat minum air, seusai subuh, sebelum dirinya berangkat mengemis. Air yang diambil dari lambung gentong tua bermulut patah itu, ia bayangkan menjadi nasi, demi menyiasati peruntnya agar tak berbunyi.

Seperti biasa, setelah berkeliling di sekitar pasar Anom, ia akan istirahat di sebuah emperan toko bekas, duduk bersandar pada hamparan pintu kayu, sembari melihat lalu-lalang kendaraan, atau kadang menghitung hasil mengemisnya selama setengah hari yang ditampung dalam kantong kain lusuh.

Sukap menguap dan mengucek matanya yangtampak lelah. Ia kembali menyimpul ujung kantong kain lusuh berisi uang receh itu, lalu ditaruh sebagai bantal saat dirinya rebah. Tas rotan yang juga biasa ia bawa, ditimang di atas dadanya, isi yang ada di dalamnya terdengar  samar sedang bergulir-gulir.

Sembari mengamati tas itu, Sukap teringat kepada istrinya di rumah, betapa ia sangat mengharap tas rotan dan isinya itu jadi mililknya. Sejak kemarin ia bahkan mengancam akan kabur jika Sukap tetap tak mau mengambil barang temuannya itu. Sukap pun mulai berpikir, seandainya uang dan cincin itu ia ambil, maka jumlah uang yang ia miliki akan jauh lebih banyak dari hasil tujuh hari mengemis.

Sukap lalu tengkurap, tas rotan itu masih di tangannya, ia amati dengan teliti, bagian samping yang bercelah halus dan rapi, bagian bawahnya beralas tempelan kain songket hijau berjahit sejajar dan teratur. Sukap pun mulai sedikit tergoda untuk mengambilnya. Tapi ia tetap bimbang, khawatir suatu saat pemiliknya datang dan mengambil tas itu lagi. Kadang Sukap beranggapan, tas itu tas ajaib yang memang dikirim malaikat untuk dirinya.

“Jika tas ini kuambil, maka dua keuntungan yang bisa kudapatkan. Pertama, aku punya uang dan cincin. Kedua, istriku akan bahagia dan tidak akan meninggalkanku,” Sukap membatin. Bibirrnya memincuk senyum.

“Tapi, kata guru ngajiku, jika barang temuan yang tidak sampai satu tahun diambil oleh si penemu dan orangnya tidak rida, maka si penemu sama dengan pencuri, ia akan makan uang haram, dan haram itu adalah neraka,” Sukap bergidik, ia menyentuhakan ujung dagunya ke lantai, lurus dengan tas rotan yang dipegang, matanya masih mengamati tas itu dengan teliti.

Sukap memilih lebih baik lapar daripada kenyang dari hasil menjual milik orang lain.

Pikiran Sukap terus melayang, hingga teringat masa kecilnya, tentang almarhum ibunya yang bekerja sebagai penjual sayur. Dulu, ibu Sukap selalu menenteng tas rotan setiap kali pergi ke pasar menjual sayur. Tas itu ia gunakan untuk menyimpan uang dan aneka barang bawaan. Suatu hari, tas itu hilang beserta sejumlah uang yang ada di dalamnya. Pengumuman disebar ke berbagai tempat. Pencarian pun dilakuan, tapi hasilnya sia-sia. Tas itu tetap tak ditemukan. Di detik-detik sebelum mengembuskan napas terakhirnya, ibunya sempat berbisik kepada Sukap, jika suatu saat tas itu ada yang mengembalikan, uang yang ada di dalamnya suruh kasih kepada si penemu dan tas rotan itu jadi milik Sukap. Tapi setelah ibunya meninggal, tak ada yang mengembalikan tas itu. Kini Sukap menduga, tas yang ditemukan dirinya itu kemungkinan tas milik ibunya yang pernah hilang, walau ia juga bimbang, karena mata uang yang ada di dalamnya adalah keluaran baru, lagi pula tas milik ibunya tak berisi cincin.

Sukap bangkit, duduk bersandar kembali ke hamparan pintu kayu, wajahnya tampak didera rasa letih, matanya yang temaram memandang paksa lalu-lalang kendaraan, sesekali ia menguap dan punggung tangannya menggosok pelan bibirnya yang kering. Dan di sela suara keriuhan kota itu, bunyi perutnya terdengar lagi.

Ia memutuskan pulang untuk menemui istrinya. Tas rotan itu ia jinjing, satu genggam dengan kantong lusuh miliknya, seolah dirinya sedang membawa barang yang bisa mengantarkannya ke surga, atau ke neraka.

###

Hari  itu, di rumah bambu yang dibedaki pintalan jaring laba-laba, Sukap purna merasakan luka. Ia duduk lemas pada kursi lapuk yang dijalar sarang rayap, air matanya merembes, menuruti jalur garis keriput pipinya yang tirus. Selain perutnya yang lapar, ditambah satu beban lagi, istrinya kabur dan hanya meninggalkan selembar kertas berisi tulisan, bahwa ia sudah tidak kuat dengan kemiskinan Sukap, ia juga tidak kuat dengan sikap jujur Sukap yang menurutnya kian menambah penderitaannya.

“Andai tas rotan beserta isinya itu Mas Sukap ambil, pasti aku tak akan kabur,” begitu baris kalimat terakhir dari surat yang ia tulis dengan huruf berlarik penuh tikai mirip cacing.

Sukap meraba tas rotan yang ada di sampingnya. Memandanginya sejenak, terbersit keinginan untuk membuang barang sial itu ke sebuah sungai di perbatasan dusun, ia rasa hal itu adalah jalan tengah yang bisa menyelamatkan dirinya dari dosa dan  petaka.

Ia berencana akan membuang tas itu di sungai Jumari, lewat jalur selatan yang menghubungkan liuk jalan setapak ke sebuah pemandian hewan ternak yang biasanya sangat sepi jika pagi hari. Setelah tas itu dibuang, ia akan mencari istrinya, dan jika bertemu si istri ia akan bilang jika tas itu sudah diambil pemiliknya.

###

Akhirnya tangan Sukap pasrah melempar tas rotan ke sungai. Tas itu terombang-ambing dipermainkan arus, timbul-tenggelam, dibenturkan ke punggung batu, kadang tersangkut rimbun ujung pandan, sebelum akhirnya lepas dijerat arus.

Sukap memandangnya dari atas tebing sungai, ia bersedekap karena kepungan angin pagi sangat dingin, ditambah lumatan embun yang digesekkan rumput ke datar betis dan kakinya. Ia berdiri ditemani bayangannya sendiri. Matanya tetap terpaku ke arah tas rotan yang dibawa arus. Ia membayangkan cincin dan uang di dalamnya telah habis diretakkan air. Sukap tersenyum, satu tugas ia rasa sudah selesai dilaksanakan dengan baik.

Sukap menarik napas panjang, mengelus-elus dagunya, dan sejenak menatap matahari.

Tiba-tiba saja sekelompok orang datang dari belakang, beramai-ramai, berlari-lari. Dua di antaranya berjenis kelamin perempuan, satu sedang menunjuk ke arah Sukap, yang satunya terus memberi isyarat kepada para lelaki yang ada di belakangnya untuk terus maju. Sukap membalikkan badan dengan tangan, memastikan gerangan siapa yang datang.

“Itu dia lelaki yang telah mencuri tas ibu,”

Sukap terkejut, ternyata perempuan yang menunjukkan keberadaan dirinya adalah istrinya sendiri yang tiga hari terakhir kabur.

“Ternyata kamu, Nis. Tapi maaf bapak-bapak dan ibu-ibu, saya tidak mencuri tas itu, saya hanya menemukannya, dan sejak enam bulan yang lalu saya sudah mengumumkannya,” jawab Sukap tegas.

Semua terdiam.

Perempuan si pemilik tas rotan itu mendekat perlahan ke arah Sukap. Sepasang matanya tak berkedip, seolah menayangkan kilasan sebuah kisah masa lalu yang rahasia. Perempuan itu berhenti di depan Sukap.

“Kamu anak Bu Saura kan, penjual sayur itu?”

“Benar, Bu!”

Perempuan itu perlahan jongkok sambil meneteskan air mata, lalu memeluk lutut Sukap dengan tangis yang keras. Semua mata terperanjat menatapnya.

“Tas rotan itu memang milik ibumu, dulu aku sengaja mengambilnya saat keadaan hidup terdesak, beruntung tas itu tak jadi kujual. Sejak dulu, aku memang berusaha untuk mengembalikannya ke Bu Saura atau ahli warisnya. Maafkan aku, Nak!”

Sukap menoleh ke arah tas yang dibuang itu, ke bagian hilir sungai yang dirimbun semak dan daun pandan, tas itu sudah lenyap, seperti menempuh jalan pergi, ke pangkuan ibunya di alam sunyi.

Gaptim, 2019


=====================

A. Warits Rovi adalah Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura, Sumenep Madura. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal  antara lain: Kompas, Tempo, Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018).  

Setelah Bunuh Diri

0


“Malam ini, ada yang hening setelah suara anjing liar itu muncul di dekat jendela, dan firasat itu tiba-tiba terus berhamburan. Dada disesaki penuh curiga, sedang cemas bergelantung di wajah, peristiwa apa yang terjadi setelah dua malam aku kehilangan ibu?”

Gundukan tanah di pemakaman masih basah, aroma bunga dan suara desing ingatan tentang ibu masih belum lerai, namun kabar kepulangan kembali menghampiri, empat puluh delapan jam ditinggal seorang ibu, kini terdengar lagi berita bahwa aku kehilangan adik bungsu yang mati bunuh diri.

Pertanyaan-pertanyaan tersiarkan, sesungguhnya kehilangan dari bagian anggota keluarga sama seperti kehilangan nafas panjang. Liwang adalah adik bungsuku, setelah usianya beranjak remaja, ia semakin latah kepada agama, kehilangan didikan ayah dan ibu. Ia tak bisa memungkiri, bahwa sejatinya hidup yang ia jalani kini tidak berada pada satu jalan yang benar..

Suatu pernah, Liwang berlari sambil berteriak di lorong-lorong, ia menyebut sesuatu yang teramat ganjil dalam telinga. Apa itu? Nadanya seperti ia sedang kerasukan dengan mantra dan komat-kamitnya, memang akhir-akhir ini Liwang terangsang dengan pelajaran  Kaburakneang atau pelajaran  kitab laki-laki. Dada membusung, urat di tangannya mengembang ia memegang sebuah kertas bertulis lontarak.

Ilmu Kaburakneang atau kitab laki-laki dahulu dipelajari tidak hanya sebatas pelajaran ilmu kebal tubuh dan bela diri, tapi ilmu ini juga mengandung pelajaran menggaet atau wangsi wanita, menimpali musuh dengan suara, bahkan sampai penguasaan jelajah laki-laki dalam segala bidang. Saya teringat kisah yang sering dituturkan oleh Ibu, bahwa dahulu moyang saya I Manakku adalah lelaki pilihan Sombaya atau Raja di Gowa, ia berperan sebagai juru pembuka dari hal-hal yang ingin dilakukan oleh raja, nubuatnya sampai dan pesannya berkelindang dari zaman ke zaman. Ramalannya benar.

Moyang saya sering berpesan, “Bunuhlah dirimu dahulu, sebelum engkau terlahir ke dunia”. Ia menegaskan bahwa segala ilmu yang kita miliki tentu kita pasrahkan pada pemilik ilmu dan mengembalikannya setelah kita pergunakan, “Jangan sombong, apalagi terbang karena ilmu sedikitmu.” Ini yang menjadi rentetan pesan yang kami pegang. Namun sayang, kejadian naas terjadi pada adikku Liwang, setelah ia menguasai ilmu ini, ia sempoyongan, tak mampu menunjukkan itikat baik ilmu ini, ia terasa dahaga, suhu tubuhnya meningkat serta amarahnya kian menjadi-jadi.

***

Aku menemui Pak Daming, ia adalah seorang ustad di Kampung yang cukup terkenal, banyak hal yang ia ajarkan lantas orang menjadi segan padanya, salah satunya bijaksana dalam berpikir. Buru-buru aku berjalan, ingin membantu adik bungsuku yang kini sudah di ambang batas. Perjanjian itu dimulai pukul lima sore, mencoba menemukan biang masalah yang terjadi.

“Apa yang membuat kita termakan oleh mantra sendiri?”

“ Pantangan yang ditentang!”

“ Ilmu ini sudah saya tangkal dengan batu atau pengganti.”

“ Ilmu itu kuncinya adalah sembahyang. Sudahkah kau sembahyang, Nak?

“ Ia, aku sembahyang.”

“ Sudahkah kau matikan dirimu di sana?”

“ Mati?”

Dari rahasia bahasanya, Pak Daming menyimpan rahasia pada setiap pertanyaannya, pikiranku menggelayut, mencoba menziarahi peristiwa apa dahulu yang terjadi, hingga pada suatu titik aku dan Liwang pernah terjebak dalam pencarian. Waktu itu pelajaran Kaburakneang membahas Bab Aru Tubarani. Sebuah sumpah atau ikrar lantang kepada  Tuan Yang Mulia. I Manakku mengisahkan bahwa dalam tiap syairnya, tersimpan zikir-zikir yang mesti dikuasai. Misal maknanya, orang baru berjanji ketika selatan dan utara tertutup, barat dan timur saling memanggil.

***

“Liwang Pongoro’! Liwang gila!” Ejek seorang kawannya yang benci. Kegilaan itu terjadi akibat hilangnya masa dimana kenyataan tertolak atau terabai, Liwang selalu bermimpi diserang binatang, entah seekor ular, anjing, harimau, kuda dan monyet. Jurus dan gerak binatang itu selalu ia ikuti, persis cara membuka bunga mancak bela diri yang ia pelajari. Pesan moyangku dulu, ketika kita tak menemukan diri kita, maka kita akan menjadi sesuatu, huff… barangkali sesuatu itu adalah yang menimpa Liwang.

“Bunuh dirimu.”

“Setelah itu?”

“Kau menemukan dirimu setelah itu.”

Ajakan bunuh diri ini memang terus menghantui, menguras keringat dan pikiran. Sejak kami berikrar, pintu-pintu rahasia itu terbuka dengan lebar. Daun yang kering diterbangkan oleh angin, batang pohon tumbang hanyut oleh air, jarum patah berkelindang dengan benang. Ini adalah bahasa filsuf yang tertera pada bab Aru Tubarania.

***

Di tengah malam sunyi, hujan deras tiba-tiba jatuh ke bumi, seseorang datang dari jauh dengan tubuhnya yang gigil, bajunya kuyup, perlahan ia mendekat ke pagar depan rumah, sesekali kututup gorden putih, mengintip perlahan siapa lelaki itu yang sempoyongan datang dari jauh. Tanpa ketuk dan suara panggilan, seseorang itu langsung menuju pintu rumah, ia terkena bola lampu kuning di teras rumah, tampak wajahnya beku, bibirnya putih, mungkin rasa dingin yang berlebih membuatnya demikian.

Potongan rambutnya acakan, itu faktor air hujan yang membuatnya demikian, sesekali ia mendesir, juga melepaskan dahak basah. Suara itu kukenal, ia adikku. Liwang. Tetiba saya berlari, menghampiri pintu, namun ada rasa cemas, buat apa Liwang datang? Tidakkah ia sedang gila? Jangan-jangan ada dendam denganku. Suara jantungku memompa begitu cepat, wajahku memerah, nada ketakutan muncul dan pikiran-pikiran bahwa Liwang datang mencelakaiku. Itu pasti terjadi, sebab kutahu, Liwang memang begitu lama tak pernah kupeduli, bahkan saat pengajian terakhir kematian ibuku ia tak kuajak. Sebab kenapa? Orang-orang takut pada Liwang, mereka mengaku bahwa, apabila Liwang datang, maka jamaah pengajian akan bubar, bahkan tak akan ada lagi yang datang ke rumah duka.

Tapi aku kasihan pada Adikku. Batinku, merasa bersalah.

“Kak Anto… buka pintunya!” Suara Liwang bergetar.

Sengaja aku mencoba mengulur waktu, meski tanganku sudah berada di gagang pintu, namun kecemasanku belum hilang, ketakutan terbesarku adalah, jangan sampai aku dibunuh oleh adikku sendiri, karena kutahu, bila amarah telah memuncak, juga tak ada pengingat, segala daya dan upaya bisa saja ia lakukan, bahkan menghabisiku, kakak kandungnya sendiri. Namun saya mencoba menyeimbangkan hal negatif tadi. Saya berusaha meyakinkan diriku pula bahwa Liwang butuh pertolongan, ia adik kandungku, tentu akulah orang yang ia datangi bila ia membutuhkan sesuatu.

“Kak Anto, aku butuh badik itu!” Liwang meminta senjata besi. “Buat apa Liwang? Aku tidak akan memberikanmu,” timpalku.

“Aku butuh.. Darah memang menjadi tanda-tanda yang mesti kita buka.”

“Aku tidak mengerti apa maksudmu,” jawabku.

“Sungguh kematian itu tak pernah ada yang menyambutnya, tapi aku tidak, aku ingin coba lepas dari ini,” Liwang menjelaskan.

“Tapi tidak benar kematian itu diundang secara terpaksa,” selaku, “Untuk apa badik itu, Liwang?”

Tiba-tiba Liwang berlari ke ruangan paling belakang, di sana kamar mendiang ayah dan ibunya dahulu ketika masih hidup, ia berusaha mengambil warisan besi orang tuanya. Aku tak dapat melerai dan menghalaunya. Tiba-tiba Liwang menggapai sebuah besi, ia dapatkan yang dicari. Liwang ke luar rumah, berlari seratus meter menuju peristirahatan terakhir ibunya, sesampai di sana ia melepas besi itu dari sarungnya lalu tiba-tiba badannya gemetar, memejamkan mata, dan menghadap kiblat. Mampus.

“Aku bunuh diri, guru. Aku ingin hidup dengan diri sendiri.” Badik itu menyasar ke perutnya. Aku berteriak mencoba menghentikan Liwang. Namun sayang, Liwang tersungkur jatuh di sisi gundukan makam ibu, ia mati bunuh diri. Menunggu setelah bunuh diri.




==================
Damar I Manakku nama pena dari Rahmat R. S.S. Lahir di Takalar, Sulawesi Selatan, 13 Agustus 1995. Pendiri Komunitas Sastra Berkata (Kosakata) Makassar, direktur Pakalawaki Institute, Alumni Fakultas Sastra UMI, sekarang menjadi tenaga pengajar di Alfityan School Gowa. Telah menerbitkan beberapa buku puisi dan cerpen, Kumpulan puisi Pulanglah Daeng (2017), Kumpulan Puisi “Di Tubuh Puisiku, Ada Tubuh Memeluk Kekasihnya”, Kumpulan Cerpen “Matinya Penyair Di Tangan Almanak” dan kumpulan cerpen “Surat Kematian Cinta”

Tentang Kepulangan

0

Sengaja kurahasiakan kepulanganku. Saya tidak mau orang-orang di kampung menyambutku penuh kemenangan yang membuat Ibu menceritakan ulang caranya mendidik anak dan Bapak akan memborong berbungkus rokok di warung Mak Sari untuk dihidangkan pada tetangga kemudian selanjutnya menjawab segala tanya.

Saya tidak mau itu semua terulang sebagaimana kepulanganku yang pertama 20 tahun yang lalu; mendadak rumah seramai pasar, orang mengantre menyentuh tanganku. Sebagian besar memelukku tak mau melepas. Seminggu, saban pagi saya sudah harus melayani banyak sekali pertanyaan yang membuatku lupa menziarahi makam kakek dan nenekku. Apa boleh buat, nisan mereka hanya saya tatap di balik kaca jendela mobil kala harus kembali lagi ke kota.

Kali ini, saya tidak mau itu terjadi. Kupikir orang-orang di kampung sudah mengenalku sebagai orang yang sukses di rantau. Jadi, mereka tak punya lagi alasan datang menemuiku mengucap selamat dan mengharap derma. Semuanya telah saya sisihkan melalui koperasi yang dikelola bapak sebagai aktivitasnya setelah pensiun. Bapak dulunya seorang guru agama di sekolah dasar satu-satunya di kampung kami.

Saya masih ingat, Bapak akan membangunkanku sebelum suara azan Haji Sattar membangunkan seisi kampung melalui pengeras suara di surau. Itu terjadi bila musim kemarau. Dua gentong di dapur sudah harus penuh sebelum menunaikan salat subuh. Setelahnya, kami kembali bergegas ke sumur Wa Lau, seorang tua yang membangun rumah seorang diri di tengah persawahan warga. Hanya dia yang tinggal di sana, terpisah dari keramaian. Tetapi, saban sore rumahnya selalu ramai dikunjungi warga yang hendak mengambil air. Wa Lau, hanya mengizinkan menimba air di sumurnya sebelum subuh dan sore hari. Jangan harap ia akan membuka pintu pagarnya bila matahari sudah muncul. Tidak ada yang berani membongkar pintu yang terbuat dari bambu itu. Aturan ini berlaku pula untuk kepala desa yang pernah menegurnya. Wa Lau bergeming dan mendamprat ulang. Wa Lau melempari ludah dari atas rumahnya. Kejadian itu terus dikenang oleh kepala desa. Ia malu karena menjadi bahan gunjingan sekaligus bahan humor di setiap obrolan warga yang mengenang peristiwa tersebut.

Sebelum kampung terang, saya sudah siap dengan balutan seragam, siap ke sekolah bersama Bapak. Kami hanya berjalan kaki melewati jalan tanpa aspal, retakan tanah terlihat jelas sebagai bukti perkasanya kemarau. Sebaliknya, di musim penghujan, jalan itu serupa sungai. Menjadi jalur air mencari titik rendah. Di sanalah, saya dan teman sebaya bermain mengadu kulit jantung pisang sebagai perahu mainan. Kami terus mengikutinya hingga berakhir di depan rumah Wa Lau.

***

Guna menjaga rahasia, saya mengutus salah satu asisten ke rumah. Menyampaikan kepada Ibu dan Bapak perihal kedatanganku kali ini. Semuanya perlu ditempuh karena di kampung belum ada jaringan telepon. Melalui asisten itu, saya membekalinya foto dan sepucuk surat yang menjelaskan maksud kedatanganku. Foto itu tentu saja sebagai penjelas agar asisten saya itu dapat dipercayai orang di rumah.

Metode itu berhasil, di malam buta, ketika warga pada lelap di rumahnya, saya sudah berhasil menjumpai Bapak dan Ibuku. Mereka sudah semakin menua. Pelukanku sepertinya tak mau lepas di tubuh mereka. Malam ini saya tuntaskan rindu dengan tidur di samping Ibu.

Kepulanganku kali ini, saya tidak membawa mobil. Sengaja kutinggal di kota bersama asisten yang menyewa kamar di salah satu hotel. Setelah diantar di pintu masuk jalur ke kampung, saya menggunakan ojek. Jasa ini mulai marak sejak dealer memberlakukan pinjaman lunak bagi masyarakat.

Penyamaranku berhasil. Herman tak mengenaliku ketika saya duduk di belakangnya. Dia teman sekolahku dulu di sekolah dasar. Usia kami terpaut empat tahun. Saya akrab dengannya saat kelas tiga. Rupanya sudah empat tahun ia mendekam di sana karena gagal naik kelas. Teman seangkatannya sudah pada kelas satu SMP dan dia masih perlu belajar berhitung. Beruntunglah, kepala sekolah dan guru-guru di sekolah tak lagi membiarkannya menutup usia di sekolah dasar. Hingga akhirnya kami sama-sama menamatkan pendidikan dasar. Setelahnya, ia menolak bersekolah lagi.

Rupanya, ia sudah berkeluarga. Ia peristrikan seorang perempuan dari kampung sebelah. Kini, ia sudah punya rumah dan dua orang anak. Dia kaget kala saya menepuk pundaknya untuk berhenti di depan rumah Haji Bahri.

“Anda mau bertemu Haji Bahri, Pak?”

Saya tidak menjawab dan menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah.

“Maaf, saya tidak punya kembalian, Pak,” katanya lagi.

Saya masih diam, lalu membuka syal yang menutup sebagian wajahku. Rupanya ia masih belum mengenalku. Setelah topi saya lepas, barulah ia menyunggingkan senyum. Memarkir sepeda motornya lalu kami melepas kangen. Berkali-kali ia memukul pundak saya dan mengulang kalimat: kau hebat, sudah jadi orang sukses.

Agak lama kami duduk di bale bambu di depan Bapak. Mungkin kami telah menyulut tiga batang rokok sebelum saya memintanya pulang dan tak lupa menitipkan pesan agar menjaga rahasia kedatangan saya. Awalnya ia kaget dan menolak, tetapi luluh juga setelah kujelaskan kalau dia boleh menjemputku di malam hari untuk menjumpai teman-teman di pos ronda. Hanya di waktu malam saja, saya tidak mau muncul di siang hari.

Rumah ini tak berubah, dindingnya masih sama ketika saya masih sekolah dasar. Bapak tidak mau menggantinya walau sudah kuyakinkan kalau saya bisa membangunkan rumah yang baru. Ibu berpendapat sama. “Buat apa, kau tidak memiliki saudara. Tidak ada warisan yang perlu dipersiapkan,” demikian Bapak pernah berujar.

Di kepulanganku yang kedua, 15 tahun lalu. Bapak dan Ibu tak banyak mengajukan tanya mengenai pekerjaan yang kulakoni di kota. Bila kuingat-ingat, sejak Bapak menitipkanku pada Paman Gaffar, adiknya yang membangun usaha warung kopi di kota. Beliau juga tak pernah banyak menuntut menyangkut prestasi sekolahku sejak SMP hingga saya tamat SMA. Keduanya sekadar menuntut keberadaanku yang tak kekurangan apa pun. Bahkan, ketika saya memutuskan untuk kuliah setahun setelah tamat SMA, kedunya juga tidak keberatan. Untuk hal itu, mulanya saya menduga kalau beliau tidak bisa lagi menyiapkan biaya. Bapak sudah pensiun dan uang pensiunnya tidaklah seberapa. Cukup untuk makan saja karena Bapak tidak menggarap sawah.

Bila ada yang bertanya pada Bapak, cukup ia menjawab kalau Hadri merupakan pengusaha, berjualan apa saja. Dan, orang-orang akan mengangguk memercayai. Itu yang kudengar di kepulanganku yang pertama ketika Bapak sibuk meladeni warga dan Ibuku tak kala sibuk di dapur menyiapkan menu untuk tetamu.

Bapak sepakat saja ketika kutawari untuk memimpin koperasi di kepulanganku yang ketiga, 10 tahun yang lalu. Saya jelaskan kalau koperasi itu merupakan ruang bagi warga yang hendak meminjam modal guna membangun usaha. Metode ini memungkinkan warga agar memiliki kemandirian dan tidak selalu meminta derma bila saya pulang. Jadi, dana bisa bermanfaat dan bergulir untuk warga. Kepala desa saat itu merasa terbantukan dengan ide yang kutawarkan. Belakangan, saya ketahui kalau pak desa turut meminjam dana yang kemudian digunakan membangun saluran pipa dari sumur Wa Lau. Tujuannya, agar warga tak perlu lagi berjalan jauh melintasi pematang menuju rumah Wa Lau di musim kemarau.

Semula sulit kupercaya, saya tahu siapa Wa Lau. Lelaki tua yang tak pernah saya tatap wajahnya. Ia selalu berada di atas rumah panggungnya. Sewaktu kecil, saya menganggapnya sebangsa malaikat atau iblis. Makhluk Tuhan yang tidak membutuhkan makanan. Ibukulah yang meyakinkan kalau Wa Lau adalah manusia sebagaimana umumnya. Butuh makan dan minum. Setiap pagi, kemanakannyalah yang membawakan makanan untuknya. Katanya, Wa Lau memilih menyepi ke tengah sawah setelah mengidap penyakit gula yang mengakibatkannya lumpuh.

Kena damprat darinya bukan hanya sekali, seingat saya. Bapak juga pernah dilarang mengambil air terlalu banyak. Aturan yang diterapkan Wa Lau, bukan hanya waktu-waktu tertentu, tetapi juga jumlah ember yang boleh dibawa. Meski gelap, rupanya ia selalu awas dari jendela mengintai warga di pekat subuh. Aturan itu berlaku bagi siapa saja, termasuk kemanakannya.

Jadi, saya tidak begitu yakin kalau Pak desa mampu meluluhkan wataknya. Namun, saya harus memercayainya juga. Di kepulanganku yang kedua, 5 tahun lalu. Kulihat bak besar berdiri di depan rumah Pak desa yang dilengkapi dua keran air. Di sanalah warga mengantre sepanjang hari di musim kemarau. Belakangan kuketahui kalau Wa Lau telah wafat, rumahnya sengaja tidak dibongkar, malah dipasangi listrik sebagai sumber tenaga yang mengalirkan daya ke mesin pompa air agar mampu menyedot air dari sumur dan selanjutnya mengalir ke bak. Sayang, itu tidak berjalan lama. Kata Bapak, hanya bertahan semusim saja. Selanjutnya, muncullah petaka, sebab sumur peninggalan Wa Lau benar-benar telah kering. Jadilah warga membeli air di musim kemarau pada seorang pedagang air dari kampung jauh di kaki bukit. Parahnya, warga harus membagi rata, karena pedagang itu hanya mampu menampung 20 jergen ukuran 20 liter di dokarnya sekali jalan setiap hari.

***

Kini, di kepulanganku yang keenam. Genaplah 25 tahun saya merantau, itu terhitung sejak kuputuskan kuliah, saya tidak mencampurnya dengan tapak masa SMP dan SMA. Sejak itu, saya balik ke kampung sekali dalam lima tahun. Pagi pertama di kepulanganku keenam ini, saya menemukan guling Bapak di sampingku. Adakah semalam ia bertukar dengan Ibu tidur di sampingku. Entahlah, pagi ini saya menemukan diriku di masa kecil. Menunggu ibu menghidangkan secangkir kopi dan sepiring nasi dingin sisa santapan semalam. Tidak seperti pagi di kepulanganku yang pertama. Namun, itu tidak mengapa, sebagai bentuk kebahagiaan warga menyambut perantau yang dianggapnya sukses.

Di dapur, Ibu masih menggunakan kayu bakar bila menjerang air. Kompor gas yang kubelikan dari kota di kepulangaku yang pertama tak kelihatan. Padahal, Ibu sudah pandai menggunakannya. Kala kutanya, Ibu lebih senang menggunakan kayu bakar ketimbang memutar pemantik api kompor itu.

Bapak semakin tua, pagi ini saya memintanya bercerita tentang koperasi. Dijawabnya, kalau ada baiknya ditutup saja dan memintaku lebih baik langsung menyumbangkan uang ke masjid atau ke panti asuhan bila ada rezeki. Gelagatnya menghendaki agar saya tidak banyak bertanya. Kepulan rokok kreteknya seketika bercampur dengan asap dari tungku.

“Koperasi itu hanya membuat warga semakin marah pada Pak desa, kalau saja bukan Bapakmu, mungkin Pak desa sudah digantung,” ucap Ibu kemudian.

“Sudahlah, tidak perlu kau ceritakan itu,” Bapak mencegat.

“Saya belum mengerti apa yang terjadi,”

“Ada baiknya, kau segera saja ke kota, jangan kira Pak desa tidak mengetahui kedatanganmu,” ucap Bapak lagi.

“Tetapi, tidakkah Bapak dan Ibu melihatku di sini dan bertanya lebih jauh tentang pekerjaanku di kota tanpa perlu meladeni warga yang datang. Sekaranglah saatnya kita memiliki waktu bersama.”

“Bapak percaya, nak, kau tidak akan membuat kami malu. Pak desalah yang membuat kami malu.”

“Saya semakin tidak paham.”

“Setelah kau mandi dan meminum kopi buatan Ibumu. Pergilah, pintu itu bukan hanya untuk kedatangan, tetapi disiapkan juga sebagai jalan keberangkatan,”

“Bapak mengusirku?”

“Tidak, nak, pergilah. Dengarlah kata Bapakmu,” kali ini Ibuku bangkit dan berdiri di sampingku.

“Saya akan pergi, jika Bapak dan Ibu menjelaskan alasan yang bisa kuterima.”

Bapak memelukku. Sangat erat.

“Kau harus tahu, Pak desalah yang membunuh Wa Lau, agar ia punya alasan meminjam uang di koperasi membangun saluran air karena anggaran dana desa tidak cukup. Polisi sudah mengetahui itu, Pak desa kini sudah dipenjara. Tetapi, dalam keterangannya yang saya peroleh dari Polisi, namamu disebut. Katanya, kau bekerja sama dengan pak desa untuk menyingkirkan Wa Lau.”

Ibu berbalik dan Bapak melepas pelukannya, “Pergilah! Jangan kembali lagi!”

***



===================

F Daus AR, cerpenis, narablog kamar-bawah.blogspot.com dan terlibat kerja apa saja.

Daun-daun Sepat

0

Aku mau menceritakan tentang sebuah waduk. Tempat anak-anak kecil di kampungku melempar dirinya sampai ke dalam perut air. Aku akan berusaha mengingat apa-apa yang kuketahui selama aku menjadi bagian dari waduk itu. Kalau ada beberapa hal yang sekiranya luput dari pengamatanku, kalian boleh memberitahuku supaya aku segera mengoreksi cerita ini. Kalian, yang juga menjadi bagian dari waduk itu, sama sepertiku.

Dulu ibuku adalah seorang buruh baja, sementara Bapak tidak memiliki kesibukan yang menjanjikan sebab keahlian yang dia punya hanyalah memancing ikan. Jika diukur menggunakan pendapatan jaman sekarang, saat itu kami adalah keluarga yang terbilang miskin. Saat membeli seragam sekolah saja, Ibu sengaja membelikanku dengan ukuran yang dua kali lebih besar ketimbang ukuran tubuhku. Supaya lebih hemat dan bisa kugunakan sampai setidaknya tiga kali naik kelas.

Kalau dipikir-pikir, saat itu, aku lah satu-satunya beban keluarga. Aku orang yang paling sulit menahan lapar dibanding mereka. Namun ibuku kelewat hebat, dia bisa mensiasati biaya dapur sehemat mungkin dengan kualitas masakan yang boleh diadu dengan restoran mana pun.

Kadang-kadang, Bapak membantu melengkapi hidangan dengan ikan hasil pancingannya. Meski, aku dan ibu tahu, Bapak sering memancing dengan seorang gadis yang kemungkinan adalah selingkuhannya dan membagi hasilnya pada gadis itu. Ibu sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan itu. Mungkin dia sudah lelah mencari-cari alasan untuk mempertahankan hubungan keluarga mereka selain karena aku.

Ya. Aku memang pernah melihat Bapak menghabiskan waktu di waduk bersama seorang gadis. Ketika itu aku sedang bermain di pinggir waduk bersama teman-temanku. Tepatnya di bagian selatan yang ditumbuhi pohon-pohon sepat. Kami biasanya akan segera melakukan pertemuan panjang selepas pulang dari sekolah dan mengganti baju. Karena orangtua kami akan marah sekali jika kami bermain menggunakan seragam sekolah.

Kemudian kami akan pulang ketika menjelang magrib, sekadar untuk mengganti pakaian lagi lalu pergi mengaji di surau Baiturrohman. Di waduk, aku dan teman-teman bisa mandi tanpa takut dimarahi siapa pun karena menggunakan air terlalu banyak. Tidak jarang aku pulang ke rumah bersama Bapak. Tentu saja ini tanpa kami rencanakan. Aku juga sering membantu Bapak membawa hasil tangkapannya.

Pernah Ustad Rais bercerita, guru mengaji kami disurau, ikan-ikan yang kami makan dari waduk tidak seberapa besar dan tidak seberapa banyak jika dibandingkan dengan ikan yang didapatkannya saat dahulu. Bahkan saking makmurnya ikan-ikan dari waduk itu, banyak nelayan yang tinggal di daerah pesisir, datang kemari untuk ikut memancing.

Tidak hanya itu, Ustad Rais juga menganjurkan kami untuk berhenti memakan ikan dari waduk, karena ikan-ikan itu menurutnya sudah tercemar racun limbah, serta apa saja yang serba tidak sehat. Kesemuanya itu karena bangunan-bangunan besar yang mulai berdiri di dekat waduk.

Bahkan rumah-rumah mewah yang dibangun di balik tembok yang membatasi waduk dengan dunia luar, sering melemparkan sampah-sampah dapur secara sembarangan ke waduk kami. Ditambah lagi, beberapa pipa yang terhubung dari bangunan-bangunan besar itu, memuntahkan kotoran mereka ke permukaan waduk.

Tentu saja kami tidak tinggal diam. Kami pernah menyumpal pipa-pipa itu. Melempar balik sampah yang dibuang oleh para penghuni rumah di balik tembok waduk, namun usaha-usaha itu sia-sia belaka. Mereka selalu mendapat celah untuk mengulangi perilaku banal itu.

Pernah sekali aku menjumpai Ibu bersama teman-temannya berkumpul di rumah, mereka membicarakan tentang keselamatan waduk secara serius. Mereka mengepal-ngepalkan tangan ke langit seolah-olah sedang menantang Tuhan berkelahi.

Sebaliknya, Bapak tidak pernah ikut dengan kegiatan ini. Bapak juga sering melarang Ibu untuk berhenti mengundang teman-temannya ke rumah untuk membicarakan waduk itu. Kata Bapak, semua sudah diurus oleh pemerintah. Begitulah kemudian percakapan mereka berakhir dengan pertengkaran panjang.

Mereka tidak ragu menyembunyikan ketidak akraban itu di hadapanku. Suatu ketika Ibu ditampar oleh Bapak karena terlalu sering melawan perintah. Saat itu aku terpaku di pojok rumah, menyembunyikan diriku dari percikan amarah mereka. Ibu segera menyuruhku masuk ke dalam kamar dengan berbahasa-basi agar aku menyelesaikan tugas sekolah. Padahal saat itu Ibu tahu, aku sedang demam karena baru saja tersengat lebah yang bersarang di pohon-pohon sepat.

Dalam cerita ini, Bapak mungkin terkesan jahat bagi kalian. Namun perlu kalian ketahui, Bapak sungguh-sungguh menyayangiku meski sikapnya seperti penjahat. Selain karena Bapak sering membawakan ikan untuk makan malam kami di rumah, Bapak juga rutin membelikan aku bajusetiap kali tim kebanggaan kami menerbitkan jersey edisi terbarunya.

Tidak tanggung-tanggung, Bapak pula yang membelikan aku sepeda sehingga aku bisa pergi ke stadion menonton bola bersama kawan-kawan setiap ada pertandingan. Bapak juga tidak pelit untuk menemaniku menonton kalau memang aku ingin mengajaknya. Bilamana terjadi kerusuhan yang disebabkan para pendukung tidak terima karena tim kesayangan mereka kalah, Bapak segera menggendongku dan mencari tempat berlindung.

Bapak mendapatkan uang-uang itu terkadang dari menjual sebagian ikan hasil memancing kepada teman-temannya yang kebetulan tidak mendapatkan hasil tangkapan sama sekali, atau ibu-ibu rumah tangga yang sengaja datang ke waduk untuk membeli ikan. Namun itu tidak seberapa banyak dari uang yang diberikan oleh Pak Heri setiap kali Bapak mengerjakan sesuatu untuknya.

Pak Heri adalah seorang Kepala Lurah yang telah menjabat sebanyak dua kali. Saat aku lahir dia sudah menjadi orang terpandang di kampung kami. Ketika aku menjelang lulus SMP, Pak Heri menyiapkan diri menjabat untuk ketiga kalinya. Setiap menjelang pemilihan, anak-anak kecil biasanya diliburkan dari sekolah, karena guru dan para keluarga akan berpesta menyambut hasil pemilihan. Entah apa yang membuat perayaan itu menjadi berharga, namun bagi kami, hari libur tetaplah hari libur yang menyenangkan.

Pernah juga, aku melihat Bapak diberikan sebuah kantung pelastik berwarna merah. Yang tidak lama setelahnya kuketahui berisi lembaran-lembaran uang. Menjelang magrib, mereka berkeliling kampung untuk membagikan uang-uang itu ke setiap rumah. Aku dan teman-temanku mengiringi perjalanan mereka untuk sekadar memeriahkan. Bapak mengupahku seratus ribu rupiah, katanya untuk aku mentraktir teman-temanku membeli pentol.

Sepulangnya, aku menceritakan kejadian itu pada Ibu sebelum berangkat mengaji. Ibu menyuruhku untuk mengembalikan uang tersebut pada Bapak. Namun sekembaliku mengaji, Bapak tidak ada di rumah. Sedangkan Ibu tidur di kamarnya. Kemudian keesokan pagi mereka bertengkar. Pagi sekali. Sehingga aku terbangun lebih cepat dari seharusnya.

Karena kesal oleh perilaku mereka, aku membolos pada hari itu. Bersama teman-temanku, aku menghabiskan waktu di waduk, tempat pohon-pohon sepat tumbuh dengan rimbun. Kami merasa nyaman di tempat itu, walau bahaya sengatan lebah selalu mengintai keselamatan kami. Di sana, aku menghabiskan uang yang diberikan Bapak padaku.

Saat kami tengah bersenang-senang dengan es teh dan sebungkus rokok yang kami beli untuk belajar mengudut, segerombolan massa datang dari kampung memasang tulisan-tulisan dan poster besar yang mengitari setengah luas waduk. Ada pula foto Pak Heri dengan disertai gambar tanduk pada bagian kepalanya. Mereka berkumpul dan membuat barisan panjang. Kami melihatnya dari kejauhan sambil tetap menjaga waspada kalau-kalau di sana ada seseorang yang mengenali kami kemudian melaporkan ke sekolah karena kami membolos.

Aku mengintip dari balik tubuh-tubuh pohon, terlihat barisan manusia itu berteriak kencang-kencang. Tidak terlalu jelas apa yang mereka ucapkan, namun kobaran amarah terasa menyelimuti mereka. Setiap mereka berteriak, permukaan air akan bergetar, dan suara-suara itu, menimbulkan gelombang suara yang mampu menjatuhkan daun-daun sepat yang mengering.

Tidak lama berselang, segerombolan warga lain datang menghampiri bersama polisi. Awalnya tidak begitu jelas wajah-wajah mereka, namun akhirnya aku mengetahui Bapak berada di barisan paling depan bersama Pak Heri. Mereka bersama polisi sedang berbicara dengan barisan lain yang sebelumnya berteriak-teriak di bibir waduk.

Manakala terjadi ketegangan di antara mereka, kedua barisan manusia itu akan saling mendorong, sehingga beberapa orang yang berbaris di bibir waduk harus menahan tubuhnya sampai menyentuh air.

Aku melihat seorang wanita menghampiri Bapak. Wanita itu menamparnya. Wanita itu berteriak sambil menunjuk mata Bapak dengan begitu tegas. Bapak balik menampar wanita itu. Ketika wajahnya bertolak ke samping, segera aku mengetahui bahwa wanita itu adalah Ibu. Wajah Ibu yang memantulkan kegetiran mendalam. Tanpa berpikir panjang, sontak aku langsung berlari menghampiri mereka. Walau sesampaiya di keramaian itu, aku tetap tidak dapat melakukan apapun selain menonton lebih dekat pipi Ibu yang memerah bekas tamparan.

Hari itu adalah hari terakhir aku melihat Ibu. Ibu dibawa ke kantor polisi karena dituduh menjadi dalang kerusuhan dan semenjak itu tak pernah pulang ke rumah. Sampai terdengar kabar, Ibu mati di penjara.

Belum mengering sempurna kuburan Ibu dari bekas air ziarah, Bapak kawin lagi dengan seorang gadis yang sering menemaninya memancing di waduk. Kehidupan keluarga kami berubah drastis. Bapak semakin sering mendapat tugas dari Pak heri, dia juga mulai jarang memancing. Namun kebutuhan keluarga kami sudah serba terpenuhi.

Akhirnya aku meminta kepada Bapak supaya aku dimasukkan ke pesantren, menjadi peserta pondok di tempat Ustad Rais dulu juga belajar agama. Sepuluh tahun kemudian, setelah pulang merantau, aku kembali ke kota dan menghabiskan separuh waktuku setiap harinya bekerja di sebuah pabrik baja tempat ibu pernah bekerja. Namun dengan posisi yang lebih bergengsi.

Setiap sore, sebelum pulang ke rumah keluarga baruku, aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Bapak dan mampir ke waduk. Tidak ada barang istimewa lagi yang bisa ditemui di sana. Cuma ada pohon-pohon sepat yang sudah tua dan tersisa sedikit. Daun-daunnya yang kering mengapung di permukaan waduk. Tidak ada orang memancing, tidak ada gema suara. Anak-anak kecil atau remaja tidak lagi bermain di pinggir waduk.

Tampak jelas waduk lebih sempit dan dangkal ketimbang dahulu. Dan setiap aku datang kemari, suara Ibu selalu muncul bagai menyambutku, berdengung di dalam kepalaku seperti lebah.

======================

Robbyan Abel R, adalah penulis asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sejumlah cerpennya telah dimuat di berbagai media daring dan cetak. Turut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram. Sedang mempersiapkan buku kumpulan cerpen pertamanya.

Kambing Hitam

0

IQMAL menyeret kambing hitam itu menjauh dari tempat penampungan hewan kurban. Langkahnya tergopoh-gopoh saat ia tahu kalau Pak Carik memergokinya. Tapi ia telah siap dengan sebilah pisau dibalik punggungnya.

“Mau kamu bawa ke mana kambing hitam itu, Mal? Tidak malu apa sama warga!” seru Pak Carik yang ternyata tak sengaja melihat Iqmal saat tadi sedang melintas.

Wis ben. Biar saja! Toh kambing hitam tetaplah kambing hitam!” Iqmal semakin mencengkeram tali yang mengikat kambing hitam itu.

“Tapi sama saja kamu mencuri!”

“Kambing hitam tidak boleh dikurbankan!”

“Kata siapa?”

“Kata saya, Pak Carik!”

Pak Carik menggeleng-gelengkan kepala lantaran melihat kelakuan aneh Iqmal. Beliau menasihati Iqmal singkat. Iqmal pun akhirnya pergi setelah sebelumnya melepaskan kambing hitam itu.

Begitulah Iqmal beberapa bulan yang lalu, saat menjelang hari raya Iduladha. Mendadak dia menjadi sangat aneh. Sebelumnya, ada seorang warga yang hendak mengurbankan seekor sapi berwarna hitam, tapi ia tegas melarang dengan dalih bahwa sapi hitam tak boleh dibuat kurban. Warga itu pun akhirnya menuruti perkataan Iqmal dan mengganti sapi hitam tersebut dengan sapi putih. Pokoknya, semua yang berwarna hitam itu sesat menurut Iqmal.

Hal itu bukannya tidak berdasar, tapi memang sejak kecil Iqmal diajarkan oleh orang tuanya agar menghindari yang namanya kesesatan. Semua yang berkaitan dengan hitam dan gelap akan menjerumuskan ke arah yang tidak baik. Salah satu bukti nyata yang membuatnya percaya adalah pada saat pemilihan kepala desa. Waktu itu Pak Burhanlah yang dilantik menjadi kepala desa. Pak Burhan pun berniat mengendurikan seekor kerbau hitam.

“Lihat saja, Pak Burhan tidak akan lama menjabat sebagai kepala desa!” ucap Iqmal sehari setelah pengumuman dilantiknya kepala desa.

“Kenapa kamu yakin sekali, Mal?”

“Ya karena beliau mengendurikan kerbau hitam. Hitam itu gelap, sesat. Tidak baik pokoknya!”

“Lho, tapi kan niatnya buat selamatan. In syaa Allah tidak apa-apa, Mal.” Banu menepuk-nepuk pundak Iqmal, meyakinkan.

“Pokoknya podho wae! Sama saja.”

Benar saja, belum sampai enam tahun, Pak Burhan sudah lengser dari jabatannya sebagai kepala desa. Bukan karena tekanan dari berbagai pihak, melainkan sakit yang diderita secara mendadaklah yang mengakibatkan hal itu terjadi. Sampai akhirnya dia meninggal dunia.

Sejak saat itu, warga mulai sering membicarakan Iqmal yang konon mulai dipercaya dapat memprediksi segala sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal tidak baik. Seperti misalnya: jangan memancing di sungai yang airnya keruh, atau jangan berpakaian serba hitam di malam hari.

Meski terkesan tidak masuk akal, warga pun mulai mengakui bahwa Iqmal adalah seorang pemuda yang tak hanya pandai mengajari anak-anak mengaji, namun juga selalu mengingatkan untuk tidak berbuat jahat pada sesama.

Pagi ini, ketika semua warga mulai melupakan kejadian pencurian kambing hitam yang hendak dilakukan oleh Iqmal, tiba-tiba warga digegerkan oleh hilangnya seekor kambing hitam. Ya, kali ini benar-benar hilang dan tak ada satu pun yang menangkap basah siapa pelakunya. Suara kentungan segera terdengar membelah kesunyian. Warga mulai berdatangan menuju ke sumber suara. Ada yang masih berkalung sarung, ada juga yang lupa memakai alas kaki. Semua berkumpul menjadi satu, termasuk Iqmal.

“Kambing hitamnya hilang, Pak Kades!” teriak warga yang membunyikan kentungan sambil menunjuk ke arah tempat penampungan hewan kurban.

“Hah, hilang!”

“Lho, bukannya setelah kejadian Iqmal, kambing di sini semua aman?”

Semua mata mulai tertuju pada Iqmal. Sedangkan yang dituju hanya sanggup melongo tanpa berujar apa-apa.

“Eh, bisa saja Iqmal yang mencuri kambing hitam itu!”

“Iya, Pak Kades. Selama ini kan dia yang ngotot kalau di desa kita ini jangan ada kambing atau sapi hitam!”

“Wah, ngawur ini! Jangan asal main mengambinghitamkan saya to! Apa kalian punya bukti kalau saya yang ngambil?”

“Lha terus siapa lagi?”

Pak Kades terlihat bingung dengan berbagai perkataan dari warganya. Ia juga melihat Iqmal dengan saksama. Tak mungkin jika Iqmal nekat melakukan perbuatan yang sangat tidak berpendidikan itu. Bahkan sekarang Iqmal dikenal sebagai pemuda yang rajin beribadah. Ya, sejak ia dijadikan panutan dan mengajar mengaji anak-anak desa.

“Bukan saya pencurinya, Pak Kades.” Wajah Iqmal memelas sambil berlutut di hadapan Pak Kades.

“Halah, usir saja orang ini, Pak Kades! Ngakunya orang baik, ibadah di masjid, mengajar ngaji, tapi kelakuannya busuk!”

“Sebentar, sebentar, kita dengarkan penjelasan dari Iqmal dulu,” ucap Pak Kades seraya mengangkat kedua tangannya untuk memberi isyarat pada warga supaya lebih tenang.

“Saya tadi dari rumah, Pak Kades. Terus mau ke masjid lebih awal. Tahu-tahu ada suara kentungan, karena panik ya ikut saja sama warga lain ke sini.”

“Nah, sudah jelas to sekarang?”

Warga akhirnya terpaksa membubarkan diri satu per satu, meski wajah mereka masih terlihat belum puas lantaran Iqmal tidak jadi diusir dari desa.

***

Dua hari setelah kejadian itu, Iqmal merenung. Ia tidak lagi memberikan nasihat-nasihat bijak untuk warga. Sebetulnya bukan tidak ingin, tapi wargalah yang mulai enggan mendengarkannya. Padahal ia sangat rindu pada anak-anak yang belajar mengaji. Duduk sambil bersolawat. Ah, selebihnya ia hanya mampu uzlah di dalam masjid setelah anak-anak pulang belajar mengaji.

Ainun yang tak lain adalah putri Pak Kades—yang menggantikan Iqmal mengajar pun sempat menanyainya. Tapi Iqmal tetap saja diam dan tidak menjelaskan apa-apa. Hatinya sudah kadung sakit jika mengingat peristiwa yang telah menimpanya. Semua orang tetap saja menganggapnya sebagai pencuri, meski tidak ada satu pun bukti yang ditemukan.

Dalam kegelisahan hatinya, ia teringat oleh perkataan kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. “Kalau kamu mau jadi orang yang benar, kamu harus mengajarkan kebenaran pada mereka, Le.” Tak terasa air matanya meleleh mengenang itu.

Iqmal pun memutuskan untuk meninggalkan desa secara diam-diam, agar hatinya tenang dan tidak dikungkung oleh rasa bersalah. Ya, ia memang merasa bersalah sejak membuat warga mulai percaya dengan nasihat-nasihatnya. Tapi karena itu jugalah, ia justru dikambinghitamkan oleh warga.

Iqmal membawa pakaian secukupnya dalam tas ransel. Ia memang sengaja tidak membawa semua karena suatu saat ingin kembali lagi, walau entah kapan. Mungkin sampai ia tidak dianggap pencuri lagi oleh warga. Mungkin sampai si pencuri asli itu tertangkap. Ya, mungkin.

Saat baru separuh perjalanan meninggalkan desa, ada seseorang yang mengajak Iqmal berbicara. Orang tersebut entah dari mana datangnya, kemudian mengatakan sesuatu yang sulit dipahami oleh Iqmal.

“Jangan pergi kecuali jika urusanmu sudah selesai.”

Iqmal menatap wajah orang itu dengan saksama. Anehnya, wajahnya tidak jelas. Selebihnya, Iqmal hanya mampu melihat orang itu yang perlahan melenggang pergi—meninggalkannya dalam diam.

Tidak cukup sampai di situ, langit yang tadi cerah, tiba-tiba saja berubah menjadi gelap. Gelegar petir saling sahut menyahut. Membuat Iqmal menutupi kedua telinganya. Hujan akhirnya turun. Iqmal buru-buru mencari tempat berteduh. Beruntung ada sebuah gubuk tak jauh dari tempatnya berdiri.

Sambil menunggu hujan reda, pikiran Iqmal kembali pada sosok yang baru ditemuinya tadi. Perkataan orang itu sungguh membuat hatinya ditikam keresahan bertubi-tubi. Seolah-olah ia tidak boleh pergi. Tapi apa urusan yang dimaksud? Bahkan warga desa pun sudah tak mau berurusan dengannya. Sebab kehadirannya memang sudah tidak dianggap lagi oleh warga.

Tak terasa, Iqmal pun tertidur. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Orang tuanya juga berpesan agar jangan pergi sebelum urusannya selesai. Iqmal sempat bertanya, apa maksud dari pesan tersebut. Tapi orang tuanya menggeleng dan menasihati agar ia mencari jawabannya sendiri.

Setelah itu, kedua orang tua Iqmal pergi. Iqmal tersenyum dan bertekad akan mencari jawaban tentang pesan tersebut. Namun tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu hingga ia jatuh.

Brukk!!

“Mal, Iqmal! Bangun! Pencuri kambing hitam itu sudah ditemukan!”

“Hah, apa?!”

Iqmal mengerjap-ngerjapkan matanya dan refleks mengelap air kental yang tiba-tiba keluar ujung bibirnya dengan punggung tangan.

“Ayo ikut aku ke balai desa!”

Ternyata Banu yang membangunkan Iqmal dari tidur lelapnya. Sambil tertatih, Iqmal mengikuti langkah gegas Banu. Betapa kagetnya ia saat sampai di balai desa. Semua warga telah berkumpul. Di depan Pak Kades sudah berdiri seorang perempuan yang setelah ia amati adalah Ainun.

“Ma-maafkan saya, Pak Kades. Se-sebenarnya saya-lah yang memengaruhi semua warga agar mengambinghitamkan Bang Iqmal,” ucap Ainun dengan sedikit terbata.

Ia tak sanggup menatap Pak Kades. Begitu juga pada semua warga. Ia sangat malu. Sungguh malu. Apalagi jika harus meminta maaf langsung dengan Iqmal.

“Ainun … Ainun. Kamu kok tega sekali sama Iqmal. Memangnya dia salah apa sama kamu?”

“Iya, benar. Kami menyesal karena kemarin sudah mendengarkan omong kosongmu yang tidak ada gunanya itu!”

“Seharusnya kamu yang pergi dari kampung ini, bukan Iqmal!”

“Iya. Dasar!”

“Sudah, sudah! Jangan menyudutkan Ainun seperti itu. Kita harus mendengarkan penjelasan dari dia.” Pak Kades yang sejak tadi terlihat mencoba sedikit emosi akhirnya memotong perdebatan antar warga.

Dengan air mata yang berlelehan, Ainun pun menjelaskan mengapa ia melakukan semua itu pada Iqmal. Ia juga mengatakan jika selama ini ia terobsesi ingin mengajari anak-anak mengaji. Hanya saja cara yang ditempuhnya salah.

 Sementara itu, Ainun berjanji akan mengembalikan kambing hitam yang telah dicurinya. Syukurlah, semua warga mau memaafkannya. Pertemuan itu ditutup dengan ide yang dicetuskan oleh Pak Kades. Beliau ingin Iqmal dan Ainun dapat bekerjasama, bergantian mengajar anak-anak mengaji. Hal itu sontak membuat warga bersorak sorai dan satu per satu dari mereka memeluk Iqmal yang sedang tersenyum lega.

Saat orang-orang sedang sibuk mengelu-elukan Iqmal, Ainun terlihat menepikan diri, meringkuk di belakang pintu balai desa. Tak ada satu pun yang tahu jika ia mengambil sebuah benda keras dari balik baju dan ia bergumam pendek.

“Kambing hitam itu sudah mati.”

Semarang, Agustus-Oktober 2019

==========

Reni Asih Widiyastuti ialah penulis asal Semarang, Alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang. Salah satu bukunya telah terbit, yaitu Pagi untuk Sam.

Pulang

1




Aku kembali mengepulkan asap rokok ke udara sambil berjoged dengan dua orang pemandu lagu wanita. Kulihat Baron dan Maung, dua temanku itu tengah asyik cekikikkan dengan dua wanita seksi yang kusewa sambil menenggak minuman beralkohol yang dibawa diam-diam olehku ke tempat karaoke. Aku tertawa melihat mereka menikmati jamuanku malam ini sebagai imbalan karena mereka telah membantuku menghabisi musuh bebuyutanku, Si Godeg.

Dua hari yang lalu, Si Godeg mati. Mayatnya dibuang ke sungai Sarihurip. Aku yang membunuh laki-laki yang terkenal keji itu, memotong-motong tubuhnya hingga tujuh bagian. Mungkin sekarang tubuh busuknya itu sebagian besar sudah dimakan ikan-ikan di sungai. Aku terpaksa menghabisinya, karena bajingan itu telah memperkosa Marni, adikku yang baru enam belas tahun saat sepulang sekolah. Gadis polos yang selalu ceria itu ditemukan mati gantung diri di pohon mahoni dekat kuburan. Sebelum mati, Si Godeg berkali-kali menjelaskan bahwa dirinya tidak memperkosa Marni, tapi Si Maunglah pelakunya. Tapi aku tak percaya, Maung adalah anak buahku, tidak mungkin dia berani memperkosa adik bosnya sendiri.

Dulu aku dan Godeg berteman baik, sebelum kami berdua menjadi preman, kami sama-sama perantau dari kampung yang mencoba merubah nasib di ibukota. Namun, seiring berjalannya waktu kami malah berakhir sebagai preman yang menguasai terminal. Karena berselisih paham, aku dan Godeg bermusuhan. Si Godeg dan anak buahnya juga beberapa kali pernah mencelakakanku, tapi aku berhasil selamat. Awalnya aku diam dengan ulahnya selagi dia tidak mengganggu keluargaku. Tapi bajingan tengik itu membunuh titik terlemahku yaitu mengambil satu-satunya seseorang yang berharga dariku yaitu Marni. Bagaimana mungkin aku membiarkan laki-laki yang telah membuat adikku mati itu berkeliaran tanpa dosa? Dengan sedikit konspirasi akhirnya bajingan tengik itu masuk perangkapku. Tapi aku masih belum puas membalas dendam, kudengar Si Godeg masih memiliki seorang istri yang katanya cantik. Heh, aku menyeringai licik.

Kulihat Baron, pergi entah kemana dengan wanita yang kusewa, sedangkan Maung tengah menenggakkan minuman beralkohol pada wanita yang satunya lagi. Hah, aku bisa menerka apa yang akan diperbuat Maung pada si wanita itu jika mabuk. Tapi aku tak peduli. Aku kembali berjoged dengan dua pemandu lagu yang kutaksir masih berumur belasan tahun itu.

***

Seminggu kemudian, aku berhasil menemukan tempat tinggal istri Si Godeg di sebuah desa terpencil. Namanya Siti. Memang benar kata anak-anak buahku bahwa istri Si Godeg itu sangat cantik. Kulitnya putih bersih, matanya sipit, wajahnya mengingatkanku pada aktris Hongkong Zhang Zi Yi yang terkenal itu. Pesona Siti begitu mengagumkan dengan kerudung di kepalanya. Entah kenapa perempuan secantik dan seagamis itu mau dinikahi oleh preman bengis macam Si Godeg?

Aku mengucapkan salam beberapa kali. Kulihat Siti tergopoh-gopoh menuju pintu sambil membalas salamku. Ketika melihat wajahku dia langsung menundukkan kepalanya.

“Apa benar ini rumahnya Pak Wahyu yang baru meninggal itu?” Tanyaku ramah, Wahyu adalah nama asli Si Godeg. Sengaja aku mengenakan pakaian rapi agar tidak dicurigai sebagai preman oleh orang sekitar.

“Benar, anda siapa dan ada keperluan apa?” Jawabnya lembut, kulihat matanya sembab dan agak merah. Beruntung sekali Si Godeg, kematiannya ditangisi oleh wanita cantik. Apa Siti tidak tahu kelakuan suaminya di luar itu seperti apa?

“Saya temannya saat kami masih sama-sama bekerja di pabrik, saya turut berduka cita atas kematian Wahyu dan saya kemari untuk melayat.” Ujarku sedikit diplomatis, aku memuji kepandaianku bersandiwara. Siti hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih pelan. Aku dipersilakannya masuk, di dalam rumah ada mertuanya Si Godeg dan beberapa saudara yang masih berkumpul. Aku mengobrol banyak dengan anggota keluarga Si Godeg sambil menceritakan pertemananku dengan Si Godeg yang tentu saja hasil karangan. Ternyata Si Godeg pintar juga menutupi kebengisannya itu. Di mata istri dan mertuanya Si Godeg dikenal dengan sifat santun dan penyayang. Hahaha, ingin sekali aku menguraikan beribu kejahatan yang telah dilakukan oleh Si Godeg, salah satunya adalah memperkosa adikku.

***

Aku memutuskan tinggal di desa tersebut selama beberapa minggu seraya memuluskan rencana yang telah kusiapkan untuk menculik Siti. Untuk sementara waktu aku tinggal di rumah pamannya Siti, karena aku dianggap satu-satunya kerabat Si Godeg. Jelas ini membuat rencanaku semakin mudah.

Aku berusaha menyesuaikan diri di lingkungan keluarga Siti yang agamis. Untungnya aku cepat beradaptasi karena waktu kecil aku sering diajarkan sholat dan mengaji oleh almarhum ayahku. Meskipun sebenarnya hal itu sangat sulit, mengingat sudah puluhan tahun aku meninggalkan apa yang diajarkan ayahku dulu.

Pak Rusdi, paman Siti selalu mengajakku ikut serta ke kajian-kajian yang diselenggarakan di mesjid desa, aku juga sering diajaknya ke mesjid setiap lima kali sehari untuk melaksanakan sholat. Tiga dekade lebih aku meninggalkan semua yang diajarkan ayahku, bahkan aku sudah lupa bagaimana gerakan sholat. Aku sudah merasa letih dan hampir menyerah bersandiwara. Tujuan utamaku ke desa ini bukan untuk belajar agama, melainkan untuk membalas dendam. Aku harus segera bertindak, jika tidak identitasku akan segera ketahuan, tekadku. Aku kembali merumuskan rencanaku yang tertunda.

“Hijrah adalah meninggalkan kemungkaran menuju keshalihan, dari kekufuran menuju keimanan, dari dunia kelam menuju cahaya hidayah.” Kata Ustadz Fatan saat mengisi khutbah jumat. Sudah seminggu aku tinggal di desa ini, membuatku mengenal hampir semua orang yang tinggal di daerah ini. Sebenarnya banyak hal yang kudapatkan dari tempat ini, selain belajar agama aku juga diajarkan cara bercocok tanam, yang sebagian besar penduduk di desa tersebut adalah para petani. Disamping itu orang-orangnya sangat ramah, dalam lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya aku nyaman berada di lingkungan ini, lingkungan ini mengingatkanku pada kampung halamanku. Aku juga sempat memutuskan untuk tidak balas dendam, tapi mengingat apa yang sudah dilakukan Godeg pada Marni, darahku kembali mendidih. Aku harus balas dendam.

***

Malam beranjak tua, aku bersembunyi di balik pohon akasia. Jalanan sepi, semakin memudahkanku untuk beraksi. kamar Siti tak jauh dari tempat persembunyianku. Aku berjalan mengendap-endap menuju jendela kamarnya. Namun kulihat ada dua bayangan yang tengah mengendap-endap ke tempat yang kutuju. Dua bayangan itu ternyata adalah dua orang yang kukenal, Baron dan Maung, ‘sedang apa mereka?’ Batinku. Aku segera bersembunyi di balik pohon angsana ingin mengetahui apa yang sedang mereka lakukan disini.

“Beneran nih, istrinya Si Godeg itu cantik kayak bintang film?” Tanya Baron sambil menelan ludah.

“Aku jamin seratus persen deh, kecantikannya benar-benar alami, pokoknya yahud, kecantikannya itu sebelas dua belaslah sama Si Marni yang tempo hari aku perkosa.” Jawab Maung sambil cekikikan. Darahku berdesir, amarahku benar-benar di ujung tanduk. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Godeg bahwa Si Maunglah yang telah memperkosa adikku.

“Ah, sayang sekali aku tidak ikut mencicipi adiknya Si Bos, kau sih tidak ajak-ajak.” Sergah Baron yang membuatku sudah tidak tahan lagi dengan percakapan yang menyulut kemarahanku. Aku mencoba mencari parang yang kusimpan di kandang domba, dan aku langsung membacok mereka. Para warga segera berdatangan ke arah kami yang sedang berkelahi termasuk Siti dan keluarganya. Kami segera dileraikan oleh para penduduk desa. Kulihat Baron dan Maung terluka sangat parah akibat kibasan parang di kepala. Aku yakin dalam beberapa hari ke depan, mereka akan segera mati, karena hantaman parangku cukup dalam di kepala mereka.

***

Malam itu aku langsung menceritakan kejadian yang sebenarnya termasuk niatku datang ke desa ini. Kulihat Siti tampak pucat, airmatanya juga mengalir deras. Paman Siti juga terlihat menutup wajahnya, aku tahu aku telah membuat orang sebaik mereka kecewa.

Malam itu juga aku pergi dari desa, dendamku sudah selesai tapi perasaan bersalah diam-diam menjalar hebat dalam dadaku. Mungkin sebaiknya aku menyerahkan diri saja pada pihak yang berwajib atas perbuatan sadisku. Atau aku memilih jalan pulang, berserah diri, memohon ampunan Tuhan. Tapi jalan mana pun yang aku pilih, jika sempat aku menua, maka selama itu aku akan hidup bersama bayangan wajah Siti.

Tasikmalaya, Januari 2020




===================

Asih Purwanti, tinggal di Tasikmalaya, sering menulis cerpen berbahasa sunda, karyanya sering dimuat di majalah Mangle.

Kakek Yiu Wai Ip

1

“Dia terjatuh di kamar mandi. Lalu pingsan dan koma selama dua hari. Begitu ia tersadar, namamulah yang  ia cari. Jadi, kapan kau akan ke Hong Kong? Kungkung (1)sangat berharap kau kembali.”

Pesan singkat dari Atin,  perawat kungkung di Hongkong kubaca berulang kali. Aku tidak bisa mempercayai atau aku memang tidak siap atas apa yang diucapkannya. Pesan singkat itu berdengung di kepala, juga di dada.

Sampai akhirnya, ama memanggilku dari dapur. Aku mendapatinya sedang mengaduk masakan dengan aroma  menguar ke seluruh ruangan. Kulihat di wajan ada kapulaga, daun kari, dan kembang lawang. kemudian satu tangannya meraih daging sapi yang sejak siang sudah kurebus dengan panci presto. Aku berdiri di sampingnya, dengan maksud ingin meneruskan masakan, tapi dia menolak dengan satu tangan terangkat persis di depanku.

Dia membalikkan badan dengan cepat, lalu mengambil bubuk jintan, bubuk kunyit yang berjejer rapi di rak bumbu. Dengan cepat dituangkan kedua bubuk rempah tersebut. Kemudian,  tangannya meraih beberapa sendok curry powder yang sejak mula sudah kusiapkan di meja. Tangannya mengaduk kembali. Diusapnya peluh dengan punggung tangan. Dia tampak kelelahan.

“Tidak semua orang Singapore bisa memasak,” Ama membuka pembicaraan.

 Aku diam.

“Kau tahu,  kari  buatanku rasanya juara. Keluarga besarku menyukainya. Kau harus cermat belajar masak dariku! Kau beruntung bekerja di sini.”

Tangannya meraih gelas yang berisi susu bubuk yang sudah kularutkan. Dituangkan perlahan ke dalam kari. Tangannya  mengaduk kembali, lalu dia mengibaskan tangannya di atas masakan. Hidungnya menghidu dengan cermat setiap detail aromanya.

“Kau sepertinya ada masalah. Sejak tadi kuperhatikan kau diam,” Ama menilik pandangku.

“Aku tidak apa-apa, Ama.”

“Kalau begitu, tolong belikan aku asam kandis. Di rumah habis. Aku akan memasak asam pedas ikan pari,” ama mematikan kompor, kemudian mengambil 2 dolar uang Singapore.

Aku melangkah dengan kaki kebas menuju daun pintu dan segera pergi ke kedai. Berulang kali pesan itu membuatku teramat pening. Memoriku memutar ulang kejadian yang memilukan, sekaligus membuatku bersyukur telah dipertemukan dengan seseorang sebaik Kakek Yiu Wai Ip.

Ketika itu, dengan koper kecil yang kutarik dan tas punggung berwarna hitam di pundakku, aku meninggalkan rumah majikan di Taipo. Aku memutuskan kontrak dengan majikanku yang memiliki 3 pembantu. Aku pikir pilihanku benar, karena  intimidasi yang selalu kuterima dari dua pembantu lainnya.

Majikanku mengantarku menuju agency dengan Alphard berikut sopirnya, setelah aku menyodorkan selembar kertas one month notice(2). Dengan begitu, dia akan memberiku kesempatan bekerja selama satu bulan kedepan dan aku memiliki uang.

Agency yang kuharapkan sebagai tempat berlindung, ternyata membuatku kecewa. Dia memojokkanku dengan menumpahkan seluruh kesalahan  kepadaku. Argumentasinya mematahkan lidahku untuk membela diri. Dan aku hanya diam menunduk memandangi nat-nat lantai. Sampai akhirnya, aku tidak mendapat uang pengganti interminit(3). Aku kebingungan memikirkan lima hari kedepan akan mengisi perutku dengan apa.

“Kau boleh pergi sekarang dari kantorku!” tukas agencyku dengan ketus. Kukira, dia akan mempersilahkanku untuk tinggal di boarding house(4) miliknya dan mencarikanku majikan baru.

Kuseret koper dengan langkah gontai menuju Stasiun MTR(5). Mungkin di sana, aku bisa berpikir kemana aku harus pergi. Sampai akhirnya Dompet Dhuafa terbersit di kepalaku.

Dari stasiun Taipo aku mencari kereta jurusan Kowloon Tong. Dan aku turun di Kowloon Tong. Kemudian aku mencari kereta lagi dengan tujuan Prince Edward dan aku hampir tertidur di kereta itu, kalau saja seorang turis tidak bertanya tentang alamat yang dicarinya. Kereta berhenti di Stasiun Prince Edward dan aku mencari kereta jurusan Admiralty. Ini adalah stasiun persinggahan terakhir dengan tujuan Causeway Bay. Tubuhku kembali ditelan badan kereta yang mengantarkanku menuju Causeway Bay.

Sepanjang perjalanan, lampu berpijar menerangi jalan dengan lineria keemasan,  dan juga gedung-gedung yang bersolek dengan cahaya lampu. Sementara, Langkahku panjang-panjang, memburu ruang dan waktu yang bersekutu. Langit tak lagi dipenuhi gemintang, ada mendung yang menggantung di sana. Aku harus segera.

Sialnya aku lupa letak Shelter Dompet Dhuafa, karena memang baru sekali aku ke sana ketika libur beberapa pekan lalu. Entah sudah berapa kali aku naik turun tangga gedung mengetuk satu pintu ke pintu lainnya.

Malam sudah mencapai kepekatannya. Mendung pun sudah siap-siap menumpahkan segala isinya. Aku berjalan menyeret koper dengan lemah. Aku sudah lelah. Kubiarkan saja angin mengusikku berkali-kali hingga akhirnya hujan berjatuhan bagai ratusan anak panah. Menghunjam bumi dan diriku tanpa ampun. Aku terbalut gigil yang amat akut hingga aku tergugu dalam kerasnya kehidupan Hong Kong.

Aku menuju stasiun setelah aku membeli sepotong roti dengan kartu patadongku(6). Aku duduk di  tangga stasiun. Di sana kunikmati rotiku. Hingga pada akhirnya, ada dua pasang kaki melangkah ke arahku. Seorang kakek dengan perawatnya.

Kakek itu memakai baju bergaya vintage berwarna turkuas yang sempat tenar di zaman Benjamin, dikombinasikan dengan rompi cokelat dan celana panjang corduroy cokelat. Kulihat sepatunya amat hitam berkilat terpantul sinar lampu. Tangan kanannya memegangi tongkat, tangan kirinya diapit perawat. Mereka menanyaiku, hingga akhirnya, kakek memintaku pulang ke rumahnya dan akan membawaku terlebih dahulu makan di restaurant. Aku menolak ajakannya. Kurasa, dia memberiku tumpangan sudah lebih dari cukup.

“Kamu hanya makan sepotong roti,” ucap kakek  sambil tersenyum memamerkan putih deretan giginya. Entah sejak menit keberapa kakek itu mengamatiku.

Kakiku mengikuti langkah pelan kakek  menuju Restaurant China yang berada di dalam bangunan Masjid Wanchai di lantai lima. Lalu kakek menuju ke sebuah meja bundar yang besar dengan empat kursi di sana. Kakek duduk di sampingku dan juga di samping perawatnya.

Kakek menulis pesanan, lalu sopir kakek yang berkewarganegaraan Filipina membawa kertas itu menuju meja waiter. Kami menunggu, dan kakek memapah pembicaraan, sehingga suasana menjadi cair. Sedikit demi sedikit kecanggunganku berkurang. Dari pembicaraan inilah aku mengetahui kakek itu bernama Yiu Wai Ip.

Pelayan datang dengan beberapa makanan di  tangannya. Empat bamboo steamer berisi dim sum yang masih mengepul asapnya. Sekeranjang Xiaolongbao(7), tiga piring nasi goreng oriental, dan empat mangkok kecil dong yhun(8).

                                                                        ***

Kakek hidup bersama istri dan perawatnya. Namun nenek lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Tidak ada komunikasi secara intens diantara keduanya. Mereka seolah-olah saling memberi jarak dan jeda. Aku tidak begitu memusingkan perkara ini, karena aku hanya orang yang singgah di rumah ini  dan sekejap aku pergi. Aku lebih memusatkan perhatianku menjaga kakek.

Pada hari keempat aku di rumahnya, kudapati kakek tidak seperti biasanya. Dia amat lesu dan lebih banyak diam. Dia duduk di sebuah kursi di tepi jendela, sementara televisi yang menyala dibiarkan saja.

“Kungkung, bolehkan aku memijat kakimu?” aku memancing suasana.

“Tidak perlu. Kau yakin akan pulang? Kau tidak ingin menuntut hakmu atas majikanmu?” tanyanya kemudian.

“Suamiku bersikeras menyuruhku pulang, Kek. Tanpa memberi alasan. Aku harus melupakan segalanya, dia memintaku.”

“Aku sedih kau hanya memiliki waktu lima hari di sini. Besok kau akan pulang. Aku seperti menemukan sesosok anak pada dirimu,” kakek berbicara dengan kekenesan yang berlebihan.

“Kau sungguh memiliki kemiripan dengan anakku, Yani,” kakek merogoh potret ukuran kecil dari dompet. Disodorkannya potret itu kepadaku. Sesosok gadis kecil berkepang, dengan kulitnya berwarna tembaga. Kulirik kulitku. Sama. Ah, ini hanya kebetulan.

“Aku harus berpisah darinya ketika ibunya memutuskan untuk pulang ke Indonesia, selamanya. Saat itu dia berusia 4 tahun. Namanya Yani Yiu Ip,” Kakek menggaruk lengan, aku segera mengambil cream gatal lalu kuoleskan ke lengannya. “Sama seperti namamu, kan?” kedua matanya menatapku.

“Namaku Yani Lestari, Kek.”

Dia diam cukup lama. Matanya berkaca-kaca lalu tangan kanannya mengibas, “Sudah tidak usah dipikirkan!”

Dia diam cukup lama. Matanya berkaca-kaca lalu tangan kanannya mengibas, “Sudah tidak usah dipikirkan!”

Aku langsung mengaitkan ketidakacuhan nenek kepada kakek. Apakah ini sebabnya? Pikiranku dipenuhi segala kemungkinan-kemungkinan.

“Jadi, kau memiliki dua istri, Kek?” tanyaku berusaha memancing jawaban untuk memastikan kemungkinan-kemunginan di kepalaku.

“Kau mengintrogasiku, Yani?” Kakek terkekeh, “Yah, memang. Perempuan Indonesia itu juga istriku.”

                                                                ***

Pagi itu tepat pukul 4 aku bersiap-siap untuk meninggalkan rumah Kakek. Kakek masih di kamar, mungkin dia masih tidur. Neneklah yang menemaniku. Sampai pada akhirnya, kakek berjalan gontai mendekatiku. Kulihat dia sesenggukkan. Bening air matanya membanjiri pipi, ia serupa anak kecil yang hendak ditinggal ibunya. Nenek entah mengomel apa melihat tingkah kakek. Karena suaranya yang cedal sulit bagiku untuk memahami pembicarannya, terlebih kantonisku sangat minim.

Kakek mengulurkan sejumlah uang. Aku hanya mematung.

“Ambil! Aku tahu kau tidak membawa uang. Apa yang akan kau katakan kepada anakmu jika kau kembali tanpa coklat, permen, atau mainan?” Kakek mengusap ingusnya.

Aku menatap ke arah nenek. Kulihat mulutnya merucut dan ia mulai menyadari aku menatapnya, “Ambilah, Yani! Untuk anakmu.” begitu ucap nenek akhirnya. Entah karena merasa tidak enak denganku atau memang dia menimbang-nimbang perkataan kakek.

***

Aku memutuskan mencari penerbangan tujuan Hong Kong. Aku hanya ingin menyambangi  kakek, setelah mengantongi izin dari majikanku di Singapore.

Mataku nanar ketika aku telah berada di Queen Elizabet Hospital, kakek dirawat di sana. Terakhir Atin mengabarkan, jika kakek masih dalam keadaan kritis, tidak kunjung membaik dan masih sering mencariku.

Aku melangkah masuk melewati security yang berjaga,  ia segera menghadangku, meminta ID Cardku(9) dan kartu pengunjung. Aku mengambil ID Card tanpa bisa menunjukkan kartu pengunjung. Dia menolak. Aku meyakinkan jika aku ingin menjenguk salah satu pasien yang kukenali. Namun sayang, security itu membuktikan kapasitasnya sebagai pekerja yang baik. Hingga akhirnya aku mengirimkan pesan ke Atin untuk menjemputku.

Begitu aku memasuki ruangan kakek, mataku memutari kamar di mana kakek dirawat, hingga akhirnya pandangku jatuh ke tubuhnya yang terbaring ringkih. Di sampingnya, kudapati nenek dan seorang perempuan yang kutaksir itu adalah anaknya.

“Yani,”  Wajah kakek tak lagi bersinar seperti saat bertemu dengannya di stasiun dulu. Aku mendekatinya.

“Oh, kamu ternyata yang namanya, Yani,” suara perempuan itu tidak bertanya juga tidak memastikan.

“Aku ingin memastikan, apakah kau baik-baik saja dalam perjalanan?” Aku mengangguk, sikap simpatinya tetap konsisten, “Aku tidak ingin kau seperti saat di stasiun.” Kakek menyunggingkan senyum.

Matanya mengerling ke arah Atin, seperti memberi suatu isyarat. Atin mengangguk. Lalu ia memberikan sebuah buku kecil. Semacam buku rekening. Namun, nenek segera menyambar buku tersebut.

“Kamu sebenarnya siapa?” Kedua bola mata nenek menganak sungai.

Mulutku mendadak kelu ketika hendak kubuka, dan kerongkonganku seperti tersumpal.  Aku baru tersadar jika aku berada di tempat yang salah.(*)

Keterangan:

1. Kungkung: kakek

2. One Month Notice: Surat sebulan pemberitahuan. Peraturan Hongkong mengharuskan jika pekerja akan mengakhiri kontrak kerjanya, harus menggunakan one month notice. Jika majikan tidak bisa mempekerjakannya sampai sebulan kedepan, dia harus membayar uang sebulan gaji.

3.Interminit: pemberhentian kerja secara sepihak tanpa pemberitahuan. Jika hal ini dilakukan majikan, maka majikan harus membayar satu bulan gaji dan gaji yang belum dibayar.

4. Boarding house: kos-kosan dan agency harus memilikinya.

5.MTR: Mass Transit Railway, kereta cepat.

6. Patadong: Kartu untuk naik MTR,  bus, dan bisa digunakan untuk berbelanja di beberapa toko.

7. Xiaolongbao: Pangsit isi

8. Dong Yhun: semacam wedang ronde

9. ID Card: Kartu Identitas



====================
Diani Anggarawati Lahir di kota Kendal, Jawa Tengah. Nama pena sebelumnya Diani Ramadhaniesta dan kini lebih nyaman menggunakan nama asli. Beberapa karyanya yang pernah terbit adalah: Hong Kong Bercerita, kumcer (Alif Gemilang Pressindo, 2013), Jejak Kartini di Negeri Beton, biografi TKW berprestasi di Hong Kong (Kaifa Publishing, 2013), Cinta Bertahta, novel (Rumah Orange, 2014) dan beberapa cerpennya pernah dipublikasikan di media berbahasa Indonesia di Hong Kong, Taiwan dan media online di Indonesia.

Rahasia-rahasia

0




Dalam homilinya yang singkat, Romo Benediktus bicara tentang janji setia sehidup-semati yang sama artinya dengan membuka seluruh diri. “Tak boleh ada rahasia. Apa saja. Dari waktu kapan saja. Ceritakan seluruhnya. Utuh. Pada pasanganmu,” kata pastor muda itu. Aku ingat bagian itu sebab disampaikan setengah berteriak karena gerimis yang turun sejak kami tiba di pintu kapela, menjelma hujan yang deras ketika homili sudah setengah jalan. Kapela itu sudah tua. Beratap rendah dan tanpa plafon.

Perihal rahasia yang tak boleh ada dalam hidup perkawinan itu menjadi kekal dalam ingatan—dan hari ini meruak, selain oleh sebab disampaikan setengah berteriak (membuatnya terdengar sebagai perintah) juga karena alasan yang lain: aku abaikan perintah itu sejak pertama kali mendengarnya meski perintah itu datang dari pastor yang menikahkan kami. Sebuah rahasia akan aku simpan sendiri hingga waktu bercerita tiba. Aku telah berjanji, dalam hati, tak akan bercerita apa pun tentang Joshua, kepada siapa pun—mungkin nanti, jika saat kematianku menjelang.

Aku bertemu Joshua di luar negeri. Di kota B, pada sebuah acara pembacaan puisi. Perjumpaan tak sengaja yang kemudian membawaku pada babak hidup yang sama sekali berbeda. Dari penggemar puisi-puisi John Keats kepada seorang yang kini menyandang gelar penyair. Gelar itulah, kupikir begitu, yang kemudian memudahkanku menaklukkan Magda.

Jauh sebelum kami menikah di kapela tua itu, kepada gadis itu pernah kukirim penggalan puisi: … Dan di dalam hatimu masuklah aku!/ Oh, cintai aku dengan sungguh-sungguh!. Aku comot begitu saja kata-kata itu dari buku harian seorang teman. Tak membuat Magda mencintaiku seketika, tetapi membuka kesempatanku bercakap-cakap dengan siswi paling populer di sekolah kami itu. Itu percakapan pertama kami setelah sekian lama kutunggu kesempatan itu datang—keputusan nekat mengiriminya puisi terbukti membawa hasil—sekaligus membuatku tahu bahwa dia mencintai puisi dan bahwa penggalan yang kukirimkan padanya berasal dari puisi Keats.

Magda, hari itu, bahkan menunjukkan bait lengkapnya: O breathe a word or two of fire!/ Smile, as if those words should burn be,/ Squeeze as lovers should – O kiss/ And in thy heart inurn me!/ O love me truly!// 

Sejak hari itu aku mulai gemar membaca buku puisi. Semula hanya agar dapat lebih sering bercakap-cakap dengan Magda, aku lalu jadi pemuja puisi-puisi Keats. Ketika akhirnya pindah ke kota B dan tahu bahwa di kota itu, pada waktu-waktu tertentu, orang-orang melaksanakan malam pembacaan puisi, aku ke sana. Sekadar mengisi waktu luang sembari memelihara ingatan tentang Magda yang jauh—tempat dia tinggal dan juga hatinya, mengenal lebih banyak penyair dari mulut para peserta yang hadir, hingga akhirnya bertemu Joshua.

Kelak ketika kami menyewa kamar yang sama, Joshua berkisah bahwa di matanya aku adalah satu-satunya orang yang dengan jujur mengaku bukan penyair (dan hanya becus membacakan puisi penyair lain). Sebab aku bukanlah orang yang sok—Joshua melabel yang suka menamakan dirinya penyair dan membaca puisi-puisinya sendiri padahal puisi-puisi mereka tidak bermutu sebagai orang yang sok—dia mau berteman denganku.

Joshua penyakitan. Dia hidup menderita hingga waktu kematiannya. Barangkali satu-satunya hal yang membuat hari-harinya bahagia adalah dengan menulis puisi. Mungkin juga tidak. Sebab dia tak pernah merasa puisi-puisinya baik. Puisi-puisi itulah yang dia tinggalkan padaku bersama utang sewa kamar yang dibawanya mati. Puisi-puisi yang bagus menurutku. Lalu kusertakan pada sebuah lomba. Mendapat peringkat tiga. Tak ada nama Joshua di manuskrip yang kukirim itu.

Bahwa aku jadi pemenang ketiga lomba cipta puisi di luar negeri, kuceritakan pada semua orang di kota ini. Kepada pimpinan redaksi sebuah koran besar yang baru saja ditinggal mati redaktur puisi mereka, kepada orang-orang rumah, juga kepada Magda yang belum bersuami.

Aku akhirnya diterima kerja di koran besar itu sebab mereka membutuhkan seorang redaktur puisi yang baru dan aku adalah pemenang sebuah lomba di luar negeri. Gajiku lebih dari cukup sehingga aku bisa menyewa rumah, Magda sering berkunjung sebab bercakap-cakap dengan redaktur puisi sebuah koran terkenal adalah hal yang menyenangkannya.

Dia menangis bahagia ketika kupinang. Sangat bahagia ketika selain cincin pinangan, kuberikan padanya buku puisiku yang pertama; puisi-puisi peninggalan Joshua tentu saja.

Aku mencintainya sepenuh hati, cinta pertama yang tak akan kutukar dengan apa pun. Segala hal kulakukan agar tetap bersamanya: menjadi tua di bawah atap yang sama, mati dalam pelukannya jika boleh, dan dari surga melihatnya bercerita tentang betapa hidupnya telah sungguh bahagia sebab telah menikah dengan lelaki yang mencintai puisi. Karena itulah, tak pernah kuceritakan tentang Joshua; siapakah yang ingin merusak fantasi kekasihnya?

“Kita sudah tua,” katanya suatu malam, beberapa pekan yang lalu.

“Ya. Dan kita berhasil menua bersama.” Aku beringsut mendekat, mengecup keningnya, mengelus lembut rambutnya yang telah seluruhnya putih, lalu rebah rapat di sisinya. Dia bicara lagi, bahwa hidupnya sejak hari kami menikah adalah sebenar-benarnya kebahagiaan.

“Kau ingat Romo Benediktus?” Tanyanya kemudian.

Tentu saja aku ingat pastor itu (semoga dia beristirahat dalam damai) sebab seminggu setelah kami menikah aku menemuinya di sakristi, meminta pengakuan dosa: jika merahasiakan sesuatu dari istri adalah dosa, ampuni aku sebab tak akan pernah kuceritakan tentang Joshua padanya.

“Kau ingat homilinya pada hari pernikahan kita? Katanya, tak boleh ada rahasia, apa saja, dari waktu kapan saja, ceritakan seluruhnya, utuh pada pasanganmu. Kau ingat? Apa kau akan marah kalau tahu bahwa aku menyimpan satu rahasia selama ini?”

Kukatakan padanya, sekali lagi, bahwa kami telah berhasil menua bersama dan bahwa menyimpan satu rahasia bukanlah apa-apa.

“Tapi ini besar sekali,” katanya setengah berbisik, “dan kupikir tak boleh kubawa mati.”

“Rahasia apakah yang lebih besar dari kisah yang kau simpan bertahun-tahun bahwa rahimmu telah diangkat, Magda-ku sayang?”

Setelahnya, dalam kalimat yang diejanya perlahan, dia bercerita panjang lebar tentang buku-buku puisiku. Juga rahasia yang disimpannya tentang buku-buku itu: “Setelah buku kumpulan puisimu yang pertama, sepertinya, kau tak lagi bisa menulis puisi. Buku-bukumu berikutnya tak pernah mampu kubaca tuntas sebab mereka begitu buruk. Maaf aku merahasiakannya selama ini.”

Kukecup keningnya sekali lagi. Mengelus lembut rambutnya yang telah seluruhnya putih. Membisikkan selamat malam dan berjanji dalam hati: kelak, jika aku tahu hari kematianku sudah dekat, akan kuceritakan padanya rahasia di balik buku puisi yang pertama itu. Tetapi Magda tidak bangun lagi. Dia pergi untuk selamanya malam itu. Dengan damai. Sebab tak membawa rahasia apa-apa.



=====================
Armin Bell. Bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra, Ruteng. Cerpennya “Monolog di Penjara” meraih penghargaan Cerpen Terbaik Anugerah Sastra Litera 2018.

Di Tubuhku, Durjana Itu Meledak, Teta

0

Teta-ku, Um Halimah sudah lama meninggal, jauh sebelum Zionis berhasil menduduki sebagian wilayah Gaza. Ia sering mengatakan bahwa peperangan tidak pernah memberikan belas kasihan kepada siapa pun yang terlibat di dalamnya. Teta-ku betul. Banyak orang-orang mati di dalamnya: Palestina dan Israel sama-sama telah kehilangan banyak nyawa, sementara perang tidak tahu kapan berakhirnya.

“Jika aku adalah Allah. Aku akan dengan mudah menghentikan semuanya,” kata Teta. Aku menyetujuinya. Tapi, siapalah aku dan Teta ini selain segelintir orang yang harus merasakan betapa kejamnya penindasan Kaum Yahudi, dan menjadi saksi bahwa perang tidak menghasilkan apa pun kecuali derita dan kepahitan.

Ketika Teta-ku meninggal, karena sakit tua, aku tidak terlalu larut dalam kesedihan. Bagiku, kematian Teta-ku jauh lebih manusiawi ketimbang kematian orang-orang Palestina lainnya yang kebanyakan mati mengenaskan: karena ledakan bom, granat yang terinjak, peluru dari senapan tentara Israel, atau tertimbun puing-puing dari bangunan yang roboh terkena ledakan misil.

“Tak perlu takut akan kematian, cucuku,” nasihat Teta, sehari sebelum malaikat maut menjemputnya. “Sekarang atau nanti, apa bedanya? Perang tidak bisa memberikan pilihan lebih baik bagi kita,” tambahnya. Aku mengangguk dan mencoba memahami akan maksud omongan Teta.

Mariam mendatangiku terlalu pagi. Aku yang sedang menyiapkan Ghada untuk keluargaku terkejut akan kedatangannya yang tidak sesuai rencana. Keluarga yang kumaksud adalah Khalto Sha’adah, suami, beserta dua anaknya, yang telah menampungku selama ini, setelah aku tidak memiliki keluarga dan tempat hunian.

Mariam datang dengan mengenakan galabiyas berwarna kelabu, sewarna dengan niqab-nya juga. Bola matanya yang secerah matahari, mengilatkan semangat luar biasa yang sempat hilang dari dirinya. Aku menyapanya dalam kesibukan yang aku lakukan.

“Sepagi ini?” tanyaku.

“Apa salahnya?” Mariam mengerlingkan matanya.

“Tak sesuai rencana,” sesalku.

“Kau keberatan?”

“Ya … dan tidak.”

Aku menyuruh Mariam untuk menunggu sebentar. Seraya menuangkan karkadeh ke dalam cangkir, untuk menjamu Mariam, aku mencari Khalto Sha’adah untuk sekadar berpamitan. Aku menemukannya di ruang tengah dengan tangan kanannya yang belepotan labneh

“Khalto, aku pergi sebentar,” pamitku. “Bersama Mariam.”

Khalto menatapku dengan bola mata kuatir. Aku tahu, ledakan bom bisa terjadi kapan dan di mana saja. Aku mengelus punggung tangannya untuk menenangkan. “Aku akan baik-baik saja,” ucapku.

Allah ma’ek, Habibti,” ujarnya lirih. Aku mengangguk.

***

Ledakan itu terdengar begitu dekat dari tempat aku berdiri. Mariam, sudah sejak tadi bersembunyi di antara puing-puing yang terserak di sekitar kami: tempat bangunan sekolah kami dulu berdiri, juga tempat pelayanan publik lainnya semisal kantor pos. Aku tidak berusaha untuk bersembunyi seperti yang dilakukan oleh temanku itu.

Beberapa bulan lalu mungkin aku akan begitu ketakutan ketika bom-bom itu meledak. Letusan senapan dan bau mesiu sama sekali tidak berpengaruh banyak terhadapku, untuk sekali ini. Semenjak Israel menyerang daerah kami, aku mulai terbiasa dengan bunyi-bunyi dahsyat sang angkara murka yang menamakan dirinya Perang. Dulu, enam bulan yang lalu, tatkala ledakan bom disertai jerit tangis dan teriakan orang-orang, aku kerap membayangkan bahwa itu adalah jeritan Ibu, atau Ayah, atau adikku, Anwar, atau Sallamah, kakakku, atau teriakan aku sendiri yang terlempar serpihan puing dan ledakan bom. Dan aku merasa begitu ketakutan bahwa aku akan kehilangan mereka semua.

Ketakutan itu telah hilang. Semenjak aku tidak lagi bisa mendengar jeritan mereka—mereka semua telah tewas ketika serangan udara Israel meluluh-lantakkan Naqba, kampung pinggiran di Jalur Gaza, tempat keluarga kami tinggal. Tidak ada yang tersisa kecuali aku dan kepiluan akan kehilangan atas orang-orang yang kucintai.

“Harusnya aku ikut mati, seperti orang-orang yang kucintai.” Aku kerap berpikir bahwa Allah masih berbaik hati padaku, walau pada kenyataannya, pada satu kesempatan dalam sebuah perenungan, aku lebih menginginkan mati bersama mereka semua, ketimbang harus hidup dihantui oleh ketakutan dan kenangan buruk perihal mereka.

Ledakan itu terdengar lagi. Asap hitam mengepul-ngepul di udara. Siapa lagi yang tewas dan menjadi korban kebuasan para durjana? Pikirku, apa yang mereka inginkan selain nyawa-nyawa tak berdosa kami? Kekuasaankah? Pengakuan sebagai Penguasa Baru di tanah kami, atau apa?

Jawaban itu meledak beberapa meter di belakang tempatku berdiri. Tubuhku terlempar beberapa meter ke depan, berguling-guling, lantas mendarat dengan mulut mencium tanah berpasir yang sudah lama berbau mesiu, tempat jiwa kami terabaikan.

“Najmiyeh! Cepat lari. Aku di sini!” Dari celah puing-puing bangunan yang terserak, suara Mariam terdengar dengan getar yang dibalut kecemasan. Aku masih berbaring di atas tanah berpasir sementara dentuman-dentuman keras terdengar silih berganti dari radius yang saling berdekatan.

Seperti kebiasaan kami berdua, tempat ini adalah tempat terbaik bagi kami untuk berbincang perihal apa saja. Lebih sering kami saling berbagi penderitaan satu sama lain perihal kehilangan demi kehilangan yang harus kami lewati. Siang ini rencananya kami hanya singgah sebentar sekadar mengenang kepergian orang-orang tercinta di antara kami. Mariam menunjukkan shabka yang dikenakannya dengan kesedihan yang mencoba disembunyikannya. Mariam tiga tahun lebih tua dariku ketika menerima pertunangan dari lelaki bernama Mahmoud, yang pada masa berikutnya pertunangan itu tidak pernah lanjut ke jenjang pernikahan sehubungan kematian Mahmoud di tangan seorang tentara Israel. Mariam sedih, namun tetap berusaha untuk tidak melepas cincin itu. Aku mafhum.

Bukan hanya aku yang merasakan penderitaan sepedih itu, sebagian besar kami merasakannya. Mariam tidak kehilangan ayah, ibu, atau adik laki-lakinya, kecuali Mahmoud dan juga Najmiyeh Ullum, kakak perempuannya yang nama depanya sama denganku. Najmiyeh ditemukan tewas di pinggir sungai dengan tubuh nyaris telanjang sementara selangkangannya yang tertutup kain tipis tampak mengalirkan darah dan noda berbau amis sperma. Najmiyeh hilang semalaman, menyisakan kepanikan dan rasa kuatir Mariam dan keluarganya. Semenjak itu, ke mana pun Mariam pergi, ia selalu menyembunyikan pisau yang terlilit kain di pangkal paha yang ia sembunyikan dibalik thobe yang dikenakannya. Mariam berdalih akan membunuh orang Israel mana pun yang hendak menjamahnya sebagai upaya pembalasan dendam. Itu tidak pernah terjadi, hingga saat ini.

“Bangsat Israel!” geramku seraya berusaha bangkit dari tempatku terlempar.

Tidak ada yang bisa kulakukan selain memaki. Aku yang dua belas tahun tak lebih ringkih dari perempuan remaja manapun sepanjang Jalur Gaza ini.

Sebenarnya aku ingin membalas semua yang telah mereka lakukan dengan menjadi prajurit dan ikut berjuang membela hak-hak kaum kami. Sayangnya, ayah tidak mengizinkan.

“Ayahmu tidak ingin kehilanganmu, Nak?” cegahnya suatu saat.

“Apa bedanya?” pikirku. “Sekarang atau nanti kita akan hilang atau tewas ditembaki para Zionis.” Namun, aku tidak mengatakannya.

Ayahku seorang pejuang, dulunya, sebelum kehilangan kedua kakinya akibat ranjau darat yang dipasang tentara Israel di Beit Daras, ketika berperang. Saat itu ayahku hanya mampu berbaring di atas tempat tidur dalam keringkihannya dengan air mata kerap tak terbendung tatkala saudaranya tewas satu persatu dalam peperangan tak berkesudahan ini. Ayahku meninggal saat bom meledak di perkampungan kami, Naqba, bersama Ibu, dan kedua saudaraku, sementara aku selamat sendirian.

“Aku harus membalas mereka semua!” teriakku setelah mampu berdiri. Aku tidak berlari ke arah puing-puing tempat Mariam bersembunyi ketakutan, melainkan sebaliknya, berlari ke arah tempat ledakan-ledakan itu pecah bergantian.

“Apa yang kamu lakukan, Najmiyeh? Bahkan kamu tidak sedang menyandang senjata apa pun!” teriak Mariam. Aku tidak peduli.

“Najmiyeh! Kembali!” teriak Mariam lagi.

Aku tak peduli. Aku mungkin tak bisa membunuh mereka dengan senjata. Setidaknya ada banyak orang terluka di sana yang membutuhkan pertolongan. Itu yang ingin kulakukan dalam kegeraman yang tidak memiliki muara ini.

“Najmiyeh! Kembali! Kembali kataku!” teriakkan itu berkelindan dengan desingan dan ledakan yang muncul tiba-tiba dari arah belakang puing-puing. Aku menyadari bahwa hawa panas menerjangku tiba-tiba. Aku menyadari bahwa hawa panas itu berasal dari udara yang terbakar yang kini menjilati tubuhku ini. Aku kehilangan tubuhku dalam kesakitan yang janggal. Aku merasakan kesakitan yang teramat perih. Walau setelahnya aku merasakan sebongkah kebahagiaan yang tidak terperi meletup dalam dadaku. Aku mungkin akan segera bertemu dengan Ayah, Ibu, saudaraku. “Persetan dengan perang! Persetan dengan segala ketakutan dan kengerian! Persetan semuanya!”

Mariam keluar dari persembunyiannya setelah suara ledakan itu tak terdengar lagi. Semuanya mulai sunyi kecuali kepulan asap yang membubung tinggi ke udara, bau mesiu, dan rintihan pilu orang-orang yang terluka. Mariam tak menemukan utuh tubuhku selain serpihan daging-daging yang gosong terpanggang api. Aku menangis saat menyaksikan Mariam menangis di atas tubuhku yang tak lagi utuh.

“Allahu Akbar! Aku berdoa kepadamu agar perang ini cepat usai, dan izinkan Mariam tetap hidup dan kembali kepada keluarganya dalam keadaan utuh. Dan izinkan aku bertemu dengan orang-orang yang aku cintai. Kesakitan dan segala kepiluan ini telah berakhir bagiku. Ya, Allah, hentikan semuanya dan biarkan hidup mereka damai seperti sedia kala.”

Garut, Maret 2020



===========================

Utep Sutiana, lahir dan besar di Garut, 28 Juni. Pernah tergabung dalam beberapa Buku Antologi, baik berupa cerpen maupun puisi.

Ali Sabidin Menengok Bayinya

2

Ali Sabidin menerima kabar gembira tentang kelahiran istrinya. Dia pulang malam itu dengan menumpang bus terakhir jurusan ibu kota. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang dipikirkan lelaki itu selain bahwa bayi yang baru saja dilahirkan istrinya adalah bayi laki-laki.

Ali Sabidin sangat bahagia atas kabar kelahiran ini, karena pernikahannya dengan Marlena berlangsung hampir empat belas tahun. Tak ada seorang pun bayi yang mereka dapatkan sampai sejauh itu. Entah berapa banyak mulut membicarakan tentang ini, tapi lama-lama sepasang suami istri tersebut tak lagi peduli. Bahkan, suatu saat, Ali Sabidin pernah begitu meyakini betapa dia tidak ditakdirkan memiliki keturunan sampai tua dan mati.

Sekarang, kabar ini tiba-tiba bagai setetes air di tengah gurun yang mengepungnya selama empat belas tahun terakhir. Biasanya Marlena akan selalu kehilangan bayi pada detik-detik terakhir ketika seorang bayi seharusnya muncul dari rahim ibunya ke dunia dengan harapan serta nama baru. Malam itu lain. Ada telepon datang dan membuat Ali Sabidin nyaris kehilangan kesadaran saking senangnya.

Ali Sabidin melompat dari pos tempat di mana dia biasa berjaga di perbatasan dan menghambur keluar hingga nyaris menabrak temannya yang baru saja kelar membuang hajat di tepi hutan. Ali Sabidin berteriak lepas dan tampak seperti orang gila andai saja dia tak mengenakan seragam penjaga perbatasan. Sang teman hanya bisa mengucapkan selamat dan memberikannya waktu luang semalam untuk menengok anaknya yang baru lahir.

Dalam bus, tak henti-henti Ali Sabidin berbicara pada setiap penumpang yang ada di sisinya atau tak sengaja duduk bersebelahan dengannya. Setiap yang mendengar soal hadirnya bayi itu hanya manggut-manggut dan memberi selamat singkat. Mereka tidak ada yang mengenalnya. Kebanyakan penumpang pendatang yang sering tidak mengerti bahasa daerah yang kerap digunakan Ali Sabidin sehari-hari, meski harusnya dia pakai bahasa asing yang umum diketahui di kawasan dekat perbatasan.

Para pendatang itu memang sudah lama berlalu lalang melintasi perbatasan dan itu sudah jadi hal biasa setelah para pemberontak dikalahkan oleh pihak pemerintah. Dulu, kaum pemberontak kerap membuat situasi di kawasan ibu kota di mana Ali Sabidin dan istri tinggal menjadi begitu mencekam tiap malam. Tidak ada yang bisa tenang, bahkan meski bagi orang-orang asli daerah ini seperti Ali Sabidin. Sekarang, keadaan jauh lebih aman dan pekerjaan menjaga pos perbatasan sudah bukan pekerjaan yang berisiko. Jadi, bagi tiap penumpang yang mendengar kabar kelahiran bayi Ali Sabidin, kabar semacam itu tidak ubahnya sebuah kabar yang begitu biasa; bagai rutinitas sarapan di pagi hari di mana setiap orang bisa dan boleh melakukannya sesering yang diinginkan. Meski begitu, Ali Sabidin tetap terlihat bahagia dan lagi-lagi mengungkapkan hal itu pada penumpang mana pun yang belum turun di tujuan masing-masing.

Hanya saja, malam itu hujan turun begitu deras. Hujan itu bermula dengan gerimis rintik-rintik yang disusul angin kencang dan langit yang menggerung. Pepohonan di sisi kiri-kanan jalan yang dilalui bus bergoyang mengikuti tiupan angin hingga membuat beberapa penumpang berdoa agar perjalanan mereka tidak terganggu.

Saat hujan deras turun dan cipratan airnya membasahi sebagian wajah Ali Sabidin yang duduk di dekat jendela, lelaki itu mulai menyadari ponselnya tertinggal di pos jaga dan dia teringat betapa belum sempat dia bertanya-tanya tentang kabar sang istri. Apa yang Marlena lakukan setelah melahirkan bayi itu? Apa dia selamat sebagaimana bayi yang baru saja dilahirkannya?

Sejak hujan turun, selain mengungkap kesenangan-kesenangan tentang si bayi pada beberapa penumpang, Ali Sabidin diam-diam berdoa untuk Marlena.

Dia tidak akan mengalami sesuatu yang buruk, demikian pikirnya, terus menerus, tiada henti. Dia tersenyum dan memeluk bayi kami dengan hangat dan mesra. Dia pasti pula bertanya-tanya bagaimana diriku saat menemuinya nanti? Apa saja yang akan aku ucap? Bagaimana merayakan kebahagiaan yang tertunda empat belas tahun terakhir ini?

Pikiran-pikiran itu kian menguat setelah satu demi satu penumpang turun dan tidak ada lagi yang tersisa selain Ali Sabidin dan sang sopir. Tak ada kenek di sini, sedangkan dia tidak mengenal sopir itu. Demi meredam kecemasan hatinya akan keadaan Marlena, Ali Sabidin berpindah duduk di samping sang sopir dan mencoba membangun obrolan ringan, sementara hujan angin di luar semakin deras saja.

Sang sopir yang terlalu fokus pada tugasnya tidak terlalu memperhatikan omongan Ali Sabidin tentang ponsel bututnya yang tertinggal di pos jaga beberapa kilometer nun di belakang. Hanya karena dia lebih muda dan mengira seharusnya menghormati orang yang lebih tua, apalagi orang itu mengaku baru saja punya anak setelah menikah selama empat belas tahun, sesekali sopir tersebut menoleh demi sekadar membuat Ali Sabidin merasa sedikit dihargai oleh orang asing yang diajaknya bicara.

Sayangnya, sang sopir tak menyadari ada pohon melintang di jalan. Bus terguling setelah roda depan menabrak batangan kayu besar itu hingga membuat si sopir beserta Ali Sabidin terlempar-lempar untuk beberapa detik di dalam kendaraan.

Hujan deras belum kelar. Petir masih berkelebatan di langit.

Di dalam kubangan lumpur, bus tersebut kini tampak ringsek dengan kondisi roda berada di puncak dan menghadap langit. Sebagian besar kaca jendela pecah dan melukai Ali Sabidin, tapi tak terlalu parah. Hanya sang sopir yang tidak selamat karena tubuhnya tergencet pohon yang masih tegak berdiri, yang menyambut tubuh bus yang meluncur deras di jalan usai terguling beberapa waktu lalu. Ali Sabidin coba membangunkan sopir bernasib sial itu, tetapi tak ada sambutan. Tak ada gerak atau respons apa pun. Maka, dia merangkak keluar dengan payah, seorang diri.

Dalam pikirannya, Ali Sabidin menduga ketika itu sudah menginjak tengah malam. Tak ada bus lagi yang melintas hingga nanti jam 4 pagi saat azan subuh berkumandang. Tak akan ada pertolongan sampai saat itu, kecuali ada seseorang kurang kerjaan sedang berkeliaran di jalan yang dikepung hutan ini, demi entah apa. Namun, Ali Sabidin tahu, kemungkinan macam itu sangat kecil.

Dengan luka sayat di lengan kiri, serta kaki kanan yang terkilir, Ali Sabidin enggan berhenti di sini. Dia ingin melanjutkan langkah menuju ibu kota yang berupa kota kecil yang tua dan menyedihkan, di mana rumah dan istri dan bayi barunya kini berada. Jarak yang harus ditempuh mungkin 4 atau 5 kilometer. Itu bukan persoalan. Harusnya bukan persoalan. Maka, Ali Sabidin menahan-nahan luka dengan bebatan kain seadanya dan berjalan sebisa mungkin menuju arah pulang.

Entah berapa lama Ali Sabidin berjuang. Pada akhirnya dia bisa mencapai rumah. Pada akhirnya dia bisa menatap tubuh bayinya yang tampak mekar dan kuat. Hanya saja, bayi itu terlihat membiru. Entah apa sebabnya. Bidan yang membantu kelahirannya tak bisa berbuat karena hujan deras menutup akses menuju puskesmas di arah lain dari bus yang tadi ditumpangi Ali Sabidin.

“Pohon-pohon tumbang di berbagai tempat. Bahkan gerobak kuda pun tidak dapat membawa bayimu ini ke sana,” kata sang mertua yang matanya begitu basah dan merah.

Ali Sabidin yang kepayahan oleh luka kecelakaan, lalu teringat Marlena. Dia pergi ke kamar, ke ruang tengah, ke kamar mandi. Tak ada siapa pun di sana selain beberapa saudara yang melamun dan merokok di berbagai sudut rumah.

“Mana Marlena?” tanya Ali Sabidin.

Tak ada yang menjawab dan setiap mata memandangnya diam.

“Mana Marlena?” tanya Ali Sabidin lagi.

Tak ada yang menjawab. Setiap mata memandangnya diam dan Ali Sabidin seakan mengerti apa yang telah terjadi. [ ]

Gempol, 19 Juli 2019

==========

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Terbaru

Cerita-Cerita Menghilang dari Kepalaku

Cerita-cerita menghilang dari kepalaku. Komputerku sampai bosan menunggu jari-jemariku menyentuh tutsnya, sehingga benda itu...

Tiga Burane

Dari Redaksi