Rumah Kanak-Kanak

Anggur

Kutukan Kematian

Ingatan pada Satu Nama

Cerpen

Home Cerpen Page 3

Tas Rotan di Tangan Sukap

0



Tas rotan berpelipir hiasan lokan dan manik itu sudah tiga hari ada di tangan Sukap. Isinya tetap utuh; dua lingkar cincin emas dan beberapa lembar uang kertas berjumlah tiga ratus ribu rupiah. Ia menemukan tas itu di depan sebuah toko bekas, tempat dirinya biasa istirahat saat lelah mengemis.

Sukap sudah mengumumkannya dengan berbagai cara, ditulis di selembar kertas dan ditempel di tempat-tempat umum, dituturkannya dari mulut ke mulut, hingga minta bantu takmir masjid untuk diumumkan lewat pengeras suara. Terakhir, ia minta seorang pemuda untuk megumumkannya di media sosial. Tapi barang itu tetap tak diparani oleh tuannya.

Setelah sebulan tak ada yang memarani, Anis, istri Sukap mulai menyarankan agar cincin dan uang yang ada di dalam tas itu segera diambil.

“Barang itu kan sudah sebulan ditemukan dan diumumkan, Mas. Jika memang tidak ada yang mengakuinya, berarti barang itu sudah milikmu,” istrinya  meyakinkan Sukap untuk mengambil barang temuan itu, pelan tangannya memungut satu cincin di dalam tas itu, dan mencobanya di jari manis.

“Tidak! Aku tak ingin mengambil hak orang. Barang ini harus kuumumkan hingga purna satu tahun, sebagaimana aturan Islam. Jika satu tahun tak ada yang mengakuinya, aku akan menyerahkan uang dan cincin ini ke panti yatim,” jawab Sukap dengan nada tegas.

“Jadi Mas Sukap tak akan mengambil barang temuanmu ini?” istri Sukap melirik tajam.

“Tidak. Aku tidak akan mengambilnya.”

Istri Sukap lekas melepas cincin yang dicobanya dan menaruh begitu saja di atas meja. Wajahnya memerah. Ia menuju kamar dengan langkah yang cepat, dan menutup pintu keras sekali, hingga pintu yang terbuat dari bambu itu, bagian pojoknya patah, berhambur di lantai.

###

Supat melipat bibir bawahnya ke dalam, rasa haus menimbulkan bunyi mirip air mendidih dari dalam tenggorokannya. Sejak pagi hingga menjelang zuhur, ia hanya sempat minum air, seusai subuh, sebelum dirinya berangkat mengemis. Air yang diambil dari lambung gentong tua bermulut patah itu, ia bayangkan menjadi nasi, demi menyiasati peruntnya agar tak berbunyi.

Seperti biasa, setelah berkeliling di sekitar pasar Anom, ia akan istirahat di sebuah emperan toko bekas, duduk bersandar pada hamparan pintu kayu, sembari melihat lalu-lalang kendaraan, atau kadang menghitung hasil mengemisnya selama setengah hari yang ditampung dalam kantong kain lusuh.

Sukap menguap dan mengucek matanya yangtampak lelah. Ia kembali menyimpul ujung kantong kain lusuh berisi uang receh itu, lalu ditaruh sebagai bantal saat dirinya rebah. Tas rotan yang juga biasa ia bawa, ditimang di atas dadanya, isi yang ada di dalamnya terdengar  samar sedang bergulir-gulir.

Sembari mengamati tas itu, Sukap teringat kepada istrinya di rumah, betapa ia sangat mengharap tas rotan dan isinya itu jadi mililknya. Sejak kemarin ia bahkan mengancam akan kabur jika Sukap tetap tak mau mengambil barang temuannya itu. Sukap pun mulai berpikir, seandainya uang dan cincin itu ia ambil, maka jumlah uang yang ia miliki akan jauh lebih banyak dari hasil tujuh hari mengemis.

Sukap lalu tengkurap, tas rotan itu masih di tangannya, ia amati dengan teliti, bagian samping yang bercelah halus dan rapi, bagian bawahnya beralas tempelan kain songket hijau berjahit sejajar dan teratur. Sukap pun mulai sedikit tergoda untuk mengambilnya. Tapi ia tetap bimbang, khawatir suatu saat pemiliknya datang dan mengambil tas itu lagi. Kadang Sukap beranggapan, tas itu tas ajaib yang memang dikirim malaikat untuk dirinya.

“Jika tas ini kuambil, maka dua keuntungan yang bisa kudapatkan. Pertama, aku punya uang dan cincin. Kedua, istriku akan bahagia dan tidak akan meninggalkanku,” Sukap membatin. Bibirrnya memincuk senyum.

“Tapi, kata guru ngajiku, jika barang temuan yang tidak sampai satu tahun diambil oleh si penemu dan orangnya tidak rida, maka si penemu sama dengan pencuri, ia akan makan uang haram, dan haram itu adalah neraka,” Sukap bergidik, ia menyentuhakan ujung dagunya ke lantai, lurus dengan tas rotan yang dipegang, matanya masih mengamati tas itu dengan teliti.

Sukap memilih lebih baik lapar daripada kenyang dari hasil menjual milik orang lain.

Pikiran Sukap terus melayang, hingga teringat masa kecilnya, tentang almarhum ibunya yang bekerja sebagai penjual sayur. Dulu, ibu Sukap selalu menenteng tas rotan setiap kali pergi ke pasar menjual sayur. Tas itu ia gunakan untuk menyimpan uang dan aneka barang bawaan. Suatu hari, tas itu hilang beserta sejumlah uang yang ada di dalamnya. Pengumuman disebar ke berbagai tempat. Pencarian pun dilakuan, tapi hasilnya sia-sia. Tas itu tetap tak ditemukan. Di detik-detik sebelum mengembuskan napas terakhirnya, ibunya sempat berbisik kepada Sukap, jika suatu saat tas itu ada yang mengembalikan, uang yang ada di dalamnya suruh kasih kepada si penemu dan tas rotan itu jadi milik Sukap. Tapi setelah ibunya meninggal, tak ada yang mengembalikan tas itu. Kini Sukap menduga, tas yang ditemukan dirinya itu kemungkinan tas milik ibunya yang pernah hilang, walau ia juga bimbang, karena mata uang yang ada di dalamnya adalah keluaran baru, lagi pula tas milik ibunya tak berisi cincin.

Sukap bangkit, duduk bersandar kembali ke hamparan pintu kayu, wajahnya tampak didera rasa letih, matanya yang temaram memandang paksa lalu-lalang kendaraan, sesekali ia menguap dan punggung tangannya menggosok pelan bibirnya yang kering. Dan di sela suara keriuhan kota itu, bunyi perutnya terdengar lagi.

Ia memutuskan pulang untuk menemui istrinya. Tas rotan itu ia jinjing, satu genggam dengan kantong lusuh miliknya, seolah dirinya sedang membawa barang yang bisa mengantarkannya ke surga, atau ke neraka.

###

Hari  itu, di rumah bambu yang dibedaki pintalan jaring laba-laba, Sukap purna merasakan luka. Ia duduk lemas pada kursi lapuk yang dijalar sarang rayap, air matanya merembes, menuruti jalur garis keriput pipinya yang tirus. Selain perutnya yang lapar, ditambah satu beban lagi, istrinya kabur dan hanya meninggalkan selembar kertas berisi tulisan, bahwa ia sudah tidak kuat dengan kemiskinan Sukap, ia juga tidak kuat dengan sikap jujur Sukap yang menurutnya kian menambah penderitaannya.

“Andai tas rotan beserta isinya itu Mas Sukap ambil, pasti aku tak akan kabur,” begitu baris kalimat terakhir dari surat yang ia tulis dengan huruf berlarik penuh tikai mirip cacing.

Sukap meraba tas rotan yang ada di sampingnya. Memandanginya sejenak, terbersit keinginan untuk membuang barang sial itu ke sebuah sungai di perbatasan dusun, ia rasa hal itu adalah jalan tengah yang bisa menyelamatkan dirinya dari dosa dan  petaka.

Ia berencana akan membuang tas itu di sungai Jumari, lewat jalur selatan yang menghubungkan liuk jalan setapak ke sebuah pemandian hewan ternak yang biasanya sangat sepi jika pagi hari. Setelah tas itu dibuang, ia akan mencari istrinya, dan jika bertemu si istri ia akan bilang jika tas itu sudah diambil pemiliknya.

###

Akhirnya tangan Sukap pasrah melempar tas rotan ke sungai. Tas itu terombang-ambing dipermainkan arus, timbul-tenggelam, dibenturkan ke punggung batu, kadang tersangkut rimbun ujung pandan, sebelum akhirnya lepas dijerat arus.

Sukap memandangnya dari atas tebing sungai, ia bersedekap karena kepungan angin pagi sangat dingin, ditambah lumatan embun yang digesekkan rumput ke datar betis dan kakinya. Ia berdiri ditemani bayangannya sendiri. Matanya tetap terpaku ke arah tas rotan yang dibawa arus. Ia membayangkan cincin dan uang di dalamnya telah habis diretakkan air. Sukap tersenyum, satu tugas ia rasa sudah selesai dilaksanakan dengan baik.

Sukap menarik napas panjang, mengelus-elus dagunya, dan sejenak menatap matahari.

Tiba-tiba saja sekelompok orang datang dari belakang, beramai-ramai, berlari-lari. Dua di antaranya berjenis kelamin perempuan, satu sedang menunjuk ke arah Sukap, yang satunya terus memberi isyarat kepada para lelaki yang ada di belakangnya untuk terus maju. Sukap membalikkan badan dengan tangan, memastikan gerangan siapa yang datang.

“Itu dia lelaki yang telah mencuri tas ibu,”

Sukap terkejut, ternyata perempuan yang menunjukkan keberadaan dirinya adalah istrinya sendiri yang tiga hari terakhir kabur.

“Ternyata kamu, Nis. Tapi maaf bapak-bapak dan ibu-ibu, saya tidak mencuri tas itu, saya hanya menemukannya, dan sejak enam bulan yang lalu saya sudah mengumumkannya,” jawab Sukap tegas.

Semua terdiam.

Perempuan si pemilik tas rotan itu mendekat perlahan ke arah Sukap. Sepasang matanya tak berkedip, seolah menayangkan kilasan sebuah kisah masa lalu yang rahasia. Perempuan itu berhenti di depan Sukap.

“Kamu anak Bu Saura kan, penjual sayur itu?”

“Benar, Bu!”

Perempuan itu perlahan jongkok sambil meneteskan air mata, lalu memeluk lutut Sukap dengan tangis yang keras. Semua mata terperanjat menatapnya.

“Tas rotan itu memang milik ibumu, dulu aku sengaja mengambilnya saat keadaan hidup terdesak, beruntung tas itu tak jadi kujual. Sejak dulu, aku memang berusaha untuk mengembalikannya ke Bu Saura atau ahli warisnya. Maafkan aku, Nak!”

Sukap menoleh ke arah tas yang dibuang itu, ke bagian hilir sungai yang dirimbun semak dan daun pandan, tas itu sudah lenyap, seperti menempuh jalan pergi, ke pangkuan ibunya di alam sunyi.

Gaptim, 2019


=====================

A. Warits Rovi adalah Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura, Sumenep Madura. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal  antara lain: Kompas, Tempo, Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018).  

Penyair Maun Bin Saun

0

Cinta mereka terhalang tembok pembatas. Pesantren sengaja membuat tembok tinggi-tinggi agar santri dan santriwati tak kumpul seperti kerbau. Sehingga, mereka tak punya kesempatan menjalin asmara dengan lawan jenis. Mereka kerap dikasih makan ilmu, namun dibiarkan dahaga akan cinta. Oh, sungguh malang nasib mereka.

Namun ketahuilah—seperti kebanyakan orang—di mana ada peraturan, di situlah para pelanggar merajalela, tak terkecuali di pesantren. Sebut saja mereka Solmat dan Solmet, di tengah malam yang kelam mereka berjalan mengendap-endap. Mereka berjalan cukup pelan, sehingga tak menimbulkan bunyi yang biasa tercipta dari gesekan sepasang sandal jepit. Pupil mata mereka tak henti-henti mengerling waspada, takut-takut ada saksi mata atau malah ustaz-ustaz memergoki.

Mereka tak peduli pada angin malam yang berembus dingin. Mereka juga tak peduli pada kenakalan angin yang kerap menyingkap sarung-sarung mereka. Mereka tetap berjalan, dan pintu yang sedari tadi terbayang di kepala mereka, kini telah di depan mata. Mereka senang bukan alang kepalang, hanya saja perihal senang ia ciptakan tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.

Ini bukan kali pertama mereka mengendap-endap pergi ke pintu itu. Pintu itu telah menjadi penyelamat bagi mereka yang telah dahaga akan cinta. Pintu itu adalah penghubung asmara seorang santri pada santriwati. Dengan pintu itulah, para santri dapat mengirim kata-kata rayuan yang sudah tertulis dalam bentuk surat. Dan dengan pintu itu pula, para santriwati dapat membalas surat-surat sang pujaan hati.

Pintu itu memiliki cela, ada lubang kecil memanjang di bawah pintu itu. Di lubang kecil itulah, para santri menyelipkan surat dan santriwati membalas surat. Mereka sangat beruntung, sebab pintu itu dekat dengan kamar-kamar para santriwati. Sehingga, para santriwati tak harus jauh-jauh mengambil surat beramplop merah muda itu. Ah, ada-ada saja  sepasang darah muda itu.

“Cepat, selipkan,” bisik Solmat pada Solmet.

Solmet pun dengan tangkas mengambil beberapa surat yang tersembunyi di balik songkok hitamnya. Satu per satu surat itu masuk ke dalam lubang kecil di bawah pintu. Tak berselang lama, santriwati memberi kode dengan ketukan kecil pada pintu. Ketukan itu adalah sinyal bahwa santriwati telah menerima surat-surat itu. Yes, misi mereka berhasil.

Sebenarnya mereka ingin berlama-lama di pintu itu, bercakap-cakap lirih dengan para santriwati. Namun, tetiba seekor cecak merayap di dinding, lantas mengeluarkan bunyi, “Cek, cek, cek!” bergemuruhlah dada mereka. “Pertanda buruk,” ucap Solmet lirih mengingatkan. Dengan langkah pelan-pelan dan mengendap-endap pula, mereka menjauh dari pintu itu.

Mereka percaya, suara cecak adalah sebuah pertanda buruk. Cecak bersuara, sebab ia ingin bilang sesuatu. Maka, saat mereka pergi dari pintu itu, ia percaya ada seseorang yang datang mendekat. Namun mereka tak tahu, cecak bersuara bukan karena perihal ada orang mendekat. Cecak bersuara sebab si cecak ingin kawin dengan lawan jenis. Cecak oh cecak, mengapa orang-orang kerap bersangka buruk padamu?

“Gimana, lancar kan?” tanya salah satu santri mewakili. Di dalam kamar, beberapa santri memang telah menunggu kedatangan Solmat dan Solmet. Mereka terdiri dari santri-santri yang menitip surat.

“Tenang, semua beres pada kami,” jawab Solmat membanggakan diri.

“Betul, semua pasti beres. Hanya saja, nyaris barusan kami ditangkap basah,” Solmet menimpali.

Perihal kalimat nyaris ditangkap basah itu memancing santri-santri lain. Mereka memasang telinga baik-baik teruntuk mendengarkan kisah menegangkan itu. Solmat dan Solmet pun tak masalah menceritakan perihal itu. Mereka bercerita dari awal—benar-benar awal—dari ketika mereka mengendap-endap menuju pintu penghubung asmara itu. Solmat dan Solmet sangat asik bercerita, begitu pun dengan para pendengarnya asik mendengarkan. Eh, tahu-tahu azan subuh telah berkumandang.

Ya, begitulah hubungan asrama santri dan santriwati, tembok tak dapat menghalangi cinta mereka. Meski mereka jarang ketemu dan saling bertatap muka, masih ada surat-surat cinta yang mewarnai hari-hari mereka. Namun, perlu kalian sekalian ketahui, semua perihal itu berkat jasa Maun. Ialah orang yang menulis surat-surat itu.

Maun memang bercita-cita menjadi penyair. Dan sekarang, ia mengabdi pada handai tolan. Ia rela membuatkan teman-temannya kata-kata indah. Ia akan bergadang sepanjang malam, hanya demi menulis surat-surat untuk santriwati. Tentu, ia tak memberi namanya di surat itu, melainkan nama temannya.

Maka dari itu, teman-temannya sangat mencintainya. Mereka percaya, Maun akan berhasil menjadi penyair suatu saat nanti. Sebab, kata-kata indah yang ditulis Maun berhasil membuat santriwati klepek-klepek. Kata-katanya seperti mengandung sebuah sihir, sehingga para gadis akan terpikat.

Dan tentu, teman-temannya tahu diri. Mereka tak minta jasa Maun secara cuma-cuma. Bila datang waktu mereka harus mengirim surat pada santriwati, mereka akan beli makanan ringan banyak-banyak, lantas disuguhkan kepada penyair kita Maun bin Saun. Saat itulah, Maun akan tersenyum dan mulai menulis rayuan-rayuan memikat pada sebuah kertas. Sebab ia tahu, saat-saat itulah kepenyairannya benar-benar dibutuhkan dan diperhitungkan.

Tak hanya itu, Maun juga diizinkan membaca surat balasan dari santriwati. Sebab dengan begitu, Maun bisa menulis surat berikutnya. Seperti kala ini, Solmat dan Solmet membawakan beberapa surat balasan. Dengan didengarkan beberapa santri, termasuk Maun, Solmat pun membacakan salah satu isi surat balasan tersebut.

“Sungguh hatiku bagai terbang ke awang-awang kala membaca suratmu, Kekasih,” baca Solmat sembari menirukan gaya bicara seorang perempuan. Dan saat itulah santri-santri lain akan berseru, “Oh…!” sementara Maun hanya tersenyum penuh kemenangan. “Sungguh! Barangkali inilah yang dinamakan candu akan surat-suratmu,” terus Solmat.

Setelah rampung surat-surat itu dibacakan, Maun akan mengambil pena dan kertas. Santri lain akan mencermati apa yang dilakukan seorang Maun. Calon penyair itu mulai menulis surat balasan, tentu sambil tersenyum bangga. Wahai bidadari tanpa sayap, maukah engkau menginap di hatiku barang sejenak? Aku tak bisa hidup tanpamu, apalagi mati, aku juga tak bisa mati tanpamu.

Kertas itu ia lipat, dijadikannya sebuah surat, lantas diberikan pada temannya secara percuma. Ia betul-betul berjasa bagi hubungan asmara santri-santri lain. Setelah ia memberikan surat itu, ia pun pergi dengan gagahnya. Ketahuilah, meski ia kerap membantu teman-temannya membuat surat, ia sendiri masih jomlo alias tak memiliki kekasih.

***

Kini saatnya untuk Maun mencari tulang rusuknya. Ia telah lulus dari pesantren, dan mencari calon istri. Bila diingat-ingat lagi, dahulu di pesantren ia adalah si jago pembuat surat teman kepada kekasihnya. Tentu dengan bakat yang ia miliki, tak sulit baginya untuk mendapatkan seorang kekasih.

Dan benar, dengan hitungan bulan ia telah memiliki seorang kekasih, dan sebentar lagi ia akan memutuskan untuk segera menikah. Bukankah menikah adalah jalan untuk menyempurnakan separuh agama, kenapa harus ditunda-tunda? Ia senyum-senyum sendiri, sebab beruntung memiliki kekasih yang aduhai jelita, dari pesantren yang sama pula.

Si Maun kerap memabukkan kekasihnya dengan kata-kata indahnya. Begitupun dengan si kekasih, ia benar-benar nyaris mabuk dengan kata-kata sang penyair Maun. Suatu hari yang cerah, Maun dan kekasihnya pergi berjalan-jalan, Maun memutuskan untuk melamar kekasihnya saat itu juga.

Maun sedikit merayu kekasihnya kala itu, dan alangkah terperanjatnya si Maun kala kekasihnya membalas rayuannya dengan kata-kata yang cukup indah. Sebenarnya, bukan hanya kata-kata indah yang membuat Maun agak terpesona, melainkan karena kata-kata itu tak asing di telinganya. Kira-kira begini kata-kata si kekasih, “Sungguh hatiku seperti terbang hingga ke awang-awang mendengar rayuanmu. Barangkali, inilah yang disebut candu akan kata-katamu itu.” Ya, tak salah lagi, kata-kata itu sempat Maun dengar di pesantren. Kata-kata itu sunguh persis dengan isi surat seorang santriwati dahulu.

Maun sangat senang dapat berjodoh dengan seorang perempuan, bekas santriwati yang mengirim surat balasan dengan kata-kata indah itu. Ia pun tak ingin kalah. Ia ingin menunjukkan bahwa ia yang menulis surat-surat untuknya dahulu. Maka dengan penuh semangat, Maut merayu kekasihnya lagi dengan kata-kata yang dahulu sempat menjadi sebuah surat, “Wahai bidadari tanpa sayap, maukah engkau menginap di hatiku barang sejenak? Aku tak bisa hidup tanpamu, apalagi mati, aku pun tak bisa mati tanpamu.”

Kali ini giliran si kekasih yang terperanjat mendengar kata-kata itu. Kata-kata itu tak asing di telinganya. Kata-kata itu sungguh persis dengan isi surat seorang santri yang mengirim surat dahulu. Maun tersenyum menang, sebab menyadari ekspresi heran kekasihnya. Namun, tak seperti dugaan Maun, beginilah jawaban si kekasih, “Dasar pembohong!”

Dahi Maun berkerut-kerut.

“Itu bukan kata-katamu. Kau plagiat. Aku tahu, kau mencuri kata-kata itu dari seseorang. Dasar pembohong!” kekasihnya meradang, dan saat itu pula penyesalan baru Maun rasakan. [] 

=======================

Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura.Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak.

Senja Begitu Sunyi di Sarajevo

0

Senja begitu sunyi di Sarajevo, meninggalkan bau mesiu dan anyir darah para syuhada, seakan menyatu dan terbawa oleh angin. Di antara berondongan peluru nyasar yang membawa korban ataupun serangan rudal yang kapan saja akan menumbangkan gedung, entah mengapa aku tiba-tiba saja kepikiran untuk menulis surat kepadamu. Dalam bayangku, aku akan syahid. Tetapi aku selalu punya harapan, karena aku percaya Tuhan selalu mengirimkan tangan-Nya.[1] Semoga saja aku selalu berada di bawah lindungan-Nya.

Charisa yang kusayang.

Ingatkah kamu saat berlibur ke Carita pada hari jadi kita yang ketiga? Sambil meneguk es kelapa muda yang dagingnya bisa dimakan, kita duduk santai menikmati senja yang indah. Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, barangkali juga perahu lewat di kejauhan.[2] Selama senja membentang di sana, kita saling berbagi cerita tentang mimpi dan keinginan yang belum kesampaian. Tentang keinginanmu mendidik Andrea yang kelak akan menjadi dirimu–sebagai seorang jurnalis TV nasional, atau menjadi diriku–sebagai seorang fotografer. Juga tentang keinginanku berlibur bersama ke Berlin untuk mengenalkanmu dengan Janusz, sahabat penaku. (Dalam  suratnya yang aku terima bulan Juni dua tahun lalu, ia ingin sekali bertemu denganmu dan mengajak kita mengunjungi reruntuhan tembok yang pernah memisahkan dua wilayah itu.) Begitu banyak keinginan yang tidak bisa kita hitung   jumlahnya.

Sayangnya senja yang kunikmati di sini tidak seindah di Carita. Kucari sisa-sisa senja di kota, kucari sisa-sisa senja di antara cahaya lampu-lampu listrik yang begitu pucat benderangnya–belantara cahaya, yang menyembunyikan senja di etalase dan papan-papan iklan.[3] Namun yang kujumpai hanyalah kepulan asap tebal dari puing-puing gedung yang terbakar. Apa kamu tahu, Sarajevo sudah seperti kota yang berkurang penduduknya. Seperti Hiroshima yang lebur oleh serangan bom atom pasukan Sekutu atau Pripyat yang tercemar oleh asam nuklir Chernobyl.

Tuhan tampaknya sedang sedih sebab hampir semua rumahnya telah hangus–bahkan ambruk–oleh ulah tangan-tangan jahat serdadu. Jarang sekali azan terdengar dari setiap minaret.[4]

Charisa yang kurindu, masih kurindu, dan akan selalu kurindu.

Sarajevo mulai terisolasi. Serdadu telah membatasi semua koneksi dari negara luar. Tembakan demi tembakan yang mereka dentumkan merobohkan segalanya, tidak kenal siang maupun subuh. Pasukan perdamaian yang diutus UN semakin sulit untuk masuk ke kota ini. Sementara pemimpin serdadu–yang berpangkat jenderal–terus saja menebarkan teror dan kengerian yang ada di sini. Ia sudah lupa berapa banyak jiwa telah diterbangkannya ke langit. Aneh, mungkin baru sekarang ia sadar, cukup banyak juga darah ditumpahkannya–lewat peluru, dinamit, mortir, granat dan bom. Celakanya yang disebut musuh tidak selalu tentara, tidak selalu bersenjata dan tidak selalu seperti orang yang sedang memberontak, tapi sama bahayanya, jadi harus disikat saja.[5]

Aku bersama Janusz sekarang ditemani dua pemuda–Edin dan Džafer–yang umurnya sebaya (sekira 19 atau 20 tahun). Sungguh pertemuan tidak disengaja saat kami mengambil gambar peristiwa yang tidak terduga di sebuah boulevard dengan rambu “Pazi Snajper!” yang terbaca di bahu jalan. Terdengar dari jauh suara tembakan yang baru saja mencabut nyawa sepasang kekasih yang berlari menuju jembatan Vrbanja untuk menyelamatkan diri.[6] Tidak ada yang tahu dari arah mana suara itu berasal, namun tidak sedikit dari mereka merasa was-was jika tembakan misterius itu mengenai dada atau kepala. Begitu pun dengan diriku yang harus menghindar dari tembakan maut itu. Di jalanan aku sempat berpapasan dan bertumbukan dengan orang-orang yang tidak kelihatan. Kadang aku berpapasan pula dengan orang tidak kelihatan yang meneteskan darah terus-menerus. Tentu saja aku hanya melihat darah yang menetes-netes entah dari mana diiringi suara keluhan.[7]

Pomoć!…Pomozi nam![8]

Begitulah, Charisa. Keluhan-keluhan itu, jeritan-jeritan itu, masih saja terngiang di telingaku. Kulihat juga cairan merah yang tetap saja membekas di setiap sudut jalan biarpun sudah disapu derasnya hujan hingga diterpa debu jalanan. Aku terkejut ketika tembakan misterius berikutnya mengenai Janusz. Bahu kirinya terserempet peluru yang sewaktu-waktu bisa meregang nyawanya. Ia mengerang, menahan sakit yang tidak tertahankan. Aku pun harus mencari pertolongan, sementara karibku masih menggenggam bahunya, berusaha menghentikan cairan kental yang keluar dari tubuhnya itu. Ia mencoba teriak kepada orang-orang yang juga mengungsi dari jalanan maut ini.

Namun tidak ada yang bisa mendengar suara parau Janusz hingga akhirnya ambruk karena lelah berdiri, sedangkan lukanya sudah semakin parah. Cukup berat saat aku mengangkat tubuhnya, tapi aku tetap berusaha mencari bantuan medis–atau siapapun–untuk menyembuhkan lukanya. Panjang umur, kami akhirnya didatangi dua pemuda (yang sudah kusebutkan namanya) saat aku tidak kuat lagi menggotongnya dan lekas membawa kami ke sini.

Apa yang kamu takutkan mungkin sedang terjadi di sini, Charisa. Pernah tempo hari–dari siaran radio–kudengar gedung parlemen yang menjadi denyut nadi Sarajevo telah dibombardir serdadu dengan tank fire, juga membakar dan merobohkan kantor surat kabar Oslobođenje hingga melukai puluhan korban. Saat bersama Janusz, pernah kupotret massa bergerombol di Stari Grad–yang berduka atas perginya sanak saudara mereka usai ditembaki oleh pasukan serdadu beberapa waktu lalu. Tangis mereka pecah melihat jasad-jasad yang tidak bersalah itu dikubur bersamaan. Sayup-sayup gesekan cello Vedran Smailović seakan mengiringi prosesi pemakaman itu.[9]

Tolong aku, Charisa. Tolong bangunkan aku. Biar kulihat senyummu. Katakan ini hanyalah mimpi buruk. Namun seperti duka, aku pun sedang terjaga. Sambil menyesali mengapa kita tidak lagi berjumpa, adindaku.[10] Sudah lama aku di sini sejak Janusz memohon padaku untuk ikut bersamanya, mengemban tugas besar dari pimpinan redaksinya. (Ia pernah cerita dalam salah satu suratnya bahwasanya ia seorang wartawan lepas di sebuah surat kabar ternama di Jerman–yang tentu saja aku lupa nama kantornya.) Sebelum aku pergi, kamu awalnya ragu dengan keputusanku itu karena tidak ingin Andrea tumbuh besar tanpa aku di sampingnya. Tapi aku hanya menenangkanmu dengan kalimat, “Aku akan baik saja di sana.”

Kukirimkan kecupan hangat di keningmu sebagai tanda sayang dan rinduku padamu. (Semoga saja itu bukan kecupan terakhir kita).

Charisa yang kucinta.

Selama bersembunyi di sini–di rumah Džafer, aku menemani Edin yang duduk sendirian di ruang makan sambil menghisap sigaret di mulutnya, menyenandungkan sebuah lagu yang aku tidak tahu artinya. Bait lagunya seperti ini…

Ako se zlo dogodi, ako me noćas pogodi
ja neću od smrti umrijeti, ja ću umrijeti od ljubavi
ja neću od smrti umrijeti, ja ću umrijeti od ljubavi
Jer ja sam vojnik sreće, mene metak neće
možeš mi ubiti ljeto, al’ živjeće proljeće…[11]

Was hast du gerade gesungen?[12]Aku iseng ngobrol dengannya–dengan bahasa Jerman yang kuhafal sebisaku, “Ein Lied von Dino Merlin. Es geht um unseren Kampf gegen die Truppen und die Bemühungen, diesen Krieg zu stoppen.[13] Rupanya ia berhasil membuatku kecele. Ia bicara dengan bahasa itu seakan sudah terbiasa. “Ayahku orang Turki dengan darah Jerman di dalam tubuhnya,” begitu katanya. Lalu berceritalah ia tentang dirinya, tentang orangtuanya yang diungsikan ke Tuzla dan tinggal di sini selama beberapa waktu untuk menemani Džafer, yang sebelumnya sudah ditinggal orangtuanya mengungsi ke Goražde.[14]Džafer, yang dulu satu madrasah dengan Edin, juga harus menemani pamannya yang mengidap pneumonia. Ah, terlalu panjang jika aku menuliskan semuanya ke dalam surat ini, Charisa. Sementara situasi di luar sana semakin tegang, sudah seperti film perang saja.

***

Ada beberapa hal yang kuceritakan padamu, Charisa. Sejak komunis dinyatakan tumbang kurang lebih empat tahun lalu–dari tulisan tangan Janusz yang pernah kubaca dalam suratnya, dunia merayakannya dengan penuh sukacita. Tembok Berlin berhasil diruntuhkan, menandakan kedua wilayah yang terpisah sekian tahun itu telah bersatu membentuk negara federasi. Uni Soviet yang menjadi salah satu pelopor penyebaran palu arit yang disegani, perlahan memisahkan diri membentuk negara-negara baru hingga akhirnya menyisakan sebuah wilayah terluas di dunia yang kemudian diberi nama Rusia.

“Seharusnya kami sudah merdeka,” keluh Edin pada dirinya sendiri, merutuki keadaan yang sedang terjadi. “Entah mengapa kemerdekaan seperti tidak berpihak pada kami. Serdadu-serdadu tengik itu telah merenggut hak kami. Tanah kami. Orang-orang terdekat kami. Semuanya.” Ia kesal karena negaranya tidak bisa seperti dua negara lainnya yang sudah merdeka lebih dulu, meskipun sebelumnya masuk dalam satu wilayah. “Mereka menganggap kemerdekaan adalah impian terkutuk,”[15] lanjut Edin diselingi asap sigaret yang keluar dari mulutnya, “Untuk kami.” Ia kemudian menyodorkan sebungkus sigaret padaku. Kuambil sebatang dan menyulutnya. Semua beban dan ketakutan dalam diriku seakan terbuang bersama kepulan asap yang nyaris memenuhi ruangan ini.

Bagaikan mesin waktu, senja mengantarkanku ke sebuah ruang rindu, menciptakan kenangan yang membekas di hati. Entah mengapa aku membayangkan wajahmu dan Andrea di sana, di antara kepulan asap dari tembakan mortir dan rudal. Aku bersyukur karena Tuhan telah menciptakanmu dari patahan tulang rusukku, yang melengkapi rongga dadaku yang hampa. Juga telah menurunkan malaikat kecil yang cantik bagaikan seorang putri dari negeri seberang.

Charisa, aku mencintaimu. Itu sebabnya aku tidak akan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.[16]Kuharap kamu juga tidak berhenti mendoakan keselamatanku. Aku di sini juga mendoakan Janusz, yang sekarang terbaring lemas usai luka di lengannya telah dijahit, agar diberikan kesembuhan dan segera pulih dari sakitnya. (Apa kamu tahu, ia menjerit seperti hewan terkena perangkap ketika jarum itu menembus lengannya.)

Aku pasti akan kembali padamu, Charisa. Itu janjiku.                                                                                                                      

Suamimu,
Shakti
(Sarajevo, Mei 1993)


[1] Potongan kalimat cerpen Surat untuk Wai Tsz oleh Leila S. Chudori

[2] Potongan kalimat cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku oleh Seno Gumira Ajidarma.

[3] Potongan kalimat novel roman Jazz, Parfum, dan Insiden oleh Seno Gumira Ajidarma

[4] Menara masjid.

[5] Adaptasi paragraf cerpen Darah Itu Merah, Jendral; dari Saksi Mata oleh Seno Gumira Ajidarma.

[6] Jalanan yang menghubungkan Zmaja od Bosne Street dengan Meša Selimović Boulevard, dinamai sebagai Sniper Alley. Pada tanggal 19 Mei 1993, sebuah letusan sniper misterius menewaskan pasangan Admira Ismić dari ras Bosnia dan Boško Brkić dari ras Serbia-Bosnia saat berusaha menerobos jalanan tersebut menuju jembatan Vrbanja. Kisah cinta beda ras ini kemudian didokumentasikan dalam film berjudul Romeo and Juliet in Sarajevo pada tahun 1994 oleh John Zaritsky (Pazi Snajper! = Waspada sniper!).

[7] 7Potongan paragraf cerpen Misteri Kota Ningi (atawa The Invisible Christmas); dari Saksi Mata oleh Seno Gumira Ajidarma dengan sedikit pengubahan.

[8] Tolong!… Tolong kami! (Bahasa Bosnia).

[9] Vedran Smailović adalah musisi asal Sarajevo yang dikenal dengan sebutan “Cellist of Sarajevo”. Selama perang berlangsung, ia memainkan Adagio in G Minor karya komposer asal Italia, Tomaso Giovanni Albinoni, yang biasa didengar di reruntuhan bangunan atau saat mengiringi pemakaman korban perang.

[10] Potongan bait puisi Nadya, Kisah dari Negeri yang Menggigil oleh Abdurrahman Faiz dengan pengubahan.

[11] Potongan lirik lagu Vojnik sreće oleh solois Dino Merlin dari album studio bertajuk Moja bogda sna (1993).

[12] (Lagu) apa yang baru saja kamu nyanyikan? (Bahasa Jerman)

[13] Lagu dari Dino Merlin. Tentang perjuangan kami melawan pasukan serdadu dan upaya untuk menghentikan perang ini. (Bahasa Jerman)

[14] Berdasarkan United Nations Security Council resolution 824, pada masa ituditetapkan kota-kota di Bosnia seperti Sarajevo, Goražde, Srebrenica, Tuzla, Žepa dan Bihać sebagai kota paling aman untuk mengungsi yang dijaga oleh Pasukan Perlindungan PBB (UNPROFOR).

[15] Adaptasi kalimat cerpen Rosario; dari Saksi Mata oleh Seno Gumira Ajidarma.

[16] Potongan bait puisi oleh Sapardi Djoko Damono dari undangan pernikahan.

===========

Nikolas Ryan adalah nama pena dari Mochammad Alnico Herlisanto. Lahir di kota angin, Nganjuk, tanggal 15 Mei tahun 1995. Anak sulung dari dua bersaudara ini sedang menempuh studi S2 di Universitas Negeri Surabaya jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra. Cerpen pertamanya berjudul Kraft, 1999 dimuat di koran Malang Post.

Rumah Idaman

0

Saya tertegun di depan sebuah rumah. Tatapan saya kembali tertuju kepada tulisan yang menempel di dindingnya:

DIJUAL
TANPA PERANTARA

Ragu-ragu sebenarnya. Tapi kaki ini melangkah juga. Saya mengucapkan salam. Kebetulan tuan rumah ada dua-duanya, suami istri.

“Saya ingin melihat-lihat rumah. Kebetulan saya punya rencana untuk membeli rumah,” kata saya setelah duduk di ruang tamu.

“Oh, silahkan.” Tuan rumah berdiri mengajak melihat-lihat sekeliling rumah.

Saya pun diantar melihat-lihat dapur, kamar tidur, ruang tamu, loteng, dan semua penjuru rumah. Tuan rumah menerangkan tentang air, listrik, dan lingkungan seputar rumah. Setelah semua penjuru rumah ditengok, kami duduk lagi di ruang tamu.

“Berapa harga yang Bapak inginkan untuk rumah ini?” tanya saya.

“Karena ini tanpa perantara, sebenarnya enam ratus juta pun kami lepas,” kata sang suami yang kira-kira usianya menjelang enam puluh tahunan itu. “Tapi itu pun masih bisa nego.”

Saya terbatuk-batuk kecil.

“Begini sebenarnya, Pak, Bu,” kata saya akhirnya dengan suara tertahan. “Saya ingin membeli rumah ini. Tapi… uang saya hanya punya lima puluh ribu rupiah.”

Suami istri itu menatap saya. Sepertinya heran. Seperti terkejut. Seperti tidak mempercayai pendengarannya.  

“Maksudnya?” tanya sang suami.

“Iya, saya ingin membeli rumah Bapak. Tapi saya hanya punya uang lima puluh ribu rupiah saat ini.” Saya berusaha menerangkan setenang mungkin.

“Anda ini mempermainkan?”

“Tidak Pak, saya serius.”

Sang suami yang masih berbadan tegap itu berdiri. Dia masuk ke kamarnya. Beberapa detik sudah keluar lagi dengan pistol di tangannya. “Keluar kamu! Atau saya tembak kamu!” bentaknya.

Tentu saja saya terkejut. Saya meloncat, terburu-buru keluar rumah.

***

Pengalaman yang saya ceritakan itu adalah yang kesepuluh kalinya. Karena begitulah seperti yang dikatakan guru spiritual saya.

“Datangi saja sepuluh rumah yang mau dijual, katakan kamu berniat membelinya, dan katakan juga kamu punya uang berapa,” kata guru saya.

Awalnya saya berharap sesuatu yang ajaib terjadi, ada pemilik rumah yang mau memberikan rumahnya dengan harga lima puluh ribu rupiah. Tapi sampai sepuluh rumah saya datangi, semua pemiliknya mengusir saya dengan tidak hormat. Orang gila, sinting, setan, anjing, bodoh, pernah dikatakan para pemilik rumah sebagai pengganti nama saya.

Saya baru menyadari, guru saya itu mempermainkan. Alangkah bodohnya saya selama ini. Siapa yang mau memberikan rumahnya dengan harga lima puluh ribu rupiah? Makanya saya mencari lagi guru saya itu. Saya ingin marah kepadanya. Sebentar….

Guru saya? Sebenarnya dia adalah orang yang baru saya kenal. Suatu subuh, seperti biasanya, saya mencari jamur bersama teman-teman. Semalam hujan turun deras. Laron kemudian menyerbu lampu-lampu di depan rumah. Itu tandanya jamur akan banyak tumbuh esok pagi. Betul saja, teman-teman saya mendapatkan banyak jamur. Ada yang menemukan empat biji, ada juga yang sampai enam biji. Tapi sampai habis menyusuri perkebunan penduduk, saya tidak menemukan sebiji pun jamur. Ketika teman-teman saya pulang, saya meneruskan mencari jamur sampai ke puncak bukit. Saya harus menemukan jamur. Karena kalau tidak, bagaimana anak-istri saya bisa makan? Di rumah sudah tidak ada beras, apalagi makanan lainnya.

Di puncak bukit matahari sudah menampakan semburat merahnya. Semakin terang mencari jamur itu semakin susah. Karena saat masih gelap jamur akan kelihatan bercahaya. Saat saya merasa frustrasi, menyerah dan pulang dengan langkah lesu, seseorang yang membawa cangkul menyapa saya.

“Mencari jamur itu kadang memerlukan kerja keras sampai batas putus asa. Tapi kadang hanya melangkah ringan kita sudah menemukannya,” kata petani itu.

“Maksudnya?” Saya tentu saja terkejut.

“Tengoklah di balik batu itu. Cepat ke sana biar hati kamu tenang.”

Tanpa mengerti apa yang dikatakannya saya menghampiri batu sebesar perut kerbau. Betapa terpananya saya melihat dua biji jamur sebesar piring. Jamur yang sehat. Jamur yang membuat senyum di bibir saya. Jamur yang membuat hati saya gembira.

Awalnya saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada petani itu. Tapi kemudian saya malah beristirahat sejenak, mengeluhkan kesusahan saya.

“Saya ini sudah puluhan tahun disusahkan dengan rumah kontrakan, Pak,” kata saya. “Hanya dengan membayar satu juta rupiah saja per tahun saya sudah kesusahan. Bila dalam waktu seminggu saya tidak membayar, saya akan diusir. Entah ke mana saya akan membawa istri dan kedua anak saya.”

“Pergilah sekarang, jual jamurmu,” katanya. “Hasil penjualan jamur itu, berikan sebagian ke istrimu. Sebagian lagi bawa untuk membeli rumah. Datangi sepuluh rumah yang mau dijual, katakan kamu ingin membelinya, katakan juga uangmu ada berapa.”

***

Di hadapan petani guru saya itu, amarah saya seperti api berhadapan dengan air. Langsung padam tidak berbekas.

“Kenapa kamu selalu diusir pemilik rumah? Karena kamu tidak menyentuh hatinya,” kata petani guru saya itu. “Ada sebuah rumah yang tidak akan terbeli oleh uang sebanyak apapun. Itulah rumah idaman semua orang. Untuk mendapatkannya hanya perlu kemurahan dan kasih sayang pemiliknya. Tidak punya uang sepeser pun kita, bila pemiliknya sudah berkenan, rumah itu akan diberikannya.”

“Siapa yang pernah diberi rumah idaman seperti itu?” tanya saya penasaran.

“Pergilah ke kota kecil di balik bukit ini. Di sana kamu akan bertemu dengan seorang wanita tua. Dialah pengetuk kemurahan dan kasih sayang pemilik rumah itu.”

Saya pun pergi ke kota kecil di balik bukit itu. Orang-orang sedang sibuk bekerja. Jalanan mengepulkan debu setiap ada kendaraan yang lewat. Hari sangat panas karena kemarau begitu memanggang. Dari sebuah penginapan murahan saya melihat seorang wanita berjalan sempoyongan. Mungkin dia mabuk, terlalu banyak minum minuman keras. Dia berjalan menyusuri jalanan berdebu. Di tepi tempat pembuangan sampah dia berhenti. Matanya tidak berkedip melihat seekor anjing yang tergolek lemah. Lidah anjing kampung yang kurapan itu terjulur, pasti kehausan. Wanita itu terharu melihat anjing yang sudah tidak berdaya. Diambilnya segayung air dari sumur sebuah mushola yang lumayan jauh dari sana, lalu ditetesinya mulut anjing itu sampai segar kembali. Ketika anjing itu bisa berdiri dan berlalu, dari ujung mata wanita itu bergulir sebutir air menyusuri pipinya.*[1]

“Itu adalah pengalaman saya bertahun-tahun yang lalu,” kata wanita tua itu ketika saya menemuinya di sebuah rumah yang sederhana. “Pengalaman yang membuat saya berhenti melacur, profesi saya sejak muda.” Wanita tua itu memandang ke jauhnya. Dari ujung matanya mengalir sebutir air, menyusuri kulit pipinya yang mulai keriput.

“Tapi kenapa Ibu menangis?” tanya saya penasaran.

“Setiap ingat masa lalu yang hitam, hati ini bergetar begitu hebat. Setiap ingat ada makhluk yang menderita seperti anjing itu, hati ini bergetar begitu hebat. Ah, kamu mungkin belum bisa membayangkannya, Nak,” kata wanita tua itu sambil berurai airmata. Baru saya perhatikan, wajahnya itu bercahaya, seperti juga butiran air yang mengalir di pipinya.

Saya pun pulang. Saya menemui petani guru saya itu di kebunnya.

“Wanita tua itu memang indah, sepertinya begitu indah hatinya. Tapi rumahnya terlalu sederhana sebagai rumah idaman.”

“Rumah idaman itu bukan seperti yang kamu lihat,” kata petani guru saya itu. “Rumah idaman setiap orang itu ada di hati wanita tua itu. Rumah yang membuat wajahnya begitu bercahaya. Rumah yang selalu menguraikan airmatanya. Airmata yang begitu indah. Keindahan rumah idaman itu tidak akan bisa kamu bayangkan. Karena rumah idaman itu kepunyaan Tuhan yang Mahaindah.”

Saya pun pulang dengan hati yang bergetar. Hati yang terus berdoa: Ya Tuhan, tidak apa saya selalu disusahkan hanya untuk memiliki sebuah rumah sederhana di dunia ini. Asal saya diberi kesempatan menyentuh hatiMu. Saya ingin rumah yang indah di surga, rumah idaman semua orang.

Di rumah saya disambut istri, anak-anak, dan suami-istri yang sedang bertamu.

“Saya ini ketua RT di sebuah kota kecil. Seorang warga kami, wanita tua yang selalu berurai airmata, mewasiatkan rumah dan tanahnya untuk dimiliki Bapak sekeluarga,” kata tamu itu. “Ini adalah sertipikat dan surat wasiatnya. Maaf baru saya sampaikan sekarang. Karena di surat wasiat ini, Bapak sebagai penerima hanya dikatakan: Seorang lelaki penjual jamur yang berniat membeli rumah dengan uang lima puluh ribu rupiah.”

“Wanita tua itu sekarang ke mana?”

“Sudah meninggal… bertahun-tahun yang lalu.”

***

=========================

Yus R. Ismail, menulis cerpen, novel dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of the Night (Lontar 2019, memuat 5 carpon-nya yang diterjemahkan C.W. Watson). Novel Tragedi Buah Apel mendapat penghargaan Juara Pertama Lomba Novel Anak 2019 penerbit Indiva. Cerpen-cerpennya pernah dipublikasikan di Koran Tempo, Media Indonesia, Kompas, Jawa Pos, Republika, Suara Karya, Tribun Jabar, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Lampung Pos, Basa-basi.com, Bangka Pos, Padang Ekspres, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Femina, Hai, Esquere, NOVA, Citra, Horison, dsb.


[1] Kisah perempuan pelacur yang dimaafkan dosa-dosanya setelah memberi minum anjing yang kehausan, diambil dari hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah. Banyak tafsir kepada hadis ini. Presiden Soekarno pernah tidak mengerti dengan hadis ini, bagaimana bisa orang yang banyak melakukan dosa dimaafkan hanya karena memberi minum anjing yang kehausan? Jawaban yang memuaskan presiden pertama itu datang dari guru sufi Prof.Dr. Kadirun Yahya yang menyebutkan cinta Tuhan itu sama dengan angka nol. Seberapa banyaknya juga bila dikali nol maka hasilnya nol.

Kurushimi Café

0

Selamat datang di Kurushimi Café. Selamat menikmati penderitaan.

         Seperti yang Anda lihat, di detik Anda membuka pintu, Anda dihadapkan pada sebuah ruang yang sangat lapang, dengan meja-meja bundar kecil terpisah dan berjarak satu sama lain, dengan kursi-kursi kurus terpasang padanya yang sekilas seakan tak mampu menahan berat tubuh Anda untuk waktu lama. Tapi tenang saja. Semua akan baik-baik saja. Kursi-kursi kurus itu jauh lebih kuat dan jauh lebih tangguh dari yang kelihatannya; Anda bisa duduk di sana berlama-lama menunggu giliran, atau sekadar menghabiskan waktu sendirian. Alunan musik akan selalu menemani Anda, membuat Anda merasa Anda sedang berada di dalam diri Anda dan berhadap-hadapan dengan diri Anda yang lain, dengan kesedihan dan rasa sakit Anda, dengan penderitaan-penderitaan Anda. Anda cukup memesan sesuatu dari menu dan membayarnya. Setelahnya kami tak akan mengganggu Anda, dengan pertanyaan atau permintaan apa pun.

         Silakan memilih meja yang Anda sukai. Semua meja pada dasarnya sama, namun Anda mungkin memiliki kecenderungan tertentu terhadap sesuatu, seperti posisi, jarak, ruang kosong, intensitas cahaya, atau yang lainnya. Salah seorang dari kami akan segera menghampiri Anda begitu Anda menempati meja yang Anda sukai. Ia akan menawari Anda menu dan pastilah akan menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda terkait apa-apa yang tertera di menu itu, demi memastikan kenyamanan Anda. Ia manusia, bukan robot, jika ini perlu kami beritahukan. Ia memang tersenyum dan menyajikan kepada Anda sebuah pelayanan yang sempurna tetapi ia manusia, bukan robot, seperti yang mungkin Anda kehendaki. Anda tentu telah mengambil tiket antrean di ruangan sebelumnya. Pastikan Anda memegang tiket tersebut, dan ada baiknya Anda mengingat-ingat nomor antrean Anda dan nomor ruangan yang tertera di sana. Salah seorang lainnya dari kami akan menghampiri Anda ketika giliran Anda tiba, di mana ia akan menyebutkan nomor antrean Anda dan ruangan yang Anda tuju dan setelahnya meminta Anda menunjukkan tiket antrean yang Anda pegang itu. Barangkali, inilah satu-satunya gangguan dari kami, dan semoga Anda memaafkan kelaancangan kami ini. Seseorang dari kami itu kemudian akan memandu Anda ke ruangan yang dimaksud, di mana di sana seseorang yang lain lagi tengah menanti Anda dengan senyuman. Sampai saat itu tiba, silakan menikmati kesendirian Anda di meja yang Anda pilih itu.

         Di malam-malam tertentu, sayang sekali harus kami beritahukan, antrean bisa sangat panjang, dan itu berarti bertambah lamanya waktu-menunggu Anda. Tapi jangan khawatir. Untuk situasi seperti itu kami sudah menyiapkan diri seperti dengan menambah jumlah orang yang akan dengan senang hati melayani Anda, mendengarkan dan menyimak keluh-kesah Anda, penderitaan-penderitaan Anda—kami menyebutnya penyimak. Ruangan-ruangan tertentu yang pada malam-malam biasa dibiarkan kosong pun akan kami gunakan, tentunya setelah kami sedikit-banyak memolesnya terlebih dahulu. Anda mungkin terpaksa berada di meja yang Anda pilih itu lebih lama namun kami pastikan ketika giliran Anda itu tiba Anda akan berada di ruangan yang bukan saja membuat Anda nyaman namun juga memudahkan Anda untuk bercerita, untuk menuangkan penderitaan-penderitaan Anda, kepada kami. Tentu Anda sangat mungkin terpaksa memesan sesuatu lagi, sekadar untuk mengisi waktu. (Semoga Anda memaafkan kami atas keterpaksaan Anda ini.) Tetapi segera, di detik Anda berada di ruangan yang kami sediakan bagi Anda itu, perasaan Anda akan jauh lebih baik. Kami pastikan itu.

         Apabila Anda bosan hanya menunggu di meja yang Anda pilih itu, Anda bisa memanggil salah satu dari kami, memintanya menunjukkan kepada Anda menu yang lain. Menu yang satu ini bukan menu berisi makanan dan minuman, melainkan hal-hal yang mungkin bisa menghibur Anda selama masa tunggu tersebut, yang bisa Anda pilih sesuka hati Anda selama Anda mampu membayarnya. Sekumpulan lagu, sekumpulan gambar. Sekumpulan musik, sekumpulan cerita. Dan sekumpulan-sekumpulan lainnya. Beberapa di antaranya mungkin cukup mahal, tetapi itu sesuai dengan efek yang akan diberikannya kepada Anda—masa-tunggu Anda akan berakhir dengan sendirinya tanpa Anda menyadarinya. Semuanya, seperti yang mungkin telah Anda duga, berbahan baku penderitaan.

         Untuk pelanggan-pelanggan baru seperti Anda, kami menyediakan beberapa hal yang bisa Anda nikmati dengan cuma-cuma. Makanan dan minuman. Atau hal-hal di menu lainnya tadi. Ketentuannya berbeda-beda dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Jika Anda beruntung apa yang kami labeli “cuma-cuma” itu adalah kesukaan Anda dan Anda bisa memesannya berkali-kali sesuka hati Anda. Tapi pastikan Anda tidak melupakan tujuan utama Anda ke Kurushimi Café. Kami terbilang tegas soal waktu. Sekalinya Anda dijadwalkan memasuki ruangan yang tertera di tiket antrean Anda, kami akan meminta Anda menghentikan apa pun itu yang sedang Anda lakukan di meja Anda, dan beranjak meninggalkannya. Tidak ada waktu pengganti atau semacamnya. Apabila saat itu Anda tidak berada di meja Anda, dan seseorang dari kami yang ditugaskan mengamati Anda tidak memiliki informasi soal keberadaan Anda (apakah Anda sedang berada di toilet atau ruang merokok, misalnya), dan Anda tidak juga muncul dalam sepuluh menit setelahnya, terpaksa, dengan berat hati, kami akan menangguhkan kunjungan Anda, tidak untuk malam itu, namun untuk suatu malam lain—penempatannya kami sesuaikan dengan jadwal, perencanaan, dan situasi di Kurushimi Café. Tetapi Anda tak perlu cemas soal uang. Apabila kunjungan Anda itu kami tangguhkan, uang yang telah Anda bayarkan untuk kunjungan tersebut akan kami kembalikan separuhnya, dengan separuhnya lagi kami gunakan untuk memesan waktu di suatu malam lain tadi. Kami pastikan Anda memperoleh apa yang Anda inginkan dari kunjungan Anda ke Kurushimi Café, selama Anda menaati peraturan.

         Nanti ketika giliran Anda tiba, sekali lagi kami beritahukan, seseorang dari kami akan menghampiri Anda, memastikan bahwa Andalah memang yang semestinya ia jemput dan ia pandu. Anda tidak perlu memberinya tip, atau semacamnya. Kami berusaha sebaik mungkin melayani Anda dan itu kami lakukan secara profesional, dan kami sudah beroleh “kompensasi” atas apa-apa yang kami lakukan itu; karenanya Anda tidak perlu repot-repot. Jikapun Anda bersikeras ingin menunjukkan apresiasi kepada kami, Anda bisa menunjukkannya dengan cara tidak melakukan apa pun yang akan membuat pelanggan-pelanggan lain tidak nyaman, seperti bersuara keras-keras atau membuang puntung rokok di wastafel. Kami menghargai setiap kebersihan, kerapian, dan sikap yang baik. Kami percaya Anda tak akan melakukan apa yang tak seharusnya Anda lakukan. Sebagai buktinya, seperti yang Anda ketahui, Kurushimi Café tidak mempekerjakan seorang pun petugas keamanan.

         Dalam perjalanan Anda menuju ruangan yang nomornya tertera di tiket antrean Anda, sebagai gambaran, mata Anda akan dimanjakan oleh dinding-dinding penuh lukisan, dan ini cuma-cuma. Benar-benar cuma-cuma. Musik pun tentunya mengalun dan mengiringi langkah-langkah Anda, dan Anda lambat-laun akan merasakan kehangatan merambat masuk ke dalam diri Anda, menyirami penderitaan-penderitaan Anda. Anda benar, baik musik ataupun lukisan itu berbahan baku penderitaan, tetapi kami telah mengolahnya sedemikian rupa sehingga yang tersaji di hadapan Anda adalah sesuatu yang justru mampu mengatasi penderitaan Anda, sedikit-banyak. Kami juga membiarkan dinding-dinding di sepanjang lorong itu penuh dengan pergantian dan interaksi warna-warna, menjadikan perjalanan Anda ke ruangan yang Anda tuju itu seolah-olah perjalanan menempuh sebuah ruang-cerita, sesuatu yang kelak memberi Anda pemahaman atau perasaan tertentu, menumbuhkan dalam benak Anda sugesti tertentu, yang semoga baik bagi Anda. Ketika akhirnya Anda tiba di depan pintu ruangan yang Anda tuju, seseorang dari kami itu akan membiarkan Anda membukanya sendiri; ia bahkan sudah beranjak sebelum Anda memegang gagang pintu itu. Musik berbahan baku penderitaan itu masih akan mengalun menemani Anda, mendorong Anda untuk segera memutar gagang pintu itu dan mendorongnya. Seseorang lainnya di balik pintu itu tengah menunggu Anda. Ia tersenyum, dan ia menunggu Anda. Tentu saja ia di sana telah menyiapkan alat perekam juga alat pencatat, dan tentunya sebuah kursi yang sangat nyaman untuk Anda duduki. Pencahayaan di sana tidak begitu terang, yang mestinya memudahkan Anda menuangkan penderitaan-penderitaan Anda tanpa terbebani apa pun. Namun kalaupun itu ternyata sulit bagi Anda, jangan khawatir, karena seseorang itu akan membantu Anda. Ia seorang profesional dan ia teramat terlatih untuk itu.

___

Sampai kini setelah lebih dari tiga tahun berdiri, apa sebenarnya yang membuat Kurushimi Café berbeda dari kafe-kafe lain?

Jasa yang disediakan, tentunya. Setiap orang yang melakukan kunjungan ke Kurushimi Café akan dibawa ke sebuah situasi di mana di sana ia bisa menuangkan masalah-masalahnya, kesedihan-kesedihannya, penderitaan-penderitaannya, tanpa terbebani oleh apa pun. Ia akan bicara dan bicara dan bicara. Ia akan bercerita dan bercerita dan bercerita. Tak ada yang akan menghakiminya. Tak ada yang akan menasihatinya apalagi menilainya. Ia datang dan menuangkan penderitaan-penderitaannya itu dan setelahnya ia bisa pergi tanpa perlu mencemaskan apa pun, seperti bahwa apa-apa yang dikemukakannya itu akan diketahui oleh orang lain. Ia melakukan kunjungan ke Kurushimi Kafe, untuk menghibur dirinya sendiri, bahkan mengobati dirinya sendiri. Mungkin sejenis dengan kyabakura atau hostess club hanya saja ruangnya lebih privat, dan pelayanan yang disediakan sangat jauh dari erotisitas—bahkan seksualitas sekalipun. Secara prinsip mirip juga dengan ruang konsultasi, seperti ketika kita berhadap-hadapan dengan seorang psikolog. Hanya saja, di Kurushimi Café, yang kita hadapi bukanlah psikolog, melainkan penyimak—seseorang yang ditugaskan hanya untuk menyimak apa-apa yang kita katakan.

Konsep ini apakah sejak semula memang seperti itu, atau telah mengalami sejumlah perubahan?

Sejak semula seperti itu. Perubahan hampir-hampir tak ada. Satu-satunya perubahan selama lebih dari tiga tahun ini ada pada tampilan, yakni interior dan suasana kafe serta “seragam” yang digunakan para karyawan. Awalnya tak ada yang istimewa; sama saja dengan kafe-kafe lain yang aktif malam hari di kota ini. Kemudian, memasuki tahun kedua, kami hadirkan sentuhan baru; Kurushimi Café, ketika dialami dari dalam, jadi terlihat muram-suram namun di saat yang sama juga hangat. Kami menambahkan menu-menu baru, dan mensikronisasikan semuanya dengan penderitaan, yang adalah ruh kami. Pencahayaan dan dekorasi diatur sedemikian rupa supaya penderitaan itu tampak dan terasa, nyata, namun tidak sampai membuat siapa pun yang melihat dan merasakannya itu putus asa. Kami bertaruh dan mengambil risiko, sebenarnya. Akibat perubahan ini ada kemungkinan sebagian dari para pelanggan kami tak menyukainya, dan berhenti melakukan kunjungan.

Sejauh ini, apa yang berusaha diwujudkan Kurushimi Café? Apa yang berusaha dibangkitkannya—jika ada?

Ini agak sulit menjawabnya. Sebagai sebuah penyedia jasa berbayar tentu saja yang kami coba kejar adalah keuntungan materi. Itu tak bisa dimungkiri. Akan tetapi, di luar itu, memang ada beberapa hal yang coba kami capai, terkait idealisme kami. Misalnya, kami mencoba membuat orang-orang mau menerima penderitaan-penderitaannya; mereka tidak lagi menolaknya atau mengingkarinya, melainkan menerima bahwa penderitaan itu ada, nyata, dan mereka bagaimanapun akan menjalani sisa hidup bersamanya—penderitaan itu bersemayam di dalam diri mereka atau memproyeksikan diri di dekat mereka. Setiap orang menderita atau setiap orang akan menderita. Itulah yang kami yakini. Mengondisikan orang-orang itu untuk menuangkan sebagian penderitaan mereka kami anggap sebuah aktivitas yang baik, yang memiliki nilai guna. Kami sendiri tentu beroleh hal-hal baik dari apa yang kami lakukan ini. Contohnya: kami jadi semakin terbiasa berhadapan dengan penderitaan, dan itu semakin memudahkan kami untuk menerimanya tanpa perlu kami tercelup ke dalamnya.

Ada rumor bahwa keberadaan Kurushimi Café adalah juga sebentuk perlawanan terhadap androidisasi yang berlangsung satu dekade terakhir. Tanggapan Anda?

Ah, ya. Itu benar. Itu juga salah satu hal lain yang kami maksudkan tadi. Androidisasi telah merambah ruang-ruang yang tak semestinya ia rambah, membuat kehidupan berubah arah-geraknya menuju titik jenuh yang di mata kami sangat mengkhawatirkan. Pada awalnya, jika memang robot-robot serupa manusia itu dikonsentrasikan di ruang-ruang publik saja, sebagai alternatif siapa tahu orang-orang bosan atau kecewa dengan pelayanan publik dari manusia, itu oke. Di mata kami itu masih oke. Tetapi kemudian, mereka juga difungsikan untuk menjadi alternatif seperti itu di ruang-ruang pribadi, atau semi-pribadi, dan kami melihat ini sebuah masalah. Mungkin aneh mengatakannya di sini tetapi dulu beberapa dari kami terlibat dalam ruang-ruang tersebut seperti enjo-kousai, kyabakura, hostess club, bahkan prostitusi, dan ketika robot-robot serupa manusia itu mengisi ruang-ruang tersebut, kami mendapati, sesuatu yang esensial justru hilang dan terlupakan; para pengguna jasa itu—yang hampir semuanya laki-laki—menikmatinya sebagai sesuatu yang lain lagi, yang berbeda dari yang asalnya. Salah satunya, dan ini yang paling krusial, adalah komunikasi psikis antara si “pelayan” dan si “tuan”. Robot-robot itu konon memang diperlengkapi dengan common sense, yang membuat mereka mampu belajar dan kemudian tumbuh, tetapi sedari awal mereka telah juga diprogram untuk melakukan pelayanan itu dalam taraf tertingginya, yang berarti memberikan kepuasaan yang tak terkira kepada si pengguna jasa, si “tuan” itu. Ini akan menjadikan si robot itu pelayan yang “patuh”, setidaknya sampai batas waktu tertentu. Dan ketika interaksi antara dua sosok sudah sepenuhnya interaksi antara pelayan dan tuan, maka komunikasi psikis yang terjalin tidak akan pernah (lagi) dua arah; si pelayan akan menerima aliran psikis dari si tuan tetapi tidak yang sebaliknya. Kami membayangkan, dan memang terbukti benar, komunikasi psikis semacam ini akan menyeret orang-orang itu—para pengguna jasa itu—ke dalam pusaran penderitaan yang di sana mereka tak lagi bisa memperlakukan orang-orang di hadapan mereka, bahkan diri mereka sendiri sekalipun, sebagai manusia, sebagai sosok-sosok yang mampu melakukan komunikasi psikis. Robot-robot itu tidak salah, tentu. Mereka adalah produk dan mereka dibuat seperti itu, sehingga kritik tentulah diarahkan kepada si pembuat produk, atau lebih jauh lagi, orang-orang di atasnya, mereka yang menganggap sebagian manusia sudah kehilangan tempat di dunia yang semakin maju ini. Di Kurushimi Café, sebisa mungkin, kami mencoba mengembalikan situasi menjadi seperti dulu. Para pelanggan kami, para pengguna jasa yang kami tawarkan, sedikit-sedikit kami arahkan untuk menjadi diri mereka yang dulu, diri mereka sebelum robot-robot serupa manusia itu ada.

Tetapi bukankah komunikasi yang berlangsung di Kurushimi Café pun bukan komunikasi dua arah—hanya si pelanggan yang berbicara sementara seseorang di hadapannya hanya menyimak saja? Bagaimana itu? Kemudian, soal ditempatkannya android-android tadi di ruang-ruang pribadi atau semi-pribadi, bukankah itu dimaksudkan untuk menekan—bahkan menghentikan—eksploitasi besar-besaran perempuan sebagai komoditas jasa? Bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Soal komunikasi, memang hanya satu arah. Tetapi harus digarisbawahi, kedua sosok yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia. Dua-duanya manusia. Ini jelas-jelas berbeda. Meskipun si penyimak hanya mendengarkan dan sesekali saja berujar untuk memancing si pelanggan terus bicara, ia tetap sosok yang mampu melakukan komunikasi psikis. Dalam posisi seperti itu pun, ia tetap membangun komunikasi psikis, dengan si pelanggan. Ia bisa melakukannya dengan tatapan mata, bahasa tubuh, ekspresi muka, dan yang lainnya. Ini yang tidak dilakukan robot-robot itu. Mereka merespons dengan sejumlah program atau algoritma yang terbatas, sehingga bagaimanapun komunikasi yang alamiah dan tepat itu tidak akan terjalin. Tidak jika komunikasi psikis termasuk di dalamnya. Apa yang ditawarkan Kurushimi Café … berbeda.

         Kemudian soal penempatan yang Anda bilang tadi itu, saya memahaminya. Kami memahaminya. Niatnya memang baik, bahkan luhur, dan sekilas ini memang menjanjikan, dalam arti kebijakan ini akan benar-benar menjadi solusi dari persoalan yang membelit negeri ini sejak tahun-tahun lampau. Perempuan-perempuan “melayani” laki-laki yang memiliki uang namun kesepian, dengan sebagian dari mereka bahkan masih anak SMA. Menjijikkan. Jelas. Tetapi menjadikan robot-robot itu pengganti mereka, sungguh bukan solusi yang tepat. Bahkan, bukan solusi sama sekali. Perempuan-perempuan itu memang tidak lagi diposisikan sebagai komoditas; yang diposisikan sebagai komoditas adalah robot-robot dengan wujud perempuan dan itu terkesan cocok—sebab mereka adalah produk, adalah barang. Tetapi coba lihat kenyataannya, perkembangannya. Perempuan-perempuan itu—sebagian—mencoba membangun ruang-ruang lain, yang di sana mereka bisa kembali melakukan apa yang biasanya mereka lakukan. Mereka masih melihat diri mereka sebagai komoditas. Dan orang-orang itu, lelaki-lelaki itu, masih saja tidak menolak ketika beroleh tawaran semacam itu. Kebijakan penempatan robot-robot itu terbukti melupakan satu hal, satu hal yang sangat krusial, yakni penanganan secara mental, secara manusiawi. Bagaimana membuat sebuah masyarakat menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu salah, tidak baik baginya dan negara? Tentunya tidak dengan menyingkirkan mereka dan mengganti mereka dengan robot-robot, dengan tiruan-tiruan mereka, dengan geminoid-geminoid mereka. Mereka perlu didekati secara personal, dengan sabar, perlahan-lahan. Dan itulah yang selama ini kami coba lakukan, meski untuk topik yang lain, dan masih sebuah langkah awal. Paling tidak, kami melakukannya dengan cara-cara yang mengingatkan kami bahwa kami dan para pelanggan kami itu adalah manusia.

Bagaimana jika suatu saat pemerintah menawarkan kebijakan yang menempatkan android-android di Kurushimi Café, sebagai penyimak, misalnya? Tentunya, android-android ini sudah diperlengkapi dengan common sense yang jauh lebih maju, yang saking majunya membuat para android ini hampir-hampir tak bisa lagi dibedakan dengan manusia, dengan para penyimak lain.

Ini lagi-lagi sulit. Tadinya saya mau menjawab mantap: “Akan kami tolak!” Tetapi setelah ditambahi keterangan tentang common sense yang jauh lebih maju itu, jawaban tersebut agaknya tidak sepenuhnya relevan lagi. Dengan kata lain, jawaban atas pertanyaan ini agaknya baru bisa diberikan nanti ketika hal itu terjadi. Tetapi begini. Saya ingin menekankan bahwa poin penting yang harus dipenuhi di sini adalah manusia dan manusiawi. Robot-robot serupa manusia itu, ketika mereka telah diperlengkapi dengan common sense yang jauh lebih maju tersebut, ketika mereka telah hampir-hampir tak bisa dibedakan lagi dengan manusia, apakah mereka di ambang menjadi manusia, atau tidak? Ini yang menjadi pertanyaan saya. Katakanlah Darwin benar dan kita adalah hasil evolusi generasi kesekian dari hewan-hewan, maka hal serupa mungkin bisa terjadi juga pada robot-robot itu, meski saat ini membayangkannya masih sangat sulit. Anda ingin makan malam dengan robot, Anda ingin mengobrol dengan robot, Anda ingin berjalan-jalan dengan robot, Anda ingin bercinta dengan robot, itu mudah. Sekarang pun Anda sudah bisa melakukannya, dengan keterbatasan di beberapa hal. Tetapi kalau Anda ingin berinteraksi dengan robot seperti halnya Anda berinteraksi dengan manusia lain, atau diri Anda sendiri, dengan tingkat akurasi yang tinggi, itu masih sulit. Untuk sekadar dibayangkan saja masih sulit. Dan saya sejujurnya tidak tahu juga apakah itu sesuatu yang harus dikejar dan diwujudkan, atau sebaliknya.

Jadi, jika para android itu pada akhirnya, entah bagaimana, telah menjadi manusia, mereka diperbolehkan menjadi bagian dari Kurushimi Café? Begitu jawaban Anda?

Untuk saat ini, kira-kira begitu.(*)

Keterangan

  • Cerita ini ditulis berpuluh-puluh tahun dari sekarang, oleh seseorang yang namanya belum bisa diberitahukan saat ini.
  • Jika mengikuti aturan berbahasa Indonesia yang benar maka semestinya judul cerita ini adalah “Kafe Kurushimi”, namun si penerjemah sengaja menghadirkan versi bahasa Inggrisnya, dengan pertimbangan di bahasa aslinya judul tersebut—juga setiap kali dua kata ini muncul di tubuh cerita—dituliskan dalam katakana, bukan kanji atau hiragana. Semuanya katakanaクルシミ・カフェ. “Seperti ada penekanan bahwa urutannya harus begitu,” kata si penerjemah. Mengingat urutannya lebih condong ke bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia, si penerjemah pun memilih kata “Café” alih-alih “kafe”.
  • Si penerjemah sendiri adalah seseorang di saat ini. Hanya saja, ia menolak namanya dipublikasikan—saat ini.
  • Cerita ini diperoleh seorang agen kami yang melakukan perjalanan waktu beberapa minggu yang lalu, dan di saat ini belum pernah ditayangkan di ruang-tayang mana pun.

====================

Ardy Kresna Crenata tinggal di Bogor Kumpulan cerita pendek termutakhirnya: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelanya: Realitas & Kesadaran (BasaBasi, 2019).

Ia yang Menjelma Bunga Matahari

0

Hujan pertama di bulan November langsung membadai. Deras tiada ada celah. Air seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Awan gelap. Hitam. Tak ada noktah putih pun di atas sana. Begitupun angin menderu membuat air yang tumpah pontang-panting ke sana ke sini.

Pohon-pohon berakar serabut banyak yang tumbang. Angin dan hujan badai seakan bersekongkol memporak-porandakan perdesaan itu. Di sebuah halaman rumah tembok di lereng bukit, sebuah bunga matahari tetap tegar berdiri. Tidak goyah oleh angin, hanya basah oleh hujan. Meski juga berakar serabut.

Ia di sana, sebab sebuah cerita.

***

Seharian wanita itu hanya berdiri di halaman depan rumahnya. Sesekali menatap jam di telepon genggamnya. Pun ia menunggu kabar dari suaminya yang belum juga pulang sampai senja mulai menyala.

Dihyan, wanita itu sebenarnya tahu tentang suaminya, Niscala. Banyak teman yang mengabarkan apa yang dilakukan suaminya di luar rumah. Kabar yang telah ia alami sendiri jauh sebelum teman-temannya mengetahui sikap sang suami.

Ia lihat sendiri ketika sebuah kesempatan datang untuk melihat isi galeri telepon genggam Niscala. Foto-foto sang suami berpose dengan perempuan-perempuan lain. Berswafoto dengan mereka dengan wajah-wajah tanpa derita. Dan meski hanya foto, itu sungguh menyiksanya.

“Ayah belum pulang, Bun?” tanya Aruna, anak lelakinya dari balik pintu.

“Belum,” jawab Dihyan itu datar.

Matanya tajam ke depan. Menatap udara petang yang beranjak pekat.

“Aku lapar, Bun.”

“Kita segera makan, Nak. Tanpa ayahmu.”

“Sekarang, ya, Bun?”

Dihyan berdiri. Ia langkahkan kaki, namun badannya terasa berat. Seperti ada akar yang menancap di kakinya. Suaminya belum pulang. Ia sebenarnya tahu, seperti biasa. Bahwa suaminya kerja atau tidak kerja, tidak akan membawa uang ke rumah. Tidak ada uang belanja, pun nafkah untuk keluarganya.

Dengan langkah yang berat, Dihyan masuk ke dalam rumah dan menyiapkan makan malam untuk Aruna. Niscala tidak memberi uang belanja, bahkan selama dua bulan ini. Maka ia masak sekadarnya. Membeli sayur dari uang upahnya sebagai guru honorer di sebuah sekolah.

Petang ini Aruna meminta makan. Seingatnya di dapur telah tandas bahan masakan. Niscala belum pulang, dan honor dari sekolah baru cair besok. Untung masih ada sisa sebutir telur, maka ia menggorengnya

“Di mana ayah, Bunda?”

“Ia bersama kesenangannya. Biarkan.”

Tapi anak laki-laki itu membaca apa yang dipikirkan ibunya. Aruna melihat duka di mata ibunya. Duka akan perilaku ayahnya yang hanya peduli dengan kesenangannya belaka.

Mata Dihyan menatap kosong pada tembok yang belum dicat. Dihyan ingat saat dua bulan lalu beberapa mahasiswa datang ke desanya untuk sebuah penelitian. Mereka menginap di rumahnya selama sebulan. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Sebagai warga desa yang terbuka, ia setuju atas keputusan suaminya meminjamkan dua kamar rumah mereka untuk kelima mahasiswa itu.

Ia sebenarnya khawatir dengan kedatangan mahasiswa itu. Tapi kekhawatiran justru tertuju pada sikap Niscala yang seperti biasa. Lebih memperhatikan perempuan-perempuan lain daripada istri dan anaknya.

Kekhawatiran yang terbukti. Salah satu mahasiswa perempuan seperti mendapat perhatian lebih dari Niscala. Dihyan menangis ketika melihat suaminya duduk di teras belakang bersama seorang mahasiswa perempuan.  

“Besok ikut saja denganku,” kata Niscala pada mahasiswa itu.

Ia mendengar dari balik jendela yang membatasi ruang tamu dan teras.

“Kemana?” jawab mahasiswa tersebut. Biasa, tapi terdengar lembut dan cukup untuk menuntut pertanggungjawaban.

“Ada pertunjukan musik di lapangan. Tapi kita berdua saja, tidak usah kasih tahu yang lain. Pun ibunya anakku.”

Dihyan jelas mendengar apa yang dikatakan Niscala. Maka ia berlari ke depan dan menangis di sana. Tersedu namun ia menahannya agar tidak terdengar dan terlihat siapapun. Untuk mengalihkan tangisnya, ia menuju halaman. Menyiram bunga-bunga yang ditanamnya. Memotong daun yang kering agar pohon tidak mati. Membersihkan debu yang menempel pada bunga-bunga itu.

“Bunga Matahari belum ada di halaman ini,” gumamnya saat melihat bunga-bunga kecil itu.

Hanya ada bunga warna merah, merah muda dan ungu. Tidak ada warna kuning ceria dan cukup besar untuk memanjakan pandangan. Maka terbersit di otaknya adalah Bunga Matahari.

“Yang selalu menghadap matahari, dan seakan terlihat paling bersinar diantara bunga lain,” imbuhnya. “Aku ingin menambahkannya di sini.”

Ia berdiri menghadap rumahnya dari halaman. Tidak ada tanda-tanda sang suami keluar. Berarti mereka masih menikmati obrolan yang menyakitkan hatinya. Ia tetap berdiri di sana.

Beberapa waktu kemudian Niscala keluar. Menstarter motornya. Sendiri dengan wajah yang penuh gembira.

“Mau kemana?” tanya Dihyan tetap berdiri diantara bunga-bunga kecil.

Niscala tidak memperhatikannya. Hanya menatap layar telepon genggamnya dengan senyum licik.

“Mau pergi?” tanyanya sekali lagi.

Dan sekali lagi tak ada jawaban. Hanya suara motor yang dikendarai Niscala yang menjawab. Dihyan tetap berdiri diantara bunga-bunga. Menatap warna-warni itu satu persatu seperti menatap pekerjaan murid-muridnya di sekolah. Mengusap kelopak bunga dengan lembut seperti mengusap kepala anaknya ketika akan berangkat sekolah. Membuang daun kering yang masih menempel di ranting, seperti membuang sakit hati akan sikap suaminya.

Hingga ia tak sadar malam kian pekat dan terus saja wanita itu berdiri di sana. Sambil sesekali menatap pintu rumah yang masih terbuka. Bunga-bunga yang sudah mekar menularkan bahagia di hatinya. Ia usap sambil bernyanyi kecil pada bunga yang masih kuncup.

Udara malam di lereng bukit itu semakin menggigit. Tapi Dihyan tidak merasakan gigil. Ia malah menikmati kedamaian bersama bunga-bunga yang ditanamnya dan dipeliharanya seperti anak sendiri.

Di awal hari ia melihat suaminya datang. Tapi seperti hari-hari sebelumnya, ia tidak mendapat perhatian, dan masih terus berdiri di sana. Di halaman depan rumah. Bersama bunga-bunga tanamannya.

Hanya Niscala melirik sekilas padanya sambil bicara pelan dengan nada yang tidak suka, “Halaman penuh bunga, seperti hutan. Besok akan kubabat habis!”

Wanita itu bertekad akan tetap di sana, agar bunga-bunganya besok tetap tumbuh tidak dirusak oleh suaminya. Ia akan menjaganya.

Dan pagi pun menjelang, matahari menyapa dari balik perbukitan. Wanita itu tersenyum menghadap matahari pagi.

“Lihat, sumber kehidupan kita telah terbit. Beri salam padanya,” ujar Dihyan pada bunga-bunga tanamannya.

Kehidupan hari itu sudah bermula. Lalu lalang orang-orang di jalan depan rumahnya menatap taman bunga itu dengan pandangan kagum. Anak lelakinya keluar sudah lengkap dengan pakaian seragam putih merahnya.

“Aku berangkat sekolah, Bun.” Anak lelaki itu mendekat dan berpamitan padanya.

Ia usap kepala anaknya, mencium keningnya dan berdoa akan kebaikan untuk anak lelakinya itu.

“Ayah masih tidur,” tambah Aruna.

“Biarkan, Nak. Biarkan. Biarkan ia melampiaskan kegemarannya. Bersabarlah bersama Bunda.”

Aruna tersenyum dan melangkah pergi berangkat ke sekolah. Sementara Dihyan masih menatap rumahnya, berharap kebaikan melimpah pada rumah mungilnya. Berharap ada cahaya matahari menerangi kegelapan rumah karena sikap dingin Niscala. Ia ingin menjadi cahaya, seperti namanya, Dihyan yang berarti matahari.

Dihyan terus memendam rasa sakit di hatinya. Terus membiarkan tingkah Niscala sebagai suami yang tidak pernah memperhatikan dia dan anaknya. Membesarkan anaknya dengan upah sebagai guru honorer sangatlah kurang. Sedangkan Niscala, ketika keluar kadang pamit untuk bekerja hingga dua atau tiga hari.

Wanita itu sangat ingat dan menggeram menahan sakit di hatinya saat Niscala pulang dari kerja yang dua atau tiga hari itu, Niscala tidak memberinya uang.

“Kamu, kan guru. Bisa dapat uang tiap bulan!” sengit ucap suaminya.

“Tapi kamu tiga hari bekerja tentu mendapat uang. Tidaklah kamu lihat Aruna butuh biaya sekolah?”

“Gampang. Pakai gaji gurumu dulu.” Dan asap rokok pun mengepul dari mulut Niscala.

“Tapi kamu ayahnya. Yang wajib memberinya nafkah!” balas Dihyan dengan nada tinggi.

Niscala memandang tajam pada Dihyan. Tangannya mengepal. Ia hantamkan pada udara dan masuk ke dalam rumah. Pintu dibantingnya. Selepasnya hanya menyisakan gemuruh di dada Dihyan.

Dihyan ingat, waktu itu air mata yang ditahan, tak dapat lagi dibendung. Ia berlari menuju halaman yang ditanami bunga. Dan menangis di sana. Air mata serupa pupuk yang membuat bunga-bunga di tamannya semakin subur

Setelah Aruna lenyap dari pandangannya pagi ini, Dihyan ingin beranjak pergi dari halaman, tapi kakinya berat untuk diangkat. Ada serabut serupa akar yang menghunjam ke tanah. Ia menunda keinginannya untuk beranjak dari taman itu. Ia benamkan diri bersama bunga-bunga. Mengalihkan hati dan pikiran dari sikap kasar Niscala. Hanya dengan itu ia berharap mampu mengubah watak sang suami. Bunga melambangkan kelembutan, dan Dihyan ingin kelembutannya menular dan melunakkan sikap Niscala.

Ia harap begitu.

***

Satu per satu orang desa mendatangi taman bunga Dihyan. Mereka mengagumi dan dibuat heran dengan satu bunga yang bersinar terang. Kelopak kuning mengelilingi lingkaran putik di tengah. Dengan pohon lurus dan disertai daun lebar di beberapa titik dahan berwarna hijau. Satu-satunya bunga matahari di taman itu. Paling tinggi di antara bunga lain. Dan tentunya, bunga itu bersinar, menghadap rumah dan menerangi rumah itu.

Niscala keluar rumah membawa sabit dengan wajah penuh amarah. Ia menyibak sekumpulan orang yang mengagumi bunga matahari yang tumbuh paling mencolok di sana.

“Pergi semua! Akan aku babat habis bunga-bunga tidak berguna ini!” kata Niscala penuh amarah. “Dan pergi kalian semua dari sini!”

Berangsur warga desa pergi dari halaman sambil berbisik, merasa kasihan akan sikap Niscala yang tidak memiliki kepedulian.

Setelah warga pergi, Niscala mendekati taman bunga di depan rumahnya itu. Ia tersentak melihat bunga matahari yang paling menarik perhatiannya. Langsung ia menuju bunga matahari yang bersinar. Ia kagum, ia dekatkan wajah pada kelopak bunga tersebut.

“Aku tahu kamu,” ujar Niscala pelan. Suaranya bergelombang.

Hatinya bergetar hebat, sabitnya jatuh ke tanah. Ia cium bunga itu. Aroma wangi menjalar ke seluruh tubuhnya. Dilihatnya dari putik bunga matahari itu muncul titik-titik air. Hati Niscala merasa tersiram embun.

“Kamu menangis? Hentikan tangismu. Kamu tak akan mudah menangis seperti ini.”

Angin menyusuri perbukitan itu. Mendung makin menggulung di langit. Niscala sekali lagi mencium bunga matahari yang menyinari rumahnya itu. Ia lalu beranjak menuju teras rumahnya. Rencananya membabat habis bunga-bunga itu dimusnahkan. Ia pandangi bunga-bunga itu. Dan pandangannya tertuju pada bunga matahari yang sinarnya menusuk jiwa Niscala.

“Kamu Dihyan,” gumamnya di teras rumah. “Ya, kamu Dihyan. Bunga Dihyan.”

Ada rasa kehilangan di hati Niscala. Seseorang baru merasa kehilangan sesuatu jika ia tak lagi memperhatikan sesuatu itu. Hati Niscala seketika kering dalam musim hujan bermula.

Hujan pertama di bulan November langsung membadai. Deras tiada ada celah. Air seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Awan gelap. Hitam. Tak ada noktah putih pun di atas sana. Begitupun angin menderu membuat air yang tumpah pontang-panting ke sana ke sini.

Hanya bunga matahari di depan rumah itu yang tak tergoyahkan badai hari itu.

            Untuk D

11 November 2018

========

Danang Febriansyah, mengelola Taman Baca Naturalitera dan tergabung dalam Forum Taman Baca Masyarakat Kab. Wonogiri. Belajar menulis bersama Sastra Alit Surakarta dan #KampusFiksi Jogja serta FLP. Beberapa karyanya, Cerpen, Puisi dan Resensi Buku pernah dimuat di media massa. Buku puisinya “Hujan Turun di Desa” terbit 2018. Novelnya “Arundaya” terbit pada 2019. Juga beberapa buku antologi yang diterbitkan baik melalui penerbit mayor maupun indie. Kini tinggal di Bulukerto, Wonogiri.

Ali Sabidin Menengok Bayinya

2

Ali Sabidin menerima kabar gembira tentang kelahiran istrinya. Dia pulang malam itu dengan menumpang bus terakhir jurusan ibu kota. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang dipikirkan lelaki itu selain bahwa bayi yang baru saja dilahirkan istrinya adalah bayi laki-laki.

Ali Sabidin sangat bahagia atas kabar kelahiran ini, karena pernikahannya dengan Marlena berlangsung hampir empat belas tahun. Tak ada seorang pun bayi yang mereka dapatkan sampai sejauh itu. Entah berapa banyak mulut membicarakan tentang ini, tapi lama-lama sepasang suami istri tersebut tak lagi peduli. Bahkan, suatu saat, Ali Sabidin pernah begitu meyakini betapa dia tidak ditakdirkan memiliki keturunan sampai tua dan mati.

Sekarang, kabar ini tiba-tiba bagai setetes air di tengah gurun yang mengepungnya selama empat belas tahun terakhir. Biasanya Marlena akan selalu kehilangan bayi pada detik-detik terakhir ketika seorang bayi seharusnya muncul dari rahim ibunya ke dunia dengan harapan serta nama baru. Malam itu lain. Ada telepon datang dan membuat Ali Sabidin nyaris kehilangan kesadaran saking senangnya.

Ali Sabidin melompat dari pos tempat di mana dia biasa berjaga di perbatasan dan menghambur keluar hingga nyaris menabrak temannya yang baru saja kelar membuang hajat di tepi hutan. Ali Sabidin berteriak lepas dan tampak seperti orang gila andai saja dia tak mengenakan seragam penjaga perbatasan. Sang teman hanya bisa mengucapkan selamat dan memberikannya waktu luang semalam untuk menengok anaknya yang baru lahir.

Dalam bus, tak henti-henti Ali Sabidin berbicara pada setiap penumpang yang ada di sisinya atau tak sengaja duduk bersebelahan dengannya. Setiap yang mendengar soal hadirnya bayi itu hanya manggut-manggut dan memberi selamat singkat. Mereka tidak ada yang mengenalnya. Kebanyakan penumpang pendatang yang sering tidak mengerti bahasa daerah yang kerap digunakan Ali Sabidin sehari-hari, meski harusnya dia pakai bahasa asing yang umum diketahui di kawasan dekat perbatasan.

Para pendatang itu memang sudah lama berlalu lalang melintasi perbatasan dan itu sudah jadi hal biasa setelah para pemberontak dikalahkan oleh pihak pemerintah. Dulu, kaum pemberontak kerap membuat situasi di kawasan ibu kota di mana Ali Sabidin dan istri tinggal menjadi begitu mencekam tiap malam. Tidak ada yang bisa tenang, bahkan meski bagi orang-orang asli daerah ini seperti Ali Sabidin. Sekarang, keadaan jauh lebih aman dan pekerjaan menjaga pos perbatasan sudah bukan pekerjaan yang berisiko. Jadi, bagi tiap penumpang yang mendengar kabar kelahiran bayi Ali Sabidin, kabar semacam itu tidak ubahnya sebuah kabar yang begitu biasa; bagai rutinitas sarapan di pagi hari di mana setiap orang bisa dan boleh melakukannya sesering yang diinginkan. Meski begitu, Ali Sabidin tetap terlihat bahagia dan lagi-lagi mengungkapkan hal itu pada penumpang mana pun yang belum turun di tujuan masing-masing.

Hanya saja, malam itu hujan turun begitu deras. Hujan itu bermula dengan gerimis rintik-rintik yang disusul angin kencang dan langit yang menggerung. Pepohonan di sisi kiri-kanan jalan yang dilalui bus bergoyang mengikuti tiupan angin hingga membuat beberapa penumpang berdoa agar perjalanan mereka tidak terganggu.

Saat hujan deras turun dan cipratan airnya membasahi sebagian wajah Ali Sabidin yang duduk di dekat jendela, lelaki itu mulai menyadari ponselnya tertinggal di pos jaga dan dia teringat betapa belum sempat dia bertanya-tanya tentang kabar sang istri. Apa yang Marlena lakukan setelah melahirkan bayi itu? Apa dia selamat sebagaimana bayi yang baru saja dilahirkannya?

Sejak hujan turun, selain mengungkap kesenangan-kesenangan tentang si bayi pada beberapa penumpang, Ali Sabidin diam-diam berdoa untuk Marlena.

Dia tidak akan mengalami sesuatu yang buruk, demikian pikirnya, terus menerus, tiada henti. Dia tersenyum dan memeluk bayi kami dengan hangat dan mesra. Dia pasti pula bertanya-tanya bagaimana diriku saat menemuinya nanti? Apa saja yang akan aku ucap? Bagaimana merayakan kebahagiaan yang tertunda empat belas tahun terakhir ini?

Pikiran-pikiran itu kian menguat setelah satu demi satu penumpang turun dan tidak ada lagi yang tersisa selain Ali Sabidin dan sang sopir. Tak ada kenek di sini, sedangkan dia tidak mengenal sopir itu. Demi meredam kecemasan hatinya akan keadaan Marlena, Ali Sabidin berpindah duduk di samping sang sopir dan mencoba membangun obrolan ringan, sementara hujan angin di luar semakin deras saja.

Sang sopir yang terlalu fokus pada tugasnya tidak terlalu memperhatikan omongan Ali Sabidin tentang ponsel bututnya yang tertinggal di pos jaga beberapa kilometer nun di belakang. Hanya karena dia lebih muda dan mengira seharusnya menghormati orang yang lebih tua, apalagi orang itu mengaku baru saja punya anak setelah menikah selama empat belas tahun, sesekali sopir tersebut menoleh demi sekadar membuat Ali Sabidin merasa sedikit dihargai oleh orang asing yang diajaknya bicara.

Sayangnya, sang sopir tak menyadari ada pohon melintang di jalan. Bus terguling setelah roda depan menabrak batangan kayu besar itu hingga membuat si sopir beserta Ali Sabidin terlempar-lempar untuk beberapa detik di dalam kendaraan.

Hujan deras belum kelar. Petir masih berkelebatan di langit.

Di dalam kubangan lumpur, bus tersebut kini tampak ringsek dengan kondisi roda berada di puncak dan menghadap langit. Sebagian besar kaca jendela pecah dan melukai Ali Sabidin, tapi tak terlalu parah. Hanya sang sopir yang tidak selamat karena tubuhnya tergencet pohon yang masih tegak berdiri, yang menyambut tubuh bus yang meluncur deras di jalan usai terguling beberapa waktu lalu. Ali Sabidin coba membangunkan sopir bernasib sial itu, tetapi tak ada sambutan. Tak ada gerak atau respons apa pun. Maka, dia merangkak keluar dengan payah, seorang diri.

Dalam pikirannya, Ali Sabidin menduga ketika itu sudah menginjak tengah malam. Tak ada bus lagi yang melintas hingga nanti jam 4 pagi saat azan subuh berkumandang. Tak akan ada pertolongan sampai saat itu, kecuali ada seseorang kurang kerjaan sedang berkeliaran di jalan yang dikepung hutan ini, demi entah apa. Namun, Ali Sabidin tahu, kemungkinan macam itu sangat kecil.

Dengan luka sayat di lengan kiri, serta kaki kanan yang terkilir, Ali Sabidin enggan berhenti di sini. Dia ingin melanjutkan langkah menuju ibu kota yang berupa kota kecil yang tua dan menyedihkan, di mana rumah dan istri dan bayi barunya kini berada. Jarak yang harus ditempuh mungkin 4 atau 5 kilometer. Itu bukan persoalan. Harusnya bukan persoalan. Maka, Ali Sabidin menahan-nahan luka dengan bebatan kain seadanya dan berjalan sebisa mungkin menuju arah pulang.

Entah berapa lama Ali Sabidin berjuang. Pada akhirnya dia bisa mencapai rumah. Pada akhirnya dia bisa menatap tubuh bayinya yang tampak mekar dan kuat. Hanya saja, bayi itu terlihat membiru. Entah apa sebabnya. Bidan yang membantu kelahirannya tak bisa berbuat karena hujan deras menutup akses menuju puskesmas di arah lain dari bus yang tadi ditumpangi Ali Sabidin.

“Pohon-pohon tumbang di berbagai tempat. Bahkan gerobak kuda pun tidak dapat membawa bayimu ini ke sana,” kata sang mertua yang matanya begitu basah dan merah.

Ali Sabidin yang kepayahan oleh luka kecelakaan, lalu teringat Marlena. Dia pergi ke kamar, ke ruang tengah, ke kamar mandi. Tak ada siapa pun di sana selain beberapa saudara yang melamun dan merokok di berbagai sudut rumah.

“Mana Marlena?” tanya Ali Sabidin.

Tak ada yang menjawab dan setiap mata memandangnya diam.

“Mana Marlena?” tanya Ali Sabidin lagi.

Tak ada yang menjawab. Setiap mata memandangnya diam dan Ali Sabidin seakan mengerti apa yang telah terjadi. [ ]

Gempol, 19 Juli 2019

==========

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Magrib dan Sebuah Pertikaian

0

Setengah bulan yang lalu aku disambut baik oleh warga setempat di lembah kendeng, desa yang ditutup oleh bukit kendeng, tempat pabrik semen itu beberapa bulan yang lalu mulai beroperasi menggeruk batu kapur dari tubuhnya. Magrib mulai samar-samar, karena cahaya lampu di arah barat bukan lagi cahaya dari mentari yang turun di ufuk Barat, tapi cahaya lampu pabrik yang menyala di malam hari. Jadi, cahaya magrib tampak sepanjang malam, terlihat dari lembah kendeng.

Tak banyak yang tahu bagaimana kehidupan orang lembah kendeng, karena daerahnya memang jauh dari desa-desa maju lainya. Apalagi bukit kendeng seperti pagar tinggi yang menghalangi pandangan seseorang pada desa terpencil ini. Pak Mudin yang bersamaku saat ini bercerita jika Desa mereka memang masih tertinggal. Apalagi persoalan pendidikan, terutama pendidikan keagamaan.

“Pemuda yang saya kader semuanya pada keluar dari desa ini kok, Mas. Makanya di sini sepi. Pelajaran agama geh ngene iki. Hanya belajar membaca al-Qur’an, itu pun tidak fasih.” Cerita Pak Mudin kepada saya dan teman-teman yang duduk bersila di hadapannya. Pak Mudin adalah seorang santri Alumni Lasem. Dia salah tokoh agama yang disegani di desa ini.

“Iya, mereka antusias lho, Pak.”

“Sesuatu yang baru bagi seseorang memang asyik. Saya saja mendengar puji-pujian apik seperti tadi di loudspeaker, yang asalnya capek sepulang dari ladang, menjadi semangat.” Katanya. Wajahnya nampak benar-benar bahagia. “Teringat masa lalu ketika di pondok, Mas.” Lanjut Pak Mudin.

“Saya lihat ada satu anak yang rajin dan pintar di sini, Pak.”

“Siapa?”

“Si Didik itu.”

“Owh yang sering adzan itu?”

“Iya.”

“Dia sebenarnya asalnya ngaji di Musollah di sebelah Barat sana, Mas. Dia orangnya rajin memang. Kesayangan Pak Mar.”

“Maksudnya sekarang pindah?” Celetuk teman saya.

“Iya.” Pak Mudin melepaskan pandangan ke luar masjid. Seakan ada sesuatu yang masih disimpan.

“Lho kok bisa?” Aku penasaran.

“Ceritanya panjang.” Jawab Pak Mudin pendek.

Aku tidak bisa menelusuri alur ceritanya lagi dari Pak Mudin malam ini, sepertinya dia tidak ingin bercerita apa-apa. Yang kutahu, Musollah itu sekarang memang sepi. Tak ada adzan dan kegiatan apapun.

Anjing milik warga mulai menggonggong sedang menyapa anjing-anjing yang lain untuk segera waspada jika ada orang berjalan tengah malam. Warga di lembah kendeng ini masih menggunakan anjing sebgai satpam rumah. Sebentar lagi akan beranjak pukul sembilan malam, warga akan menutup pintu untuk segera tidur.

Pak Mudin pamitan. Aku dan teman-teman juga segera pulang ke pondokan. Malam hari, tidak baik masih ada di luar rumah di desa ini. Seperti suatu hal yang asing.

Aku pulang sembari berpikir kenapa Didik sampai pindah dari Musollah ke Masjid. Apa karena kemauannya sendiri atau faktor lain.

“Aku mendengar dari Ibu Fatimah katanya persoalan pemilihan kepala desa.” Di tengah perjalanan Joko, temanku yang asli Jawa itu tiba-tiba nyeletuk, memberi tahu.

“Ibu Fatimah Ketua Forum Anak Desa itu?”

“Iya.”

“Kau lihat TPQ di sebelah utara pondokan kita itu. Mati tak dipakai kan?”

Aku tidak menjawab. Tapi Joko sudah tahu jika aku mengiyakan karena semua teman-temanku sudah tahu perihal itu. TPQ pindah ke Musollah dukuh atas.

“Memang tidak di mana-mana, persoalan pemilihan kepala desa membuat beberapa warga jadi saling berselisih.” Pungkasku, sebelum kami masuk ke pondokan.

“Tapi ya, paling nanti reda sendiri.”

Percakapan pun ditutup. Malam mulai mencekam. Gongongan anjing beberapa kali terdengar di dekat pondokanku.

***

“Aku punya ide.” Kataku pada Joko. Joko yang bermain Handphone berlagak tak memperhatikanku. Dia mungkin sudah mengerti apa yang akan aku bicarakan. “Ajak Didik untuk kembali ke Musollah.”

Joko terperanjat. “Bukan hanya persoalan Didik. Orang tuanya juga terlibat di dalamnya.”

“Jika Didik kembali ke tempat semula apa yang akan terjadi coba?”

“Aku tahu.”

“Lantas?”

“Persoalan itu tidak bisa diselesaikan secara singkat.”

“Tapi aku tidak ingin Didik ikut menjadi korban.”

Tak ada kesepakatan antara aku dan Joko. Aku pun memutuskan pergi ke rumah Didik. Ingin mengajaknya datang ke musollah Pak Mar.

Pagi ini, aku tergerak untuk beranjak dari pondokan. Dalam hati, aku ingin pergi ke rumah Didik saja, membujuknya agar nanti pergi ke Musollah bersama-sama. Iya. Aku pun berangkat ke rumah Didik. Kebetulan hari Minggu adalah hari libur SD. Didik pasti ada di rumah. Aku mengambil motor dan segera pergi.

Tak lama, aku sampai di depan rumah Didik yang berpagar besi. Didik termasuk orang berada di antara warga yang masih mempunyai rumah kuno berdinding kayu jati. Rumahnya besar. Orang tuanya termasuk disegani. Namun persoalan pelik tentang kepala desa membuat Bapaknya hilang kepercayaan dari sebagian warga yang tidak satu pendapat dengannya.

Aku mengucapkan salam. Keluarlah seseorang dari dalam. Ibu Didik.

“Eh, mari masuk.”

Njeh, Buk.”

Aku masuk ke rumah yang megah itu. Dalam artian lebih bagus dari rumah kebanyakan. Ada ruang tamu yang nyaman dan Vas bunga indah di sudut ruangan.

“Tumben sekali main ke sini.”

“Iya. Dari kemaren belum sempat, karena kami sibuk merancang kegiatan.”

Jenengan Sudah kenal Didik, kan?”

“Kenal sekali. Dia anak yang paling pintar di desa ini.”

“Oh ya?”

“Iya, Buk. Saya paham sekali dengan karakter Didik dari awal mengajarinya mengaji di Masjid.”

“Dia baru-baru ini sebenarnya di masjid.”

Ibu Didik mulai membuka percakapan. Aku ingin memancing lebih dalam lagi persoalan yang sebenarnya.

“Maksudnya, pindah?”

“He’eh.” Jawabnya.

“Asalnya ngaji di mana?”

“Di musollah Pak Mar.”

“Berarti Didik pintar karena hasil Pak Mar.”

“Pak Mar itu sekarang bukan gurunya lagi. Dia tidak sepemikiran dengan kami.”

“Apakah Didik setuju dia berpindah guru?”

“Entah.”

“Pernah bertanya sebelumnya?”

“Tidak. Tidak pernah.”

Aku diam dulu, sebelum melontarkan pertanyaan yang dapat merusak kehangatan. Sepertinya Ibu Didik tidak ingin diintrogasi lagi. Aku membuka toples yang berisi jajan. Membiarkan Ibu Didik meleburkan panas dingin yang seperti hendak tumpah. Ingatannya beberapa waktu yang lalu tentang pertikaian pendapat seperti hendak muncul kembali.

“Boleh aku ajak Didik pergi ke musollah nanti magrib, Buk?”

“Ke musollah?”

“Ya, ke musollah. Mungkin Didik rindu ke sana.”

Ibu Didik tertegun sejenak. “Ya, boleh boleh saja.”

Aku tidak melihat dia sedang marah. Tapi ekspresinya dingin sekali. Didik lalu datang membawa jagung bakar di tangannya. Dia datang dan bersalaman denganku. Didik adalah kanak-kanak yang mempunyai sifat dewasa. Tidak banyak berkata-kata. Aku yakin dia mampu berpikir kenapa dia harus mengaji di masjid bukan di musollah tempat asalnya dia mengaji kepada Pak Mar.

Didik duduk di sebelahku mengeluarkan jagung bakar. “Kakak suka jagung bakar?”

“Iya.” Ucapku. Aku mengambil separuh lalu memakannya untuk menyenangkan hati Didik.

“Malam ini ikut Kakak ya?”

“Ke mana?”

“Ke musollah Pak Mar,” jawabku. “Sebelum magrib kita berangkat.”

Dia mengalihkan pandangan ke arah ibunya. Aku juga ikut meliriknya. Ibunya tersenyum dengan terpaksa. Dia pun mengangguk meski sebenarnya tidak mengizinkan.

Dendam masih nampak di wajah Ibu Didik. Matanya dingin menatapku. Aku pun merasakan ketakutan, takut disangka mengalihkan perhatian kepadanya. Tapi aku lihat Didik sangat antusias hendak pergi denganku. Dia memakai pakaian dengan antusias serta membawa al-Qur’an di tangannya. Seolah ada rindu kepada Pak Mar yang sejak kecil sudah mendidiknya.

“Sudah siap?”

“Siap, Kak.”

“Buk, kami pamit,” ucapku pamitan pada ibunya Didik. Tak kulihat Bapaknya. Kata Ibunya dia sedang ada di ladang mencabut singkong. Petang nanti, baru dia akan kembali ke rumah.

Aku menggandeng tangan Didik. Segera beranjak untuk pergi ke musollah.

Saat ini sangat menggetarkan bagiku. Karena aku bisa merasakan ketegangan sebelumnya. Jantung berdegup kencang. Aku berjalan menuju arah musollah rasanya seperti terbang. Aku seakan tak merasakan sedang melangkah di tanah.

Berbeda dengan Didik yang santai-santai saja. Dia masih kanak-kanak. Tak tahu apa-apa, meskipun secara pemikiran dia sudah bisa membedakan mana yang baik untuk dirinya dan yang tidak.

Beberapa saat aku sudah sampai di musollah kecil yang tak bercat itu. Sebuah gedung berwarna abu-abu yang hanya dilapisi dengan semen. Aku naik. Lampu belum dihidupkan. Aku bertanya dalam hati, ke mana Pak Mar.

“Dua menit lagi adzan ya,” perintahku kepada Didik yang masih menyapu lantai di teras depan.

Beberapa saat kemudian, seseorang datang kepadaku di musollah. “Sebaiknya kau pergi dari sini. Biarkan Didik pulang. Aku lihat Bapaknya tadi mencarinya.”

Aku tak menghiraukan itu. Paling hanya orang yang tidak suka juga pada Pak Mar. Dia mencoba menakut-nakutiku. Aku berdiri di beranda musollah. Menunggu ada yang datang. Pak Mar pun belum keluar. Dua menit berlalu. Matahari sempurna tenggelam. Aku menyuruh Didik segera adzan. Suara seruak dari loudspeaker ketika tombol on dipencet terdengar. Aku melihat tetangga musollah celingukan di ambang pintu mereka. Mereka bingung siapa yang sedang menghidupkan loudspeaker musollah. Takbir pertama dikumandangkan. Pak Mar keluar. Memandangku dengan nanar. Wajahnya dingin. Namun matanya aku lihat dia sedang heran mendengar adzan itu berkumandang.

Allahu akbar allahu akbar

Asyhadu an laa ilaaha illallaah

Pak Mar menatapku dengan lekat. Aku lihat mulutnya berkomat-kamit menjawab adzan dari suara merdu Didik. Pak Mar Masih tertegun di depan pintu. Seakan tak percaya musollah yang dia asuh sedang berkumandang adzan maghrib. Aku membiarkan dia menikmati suara adzan itu. Pasti dia sudah lama tidak mendengarnya.

Tak lama, setelah adzan itu selesai. Dia pun masuk dan keluar dengan pakaian rapi. Menggunakan baju putih, sarung kotak, dan kopiah haji. Dia nampak bersahaja. Orang-orang semua keluar rumah mendengar adzan yang sudah lama tak didengar dari musollah itu. Beberapa Ibu-Ibu dan Bapak datang. Musollah mulai hidup.

Aku berjabat tangan dengan Pak Mar. Tangannya masih kuat. Walaupun wajahnya mulai nampak tua.

“Sehat, Pak Mar?”

“Alhamdulillah….”

Tak sempat Pak Mar menjawab ketika terdengar teriakan lantang dari arah Timur. Bapak Didik tampak membawa arit yang diacungkan ke atas langit. “Siapa yang membawa anakku ke Pak Mar tanpa izin dariku?” Suaranya menggelegar.

Aku mulai ketakutan. Bayanganku dia akan menyabet leherku nanti. Tapi aku mencoba tenang. Dia pun mendekat, tanpa izin atau kode, dia dengan cepat mengayunkan aritnya ke arahku. Aku menghindar. “Kau jangan ikut campur dengan persoalan kami.” Ucapnya.

Bapak Didik kemudian mengayunkan sekali lagi aritnya itu. Tak sampai aku menghindar, Pak Mar memegang tangannya. “Dia tak punya urusan denganmu. Urusanmu denganku.” Pak Mar yang sedari tadi diam bersuara tak kalah sangarnya.

Bapak Didik mengalihkan serangan. Dia menyerang Pak Mar. Orang di dalam rumah ikut keluar setelah mendengar pertikaian itu. Pak Mar berusaha menghindari sabetan arit bapak Didik. Perempuan yang melihat pertarungan ini berteriak-teriak. Bapak Didik masih terus mengayunkan aritnya. Pak Mar terpojok. Bapak Didik makin bernafsu. Satu sabetan akan membelah perutnya.

“Bapak!” Didik muncul tiba-tiba, berteriak kencang hendak menghadang bapaknya. Bapaknya mengurungkan sabetan itu.

“Bapak, Pak Mar adalah guruku.”

Aku lihat arit itu bergetar di tangan bapak Didik sesaat Didik menghambur memeluk bapaknya.

Rembang, 2019

==========

Toni Kahar, Kelahiran Sumenep, 03 Desember. Aktif di Komunitaas Sastra ATAP dan SAKA Sarang Rembang, Pemred Majalah al-Hibr STAI Al-Anwar. Saat ini menimba ilmu di PP. Al-Anwar Sarang Rembang. Beberapa karyanya sudah diterbitkan di beberapa antologi dan pernah dimuat di Media Online, sedang buku kumcernya yang telah terbit berujudul “Ketapel dan Burung-Burung di Pohon Asam” (FAM, 2019)

Ludah

0


Laki-laki tua itu berjalan
terpincang-pincang menyeret langkahnya, disertai derai batuk menguncang bidang dadanya. Dengan sepotong tongkat di sebelah tangan kanan, ia memasuki perkampungan, dan akan bersimpuh di depan rumah siapapun sembari menadahkan kedua tangannya. Baju yang lusuh, hampir robek seluruhnya lekat di badannya dibasuh oleh keringat yang mengucur.

Ia duduk di halaman rumah seseorang. Menunggu si pemilik rumah keluar. Memangil-manggil tuan rumah diantara tarikan napasnya yang lambat dan goyah. Berharap seseorang keluar dari dalam rumah membawa uang, seberapa besar jumlahnya akan ia terima asal si pemberi ikhlas memberinya pada laki-laki tua itu, dengan keriput di sekujur tubuhnya.

Terus ia duduk di teras rumah seseorang itu. Rumah mewah berupa bangunan gedung bertingkat, dengan lampu-lampu menghias di setiap sudutnya membuat laki-laki itu yakin si pemilik rumah adalah orang paling kaya di kampung itu. Karena sejak laki-laki tua itu berkeliling semenjak matahari muncul di permukaan langit hingga kini menjelang sore hari, ia cuma menemukan rumah itu sebagai satu-satunya tempat tinggal yang megah dibanding rumah-rumah reyot yang ditemuinya sebelumnya.

Maksar, begitu nama laki-laki tua itu kemudian dikenal warga Tang-Batang. Selama lebih tiga puluh menit menunggu, seorang perempuan paruh baya agak gemuk berdiri di ambang pintu. Berpandangan beringas pada Maksar. Ia meminta Maksar segera angkat kaki dari rumahnya, lantang ia berteriak di depan muka laki-laki tua itu sampai Maksar menunduk, mengambil napas dalam-dalam, lalu bersama napas yang ia lepas, Maksar membuang ludah di wajah perempuan paruh baya itu.

“Dasar pengemis!” Terbungkus sumpah serapah ucapan perempuan itu mengumpat. Dengan cepat ia mendorong tubuh Maksar hingga laki-laki itu tersungkur. Pelan-pelan Maksar meraih tongkatnya dan berjalan pulang.

Matahari hampir tenggelam di ujung barat. Laki-laki tua tersandung batu hingga terpelanting jatuh. Gelap sudah mulai membungkus permukaan langit. Dengan sisa napas terengah-engah ia coba meraba-raba tanah, mencari tongkatnya yang terlempar jauh dari tempat ia tersungkur. Angin menggesek daun-daun jati. Maksar belum sanggup mengangkat tubuhnya sendiri. Ia memutuskan membaringkan saja tubuhnya, melepas penat karena berjalan sepanjang hari keluar masuk kampung.

“Ini tongkatnya, Kek.” Laki-laki muda yang menghampiri Maksar, membawakan tongkatnya. Terkaget Maksar mendengar suara Kasno, laki-laki muda itu. Kebetulan Kasno lewat di tempat itu dan tanpa sengaja telinganya mendengar suara lelaki tua merintih.

“Dimana rumah kakek? Mari saya antar,” kata Kasno menawarkan kebaikan pada lelaki tua itu. Maksar tak membuka katup mulutnya. Tak juga mengucap terimkasih pada Kasno karena berkat laki-laki muda itu ia bisa berjalan pulang dengan mengetuk-ngetukkan tongkatnya, mencari jalan setapak menuju rumah.

Belum juga Maksar menanggapi ucapan Kasno. Ia berdiri dan memandang raut muka Kasno, dalam remang-remang menjelang gelap malam hari. Tanpa perlu berucap apapun pada Kasno, justru malah Maksar melempar ludah ke wajah Kasno. Laki-laki muda itu terkejut dan berperasangka macam-macam soal Maksar. Apa lelaki tua itu tak waras? Ingin Kasno balas meludah, bahkan jika ia mau bisa dengan mudah menendang tubuh ringkih Maksar, tapi ia urungkan semua itu karena dianggapnya Maksar kehilangan akal, jiwa laki-laki tua yang dicekik kesepian. Begitu pikir Kasno.

Sudah berpuluh-puluh kali Maksar kerap membuang ludah ke wajah seseorang tanpa sebab. Seiring jarum bergeser, perilaku laki-laki tua itu dianggap meresahkan dan tak disukai banyak orang. Hingga kemudian setiap kali Maksar menginjakkan kaki di halaman rumah seseorang, ia langsung akan menerima umpatan, diusirnya seperti layaknya pecundang. Menanggapi sikap warga Tang-Batang Maksar tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Mungkin karena perlakuan orang-orang yang tak lagi ramah padanya menyebabkan laki-laki separuh abad itu tak dapat ditemukan lagi keberadaannya hingga saat ini. Tak terdengar lagi suara ketukan tongkatnya berseiring dengan laju napasnya. Tapi, menjelang sore hari, yang begerimis ketika orang-orang bekumpul di rumah Maksum dikarenakan Misdar, anak dari  lelaki paruh baya itu kejang-kejang, menjerit kesakitan, seperti disusupi arwah. Mendadak Maksar muncul tiba-tiba membuat orang-orang terbelalak menatap laki-laki tua itu.

Dengan tampil mencengangkan Maksar mengunyah ludahnya sendiri dalam mulut. Sejurus kemudian, laki-laki renta itu membuang ludahnya tepat mengenai wajah Misdar, anak lelaki Maksum. Orang-orang mengernyitkan dahi melihat tingkah Maksar yang kembali berulah. Laki-laki tua itu memejamkan mata. Ia membuka matanya beberapa menit kemudian. Bersamaan dengan terbukanya mata Maksar, saat itu juga Misdar berhenti mengejang dan bocah laki-laki itu langsung berdiri di depan orang banyak, memperlihatkan dirinya yang sembuh seketika.

Sejak itu masyarakat percaya, Maksar adalah lelaki sakti. Ludah Maksar dianggap mujarab oleh penduduk. Kabar kesaktian Maksar tersebar secepat kilat dari mulut ke mulut, dari waktu ke waktu. Justru laki-laki tua itu kini selalalu diharap kedatangannya. Tapi selepas kejadian menakjubkan waktu itu Maksar kembali tak menunjukkan batang hidungnya di depan orang-orang.

Walaupun laki-laki sepuh itu tak lagi diketahui dimana kini ia berada. Ia justru semakin termasyhur setelah beredar desas-desus bahwa orang-orang yang diludahinya dulu kini mengalami bermacam perubahan. Perubahan yang beragam diterima orang-orang itu. Perempuan gempal itu, yang mengusir Maksar dulu kini jatuh miskin dan terpaksa melacurkan diri demi sesuap nasi. Sementara Kasno, laki-laki yang diludahi Maksar tanpa sebab itu kini sudah jadi orang kaya, dan telah naik haji.

Suatu hari saat Kasno berkunjung ke rumah Maksum, ia berceloteh banyak mengenai Maksar, laki-laki tua pemilik ludah mujarab itu. Orang-orang sudah mengakui sangat mengagumi betapa mujarabnya ludah Maksar. Kasno berdehem sebentar melegakan tenggorokannya dari sesuatu yang menyumbat.

“Sekalipun ludah laki-laki tua itu mujarab, berhati-hatilah. Ludahnya bisa menyembuhkan, memberi keuntungan, atau justru ludah itu bisa jadi penyakit, mendatangkan celaka. Maka bersikaplah baik kepadanya jika tidak ingin bernasib celaka.” Kasno menceritakan dengan binar-binar di matanya. Tanpa mengurangi debar-debar di dadanya, Kasno selalu membangga-banggakan Maksar.

Beberapa bulan berlalu terdengar kabar bahwa Maksar tengah menyepi di bawah kaki bukit. Tinggal di rumah berupa gubuk terbuat dari anyaman bambu. Laki-laki tua itu tak lagi sanggup menyeret kakinya, singgah dari satu rumah penduduk ke rumah lain, menyusuri ruas-ruas jalan kampung. Diam-diam Maksum terobsesi menemui laki-laki renta itu, dan niat itu pun ia kerjakan. Pergi tak bilang siapa-siapa, dalam gelap malam dini hari.

Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Maksum duduk dalam gemetar sembari menatap wajah Maksar. Tanpa diminta terlebih dahulu oleh Maksum, tiba-tiba saja laki-laki tua itu membuang ludahnya ke wajah Maksum. Temaram lampu teplok memantulkan bayangan dua lelaki yang saling berhadapan. Angin bergemuruh di luar. Maksum tersenyum, merasa terberkahi mendapat ludah Maksar di wajahnya. Sebab maksud kedatangan laki-laki itu kesana memang ingin mukanya diludahi agar istrinya mengijinkan menikah lagi dengan perempuan simpanannya selama ini.

Dan beberapa detik berikutnya, Maksum malah merasakan nyeri di kedua matanya. Begitu Maksar mendekatkan mulutnya di tepi telinga Maksum, laki-laki itu sudah tak dapat melihat apapun di sekitarnya, kecuali gelap membungkus dua bola matanya. Kebencian terbungkus umpatan dan sumpah serapah terhadap Maksar, karena laki-laki tua telah membutakan kedua matanya.

“Dengan begini, akan kau tahu siapa sesungguhnya yang benar-benar mencintaimu. Istrimu atau perempuan simpananmu,” ujar Maksar, lelaki tua itu dengan sangat lembut. Jantung Maksum hampir copot dari tangkainya mendengar ucapan Maksar, karena laki-laki paruh baya itu belum mengucap apapun perihal maksud kedatangannya, tetapi lelaki tua itu sudah mengetahuinya lebih dulu.

Tak ada yang bisa dilakukan Maksum selain meminta lelaki tua itu mengembalikan penglihatannya. Dalam buta mata seperti itu, Maksum tak merasakan keberadaan Maksar di dekatnya. Laki-laki tua itu keluar rumah sejak tiga puluh menit lalu meninggalkan Maksum seorang diri di dalam rumah gubuknya. Maksum cuma mendengar suara cicak dan desah napasnya sendiri.

Pulau Garam, 2019

===================

Zainul Muttaqin Lahir di. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019).

Gadis Berpenutup Kepala di Kurfürstendamm

0

Berlin, 14 Oktober 2019 pukul 2 siang.

Suasana musim gugur Jerman yang menyenangkan dengan temperatur ideal membuat pemandangan Kurfürstendamm begitu semarak. Jalan raya yang juga merupakan pusat perbelanjaan bergengsi ibu kota tersebut menggambarkan berbagai kesenangan hidup lewat butik, kafe, showroom mobil, serta sejumlah hotel mewah bergengsi yang tak henti-henti diakses publik.

Dan di sinilah aku berada, di sebuah kedai kopi yang termasyur sejak masa Perang Dunia II bernama Kafe Kranzler bersama tiga sahabat baikku: Michael, Kristiane dan Heidi.

Was siehst du, Michael?” Suara Kristiane yang sedikit heboh membuatku mendongak dari cangkir kopi dan ikut menoleh Michael yang tengah menerawang ke luar jendela.

Lucunya, yang ditanya hanya tersenyum simpul tanpa memalingkan tatapannya dari Swissôtel Berlin pada arah pukul satu. Aku, Kristiane dan Heidi mengikuti pandangannya dan langsung memahami.

Sejauh lima puluh langkah dari pintu masuk hotel, tepatnya di atas sebuah bangku kayu yang terletak di tepi trotoar, tengah duduk seorang gadis muda sambil memangku seorang balita perempuan yang lucu. Makhluk kecil itu tertawa-tawa setiap kali si gadis menggerak-gerakkan sebuah boneka beruang di depan wajahnya.

Pemandangan itu membuat perasaanku campur aduk. Jika melihat ekspresi polos si balita, aku jadi gemas sendiri. Tapi jika melihat si gadis yang memangkunya, hatiku ditelusupi suatu perasaan tak nyaman. Pasalnya, gadis itu mengenakan sepotong kain penutup kepala yang sepanjang pengetahuanku hanya dikenakan oleh para wanita pemeluk agama itu: sebuah kepercayaan yang dalam beberapa tahun terakhir menimbulkan polemik di Eropa khususnya Jerman karena masalah pengungsian, penyerangan, serta pelecehan seksual. Dan lihat saja, orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar si gadis menunjukkan rasa paranoid yang sama entah lewat lirikan, langkah-langkah cepat, atau bisik-bisik jika kebetulan mereka melintas secara berkelompok.

Wie bitte? Bagaimana menurut kalian?” tanya Michael pada kami bertiga setelah berhasil mengalihkan perhatiannya dari si gadis dan si balita.

“Sudah pasti dia dipaksa menikah pada usia muda,” jawab Heidi spontan. “Orang-orang dari golongan itu dikenal sangat patriakhi, kan? Menurut yang kudengar mereka tak jarang memaksa anak gadisnya untuk menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua.”

“Tidakkah hal ini membuatmu jadi miris sebagai sesama wanita?” timpal Kristiane sambil menyikut lengan Heidi. “Ini abad dua satu dan hak-hak kaum perempuan sudah diakui, tapi masih saja ada perempuan yang tak bisa menentukan nasibnya sendiri. Gadis itu seharusnya masih bisa kuliah atau bekerja. Apalagi sekarang dia ada di Eropa. Melihat tata cara kehidupan kita di sini, dia pasti berharap memiliki banyak kesempatan seperti kau, aku dan perempuan-perempuan lain di negeri ini.”

Lagi-lagi Michael tersenyum dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Jika hipotesis kalian benar, maka kasihan sekali dia karena tak bisa menikmati masa muda yang menyenangkan.”

Aku memincingkan mata untuk mengamati si gadis berpenutup kepala serta balitanya secara lebih saksama. Samar-samar kulihat ekspresi anak kecil itu berubah seperti hendak menangis. Si gadis buru-buru membuka tas ranselnya untuk mengeluarkan sebotol susu. Dengan sigap diberikannya susu tersebut pada si kecil yang langsung mengisap dengan suka cita.

Melihat hal ini, spontan aku berujar, “Mungkin dia tidak semalang itu.”

Ketiga sahabatku sontak menolehku dengan dahi berkerut.

“Apa maksudmu, Lukas?” Michael tampak paling terheran-heran.

“Tidakkah kalian memperhatikan apa yang terjadi barusan? Anak kecil itu menjadi rewel tapi si gadis bisa menanganinya. Meski dari jauh, aku dapat menyimpulkan bahwa dia seorang ibu yang baik. Jika benar dia sudah menikah­–mungkin pernikahan itu bukan hal yang terlalu buruk baginya.”

Michael tampaknya memperhitungkan teoriku sebab kemudian dia berpaling untuk ikut memperhatikan gadis itu pula. Tak lama berselang dia bergumam, “Mungkinkah dia menikah dengan pria Eropa?”

Was?!” Kristiane dan Heidi berseru hampir bersamaan.

“Anaknya,” jawab Michael sambil mengedik ke arah si kecil yang kini tampak hendak terlelap. “Kalau dilihat-lihat anak kecil itu seperti anak kulit putih. Mungkin suaminya adalah orang Jerman.”

Kening Kristiane masih berkerut ketika dia berkata, “Maksudmu pernikahan justru membuat dia terbebas dari tradisi yang mengekang karena sang suami membawanya ke negeri ini?”

Michael mengangkat bahu. “Kita tak pernah tahu,” jawabnya sambil meneguk habis sisa kopi pada cangkirnya.

“Bagiku tetap saja,” sergah Heidi. “Dengan siapapun dia menikah, dia tetap tak bisa merasakan kebebasan yang sepenuhnya. Dia tetap harus mengurus bayi dan mengenakan…”

Aku, Michael dan Kristiane terheran-heran akan kalimat Heidi yang terputus sebelum mengetahui bahwa perhatiannya teralih pada sepasang pria dandy yang baru saja menuruni tangga lantai atas kafe. Dari setelan jas serta koper kerja yang mereka bawa, tampak jelas bahwa keduanya merupakan akademisi dari salah satu kampus bergengsi di Berlin. Secara kebetulan mereka memilih meja yang ada di dekat tempat kami.

“Sekali lagi maaf karena aku harus meninggalkanmu lebih awal, Rainer,” ujar salah satu di antaranya, seorang pria berambut pirang dengan kacamata berbingkai emas yang tampak lebih tua. Sementara rekannya menarik salah satu kursi, dia merapikan setelannya untuk bersiap pergi.

Kein problem, Joachim,” jawab sang rekan yang dipanggil Rainer sambil tersenyum. Dia merupakan seorang pria tampan berambut cokelat dengan usia sekitar empat puluhan. “Sampaikan salamku untuk Frau Rauftlin beserta ucapan selamat atas kelahiran putri kedua kalian.”

Danke schon. Ngomong-ngomong, kau tak ingin menikah lagi? Tidakkah kau ingin memberikan ibu baru bagi Paulin? Setahun sudah dia kehilangan ibunya karena kecelakaan mobil itu.”

Mendengar pertanyaan ini, pria bernama Rainer itu hanya tersenyum simpul. “Aku belum berpikir sampai ke sana tapi kita lihat saja nanti. Baiklah, sebaiknya kau bergegas mengejar UBahn yang akan membawamu ke Lichtenberg.”

Ja, auf Wiedersehen, Rainer.”

Auf Wiedersehen.”

Kedua pria berkelas itu saling berjabat tangan. Begitu Joachim pergi, Rainer mengenyakkan diri dan mengeluarkan sebuah telepon pintar dari saku jasnya untuk mengetik sesuatu. Sementara Kristiane dan Heidi memperhatikan pria tersebut dengan pandangan kagum, aku dan Michael hanya bertukar seringai dengan pundak terangkat.

“Kau menyeberang jalan saja, aku duduk di meja nomor 11,” suara berat Rainer yang tengah menelepon terdengar beberapa saat kemudian.

Aku kembali berpaling ke arah jalanan. Kurfürstendamm semakin ingar-bingar. Para pejalan kaki memenuhi trotoar dengan langkah-langkah cepat. Dinding kaca showroom Mercedez menggoda orang yang berlalu lalang. Gadis-gadis muda merayap dari satu butik ke butik lain. Dan gadis berpenutup kepala di depan Swissôtel melintas di depan jendela Kafe Kranzler.

Aku terkesiap.

Untuk sesaat kukira aku berhalusinasi sebelum kemudian terdengar bunyi pintu kafe digeser. Dan masuklah gadis muda itu bersama anak balita cantiknya yang telah terlelap. Mereka melenggang di antara kursi-kursi hingga akhirnya mencapai meja di mana Rainer berada.

Guten tag, Profesor Kross,” sapanya pada Rainer dalam Bahasa Jerman yang agak pelat.

Guten tag, Yasmin. Oh, malaikat kecilku. Dia tidak merepotkanmu, kan?” balas Rainer panjang lebar sambil mengambilalih si balita dari tangan si gadis berpenutup kepala. Ditimangnya bocah itu dengan penuh kasih sayang.

“Sama sekali tidak, Profesor.” Gadis bernama Yasmin itu menggeleng. “Ini botol susu dan bonekanya,” tambahnya sambil menyerahkan sebuah tas kecil yang dia ambil dari dalam tas ransel–yang mana membuatku terkejut begitu mendapati sejumlah buku tebal saat tak sengaja melirik ke dalamnya. “Er… di mana Profesor Rauftlin?”

Rainer Kross yang tengah membuka kopernya dengan salah satu tangan tersenyum saat menjawab, “Dia harus pergi ke Sana Klinikum Lichtenberg untuk melihat putrinya.”

“Oh, istri beliau sudah melahirkan?”

“Ya, satu jam yang lalu dan ini upahmu untuk minggu ini,” jawab sang profesor sambil mengulurkan sebuah amplop putih. “Dan karena kau akan ujian Bahasa Pemrograman Rakitan minggu depan, kau tak perlu datang ke rumah. Aku akan merasa bersalah jika nilai-nilaimu sampai turun dan Technische Universität Berlin mencabut beasiswamu.”

Yasmin tergelak mendengar mendengar hal ini. “Danke Schon, Profesor.”

“Sekali lagi maafkan aku karena lupa memberitahu bahwa venue Konferensi Robotika dipindahkan dari Swissôtel ke Kempinski. Tadinya aku mau meneleponmu setelah acara itu berakhir tapi Joachim terus mengajakku mengobrol hingga kami sampai di kafe ini. Baiklah, Yasmin, selamat belajar dan auf Wiedersehen.”

Auf Wiedersehen.”

Seiring dengan menjauhnya langkah Yasmin meninggalkan Kafe Kranzler, aku, Michael, Kristiane dan Heidi bertukar pandang. Untuk sesaat kami berempat terdiam sebelum akhirnya tersenyum kecut, membuatku bisa menduga bahwa seperti halnya diriku, ketiga sahabatku juga merasakan sebuah sensasi tertohok dalam hati oleh jawaban kenyataan atas segala praduga kami.

Catatan:

Was siehst du?            : kau lihat apa?
Wie bitte?                   : bagaimana?
Was?                           : apa?
Kein problem              : tidak masalah
Danke schon               : terima kasih
Auf Wiedersehen        : sampai jumpa
Guten tag                    : selamat siang

Kurfürstendamm merupakan sebuah jalan besar yang terletak di tengah kota Berlin dan merupakan pusat perbelanjaan serta hiburan seperti Champ d’Elysse di Paris.

Swissôtel Berlin dan Kempinski adalah hotel-hotel terkenal yang terletak di Kurfürstendamm.

Kafe Kranzel juga merupakan salah satu tempat terkenal di Kurfürstendamm.

Sana Klinikum Lichtenberg adalah rumah sakit yang terletak di distrik Lichtenberg, salah satu distrik mewah ibu kota.

UBahn atau Unter Bahn adalah sebutan untuk kereta bawah tanah di Jerman.

Technische Universität Berlin merupakan salah satu kampus terbaik di Berlin.

Terbaru

Mengeja Diri Dalam Cuaca Dingin

Luka Musim Di bukit-bukit yang sekaratSyahdu terdengar jerit burung-burung  Berkabar cerita dan hikayat kematianBau abu menghapus jejak di jalan-jalandi...

Dilarang Menangis

Kunci

Dari Redaksi