Kamera Pak Burhan

Jadi Cerpenis Lagi

Setelah Bunuh Diri

Rumah Kanak-Kanak

Cerpen

Home Cerpen Page 3

Solawat Ikan-Ikan

0



Pagi masih pucat ketika Sarkum pamit pada Sitti. Ia harus bergegas sebelum matahari meninggi. Ia mesti berpacu dengan waktu agar pekerjaannya tak tergeser orang lain. Dengan sepeda kumbang peninggalan mendiang bapaknya, ia harus mengayuh sejauh lima kilometer untuk sampai di pelabuhan Tanjungpinggir.

Sesampainya di pelabuhan, ia cukup lega. Belum banyak orang-orang sepertinya di dermaga. Hingga tak lama kemudian sebuah kapal nelayan perlahan menepi dan bersandar ke dermaga.

Setelah seorang anak buah kapal melempar sauh, Sarkum bersama beberapa kawannya setengah berebut menaiki kapal. Mereka sudah paham apa yang harus dikerjakan. Puluhan keranjang berisi ikan harus segera mereka turunkan. Menaruhnya di dekat si tauke pemilik kapal yang sudah menunggu di pelelangan, sebelum menjual semua ikan pada para pedangang.

Setengah jam kemudian pekerjaan Sarkum pun selesai. Peluh di tubuhnya masih mengucur ketika tauke mengulurkan selembar uang lima puluh ribu sebagai upah. Dengan segera Sarkum  memasukannya ke dalam kantong celana. Kali ini si tauke tengah bermurah hati. Sebab ikan yang diperoleh anak buahnya cukup berlimpah.

“Terima kasih juragan,” tukas Sarkum, mengulum senyum. Lalu bergegas kembali ke dermaga. Bersiap menaiki kapal lain yang baru saja bersandar.

Matahari hampir sepenggalah ketika Sarkum mengakhiri pekerjaannya. Sebelum pulang, ia mampir ke kedai Mak Jum.

“Ramai, Kum?” tanya Mak Jum sembari mengulurkan segelas kopi.

“Alhamdulillah. Lumayan Mak. Setidaknya hari ini aku tidur nyenyak,” jawab Sarkum, lalu menyorongkan bibirnya ke mulut gelas.

“Syukurlah. Berapapun hasilnya harus disyukuri.”

Sarkum mengangguk sembari mengambil sekerat singkong goreng. Tak lama berselang Sugi datang.

“Sudah lama, Kum?” sapa Sugi, lalu duduk tak jauh dari Sarkum.

“Barusan.” Sarkum merogoh saku baju, mengeluarkan rokok, lalu menyulutnya. “Bagaimana hasilmu hari ini, Gi?”

Sugi meraih handuk di pundaknya, lalu dibanting di atas meja, “Buntung, Kum.”

“Maksudmu?”

“Baru menurunkan tiga keranjang, kakiku sudah keseleo,” gerutu Sugi, menyodorkan kakinya yang mulai bengkak ke hadapan Sarkum.

“Wah, sial benar nasibmu, Gi.”

“Beruntung Haji Ali bermurah hati. Ia tetap memberiku upah, meski tak seberapa.”

“Syukurlah. Setidaknya jerih payahmu tak sia-sia. Sebaiknya kau lekas ke tukang pijat. Kakimu harus segera ditangani.”

Sugi mengangguk. Lalu memesan segelas kopi pada Mak Jum.

***

Azan zuhur baru saja purna ketika Sarkum memasuki rumah. Dilihatnya Sitti tengah sibuk di dapur sembari bersenandung. Dengan mengendap-endap, Sarkum menghampiri Sitti, lalu memeluknya dari belakang.

“Apa yang kau masak hari ini, istriku?”

Sitti terkesiap, “Ah, Akang. Bikin kaget saja. Hampir saja jantungku copot.”

“Ah, kau ini terlalu berlebihan.”

Sitti tersenyum, “Hari ini aku masak sayur kesukaanmu. Lodeh terong, tempe bacem, sambal terasi, dan tak lupa…” Sitti menunjuk ke dalam bara tungku.

“Petai bakar?”

Sitti mengangguk. Mata Sarkum langsung berbinar. Ia pun memeluk Sitti kembali. Tak lama berselang, Sitti sudah menyajikan semuanya di atas meja makan.

“Tumben Akang pulangnya siang?” tanya Sitti sembari menyendok nasi dan menumpahkannya di piring Sarkum.

“Tadi selepas bongkar ikan, aku mampir ke kedai Mak Jum. Di sana bertemu Sugi. Kami sempatkan ngobrol sebentar. Kasihan benar ia. Belum juga selesai bongkar ikan, kakinya sudah keseleo.” Sarkum mengambil lauk. “Tapi mungkin ia kena Karma.”

“Maksud, Akang?”

“Tempo hari ia serobot jatah Sukar di kapal Koh Ahong. Hampir saja mereka adu jotos kalau tak dilerai kawan-kawan.”

“Orang cari rezeki tak harus begitu,” ujar Sitti sembari menyendok nasi.

“O iya, tadi sepulang dari kedai Mak Jum, niat hati aku mau langsung pulang. Tapi baru sampai di depan Pasar Baru, Haji Salim memanggilku. Rupanya ia butuh bantuan menurunkan karung-karung beras dari truk yang baru datang. Jadilah aku ikut bongkar beras di sana.” Sarkum merogoh saku celananya. Lalu meletakkan segenggam uang di atas meja. “Kau bisa hitung jumlahnya. Aku tak sempat menghitungnya. Mudah-mudah lebih dari cukup untuk membeli beras dan bumbu dapur.”

“Alhamdulillah. Mudah-mudahan masih ada sisa untuk besok pagi. Syukur-syukur masih ada juga untuk ditabung.”

Sarkum mengangguk-angguk, “Eh, aku dengar tadi ketika memasak, kau seperti menyenandungkan sesuatu?”

“Iya, Kang. Aku tadi bersolawat. Aku kemarin baru dapat resep dari Nyai Nur. Jika ingin masakanku enak, maka aku disuruhnya bersolawat.”

“Dan kau percaya akan hal itu?”

“Kenapa tidak? Bukankah bersolawat itu baik? Kata Nyai Nur juga tak hanya soal masak saja. Hal lain pun demikian, jika ingin urusan lancar, maka banyak-banyaklah bersolawat.”

Sarkum tak begitu menanggapi perkataan Sitti sebab mulutnya sudah tersumpal nasi.

***

Musim angin barat datang. Para nelayan tak berani melaut. Mereka menyandarkan kapal-kapal di dermaga. Aktivitas jual-beli ikan di pelabuhan Tanjungpinggir sejenak sirna hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Setali tiga uang dengan para nelayan, Sarkum pun bernasib sama. Musim angin barat membuatnya sejenak kehilangan pekerjaan di pelabuhan. Ia pun bekerja serabutan demi mencukupi kebutuhan keluarga. Pagi hingga siang hari ia pergi ke Pasar Baru menjajakan tenaganya, sementara sore hingga tengah malam ia ke dermaga untuk memancing ikan.

Seminggu berlalu. Angin barat belum ada tanda-tanda akan purna. Selepas magrib, Sarkum sudah bersiap dengan peralatan memancingnya. Meski hujan belum reda, Sarkum tetap pergi. Hujan yang mengguyurnya tak menyurutkan niatnya untuk mencari rezeki.

Sesampainya di dermaga, Sarkum pun melempar kail ke tengah ombak yang bergejolak menghantam dermaga. Lalu duduk terpekur di bawah guyuran hujan dan hanya diterangi berkas cahaya lampu dari tempat pelelangan ikan di kejauhan. Meski dingin menyelimut, ia terus bertahan. Ia tak ingin pulang dengan tangan hampa.

Sejam berlalu, kail Sarkum belum ada tanda-tanda disambar ikan. Namun ia masih setia menunggu di bibir dermaga. Tiba-tiba ia teringat perkataan Sitti tentang solawat.

“Tak ada salahnya jika aku mencoba,” gumam Sarkum. Ia pun bersolawat.

Sungguh ajaib. Tak membutuhkan waktu lama, seekor ikan belanak menyambar kailnya.

“Jangan-jangan memang benar,” gumam Sarkum.

Ia pun kembali memasang umpan pada mata kail dan melemparkannya ke laut. Lalu kembali bersolawat. Dan benar dugaannya, seekor ikan belanak kembali didapat. Sarkum pun mengulang beberapa kali hingga tak terasa ikan tangkapannya hampir memenuhi ember. Setelah dirasa cukup, ia pun bergegas pulang.

***

Pagi menguar. Matahari tengah menggugurkan embun-embun di atas daun ketika Sarkum dan Sugi mengobrol di warung Mak Jum.

“Semalam aku mancing di dermaga, Gi.”

“Hasilnya?”

“Di luar dugaan. Satu ember penuh!”

Sugi tergelak, “Mana mungkin. Kau ini suka berkhayal. Angin barat saja belum usai. Tak mungkin ada ikan yang menepi.”

“Terserah kau mau percaya atau tidak,” Sarkum memasang muka serius. “Tapi itulah kenyataannya. Aku bisa buktikan kalau kau mau.”

“Baik. Nanti malam kita buktikan. Aku yakin kau hanya membual.”

“Siapa takut. Jangan lupa bawa peralatan memancing.”

Malam harinya Sarkum dan Sugi bertemu di dermaga. Setelah mengambil tempat, mereka segera melempar kail. Dan tak membutuhkan waktu lama bagi Sarkum untuk mendapatkan ikan. Berulang kali ia menarik joran dan memasukkan ikan ke dalam ember. Apa yang dilakukan Sarkum membuat Sugi terhenyak. Ternyata omongan Sarkum benar adanya.

“Apa yang kau lakukan hingga ikan-ikan datang menghampirimu, Kum?” tanya Sugi terheran-heran.

Sarkum terkekeh, “Aku tak melakukan apapun. Aku hanya bersolawat?”

“Solawat?”

“Ya, aku mendapatkan resep ini dari istriku. Ia dapat resep dari Nyai Nur. Cobalah jika kau mau.”

Sugi pun kembali melemparkan kailnya ke laut seraya bersolawat. Dan benar adanya. Tak butuh waktu lama, Sugi pun mendapatkan ikan. Ia pun kembali melempar kail. Merasa telah menemukan cara memperoleh ikan dengan cepat, Sugi pun merasa ketagihan.

“Sebaiknya kita sudahi saja mancing malam ini, Gi,” ajak Sarkum.

“Kenapa? Emberku belum penuh, Kum.”

“Kita ambil secukupnya saja. Tak perlu berlebihan.”

“Tapi…”

“Sudahlah. Besok malam masih ada waktu.”

Dengan sedikit kecewa, Sugi pun menuruti ajakan Sarkum.

Di tegah perjalanan, Sugi masih juga merasa aneh dengan peristiwa yang baru saja dialaminya.

“Kau memang benar, Kum. Apa yang aku rasakan tadi seolah ikan-ikan mendatangiku setelah bersolawat. Besok malam aku akan bawa jala saja. Biar hasilnya lebih berlimpah.”

“Tapi itu berlebihan, Gi. Ambil saja secukupnya. Sekadar untuk kebutuhan hidup.”

“Lho, ini mumpung, Kum. Pokoknya besok malam aku mau bawa jala. Titik!”

Keesokan malamnya, Sarkum dan Sugi kembali ke dermaga. Sarkum tetap membawa joran dan sebuah ember, namun Sugi membawa jala dan dua ember. Dan sungguh diluar dugaan. Semua ember Sugi dapat terisi penuh. Kemudian pada malam-malam berikutnya, Sugi semakin banyak membawa wadah untuk hasil tangkapan.

Melihat tingkah laku Sugi, Sarkum berulang kali mengingatkan. Namun tak pernah diindahkan. Sugi beranggapan apa yang dilakukannya semata-mata untuk mencari nafkah. Hingga suatu malam, Sarkum benar-benar mencegah Sugi pergi.

“Malam ini kau jangan pergi. Lebih baik di rumah saja,” ujar Sarkum, di teras rumahnya.

“Maksudmu?”

“Sudah tiga malam aku bermimpi kau ditelan ikan paus.”

Sugi terkekeh, “Kau kira aku Nabi Yunus? Lagi pula mana ada ikan paus diperairan sekitar dermaga. Kau ini jangan mengada-ada. Sudahlah, kau tak perlu berpikir macam-macam.”

“Ya, mungkin itu hanya mimpi saja. Tapi malam ini aku tak hendak memancing. Firasatku sedang tak enak. O iya, ini terakhir kalinya aku mengingatkanmu. Sebaiknya kau berhenti menggunakan solawat ketika mencari ikan.”

“Maksudmu?”

“Kulihat semakin hari kau tak dapat mengontrol diri. Kau gunakan solawat untuk memperkaya diri.”  

“Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga menggunakan solawat ketika memancing?”

“Setidaknya aku tak memperkaya diri. Aku hanya mengambil secukupnya saja.”

“Alah, omong kosong. Itu sama saja. Aku pamit.”

Sugi pun pergi. Sementara Sarkum menatap kawannya dengan getir.

Sesampainya di dermaga, seperti hari-hari sebelumnya, Sugi pun bersolawat dengan tujuan memanggil ikan-ikan. Dan sungguh ajaib, tak lama berselang ikan-ikan mendekat, berkecipuk bersama ombak yang memukul-mukul dermaga. Dengan segera Sugi menebar jala. Lalu diangkatnya perlahan. Dalam keremangan cahaya dilihatnya ikan bergelantungan terjerat jala. Dengan segera ia masukkan ikan-ikan ke dalam ember. Setelah usai, ia kembali menebar jala. Diulanginya hingga tiga kali. Namun pada tebaran yang ketiga, ia kesulitan mengangkat jala. Ikan-ikan justru melawan dan berbalik menarik jala Sugi hingga kemudian ia tercebur ke laut. Dalam kegugupan yang luar biasa, Sugi seolah  mendengar ikan-ikan bersolawat. Lalu menyeretnya ke tengah  dan semakin ke tengah. Hingga ia tenggelam ditelan laut.

Kudus, Januari 2020

================

M Arif Budiman, lahir di Pemalang 5 November 1985. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

Daun-daun Sepat

0

Aku mau menceritakan tentang sebuah waduk. Tempat anak-anak kecil di kampungku melempar dirinya sampai ke dalam perut air. Aku akan berusaha mengingat apa-apa yang kuketahui selama aku menjadi bagian dari waduk itu. Kalau ada beberapa hal yang sekiranya luput dari pengamatanku, kalian boleh memberitahuku supaya aku segera mengoreksi cerita ini. Kalian, yang juga menjadi bagian dari waduk itu, sama sepertiku.

Dulu ibuku adalah seorang buruh baja, sementara Bapak tidak memiliki kesibukan yang menjanjikan sebab keahlian yang dia punya hanyalah memancing ikan. Jika diukur menggunakan pendapatan jaman sekarang, saat itu kami adalah keluarga yang terbilang miskin. Saat membeli seragam sekolah saja, Ibu sengaja membelikanku dengan ukuran yang dua kali lebih besar ketimbang ukuran tubuhku. Supaya lebih hemat dan bisa kugunakan sampai setidaknya tiga kali naik kelas.

Kalau dipikir-pikir, saat itu, aku lah satu-satunya beban keluarga. Aku orang yang paling sulit menahan lapar dibanding mereka. Namun ibuku kelewat hebat, dia bisa mensiasati biaya dapur sehemat mungkin dengan kualitas masakan yang boleh diadu dengan restoran mana pun.

Kadang-kadang, Bapak membantu melengkapi hidangan dengan ikan hasil pancingannya. Meski, aku dan ibu tahu, Bapak sering memancing dengan seorang gadis yang kemungkinan adalah selingkuhannya dan membagi hasilnya pada gadis itu. Ibu sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan itu. Mungkin dia sudah lelah mencari-cari alasan untuk mempertahankan hubungan keluarga mereka selain karena aku.

Ya. Aku memang pernah melihat Bapak menghabiskan waktu di waduk bersama seorang gadis. Ketika itu aku sedang bermain di pinggir waduk bersama teman-temanku. Tepatnya di bagian selatan yang ditumbuhi pohon-pohon sepat. Kami biasanya akan segera melakukan pertemuan panjang selepas pulang dari sekolah dan mengganti baju. Karena orangtua kami akan marah sekali jika kami bermain menggunakan seragam sekolah.

Kemudian kami akan pulang ketika menjelang magrib, sekadar untuk mengganti pakaian lagi lalu pergi mengaji di surau Baiturrohman. Di waduk, aku dan teman-teman bisa mandi tanpa takut dimarahi siapa pun karena menggunakan air terlalu banyak. Tidak jarang aku pulang ke rumah bersama Bapak. Tentu saja ini tanpa kami rencanakan. Aku juga sering membantu Bapak membawa hasil tangkapannya.

Pernah Ustad Rais bercerita, guru mengaji kami disurau, ikan-ikan yang kami makan dari waduk tidak seberapa besar dan tidak seberapa banyak jika dibandingkan dengan ikan yang didapatkannya saat dahulu. Bahkan saking makmurnya ikan-ikan dari waduk itu, banyak nelayan yang tinggal di daerah pesisir, datang kemari untuk ikut memancing.

Tidak hanya itu, Ustad Rais juga menganjurkan kami untuk berhenti memakan ikan dari waduk, karena ikan-ikan itu menurutnya sudah tercemar racun limbah, serta apa saja yang serba tidak sehat. Kesemuanya itu karena bangunan-bangunan besar yang mulai berdiri di dekat waduk.

Bahkan rumah-rumah mewah yang dibangun di balik tembok yang membatasi waduk dengan dunia luar, sering melemparkan sampah-sampah dapur secara sembarangan ke waduk kami. Ditambah lagi, beberapa pipa yang terhubung dari bangunan-bangunan besar itu, memuntahkan kotoran mereka ke permukaan waduk.

Tentu saja kami tidak tinggal diam. Kami pernah menyumpal pipa-pipa itu. Melempar balik sampah yang dibuang oleh para penghuni rumah di balik tembok waduk, namun usaha-usaha itu sia-sia belaka. Mereka selalu mendapat celah untuk mengulangi perilaku banal itu.

Pernah sekali aku menjumpai Ibu bersama teman-temannya berkumpul di rumah, mereka membicarakan tentang keselamatan waduk secara serius. Mereka mengepal-ngepalkan tangan ke langit seolah-olah sedang menantang Tuhan berkelahi.

Sebaliknya, Bapak tidak pernah ikut dengan kegiatan ini. Bapak juga sering melarang Ibu untuk berhenti mengundang teman-temannya ke rumah untuk membicarakan waduk itu. Kata Bapak, semua sudah diurus oleh pemerintah. Begitulah kemudian percakapan mereka berakhir dengan pertengkaran panjang.

Mereka tidak ragu menyembunyikan ketidak akraban itu di hadapanku. Suatu ketika Ibu ditampar oleh Bapak karena terlalu sering melawan perintah. Saat itu aku terpaku di pojok rumah, menyembunyikan diriku dari percikan amarah mereka. Ibu segera menyuruhku masuk ke dalam kamar dengan berbahasa-basi agar aku menyelesaikan tugas sekolah. Padahal saat itu Ibu tahu, aku sedang demam karena baru saja tersengat lebah yang bersarang di pohon-pohon sepat.

Dalam cerita ini, Bapak mungkin terkesan jahat bagi kalian. Namun perlu kalian ketahui, Bapak sungguh-sungguh menyayangiku meski sikapnya seperti penjahat. Selain karena Bapak sering membawakan ikan untuk makan malam kami di rumah, Bapak juga rutin membelikan aku bajusetiap kali tim kebanggaan kami menerbitkan jersey edisi terbarunya.

Tidak tanggung-tanggung, Bapak pula yang membelikan aku sepeda sehingga aku bisa pergi ke stadion menonton bola bersama kawan-kawan setiap ada pertandingan. Bapak juga tidak pelit untuk menemaniku menonton kalau memang aku ingin mengajaknya. Bilamana terjadi kerusuhan yang disebabkan para pendukung tidak terima karena tim kesayangan mereka kalah, Bapak segera menggendongku dan mencari tempat berlindung.

Bapak mendapatkan uang-uang itu terkadang dari menjual sebagian ikan hasil memancing kepada teman-temannya yang kebetulan tidak mendapatkan hasil tangkapan sama sekali, atau ibu-ibu rumah tangga yang sengaja datang ke waduk untuk membeli ikan. Namun itu tidak seberapa banyak dari uang yang diberikan oleh Pak Heri setiap kali Bapak mengerjakan sesuatu untuknya.

Pak Heri adalah seorang Kepala Lurah yang telah menjabat sebanyak dua kali. Saat aku lahir dia sudah menjadi orang terpandang di kampung kami. Ketika aku menjelang lulus SMP, Pak Heri menyiapkan diri menjabat untuk ketiga kalinya. Setiap menjelang pemilihan, anak-anak kecil biasanya diliburkan dari sekolah, karena guru dan para keluarga akan berpesta menyambut hasil pemilihan. Entah apa yang membuat perayaan itu menjadi berharga, namun bagi kami, hari libur tetaplah hari libur yang menyenangkan.

Pernah juga, aku melihat Bapak diberikan sebuah kantung pelastik berwarna merah. Yang tidak lama setelahnya kuketahui berisi lembaran-lembaran uang. Menjelang magrib, mereka berkeliling kampung untuk membagikan uang-uang itu ke setiap rumah. Aku dan teman-temanku mengiringi perjalanan mereka untuk sekadar memeriahkan. Bapak mengupahku seratus ribu rupiah, katanya untuk aku mentraktir teman-temanku membeli pentol.

Sepulangnya, aku menceritakan kejadian itu pada Ibu sebelum berangkat mengaji. Ibu menyuruhku untuk mengembalikan uang tersebut pada Bapak. Namun sekembaliku mengaji, Bapak tidak ada di rumah. Sedangkan Ibu tidur di kamarnya. Kemudian keesokan pagi mereka bertengkar. Pagi sekali. Sehingga aku terbangun lebih cepat dari seharusnya.

Karena kesal oleh perilaku mereka, aku membolos pada hari itu. Bersama teman-temanku, aku menghabiskan waktu di waduk, tempat pohon-pohon sepat tumbuh dengan rimbun. Kami merasa nyaman di tempat itu, walau bahaya sengatan lebah selalu mengintai keselamatan kami. Di sana, aku menghabiskan uang yang diberikan Bapak padaku.

Saat kami tengah bersenang-senang dengan es teh dan sebungkus rokok yang kami beli untuk belajar mengudut, segerombolan massa datang dari kampung memasang tulisan-tulisan dan poster besar yang mengitari setengah luas waduk. Ada pula foto Pak Heri dengan disertai gambar tanduk pada bagian kepalanya. Mereka berkumpul dan membuat barisan panjang. Kami melihatnya dari kejauhan sambil tetap menjaga waspada kalau-kalau di sana ada seseorang yang mengenali kami kemudian melaporkan ke sekolah karena kami membolos.

Aku mengintip dari balik tubuh-tubuh pohon, terlihat barisan manusia itu berteriak kencang-kencang. Tidak terlalu jelas apa yang mereka ucapkan, namun kobaran amarah terasa menyelimuti mereka. Setiap mereka berteriak, permukaan air akan bergetar, dan suara-suara itu, menimbulkan gelombang suara yang mampu menjatuhkan daun-daun sepat yang mengering.

Tidak lama berselang, segerombolan warga lain datang menghampiri bersama polisi. Awalnya tidak begitu jelas wajah-wajah mereka, namun akhirnya aku mengetahui Bapak berada di barisan paling depan bersama Pak Heri. Mereka bersama polisi sedang berbicara dengan barisan lain yang sebelumnya berteriak-teriak di bibir waduk.

Manakala terjadi ketegangan di antara mereka, kedua barisan manusia itu akan saling mendorong, sehingga beberapa orang yang berbaris di bibir waduk harus menahan tubuhnya sampai menyentuh air.

Aku melihat seorang wanita menghampiri Bapak. Wanita itu menamparnya. Wanita itu berteriak sambil menunjuk mata Bapak dengan begitu tegas. Bapak balik menampar wanita itu. Ketika wajahnya bertolak ke samping, segera aku mengetahui bahwa wanita itu adalah Ibu. Wajah Ibu yang memantulkan kegetiran mendalam. Tanpa berpikir panjang, sontak aku langsung berlari menghampiri mereka. Walau sesampaiya di keramaian itu, aku tetap tidak dapat melakukan apapun selain menonton lebih dekat pipi Ibu yang memerah bekas tamparan.

Hari itu adalah hari terakhir aku melihat Ibu. Ibu dibawa ke kantor polisi karena dituduh menjadi dalang kerusuhan dan semenjak itu tak pernah pulang ke rumah. Sampai terdengar kabar, Ibu mati di penjara.

Belum mengering sempurna kuburan Ibu dari bekas air ziarah, Bapak kawin lagi dengan seorang gadis yang sering menemaninya memancing di waduk. Kehidupan keluarga kami berubah drastis. Bapak semakin sering mendapat tugas dari Pak heri, dia juga mulai jarang memancing. Namun kebutuhan keluarga kami sudah serba terpenuhi.

Akhirnya aku meminta kepada Bapak supaya aku dimasukkan ke pesantren, menjadi peserta pondok di tempat Ustad Rais dulu juga belajar agama. Sepuluh tahun kemudian, setelah pulang merantau, aku kembali ke kota dan menghabiskan separuh waktuku setiap harinya bekerja di sebuah pabrik baja tempat ibu pernah bekerja. Namun dengan posisi yang lebih bergengsi.

Setiap sore, sebelum pulang ke rumah keluarga baruku, aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Bapak dan mampir ke waduk. Tidak ada barang istimewa lagi yang bisa ditemui di sana. Cuma ada pohon-pohon sepat yang sudah tua dan tersisa sedikit. Daun-daunnya yang kering mengapung di permukaan waduk. Tidak ada orang memancing, tidak ada gema suara. Anak-anak kecil atau remaja tidak lagi bermain di pinggir waduk.

Tampak jelas waduk lebih sempit dan dangkal ketimbang dahulu. Dan setiap aku datang kemari, suara Ibu selalu muncul bagai menyambutku, berdengung di dalam kepalaku seperti lebah.

======================

Robbyan Abel R, adalah penulis asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sejumlah cerpennya telah dimuat di berbagai media daring dan cetak. Turut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram. Sedang mempersiapkan buku kumpulan cerpen pertamanya.

Lingkar Waktu dan Tamu dari Masa Lalu

0

Hujan salju turun deras sore ini. Saya berdiri di depan rumah keluarga Andersen dan bertanya-tanya di dalam hati; beginikah perubahan musim di masa depan? Saya belum pernah melihat hujan salju selebat ini. Beberapa kepingnya melekat di wajah, di bahu, di rambut, lalu ‘bum’ sebongkah es terjatuh dari dahan mapel. Saya terkejut dan bergeser.

Saya memperhatikan pohon-pohon lain, yang tumbuh berbaris di pinggir jalan. Bentuknya begitu elok, mengembang, persis rok seorang balerina. Daun-daunnya berwarna kekuningan dan tampak tua. Rasanya aneh, menyaksikan pohon-pohon itu menjadi tua dalam tempo semalam saja.

Dalam urutan acak, saya mengingat rangkaian kejadian demi kejadian yang membawa saya berada di sini. Tadi malam, seharusnya saya bersama Patti, menanti komet Halley melintas sambil menikmati segelas cokelathangat. Namun rencana itu buyar, karena sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan, kecuali samar-samar.

Beberapa jam yang lalu, saya baru pulang dari pesta ulang tahun Simon. Di dapur, saya menemukan genangan air. Saya menduga ada kebocoran di pipa ledeng. Saya lantas mengambil peralatan dan membuka pintu ruang bawah tanah. Terowongan itu terasa lebih panjang dari yang pernah saya ingat. Di ujungnya ada seberkas cahaya. Saya merangkak ke sana dan sesampainya di ujung cahaya itu, baru saya sadari, saya telah berada di masa depan.

Sekarang di sinilah saya berdiri, tepat di bawah pohon mapel, berlindap dari guyuran hujan salju yang lebat. Di seberang sana, saya melihat pria tua sedang membersihkan bongkahan salju. Rambutnya merah dan kulitnya cerah. Dia memakai celana panjang dan kemeja hitam dengan kerah sedikit terbuka, seolah-olah baru saja pulang kerja. Pria tua itu menyadari jika saya sedang memperhatikannya. Dia menaruh sekop dan mengelap tangan ke celana panjangnya.

“Hei, kemarilah!” teriaknya sambil melambai.

Wajah pria tua itu bundar dan klimis. Dia terlihat feminim seperti gadis-gadis remaja yang belum matang. Tubuhnya agak melengkung, mungkin karena termakan usia. Sekali lagi dia melambaikan tangan. Saya mengangguk dan mendekat.

“Anda tampaknya sedang kebingungan,” ucapnya saat saya sudah berdiri di balik pagar. “Anda mencari seseorang?”

“Mungkin begitu,” jawab saya. Saya memperhatikan bangunan rumah di belakangnya. Tidak ada yang berubah. Hanya pada bagian pintu, catnya sedikit terkelupas, tapi warnanya masih seperti kemarin. Hijau toska.

Pria tua itu tertawa. Meski renta, giginya masih tetap sempurna. “Kalau boleh tahu, ke mana tujuan Anda?”

“Saya datang dari jauh. Jauh sekali.”

Kata ‘jauh sekali’ yang saya sampaikan memang bermakna sesungguhnya. Antara saya dan pria tua itu memang terpaut jarak puluhan tahun. Dia mengangguk, lalu mengusap rambut peraknya. Serpih-serpih salju membintik di atas kemeja hitamnya.

“Masuklah,” katanya sambil membuka pintu pagar. “Saya akan membuatkan cokelat panas untuk Anda.”

Saat memasuki pekarangan, saya merasa waktu tidak pernah beranjak. Suara derit engsel rumah itu bahkan tidak berubah sedikit pun. Saya duduk di kursi kayu, mengambil koran yang tergeletak di atas meja, membaca berita tentang kelahiran seekor bayi panda. Pada tanggal yang tertera, saya merasa sangatlah tua.

“Minumlah.”

 Koran itu saya lipat dan saya letakkan kembali ke atas meja. Dia meletakkan gelas cokelat panas ke samping koran. Aroma manis menggugah selera. Sekilas saya menatap tangannya, pada punggung telapak tangan kanan itu, saya melihat bekas luka.

“Saya tahu apa penyebabnya.”

“Apa?”

“Bekas luka itu,” jawab saya sambil menunjuk punggung telapak tangannya. “Saya tahu penyebabnya.”

“Bekas luka ini punya kisah tersendiri.” Dia menyentakkan lengan kemejanya yang tergulung untuk menutupi bekas lukanya. Dia duduk dan melanjutkan kata-katanya. “Saat itu musim panas. Saya sedang menarik gerobak pengangkut gandum milik ayah, saat seekor sapi yang sedang berahi melanggar saya dan …”

“Dan Anda bersembunyi di lumbung gandum sampai malam. Anda tak beranjak meski ibu Anda menangis dan menganggap Anda hilang.”

“Anda banyak tahu tentang saya, heh?” Dia menoleh cepat, menatap penuh keterkejutan. Saya pikir, itu reaksi wajar. Saya menyesal telah bersikap tidak sopan.

“Anggap saja tebakan saya akurat,” jawab saya. Dia terkekeh, lalu menyeruput cokelat panasnya.

“Anda tadi bilang sedang mencari seseorang?” tanyanya sambil meletakkan gelas ke atas meja. Matanya mengerling jenaka. “Bagaimana jika ternyata yang Anda cari itu adalah saya?”

“Saya tak mengerti?” sahut saya terus terang.

Dia berdeham sekali, menarik lengan kemejanya sebatas siku. “Buktinya Anda tahu riwayat luka ini. Bukankah itu artinya Anda sangat mengenal saya? Anda cucu Pattinson? Kisah luka di tangan ini hanya diketahui tiga orang; ayah dan ibu, dan Patti.”

Saya terdiam dan menggeleng. Di jalanan, bus kuning berhenti. Anak-anak berseragam turun berebutan. Anak-anak pria dan perempuan membawa tas sekolah kecil, berlari menuju rumah masing-masing. Sesekali tawa mereka melengking, menari-nari sambil merentangkan tangan menampung butiran hujan salju.

Saya memandang ke langit, melewati pohon mapel, melewati kanopi rumah keluarga Andersen, tempat pertama saya menyadari bahwa sesuatu yang ganjil telah terjadi. Tetapi, saya berusaha membuat keganjilan itu mampu ditoleransi akal sehat, terutama oleh pria tua ini.

“Dengar, saya merasa kita sudah saling mengenal sebelumnya,” ucapnya memandangi saya lekat-lekat. “Ini memang terdengar aneh, tapi saya yakin Anda bisa menjelaskannya.”

“Entahlah.” Saya menggeleng pelan. “Saya tidak bisa menjelaskan.”

Pria tua itu berdecak, menunjukkan gestur kecewa. “Ya, saya bisa saja salah. Tapi dalam pandangan saya, Anda jauh lebih pintar dari keledai tua setengah buta yang saat ini sedang berbicara dengan anak muda berumur dua puluh lima.”

“Apa yang membuat Anda mengira saya berumur dua puluh lima?” tanya saya kaget.

“Mudah saja,” katanya tersenyum simpul. “Saya pernah berumur dua puluh lima, dan masih ingat semuanya. Saya pikir, saya mirip Anda.” Dia mengangkat tangan dan membuat bahasa isyarat ‘sedikit’ itu dengan ujung telunjuk dan ujung jempol yang ditautkan.

Saya tersenyum. “Saya genap dua puluh lima pada Desember nanti,” kata saya.

“Saya juga. Hei! Hari ulang tahun kita sama!” Dia berseru senang, namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah murung. “Tapi saya genap tujuh puluh lima. Tua sekali, bukan?”

“Tidak juga. Anda masih tampak muda,” ucap saya menghiburnya.

“Menjadi tua itu kutukan.” Dia mengatakan kalimat itu sambil mengibaskan tangan. “Jika boleh—maksud saya, jika bisa—saya ingin kembali ke masa lalu. Di tahun saat saya seusia Anda.”

“Saya kira itu salah. Seharusnya menua bisa membuat Anda terlihat lebih matang. Hmm… maksud saya bijaksana.”

“O tidak, tidak,” katanya serius. “Justru menjadi tua, sebatang kara, adalah kutukan. Saya benci menjadi tua.”

“Saya tak ingin serapuh Anda saat menjadi tua.”

“Maaf? Anda bilang apa tadi?”

“Saya bilang, saya ingin hidup setua Anda. Mungkin rasanya menyenangkan.” Sengaja saya mengganti ucapan tadi agar dia tidak tersinggung.

“Telinga saya sedikit bermasalah. Kalau tak keberatan, tolong bicara agak keras.”

“Tentu saja,” jawab saya merasa tak enak.

“Nah, sekarang ceritakan tentang diri Anda. Mungkin saya bisa membantu Anda menemukan orang yang Anda cari.” Dia menyeruput cokelat hangat dengan tergesa, lantas berkata dengan senyum simpul dan wajah merona. “Entah kenapa, saya tetap merasa Anda ada hubungan dengan Pattinson. Gadis dari masa lalu saya.”

Saya mengabaikan perkataan pedih itu dan kemudian saya mulai bercerita. Tentang pertama kali saat saya mencium bibir Patti di belakang sekolah, lalu beralih pada adegan saat saya kehilangan ayah dan ibu—mereka kecelakaan di tikungan dekat danau Praden saat saya berusia 19 tahun. Dan terakhir, saat saya terluka melihat Patti berdansa dengan Frank di ulang tahun Simon.

“Brengsek!”

Rangkaian cerita saya terhenti oleh makiannya. Saya memandangi wajahnya dan dia memandangi wajah saya juga. Rasanya ganjil sekali. Mata itu—meski sedikit dinodai bercak katarak—adalah mata yang biasa saya pandangi setiap kali bercermin. Kulit keriput di tepiannya berkedut sedikit, lalu hilang saat dia berpaling.

“Cerita Anda itu, rasanya sulit untuk mengakuinya omong kosong.” Dia memijat ruang di pertengahan alisnya. “Jadi, kisah hidup kita sama?”

Saya mengangguk. Pandangan matanya menajam, menusuk dengan rasa ingin tahu. “Siapa Anda sebenarnya?”

“Setelah saya menceritakan semuanya, Anda tak bisa menebak siapa?”

Pria tua itu menggeleng.

“Saya adalah diri Anda sendiri.”

“Oh, yang benar saja…”

Tawanya menggelegar, terbahak sampai air mata meleleh di pipinya. Pria tua itu melipat lutut, menyandarkan tubuh ke kursi.

“Lebih baik Anda tak berbohong.”

“Apa saya terlihat berbohong?”

“Baiklah. Anggaplah saya percaya. Hmmm… jadi Anda datang dari masa lalu saya, begitu?”

Saya mengangguk.

“Anda tidak sedang mempermainkan saya, bukan?” tanyanya dengan nada cemas, seakan dia sedang terjebak di persimpangan jalan dan semua orang membunyikan klakson.

“Sama sekali tidak.”

“Kalau begitu, bunuhlah saya,” katanya dengan nada bicara yang aneh. “Dengan begitu Anda akan menyelamatkan diri Anda sendiri.”

“Menyelamatkan dari apa?” tanya saya kaget.

“Dari nasib buruk menjadi tua.”

Saya membayangkan memenuhi permintaannya dan dia jatuh berlutut dengan tangan menutupi leher. Darah menyembur di antara jemarinya. Tapi raungan sirene patroli polisi membuat saya tersadar. Seandainya saya membunuhnya, bagaimana hukum menjerat saya. Saya dan pria tua itu adalah orang yang sama. Bagaimana agar semua ini masuk akal. Saya kesulitan menjelaskannya. Sore semakin redup, pikiran saya dilanda keabsurdan tak terpermanai. (*)



=================

Adam Yudhistira (1985). Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktifitas bersastra, ia juga mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Ia aktif di komunitas sastra Pondok Cerita. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Sophia

0




Apakah kenangan sesungguhnya berbatas ruang dan waktu?

Aku tak memiliki kenangan masa kecil. Aku hanya mengingat perihal lelaki yang saban Sabtu mendatangi Aptekarsky Ogorod untuk sekadar memotret mekarnya bunga magnolia di musim semi. Itu adalah pertemuan kedua setelah dia—dengan maksud tertentu, menawarkanku setangkup roti dan teh panas sambil menikmati senja yang jatuh ke atap St. Andrei, jembatan, menara lonceng Ivan, dan Luzhniki sambil membicarakan sepakbola dan berkata, “Suatu saat kau harus berada di dalamnya. Merasakan dunia lelaki.”

Atau sekadar berjalan-jalan saja di sisi boulevard kota, Alun-alun Merah, mengamati tupai dan merpati di taman yang konon sering didatangi Chekhov dan Tolstoy yang di dalamnya terdapat tiang hati perak raksasa dengan mitosnya; buat permohonan lalu berjalanlah melewatinya maka keinginanmu akan terkabul. Mitos yang konyol memang, tapi hei! Setidaknya kami masih bersama sampai saat ini.

Dia adalah lelaki pertama yang aku kenal. Lelaki yang pernah menumbuhkan bunga-bunga di pelupuk mataku saat kali pertama bertemu.

Jadi aku tak ingin mengingat apa yang tak ingin dan mesti kukenang. Ketika rekaman-rekaman itu selalu muncul di kepalaku. Rekaman yang berulang tiap larut, setiap dia pulang dengan bau mulut menyengat.

Bau yang menyertai muntahan kata-kata melaknat, pecahan gelas, ocehan ngawur, dan pukulan-pukulan yang semakin hari semakin lazim melayang tanpa alasan. Dia akan berteriak bagai kesurupan hanya karena menu sarapan seadanya. Atau kemeja kerja yang tak terlipat sempurna. Lantai yang kusam. Aku yang lambat menyahut saat dia memanggil, atau dia yang kelupaan letak kunci mobil. Dia akan hilang akal. Seperti ritual. Seperti malam dan pagi yang tak pernah benar-benar pergi. Setelah berlaku di luar batas dia akan mematung laiknya onggokan es di musim dingin. Dunia lelaki yang tak pernah didamba.

Apakah aku memang ditakdirkan untuk terus bungkam menahan semuanya?

Bel intercom berbunyi. Jam pulang. Dia memanggil. Seperti biasa, aku akan membuka seperangkat sistem pengamanan di ruang tamu.

Seperti biasa, dia akan menaruh mantelnya di pengait kayu samping jendela sebelum meneguk dua blob air mineral di depan televisi. Memerhatikan layar sebentar. Mengganti-ganti kanal. Sepasang kaus di kakinya masih terpasang. Perhitungan algoritma di kepalaku terbiasa menebak laku perangainya.

Dan seperti biasa, aku seolah tak di sana. Tidak di sampingnya. Mungkin juga tidak di benaknya.

Dunia kami seolah bersekat, dibatasi tembok yang berdiri kukuh. Akan seketika rubuh jika dia sudah mulai bosan. Atau mengantuk. Atau gairahnya tiba-tiba merasuk. Aku tak begitu paham dengan hubungan ini. Awalnya semua terasa begitu indah dan menyenangkan. Aku yakin dia memiliki perasaan yang sama sebelum tragedi itu datang.

Kenangan terkuat tak akan pernah lenyap. Ia akan seketika muncul menggantikan kenangan sebelumnya.

Sore itu begitu hangat saat kami menonton pembukaan Piala Dunia di Moskow. Ya, Nikolai, lelaki kutu buku berkacamata tebal itu mengajak kencan ke stadion Luzhniki menyaksikan pertandingan sepakbola. Sebuah dunia yang asing buatku. Tampaknya dia ingin memberi sebuah kejutan. Saat itu memang bertepatan dengan hari ulang tahunku. Rautnya cerah menikmati suasana.

“Lihat, Presiden kita menyalami Pangeran. Saya yakin setelah ini mereka akan berbicara tentang bisnis rudal,” selorohnya menunjuk ke arah TV raksasa di tribune seberang. Suasana begitu gegap gempita. Mata kami sesekali bersitatap. Tetapi ada tanya yang mengendap.

Aku tak begitu yakin apakah tepat untuk mengatakannya di saat seperti ini. Aku hanya ingin dia mengetahuinya lebih dini.

“Aku mengandung, Nikolai.”

“Apa?”

Gemuruh seisi stadion menenggelamkan suaraku.

“Aku mengandung!”

Dia diam sesaat, lalu tersenyum. Membuat hatiku melega.

Tak ada angin tak ada badai, suratan itu datang tanpa pernah dipesan. Sepulangnya dari Luzhniki mobil yang kami tumpangi mengalami kecelakaan. Hanya mukjizat yang bisa menyelamatkanku. Lelakiku kehilangan ujung kakinya. Aku, menurut lelakiku, telah kehilangan hampir sebagian daging pembungkus badan. Dan kami telah kehilangan Sophia—seperti namaku, nama yang pernah kami rancang bersama jika kelak ia terlahir ke dunia.

Sejak itu, aku merasa asing dengan tubuhku sendiri. Kemampuan motorikku masih berfungsi. Namun terasa sedikit janggal. Menurut lelakiku itu efek pasca trauma. Aku telah beberapa kali masuk meja operasi untuk pembedahan. Dia coba menenangkanku: teknologi bisa melampaui ketakutan. Tapi ada yang selalu tertinggal. Semacam kolase ingatan yang acak, membuat semuanya tak lagi sama.

Lolongan anjing menggema parau di luar. Sejak sedari coba menerka apa yang bakal terjadi malam ini, tubuhnya telah beringsut menggesekkan kulit di balik punggung. Bau itu lagi. Deru napasnya kini memburu tengkuk.

***

Setelah seharian membereskan puing-puing serangan udara dini hari tadi ia duduk sebentar di atas sebuah sofa lapuk. Membuka laptop. Mengklik program ‘InLove 4.0’. Tak berapa lama figur hologram 4D muncul di hadapannya. Sosok itu menanyakan beberapa hal. Ia lalu mengetik sesuatu: lokasi Khmeimim-barat laut Latakia, untuk Moskow, perempuan 28-35 tahun, Sophia.

Beberapa gambar muncul dari daftar pencarian. Tak ada yang ia kenal.

“Apakah ia pernah menikah?”

“Setahuku belum pernah.”

“Kapan terakhir kali bertemu?”

“Beberapa tahun lalu. Dari Hermitage kami berniat akan menikah setelah penugasan akhirku di Syria. Ternyata misi diperpanjang. Markas berpindah-pindah karena serangan pemberontak. Tak ada sinyal dari Moskow akan menarik pasukan pulang. Saya dan Sophia terputus kontak sekian tahun lamanya. Alat komunikasi rentan diretas. Kini sebagian besar wilayah sudah dikuasai Tentara Nasional. Namun aku tak mengetahui keberadaannya sampai sekarang. Aku selalu memikirkannya. Ia perempuan sebatang kara.”

“Kata kunci lain yang mungkin saja berguna?”

Ia berpikir sesaat, mengingat-ingat, “Hati perak raksasa.”

***

Di sudut ruangan ini, nyeri apa yang kau rasakan dengan mata tumpul itu Sophia? Kau memendam suara di balik juntai rambutmu yang kusut dengan sekuat tenaga. Masih menyisakan tempat untuk lelaki brengsek di hadapanmu yang kini tergeletak layu. Mungkin berkali-kali kau pernah berpikir untuk memberinya pelajaran. Bukan, bukan sekadar pelajaran. Botol itu kau hempaskan telak ke batok kepalanya. Atau beranjak ke dapur untuk sebuah pisau daging yang mantap. Kau hanya perempuan berhati pualam yang selama ini memiliki sekian cadangan maaf. Kita tahu lelakimu akan siuman lalu berlagak amnesia.

“Itu hanya sebuah kebodohan yang tak penting, Sophia. Alkohol. Tak melibatkan perasaan. Dia bukan apa-apa.”

Mulutnya membeberkan sendiri segala wasangka setelah semua yang kautemukan: pesan pendek yang terhapus di ponsel, email menggoda, reservasi kamar hotel, bekas gincu dan bau Chanel yang menempel di baju. Kau mengambil keuntungan dari sang profesor. Kau belajar. Beradaptasi. Menganalisa. Tapi tak ada yang mampu kau perbuat sampai sepucuk FN 9x19mm kau genggam dari lemari besi yang biasa lelakimu simpan.

“Seolah kau berharap aku akan baik-baik saja. Kau tak berbeda dengan rezim penuntut kepatuhan. Aku akui keyakinanmu. Tapi kau tak melihat batas orang lain. Apa yang kau cari dari perempuan itu?”

Lelakimu diam. Dia tak memiliki kerabat. Hampir separuh hidupnya dihabiskan di Lab Tech militer sebagai ilmuwan. Kakeknya dulu menghilang, diburu kaum Bolshevik karena dianggap elit borjuis di era revolusi, sedangkan kedua orangtuanya tewas setelah dituduh mata-mata. Namun dia dibesarkan negara. Diberikan segalanya. Lalu merasa berhutang budi dan bersumpah setia pada rezim.

Lelaki yang kesepian. Mimik penyesalan terpapar di mukanya. Tapi semua ini cukuplah sudah tak tertanggungkan rasanya.

 “Sayang… Itu hanya sesaat.”

“Dan ini bayaran untuk kesetiaanku melayanimu selama ini?”

“Aku memang salah. Tolong, maafkan aku,” ujarnya mengiba.

Kau bisa saja menghabisinya dengan satu letusan. Tak akan ada yang mencurigai. Tak pernah ada tamu yang sesekali berkunjung. Hunianmu jauh dari perkotaan. Lelaki itu pun bukan tipe yang suka bercerita tentang keluarga.

“Aku bukan mesin, Nikolai. Selama ini kau menganggapku sesuatu yang bisa dimanipulasi. Menempatkanku satu derajat di bawah ketiak otoritasmu. Kau menetapkan aturan-aturan yang membuatku terpenjara. Dan entah kenapa, aku selalu patuh. Aku sempat percaya, bahwa keburukan lelaki akan memudar seiring waktu. Tapi aku salah.”

Dia hanya merunduk. Sesekali menggelengkan kepala. Hening menjeda hingga raut wajahnya kemudian berubah.

“Aku tak menyangka sensitifitasmu berkembang pesat di luar dugaan, Sophia. Seharusnya aku mengunci level emosimu di angka moderat. Aku memang bodoh.”

“Apa maksudmu? Kau pikir aku punya masalah mental?!”

“Menodongkan senjata ke seseorang terlebih ia pasanganmu jelas bermasalah. Kehendak bebas yang kebablasan.”

“Jangan mencobaku lagi, Nikolai. Kau tak merasakan luka yang kuterima selama ini!”

“Apa definisi luka bagimu? Kamu yakin kulitmu bisa terluka? Sayang…Apa kamu tak juga sadar? Kamu memang separuh mesin. Kamu hanya akan terancam oleh security password. Aku harus mengembalikanmu ke Lab…”

“Kaulah yang mesin, brengsek! Banting tulang larut malam demi bos besarmu yang maniak. Target-target yang muluk. Hukuman yang tak adil. Lalu semua tekanan itu kau timpakan ke rumah, kau lampiaskan padaku! Manusia macam apa yang tak mengetahui kemanusiaannya sendiri?!”

“Hati perak raksasa”

“Apa?!”

Seketika pandanganmu jadi kabur, seperti berkunang-kunang. Tubuhmu kaku.

“Hati perak raksasa.”

Kau mengerang hendak melawan. Lalu semuanya gelap.

***

Kau menatap sebuah cermin panjang. Matamu memerhatikan tiap lekuk yang tidak sama seperti tubuhmu sebelumnya. Wajah yang bukan wajahmu. Kakimu tegak di atas granit mulus yang berbeda dengan lantai yang pernah kau injak sebelumnya; lantai yang dikotori bercak merah pekat.

Kau menghirup udara sedalam-dalamnya seolah oksigen murni mengitari ruangan kaca yang berlatar pepohonan. Sebuah perasaan yang mengagumkan. Seperti pagi di Belukha. Tak ada kecemasan atau sesal yang berlarut-larut.

Kau menutup mata, sekelebat memori menyeruak. Ingatan yang tak akan pernah terhapus oleh  sistem operasi apapun di dunia ini; Jalanan moskow dan sebuah taman. Tempat dimana sang kekasih memuntal janji untuk kembali.

Suara yang lembut menyapamu, “Selamat pagi, Sophia.”

Lelaki itu menghampiri. Lelaki yang membuatmu merasakan bahagia. Lelaki yang tak sama seperti lelaki yang kau kenal sebelumnya.

 “Apa yang kau pikirkan?”

“Bukan apa-apa,” ujarmu pelan, “Igor, apakah kau bisa menerimaku apa adanya? Semua masa laluku?”

“Semua orang pasti punya masa lalu. Dan semua orang punya masa depan.”

“Bagaimana jika aku bukanlah seseorang yang kau pikirkan selama ini?”

“Maksudmu?”

Kau takut ia akan mengingatnya. Tidak, ia tak mungkin mengingatnya. Nikolai telah lenyap sejak insiden nahas itu. Teknologi android yang dikembangkannya telah menciptakanmu. Merekayasa kenanganmu. Kecelakaan mobil itu sejatinya tak pernah ada.

Kini teknologi itu menciptakan Igor lewat tanganmu.

“Bagaimana jika aku adalah seorang pembunuh?”

Ia memelukmu erat lalu menatapmu lekat.

“Lalu hukuman apa yang layak untuk seorang robot cantik yang khilaf?” ujarnya berbalik tanya dengan sebuah senyum yang membuatmu melega. Senyuman serupa Igor, lelaki yang kau ingat di masa lampau.

Lelaki yang saban Sabtu mendatangi Aptekarsky Ogorod untuk sekadar memotret mekarnya bunga magnolia di musim semi lalu mengajakmu berjalan-jalan di sisi boulevard kota, Alun-alun Merah, mengamati tupai dan merpati di taman yang konon sering didatangi Chekhov dan Tolstoy; yang di dalamnya terdapat tiang hati perak raksasa.

Nikmati saja romansamu kini, Sophia.

Kami akan selalu mengawasi dari tempat yang luput dari ingatanmu. Tak ada tempat untuk ide-ide pemberontakan.

(Bojongsoang, Juli 2018)

Keterangan:
Cerpen ini versi asli (panjang) dengan sedikit revisi dari cerpen yang pernah tergabung dalam antologi cerpen ‘Cerita dari Koding’, terbitan Jejak Publisher, 2018.

====================

D. Hardi. Lahir di Bandung, 26 Agustus. Mengarang fiksi. Buku terbaru, Antologi puisi tunggal ‘Sesuatu yang Tak Pergi di Malam Hari’-Jejak Publisher (2019), antologi cerpen bersama ‘Masa Depan Negara Masa Depan’-Surya Pustaka Ilmu (2019).

Tas Rotan di Tangan Sukap

0



Tas rotan berpelipir hiasan lokan dan manik itu sudah tiga hari ada di tangan Sukap. Isinya tetap utuh; dua lingkar cincin emas dan beberapa lembar uang kertas berjumlah tiga ratus ribu rupiah. Ia menemukan tas itu di depan sebuah toko bekas, tempat dirinya biasa istirahat saat lelah mengemis.

Sukap sudah mengumumkannya dengan berbagai cara, ditulis di selembar kertas dan ditempel di tempat-tempat umum, dituturkannya dari mulut ke mulut, hingga minta bantu takmir masjid untuk diumumkan lewat pengeras suara. Terakhir, ia minta seorang pemuda untuk megumumkannya di media sosial. Tapi barang itu tetap tak diparani oleh tuannya.

Setelah sebulan tak ada yang memarani, Anis, istri Sukap mulai menyarankan agar cincin dan uang yang ada di dalam tas itu segera diambil.

“Barang itu kan sudah sebulan ditemukan dan diumumkan, Mas. Jika memang tidak ada yang mengakuinya, berarti barang itu sudah milikmu,” istrinya  meyakinkan Sukap untuk mengambil barang temuan itu, pelan tangannya memungut satu cincin di dalam tas itu, dan mencobanya di jari manis.

“Tidak! Aku tak ingin mengambil hak orang. Barang ini harus kuumumkan hingga purna satu tahun, sebagaimana aturan Islam. Jika satu tahun tak ada yang mengakuinya, aku akan menyerahkan uang dan cincin ini ke panti yatim,” jawab Sukap dengan nada tegas.

“Jadi Mas Sukap tak akan mengambil barang temuanmu ini?” istri Sukap melirik tajam.

“Tidak. Aku tidak akan mengambilnya.”

Istri Sukap lekas melepas cincin yang dicobanya dan menaruh begitu saja di atas meja. Wajahnya memerah. Ia menuju kamar dengan langkah yang cepat, dan menutup pintu keras sekali, hingga pintu yang terbuat dari bambu itu, bagian pojoknya patah, berhambur di lantai.

###

Supat melipat bibir bawahnya ke dalam, rasa haus menimbulkan bunyi mirip air mendidih dari dalam tenggorokannya. Sejak pagi hingga menjelang zuhur, ia hanya sempat minum air, seusai subuh, sebelum dirinya berangkat mengemis. Air yang diambil dari lambung gentong tua bermulut patah itu, ia bayangkan menjadi nasi, demi menyiasati peruntnya agar tak berbunyi.

Seperti biasa, setelah berkeliling di sekitar pasar Anom, ia akan istirahat di sebuah emperan toko bekas, duduk bersandar pada hamparan pintu kayu, sembari melihat lalu-lalang kendaraan, atau kadang menghitung hasil mengemisnya selama setengah hari yang ditampung dalam kantong kain lusuh.

Sukap menguap dan mengucek matanya yangtampak lelah. Ia kembali menyimpul ujung kantong kain lusuh berisi uang receh itu, lalu ditaruh sebagai bantal saat dirinya rebah. Tas rotan yang juga biasa ia bawa, ditimang di atas dadanya, isi yang ada di dalamnya terdengar  samar sedang bergulir-gulir.

Sembari mengamati tas itu, Sukap teringat kepada istrinya di rumah, betapa ia sangat mengharap tas rotan dan isinya itu jadi mililknya. Sejak kemarin ia bahkan mengancam akan kabur jika Sukap tetap tak mau mengambil barang temuannya itu. Sukap pun mulai berpikir, seandainya uang dan cincin itu ia ambil, maka jumlah uang yang ia miliki akan jauh lebih banyak dari hasil tujuh hari mengemis.

Sukap lalu tengkurap, tas rotan itu masih di tangannya, ia amati dengan teliti, bagian samping yang bercelah halus dan rapi, bagian bawahnya beralas tempelan kain songket hijau berjahit sejajar dan teratur. Sukap pun mulai sedikit tergoda untuk mengambilnya. Tapi ia tetap bimbang, khawatir suatu saat pemiliknya datang dan mengambil tas itu lagi. Kadang Sukap beranggapan, tas itu tas ajaib yang memang dikirim malaikat untuk dirinya.

“Jika tas ini kuambil, maka dua keuntungan yang bisa kudapatkan. Pertama, aku punya uang dan cincin. Kedua, istriku akan bahagia dan tidak akan meninggalkanku,” Sukap membatin. Bibirrnya memincuk senyum.

“Tapi, kata guru ngajiku, jika barang temuan yang tidak sampai satu tahun diambil oleh si penemu dan orangnya tidak rida, maka si penemu sama dengan pencuri, ia akan makan uang haram, dan haram itu adalah neraka,” Sukap bergidik, ia menyentuhakan ujung dagunya ke lantai, lurus dengan tas rotan yang dipegang, matanya masih mengamati tas itu dengan teliti.

Sukap memilih lebih baik lapar daripada kenyang dari hasil menjual milik orang lain.

Pikiran Sukap terus melayang, hingga teringat masa kecilnya, tentang almarhum ibunya yang bekerja sebagai penjual sayur. Dulu, ibu Sukap selalu menenteng tas rotan setiap kali pergi ke pasar menjual sayur. Tas itu ia gunakan untuk menyimpan uang dan aneka barang bawaan. Suatu hari, tas itu hilang beserta sejumlah uang yang ada di dalamnya. Pengumuman disebar ke berbagai tempat. Pencarian pun dilakuan, tapi hasilnya sia-sia. Tas itu tetap tak ditemukan. Di detik-detik sebelum mengembuskan napas terakhirnya, ibunya sempat berbisik kepada Sukap, jika suatu saat tas itu ada yang mengembalikan, uang yang ada di dalamnya suruh kasih kepada si penemu dan tas rotan itu jadi milik Sukap. Tapi setelah ibunya meninggal, tak ada yang mengembalikan tas itu. Kini Sukap menduga, tas yang ditemukan dirinya itu kemungkinan tas milik ibunya yang pernah hilang, walau ia juga bimbang, karena mata uang yang ada di dalamnya adalah keluaran baru, lagi pula tas milik ibunya tak berisi cincin.

Sukap bangkit, duduk bersandar kembali ke hamparan pintu kayu, wajahnya tampak didera rasa letih, matanya yang temaram memandang paksa lalu-lalang kendaraan, sesekali ia menguap dan punggung tangannya menggosok pelan bibirnya yang kering. Dan di sela suara keriuhan kota itu, bunyi perutnya terdengar lagi.

Ia memutuskan pulang untuk menemui istrinya. Tas rotan itu ia jinjing, satu genggam dengan kantong lusuh miliknya, seolah dirinya sedang membawa barang yang bisa mengantarkannya ke surga, atau ke neraka.

###

Hari  itu, di rumah bambu yang dibedaki pintalan jaring laba-laba, Sukap purna merasakan luka. Ia duduk lemas pada kursi lapuk yang dijalar sarang rayap, air matanya merembes, menuruti jalur garis keriput pipinya yang tirus. Selain perutnya yang lapar, ditambah satu beban lagi, istrinya kabur dan hanya meninggalkan selembar kertas berisi tulisan, bahwa ia sudah tidak kuat dengan kemiskinan Sukap, ia juga tidak kuat dengan sikap jujur Sukap yang menurutnya kian menambah penderitaannya.

“Andai tas rotan beserta isinya itu Mas Sukap ambil, pasti aku tak akan kabur,” begitu baris kalimat terakhir dari surat yang ia tulis dengan huruf berlarik penuh tikai mirip cacing.

Sukap meraba tas rotan yang ada di sampingnya. Memandanginya sejenak, terbersit keinginan untuk membuang barang sial itu ke sebuah sungai di perbatasan dusun, ia rasa hal itu adalah jalan tengah yang bisa menyelamatkan dirinya dari dosa dan  petaka.

Ia berencana akan membuang tas itu di sungai Jumari, lewat jalur selatan yang menghubungkan liuk jalan setapak ke sebuah pemandian hewan ternak yang biasanya sangat sepi jika pagi hari. Setelah tas itu dibuang, ia akan mencari istrinya, dan jika bertemu si istri ia akan bilang jika tas itu sudah diambil pemiliknya.

###

Akhirnya tangan Sukap pasrah melempar tas rotan ke sungai. Tas itu terombang-ambing dipermainkan arus, timbul-tenggelam, dibenturkan ke punggung batu, kadang tersangkut rimbun ujung pandan, sebelum akhirnya lepas dijerat arus.

Sukap memandangnya dari atas tebing sungai, ia bersedekap karena kepungan angin pagi sangat dingin, ditambah lumatan embun yang digesekkan rumput ke datar betis dan kakinya. Ia berdiri ditemani bayangannya sendiri. Matanya tetap terpaku ke arah tas rotan yang dibawa arus. Ia membayangkan cincin dan uang di dalamnya telah habis diretakkan air. Sukap tersenyum, satu tugas ia rasa sudah selesai dilaksanakan dengan baik.

Sukap menarik napas panjang, mengelus-elus dagunya, dan sejenak menatap matahari.

Tiba-tiba saja sekelompok orang datang dari belakang, beramai-ramai, berlari-lari. Dua di antaranya berjenis kelamin perempuan, satu sedang menunjuk ke arah Sukap, yang satunya terus memberi isyarat kepada para lelaki yang ada di belakangnya untuk terus maju. Sukap membalikkan badan dengan tangan, memastikan gerangan siapa yang datang.

“Itu dia lelaki yang telah mencuri tas ibu,”

Sukap terkejut, ternyata perempuan yang menunjukkan keberadaan dirinya adalah istrinya sendiri yang tiga hari terakhir kabur.

“Ternyata kamu, Nis. Tapi maaf bapak-bapak dan ibu-ibu, saya tidak mencuri tas itu, saya hanya menemukannya, dan sejak enam bulan yang lalu saya sudah mengumumkannya,” jawab Sukap tegas.

Semua terdiam.

Perempuan si pemilik tas rotan itu mendekat perlahan ke arah Sukap. Sepasang matanya tak berkedip, seolah menayangkan kilasan sebuah kisah masa lalu yang rahasia. Perempuan itu berhenti di depan Sukap.

“Kamu anak Bu Saura kan, penjual sayur itu?”

“Benar, Bu!”

Perempuan itu perlahan jongkok sambil meneteskan air mata, lalu memeluk lutut Sukap dengan tangis yang keras. Semua mata terperanjat menatapnya.

“Tas rotan itu memang milik ibumu, dulu aku sengaja mengambilnya saat keadaan hidup terdesak, beruntung tas itu tak jadi kujual. Sejak dulu, aku memang berusaha untuk mengembalikannya ke Bu Saura atau ahli warisnya. Maafkan aku, Nak!”

Sukap menoleh ke arah tas yang dibuang itu, ke bagian hilir sungai yang dirimbun semak dan daun pandan, tas itu sudah lenyap, seperti menempuh jalan pergi, ke pangkuan ibunya di alam sunyi.

Gaptim, 2019


=====================

A. Warits Rovi adalah Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura, Sumenep Madura. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal  antara lain: Kompas, Tempo, Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018).  

Penyair Maun Bin Saun

0

Cinta mereka terhalang tembok pembatas. Pesantren sengaja membuat tembok tinggi-tinggi agar santri dan santriwati tak kumpul seperti kerbau. Sehingga, mereka tak punya kesempatan menjalin asmara dengan lawan jenis. Mereka kerap dikasih makan ilmu, namun dibiarkan dahaga akan cinta. Oh, sungguh malang nasib mereka.

Namun ketahuilah—seperti kebanyakan orang—di mana ada peraturan, di situlah para pelanggar merajalela, tak terkecuali di pesantren. Sebut saja mereka Solmat dan Solmet, di tengah malam yang kelam mereka berjalan mengendap-endap. Mereka berjalan cukup pelan, sehingga tak menimbulkan bunyi yang biasa tercipta dari gesekan sepasang sandal jepit. Pupil mata mereka tak henti-henti mengerling waspada, takut-takut ada saksi mata atau malah ustaz-ustaz memergoki.

Mereka tak peduli pada angin malam yang berembus dingin. Mereka juga tak peduli pada kenakalan angin yang kerap menyingkap sarung-sarung mereka. Mereka tetap berjalan, dan pintu yang sedari tadi terbayang di kepala mereka, kini telah di depan mata. Mereka senang bukan alang kepalang, hanya saja perihal senang ia ciptakan tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.

Ini bukan kali pertama mereka mengendap-endap pergi ke pintu itu. Pintu itu telah menjadi penyelamat bagi mereka yang telah dahaga akan cinta. Pintu itu adalah penghubung asmara seorang santri pada santriwati. Dengan pintu itulah, para santri dapat mengirim kata-kata rayuan yang sudah tertulis dalam bentuk surat. Dan dengan pintu itu pula, para santriwati dapat membalas surat-surat sang pujaan hati.

Pintu itu memiliki cela, ada lubang kecil memanjang di bawah pintu itu. Di lubang kecil itulah, para santri menyelipkan surat dan santriwati membalas surat. Mereka sangat beruntung, sebab pintu itu dekat dengan kamar-kamar para santriwati. Sehingga, para santriwati tak harus jauh-jauh mengambil surat beramplop merah muda itu. Ah, ada-ada saja  sepasang darah muda itu.

“Cepat, selipkan,” bisik Solmat pada Solmet.

Solmet pun dengan tangkas mengambil beberapa surat yang tersembunyi di balik songkok hitamnya. Satu per satu surat itu masuk ke dalam lubang kecil di bawah pintu. Tak berselang lama, santriwati memberi kode dengan ketukan kecil pada pintu. Ketukan itu adalah sinyal bahwa santriwati telah menerima surat-surat itu. Yes, misi mereka berhasil.

Sebenarnya mereka ingin berlama-lama di pintu itu, bercakap-cakap lirih dengan para santriwati. Namun, tetiba seekor cecak merayap di dinding, lantas mengeluarkan bunyi, “Cek, cek, cek!” bergemuruhlah dada mereka. “Pertanda buruk,” ucap Solmet lirih mengingatkan. Dengan langkah pelan-pelan dan mengendap-endap pula, mereka menjauh dari pintu itu.

Mereka percaya, suara cecak adalah sebuah pertanda buruk. Cecak bersuara, sebab ia ingin bilang sesuatu. Maka, saat mereka pergi dari pintu itu, ia percaya ada seseorang yang datang mendekat. Namun mereka tak tahu, cecak bersuara bukan karena perihal ada orang mendekat. Cecak bersuara sebab si cecak ingin kawin dengan lawan jenis. Cecak oh cecak, mengapa orang-orang kerap bersangka buruk padamu?

“Gimana, lancar kan?” tanya salah satu santri mewakili. Di dalam kamar, beberapa santri memang telah menunggu kedatangan Solmat dan Solmet. Mereka terdiri dari santri-santri yang menitip surat.

“Tenang, semua beres pada kami,” jawab Solmat membanggakan diri.

“Betul, semua pasti beres. Hanya saja, nyaris barusan kami ditangkap basah,” Solmet menimpali.

Perihal kalimat nyaris ditangkap basah itu memancing santri-santri lain. Mereka memasang telinga baik-baik teruntuk mendengarkan kisah menegangkan itu. Solmat dan Solmet pun tak masalah menceritakan perihal itu. Mereka bercerita dari awal—benar-benar awal—dari ketika mereka mengendap-endap menuju pintu penghubung asmara itu. Solmat dan Solmet sangat asik bercerita, begitu pun dengan para pendengarnya asik mendengarkan. Eh, tahu-tahu azan subuh telah berkumandang.

Ya, begitulah hubungan asrama santri dan santriwati, tembok tak dapat menghalangi cinta mereka. Meski mereka jarang ketemu dan saling bertatap muka, masih ada surat-surat cinta yang mewarnai hari-hari mereka. Namun, perlu kalian sekalian ketahui, semua perihal itu berkat jasa Maun. Ialah orang yang menulis surat-surat itu.

Maun memang bercita-cita menjadi penyair. Dan sekarang, ia mengabdi pada handai tolan. Ia rela membuatkan teman-temannya kata-kata indah. Ia akan bergadang sepanjang malam, hanya demi menulis surat-surat untuk santriwati. Tentu, ia tak memberi namanya di surat itu, melainkan nama temannya.

Maka dari itu, teman-temannya sangat mencintainya. Mereka percaya, Maun akan berhasil menjadi penyair suatu saat nanti. Sebab, kata-kata indah yang ditulis Maun berhasil membuat santriwati klepek-klepek. Kata-katanya seperti mengandung sebuah sihir, sehingga para gadis akan terpikat.

Dan tentu, teman-temannya tahu diri. Mereka tak minta jasa Maun secara cuma-cuma. Bila datang waktu mereka harus mengirim surat pada santriwati, mereka akan beli makanan ringan banyak-banyak, lantas disuguhkan kepada penyair kita Maun bin Saun. Saat itulah, Maun akan tersenyum dan mulai menulis rayuan-rayuan memikat pada sebuah kertas. Sebab ia tahu, saat-saat itulah kepenyairannya benar-benar dibutuhkan dan diperhitungkan.

Tak hanya itu, Maun juga diizinkan membaca surat balasan dari santriwati. Sebab dengan begitu, Maun bisa menulis surat berikutnya. Seperti kala ini, Solmat dan Solmet membawakan beberapa surat balasan. Dengan didengarkan beberapa santri, termasuk Maun, Solmat pun membacakan salah satu isi surat balasan tersebut.

“Sungguh hatiku bagai terbang ke awang-awang kala membaca suratmu, Kekasih,” baca Solmat sembari menirukan gaya bicara seorang perempuan. Dan saat itulah santri-santri lain akan berseru, “Oh…!” sementara Maun hanya tersenyum penuh kemenangan. “Sungguh! Barangkali inilah yang dinamakan candu akan surat-suratmu,” terus Solmat.

Setelah rampung surat-surat itu dibacakan, Maun akan mengambil pena dan kertas. Santri lain akan mencermati apa yang dilakukan seorang Maun. Calon penyair itu mulai menulis surat balasan, tentu sambil tersenyum bangga. Wahai bidadari tanpa sayap, maukah engkau menginap di hatiku barang sejenak? Aku tak bisa hidup tanpamu, apalagi mati, aku juga tak bisa mati tanpamu.

Kertas itu ia lipat, dijadikannya sebuah surat, lantas diberikan pada temannya secara percuma. Ia betul-betul berjasa bagi hubungan asmara santri-santri lain. Setelah ia memberikan surat itu, ia pun pergi dengan gagahnya. Ketahuilah, meski ia kerap membantu teman-temannya membuat surat, ia sendiri masih jomlo alias tak memiliki kekasih.

***

Kini saatnya untuk Maun mencari tulang rusuknya. Ia telah lulus dari pesantren, dan mencari calon istri. Bila diingat-ingat lagi, dahulu di pesantren ia adalah si jago pembuat surat teman kepada kekasihnya. Tentu dengan bakat yang ia miliki, tak sulit baginya untuk mendapatkan seorang kekasih.

Dan benar, dengan hitungan bulan ia telah memiliki seorang kekasih, dan sebentar lagi ia akan memutuskan untuk segera menikah. Bukankah menikah adalah jalan untuk menyempurnakan separuh agama, kenapa harus ditunda-tunda? Ia senyum-senyum sendiri, sebab beruntung memiliki kekasih yang aduhai jelita, dari pesantren yang sama pula.

Si Maun kerap memabukkan kekasihnya dengan kata-kata indahnya. Begitupun dengan si kekasih, ia benar-benar nyaris mabuk dengan kata-kata sang penyair Maun. Suatu hari yang cerah, Maun dan kekasihnya pergi berjalan-jalan, Maun memutuskan untuk melamar kekasihnya saat itu juga.

Maun sedikit merayu kekasihnya kala itu, dan alangkah terperanjatnya si Maun kala kekasihnya membalas rayuannya dengan kata-kata yang cukup indah. Sebenarnya, bukan hanya kata-kata indah yang membuat Maun agak terpesona, melainkan karena kata-kata itu tak asing di telinganya. Kira-kira begini kata-kata si kekasih, “Sungguh hatiku seperti terbang hingga ke awang-awang mendengar rayuanmu. Barangkali, inilah yang disebut candu akan kata-katamu itu.” Ya, tak salah lagi, kata-kata itu sempat Maun dengar di pesantren. Kata-kata itu sunguh persis dengan isi surat seorang santriwati dahulu.

Maun sangat senang dapat berjodoh dengan seorang perempuan, bekas santriwati yang mengirim surat balasan dengan kata-kata indah itu. Ia pun tak ingin kalah. Ia ingin menunjukkan bahwa ia yang menulis surat-surat untuknya dahulu. Maka dengan penuh semangat, Maut merayu kekasihnya lagi dengan kata-kata yang dahulu sempat menjadi sebuah surat, “Wahai bidadari tanpa sayap, maukah engkau menginap di hatiku barang sejenak? Aku tak bisa hidup tanpamu, apalagi mati, aku pun tak bisa mati tanpamu.”

Kali ini giliran si kekasih yang terperanjat mendengar kata-kata itu. Kata-kata itu tak asing di telinganya. Kata-kata itu sungguh persis dengan isi surat seorang santri yang mengirim surat dahulu. Maun tersenyum menang, sebab menyadari ekspresi heran kekasihnya. Namun, tak seperti dugaan Maun, beginilah jawaban si kekasih, “Dasar pembohong!”

Dahi Maun berkerut-kerut.

“Itu bukan kata-katamu. Kau plagiat. Aku tahu, kau mencuri kata-kata itu dari seseorang. Dasar pembohong!” kekasihnya meradang, dan saat itu pula penyesalan baru Maun rasakan. [] 

=======================

Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura.Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak.

Senja Begitu Sunyi di Sarajevo

0

Senja begitu sunyi di Sarajevo, meninggalkan bau mesiu dan anyir darah para syuhada, seakan menyatu dan terbawa oleh angin. Di antara berondongan peluru nyasar yang membawa korban ataupun serangan rudal yang kapan saja akan menumbangkan gedung, entah mengapa aku tiba-tiba saja kepikiran untuk menulis surat kepadamu. Dalam bayangku, aku akan syahid. Tetapi aku selalu punya harapan, karena aku percaya Tuhan selalu mengirimkan tangan-Nya.[1] Semoga saja aku selalu berada di bawah lindungan-Nya.

Charisa yang kusayang.

Ingatkah kamu saat berlibur ke Carita pada hari jadi kita yang ketiga? Sambil meneguk es kelapa muda yang dagingnya bisa dimakan, kita duduk santai menikmati senja yang indah. Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, barangkali juga perahu lewat di kejauhan.[2] Selama senja membentang di sana, kita saling berbagi cerita tentang mimpi dan keinginan yang belum kesampaian. Tentang keinginanmu mendidik Andrea yang kelak akan menjadi dirimu–sebagai seorang jurnalis TV nasional, atau menjadi diriku–sebagai seorang fotografer. Juga tentang keinginanku berlibur bersama ke Berlin untuk mengenalkanmu dengan Janusz, sahabat penaku. (Dalam  suratnya yang aku terima bulan Juni dua tahun lalu, ia ingin sekali bertemu denganmu dan mengajak kita mengunjungi reruntuhan tembok yang pernah memisahkan dua wilayah itu.) Begitu banyak keinginan yang tidak bisa kita hitung   jumlahnya.

Sayangnya senja yang kunikmati di sini tidak seindah di Carita. Kucari sisa-sisa senja di kota, kucari sisa-sisa senja di antara cahaya lampu-lampu listrik yang begitu pucat benderangnya–belantara cahaya, yang menyembunyikan senja di etalase dan papan-papan iklan.[3] Namun yang kujumpai hanyalah kepulan asap tebal dari puing-puing gedung yang terbakar. Apa kamu tahu, Sarajevo sudah seperti kota yang berkurang penduduknya. Seperti Hiroshima yang lebur oleh serangan bom atom pasukan Sekutu atau Pripyat yang tercemar oleh asam nuklir Chernobyl.

Tuhan tampaknya sedang sedih sebab hampir semua rumahnya telah hangus–bahkan ambruk–oleh ulah tangan-tangan jahat serdadu. Jarang sekali azan terdengar dari setiap minaret.[4]

Charisa yang kurindu, masih kurindu, dan akan selalu kurindu.

Sarajevo mulai terisolasi. Serdadu telah membatasi semua koneksi dari negara luar. Tembakan demi tembakan yang mereka dentumkan merobohkan segalanya, tidak kenal siang maupun subuh. Pasukan perdamaian yang diutus UN semakin sulit untuk masuk ke kota ini. Sementara pemimpin serdadu–yang berpangkat jenderal–terus saja menebarkan teror dan kengerian yang ada di sini. Ia sudah lupa berapa banyak jiwa telah diterbangkannya ke langit. Aneh, mungkin baru sekarang ia sadar, cukup banyak juga darah ditumpahkannya–lewat peluru, dinamit, mortir, granat dan bom. Celakanya yang disebut musuh tidak selalu tentara, tidak selalu bersenjata dan tidak selalu seperti orang yang sedang memberontak, tapi sama bahayanya, jadi harus disikat saja.[5]

Aku bersama Janusz sekarang ditemani dua pemuda–Edin dan Džafer–yang umurnya sebaya (sekira 19 atau 20 tahun). Sungguh pertemuan tidak disengaja saat kami mengambil gambar peristiwa yang tidak terduga di sebuah boulevard dengan rambu “Pazi Snajper!” yang terbaca di bahu jalan. Terdengar dari jauh suara tembakan yang baru saja mencabut nyawa sepasang kekasih yang berlari menuju jembatan Vrbanja untuk menyelamatkan diri.[6] Tidak ada yang tahu dari arah mana suara itu berasal, namun tidak sedikit dari mereka merasa was-was jika tembakan misterius itu mengenai dada atau kepala. Begitu pun dengan diriku yang harus menghindar dari tembakan maut itu. Di jalanan aku sempat berpapasan dan bertumbukan dengan orang-orang yang tidak kelihatan. Kadang aku berpapasan pula dengan orang tidak kelihatan yang meneteskan darah terus-menerus. Tentu saja aku hanya melihat darah yang menetes-netes entah dari mana diiringi suara keluhan.[7]

Pomoć!…Pomozi nam![8]

Begitulah, Charisa. Keluhan-keluhan itu, jeritan-jeritan itu, masih saja terngiang di telingaku. Kulihat juga cairan merah yang tetap saja membekas di setiap sudut jalan biarpun sudah disapu derasnya hujan hingga diterpa debu jalanan. Aku terkejut ketika tembakan misterius berikutnya mengenai Janusz. Bahu kirinya terserempet peluru yang sewaktu-waktu bisa meregang nyawanya. Ia mengerang, menahan sakit yang tidak tertahankan. Aku pun harus mencari pertolongan, sementara karibku masih menggenggam bahunya, berusaha menghentikan cairan kental yang keluar dari tubuhnya itu. Ia mencoba teriak kepada orang-orang yang juga mengungsi dari jalanan maut ini.

Namun tidak ada yang bisa mendengar suara parau Janusz hingga akhirnya ambruk karena lelah berdiri, sedangkan lukanya sudah semakin parah. Cukup berat saat aku mengangkat tubuhnya, tapi aku tetap berusaha mencari bantuan medis–atau siapapun–untuk menyembuhkan lukanya. Panjang umur, kami akhirnya didatangi dua pemuda (yang sudah kusebutkan namanya) saat aku tidak kuat lagi menggotongnya dan lekas membawa kami ke sini.

Apa yang kamu takutkan mungkin sedang terjadi di sini, Charisa. Pernah tempo hari–dari siaran radio–kudengar gedung parlemen yang menjadi denyut nadi Sarajevo telah dibombardir serdadu dengan tank fire, juga membakar dan merobohkan kantor surat kabar Oslobođenje hingga melukai puluhan korban. Saat bersama Janusz, pernah kupotret massa bergerombol di Stari Grad–yang berduka atas perginya sanak saudara mereka usai ditembaki oleh pasukan serdadu beberapa waktu lalu. Tangis mereka pecah melihat jasad-jasad yang tidak bersalah itu dikubur bersamaan. Sayup-sayup gesekan cello Vedran Smailović seakan mengiringi prosesi pemakaman itu.[9]

Tolong aku, Charisa. Tolong bangunkan aku. Biar kulihat senyummu. Katakan ini hanyalah mimpi buruk. Namun seperti duka, aku pun sedang terjaga. Sambil menyesali mengapa kita tidak lagi berjumpa, adindaku.[10] Sudah lama aku di sini sejak Janusz memohon padaku untuk ikut bersamanya, mengemban tugas besar dari pimpinan redaksinya. (Ia pernah cerita dalam salah satu suratnya bahwasanya ia seorang wartawan lepas di sebuah surat kabar ternama di Jerman–yang tentu saja aku lupa nama kantornya.) Sebelum aku pergi, kamu awalnya ragu dengan keputusanku itu karena tidak ingin Andrea tumbuh besar tanpa aku di sampingnya. Tapi aku hanya menenangkanmu dengan kalimat, “Aku akan baik saja di sana.”

Kukirimkan kecupan hangat di keningmu sebagai tanda sayang dan rinduku padamu. (Semoga saja itu bukan kecupan terakhir kita).

Charisa yang kucinta.

Selama bersembunyi di sini–di rumah Džafer, aku menemani Edin yang duduk sendirian di ruang makan sambil menghisap sigaret di mulutnya, menyenandungkan sebuah lagu yang aku tidak tahu artinya. Bait lagunya seperti ini…

Ako se zlo dogodi, ako me noćas pogodi
ja neću od smrti umrijeti, ja ću umrijeti od ljubavi
ja neću od smrti umrijeti, ja ću umrijeti od ljubavi
Jer ja sam vojnik sreće, mene metak neće
možeš mi ubiti ljeto, al’ živjeće proljeće…[11]

Was hast du gerade gesungen?[12]Aku iseng ngobrol dengannya–dengan bahasa Jerman yang kuhafal sebisaku, “Ein Lied von Dino Merlin. Es geht um unseren Kampf gegen die Truppen und die Bemühungen, diesen Krieg zu stoppen.[13] Rupanya ia berhasil membuatku kecele. Ia bicara dengan bahasa itu seakan sudah terbiasa. “Ayahku orang Turki dengan darah Jerman di dalam tubuhnya,” begitu katanya. Lalu berceritalah ia tentang dirinya, tentang orangtuanya yang diungsikan ke Tuzla dan tinggal di sini selama beberapa waktu untuk menemani Džafer, yang sebelumnya sudah ditinggal orangtuanya mengungsi ke Goražde.[14]Džafer, yang dulu satu madrasah dengan Edin, juga harus menemani pamannya yang mengidap pneumonia. Ah, terlalu panjang jika aku menuliskan semuanya ke dalam surat ini, Charisa. Sementara situasi di luar sana semakin tegang, sudah seperti film perang saja.

***

Ada beberapa hal yang kuceritakan padamu, Charisa. Sejak komunis dinyatakan tumbang kurang lebih empat tahun lalu–dari tulisan tangan Janusz yang pernah kubaca dalam suratnya, dunia merayakannya dengan penuh sukacita. Tembok Berlin berhasil diruntuhkan, menandakan kedua wilayah yang terpisah sekian tahun itu telah bersatu membentuk negara federasi. Uni Soviet yang menjadi salah satu pelopor penyebaran palu arit yang disegani, perlahan memisahkan diri membentuk negara-negara baru hingga akhirnya menyisakan sebuah wilayah terluas di dunia yang kemudian diberi nama Rusia.

“Seharusnya kami sudah merdeka,” keluh Edin pada dirinya sendiri, merutuki keadaan yang sedang terjadi. “Entah mengapa kemerdekaan seperti tidak berpihak pada kami. Serdadu-serdadu tengik itu telah merenggut hak kami. Tanah kami. Orang-orang terdekat kami. Semuanya.” Ia kesal karena negaranya tidak bisa seperti dua negara lainnya yang sudah merdeka lebih dulu, meskipun sebelumnya masuk dalam satu wilayah. “Mereka menganggap kemerdekaan adalah impian terkutuk,”[15] lanjut Edin diselingi asap sigaret yang keluar dari mulutnya, “Untuk kami.” Ia kemudian menyodorkan sebungkus sigaret padaku. Kuambil sebatang dan menyulutnya. Semua beban dan ketakutan dalam diriku seakan terbuang bersama kepulan asap yang nyaris memenuhi ruangan ini.

Bagaikan mesin waktu, senja mengantarkanku ke sebuah ruang rindu, menciptakan kenangan yang membekas di hati. Entah mengapa aku membayangkan wajahmu dan Andrea di sana, di antara kepulan asap dari tembakan mortir dan rudal. Aku bersyukur karena Tuhan telah menciptakanmu dari patahan tulang rusukku, yang melengkapi rongga dadaku yang hampa. Juga telah menurunkan malaikat kecil yang cantik bagaikan seorang putri dari negeri seberang.

Charisa, aku mencintaimu. Itu sebabnya aku tidak akan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.[16]Kuharap kamu juga tidak berhenti mendoakan keselamatanku. Aku di sini juga mendoakan Janusz, yang sekarang terbaring lemas usai luka di lengannya telah dijahit, agar diberikan kesembuhan dan segera pulih dari sakitnya. (Apa kamu tahu, ia menjerit seperti hewan terkena perangkap ketika jarum itu menembus lengannya.)

Aku pasti akan kembali padamu, Charisa. Itu janjiku.                                                                                                                      

Suamimu,
Shakti
(Sarajevo, Mei 1993)


[1] Potongan kalimat cerpen Surat untuk Wai Tsz oleh Leila S. Chudori

[2] Potongan kalimat cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku oleh Seno Gumira Ajidarma.

[3] Potongan kalimat novel roman Jazz, Parfum, dan Insiden oleh Seno Gumira Ajidarma

[4] Menara masjid.

[5] Adaptasi paragraf cerpen Darah Itu Merah, Jendral; dari Saksi Mata oleh Seno Gumira Ajidarma.

[6] Jalanan yang menghubungkan Zmaja od Bosne Street dengan Meša Selimović Boulevard, dinamai sebagai Sniper Alley. Pada tanggal 19 Mei 1993, sebuah letusan sniper misterius menewaskan pasangan Admira Ismić dari ras Bosnia dan Boško Brkić dari ras Serbia-Bosnia saat berusaha menerobos jalanan tersebut menuju jembatan Vrbanja. Kisah cinta beda ras ini kemudian didokumentasikan dalam film berjudul Romeo and Juliet in Sarajevo pada tahun 1994 oleh John Zaritsky (Pazi Snajper! = Waspada sniper!).

[7] 7Potongan paragraf cerpen Misteri Kota Ningi (atawa The Invisible Christmas); dari Saksi Mata oleh Seno Gumira Ajidarma dengan sedikit pengubahan.

[8] Tolong!… Tolong kami! (Bahasa Bosnia).

[9] Vedran Smailović adalah musisi asal Sarajevo yang dikenal dengan sebutan “Cellist of Sarajevo”. Selama perang berlangsung, ia memainkan Adagio in G Minor karya komposer asal Italia, Tomaso Giovanni Albinoni, yang biasa didengar di reruntuhan bangunan atau saat mengiringi pemakaman korban perang.

[10] Potongan bait puisi Nadya, Kisah dari Negeri yang Menggigil oleh Abdurrahman Faiz dengan pengubahan.

[11] Potongan lirik lagu Vojnik sreće oleh solois Dino Merlin dari album studio bertajuk Moja bogda sna (1993).

[12] (Lagu) apa yang baru saja kamu nyanyikan? (Bahasa Jerman)

[13] Lagu dari Dino Merlin. Tentang perjuangan kami melawan pasukan serdadu dan upaya untuk menghentikan perang ini. (Bahasa Jerman)

[14] Berdasarkan United Nations Security Council resolution 824, pada masa ituditetapkan kota-kota di Bosnia seperti Sarajevo, Goražde, Srebrenica, Tuzla, Žepa dan Bihać sebagai kota paling aman untuk mengungsi yang dijaga oleh Pasukan Perlindungan PBB (UNPROFOR).

[15] Adaptasi kalimat cerpen Rosario; dari Saksi Mata oleh Seno Gumira Ajidarma.

[16] Potongan bait puisi oleh Sapardi Djoko Damono dari undangan pernikahan.

===========

Nikolas Ryan adalah nama pena dari Mochammad Alnico Herlisanto. Lahir di kota angin, Nganjuk, tanggal 15 Mei tahun 1995. Anak sulung dari dua bersaudara ini sedang menempuh studi S2 di Universitas Negeri Surabaya jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra. Cerpen pertamanya berjudul Kraft, 1999 dimuat di koran Malang Post.

Rumah Idaman

0

Saya tertegun di depan sebuah rumah. Tatapan saya kembali tertuju kepada tulisan yang menempel di dindingnya:

DIJUAL
TANPA PERANTARA

Ragu-ragu sebenarnya. Tapi kaki ini melangkah juga. Saya mengucapkan salam. Kebetulan tuan rumah ada dua-duanya, suami istri.

“Saya ingin melihat-lihat rumah. Kebetulan saya punya rencana untuk membeli rumah,” kata saya setelah duduk di ruang tamu.

“Oh, silahkan.” Tuan rumah berdiri mengajak melihat-lihat sekeliling rumah.

Saya pun diantar melihat-lihat dapur, kamar tidur, ruang tamu, loteng, dan semua penjuru rumah. Tuan rumah menerangkan tentang air, listrik, dan lingkungan seputar rumah. Setelah semua penjuru rumah ditengok, kami duduk lagi di ruang tamu.

“Berapa harga yang Bapak inginkan untuk rumah ini?” tanya saya.

“Karena ini tanpa perantara, sebenarnya enam ratus juta pun kami lepas,” kata sang suami yang kira-kira usianya menjelang enam puluh tahunan itu. “Tapi itu pun masih bisa nego.”

Saya terbatuk-batuk kecil.

“Begini sebenarnya, Pak, Bu,” kata saya akhirnya dengan suara tertahan. “Saya ingin membeli rumah ini. Tapi… uang saya hanya punya lima puluh ribu rupiah.”

Suami istri itu menatap saya. Sepertinya heran. Seperti terkejut. Seperti tidak mempercayai pendengarannya.  

“Maksudnya?” tanya sang suami.

“Iya, saya ingin membeli rumah Bapak. Tapi saya hanya punya uang lima puluh ribu rupiah saat ini.” Saya berusaha menerangkan setenang mungkin.

“Anda ini mempermainkan?”

“Tidak Pak, saya serius.”

Sang suami yang masih berbadan tegap itu berdiri. Dia masuk ke kamarnya. Beberapa detik sudah keluar lagi dengan pistol di tangannya. “Keluar kamu! Atau saya tembak kamu!” bentaknya.

Tentu saja saya terkejut. Saya meloncat, terburu-buru keluar rumah.

***

Pengalaman yang saya ceritakan itu adalah yang kesepuluh kalinya. Karena begitulah seperti yang dikatakan guru spiritual saya.

“Datangi saja sepuluh rumah yang mau dijual, katakan kamu berniat membelinya, dan katakan juga kamu punya uang berapa,” kata guru saya.

Awalnya saya berharap sesuatu yang ajaib terjadi, ada pemilik rumah yang mau memberikan rumahnya dengan harga lima puluh ribu rupiah. Tapi sampai sepuluh rumah saya datangi, semua pemiliknya mengusir saya dengan tidak hormat. Orang gila, sinting, setan, anjing, bodoh, pernah dikatakan para pemilik rumah sebagai pengganti nama saya.

Saya baru menyadari, guru saya itu mempermainkan. Alangkah bodohnya saya selama ini. Siapa yang mau memberikan rumahnya dengan harga lima puluh ribu rupiah? Makanya saya mencari lagi guru saya itu. Saya ingin marah kepadanya. Sebentar….

Guru saya? Sebenarnya dia adalah orang yang baru saya kenal. Suatu subuh, seperti biasanya, saya mencari jamur bersama teman-teman. Semalam hujan turun deras. Laron kemudian menyerbu lampu-lampu di depan rumah. Itu tandanya jamur akan banyak tumbuh esok pagi. Betul saja, teman-teman saya mendapatkan banyak jamur. Ada yang menemukan empat biji, ada juga yang sampai enam biji. Tapi sampai habis menyusuri perkebunan penduduk, saya tidak menemukan sebiji pun jamur. Ketika teman-teman saya pulang, saya meneruskan mencari jamur sampai ke puncak bukit. Saya harus menemukan jamur. Karena kalau tidak, bagaimana anak-istri saya bisa makan? Di rumah sudah tidak ada beras, apalagi makanan lainnya.

Di puncak bukit matahari sudah menampakan semburat merahnya. Semakin terang mencari jamur itu semakin susah. Karena saat masih gelap jamur akan kelihatan bercahaya. Saat saya merasa frustrasi, menyerah dan pulang dengan langkah lesu, seseorang yang membawa cangkul menyapa saya.

“Mencari jamur itu kadang memerlukan kerja keras sampai batas putus asa. Tapi kadang hanya melangkah ringan kita sudah menemukannya,” kata petani itu.

“Maksudnya?” Saya tentu saja terkejut.

“Tengoklah di balik batu itu. Cepat ke sana biar hati kamu tenang.”

Tanpa mengerti apa yang dikatakannya saya menghampiri batu sebesar perut kerbau. Betapa terpananya saya melihat dua biji jamur sebesar piring. Jamur yang sehat. Jamur yang membuat senyum di bibir saya. Jamur yang membuat hati saya gembira.

Awalnya saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada petani itu. Tapi kemudian saya malah beristirahat sejenak, mengeluhkan kesusahan saya.

“Saya ini sudah puluhan tahun disusahkan dengan rumah kontrakan, Pak,” kata saya. “Hanya dengan membayar satu juta rupiah saja per tahun saya sudah kesusahan. Bila dalam waktu seminggu saya tidak membayar, saya akan diusir. Entah ke mana saya akan membawa istri dan kedua anak saya.”

“Pergilah sekarang, jual jamurmu,” katanya. “Hasil penjualan jamur itu, berikan sebagian ke istrimu. Sebagian lagi bawa untuk membeli rumah. Datangi sepuluh rumah yang mau dijual, katakan kamu ingin membelinya, katakan juga uangmu ada berapa.”

***

Di hadapan petani guru saya itu, amarah saya seperti api berhadapan dengan air. Langsung padam tidak berbekas.

“Kenapa kamu selalu diusir pemilik rumah? Karena kamu tidak menyentuh hatinya,” kata petani guru saya itu. “Ada sebuah rumah yang tidak akan terbeli oleh uang sebanyak apapun. Itulah rumah idaman semua orang. Untuk mendapatkannya hanya perlu kemurahan dan kasih sayang pemiliknya. Tidak punya uang sepeser pun kita, bila pemiliknya sudah berkenan, rumah itu akan diberikannya.”

“Siapa yang pernah diberi rumah idaman seperti itu?” tanya saya penasaran.

“Pergilah ke kota kecil di balik bukit ini. Di sana kamu akan bertemu dengan seorang wanita tua. Dialah pengetuk kemurahan dan kasih sayang pemilik rumah itu.”

Saya pun pergi ke kota kecil di balik bukit itu. Orang-orang sedang sibuk bekerja. Jalanan mengepulkan debu setiap ada kendaraan yang lewat. Hari sangat panas karena kemarau begitu memanggang. Dari sebuah penginapan murahan saya melihat seorang wanita berjalan sempoyongan. Mungkin dia mabuk, terlalu banyak minum minuman keras. Dia berjalan menyusuri jalanan berdebu. Di tepi tempat pembuangan sampah dia berhenti. Matanya tidak berkedip melihat seekor anjing yang tergolek lemah. Lidah anjing kampung yang kurapan itu terjulur, pasti kehausan. Wanita itu terharu melihat anjing yang sudah tidak berdaya. Diambilnya segayung air dari sumur sebuah mushola yang lumayan jauh dari sana, lalu ditetesinya mulut anjing itu sampai segar kembali. Ketika anjing itu bisa berdiri dan berlalu, dari ujung mata wanita itu bergulir sebutir air menyusuri pipinya.*[1]

“Itu adalah pengalaman saya bertahun-tahun yang lalu,” kata wanita tua itu ketika saya menemuinya di sebuah rumah yang sederhana. “Pengalaman yang membuat saya berhenti melacur, profesi saya sejak muda.” Wanita tua itu memandang ke jauhnya. Dari ujung matanya mengalir sebutir air, menyusuri kulit pipinya yang mulai keriput.

“Tapi kenapa Ibu menangis?” tanya saya penasaran.

“Setiap ingat masa lalu yang hitam, hati ini bergetar begitu hebat. Setiap ingat ada makhluk yang menderita seperti anjing itu, hati ini bergetar begitu hebat. Ah, kamu mungkin belum bisa membayangkannya, Nak,” kata wanita tua itu sambil berurai airmata. Baru saya perhatikan, wajahnya itu bercahaya, seperti juga butiran air yang mengalir di pipinya.

Saya pun pulang. Saya menemui petani guru saya itu di kebunnya.

“Wanita tua itu memang indah, sepertinya begitu indah hatinya. Tapi rumahnya terlalu sederhana sebagai rumah idaman.”

“Rumah idaman itu bukan seperti yang kamu lihat,” kata petani guru saya itu. “Rumah idaman setiap orang itu ada di hati wanita tua itu. Rumah yang membuat wajahnya begitu bercahaya. Rumah yang selalu menguraikan airmatanya. Airmata yang begitu indah. Keindahan rumah idaman itu tidak akan bisa kamu bayangkan. Karena rumah idaman itu kepunyaan Tuhan yang Mahaindah.”

Saya pun pulang dengan hati yang bergetar. Hati yang terus berdoa: Ya Tuhan, tidak apa saya selalu disusahkan hanya untuk memiliki sebuah rumah sederhana di dunia ini. Asal saya diberi kesempatan menyentuh hatiMu. Saya ingin rumah yang indah di surga, rumah idaman semua orang.

Di rumah saya disambut istri, anak-anak, dan suami-istri yang sedang bertamu.

“Saya ini ketua RT di sebuah kota kecil. Seorang warga kami, wanita tua yang selalu berurai airmata, mewasiatkan rumah dan tanahnya untuk dimiliki Bapak sekeluarga,” kata tamu itu. “Ini adalah sertipikat dan surat wasiatnya. Maaf baru saya sampaikan sekarang. Karena di surat wasiat ini, Bapak sebagai penerima hanya dikatakan: Seorang lelaki penjual jamur yang berniat membeli rumah dengan uang lima puluh ribu rupiah.”

“Wanita tua itu sekarang ke mana?”

“Sudah meninggal… bertahun-tahun yang lalu.”

***

=========================

Yus R. Ismail, menulis cerpen, novel dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of the Night (Lontar 2019, memuat 5 carpon-nya yang diterjemahkan C.W. Watson). Novel Tragedi Buah Apel mendapat penghargaan Juara Pertama Lomba Novel Anak 2019 penerbit Indiva. Cerpen-cerpennya pernah dipublikasikan di Koran Tempo, Media Indonesia, Kompas, Jawa Pos, Republika, Suara Karya, Tribun Jabar, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Lampung Pos, Basa-basi.com, Bangka Pos, Padang Ekspres, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Femina, Hai, Esquere, NOVA, Citra, Horison, dsb.


[1] Kisah perempuan pelacur yang dimaafkan dosa-dosanya setelah memberi minum anjing yang kehausan, diambil dari hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah. Banyak tafsir kepada hadis ini. Presiden Soekarno pernah tidak mengerti dengan hadis ini, bagaimana bisa orang yang banyak melakukan dosa dimaafkan hanya karena memberi minum anjing yang kehausan? Jawaban yang memuaskan presiden pertama itu datang dari guru sufi Prof.Dr. Kadirun Yahya yang menyebutkan cinta Tuhan itu sama dengan angka nol. Seberapa banyaknya juga bila dikali nol maka hasilnya nol.

Kurushimi Café

0

Selamat datang di Kurushimi Café. Selamat menikmati penderitaan.

         Seperti yang Anda lihat, di detik Anda membuka pintu, Anda dihadapkan pada sebuah ruang yang sangat lapang, dengan meja-meja bundar kecil terpisah dan berjarak satu sama lain, dengan kursi-kursi kurus terpasang padanya yang sekilas seakan tak mampu menahan berat tubuh Anda untuk waktu lama. Tapi tenang saja. Semua akan baik-baik saja. Kursi-kursi kurus itu jauh lebih kuat dan jauh lebih tangguh dari yang kelihatannya; Anda bisa duduk di sana berlama-lama menunggu giliran, atau sekadar menghabiskan waktu sendirian. Alunan musik akan selalu menemani Anda, membuat Anda merasa Anda sedang berada di dalam diri Anda dan berhadap-hadapan dengan diri Anda yang lain, dengan kesedihan dan rasa sakit Anda, dengan penderitaan-penderitaan Anda. Anda cukup memesan sesuatu dari menu dan membayarnya. Setelahnya kami tak akan mengganggu Anda, dengan pertanyaan atau permintaan apa pun.

         Silakan memilih meja yang Anda sukai. Semua meja pada dasarnya sama, namun Anda mungkin memiliki kecenderungan tertentu terhadap sesuatu, seperti posisi, jarak, ruang kosong, intensitas cahaya, atau yang lainnya. Salah seorang dari kami akan segera menghampiri Anda begitu Anda menempati meja yang Anda sukai. Ia akan menawari Anda menu dan pastilah akan menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda terkait apa-apa yang tertera di menu itu, demi memastikan kenyamanan Anda. Ia manusia, bukan robot, jika ini perlu kami beritahukan. Ia memang tersenyum dan menyajikan kepada Anda sebuah pelayanan yang sempurna tetapi ia manusia, bukan robot, seperti yang mungkin Anda kehendaki. Anda tentu telah mengambil tiket antrean di ruangan sebelumnya. Pastikan Anda memegang tiket tersebut, dan ada baiknya Anda mengingat-ingat nomor antrean Anda dan nomor ruangan yang tertera di sana. Salah seorang lainnya dari kami akan menghampiri Anda ketika giliran Anda tiba, di mana ia akan menyebutkan nomor antrean Anda dan ruangan yang Anda tuju dan setelahnya meminta Anda menunjukkan tiket antrean yang Anda pegang itu. Barangkali, inilah satu-satunya gangguan dari kami, dan semoga Anda memaafkan kelaancangan kami ini. Seseorang dari kami itu kemudian akan memandu Anda ke ruangan yang dimaksud, di mana di sana seseorang yang lain lagi tengah menanti Anda dengan senyuman. Sampai saat itu tiba, silakan menikmati kesendirian Anda di meja yang Anda pilih itu.

         Di malam-malam tertentu, sayang sekali harus kami beritahukan, antrean bisa sangat panjang, dan itu berarti bertambah lamanya waktu-menunggu Anda. Tapi jangan khawatir. Untuk situasi seperti itu kami sudah menyiapkan diri seperti dengan menambah jumlah orang yang akan dengan senang hati melayani Anda, mendengarkan dan menyimak keluh-kesah Anda, penderitaan-penderitaan Anda—kami menyebutnya penyimak. Ruangan-ruangan tertentu yang pada malam-malam biasa dibiarkan kosong pun akan kami gunakan, tentunya setelah kami sedikit-banyak memolesnya terlebih dahulu. Anda mungkin terpaksa berada di meja yang Anda pilih itu lebih lama namun kami pastikan ketika giliran Anda itu tiba Anda akan berada di ruangan yang bukan saja membuat Anda nyaman namun juga memudahkan Anda untuk bercerita, untuk menuangkan penderitaan-penderitaan Anda, kepada kami. Tentu Anda sangat mungkin terpaksa memesan sesuatu lagi, sekadar untuk mengisi waktu. (Semoga Anda memaafkan kami atas keterpaksaan Anda ini.) Tetapi segera, di detik Anda berada di ruangan yang kami sediakan bagi Anda itu, perasaan Anda akan jauh lebih baik. Kami pastikan itu.

         Apabila Anda bosan hanya menunggu di meja yang Anda pilih itu, Anda bisa memanggil salah satu dari kami, memintanya menunjukkan kepada Anda menu yang lain. Menu yang satu ini bukan menu berisi makanan dan minuman, melainkan hal-hal yang mungkin bisa menghibur Anda selama masa tunggu tersebut, yang bisa Anda pilih sesuka hati Anda selama Anda mampu membayarnya. Sekumpulan lagu, sekumpulan gambar. Sekumpulan musik, sekumpulan cerita. Dan sekumpulan-sekumpulan lainnya. Beberapa di antaranya mungkin cukup mahal, tetapi itu sesuai dengan efek yang akan diberikannya kepada Anda—masa-tunggu Anda akan berakhir dengan sendirinya tanpa Anda menyadarinya. Semuanya, seperti yang mungkin telah Anda duga, berbahan baku penderitaan.

         Untuk pelanggan-pelanggan baru seperti Anda, kami menyediakan beberapa hal yang bisa Anda nikmati dengan cuma-cuma. Makanan dan minuman. Atau hal-hal di menu lainnya tadi. Ketentuannya berbeda-beda dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Jika Anda beruntung apa yang kami labeli “cuma-cuma” itu adalah kesukaan Anda dan Anda bisa memesannya berkali-kali sesuka hati Anda. Tapi pastikan Anda tidak melupakan tujuan utama Anda ke Kurushimi Café. Kami terbilang tegas soal waktu. Sekalinya Anda dijadwalkan memasuki ruangan yang tertera di tiket antrean Anda, kami akan meminta Anda menghentikan apa pun itu yang sedang Anda lakukan di meja Anda, dan beranjak meninggalkannya. Tidak ada waktu pengganti atau semacamnya. Apabila saat itu Anda tidak berada di meja Anda, dan seseorang dari kami yang ditugaskan mengamati Anda tidak memiliki informasi soal keberadaan Anda (apakah Anda sedang berada di toilet atau ruang merokok, misalnya), dan Anda tidak juga muncul dalam sepuluh menit setelahnya, terpaksa, dengan berat hati, kami akan menangguhkan kunjungan Anda, tidak untuk malam itu, namun untuk suatu malam lain—penempatannya kami sesuaikan dengan jadwal, perencanaan, dan situasi di Kurushimi Café. Tetapi Anda tak perlu cemas soal uang. Apabila kunjungan Anda itu kami tangguhkan, uang yang telah Anda bayarkan untuk kunjungan tersebut akan kami kembalikan separuhnya, dengan separuhnya lagi kami gunakan untuk memesan waktu di suatu malam lain tadi. Kami pastikan Anda memperoleh apa yang Anda inginkan dari kunjungan Anda ke Kurushimi Café, selama Anda menaati peraturan.

         Nanti ketika giliran Anda tiba, sekali lagi kami beritahukan, seseorang dari kami akan menghampiri Anda, memastikan bahwa Andalah memang yang semestinya ia jemput dan ia pandu. Anda tidak perlu memberinya tip, atau semacamnya. Kami berusaha sebaik mungkin melayani Anda dan itu kami lakukan secara profesional, dan kami sudah beroleh “kompensasi” atas apa-apa yang kami lakukan itu; karenanya Anda tidak perlu repot-repot. Jikapun Anda bersikeras ingin menunjukkan apresiasi kepada kami, Anda bisa menunjukkannya dengan cara tidak melakukan apa pun yang akan membuat pelanggan-pelanggan lain tidak nyaman, seperti bersuara keras-keras atau membuang puntung rokok di wastafel. Kami menghargai setiap kebersihan, kerapian, dan sikap yang baik. Kami percaya Anda tak akan melakukan apa yang tak seharusnya Anda lakukan. Sebagai buktinya, seperti yang Anda ketahui, Kurushimi Café tidak mempekerjakan seorang pun petugas keamanan.

         Dalam perjalanan Anda menuju ruangan yang nomornya tertera di tiket antrean Anda, sebagai gambaran, mata Anda akan dimanjakan oleh dinding-dinding penuh lukisan, dan ini cuma-cuma. Benar-benar cuma-cuma. Musik pun tentunya mengalun dan mengiringi langkah-langkah Anda, dan Anda lambat-laun akan merasakan kehangatan merambat masuk ke dalam diri Anda, menyirami penderitaan-penderitaan Anda. Anda benar, baik musik ataupun lukisan itu berbahan baku penderitaan, tetapi kami telah mengolahnya sedemikian rupa sehingga yang tersaji di hadapan Anda adalah sesuatu yang justru mampu mengatasi penderitaan Anda, sedikit-banyak. Kami juga membiarkan dinding-dinding di sepanjang lorong itu penuh dengan pergantian dan interaksi warna-warna, menjadikan perjalanan Anda ke ruangan yang Anda tuju itu seolah-olah perjalanan menempuh sebuah ruang-cerita, sesuatu yang kelak memberi Anda pemahaman atau perasaan tertentu, menumbuhkan dalam benak Anda sugesti tertentu, yang semoga baik bagi Anda. Ketika akhirnya Anda tiba di depan pintu ruangan yang Anda tuju, seseorang dari kami itu akan membiarkan Anda membukanya sendiri; ia bahkan sudah beranjak sebelum Anda memegang gagang pintu itu. Musik berbahan baku penderitaan itu masih akan mengalun menemani Anda, mendorong Anda untuk segera memutar gagang pintu itu dan mendorongnya. Seseorang lainnya di balik pintu itu tengah menunggu Anda. Ia tersenyum, dan ia menunggu Anda. Tentu saja ia di sana telah menyiapkan alat perekam juga alat pencatat, dan tentunya sebuah kursi yang sangat nyaman untuk Anda duduki. Pencahayaan di sana tidak begitu terang, yang mestinya memudahkan Anda menuangkan penderitaan-penderitaan Anda tanpa terbebani apa pun. Namun kalaupun itu ternyata sulit bagi Anda, jangan khawatir, karena seseorang itu akan membantu Anda. Ia seorang profesional dan ia teramat terlatih untuk itu.

___

Sampai kini setelah lebih dari tiga tahun berdiri, apa sebenarnya yang membuat Kurushimi Café berbeda dari kafe-kafe lain?

Jasa yang disediakan, tentunya. Setiap orang yang melakukan kunjungan ke Kurushimi Café akan dibawa ke sebuah situasi di mana di sana ia bisa menuangkan masalah-masalahnya, kesedihan-kesedihannya, penderitaan-penderitaannya, tanpa terbebani oleh apa pun. Ia akan bicara dan bicara dan bicara. Ia akan bercerita dan bercerita dan bercerita. Tak ada yang akan menghakiminya. Tak ada yang akan menasihatinya apalagi menilainya. Ia datang dan menuangkan penderitaan-penderitaannya itu dan setelahnya ia bisa pergi tanpa perlu mencemaskan apa pun, seperti bahwa apa-apa yang dikemukakannya itu akan diketahui oleh orang lain. Ia melakukan kunjungan ke Kurushimi Kafe, untuk menghibur dirinya sendiri, bahkan mengobati dirinya sendiri. Mungkin sejenis dengan kyabakura atau hostess club hanya saja ruangnya lebih privat, dan pelayanan yang disediakan sangat jauh dari erotisitas—bahkan seksualitas sekalipun. Secara prinsip mirip juga dengan ruang konsultasi, seperti ketika kita berhadap-hadapan dengan seorang psikolog. Hanya saja, di Kurushimi Café, yang kita hadapi bukanlah psikolog, melainkan penyimak—seseorang yang ditugaskan hanya untuk menyimak apa-apa yang kita katakan.

Konsep ini apakah sejak semula memang seperti itu, atau telah mengalami sejumlah perubahan?

Sejak semula seperti itu. Perubahan hampir-hampir tak ada. Satu-satunya perubahan selama lebih dari tiga tahun ini ada pada tampilan, yakni interior dan suasana kafe serta “seragam” yang digunakan para karyawan. Awalnya tak ada yang istimewa; sama saja dengan kafe-kafe lain yang aktif malam hari di kota ini. Kemudian, memasuki tahun kedua, kami hadirkan sentuhan baru; Kurushimi Café, ketika dialami dari dalam, jadi terlihat muram-suram namun di saat yang sama juga hangat. Kami menambahkan menu-menu baru, dan mensikronisasikan semuanya dengan penderitaan, yang adalah ruh kami. Pencahayaan dan dekorasi diatur sedemikian rupa supaya penderitaan itu tampak dan terasa, nyata, namun tidak sampai membuat siapa pun yang melihat dan merasakannya itu putus asa. Kami bertaruh dan mengambil risiko, sebenarnya. Akibat perubahan ini ada kemungkinan sebagian dari para pelanggan kami tak menyukainya, dan berhenti melakukan kunjungan.

Sejauh ini, apa yang berusaha diwujudkan Kurushimi Café? Apa yang berusaha dibangkitkannya—jika ada?

Ini agak sulit menjawabnya. Sebagai sebuah penyedia jasa berbayar tentu saja yang kami coba kejar adalah keuntungan materi. Itu tak bisa dimungkiri. Akan tetapi, di luar itu, memang ada beberapa hal yang coba kami capai, terkait idealisme kami. Misalnya, kami mencoba membuat orang-orang mau menerima penderitaan-penderitaannya; mereka tidak lagi menolaknya atau mengingkarinya, melainkan menerima bahwa penderitaan itu ada, nyata, dan mereka bagaimanapun akan menjalani sisa hidup bersamanya—penderitaan itu bersemayam di dalam diri mereka atau memproyeksikan diri di dekat mereka. Setiap orang menderita atau setiap orang akan menderita. Itulah yang kami yakini. Mengondisikan orang-orang itu untuk menuangkan sebagian penderitaan mereka kami anggap sebuah aktivitas yang baik, yang memiliki nilai guna. Kami sendiri tentu beroleh hal-hal baik dari apa yang kami lakukan ini. Contohnya: kami jadi semakin terbiasa berhadapan dengan penderitaan, dan itu semakin memudahkan kami untuk menerimanya tanpa perlu kami tercelup ke dalamnya.

Ada rumor bahwa keberadaan Kurushimi Café adalah juga sebentuk perlawanan terhadap androidisasi yang berlangsung satu dekade terakhir. Tanggapan Anda?

Ah, ya. Itu benar. Itu juga salah satu hal lain yang kami maksudkan tadi. Androidisasi telah merambah ruang-ruang yang tak semestinya ia rambah, membuat kehidupan berubah arah-geraknya menuju titik jenuh yang di mata kami sangat mengkhawatirkan. Pada awalnya, jika memang robot-robot serupa manusia itu dikonsentrasikan di ruang-ruang publik saja, sebagai alternatif siapa tahu orang-orang bosan atau kecewa dengan pelayanan publik dari manusia, itu oke. Di mata kami itu masih oke. Tetapi kemudian, mereka juga difungsikan untuk menjadi alternatif seperti itu di ruang-ruang pribadi, atau semi-pribadi, dan kami melihat ini sebuah masalah. Mungkin aneh mengatakannya di sini tetapi dulu beberapa dari kami terlibat dalam ruang-ruang tersebut seperti enjo-kousai, kyabakura, hostess club, bahkan prostitusi, dan ketika robot-robot serupa manusia itu mengisi ruang-ruang tersebut, kami mendapati, sesuatu yang esensial justru hilang dan terlupakan; para pengguna jasa itu—yang hampir semuanya laki-laki—menikmatinya sebagai sesuatu yang lain lagi, yang berbeda dari yang asalnya. Salah satunya, dan ini yang paling krusial, adalah komunikasi psikis antara si “pelayan” dan si “tuan”. Robot-robot itu konon memang diperlengkapi dengan common sense, yang membuat mereka mampu belajar dan kemudian tumbuh, tetapi sedari awal mereka telah juga diprogram untuk melakukan pelayanan itu dalam taraf tertingginya, yang berarti memberikan kepuasaan yang tak terkira kepada si pengguna jasa, si “tuan” itu. Ini akan menjadikan si robot itu pelayan yang “patuh”, setidaknya sampai batas waktu tertentu. Dan ketika interaksi antara dua sosok sudah sepenuhnya interaksi antara pelayan dan tuan, maka komunikasi psikis yang terjalin tidak akan pernah (lagi) dua arah; si pelayan akan menerima aliran psikis dari si tuan tetapi tidak yang sebaliknya. Kami membayangkan, dan memang terbukti benar, komunikasi psikis semacam ini akan menyeret orang-orang itu—para pengguna jasa itu—ke dalam pusaran penderitaan yang di sana mereka tak lagi bisa memperlakukan orang-orang di hadapan mereka, bahkan diri mereka sendiri sekalipun, sebagai manusia, sebagai sosok-sosok yang mampu melakukan komunikasi psikis. Robot-robot itu tidak salah, tentu. Mereka adalah produk dan mereka dibuat seperti itu, sehingga kritik tentulah diarahkan kepada si pembuat produk, atau lebih jauh lagi, orang-orang di atasnya, mereka yang menganggap sebagian manusia sudah kehilangan tempat di dunia yang semakin maju ini. Di Kurushimi Café, sebisa mungkin, kami mencoba mengembalikan situasi menjadi seperti dulu. Para pelanggan kami, para pengguna jasa yang kami tawarkan, sedikit-sedikit kami arahkan untuk menjadi diri mereka yang dulu, diri mereka sebelum robot-robot serupa manusia itu ada.

Tetapi bukankah komunikasi yang berlangsung di Kurushimi Café pun bukan komunikasi dua arah—hanya si pelanggan yang berbicara sementara seseorang di hadapannya hanya menyimak saja? Bagaimana itu? Kemudian, soal ditempatkannya android-android tadi di ruang-ruang pribadi atau semi-pribadi, bukankah itu dimaksudkan untuk menekan—bahkan menghentikan—eksploitasi besar-besaran perempuan sebagai komoditas jasa? Bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Soal komunikasi, memang hanya satu arah. Tetapi harus digarisbawahi, kedua sosok yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia. Dua-duanya manusia. Ini jelas-jelas berbeda. Meskipun si penyimak hanya mendengarkan dan sesekali saja berujar untuk memancing si pelanggan terus bicara, ia tetap sosok yang mampu melakukan komunikasi psikis. Dalam posisi seperti itu pun, ia tetap membangun komunikasi psikis, dengan si pelanggan. Ia bisa melakukannya dengan tatapan mata, bahasa tubuh, ekspresi muka, dan yang lainnya. Ini yang tidak dilakukan robot-robot itu. Mereka merespons dengan sejumlah program atau algoritma yang terbatas, sehingga bagaimanapun komunikasi yang alamiah dan tepat itu tidak akan terjalin. Tidak jika komunikasi psikis termasuk di dalamnya. Apa yang ditawarkan Kurushimi Café … berbeda.

         Kemudian soal penempatan yang Anda bilang tadi itu, saya memahaminya. Kami memahaminya. Niatnya memang baik, bahkan luhur, dan sekilas ini memang menjanjikan, dalam arti kebijakan ini akan benar-benar menjadi solusi dari persoalan yang membelit negeri ini sejak tahun-tahun lampau. Perempuan-perempuan “melayani” laki-laki yang memiliki uang namun kesepian, dengan sebagian dari mereka bahkan masih anak SMA. Menjijikkan. Jelas. Tetapi menjadikan robot-robot itu pengganti mereka, sungguh bukan solusi yang tepat. Bahkan, bukan solusi sama sekali. Perempuan-perempuan itu memang tidak lagi diposisikan sebagai komoditas; yang diposisikan sebagai komoditas adalah robot-robot dengan wujud perempuan dan itu terkesan cocok—sebab mereka adalah produk, adalah barang. Tetapi coba lihat kenyataannya, perkembangannya. Perempuan-perempuan itu—sebagian—mencoba membangun ruang-ruang lain, yang di sana mereka bisa kembali melakukan apa yang biasanya mereka lakukan. Mereka masih melihat diri mereka sebagai komoditas. Dan orang-orang itu, lelaki-lelaki itu, masih saja tidak menolak ketika beroleh tawaran semacam itu. Kebijakan penempatan robot-robot itu terbukti melupakan satu hal, satu hal yang sangat krusial, yakni penanganan secara mental, secara manusiawi. Bagaimana membuat sebuah masyarakat menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu salah, tidak baik baginya dan negara? Tentunya tidak dengan menyingkirkan mereka dan mengganti mereka dengan robot-robot, dengan tiruan-tiruan mereka, dengan geminoid-geminoid mereka. Mereka perlu didekati secara personal, dengan sabar, perlahan-lahan. Dan itulah yang selama ini kami coba lakukan, meski untuk topik yang lain, dan masih sebuah langkah awal. Paling tidak, kami melakukannya dengan cara-cara yang mengingatkan kami bahwa kami dan para pelanggan kami itu adalah manusia.

Bagaimana jika suatu saat pemerintah menawarkan kebijakan yang menempatkan android-android di Kurushimi Café, sebagai penyimak, misalnya? Tentunya, android-android ini sudah diperlengkapi dengan common sense yang jauh lebih maju, yang saking majunya membuat para android ini hampir-hampir tak bisa lagi dibedakan dengan manusia, dengan para penyimak lain.

Ini lagi-lagi sulit. Tadinya saya mau menjawab mantap: “Akan kami tolak!” Tetapi setelah ditambahi keterangan tentang common sense yang jauh lebih maju itu, jawaban tersebut agaknya tidak sepenuhnya relevan lagi. Dengan kata lain, jawaban atas pertanyaan ini agaknya baru bisa diberikan nanti ketika hal itu terjadi. Tetapi begini. Saya ingin menekankan bahwa poin penting yang harus dipenuhi di sini adalah manusia dan manusiawi. Robot-robot serupa manusia itu, ketika mereka telah diperlengkapi dengan common sense yang jauh lebih maju tersebut, ketika mereka telah hampir-hampir tak bisa dibedakan lagi dengan manusia, apakah mereka di ambang menjadi manusia, atau tidak? Ini yang menjadi pertanyaan saya. Katakanlah Darwin benar dan kita adalah hasil evolusi generasi kesekian dari hewan-hewan, maka hal serupa mungkin bisa terjadi juga pada robot-robot itu, meski saat ini membayangkannya masih sangat sulit. Anda ingin makan malam dengan robot, Anda ingin mengobrol dengan robot, Anda ingin berjalan-jalan dengan robot, Anda ingin bercinta dengan robot, itu mudah. Sekarang pun Anda sudah bisa melakukannya, dengan keterbatasan di beberapa hal. Tetapi kalau Anda ingin berinteraksi dengan robot seperti halnya Anda berinteraksi dengan manusia lain, atau diri Anda sendiri, dengan tingkat akurasi yang tinggi, itu masih sulit. Untuk sekadar dibayangkan saja masih sulit. Dan saya sejujurnya tidak tahu juga apakah itu sesuatu yang harus dikejar dan diwujudkan, atau sebaliknya.

Jadi, jika para android itu pada akhirnya, entah bagaimana, telah menjadi manusia, mereka diperbolehkan menjadi bagian dari Kurushimi Café? Begitu jawaban Anda?

Untuk saat ini, kira-kira begitu.(*)

Keterangan

  • Cerita ini ditulis berpuluh-puluh tahun dari sekarang, oleh seseorang yang namanya belum bisa diberitahukan saat ini.
  • Jika mengikuti aturan berbahasa Indonesia yang benar maka semestinya judul cerita ini adalah “Kafe Kurushimi”, namun si penerjemah sengaja menghadirkan versi bahasa Inggrisnya, dengan pertimbangan di bahasa aslinya judul tersebut—juga setiap kali dua kata ini muncul di tubuh cerita—dituliskan dalam katakana, bukan kanji atau hiragana. Semuanya katakanaクルシミ・カフェ. “Seperti ada penekanan bahwa urutannya harus begitu,” kata si penerjemah. Mengingat urutannya lebih condong ke bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia, si penerjemah pun memilih kata “Café” alih-alih “kafe”.
  • Si penerjemah sendiri adalah seseorang di saat ini. Hanya saja, ia menolak namanya dipublikasikan—saat ini.
  • Cerita ini diperoleh seorang agen kami yang melakukan perjalanan waktu beberapa minggu yang lalu, dan di saat ini belum pernah ditayangkan di ruang-tayang mana pun.

====================

Ardy Kresna Crenata tinggal di Bogor Kumpulan cerita pendek termutakhirnya: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelanya: Realitas & Kesadaran (BasaBasi, 2019).

Ia yang Menjelma Bunga Matahari

0

Hujan pertama di bulan November langsung membadai. Deras tiada ada celah. Air seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Awan gelap. Hitam. Tak ada noktah putih pun di atas sana. Begitupun angin menderu membuat air yang tumpah pontang-panting ke sana ke sini.

Pohon-pohon berakar serabut banyak yang tumbang. Angin dan hujan badai seakan bersekongkol memporak-porandakan perdesaan itu. Di sebuah halaman rumah tembok di lereng bukit, sebuah bunga matahari tetap tegar berdiri. Tidak goyah oleh angin, hanya basah oleh hujan. Meski juga berakar serabut.

Ia di sana, sebab sebuah cerita.

***

Seharian wanita itu hanya berdiri di halaman depan rumahnya. Sesekali menatap jam di telepon genggamnya. Pun ia menunggu kabar dari suaminya yang belum juga pulang sampai senja mulai menyala.

Dihyan, wanita itu sebenarnya tahu tentang suaminya, Niscala. Banyak teman yang mengabarkan apa yang dilakukan suaminya di luar rumah. Kabar yang telah ia alami sendiri jauh sebelum teman-temannya mengetahui sikap sang suami.

Ia lihat sendiri ketika sebuah kesempatan datang untuk melihat isi galeri telepon genggam Niscala. Foto-foto sang suami berpose dengan perempuan-perempuan lain. Berswafoto dengan mereka dengan wajah-wajah tanpa derita. Dan meski hanya foto, itu sungguh menyiksanya.

“Ayah belum pulang, Bun?” tanya Aruna, anak lelakinya dari balik pintu.

“Belum,” jawab Dihyan itu datar.

Matanya tajam ke depan. Menatap udara petang yang beranjak pekat.

“Aku lapar, Bun.”

“Kita segera makan, Nak. Tanpa ayahmu.”

“Sekarang, ya, Bun?”

Dihyan berdiri. Ia langkahkan kaki, namun badannya terasa berat. Seperti ada akar yang menancap di kakinya. Suaminya belum pulang. Ia sebenarnya tahu, seperti biasa. Bahwa suaminya kerja atau tidak kerja, tidak akan membawa uang ke rumah. Tidak ada uang belanja, pun nafkah untuk keluarganya.

Dengan langkah yang berat, Dihyan masuk ke dalam rumah dan menyiapkan makan malam untuk Aruna. Niscala tidak memberi uang belanja, bahkan selama dua bulan ini. Maka ia masak sekadarnya. Membeli sayur dari uang upahnya sebagai guru honorer di sebuah sekolah.

Petang ini Aruna meminta makan. Seingatnya di dapur telah tandas bahan masakan. Niscala belum pulang, dan honor dari sekolah baru cair besok. Untung masih ada sisa sebutir telur, maka ia menggorengnya

“Di mana ayah, Bunda?”

“Ia bersama kesenangannya. Biarkan.”

Tapi anak laki-laki itu membaca apa yang dipikirkan ibunya. Aruna melihat duka di mata ibunya. Duka akan perilaku ayahnya yang hanya peduli dengan kesenangannya belaka.

Mata Dihyan menatap kosong pada tembok yang belum dicat. Dihyan ingat saat dua bulan lalu beberapa mahasiswa datang ke desanya untuk sebuah penelitian. Mereka menginap di rumahnya selama sebulan. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Sebagai warga desa yang terbuka, ia setuju atas keputusan suaminya meminjamkan dua kamar rumah mereka untuk kelima mahasiswa itu.

Ia sebenarnya khawatir dengan kedatangan mahasiswa itu. Tapi kekhawatiran justru tertuju pada sikap Niscala yang seperti biasa. Lebih memperhatikan perempuan-perempuan lain daripada istri dan anaknya.

Kekhawatiran yang terbukti. Salah satu mahasiswa perempuan seperti mendapat perhatian lebih dari Niscala. Dihyan menangis ketika melihat suaminya duduk di teras belakang bersama seorang mahasiswa perempuan.  

“Besok ikut saja denganku,” kata Niscala pada mahasiswa itu.

Ia mendengar dari balik jendela yang membatasi ruang tamu dan teras.

“Kemana?” jawab mahasiswa tersebut. Biasa, tapi terdengar lembut dan cukup untuk menuntut pertanggungjawaban.

“Ada pertunjukan musik di lapangan. Tapi kita berdua saja, tidak usah kasih tahu yang lain. Pun ibunya anakku.”

Dihyan jelas mendengar apa yang dikatakan Niscala. Maka ia berlari ke depan dan menangis di sana. Tersedu namun ia menahannya agar tidak terdengar dan terlihat siapapun. Untuk mengalihkan tangisnya, ia menuju halaman. Menyiram bunga-bunga yang ditanamnya. Memotong daun yang kering agar pohon tidak mati. Membersihkan debu yang menempel pada bunga-bunga itu.

“Bunga Matahari belum ada di halaman ini,” gumamnya saat melihat bunga-bunga kecil itu.

Hanya ada bunga warna merah, merah muda dan ungu. Tidak ada warna kuning ceria dan cukup besar untuk memanjakan pandangan. Maka terbersit di otaknya adalah Bunga Matahari.

“Yang selalu menghadap matahari, dan seakan terlihat paling bersinar diantara bunga lain,” imbuhnya. “Aku ingin menambahkannya di sini.”

Ia berdiri menghadap rumahnya dari halaman. Tidak ada tanda-tanda sang suami keluar. Berarti mereka masih menikmati obrolan yang menyakitkan hatinya. Ia tetap berdiri di sana.

Beberapa waktu kemudian Niscala keluar. Menstarter motornya. Sendiri dengan wajah yang penuh gembira.

“Mau kemana?” tanya Dihyan tetap berdiri diantara bunga-bunga kecil.

Niscala tidak memperhatikannya. Hanya menatap layar telepon genggamnya dengan senyum licik.

“Mau pergi?” tanyanya sekali lagi.

Dan sekali lagi tak ada jawaban. Hanya suara motor yang dikendarai Niscala yang menjawab. Dihyan tetap berdiri diantara bunga-bunga. Menatap warna-warni itu satu persatu seperti menatap pekerjaan murid-muridnya di sekolah. Mengusap kelopak bunga dengan lembut seperti mengusap kepala anaknya ketika akan berangkat sekolah. Membuang daun kering yang masih menempel di ranting, seperti membuang sakit hati akan sikap suaminya.

Hingga ia tak sadar malam kian pekat dan terus saja wanita itu berdiri di sana. Sambil sesekali menatap pintu rumah yang masih terbuka. Bunga-bunga yang sudah mekar menularkan bahagia di hatinya. Ia usap sambil bernyanyi kecil pada bunga yang masih kuncup.

Udara malam di lereng bukit itu semakin menggigit. Tapi Dihyan tidak merasakan gigil. Ia malah menikmati kedamaian bersama bunga-bunga yang ditanamnya dan dipeliharanya seperti anak sendiri.

Di awal hari ia melihat suaminya datang. Tapi seperti hari-hari sebelumnya, ia tidak mendapat perhatian, dan masih terus berdiri di sana. Di halaman depan rumah. Bersama bunga-bunga tanamannya.

Hanya Niscala melirik sekilas padanya sambil bicara pelan dengan nada yang tidak suka, “Halaman penuh bunga, seperti hutan. Besok akan kubabat habis!”

Wanita itu bertekad akan tetap di sana, agar bunga-bunganya besok tetap tumbuh tidak dirusak oleh suaminya. Ia akan menjaganya.

Dan pagi pun menjelang, matahari menyapa dari balik perbukitan. Wanita itu tersenyum menghadap matahari pagi.

“Lihat, sumber kehidupan kita telah terbit. Beri salam padanya,” ujar Dihyan pada bunga-bunga tanamannya.

Kehidupan hari itu sudah bermula. Lalu lalang orang-orang di jalan depan rumahnya menatap taman bunga itu dengan pandangan kagum. Anak lelakinya keluar sudah lengkap dengan pakaian seragam putih merahnya.

“Aku berangkat sekolah, Bun.” Anak lelaki itu mendekat dan berpamitan padanya.

Ia usap kepala anaknya, mencium keningnya dan berdoa akan kebaikan untuk anak lelakinya itu.

“Ayah masih tidur,” tambah Aruna.

“Biarkan, Nak. Biarkan. Biarkan ia melampiaskan kegemarannya. Bersabarlah bersama Bunda.”

Aruna tersenyum dan melangkah pergi berangkat ke sekolah. Sementara Dihyan masih menatap rumahnya, berharap kebaikan melimpah pada rumah mungilnya. Berharap ada cahaya matahari menerangi kegelapan rumah karena sikap dingin Niscala. Ia ingin menjadi cahaya, seperti namanya, Dihyan yang berarti matahari.

Dihyan terus memendam rasa sakit di hatinya. Terus membiarkan tingkah Niscala sebagai suami yang tidak pernah memperhatikan dia dan anaknya. Membesarkan anaknya dengan upah sebagai guru honorer sangatlah kurang. Sedangkan Niscala, ketika keluar kadang pamit untuk bekerja hingga dua atau tiga hari.

Wanita itu sangat ingat dan menggeram menahan sakit di hatinya saat Niscala pulang dari kerja yang dua atau tiga hari itu, Niscala tidak memberinya uang.

“Kamu, kan guru. Bisa dapat uang tiap bulan!” sengit ucap suaminya.

“Tapi kamu tiga hari bekerja tentu mendapat uang. Tidaklah kamu lihat Aruna butuh biaya sekolah?”

“Gampang. Pakai gaji gurumu dulu.” Dan asap rokok pun mengepul dari mulut Niscala.

“Tapi kamu ayahnya. Yang wajib memberinya nafkah!” balas Dihyan dengan nada tinggi.

Niscala memandang tajam pada Dihyan. Tangannya mengepal. Ia hantamkan pada udara dan masuk ke dalam rumah. Pintu dibantingnya. Selepasnya hanya menyisakan gemuruh di dada Dihyan.

Dihyan ingat, waktu itu air mata yang ditahan, tak dapat lagi dibendung. Ia berlari menuju halaman yang ditanami bunga. Dan menangis di sana. Air mata serupa pupuk yang membuat bunga-bunga di tamannya semakin subur

Setelah Aruna lenyap dari pandangannya pagi ini, Dihyan ingin beranjak pergi dari halaman, tapi kakinya berat untuk diangkat. Ada serabut serupa akar yang menghunjam ke tanah. Ia menunda keinginannya untuk beranjak dari taman itu. Ia benamkan diri bersama bunga-bunga. Mengalihkan hati dan pikiran dari sikap kasar Niscala. Hanya dengan itu ia berharap mampu mengubah watak sang suami. Bunga melambangkan kelembutan, dan Dihyan ingin kelembutannya menular dan melunakkan sikap Niscala.

Ia harap begitu.

***

Satu per satu orang desa mendatangi taman bunga Dihyan. Mereka mengagumi dan dibuat heran dengan satu bunga yang bersinar terang. Kelopak kuning mengelilingi lingkaran putik di tengah. Dengan pohon lurus dan disertai daun lebar di beberapa titik dahan berwarna hijau. Satu-satunya bunga matahari di taman itu. Paling tinggi di antara bunga lain. Dan tentunya, bunga itu bersinar, menghadap rumah dan menerangi rumah itu.

Niscala keluar rumah membawa sabit dengan wajah penuh amarah. Ia menyibak sekumpulan orang yang mengagumi bunga matahari yang tumbuh paling mencolok di sana.

“Pergi semua! Akan aku babat habis bunga-bunga tidak berguna ini!” kata Niscala penuh amarah. “Dan pergi kalian semua dari sini!”

Berangsur warga desa pergi dari halaman sambil berbisik, merasa kasihan akan sikap Niscala yang tidak memiliki kepedulian.

Setelah warga pergi, Niscala mendekati taman bunga di depan rumahnya itu. Ia tersentak melihat bunga matahari yang paling menarik perhatiannya. Langsung ia menuju bunga matahari yang bersinar. Ia kagum, ia dekatkan wajah pada kelopak bunga tersebut.

“Aku tahu kamu,” ujar Niscala pelan. Suaranya bergelombang.

Hatinya bergetar hebat, sabitnya jatuh ke tanah. Ia cium bunga itu. Aroma wangi menjalar ke seluruh tubuhnya. Dilihatnya dari putik bunga matahari itu muncul titik-titik air. Hati Niscala merasa tersiram embun.

“Kamu menangis? Hentikan tangismu. Kamu tak akan mudah menangis seperti ini.”

Angin menyusuri perbukitan itu. Mendung makin menggulung di langit. Niscala sekali lagi mencium bunga matahari yang menyinari rumahnya itu. Ia lalu beranjak menuju teras rumahnya. Rencananya membabat habis bunga-bunga itu dimusnahkan. Ia pandangi bunga-bunga itu. Dan pandangannya tertuju pada bunga matahari yang sinarnya menusuk jiwa Niscala.

“Kamu Dihyan,” gumamnya di teras rumah. “Ya, kamu Dihyan. Bunga Dihyan.”

Ada rasa kehilangan di hati Niscala. Seseorang baru merasa kehilangan sesuatu jika ia tak lagi memperhatikan sesuatu itu. Hati Niscala seketika kering dalam musim hujan bermula.

Hujan pertama di bulan November langsung membadai. Deras tiada ada celah. Air seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Awan gelap. Hitam. Tak ada noktah putih pun di atas sana. Begitupun angin menderu membuat air yang tumpah pontang-panting ke sana ke sini.

Hanya bunga matahari di depan rumah itu yang tak tergoyahkan badai hari itu.

            Untuk D

11 November 2018

========

Danang Febriansyah, mengelola Taman Baca Naturalitera dan tergabung dalam Forum Taman Baca Masyarakat Kab. Wonogiri. Belajar menulis bersama Sastra Alit Surakarta dan #KampusFiksi Jogja serta FLP. Beberapa karyanya, Cerpen, Puisi dan Resensi Buku pernah dimuat di media massa. Buku puisinya “Hujan Turun di Desa” terbit 2018. Novelnya “Arundaya” terbit pada 2019. Juga beberapa buku antologi yang diterbitkan baik melalui penerbit mayor maupun indie. Kini tinggal di Bulukerto, Wonogiri.

Terbaru

Critical Pedagogy: Menggugat Pragmatisme Kampus Merdeka

Belum lama ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membuat gebrakan dengan menggulirkan kebijakan Kampus Merdeka. Belakangan gebrakan...

Dari Redaksi