Pulang

Stasiun Perpisahan

Kunci

Kamera Pak Burhan

Cerpen

Home Cerpen Page 3

Menjaga Nenek yang Sakit

0



Ada beberapa hal aneh yang bisa kulakukan mulai dari berubah menjadi ular, hingga memerintah jiwa orang sakit sebelum meninggal, namun ada baiknya kuceritakan awal mulanya.

Selama beberapa minggu aku merawat nenekku yang sudah renta, usianya yang sudah hampir sembilan puluh tahun menjadikannya lumrah untuk menderita sakit tua seperti yang dialaminya sekarang. Aku yang saat itu baru lulus dari sekolah tinggi keperawatan dikirim khusus ibuku untuk merawat nenek menggantikan Kumala, kakak sepupuku yang dua bulan terakhir menjaga nenek.

Di rumah itu hanya ada aku dan nenek. Rumah nenek bukanlah rumah yang terpencil dan jauh terpisah dari rumah lainnya, tetangga di sini cukup mepet kiri dan kanan paling hanya sekira dua setengah meter, sehingga suara anak kecil yang menangis pun masih bisa kedengaran, percekcokan kecil antara suami dan istri yang biasanya karena masalah uang atau kecemburuan juga cukup jelas terdengar. Namun, tidak begitu jika suara bersumber dari rumah nenek, satu orang pun tetangga tidak akan bisa mendengarnya. Tentang mengapa itu bisa terjadi, tentu akan kalian paham setelah kulanjutkan ceritaku.

Awalnya semua berjalan biasa saja, aku merawat nenek sebagaimana mestinya seorang lansia harus diperlakukan, membersikan badannya, menyuapi saat makan, memberi bebarapa obat dan ramuan herbal sesekali, mengganti popok dan pakaian, hingga membersihkan duburnya setiap kali selesai buang hajat. Selebihnya adalah mendengarkan nenek berceloteh tentang apa saja. Rupanya di usia tua, seseorang bisa sangat cerewet dan penggerutu yang bisa mengutuk apa saja seharian terutama mengutuk anak-anaknya yang kurang berbakti karena dinilai jarang mengunjunginya.

Menjelang minggu kelima aku menemani nenek, mulai sering kulihat nenek bertingkah aneh. Hal yang paling menyita perhatianku adalah tatapan nenek ke arahku yang sering kali dia tatap bergantian dengan guci berukuran sedang yang terletak di atas meja di samping tempat tidurnya. Guci keramik berwarna putih bercorak biru tua. Setelah menatap aku dan guci itu bergantian biasanya nenek akan langsung tertidur, lebih tepatnya pura-pura tertidur karena jika aku beranjak dari sana aku tahu dia diam-diam meraih guci itu dan memeriksa sesuatu di dalamnya. Cara memeriksanya bukan memeriksa biasa, melainkan berubah menjadi seekor burung yang hinggap di bibir guci lalu melompat ke dalam guci.

Aku berteriak sejadi-jadinya saat itu tapi tak ada suara keluar dari mulutku. Aku bahkan tak bisa berlari kembali ke kamarku, aku khawatir saat itu aku akan pingsan. Tapi aku tertahan di sana berdiri tepat di depan pintu kamar nenek yang sedikit terbuka sampai akhirnya nenek kembali utuh meringkuk di bawah selimutnya.

Baru setelah itu pelan-pelan aku menyeret kakiku menuju kamar yang hanya hitungan sepuluh langkah dari sana. Malam itu juga aku menelepon ibuku untuk dijemput, tapi tak kuceritakan apa yang baru saja kulihat, pasti tak akan dipercayanya apa yang akan kuceritakan. Ibuku berjanji akan segera menjemputku di akhir bulan, itu berarti masih dua pekan lagi.

Melihat tingkahku yang kikuk, nenek berulang kali menanyaiku tapi kujawab bahwa aku hanya sedang tidak enak badan. Dalam hati aku sungguh ketakutan dan ingin segera pergi dari rumah ini, setelah kejadian itu aku mulai semakin awas dengan keadaan sekitar, dan benar saja, ternyata selama ini aku terlalu abai akan kejadian di sekitarku misalnya bagaimana setiap sore hari menjelang magrib ada bunyi terompah kayu kolong rumah atau bagaimana tempayang air selalu habis setengahnya menjelang subuh meski aku ingat betul aku tak menggunakan air sedikitpun semalaman, juga sudah kuperiksa jika sekiranya ada rembesan air akibat kebocoran, tapi tak ada. Belum lagi bunyi kebyar-kebyur dari dasar sumur semalaman.

Selain kejadian itu aku bahkan pernah mendapati sekujur tubuh nenek basah kuyup beserta ranjangnya di suatu pagi seperti orang yang habis berenang atau hujan-hujanan semalaman. Tapi anehnya tak ada rembesan air di lantai padahal tubuh nenek layaknya kucing basah yang baru saja tercebur ke dalam kolam: kisut, lembab, apek dan menjijikkan.

Aku mencoba diam dan tak bertanya apa-apa meski aku sangat tertekan dan ketakutan. Pernah sekali waktu aku ingin lari tapi aku tak berani melakukannya, bukan karena tidak tega tapi aku takut hal jahat akan mengikuti dan mencelakaiku. Jadi kupilih bertahan di rumah nenek, sepanjang nenek tidak tahu kalau aku pernah melihatnya dan aku mencurigai banyak hal di rumah itu, aku pasti aman.

“Nenek mau diantar ke rumah sakit hari ini, antarkan!” begitu katanya suatu pagi. Aku mencoba menolak halus dengan alasan kondisi nenek agak membaik beberapa hari ini dan tidak perlu penanganan dokter, tapi nenek menatap tajam ke arahku sepanjang hari dan itu menyiksa. Maka kuputuskan besok paginya membawa nenek ke rumah sakit terdekat, nenek berkeras dimasukan ke bangsal kelas tiga bergabung dengan pasien lain ketimbang masuk ke ruangan VIP yang lebih nyaman dimana anak-anaknya lebih dari mampu untuk membayarkan biayanya.

Selama dua hari aku menemani nenek di sana dan mulai akrab dengan beberapa keluarga penunggu pasien yang lain. “Bawa aku pulang, sekarang!” kata nenek tiba-tiba. Aku benar-benar menghindari perdebatan dengan nenek, apapun bentuknya.

Sesampai di rumah, nenek menyuruhku mengunci pintu kamarnya dan melarangku memasukinya sampai hari berikutnya. Meski penasaran aku tak berani mengintip, aku yakin banyak mata di rumah ini yang bisa melaporkanku kepada nenek jika aku coba-coba membangkang.

Keesokan harinya aku bersegera ke kamar nenek. Nenek seperti biasa terbaring di ranjangnya dan kurasa semalaman dia memang hanya tidak ingin diganggu. Aku cukup lega, tapi sesuatu tertangkap mataku di pinggir ranjang di ujung selimut nenek ada sisik ular menjuntai hingga ke lantai kamar. Sungguh aku sangat ingin menjerit tapi kutahan dengan menggigit bibir bawahku. Apakah ada ular dalam selimut nenek yang baru saja berganti kulit, tanyaku dalam hati. Aku terpaku sejenak, tapi buru-buru nenek mengibaskan tangannya tanda menyuruhku segera keluar dari kamarnya.

Menjelang makan siang saat sedang menyuapi nenek aku mencuri pandang sekali lagi ke arah selimut nenek, sisik itu masih di sana dan ternyata lumayan panjang. Meski tidak bisa kupastikan karena tidak melihatnya langsung, aku menduga nenek bisa berubah menjadi ular.

Nenek mendapati ekor mataku melirik ke arah sisik itu, dia mendehem beberapa kali, sementara tanganku yang menyendokinya sangat gemetaran dan tidak bisa kusembunyikan lagi darinya.

Nenek menepis tanganku, “Sudah, sudah, nenek mau tanya, apa kamu mencurigai sesuatu pada diri nenek?”

Tubuhku terdorong sedikit ke belakang, “Tidak, Nek. Putri tidak mengerti…” kataku tetap berusaha tenang.

“Nenek sudah tahu kalau kamu beberapa hari ini mencurigai nenek kan, kamu melihat nenek berubah menjadi pipit, kamu menelpon ibumu minta dijemput dan hari ini kamu mencurigai nenek bisa berubah jadi ular. Iya kan, Putri?”

“Nek, Putri…Putri…” itu kata yang terakhir aku ingat sebelum akhirnya aku bangun dan mendapati diriku ada di sebuah ruangan yang temaram karena sedikit sekali cahaya di sana. Perlahan kuamati sekeliling aku seperti berada di sebuah cekungan mirip sumur, aku memandang ke atas, di sana lebih terang dan refleks aku mengibaskan sayap dan terbang ke arah cahaya tersebut. Rupanya aku seekor burung sekarang, nenek masih tetap terbaring di ranjangnya dengan senyum lebar memandang ke arahku.

“Kemari pipit kecil, mendekatlah kemari,” nenek mengulurkan tangannya, refleks aku terbang dan hinggap di tangan keriput itu. “Kamu sudah menghabiskan biji-bijian di dalam guci itu, kamu sekarang mewarisi apa yang nenek punya. Mulai sekarang kamu bisa berubah-berubah menjadi binatang yang kamu inginkan, kamu juga sudah bisa membuat basi masakan orang lain yang kamu tidak sukai, dan kamu bisa menggunakan jiwa melarat seseorang yang sekarat untuk kamu tanyai rahasia-rahasia yang ingin kamu ketahui. Seperti cara nenek mengetahui rahasia-rahasiamu melalui jiwa sekarat orang yang ada di rumah sakit tempo hari.” Nenek lalu terbatuk-batuk dan terengah-engah tapi terlihat puas.

Mendengar itu aku sungguh marah, betapa teganya seorang nenek mewariskan ilmu iblis kepada cucunya. Aku memaki-maki tak karuan tapi yang terdengat hanya bunyi ciiit, ciiit, ciiit. Seketika aku berubah jadi harimau marah dan menerkam tubuh nenek, seketika itu pula tubuh nenek berubah menjadi singa yang sangat besar dan melakukan perlawanan.

Aku berubah menjadi kobra dan mematuk-matuk leher si singa betina, tapi lalu dia berubah menjadi landak. Ada sekitar setengah jam kami berganti dari satu binatang ke binatang lain sampai akhirnya aku merasa seluruh badanku lumpuh kehabisan tenaga. Aku kembali jadi manusia.

“Kamu cepat belajar, Putri,” kata nenek dilanjutkan suara tawa yang renyah. Aku segera keluar dari kamar itu sambil membanting pintu. Semenjak itu aku tak lagi bicara padanya. Aku hanya berharap ibu segera datang menjemputku.

Saat berada di dalam kamar, anehnya aku justru ketagihan mencoba-coba ilmu baruku. Jauh di dasar hatiku sesungguhnya selain rasa marah dan takut, juga terselip rasa senang yang malu-malu. Aku sekali waktu menjadi cicak, di lain waktu aku bisa menjadi kupu-kupu yang terbang sampai ke jamban tetangga. Aku tak peduli lagi apakah nenek akan mengetahui kelakuanku atau tidak, toh sekarang ilmu kami sudah setara, setidaknya aku sudah bisa melawan jika dia menyerangku.

Ibuku akhirnya datang, secepat kilat kumasukkan barang-barangku ke dalam bagasi mobil lalu melesat ke kursi depan sambil mendesak ibu untuk segera berangkat. Ibu lalu pamit sewajarnya pada nenek.

Sore nanti Fatma salah satu sepupuku yang lain akan menjaga nenek, kami memang akan terus bergantian sampai wanita peot itu mampus ke neraka.

Hanya berselang dua hari setelah pulang ke rumah, aku mendapat kabar ada seorang tetangga yang sakit keras dan sepertinya sudah sakaratul maut. Aku buru-buru ke rumah si sakit bahkan tanpa pamit pada ibu. Aku berpura-pura menjenguk di antara kerumunan tetangga yang lain, aku tatap mata sang calon mayat lekat-lekat, mengendus-endus aroma khas kematian di sekitarnya untuk memastikan apa benar dia betulan akan mati segera atau tidak. Aku memaksa jiwanya menemuiku, aku perintahkan jiwa terlantar dan tergantung antara dua dunia itu mencari tahu satu rahasia yang ingin kuketahui. “Bersegeralah, kalau tidak akan kupecut jiwamu, cari tahu ke rumah seorang pemuda bernama Fajar di Jalan Kesatuan, anak Pak Haji Naim, apakah di dalam hatinya dia menyukaiku atau tidak.”

Beberapa jam kemudian saat aku sudah kembali ke rumah, jiwa itu datang menemuiku dan memberitahuku jawabannya. Aku menjadi bungah, sementara dia akhirnya meninggal dunia dan jiwa itu tidak bisa lagi kugunakan.

Sebagai calon perawat, aku terbayang-bayang ada berapa banyak jiwa yang bisa kuperintahkan kelak. Aku tersenyum bungah, terbayang olehku wajah nenek tersenyum melihat cucu kebanggaannya dari ranjang sakitnya atau jangan-jangan dia telah menjelma cicak di langit-langit kamarku.

“Terima kasih, Nek,” bisikku lirih dan benar-benar tulus sambil tersipu malu.

Gowa, 2020




================
Saharuddin Daeng Ronrong, seorang karyawan yang juga senang menulis. Pemenang lomba puisi Tulis Nusantara oleh Kemenpar RI tahun 2014, ini telah menerbitkan bukunya: Novel Pulang Kampung (2012), dan Kumpulan cerpen Lebaran Mayat (2018).

Rahasia-rahasia

0




Dalam homilinya yang singkat, Romo Benediktus bicara tentang janji setia sehidup-semati yang sama artinya dengan membuka seluruh diri. “Tak boleh ada rahasia. Apa saja. Dari waktu kapan saja. Ceritakan seluruhnya. Utuh. Pada pasanganmu,” kata pastor muda itu. Aku ingat bagian itu sebab disampaikan setengah berteriak karena gerimis yang turun sejak kami tiba di pintu kapela, menjelma hujan yang deras ketika homili sudah setengah jalan. Kapela itu sudah tua. Beratap rendah dan tanpa plafon.

Perihal rahasia yang tak boleh ada dalam hidup perkawinan itu menjadi kekal dalam ingatan—dan hari ini meruak, selain oleh sebab disampaikan setengah berteriak (membuatnya terdengar sebagai perintah) juga karena alasan yang lain: aku abaikan perintah itu sejak pertama kali mendengarnya meski perintah itu datang dari pastor yang menikahkan kami. Sebuah rahasia akan aku simpan sendiri hingga waktu bercerita tiba. Aku telah berjanji, dalam hati, tak akan bercerita apa pun tentang Joshua, kepada siapa pun—mungkin nanti, jika saat kematianku menjelang.

Aku bertemu Joshua di luar negeri. Di kota B, pada sebuah acara pembacaan puisi. Perjumpaan tak sengaja yang kemudian membawaku pada babak hidup yang sama sekali berbeda. Dari penggemar puisi-puisi John Keats kepada seorang yang kini menyandang gelar penyair. Gelar itulah, kupikir begitu, yang kemudian memudahkanku menaklukkan Magda.

Jauh sebelum kami menikah di kapela tua itu, kepada gadis itu pernah kukirim penggalan puisi: … Dan di dalam hatimu masuklah aku!/ Oh, cintai aku dengan sungguh-sungguh!. Aku comot begitu saja kata-kata itu dari buku harian seorang teman. Tak membuat Magda mencintaiku seketika, tetapi membuka kesempatanku bercakap-cakap dengan siswi paling populer di sekolah kami itu. Itu percakapan pertama kami setelah sekian lama kutunggu kesempatan itu datang—keputusan nekat mengiriminya puisi terbukti membawa hasil—sekaligus membuatku tahu bahwa dia mencintai puisi dan bahwa penggalan yang kukirimkan padanya berasal dari puisi Keats.

Magda, hari itu, bahkan menunjukkan bait lengkapnya: O breathe a word or two of fire!/ Smile, as if those words should burn be,/ Squeeze as lovers should – O kiss/ And in thy heart inurn me!/ O love me truly!// 

Sejak hari itu aku mulai gemar membaca buku puisi. Semula hanya agar dapat lebih sering bercakap-cakap dengan Magda, aku lalu jadi pemuja puisi-puisi Keats. Ketika akhirnya pindah ke kota B dan tahu bahwa di kota itu, pada waktu-waktu tertentu, orang-orang melaksanakan malam pembacaan puisi, aku ke sana. Sekadar mengisi waktu luang sembari memelihara ingatan tentang Magda yang jauh—tempat dia tinggal dan juga hatinya, mengenal lebih banyak penyair dari mulut para peserta yang hadir, hingga akhirnya bertemu Joshua.

Kelak ketika kami menyewa kamar yang sama, Joshua berkisah bahwa di matanya aku adalah satu-satunya orang yang dengan jujur mengaku bukan penyair (dan hanya becus membacakan puisi penyair lain). Sebab aku bukanlah orang yang sok—Joshua melabel yang suka menamakan dirinya penyair dan membaca puisi-puisinya sendiri padahal puisi-puisi mereka tidak bermutu sebagai orang yang sok—dia mau berteman denganku.

Joshua penyakitan. Dia hidup menderita hingga waktu kematiannya. Barangkali satu-satunya hal yang membuat hari-harinya bahagia adalah dengan menulis puisi. Mungkin juga tidak. Sebab dia tak pernah merasa puisi-puisinya baik. Puisi-puisi itulah yang dia tinggalkan padaku bersama utang sewa kamar yang dibawanya mati. Puisi-puisi yang bagus menurutku. Lalu kusertakan pada sebuah lomba. Mendapat peringkat tiga. Tak ada nama Joshua di manuskrip yang kukirim itu.

Bahwa aku jadi pemenang ketiga lomba cipta puisi di luar negeri, kuceritakan pada semua orang di kota ini. Kepada pimpinan redaksi sebuah koran besar yang baru saja ditinggal mati redaktur puisi mereka, kepada orang-orang rumah, juga kepada Magda yang belum bersuami.

Aku akhirnya diterima kerja di koran besar itu sebab mereka membutuhkan seorang redaktur puisi yang baru dan aku adalah pemenang sebuah lomba di luar negeri. Gajiku lebih dari cukup sehingga aku bisa menyewa rumah, Magda sering berkunjung sebab bercakap-cakap dengan redaktur puisi sebuah koran terkenal adalah hal yang menyenangkannya.

Dia menangis bahagia ketika kupinang. Sangat bahagia ketika selain cincin pinangan, kuberikan padanya buku puisiku yang pertama; puisi-puisi peninggalan Joshua tentu saja.

Aku mencintainya sepenuh hati, cinta pertama yang tak akan kutukar dengan apa pun. Segala hal kulakukan agar tetap bersamanya: menjadi tua di bawah atap yang sama, mati dalam pelukannya jika boleh, dan dari surga melihatnya bercerita tentang betapa hidupnya telah sungguh bahagia sebab telah menikah dengan lelaki yang mencintai puisi. Karena itulah, tak pernah kuceritakan tentang Joshua; siapakah yang ingin merusak fantasi kekasihnya?

“Kita sudah tua,” katanya suatu malam, beberapa pekan yang lalu.

“Ya. Dan kita berhasil menua bersama.” Aku beringsut mendekat, mengecup keningnya, mengelus lembut rambutnya yang telah seluruhnya putih, lalu rebah rapat di sisinya. Dia bicara lagi, bahwa hidupnya sejak hari kami menikah adalah sebenar-benarnya kebahagiaan.

“Kau ingat Romo Benediktus?” Tanyanya kemudian.

Tentu saja aku ingat pastor itu (semoga dia beristirahat dalam damai) sebab seminggu setelah kami menikah aku menemuinya di sakristi, meminta pengakuan dosa: jika merahasiakan sesuatu dari istri adalah dosa, ampuni aku sebab tak akan pernah kuceritakan tentang Joshua padanya.

“Kau ingat homilinya pada hari pernikahan kita? Katanya, tak boleh ada rahasia, apa saja, dari waktu kapan saja, ceritakan seluruhnya, utuh pada pasanganmu. Kau ingat? Apa kau akan marah kalau tahu bahwa aku menyimpan satu rahasia selama ini?”

Kukatakan padanya, sekali lagi, bahwa kami telah berhasil menua bersama dan bahwa menyimpan satu rahasia bukanlah apa-apa.

“Tapi ini besar sekali,” katanya setengah berbisik, “dan kupikir tak boleh kubawa mati.”

“Rahasia apakah yang lebih besar dari kisah yang kau simpan bertahun-tahun bahwa rahimmu telah diangkat, Magda-ku sayang?”

Setelahnya, dalam kalimat yang diejanya perlahan, dia bercerita panjang lebar tentang buku-buku puisiku. Juga rahasia yang disimpannya tentang buku-buku itu: “Setelah buku kumpulan puisimu yang pertama, sepertinya, kau tak lagi bisa menulis puisi. Buku-bukumu berikutnya tak pernah mampu kubaca tuntas sebab mereka begitu buruk. Maaf aku merahasiakannya selama ini.”

Kukecup keningnya sekali lagi. Mengelus lembut rambutnya yang telah seluruhnya putih. Membisikkan selamat malam dan berjanji dalam hati: kelak, jika aku tahu hari kematianku sudah dekat, akan kuceritakan padanya rahasia di balik buku puisi yang pertama itu. Tetapi Magda tidak bangun lagi. Dia pergi untuk selamanya malam itu. Dengan damai. Sebab tak membawa rahasia apa-apa.



=====================
Armin Bell. Bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra, Ruteng. Cerpennya “Monolog di Penjara” meraih penghargaan Cerpen Terbaik Anugerah Sastra Litera 2018.

Nikotopia dan Ular Sawah di Kepalanya

1

Rasa kehilanganmu terhadap kepergian Nikotopia masih menyesakkan dadamu. Padahal yang kutahu dia salah satu sahabat yang justru paling jarang bertemu denganmu. Meski begitu, tampaknya kalian memang sangat akrab. Jarang bertemunya kalian selama ini pastinya semata-mata jarak tinggal kalian yang berjauhan. Tapi kesedihanmu itu mungkin lebih karena tentang rencana menerbitkan novel yang sedianya akan kalian kerjakan bersama. Aku tahu hal itu karena kamu pernah mengatakannya. Sekarang, bukan saja kalian tidak bisa menyelesaikan, bahkan ketika novel itu baru akan kalian mulai kerjakan, keburu Niko pergi untuk selamanya.

Kupikir karena hal itu pula yang kini memengaruhi kegiatanmu menulis. Kepergian Niko tidak lantas membuatmu semakin rajin, tapi justru membuatmu malas, bukan hanya tentang menulis, bahkan juga malas melakukan apa-apa. Hari-hari yang berlalu hanya kamu habiskan termenung di samping rumah sambil membaca karya-karya Niko. Aku menyadari, kehilangan sahabat dekat memang bisa membuat semangat hidup menjadi loyo, tapi masalahnya kamu harus melanjutkan hidupmu. Masih banyak orang yang menyayangimu dan kupikir mereka ingin melihatmu terus berkarya seperti semula. Demikian juga aku dan anak-anak, tidak ingin melihatmu jatuh.

“Tidak tentang karya, juga tidak buku itu,” sahutmu ketika aku mencoba mengajakmu membicarakannya.

“Lalu?” tanyaku sedikit heran, hingga karena itu tiba-tiba aku merasa ada sebagian di dirimu yang belum aku tahu.

“Kalau toh ada hubungannya, hal itu bukan serius.”

“Terus?”

“Bagaimana perasaanmu…”

“Tentang apa?” sahutku cepat.

“Aku belum selesai bicara. Maksudku, bagaimana perasaanmu jika berada pada kondisi seperti ini?”

Aku bingung dengan pertanyaanmu, tapi aku juga tidak lantas menanyakan kepadamu apa yang membuatku bingung. Aku merasa keruwetan itu hanya ada padamu. Kekhawatiranku, jika aku mendesakmu dengan pertanyaan-pertanyaan justru bisa membuat kita tidak nyaman.

“Aku tidak mengerti,” jawabku sekadar memberimu tanggapan.

“Perempuan sukanya begitu.”

“Maksudmu?”

“Perasaan selalu maju lebih dulu, tidak berusaha memikirkannya.”

Aduh, malah aku yang kena. Bagaimana ini? Apakah aku perlu mendebatmu? Paling tidak untuk membetulkan persepsi pemikiranmu itu.

“Bukankah ketika Niko terakhir datang ke rumah kita, kamu ada?”

“Lalu?”

“Bahkan setelah Niko pulang, kita sempat membicarakannya.”

“Iya. Maksudmu tentang keanehan-keanehannya itu?”

“Persis?”

“Terus, terus?”

“Menurutmu, di antara keanehan-keanehan itu, apa yang menurutmu paling aneh?”

Sesungguhnya aku tidak terlalu perhatian dengan apa yang dikatakan, dan apa yang dilakukan Niko. Belum lagi waktu itu aku sibuk mengurusi makanan dan minuman yang harus kita suguhkan pada Niko waktu itu. Aku tahu lebih jelas kalau dia aneh justru dari ceritamu. Di antaranya, kamu mengatakan di sepanjang percakapanmu dengan Niko, sering terjadi salah pengertian. Jawaban dan pernyataan Niko tidak sesuai dengan hal yang kamu obrolkan. Jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu dengan pas. Jika terpaksa menjawab, itu pun atas dasar pilihan dari beberapa hal yang kamu ceritakan.

“Bicaranya sering tidak nyambung,” jawabku.

“Semuanya memang tentang itu.”

Aku mengangkat bahu, semacam tanda menyerah.

“Aku lupa, apakah waktu itu aku sudah cerita tentang Ular Sawah?”

“Ular Sawah?” sahutku sembari menggeleng.

“Menurutku, saat itulah dia mengatakan keadaannya.”

“Apa yang dia katakan?”

“Sesungguhnya, ada Ular Sawah terjebak di kepalaku. Dia ingin keluar dan kembali ke alamnya. Dia mengatakan begitu.”

“Lantas kamu menanggapi gimana?”

Aku langsung tertawa.

“Hah? Tertawa? Tega sekali kamu.”

“Di mana letak teganya?”

Kamu benar juga. Di mana letak teganya. Waktu itu kita belum benar-benar tahu apa yang terjadi pada Niko. Mungkin sama halnya dengan apa yang dulu kamu ceritakan padaku. Perihal kamu yang langsung tertawa ketika Niko mengatakan ingin pulang ke desa, tinggal di sana dengan hidup bertani. Bahkan seingatku, kamu menceritakan sempat mengucap serapah menanggapi keinginan Niko itu. Kamu pikir, peralihan profesi dari pekerja kreatif di sebuah stasiun televisi di Ibu Kota lantas menjadi petani di desa adalah sesuatu yang lucu. Mungkin menurutmu tak ada korelasinya sama sekali. Kalau sekadar penulis cerita, mungkin masih bisa, karena menulis dapat dilakukan di mana pun, termasuk di desa yang paling pelosok sekali pun.

“Hm. Tapi waktu itu ekspresi Niko gimana?” tanyaku.

“Dia tampak serius,” sahutmu.

“Maksudnya?”

“Iya. Waktu itu dia bilang apa yang dikatakan itu serius.”

“Lantas?”

“Pada saat itulah, seharusnya aku bisa mengerti apa maksudnya.”

“Sekarang aku yang tidak mengerti apa maksudmu.”

“Andai kita tahu apa yang terjadi pada diri seseorang, kita bisa melakukan sesuatu yang mungkin dapat berarti bagi seseorang itu, tapi karena kenyataannya kita tidak tahu ceritanya hingga kita tidak melakukan apa pun,” terangmu.

Ah, kupikir dalam hal ini yang main perasaan itu kamu. Karena jika kamu sudah tahu begitu, mengapa kamu masih memasalahkannya? Bukankah waktu itu kita memang tidak tahu  kalau Niko menderita kanker otak. Kupikir jika kita tahu pun sebenarnya kita tidak bisa melakukan apa pun terhadap penyakit itu.

“Kamu hanya terbawa perasaan,” sahutku.

“Bukan.”

“Terus, apa namanya kalau itu bukan terbawa perasaan?”

“Ya itu tadi. Aku terlambat menyadari, sebenarnya dia sudah berusaha memberitahu keadaannya kepada kita.”

Dengan keanehan-keanehannya waktu itu? Sepertinya ada yang salah pada pemikiranmu. Karena menurutku, apa yang terjadi pada perilakunya, sesungguhnya di luar kontrol dirinya. Dan aku yakin jika dia dalam keadaan sadar, tentu saja dia akan melakukan sesuatu yang wajar, dan kita tidak akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh.

“Kupikir kamu harus merelakannya.”

“Aku sudah ikhlas.”

“Lalu mengapa kamu masih merasa kecewa? Bukankah takdir seseorang tidak bisa diubah?”

“Maksudmu tentang apa?”

“Kematian, kan? Dan kita tidak bisa menghindarinya.”

“Siapa bilang aku memasalahkannya? Yang kupikirkan hanya tentang pengertian dan sikap antar sahabat. Bukan tentang kematian.”

Kulihat kamu seperti tersinggung dengan pernyataanku. Rupanya aku memang tidak mengerti apa yang membuatmu kecewa dalam hal ini. Aku takut membuat hal yang sebenarnya sepele itu akan memperunyam keadaan. Sejak kamu mengatakan itu aku tidak lagi mengusikmu perihal Niko. Dan kupikir dia sudah nyaman di rumah Tuhan. Dengan membiarkanmu berlama-lama bernostalgia bersamanya kupikir lebih bijaksana. Lima belas tahun pertemanan kalian tentu saja telah melewati banyak riuh rendahnya masalah dan pengalaman.

“Jika bisa, sebenarnya aku hanya ingin meralat satu hal,” katamu setelah beberapa waktu berlalu.

“Ini tentang apa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Tentang sikapku terhadap Niko.”

“Oh.”

“Andai saja kita bisa mengulang waktu.”

“Maksudmu?”

“Aku hanya ingin menghapus tawaku, saat Niko mengatakan tentang Ular Sawah di kepalanya itu,” terangmu.***

Mengenang Niko.




=====================
Yuditeha, penulis, penata rambut, tinggal di Karanganyar Jawa Tengah. Pendiri ideide-id.

Tak Seperti Dendam, Cinta Tak Perlu Berbalas

1


Tetanggaku yang buta itu tiba-tiba saja membelah malam gulita dengan berteriak, “Cinta tak akan pernah berakhir! Cinta tak akan pernah berakhir!!!” Sambil berlari-lari tak tentu arah, ia terus meneriakkan kalimat itu. Namun, seketika ia terhenti, persis di depan pintu rumahnya, dan rubuh ke tanah.

Aku yang saat itu tengah membaca buku puisi penyair lokal di teras rumahku tercenung. Hantu jenis apa pula yang merasuk si buta Kipling malam-malam begini. Awalnya aku menduga ia mabuk, tapi melihat sikap anehnya itu aku bertanya-tanya. Dan keterkejutanku kian memuncak ketika tiba-tiba ia rubuh, bagai batang kayu rapuh.

Tak ayal, suasana sebelumnya yang sungguh lengang berubah menjadi bagai malam pergantian tahun. Semua mata yang dengan hadir ingin melihat apa yang terjadi. Dan, aku menjadi bulan-bulanan lontaran tanya mereka, “Ada apa!? Ada maling? Siapa, siapa? Pembunuhan? Ada apa!? Ada apa? Siapa yang mati!?” Rentet pertanyaan mereka aku bungkam dengan diam. Sebab, aku sendiri pun belum tahu pasti kronologi yang sebenarnya.

Tak berapa lama kemudian ambulance menderu. Tubuh kaku si buta Kipling diangkat, sempat kulihat wajahnya memutih, begitu kaku dan pucat. Begitu ambulance mengaung pergi, aku mengambil kesempatan lari balik ke rumahku. Segera menutup pintu. Tak kupedulikan buku puisi yang masih tertinggal di meja terasku.

***
Hari ini Minggu: pagi yang cerah. Aku membuka daun jendela lebar-lebar. Kudengar diluar suara-suara ribut. Kulongok kepalaku keluar. Terlihat orang-orang begitu ramai, bahkan ada juga beberapa polisi. Kulihat sekeliling rumah si buta Kipling dibatasi police-line.

Aku mengingat-ingat, memutar memori ke masa lalu tentang si buta Kipling. Hanya sekitar dua tahun lamanya kami bertetangga. Awalnya, ia hanya menyewa rumah di sebelahku. Namun, karena pemilik rumah itu mendadak butuh uang untuk biaya berobat orang tuanya, si buta Kipling pun bersedia membelinya. Selama dua tahun yang singkat itu, yang kulihat kehidupan sehari-harinya berjalan lancar. Ia jarang keluar rumah. Pada awal masa kepindahannya, aku tak begitu memperhatikannya. Hanya sekedar bertegur sapa untuk beramah-tamah saja. Tak lebih dari itu.

Namun, pada awal tahun kedua bertetangga, ia memberi kesaksian padaku bahwa ia memutuskan tidak akan pernah menikah. Ini membuatku tersentak. Ia mengakui selama hidupnya ia hanya pernah mencintai seorang wanita. “Namanya Ariel, ya Ariel Smithless. Ayahnya seorang pialang kaya-raya. Sangat kaya, hingga rumahnya hampir-hampir mengalahkan istana Ratu Inggris. Ayahnya telah bersumpah di depan mataku tak akan pernah merestui hubungan kami. Sungguh ayah yang kejam. Tidak punya hati! Kepada anaknya, putri tunggalnya, ia tega memisahkan dari lelaki yang dicintai putrinya. Sungguh sangat… ah!”

Di waktu yang lain, ada lagi cerita menarik darinya, masih seputar kisah cintanya. “Dulu aku tidak buta. Mataku terang-benderang memandang segala rupa, segala warna. Pandanganku senantiasa jernih, tanpa pernah kabus, apalagi rabun sedikitpun. Tapi, sejak itu… ya, sejak kejadian itu… jiwaku merasa tertutup. Tak lagi dapat merasakan apa-apa. Segalanya sirna, segalanya hampa! Hingga akhirnya mataku hanya dapat melihat kekelaman, kegelapan yang abadi.”

“Kau begitu mencintainya?” ujarku merespon ceritanya.

“Mencintainya? Pertanyaanmu konyol sekali, Kal. Tentu saja aku mencintainya. Mencintai setiap mili dari tubuhnya, mencintai seluruh isi jiwanya. Dia begitu sempurna, di mataku setidaknya. Dia selalu bilang aku telah melengkapi dirinya. Sepenuhnya aku mencintai Ariel dengan tulus. Bahkan, aku lebih rela menyembah Ariel daripada Tuhan.”

Aku tercenung mendengar ceritanya. Betapa cinta dapat merusak pengakuannya terhadap Tuhan. Betapa seorang wanita bernama Ariel begitu berharga di matanya dibanding Tuhan, sang penciptanya.

“Aku ingin tanya padamu, Kal, apakah semua orang akan menemukan kebahagiaan?”

“Tentu saja!” ujarku pasti.

“Ehmm, begini, begini. Pertama, mengertikah kau kebahagiaan? Maksudku kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang hakiki?”

“Ya, ya.. aku kira aku mengerti.”

“Kau paham maksudku?”

“Hmm, ya, aku kira sumber kebahagiaanmu adalah Ariel. Ia adalah kebahagiaanmu yang sesungguhnya, yang hakiki, begitu bukan?”

“Tepat, tepat sekali! Dan kini kebahagiaan itu hanyalah omong kosong dan hampa!”

Suasana mendadak hening. Aku menatapnya. Kulihat kedua matanya berkaca-kaca, menahan agar air matanya tidak tumpah. Bibirnya bergetar.

“Ariel adalah seorang wanita, yang mengumpulkan kepingan diriku. Seperti mengumpulkan pecahan kristal kembali bersatu,” ujarnya terisak.

“Lantas setelah kau berpisah dari Ariel, kristal itu kembali pecah?”

“Ya, pecah! Kristal itu pecah, dan tiap kepingnya menjadi sembilu di seluruh tubuhku.”

“Kau terlihat sebagai perangkai kata yang baik. Kau layaknya penyair…”

Tiba-tiba dia tersenyum, begitu simpul, seraya menghapus air mata yang coba dia sembunyikan. “Haa-haa, kau suka puisi, Kal?”

“Ya, khususnya puisi-pusi terjemahan. Aku penikmat Auden, Syzmborska, Rimbaud, Neruda, Slauerhoff, Paz…”

Ia mendadak sumringah. “Duhai, duhai… Erkal yang baik, yang sungguh budiman, bagaimana kau bisa tahu nama-nama itu? Mereka adalah para idolaku! Penyair yang sangat kukagumi! Aku selalu terpesona membaca puisi-puisi mereka. Tapi, tunggu dulu… apa yang kau lakukan dengan puisi-puisi itu?”

“Aku membacanya, menikmatinya, tentu saja.”

“Hmm, aku tak menduga dari wajahmu yang kaku, kau juga seorang penikmat puisi.”

“Lantas dari wajahmu yang sangar itu…”

“Haa-haaa..sudah, sudah, kau jangan tersinggung, Kal. Aku hanya bercanda. Biarlah orang tua ini sesekali tertawa, dan kuharap kau tidak keberatan.”

“Tidak, sama sekali tidak,” ujarku agak ketus.

“Baiklah, izinkan orang tua ini bercerita sedikit. Jadi, ya.. selepas Ariel tiada, atau tepatnya pergi menghilang bagai ditelan bumi, aku menjadi seorang penempa kata-kata. Pensil yang tumpul, kuraut menjadi seruncing luka yang aku derita. Ya, aku menulis ratusan, atau ribuan puisi, aku tak menghitung secara pasti. Diantara sekian banyak puisi itu, aku telah mengatakan hal-hal bodoh. Hal-hal yang terlalu kekanakan, layaknya kisah para remaja yang jatuh cinta, yang kemudian patah hati, lantas hendak mencoba bunuh diri. Ah, kira-kira begitulah… Namun, aku terus merangkai kata demi kata, waktu demi waktu terus menetaskan puisi demi puisi. Sebab setiap menuliskannya, ada perasaan lega yang hadir di rahang jiwaku. Jiwa yang telah terbakar oleh cinta, serasa menjadi sejuk seperti taman-taman surga…”

Aku bergumam sebentar, lantas menjawab, “Aku belum begitu yakin kau seorang penyair. Aku tidak pernah melihat nama Kipling di ruang sastra koran ataupun buku puisi. Sama sekali tidak pernah, sungguh.”

“Hmm, aku tak pernah merasa diriku seorang penyair. Dan perlu kau ketahui, aku tidak ingin mempublikasikan puisi-puisiku. Terlalu banyak hal pribadi yang memedihkan di situ, luka yang sedemikian perih ada di situ. Aku tak ingin membawa pembaca puisiku kepada hal-hal yang barangkali mereka anggap konyol. Aku tak ingin kisah pedihku ditertawakan. Puisi-puisi yang kutulis itu cukup menjadi pelipur lara bagiku di masa-masa sulit, masa dimana aku teringat akan Ariel. Ya, Ariel yang kucintai…”

Kali ini ia tak mampu menahan bendungan air dari mata butanya.

***
Pagi hari esoknya, setelah cerita panjang dengan si buta Kipling, ketika akan berangkat kerja, aku dikejutkan oleh setumpuk, oh ya, bukan setumpuk melainkan bertumpuk-tumpuk buku di meja terasku. Kuperhatikan satu demi satu. Semuanya buku puisi. Beberapa diantaranya ada karya-karya monumental dari penyair legendaris yang belum pernah kutemukan. Kemudian kutemukan sebuah kumpulan lembaran yang dililitkan dengan benang. Layaknya dijilid agar menyatu dan tidak lepas. Di lembar paling depan tertulis dengan huruf yang agak miring: Puisi dari Jiwa yang Terbakar.

Aku penasaran, kubalik-balik beberapa saat, beberapa dari lembaran itu sudah menguning. Isinya adalah puisi-puisi. Tiba-tiba sebuah kertas kecil berwarna merah terjatuh dari dalamnya, semacam memo, bertuliskan: “Kal, aku titip semua ini padamu. Terima kasih, dari Kipling yang telah buta karena cinta.”



=====================
Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Menyelesaikan studi ekonomi di Universitas Sumatera Utara. Menulis untuk Horison, Kompas, Koran Tempo, Utusan Malaysia, The Jakarta Post, Media Indonesia dan terangkum dalam sejumlah buku antologi.



Dilarang Menangis

0

Mendadak segalanya jadi begitu genting di Desa Salbut. Ya, genting dan berbahaya. Itu semua setelah Klebun Ladrak mengeluarkan surat keputusan yang kontroversial sekaligus menjengkelkan; melarang warga desanya menangis. Sebelum surat keputusan itu diedarkan, sebenarnya Care’ Tarkam sudah mewanti-wanti untuk mempertimbangkan kembali keputusan itu. Apalagi para bengatoah banyak tak setuju. Tapi Tarkam justru kena marah.

“Apa kau tuli, hah?! Apa kau tak dengar tangisan setiap malam sebagian warga yang memekakkan telinga itu?” Ladrak membentak.

“Dengar, Bun!”

“Nah! Kita sama mendengar. Sama menderita. Jadi, keputusan ini untuk kemaslahatan warga.”

“Tapi, Bun…” belum selesai Tarkam menyelesaikan omongannya, Ladrak sudah berteriak.

“Halah, tak usah lagi tapi tapi. Segera stempel. Perbanyak lalu bagikan pada warga. Titik. Aku sudah jenuh dengan suara tangisan. Sudah jengkel dengan airmata. Apalagi airmata buaya,” sergahnya lalu ngeloyor pergi. Tarkam hanya diam membisu sambil memandangi pantat klebunnya yang tepos yang perlahan-lahan lenyap ditelan pengkolan jalan. Sambil menarik napas panjang ia menyetempel surat keputusan itu.

Memang sudah hampir sebulan hari Desa Salbut dikepung suara tangis yang seolah-olah turun dari udara seperti embun. Menyusup ke rumah-rumah warga, mengganggu tidur bagai mimpi buruk yang memecahkan indera pendengaran dan jika dibiarkan lebih lama lagi bisa membuat gila. Sebab suara tangis itu seperti suara gerombolan mesin giling tua yang dinyalakan bersama-sama. Bising dan makin lama makin terdengar mengerikan.

Mula-mula tangis itu berasal dari rumah Julaiha. Perempuan yang melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika suaminya mati dibakar warga karena mencuri sapi itu meraung-raung di jalan sambil memeluk tubuh suaminya yang gosong. Namun hingga Julaiha diseret pulang ke rumah, tangisannya tak juga berhenti dari malam hingga malamnya lagi. Kadang suara tangisnya terdengar seperti suara tangis bayi baru lahir. Kadang seperti suara tangis anak kecil yang kena gampar bapaknya karena memecahkan kaca jendela rumah tetangga saat main bola. Kadang seperti erang binatang sekarat yang meregang nyawa.

Sebenarnya warga desa tak peduli dengan tangis Julaiha. Toh dua hari lagi berhenti, begitu batin warga. Tapi nyatanya tidak. Tangis Julaiha meluber ke mana-mana seperti banjir yang meluap dari sungai Kamoning. Tetangga Julaiha mulai ikut-ikutan menangis. Anak-anak mulai menangis. Nenek-nenek menangis. Tak lama kemudian sebagian warga desa mulai menangis tak berhenti hingga menjadikan malam-malam di desa Salbut diselimuti tangisan. Seperti flu, tangis itu menular pada mereka yang tak sanggup menahan kesedihan.

Warga yang tak menangis, mulai mengeluh. Kemudian mendatangi kantor kepala desa dan menuntut kepala desa mengambil tindakan. Kemudian muncullah ide mengeluarkan surat keputusan larangan menangis itu.

***

Sejak larangan menangis itu keluar, seluruh sudut desa dipasangi plang bertuliskan: DILARANG MENANGIS DI SINI! Dengan huruf besar. Tak hanya itu, Klebun Ladrak juga menyewa algojo-algojo pencabut kenangan. Sebab sanksi bagi para pelanggar surat larangan itu jelas. Menangis adalah tindakan mengganggu ketertiban umum. Barang siapa menangis, maka akan dikenai hukuman buang ke sebuah pulau di tengah laut selatan tanpa batas waktu yang ditentukan. Sebelum itu para pelanggar akan dicabut kenangannya hingga tak ingat apa-apa. Kebanyakan berakhir gila. Sanksi itu berlaku buat siapapun.

”Bahkan kalau aku atau keluargaku melanggar, akan kuterima semua hukuman sebagai kepatuhan pada undang-undang,” ujar Klebun Ladrak.

Korban pertama dari surat keputusan itu tentu saja Julaiha. Selain karena dia dianggap biang keladi segala tangisan di desa Salbut juga sebagai daya kejut agar tak lagi ada orang menangis kecuali bayi. Saat Julaiha dijemput paksa pasukan gabungan penegak larangan menangis yang dibentuk Ladrak banyak warga desa yang bersedih. Tapi sama sekali tak berani menangis. Sebab sanksi dibuang ke pulau di laut selatan sungguh mengerikan. Para pelancong di pulau itu suka sekali menangkap perempuan gila dan membawanya ke losmen. Entah sebagai teman kencan atau diperkosa ramai-ramai.

Berturut-turut kemudian seorang ibu yang menangis karena dompetnya kecopetan di pasar, ditangkap. Seorang istri yang menangis karena digampar suaminya, dibui. Seorang remaja yang menangis karena diperkosa supir angkot sepulang sekolah, ditangkap.

Dan mendadak desa langsung sepi dari tangisan. Orang tak lagi berani menonton reality show yang menjual airmata untuk mendapatkan rating tinggi. Ketika ada warga yang mati, sanak keluarganya hanya diam membisu. Tak ada tangis yang mengalun sayup-sayup bersama kesedihan angin yang melintasi lading-ladang dan sungai-sungai hingga lari ke pantai. Tak ada lagi orang yang diluapi kesenduan setiap tangisan itu timbul tenggelam. Yang tersisa kini adalah gerundelan dan keresahan.

Larangan itu menjadi perbincangan di mana-mana. Dari ranjang sampai ladang, dari restoran cepat saji hingga meja-meja kantor administrasi, dari tukang sayur sampai tukang cukur, dari pejabat sampai para penjahat. Beberapa kali terjadi unjuk rasa agar larangan tersebut dicabut. Tapi Ladrak bergeming.

Malah Ladrak kemudian menggelar jumpa pers untuk menjelaskan secara rinci alasan diberlakukan larangan itu.

“Kita selama ini hanya diperalat perasaan sedih kita. Sebenarnya kita bisa bersikap sebaliknya, yakni bersikap serius terhadap segala macam kesedihan dan tidak menangisi setiap penderitaan. Kita bisa memulai dengan menertawai setiap kesedihan seolah-olah menertawai nasib sial. Daripada meributkan larangan menangis, bukankah lebih positif jika kita mulai memasyarakatkan tertawa dan menertawakan masyarakat.”

Sejak jumpa pers itu mendadak Desa Salbut mulai didatangi para pelancong yang ingin menyaksikan desa yang tak memiliki kesedihan. Para komedian berdatangan mencoba mengais rejeki dengan menjual tawa. Kini setiap ada warga mati, orang-orang tak mengundang ulama yang tak pandai melucu. Mereka lebih senang mengundang pelawak karena dengan begitu para warga tertawa. Semua bentuk kesedihan disikapi dengan humor. Di gerbang desa dipasang sebuah plang besar yang mengutip Budha: tertawa adalah energi. Meskipun sebenarnya kutipan itu sama sekali tidak tepat karena warga desa tertawa karena terpaksa. Segala yang dilakukan dengan terpaksa adalah penderitaan.

Kabar tentang desa tanpa airmata itu sampai juga ke telinga menteri dan presiden. Terutama kebijakannya yang melarang warganya menangis yang membuat desa itu menggeliat ekonominya demikian menarik perhatian pemerintah pusat. Sehingga pemerintah kemudian memberikan anugerah pada Klebun Ladrak sebagai kepala desa dengan inovasi ekonomi kreatif terbaik.

“Tapi semua itu sudah keterlaluan, Pak,” ujar istrinya yang sama sekali tak bangga suaminya dapat penghargaan dari pemerintah.

“Keterlaluan bagaimana maksudmu?! Lihat desa kita. Sekarang ramai. Perekonomian bergerak. Turis berdatangan. Itu semua menambah pendapatan desa,” bantah Ladrak sambil memperbaiki dasinya di muka cermin.

”Menangkapi orang-orang yang menangis. Itu keterlaluan.”

”Itu konsekwensi dari peraturan. Ada sanksi tegas.”

”Itu namanya kejam.”

”Salah. Itu namanya cemerlang. Buktinya suamimu sekarang dipanggil presiden. Menginap di istana. Seminggu. Mungkin tahu depan aku bisa dapat nobel.”

”Persetan dengan presiden jika semua itu didapat dari merugikan hati nurani rakyat.”

”Tapi kau menikmatinya, bukan?! Semua kemewahan ini. Baju baru, perhiasan baru. Itu semua dari pendapatan desa yang meningkat yang berimbas pada pendapatan suaminya yang juga meningkat.”

Kali ini istrinya diam. Ladrak tersenyum penuh kepuasan. Ladrak tetap berangkat ke Jakarta.

***

Klebun Ladrak kembali ke desa dijemput orang-orang kepercayaannya menggunakan Limosin. Ia menenteng piala besar setinggi satu meter.

“Kemenangan kita,” ujar Klebun Ladrak sambil tertawa. Seisi mobil ikut tertawa. ”bagaimana kabar desa, Kam?” Tanya Ladrak pada Tarkam yang duduk di sampingnya.

”Aman, Bun! Normal seperti biasa.”

”Ada orang yang ditangkap lagi karena menangis?”

”Ada … ”

”Laki-laki apa perempuan?”

”Perempuan.”

“Dasar cengeng!” Seisi mobil tertawa. ”Bagaimana ceritanya?”

”Seorang perempuan membawa anaknya ke pasar. Tanpa sengaja anaknya menginjak apel yang menggelinding dari becak. Anak itu terpeleset dan jatuh. Kepalanya membentur kaki lincak. Di atas lincak ada sebuah pisau pemotong daging milik penjual daging yang diletakkan terlalu ke pinggir. Pisau besar itu jatuh tepat di leher anak itu. Matilah dia!”

Seisi mobil tertawa. Termasuk Klebun Ladrak. Ia terpingkal-pingkal.

”Lantas ibunya sedih. Saking sedihnya sampai lupa kalau ada larangan lantas menangis?” Tanya Klebun Ladrak menebak-nebak.

“Tepat!” seisi mobil lagi-lagi tertawa.

”Kebanyakan perempuan ternyata memang cengeng. Hahaha … siapa perempuan warga kita yang sial itu?”

“Istri Klebun Ladrak,” ujar Tarkam. Seisi mobil kembali tertawa terpingkal-pingkal sambil menggebrak dasbor dan kursi mobil.

Ladrak mendadak bungkam. Jantungnya berdebar. Lantas meraung-raung, menangis. Seisi mobil terus tertawa dan tertawa hingga keluar airmata.

Setelah peristiwa itu larangan menangis itu telah dicabut. Sekarang kepala desa Salbut yang baru, Tarkam, mengeluarkan aturan baru: dilarang tertawa. ***


Keterangan:

Klebun : sebutan orang Madura untuk kepala desa
Care’ : sebutan untuk Sekretaris Desa di Madura
Bengatoah : tokoh masyarakat yang dituakan di Madura



====================
Edy Firmansyah seorang penulis kelahiran Pamekasan, Madura. Kumpulan cerpennya yang pernah terbit adalah “Selaput Dara Lastri” (IBC, Oktober 2010). Buku puisinya yang telah terbit adalah “Derap Sepatu Hujan” (IBC, 2011) dan “Ciuman Pertama” (Gardu, 2012). Cerpennya tersebar di banyak media cetak maupun online, di antaranya; JAWA POS, SURYA, RADAR SURABAYA, RADAR MADURA, SURABAYA POST, KOMPAS.com, CENDANANEWS.com, Majalah STORY, Majalah SURAMADU, dan Majalah ANNIDA.

Kutukan Kematian

0



Jangan pernah menghitung kematian. Begitulah ia selalu mengingatkan dirinya, apabila kabar kematian masuk ke indra pendengarannya. Tetapi sekuat apa pun ia mencoba tak menghitung dan gelisah, pertahanannya akan jebol, kemudian ia mulai menghitung, dan mengeja nama-nama yang telah tiada, plus mengingat peristiwa yang terjadi di rumah duka, atau hal-hal yang dialaminya bersama orang-orang yang telah mati itu semasa mereka masih hidup. Lalu ia akan teringat pada rentetan tahun yang memilukan. Baris nama yang ia rindukan, yang tak mungkin lagi ditemuinya. Ia akan mengingat bagaimana orang lain sibuk meramal kematian familinya dengan alasan tidak masuk akal, tetapi selalu terbukti di tahun berikutnya, di bulan yang sama, atau sebulan dua bulan lebih lama dari peristiwa kematian sebelumnya, seolah kematian yang seperti itu bukan kebetulan semata. Melainkan takdir yang aneh. Kutukan.

Ia tak ingat tanggal dan bulan di tahun Masehi ketika peristiwa yang mengawali kematian tiap tahun itu. Yang diingatnya ketika itu Rajab, tepat hari ke sembilan Ia dan keluarganya puasa sunnah di bulan Rajab. Bakda subuh, seseorang mengetuk pintu rumah. Ia tergesa membuka sebelum ayahnya mendahului. Didapatinya, pamannya berdiri lesu, memasang wajah muram. Arini tersentak, tubuhnya lemas ketika lelaki kurus itu mengatakan kabar kepergian neneknya.

Langit mendung menaungi makam dan rumah yang berderet di sisi kiri kanan jalan. Beberapa kali turun gerimis, seakan langit turut berduka akan kepergian ibu dari empat bersaudara itu. Keluarga diliputi duka yang lara. Sehari dua hari Arini dan ibunya menangis. Dua hingga tiga hari ia mulai mencoba kuat. Hingga satu minggu, ia mulai jarang menangis. Sepekan berlalu, berganti ke pekan berikutnya hingga satu tahun mereka mencoba melupakan duka, meski luka itu tak betul-betul pulih dari hati tergores kepergian yang mengejutkan.

Kabar kematian datang lagi. Kali ini datang dari ayahnya. Kakak tertuanya meninggal bakda salat duha. Di tahun kedua, kematian kedua, ia harus menerima kenyataan mengejutkan itu. Saat itu ia mulai membandingkan hal yang terjadi di kematian neneknya dan kematian berikutnya.

Pertama-tama, selalu terjadi ketika tengah ada perselisihan keluarga. Kala itu keempat saudara, tiga paman serta ibunya berselisih urusan tempat tinggal ibu mereka. Hal yang menyebabkan sang ibu memutuskan hidup sendiri, meski akhirnya pamannya yang paling muda mengalah untuk menemani, tentu dengan mengorbankan pekerjaannya di luar kota dan bekerja di kotanya meski dengan gaji yang kecil. Keempat bersaudara tak saling sapa dan berkabar, hingga akhirnya mereka dikumpulkan kembali oleh duka kepergian. Di tahun ke dua pun, ayahnya, beserta kedelapan saudaranya tengah berselisih. Lagi, kematian mempersatukan mereka dalam kubangan duka.

Hal kedua, di tahun kemarin dan berikutnya, sebelum dua kematian itu terjadi, beberapa tetangganya meninggal satu per satu. Terkadang di minggu yang sama, atau dua minggu setelah kabar kematian itu terdengar. Kabar kematian akan terus berdatangan memasuki lubang telinganya. Kemudian kabar kematian familinya seolah menjadi kabar penutup dari kematian secara terus menerus itu. Kematian yang janggal namun hanya kebetulan. Tetapi selalu memunculkan persepsi gila dari orang lain. Seolah kematian beruntun itu telah termaktub dalam garis takdir keluarga mereka sebagai kutukan.

Hal ketiga adalah mimpi. Tahun lalu, sebelum neneknya meninggal, selama dua pekan, secara berselang, ia bermimpi aneh. Ia melihat seluruh keluarganya berkumpul dalam suasana ramai dan muram, namun ada berkas-berkas cahaya keemasan yang menyinari kemuraman itu. Cahaya hangat dalam mendung yang suram.

Tiga hal itu mulanya ia tepis, ketika tiba-tiba muncul dalam benaknya. Semua kebetulan belaka. Tak perlu mengaitkan kejadian dengan kejadian lain tanpa alasan kuat dan logis. Apalagi urusan kematian. Begitu pikirnya. Namun tiga hal itu kembali muncul ketika keluarganya kembali berduka di tahun ketiga dan keempat di bulan yang sama. Bahkan di tahun ke lima, ia kehilangan sepupu terdekatnya, familinya yang masih muda, yang mati tanpa disangka, sehingga kematiannya menjadi kejutan menyakitkan, sebab saat itu—keluarganya tengah berselisih dengan sepupunya itu.

Di waktu-waktu menjelang kematian yang mengejutkan tersebut, keluarganya sering menggunjing sepupunya, bahkan mereka memutus tali silaturahmi karena teramat sakit hati oleh keputusannya yang menyinggung hati keluarga. Saat itu, sepupunya yang bernama Abdul Ghani menolak tawaran keluarga Arini untuk menikahkan mereka. Anggota keluarga besarnya bertambah dan berkurang seiring adanya kematian dan pernikahan yang menghasilkan kelahiran. Tiga hal itu mulai ia yakini sebagai firasat dan tanda.

Di tahun keenam, tepat ketika ia akan menikah, ia mulai bermimpi aneh. Kabar kematian bermunculan di kampungnya, pula beberapa sanak saudaranya sedang berseteru. Ia sangat cemas, terlebih pada ayahnya. Dalam mimpinya yang ia yakini sebagai tanda, ia sering melihat ayahnya dikelilingi cahaya keemasan yang terlihat menghangatkan. Ia kerap dilanda gelisah, bahkan menangis tiba-tiba di sudut ruangan. Setiap malam ia berdoa untuk kepanjangan umur orang tuanya, sebab tanpa mereka bagaimana mungkin adiknya yang masih sekolah dapat menerima. Terlebih, tak ada seorang pun yang mengharap kematian, kendati kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

“Pak, pokoknya saya ingin cuma Bapak yang jadi wali nikah saya,” katanya dengan wajah pucat, setelah tersadar dari pingsan.

“Ya jelas. Memangnya mau siapa lagi?” kata ayahnya seraya berlalu.

“Kamu ini kenapa sih, Rin? Tiba-tiba sering melamun dan tak sadarkan diri. Sekarang malah ngomong aneh. Sebentar lagi kamu akad, jangan terlalu stres, ibu khawatir riasan pengantinmu jelek pas acara.”

“Arini mimpi itu lagi, Bu.”

Ibunya terlonjak. Wajah tuanya terlihat pucat.

“Siapa yang tidak ada?”

“Semuanya lengkap.”

“Lalu, siapa yang sering muncul sendiri?” tanya ibunya lagi.

“Bapak,” jawabnya tertunduk.

Mimpi hanya bunga tidur, berhenti menafsirkan mimpi dengan serampangan, begitu kata kakak pertamanya menenangkan ia dan ibunya yang gelisah. Setenang apa pun raut wajah lelaki itu, masih ada kekhawatiran yang tersirat di bola matanya. Arini dapat melihat itu dengan jelas.

“Apa salahnya mendoakan beliau berumur panjang?” gumam ibunya.

Kakak sulung Arini mengangguk tanpa bicara, lantas meninggalkan kamar. Arini menatap punggung tegap itu lalu menatap ibunya, membayangkan wajah ayahnya, lantas terpejam. Kematian tak dapat dibatalkan meski dengan doa. Kematian adalah kepastian. Tak ada yang akan hidup abadi di dunia ini, pikirnya. Setidaknya, kematian dapat diulur.

Mimpi dan firasat itu terjawab ketika ia telah menikah. Satu minggu setelah acara pernikahan, seusai acara munjungan, kabar kematian ia dengar dari mulut suaminya setelah mengangkat telepon. Ibunya masuk rumah sakit karena terkejut mengetahui kabar kematian anak sulungnya yang baru tiba di Lampung. Ia termangu. Mimpi itu tak sesuai dengan prediksinya. Ia bingung mesti lega atau bersedih. Mungkin pula keduanya. Ayahnya tak mati, justru kakak sulungnya yang pergi. Orang yang sebelumnya ia marahi dan abaikan permintaan maafnya karena tak bisa ikut munjungan ke rumah mertua Arini. Kematian itu sungguh membuatnya terpukul dan bimbang.

Di tahun ketujuh, tepat ketika ia mendengar kabar kematian tetangganya–yang keempat kali setelah kematian yang lain di bulan itu, dalam kengerian wabah virus mematikan, ia merasakan firasat buruk itu lagi. Ia menelepon orang tuanya, memastikan kabar mereka baik, lantas entah mengapa ketika menelepon, mulutnya mengucap maaf begitu saja, seolah ia tengah melakukan sungkem, seperti yang dilakukannya dua belas bulan lalu. Matanya telah basah digenangi air. Seketika hatinya begitu hampa, ketika ia menyadari apa yang diucapkannya. Apa yang dilakukannya seolah mendukung kematian salah satu di antara kedua orang tuannya. Seharusnya ia tak meminta maaf seolah mereka akan benar-benar mati. Tetapi apa salahnya meminta maaf? Toh ia pun tak tahu kapan dan kepada siapa kematian akan menjemput.

Ia mulai sesak, lantas menatap bayi lelaki berusia satu bulan di sampingnya. Bagaimana nasibmu jika kau tinggal tanpa ibu? Batinnya.

“Rin, kau sudah selesai?” tanya seorang di seberang sana.

“Iya, Bu. Maaf mengganggu Ibu dan Bapak,” katanya menahan isak lalu menaruh kembali telepon pintarnya, setelah mengetahui sambungan telepon dimatikan.

Mimpi-mimpi yang kerap dialaminya di minggu terakhir ini terus berkelebat dalam pikirannya. Dalam mimpi itu ia berjalan di sebuah taman, di bawah langit mendung, tapi ada seberkas cahaya keemasan yang menyoroti tubuhnya. Mungkinkan kematian itu adalah gilirannya? Ia terguncang dan terisak, kembali memandangi tubuh mungil yang terlekap di sampingnya.

Setelah beberapa kali menyeka air matanya, ia memerhatikan sekeliling ruangan, terutama atap rumahnya. Benarkah ia akan segera mati? Batinnya. Jika ya, seharusnya ia telah dapat melihat sosok tinggi besar yang mengintainya, sebagaimana yang sering diceritakan sebagian orang, bahwa ketika kematian semakin mendekat, Azrail akan terlihat. Ia tidak merasakan ubun-ubunnya berkedut hebat, atau kehilangan bayangan tubuh. Arini menghela nafas berat, lantas menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar. Kematian belum mendekatinya. Ia seharusnya tahu, dan yang ia takutkan tadi hannyalah buah dari kepanikannya.

Tetapi ia kembali resah, mengingat mimpi dan tanda-tanda yang terus bermunculan. Siapakah yang akan menerima ajakan Azrail berikutnya? Sebab ia yakin tanda-tanda itu telah menjadi acuannya sebagai firasat akan ada kabar kematian dari keluarganya. Segalanya selalu akurat.

Ia teringat suaminya, lalu mengkhawatirkan lelaki yang tengah sibuk menyusun proposal acara untuk kantornya itu. Lelaki itu terlihat berbeda dewasa ini. Air mata Arini mengucur lagi. Sungguh ia tak akan pernah siap ditinggalkan lelaki itu. Bagaimana mungkin ia dapat hidup bahagia dengan membesarkan anak tanpa suami?

Arini menelepon suaminya, menanyai keadaan ia. Setelah mendapat kabar baik, ia tersenyum lega. Namun beberapa saat kemudian, hatinya kembali resah. Ia benar-benar takut menerima kematian atau kabar kematian. Perempuan itu membaca ayat-ayat suci guna menenangkan pikirannya. Iya. Seharusnya ia siap menerima apa pun yang terjadi, sebab kematian adalah sesuatu yang pasti dan tak dapat dihindari. Usaha menghindari kematian dengan mati-matian hannyalah kesia-siaan. Mestinya ia tidak panik dan bersiap diri, barangkali betul kematian tengah mendekatinya, dan sungguh, ia tidak akan bisa menghindari, atau memprotes Tuhan dan membujuk-Nya agar tak menunda kematian sampai waktu yang menurutnya tepat untuk mati. Sekali lagi, sekuat apa pun ia mengatakan kematian adalah kepastian, kegelisahan dan ketakutan menyelimutinya. Ia belum siap sungguh.

Sepasang Pohon Jambu Bahagia

0


Pohon itu terlihat bahagia, mungkin karena ayah merawatnya dengan baik. Ayah tidak pernah lupa menyiraminya setiap pagi dan sore. Terkadang malah ia mendandani pohon itu dengan beraneka pakaian wanita. Ia tempelkan potong-potongan kain pada batang kayunya yang kokoh. Bahkan, ayah pernah makan malam berdua dengan pohon itu, lengkap dengan cahaya lilin yang tembaga dan denging musik jazz yang terdengar begitu romantis.

Tak ada yang berani menyinggung tingkah ganjil ayah, termasuk paman dan bibi. Hal aneh itu sudah menjadi wajar di dalam biduk keluargaku. Mereka lebih memilih ayah berperilaku demikian daripada uring-uringan. Karena, pernah suatu ketika, ayah disindir oleh kakek sebab memerlakukan sebuah pohon seperti memanjakan seorang wanita. Ayah pun marah dan sepanjang hari ia mencercau tak jelas seperti orang gila.

Aku pun demikian, tidak pernah berani menyinggung soal pohon itu. Walau sebenarnya, aku merasa ayah memang sudah kehilangan akal warasnya.  Ia pernah bercerita kepadaku, kalau pohon jambu air itu adalah jelmaan seorang wanita yang pernah melahirkanku. Aku tercengang tak percaya dan mengutuki kisah ayah yang ganjil itu.

“Lihatlah, pohon itu, begitu cantik, Ipang,” katanya, ketika kami bersantai di suatu sore. Aku perhatikan pohon jambu air itu, yang tidak ada apapun di sana, selain keriput kulit kayunya yang muram. Tetapi, ayah seperti sedang memandang seorang perempuan cantik yang begitu dicintainya di pohon itu. Aku tersenyum samar seraya mengangguk. Aku tidak mau menyakiti hati ayah—yang mungkin sedang terluka itu. “Matanya mirip denganmu, Ipang.”

Ahh, apa yang sebenarnya terjadi dengan ayah? Mengapa ia menganggap pohon itu menjadi ibuku?

Aku sebenarnya tidak pernah tahu, siapa wanita yang melahirkanku. Sejak lahir aku tidak mengenal sosok yang bernama  ibu itu. Mungkin saja aku adalah anak jalanan yang dipungut oleh ayah di tong sampah, atau seorang anak malang yang ditinggal oleh ibunya karena tidak ingin hidup susuh bersama suaminya—mengingat ayah hanya seorang pedangang batik kecil di pasar Beringharjo. Tetapi, apa hubungannya antara pohon jambu air itu dengan ibu? Aku tidak pernah dapat mengerti dengan hal itu.

***

Malam itu hujan kembali turun begitu deras, dan aku melihat ayah termenung di samping jendela, memerhatikan pohon jambu air yang terpacak beku di belakang rumah. Ayah yang mendadak terjangkit demam, lunglai tak berdaya di tepi bibir jendela. Tetapi, ia tampak gamang. Sepanjang malam, ayah tidak juga lelah mengawasi sebatang pohon di luar—yang kelu dicercah hujan.

“Ia pasti kedinginan. Kasihan!” gumamnya lirih kepadaku. “Aku melihat wajahnya menjadi pucat, bahkan ia ketakutan, karena sendirian.”

Bulu kudukku meremang. Aku tidak tahu siapa yang ayah maksud sendirian, karena tidak ada siapa pun di luar selain sebatang pohon itu.

“Aku harus menemani ibumu, Ipang.”

Ahh, lagi-lagi pohon itu. Apakah ayah memang benar-benar sudah gila, karena cinta butanya kepada ibu yang sampai detik ini? Aku juga tidak tahu seperti apa wujud ibu? Siapa ibu sebenarnya? Apakah pohon itu memiliki riwayat tertentu tentang ibu yang tidak pernah aku ketahui? Atau, pohon itu adalah jelmaan seorang wanita yang telah dikutuk oleh Tuhan, dan harus menghabiskan sisa hidupnya menjadi pohon, karena sifatnya yang gemar membangkang kepada suami? Kutukan sifat lalim yang juga menimpa Malin Kundang? Kepalaku selalu pening apa bila merunut riwayat tentang ibu dan pohon jambu air di belakang rumah.

Ayah melesat seperti angin; mengambil payung; merengkuh hujan di luar. Aku gagal menahannya. Ketika aku mencoba menghentikan langkahnya, ia malah menjadi murka, kemudian mengutukiku dengan sumpah-serapah.

“Ingat, Ipang, surga ada di telapak kaki ibu,” katanya bengis.

Aku pun menyerah dan membiarkan ayah keluar untuk berhujan-hujanan bersama pohon jambu air itu. Aku melihat ayah yang terpekur takzim di bawah pohon itu. Ia seolah sedang menikmati kebersamaannya di bawah hujan dengan pohon jambu air itu. Mendadak, hatiku pun bergetar hebat melihat pemandangan pilu antara ayah dan pohon jambu air itu. Betapa cinta telah mengutuknya menjadi makhluk  ganjil di dalam rumah ini.

Aku ingin lekas menyusulnya. Gontai, aku menuju gudang, dan di dalam gudang yang gelap ketika ingin mengambil payung, aku tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak kayu tua. Dari dalam kotak itu, aku menemukan puluhan lembar foto seorang wanita yang terlihat sangat seksi, mengenakan pakaian serba ketat, yang memamerkan belah dada dan jenjang pahanya yang mulus. Wanita di dalam foto itu pun sedang menikmati sebatang rokok di sela bibirnya. Selain itu, aku melihat, ada puluhan kaleng bir pula di mejanya. Sepintas, di dalam benakku, wanita itu begitu mirip dengan seorang pelacur.

Tetapi sebelum aku memikirkan lebih lanjut siapa wanita di dalam foto itu, sebuah petir mengerjap dan guntur susul menggelegar nyaring, memekakan telinga. Aku terperanjat meninggalkan foto-foto itu. Aku berlari menyusul ayah di belakang rumah. Pria itu sudah tampak tertegun, meratapi kobaran api yang membakar pohon jambu air.

“Ia terbakar,” gumamnya sembari menitikkan air mata. “Aku tidak bisa menyelamatkan ibumu.”

“Itu hanya pohon jambu air tua, bukan ibu, Yah.”

“Kau anak durhaka!” Balasnya sengit dengan nada tinggi. Ia pun menatapku bengis, “Kau memang tidak pantas disebut anak!”

Aku tertunduk. Aku merasa begitu sedih meratapi kenyatan kalau ayah sebenaranya sudah gila. Namun, di sisi lain, aku semakin tidak mengerti tentang riwayat pohon jambu air serta ibu. Mengapa setiap pertanyaan di dalam kepalaku kini malah menjadi bertambah rumit? Aku mengerling ke arah ayah yang masih terus mengumpatiku tak karuan. Aku tinggalkan ia seorang diri untuk meratapi kekasihnya: pohon jambu air. Sepanjang malam ia kukuh di luar besama puing-puing pohon jambu air yang telah menjadi arang.

***

Setelah tumbangnya pohon jambu air itu masih ada saja yang manganjal di benakku, yaitu tentang foto-foto wanita yang aku temukan di gudang tadi. Aku kumpulkan foto itu kembali dan memerhatikan satu per satu. Aku merasa tak asing dengan wajahnya dan terlebih pada matanya. Aku seolah telah mengenalnya begitu lama, bahkan pernah berjumpa dengannya. Tapi, aku tidak pernah tahu, di mana kami pernah bertemu, dan siapa nama wanita itu? Pertanyaan-pertanyaan muskil di dalam benakku hanya membuat kepalaku semakin berat. Aku pun semakin tersesat di dalam pemikiran rumit, yang barangkali memang tak ada jawabannya. Akhirnya, aku terlelap dengan benang kusut yang gagal terurai.

Pagi harinya, matahari bersinar ganjil. Aku tercengang ketika terbangun melihat ada dua buah pohon jambu air yang tak terlalu besar tumbuh di belakang rumah. Melihat pemandangan aneh itu, aku pun lekas berlari sempoyongan mencari ayah. Aku ingin mengabarinya kalau ada sebuah peristiwa yang tak normal itu di belakang rumah.

Tetapi, setelah menyusuri setiap sudut rumah, ayah tidak aku temukan. Termasuk di tempat biasa ia melamun. Ia tidak ada di sana. Ayah seolah menghilang ditelan bumi. Aku terus mencarinya seiring waktu yang terus berjalan dan meninggalkan apa-apa yang tak pernah terjawab di benakku. Aku terus mencarinya. Akan tetapi, ayah seperti benar-benar lenyap.

Sedangkan, setiap hari dua pohon itu tampak semakin bahagia berdiri di belakang rumah. Aku pun sering memandangnya penuh wasangka dengan berneka macam pertanyaan ganjil: Bagaiamana hal itu bisa terjadi, sebatang pohon yang semalam tumbang, pagi harinya dapat kembali tumbuh? Bahkan, ada pohon baru di sampingnya, yang tidak kalah kokoh dan bahagia. Kalau dipikir, hal ini tidak mungkin. Ya, sebatang pohon tak dapat tumbuh dalam waktu semalam.

***

Dua puluh tahun berlalu, sejak kejadian ganjil itu. Ayah memang tidak lagi terlihat. Kami semua merasa sangat kehilangan, tetapi aku harus mengikhlaskan juga. Aku pikir memang suatu saat manusia harus siap hidup seorang diri atau bertahan dalam lautan kenangan yang terus menyiksa dengan segala yang hilang, yang akan kembali pulang.

Aku kembali melirik ke sepasang pohon jambu air yang mendadak tumbuh dalam waktu semalam itu, yang kini tampak semakin tumbuh subur. Sepasang pohon yang selalu tampak bahagia. Tiba-tiba, aku pun ingat ayah.

“Di mana sebenarnya kau, Ayah? Apakah sekarang kau sudah bahagia?” Pekikku lirih seraya menitikkan air mata. (*) 



====================
Risda Nur Widia. Buku tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing (2018). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Gadis Berpenutup Kepala di Kurfürstendamm

0

Berlin, 14 Oktober 2019 pukul 2 siang.

Suasana musim gugur Jerman yang menyenangkan dengan temperatur ideal membuat pemandangan Kurfürstendamm begitu semarak. Jalan raya yang juga merupakan pusat perbelanjaan bergengsi ibu kota tersebut menggambarkan berbagai kesenangan hidup lewat butik, kafe, showroom mobil, serta sejumlah hotel mewah bergengsi yang tak henti-henti diakses publik.

Dan di sinilah aku berada, di sebuah kedai kopi yang termasyur sejak masa Perang Dunia II bernama Kafe Kranzler bersama tiga sahabat baikku: Michael, Kristiane dan Heidi.

Was siehst du, Michael?” Suara Kristiane yang sedikit heboh membuatku mendongak dari cangkir kopi dan ikut menoleh Michael yang tengah menerawang ke luar jendela.

Lucunya, yang ditanya hanya tersenyum simpul tanpa memalingkan tatapannya dari Swissôtel Berlin pada arah pukul satu. Aku, Kristiane dan Heidi mengikuti pandangannya dan langsung memahami.

Sejauh lima puluh langkah dari pintu masuk hotel, tepatnya di atas sebuah bangku kayu yang terletak di tepi trotoar, tengah duduk seorang gadis muda sambil memangku seorang balita perempuan yang lucu. Makhluk kecil itu tertawa-tawa setiap kali si gadis menggerak-gerakkan sebuah boneka beruang di depan wajahnya.

Pemandangan itu membuat perasaanku campur aduk. Jika melihat ekspresi polos si balita, aku jadi gemas sendiri. Tapi jika melihat si gadis yang memangkunya, hatiku ditelusupi suatu perasaan tak nyaman. Pasalnya, gadis itu mengenakan sepotong kain penutup kepala yang sepanjang pengetahuanku hanya dikenakan oleh para wanita pemeluk agama itu: sebuah kepercayaan yang dalam beberapa tahun terakhir menimbulkan polemik di Eropa khususnya Jerman karena masalah pengungsian, penyerangan, serta pelecehan seksual. Dan lihat saja, orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar si gadis menunjukkan rasa paranoid yang sama entah lewat lirikan, langkah-langkah cepat, atau bisik-bisik jika kebetulan mereka melintas secara berkelompok.

Wie bitte? Bagaimana menurut kalian?” tanya Michael pada kami bertiga setelah berhasil mengalihkan perhatiannya dari si gadis dan si balita.

“Sudah pasti dia dipaksa menikah pada usia muda,” jawab Heidi spontan. “Orang-orang dari golongan itu dikenal sangat patriakhi, kan? Menurut yang kudengar mereka tak jarang memaksa anak gadisnya untuk menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua.”

“Tidakkah hal ini membuatmu jadi miris sebagai sesama wanita?” timpal Kristiane sambil menyikut lengan Heidi. “Ini abad dua satu dan hak-hak kaum perempuan sudah diakui, tapi masih saja ada perempuan yang tak bisa menentukan nasibnya sendiri. Gadis itu seharusnya masih bisa kuliah atau bekerja. Apalagi sekarang dia ada di Eropa. Melihat tata cara kehidupan kita di sini, dia pasti berharap memiliki banyak kesempatan seperti kau, aku dan perempuan-perempuan lain di negeri ini.”

Lagi-lagi Michael tersenyum dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Jika hipotesis kalian benar, maka kasihan sekali dia karena tak bisa menikmati masa muda yang menyenangkan.”

Aku memincingkan mata untuk mengamati si gadis berpenutup kepala serta balitanya secara lebih saksama. Samar-samar kulihat ekspresi anak kecil itu berubah seperti hendak menangis. Si gadis buru-buru membuka tas ranselnya untuk mengeluarkan sebotol susu. Dengan sigap diberikannya susu tersebut pada si kecil yang langsung mengisap dengan suka cita.

Melihat hal ini, spontan aku berujar, “Mungkin dia tidak semalang itu.”

Ketiga sahabatku sontak menolehku dengan dahi berkerut.

“Apa maksudmu, Lukas?” Michael tampak paling terheran-heran.

“Tidakkah kalian memperhatikan apa yang terjadi barusan? Anak kecil itu menjadi rewel tapi si gadis bisa menanganinya. Meski dari jauh, aku dapat menyimpulkan bahwa dia seorang ibu yang baik. Jika benar dia sudah menikah­–mungkin pernikahan itu bukan hal yang terlalu buruk baginya.”

Michael tampaknya memperhitungkan teoriku sebab kemudian dia berpaling untuk ikut memperhatikan gadis itu pula. Tak lama berselang dia bergumam, “Mungkinkah dia menikah dengan pria Eropa?”

Was?!” Kristiane dan Heidi berseru hampir bersamaan.

“Anaknya,” jawab Michael sambil mengedik ke arah si kecil yang kini tampak hendak terlelap. “Kalau dilihat-lihat anak kecil itu seperti anak kulit putih. Mungkin suaminya adalah orang Jerman.”

Kening Kristiane masih berkerut ketika dia berkata, “Maksudmu pernikahan justru membuat dia terbebas dari tradisi yang mengekang karena sang suami membawanya ke negeri ini?”

Michael mengangkat bahu. “Kita tak pernah tahu,” jawabnya sambil meneguk habis sisa kopi pada cangkirnya.

“Bagiku tetap saja,” sergah Heidi. “Dengan siapapun dia menikah, dia tetap tak bisa merasakan kebebasan yang sepenuhnya. Dia tetap harus mengurus bayi dan mengenakan…”

Aku, Michael dan Kristiane terheran-heran akan kalimat Heidi yang terputus sebelum mengetahui bahwa perhatiannya teralih pada sepasang pria dandy yang baru saja menuruni tangga lantai atas kafe. Dari setelan jas serta koper kerja yang mereka bawa, tampak jelas bahwa keduanya merupakan akademisi dari salah satu kampus bergengsi di Berlin. Secara kebetulan mereka memilih meja yang ada di dekat tempat kami.

“Sekali lagi maaf karena aku harus meninggalkanmu lebih awal, Rainer,” ujar salah satu di antaranya, seorang pria berambut pirang dengan kacamata berbingkai emas yang tampak lebih tua. Sementara rekannya menarik salah satu kursi, dia merapikan setelannya untuk bersiap pergi.

Kein problem, Joachim,” jawab sang rekan yang dipanggil Rainer sambil tersenyum. Dia merupakan seorang pria tampan berambut cokelat dengan usia sekitar empat puluhan. “Sampaikan salamku untuk Frau Rauftlin beserta ucapan selamat atas kelahiran putri kedua kalian.”

Danke schon. Ngomong-ngomong, kau tak ingin menikah lagi? Tidakkah kau ingin memberikan ibu baru bagi Paulin? Setahun sudah dia kehilangan ibunya karena kecelakaan mobil itu.”

Mendengar pertanyaan ini, pria bernama Rainer itu hanya tersenyum simpul. “Aku belum berpikir sampai ke sana tapi kita lihat saja nanti. Baiklah, sebaiknya kau bergegas mengejar UBahn yang akan membawamu ke Lichtenberg.”

Ja, auf Wiedersehen, Rainer.”

Auf Wiedersehen.”

Kedua pria berkelas itu saling berjabat tangan. Begitu Joachim pergi, Rainer mengenyakkan diri dan mengeluarkan sebuah telepon pintar dari saku jasnya untuk mengetik sesuatu. Sementara Kristiane dan Heidi memperhatikan pria tersebut dengan pandangan kagum, aku dan Michael hanya bertukar seringai dengan pundak terangkat.

“Kau menyeberang jalan saja, aku duduk di meja nomor 11,” suara berat Rainer yang tengah menelepon terdengar beberapa saat kemudian.

Aku kembali berpaling ke arah jalanan. Kurfürstendamm semakin ingar-bingar. Para pejalan kaki memenuhi trotoar dengan langkah-langkah cepat. Dinding kaca showroom Mercedez menggoda orang yang berlalu lalang. Gadis-gadis muda merayap dari satu butik ke butik lain. Dan gadis berpenutup kepala di depan Swissôtel melintas di depan jendela Kafe Kranzler.

Aku terkesiap.

Untuk sesaat kukira aku berhalusinasi sebelum kemudian terdengar bunyi pintu kafe digeser. Dan masuklah gadis muda itu bersama anak balita cantiknya yang telah terlelap. Mereka melenggang di antara kursi-kursi hingga akhirnya mencapai meja di mana Rainer berada.

Guten tag, Profesor Kross,” sapanya pada Rainer dalam Bahasa Jerman yang agak pelat.

Guten tag, Yasmin. Oh, malaikat kecilku. Dia tidak merepotkanmu, kan?” balas Rainer panjang lebar sambil mengambilalih si balita dari tangan si gadis berpenutup kepala. Ditimangnya bocah itu dengan penuh kasih sayang.

“Sama sekali tidak, Profesor.” Gadis bernama Yasmin itu menggeleng. “Ini botol susu dan bonekanya,” tambahnya sambil menyerahkan sebuah tas kecil yang dia ambil dari dalam tas ransel–yang mana membuatku terkejut begitu mendapati sejumlah buku tebal saat tak sengaja melirik ke dalamnya. “Er… di mana Profesor Rauftlin?”

Rainer Kross yang tengah membuka kopernya dengan salah satu tangan tersenyum saat menjawab, “Dia harus pergi ke Sana Klinikum Lichtenberg untuk melihat putrinya.”

“Oh, istri beliau sudah melahirkan?”

“Ya, satu jam yang lalu dan ini upahmu untuk minggu ini,” jawab sang profesor sambil mengulurkan sebuah amplop putih. “Dan karena kau akan ujian Bahasa Pemrograman Rakitan minggu depan, kau tak perlu datang ke rumah. Aku akan merasa bersalah jika nilai-nilaimu sampai turun dan Technische Universität Berlin mencabut beasiswamu.”

Yasmin tergelak mendengar mendengar hal ini. “Danke Schon, Profesor.”

“Sekali lagi maafkan aku karena lupa memberitahu bahwa venue Konferensi Robotika dipindahkan dari Swissôtel ke Kempinski. Tadinya aku mau meneleponmu setelah acara itu berakhir tapi Joachim terus mengajakku mengobrol hingga kami sampai di kafe ini. Baiklah, Yasmin, selamat belajar dan auf Wiedersehen.”

Auf Wiedersehen.”

Seiring dengan menjauhnya langkah Yasmin meninggalkan Kafe Kranzler, aku, Michael, Kristiane dan Heidi bertukar pandang. Untuk sesaat kami berempat terdiam sebelum akhirnya tersenyum kecut, membuatku bisa menduga bahwa seperti halnya diriku, ketiga sahabatku juga merasakan sebuah sensasi tertohok dalam hati oleh jawaban kenyataan atas segala praduga kami.

Catatan:

Was siehst du?            : kau lihat apa?
Wie bitte?                   : bagaimana?
Was?                           : apa?
Kein problem              : tidak masalah
Danke schon               : terima kasih
Auf Wiedersehen        : sampai jumpa
Guten tag                    : selamat siang

Kurfürstendamm merupakan sebuah jalan besar yang terletak di tengah kota Berlin dan merupakan pusat perbelanjaan serta hiburan seperti Champ d’Elysse di Paris.

Swissôtel Berlin dan Kempinski adalah hotel-hotel terkenal yang terletak di Kurfürstendamm.

Kafe Kranzel juga merupakan salah satu tempat terkenal di Kurfürstendamm.

Sana Klinikum Lichtenberg adalah rumah sakit yang terletak di distrik Lichtenberg, salah satu distrik mewah ibu kota.

UBahn atau Unter Bahn adalah sebutan untuk kereta bawah tanah di Jerman.

Technische Universität Berlin merupakan salah satu kampus terbaik di Berlin.

Pulang

1




Aku kembali mengepulkan asap rokok ke udara sambil berjoged dengan dua orang pemandu lagu wanita. Kulihat Baron dan Maung, dua temanku itu tengah asyik cekikikkan dengan dua wanita seksi yang kusewa sambil menenggak minuman beralkohol yang dibawa diam-diam olehku ke tempat karaoke. Aku tertawa melihat mereka menikmati jamuanku malam ini sebagai imbalan karena mereka telah membantuku menghabisi musuh bebuyutanku, Si Godeg.

Dua hari yang lalu, Si Godeg mati. Mayatnya dibuang ke sungai Sarihurip. Aku yang membunuh laki-laki yang terkenal keji itu, memotong-motong tubuhnya hingga tujuh bagian. Mungkin sekarang tubuh busuknya itu sebagian besar sudah dimakan ikan-ikan di sungai. Aku terpaksa menghabisinya, karena bajingan itu telah memperkosa Marni, adikku yang baru enam belas tahun saat sepulang sekolah. Gadis polos yang selalu ceria itu ditemukan mati gantung diri di pohon mahoni dekat kuburan. Sebelum mati, Si Godeg berkali-kali menjelaskan bahwa dirinya tidak memperkosa Marni, tapi Si Maunglah pelakunya. Tapi aku tak percaya, Maung adalah anak buahku, tidak mungkin dia berani memperkosa adik bosnya sendiri.

Dulu aku dan Godeg berteman baik, sebelum kami berdua menjadi preman, kami sama-sama perantau dari kampung yang mencoba merubah nasib di ibukota. Namun, seiring berjalannya waktu kami malah berakhir sebagai preman yang menguasai terminal. Karena berselisih paham, aku dan Godeg bermusuhan. Si Godeg dan anak buahnya juga beberapa kali pernah mencelakakanku, tapi aku berhasil selamat. Awalnya aku diam dengan ulahnya selagi dia tidak mengganggu keluargaku. Tapi bajingan tengik itu membunuh titik terlemahku yaitu mengambil satu-satunya seseorang yang berharga dariku yaitu Marni. Bagaimana mungkin aku membiarkan laki-laki yang telah membuat adikku mati itu berkeliaran tanpa dosa? Dengan sedikit konspirasi akhirnya bajingan tengik itu masuk perangkapku. Tapi aku masih belum puas membalas dendam, kudengar Si Godeg masih memiliki seorang istri yang katanya cantik. Heh, aku menyeringai licik.

Kulihat Baron, pergi entah kemana dengan wanita yang kusewa, sedangkan Maung tengah menenggakkan minuman beralkohol pada wanita yang satunya lagi. Hah, aku bisa menerka apa yang akan diperbuat Maung pada si wanita itu jika mabuk. Tapi aku tak peduli. Aku kembali berjoged dengan dua pemandu lagu yang kutaksir masih berumur belasan tahun itu.

***

Seminggu kemudian, aku berhasil menemukan tempat tinggal istri Si Godeg di sebuah desa terpencil. Namanya Siti. Memang benar kata anak-anak buahku bahwa istri Si Godeg itu sangat cantik. Kulitnya putih bersih, matanya sipit, wajahnya mengingatkanku pada aktris Hongkong Zhang Zi Yi yang terkenal itu. Pesona Siti begitu mengagumkan dengan kerudung di kepalanya. Entah kenapa perempuan secantik dan seagamis itu mau dinikahi oleh preman bengis macam Si Godeg?

Aku mengucapkan salam beberapa kali. Kulihat Siti tergopoh-gopoh menuju pintu sambil membalas salamku. Ketika melihat wajahku dia langsung menundukkan kepalanya.

“Apa benar ini rumahnya Pak Wahyu yang baru meninggal itu?” Tanyaku ramah, Wahyu adalah nama asli Si Godeg. Sengaja aku mengenakan pakaian rapi agar tidak dicurigai sebagai preman oleh orang sekitar.

“Benar, anda siapa dan ada keperluan apa?” Jawabnya lembut, kulihat matanya sembab dan agak merah. Beruntung sekali Si Godeg, kematiannya ditangisi oleh wanita cantik. Apa Siti tidak tahu kelakuan suaminya di luar itu seperti apa?

“Saya temannya saat kami masih sama-sama bekerja di pabrik, saya turut berduka cita atas kematian Wahyu dan saya kemari untuk melayat.” Ujarku sedikit diplomatis, aku memuji kepandaianku bersandiwara. Siti hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih pelan. Aku dipersilakannya masuk, di dalam rumah ada mertuanya Si Godeg dan beberapa saudara yang masih berkumpul. Aku mengobrol banyak dengan anggota keluarga Si Godeg sambil menceritakan pertemananku dengan Si Godeg yang tentu saja hasil karangan. Ternyata Si Godeg pintar juga menutupi kebengisannya itu. Di mata istri dan mertuanya Si Godeg dikenal dengan sifat santun dan penyayang. Hahaha, ingin sekali aku menguraikan beribu kejahatan yang telah dilakukan oleh Si Godeg, salah satunya adalah memperkosa adikku.

***

Aku memutuskan tinggal di desa tersebut selama beberapa minggu seraya memuluskan rencana yang telah kusiapkan untuk menculik Siti. Untuk sementara waktu aku tinggal di rumah pamannya Siti, karena aku dianggap satu-satunya kerabat Si Godeg. Jelas ini membuat rencanaku semakin mudah.

Aku berusaha menyesuaikan diri di lingkungan keluarga Siti yang agamis. Untungnya aku cepat beradaptasi karena waktu kecil aku sering diajarkan sholat dan mengaji oleh almarhum ayahku. Meskipun sebenarnya hal itu sangat sulit, mengingat sudah puluhan tahun aku meninggalkan apa yang diajarkan ayahku dulu.

Pak Rusdi, paman Siti selalu mengajakku ikut serta ke kajian-kajian yang diselenggarakan di mesjid desa, aku juga sering diajaknya ke mesjid setiap lima kali sehari untuk melaksanakan sholat. Tiga dekade lebih aku meninggalkan semua yang diajarkan ayahku, bahkan aku sudah lupa bagaimana gerakan sholat. Aku sudah merasa letih dan hampir menyerah bersandiwara. Tujuan utamaku ke desa ini bukan untuk belajar agama, melainkan untuk membalas dendam. Aku harus segera bertindak, jika tidak identitasku akan segera ketahuan, tekadku. Aku kembali merumuskan rencanaku yang tertunda.

“Hijrah adalah meninggalkan kemungkaran menuju keshalihan, dari kekufuran menuju keimanan, dari dunia kelam menuju cahaya hidayah.” Kata Ustadz Fatan saat mengisi khutbah jumat. Sudah seminggu aku tinggal di desa ini, membuatku mengenal hampir semua orang yang tinggal di daerah ini. Sebenarnya banyak hal yang kudapatkan dari tempat ini, selain belajar agama aku juga diajarkan cara bercocok tanam, yang sebagian besar penduduk di desa tersebut adalah para petani. Disamping itu orang-orangnya sangat ramah, dalam lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya aku nyaman berada di lingkungan ini, lingkungan ini mengingatkanku pada kampung halamanku. Aku juga sempat memutuskan untuk tidak balas dendam, tapi mengingat apa yang sudah dilakukan Godeg pada Marni, darahku kembali mendidih. Aku harus balas dendam.

***

Malam beranjak tua, aku bersembunyi di balik pohon akasia. Jalanan sepi, semakin memudahkanku untuk beraksi. kamar Siti tak jauh dari tempat persembunyianku. Aku berjalan mengendap-endap menuju jendela kamarnya. Namun kulihat ada dua bayangan yang tengah mengendap-endap ke tempat yang kutuju. Dua bayangan itu ternyata adalah dua orang yang kukenal, Baron dan Maung, ‘sedang apa mereka?’ Batinku. Aku segera bersembunyi di balik pohon angsana ingin mengetahui apa yang sedang mereka lakukan disini.

“Beneran nih, istrinya Si Godeg itu cantik kayak bintang film?” Tanya Baron sambil menelan ludah.

“Aku jamin seratus persen deh, kecantikannya benar-benar alami, pokoknya yahud, kecantikannya itu sebelas dua belaslah sama Si Marni yang tempo hari aku perkosa.” Jawab Maung sambil cekikikan. Darahku berdesir, amarahku benar-benar di ujung tanduk. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Godeg bahwa Si Maunglah yang telah memperkosa adikku.

“Ah, sayang sekali aku tidak ikut mencicipi adiknya Si Bos, kau sih tidak ajak-ajak.” Sergah Baron yang membuatku sudah tidak tahan lagi dengan percakapan yang menyulut kemarahanku. Aku mencoba mencari parang yang kusimpan di kandang domba, dan aku langsung membacok mereka. Para warga segera berdatangan ke arah kami yang sedang berkelahi termasuk Siti dan keluarganya. Kami segera dileraikan oleh para penduduk desa. Kulihat Baron dan Maung terluka sangat parah akibat kibasan parang di kepala. Aku yakin dalam beberapa hari ke depan, mereka akan segera mati, karena hantaman parangku cukup dalam di kepala mereka.

***

Malam itu aku langsung menceritakan kejadian yang sebenarnya termasuk niatku datang ke desa ini. Kulihat Siti tampak pucat, airmatanya juga mengalir deras. Paman Siti juga terlihat menutup wajahnya, aku tahu aku telah membuat orang sebaik mereka kecewa.

Malam itu juga aku pergi dari desa, dendamku sudah selesai tapi perasaan bersalah diam-diam menjalar hebat dalam dadaku. Mungkin sebaiknya aku menyerahkan diri saja pada pihak yang berwajib atas perbuatan sadisku. Atau aku memilih jalan pulang, berserah diri, memohon ampunan Tuhan. Tapi jalan mana pun yang aku pilih, jika sempat aku menua, maka selama itu aku akan hidup bersama bayangan wajah Siti.

Tasikmalaya, Januari 2020




===================

Asih Purwanti, tinggal di Tasikmalaya, sering menulis cerpen berbahasa sunda, karyanya sering dimuat di majalah Mangle.

Kakek Yiu Wai Ip

1

“Dia terjatuh di kamar mandi. Lalu pingsan dan koma selama dua hari. Begitu ia tersadar, namamulah yang  ia cari. Jadi, kapan kau akan ke Hong Kong? Kungkung (1)sangat berharap kau kembali.”

Pesan singkat dari Atin,  perawat kungkung di Hongkong kubaca berulang kali. Aku tidak bisa mempercayai atau aku memang tidak siap atas apa yang diucapkannya. Pesan singkat itu berdengung di kepala, juga di dada.

Sampai akhirnya, ama memanggilku dari dapur. Aku mendapatinya sedang mengaduk masakan dengan aroma  menguar ke seluruh ruangan. Kulihat di wajan ada kapulaga, daun kari, dan kembang lawang. kemudian satu tangannya meraih daging sapi yang sejak siang sudah kurebus dengan panci presto. Aku berdiri di sampingnya, dengan maksud ingin meneruskan masakan, tapi dia menolak dengan satu tangan terangkat persis di depanku.

Dia membalikkan badan dengan cepat, lalu mengambil bubuk jintan, bubuk kunyit yang berjejer rapi di rak bumbu. Dengan cepat dituangkan kedua bubuk rempah tersebut. Kemudian,  tangannya meraih beberapa sendok curry powder yang sejak mula sudah kusiapkan di meja. Tangannya mengaduk kembali. Diusapnya peluh dengan punggung tangan. Dia tampak kelelahan.

“Tidak semua orang Singapore bisa memasak,” Ama membuka pembicaraan.

 Aku diam.

“Kau tahu,  kari  buatanku rasanya juara. Keluarga besarku menyukainya. Kau harus cermat belajar masak dariku! Kau beruntung bekerja di sini.”

Tangannya meraih gelas yang berisi susu bubuk yang sudah kularutkan. Dituangkan perlahan ke dalam kari. Tangannya  mengaduk kembali, lalu dia mengibaskan tangannya di atas masakan. Hidungnya menghidu dengan cermat setiap detail aromanya.

“Kau sepertinya ada masalah. Sejak tadi kuperhatikan kau diam,” Ama menilik pandangku.

“Aku tidak apa-apa, Ama.”

“Kalau begitu, tolong belikan aku asam kandis. Di rumah habis. Aku akan memasak asam pedas ikan pari,” ama mematikan kompor, kemudian mengambil 2 dolar uang Singapore.

Aku melangkah dengan kaki kebas menuju daun pintu dan segera pergi ke kedai. Berulang kali pesan itu membuatku teramat pening. Memoriku memutar ulang kejadian yang memilukan, sekaligus membuatku bersyukur telah dipertemukan dengan seseorang sebaik Kakek Yiu Wai Ip.

Ketika itu, dengan koper kecil yang kutarik dan tas punggung berwarna hitam di pundakku, aku meninggalkan rumah majikan di Taipo. Aku memutuskan kontrak dengan majikanku yang memiliki 3 pembantu. Aku pikir pilihanku benar, karena  intimidasi yang selalu kuterima dari dua pembantu lainnya.

Majikanku mengantarku menuju agency dengan Alphard berikut sopirnya, setelah aku menyodorkan selembar kertas one month notice(2). Dengan begitu, dia akan memberiku kesempatan bekerja selama satu bulan kedepan dan aku memiliki uang.

Agency yang kuharapkan sebagai tempat berlindung, ternyata membuatku kecewa. Dia memojokkanku dengan menumpahkan seluruh kesalahan  kepadaku. Argumentasinya mematahkan lidahku untuk membela diri. Dan aku hanya diam menunduk memandangi nat-nat lantai. Sampai akhirnya, aku tidak mendapat uang pengganti interminit(3). Aku kebingungan memikirkan lima hari kedepan akan mengisi perutku dengan apa.

“Kau boleh pergi sekarang dari kantorku!” tukas agencyku dengan ketus. Kukira, dia akan mempersilahkanku untuk tinggal di boarding house(4) miliknya dan mencarikanku majikan baru.

Kuseret koper dengan langkah gontai menuju Stasiun MTR(5). Mungkin di sana, aku bisa berpikir kemana aku harus pergi. Sampai akhirnya Dompet Dhuafa terbersit di kepalaku.

Dari stasiun Taipo aku mencari kereta jurusan Kowloon Tong. Dan aku turun di Kowloon Tong. Kemudian aku mencari kereta lagi dengan tujuan Prince Edward dan aku hampir tertidur di kereta itu, kalau saja seorang turis tidak bertanya tentang alamat yang dicarinya. Kereta berhenti di Stasiun Prince Edward dan aku mencari kereta jurusan Admiralty. Ini adalah stasiun persinggahan terakhir dengan tujuan Causeway Bay. Tubuhku kembali ditelan badan kereta yang mengantarkanku menuju Causeway Bay.

Sepanjang perjalanan, lampu berpijar menerangi jalan dengan lineria keemasan,  dan juga gedung-gedung yang bersolek dengan cahaya lampu. Sementara, Langkahku panjang-panjang, memburu ruang dan waktu yang bersekutu. Langit tak lagi dipenuhi gemintang, ada mendung yang menggantung di sana. Aku harus segera.

Sialnya aku lupa letak Shelter Dompet Dhuafa, karena memang baru sekali aku ke sana ketika libur beberapa pekan lalu. Entah sudah berapa kali aku naik turun tangga gedung mengetuk satu pintu ke pintu lainnya.

Malam sudah mencapai kepekatannya. Mendung pun sudah siap-siap menumpahkan segala isinya. Aku berjalan menyeret koper dengan lemah. Aku sudah lelah. Kubiarkan saja angin mengusikku berkali-kali hingga akhirnya hujan berjatuhan bagai ratusan anak panah. Menghunjam bumi dan diriku tanpa ampun. Aku terbalut gigil yang amat akut hingga aku tergugu dalam kerasnya kehidupan Hong Kong.

Aku menuju stasiun setelah aku membeli sepotong roti dengan kartu patadongku(6). Aku duduk di  tangga stasiun. Di sana kunikmati rotiku. Hingga pada akhirnya, ada dua pasang kaki melangkah ke arahku. Seorang kakek dengan perawatnya.

Kakek itu memakai baju bergaya vintage berwarna turkuas yang sempat tenar di zaman Benjamin, dikombinasikan dengan rompi cokelat dan celana panjang corduroy cokelat. Kulihat sepatunya amat hitam berkilat terpantul sinar lampu. Tangan kanannya memegangi tongkat, tangan kirinya diapit perawat. Mereka menanyaiku, hingga akhirnya, kakek memintaku pulang ke rumahnya dan akan membawaku terlebih dahulu makan di restaurant. Aku menolak ajakannya. Kurasa, dia memberiku tumpangan sudah lebih dari cukup.

“Kamu hanya makan sepotong roti,” ucap kakek  sambil tersenyum memamerkan putih deretan giginya. Entah sejak menit keberapa kakek itu mengamatiku.

Kakiku mengikuti langkah pelan kakek  menuju Restaurant China yang berada di dalam bangunan Masjid Wanchai di lantai lima. Lalu kakek menuju ke sebuah meja bundar yang besar dengan empat kursi di sana. Kakek duduk di sampingku dan juga di samping perawatnya.

Kakek menulis pesanan, lalu sopir kakek yang berkewarganegaraan Filipina membawa kertas itu menuju meja waiter. Kami menunggu, dan kakek memapah pembicaraan, sehingga suasana menjadi cair. Sedikit demi sedikit kecanggunganku berkurang. Dari pembicaraan inilah aku mengetahui kakek itu bernama Yiu Wai Ip.

Pelayan datang dengan beberapa makanan di  tangannya. Empat bamboo steamer berisi dim sum yang masih mengepul asapnya. Sekeranjang Xiaolongbao(7), tiga piring nasi goreng oriental, dan empat mangkok kecil dong yhun(8).

                                                                        ***

Kakek hidup bersama istri dan perawatnya. Namun nenek lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Tidak ada komunikasi secara intens diantara keduanya. Mereka seolah-olah saling memberi jarak dan jeda. Aku tidak begitu memusingkan perkara ini, karena aku hanya orang yang singgah di rumah ini  dan sekejap aku pergi. Aku lebih memusatkan perhatianku menjaga kakek.

Pada hari keempat aku di rumahnya, kudapati kakek tidak seperti biasanya. Dia amat lesu dan lebih banyak diam. Dia duduk di sebuah kursi di tepi jendela, sementara televisi yang menyala dibiarkan saja.

“Kungkung, bolehkan aku memijat kakimu?” aku memancing suasana.

“Tidak perlu. Kau yakin akan pulang? Kau tidak ingin menuntut hakmu atas majikanmu?” tanyanya kemudian.

“Suamiku bersikeras menyuruhku pulang, Kek. Tanpa memberi alasan. Aku harus melupakan segalanya, dia memintaku.”

“Aku sedih kau hanya memiliki waktu lima hari di sini. Besok kau akan pulang. Aku seperti menemukan sesosok anak pada dirimu,” kakek berbicara dengan kekenesan yang berlebihan.

“Kau sungguh memiliki kemiripan dengan anakku, Yani,” kakek merogoh potret ukuran kecil dari dompet. Disodorkannya potret itu kepadaku. Sesosok gadis kecil berkepang, dengan kulitnya berwarna tembaga. Kulirik kulitku. Sama. Ah, ini hanya kebetulan.

“Aku harus berpisah darinya ketika ibunya memutuskan untuk pulang ke Indonesia, selamanya. Saat itu dia berusia 4 tahun. Namanya Yani Yiu Ip,” Kakek menggaruk lengan, aku segera mengambil cream gatal lalu kuoleskan ke lengannya. “Sama seperti namamu, kan?” kedua matanya menatapku.

“Namaku Yani Lestari, Kek.”

Dia diam cukup lama. Matanya berkaca-kaca lalu tangan kanannya mengibas, “Sudah tidak usah dipikirkan!”

Dia diam cukup lama. Matanya berkaca-kaca lalu tangan kanannya mengibas, “Sudah tidak usah dipikirkan!”

Aku langsung mengaitkan ketidakacuhan nenek kepada kakek. Apakah ini sebabnya? Pikiranku dipenuhi segala kemungkinan-kemungkinan.

“Jadi, kau memiliki dua istri, Kek?” tanyaku berusaha memancing jawaban untuk memastikan kemungkinan-kemunginan di kepalaku.

“Kau mengintrogasiku, Yani?” Kakek terkekeh, “Yah, memang. Perempuan Indonesia itu juga istriku.”

                                                                ***

Pagi itu tepat pukul 4 aku bersiap-siap untuk meninggalkan rumah Kakek. Kakek masih di kamar, mungkin dia masih tidur. Neneklah yang menemaniku. Sampai pada akhirnya, kakek berjalan gontai mendekatiku. Kulihat dia sesenggukkan. Bening air matanya membanjiri pipi, ia serupa anak kecil yang hendak ditinggal ibunya. Nenek entah mengomel apa melihat tingkah kakek. Karena suaranya yang cedal sulit bagiku untuk memahami pembicarannya, terlebih kantonisku sangat minim.

Kakek mengulurkan sejumlah uang. Aku hanya mematung.

“Ambil! Aku tahu kau tidak membawa uang. Apa yang akan kau katakan kepada anakmu jika kau kembali tanpa coklat, permen, atau mainan?” Kakek mengusap ingusnya.

Aku menatap ke arah nenek. Kulihat mulutnya merucut dan ia mulai menyadari aku menatapnya, “Ambilah, Yani! Untuk anakmu.” begitu ucap nenek akhirnya. Entah karena merasa tidak enak denganku atau memang dia menimbang-nimbang perkataan kakek.

***

Aku memutuskan mencari penerbangan tujuan Hong Kong. Aku hanya ingin menyambangi  kakek, setelah mengantongi izin dari majikanku di Singapore.

Mataku nanar ketika aku telah berada di Queen Elizabet Hospital, kakek dirawat di sana. Terakhir Atin mengabarkan, jika kakek masih dalam keadaan kritis, tidak kunjung membaik dan masih sering mencariku.

Aku melangkah masuk melewati security yang berjaga,  ia segera menghadangku, meminta ID Cardku(9) dan kartu pengunjung. Aku mengambil ID Card tanpa bisa menunjukkan kartu pengunjung. Dia menolak. Aku meyakinkan jika aku ingin menjenguk salah satu pasien yang kukenali. Namun sayang, security itu membuktikan kapasitasnya sebagai pekerja yang baik. Hingga akhirnya aku mengirimkan pesan ke Atin untuk menjemputku.

Begitu aku memasuki ruangan kakek, mataku memutari kamar di mana kakek dirawat, hingga akhirnya pandangku jatuh ke tubuhnya yang terbaring ringkih. Di sampingnya, kudapati nenek dan seorang perempuan yang kutaksir itu adalah anaknya.

“Yani,”  Wajah kakek tak lagi bersinar seperti saat bertemu dengannya di stasiun dulu. Aku mendekatinya.

“Oh, kamu ternyata yang namanya, Yani,” suara perempuan itu tidak bertanya juga tidak memastikan.

“Aku ingin memastikan, apakah kau baik-baik saja dalam perjalanan?” Aku mengangguk, sikap simpatinya tetap konsisten, “Aku tidak ingin kau seperti saat di stasiun.” Kakek menyunggingkan senyum.

Matanya mengerling ke arah Atin, seperti memberi suatu isyarat. Atin mengangguk. Lalu ia memberikan sebuah buku kecil. Semacam buku rekening. Namun, nenek segera menyambar buku tersebut.

“Kamu sebenarnya siapa?” Kedua bola mata nenek menganak sungai.

Mulutku mendadak kelu ketika hendak kubuka, dan kerongkonganku seperti tersumpal.  Aku baru tersadar jika aku berada di tempat yang salah.(*)

Keterangan:

1. Kungkung: kakek

2. One Month Notice: Surat sebulan pemberitahuan. Peraturan Hongkong mengharuskan jika pekerja akan mengakhiri kontrak kerjanya, harus menggunakan one month notice. Jika majikan tidak bisa mempekerjakannya sampai sebulan kedepan, dia harus membayar uang sebulan gaji.

3.Interminit: pemberhentian kerja secara sepihak tanpa pemberitahuan. Jika hal ini dilakukan majikan, maka majikan harus membayar satu bulan gaji dan gaji yang belum dibayar.

4. Boarding house: kos-kosan dan agency harus memilikinya.

5.MTR: Mass Transit Railway, kereta cepat.

6. Patadong: Kartu untuk naik MTR,  bus, dan bisa digunakan untuk berbelanja di beberapa toko.

7. Xiaolongbao: Pangsit isi

8. Dong Yhun: semacam wedang ronde

9. ID Card: Kartu Identitas



====================
Diani Anggarawati Lahir di kota Kendal, Jawa Tengah. Nama pena sebelumnya Diani Ramadhaniesta dan kini lebih nyaman menggunakan nama asli. Beberapa karyanya yang pernah terbit adalah: Hong Kong Bercerita, kumcer (Alif Gemilang Pressindo, 2013), Jejak Kartini di Negeri Beton, biografi TKW berprestasi di Hong Kong (Kaifa Publishing, 2013), Cinta Bertahta, novel (Rumah Orange, 2014) dan beberapa cerpennya pernah dipublikasikan di media berbahasa Indonesia di Hong Kong, Taiwan dan media online di Indonesia.

Terbaru

Menanti Kau Mekar, Suatu Hari

Sebuah Surat untuk Kaubaca Bunga yang bermekaran di depan tokomuBolehkah kubawa pulang untuk mengisiceritaku? di tempat...

Dilarang Menangis

Dari Redaksi