Rumah Kanak-Kanak

Anggur

Kutukan Kematian

Ingatan pada Satu Nama

Cerpen

Home Cerpen Page 4

Ayah yang Membenci Matahari

0

Cerpen Herumawan P A

Adi kecil senang pada sinar matahari yang masuk ke dalam rumah. Karena setiap pagi, sang ibu selalu membuka semua jendela di rumahnya.Ia pun lebih sering bermain-main dengan sinar matahari itu.

Adi biasanya akan menari-nari di bawah sinar matahari yang masuk lewat jendela. Atau berjemur sambil bercanda riang di bawah sinar matahari bersama kedua orang tuanya

Begitu pula, Pak Basri sang ayah. Hidup Pak Basri tambah senang ketika sang istri mengandung anak kedua seorang perempuan yang sangat dinantikannya. 

Malam hari itu, sang ibu yang sedang hamil hendak melahirkan, Pak Basri ditemani Mbok Siyem, pembantu membawanya ke puskesmas. Adi disuruhnya tetap di rumah.

Ketika tiba di puskesmas, sang istri disuruh pulang karena menurut dokter jaga belum waktunya melahirkan. Pak Basri lalu minta rujukan ke rumah sakit tapi dokter tak memberinya. Karena tak terdaftar BPJS. Pak Basri terpaksa membawa pulang sang istri.

Jelang pagi hari, sang istri benar-benar akan melahirkan. Pak Basri ditemani Mbok Siyem membawanya kembali ke puskesmas. Dokter segera memberi rujukan ke rumah sakit.

Pak Basri ingin memakai ambulans puskesmas. Tapi bidan yang bertugas memberitahu sopir tak ada di tempat. Tak mau berdebat dan juga karena iba melihat sang istri merintih kesakitan, Pak Basri meminjam mobil pick up milik salah satu tetangganya, Bu Ani.

Beruntung, Bu Ani mau meminjamkan mobil pick up beserta sopirnya. Pak Basri langsung membawa sang istri di belakang mobil pick up menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan, hujan turun lebat. Pak Basri memilih berteduh di emperan toko dulu.

Di sela berteduh, Pak Basri mencoba menelepon taksi karena melihat sang istri yang tampak kedinginan dan terus merintih kesakitan ditemani Mbok Siyem. Tapi pulsanya tak mencukupi untuk telepon. Ketika hendak kirim sms untuk beli pulsa, ponselnya malah mati karena baterainya habis.

Saat hujan mulai reda, Pak Basri bergegas melanjutkan perjalanan.  Tiba di rumah sakit, jabang bayi ternyata sudah meninggal. Pak Basri sedih sekali.

Beberapa jam kemudian, sang istri menyusul meninggal dunia. Pak Basri benar-benar terpukul sekali. Dan bingung menjelaskan pada Adi, anaknya.

Beruntung, Mbok Siyem mau menceritakan pada Adi tentang apa yang terjadi pada sang ibu dan calon adiknya itu. Adi sedih sekali mendengar ibu dan calon adiknya sudah meninggal.

Seusai pemakaman, Pak Basri menangis meraung-raung dalam rumah. Memecahkan semua benda dan barang. Adi merasa begitu ketakutan. Mbok Siyem langsung memeluk Adi. Pelukannya seperti seorang ibu. Hangat dan mententramkan hati.

Sementara itu, Pak Basri masih saja menangis meraung-raung. Lalu beberapa detik kemudian berganti makian dan cacian. tak bisa mengontrol emosinya. Alih-alih menyalahkan dokter, hujan lebat atau Tuhan, Pak Basri malah memilih menyalahkan matahari. Karena dipikirnya kalau matahari bersinar terang, sang istri dan jabang bayinya bisa diselamatkan.

 Pak Basri terus menerus memaki Matahari. Menyalahkan Matahari sebagai penyebab kematian istri dan calon jabang bayi perempuannya.  

“Wahai Matahari terbit, kau sudah renggut nyawa dua orang yang kusayangi. Mulai hari ini, kunyatakan perang padamu. Aku janji tak mau lagi bertemu denganmu. Aku hanya akan pergi ketika kau sudah terbenam dan pulang ketika kau akan terbit.” Pak Basri bersumpah. Ia benar-benar tak ingin bertemu lagi dengan Matahari. Ia sudah terlalu membencinya. Sejengkal cahaya Matahari pun tak boleh masuk ke dalam rumah. Jendela, kaca hingga ventilasi udara langsung ditutupi kain korden atau koran bekas. Sebagian warga kampung menganggap kelakuan ayah aneh. Tapi ia sudah tak peduli dianggap aneh atau gila.

***

Pak Basri pun pindah kerja dari semula tukang parkir ke tukang cuci piring di sebuah rumah makan. Setiap pagi, ia berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam.

Teman-teman kerja Pak Basri heran melihatnya tak pernah keluar rumah makan setiap istirahat makan siang. Pak Basri memilih memakan bekalnya di dapur. Hingga suatu hari, Pak Badrun pemilik rumah makan berulang tahun. Semua karyawan diundangnya makan di luar. Pak Basri langsung menolaknya. Pak Badrun tak terima. Dan langsung memecat Pak Basri dengan pesangon tak seberapa.

Pak Basri pun lebih sering berada di rumah bersama Adi dan Mbok Siyem. Tapi itu membuatnya stress.

Mbok Siyem bekerja serabutan sebagai buruh cuci dan penual gado-gado keliling untuk memenuhi kebutuhan hidup ketiganya. Tak lupa, Mbok Siyem menasehati Pak Basri agar banyaknya waktu di rumah dimanfaatkan untuk beribadah dan lebih menyayangi Adi, anaknya. Pak Basri menuruti nasehat Mbok Siyem.

Adi dan Pak Basri pun jadi lebih akrab. Keduanya saling menyayangi. Adi tak pernah mempermaslahkan perilaku Pak Basri ayah yang menutupi semua jendela rumah dengan banyak kertas koran baik dii dalam maupun luar.

Adi juga tak mengubris omongan sebagian warga kampung yang menganggap perilaku sang ayah seperti orang stres, gila dan ada yang bilang sudah menjadi Dracula. Anak-anak pun takut bermain di dekat rumah Adi. Tapi Adi tetap berpikir positif, itu hanya sementara. Sang ayah nanti juga tak begitu lagi.

***

Ketika Adi sudah tumbuh dewasa, Mbok Siyem dipanggil keluarganya kembali ke desa untuk momong cucu. Adi sedih. Sepeninggal Mbok Siyem kembali ke desa, Adi harus banting tulang mencukupi kebutuhan hidup ia dan ayahnya.  

Beruntung, Adi memiliki ketrampilan mengoperasikan komputer. Ia pun diterima kerja di perusahaan yang cukup jauh dari rumahnya. Pak Basri, sang ayah tak mempermasalahkannya, ia malah senang.

Adi lantas bekerja baik. Ia sering mendapat bonus. Bahkan akan dipromosikan ke kantor pusat. Tapi Adi menolaknya karena Pak Basri tiba-tiba jatuh sakit. Walaupun jatuh sakit, Pak Basri tak mau dibawa ke rumah sakit. Terpaksa, Adi memanggil dokter puskesmas.

Melihat dokter puskesmas datang, Pak Basri teringat peristiwa yang membuat istri dan sang jabang bayinya meninggal. Pak Basri yang masih dendam lalu mengusir pergi dokternya. Adi berusaha menengahi. Tapi malah Adi yang terkena marah.

Adi yang kesal lantas mencopoti kertas koran yang menutupi jendela. Ia beranggapan itulah penyebab Pak Basri sang ayah jatuh sakit. Karena kurang dapat sinar matahari untuk tulang dan tubuhnya.

Tapi tindakanku itu diketahui Pak Basri. Ia tampak marah. Pipi Adi dua kali ditamparnya, kanan dan kiri. Lalu menyuruh sang anak kembali menutupi lagi. Adi hanya menurut saja.

Pak Basri tak mau berbicara lagi dengan Adi. Kalaupun mau bicara, ia tuliskan di atas kertas putih lalu menunjukkannya pada Adi.

***

Begitulah rasa benci Pak Basri pada Matahari sudah mengalahkan segalanya. Dan semenjak itu, Pak Basri selalu mendiamkan Adi. Tak pernah bertegur sapa dengan sang anak. Pak Basri hanya mau berkomunikasi lewat perantara kertas.

“Bagiku, Matahari ciptaan Tuhan yang paling indah dan bermanfaat.”

“Tanpa Matahari, tak mungkin makhluk hidup, tumbuhan dan pepohonan bisa hidup.” Adi berbicara sendiri di dalam kamar. Sepi, tak ada mendengarkan dan memperhatikan keluh kesahnya. Hati kecilnya tak beraksi, diam tanpa suara.

Adi lalu bangun dari tempat tidurnya.

“Mungkin ini waktunya, aku pergi dari rumah.” batin Adi sambil membereskan pakaian dan barang-barangnya sendiri. Ia sudah muak dengan sikap sang ayah yang selalu menyalahkan Matahari sebagai biang kematian ibu dan adiknya. Tak habis pikir pula, Adi dengan sikap Pak Basri yang membenci Matahari selama ini.

Sudah bulat Adi putuskan pergi dari rumah. Sang ayah pasti tak akan mengizinkan, Karena Pak Basri masih membutuhkan Adi. Tapi ia sudah tak peduli lagi.

***

         Kini, Adi terpekur di samping pusara sang ayah. Seminggu lalu, Adi membaca berita kematian sang ayah di sebuah koran. Tak terasa sudah setahun, Adi meninggalkan rumah tanpa jendela itu. Dan selama itu pula, ia membiarkan sang ayah hidup sendiri. Tanpa sinar matahari yang cukup dan tak ada yang rutin mengurusnya.

         Adi akui ia memang anak durhaka. Membiarkan Pak Basri sendirian dalam kegelapan. Kini Adi tampak menyesali keputusannya meninggalkan rumah. Menyesali mengapa ia tak bisa sedikit bersabar menghadapi sang ayah.

Adi menengok ke belakang, memandangi sosok seorang perempuan yang sedang hamil dua bulan, tak jauh dari tempatnya terpekur. Ia istri Adi yang dinikahi setahun lalu tanpa memberitahu sang ayah. Adi berharap ketika nanti anaknya lahir, ia tak ingin sang anak sepertinya, yang tega meninggalkan sang ayah sendirian.

Yogyakarta, 24 Juni 2019

Herumawan Prasetyo Adhie, lahir di Yogyakarta, 30 September 1981. Seorang pejalan kaki yang memilih naik trans Jogja atau becak ketika lelah melanda, juga pemerhati sepak bola dan suka sekali menulis apapun. Mulai artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita anak, cerita lucu hingga cerita misteri (mistik/seram). Karya cerpen pernah dimuat di Apajake.id, Bangka Pos, Banjarmasin Pos, Harian Analisa Medan, Harian Jogja, Joglosemar, Harian Rakyat Sultra, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Majalah Story, Minggu Pagi, Majalah Kuntum, Republika, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Lampung, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Serambi Ummah, Solopos. Tabloid Nova dan Utusan Borneo (salah satu surat kabar Malaysia).

Kambing Hitam

0

IQMAL menyeret kambing hitam itu menjauh dari tempat penampungan hewan kurban. Langkahnya tergopoh-gopoh saat ia tahu kalau Pak Carik memergokinya. Tapi ia telah siap dengan sebilah pisau dibalik punggungnya.

“Mau kamu bawa ke mana kambing hitam itu, Mal? Tidak malu apa sama warga!” seru Pak Carik yang ternyata tak sengaja melihat Iqmal saat tadi sedang melintas.

Wis ben. Biar saja! Toh kambing hitam tetaplah kambing hitam!” Iqmal semakin mencengkeram tali yang mengikat kambing hitam itu.

“Tapi sama saja kamu mencuri!”

“Kambing hitam tidak boleh dikurbankan!”

“Kata siapa?”

“Kata saya, Pak Carik!”

Pak Carik menggeleng-gelengkan kepala lantaran melihat kelakuan aneh Iqmal. Beliau menasihati Iqmal singkat. Iqmal pun akhirnya pergi setelah sebelumnya melepaskan kambing hitam itu.

Begitulah Iqmal beberapa bulan yang lalu, saat menjelang hari raya Iduladha. Mendadak dia menjadi sangat aneh. Sebelumnya, ada seorang warga yang hendak mengurbankan seekor sapi berwarna hitam, tapi ia tegas melarang dengan dalih bahwa sapi hitam tak boleh dibuat kurban. Warga itu pun akhirnya menuruti perkataan Iqmal dan mengganti sapi hitam tersebut dengan sapi putih. Pokoknya, semua yang berwarna hitam itu sesat menurut Iqmal.

Hal itu bukannya tidak berdasar, tapi memang sejak kecil Iqmal diajarkan oleh orang tuanya agar menghindari yang namanya kesesatan. Semua yang berkaitan dengan hitam dan gelap akan menjerumuskan ke arah yang tidak baik. Salah satu bukti nyata yang membuatnya percaya adalah pada saat pemilihan kepala desa. Waktu itu Pak Burhanlah yang dilantik menjadi kepala desa. Pak Burhan pun berniat mengendurikan seekor kerbau hitam.

“Lihat saja, Pak Burhan tidak akan lama menjabat sebagai kepala desa!” ucap Iqmal sehari setelah pengumuman dilantiknya kepala desa.

“Kenapa kamu yakin sekali, Mal?”

“Ya karena beliau mengendurikan kerbau hitam. Hitam itu gelap, sesat. Tidak baik pokoknya!”

“Lho, tapi kan niatnya buat selamatan. In syaa Allah tidak apa-apa, Mal.” Banu menepuk-nepuk pundak Iqmal, meyakinkan.

“Pokoknya podho wae! Sama saja.”

Benar saja, belum sampai enam tahun, Pak Burhan sudah lengser dari jabatannya sebagai kepala desa. Bukan karena tekanan dari berbagai pihak, melainkan sakit yang diderita secara mendadaklah yang mengakibatkan hal itu terjadi. Sampai akhirnya dia meninggal dunia.

Sejak saat itu, warga mulai sering membicarakan Iqmal yang konon mulai dipercaya dapat memprediksi segala sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal tidak baik. Seperti misalnya: jangan memancing di sungai yang airnya keruh, atau jangan berpakaian serba hitam di malam hari.

Meski terkesan tidak masuk akal, warga pun mulai mengakui bahwa Iqmal adalah seorang pemuda yang tak hanya pandai mengajari anak-anak mengaji, namun juga selalu mengingatkan untuk tidak berbuat jahat pada sesama.

Pagi ini, ketika semua warga mulai melupakan kejadian pencurian kambing hitam yang hendak dilakukan oleh Iqmal, tiba-tiba warga digegerkan oleh hilangnya seekor kambing hitam. Ya, kali ini benar-benar hilang dan tak ada satu pun yang menangkap basah siapa pelakunya. Suara kentungan segera terdengar membelah kesunyian. Warga mulai berdatangan menuju ke sumber suara. Ada yang masih berkalung sarung, ada juga yang lupa memakai alas kaki. Semua berkumpul menjadi satu, termasuk Iqmal.

“Kambing hitamnya hilang, Pak Kades!” teriak warga yang membunyikan kentungan sambil menunjuk ke arah tempat penampungan hewan kurban.

“Hah, hilang!”

“Lho, bukannya setelah kejadian Iqmal, kambing di sini semua aman?”

Semua mata mulai tertuju pada Iqmal. Sedangkan yang dituju hanya sanggup melongo tanpa berujar apa-apa.

“Eh, bisa saja Iqmal yang mencuri kambing hitam itu!”

“Iya, Pak Kades. Selama ini kan dia yang ngotot kalau di desa kita ini jangan ada kambing atau sapi hitam!”

“Wah, ngawur ini! Jangan asal main mengambinghitamkan saya to! Apa kalian punya bukti kalau saya yang ngambil?”

“Lha terus siapa lagi?”

Pak Kades terlihat bingung dengan berbagai perkataan dari warganya. Ia juga melihat Iqmal dengan saksama. Tak mungkin jika Iqmal nekat melakukan perbuatan yang sangat tidak berpendidikan itu. Bahkan sekarang Iqmal dikenal sebagai pemuda yang rajin beribadah. Ya, sejak ia dijadikan panutan dan mengajar mengaji anak-anak desa.

“Bukan saya pencurinya, Pak Kades.” Wajah Iqmal memelas sambil berlutut di hadapan Pak Kades.

“Halah, usir saja orang ini, Pak Kades! Ngakunya orang baik, ibadah di masjid, mengajar ngaji, tapi kelakuannya busuk!”

“Sebentar, sebentar, kita dengarkan penjelasan dari Iqmal dulu,” ucap Pak Kades seraya mengangkat kedua tangannya untuk memberi isyarat pada warga supaya lebih tenang.

“Saya tadi dari rumah, Pak Kades. Terus mau ke masjid lebih awal. Tahu-tahu ada suara kentungan, karena panik ya ikut saja sama warga lain ke sini.”

“Nah, sudah jelas to sekarang?”

Warga akhirnya terpaksa membubarkan diri satu per satu, meski wajah mereka masih terlihat belum puas lantaran Iqmal tidak jadi diusir dari desa.

***

Dua hari setelah kejadian itu, Iqmal merenung. Ia tidak lagi memberikan nasihat-nasihat bijak untuk warga. Sebetulnya bukan tidak ingin, tapi wargalah yang mulai enggan mendengarkannya. Padahal ia sangat rindu pada anak-anak yang belajar mengaji. Duduk sambil bersolawat. Ah, selebihnya ia hanya mampu uzlah di dalam masjid setelah anak-anak pulang belajar mengaji.

Ainun yang tak lain adalah putri Pak Kades—yang menggantikan Iqmal mengajar pun sempat menanyainya. Tapi Iqmal tetap saja diam dan tidak menjelaskan apa-apa. Hatinya sudah kadung sakit jika mengingat peristiwa yang telah menimpanya. Semua orang tetap saja menganggapnya sebagai pencuri, meski tidak ada satu pun bukti yang ditemukan.

Dalam kegelisahan hatinya, ia teringat oleh perkataan kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. “Kalau kamu mau jadi orang yang benar, kamu harus mengajarkan kebenaran pada mereka, Le.” Tak terasa air matanya meleleh mengenang itu.

Iqmal pun memutuskan untuk meninggalkan desa secara diam-diam, agar hatinya tenang dan tidak dikungkung oleh rasa bersalah. Ya, ia memang merasa bersalah sejak membuat warga mulai percaya dengan nasihat-nasihatnya. Tapi karena itu jugalah, ia justru dikambinghitamkan oleh warga.

Iqmal membawa pakaian secukupnya dalam tas ransel. Ia memang sengaja tidak membawa semua karena suatu saat ingin kembali lagi, walau entah kapan. Mungkin sampai ia tidak dianggap pencuri lagi oleh warga. Mungkin sampai si pencuri asli itu tertangkap. Ya, mungkin.

Saat baru separuh perjalanan meninggalkan desa, ada seseorang yang mengajak Iqmal berbicara. Orang tersebut entah dari mana datangnya, kemudian mengatakan sesuatu yang sulit dipahami oleh Iqmal.

“Jangan pergi kecuali jika urusanmu sudah selesai.”

Iqmal menatap wajah orang itu dengan saksama. Anehnya, wajahnya tidak jelas. Selebihnya, Iqmal hanya mampu melihat orang itu yang perlahan melenggang pergi—meninggalkannya dalam diam.

Tidak cukup sampai di situ, langit yang tadi cerah, tiba-tiba saja berubah menjadi gelap. Gelegar petir saling sahut menyahut. Membuat Iqmal menutupi kedua telinganya. Hujan akhirnya turun. Iqmal buru-buru mencari tempat berteduh. Beruntung ada sebuah gubuk tak jauh dari tempatnya berdiri.

Sambil menunggu hujan reda, pikiran Iqmal kembali pada sosok yang baru ditemuinya tadi. Perkataan orang itu sungguh membuat hatinya ditikam keresahan bertubi-tubi. Seolah-olah ia tidak boleh pergi. Tapi apa urusan yang dimaksud? Bahkan warga desa pun sudah tak mau berurusan dengannya. Sebab kehadirannya memang sudah tidak dianggap lagi oleh warga.

Tak terasa, Iqmal pun tertidur. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Orang tuanya juga berpesan agar jangan pergi sebelum urusannya selesai. Iqmal sempat bertanya, apa maksud dari pesan tersebut. Tapi orang tuanya menggeleng dan menasihati agar ia mencari jawabannya sendiri.

Setelah itu, kedua orang tua Iqmal pergi. Iqmal tersenyum dan bertekad akan mencari jawaban tentang pesan tersebut. Namun tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu hingga ia jatuh.

Brukk!!

“Mal, Iqmal! Bangun! Pencuri kambing hitam itu sudah ditemukan!”

“Hah, apa?!”

Iqmal mengerjap-ngerjapkan matanya dan refleks mengelap air kental yang tiba-tiba keluar ujung bibirnya dengan punggung tangan.

“Ayo ikut aku ke balai desa!”

Ternyata Banu yang membangunkan Iqmal dari tidur lelapnya. Sambil tertatih, Iqmal mengikuti langkah gegas Banu. Betapa kagetnya ia saat sampai di balai desa. Semua warga telah berkumpul. Di depan Pak Kades sudah berdiri seorang perempuan yang setelah ia amati adalah Ainun.

“Ma-maafkan saya, Pak Kades. Se-sebenarnya saya-lah yang memengaruhi semua warga agar mengambinghitamkan Bang Iqmal,” ucap Ainun dengan sedikit terbata.

Ia tak sanggup menatap Pak Kades. Begitu juga pada semua warga. Ia sangat malu. Sungguh malu. Apalagi jika harus meminta maaf langsung dengan Iqmal.

“Ainun … Ainun. Kamu kok tega sekali sama Iqmal. Memangnya dia salah apa sama kamu?”

“Iya, benar. Kami menyesal karena kemarin sudah mendengarkan omong kosongmu yang tidak ada gunanya itu!”

“Seharusnya kamu yang pergi dari kampung ini, bukan Iqmal!”

“Iya. Dasar!”

“Sudah, sudah! Jangan menyudutkan Ainun seperti itu. Kita harus mendengarkan penjelasan dari dia.” Pak Kades yang sejak tadi terlihat mencoba sedikit emosi akhirnya memotong perdebatan antar warga.

Dengan air mata yang berlelehan, Ainun pun menjelaskan mengapa ia melakukan semua itu pada Iqmal. Ia juga mengatakan jika selama ini ia terobsesi ingin mengajari anak-anak mengaji. Hanya saja cara yang ditempuhnya salah.

 Sementara itu, Ainun berjanji akan mengembalikan kambing hitam yang telah dicurinya. Syukurlah, semua warga mau memaafkannya. Pertemuan itu ditutup dengan ide yang dicetuskan oleh Pak Kades. Beliau ingin Iqmal dan Ainun dapat bekerjasama, bergantian mengajar anak-anak mengaji. Hal itu sontak membuat warga bersorak sorai dan satu per satu dari mereka memeluk Iqmal yang sedang tersenyum lega.

Saat orang-orang sedang sibuk mengelu-elukan Iqmal, Ainun terlihat menepikan diri, meringkuk di belakang pintu balai desa. Tak ada satu pun yang tahu jika ia mengambil sebuah benda keras dari balik baju dan ia bergumam pendek.

“Kambing hitam itu sudah mati.”

Semarang, Agustus-Oktober 2019

==========

Reni Asih Widiyastuti ialah penulis asal Semarang, Alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang. Salah satu bukunya telah terbit, yaitu Pagi untuk Sam.

Kunci

0

BEBERAPA waktu ia tak kunjung mendapati kunci yang seharusnya dapat membuka pintu rumahnya. Ia juga tak tahu mengapa kunci yang semestinya berada di bawah keset raib tak tahu rimbanya. Ia mengingat-ingat, terakhir ia menaruhnya memang di situ dan tak pernah di tempat lain. Jika pun ia lupa, ia pernah lupa mengunci pintu itu seperti yang terjadi bulan lalu saat ia buru-buru berangkat kerja dan pulangnya mendapati pintu rumah terbuka dan di dalamnya berantakan bagai kapal pecah. Barangkali istrinya pulang sebentar untuk mengambil sisa barang-barangnya.

Di mana kunci itu ia letakkan?

Ia tak berpesan apapun pada Drio. Bukan sungkan atau tak ingin mengganggu aktivitas berkebunnya saban pagi, yakni merawat aneka sayuran hidroponik di halaman rumahnya. Tetangganya itu memang rajin sebagai petani rumahan. Aneka sayuran ia tanam: selada, kol, kacang panjang, hingga tomat dan cabai. Meski pekerjaan resmi yang senantiasa ia katakan adalah menulis novel–entah sudah diterbitkan atau belum. Dan ia sudah menganggap Drio sebagai saudara. Bukan lantaran sama-sama hidup sendiri sebagai duda. Namun, pagi itu, ia benar-benar buru-buru mengejar jadwal keberangkatan kereta.

Oleh karena keterburu-buruannya itu, ia sampai lupa membawa sebuah tas berisi hasil ulangan murid-muridnya. Ia hanya membawa tas berisi laptop beserta chargernya, smartphone beserta chargernya, buku-buku diktat mata pelajaran yang diampunya, dan beberapa pulpen dan spidol hitam (bahkan ia lupa membawa sisir dan pencuci muka). Seharusnya ia bagikan hasil ulangan itu dan memberikan tes perbaikan bagi murid yang nilainya kurang. Di kelas, ia tak bisa melaksanakan rencana itu. Ia harus berbohong bahwa ulangan mereka belum selesai dinilai dan akan dibagikan pada pertemuan berikutnya. Murid-murid sebagian kecewa, tapi banyak yang lega.

Hampir lima tahun ia menjalani profesi sebagai pengajar di sebuah sekolah swasta di luar kota. Meski itu tak sesuai dengan kualifikasi ijazahnya. Pekerjaan itu ia peroleh dari mertuanya yang menjadi kepala sekolah di tempat ia mengajar. Sebagai mertua tentu tak elok punya mantu pengangguran, apalagi bergelar sarjana. “Buat apa sekolah tinggi-tinggi jika tak memiliki pekerjaan yang mumpuni,” kata si mertua suatu kali. Maka, berkat jabatannya, masuklah si mantu-pengangguran-itu di sekolah yang dikepalainya, meski tak punya latar belakang sebagai sarjana kependidikan.

Ketika si mertua pensiun, ia tetap mengajar di sekolah itu, sambil melanjutkan studi penyetaraan ijazah. Dan di situlah pertengkaran dengan istrinya mulai tumbuh, mengakar kuat, menjulangkan dahan-dahan, hingga berbuah perceraian. Sebuah persoalan yang sengaja dibuat-buat supaya dapat dijadikan bahan pertengkaran. Sebuah masalah kecil yang dibesar-besarkan agar dapat dijadikan alibi sebuah perpisahan. Lantas istrinya melanjutkan studi ke Eropa–yang memang menjadi cita-citanya sedari kecil–dan mungkin tengah menjalin hubungan asmara dengan lelaki bule setempat. Meski demikian, mertuanya tetap menganggapnya anak sebab ia tak punya anak lain selain anaknya.

Dulu Arman hanya tahu bahwa menikahi kekasihnya adalah keniscayaan. Ialah perempuan yang menjadi istrinya. Tak ada yang lebih istimewa selain menikahi seseorang yang paling dikasihi sepenuh hati. Dan Arman  hanya tahu bahwa mencintainya adalah bukan kebetulan belaka. Ada semacam proses pencarian cinta yang amat luar biasa yang ia kerahkan sepenuh tenaga–semacam ijtihad lahir batin. Cinta yang kemudian bertunas menjadi harapan. Tumbuh menjadi keyakinan. Dan berbuah menjadi cahaya masa depan. Sebuah rencana memikat yang mudah disusun dalam angan-angan namun susah diwujudkan dalam kenyataan. Sedikit pun ia tak menyadari di balik ketergesaannya memutuskan perkara itu membuatnya kini meratapi penyesalan yang tak tertanggungkan. Ia kini hidup sendiri, di rumah yang dua tahun lalu dibelinya dengan cara kredit dari uang sertifikasi, tanpa seorang istri yang dulu begitu ia kasihi. Apalagi seorang buah hati. Ia benar-benar lelaki sepi.

Akan tetapi, buat apa menyesali yang telah terjadi?

Arman tampak waras saja meski tiada sedikit pun menampakkannya lewat gurat wajah atau perangai sehari-hari. Ia masih mengajar tiap pagi; menyapa Drio, novelis sekaligus petani rumahan–yang novel-novelnya belum ia beli di toko buku; dan mengejar kereta dan berjejalan di dalamnya. Lalu, sepulangnya, ia kerjakan pekerjaan rumah: menyapu lantai, membersihkan kaca jendela, sesekali mengelap lemari dan beberapa barang pecah belah di dalamnya, dan ketika usai, ia menyeruput kopi yang sengaja ia letakkan di meja tamu, dan jika capai, ia menonton tv yang menayangkan berita maupun informasi seputar selebriti. Ia jarang menonton sinema televisi yang tayang hingga ratusan episode, yang selalu berakhir tanpa klimaks.

“Rumput di halaman sudah meninggi. Sudah waktunya kau cabuti,” batinnya, kepada diri sendiri.

Sejatinya bukan itu yang ia permasalahkan. Namun, tangannya masih melepuh usai tertumpahi air panas sebelum berangkat ke sekolah yang membuatnya urung mencabuti rumput-rumput liar itu. Andai saja ia tak mengangkat telepon Ria, andai ia lebih sabar menuang air panas ke cangkir kopi, andai ia tak berpikir macam-macam soal mantan istrinya, tentu tangan itu sanggup mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sekaligus.

Yang terjadi tak demikian adanya.

Tak baik meratapi segala yang terjadi. Biarkan ia mengalir bagai air kali dan memuara ke laut. Begitu sebuah quote yang pernah ia baca di laman Facebook. Pemilik akunnya seorang ustaz karena di awal namanya ada gelar itu. Tapi ia tak peduli. Ia hanya mengakui bahwa ia terlampau mendalami keadaannya dan abai pada hal-hal penting di sekitarnya. Dan itu yang membuatnya makin larut dalam perbuatan yang telah diperbuatnya.

Sejak kecil ia dilatih untuk percaya diri. Percaya kepada kemampuan sendiri. Halangan sebesar apapun tak perlu gentar bahkan ditakuti. Semua adalah tantangan, yang bilamana sanggup dihadapi maka engkau akan menjadi orang yang kuat dan tahan banting. Demikian pesan bapaknya, tiga tahun sebelum ia masuk madrasah tsanawiyah. Ia begitu yakin bahwa apa yang dikatakan bapaknya benar. Ia buktikan itu ketika memilih masuk madrasah daripada sekolah umum. Ia yakin jika masuk madrasah ia makin mengerti ilmu agama di samping ilmu umum. Ia yakin mampu mengerjakan soal-soal ujian yang diberikan (baik UTS, UAS, maupun UN). Ia yakin akan menjadi seorang cerdik-cendekia yang mampu mengentaskan kebodohan di seluruh pelosok kampungnya. Ia yakin dengan mimpinya setinggi langit itu meski tak tahu akan jatuh di antara bintang-bintang atau terjun bebas ke bumi yang keras lahir batin. Ia hanya yakin.

Yakin yang terlampau menjulang.

Pada ujungnya, ia jatuh di comberan. Menjadi kuli batu dan bekerja apapun di malam hari untuk melunasi hutang-hutang yang dibuatnya semenjak kuliah–meski harus ia selesaikan dalam kurun tujuh tahun. Ia terjerembab dalam kerasnya dunia yang sebenarnya. Penyesalan memang senantiasa hadir belakangan.

Di balik itu semua, ia terlanjur mencintai seorang gadis teman kuliahnya. Begitu amat mencintainya dan bahkan ingin lekas menikahinya. Ia pun menikahi kekasihnya. Beruntung, ibu kekasihnya yang janda memberinya pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah yang dikepalainya, sehingga ia meninggalkan perkerjaan-pekerjaan kasarnya dan memulai merintis rumah tangganya. Meski kemudian keputusan buru-buru itu yang kini mesti ditanggungnya untuk melengkapi ketololannya menjalani hidup. Hidupnya jauh dari kata siap dan mapan.

Di rumah itu lengang. Jika Ria masih ada, tentu rumah itu berwarna. Arman hanya meratap pada dinding yang diam-beku, pucat warna putihnya, lumut menghijau di sana-sini.

“Semestinya hidup lebih adil kepadaku.”

Arman sempat meraba celah jendela kaca bersusun. Jerujinya yang longgar mudah bagiku merogohkan tangan kurusku, bisiknya pada dirinya sendiri. Kunci rumah tak ia temukan di situ. Ia beralih ke pot bunga cocor bebek. Rumput-rumput halus hampir memenuhi ruang itu dan ia abai tak sempat mencabutinya. Tak ada kunci.

Lalu di mana kunci itu berada?

Engkaukah yang menyimpannya? [*]

==========

M Firdaus Rahmatullah, lahir di Jombang. Menggemari sastra dan kopi. Tahun 2015, mengikuti workshop cerpen Kompas di Bali. Kini, tinggal di Situbondo.

Tiga Burane

0

Adalah seorang gadis rupawan yang dipinang oleh tiga laki-laki tampan yang membuat cerita ini ditulis. Seorang lelaki ringkih dengan janggut serupa rambut jagung telah menuturkannya, dengan sudut mulut berbusa oleh sisa ludah. Ia bilang, tutur kisahnya akan hilang oleh embus angin ke arah timur, bila tidak ada yang menuliskan.

Maka mulai kutulis pembuka ceritanya: Seorang gadis rupawan dipinang oleh tiga laki-laki tampan. Ketiga laki-laki itu saudara kembar; tidak hanya raut rupanya yang sepersis, tapi bentuk dan tinggi tubuhnya pun tak ada beda, bahkan sifat dan keinginannya pun sama. Mereka bernama Burane Kanja, Burane Garetta, dan Burane Kessing.

Betapa bingung orang tua si gadis mendapat pinangan tiga laki-laki sekaligus. Tak mungkin anak perempuannya memiliki tiga suami! Untuk mengelak dari kerumitan, orang tua ini mengenakan syarat kepada ketiga peminang itu untuk mencari benda ajaib yang memiliki manfaat pada anak gadisnya.

Oleh dorongan rasa cinta pada gadis idamannya, ketiga laki-laki kembar itu pun memutuskan melakukan pengembaraan mencari benda-benda ajaib. Mereka berpencar demi menghindari menemukan benda yang sama. Burane Kanja menuju ke arah utara, Burane Garetta berjalan ke arah barat, dan Burane Kessing menyusur langkah ke arah selatan.

Sedang si gadis, dalam penantian, saban senja memilih duduk di tepi jendela kamarnya yang menguak ke hamparan lapangan berumput, di mana ketiga laki-laki pujaan itu berpencar melangkah menjauh. Siapa pun lebih dahulu tiba, tak masalah, baginya ketiga laki-laki itu sama saja.

Ratusan purnama kemudian datang silih berganti, tahun demi tahun luntur, yang terus pula menggerus penantian si gadis. Bercangkung menunggu seraya menatap hampar lapangan berumput di luar jendela kamarnya, membuat kondisi fisik si gadis terus melemah; pikirannya pun terus mengusut, dibebani dugaan demi dugaan pada keselamatan sang pujaan hati.

Akhirnya si gadis jatuh sakit; bertambah parah setiap pekan berganti, hingga sampai pada hari saat detik-detik kematian menjelang.

***

Adalah seorang lelaki tua dengan janggut serupa rambut jagung yang selalu membuatku menyusup ke reyot gubuk rumbianya. Angin pantai terus menggoyang gubuk itu, seakan hendak menerbangkan, seraya melawan ikatan erat tiang-tiang penyangganya pada tonjolan akar-akar bakau yang menyembul dari ceruk pasir.

Orang-orang tua di kampung kami mengatakan lelaki ringkih itu telah hilang ingatan. Ia tak mampu lagi mengurai kata tentang tanah muasalnya. Ia terdampar di tubir pantai kampung kami, di suatu hari, diduga setelah berhari-hari terapung berjuang mengulur nyawa dengan berpegangan pada serpih badan perahunya. Entah ia seorang nelayan, atau seorang pelaut, atau malah seorang perompak, yang perahunya telah digasak badai hingga menyerpih.

Anak-anak seusiaku enggan menyusup ke gubuknya. Beda dengan aku, sepulang dari belajar mengaji di surau selepas Asar, bersemangat kusurukkan tubuh kecilku ke dalam gubuk itu. Aku suka mendengar cerita-ceritanya, terutama kesahnya tentang kisah yang akan hilang oleh embus angin ke arah timur, begitu katanya, bila tak ada yang menuliskan.

Maka kutulis lanjutan ceritanya: Di ujung pengembaraan, ketiga saudara kembar itu ternyata bertemu di satu tempat. Persuaan mereka terjadi sesaat setelah ketiganya berhasil mendapatkan benda-benda ajaib temuan masing-masing. Ketiga benda itu tersimpan di lokasi yang tidak berjauhan, dan agaknya ketiga saudara kembar itu telah memutari separuh lingkar bumi hingga bertemu di titik yang sama.

Sekian lama memendam rindu pada kembarnya, membuat ketiganya sontak berpelukan dengan haru. Saking larut bertukar pengalaman, mereka tak sadar senja mulai lindap. Mereka tak ingin lagi mengeloni gelap malam di tempat pengembaraan yang sepi. Pada senja ini juga mereka ingin pulang.

“Bagaimana kalau kita melihat-lihat dulu keadaan kekasih kita?” usul Burane Kanja. “Dia tentu telah lelah menunggu. Dengan benda temuanku yang berwujud serupa cermin ini, akan dapat melihat keadaan kekasih kita saat ini.”

Dalam kilap pantul permukaan benda ajaib itu, nampak kondisi gadis pinangan mereka sedang dalam detik-detik jelang kematian.

Terperanjat berbarengan, ketiganya saling-tukar tatap bingung.

Burane Kessing lebih dulu menguasai diri. “Tenanglah,” sahutnya. “Dengan benda temuanku yang berwujud serupa batu permata ini, akan bisa menyembuhkan, mengembalikan ke kondisinya yang semula, bila secepatnya dapat disentuhkan ke tubuhnya.”

“Masalahnya,” sela Burane Kanja, “sejak kita memulai pengembaraan, telah ratusan purnama di langit malam kita lalui, baru kita tiba di tempat ini. Untuk kembali, tentu kita pun membutuhkan waktu yang sama. Dan kekasih kita pasti telah tiada.”

“Tenanglah,” giliran Burane Garetta menyela. “Dengan benda temuanku yang berwujud serupa tusuk konde ini, waktu perjalanan dapat dipersingkat dengan cepat. Berpeganganlah pada benda ini, pejamkan mata kalian; dan dalam beberapa kejap, kita akan tiba di sisi kekasih kita. Batu serupa permata temuan Burane Kessing, tentu dapat segera disentuhkan ke tubuhnya.”

Ketiganya berlekas memegang benda itu, berbarengan pula memejamkan mata; dan dalam beberapa kejap saja, ketiganya telah berdiri di depan pintu kamar si gadis pinangan.

Tergopoh orang tua si gadis menyongsong. “Cepatlah. Dia sakit parah. Sepertinya, ajalnya tinggal beberapa detik lagi….”

Ketiganya menyerbu masuk. Burane Kessing segera mengeluarkan benda ajaib serupa batu permata temuannya, lalu meminta orang tua si gadis menyentuhkan ke seluruh tubuh anaknya.

Hanya berbilang tiga hingga empat tarikan napas, si gadis terbangun dengan wajah berseri-seri.

“Oh, kamulah yang berkenan menyuntingnya,” ujar orang tua si gadis, dengan wajah tak kalah berserinya kepada Burane Kessing.

Burane Kanja dan Burane Garetta sontak menyela, “Tunggu dulu. Tidak bijak bila Bapak terburu-buru begitu mengambil keputusan. Bapak perlu mendengar cerita kami dulu.”

Ketiga saudara kembar itu lalu berjejer, tepat menghadap ke orang tua gadis pinangan mereka.

“Pada benda temuankulah, yang berwujud serupa cermin itu hingga kami dapat mengetahui kondisi sakit parah menjelang ajal pada putri Bapak,” papar Burane Kanja. “Tanpa mengetahui keadaan putri Bapak lewat benda itu, tentu kami belum kembali ke sini untuk menyentuhkan batu ajaib serupa permata itu.”

“Dengan benda temuankulah, yang berwujud serupa tusuk konde itu yang telah mempercepat perjalanan kami ke sini,” urai Burane Garetta pula. “Tanpa melalui bantuan benda itu, kami tidak bisa tiba tepat waktu di sini untuk menyentuhkan batu ajaib serupa permata itu.”

“Jadi, ketiga benda itu tak mungkin terpisahkan, Bapak,” ketiganya mempertegas.

“Benda ajaib yang serupa batu permata itu, akan menjadi induk kalung yang menghiasi leher jenjang putri Bapak, dan itu akan membuat kecantikannya kian terpancar,” tambah Burane Kessing.

“Benda ajaib serupa tusuk konde itu, akan menahan beraian rambut putri Bapak, akan bermahkota di rambut itu hingga keanggunan putri Bapak kian terpancar,” tambah Burane Garetta.

“Benda ajaib serupa cermin itu, akan memperjelas tata kecantikan putri Bapak, dan akan menjaga kecantikannya agar terus terpancar,” tambah Burane Kanja.

“Ketiganya benar-benar tak terpisahkan, Bapak!” Semringah wajah si gadis.

“Tapi tak mungkin kamu memiliki tiga suami sekaligus!” hardik orang tua si gadis marah. Kebingungan kembali menelikung pikirannya.

***

Adalah sebuah kapal nelayan milikku, yang membuat kami masih selalu bersama, berbilang puluhan tahun kemudian. Belakangan baru kuketahui, lelaki ringkih dengan janggut serupa rambut jagung itu ternyata seorang ‘penentu lokasi’ yang mumpuni. Di gulita malam sekalipun, kami tetap dapat tersasar ke tempat-tempat berkumpulnya ikan-ikan yang kemudian kami jala.

“Inginnya kita terus bergerak ke arah timur,” kataku, setelah lambung kapal kami disarati ikan-ikan tangkapan. “Supaya aku pun bisa tiba di tempat penemuan benda-benda ajaib itu. Dan dengan benda ajaib temuanku, akulah yang berhak menyunting si gadis rupawan.”

Lelaki itu, yang kian ringkih dan kian uzur, mengikikkan tawanya. “Tugasmu hanya menuliskan cerita tentangnya, bukan ikut meminang,” di sela tawanya ia menyahut. “Dan tak mungkin lagi ada yang bisa menyuntingnya; sejak aku sebagai bapaknya, tak bisa lagi mengingat arah mana pulang ke tanah muasal.” ***

Parepare, Okt. 2007/Versi revisi: Agust. 2019.

Catatan:

Cerpen ini ikut dibukukan dalam antologi cerpen: ‘Pohon yang Tumbuh Menjadi Tubuh’, 2018, Gora Pustaka Indonesia.

Ikan Besar

0

DI BAWAH matahari terik, anak itu berjalan pincang sambil meringis. Ia merasa nyeri pada telapak kaki kirinya yang luka dan kini meradang. Pandangannya agak mengabur karena air memenuhi kelopak matanya yang terasa panas. Sedikit lagi ia akan mencapai rumahnya. Tapi ia kemudian berhenti sejenak demi melihat seekor burung camar melayang sendirian di udara. Anak itu tersenyum menyaksikan gerakan terbang menukik yang dibuatnya.

Angin laut yang bertiup kencang dan tiba-tiba menyebabkan ia segera menghentikan tontonannya itu. Lalu ia berjalan lagi dan akhirnya sampai di ujung tangga rumahnya. Ia duduk pada anak tangga pertama, menunggu ibunya.

Laut begitu luas dan ia suka memandanginya. Tampak beberapa perahu mengapung jauh di permukaan. Para nelayan akan turun ke laut pada saat tengah malam sebab mereka tahu angin akan bertiup kencang menjelang subuh. Perahu-perahu kecil hanya akan mencari ikan di sekitar Pulau Bulaeng Ti’no, Pulau Pammoli’ Cinna atau Pulau Kacinnongang Je’ne. Pulau-pulau itu tak begitu jauh dari sini sehingga mereka sudah bisa kembali sewaktu matahari terbit. Bagi yang memiliki perahu lebih besar, tentu akan mencari tempat yang lebih jauh lagi dengan harapan mendapatkan ikan lebih banyak pula. Mereka baru akan kembali selepas dhuhur. Anak itu kini menantikan saat-saat bertemu dengan ayahnya. Di langit burung camar itu tak ada lagi.

Sebenarnya ia masih ingin melangkahkan kaki naik ke atas rumah, tapi rasa nyeri makin kuat ia rasakan, membuatnya hanya bisa duduk di situ. Ia menunggu sampai ibunya menghampirinya. Suhu badannya meningkat.

”Lukamu harus kubersihkan dulu,” kata ibunya sewaktu memasukkan kaki anaknya yang bengkak itu ke dalam baskom kecil yang telah diisi air hangat. Anak itu mengeluarkan suara desis dari mulutnya ketika ibunya mencelupkan kakinya ke dalam air.

”Sebentar lagi ayah pulang kan, Bu?” ia mencoba menahan rasa nyeri dengan bertanya. Ibunya tak segera menjawab. Ia tetap berkonsentrasi mengeluarkan pasir yang menempel pada telapak kaki anaknya itu sedikit demi sedikit. Ia terlihat hati-hati sekali mengorek pasir dengan menggunakan ujung kuku jari kelingking tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegangi kaki anaknya itu.

”Tengah hari begini biasanya ia sudah kembali,” jawab ibunya kemudian tanpa memperhatikan wajah anaknya. Ia terus berkonsentrasi mengeluarkan pasir yang mulai menyatu dengan bagian lukanya itu. Kemarin, ketika ia bermain bersama anak-anak nelayan lainnya di pinggir laut, tanpa sengaja ia menginjak pecahan kulit kerang yang tajam sehingga kakinya robek dan luka. Tapi ia sudah terbiasa dengan luka seperti itu makanya ia biarkan. Lagipula ia bukan anak yang suka mengeluh. Luka seperti itu tak ia pedulikan jika ia sedang asyik berlomba membuat istana pasir dengan teman-temannya itu.

”Semalam ayah berjanji menangkap Ikan Pari yang besar untukku,” kata anak itu menatapi ibunya. Ibunya tak memberi respon, lalu anak itu berkata lagi, ”Saya suka melihat sayapnya yang lebar.”

Anak itu membuka kedua telapak tangannya dan mengangkatnya melewati kepalanya. Ia lalu menyusunnya dan membayangkan ikan Pari besar itu membuat gerakan terbang menukik seperti yang dilakukan burung camar.

”Ya, ayahmu tentu akan memenuhi janjinya.”

”Tapi apa benar ayah bisa menangkap ikan sebesar itu sekarang?”

”Tentu bisa, sayang.” sahut ibunya, akhirnya menatap wajah anaknya. Anak itu tersenyum. Cahaya pada bola matanya berbinar-binar. Seberkas cahaya itu menembus masuk ke dalam hati sang ibu.

”Ya, kupikir ayah pasti bisa menangkap Ikan Pari untukku,” jawab anak itu bangga. Di dalam pikirannya, ayahnya akan kembali dengan seekor ikan besar bersayap lebar dalam gendongannya. Ia membayangkan ikan itu masih hidup sehingga ia bisa meletakkannya ke dalam air dan melihat sayapnya mengepak-ngepak. Tapi dalam pikirannya itu juga, ia menaruh khawatir. Bagaimana kalau ikan itu didapatkan ayahnya, dimana ia akan menyimpannya. Di sini tak ada kolam, sedangkan baskom milik ibunya itu hanya pas untuk kedua kakinya saja. Ia memandang ke laut yang begitu luas. Sesekali dicarinya camar itu.

Sang ibu terus berusaha membersihkan telapak kaki anaknya itu. Tanpa sengaja ia menyentuh bagian yang luka menyebabkan anak itu meringis. Ibunya berhenti sejenak, kemudian melanjutkannya lagi. Setelah selesai, ia membalut kakinya dan menggendongnya ke ranjang.

”Biarkan saja jendelanya terbuka,” kata anak itu kepada ibunya ketika hendak menutup jendela. Anak itu terus mengarahkan pandangannya ke laut. Ia ingin melihat perahu ayahnya datang. Tentu ia akan senang seandainya ayahnya kembali membawa ikan besar itu untuknya.

”Angin laut tak baik buatmu sekarang,” ucap ibunya dan segera menutup jendela. ”Istirahat yang cukup akan membuatmu lebih baik.”

Anak itu tak ingin bersilang pendapat dengan ibunya. Ia hanya ingin melihat laut, merasakan hembusan angin pada wajahnya, tapi sang ibu lebih menginginkan dirinya cepat sembuh. Lagipula ia bukan anak yang suka membantah.

”Sebaiknya kau cepat meminum ini, atau sebentar lagi kau akan mengigau,” perintah ibunya. Anak itu bangkit, membuka mulutnya dan menelan dengan cepat sirup penurun panas. Hanya itu obat yang bisa diminumnya sekarang. Tak ada persediaan obat yang lain. Ibunya menyerahkan segelas air putih sambil berpikir untuk membawanya ke mantri desa malam ini juga jika panasnya belum juga turun.

Anak itu merebahkan tubuhnya kembali. Ibunya menaikkan selimut sampai sebatas dadanya. Lalu diperasnya air dari kain-kain perca yang hendak digunakannya sebagai alat kompres. Kain kompres itu ia letakkan pada dahinya juga pada kedua ketiaknya. Sekilas ia melihat tatapan mata anak itu menjadi aneh.

”Ayah pasti bisa menangkap Ikan Pari itu kan, Bu?”

”Ya. Tapi sekarang berusahalah tidur.”

Anak itu setuju dengan anjuran ibunya tetapi sepertinya masih ada sesuatu yang dipikirkannya. Kalau ikan itu datang bagaimana ia akan memeliharanya. Tidak ada satu pun wadah yang bisa menampung ikan sebesar itu. Kini ia memutuskan untuk mencari nama yang cocok buatnya.

”Ibu, aku ingin memberi nama yang lain buat ikan itu,” kata anak itu lagi.

”Ibu rasa sebaiknya kau memejamkan mata, nak,” balas ibunya. Dengan penuh kasih sayang, ia membelai-belai rambut anaknya itu.

”Tapi aku ingin memikirkannya sekarang.”

Ibunya menarik napas, seolah tak setuju dengan apa yang ada dalam pikiran anaknya itu. Tapi dikecupnya juga pipi anak itu lalu meminta izin untuk meninggalkannya sebentar ke dapur.

Sang ibu mengira anak itu sudah memejamkan matanya ketika ia kembali. Tetapi dilihatnya ia terus memandangi langit-langit rumah. Matanya berkedip-kedip. Rupanya ia masih terus mencari nama yang bagus buat ikannya itu tapi belum juga ditemukannya. Lalu dilihatnya ikan pari itu melayang-layang di langit. Ia memegangi kedua sayapnya dan mengikuti gerakan terbang menukik seperti yang dilakukan camar. Ada sedikit pancaran kebahagiaan pada kedua pipinya. Ibunya lalu duduk di tempatnya semula, di samping kepala anaknya. Ia merasa iba melihatnya. Angin laut bertiup terlalu kuat sehingga hembusannya masih ia rasakan lewat celah-celah dinding.

Mungkin karena obat itu mulai bekerja dalam tubuhnya, dalam keadaan lemah anak itu berkata kepada ibunya, ”Ibu, kalau ayah datang memberiku ikan besar itu, akan kupanggil ia I Mumba.”

I Mumba adalah legenda yang hampir terhapus dari ingatan para nelayan. Hanya beberapa orang saja yang masih bisa mengingat kisah itu dengan baik. Beruntung kakeknya termasuk orang yang masih bisa menceritakannya. Dalam kisah itu, I Mumba begitu perkasa sehingga para perompak laut takut padanya. Anak itu tak pernah bosan dan meminta kakeknya mengulang-ulang cerita itu. Ketika kakeknya meninggal setahun yang lalu, tidak pernah lagi ada yang menceritakannya.

Tapi kini ia menemukan jalan untuk menghidupkan I Mumba. Tokoh kesayangannya itu ia jelmakan sebagai ikan pari dalam khayalannya. Ia ingin sekali membelai-belai punggungnya dan menyaksikan sayapnya mengepak-ngepak perlahan. Ia suka melihat riak-riak kecil yang timbul karena gerakan sayapnya itu.

Anak itu memiringkan tubuhnya, melingkarkan tangannya ke paha ibunya. Ibunya bisa merasakan hangat tubuhnya. Ia begitu cemas.

”Maukah ibu bernyanyi untukku?” pinta anak itu.

”Baiklah, tapi berjanjilah untuk tidur.”

Anak itu tahu sebentar lagi ibunya akan menyanyikan lagu kesukaannya. Tapi ia terlalu lemah sekarang untuk mendengarkannya. Ia mulai memejamkan matanya.

O, kondobuleng
Attujuko mae ri anakku
Nanucini’ sumanga’na*)

Sebelum ibunya selesai dengan lagunya, anak itu telah tertidur. Ia telah jauh berlayar ke dalam mimpinya. Bersama I Mumba, ikan sekaligus tokoh kesayangannya itu, ia terbang menjelajahi lautan yang menghampar biru dan sesekali melakukan gerakan terbang menukik seperti yang dilakukan camar. Sang ibu membelai-belai rambut anaknya dan masih mencoba melanjutkan lagunya.

O, bantinotto’
Allemi totto garrinna
Ribbakkammi cilaka ri tallasa’na **)

Saat-saat begini ia membayangkan suaminya di tengah laut mencari ikan untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Angin laut bertiup dan mengusap wajahnya. Laut begitu luas dan ia suka berlama-lama memandanginya.[]

Keterangan:
*) O, bangau putih/terbanglah kemari, ke anakku/lihat semangat hidupnya
**) O, burung pelatuk/patuklah sakitnya/terbangkan celaka dalam hidupnya

=====================
Muhary Wahyu Nurba, lahir di Makassar, 5 Juni. Menulis cerpen, puisi, dan artikel sastra. Anggota Masyarakat Sastra Tamalanrea, Makassar. Cerpen Ikan Besar adalah versi bahasa Indonesia dari Big Fish yang pernah dimuat di harian The Jakarta Post.

Kuda Bertanduk

0



PADA SUATU PAGI yang indah, seorang lelaki yang sedang duduk bermalas-malasan di dapur, sontak melihat seekor kuda bertanduk emas melahap bunga-bunga mawar di kebun. Secepat kilat lelaki itu kembali ke kamar tidurnya yang berada di lantai atas. Ia lalu membangunkan istrinya yang lagi ngorok.

“Istriku, ada seekor kuda bertanduk di kebun,” katanya, “ia memakan bunga mawar kita.”

Dengan malas, istrinya membuka mata dan memandanginya.

“Kuda itu binatang yang cuma ada dalam dongeng.” Selesai berkata begitu ia pun membalikkan tubuhnya.

Lelaki itu kini berjalan mengendap-endap menuruni tangga dan memasuki kebun. Kuda itu masih di situ. Sekarang giliran bunga tulip yang dicomotnya.

“Hei, kuda, makan ini,” seru lelaki itu. Ia menyodorkan setangkai bunga lily kepadanya. Kuda itu memakannya lahap sekali. Dengan perasaan melambung, sebab ada seekor kuda bertanduk di kebunnya, lelaki itu kembali lagi ke kamar dan membangunkan kembali istrinya.

“Istriku, kuda itu juga suka memakan bunga lily,” katanya seraya membangunkan istrinya, “sungguh, ia memakan bunga lily.”

Istrinya dongkol bukan main. Ia bangun dan bersila di atas ranjang.

Dengan pandangan yang dingin ia menimpali suaminya, “Dasar goblok! Saya akan membawamu ke rumah sakit jiwa.”

Lelaki itu sebenarnya sangat benci dengan kata goblok dan rumah sakit jiwa, tapi kini harus diterimanya. Ia berpikir sejenak lalu berkata kepada istrinya, “Lihat saja nanti.”

Ia lalu ke luar dari kamar itu. Ia kembali lagi ke kebun belakang rumah untuk memastikan apakah kuda itu masih ada di situ. Tapi ternyata, sudah tidak ada lagi. Lelaki itu terduduk di antara bunga-bunga mawar dan tertidur di situ.

Sewaktu lelaki itu kembali ke kebun, istrinya ternyata beranjak pula dari tempat tidur dan secepatnya berpakaian. Sang istri sepertinya sangat gembira, terlihat dari bola matanya yang berbinar.

Selanjutnya ia menelpon polisi dan juga seorang psikiater. Ia beritahukan kepada mereka supaya segera datang dan membawa baju yang biasa dipakai untuk mengekang orang gila.

Begitu si polisi dan psikiater itu datang, mereka berdua dipersilahkan duduk di kursi. Keduanya memandangi wanita itu dengan penuh perhatian.

“Suamiku,” berkata wanita itu, “melihat seekor kuda pagi ini.” Polisi itu menatap psikiater dan psikiater itu menatap polisi.

“Katanya, ia memakan bunga lily.” Sama seperti tadi, psikiater menatap polisi dan polisi menatap psikiater. “Dia juga bilang, kuda itu bertanduk emas.”

Selesai berkata begitu, tiba-tiba, dengan kode yang diberikan oleh psikiater, polisi itu segera melompat ke arah wanita itu dan menangkapnya. Mereka sedikit kesulitan menundukkannya sebab ia memberontak, meski pada akhirnya ia takluk juga.

Sesaat wanita itu sudah tak berdaya dalam baju pengekang, suaminya pun telah kembali dari kebun.

“Tuan, apakah anda melihat seekor kuda bertanduk seperti kata istri anda?” polisi itu bertanya.

“Tentu saja tidak,” jawab lelaki itu, “Kuda bertanduk itu binatang yang cuma ada dalam dongeng.”

“Terima kasih. Hanya itu yang ingin kami ketahui,” sambung si psikiater. “Bawa wanita ini pergi. Maaf, Tuan, kami harus membawa istri anda sebab ia gila seperti seekor burung Jay.”

Mereka lalu membawa pergi wanita itu sambil memaki-maki dan meneriakinya. Selanjutnya, wanita itu disimpan dalam sebuah rumah sakit jiwa. Akhirnya, lelaki itu pun bahagia sepanjang hidupnya.*

====================

Judul asli cerpen ini, Unicorn in the Garden karya James E. Thurber. Diterjemahkan oleh Muhary Wahyu Nurba.

Terbaru

Tentang Kepulangan

Sengaja kurahasiakan kepulanganku. Saya tidak mau orang-orang di kampung menyambutku penuh kemenangan yang membuat...

Serumpun Folklor

Dari Redaksi