Daun-daun Sepat

Kakek Yiu Wai Ip

Ali Sabidin Menengok Bayinya

Rahasia-rahasia

Kutukan Kematian

Cerpen

Home Cerpen Page 4

Kutukan Kematian

0



Jangan pernah menghitung kematian. Begitulah ia selalu mengingatkan dirinya, apabila kabar kematian masuk ke indra pendengarannya. Tetapi sekuat apa pun ia mencoba tak menghitung dan gelisah, pertahanannya akan jebol, kemudian ia mulai menghitung, dan mengeja nama-nama yang telah tiada, plus mengingat peristiwa yang terjadi di rumah duka, atau hal-hal yang dialaminya bersama orang-orang yang telah mati itu semasa mereka masih hidup. Lalu ia akan teringat pada rentetan tahun yang memilukan. Baris nama yang ia rindukan, yang tak mungkin lagi ditemuinya. Ia akan mengingat bagaimana orang lain sibuk meramal kematian familinya dengan alasan tidak masuk akal, tetapi selalu terbukti di tahun berikutnya, di bulan yang sama, atau sebulan dua bulan lebih lama dari peristiwa kematian sebelumnya, seolah kematian yang seperti itu bukan kebetulan semata. Melainkan takdir yang aneh. Kutukan.

Ia tak ingat tanggal dan bulan di tahun Masehi ketika peristiwa yang mengawali kematian tiap tahun itu. Yang diingatnya ketika itu Rajab, tepat hari ke sembilan Ia dan keluarganya puasa sunnah di bulan Rajab. Bakda subuh, seseorang mengetuk pintu rumah. Ia tergesa membuka sebelum ayahnya mendahului. Didapatinya, pamannya berdiri lesu, memasang wajah muram. Arini tersentak, tubuhnya lemas ketika lelaki kurus itu mengatakan kabar kepergian neneknya.

Langit mendung menaungi makam dan rumah yang berderet di sisi kiri kanan jalan. Beberapa kali turun gerimis, seakan langit turut berduka akan kepergian ibu dari empat bersaudara itu. Keluarga diliputi duka yang lara. Sehari dua hari Arini dan ibunya menangis. Dua hingga tiga hari ia mulai mencoba kuat. Hingga satu minggu, ia mulai jarang menangis. Sepekan berlalu, berganti ke pekan berikutnya hingga satu tahun mereka mencoba melupakan duka, meski luka itu tak betul-betul pulih dari hati tergores kepergian yang mengejutkan.

Kabar kematian datang lagi. Kali ini datang dari ayahnya. Kakak tertuanya meninggal bakda salat duha. Di tahun kedua, kematian kedua, ia harus menerima kenyataan mengejutkan itu. Saat itu ia mulai membandingkan hal yang terjadi di kematian neneknya dan kematian berikutnya.

Pertama-tama, selalu terjadi ketika tengah ada perselisihan keluarga. Kala itu keempat saudara, tiga paman serta ibunya berselisih urusan tempat tinggal ibu mereka. Hal yang menyebabkan sang ibu memutuskan hidup sendiri, meski akhirnya pamannya yang paling muda mengalah untuk menemani, tentu dengan mengorbankan pekerjaannya di luar kota dan bekerja di kotanya meski dengan gaji yang kecil. Keempat bersaudara tak saling sapa dan berkabar, hingga akhirnya mereka dikumpulkan kembali oleh duka kepergian. Di tahun ke dua pun, ayahnya, beserta kedelapan saudaranya tengah berselisih. Lagi, kematian mempersatukan mereka dalam kubangan duka.

Hal kedua, di tahun kemarin dan berikutnya, sebelum dua kematian itu terjadi, beberapa tetangganya meninggal satu per satu. Terkadang di minggu yang sama, atau dua minggu setelah kabar kematian itu terdengar. Kabar kematian akan terus berdatangan memasuki lubang telinganya. Kemudian kabar kematian familinya seolah menjadi kabar penutup dari kematian secara terus menerus itu. Kematian yang janggal namun hanya kebetulan. Tetapi selalu memunculkan persepsi gila dari orang lain. Seolah kematian beruntun itu telah termaktub dalam garis takdir keluarga mereka sebagai kutukan.

Hal ketiga adalah mimpi. Tahun lalu, sebelum neneknya meninggal, selama dua pekan, secara berselang, ia bermimpi aneh. Ia melihat seluruh keluarganya berkumpul dalam suasana ramai dan muram, namun ada berkas-berkas cahaya keemasan yang menyinari kemuraman itu. Cahaya hangat dalam mendung yang suram.

Tiga hal itu mulanya ia tepis, ketika tiba-tiba muncul dalam benaknya. Semua kebetulan belaka. Tak perlu mengaitkan kejadian dengan kejadian lain tanpa alasan kuat dan logis. Apalagi urusan kematian. Begitu pikirnya. Namun tiga hal itu kembali muncul ketika keluarganya kembali berduka di tahun ketiga dan keempat di bulan yang sama. Bahkan di tahun ke lima, ia kehilangan sepupu terdekatnya, familinya yang masih muda, yang mati tanpa disangka, sehingga kematiannya menjadi kejutan menyakitkan, sebab saat itu—keluarganya tengah berselisih dengan sepupunya itu.

Di waktu-waktu menjelang kematian yang mengejutkan tersebut, keluarganya sering menggunjing sepupunya, bahkan mereka memutus tali silaturahmi karena teramat sakit hati oleh keputusannya yang menyinggung hati keluarga. Saat itu, sepupunya yang bernama Abdul Ghani menolak tawaran keluarga Arini untuk menikahkan mereka. Anggota keluarga besarnya bertambah dan berkurang seiring adanya kematian dan pernikahan yang menghasilkan kelahiran. Tiga hal itu mulai ia yakini sebagai firasat dan tanda.

Di tahun keenam, tepat ketika ia akan menikah, ia mulai bermimpi aneh. Kabar kematian bermunculan di kampungnya, pula beberapa sanak saudaranya sedang berseteru. Ia sangat cemas, terlebih pada ayahnya. Dalam mimpinya yang ia yakini sebagai tanda, ia sering melihat ayahnya dikelilingi cahaya keemasan yang terlihat menghangatkan. Ia kerap dilanda gelisah, bahkan menangis tiba-tiba di sudut ruangan. Setiap malam ia berdoa untuk kepanjangan umur orang tuanya, sebab tanpa mereka bagaimana mungkin adiknya yang masih sekolah dapat menerima. Terlebih, tak ada seorang pun yang mengharap kematian, kendati kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

“Pak, pokoknya saya ingin cuma Bapak yang jadi wali nikah saya,” katanya dengan wajah pucat, setelah tersadar dari pingsan.

“Ya jelas. Memangnya mau siapa lagi?” kata ayahnya seraya berlalu.

“Kamu ini kenapa sih, Rin? Tiba-tiba sering melamun dan tak sadarkan diri. Sekarang malah ngomong aneh. Sebentar lagi kamu akad, jangan terlalu stres, ibu khawatir riasan pengantinmu jelek pas acara.”

“Arini mimpi itu lagi, Bu.”

Ibunya terlonjak. Wajah tuanya terlihat pucat.

“Siapa yang tidak ada?”

“Semuanya lengkap.”

“Lalu, siapa yang sering muncul sendiri?” tanya ibunya lagi.

“Bapak,” jawabnya tertunduk.

Mimpi hanya bunga tidur, berhenti menafsirkan mimpi dengan serampangan, begitu kata kakak pertamanya menenangkan ia dan ibunya yang gelisah. Setenang apa pun raut wajah lelaki itu, masih ada kekhawatiran yang tersirat di bola matanya. Arini dapat melihat itu dengan jelas.

“Apa salahnya mendoakan beliau berumur panjang?” gumam ibunya.

Kakak sulung Arini mengangguk tanpa bicara, lantas meninggalkan kamar. Arini menatap punggung tegap itu lalu menatap ibunya, membayangkan wajah ayahnya, lantas terpejam. Kematian tak dapat dibatalkan meski dengan doa. Kematian adalah kepastian. Tak ada yang akan hidup abadi di dunia ini, pikirnya. Setidaknya, kematian dapat diulur.

Mimpi dan firasat itu terjawab ketika ia telah menikah. Satu minggu setelah acara pernikahan, seusai acara munjungan, kabar kematian ia dengar dari mulut suaminya setelah mengangkat telepon. Ibunya masuk rumah sakit karena terkejut mengetahui kabar kematian anak sulungnya yang baru tiba di Lampung. Ia termangu. Mimpi itu tak sesuai dengan prediksinya. Ia bingung mesti lega atau bersedih. Mungkin pula keduanya. Ayahnya tak mati, justru kakak sulungnya yang pergi. Orang yang sebelumnya ia marahi dan abaikan permintaan maafnya karena tak bisa ikut munjungan ke rumah mertua Arini. Kematian itu sungguh membuatnya terpukul dan bimbang.

Di tahun ketujuh, tepat ketika ia mendengar kabar kematian tetangganya–yang keempat kali setelah kematian yang lain di bulan itu, dalam kengerian wabah virus mematikan, ia merasakan firasat buruk itu lagi. Ia menelepon orang tuanya, memastikan kabar mereka baik, lantas entah mengapa ketika menelepon, mulutnya mengucap maaf begitu saja, seolah ia tengah melakukan sungkem, seperti yang dilakukannya dua belas bulan lalu. Matanya telah basah digenangi air. Seketika hatinya begitu hampa, ketika ia menyadari apa yang diucapkannya. Apa yang dilakukannya seolah mendukung kematian salah satu di antara kedua orang tuannya. Seharusnya ia tak meminta maaf seolah mereka akan benar-benar mati. Tetapi apa salahnya meminta maaf? Toh ia pun tak tahu kapan dan kepada siapa kematian akan menjemput.

Ia mulai sesak, lantas menatap bayi lelaki berusia satu bulan di sampingnya. Bagaimana nasibmu jika kau tinggal tanpa ibu? Batinnya.

“Rin, kau sudah selesai?” tanya seorang di seberang sana.

“Iya, Bu. Maaf mengganggu Ibu dan Bapak,” katanya menahan isak lalu menaruh kembali telepon pintarnya, setelah mengetahui sambungan telepon dimatikan.

Mimpi-mimpi yang kerap dialaminya di minggu terakhir ini terus berkelebat dalam pikirannya. Dalam mimpi itu ia berjalan di sebuah taman, di bawah langit mendung, tapi ada seberkas cahaya keemasan yang menyoroti tubuhnya. Mungkinkan kematian itu adalah gilirannya? Ia terguncang dan terisak, kembali memandangi tubuh mungil yang terlekap di sampingnya.

Setelah beberapa kali menyeka air matanya, ia memerhatikan sekeliling ruangan, terutama atap rumahnya. Benarkah ia akan segera mati? Batinnya. Jika ya, seharusnya ia telah dapat melihat sosok tinggi besar yang mengintainya, sebagaimana yang sering diceritakan sebagian orang, bahwa ketika kematian semakin mendekat, Azrail akan terlihat. Ia tidak merasakan ubun-ubunnya berkedut hebat, atau kehilangan bayangan tubuh. Arini menghela nafas berat, lantas menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar. Kematian belum mendekatinya. Ia seharusnya tahu, dan yang ia takutkan tadi hannyalah buah dari kepanikannya.

Tetapi ia kembali resah, mengingat mimpi dan tanda-tanda yang terus bermunculan. Siapakah yang akan menerima ajakan Azrail berikutnya? Sebab ia yakin tanda-tanda itu telah menjadi acuannya sebagai firasat akan ada kabar kematian dari keluarganya. Segalanya selalu akurat.

Ia teringat suaminya, lalu mengkhawatirkan lelaki yang tengah sibuk menyusun proposal acara untuk kantornya itu. Lelaki itu terlihat berbeda dewasa ini. Air mata Arini mengucur lagi. Sungguh ia tak akan pernah siap ditinggalkan lelaki itu. Bagaimana mungkin ia dapat hidup bahagia dengan membesarkan anak tanpa suami?

Arini menelepon suaminya, menanyai keadaan ia. Setelah mendapat kabar baik, ia tersenyum lega. Namun beberapa saat kemudian, hatinya kembali resah. Ia benar-benar takut menerima kematian atau kabar kematian. Perempuan itu membaca ayat-ayat suci guna menenangkan pikirannya. Iya. Seharusnya ia siap menerima apa pun yang terjadi, sebab kematian adalah sesuatu yang pasti dan tak dapat dihindari. Usaha menghindari kematian dengan mati-matian hannyalah kesia-siaan. Mestinya ia tidak panik dan bersiap diri, barangkali betul kematian tengah mendekatinya, dan sungguh, ia tidak akan bisa menghindari, atau memprotes Tuhan dan membujuk-Nya agar tak menunda kematian sampai waktu yang menurutnya tepat untuk mati. Sekali lagi, sekuat apa pun ia mengatakan kematian adalah kepastian, kegelisahan dan ketakutan menyelimutinya. Ia belum siap sungguh.

Dialog Antar Orang Mati

0


Lelaki itu tiba lebih cepat dari selatan Inggris pada suatu pagi di musim dingin tahun 1877. Dia pria merah, atletis, namun berat badannya berlebihan. Tidak dapat dipungkiri, hampir semua orang berpikir bahwa ia orang Inggris, dan memang dia terlihat mirip seperti John Bull. Dia memakai topi bowler dan berjubah wol dengan celah di tengah. Sekelompok pria, perempuan, dan bayi telah menunggunya dengan cemas ; banyak dari mereka memiliki garis merah di tenggorokan, lainnya tanpa kepala dan berjalan ragu-ragu dengan langkah yang menakutkan, seakan meraba-raba menembus kegelapan. Sedikit demi sedikit, mereka mengelilingi orang asing itu, dan dari belakang kerumunan seseorang berteriak mengutuk, tapi teror yang lama menghentikan mereka dan mereka tidak berani melangkah lebih jauh. Dari tengah, seorang prajurit kulit pucat dengan mata seperti bara api melangkah ; rambutnya yang panjang kusut, dan janggutnya yang murung tampak memenuhi wajahnya ; sepuluh sampai dua belas luka mematikan ada di sekujur tubuhnya, seperti garis-garis pada kulit harimau. Ketika ada yang datang melihatnya, dia memucat, tapi melangkah maju dan mengulurkan tangan.

     “Betapa menyedihkan melihat seorang prajurit direndahkan oleh aparat pengkhianat!” katanya dengan penuh wibawa. “Dan lagi kepuasan yang luar biasa telah memerintahkan bahwa para penyiksa dan pembunuh menebus kejahatan mereka pada perancah di Plazade laVictoria!”

     “Jika itu Santos Pérez dan Reinafé bersaudara yang kamu maksud, yakinlah bahwa saya sudah berterima kasih pada mereka,” kata lelaki berdarah itu dengan serius.

     Laki-laki lain memandangnya seolah mencium ancaman, tetapi Quiroga melanjutkan:

     “Kamu tidak pernah mengerti saya, Rosas. Tapi bagaimana kamu bisa mengerti saya, jika hidup kita sangat berbeda? Nasibmu adalah memerintah di kota yang menghadap ke Eropa dan suatu hari akan menjadi salah satu kota paling terkenal di dunia. Dunia saya berperang melintasi kesendirian di Amerika, di negeri miskin yang dihuni oleh para pedagang miskin. Kerajaanku adalah salah satu tombak, teriakan, tanah terlantar berpasir, dan kemenangan rahasia di tempat-tempat terkutuk. Apa itu seperti klaim yang terkenal? Saya hidup dalam ingatan orang-orang — dan akan terus tinggal di sana selama bertahun-tahun — karena saya dibunuh dalam kereta kuda di tempat yang disebut BarrancaYacoby oleh sekelompok pria dengan pedang dan kuda. Saya berhutang budi padamu atas kematian yang kesatria, yang tidak bisa kukatakan saat itu, tetapi generasi berikutnya enggan untuk melupakannya. Anda pasti akrab dengan litograf primitif tertentu dan karya sastra menarik yang ditulis oleh seorang yang layak dari San Juan?”

     Rosas, memulihkan ketenangannya, memandang lelaki itu dengan jijik.

     “Kamu orang yang romantis,” katanya sambil mencibir. “Sanjungan anak cucu tidak lebih berharga dari sanjungan orang sezamannya, yang tidak bernilai apa-apa, dan dapat dibeli dengan sekantong uang receh.”

     “Saya tahu bagaimana kamu berpikir,” jawab Quiroga. “Di tahun 1852 takdir bermurah hati, serta ingin menyelami kamu sangat mendalam, menawan kematian pria-pria dalam pertempuran. Kamu telah menunjukkan dirimu sendiri tidak layak menerima hadiah itu, karena perkelahian, pertumpahan darah, membuatmu takut.”

     “Membuatku takut?” ulang Rosas. “Saya telah menjinakkan kuda hitam di selatan, dan kemudian menjinakkan seluruh negara.”

     Untuk pertama kalinya, Quiroga tersenyum.

     “Saya tahu,” dia berkata pelan, “dari kesaksian tidak memihak prajurit Anda dan kedua perintah Anda, bahwa Anda melakukan lebih dari satu giliran balik yang menakjubkan, tetapi kembali pada masa itu, melintasi AS—dan menunggang kuda juga—ketakjuban lainnya dilakukan di tempat bernama Chacabuco dan Junin dan Palma Redondo dan Caseros.”

     Rosas mendengarkan tanpa ekspresi, dan menjawab.

     “Saya tidak perlu berani. Salah satu ketakjuban milikku, seperti yang Anda katakan, adalah untuk mengelola serta meyakinkan pria pemberani, saya berjuang dan mati untuk diri saya sendiri. Santos Perez contohnya, yang lebih sepadan untukmu. Keberanian sangat mendukung ; beberapa pria bertahan lebih baik dari yang lain, tapi cepat atau lambat, setiap orang menyerah.”

     “Itu mungkin,” kata Quiroga, “Tapi saya sudah tinggal dan saya sudah mati, dan sampai hari ini saya tidak tahu apa itu takut. Dan sekarang saya pergi ke tempat di mana saya diberikan wajah baru dan takdir baru, karena sejarah lelah dengan pria kejam. Saya tidak tahu siapa pria selanjutnya, apa yang akan dilakukan terhadapku, tapi saya tahu saya tidak akan takut.”

     “Saya puas jadi diri sendiri,” kata Rosas, “dan saya tidak ingin menjadi orang lain.”

     “Batu tetap terus jadi batu, selalu, selama-lamanya,” jawab Quiroga. “Dan selama berabad-abad mereka batu—sampai mereka hancur jadi debu. Ketika saya pertama kali masuk ke dalam kematian, saya memikirkan caramu, tapi saya sudah belajar banyak hal di sini sejak itu. Jika kamu perhatikan, kita berdua sudah berubah.”

     Tapi Rosas tidak memperhatikannya,  dia hanya melanjutkan, seolah berpikir keras, “Mungkin saya tidak bisa mati, tapi tempat ini dan percakapan ini sepertinya tampak mimpi bagiku dan bukan mimpi yang hanya sekadar mimpi, juga. Lebih seperti mimpi yang diimpikan orang lain, seseorang belum dilahirkan.”

     Lalu percakapan mereka berakhir, karena saat itu seseorang memanggil mereka.*

Diterjemahkan dari edisi berbahasa Inggris berjudul, “A Dialog Between Dead Men” yang ada pada antologi Jorge Luis Borges, Collected Ficciones, diterjemahan dari bahasa Spanyol oleh Andrew Hurley. Alih bahasa Indonesia oleh Risen Dhawuh Abdullah.


======================
Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Solawat Ikan-Ikan

0



Pagi masih pucat ketika Sarkum pamit pada Sitti. Ia harus bergegas sebelum matahari meninggi. Ia mesti berpacu dengan waktu agar pekerjaannya tak tergeser orang lain. Dengan sepeda kumbang peninggalan mendiang bapaknya, ia harus mengayuh sejauh lima kilometer untuk sampai di pelabuhan Tanjungpinggir.

Sesampainya di pelabuhan, ia cukup lega. Belum banyak orang-orang sepertinya di dermaga. Hingga tak lama kemudian sebuah kapal nelayan perlahan menepi dan bersandar ke dermaga.

Setelah seorang anak buah kapal melempar sauh, Sarkum bersama beberapa kawannya setengah berebut menaiki kapal. Mereka sudah paham apa yang harus dikerjakan. Puluhan keranjang berisi ikan harus segera mereka turunkan. Menaruhnya di dekat si tauke pemilik kapal yang sudah menunggu di pelelangan, sebelum menjual semua ikan pada para pedangang.

Setengah jam kemudian pekerjaan Sarkum pun selesai. Peluh di tubuhnya masih mengucur ketika tauke mengulurkan selembar uang lima puluh ribu sebagai upah. Dengan segera Sarkum  memasukannya ke dalam kantong celana. Kali ini si tauke tengah bermurah hati. Sebab ikan yang diperoleh anak buahnya cukup berlimpah.

“Terima kasih juragan,” tukas Sarkum, mengulum senyum. Lalu bergegas kembali ke dermaga. Bersiap menaiki kapal lain yang baru saja bersandar.

Matahari hampir sepenggalah ketika Sarkum mengakhiri pekerjaannya. Sebelum pulang, ia mampir ke kedai Mak Jum.

“Ramai, Kum?” tanya Mak Jum sembari mengulurkan segelas kopi.

“Alhamdulillah. Lumayan Mak. Setidaknya hari ini aku tidur nyenyak,” jawab Sarkum, lalu menyorongkan bibirnya ke mulut gelas.

“Syukurlah. Berapapun hasilnya harus disyukuri.”

Sarkum mengangguk sembari mengambil sekerat singkong goreng. Tak lama berselang Sugi datang.

“Sudah lama, Kum?” sapa Sugi, lalu duduk tak jauh dari Sarkum.

“Barusan.” Sarkum merogoh saku baju, mengeluarkan rokok, lalu menyulutnya. “Bagaimana hasilmu hari ini, Gi?”

Sugi meraih handuk di pundaknya, lalu dibanting di atas meja, “Buntung, Kum.”

“Maksudmu?”

“Baru menurunkan tiga keranjang, kakiku sudah keseleo,” gerutu Sugi, menyodorkan kakinya yang mulai bengkak ke hadapan Sarkum.

“Wah, sial benar nasibmu, Gi.”

“Beruntung Haji Ali bermurah hati. Ia tetap memberiku upah, meski tak seberapa.”

“Syukurlah. Setidaknya jerih payahmu tak sia-sia. Sebaiknya kau lekas ke tukang pijat. Kakimu harus segera ditangani.”

Sugi mengangguk. Lalu memesan segelas kopi pada Mak Jum.

***

Azan zuhur baru saja purna ketika Sarkum memasuki rumah. Dilihatnya Sitti tengah sibuk di dapur sembari bersenandung. Dengan mengendap-endap, Sarkum menghampiri Sitti, lalu memeluknya dari belakang.

“Apa yang kau masak hari ini, istriku?”

Sitti terkesiap, “Ah, Akang. Bikin kaget saja. Hampir saja jantungku copot.”

“Ah, kau ini terlalu berlebihan.”

Sitti tersenyum, “Hari ini aku masak sayur kesukaanmu. Lodeh terong, tempe bacem, sambal terasi, dan tak lupa…” Sitti menunjuk ke dalam bara tungku.

“Petai bakar?”

Sitti mengangguk. Mata Sarkum langsung berbinar. Ia pun memeluk Sitti kembali. Tak lama berselang, Sitti sudah menyajikan semuanya di atas meja makan.

“Tumben Akang pulangnya siang?” tanya Sitti sembari menyendok nasi dan menumpahkannya di piring Sarkum.

“Tadi selepas bongkar ikan, aku mampir ke kedai Mak Jum. Di sana bertemu Sugi. Kami sempatkan ngobrol sebentar. Kasihan benar ia. Belum juga selesai bongkar ikan, kakinya sudah keseleo.” Sarkum mengambil lauk. “Tapi mungkin ia kena Karma.”

“Maksud, Akang?”

“Tempo hari ia serobot jatah Sukar di kapal Koh Ahong. Hampir saja mereka adu jotos kalau tak dilerai kawan-kawan.”

“Orang cari rezeki tak harus begitu,” ujar Sitti sembari menyendok nasi.

“O iya, tadi sepulang dari kedai Mak Jum, niat hati aku mau langsung pulang. Tapi baru sampai di depan Pasar Baru, Haji Salim memanggilku. Rupanya ia butuh bantuan menurunkan karung-karung beras dari truk yang baru datang. Jadilah aku ikut bongkar beras di sana.” Sarkum merogoh saku celananya. Lalu meletakkan segenggam uang di atas meja. “Kau bisa hitung jumlahnya. Aku tak sempat menghitungnya. Mudah-mudah lebih dari cukup untuk membeli beras dan bumbu dapur.”

“Alhamdulillah. Mudah-mudahan masih ada sisa untuk besok pagi. Syukur-syukur masih ada juga untuk ditabung.”

Sarkum mengangguk-angguk, “Eh, aku dengar tadi ketika memasak, kau seperti menyenandungkan sesuatu?”

“Iya, Kang. Aku tadi bersolawat. Aku kemarin baru dapat resep dari Nyai Nur. Jika ingin masakanku enak, maka aku disuruhnya bersolawat.”

“Dan kau percaya akan hal itu?”

“Kenapa tidak? Bukankah bersolawat itu baik? Kata Nyai Nur juga tak hanya soal masak saja. Hal lain pun demikian, jika ingin urusan lancar, maka banyak-banyaklah bersolawat.”

Sarkum tak begitu menanggapi perkataan Sitti sebab mulutnya sudah tersumpal nasi.

***

Musim angin barat datang. Para nelayan tak berani melaut. Mereka menyandarkan kapal-kapal di dermaga. Aktivitas jual-beli ikan di pelabuhan Tanjungpinggir sejenak sirna hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Setali tiga uang dengan para nelayan, Sarkum pun bernasib sama. Musim angin barat membuatnya sejenak kehilangan pekerjaan di pelabuhan. Ia pun bekerja serabutan demi mencukupi kebutuhan keluarga. Pagi hingga siang hari ia pergi ke Pasar Baru menjajakan tenaganya, sementara sore hingga tengah malam ia ke dermaga untuk memancing ikan.

Seminggu berlalu. Angin barat belum ada tanda-tanda akan purna. Selepas magrib, Sarkum sudah bersiap dengan peralatan memancingnya. Meski hujan belum reda, Sarkum tetap pergi. Hujan yang mengguyurnya tak menyurutkan niatnya untuk mencari rezeki.

Sesampainya di dermaga, Sarkum pun melempar kail ke tengah ombak yang bergejolak menghantam dermaga. Lalu duduk terpekur di bawah guyuran hujan dan hanya diterangi berkas cahaya lampu dari tempat pelelangan ikan di kejauhan. Meski dingin menyelimut, ia terus bertahan. Ia tak ingin pulang dengan tangan hampa.

Sejam berlalu, kail Sarkum belum ada tanda-tanda disambar ikan. Namun ia masih setia menunggu di bibir dermaga. Tiba-tiba ia teringat perkataan Sitti tentang solawat.

“Tak ada salahnya jika aku mencoba,” gumam Sarkum. Ia pun bersolawat.

Sungguh ajaib. Tak membutuhkan waktu lama, seekor ikan belanak menyambar kailnya.

“Jangan-jangan memang benar,” gumam Sarkum.

Ia pun kembali memasang umpan pada mata kail dan melemparkannya ke laut. Lalu kembali bersolawat. Dan benar dugaannya, seekor ikan belanak kembali didapat. Sarkum pun mengulang beberapa kali hingga tak terasa ikan tangkapannya hampir memenuhi ember. Setelah dirasa cukup, ia pun bergegas pulang.

***

Pagi menguar. Matahari tengah menggugurkan embun-embun di atas daun ketika Sarkum dan Sugi mengobrol di warung Mak Jum.

“Semalam aku mancing di dermaga, Gi.”

“Hasilnya?”

“Di luar dugaan. Satu ember penuh!”

Sugi tergelak, “Mana mungkin. Kau ini suka berkhayal. Angin barat saja belum usai. Tak mungkin ada ikan yang menepi.”

“Terserah kau mau percaya atau tidak,” Sarkum memasang muka serius. “Tapi itulah kenyataannya. Aku bisa buktikan kalau kau mau.”

“Baik. Nanti malam kita buktikan. Aku yakin kau hanya membual.”

“Siapa takut. Jangan lupa bawa peralatan memancing.”

Malam harinya Sarkum dan Sugi bertemu di dermaga. Setelah mengambil tempat, mereka segera melempar kail. Dan tak membutuhkan waktu lama bagi Sarkum untuk mendapatkan ikan. Berulang kali ia menarik joran dan memasukkan ikan ke dalam ember. Apa yang dilakukan Sarkum membuat Sugi terhenyak. Ternyata omongan Sarkum benar adanya.

“Apa yang kau lakukan hingga ikan-ikan datang menghampirimu, Kum?” tanya Sugi terheran-heran.

Sarkum terkekeh, “Aku tak melakukan apapun. Aku hanya bersolawat?”

“Solawat?”

“Ya, aku mendapatkan resep ini dari istriku. Ia dapat resep dari Nyai Nur. Cobalah jika kau mau.”

Sugi pun kembali melemparkan kailnya ke laut seraya bersolawat. Dan benar adanya. Tak butuh waktu lama, Sugi pun mendapatkan ikan. Ia pun kembali melempar kail. Merasa telah menemukan cara memperoleh ikan dengan cepat, Sugi pun merasa ketagihan.

“Sebaiknya kita sudahi saja mancing malam ini, Gi,” ajak Sarkum.

“Kenapa? Emberku belum penuh, Kum.”

“Kita ambil secukupnya saja. Tak perlu berlebihan.”

“Tapi…”

“Sudahlah. Besok malam masih ada waktu.”

Dengan sedikit kecewa, Sugi pun menuruti ajakan Sarkum.

Di tegah perjalanan, Sugi masih juga merasa aneh dengan peristiwa yang baru saja dialaminya.

“Kau memang benar, Kum. Apa yang aku rasakan tadi seolah ikan-ikan mendatangiku setelah bersolawat. Besok malam aku akan bawa jala saja. Biar hasilnya lebih berlimpah.”

“Tapi itu berlebihan, Gi. Ambil saja secukupnya. Sekadar untuk kebutuhan hidup.”

“Lho, ini mumpung, Kum. Pokoknya besok malam aku mau bawa jala. Titik!”

Keesokan malamnya, Sarkum dan Sugi kembali ke dermaga. Sarkum tetap membawa joran dan sebuah ember, namun Sugi membawa jala dan dua ember. Dan sungguh diluar dugaan. Semua ember Sugi dapat terisi penuh. Kemudian pada malam-malam berikutnya, Sugi semakin banyak membawa wadah untuk hasil tangkapan.

Melihat tingkah laku Sugi, Sarkum berulang kali mengingatkan. Namun tak pernah diindahkan. Sugi beranggapan apa yang dilakukannya semata-mata untuk mencari nafkah. Hingga suatu malam, Sarkum benar-benar mencegah Sugi pergi.

“Malam ini kau jangan pergi. Lebih baik di rumah saja,” ujar Sarkum, di teras rumahnya.

“Maksudmu?”

“Sudah tiga malam aku bermimpi kau ditelan ikan paus.”

Sugi terkekeh, “Kau kira aku Nabi Yunus? Lagi pula mana ada ikan paus diperairan sekitar dermaga. Kau ini jangan mengada-ada. Sudahlah, kau tak perlu berpikir macam-macam.”

“Ya, mungkin itu hanya mimpi saja. Tapi malam ini aku tak hendak memancing. Firasatku sedang tak enak. O iya, ini terakhir kalinya aku mengingatkanmu. Sebaiknya kau berhenti menggunakan solawat ketika mencari ikan.”

“Maksudmu?”

“Kulihat semakin hari kau tak dapat mengontrol diri. Kau gunakan solawat untuk memperkaya diri.”  

“Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga menggunakan solawat ketika memancing?”

“Setidaknya aku tak memperkaya diri. Aku hanya mengambil secukupnya saja.”

“Alah, omong kosong. Itu sama saja. Aku pamit.”

Sugi pun pergi. Sementara Sarkum menatap kawannya dengan getir.

Sesampainya di dermaga, seperti hari-hari sebelumnya, Sugi pun bersolawat dengan tujuan memanggil ikan-ikan. Dan sungguh ajaib, tak lama berselang ikan-ikan mendekat, berkecipuk bersama ombak yang memukul-mukul dermaga. Dengan segera Sugi menebar jala. Lalu diangkatnya perlahan. Dalam keremangan cahaya dilihatnya ikan bergelantungan terjerat jala. Dengan segera ia masukkan ikan-ikan ke dalam ember. Setelah usai, ia kembali menebar jala. Diulanginya hingga tiga kali. Namun pada tebaran yang ketiga, ia kesulitan mengangkat jala. Ikan-ikan justru melawan dan berbalik menarik jala Sugi hingga kemudian ia tercebur ke laut. Dalam kegugupan yang luar biasa, Sugi seolah  mendengar ikan-ikan bersolawat. Lalu menyeretnya ke tengah  dan semakin ke tengah. Hingga ia tenggelam ditelan laut.

Kudus, Januari 2020

================

M Arif Budiman, lahir di Pemalang 5 November 1985. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

Saudara Kembar Teman Sekantor

0

Sejak saya marah kepada seorang teman sekantor waktu itu, entah kenapa, ia seperti mengirimkan saudara kembarnya untuk selalu mengikuti saya. Saudara kembarnya itu datang dan pergi menjumpai saya macam siluman. Tiba-tiba ia hadir dan ada, entah masuk lewat pintu yang mana. Kadang-kadang ketika sedang mengendarai mobil, kembarannya itu ikutan duduk di jok sebelah kiri saya. Ketika saya sedang duduk sambil nonton atau membaca, kembarannya itu datang, ikutan nonton atau melongok ke buku yang terbuka di hadapan saya. Jika saya membuka gawai, saudara kembar teman saya itu jongkok persis di belakang layar sehingga wajahnya yang lonjong dan putih menguasai seluruh penglihatan saya. Parahnya, saat saya sedang mandi, tanpa permisi ia masuk, duduk di kloset, tak peduli saya sedang tak berpakaian sama sekali dan berteriak mengusirnya pergi.

Sungguh, saya amat lelah dan merasa terganggu dengan kehadiran saudara kembar teman sekantor itu. Kedatangannya membuat hari-hari saya terasa kian kusut. Saya merasa ia sengaja dikirimkan teman sekantor untuk merusak mood dan hidup saya. Tapi ketika perasaan itu saya sampaikan kepadanya, ia membantah dengan keras tuduhan saya. Bahkan, ia sampai bersumpah.

Saya bermaksud menyampaikan keresahan ini kepada teman sekantor saya, agar ia menasehati saudara kembarnya itu untuk tidak datang-datang lagi. Saya tidak ingin ia melekat dalam kehidupan saya seperti pacet. Tapi kemarahan padanya membuat saya enggan menyapanya. Setiap melihatnya di kantor, jantung saya seakan ditinju sekali. Membuat saya lemas dan tangan basah oleh keringat. Jadi, ini tak mungkin.

Baiklah, akan saya laporkan saudara kembar teman sekantor itu ke polisi dengan pasal mengganggu kenyamanan dan ketentraman. Tapi setelah menyelidiki silsilah keluarga teman sekantor itu melalui teman seruangannya, saya terkejut bukan main. Ternyata ia tak punya saudara kembar.

Astaga, lantas siapa yang telah mengganggu saya hampir seminggu ini kalau bukan saudara kembar teman sekantor saya itu? Wajah mereka sama persis. Muka berbentuk lonjong, berhidung mancung, dan terdapat sebuah andeng-andeng besar di pipi sebelah kanan. Rambut mereka sama-sama bergelombang berwarna hitam pekat. Kulit wajah dan tangan pun sama putihnya. Yang membedakan keduanya hanya gerak-geriknya. Teman sekantor saya itu terlihat tenang dan selalu berhati-hati, sementara lelaki yang menyerupainya itu tampak sembrono dan sembarangan.

Lalu, kalau bukan saudara kembarnya, siapa pula lelaki yang selalu punya waktu menguntit saya itu? Memikirkannya membuat kepala saya dilanda migrain berkali-kali.

Sore itu hujan deras menyisakan gerimis. Saya baru saja pulang dari kantor dan langsung berbaring di sofa panjang berwarna coklat tua—sewarna dengan gorden jendela—untuk menghilangkan lelah. Kemeja biru tua berlengan pendek yang lembab saya sampirkan di lengan sofa yang lain. Hanya dengan kaus dalam dan celana dasar hitam yang belum diganti, saya memejamkan mata.

Sebuah bayangan dan hempasan yang cukup keras di sofa yang berada di hadapan saya, membuat saya terjaga dan membuka mata. Saya melihat lelaki yang menyerupai teman sekantor itu duduk dengan kedua tangan di lengan sofa. Jari tangan kanannya mengetuk-ngetuk lengan sofa seakan-akan tengah menekan tuts keyboard.

Melihatnya, saya merasa sedikit terkejut. Saya sudah tidak merasa aneh jika ia tiba-tiba datang dan pergi, tapi saya agak kaget sebab sudah seharian ini ia tidak menampakkan batang hidungnya. Ingin rasanya meluapkan berkeranjang amarah seperti biasa, tapi lelah membuat saya membiarkannya. Bahkan, saya bertanya kenapa ia baru datang di sore ini.

“Sebetulnya seharian ini saya ada di dekatmu. Tapi kau amat sibuk sehingga tidak merasakan kehadiran saya. Lagi pula kalau di kantor, begitu melihat saya, kau seperti melihat kembaran saya. Padahal itu bukan dia,” katanya menjelaskan.

“Teman sekantor saya tak punya saudara kembar. Siapa kau sebenarnya? Apakah kau manusia atau sejenis makhluk gaib yang sedang menyamar menyerupai teman saya?” tanya saya dengan suara pelan dan tanpa ekspresi. Tawanya meledak. Saya tetap berbaring seraya memandang wajahnya yang tampak riang.

“Sudah saya katakan, saya adalah saudara kembar teman sekantormu. Bedanya saya bebas dan tak terikat seperti dia. Saya bisa bertualang ke mana saja semau saya. Kebetulan, minggu lalu saya mengunjunginya dan melihatmu di kantornya. Kau membencinya, bukan?”

“Itu bukan urusanmu,” jawab saya sambil kembali memejamkan mata.

“Karena itu saya menyukaimu,” ia terkekeh.

“Saya tidak menyukaimu. Meski saya belum menikah, tidak berarti saya bukan lelaki normal. Camkan itu!”

“Kalau yang ini, baru bukan urusan saya,” lagi-lagi ia terkekeh.

“Saya akan melaporkanmu. Jadi, pergilah sekarang dan jangan datang-datang lagi!” usir saya pelan. Saya masih sangat lelah dan tak memiliki energi untuk melayaninya. Saya dengar tawanya kembali membahana.

Saya tak memedulikannya. Tiba-tiba teringatlah kemarahan saya kepada saudara kembar lelaki yang masih saja bicara—meski tak saya gubris—di hadapan saya itu.

Kemarahan saya kepada teman sekantor itu dimulai ketika mengetahui ia mengatakan hal buruk tentang saya kepada atasan. Atasan membatalkan saya sebagai pimpinan proyek, padahal sebelumnya melalui empat mata telah menunjuk saya, dan hanya menunggu surat keputusan ditandatangani. Tapi saat keputusan resmi dibagikan, tercantum nama teman sekantor saya itu sebagai pemimpin proyek, bukan nama saya.

Saya ingin menghadap atasan dan mempertanyakan alasan pembatalan itu, tapi ia berangkat ke luar kota selama dua minggu. Meski kecewa, saya menerimanya dengan lapang dada, sampai tiba-tiba sekretaris atasan menyampaikan bahwa pimpinan proyek yang baru itu melobi atasan sehari sebelum surat keputusan ditandatangani. Ia mengatakan pada atasan bahwa saya kerap memprotes kebijakan pimpinan dan memengaruhi kawan-kawan sekantor.

Mendengar ini semua, saya benar-benar berang. Ingin saya labrak teman sekantor itu, tapi kata-kata ibu ketika masih kecil terngiang. Saya diajarkan untuk tidak mencari-cari jalan berkelahi atau mencari keributan. Saya diajarkan untuk menjadi anak baik dan menyenangkan. Meski kecewa? Ya, meski dikecewakan. Tuhan selalu punya cara membuka helai-helai kebenaran.

Suara rinai hujan telah berhenti. Saya terbangun dan melalui kaca jendela yang gordennya terbuka, saya melihat langit berwarna abu-abu gelap. Sebentar lagi malam akan tiba. Tercium aroma kenanga yang tumbuh di pekarangan rumah tetangga, yang harumnya benar-benar meruap saat terkena embun atau air hujan seperti kali ini. Dengan kepala sedikit pusing, saya duduk dan terlihatlah lelaki—yang mengaku saudara kembar teman sekantor saya itu—tertidur dengan suara mendengkur di sofa sebelah kiri saya. Baru kali ini saya melihatnya tidur. Biasanya, tanpa henti ia membicarakan kelebihan-kelebihan teman sekantor alias saudara kembarnya itu atau melakukan hal-hal yang menyerupainya, seperti menerima telepon dan melakukan lobi. Seluruh kata-kata dan tingkahnya membuat saya mual dan marah, sekaligus merasa tak berdaya sebab sedikit pun saya tak mampu mengusirnya.

Beberapa kejap saya memandangnya. Sebuah ide muncul di kepala. Saya tak ingin membuatnya terjaga. Perlahan-lahan saya berdiri dan berjalan ke meja kerja yang tak jauh dari sofa dan mengambil gunting. Saya ingin melenyapkan saudara kembar teman sekantor saya itu. Toh, kalau ia mati, siapa pula yang akan memusingkannya?

Sedikit lagi saya berada di hadapannya. Tapi tiba-tiba saya tak lagi mendengar suara dengkurnya. Sedikit heran, saya mengamatinya beberapa detik, lalu mengguncang bahunya pelan dengan tangan kiri. Ia tak bergerak sama sekali. Saya letakkan punggung jari telunjuk ke lubang hidungnya, napasnya sudah tak ada lagi. Astaga, saudara kembar teman sekantor saya ini sudah mati, bahkan sebelum saya sempat membunuhnya.

Buru-buru saya mencari ponsel untuk menghubungi teman sekantor saya itu. Terdengar nada panggilan, dan beberapa kejap suara di seberang terdengar. Tapi saya hanya diam, urung bicara. Mengingat pengkhianatannya, mengingat bagaimana ia melobi atasan saya, membuat dada saya tiba-tiba bergelenyar. Saya sangat kecewa dan marah. Lagi pula, untuk apa pula saya menghubunginya dan mengabarkan perihal kematian lelaki tak jelas ini, pikir saya. Seketika ponsel saya matikan.

Tiba-tiba saya merasa kepala saya dihantam sesuatu. Sakit sekali. Saya terjerembab, tersungkur di badan sofa. Ponsel terlepas dari tangan kiri saya. Gunting menusuk sofa dan ketika hendak dicabut, tangan saya sudah diinjak sepatu hitam mengilat. Saya menoleh dan terlihat saudara kembar teman sekantor saya itu tengah berdiri. Oh, bagaimana tiba-tiba ia menjadi hidup lagi dan menjadi sekejam ini?

Saya ingin membebaskan diri darinya. Tapi tangannya yang besar dan keras tiba-tiba mendarat di pipi saya. Kepala saya terasa semakin berat. Penglihatan saya menjadi kabur. Saya pejamkan mata, sementara hati saya tak henti berdoa agar ia pergi meninggalkan saya. Dalam kepasrahan, saya menyadari bahwa tiba-tiba ia menghilang. Saya tak lagi mendengar suaranya atau merasakan kehadirannya.***

====================
Rumasi Pasaribu, suka menulis puisi, cerpen, dan novel. Cerpennya pernah dimuat di beberapa surat kabar, seperti Haluan-Padang, Sumatera Ekspres, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, dan media online Kurung Buka.

Jadi Cerpenis Lagi

1


Sepuluh tahun, nyaris membuat lelaki itu lupa pada masa-masa di mana ia begitu masyhur sebagai seorang penulis cerita. Orang-orang mengaguminya, bukan pula karena wajahnya yang tampan, akan tetapi karena kepiawaian lelaki itu dalam mengolah kata-kata. Layaknya seorang musisi berbakat yang ditakdirkan Tuhan lahir ke dunia ini dalam periode waktu tigapuluh tahun sekali.

Cerita pendeknya telah memenuhi koran-koran. Dan ia cukup paham, bahwa dengan menulis, seseorang tidak akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Kalimat itu, seperti yang banyak dikutip dari seorang sastrawan besar. Namun kiranya tak ada yang benar-benar tahu ihwal mengapa lelaki itu memutuskan untuk berhenti menulis sepuluh tahun yang silam, bertepatan pula dengan cerita pendeknya yang pada saat itu dimuat di koran untuk yang ke seratus satu kalinya. Sungguh, sebagaimana kehidupan ini dijejali oleh orang-orang dengan pemikiran yang besar, terkadang hidup memang penuh dengan tanda tanya yang besar.

Di satu pagi, ketika pandemi dari virus corona belum menghampiri Indonesia, lelaki itu tampak sedang minum kopi di warung bersama seorang teman, tiba-tiba temannya itu bertanya.

“Kenapa kau tak menulis cerpen lagi?” seraya mengambil pisang goreng hangat di meja.

“Bosan.”

“Maksudmu?” tanyanya lagi.

“Ya, mungkin aku tengah bosan, dan pastinya pembaca juga bosan mendapati tulisan-tulisanku lagi.”

“Tapi, sudah sepuluh tahun, kan? Tak bisa disebut bosan. Itu kebablasan!”

“Ya, tapi di luar sana, banyak juga orang berlomba ingin jadi penulis cerpen. Itung-itung kasih kesempatan buat yang lain, dong.” Bebernya.

Terdengar seperti alasan-alasan yang memiliki kebijaksanaan paripurna. Temannya itu geleng-geleng kepala. Tapi lagi-lagi, sebagaimana mulut manusia yang bisa mengatakan apa saja untuk mengelabui orang, ia juga sadar bahwa semakin ia berbohong, semakin pula hatinya itu porak poranda. Pasalnya, hanya ia sendiri yang tahu alasan sebenarnya kenapa ia memutuskan untuk berhenti menulis. Baiklah, akan aku ceritakan kisah tersebut.

Alkisah, tigabelas tahun yang lalu, lelaki itu jatuh hati pada seorang wanita yang punya air muka memesona. Binar matanya meneduhkan dunia. Senyumnya ayu. Sebagaimana senyumnya, nama wanita itu pun adalah Ayu, tepatnya Dewi Ayu. Terdengar layaknya nama seorang tokoh di dalam sebuah novel, bukan?

Pada suatu hari, di mana si lelaki sudah tak tahan menahan cintanya, ia pun mendatangi rumah kost pujaan hatinya itu, dengan maksud ingin melamarnya.

“Bersediakah kau menjadi istriku? Sungguh, aku ingin menjadi pendamping hidupmu. Selamanya.”

Seperti kebanyakan wanita yang penuh dengan pesona, Dewi Ayu tak ingin semudah itu si lelaki mendapatkannya. Karenanya, ia pun memberikan sebuah prasyarat.

“Orang-orang tahu kau adalah seorang penulis cerita. Karenanya, aku punya satu permintaan.”

“Apa itu? Katakan saja! Apa kau ingin dibangunkan candi seperti kisah-kisah dalam legenda?”

Perempuan itu tersenyum manis. Ia hela napasnya. Ia arahkan tatapan matanya pada si lelaki.

“Begini. Tentunya cintamu butuh diuji. Aku akan menerimamu, manakala cerita pendekmu yang dimuat di koran mencapai angka seratus satu kali.”

Dan angin pun bertiup sepoi-sepoi, menggoyangkan janggut si lelaki yang tampak mulai memanjang. Burung-burung di dalam sangkar milik bapak kost pun seketika diam. Padahal sebelumnya mereka bersorak sorai.

“Baiklah.” Ucap si lelaki. “Hingga kini, cerita pendekku yang telah dimuat mencapai 66 cerita. Masih ada waktu. Kupikir, itu bukan perkara yang sulit-sulit amat.”

Lalu keduanya pun berpisah setelah menyepakati perjanjian yang sayangnya tak sempat ditulis di kertas apalagi ditandatangani di atas materai itu.

Hari demi hari berlalu, lelaki itu makin giat menulis cerita dan mengirimkannya ke koran-koran. Lewat grup Facebook “Sastra Minggu”, ia mendapati apakah cerita-ceritanya dimuat ataukah tidak. Satu dua cerita berhasil lolos, namun tidak sedikit juga yang harus kandas. Tapi ia tak berkecil hati. Karena perlahan tulisannya toh semakin mendekati angka yang ke 101. Pertanda bahwa semakin dekat pula kesempatannya untuk bisa memiliki Dewi Ayu, pujaan hatinya itu, cinta pertama dan terakhirnya.

Pembaca mungkin pernah mendengar kisah tentang Florentino Ariza yang menantikan cintanya Fermina Daza selama 51 tahun, 9 bulan, 4 hari? Sebuah penantian yang menyakitkan. Meskipun pada akhirnya waktu menyatukan mereka. Akan tetapi, dalam penantiannya akan cinta sejati, Florentino Ariza telah meniduri banyak wanita. Adapun lelaki dalam kisah ini memiliki kesabaran yang hakiki. Ia hanya ingin menyentuh Dewi Ayu. Bukan yang lain.

Maka, ketabahan macam apa yang dimiliki seorang lelaki yang semakin hari semakin pucat karena banyak menghabiskan waktunya di depan laptop? Menuliskan cerita hingga larut malam, kurang berolahraga, juga minum bergelas-gelas kopi tanpa memperhatikan makanan apa yang sebaiknya ia konsumsi. Tak jarang, ia jatuh sakit dan harus dirawat. Namun, cinta yang besar telah pula merawat semangatnya untuk terus menulis. Ia pun bangkit lagi. Menulis lagi.

Hingga pada akhirnya, di satu pagi di hari Minggu, sekitar sepuluh tahun yang lalu, wajah lelaki itu tampak semringah. Hari itu adalah hari pembuktian, di mana di malam sebelumnya seorang redaktur memberi kabar bahwa tulisan lelaki itu akan dimuat esok hari, yang artinya, cerita pendeknya dimuat sebanyak seratus satu cerita. Lengkaplah sudah.

Maka, lelaki itu pun lekas mendatangi si wanita dengan dada yang serasa mau pecah. Sedangkan angin bertiup mengempas rambutnya. Ia bersiul dan bernyanyi sepanjang jalan tak henti-henti, layaknya orang tersinting dari yang paling sinting yang pernah sinting yang ada di dunia ini. Sampai akhirnya, ia telah berada di depan rumah kos wanita itu. Lekas ia mengetuk pintu kamarnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga akhirnya berkali-kali, tak ada jawaban dari dalam kamar itu kecuali keheningan yang memacu banyak tanya.

“Dewi Ayu sudah satu minggu yang lalu meninggalkan tempat ini.” ucap ibu kos tiba-tiba mengagetkannya.

“Ke mana ia, Bu?” tanya lelaki itu. Senyumnya mulai surut.

“Dia bilang mau pindah kos. Tapi tak tahu di mana.” Jawab perempuan tua itu lagi.

Lalu, tiba-tiba saja, seperti ada neraka di dalam kepala lelaki itu. Ia pun gusar. Ia coba menghubungi nomornya, tapi tak lagi aktif. Ia bertanya pada teman-teman dekatnya, merekapun tak tahu. Ia sambangi setiap indekos di kota itu, namun sia-sia saja. Sama sekali ia tak mendapati wanita pujaan hatinya itu. Di sepanjang jalan, lelaki itu pun meraung-raung. Layaknya ia orang yang paling menyedihkan dari orang yang paling sedih yang pernah sedih yang ada di dunia ini.

Demikianlah kiranya, kisah itu aku ceritakan kepada Anda semua. Jelas kini, mengapa lelaki itu memutuskan untuk berhenti menulis, adalah karena ia begitu kecewa tak bisa mendapatkan cintanya si pujaan hati yang malah kabur entah ke mana. Sampai akhirnya waktu melaju mengubah musim, sepuluh tahun lamanya lelaki itu telah meninggalkan dunia tulis menulis.

Terkadang tumbuh setitik keinginan di hatinya untuk kembali menulis cerita dan mengirimkannya ke koran. Sepuluh tahun berlalu telah menenggelamkan namanya. Tak lagi ada yang benar-benar mengenalnya. Tak lagi ada yang membaca karya-karyanya. Kecuali ia sendiri yang terkadang iseng membuka laman www.lakonhidup.com dan membaca cerpen-cerpennya sambil tersenyum. Betapa romantisnya menyumbu kenangan.

Sampai di satu pagi, di mana ia tengah minum kopi bersama temannya, sebagaimana diceritakan di bagian awal kisah ini, keduanya pun terlibat obrolan.

“Lagian, sastra di koran sekarang sedang banyak polemik.” Tambahnya lagi. Tangan kanannya mengambil bala-bala.

“Polemik gimana?” tanya temannya itu.

“Terkadang, tak semua karya yang dimuat itu karya yang baik. Belum lama ini, aku membaca cerpen di koran, dan itu buruk sekali.”

“Oh, ya?” temannya seolah tak percaya.

“Bahkan, beberapa bulan lalu, ada puisi yang dimuat di koran, eh, ternyata plagiat dari lirik lagu yang pernah ditulis seorang sastrawan hebat.” Beber lelaki itu.  

“Kenapa bisa begitu?”

“Ya, demikianlah. Selama orang menulis untuk menjadi tenar, kupikir hal-hal demikian akan selalu terjadi. Belum lagi, sering sekali terjadi pemuatan ganda. Sampai ada istilah tebar jala segala.”

“Wah, seperti menangkap ikan saja.” celetuk temannya itu dan keduanya pun tertawa lepas.

Syahdan, direguknya kopi yang tinggal sedikit itu dan kepada temannya lelaki itu pun mohon pamit.

Di rumah, lelaki itu pun segera meraih laptop-nya, dan meneguhkan hatinya untuk menulis sebuah cerita. Cerita itu pertama-tama ia beri judul, “Seorang Cerpenis yang Telah Lama Menghilang”. Lalu ia memulai paragraf pertamanya dengan kata-kata “Sepuluh Tahun Lamanya”. Demikian, perlahan namun pasti, lelaki itu menuliskan cerita. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Paragraf demi paragraf. Ia susun cerita itu dengan sebaik-baiknya. Hingga, manakala paragraf terakhir selesai, ia pun mengganti judul cerita tersebut yang menurutnya terlalu panjang.

“Seperti kebanyakan orang saat ini saja, buat judul cerpen kok, panjang-panjang.” Gumamnya, sembari menghapus judul tersebut dan mulai menggantinya dengan judul yang baru yaitu “Jadi Cerpenis Lagi.” Setelah tulisan itu selesai, ia pun mengirimkannya pada salah satu redaktur koran. Tapi naas, berbulan-bulan cerpennya tak juga tayang. Lalu, ia pun menyunting kembali cerpen itu, dan mengirimkannya pada salah satu media daring ternama. Hingga akhirnya cerpen itu pun ada di hadapan Anda semua.

Sebuah kisah yang memilukan, bukan?

Batujajar, 27-12-2019.

=====================
Anggi Nugraha. Lahir di Batumarta 2 Kab. OKU, Sum-Sel. Alumnus Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya dimuat di : Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat, Tribun Sum-Sel, Lampung Post, Malang Post, Padang Ekspres, Palembang Ekspres, Radar Surabaya, Koran Singgalang, Radar Mojokerto, Koran Berita Pagi, Radar Cirebon,  Majalah SUAKA, dll. Saat ini bekerja di Nurul Fikri Boarding School Lembang, sebagai Pustakawan.

Cerita-Cerita Menghilang dari Kepalaku

0

Cerita-cerita menghilang dari kepalaku. Komputerku sampai bosan menunggu jari-jemariku menyentuh tutsnya, sehingga benda itu memadamkan layarnya sendiri. Mungkin ini semua karena otakku sudah lama sekali tak kugunakan untuk menghasilkan cerita pun mencerna tulisan; dalam waktu amat lama, otakku hanya memikirkan cara terbaik untuk menerima kesakitan dan kesepian di dalam sel.

***

Seminggu setelah novel terakhirku terbit, para polisi menangkapku pada pagi buta di rumahku, atas tuduhan pencemaran nama baik presiden. Entah di bagian manakah novelku mencemarkan nama baik presiden, para polisi menolak untuk menjelaskan. Mereka menutup kepalaku dengan karung, membawaku menempuh perjalanan panjang dengan mobil, dan baru melepaskan karung itu setibanya aku di sebuah ruangan kecil, yang tak lebih bagus ketimbang kamar mandi umum jika lupa dibersihkan selama setahun.

Aku tinggal di sana hingga menua secara menyedihkan. Aku tak pernah dijenguk istri pun anak-anakku, tak pernah sekali pun menjejakkan kaki di luar sel, dan jarang diberi makanan—kalaupun diberikan, jangan tanya bagaimana rasa makanan itu. Yang paling membuatku merasa hidup terkutuk adalah aku disiksa hampir tiap hari oleh salah seorang polisi, karena tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh yang dilontarkannya. Hingga pada suatu hari, pintu selku didobrak, dan terlihatlah beberapa orang—aku tak pernah melihat mereka sebelumnya—berdiri dengan mulut menganga, seolah aku adalah seekor naga dalam dongeng-dongeng yang tanpa diduga nyata adanya.

“Tiga puluh tahun menghilang, dan ternyata penulis itu masih hidup …” gumam salah seorang di antara mereka.

Mereka membawaku keluar dari ruangan ini, dari bangunan ini, yang ternyata adalah sebuah rumah tua di tengah hutan. Di sana tak ada sel-sel lain selain sel yang mengurungku, maupun tahanan-tahanan lain selain aku.

Mereka memasukkanku ke jok belakang sebuah mobil dan membawaku ke rumah sakit. Di tengah perjalanan, untuk pertama kalinya aku berbicara pada mereka, “Apakah sebentar lagi aku sudah boleh membaca dan menulis? Apakah sebentar lagi aku sudah boleh bertemu dengan istri dan anak-anakku?”

“Tentu saja Anda sudah boleh membaca dan menulis lagi,” sahut orang yang duduk di sampingku. “Kami bahkan akan membelikan Anda banyak buku bagus serta komputer untuk menulis.”

“Komputer?!” Aku terkejut.

“Benar sekali. Sekarang sudah tidak ada yang menggunakan mesin tik.”

“Oh ya, apa kabar istri dan anak-anakku?”

Tidak ada jawaban. Para penyelamatku seperti tak mendengar pertanyaanku. Belakangan, aku mengerti bahwa mereka tak mau membuatku syok dengan kabar buruk itu: rumah dan keluarga kecilku dibakar beberapa hari setelah aku dipenjara, beberapa hari sebelum novel terbaruku ditarik peredarannya dari toko-toko buku dan dibakar juga.

Setelah kira-kira sebulan menjalani perawatan mental dan fisik di rumah sakit, serta sesekali menerima kehadiran para wartawan yang bertanya banyak hal tentang menghilangnya aku selama ini, aku dipindahkan ke apartemen sederhana oleh para penyelamatku, apartemen yang terletak di lantai dua puluh. Di sana terdapat komputer dan rak berisi penuh buku bagus, selain properti-properti lain yang umum ditemukan dalam sebuah apartemen. Kata salah satu dari mereka, “Ini semua hadiah dari pemerintah.”

“Dari pemerintah? Cih! Jadi, ini cara mereka meminta maaf karena telah menghancurkanku, heh?!”

“Hmm … sebenarnya, Tuan, pemerintah yang memenjarakan Anda sudah lengser sekitar dua puluh enam tahun lalu. Yang memberikan Anda semua ini adalah pemerintah yang baru memerintah selama empat tahun.”

Heninglah sejenak. Setelah berpikir agak keras, aku bertanya, “Jika pemerintah yang memenjarakanku sudah lengser sekitar dua puluh enam tahun lalu, kenapa aku tidak diselamatkan sekitar dua puluh enam tahun lalu pula?”

Mereka tak menjawab dan saling bertukar pandang ….

Para penyelamatku pergi setelah menyerahkan amplop tebal berisi uang bekal untukku. Aku lantas mencoba mengoperasikan komputer, kemudian mencoba menulis lagi, dan mendapati cerita-cerita menghilang dari kepalaku. Setelah berjam-jam duduk menghadap komputer tanpa menghasilkan satu kalimat pun, aku memutuskan untuk membaca sebuah buku yang kupilih secara acak dari rak, tetapi aku tak bisa berkonsentrasi membaca. Maka aku berbaring di sofa, memejamkan mata, dan memaksa cerita-cerita bertumbuhan dalam kepalaku.

Dan karena cerita-cerita tak kunjung muncul, aku mulai merasa marah. Amat marah. Marah kepada orang-orang yang menculikku, kepada sel tempatku dikurung, dan kepada pemerintah yang sudah lengser sekitar dua puluh enam tahun lalu. Memang mereka sudah tak menahan tubuhku, tetapi ternyata mereka masih menahan cerita-ceritaku entah di mana!

Tanpa cerita-cerita di kepalaku, bagaimana bisa aku bertahan hidup?!

Tentu saja kau bisa bertahan hidup, jawab suara asing di dalam pikiranku. Bukankah selama di penjara kau bisa hidup tanpa cerita-cerita di kepalamu? Kenapa sekarang, di luar penjara, kau malah tidak bisa?

Apakah memang sebaiknya aku dipenjara lagi?

Malamnya, saat aku pergi ke restoran untuk sedikit bersantai, aku melihat seorang pria yang tak asing duduk beberapa jarak dari mejaku. Ia adalah polisi yang biasa  menyiksaku di sel; ia duduk semeja bersama seorang gadis kecil yang kuduga adalah anaknya. Berdasar gestur, ekspresi, dan tutur kata yang ditujukannya kepada sang anak, sama sekali tak tergambar bahwa ia adalah orang yang pernah berkali-kali hampir membunuh seorang penulis. Dan keberadaan orang itu membuatku mendadak merasa marah. Amat marah.

Bunuhlah ia, agar kau tak marah. Lalu cerita-cerita pasti akan kembali ke kepalamu.

Omong kosong! Aku tak percaya suara di kepalaku sendiri. Jika aku membunuhnya, jelas aku akan dipenjara lagi, dan kehilangan kesempatan untuk membaca-menulis, yang berujung pada semakin sulitnya memunculkan cerita-cerita di kepalaku.

Kalau begitu, kau boleh menyiramkan kopi ke kepalanya.

Itu juga tidak. Aku tak mau terlibat keributan; aku hanya ingin mengisi sisa hidupku dengan menulis cerita-cerita.

Bagaimana kalau kau menghampirinya dan bertanya soal bagian novelmu yang manakah yang mencemarkan nama baik presiden?

Aku benar-benar ingin bertanya demikian. Namun mendadak adegan-adegan penyiksaan yang dilakukannya terhadapku melintas amat jelas, membuatku seketika ketakutan. Aku pun berlari kembali ke apartemenku, merebahkan diri di kasur, menenangkan diri, dan tertidur.

Aku bermimpi berada di dalam selku. Aku duduk menghadap komputer di sebuah meja dan berusaha menulis cerita, tetapi tak kunjung ada cerita yang muncul di kepalaku. Tiba-tiba pria yang biasa menyiksaku itu memasuki sel. Ia bergerak cepat ke sampingku, menatap layar komputer yang belum menampakkan sedikit pun kalimat, dan langsung meninju wajahku hingga aku terjungkal dari kursi.

Kalau sampai satu jam kedepan kau belum juga menghasilkan cerita, aku akan membunuh kau! ucapnya, suaranya sama persis dengan suara asing di kepalaku!

Aku langsung terbangun, meraih komputer, dan melayangkannya ke arah jendela yang segera saja kacanya pecah! Semua kulakukan dengan begitu cepat, dengan ketakutan mengoyak seisi kepala, tanpa sempat mencerna pukul berapakah waktu itu, bagaimanakah cuacanya saat itu, dan lain sebagainya, termasuk soal ke manakah komputer itu akan mendarat.

Terdengar jeritan dari luar sana, dari jalanan yang gelap ….

***

Aku ditahan di sebuah sel, yang untungnya lumayan bersih, karena membunuh seorang gadis kecil dengan melempar sebuah komputer dari ketinggian dua puluh lantai. Sang gadis kecil adalah anak dari pria yang biasa menyiksaku di sel pertamaku. Karena itulah, kupikir aku akan disiksa lagi oleh pria yang sama. Ternyata, tidak. Di sel ini aku tidak disiksa oleh siapa pun; malah aku mendapatkan teman-teman satu sel yang lumayan menyenangkan, dan diizinkan membaca buku di waktu luang. (Bagaimanapun, aku tak bisa menulis, karena di sini selalu berisik, kecuali tengah malam ketika aku begitu mengantuk.) Kombinasi antara teman-teman baru, izin membaca buku di waktu luang, dan sejumlah pekerjaan rutin di penjara membuatku dapat meredakan perasaan sakit akibat kebobrokan hidupku.

Belakangan, beberapa hari sebelum aku sekarat dan dipindahkan ke rumah sakit ini, dari beberapa sumber aku mendapatkan sebuah informasi: gadis kecil yang tak sengaja kubunuh itu, bersama ayahnya, hendak bertamu ke apartemenku sebelum tragedi tersebut terjadi. Katanya, sang ayah memiliki urusan pribadi denganku, entah urusan apa tepatnya. Itu adalah sebuah kebetulan yang agak ajaib, menurutku, dan membuatku ingin menulis sebuah cerita pendek tentang kebetulan tersebut—bahkan kalimat-kalimat penyusunnya telah tersedia di kepalaku. Namun aku yang sekarat hampir tak bisa lagi menggerakkan tangan, dan di rumah sakit ini tak ada komputer pun mesin tik yang bisa kupinjam.


====================
Surya Gemilang, lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Buku-bukunya antara lain: Mengejar Bintang Jatuh (kumpulan cerpen, 2015), Cara Mencintai Monster (kumpulan puisi, 2017), Mencicipi Kematian (kumpulan puisi, 2018), dan Mencari Kepala untuk Ibu (kumpulan cerpen, 2019). Karya-karya tulisnya yang lain dapat dijumpai di lebih dari sepuluh antologi bersama dan sejumlah media massa, seperti: Kompas, Suara NTB, Bali Post, Riau Pos, Rakyat Sumbar, Medan Bisnis, Basabasi.co, Litera, Tatkala.co, dan lain-lain.

Kunci

0

BEBERAPA waktu ia tak kunjung mendapati kunci yang seharusnya dapat membuka pintu rumahnya. Ia juga tak tahu mengapa kunci yang semestinya berada di bawah keset raib tak tahu rimbanya. Ia mengingat-ingat, terakhir ia menaruhnya memang di situ dan tak pernah di tempat lain. Jika pun ia lupa, ia pernah lupa mengunci pintu itu seperti yang terjadi bulan lalu saat ia buru-buru berangkat kerja dan pulangnya mendapati pintu rumah terbuka dan di dalamnya berantakan bagai kapal pecah. Barangkali istrinya pulang sebentar untuk mengambil sisa barang-barangnya.

Di mana kunci itu ia letakkan?

Ia tak berpesan apapun pada Drio. Bukan sungkan atau tak ingin mengganggu aktivitas berkebunnya saban pagi, yakni merawat aneka sayuran hidroponik di halaman rumahnya. Tetangganya itu memang rajin sebagai petani rumahan. Aneka sayuran ia tanam: selada, kol, kacang panjang, hingga tomat dan cabai. Meski pekerjaan resmi yang senantiasa ia katakan adalah menulis novel–entah sudah diterbitkan atau belum. Dan ia sudah menganggap Drio sebagai saudara. Bukan lantaran sama-sama hidup sendiri sebagai duda. Namun, pagi itu, ia benar-benar buru-buru mengejar jadwal keberangkatan kereta.

Oleh karena keterburu-buruannya itu, ia sampai lupa membawa sebuah tas berisi hasil ulangan murid-muridnya. Ia hanya membawa tas berisi laptop beserta chargernya, smartphone beserta chargernya, buku-buku diktat mata pelajaran yang diampunya, dan beberapa pulpen dan spidol hitam (bahkan ia lupa membawa sisir dan pencuci muka). Seharusnya ia bagikan hasil ulangan itu dan memberikan tes perbaikan bagi murid yang nilainya kurang. Di kelas, ia tak bisa melaksanakan rencana itu. Ia harus berbohong bahwa ulangan mereka belum selesai dinilai dan akan dibagikan pada pertemuan berikutnya. Murid-murid sebagian kecewa, tapi banyak yang lega.

Hampir lima tahun ia menjalani profesi sebagai pengajar di sebuah sekolah swasta di luar kota. Meski itu tak sesuai dengan kualifikasi ijazahnya. Pekerjaan itu ia peroleh dari mertuanya yang menjadi kepala sekolah di tempat ia mengajar. Sebagai mertua tentu tak elok punya mantu pengangguran, apalagi bergelar sarjana. “Buat apa sekolah tinggi-tinggi jika tak memiliki pekerjaan yang mumpuni,” kata si mertua suatu kali. Maka, berkat jabatannya, masuklah si mantu-pengangguran-itu di sekolah yang dikepalainya, meski tak punya latar belakang sebagai sarjana kependidikan.

Ketika si mertua pensiun, ia tetap mengajar di sekolah itu, sambil melanjutkan studi penyetaraan ijazah. Dan di situlah pertengkaran dengan istrinya mulai tumbuh, mengakar kuat, menjulangkan dahan-dahan, hingga berbuah perceraian. Sebuah persoalan yang sengaja dibuat-buat supaya dapat dijadikan bahan pertengkaran. Sebuah masalah kecil yang dibesar-besarkan agar dapat dijadikan alibi sebuah perpisahan. Lantas istrinya melanjutkan studi ke Eropa–yang memang menjadi cita-citanya sedari kecil–dan mungkin tengah menjalin hubungan asmara dengan lelaki bule setempat. Meski demikian, mertuanya tetap menganggapnya anak sebab ia tak punya anak lain selain anaknya.

Dulu Arman hanya tahu bahwa menikahi kekasihnya adalah keniscayaan. Ialah perempuan yang menjadi istrinya. Tak ada yang lebih istimewa selain menikahi seseorang yang paling dikasihi sepenuh hati. Dan Arman  hanya tahu bahwa mencintainya adalah bukan kebetulan belaka. Ada semacam proses pencarian cinta yang amat luar biasa yang ia kerahkan sepenuh tenaga–semacam ijtihad lahir batin. Cinta yang kemudian bertunas menjadi harapan. Tumbuh menjadi keyakinan. Dan berbuah menjadi cahaya masa depan. Sebuah rencana memikat yang mudah disusun dalam angan-angan namun susah diwujudkan dalam kenyataan. Sedikit pun ia tak menyadari di balik ketergesaannya memutuskan perkara itu membuatnya kini meratapi penyesalan yang tak tertanggungkan. Ia kini hidup sendiri, di rumah yang dua tahun lalu dibelinya dengan cara kredit dari uang sertifikasi, tanpa seorang istri yang dulu begitu ia kasihi. Apalagi seorang buah hati. Ia benar-benar lelaki sepi.

Akan tetapi, buat apa menyesali yang telah terjadi?

Arman tampak waras saja meski tiada sedikit pun menampakkannya lewat gurat wajah atau perangai sehari-hari. Ia masih mengajar tiap pagi; menyapa Drio, novelis sekaligus petani rumahan–yang novel-novelnya belum ia beli di toko buku; dan mengejar kereta dan berjejalan di dalamnya. Lalu, sepulangnya, ia kerjakan pekerjaan rumah: menyapu lantai, membersihkan kaca jendela, sesekali mengelap lemari dan beberapa barang pecah belah di dalamnya, dan ketika usai, ia menyeruput kopi yang sengaja ia letakkan di meja tamu, dan jika capai, ia menonton tv yang menayangkan berita maupun informasi seputar selebriti. Ia jarang menonton sinema televisi yang tayang hingga ratusan episode, yang selalu berakhir tanpa klimaks.

“Rumput di halaman sudah meninggi. Sudah waktunya kau cabuti,” batinnya, kepada diri sendiri.

Sejatinya bukan itu yang ia permasalahkan. Namun, tangannya masih melepuh usai tertumpahi air panas sebelum berangkat ke sekolah yang membuatnya urung mencabuti rumput-rumput liar itu. Andai saja ia tak mengangkat telepon Ria, andai ia lebih sabar menuang air panas ke cangkir kopi, andai ia tak berpikir macam-macam soal mantan istrinya, tentu tangan itu sanggup mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sekaligus.

Yang terjadi tak demikian adanya.

Tak baik meratapi segala yang terjadi. Biarkan ia mengalir bagai air kali dan memuara ke laut. Begitu sebuah quote yang pernah ia baca di laman Facebook. Pemilik akunnya seorang ustaz karena di awal namanya ada gelar itu. Tapi ia tak peduli. Ia hanya mengakui bahwa ia terlampau mendalami keadaannya dan abai pada hal-hal penting di sekitarnya. Dan itu yang membuatnya makin larut dalam perbuatan yang telah diperbuatnya.

Sejak kecil ia dilatih untuk percaya diri. Percaya kepada kemampuan sendiri. Halangan sebesar apapun tak perlu gentar bahkan ditakuti. Semua adalah tantangan, yang bilamana sanggup dihadapi maka engkau akan menjadi orang yang kuat dan tahan banting. Demikian pesan bapaknya, tiga tahun sebelum ia masuk madrasah tsanawiyah. Ia begitu yakin bahwa apa yang dikatakan bapaknya benar. Ia buktikan itu ketika memilih masuk madrasah daripada sekolah umum. Ia yakin jika masuk madrasah ia makin mengerti ilmu agama di samping ilmu umum. Ia yakin mampu mengerjakan soal-soal ujian yang diberikan (baik UTS, UAS, maupun UN). Ia yakin akan menjadi seorang cerdik-cendekia yang mampu mengentaskan kebodohan di seluruh pelosok kampungnya. Ia yakin dengan mimpinya setinggi langit itu meski tak tahu akan jatuh di antara bintang-bintang atau terjun bebas ke bumi yang keras lahir batin. Ia hanya yakin.

Yakin yang terlampau menjulang.

Pada ujungnya, ia jatuh di comberan. Menjadi kuli batu dan bekerja apapun di malam hari untuk melunasi hutang-hutang yang dibuatnya semenjak kuliah–meski harus ia selesaikan dalam kurun tujuh tahun. Ia terjerembab dalam kerasnya dunia yang sebenarnya. Penyesalan memang senantiasa hadir belakangan.

Di balik itu semua, ia terlanjur mencintai seorang gadis teman kuliahnya. Begitu amat mencintainya dan bahkan ingin lekas menikahinya. Ia pun menikahi kekasihnya. Beruntung, ibu kekasihnya yang janda memberinya pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah yang dikepalainya, sehingga ia meninggalkan perkerjaan-pekerjaan kasarnya dan memulai merintis rumah tangganya. Meski kemudian keputusan buru-buru itu yang kini mesti ditanggungnya untuk melengkapi ketololannya menjalani hidup. Hidupnya jauh dari kata siap dan mapan.

Di rumah itu lengang. Jika Ria masih ada, tentu rumah itu berwarna. Arman hanya meratap pada dinding yang diam-beku, pucat warna putihnya, lumut menghijau di sana-sini.

“Semestinya hidup lebih adil kepadaku.”

Arman sempat meraba celah jendela kaca bersusun. Jerujinya yang longgar mudah bagiku merogohkan tangan kurusku, bisiknya pada dirinya sendiri. Kunci rumah tak ia temukan di situ. Ia beralih ke pot bunga cocor bebek. Rumput-rumput halus hampir memenuhi ruang itu dan ia abai tak sempat mencabutinya. Tak ada kunci.

Lalu di mana kunci itu berada?

Engkaukah yang menyimpannya? [*]

==========

M Firdaus Rahmatullah, lahir di Jombang. Menggemari sastra dan kopi. Tahun 2015, mengikuti workshop cerpen Kompas di Bali. Kini, tinggal di Situbondo.

Sejarah Anggrek di Pohon Mangga

0

“Ayahku sebatang pohon mangga dan tumbuhan anggrek adalah ibuku,” demikian kata-kata yang berlompatan dari mulutku mendadak menjadi bibit asap pekat yang memenuhi setiap sudut ruang itu. Empat orang di dalamnya—kecuali aku—merasakan sesak napas dan perih mata yang sangat karenanya. Aroma kematian mendadak menguar dan menjejali setiap kepala.

Lalu, semua menduga-duga di mana sumber asap itu. Mungkinkah ada api di dalam mulutku. Mulutku memang patut disigi dengan saksama untuk menemukan tersangka utama, ada lidah, langit-langit mulut, gigi seri geraham atau taring, lebih ke dalam pangkal tenggorokan. Tidak, semua yang di dalam mulut itu hanya ada seperangkat artikulator, alat. Mungkinkah alat ditersangkakan? Sebagai umpama, seseorang terbunuh setelah ditikam dengan pisau. Mungkinkah polisi menjadikan pisau sebagai tersangka. Begitu maksudku.

Lalu, apakah sebab musabab di balik asap pekat dari mulutku yang justru mengancam membunuh siapa saja yang mendengarnya? Akan sangat sia-sia mengusir asap, tanpa usaha mematikan sumber asap itu. Siapa pun yang ingin menolongku harus menyelam ke dalam pikiran dan hatiku. Lalu memadamkan api di dalamnya. Betapa pun, aku tahu ada titik panas di sana, tapi aku sendiri tak bisa memadamkan atau mengendalikannya.

*

Dengan asap yang terus mengepul dari mulutku, aku memenuhi undangannya ke Baturraden. Matanya menyala saat melihat gulungan asap raksasa mengekor di belakangku. Sesekali warna api menjilat-jilat, mengejek kekasihku yang merwajah masygul.

“Kamu tahu, kenapa aku mengajakmu ke sini?”

Aku menggeleng tak acuh, asap menghambur dari mulutku bagai permainan asap rokok.

“Ayah dan ibu melarang hubungan kita berlanjut,” suaranya mendadak lesap tertahan sesuatu di pangkal tenggorokan.

“Tak ada gunanya menangis.”

“Kamu memang harus belajar bersikap lebih baik agar tak mudah memicu pertengkaran.”

Setelah mengatur napas hingga kembali teratur dan meredakan gemuruh di dadaku yang bergolak, aku katakan padanya, “Kupikir, ayah dan ibumu benar.”

“Kamu menyerah, Sayang?”

Aku hanya mendesis mendengar kegusarannya. Sejak awal, aku tahu, cepat atau lambat, hal sepelik itu akan terjadi. Dengan mangajakku ke Baturraden, dia tengah menguji daya tahan cinta kami. Sejarah Baturraden mengajarkan kami, cinta yang buta dapat dikalahkan dinginnya kabut yang turun dari puncak Gunung Slamet. Cinta yang buta dapat diredam dengan menempuh jalan yang terjal berliku. Cinta yang buta dapat digugat dengan keterbatasan dan kekurangan materi. Yang mampu bertahan dari dinginnya kabut, jalan yang terjal berliku, dan keterbatasan dan kekurangan materi, pastilah bukan cinta yang buta, melainkan cinta sejati.

Aku adalah anak pohon mangga. Tentu dia tampan dan gagah seperti seharusnya seorang ayah di mata anaknya. Pohon yang tumbuh tegak di depan rumah yang dulu kutinggali berdua dengan ibu sebelum kematiannya. Bertiga, saat seorang laki-laki yang konon suami ibuku masih hidup meskipun aku tak pernah mengingatnya barang sebiji zaroh. Pohon mangga peneduh halaman rumah kami itu setiap tahun selalu berbuah. Buahnya selalu lebat dan berukuran besar, sangat memuaskan. Dagingnya bertekstur lembut dengan kemanisan yang sempurna, tak berlebihan. Sungguh buah mangga kami tiada duanya di pasar. Setiap sel dalam akar, batang dan ranting, daun, bunga, dan buahnya adalah persembahan cinta dari ayah dan suami untuk anak dan istrinya. Begitu kata ibu padaku suatu ketika dan kalimat itu selalu diulang-ulangnya pada kesempatan yang lain. Bahkan, pada hari-hari terakhirnya masih bernapas.

Aku dibesarkan dan dirawat pohon mangga sebagaimana ibu merawat dan membesarkan pohon mangga dengan penuh cinta. Pohon mangga itu tak pernah tumbuh lebih tinggi dari atap rumah kami, akar tunggang dan batang utamanya yang kokoh membuat ibu tak pernah khawatir jika aku memanjatnya berlama-lama. Hanya dengan pohon cintalah aku berkawan, selain ibu tentu, sementara teman-teman kampung seusiaku bercengkerama dengan ayah-ibu mereka. Dari kejauhan, aku sesungguhnya iri. Entahlah, aku tak pernah mengatakan kepadanya atas kecemburuanku kepada mereka yang memiliki ayah seorang manusia. Aku tak ingin menyakiti hati ibu.

Pohon cinta adalah rumah bagi burung, belalang, semuat, ulat sebelum berubah jadi kupu-kupu. Mereka adalah saudaraku sedarah, kami berbagi suka dan duka, saling menjaga. Kami pun sesekali bertengkar untuk beberapa saat sebagaimana sebuah keluarga normal.

Dari atas pohon, aku sering kali melihat ibu bicara dengan pohon mangga, penuh cinta dan takzim. Ibu membicarakan tentang apa saja. Pada saat-saat tertentu, aku bahkan mendengarkan ibu bersenandung untuknya sambil menyiramkan air di tanah atau menyapu daun-daunnya yang kering berserakan di tanah. Ibu tak pernah menyembunyikan rahasia apapun darinya, bahkan yang tak boleh aku tahu. Pada saat seperti itu, aku merasa iri padanya. Tapi itu terlintas sebentar saja. Sebagai balasan cintanya, pohon cinta menjatuhkan daun keringnya sesedikit mungkin dan menunggu datang angin yang berembus kencang sehingga ibu atau aku tak perlu susah payah menyapu halaman rumah kami, kekcuali sedikit.

“Untuk apa memulai pelayaran dengan bahtera yang bocor sejak awal, kita bukan Khidir dan Musa bukan?” kataku lirih.

“Kita punya cinta yang harus diselamatkan. Kecuali, itu tak bernilai di matamu.”

“Untuk menyelematkan cinta, terlalu banyak yang harus dikorbankan. Itu tak adil buatmu bukan. Percayalah!”

“Aku tak peduli, ceritakan tentang pohon mangga ayahmu dan anggrek ibumu padaku.”

“Kau akan mati karenanya?”

“Aku akan mati karena cinta. Itu mengagumkan, Sayang.”

Semua itu hanyalah delusi ibu. Sementara aku kecil dengan segenap keluguan meyakininya sebagai kebenaran. Aku menyadarinya pada hari paling menyedihkan seumur hidupku. Ketika aku berusia tujuh belas, petir itu menyambarku tiba-tiba, ibu meninggal tanpa firasat atau pertanda apa pun sebelumnya.

Satu-persatu simpul rahasia mengendur dan terbuka dengan sendirinya. Petir pertama sungguh menggetarkan. Aku dibuatnya tak sadarkan diri ketika kudengar sendiri orang sekampung tak mengizinkan tanah kuburan digali untuk ditanam mayat ibuku.

Petir kedua menyambar, aku lebih kuat karena sambaran petir yang pertama. Ayahku mati bunuh diri saat usiaku belum genap setahun. Ibu tak pernah mengatakan apa pun tentang itu. Kebenaran yang kudapat beberapa tahun kemudian adalah ayahku pelaku peledakan bom bunuh diri di sebuah gereja. Orang kampung tak sudi kuburan mereka ditanami jenazah ayahku yang badannya bercerai berai, bahkan tak utuh. Ibu mengalah, menanam sendiri dengan tangannya mayat suaminya di halaman rumah. Beberapa hari kemudian biji mangga bertunas di dekat gundukan tanah tanpa nisan itu. Ibu membiarkannya sebagai peneduh makam ayah saat siang hari dan dari derasnya guyuran air di puncak musim hujan. Pohon itu tumbuh besar bersamaku hingga hari ini.

Aku tumbuh tanpa interaksi dengan teman-teman seusiaku dan tetangga. Anak-anak kampung itu tak pernah diizinkan bermain denganku. Orang tua mereka mengatakan jika mereka nekat bermain denganku atau sekadar datang ke halaman rumahku, mereka akan dimakan sosok gergasi yang tinggal dalam sebatang pohon mangga besar dan angker. Pohon itulah yang oleh ibuku disebut sebagai pohon cinta, ayahku. Mereka menghukum keluarga kami dengan pengucilan. Mereka menyebut kami bersekutu dengan makhluk gaib. Makhluk-makhluk itulah yang menghidupi kami sehingga aku dan ibu tak pernah berkukurangan materi. Sampai hari ini, aku sendiri tak pernah tahu dari mana ibu memenuhi kebutuhan hidup kami, sementara ia tak berkerja.

Aku mengulangi apa yang dilakukan ibu ketika menguburkan mayat ayahku, sedangkan aku mengubur mayat ibu di dekat pohon cinta. Hanya di tempat itulah orang kampung tak bisa melarang apa yang ingin kulakukan. Itulah, mungkin, alasan ibu pernah berwasiat padaku ingin dikuburkan bersanding dengan pohon cinta.

Beberapa hari setelah kematian ibu, muncul anggek di batang pohon cinta. Beberapa bulan kemudian, di musim kemarau, anggrek itu berbunga. Bagiku, anggrek kuning itu adalah ibuku yang memeluk dengan erat tubuh ayah yang begitu dicintainya penuh pengabdian dan kesetiaan. Aku merasa lega telah mempertemukan dua perasaan cinta yang pernah berjarak antara manusia dengan sebatang pohon. Kini, sepenuhnya mereka hidup bersama, besanding, dan tentu berbahagia.

*

Dan, hari paling terkutuk itu datang. Saat seorang kolektor tanaman hias menemukan dan tersihir keeksotikan bunga anggrek di pohon mangga di depan rumahku yang biasa mekar di tengah musim kemarau. Dia memengiming-imingiku segepok uang untuk mendapat anggrek jenis baru dan tentu saja langka di dunia. Aku tak punya pilihan selain menjadi pendurhaka. Tiga bulan sebelum pernikahan kami, aku tak mengantongi sepeserpun uang untuk dijadikan mahar pernikahan.

Bunga Pustaka, 2019



=================
Mufti Wibowo lahir dan berdomisili di Purbalingga; penggiat di Komunitas Bunga Pustaka.

Ali Sabidin Menengok Bayinya

2

Ali Sabidin menerima kabar gembira tentang kelahiran istrinya. Dia pulang malam itu dengan menumpang bus terakhir jurusan ibu kota. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang dipikirkan lelaki itu selain bahwa bayi yang baru saja dilahirkan istrinya adalah bayi laki-laki.

Ali Sabidin sangat bahagia atas kabar kelahiran ini, karena pernikahannya dengan Marlena berlangsung hampir empat belas tahun. Tak ada seorang pun bayi yang mereka dapatkan sampai sejauh itu. Entah berapa banyak mulut membicarakan tentang ini, tapi lama-lama sepasang suami istri tersebut tak lagi peduli. Bahkan, suatu saat, Ali Sabidin pernah begitu meyakini betapa dia tidak ditakdirkan memiliki keturunan sampai tua dan mati.

Sekarang, kabar ini tiba-tiba bagai setetes air di tengah gurun yang mengepungnya selama empat belas tahun terakhir. Biasanya Marlena akan selalu kehilangan bayi pada detik-detik terakhir ketika seorang bayi seharusnya muncul dari rahim ibunya ke dunia dengan harapan serta nama baru. Malam itu lain. Ada telepon datang dan membuat Ali Sabidin nyaris kehilangan kesadaran saking senangnya.

Ali Sabidin melompat dari pos tempat di mana dia biasa berjaga di perbatasan dan menghambur keluar hingga nyaris menabrak temannya yang baru saja kelar membuang hajat di tepi hutan. Ali Sabidin berteriak lepas dan tampak seperti orang gila andai saja dia tak mengenakan seragam penjaga perbatasan. Sang teman hanya bisa mengucapkan selamat dan memberikannya waktu luang semalam untuk menengok anaknya yang baru lahir.

Dalam bus, tak henti-henti Ali Sabidin berbicara pada setiap penumpang yang ada di sisinya atau tak sengaja duduk bersebelahan dengannya. Setiap yang mendengar soal hadirnya bayi itu hanya manggut-manggut dan memberi selamat singkat. Mereka tidak ada yang mengenalnya. Kebanyakan penumpang pendatang yang sering tidak mengerti bahasa daerah yang kerap digunakan Ali Sabidin sehari-hari, meski harusnya dia pakai bahasa asing yang umum diketahui di kawasan dekat perbatasan.

Para pendatang itu memang sudah lama berlalu lalang melintasi perbatasan dan itu sudah jadi hal biasa setelah para pemberontak dikalahkan oleh pihak pemerintah. Dulu, kaum pemberontak kerap membuat situasi di kawasan ibu kota di mana Ali Sabidin dan istri tinggal menjadi begitu mencekam tiap malam. Tidak ada yang bisa tenang, bahkan meski bagi orang-orang asli daerah ini seperti Ali Sabidin. Sekarang, keadaan jauh lebih aman dan pekerjaan menjaga pos perbatasan sudah bukan pekerjaan yang berisiko. Jadi, bagi tiap penumpang yang mendengar kabar kelahiran bayi Ali Sabidin, kabar semacam itu tidak ubahnya sebuah kabar yang begitu biasa; bagai rutinitas sarapan di pagi hari di mana setiap orang bisa dan boleh melakukannya sesering yang diinginkan. Meski begitu, Ali Sabidin tetap terlihat bahagia dan lagi-lagi mengungkapkan hal itu pada penumpang mana pun yang belum turun di tujuan masing-masing.

Hanya saja, malam itu hujan turun begitu deras. Hujan itu bermula dengan gerimis rintik-rintik yang disusul angin kencang dan langit yang menggerung. Pepohonan di sisi kiri-kanan jalan yang dilalui bus bergoyang mengikuti tiupan angin hingga membuat beberapa penumpang berdoa agar perjalanan mereka tidak terganggu.

Saat hujan deras turun dan cipratan airnya membasahi sebagian wajah Ali Sabidin yang duduk di dekat jendela, lelaki itu mulai menyadari ponselnya tertinggal di pos jaga dan dia teringat betapa belum sempat dia bertanya-tanya tentang kabar sang istri. Apa yang Marlena lakukan setelah melahirkan bayi itu? Apa dia selamat sebagaimana bayi yang baru saja dilahirkannya?

Sejak hujan turun, selain mengungkap kesenangan-kesenangan tentang si bayi pada beberapa penumpang, Ali Sabidin diam-diam berdoa untuk Marlena.

Dia tidak akan mengalami sesuatu yang buruk, demikian pikirnya, terus menerus, tiada henti. Dia tersenyum dan memeluk bayi kami dengan hangat dan mesra. Dia pasti pula bertanya-tanya bagaimana diriku saat menemuinya nanti? Apa saja yang akan aku ucap? Bagaimana merayakan kebahagiaan yang tertunda empat belas tahun terakhir ini?

Pikiran-pikiran itu kian menguat setelah satu demi satu penumpang turun dan tidak ada lagi yang tersisa selain Ali Sabidin dan sang sopir. Tak ada kenek di sini, sedangkan dia tidak mengenal sopir itu. Demi meredam kecemasan hatinya akan keadaan Marlena, Ali Sabidin berpindah duduk di samping sang sopir dan mencoba membangun obrolan ringan, sementara hujan angin di luar semakin deras saja.

Sang sopir yang terlalu fokus pada tugasnya tidak terlalu memperhatikan omongan Ali Sabidin tentang ponsel bututnya yang tertinggal di pos jaga beberapa kilometer nun di belakang. Hanya karena dia lebih muda dan mengira seharusnya menghormati orang yang lebih tua, apalagi orang itu mengaku baru saja punya anak setelah menikah selama empat belas tahun, sesekali sopir tersebut menoleh demi sekadar membuat Ali Sabidin merasa sedikit dihargai oleh orang asing yang diajaknya bicara.

Sayangnya, sang sopir tak menyadari ada pohon melintang di jalan. Bus terguling setelah roda depan menabrak batangan kayu besar itu hingga membuat si sopir beserta Ali Sabidin terlempar-lempar untuk beberapa detik di dalam kendaraan.

Hujan deras belum kelar. Petir masih berkelebatan di langit.

Di dalam kubangan lumpur, bus tersebut kini tampak ringsek dengan kondisi roda berada di puncak dan menghadap langit. Sebagian besar kaca jendela pecah dan melukai Ali Sabidin, tapi tak terlalu parah. Hanya sang sopir yang tidak selamat karena tubuhnya tergencet pohon yang masih tegak berdiri, yang menyambut tubuh bus yang meluncur deras di jalan usai terguling beberapa waktu lalu. Ali Sabidin coba membangunkan sopir bernasib sial itu, tetapi tak ada sambutan. Tak ada gerak atau respons apa pun. Maka, dia merangkak keluar dengan payah, seorang diri.

Dalam pikirannya, Ali Sabidin menduga ketika itu sudah menginjak tengah malam. Tak ada bus lagi yang melintas hingga nanti jam 4 pagi saat azan subuh berkumandang. Tak akan ada pertolongan sampai saat itu, kecuali ada seseorang kurang kerjaan sedang berkeliaran di jalan yang dikepung hutan ini, demi entah apa. Namun, Ali Sabidin tahu, kemungkinan macam itu sangat kecil.

Dengan luka sayat di lengan kiri, serta kaki kanan yang terkilir, Ali Sabidin enggan berhenti di sini. Dia ingin melanjutkan langkah menuju ibu kota yang berupa kota kecil yang tua dan menyedihkan, di mana rumah dan istri dan bayi barunya kini berada. Jarak yang harus ditempuh mungkin 4 atau 5 kilometer. Itu bukan persoalan. Harusnya bukan persoalan. Maka, Ali Sabidin menahan-nahan luka dengan bebatan kain seadanya dan berjalan sebisa mungkin menuju arah pulang.

Entah berapa lama Ali Sabidin berjuang. Pada akhirnya dia bisa mencapai rumah. Pada akhirnya dia bisa menatap tubuh bayinya yang tampak mekar dan kuat. Hanya saja, bayi itu terlihat membiru. Entah apa sebabnya. Bidan yang membantu kelahirannya tak bisa berbuat karena hujan deras menutup akses menuju puskesmas di arah lain dari bus yang tadi ditumpangi Ali Sabidin.

“Pohon-pohon tumbang di berbagai tempat. Bahkan gerobak kuda pun tidak dapat membawa bayimu ini ke sana,” kata sang mertua yang matanya begitu basah dan merah.

Ali Sabidin yang kepayahan oleh luka kecelakaan, lalu teringat Marlena. Dia pergi ke kamar, ke ruang tengah, ke kamar mandi. Tak ada siapa pun di sana selain beberapa saudara yang melamun dan merokok di berbagai sudut rumah.

“Mana Marlena?” tanya Ali Sabidin.

Tak ada yang menjawab dan setiap mata memandangnya diam.

“Mana Marlena?” tanya Ali Sabidin lagi.

Tak ada yang menjawab. Setiap mata memandangnya diam dan Ali Sabidin seakan mengerti apa yang telah terjadi. [ ]

Gempol, 19 Juli 2019

==========

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Rumah Bangkai

0


“Rumah ini dikelilingi bangkai,” kata pedagang reraon suatu hari. Kirsip mengangguk-angguk. Mulutnya mengunyah sirih dengan pelan. Hanya tersisa beberapa gigi saja di rongga mulutnya. Gigi hitam dan nyaris seperti besi berkarat.          

“Rumah ini benar-benar dikelilingi bangkai,” ulang perempuan tua pedagang reraon. Ia berkata sambil membuka plastik yang menutupi keraro dagangannya. Di dalam bakul terdapat panci besar berisi reraon, setumpuk daun pisang, beberapa bungkus kerupuk kulit sapi, dan sendok yang berlumuran kuah berwarna kuning tua. Lalat-lalat mendekat dan hinggap di tepian keraro, di bibir panci, dan di gagang serta ujung sendok. Ia menghalau pelan lalat-lalat itu dengan tangan kurus berurat-uratnya.

“Pindah aja dari sini,” lanjutnya. Kedua tangannya memegang tepian keraro.

Setiap kali ia datang ke Lelenggo, tepatnya ke rumah Kirsip, ia selalu berkata demikian. Bukan tanpa alasan. Begitu ia muncul di jebak, seolah melihat seorang yang selama ini ia tunggu-tunggu, Kirsip langsung menyergapnya dengan keluhan demi keluhan. Keluh-kesah yang mengalir begitu deras seolah ia telah terlatih bertahun-tahun untuk mengungkapkannya.  

Bawang mahal, cabe mahal, terasi mahal, beras mahal, semua mahal, keluhnya. Gerakan tangannya menyesuaikan dengan cepat-lambat suaranya. Ketika amarahnya meninggi ia akan berbicara dengan begitu cepat. Ia menyalahkan semua hal atas seluruh penderitaan yang ia rasakan. Mula-mula ia menyalahkan suaminya yang mati terlebih dahulu meninggalkan dirinya. Mengutuk suaminya dengan membabi buta seolah suaminya masih hidup dan tengah berada di hadapannya. Lalu ia mulai menyalahkan seorang warga yang menurutnya biang dari kematian suaminya. Laki-laki tua renta yang sebenarnya juga telah lama mati.

Tidak cukup sampai di situ, ia akan mengungkit kejadian yang terjadi puluhan tahun lalu. Saat orang tuanya bercerai dan kemudian ia diserahkan secara cuma-cuma kepada seorang pedagang tuak. Nadanya berubah sendu tatkala ia bercerita tentang kenangan masa kecilnya. Setiap hari ia mengikuti ibu angkatnya, menyunggi bakul, menuju gocekan, menebarkan aroma sate mentah di sepanjang jalan. Ia akan meladeni para laki-laki berperut buncit dan penuh keringat yang minum tuak di tempatnya. Ia melakukan itu sampai payudaranya mulai tumbuh, sampai kemudian seorang laki-laki bertubuh pendek dan berkepala kecil datang ke tempat jualannya. Laki-laki itu tidak minum tuak, hanya mampir sebentar untuk membeli sate. Sakunya penuh uang. Baru saja menang bermain boladil.

Para lelaki yang tengah duduk melingkar di tempat itu dapat dengan mudah mengendus kemenangannya. Ia memasukkan tangan kanannya ke saku dengan serampangan, meraih beberapa lembar uang lusuh, dan melemparkan ke sekelompok laki-laki yang tengah duduk melingkar itu. Mendarat tepat di atas sepiring sate usus dan juga jatuh di atas segelas tuak salah seorang dari mereka.

Kirsip menyaksikan semua kejadian yang sangat singkat itu dan langsung merasa laki-laki itu adalah penyelamat hidupnya. Ia jatuh cinta tepat ketika laki-laki bertubuh pendek dan berkepala kecil itu memasukkan tangan ke saku dan melemparkan uang itu ke arah sekelompok laki-laki yang setengah mabuk. Tidak sampai sebulan setelah itu, iring-iringan besar menyusuri jalan menuju rumah perempuan penjual tuak. Satu kelompok sireh mengiringi iring-iringan itu. Kirsip yang telah didandani dengan berbagai jenis emas imitasi tampak seperti seorang ratu.

“Sekarang dia sudah mati, dia sudah busuk di dalam tanah,” Kirsip melengking. “Saya sendiri di sini, susah sendiri.”

Keluhan yang ia sampaikan membentang begitu panjang tak berujung. Ia mulai berbicara tentang encok yang terus menyiksa dirinya. Sokek yang mengenai dirinya bertahun-tahun lalu dan tidak kunjung sembuh, membayangi dirinya seperti arwah yang ditolak bumi. Ditambah sakit kepalanya mulai kumat. Sakit kepala yang ia rasakan saat suaminya masih hidup dan hanya mampu diobati oleh seorang dukun pincang dari kampung tak bernama.

“Saya mau mati, mudahan saya mati sekarang, mudahan saya mati.” Ia berteriak, seolah Pedagang reraon akan mampu menyelamatkannya dari nasib buruk.

Melihat Kirsip begitu menderita, tampak benar-benar tidak mampu melanjutkan hidupnya lagi, pedagang reraon mulai berkata, “Rumah ini dikelilingi bangkai.” Berulang kali.

Ia tahu tentang rumah Kirsip dikelilingi bangkai dari Kirsip sendiri. Suatu malam saat hujan badai dan ia tidak bisa pulang. Sungai Popo, sungai yang harus ia seberangi jika ingin meninggalkan Lelenggo, meluap, mencerabut rumput-rumput gajah, pakis, dan segala hal; menghanyutkan batang-batang pohon.  

“Rumah ini dikelilingi bangkai,” kata Kirsip. Ia menenggak segelas tuak, lalu melanjutkan, “Di barat ini kubur, di utara kubur, selatan kubur, di timur ini juga kubur.” Ia menunjuk kuburan yang ia maksud dengan telunjuk tangan kanannya. Pedagang reraon menyendok reraon dari panci, reraon dagangannya yang tidak terjual, ke piring yang diletakkan di tengah-tengah mereka. Tangan kanannya meraih botol tuak, menuangkan isinya ke gelas Kirsip yang telah kosong, dan mengisi gelasnya sendiri, lalu menenggak segelas tuak itu hingga tandas; matanya terpejam dan wajahnya mengerut sedemikan rupa, berusaha mendapatkan lebih banyak kenikmatan.

“Di barat ini katanya kubur orang pertama di kampung ini. Katanya dia yang buat Sungai Keditan. Pakai cambuk. Dia pukulkan di tanah. Katanya dia juga bisa hidupkan orang mati. Dia mati ditebas pakai pedang ilalang. Kakek suami saya yang bunuh. Ndak kelihatan lukanya. Dimandikan pakai air kelapa gading baru kelihatan. Kakinya putus.”  

“Kalau di utara ini?” pedagang reraon mulai penasaran.

“Di utara ini kubur kakek suami saya yang sakti itu. Dia mati diracun. Empedu katak. Ada yang benci dia. Dia terlalu sakti. Ndak ada orang yang bisa kalahin dia. Ndak ada yang berani macam-macam sama dia. Tanahnya luas. Kalau ada orang yang berani mencuri di kebunnya, besoknya orang itu pasti bengkak-bengkak. Banyak yang mati gara-gara dia.”

Cerita tentang kakek suaminya ini panjang. Ia bercerita tentang peperangan tujuh hari tujuh malam dengan laki-laki yang dikuburkan di barat. Kakek suaminya pergi ke gunung paling keramat di dunia untuk bertapa. Dari perempuan tua penunggu gunung itu ia tahu bahwa musuhnya hanya bisa mati dengan pedang dari ilalang. Selama perkelahian tujuh hari tujuh malam itu hujan lebat mengguyur Lelenggo. Kilat menyambar-nyambar di langit. Katanya itu adalah kilatan pedang ilalang. Puluhan ekor ayam mati kedinginan dan juga mati terkejut oleh ledakan petir. Banyak sapi yang terlepas dari tambatan dan berlari liar ke kebun-kebun. Teriakan-teriakan mengutuk pendosa yang telah membuat bumi marah terdengar di mana-mana.

Hujan tujuh hari tujuh malam disertai petir menggila ini kembali terjadi saat kematian kakek suaminya. Banyak sekali orang yang datang. Orang-orang yang sama sekali tidak dikenal. Mereka seperti makhluk-makhluk yang tidak berasal dari dunia. Mereka tidak menampakkan tanda-tanda kedukaan. Beberapa malam setelahnya, suaminya bermimpi didatangi oleh kakeknya dan begitu terbangun ia berbisik kepada istrinya bahwa yang datang itu adalah makhluk penunggu hutan Lelenggo. Dan kakeknya telah diangkat menjadi raja.

Tanpa diminta Kirsip melanjutkan cerita tentang kubur di sebelah timur. Itu adalah kubur seorang warga miskin yang jatuh dari pohon enau. Ia mati karena sumpah istrinya. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk minum tuak dan mengkarak-karak mengutuk nasib buruknya. Sedikit pun ia tidak menaruh kasihan pada istrinya. Bahkan tidak jarang ia melayangkan tamparan ke pipi istrinya jika permintaannya tidak dipenuhi. Sebelum kematiannya, ia memukul istrinya habis-habisan lantaran istrinya tidak mau pergi menarep. Dalam keadaan geram ia mengambil kekelok dan pergi. Dari jebak istrinya melengking, mengutuk suaminya akan jatuh dari pohon enau dan kepalanya pecah. Benar saja, darah terus menetes dari telinga, hidung, mata, dan mulutnya ketika tubuh suaminya yang tak lagi bernyawa diusung pulang dengan setengah hati oleh para warga.

Sedang kubur di selatan Kirsip bercerita bahwa tak seorang pun yang mengetahui miliknya siapa. Namun para warga yakin itu bukan kubur orang sembarangan. Banyak orang-orang tidak dikenal datang ke tempat itu. Suatu hari langit Lelenggo dipenuhi suara lolongan anjing. Mereka melihat sekelompok orang menyusuri jalan ke tempat itu, mengusung seorang perempuan gemuk dengan keraro. Sepanjang jalan perempuan itu merintih kesakitan dan mendoakan dirinya akan segera mati. Empat laki-laki yang mengusungnya membentak-bentak, mencoba menghentikannya.

“Kalau rumah dikelilingi kubur kayak gini, ndak bisa bahagia kita, kita akan terus susah,” Pedagang reraon meyakinkan Kirsip. “Lebih baik pindah ke desa.”

Kirsip mengurut-urut betis, memandang jauh, dan berkata lebih kepada dirinya sendiri, “Buat apa,” katanya, “saya juga sebentar lagi jadi bangkai..” Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, dari arah selatan terdengar teriakan-teriakan, lama-lama berubah menjadi lengkingan menyayat-nyayat.

Terdengar juga lolongan anjing di kejauhan.*

2018-2020

 Catatan Kaki:

Reraon : Urat yang dimasak dengan santan.

Keraro : Bakul berukuran besar dari bambu yang biasa dipakai untuk membawa barang dagangan.

Kekelok  : Wadah dari bambu untuk menampung air nira.

Menarep  : Menyadap nira.

Sokek  : Sakit bengkak dan ngilu seluruh tubuh karena ilmu hitam.

Gojekan : Sabung ayam.



====================
Arianto Adipurwanto lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018) masuk 5 besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019. Aktif di Komunitas Akarpohon, Mataram, NTB.

Terbaru

Ayah yang Membenci Matahari

Cerpen Herumawan P A Adi kecil senang pada sinar matahari yang masuk ke dalam rumah. Karena setiap...

Di Kebun Nam-Nam

Kurushimi Café

Dari Redaksi