Hilangnya Badut-badut

Katrina

Hikayat Lelaki Musafir

Penghuni Lantai 18

Lelaki Mercusuar

Cerpen

Home Cerpen Page 5

Ali Sabidin Menengok Bayinya

2

Ali Sabidin menerima kabar gembira tentang kelahiran istrinya. Dia pulang malam itu dengan menumpang bus terakhir jurusan ibu kota. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang dipikirkan lelaki itu selain bahwa bayi yang baru saja dilahirkan istrinya adalah bayi laki-laki.

Ali Sabidin sangat bahagia atas kabar kelahiran ini, karena pernikahannya dengan Marlena berlangsung hampir empat belas tahun. Tak ada seorang pun bayi yang mereka dapatkan sampai sejauh itu. Entah berapa banyak mulut membicarakan tentang ini, tapi lama-lama sepasang suami istri tersebut tak lagi peduli. Bahkan, suatu saat, Ali Sabidin pernah begitu meyakini betapa dia tidak ditakdirkan memiliki keturunan sampai tua dan mati.

Sekarang, kabar ini tiba-tiba bagai setetes air di tengah gurun yang mengepungnya selama empat belas tahun terakhir. Biasanya Marlena akan selalu kehilangan bayi pada detik-detik terakhir ketika seorang bayi seharusnya muncul dari rahim ibunya ke dunia dengan harapan serta nama baru. Malam itu lain. Ada telepon datang dan membuat Ali Sabidin nyaris kehilangan kesadaran saking senangnya.

Ali Sabidin melompat dari pos tempat di mana dia biasa berjaga di perbatasan dan menghambur keluar hingga nyaris menabrak temannya yang baru saja kelar membuang hajat di tepi hutan. Ali Sabidin berteriak lepas dan tampak seperti orang gila andai saja dia tak mengenakan seragam penjaga perbatasan. Sang teman hanya bisa mengucapkan selamat dan memberikannya waktu luang semalam untuk menengok anaknya yang baru lahir.

Dalam bus, tak henti-henti Ali Sabidin berbicara pada setiap penumpang yang ada di sisinya atau tak sengaja duduk bersebelahan dengannya. Setiap yang mendengar soal hadirnya bayi itu hanya manggut-manggut dan memberi selamat singkat. Mereka tidak ada yang mengenalnya. Kebanyakan penumpang pendatang yang sering tidak mengerti bahasa daerah yang kerap digunakan Ali Sabidin sehari-hari, meski harusnya dia pakai bahasa asing yang umum diketahui di kawasan dekat perbatasan.

Para pendatang itu memang sudah lama berlalu lalang melintasi perbatasan dan itu sudah jadi hal biasa setelah para pemberontak dikalahkan oleh pihak pemerintah. Dulu, kaum pemberontak kerap membuat situasi di kawasan ibu kota di mana Ali Sabidin dan istri tinggal menjadi begitu mencekam tiap malam. Tidak ada yang bisa tenang, bahkan meski bagi orang-orang asli daerah ini seperti Ali Sabidin. Sekarang, keadaan jauh lebih aman dan pekerjaan menjaga pos perbatasan sudah bukan pekerjaan yang berisiko. Jadi, bagi tiap penumpang yang mendengar kabar kelahiran bayi Ali Sabidin, kabar semacam itu tidak ubahnya sebuah kabar yang begitu biasa; bagai rutinitas sarapan di pagi hari di mana setiap orang bisa dan boleh melakukannya sesering yang diinginkan. Meski begitu, Ali Sabidin tetap terlihat bahagia dan lagi-lagi mengungkapkan hal itu pada penumpang mana pun yang belum turun di tujuan masing-masing.

Hanya saja, malam itu hujan turun begitu deras. Hujan itu bermula dengan gerimis rintik-rintik yang disusul angin kencang dan langit yang menggerung. Pepohonan di sisi kiri-kanan jalan yang dilalui bus bergoyang mengikuti tiupan angin hingga membuat beberapa penumpang berdoa agar perjalanan mereka tidak terganggu.

Saat hujan deras turun dan cipratan airnya membasahi sebagian wajah Ali Sabidin yang duduk di dekat jendela, lelaki itu mulai menyadari ponselnya tertinggal di pos jaga dan dia teringat betapa belum sempat dia bertanya-tanya tentang kabar sang istri. Apa yang Marlena lakukan setelah melahirkan bayi itu? Apa dia selamat sebagaimana bayi yang baru saja dilahirkannya?

Sejak hujan turun, selain mengungkap kesenangan-kesenangan tentang si bayi pada beberapa penumpang, Ali Sabidin diam-diam berdoa untuk Marlena.

Dia tidak akan mengalami sesuatu yang buruk, demikian pikirnya, terus menerus, tiada henti. Dia tersenyum dan memeluk bayi kami dengan hangat dan mesra. Dia pasti pula bertanya-tanya bagaimana diriku saat menemuinya nanti? Apa saja yang akan aku ucap? Bagaimana merayakan kebahagiaan yang tertunda empat belas tahun terakhir ini?

Pikiran-pikiran itu kian menguat setelah satu demi satu penumpang turun dan tidak ada lagi yang tersisa selain Ali Sabidin dan sang sopir. Tak ada kenek di sini, sedangkan dia tidak mengenal sopir itu. Demi meredam kecemasan hatinya akan keadaan Marlena, Ali Sabidin berpindah duduk di samping sang sopir dan mencoba membangun obrolan ringan, sementara hujan angin di luar semakin deras saja.

Sang sopir yang terlalu fokus pada tugasnya tidak terlalu memperhatikan omongan Ali Sabidin tentang ponsel bututnya yang tertinggal di pos jaga beberapa kilometer nun di belakang. Hanya karena dia lebih muda dan mengira seharusnya menghormati orang yang lebih tua, apalagi orang itu mengaku baru saja punya anak setelah menikah selama empat belas tahun, sesekali sopir tersebut menoleh demi sekadar membuat Ali Sabidin merasa sedikit dihargai oleh orang asing yang diajaknya bicara.

Sayangnya, sang sopir tak menyadari ada pohon melintang di jalan. Bus terguling setelah roda depan menabrak batangan kayu besar itu hingga membuat si sopir beserta Ali Sabidin terlempar-lempar untuk beberapa detik di dalam kendaraan.

Hujan deras belum kelar. Petir masih berkelebatan di langit.

Di dalam kubangan lumpur, bus tersebut kini tampak ringsek dengan kondisi roda berada di puncak dan menghadap langit. Sebagian besar kaca jendela pecah dan melukai Ali Sabidin, tapi tak terlalu parah. Hanya sang sopir yang tidak selamat karena tubuhnya tergencet pohon yang masih tegak berdiri, yang menyambut tubuh bus yang meluncur deras di jalan usai terguling beberapa waktu lalu. Ali Sabidin coba membangunkan sopir bernasib sial itu, tetapi tak ada sambutan. Tak ada gerak atau respons apa pun. Maka, dia merangkak keluar dengan payah, seorang diri.

Dalam pikirannya, Ali Sabidin menduga ketika itu sudah menginjak tengah malam. Tak ada bus lagi yang melintas hingga nanti jam 4 pagi saat azan subuh berkumandang. Tak akan ada pertolongan sampai saat itu, kecuali ada seseorang kurang kerjaan sedang berkeliaran di jalan yang dikepung hutan ini, demi entah apa. Namun, Ali Sabidin tahu, kemungkinan macam itu sangat kecil.

Dengan luka sayat di lengan kiri, serta kaki kanan yang terkilir, Ali Sabidin enggan berhenti di sini. Dia ingin melanjutkan langkah menuju ibu kota yang berupa kota kecil yang tua dan menyedihkan, di mana rumah dan istri dan bayi barunya kini berada. Jarak yang harus ditempuh mungkin 4 atau 5 kilometer. Itu bukan persoalan. Harusnya bukan persoalan. Maka, Ali Sabidin menahan-nahan luka dengan bebatan kain seadanya dan berjalan sebisa mungkin menuju arah pulang.

Entah berapa lama Ali Sabidin berjuang. Pada akhirnya dia bisa mencapai rumah. Pada akhirnya dia bisa menatap tubuh bayinya yang tampak mekar dan kuat. Hanya saja, bayi itu terlihat membiru. Entah apa sebabnya. Bidan yang membantu kelahirannya tak bisa berbuat karena hujan deras menutup akses menuju puskesmas di arah lain dari bus yang tadi ditumpangi Ali Sabidin.

“Pohon-pohon tumbang di berbagai tempat. Bahkan gerobak kuda pun tidak dapat membawa bayimu ini ke sana,” kata sang mertua yang matanya begitu basah dan merah.

Ali Sabidin yang kepayahan oleh luka kecelakaan, lalu teringat Marlena. Dia pergi ke kamar, ke ruang tengah, ke kamar mandi. Tak ada siapa pun di sana selain beberapa saudara yang melamun dan merokok di berbagai sudut rumah.

“Mana Marlena?” tanya Ali Sabidin.

Tak ada yang menjawab dan setiap mata memandangnya diam.

“Mana Marlena?” tanya Ali Sabidin lagi.

Tak ada yang menjawab. Setiap mata memandangnya diam dan Ali Sabidin seakan mengerti apa yang telah terjadi. [ ]

Gempol, 19 Juli 2019

==========

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Magrib dan Sebuah Pertikaian

0

Setengah bulan yang lalu aku disambut baik oleh warga setempat di lembah kendeng, desa yang ditutup oleh bukit kendeng, tempat pabrik semen itu beberapa bulan yang lalu mulai beroperasi menggeruk batu kapur dari tubuhnya. Magrib mulai samar-samar, karena cahaya lampu di arah barat bukan lagi cahaya dari mentari yang turun di ufuk Barat, tapi cahaya lampu pabrik yang menyala di malam hari. Jadi, cahaya magrib tampak sepanjang malam, terlihat dari lembah kendeng.

Tak banyak yang tahu bagaimana kehidupan orang lembah kendeng, karena daerahnya memang jauh dari desa-desa maju lainya. Apalagi bukit kendeng seperti pagar tinggi yang menghalangi pandangan seseorang pada desa terpencil ini. Pak Mudin yang bersamaku saat ini bercerita jika Desa mereka memang masih tertinggal. Apalagi persoalan pendidikan, terutama pendidikan keagamaan.

“Pemuda yang saya kader semuanya pada keluar dari desa ini kok, Mas. Makanya di sini sepi. Pelajaran agama geh ngene iki. Hanya belajar membaca al-Qur’an, itu pun tidak fasih.” Cerita Pak Mudin kepada saya dan teman-teman yang duduk bersila di hadapannya. Pak Mudin adalah seorang santri Alumni Lasem. Dia salah tokoh agama yang disegani di desa ini.

“Iya, mereka antusias lho, Pak.”

“Sesuatu yang baru bagi seseorang memang asyik. Saya saja mendengar puji-pujian apik seperti tadi di loudspeaker, yang asalnya capek sepulang dari ladang, menjadi semangat.” Katanya. Wajahnya nampak benar-benar bahagia. “Teringat masa lalu ketika di pondok, Mas.” Lanjut Pak Mudin.

“Saya lihat ada satu anak yang rajin dan pintar di sini, Pak.”

“Siapa?”

“Si Didik itu.”

“Owh yang sering adzan itu?”

“Iya.”

“Dia sebenarnya asalnya ngaji di Musollah di sebelah Barat sana, Mas. Dia orangnya rajin memang. Kesayangan Pak Mar.”

“Maksudnya sekarang pindah?” Celetuk teman saya.

“Iya.” Pak Mudin melepaskan pandangan ke luar masjid. Seakan ada sesuatu yang masih disimpan.

“Lho kok bisa?” Aku penasaran.

“Ceritanya panjang.” Jawab Pak Mudin pendek.

Aku tidak bisa menelusuri alur ceritanya lagi dari Pak Mudin malam ini, sepertinya dia tidak ingin bercerita apa-apa. Yang kutahu, Musollah itu sekarang memang sepi. Tak ada adzan dan kegiatan apapun.

Anjing milik warga mulai menggonggong sedang menyapa anjing-anjing yang lain untuk segera waspada jika ada orang berjalan tengah malam. Warga di lembah kendeng ini masih menggunakan anjing sebgai satpam rumah. Sebentar lagi akan beranjak pukul sembilan malam, warga akan menutup pintu untuk segera tidur.

Pak Mudin pamitan. Aku dan teman-teman juga segera pulang ke pondokan. Malam hari, tidak baik masih ada di luar rumah di desa ini. Seperti suatu hal yang asing.

Aku pulang sembari berpikir kenapa Didik sampai pindah dari Musollah ke Masjid. Apa karena kemauannya sendiri atau faktor lain.

“Aku mendengar dari Ibu Fatimah katanya persoalan pemilihan kepala desa.” Di tengah perjalanan Joko, temanku yang asli Jawa itu tiba-tiba nyeletuk, memberi tahu.

“Ibu Fatimah Ketua Forum Anak Desa itu?”

“Iya.”

“Kau lihat TPQ di sebelah utara pondokan kita itu. Mati tak dipakai kan?”

Aku tidak menjawab. Tapi Joko sudah tahu jika aku mengiyakan karena semua teman-temanku sudah tahu perihal itu. TPQ pindah ke Musollah dukuh atas.

“Memang tidak di mana-mana, persoalan pemilihan kepala desa membuat beberapa warga jadi saling berselisih.” Pungkasku, sebelum kami masuk ke pondokan.

“Tapi ya, paling nanti reda sendiri.”

Percakapan pun ditutup. Malam mulai mencekam. Gongongan anjing beberapa kali terdengar di dekat pondokanku.

***

“Aku punya ide.” Kataku pada Joko. Joko yang bermain Handphone berlagak tak memperhatikanku. Dia mungkin sudah mengerti apa yang akan aku bicarakan. “Ajak Didik untuk kembali ke Musollah.”

Joko terperanjat. “Bukan hanya persoalan Didik. Orang tuanya juga terlibat di dalamnya.”

“Jika Didik kembali ke tempat semula apa yang akan terjadi coba?”

“Aku tahu.”

“Lantas?”

“Persoalan itu tidak bisa diselesaikan secara singkat.”

“Tapi aku tidak ingin Didik ikut menjadi korban.”

Tak ada kesepakatan antara aku dan Joko. Aku pun memutuskan pergi ke rumah Didik. Ingin mengajaknya datang ke musollah Pak Mar.

Pagi ini, aku tergerak untuk beranjak dari pondokan. Dalam hati, aku ingin pergi ke rumah Didik saja, membujuknya agar nanti pergi ke Musollah bersama-sama. Iya. Aku pun berangkat ke rumah Didik. Kebetulan hari Minggu adalah hari libur SD. Didik pasti ada di rumah. Aku mengambil motor dan segera pergi.

Tak lama, aku sampai di depan rumah Didik yang berpagar besi. Didik termasuk orang berada di antara warga yang masih mempunyai rumah kuno berdinding kayu jati. Rumahnya besar. Orang tuanya termasuk disegani. Namun persoalan pelik tentang kepala desa membuat Bapaknya hilang kepercayaan dari sebagian warga yang tidak satu pendapat dengannya.

Aku mengucapkan salam. Keluarlah seseorang dari dalam. Ibu Didik.

“Eh, mari masuk.”

Njeh, Buk.”

Aku masuk ke rumah yang megah itu. Dalam artian lebih bagus dari rumah kebanyakan. Ada ruang tamu yang nyaman dan Vas bunga indah di sudut ruangan.

“Tumben sekali main ke sini.”

“Iya. Dari kemaren belum sempat, karena kami sibuk merancang kegiatan.”

Jenengan Sudah kenal Didik, kan?”

“Kenal sekali. Dia anak yang paling pintar di desa ini.”

“Oh ya?”

“Iya, Buk. Saya paham sekali dengan karakter Didik dari awal mengajarinya mengaji di Masjid.”

“Dia baru-baru ini sebenarnya di masjid.”

Ibu Didik mulai membuka percakapan. Aku ingin memancing lebih dalam lagi persoalan yang sebenarnya.

“Maksudnya, pindah?”

“He’eh.” Jawabnya.

“Asalnya ngaji di mana?”

“Di musollah Pak Mar.”

“Berarti Didik pintar karena hasil Pak Mar.”

“Pak Mar itu sekarang bukan gurunya lagi. Dia tidak sepemikiran dengan kami.”

“Apakah Didik setuju dia berpindah guru?”

“Entah.”

“Pernah bertanya sebelumnya?”

“Tidak. Tidak pernah.”

Aku diam dulu, sebelum melontarkan pertanyaan yang dapat merusak kehangatan. Sepertinya Ibu Didik tidak ingin diintrogasi lagi. Aku membuka toples yang berisi jajan. Membiarkan Ibu Didik meleburkan panas dingin yang seperti hendak tumpah. Ingatannya beberapa waktu yang lalu tentang pertikaian pendapat seperti hendak muncul kembali.

“Boleh aku ajak Didik pergi ke musollah nanti magrib, Buk?”

“Ke musollah?”

“Ya, ke musollah. Mungkin Didik rindu ke sana.”

Ibu Didik tertegun sejenak. “Ya, boleh boleh saja.”

Aku tidak melihat dia sedang marah. Tapi ekspresinya dingin sekali. Didik lalu datang membawa jagung bakar di tangannya. Dia datang dan bersalaman denganku. Didik adalah kanak-kanak yang mempunyai sifat dewasa. Tidak banyak berkata-kata. Aku yakin dia mampu berpikir kenapa dia harus mengaji di masjid bukan di musollah tempat asalnya dia mengaji kepada Pak Mar.

Didik duduk di sebelahku mengeluarkan jagung bakar. “Kakak suka jagung bakar?”

“Iya.” Ucapku. Aku mengambil separuh lalu memakannya untuk menyenangkan hati Didik.

“Malam ini ikut Kakak ya?”

“Ke mana?”

“Ke musollah Pak Mar,” jawabku. “Sebelum magrib kita berangkat.”

Dia mengalihkan pandangan ke arah ibunya. Aku juga ikut meliriknya. Ibunya tersenyum dengan terpaksa. Dia pun mengangguk meski sebenarnya tidak mengizinkan.

Dendam masih nampak di wajah Ibu Didik. Matanya dingin menatapku. Aku pun merasakan ketakutan, takut disangka mengalihkan perhatian kepadanya. Tapi aku lihat Didik sangat antusias hendak pergi denganku. Dia memakai pakaian dengan antusias serta membawa al-Qur’an di tangannya. Seolah ada rindu kepada Pak Mar yang sejak kecil sudah mendidiknya.

“Sudah siap?”

“Siap, Kak.”

“Buk, kami pamit,” ucapku pamitan pada ibunya Didik. Tak kulihat Bapaknya. Kata Ibunya dia sedang ada di ladang mencabut singkong. Petang nanti, baru dia akan kembali ke rumah.

Aku menggandeng tangan Didik. Segera beranjak untuk pergi ke musollah.

Saat ini sangat menggetarkan bagiku. Karena aku bisa merasakan ketegangan sebelumnya. Jantung berdegup kencang. Aku berjalan menuju arah musollah rasanya seperti terbang. Aku seakan tak merasakan sedang melangkah di tanah.

Berbeda dengan Didik yang santai-santai saja. Dia masih kanak-kanak. Tak tahu apa-apa, meskipun secara pemikiran dia sudah bisa membedakan mana yang baik untuk dirinya dan yang tidak.

Beberapa saat aku sudah sampai di musollah kecil yang tak bercat itu. Sebuah gedung berwarna abu-abu yang hanya dilapisi dengan semen. Aku naik. Lampu belum dihidupkan. Aku bertanya dalam hati, ke mana Pak Mar.

“Dua menit lagi adzan ya,” perintahku kepada Didik yang masih menyapu lantai di teras depan.

Beberapa saat kemudian, seseorang datang kepadaku di musollah. “Sebaiknya kau pergi dari sini. Biarkan Didik pulang. Aku lihat Bapaknya tadi mencarinya.”

Aku tak menghiraukan itu. Paling hanya orang yang tidak suka juga pada Pak Mar. Dia mencoba menakut-nakutiku. Aku berdiri di beranda musollah. Menunggu ada yang datang. Pak Mar pun belum keluar. Dua menit berlalu. Matahari sempurna tenggelam. Aku menyuruh Didik segera adzan. Suara seruak dari loudspeaker ketika tombol on dipencet terdengar. Aku melihat tetangga musollah celingukan di ambang pintu mereka. Mereka bingung siapa yang sedang menghidupkan loudspeaker musollah. Takbir pertama dikumandangkan. Pak Mar keluar. Memandangku dengan nanar. Wajahnya dingin. Namun matanya aku lihat dia sedang heran mendengar adzan itu berkumandang.

Allahu akbar allahu akbar

Asyhadu an laa ilaaha illallaah

Pak Mar menatapku dengan lekat. Aku lihat mulutnya berkomat-kamit menjawab adzan dari suara merdu Didik. Pak Mar Masih tertegun di depan pintu. Seakan tak percaya musollah yang dia asuh sedang berkumandang adzan maghrib. Aku membiarkan dia menikmati suara adzan itu. Pasti dia sudah lama tidak mendengarnya.

Tak lama, setelah adzan itu selesai. Dia pun masuk dan keluar dengan pakaian rapi. Menggunakan baju putih, sarung kotak, dan kopiah haji. Dia nampak bersahaja. Orang-orang semua keluar rumah mendengar adzan yang sudah lama tak didengar dari musollah itu. Beberapa Ibu-Ibu dan Bapak datang. Musollah mulai hidup.

Aku berjabat tangan dengan Pak Mar. Tangannya masih kuat. Walaupun wajahnya mulai nampak tua.

“Sehat, Pak Mar?”

“Alhamdulillah….”

Tak sempat Pak Mar menjawab ketika terdengar teriakan lantang dari arah Timur. Bapak Didik tampak membawa arit yang diacungkan ke atas langit. “Siapa yang membawa anakku ke Pak Mar tanpa izin dariku?” Suaranya menggelegar.

Aku mulai ketakutan. Bayanganku dia akan menyabet leherku nanti. Tapi aku mencoba tenang. Dia pun mendekat, tanpa izin atau kode, dia dengan cepat mengayunkan aritnya ke arahku. Aku menghindar. “Kau jangan ikut campur dengan persoalan kami.” Ucapnya.

Bapak Didik kemudian mengayunkan sekali lagi aritnya itu. Tak sampai aku menghindar, Pak Mar memegang tangannya. “Dia tak punya urusan denganmu. Urusanmu denganku.” Pak Mar yang sedari tadi diam bersuara tak kalah sangarnya.

Bapak Didik mengalihkan serangan. Dia menyerang Pak Mar. Orang di dalam rumah ikut keluar setelah mendengar pertikaian itu. Pak Mar berusaha menghindari sabetan arit bapak Didik. Perempuan yang melihat pertarungan ini berteriak-teriak. Bapak Didik masih terus mengayunkan aritnya. Pak Mar terpojok. Bapak Didik makin bernafsu. Satu sabetan akan membelah perutnya.

“Bapak!” Didik muncul tiba-tiba, berteriak kencang hendak menghadang bapaknya. Bapaknya mengurungkan sabetan itu.

“Bapak, Pak Mar adalah guruku.”

Aku lihat arit itu bergetar di tangan bapak Didik sesaat Didik menghambur memeluk bapaknya.

Rembang, 2019

==========

Toni Kahar, Kelahiran Sumenep, 03 Desember. Aktif di Komunitaas Sastra ATAP dan SAKA Sarang Rembang, Pemred Majalah al-Hibr STAI Al-Anwar. Saat ini menimba ilmu di PP. Al-Anwar Sarang Rembang. Beberapa karyanya sudah diterbitkan di beberapa antologi dan pernah dimuat di Media Online, sedang buku kumcernya yang telah terbit berujudul “Ketapel dan Burung-Burung di Pohon Asam” (FAM, 2019)

Ludah

0


Laki-laki tua itu berjalan
terpincang-pincang menyeret langkahnya, disertai derai batuk menguncang bidang dadanya. Dengan sepotong tongkat di sebelah tangan kanan, ia memasuki perkampungan, dan akan bersimpuh di depan rumah siapapun sembari menadahkan kedua tangannya. Baju yang lusuh, hampir robek seluruhnya lekat di badannya dibasuh oleh keringat yang mengucur.

Ia duduk di halaman rumah seseorang. Menunggu si pemilik rumah keluar. Memangil-manggil tuan rumah diantara tarikan napasnya yang lambat dan goyah. Berharap seseorang keluar dari dalam rumah membawa uang, seberapa besar jumlahnya akan ia terima asal si pemberi ikhlas memberinya pada laki-laki tua itu, dengan keriput di sekujur tubuhnya.

Terus ia duduk di teras rumah seseorang itu. Rumah mewah berupa bangunan gedung bertingkat, dengan lampu-lampu menghias di setiap sudutnya membuat laki-laki itu yakin si pemilik rumah adalah orang paling kaya di kampung itu. Karena sejak laki-laki tua itu berkeliling semenjak matahari muncul di permukaan langit hingga kini menjelang sore hari, ia cuma menemukan rumah itu sebagai satu-satunya tempat tinggal yang megah dibanding rumah-rumah reyot yang ditemuinya sebelumnya.

Maksar, begitu nama laki-laki tua itu kemudian dikenal warga Tang-Batang. Selama lebih tiga puluh menit menunggu, seorang perempuan paruh baya agak gemuk berdiri di ambang pintu. Berpandangan beringas pada Maksar. Ia meminta Maksar segera angkat kaki dari rumahnya, lantang ia berteriak di depan muka laki-laki tua itu sampai Maksar menunduk, mengambil napas dalam-dalam, lalu bersama napas yang ia lepas, Maksar membuang ludah di wajah perempuan paruh baya itu.

“Dasar pengemis!” Terbungkus sumpah serapah ucapan perempuan itu mengumpat. Dengan cepat ia mendorong tubuh Maksar hingga laki-laki itu tersungkur. Pelan-pelan Maksar meraih tongkatnya dan berjalan pulang.

Matahari hampir tenggelam di ujung barat. Laki-laki tua tersandung batu hingga terpelanting jatuh. Gelap sudah mulai membungkus permukaan langit. Dengan sisa napas terengah-engah ia coba meraba-raba tanah, mencari tongkatnya yang terlempar jauh dari tempat ia tersungkur. Angin menggesek daun-daun jati. Maksar belum sanggup mengangkat tubuhnya sendiri. Ia memutuskan membaringkan saja tubuhnya, melepas penat karena berjalan sepanjang hari keluar masuk kampung.

“Ini tongkatnya, Kek.” Laki-laki muda yang menghampiri Maksar, membawakan tongkatnya. Terkaget Maksar mendengar suara Kasno, laki-laki muda itu. Kebetulan Kasno lewat di tempat itu dan tanpa sengaja telinganya mendengar suara lelaki tua merintih.

“Dimana rumah kakek? Mari saya antar,” kata Kasno menawarkan kebaikan pada lelaki tua itu. Maksar tak membuka katup mulutnya. Tak juga mengucap terimkasih pada Kasno karena berkat laki-laki muda itu ia bisa berjalan pulang dengan mengetuk-ngetukkan tongkatnya, mencari jalan setapak menuju rumah.

Belum juga Maksar menanggapi ucapan Kasno. Ia berdiri dan memandang raut muka Kasno, dalam remang-remang menjelang gelap malam hari. Tanpa perlu berucap apapun pada Kasno, justru malah Maksar melempar ludah ke wajah Kasno. Laki-laki muda itu terkejut dan berperasangka macam-macam soal Maksar. Apa lelaki tua itu tak waras? Ingin Kasno balas meludah, bahkan jika ia mau bisa dengan mudah menendang tubuh ringkih Maksar, tapi ia urungkan semua itu karena dianggapnya Maksar kehilangan akal, jiwa laki-laki tua yang dicekik kesepian. Begitu pikir Kasno.

Sudah berpuluh-puluh kali Maksar kerap membuang ludah ke wajah seseorang tanpa sebab. Seiring jarum bergeser, perilaku laki-laki tua itu dianggap meresahkan dan tak disukai banyak orang. Hingga kemudian setiap kali Maksar menginjakkan kaki di halaman rumah seseorang, ia langsung akan menerima umpatan, diusirnya seperti layaknya pecundang. Menanggapi sikap warga Tang-Batang Maksar tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Mungkin karena perlakuan orang-orang yang tak lagi ramah padanya menyebabkan laki-laki separuh abad itu tak dapat ditemukan lagi keberadaannya hingga saat ini. Tak terdengar lagi suara ketukan tongkatnya berseiring dengan laju napasnya. Tapi, menjelang sore hari, yang begerimis ketika orang-orang bekumpul di rumah Maksum dikarenakan Misdar, anak dari  lelaki paruh baya itu kejang-kejang, menjerit kesakitan, seperti disusupi arwah. Mendadak Maksar muncul tiba-tiba membuat orang-orang terbelalak menatap laki-laki tua itu.

Dengan tampil mencengangkan Maksar mengunyah ludahnya sendiri dalam mulut. Sejurus kemudian, laki-laki renta itu membuang ludahnya tepat mengenai wajah Misdar, anak lelaki Maksum. Orang-orang mengernyitkan dahi melihat tingkah Maksar yang kembali berulah. Laki-laki tua itu memejamkan mata. Ia membuka matanya beberapa menit kemudian. Bersamaan dengan terbukanya mata Maksar, saat itu juga Misdar berhenti mengejang dan bocah laki-laki itu langsung berdiri di depan orang banyak, memperlihatkan dirinya yang sembuh seketika.

Sejak itu masyarakat percaya, Maksar adalah lelaki sakti. Ludah Maksar dianggap mujarab oleh penduduk. Kabar kesaktian Maksar tersebar secepat kilat dari mulut ke mulut, dari waktu ke waktu. Justru laki-laki tua itu kini selalalu diharap kedatangannya. Tapi selepas kejadian menakjubkan waktu itu Maksar kembali tak menunjukkan batang hidungnya di depan orang-orang.

Walaupun laki-laki sepuh itu tak lagi diketahui dimana kini ia berada. Ia justru semakin termasyhur setelah beredar desas-desus bahwa orang-orang yang diludahinya dulu kini mengalami bermacam perubahan. Perubahan yang beragam diterima orang-orang itu. Perempuan gempal itu, yang mengusir Maksar dulu kini jatuh miskin dan terpaksa melacurkan diri demi sesuap nasi. Sementara Kasno, laki-laki yang diludahi Maksar tanpa sebab itu kini sudah jadi orang kaya, dan telah naik haji.

Suatu hari saat Kasno berkunjung ke rumah Maksum, ia berceloteh banyak mengenai Maksar, laki-laki tua pemilik ludah mujarab itu. Orang-orang sudah mengakui sangat mengagumi betapa mujarabnya ludah Maksar. Kasno berdehem sebentar melegakan tenggorokannya dari sesuatu yang menyumbat.

“Sekalipun ludah laki-laki tua itu mujarab, berhati-hatilah. Ludahnya bisa menyembuhkan, memberi keuntungan, atau justru ludah itu bisa jadi penyakit, mendatangkan celaka. Maka bersikaplah baik kepadanya jika tidak ingin bernasib celaka.” Kasno menceritakan dengan binar-binar di matanya. Tanpa mengurangi debar-debar di dadanya, Kasno selalu membangga-banggakan Maksar.

Beberapa bulan berlalu terdengar kabar bahwa Maksar tengah menyepi di bawah kaki bukit. Tinggal di rumah berupa gubuk terbuat dari anyaman bambu. Laki-laki tua itu tak lagi sanggup menyeret kakinya, singgah dari satu rumah penduduk ke rumah lain, menyusuri ruas-ruas jalan kampung. Diam-diam Maksum terobsesi menemui laki-laki renta itu, dan niat itu pun ia kerjakan. Pergi tak bilang siapa-siapa, dalam gelap malam dini hari.

Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Maksum duduk dalam gemetar sembari menatap wajah Maksar. Tanpa diminta terlebih dahulu oleh Maksum, tiba-tiba saja laki-laki tua itu membuang ludahnya ke wajah Maksum. Temaram lampu teplok memantulkan bayangan dua lelaki yang saling berhadapan. Angin bergemuruh di luar. Maksum tersenyum, merasa terberkahi mendapat ludah Maksar di wajahnya. Sebab maksud kedatangan laki-laki itu kesana memang ingin mukanya diludahi agar istrinya mengijinkan menikah lagi dengan perempuan simpanannya selama ini.

Dan beberapa detik berikutnya, Maksum malah merasakan nyeri di kedua matanya. Begitu Maksar mendekatkan mulutnya di tepi telinga Maksum, laki-laki itu sudah tak dapat melihat apapun di sekitarnya, kecuali gelap membungkus dua bola matanya. Kebencian terbungkus umpatan dan sumpah serapah terhadap Maksar, karena laki-laki tua telah membutakan kedua matanya.

“Dengan begini, akan kau tahu siapa sesungguhnya yang benar-benar mencintaimu. Istrimu atau perempuan simpananmu,” ujar Maksar, lelaki tua itu dengan sangat lembut. Jantung Maksum hampir copot dari tangkainya mendengar ucapan Maksar, karena laki-laki paruh baya itu belum mengucap apapun perihal maksud kedatangannya, tetapi lelaki tua itu sudah mengetahuinya lebih dulu.

Tak ada yang bisa dilakukan Maksum selain meminta lelaki tua itu mengembalikan penglihatannya. Dalam buta mata seperti itu, Maksum tak merasakan keberadaan Maksar di dekatnya. Laki-laki tua itu keluar rumah sejak tiga puluh menit lalu meninggalkan Maksum seorang diri di dalam rumah gubuknya. Maksum cuma mendengar suara cicak dan desah napasnya sendiri.

Pulau Garam, 2019

===================

Zainul Muttaqin Lahir di. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019).

Gadis Berpenutup Kepala di Kurfürstendamm

0

Berlin, 14 Oktober 2019 pukul 2 siang.

Suasana musim gugur Jerman yang menyenangkan dengan temperatur ideal membuat pemandangan Kurfürstendamm begitu semarak. Jalan raya yang juga merupakan pusat perbelanjaan bergengsi ibu kota tersebut menggambarkan berbagai kesenangan hidup lewat butik, kafe, showroom mobil, serta sejumlah hotel mewah bergengsi yang tak henti-henti diakses publik.

Dan di sinilah aku berada, di sebuah kedai kopi yang termasyur sejak masa Perang Dunia II bernama Kafe Kranzler bersama tiga sahabat baikku: Michael, Kristiane dan Heidi.

Was siehst du, Michael?” Suara Kristiane yang sedikit heboh membuatku mendongak dari cangkir kopi dan ikut menoleh Michael yang tengah menerawang ke luar jendela.

Lucunya, yang ditanya hanya tersenyum simpul tanpa memalingkan tatapannya dari Swissôtel Berlin pada arah pukul satu. Aku, Kristiane dan Heidi mengikuti pandangannya dan langsung memahami.

Sejauh lima puluh langkah dari pintu masuk hotel, tepatnya di atas sebuah bangku kayu yang terletak di tepi trotoar, tengah duduk seorang gadis muda sambil memangku seorang balita perempuan yang lucu. Makhluk kecil itu tertawa-tawa setiap kali si gadis menggerak-gerakkan sebuah boneka beruang di depan wajahnya.

Pemandangan itu membuat perasaanku campur aduk. Jika melihat ekspresi polos si balita, aku jadi gemas sendiri. Tapi jika melihat si gadis yang memangkunya, hatiku ditelusupi suatu perasaan tak nyaman. Pasalnya, gadis itu mengenakan sepotong kain penutup kepala yang sepanjang pengetahuanku hanya dikenakan oleh para wanita pemeluk agama itu: sebuah kepercayaan yang dalam beberapa tahun terakhir menimbulkan polemik di Eropa khususnya Jerman karena masalah pengungsian, penyerangan, serta pelecehan seksual. Dan lihat saja, orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar si gadis menunjukkan rasa paranoid yang sama entah lewat lirikan, langkah-langkah cepat, atau bisik-bisik jika kebetulan mereka melintas secara berkelompok.

Wie bitte? Bagaimana menurut kalian?” tanya Michael pada kami bertiga setelah berhasil mengalihkan perhatiannya dari si gadis dan si balita.

“Sudah pasti dia dipaksa menikah pada usia muda,” jawab Heidi spontan. “Orang-orang dari golongan itu dikenal sangat patriakhi, kan? Menurut yang kudengar mereka tak jarang memaksa anak gadisnya untuk menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua.”

“Tidakkah hal ini membuatmu jadi miris sebagai sesama wanita?” timpal Kristiane sambil menyikut lengan Heidi. “Ini abad dua satu dan hak-hak kaum perempuan sudah diakui, tapi masih saja ada perempuan yang tak bisa menentukan nasibnya sendiri. Gadis itu seharusnya masih bisa kuliah atau bekerja. Apalagi sekarang dia ada di Eropa. Melihat tata cara kehidupan kita di sini, dia pasti berharap memiliki banyak kesempatan seperti kau, aku dan perempuan-perempuan lain di negeri ini.”

Lagi-lagi Michael tersenyum dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Jika hipotesis kalian benar, maka kasihan sekali dia karena tak bisa menikmati masa muda yang menyenangkan.”

Aku memincingkan mata untuk mengamati si gadis berpenutup kepala serta balitanya secara lebih saksama. Samar-samar kulihat ekspresi anak kecil itu berubah seperti hendak menangis. Si gadis buru-buru membuka tas ranselnya untuk mengeluarkan sebotol susu. Dengan sigap diberikannya susu tersebut pada si kecil yang langsung mengisap dengan suka cita.

Melihat hal ini, spontan aku berujar, “Mungkin dia tidak semalang itu.”

Ketiga sahabatku sontak menolehku dengan dahi berkerut.

“Apa maksudmu, Lukas?” Michael tampak paling terheran-heran.

“Tidakkah kalian memperhatikan apa yang terjadi barusan? Anak kecil itu menjadi rewel tapi si gadis bisa menanganinya. Meski dari jauh, aku dapat menyimpulkan bahwa dia seorang ibu yang baik. Jika benar dia sudah menikah­–mungkin pernikahan itu bukan hal yang terlalu buruk baginya.”

Michael tampaknya memperhitungkan teoriku sebab kemudian dia berpaling untuk ikut memperhatikan gadis itu pula. Tak lama berselang dia bergumam, “Mungkinkah dia menikah dengan pria Eropa?”

Was?!” Kristiane dan Heidi berseru hampir bersamaan.

“Anaknya,” jawab Michael sambil mengedik ke arah si kecil yang kini tampak hendak terlelap. “Kalau dilihat-lihat anak kecil itu seperti anak kulit putih. Mungkin suaminya adalah orang Jerman.”

Kening Kristiane masih berkerut ketika dia berkata, “Maksudmu pernikahan justru membuat dia terbebas dari tradisi yang mengekang karena sang suami membawanya ke negeri ini?”

Michael mengangkat bahu. “Kita tak pernah tahu,” jawabnya sambil meneguk habis sisa kopi pada cangkirnya.

“Bagiku tetap saja,” sergah Heidi. “Dengan siapapun dia menikah, dia tetap tak bisa merasakan kebebasan yang sepenuhnya. Dia tetap harus mengurus bayi dan mengenakan…”

Aku, Michael dan Kristiane terheran-heran akan kalimat Heidi yang terputus sebelum mengetahui bahwa perhatiannya teralih pada sepasang pria dandy yang baru saja menuruni tangga lantai atas kafe. Dari setelan jas serta koper kerja yang mereka bawa, tampak jelas bahwa keduanya merupakan akademisi dari salah satu kampus bergengsi di Berlin. Secara kebetulan mereka memilih meja yang ada di dekat tempat kami.

“Sekali lagi maaf karena aku harus meninggalkanmu lebih awal, Rainer,” ujar salah satu di antaranya, seorang pria berambut pirang dengan kacamata berbingkai emas yang tampak lebih tua. Sementara rekannya menarik salah satu kursi, dia merapikan setelannya untuk bersiap pergi.

Kein problem, Joachim,” jawab sang rekan yang dipanggil Rainer sambil tersenyum. Dia merupakan seorang pria tampan berambut cokelat dengan usia sekitar empat puluhan. “Sampaikan salamku untuk Frau Rauftlin beserta ucapan selamat atas kelahiran putri kedua kalian.”

Danke schon. Ngomong-ngomong, kau tak ingin menikah lagi? Tidakkah kau ingin memberikan ibu baru bagi Paulin? Setahun sudah dia kehilangan ibunya karena kecelakaan mobil itu.”

Mendengar pertanyaan ini, pria bernama Rainer itu hanya tersenyum simpul. “Aku belum berpikir sampai ke sana tapi kita lihat saja nanti. Baiklah, sebaiknya kau bergegas mengejar UBahn yang akan membawamu ke Lichtenberg.”

Ja, auf Wiedersehen, Rainer.”

Auf Wiedersehen.”

Kedua pria berkelas itu saling berjabat tangan. Begitu Joachim pergi, Rainer mengenyakkan diri dan mengeluarkan sebuah telepon pintar dari saku jasnya untuk mengetik sesuatu. Sementara Kristiane dan Heidi memperhatikan pria tersebut dengan pandangan kagum, aku dan Michael hanya bertukar seringai dengan pundak terangkat.

“Kau menyeberang jalan saja, aku duduk di meja nomor 11,” suara berat Rainer yang tengah menelepon terdengar beberapa saat kemudian.

Aku kembali berpaling ke arah jalanan. Kurfürstendamm semakin ingar-bingar. Para pejalan kaki memenuhi trotoar dengan langkah-langkah cepat. Dinding kaca showroom Mercedez menggoda orang yang berlalu lalang. Gadis-gadis muda merayap dari satu butik ke butik lain. Dan gadis berpenutup kepala di depan Swissôtel melintas di depan jendela Kafe Kranzler.

Aku terkesiap.

Untuk sesaat kukira aku berhalusinasi sebelum kemudian terdengar bunyi pintu kafe digeser. Dan masuklah gadis muda itu bersama anak balita cantiknya yang telah terlelap. Mereka melenggang di antara kursi-kursi hingga akhirnya mencapai meja di mana Rainer berada.

Guten tag, Profesor Kross,” sapanya pada Rainer dalam Bahasa Jerman yang agak pelat.

Guten tag, Yasmin. Oh, malaikat kecilku. Dia tidak merepotkanmu, kan?” balas Rainer panjang lebar sambil mengambilalih si balita dari tangan si gadis berpenutup kepala. Ditimangnya bocah itu dengan penuh kasih sayang.

“Sama sekali tidak, Profesor.” Gadis bernama Yasmin itu menggeleng. “Ini botol susu dan bonekanya,” tambahnya sambil menyerahkan sebuah tas kecil yang dia ambil dari dalam tas ransel–yang mana membuatku terkejut begitu mendapati sejumlah buku tebal saat tak sengaja melirik ke dalamnya. “Er… di mana Profesor Rauftlin?”

Rainer Kross yang tengah membuka kopernya dengan salah satu tangan tersenyum saat menjawab, “Dia harus pergi ke Sana Klinikum Lichtenberg untuk melihat putrinya.”

“Oh, istri beliau sudah melahirkan?”

“Ya, satu jam yang lalu dan ini upahmu untuk minggu ini,” jawab sang profesor sambil mengulurkan sebuah amplop putih. “Dan karena kau akan ujian Bahasa Pemrograman Rakitan minggu depan, kau tak perlu datang ke rumah. Aku akan merasa bersalah jika nilai-nilaimu sampai turun dan Technische Universität Berlin mencabut beasiswamu.”

Yasmin tergelak mendengar mendengar hal ini. “Danke Schon, Profesor.”

“Sekali lagi maafkan aku karena lupa memberitahu bahwa venue Konferensi Robotika dipindahkan dari Swissôtel ke Kempinski. Tadinya aku mau meneleponmu setelah acara itu berakhir tapi Joachim terus mengajakku mengobrol hingga kami sampai di kafe ini. Baiklah, Yasmin, selamat belajar dan auf Wiedersehen.”

Auf Wiedersehen.”

Seiring dengan menjauhnya langkah Yasmin meninggalkan Kafe Kranzler, aku, Michael, Kristiane dan Heidi bertukar pandang. Untuk sesaat kami berempat terdiam sebelum akhirnya tersenyum kecut, membuatku bisa menduga bahwa seperti halnya diriku, ketiga sahabatku juga merasakan sebuah sensasi tertohok dalam hati oleh jawaban kenyataan atas segala praduga kami.

Catatan:

Was siehst du?            : kau lihat apa?
Wie bitte?                   : bagaimana?
Was?                           : apa?
Kein problem              : tidak masalah
Danke schon               : terima kasih
Auf Wiedersehen        : sampai jumpa
Guten tag                    : selamat siang

Kurfürstendamm merupakan sebuah jalan besar yang terletak di tengah kota Berlin dan merupakan pusat perbelanjaan serta hiburan seperti Champ d’Elysse di Paris.

Swissôtel Berlin dan Kempinski adalah hotel-hotel terkenal yang terletak di Kurfürstendamm.

Kafe Kranzel juga merupakan salah satu tempat terkenal di Kurfürstendamm.

Sana Klinikum Lichtenberg adalah rumah sakit yang terletak di distrik Lichtenberg, salah satu distrik mewah ibu kota.

UBahn atau Unter Bahn adalah sebutan untuk kereta bawah tanah di Jerman.

Technische Universität Berlin merupakan salah satu kampus terbaik di Berlin.

Ayah yang Membenci Matahari

0

Cerpen Herumawan P A

Adi kecil senang pada sinar matahari yang masuk ke dalam rumah. Karena setiap pagi, sang ibu selalu membuka semua jendela di rumahnya.Ia pun lebih sering bermain-main dengan sinar matahari itu.

Adi biasanya akan menari-nari di bawah sinar matahari yang masuk lewat jendela. Atau berjemur sambil bercanda riang di bawah sinar matahari bersama kedua orang tuanya

Begitu pula, Pak Basri sang ayah. Hidup Pak Basri tambah senang ketika sang istri mengandung anak kedua seorang perempuan yang sangat dinantikannya. 

Malam hari itu, sang ibu yang sedang hamil hendak melahirkan, Pak Basri ditemani Mbok Siyem, pembantu membawanya ke puskesmas. Adi disuruhnya tetap di rumah.

Ketika tiba di puskesmas, sang istri disuruh pulang karena menurut dokter jaga belum waktunya melahirkan. Pak Basri lalu minta rujukan ke rumah sakit tapi dokter tak memberinya. Karena tak terdaftar BPJS. Pak Basri terpaksa membawa pulang sang istri.

Jelang pagi hari, sang istri benar-benar akan melahirkan. Pak Basri ditemani Mbok Siyem membawanya kembali ke puskesmas. Dokter segera memberi rujukan ke rumah sakit.

Pak Basri ingin memakai ambulans puskesmas. Tapi bidan yang bertugas memberitahu sopir tak ada di tempat. Tak mau berdebat dan juga karena iba melihat sang istri merintih kesakitan, Pak Basri meminjam mobil pick up milik salah satu tetangganya, Bu Ani.

Beruntung, Bu Ani mau meminjamkan mobil pick up beserta sopirnya. Pak Basri langsung membawa sang istri di belakang mobil pick up menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan, hujan turun lebat. Pak Basri memilih berteduh di emperan toko dulu.

Di sela berteduh, Pak Basri mencoba menelepon taksi karena melihat sang istri yang tampak kedinginan dan terus merintih kesakitan ditemani Mbok Siyem. Tapi pulsanya tak mencukupi untuk telepon. Ketika hendak kirim sms untuk beli pulsa, ponselnya malah mati karena baterainya habis.

Saat hujan mulai reda, Pak Basri bergegas melanjutkan perjalanan.  Tiba di rumah sakit, jabang bayi ternyata sudah meninggal. Pak Basri sedih sekali.

Beberapa jam kemudian, sang istri menyusul meninggal dunia. Pak Basri benar-benar terpukul sekali. Dan bingung menjelaskan pada Adi, anaknya.

Beruntung, Mbok Siyem mau menceritakan pada Adi tentang apa yang terjadi pada sang ibu dan calon adiknya itu. Adi sedih sekali mendengar ibu dan calon adiknya sudah meninggal.

Seusai pemakaman, Pak Basri menangis meraung-raung dalam rumah. Memecahkan semua benda dan barang. Adi merasa begitu ketakutan. Mbok Siyem langsung memeluk Adi. Pelukannya seperti seorang ibu. Hangat dan mententramkan hati.

Sementara itu, Pak Basri masih saja menangis meraung-raung. Lalu beberapa detik kemudian berganti makian dan cacian. tak bisa mengontrol emosinya. Alih-alih menyalahkan dokter, hujan lebat atau Tuhan, Pak Basri malah memilih menyalahkan matahari. Karena dipikirnya kalau matahari bersinar terang, sang istri dan jabang bayinya bisa diselamatkan.

 Pak Basri terus menerus memaki Matahari. Menyalahkan Matahari sebagai penyebab kematian istri dan calon jabang bayi perempuannya.  

“Wahai Matahari terbit, kau sudah renggut nyawa dua orang yang kusayangi. Mulai hari ini, kunyatakan perang padamu. Aku janji tak mau lagi bertemu denganmu. Aku hanya akan pergi ketika kau sudah terbenam dan pulang ketika kau akan terbit.” Pak Basri bersumpah. Ia benar-benar tak ingin bertemu lagi dengan Matahari. Ia sudah terlalu membencinya. Sejengkal cahaya Matahari pun tak boleh masuk ke dalam rumah. Jendela, kaca hingga ventilasi udara langsung ditutupi kain korden atau koran bekas. Sebagian warga kampung menganggap kelakuan ayah aneh. Tapi ia sudah tak peduli dianggap aneh atau gila.

***

Pak Basri pun pindah kerja dari semula tukang parkir ke tukang cuci piring di sebuah rumah makan. Setiap pagi, ia berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam.

Teman-teman kerja Pak Basri heran melihatnya tak pernah keluar rumah makan setiap istirahat makan siang. Pak Basri memilih memakan bekalnya di dapur. Hingga suatu hari, Pak Badrun pemilik rumah makan berulang tahun. Semua karyawan diundangnya makan di luar. Pak Basri langsung menolaknya. Pak Badrun tak terima. Dan langsung memecat Pak Basri dengan pesangon tak seberapa.

Pak Basri pun lebih sering berada di rumah bersama Adi dan Mbok Siyem. Tapi itu membuatnya stress.

Mbok Siyem bekerja serabutan sebagai buruh cuci dan penual gado-gado keliling untuk memenuhi kebutuhan hidup ketiganya. Tak lupa, Mbok Siyem menasehati Pak Basri agar banyaknya waktu di rumah dimanfaatkan untuk beribadah dan lebih menyayangi Adi, anaknya. Pak Basri menuruti nasehat Mbok Siyem.

Adi dan Pak Basri pun jadi lebih akrab. Keduanya saling menyayangi. Adi tak pernah mempermaslahkan perilaku Pak Basri ayah yang menutupi semua jendela rumah dengan banyak kertas koran baik dii dalam maupun luar.

Adi juga tak mengubris omongan sebagian warga kampung yang menganggap perilaku sang ayah seperti orang stres, gila dan ada yang bilang sudah menjadi Dracula. Anak-anak pun takut bermain di dekat rumah Adi. Tapi Adi tetap berpikir positif, itu hanya sementara. Sang ayah nanti juga tak begitu lagi.

***

Ketika Adi sudah tumbuh dewasa, Mbok Siyem dipanggil keluarganya kembali ke desa untuk momong cucu. Adi sedih. Sepeninggal Mbok Siyem kembali ke desa, Adi harus banting tulang mencukupi kebutuhan hidup ia dan ayahnya.  

Beruntung, Adi memiliki ketrampilan mengoperasikan komputer. Ia pun diterima kerja di perusahaan yang cukup jauh dari rumahnya. Pak Basri, sang ayah tak mempermasalahkannya, ia malah senang.

Adi lantas bekerja baik. Ia sering mendapat bonus. Bahkan akan dipromosikan ke kantor pusat. Tapi Adi menolaknya karena Pak Basri tiba-tiba jatuh sakit. Walaupun jatuh sakit, Pak Basri tak mau dibawa ke rumah sakit. Terpaksa, Adi memanggil dokter puskesmas.

Melihat dokter puskesmas datang, Pak Basri teringat peristiwa yang membuat istri dan sang jabang bayinya meninggal. Pak Basri yang masih dendam lalu mengusir pergi dokternya. Adi berusaha menengahi. Tapi malah Adi yang terkena marah.

Adi yang kesal lantas mencopoti kertas koran yang menutupi jendela. Ia beranggapan itulah penyebab Pak Basri sang ayah jatuh sakit. Karena kurang dapat sinar matahari untuk tulang dan tubuhnya.

Tapi tindakanku itu diketahui Pak Basri. Ia tampak marah. Pipi Adi dua kali ditamparnya, kanan dan kiri. Lalu menyuruh sang anak kembali menutupi lagi. Adi hanya menurut saja.

Pak Basri tak mau berbicara lagi dengan Adi. Kalaupun mau bicara, ia tuliskan di atas kertas putih lalu menunjukkannya pada Adi.

***

Begitulah rasa benci Pak Basri pada Matahari sudah mengalahkan segalanya. Dan semenjak itu, Pak Basri selalu mendiamkan Adi. Tak pernah bertegur sapa dengan sang anak. Pak Basri hanya mau berkomunikasi lewat perantara kertas.

“Bagiku, Matahari ciptaan Tuhan yang paling indah dan bermanfaat.”

“Tanpa Matahari, tak mungkin makhluk hidup, tumbuhan dan pepohonan bisa hidup.” Adi berbicara sendiri di dalam kamar. Sepi, tak ada mendengarkan dan memperhatikan keluh kesahnya. Hati kecilnya tak beraksi, diam tanpa suara.

Adi lalu bangun dari tempat tidurnya.

“Mungkin ini waktunya, aku pergi dari rumah.” batin Adi sambil membereskan pakaian dan barang-barangnya sendiri. Ia sudah muak dengan sikap sang ayah yang selalu menyalahkan Matahari sebagai biang kematian ibu dan adiknya. Tak habis pikir pula, Adi dengan sikap Pak Basri yang membenci Matahari selama ini.

Sudah bulat Adi putuskan pergi dari rumah. Sang ayah pasti tak akan mengizinkan, Karena Pak Basri masih membutuhkan Adi. Tapi ia sudah tak peduli lagi.

***

         Kini, Adi terpekur di samping pusara sang ayah. Seminggu lalu, Adi membaca berita kematian sang ayah di sebuah koran. Tak terasa sudah setahun, Adi meninggalkan rumah tanpa jendela itu. Dan selama itu pula, ia membiarkan sang ayah hidup sendiri. Tanpa sinar matahari yang cukup dan tak ada yang rutin mengurusnya.

         Adi akui ia memang anak durhaka. Membiarkan Pak Basri sendirian dalam kegelapan. Kini Adi tampak menyesali keputusannya meninggalkan rumah. Menyesali mengapa ia tak bisa sedikit bersabar menghadapi sang ayah.

Adi menengok ke belakang, memandangi sosok seorang perempuan yang sedang hamil dua bulan, tak jauh dari tempatnya terpekur. Ia istri Adi yang dinikahi setahun lalu tanpa memberitahu sang ayah. Adi berharap ketika nanti anaknya lahir, ia tak ingin sang anak sepertinya, yang tega meninggalkan sang ayah sendirian.

Yogyakarta, 24 Juni 2019

Herumawan Prasetyo Adhie, lahir di Yogyakarta, 30 September 1981. Seorang pejalan kaki yang memilih naik trans Jogja atau becak ketika lelah melanda, juga pemerhati sepak bola dan suka sekali menulis apapun. Mulai artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita anak, cerita lucu hingga cerita misteri (mistik/seram). Karya cerpen pernah dimuat di Apajake.id, Bangka Pos, Banjarmasin Pos, Harian Analisa Medan, Harian Jogja, Joglosemar, Harian Rakyat Sultra, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Majalah Story, Minggu Pagi, Majalah Kuntum, Republika, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Lampung, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Serambi Ummah, Solopos. Tabloid Nova dan Utusan Borneo (salah satu surat kabar Malaysia).

Kambing Hitam

0

IQMAL menyeret kambing hitam itu menjauh dari tempat penampungan hewan kurban. Langkahnya tergopoh-gopoh saat ia tahu kalau Pak Carik memergokinya. Tapi ia telah siap dengan sebilah pisau dibalik punggungnya.

“Mau kamu bawa ke mana kambing hitam itu, Mal? Tidak malu apa sama warga!” seru Pak Carik yang ternyata tak sengaja melihat Iqmal saat tadi sedang melintas.

Wis ben. Biar saja! Toh kambing hitam tetaplah kambing hitam!” Iqmal semakin mencengkeram tali yang mengikat kambing hitam itu.

“Tapi sama saja kamu mencuri!”

“Kambing hitam tidak boleh dikurbankan!”

“Kata siapa?”

“Kata saya, Pak Carik!”

Pak Carik menggeleng-gelengkan kepala lantaran melihat kelakuan aneh Iqmal. Beliau menasihati Iqmal singkat. Iqmal pun akhirnya pergi setelah sebelumnya melepaskan kambing hitam itu.

Begitulah Iqmal beberapa bulan yang lalu, saat menjelang hari raya Iduladha. Mendadak dia menjadi sangat aneh. Sebelumnya, ada seorang warga yang hendak mengurbankan seekor sapi berwarna hitam, tapi ia tegas melarang dengan dalih bahwa sapi hitam tak boleh dibuat kurban. Warga itu pun akhirnya menuruti perkataan Iqmal dan mengganti sapi hitam tersebut dengan sapi putih. Pokoknya, semua yang berwarna hitam itu sesat menurut Iqmal.

Hal itu bukannya tidak berdasar, tapi memang sejak kecil Iqmal diajarkan oleh orang tuanya agar menghindari yang namanya kesesatan. Semua yang berkaitan dengan hitam dan gelap akan menjerumuskan ke arah yang tidak baik. Salah satu bukti nyata yang membuatnya percaya adalah pada saat pemilihan kepala desa. Waktu itu Pak Burhanlah yang dilantik menjadi kepala desa. Pak Burhan pun berniat mengendurikan seekor kerbau hitam.

“Lihat saja, Pak Burhan tidak akan lama menjabat sebagai kepala desa!” ucap Iqmal sehari setelah pengumuman dilantiknya kepala desa.

“Kenapa kamu yakin sekali, Mal?”

“Ya karena beliau mengendurikan kerbau hitam. Hitam itu gelap, sesat. Tidak baik pokoknya!”

“Lho, tapi kan niatnya buat selamatan. In syaa Allah tidak apa-apa, Mal.” Banu menepuk-nepuk pundak Iqmal, meyakinkan.

“Pokoknya podho wae! Sama saja.”

Benar saja, belum sampai enam tahun, Pak Burhan sudah lengser dari jabatannya sebagai kepala desa. Bukan karena tekanan dari berbagai pihak, melainkan sakit yang diderita secara mendadaklah yang mengakibatkan hal itu terjadi. Sampai akhirnya dia meninggal dunia.

Sejak saat itu, warga mulai sering membicarakan Iqmal yang konon mulai dipercaya dapat memprediksi segala sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal tidak baik. Seperti misalnya: jangan memancing di sungai yang airnya keruh, atau jangan berpakaian serba hitam di malam hari.

Meski terkesan tidak masuk akal, warga pun mulai mengakui bahwa Iqmal adalah seorang pemuda yang tak hanya pandai mengajari anak-anak mengaji, namun juga selalu mengingatkan untuk tidak berbuat jahat pada sesama.

Pagi ini, ketika semua warga mulai melupakan kejadian pencurian kambing hitam yang hendak dilakukan oleh Iqmal, tiba-tiba warga digegerkan oleh hilangnya seekor kambing hitam. Ya, kali ini benar-benar hilang dan tak ada satu pun yang menangkap basah siapa pelakunya. Suara kentungan segera terdengar membelah kesunyian. Warga mulai berdatangan menuju ke sumber suara. Ada yang masih berkalung sarung, ada juga yang lupa memakai alas kaki. Semua berkumpul menjadi satu, termasuk Iqmal.

“Kambing hitamnya hilang, Pak Kades!” teriak warga yang membunyikan kentungan sambil menunjuk ke arah tempat penampungan hewan kurban.

“Hah, hilang!”

“Lho, bukannya setelah kejadian Iqmal, kambing di sini semua aman?”

Semua mata mulai tertuju pada Iqmal. Sedangkan yang dituju hanya sanggup melongo tanpa berujar apa-apa.

“Eh, bisa saja Iqmal yang mencuri kambing hitam itu!”

“Iya, Pak Kades. Selama ini kan dia yang ngotot kalau di desa kita ini jangan ada kambing atau sapi hitam!”

“Wah, ngawur ini! Jangan asal main mengambinghitamkan saya to! Apa kalian punya bukti kalau saya yang ngambil?”

“Lha terus siapa lagi?”

Pak Kades terlihat bingung dengan berbagai perkataan dari warganya. Ia juga melihat Iqmal dengan saksama. Tak mungkin jika Iqmal nekat melakukan perbuatan yang sangat tidak berpendidikan itu. Bahkan sekarang Iqmal dikenal sebagai pemuda yang rajin beribadah. Ya, sejak ia dijadikan panutan dan mengajar mengaji anak-anak desa.

“Bukan saya pencurinya, Pak Kades.” Wajah Iqmal memelas sambil berlutut di hadapan Pak Kades.

“Halah, usir saja orang ini, Pak Kades! Ngakunya orang baik, ibadah di masjid, mengajar ngaji, tapi kelakuannya busuk!”

“Sebentar, sebentar, kita dengarkan penjelasan dari Iqmal dulu,” ucap Pak Kades seraya mengangkat kedua tangannya untuk memberi isyarat pada warga supaya lebih tenang.

“Saya tadi dari rumah, Pak Kades. Terus mau ke masjid lebih awal. Tahu-tahu ada suara kentungan, karena panik ya ikut saja sama warga lain ke sini.”

“Nah, sudah jelas to sekarang?”

Warga akhirnya terpaksa membubarkan diri satu per satu, meski wajah mereka masih terlihat belum puas lantaran Iqmal tidak jadi diusir dari desa.

***

Dua hari setelah kejadian itu, Iqmal merenung. Ia tidak lagi memberikan nasihat-nasihat bijak untuk warga. Sebetulnya bukan tidak ingin, tapi wargalah yang mulai enggan mendengarkannya. Padahal ia sangat rindu pada anak-anak yang belajar mengaji. Duduk sambil bersolawat. Ah, selebihnya ia hanya mampu uzlah di dalam masjid setelah anak-anak pulang belajar mengaji.

Ainun yang tak lain adalah putri Pak Kades—yang menggantikan Iqmal mengajar pun sempat menanyainya. Tapi Iqmal tetap saja diam dan tidak menjelaskan apa-apa. Hatinya sudah kadung sakit jika mengingat peristiwa yang telah menimpanya. Semua orang tetap saja menganggapnya sebagai pencuri, meski tidak ada satu pun bukti yang ditemukan.

Dalam kegelisahan hatinya, ia teringat oleh perkataan kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. “Kalau kamu mau jadi orang yang benar, kamu harus mengajarkan kebenaran pada mereka, Le.” Tak terasa air matanya meleleh mengenang itu.

Iqmal pun memutuskan untuk meninggalkan desa secara diam-diam, agar hatinya tenang dan tidak dikungkung oleh rasa bersalah. Ya, ia memang merasa bersalah sejak membuat warga mulai percaya dengan nasihat-nasihatnya. Tapi karena itu jugalah, ia justru dikambinghitamkan oleh warga.

Iqmal membawa pakaian secukupnya dalam tas ransel. Ia memang sengaja tidak membawa semua karena suatu saat ingin kembali lagi, walau entah kapan. Mungkin sampai ia tidak dianggap pencuri lagi oleh warga. Mungkin sampai si pencuri asli itu tertangkap. Ya, mungkin.

Saat baru separuh perjalanan meninggalkan desa, ada seseorang yang mengajak Iqmal berbicara. Orang tersebut entah dari mana datangnya, kemudian mengatakan sesuatu yang sulit dipahami oleh Iqmal.

“Jangan pergi kecuali jika urusanmu sudah selesai.”

Iqmal menatap wajah orang itu dengan saksama. Anehnya, wajahnya tidak jelas. Selebihnya, Iqmal hanya mampu melihat orang itu yang perlahan melenggang pergi—meninggalkannya dalam diam.

Tidak cukup sampai di situ, langit yang tadi cerah, tiba-tiba saja berubah menjadi gelap. Gelegar petir saling sahut menyahut. Membuat Iqmal menutupi kedua telinganya. Hujan akhirnya turun. Iqmal buru-buru mencari tempat berteduh. Beruntung ada sebuah gubuk tak jauh dari tempatnya berdiri.

Sambil menunggu hujan reda, pikiran Iqmal kembali pada sosok yang baru ditemuinya tadi. Perkataan orang itu sungguh membuat hatinya ditikam keresahan bertubi-tubi. Seolah-olah ia tidak boleh pergi. Tapi apa urusan yang dimaksud? Bahkan warga desa pun sudah tak mau berurusan dengannya. Sebab kehadirannya memang sudah tidak dianggap lagi oleh warga.

Tak terasa, Iqmal pun tertidur. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Orang tuanya juga berpesan agar jangan pergi sebelum urusannya selesai. Iqmal sempat bertanya, apa maksud dari pesan tersebut. Tapi orang tuanya menggeleng dan menasihati agar ia mencari jawabannya sendiri.

Setelah itu, kedua orang tua Iqmal pergi. Iqmal tersenyum dan bertekad akan mencari jawaban tentang pesan tersebut. Namun tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu hingga ia jatuh.

Brukk!!

“Mal, Iqmal! Bangun! Pencuri kambing hitam itu sudah ditemukan!”

“Hah, apa?!”

Iqmal mengerjap-ngerjapkan matanya dan refleks mengelap air kental yang tiba-tiba keluar ujung bibirnya dengan punggung tangan.

“Ayo ikut aku ke balai desa!”

Ternyata Banu yang membangunkan Iqmal dari tidur lelapnya. Sambil tertatih, Iqmal mengikuti langkah gegas Banu. Betapa kagetnya ia saat sampai di balai desa. Semua warga telah berkumpul. Di depan Pak Kades sudah berdiri seorang perempuan yang setelah ia amati adalah Ainun.

“Ma-maafkan saya, Pak Kades. Se-sebenarnya saya-lah yang memengaruhi semua warga agar mengambinghitamkan Bang Iqmal,” ucap Ainun dengan sedikit terbata.

Ia tak sanggup menatap Pak Kades. Begitu juga pada semua warga. Ia sangat malu. Sungguh malu. Apalagi jika harus meminta maaf langsung dengan Iqmal.

“Ainun … Ainun. Kamu kok tega sekali sama Iqmal. Memangnya dia salah apa sama kamu?”

“Iya, benar. Kami menyesal karena kemarin sudah mendengarkan omong kosongmu yang tidak ada gunanya itu!”

“Seharusnya kamu yang pergi dari kampung ini, bukan Iqmal!”

“Iya. Dasar!”

“Sudah, sudah! Jangan menyudutkan Ainun seperti itu. Kita harus mendengarkan penjelasan dari dia.” Pak Kades yang sejak tadi terlihat mencoba sedikit emosi akhirnya memotong perdebatan antar warga.

Dengan air mata yang berlelehan, Ainun pun menjelaskan mengapa ia melakukan semua itu pada Iqmal. Ia juga mengatakan jika selama ini ia terobsesi ingin mengajari anak-anak mengaji. Hanya saja cara yang ditempuhnya salah.

 Sementara itu, Ainun berjanji akan mengembalikan kambing hitam yang telah dicurinya. Syukurlah, semua warga mau memaafkannya. Pertemuan itu ditutup dengan ide yang dicetuskan oleh Pak Kades. Beliau ingin Iqmal dan Ainun dapat bekerjasama, bergantian mengajar anak-anak mengaji. Hal itu sontak membuat warga bersorak sorai dan satu per satu dari mereka memeluk Iqmal yang sedang tersenyum lega.

Saat orang-orang sedang sibuk mengelu-elukan Iqmal, Ainun terlihat menepikan diri, meringkuk di belakang pintu balai desa. Tak ada satu pun yang tahu jika ia mengambil sebuah benda keras dari balik baju dan ia bergumam pendek.

“Kambing hitam itu sudah mati.”

Semarang, Agustus-Oktober 2019

==========

Reni Asih Widiyastuti ialah penulis asal Semarang, Alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang. Salah satu bukunya telah terbit, yaitu Pagi untuk Sam.

Kunci

0

BEBERAPA waktu ia tak kunjung mendapati kunci yang seharusnya dapat membuka pintu rumahnya. Ia juga tak tahu mengapa kunci yang semestinya berada di bawah keset raib tak tahu rimbanya. Ia mengingat-ingat, terakhir ia menaruhnya memang di situ dan tak pernah di tempat lain. Jika pun ia lupa, ia pernah lupa mengunci pintu itu seperti yang terjadi bulan lalu saat ia buru-buru berangkat kerja dan pulangnya mendapati pintu rumah terbuka dan di dalamnya berantakan bagai kapal pecah. Barangkali istrinya pulang sebentar untuk mengambil sisa barang-barangnya.

Di mana kunci itu ia letakkan?

Ia tak berpesan apapun pada Drio. Bukan sungkan atau tak ingin mengganggu aktivitas berkebunnya saban pagi, yakni merawat aneka sayuran hidroponik di halaman rumahnya. Tetangganya itu memang rajin sebagai petani rumahan. Aneka sayuran ia tanam: selada, kol, kacang panjang, hingga tomat dan cabai. Meski pekerjaan resmi yang senantiasa ia katakan adalah menulis novel–entah sudah diterbitkan atau belum. Dan ia sudah menganggap Drio sebagai saudara. Bukan lantaran sama-sama hidup sendiri sebagai duda. Namun, pagi itu, ia benar-benar buru-buru mengejar jadwal keberangkatan kereta.

Oleh karena keterburu-buruannya itu, ia sampai lupa membawa sebuah tas berisi hasil ulangan murid-muridnya. Ia hanya membawa tas berisi laptop beserta chargernya, smartphone beserta chargernya, buku-buku diktat mata pelajaran yang diampunya, dan beberapa pulpen dan spidol hitam (bahkan ia lupa membawa sisir dan pencuci muka). Seharusnya ia bagikan hasil ulangan itu dan memberikan tes perbaikan bagi murid yang nilainya kurang. Di kelas, ia tak bisa melaksanakan rencana itu. Ia harus berbohong bahwa ulangan mereka belum selesai dinilai dan akan dibagikan pada pertemuan berikutnya. Murid-murid sebagian kecewa, tapi banyak yang lega.

Hampir lima tahun ia menjalani profesi sebagai pengajar di sebuah sekolah swasta di luar kota. Meski itu tak sesuai dengan kualifikasi ijazahnya. Pekerjaan itu ia peroleh dari mertuanya yang menjadi kepala sekolah di tempat ia mengajar. Sebagai mertua tentu tak elok punya mantu pengangguran, apalagi bergelar sarjana. “Buat apa sekolah tinggi-tinggi jika tak memiliki pekerjaan yang mumpuni,” kata si mertua suatu kali. Maka, berkat jabatannya, masuklah si mantu-pengangguran-itu di sekolah yang dikepalainya, meski tak punya latar belakang sebagai sarjana kependidikan.

Ketika si mertua pensiun, ia tetap mengajar di sekolah itu, sambil melanjutkan studi penyetaraan ijazah. Dan di situlah pertengkaran dengan istrinya mulai tumbuh, mengakar kuat, menjulangkan dahan-dahan, hingga berbuah perceraian. Sebuah persoalan yang sengaja dibuat-buat supaya dapat dijadikan bahan pertengkaran. Sebuah masalah kecil yang dibesar-besarkan agar dapat dijadikan alibi sebuah perpisahan. Lantas istrinya melanjutkan studi ke Eropa–yang memang menjadi cita-citanya sedari kecil–dan mungkin tengah menjalin hubungan asmara dengan lelaki bule setempat. Meski demikian, mertuanya tetap menganggapnya anak sebab ia tak punya anak lain selain anaknya.

Dulu Arman hanya tahu bahwa menikahi kekasihnya adalah keniscayaan. Ialah perempuan yang menjadi istrinya. Tak ada yang lebih istimewa selain menikahi seseorang yang paling dikasihi sepenuh hati. Dan Arman  hanya tahu bahwa mencintainya adalah bukan kebetulan belaka. Ada semacam proses pencarian cinta yang amat luar biasa yang ia kerahkan sepenuh tenaga–semacam ijtihad lahir batin. Cinta yang kemudian bertunas menjadi harapan. Tumbuh menjadi keyakinan. Dan berbuah menjadi cahaya masa depan. Sebuah rencana memikat yang mudah disusun dalam angan-angan namun susah diwujudkan dalam kenyataan. Sedikit pun ia tak menyadari di balik ketergesaannya memutuskan perkara itu membuatnya kini meratapi penyesalan yang tak tertanggungkan. Ia kini hidup sendiri, di rumah yang dua tahun lalu dibelinya dengan cara kredit dari uang sertifikasi, tanpa seorang istri yang dulu begitu ia kasihi. Apalagi seorang buah hati. Ia benar-benar lelaki sepi.

Akan tetapi, buat apa menyesali yang telah terjadi?

Arman tampak waras saja meski tiada sedikit pun menampakkannya lewat gurat wajah atau perangai sehari-hari. Ia masih mengajar tiap pagi; menyapa Drio, novelis sekaligus petani rumahan–yang novel-novelnya belum ia beli di toko buku; dan mengejar kereta dan berjejalan di dalamnya. Lalu, sepulangnya, ia kerjakan pekerjaan rumah: menyapu lantai, membersihkan kaca jendela, sesekali mengelap lemari dan beberapa barang pecah belah di dalamnya, dan ketika usai, ia menyeruput kopi yang sengaja ia letakkan di meja tamu, dan jika capai, ia menonton tv yang menayangkan berita maupun informasi seputar selebriti. Ia jarang menonton sinema televisi yang tayang hingga ratusan episode, yang selalu berakhir tanpa klimaks.

“Rumput di halaman sudah meninggi. Sudah waktunya kau cabuti,” batinnya, kepada diri sendiri.

Sejatinya bukan itu yang ia permasalahkan. Namun, tangannya masih melepuh usai tertumpahi air panas sebelum berangkat ke sekolah yang membuatnya urung mencabuti rumput-rumput liar itu. Andai saja ia tak mengangkat telepon Ria, andai ia lebih sabar menuang air panas ke cangkir kopi, andai ia tak berpikir macam-macam soal mantan istrinya, tentu tangan itu sanggup mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sekaligus.

Yang terjadi tak demikian adanya.

Tak baik meratapi segala yang terjadi. Biarkan ia mengalir bagai air kali dan memuara ke laut. Begitu sebuah quote yang pernah ia baca di laman Facebook. Pemilik akunnya seorang ustaz karena di awal namanya ada gelar itu. Tapi ia tak peduli. Ia hanya mengakui bahwa ia terlampau mendalami keadaannya dan abai pada hal-hal penting di sekitarnya. Dan itu yang membuatnya makin larut dalam perbuatan yang telah diperbuatnya.

Sejak kecil ia dilatih untuk percaya diri. Percaya kepada kemampuan sendiri. Halangan sebesar apapun tak perlu gentar bahkan ditakuti. Semua adalah tantangan, yang bilamana sanggup dihadapi maka engkau akan menjadi orang yang kuat dan tahan banting. Demikian pesan bapaknya, tiga tahun sebelum ia masuk madrasah tsanawiyah. Ia begitu yakin bahwa apa yang dikatakan bapaknya benar. Ia buktikan itu ketika memilih masuk madrasah daripada sekolah umum. Ia yakin jika masuk madrasah ia makin mengerti ilmu agama di samping ilmu umum. Ia yakin mampu mengerjakan soal-soal ujian yang diberikan (baik UTS, UAS, maupun UN). Ia yakin akan menjadi seorang cerdik-cendekia yang mampu mengentaskan kebodohan di seluruh pelosok kampungnya. Ia yakin dengan mimpinya setinggi langit itu meski tak tahu akan jatuh di antara bintang-bintang atau terjun bebas ke bumi yang keras lahir batin. Ia hanya yakin.

Yakin yang terlampau menjulang.

Pada ujungnya, ia jatuh di comberan. Menjadi kuli batu dan bekerja apapun di malam hari untuk melunasi hutang-hutang yang dibuatnya semenjak kuliah–meski harus ia selesaikan dalam kurun tujuh tahun. Ia terjerembab dalam kerasnya dunia yang sebenarnya. Penyesalan memang senantiasa hadir belakangan.

Di balik itu semua, ia terlanjur mencintai seorang gadis teman kuliahnya. Begitu amat mencintainya dan bahkan ingin lekas menikahinya. Ia pun menikahi kekasihnya. Beruntung, ibu kekasihnya yang janda memberinya pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah yang dikepalainya, sehingga ia meninggalkan perkerjaan-pekerjaan kasarnya dan memulai merintis rumah tangganya. Meski kemudian keputusan buru-buru itu yang kini mesti ditanggungnya untuk melengkapi ketololannya menjalani hidup. Hidupnya jauh dari kata siap dan mapan.

Di rumah itu lengang. Jika Ria masih ada, tentu rumah itu berwarna. Arman hanya meratap pada dinding yang diam-beku, pucat warna putihnya, lumut menghijau di sana-sini.

“Semestinya hidup lebih adil kepadaku.”

Arman sempat meraba celah jendela kaca bersusun. Jerujinya yang longgar mudah bagiku merogohkan tangan kurusku, bisiknya pada dirinya sendiri. Kunci rumah tak ia temukan di situ. Ia beralih ke pot bunga cocor bebek. Rumput-rumput halus hampir memenuhi ruang itu dan ia abai tak sempat mencabutinya. Tak ada kunci.

Lalu di mana kunci itu berada?

Engkaukah yang menyimpannya? [*]

==========

M Firdaus Rahmatullah, lahir di Jombang. Menggemari sastra dan kopi. Tahun 2015, mengikuti workshop cerpen Kompas di Bali. Kini, tinggal di Situbondo.

Tiga Burane

0

Adalah seorang gadis rupawan yang dipinang oleh tiga laki-laki tampan yang membuat cerita ini ditulis. Seorang lelaki ringkih dengan janggut serupa rambut jagung telah menuturkannya, dengan sudut mulut berbusa oleh sisa ludah. Ia bilang, tutur kisahnya akan hilang oleh embus angin ke arah timur, bila tidak ada yang menuliskan.

Maka mulai kutulis pembuka ceritanya: Seorang gadis rupawan dipinang oleh tiga laki-laki tampan. Ketiga laki-laki itu saudara kembar; tidak hanya raut rupanya yang sepersis, tapi bentuk dan tinggi tubuhnya pun tak ada beda, bahkan sifat dan keinginannya pun sama. Mereka bernama Burane Kanja, Burane Garetta, dan Burane Kessing.

Betapa bingung orang tua si gadis mendapat pinangan tiga laki-laki sekaligus. Tak mungkin anak perempuannya memiliki tiga suami! Untuk mengelak dari kerumitan, orang tua ini mengenakan syarat kepada ketiga peminang itu untuk mencari benda ajaib yang memiliki manfaat pada anak gadisnya.

Oleh dorongan rasa cinta pada gadis idamannya, ketiga laki-laki kembar itu pun memutuskan melakukan pengembaraan mencari benda-benda ajaib. Mereka berpencar demi menghindari menemukan benda yang sama. Burane Kanja menuju ke arah utara, Burane Garetta berjalan ke arah barat, dan Burane Kessing menyusur langkah ke arah selatan.

Sedang si gadis, dalam penantian, saban senja memilih duduk di tepi jendela kamarnya yang menguak ke hamparan lapangan berumput, di mana ketiga laki-laki pujaan itu berpencar melangkah menjauh. Siapa pun lebih dahulu tiba, tak masalah, baginya ketiga laki-laki itu sama saja.

Ratusan purnama kemudian datang silih berganti, tahun demi tahun luntur, yang terus pula menggerus penantian si gadis. Bercangkung menunggu seraya menatap hampar lapangan berumput di luar jendela kamarnya, membuat kondisi fisik si gadis terus melemah; pikirannya pun terus mengusut, dibebani dugaan demi dugaan pada keselamatan sang pujaan hati.

Akhirnya si gadis jatuh sakit; bertambah parah setiap pekan berganti, hingga sampai pada hari saat detik-detik kematian menjelang.

***

Adalah seorang lelaki tua dengan janggut serupa rambut jagung yang selalu membuatku menyusup ke reyot gubuk rumbianya. Angin pantai terus menggoyang gubuk itu, seakan hendak menerbangkan, seraya melawan ikatan erat tiang-tiang penyangganya pada tonjolan akar-akar bakau yang menyembul dari ceruk pasir.

Orang-orang tua di kampung kami mengatakan lelaki ringkih itu telah hilang ingatan. Ia tak mampu lagi mengurai kata tentang tanah muasalnya. Ia terdampar di tubir pantai kampung kami, di suatu hari, diduga setelah berhari-hari terapung berjuang mengulur nyawa dengan berpegangan pada serpih badan perahunya. Entah ia seorang nelayan, atau seorang pelaut, atau malah seorang perompak, yang perahunya telah digasak badai hingga menyerpih.

Anak-anak seusiaku enggan menyusup ke gubuknya. Beda dengan aku, sepulang dari belajar mengaji di surau selepas Asar, bersemangat kusurukkan tubuh kecilku ke dalam gubuk itu. Aku suka mendengar cerita-ceritanya, terutama kesahnya tentang kisah yang akan hilang oleh embus angin ke arah timur, begitu katanya, bila tak ada yang menuliskan.

Maka kutulis lanjutan ceritanya: Di ujung pengembaraan, ketiga saudara kembar itu ternyata bertemu di satu tempat. Persuaan mereka terjadi sesaat setelah ketiganya berhasil mendapatkan benda-benda ajaib temuan masing-masing. Ketiga benda itu tersimpan di lokasi yang tidak berjauhan, dan agaknya ketiga saudara kembar itu telah memutari separuh lingkar bumi hingga bertemu di titik yang sama.

Sekian lama memendam rindu pada kembarnya, membuat ketiganya sontak berpelukan dengan haru. Saking larut bertukar pengalaman, mereka tak sadar senja mulai lindap. Mereka tak ingin lagi mengeloni gelap malam di tempat pengembaraan yang sepi. Pada senja ini juga mereka ingin pulang.

“Bagaimana kalau kita melihat-lihat dulu keadaan kekasih kita?” usul Burane Kanja. “Dia tentu telah lelah menunggu. Dengan benda temuanku yang berwujud serupa cermin ini, akan dapat melihat keadaan kekasih kita saat ini.”

Dalam kilap pantul permukaan benda ajaib itu, nampak kondisi gadis pinangan mereka sedang dalam detik-detik jelang kematian.

Terperanjat berbarengan, ketiganya saling-tukar tatap bingung.

Burane Kessing lebih dulu menguasai diri. “Tenanglah,” sahutnya. “Dengan benda temuanku yang berwujud serupa batu permata ini, akan bisa menyembuhkan, mengembalikan ke kondisinya yang semula, bila secepatnya dapat disentuhkan ke tubuhnya.”

“Masalahnya,” sela Burane Kanja, “sejak kita memulai pengembaraan, telah ratusan purnama di langit malam kita lalui, baru kita tiba di tempat ini. Untuk kembali, tentu kita pun membutuhkan waktu yang sama. Dan kekasih kita pasti telah tiada.”

“Tenanglah,” giliran Burane Garetta menyela. “Dengan benda temuanku yang berwujud serupa tusuk konde ini, waktu perjalanan dapat dipersingkat dengan cepat. Berpeganganlah pada benda ini, pejamkan mata kalian; dan dalam beberapa kejap, kita akan tiba di sisi kekasih kita. Batu serupa permata temuan Burane Kessing, tentu dapat segera disentuhkan ke tubuhnya.”

Ketiganya berlekas memegang benda itu, berbarengan pula memejamkan mata; dan dalam beberapa kejap saja, ketiganya telah berdiri di depan pintu kamar si gadis pinangan.

Tergopoh orang tua si gadis menyongsong. “Cepatlah. Dia sakit parah. Sepertinya, ajalnya tinggal beberapa detik lagi….”

Ketiganya menyerbu masuk. Burane Kessing segera mengeluarkan benda ajaib serupa batu permata temuannya, lalu meminta orang tua si gadis menyentuhkan ke seluruh tubuh anaknya.

Hanya berbilang tiga hingga empat tarikan napas, si gadis terbangun dengan wajah berseri-seri.

“Oh, kamulah yang berkenan menyuntingnya,” ujar orang tua si gadis, dengan wajah tak kalah berserinya kepada Burane Kessing.

Burane Kanja dan Burane Garetta sontak menyela, “Tunggu dulu. Tidak bijak bila Bapak terburu-buru begitu mengambil keputusan. Bapak perlu mendengar cerita kami dulu.”

Ketiga saudara kembar itu lalu berjejer, tepat menghadap ke orang tua gadis pinangan mereka.

“Pada benda temuankulah, yang berwujud serupa cermin itu hingga kami dapat mengetahui kondisi sakit parah menjelang ajal pada putri Bapak,” papar Burane Kanja. “Tanpa mengetahui keadaan putri Bapak lewat benda itu, tentu kami belum kembali ke sini untuk menyentuhkan batu ajaib serupa permata itu.”

“Dengan benda temuankulah, yang berwujud serupa tusuk konde itu yang telah mempercepat perjalanan kami ke sini,” urai Burane Garetta pula. “Tanpa melalui bantuan benda itu, kami tidak bisa tiba tepat waktu di sini untuk menyentuhkan batu ajaib serupa permata itu.”

“Jadi, ketiga benda itu tak mungkin terpisahkan, Bapak,” ketiganya mempertegas.

“Benda ajaib yang serupa batu permata itu, akan menjadi induk kalung yang menghiasi leher jenjang putri Bapak, dan itu akan membuat kecantikannya kian terpancar,” tambah Burane Kessing.

“Benda ajaib serupa tusuk konde itu, akan menahan beraian rambut putri Bapak, akan bermahkota di rambut itu hingga keanggunan putri Bapak kian terpancar,” tambah Burane Garetta.

“Benda ajaib serupa cermin itu, akan memperjelas tata kecantikan putri Bapak, dan akan menjaga kecantikannya agar terus terpancar,” tambah Burane Kanja.

“Ketiganya benar-benar tak terpisahkan, Bapak!” Semringah wajah si gadis.

“Tapi tak mungkin kamu memiliki tiga suami sekaligus!” hardik orang tua si gadis marah. Kebingungan kembali menelikung pikirannya.

***

Adalah sebuah kapal nelayan milikku, yang membuat kami masih selalu bersama, berbilang puluhan tahun kemudian. Belakangan baru kuketahui, lelaki ringkih dengan janggut serupa rambut jagung itu ternyata seorang ‘penentu lokasi’ yang mumpuni. Di gulita malam sekalipun, kami tetap dapat tersasar ke tempat-tempat berkumpulnya ikan-ikan yang kemudian kami jala.

“Inginnya kita terus bergerak ke arah timur,” kataku, setelah lambung kapal kami disarati ikan-ikan tangkapan. “Supaya aku pun bisa tiba di tempat penemuan benda-benda ajaib itu. Dan dengan benda ajaib temuanku, akulah yang berhak menyunting si gadis rupawan.”

Lelaki itu, yang kian ringkih dan kian uzur, mengikikkan tawanya. “Tugasmu hanya menuliskan cerita tentangnya, bukan ikut meminang,” di sela tawanya ia menyahut. “Dan tak mungkin lagi ada yang bisa menyuntingnya; sejak aku sebagai bapaknya, tak bisa lagi mengingat arah mana pulang ke tanah muasal.” ***

Parepare, Okt. 2007/Versi revisi: Agust. 2019.

Catatan:

Cerpen ini ikut dibukukan dalam antologi cerpen: ‘Pohon yang Tumbuh Menjadi Tubuh’, 2018, Gora Pustaka Indonesia.

Ikan Besar

0

DI BAWAH matahari terik, anak itu berjalan pincang sambil meringis. Ia merasa nyeri pada telapak kaki kirinya yang luka dan kini meradang. Pandangannya agak mengabur karena air memenuhi kelopak matanya yang terasa panas. Sedikit lagi ia akan mencapai rumahnya. Tapi ia kemudian berhenti sejenak demi melihat seekor burung camar melayang sendirian di udara. Anak itu tersenyum menyaksikan gerakan terbang menukik yang dibuatnya.

Angin laut yang bertiup kencang dan tiba-tiba menyebabkan ia segera menghentikan tontonannya itu. Lalu ia berjalan lagi dan akhirnya sampai di ujung tangga rumahnya. Ia duduk pada anak tangga pertama, menunggu ibunya.

Laut begitu luas dan ia suka memandanginya. Tampak beberapa perahu mengapung jauh di permukaan. Para nelayan akan turun ke laut pada saat tengah malam sebab mereka tahu angin akan bertiup kencang menjelang subuh. Perahu-perahu kecil hanya akan mencari ikan di sekitar Pulau Bulaeng Ti’no, Pulau Pammoli’ Cinna atau Pulau Kacinnongang Je’ne. Pulau-pulau itu tak begitu jauh dari sini sehingga mereka sudah bisa kembali sewaktu matahari terbit. Bagi yang memiliki perahu lebih besar, tentu akan mencari tempat yang lebih jauh lagi dengan harapan mendapatkan ikan lebih banyak pula. Mereka baru akan kembali selepas dhuhur. Anak itu kini menantikan saat-saat bertemu dengan ayahnya. Di langit burung camar itu tak ada lagi.

Sebenarnya ia masih ingin melangkahkan kaki naik ke atas rumah, tapi rasa nyeri makin kuat ia rasakan, membuatnya hanya bisa duduk di situ. Ia menunggu sampai ibunya menghampirinya. Suhu badannya meningkat.

”Lukamu harus kubersihkan dulu,” kata ibunya sewaktu memasukkan kaki anaknya yang bengkak itu ke dalam baskom kecil yang telah diisi air hangat. Anak itu mengeluarkan suara desis dari mulutnya ketika ibunya mencelupkan kakinya ke dalam air.

”Sebentar lagi ayah pulang kan, Bu?” ia mencoba menahan rasa nyeri dengan bertanya. Ibunya tak segera menjawab. Ia tetap berkonsentrasi mengeluarkan pasir yang menempel pada telapak kaki anaknya itu sedikit demi sedikit. Ia terlihat hati-hati sekali mengorek pasir dengan menggunakan ujung kuku jari kelingking tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegangi kaki anaknya itu.

”Tengah hari begini biasanya ia sudah kembali,” jawab ibunya kemudian tanpa memperhatikan wajah anaknya. Ia terus berkonsentrasi mengeluarkan pasir yang mulai menyatu dengan bagian lukanya itu. Kemarin, ketika ia bermain bersama anak-anak nelayan lainnya di pinggir laut, tanpa sengaja ia menginjak pecahan kulit kerang yang tajam sehingga kakinya robek dan luka. Tapi ia sudah terbiasa dengan luka seperti itu makanya ia biarkan. Lagipula ia bukan anak yang suka mengeluh. Luka seperti itu tak ia pedulikan jika ia sedang asyik berlomba membuat istana pasir dengan teman-temannya itu.

”Semalam ayah berjanji menangkap Ikan Pari yang besar untukku,” kata anak itu menatapi ibunya. Ibunya tak memberi respon, lalu anak itu berkata lagi, ”Saya suka melihat sayapnya yang lebar.”

Anak itu membuka kedua telapak tangannya dan mengangkatnya melewati kepalanya. Ia lalu menyusunnya dan membayangkan ikan Pari besar itu membuat gerakan terbang menukik seperti yang dilakukan burung camar.

”Ya, ayahmu tentu akan memenuhi janjinya.”

”Tapi apa benar ayah bisa menangkap ikan sebesar itu sekarang?”

”Tentu bisa, sayang.” sahut ibunya, akhirnya menatap wajah anaknya. Anak itu tersenyum. Cahaya pada bola matanya berbinar-binar. Seberkas cahaya itu menembus masuk ke dalam hati sang ibu.

”Ya, kupikir ayah pasti bisa menangkap Ikan Pari untukku,” jawab anak itu bangga. Di dalam pikirannya, ayahnya akan kembali dengan seekor ikan besar bersayap lebar dalam gendongannya. Ia membayangkan ikan itu masih hidup sehingga ia bisa meletakkannya ke dalam air dan melihat sayapnya mengepak-ngepak. Tapi dalam pikirannya itu juga, ia menaruh khawatir. Bagaimana kalau ikan itu didapatkan ayahnya, dimana ia akan menyimpannya. Di sini tak ada kolam, sedangkan baskom milik ibunya itu hanya pas untuk kedua kakinya saja. Ia memandang ke laut yang begitu luas. Sesekali dicarinya camar itu.

Sang ibu terus berusaha membersihkan telapak kaki anaknya itu. Tanpa sengaja ia menyentuh bagian yang luka menyebabkan anak itu meringis. Ibunya berhenti sejenak, kemudian melanjutkannya lagi. Setelah selesai, ia membalut kakinya dan menggendongnya ke ranjang.

”Biarkan saja jendelanya terbuka,” kata anak itu kepada ibunya ketika hendak menutup jendela. Anak itu terus mengarahkan pandangannya ke laut. Ia ingin melihat perahu ayahnya datang. Tentu ia akan senang seandainya ayahnya kembali membawa ikan besar itu untuknya.

”Angin laut tak baik buatmu sekarang,” ucap ibunya dan segera menutup jendela. ”Istirahat yang cukup akan membuatmu lebih baik.”

Anak itu tak ingin bersilang pendapat dengan ibunya. Ia hanya ingin melihat laut, merasakan hembusan angin pada wajahnya, tapi sang ibu lebih menginginkan dirinya cepat sembuh. Lagipula ia bukan anak yang suka membantah.

”Sebaiknya kau cepat meminum ini, atau sebentar lagi kau akan mengigau,” perintah ibunya. Anak itu bangkit, membuka mulutnya dan menelan dengan cepat sirup penurun panas. Hanya itu obat yang bisa diminumnya sekarang. Tak ada persediaan obat yang lain. Ibunya menyerahkan segelas air putih sambil berpikir untuk membawanya ke mantri desa malam ini juga jika panasnya belum juga turun.

Anak itu merebahkan tubuhnya kembali. Ibunya menaikkan selimut sampai sebatas dadanya. Lalu diperasnya air dari kain-kain perca yang hendak digunakannya sebagai alat kompres. Kain kompres itu ia letakkan pada dahinya juga pada kedua ketiaknya. Sekilas ia melihat tatapan mata anak itu menjadi aneh.

”Ayah pasti bisa menangkap Ikan Pari itu kan, Bu?”

”Ya. Tapi sekarang berusahalah tidur.”

Anak itu setuju dengan anjuran ibunya tetapi sepertinya masih ada sesuatu yang dipikirkannya. Kalau ikan itu datang bagaimana ia akan memeliharanya. Tidak ada satu pun wadah yang bisa menampung ikan sebesar itu. Kini ia memutuskan untuk mencari nama yang cocok buatnya.

”Ibu, aku ingin memberi nama yang lain buat ikan itu,” kata anak itu lagi.

”Ibu rasa sebaiknya kau memejamkan mata, nak,” balas ibunya. Dengan penuh kasih sayang, ia membelai-belai rambut anaknya itu.

”Tapi aku ingin memikirkannya sekarang.”

Ibunya menarik napas, seolah tak setuju dengan apa yang ada dalam pikiran anaknya itu. Tapi dikecupnya juga pipi anak itu lalu meminta izin untuk meninggalkannya sebentar ke dapur.

Sang ibu mengira anak itu sudah memejamkan matanya ketika ia kembali. Tetapi dilihatnya ia terus memandangi langit-langit rumah. Matanya berkedip-kedip. Rupanya ia masih terus mencari nama yang bagus buat ikannya itu tapi belum juga ditemukannya. Lalu dilihatnya ikan pari itu melayang-layang di langit. Ia memegangi kedua sayapnya dan mengikuti gerakan terbang menukik seperti yang dilakukan camar. Ada sedikit pancaran kebahagiaan pada kedua pipinya. Ibunya lalu duduk di tempatnya semula, di samping kepala anaknya. Ia merasa iba melihatnya. Angin laut bertiup terlalu kuat sehingga hembusannya masih ia rasakan lewat celah-celah dinding.

Mungkin karena obat itu mulai bekerja dalam tubuhnya, dalam keadaan lemah anak itu berkata kepada ibunya, ”Ibu, kalau ayah datang memberiku ikan besar itu, akan kupanggil ia I Mumba.”

I Mumba adalah legenda yang hampir terhapus dari ingatan para nelayan. Hanya beberapa orang saja yang masih bisa mengingat kisah itu dengan baik. Beruntung kakeknya termasuk orang yang masih bisa menceritakannya. Dalam kisah itu, I Mumba begitu perkasa sehingga para perompak laut takut padanya. Anak itu tak pernah bosan dan meminta kakeknya mengulang-ulang cerita itu. Ketika kakeknya meninggal setahun yang lalu, tidak pernah lagi ada yang menceritakannya.

Tapi kini ia menemukan jalan untuk menghidupkan I Mumba. Tokoh kesayangannya itu ia jelmakan sebagai ikan pari dalam khayalannya. Ia ingin sekali membelai-belai punggungnya dan menyaksikan sayapnya mengepak-ngepak perlahan. Ia suka melihat riak-riak kecil yang timbul karena gerakan sayapnya itu.

Anak itu memiringkan tubuhnya, melingkarkan tangannya ke paha ibunya. Ibunya bisa merasakan hangat tubuhnya. Ia begitu cemas.

”Maukah ibu bernyanyi untukku?” pinta anak itu.

”Baiklah, tapi berjanjilah untuk tidur.”

Anak itu tahu sebentar lagi ibunya akan menyanyikan lagu kesukaannya. Tapi ia terlalu lemah sekarang untuk mendengarkannya. Ia mulai memejamkan matanya.

O, kondobuleng
Attujuko mae ri anakku
Nanucini’ sumanga’na*)

Sebelum ibunya selesai dengan lagunya, anak itu telah tertidur. Ia telah jauh berlayar ke dalam mimpinya. Bersama I Mumba, ikan sekaligus tokoh kesayangannya itu, ia terbang menjelajahi lautan yang menghampar biru dan sesekali melakukan gerakan terbang menukik seperti yang dilakukan camar. Sang ibu membelai-belai rambut anaknya dan masih mencoba melanjutkan lagunya.

O, bantinotto’
Allemi totto garrinna
Ribbakkammi cilaka ri tallasa’na **)

Saat-saat begini ia membayangkan suaminya di tengah laut mencari ikan untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Angin laut bertiup dan mengusap wajahnya. Laut begitu luas dan ia suka berlama-lama memandanginya.[]

Keterangan:
*) O, bangau putih/terbanglah kemari, ke anakku/lihat semangat hidupnya
**) O, burung pelatuk/patuklah sakitnya/terbangkan celaka dalam hidupnya

=====================
Muhary Wahyu Nurba, lahir di Makassar, 5 Juni. Menulis cerpen, puisi, dan artikel sastra. Anggota Masyarakat Sastra Tamalanrea, Makassar. Cerpen Ikan Besar adalah versi bahasa Indonesia dari Big Fish yang pernah dimuat di harian The Jakarta Post.

Kuda Bertanduk

0



PADA SUATU PAGI yang indah, seorang lelaki yang sedang duduk bermalas-malasan di dapur, sontak melihat seekor kuda bertanduk emas melahap bunga-bunga mawar di kebun. Secepat kilat lelaki itu kembali ke kamar tidurnya yang berada di lantai atas. Ia lalu membangunkan istrinya yang lagi ngorok.

“Istriku, ada seekor kuda bertanduk di kebun,” katanya, “ia memakan bunga mawar kita.”

Dengan malas, istrinya membuka mata dan memandanginya.

“Kuda itu binatang yang cuma ada dalam dongeng.” Selesai berkata begitu ia pun membalikkan tubuhnya.

Lelaki itu kini berjalan mengendap-endap menuruni tangga dan memasuki kebun. Kuda itu masih di situ. Sekarang giliran bunga tulip yang dicomotnya.

“Hei, kuda, makan ini,” seru lelaki itu. Ia menyodorkan setangkai bunga lily kepadanya. Kuda itu memakannya lahap sekali. Dengan perasaan melambung, sebab ada seekor kuda bertanduk di kebunnya, lelaki itu kembali lagi ke kamar dan membangunkan kembali istrinya.

“Istriku, kuda itu juga suka memakan bunga lily,” katanya seraya membangunkan istrinya, “sungguh, ia memakan bunga lily.”

Istrinya dongkol bukan main. Ia bangun dan bersila di atas ranjang.

Dengan pandangan yang dingin ia menimpali suaminya, “Dasar goblok! Saya akan membawamu ke rumah sakit jiwa.”

Lelaki itu sebenarnya sangat benci dengan kata goblok dan rumah sakit jiwa, tapi kini harus diterimanya. Ia berpikir sejenak lalu berkata kepada istrinya, “Lihat saja nanti.”

Ia lalu ke luar dari kamar itu. Ia kembali lagi ke kebun belakang rumah untuk memastikan apakah kuda itu masih ada di situ. Tapi ternyata, sudah tidak ada lagi. Lelaki itu terduduk di antara bunga-bunga mawar dan tertidur di situ.

Sewaktu lelaki itu kembali ke kebun, istrinya ternyata beranjak pula dari tempat tidur dan secepatnya berpakaian. Sang istri sepertinya sangat gembira, terlihat dari bola matanya yang berbinar.

Selanjutnya ia menelpon polisi dan juga seorang psikiater. Ia beritahukan kepada mereka supaya segera datang dan membawa baju yang biasa dipakai untuk mengekang orang gila.

Begitu si polisi dan psikiater itu datang, mereka berdua dipersilahkan duduk di kursi. Keduanya memandangi wanita itu dengan penuh perhatian.

“Suamiku,” berkata wanita itu, “melihat seekor kuda pagi ini.” Polisi itu menatap psikiater dan psikiater itu menatap polisi.

“Katanya, ia memakan bunga lily.” Sama seperti tadi, psikiater menatap polisi dan polisi menatap psikiater. “Dia juga bilang, kuda itu bertanduk emas.”

Selesai berkata begitu, tiba-tiba, dengan kode yang diberikan oleh psikiater, polisi itu segera melompat ke arah wanita itu dan menangkapnya. Mereka sedikit kesulitan menundukkannya sebab ia memberontak, meski pada akhirnya ia takluk juga.

Sesaat wanita itu sudah tak berdaya dalam baju pengekang, suaminya pun telah kembali dari kebun.

“Tuan, apakah anda melihat seekor kuda bertanduk seperti kata istri anda?” polisi itu bertanya.

“Tentu saja tidak,” jawab lelaki itu, “Kuda bertanduk itu binatang yang cuma ada dalam dongeng.”

“Terima kasih. Hanya itu yang ingin kami ketahui,” sambung si psikiater. “Bawa wanita ini pergi. Maaf, Tuan, kami harus membawa istri anda sebab ia gila seperti seekor burung Jay.”

Mereka lalu membawa pergi wanita itu sambil memaki-maki dan meneriakinya. Selanjutnya, wanita itu disimpan dalam sebuah rumah sakit jiwa. Akhirnya, lelaki itu pun bahagia sepanjang hidupnya.*

====================

Judul asli cerpen ini, Unicorn in the Garden karya James E. Thurber. Diterjemahkan oleh Muhary Wahyu Nurba.

Terbaru

Jadi Cerpenis Lagi

Sepuluh tahun, nyaris membuat lelaki itu lupa pada masa-masa di mana ia begitu masyhur...

Tentang Kepulangan

Ingatan pada Satu Nama

Kengi

Dari Redaksi