Cerpen

Home Cerpen Page 5

Sepanjang Perlanaan-Medan

0

Tiga perampok masuk. Salah satu dari mereka menarik tangan perempuan yang duduk di samping pintu masuk gerbong, yang sedang menggendong anaknya. Mata perempuan itu terbelalak dan hendak mengumandangkan hardikan. Namun niatnya urung setelah matanya melihat senapan panjang semi otomatis menenteng di dada perampok itu.

“Jangan bergerak, bila tak ingin tertembak,” imbuh perampok lainnya dengan lantang. Mula-mula tak ada yang memedulikan ucapan perampok itu, hingga kemudian ia menembak ke arah lantai gerbong. Kepanikan membuncah. Dan suara tembakan terdengar lagi.

“Kami hanya perampok, ingat itu!”

“Sekarang masukkan semua barang-barang berharga kalian kepada perempuan ini,” sambar perampok yang lain. Dengan kecemasan dan senapan panjang semi otomatis mengarah kepadanya, ia langsung mengambil kantong yang mereka siapkan.

Demikian ia titipkan anaknya kepada perempuan sebangkunya. Perempuan yang menitipkan anaknya itu kemudian menyambangi satu per satu tempat duduk penumpang.
“Jangan ada yang berani menyembunyikan satu barang pun!” tegas perampok yang menembakkan ke arah lantai tadi. “Ponsel, cincin, kalung, jam tangan, anting-anting, apa pun yang berharga segera serahkan.”

“Hei, kau, apa yang kau tunggu?!” teriak salah satu dari mereka. Tetapi Rusdi tak tahu perampok itu berteriak pada siapa. Hingga ia dongakkan kepala, perampok yang sempat menembak tadi telah berada di sampingnya. Bahkan perempuan itu telah berdiri di baris duduknya. “Cepat serahkan semuanya!”

Tergopoh-gopoh Rusdi kemudian memasukkan ponsel, jam tangan, dan dompet ke kantong itu. Perampok itu merampas tas yang ia bopong di paha. “Simpan ini. Ingat, kami memang penjahat tapi tidak terhadap buku.”

Perampok itu berbalik sembari mematut-matut setelah ia hanya melihat buku trilogi Roads to Freedom dan sebuah pena. Sebelum langkahnya menjauh, ia berbalik lagi dan berteriak kepada semua orang untuk mempercepat proses pengutipan barang berharga kepada perempuan itu.

Entah mimpi apa Rusdi semalam. Bisa-bisanya ia terjebak perampokan di dalam kereta jurusan Perlanaan-Medan kelas ekonomi. Barangkali ini hanya mimpi. Seperti yang dikatakan orang-orang, cubit pipimu atau gigit lidahmu untuk membuktikan mimpi atau bukan. Ah, kejadian ini benar-benar nyata dan bukan mimpi. Ingin rasanya ia melangkah keluar dan membenamkan kepalanya ke dalam air di toilet kereta.

Lelaki di samping Rusdi berpeluh melebihinya. Padahal AC menyala. Beberapa waktu yang lalu, lelaki itu masih bertelepon. Sedangkan di depan Rusdi, seorang perempuan yang lain terlihat mengalami syok berat. Perempuan yang di depannya itu serupa dengan lelaki yang di sampingnya; pucat dan menatap kosong. Terbetik dalam pikiran Rusdi untuk pindah ke samping perempuan itu, menggenggam tangannya yang dingin atau barangkali menyuruhnya merebahkan kepalanya di pundak atau di paha. Tapi ia urungkan niatnya sebab cerita ini akan kehilangan sisi seramnya.

“Heh, bayimu menangis. Cepat tenangkan!” Sebuah perintah keluar dari salah seorang perampok itu. Ia menghampiri perempuan yang ada di depan Rusdi itu untuk menggantikan tugas perempuan yang tadi. Rusdi tidak tahu yang berbicara tadi apakah perampok yang sempat menembak ke arah lantai atau yang menodongkan arah senapan ke perempuan itu. Wajah mereka semua sama, tertutup topeng.

“Kau lihat apa?!”

Bajingan! Rusdi hanya bisa membatin. Ia langsung mengalihkan pandangan ke luar kereta. Terlihat jajaran pohon-pohon sawit yang kokoh dan beberapa yang tumbang. Beberapa rumah orang di kejauhan begitu sedih kondisinya, dan bila dipandang lebih jauh lagi akan terlihat juga pepohonan karet.

Sebelum cerita ini dilanjutkan, pasti pembaca mengira cerita ini hasil mengada-ngada. Perampokan di kereta, senapan panjang semi otomatis. Agaknya, ini seperti film-film laga saja. Lebih-lebih mana ada perampok profesional yang merampok di kereta kelas ekonomi. Kenapa bukan di bank-bank? Atau paling tidak, merampok di kereta namun kelas bisnis atau eksekutif? Tetapi, ya, memang benar, cerita ini terinspirasi dari film laga. Lagipula polisi pasti menyadari bahwa hanya perampok tolol yang mau merampok di kereta api. Kemungkinan melarikan diri begitu sulit jika mereka berniat turun di stasiun yang baru beberapa saat meninggalkan gerbong lantas diteriaki para penumpang yang dirampoknya. Atau jika hendak memberhentikan kereta api di tengah jalan pasti merepotkan sebab urusan memanggul senapan selaras panjang dan hasil jarahan sudah membuat mereka kepayahan. Adapun alasan kenapa mereka merampok di kelas ekonomi, itu mudah saja. Di negeri ini, bukankah kemiskinan adalah budaya? Lagi pula tampaknya kemiskinan harus dipertontonkan. Meskipun, sebenarnya, yang ada di kelas ekonomi ini tidak semuanya tergolong miskin sebab dari banyaknya barang sitaan itu tentu muskil dikatakan orang miskin bisa mempunyai barang-barang tersebut. Atau jika masih belum percaya, coba naik kereta kelas bisnis dan eksekutif, lihat, apakah penumpangnya membeludak?

Rusdi lihat perempuan itu masih berupaya menenangkan bayinya. Sedangkan perempuan yang menggantikannya itu telah menyelesaikan tugasnya.

“Jika dari kalian kedapatan menyembunyikan satu barang berharga, bersiap darah kalian akan meruap!” Salah seorang perampok kembali menebar ancaman sebelum ketiganya berbalik. Tiba-tiba seorang lelaki yang duduk di belakang perempuan yang menenangkan bayinya itu berdiri. Ia bergerak cepat ke arah tiga perampok itu. Langkah kakinya panjang, hanya butuh dua kali melangkah untuk mendekati ketiga perampok itu. Dengan tangan kanannya ia layangkan pukulan keras ke salah satu dari perampok itu sambil berteriak: pertahanan terbaik adalah melawan!

Kereta bergoyang kencang, tanda kereta baru memasuki rel yang terpasang di jembatan untuk melewati sungai. Bersebab itu, pukulan lelaki itu hanya mengenai angin. Lalu ujung belakang senapan menyasar ke dahinya, darah menyeruak. Ia tak menyerah, kali ini tangan kirinya ingin ia layangkan. Sayang, lelaki itu kurang cepat berdiri sehingga kaki perampok itu menendang kakinya. Tumpuannya goyang dan menghasilkan pukulan untuk angin.

Jeritan terdengar dari orang banyak di gerbong ini. Perampok lainnya maju sambil berseru kepada para penumpang untuk diam. Setelah itu disusul peluru merajam ke lantai. Lelaki tadi hendak bangkit, namun lutut salah satu perampok itu terpahat ke wajahnya, dan darah menyeruak kembali dari batang hidung.

“Masih mau melawan?” kata si perampok.

Lelaki itu sungguh tangguh. Untuk kedua kalinya ia hendak bangkit. Ia tak menyadari perampok yang sempat melangkahinya tadi, menembak ke lantai dan menyuruh penumpang lainnya untuk diam, telah memberikan hantaman keras menggunakan ekor senapan, hantaman itu mengarah ke belakang lehernya.

Lelaki itu tersungkur. Pingsan.

“Ada lagi yang ingin mencoba?” kata perampok yang menumbangkan lelaki itu.

Hening membungkus gerbong ini. Lantas suara tembakan terdengar lagi.

Tiga perampok itu pergi. Dan lelaki yang sempat melawan itu diseret. Pintu tertutup. Satu perampok berjaga di depan pintu. Tubuh perampok yang lain hilang di balik baris-baris bangku.

Rusdi berpindah ke tempat perempuan yang di depannya itu. Ia ambil pena juga buku yang tadi diperiksa.

“Hentikan!” lirih wanita di itu.

“Apakah kau yang berbicara?” sambil Rusdi pandangi perempuan itu. Ia hanya diam dengan tatapannya yang kosong. Lantas Rusdi lanjutkan menulis di balik lembaran kosong.

“Bahaya,” lirih perempuan itu lagi. Namun, kali ini Rusdi abaikan. Ia terus melanjutkan tulisannya. Tepatnya membuat bagan mengenai kejadian ini yang sempat terhenti tadi. Ia mencatat hal-hal penting yang dilihatnya.

Saat Rusdi larut dalam tulisannya, bisik-bisik mulai tersiar. Makin membesar. Kata-kata “Ya, Allah” tak habis-habisnya terdengar. Karena kegaduhan itu, beberapa kali Rusdi menuliskan “Ya, Allah”. Dan tak lama ia coret dua kata itu sambil memaki dirinya sendiri. Orang-orang sekitar mulai mempertanyakan hidup mereka dan menggerutu kepada Tuhan, kenapa kesialan direbahkan pada diri mereka.

Rusdi memutar prasangka. Menyusun bagian-bagian penting cerita, kecuali di awal-awal, ia menulis sebab sedari tadi kepalanya seperti pohon pada musim panen. Mungkin saat ini kalian mengatakannya gila sebab masih sempat menulis cerita. Namun dengan apa ia harus cemas? Bila akhir perampokan ini akan merenggut ruhnya, ia sudah mengaku diri telah menuliskan sebuah cerita yang superior meski ia tidak tahu bagaimana mesti mengirimkannya ke media, seperti yang dulu sering ia lakukan. Atau bila ia selamat, bukankah cerita ini menjadi hal yang bagus untuk disebarkan? Terlebih belakangan ini ia tidak pernah menulis lagi.

Layak seorang yang kesurupan, Rusdi hampir merampungkan konsep ceritanya. Perempuan yang di depanya berkata: Bahaya! Rusdi meliriknya dengan senyuman melebar di pipinya. Rusdi merasakan ada kejanggalan. Lantas Rusdi mengedarkan pandang. Sambil mendongak, Rusdi lihat di kejauhan dua orang perampok menuju ke arah mereka. Meskipun bayangan tubuh dua perampok itu samar-samar, secara jelas gerbong demi gerbong terlewati. Perampok itu terlihat berlari kecil.

Dengan berang Rusdi menghantam wanita itu sekuat tenaga sehingga ia meringkuk di lantai. “Bajingan jalang!”

Namun, kecemasan tak berhenti di sana. Rusdi menatap lelaki yang ada di sampingnya. Wajah lelaki itu semakin mengerikan. Rusdi gelagapan. Keringatnya mengucur deras. Adegan demi adegan yang hendak disusunnya meriap tak bersisa di kepala.

Saat kecemasan Rusdi semakin meninggi, pelantang suara berbunyi. Pelantang suara yang biasa digunakan untuk mengabarkan bahwa kereta telah sampai di sebuah stasiun. Kali ini pelantang menyebutkan stasiun Medan. Saya terperanjat, sehingga ponsel saya terjatuh. Orang yang duduk di seberang saya merapatkan alisnya. Tetapi saya tak hiraukan dan malah mengutip ponsel itu dan mengantonginya. Saya keluar gerbong, mencari di mana gerangan pintu keluar sebab begitu sulit melihat ke arah jauh tanpa memakai kacamata. Saya belum juga bisa menemukan petunjuk arah pintu keluar tersebut sehingga saya memutuskan mengikuti orang-orang yang keluar dari gorbong kereta. Sambil mengekori banyaknya orang itu, saya ambil ponsel. Di layar masih terlihat aplikasi word, saya tutup dan ganti menekan aplikasi ojek online sambil menggerutu karena saldo uang elektronik saya habis, “Ah, sialan!”

Cerita ini nanti akan saya teruskan jika sudah sampai di rumah.

Perlanaan-Medan, 2020




===================
Radja Sinaga, alumni Kelas Menulis Prosa Balai Bahasa Sumatera Utara 2019. Berhimpun di Komunitas Lantai Dua (Koldu). Tulisannya terpercik di surat kabar, media digital, majalah,  antologi bersama, dan diadaptasi menjadi naskah teater.

Magrib dan Sebuah Pertikaian

0

Setengah bulan yang lalu aku disambut baik oleh warga setempat di lembah kendeng, desa yang ditutup oleh bukit kendeng, tempat pabrik semen itu beberapa bulan yang lalu mulai beroperasi menggeruk batu kapur dari tubuhnya. Magrib mulai samar-samar, karena cahaya lampu di arah barat bukan lagi cahaya dari mentari yang turun di ufuk Barat, tapi cahaya lampu pabrik yang menyala di malam hari. Jadi, cahaya magrib tampak sepanjang malam, terlihat dari lembah kendeng.

Tak banyak yang tahu bagaimana kehidupan orang lembah kendeng, karena daerahnya memang jauh dari desa-desa maju lainya. Apalagi bukit kendeng seperti pagar tinggi yang menghalangi pandangan seseorang pada desa terpencil ini. Pak Mudin yang bersamaku saat ini bercerita jika Desa mereka memang masih tertinggal. Apalagi persoalan pendidikan, terutama pendidikan keagamaan.

“Pemuda yang saya kader semuanya pada keluar dari desa ini kok, Mas. Makanya di sini sepi. Pelajaran agama geh ngene iki. Hanya belajar membaca al-Qur’an, itu pun tidak fasih.” Cerita Pak Mudin kepada saya dan teman-teman yang duduk bersila di hadapannya. Pak Mudin adalah seorang santri Alumni Lasem. Dia salah tokoh agama yang disegani di desa ini.

“Iya, mereka antusias lho, Pak.”

“Sesuatu yang baru bagi seseorang memang asyik. Saya saja mendengar puji-pujian apik seperti tadi di loudspeaker, yang asalnya capek sepulang dari ladang, menjadi semangat.” Katanya. Wajahnya nampak benar-benar bahagia. “Teringat masa lalu ketika di pondok, Mas.” Lanjut Pak Mudin.

“Saya lihat ada satu anak yang rajin dan pintar di sini, Pak.”

“Siapa?”

“Si Didik itu.”

“Owh yang sering adzan itu?”

“Iya.”

“Dia sebenarnya asalnya ngaji di Musollah di sebelah Barat sana, Mas. Dia orangnya rajin memang. Kesayangan Pak Mar.”

“Maksudnya sekarang pindah?” Celetuk teman saya.

“Iya.” Pak Mudin melepaskan pandangan ke luar masjid. Seakan ada sesuatu yang masih disimpan.

“Lho kok bisa?” Aku penasaran.

“Ceritanya panjang.” Jawab Pak Mudin pendek.

Aku tidak bisa menelusuri alur ceritanya lagi dari Pak Mudin malam ini, sepertinya dia tidak ingin bercerita apa-apa. Yang kutahu, Musollah itu sekarang memang sepi. Tak ada adzan dan kegiatan apapun.

Anjing milik warga mulai menggonggong sedang menyapa anjing-anjing yang lain untuk segera waspada jika ada orang berjalan tengah malam. Warga di lembah kendeng ini masih menggunakan anjing sebgai satpam rumah. Sebentar lagi akan beranjak pukul sembilan malam, warga akan menutup pintu untuk segera tidur.

Pak Mudin pamitan. Aku dan teman-teman juga segera pulang ke pondokan. Malam hari, tidak baik masih ada di luar rumah di desa ini. Seperti suatu hal yang asing.

Aku pulang sembari berpikir kenapa Didik sampai pindah dari Musollah ke Masjid. Apa karena kemauannya sendiri atau faktor lain.

“Aku mendengar dari Ibu Fatimah katanya persoalan pemilihan kepala desa.” Di tengah perjalanan Joko, temanku yang asli Jawa itu tiba-tiba nyeletuk, memberi tahu.

“Ibu Fatimah Ketua Forum Anak Desa itu?”

“Iya.”

“Kau lihat TPQ di sebelah utara pondokan kita itu. Mati tak dipakai kan?”

Aku tidak menjawab. Tapi Joko sudah tahu jika aku mengiyakan karena semua teman-temanku sudah tahu perihal itu. TPQ pindah ke Musollah dukuh atas.

“Memang tidak di mana-mana, persoalan pemilihan kepala desa membuat beberapa warga jadi saling berselisih.” Pungkasku, sebelum kami masuk ke pondokan.

“Tapi ya, paling nanti reda sendiri.”

Percakapan pun ditutup. Malam mulai mencekam. Gongongan anjing beberapa kali terdengar di dekat pondokanku.

***

“Aku punya ide.” Kataku pada Joko. Joko yang bermain Handphone berlagak tak memperhatikanku. Dia mungkin sudah mengerti apa yang akan aku bicarakan. “Ajak Didik untuk kembali ke Musollah.”

Joko terperanjat. “Bukan hanya persoalan Didik. Orang tuanya juga terlibat di dalamnya.”

“Jika Didik kembali ke tempat semula apa yang akan terjadi coba?”

“Aku tahu.”

“Lantas?”

“Persoalan itu tidak bisa diselesaikan secara singkat.”

“Tapi aku tidak ingin Didik ikut menjadi korban.”

Tak ada kesepakatan antara aku dan Joko. Aku pun memutuskan pergi ke rumah Didik. Ingin mengajaknya datang ke musollah Pak Mar.

Pagi ini, aku tergerak untuk beranjak dari pondokan. Dalam hati, aku ingin pergi ke rumah Didik saja, membujuknya agar nanti pergi ke Musollah bersama-sama. Iya. Aku pun berangkat ke rumah Didik. Kebetulan hari Minggu adalah hari libur SD. Didik pasti ada di rumah. Aku mengambil motor dan segera pergi.

Tak lama, aku sampai di depan rumah Didik yang berpagar besi. Didik termasuk orang berada di antara warga yang masih mempunyai rumah kuno berdinding kayu jati. Rumahnya besar. Orang tuanya termasuk disegani. Namun persoalan pelik tentang kepala desa membuat Bapaknya hilang kepercayaan dari sebagian warga yang tidak satu pendapat dengannya.

Aku mengucapkan salam. Keluarlah seseorang dari dalam. Ibu Didik.

“Eh, mari masuk.”

Njeh, Buk.”

Aku masuk ke rumah yang megah itu. Dalam artian lebih bagus dari rumah kebanyakan. Ada ruang tamu yang nyaman dan Vas bunga indah di sudut ruangan.

“Tumben sekali main ke sini.”

“Iya. Dari kemaren belum sempat, karena kami sibuk merancang kegiatan.”

Jenengan Sudah kenal Didik, kan?”

“Kenal sekali. Dia anak yang paling pintar di desa ini.”

“Oh ya?”

“Iya, Buk. Saya paham sekali dengan karakter Didik dari awal mengajarinya mengaji di Masjid.”

“Dia baru-baru ini sebenarnya di masjid.”

Ibu Didik mulai membuka percakapan. Aku ingin memancing lebih dalam lagi persoalan yang sebenarnya.

“Maksudnya, pindah?”

“He’eh.” Jawabnya.

“Asalnya ngaji di mana?”

“Di musollah Pak Mar.”

“Berarti Didik pintar karena hasil Pak Mar.”

“Pak Mar itu sekarang bukan gurunya lagi. Dia tidak sepemikiran dengan kami.”

“Apakah Didik setuju dia berpindah guru?”

“Entah.”

“Pernah bertanya sebelumnya?”

“Tidak. Tidak pernah.”

Aku diam dulu, sebelum melontarkan pertanyaan yang dapat merusak kehangatan. Sepertinya Ibu Didik tidak ingin diintrogasi lagi. Aku membuka toples yang berisi jajan. Membiarkan Ibu Didik meleburkan panas dingin yang seperti hendak tumpah. Ingatannya beberapa waktu yang lalu tentang pertikaian pendapat seperti hendak muncul kembali.

“Boleh aku ajak Didik pergi ke musollah nanti magrib, Buk?”

“Ke musollah?”

“Ya, ke musollah. Mungkin Didik rindu ke sana.”

Ibu Didik tertegun sejenak. “Ya, boleh boleh saja.”

Aku tidak melihat dia sedang marah. Tapi ekspresinya dingin sekali. Didik lalu datang membawa jagung bakar di tangannya. Dia datang dan bersalaman denganku. Didik adalah kanak-kanak yang mempunyai sifat dewasa. Tidak banyak berkata-kata. Aku yakin dia mampu berpikir kenapa dia harus mengaji di masjid bukan di musollah tempat asalnya dia mengaji kepada Pak Mar.

Didik duduk di sebelahku mengeluarkan jagung bakar. “Kakak suka jagung bakar?”

“Iya.” Ucapku. Aku mengambil separuh lalu memakannya untuk menyenangkan hati Didik.

“Malam ini ikut Kakak ya?”

“Ke mana?”

“Ke musollah Pak Mar,” jawabku. “Sebelum magrib kita berangkat.”

Dia mengalihkan pandangan ke arah ibunya. Aku juga ikut meliriknya. Ibunya tersenyum dengan terpaksa. Dia pun mengangguk meski sebenarnya tidak mengizinkan.

Dendam masih nampak di wajah Ibu Didik. Matanya dingin menatapku. Aku pun merasakan ketakutan, takut disangka mengalihkan perhatian kepadanya. Tapi aku lihat Didik sangat antusias hendak pergi denganku. Dia memakai pakaian dengan antusias serta membawa al-Qur’an di tangannya. Seolah ada rindu kepada Pak Mar yang sejak kecil sudah mendidiknya.

“Sudah siap?”

“Siap, Kak.”

“Buk, kami pamit,” ucapku pamitan pada ibunya Didik. Tak kulihat Bapaknya. Kata Ibunya dia sedang ada di ladang mencabut singkong. Petang nanti, baru dia akan kembali ke rumah.

Aku menggandeng tangan Didik. Segera beranjak untuk pergi ke musollah.

Saat ini sangat menggetarkan bagiku. Karena aku bisa merasakan ketegangan sebelumnya. Jantung berdegup kencang. Aku berjalan menuju arah musollah rasanya seperti terbang. Aku seakan tak merasakan sedang melangkah di tanah.

Berbeda dengan Didik yang santai-santai saja. Dia masih kanak-kanak. Tak tahu apa-apa, meskipun secara pemikiran dia sudah bisa membedakan mana yang baik untuk dirinya dan yang tidak.

Beberapa saat aku sudah sampai di musollah kecil yang tak bercat itu. Sebuah gedung berwarna abu-abu yang hanya dilapisi dengan semen. Aku naik. Lampu belum dihidupkan. Aku bertanya dalam hati, ke mana Pak Mar.

“Dua menit lagi adzan ya,” perintahku kepada Didik yang masih menyapu lantai di teras depan.

Beberapa saat kemudian, seseorang datang kepadaku di musollah. “Sebaiknya kau pergi dari sini. Biarkan Didik pulang. Aku lihat Bapaknya tadi mencarinya.”

Aku tak menghiraukan itu. Paling hanya orang yang tidak suka juga pada Pak Mar. Dia mencoba menakut-nakutiku. Aku berdiri di beranda musollah. Menunggu ada yang datang. Pak Mar pun belum keluar. Dua menit berlalu. Matahari sempurna tenggelam. Aku menyuruh Didik segera adzan. Suara seruak dari loudspeaker ketika tombol on dipencet terdengar. Aku melihat tetangga musollah celingukan di ambang pintu mereka. Mereka bingung siapa yang sedang menghidupkan loudspeaker musollah. Takbir pertama dikumandangkan. Pak Mar keluar. Memandangku dengan nanar. Wajahnya dingin. Namun matanya aku lihat dia sedang heran mendengar adzan itu berkumandang.

Allahu akbar allahu akbar

Asyhadu an laa ilaaha illallaah

Pak Mar menatapku dengan lekat. Aku lihat mulutnya berkomat-kamit menjawab adzan dari suara merdu Didik. Pak Mar Masih tertegun di depan pintu. Seakan tak percaya musollah yang dia asuh sedang berkumandang adzan maghrib. Aku membiarkan dia menikmati suara adzan itu. Pasti dia sudah lama tidak mendengarnya.

Tak lama, setelah adzan itu selesai. Dia pun masuk dan keluar dengan pakaian rapi. Menggunakan baju putih, sarung kotak, dan kopiah haji. Dia nampak bersahaja. Orang-orang semua keluar rumah mendengar adzan yang sudah lama tak didengar dari musollah itu. Beberapa Ibu-Ibu dan Bapak datang. Musollah mulai hidup.

Aku berjabat tangan dengan Pak Mar. Tangannya masih kuat. Walaupun wajahnya mulai nampak tua.

“Sehat, Pak Mar?”

“Alhamdulillah….”

Tak sempat Pak Mar menjawab ketika terdengar teriakan lantang dari arah Timur. Bapak Didik tampak membawa arit yang diacungkan ke atas langit. “Siapa yang membawa anakku ke Pak Mar tanpa izin dariku?” Suaranya menggelegar.

Aku mulai ketakutan. Bayanganku dia akan menyabet leherku nanti. Tapi aku mencoba tenang. Dia pun mendekat, tanpa izin atau kode, dia dengan cepat mengayunkan aritnya ke arahku. Aku menghindar. “Kau jangan ikut campur dengan persoalan kami.” Ucapnya.

Bapak Didik kemudian mengayunkan sekali lagi aritnya itu. Tak sampai aku menghindar, Pak Mar memegang tangannya. “Dia tak punya urusan denganmu. Urusanmu denganku.” Pak Mar yang sedari tadi diam bersuara tak kalah sangarnya.

Bapak Didik mengalihkan serangan. Dia menyerang Pak Mar. Orang di dalam rumah ikut keluar setelah mendengar pertikaian itu. Pak Mar berusaha menghindari sabetan arit bapak Didik. Perempuan yang melihat pertarungan ini berteriak-teriak. Bapak Didik masih terus mengayunkan aritnya. Pak Mar terpojok. Bapak Didik makin bernafsu. Satu sabetan akan membelah perutnya.

“Bapak!” Didik muncul tiba-tiba, berteriak kencang hendak menghadang bapaknya. Bapaknya mengurungkan sabetan itu.

“Bapak, Pak Mar adalah guruku.”

Aku lihat arit itu bergetar di tangan bapak Didik sesaat Didik menghambur memeluk bapaknya.

Rembang, 2019

==========

Toni Kahar, Kelahiran Sumenep, 03 Desember. Aktif di Komunitaas Sastra ATAP dan SAKA Sarang Rembang, Pemred Majalah al-Hibr STAI Al-Anwar. Saat ini menimba ilmu di PP. Al-Anwar Sarang Rembang. Beberapa karyanya sudah diterbitkan di beberapa antologi dan pernah dimuat di Media Online, sedang buku kumcernya yang telah terbit berujudul “Ketapel dan Burung-Burung di Pohon Asam” (FAM, 2019)

Ali Sabidin Menengok Bayinya

2

Ali Sabidin menerima kabar gembira tentang kelahiran istrinya. Dia pulang malam itu dengan menumpang bus terakhir jurusan ibu kota. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang dipikirkan lelaki itu selain bahwa bayi yang baru saja dilahirkan istrinya adalah bayi laki-laki.

Ali Sabidin sangat bahagia atas kabar kelahiran ini, karena pernikahannya dengan Marlena berlangsung hampir empat belas tahun. Tak ada seorang pun bayi yang mereka dapatkan sampai sejauh itu. Entah berapa banyak mulut membicarakan tentang ini, tapi lama-lama sepasang suami istri tersebut tak lagi peduli. Bahkan, suatu saat, Ali Sabidin pernah begitu meyakini betapa dia tidak ditakdirkan memiliki keturunan sampai tua dan mati.

Sekarang, kabar ini tiba-tiba bagai setetes air di tengah gurun yang mengepungnya selama empat belas tahun terakhir. Biasanya Marlena akan selalu kehilangan bayi pada detik-detik terakhir ketika seorang bayi seharusnya muncul dari rahim ibunya ke dunia dengan harapan serta nama baru. Malam itu lain. Ada telepon datang dan membuat Ali Sabidin nyaris kehilangan kesadaran saking senangnya.

Ali Sabidin melompat dari pos tempat di mana dia biasa berjaga di perbatasan dan menghambur keluar hingga nyaris menabrak temannya yang baru saja kelar membuang hajat di tepi hutan. Ali Sabidin berteriak lepas dan tampak seperti orang gila andai saja dia tak mengenakan seragam penjaga perbatasan. Sang teman hanya bisa mengucapkan selamat dan memberikannya waktu luang semalam untuk menengok anaknya yang baru lahir.

Dalam bus, tak henti-henti Ali Sabidin berbicara pada setiap penumpang yang ada di sisinya atau tak sengaja duduk bersebelahan dengannya. Setiap yang mendengar soal hadirnya bayi itu hanya manggut-manggut dan memberi selamat singkat. Mereka tidak ada yang mengenalnya. Kebanyakan penumpang pendatang yang sering tidak mengerti bahasa daerah yang kerap digunakan Ali Sabidin sehari-hari, meski harusnya dia pakai bahasa asing yang umum diketahui di kawasan dekat perbatasan.

Para pendatang itu memang sudah lama berlalu lalang melintasi perbatasan dan itu sudah jadi hal biasa setelah para pemberontak dikalahkan oleh pihak pemerintah. Dulu, kaum pemberontak kerap membuat situasi di kawasan ibu kota di mana Ali Sabidin dan istri tinggal menjadi begitu mencekam tiap malam. Tidak ada yang bisa tenang, bahkan meski bagi orang-orang asli daerah ini seperti Ali Sabidin. Sekarang, keadaan jauh lebih aman dan pekerjaan menjaga pos perbatasan sudah bukan pekerjaan yang berisiko. Jadi, bagi tiap penumpang yang mendengar kabar kelahiran bayi Ali Sabidin, kabar semacam itu tidak ubahnya sebuah kabar yang begitu biasa; bagai rutinitas sarapan di pagi hari di mana setiap orang bisa dan boleh melakukannya sesering yang diinginkan. Meski begitu, Ali Sabidin tetap terlihat bahagia dan lagi-lagi mengungkapkan hal itu pada penumpang mana pun yang belum turun di tujuan masing-masing.

Hanya saja, malam itu hujan turun begitu deras. Hujan itu bermula dengan gerimis rintik-rintik yang disusul angin kencang dan langit yang menggerung. Pepohonan di sisi kiri-kanan jalan yang dilalui bus bergoyang mengikuti tiupan angin hingga membuat beberapa penumpang berdoa agar perjalanan mereka tidak terganggu.

Saat hujan deras turun dan cipratan airnya membasahi sebagian wajah Ali Sabidin yang duduk di dekat jendela, lelaki itu mulai menyadari ponselnya tertinggal di pos jaga dan dia teringat betapa belum sempat dia bertanya-tanya tentang kabar sang istri. Apa yang Marlena lakukan setelah melahirkan bayi itu? Apa dia selamat sebagaimana bayi yang baru saja dilahirkannya?

Sejak hujan turun, selain mengungkap kesenangan-kesenangan tentang si bayi pada beberapa penumpang, Ali Sabidin diam-diam berdoa untuk Marlena.

Dia tidak akan mengalami sesuatu yang buruk, demikian pikirnya, terus menerus, tiada henti. Dia tersenyum dan memeluk bayi kami dengan hangat dan mesra. Dia pasti pula bertanya-tanya bagaimana diriku saat menemuinya nanti? Apa saja yang akan aku ucap? Bagaimana merayakan kebahagiaan yang tertunda empat belas tahun terakhir ini?

Pikiran-pikiran itu kian menguat setelah satu demi satu penumpang turun dan tidak ada lagi yang tersisa selain Ali Sabidin dan sang sopir. Tak ada kenek di sini, sedangkan dia tidak mengenal sopir itu. Demi meredam kecemasan hatinya akan keadaan Marlena, Ali Sabidin berpindah duduk di samping sang sopir dan mencoba membangun obrolan ringan, sementara hujan angin di luar semakin deras saja.

Sang sopir yang terlalu fokus pada tugasnya tidak terlalu memperhatikan omongan Ali Sabidin tentang ponsel bututnya yang tertinggal di pos jaga beberapa kilometer nun di belakang. Hanya karena dia lebih muda dan mengira seharusnya menghormati orang yang lebih tua, apalagi orang itu mengaku baru saja punya anak setelah menikah selama empat belas tahun, sesekali sopir tersebut menoleh demi sekadar membuat Ali Sabidin merasa sedikit dihargai oleh orang asing yang diajaknya bicara.

Sayangnya, sang sopir tak menyadari ada pohon melintang di jalan. Bus terguling setelah roda depan menabrak batangan kayu besar itu hingga membuat si sopir beserta Ali Sabidin terlempar-lempar untuk beberapa detik di dalam kendaraan.

Hujan deras belum kelar. Petir masih berkelebatan di langit.

Di dalam kubangan lumpur, bus tersebut kini tampak ringsek dengan kondisi roda berada di puncak dan menghadap langit. Sebagian besar kaca jendela pecah dan melukai Ali Sabidin, tapi tak terlalu parah. Hanya sang sopir yang tidak selamat karena tubuhnya tergencet pohon yang masih tegak berdiri, yang menyambut tubuh bus yang meluncur deras di jalan usai terguling beberapa waktu lalu. Ali Sabidin coba membangunkan sopir bernasib sial itu, tetapi tak ada sambutan. Tak ada gerak atau respons apa pun. Maka, dia merangkak keluar dengan payah, seorang diri.

Dalam pikirannya, Ali Sabidin menduga ketika itu sudah menginjak tengah malam. Tak ada bus lagi yang melintas hingga nanti jam 4 pagi saat azan subuh berkumandang. Tak akan ada pertolongan sampai saat itu, kecuali ada seseorang kurang kerjaan sedang berkeliaran di jalan yang dikepung hutan ini, demi entah apa. Namun, Ali Sabidin tahu, kemungkinan macam itu sangat kecil.

Dengan luka sayat di lengan kiri, serta kaki kanan yang terkilir, Ali Sabidin enggan berhenti di sini. Dia ingin melanjutkan langkah menuju ibu kota yang berupa kota kecil yang tua dan menyedihkan, di mana rumah dan istri dan bayi barunya kini berada. Jarak yang harus ditempuh mungkin 4 atau 5 kilometer. Itu bukan persoalan. Harusnya bukan persoalan. Maka, Ali Sabidin menahan-nahan luka dengan bebatan kain seadanya dan berjalan sebisa mungkin menuju arah pulang.

Entah berapa lama Ali Sabidin berjuang. Pada akhirnya dia bisa mencapai rumah. Pada akhirnya dia bisa menatap tubuh bayinya yang tampak mekar dan kuat. Hanya saja, bayi itu terlihat membiru. Entah apa sebabnya. Bidan yang membantu kelahirannya tak bisa berbuat karena hujan deras menutup akses menuju puskesmas di arah lain dari bus yang tadi ditumpangi Ali Sabidin.

“Pohon-pohon tumbang di berbagai tempat. Bahkan gerobak kuda pun tidak dapat membawa bayimu ini ke sana,” kata sang mertua yang matanya begitu basah dan merah.

Ali Sabidin yang kepayahan oleh luka kecelakaan, lalu teringat Marlena. Dia pergi ke kamar, ke ruang tengah, ke kamar mandi. Tak ada siapa pun di sana selain beberapa saudara yang melamun dan merokok di berbagai sudut rumah.

“Mana Marlena?” tanya Ali Sabidin.

Tak ada yang menjawab dan setiap mata memandangnya diam.

“Mana Marlena?” tanya Ali Sabidin lagi.

Tak ada yang menjawab. Setiap mata memandangnya diam dan Ali Sabidin seakan mengerti apa yang telah terjadi. [ ]

Gempol, 19 Juli 2019

==========

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Lingkar Waktu dan Tamu dari Masa Lalu

0

Hujan salju turun deras sore ini. Saya berdiri di depan rumah keluarga Andersen dan bertanya-tanya di dalam hati; beginikah perubahan musim di masa depan? Saya belum pernah melihat hujan salju selebat ini. Beberapa kepingnya melekat di wajah, di bahu, di rambut, lalu ‘bum’ sebongkah es terjatuh dari dahan mapel. Saya terkejut dan bergeser.

Saya memperhatikan pohon-pohon lain, yang tumbuh berbaris di pinggir jalan. Bentuknya begitu elok, mengembang, persis rok seorang balerina. Daun-daunnya berwarna kekuningan dan tampak tua. Rasanya aneh, menyaksikan pohon-pohon itu menjadi tua dalam tempo semalam saja.

Dalam urutan acak, saya mengingat rangkaian kejadian demi kejadian yang membawa saya berada di sini. Tadi malam, seharusnya saya bersama Patti, menanti komet Halley melintas sambil menikmati segelas cokelathangat. Namun rencana itu buyar, karena sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan, kecuali samar-samar.

Beberapa jam yang lalu, saya baru pulang dari pesta ulang tahun Simon. Di dapur, saya menemukan genangan air. Saya menduga ada kebocoran di pipa ledeng. Saya lantas mengambil peralatan dan membuka pintu ruang bawah tanah. Terowongan itu terasa lebih panjang dari yang pernah saya ingat. Di ujungnya ada seberkas cahaya. Saya merangkak ke sana dan sesampainya di ujung cahaya itu, baru saya sadari, saya telah berada di masa depan.

Sekarang di sinilah saya berdiri, tepat di bawah pohon mapel, berlindap dari guyuran hujan salju yang lebat. Di seberang sana, saya melihat pria tua sedang membersihkan bongkahan salju. Rambutnya merah dan kulitnya cerah. Dia memakai celana panjang dan kemeja hitam dengan kerah sedikit terbuka, seolah-olah baru saja pulang kerja. Pria tua itu menyadari jika saya sedang memperhatikannya. Dia menaruh sekop dan mengelap tangan ke celana panjangnya.

“Hei, kemarilah!” teriaknya sambil melambai.

Wajah pria tua itu bundar dan klimis. Dia terlihat feminim seperti gadis-gadis remaja yang belum matang. Tubuhnya agak melengkung, mungkin karena termakan usia. Sekali lagi dia melambaikan tangan. Saya mengangguk dan mendekat.

“Anda tampaknya sedang kebingungan,” ucapnya saat saya sudah berdiri di balik pagar. “Anda mencari seseorang?”

“Mungkin begitu,” jawab saya. Saya memperhatikan bangunan rumah di belakangnya. Tidak ada yang berubah. Hanya pada bagian pintu, catnya sedikit terkelupas, tapi warnanya masih seperti kemarin. Hijau toska.

Pria tua itu tertawa. Meski renta, giginya masih tetap sempurna. “Kalau boleh tahu, ke mana tujuan Anda?”

“Saya datang dari jauh. Jauh sekali.”

Kata ‘jauh sekali’ yang saya sampaikan memang bermakna sesungguhnya. Antara saya dan pria tua itu memang terpaut jarak puluhan tahun. Dia mengangguk, lalu mengusap rambut peraknya. Serpih-serpih salju membintik di atas kemeja hitamnya.

“Masuklah,” katanya sambil membuka pintu pagar. “Saya akan membuatkan cokelat panas untuk Anda.”

Saat memasuki pekarangan, saya merasa waktu tidak pernah beranjak. Suara derit engsel rumah itu bahkan tidak berubah sedikit pun. Saya duduk di kursi kayu, mengambil koran yang tergeletak di atas meja, membaca berita tentang kelahiran seekor bayi panda. Pada tanggal yang tertera, saya merasa sangatlah tua.

“Minumlah.”

 Koran itu saya lipat dan saya letakkan kembali ke atas meja. Dia meletakkan gelas cokelat panas ke samping koran. Aroma manis menggugah selera. Sekilas saya menatap tangannya, pada punggung telapak tangan kanan itu, saya melihat bekas luka.

“Saya tahu apa penyebabnya.”

“Apa?”

“Bekas luka itu,” jawab saya sambil menunjuk punggung telapak tangannya. “Saya tahu penyebabnya.”

“Bekas luka ini punya kisah tersendiri.” Dia menyentakkan lengan kemejanya yang tergulung untuk menutupi bekas lukanya. Dia duduk dan melanjutkan kata-katanya. “Saat itu musim panas. Saya sedang menarik gerobak pengangkut gandum milik ayah, saat seekor sapi yang sedang berahi melanggar saya dan …”

“Dan Anda bersembunyi di lumbung gandum sampai malam. Anda tak beranjak meski ibu Anda menangis dan menganggap Anda hilang.”

“Anda banyak tahu tentang saya, heh?” Dia menoleh cepat, menatap penuh keterkejutan. Saya pikir, itu reaksi wajar. Saya menyesal telah bersikap tidak sopan.

“Anggap saja tebakan saya akurat,” jawab saya. Dia terkekeh, lalu menyeruput cokelat panasnya.

“Anda tadi bilang sedang mencari seseorang?” tanyanya sambil meletakkan gelas ke atas meja. Matanya mengerling jenaka. “Bagaimana jika ternyata yang Anda cari itu adalah saya?”

“Saya tak mengerti?” sahut saya terus terang.

Dia berdeham sekali, menarik lengan kemejanya sebatas siku. “Buktinya Anda tahu riwayat luka ini. Bukankah itu artinya Anda sangat mengenal saya? Anda cucu Pattinson? Kisah luka di tangan ini hanya diketahui tiga orang; ayah dan ibu, dan Patti.”

Saya terdiam dan menggeleng. Di jalanan, bus kuning berhenti. Anak-anak berseragam turun berebutan. Anak-anak pria dan perempuan membawa tas sekolah kecil, berlari menuju rumah masing-masing. Sesekali tawa mereka melengking, menari-nari sambil merentangkan tangan menampung butiran hujan salju.

Saya memandang ke langit, melewati pohon mapel, melewati kanopi rumah keluarga Andersen, tempat pertama saya menyadari bahwa sesuatu yang ganjil telah terjadi. Tetapi, saya berusaha membuat keganjilan itu mampu ditoleransi akal sehat, terutama oleh pria tua ini.

“Dengar, saya merasa kita sudah saling mengenal sebelumnya,” ucapnya memandangi saya lekat-lekat. “Ini memang terdengar aneh, tapi saya yakin Anda bisa menjelaskannya.”

“Entahlah.” Saya menggeleng pelan. “Saya tidak bisa menjelaskan.”

Pria tua itu berdecak, menunjukkan gestur kecewa. “Ya, saya bisa saja salah. Tapi dalam pandangan saya, Anda jauh lebih pintar dari keledai tua setengah buta yang saat ini sedang berbicara dengan anak muda berumur dua puluh lima.”

“Apa yang membuat Anda mengira saya berumur dua puluh lima?” tanya saya kaget.

“Mudah saja,” katanya tersenyum simpul. “Saya pernah berumur dua puluh lima, dan masih ingat semuanya. Saya pikir, saya mirip Anda.” Dia mengangkat tangan dan membuat bahasa isyarat ‘sedikit’ itu dengan ujung telunjuk dan ujung jempol yang ditautkan.

Saya tersenyum. “Saya genap dua puluh lima pada Desember nanti,” kata saya.

“Saya juga. Hei! Hari ulang tahun kita sama!” Dia berseru senang, namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah murung. “Tapi saya genap tujuh puluh lima. Tua sekali, bukan?”

“Tidak juga. Anda masih tampak muda,” ucap saya menghiburnya.

“Menjadi tua itu kutukan.” Dia mengatakan kalimat itu sambil mengibaskan tangan. “Jika boleh—maksud saya, jika bisa—saya ingin kembali ke masa lalu. Di tahun saat saya seusia Anda.”

“Saya kira itu salah. Seharusnya menua bisa membuat Anda terlihat lebih matang. Hmm… maksud saya bijaksana.”

“O tidak, tidak,” katanya serius. “Justru menjadi tua, sebatang kara, adalah kutukan. Saya benci menjadi tua.”

“Saya tak ingin serapuh Anda saat menjadi tua.”

“Maaf? Anda bilang apa tadi?”

“Saya bilang, saya ingin hidup setua Anda. Mungkin rasanya menyenangkan.” Sengaja saya mengganti ucapan tadi agar dia tidak tersinggung.

“Telinga saya sedikit bermasalah. Kalau tak keberatan, tolong bicara agak keras.”

“Tentu saja,” jawab saya merasa tak enak.

“Nah, sekarang ceritakan tentang diri Anda. Mungkin saya bisa membantu Anda menemukan orang yang Anda cari.” Dia menyeruput cokelat hangat dengan tergesa, lantas berkata dengan senyum simpul dan wajah merona. “Entah kenapa, saya tetap merasa Anda ada hubungan dengan Pattinson. Gadis dari masa lalu saya.”

Saya mengabaikan perkataan pedih itu dan kemudian saya mulai bercerita. Tentang pertama kali saat saya mencium bibir Patti di belakang sekolah, lalu beralih pada adegan saat saya kehilangan ayah dan ibu—mereka kecelakaan di tikungan dekat danau Praden saat saya berusia 19 tahun. Dan terakhir, saat saya terluka melihat Patti berdansa dengan Frank di ulang tahun Simon.

“Brengsek!”

Rangkaian cerita saya terhenti oleh makiannya. Saya memandangi wajahnya dan dia memandangi wajah saya juga. Rasanya ganjil sekali. Mata itu—meski sedikit dinodai bercak katarak—adalah mata yang biasa saya pandangi setiap kali bercermin. Kulit keriput di tepiannya berkedut sedikit, lalu hilang saat dia berpaling.

“Cerita Anda itu, rasanya sulit untuk mengakuinya omong kosong.” Dia memijat ruang di pertengahan alisnya. “Jadi, kisah hidup kita sama?”

Saya mengangguk. Pandangan matanya menajam, menusuk dengan rasa ingin tahu. “Siapa Anda sebenarnya?”

“Setelah saya menceritakan semuanya, Anda tak bisa menebak siapa?”

Pria tua itu menggeleng.

“Saya adalah diri Anda sendiri.”

“Oh, yang benar saja…”

Tawanya menggelegar, terbahak sampai air mata meleleh di pipinya. Pria tua itu melipat lutut, menyandarkan tubuh ke kursi.

“Lebih baik Anda tak berbohong.”

“Apa saya terlihat berbohong?”

“Baiklah. Anggaplah saya percaya. Hmmm… jadi Anda datang dari masa lalu saya, begitu?”

Saya mengangguk.

“Anda tidak sedang mempermainkan saya, bukan?” tanyanya dengan nada cemas, seakan dia sedang terjebak di persimpangan jalan dan semua orang membunyikan klakson.

“Sama sekali tidak.”

“Kalau begitu, bunuhlah saya,” katanya dengan nada bicara yang aneh. “Dengan begitu Anda akan menyelamatkan diri Anda sendiri.”

“Menyelamatkan dari apa?” tanya saya kaget.

“Dari nasib buruk menjadi tua.”

Saya membayangkan memenuhi permintaannya dan dia jatuh berlutut dengan tangan menutupi leher. Darah menyembur di antara jemarinya. Tapi raungan sirene patroli polisi membuat saya tersadar. Seandainya saya membunuhnya, bagaimana hukum menjerat saya. Saya dan pria tua itu adalah orang yang sama. Bagaimana agar semua ini masuk akal. Saya kesulitan menjelaskannya. Sore semakin redup, pikiran saya dilanda keabsurdan tak terpermanai. (*)



=================

Adam Yudhistira (1985). Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktifitas bersastra, ia juga mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Ia aktif di komunitas sastra Pondok Cerita. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Jadi Cerpenis Lagi

1


Sepuluh tahun, nyaris membuat lelaki itu lupa pada masa-masa di mana ia begitu masyhur sebagai seorang penulis cerita. Orang-orang mengaguminya, bukan pula karena wajahnya yang tampan, akan tetapi karena kepiawaian lelaki itu dalam mengolah kata-kata. Layaknya seorang musisi berbakat yang ditakdirkan Tuhan lahir ke dunia ini dalam periode waktu tigapuluh tahun sekali.

Cerita pendeknya telah memenuhi koran-koran. Dan ia cukup paham, bahwa dengan menulis, seseorang tidak akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Kalimat itu, seperti yang banyak dikutip dari seorang sastrawan besar. Namun kiranya tak ada yang benar-benar tahu ihwal mengapa lelaki itu memutuskan untuk berhenti menulis sepuluh tahun yang silam, bertepatan pula dengan cerita pendeknya yang pada saat itu dimuat di koran untuk yang ke seratus satu kalinya. Sungguh, sebagaimana kehidupan ini dijejali oleh orang-orang dengan pemikiran yang besar, terkadang hidup memang penuh dengan tanda tanya yang besar.

Di satu pagi, ketika pandemi dari virus corona belum menghampiri Indonesia, lelaki itu tampak sedang minum kopi di warung bersama seorang teman, tiba-tiba temannya itu bertanya.

“Kenapa kau tak menulis cerpen lagi?” seraya mengambil pisang goreng hangat di meja.

“Bosan.”

“Maksudmu?” tanyanya lagi.

“Ya, mungkin aku tengah bosan, dan pastinya pembaca juga bosan mendapati tulisan-tulisanku lagi.”

“Tapi, sudah sepuluh tahun, kan? Tak bisa disebut bosan. Itu kebablasan!”

“Ya, tapi di luar sana, banyak juga orang berlomba ingin jadi penulis cerpen. Itung-itung kasih kesempatan buat yang lain, dong.” Bebernya.

Terdengar seperti alasan-alasan yang memiliki kebijaksanaan paripurna. Temannya itu geleng-geleng kepala. Tapi lagi-lagi, sebagaimana mulut manusia yang bisa mengatakan apa saja untuk mengelabui orang, ia juga sadar bahwa semakin ia berbohong, semakin pula hatinya itu porak poranda. Pasalnya, hanya ia sendiri yang tahu alasan sebenarnya kenapa ia memutuskan untuk berhenti menulis. Baiklah, akan aku ceritakan kisah tersebut.

Alkisah, tigabelas tahun yang lalu, lelaki itu jatuh hati pada seorang wanita yang punya air muka memesona. Binar matanya meneduhkan dunia. Senyumnya ayu. Sebagaimana senyumnya, nama wanita itu pun adalah Ayu, tepatnya Dewi Ayu. Terdengar layaknya nama seorang tokoh di dalam sebuah novel, bukan?

Pada suatu hari, di mana si lelaki sudah tak tahan menahan cintanya, ia pun mendatangi rumah kost pujaan hatinya itu, dengan maksud ingin melamarnya.

“Bersediakah kau menjadi istriku? Sungguh, aku ingin menjadi pendamping hidupmu. Selamanya.”

Seperti kebanyakan wanita yang penuh dengan pesona, Dewi Ayu tak ingin semudah itu si lelaki mendapatkannya. Karenanya, ia pun memberikan sebuah prasyarat.

“Orang-orang tahu kau adalah seorang penulis cerita. Karenanya, aku punya satu permintaan.”

“Apa itu? Katakan saja! Apa kau ingin dibangunkan candi seperti kisah-kisah dalam legenda?”

Perempuan itu tersenyum manis. Ia hela napasnya. Ia arahkan tatapan matanya pada si lelaki.

“Begini. Tentunya cintamu butuh diuji. Aku akan menerimamu, manakala cerita pendekmu yang dimuat di koran mencapai angka seratus satu kali.”

Dan angin pun bertiup sepoi-sepoi, menggoyangkan janggut si lelaki yang tampak mulai memanjang. Burung-burung di dalam sangkar milik bapak kost pun seketika diam. Padahal sebelumnya mereka bersorak sorai.

“Baiklah.” Ucap si lelaki. “Hingga kini, cerita pendekku yang telah dimuat mencapai 66 cerita. Masih ada waktu. Kupikir, itu bukan perkara yang sulit-sulit amat.”

Lalu keduanya pun berpisah setelah menyepakati perjanjian yang sayangnya tak sempat ditulis di kertas apalagi ditandatangani di atas materai itu.

Hari demi hari berlalu, lelaki itu makin giat menulis cerita dan mengirimkannya ke koran-koran. Lewat grup Facebook “Sastra Minggu”, ia mendapati apakah cerita-ceritanya dimuat ataukah tidak. Satu dua cerita berhasil lolos, namun tidak sedikit juga yang harus kandas. Tapi ia tak berkecil hati. Karena perlahan tulisannya toh semakin mendekati angka yang ke 101. Pertanda bahwa semakin dekat pula kesempatannya untuk bisa memiliki Dewi Ayu, pujaan hatinya itu, cinta pertama dan terakhirnya.

Pembaca mungkin pernah mendengar kisah tentang Florentino Ariza yang menantikan cintanya Fermina Daza selama 51 tahun, 9 bulan, 4 hari? Sebuah penantian yang menyakitkan. Meskipun pada akhirnya waktu menyatukan mereka. Akan tetapi, dalam penantiannya akan cinta sejati, Florentino Ariza telah meniduri banyak wanita. Adapun lelaki dalam kisah ini memiliki kesabaran yang hakiki. Ia hanya ingin menyentuh Dewi Ayu. Bukan yang lain.

Maka, ketabahan macam apa yang dimiliki seorang lelaki yang semakin hari semakin pucat karena banyak menghabiskan waktunya di depan laptop? Menuliskan cerita hingga larut malam, kurang berolahraga, juga minum bergelas-gelas kopi tanpa memperhatikan makanan apa yang sebaiknya ia konsumsi. Tak jarang, ia jatuh sakit dan harus dirawat. Namun, cinta yang besar telah pula merawat semangatnya untuk terus menulis. Ia pun bangkit lagi. Menulis lagi.

Hingga pada akhirnya, di satu pagi di hari Minggu, sekitar sepuluh tahun yang lalu, wajah lelaki itu tampak semringah. Hari itu adalah hari pembuktian, di mana di malam sebelumnya seorang redaktur memberi kabar bahwa tulisan lelaki itu akan dimuat esok hari, yang artinya, cerita pendeknya dimuat sebanyak seratus satu cerita. Lengkaplah sudah.

Maka, lelaki itu pun lekas mendatangi si wanita dengan dada yang serasa mau pecah. Sedangkan angin bertiup mengempas rambutnya. Ia bersiul dan bernyanyi sepanjang jalan tak henti-henti, layaknya orang tersinting dari yang paling sinting yang pernah sinting yang ada di dunia ini. Sampai akhirnya, ia telah berada di depan rumah kos wanita itu. Lekas ia mengetuk pintu kamarnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga akhirnya berkali-kali, tak ada jawaban dari dalam kamar itu kecuali keheningan yang memacu banyak tanya.

“Dewi Ayu sudah satu minggu yang lalu meninggalkan tempat ini.” ucap ibu kos tiba-tiba mengagetkannya.

“Ke mana ia, Bu?” tanya lelaki itu. Senyumnya mulai surut.

“Dia bilang mau pindah kos. Tapi tak tahu di mana.” Jawab perempuan tua itu lagi.

Lalu, tiba-tiba saja, seperti ada neraka di dalam kepala lelaki itu. Ia pun gusar. Ia coba menghubungi nomornya, tapi tak lagi aktif. Ia bertanya pada teman-teman dekatnya, merekapun tak tahu. Ia sambangi setiap indekos di kota itu, namun sia-sia saja. Sama sekali ia tak mendapati wanita pujaan hatinya itu. Di sepanjang jalan, lelaki itu pun meraung-raung. Layaknya ia orang yang paling menyedihkan dari orang yang paling sedih yang pernah sedih yang ada di dunia ini.

Demikianlah kiranya, kisah itu aku ceritakan kepada Anda semua. Jelas kini, mengapa lelaki itu memutuskan untuk berhenti menulis, adalah karena ia begitu kecewa tak bisa mendapatkan cintanya si pujaan hati yang malah kabur entah ke mana. Sampai akhirnya waktu melaju mengubah musim, sepuluh tahun lamanya lelaki itu telah meninggalkan dunia tulis menulis.

Terkadang tumbuh setitik keinginan di hatinya untuk kembali menulis cerita dan mengirimkannya ke koran. Sepuluh tahun berlalu telah menenggelamkan namanya. Tak lagi ada yang benar-benar mengenalnya. Tak lagi ada yang membaca karya-karyanya. Kecuali ia sendiri yang terkadang iseng membuka laman www.lakonhidup.com dan membaca cerpen-cerpennya sambil tersenyum. Betapa romantisnya menyumbu kenangan.

Sampai di satu pagi, di mana ia tengah minum kopi bersama temannya, sebagaimana diceritakan di bagian awal kisah ini, keduanya pun terlibat obrolan.

“Lagian, sastra di koran sekarang sedang banyak polemik.” Tambahnya lagi. Tangan kanannya mengambil bala-bala.

“Polemik gimana?” tanya temannya itu.

“Terkadang, tak semua karya yang dimuat itu karya yang baik. Belum lama ini, aku membaca cerpen di koran, dan itu buruk sekali.”

“Oh, ya?” temannya seolah tak percaya.

“Bahkan, beberapa bulan lalu, ada puisi yang dimuat di koran, eh, ternyata plagiat dari lirik lagu yang pernah ditulis seorang sastrawan hebat.” Beber lelaki itu.  

“Kenapa bisa begitu?”

“Ya, demikianlah. Selama orang menulis untuk menjadi tenar, kupikir hal-hal demikian akan selalu terjadi. Belum lagi, sering sekali terjadi pemuatan ganda. Sampai ada istilah tebar jala segala.”

“Wah, seperti menangkap ikan saja.” celetuk temannya itu dan keduanya pun tertawa lepas.

Syahdan, direguknya kopi yang tinggal sedikit itu dan kepada temannya lelaki itu pun mohon pamit.

Di rumah, lelaki itu pun segera meraih laptop-nya, dan meneguhkan hatinya untuk menulis sebuah cerita. Cerita itu pertama-tama ia beri judul, “Seorang Cerpenis yang Telah Lama Menghilang”. Lalu ia memulai paragraf pertamanya dengan kata-kata “Sepuluh Tahun Lamanya”. Demikian, perlahan namun pasti, lelaki itu menuliskan cerita. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Paragraf demi paragraf. Ia susun cerita itu dengan sebaik-baiknya. Hingga, manakala paragraf terakhir selesai, ia pun mengganti judul cerita tersebut yang menurutnya terlalu panjang.

“Seperti kebanyakan orang saat ini saja, buat judul cerpen kok, panjang-panjang.” Gumamnya, sembari menghapus judul tersebut dan mulai menggantinya dengan judul yang baru yaitu “Jadi Cerpenis Lagi.” Setelah tulisan itu selesai, ia pun mengirimkannya pada salah satu redaktur koran. Tapi naas, berbulan-bulan cerpennya tak juga tayang. Lalu, ia pun menyunting kembali cerpen itu, dan mengirimkannya pada salah satu media daring ternama. Hingga akhirnya cerpen itu pun ada di hadapan Anda semua.

Sebuah kisah yang memilukan, bukan?

Batujajar, 27-12-2019.

=====================
Anggi Nugraha. Lahir di Batumarta 2 Kab. OKU, Sum-Sel. Alumnus Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya dimuat di : Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat, Tribun Sum-Sel, Lampung Post, Malang Post, Padang Ekspres, Palembang Ekspres, Radar Surabaya, Koran Singgalang, Radar Mojokerto, Koran Berita Pagi, Radar Cirebon,  Majalah SUAKA, dll. Saat ini bekerja di Nurul Fikri Boarding School Lembang, sebagai Pustakawan.

Di Kebun Nam-Nam

0



Di kebun nam-nam aku melihat kenangan. Seperti dekatnya tiap butir buah yang menggelayut di batangnya, rapat-rapat, serupa itulah kita membilah hari-hari di masa lampau. Ini tepat dua belas purnama, sejak pertama kali kita dipertemukan di pesta Wak Iyah. Kau berbalut kerudung merah, dengan sepeda phoenix biru yang tampak selalu baru. Lina, kau datang menyapa hari-hariku yang kelabu. Di tumpukan kopra yang menggunung, dalam munggu-munggu kelapa yang naik turun, wajahmu adalah kehidupan. Untuk aku, si penggalas kopra yang sehari-hari berkayuh sampan dalam sungai, engkau adalah purnama dalam temaram.

Kenapa aku bertaruh harap pada rasa yang berkelindan di pikiran? Tak lebih sebab pesona yang kian bertaburan padamu. Petang itu, aku melihat serombongan kanak-kanak memanggul bangkar-bangkar kering sebagai pelita bila malam tiba. Mereka berangkat ke rumahmu saat gelap hendak menjelang. Jalanan berlempung, sebagian gawangan kebun kelapa terendam air. Kaki mereka berlumpur, bau tubuh mereka langu. Tetapi wajah mereka seperti bersinar. “Kami ondak pogi mengaji tompat Buk Lina,” mereka tertawa-tawa, gembira.

Aku memang bukan siapa, hendak memendam rasa terlalu lama pada engkau penyentuh jiwa. Bila pagi tiba, waktuku hanya habis di tumpukan tempurung dan belahkampak. Kisaranlah tujuanku. Mengantar kopra berkarung-karung, itupun bila kelapa tak langkas. Adakalanya tukang kait memberi kabar buruk, tak ada kelapa hendak diturunkan. Maka, alamatlah aku hanya menjadi penjaga munggu. Mengenangmu dalam segenap rindu. Kehidupan bagiku hanyalah pertaruhan soal setumpuk nasi yang tersaji di pinggan. Terlampau rumit, hingga terkadang mengkhayal perihal perempuan menjadi satu kemustahilan.

Bila malam, kita pun dikurung kerinduan. Kegelapan membatasi kita dalam hujan yang turun meneduhkan kegelisahan. Bila angin darat datang, seperti itulah rasa hendak kukirim. Padamu yang tentu saja tengah menemani kanak-kanak di depan alif-alif yang mereka baca. Kau perempuan yang asing dengan malam, menunggumu hanya di musim terang. Dan bila kegelapan menjelang, kita hanya dipertemukan dalam impian. Seperti itulah kebaikan, sopan santun yang amat terjaga pada setiap tingkah yang kau tunjukkan. Kebahagiaanku hanyalah pada mengenangmu. Lalu sesekali bertemu curi-curi, dalam pandangan yang sepintas lalu. Tetapi aku begitu percaya, akulah bidadara yang selalu kau pinta dalam doa-doa.

***

Ini hari yang menggembirakan. Ada pesta perkawinan di kampung. Orang-orang akan datang berkunjung, dan akupun akan menantikan kehadiran Lina. Ia perempuan yang selalu dekat dengan bumbu-bumbu. Perempuan itu akan duduk bersama perempuan-perempuan lain yang lagan di rumah orang yang berpesta. Selepas menggalas aku akan datang ke pesta. Bukan untuk berbaris seperti undangan pada umumnya, tetapi sekadar mengaduk nasi dalam dandang besar. Inilah waktu yang dinanti-nanti, saat aku dan Lina bisa beradu pandang dalam sedapnya aroma masakan. Dan siang itu aku benar-benar melihat Lina dengan kerudung merahnya. Matanya merah berlinang. Rupanya perempuanku tengah tunak dengan potongan-potongan bawang. Semakin merona pipi perempuan itu, semakin pula tertunduk hatiku.

“Denan, cobalah kau bawa hidangan ke depan,” pemilik rumah memanggilku. Tugas menghidang dijatuhkan padaku. Ini hal yang kutunggu. Di mana aku bisa lalu-lalang di depan Lina, dan ia pun tentu akan ceria. Aku pun bergegas membawa talam. Dalam sajian kolak pisang merah, pajri nenas dan ayam masak putih. Hidangan dengan aroma yang tak terlupa, tetapi tak serupa aroma kerinduanku pada Lina.

“Tengok jalan baik-baik, Denan.”

Aku terkejut. Seorang bujang kampung berbaju putih memegang talam yang kupegang. Ia tersenyum mengalihkan pandangan.

“Kau tukang galas kopra di kebun Haji Somad?” ia bertanya.

Aku masih tak mampu berucap. Lelaki itu terus menatapku. Tangannya memapah talam yang kubawa dengan jemarinya.

“Bawalah makanan itu ke depan.” Ia berucap lagi sambil berlalu. Dan aku semakin tak mengerti dengan tingkah bujang itu. Aku berlalu, sejenak kulupakan bujang itu. Lalu aku kembali teringat Lina. Kucari-cari dalam pandangan, kemana ia menghilang. Dan senyumku mengembang saat menyaksikan seraut wajah Lina dengan kerudung putih dan baju kurung putih telah duduk di bagian depan pelamin. Ia menemani pengantin yang hendak berkhatam Al Quran. Demi jiwa yang mempunyai rasa, sungguh perempuan itu amat sempurna. Demikianlah hayalanku terus hanyut, pada perempuan berkerudung putih yang kini ada di depanku, bukan lagi di hayalan-hayalan malam yang terbentang. Ia benar-benar telah ada di hadapan.

Aku terus terbuai dengan pandangan mata. Dan saat orang-orang ramai di belakang, membincangkan makanan-makanan yang terbuang. Aku tersentak. Beberapa orang membawa talam-talam hidangan ke belakang. Makanan-makanan itu ditumpahkan dan dibuang. Termasuk talam yang kubawa ke depan.

“Ada apa?”

“Seperti biasa ada yang membuang.”

“Racun?”

“Ya, di depan sudah ada pawang.”

Lina? Bagaimana Lina? Seketika aku teringat perempuanku. Lalu bergegas aku datang ke arahnya. Dan kulihat perempuan itu hanya diam menyimak bacaan-bacaan mempelai. Hanya ada segelas air putih di hadapannya. Tuhan memberi kebaikan tak terkira. Lina tak makan makanan itu, dan aku pun bersyukur.

***

Aku tak mampu menanti lebih lama. Perihal rasa yang terus menumpuk-numpuk di setiap malam, semua ini harus diluahkan. Aku bukanlah bujang tanpa pemikiran panjang. Ini sudah lima kali musim panen kelapa, semenjak uangku kutabung dalam mug beras di lemari kamar. Uang itu kukumpulkan sebagai tanda rasaku yang benar-benar ingin bersama Lina. Aku tahu, adat istiadat teramat sulit bersahabat dengan penggalas kopra macam aku.

Bayangkan, saat datang ke rumah perempuan, kau akan ditanya soal isi kamar. Ada balai, lemari, tilam, pakaian dan apa saja yang bisa dimasukkan ke bilik pengantin. Semua itu akan dibebankan pada para bujang. Entah itu keadilan atau adat istiadat yang harus dipertahankan, tetapi bagi bujang macam aku tentu harus bersabar dari waktu ke waktu. Setiap pagi kujenguk tabunganku. Sudah berapa lembar kiranya yang ada dalam mug itu. Apakah bertambah, atau malah berkurang pada masa aku tak sadar?

Aku mengira-ngira, seandainya uang ini dibawa ke pajak di Kisaran, tentulah ada beberapa hantaran yang bisa kubeli. Aku berkerah-kerah, lalu kuingat wajah Emak Lina, sebenarnya ada sedikit beraliran darah Jawa, mungkin saja ia bisa menerima sedikit kekurangan dari hantaran ini. Atau yang lebih mungkin memberikan aku tempo beberapa bulan melengkapinya. Akankah bisa? Aku berkaca sejenak. Memandang wajah yang sebenarnya tak layak. Tetapi bukankah rasa bisa membuat orang berbuat apa saja, terlebih lagi pada sesuatu yang mengantarkan dirinya pada cinta?

Aku terus saja mengira-ngira. Di bawah batang kelapa yang masih muda aku menghirup angin. Setidaknya, ini hari terakhir aku akan begini. Esok tanggal muda, kukira saatnya untuk mencoba datang ke rumah Lina. Sebab bila terus menanti, aku tak tahu apa yang bakal terjadi. Bagaimana jika telah ada tambatan hati Lina yang ia diam-diamkan di hatinya. Atau pula Emak dan Ayah Lina terpukau matanya dengan hantaran bujang lain yang lebih banyak jumlahnya. Maka aku menghibur diri dengan bersahabat pada angin. Memejamkan mata, merasakan desirannya yang datang di balik bambu-bambu rimbun di seberang munggu. Mataku memandang jauh, di sebalik pohon-pohon kelapa yang rindang itu, di sanalah rumah Lina. Hanya terlihat bubung rumahnya saja dari tempat aku merebah badan. Itupun sudah cukup menalangi rinduku pada perempuan itu. Menatapnya tersenyum rasa, memandangnya terhirup aroma kehidupan yang lebih nyata. Aku pastikan, esok aku akan datang, Lina.

***

Ini pagi yang paling kunanti. Dengan subuh yang awal aku memintal harapan, doa-doa hingga fajar datang. Tak ada sesiapa hendak kubawa menghadap Emak Lina. Hanya keinginan yang begitu bergelora. Aku membawa keikhlasan, pada rasanya yang telah kutumpahkan sekian masa, dalam diam yang selalu kujaga. Bukankah menjaga rasa itu terasa bahagia ketimbang meluahkan tetapi berbuah hinaan?

Inilah masanya, di mana aku akan berhujan air mata atau berseri-seri harinya. Aku memandang ke cermin. Bagaimana bila nanti aku datang, ternyata bilik-bilik rumah Lina telah penuh dengan ranjang hantaran, bisa jadi dan mungkin saja terjadi. Maka hatiku pun semakin berdebar. Siapalah bujang macam aku, tiada benda dan tiada nama. Tetapi tiada yang tidak mungkin dengan doa? Bisa saja Emak Lina justru tak berharap apa-apa, memudahkan segalanya. Dan alamatlah aku akan gembira. Bisa jadi dan mungkin saja terjadi.

Aku berkemas. Dengan sebuah kemeja putih paling baru yang sengaja kubeli di pajak Tanjung Balai, petang semalam. Aku menata rambut, sedikit bergaya. Kubayangkan model rambut ayah Lina dulu, barangkali setakat mirip dengannya akan membuat Emak Lina merasa dekat, dengan sosok yang mungkin saja akan segera jadi menantu. Aku tertawa, begitu besar harapanku, seperti doa-doa petang semalam.

Ini hari yang baik, saat jalanan kering. Lumpur seperti bahagia menemani langkah-langkahku menuju rumah Lina. Rumah dengan rumput jepang yang luas dan hijau, varnish papan yang selalu berkilau. Tempayan besar yang selalu berisi di bagian depan talang rumah. Aku tersenyum. Barangkali tak lama lagi aku akan bermaustutin di sini, tinggal bersama Lina dan keluarganya. Aku berjalan mendekat, seperti ada keriuhan di dalam. Tetapi tak mungkin aku melongok pada tingkap yang tirainya tersingkap. Sejenak keriuhan itu hilang. Aku pun memberanikan diri mengucap salam.

“Assalamualaikum.”

Sekali saja, lalu hening. Dan aku tak mau kalah dengan rasa ragu di hatiku, maka kuucapkan lagi salam itu. Terus hingga lebih dari tiga kali. Semestinya aku pulang, sebab tak ada jawaban. Tetapi ada langkah-langkah di papan rumah yang terdengar. Seseorang membuka pintu.

“Denan…”

“Ya, Wak, ada hal yang ingin saya sampaikan. Bolehkah kiranya saya bertandang sejenak?”

Emak Lina terdiam, tetapi kemudian ia membuka pintu dan mempersilakan masuk. Aku bahagia sebab tak ada penolakan seperti yang membayangi ketakutan hatiku.

“Ada apa, Denan?”

“Maafkan saya, Wak, sebenarnya maksud hati saya kemari hendak bertemu Lina.”

“Oh ya, ada apa kiranya?”

“Kalau kiranya masih ada kesempatan, saya ingin sekali melamar Lina sebagai istri saya. Maaf jika lancang, tetapi saya hanya ingin datang dengan rasa terus terang.”

Emak Lina lagi-lagi diam. Tetapi senyum tetap mengembang di wajahnya. Dan ini pertanda baik, aku pun terus bicara tentang hal-hal yang kupikirkan.

“Soal hantaran, saya sudah siapkan. Tapi mungkin masih belum lengkap. Wak tak perlu khawatir, dalam tiga kali musim kait, saya akan bisa memenuhinya. Dan soal perkawinan pun saya akan usahakan kita bisa mengundang qosidah.”

Hening. Dan kegelisahan mulai terasa di hatiku. Emak Lina hanya meneguk air, bahkan tanpa mempersilakan aku minum.

“Wooooiiii cilakoooo, cilakoooo kaaaauuu! Kemano kau pogi? Cilakooooo!”

Sebuah suara melengking dari balik kamar. Aku tersentak, sebab aku ingat siapa pemilik suara itu. Cepat aku berdiri hendak melihat ke dalam.

“Tak perlu kau ke dalam, Denan, cukuplah kau tau di sini. Lina kini terkena puako. Si Rustam guna-guna dia sebab dia menolak cintanya. Dia cuma diberi air putih saat pesta perkawinan, tetapi sampai kini Lina terus begitu. Ia bahkan kami rantai di kamar.”

Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Emak Lina membuka pintu kamar. Di sana gadis yang mendiami hatiku seolah-olah telah berubah menjadi hantu yang menyeramkan. Rambut perempuan itu berserakan, matanya tajam dan liar. Mulutnya menggeram-geram dan bersuara tak jelas. Hatiku hancur, dan entah kemana hendak kulabuhkan segala rasa yang telah mengendap di jiwa. Perempuanku kini tinggal kenangan.(*)

=======================
Nafi’ah al-Ma’rab merupakan nama pena dari Sugiarti. Berdomisili di Pekanbaru, Riau. Cerpen-cerpennya dimuat di Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos, Padang Express dan sebagainya. Pemenang lomba nasional seperti Green Pen Award 2019 oleh Raya Kultura. Pemenang Lomba Cerpen Nulisbuku dan Kemenegpora tahun 2012. Selain cerpen, juga menulis novel, di antaranya Lelaki Pembawa Mushaf (Tinta Medina 2016), Suraya (Bhuana Ilmu Populer, 2018), Luka Perempuan Asap (Tinta Medina, 2016).

Di Tubuhku, Durjana Itu Meledak, Teta

0

Teta-ku, Um Halimah sudah lama meninggal, jauh sebelum Zionis berhasil menduduki sebagian wilayah Gaza. Ia sering mengatakan bahwa peperangan tidak pernah memberikan belas kasihan kepada siapa pun yang terlibat di dalamnya. Teta-ku betul. Banyak orang-orang mati di dalamnya: Palestina dan Israel sama-sama telah kehilangan banyak nyawa, sementara perang tidak tahu kapan berakhirnya.

“Jika aku adalah Allah. Aku akan dengan mudah menghentikan semuanya,” kata Teta. Aku menyetujuinya. Tapi, siapalah aku dan Teta ini selain segelintir orang yang harus merasakan betapa kejamnya penindasan Kaum Yahudi, dan menjadi saksi bahwa perang tidak menghasilkan apa pun kecuali derita dan kepahitan.

Ketika Teta-ku meninggal, karena sakit tua, aku tidak terlalu larut dalam kesedihan. Bagiku, kematian Teta-ku jauh lebih manusiawi ketimbang kematian orang-orang Palestina lainnya yang kebanyakan mati mengenaskan: karena ledakan bom, granat yang terinjak, peluru dari senapan tentara Israel, atau tertimbun puing-puing dari bangunan yang roboh terkena ledakan misil.

“Tak perlu takut akan kematian, cucuku,” nasihat Teta, sehari sebelum malaikat maut menjemputnya. “Sekarang atau nanti, apa bedanya? Perang tidak bisa memberikan pilihan lebih baik bagi kita,” tambahnya. Aku mengangguk dan mencoba memahami akan maksud omongan Teta.

Mariam mendatangiku terlalu pagi. Aku yang sedang menyiapkan Ghada untuk keluargaku terkejut akan kedatangannya yang tidak sesuai rencana. Keluarga yang kumaksud adalah Khalto Sha’adah, suami, beserta dua anaknya, yang telah menampungku selama ini, setelah aku tidak memiliki keluarga dan tempat hunian.

Mariam datang dengan mengenakan galabiyas berwarna kelabu, sewarna dengan niqab-nya juga. Bola matanya yang secerah matahari, mengilatkan semangat luar biasa yang sempat hilang dari dirinya. Aku menyapanya dalam kesibukan yang aku lakukan.

“Sepagi ini?” tanyaku.

“Apa salahnya?” Mariam mengerlingkan matanya.

“Tak sesuai rencana,” sesalku.

“Kau keberatan?”

“Ya … dan tidak.”

Aku menyuruh Mariam untuk menunggu sebentar. Seraya menuangkan karkadeh ke dalam cangkir, untuk menjamu Mariam, aku mencari Khalto Sha’adah untuk sekadar berpamitan. Aku menemukannya di ruang tengah dengan tangan kanannya yang belepotan labneh

“Khalto, aku pergi sebentar,” pamitku. “Bersama Mariam.”

Khalto menatapku dengan bola mata kuatir. Aku tahu, ledakan bom bisa terjadi kapan dan di mana saja. Aku mengelus punggung tangannya untuk menenangkan. “Aku akan baik-baik saja,” ucapku.

Allah ma’ek, Habibti,” ujarnya lirih. Aku mengangguk.

***

Ledakan itu terdengar begitu dekat dari tempat aku berdiri. Mariam, sudah sejak tadi bersembunyi di antara puing-puing yang terserak di sekitar kami: tempat bangunan sekolah kami dulu berdiri, juga tempat pelayanan publik lainnya semisal kantor pos. Aku tidak berusaha untuk bersembunyi seperti yang dilakukan oleh temanku itu.

Beberapa bulan lalu mungkin aku akan begitu ketakutan ketika bom-bom itu meledak. Letusan senapan dan bau mesiu sama sekali tidak berpengaruh banyak terhadapku, untuk sekali ini. Semenjak Israel menyerang daerah kami, aku mulai terbiasa dengan bunyi-bunyi dahsyat sang angkara murka yang menamakan dirinya Perang. Dulu, enam bulan yang lalu, tatkala ledakan bom disertai jerit tangis dan teriakan orang-orang, aku kerap membayangkan bahwa itu adalah jeritan Ibu, atau Ayah, atau adikku, Anwar, atau Sallamah, kakakku, atau teriakan aku sendiri yang terlempar serpihan puing dan ledakan bom. Dan aku merasa begitu ketakutan bahwa aku akan kehilangan mereka semua.

Ketakutan itu telah hilang. Semenjak aku tidak lagi bisa mendengar jeritan mereka—mereka semua telah tewas ketika serangan udara Israel meluluh-lantakkan Naqba, kampung pinggiran di Jalur Gaza, tempat keluarga kami tinggal. Tidak ada yang tersisa kecuali aku dan kepiluan akan kehilangan atas orang-orang yang kucintai.

“Harusnya aku ikut mati, seperti orang-orang yang kucintai.” Aku kerap berpikir bahwa Allah masih berbaik hati padaku, walau pada kenyataannya, pada satu kesempatan dalam sebuah perenungan, aku lebih menginginkan mati bersama mereka semua, ketimbang harus hidup dihantui oleh ketakutan dan kenangan buruk perihal mereka.

Ledakan itu terdengar lagi. Asap hitam mengepul-ngepul di udara. Siapa lagi yang tewas dan menjadi korban kebuasan para durjana? Pikirku, apa yang mereka inginkan selain nyawa-nyawa tak berdosa kami? Kekuasaankah? Pengakuan sebagai Penguasa Baru di tanah kami, atau apa?

Jawaban itu meledak beberapa meter di belakang tempatku berdiri. Tubuhku terlempar beberapa meter ke depan, berguling-guling, lantas mendarat dengan mulut mencium tanah berpasir yang sudah lama berbau mesiu, tempat jiwa kami terabaikan.

“Najmiyeh! Cepat lari. Aku di sini!” Dari celah puing-puing bangunan yang terserak, suara Mariam terdengar dengan getar yang dibalut kecemasan. Aku masih berbaring di atas tanah berpasir sementara dentuman-dentuman keras terdengar silih berganti dari radius yang saling berdekatan.

Seperti kebiasaan kami berdua, tempat ini adalah tempat terbaik bagi kami untuk berbincang perihal apa saja. Lebih sering kami saling berbagi penderitaan satu sama lain perihal kehilangan demi kehilangan yang harus kami lewati. Siang ini rencananya kami hanya singgah sebentar sekadar mengenang kepergian orang-orang tercinta di antara kami. Mariam menunjukkan shabka yang dikenakannya dengan kesedihan yang mencoba disembunyikannya. Mariam tiga tahun lebih tua dariku ketika menerima pertunangan dari lelaki bernama Mahmoud, yang pada masa berikutnya pertunangan itu tidak pernah lanjut ke jenjang pernikahan sehubungan kematian Mahmoud di tangan seorang tentara Israel. Mariam sedih, namun tetap berusaha untuk tidak melepas cincin itu. Aku mafhum.

Bukan hanya aku yang merasakan penderitaan sepedih itu, sebagian besar kami merasakannya. Mariam tidak kehilangan ayah, ibu, atau adik laki-lakinya, kecuali Mahmoud dan juga Najmiyeh Ullum, kakak perempuannya yang nama depanya sama denganku. Najmiyeh ditemukan tewas di pinggir sungai dengan tubuh nyaris telanjang sementara selangkangannya yang tertutup kain tipis tampak mengalirkan darah dan noda berbau amis sperma. Najmiyeh hilang semalaman, menyisakan kepanikan dan rasa kuatir Mariam dan keluarganya. Semenjak itu, ke mana pun Mariam pergi, ia selalu menyembunyikan pisau yang terlilit kain di pangkal paha yang ia sembunyikan dibalik thobe yang dikenakannya. Mariam berdalih akan membunuh orang Israel mana pun yang hendak menjamahnya sebagai upaya pembalasan dendam. Itu tidak pernah terjadi, hingga saat ini.

“Bangsat Israel!” geramku seraya berusaha bangkit dari tempatku terlempar.

Tidak ada yang bisa kulakukan selain memaki. Aku yang dua belas tahun tak lebih ringkih dari perempuan remaja manapun sepanjang Jalur Gaza ini.

Sebenarnya aku ingin membalas semua yang telah mereka lakukan dengan menjadi prajurit dan ikut berjuang membela hak-hak kaum kami. Sayangnya, ayah tidak mengizinkan.

“Ayahmu tidak ingin kehilanganmu, Nak?” cegahnya suatu saat.

“Apa bedanya?” pikirku. “Sekarang atau nanti kita akan hilang atau tewas ditembaki para Zionis.” Namun, aku tidak mengatakannya.

Ayahku seorang pejuang, dulunya, sebelum kehilangan kedua kakinya akibat ranjau darat yang dipasang tentara Israel di Beit Daras, ketika berperang. Saat itu ayahku hanya mampu berbaring di atas tempat tidur dalam keringkihannya dengan air mata kerap tak terbendung tatkala saudaranya tewas satu persatu dalam peperangan tak berkesudahan ini. Ayahku meninggal saat bom meledak di perkampungan kami, Naqba, bersama Ibu, dan kedua saudaraku, sementara aku selamat sendirian.

“Aku harus membalas mereka semua!” teriakku setelah mampu berdiri. Aku tidak berlari ke arah puing-puing tempat Mariam bersembunyi ketakutan, melainkan sebaliknya, berlari ke arah tempat ledakan-ledakan itu pecah bergantian.

“Apa yang kamu lakukan, Najmiyeh? Bahkan kamu tidak sedang menyandang senjata apa pun!” teriak Mariam. Aku tidak peduli.

“Najmiyeh! Kembali!” teriak Mariam lagi.

Aku tak peduli. Aku mungkin tak bisa membunuh mereka dengan senjata. Setidaknya ada banyak orang terluka di sana yang membutuhkan pertolongan. Itu yang ingin kulakukan dalam kegeraman yang tidak memiliki muara ini.

“Najmiyeh! Kembali! Kembali kataku!” teriakkan itu berkelindan dengan desingan dan ledakan yang muncul tiba-tiba dari arah belakang puing-puing. Aku menyadari bahwa hawa panas menerjangku tiba-tiba. Aku menyadari bahwa hawa panas itu berasal dari udara yang terbakar yang kini menjilati tubuhku ini. Aku kehilangan tubuhku dalam kesakitan yang janggal. Aku merasakan kesakitan yang teramat perih. Walau setelahnya aku merasakan sebongkah kebahagiaan yang tidak terperi meletup dalam dadaku. Aku mungkin akan segera bertemu dengan Ayah, Ibu, saudaraku. “Persetan dengan perang! Persetan dengan segala ketakutan dan kengerian! Persetan semuanya!”

Mariam keluar dari persembunyiannya setelah suara ledakan itu tak terdengar lagi. Semuanya mulai sunyi kecuali kepulan asap yang membubung tinggi ke udara, bau mesiu, dan rintihan pilu orang-orang yang terluka. Mariam tak menemukan utuh tubuhku selain serpihan daging-daging yang gosong terpanggang api. Aku menangis saat menyaksikan Mariam menangis di atas tubuhku yang tak lagi utuh.

“Allahu Akbar! Aku berdoa kepadamu agar perang ini cepat usai, dan izinkan Mariam tetap hidup dan kembali kepada keluarganya dalam keadaan utuh. Dan izinkan aku bertemu dengan orang-orang yang aku cintai. Kesakitan dan segala kepiluan ini telah berakhir bagiku. Ya, Allah, hentikan semuanya dan biarkan hidup mereka damai seperti sedia kala.”

Garut, Maret 2020



===========================

Utep Sutiana, lahir dan besar di Garut, 28 Juni. Pernah tergabung dalam beberapa Buku Antologi, baik berupa cerpen maupun puisi.

Rumah Kanak-Kanak

0



       “Sejak sering terjadi pemberontakan rakyat resah. Rumah-tumah orang kaya milik pendatang dirampok. Toko-toko milik babah-babah dijarah. Para pendatang dianiaya, bahkan ada yang dibunuh. Kehidupan tak lagi tenang. Kacau. Mereka ketakutan. Mereka memilih  hijrah ke kampung lain!”

        Sungguh, tiada yang lebih indah daripada hidup di rumah kanak-kanak. Dahulu, ia, Sam, Ahong, Ludi, dan Engku, adalah teman sepermainan. Tak ada yang lebih seru, selain mandi di sungai, berlomba renang dan menyelam, terjun dari ketinggian tebing di atas sungai, memandikan kerbau, memanjat pohon, berburu burung, dan pesta buah jamblang. Amboi, betapa elok mengenang masa kanak-kanak. Tak ada yang lebih menyenangkan selain kala bocah.

       “Kau ingin jadi apa kalau sudah besar, Ludi?” ulik Sam, kala itu mereka berlima tengah nggelosor di bawah pohon jamblang, kepayahan, setelah pesta buah jamblang. Demi mencapai pohon jamblang ini mereka harus jalan kaki kiloan meter, menyusuri sawah,  menyeberangi sungai. Pohon jamblang sebesar raksasa dan setegap batu gunung, adalah tempat asyik untuk berkumpul, apalagi saat musim jamblang berbuah. Buah jamblang sebesar kelereng, berwarna hitam keunguan, harum, dan manis rasanya, aih membuat mereka tak bosan menyantap. Buah jamblang yang sudah matang berjatuhan. Ludi mengambil jamblang, mengunyahnya, biji dilepehkan.

        “Aku ingin jadi tentara,” jawab Ludi tegas. Terbayang sosok panutan Ludi. Ayah yang   pemberani. Ayah Ludi seorang tentara. Ayah asli orang Jawa, namun ditugaskan di pulau elok ini. Bahkan Ludi dan adiknya juga dilahirkan di sini. Mereka sudah betah tinggal di pulau yang kaya rempah-rempah ini.

       “Mengapa jadi tentara?” tanya Engku, mulutnya pun  mengunyah buah jamblang.

       “Aku ingin seperti ayahku, memberantas kejahatan, menjaga keamanan.”  Ludi terbayang sosok  tinggi, badan tegap, kulit sawo matang. Kelihatannya sangar, tapi sikapnya ramah dan bersahabat. Beberapa kali sua saat main ke rumah Ludi, rumah separuh tembok berpagar barisan pohon singkong.

       “Namun nanti kau harus sering bepergian. Katanya ayahmu sedang tugas ketika ibumu melahirkanmu, Di,” ulik Ahong.

       “Ya. Kata Ayah, itu sudah tanggungjawab seorang prajurit. Mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan golongan atau pribadi. Kata Ayah, sebagai prajurit yang merupakan benteng negara, jika ada tugas negara memanggil, mereka harus berangkat, meskipun anak di rumah sedang sakit, atau istri sedang melahirkan. Kalian tahu, ayahku sangat gagah ketika mengenakan seragam loreng, menyandang senjata lars.”

       “Semoga cita-citamu menjadi tentara terwujud, Ludi.”

       “Amin.”

       “Engku, apa sih cita-citamu?” Ludi kali ini yang bertanya. Sam, dan ia menatap  bocah berumur 11 tahun yang tubuhnya paling kurus dan kecil. Engku berkulit langsat pucat. Sepasang matanya terlihat tajam.  Engku memang boncel, tapi otaknya  cemerlang.  Pernah mewakili sekolah   lomba siswa teladan di kabupaten, dan mendapat juara dua di provinsi.

        “Aku ingin jadi guru,” Engku menjawab pelan. Suara lembutnya berdesir seiring musim kemarau. Rerumputan masih menghijau. Sungai masih mengalir meskipun tiada deras. Angin lembah  mendedah.

        “Jadi guru?”Empat  pasang mata menatap, mengerjap.

       “Aku ingin seperti pak guru Kuat. Beliau sabar,  pandai dan cerdas. Setiap pertanyaan yang kita ajukan, Pak Kuat pasti bisa menjawabnya.”

        “Pak Kuat memang pintar, ” gumam Ludi.

        “Kata beliau, guru masih sangat dibutuhkan di dusun  ini. Kelak seandainya jadi guru aku ingin ditugaskan di  dusun Sawojajar ini. Mengajar anak-anak. Alangkah senangnya.  Kata Pak Kuat, tak ada yang lebih beruntung dalam hidup  ini selain bermanfaat pada orang lain,” untuk meraih cita-citanya Engku rajin belajar, menyimak ketika guru mengajar, menulis dan mencatat pengetahuan baru yang didapat dari hobinya membaca. Di halaman kantor Kecamatan dipasang papan surat kabar. Surat kabar nasional dan koran lokal dipajang. Setiap hari sebelum sekolah, Engku mengayuh sepeda mendatangi papan koran, menumpang membaca, demi menambah ilmu, wawasan, dan pengetahuan.

         “Kalau aku ingin kerja di bank. Pegawai bank banyak uangnya. Saban hari menghitung uang,” gumam Sam, santai.  Bocah usia 12 tahun bertubuh gemuk bagai tambur, teringat pada suatu hari diajak ibunya pergi ke bank di seberang pasar kecamatan. Ibu Sam seorang pedagang makanan. Pergi ke bank untuk menabung atau setor cicilan hutang. Pekerjaan pegawai bank sepertinya santai dan mengasyikkan. “Tapi apakah aku bisa, ya. Soalnya, matematikaku kan tak sepintar Engku, Ludi, Ahong, atau kamu, Bur. Aku tak pintar berhitung,” Sam menggeleng-gelengkan kepala, lucu. Teman-temannya tersenyum, bahkan Ludi tertawa tergelak-gelak. Ahong sampai berguling-guling. Tubuhnya yang tambun putih tampak lucu seperti panda.

       “Kau ingin jadi apa Ahong jika sudah besar kelak?” tanya Ludi tiba-tiba, setelah tawanya berhenti.

      “Aku ingin jadi bos sembako. Aku ingin punya toko sembako yang besar. Aku ingin punya gudang yang besar. Akan kutimbun sembako, kemudian aku jual hingga aku dapat untung besar. Hahahaha.”

       “Dasar Ahong matre.”

       “Bukan matre, Kawan. Aku akan beli barang sembako dengan harga murah, kemudian aku menjualnya, mengambil untung sedikit, enggak apa-apa, yang penting barangnya terjual banyak, jadi ya untung banyak. Itu cara berdagang sembako yang diajarkan oleh Papaku. Hahahaha.”

       “Ternyata gitu ya rahasia sukses dagang sembako,” gumam Engku. Sam mengangguk-angguk. Mengambil buah jamblang, kembali mengunyah. Engku menyelonjorkan kaki. Ludi dan Sam ikutan berbaring di sisinya. Sebuah buah jamblang yang sudah masak dan tua terjatuh di dada Ludi.

       “Eh, Burhan, kelak jika sudah besar apa cita-citamu?” Ludi bertanya seraya mengambil buah jamblang, menimang-nimang. Ahong merebut dan mengunyahnya. Nyam-nyam-nyam.

      “Aku ingin…menjadi ustaz.” Entah mengapa jawaban itu terlontar begitu saja dari bibir. Padahal di antara mereka berempat, ia yang ngajinya paling belepotan.

       “Kau ingin seperti ustaz Rohim, guru ngaji kita di surau?” Engku menepuk pundaknya. Ia mengangguk kecil.

      “Iya. Aku ingin pintar sekolah dan juga pintar ngaji. Menurut ustaz kita harus pintar keduanya, agar selamat dunia-akhirat.”

       “Sungguh mulia cita-citamu Burhan. Semoga terwujud,”  doa Engku khusyuk.

       “Semoga cita-cita Burhan terkabul,” Ahong turut mendoakan.

                                                        ***

        Tahun-tahun berlari seperti laju lori.  Selepas SD, ia harus meninggalkan dusun tercinta. Ayah yang pedagang mencari penghidupan yang lebih baik di kota.

      “Benarkah kau hendak pindah dari kampung ini, Han?” tanya Engku. Saat itu mereka berada di sungai. Bermain air.

     “Ya.”

     “Setelah kelulusan sekolah…,” Ahong memandang sedih.

     “Kita takkan bisa lagi pesta jamblang. Kita tak bisa mandiin kerbau, berenang, ngaji bareng.”

      “Entahlah.”

      “Sudah, Burhan, kan pindah masih lama. Kelulusan juga masih sebulan lagi,” cerocos Sam. “Hari ini kita masih bisa bertemu. Masih bisa bermain di sungai. Kita lomba renang, yuk.”

       “Ayo.”

       “Siapa takut air,” Ludi mencopoti baju dan celana. Engku, ia dan Sam, berbuat sama. Mereka telanjang bulat, seperti ikan berenang ke sana ke mari. Tinggalah Ahong yang sudah bertelanjang dada tapi masih berkolor.

       “Ahong, sini, ayo lomba berenang!”

       Ahong mendekat. Sam buru-buru naik ke darat. Mendekati Ahong dan meloroti celananya. Ahong telanjang bulat. Penisnya yang masih berkulup bergoyang-goyang ketika ia berlari, lalu dari ketinggian tebing melompat. Hup, ia sudah bergabung dengan keempat kawannya dan mereka mulai berlomba berenang. Setelah setengah permainan menyusuri sungai, di tengah kegiatan berenang Ahong bertanya…

      “Aku ingin bertanya pada kalian. Tapi sebelumnya aku mohon kalian jangan tertawa kalau nanti menganggap pertanyaanku lucu. Soalnya dari pertanyaanku nanti aku membutuhkan kejujuran, demi masa depanku nanti.”

       Sam melirik Ludi. Ludi melirik ia. Ia melirik Engku. Engku melirik Sam. Mereka saling lirik-lirikan.

      “Aduh, Ahong, apa yang ingin kau tanyakan. Bikin kami penasaran.”

       “Tolonglah segera katakan Ahong, agar rasa penasaran kami hilang.”

       “Baiklah,” Ahong duduk di batu besar. Keempat temannya merubunginya.

       “Apa yang ingin kau tanyakan, Ahong?”

       “Aku ingin bertanya pada kalian, apakah, apakah khitan itu sakit? Gimana rasanya dikhitan?”

       “Hahaha, rasanya seperti digigit semut.”

       “Aduh, sakitnya seperti terpotong pisau. Perih.”

       “Saat burungku dipotong aku tak merasakan sakit karena dibius. Tapi setelah biusnya hilang, auh sakit sekali. Aku sampai menangis-nangis. Padahal tanganku pernah kena pisau, tapi rasanya beda, tak sesakit saat….dipotong.”

       “Ahong, dikhitan itu tak sakit kok. Setelah khitan pertumbuhan badan kita bisa besar dan tinggi. Seperti aku, “ jelas Ludi yang dikhitan saat kelas tiga SD. Ia  dan Engku dikhitan ketika kelas lima. Sementara Sam dikhitan kala naik ke kelas enam.

      Ahong mengangguk-angguk mendengar pengalaman teman-temannya.“Aku akan mohon pada Papaku supaya aku dikhitan. Biar bentuk penisku sama seperti kalian. Hahaha.”  Ahong bangkit dan mulai kembali berenang.

      “Hore, hore, Ahong mau sunat!”

       “Ahong, kalau kau khitan nanti adain pesta kembang api, ya.”

      “Iya, nanti aku rayu papa, agar saat aku khitan, papa ngadain pesta dan nanggap solo organ.”

       Ludi, Sam, ia dan Engku bersorak-sorak, lalu kembali berlomba berenang. Sepuasnya. Sepuasnya.

                                                                     ***

       Ahong akhirnya dikhitan setelah kelulusan SD. Lima sekawan berpesta. Tapi seminggu kemudian mereka berselaput mendung, ketika ia harus meninggalkan dusun Sawojajar. Ayah sekeluarga memutuskan pindah ke luar kampung, bahkan menyeberang pulau.

       Perniagaan Ayah berkembang pesat. Ayah membuka cabang perniagaan di beberapa kota.

       Selulus SMA, ia melanjutkan ke fakultas ekonomi, menuruti kemauan Ayah. Sebagai anak sulung, Ayah menggantungkan harapan di pundaknya. Padahal ia tak berminat pada dunia  niaga.  Tak  mungkin menentang Ayah, yang sudah membesarkan, menghidupi,  memberinya kenyamanan.

        Ia masih sangat bergantung pada ayahnya.

        Namun usianya jelang 21 tahun, kala ia bersua seorang penulis pada komunitas menulis  di kota seberang. Ia sangat tercerahkan dengan motivasi yang diberikan sang penulis, “Jika hidup hanya sekali, maka lakukanlah apa yang kau inginkan. Sekarang, atau tak pernah sama sekali!”

        Ia memilih melanjutkan kuliah hingga tuntas. Ingin memberi kebanggaan pada Ayah, hingga tiba saatnya, seminggu usai diwisuda, ia menghadap Ayah, berbicara selayaknya dua lelaki dewasa. Ia menginginkan rehat sementara dari perniagaan. Ia ingin mondok di pesantren.

        Seperti yang diduga, Ayah marah, melarang. Ayah ingin ia meneruskan kuliah di luar negeri. Agar memiliki ilmu mumpuni, menjadi pewaris sekaligus  penerus perniagaan kelak. Ia tak menolak, namun tak menerima saran Ayah. Bukankah Ayah bisa memberi mandat pada Ahmad atau Ran, dua adik lelakinya. Mengapa harus anak sulung?

        Ia ingin meraih cita-cita tanpa menjadi anak durhaka.Ayah tak mau mengerti. Ayah memberi ultimatum. “Pergilah kalau kau ingin pergi. Tak usah kembali selamanya.”

         Ia memilih pergi menyembuhkan lara hati, berkelana menuruti ujaran sanubari.

                                                                          ***

          Ia tinggal di beberapa pesantren, menuntut ilmu agama dan kehidupan. Selepasnya, ia bersafari dari nusa ke nusa seraya menuliskan makna, melukiskan warna kehidupan, pengalaman dalam untaian kalimat dan tutur kata bermakna. Sebagai pendakwah muda namanya mewangi. Undangan datang dari berbagai kota, bahkan menyeberang pulau. Cara tutur yang menawan, menyentuh hati dan rasa menumbuhkan perasaan suka. Tentang berapa besaran tarif, ia tak pernah menentukan. Bahkan  ia  sukarela datang bila diundang pada kegiatan sosial, di panti asuhan, di panti jompo, di komunitas anak jalanan ataupun pada kegiatan sosial lain. Ia datang atas nama kemanusiaan dan panggilan hati atas kehendak Illahi.

        Suatu ketika ia mendapat undangan dari pulau di mana ia menghabiskan masa kecil. Menaiki pesawat dan kapal feri, sampai pada sebuah pondok pesantren modern nan megah. Selesai hajatan ia tiba-tiba teringat kampung halaman tempatnya dibesarkan. Ia menaiki kapal kecil hingga sampai pada sebuah pulau terpencil.

        Pada dusun kecil, tempat ia dilahirkan. Dusun molek, diapit dua gunung menjulang. Dikelilingi hutan perawan. Damai nan permai. Sayang semua tinggal cerita masa silam. Kini yang tersisa serupa sembilu. Kedamaian ternoda, kerukunan tercerai berai. Penduduk  pribumi tak bisa menerima keberadaan pendatang.

        Penduduk yang tak bisa lagi menjalankan pepatah nan sejujurnya di mana pun berlaku:  di mana langit dijunjung bumi dipijak. Rasa cemburu berselaput iri bergemuruh, dibisikkan, diembuskan orang-orang tak bertanggung jawab yang menyulutkan pertikaian. Pemberontakan beriming-iming melepaskan diri-merdeka-berdaulat sendiri-entah apa maksudnya. Entah bertujuan apa. Menimbulkan sejuta malapetaka.

        Ia mencari jejak masa lalu dan hanya mendengar cerita pilu Samuel, teman masa kecil-pemilik kedai kopi di ujung jalan kampung yang sepi seperti pemakaman.

        “Sejak sering terjadi pemberontakan, rakyat resah. Rumah-rumah orang kaya milik pendatang dirampok.Toko-toko sembako milik babah-babah dijarah. Kehidupan tak lagi tenang. Kacau. Mereka ketakutan. Mereka memilih  hijrah ke kampung lain. Jika pun bertahan di dusun ini, karena kecintaan mereka pada kampung halaman.”

         Ia mendengarkan kisah pilu yang tak ingin didengar.“Si Ludi sudah jadi tentara. Si  Engku guru SD. Juga guru madrasah dan guru ngaji. Ia sangat disukai teman, dan murid-murid. Pemberontakan menimbulkan kegemparan, ketika suatu hari guru Engku ditemukan  meninggal, bersama puluhan penduduk kampung. Mayat mereka berdarah-darah, ususnya terburai, ditemukan di punggung jalan dusun. Konon korban tentara. Padahal pada saat bersamaan si Ludi juga tewas di hutan-kondisinya tak kalah mengenaskan. Tanpa sebab yang jelas. Katanya  korban pemberontakan, mereka yang ingin merdeka.”

          Ia terperangah, terkenang masa-masa bocah.

          Ia termangu di padang rumput yang konon menjadi makam para korban pemberontakkan. “Tak ada lagi yang sempat menguburkan para jenazah. Mereka dimakamkan di dalam satu lubang, bahkan tanpa nisan,” jelas Ahong sambil mengusap air mata yang berlelehan campur ingus. Toko-toko sembakonya di kampung Sawojajar rata dengan tanah. Seorang anaknya ikut terbakar dalam musibah yang takkan terlupakan. Ahong memilih pindah ke lain kota. Membawa tabungan seadanya. Membuka perniagaan dan menata hidup baru.

         Ia tercenung, ia termenung. Ia mendengar jalan hidup teman-teman masa kecilnya, seperti ia menonton slide film. Betapa tiba-tiba ia teramat sangat merindukan rumah kanak-kanak. Ia tiba-tiba menangis terisak-isak.

                                                                  ***

Kota, Ukir, 05 November 2019




=====================
Kartika Catur Pelita, lahir 11 Januari 1971. Penulis 700-an cerpen, 100 cerpen sudah dimuat  di 60 media massa cetak dan daring, di antaranya: Media Indonesia, Republika, Kompas, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Haluan Padang, Sumut Pos, Analisa Medan, Koran Rakyat Sultra, Kendari Pos, Lampung Post, Solopos, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Info Muria, Okezone.com, Nova, dan Kartini. Buku fiksi “Perjaka”, “Balada Orang-orang Tercinta,”  “Kentut Presiden.”  Bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara(AMJ). Tinggal di Jepara.

Hilangnya Badut-badut

0





TIADA lagi badut-badut di sekitar lampu lalu lintas. Atau, badut-badut yang disewa oleh seseorang demi membuat tawa anaknya terkembang. Baru-baru ini, para pelawak itu seperti dilahap bumi. Kabar itu, lantas membuat Nio ketakutan setengah mati.

***

Nio menjadi badut lantaran peruntungan sebagai loper tidak membawa kemujuran. Ia mengungkapkan pada Nurmala, bahwa profesi badut sedang digandrungi. Badut-badut di kota ini tak ubahnya selebriti. Keberhasilan menghibur menjadi buah ketenaran. Nio tergiur. Sejak kecil, ia kepengin dielu-elukan oleh banyak orang. Karena itulah, ia banting setir, memutuskan jadi badut. Kendatipun hanya sebagai badut jalanan.

“Aku ingin menjelma penghibur, macam entertainment di TV. Seandainya tidak ada yang terhibur, setidaknya aku dapat menghibur diriku sendiri,” kelakar Nio pada Nurmala di pagi yang hangat. Lelaki itu seperti menjumpai matahari terbit di wajahnya.

“Semoga, kau dapat mengembalikan senyum orang-orang yang hilang,” riang Nurmala, mengelus pipi Nio. Barangkali, ia bermaksud supaya matahari di wajah suaminya itu tidak lantas pudar maupun terbenam.

Profesi badut memanglah sedang digandrungi banyak orang. Itu lantaran kesedihan tengah merajalela. Semua orang percaya, bahwa kota mereka tengah dijadikan persinggahan bagi kesedihan. Kesedihan laksana banjir yang menenggelamkan orang-orang. Tiap hari, selalu ada orang yang menangis. Tempo waktu, Juleha menangis tergugu-gugu. Matanya beriak, lalu meluap bagai Sungai Ciliwung menenggelamkan Jakarta.

“Kaulihat, Juleha menangis. Istri Pak Walikota itu bersedih. Dan, barangkali aku juga bakal menangis. Istriku juga akan menangis dan anak-anakku meniru tangisan kami berdua. Apakah suatu saat nanti, kami akan menangis bersama seperti festival?”

Itulah yang dirasakan oleh orang-orang. Di tengah kesedihan yang mewabah, Nio merasa menjadi pahlawan. Tidak hanya sekadar selebriti, ia serasa jadi superhero. Nio, dengan pijar di matanya serta senyum yang selalu terkembang, mengenakan kostum badut; wig pelangi, hidung tomat, perut buncit, serta pakaian cerah lagi meriah.

Saban pagi, Nio mengangsurkan punggung tangannya supaya dicium Nurmala. Lepas itu, Nurmala menyiapkan keningnya buat dicium Nio. Mereka laksana pengantin yang baru menikah. Sebelum pergi, Nio merapikan kostum badutnya dan diakhiri dengan mengucap salam. Nurmala melambaikan tangannya, seraya membalas salam suaminya. Nio—dengan gagah—melangkah pergi, seperti pegawai hendak masuk kantor.

Hari ini merupakan hari keberuntungan Nio. Ia tak perlu berjoget bersama badut-badut lainnya di pinggir lampu lalu lintas. Tak perlu berkeringat di bawah terik matahari demi mendapat sepeser uang dari pengendara. Sebab, Kaji Moekijat telah menyewa jasanya untuk menghibur anaknya yang kini tengah merayakan ulang tahun.

“Dua juta rupiah, kurang tidak?” Begitu ucap Kaji Moekijat tempo waktu, yang lantas membuat senyum Nio mengembang seperti adonan kue berangsur matang.

Kaji Moekijat menyambut Nio seumpama pahlawan baru tiba di medan laga.

Begitu Nio selesai menghibur anak Kaji Moekijat, ia lantas pulang dengan membawa segepok uang. Senyumnya tak henti-hentinya meriap di bibirnya. Dan, sampai saat Nio pulang ke rumah, undangan demi undangan datang silih berganti. Tiap hari, selalu saja ada yang membutuhkan jasanya. Ada saja yang bertandang ke rumah Nio, membawa iming-iming berupa imbalan yang menggiurkan. Nio senang dan mulai membeli barang-barang.

Nurmala merasa senang, lantaran punya baju baru. Anak-anak Nio gembira, memiliki mainan anyar. Mereka tidak lagi menjadi keluarga yang menyedihkan. Dan, Bahkan, mereka mulai merencanakan vakansi ke luar negeri. Betapa kehidupan yang hangat.

Tetapi, Nio lupa bahwa dunia tidak akan berlangsung secara baik-baik saja. Hampir semua orang mungkin saja sudah mengenalnya sebagai pembawa berkah; badut kenamaan yang dielu-elukan banyak orang demi menyirnakan kesedihan. Dan, bahkan, sebagian telah memujanya. Menganggap Nio sebagai dewa. Akan tetapi (ya, tetapi), ia tidak sadar kalau dirinya tengah jadi incaran. Itulah yang dialami Nio ketika sekelompok orang menamakan diri sebagai Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu.

Seumpama sebuah rezim, komisi tersebut bertekad memberantas para pencemar kota. Pencemaran yang mereka maksud tatkala mendapati kualitas badut yang buruk dan kualitas itu dinilai berdasarkan lelucon yang para badut itu peragakan.

Badut-badut yang masuk DPO acap kali hilang tak keruan juntrungan. Minggu lalu, Kirun sudah tidak tampak batang hidungnya. Sehari setelah melawak di pinggir lampu lalu lintas, badut malang itu hilang bagai dilahap bumi. Tidak hanya Kirun semata. Bagio juga pernah mengalami hal serupa. Bahkan, lebih parah. Hanya berselang waktu beberapa jam setelah melawak, mayat Bagio ditemukan hanyut di mulut sungai.

“Mereka memperlakukan badut serupa seekor anjing. Bahkan, lebih dari itu; mereka membunuh belasan badut tanpa proses peradilan. Dan, yang jadi soal, apa kesalahan para badut itu hingga mereka tega membunuhnya? Apakah hanya karena dinilai kurang jenaka? Ladalah, kota ini makin lama makin kacau,” sedih seseorang.

“Profesi badut pun dihukumi macam koruptor saja. Padahal, sudah jelas-jelas bahwa mereka berusaha menghibur, bukan mengerat uang rakyat!”

Protes sebagian orang tidak akan menghasilkan apa-apa, selain kesia-siaan belaka. Anggota Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu tersebar di mana-mana. Mereka seperti hantu yang bergentayangan di tiap penjuru. Mata mereka mirip teropong. Dari jarak jauh, mereka lekas tahu: siapa badut yang mesti mereka hilangkan. Hingga, sejauh mata mereka memandang, berjumpalah para anggota komisi itu dengan sosok Nio.

“Surat kabar mewartakan bahwa namaku termaktub dalam DPO para komisi keparat itu,” sedih Nio, kepalanya terjerembap di ketiak Nurmala.

“Tenanglah. Tenang, Suamiku. Kau tidak akan kenapa-kenapa.”

“Tetapi, Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu tidak pernah mengingkari ucapan mereka. Aku takut bila esok, nyawaku melayang begitu saja hanya karena gagal menghibur anak Bu Juleha, istri Walikota itu.” Nio menangis sesenggukan seperti bayi.

“Kau, kan, dapat berkilah, bahwa kejadian itu hanyalah kecelakaan belaka.” Nurmala merangkul Nio, semupama merangkul seorang bocah. “Lagi pula, kau bermaksud mengibur, bukan beritikad membunuh anak Bu Juleha.”

“Apakah komisi itu akan membebaskanku?” cemas Nio, matanya beriak.

“Katakanlah pada komisi berengsek itu, bahwa kau telah mengembalikan senyum anak-anak yang hilang. Setidaknya, anak-anak di kota ini kembali mengenal senyuman. Kebahagiaan kembali merekah laksana setangkai mawar menjumpai musim berbunga. Kau tak ubahnya pahlawan, kendatipun tidak berperang melawan bala tentara.”

Nio tersenyum simpul. Kalimat Nurmala membikin kecemasan Nio menguap. Ia tak perlu khawatir terhadap ancaman Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu. Sebab, ia merasa tidak bersalah dan dapat berkilah, atau membalikkan tuntutan. Hingga, sampailah Nio pada hari berikutnya. Hari di mana kebahagiaan datang bagai hantu yang sering tidak terduga. Kebahagiaan itu berupa seamplop undangan dari seseorang.

“Kau lihat, seseorang menawariku jadi badut di pesta ulang tahun anaknya. Dan, coba kautengok! Seseorang itu mengupahiku sepuluh juta. Sepuluh juta,” girang Nio, sembari menyerahkan surat undangan itu pada Nurmala. Sesaat, ia berjingkrak-jingkrak serupa anak SD dapat mobil-mobilan. “Sebentar lagi, kita akan bervakansi ke Jerman.”

Hari itu, Nio mulai berangkat. Dan, seperti hari-hari sebelumnya, ia mengangsurkan punggung tangannya buat dicium Nurmala. Setelahnya, Nurmala menyiapkan kening untuk dicium Nio. Lantas, Nio merapikan kostum badutnya. Menyapunya dari debu-debu yang merajalela. Nio juga memasang hidung tomat, serta memasukkan sejumlah perca, agar perut tak terlihat mengerut. Tampaklah ia serupa badut pahlawan pengusir kesedihan.

Nio beranjak pergi bagai pegawai kantor hendak menerima gaji. Dari jauh, Nurmala melambai-lambaikan tangannya. Melepas kepergian suaminya menuju medan laga. Sekilas, keluarga kecil itu tampak hangat. Sehangat matahari pukul tujuh pagi. Kendatipun mereka tidak sadar, bahwa Nio tidak akan pernah kembali pulang. ***

Kota Gadis, 2019





======================

Hendy Pratama, Lahir dan menetap di Madiun, Gemar menulis puisi, cerpen, dan esai. Berkegiatan di komunitas sastra Langit Malam. Heliofilia merupakan buku kumpulan cerpen perdananya

Tom dan Malam yang Pergi

0

Ini masih senja, ketika aku berbincang dengan Tom di beranda rumah. Lelaki itu kutemukan dengan segelas kopi hitamnya, berwajah sedikit suram dan kepala yang tertunduk. Mujur aku datang, dengan senyum terkulum ia seperti sudah menanti-nanti kedatanganku dalam hitungan jamnya yang kesekian.

Tom memakai topinya. Ia bilang seperti hendak menuntaskan harinya petang itu, entah bagaimana. Ada semacam gelisah terbenam di bola matanya yang sedikit merah. Ia bilang kesal pada malam. Sebab dalam gelap ia harus menyusuri jalanan, mencari-cari sesuatu yang orang lain belum terpikirkan.

Pekerjaan itu benar-benar merampas kebahagiaannya. Dia bilang begitu. Bukankah meneguk kopi akan lebih nikmat jika diteguk sedikit demi sedikit, lalu menyentuh hujung lidah? Bukan menuntaskannya begitu saja dalam hitungan satu cawan? Itulah yang membuat Tom muak. Ia rindu menikmati kopi dengan santai di teras itu.

Tom, dia bilang jenuh jadi wartawan. Dia ingin pulang ke kampung jadi petani gandum saja. Bukankah itu lebih manusiawi? Ketika kita bisa tersenyum di pagi hari tanpa harus takut dengan pahitnya kopi yang terburu-buru diteguk dalam suhu yang panas?

Kadang Tom tertawa. Ia menertawakan nasibnya. Sudah puluhan tahun menjadi budak malam, tetapi hanya sekedar sepatu kulit baru pun sulit ia ganti setiap awal bulan. Tom sebenarnya rajin, teramat rajin. Bahkan di antara pria-pria beruntung di kota ini, Tom lah yang paling beruntung. Suatu malam ia dijemput seorang redaktur ternama sebuah koran di kota ini. Ia dilamar dengan rayuan paling jalang untuk bekerja di media itu. Bukan tanpa pertimbangan, Tom terpaksa menerimanya karena ia ingat dulu pernah memiliki semacam kamera mirror di kampung. Ia jaga dan simpan kamera itu, hingga 10 tahun kemudian ibunya berpulang. Dan di tengah kata-kata ibunya yang terakhir, Tom diminta menjaga kamera itu, dengan cara apapun.

Tom pun tak ada pilihan. Permintaan redaktur itu terlalu sulit ditolak. Tom bilang ia tersanjung. Satu hal langka yang tak pernah dialami pemuda seusianya. Ya, saat itu Tom baru berusia 18 tahun.  

Bertahun-tahun Tom menikmati pekerjaannya. Ia senang, bahagia, suka, ceria. Hingga tibalah kabar buruk, paling buruk dalam sejarah yang pernah kudengar. Bukan Tom yang dipecat, bukan pula redaktur itu mengkhianatinya. Entah kenapa, Tom seolah-olah dikhianati para pembacanya. Koran-koran yang ia tulis dalam malam-malamnya tak lagi disukai orang. Sebenarnya terlalu tak pantas mengatakan orang-orang kehabisan uang membeli lembar-lembar berita itu. Sebab rupanya mereka punya benda-benda baru dengan layar bergerak yang menyambut pagi mereka dengan senyuman, suara indah dan musik-musik yang mengalun. Orang-orang tak lagi tertarik membaca tulisan-tulisan Tom.

“Aku tak putus asa, aku masih menjaga kameraku, kamera titipan ibuku,” ujar Tom dengan suara paraunya.

“Kau jadi fotografer?”

“Terlalu indah,”

“Lalu?”

“Lebih tepatnya memotret setiap kabar buruk manusia. Mereka yang terbangun akan terkejut melihat foto-fotoku, bahkan mereka menangis.”

“Tapi kau dapat uang kan?”

“Mungkin kau berpikir uang segalanya, tapi kau akan tahu pekerjaan yang kujalani itu demikian buruknya saat kau melihat orang-orang menangis melihat apa yang kutampilkan dalam pekerjaan itu.”

“Aku tak mengerti, tapi kau bilang ingin menyelamatkan kameramu.”

“Entahlah, aku seperti tak sanggup lagi bekerja di malam hari.”

“Kau ingin pulang? Aku ada uang untuk sekedar beli tiket. Kereta ke Minneapolis untuk minggu depan bisa kupesan.”

“Kau terlalu baik, nanti sajalah. Aku ingin menuntaskan malamku dulu.”

“Ya setidaknya mungkin bisa untuk menjernihkan pikiran. Aku ingat kolam di belakang rumahmu itu airnya hijau dengan ikan-ikan merah yang mungkin sekarang sudah berkembang biak.”

Tom tersenyum geli. Untuk pertama kalinya sejak tiga bulan terakhir Tom tertawa lepas. Ia senang. Tetapi kembali matanya meredup.

“Sudah mulai malam, aku harus pergi.”

“Sampai kapan kau akan menjaga kameramu itu?”

“Setidaknya malam ini, kau simpankan satu buah tiket untukku. Besok pagi aku akan pulang. Jangan  lupa kau buatkan kopi hitam paling pahit untukku, pertanda aku sudah menuntaskan malam.”

“Hanya itu?”

“Satu lagi, satu gelas bir.”

“Kau masih berpikir menyambut kemenangan dengan minuman itu?”

“Dan kau masih selalu jadi ustadz kampung dari negaramu.”

“Oh no,”

“Sudahlah, aku pergi.”

Tom pun pergi. Sebuah ransel yang jarang dibawanya ia bawa. Apa benar ia ingin menuntaskan malam terakhirnya dengan benda-benda itu. Pikiran di kepalaku terasa rumit

***

Seperti permintaan Tom, aku tinggal di flat ini untuk menghabiskan malam. Menunggu Tom pulang di pagi hari lalu mungkin akan benar-benar membelikannya tiket kereta ke Minneapolis. Menikmati malam di atas bangunan setinggi enam meter ini memang istimewa. Patutlah Tom sangat bahagia jika satu malam saja tak ada panggilan di telponnya. Ia biasa menikmati bulan separuh di teras kamar. Kadang-kadang ia mengundang Kris dan kadang juga aku. Tom bilang malam itu indah. Malam itu kehidupan dan kebahagiaan. Mungkin suatu hari ia ingin bersahabat dengan malam lebih akrab lagi, tak seperti sekarang.

Malam itu aku menggantikan posisi Tom. Duduk menyendiri di teras sambil memandang terang benderang kota yang bersinar. Aku merasakan waktu yang begitu panjang. Mungkin itulah yang namanya kesendirian, sesuatu yang sebenarnya nama lain dari kejenuhan.

Ini pekerjaan membosankan. Menunggui sahabatmu pulang di pagi hari lalu tidur di tempat yang sedikit kotor. Tom tak punya alasan untuk membersihkan kamar itu. Bahkan ia pun sebenarnya membencinya. Tom ingin bersih-bersih, tetapi panggilan dari redaktur itu selalu membuat wajahnya suram.

“Kadang aku berpikir kerapihan itu tak penting, nyatanya aku tetap sehat dengan kamarku yang begini.”

Sebenarnya itu bahasa halus Tom agar akulah yang merapikan kamarnya. Kadang-kadang karena tak tahan melihatnya, aku memilih membantunya.

“Kau orang Indonesia yang baik, kenapa kau bisa berbenah di kamar orang asing sepertiku? Atau karena, ya karena pekerjaan rutinmu itu ya? Maksudnya lima waktu itu. Aku pernah membacanya dalam sebuah jurnal dosen di kampusku dulu. Katanya begitu, kau bisa jadi disiplin dari rapi dengan pekerjaanmu itu. Lima waktu? Apa ya, aku benar-benar lupa namanya.”

Tak pernah tuntas memang menceritakan Tom. Kufokuskan saja suasana hatiku pada malam. Entah sudah berpuluh kali jarum jam berputar di jam weker hitam sudut kamar. Aku mengusap-usap mata. Benarkah? Atau benda itu benar-benar sudah kehabisan baterai sehingga ia melaju begitu cepat. Jarum pendeknya menepati angka delapan. Tetap suasana di balik jendela masih hitam. Malam belum pergi. Jam itu benar-benar sudah gila. Lalu aku berlari menatap ponsel. Rupanya ponselku sama gilanya, angkanya pun sudah delapan di sana. Kuputuskan turun ke bawah, menyapa pedagang roti di bawah yang rupanya juga sama sepertiku.

“Jam kami semua gila. Ada apa?”

Lelaki itu pun tampak panik. Ia menutup kedua matanya, entah masih mengantuk atau benar-benar pusing dengan keadaan. Lalu aku berjalan ke halte bus. Ternyata banyak orang-orang yang kebingungan sepertiku.

“Apakah telah terjadi kerusakan bersama semua jam di rumah-rumah kita?”

“Aku tak tahu, cobalah melihat televisi. Apa yang terjadi?”

Sesuatu telah terjadi. Mungkin Tuhan sedang menghukum Tom yang begitu benci dengan malam. Atau mungkin ingin memberi hadiah cinta pada Tom yang suka menikmati malam di kamar kotornya itu. Tetapi ini musibah buruk bagiku. Aku tak punya waktu kembali ke flatku. Tugas menjaga kamar Tom belum selesai, hingga ia benar-benar datang.

Aku tak peduli lagi, entah sudah berapa kali jarum jam itu berputar-putar berubah posisi. Dan Tom tak kunjung pulang.

“Kau dimana? Kenapa kau tak pulang? Apa kau masih terus bekerja? Bodoh sekali redakturmu itu.”

“Aku akan pulang, tak lama lagi.”

“Ya setelah aku bosan di kamarmu ini.”

“Tunggulah sekejap lagi, bus akan segera sampai.”

Tom menepati janjinya. Ia memang pulang dalam malam yang masih gulita. Ia mendapati kamarnya yang sama kotornya dengan saat ia pergi. Sebab beberapa makanan yang kumakan berhari-hari masih belum dibuang.

“Kau? Tak biasa begini?”

“Kau pikir ini malam yang biasa? Dan kau pikir apa aku sekotor ini? Tukang sampah di bawah memilih tidur sepanjang malam.”

“Martin, aku pulang. Aku telah menuntaskan malamku.”

“Kau resign?”

“Tidak, lihatlah di balik jendela itu, matahari mulai muncul.”

“Oh ya,”

“Dan aku membawa sesuatu.”

“Apa?”

Tom mengeluarkan sebuah buku biru dari dalam tas ranselnya. Aku tersentak. Itu Al Quran, kenapa dia bisa membawanya?

“Kau bertemu dengan mahasiswa Indonesia?”

“Tidak, kitab ini kutemukan di kantor. Seorang wartawan baru asal Turki memberiku kitab itu.”

“Lalu?”

“Ajarkan aku membacanya.”

“Kau yakin?”

“Ya..”

“Bukalah!”

Tom membuka kitab itu. Satu, dua, tiga hingga sepuluh halaman tak kunjung ia temukan satu huruf pun.

“Kitab ini terlalu tebal.”

“Teruskan.”

Tom terus membukanya, hingga ke lembaran ke seratus tetapi kitab itu masih terus kosong. Tom meneteskan air mata. Dan aku pun merapat ke dinding memandang matahari marun jingga yang sangat besar pagi itu.

TAMAT

Biodata Penulis:

Nafi’ah al-Ma’rab merupakan nama pena dari Sugiarti. Berdomisili di Pekanbaru, Riau. Cerpen-cerpennya dimuat di Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos, Padang Express dan sebagainya. Cerpennya berjudul Lanai memenangi lomba nasional seperti Green Pen Award 2019 oleh Raya Kultura, Cerpen Tandan Sawit sebagai naskah pemenang Lomba Cerpen Nulisbuku dan Kemenegpora tahun 2012, Cerpen Lelaki Pohon menjadi salah satu naskah pemenang LCMR Rayakultura 2013. Selain cerpen, ia juga menulis novel, di antaranya Lelaki Pembawa Mushaf (Tinta Medina 2016), Jodohku dalam Proposal (Tinta Medina 2016), Suraya (Bhuana Ilmu Populer, 2018), Luka Perempuan Asap (Tinta Medina, 2016). Penulis bisa dihubungi di WA 085278740869 dan IG @sugiarti.flp

Terbaru

Anggur

Seorang pria dan wanita berjalan menuju bulevar dari sebuah hotel kecil di pinggir jalan. Pepohonan masih tak berdaun, hitam,...

Memeluk Tubuh Hujan

Pulang Ke Dalam Pelukan

Dari Redaksi