Di Kebun Nam-Nam

Rahasia-rahasia

Kunci

Kutukan Kematian

Cerpen

Home Cerpen Page 6

Hikayat Lelaki Musafir

0



Kisah ini bermula ketika Qudamah, lelaki alim dari timur hendak mengembara ke negeri Syam. Ia terpikat oleh kisah-kisah dalam kitab tarikh yang menceritakan perjuangan Sang Rasul. Baginya, meyakini saja tak akan cukup. Rasa cintanya terhadap Sang Rasul membuatnya bertekad akan menziarahi tempat-tempat perjuangannya semasa hidup, meski harus menempuh jarak ratusan bahkan ribuan mil sekalipun.

Pada hari, minggu, bulan dan tahun yang diyakininya dapat memperlancar misinya, ia mulai mengembara. Dengan berbekal restu ibu dan secarik peta usang, ia berjalan menembus gurun tandus, mendaki pegunungan berlembah curam, serta menyeberangi puluhan sungai berarus deras. Ia juga kerap singgah di kota-kota tua bersejarah yang menyimpan banyak kisah.

Pada hari keseratus satu perjalanan panjangnya, Qudamah singgah di sebuah kota kecil di tengah gurun tandus. Ia berteduh di sebuah gubuk yang lama ditinggal pemiliknya. Sejenak ia melepas lelah. Panas yang teramat sangat membuatnya kehilangan banyak tenaga. Namun demikian, tak sedikitpun dalam benaknya akan mengakhiri perjalanan. Ia beranggapan apa yang dilakukannya belum seberapa jika dibanding dengan perjuangan Sang Rasul dalam bersyiar.

Menjelang sore, di tengah persiapannya hendak melanjutkan perjalanan, Qudamah dikejutkan oleh kedatangan seorang kakek bongkok berpakaian lusuh. Sejenak ia tertegun memandang sang kakek, sebelum kemudian mempersilakannya untuk duduk.

“Apa Kakek musafir?” tanya Qudamah membuka keran pembicaraan.

Kakek mengangguk, “Benar. Apa kau juga musafir?”

“Ya, Kek.”

“Dari mana asalmu?” 

“Nun jauh dari timur sana, Kek.”

“Hendak kemana?”

“Ke Syam?”

“Syam?”

“Benar.”

“Apa yang akan kau cari di sana?”

“Berziarah, Kek. Mengunjungi jejak-jejak Sang Rasul.”

“Muhammad maksudmu?”

“Tentu. Siapa lagi?”

Kakek tergelak, “Kau sedang bermimpi atau sedang mencari sensasi?”

“Maksud Kakek?” Qudamah heran dengan sikap kakek yang menertawakannya.

“Tadi kau bilang beziarah mencari jejak Rasul di negeri Syam?”

Ia mengangguk.

“Tak ada jejak apapun di sana. Yang ada hanyalah padang tandus dan gersang, pokok-pokok kurma layu, unta-unta kurus, dan mata orang-orang yang kehilangan semangat hidup. Syam hanyalah negeri tua dengan setumpuk kisah usang yang mulai hilang ditelan zaman. Percayalah, kau tak akan menemukan apapun di sana.”

Qudamah terdiam. Sejenak ia bergelut dengan batinnya. Mencerna setiap perkataan si kakek dengan sedikit keraguan. Kemudian ia teringat perkataan guru ngajinya bahwa ia akan menemukan berbagai macam rintangan. Tak hanya sulitnya medan dan jauhnya perjalanan. Ia juga akan bertemu dengan jin yang menjelma manusia dengan tujuan akan menggagalkan perjalanannya.

“Sebaiknya kau pikirkan lagi niatmu, anak muda. Perjalanan ke Syam bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kau akan menemukan banyak rintangan. Jangan sampai niat baikmu hanya akan memperoleh kekecewaan.”

Qudamah mengangguk-angguk kecil.

“Apakah kau pernah ke Syam?”

Qudamah menggeleng.

Si kakek tertawa ringan, “Ya, kau memang masih sangat muda. Pengalamanmu masih terbilang hijau. Lain denganku. Aku sudah banyak makan asam garam di dunia pengembaraan. Apalagi Syam. Hampir seluk-beluk di sana aku sudah  sangat hafal.”

Sejenak Qudamah terdiam. Dipandanginya sang kakek dengan penuh kewaspadaan. Dan benar adanya, kewaspadaan Qudamah mulai menemukan titik terang ketika azan asar berkumandang. Sang kakek mendadak gelisah. Wajahnya pucat pasi. Tak lama berselang ia pamit untuk melanjutkan perjalanan. Dan, kewaspadaan Qudamah terbukti setelah keluar gubuk tak menemukan jejak apapun di atas tanah.

***

Senja baru saja purna ketika Qudamah menghentikan perjalanannya. Gelap malam membuatnya memutuskan untuk beristirahat. Karena tak juga menemukan perkampungan, ia pun memutuskan untuk bermalam di bawah sebuah pohon rindang. Setelah menggelar kain untuk alas tidur, ia pun merebahkan tubuhnya. Dan tak membutuhkan waktu lama, Qudamah pun terlelap.

Malam semakin pekat. Suara angin gurun yang datang bergemuruh membuat Qudamah terlempar dari mimpinya. Meski  demikian, Qudamah masih terpejam dan meringkuk di balik selimut.

Setelah angin selesai bergemuruh, Qudamah kembali mencoba membenamkan dirinya ke dalam mimpi. Namun gagal. Hingga tak lama kemudian ia mendengar suara orang bercakap-cakap.

“Sepertinya kau kedatangan tamu wahai Sahabi.”

“Ya, seorang musafir. Sepertinya ia sangat kelelahan.”

“Syukurlah, kau tak akan kesepian malam ini.”

Mendengar ada yang bercakap-cakap, kantuk Qudamah mendadak sirna. Ia pun terjaga. Kedua matanya waspada. Kalau-kalau yang bercakap-cakap orang jahat yang hendak mencelakainya. Lalu perlahan tangan Qudamah merogoh ke balik pinggang untuk mengambil badik.

“Benar. Sudah cukup lama tak ada orang yang datang ke sini. Terakhir kali ketika sepasang lelaki yang hendak mencelakaiku. Bersyukur kau datang datang dan menggigit salah satu diantara mereka.”

Qudamah bangkit, lalu memasang kuda-kuda sembari menghunus badik. Kedua matanya menyapu keseluruh penjuru mata angin. Dahan-dahan pohon yang menaunginya pun tak luput dari tatapannya. Namun ia tak menemukan apapun kecuali seekor ular derik yang bergegas pergi ke balik batu.

Sejenak Qudamah terdiam. Jelas-jelas ia mendengar orang bercakap-cakap. Namun kini ia hanya menemukan kekosongan. Hanya angin gurun yang sesekali menampar-nampar wajahnya. Setelah memastikan tak ada siapa-siapa, Qudamah pun melanjutkan tidurnya.

***

Matahari telah sepenggalah ketika Qudamah terbangun. Meski demikian, ia masih meringkuk di balik selimut. Tak lama berselang seekor pungguk terbang rendah, lalu hinggap disalah satu dahan. Tepat di atas Qudamah.

“Kau kedatangan tamu rupanya wahai Sahabi?”

“Ya. Seorang musafir. Sejak semalam ia tidur di sini.”

Qudamah tersentak dalam batin. Suara percakapan yang ia dengar semalam kini terdengar lagi. Namun kini ia yakin tak ada siapapun selain dirinya, seekor pungguk, dan pohon yang dijadikannya tempat berteduh.

“Apakah ia telah mengenalmu?”

“Sepertinya belum. Buktinya semalam ia tebangun dan tampak bingung ketika aku berbincang dengan Derik. Bahkan ia menghunuskan badik. Dipikirnya ada orang jahat yang hendak mencelakainya.”

“Hahaha… rupanya ia tak tahu siapa dirimu. Semestinya ia sangat beruntung ada di sini. Di dekat pohon Sahabi yang menjadi saksi sejarah orang termulia. Orang yang sedang ia cari jejak-jejaknya.”

Qudamah kembali tersentak dalam batin.

“Maksudmu apa wahai Pungguk?”

“Ya, aku telah mengikuti musafir ini sejak dari Kota Aswad. Ia mengemban misi mencari jejak-jejak Sang Rasul.”

Mendengar percakapan yang tak biasa, Qudamah hanya terdiam. Ingatannya menghambur pada kitab-kitab tarikh yang menceritakan tentang pohon sahabi. Hingga pada akhirnya ia teringat. Lalu serta-merta bangun.

“Benarkah kau pohon sahabi yang terkenal itu?” tanya Qudamah penasaran. Matanya tajam menatap pohon sahabi. “Benarkah kau yang menjadi saksi sejarah atas pertemuan Rasul dengan Buhaira?”

Angin gurun berhembus lirih menerpa wajah Qudamah.

“Ayo jawablah pertanyaanku. Aku tahu kau pandai berbicara layaknya manusia.” Qudamah berjalan mendekati pungguk, namun pungguk dengan segera berpindah ke dahan lain. “Aku tahu kau tadi berbicara dengan pohon ini wahai pungguk. Tolong jawablah. Bantulah aku mengatasi keraguanku.” Pungguk masih juga terdiam. Matanya tampak tak berkedip menatap Qudamah.

“Baiklah jika kalian tak hendak bicara padaku. “Qudamah kembali ke bawah pohon sahabi. Benaknya kembali menyimpan tanya. Apakah kedua makhluk yang baru saja diajaknya bicara sebenar-benarnya makhluk kasat mata atau sama halnya dengan perwujudan makhluk serupa jelmaan kakek bongkok? Untuk menjawab keraguannya, Qudamah menunda perjalanannya. Ia masih berdiam diri di bawah pohon sahabi sembari menunggu pertanyaannya terjawab.

***

Matahari kian menerik ketika Qudamah tak lagi sabar menunggu jawaban. Ia merasa apa yang ditunggu hanyalah sebuah kesia-siaan. Ia bangkit dan menghadap pohon sahabi.

“Baiklah jika kau tak mau menjawab pertanyaanku. Akan kucari jawaban di tempat lain.”

Dengan sedikit dongkol, Qudamah pun mengemasi barang-barangnya, lalu meninggalkan pohon sahabi. Namun baru duapuluh langkah, Qudamah terhenti ketika sekoloni awan tiba-tiba datang dan berhenti tepat di atas pohon sahabi.

“Apakah pemuda itu sedang mencari tahu jati dirimu wahai Sahabi?”

“Ya, benar sekali. Tapi aku memilih diam ketika ia bertanya.”

Merasa dipermainkan, Qudamah pun jengkel. Ia berbalik badan dan kembali menghampiri pohon sahabi dan awan.

“Beginikah cara kalian memperlakukanku? Wahai sahabi, sesungguhnya kau tengah menghinakan dirimu sendiri sebab sengaja tak bicara denganku. Kau tak lebih baik dari pohon-pohon tua yang lain! Dan kau awan, tak lebih baik dari musafir yang kehilangan arah dan tujuan.”

Sejenak suasana sunyi. Namun tak berapa lama, awan yang semula putih berubah menghitam seolah menyiratkan kemarahan. Lalu disusul suara gemuruh di langit dan angin kencang. Qudamah yang sedari tadi terdiam langsung menghambur ke bawah pohon sahabi untuk berlindung.

Menyadari apa yang diucapkannya menuai badai, Qudamah pun meminta maaf. Ia memohon agar awan tak lagi memanggil angin.

“Demi Tuhan. Demi Zat yang paling agung. Aku tak bermaksud meremehkan kalian.”

Mendengar Qudamah bersumpah, angin pun berangsur-angsur mereda.

“Baiklah jika kalian tak menghendaki kehadiranku di sini. Aku akan pergi.”

Qudamah pun meninggalkan pohon sahabi dan awan dengan harapan ia akan mendapatkan belas kasihan dari keduanya dengan memanggilnya untuk kembali. Namun semakin jauh ia berjalan, tak ada sepatah kata pun keluar dari keduanya. Akhirnya Qudamah menoleh ke belakang dan ia pun terkaget ketika tak mendapati apa pun di sana kecuali padang tandus dan gersang.




====================
M Arif Budiman, lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Buku kumpulan cerpen terbarunya Anjing Bersayap Malaikat (2020). Sekarang menetap di Kudus.

Tentang Kepulangan

0

Sengaja kurahasiakan kepulanganku. Saya tidak mau orang-orang di kampung menyambutku penuh kemenangan yang membuat Ibu menceritakan ulang caranya mendidik anak dan Bapak akan memborong berbungkus rokok di warung Mak Sari untuk dihidangkan pada tetangga kemudian selanjutnya menjawab segala tanya.

Saya tidak mau itu semua terulang sebagaimana kepulanganku yang pertama 20 tahun yang lalu; mendadak rumah seramai pasar, orang mengantre menyentuh tanganku. Sebagian besar memelukku tak mau melepas. Seminggu, saban pagi saya sudah harus melayani banyak sekali pertanyaan yang membuatku lupa menziarahi makam kakek dan nenekku. Apa boleh buat, nisan mereka hanya saya tatap di balik kaca jendela mobil kala harus kembali lagi ke kota.

Kali ini, saya tidak mau itu terjadi. Kupikir orang-orang di kampung sudah mengenalku sebagai orang yang sukses di rantau. Jadi, mereka tak punya lagi alasan datang menemuiku mengucap selamat dan mengharap derma. Semuanya telah saya sisihkan melalui koperasi yang dikelola bapak sebagai aktivitasnya setelah pensiun. Bapak dulunya seorang guru agama di sekolah dasar satu-satunya di kampung kami.

Saya masih ingat, Bapak akan membangunkanku sebelum suara azan Haji Sattar membangunkan seisi kampung melalui pengeras suara di surau. Itu terjadi bila musim kemarau. Dua gentong di dapur sudah harus penuh sebelum menunaikan salat subuh. Setelahnya, kami kembali bergegas ke sumur Wa Lau, seorang tua yang membangun rumah seorang diri di tengah persawahan warga. Hanya dia yang tinggal di sana, terpisah dari keramaian. Tetapi, saban sore rumahnya selalu ramai dikunjungi warga yang hendak mengambil air. Wa Lau, hanya mengizinkan menimba air di sumurnya sebelum subuh dan sore hari. Jangan harap ia akan membuka pintu pagarnya bila matahari sudah muncul. Tidak ada yang berani membongkar pintu yang terbuat dari bambu itu. Aturan ini berlaku pula untuk kepala desa yang pernah menegurnya. Wa Lau bergeming dan mendamprat ulang. Wa Lau melempari ludah dari atas rumahnya. Kejadian itu terus dikenang oleh kepala desa. Ia malu karena menjadi bahan gunjingan sekaligus bahan humor di setiap obrolan warga yang mengenang peristiwa tersebut.

Sebelum kampung terang, saya sudah siap dengan balutan seragam, siap ke sekolah bersama Bapak. Kami hanya berjalan kaki melewati jalan tanpa aspal, retakan tanah terlihat jelas sebagai bukti perkasanya kemarau. Sebaliknya, di musim penghujan, jalan itu serupa sungai. Menjadi jalur air mencari titik rendah. Di sanalah, saya dan teman sebaya bermain mengadu kulit jantung pisang sebagai perahu mainan. Kami terus mengikutinya hingga berakhir di depan rumah Wa Lau.

***

Guna menjaga rahasia, saya mengutus salah satu asisten ke rumah. Menyampaikan kepada Ibu dan Bapak perihal kedatanganku kali ini. Semuanya perlu ditempuh karena di kampung belum ada jaringan telepon. Melalui asisten itu, saya membekalinya foto dan sepucuk surat yang menjelaskan maksud kedatanganku. Foto itu tentu saja sebagai penjelas agar asisten saya itu dapat dipercayai orang di rumah.

Metode itu berhasil, di malam buta, ketika warga pada lelap di rumahnya, saya sudah berhasil menjumpai Bapak dan Ibuku. Mereka sudah semakin menua. Pelukanku sepertinya tak mau lepas di tubuh mereka. Malam ini saya tuntaskan rindu dengan tidur di samping Ibu.

Kepulanganku kali ini, saya tidak membawa mobil. Sengaja kutinggal di kota bersama asisten yang menyewa kamar di salah satu hotel. Setelah diantar di pintu masuk jalur ke kampung, saya menggunakan ojek. Jasa ini mulai marak sejak dealer memberlakukan pinjaman lunak bagi masyarakat.

Penyamaranku berhasil. Herman tak mengenaliku ketika saya duduk di belakangnya. Dia teman sekolahku dulu di sekolah dasar. Usia kami terpaut empat tahun. Saya akrab dengannya saat kelas tiga. Rupanya sudah empat tahun ia mendekam di sana karena gagal naik kelas. Teman seangkatannya sudah pada kelas satu SMP dan dia masih perlu belajar berhitung. Beruntunglah, kepala sekolah dan guru-guru di sekolah tak lagi membiarkannya menutup usia di sekolah dasar. Hingga akhirnya kami sama-sama menamatkan pendidikan dasar. Setelahnya, ia menolak bersekolah lagi.

Rupanya, ia sudah berkeluarga. Ia peristrikan seorang perempuan dari kampung sebelah. Kini, ia sudah punya rumah dan dua orang anak. Dia kaget kala saya menepuk pundaknya untuk berhenti di depan rumah Haji Bahri.

“Anda mau bertemu Haji Bahri, Pak?”

Saya tidak menjawab dan menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah.

“Maaf, saya tidak punya kembalian, Pak,” katanya lagi.

Saya masih diam, lalu membuka syal yang menutup sebagian wajahku. Rupanya ia masih belum mengenalku. Setelah topi saya lepas, barulah ia menyunggingkan senyum. Memarkir sepeda motornya lalu kami melepas kangen. Berkali-kali ia memukul pundak saya dan mengulang kalimat: kau hebat, sudah jadi orang sukses.

Agak lama kami duduk di bale bambu di depan Bapak. Mungkin kami telah menyulut tiga batang rokok sebelum saya memintanya pulang dan tak lupa menitipkan pesan agar menjaga rahasia kedatangan saya. Awalnya ia kaget dan menolak, tetapi luluh juga setelah kujelaskan kalau dia boleh menjemputku di malam hari untuk menjumpai teman-teman di pos ronda. Hanya di waktu malam saja, saya tidak mau muncul di siang hari.

Rumah ini tak berubah, dindingnya masih sama ketika saya masih sekolah dasar. Bapak tidak mau menggantinya walau sudah kuyakinkan kalau saya bisa membangunkan rumah yang baru. Ibu berpendapat sama. “Buat apa, kau tidak memiliki saudara. Tidak ada warisan yang perlu dipersiapkan,” demikian Bapak pernah berujar.

Di kepulanganku yang kedua, 15 tahun lalu. Bapak dan Ibu tak banyak mengajukan tanya mengenai pekerjaan yang kulakoni di kota. Bila kuingat-ingat, sejak Bapak menitipkanku pada Paman Gaffar, adiknya yang membangun usaha warung kopi di kota. Beliau juga tak pernah banyak menuntut menyangkut prestasi sekolahku sejak SMP hingga saya tamat SMA. Keduanya sekadar menuntut keberadaanku yang tak kekurangan apa pun. Bahkan, ketika saya memutuskan untuk kuliah setahun setelah tamat SMA, kedunya juga tidak keberatan. Untuk hal itu, mulanya saya menduga kalau beliau tidak bisa lagi menyiapkan biaya. Bapak sudah pensiun dan uang pensiunnya tidaklah seberapa. Cukup untuk makan saja karena Bapak tidak menggarap sawah.

Bila ada yang bertanya pada Bapak, cukup ia menjawab kalau Hadri merupakan pengusaha, berjualan apa saja. Dan, orang-orang akan mengangguk memercayai. Itu yang kudengar di kepulanganku yang pertama ketika Bapak sibuk meladeni warga dan Ibuku tak kala sibuk di dapur menyiapkan menu untuk tetamu.

Bapak sepakat saja ketika kutawari untuk memimpin koperasi di kepulanganku yang ketiga, 10 tahun yang lalu. Saya jelaskan kalau koperasi itu merupakan ruang bagi warga yang hendak meminjam modal guna membangun usaha. Metode ini memungkinkan warga agar memiliki kemandirian dan tidak selalu meminta derma bila saya pulang. Jadi, dana bisa bermanfaat dan bergulir untuk warga. Kepala desa saat itu merasa terbantukan dengan ide yang kutawarkan. Belakangan, saya ketahui kalau pak desa turut meminjam dana yang kemudian digunakan membangun saluran pipa dari sumur Wa Lau. Tujuannya, agar warga tak perlu lagi berjalan jauh melintasi pematang menuju rumah Wa Lau di musim kemarau.

Semula sulit kupercaya, saya tahu siapa Wa Lau. Lelaki tua yang tak pernah saya tatap wajahnya. Ia selalu berada di atas rumah panggungnya. Sewaktu kecil, saya menganggapnya sebangsa malaikat atau iblis. Makhluk Tuhan yang tidak membutuhkan makanan. Ibukulah yang meyakinkan kalau Wa Lau adalah manusia sebagaimana umumnya. Butuh makan dan minum. Setiap pagi, kemanakannyalah yang membawakan makanan untuknya. Katanya, Wa Lau memilih menyepi ke tengah sawah setelah mengidap penyakit gula yang mengakibatkannya lumpuh.

Kena damprat darinya bukan hanya sekali, seingat saya. Bapak juga pernah dilarang mengambil air terlalu banyak. Aturan yang diterapkan Wa Lau, bukan hanya waktu-waktu tertentu, tetapi juga jumlah ember yang boleh dibawa. Meski gelap, rupanya ia selalu awas dari jendela mengintai warga di pekat subuh. Aturan itu berlaku bagi siapa saja, termasuk kemanakannya.

Jadi, saya tidak begitu yakin kalau Pak desa mampu meluluhkan wataknya. Namun, saya harus memercayainya juga. Di kepulanganku yang kedua, 5 tahun lalu. Kulihat bak besar berdiri di depan rumah Pak desa yang dilengkapi dua keran air. Di sanalah warga mengantre sepanjang hari di musim kemarau. Belakangan kuketahui kalau Wa Lau telah wafat, rumahnya sengaja tidak dibongkar, malah dipasangi listrik sebagai sumber tenaga yang mengalirkan daya ke mesin pompa air agar mampu menyedot air dari sumur dan selanjutnya mengalir ke bak. Sayang, itu tidak berjalan lama. Kata Bapak, hanya bertahan semusim saja. Selanjutnya, muncullah petaka, sebab sumur peninggalan Wa Lau benar-benar telah kering. Jadilah warga membeli air di musim kemarau pada seorang pedagang air dari kampung jauh di kaki bukit. Parahnya, warga harus membagi rata, karena pedagang itu hanya mampu menampung 20 jergen ukuran 20 liter di dokarnya sekali jalan setiap hari.

***

Kini, di kepulanganku yang keenam. Genaplah 25 tahun saya merantau, itu terhitung sejak kuputuskan kuliah, saya tidak mencampurnya dengan tapak masa SMP dan SMA. Sejak itu, saya balik ke kampung sekali dalam lima tahun. Pagi pertama di kepulanganku keenam ini, saya menemukan guling Bapak di sampingku. Adakah semalam ia bertukar dengan Ibu tidur di sampingku. Entahlah, pagi ini saya menemukan diriku di masa kecil. Menunggu ibu menghidangkan secangkir kopi dan sepiring nasi dingin sisa santapan semalam. Tidak seperti pagi di kepulanganku yang pertama. Namun, itu tidak mengapa, sebagai bentuk kebahagiaan warga menyambut perantau yang dianggapnya sukses.

Di dapur, Ibu masih menggunakan kayu bakar bila menjerang air. Kompor gas yang kubelikan dari kota di kepulangaku yang pertama tak kelihatan. Padahal, Ibu sudah pandai menggunakannya. Kala kutanya, Ibu lebih senang menggunakan kayu bakar ketimbang memutar pemantik api kompor itu.

Bapak semakin tua, pagi ini saya memintanya bercerita tentang koperasi. Dijawabnya, kalau ada baiknya ditutup saja dan memintaku lebih baik langsung menyumbangkan uang ke masjid atau ke panti asuhan bila ada rezeki. Gelagatnya menghendaki agar saya tidak banyak bertanya. Kepulan rokok kreteknya seketika bercampur dengan asap dari tungku.

“Koperasi itu hanya membuat warga semakin marah pada Pak desa, kalau saja bukan Bapakmu, mungkin Pak desa sudah digantung,” ucap Ibu kemudian.

“Sudahlah, tidak perlu kau ceritakan itu,” Bapak mencegat.

“Saya belum mengerti apa yang terjadi,”

“Ada baiknya, kau segera saja ke kota, jangan kira Pak desa tidak mengetahui kedatanganmu,” ucap Bapak lagi.

“Tetapi, tidakkah Bapak dan Ibu melihatku di sini dan bertanya lebih jauh tentang pekerjaanku di kota tanpa perlu meladeni warga yang datang. Sekaranglah saatnya kita memiliki waktu bersama.”

“Bapak percaya, nak, kau tidak akan membuat kami malu. Pak desalah yang membuat kami malu.”

“Saya semakin tidak paham.”

“Setelah kau mandi dan meminum kopi buatan Ibumu. Pergilah, pintu itu bukan hanya untuk kedatangan, tetapi disiapkan juga sebagai jalan keberangkatan,”

“Bapak mengusirku?”

“Tidak, nak, pergilah. Dengarlah kata Bapakmu,” kali ini Ibuku bangkit dan berdiri di sampingku.

“Saya akan pergi, jika Bapak dan Ibu menjelaskan alasan yang bisa kuterima.”

Bapak memelukku. Sangat erat.

“Kau harus tahu, Pak desalah yang membunuh Wa Lau, agar ia punya alasan meminjam uang di koperasi membangun saluran air karena anggaran dana desa tidak cukup. Polisi sudah mengetahui itu, Pak desa kini sudah dipenjara. Tetapi, dalam keterangannya yang saya peroleh dari Polisi, namamu disebut. Katanya, kau bekerja sama dengan pak desa untuk menyingkirkan Wa Lau.”

Ibu berbalik dan Bapak melepas pelukannya, “Pergilah! Jangan kembali lagi!”

***



===================

F Daus AR, cerpenis, narablog kamar-bawah.blogspot.com dan terlibat kerja apa saja.

Ayah yang Membenci Matahari

0

Cerpen Herumawan P A

Adi kecil senang pada sinar matahari yang masuk ke dalam rumah. Karena setiap pagi, sang ibu selalu membuka semua jendela di rumahnya.Ia pun lebih sering bermain-main dengan sinar matahari itu.

Adi biasanya akan menari-nari di bawah sinar matahari yang masuk lewat jendela. Atau berjemur sambil bercanda riang di bawah sinar matahari bersama kedua orang tuanya

Begitu pula, Pak Basri sang ayah. Hidup Pak Basri tambah senang ketika sang istri mengandung anak kedua seorang perempuan yang sangat dinantikannya. 

Malam hari itu, sang ibu yang sedang hamil hendak melahirkan, Pak Basri ditemani Mbok Siyem, pembantu membawanya ke puskesmas. Adi disuruhnya tetap di rumah.

Ketika tiba di puskesmas, sang istri disuruh pulang karena menurut dokter jaga belum waktunya melahirkan. Pak Basri lalu minta rujukan ke rumah sakit tapi dokter tak memberinya. Karena tak terdaftar BPJS. Pak Basri terpaksa membawa pulang sang istri.

Jelang pagi hari, sang istri benar-benar akan melahirkan. Pak Basri ditemani Mbok Siyem membawanya kembali ke puskesmas. Dokter segera memberi rujukan ke rumah sakit.

Pak Basri ingin memakai ambulans puskesmas. Tapi bidan yang bertugas memberitahu sopir tak ada di tempat. Tak mau berdebat dan juga karena iba melihat sang istri merintih kesakitan, Pak Basri meminjam mobil pick up milik salah satu tetangganya, Bu Ani.

Beruntung, Bu Ani mau meminjamkan mobil pick up beserta sopirnya. Pak Basri langsung membawa sang istri di belakang mobil pick up menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan, hujan turun lebat. Pak Basri memilih berteduh di emperan toko dulu.

Di sela berteduh, Pak Basri mencoba menelepon taksi karena melihat sang istri yang tampak kedinginan dan terus merintih kesakitan ditemani Mbok Siyem. Tapi pulsanya tak mencukupi untuk telepon. Ketika hendak kirim sms untuk beli pulsa, ponselnya malah mati karena baterainya habis.

Saat hujan mulai reda, Pak Basri bergegas melanjutkan perjalanan.  Tiba di rumah sakit, jabang bayi ternyata sudah meninggal. Pak Basri sedih sekali.

Beberapa jam kemudian, sang istri menyusul meninggal dunia. Pak Basri benar-benar terpukul sekali. Dan bingung menjelaskan pada Adi, anaknya.

Beruntung, Mbok Siyem mau menceritakan pada Adi tentang apa yang terjadi pada sang ibu dan calon adiknya itu. Adi sedih sekali mendengar ibu dan calon adiknya sudah meninggal.

Seusai pemakaman, Pak Basri menangis meraung-raung dalam rumah. Memecahkan semua benda dan barang. Adi merasa begitu ketakutan. Mbok Siyem langsung memeluk Adi. Pelukannya seperti seorang ibu. Hangat dan mententramkan hati.

Sementara itu, Pak Basri masih saja menangis meraung-raung. Lalu beberapa detik kemudian berganti makian dan cacian. tak bisa mengontrol emosinya. Alih-alih menyalahkan dokter, hujan lebat atau Tuhan, Pak Basri malah memilih menyalahkan matahari. Karena dipikirnya kalau matahari bersinar terang, sang istri dan jabang bayinya bisa diselamatkan.

 Pak Basri terus menerus memaki Matahari. Menyalahkan Matahari sebagai penyebab kematian istri dan calon jabang bayi perempuannya.  

“Wahai Matahari terbit, kau sudah renggut nyawa dua orang yang kusayangi. Mulai hari ini, kunyatakan perang padamu. Aku janji tak mau lagi bertemu denganmu. Aku hanya akan pergi ketika kau sudah terbenam dan pulang ketika kau akan terbit.” Pak Basri bersumpah. Ia benar-benar tak ingin bertemu lagi dengan Matahari. Ia sudah terlalu membencinya. Sejengkal cahaya Matahari pun tak boleh masuk ke dalam rumah. Jendela, kaca hingga ventilasi udara langsung ditutupi kain korden atau koran bekas. Sebagian warga kampung menganggap kelakuan ayah aneh. Tapi ia sudah tak peduli dianggap aneh atau gila.

***

Pak Basri pun pindah kerja dari semula tukang parkir ke tukang cuci piring di sebuah rumah makan. Setiap pagi, ia berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam.

Teman-teman kerja Pak Basri heran melihatnya tak pernah keluar rumah makan setiap istirahat makan siang. Pak Basri memilih memakan bekalnya di dapur. Hingga suatu hari, Pak Badrun pemilik rumah makan berulang tahun. Semua karyawan diundangnya makan di luar. Pak Basri langsung menolaknya. Pak Badrun tak terima. Dan langsung memecat Pak Basri dengan pesangon tak seberapa.

Pak Basri pun lebih sering berada di rumah bersama Adi dan Mbok Siyem. Tapi itu membuatnya stress.

Mbok Siyem bekerja serabutan sebagai buruh cuci dan penual gado-gado keliling untuk memenuhi kebutuhan hidup ketiganya. Tak lupa, Mbok Siyem menasehati Pak Basri agar banyaknya waktu di rumah dimanfaatkan untuk beribadah dan lebih menyayangi Adi, anaknya. Pak Basri menuruti nasehat Mbok Siyem.

Adi dan Pak Basri pun jadi lebih akrab. Keduanya saling menyayangi. Adi tak pernah mempermaslahkan perilaku Pak Basri ayah yang menutupi semua jendela rumah dengan banyak kertas koran baik dii dalam maupun luar.

Adi juga tak mengubris omongan sebagian warga kampung yang menganggap perilaku sang ayah seperti orang stres, gila dan ada yang bilang sudah menjadi Dracula. Anak-anak pun takut bermain di dekat rumah Adi. Tapi Adi tetap berpikir positif, itu hanya sementara. Sang ayah nanti juga tak begitu lagi.

***

Ketika Adi sudah tumbuh dewasa, Mbok Siyem dipanggil keluarganya kembali ke desa untuk momong cucu. Adi sedih. Sepeninggal Mbok Siyem kembali ke desa, Adi harus banting tulang mencukupi kebutuhan hidup ia dan ayahnya.  

Beruntung, Adi memiliki ketrampilan mengoperasikan komputer. Ia pun diterima kerja di perusahaan yang cukup jauh dari rumahnya. Pak Basri, sang ayah tak mempermasalahkannya, ia malah senang.

Adi lantas bekerja baik. Ia sering mendapat bonus. Bahkan akan dipromosikan ke kantor pusat. Tapi Adi menolaknya karena Pak Basri tiba-tiba jatuh sakit. Walaupun jatuh sakit, Pak Basri tak mau dibawa ke rumah sakit. Terpaksa, Adi memanggil dokter puskesmas.

Melihat dokter puskesmas datang, Pak Basri teringat peristiwa yang membuat istri dan sang jabang bayinya meninggal. Pak Basri yang masih dendam lalu mengusir pergi dokternya. Adi berusaha menengahi. Tapi malah Adi yang terkena marah.

Adi yang kesal lantas mencopoti kertas koran yang menutupi jendela. Ia beranggapan itulah penyebab Pak Basri sang ayah jatuh sakit. Karena kurang dapat sinar matahari untuk tulang dan tubuhnya.

Tapi tindakanku itu diketahui Pak Basri. Ia tampak marah. Pipi Adi dua kali ditamparnya, kanan dan kiri. Lalu menyuruh sang anak kembali menutupi lagi. Adi hanya menurut saja.

Pak Basri tak mau berbicara lagi dengan Adi. Kalaupun mau bicara, ia tuliskan di atas kertas putih lalu menunjukkannya pada Adi.

***

Begitulah rasa benci Pak Basri pada Matahari sudah mengalahkan segalanya. Dan semenjak itu, Pak Basri selalu mendiamkan Adi. Tak pernah bertegur sapa dengan sang anak. Pak Basri hanya mau berkomunikasi lewat perantara kertas.

“Bagiku, Matahari ciptaan Tuhan yang paling indah dan bermanfaat.”

“Tanpa Matahari, tak mungkin makhluk hidup, tumbuhan dan pepohonan bisa hidup.” Adi berbicara sendiri di dalam kamar. Sepi, tak ada mendengarkan dan memperhatikan keluh kesahnya. Hati kecilnya tak beraksi, diam tanpa suara.

Adi lalu bangun dari tempat tidurnya.

“Mungkin ini waktunya, aku pergi dari rumah.” batin Adi sambil membereskan pakaian dan barang-barangnya sendiri. Ia sudah muak dengan sikap sang ayah yang selalu menyalahkan Matahari sebagai biang kematian ibu dan adiknya. Tak habis pikir pula, Adi dengan sikap Pak Basri yang membenci Matahari selama ini.

Sudah bulat Adi putuskan pergi dari rumah. Sang ayah pasti tak akan mengizinkan, Karena Pak Basri masih membutuhkan Adi. Tapi ia sudah tak peduli lagi.

***

         Kini, Adi terpekur di samping pusara sang ayah. Seminggu lalu, Adi membaca berita kematian sang ayah di sebuah koran. Tak terasa sudah setahun, Adi meninggalkan rumah tanpa jendela itu. Dan selama itu pula, ia membiarkan sang ayah hidup sendiri. Tanpa sinar matahari yang cukup dan tak ada yang rutin mengurusnya.

         Adi akui ia memang anak durhaka. Membiarkan Pak Basri sendirian dalam kegelapan. Kini Adi tampak menyesali keputusannya meninggalkan rumah. Menyesali mengapa ia tak bisa sedikit bersabar menghadapi sang ayah.

Adi menengok ke belakang, memandangi sosok seorang perempuan yang sedang hamil dua bulan, tak jauh dari tempatnya terpekur. Ia istri Adi yang dinikahi setahun lalu tanpa memberitahu sang ayah. Adi berharap ketika nanti anaknya lahir, ia tak ingin sang anak sepertinya, yang tega meninggalkan sang ayah sendirian.

Yogyakarta, 24 Juni 2019

Herumawan Prasetyo Adhie, lahir di Yogyakarta, 30 September 1981. Seorang pejalan kaki yang memilih naik trans Jogja atau becak ketika lelah melanda, juga pemerhati sepak bola dan suka sekali menulis apapun. Mulai artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita anak, cerita lucu hingga cerita misteri (mistik/seram). Karya cerpen pernah dimuat di Apajake.id, Bangka Pos, Banjarmasin Pos, Harian Analisa Medan, Harian Jogja, Joglosemar, Harian Rakyat Sultra, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Majalah Story, Minggu Pagi, Majalah Kuntum, Republika, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Lampung, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Serambi Ummah, Solopos. Tabloid Nova dan Utusan Borneo (salah satu surat kabar Malaysia).

Hilangnya Badut-badut

0





TIADA lagi badut-badut di sekitar lampu lalu lintas. Atau, badut-badut yang disewa oleh seseorang demi membuat tawa anaknya terkembang. Baru-baru ini, para pelawak itu seperti dilahap bumi. Kabar itu, lantas membuat Nio ketakutan setengah mati.

***

Nio menjadi badut lantaran peruntungan sebagai loper tidak membawa kemujuran. Ia mengungkapkan pada Nurmala, bahwa profesi badut sedang digandrungi. Badut-badut di kota ini tak ubahnya selebriti. Keberhasilan menghibur menjadi buah ketenaran. Nio tergiur. Sejak kecil, ia kepengin dielu-elukan oleh banyak orang. Karena itulah, ia banting setir, memutuskan jadi badut. Kendatipun hanya sebagai badut jalanan.

“Aku ingin menjelma penghibur, macam entertainment di TV. Seandainya tidak ada yang terhibur, setidaknya aku dapat menghibur diriku sendiri,” kelakar Nio pada Nurmala di pagi yang hangat. Lelaki itu seperti menjumpai matahari terbit di wajahnya.

“Semoga, kau dapat mengembalikan senyum orang-orang yang hilang,” riang Nurmala, mengelus pipi Nio. Barangkali, ia bermaksud supaya matahari di wajah suaminya itu tidak lantas pudar maupun terbenam.

Profesi badut memanglah sedang digandrungi banyak orang. Itu lantaran kesedihan tengah merajalela. Semua orang percaya, bahwa kota mereka tengah dijadikan persinggahan bagi kesedihan. Kesedihan laksana banjir yang menenggelamkan orang-orang. Tiap hari, selalu ada orang yang menangis. Tempo waktu, Juleha menangis tergugu-gugu. Matanya beriak, lalu meluap bagai Sungai Ciliwung menenggelamkan Jakarta.

“Kaulihat, Juleha menangis. Istri Pak Walikota itu bersedih. Dan, barangkali aku juga bakal menangis. Istriku juga akan menangis dan anak-anakku meniru tangisan kami berdua. Apakah suatu saat nanti, kami akan menangis bersama seperti festival?”

Itulah yang dirasakan oleh orang-orang. Di tengah kesedihan yang mewabah, Nio merasa menjadi pahlawan. Tidak hanya sekadar selebriti, ia serasa jadi superhero. Nio, dengan pijar di matanya serta senyum yang selalu terkembang, mengenakan kostum badut; wig pelangi, hidung tomat, perut buncit, serta pakaian cerah lagi meriah.

Saban pagi, Nio mengangsurkan punggung tangannya supaya dicium Nurmala. Lepas itu, Nurmala menyiapkan keningnya buat dicium Nio. Mereka laksana pengantin yang baru menikah. Sebelum pergi, Nio merapikan kostum badutnya dan diakhiri dengan mengucap salam. Nurmala melambaikan tangannya, seraya membalas salam suaminya. Nio—dengan gagah—melangkah pergi, seperti pegawai hendak masuk kantor.

Hari ini merupakan hari keberuntungan Nio. Ia tak perlu berjoget bersama badut-badut lainnya di pinggir lampu lalu lintas. Tak perlu berkeringat di bawah terik matahari demi mendapat sepeser uang dari pengendara. Sebab, Kaji Moekijat telah menyewa jasanya untuk menghibur anaknya yang kini tengah merayakan ulang tahun.

“Dua juta rupiah, kurang tidak?” Begitu ucap Kaji Moekijat tempo waktu, yang lantas membuat senyum Nio mengembang seperti adonan kue berangsur matang.

Kaji Moekijat menyambut Nio seumpama pahlawan baru tiba di medan laga.

Begitu Nio selesai menghibur anak Kaji Moekijat, ia lantas pulang dengan membawa segepok uang. Senyumnya tak henti-hentinya meriap di bibirnya. Dan, sampai saat Nio pulang ke rumah, undangan demi undangan datang silih berganti. Tiap hari, selalu saja ada yang membutuhkan jasanya. Ada saja yang bertandang ke rumah Nio, membawa iming-iming berupa imbalan yang menggiurkan. Nio senang dan mulai membeli barang-barang.

Nurmala merasa senang, lantaran punya baju baru. Anak-anak Nio gembira, memiliki mainan anyar. Mereka tidak lagi menjadi keluarga yang menyedihkan. Dan, Bahkan, mereka mulai merencanakan vakansi ke luar negeri. Betapa kehidupan yang hangat.

Tetapi, Nio lupa bahwa dunia tidak akan berlangsung secara baik-baik saja. Hampir semua orang mungkin saja sudah mengenalnya sebagai pembawa berkah; badut kenamaan yang dielu-elukan banyak orang demi menyirnakan kesedihan. Dan, bahkan, sebagian telah memujanya. Menganggap Nio sebagai dewa. Akan tetapi (ya, tetapi), ia tidak sadar kalau dirinya tengah jadi incaran. Itulah yang dialami Nio ketika sekelompok orang menamakan diri sebagai Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu.

Seumpama sebuah rezim, komisi tersebut bertekad memberantas para pencemar kota. Pencemaran yang mereka maksud tatkala mendapati kualitas badut yang buruk dan kualitas itu dinilai berdasarkan lelucon yang para badut itu peragakan.

Badut-badut yang masuk DPO acap kali hilang tak keruan juntrungan. Minggu lalu, Kirun sudah tidak tampak batang hidungnya. Sehari setelah melawak di pinggir lampu lalu lintas, badut malang itu hilang bagai dilahap bumi. Tidak hanya Kirun semata. Bagio juga pernah mengalami hal serupa. Bahkan, lebih parah. Hanya berselang waktu beberapa jam setelah melawak, mayat Bagio ditemukan hanyut di mulut sungai.

“Mereka memperlakukan badut serupa seekor anjing. Bahkan, lebih dari itu; mereka membunuh belasan badut tanpa proses peradilan. Dan, yang jadi soal, apa kesalahan para badut itu hingga mereka tega membunuhnya? Apakah hanya karena dinilai kurang jenaka? Ladalah, kota ini makin lama makin kacau,” sedih seseorang.

“Profesi badut pun dihukumi macam koruptor saja. Padahal, sudah jelas-jelas bahwa mereka berusaha menghibur, bukan mengerat uang rakyat!”

Protes sebagian orang tidak akan menghasilkan apa-apa, selain kesia-siaan belaka. Anggota Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu tersebar di mana-mana. Mereka seperti hantu yang bergentayangan di tiap penjuru. Mata mereka mirip teropong. Dari jarak jauh, mereka lekas tahu: siapa badut yang mesti mereka hilangkan. Hingga, sejauh mata mereka memandang, berjumpalah para anggota komisi itu dengan sosok Nio.

“Surat kabar mewartakan bahwa namaku termaktub dalam DPO para komisi keparat itu,” sedih Nio, kepalanya terjerembap di ketiak Nurmala.

“Tenanglah. Tenang, Suamiku. Kau tidak akan kenapa-kenapa.”

“Tetapi, Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu tidak pernah mengingkari ucapan mereka. Aku takut bila esok, nyawaku melayang begitu saja hanya karena gagal menghibur anak Bu Juleha, istri Walikota itu.” Nio menangis sesenggukan seperti bayi.

“Kau, kan, dapat berkilah, bahwa kejadian itu hanyalah kecelakaan belaka.” Nurmala merangkul Nio, semupama merangkul seorang bocah. “Lagi pula, kau bermaksud mengibur, bukan beritikad membunuh anak Bu Juleha.”

“Apakah komisi itu akan membebaskanku?” cemas Nio, matanya beriak.

“Katakanlah pada komisi berengsek itu, bahwa kau telah mengembalikan senyum anak-anak yang hilang. Setidaknya, anak-anak di kota ini kembali mengenal senyuman. Kebahagiaan kembali merekah laksana setangkai mawar menjumpai musim berbunga. Kau tak ubahnya pahlawan, kendatipun tidak berperang melawan bala tentara.”

Nio tersenyum simpul. Kalimat Nurmala membikin kecemasan Nio menguap. Ia tak perlu khawatir terhadap ancaman Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu. Sebab, ia merasa tidak bersalah dan dapat berkilah, atau membalikkan tuntutan. Hingga, sampailah Nio pada hari berikutnya. Hari di mana kebahagiaan datang bagai hantu yang sering tidak terduga. Kebahagiaan itu berupa seamplop undangan dari seseorang.

“Kau lihat, seseorang menawariku jadi badut di pesta ulang tahun anaknya. Dan, coba kautengok! Seseorang itu mengupahiku sepuluh juta. Sepuluh juta,” girang Nio, sembari menyerahkan surat undangan itu pada Nurmala. Sesaat, ia berjingkrak-jingkrak serupa anak SD dapat mobil-mobilan. “Sebentar lagi, kita akan bervakansi ke Jerman.”

Hari itu, Nio mulai berangkat. Dan, seperti hari-hari sebelumnya, ia mengangsurkan punggung tangannya buat dicium Nurmala. Setelahnya, Nurmala menyiapkan kening untuk dicium Nio. Lantas, Nio merapikan kostum badutnya. Menyapunya dari debu-debu yang merajalela. Nio juga memasang hidung tomat, serta memasukkan sejumlah perca, agar perut tak terlihat mengerut. Tampaklah ia serupa badut pahlawan pengusir kesedihan.

Nio beranjak pergi bagai pegawai kantor hendak menerima gaji. Dari jauh, Nurmala melambai-lambaikan tangannya. Melepas kepergian suaminya menuju medan laga. Sekilas, keluarga kecil itu tampak hangat. Sehangat matahari pukul tujuh pagi. Kendatipun mereka tidak sadar, bahwa Nio tidak akan pernah kembali pulang. ***

Kota Gadis, 2019





======================

Hendy Pratama, Lahir dan menetap di Madiun, Gemar menulis puisi, cerpen, dan esai. Berkegiatan di komunitas sastra Langit Malam. Heliofilia merupakan buku kumpulan cerpen perdananya

Anggur

0


Seorang pria dan wanita berjalan menuju bulevar dari sebuah hotel kecil di pinggir jalan.

Pepohonan masih tak berdaun, hitam, dingin; tetapi ranting-ranting yang runcing telah menonjol menjelang musim semi, sehingga menengadah ke atas dengan harapan akan menghijau berkilau untuk pertama kali. Namun semuanya tenang, dan langit biru teduh, klasik.

Pasangan itu melangkah perlahan. Berusaha, setelah berhari-hari bermalasan, tampak mustahil; dan hampir seketika mereka masuk ke dalam kafe dan menghilang, terpuruk seolah-olah lelah, di ruang berdinding kaca yang menjorok ke depan ke jalan.

Tempat itu kosong. Orang-orang memburu makan siang di restoran. Tidak semua: massa pagi itu berdemonstrasi, prosesi baru saja berlalu, dan ujungnya yang terurai masih bisa dilihat. Suara-suara kekerasan, meneriakkan slogan dan menyanyi, tidak lagi menyerap hiruk-pikuk lalu lintas Paris; tapi suara-suara inilah yang membangunkan pasangan itu dari tidur mereka.

Seorang pelayan bersandar di pintu, melihat kerumunan berlalu, dan dengan enggan pria itu memesan kopi.

Dia menguap; pasangannya ikut-ikutan; dan mereka tertawa dengan perasaan bersalah dan bertukar pandang di depan mata mereka sendiri, tanpa penyesalan, duduk terpisah. Ketika kopi datang, kopi itu tetap tidak tersentuh. Tidak ada yang berbicara. Sesaat wanita itu menguap lagi; dan kali ini pria itu berbalik dan memandangnya dengan tajam, dan yang dipandang menoleh ke belakang. Rasanya ingin tertidur, mereka menatap. Kali ini terasa tetap: bahwa sementara segala sesuatu mendorong mereka lelap, mereka menerima satu sama lain ironi yang menyedihkan; mereka bisa saling memandang tanpa ilusi, mata menatap mantap.

Dan kemudian, mau tidak mau, kesedihan semakin mendalam di dalam diri wanita itu sampai dia dengan sadar menepisnya; dan di dalam diri pria itu muncul sekejap keusilan.

“Hidungmu perlu bedak,” kata sang pria.

“Kamu butuh pelayan mencambukmu.”

Tapi pria itu selalu menolak untuk merasa sedih. Sang wanita mengangkat bahu, dan, membiarkannya, berbalik untuk melihat keluar. Begitu juga sang pria. Di ujung bulevar, ada kegelisahan yang samar, seperti semut yang berbaur, dan wanita itu mendengarnya bergumam, “Ya, dan itu masih berlanjut…”

Mengejek, sang wanita membalas, “Tidak ada yang berubah, semuanya selalu sama…”

Tapi pria itu sudah merona. “Aku ingat,” dia memulai, dengan suara yang berbeda. Dia berhenti, dan sang wanita tidak mendesaknya, karena lawan bicaranya sedang menatap demonstran yang jauh dengan wajah pahit penuh nostalgia.

Di luar lalu-lalang para pencinta, pasangan menikah, mahasiswa, orang tua. Di sana pohon-pohon telanjang; di atas langit biru teduh. Sebulan lagi pohon-pohon akan berwarna hijau cerah; matahari akan mencurahkan panas; kulit orang-orang akan menjadi cokelat, tertawa, telanjang kaki. Tidak, tidak, kata wanita itu pada dirinya sendiri, pada visi peristiwa ini. Lebih baik kesedihan statis. Dan, sekaligus, ketidakbahagiaan merebak di dalam dirinya, tercekat, dan ia kembali terkenang lima belas tahun silam di negara lain. Dia berdiri di bawah sinar bulan tropis yang terik, merentangkan kedua tangannya ke lanskap yang tidak menawarkan apa pun selain kesunyian; dan kemudian dia berlari menyusuri jalan setapak di mana batu-batu kecil berkilauan tajam di bawah kaki, sampai akhirnya dia jatuh di petak rumput yang berkilau. Limabelas tahun.

Pada saat itulah pria itu tiba-tiba berbalik dan memanggil pelayan dan memesan anggur.

“Apa,” katanya lucu, “sudah?”

“Kenapa tidak?”

Untuk saat ini sang wanita sangat mencintainya, sampai dia menekan kepura-puraan dan mengawasinya menunggu, gelisah, untuk anggur, menuangkannya, dan kemudian meletakkan dua gelas di depan mereka di samping cangkir kopi yang masih penuh. Tetapi dia ingat lagi malam itu, iri pada gadis yang gembira dengan cahaya bulan, yang berlari dengan gila-gilaan di antara pohon-pohon dalam keinginan yang tak tertandingi entah untuk apa — tapi itu intinya.

“Apa yang kamu pikirkan?” sang pria bertanya, masih sedikit jahil.

“Ohhh,” protesnya penuh humor.

“Itulah masalahnya, itu masalahnya.” Dia mengangkat gelasnya, meliriknya, dan meletakkannya. “Apakah kamu tidak ingin minum?”

“Belum.”

Dia meninggalkan gelasnya tanpa disentuh dan mulai merokok.

Momen-momen ini menuntut semacam isyarat — sesuatu yang kecil, bahkan santai, tetapi masih merupakan pengakuan atas keterpisahan dua orang satu sama lain; yang dilihat, mungkin, sebagai mata lembut yang tidak pernah tertutup, mengamati, selalu mencermati, dengan belas kasih yang letih; yang lain, bentuk kekerasan yang berkutat dalam siklus keinginan dan istirahat, kreasi dan prestasi.

Dia memberikannya pada sang wanita. Lagi-lagi mata mereka bertemu dalam ironi terkubur, sebelum pria itu berbalik, menjentikkan jari-jarinya ke meja; dan wanitanya berbalik juga, untuk memperhatikan ranting-ranting hitam tempat getah bergumpal.

“Aku ingat,” prianya memulai; dan sekali lagi wanita itu berkata, sebagai protes, “Ohhh!” Sang pria memeriksa dirinya sendiri. “Sayang,” katanya datar, “kaulah satu-satunya wanita yang pernah kucintai.” Mereka tertawa.

“Pasti jalan ini. Mungkin kafe ini — hanya saja mereka mengubahnya. Ketika aku kembali kemarin untuk melihat tempat di mana aku datang setiap musim panas, itu sebuah toko kue, dan wanita itu telah melupakan aku. Ada banyak sekali memori yang mendesak di antara kami — kami biasa pergi bersama-sama — dan aku bertemu seorang gadis di sini, kupikir, untuk pertama kalinya.

“Ada beberapa tempat yang dikenal untuk dihubungi; orang-orang yang datang dari Wina atau Praha, atau di mana pun itu, tahu tempat-tempat itu — tidak mungkin kafe ini, kecuali mereka sudah memperbaikinya. Kami tidak punya uang untuk menikmati semua sofa kulit dan kuningan ini.”

“Baiklah, lanjutkan.”

“Aku terus mengingatnya, untuk beberapa alasan. Sudah bertahun-tahun tidak memikirkannya. Dia sekitar enam belas, kurasa. Sangat cantik — tidak, kamu salah besar. Kami dulu belajar bersama. Dia biasa membawa buku-bukunya ke kamarku. Aku menyukainya, tetapi aku punya gadisku sendiri, hanya saja dia sedang mempelajari sesuatu yang lain, aku lupa apa.” Dia berhenti lagi, dan lagi wajahnya dipelintir nostalgia, dan tanpa sadar dia melirik ke belakang di jalan. Prosesi demo telah sepenuhnya menghilang; bahkan suara nyanyian dan teriakan tetap terdengar.

“Aku ingat dia karena…” Dan, setelah keheningan yang suntuk: “Mungkin selalu begitulah nasib perawan yang datang dan menawarkan dirinya sendiri, telanjang, untuk ditolak.” 

“Apa!” sang wanita berseru, kaget. Juga, kemarahan terbangkitkan dalam dirinya. Dia mencatatnya, dan menghela nafas. “Lanjutkan.”

“Aku tidak pernah bercinta dengannya. Kami belajar bersama sepanjang musim panas itu. Kemudian, suatu akhir pekan, kami semua pergi bergerombol. Tak satu pun dari kami yang punya uang, tentu saja, dan kami biasa berdiri di trotoar dan mengemis tumpangan, dan bertemu lagi di beberapa desa. Aku bersama gadisku sendiri, tetapi malam itu kami membantu petani mendapatkan buahnya, membayar karena memakai lumbungnya buat menumpang tidur, dan aku menemukan gadis ini Marie ada di sampingku. Disinari cahaya bulan, malam yang indah, dan kami semua bernyanyi dan bercinta. Aku menciumnya, tapi itu saja. Malam itu dia mendatangiku. Aku tidur di loteng dengan anak lain. Dia tertidur. Aku menyorongnya kembali ke yang lain. Mereka semua bersama di bawah jerami. Aku katakan padanya bahwa dia terlalu muda. Tapi dia tidak lebih muda dari gadisku sendiri.” Dia berhenti; dan setelah bertahun-tahun, wajahnya sedih dan bingung. “Aku tidak tahu,” katanya. “Aku tidak tahu mengapa aku mendorongnya kembali.” Lalu dia tertawa. “Kurasa itu tidak penting.”

“Bajingan yang tak tahu malu,” kata sang wanita. Kemarahannya kuat sekarang. “Kau menciumnya, bukan?”

Dia mengangkat bahu. “Tapi kita semua memainkan ketololan. Itu adalah malam yang indah — mengumpulkan buah apel, petani itu berteriak dan bersumpah pada kami karena kami bercinta lebih daripada bekerja, dan bernyanyi dan minum anggur. Selain itu, saat itu: gerakan pemuda. Kami menganggap kesetiaan dan kecemburuan dan semua hal semacam itu sebagai sisa-sisa moralitas borjuis.” Dia tertawa lagi, agak menyakitkan. “Aku menciumnya. Di sana dia, di sampingku, dan dia tahu gadisku bersamaku akhir pekan itu.”

“Kau menciumnya,” wanita itu menuduh.

Dia meraba batang gelas anggurnya, menatapnya dan menyeringai. “Ya, Sayang,” dia hampir membohongi wanita itu. “Aku menciumnya.”

Dia tersentak marah. “Ada seorang gadis yang siap untuk cinta. Kau memanfaatkannya untuk bekerja. Lalu kau menciumnya. Kau brengsek benar…”

“Apa yang aku tahu dengan baik?”

“Itu hal yang kejam untuk dilakukan.”

“Aku sendiri masih belia…”

“Tidak masalah.” Dia mencatat, dengan tidak nyaman, bahwa dia hampir menangis. “Bekerja dengannya! Bekerja dengan seorang gadis berusia enam belas tahun, sepanjang musim panas!”

“Tapi kami semua belajar dengan sangat serius. Dia adalah seorang dokter setelah itu, di Wina. Dia berhasil keluar ketika Nazi masuk, tetapi…”

Sang wanita berkata dengan tidak sabar, “Lalu kamu menciumnya, pada malam itu. Bayangkan dia, menunggu sampai yang lain tertidur, lalu dia naik tangga ke loteng, takut lelaki lain mungkin terbangun, lalu dia berdiri memperhatikanmu tidur, dan dia perlahan membuka pakaiannya dan…”

“Oh, aku tidak tidur. Aku pura-pura begitu. Dia datang berpakaian. Celana pendek dan sweater — gadis-gadis saat itu tidak mengenakan gaun dan lipstik — lebih banyak moralitas borjuis. Kusaksikan dia menelanjangi dirinya. Apartemen itu penuh dengan cahaya bulan. Dia meletakkan tangannya di mulutku dan turun di sampingku.” Sekali lagi, wajahnya dipenuhi dengan rasa takjub yang menyedihkan. “Tuhan tahu, aku sendiri tidak bisa memahaminya. Dia adalah makhluk yang cantik. Aku tidak tahu mengapa aku mengingatnya. Sudah menggelayuti pikiranku beberapa hari terakhir.” Setelah jeda, perlahan memutar gelas anggur: “Aku sudah gagal dalam banyak hal, tetapi tidak dengan…” Dia dengan cepat mengangkat tangan wanita itu, menciumnya, dan berkata dengan tulus, “Aku tidak tahu mengapa kuingat dia sekarang, ketika…”  Mata mereka bertemu, dan mereka menghela nafas.

Wanitanya berkata perlahan, tangannya tergeletak di tangan sang pria, “Jadi kau menolaknya.”

Dia tertawa. “Pagi berikutnya dia tidak mau bicara padaku. Dia memulai hubungan asmara dengan sahabatku — pria yang berada di sampingku malam itu di loteng, sebenarnya. Dia membenci nyaliku, dan kukira dia benar.”

“Pikirkan dia. Pikirkan dia pada saat itu. Dia memungut pakaiannya, hampir tidak berani menatapmu…”

“Sebenarnya, dia sangat marah. Dia memaki dengan semua cacian yang bisa dia pikirkan; Aku harus terus mengatakan padanya untuk tutup mulut, dia akan membangunkan orang satu rumah.”

“Dia menuruni tangga dan berpakaian lagi, dalam gelap. Kemudian dia keluar dari gudang, tidak bisa kembali ke yang lain. Dia pergi ke kebun. Sinar bulan masih terang. Segalanya sunyi dan sepi, dan dia ingat bagaimana kalian semua bernyanyi, tertawa, dan bercinta. Dia pergi ke pohon tempat kau menciumnya. Bulan bersinar di pohon apel. Dia tidak akan pernah melupakannya, tidak pernah, tidak akan pernah!”

Pria itu menatapnya dengan rasa ingin tahu. Air mata mengalir deras di wajah sang wanita.

“Mengerikan,” kata wanita itu. “Mengerikan. Tidak ada yang bisa menebusnya untuk itu. Tidak ada, selama dia hidup. Tepat ketika segala sesuatunya paling sempurna, seumur hidupnya, dia tiba-tiba teringat malam itu, berdiri sendirian, jiwanya tidak di mana pun, bermil-mil cahaya bulan hampa yang terkutuk…”

Dia menatap wanita itu dengan lihainya. Kemudian, lewat semacam seringai lucu dan tercela, dia membungkuk dan menciumnya dan berkata, “Sayang, itu bukan salahku; itu bukan salahku.”

“Tidak,” katanya.

Pria itu menaruh gelas anggur ke tangan sang wanita; dan wanita itu mengangkatnya, memandangi gumpalan kecil cairan penghangat, dan mereka minum bersama.

===================
Doris Lessing, nama lengkapnya Doris May Lessing, nama aslinya Doris May Tayler, dilahirkan 22 Oktober 1919 di Kermanshah, Persia (sekarang Iran) dan wafat 17 November 2013 di London. Penulis Inggris yang novel dan cerpennya sebagian besar berisi keprihatinan terhadap orang-orang yang terlibat dalam pergolakan sosial dan politik abad ke-20. Dia dianugerahi Hadiah Nobel untuk Sastra pada 2007. Cerpen ini diterjemahkan oleh Arpan Rachman, jurnalis lepas, menyelesaikan program sertifikasi English for Journalism dari University of Pennsylvania (2016).

Terbaru

Adegan yang Terus Berputar

RAIN "Rain, rain, go away, come again another day, little Johnny wants to play. Rain,...

Dari Redaksi