Esai

Home Esai

Setelah Pena Lebih Tajam dari Pedang, Selanjutnya Apa?

0




Pasase klasik pena lebih tajam dari pedang yang ditulis oleh Edward Bulwer-Lytton di naskah drama Cardinal Richelieu (1839) nampaknya akan bertransformasi. Teks-teks di sebuah buku kini akan berebut “panggung” dengan ragam wacana yang berseliweran di media sosial. Dari siniar (podcast), video blog dan ragam budaya populer lainnya. Sastrawan atau penulis yang menulis karya sastra di era digital kiranya akan mengalami beragam tafsir dan modifikasi ruang, dan juga bisa tercabut dari akar itu sendiri.

Beragam tafsir yang saya maksud adalah ketika seorang penyair menulis sebuah puisi secara tuntas—lalu akun pada sebuah media sosial memotong puisi utuh tersebut menjadi sebuah kutipan. Suasana yang terbangun akan berbeda dan mengalami modifikasi ruang; dapat disalin tempel dan direproduksi sedemikian rupa hingga beranak pinak. Ketika aksara cetak lahir dengan mesin buatan Gutenberg, kini ia dapat diproduksi dengan mesin kecerdasan buatan dan beralih rupa dengan hiperteks di berbagai kanal.

Kini kita dapat membaca fiksi interaktif di sebuah gim ponsel, puisi animasi, hingga karya sastra yang lahir dari rahim kecerdasan buatan. Ya! Kini korporasi di bidang teknologi telah mampu membuat karya sastra dan seni lewat mesin. Algoritma yang tercipta mampu menguasai indikator dari karya sastra atau seni yang bagus menurut kritikus. Penulis saat ini saya kira harus lebih meningkatkan kualitas karya dan eksploratif dalam menemukan premis agar umurnya panjang.

Penulis di era kiwari bukan hanya mengandalkan pena sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Ia butuh platform atau media untuk menyampaikannya. Saya ingat di tahun 2011, kala itu sekelompok masyarakat dan seniman Indonesia membuat gerakan Koin Sastra. Gerakan itu adalah bentuk keprihatinan atas kondisi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin yang saat itu mengalami pengurangan dana perawatan. Berawal dari maklumat yang telah mengalami reproduksi, retweet dan berbagai pesan berantai, maka gerakan itu menjadi nyata dan terhubung ke semua orang.

Era digital telah memunculkan lahirnya sastra siber dalam bentuk kebiasaan baru. Dari semula karya sastra dibuat secara personal, menjadi karya sastra yang dibuat secara bersama, yaitu puisi berantai. Ketika salah satu akun media sosial membuat suatu unggahan tematik dan para pengguna meresponnya dengan satu bait puisi, misalnya, maka karya tersebut akan menjadi totalitas komunal.

Setelah polemik sastra siber di awal milenum, kini ‘peradaban’ tersebut memasuki babak baru dalam ragam bentuk. Ketika dulu pembaca melakukan penilaian atau resensi secara konvensional, kini penulis menggunggahnya di caption Instagram, membicarakannya di siniar hingga mengulasnya dalam kebudayaan performatif-lisan, di Youtube.

Saat ini kita bisa melihat dan mencuri dengar gagasan seorang penulis. Ia hadir lebih dari teks: pertunjukan audiovisual di kanal Youtube. Hasan Aspahani dan Marhalim Zaini kerap membacakan puisi kemudian mengulasnya; Martin Suryajaya membicarakan filsafat dengan santai dan gaya kasual yang disukai anak muda. Saya kira perluasan itu untuk mendapatkan “pembaca” yang lebih luas dan gaungnya bisa menerobos rimba maya yang penuh notifikasi di ponsel generasi kiwari.

Platform dan Kuratorial

Dunia yang kita alami dan saksikan sekarang adalah sebuah dunia yang bisa digenggam dan dibawa ke mana saja. Kita dapat menyimak, membaca, menonton, menyebarluaskan gagasan di dalam sebuah layar elektronik dan semua seolah dalam genggaman. Untuk berdiskusi sastra pun kita tak harus bertemu secara fisik. Kita dapat berjejaring dan memiliki komunitas literasi yang sesuai dengan bentuk estetika kita. Semua tersaji secara daring. Semua yang tampak sakral dan profan tersaji dengan mudah dan cepat. Yang banal dan estetik hadir dengan segala kemungkinan. Kemudahan dan kecepatan itu bersinggungan erat dengan ketepatan dan kesalahan. Tarik menarik antar kebenaran versi A dengan kebenaran versi B.

Pada era informasi seperti sekarang, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan hanya pakar, melainkan juga para penganut teori konspirasi, orang awam sok tahu, hingga pesohor yang menyesatkan. Begitu petikan di wara (blurb) buku Matinya Kepakaran karangan Tom Nichols. Disrupsi memberikan kemudahan juga kedangkalan. Setiap orang dapat dengan cepat menjadi ahli pada suatu bidang yang tidak pernah ditekuni secara mendalam. Pada sisi lain, melubernya informasi membuat hilangnya nilai dan batas keilmuan.

Kita sekarang bisa melihat menjamurnya kelas pelatihan menulis secara daring. Tak ada yang salah dengan itu tentu. Namun Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan selaku lembaga negara yang memiliki otoritas untuk memberikan konten edukatif, kiranya mempunyai peran untuk mengarahkan itu. Badan Bahasa dapat menggandeng lembaga lainnya seperti Kemkominfo untuk membuat platform atau aplikasi kuratorial sastra yang berfungsi sebagai ensiklopedia dan direktori yang dialogis. Kemudian, data tersebut dapat diperbaharui setiap waktu dan menggapai bank data lainnya di arsip Dewan Kesenian Jakarta, misalnya. Koherensi dan kolaborasi menjadi hal yang penting di sini. Mengingat dinamika bahasa dan sastra begitu lentur seiring perkembangan zaman dan kredibilitas unggahan menjadi hal yang utama.

Ego sektoral antar lembaga pemerintahan yang kadang tidak sinkron, perlu diperbaiki tata kelolanya. Lihat bagaimana Kemendikbud bekerja sama dengan Netflix untuk menayangkan film dokumenter di TVRI untuk program Belajar dari Rumah, sementara sebelumnya Kemkominfo kontra atau memblokir tayangan di Netflix (mungkin akan berubah nantinya). Saya kira kalau program literasi khususnya sastra jelas dengan konsep dan konkret dalam pelaksanaan, penetrasi acara sastra di media arus utama seperti televisi pun akan terlaksana. Jelas dalam hal apa? Dalam bentuk sosialisasi dan pentingnya sastra atau literasi untuk kehidupan; memperhalus budi, memperluas cakrawala dan imajinasi serta dapat masuk ke lintas sektor seni dan kehidupan. Misalnya kita pahami dulu tentang literasi dasar: mulai dari literasi ekonomi sampai digital. Penyampaiannya bisa berbentuk gelar wicara interaktif atau simulasi permainan. Beberapa kali saya menemukan komentar sembrono di kolom komentar media sosial. Komentar yang tidak diiringi dari keterampilan dasar berbahasa: menyimak, membaca, menulis dan berbicara. Alhasil komentar semacam: Indonesia darurat membaca dan sebagainya menjadi diskursus yang selalu ada dan setelahnya menguap entah ke mana.  

Indonesia memang tidak selalu merata dalam distribusi sumber pengetahuan begitu juga dengan sinyal dan pasokan listrik. Namun tidak ada salahnya kalau mencoba terlebih dahulu dengan membuat sebuah platform, yang dari segi aksesibilitas mudah dijangkau cara dan penggunaannya. Platform tersebut kiranya dapat diunduh di Playstore dan ramah terhadap generasi muda. Meski begitu, substansi tetap yang utama; secara komprehensif memuat data terkait sastra Indonesia. Entri tersebut bisa dimulai dari sejarah sastra, kritik sastra, sayembara sastra, sastra populer, sastra avant garde hingga kemungkinan untuk berguru ke praktisi/sastrawan secara gratis dengan ragam persyaratan ketat. Misalnya ketika seseorang/pengguna sudah memiliki akun di platform tersebut, ia dapat mengikuti seleksi agar bisa mengikuti sebuah kelas penulisan daring secara gratis. Tentu ini dengan persyaratan dan kurasi yang transparan.

Saya kira kalau definisi disrupsi adalah tercabut dari akar, maka penulis kiwari bisa kembali menyemai benih kata, menyiram hingga tumbuh menjadi totalitas karya. Ketika ada pohon yang tercabut sampai akarnya, maka penulis bisa kembali membuka kavelingnya dengan menanam benih hingga jadi pohon yang kokoh. Seperti tanaman hidroponik, kita bisa menanamnya di mana saja. Penulis di era pascarealitas, terkadang membutuhkan pendengung atau pelantang agar karyanya didengar. Namun tentu saja, emas tidak perlu mengatakan dirinya emas. Pembaca akan tahu sebuah kualitas.

Saya sependapat dengan pernyataan Eka Kurniawan di catatan singkat Facebook-nya: Kalau ada orang yang suka membesar-besarkan dirinya, mungkin dia sedang merasa terancam. Dengan adanya plaftform/media/aplikasi yang telah diukur dengan instrumen dan variabel yang jelas, harapan saya sastra Indonesia akan dinikmati secara masif oleh generasi muda seperti mereka mengonsumsi konten popular: Netflix, Webtoon dan piranti hiburan lainnya. Jadi, kalau boleh merespons pasase pena lebih tajam dari pedang, maka saya akan menambahkan: dan pena membutuhkan tinta yang bagus agar senantiasa terukir jelas, terjaga dan tepat guna.

===================
Galeh Pramudita Arianto, lahir di Tangerang Selatan, 1993. Bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Makarios dan salah satu pendiri platform Penakota.id. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) menerima beasiswa penerjemahan dari Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020. Saat ini sedang mempersiapkan buku puisi: Kunjungan Alien Pertama ke Bumi.

Joko Pinurbo, Menjadi Penyair Adalah Menjadi Manusia Biasa

0

Mari kita buka
apa isi kaleng Khong Guan ini
biskuit
peyek
keripik
amplang
atau rengginang?

Simsalabim. Buka!

Isinya ternyata
ponsel
kartu ATM
tiket
voucer
obat
jimat
dan kepingan-kepingan rindu
yang sudah membatu.

(Bingkisan Khong Guan, 2019)

Seorang lelaki paruh baya berjalan tenang melintasi deretan kursi yang sudah penuh terisi. Puluhan pasang mata pirsawan yang hadir bergerak mengikuti langkah lelaki itu sampai ia tiba dan duduk di kursi di atas panggung. Dari kursi pirsawan, kaos berkerah dan celana kain yang membalut tubuhnya tampak longgar. Sementara bagian bawah matanya menghitam.

Begitulah Joko Pinurbo atau yang juga dikenal publik dengan akronim Jokpin malam itu (31/1/2020). Ialah penyair yang menulis puisi Bingkisan Khong Guan. Bersama puluhan puisi lain, puisi yang tak sungkan menyebut merek dagang itu belum lama diterbitkan sebagai buku dan lekas menjadi salah satu buku paling dicari pembeli.

“Saya menulis Khong Guan bukan karena saya duta Khong Guan, juga bukan karena pengen dapat sponsor dari Khong Guan. Saya tidak berhubungan sama perusahaannya. Mereka mungkin malah nggak tahu saya nulis tentang Khong Guan. Andaikan tahu, mungkin malah bingung sendiri membaca puisi-puisi saya. Saat saya sedang merenung, memikirkan citraan apa yang tepat untuk menampung hal-hal yang ingin saya sampaikan, misalnya soal toleransi, kemanusiaan, keberagaman, dan lain-lain, saya berusaha mengingat benda-benda di sekitar saya, yang dekat dengan saya dan masyarakat. Saya kemudian ingat biskuit Khong Guan,” ungkap Jokpin.

Konon, kehidupan Jokpin sejak kecil bersinggungan dengan biskuit Khong Guan. Biskuit Khong Guan menjadi ikon bingkisan yang mewah. Sampai kini, ia mendapati Khong Guan hadir di meja ruang tamu di berbagai perayaan hari raya umat beragama. Biskuit Khong Guan tidak termasuk jenis hidangan yang digemari tamu sehingga tidak lekas habis. Jokpin menyebutnya sebagai yang “biasa-biasa saja, akhirnya habis juga”.

Ia juga menangkap fenomena kaleng Khong Guan yang sering difungsikan untuk wadah rengginang atau jenis penganan lain. Kaleng Khong Guan melampaui manusia. Ia bisa hadir di segala jenis hari raya, ia menampung apa saja yang diletakkan manusia di dalamnya. Demikian Jokpin memberi penjelasan.

Sastra yang Dekat dengan Masyarakat

Siapa bilang dunia sastra itu dunia tersendiri yang terpisah dari masyarakat? Anggapan itu jadi tidak relevan dengan puisi yang ditulis Jokpin. Di Yogyakarta ini, siapa yang tidak tahu atau minimal tidak pernah dengar nama Pasar Beringharjo? Saya kira tidak ada. Masyarakat di luar Yogyakarta pun akrab dengan nama pasar tersebut. Di Kawasan Pasar Beringharjo terpampang sebuah mural dengan tulisan sebagai berikut, Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Mural yang sering dijadikan latar berfoto itu tidak lain ialah penggalan puisi Jokpin.

Penggalan puisi yang dijadikan mural itu menjadi bukti bahwa sastra tidak terpisah dari kehidupan masyarakat. Pilihan kata dalam puisi-puisi Jokpin yang lain juga terasa dekat dengan kita sebagai masyarakat pada umumnya. Kita bisa melihat dari judul-judul buku puisi Jokpin. Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007), Tahilalat (2012), Haduh, aku di-follow (2013), Baju Bulan (2013), Bulu Matamu: Padang Ilalang (2014), Surat Kopi (2014), Surat dari Yogya (2015), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), Buku Latihan Tidur (2017), Perjamuan Khong Guan (2020).

“Puisi Celana saya tulis ketika saya melihat orang-orang Indonesia banyak sekali yang memakai celana jeans. Di kampus saya, di Sanata Dharma, waktu saya main setelah lulus, itu hampir semua mahasiswanya memakai celana jeans. Fenomena itu belum ada waktu saya masih kuliah. Terus terpikirlah untuk menulis puisi tentang celana,” kenang Jokpin.

Demikian halnya dengan puisi-puisi Jokpin yang lain, idenya selalu datang dari pengamatan dan kemudian keinginan mengabadikan apa-apa yang terjadi di masyarakat dalam bentuk puisi. Puisi Telepon Genggam ditulis ketika penggunaan telepon genggam generasi pertama mulai marak di Indonesia. Di tahun 2000-an, telepon genggam yang beredar di Indonesia fungsinya masih terbatas untuk mengirim pesan pendek dan telepon, belum secanggih dan selengkap telepon genggam di era internet seperti saat ini.

Fenomena merebaknya kopi dan menjamurnya kafe-kafe dengan desain yang instagramable juga tak luput dari pengamatan Jokpin. Ia menulis puluhan puisi yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Surat Kopi (2014). Jokpin memilih menggunakan kata-kata biasa yang dekat dengan keseharian masyarakat misalnya ibadah, sarung, latihan tidur, dan lain sebagainya.

“Karena puisi saya memang refleksi dari apa yang sedang terjadi di masyarakat. Saya memilih menulis puisi dengan bahasa sehari-hari untuk menyampaikan ide-ide saya, misalnya tentang kemanusiaan, keberagaman, keluarga. Supaya apa? Supaya lebih banyak orang yang bisa memahami apa yang mau saya sampaikan,” ungkap Jokpin setelah menenggak air mineral di hadapannya.


Banyak Membaca, Sedikit Menulis

Lelaki berusia 57 tahun itu sudah menulis puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi ketenarannya saat ini bukan didapat begitu saja. Ada upaya tekun dan serius yang dilakoni Jokpin untuk menjadi penyair.

“Pesan saya untuk anak-anak muda yang ingin jadi penyair, jangan buru-buru. Meskipun dunia internet seperti sekarang mudah sekali mempublikasikan karya, tapi pesan saya jangan terburu-buru mempublikasikannya. Setelah menulis, coba biarkan dulu, diamkan dulu puisimu. Untuk mengambil jarak dengan apa yang kamu tulis. Biasanya kalau selesai menulis kamu langsung mengirimkan ke media massa, itu kamu dikuasai oleh rasa senang atau puas karena telah menyelesaikan tulisan. Padahal boleh jadi tulisanmu itu belum maksimal, masih bisa diperbaiki lagi,” demikian jawaban Jokpin ketika ditanya apa pesannya bagi anak-anak muda yang ingin menjadi penyair seperti dirinya.

Jokpin sendiri memiliki kebiasaan unik. Ia belum berhenti mengedit puisinya kalau belum sebelas kali. Ketika dikonfirmasi oleh merdeka.com, alasan mengapa ia memilih angka sebelas, ternyata sebelas adalah tanggal lahirnya. Ia percaya dan meyakini kalau puisinya belum diedit sebelas kali itu artinya belum layak untuk dikirim ke media massa.

Pesan Jokpin supaya anak-anak muda yang ingin menjadi penyair tidak buru-buru mempublikasikan puisinya ialah untuk meminimalisir kemungkinan puisi itu muncul selintas saja, atau tak diingat siapapun karena memang tidak berbeda dengan puisi-puisi lain yang muncul dengan sangat cepat di berbagai media sosial.

Satu lagi pesan Jokpin untuk anak-anak muda yang ingin menjadi penyair. Menurut Jokpin, penyair harus banyak membaca, baik itu buku atau kejadian sehari-hari. “Penyair atau penulis apapun, ia harus lebih banyak membaca daripada menulis. Katakanlah kalau dibuat perbandingan ya 3:1, 3-nya membaca, 1-nya menulis.” []



===================
Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.

Critical Pedagogy: Menggugat Pragmatisme Kampus Merdeka

0



Belum lama ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membuat gebrakan dengan menggulirkan kebijakan Kampus Merdeka. Belakangan gebrakan yang dibuat oleh Nadiem itu sukses membuat banyak orang mengerutkan kening. Karena dari istilah yang dipakai (Kampus Merdeka) terdengar revolusioner. Seakan-akan hendak mengaktifkan kembali ‘DNA’ kampus: kebebasan akademis. Namun, bukan itu yang dimaksud Nadiem. Kampus Merdeka ala Nadiem ialah sebuah usaha untuk mencetak mahasiswa siap kerja.

Keberadaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sepertinya belum cukup sehingga harus mengubah paradigma kampus lebih pragmatisme yang hanya menyoal menyiapkan tenaga kerja semata. Budaya pragmatisme itulah disindir pedas oleh M. Agus Suyatno (2011): pendidikan dan sekolah tidaklah identik dengan mencari kerja. Asumsi sekolah sama dengan mencari kerja adalah akibat terpengaruh budaya pragmatisme. Mencari kerja bukanlah inti orang belajar dan sekolah. Mencari kerja adalah bagian, bukan tujuan utama orang bersekolah.

Budaya pragmatisme

Sebaliknya, cara berpikir Nadiem dengan kebijakan Kampus Merdeka cenderung kapitalistik.  Seragama dengan kuatnya opini publik yang menganggap tujuan sekolah untuk mendapatkan pekerjaan layak. Hal ini tidak lain akibat dominannya budaya pragmatisme di masyarakat dan pendidikan kita. Senada dengan dugaan Ariel Heryanto yang mengatakan, “Jauh-jauh hari dalam dunia pendidikan di Indonesia sendiri sudah ditanamkan semangat kapitalisme dan hukum pasar sudah diterapkan, walau pada saat itu patrimonialisme dan feodalisme politik masih menjadi payung besarnya” (Industrialisasi Pendidikan: 2000).

Pada dasarnya filosofis pendidikan di bawah komando Nadiem dengan istilah Kampus Merdeka tidak sepenuhnya menjawab keresahan masyarakat dalam menyikapi persoalan publik. Mengingat begitu pentingnya peran kampus untuk memberi kritik dan mengolah diskursus publik dalam menanggapi persoalan bangsa. Sebut saja undang-undang pelemahan terhadap KPK, RUU Omnibus Law yang berpotensi melanggar hak lingkungan dan hak buruh sepi dari diskursus kampus. Sepertinya kampus telah menjadi kuburan bagi matinya kritik akademis.

Sementara itu dalam kebijakan Kampus Merdeka peran antara kampus dan mahasiswa ibarat cetakan dan adonan yang mengikuti selera pasar. Jika itu tujuannya seharusnya istilah atau terminologi yang tepat untuk dipakai bukan Kampus Merdeka, melainkan Kampus Link and Match. Misalnya pada poin pertama, kampus mempunyai otonomi untuk membuka prodi (program studi) baru dengan syarat sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan. Kata Nadiem, “Selama ini mahasiswa hanya dilatih berenang dengan satu gaya. Dalam Kampus Merdeka, mereka diceburkan ke laut, dilatih berbagai macam keahlian supaya bisa bertahan”.

Logika Kampus Merdeka yang mengutamakan ‘human capital’ dan menihilkan ‘social capital’, hanya akan menyebabkan ‘social distancing’. (Mahasiswa terasing dengan realitas sosialnya). Karena bagaimanapun juga keberadaan kampus tidak bisa dilepaskan dengan historisitas masyarakatnya. Dalam sejarah berdirinya republik ini peran ‘kampus’ selalu berdiri di garda terdepan dalam menghadapi pergulatan momen kebangsaan. Sebut saja angkatan cendekia Budi Utomo, angkatan Sumpah Pemuda, angkatan 66, angkatan 98 yang pelaku sejarahnya ialah para kaum terdidik. Mengingat romantisme antara mahasiswa dengan ‘penguasa korup’ di berbagai momentum menandakan kampus ialah motor penggerak kebangkitan sebuah bangsa.

Selain itu hal lain yang patut menjadi peremenungan bersama ialah persoalan kampus hari-hari ini dikelola dengan logika korporat; rektor mempunyai kewenangan untuk melakukan apa pun. Bahkan tak segan ‘menggebuk’ dosen dan mahasiswa jika tidak satu garis lurus dengan aturan yang dibuatnya. Padahal, akan lebih bijak jika kampus netral dari ‘politik praktis’ dalam menyikapi isu sosial. Sungguh sangat disesalkan jika penguasa ikut mengambil keuntungan dari peran kampus baik dengan cara ‘intervensi’ (hegemoni kekuasaan), maupun ‘okupasi politik’ (menggaet kalangan akademisi masuk ke sistem kekuasaan). Di situlah matinya gema lonceng akademik, karena kritik dan aksi moral dengan turun ke jalan ialah kegiatan yang tidak sehaluan dengan instruksi penguasa.

De omnibus dubitandum

Tentu kita menyadari bangsa ini sedang menghadapi persoalan ekonomi. Berbagai persoalan menguap ke permukaan. Akan tetapi, tanpa kritisisme kampus kekuasaan akan cenderung korup. Kekuasaan tanpa kritik hanya akan melahirkan penguasa yang otoritarian. Artinya penguasa mempunyai potensi menjadi Leviathan–dalam istilah Thomas Hobbes; tidak terkontrol dalam mengeluarkan kebijakan apa pun demi kepentingan tertentu. Dan mahasiswa akan kehilangan rasion d’etre-nya. Kehilangan kejernihan berpikir karena hegemoni rektorat.

Jika kita amati Kampus Merdeka versi Nadiem bukanlah sebuah penafsiran ‘radikalisme humanis’ ala Ivan Illich. Meminjam definisi Erich Fromm tentang ‘radikalisme humanis’, yakni bukan sekumpulan ide atau konsep ideologis tertentu, melainkan sebuah proses untuk memperluas kesadaran, dan pembebasan diri dari pemikiran yang memberhalakan. Oleh karena itu, dalam menyikapi kebijakan Kampus Merdeka perlunya mengedepankan logika de omnibus dubitandum; segala sesuatu harus diragukan. Bukan malah sebaliknya, menggelar karpet merah dengan mendiamkan setiap kebjiakan yang dibuat oleh penguasa sehingga bebas dari kritik.

Kampus Merdeka juga bukan penafsiran transformasi pembebasan ala Freire: pedagogy of the opopressed. Argumentasi Nadiem yang hendak menyederhanakan administrasi kampus justru membuat administrasi baru yang tak kalah kompleksnya. Lebih dari itu, juga tak kalah membelenggunya bagi kebebasan berpikir civitas akademik, karena kecenderungan rektorat yang antidialogis. Proses pedagogis seperti ini tidak akan bisa melahirkan critical subjectivity (kemampuan untuk melihat dunia dan persoalannya secara kritis).

Jika boleh jujur Kampus Merdeka tidak lebih dari industrialisasi pendidikan belaka, bukan dalam rangka membangun kebudayaan manusia, melainkan melayani kehendak pasar. Jika konotasiikan Kampus Merdeka menghamba pada pasar industri. Jika meminjam argumentasi M. Agus Suyatno (2011), ideologi pendidikan jelas berbeda dengan ideologi pasar. Ideologi pendidikan lebih mementingkan nilai etis-humanistik, sedangkan ideologi pasar bertumpu pada nilai-nilai pragmatis-materialistik.

Dengan demikian dapat dipastikan kebijakan Kampus Merdeka hanya akan menjadikan kampus bukan lagi menjadi tungku perapian untuk menggodok persoalan publik, akan tetapi memanggang mahasiswa untuk memenuhi hasrat industri dan pabrik. Pada akhirnya kita dibuat mengerti, bahwa kritisisme kampus yang berangkat dari kegelisahan karena suatu persoalan yang mengemuka di ruang publik, kini berada di persimpangan jalan sunyi. Jika boleh kita namai ‘masyarakat akademis yang kesepian’. Sebab, kampus dikerdilkan dan dipisahkan dengan realitas persoalan publik. Mahasiswa hanya disuruh menjadi penonton di atas puncak menara gading. Suatu keberhasilan pemerintah dalam usaha semacam itu ialah menjadikan mahasiswa kopong dalam menyelami persoalan sosial di tengah masyarakatnya.

====================
Ade Mulyono, pemerhati pendidikan. Tulisannya dimuat di Radar Surabaya, Pikiran Rakyat, Bangka Pos, Solo Pos, Medan Pos, Pontianak Post, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Malang Post, Bangka Pos, Padang Ekspres, Minggu Pagi, Koran Merapi, Media Indonesia, Koran Jakarta, Harian Analisa, Republika, Tribun Jateng, Harian Rakyat Sultra, Radar Tegal, Satelit Post, Media Jatim, Tanjungpinang Post, Geotimes, dan Suara Kebebasan.

Dongeng…

0

Wabah telah dongeng. Di buku-buku sejarah, wabah itu dicantumkan dan terbaca, dari masa ke masa. Wabah pun tuturan bakal terdengar dengan sekian imbuhan atau pengurangan. Wabah demi wabah digubah oleh para pengarang menjadi cerita atau puisi. Di hadapan sastra, wabah tak cuma imajinasi. Pada teks-teks sastra, kita perlahan mengerti dan mengingat wabah itu mematikan tapi menggerakkan tanda seru minta terjawab umat manusia.    

Pada hari-hari buruk memberi setumpuk takut dan duka, kita kangen dongeng-dongeng “menghibur” dan membahagiakan. Kangen atas imajinasi mengembara ke negeri-negeri jauh, mengagumi tokoh-tokoh ampuh, dan memanen pujian-pujian atas segala peristiwa. Dongeng tak berada jauh di masa lalu. Dongeng-dongeng masih bersama kita setiap hari tapi “terlelap” berbarengan nafsu memberi tatapan ke gawai di kisruh berita atau pameran pendapat mengakibatkan perkelahian. Kesibukan-kesibukan baru tak senikmat persinggahan dan pengelanaan di dongeng-dongeng. Kita merindu dongeng sejak dunia murung. Umat manusia sedang menanggungkan duka belum selesai.

Kita kangen dongeng. Singgah dulu ke novel berjudul Harun dan Samudra Dongeng (2011) gubahan Salman Rushdie. Kota-kota di suatu negeri sedang merana dihuni orang-orang bersikap berlawanan. Di mata para penggemar, pendongeng keliling itu dijuluki “Sang Samudra Khayal”. Musuh-musuh pendongeng memberi julukan “Raja Omong Kosong”. Orang-orang mengerti menjalani hidup tak keruan. Dongeng “terlalu” diperlukan tapi kandungan-kandungan hikmah dipertengkarkan berpamrih hiburan, politik, duit, etika, religiositas, keluarga, dan lain-lain. Pendongeng di keputusan-keputusan sulit meski selalu sibuk mengarang dan mendongeng, hari demi hari.

Harun, putra si pendongeng, memiliki dilema sulit terjawab. Ia memberi sangkalan faedah dongeng tapi selalu terpukau pada dongeng-dongeng bapak. Ia mengakui bapak memiliki dongeng berlimpahan dan beragam: “berselang-seling membingungkan tanpa pernah saling tertukar dan tak pernah membuat kesalahan sekali pun.” Bapak memang pendongeng sakti. Si pendongeng seperti menerima takdir mendongeng atau menghasilkan cerita seumur hidup, memiliki sumber dan mempersembahkan dongeng-dongeng di ribuan hari. Dongeng tak pernah mengering. Dongeng mustahil tamat bila menilik samudra terus berombak dan berlimpahan air.

Di sejarah peradaban manusia, dongeng memberi misi-misi mengubah tatanan hidup di titian waktu. Dongeng dimaksudkan acuan kemujaraban kaidah-kaidah hidup. Pada episode bencana dan petaka, dongeng-dongeng adalah peringatan atas kebiadaban, kebodohan, dan kepongahan manusia. Dongeng-dongeng bergerak di ruang-ruang magis, politis, ekologis, dan etis. Para leluhur menghidupi keturunan (anak-cucu) tak melulu dengan makanan dan minuman. Dongeng menjadi santapan “menolak” fana. Salman Rushdie memberi sindiran: “Ketika lapar, mereka akan menelan cerita melalui semua mulut, dan dalam isi perut mereka keajaiban terjadi. Sebagian dari satu cerita bergabung dengan gagasan dari cerita lain dan ketika mereka memuntahkan kisah itu keluar, kisah-kisah itu tak lagi serupa cerita lama, tapi suatu cerita baru.” Perjalanan dongeng tak ada ujung.

Dongeng di suatu negeri di alur waktu sering menjadi dongeng milik dunia. Dongeng-dongeng itu bersebaran selama ratusan atau ribuan tahun turut membentuk panggilan ke kodrat-kodrat peradaban kuno dan modern. Orang-orang di pelbagai negeri memiliki dongeng-dongeng semula bersemi di Yunani, Arab, India, Persia, Tiongkok, dan lain-lain. Di Indonesia, dongeng-dongeng bertumbuh di ribuan pulau dan “menghasilkan” dongeng-dongeng di perjumpaan peradaban-peradaban jauh berdatangan, dari zaman ke zaman. Arus dongeng di alur tak putus. Kita berhak menjadi ahli waris dongeng dari seribu negeri.

Dongeng-dongeng bersebaran di pelbagai negeri itu dinamai Kisah Seribu Satu Malam. Husain Hadawy (1993) mengingatkan: “Begitulah kain kehidupan diubah menjadi siratan benang roman (dongeng) ketika kisah-kisah ini dirajut selama berabad-abad di tengah pertemuan-pertemuan keluarga, perkumpulan-perkumpulan masyarakat, dan kedai-kedai kopi di Baghdad, Damaskus, atau Kairo. Setiap orang menyukainya sebab dia berhasil memikat orang-orang tua maupun muda dengan pesona kisahnya.” Dongeng-dongeng berusia tua, menampik lapuk, runtuh, atau punah. Para leluhur atau umat dongeng masa lalu seperti memiliki rumus mujarab di pengawetan dongeng-dongeng dan meramalkan dongeng-dongeng melintasi benua atau lautan.

Keampuhan dongeng lama sering merangsang kemunculan para pengarang ampuh. Dongeng-dongeng memberi panggilan di gubahan sastra modern  memuncak sebagai sastra dunia atau meraih Nobel Sastra. Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marques, Jorge Luis Borges, Mo Yan, Octavio Paz, Mark Twain, Charles Dickens, dan lain-lain memiliki ikatan ke dongeng-dongeng lama berupa tuturan atau edisi cetak. Para pendahulu memberi warisan-warisan terdengar dan terbaca sepanjang masa. Kita menjadi ahli waris bunga rampai dongeng dari pelbagai negeri. Kita pun memiliki sumber-sumber di pulau-pulau sebagai “tanah subur cerita”. Keberlimpahan dongeng tak memastikan kita membuat album ingatan atau menggerakkan dongeng di kehidupan keseharian. Kita sering terbujuk meremehkan dongeng-dongeng lawas berdalih pikat-pikat baru di keajaiban teknologi.  

Kita menilik cuilan biografi Hilmar Farid dimuat di buku berjudul Berkah Kehidupan (2011) disunting Baskara T Wardaya. Pengisahan diri, orangtua, dan buku. “Ayah saya adalah Agus Setiadi. Ia dikenal oleh anak Indonesia melalui penerjemahan seperti Lima Sekawan,” tulis Hilmar Farid. Pengasuhan dengan buku-buku cerita dunia memberi pengaruh besar, membentuk diri gandrung berpikir dan berimajinasi. Hilmar Farid kadang diajak bapak turut dalam menerjemahkan buku cerita anak dan mengetik. Hikmah diperoleh Hilmar Farid: “Sekolah untuk sementara saya lupakan dan saya semakin tenggelam dalam dunia buku. Saya suka buku sejak kecil. Ketika kembali ke Indonesia seluruh waktu perjalanan saya isi dengan membaca dua buku Enid Blyton.” Ia memang dibesarkan di Eropa, sebelum kembali ke Indonesia.

Bapak memberi teladan dan pengaruh besar. Di ingatan Hilmar Farid, bapak “pandai bercerita dan sangat meyakinkan”. Pengaruh terbesar ke Hilmar Farid adalah “soal bahasa dan kerja dengan kata.” Kita pun memiliki biografi-biografi berkaitan dongeng dan peran orangtua. Di keluarga, kehadiran pendongeng atau buku-buku cerita memungkinkan pembentukan identitas. Pematangan dalam perkara berpikir dan berimajinasi dengan pengantar dongeng-dongeng bakal meluweskan sikap hidup ketimbang ditimbuni ilmu-ilmu wajib dipelajari di sekolah selama belasan tahun.

Pada abad XXI, dongeng-dongeng belum punah meski berasal dari ribuan tahun lalu. Dongeng-dongeng baru bermunculan dengan garapan teknologi menawan. Kita selalu kaget dan terpukau menikmati dongeng-dongeng baru tersaji di buku, film, atau pentas. Misi-misi besar dimuat dongeng-dongeng baru berkaitan nasib Bumi, kemanusiaan, religiositas, atau etika global. Dongeng bertema besar kadang memberi beban-beban tafsir. Kerja tafsir saat kita di situasi tergesa dan patokan hidup adalah kecepatan.

Kita teringat penjelasan Naguib Mahfoudz, pengarang legendaris di Mesir,  dalam pidato penerimaan Nobel Sastra (1988). Ia mengaku: “Itulah takdir saya… dilahirkan dalam pangkuan dua peradaban untuk menyerap air susunya, melahap kesusastraan, dan kesenian mereka. Lalu, saya meminum nektar dari peradaban (Eropa) yang kaya dan memesona.” Pengarang kondang itu menerima warisan-warisan dongeng dari pelbagai negeri. Kita pun berhak mengaku ahli waris dongeng dunia meski tak menerima takdir sebagai pendongeng ulung di tulisan-tulisan terbaca atau telingan-telingan ingin ketakjuban sepanjang masa. Begitu.  


=======================
Bandung Mawardi, Penulis buku Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Kritik Sastra Dalam Kemandirian

0




Poin utama dalam membicarakan sastra adalah: kita musti paham batasan sastra. Lebih jauh lagi, kita perlu memahami apa itu sastra. Sejauh ini, sastra dijelaskan dalam pengertian yang kelewat variatif sehingga kadang-kadang malah terkesan terlalu cair, dan tidak ada batasan yang tegas.

Pada titik itulah masalah dalam kritik sastra muncul. Sulit bagi kita merumuskan teori kritik sastra manakala kejelasan definisi masih belum ditemui. Mengetahui definisi sastra beguna untuk memahami apa saja batasan-batasan dalam sastra. Batasan-batasan tersebut, berguna untuk menentukan apa yang harus dilakukan terhadap karya sastra.

Beberapa orang memahami sastra dalam pengertiannya sebagai tulisan. Pengertian tersebut amat problematis, sebab batasan sastra menjadi sangat tidak tegas. Seorang ekonom yang menulis tentang dampak covid-19 bagi ekonomi nasional, seorang matematikawan yang menulis dengan angka-angka, seorang kimiawan yang menulis zat dengan simbol-simbol kimia, dalam definisi tersebut, bisa dianggap sebagai sastrawan. Bahkan secara teoretis, seorang ayah yang menyuruh anaknya pulang melalui pesan telpon, juga merupakan seorang sastrawan. Maka pertanyaannya, apa yang membedakan sastrawan dengan ekonom, matematikawan, fisikawan, dan ayah di masa modern (yang sebagian besar menyuruh anaknya pulang melalui pesan telpon)?

Selain itu, pertanyaan lain pun perlu dijawab terkait definisi tersebut. Jika sastra dijelaskan dalam pengertiannya sebagai tulisan, apa sesungguhnya yang dipelajari? Atau barangkali sastra mau dianggap sebagai sinonim dari grafologi yang memang mempelajari tulisan.

Pengertian lain mengenai sastra misalnya terkait dengan sifatnya yang imajinatif. Pengertian ini kerap kali dikaburkan dengan pengertian bahwa imajinatif artinya bukan berdasarkan kebenaran, tidak sesuai dengan dunia riil. Karenanya, Kadang-kadang ada beberapa tokoh yang tidak dikenal dalam catatan sejarah dunia riil –kendati beberapa karya sastra bertalian dengan dunia riil.

Dalam pengertian tersebut, imajinatif, sejatinya tak lebih dari nama lain fantasi. Secara paradoksal, fantasi dianggap sebagai bagian dari sastra, namun di sisi lain fantasi adalah sastra itu sendiri.

Pengertian imajinatif sebagai fantasi, sesungguhnya merugikan bagi dunia kesusastraan kita. Beberapa karya besar, misalnya Tetralogi Buru, tidak serta-merta fantasi di dalamnya. Beberapa nama bisa kita kenal dalam catatan sejarah seperti Tirto Adi, Kartini, Thamrin, dan masih banyak lagi. Beberapa tempat dalam novel tersebut juga dapat ditemui dalam dunia riil, seperti Surabaya, Buitenzorg, Jakarta (Batavia), dan lain sebagainya. Maka, menganggap sastra sebagai imajinasi dalam pengertian fantasi berarti menganggap Tetralogi Buru sebagai bukan karya sastra.

Namun demikian, menganggap sastra sebagai sepenuhnya nyata–sebagai lawan dari fantasi–juga sama ruginya. Beberapa karya sastra mungkin tidak didasari oleh hal-hal yang nyata dalam dunia riil. Seperti adegan bangkitnya Ayu Dewi dari kuburan yang dapat kita temui dalam Cantik Itu Luka, misalnya. Menganggap sastra sepenuhnya nyata, berarti juga menganggap Cantik Itu Luka sebagai bukan karya sastra.

Selain itu, sikap kita dalam kritik sastra pun akan berbeda apabila sastra dikaitkan sepenuhnya dengan kenyataan. Keterkaitan dan validasi terhadap sastra dan dunia riil bisa jadi merupakan pekerjaan yang penting dalam kritik sastra. Sebagai konsekuensi, karya sastra yang unsur-unsurnya tidak ada dalam dunia riil, maka bukan hanya dianggap buruk, tapi bukan karya sastra.

Oleh karenanya, pembicaraan mengenai nyata (dalam artian sesuai dengan dunia riil) dan fantasinya karya sastra, sejatinya adalah pembicaraan yang buang-buang waktu. Sebab, sastra tidak musti tendensius terhadap salah satu dari kedua jenis tersebut. Dalam sastra, kenyataan dan fantasi, seharunya–dan memang begitulah adanya–dibicarakan sebagai pilihan, bukan keharusan.

Imajinasi dalam karya sastra, sebaiknya tidak didefinisikan sebagai fantasi, yang artinya isi dari karya sastra tersebut sama sekali bukan kenyataan. Imajinasi dalam karya sastra maksudnya adalah, bagaimana suatu peristiwa dalam karya sastra (baik sesuai atau tidak dengan sejarah) ditampilkan secara nyata seperti peristiwa dalam dunia riil. Dalam dunia riil, peristiwa berupa peperangan misalnya, dapat kita lihat dengan mata sebagai peristiwa konkret. Sedangkan dalam sastra, seakurat apa pun isi cerita itu dengan sejarah, tapi ia tak dapat kita lihat, ia hanya dapat kita bayangkan. Dan oleh karenanya, kita menyebut sastra sebagai imajinasi. Sebab, peristiwa dalam karya sastra hanya dapat diimajinasi dalam kepala kita.

Ketika Minke (Tirto Adi) bertemu dengan Thamrin, kendati barangkali pertemuan itu memang pernah terjadi dalam dunia riil (yang artinya cerita tersebut akurat dengan sejarah) –tapi ia hanya bisa kita bayangkan, tak dapat kita lihat, apalagi sentuh dan terlibat di dalamnya. Maka, kenyataan dan kefantasian isi suatu cerita, sejatinya, bukan persoalan yang penting dalam sastra.

Sastra tak bisa pula didefinisikan dengan pengertian yang merujuk pada paham tertentu. Misalnya, sastra didefinisikan dengan paham komunis yang hendak menghapuskan kelas sosial, atau paham liberal yang hendak menciptakan tatanan hidup yang merdeka. Artinya, sastra adalah suatu upaya untuk menghapus kelas sosial dalam masyarakat; atau sastra adalah suatu upaya pembebasan terhadap individu untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki.

Masalah pertama, tentu saja, ada pada sifatnya yang terlalu sempit. Jika sastra hanya didefinisikan sebagai upaya pembebasan perempuan dari stereotip negatif dalam seluruh kebudayaan (merujuk pada ajaran feminisme), maka beberapa karya seperti Animal Farm yang tidak membahas soal itu, mau tidak mau harus digugurkan statusnya sebagai karya sastra.

Masalah lainnya yakni pada, apa bedanya sastra dengan paham itu sendiri? Misalnya, jika sastra didefinisikan sebagai upaya meningkatkan intensitas ketaatan kepada Allah (merujuk pada ajaran Islam), maka apa perbedaan sastra dengan ajaran Islam? Dalam hal ini, sastra lagi-lagi, sejatinya, hanya sinonim dari ajaran Islam tanpa ada perbedaan apa pun di dalamnya.

Masalah selanjutnya, dan berkaitan dengan yang sebelumnya ialah, apa status sastra dalam suatu paham? Jika ada definisi berupa sastra adalah upaya pewujudan masyarakat tanpa kelas (merujuk pada ajaran komunisme), maka apa sejatinya status dan fungsi sastra dalam hal itu?

Namun demikian, masalah tersebut pada akhirnya memberikan sesuatu yang dapat kita cermati untuk mendefinisikan sastra. Sastra tak bisa didefinisikan berdasar pada paham tertentu, sebab pembahasan dalam sastra amatlah variatif. Maka, paham-paham tersebut seharusnya ditempatkan sebagai variasi dalam pembahasan sastra. Sastra bisa menjadi upaya untuk menciptakan masyarakat yang bebas, bisa pula menjadi upaya menciptakan masyarakat tanpa kelas, bisa pula menjadi upaya membebaskan perempuan dari stereotip dalam segala kebudayaan, dan seterusnya.

Namun begitu, sastra tidak sama dengan paham itu sendiri. Karenanya, ia dipelajari secara terpisah. Maka, status dan fungsi sastra dalam masing-masing paham tersebut ialah sebagai alat yang digunakan untuk menyampaikan ajaran tersebut. Itu berlaku dalam hal apa pun. Dalam hal cinta misalnya, sastra adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan gagasan mengenai cinta. Para teoretikus cinta mungkin bisa berbicara bahwa cinta adalah pengorbanan. Namun, dalam sastra sifat cinta sebagai pengorbanan tersebut diceritakan dalam rangkaian peristiwa (plot) di mana seseorang (tokoh) melakukan pengorbanan kepada orang lain di dalam suatu tempat tertentu (latar).

Maka, sastra perlu dipahami sebagai metode yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau gagasan tertentu. Metode penyampaian tersebut yakni dengan menciptakan suatu peristiwa tertentu yang mirip dengan peristiwa di dalam dunia riil di mana ada pelaku, tempat, dan masalah. Dalam dunia riil, peristiwa tersebut dapat disaksikan dengan mata. Namun, peristiwa tersebut hanya terjadi sekali. Mata hanya bisa melihatnya satu kali. Dalam sastra, hal tersebut disajikan dalam bentuk kata-kata yang nantinya dibayangkan dalam pikiran pembaca. Maka, peristiwa itu dapat disaksikan di dalam pikiran berkali-kali.

Ulama dan pengarang sastra mungkin bisa sama-sama berbicara mengenai lailatul qadar. Namun, cara yang digunakan bisa amat berbeda. Ulama mungkin akan mengatakan bahwa “ada satu malam di mana pahala amat berlipat diberikan Allah kepada hambanya, karenanya kita harus banyak beribadah”. Cara penyampaian gagasan dan informasi tersebut ialah dengan menyuruh secara langsung.

Namun, dalam sastra, pengarang tidak berbicara bahwa “kita harus melakukan ibadah pada suatu malam yang spesial di bulan Ramadhan”, melainkan dengan memberi contoh berupa rangkaian peristiwa di mana seseorang, di dalam tempat dan waktu tertentu, melakukan suatu peribadahan. Misalnya yang diceritakan Danarto dalam cerpen berjudul “Lailatul Qodar”.

Contoh aktivitas tersebut, kadang-kadang jauh lebih efektif digunakan. Karenanya, matematika yang rumit sekalipun membutuhkan cerita sebagai contoh peristiwa dalam suatu fenomena yang disebut sebagai “soal cerita”. Seorang guru fisika pun perlu contoh peristiwa untuk menjelaskan relativitas.

Maka, sastra semestinya dipahami pada aspek penyampaian gagasan, bukan pada gagasannya itu sendiri. Dalam sastra, poin utama bukan terletak pada gagasan atau pembahasan yang ada di dalamnya. Itulah sebabnya kita amat kesulitan manakala hendak memaksakan diri mendefinisikan sastra berdasarkan bahasan tertentu. Misalnya bahasan seputar cinta, sulit jika itu digunakan sebagai definisi sastra, yang artinya, sastra dapat disebut sebagai pembahasan mengenai sastra.

Lagipula, pembahasan dalam sastra sangat beragam sehingga tak mungkin mendefinisikan berdasarkan aspek tersebut. Sastra di satu sisi bisa membahas tentang peperangan, di sisi lain, bisa membahas seputar kehamilan. Maka, jika sastra hendak disimpulkan berdasarkan aspek pembahasan, mana yang sastra? Apakah perang atau kehamilan yang dapat mendefinisikan apa itu sastra? Tidak keduanya, sebab sastra bukan soal itu.

Kita dapat membandingkan dengan bidang seni yang lain. Jika seni pada dasarnya mau didefinisikan pada aspek pembahasannya, maka antara seni sastra dengan tari, misalnya, seharusnya tidak membahas satu topik yang sama. Namun, tidak demikian. Kita menemukan bahwa dalam sastra dan tari, kadang-kadang pembahasan yang sama bisa hadir. Misalnya pembahasan seputar peperangan. Novel Hadji Murat dapat membicarakan satu pembahasan yang sama dengan tarian Cakalele: peperangan. Maka, tak mungkin sastra–begitu pula tari–didefinisikan berdasarkan pada pembahasannya.

Namun, kita bisa mengajukan pertanyaan, apa yang membedakan sastra dengan tari? Sastra dan tari barangkali bisa membahas satu topik yang sama. Namun, kita sadar bahwa antara keduanya terdapat suatu perbedaan yang signifikan: metode yang digunakan dalam membahasa suatu topik.

Sastra membahas peperangan misalnya, dengan cara menyajikan rangkaian peristiwa seperti terjadi di dunia riil melalui kata-kata. Kata-kata tersebut, kemudian di proses dan menghasilkan suatu gambaran mengenai peristiwa peperangan tersebut. Proses penggambaran tersebutlah yang kemudian kita sebut sebagai imajinasi. Maka, imajinasi dalam karya sastra pada dasarnya adalah tentang bagaimana teknik yang digunakan pengarang dalam menyampaikan gagasan dapat memberikan gambaran peristiwa seperi terjadi di dunia riil–bukan tentang apa yang dibicarakan pengarang, yang sifatnya tidak atau bertentangan dengan kenyataan.

Dalam seni tari, topik bahasan mengenai peperangan disampaikan melalui gerakan-gerakan tertentu yang melambangkan peperangan. Maka perbedaannya amat jelas dalam hal ini, yakni tentang bagaimana suatu topik bahasan disampaikan, bukan tentang topik bahasan itu sendiri.

Kini, kita cukup memahami bahwa sastra dapat didefinisikan dalam pengertiannya sebagai metode untuk menyampaikan topik bahasan dengan cara memberikan gambaran berupa rangkaian peristiwa yang dialami tokoh dalam seting tertentu dengan kata-kata atau bahasa sebagai alatnya. Maka, pembahasan mengenai teknik tersebut perlu mendapat porsi berlebih dalam kritik sastra.

Sejauh ini, dalam ranah kritik sastra, upaya penyintesisan sastra dengan bidang lainnya banyak dilakukan. Misalnya dengan psikologi yang menghasilkan psikologi sastra. Dalam bidang tersebut, teori-teori psikologi digunakan dalam menjelaskan gejala-gejala mental tokoh karya sastra atau seorang pengarang. Misalnya lagi, penggabungan antara sastra dengan sosiologi yang menghasilkan sosiologi sastra.

Dalam dua bidang tersebut misalnya, sastra tidak hadir sebagai sosok yang mandiri. Bahkan, sastra hanyalah sebagai objek yang akan dibedah sana-sini untuk menghasilkan suatu pemahaman tertentu terhadapnya.

Bukannya buruk, namun hal itu menunjukkan bahwa sastra tidaklah mandiri. Ia membutuhkan orang lain untuk mengurus dirinya sendiri. Tapi itu tidak buruk, toh kita dimudahkan dalam memahami sastra.

Namun begitu, sastra harus pula bisa berdiri sendiri dengan teori-teori yang sesuai dengan batasannya. Setelah memahami sastra sebagai metode dalam menyampaikan suatu gagasan, kini kita perlu untuk banyak mengajukan pendekatan yang dapat membedah dan menjustifikasi teknik yang digunakan dalam pengarang untuk menyajikan suatu topik pembahasan.

Strukturalisme jauh-jauh hari telah melakukan itu, dengan cara melihat bukan terhadap apa yang dibicarakan, melainkan bagaimana hal itu dibicarakan. Dalam pandangan strukturalisme, teknik yang baik ialah manakala dalam suatu karya sastra, unsur-unsur di dalamnya saling berkaitan dan bersifat determinan satu sama lain.

Pendekatan lain yang membahas seputar teknik atau cara yang digunakan untuk menyampaikan suatu topik pembahasan dalam karya sastra pernah dan masih pula dilakukan oleh stilistika. Pada teori tersebut, sastra dinilai berdasarkan bahasa yang digunakannya dalam menyampaikan topik pembahasan.

Cara lain sejatinya perlu sekali dilakukan untuk menghadirkan kritik sastra yang mandiri, yang membahas sastra dalam batasannya sendiri. Dengan memahami bahwa terdapat kecenderungan dalam otak manusia untuk tertarik pada contoh peristiwa yang konkret ketimbang sebatas gagasan yang abstrak, maka teori yang relevan dengan hal itu mungkin bisa dimunculkan. Misalnya, teori tentang bagaimana sastra menghadirkan rangkaian peristiwa dalam upaya menyajikan gagasan atau topik bahasan tertentu secara konkret sebagaimana peristiwa dalam dunia riil.

Hal lain mungkin dapat dihadirkan pula dalam upaya merumuskan teori kritik sastra yang berdasar pada batasan sastra itu sendiri sebagai metode yang digunakan untuk menyampaikan suatu gagasan atau topik pembahasan tertentu. Yang utama, kita perlu mengingat bahwa batasan sastra bukan pada apa yang dibahas di dalamnya, melainkan pada bagaimana topik pembahasan tersebut dibicarakan–karenanya kita dapat membedakannya dengan kesenian lainnya. Maka, untuk menghadirkan teori kritik sastra yang mandiri, kesadaran mengenai hal itu (sastra sebagai metode menyampaikan suatu gagasan atau topik bahasa  tertentu) dapat digunakan untuk memulainya.

* Ditulis oleh Muhamad Reza Hasan, mahasiswa sastra yang lahir dan tinggal di Tangerang.

Terbaru

Wabah dan Para Penabuh Kentongan

Kisah umat manusia antara lain adalah kisah pergulatan sengit dengan wabah. Tidak heran tentu...

Berlayar Dengan Tiupan Napas

Aku yang Senantiasa Memujamu

Dari Redaksi