Esai

Home Esai

Joko Pinurbo, Menjadi Penyair Adalah Menjadi Manusia Biasa

0

Mari kita buka
apa isi kaleng Khong Guan ini
biskuit
peyek
keripik
amplang
atau rengginang?

Simsalabim. Buka!

Isinya ternyata
ponsel
kartu ATM
tiket
voucer
obat
jimat
dan kepingan-kepingan rindu
yang sudah membatu.

(Bingkisan Khong Guan, 2019)

Seorang lelaki paruh baya berjalan tenang melintasi deretan kursi yang sudah penuh terisi. Puluhan pasang mata pirsawan yang hadir bergerak mengikuti langkah lelaki itu sampai ia tiba dan duduk di kursi di atas panggung. Dari kursi pirsawan, kaos berkerah dan celana kain yang membalut tubuhnya tampak longgar. Sementara bagian bawah matanya menghitam.

Begitulah Joko Pinurbo atau yang juga dikenal publik dengan akronim Jokpin malam itu (31/1/2020). Ialah penyair yang menulis puisi Bingkisan Khong Guan. Bersama puluhan puisi lain, puisi yang tak sungkan menyebut merek dagang itu belum lama diterbitkan sebagai buku dan lekas menjadi salah satu buku paling dicari pembeli.

“Saya menulis Khong Guan bukan karena saya duta Khong Guan, juga bukan karena pengen dapat sponsor dari Khong Guan. Saya tidak berhubungan sama perusahaannya. Mereka mungkin malah nggak tahu saya nulis tentang Khong Guan. Andaikan tahu, mungkin malah bingung sendiri membaca puisi-puisi saya. Saat saya sedang merenung, memikirkan citraan apa yang tepat untuk menampung hal-hal yang ingin saya sampaikan, misalnya soal toleransi, kemanusiaan, keberagaman, dan lain-lain, saya berusaha mengingat benda-benda di sekitar saya, yang dekat dengan saya dan masyarakat. Saya kemudian ingat biskuit Khong Guan,” ungkap Jokpin.

Konon, kehidupan Jokpin sejak kecil bersinggungan dengan biskuit Khong Guan. Biskuit Khong Guan menjadi ikon bingkisan yang mewah. Sampai kini, ia mendapati Khong Guan hadir di meja ruang tamu di berbagai perayaan hari raya umat beragama. Biskuit Khong Guan tidak termasuk jenis hidangan yang digemari tamu sehingga tidak lekas habis. Jokpin menyebutnya sebagai yang “biasa-biasa saja, akhirnya habis juga”.

Ia juga menangkap fenomena kaleng Khong Guan yang sering difungsikan untuk wadah rengginang atau jenis penganan lain. Kaleng Khong Guan melampaui manusia. Ia bisa hadir di segala jenis hari raya, ia menampung apa saja yang diletakkan manusia di dalamnya. Demikian Jokpin memberi penjelasan.

Sastra yang Dekat dengan Masyarakat

Siapa bilang dunia sastra itu dunia tersendiri yang terpisah dari masyarakat? Anggapan itu jadi tidak relevan dengan puisi yang ditulis Jokpin. Di Yogyakarta ini, siapa yang tidak tahu atau minimal tidak pernah dengar nama Pasar Beringharjo? Saya kira tidak ada. Masyarakat di luar Yogyakarta pun akrab dengan nama pasar tersebut. Di Kawasan Pasar Beringharjo terpampang sebuah mural dengan tulisan sebagai berikut, Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Mural yang sering dijadikan latar berfoto itu tidak lain ialah penggalan puisi Jokpin.

Penggalan puisi yang dijadikan mural itu menjadi bukti bahwa sastra tidak terpisah dari kehidupan masyarakat. Pilihan kata dalam puisi-puisi Jokpin yang lain juga terasa dekat dengan kita sebagai masyarakat pada umumnya. Kita bisa melihat dari judul-judul buku puisi Jokpin. Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007), Tahilalat (2012), Haduh, aku di-follow (2013), Baju Bulan (2013), Bulu Matamu: Padang Ilalang (2014), Surat Kopi (2014), Surat dari Yogya (2015), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), Buku Latihan Tidur (2017), Perjamuan Khong Guan (2020).

“Puisi Celana saya tulis ketika saya melihat orang-orang Indonesia banyak sekali yang memakai celana jeans. Di kampus saya, di Sanata Dharma, waktu saya main setelah lulus, itu hampir semua mahasiswanya memakai celana jeans. Fenomena itu belum ada waktu saya masih kuliah. Terus terpikirlah untuk menulis puisi tentang celana,” kenang Jokpin.

Demikian halnya dengan puisi-puisi Jokpin yang lain, idenya selalu datang dari pengamatan dan kemudian keinginan mengabadikan apa-apa yang terjadi di masyarakat dalam bentuk puisi. Puisi Telepon Genggam ditulis ketika penggunaan telepon genggam generasi pertama mulai marak di Indonesia. Di tahun 2000-an, telepon genggam yang beredar di Indonesia fungsinya masih terbatas untuk mengirim pesan pendek dan telepon, belum secanggih dan selengkap telepon genggam di era internet seperti saat ini.

Fenomena merebaknya kopi dan menjamurnya kafe-kafe dengan desain yang instagramable juga tak luput dari pengamatan Jokpin. Ia menulis puluhan puisi yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Surat Kopi (2014). Jokpin memilih menggunakan kata-kata biasa yang dekat dengan keseharian masyarakat misalnya ibadah, sarung, latihan tidur, dan lain sebagainya.

“Karena puisi saya memang refleksi dari apa yang sedang terjadi di masyarakat. Saya memilih menulis puisi dengan bahasa sehari-hari untuk menyampaikan ide-ide saya, misalnya tentang kemanusiaan, keberagaman, keluarga. Supaya apa? Supaya lebih banyak orang yang bisa memahami apa yang mau saya sampaikan,” ungkap Jokpin setelah menenggak air mineral di hadapannya.


Banyak Membaca, Sedikit Menulis

Lelaki berusia 57 tahun itu sudah menulis puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi ketenarannya saat ini bukan didapat begitu saja. Ada upaya tekun dan serius yang dilakoni Jokpin untuk menjadi penyair.

“Pesan saya untuk anak-anak muda yang ingin jadi penyair, jangan buru-buru. Meskipun dunia internet seperti sekarang mudah sekali mempublikasikan karya, tapi pesan saya jangan terburu-buru mempublikasikannya. Setelah menulis, coba biarkan dulu, diamkan dulu puisimu. Untuk mengambil jarak dengan apa yang kamu tulis. Biasanya kalau selesai menulis kamu langsung mengirimkan ke media massa, itu kamu dikuasai oleh rasa senang atau puas karena telah menyelesaikan tulisan. Padahal boleh jadi tulisanmu itu belum maksimal, masih bisa diperbaiki lagi,” demikian jawaban Jokpin ketika ditanya apa pesannya bagi anak-anak muda yang ingin menjadi penyair seperti dirinya.

Jokpin sendiri memiliki kebiasaan unik. Ia belum berhenti mengedit puisinya kalau belum sebelas kali. Ketika dikonfirmasi oleh merdeka.com, alasan mengapa ia memilih angka sebelas, ternyata sebelas adalah tanggal lahirnya. Ia percaya dan meyakini kalau puisinya belum diedit sebelas kali itu artinya belum layak untuk dikirim ke media massa.

Pesan Jokpin supaya anak-anak muda yang ingin menjadi penyair tidak buru-buru mempublikasikan puisinya ialah untuk meminimalisir kemungkinan puisi itu muncul selintas saja, atau tak diingat siapapun karena memang tidak berbeda dengan puisi-puisi lain yang muncul dengan sangat cepat di berbagai media sosial.

Satu lagi pesan Jokpin untuk anak-anak muda yang ingin menjadi penyair. Menurut Jokpin, penyair harus banyak membaca, baik itu buku atau kejadian sehari-hari. “Penyair atau penulis apapun, ia harus lebih banyak membaca daripada menulis. Katakanlah kalau dibuat perbandingan ya 3:1, 3-nya membaca, 1-nya menulis.” []



===================
Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.

Dongeng…

0

Wabah telah dongeng. Di buku-buku sejarah, wabah itu dicantumkan dan terbaca, dari masa ke masa. Wabah pun tuturan bakal terdengar dengan sekian imbuhan atau pengurangan. Wabah demi wabah digubah oleh para pengarang menjadi cerita atau puisi. Di hadapan sastra, wabah tak cuma imajinasi. Pada teks-teks sastra, kita perlahan mengerti dan mengingat wabah itu mematikan tapi menggerakkan tanda seru minta terjawab umat manusia.    

Pada hari-hari buruk memberi setumpuk takut dan duka, kita kangen dongeng-dongeng “menghibur” dan membahagiakan. Kangen atas imajinasi mengembara ke negeri-negeri jauh, mengagumi tokoh-tokoh ampuh, dan memanen pujian-pujian atas segala peristiwa. Dongeng tak berada jauh di masa lalu. Dongeng-dongeng masih bersama kita setiap hari tapi “terlelap” berbarengan nafsu memberi tatapan ke gawai di kisruh berita atau pameran pendapat mengakibatkan perkelahian. Kesibukan-kesibukan baru tak senikmat persinggahan dan pengelanaan di dongeng-dongeng. Kita merindu dongeng sejak dunia murung. Umat manusia sedang menanggungkan duka belum selesai.

Kita kangen dongeng. Singgah dulu ke novel berjudul Harun dan Samudra Dongeng (2011) gubahan Salman Rushdie. Kota-kota di suatu negeri sedang merana dihuni orang-orang bersikap berlawanan. Di mata para penggemar, pendongeng keliling itu dijuluki “Sang Samudra Khayal”. Musuh-musuh pendongeng memberi julukan “Raja Omong Kosong”. Orang-orang mengerti menjalani hidup tak keruan. Dongeng “terlalu” diperlukan tapi kandungan-kandungan hikmah dipertengkarkan berpamrih hiburan, politik, duit, etika, religiositas, keluarga, dan lain-lain. Pendongeng di keputusan-keputusan sulit meski selalu sibuk mengarang dan mendongeng, hari demi hari.

Harun, putra si pendongeng, memiliki dilema sulit terjawab. Ia memberi sangkalan faedah dongeng tapi selalu terpukau pada dongeng-dongeng bapak. Ia mengakui bapak memiliki dongeng berlimpahan dan beragam: “berselang-seling membingungkan tanpa pernah saling tertukar dan tak pernah membuat kesalahan sekali pun.” Bapak memang pendongeng sakti. Si pendongeng seperti menerima takdir mendongeng atau menghasilkan cerita seumur hidup, memiliki sumber dan mempersembahkan dongeng-dongeng di ribuan hari. Dongeng tak pernah mengering. Dongeng mustahil tamat bila menilik samudra terus berombak dan berlimpahan air.

Di sejarah peradaban manusia, dongeng memberi misi-misi mengubah tatanan hidup di titian waktu. Dongeng dimaksudkan acuan kemujaraban kaidah-kaidah hidup. Pada episode bencana dan petaka, dongeng-dongeng adalah peringatan atas kebiadaban, kebodohan, dan kepongahan manusia. Dongeng-dongeng bergerak di ruang-ruang magis, politis, ekologis, dan etis. Para leluhur menghidupi keturunan (anak-cucu) tak melulu dengan makanan dan minuman. Dongeng menjadi santapan “menolak” fana. Salman Rushdie memberi sindiran: “Ketika lapar, mereka akan menelan cerita melalui semua mulut, dan dalam isi perut mereka keajaiban terjadi. Sebagian dari satu cerita bergabung dengan gagasan dari cerita lain dan ketika mereka memuntahkan kisah itu keluar, kisah-kisah itu tak lagi serupa cerita lama, tapi suatu cerita baru.” Perjalanan dongeng tak ada ujung.

Dongeng di suatu negeri di alur waktu sering menjadi dongeng milik dunia. Dongeng-dongeng itu bersebaran selama ratusan atau ribuan tahun turut membentuk panggilan ke kodrat-kodrat peradaban kuno dan modern. Orang-orang di pelbagai negeri memiliki dongeng-dongeng semula bersemi di Yunani, Arab, India, Persia, Tiongkok, dan lain-lain. Di Indonesia, dongeng-dongeng bertumbuh di ribuan pulau dan “menghasilkan” dongeng-dongeng di perjumpaan peradaban-peradaban jauh berdatangan, dari zaman ke zaman. Arus dongeng di alur tak putus. Kita berhak menjadi ahli waris dongeng dari seribu negeri.

Dongeng-dongeng bersebaran di pelbagai negeri itu dinamai Kisah Seribu Satu Malam. Husain Hadawy (1993) mengingatkan: “Begitulah kain kehidupan diubah menjadi siratan benang roman (dongeng) ketika kisah-kisah ini dirajut selama berabad-abad di tengah pertemuan-pertemuan keluarga, perkumpulan-perkumpulan masyarakat, dan kedai-kedai kopi di Baghdad, Damaskus, atau Kairo. Setiap orang menyukainya sebab dia berhasil memikat orang-orang tua maupun muda dengan pesona kisahnya.” Dongeng-dongeng berusia tua, menampik lapuk, runtuh, atau punah. Para leluhur atau umat dongeng masa lalu seperti memiliki rumus mujarab di pengawetan dongeng-dongeng dan meramalkan dongeng-dongeng melintasi benua atau lautan.

Keampuhan dongeng lama sering merangsang kemunculan para pengarang ampuh. Dongeng-dongeng memberi panggilan di gubahan sastra modern  memuncak sebagai sastra dunia atau meraih Nobel Sastra. Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marques, Jorge Luis Borges, Mo Yan, Octavio Paz, Mark Twain, Charles Dickens, dan lain-lain memiliki ikatan ke dongeng-dongeng lama berupa tuturan atau edisi cetak. Para pendahulu memberi warisan-warisan terdengar dan terbaca sepanjang masa. Kita menjadi ahli waris bunga rampai dongeng dari pelbagai negeri. Kita pun memiliki sumber-sumber di pulau-pulau sebagai “tanah subur cerita”. Keberlimpahan dongeng tak memastikan kita membuat album ingatan atau menggerakkan dongeng di kehidupan keseharian. Kita sering terbujuk meremehkan dongeng-dongeng lawas berdalih pikat-pikat baru di keajaiban teknologi.  

Kita menilik cuilan biografi Hilmar Farid dimuat di buku berjudul Berkah Kehidupan (2011) disunting Baskara T Wardaya. Pengisahan diri, orangtua, dan buku. “Ayah saya adalah Agus Setiadi. Ia dikenal oleh anak Indonesia melalui penerjemahan seperti Lima Sekawan,” tulis Hilmar Farid. Pengasuhan dengan buku-buku cerita dunia memberi pengaruh besar, membentuk diri gandrung berpikir dan berimajinasi. Hilmar Farid kadang diajak bapak turut dalam menerjemahkan buku cerita anak dan mengetik. Hikmah diperoleh Hilmar Farid: “Sekolah untuk sementara saya lupakan dan saya semakin tenggelam dalam dunia buku. Saya suka buku sejak kecil. Ketika kembali ke Indonesia seluruh waktu perjalanan saya isi dengan membaca dua buku Enid Blyton.” Ia memang dibesarkan di Eropa, sebelum kembali ke Indonesia.

Bapak memberi teladan dan pengaruh besar. Di ingatan Hilmar Farid, bapak “pandai bercerita dan sangat meyakinkan”. Pengaruh terbesar ke Hilmar Farid adalah “soal bahasa dan kerja dengan kata.” Kita pun memiliki biografi-biografi berkaitan dongeng dan peran orangtua. Di keluarga, kehadiran pendongeng atau buku-buku cerita memungkinkan pembentukan identitas. Pematangan dalam perkara berpikir dan berimajinasi dengan pengantar dongeng-dongeng bakal meluweskan sikap hidup ketimbang ditimbuni ilmu-ilmu wajib dipelajari di sekolah selama belasan tahun.

Pada abad XXI, dongeng-dongeng belum punah meski berasal dari ribuan tahun lalu. Dongeng-dongeng baru bermunculan dengan garapan teknologi menawan. Kita selalu kaget dan terpukau menikmati dongeng-dongeng baru tersaji di buku, film, atau pentas. Misi-misi besar dimuat dongeng-dongeng baru berkaitan nasib Bumi, kemanusiaan, religiositas, atau etika global. Dongeng bertema besar kadang memberi beban-beban tafsir. Kerja tafsir saat kita di situasi tergesa dan patokan hidup adalah kecepatan.

Kita teringat penjelasan Naguib Mahfoudz, pengarang legendaris di Mesir,  dalam pidato penerimaan Nobel Sastra (1988). Ia mengaku: “Itulah takdir saya… dilahirkan dalam pangkuan dua peradaban untuk menyerap air susunya, melahap kesusastraan, dan kesenian mereka. Lalu, saya meminum nektar dari peradaban (Eropa) yang kaya dan memesona.” Pengarang kondang itu menerima warisan-warisan dongeng dari pelbagai negeri. Kita pun berhak mengaku ahli waris dongeng dunia meski tak menerima takdir sebagai pendongeng ulung di tulisan-tulisan terbaca atau telingan-telingan ingin ketakjuban sepanjang masa. Begitu.  


=======================
Bandung Mawardi, Penulis buku Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Critical Pedagogy: Menggugat Pragmatisme Kampus Merdeka

0



Belum lama ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membuat gebrakan dengan menggulirkan kebijakan Kampus Merdeka. Belakangan gebrakan yang dibuat oleh Nadiem itu sukses membuat banyak orang mengerutkan kening. Karena dari istilah yang dipakai (Kampus Merdeka) terdengar revolusioner. Seakan-akan hendak mengaktifkan kembali ‘DNA’ kampus: kebebasan akademis. Namun, bukan itu yang dimaksud Nadiem. Kampus Merdeka ala Nadiem ialah sebuah usaha untuk mencetak mahasiswa siap kerja.

Keberadaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sepertinya belum cukup sehingga harus mengubah paradigma kampus lebih pragmatisme yang hanya menyoal menyiapkan tenaga kerja semata. Budaya pragmatisme itulah disindir pedas oleh M. Agus Suyatno (2011): pendidikan dan sekolah tidaklah identik dengan mencari kerja. Asumsi sekolah sama dengan mencari kerja adalah akibat terpengaruh budaya pragmatisme. Mencari kerja bukanlah inti orang belajar dan sekolah. Mencari kerja adalah bagian, bukan tujuan utama orang bersekolah.

Budaya pragmatisme

Sebaliknya, cara berpikir Nadiem dengan kebijakan Kampus Merdeka cenderung kapitalistik.  Seragama dengan kuatnya opini publik yang menganggap tujuan sekolah untuk mendapatkan pekerjaan layak. Hal ini tidak lain akibat dominannya budaya pragmatisme di masyarakat dan pendidikan kita. Senada dengan dugaan Ariel Heryanto yang mengatakan, “Jauh-jauh hari dalam dunia pendidikan di Indonesia sendiri sudah ditanamkan semangat kapitalisme dan hukum pasar sudah diterapkan, walau pada saat itu patrimonialisme dan feodalisme politik masih menjadi payung besarnya” (Industrialisasi Pendidikan: 2000).

Pada dasarnya filosofis pendidikan di bawah komando Nadiem dengan istilah Kampus Merdeka tidak sepenuhnya menjawab keresahan masyarakat dalam menyikapi persoalan publik. Mengingat begitu pentingnya peran kampus untuk memberi kritik dan mengolah diskursus publik dalam menanggapi persoalan bangsa. Sebut saja undang-undang pelemahan terhadap KPK, RUU Omnibus Law yang berpotensi melanggar hak lingkungan dan hak buruh sepi dari diskursus kampus. Sepertinya kampus telah menjadi kuburan bagi matinya kritik akademis.

Sementara itu dalam kebijakan Kampus Merdeka peran antara kampus dan mahasiswa ibarat cetakan dan adonan yang mengikuti selera pasar. Jika itu tujuannya seharusnya istilah atau terminologi yang tepat untuk dipakai bukan Kampus Merdeka, melainkan Kampus Link and Match. Misalnya pada poin pertama, kampus mempunyai otonomi untuk membuka prodi (program studi) baru dengan syarat sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan. Kata Nadiem, “Selama ini mahasiswa hanya dilatih berenang dengan satu gaya. Dalam Kampus Merdeka, mereka diceburkan ke laut, dilatih berbagai macam keahlian supaya bisa bertahan”.

Logika Kampus Merdeka yang mengutamakan ‘human capital’ dan menihilkan ‘social capital’, hanya akan menyebabkan ‘social distancing’. (Mahasiswa terasing dengan realitas sosialnya). Karena bagaimanapun juga keberadaan kampus tidak bisa dilepaskan dengan historisitas masyarakatnya. Dalam sejarah berdirinya republik ini peran ‘kampus’ selalu berdiri di garda terdepan dalam menghadapi pergulatan momen kebangsaan. Sebut saja angkatan cendekia Budi Utomo, angkatan Sumpah Pemuda, angkatan 66, angkatan 98 yang pelaku sejarahnya ialah para kaum terdidik. Mengingat romantisme antara mahasiswa dengan ‘penguasa korup’ di berbagai momentum menandakan kampus ialah motor penggerak kebangkitan sebuah bangsa.

Selain itu hal lain yang patut menjadi peremenungan bersama ialah persoalan kampus hari-hari ini dikelola dengan logika korporat; rektor mempunyai kewenangan untuk melakukan apa pun. Bahkan tak segan ‘menggebuk’ dosen dan mahasiswa jika tidak satu garis lurus dengan aturan yang dibuatnya. Padahal, akan lebih bijak jika kampus netral dari ‘politik praktis’ dalam menyikapi isu sosial. Sungguh sangat disesalkan jika penguasa ikut mengambil keuntungan dari peran kampus baik dengan cara ‘intervensi’ (hegemoni kekuasaan), maupun ‘okupasi politik’ (menggaet kalangan akademisi masuk ke sistem kekuasaan). Di situlah matinya gema lonceng akademik, karena kritik dan aksi moral dengan turun ke jalan ialah kegiatan yang tidak sehaluan dengan instruksi penguasa.

De omnibus dubitandum

Tentu kita menyadari bangsa ini sedang menghadapi persoalan ekonomi. Berbagai persoalan menguap ke permukaan. Akan tetapi, tanpa kritisisme kampus kekuasaan akan cenderung korup. Kekuasaan tanpa kritik hanya akan melahirkan penguasa yang otoritarian. Artinya penguasa mempunyai potensi menjadi Leviathan–dalam istilah Thomas Hobbes; tidak terkontrol dalam mengeluarkan kebijakan apa pun demi kepentingan tertentu. Dan mahasiswa akan kehilangan rasion d’etre-nya. Kehilangan kejernihan berpikir karena hegemoni rektorat.

Jika kita amati Kampus Merdeka versi Nadiem bukanlah sebuah penafsiran ‘radikalisme humanis’ ala Ivan Illich. Meminjam definisi Erich Fromm tentang ‘radikalisme humanis’, yakni bukan sekumpulan ide atau konsep ideologis tertentu, melainkan sebuah proses untuk memperluas kesadaran, dan pembebasan diri dari pemikiran yang memberhalakan. Oleh karena itu, dalam menyikapi kebijakan Kampus Merdeka perlunya mengedepankan logika de omnibus dubitandum; segala sesuatu harus diragukan. Bukan malah sebaliknya, menggelar karpet merah dengan mendiamkan setiap kebjiakan yang dibuat oleh penguasa sehingga bebas dari kritik.

Kampus Merdeka juga bukan penafsiran transformasi pembebasan ala Freire: pedagogy of the opopressed. Argumentasi Nadiem yang hendak menyederhanakan administrasi kampus justru membuat administrasi baru yang tak kalah kompleksnya. Lebih dari itu, juga tak kalah membelenggunya bagi kebebasan berpikir civitas akademik, karena kecenderungan rektorat yang antidialogis. Proses pedagogis seperti ini tidak akan bisa melahirkan critical subjectivity (kemampuan untuk melihat dunia dan persoalannya secara kritis).

Jika boleh jujur Kampus Merdeka tidak lebih dari industrialisasi pendidikan belaka, bukan dalam rangka membangun kebudayaan manusia, melainkan melayani kehendak pasar. Jika konotasiikan Kampus Merdeka menghamba pada pasar industri. Jika meminjam argumentasi M. Agus Suyatno (2011), ideologi pendidikan jelas berbeda dengan ideologi pasar. Ideologi pendidikan lebih mementingkan nilai etis-humanistik, sedangkan ideologi pasar bertumpu pada nilai-nilai pragmatis-materialistik.

Dengan demikian dapat dipastikan kebijakan Kampus Merdeka hanya akan menjadikan kampus bukan lagi menjadi tungku perapian untuk menggodok persoalan publik, akan tetapi memanggang mahasiswa untuk memenuhi hasrat industri dan pabrik. Pada akhirnya kita dibuat mengerti, bahwa kritisisme kampus yang berangkat dari kegelisahan karena suatu persoalan yang mengemuka di ruang publik, kini berada di persimpangan jalan sunyi. Jika boleh kita namai ‘masyarakat akademis yang kesepian’. Sebab, kampus dikerdilkan dan dipisahkan dengan realitas persoalan publik. Mahasiswa hanya disuruh menjadi penonton di atas puncak menara gading. Suatu keberhasilan pemerintah dalam usaha semacam itu ialah menjadikan mahasiswa kopong dalam menyelami persoalan sosial di tengah masyarakatnya.

====================
Ade Mulyono, pemerhati pendidikan. Tulisannya dimuat di Radar Surabaya, Pikiran Rakyat, Bangka Pos, Solo Pos, Medan Pos, Pontianak Post, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Malang Post, Bangka Pos, Padang Ekspres, Minggu Pagi, Koran Merapi, Media Indonesia, Koran Jakarta, Harian Analisa, Republika, Tribun Jateng, Harian Rakyat Sultra, Radar Tegal, Satelit Post, Media Jatim, Tanjungpinang Post, Geotimes, dan Suara Kebebasan.

Terbaru

Kakek Yiu Wai Ip

“Dia terjatuh di kamar mandi. Lalu pingsan dan koma selama dua hari. Begitu ia...

Berdiam di Bumi Penuh Janji

Dari Redaksi