Esai

Home Esai

Dongeng…

0

Wabah telah dongeng. Di buku-buku sejarah, wabah itu dicantumkan dan terbaca, dari masa ke masa. Wabah pun tuturan bakal terdengar dengan sekian imbuhan atau pengurangan. Wabah demi wabah digubah oleh para pengarang menjadi cerita atau puisi. Di hadapan sastra, wabah tak cuma imajinasi. Pada teks-teks sastra, kita perlahan mengerti dan mengingat wabah itu mematikan tapi menggerakkan tanda seru minta terjawab umat manusia.    

Pada hari-hari buruk memberi setumpuk takut dan duka, kita kangen dongeng-dongeng “menghibur” dan membahagiakan. Kangen atas imajinasi mengembara ke negeri-negeri jauh, mengagumi tokoh-tokoh ampuh, dan memanen pujian-pujian atas segala peristiwa. Dongeng tak berada jauh di masa lalu. Dongeng-dongeng masih bersama kita setiap hari tapi “terlelap” berbarengan nafsu memberi tatapan ke gawai di kisruh berita atau pameran pendapat mengakibatkan perkelahian. Kesibukan-kesibukan baru tak senikmat persinggahan dan pengelanaan di dongeng-dongeng. Kita merindu dongeng sejak dunia murung. Umat manusia sedang menanggungkan duka belum selesai.

Kita kangen dongeng. Singgah dulu ke novel berjudul Harun dan Samudra Dongeng (2011) gubahan Salman Rushdie. Kota-kota di suatu negeri sedang merana dihuni orang-orang bersikap berlawanan. Di mata para penggemar, pendongeng keliling itu dijuluki “Sang Samudra Khayal”. Musuh-musuh pendongeng memberi julukan “Raja Omong Kosong”. Orang-orang mengerti menjalani hidup tak keruan. Dongeng “terlalu” diperlukan tapi kandungan-kandungan hikmah dipertengkarkan berpamrih hiburan, politik, duit, etika, religiositas, keluarga, dan lain-lain. Pendongeng di keputusan-keputusan sulit meski selalu sibuk mengarang dan mendongeng, hari demi hari.

Harun, putra si pendongeng, memiliki dilema sulit terjawab. Ia memberi sangkalan faedah dongeng tapi selalu terpukau pada dongeng-dongeng bapak. Ia mengakui bapak memiliki dongeng berlimpahan dan beragam: “berselang-seling membingungkan tanpa pernah saling tertukar dan tak pernah membuat kesalahan sekali pun.” Bapak memang pendongeng sakti. Si pendongeng seperti menerima takdir mendongeng atau menghasilkan cerita seumur hidup, memiliki sumber dan mempersembahkan dongeng-dongeng di ribuan hari. Dongeng tak pernah mengering. Dongeng mustahil tamat bila menilik samudra terus berombak dan berlimpahan air.

Di sejarah peradaban manusia, dongeng memberi misi-misi mengubah tatanan hidup di titian waktu. Dongeng dimaksudkan acuan kemujaraban kaidah-kaidah hidup. Pada episode bencana dan petaka, dongeng-dongeng adalah peringatan atas kebiadaban, kebodohan, dan kepongahan manusia. Dongeng-dongeng bergerak di ruang-ruang magis, politis, ekologis, dan etis. Para leluhur menghidupi keturunan (anak-cucu) tak melulu dengan makanan dan minuman. Dongeng menjadi santapan “menolak” fana. Salman Rushdie memberi sindiran: “Ketika lapar, mereka akan menelan cerita melalui semua mulut, dan dalam isi perut mereka keajaiban terjadi. Sebagian dari satu cerita bergabung dengan gagasan dari cerita lain dan ketika mereka memuntahkan kisah itu keluar, kisah-kisah itu tak lagi serupa cerita lama, tapi suatu cerita baru.” Perjalanan dongeng tak ada ujung.

Dongeng di suatu negeri di alur waktu sering menjadi dongeng milik dunia. Dongeng-dongeng itu bersebaran selama ratusan atau ribuan tahun turut membentuk panggilan ke kodrat-kodrat peradaban kuno dan modern. Orang-orang di pelbagai negeri memiliki dongeng-dongeng semula bersemi di Yunani, Arab, India, Persia, Tiongkok, dan lain-lain. Di Indonesia, dongeng-dongeng bertumbuh di ribuan pulau dan “menghasilkan” dongeng-dongeng di perjumpaan peradaban-peradaban jauh berdatangan, dari zaman ke zaman. Arus dongeng di alur tak putus. Kita berhak menjadi ahli waris dongeng dari seribu negeri.

Dongeng-dongeng bersebaran di pelbagai negeri itu dinamai Kisah Seribu Satu Malam. Husain Hadawy (1993) mengingatkan: “Begitulah kain kehidupan diubah menjadi siratan benang roman (dongeng) ketika kisah-kisah ini dirajut selama berabad-abad di tengah pertemuan-pertemuan keluarga, perkumpulan-perkumpulan masyarakat, dan kedai-kedai kopi di Baghdad, Damaskus, atau Kairo. Setiap orang menyukainya sebab dia berhasil memikat orang-orang tua maupun muda dengan pesona kisahnya.” Dongeng-dongeng berusia tua, menampik lapuk, runtuh, atau punah. Para leluhur atau umat dongeng masa lalu seperti memiliki rumus mujarab di pengawetan dongeng-dongeng dan meramalkan dongeng-dongeng melintasi benua atau lautan.

Keampuhan dongeng lama sering merangsang kemunculan para pengarang ampuh. Dongeng-dongeng memberi panggilan di gubahan sastra modern  memuncak sebagai sastra dunia atau meraih Nobel Sastra. Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marques, Jorge Luis Borges, Mo Yan, Octavio Paz, Mark Twain, Charles Dickens, dan lain-lain memiliki ikatan ke dongeng-dongeng lama berupa tuturan atau edisi cetak. Para pendahulu memberi warisan-warisan terdengar dan terbaca sepanjang masa. Kita menjadi ahli waris bunga rampai dongeng dari pelbagai negeri. Kita pun memiliki sumber-sumber di pulau-pulau sebagai “tanah subur cerita”. Keberlimpahan dongeng tak memastikan kita membuat album ingatan atau menggerakkan dongeng di kehidupan keseharian. Kita sering terbujuk meremehkan dongeng-dongeng lawas berdalih pikat-pikat baru di keajaiban teknologi.  

Kita menilik cuilan biografi Hilmar Farid dimuat di buku berjudul Berkah Kehidupan (2011) disunting Baskara T Wardaya. Pengisahan diri, orangtua, dan buku. “Ayah saya adalah Agus Setiadi. Ia dikenal oleh anak Indonesia melalui penerjemahan seperti Lima Sekawan,” tulis Hilmar Farid. Pengasuhan dengan buku-buku cerita dunia memberi pengaruh besar, membentuk diri gandrung berpikir dan berimajinasi. Hilmar Farid kadang diajak bapak turut dalam menerjemahkan buku cerita anak dan mengetik. Hikmah diperoleh Hilmar Farid: “Sekolah untuk sementara saya lupakan dan saya semakin tenggelam dalam dunia buku. Saya suka buku sejak kecil. Ketika kembali ke Indonesia seluruh waktu perjalanan saya isi dengan membaca dua buku Enid Blyton.” Ia memang dibesarkan di Eropa, sebelum kembali ke Indonesia.

Bapak memberi teladan dan pengaruh besar. Di ingatan Hilmar Farid, bapak “pandai bercerita dan sangat meyakinkan”. Pengaruh terbesar ke Hilmar Farid adalah “soal bahasa dan kerja dengan kata.” Kita pun memiliki biografi-biografi berkaitan dongeng dan peran orangtua. Di keluarga, kehadiran pendongeng atau buku-buku cerita memungkinkan pembentukan identitas. Pematangan dalam perkara berpikir dan berimajinasi dengan pengantar dongeng-dongeng bakal meluweskan sikap hidup ketimbang ditimbuni ilmu-ilmu wajib dipelajari di sekolah selama belasan tahun.

Pada abad XXI, dongeng-dongeng belum punah meski berasal dari ribuan tahun lalu. Dongeng-dongeng baru bermunculan dengan garapan teknologi menawan. Kita selalu kaget dan terpukau menikmati dongeng-dongeng baru tersaji di buku, film, atau pentas. Misi-misi besar dimuat dongeng-dongeng baru berkaitan nasib Bumi, kemanusiaan, religiositas, atau etika global. Dongeng bertema besar kadang memberi beban-beban tafsir. Kerja tafsir saat kita di situasi tergesa dan patokan hidup adalah kecepatan.

Kita teringat penjelasan Naguib Mahfoudz, pengarang legendaris di Mesir,  dalam pidato penerimaan Nobel Sastra (1988). Ia mengaku: “Itulah takdir saya… dilahirkan dalam pangkuan dua peradaban untuk menyerap air susunya, melahap kesusastraan, dan kesenian mereka. Lalu, saya meminum nektar dari peradaban (Eropa) yang kaya dan memesona.” Pengarang kondang itu menerima warisan-warisan dongeng dari pelbagai negeri. Kita pun berhak mengaku ahli waris dongeng dunia meski tak menerima takdir sebagai pendongeng ulung di tulisan-tulisan terbaca atau telingan-telingan ingin ketakjuban sepanjang masa. Begitu.  


=======================
Bandung Mawardi, Penulis buku Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

COVID-19 dan Paradoks Homo Deus

0

Catatan sejarah telah memberi pelajaran mengenai serangan mikroba yang terus menerus menyerang manusia secara bergelombang. Beberapa diantaranya diklaim telah mengubah dunia secara dramatis. Pertama, wabah Antonine atau wabah Galen (165 M) diperkiran menelan korban 5 juta orang. J. Rufus Fears (2004) menyebutkan bahwa pandemi Antonine adalah salah satu dari tiga pandemi yang paling mematikan di zaman klasik. Wabah Antonine menimpa seluruh wilayah imperium Romawi mulai dari perbatasan Timur di Irak sampai ke perbatasan Barat sungai Rhine dan wilayah Gaul (Perancis) sampai Jerman Barat. Christopher Muscato, menyebutkan bahwa di puncak terajdinya wabah, kematian menyentuh angka 2,000 orang setiap hari. Total kematian sekitar 7-10% dari total penduduk imperium Romawi mulai dari Spanyol, Italia, Yunani, Anatolia, Mesir dan Afrika Utara. Di wilayah perkotaan lebih tragis lagi. Wabah ini diperkirakan menelan korban sekitar 10-15% penduduk yang salah satunya adalah kaisar Marcus Aurelius Antonine. Dampak dari wabah Antonine tidak hanya berimbas terhadap demografi, tetapi juga ekonomi yang terus memburuk serta kekuatan militer dan jumlah prajurit Romawi yang terus melemah. Sejarawan A. E. R. Boak, Kyle Harper dan Eriny Hanna sepakat bahwa merebaknya wabah Antonine dan terjadinya serangkaian peristiwa kelaparan di seantero wilayah telah menjadi titik awal kejatuhan imperium Romawi di Barat. (John Horgan, Antonine Plague, Ancient History Encyclopedia, published, May 02, 2019).

Kedua, wabah hitam (Black Death, 1347-1351). Penyebab dari pandemi ini adalah bakteri Yarsinia Pestis atau kutu dari tikus yang awalnya terjadi di China kemudian menyebar melalui jalur perdagangan (silk road) sampai ke Crimea tahun 1346 (C.J. Duncan, S.Scott, 2005). Bakteri ini kemudian menembus Eropa melalui jalur perdagangan di sepanjang laut Mediterrania. Di awal Oktober 1347, kapal-kapal dari Caffa berlabuh di pelabuhan Messina Sicilia. Para penumpangnya turun dengan membawa serta wabah mematikan yang menerjang seluruh daratan Eropa dari tahun 1348 sampai 1352. Pandemi ini memusnahkan separuh penduduk Eropa, yang kemudian dikenal dengan nama wabah hitam. Pandemi ini diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan penduduk dunia sebesar 350 sampai 400 juta di tahun 1400. Dampak dari wabah hitam ini menimbulkan gejolak sosial, ekonomi, politik dan keagamaan yang sangat berpengaruh terhadap jalannya sejarah Eropa. Dibutuhkan waktu selama satu setengah abad untuk pemulihan Eropa pasca bencana. Pandemi ini menghantam Eropa berkali-kali sampai akhirnya berlalu di abad ke-19. 

Ketiga, Wabah Spanyol (Spanish Flu, 1918). Wabah flu H1N1 ini diperkirakan menewaskan 50 juta orang di seluruh dunia, termasuk sekitar 675.000 orang di Amerika. Meski sebatas perkiraan, korban akibat pandemi ini melebihi nyawa manusia yang hilang akibat dari PD I yaitu sekitar 12-14 juta jiwa. Walaupun penyakit ini pertama dilaporkan terjangkit di Amerika, pandemi ini kemudian dinamai sebagai flu Spanyol. Hanya media Spanyol yang secara terus-menerus memberitakan perkembangan pandemi ini berikut jumlah korbannya, karena Spanyol memilih netral di PD I. Makanya wabah ini diberi nama flu Spanyol. Media di negara-negara yang terlibat perang tidak meliput pemberitaan mengenai wabah ini karena ingin menjaga mental dan spirit dari prajuritnya (Juditha Wojcik dan Sebastian Vollmer, 2017). Meski banyak penulis yang menegaskan kalau wabah ini bermula di Amerika, sejarawan Mark Humphries dari Memorial University, Newfoundland menyatakan bahwa virus yang mematikan ini kemungkinan berasal dari Cina. Humphries mencatat bahwa terdapat mobilisasi sekitar 96.000 buruh dari Cina yang membantu Inggris dan Perancis membangun infrastruktur perang di front Barat (Dan Vergano, 2014).

Keempat, Flu Asian (1957). Pandemi ini merupakan salah satu yang terbesar dampaknya dalam sejarah. Flu Asian ini masuk pandemi kategori 2 yang untuk pertama kalinya terjadi di China di awal tahun 1956 dan berakhir di tahun 1958. Wabah flu Asian ini merupakan pandemi kedua terbesar dalam sejarah di abad ke-20 setelah flu Spanyol di tahun 1918-1919. Penyebab dari pandemi ini adalah virus yang dikenal dengan influenza A subtipe H2N2. Di bulan Agustus 1957 Flu Asian merebak yang menjadi asal muasal flu babi tipe A yang akhirnya menjadi wabah di tahun 2009. Pada mulanya wabah ini menyerang sekumpulan orang yang tinggal dalam suatu komunitas yang berdekatan seperti kamp militer dan perkemahan musim panas. Virus kemudian menyebar begitu cepat ke sekolah-sekolah ibarat angin yang berhembus kencang menerpa rumput kering. Akhirnya di bulan Oktober, seluruh negeri terkena virus influenza. Flu ini memberi dampak yang sangat besar bagi usia muda. Pada saat wabah ini dinyatakan berakhir, 40% kematian terjadi di usia di bawah 65 tahun, presentase yang lebih besar dari kejadian flu biasa.

Imajinasi Pandemik (Pandemic Imaginary)

Berbagai penelitian ilmiah multidisipliner berusaha mengungkap asal muasal dari pandemi, dampak yang ditimbulkan, bagaimana wabah itu berakhir dan kenapa wabah itu muncul kembali. Sayangnya, tidak ditemukan jawaban saintifik yang meyakinkan mengenai misteri dari pandemi ini. Akibat nihilnya jawaban atas pandemi yang terus berulang maka terjadilah apa yang disebut oleh Albert Camus dan Thomas Mann, sebagai “dysfunctional society”. Setiap terjadi pandemi, semua mengalami kepanikan, kegagapan dan kebingungan. Stephen Kinzer, kolumnis The Washington Post, menyebutnya sebagai kegagalan manusia dalam ber-imajinasi atau dalam istilah antropolog Christos Lynteris, “pandemic imaginary”. Lebih jauh Kinzer meguraikan bahwa manusia terbukti gagap menghadapi ancaman selain dari apa yang telah dialaminya. Manusia paham mengenai bahaya mematikan dari penyakit kanker atau tertabrak kendaraan.  Manusia sudah mengetahui akibat fatal dari keduanya. Otak manusia menurut Kinzer akan mengalami kesulitan mengatasi bahaya yang datang dari luar imajinasinya. 

Kompleksitas dan keistimewaan otak manusia menurut Kinzer tetap saja tidak mampu menghadapi ancaman baru yang justeru lebih berbahaya dan mematikan. Manusia mendefinisikan bahaya sama dengan yang dilakukan oleh suku-suku tradisional dan negara-bangsa selama berabad-abad yaitu ancaman dan agresi orang asing. Untuk menghadapi serangan dari luar, manusia membangun persenjataan baik untuk menyerang mau pun untuk bertahan. Hanya saja, serangan dari mikroba, bahaya perang nuklir dan perubahan iklim adalah tiga ancaman utama yang paling tak terbayangkan. Ironisnya manusia tetap saja menggunakan model tradisional untuk menghadapi dan menghindari ancaman-ancaman itu yakni kekuatan politik dan kronfontasi bersenjata. Sekiranya Amerika dan China mengeluarkan belanja negara dalam dua dekade terakhir untuk membenahi fasilitas kesehatan — sama dengan membiayai persenjataan — maka kemungkinan pandemi ini tidak akan terjadi.

Mengapa manusia terus menerus berkutat di wacana yang sama saat terjadi pandemi seperti apa yang disebut Prisilla Wald sebagai “outbreak narratives” atau dalam istilah Frank Snowden sebagai “dress rehearsal?” Mengapa selama rentang waktu ribuan tahun, manusia selalu kalah menghadapi serangan mikroba? Di mana kecerdasan sapiens sebagai species yang mampu bertahan menaklukkan alam selama ribuan tahun (antroposentris), membuat sistem sosial-budaya yang kompleks, menemukan teknologi canggih serta berambisi hidup selamanya (immortality) menyerupai sifat-sifat Tuhan (homo deus)?

Ambisi Homo Sapiens

Dalam bukunya Homo Deus (2017), Yuval Noah Harari dengan sangat meyakinkan mengeja kedigdayaan sapiens. Harari menegaskan bahwa sapiens telah menaklukka tiga hal yang membuat peradaban manusia terseok-seok selama ribuan tahun yaitu kelaparan, wabah penyakit dan peperangan. Penopang utama bagi sapiens sehingga menjadi spesies yang dominan menurut Harari adalah keunikannya untuk berimajinasi, membuat ceritera dan memberi pemaknaan. Kemampuan ini menjadikan manusia semakin kreatif dalam menemukan solusi saintifik terhadap permasalahan yang dihadapinya, sekaligus memberi keleluasaan bagi manusia untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Memasuki abad ke-21, Harari mengajukan beberapa prediksi mengenai dahsyatnya inovasi sapiens. 

Pertama, manusia bercita-cita menyerupai sifat-sifat Tuhan. Manusia sedang mengejar keabadian (immortality). Berbeda dengan cara pandang agama-agama seperti Islam, Kristen dan Hindu tentang kematian sebagai  sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Tuhan, sapiens menempatkan kematian sebagai semata persoalan teknis. Sapiens mendefinisikan kematian sebagai fenomena berhentinya jantung berdetak karena tidak cukup suplai oksigen untuk memompa darah. Olehnya itu, keabadian adalah persoalan teknis saja. Berkat kemajuan ilmu kedokteran, penemuan obat-obatan dan vaksin serta fasilitas kesehatan yang lengkap manusia dapat hidup lebih lama. Seiring dengan peningkatan kesejahteraan, pendapatan per kapita, angka harapan hidup manusia pun semakin panjang. Di masa depan, manusia dapat  hidup selama 150 tahun, 200 tahun bahkan mungkin 500 tahun. 

Kedua, munculnya kelas pekerja yang tidak relevan. Algoritma dan kecerdasan artifisial akan mengakibatkan disrupsi yang ekstrim bagi kelas pekerja. Saat ini tengah berlangsung transisi yang menyakitkan bagi jutaan tenaga kerja yang menjadi anak kandung revolusi industri. Mayoritas keahlian mereka menjadi tidak relevan karena algoritma dan kecerdasan artifisial telah menggantikannya. Toko-toko online (amazone, tokopedia, buka lapak, alibaba dll) telah mematikan bisnis swalayan dan berbagai macam bisnis retail. Transportasi berbasis online (grab, uber, gojek dll) mengambil alih transportasi umum yang dikelola secara konvensional. Jutaan pekerja terpaksa menganggur karena keahliannya menjadi tidak relevan lagi. Profesi seperti guru, pengacara bahkan dokter sekalipun akan menghadapi tantangan berat untuk tetap bertahan di masa depan. Melalui teknologi, jutaan orang bisa belajar dari rumah mengenai materi apa saja yang ingin mereka pelajari. Berbagai macam silabus dan kurikulum dilengkapi dengan panduan praktik lapangan tersedia di berbagai website. Tata cara merakit senjata dan membuat bahan peledak sekalipun dapat dipelajari secara online. Bagi mereka yang mengalami permasalahan hukum, panduan untuk mendapatkan nasihat dan pembelaan dengan dalil-dalil hukum aktual tersedia di berbagai website. Bagi mereka yang sakit tidak perlu antri berlama-lama di rumah sakit hanya untuk diperiksa oleh dokter spesialis dengan bayaran mahal. Perangkat teknologi berbasis telepon pintar dapat digunakan untuk mendeteksi semua gangguan kesehatan. Melalui teknologi biometrik, ganguan kesehatan dapat terdeteksi dilengkapi dengan rekomendasi pengobatan yang praktis.

Paradoks Homo Deus

Karena kecerdasan berimajinasi, berkelompok dan memberi pemaknaan terhadap fenomena di sekitarnya, sapiens menjadi satu-satunya spesies yang mampu bertahan dan mengubah ekologi dunia –sejak adanya makhluk hidup di bumi– sekitar 4 milyar tahun yang lalu. Sapiens berhasil mengubah aturan main bahkan berhasil menaklukkan ekosistem bumi selama 70.000 tahun. Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, mengapa manusia terseok-seok, gagap dan kebingungan bahkan beberapa kali hampir kalah menghadapi wabah yang disebabkan oleh mikroba, makhluk dan entitas yang tidak kasat mata?  

Setiap terjadi serangan mikroba terhadap manusia, respon yang dilakukannya relatif sama. Mulai dari wabah Antonine (165 M), Black Death (1347), Flu Spanyol (1918), Flu Asian (1957), Flu Burung (1997), MERS-COV (2012), Virus Ebola (2013) dan Covid-19 (2020). Cara manusia menghadapi serangan misterius ini hanya sebatas melakukan karantina (quarantine), jaga jarak (physical distancing), penyemprotan disinfektan, kebersihan dan pola hidup sehat dan pengawasan dan penutupan perbatasan (darat, laut dan udara). Tradisi karantina adalah warisan dari abad ke-14 saat terjadi wabah hitam. Karantina berasal dari bahasa Italia “quaranta giorni” atau empat puluh hari. Pada awalnya karantina diberlakukan bagi kapal-kapal kargo yang berasal dari pelabuhan yang terkena infeksi virus yang akan berlabuh di pelabuhan di Venesia. Kapal-kapal ini tidak diperbolehkan melakukan bongkar muat barang dan penumpang selama empat puluh hari. Sementara strategi jaga jarak, menghindari kerumunan, penyemprotan disinfektan dan pola hidup bersih dan sehat telah diadopsi sejak pandemi flu Spanyol di tahun 1918. Strategi isolasi dalam menghadapi pandemi bahkan telah diterapkan di zaman Nabi Muhammad SAW. Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh HR Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda “Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu”. 

Melihat miskinnya kreatifitas manusia dalam menghadapi pandemi, maka kedigdayaan sapiens sebagai homo deus patut dipertanyakan. Sapiens sepanjang sejarahnya telah mempersaksikan kekalahannya berkali-kali melawan mikroba. Pertahanan manusia menghadapi serangan mikroba hanya mengandalkan dua hal; kekebalan tubuh dan nasib baik. Pada akhirnya, wabah ini berlalu bukan karena intervensi atau upaya yang dilakukan oleh manusia tetapi dari faktor-faktor yang tidak tampak (invisible). Inilah yang disebut antropolog Chrystos Lynteris sebagai “the problem of untimely ends”. Suatu peristiwa menggemparkan, membuat frustasi secara global dan berakhir secara tiba-tiba. Dokter dan Sejarawan Howard Markel melukiskannya: “I feel like quoting Yogi Berra, “It’s dejavu all over again”. Manusia benar-benar kekurangan “clio epidemiology”, yaitu pelajaran dari pandemi masa lalu yang dijadikan acuan untuk menghadapi pandemi yang akan datang atau sedang berlangsung. Kolumnis CNN, Jennifer Le Zotte menggambarkan bahwa dari pandemi ke pandemi terungkap budaya prilaku manusia berkutat seputar peran sentral pemerintah, perbedaan pandangan perihal kebebasan individu dan percaya kepada ilmu pengetahuan. Prilaku ini mengikuti pola yang sama setiap terjadi pandemi (recycle), seakan telah menjadi kebenaran sejarah. Manusia saling mengabaikan, saling mengingkari dan saling menyalahkan.  

Gambaran tentang perilaku berulang dari sapiens setiap menghadapi pandemi atau kejadian yang membuatnya putus harapan sebelum menghadapi kematian, digambarkan sangat apik oleh Elisabeth Kubler-Ross, psikiater blasteran Swiss-Amerika dalam bukunya On Death and Dying (1969). Kubler Ross memperkenalkan lima tahapan keluhan (five stages of grief); serangkaian respon emosi yang tidak linear yang dikenal dengan DABDA yaitu pengingkaran (denial), marah (anger), depresi (depression), tawar menawar (bargaining) dan kepasrahan (acceptance). Kelima tahapan respon emosi yang terulang setiap manusia ditimpa musibah atau bencana menggambarkan dengan sangat jelas bahwa sesungguhnya sapiens sangat jauh dari kualitas homo deus. Sapiens adalah spesies yang tidak stabil, arogan dan egois yang menganggap dirinya telah menjadi penakluk dunia, tetapi tak berdaya melawan mikroba.

Sapiens: Makhluk Lemah Pembuat Kerusakan

Jauh sebelum kajian-kajian psikologis tentang sifat dasar manusia sebagai makhluk yang sangat lemah dan tidak stabil, Alqur’an sangat jelas menggambarkan bahwa terdapat empat tabiat utama yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang sangat lemah. Pertama, tabiat mengeluh dan kikir. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.’ (QS. Al-Ma’arij:19). Disadari atau tidak, mengeluh adalah sifat dasar manusia yang timbul saat ia tertimpa musibah atau dalam kesempitan. Sedangkan kikir dalam hasa Arab disebut bakhil, secara detail diuraikan dalam QS. Al-Israa’:100. “…Dan adalah manusia itu sangat kikir.” Kedua, tabiat manusia lemah secara fisik dan lemah dalam melawan hawa nafsu buruk. “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah…” (QS. Ar-Rum:54). Ketiga, manusia memiliki tabiat kezaliman dan kebodohan. “Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan amat bodoh (QS. AL-Ahzab:72). Kezaliman dan kebodohan manusia dalam ayat di atas disebabkan karena rusak dan kotornya bumi, karena pertumpahan darah dan ulah manusia itu sendiri yang tidak merawat bumi dan seisinya sesuai ketentuan Allah. Keempat tabiat manusia adalah tidak adil. Berlaku adil adalah tindakan yang susah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum Madyan yang tidak berlaku adil, akhirnya diazab Allah, seperti dalam firman-Nya, “Dan Syaib berkata, ‘Hai kaumku, cukupkanlah takaran dalam timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. Hud:85). (Ina, Salma Febriani, 2012). Empat Karakter Manusia Dalam Alqur’an, Republika.co.id).

Berbagai catatan sejarah membuktikan betapa kekuasaan manusia atas bumi berimplikasi terhadap kerusakan yang sangat parah, bahkan kejatuhan peradaban yang tengah berada di puncak kejayaanya. Jared Diamond (2015) dalam bukunya “Collapse: How Societies Choose to Fail or Survive” memaparkan dengan sangat detail runtuhnya peradaban dunia seperti suku Maya di Semenanjung Yucatan, Anazasi dan Cahokia di Amerika, Moche dan Tiwanaku di Amerika Selatan, Angkor Wat dan Harappan di lembah sungai Indus di Asia dan Pulau Easter di Samudera Pasifik. Diamond menegaskan bahwa salah satu faktor utama yang menjadi penyumbang terbesar kejatuhan peradaban ini adalah kerusakan ekologis. Manusia secara serampangan mengekspoitasi sumber daya alam yang menjadi sandaran utama kehidupannya. Diamond menyebutnya sebagai bunuh diri ekologis (ecological suicide). Temuan ini terkonfirmasi dari hasil penelitian yang dilakukan oleh arkeologis, klimatologis, sejarawan, palaentologis, dan palynologis. Terdapat proses yang panjang dimana manusia melakukan pengrusakan ekologis melalui delapan kategori yaitu deforestasi dan kerusakan habitat, kerusakan tanah (erosi, salinisasi, dan hilangnya kesuburan tanah), kerusakan sumber air, perburuhan berlebihan, menangkap ikan berlebihan, pengenalan spesies baru terhadap spesies asli, pertumbuhan penduduk dan dampak peningkatan perkapita penduduk.

Diamond memprediksi bahwa beberapa dekade mendatang bunuh diri ekologis semakin parah dan akan mengalahkan ancaman perang nuklir atau munculnya berbagai penyakit yang akan mengancam peradaban dunia. Delapan ancaman ekologis di atas ditambah empat ancaman baru yang disebabkan oleh ulah manusia yaitu perubahan iklim, penggunaan zat kimia berlebihan, kelangkaan energi, dan pemanfaatan kapasitas fotosintetis bumi dapat memicu terjadinya kepunahan dan kejatuhan apokaliptik peradaban manusia moderen. Diamond akhirnya menegaskan bahwa skenario kejatuhan peradaban masa depan juga dapat terjadi akibat perang berkepanjangan karena perebutan sumber daya alam yang langka atau merebaknya wabah penyakit secara global. Semoga pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung tidak menjadi pemicu jatuhnya peradaban yang mengarah ke punahnya manusia di muka bumi. 

Sapiens masih punya waktu untuk terus belajar mengubah kualitas dirinya dalam lintasan evolusi yang dilewatinya. Sapiens masih punya kesempatan untuk beranjak dari kodratnya yang lemah, zalim dan pembuat kerusakan menjadi sapiens yang pandai bersyukur. Sapiens masih punya waktu untuk saling berbagi dan hidup berkecukupan tanpa harus mengekploitasi alam tanpa batas. Sapiens tidak punya pilihan kecuali legowo menghentikan pertumpahan darah atas nama kekuasaan dan penaklukan. Tidak ada kata terlambat dalam belajar. Untuk menghindari kekalahan beruntun dari mikroba, dan menghindari kemungkinan dari kepunahan, sapiens tidak punya banyak pilihan. Ia harus bekerjasama lintas peradaban tanpa sekat kebangsaan, agama, etnisitas dan warna kulit. Kehadirannya di muka bumi harus memberi manfaat bagi seluruh alam serta berbuat adil bagi sesama.(*)




Referensi:

Dan Vergano, (2014). “1918 Flu Pandemic That Killed 50 Million Originated in China, Historian Say”, National Geographic. (api.nationalgeographic.com).

Harari, Yuval, Noah, (2015). “Homo Deus: A Brief History of Tomorrow”, Penguin, Random House, UK.

Priyanto, Wibowo, dkk, 2009), “Yang Terlupakan: Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda”, 2009, Departemen FIB UI-UNICEF Jakarta_Komnas FBPI

Juditha Wojcik dan Sebastian Vollmer, (2017). “The long-term consequences of the global influenza pandemic: A system analysis of 117 IPUMS international census data sets” Working Paper Series, Program on The Global Demography of Aging At Harvard University, 2017.

Howard, Phillips, (2014), “Influenza Pandemic,” International Encyclopedia of the First World War, last updated, 08 Oktober 2014. (encyclopedia.1914-1918-online.net/article/influenza_pandemic)

 J. Rufus Fears, (2004), “The plague under Marcus Aurelius and the decline and fall of the Roman Empire, Elsevier, Saunders, Inc, 2004).

DesOrmeaus, Louise, Anna, (2007), “The Black Death and its effect on fourteenth and fifteenth-century art”. Louisiana State University and Agricultural and Mechanical College.

Ole J. Benedictow, (2005), “The Black Death: The Greatest Catastrophe Ever” 2005, “History Today, Volume 55 Issue 3 March, 2005”.

Charles River Editors, (2020). “The Antonine Plague: The History and Legacy of the Ancient Roman Empire’s Worst Pandemic, Published by Charles River Editor.

S, Scott, CJ. Duncan, (2005), “What caused the Black Death?”, Medical Journal: First Published as 10.1136/pgmj.2004.024075 on May 2005. Downloaded from http://pmj.com

Christopher Muscato, (2020). “The Antonine Plague: History, Start, Spread & Facts, Study.com


=====================
Dr. Sawedi Muhammad, esais, sosiolog, pengajar di Universitas Hasanuddin.

Mencari Karya yang Problematis

0

Sebuah Esai pengantar Kuss Indarto untuk “Dactyl Exhibiton”: pameran Seni Rupa 8 mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar, 25-30 Desember 2019, Bikin-Bikin Creative Hub, Mall Nipah, Makassar.

===============

Pada sebuah cafe bernama Les Select di kawasan Montparnasse, Paris, sekitar musim panas 1993, seniman Christian Boltanski dan Bertrand Lavier berbincang selama berjam-jam bersama kurator muda (waktu itu), Hans Ulrich Obrist. Kurator asal Swiss, Obrist bahkan mengaku nongkrong nyaris 24 jam di situ. Mereka membincangkan banyak problem dan perkembangan jagat seni rupa dalam seabad terakhir–yang mereka baca, amati, dan dirasakan bersama– terutama di Eropa Barat.

Salah satu poin penting yang ditangkap oleh Obrist kala itu –seperti yang kemudian ditulis dalam buku “Ways of Curating” (Faber and Faber inc.: 2014)– adalah bahwa karya seni rupa itu bukan sekadar sebentuk objek atau artefak yang terdisplai (dalam sebuah pameran), namun juga instruksi atau petunjuk untuk mengeksekusi gagasan perihal karya seni tersebut. Lebih lanjut dikatakan bahwa tantangan tradisional tentang seni itu berkait dengan soal pemahaman kreativitas, kesenimanan, dan interpretasi. Ya, bagaimana kreativitas itu muncul dan lalu dieksekusi, bukan dibiarkan mengambang. Bagaimana kesenimanan seseorang itu bukan sekadar atribusi sosial, namun masalah kemampuan untuk mengeksekusi  secara artistik dan estetik dalam berkarya. Bagaimana interpretasi atas sebuah teks itu muncul, berkembang. melahirkan tesa dan antitesa, lalu dieksekusi. Bukan digantung dalam senyap. Obrist menambahkan  kalimat dari Bertrand Lavier yeng menyatakan bahwa instruksi atau petunjuk itu juga memberi daya hidup atas  karya dalam kesadaran yang lebih real (nyata): karya-karya itu menjadi provokatif, bukan sekadar bersifat kontemplatif penuh kesenyapan. Tapi menjadi sebuah “gerakan” dan aksi yang “mengganggu” para apresian saat karya tersebut terpajang dalam ruang seni. Boltanski melihat bahwa instruksi atau petunjuk bagi karya seni instalasi itu serupa alat hitung musik analog yang repetitif namun mampu menggugah interpretasi berbeda.

Hal ini mengisyaratkan kembali perkara klasik dalam semesta seni rupa bahwa dalam tiap karya seni rupa nyaris selalu bersangkutan dengan dunia bentuk dan dunia gagasan. Dunia bentuk itu menyangkut problem fisik atau material ketika seorang seniman berproses kreatif. Dia membutuhkan material berikut teknis untuk mengeksekusi sebuah karya dengan kecakapan teknis dan artistiknya. Sedang pada dunia gagasan itu lebih menyoal tentang perkara ide-ide, imajinasi. atau ruang abstrak yang ada dalam alam pikiran seniman. Dunia bentuk membincangkan tentang aspek tampilan fisik sebuah karya seni, sementara dunia gagasan menyoal perihal aspek muatan atau substansi karya seni.

Pada karya seni rupa dua dimensi, dunia bentuk ini dapat ditukikkan pada masalah teknis seperti kecakapan seniman dalam mengeksplorasi bidang, ruang, garis, warna, komposisi, barik atau tekstur, dan semacamnya. Berseberangan dengan problem teknis itu, aspek dunia gagasan akan memberi ruh atau jiwa bagi karya seni rupa. Tak pelak lagi, kini, dalam zaman seni rupa kontemporer,  gagasan dalam dunia seni rupa kian kaya dan dinamis ikut mewarnai jagat pewacanaan budaya secara umum.

Lewat dunia gagasan seniman itu karya seni rupa terus dikayakan fungsi fungsinya di medan sosial seni. Konsep kuno ars imitator naturam atau “seni  untuk meniru alam” yang dilontarkan Aristoteles di abad 6 SM, kini, tidak bisa sepenuhnya diaplikasikan atau dibenarkan seratus persen. Seni tidak sekadar memindahkan gejala fisik alam ke dalam kanvas atau karya seni yang lain. Sebaliknya, karya seni pada beberapa kasus justru dijadikan sebagai medium bagi imajmasi, kegelisahan dunia dalam (dan lainnya) sang seniman.

Dengan demikian fungsi-fungsi seni kian lama kian kaya dan dinamis. Tidak saja sekadar ditempatkan sebagai perangkat untuk meniru alam, untuk fungsi personal, namun juga diperluas seperti sebagai fungsi sosial, fungsi literasi, dan berbagai fungsinya –dari yang konvensional hingga yang kontroversial, dan seterusnya.

Lukisan Guernica (1937) karya Pablo Picasso –sebagai salah satu contoh kasus (“kecil”)– bisa diperbincangkan sekilas bahwa garis opini politik sang seniman turut memberi pengaruh terhadap karya yang diciptakannya. Bukan karena karya itu berukuran besar (3,49 x 7,76 meter) semata, namun secara substansial Picasso telah menempatkan dirinya sebagai homo socius (makhluk sosial) yang resah terhadap kondisi negaranya yang terancam porak-poranda akibat perang saudara. Karya tersebut menjadi tanda zaman bahwa pada suatu kurun waktu tertentu pernah seorang seniman yang memberi warning atau peringatan kultural bagi negerinya yang terancam hancur karena perbedaan politik yang berakibat saling membinasakan.

Pameran Dactyl ini mengisyaratkan sebuah upaya untuk hilir mudik mengisi  ruang-ruang fungsi seni yang selama ini ada dan terjadi di sekitar masyarakat kita. Dactyl adalah sebuah kolektif seni (art collective) yang terdiri dari 8 mahasiswa Jurusan Seni Rupa, Universitas Muhammadiyah Makassar angkatan 2014. Nama angkatan ini dianggap sebagai simbol pemersatu mahasiswa yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Kemudian disatukan dalam bingkai Dactyl. Dactyl sendiri merupakan sebutan pendek dari pterodactyl, sebutan popular dari pterosaurus. Ya, pterosaurus artinya “kadal bersayap”, salah satu jenis reptile terbang dari ordo Pterosauria yang kini telah punah. Mereka diduga hidup dari akhir masa Trias hingga akhir masa Kaur atau sekitar 228 hingga 66 juta tahun yang lalu. Sebutan dan identifikasi diri sebagai “kadal bersayap” ini bisa diduga sebagai spirit bahwa kolektif seni ini diandaikan bisa merasuk di berbagai “segmentasi”, dari yang “di  darat” dan “di udara”. Personil dalam komunitas ini diandaikan mampu adaptif bersama personal dari kelompok atau komunitas yang lain, yang luas cakupannya.

Dengan mempresentasikan karya seni sebanyak 56 buah, para seniman ini tidak  sekadar mengabsenkan diri ke hadapan publik, namun juga seperti berhasrat untuk mendiseminasikan gagasan kreatif dan kulturalnya ke masyarakat luas. Lingkup atau cakupan tanggung jawab akademik dan sosial direngkuh oleh Dactyl dalam satu kesempatan ini. Karya-karya seni ilustrasi, lukis dan grafis dipertaruhkan untuk direspons secara bebas dan terbuka di tengah publik (non akademik).

***

Digital paint menjadi medium kreatif pilihan Abd. Rahman dalam pameran ini.  Gagasan dasar karya-karyanya menggambarkan tentang dunia fantasi ketika dirinya masih kecil. Abd. Rahman serasa masih terkesan dengan dunia anak ketika segala imajinasi yang bebas dan keinginan yang diwujudkan pada sebuah dunia yang tidak terbatasi oleh aturan-aturan. Namun ada upaya lain yang ingin dibenamkan dalam karyanya, yakni menyisipkan aspek kearifan lokal Indonesia, khususnya Sulawesi. Aspek  kemajuan teknologi juga dijadikan salah satu elemen penting pada karya-karyanya. Gagasan seperti sudah lazim dieksplorasi oleh banyak seniman di dunia. Mulai dari Jean Dubuffet di Prancis, hingga seniman Indonesia semacam Eddie Hara, Faizal, Erca Hestu Wahyuni dan masih banyak lagi. Catatan saya, karya-karya Abd. Rahman masih seperti terperangkap oleh logika orang dewasa. Mungkin ditambah oleh logika orang yang terdidik. Hasilnya, kebebasan ala dunia anak-anak belum tergali dengan optimal dan eksploratif. Abd. Rahman masih tampak ragu, terjerat oleh logika orang dewasa dan logika akadermk tersebut.

Sementara upaya untuk mengayakan medium  mulal tampak pada karya-karya Abdul Rahman. Karyanya diterakan pada potongan kayu yang bentuknya tidak cukup beraturan, tidak simetris. Di atas medium itulah spirit literasi atas kekayaan kultural di sekitarnya, sebagai misal, dibedah dan digali. Misalnya, ilustrasi tentang perahu dengan berbagai jenis dan ragam fisiknya dijadikan sebagai sumber ide Abdul Rahman menyadari betul tentang atribut Indonesia sebagai Negara Maritim terbesar di dunia.

Dan “impact”-nya adalah kekayaan jenis perahu, setidaknya yang disaksikannya di Sulawesi. Ada kapal pinisi yang banyak dibuat oleh orang suku Bugis di Sulawesi Selatan. Ciri khas pinisi adalah adanya dua tiang kapal utama dan tujuh layar, tiga ujung depan. dua di tengah dan dua di belakang. Pinisi banyak dibuat di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Lalu ada perahu jenis Patorani yang difungsikan sebagai kapal nelayan khusus untuk menangkap ikan terbang. Konon perahu jenis ini pernah digunakan oleh armada Kerajaan Goa. Hingga saat ini kapal patorani  masih bisa dijumpai di Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Dan ada  pula perahu jenis Sandeq. Kapal sandeq khas suku Mandar, Sulawesi Barat, ini  memiliki lambung yang ramping, cadik ganda, dan penahan arus di depan  mencuat. Lalu ada perahu Pledang yang digunakan oleh para pemburu paus di Nusa Tenggara Timur menjadikan kapal jenis perahu layar ini sebagai identitas mereka. Karya Abdul Rahman ini ditampilkan secara bersahaja dengan teknik  pewarnaan monochrome yang terkesan sebagai benda atau artefak berusia lama. Di balik kebersahajaannya, karya semacamm ini berpotensi sebagai medium  untuk transfer of of knowledge. Tergantung bagaimana content selanjutnya akan digarap oleh sang seniman.

Pilihan kreatif menarik juga dikerjakan oleh Aidillah Naring. Alternatif mediumnya sederhana: drawing di atas kertas dengan menggunakan ballpoint.  Dia membincangkan narasi besar, yakni tentang kebudayaan. Pada intinya seniman ini galau ketika kini melihat masyarakat seakan-akan cuek pada budaya yang terserak di sekitar. Tapi langsung ribut dan heboh ketika budayanya diklaim  oleh negara lain, seperti kasus kuda lumping, motif batik dari Jawa, reog, angklung, dan lainnya. Tema-tema seperti ini sangat menarik karena berpotensi masuk ke ruang diskursif yang kompleks. Apalagi bila kemudian secara visual Aidlllah mampu menampilkan sisi unik tema, misalnya aspek ironi yang kontradiktlf. Aspek ini yang tampaknya belum tergarap dengan kuat. Juga upaya untuk mengayakan medium dengan, misalnya menggunakan ballpoint di atas kanvas yang pasti akan punya titik beda ketimbang media kertas.

Relatif satu rel dengan Aidillah adalah Eki Asfari yang menguliti tema berbau sosial politik. Terna ini diberangkatkan oleh pengidolaan Eki terhadap tokoh-tokoh yang digamberken. Ada tokoh  pembela HAM, Munir, lalu buruh pabrik arloji, Mersinah dan Sidoarjo, dekat Surabaya, Jatim, dan tokoh penyair aktivis, Wiji Thukul. “Saya sangat mengidolakan mereka. Mereka adalah orang-orang yang rela hidupanya terancam demi orang lain. Membela dan mewakili suara masyarakat, hak yang kita miliki sejak lahir,” tutur Eki. Eki menggambarkan  tokoh-tokoh ini dengan teknik blok dan pewarnaan hitam-putih atau monochrome. Terna “Melawan lupa” dari karya-karya Eki ini mengingatkan  publik pada kata-kata tokoh Mirek dalam novel fiksi Milan Kundera, Book of laughter and Forgetting  (Kitab lupa dan Gelak Tawa, 1971). Tokoh Mirek mengatakan  bahwa “perjuangan melawan  kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa” yang merujuk pada insiden tewasnya tokoh protagonist Clementis yang digantung oleh penguasa komunis Gottwald yang totaliter. Sosok Munir, Marsinah, Wiji Thukul, adalah deretan nama yang mereprsentasikan simbol perjuangan melawan kekuasaan yang cenderung menghalalkan segala cara atau machevelian. Mereka secara faktual tewas dengan cara misterius dan sudah bisa dipastikan karena perjuangan mereka melawan kekuasaan negara yang otoriter. Karya Eki ini menarik, dan akan lebih menarik pula ketika memunculkan sosok-sosok korban politik kekuasaan dari berbagal Negara yang telah ikonik dengan problem perjuangan serupa.

Serupa dengan Abdul  Rahman, karya-karya Fathul Fajeri Mahdar menggunakan  medium yang relatif sama, yakni potongan  kayu. Kayu dibelah horizontal dan kemudian garis tepi potongan bidang kayu itu adalah diameter dari pohon tersebut. Lalu di atas kayu itu digambarkanlah wajah-wajah satwa asli Indonesia yang terbilang langka seperti Dicerorhinus sumatrensis (Badak Sumatra), Panthera tigris sumatrae (harimau Sumatera), Elephas maximus borneensis  (gajah Kalimantan),  hingga Cervus unicolor (rusa sambar). Semuanya adalah satwa yang dilindungi secara hukum di beberapa ekosistemnya di Sumatera atau pulau lain.

Fathul  menuturkan bahwa, “Saya mengangkat tema ini bermula dari kegelisahan terhadap beberapa satwa yang terancam punah akibat oknum yang memanfaatkan hewan ini untuk diperdagangkan, dan mengambil alih habitat hewan tersebut untuk permukiman dan perkebunan. Ekosistem hewan-hewan ini pun hilang.” Fathul memanfaatkan secara maksimal wama yang ada untuk karyanya. lni titik bedanya dengan karya Abdul Rahman yang menggali keunikan karya monochrome (satu warna). Masing-masing memiliki  kekuatan dan kelemahan. Kemampuan Fathul dalam mengelaborasi objek secara cukup detail menjadikan karya-karyanya menjadi kuat dan berkarakter.

Sementara itu lswan Bintang menukikkan tema budaya sebagai pokok soal pada karya-karyanya dengan membincangkan masalah benda pusaka lokal Sulawesi. lswan menghadirkan beberapa bentuk senjata atau benda pusaka dan makna yang divisualkan dalam media kanvas. Tujuannya, tentu, untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi dalam hal ini benda pusaka atau heritage object.  lswan menggarap tema tersebut dengan asumsi “agar di era modernisasi mi tidak mengalami degradasi kepedulian terhadap peninggalan leluhur kita.” Lewat karya ini lswan Bintang ingin menyampaikan kepada publik bahwasanya Benda Pusaka yang dibuat oleh para leluhur bukan sekadar berfungsi sebagai perkakas (alat  perang), melainkan juga memiliki fungsi estettk dan juga fungsi spiritual.

Minat yang kuat dari lswan Bintang terhadap tema Budaya atau Benda Pusaka antara lain ingin  “menyalakan alarm kepedulian” dalam masyarakat terhadap budaya dalam bentuk visual dua dimensi  (lukisan). Dengan siasat tersebut kiranya masyarakat terutama generasi muda tidak mengalami alienasi atau  gegar  budaya ketika menyimak benda pusaka. Karya ini juga sebagai bentuk apresiasi kepada mahakarya orang-orang terdahulu – dimana tiap bentuk dan ornament-ornamen bilah besinya mengandung makna dan mengandung  unsur spiritual. Ya, memang  lswan Bintang dengan sengaja menghadirkan benda atau senjata lokal khas Sulawesi, dan mempertautkannya dengan simbol visual tertentu, seperti   bentuk ornamen ukir dan potongan huruf-huruf kuno yang dulu pernah dijadikan sebagai sarana komunikasi atau transfer of knowledge bagi masyarakat setempat. Dari tampilan karya lswan ini sebenarnya publik makin dikuatkan pemahamannya bahwa karya seni rupa dapat difungsikan secara lebih meluas. Misalnya –untuk konteks karya ini– sebagai bentuk dokumentasi visual atas kekayaan pusaka, atau sebagai salah satu wujud karya antropologi visual.

Pada karya-karya Ma’ruv Ghani publik disuguhi lukisan 7 wajah Presiden RI. Karya diekspresikan di media kanvas ukuran  80 x 120cm, dieksekusi dengan  teknik airbrush. Ma’ruv membilang bahwa, “Karya ini dibuat dengan tujuan untuk mengajak kembali generasi muda –entah itu pelajar, mehasiswa, atau yang sudah  menyelesaiakan pendidikannya– yang mungkin saat ini  masih banyak yang belum mengetahui biograli ke-7 pemimpin Indonesia tersebut.” Lebih jauh, seniman ini menaruh pengharapan agar kaum muda bangsa bisa belajar tentang spirit memperjuangkan kedaulatan bangsa.

Sebagai sebuah gagasan untuk “mengurutkan kembali deretan orang-orang yang pernah menjabat sebagai presiden RI, tentu sangat menarik. Juga menampilkan  kliping surat kabar yang mengangkat peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi pada masing-masing pemimpin, pasti ada dalihyang telah terkonsep sebelumnya. Problemnya adalah, seberapa kuat nilai representativeness kliping surat kabar tersebut dalam memperkuat konstruksi sosok Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, dan seterusnya? Bagaimana pula pertimbangan artistik atas elemen visual tersebut dalam keseluruhan karya? lnilah yang saya lihat pada karya-karya  Ma’ruv ini. Karakter Bung Karno, atau Pak Harto yang relatif telah mulai cukup kuat, justru terkurangi oleh kehadiran potongan (berita) surat kabar yang ditempatkan dengan pertimbangan artistik cukup minimal. Bahkan terkesan mengganggu sosok utama tiap karya. Citravisual simbolik dan ikonik khas pencapaian masing-masing  presiden, mungkin, akan menjadi alternatif solusi. Misalnya drawing pesawat terbang CN 235 mungkin pas ditempatkan di latar belakang Habibie. Satelit Palapa mengiringi figur Soeharto. Patung-patung simbol kebebasan mendampingi sosok Bung Karno, dan semacamnya.

Terakhir, bila menyimak karya-karya Zaki Fausan, publik seperti dipersuasi  untuk ikut merasakan keresahan atau pengalaman empirik menyoal tentang kehidupan manusia pulau. Keterbatasan sudah Keterbatasan sudah menjadi hal yang identik tentang Zaki dan masyarakat di sekitarnya yang hidup di kawasan pesisir. Dalam proses berkarya, Zaki menghadirkan beberapa simbol yang nyata terjadi di sana, serta beberapa mitos yang dipercayai manusia pulau.

Zaki menuturkan, “Simbol itu misalnya tentang hewan lumba-lumba yang dtanggap sebagai hewan penolong. Simbol tentang keterbatasan tekhnologi, simbol kapal sebegai media mata pencaharian, simbol pendidikan yang menjadi  persoalan subtansial di pesisir, simbol anak pulau dengan permainannya seperti kapal-kapalan, bola. dan kelereng.”

Semuanya jadi semacam early warning karena tujuan dari konsep ini tentu memberikan notilikasi khusus kepada penguasa setempat bahwa ada manusia-manusia pesisir yang juga butuh perhatian yang lebih, terkhusus pada wilayah pendidikan dan keterbatasannya.

Zaki  mengeksekusi gagasan kreatif dan keresahan sosial tersebut dengan media  digital menggunakan software Sketchbook dan Photoshop serta pen tablet. Ya,  digital paint menjadi pilihan kreatifnya. Tak ada problem dengan pilihan medium  dan perangkat tersebut. Pertanyaan yang bisa mengemuka justru pada pilihan ekspresi visual yang diungkapkan oleh karya garapan Zaki: kenapa gagasan dasar yang menarik ini nyaris semuanya dieksekusi dengan corak karya yang serupa karikatur atau poster (minus teks)? Saya tidak menyatakan bahwa karya rupa jenis karikatur atau poster  menempati kasta yang lebih rendah. Bukan! Namun  menyimak kecakapan teknis Zaki yang relatif cukup memadai ini, sayangnya, belum dioptinalkan untuk mencipta karya rupa atau lukis problernatis. Artinya tiap bentang karyanya adalah serupa pelukisan lengkap dan komprehensif serta di dalamnya menyertakan substansi problema yang ingin disampaikan. Kita bisa berkaca pada karya S. Sudjojono –misalnya– yang menggambarkan dengan cukup detil, riuh, kompleks suatu lanskap sebuah kawasan, namun di dalamnya tetap dibenamkan problem kritis sebagai sebuah pesan.

Secara umum, pameran kolektif seni Dactyl atau Pterodactyl dari 8 seniman dengan 56 karya ini menarik untuk disimak. Masing-masing memiliki ketertarikan isu dan tema, dan tiap-tiap dari personal di dalamnya mempunyai  skill yang beragam. Pencapaian artistik dan estetiknya pun pasti telah nampak (meski ini akan bisa dinilai secara subyektif oleh masing-masing orang).

Andaikan menjadi seniman masih tetap sebagai pilihan hidup ke depan, ada berbagai agenda persoalan yang perlu dikedepankan. Pertama, ada kehendak atau hasrat untuk mengelola isu dan tema yang lebih fokus. Ada banyak contoh bagaimana seniman yang memiliki kemampuan teknis sangat memadai namun secara substansial kurang cakap mengelola isu dan tema sebagal basis dan ruh  karyanya. Akhirnya karya yang dilahirkan (mungkin) bagus secara teknis, namun kurang pendalaman. Kedua, ada kehendak untuk membangun jejaring kerja secara  personal dan komunal ke ruang-ruang kerja yang lebih luas dan beragam.  Problem besar akan segera memerangkap ketika seseorang seniman hanya berhenti dari satu titik tujuan tanpa mencoba membangun pengayaan gagasan, pengayaan jejaring kerja untuk menangkap setiap gejala kebaruan di dalam dan di luar diri dan lingkungannya. Ketiga, ada kehendak untuk terus melakukan kolaborasi (collaboration), bukan sekadar berpartisipasi (participation) –khususnya ketika seniman dihadapkan pada sebuah kolektif seni atau komunitas semacamnya. Dalam kolaborasi, tiap-tiap individu memiliki kesempatan yang setara dalam mengisi konten, konsep dan kepemilikan hingga keputusan kreatif. Sementara dalam pola relasi seniman sebagai partisipan sebuah komunitas, karena posisi tawarnya yang bisa mengambang, maka garis tanggung jawabnya bisa lemah dan abai terhadap kebersamaan atau kolektivitas.

Selamat berpameran untuk Dactyl atau Pterodactyl. Jalan masih panjang dan terbuka untuk orang-orang yang selalu menggenggam pengharapan dan optimisme.

============

Kuss Indarto, Kurator dan penulis Seni Rupa, tinggal di Yogyakarta.

Terbaru

Puisi yang Menetap dan Marak di Tubuhmu

Puisi-puisi Maulidan Rahman SiregarLAGU IBU /7/ ibu, untuk seluruh puisi yang menetap danmarak di tubuhmuuntuk laju kencang doa-doa yangmenenggelamkan...

Ludah

Rumah Idaman

Anggur

Dari Redaksi