Esai

Home Esai

Setelah Pena Lebih Tajam dari Pedang, Selanjutnya Apa?

0




Pasase klasik pena lebih tajam dari pedang yang ditulis oleh Edward Bulwer-Lytton di naskah drama Cardinal Richelieu (1839) nampaknya akan bertransformasi. Teks-teks di sebuah buku kini akan berebut “panggung” dengan ragam wacana yang berseliweran di media sosial. Dari siniar (podcast), video blog dan ragam budaya populer lainnya. Sastrawan atau penulis yang menulis karya sastra di era digital kiranya akan mengalami beragam tafsir dan modifikasi ruang, dan juga bisa tercabut dari akar itu sendiri.

Beragam tafsir yang saya maksud adalah ketika seorang penyair menulis sebuah puisi secara tuntas—lalu akun pada sebuah media sosial memotong puisi utuh tersebut menjadi sebuah kutipan. Suasana yang terbangun akan berbeda dan mengalami modifikasi ruang; dapat disalin tempel dan direproduksi sedemikian rupa hingga beranak pinak. Ketika aksara cetak lahir dengan mesin buatan Gutenberg, kini ia dapat diproduksi dengan mesin kecerdasan buatan dan beralih rupa dengan hiperteks di berbagai kanal.

Kini kita dapat membaca fiksi interaktif di sebuah gim ponsel, puisi animasi, hingga karya sastra yang lahir dari rahim kecerdasan buatan. Ya! Kini korporasi di bidang teknologi telah mampu membuat karya sastra dan seni lewat mesin. Algoritma yang tercipta mampu menguasai indikator dari karya sastra atau seni yang bagus menurut kritikus. Penulis saat ini saya kira harus lebih meningkatkan kualitas karya dan eksploratif dalam menemukan premis agar umurnya panjang.

Penulis di era kiwari bukan hanya mengandalkan pena sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Ia butuh platform atau media untuk menyampaikannya. Saya ingat di tahun 2011, kala itu sekelompok masyarakat dan seniman Indonesia membuat gerakan Koin Sastra. Gerakan itu adalah bentuk keprihatinan atas kondisi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin yang saat itu mengalami pengurangan dana perawatan. Berawal dari maklumat yang telah mengalami reproduksi, retweet dan berbagai pesan berantai, maka gerakan itu menjadi nyata dan terhubung ke semua orang.

Era digital telah memunculkan lahirnya sastra siber dalam bentuk kebiasaan baru. Dari semula karya sastra dibuat secara personal, menjadi karya sastra yang dibuat secara bersama, yaitu puisi berantai. Ketika salah satu akun media sosial membuat suatu unggahan tematik dan para pengguna meresponnya dengan satu bait puisi, misalnya, maka karya tersebut akan menjadi totalitas komunal.

Setelah polemik sastra siber di awal milenum, kini ‘peradaban’ tersebut memasuki babak baru dalam ragam bentuk. Ketika dulu pembaca melakukan penilaian atau resensi secara konvensional, kini penulis menggunggahnya di caption Instagram, membicarakannya di siniar hingga mengulasnya dalam kebudayaan performatif-lisan, di Youtube.

Saat ini kita bisa melihat dan mencuri dengar gagasan seorang penulis. Ia hadir lebih dari teks: pertunjukan audiovisual di kanal Youtube. Hasan Aspahani dan Marhalim Zaini kerap membacakan puisi kemudian mengulasnya; Martin Suryajaya membicarakan filsafat dengan santai dan gaya kasual yang disukai anak muda. Saya kira perluasan itu untuk mendapatkan “pembaca” yang lebih luas dan gaungnya bisa menerobos rimba maya yang penuh notifikasi di ponsel generasi kiwari.

Platform dan Kuratorial

Dunia yang kita alami dan saksikan sekarang adalah sebuah dunia yang bisa digenggam dan dibawa ke mana saja. Kita dapat menyimak, membaca, menonton, menyebarluaskan gagasan di dalam sebuah layar elektronik dan semua seolah dalam genggaman. Untuk berdiskusi sastra pun kita tak harus bertemu secara fisik. Kita dapat berjejaring dan memiliki komunitas literasi yang sesuai dengan bentuk estetika kita. Semua tersaji secara daring. Semua yang tampak sakral dan profan tersaji dengan mudah dan cepat. Yang banal dan estetik hadir dengan segala kemungkinan. Kemudahan dan kecepatan itu bersinggungan erat dengan ketepatan dan kesalahan. Tarik menarik antar kebenaran versi A dengan kebenaran versi B.

Pada era informasi seperti sekarang, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan hanya pakar, melainkan juga para penganut teori konspirasi, orang awam sok tahu, hingga pesohor yang menyesatkan. Begitu petikan di wara (blurb) buku Matinya Kepakaran karangan Tom Nichols. Disrupsi memberikan kemudahan juga kedangkalan. Setiap orang dapat dengan cepat menjadi ahli pada suatu bidang yang tidak pernah ditekuni secara mendalam. Pada sisi lain, melubernya informasi membuat hilangnya nilai dan batas keilmuan.

Kita sekarang bisa melihat menjamurnya kelas pelatihan menulis secara daring. Tak ada yang salah dengan itu tentu. Namun Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan selaku lembaga negara yang memiliki otoritas untuk memberikan konten edukatif, kiranya mempunyai peran untuk mengarahkan itu. Badan Bahasa dapat menggandeng lembaga lainnya seperti Kemkominfo untuk membuat platform atau aplikasi kuratorial sastra yang berfungsi sebagai ensiklopedia dan direktori yang dialogis. Kemudian, data tersebut dapat diperbaharui setiap waktu dan menggapai bank data lainnya di arsip Dewan Kesenian Jakarta, misalnya. Koherensi dan kolaborasi menjadi hal yang penting di sini. Mengingat dinamika bahasa dan sastra begitu lentur seiring perkembangan zaman dan kredibilitas unggahan menjadi hal yang utama.

Ego sektoral antar lembaga pemerintahan yang kadang tidak sinkron, perlu diperbaiki tata kelolanya. Lihat bagaimana Kemendikbud bekerja sama dengan Netflix untuk menayangkan film dokumenter di TVRI untuk program Belajar dari Rumah, sementara sebelumnya Kemkominfo kontra atau memblokir tayangan di Netflix (mungkin akan berubah nantinya). Saya kira kalau program literasi khususnya sastra jelas dengan konsep dan konkret dalam pelaksanaan, penetrasi acara sastra di media arus utama seperti televisi pun akan terlaksana. Jelas dalam hal apa? Dalam bentuk sosialisasi dan pentingnya sastra atau literasi untuk kehidupan; memperhalus budi, memperluas cakrawala dan imajinasi serta dapat masuk ke lintas sektor seni dan kehidupan. Misalnya kita pahami dulu tentang literasi dasar: mulai dari literasi ekonomi sampai digital. Penyampaiannya bisa berbentuk gelar wicara interaktif atau simulasi permainan. Beberapa kali saya menemukan komentar sembrono di kolom komentar media sosial. Komentar yang tidak diiringi dari keterampilan dasar berbahasa: menyimak, membaca, menulis dan berbicara. Alhasil komentar semacam: Indonesia darurat membaca dan sebagainya menjadi diskursus yang selalu ada dan setelahnya menguap entah ke mana.  

Indonesia memang tidak selalu merata dalam distribusi sumber pengetahuan begitu juga dengan sinyal dan pasokan listrik. Namun tidak ada salahnya kalau mencoba terlebih dahulu dengan membuat sebuah platform, yang dari segi aksesibilitas mudah dijangkau cara dan penggunaannya. Platform tersebut kiranya dapat diunduh di Playstore dan ramah terhadap generasi muda. Meski begitu, substansi tetap yang utama; secara komprehensif memuat data terkait sastra Indonesia. Entri tersebut bisa dimulai dari sejarah sastra, kritik sastra, sayembara sastra, sastra populer, sastra avant garde hingga kemungkinan untuk berguru ke praktisi/sastrawan secara gratis dengan ragam persyaratan ketat. Misalnya ketika seseorang/pengguna sudah memiliki akun di platform tersebut, ia dapat mengikuti seleksi agar bisa mengikuti sebuah kelas penulisan daring secara gratis. Tentu ini dengan persyaratan dan kurasi yang transparan.

Saya kira kalau definisi disrupsi adalah tercabut dari akar, maka penulis kiwari bisa kembali menyemai benih kata, menyiram hingga tumbuh menjadi totalitas karya. Ketika ada pohon yang tercabut sampai akarnya, maka penulis bisa kembali membuka kavelingnya dengan menanam benih hingga jadi pohon yang kokoh. Seperti tanaman hidroponik, kita bisa menanamnya di mana saja. Penulis di era pascarealitas, terkadang membutuhkan pendengung atau pelantang agar karyanya didengar. Namun tentu saja, emas tidak perlu mengatakan dirinya emas. Pembaca akan tahu sebuah kualitas.

Saya sependapat dengan pernyataan Eka Kurniawan di catatan singkat Facebook-nya: Kalau ada orang yang suka membesar-besarkan dirinya, mungkin dia sedang merasa terancam. Dengan adanya plaftform/media/aplikasi yang telah diukur dengan instrumen dan variabel yang jelas, harapan saya sastra Indonesia akan dinikmati secara masif oleh generasi muda seperti mereka mengonsumsi konten popular: Netflix, Webtoon dan piranti hiburan lainnya. Jadi, kalau boleh merespons pasase pena lebih tajam dari pedang, maka saya akan menambahkan: dan pena membutuhkan tinta yang bagus agar senantiasa terukir jelas, terjaga dan tepat guna.

===================
Galeh Pramudita Arianto, lahir di Tangerang Selatan, 1993. Bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Makarios dan salah satu pendiri platform Penakota.id. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) menerima beasiswa penerjemahan dari Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020. Saat ini sedang mempersiapkan buku puisi: Kunjungan Alien Pertama ke Bumi.

Wabah dan Para Penabuh Kentongan

0


Kisah umat manusia antara lain adalah kisah pergulatan sengit dengan wabah. Tidak heran tentu saja bila banyak suku maupun bangsa memiliki kata atau konsep lokal mengenai wabah. Di masa kanak nun dahulu di sebuah kampung di Tanah Bugis, sembari bermain atau bergelut dengan kawan sebaya, seringkali kami bertikai dan mengucapkan kata tanya nanreko sai? Kira-kira berarti “siapkah kau mati ditelan wabah?” Kata itu kami ucapkan setiap kali meragukan pernyataan atau bualan seorang kawan. Orang-orang tua biasanya memarahi kami setiap kali mendengar kami mengucapkan kata-kata itu.

Belakangan baru saya paham bahwa kata “sai” itu merujuk pada wabah, bukan hanya penyakit melainkan gering dalam skala penyebaran yang luas. Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, saya akhirnya mengenali kata-kata serupa dalam aneka bahasa suku selain Bugis. Kata garring pua dalam Bahasa Makassar, kata pageblug dalam Bahasa Jawa, kata gerubug dalam Bahasa Sasak memiliki makna yang kurang lebih sama. Kata atau konsep lokal itu berhimpitan dengan kata atau konsep mengenai wabah yang saya peroleh dari bangku pendidikan kedokteran dan kesehatan masyarakat seperti kata outbreak, epidemic maupun pandemic (wabah dalam skala dunia).

Wabah Covid-19 yang berskala besar bahkan mendunia (pandemi) yang kita alami saat ini tentu saja  bukanlah yang pertama yang melanda dunia dan juga Nusantara. Berabad-abad lampau wabah “kematian hitam” (black death) membuat dunia babak belur. Wabah pes yang mengerikan membuat banyak bangsa porak-poranda. Di masa yang lebih dekat, sekitar satu abad lalu, wabah akbar Flu Spanyol menerjang dunia, hampir bertepatan dengan berakhirnya Perang Dunia Pertama. Amukan Flu Spanyol (1918-1920) menelan korban jutaan jiwa dan menjalar jauh hingga ke Hindia Belanda. Sejumlah literatur menyebut 21 juta hingga kisaran 50-100 juta orang tewas akibat Flu Spanyol di seluruh dunia, dan sekitar 1,5 juta jiwa di berbagai daerah di Hindia Belanda. Liputan surat kabat dan juga sejumlah karya akademik berupa buku dan artikel jurnal merekam dahsyat dan mencekamnya wabah Flu Spanyol di Nusantara.

Namun selain mencatat besaran dan kengerian wabah Flu Spanyol di Hindia Belanda, literatur-literatur tersebut juga merekam kelambanan daya tanggap pemerintah kolonial dan peran penting kaum cendekia dalam upaya menanggulangi wabah tersebut. Di antara kaum cendekia bumiputera kala itu, peran Doktor-dokter Abdul Rivai, sangat menonjol. Rivai, sosok luar biasa dan berjasa sangat besar namun tidak banyak dikenal bahkan di kalangan medis di masa kini, lantang mengkritik tindakan lambat pemerintah. Berkat suara lugas Rivai dan kawan-kawan di Volksraad (parlemen semu Hindia Belanda) akhirnya Influenza Ordonantie—protokol resmi untuk menanggulangi epidemi influenza di masa depan—diresmikan pada Oktober 1920 setelah melalui debat sengit di parlemen dan pemerintahan (Ravando Lie, Seabad Flu Spanyol, Historia, 2018). Sebuah kemajuan penting meskipun jelas telat mengantisipasi wabah tersebut.

Wabah dan kaum cendekia memang memiliki hubungan unik. Di masa modern setelah penemuan mikroskop yang memungkinkan kaum cendekia seperti ilmuwan biomedis-kesehatan meneliti dan mengembangkan sains mengenai aneka kuman dan penyakit-penyakit infeksi, kalangan ini seringkali menjadi “penabuh kentongan” ketika ancaman wabah, penyakit dan kematian dalam skala besar datang. Ironisnya, sangat sering peringatan dari kaum tercerahkan ini diabaikan oleh para pengambil kebijakan.

Tentu tidak mengherankan bila Abdul Rivai menjadi sosok paling menonjol ketika wabah Flu Spanyol menyerang Hindia Belanda. Abdul Rivai jelas seorang perintis dan yang pertama dalam banyak tonggak sejarah ilmu pengetahuan modern, khususnya ilmu kedokteran-kesehatan di Nusantara. Ahli sejarah kedokteran, Professor Hans Pols dari Universitas Sydney (Australia), dalam bukunya yang mengharukan “Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan para Dokter Indonesia” (Kompas, 2019) menempatkan sosok dokter Rivai di bagian awal. Professor Pols tidak memiliki pilihan lebih baik karena sosok Rivai seperti sebuah gerbang untuk memasuki lorong waktu demi mengenali sosok-sosok yang melahirkan nasionalisme Indonesia dan konteks zaman itu.  

Rivai memang merupakan lulusan pertama Dokter Djawa (nama STOVIA dari tahun 1851-1902) dan ia pula yang pertama menerima pendidikan medis lanjutan di Belanda dan lalu meraih gelar doktor di bidang kedokteran di Universitas Ghent, Belgia. Rivai adalah pemuda keras kepala, bercita-cita tinggi dan pekerja amat keras. Namun ia sangat kecewa bahwa kualifikasi medis yang diraihnya dari Sekolah Dokter Djawa di Batavia hanya mengantar dirnya dalam posisi rendah dan penuh diskriminasi dalam sistem kesehatan kolonial.

Karena itu pemuda Rivai ingin membuktikan pada sistem rasis-diskriminatif itu bahwa seorang berkulit cokelatpun mampu meraih gelar medis bahkan doktoral di “jantung ilmu pengetahuan dunia” yakni di universitas di Eropa. Ketika berada di Belanda saat itu, ia juga menjadi mentor kaum nasionalis dan pelajar lebih muda seperti Mohamad Hatta dan Sutan Syahrir. Ia membuktikan diri sanggup menyelesaikan studi medis dan bahkan doktoralnya yang membuatnya secara hukum diakui setara orang kulit putih sekembalinya dari Eropa. Namun apa boleh buat, pengakuan hukum di atas kertas tidak dengan sendirinya membuat Rivai dapat sepenuhnya meraih perlakuan setara dari orang-orang kulit putih dalam kehidupan sehari-harinya  di Hindia Belanda ketika itu.

Diskriminasi dan rasa perih yang senantiasa ditorehkan oleh sistem kolonial membuat Rivai selalu tertarik pada bidang jurnalisme dan politik. Dua bidang yang bisa menjadi ajang pelampiasan rasa perih kaum bumiputera. Agak ironis sebenarnya menyadari bahwa tak banyak lagi yang mengingat sejarah betapa Rivai juga sebenarnya adalah perintis dunia jurnalisme dan kritik sosial di Nusantara. Ia merintis pendirian Bintang Hindia Belanda pada 1902, sebuah majalah bergambar untuk orang-orang bumiputera terpelajar. Dalam periode hidup selanjutnya  selain bekerja sebagai dokter ia kemudian masuk dalam bidang politik dan menjadi anggota Volksraad. Perannya sebagai ilmuwan, dokter, politikus sekaligus naluri sebagai wartawan yang membuatnya lantang “menabuh kentongan” mengingatkan pemerintah kolonial dan masyarakat kala itu mengenai ancaman wabah, “sai”, “garring pua”, “pageblug”, “gerubug” Flu Spanyol.

Abdul Rivai dan para sejawatnya yang telah memainkan peran “penabuh kentongan” terhadap bahaya Flu Spanyol tentu memiliki banyak kemiripan ketika sejak bulan Januari 2020 lalu sejumlah ilmuwan dan profesional kesehatan di Tanah Air juga mulai gencar mengingatkan pemerintah untuk  serius mewaspadai virus Corona baru yang waktu itu menerjang Wuhan di China tengah. Seperti dokter Rivai dan kawan-kawan, peringatan para ilmuwan dan tenaga kesehatan masa kini juga tidak segera ditanggapi pemerintah. Ada waktu dua bulan terbuang dan kini kita harus menebusnya dengan banyak korban jiwa, termasuk nyawa para profesional kesehatan, para dokter dan perawat serta tenaga kesehatan lainnya yang bekerja keras mengatasi Covid-19.

Doktor Rivai dan kawan-kawan segenerasinya di atas sana mungkin menangis melihat anak-anak cucu atau para pelanjut mereka menabuh kentongan mengingatkan bahaya wabah di depan mata namun jatuh di telinga yang tuli atau pura-pura tuli. Dokter Rivai dan kawan-kawan sejawatnya mungkin berurai air mata  melihat para tenaga kesehatan Indonesia yang harus berjuang mati-matian menghadapi Covid-19 tanpa alat pelindung diri memadai.

Rivai beserta para bapak dan ibu bangsa berduka melihat betapa kita belum benar-benar belajar dari sejarah.*



===================
Sudirman Nasir, peminat sejarah dan sastra, pengajar-peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Dongeng…

0

Wabah telah dongeng. Di buku-buku sejarah, wabah itu dicantumkan dan terbaca, dari masa ke masa. Wabah pun tuturan bakal terdengar dengan sekian imbuhan atau pengurangan. Wabah demi wabah digubah oleh para pengarang menjadi cerita atau puisi. Di hadapan sastra, wabah tak cuma imajinasi. Pada teks-teks sastra, kita perlahan mengerti dan mengingat wabah itu mematikan tapi menggerakkan tanda seru minta terjawab umat manusia.    

Pada hari-hari buruk memberi setumpuk takut dan duka, kita kangen dongeng-dongeng “menghibur” dan membahagiakan. Kangen atas imajinasi mengembara ke negeri-negeri jauh, mengagumi tokoh-tokoh ampuh, dan memanen pujian-pujian atas segala peristiwa. Dongeng tak berada jauh di masa lalu. Dongeng-dongeng masih bersama kita setiap hari tapi “terlelap” berbarengan nafsu memberi tatapan ke gawai di kisruh berita atau pameran pendapat mengakibatkan perkelahian. Kesibukan-kesibukan baru tak senikmat persinggahan dan pengelanaan di dongeng-dongeng. Kita merindu dongeng sejak dunia murung. Umat manusia sedang menanggungkan duka belum selesai.

Kita kangen dongeng. Singgah dulu ke novel berjudul Harun dan Samudra Dongeng (2011) gubahan Salman Rushdie. Kota-kota di suatu negeri sedang merana dihuni orang-orang bersikap berlawanan. Di mata para penggemar, pendongeng keliling itu dijuluki “Sang Samudra Khayal”. Musuh-musuh pendongeng memberi julukan “Raja Omong Kosong”. Orang-orang mengerti menjalani hidup tak keruan. Dongeng “terlalu” diperlukan tapi kandungan-kandungan hikmah dipertengkarkan berpamrih hiburan, politik, duit, etika, religiositas, keluarga, dan lain-lain. Pendongeng di keputusan-keputusan sulit meski selalu sibuk mengarang dan mendongeng, hari demi hari.

Harun, putra si pendongeng, memiliki dilema sulit terjawab. Ia memberi sangkalan faedah dongeng tapi selalu terpukau pada dongeng-dongeng bapak. Ia mengakui bapak memiliki dongeng berlimpahan dan beragam: “berselang-seling membingungkan tanpa pernah saling tertukar dan tak pernah membuat kesalahan sekali pun.” Bapak memang pendongeng sakti. Si pendongeng seperti menerima takdir mendongeng atau menghasilkan cerita seumur hidup, memiliki sumber dan mempersembahkan dongeng-dongeng di ribuan hari. Dongeng tak pernah mengering. Dongeng mustahil tamat bila menilik samudra terus berombak dan berlimpahan air.

Di sejarah peradaban manusia, dongeng memberi misi-misi mengubah tatanan hidup di titian waktu. Dongeng dimaksudkan acuan kemujaraban kaidah-kaidah hidup. Pada episode bencana dan petaka, dongeng-dongeng adalah peringatan atas kebiadaban, kebodohan, dan kepongahan manusia. Dongeng-dongeng bergerak di ruang-ruang magis, politis, ekologis, dan etis. Para leluhur menghidupi keturunan (anak-cucu) tak melulu dengan makanan dan minuman. Dongeng menjadi santapan “menolak” fana. Salman Rushdie memberi sindiran: “Ketika lapar, mereka akan menelan cerita melalui semua mulut, dan dalam isi perut mereka keajaiban terjadi. Sebagian dari satu cerita bergabung dengan gagasan dari cerita lain dan ketika mereka memuntahkan kisah itu keluar, kisah-kisah itu tak lagi serupa cerita lama, tapi suatu cerita baru.” Perjalanan dongeng tak ada ujung.

Dongeng di suatu negeri di alur waktu sering menjadi dongeng milik dunia. Dongeng-dongeng itu bersebaran selama ratusan atau ribuan tahun turut membentuk panggilan ke kodrat-kodrat peradaban kuno dan modern. Orang-orang di pelbagai negeri memiliki dongeng-dongeng semula bersemi di Yunani, Arab, India, Persia, Tiongkok, dan lain-lain. Di Indonesia, dongeng-dongeng bertumbuh di ribuan pulau dan “menghasilkan” dongeng-dongeng di perjumpaan peradaban-peradaban jauh berdatangan, dari zaman ke zaman. Arus dongeng di alur tak putus. Kita berhak menjadi ahli waris dongeng dari seribu negeri.

Dongeng-dongeng bersebaran di pelbagai negeri itu dinamai Kisah Seribu Satu Malam. Husain Hadawy (1993) mengingatkan: “Begitulah kain kehidupan diubah menjadi siratan benang roman (dongeng) ketika kisah-kisah ini dirajut selama berabad-abad di tengah pertemuan-pertemuan keluarga, perkumpulan-perkumpulan masyarakat, dan kedai-kedai kopi di Baghdad, Damaskus, atau Kairo. Setiap orang menyukainya sebab dia berhasil memikat orang-orang tua maupun muda dengan pesona kisahnya.” Dongeng-dongeng berusia tua, menampik lapuk, runtuh, atau punah. Para leluhur atau umat dongeng masa lalu seperti memiliki rumus mujarab di pengawetan dongeng-dongeng dan meramalkan dongeng-dongeng melintasi benua atau lautan.

Keampuhan dongeng lama sering merangsang kemunculan para pengarang ampuh. Dongeng-dongeng memberi panggilan di gubahan sastra modern  memuncak sebagai sastra dunia atau meraih Nobel Sastra. Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marques, Jorge Luis Borges, Mo Yan, Octavio Paz, Mark Twain, Charles Dickens, dan lain-lain memiliki ikatan ke dongeng-dongeng lama berupa tuturan atau edisi cetak. Para pendahulu memberi warisan-warisan terdengar dan terbaca sepanjang masa. Kita menjadi ahli waris bunga rampai dongeng dari pelbagai negeri. Kita pun memiliki sumber-sumber di pulau-pulau sebagai “tanah subur cerita”. Keberlimpahan dongeng tak memastikan kita membuat album ingatan atau menggerakkan dongeng di kehidupan keseharian. Kita sering terbujuk meremehkan dongeng-dongeng lawas berdalih pikat-pikat baru di keajaiban teknologi.  

Kita menilik cuilan biografi Hilmar Farid dimuat di buku berjudul Berkah Kehidupan (2011) disunting Baskara T Wardaya. Pengisahan diri, orangtua, dan buku. “Ayah saya adalah Agus Setiadi. Ia dikenal oleh anak Indonesia melalui penerjemahan seperti Lima Sekawan,” tulis Hilmar Farid. Pengasuhan dengan buku-buku cerita dunia memberi pengaruh besar, membentuk diri gandrung berpikir dan berimajinasi. Hilmar Farid kadang diajak bapak turut dalam menerjemahkan buku cerita anak dan mengetik. Hikmah diperoleh Hilmar Farid: “Sekolah untuk sementara saya lupakan dan saya semakin tenggelam dalam dunia buku. Saya suka buku sejak kecil. Ketika kembali ke Indonesia seluruh waktu perjalanan saya isi dengan membaca dua buku Enid Blyton.” Ia memang dibesarkan di Eropa, sebelum kembali ke Indonesia.

Bapak memberi teladan dan pengaruh besar. Di ingatan Hilmar Farid, bapak “pandai bercerita dan sangat meyakinkan”. Pengaruh terbesar ke Hilmar Farid adalah “soal bahasa dan kerja dengan kata.” Kita pun memiliki biografi-biografi berkaitan dongeng dan peran orangtua. Di keluarga, kehadiran pendongeng atau buku-buku cerita memungkinkan pembentukan identitas. Pematangan dalam perkara berpikir dan berimajinasi dengan pengantar dongeng-dongeng bakal meluweskan sikap hidup ketimbang ditimbuni ilmu-ilmu wajib dipelajari di sekolah selama belasan tahun.

Pada abad XXI, dongeng-dongeng belum punah meski berasal dari ribuan tahun lalu. Dongeng-dongeng baru bermunculan dengan garapan teknologi menawan. Kita selalu kaget dan terpukau menikmati dongeng-dongeng baru tersaji di buku, film, atau pentas. Misi-misi besar dimuat dongeng-dongeng baru berkaitan nasib Bumi, kemanusiaan, religiositas, atau etika global. Dongeng bertema besar kadang memberi beban-beban tafsir. Kerja tafsir saat kita di situasi tergesa dan patokan hidup adalah kecepatan.

Kita teringat penjelasan Naguib Mahfoudz, pengarang legendaris di Mesir,  dalam pidato penerimaan Nobel Sastra (1988). Ia mengaku: “Itulah takdir saya… dilahirkan dalam pangkuan dua peradaban untuk menyerap air susunya, melahap kesusastraan, dan kesenian mereka. Lalu, saya meminum nektar dari peradaban (Eropa) yang kaya dan memesona.” Pengarang kondang itu menerima warisan-warisan dongeng dari pelbagai negeri. Kita pun berhak mengaku ahli waris dongeng dunia meski tak menerima takdir sebagai pendongeng ulung di tulisan-tulisan terbaca atau telingan-telingan ingin ketakjuban sepanjang masa. Begitu.  


=======================
Bandung Mawardi, Penulis buku Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Mencari Karya yang Problematis

0

Sebuah Esai pengantar Kuss Indarto untuk “Dactyl Exhibiton”: pameran Seni Rupa 8 mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar, 25-30 Desember 2019, Bikin-Bikin Creative Hub, Mall Nipah, Makassar.

===============

Pada sebuah cafe bernama Les Select di kawasan Montparnasse, Paris, sekitar musim panas 1993, seniman Christian Boltanski dan Bertrand Lavier berbincang selama berjam-jam bersama kurator muda (waktu itu), Hans Ulrich Obrist. Kurator asal Swiss, Obrist bahkan mengaku nongkrong nyaris 24 jam di situ. Mereka membincangkan banyak problem dan perkembangan jagat seni rupa dalam seabad terakhir–yang mereka baca, amati, dan dirasakan bersama– terutama di Eropa Barat.

Salah satu poin penting yang ditangkap oleh Obrist kala itu –seperti yang kemudian ditulis dalam buku “Ways of Curating” (Faber and Faber inc.: 2014)– adalah bahwa karya seni rupa itu bukan sekadar sebentuk objek atau artefak yang terdisplai (dalam sebuah pameran), namun juga instruksi atau petunjuk untuk mengeksekusi gagasan perihal karya seni tersebut. Lebih lanjut dikatakan bahwa tantangan tradisional tentang seni itu berkait dengan soal pemahaman kreativitas, kesenimanan, dan interpretasi. Ya, bagaimana kreativitas itu muncul dan lalu dieksekusi, bukan dibiarkan mengambang. Bagaimana kesenimanan seseorang itu bukan sekadar atribusi sosial, namun masalah kemampuan untuk mengeksekusi  secara artistik dan estetik dalam berkarya. Bagaimana interpretasi atas sebuah teks itu muncul, berkembang. melahirkan tesa dan antitesa, lalu dieksekusi. Bukan digantung dalam senyap. Obrist menambahkan  kalimat dari Bertrand Lavier yeng menyatakan bahwa instruksi atau petunjuk itu juga memberi daya hidup atas  karya dalam kesadaran yang lebih real (nyata): karya-karya itu menjadi provokatif, bukan sekadar bersifat kontemplatif penuh kesenyapan. Tapi menjadi sebuah “gerakan” dan aksi yang “mengganggu” para apresian saat karya tersebut terpajang dalam ruang seni. Boltanski melihat bahwa instruksi atau petunjuk bagi karya seni instalasi itu serupa alat hitung musik analog yang repetitif namun mampu menggugah interpretasi berbeda.

Hal ini mengisyaratkan kembali perkara klasik dalam semesta seni rupa bahwa dalam tiap karya seni rupa nyaris selalu bersangkutan dengan dunia bentuk dan dunia gagasan. Dunia bentuk itu menyangkut problem fisik atau material ketika seorang seniman berproses kreatif. Dia membutuhkan material berikut teknis untuk mengeksekusi sebuah karya dengan kecakapan teknis dan artistiknya. Sedang pada dunia gagasan itu lebih menyoal tentang perkara ide-ide, imajinasi. atau ruang abstrak yang ada dalam alam pikiran seniman. Dunia bentuk membincangkan tentang aspek tampilan fisik sebuah karya seni, sementara dunia gagasan menyoal perihal aspek muatan atau substansi karya seni.

Pada karya seni rupa dua dimensi, dunia bentuk ini dapat ditukikkan pada masalah teknis seperti kecakapan seniman dalam mengeksplorasi bidang, ruang, garis, warna, komposisi, barik atau tekstur, dan semacamnya. Berseberangan dengan problem teknis itu, aspek dunia gagasan akan memberi ruh atau jiwa bagi karya seni rupa. Tak pelak lagi, kini, dalam zaman seni rupa kontemporer,  gagasan dalam dunia seni rupa kian kaya dan dinamis ikut mewarnai jagat pewacanaan budaya secara umum.

Lewat dunia gagasan seniman itu karya seni rupa terus dikayakan fungsi fungsinya di medan sosial seni. Konsep kuno ars imitator naturam atau “seni  untuk meniru alam” yang dilontarkan Aristoteles di abad 6 SM, kini, tidak bisa sepenuhnya diaplikasikan atau dibenarkan seratus persen. Seni tidak sekadar memindahkan gejala fisik alam ke dalam kanvas atau karya seni yang lain. Sebaliknya, karya seni pada beberapa kasus justru dijadikan sebagai medium bagi imajmasi, kegelisahan dunia dalam (dan lainnya) sang seniman.

Dengan demikian fungsi-fungsi seni kian lama kian kaya dan dinamis. Tidak saja sekadar ditempatkan sebagai perangkat untuk meniru alam, untuk fungsi personal, namun juga diperluas seperti sebagai fungsi sosial, fungsi literasi, dan berbagai fungsinya –dari yang konvensional hingga yang kontroversial, dan seterusnya.

Lukisan Guernica (1937) karya Pablo Picasso –sebagai salah satu contoh kasus (“kecil”)– bisa diperbincangkan sekilas bahwa garis opini politik sang seniman turut memberi pengaruh terhadap karya yang diciptakannya. Bukan karena karya itu berukuran besar (3,49 x 7,76 meter) semata, namun secara substansial Picasso telah menempatkan dirinya sebagai homo socius (makhluk sosial) yang resah terhadap kondisi negaranya yang terancam porak-poranda akibat perang saudara. Karya tersebut menjadi tanda zaman bahwa pada suatu kurun waktu tertentu pernah seorang seniman yang memberi warning atau peringatan kultural bagi negerinya yang terancam hancur karena perbedaan politik yang berakibat saling membinasakan.

Pameran Dactyl ini mengisyaratkan sebuah upaya untuk hilir mudik mengisi  ruang-ruang fungsi seni yang selama ini ada dan terjadi di sekitar masyarakat kita. Dactyl adalah sebuah kolektif seni (art collective) yang terdiri dari 8 mahasiswa Jurusan Seni Rupa, Universitas Muhammadiyah Makassar angkatan 2014. Nama angkatan ini dianggap sebagai simbol pemersatu mahasiswa yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Kemudian disatukan dalam bingkai Dactyl. Dactyl sendiri merupakan sebutan pendek dari pterodactyl, sebutan popular dari pterosaurus. Ya, pterosaurus artinya “kadal bersayap”, salah satu jenis reptile terbang dari ordo Pterosauria yang kini telah punah. Mereka diduga hidup dari akhir masa Trias hingga akhir masa Kaur atau sekitar 228 hingga 66 juta tahun yang lalu. Sebutan dan identifikasi diri sebagai “kadal bersayap” ini bisa diduga sebagai spirit bahwa kolektif seni ini diandaikan bisa merasuk di berbagai “segmentasi”, dari yang “di  darat” dan “di udara”. Personil dalam komunitas ini diandaikan mampu adaptif bersama personal dari kelompok atau komunitas yang lain, yang luas cakupannya.

Dengan mempresentasikan karya seni sebanyak 56 buah, para seniman ini tidak  sekadar mengabsenkan diri ke hadapan publik, namun juga seperti berhasrat untuk mendiseminasikan gagasan kreatif dan kulturalnya ke masyarakat luas. Lingkup atau cakupan tanggung jawab akademik dan sosial direngkuh oleh Dactyl dalam satu kesempatan ini. Karya-karya seni ilustrasi, lukis dan grafis dipertaruhkan untuk direspons secara bebas dan terbuka di tengah publik (non akademik).

***

Digital paint menjadi medium kreatif pilihan Abd. Rahman dalam pameran ini.  Gagasan dasar karya-karyanya menggambarkan tentang dunia fantasi ketika dirinya masih kecil. Abd. Rahman serasa masih terkesan dengan dunia anak ketika segala imajinasi yang bebas dan keinginan yang diwujudkan pada sebuah dunia yang tidak terbatasi oleh aturan-aturan. Namun ada upaya lain yang ingin dibenamkan dalam karyanya, yakni menyisipkan aspek kearifan lokal Indonesia, khususnya Sulawesi. Aspek  kemajuan teknologi juga dijadikan salah satu elemen penting pada karya-karyanya. Gagasan seperti sudah lazim dieksplorasi oleh banyak seniman di dunia. Mulai dari Jean Dubuffet di Prancis, hingga seniman Indonesia semacam Eddie Hara, Faizal, Erca Hestu Wahyuni dan masih banyak lagi. Catatan saya, karya-karya Abd. Rahman masih seperti terperangkap oleh logika orang dewasa. Mungkin ditambah oleh logika orang yang terdidik. Hasilnya, kebebasan ala dunia anak-anak belum tergali dengan optimal dan eksploratif. Abd. Rahman masih tampak ragu, terjerat oleh logika orang dewasa dan logika akadermk tersebut.

Sementara upaya untuk mengayakan medium  mulal tampak pada karya-karya Abdul Rahman. Karyanya diterakan pada potongan kayu yang bentuknya tidak cukup beraturan, tidak simetris. Di atas medium itulah spirit literasi atas kekayaan kultural di sekitarnya, sebagai misal, dibedah dan digali. Misalnya, ilustrasi tentang perahu dengan berbagai jenis dan ragam fisiknya dijadikan sebagai sumber ide Abdul Rahman menyadari betul tentang atribut Indonesia sebagai Negara Maritim terbesar di dunia.

Dan “impact”-nya adalah kekayaan jenis perahu, setidaknya yang disaksikannya di Sulawesi. Ada kapal pinisi yang banyak dibuat oleh orang suku Bugis di Sulawesi Selatan. Ciri khas pinisi adalah adanya dua tiang kapal utama dan tujuh layar, tiga ujung depan. dua di tengah dan dua di belakang. Pinisi banyak dibuat di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Lalu ada perahu jenis Patorani yang difungsikan sebagai kapal nelayan khusus untuk menangkap ikan terbang. Konon perahu jenis ini pernah digunakan oleh armada Kerajaan Goa. Hingga saat ini kapal patorani  masih bisa dijumpai di Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Dan ada  pula perahu jenis Sandeq. Kapal sandeq khas suku Mandar, Sulawesi Barat, ini  memiliki lambung yang ramping, cadik ganda, dan penahan arus di depan  mencuat. Lalu ada perahu Pledang yang digunakan oleh para pemburu paus di Nusa Tenggara Timur menjadikan kapal jenis perahu layar ini sebagai identitas mereka. Karya Abdul Rahman ini ditampilkan secara bersahaja dengan teknik  pewarnaan monochrome yang terkesan sebagai benda atau artefak berusia lama. Di balik kebersahajaannya, karya semacamm ini berpotensi sebagai medium  untuk transfer of of knowledge. Tergantung bagaimana content selanjutnya akan digarap oleh sang seniman.

Pilihan kreatif menarik juga dikerjakan oleh Aidillah Naring. Alternatif mediumnya sederhana: drawing di atas kertas dengan menggunakan ballpoint.  Dia membincangkan narasi besar, yakni tentang kebudayaan. Pada intinya seniman ini galau ketika kini melihat masyarakat seakan-akan cuek pada budaya yang terserak di sekitar. Tapi langsung ribut dan heboh ketika budayanya diklaim  oleh negara lain, seperti kasus kuda lumping, motif batik dari Jawa, reog, angklung, dan lainnya. Tema-tema seperti ini sangat menarik karena berpotensi masuk ke ruang diskursif yang kompleks. Apalagi bila kemudian secara visual Aidlllah mampu menampilkan sisi unik tema, misalnya aspek ironi yang kontradiktlf. Aspek ini yang tampaknya belum tergarap dengan kuat. Juga upaya untuk mengayakan medium dengan, misalnya menggunakan ballpoint di atas kanvas yang pasti akan punya titik beda ketimbang media kertas.

Relatif satu rel dengan Aidillah adalah Eki Asfari yang menguliti tema berbau sosial politik. Terna ini diberangkatkan oleh pengidolaan Eki terhadap tokoh-tokoh yang digamberken. Ada tokoh  pembela HAM, Munir, lalu buruh pabrik arloji, Mersinah dan Sidoarjo, dekat Surabaya, Jatim, dan tokoh penyair aktivis, Wiji Thukul. “Saya sangat mengidolakan mereka. Mereka adalah orang-orang yang rela hidupanya terancam demi orang lain. Membela dan mewakili suara masyarakat, hak yang kita miliki sejak lahir,” tutur Eki. Eki menggambarkan  tokoh-tokoh ini dengan teknik blok dan pewarnaan hitam-putih atau monochrome. Terna “Melawan lupa” dari karya-karya Eki ini mengingatkan  publik pada kata-kata tokoh Mirek dalam novel fiksi Milan Kundera, Book of laughter and Forgetting  (Kitab lupa dan Gelak Tawa, 1971). Tokoh Mirek mengatakan  bahwa “perjuangan melawan  kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa” yang merujuk pada insiden tewasnya tokoh protagonist Clementis yang digantung oleh penguasa komunis Gottwald yang totaliter. Sosok Munir, Marsinah, Wiji Thukul, adalah deretan nama yang mereprsentasikan simbol perjuangan melawan kekuasaan yang cenderung menghalalkan segala cara atau machevelian. Mereka secara faktual tewas dengan cara misterius dan sudah bisa dipastikan karena perjuangan mereka melawan kekuasaan negara yang otoriter. Karya Eki ini menarik, dan akan lebih menarik pula ketika memunculkan sosok-sosok korban politik kekuasaan dari berbagal Negara yang telah ikonik dengan problem perjuangan serupa.

Serupa dengan Abdul  Rahman, karya-karya Fathul Fajeri Mahdar menggunakan  medium yang relatif sama, yakni potongan  kayu. Kayu dibelah horizontal dan kemudian garis tepi potongan bidang kayu itu adalah diameter dari pohon tersebut. Lalu di atas kayu itu digambarkanlah wajah-wajah satwa asli Indonesia yang terbilang langka seperti Dicerorhinus sumatrensis (Badak Sumatra), Panthera tigris sumatrae (harimau Sumatera), Elephas maximus borneensis  (gajah Kalimantan),  hingga Cervus unicolor (rusa sambar). Semuanya adalah satwa yang dilindungi secara hukum di beberapa ekosistemnya di Sumatera atau pulau lain.

Fathul  menuturkan bahwa, “Saya mengangkat tema ini bermula dari kegelisahan terhadap beberapa satwa yang terancam punah akibat oknum yang memanfaatkan hewan ini untuk diperdagangkan, dan mengambil alih habitat hewan tersebut untuk permukiman dan perkebunan. Ekosistem hewan-hewan ini pun hilang.” Fathul memanfaatkan secara maksimal wama yang ada untuk karyanya. lni titik bedanya dengan karya Abdul Rahman yang menggali keunikan karya monochrome (satu warna). Masing-masing memiliki  kekuatan dan kelemahan. Kemampuan Fathul dalam mengelaborasi objek secara cukup detail menjadikan karya-karyanya menjadi kuat dan berkarakter.

Sementara itu lswan Bintang menukikkan tema budaya sebagai pokok soal pada karya-karyanya dengan membincangkan masalah benda pusaka lokal Sulawesi. lswan menghadirkan beberapa bentuk senjata atau benda pusaka dan makna yang divisualkan dalam media kanvas. Tujuannya, tentu, untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi dalam hal ini benda pusaka atau heritage object.  lswan menggarap tema tersebut dengan asumsi “agar di era modernisasi mi tidak mengalami degradasi kepedulian terhadap peninggalan leluhur kita.” Lewat karya ini lswan Bintang ingin menyampaikan kepada publik bahwasanya Benda Pusaka yang dibuat oleh para leluhur bukan sekadar berfungsi sebagai perkakas (alat  perang), melainkan juga memiliki fungsi estettk dan juga fungsi spiritual.

Minat yang kuat dari lswan Bintang terhadap tema Budaya atau Benda Pusaka antara lain ingin  “menyalakan alarm kepedulian” dalam masyarakat terhadap budaya dalam bentuk visual dua dimensi  (lukisan). Dengan siasat tersebut kiranya masyarakat terutama generasi muda tidak mengalami alienasi atau  gegar  budaya ketika menyimak benda pusaka. Karya ini juga sebagai bentuk apresiasi kepada mahakarya orang-orang terdahulu – dimana tiap bentuk dan ornament-ornamen bilah besinya mengandung makna dan mengandung  unsur spiritual. Ya, memang  lswan Bintang dengan sengaja menghadirkan benda atau senjata lokal khas Sulawesi, dan mempertautkannya dengan simbol visual tertentu, seperti   bentuk ornamen ukir dan potongan huruf-huruf kuno yang dulu pernah dijadikan sebagai sarana komunikasi atau transfer of knowledge bagi masyarakat setempat. Dari tampilan karya lswan ini sebenarnya publik makin dikuatkan pemahamannya bahwa karya seni rupa dapat difungsikan secara lebih meluas. Misalnya –untuk konteks karya ini– sebagai bentuk dokumentasi visual atas kekayaan pusaka, atau sebagai salah satu wujud karya antropologi visual.

Pada karya-karya Ma’ruv Ghani publik disuguhi lukisan 7 wajah Presiden RI. Karya diekspresikan di media kanvas ukuran  80 x 120cm, dieksekusi dengan  teknik airbrush. Ma’ruv membilang bahwa, “Karya ini dibuat dengan tujuan untuk mengajak kembali generasi muda –entah itu pelajar, mehasiswa, atau yang sudah  menyelesaiakan pendidikannya– yang mungkin saat ini  masih banyak yang belum mengetahui biograli ke-7 pemimpin Indonesia tersebut.” Lebih jauh, seniman ini menaruh pengharapan agar kaum muda bangsa bisa belajar tentang spirit memperjuangkan kedaulatan bangsa.

Sebagai sebuah gagasan untuk “mengurutkan kembali deretan orang-orang yang pernah menjabat sebagai presiden RI, tentu sangat menarik. Juga menampilkan  kliping surat kabar yang mengangkat peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi pada masing-masing pemimpin, pasti ada dalihyang telah terkonsep sebelumnya. Problemnya adalah, seberapa kuat nilai representativeness kliping surat kabar tersebut dalam memperkuat konstruksi sosok Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, dan seterusnya? Bagaimana pula pertimbangan artistik atas elemen visual tersebut dalam keseluruhan karya? lnilah yang saya lihat pada karya-karya  Ma’ruv ini. Karakter Bung Karno, atau Pak Harto yang relatif telah mulai cukup kuat, justru terkurangi oleh kehadiran potongan (berita) surat kabar yang ditempatkan dengan pertimbangan artistik cukup minimal. Bahkan terkesan mengganggu sosok utama tiap karya. Citravisual simbolik dan ikonik khas pencapaian masing-masing  presiden, mungkin, akan menjadi alternatif solusi. Misalnya drawing pesawat terbang CN 235 mungkin pas ditempatkan di latar belakang Habibie. Satelit Palapa mengiringi figur Soeharto. Patung-patung simbol kebebasan mendampingi sosok Bung Karno, dan semacamnya.

Terakhir, bila menyimak karya-karya Zaki Fausan, publik seperti dipersuasi  untuk ikut merasakan keresahan atau pengalaman empirik menyoal tentang kehidupan manusia pulau. Keterbatasan sudah Keterbatasan sudah menjadi hal yang identik tentang Zaki dan masyarakat di sekitarnya yang hidup di kawasan pesisir. Dalam proses berkarya, Zaki menghadirkan beberapa simbol yang nyata terjadi di sana, serta beberapa mitos yang dipercayai manusia pulau.

Zaki menuturkan, “Simbol itu misalnya tentang hewan lumba-lumba yang dtanggap sebagai hewan penolong. Simbol tentang keterbatasan tekhnologi, simbol kapal sebegai media mata pencaharian, simbol pendidikan yang menjadi  persoalan subtansial di pesisir, simbol anak pulau dengan permainannya seperti kapal-kapalan, bola. dan kelereng.”

Semuanya jadi semacam early warning karena tujuan dari konsep ini tentu memberikan notilikasi khusus kepada penguasa setempat bahwa ada manusia-manusia pesisir yang juga butuh perhatian yang lebih, terkhusus pada wilayah pendidikan dan keterbatasannya.

Zaki  mengeksekusi gagasan kreatif dan keresahan sosial tersebut dengan media  digital menggunakan software Sketchbook dan Photoshop serta pen tablet. Ya,  digital paint menjadi pilihan kreatifnya. Tak ada problem dengan pilihan medium  dan perangkat tersebut. Pertanyaan yang bisa mengemuka justru pada pilihan ekspresi visual yang diungkapkan oleh karya garapan Zaki: kenapa gagasan dasar yang menarik ini nyaris semuanya dieksekusi dengan corak karya yang serupa karikatur atau poster (minus teks)? Saya tidak menyatakan bahwa karya rupa jenis karikatur atau poster  menempati kasta yang lebih rendah. Bukan! Namun  menyimak kecakapan teknis Zaki yang relatif cukup memadai ini, sayangnya, belum dioptinalkan untuk mencipta karya rupa atau lukis problernatis. Artinya tiap bentang karyanya adalah serupa pelukisan lengkap dan komprehensif serta di dalamnya menyertakan substansi problema yang ingin disampaikan. Kita bisa berkaca pada karya S. Sudjojono –misalnya– yang menggambarkan dengan cukup detil, riuh, kompleks suatu lanskap sebuah kawasan, namun di dalamnya tetap dibenamkan problem kritis sebagai sebuah pesan.

Secara umum, pameran kolektif seni Dactyl atau Pterodactyl dari 8 seniman dengan 56 karya ini menarik untuk disimak. Masing-masing memiliki ketertarikan isu dan tema, dan tiap-tiap dari personal di dalamnya mempunyai  skill yang beragam. Pencapaian artistik dan estetiknya pun pasti telah nampak (meski ini akan bisa dinilai secara subyektif oleh masing-masing orang).

Andaikan menjadi seniman masih tetap sebagai pilihan hidup ke depan, ada berbagai agenda persoalan yang perlu dikedepankan. Pertama, ada kehendak atau hasrat untuk mengelola isu dan tema yang lebih fokus. Ada banyak contoh bagaimana seniman yang memiliki kemampuan teknis sangat memadai namun secara substansial kurang cakap mengelola isu dan tema sebagal basis dan ruh  karyanya. Akhirnya karya yang dilahirkan (mungkin) bagus secara teknis, namun kurang pendalaman. Kedua, ada kehendak untuk membangun jejaring kerja secara  personal dan komunal ke ruang-ruang kerja yang lebih luas dan beragam.  Problem besar akan segera memerangkap ketika seseorang seniman hanya berhenti dari satu titik tujuan tanpa mencoba membangun pengayaan gagasan, pengayaan jejaring kerja untuk menangkap setiap gejala kebaruan di dalam dan di luar diri dan lingkungannya. Ketiga, ada kehendak untuk terus melakukan kolaborasi (collaboration), bukan sekadar berpartisipasi (participation) –khususnya ketika seniman dihadapkan pada sebuah kolektif seni atau komunitas semacamnya. Dalam kolaborasi, tiap-tiap individu memiliki kesempatan yang setara dalam mengisi konten, konsep dan kepemilikan hingga keputusan kreatif. Sementara dalam pola relasi seniman sebagai partisipan sebuah komunitas, karena posisi tawarnya yang bisa mengambang, maka garis tanggung jawabnya bisa lemah dan abai terhadap kebersamaan atau kolektivitas.

Selamat berpameran untuk Dactyl atau Pterodactyl. Jalan masih panjang dan terbuka untuk orang-orang yang selalu menggenggam pengharapan dan optimisme.

============

Kuss Indarto, Kurator dan penulis Seni Rupa, tinggal di Yogyakarta.

Corona, Vietnam dan Masa Lalu yang Gemilang

0




Di antara negara-negara Asean, soal memerangi Pandemi Corona, Vietnam adalah juaranya. Bayangkan pada 26 Februari 2020, semua penderita corona, yaitu 16 orang termasuk orang tua berusia 73 tahun dinyatakan sembuh dan hingga saat ini belum terdapat satu pun korban meninggal. “Bila diandaikan pertempuran melawan Covid19 adalah perang, maka kami telah memenangkan putaran pertama tetapi tidak seluruhnya karena situasinya bisa sangat tidak terduga,” kata Menteri Kesehatan Vietnam mengutip wakil Perdana Menteri Menteri Vu Duc Dam di media daring Aljazeera.com.

Bagaimana keajaiban itu muncul? Dari penjelasan Media Kumparan yang mengutip penjelasan World Health Organitation (WHO), kuncinya pada respon atau penanganan pertama saat kejadian belum begitu merebak. Sejak munculnya kasus pertama pada 23 Januari 2020, sembilan hari kemudian, Pemerintah langsung menetapkan corona sebagai wabah. Ketika wabah muncul lagi di Pedesaan Son Loi, pemerintah langsung mengisolasi 10.600 penduduk desa itu selama 20 hari. Begitu halnya saat ada lagi kasus di pemukiman tertentu, besoknya pemukiman tersebut di karantina dan rumah korban didisinfektan.

Tentu, keajaiban Vietnam ini bukanlah muncul tiba-tiba. Kita tak dapat melupakan sejarah Vietnam yang gemilang. Sejarah yang penuh perjuangan, baik melawan Cina, Prancis, Amerika, hingga saat ini, melawan Corona.

Kita masih ingat perjuangan rakyat Vietnam Utara saat melawan pasukan terlatih Amerika Serikat sejak 1957 hingga 1975, Negeri Paman saat itu menganggap Vietnam sebagai gembong Komunis, dan berupaya memutus mata rantai Soviet-Cina di Asia Tenggara. Rakyat bahu membahu di bawah kepemimpinan Jenderal Vo Nguyen Giap. Giap yang juga berstatus Guru Besar Ilmu Sejarah, pernah menjadi guru sejarah militer di Prancis dan sempat mempelajari sejarah langsung taktik militer Napoleon di negeri penjajahnya. Saat itu, Ngunyen maupun Bapak Bangsa, yaitu Ho Chi Minh sepakat dengan ungkapan cendekia Vietnam abad ke-15, Nguyen Trai, yaitu untuk mengalahkan musuh, orang harus mengenal musuhnya terlebih dahulu.

Selain itu mereka percaya bahwa pendidikan sejarah pada rakyat akan menguatkan moral mereka untuk melawan penjajah. Bersama tim kecil, saat berjuang melawan penjajahan Jepang saat Perang Dunia ke-2, mereka begitu getol mengajarkan sejarah kepada pemuda dan rakyat, bahwa kita harus kembali ke jaman dahulu kala, ketika kita bebas mandiri, tidak di bawah Cina, tidak di bawah Prancis maupun Jepang.

Saat itu, pasukan Vietnam adalah pasukan tambal sulam dari para petani yang ada di pedesaan. Sedangkan pasukan Amerika adalah pasukan dengan peralatan lengkap, disertai dengan truk maupun helikopter. Giap tak kehabisan akal, berbekal dengan pengetahuan Gerilya, yaitu pukul mundur, jebak lari, yang berlangsung terus menerus, hingga membuat mental pasukan Amerika jatuh.

Pasukan Vietnam bekerjasama dengan rakyat biasa, para petani di pedesaan, untuk menggerakkan logistik ke seluruh area perjuangan. Hal ini sesuai dengan pola gerakan yang diajarkan oleh Paman Ho, bahwa basis pergerakan ada dua, pertama adalah ”co sa” atau tempat berpijak, yaitu keluarga ataupun rakyat yang bersimpati, dan kedua adalah “chien ku” atau partai dan gerilyawan.

Pasukan gerilya yang dibantu petani desa hanya berbekal tangan, kaki, dan punggung untuk mengangkut logistik dari hutan yang satu ke hutan yang lain. Helikopter Amerika tak dapat memantau pergerakan mereka. Bahkan, ketika mereka ingin menyeberang sungai, mereka melintasi tambang dengan bergelantungan dengan tubuh sepenuhnya berada di dalam air.

Perang yang berlangsung terus menerus dan seperti tak ada ujungnya ini membuat pasukan Amerika kehilangan orientasi. Pada akhirnya, rakyat Amerika sendiri yang menuntut pemerintahnya untuk menghentikan perang. Hal ini berkat tayangan secara langsung di televisi yang disaksikan oleh rakyat Amerika, yang menunjukkan kesia-siaan berperang dan kelanjutan peran akan membunuh lebih banyak anak muda Amerika. Pun pada akhirnya Amerika menyerah.

Pelajaran apa yang dapat diperoleh? Salah satunya adalah kedisiplinan. Inilah yang membebaskan Vietnam dari Jepang, dari Prancis, Amerika, maupun dari Corona.

Pemerintah dan rakyat sudah menjadi satu. Bukan saja saat ini, tapi jauh sebelumnya, bahkan sebelum Amerika menyerang. Bibit ini disemai oleh banyak pihak, dan kontribusi terbesar adalah dari pemimpin terbesar Vietnam sendiri, yaitu Ho Chi Minh. Paman Ho menurut William J. Duiker adalah separuh Lenin dan separuh Gandhi. Sosok ini menjadi jangkar pemersatu dan model pembangunan karakter rakyat Vietnam.

Nama yang melekat saat ini itupun adalah nama yang digunakannya saat menyamarkan diri ke Cina, nama aslinya adalah Nguyen Tat Thanh atau Nguyen Ai Quoc. Berdasarkan literatur, Ho Chi Minh memiliki belasan nama samaran. Ho Chi Minh sendiri adalah anak dari seorang revolusioner, yang meluangkan sebagian besar hidupnya untuk mempelajari seni konfusianisme, di samping terus menerus mengkompori rakyatnya untuk membenci Prancis, melalui sastra dan ilmu sejarah. Dari ayahnya ia memiliki kepekaan Bahasa, di samping gurunya yang bernama Vuong Thuc Do, mendorong untuk mencintai sastra. Bacaan favoritnya waktu beliau masih belia, yaitu Journey to the west, karya Xuan Zang.

Ho pernah bertanya kepada kerabatnya yang lebih senior, bagaimana Jepang dapat berhasil dalam pengembangan teknologi? Rekannya menjawab, bahwa Jepang belajar dari barat. Sejak itu ia termotivasi ke barat. Mulanya ia ke London, bekerja serabutan, pembersih salju dan koki restoran pun dijalaninya. Sembari itu, ia meluangkan waktu untuk berkumpul dengan orang-orang Asia. Di samping itu, Ho bersimpati pada perjuangan rakyat Irlandia untuk merdeka dari Inggris. Suana perang dunia 1 begitu mencekam, ia memutuskan untuk meninggalkan London dan bergerak ke Amerika. Di sana ia begitu terenyuh melihat penindasan orang Amerika terhadap para budak Afrika. Ia tak betah di Amerika, melihat kelakuan Ku Klux Klan, dan bergerak lagi ke Prancis pada 1917. Di Prancis ini ia terlibat bersama ribuan orang Vietnam dalam perjuangan bersama Prancis untuk mengusir tentara Jerman. Ia pun sadar, bahwa Prancis adalah negeri yang rentan.

Pasca perang, ia pun bergabung di organisasi sosialis Prancis, sebagai pencarian bentuk pergerakan yang cocok untuk memerdekakan Vietnam kelak. Dari sinilah ia belajar teori komunis-leninisme. Ia pun terlibat dalam pembentukan Partai Komunis Prancis. Dari sini ia menjadi agen komunis, bergerak kemana-mana, ke Moskow, ke Leningrad, ke Toilers, hingga ke Kanton. Di Kanton inilah ia mengkader begitu banyak anak muda Vietnam, yang nantinya dapat menjadi bibit-bibit kemerdekaan Vietnam.         

Paman Ho selalu mengandalkan organisasi sebagai kunci. Berbeda dengan slogan Mao Zedong, yang mengandalkan kekuasaan berada di ujung bedil. Kalau menurut Le Duan dalam buku Ho Chi Minh dan Sukarno, istilah tepat dalam keseluruhan proses revolusioner adalah : atur – atur dan atur. Makanya, sedikit berbeda dengan Tan Malaka, Paman Ho menghabiskan sebagian besar usia mudanya (28 tahun) keliling dunia untuk mempelajari organisasi dan bagaimana memerdekakan Vietnam, menyempatkan waktu untuk mengkader generasi muda berkebangsaan Vietnam dimana saja ia berada. Kadernya hingga beratus-ratus orang. Sedang Tan Malaka, yang kisah hidupnya sangat mirip dengan Paman Ho, memiliki sedikit kesempatan untuk mengkader pemuda. Sehingga strategi defensif tidak begitu efektif ketika beliau kembali ke Indonesia.

Paman Ho mengistilahkan gerakan revolusionernya seperti buah. Bila kita melihat buah, kita hanya melihat kulitnya, tidak melihat isinya yang terus berkembang beserta bijinya yang keras. Ketika buah itu jatuh ke tanah dan membusuk, bijinya kembali berkembang untuk menjadi pohon, dan kembali menghasilkan buah lagi.

Saya pernah diskusi dengan seorang teman yang biasa berwisata ke luar negeri. Ia tampak kagum dengan rakyat Vietnam yang begitu bangga dengan sejarah dan pemimpinnya. Di sana, anak muda tidak ragu untuk menceritakan sejarahnya, bahkan dengan mata berkaca-kaca saking bangganya. Lantas, bagaimana dengan sejarah kita sendiri Indonesia. Apakah kita berkaca-kaca untuk menceritakannya?

Selain itu, kata Babra Kamal — seorang kawan yang baru pulang dari Vietnam – dengan setengah bercanda menyebutkan, “Bung, di sana cewek-ceweknya kuat-kuat. Kalau kita jabat tangan, tangan kita bisa diremuknya.” Saya tersenyum seolah membenarkan perkataannya.

Pernah suatu waktu Saya berbincang berdua dengan Istri, bahwa negara yang harus kami datangi pertama kali adalah Vietnam. Namun, impian itu sampai detik ini belum kesampaian lantaran beragam kesibukan dan lain-lain. Mudah-mudahan, setelah wabah Corona ini, kami bisa jalan-jalan ke sana dan menapak tilas perjuangan Paman Ho dan Paman Nguyen Giap.

***

Bagaimana dengan konteks Indonesia dalam melawan Corona? Sama halnya yang lalu-lalu. Kita seperti kehilangan pola untuk bergerak secara bersama. Rasa kebersamaan kita sebagai bangsa, tak tahu tempatnya di mana. Kita kesulitan mencari rasa kebersamaan kita, antara pemimpin dan rakyat, antara rakyat dan rakyat. Kita kehilangan narasi untuk berjuang secara bersama untuk melawan virus bernama Corona ini.

Kita memang tak punya orang sekelas Ho Chi Minh, yang pikirannya seperti Lenin dan batinnya seperti Gandhi. Tapi kita punya Soekarno sang penyambung lidah Rakyat, punya Hatta yang budinya sekelas Gandhi (Gandhi from Java). Dan, masih banyak lagi tokoh-tokoh pergerakan Indonesia yang dapat menginspirasi kita. Hanya saja butuh kebesaran dari para pemimpin kita untuk belajar dari sejarah dan menginspirasi kita untuk berjuang secara bersama melawan Corona.  


Sumber:
1) Media video pendek Kumparan tentang Vietnam dan Corona, diakses pada tanggal 22 Maret 2020. 2) Ho Chi Minh & Sukarno, oleh Tim Majalah Historia, diterbitkan oleh Kompas pada 2018. 3) The 33 Strategies of War by Robert Greene, 2006. 4) Artikel www.aljazeera.com 29/02/2020.


=================
Idham Malik,
Pegiat Literasi di Makassar. Buku esainya yang telah terbit berjudul “Gerundelan Peristiwa” terbitan Akasia. Selain itu, beberapa tulisannya dibukukan dalam antologi esai berjudul “Esai tanpa Pagar” dan “Telinga Palsu” terbitan Nala Cipta Litera. Saat ini bekerja sebagai staff akuakultur pada organisasi WWF-Indonesia.

Terbaru

Di Tubuhku, Durjana Itu Meledak, Teta

Teta-ku, Um Halimah sudah lama meninggal, jauh sebelum Zionis berhasil menduduki sebagian wilayah Gaza....

Rumah Idaman

Dari Redaksi