Puisi

Home Puisi

Menyalakan Sumbu Fitrah

0

Idul Fitri

Kalau hari ini masih terdapat jiwa yang compang camping
maka pasti jiwakulah itu

Ya Allah, aku tak berani mengaku kembali suci di telaga fitrah.
Puasaku seperti sebuah kalau di dalam setiap kata bukan,
zikirku ternyata seperti aliran angka matematika
yang mencoba merumuskan desir darahku
yang mencari sesuatu seperti yang tak mungkin kutemu.

Ya Allah, puasaku cuma menghindar dari segala macam kuliner,
tapi tak menghindar dari pendar-pendar air sungai
yang membuat bayanganku seperti hantu.

Kalau aku bicara hakikat puasa, aku malu, aku malu
Aku malu kepada diriku. Dan mengapa aku tak malu kepadaMu?
Ternyata telingaku tidak puasa, karena masih mencari
kabar-kabar buruk yang nikmat untuk didengar.
Mataku masih jelalatan mengejar tingkah-tingkah tak wajar,
dan mulutku tidak membendung kata-kata yang bermuatan jarum,
      duri, paku dan peluru.

Ya Allah, orang-orang kulihat nikmat dengan takbirnya,
dengan tahlil, tahmid, karena itulah samudera kebahagiaan
Sedang bibirku masih kelu dan kaku untuk mengucapkan kalimat istighfar.
Berilah aku kemampuan untuk mengucap astaghfirullah,
Astaghfirullah
Astaghfirullah
Dan berilah aku kefasihan melakukan tindakan nyata
dalam semua yang Kau bisikkan.





Matra

Riuh gelombang itu berguna
Saat kita mencari sisa derai di ketiak pantai
Tapi aku kesusu, desir yang biru menjelma abu-abu.
Dayung patah yang terkapar
Masih memberi makna untuk sekian kegagalan
Layarku sobek, ya Allah

Tiba-tiba
Riak-riak ombak menyiratkan senyum Ramadan
Senyum yang masuk ke sendi-sendi yang lelah 
menyalakan sumbu fitrah

Gumpalan rindu beterbangan mengejar ribuan bintang di langit
Kemudian rindu itu tumpah ke laut
Menimbulkan prahara di Samudra
“Ada apa ini?” tanya seekor merpati betina kepada jantannya
Tak ada jawaban
Segumpal meteor jatuh tak jelas
hinggap di mana mana
Tangis bayi di gubuk itu menyindirku
Rinduku yang tidak ikhlas akan menjelma kutuk yang bau






====================
D. ZAWAWI IMRON adalah penyair asal Batang-Batang, Madura, kelahiran 1945. Ia dikenal sebagai seorang kiai, mubaligh, dan pengasuh pesantren. Puisinya dimuat pertama kali di media lokal Minggu Bhirawa ke media media lain. Ia mulai dikenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada tahun 1982. Kumpulan sajaknya Bulan Tertusuk Ilalang mengilhami Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film layar perak Bulan Tertusuk Ilalang. Kumpulan sajaknya Nenek Moyangku Airmata terpilih sebagai buku puisi terbaik dengan mendapat hadiah Yayasan Buku Utama pada 1985. Pada 1990 kumpulan sajak Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata terpilih menjadi buku puisi di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Juara pertama sayembara menulis puisi AN-teve dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-50 pada 1995. Beberapa sajaknya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Bulgaria.
Hingga kini, Zawawi Imron masih setia tinggal di Batang-batang, Madura, tanah kelahiran sekaligus sumber inspirasi bagi puisi-puisinya.




Bersedekap di Keheningan

0
Jpeg

Seperti Musafir
*) obituary Mas Iman

Seperti juga para musafir yang selalu dahaga, kau selalu sibuk bertanya sambil membolak-balik kitab, mungkin buku puisi tentang rahasia waktu yang konon lenyap bersama amblasnya buah-buah kuldi saat dijarah para khianat yang memburu peta-peta rahasia tempat kotak-kotak wasiat penyimpan kalkulator penghitung usia disingitkan.

Seperti juga para musafir lain, engkau pun gagal menghitung uban di kepalamu sendiri. Setiap kau buka kitab keramat itu maka burung-burung berterbangan, ikan-ikan berenangan. Burung-burung dan ikan-ikan bertubrukan, sayap dan siripnya lantas dikubur di palung antara langit dan samudera. Waktu sebentar lagi dikuburkan dalam-dalam, desahmu.

Para musafir seperti engkau selalu ingin sendirian bersedekap di keheningan sambil memandangi kalender-kalender kuno yang wingit sambil sesekali menghirup aroma kopi di cangkir seraya menyenandungkan serat dan suluk yang memanggil-manggil segenap roh untuk jadi juru tafsir menunjuk mana musim paling suci dan mana cuaca paling terkutuk.

Seperti para musafir lainnya, engkau selalu lupa tempat-tempat yang pernah kau singgahi dan selalu menggigil saat meriwayatkan para malaikat bermata ungu yang berkeliling membagi-bagikan kalender yang sarat bilangan-bilangan penat yang harus diterka dan ditafsir. Betapa lunglainya!

Para musafir seperti engkau selalu memburu sunya ruri yang tanpa jejak namun seperti firdaus tempat angin, hujan, musim kering, abu-abu, hijau, ungu berkelindan dan kau menyebutnya sebagai meditasi yang sesuci puisi yang sanggup luput dari dusta.

Seperti musafir yang lain, kau begitu rindu pada sebuah mata air atau telaga untuk mencelupkan tubuhmu kuyup-kuyup hingga rambutmu yang klimis menuliskan aksara-aksara yang membebaskan dari detak arloji yang memburu.

Duh, musafir engkau telah bebas dari waktu!

(ngawi, 2021)




Bersepeda Seperti Kura-Kura

Berkayuh di aspal basah. Pelan seperti pelancong menghikmati arah, langit dan peta
biarkan aku seperti kura-kura, berjalan gontai di pesisir susuri musim
sebab dengan merayap bisa kuhirup sisa-sisa jejak dan larik sajak
barangkali tapak terompah sang khidir yang menakwil semesta

Berkayuh, berayun khusuk mengalun ringan seperti bulu-bulu blengur si anak angsa
yang rontok lantas diterbangkan angin bersama serbuk bunga-bunga bougenvil
nyangkut di ujung rambut dara-dara perawan sehabis keramas

Aku tak mau bergegas seperti kuda. Apalagi genjik yang lintang-pukang
tersesat di tengah pasar, nabrak keranjang, nubruk pedagang, nendang lapak
lantas berakhir mendengking-dengking dlosor sebab pantatnya ditusuk besi membara.

Ah, segala yang begegas, segala yang tergesa selalu tersesat di neraka!

Berkayuh di aspal basah, serupa kura-kura merambat menghikmat debu
sambil merapal kidung dan jampi-jampi tolak balak. Aku hanya sekedar
membaca dan menafsir waktu. Menghayati segala yang basah menetes
lantas merembas ke tanah bergelayut di serabut akar-akar
menjadi saksi biji-biji yang pelan menjulang jadi tanaman, lantas membunga lantas lunglai

Seperti kura-kura aku berkayuh pelan dan mengalun
Lihatlah kuresapi irama, kuhayati setiap gerak yang tumbuh di titian waktu.

2021
   




Kereta Senja (3)
*) mengenang Mas Iman

kereta masih saja melengking-lengking
terperosok dalam lorong-lorong senja.
rel-rel lurus tak berkelok
abai pada stasiun-stasiun yang letih

: laju-lajulah kereta, kuucapkan sayonara pada bumi yang khianat
   kuucapkan selamat jumpa awan langit yang bersih!  

Kereta meluncur cepat melengking-lengking lintasi lorong-lorong senja

engkau menuju kota terakhir: kota cahaya sunya ruri yang putih
yang acap kali kau sebut dalam puisi!

2021




Solilokui

wahai, adakah ia? (yang bersabda tentang poci tanah liat yang retak)

andai angin itu menuntunku pada masa silam
akan kupilih menolak hari lahirku
biar waktu kecewa menungguku di ujung-ujung jalan
dan tak perlu kutelusuri jadwal matiku!

2021




Secangkir Kopi

masih tersisa senyum dan ragu yang hambar
: sejarah selalu merayap pelan untuk dilupakan.

Semalam, sehabis melarutkan malam dengan secangkir kopi
kita tak sempat berdoa agar aroma kopi bisa mengusir sepi

semalaman, kita menuduh kalender tak lagi peduli
: persis puisi pucat yang kabur dari wilayah bahasa

Secangkir kopi dan kita
saling mengintai siapa
lebih dahulu mematikan lampu
menipu cahaya menilap waktu
sebab kita adalah sepasang khianat
yang saling mengejar dan melupa kenangan
pada bibir yang pernah berciuman

: kita tak berdaya
tak sanggup mengekalkan apapun
sebait puisi atau kisah pemberontakan

yang tersisa di cangkir kopi cuma resah yang mengaduh lamat-lamat.

2020




==================
Tjahjono Widarmanto, Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, pernah studi di program doktoral Unesa. Menerima anugerah buku hari puisi Indonesia tahun 2016.
Buku puisinya antara lain: Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak (2016). Mata Air di Karang Rindu (2013) Di Pusat Pusaran Angin (1997), Kubur Penyair (2002),  Kitab Kelahiran (2003). Selain menulis juga pernah bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di SMA 2 Ngawi.  

Sampai Waktu Tiada

0


Yang Dekat

Kuhayati hidup
kujadikan rahasia
segala luka yang
tak cukup kuat membunuhku

O, tapi toh,
Aku akan mati juga

kuhayati hidup
begitu tuhan dekat
kematianku menjauh

2021




Di Dalam Gelap

Membayangkan kesedihan
Kesedihan tak punya bayang-bayang
hanya batang takdir yang gelap
dan kamu
bahaya dan cahaya

Kita hidup sekali melintas
melintas kelok atau menanjak
sampai waktu yang tiada

Aku memimpikan ketiadaan
ketiadaan mungkin tidak ada
tetapi, dalam satu kelok gelap ini,
kamu ada dalam ketiadaan

Membayangkan kesedihan
aku ada dalam bayangan dan kesedihan
tanpamu
bahaya dan cahaya

2020




Di Kampung Halaman

di tepi sawah ini
di tepi nasib
angin jauh datang
lalu menjauh
dan sunyi kian dekat

ada cemas yang dikandung pagi

apa boleh buat
di tepi hidup
atau mungkin di tepi kematian
kita pun padi tak pasti ini

2020

Di Bawah Ketapang Tepi Jalan

Ingatan kecil
udara yang datang darinya
masa lalu yang tiba

kita tiba-tiba terkenang
segalanya tumbuh

kau yang pernah berdiri di sini,
manisku,
peluklah kesabaran ini
dalam kesadaranmu
jauh di sana

2021



Tirakat

Barisan bouraq kata
melesat kepada zat yang tahir

Zat yang tahir,
aku pinjam puisi ini untuk menjangkau-Mu

bayang-bayangku
ingin lebih cepat dari
segala kealpaanku

2021


Di Alis Pantai

Makassar
adalah
kita
yang disentuh cinta pertama

akan tetapi
di alis pantai kota ini
sekumpulan janji
saling mengkhianati:
pisang, api
timbunan, matahari
cincinku, cincinmu

2021




==================
Fitrawan Umar, lahir di Pinrang, 27 Desember 1989. Penulis buku puisi Roman Semesta dan novel Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan.

Kata yang Mencarimu

0

Syahid cinta

bagaimana mungkin dia yang menyembunyikan
dan merahasiakan cintanya akan tersiksa

di hari kemudian, sedangkan hari ini
dosa dan doanya meleleh oleh cinta dan rindu

yang ditanggung sendiri, binatang tunduk
di telapak kakinya, awan menaungi jalannya
menuju rumah kekasih tanpa alaskaki

kekasihnya bagai gagak putih
seputih cahaya
terbang berputar-putar di atas kepalanya
dia bagai tiang listrik, kurus terkikis

bagaimana mungkin dia akan tersiksa
di hari kemudian, sebab dunia dia penuhi cinta

2020


Aku Menemukanmu

aku mencintamu sembilan kali
setelah itu kutinggalkan cintamu

mulai berjalan
mencari cinta yang mesti.

Sampai pada cinta kesepuluh
aku menemukan dia
di ruang sunyi
menunggu
dengan segelas anggur di tangan
untukku
setelah menempuh
jalan wanita tua

dia, cermin cintaku
dan pancaran cintamu
aku menjadi ada

2020

Makam Suwung

cahaya bulan jatuh
di makam bernisan
batu paling tinggi makam raja

tetumpuk batu dengan satu nisan makam harta
begitulah kami terka, agar sejarah tetap terjaga

ini bisa jadi perbuatan iseng orang dulu
agar kami memiliki sejarah sendiri
dan orangorang terlalu percaya,
mereka datang dengan segala cara
memohon agar tercapai semua maksud.

2019

Di Puncak Bukit Suwung

tubuhku dipeluk dingin
dari balik bukit lain purnama terbit
menyorot cahaya keemasannya

deras arus sungai cahaya
di kejauhan sana
kerlip cahaya matamu menjulang
ke langit abu bagai fajar kadzib

2019



Do’a Ibu

tuhan yang kaya kata
jika anakku sudah dewasa
dan pandai memilah kata
jadikanlah kepolosan
dan keluguan
di atas katakatanya

2019



Aku dan Kata

aku adalah kata yang mencari tempat kembali
kata adalah aku yang sudah menemukan dirinya

2019



Kampung Halaman


kampung halamanku yang dulu lucu
dan lugu, tinggal remah di ingatan terdalam.
ia pandai menanam gedung,
mengembala macet dan merawat banjir.

kampungku yang dulu lucu dan lugu
memiliki halaman sendiri
di majalah wisata, majalah bisnis,
di baliho-baliho, jalan ke sana
begitu mudah semudah waktu yang berlalu

2019



==================
Chaidir Amry lahir di Suradadi, 14 Juli. Mahasantri di Pondok Pesantren Anzys, Kediri.

Puisi-puisinya pernah dimuat di Harian Umum Haluan, Linikini.id, Banjarmasin Post, Bali Post, Suara NTB, Radar Mojokerto, Litera.co.id. Magrib.id.

Memahat Ornamen Cinta

0



Aku Merasakan Pertemuan Itu

Sesungguhnya jarak itu sudah ada
mungkin hanya belum nampak garis batasnya
selalu hadir setiap senja pertanyaan di ingatan
sesulit melupakan kata cinta dan kematian
dalam baris-baris sajak dan tembang rindu

Seperti engkau yang selalu membawa kesabaran
mengingatkan selalu rahasia di balik waktu
aku merasakan semakin dekat dengan pertemuan
sebagaimana tanda-tanda yang menyalakan cahaya
meredupkan seluruh tubuh dan meluruhkan sunyi

Aku merasakan pertemuan itu
serupa rabaan jemari angin menggigilkan malam
lembut mengetuk pintu sambil berucap salam
membiarkan yang lain terselimuti kisah di mimpinya
sedangkan aku gelisah menunggu pertemuan waktu

Hanya tak ada keganjilan menggenapi sesak di dada
suara detak jarum jam diam-diam menguji sunyiku
entah bermakna cinta atau kematian
mungkin hanya kenangan yang meluruh
meski masih ingin menimbang jawaban.

Parepare, April 2021      


Lengkung Malam

Seberapa lamakah aku mampu membilang waktu
di lembar almanak sambil melingkari angka-angka
sekedar meletakan ingatan dengan prasangka
pada usia yang hendak rebah mengaburkan batasnya

Entah di kordinat berapa pada ujung lengkung malam
aku tak kunjung bisa menanyakan angka terakhir
di tubir lengkung sambil memberi tanda untuk bergegas
dengan senyum meninggalkan waktu dan ribuan suara
mengamini mengantar menuju pedalaman paling hening

Aku selalu merasa tak pernah utuh merajut rindu
bahkan saat subuh menggelar sajadah di genangan air mata
malam terlewati begitu saja dari lembar almanak masa lalu
bergegas ikut berarak bersama rumbai-rumbai kabut
menambah subur gelisah tanpa ada yang menuntun
melintasi di balik kelopak mata yang selalu ingin terpejam.

Parepare, April 2021




Sesungguhnya Pintu Itu Akan Diketuk

Aku selalu mengingat bila suatu saat akan ada
suara ketukan halus di pintu yang tak mampu kutolak
namun aku percaya bahwa hidup bukanlah kata-kata
serupa rindu dibakar kesunyian dari api masa lalu
tak perlu merasa ganjil sebab hanya penantian
meluruhkan segalanya pergi sendiri menempuh sunyi

Bila ada tangis hanya akan menjadi tanda kesedihan
karena sesungguhnya pintu itu akan diketuk, waktu
hanya sekedar monumen kesetiaan
dituliskan dan ditinggalkan menelan kegelapan
sendiri, menyusupi tanah-tanah yang basah
mungkin melintasi sungai berair senja

Pintu itu akan diketuk tanpa mengenal waktu
lalu meraba, mencium, dan menuntunku menuju arah
seperti lorong penuh cermin ketiadaan
mulutku menjadi pintu-pintu yang tak berengsel
mataku menjadi api tanpa cahaya
sesungguhnya aku menunggu merawat gelisah.

Parepare, April 2021




Pada Malam yang Ditunggu

Bahkan telah kulingkari di almanak berpuluh tahun lalu
pertemuan yang melupakan waktu, ingatan
berkali-kali kuhancurkan di sebagian tubuh kesabaran
merapuh sambil menengok kecemasan, sementara aku
belum mampu mengendapkan suara azan

Malam selalu bercerita tentang dunia yang kutimbang
bandulnya seberat samudera bertakar kilatan badai
tak mungkin kupinta selembar kain pembalut luka
atau memadamkan rasa yang dibakar api gelisah

Pastilah malam yang ditunggu itu akan tiba
memantulkan cahaya sunyi lalu meluruh
di sebatas waktu yang tersisa
sambil memahat ornamen cinta di batu pualam
tempat sandaran yang mengekalkan tidur.

Parepare, April 2021





=================
Tri Astoto Kodarie, lahir di Jakarta, 29 Maret 1961. Mengikuti berbagai kegiatan sastra di berbagai daerah. Buku puisinya yang telah terbit: Nyanyian Ibunda (Artist, 1992) Sukma Yang Berlayar (KSA, 1995), Hujan Meminang Badai (Akar Indonesia Yogyakarta, 2007), Merajut Waktu Menuai Harapan (Frame Publishing Yogyakarta, 2008), Merangkai Kata Menjadi Api (Akar Indonesia Yogyakarta, 2017), Kitab Laut (YBUM Publishing Parepare, 2018), dan Tarian Pembawa Angin (YBUM Publishing Parepare, 2020) serta puluhan antologi puisi bersama di berbagai kota.
Masih aktif sebagai guru serta aktif di berbagai kegiatan seni. Kini tinggal di Parepare, Sulawesi Selatan.

Seisi Dadamu yang Pecah

0


Merawat Bulir-Bulir Air Mata

bulir-bulir airmata jatuh lalu menjelma anak sungai yang menumbuhkan sekian pohon-pohon yang semakin hari semakin mengakar kuat di telapak tanganmu. bulir-bulir airmata adalah butir-butir beras yang mencair setibanya ia berawal dari keduabelah matamu. bulir-bulir airmata sengaja diciptakan untuk menghidupi ikan-ikan yang berkolam di cuping telingamu. bulir-bulir airmata yang menjadikan matahujan-matahutan, mataangin-matasetia, mataapi-mataabu, saling berbagi lingkaran dunia satu sama lain. bulir-bulir airmata yang mengendapkan luap-ledak seisi dadamu yang pecah. bulir-bulir airmata mewakili keberpisahanmu pada segenap yang terkasih di alam baka.

: selalu ada bulir-bulir airmata yang jatuh
dan tumbuh dari kelopak pandangmu

Ciputat, 2020




Senja bagi Pesunyi

saya berkata kepada senja,
“kubawa nama, kaupilih satu.”

senja masih sama seperti
seorang ayah yang pendiam,
tak banyak menggerutu

“kupilih kau yang malang,” ucapnya

lalu seketika tubuh saya pecah
dan melayang-layang
pulang ke Tuhan

Ciputat, 2020




Sabda Semu Tuan Penyair

jangan sesekali mudah percaya padanan kata yang disabdakan tuan penyair yang kadang melankolik kadang pula garang; meliuk penuh intrik, merengkuh segenap strategi, pun di lain waktu sabda-sabdanya dapat menggugat dan menerabas tanpa ampun manusia pelahap tahi. sosok tuan penyair dan padanan sabdanya adalah dua hal yang, terkadang saling bersinggungan, namun di waktu yang nyaris berhampiran: sama. baginya, runcing paruh kata adalah senjata bertaring sengketa. bergelut-tengkar di ujung labuhan. puisi-puisinya sekadar ditulis tanpa maksud diperdengarkan. namun malang, betina-betina terusir dari koloninya, masih suka terjebak sabda si tuan penyair.

Ciputat, 2020




Membaca Ayat-Ayat

ayat-ayat yang dibacakan
menjadi titah dedaunan
manakala belulang
layu diterpa si
mata angin

ayat-ayat dalam rehal itu
menjadi darah senja
yang mengalir
sepanjang
waktu

ayat-ayat purba dijamak
dalam pemahaman
yang stagnan
dan usang
mati

Ciputat, 2020




Petaka Laksa Api

aku adalah laksa api yang dirudung petaka
manakala jawatan semilirmu berteluk pada angin
yang dilahirkan oleh gulma-gulma pagi

dan aku si laksa api yang malang
hanya memperhatikanmu dari kabar gulita

aku adalah laksa api yang tak sekalipun
pernah kauhirau, si pemilik mata embun
sehingga lambat laun aku mulai mengerti
tentang sebenar-benar arti kebermilikan

kukenang kau sekadar bentuk puisi
tanpa makna dan sunyi

Ciputat, 2020




======================
Imam Budiman, menyelesaikan studi S1 di Fakultas Dirasat Islamiyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan S1 Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences. Puisi-puisinya dimuat di Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Indopos, Riau Pos, Babel Pos, Media Kalimantan, Lampung Post, Koran Madura, dll. Kini mengabdikan diri sebagai pengajar di Madrasah Darus-Sunnah, SMA Adzkia Daarut Tauhiid, dan Salemba Group (SG).

Kembara Senyap

0



Kekal

Di antara bunga yang dipetik dan asingnya derma
adalah yang tak terkata





Ennui

Meski malam akan berlalu

Ini kembara senyap
mengguncang bayang-bayang trem
di kabut aspal

Aku melihat kepala para supir taksi
mengantuk
Leyeh





Karpet

Setiap warna memuai dan merentang
ke dalam warna-warna lain

Menjadi lebih mufrad jika kau melihatnya




Mungkin sebuah Sungai*

Halimun yang membercaki kita

Mungkin sebuah sungai yang terlahir di sini

Aku mendengarkan nyanyian Sirene
dari danau di mana ada kotanya


* Ungaretti menjelaskan bahwa halimun itu mengubah Milan menjadi danau yang ‘seperti khayalan’ mengingatkannya pada danau Mareotis, dekat Alexandria.





Pesakitan

Memaut bak dahaga burung-burung pipit
Di atas fatamorgana

Atau bak burung puyuh
Sesekali lautan membekas
Tak ada lagi
Keinginan untuk terbang
Binasa di belukar perdana

Tapi hidup bukan untuk meratap
Bak uang emas buta





Tentang Afrika

Matahari merampas di sepanjang kota
Kami tidak lagi bisa menatap
Bahkan makam yang sudah lama ada




Enyah*

Segaris asap
mengambang ayal
di jarak cincin tawang

Gemerincing tumit tepukan tangan
dan dihiasi lengkingan clarinet
dan tawang kelabu
menyepoi gigil gelisah
bak merpati

Dalam buritan emigran Suriah yang berjoget
Di haluan lelaki muda yang mufrad

Di malam-malam Sabtu ini
para Yahudi
di bagian-bagian itu
memboyong
maut mereka
melalui pilinan selongsong
tak menentu
lorong-lorong
cahaya

Putaran air
seperti raket dari buritan
telah aku dengar dalam bayang
yang
lelap

*Ungaretti meninggalkan tanah kelahirannya, Alexandria, menuju Perancis. ‘Di bagian-bagian itu’ mengacu pada Alexandria.




===================
Giuseppe Ungaretti
(1888-1970) adalah anak dari petani Tuscan yang beremigrasi ke Mesir dan menjalankan sebuah toko roti di pinggiran Alexandria. Ia adalah penyair pembaharu Itali, jurnalis, esais, kritikus, dan akademisi. Puisi di atas dialihbahasakan dari bahasa Itali ke bahasa Inggris oleh Patrick Creagh (Penguin Modern European Poets). Penerjemah dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia adalah Eka Ugi Sutikno yang giat di Kubah Budaya dan mengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang. Selain itu ia menyibukkan diri di Buletin Tanpa Batas.

Malaikat Bermata Terang

0

PEREMPUAN BERMATA TAJAM
: angel

dia berlari tapi bukan ke belakang
ditembusnya kabut dari asap gas
di jalanan yang gaduh!

“segalanya (akan) baikbaik. Oke.”

segalanya baikbaik, meski
sebuah lubang peluru di kepala
telah mengantar dirinya ke keabadian
— yang lebih berkeadilan —

setelah kawankawannya dia tolong
menghapus perih di mata
dari air keran di jalan itu

siang yang kering

lalu tanda itu yang dikalungkan
pesan di selembar kertas
ditinggalkannya di jalan itu

sebab ia telah menembus aral
dikepakkan sayapnya. ia terbang
membebaskan diri dari senapan
yang tak hentihenti mengaum

di jalan yang gaduh
di depan anakanak muda
yang kelak penopang ini negara

perempuan bermata tajam
peri bagi kemanusiaan

KA, 4 Maret 2021





PULANG KE RUMAH TUHAN

ia dilahirkan tanpa luka
oleh ibu-bapaknya

ia meradang ke jalan
ketika tahu negerinya terluka

ia bawakan hati yang putih
namun peluru bersarang di kepala

ia ligat menembus kepulan asap
diinginkan hanya air air air

tapi, ia lupa, peluru tak bermata
kepalanya luka, di jalan itu ia kembali

pulang ke rumah Tuhan
pintu istana masih begitu kuat





SEBELUM HABIS KISAH
:bagi fat

jika kauterima kabar
hendaknya selisihi

di kedai ini begitu syahdu
irama hujan yang sendu
senja hampir saja rampung

kauceritakan tentang kabar
tapi, kau tahu, baiknya usah
dari seorang. cari tahu dari
lainnya; tokoh dalam kisah itu

sebelum habis kisah
kau hanya gelisah

jika kau faham betapa lidah
bagai penari; katakata meliuk
di pinggul perempuan

dan siapa pun akan mabuk!





KAU MASIH MEMILIN KATA

masih juga kau kencani katakata
padahal orangorang sudah lupa
merangkai bahasa hingga lelap
kala sampai. kau dengar kalimat
dalam iklan, ruang sidang, meja
wakil rakyat, anakanak yang
meramaikan jalan sambil teriak
dan tangan mengacung udara

kecuali, malaikat bermata terang
ia tak pernah mencuri katakata
melainkan bahasa tubuhnya
mau mengatakan; negeri ini
harus diselamatkan!

Kecuali…

kecuali…

apakah kau masih memilin kata
seperti penjahit kau pun menjahitnya
jadi pakaian indah di badan






SEBAGAI PENYAIR

kiranya kau masih duduk sebagai penyair
di depan katakata yang bagai pejantan
tak kuasa kau rayu. ia liar seperti petarung
kau tak mampu untuknya terkurung

jadi kalimat meliuk,

masih duduk sebagai penyair
kau ingin ubah katakata sekeras baja
jadi atom kecil, dan kau tiup ruh di sana
“jadilah puisi, pelangi di langit usai
hujan. anakanak terpaku menyaksikan
indahnya,” jampimu

tapi, kiranya kau masih duduk sebagai penyair
di kursi empuk, dalam ruang dingin, asbak
dikerubungi abu rokok, segelas ampas kopi,
bayangan perempuan berambut cemara

udara dingin pegunungan. botolbotol bir,
serbuk yang pernah membuatmu terbang
dengan sayap dari katakata. melepas baju,
telanjang di trotoar kota. kau muntah, puisi
yang keluar. kau teriak, nama penyair lain
mengalir di sana

kau masih duduk sebagai penyair
: ingin (benarbenar) jadi penyair
di tanah yang tak pernah gembur
selain bagi orang yang berkumur





SELAMAT JALAN

selamat jalan, bisikmu
ranjang putih
        dinding putih
aroma obat bagaikan bunga
beterbangan

tapi aku belum ke manamana
masih di sini    
             kusisir usia
                kuraba langkah

selamat jalan, katamu lagi
seperti memaksaku pergi
tapi aku belum pula mandi
tak ada jadwal perjalanan

    pesawat
         kapal laut
            kereta
               bus
(hanya beri abaaba mau jalan
namun tak juga bergerak…)





=====================
Isbedy Stiawan ZS
,lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di kota kelahirannya. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai juga karya jurnalistik. Dipublikasikan di pelbagai media massa terbitan Jakarta dan daerah, seperti Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Media Indonesia, Tanjungpinang Pos, dan lain-lain.

Buku puisinya, Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai 5 besar buku puisi pilihan Tempo (2020), dan Kau Kekasih Aku Kelasi (2021).

Buku-buku puisi Isbedy lainnya, ialah Menampar Angin, Aku Tandai Tahilalatmu, Kota Cahaya, Menuju Kota Lama (memenangi Buku Puisi Pilihan Hari Puisi Indonesia, tahun 2014): Di Alunalun Itu Ada Kalian, Kupukupu, dan Pelangi.

Kemudian sejumlah buku cerpennya, yakni Perempuan Sunyi, Dawai Kembali Berdenting, Seandainya Kau Jadi Ikan, Perempuan di Rumah Panggung, Kau Mau Mengajakku ke Mana Malam ini? (Basabasi, 2018), dan Aku Betina Kau Perempuan (basabasi, 2020).

Kita Rayakan Rindu-Dendam

0

Kelebat Tubuhmu, Chin!

Aku ingin ketika membelah selat
kau tak menjerit walau sampan terlambung-lambung
ombak memecah di wajahmu; kita rayakan rindu-dendam

seberapa resah laut ini hingga sampanku terlambung
nyaris membentur karang

(o. aku ingin memberimu seutas sunyi yang ungu)

andai kaurasakan angin basah dalam pelayaran ini
angin basah yang kelat itu adalah bentuk setia
yang selama ini kupelihara dalam badai dan gelombang

dan selat ini seperti dugaanmu kembali berkabut
denyar-matamu juga berkabut
kukira detak jantungmu tidak lagi teratur
sampan berayun-ayun dilambung ombak
tetapi engkau berharap kita terus membelah selat
: “kayuhlah, kayuh sampai ke ujung selat!”

(gerimis ritmis segara anakan
benteng pendem basah
angin laut beraroma dangdut: sampan meluncur
ombak memercik, hati kita basah
kenapa begitu lindap tatapan matamu; chin?
kita larungkan seluruh sembilu
kita rayakan sukacita ini; bersulang cawan-cahaya-hati)

bila waktu menjadi tolok ukur kebersamaan ombak dan debur
sudah berapa lamakah engkau menerjemah gelora laut?

Sampanku masih jauh bahkan teramat jauh dari tanah tepi
tapi kelebat tubuhmu amatlah anggun di atas permukaan laut
lalu kukayuh pendayung mengucur keringat
senantiasa memeluk kelebat tubuhmu!

Jaspinka, 2021





Menyisir Selat

asap rokok terus mengepul dari rongga mulutnya
tatapannya kosong
tetapi hati dan pikirannya berkata-kata

: “senja telah menelikung bayanganku
    berapa lama lagi menunggu gerimis ini berhenti
    menemui dirinya di ujung dermaga
    untuk berbagi kilau pelangi
    dan memahami debur ombak menghempas karang”

ia tersenyum, menata hati dan pikirannya

“akan kupahami ombak, kutaklukkan gelombang!”

ia pun bergegas ke dermaga

setelah ia naik dan seharian di atas perahu
yang kayunya sudah mulai berlumut
berlayar menyisir selat
dan di kanan-kirinya tebing karang
ombak berdebur-debur
angin berdesir-desir, kelat
matahari memecah
laut berkilat-kilat

tuhan, ia melihat sepotong hati terapung-apung
membentur-bentur dinding perahu

“ou, weisku! apakah ini hatimu?”

dengan sangat hati-hati ia raih sepotong hati itu
didekapnya sangat erat
matanya berkaca-kaca

“cinta tumbuh dengan bunga luka!”

perahu meluncur perlahan
angin berdesau-desau!
 
Jaspinka, 2021




Sumur dalam Diri

pohon kebohongan yang tumbuh dalam dirimu
kian rimbun dan menjulang
dan kulihat engkau begitu renyah tertawa
setiap kaupatahkan, setiap kaugugurkan
ranting dan daun kebohongan
yang bersembilu berduri
lalu di hari-hari berikutnya
pohon itu ranggas
dan ketika angin deras menghantam
pohon itu tumbang
tercerabut akar-akarnya yang rapuh
engkau pun berjalan terhuyung-huyung
tidak bisa tidur sepanjang tahun

tanpa dendang, tanpa puisi
hanya ratap yang terdengar

sumur dalam diri yang kaugali
kian dalam kian berpasir berbatu
keringatmu menggenang
waktu melipat sejarah kecil yang pahit
zikir sepanjang tualangmu sangat sederhana
: tuhan, titah bulan dan matahari ia dustakan
  ia jatuh kian dalam  jatuh ke dalam sumur dalam diri
  yang curam berpasir dan berbatu

“gali, gali terus sumur dalam diri hingga koyak dadamu”

engkau pun terus saja menggali sumur dalam diri
hingga limbung dan terjungkal

di telapak kakiNya!

Jaspinka, 2021




Dada Bergemuruh

sampanmu deras meluncur, membelah selat
dengan ombak berdebur-debur
meninggalkan dermaga, menuju laut yang jauh
yang berpalung dalam dengan ribuan ikan-ikan
dengan ribuan kata-kata bercahaya

engkau ingin selalu memeluk gelombang laut
yang berdebur, yang berdebur

ketika engkau harus pergi jauh
meninggalkan lautku
: butir sajak serupa apa yang kaubawa
  kautimang-timang sepanjang perjalanan?
  apakah sajak yang kutulis di tengah amuk gelombang
  atau di runcing geraham karang
  atau engkau telah membuang seluruh kenangan
  seluruh sajak dan menepiskan pasir yang
  menempel di badan dan langkahmu pasti, tegap—
  sekali pun tidak menoleh ke belakang
  dengan dada bergemuruh, bergemuruh!

Jaspinka, 2021





Deja Vu

ia tidak buta, tidak tuli
ia berjalan dengan kepala menunduk
hendak bertandang ke sahabatnya; deja vu
bermuka-muka dengan masa lalunya
berdiskusi tentang masa depannya
ou, sedang apakah deja vu?
mungkin tengah membuka-buka kamus bahasa asing
menekuri buku kumpulan puisi
membaca seputar sufi dan metafisika
atau berkutat dengan filsafat dan teologi

: “ah, deja vu; hujan deras ini tak akan
   menyurutkan langkahku!”

gigi gerahamnya terdengar bergemeletuk
deja vu sama sekali tidak bergeming
diam bersila dengan kelopak mata terpejam.

Jaspinka, 2021





Anggrek dalam Pot

ia paling tidak suka pada perempuan
yang tidak menyirami anggrek dalam pot
di halaman rumahnya
hingga daun-daunnya layu
kelopak bunganya gugur, meranggas dan mati
lalu muncul pertanyaan dari dalam pikirannya
: bagaimana mungkin perempuan serupa itu bisa setia
  pada kekasihnya, bagaimana mungkin mau berkorban
  untuk orang lain?

dari anggrek dalam pot itu
ia belajar sifat dan karakter seorang perempuan
ia pun ingat kata seorang sahabatnya yang penyair
suatu hari: “memang tidak mudah menanam anggrek
sebab butuh ketekunan dan keikhlasan!”
dan engkau tahu, ia paling tidak suka
kepada sesuatu yang berlebihan?
sesuatu yang membuatnya muak
dan ia segera pergi menyisir laut, bercengkerama
dengan karang-karang, dengan ombak yang berdebur
ia akan menjauh dari dirimu.

Jaspinka, 2021




=================
Eddy Pranata PNP
— meraih juara 3 Lomba Cipta Puisi FB Hari Puisi Indonesia 2020, meraih anugerah Puisi Umum Terbaik Lomba Cipta Puisi tahun 2019 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI bekerja sama dengan Yayasan Hari Puisi. Juara 1 Lomba Cipta Puisi Sabana Pustaka tahun 2016, Nomine Penghargaan Sastra Litera tahun 2017 dan 2018, Nomine Krakatau Award 2017 dan 2019. Sejak tahun 2014 mengelola Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat, Indonesia.

Puisinya dipublikasikan di Horison, Litera, Kanal,  Jawa Pos, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Singgalang, Haluan, Harian Fajar, , Tanjungpinang Pos, Solopos, Minggu Pagi dan lain-lain.

Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017),,Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019).

Puisinya juga terhimpun ke dalam antologi: Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Bersepeda ke Bulan (2014), Negeri Laut (2015), Matahari Cinta Samudera Kata (2016), Seutas Tali Segelas Anggur (2017), Negeri Bahari (2018), Kota Kata Kita (2019), Semesta Jiwa (2020), Rantau (2020) dan lain-lain.

Puisi di Sekujur Tubuhmu

0


Menjelang Tidur Malam Ini

menjelang tidur malam ini
aku ingin meminta pada kenangan
tentang bibir yang gugur
mungkinkah dia bisa kembali
entah bagaimana cara dia bersenyawa
hidup di relung hati terdalam
menjelma puisi malam

menjelang tidur malam ini
aku ingin tidur di mimpimu
menikmati ribuan senja
berjuta kuntum taman
yang pernah kita gambar bersama
di mulut pantai
memikirkan kata-kata
pada suatu pagi

aku ingin menutup hari ini
dengan sepucuk puisi romantis
tentangmu bersama Tuhan
bagaimana rumahmu disana denganNya
aku menanti balasan suratmu
jika tidak kita bertemu saja dalam mimpi
bercerita, menjawab pertanyaan masing-masing
di rumahNya
siapa yang kini menghadiahimu bergenggam puisi

(Bau-Bau, Januari 2021)



Pemandangan di Matamu


aku melihat pemandangan paling jernih di matamu
mungkinkah aku yang terjerat tak sengaja di sana
syair-syair sunyi
daun-daun kemuning gugur
memilih musimnya sendiri
kau memintaku terpejam untuk sesaat saja
mengambil sejuta embun
yang tumbuh pasrah di mimpi kita
mana mungkin kulakukan itu
kenangan paling kuingin
tak dapat kumatikan secara abadi

pemandangan di matamu
terbilang jernih bagai langit tanpa kepakkan burung
sunyi suara petir
badai yang lembut
menyuarakan perasaan kita
aku tunduk menyerah
alam memiliki tuan
aku memilikimu
tuhan tak berpihak
kejernihan itu kekal di puisi

(Bau-Bau,  Januari 2021)




Paras Rasa

sebab bukan paras yang ajaib
melainkan pertemuan antara kata dan rasa
di hati sepasang kekasih tanpa kedalaman apapun
perhitungan dangkal mengeja kata-kata mutiara
dan itu hanya bisa dipahami oleh mereka yang punya perasaan

“apakah aku tidak punya perasaan?”
pertanyaaan muncul dari bibir seorang wanita

kau punya
tapi perasaanmu tak sedalam perasaan mereka
yang mengatakan kata-kata itu

kau buru-buru menulisnya
aku melupakan dengan sengaja
diam-diam meminta udara mnegingatnya
percakapan itu jadi hiasan malam
tawa hangat
seperti teh yang diseduh bapak
kita mencari pembenaran
kau segera pergi
bertemu paras penuh rasa
ajaib bukan?
sungguh kau telah terjebak
dalam kata-kata

(Bau-Bau,  Januari 2021)




Kepada Puisi

kepada puisi
yang meraja di sekujur tubuhmu
merana sepanjang malam ini
kata-kata panjang yang pernah terucap
telah tamat dengan sendirinya
kini tinggal cerita tanpa tuan
dengan tanpa sengaja
kutulis dalam kitab pribadi
kelak bila kau baca suatu saat nanti
itu tanda bahwa kau memilikiku
segala kepunyaanku

semua mimpi-mimpi ini
kepada puisi rela merintih
menahan sakit
tulang remuk kembali semula
kau membaca mantra tak ada suara
aku percaya segala luka
payung penutup kabut
entah darimana asal semua sesal
harapan terlalu jauh
malam kembali menyerahkan puisi
akan terus kuulang
sampai kita ingat bagaimana rute rumah tuhan
dengan surga bayang-bayang

aku tidak seperti sedia kala
melepas sentuhan
daun gugur saksi diam
embun lunasi hasrat hari itu
kita benar-benar diambang perih
tiada perkataan
kau pulang
meleburkan diri dalam puisiku

(Bau-Bau,  Januari 2021)


Suara Siapa?

tidak menggema
hanya melayang-layang
mengeja dinding masjid
suara siapa itu?
memanggil ibadah
sujud sebentar
mengakui dosa
aku salah menafsir

menuju rumah itu
untuk memastikan
suara siapa itu?
yang kusebut tidak layak
tempat berdiri telah tiada
aku masih mencari
pulang dengan mata kosong

(Bau-Bau,  Januari 2021




Aku Ingin Membacanya

aku ingin membacanya lagi
seperti menghardik puisi
tangan-tangan hujan
suara daun pagi hari
siapa yang kan ikut
perempuan sendiri menatap jalan
keramaian yang sunyi
jiwa terpanggil
meledakkan kata-kata

aku ingin membacanya lagi
kata yang terpenjara
sekian tahun silam
bebas menggapai rumah
siapa bilang harus pamit sebelum pulang

kaulah atapku dimana-mana
kau membacaku kini
aku berserah
sampai titik akhir bulan

(Bau-Bau,  Januari 2021)




=======================
Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Kini Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.  Pecinta Olahraga Taekwondo. Beberapa puisinya pernah dimuat di media lokal dan nasional

Terbaru

Buku yang tak Lagi Dibaca

Aku Memukul Kepalaku dan Sesuatu Berjatuhan aku memukul kepalaku dan sesuatu berjatuhan, seperti pikiran-pikiran yang tersesat,...

Stasiun Perpisahan

Kunci

Dari Redaksi