Puisi

Home Puisi

Seperti Lonceng yang Berderai

0

Catatan di Beranda

malam masuk lebih cepat ke dalam retina. luka dibasuh dengan luka. namun tak ada isak yang terdengar atau sekadar air mata untuk membaca dirinya. hanya gaung nokturno, melipat tubuhnya berkali, pendar lelampuan atau suara kendaraan dengan orang asing mencari alamat.

lampu taman bertopi pendekar cina *) memantulkan cahaya dengan tergesa. rimbun rumput di kegelapan menyatu siluet tanah. dan ia menunggu, seorang perempuan untuk memeluknya– meminta agar masuk ke dalam rumah. ia membaca belulang usia di beranda.

2021
*) Ingatan dari sebuah lagu Iwan Fals





Jantung Kota

di jantung kota, engkau terbelah. orang asing menyimpan ingatanmu yang makin kuning. ada sering telepon, memasuki celah-celah kering dari kilau warna lelampuan– sepanjang jalan, beberapa kelokan. tapi di keramaian ini, engkau merasa tumbuh sendirian. semestinya ada seseorang yang kauhubungi atau sekadar melepas pesan agar gelisah tak menggelebung penuh kawah. namun hanya ada kerumunan anak muda, para kekasih di bangku taman seperti menyeka kembali sebagian usiamu yang dulu.

di jantung kota. tubuhmu tercacah. rebah dan lungkrah di bangkai ingatan. dan kota semakin ramai. seperti lonceng yang berderai, melambai.

2021

Gata *)

dan kau tak akan mampu bercakap dengannya lagi. meski suaranya akan kerap bergema, jauh di kedalaman tempurung kepala. mungkin kau akan memunguti remah cahaya yang pernah disemai, sebelum ia melangkah jauh tak tertempuh.

ah, betapa engkau akan terus mengingat apa yang terlanjur luruh. percakapan dan tabiat, apa yang pernah tertinggal di tubuhmu. tiba-tiba rindu itu lungkrah, mengecupmu dengan gelisah.

2021
*) Telah pergi





Berita Kematian

kerap kita dicemaskan pada berita kematian. di ujung berita dan bertanya, nama siapa yang tercetak di sana. lalu kitapun masuk lagi ke dalam antrian, melengang sepanjang jalan kota dan menghitung waktu di pembuluh tubuh. mungkin, seseorang yang pernah dekat atau sekadar berlintasan. dan kita pernah pula merasa rapat dan akrab dengan seseorang– hingga cemas mengeras, jika kita tak pernah menduga esok hari akan datang berita yang baru lagi. tanpa pernah diduga.

berita demi berita membuat kilat tersimpuh. tak percaya namun tetap tegar dan tegak kembali.

2021




Nota Umur 39

ia mencemaskan puisi akan pergi dari kepala. sebelum pagi menjauh, menempuh segala kenangan yang berpantulan. meskipun ia kerap rindu untuk tetap menulis bahu dan rambut perempuan. maka ditelusuri lagi segala kalimat yang kerap melayang; sepanjang jalan atau sosial media. tapi tak bisa diucapkannya lagi bebal masa muda. ia tersengal, mengais tangis. hanya ada buku-buku lama dengan kertas menguning. remah lagu masalalu, menelantarkannya ke sebuah pelabuhan. mungkin ia mesti kembali berkemas.

Mencari kata-kata.

2021




Kerumun Tubuh

tak ada lagi pesta. tak ada lagi kerumun tubuh. di jalanan sunyi, melewati pandemi dengan langkah hati-hati. hanya orang-orang melintas, menjaga jarak, mengitung langkah dengan masker warna-warni. namun pagi terus menjemput kembali, membuka tirai kota dan jalanan lengang. maka kita lalui juga hari demi hari dengan kecambah gelisah yang berkawah di dada.

Segala yang luluh telah dikayuh. maka tubuh-tubuh hanya siluet sesaat. sebab kita akan menempuh hari demi hari dengan cemas sunyinya sendiri.

2021



========================
Alexander Robert Nainggolan (Alex R. Nainggolan) lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jurnal Sajak, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Seputar Indonesia, Berita Harian Minggu (Singapura), Sabili, Annida, Matabaca, dan Majalah Basis.

Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016).

Tangis Orang-orang Jatuh

0

Menyala Merah

kita dua bunga
dengan warna-aroma berbeda
namun bermekaran di pot yang sama

kita harus tetap mekar
setelah ulat datang
menghabisi daun-daun kita

tapi wanita yang merawat
dua bunga itu
menjualnya ke seorang ibu
yang ditinggal oleh suaminya

setiap malam ia menyiram
dua bunga itu
dengan air matanya

air mata
yang menyala merah

 
(15-21)




Arwah Jingga

jingga telah meninggalkan langit

arwahnya
mendengarkan suaramu

yang berencana akhir pekan

pergi ziarah
ke pekuburan

kemudian ke palung
yang akan dikenang
dengan sebutan liang
gerbang bagi jiwamu yang telah
meninggalkan langit sebagai jingga

(16-21)




Melayat

ibu, aku terbuat dari hujan deras
maka, pakailah pelanginya untukmu
karena aku ingin menuju telapak kakimu

ibu, aku dibentuk oleh angin panas
maka, larilah dariku
biar aku menuju telapak kakimu

pagi-pagi sekali
gelombang bersunyi

tangis orang-orang jatuh
saat kau dimandikan
dan akan disholatkan

ibumu mematung di lancip ruang
gaun yang ia pakai berwarna-warni
sesekali bergerak terkena angin
seakan berlari dari kejaran

tapi telapak kakinya telah tertutup
oleh sesuatu yang bernama dendam
dan kau coba untuk menghapusnya,
percuma

(16-21)




Perihal Angin

Masih terlalu pagi.
Tapi, kenapa kau telah memudar?
Belum sempat terik cahayamu.
Dan kakimu angin membawamu
tidak jadi diri sendiri.

Sudah siang.
Tapi, kenapa kau perlu disembuhkan?
Kau tidak sakit, bukan?
Warna hijau masih melekat di kulitmu.

Agak sore.
Apa yang akan dikosongkan?
Langit yang serentak ditatap
sepasang cinta yang sengaja direkatkan,
telah lama berpigura.
Sedang matamu angin, tidak mengizinkanmu
melihat wujud pribadi.

Tiba-tiba malam.
Kau masih mampu berdiri, bukan?
Untuk kendalikan mimpi tentang hari,
di mana tanganmu angin
membantingmu menjauh dari badanmu.

(16-21)




Di Dalam Mobil

setelah mati
aku bertemu dengan pohon

rencananya parang berkarat ini
akan kugunakan untuk menebangnya

tapi ia lebih dulu tumbang
bersama nyawa
yang terbang seperti balon udara
di atas taman kota
sambil membawa surat kematian
yang terjatuh
dan melayang-layang seperti daun

untuk akhirnya tergeletak di aspal
saat ban mobil ayahku menggilasnya
bersamaan dengan terguncangnya kami

aku pun terbangun
dan sadar sedang dalam perjalanan
menuju kubur ibu
di dalam hati ayah

(16-21)



==================
M. Allan Hanafi lahir di Ampenan, Lombok, 29 Februari 1996. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi secara independen. Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Segala Cuaca di Dada

0
© muhary wahyu nurba


Tafakur Subuh


akhirnya sampai juga aku
di tubuhmu yang gemetar
menjalin hubungan dalam diam
dengan zikir sepanjang ilalang.

bila kulabuhkan
hangat badanku pada remang
dingin bagai daun-daun
berayun-ayun melepas embun

tak terasa
fajar menyentuh kelopak mata
jatuh di kebun anggur
menjelang angan diam di musim gugur.


Sampang,2020



Belaian Luka

sunyi yang mana lagi
yang ingin kau lahirkan
jika hening di kepalaku belum abadi
pada segala rasa yang kau bawa pergi.

Dari kidung bumi
aku dengar suara burung kepodang
menyanyikan zaman yang kerontang

seorang lelaki terus menjadi gila
bukan dengan cinta, tapi dunia

seribu danau yang hijau
dan laut yang biru
menggetarkan jiwamu
bukan karena rindu, tapi menyemu.

Kau lebih gelap dari malam
buta memandang kebaikan
hingga mataku ingin terpejam
untuk melupakan segala yang datang.

Sumenep,2020




Aku Ingin Bertemu
~
Pingkan

aku ingin bertemu
tanpa harus merindu
hanya sekedar menatap
di pangkuan mimpi
sebelum bangun pagi.

aku ingin bertemu
di lain kisah
yang tak bersejarah
seperti aliran darah
di kedalaman warna merah.

aku ingin bertemu
dalam doa yang kulupa
sebab hanya ini satu-satunya cara
mencintaimu tanpa kuduga.

Sumenep,2020





Setelah Pertemuan

kulepas segala cuaca di dada
dengan ketabahan ragu pada jalan pulang
merayu angin pasang dan lentik bayang-bayang
yang akan kau gambar pada gelap malam.

bukan tentang bagaimana cahaya itu menerangi
melainkan langkah pertama yang kuduga semakin pasti
menjadi nyanyian di sepanjang sunyi
ketika janji-janji tak pernah menyisakan mimpi.

maka angin yang menjauh
lebih dingin dari engkau yang bergemuruh
lebih gigil dari ayah di ladang
saat hujan datang mengejar.

Sumenep,2020




Kerlip Magrib

senja telah membunuh remang
dengan warna dasar doa-doa
saat cahaya berderai di atas gelombang
dan luka sembunyi di selat karang
tak tahan berlama-lama
hidup di sepanjang riuh makna.

lalu senja pulang
berbekal bekas senyum di dadanya
lari dari kefanaan yang sederhana
berseru di langit-langit daksina.

Sampang,2020





Saat Sunyi Datang


sebagaimana yang disampaikan angin
kepergian adalah sedih paling dingin
berdiam di kelopak mawar
memenuhi sekeliling pagar.

sia-sia cahaya mengilaukan makna
ketika sungai menampung daras hujan
tak seorang pun dapat menyentuh
kesepian yang lekat di tubuh.

lewat lamunan jejak-jejak hadir
perlahan mengalir ke lembah takdir
menyentuh mata-mata ingatan
hingga buta menentukan jalan.

Sampang,2020





Sayap Gelap


mata malam
rinai hujan menyentuhku
dari tepian redup kabut
gelap terbang setinggi rumput
mengelilingi bundar bayang
sebelum luka jatuh ke jurang.

beberapa detik lagi
dongeng senyap hinggap kembali
mencari jalan bagi akar doa
yang berjalar di dasar sandiwara.

tak ada kedap jarak
menjelang langkah melepas jejak
diam adalah macan hutan
yang mengintai tubuh perawan.

Sampang,2020





Tembang Musim Hujan

aku masih berteduh dalam lipatan kerudungmu
saat rona pipimu mengantarkan cahaya
pada bola mata dirundung kedipan
nampak mirah bibirmu dalam pejam.

tak ada lembut tangan, selain tanganmu
tangan mereka adalah batu
yang menghuni aliran bisu.

kupelihara lirikanmu
yang kuasa melempar sunyi
ke belantara ladang-ladang
saat runcing daun siwalan
hendak menjatuhkan sisa hujan.

bagaimana mungkin
kebosanan ini dapat tersalin
bila suaramu menolak risau
turun mengusir kemarau.

maka, cukuplah aku
yang tau jumlah lekuk di lehermu
yang lain biar menjumlah daun hijau
di musim hujan menjelma desau.

Sampang,2020



Sublim
-Niswa

bibirmu yang mirah delima
beraroma sengat asap tembakau
sungguh aku merindukanmu
seperti ramang pagi
menanti kilau matahari

alismu yang runcing
serupa anak panah pendekar
yang menggenggam takdir kematian.

Pipimu yang merona
pengembaraan para perjaka.

Kukenang kedip matamu pasrah
seperti gemuruh awan
perlahan menjatuhkan hujan
di hatiku tumbuh kembang ayu
yang mekar jadi rindu.

Sumenep,2020




=====================
J. Akid Lampacak, dikenal dengan Nama Panggilan B.J. Akid. Lahir di Lebeng Barat Sumenep Madura, Jawa Timur. Menulis esai dan puisi, sekarang sedang menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Annuqayah. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media cetak, seperti Republika, Suara Merdeka, Koran Haluan, Padang Ekpres dan media lainnya. Menjadi ketua komunitas Laskar Pena Lubangsa Utara dan pengamat litrasi di sanggar Becak Sumenep.

Segala Rupa Kehilangan

0


Kurenai*
; kematian yang paling nikmat

Perempuan itu pernah mati, satu kali. Ia yang telah hambar kepada
segala rupa kehilangan dan keberadaan. Apa yang terburuk di
kedalaman matanya, ialah siang yang tiada pernah memiliki malam,
sekaligus malam yang tiada pernah mengkhidmati siang. Bahkan, pada
kehilangan yang pernah berucap padanya,

“Kau jauh lebih dingin, keras, dan menyakitkan lagi,
aku serasa seperti tidak mengenalmu, lebih tepatnya aku tidak mampu
mengenalmu, kau terasa sedemikian asing bagiku,
dan aku seperti tiada bermakna apa pun bagimu.

Apa yang telah terjadi dalam kurun waktu itu?
Apa dan siapa, yang berada di dalamnya, ada penggalan yang tidak
pernah kau ungkap dan ceritakan padaku.”

                                   ***

Aku meninggalkan kamar, lantas menanggalkan segenap yang
berkehendak – segenap yang tidak berpihak – segenap yang memangku
kepentingan dalam jiwaku.
Pada lantai dua ini, aku begitu sibuknya mencari-cari perempuan itu,
di dalam sebuah cermin besar. Ya, kini begitu nyata, aku dapat menatap
jelas.

˗˗ dia dan aku, yang adalah satu ˗˗  

Dan perihal bagaimana dahulu kami pernah berpesta besar
: merayakan kematian yang paling nikmat.

2020


* Kurenai: warna “merah menyala” dalam bahasa Jepang





Pada Persimpangan Terakhir
         kita rayakan ini sekali lagi, pada kucing-kucing piaraanmu
         pada malam, yang telah aku tentukan

/1/
seperti kucing;

aku hendak bebas keluar saat malam tiba. menjadi leluasa memanjati pagar temaram dibanding tertidur pulas pada batas ranjang kayu jati. ikutilah pengembaraanku… ditariki gelora remaja yang pintar berlari, selalu, serupa keempat kaki mungilku, bukan?  setidaknya tak pernah butuh tawaran kendaraan yang ada −kaleng berkarat penuh jentik nyamuk, rombakan tiang, dan lelampu taman, umpatan hasil perang manusia, atau pun rerusuk rembulan yang ugal-ugalan sehabis berdebat dengan musang hutan. hitung-hitung, tarif kendaraannya cukup bila kujajani beberapa butir nasi, ditemani serpihan tulang ikan.

/2/
aku hendak bebas mengenali, memasuki gedung-gedung tua itu sekali lagi, tanpa peduli-tanpa tahu penghuninya kini, kemudian sekadar beramah-tamah seperti sedang mengundang roh yang berkimbang-kimbang sekian lama −roh kenangan masa silam.

namun baiklah; jika kau telah bersikeras menegurku bahwa dosen itu tengah berdiri penuh wibawa di sana (dengan kacamata berbingkai hitam kesukaannya). ya, tepat di pusat ruangan bersama semerbak keinginan, perjuangan, hingga obsesi kita. aku masih berusaha menangkap aroma kopi bercampur rokok yang dikebutkan dari lantai bawah. kita: yang dahulu disebut sebagai sehimpunan perancang grafis, sibuk bereksperimen dengan ibu segala garis, ayah segala bentuk dan bidang, sampai anak-anak warna itu tiada pernah ragu dipadatkan menjadi kepuasan jiwa paling cantik, eksentrik, dan tentu saja paling mengesankan (di layar monitor komputer). sungguh, kita kerap berdoa, agar musim tandus tidak mengendus bekal nurani, juga inspirasi.

/3/
ingatkah? ketika kita bebas duduk bersantai di atas bongkahan semen yang pernah membekukan pikiran-pikiran keras kita, seusai habis terkuras. di sana kau pernah bersenandung pula akan pekatnya cita-cita, lagu-lagu kemerdekaan jiwa, tentang sajak matahari yang kau katakan cahayanya membanjiri namaku. getir… saat itu kau teruskan bayang pohon besar di sisi jantungmu dengan aba-aba kegelapan, suara-suara lantang demonstrasi mahasiswa, bahkan politik yang sama sekali tidak aku sukai. namun, di dalam perjalanan panjang menuju mata dan hatiku, kau selalu tunggangi mimpi-mimpi yang paling gerimis, mimpi-mimpi yang paling indah.

/4/
hingga −pastinya aku ingat betul−  pada pertengahan bulan kedelapan yang merah, ketika pori-pori anjungan malam masihlah bayi: sepasang mata kita mesti berduka, masing-masing menyala-nyala menembus persimpangan jalan yang berbeda, persis mata kucing yang memang harus bergemuruh sendiri-sendiri di antara setumpuk bulu hitam yang mengelilinginya. “hitam…, bukanlah merah…! seperti malam,” katamu menegaskan kehampaan yang krusial, yang takkan pernah sanggup kupahami, separuh, atau pun seluruhnya.

lalu, perlahan di sini ada yang meranggas, sayang… (seromantis itukah aku memutuskan membahasakanmu?) seperti kata-kata yang semula bersumpah hendak mengikat, sekaligus menggugurkan rindu.

        wahai jam pasir,  jam pasir…  pinjami aku tubuh,
        tubuh baru yang memandikan dan mengekalkan jenazah-jenazah waktu

2012




Bibir Perempuan Penyair, pada Tubuhmu

Bibirku yang telah menggurat alur
perenungan yang menentang
kesepian,
pada tubuhmu.

21 Desember 2020




Bola Mata Penyair Perempuan, 2

Pada matamu, perempuan. Sesosok penyair
menjerit murka, sebab
menabukan bayangan air
yang hendak tumbuh
menjadi
api yang basah.

23 Februari 2021




Don’t Cry
       — perihal cinta kepada Y.G

gadis, ini bagimu
yang menangis pilu malam ini.
gadis, kau berencana mengendarai
sebuah mobil klasik
di tengah hutan pengasingan
yang kelam dipeluk pekuburan.

Sebelum diundang menjadi tamu
pesta perjamuan kekal di surga,
jiwa-jiwa penghuni di sini setia
menanti, hingga tenang berhimpun
sebagai
tanah merah bumi, rerumput
bersembunyi, dan luruh hujan dari
langit terjanji yang
bertugas mewartakan kelahiran
makhluk-makhluk kembali.

Sementara kau tengah menatap
tajam dan menyasar (bagian)
dirimu yang berdiri di depan sana.
sekerasnya di sana kau berlari,
secepatnya kau di sini meraih
kendali mobilmu.

Kau hendak menabrak kuat-kuat,
agar sekejap lenyaplah tubuhmu,
pikiranmu
                  jiwamu
                                     hatimu
                  keningmu
heningmu
                                    matamu
bibirmu
                darahmu
                                  tulangmu
jantungmu

bayanganmu
                                   bulanmu
mataharimu
                        gelap terangmu
hujan terikmu
                   terbit terbenammu

— sajak sajakmu –

yang mendamba dan
menginginkannya.

Matilah engkau,
gadis
bersama cinta gila nan keras
kepala.
Nyatanya masih menekan
kemabukan sejauh telunjuk kiri dan
kananmu
dan yang kian lancang bertanya
akan sebuah lelucon keparat ini
kepadamu:

— menangkah engkau, atau justru
kalah atas hatimu sendiri
        ; puaskah engkau
                  gadis?

20 Desember 2020
(01.55)



=================
Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni dan budaya. Pernah menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual di Bina Nusantara Center, Jakarta dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, dan menekuni dunia kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya terbit antara lain di Republika, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Lombok Post, Bali Post, Tribun Bali, dan BWCF (Borobudur Writers & Cultural Festival).

Yang Hanya Datang dan Pergi

0



Merayakan Kematian

Kekasihku,
jalan buta, cerita berhenti seketika
mereka tertawa, aku masih memungut bahasa
menjahit doa, merangkai luka

hari telah basi
waktu berputar membelit dirinya
menyalip matahari yang hanya datang dan pergi
dinding kamar menatapku dengan wajah sedih
terlihat Potret eric fromm menggil
di antara deretan buku-buku

Ayla, kekasihku
maukah engkau merayakan kematianku
dengan sebotol kesedihan kesukaanmu

Jakarta, 2021






Bibit Kerinduan

bibit kerinduan yang engkau tanam di
musim itu sudah menua
akarnya merentang jauh di antara dada
kita
orang-orang sepakat mengatakan
itu adalah jalan menuju muara telenteyan
muara tangisan di tanah kelahiran

satu persatu daunnya mulai gugur
menerjemah setiap detik yang tugur
di bawahnya engkau menyapu sepi
sambil mendengarkan siul angin
yang ikut menyahut dengan petani


Sepi terbuat dari dingin dan birahi
tubuhku telanjang memeluk bayang
melupakan kenangan dan arah menuju pulang


ingin kutulis segala tentangmu
sebagai ranjang peristirahatan
dari rindu yang selalu berlahiran

Jakarta, 2021






Sebelum Aku Tersesat di Pelukmu
yang Hangat


sebelum aku tersesat di pelukmu yang hangat
di teluk matamu aku diam-diam menyelinap
menyalakan kedap kesedihan

tubuhmu batu-batu yang licin
saat kaki kerap jatuh dan tergelincir

rambutmu serabut akar puisi
menanam sepi dalam diri
yang sama sekali tak pernah kita amini

Jakarta, 2021






Manuskrip Kepergian


Ayla,
sebelum kepergian benar-benar menjadi ibu
tempat rindu diasuh dan menyusu
sudah kucatat alamat kepulangan
di dalam dadamu

cantikku,
tidaklah engkau tahu
seberapa jauh nyali seorang bajingan
yang bermimpi menebas leher kesedihan

“tapi, di dalam sepi
kita hanya bocah penakut
yang merindukan peluk,”
bisikmu

Jakarta, 2021






Para Bhebeje

telah datang orang-orang di luar
bibirnya gemetar hendak memberi salam
tangan kanannya mengetuk pintu
tangan kirinya memegang bingkisan rindu
aromanya menyengat di leher magrib
seperti pernah kucium dan entah demi rindu
kubacakan ayat-ayat seluruh
meski yang tersampai hanya gemuruh


Jakarta, 2021





Satu Hari Di Jakarta

tubuh telanjang terselimut panas
keringat menguap di pori-pori jalan
bising merayap di dinding telinga
dan tubuhku tak lain hanya puisi yang
merindukan sepi

Jakarta, 2021





====================
Mohammad Cholis, pegiat literasi Garawiksa Institute. Selain menulis puisi juga menulis resensi yang tersiar di pelbagai media, seperti: Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Bangka Pos, Solo Pos, Lampung News, dan Biem.co.

Melahirkan Bunga Jelita

0




Tentang Pernikahan

Saya pikir pernikahan adalah
Pertemuan bagi cerita-cerita
Lama mencari telinga tuannya

Saya pikir pernikahan adalah
Tempat hati berakar, tumbuh
Melahirkan bunga-bunga jelita
Setiap hari

Saya pikir pernikahan akan
melenyapkan suara-suara tokek
di musim hujan yang
Terus-menerus mengintai
Isi kepala, hendak membunuh
Kehidupan

Saya pikir pernikahan akan
Menjadi muara segala harapan yang
Dirindukan semua bujang dan perawan

Rupanya pernikahan adalah
Teka-teki tak berkesudahan.
Saya digiring untuk menebak-nebak
Tak henti-henti.

Tidore, 30 Januari 2020





Rumah Tangga

Sampai di mana kerut di jidat
Suami istri mesti digantung?

Sampai kapan bisu di mulut
Dalam rumah tangga bisa ditanggung?

Sementara rindu telah menggunung
Mengaduk-aduk lahar keluar dari palung
Membentuk salju
Menuju beku
Dan hangat yang satu.

Tidore, 27 November 2019





Pernikahan Jarak Jauh

Kata Wawan,
Jika rindu itu hujan
Mungkin kamu
Telah kebanjiran.

Malam ini hujan turun
Deras.
Saya kebanjiran.

Tidore, 28 Oktober 2019





Setelah Persalinan
Terberkatilah malam-malam panjang
Milik seorang perempuan
Pejuang di kesendirian
Semenjak mulut mungil manusia kecil
Menggantungkan kelangsungan degup
Di dalam dadanya
Pada lumbung pangan, saripati
Kehidupan yang mengalir
Tak habis-habis
Dari dadanya.

Tidore, 3 Mei 2019





Setelah Persalinan (2)

Terberkatilah malam-malam sunyi
lekat pada diri seorang perempuan
berjuang setengah hidup, setengah mati
demi kelangsungan kehidupan
Setelah segala dalam tubuh yang pernah remuk
Tunduk
dalam kesetiaan yang tidak pernah majemuk
Tunduk
Walau sisa napas terus beradu
Dengan kantuk

Tidore, 2 November 2019





Setelah Persalinan (3)

Wajah-wajah itu
Ia pernah kenal
Terlihat beterbangan
Seperti kupukupu
Ramai, riang
Hinggap pada bunga-bunga
Di mana-mana
Ke mana-mana
Menggapai segala yang
Kehidupan tawarkan

Sementara ia di sini, duduk
Menepuk-nepuk gadis kecil di ayunan
Mendongak ke langit
Dengan banyak pertanyaan
Kapan dan mengapa
Pada kehendak

Bukan…
Bukan ia tak tahu
Apa itu terimakasih
Bukan…
Ia hanya tidak tahu
Menerjemahkan keinginan-keinginan
Dan rasa sukur yang
Lahir
Bersamaan
Dari dalam
rahimnya.

Tidore, 28 Juni 2020





Perempuan Itu Merindukan Matahari

: Zhie

Aku tak akan berkhotbah padamu
Tentang keharusan menahan wajah merah itu
Lalu menyimpannya di sudut kamar
Bersama matamu
Yang selalu mandi hujan

Padahal hari masih pagi
Dan mendung tentu tidak akan datang
tanpa pernah pergi, bukan?

Aku tahu engkau merindukan matahari
Memberi cahaya di hari-hari redupmu
Tidak cuma pada waktu itu
Ketika jumlah bulan telah banyak berlalu
Dari pelaminan merah mudamu

Aku tidak akan menghadapkanmu
Dengan banyak tugas kuliah
Seperti kulakukan pada para mahasiswa
Yang selalu enggan belajar dan mencari tahu
Bahwa di setiap perputaran waktu
Kita tetap akan sampai pada siang
Gerah dan panas tak tertahankan

Aku tidak akan begitu!

Aku hanya akan terus mengusap
Pundakmu
Membalur kunyit parut di sana
Lalu menutupi perban putih di atasnya
Setiap kali luka-lukamu
yang basah kemudian telah pernah kering itu
kembali berdarah

karena menunggu matahari

datang terlalu lama
hingga engkau tertidur
Lalu aku berbisik
Sebelum engkau betul-betul jatuh tertidur
“Tuhan tidak pernah bermain-main
dengan penciptaan matahari!”

Tidore, 29 Maret 2020





=================
Aida Radar merupakan nama pena dari Ummu Syahidah. Bekerja sebagai pegiat sastra dan literasi di Maluku Utara, istri dan ibu di rumah, dan dosen Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Berdomisili di Tidore dan Ternate.



Tersesat Mencari Puisi

0

Di Mata Amba Cinta Telah Berwarna Merah
terinspirasi dari novel Amba karya Laksmi Pamuntjak

amba hanya tahu warna merah,
selain itu warna celaka. Bahkan
merahnya lebih merah dari tetes
darah yang jatuh dari dada mahasiswa
yang tertembak di tengah jalan.

merah itu bukan semata wajah darah
namun bagi amba merah itu kehilangan
kekasih yang berdarah.

dan yang paling diingatnya adalah sejarah
warna merah di yogyakarta, bukan di jakarta,
apalagi di madura.

sebab merah itu adalah darah yogyakarta
pada saat peristiwa g30s sedang menanam
sejarah air mata dan kehilangan.

di situlah cinta berubah menjadi cairan darah
di mata amba. sebab cinta telah berwarna merah,
merah yang timbul dari luka kehilangan.

dan amba hanya tahu bahwa buah kelihangan itu
adalah ketika cintanya tak lagi memiliki mata untuk
memandang wajah bhisma, kekasihnya yang terlahir
dari persetubuhan liar.

semenjak itu tak ada yang lebih tajam dari senyap
dan kehilangan. namun ia tahu hidup di orde baru,
berarti hidup secara sembunyi-sembunyi. tapi amba
tak mudah putus asa, ia memiliki seribu cara.

setiap hari ia menjadi pencuri informasi demi mencari
bauh tubuh bhisma dari mulut  ke mulut temannya.

akhirnya setelah setahun kehilangan lewat di depan
mata amba yang berdarah rindu sampai ke pulau buru itu.
kepastian pun ditemukan di lidah zulfikar, bahwa pulau
buru benar-benar menjadi nyata sebagai kuburan
kekasihnya.

dan amba baru bisa berkata dengan sadar:
mengapa ia tidak kembali? ia tidak hilang.
namun mati.

dan kini dengan rindu, cinta dan  putus asa yang berat,
amba baru bertemu dengan bhisma, bhisma yang
telah menjadi lembaran-lembaran surat darah cinta
untukmu kau baca amba. agar aku selalu hidup di
setiap langkah hati dan pikiranmu di sana.    

Jurang ara-2021




Satu Koma Persen Aku Tersesat Mencari Puisi

1
satu koma persen aku tersesat mencari puisi
semenjak mengenalmu sepasang mataku
selalu jatuh cinta dan ingin menjadi orang
pertama menatapmu tiap bangun tidur
di beranda facebook dan istagramku.

karena kelahiranmu tiap pagi selalu
meminta untuk dirayakan dengan like
dan komen. kau mungkin wujud yang
tak pasti di instagram. namun memiliki
status hidup di facebook.

2
aku tak punya banyak waktu membaca buku
karena waktuku terkikis habis di atas meja
untuk bercerita di dalam whatsapp bersamamu.
walau kusadari sesekali kuseduh kopi kebodohan
ini di dalam diri sendiri.

kurasa semakin dalam mengenalmu, makin takut
melanjutkan jatuh cintaku. sebab setiap kali
kuseleksi banyak wajahmu di cermin istagram,
kau berubah wujud yang makin tak pasti tiap hari.

3
akhirnya aku pun dewasa dengan kecemasan-
kecemasan dalam kata. aku pun menganggap
apa yang kutulis adalah puisi atau sekadar larik-
larik pendek penuh sampah lidah para netizen.
Bahkan ketika menulis puisi pun hanya sepanjang
tweetan kaum twitter.   

Jurang-Ara 2021





Kita Sama-Sama Abadi

menulis berarti mengurangi beban
berat derita dan membaca adalah
menyunting luka-luka di dalam diri.

kau dan aku tak pernah beda: kita
lahir dari kata dan hidup untuk
mengada tentang siapa kita.

walau, kita sama-sama bekerja di
ruang berbeda: kau gunakan tubuhmu
untuk merasai kecut keringat hidup
di sawah. kupakai pikiran untuk  
mengekalkan hidup di ladang kata-kata.

kita sama-sama hidup butuh pengakuan
pada hidup bahwa kita pernah ada di sini.

di sana kau diakui sawah sebagai
pengasuh padi-padi. dan aku, kata-
kata memanggilnya peladang puisi.

kita sama-sama memiliki kesibukan
di malam hari: kau tulis doa-doa subur
untuk alam semesta di dalam hati tuhan.

dan aku sibuk sebagai puisi yang menerjemah
dukaku-deritamu agar kita sama-sama abadi
di ruang makna yang berbeda.  

2021






Pola Hidup Manis

hidup tidak pernah manis
bahkan orang kaya pun
memiliki pahitnya masa lalu
sebagai pengemis.

bersyukurlah kita masih
bisa tertawa di detik ini
sampai membuat duka marah
pada kehadirannya yang
tak berarti di dalam hati.

2021





=================
Norrahman Alif lahir di Jurang Ara. Menulis puisi, cerpen dan resensi di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Beberapa karyanya bisa dinikmati di media cetak maupun daring. Buku puisi tunggalnya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan-2019–telah mendapat anugerah sebagai buku puisi terbaik dari lomba antologi buku puisi yang diadakan Festival Musim Hujan Banjarbaru’s Rain Day Literary Festival 2020. Dan kumpulan cerpen terbarunya Mantra Penolak Hujan-2021.

Membaca Cuaca, Menafsir Desir

0


Di Bibir Ladang Gambir

telah mekar bunga cabai yang ditanam burung-burung
putik-putik hijau akan segera memagut lembut kabut
pada luruhnya adalah sebatang sungai yang masih sama
yang masih membasuh kaki hutan, yang menunggu ikan-ikan
bertelur dan memijah lalu kembali hanyut menuju laut
yang akan turun dari awan sebagai titik embun pertama

membasuh setiap helai daun gambir
sebelum sulurnya melilit pinggang bukit
hingga mata pisau mencium harum getah
di tubuh mereka hidup selalu berkhianat pada takdir  
pada perhitungan dan musim yang sakit
pada merah tanah yang menumbuhkan resah

ah, gelisah tumpah juga di dadamu, ayah
tapi kau hentakkan kaki memilin sekarung gambir
getahnya mengalirkan pekat darah memerah
di hari-hari yang akan selalu bernama getir

getir paling pahit
getir paling sakit

bekasi, 2020






Di Pinggang Ladang Gambir

aku belum khatam membaca cuaca
aku belum tanak menafsir desir
kapan pangkal tanah memekarkan bunga-bunga?

Kita berladang di sarang mambang
suara-suara kadang menjadi tembang
hilang para peladang sebelum pulang
jejak mereka terkubur padang ilalang

kau mengoceh lagi, buyung
tak ada hantu tinggal di ladang
mantra-mantra ditebar sudah
selepas api menjadi puntung
hitam tanah adalah rumah peladang
dan segala tulah akan punah

membubung ke pucuk langit
menghujam ke palung batu

bekasi, 2020






Hutan Hitam

lagu-lagu terdengar dari jauh sekali
dari jejak pertama di persimpangan sungai
suara gadis tukang ratap dari suliki
mendendang ia mengurai cerita yang sansai

pohon mati dalam abu
api hidup dalam semak kelabu

pohon hitam, tandan buah masam
tumbuh duri yang liat yang rajam
yang kelam yang malam

lalu terdengar lagi lagu-lagu
pada daun pada embun

bekasi, 2020






Musim Bangan

musim bangan musim angan
jalan setapak sudah bersemak
datang kami membawa diri yang kanak
riang memanjat berpagut lenganke ujung dahan terlebat
ke tandan buah terberat

kami petik kami tarik tangkai-tangkai
kami peluk kami pagut dahan-dahan
akan datang angin baik dari selatan
tajuk bunga-bunga akan kembali disemai

karung-karung telah penuh
telah kucur semua peluh

ke dalam kuali ke dekap pasir
rengkah lalu pecah ia merekah
daging yang kelat yang kecut jadah
manis masa kecil menawar getir

bekasi, 2020






Bunga Pandan Hutan

bertahun-tahun belukar mengakar
menjalar liar ke pusar ubun-ubun
angin yang lalu, embun yang satu
berpagut dalam sesak pelepah pandan

asam lumut dari manis gerimis jantan
mengantar serbuk seharum rukuruku
atau mungkin tajam jantung pisang batu
menghujam dalam, memekar megar

bunga basah, mandi dalam lamun halimun
putih yang sendiri, diri yang perih

bekasi, 2020






Burung-burung Singgah di Ladang

pagi pucat pasi, burung-burung singgah di ladang
berciap berloncatan di dahan sialang
bunga gambir telah kembang pagi kemarin
tampuk sujud merengkuh tanah berair asin

kami dengar nyanyi burung-burung
kabut mengapung di tebing ngarai
ciat cicit mencuit berderai renyai
getah gambir penuh bersambung-sambung

kapal datang dari Jawa
bahagia datang sebentar saja

seperti burung-burung yang singgah
seperti tahun-tahun yang resah

bekasi, 2020








=================

Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, Hikayat Bujang Jilatang terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul “Di Palung Terdalam Surga” bisa dibaca di Pitu Loka (2019).

Di Dalam Kata

0


Kutinggalkan Satu Cahaya

Kutinggalkan satu cahaya
yang menghidupi bunga-bunga
yang bermekaran
di taman tak bernama

Di malam yang purna
aku menanggalkan kata-kata
cadarmu yang tua

Sementara di sanggar ini
aku menulismu
menjadi puisi yang lama
yang tak terbacaterbaca

Yogyakarta, 2021





Doa yang Sia-Sia

Puisiku hampir purna
dalam bayangmu yang menjelma angin malam
di saung tak bertanda

Lalu hujan menghentikan penaku
dingin mengkristalkan rindu
bersatu dalam keabadianmu

Sejak kau tak memberi isyarat lagi
aku hanyalah gema
doa yang sia-sia

Yogyakarta, 2021





Garis Hitam

Garis hitam di gelanggang
tak mencatat:
isyaratmu yang dalam,
diammu yang kelam,
malammu yang muram

Seekor burung melantunkan:
kaukah debu itu,
kertas kosong
penjaga malamku?

Lewat tengah malam
ada yang menyambut kabut
dari semesta kata
di dalam jiwa
kalam cinta

Yogyakarta, 2021





Di Taman Ini

Fajar pun tiba
aku masih menerka
bayangan cinta
dari satu cahaya

Di taman ini:
waktu terdiam,
kata-kata gaib
pada selembar daun yang jatuh

Beberapa burung berterbangan
menuju awan
rindu berkepanjangan

Yogyakarta, 2021





Puisi: H

Di luar kata:
kau menjelma satu tungku
yang menyala apinya
berbahan bakar mimpi
dari selembar kertas
yang telah menjadi abu

Di dalam kata:
kau menjelma doa
yang tak habis-habisnya kubaca
agar tak ada kata yang terlupa

Yogyakarta, 2021




Ode untuk HF

Angin pun berdesik
jam dinding menjelma sunyi
lalu kulihat:
pohon-pohon menari sufi,
bulan memancarkan cinta suci

Ada namamu di atas sajadah ini
namun berarakan hurufnya
sebab belum bisa kurangkai dengan sempurna

Aku masih mengeja satu kata
yang membawa kabar gembira
dari ufuk timur sana

Yogyakarta, 2021




Selamat Tinggal: M

Pernah kurajut namamu dalam diam
dalam perahu tuaku
sejak enam tahun lalu
tanpa kuganti dengan yang baru

Lalu kutinggalkan
di bawah temaram
sebab senja melabuhkanmu di pelabuhan

Kini kuucapkan selamat tinggal
padamu yang menuju pelaminan

Yogyakarta, 2021.





================
Ananda Bagus Wirahadi Kusuma, lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 19 Januari 1998. Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, jurusan Studi Agama-Agama, di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif sebagai anggota aktif teater ESKA. Karya-karyanya berupa puisi pernah dimuat di Al Kalam.id dan antologi puisi Eidetik 2 dari 100 puisi terbaik SIP Publishing.

Ketika Matamu Menjanjikan Api

0

Aku Tahu, Kamu Pergi—

Aku sering berjalan, larut, sepanjang jalan
Menundukan pandanganku, dan buru-buru, penuh ketakutan
Tiba-tiba, dalam diam, kau masih bisa bangkit
Dan aku harus menatap semua kesedihanmu
Dengan mataku
Sementara kau menuntut kebahagiaanmu, itulah kematian

Aku tahu, kau berjalan melewatiku, setiap malam
Dengan langkah kaki malu-malu, dalam gaun celaka
Dan berjalan untuk uang, terlihat sengsara!
Sepatumu mengumpulkan para dewa memberitahu apa yang paling berantakan
Angin bermain-main di rambutmu dengan kesenangan kotor—
Kau berjalan, dan berjalan dan tak menemukan rumah sama sekali




Elizabeth

Aku akan menceritakan ini padamu
Malam sudah sangat larut—
Apakah kau mau menyiksaku,
Elizabethku sayang?

Aku menulis puisi tentang itu,
Seperti yang kau lakukan;
Dan seluruh sejarah tentang cintaku
Adalah dirimu dan malam ini

Kau tak perlu menyusahkan diri
Dan menghancurkan puisi ini
Segera kau akan mendengarkan puisi ini
Mendengar, dan tak mengerti




Untuk Gadis Cina yang Menyanyi

Kita menyusuri sungai yang tenang di malam hari
Akasia mencolok dalam warna mawar, memancarkan cahayanya
Awan pun merebah cahaya mawar. Tetapi aku jarang melihatnya
Seluruh yang terlihat adalah bunga plum di rambutmu

Kau duduk tersenyum dalam haluan kapal Jung
Memegang kecapi dengan kepiawaian tanganmu
Menyanyikan lagu suci dari negerimu
Ketika matamu menjanjikan api, dan kau masih sangat belia

Tanpa berkata apa-apa, Aku berdiri di tiang kapal, dan apa yang kuinginkan
Untuk diriku, adalah mengalah pada mata yang berkilau itu, lagi dan lagi
Untuk mendengar lagu selamanya dalam sakit yang diberkati
Untuk lagu yang menyenangkanku, terjerat di halus tanganmu




Waktu Jahanam

Kini kita terdiam
Dan tidak menyanyi satu lagu pun
Langkah kita tumbuh bahagia;
Inilah malam, yang pasti akan datang.

Berikan aku sepasang tanganmu,
Mungkin kita masih harus menempuh jalan yang panjang
Salju ini, ini saljunya
Musim dingin adalah hal menyusahkan di negeri antah berantah

Di mana waktu
Saat cahaya, sebuah tungku api terbakar untuk kita?
Berikan aku sepasang tanganmu!
Mungkin kita masih harus menempuh jalan yang panjang




Dalam Sebuah Perjalanan

(In Memory Of KNULP)

Janganlah bermuram durja, segera malam akan tiba
Ketika kita bisa melihat bulan dingin tertawa di jalan
Melewati desa-desa yang samar
Dan kita rehat, saling menggenggam tangan

Janganlah bermuram durja, akan tiba saatnya
Saat kita bisa rehat. Salib kecil kita akan bertahan
Di tepi jalan yang cerah bersama-sama,
Dan hujan turun, dan salju jatuh
Dan angin berlalu-lalang pergi.




Takdir

Dalam amuk marah dan kekacauan kita
Kita bertingkah seperti kanak, memutuskannya,
Melarikan diri dari diri kita sendiri
Terikat oleh rasa malu

Tahun-tahun merumpun lalu
Dalam penderitaan mereka, menunggu
Tak ada satu pun jalan kembali
Menuju taman masa muda kita.




Hari-Hari Melelahkan …

Hari-hari melelahkan
Tak ada api yang menghangatkanku
Tak ada matahari untuk menemaniku tertawa
Semuanya sirna
Semuanya dingin dan tanpa ampun
Dan bahkan yang tercinta sekalipun, sirna
Gugusan bintang memandang sepi
Sejak saat itu hatiku mempelajari
Cinta juga bisa mati




Tanpamu

Bantalku menatap diriku pada malam hari
Hampa seperti pusara;
Aku tak pernah mengira akan terasa sangat getir
Untuk menyendiri
Tidak merebah tidur di rambutmu

Aku berbaring sendiri di rumah tanpa kata
Lampu-lampu gantung menggelap
Dan dengan lembut mengulurkan tanganku
Untuk merangkulmu
Dan dengan lembut menekan hangat bibirku
Ke arahmu, dan menciumi diriku sendiri, hingga habis dan melemah—
Lalu tiba-tiba aku terbangun
Dan di sekitarku hanyalah dingin malam tumbuh diam-diam
Bintang-bintang di jendela bersinar terang—
Di mana rambut pirangmu,
Di mana manis bibirmu?

Kini aku menegak derita dengan bahagia
Dan racun di tiap anggur
Aku tak pernah tahu akan segetir ini
Menyendiri,
Sendiri, tanpamu.



====================
Hermann Hesse, adalah seorang penyair dan novelis berkebangsaan Jerman. Ia mendapat penghargaan Nobel Sastra pada tahun 1946 atas karya-karyanya yang terkenal seperti Steppenwolf, Siddhartha, dan The Glass Bead. Selain menulis novel, ia juga menulis puisi. Puisi-puisi yang saya terjemahkan ini berasal dari kumpulan puisi Hermann Hesse yang telah diterjemahkan lebih dahulu ke Bahasa Inggris oleh James Wright pada tahun 1970 dalam buku “Poems by Hermann Hesse Selected and Translated by James Wright.”

Raihan Robby, lahir di Jakarta, kini menetap di Yogyakarta sedang menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia UNY, menulis puisi, cerita pendek, naskah drama, dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media online, dan antologi bersama. Kini aktif di @sindikatsastrabahagia

Terbaru

Tom dan Malam yang Pergi

Ini masih senja, ketika aku berbincang dengan Tom di beranda rumah. Lelaki itu kutemukan...

Mencari Karya yang Problematis

Tugas Sekolah

Dari Redaksi