Puisi

Home Puisi

Menandai Perjalanan yang Nyaris Abadi

1

Sebelum Segalanya Menjadi Buta

sebelum segalanya menjadi buta
kau peluk satu persatu cerita masa kecil
yang telah merelakan tubuhmu menjadi kenyataan

seperti malam yang mengubur diri
menjadi mimpi-mimpi kecil
melepas doa-doa yang mungkin kau lupa kata pulang senantiasa lebih tenang
menyediakan catatan menyibak perdu cinta paling memabukkan

tetapi, tak ada yang mampu menguak halimun:
menyiasati lekuk takdir malih menjadi tangis
dalam perwujudan yang perlahan menggetarkan sekujur tubuhmu

tak ada bahasa yang mampu kau ucap
selain memeluk tarikh dari titian sunyi ke sepi 
merelakan semua yang telah terjadi
mengamini ketidakpastian
di luar diri sendiri

2022




Pagi di Sebuah Taman

esok pagi tiba
huruf-huruf memanggul kalimatnya
menuntunmu ke sebuah taman
kau temui seorang gadis cantik
tersenyum kepadamu

bunga mawar di sampingmu merekah
tersenyum hangat memandangimu
menerjemahkan seluruh isi hatimu

pada hari itu juga kau tak ingin menerjemahkan kata cinta lagi
kau hanya ingin tersenyum sesekali tertawa
menandai perjalanan yang nyaris abadi
berdiri tegak memelukmu:
lebih erat dari biasanya

2022




Seperti Hikayat yang Rela Menebas Kesunyian

hanya kabar kosong yang tiba memelukmu
waktu menyusun hari-hari seperti biasanya
jari-jari telah menarik ulang sebuah kisah
mendamparkanmu pada sebuah lorong
yang tersisa tinggal cerita batu-batu
sekali waktu roboh diterpa gelombang

seperti hikayat yang rela menebas kesunyian
menandai aroma kisah yang nihil dari kesetiaan. 

apakah masih ada degup yang mampu
mengantarkanmu ke pintu-pintu kebahagiaan?

malam menyisakan punggung yang retak,
ingatan telah raib ditelan ketidakteraturan
barangkali yang masih tersisa kini adalah senyum simpul,
sesekali menjadi terik matahari:
memanjakan seluruh dari yang pernah kau temui
dari kesaktian-kesakitan maha dalam

di seberang kota, orang-orang terlelap
menampar dingin yang menyiut pada kulit 
merebahkan masa depan yang bertabrakan
menjadi segara bagi kisah buangan

roda waktu tak lagi berputar
tinggal sepasang hari menenun amarahnya
selepas itu juga kau tak lagi ditemukan
dan runtuh dari keterbacaan

dunia kembali lagi, langgam yang gagap
dan ia tak lagi mau mengerti apa yang sedang terjadi

2022




Imperium Masa Kini

seribu pertanyaan meledak di jalan-jalan
sejumlah alamat telah menghapus dirinya sendiri 

tubuh waktu telah menjelma
imperium masa kini
kian memucat dan sekarat

langit hanya membisu
tak dengar lagi suara masa depan
kau terlelap bersama nyali yang tumbang

di tanah ini
kau hanya ingin tinggal
menyerap segala buih kabar ilalang
yang tumbuh
di sebuah kota yang dingin
didekap cuaca 
tanpa memikirkan
esok hari harus menjadi apa

2022




Pertanyaan Klise Tentang Hidup

dengan sedikit kantuk yang membusuk
kau rebahkan sedikit mimpi di langit kamar yang pecah

tinggal warna penanggalan
yang sedia menjadi karib yang ringkas
sesekali membentangkan pertanyaan klise
terdiam membingkai mana yang kelak
akan sampai pada kemungkinan-kemungkinan

sebatang rokok dan pahit kopi
adalah jawaban atas ketidakteraturan
membaca seluruh hidup, katamu

kau hanya ingin menjadi pemuja rahasia
menerima seluruhya tanpa tergesa
memulihkan sakit di pundak yang menggetarkan pada sebuah nasib yang 
tak pernah selesai kau pahami
sekali lagi

2022





Menjadi Masa Depan

Menjadi masa depan 
Barangkali berani memukul rata pertanyaan-pertanyaan
Meski di lain waktu tubuhmu berlubang dan habis 
Menjadi tanah yang dihidupi 
Semak belukar

Pada isyarat lagu malam
Kau bertelimpuh membakar kegelisahan
Orang-orang tak pernah berhenti
Berputar mengelilingi kesunyiannya sendiri

2022





Sejumlah Catatan
yang Terus Bersuara

hanya tinggal sihir angin memudarsunyi menerka ke langit-langit sejarah
senyum tak lagi tumbuh di sela waktu yang payah
orang-orang mejelma hantu
mengunci suara-suara
atas nama keadilan

Hanya tinggal tilas beku–tangis yang memar
tanah dan segala gemetar 
menandai sejumlah kenyataan
mengucurkan bau anyir
di antara mimpi-mimpi yang koyak
terdiam mengeja kata
mencatat hal-hal yang keras kepala–menyembunyikan sejumlah
kegagapaan yang terus berputar

masih ada sedikit waktu
lencana dan gigir doa-doa
menjelang malam tiba
seluruhnya dari bilik pagar
menghantarmu dengan tenang
tanpa sedikit cemas
kemudian kau memilih abadi

2022 




Memanjat Kemungkinan-Kemungkinan

adakah ruang tunggu selain memikirkansebuah waktu yang berubah bentukatau kota asing, 
dimana hanya serak angin yang melambai pada sebuah petang
dan burung-burung pulang
ke tangkai pohon mahoni?

Tak ada celah selain bagaimana tubuhmu yang mungil
belajar menghayati cinta
meski hampir gugur di tengah perjalanan

hanya ingatan yang tersisa
di meja kerja
kesendirian menjelma racun
ia melambai ke arahmu
bermesraan denganmu
sampai waktu tiba menyala dari utara

kau hanya ingin melupakan hari ini
kota tak lagi menyimpan bahagia
dan tubuhmu hanya tempat pelarian
untuk memanjat kemungkinan-kemungkinan

barangkali masih ada kuncup doa-doa
yang benar tiba di halaman mimpimu
ketika kau tak sanggup lagi
mengatakannya kata cinta
sekali lagi

2022





==============
Muhamad Arifin,
Lahir di Grobogan, 21 April 1998. Alumnus Universitas Semarang (USM) jurusan Ilmu Komunikasi. Bergiat di Komunitas Orbit Semarang. Karyanya sudah dimuat di beberapa media cetak dan media online. Pada tahun 2019 ia berkesempatan mengikuti Festival Sastra Internasional Gunung Bintan Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau.

Berpendar di Lubuk Kesedihan

0


Leutheria

kebebasan mungkin sekali
cukup pasi untuk melambai
    menyapa,
         apa lagi
    menaruh hati,
         mustahil lagi

begitulah, aku baca
pada huyung jarum jam
berjalan sedemikian ia
     menyanggah,
        ah
    berhentikah,
        sudah

(Surabaya, 2021)



Dari Balik Dinding

— 1
kabar kematian kudengar
tindih-menindih dari balik dinding

— 2
doa-harap bertebaran
di kaki ketidakpastian meraksasa

— 3
hari-hari serupa pesta
berlaksa paruh condor mengangkasa

— 4
sedih, para pencuri berlomba lari
di antara masker, mayat, serta vaksin

— 5
kabarmu kudengar setengah-setengah
napas ini sendiri pun lelah terengah

— 6
hingga pangeran tanah impian datang
menyuntingmu yang berkali berkalang

— 7
kusaksikan dengan dada terbelah
dari balik dinding beraroma tanah

(Mojokerto, 2021)





Donna Donna (1)
:: dari dan untuk Joan Baez

telinga memanjang
kala lelarik pertama disenandungkan
tentang anak sapi bermata pualam
yang berpendar di lubuk kesedihan
lupakan burung yang terbang
sebab semua hanya tertawakan
walau musim belum penuh berjalan
baru setengah menjelma muara tertawaan
telinga menguncup kemudian
pada lelarik tentang pesan
dari petani
        ——- yang kami tertawakan

sementara cermin di rumah selalu katakan
“Kamilah anak sapi yang bermimpi terbang,”                 

(Mojokerto, 2021)

Donna Donna (2)

     bibir itu
melupa pilu
di reffrain lagu

     serupa sayap laju
kau terbang tembus
versi demi versiku
kagumimu

     sebentuk cinta itu
di multiverse semesta biru
berpuisi duka menyembilu

(Mojokerto, 2021)




Pada Sebatang Lisong

pada rajangan tembakaunya
terlahir mimpi sederhana
tentang dunia lebih dari biasanya

pada lilit kertasnya
keringat berdansa tralala
di bawah bayangan semestinya

pada bubung asapnya
terbang pula kecewa
tinggalkan ingin pada tempatnya

pada abu puntungnya
tersisa kisah-kisah perjuangan
terkenang selamanya

(Mojokerto, 2022)








================
Anjrah Lelono Broto, aktif menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa. Beberapa puisinya masuk dalam buku antologi bersama Pasewakan (Kongres Sastra Jawa III, 2011), Margasatwa Indonesia (Lumbung Puisi IV, 2016), Klungkung Dalam Puisi (Dewan Kesenian Klungkung, 2016), Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak (2016), Sang Perawi Laut (2018), Tamasya Warna (2018), Kunanti di Kampar Kiri (Hari Puisi Indonesia-HPI Riau, 2018), When The Days Were Raining (Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019), Antologi Kritik Sastra dan Esai, Jilild Kedua (2021), dll. Karya tunggalnya adalah Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerkak, 2015), “Nampan Pencakan (Himpunan Puisi, 2017), Permintaan Hujan Jingga (antologi puisi, 2019), dan Kontra Diksi Laporan Terkini (antologi puisi, 2020). Terundang dalam agenda Kongres Bahasa Jawa VI (2016), Muktamar Sastra (2018), Kongres Budaya Jawa (2018), dan Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia III (2020). Karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Sekarang bergiat di Lingkar Studi Sastra Setrawulan (LISSTRA), dan Komite Sastra Dewan Kesenian Mojokerto (DKKM).


Waktu yang Berlari

0

Berjalan Petang Ini

SAYA berjalan petang ini
tidak lewat arah biasa di mana
kau selalu menungguku. suku
kata sudah disiapkan, tak boleh
saya salah letak. membuat saya
terguncang di laut dalam. nuh
tahu arah maka disandarkan
perahunya di bukit itu
sampai banjir surut

DAN saya mesti ke arah itu. Nuh
di depan, karena tak mau disebut
putranya yang terseret gelombang
“saya tak mungkin menolak naik
kapal itu. tak mau mati sendiri
dalam bah.”

SAYA hanya…




Aku Perapian Itu

KAU gigil?
aku akan pindahkan hujan
dari tubuhmu ke dalam tubuhku
jika kau sakit aku yang duka!

kau mencintai hujan?
tubuhmu yang basah
biarkan aku jadi handuk
akan kuhapus air itu

kau merapat?
aku dekap dirimu
kuusir gigil itu
dari dalam tubuhmu

: aku perapian itu





Kenapa Kau Tak Tiba?

selalu kau bertanya,
bahagia apa lagi yang
kau ingkari sedangkan
kerianganku sudah
kuserahkan semua?

nikmat yang mana 
kau muntahkan, sedangkan
segala nikmatku kutuangkan
ke dirimu. tak kupilihpilih,
tak kutundatunda?

ke segala arah jalan
kulempangkan bahagiaku
untukmu. ke pesisir
maupun lereng gunung
maupun hutan, putik
kenikmatan itu kutabur
kembang; kau bisa cium
wanginya untuk datang
kenapa kau tak tiba?



Ingin Sembunyi Dari Maut

ingin kusimpan kematian
kau mengirim maut padaku
hingga ke dalam sembunyiku

aku ingin memutar kematian
ke bagian lain waktu
kau sediakan setiap putaran
dengan kematian yang sedia

ingin sembunyi aku dari maut
yang tak pernah diam mengintai
tapi kematian selalu membayang
– menarinari di tiap kedip mataku




Memandangi Waktu

memandangi waktu yang
berlarilari di jam tangan
adakah langkah kita juga untuk sampai atau ikut
bahagia dalam nyanyiannya?

mengikuti irama gerak kaki
waktu yang mendendangkan
harihari, apakah pesan untuk
kita agar hatihati melangkah?

menikmati detak waktu di jam
tangan, seperti mengingatkan
kita: apakah semua itu ialah
jalan yang ditetapkan untuk
kita?

                     bahwa…





Laut Membawa Pergi

laut yang membawaku pergi
bukan maut yang kaudatangkan
angin yang menyorong perahu ini
bukan badai yang akan kausiapkan

di mana aku kini?

selat sunda yang pekat
tualangku yang lekat!





================
Isbedy Stiawan ZS lahir di Tanjungkarang Lampung. Banyak menulis puisi, cerpen, esai, dan jurnalistik. Dipublikasikan di sejumlah media cetak, tabloid/majalah, dan online.

Buku puisi terbarunya Mendaur Mimpi Puisi yang Hilang dan Nuwo Badik, Dari Percakapan dan Perjalanan (2022)

Sepanjang Sungai Hidupku

0

Bunga Pagar

Bunga pagar membawaku
kembali ke masa kecil
yang hilang
bersama layang-layang

Dan tambur mainan di halaman
tempat menyelipkan seutas harapan
di bawah pohon randu
diam-diam memeram rindu

Bunga pagar
mengingatkanku pada masa lalu
ketika ibu memetikkannya untukku
menyelipkannya di telapak tanganku
yang nanti akan mekar
melebihi mawar
sepanjang sungai hidupku

Jogja, 25 Desember 2021




Aku Ingin Mencium-Mu

Aku ingin mencium-Mu
dalam hati sunyi ini
tak ada yang mengetuk
seindah ketukanmu
bagai nafiri ditiupkan
ketenangan tertanam

Aku menemukan-Mu
bahkan ketika hatiku
berlumur debu-debu.
Kau menatapku merdu
dari jendela subuh
hingga pucat wajahku

Haruskah kupeluk lebih lama lagi
seakan waktu terhenti
sedang air mata yang mengalir
dalam Al-Quran ini
kubiarkan danau di hati

Jogja, 25 Desember 2021




Kupatahkan Hujan

Waktu begitu gegas menjemputmu
Di batas hatiku yang rubuh
Tempat kita memulai rindu
Dan air mata memecah batu

Mengapa patah mimpi
Sedang cinta kian memutih
Doa kubangun dari nurani
Menghirup hatimu yang melati

Haruskah kupeluk lebih lama lagi
Kau hanya tinggal sunyi
Biar kupatahkan hujan
Yang pelan-pelan merembes di jantung malam

Jogja, 30 Desember 2021




Di Atas Sajadah

Di atas sajadah
Segalanya akan terpenuhi
Melebihi sebatas janji
Seperti matahari pagi
Dan embun yang menghidupi

Di atas sajadah
Segalanya akan menjelma laut
Ketenangan yang biru
Serta ketulusan ikan-ikan
Di jaring nelayan

Di atas sajadah
Segalanya akan menjelma Ibu
Kehangatan cinta yang utuh
Ketika gugusan air mata luruh
Di hadapan-Mu.

Gapura, 28 Februari 2021




Gerimis yang Turun Sepanjang Kenangan

Seperti gerimis rinduku bergelayut
Di daun-daun hari yang menguning
Saat kau meukakan mataku|
Tentang dunia yang begitu mawar

Perlahan senyum berdenyar
Kau menaburkan putik bahagia
Di tanjung karang hatiku
Menjadi air mata yang
Rela turun dari mataku

Waktu seperti kereta melaju
Tanpa stasiun tugu
Tak ada yang perlu ditunggu
Semua telah berlalu

;Hanya angin di muka jendela
Daun-daun hari yang terkulai

Tuhan, bukankah hidup begitu indah
Untuk sekadar air mata.

Jogja, 28 Maret 2022




Jarak Kita

Jarak kita sungguh jauh
Kau di seberang, aku di tepi pantai
Hingga tak terdengar lagi merdumu

Dimanakah cinta yang dulu
Saat segalanya bernama doa
Kau teriak air mata
Aku menyuluhkan bunga
Bukankah begitu cinta bekerja

Malam menyulam rindu
Matamu seteduh rumah ibu
Kembang air mata luruh
Di atas sajadah-Mu

Aku memanggilmu
Dalam jiwaku
Tepat ketika telunjuk mengarah
Ke Kiblat-Nya

Jarak kita sungguh jauh
Kekasihku.

Jogja, 28 Maret 2022





===============
Fazlur Rahman
, lahir di Sumenep, 14 Mei 2002. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Puisi-puisinya dimuat di media cetak dan online, juga di beberapa antologi bersama. Saat ini aktif di Garawiksa Institute Yogyakarta.

Kata yang Disingkap dari Jendela

0

Merayu Dunya

/1/

nyala matahari memeluk pagi
          embun yang jatuh cerminkan diri

             ia ingat basah wajah peneduh
dan upaya memantrai hari yang acuh

hujan mencabik genangan dan sungai
            yang mengaliri kata-kata ilahi

            ia ingat barisan doa sujud terakhir
yang jatuh menyentuh akar dan zikir

akankah cahaya terbit bila cuaca
                     tak mekarkan warna-warna

           pada dua mata duha yang terbuat
dari serpihan bara mahapralaya?

/2/
satu denting sisa gerimis yang riciknya
           menerpa tengadah pemilik taman

                      dan tangan sebasah sabda
mengusap bekas ciuman pertama

inilah muasal dosa menggenapi alasan palsu
                      yang diucap di mulut sumur

                      kembara bayang-bayang hilang
di air tenang yang disentuh mahatangan

semua beralih rupa jadi kenangan
                      tak ada wajah tunggal

                      tak satu pun manunggal
o, nestapa berlalu dari wujud asal

/3/
demi menutupi hari yang baka
            ia pun mengubah cahaya

            jadi benang yang ia sulam sementara
seperti kata-kata yang disingkap dari jendela:

terakhir kutemukan nama itu
            setelah membuka pintu

            dan siang mengintai
di celah bayangan gontai

ia berjalan ke reruntuhan dunia
            dengan langkah buta

            perlahan menghampiri
dari arah yang suri

/4/
seperti nasihat-nasihat lama
            ia turuti matahari duha

            saat seluruh wajah menyala
di barisan yang paling pertama

cermin-cermin mulai terbuka
            darinya terpancar derita

                     seluruh titik mula ditempa:
“akankah kau bersedia umpama bencana

diikat sepanjang abad bergema
                      demi menebus cinta

                      yang kita ingkari
semenjak dihapus dari kitab suci?”

Yogyakarta, Januari 2022



Tersesat di Hutan Hujan

tetes air yang tajam, tunjam memotong rumputan. walau cuaca runtuh, hijau pohonan tak menghalangiku menjemputmu dari deras kicau kekacauan sungai yang dibelah sebatang bilah. lantas perahu yang datang musti fasih membaca arah agar sampai pada batu yang dilucuti sengat matahari.

semua yang menyembah rawa dan jeritan yang dilemparkan dari seberang telah sampai kepada jalan yang terhapus. mulailah dendang kedasih bergetar di punggung katak sang pemanggil hujan. angin jatuh ke mata, suara dedaun menyambut gugurnya hawa musim dingin.

hutan sering menelan pendatangnya. tapi arah lain lebih tak pasti. tanganmu yang pilu membasuh kuyub langit. batin gigil menuntun buta perjalanan panjang ke arah senja wajahmu menemui rupa yang dituju. amat tabahlah para pejalan yang berpaling dari tamsil bunga-bunga: ciumlah!

Banjarnegara, September 2021




Wajah Cermin yang Basah

bulan hanyalah debu yang terlempar setelah meminjam cahaya wajahmu. di balik cermin yang menghalau kekalahan, malam berubah kelamin. kegelapan telanjang di hadapanmu, menjelma bahaya yang mengendus anyir luka.

tanah yang melahirkanmu mengutuk setiap persembunyian. seorang nabi memunguti tangisan. dipindahkannya sungai ke dalam dada. ingatkah kau pada mata embun yang mengintip: barangsiapa berkaca padaku akan menyesal selama-lamanya!

kutegaskan padamu bahwa yang basah hatiku. bertahun kesementaraan mengalir dari ceruk penglihatan meski tak bisa melihat diri sendiri. moga engkau jadikan rupaku memuliakan mimpi. manakala kau pandang lagi takkan ada sepi yang mampu mengubah takdir ini.

Banjarnegara, September 2021




Dunya, 1

di kamar yang hampa
aku melupa

dan malam yang sendirian
aku lenakan

Yogyakarta, Januari 2022




Dunya, 5

bila kita pasrahkan tubuh
jadi sepatah kayu dalam tungku

akankah cinta menyala
di dalam api-Nya?

Yogyakarta, Januari 2022



==============
Bagus Likurnianto
, lahir di Banjarnegara, 9 Januari 1999. Bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto. Sedikit puisinya pernah disiarkan Media Indonesia, Koran Tempo, Basabasi.co, dan lain-lain. Sempat mendapat penghargaan sastra “Anargya Serayu Penawara” sebagai pemenang utama kategori puisi dari Dewan Kesenian Banyumas tahun 2020. Sehari-hari mengajar di SD MUH1B4 Kota Banjarnegara dan TPQ Nurur Ridwan.

Menembus Aksara Rindu

0

Di Jejak Doa

ragaku selembar kain
warna-warni melingkari mata
mungkin esok kita beri bingkai

engkau tebarkan jaring
di sudut senyum cahaya
seakan ingin menembus putihnya sinar

di jalan ini, yang kita lalui
pintu masih terkunci
disini kita simpan jejak
yang tinggalkan bayangan kita

kita mulai menyulam waktu
membangkitkan kenangan, sebagian terpenggal
jubah yang pernah engkau gunakan
tak lagi menyisakan bayangan dirimu
ingatan kita merapuh tergerus hujan

aku mencoba menelisik ingatan
lewat puisi yang membungkus tubuhmu
di selembar mimpi masih menggurat kain tubuhmu
warna gelap mengaburkan pandanganku
engkau menjerit pelan
di lubang kunci yang telah patah
engkau satukan tubuhku
di ujung pena, mengukir kata-kata rindu

hujan terus membasahi bayangan kita
semua aksara tak lagi tersimpan di tidur kita
bayanganku pun mulai pupus
sirna, mengalir di jalan yang kita lalui
dan malam membisikkan gelisah

adalah bintang kejora di langit
berjanji melumat seluruh tubuhku
menyisakan jiwaku untukmu
yang ‘kau jadikan sayap pusara
bila sajakmu mengirim doa untukku

Malang, 2021




Di Dalam Dada

tatapanmu tajam, menusuk dadaku
lama menyimpan luka
sinar mengalir serupa aliran listrik, aku terkapar
penuh gelap ruang ingatanku
seharusnya luka ini
tidak bersemayam dalam dadaku
biarkan jadi puisi, mengobati cemas
terbasuh cahaya yang tumbuhkan rindu
bergelimang aksara dan abjad
yang memuisikan hari-hari kebenaran
di antara jejak para pendusta

Malang, 2021




Biarlah Hujan Membasahi Kemarau

Tak tersisa lagi butiran angin,
kesunyian seakan membunuh heningnya malam
hingga napas bagai gemulai riak tanpa syair

Entah kenapa jagat ini seperti membuatku merasa terkucil
berjuta barel beban seakan memanteli tubuhku

Kalau saja Ilahi berkenan membaringkan segala penat jiwaku
biarlah jasadku berjalan sendiri mengikuti langkahnya

Adalah hujan membasahi kemarau
hingga tangisanku mengalir tanpa wujud

Kemana lagi harus kubermunajat,
jika sabda-sabda cinta telah terbakar matahari

Malang – 2021





Cahaya Cinta

biarlah cahaya matahari itu
membakar jiwaku
hingga aku tak mampu
berkata tentang cinta
adalah cinta tak akan pernah menjadi sinar keabadian
selain sabda-sabda cinta Ilahi Rabb
yang tak pernah pupus dan habis

Malang – 2021





Daun Sunyi

membuka lembar puisi
serupa membaca daun
hijau yang menjelma kuning
waktu terus mengoyak
mengiris peradaban
bersenggama liar di tubuh cahaya
entah apakah ini makna sunyi
atau jalan menuju sufi

tinta kadang memudar
seperti daun tinggalkan aroma hijau
dan puisi tak selamanya
berselimut diksi
diam, menunggu waktu
bersayap di hutan-hutan
yang menggiring
senyapnya angina
menikung senja di kelokan kabut

langit tak pernah dusta
menghujani aksara
terkoyak-koyak
di lumbung kalimat
lalu terbaca
anak kecil bertelanjang dada
menanti impian di pucuk halimun
segarkan daun
dengan doa-doa polos
yang dibawanya
dalam sekeranjang daun layu

Malang, 2021





Di Kesunyian Sepi

sebagian ingatanku merapuh
morfem pun menjadi tempat luka
hanyalah riuh angina
membakar malam
di kesunyian sepi
kuselimuti lisanku
sangat kurindukan suluk tertiup
dari garis cahaya semesta alam
dan merobek jiwaku yang fakir

Malang, 2021




Di Bangku-Bangku Sepi

di mulutnya matahari
doa-doa tersimpan
seputih sinar memancar warna
menyapa lembut rambut berkilau
seakan titian rindu di helai rambut itu

dari punggungmu,
bangku-bangku bertelanjang diri
tersiram embun pagi
basah itu mulai beranjak, keringkan tubuh
seperti aroma mimpi membasuh dahaga
menguap diterjang cahaya pagi
melepaskan tubuh-tubuh dingin, berlari liar
di kelokan jalan, semburkan gelisah

engkau tetap memaku di bangku-bangku itu
perempuanku, tatapan matamu menghunjam
menindih rumput ilalang
engkau tinggalkan bekas cumbu mimpiku
yang merapuhkan cengkerama bunyi burung-burung
mengepakkan sayapnya di pucuk pepohonan
aromamu sungguh menusuk
seakan busur panah, menembus aksara rindu

adalah sepi engkau bentangkan
bagai menyanggah doamu
di antara riuh penat dan letih, tubuh kita
menunggu lama di teritis lapuk
dan menanti puisiku, yang masih tersimpan
di rak ingatan

perempuanku, engkau mulai menggigil
matahari pergi meninggalkanmu
disela cahayanya, ingin kupanggil namamu
kusatukan dalam diksi
dimana malam telah mengintip
memajang rembulan yang tersipu malu
memayungi teduh di pancaran senyum
tertelungkup dalam kisah rindu

kita duduk di bangku-bangku itu
kita bakar malam
di segenggam doa yang mengusir sepi

Malang, 2021





=================
Vito Prasetyo dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Menulis cerpen, puisi, esai, Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa media, antara lain: Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Republika, Suara Karya, Lombok Post, Magrib.id, Haluan, Travesia.co.id, dan Harian Ekspres Malaysia. Termaktub dalam Buku Apa Dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Penyair yang pernah kuliah di IKIP Makassar, ini kini menetap di Malang, Jawa Tengah. Buku Kumpulan Puisinya yang telah terbit, Biarkanlah Langit Berbicara  (2017), dan Sajak Kematian (2017).

Sungai Sedalam Kalbu

0



Banjir

keyakinan orang-orang terkubur dalam agama yang dangkal.
pemahaman-pemahaman terbakar oleh prasangka tanpa sangkar.
saat hujan datang, hujjah pun mengambang, bersama banjir
yang mengapungkan kapar-kapar.

nun, rumah-rumah yang bertuhan kepada nabi, tenggelam sampai ke bumbungan.
pohon-pohon jeruk pucuknya melambai-lambai, buahnya yang belum matang
megap-megap dalam air dan arus keruh.

mereka menjangkau buah jeruk, apa yang dapat dijangkau tangan.
bersabda tentang surga yang ikut bertepuk tangan.

heran, kenapa agama dikekalkan pada aksi pencurian?
sedang Tuhan telah lama dipinggirkan dari hati yang ugal-ugalan.

beginilah banjir. ke mana-mana kubayangkan nuh mencari muatan;
aku hanya ingin menumpang dan lepas dari mimpi terkapar di hujan malam,
hujjah yang dingin di beku akal.

Kubang Raya 2021




Setetes Madu, Sungai Sedalam Kalbu

ia pernah datang padamu dengan setetes madu langka.
dari rimba puaka, dari sialang bercabang-cabang,     
bersilang-silang tempat berzikir para siamang,
gelantungan demi gelantungan                  
batang yang tampak ngeri  
tapi sungguh tiada pernah ada sesaji
pun doadoa keji, tempat hantu dan manusia membikin janji

**
              tapi kemudian ia mabuk
                     dosa berseluk beluk
juga nafsu terkutuk demi terkutuk
                            yang lupa rukuk
     yang lupa di antara dua duduk

“saksikanlah, ia lebih bahaya dari neraka
              airmatanya siasia,
seluruhnya tipu daya”

**
tapi kudengar, kau menyebutnya perkasa
      melambungkan namanya ke angkasa
padahal ia yang tersiksa, bagi seluruh antariksa
yang tak pernah kauperiksa karena sempurna percaya

**

katanya kepada diri, yang telah lazim menakar keji

“Assalamu ‘Alaikum hati yang nyaris sebundar zakum,
keselamatan bagimu. Tuhan Maha Melihat,
kau yang terlanjur jahat selalu ada taubat”

**
nasuha
nasuha

ia lempar paha, ia incar dada
ia takar airmata

ia seret tubuhnya ke dalam pinta, pinta di pintu tapa
pahala! pahala! hancurkan tubuhku yang berhala
izinkan hamba tetap manusia.

**
            ia datang padamu
            mengemis madu
setetes di lidahmu yang beribu
menjadi sungai sedalam kalbu

2021




Menyiangi Duri dari Doa Sunyi

ia berdiri, sembari menyiangi duri dari doanya yang kian sunyi,
ketika airmata jatuh ke langit, demi harapan yang senantiasa terasa sulit.

semula ia yakin kelahiran tak lebih darah yang berhasil mengental,
berubah jadi makhluk yang dihantarkan ke bola bumi. 

seiring gulingan aus hari-hari pergi, ia perlahan mengerti,
ternyata hidup ini lapangan sepak bola yang luasnya tiada henti,
orang-orang terus berlari, saling tendang, sikut sana sini, demi
gawang yang digantung di awang-awang, hanya akan turun jelang kematian. 

sebab itu ia belajar berlari, menjudikan kaki dan keringat di dahi,
berharap akan ada garis finis, dan lelah matanya sempurna magis. 

haruskah ia memadamkan lilin, membakar sisa kalendar,
agar abunya ia persembahkan pada ibu di sela-sela sepiring ragu?
lalu ibu akan menerbangkan abu itu seperti
menghilangkan udara dari paru-paru. 

maka ia tak membakar apa pun, bahkan lilin yang padam sebelum dinyalakan,
ia terpekur dalam tenang, ditenung bingung yang jelma perahu apung.

berlayarlah ia, berlayar ke atas sungai yang berantakan,
sungai dalam dunianya sendiri, sembari memutar bola api,
setelah memusar gelombang naluri, untuk menenggelamkan
hari-hari depan, dengan segenggam ketukan di pintu Tuhan. 

Relung Rahasia, Pekanbaru 2015 – 2021




Memukat Hujan

di laut peluh.
kita menabah-nabahkan tubuh.
bersampan ruh.
mendaki hidup yang kadang seperti hendak membunuh.

beginilah takdir.
kita yang tergelincir dalam lubang yang fakir.

tapi setiap kali kita percaya Tuhan,
maka kemiskinan bukan muasal kekufuruan.

atas segala daya.
kita membaca suratNya dalam jaring-jaring airmata.
mengangkat pukat lebat hujan pinta.

Seladang, Desember 2012 – November 2021




Tangan

ada sebuah tangan. panjang. kian panjang. menjangkau apa saja; permata dari airmata,
buah dari biji surga, serta kalung dari kalang ayam langka. ia memiliki semua
yang bukan miliknya.

ada sebuah tangan. hilang. bersembunyi di sela-sela tubuh besar kebaikan.
ia memberi, memberi, dan memberi lagi; stroberi, rumah ramah, kuda sekandang,
juga harapan-harapan.

tanganku begitu nyata. begitu rata-rata. tak panjang, tak memanjang. tak hilang,
tak sembunyi. aku menangis dengan menampung getah dari tempurung lutut
yang retak, airmataku dari sebuah ledakan kata yang runyam. lalu, sebilah doa
paling tajam, membelah langit. mengeluarkan tubuh Tuhan–sebelah tangan.

langit bumi ternyata terbuat dari tubuh yang rebah dan pasrah, berdarah
seperti wajah kelahiran agama.

Kubang Raya, 24 Desember 2021






======================
Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran, Paringgonan, 25 Mei 1988. Puisi-puisinya dimuat di berbagai media, antara lain: Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Lombok Pos, Suara NTB, Minggu Pagi, Riau Pos, Pos Bali, Sastra Sumbar, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Buletin Jejak, Haluan Padang, Haluan Riau, Koran Riau, Koran Madura, Majalah Sabili, Majalah Sagang, Majalah Puisi.

Pengagum Jeans Nicolas Arthur Rimbaud dan pemelihara seekor ibu kucing yang subur bernama Corina ini adalah pendiri dan pembina di Comunity Pena Terbang (COMPETER). Mengajar Kelas Puisi Online (KPO) bersama WR Academy. Mendirikan Asqa Imagination School (AIS), yang berkenaan dengan Puisi, Motivasi dan Terapi.

Pecahan Bayang-bayang Nasib

0


Nyanyi Pait

aku tenggelam di dasar bunyi igauan, tubuh pecah pada tanah
sungai dan liang lahat adalah bahasa batu-batu yang rebah

dan menimpa bunyi sore yang bergesek di udara, ketika angin
sembunyikan semburat mega-mega di bawah kepak sayap

dari kengerian rasa sakit yang panjang, berbisik di antara julai
rumpun ilalang di sepanjang petang yang kesepian, ranting-ranting

hanya disinggahi kelam bayang-bayang, bekas cakar merah
yang menggores udara menjelang bintang timur timbul

kicau gaduh burung-burung yang pulang membawa mimpi
terbang ke dalam sarang nyanyi pait para petani yang tergusur

suara, akulah nasib, yang berangkat menyambut pekat seluruh
kekisruhan pikiran kota-kota, penat memekikkan kerentaan

detik demi detik yang terkumpul menjadi satu titik kebisuan
kematian tanpa upacara, penguburan bangkai-bangkai cinta

2021




Genap

saat hujan genap seperti ratap kesedihan, kotamu dan kotaku
satu jantung yang basah, menggigil dan merah, bintang-bintang

airmata yang bersinar, gambaran napsu binatang kesepian yang bersembunyi di balik diri yang berlumuran darah dan darah

pecahan bayang-bayang nasib, doa yang bersemoga keajaiban
mimpi buruk yang mabuk maut dan tidur para gelandangan

diselimuti demam, suram suara jam dalam hujan yang
mengetuk hatimu, menggigilkan kamar kelam lapar

kau membentur-bentur permukaan benda-benda jadi gema
musik yang genap bernyanyi pada tubuh-tubuh nestapa

2021




Kutuk

bulan ketiga telah mengutukku menjadi sepasang ikan yang bimbang berenang pada laut tanpa gelombang, peragu datang sebagai kesedihan

waktu, dan membawa detik jatuh yang menjadi airmata karang, berumah dalam diam aku kisut di permukaan malam, terapung pada bulan yang

memikirkanku sebagai seorang lelaki yang menduadi satu sisi dingin, di lainnya padam, ada setiap angan-angan aku bergeser seperti pasir dalam

pikiranku sendiri, sungai hanyalah rasa getir yang mengalir tanpa ujung, dan kesusahan hidup yang menjelma batu-batu yang kelak menamakan |

nisankukabut berhalimun di sepanjang batas pantai, dan mayatku tubuh pulau yang kosong, hanya suara-suara saut sepi waktu yang melampiaskan

kemarahan pada diam, hanya sebentuk napsu yang mengutukku sebagai penyair gagal

2021




Pohon

ketika sungai mengalir ke atas dan bertemu langit, ketika laut bergelombang udara malam menguapkan kabut membungkus lutut

bongkah-bongkah keriput dari usia waktu yang tua dan mati
bersama rumput-rumput, tanah, segala yang pernah singgah

dan larut oleh sejarah, menyerap jejak, dan mencatat yang tampak
pada cuaca dan burung-burung yang memanggul nyanyi sedih

di atas hutan-hutan yang berubah menjadi padang, ketika tandus
adalah angka-angka yang terbang mengendus gedung-gedung

yang berdiri memanjang di penanggalan, melukis kejahatan pada
setiap warna yang mereguk matamu ke dalam ceruk airmata

bukit-bukit, dan seluruh rasa sakit yang menanggung seperti waktu
yang mengalir, dan kembali mengalir waktu seperti kesunyian jantung

dan darah yang kembali merah dari kelahiran dan kematian pohon-pohon
yang menjadi bayang-bayang mengunjungi masa depan di kepala kosong

2021




Bahasa

bahasa tuhan terterjemah dalam kamus puisiku, membawa Tanya
ke padang-pedang terik si majnun, menyeret beribu-ribu luka

pada jejak-jejak yang terlupa dalam sejarah pemaknaan bangkai
lantas, pada makam apalagi kau mencuri bunyi kata-katamu hai

penyair yang telah mengorbankan takdir pada sebutir getir
nasibmu waktu yang berkatrastopi dalam imaji-imaji kematian
yang ambigu, suaramu adalah paradoks masa depan, kunang-kunang
yang bangkit dari keterasingan malam yang mencabik rindu

dalam gelap seribu mimpi kau mencari di kota-kota manhattan yang memanggil keramaian orang-orang tentang dunia luar

datang sebagai rumah paling gaduh yang menanti perpisahan
yang mengigau tentang cinta sebelum maut memulangkan jasad

tapi tuhan telah menyerahkan bahasa kepada semesta
yang kautafsirkan dalam tiap doa, bahasa tak lahir dari hampa

yang larut lamat-lamat dalam diam, ia nyanyian digemakan
dada selepas napas mengendarai musik di lautan instrumentalia

2021

===============
Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi dan cerpen tersiar di beberapa media massa baik daring maupun cetak, seperti: Detik.com, Koran Tempo, Magrib.id, Beritabaru.co, Langgar.co, Ceritanet.com, Sastramedia.com, Litera.co.id, Linikini.id, Kompas.id, Tembi Rumah Budaya, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Radar Banyuwangi, Radar Banyumas, dll, serta terikut dalam beberapa buku antologi bersama. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas dan penjual buku lawas. Kumpulan puisi pertamanya bertajuk Akar Hening Di Kota Kering (2021).

Amsal Muasal Kopi

0


Menyusuri Muasal

Abyssinia
telah jadi ladang
paling gemilang
di muka bumi.

di sana
ialah tanah muasal
dari biji-biji
yang kelak
menyebar
ke penjuru dunia,
juga bagian paling dalam
dari diri manusia
di dalam suka cita.

biji-biji
sebesar ibu jari
semula tak berarti
apa-apa
sebab
hitam warnanya
dan hanya rasa pahit
jika dicerna.

di suatu waktu
orang-orang dari Semenanjung
          tiba.
membawa biji-biji
menuju seberang
dan sesekali kembali
mengambil lagi,
       
lagi,
       
dan lagi.

hidup
ialah perkara
siapa paling bias
memaknai
       
& memanfaatkan.
meski kadang
banyak gejolak
yang pecah
dan tak pernah
mampu dipahami.

gejolak
lahir dari satu tafsir
dan tafsir yang lain
selalu berbeda.
akan selalu
dimaknai lain
sebab dunia
dan seluruhnya
tak lebih dari
hitam,
pahit,
dan sesekali
kecut
di lidah.

orang-orang Semenanjung
menyusuri Abyssinia
dan kelak
mengelilingi dunia
dengan kantong-kantong
penuh biji-biji.
dan akhirnya
sampai di Turki
dan ditumbuklah biji-biji
lantas diseduh
dan berakhir disesap.
dirasa
dengan pangkal lidah.

lidah di Turki,
suatu kali
tak fasih
berbahasa.
terpeleset dan luput menamai.
seseorang tak bernama
duduk menyesap kepahitan,
        juga barangkali,
        kenikmatan.
ia panggil nama
teman masa kecilnya
untuk turut mencicipi.

“Kahve! Kahve!”

tafsir,
kadang lugu
dan menyesatkan.
sejak itu,
Kahve dikenal
di segala penjuru.
orang-orang kian giat
menumbuk biji-biji
dan menyesap kahve.
tentu,
orang-orang dari Semenanjung
kian hari,
semakin jauh pergi
membawa kahve.

semakin jauh melangkah,
di dunia yang jauh,
kahve ditafsir lain
dan dilafalkan
dengan lidah.

“kahve.”

“coffee?”

“kahve.”

“coffee?”

Bahasa
selalu sulit dilafalkan.
sebab
lain lidah
lain lagi ucapan.
sejak saat itu
di seluruh penjuru
coffee selalu disebut
sewaktu-waktu.
meski akhirnya
lain lagi menyebut
        kopi,
        qahwah,
        koffie,
        kofe,
juga kata-kata lain
karena aksen-aksen
berbeda.
sebab lain lidah
lain lafalnya.

di waktu-waktu yang lain,
biji-biji itu,
menyebar
ke segala penjuru.

(Karanganyar, 2022)




Menelisik Epigraf

saudagar
juga barangkali
penjelajah ulung
berkeliling dari satu daratan
ke daratan lain.

bukan untuk mendulang emas
melainkan
menjual dan menebar
        biji-biji kopi
tentu, demi untung.

di tanah-tanah baru,
disemai benih-benih
dan ditanam
        di tanah
yang dipenuhi gelisah.
sebab bencana
bisa saja muncul tiba-tiba
dan muskil dihindari.

di Nusantara
atau barangkali
nama itu belum tercipta
biji kopi
        diagungkan.
hingga suatu kali
saudagar, juga penjelajah
        yang beralih menjadi penjajah
meraup berkah.

biji-biji kopi diangkut
sebagai komoditi
yang dijual
        laris
di pasar yang jauh.
diangkut kapal-kapal
menuju tempat asing
yang namanya
tak pernah
sekalipun didengar
dan dilafal.
lantas benih-benih
ditebar
di sepanjang
        tanah jajahan.

di Nusantara
atau juga tempat tak bernama
sejarah mulai disusun.
ketika musim panen tiba
biji-biji kopi
        matang
dan mukjizat
seolah menyelimuti.
sebab
sejak panen gagal
untuk yang pertama kali,
kini, panen melimpah ruah.

segalanya tak mudah
namun bukan berarti tak mungkin.
di sini, di Nusantara
sejarah telah tercipta.

(Karanganyar, 2022)




Musim Tanam

1.
tanah-tanah
di ladang
telah diolah.

surga,
telah terbentang
sejauh mata memandang.
tanah di surga
tidak selalu bercahaya
atau bersinar terang
melainkan hitam legam,
subur,
juga gembur.

di tanah ini,
hidup disimpul
dan berlanjut
di kemudian hari.

petani
saban hari
menebar
juga memanen
tanpa kenal waktu
dan tentu
ujung bibir mengembang
sepanjang waktu.

kopi
di ladang-ladang
kian hari kian subur.
dari ladang,
para petani kian makmur.

2.
kopi tak pernah membuat
        bersedih.
sebab kebahagiaan
lekas menyelimuti
dan mengubur kesedihan
        dalam hati.

lubang-lubang digali
lantas diolah dan ditanami.
di sekeliling
palawija hidup beriring.

hidup
tak serta-merta selalu
         sendiri.
di kemudian hari,
hidup saling bergantung
         dan melengkapi.
dari kebun kopi,
hidup bergantung,
hidup bersambung.

3.
hidup
ialah perkara menyemai,
menanam, merawat, tumbuh,
lantas memanen kebaikan-kebaikan.

(Karanganyar, 2022)




Menyisir Pematang

bencana telah datang
ketika gulma telah tumbuh
dan menyesap sari pati
dalam hidup
meski tak seberapa.

apa yang tumbuh
tak selalu menguntungkan
sebab, apa yang hidup
kadang mematikan.

tumbuh
adalah perkara
sejak awal mula
menghidu udara
dan setelahnya
hidup dimulai
dan tak tahu
kapan berakhir.

akhir
kadang menjelma mula
dari bencana
sebab akhir
telah memulai
penderitaan.

gulma dipangkas
dicerabut dari muasal.
setelahnya
bencana-bencana lain tiba
seperti dialog
dalam kisah drama
yang tak kenal usai
meski kebosanan
telah melanda.

hama,
menjadi bencana lain
sebab akhir tak benar-benar ada.
semua berkelindan.
bertaut dan menyesap.
bukan hanya bibir-bibir
yang kelak menikmati selepas
dituang dalam cangkir atau gelas.
ia telah jadi terror
dari waktu ke waktu
sebab, panen
jadi tak menentu.

daun-daun
juga kadang gugur
tanpa sebab yang pasti.
serupa pertempuran
di medan perang
tanpa tahu siapa lawan
dan siapa kawan.
sebab, perang,
tak lain melawan
tanpa tahu
untuk apa dan siapa.

bencana
selalu datang dan pergi
         silih berganti.
terbentang di sepanjang pematang
yang entah siapa saja
bisa dilalui
kapan saja

tak kenal musim.

(Karanganyar, 2022)




Menafsir Lidah

/arabika/
keheningan
telah menjelma menjadi keniscayaan.
kepahitan
perlahan susut
menjadi kenikmatan
yang tak mampu diuraikan
          dengan kata-kata.
sebab kepahitan
telah berubah
jadi candu.

di tanah leluhur
menyesap kopi
tak lain menebar puja-puji
bagi moyang
yang melindungi semesta.

di Toraja
secangkir kopi
adalah perantara
          mengenal leluhur.
di dataran tinggi
para moyang berada
meniup aroma
juga kenikmatan
tiada terkira.

di Wamena,
tanah-tanah gembur
tak pernah ternoda
         pupuk kimia.
di tanah ini
kopi terbaik tercipta
beraroma cokelat
          sejak sesapan

pertama.

di sepanjang jalan pulang
di sekeliling Kintamani
pohon kopi tumbuh
bersama pohon jeruk.
ruap keduanya menyebar.
seperti hidup,
bersisian adalah cara terbaik
mencapai kedewasaan.

gunung api Inerie
juga gunung api Abubolo
menyimpan rahasia
yang muskil diurai.
di sana,
leluhur lama mendiami
dan meninggalkan harta
yang tak terkira
          nilainya.

rahasia,
adalah sekuntum bunga mekar
yang merekah
dan dihinggapi lebah.
di suatu siang yang ranum,
lebah menyesap madu
lantas hinggap di ladang kopi
tanpa ragu.
kopi beraroma harum bunga-bunga
dari lebah,
yang pulang ke rumah

telinga
tak pernah berhenti
mendengar kejayaan
meski harus menerima kenyataan.
Gayo,
selalu dan akan selalu
bergema di segala penjuru.
sebab kopi telah dikenal lidah
baik sebatas lisan
atau juga dicecap perlahan.

di tanah Gayo,
kopi adalah detak jantung,
        tarikan napas,
        denyut nadi,dan hidup,
        dan akan selalu menghidupi.
kini,
esok,
dan nanti.

/robusta/
segala sesuatu
yang lahir dari keikhlasan
selalu melahirkan derma
bagi siapa saja.

ketika pagi pecah
dan waktu tiap hari kian terlewati,
maka menghidu kopi
adalah salah satu
upaya menenangkan
        diri
        sendiri.

rasa percaya
selalu lahir dari
       masa lalu
yang menyelamatkan
       masa depan
karena pengalaman.

kopi-kopi robusta
ialah pilihan
juga jalan yang sering jadi pilihan.
sebab jalan lain
telah ditentukan.

Lampung
telah membuka jalan
mengenali labirin dunia
ketika robusta
        dicintai.
tak ada bagian dari dunia
yang tak mengenalnya.
dari sana,
robusta dicipta
untuk jadi primadona.

kelokan jalan
di Dampit, Malang
menuntun ke arah
yang sulit ditebak.
tersebutlah kopi
dengan cita rasa
paling ajaib
di sana,
kenikmatan diterima
        sebagai nasib.

robusta Flores
membawa menuju bentang pantai
yang kian hari kian megah
       dan indah.
mencecap kopi di sana
tak ingin membuat beranjak
sebab robusta diolah
       sesuai selera.

di Temanggung
danau-danau
memancarkan cahaya.
cahaya,
tak lahir dari udara beku
yang menghadirkan gigil
       bagi peramu.

di Temanggung,
biji kopi
menghidupi petani,
menghidupkan harapan,
memancarkan kebahagiaan
bagi siapa saja
yang meminum kopi
sembari memanjatkan
        harapan.

/liberika/
cinta bisa saja tumbuh
       atas rasa suka.
namun lebih sering
       karena rajin bersua.

di sini,
di tanah surga,
liberika tidak tumbuh dengan sempurna.
cinta yang dibangun
       gugur.
di sini,
di tanah ini,
liberika hanya berlalu saja.
seperti rasa cinta
yang gagal
karena tak sesuai selera.

/ekselsa/
tanah
ialah muasal
bagi hidup.

tanah rendah
ialah muasal
untuk menyambung hidup.

hidup
akan lebih hidup
sewaktu dipecah-pecah.

(Karanganyar, 2022)




Katarsis

kepahitan adalah variasi
dari rupa warna,
        rupa rasa,
        rupa cinta,
        rupa segala hal
        yang tak mampu diterima.

lidah,
kadang bisa menerima kepahitan.
tanpa pernah mampu
dilafalkan dengan alasan:
        “kenapa?”
          atau
       “karena…”

kopi yang disesap
menjelma jawaban
dari segala pertanyaan
        atas keragu-raguan.

(Karanganyar, 2022)





================
Eko Setyawan,
lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), & Mengunjungi Janabijana (2020). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Bait-bait Syair Penghabisan

0

Waqof

Anak-anak murojaah di atas sajadah
lawatannya suci dan bersihkan geram.
sujudku khusyu dan taat.
peri-peri di nadiku mengamini ayat terakhir.
bila waqaf lazim, denyutku berhenti.
bila waqof washol, denyutku berlanjut

Yogyakarta,  Februari 2021




Sesal

Dahulu, ibu sebegitu tegar menggarami lautan
saat matahari belum terbit, sendal jepit telah terlilit

Dengan telapak kaki gilas serupa amplas, ibu berjalan ke padasan
basuhi sekujur berurutan, sucikan badan, juga batin.

Ketika dari mushala lantunan barjanji menggema
kaki ibu terseret di tanah bebatuan, membentuk irama

Aku menyimak dengan khusyu berpeluk dada:
bilakah ibu kembali tiba?

Sampai pada suatu tonggak matahari
keranda telah siap dari bilik rumah

Siapakah yang tengah disucikan dengan air padasan?
pertanyaanku mengambang, seperti awan menjelang hujan.

Yogyakarta, Oktober 2020




Di Ladang Kematian

Di tengah ladang jelang kematian
barisan lelakut mengamini api
lewat angin pohon-pohon mengirim isyarat

Di tengah ladang jelang kematian
ada yang tengadah dengan tergesa
melawatkan bait-bait syair penghabisan

Dengarlah kidung tubuhku yang tak berpintu
lewat syairnya kau masuk menggambar maut
dengan serpihan abu.

Sunyi mengubur hidup-hidup
sunyi menabur kemboja
sunyi membakar jerami para gembala

Orang-orang sibuk bertafakur
orang-orang sibuk menggali
merobek tanah merah dengan doa-doa
Sebab kehilangan adalah kesunyian yang panjang

Yogyakarta, Desember 2020




Menunggu Kematian

Kita menunggu kematian
rentetan kisah panjang hanya angin lalu
sejuk bagimu
hunjam bagiku

Setiap hari kita dengar barisan suara kematian
nyeri
nggegirisi
juga kalut kepada maut

Dalam ramalan cuaca 26 derajat celcius hari ini
hujan ringan
meretaskan harap sembilu
raga nyaris beku

Yogyakarta, Juli 2021




Rindu II

Hujan deras
tol melambat
rindu kepada anak melaju cepat

Kasih ibu jadi kasih iba
langit mengamini dengan tangis
mataku berdzikir dengan retas

Yogyakarta, Maret 2021




Merantai Kabut

Dalam lingkaran kabut
semburat wajahmu
terpendar di antara relung hati
sepi menyatu dalam misteri

Lihatlah, awan tak seputih janji
laut semburat biru
tak sebiru luka nganga tanpa jeda
tereja aksara tanpa makna

Jika ujung tanduk adalah pijakan akhir
aku memilih terhempas
bersama embun yang retas
jadi kabut sunyi tanpa bekas

Manado, 2 September 2016




Berkaca kepada Awan

Mereka yang tak pernah lelah
bersama mimpi lepaskan beban
mengurai harapan tuk kembali jadi awan

Pada sauh mereka berlabuh
pada matahari mereka meniti
berarak bagai perompak
menuju barisan bukit
janjikan arti kesetiaan

Tunjuklah satu gumpalan
mereka cukup tahu
bagaimana cara bertahan
tanpa harus tahu jalan pulang

Manado, 2 September 2016




Bapak

Pada malam yang merdu
aku menikmati dengkurmu
 ̶ seperti masa kanak yang terlewat
pada kopi yang pekat
kau jaga mataku

RSUD Sleman, Mei 2021




Tandus

Di pematang paling subur,
tubuhku tandus dikoyak derita

Di tanah paling gembur,
batinku digenangi kesunyian

Sleman, November 2017






=================
Nora Septi Arini. Lahir di Bantul 10 September 1987. Tinggal di Baturan, Trihanggo, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Sangat menyukai dunia pendidikan, musik, sastra, dan teater. Lulusan dari jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Saat ini tengah menikmati peran sebagai ibu dari dua putra dan guru di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, aktif di Kelas Puisi Bekasi (KPB), Deklamator Indonesia, Kelas Menulis Daring (KMD), serta aktif memandu acara sastra radio bertajuk Goresan Pena di Sapen Radio.

Pernah aktif di Sanggar Sastra Indonesia Yogyakarta di Balai Bahasa Yogyakarta, UNSTRAT UNY, grup musikalisasi puisi KM Assarkem, Komunitas Puisi Pro RRI Pro 2 Yogyakarta, dan Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta.
Beberapa karyanya pernah dimuat di antologi Bengkel Sastra SMA di Balai Bahasa Yogyakarta 2005 dan 2006, antologi Dies Natalis FBS UNY, koran Minggu Pagi, jurnal Littera Taman Budaya Jawa Tengah 2008, majalah Kuntum, antologi puisi guru se-Indonesia Senandung Puja Anak Bangsa 2020, antologi puisi Bengkel Sastra Guru 2020 se-Indonesia yang diterbitkan oleh Badan Bahasa Kemdikbud, antologi Mengeja Nama-nama Tak Terbilang PGRI Kota Yogyakarta, koran Kedaulatan Rakyat, basabasi.co, Imajisia, majalah Horison, antologi 100 puisi terpilih lomba cipta puisi Hari Puisi Indonesia 2021, dll.

Terbaru

Kotak Amal

PEMBANGUNAN masjid Muhajirin masih setengah jadi: beratap genting tanpa langit-langit, dengan dinding yang masih berupa bata tanpa plester....

Malaikat Bermata Terang

Menyembunyikan Duka

Dari Redaksi