Yang Lebih Sunyi dari Sunyi

Semesta Debar Dalam Dada

Merasuk Dalam-Dalam

Menyerbu Lapang Dada

10 Kisah-Kisah Kecil Kafka

Puisi

Home Puisi

Bermain di Danau Batin

0

Belajar Mencintai Sunyi

Sebenarnya tak pernah kuduga, di sudut
dingin diam-diam menggelayut. Berhasrat
jadi kata seraya berharap akan tercatat
serangkaian perjalanan dengan waktu yang dirajut

Bagaimana akan belajar mencintai sunyi
kalau sebagian rasa terbenam di sungai mengarus
tapi riak-riaknya terdiam tak berbunyi
wajahku nampak murung dan kurus
bermain dari satu musim ke musim yang lain
serupa aruh bermain di danau batin
dalam ingatan: sendiri tercekam
sunyi terasa menusuk menghunjam

Sunyi dilahirkan berulang-ulang
selalu bertemu serupa mendidihkan air tiap pagi
menyeduh segelas kopi sebelum pergi
lalu aku berbagi: secangkir untuk rindu dan sunyi
sisanya diam-diam kubawa pulang.

Parepare, 2020




Mengapa Daun Harus Jatuh Dari Dahan

Akhirnya diam-diam kausebut
sebaris tafsir dari waktu yang jauh
tentang batas pagi berkabut
mengurai arus yang masih mengeruh

Selembar daun yang jatuh
selalu meninggalkan riwayat
sementara angin runtuh
sunyi kaurasa semakin menyayat

Kasih tak selalu dilahirkan berbait-bait
serupa kembara puisi di ingatan
tangis hanya dipendam tanpa jerit
kaubiarkan waktu dalam perdebatan

Selalu saja berguru pada daun yang jatuh
sambil menyimpan usia dan tanya di dada
sebelum senja benar-benar runtuh
getar puisi pun seperti tiada

Padahal hujan yang ditunggu sejak musim timur
sudah tercatat dan kuberi tanda pada peta
tapi hanya memberi arah pada daun-daun yang gugur
di lembab angin perbukitan seusai bercerita

Sesungguhnya kautahu ada batas kisah
selalu menyambut datang dan kepergian
sebab selembar usia dibentang gelisah
isyarat siapa saja akan kehilangan.

Agustus, 2020



Pelayaran Menuju Senja

Masih tersisa bau amis di geladak. Mungkin takdir saat angin bermain gelombang
seperti bercinta antara ada dan tiada tanpa kegaduhan
hanya serupa cahaya jatuh dari bulir percikan air laut

Padahal pelayaran itulah yang memiliki kisah sendiri
menyesatkan di arus permainan gelombang dan terus berulang
sampai terhempas berderit layar tanpa luka yang terbaca

Tak ada yang benar-benar mengerti kapan pulang
meski pun musim sudah lama tersimpan di kepala
adalah takdir dari semesta menghempas tak henti di dada

Sudah sebagian matahari membenamkan sunyi
di jauhan arakan burung menuju entah
perahu masih melaju tanpa cemas kehilangan waktu

Masih saja gelisah ingatan tanpa tahu akan mengantar kepulangan
dan bahasa gelombang hanya menyisakan gemuruh di udara
membentur waktu yang tersimpan dari masa lalu.

Parepare, 2020






Nanti Yang Panjang Dan Pohon Sawo

Hampir lebih setengah abad halaman rumah ini tak berubah. Angin yang curiga
bermain di dedaunan rimbun pohon sawo kemudian menjadi nglangut
merindangkan suasana pada banyak keladi yang tertata rapi di dekat
tempat aku dulu membasuh waktu, samping pagar rerimbun pohon kapulaga
dan berlari sendiri mengejar capung-capung di pinggir selasar agak ke sudut
ingatan itu masih saja kuat melekat

Termasuk aku yang tak pernah mampu mengartikan pesan-pesan tentang nanti
saat ibu setia menemani tiap siang di bawah pohon sawo sambil mengelus lembut
sekuntum angan seorang anak sambil mengantarkan untuk istirah
tak juga selama bentangan musim. Hanya nanti bila telah paham arti
sebagai lelaki harus mampu menggenapi waktu yang paling kemelut
nanti pula harus bisa paling tidak mengayomi hidup yang gelisah

Menempuh waktu untuk nanti yang selalu ibu katakan terasa panjang
aku harus membawa luas ingatan halaman rumah untuk bertemu kekasih
menjelajah menempuh jalur yang sebenarnya harus menggenggam usia
bisa mendaki perbukitan, gunung, bahkan melintas laut yang garang
seperti musim yang tak pernah mengajariku untuk memilih
hanya misteri di dada tersimpan agar tak sia-sia

Senja pun telah memperistri pesan-pesan nanti yang panjang itu
dan lelaki yang pernah terlena di bawah pohon sawo meluruh bersama waktu
namun pesan-pesan itu telah menyatu dan berjejak
sebab antara usia dan waktu tak lagi berjarak.

Parepare, 2020   

Waktu Diam Di Situ

Memunguti ketiadaan dalam diam serupa pamit
dari detik mengamati gerakan jarum meninggalkan
angka-angka menuju sunyi yang tak berujung

Sementara masih ada sisa suara yang dihempas jarum
detak berulang menyusupi ruang
seperti angin menggiring ombak menuju pantai

Waktu terasa diam saja tak berulang atau kembali
kapan bisa menjadi sepasang kuda yang berlari
memacu nafas di padang sabana meski tak harus bercinta

Tak senyata ada usia menjadi beban
membiarkannya diam tergolek pasrah
telentang memimpikan sunyi di sprei yang kusut

Malam pun menjadi terasa ganjil tanpa gerak
seperti tak tahu harus merawat ingatan
atau mungkin saja ikut menggenapi menjadi doa

Betapa letihnya untuk sekedar tahu dari waktu
menuju angka-angka yang merajut hari
di luar, semesta sedang memainkan musim

Begitulah selalu tak ada jawaban dari rahasia waktu
sedangkan usia selalu ingin dicatat dan dirayakan
sementara getar di dada meminta segera dibawa pulang.

Parepare, 2020



Menunggu Di Simpang Tiga

Bahkan aku selalu menanyakan arah menuju selatan
berulang mengingatkan diam-diam disimpan
adakah yang itu tak salah terus mencari di keremangan

Engkau tak selamanya persis menunjukan
karena keraguan mirip bayang-bayang berkelebatan
bila rindu kadang menunggu tak harus membosankan

Sekisahan tutur yang lembut
selalu serupa kopi dan malam saling berebut
ingatan dicelupkan biar cinta pun melarut

Menunggu selalu dilahirkan dari janji pertemuan
hanya tak pernah tekun membaca penantian
hingga senja bisa mekar bersama kembang di halaman

Sepertinya ini arah yang salah
di simpang tiga aku tak lelah tapi kalah
serasa menggenapi puisi-puisi yang gelisah.

Parepare, 2020



===================
Tri Astoto Kodarie, penyair kelahiran Jakarta yang memilih tinggal di tanah Bugis sebagai tenaga pendidik. Buku puisinya yang telah terbit: Nyanyian Ibunda (1992) Sukma Yang Berlayar (1995), Hujan Meminang Badai (2007), dan Merajut Waktu Menuai Harapan (2008), Sekumpulan Pantun: Aku, Kau dan Rembulan (2015), Merangkai Kata Menjadi Api (2017), Kitab Laut (2108). Juga puluhan antologi puisi bersama. Saat ini masih aktif sebagai guru serta terlibat di berbagai kegiatan sastra di Parepare.

Puncak Gairah Musim

0

Daun-daun Araguaney         

Guguran daun-daun Araguaney
Adalah keheningan mata batin
Puncak pencapaian gairah musim

Ranting mataku menjalar
Jejeran pohon-pohon berdaun kuning
Menuliskan puisi matahari

Kisah kita pun menguap
Burung-burung terbang lekas
Ke danau bermandi cemas

Semusim telah berlalu
Larik-larik pelangi menyapa
Pada bangku taman yang kautinggalkan

Indramayu, 2019

Dahan Maple   

Di dahan maple
Musim gugur singgah

Berjingkat-jingkat
Bagai kaki burung punggung merah

Menyaksikan transformasi daun
Memerah menjelang rebah

Tak ada yang abadi, bukan?

Indramayu, 2019

Jembatan Akar

Di Meghalaya
Butuh 20 tahun untuk merajut
Jembatan akar

Di Kanagarian Puluik-Puluik
Akar-akar melintang
Menghubungkan cinta dan manusia

Begitu aku melihat
Semangat dan api suci perjuangan
Menghiasi pohon yang tumbuh

Mungkin seharusnya tangan kita
Adalah lengan-lengan jembatan akar
Saling berpeluk dan memeluk

Indramayu, 2019

Ranting Flamboyan

Sebuah pohon dengan rimbun payung
Bunga-bunga merah cerah
Tumbuh melebar seperti kanopi

Saban pagi matahari menari
Memetik di ranting flamboyan
Berapa banyak kelopak yang dijatuhkan
Mencium wangi tanah

Barangkali, barangkali, itulah kehidupan
Menemukan harum kematian

Indramayu, 2019

Pepohonan Royal Empress Foxglove  

Kita sudah menggelar tikar daun
menyiapkan menu percakapan untuk senja ini
di antara pepohonan;  royal empress foxglove
memetik tangkai-tangkai bahagia
menghela aroma musim semi
langit menjadi ungu kebiru-biruan

Siapa memanggil burung-burung ekor panjang?
Melintas rendah seolah ingin membelai kepala
dari sini kita menatap matahari surut dan absurd
meninggalkan jejak yang membekas jadi ingatan
lihatlah! kita telah jauh terpisah
mengembara dalam kebun keluarga

Meski demikian aku masih ingin berbagi
mengenang harum perjumpaan itu
sekalipun matahari lekas pergi dan sepi
kepadamu jika suatu hari membaca
melalui kata-kata ini kukabarkan berita
kuntum bebunga itu menjelma jadi puisi rindu    

Indramayu, 2019

Sesalju Daun Kousa Dogwood

Sesalju daun kousa dogwood memutik
di situ merah buah beri menciptakan rasa manis

Pada cawan-cawan kecil terbuat dari keramik
tersuling wine yang kauperas dengan tanganmu

Berapa kali kuteguk tak membuatku mabuk
kecuali lengkung senyummu di ambang sore ini

Indramayu, 2019

 

Sakura    

Puisi menghangat di bulan Maret
Kuncup sakura mekar
Seperti senyummu, Tuan

Aku tahu orang-orang berdatangan
Melihat hujan bunga
Ini adalah sekuntum keindahan

Sejak kelopak terbuka
Aku menghabiskan seguci senja di taman
Minum sake di bawah aroma bunga

Hatiku pun ada di antara sakura
Terpikat pada sepasang mata bening
Musim sebentar lagi
Siapa yang akan memetik?

Kulihat tangkai warnamu mulai memudar
Bertahan memeluk dahan waktu
Misal tak kunjung musim semi berganti
Selamanya aku di sini    

Indramayu, 2019

Buah-buah Crabapple  

Suatu ketika jadilah kita adam dan eva
di kebun buah dengan gairah
keinginan diri menjadi bisikan yang menggiurkan

“Petiklah untukku,” katamu.
dan merah buah begitu menggoda    

Pada akhirnya kita pun bersama memetik
buah-buah crabapple
kecil-kecil menyerupai apel

“Mengapa rasanya sangat asam?” tanyamu.
Lalu musim semi jadi tak berseri

Kita pun meninggalkan kebun
mencari-cari seteguk air bahagia
berjalan jauh dengan penyesalan

Indramayu, 2019

Mekar Palo Verde  

Duduk di sini menanti mekar palo verde
: pohon lebat berbunga kuning
seperti kulit matahari  

Aku melihat kenangan pun menjulang
memanjat lagi untuk memetiknya
angin datang berkelindan

Jika kini kukumpulkan sepal-sepalnya
hatiku ada di antara reruntuhan daun
menjadi humus bagi kehidupan  

Indramayu, 2019

Kebun Jacaranda  

Puisi pagi terbit dengan cahaya putih
menemani perjalanan kecilku
: kebun jacaranda

Di depan sana bukit dan rimbun keunguan
siapa mencelupkan indigo
pada pepohonan?

Lalu tanganku menjamah warnanya
melukis wajahmu pada daun-daun kering  
sekedar mengingatkan kau ada di sini

Kutahu musim semi akan berakhir
ke mana mencari ranting impian
setelah semua memerah lalu rebah

Indramayu, 2019



===================
Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret. Tersiar pula puisi-puisinya di media lokal, nasional, dan Malaysia. Buku puisi terbarunya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018).

Maut Seperti Cintamu

0


Pohon Umur

tanggal berlepasan membuka cahaya
labirin umur mengunci waktu
membungkus segala harapan
tangan mengepal saling menguatkan
angka semakin terbuka untuk sampai
pada titik di mana rasa bahagia begitu kuat
memeluk rambut kenangan

di november angin merapal jalan
kota yang sejuk, album memoar
kembali terbungkus rapi menyeka segala
ada tangis ibu yang mendoakan cita cinta
menumbuhkan rusuk rindu, menurunkan hujan kesejukan

dari aceh ke maluku
ayah ibu mengajarkan bahwa kesetiaan hidup
adalah angka yang mengikuti arah langkah kaki
mendorongnya untuk sampai pada apa saja
sebab saat kau mengulang tahun dan meniup lilin
di sana tumbuh pohon dedaun permintaan juga harapan
agar selalu berakar kesetiaan umur
untuk memeluk rasa manis dari kehilangan

ciumlah langit, taburlah doa ke halaman
tunjuk bintang, peluklah rembulan
agar kau tahu kita begitu dekat dengan tuhan
dengan caranya mengebumikan kata-kata dalam saku masa

Pada pohon umur yang semakin berjarak
Ada linting ingin yang menggema dalam tajuk rasa
Hingga suatu waktu putih november tetap beratap hujan
Berumah impian bersama rindu yang datang kesekian

Cirebon 2020




Rubayat Cinta Timur dan Barat

Pada hatimu, hatiku batu di padang sahara
Meranggasi jalan temu mata
Antara baratmu dan timurku
Arah langkah, arah membaca tanda

Maut seperti cintamu, akar abadi
Utuh mencabut rindu
Tanpa mesti cemburui waktu
Kapan bertamu sebagai wahyu

Di bagian kanan ketiakmu
Sumur kerinduan yang mengandung susu
Selalu manis untuk di sruput pagi hari
Tanpa meninggalkan ampas
Yang bergetah dari senyummu

Di luar mataku, mata kita,
Mata api yang membakar aorta kerinduan
Meninggalkan ruam gelisah, yang
Mesti selesai entah sampai di mana
Bersambung atau putus dicukur waktu
Bersama ketukan-ketukan sepi yang nyala

Biarkanlah aku datang
Pada bagian dadamu, sebab nama doa
Nama cinta menembus  jalan perihal bahagia
Sebelum semuanya ada menyerupa bara derita

Pada kata, koma dan paragraf
Yang mulai basahi kalimat terakhir cinta
Terciptalah taman dengan bunga-bunga
Tempat capung bermain dengan musim
Terbang mengikuti arah pejantan
Bersama mencari jarak
Antara kisah yang mencatat requiem semesta

Tempat di mana cinta melarikan diri
Untuk bunuh diri dalam tubuhnya sendiri

2020




Marapal Nafasmu Ke Nafasku

mengenal napasmu dengan napasku
napasku napasmu bertemu di pintu itu
bersalaman, menumbuhkan butir harapan
ada saling tatap, mendoakan sekaligus menyatukan riwayat yakin
dalam tubuh kita masing-masing

di timur matahari, di baratlah kepulangan
di hatimu rumah impian kepulanganku meneguk air kesurgaan
mengalirkan sungai kesendirianku
melewati batu dan tandusnya perjalanan

peluk doaku, ayunkan permintaan
tuntun langkahku pada cahaya di hatimu
mengepaklah sayap, melebarkan jalan
ya, kita sepakat pulang bersama
dalam doa nubuat
yang saling melempar jarak, menuai jejak

pada halalku halalmu, aku menulis janji
berjalan beriringan, haus dan lapar sepakat satu
sedih dan luka mandi bersama dalam senyum ingin
Begitu mendengar kata sayang, langit runtuh menurunkan hujan
Bersama tawa kita yang tetap renyah di hari esok
Bersama matahari, bersama tanggal ganjil genap
Yang terus berganti mengikuti putih senyum bersama

Aku tidak ingin meminta emas atau istana megah
Yang ada hanya tempat kita berbagi arah
Aku ke utara kaupun ke utara
Mencari jejak kekurangan, mendempul dengan kasih rindu sepanjang jalan
Pada hari ini, aku halal dalam peluk hangatmu
Tebarkanlah rindu sekuatnya

Hingga rasa ini merambati akar keyakinan
Bahwa kita satu dalam bungkus qabiltu

Cirebon 2020




Dalam Sajak Sendiri

Dalam sajak sendiri, kita mesti hati-hati
Tiada lain, kata-kata tetap sama kesendiriannya
Kita yang sendiri
Selalu gagal bersama peluang

Dalam sajak yang kita tulis
Terkadang kita lupa,
Bagaimana kita susahnya mencari makan, namun
Tanpa harus menulis puisi
Ternyata lebih susah cari uang dari para tukang korupsi
Yang hanya dengan cara duduk diliput acara
Tertawa kecil tak tahu apa itu tawa dan apa itu gila

2020




Jakarta Hujan Pagi Hari
 
(tetaplah setia pada waktu
agar kotamu berdiam dalam doaku)

senin pagi
pukul tujuh lewat lima menit
orang-orang ramai di jalanan
mengejar waktu, gaji dan kesempatan
apa yang sebenarnya mereka cari di sini
pertanyaan tanpa koma dan titik
atau memang mereka adalah orang yang diburu napas sendiri
yang takut didahului orang lain

hujan selalu datang tepat waktu
derasnya menyisakan pilu, datang dan pergi tanpa pamit
kota ini sudah waktunya mengundi nasib,
tenggelam atau bertahan
menunggu segalanya tiada dan tinggal puing kenangan

pada akhirnya kota ini adalah tempat pulangnya para bedebah dan penjudi
atau datangnya para penjual harga diri
tanpa takut tuhan, lalu bunuh diri di kamar mandi

ah, lucunya kota ini
yang tak punya cara hidup jangan datang dan bertahan
berdiamlah di tanah tembunimu
kita hanya punya satu kesempatan
berhasil atau pulang dengan panggilan almarhum

2020




Jalan Sunyi, Kita Tetap Abadi

Apakah rindu selalu ramah untuk kita peluk
Hingga eratnya melebihi urat nadi
Sementara foto lama kita tetap tersenyum
Pada abadinya nama-nama kasih sayang
Yang tak sempat aku timang dalam kegamangan

Opera senyum detak jantungmu, seperti rumah terakhir
Di mana lelahku menjumpai rasa nyaman
Sering kali aku melihatmu bicara pada kesepakatan rasa
Untuk membimbingku pada jalan kebenaran yang nyata
Namun gagal adalah ketakutan yang berumur panjang
Saat kita tahu berapa jarak temu kita pada tumit keyakinan

Andai suatu waktu kau berpikir menulismu adalah anugerah
Tanpa syarat aku ingin mengajakmu bertamasya
Mengunjungi beberapa bagian dari putih sukma
Yang mulai tua dan ingin tetap bertahan atas namamu
Walau sedikit rasa rumit memanjangkan jalan cerita

Apakah rindu selalu tabah menunggu lama datangnya temu
Sebab untuk kesekian kalinya tiada lain hanya satu
Kita selalu gagal mencari dan menetapkan permintaan
Hingga sendiri benar-benar sunyi
Dan peluk kita tetap merekahkan buah abadi

Cirebon 2019




====================
Kurliyadi lahir di kepulauan kecil Gili-Genting, Madura. Alumni pondok pesantren Mathali’ul Anwar, Pangarangan, Sumenep, ini bekerja sebagai pedagang kelontong di samping menulis cerita pendek dan puisi. Karyanya tersiar di beberapa media massa dan beberapa antologi. Sekarang berdomisili di Cirebon.

Menanti Kau Mekar, Suatu Hari

0



Sebuah Surat untuk Kaubaca


Bunga yang bermekaran di depan tokomu

Bolehkah kubawa pulang untuk mengisi
ceritaku?

di tempat terasing kau kirimkan
setangkai bunga layu bersama secarik surat

kau tahu, aku bisa membaca kata
kau tahu, bagiku layu sama dengan tak bermakna

tanamlah aku, di tanah kau berpijak kini
bukan mustahil aku akan tumbuh subur
(atau mati terkubur)

Kau menatap cermin dan bertanya padanya:
Bukankah selalu ada kemungkinan?
Baik buruk, kita—selalu abu-abu

mekarku perlu diperjuangkan

Kau kembali menatap cermin
Mengambil kuas
Melukis raut wajah bahagia
Makin berwarna pantulanmu di kaca
menjadi semakin gelap, makin gelap
Kau berhenti
Kau benar-benar berhenti

keputusanmu? akankah membela keputusasaanmu?

Kau taklagi menatap cermin,
kau semai bibit bunga layu.
Lagi. Seperti dulu. Seperti…
Seperti kali pertama kau kayuh sepeda diiring bapak.
Jatuh, bangkit. Jatuh, bangkit.
Kau tanam bungamu sendiri—kini.
Menanti ia mekar, menanti kau mekar—suatu hari.

jadi, sudah kau putuskan rantai keputusasaan, bukan?

Cerminmu tersenyum.
Kau, juga.

Pontianak, 2020




Adalah Suatu Tempat

 
1/
Dalam pengadilan kautunggu putusan demi putusan dengan kebosanan. rutinitas, katamu. Dalam tunggu, kaubujuk kami mengadu kata. Mengisi kekosongan waktu. Maka kita bicara lewat tersambung, temali tak kasat mata. menanti gilir tiba ke arah diri. Sebentar kautinggal, ketika hakim ingin buat putusan. Dia tak punya selera humor, katamu. Maka kaupindahkan leluconmu pada kami. Kami terima dengan senyum, kirimanmu yang semula manyun.

2/
Dalam rumah tumpukan piring kotor menanti untuk dicuci, tapi aku juga belum mandi. Belum pegang sapu, belum sarapan, semua serba belum. Tergoda hati memilih diksi sampaikan maksud menggoda dosa keluar sepagi ini. Dan waktu berlalu, kulakukan dengan sambi. Sebentar kutinggal menanak nasi. Sebentar kutinggal hidupkan mesin cuci. Sebentar kutinggal sarapan pagi. Rutinitas, kataku. Dalam rentetan tugas rumah yang tiada henti, aku menertawakan diri. siapa lagi?

3/
Dalam kos musik mengalun pelan, sisa percobaan tidur semalam yang gagal. Matahari sudah meninggi dan ia belum tidur lagi. Mata sembab yang tak dipertanggungjawabkan air mata, tak pula bisa dijawab dengan sebab. Maka ia biarkan tertanggung. Rutinitas, katanya. Ia mengganti lagu-lagu, bersenandung sesekali. Coba mencoret-coret kertas seraya berimajinasi. Andai luka adalah kata-kata yang semudah itu bisa dicoret dan hilang begitu saja. Kebetulan betadine datang dengan cara berbeda, tanpa jumpa. menghentikan sementara, Sambil keping darahnya melakukan tugas yang seharusnya. Akan sembuh, tunggu saja.

Pontianak, 2020




Menulis Awan

Seorang gadis kecil memeluk kedua lututnya
Ada yang terluka
Terbata-bata ia berkata
Mengurai luka-luka jadi potongan-potongan cerita

Seorang yang lain melihatnya dari atas sana
Mengirimkan pena
Meminta ia menulis
Sebelum menangis

Seorang gadis dewasa menatap ke langit sekian lama
yang bentuknya takberbentuk
yang geraknya taktertebak
yang bergerak
yang terus bergerak

Ia gerakkan pena dari seorang yang lain itu
menulis apa yang ia lihat
apa yang ingin ia lihat
yang membawa angannya terlihat
yang dilihatnya tengah bersama angin

Ia menulis: Awan

Pontianak, 2020




Tentang Apa yang Kita Tulis

:Saffanah Min Janub

pada dua cangkir teh rempah
kita seduh kisah
bahwa cerita tak semata-mata tentang kata
yang ditulis, dipilah, dipisah
dan air mata tak hanya soal sedih saja
yang dibiasakan datang bersama hujan
lalu pergi ditandai pelangi

pada buku catatan
kita rahasiakan perasaan
membalutnya dalam tulisan-tulisan
kadang samar tersurat dalam coretan
kita rangkai kata kerja jadi kata benda
kita ramu dan hilangkan kata sifat sementara

tanpa senyum kautulis Cingulomania
atau bisa-bisa dari Medusa
sedang aku mengambil potretmu
lalu menulis tentang itu
tanpa adanya kata hubung
atau negasi dalam tiap kalimat
kutulis tentang apa yang kita tulis

Pontianak, 2020




Niskala

diceritakannya
air yang mengaliri batu
bening memancing hening
dalam pertapaan
dalam ratapan

dan imaji
mengartikulasi resah
jadi gerak dan arah
dalam pola
tanpa pola

diceritakannya
napas yang terengah-engah
lafal yang patah-patah
dalam ratapan
dalam pertapaan

dan imaji
bersenandung dalam kabung
memecah utuh
separuh-separuh
sama rata
tak sama rata

disimpannya
larik dalam jarik seorang renta
yang tak mampu lagi berkata-kata

Pontianak, 2019




Mungkin Kita Hanya dalam Perjalanan

kita bertemu dalam kereta malam
menuju ke puncak pada kekosongan yang guram

kau dan aku
dua bocah kesasar yang lahir tahun kemarin
aku—belum cukup bulan

di jendela yang ada hanyalah gelap
di dalam senyap
di pikiran ada imaji mengendap
tentang malaikat-malaikat bersayap
yang mengusap hujan bahagia di bola mata

kita berpegangan pada pagar yang rangup
dengan legup-legup

kau tidur dalam perjalanan
melupakan pengar yang sibuk merayakan kehilangan
sedang aku terjaga
merapal doa-doa

Pontianak, 2020





==================
Gea Pertiwi, lahir di Pontianak, Juli 1994. Puisi-puisinya dalam antologi bersama: Suara (2018) dan Sepasang Mata (2020). Beberapa puisinya juga dimuat dalam Majalah Mata Puisi edisi Juni 2020.

Setipis Malam dan Sunyi

0


Adam dan Hawa di Surga

apalah arti bedanya tanah api. jika hanya setipis malam dan sunyi
dalam api ada tangan-Ku yang panas. dalam panas ada tanah-Ku yang belas
lalu kenapa dalam sepercik saja. engkau padamkan api-Ku yang menyala
padahal lewat kun fayakun yang sunyi. sekepal tanah bisa lebih berapi

malaikat bercahaya tanpa nafsu. pohon bersujud pada-Ku pecah batu
surga menyala terang tapi pendiam. neraka berkobar tak menyulut dendam
seperti halnya buah dan pohon rindang. keduanya saling menjaga seimbang
maka kenapa engkau besar kepala. melipat tangan dan memalingkan mata

ada di surga melihat iblis pergi. meninggalkan diri dan terbakar api
dan malaikat di depannya bergeming. dalam sujud mereka semakin hening
tetes-tetes api menumbuhkan api. dari api yang tumbuh berapi lagi
tapi api tak pernah bisa membakar. bila di hati wangi kembang yang mekar

Gapura, 2019




Adam dan Hawa dari Surga

di ranting pohon khuldi berbuah khuldi. dalam buah khuldi ada bisik sunyi
dari bisik sunyi Adam makan luka. dari luka Hawa nelan biji luka
di luar pagar iblis bertepuk tangan. Adam dan Hawa melepaskan pelukan
seperti daun terlepas dari tangkai. keduanya melayang lemas terkulai

di sebuah bukit Adam sendirian. di sebuah padang Hawa kesepian
tapi kini rindu adalah ujian. cara untuk menyadari kesalahan
dari rindu ke rindu Adam dan Hawa. saling mencari hingga di ujung doa
keduanya bertemu dalam ampunan. Allah memberinya matahari bulan

Gapura, 2019




Ibrahim AS dan tuhan yang Batu

sebab tuhan di dadanya itu batu. ia mengasah tajam sebilah rindu
ia potong kepala-kepala tuhan. semua diam selain kesunyian
lalu ia kembali letakkan rindu. di tangan tuhan lain yang malu-malu
seolah tangan kakunya yang memenggal. bukan dirinya yang kini sudah tanggal

Namrut cemberut melihat kenyataan. kapaknya melekat di genggaman tangan
Ibrahim Tersenyum dan menutup mata. tuhan telah mati hilang kepalanya
meski akhirnya Namrut mengobar kayu. tubuh Ibrahim dilempar tanpa ragu
tapi rupanya api adalah kasur. di dalamnya Ibrahim nyenyak tertidur

Gapura, 2019


Ibrahim AS dan Tuhan yang Baru

sampailah ia di gua paling sunyi. lubang kecil di hatinya yang puisi
di antara bunyi gemericik air. batu-batu indah melantunkan zikir
rintihan daun-daun saat terlepas. jerit embun yang terpasung duri keras
desah tertahan tanah-tanah yang retak. rindu yang dipendam hujan kian bengkak

akhirnya di kedalaman paling sunyi. Tuhan benar-benar menampakkan diri
lebih cahaya dari bintang dan bulan. matahari pun tak sebatas kilauan
masih lebih dekat dari detak nadi. di tangan-Nya langit bumi hidup mati
Ibrahim bersujud meninggalkan resah. malaikat memutari dengan Allah

Gapura, 2019


Kepasrahan Ismail AS

kepasrahan Ismail adalah domba. kepatuhan Ibrahim pisau cahaya
keduanya bertemu di satu waktu. sunyi menjaga Ismail di Allahu
dari leher domba darah jadi haru. dari mata Ibrahim menetes nafsu
Ismail bagai kuda gurun sahara. ia berlari dari cinta ke cinta

kaki Ibrahim lumpuh tak ada daya. tubuh jiwanya menyandar pada doa
mata semakin lembab diguyur salah. tulang dada retak di runtuhi resah
tangan bergetar menyerahkan puisi. kepala tertunduk kembali ke bumi
Allah menerima persembahan kecil. malaikat mengembalikan Ismail

Ismail Ibrahim telah berpelukan. Siti Hajar melempar batu di tangan
ketiganya berjalan menuju rumah. dari luka ke luka melepas langkah
di bibir pintu Allah membuka tangan. malaikat menghampar sayap di depan
doa-doa menutup pintu di pagar. puisi menyalakan lampu di kamar

Gapura, 2019




=====================
Faidi Rizal Alief belajar menulis puisi sejak nyantri di Lesehan Sastra dan Budaya Kutub Yogyakarta. Pernah membacakan puisinya di Rumah Pena Kualalumpur Malaysia. Buku puisinya Pengantar Kebahagiaan (Basabasi, Juni 2017) menjadi salah satu pemenang di Banjar Baru’s Rainy Day Literary Festival 2018 kategori Promising Writer.

Tapal Persinggahan Para Pengelana

0


Prolog Kitab Perjalanan

Persembahan yang agung
dari hujan pagi yang berlari seperti
hewan tunggangan serta langit yang
bersinar cerah setelahnya itu.
Bilik-bilik hasrat terbuka
dalam kolam jiwa melihat
segala yang nisbi.

Angin bertiup mengalirkan udara dingin
menyisir pisau dan irisan rempah
perbekalan.

Bagai menatap gerbang musim,
maka dicatatlah hari-hari yang baik.
Diraciklah segala rencana dalam
munajat doa.

Berjuta kali hujan berenang dalam
perguliran uap bumi dan mengalir
dalam biji zaitun dan delima.

Berjuta kali gerbang petang
membukakan kelopaknya
di kebun-kebun dan rimba raya fana.

Mengaransemenkan suara-suara
semesta dan mengendap
dalam labirin jiwa.  

Ketika yang ditempuh hanyalah
bahtera, ketika yang diarungi hanyalah
hari-hari yang tersusun dari udara
dan bangunan asing penuh warna, 
maka perahu itu terus dikayuh.  

Terus dikayuh sebagaimana kematian
yang selalu hidup di sepanjang
tanah tembikar.

2019  


Matahari Musim Panas

Seperti dalam Badzlu, ia berdoa pandemi
itu lenyap ketika matahari musim panas tiba.

Selain berlembar-lembar kesedihan,
berlembar-lembar hari penuh ketakutan
dikebumikan di tanah kedamaian jiwa,

adalah harmoni dan cinta yang mekar dalam
hidup seperti adonan tepung yang dicampur
dengan bahan wangi dan terbaik lainnya.

Sebagaimana hewan-hewan berkelenjar subur
telah ditambatkan di bawah pohon-pohon
berbuah ranum.

Sebagaimana kain-kain halus dijahit
dan ditenun telah menyelimuti ujung ujung benua
dan dunia ketiga.

Dan di semenanjung ini, barangkali hanyalah
kesepian berjarak jutaan cahaya dengan
agungnya asma-Mu yang memenuhi semesta.  

Seperti Socotra, bahwa hari-hari senantiasa
berlari dengan penuh keajaiban.

Hari-hari yang berlari seperti hewan tunggangan
menyisir savana, lembah-lembah, dan tapal
persinggahan para pengelana yang mencari
negeri bertabur cahaya.

2020





Menjelang Khotbah

Muamar menyelami Jum’at
penghujung bulan.
Toko kelontong yang tutup
dengan cuaca
yang sedikit mendung.

Setelah mandi junub dan bercukur
dengan tukung cukur, kemanakah
arah yang hendak dituju?

Berjalan di pinggir kota,
Muamar melihat sebiji jambu
merah marun busuk hanyut
di sungai yang dangkal.

Berjalan di depan gerbang
pasar komoditi yang hilang kumandang,
Muamar mendengar orang-orang
bersorak dalam timbunan
harga-harga, seperti buruk sorak
keledai tua di tengah savana

2020




Hujjah

Dengan radang di lehernya, zaman berhujjah
di sebuah tikungan matahari
terbit. Serupa sabda, maka hujjah itu bagai
melintasi segala dinding peristiwa.

“Hindarilah kerusakan di tengah-tengah
hajat manusia dan damai semesta!”

Maka orang-orang telah menggendong
gerombolan keledai itu di tengah-tengah
kamp pengungsian yang dipenuhi
ranjau darat itu.

Sebab pohon-pohon telah mulai tumbuh,
dan saluran air telah mengalir ke rumah
masing-masing kaum.

Dan keledai itu. Hanyalah keledai yang terus
berlahiran seperti patung anak sapi Samiri.

Sebagaimana pula kamp-kamp pengungsian
menjelma kota-kota, menjelma gemerlap
dunia bagai intan permata.

Hingga zaman pun kembali berhujjah
“Sembelihlah keledai itu dengan sebaik-
baik penghambaan diri dan jelaga doa.”  

2020




Kayu Bakar

Di dinding petang yang selaksa deret mural orang-orang
pembawa kayu bakar, cahaya terakhir hinggap
di pepohonan yang di bawahnya seekor rusa bunting
minum di kubangan.

Seseorang terjaga dari mimpi buruk sedang menjunjung
bangkai kambing di atas kepalanya. Menyaksikan
orang-orang berlalu lalang dan memasuki
padang perburuan.

Dalam gelap, dalam hitam yang memanjang, ia akan
terus menyaksikan tikus hitam menggigit pilinan
akar dalam lubang ranjau yang dipenuhi ular
berbisa di padang perburuan itu.

Hewan-hewan buas pedalaman akan terus mengintai
orang-orang pembawa kayu bakar. Berjalan dari lembah,
dari dataran tinggi dan rendah, dari semenanjung arah
yang dilintasi matahari musim yang nisbi.

Di dinding petang yang selaksa deret mural orang-orang
pembawa kayu bakar, bahwa cahaya terakhir hinggap
di atas pepohonan yang dipenuhi madu lebah itu.

Ketika seorang hamba jatuh dan tersangkut pilinan akar
di bawah pepohonan itu, maka betapa manis, betapa
terkesimanya ia menyaksikan madu yang mengental,
menetes dan tepat  memasuki mulutnya itu.

2020




Lukisan

Bahwa memorabilia musim dingin tertuang
ke dalam racikan kuah sup dengan rempah
yang mekar dari punggung semesta.

Ketika di luar langit bersayap dan berjubah
jingga itu, serta hamparan ladang gandum
menyejukkan  mata itu, telah membawanya
ke ruangan dengan lukisan gadis muda
dengan wajah purnama.

Rambutnya terurai bagai jalinan bunga dengan
pukau sepenuh tarian gerimis menatap
wajahnya di  bawah lembar bianglala.

Kiranya ada seorang perempuan tua yang bertutur,
dan menuangkan sepetakan masa silam bagai
hamparan kebun anggur yang berulang kali
dituai dalam syukur sepenuh hamba.

Akulah gadis muda itu. Akulah yang dulu seorang
gadis berwajah purnama itu.

Mendengar penuturan perempuan tua itu,
maka serta merta ia terpaku dan kian bimbang
dalam jeda yang tipis itu.

Sementara hari kian berlari menuju labirin kelam.
Di ruangan yang beraroma kasturi
dan minyak samin itu, ia pun berpikir untuk
membuang jauh jauh itu lukisan.

2019




Batu Bata  

Seekor capung hinggap di dinding yang
belum paripurna. Ketika angin semesta
berlari menuju seluruh ruang.
Aroma minyak samin, dan percakapan senja  
dalam dzikir burung-burung bersama warna
petang dan abad yang dirindukan seputih
barus dan seharum kasturi.

Seorang pengembara sunyi melintas
menunggangi seekor kuda tunggangan
dengan lemak tipis di tubuhnya.

Menatap dinding itu yang bersinar bagai
misykat, bagai bentangan kebun-kebun
ranum yang dialiri sungai-sungai
petilasan.

Seorang pengembara itu hanyalah terkesima.
Hanyalah mendekap langit seraya
membayangkan sebuah batu bata melengkapi
keindahan dinding itu.  

2019

==================
Budi Saputra. Lahir di Padang, 20 April 1990. Alumnus STKIP PGRI Sumatera Barat. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sejak 2008, ia aktif menulis cerpen, puisi, esai, feature, dan resensi. Tulisan-tulisannya  dimuat di Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, Haluan Riau, Majalah Sabili, Lombok Post, Jurnal Bogor, Suara Pembaruan, Tabloid Kampus Medika, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Jurnal Nasional, Indo Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos, Lampung Post, Kompas. Diundang pada Ubud Writers and Readers Festival 2012 di Bali, Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) 5 di Palembang (2011), dan PPN 6 di Jambi (2012). Buku puisi tunggalnya berjudul Dalam Timbunan Matahari (2016).

Kata Kata Membelah Diri

1




Sejenak Menepi

aku berduka cita atas keriuhan kemarin
ketika jalan jalan penuh dengan orang tergesa
menjerat ranum dunia
dan nyaris kehilangan dirinya
yang tertinggal di balik lesap bayang
alibi pencarian sebuah riwayat

aku bersuka cita atas terbitnya lengang
yang mengulurkan jarak pandang
hingga orang orang pulang ke rumah
menyusur kembali ceruk silam
yang berdetak begitu tenang
membaca rindang masa kanak
buat berteduh menganggit riungan riang

aku mencarimu dan engkau pun mencariku
menembus sirat fantasi
yang melekap di gugusan 
jentera rapuh hari dan tafsir nyeri

kita hanyalah bagian dari kesementaraan 
yang bermabuk mimpi di kenap perjumpaan
dan gandrung untuk menjadi kekal

lalu apa yang tersisa
dan tereja akhirnya
bukan perihal kata kata
dan bukan lagi tentang nama

Bekasi, 2020 





Mencari Kata

di rumahnya yang sederhana 
tak kutemui kata kata
barangkali mereka tengah kelayapan 
ke masa depan, mengisi liburan

2019





Cahaya Kata

sebuah judul seperti kepala
ditopang larik larik
menjadi tubuh yang tegak 
menunggu tamu di sebuah halaman

koran, buku atau majalah 
yang menjadi jelajah permainan
meski tak pernah benar benar ramai 
tetapi selalu saja ada kegenitan menguar
dari tafsir yang mengunggah andai

mengapa mesti ada
pertanyaan yang begitu nyata
pada kenyataan yang penuh tanya

seperti biasa pula
tak pernah ada jawaban yang sempurna
dari kerisauan frasa 
bukankah memang tak pernah tetap dan tepat
singkapan rasa dari rahasia

bait bait menyusun otot yang kuat
menahan berbagai remasan sakit
juga sekelumit tumpasan pahit

lalu kalimat kalimat merawat bermacam alamat
yang diucapkan oleh pemberi tanda
meski kadang diseling suar senda
bergilir mengalir begitu biasa 
tak saling berebut untuk memilih di muka

kata kata pada sajak sederhana 
mengarus berjela memburakan cahaya
seperti dada setengah terbuka

2019





Mengenal Puisi

mengenalmu 
aku dikembalikan lagi
pada sepi yang pemalu
dan acap ragu

kutanya tentang kecemasan
tetapi kau tertawa setengah tertahan
katamu, kita adalah penyintas rahasia
dari kesedihan yang kerap jenaka

biarlah waktu bergegas melesat tua
sementara kita 
tetap pejalan lambat
yang selalu remaja

2019





Bisikan Puisi

pada apa yang kuangankan
puisi puisi itu seperti berkata:
nanti engkau juga akan sampai di sana
percaya padaku, aku akan menerbangkanmu
ke ranah ranah yang telah mendegubkan rahasia
di jantungmu

2019





Ke Dalam Puisi

malam setengah purnama
aku bermain petak umpet
bersama teman temanku yang bernama gembira

mereka menyebar mencari posisi aman
agar tak mudah diketahui
oleh yang tengah berjaga
sepintas ada sepoi angin yang sepi 
dari sebuah celah mirip gua 
yang sepertinya nyaman untuk bersembunyi
dan dengan diam diam kumasuki

teman temanku bersahutan memanggilku
terbayang usilnya mereka padaku selama ini
aku tekun terpekur sendiri

kucari jalan masuk yang tadi untuk keluar
tetapi tak kudapati pada semua sisi
sekelilingku menjadi sekat tembus pandang
tatapanku tersangkut pada bayang

siapa yang bisa mengeluarkanku

dari genggaman rahasia puisi ini
ternyata engkau pun tak kuasa 
bahkan cuma bisa memandangku saja

2019




Saat Di Dalam Puisi

aku berjalan sendiri
pada sebuah dunia 
yang kerap tak terpahami

tiba tiba kau muncul
entah lewat celah mana 
sedangkan selaput meliput ruang

“mengapa engkau di sini
aku sedang mencari jalan keluar”

“lebih enak di sini
di luar makin banyak manusia yang terancam
oleh mereka yang mengaku manusia”

“nanti akan banyak yang bermigrasi ke sini
mari kita nikmati kopi
di ruang yang tak pernah benderang
tempat kita mengekalkan 
segala percakapan
dalam santai pertemuan
masa lalu dan masa depan”

2019





Dari Pemeluk Puisi

kepadanya telah kusampaikan 
kecemasan waktu yang kerap kauigaukan
dalam berbagai gugusan gagu

ia tahu tentang kecamuk cuaca
yang kadang meremukkan inginmu
meski angin tak sedang bekerja

bukankah keganjilan bermula
dari gegap ritus api meronta
menggosongkan tahun tahun berjela

sengkarut tafsir bertabrakan di udara
berjatuhan kata kata lalu membelah diri
dan masing masing menyebar arti

memang ada sebagian menjadi lagu
meskipun tetap saja memuat birama ragu
siapa menduga lirik acap berpura pura

tak ada yang pernah selesai menandai
pada berbagai pengejaran bayang bayang

lalu masing masing pulang ke palung sunyi

2019





==================
Budhi Setyawan, atau’Buset’, kelahiran Purworejo, 9 Agustus 1969. Pencinta musik dan puisi. Mengelola Forum Sastra Bekasi (FSB) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Buku puisi terbarunya Mazhab Sunyi (2019). Saat ini tinggal di kota Bekasi, Jawa Barat.  

Bergerak Bersama Nyala Api

0




Dalam Ruang Baca Tubuhku

Di bilik waktu, jantung riwayatku terurai ringkas
sementara letupan samar dari katalog rasa sakit
mengisi ruang kosong di antara baris doa pendek
dan buku harian bergambar pohon ek.

Kucari persamaan yang menautkan impuls
dan kabar jalan penglihatan, tapi tak ada
sebuah petunjuk pun, selain seseorang
telah memungut masa laluku dari genangan
semata kaki di depan kenangan lisannya.

Ia teringat pertanyaan perihal kecepatan peluru
dan sebuah balok tak berwarna. Bunyi tak diinginkan
selalu melintas dari luka kemenangan
dalam variasi vektor mimpinya.

Ini bukan masalah kehilangan saat mencari
nilai nol masa lalu dan momentum yang terbenam.
barangkali itu seperti menunggu akhir senja
yang menghapus warna kuning di keningmu
bahkan kalimat-kalimat beradu di ujung kepalan diri

Degupnya menuju dada peristiwa
berkali-kali aku lingsir bersama pembatalan
yang lain: kehendakkah ini atau ilusi
dalam keriuhan bunyi?

2019



Sebuah Siklus Menuju Dadaku

Menghilang dan hanya berpindah
: sebuah ruang yang kau bebat,
  sebelum mata peristiwa berkedip.

Siapa yang bergerak bersama nyala api
ketika cinta menembus dinding padat
cermat mengukur kapan patahan riwayat
saling terhubung dan terkubur penandanya.

Di seberang ketakutan, seseorang berjalan
dan terheran-heran, bagaimana seekor semut
mengangkat remah 50 kali dari beban tubuhnya
tenang menempuh arah kepulangan.

Masih tiga langkah dari ujung sepatumu
namun tak seorang pun mengenal yang liyan
—apakah ada kesedihan di sana, sementara
    orang-orang ingin menghentikan kepergian
    yang sia-sia?

Di kejauhan, para pejalan murung melihat
ke arah gunung yang menampakkan garis putih
hanya dugaan belaka jika ia tak menangkis
kebatan hitam pekat yang menuju dadanya.

Berulang, sebarannya terus tumbuh
mungkin ia akan menenangkan diri
bersama gelembung air sabun,
kristal fotonik, dan barbula Merak Hijau.

Jika kepantasan harus menunda sisa pertanyaan,
aku tak pernah menyangkal pada kemauanmu
mengitari jejak di Thanjah atau Laut Andalus.

Dan kini, mereka sudah ada dihadapan
bayanganku, seperti akan kembali
pada kerutan awan yang saling berkejaran
atau barisan pasukan, sekadar menahan
arah kumpulan liar di tepian lembah keluhan.

Di luar kehendak siapapun, aku berpisah dari mereka
sedangkan bekas-bekas ingatan perlahan menguatkan
pendengaran, tumpuan, dan kehilangannya.

2019




Sebelum Petualangan

Kau kumpulkan bayangan lain antara aku dan waktu
dan ia terus menjaga kelopak penglihatan, daun pendengaran
bahkan kulit perasa, bagian-bagian pohon pengetahuan
yang ingin mereka gugurkan lebih dulu.

Antara tabir-tabir dan tujuan akhir, keringat mengalir liar
dari lubuk ke tampuk. Berdarah-darah anggapan menghilir
sampai muara sejarah, tempat ikan-ikan silsilah berenang,
saling berebut remah di permukaan.

Apakah diri akan membuih dan berulang? Katamu
Tidak, jawab bayanganmu sendiri yang sangat lempung,
bersabar dari riuh pecahan suara, meredam
segala permainan bunyi. Bahkan aku mustahil
berlalu-kan diriku dengan buih peristiwa
yang kau percaya sebagai sentuhan peristiwa belaka.

Hingga semua hilang perlahan, tak terlihat di mata
teori-teori pencerahan. Dan kau seperti enggan
mengembalikan cahaya pertama dalam kenangan
pelajaran mengenal nama-nama diri
sejak kejatuhanmu yang pertama.

2019




Setelah Perjanjian Agung

(Langgam Perkawinan)

/1/
Mata

Yang membuka penglihatanku
dan ia mengambil tanpa canggung
semua yang kupandang remeh 
: senja, mimpi, dan kenangan

/2/
Rambut

Dan hanya terbuka dihadapanku
hingga jari-jari itikadnya melepas
semua ikatan kehendak 
pada hamparan ikal semu cokelat itu
kemudian jatuh sebahu, bergelombang,
memecah batas diri dan dia
sampai terciumlah aroma bahasa
yang pernah tak teruraikan
oleh setiap pejalan sunyi

/3/
Hidung

Imanensi mengalir
ke dalam cara ia menghirup
hal pertama dari bahasa
: nama-nama dan adat
  yang mengembang, meluas

/4/
Mulut

Ia menyingkap apa yang kukatakan
dan aku mencari apa yang tersamarkan
dalam ucapannya

Aku hadir, meretas lengkung kenyaringan itu
sementara gemetar kaki kehendak, menunda
kesangsian: apakah diri akan menyimpan semua
yang tersampaikan lewat larik-larik ini

/5/
Telinga

Terlipat dalam tabir, hanya aku yang bisa masuk
dalam musiknya, meski sering kudengar ode
yang keliru dan tercatat sebagai suara patahan
dari nada sumbang milikku sendiri.

/6/
Dada

Tak berjarak
dengan degupnya
meski ia belum masuk
ke bilik jantung
kata-kataku.

/7/
Tangan

Dan kau bisa membayangkan arahnya
namun siapapun tak dapat menyaksikan
saat ia memegang lembut lengan masa laluku
yang selalu mengepalkan ruang rapuh
peta silsilah, hikayat, tragedi
dan kenakalan masa kecil.

/8/
Kaki

Tak ada panggung tontonan dalam dirinya
langkah yang terjaga, ia tujukan pada mata waktu
dan kami akan menari sampai langit pengetahuan
merendahkan batasnya, agar menjangkau
hamparan bumi dia  

/9/
Wajah

Aku dan dia, dua cermin
saling memilah bayangan diri
yang maya dan yang nyata.

2020




Diktum

turun dari sisa kupakan mimpi pada dahi peristiwa
masa lalu terus cembung di belakang air mata

di kebun ini, bahkan seekor ular sekadar umpama
hanya tubuh yang bertaring, tergoda tarung pengandaian

maka berpautlah debu-debu dan pertanyaan konyol
sampai peristiwa tercipta dari hal-hal licin

2019





Memori 1

/1/
tangisan dan mantra
berpulang ke dada peristiwa
hangatnya mengalir
tumpah di jari waktu

/2/
memanjat leher abata
liurku mengalir liar
terbata-bata di lembah aksara
bercampur airmata kata

/3/
usia membuka sebutan liyan
berlapis tabir janji pertama
lorong luka dan lupa terbabar
pelajaran pertama nama-nama

2020



Suluk Huruf U

kubujuk lubukmu
                     bulu kuduk susup

kususur nun
                     burung-burung bubul

luhung tugur tuturmu

                       duduk khusyu

surut mulur lumpurmu
                        sudut-sudut kubur

ukur uzur sumurmu
                        sulur-sulur gurur

2019




====================
Yana Risdiana, seorang advokat dan menulis puisi. Buku puisinya yang telah terbit: Larik-Larik dari Jurus Dasar Silat Cimande (2018) dan Perjanjian Tak Bernama (2019). Kini tinggal di Bandung.

Pulang Ke Dalam Pelukan

0





Penyair Tua dan Mesin Ketik dari Masa Lalu

mesin ketik tua di sudut ruangan itu
mengirimkan detak rindu dari masa lalu
dengan irama tik tok tik tok
lalu terkadang berderit mengambil jeda
seperti menghitung jarak spasi
satu setengah ataukah dua
jarang waktu yang hendak dibangun
antara harapan dan rasa cemas
sebab waktu telah berlari sedemikian jauh

mesin ketik tua di atas meja baca itu
ingin mengabarkan sesuatu dari masa lalu
ada bunyi seperti suara kertas terpasang
lalu gesekan kertas karbon meminta duplikat
lima enam ataukah sepuluh lapis
lembar kenangan yang hendak diperbanyak
dari waktu yang tertinggalkan demikian jauh

mesin ketik tua di sudut ruangan itu
sepertinya ingin mengirimkan rindu dari masa lalu
tapi seperti waktu. nasibnya kini kelabu
juga pemilik mesin ketik tua itu

Ambon, 28 Mei 2019




Pada Sisa Hujan di Tanjung Marthafons

malam ini setelah hujan mengiris selepas tarawih
kutemukan potongan wajahmu yang gigil
di antara tiang-tiang jembatan yang membelah teluk Ambon
beringsut pucat menyembunyikan luka. mungkin juga siksa

apa yang kau tangis dari sisa hidupmu
setelah berlari sekian lama dengan dusta sepenuh tubuh
padahal ketika itu musim begitu akrab memelukmu
di pasir pantai ketika angin masih barat dan bulan sedang purnama

malam ini pada sisi hujan di tanjung Marthafons
kutemukan potongan wajahmu yang pasi
di antara warna-warni lampu jembatan yang menyambung dua tanjung
tenggelam dalam bayang-bayang yang kian membiru
di antara aroma hujan dan uap laut yang merapatkan maut

apa yang kau sembunyikan di dalam hujan
setelah semua catatan yang pernah kau tulis di tiang dermaga
tak lagi menjadi penanda bagi lelaki yang merindukan pulang

Ambon, 24 Mei 2019




Lelaki di Tepi Laut Banda

tak perlu lagi engkau bertanya tentang dia
lelaki yang pernah mengajakmu ke tepi laut banda
sebab di tubuhmu sampan-sampan terus meronta
entah mencari apa. hingga tenggelam di kolam tuba

air mata jangan kau tanya seperti apa
sebab garam tak lebih asin dari luka di ruang dada

dia lelaki. lengannya perkasa
tapi dalam soal cinta tak luput jua hatinya binasa
sama jua layar bisa koyak dilumat cuaca

tak perlu lagi engkau bertanya tentang dia
lelaki laut yang memelukmu di tepi laut banda
sebab di dadamu kapal-kapal terus saja mendaratkan cuka
entah demi apa. hingga lenyap segala penanda

luka di dada jangan kau tanya selebar apa
sebab bulan tak selalu datang membawa cahaya
demi hatimu yang selalu dilanda gerhana

Ambon, 16 Mei 2019



Salang-e Uihae Tuog Doen

pernah aku terperangkap di celah karang hatimu
tempat dimana ikan-ikan kau undang untuk menari
dan mencumbumu hingga patah dan terkoyak
dalam haru biru yang berujung nelangsa

pernah pula aku terpedaya mengejar bayangmu
hingga batas fatamorgana sebelum terjaga dari mimpi
bagai angin menarik tali-tali layar kesadaran
agar sang nakhoda tetap setia menjaga arah perahu

pernah aku tenggelam di palung terdalam hatimu yang gelap
membuatku kehabisan akal bagai ditawan seribu peri laut
hingga mataku tertutup dan tak bisa perpaling pada indahnya pantai
dan taman laut yang menawarkan kehidupan warna-warni

pernah aku terluka olehmu karena cinta yang haru biru
pada ketika itu dalamnya laut salah kuduga
lalu sengsara berderai air mata. aku terluka

Ambon, 13 Mei 2019




Er Zal Geen Woord Zijn Om Te Scheiden

ada banyak cara untuk mengucapkan selamat tinggal
tetapi pasir di pantai terlampau akrab menerima garam sebagai nasib
sudah begitu lama sejak takdir diberi nama
oleh garis panjang yang memberi batas pada laut
dari mana para pelaut berlayar dan pulang ke dalam pelukan

ada banyak cara untuk mengucapkan selamat berpisah
tetapi dahan bakau terlampau setia menerima burung-burung
juga angin pantai yang terkadang membuatnya patah
sudah begitu sejak lama ditakdirkan menjadi rumah
oleh kedatangan dari mana saja yang menjadikannya indah
juga bagi pelaut yang kalah dan ingin bercinta

ada banyak cara untuk mengucapkan selamat jalan
tetapi lelaki tetap setia untuk bertahan memikul ombak
sebab matanya adalah laut seperti katamu suatu senja
ketika kaca-kaca buram. seturut hujan yang turun di kotamu
dan engkau semakin gelisah menahan senyap dari dadamu
yang kering dibakar garam tersebab waktu bersilauan seakan hampa

ada banyak cara untuk mengucapkan selamat tinggal
tetapi lelaki tiada lelah menjaga hidup di sisa waktu. bersamamu

Ambon, 10 Mei 2019





====================
Dino Umahuk. Penyair, tinggal di Ambon, Maluku. Bukunya yang telah terbit antara lain: Riwayat Laut, Mahar Cinta, dan Panggilan Laut Halmahera.

Pelukan yang Kehilangan Lengan

0




Melankolia Pengkhianatan

beginilah kita akan selesai seperti bahtera yang bertambat pada akhirnya
di dermaga yang bukan hatiku. kau kini atau kita barangkali hanya sepasang
pertautan mimpi yang kian renggang, berjarak, berlari saling melepas angan
dengan sela-sela jari kosong tak bergenggam.

kausemai cinta yang dituai seorang yang datang dari entah berantah kehidupan
tak ada yang tahu dari mana bunga-bunga yang lain mekar dalam perjalanan
membangun sebuah taman surga. burung-burung pun terbang selalu tahu arah
pulang ke dalam sangkar sedang kita perantau yang lupa letak rumah.

tak ada yang bisa membantu kita. puisi hanya sebuah pelukan yang kehilangan
lengan. tak ada dekap kecuali tebah dada yang menunjukkan dalih pengkhianatan.
kau atau aku pada bagian ini tak perlu mencari siapa yang lebih berhak memikul
dan memukul kelemahan kesetiaan kita.

Mamuju, 2018




Penerimaan

Aku ingin mencintaimu dengan keikhlasan
sebagaimana Maryam yang menerima Isa
sebagai titipan.  Sebagaimana Ismail yang
menerima penyembelihan sebagai ketaatan.

Aku ingin mencintaimu dalam kerelaan
kayu yang terbakar dalam tungku untuk
memberimu kehangatan. Seperti nyala
sumbu yang menjaga dirinya tetap hangus
untuk memberimu pandangan.

Aku ingin mencintaimu dengan pengorbanan
Rumi yang menerima kehilangan kebesaran
untuk menemukan kekerdilan. Serupa Syams
Tabriz yang jadi darwis pengembara untuk
menjaga bara api jiwanya agar tetap  melebur
dengan air kehidupan.

Mamuju, 2020



Agama Cinta

kau tidak bersimpuh pada apa yang kusembah
dan tidak pula kupasung apa yang kaujunjung
kita leluasa menyembah untuk saling membasuh
kita senantiasa merangkul untuk saling memikul
aku tidak mengimani apa yang kauamini
kau mengamini apa yang tidak aku imani
tetapi untukku agamaku menebar kasih
dan untukmu agamamu menabur sayang

Mamuju, 2020




Pada Bagian Apa

setelah gejolak batin dan pikiran bertarung
tak berkesudahan dalam kepalamu.
kaubertanya: pada bagian apa dari diriku
yang memantik cintamu?

kaudekap kemalangan nasib yang kaucintai
telah kaususuri jalan sunyi di tiap bait syair
rindu Jalaluddin Rumi, telah berkali-kali

kaulangitkan kesetiaan Qais dalam kesepian
yang terpangkas kata-kata. telah lama kau
nisankan perempuan Mandar yang mati
ditelan nestapa zaman.

pada bagian apa dari diriku yang memantik
kerinduan?

kaumenunggu dan terus menunggu lalu ia

datang kepadamu membawa rasa percaya
menepis segala keraguan Rabiatul al Adawiah
melantunkan harap pada nubuat menikam petuah
ia percaya kau seperti setianya seorang Ali
kendati ia bukan seorang Fatimah.

ia ungkap apa yang selalu ingin kausingkap:
keraguan lelaki yang patah oleh keras kehidupan
ia runtuhkan tameng ego di hadapanmu demi

sebuah cerah mimpi yang terpancar di sana

tetapi kaudiam seperti puisi yang belum
sempat dituliskan penyairnya. ada perasaan
yang tak mampu dijabarkan kata-kata.
ada taswir yang belum sempat diberi tafsir.

sebab bukankah cinta adalah lipatan-lipatan
keyakinan yang tak memiliki celah keraguan?

kaubertanya: pada bagian apa dari diriku
yang memantik cintamu?

Mamuju, 2018



Manifesto Air Mata

aku akan berhenti menulis puisi kesedihan
bila kau dengan hati yang lapang
merintangkan kembali kedua lengan.

Mamuju, 2019



======================
Syafri Arifuddin Masser
Lahir di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa Sastra Inggris Universitas Muslim Indonesia. Puisinya tergabung dalam beberapa antologi: kibul.in 2017, tembi.net 2019, biem.co 2019, Festival Seni Multatuli 2018, Makassar International Eights Festival & Forum 2018, Mandar Writer and Culture Forum 2019, Festival Literasi Tangsel 2019, Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum 2019, dan Gerakan Antiskandal Sastra 2018.

Terbaru

Lesat Ke Langit Hakikat

Sebagai Penyair aku berjalan ke taman-taman, di samping berjajar mawar segar. durinya merobek keheningan kita. sebagai penyair yang selalu...

Kata Kata Membelah Diri

Firasat

Kunci

Dari Redaksi

Ingatan yang Menyakitkan

Mangga Dan Batu