Puisi

Home Puisi

Di Atas Kesunyian Perahu

0
© Ahsan Burhany



Yunus AS di Perut Ikan

Yunus tak tahu masih berapa lama. ikan di perutnya menelan dirinya
tak ada laut yang lebih laut lagi. selain laut di dadanya sendiri
ombak-ombak terus melukai luka. dosa muasal berdebur di dalamnya
sepi melekat ke permukaan kulit. meresap ke tulang sumsum makin sakit

subhanak inni kuntu minadzdzalimin. berputar-putar di hatinya yang dingin
di tengah samudra biru bergelombang. ikan berhenti di dada mulai tenang
lewat mata bulat ikan yang terbuka. dari langit bulan mengecup bibirnya
ikan menganga menyebut nama Allah. satu hentakan napas laut terbelah

dari perut ikan Yunus pun terlempar. di atas pasih ia bagai tembikar
angin laut memungutnya dalam dingin. pada dingin ia menyalakan ingin
dari ingin rindu kembali menjalar. dosa masa lalu tumbuh bunga mawar
air mata gugur seperti gerimis. bunyi debar dada begitu puitis

(fra: 2020)




Tongkat Musa AS

yang menjalar di luar adalah ular. yang melingkar di dalam adalah sinar
ular tercipta dari sebatang tongkat. tongkat tercipta dari cahaya kilat
di tanganmu ia jinak tak mendesis. ke mereka ia bagai pamor keris
ular panjang yang keluar dari sinar. di matamu tak lebih angin berdesir

saat malam ular jadi tongkat lugu. menuntunmu dari jalan-jalan buntu
menuju langit tenang ke puncak cinta. tempat bulan matahari bercahaya
bila haus cukuplah memukul batu. dingin rindu akan mengalir padamu
dan bila ingin tidur tongkat di tanah. butir pasir berubah tikar yang ramah

yang menjalar di luar adalah ular. Yang melingkar di dalam adalah sinar
ular di luar hatimu jadi doa. Sinar di dalam hatimu jadi bunga
ular dan sinar menyatu di dirimu. Doa dan bunga selamanya tak layu
Harun berkedip padamu depan pintu. Fir’un terbakar marah di belakangmu

(fra: 2020)




Perahu Nuh

adakah yang lebih berdebur di sini. selain luka yang berombak di hati
saat papan-papan Nabi Nuh rakit. menjadi sebuah perahu di bukit
orang-orang mencipratkan kotorannya. hingga baunya sampai ke dalam doa
bulan sama-samar berdarah di mata. tetes-tetesnya jadi hujan petaka

panjang kemarau yang mengeras di bahu. cukup hujan sehari sederas rindu
sungai menguap berlari dari cinta. pohon, batu, menyambutnya dalam luka
pemuda Ka’an enggan naik perahu. sebab di dadanya ada gunung batu
tapi air kian saja bergelombang. di atas perahu bulan kian tenang

(fra: 2019)




Di Atas Banjir

berhari-hari Nabi di atas banjir. bermalam-malam Nabi diayun zikir
dari perih ke nyeri sabar berlayar. dari doa ke doa bibir bergetar
sampai perahu tiba lagi di bukit. di dadanya masih ada sisa sakit
dari langit Allah meletakkan bunga. kelopaknya bermekaran dalam luka

di bumi, Nabi Nuh turun perahu. matahari di matanya tak kelabu
ia menanam biji cinta yang baru. ranting-ranting menjalar selebat rindu
burung surga bertekukur dalam diri. meloncat-loncat dari sunyi ke sunyi
andai begini tak perlu ada banjir. sebab di luka cukup sungai mengalir

(fra: 2020)




Setelah Banjir

di bibir pintu Nabi memejam mata. di luar pintu bulan penuh cahaya
seketika jatuh lagi air mata. melihat putranya tenggelam di duka
tubuh gagah itu tak mampu berenang. hatinya yang angkuh dilumat gelombang
dan tangan Nabi hanya sebatas doa. Uluran panjangnya sebatas usaha

Nabi lihat merah senja dekat mata. perlahan-lahan menuruni dadanya
tapi di bumi cinta lebat berdaun. di hatinya sudah tak terlihat gurun
lalu di atas kesunyian perahu. Nabi terpejam di pelukan Allahu
tinggal kenangan sendirian berlayar. di atas waktu yang semakin berputar

(fra: 2020)




========================
Faidi Rizal Alief belajar menulis puisi sejak nyantri di Lesehan Sastra dan Budaya Kutub Yogyakarta. Pernah membacakan puisinya di Rumah Pena Kualalumpur Malaysia. Buku puisinya Pengantar Kebahagiaan (Basabasi, Juni 2017) menjadi salah satu pemenang di Banjar Baru’s Rainy Day Literary Festival 2018 kategori Promising Writer.

Bayang-Bayang Seakan Menjauh

0


Namamu

namamu mungkin dalam bentuk hujan pagi
yang mengabur dan bergetar di rumput
tapi burung-burung menangkap suara
dari mimpi, dan menghindari terbang tanpa arah

beberapa daun telah jadi lembar demi lembar
seperti tahun yang tak pernah tutup
mencatat musim, dan dalam kelopak bunga
sekuntum keriangan yang mati lebih banyak lagi
tempat-tempat yang kosong, pot hatimu
tak pernah lengkap tanpa warna
seperti kamar seperti nganga paling liar
dari jiwa

dan namamu selalu jatuh di benakku
tak mengenal waktu, ia terbawa mengalir
dan membeku entah di mana
seperti ceceran darah perang jaman dulu
seperti permaianan peluru yang mengirim neraka
pada detik-detik penghabisan nyawa, dan efek jam
selalu menggugurkan kelabu namamu
yang sekian saat cuma tersisa
sebagai pemandangan batu

2020



Insomnia VI

langkah-langkah sepanjang usia
mengukur suhu yang kabur
di jendela kaca

yang kedinginan wajahmu, terpantul
mengadu kepada diri sendiri
seperti orang lain yang pernah
meninggalkan rumah
dan menjadi semakin asing
ketika bertemu kembali

lalu pada saat jam menunjukkan
betapa di luar harapan masih ada
warna yang gelap mengental
seperti membusuknya daun-daun
seperti matamu yang kurang tidur

2020


Melayati

di dalam detik tak kau dengar lagi
suara rintik hujan yang mati
di jalan subuh, di ujung daun
embun meranum
hanya tinggal sisa mimpi yang membersit
di sudut kaca jendela
ketika kau dengar angin mengerat kayu
dan rupanya hari telah menunggu
di luar tidur

di perjalanan pintu yang hampir mati
di sayap kupu-kupu yang memburu
bunga rekah di atas pusara, lalu seseorang
mungkin terjaga di ranjang
ditatap dinding yang cuma hitam
bayang-bayang seakan jauh
terpisah seseorang dari tubuh, begitu sendiri
rasanya jasad mengenang yang pergi
begitu dingin tanpa arti

2020



Menuju Melancolia

hari demi hari kecemasan seakan
tak pernah berhenti berlari
di dalam diriku lukisan biru
mewarnai dinding tidurku
dan mimpi masih saja hitam
tak mau bangun menuju kota
menuju kesunyian agung

di sebuah gerbang
seluruh rajah yang terukir
seperti telah menumbuhkan akar pasi
yang pandai menjuntai mimpi
menganga dalam lubuk hati
bungkam ruang mengurung
daun-daun kepalaku, dan demi tidur
yang senantiasa mimpi kau
akan membiarkan ulat
menggeligiti jantung

2020

Sebuah Pemandangan Jantung

ada yang pernah memungut tulisan seperti bunga
yang belum layu dilemparkan tangkai-tangkai
ke tanah kering, saat angin memelan bagai pisau
menyayat harum dan wangi itu

kembaramu seperti merah
yang telah ke mana-mana
seakan tidur, seakan waktu menyegarkan
seluruh harapan, lalu apakah yang tersisa
dari lanskap sebuah lukisan
yang ditinggalkan pelukisnya?

Dari kesendirian yang tersudut
tak dikenal, dan tak akan pula selalu berwarna
cuma sansai, tapi ada yang pernah memungut
tulisan seperti bunga di halaman kubur

namamu seperti puisi yang ditulis oleh angin
dilemparkan tangkai pohon bunga
yang wanginya mengembara
meninggalkan sesuatu yang mirip jantung
tapi itu masih meneteskan darah
masih tertusuk seruncing ranting yang patah

2020


Bayang-Bayang

kita terpisah dari kota-kota
mengapa jarak seperti maut
yang meriap di mata
dan meruja batin dengan siksa

lebih dari rindu rerumputan
sesalku tumbuh di pekuburan
menjulang hendak intip kekasih

hidupku jadi kutukan di batu sungai
yang mengalir lesu ke dada

jika segala telah menjadi takdir
cuma kegetiran pertemuan
dan perpisahan ini mengundang neraka
menghukum diriku dengan kecaman angin
yang gigil

dan sudah berapa malam menjelang aku
terus menantikan kau datang
tapi pulang melemparku kembali ke mimpi
ke bayang-bayang kecemasan

2019

Membayangkan Masa Depan

angin mengesek daun-daun
sehening sungai di kedalaman hatiku

kau hidup di dalam dan di luas diriku
seperti udara, namun tak pandang wujudnya
kau teramat dekat, namun tak kusentuh
kau begitu jauh bagi tanganku merengkuh

jika benar kaulah angin itu
kan kuhirup kamu dalam jantung
dan berdegup gairah melengkapi hidup

mengalirlah darahku dalam urat waktu
rinduku karenamu memburuku

kau hidup di dalam dan di luas diriku
tapi jarak namun terasa jauh
seperti lamun yang kian jatuh lusuh
membayangkan masa depan

2019

Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah, pada 4 Maret 1995. Tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen dan esai tersiar di beberapa media massa baik daring maupun cetak, seperti: Detik.com, Langgar.co, Tukang Puisi, Koran Tempo, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Radar Banyuwangi, Radar Banyumas, Utusan Borneo, Pos Bali, Majalah Pewara Dinamika Universitas Negeri Yogyakarta, Koran Dinamika News, dll, serta terikut dalam berbagai buku antologi bersama. Beberapa puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Prancis. Penulis berkhidmat di Forum Penulis Solitude. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas dan penjual buku lawas. Buku kumpulan puisi yang akan cetak bertajuk Akar Hening Di Kota Kering (FPS: 2021) diterbitkan secara indie, dan sebuah buku kumpulan cerpen yang sedang disiapkan. Sekarang tinggal di Purwokerto.

Bayangan Paling Asing

0

Di Ruang Asing

kalaupun warna-warna mencipta rupa
lewat bayang-bayang di ruang ini
engkau adalah bayangan paling asing
walau kedatanganmu lumaian sering

dari beberapa pecahan wajahmu
tak satupun dapat kuhafal
namun pada setiap kedipku
engkau mejelma pandangan baru
yang semakin lama dipejam
semakin pula menambah penasaran.

Engkau selalu datang padaku
terkadang berupa hening dan dingin
dan di antara keduanya
aku merasa semakin sempurna
berdiri sendirian
seakan tak perduli orang-orang

maka, pertemukanlah aku
dengan wajahku sendiri
agar yang hilang dapat kembali
memaknai kepergian lagi.

Lubtara,2020





Menjelang Tidur

sebagai lelaki malam
selalu kusediakan bulan dan bintang
dalam panjang mimpimu
supaya cahaya harapan
berguna sepanjang pagi

meski terkadang aku tertidur
dan pada mimpiku kau tampak kabur
aku tak pernah merasa sedih
sebab dengan penasaran ini
aku semakin perduli
bahkan lebih sedih dari bintang dan bulan
yang telah dari sore menunggu malam.

Lubtara,2020




Sebuah Buku di Meja Baca

sebuah buku di meja baca
tubuhnya dirayu angin
diam-diam menbuat hening
mengirim dingin
pada lembut kedipan mata
tak pernah bersuara
tak pernah disangka
dalam warna puisi
yang sedang kau baca ini.

Lubtara,2020




Perempuan Laut

ia telah sempurna merangkai rindu
dengan kering sebuah daun
menjelang langit mendung

perlahan angin membawa tubuhnya
melewati liuk-lekuk anak sungai
hingga mengenal warna lautan.

Barangkali di selat karang
ia belajar akan ketabahan
belajar menjadi manusia paling asing
lantaran harus larut
di tubuh ombak yang surut.

Tiba-tiba ia menemukan anak kilau
yang lahir dari sirip ikan
betapa tidak ia merasa luka
ketika tubuhnya ditinggal cahaya.

Lubtara,2020





Sesudah Kemarau

setelah kemarau merasa purba
di sepanjang tubuh sungai
dan berita kelukaanmu sedang hening
sejak saat itu aku berkunjung ke tubuhmu
menyaksikan sedih debu-debu
yang tak mampu berlabuh
di sepanjang rongga tanah.

Mungkin saja hujan sedang lupa
memberi lembut pijakan kaki
tak sudi melihat daun-daun hijau di matamu
ketika dalam kedipanku tersimpan kenakalan cuaca
yang tiba-tiba menggugurkan airmata.

Tinggal percik suara
saat puja-puji dianggap rayuan
seperti tenunan doa yang tak sampai
bahkan tak pernah selesai
di sepanjang kafan yang gersang

Lubtara,2020




Stanza

#1
dalam sajak ini, ada seberkas suaramu
yang hinggap di lembaran-lembaran daun
dengan berbagai sorak di tubuh sungai
menjelang kemarau datang.

Batu-batu yang dulu memelihara hijaunya lumut
tak terasa melewati sedih hari-hari dalam maut
sebagaimana aku,
begitu sempurna menyambut pagi dengan berlari
lantaran di tubuhku tersimpan beragam nyeri.

#2
dari pohon-pohon yang disentuh angin
dan kutemukan matamu berkedip hening
merayu jejak debu yang bersandar di bibirmu

sedang puisku telah lama kau lupakan
bahkan hampir menjadi bangkai anjing
baunya terasa asing dibawa angin
maka kulukis warna cinta kembali
laksana mentari dirindukan pagi.

#3
Sejak saat itu,
sering kutemukan para perempuan
berdansa dalam senyummu
menggunakan pakaian serba merah
mengejar bayangku dan membuka pintu sejarah
dan mengubahnya jadi rindu yang berayun-ayun
di taman minggu dengan kaki telanjang

di sanalah kutemukan dirimu melangkah tanpa jejak
seperti awal mula pertemuan kita jadi kerinduan
bahkan jadi kemarau yang terlalu panjang.

#4
ada yang tak mampu kutafsirkan untukmu
layaknya sebuah jam yang berdetak pelan
di antara hatimu dan kesepian mimpiku
masing-masing mempunyai perasangka
masing-masing saling berdoa
untuk menjumpai sebuah peta
yang paling jauh dalam harapan.

Lubtara,2020




Tembang Selawat

melebihi lagu di masalalu
melebihi teduh senyum-senyum
pada setiap detik liriknya

seperti menjejaki tanah basah
dingin merasuk ke seluruh tulang
seperti mengulang pertemuan
di taman depan halaman.

Aku lupa jalan pulang
aku lupa beragam kecantikan
sebab di tubuhku
dosa-dosa diam-diam disucikan

Lubtara,2020





Selepas

selepas tubuhmu menjelma suara air
sunyi turun dari langit
seruncing jatuhan hujan pertama
rindunya dikenang tujuh purnama

selepas rambutmu merindukan taman
genangan di tubuh kolam memuja keteduhanmu
tak mampu ditakwil indah bayang-bayangnya
sebab di wajahmu segala rindang berbicara
mengamini doa-doa awan yang sebentar lagi huja.

Selepas aku memasuki hatimu
segala puisiku menjadi tamu
yang paling jujur menyampaikan rasa
dengan tidak sengaja merangkai cinta

Lubtara,2020



=====================
J. Akid Lampacak
, lahir 03 Mei 2000. Mahasiswa IST Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep Madura Jurusan Teknolagi Informasi, Sekarang Aktif Membina Komunitas Lesehan Sastra Ponpes Annuqayah. Ketua komunitas laskar pena Lubangsa Utara dan pengamat literasi di Sanggar Becak, Sumenep. Tulisan-tulisannya telah tersiar di berbagai media cetak seperti Republika, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Haluan, dan Sebagainya.

Alif-Ba-Ta Sunyi

0


Aku Mencintaimu,
Seperti Rumput-Rumput di Halaman Masjid

sebab, rumput-rumput itu selalu kucabut
namun ia kembali subur meskipun musim berkali berganti
beranak pinak, singgah di halaman paling suci
mencintai tanpa takut mati
kembali dengan tubuh semakin hijau dan berseri.

akupun demikian,
setelah menekuni segala kejadian
yang mungkin diajarkan rumput-rumput itu
mencintai tanpa memedulikan dibenci.

Hingga kita saling mengakrabi
memangkas semi-semi benci yang menjulur
membiarkan cinta tumbuh di halaman masjid semakin subur.

Jombang, Januari 2021




Kita Pernah Semeja: Alif- Ba-Ta

di serambi, pagar bambu bercat kapur
lampu redup kuning emas sedikit kabur
angin selatan hadir, menyusup bada magrib
ketika meja kayu mahoni penuh kitab dan teman karib.

Kita pernah semeja
mengeja alif ba ta
di suatu lampau, sebelum kita saling merantau

berebut wudhu, mensucikan segala rindu
dan berebut waktu, mengejar tashih para guru.

Apakah engkau masih ingat?
Ketika malam-malam
semakin panjang
dan kita habiskan di serambi itu.

Kini, tempat itu sepi
alif- ba- ta semakin sunyi
dan meja-meja semakin mengucilkan diri.

Jombang, Januari 2021




Mungkin Kita Waktu yang Berbeda
:Aku Arunika dan Engkau Swastamita

kita sama-sama diciptakan
untuk dicintai dan dinikmati.

Sama-sama diabadikan
dalam doa dan puisi-puisi.
dalam lukisan, foto, video,  
dan ingatan-ingatan.

Aku lahir dari seberkas cahaya pagi
yang diserbukkan mentari,
pada langit: gemawan, angin,
dan segala embun yang bermukim
sebelum doa-doa subuh ditengadahkan

sedangkan engkau dilahirkan:
ketika lesap mentari menjumpai dasar cakrawala
memancarkan emas dan segala tanda
bahwa malam segera tiba
dan alif-ba-ta diserukan
di serambi-serambi dikhatamkan.

Mungkin kita waktu yang berbeda
: aku arunika dan engkau swastamita
tak pernah jumpa di alam nyata
namun abadi: dalam buku-buku puisi

Jombang, Januari 2021




Aku Melewati Sungai-Sungai

Aku melewati tepi-tepi sungai
menggiring ikan-ikan serupa larik puisi
menyibak rimbun rumput-rumput
memungut diksi-diksi yang larut
dalam sunyi dan kesendirian yang kalut

barangkali aku menemukanmu lagi
sebaris cerita yang pernah kita semai
kemudian sekarat sebelum tumbuh bersemi

aku memilih mencarimu di tepi sungai
sebab, di sinilah muasal puisi-puisi
engkau alirkan air matamu sendiri

Jombang,  2020




Langit Kalimaya Telah Berdoa untuk Kita
:Kinan

tahukah engkau kinan
bahwa langit kalimaya telah berdoa
teruntuk kita yang sedang sekarat
setelah menenggak biji-biji sedih
sisa-sisa pertengkaran.

Air mata kita telah disadap
menggumpal awan legam
kemudian, dialirkannya hujan
menyiram tandus gersang
pohon-pohon randu, yang rindu
menanak kapuk yang empuk
sebagai bantal mimpimu.

Dan malam ini kinan
tak usah kau mencariku
sebab rembulan sudah menyilaukan
matamu yang layu cemburu.

Selamat malam kinan
aku masih menyimpan air matamu
yang aku kemas dalam botol madu
bercampur air hujan yang beku.

Jombang, Januari 2021



Langit Swastamita dan Siluet Camar

tentu kau merasa bahagia, kinan
memandangi langit swastamita
mengangankan angsa berdansa
dan siluwet camar beriring-iringan

tentunya kau akan lebih bahagia, kinan
jika mentari mulai menjeburkan
separuh tubuhnya
menyorot perahu kekasihmu
yang singgah dalam matamu

namun kinan, swastamita hanyalah
tempat berhayal paling setia
yang dapat kita pungut sebagian cahayanya
sisa-sisa para penyair yang pernah memotongnya

Jombang 2021




====================
Miftachur Rozak, lahir di Jombang Jawa Timur, 03 Februari 1988. Alumnus PBSI STKIP PGRI Jombang. Kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang. Karya-karyanya tersiar di berbagai media, antara lain seperti: UB Sabah Malaysia, Solo Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Riau Pos, Magrib.id, Ideide.id, Biem.co, dll. Salah satu puisinya Masuk dalam Antologi tiga Negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku “Sang Acarya” Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas Dari Negeri Poci 2020.

Sejuntai Kelabu, Sejuta Haru

0


Memorabilia

Di penghujung teluk yang kikuk,
Aku duduk bersama himpitan ombak yang beranak pinak.

Menanam kelam dalam-dalam,
Pada sebuah palung yang linglung,
Yang bingung tentang nasib sebuah bangsa.

Kau akan duduk disana,
Pada sebuah gubuk kecil yang gugup,
Sembari merajut mimpi-mimpi bekas belas kasihan karang-karang.

 Darimana datangnya taufan dan rayuan?
 Darimana datangnya petir dan ketir?
 Darimana datangnya gelombang dan bimbang?
Lalu kita kan menimbang semuanya,
 Bersamaan dengan pasir yang hitam,
 Bersamaan dengan anemone-anemon yang terlantar,
 Bersamaan dengan botol surat yang terbuang.

Darimana datangnya petir dan ketir?
Darimana datangnya gelombang dan bimbang?
Lalu kita kan menimbang semuanya,
Bersamaan dengan pasir yang hitam,
Bersamaan dengan anemone-anemon yang terlantar,
Bersamaan dengan botol surat yang terbuang.

Dengan harapan kita bisa memberikan persembahan
kepada mercusuar tua yang selama ini kita sembah.

Kasihku,
Mari sembahyang di hadapanNya,
minta petunjuk melalui cahayaNya yang redup,
kemana kita akan pulang?
Ke palung?

1 Januari 2020


Kabar Perang

Pada suatu masa yang hitam kelabu
Dan langit yang abu-abu
Aku menantimu dalam parit-parit rindu
Ragu dalam hati
Kelu dalam sunyi

Aku menantimu dalam parit-parit itu
Bersama semak belukar
Pagar kawat yang beradu
Para serdadu melenguh, pesakitan dan berdesakan
Sama-sama menanti kabar baik,
Perang yang berakhir,
Ramai-ramai menyalakan api
Menolak berita duka
Menyeka air mata

12 Oktober 2019



Perihal Kepulangan

Aku tidak ingin pulang,
Dengan lamun,
Dan bertemu patung-patung
Yang bergelantungan disepanjang pohon besi,
Yang hanya akan sadar
Dari teguran lampu petromax

Aku tidak ingin pulang,
Dengan cemas,
Akan rasa lunglai yang menjalar
Dari alis yang tipis,
Hidung yang tak beranjak
Dari bayang-bayang khayangan

Aku tidak ingin pulang,
Dengan rasa kalut,
Lalu takut yang berbunga-bunga,
Mirip picisan receh yang cuma-cuma
Bergelut dengan gincu dan cumbu

Aku tidak ingin pulang,
Dengan rindu,
Karena rindu takkan lagi disambut oleh petang,
Sudah tak punya tempat di tiap sudut ruang,
Tidak ada nyali di tiap jengkal kenang.

Aku hanya ingin berpulang,
Tinggal tuk meninggal.

23 Februari 2019



Menjinjing Masa Lalu

Kujahit rasa pahit
Kusulam masa kelam
Entah dimana kan berhenti parit
Karena malam sudah terlanjur padam

Kuselam langit kosmik
Kutanggung awan cabik
Yang mengandung tanda tanya besar
Sampai mana kan berserah rasa gusar

Kupijak tanah gembur
Kupegang lamunan kabur
Menjinjing masa lalu
Menjunjung harapan pilu

9 Agustus 2019



Kamar Gelap

Hari ini aku mengecat
Kamarku yang putih,
Wajahku yang pucat,
Senyumku yang palsu,
Dengan cat warna gelap kelabu

Sejuntai kelabu yang bau
Sejuta haru yang baru
Bekas noda-noda yang tabu
Lekas ku koyak tanpa ragu

Kotoran pada dinding yang miring
Kau bisa bilang;
Air mata yang penuh tanda tanya,
Air ludah yang penuh tanda seru,
Air kencing yang penuh tanda kutip

Bersama warna gelap kelabu
Aku harap bisa menenggelamkan diri
Ke dalamnya
Dan menjadi abu
Surat bisu untuk kekasihku

22 September 2020



Pada Sebuah Pekarangan

Menggali tubuhku
Di pekarangan rumah yang penuh lumpur
Di dapur,
Panci berisi lumpur sudah mendidih
Begitupula bapak dan ibu di ruang tamu
Menyeduh kopi
Membiarkan api
Membakar dapur
Mereka sengaja membenamkan aku di pekarangan
Meninggalkan segelas air
Mewariskan segenggam tanah

 “Kami tak sengaja menanam kamu”

Aku tenggelam di dalam pekaranganku
Api sudah di ruang tamu.

22 September 2020




====================
Ida Bagus Uttarayana Rake Sandjaja, biasa dipanggil Uta. Lahir di Singaraja, 24 Maret 1996. Menghabiskan masa kecilnya di Madiun. Sekarang berdomisili di Bandung. Bersama beberapa kawan mendirikan Teater Titik Universitas Telkom pada tahun 2014. Sekarang aktif di Teater Samana, sebuah kelompok teater independen yang diprakarsai pada tahun 2019. Beberapa puisinya termuat di media daring seperti Penakota.id. Puisinya yang berjudul “Pada Malam Yang Tinggal Separuh” terpilih dan dimuat dalam buku antologi Narasi Baru, Festival Literasi Tangerang Selatan 2018. Pada tahun 2021 nanti, salah satu puisinya yang berjudul “Di Pasar Ria” akan diterbitkan dalam sebuah antologi puisi oleh Jaringan Perempuan Indonesia Timur.

Seribu Tahun Lagi

0
@Muhary Wahyu Nurba

Menuju Baka

larik masa melibas diri
batin-batin masih disemat kemalangan
puji sukur sering kali dipalingkan

saban pagi ayam tak bosan bersuling
menggaduh insan bertempur melawan muson
muson yang bermain kucing-kucingan
ingatkan jiwa pada pusaran tumpuan Tuhan

kembalikan diri pada pucuk hari
tak lagi bercabang tunas penghidupan baru
jamah dunia beribu tanya
akhir lakuan segala-galanya

satu persatu malaikat melayat hati
mengalfakan hembusan udara di bumi
tunaikan ibadat penembus hutang piutang

jika tak lunas
barangkali musuh yang bergayut di telinga kiri
mampu menambal kebolongan
damai perseteruan dari jelmaan pinjaman perangai
yang tak sadar terjantur dari bisikan iblis

Bayang, 2020






Rinai Siang Hari

ialah jarum yang menusuk ubun-ubun
berderai pecah di atas jajaran para nasib
menguntai pesan singkat dari Tuhan
membelai kemarau dari daun yang berguguran

tak mengantuk Tuhan memantau jiwa-jiwa
namun umpatan sering kali dilayangkan
seakan rasa sukur telah hangus dibakar waktu

terlupa pada sayatan pepatah;
umpat tak membunuh
puji tak mengenyang

sesekali Tuhan kerap menjadi korban
dari lidah yang tak santing bersilat
membungkam nikmat kun fayakun

alangkah lama kepikunan bersemadi
dalam kolong sanubari yang bersauh dosa-dosa
hingga setitik rinai ditumpahkan Tuhan
menjadi dalang kumungkaran

Bayang, 2020






Tamu

di dalam sela retak masa lampau
aku mengundang tamu tak dikenal
menjamu sesembahan hati
yang lalu sempat digores pisau

jikalau hati yang menggigil kedinginan
tamu itu bagai selimut tebal penghangat
alirkan kembali darah beku

diri yang ringkih terlena pigura
dari mata itu mengayun lukisan
memperdaya keindahan terbelakang

seolah ia hadir menanamkan benih subur
palingkan semua sendu yang sempat dulu
yakinkan hati kerap diterjang
oleh raga baru yang mengetuk pintu

Bayang, 2020






Khianat

aku adalah sisa-sisa pengkhianatan
dari musim subur sejemang gugur
kemarau dan banjir pun bagai angin lalu
lupakan segala kenang-kenang

sempat segala musim itu bersarang
pada satu wadah, di sampingnya hati jantung
dan pada khayalnya: cinta dunia

namun dua kata itu tak berguna
semua tak melepas dari sia-sia
khianat dan dusta
bagai singgasana dan tahta

Bayang, 2020






Jemawa Cinta di Ranah Kelahiran

perselisihan itu mendorongku
meninggalkan segala rumpun jiwa
dari kasta yang membocori atap rumah

kasih, lewat sajak yang tak berarti ini
ia akan menjadi saksi cakap angin
yang keluar dari jendela rahang
membadai pada relung hati

di tanah nan kutumpangi dulu
sering kali kenyataan menutup akal
dari penjabaran makna nyata
bahwa tahta sesungguhnya
tersirat pada takdir Tuhan

yang kini nampak di matamu
aku menumpang kemiskinan dunia
menitip kaya cinta di lorong-lorong sanubari
namun lebur dengan perbedaan
pada darah, biru merah

Bayang, 2020






Menyongsong Kematian

Di bawah bayang-bayang bulan dengkur burung hantu berbisik mencari kawan, tersemat pada telapak kaki kutepiskan sembari menghidu aroma tikai-tikai kematian. Hentak tapak maut mengguntur, mengetuk-ngetuk pintu jasad menebar aroma melati begitu pesat.

Acap kali ketukan pintu menyapa, namun hati tiada pana dan aku tak pandai menjawabnya. Secercah bekalku terkatung-katung pada angin yang menyeret keluar dari naung dan cahaya tak dapat kubergelut dalam palung.

Ratapku terharu pilu, semua sombong tersokong pada elegi masa lalu. Panggilkan Tuhan agar menghapus semua seru, aku masih terkatung di ujung pintu yang tak lihai keluar masuk sesuai tuju.

Secuil pahala melilit diri mustahil bila dapat kucarah dan kubagi. Enggan meluput pada rumpun hati yang menyimpan ribuan amunisi sempat kutaruh dalam sanubari.

Bawakanlah zam-zam menghujaniku dalam gelut sahara yang membenam pada selimut-selimut temaram, sebab waktu tengah menggertakku menyongsong kematian

Bayang, 2020






Waktuku

pada saat-saat sering
aku lagi-lagi berencana pada nanti
dengan waktu-waktu yang belum kutempuh
waktu yang menggelepar dalam pelukku
di sekujur umur yang menjamah nafasku

pada saat-saat sering
aku telah menjenguk kematian yang belum itu
dalam derai-derai penanggungan

namun jika memang tiba waktuku
yang sebenarnya waktu
ingin kuputar seribu tahun lagi
agar aku bisa merajai waktu demi waktu

Bayang, 2020






Memahat Sajak Dunia

aku masih berkelana di atas bumi yang orang kata fana
mencari jati diri melalui ukiran sajak yang kupahat sendiri
terkilan masa menggurui takdir yang diberi Tuhan
agar seluk beluk jembatan dunia menuju baka lihai kujajah
tanpa terseok mencumbui jurangnya

lagi-lagi itu hanya kata-kata yang mesik
tertipu mentari panas dingin bermandikan rinai
memberikan penyakit di antara debat hujan dan kemarau
yang berpacu mengejar tahta

terkadang keegoisan alam mengkhianati doa-doa manusia
yang hanya menumpang hidup
seketika mereka ikut mati bersama manusia
yang ingin kekal hidup bersama ribuan singgasana

hanya dua problema dari makhluk ciptaan Tuhan;
meminta mati dan mengemis kekal
sebab takut bernostalgia bersama malaikat
untuk mengkaji kisah lusuh dunia

Bayang, 2020

====================

Chalvin Pratama Putra, lahir 30 April 1998 di Bayang, Pantai Barat Sumatera (Pesisir Selatan). Merupakan anggota Sastra Bumi Mandeh (SBM), dan aktif mengelola Rumah Baca Pelopor 19. Menulis puisi, esai dan cerpen sudah dimuat di beberapa media. Tergabung dalam antologi penerbitan puisi bersama.

Yang Datang dan yang Pergi

0

Demi Waktu

demi waktu. aku meminta kekasihku jauhkan dari air mata
setiap kepulangan dari perantauan ia selalu ke taman kenangan
membawa air mata dan aku tak sanggup melihatnya
yang berkelebihan tak bisa dihadiahkan dengan kebahagiaan

Gili Raja, 2020



Hujan Kata-kata

hujan kata-kata membuat daun dada berbunga
lalu, kata-kata siapa yang kau petik
hingga aku dingin dalam kelopak bunga
yang tak ingin luka di waktu nyala

hujan mana yang kau turunkan
sebab yang terjadi kelopak jadi layu
dari sekian lama kau bertandang
daun-daun pun menetes

lebih baiknya tak ada hujan
dari pada hujan yang tak pasti
hanya menumbuhkan tanaman yang akan mati

Gili raja, 2020

Dari Awal Tumbuh

tak mengenal segala mana, hanya tahu sebuah nyawa
melihat lambaian-lambaian di sekitar
yang diterpa angin lenggak lenggok kanan-kiri
bahagia seperti menari-nari, lalu patah

melihat tumbuhan di sekitar kebun ada yang menyiram
semakin lama semakin pula tumbuh dan berbunga
bermain-main dengan angin yang membuat orang-orang
bisa dingin, lambaian jendela daun aku suka ia berdoa

lalu angin pergi datang hujan membawa kesakitan
yang berawal dari kebahagiaan lalu pergi
datang matahari yang membawa kehangatan
dari suatu kesakitan, lalu terbenamlah matahari

aku pohon yang sejak tumbuh tak mengenal apa
aku pohon yang mencoba bermain yang pernah
dimainkan oleh tetangga bermain dengan hujan
angin, matahari, dan kegalauan alam
hingga aku pohon yang lupa waktu

pada hujan aku diajari tentang kedinginan
pada angin aku diajari tentang merasakan sakit dari patah
pada matahari aku merasakan panas, pada kegalauan alam
aku diajari untuk merasakan ke tidak persahabatan
antara alam dan aku,
aku pohon yang merasakan segala jejak perjalanan
yang menyakitkan berkepanjangan.

Gili raja, 2020



Ikuti Saja Alurnya

meski yang kujalani dua jalur
kau tak usah risau dengan pecah ingatan
yakini saja tahap-tahap apa yang menjadi impian
jika ada pertanyaan seperti ini;
“kau berjalan di tubuhku untuk apa?”
untuk melihat seberapakah kekuatannya
di sana pula ada suasana dengan rias bunga

seumpama di antara dua jalur
ada salah satu yang patah
di sana ia tak sampai pada harumnya kembang
aku tak akan memilih satu dari keduanya
jika itu terjadi barangkali aku diberikan kehancuran
lantas seakan-akan aku mencari kecantikan
di antara keduanya jika ada akan kubawa

tidak, aku tak selayak itu dan belas kasihan itu ada
aku hanya memilih siapa yang paling kuat
di antara keduanya dan siapa yang paling lemah
di antara keduanya
kuat ia akan selamanya bersamaku
lemah ia hanya mencicipi kebanggaan pahit kemudian

jika di antara keduanya sama-sama kuat
akan kujalani dengan jatah satu malam-satu malam
agar ada kesamaan antara keduanya
di situ pula tak ada pertengkaran bersama

Gili raja, 2020




Membuka Jendela

aku mencoba membuka jendela hati
segala sesuatu yang datang dan yang pergi

di musim hujan angin-angin menguntai
hujan pun datang membawa rinai hujan
lalu menepi pada jendela hati
angin datang dengan sejuk mawar
menjadi suasana seperti orang bercinta

di musim matahari datanglah sinar yang menyinari
ruang hati, memantulkan bayang-bayang sunyi
tapi lama-kelamaan membuat jendela nyeri

antara musim hujan dan matahari sebuah peristiwa
yang mengajari sakit pada jendela
yang bersungguh-sungguh membuka tanpa jeda.

Gili raja, 2020



Sebagai Malam

kasih jika malam membawaku sempurna
aku tak butuh bayang-bayang di waktu siang.
Sebelum ufuk jadi suasana warna tinta
aku ingin berkata dengan umpama;
sudah nyata waktu malam, tapi tanpa bintang dan rembulan
akan tetap dinamakan malam
tak akan dikatakan suasana siang

kasih aku sebagai malam agar kau paham.

Gili raja, 2020






====================
En Aang MZ, lahir 18-05-2001 di Pulau Gili Raja Sumenep. Kuliah di IAIN Jember, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Alumni  Nurul Huda II, dan PP. Annuqayah daerah Lubangsa Selatan. Antologi puisinya adalah Rahasia rasa publisher (2019) janji senja JSI, (2019), Pena artas (2019), Jejak rasa di ruang jiwa (komunitas antologi sastra) 2020, Karya-karyanya terbit di media online maupun cetak yaitu: Nusantaranews, Takanta, Simalaba, Travesia, Apajake, Sukma, Mbludus, Serikatnews, Kancahmedia, Puisipedia, Nalarpolitik, Malangpost. Pernah bergiat di Sanggar Basmalah.

Aku, Kamu dan Riuh Angin

0
@Muhary Wahyu Nurba

Di Kolam Mimpi

Di tepian kolam, kita jaring matahari
sudut mata ikan, menatap jalang
pikiran kita memang terlalu sempit
ikan menggelepar, menanti kematiannya
sebab ikan itu, tak pernah tau
jejak siang dan malam
maka, mati itu
adalah lebih terhormat, disantap dan dihidangkan
cerita panjang, berkali-kali dihangatkan
sambal ikan teri, berhari-hari menari di wajan panas

Pada pengkolan jalan,
sering kita menatap takdir
menghitung gelisah
antara baik dan buruk
itu hitungan matematika kita
sementara perut-perut lapar
berteriak merdeka, meski di luar
derita panjang juga ikut antri
kumuh dan kusam, potret lama
karena peninggalan garis silsilah
hanya sebuah batas
untuk dituangkan dalam riwayat
yang kadang terpajang hingga kutub

Hari esok,
mungkin harga lombok melambung
meski balon yang ditiupkan hanya sebatas
kaki langit dan kembali jatuh ke tanah
seperti cerita para sesepuh
kita tak pernah menjadi pintar
jika tak pernah merasakan pedasnya sambal

Esok, memang masih panjang
entah kapan berhenti
dan apakah kita mampu menghentikannya
selain para pendemo
yang tak henti-hentinya berteriak
turunkan harga
mungkin karena terlalu lama berdiam diri
di ruang sepi, dan ikan teri
sudah bosan berenang
di kolam-kolam mimpi

Malang – 2020




Dongeng Laut

Terpaksa aku menenggelamkan mimpiku
Bidukku begitu letih dan penat
Keringat di tubuhnya menjadi kristal garam
begitu asin, sangat asin
Jika boleh kusarankan padamu
tidak perlu engkau mengais garam di laut
akan kusobek-sobek tubuhku
untuk menggarami laut hatimu, yang tawar

Di selembar resah dan gelisah
badai menukik batinku
hingga harus kurumuskan waktu
di tarian duka, dan morfem lidahku beku
adalah waktu telah menyeduh lisan
di tubuh puisi, yang kuramu menjadi suguhan
semantik kata, yang ‘kau baca pada cerita novel
dan sepasang matahari bergegas
mengibaskan lembaran baru
ketika ombak tak lagi pasang

Masih adakah payau mengalir
di tepian muara, tempat kutambatkan rakit
setelah suara, tak lagi mengerti muasalnya
Pulang bermandikan garam, membawa pesan
bahwa resah itu telah menyatu duka
di perapian kompor
melebur luka, menyatukan aroma
pada wajan yang merindukan
kenikmatan membaca sajak-sajak
tentang kesetiaan, yang belum kita garami
di hidangan mimpi

Malang – 2020



Hopeless

peradaban yang kita baca adalah sinar yang masih tertinggal
di selintas morfem
melesakkan kata-kata yang telah terucapkan
di bibir angan-angan, yang karena kecintaan abadi
meninggalkan batas waktu
hingga angin mendera, berselimut mantera jalanan
lalu kita tidur nyenyak dengan segenap dusta,
yang mungkin esok akan terlahir kembali dan terbeli
dengan penggalan-penggalan morfem
yang menyatukan definisi-definisi pikiran terpenjara masa

kita bebaskan rindu, saat gelisah terlalu sesak
berhimpitan di jalanan yang penuh polusi
sandarkan lukisan yang membekap seluruh nalar
di ujung mata, hanya desis tersisa
memaku jalan, tak semudah menyenandungkan nyanyian rindu
karena cinta memang tercipta dari dua sisi yang tak pernah terurai

Malang – 2020



Hitam dan Putih

tidak lagi pelarian ini, adalah luka
menganga di setiap sudut mata
membekap resah, seperti nyanyian pesakitan
terantuk di tebing siksa
telatah angin jadi puting keraguan
kemana harus membenarkan diri

adalah seputih sinar, menyapa lembut
mengiris cahaya, hilangkan debu masa lalu
aku, kamu dan riuh angin
merekat dari impian yang salah
jauh berkelana, menyibak puisi diam
dan di kelokan jalan, menadah rindu dari gemerlap lampu jalanan

mari kita buang kelamnya mata
berabad-abad memenjarakan pikiran
menuangkan rindu di secawan kearifan
ketika barat tak akan pernah menyapa timur
hitam, yang tak akan pernah menjadi indah, saat putih berpaling
dan malam tak akan pernah redup, jika siang tak menyapa matahari
adalah dua sisi, tak akan pernah saling menyakiti
sepasang kebaikan lahir dari rahim kejahatan
meski sajak terus berlari dalam keangkuhan dan kebodohannya

tuan dan nyonya, adakah yang lebih berharga dari pikiran kita
selain memuisikan waktu
yang selalu membangun peradaban baru
ketika kemarin tak akan bisa tertulis dalam catatan esok

Malang – 2020










Menulis Daun
: untuk kawanku Agustina Thamrin

secangkir rasa ‘kau tuangkan
di gelas mimpi yang kita sudahi
tak ada pilihan selain pulang
jalan pun penuh kabut, melekat erat di tatapanku
terhuyung-huyung menuju museum baru

kita sering menjadi pecundang jalan
jarak yang terukur kata-kata
ringkas, tak serumit pikiran
penuh morfem dan sintaksis
karena itulah jiwa kata-kata kita
yang merepih sinar, terbaca lampu-lampu jalanan
penuh ingkar dalam ketidaktahuannya

di selembar musim
kita menanam bunga-bunga kenangan
menggaris jejak ketika kemarau dan hujan
saling melempar diri
engkau rimbun, aku terkulai layu
aku menguncupkan aroma bunga
tubuhmu menggigil, menguning diri
dan berpapasan di simpang jalan
entah itu menuju tanah-tanah duka
atau nyanyian alam semakin merdu
kita tetap saja sama

pertikaian daun, lahir dari rahim tanah dan langit
kita tuangkan di selembar zaman
penuh gelisah dan rindu
dua mata yang kita sisipkan pada warna daun

Malang – 2020




Ketakutan

aku ingin memapas ombak seperti riuh laut melantunkan dirinya
menerka bahasa-bahasa ikan, yang kudengar dari gemuruh air
siripnya begitu kokoh meliuk,
seakan mengajarkan bagaimana perahu harus berlayar
entah apa yang terbaring di dasar laut, keindahan rumput laut
tak pernah tidur,
batu dan tanah mengukir lukisan laut
mulutku terkatup, hanya napas yang bersentuhan angin,
mendera dalam sajak-sajak kecil, tak bermakna
cahaya pun memantul di bening air, di ujung ufuk menjaring puisiku
diam terkesima, ingin menjangkau langit yang tak pernah mampu kuhitung jaraknya

disini, di gelombang laut kucoba memulai hidup
meski hanya sepi yang menemaniku
tetapi kutahu, perahu telah mengajarkan agar aku mampu
membuang rasa bimbang
karena layar selalu menjadi napas bagi perahu
meski suatu saat akan karam

puisiku terhenyak membaca sepi
di dalamnya sepasang ilalang memendam rindu
aku tak pernah menyandarkan perahu, saat musim beranjak
tubuhku hanyut di larung ombak
seusai hujan garis-garis sajakku menggigil dalam duka panjang

Malang – 2020




Di Peradaban Cinta

masihkah getar ini mengalun di ingatanmu
ataukah harus kusimpan pada tungku api
agar terus membara,
melagukan nyanyian rindu

semerbak bulgari di sekujur tubuhmu
seperti sebuah epilog drama asmara
terus mengejar penciumanku
dan menikam pikiranku

adalah sepasang merpati
di kejauhan atap rumah
menatap kegelisahanku
dan berkelakar dengan bahasanya

kita tuangkan morfem, kata-kata yang mengikat
di selembar ingatan, pikiran tak mampu meramu
dan di bulir pembatasan, gerak kita hampa
tak ada semantik, puisi pun meninggalkan diksi
relung-relung jiwa, menatap dengan kesabarannya
sungguh, sangat melankolis
lisan mematikan gairah
tembok-tembok berdiri tegar, berbaris
mengharuskan kita menyayat asmara
di antara sabda cinta yang belum dilantunkan malaikat

ah, cinta itu sepasang noda
menyulam rindu dan gelisah
di pembaringan waktu
untuk mengajarkan kita
bahwa rindu adalah debu masa lalu
hanya seonggok kenangan duka
hanya sebait luka usang yang
mengingkari peradaban

Malang – 2020




===================
Vito Prasetyo dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Menulis cerpen, puisi, esai, Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa media, antara lain: Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Republika, Suara Karya, Lombok Post, Magrib.id, Haluan, Travesia.co.id, dan Harian Ekspres Malaysia. Termaktub dalam Buku Apa Dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Penyair yang pernah kuliah di IKIP Makassar, ini kini menetap di Malang, Jawa Tengah. Buku Kumpulan Puisinya yang telah terbit, Biarkanlah Langit Berbicara  (2017), dan Sajak Kematian (2017).

Yang Lebih Sunyi dari Sunyi

1


Hikayat Pemburu Jerung

-F. Agus Tiono

1/
Ia telah mencium asin sisik jerung
Tak ada amuk laut yang sanggup lolos
dari bidik tombak mata randu
juga tari-tari ikan jerung yang kawin
di laut jauh

Bila tombak mata randunya telah menyanyi
Pertanda kemenangan yang gemilang
meledak-ledak di kampung; di meja-meja
yang tak mengerti bahasa

2/
Mungkin hanya ia yang mengerti
mengapa nelayan di kampung makin sedikit
Jala disimpan, baju di kemas, lalu ke kota
Karena siapa yang akan menelusuri sejarah
di tubuh seekor ikan yang terpanggang?

”Laut hanya jalan tanpa lajur,” katanya.

Sebelum cerita kepahlawanan berhenti
mendengung di lapak-lapak tuak
Laut akan sesepi kubur batu
Cerita di balik asin tongkol, kerapu, karang
Hanya bisik-bisik di batin sembahyang pemburu

3/
Hanya ia yang mengerti mengapa
melaut adalah perjalanan sunyi

”Apa yang lebih sunyi dari sunyi?”
Tak berjawab kecuali suara angin
dibelah tombak mata randu ke jantung laut
Saat tak nampak alir darah jerung ke permukaan
Hanya ia yang tahu

: waktu terbaik untuk pergi ke kota

Angke, 2020




Lagu Jeda untuk Kekasihmu

aku akan hidup di tubuh kekasihmu
kucintai aroma kembang di dadanya
bila kutuk kebo kemale terikat erat
aku ingin kau mati tanpa diminta

jangan mengusikku, aku adalah dirimu
yang culas;
nafsumu yang panas

lewat bintik-bintik merah di pipi kekasihmu
aku akan jadi nyala api, penuh gemeletak
kayu di hangat perhawuan
karena pengantin yang cemas
adalah kayu kering
(sebaik-baik tempat sembahyang)

bila sisih kapat tiba
telah kubangun huma di keningnya
aku butuh matamu untuk kerlip lelampu
juga ikal rambut sepasang kekasih
di masa langit hujan cahaya

aku ingin kau tak menangis
sebab aku dan kekasihmu adalah penari
yang kondang di lereng gunung welirang

tak perlu bersedih
aku adalah biji doa yang kurang ajar
tumbuh di tanah gambut

jangan! jangan coba menerkaku
aku bukan buruk muka gatholoco;
penguji keimanan yang getas
lengkapi saja tarianku dan kekasihmu
dengan kematianmu
sekali lagi

sehabis malam berlesatan
dan ning menetes sepi, kau akan tahu
apa-siapa jarak dan namaku yang sebenarnya

Jakarta, 2019-2020




Tidur Putih
-Indra Saragih

Bagaimana rasanya menjual saraf tidur
ke persekongkolan bangsa-bangsa?

Sebuah plakat kau gantung di dinding
Sejak saat itu malam jadi tak biasa
Aku bisa mengerti mengapa ingatan
kau bimbing di antara kebun-kebun cabai
dan cinta yang tak kau tahu di mana ujungnya
mengajarimu tidur dalam keadaan buta

Aku bisa mengerti mengapa tidur putih
masa kecil itu kau tangisi sampai sekarat
Sebuah plakat bergambar topeng bali
adalah jalan lurus yang menuntun
orang-orang kampung belajar berdusta

Apa guna saraf tidurmu
dan persekongkolan bangsa-bangsa
Untuk apa?

Jakarta, 2020




Muslihat Gunung

jangan membakarku dalam sekali panggang
kasihani aku

: kayu-kayu basah dari ranting pohon mati

“kau ingin mati dengan cara apa?”
tanya bibir pedasmu di suatu ketika

maafkan! aku hanya bukit di punggung arjuna
yang penuh jalan setapak penyesat;
muslihat pemburu agar bibirmu terkunci
di padang lalang

dalam halimun, kupotong arah
di alas lali jiwo
aku akan mencegat dan menguncimu
agar kembali memanggangku
dalam sekali kecupan

bila kau bertemu jalan pulang
aku bukan lagi ranting pohon mati
aku jalan menurun
yang sabar menerima hujan
tangis dari setiap kehilangan

“kau ingin berpisah dengan cara apa?”

tak ada penjelasan
tak perlu dijelaskan

Jakarta, 2020



Cerita dari Bilik Perbatasan

dzat kita menyatu 
sejengkal jarak dari pertemuan batin 
yang kemalaman. tubuh-jantung
menepi dari jatuh cinta; mengungsi
seperti luka perang saudara 

desahmu ngelangut. telanjang
kota-kota yang tak punya pulang
dan tidur siang yang sebentar

mimpi akan akan ditenun dari kulit debu
dilumasi keringat popor senapan
saat kemarahan mengeras

      semiotika macam apa yang mampu
     mengeja kesunyian dadamu
     yang bantal?

Sakit kepala ini, sayang
yang mengantar anak-anak kita yang tiada;
cinta yang pergi tanpa aba-aba
ketika tiada tubuhku di bilikmu
apa kau ingat caramu mengajariku
menjahit tubuh kita dengan melankolia

Jakarta, 2019


=====================
Citra D. Vresti Trisna, lahir di Surabaya. Kini tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai jurnalis. Selain itu, ia juga menulis puisi, cerpen dan esai. Buku terbarunya yang baru saja terbit, Catatan Masyarakat Goa.

Semesta Debar Dalam Dada

0


Burung Foniks

: terilhami karakter tokoh manga one piece, marco.

mungkin aku telah dikutuk venus di masa lalu
menjadi burung foniks yang mencintaimu

tercipta bukan dari tanah suku
melainkan berulang bangkit dari abu

dan semenjak dilepas seorang pengarang
di dadamu yang bidang kubuat sarang

sebab tak ada jalan bagiku pulang
selain hanya patuh simbol dan lambang

maka aku terbang di luar ruang-waktu
tiap rindu sayap kukepak melipat penjuru

lalu maukah kau pergi denganku
menghuni mitos yang nyata itu?

2020




Mulut yang Pandai

Menyembunyikan Suara

–kepada akila.

mulut kita
terlalu pandai menyembunyikan suara
di dalam angin, di tebal halimun,
atau di dalam besek pecel
yang dijajakan itu
hingga diri kita lupa bertanya
di kedalaman telaga itu tersimpan apa

aku ingin memberitahumu
di dadaku ada sebuah kota kecil
yang sedang membangun peradabannya kembali
setelah hancur berkeping di masa lalu
andai kau mau menjadi ratu

mungkin,
kau juga ingin bercerita hal lain
tentang penyair yang payah membuat syair
atau pengamen dan gelandangan
yang diusir dari sebuah rumah makan

tetapi mulut kita
terlalu pandai menyembunyikan suara
hingga sekian waktu kita habiskan
dengan tak satu pun kata-kata
dan lebih khusyuk menyimak

semesta debar dalam dada

2020



Kepada Siapa 

Dewasaku Berkaca?

dan setelah semua kegagalan yang
kulalui ini, kepada siapa dewasaku berkaca?
bapak? bukan. bapak adalah seorang yang prigel
wajahnya seperti cahaya yang memancarkan firman taala
sedangkan ibu, adalah seorang yang pandai matematika
menghitung apa pun menggunakan rumus rugi-laba
yang hasilnya selalu sama dengan dosa & pahala

lalu, kepada siapa dewasaku berkaca?
simbah kakung? bukan. betapa bodoh diriku
menyejajarkan kunang-kunang dengan lampu
|siapa pun tahu mana yang lebih terang
di ruangan gelap itu. apakah uti? ah,
uti adalah seorang ahli suluk
pahala seperti ingin ia keruk

kemudian setelah semua kegagalan yang
kulalui ini, kepada siapa dewasaku berkaca?

Mataku hanya mengembara keluar jendela
berharap menemukan sesuatu di jauh sana

tetapi selain menyisakan perenung & sunyi
rahasia & teka-teki, malam yang kujadikan kaca|
tak bersedia
memantulkan apa-apa

2020




Peluru waktu

mengapa masih ongkang-ongkang,
wahai saudaraku?

Negeri ini kenyang perang
nasi telah disabda jadi pedang
petani menanam ranjau di sawah-sawah
mengairinya dengan darah

pemuda membantai ahli syair
sebab kata-kata dan cinta
nyatanya tak lebih memabukkan
ketimbang anggur dan bir

dan lihat! tak ada lagi yang ditakutkan
kebaikan adalah kebalikan|
mereka hanya saleh di unggahan
tetapi sembahyang di perempatan
menggibah dan begadang

ayat & sabda sebatas sampul nasi bungkus
hampir seperti tisu di kakus-kakus
mitofobia dihapus dari kamus
bicara pahala dianggap mengada-ada

o, mengapa masih ongkang-ongkang,
wahai saudaraku?

Betapa waktu sedang memburumu
seperti peluru!

2020

=========================
Fuaddin A, penulis (sementara ini) adalah pengikut manga One Piece yang mengaku santri. Penyuka gado-gado, burkajo, dan AS Roma. Bergiat di komunitas sastra Langit Malam dan menulis di sejumlah antologi puisi. Kumpulan puisi tunggalnya: Tempat Sunyi untuk Mengembara Seorang Diri (Kuncup, 2020). Berdomisili di Bulupayung, Karangwaluh, Sampung, Ponorogo.

Terbaru

Berdiam di Bumi Penuh Janji

Epitaf Musim Kilau kala miris terbataBarangkali diam di malamEntah, entah apa sebab doa Pulang, diam, bersuara,dekat...

Zikir Para Pendosa

Mencari Karya yang Problematis

Menerbangkan Perahu

Dari Redaksi

Kembara Senyap

Iblis Betina