Puncak Gairah Musim

Maut Seperti Cintamu

Menanti Kau Mekar, Suatu Hari

Setipis Malam dan Sunyi

Puisi

Home Puisi

Kata Kata Membelah Diri

1




Sejenak Menepi

aku berduka cita atas keriuhan kemarin
ketika jalan jalan penuh dengan orang tergesa
menjerat ranum dunia
dan nyaris kehilangan dirinya
yang tertinggal di balik lesap bayang
alibi pencarian sebuah riwayat

aku bersuka cita atas terbitnya lengang
yang mengulurkan jarak pandang
hingga orang orang pulang ke rumah
menyusur kembali ceruk silam
yang berdetak begitu tenang
membaca rindang masa kanak
buat berteduh menganggit riungan riang

aku mencarimu dan engkau pun mencariku
menembus sirat fantasi
yang melekap di gugusan 
jentera rapuh hari dan tafsir nyeri

kita hanyalah bagian dari kesementaraan 
yang bermabuk mimpi di kenap perjumpaan
dan gandrung untuk menjadi kekal

lalu apa yang tersisa
dan tereja akhirnya
bukan perihal kata kata
dan bukan lagi tentang nama

Bekasi, 2020 





Mencari Kata

di rumahnya yang sederhana 
tak kutemui kata kata
barangkali mereka tengah kelayapan 
ke masa depan, mengisi liburan

2019





Cahaya Kata

sebuah judul seperti kepala
ditopang larik larik
menjadi tubuh yang tegak 
menunggu tamu di sebuah halaman

koran, buku atau majalah 
yang menjadi jelajah permainan
meski tak pernah benar benar ramai 
tetapi selalu saja ada kegenitan menguar
dari tafsir yang mengunggah andai

mengapa mesti ada
pertanyaan yang begitu nyata
pada kenyataan yang penuh tanya

seperti biasa pula
tak pernah ada jawaban yang sempurna
dari kerisauan frasa 
bukankah memang tak pernah tetap dan tepat
singkapan rasa dari rahasia

bait bait menyusun otot yang kuat
menahan berbagai remasan sakit
juga sekelumit tumpasan pahit

lalu kalimat kalimat merawat bermacam alamat
yang diucapkan oleh pemberi tanda
meski kadang diseling suar senda
bergilir mengalir begitu biasa 
tak saling berebut untuk memilih di muka

kata kata pada sajak sederhana 
mengarus berjela memburakan cahaya
seperti dada setengah terbuka

2019





Mengenal Puisi

mengenalmu 
aku dikembalikan lagi
pada sepi yang pemalu
dan acap ragu

kutanya tentang kecemasan
tetapi kau tertawa setengah tertahan
katamu, kita adalah penyintas rahasia
dari kesedihan yang kerap jenaka

biarlah waktu bergegas melesat tua
sementara kita 
tetap pejalan lambat
yang selalu remaja

2019





Bisikan Puisi

pada apa yang kuangankan
puisi puisi itu seperti berkata:
nanti engkau juga akan sampai di sana
percaya padaku, aku akan menerbangkanmu
ke ranah ranah yang telah mendegubkan rahasia
di jantungmu

2019





Ke Dalam Puisi

malam setengah purnama
aku bermain petak umpet
bersama teman temanku yang bernama gembira

mereka menyebar mencari posisi aman
agar tak mudah diketahui
oleh yang tengah berjaga
sepintas ada sepoi angin yang sepi 
dari sebuah celah mirip gua 
yang sepertinya nyaman untuk bersembunyi
dan dengan diam diam kumasuki

teman temanku bersahutan memanggilku
terbayang usilnya mereka padaku selama ini
aku tekun terpekur sendiri

kucari jalan masuk yang tadi untuk keluar
tetapi tak kudapati pada semua sisi
sekelilingku menjadi sekat tembus pandang
tatapanku tersangkut pada bayang

siapa yang bisa mengeluarkanku

dari genggaman rahasia puisi ini
ternyata engkau pun tak kuasa 
bahkan cuma bisa memandangku saja

2019




Saat Di Dalam Puisi

aku berjalan sendiri
pada sebuah dunia 
yang kerap tak terpahami

tiba tiba kau muncul
entah lewat celah mana 
sedangkan selaput meliput ruang

“mengapa engkau di sini
aku sedang mencari jalan keluar”

“lebih enak di sini
di luar makin banyak manusia yang terancam
oleh mereka yang mengaku manusia”

“nanti akan banyak yang bermigrasi ke sini
mari kita nikmati kopi
di ruang yang tak pernah benderang
tempat kita mengekalkan 
segala percakapan
dalam santai pertemuan
masa lalu dan masa depan”

2019





Dari Pemeluk Puisi

kepadanya telah kusampaikan 
kecemasan waktu yang kerap kauigaukan
dalam berbagai gugusan gagu

ia tahu tentang kecamuk cuaca
yang kadang meremukkan inginmu
meski angin tak sedang bekerja

bukankah keganjilan bermula
dari gegap ritus api meronta
menggosongkan tahun tahun berjela

sengkarut tafsir bertabrakan di udara
berjatuhan kata kata lalu membelah diri
dan masing masing menyebar arti

memang ada sebagian menjadi lagu
meskipun tetap saja memuat birama ragu
siapa menduga lirik acap berpura pura

tak ada yang pernah selesai menandai
pada berbagai pengejaran bayang bayang

lalu masing masing pulang ke palung sunyi

2019





==================
Budhi Setyawan, atau’Buset’, kelahiran Purworejo, 9 Agustus 1969. Pencinta musik dan puisi. Mengelola Forum Sastra Bekasi (FSB) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Buku puisi terbarunya Mazhab Sunyi (2019). Saat ini tinggal di kota Bekasi, Jawa Barat.  

Bergerak Bersama Nyala Api

0




Dalam Ruang Baca Tubuhku

Di bilik waktu, jantung riwayatku terurai ringkas
sementara letupan samar dari katalog rasa sakit
mengisi ruang kosong di antara baris doa pendek
dan buku harian bergambar pohon ek.

Kucari persamaan yang menautkan impuls
dan kabar jalan penglihatan, tapi tak ada
sebuah petunjuk pun, selain seseorang
telah memungut masa laluku dari genangan
semata kaki di depan kenangan lisannya.

Ia teringat pertanyaan perihal kecepatan peluru
dan sebuah balok tak berwarna. Bunyi tak diinginkan
selalu melintas dari luka kemenangan
dalam variasi vektor mimpinya.

Ini bukan masalah kehilangan saat mencari
nilai nol masa lalu dan momentum yang terbenam.
barangkali itu seperti menunggu akhir senja
yang menghapus warna kuning di keningmu
bahkan kalimat-kalimat beradu di ujung kepalan diri

Degupnya menuju dada peristiwa
berkali-kali aku lingsir bersama pembatalan
yang lain: kehendakkah ini atau ilusi
dalam keriuhan bunyi?

2019



Sebuah Siklus Menuju Dadaku

Menghilang dan hanya berpindah
: sebuah ruang yang kau bebat,
  sebelum mata peristiwa berkedip.

Siapa yang bergerak bersama nyala api
ketika cinta menembus dinding padat
cermat mengukur kapan patahan riwayat
saling terhubung dan terkubur penandanya.

Di seberang ketakutan, seseorang berjalan
dan terheran-heran, bagaimana seekor semut
mengangkat remah 50 kali dari beban tubuhnya
tenang menempuh arah kepulangan.

Masih tiga langkah dari ujung sepatumu
namun tak seorang pun mengenal yang liyan
—apakah ada kesedihan di sana, sementara
    orang-orang ingin menghentikan kepergian
    yang sia-sia?

Di kejauhan, para pejalan murung melihat
ke arah gunung yang menampakkan garis putih
hanya dugaan belaka jika ia tak menangkis
kebatan hitam pekat yang menuju dadanya.

Berulang, sebarannya terus tumbuh
mungkin ia akan menenangkan diri
bersama gelembung air sabun,
kristal fotonik, dan barbula Merak Hijau.

Jika kepantasan harus menunda sisa pertanyaan,
aku tak pernah menyangkal pada kemauanmu
mengitari jejak di Thanjah atau Laut Andalus.

Dan kini, mereka sudah ada dihadapan
bayanganku, seperti akan kembali
pada kerutan awan yang saling berkejaran
atau barisan pasukan, sekadar menahan
arah kumpulan liar di tepian lembah keluhan.

Di luar kehendak siapapun, aku berpisah dari mereka
sedangkan bekas-bekas ingatan perlahan menguatkan
pendengaran, tumpuan, dan kehilangannya.

2019




Sebelum Petualangan

Kau kumpulkan bayangan lain antara aku dan waktu
dan ia terus menjaga kelopak penglihatan, daun pendengaran
bahkan kulit perasa, bagian-bagian pohon pengetahuan
yang ingin mereka gugurkan lebih dulu.

Antara tabir-tabir dan tujuan akhir, keringat mengalir liar
dari lubuk ke tampuk. Berdarah-darah anggapan menghilir
sampai muara sejarah, tempat ikan-ikan silsilah berenang,
saling berebut remah di permukaan.

Apakah diri akan membuih dan berulang? Katamu
Tidak, jawab bayanganmu sendiri yang sangat lempung,
bersabar dari riuh pecahan suara, meredam
segala permainan bunyi. Bahkan aku mustahil
berlalu-kan diriku dengan buih peristiwa
yang kau percaya sebagai sentuhan peristiwa belaka.

Hingga semua hilang perlahan, tak terlihat di mata
teori-teori pencerahan. Dan kau seperti enggan
mengembalikan cahaya pertama dalam kenangan
pelajaran mengenal nama-nama diri
sejak kejatuhanmu yang pertama.

2019




Setelah Perjanjian Agung

(Langgam Perkawinan)

/1/
Mata

Yang membuka penglihatanku
dan ia mengambil tanpa canggung
semua yang kupandang remeh 
: senja, mimpi, dan kenangan

/2/
Rambut

Dan hanya terbuka dihadapanku
hingga jari-jari itikadnya melepas
semua ikatan kehendak 
pada hamparan ikal semu cokelat itu
kemudian jatuh sebahu, bergelombang,
memecah batas diri dan dia
sampai terciumlah aroma bahasa
yang pernah tak teruraikan
oleh setiap pejalan sunyi

/3/
Hidung

Imanensi mengalir
ke dalam cara ia menghirup
hal pertama dari bahasa
: nama-nama dan adat
  yang mengembang, meluas

/4/
Mulut

Ia menyingkap apa yang kukatakan
dan aku mencari apa yang tersamarkan
dalam ucapannya

Aku hadir, meretas lengkung kenyaringan itu
sementara gemetar kaki kehendak, menunda
kesangsian: apakah diri akan menyimpan semua
yang tersampaikan lewat larik-larik ini

/5/
Telinga

Terlipat dalam tabir, hanya aku yang bisa masuk
dalam musiknya, meski sering kudengar ode
yang keliru dan tercatat sebagai suara patahan
dari nada sumbang milikku sendiri.

/6/
Dada

Tak berjarak
dengan degupnya
meski ia belum masuk
ke bilik jantung
kata-kataku.

/7/
Tangan

Dan kau bisa membayangkan arahnya
namun siapapun tak dapat menyaksikan
saat ia memegang lembut lengan masa laluku
yang selalu mengepalkan ruang rapuh
peta silsilah, hikayat, tragedi
dan kenakalan masa kecil.

/8/
Kaki

Tak ada panggung tontonan dalam dirinya
langkah yang terjaga, ia tujukan pada mata waktu
dan kami akan menari sampai langit pengetahuan
merendahkan batasnya, agar menjangkau
hamparan bumi dia  

/9/
Wajah

Aku dan dia, dua cermin
saling memilah bayangan diri
yang maya dan yang nyata.

2020




Diktum

turun dari sisa kupakan mimpi pada dahi peristiwa
masa lalu terus cembung di belakang air mata

di kebun ini, bahkan seekor ular sekadar umpama
hanya tubuh yang bertaring, tergoda tarung pengandaian

maka berpautlah debu-debu dan pertanyaan konyol
sampai peristiwa tercipta dari hal-hal licin

2019





Memori 1

/1/
tangisan dan mantra
berpulang ke dada peristiwa
hangatnya mengalir
tumpah di jari waktu

/2/
memanjat leher abata
liurku mengalir liar
terbata-bata di lembah aksara
bercampur airmata kata

/3/
usia membuka sebutan liyan
berlapis tabir janji pertama
lorong luka dan lupa terbabar
pelajaran pertama nama-nama

2020



Suluk Huruf U

kubujuk lubukmu
                     bulu kuduk susup

kususur nun
                     burung-burung bubul

luhung tugur tuturmu

                       duduk khusyu

surut mulur lumpurmu
                        sudut-sudut kubur

ukur uzur sumurmu
                        sulur-sulur gurur

2019




====================
Yana Risdiana, seorang advokat dan menulis puisi. Buku puisinya yang telah terbit: Larik-Larik dari Jurus Dasar Silat Cimande (2018) dan Perjanjian Tak Bernama (2019). Kini tinggal di Bandung.

Pulang Ke Dalam Pelukan

0





Penyair Tua dan Mesin Ketik dari Masa Lalu

mesin ketik tua di sudut ruangan itu
mengirimkan detak rindu dari masa lalu
dengan irama tik tok tik tok
lalu terkadang berderit mengambil jeda
seperti menghitung jarak spasi
satu setengah ataukah dua
jarang waktu yang hendak dibangun
antara harapan dan rasa cemas
sebab waktu telah berlari sedemikian jauh

mesin ketik tua di atas meja baca itu
ingin mengabarkan sesuatu dari masa lalu
ada bunyi seperti suara kertas terpasang
lalu gesekan kertas karbon meminta duplikat
lima enam ataukah sepuluh lapis
lembar kenangan yang hendak diperbanyak
dari waktu yang tertinggalkan demikian jauh

mesin ketik tua di sudut ruangan itu
sepertinya ingin mengirimkan rindu dari masa lalu
tapi seperti waktu. nasibnya kini kelabu
juga pemilik mesin ketik tua itu

Ambon, 28 Mei 2019




Pada Sisa Hujan di Tanjung Marthafons

malam ini setelah hujan mengiris selepas tarawih
kutemukan potongan wajahmu yang gigil
di antara tiang-tiang jembatan yang membelah teluk Ambon
beringsut pucat menyembunyikan luka. mungkin juga siksa

apa yang kau tangis dari sisa hidupmu
setelah berlari sekian lama dengan dusta sepenuh tubuh
padahal ketika itu musim begitu akrab memelukmu
di pasir pantai ketika angin masih barat dan bulan sedang purnama

malam ini pada sisi hujan di tanjung Marthafons
kutemukan potongan wajahmu yang pasi
di antara warna-warni lampu jembatan yang menyambung dua tanjung
tenggelam dalam bayang-bayang yang kian membiru
di antara aroma hujan dan uap laut yang merapatkan maut

apa yang kau sembunyikan di dalam hujan
setelah semua catatan yang pernah kau tulis di tiang dermaga
tak lagi menjadi penanda bagi lelaki yang merindukan pulang

Ambon, 24 Mei 2019




Lelaki di Tepi Laut Banda

tak perlu lagi engkau bertanya tentang dia
lelaki yang pernah mengajakmu ke tepi laut banda
sebab di tubuhmu sampan-sampan terus meronta
entah mencari apa. hingga tenggelam di kolam tuba

air mata jangan kau tanya seperti apa
sebab garam tak lebih asin dari luka di ruang dada

dia lelaki. lengannya perkasa
tapi dalam soal cinta tak luput jua hatinya binasa
sama jua layar bisa koyak dilumat cuaca

tak perlu lagi engkau bertanya tentang dia
lelaki laut yang memelukmu di tepi laut banda
sebab di dadamu kapal-kapal terus saja mendaratkan cuka
entah demi apa. hingga lenyap segala penanda

luka di dada jangan kau tanya selebar apa
sebab bulan tak selalu datang membawa cahaya
demi hatimu yang selalu dilanda gerhana

Ambon, 16 Mei 2019



Salang-e Uihae Tuog Doen

pernah aku terperangkap di celah karang hatimu
tempat dimana ikan-ikan kau undang untuk menari
dan mencumbumu hingga patah dan terkoyak
dalam haru biru yang berujung nelangsa

pernah pula aku terpedaya mengejar bayangmu
hingga batas fatamorgana sebelum terjaga dari mimpi
bagai angin menarik tali-tali layar kesadaran
agar sang nakhoda tetap setia menjaga arah perahu

pernah aku tenggelam di palung terdalam hatimu yang gelap
membuatku kehabisan akal bagai ditawan seribu peri laut
hingga mataku tertutup dan tak bisa perpaling pada indahnya pantai
dan taman laut yang menawarkan kehidupan warna-warni

pernah aku terluka olehmu karena cinta yang haru biru
pada ketika itu dalamnya laut salah kuduga
lalu sengsara berderai air mata. aku terluka

Ambon, 13 Mei 2019




Er Zal Geen Woord Zijn Om Te Scheiden

ada banyak cara untuk mengucapkan selamat tinggal
tetapi pasir di pantai terlampau akrab menerima garam sebagai nasib
sudah begitu lama sejak takdir diberi nama
oleh garis panjang yang memberi batas pada laut
dari mana para pelaut berlayar dan pulang ke dalam pelukan

ada banyak cara untuk mengucapkan selamat berpisah
tetapi dahan bakau terlampau setia menerima burung-burung
juga angin pantai yang terkadang membuatnya patah
sudah begitu sejak lama ditakdirkan menjadi rumah
oleh kedatangan dari mana saja yang menjadikannya indah
juga bagi pelaut yang kalah dan ingin bercinta

ada banyak cara untuk mengucapkan selamat jalan
tetapi lelaki tetap setia untuk bertahan memikul ombak
sebab matanya adalah laut seperti katamu suatu senja
ketika kaca-kaca buram. seturut hujan yang turun di kotamu
dan engkau semakin gelisah menahan senyap dari dadamu
yang kering dibakar garam tersebab waktu bersilauan seakan hampa

ada banyak cara untuk mengucapkan selamat tinggal
tetapi lelaki tiada lelah menjaga hidup di sisa waktu. bersamamu

Ambon, 10 Mei 2019





====================
Dino Umahuk. Penyair, tinggal di Ambon, Maluku. Bukunya yang telah terbit antara lain: Riwayat Laut, Mahar Cinta, dan Panggilan Laut Halmahera.

Pelukan yang Kehilangan Lengan

0




Melankolia Pengkhianatan

beginilah kita akan selesai seperti bahtera yang bertambat pada akhirnya
di dermaga yang bukan hatiku. kau kini atau kita barangkali hanya sepasang
pertautan mimpi yang kian renggang, berjarak, berlari saling melepas angan
dengan sela-sela jari kosong tak bergenggam.

kausemai cinta yang dituai seorang yang datang dari entah berantah kehidupan
tak ada yang tahu dari mana bunga-bunga yang lain mekar dalam perjalanan
membangun sebuah taman surga. burung-burung pun terbang selalu tahu arah
pulang ke dalam sangkar sedang kita perantau yang lupa letak rumah.

tak ada yang bisa membantu kita. puisi hanya sebuah pelukan yang kehilangan
lengan. tak ada dekap kecuali tebah dada yang menunjukkan dalih pengkhianatan.
kau atau aku pada bagian ini tak perlu mencari siapa yang lebih berhak memikul
dan memukul kelemahan kesetiaan kita.

Mamuju, 2018




Penerimaan

Aku ingin mencintaimu dengan keikhlasan
sebagaimana Maryam yang menerima Isa
sebagai titipan.  Sebagaimana Ismail yang
menerima penyembelihan sebagai ketaatan.

Aku ingin mencintaimu dalam kerelaan
kayu yang terbakar dalam tungku untuk
memberimu kehangatan. Seperti nyala
sumbu yang menjaga dirinya tetap hangus
untuk memberimu pandangan.

Aku ingin mencintaimu dengan pengorbanan
Rumi yang menerima kehilangan kebesaran
untuk menemukan kekerdilan. Serupa Syams
Tabriz yang jadi darwis pengembara untuk
menjaga bara api jiwanya agar tetap  melebur
dengan air kehidupan.

Mamuju, 2020



Agama Cinta

kau tidak bersimpuh pada apa yang kusembah
dan tidak pula kupasung apa yang kaujunjung
kita leluasa menyembah untuk saling membasuh
kita senantiasa merangkul untuk saling memikul
aku tidak mengimani apa yang kauamini
kau mengamini apa yang tidak aku imani
tetapi untukku agamaku menebar kasih
dan untukmu agamamu menabur sayang

Mamuju, 2020




Pada Bagian Apa

setelah gejolak batin dan pikiran bertarung
tak berkesudahan dalam kepalamu.
kaubertanya: pada bagian apa dari diriku
yang memantik cintamu?

kaudekap kemalangan nasib yang kaucintai
telah kaususuri jalan sunyi di tiap bait syair
rindu Jalaluddin Rumi, telah berkali-kali

kaulangitkan kesetiaan Qais dalam kesepian
yang terpangkas kata-kata. telah lama kau
nisankan perempuan Mandar yang mati
ditelan nestapa zaman.

pada bagian apa dari diriku yang memantik
kerinduan?

kaumenunggu dan terus menunggu lalu ia

datang kepadamu membawa rasa percaya
menepis segala keraguan Rabiatul al Adawiah
melantunkan harap pada nubuat menikam petuah
ia percaya kau seperti setianya seorang Ali
kendati ia bukan seorang Fatimah.

ia ungkap apa yang selalu ingin kausingkap:
keraguan lelaki yang patah oleh keras kehidupan
ia runtuhkan tameng ego di hadapanmu demi

sebuah cerah mimpi yang terpancar di sana

tetapi kaudiam seperti puisi yang belum
sempat dituliskan penyairnya. ada perasaan
yang tak mampu dijabarkan kata-kata.
ada taswir yang belum sempat diberi tafsir.

sebab bukankah cinta adalah lipatan-lipatan
keyakinan yang tak memiliki celah keraguan?

kaubertanya: pada bagian apa dari diriku
yang memantik cintamu?

Mamuju, 2018



Manifesto Air Mata

aku akan berhenti menulis puisi kesedihan
bila kau dengan hati yang lapang
merintangkan kembali kedua lengan.

Mamuju, 2019



======================
Syafri Arifuddin Masser
Lahir di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa Sastra Inggris Universitas Muslim Indonesia. Puisinya tergabung dalam beberapa antologi: kibul.in 2017, tembi.net 2019, biem.co 2019, Festival Seni Multatuli 2018, Makassar International Eights Festival & Forum 2018, Mandar Writer and Culture Forum 2019, Festival Literasi Tangsel 2019, Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum 2019, dan Gerakan Antiskandal Sastra 2018.

Kisah Pohon dan Bagian-Bagiannya

0



Hikayat Pala

kisahku sampai juga di benua-benua ini
ditiup angin selatan dan angin barat, didendangkan nelayan
memburu marulaga pada bulan  alo kasuang
hinggap ditelinga nahkoda kaparo bersama serombongan kelasi berkudis
menyanding sebotol minuman keras dan peta yang kumal
berteriak-teriak parau, meracau nyaris putus asa
–“ad loca aromatum!”
perjalanan edan untuk persembahan maharaja yang lapar

ini si tua, hidangan rahasia penghuni sorga
mendekam dalam ceruk ceruk lembah
dilindungi mantram-mantram dan dentam tifa
pulau-pulau bukit menjulang, gunung api,
pasir-pasir perak serta laut warna kecubung
gumpalan-gumpalan padat sejarah yang mendadak telanjang

aku si tua, berhasil membuat para jagoan mengidap insomnia
mata caling beling terkesiap menatapku lalu dentam sepatu
anyir angin bersiutan, wangi amunisi, leher meriam yang dibelai
seringai badai api menggasak pantai-pantai
batang-batang lenganku terkayuh jauh
meninggalkan celah lembah, pasir perak dan laut warna kecubung
mengembara dan terbantai seperti nabi disalib di tengah bandar

ini si tua, korban sekaligus pahlawan
jadi penumpang sial dipaksa berlayar ke ujung-ujung jagat
tak kuasa mengutuk apalagi menolak

ini aku si tua, kini tak lagi digdaya
seperti dulu saat sebiji merah coklatku ditukar maharaja
dengan pulau di ujung dunia yang lain lagi





Lungkan*)


Pohon keramat tempat dewa-dewa menaburkan azimat
di pucuk-pucukku orang suci menaiki tangga langit
daun-daun bersayap seerti sajak-sajak rindu
mencari tambatan sauh untuk berlabuh

Dalam lemir daunku kugelar sebuah peta
amsal perjalanan yang diterjemahkan cahaya purnama
warna putih yang melumuri serabut-serabut hijauku
seperti kelokan sungai sejarah asa usul air susu ibu

Simpanlah rindumu pada helai daun-daunku
menyimpan rahasia cahaya sepanjang masa
bersembunyi dalam gericik sungai rerimbun belukar
selubung mantram-mantram paling rahasia
tempat di mana kau bisa menafsir waktu
yang begitu angkuh dalam dekapan
timbunan misteri paling musykil
dalam ingatan-ingatan yang mengerdil
tapak-tapak jejak makin samar dilacak

Dalam gembuk daunku
kusimpan cahaya meski kau tak pernah tahu
karena kini kau begitu asing pada purnama
juga makin asing dengan wajah sendiri
yang makin samar dirajam waktu

*)Pohon yang dianggap keramat di desa Banada, Talaud Sulawesi Utara.

Pohon ini ketika bulan purnama daunnya yang hijau berubah menjadi putih.





Kelor

di ringkih pucuk-pucuk daunku kuwartakan jam-jam keberangkatanmu
persis seperti Bisma yang memilih jam ajalnya sendiri
kutabuh denting-denting rahasia yang selama ini kau simpan di jakunmu
serupa bidadari menari  menodongkan lancip belati
sembari mengulurkan mawar cintanya

anggaplah ini  perjalanan pulang tamasya
dan anak-anak di pelataran rumah menanti gelisah
menunggu sepotong cerita tentang romantika
petualangan putri + pangeran beserta kuda putihnya
sebelum akhirnya menyerah pada mantram penyihir tua





Dua Jerit Bambu Dalam Nasib Yang Beda

~tabuh dara muluk

orang-orang larut dalam selimut
meski gaung bertalu-talu memanggil maut
kuterjemahkan dalam nyaring bunyi di dasar sunyi
bersama jagat yang bungkuk dalam hujan
dan rindu bersujud bersama sepukau nyeri
sebelum esok api membakar diri
menjelma abu larut dalam pedhut
beku dikungkum waktu

~tabuh titir

akhirnya sampai juga pada beringas ini
pada tabuh yang runtun dituntun malam
membara serupa gurun kerontang yang kejam
syahwat pemburu memburu anyir darah
hanya bumi yang ihlas menampung pusat panasnya





Membaca Urat-Urat Daun

bacalah dengan keluguan bocah mengeja aksara
meski dengan lidah cedal dan gemetar
bacalah dengan ketekunan pertapa
bersamadi menerka arah silir angin
menjumpa lumut-lumut yang perlahan
mengerak di punggung-punggung batu

membaca urat-uratku dapat kau temukan jarum kompas yang patah
bersama sejarah yang luka dan kampung-kampung kita yang dulu terbakar
di petilasannya bersama-sama dapat kita tanam kembali kebun-kebun bunga
dan akan bisa kembali kau hikmati kisah-kisah cinta bapa angkasa ibu bumi
yang membesarkan benihnya dengan kesabaran ruh petani.





Pisang Bakar Dan Sebiji Trembesi Serupa Khuldi

seseorang di dalam kamar
merajuk dalam mimpinya:
“aku ingin pisang
yang tumbuh di bilik sorga,
ditanam para malaikat,
dibakar dalam rahasia api!”

seseorang entah siapa
menjawab dalam mimpinya,
“tak ada pisang yang ditanam
dan bisa dibakar,  
di ceruk ini cuma ada
sebiji trembesi sebesar khuldi!”

seseorang terjaga dari mimpi,
di mejanya sepiring pisang bakar
telah jadi dingin dan basi
langsung ke luar kamar
pergi ke angkringan
memesan sebiji pisang
minta dibakar di perapian

pisang separo terbakar
mendadak ditinggal pergi
sebelum sempurna matang
karena pandang  matanya
terbentur hitam warna arang



===================
Tjahjono Widijanto. Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan sesekali cerpen di berbagai media nasional. Buku-bukunya a.l: Eksotika Sastra: Kumpulan Esai Telaah Sastra (2017); Metafora Waktu: Kumpula Esai Budaya (2017) Menulis Sastra Siapa Takut? (2014), Dari Zaman Citra ke Metafiksi, Bunga Rampai Telaah Sastra DKJ (Kepustakaan Populer Gramedian dan Dewan Kesenian Jakarta, 2010), Compassion & Solidarity A Bilingual Anthology of Indonesian Writing (UWRF 2009)

Diundang dalam berbagai acara sastra, antara lain: Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Cakrawala Sastra Indonesia (2004), memberikan ceramah sastra di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan (2009), Festival Sastra Internasional Ubud Writters and Readers Festival (2009). Tinggal di Ngawi, Jawa Timur.

Rahasia yang Rontok dari Ranting-Ranting

1



Dongeng Seribu Satu Malam

malam itu di suatu kota yang beku
dari lemari es dongeng seribu satu
malam mengabur diri

tetapi sialnya dia kesasar seumpama
seorang tualang yang lupa membaca
peta atau siut arah angin

apa ia tersesat? Tak ada sahut cuma
hening jatuh embun

tiba-tiba melengking salak anjing dari
arah bukit

dan seorang malaikat salah
ketuk pintu?

apa ia tersesat? Tak ada sahut
tiada seorang pun di luar cuma
angin menyusup membungkuk

Sudah pukul berapa sekarang? Di mana
arah kiblat? Seharusnya ke arah sana
dongeng beku itu mengabur diri

2020


Dialog Kupu-kupu dan Sebatang Pohon

Di suatu hutan yang suntuk,

seekor kupu-kupu mengepak
-ngepak sayap

dari sayap, yang sirip ikan itu
didengus suatu kabar gembira,

penaka yang dibawa seorang
nabi. Hutan dibentang dari warna
wahyu dan malam?

“Tapi.”

Lekas-lekas disangga sebatang pohon,
yang tersisa di hutan itu.

Hutan hanya horizontal. Tiada humus,
serat daun atau lapuk jasad-renik.
Kupu-kupu itu meracau?

engkau beri peringatan
atau tidak beri peringatan,
mereka tidak percaya.

Seketika, pohon itu cengeng.
Ia menangis. Karena hutan gelap
mengangah.

Kau punya lampion? Aku ingin
pergi dari sini, katanya

meski kami justru yang
berbuat kebaikan.

Di hadapan hutan yang suntuk

kupu-kupu ingat sebuah bahtera,
yang selamatkan Nuh dari bah.

Pakai ini. Kupu-kupu itu berikan
sebuah lampion, dan tiga wangsit:

sekali-kali jangan berkata dusta atau
ingkar janji. Atau lalai diberi amanat.

Di hutan yang suntuk kupu-kupu
itu bersinar dan pohon menyungkur
seperti hendak sujud.

2020




Bukit Cahaya

kita hampir tak mengenalnya,
tapi di balkon ini dia seorang
penyapu jalan

saban waktu dia senantiasa
menyapu helai rahasia yang
rontok dari ranting-ranting
malam

seperti Musa di thursina,
atau Isa di golgotha. Anak
yatim itu

suatu malam dia sulut api
di sebuah obor, seketika
itu bukit-bukit bercahaya

“Aku lihat langit lapang bagai
kerajaan sorga. Di sana tumbuh
sebuah pohon lebat.

Pada dahannya, burung-burung
menaruh sarang. Sementara di
sebuah telaga sepasang manusia
bagai orang asing.”

kita hampir melupakan suatu kitab
yang dia terima

“…ini tidak ada keraguan padanya,
Petunjuk bagi mereka…”.

Ibarat cermin. Dia berbicara kepada
dirinya sendiri. Yang sendiri.

Apakah anak yatim itu mengigau?
“Tidak! Dia tidak tidur,” sebuah suara
gaib.

Sejak saat itu di bukit cahaya,
anak yatim itu mencintai malam.
Yang gaib. Yang senantiasa ia sapu.

2020





Bila Rindu Kan Merayu

Bila rindu kan merayu maka
helai-helai hari yang terkelupas
adalah lembar taman berseri-seri

“Kemarilah kekasihku,” berseru-
seru seorang yang rupanya
tak asing bagi kita

:rindu adalah padang-padang
oase, di sana kita terjerembab
ke suatu masa ke negeri muasal

yang terus kita simpan dalam ingatan
dan sanubari seperti kota tua yang
kerap dikunjungi peziarah

Bila rindu kan merayu maka malam
memanjangkan sayap-sayap seperti
sebuah jalan bagi para suluk

bergegas menembus kabut—dibalik
helai kapas itu mengangah sebuah
liang hitam:

di sana ada berpuluh-puluh kucing
berbuluh hijau, kupu-kupu warna
violet, begitu khsuyuk meratib zikir

dan kita sudah kaku kaligrafi atau biji-
biji tasbih yang jatuh hingga ke liang
paling dalam

“Kami menyembut seruanMu,” suara-suara
itu melengking dari trapesium hitam. Atau
barangkali dari dalam hajar aswad?

Bila rindu kan merayu maka kami akan
datang dari delapan penjuru mata angin
menujuMu – memujiMu

2020





Sahaya

/1/

di ambang ini
aku membungkuk sahaya
seraya berharap cahaya

lantaran unggun api sajakku
hanyalah kunang-kunang dan
itu tiada cukup kubilas muka
mengenal rupaMu

/2/

setelah engkau bentangkan
bianglala di punggungku

hei, itu sederhana. Rukuklah
bersama orang yang sedang
rukuk, kataMu

dalam letup hening aku menyaksikan
segala: nasib, rahasia, maut dan kita
yang satu.

2020





Kukirimkan Sekebat Bunga

Duh, Gusti sudikah engkau
kukirimkan sekebat bunga?
Kan kutulis selarik kata dan
kuselipkan di antara buket

Sekiranya, hal itu bisa membuat
rindu menjalar merambat pada
sepasang lengan daun pintu yang
terbuka seumpama kegaiban sebuah pelukan  

Duh, Gusti cukupkah itu semua? Aku tak
punya apa-apa lagi selain segala adalah
kepunyaanMu

2020

=====================
Ishak R. Boufakar lahir di Kian, 23 Juli 1992. Cerpen dan puisi termuat dalam Antologi Cerpen Bertuan (2016), Antologi Surat  Untuk Tuhan (2016), Antologi Cerpen Mimpi (2016), Antologi 250 Puisi Cinta Terpendam (2016). Anggota komunitas menulis Paradigma Institute. Tulisan-tulisannya diterbitkan di beberapa media, antara lain: di Harian Fajar Makassar, Salam Papua, Ambon Ekspres, dan Majalah Lintas.

Sedalam Suara yang tak Putus

0


Yasmin

dapatkah penebus menempuh
jalan pintas dengan menyeru nyaring
hurufhuruf dari kitab?

dibacakan sesudah matahari tenggelam
ketika sang guru duduk melipat kaki
dan kedua telinganya tak lagi bebas merekam kabar

yasmin
melantunkan ayat
mendatangi kisahkisah nabi
menghamparkannya kembali
sedalam suara
yang tak putus pada tanda jeda

sang guru mengangguk
memberi jalan pada halaman kitab kesekian
membuka dengan doa
seperti penebus yang tak henti berupaya
keluar dari pusaran silapnya

Kembang Kuning, 2019




Ranu

sebelum memejam
ranu mengibaskan embun dari rambutnya
dingin menyapu tengkuk
dihantar kabut gunung yang puncaknya
disaksikan melalui jendela

setelah seteru terbelah
di tanah lapang
mari membuat lingkaran baru
dengan mata yang lebih awas
membedakan mana kawan
dan mana yang turut ingkar

ada yang mengintip masa kecil
dari celah rimbun bambu yang berderak
setiap saat ada yang mengintai mengira kita
hanya anakanak yang tersesat

mari menghambur ke dalam permainan lagi
melompat dari satu petak ke petak lain
terperangkap dalam jumlah yang terus bertambah
kita pemburu sekaligus tawanan

ranu menyelinap keluar

diamdiam mengurung udara dingin
dalam tangkupan tangan
dihantar kabut gunung yang puncaknya
disaksikan melalui jendela

Kembang Kuning, 2019



Gracilaria

membentangkan diri pada hangus tambak
menanti matahari menyilaukan
rimbun talus yang menyerah
mekar
sang penjaring terlalu belia
mengira kau semata berasal dari
merah marga
padahal lumpur turut mengurapi
sejak pertama berbaring di tambak ini
hingga bagai gadis pantai
berkulit coklat
masak
akan ia biarkan menjadi penangkar
nematoda bertubuh kaca atau remis yang terluka
ketika mencari jalan keluar
bagi rasa lapar
barangkali juga berakir
di genggaman penjaring
sesudah mengibaskan lumpur dengan air asin
tertawan dalam radula
:moluskamoluska

Pejarakan, 2019




Nokturna

apa yang nampak hanyalah penggalan
dari titik di kedalaman, dihuni seribu rupa bentukbentuk berdenyut
yang menjaga sang rumah sebagai tekateki

temuan ini mesti disambut tempik sorak
mesti ada gunting pita sesudah pelatuk
memunculkan kembang api

sedang mereka di atas hanya bisa menafsir
gelagat muka, bayangbayang yang urung rampung
dan ceritacerita dari penerus masa silam

mengelabui
mata buta
mengelabui
mata buta

Pejarakan, 2019




Perempuan

sedalam ngilu
di balik kain
dikancingkan
ditutupkan

akan meriuh segala yang gelap
ketika geraian tertangkap satu kedipan
bak cembung dada yang menantang

maka,
mesti ada seorang diutus paling depan
demi mengusung keluar dosa lama
mengulurulur waktu kutukan

sementara ia tetap menempuh
sebuah sepi
siapa mengerti
apakah imam itu?
para lelaki?

tak ada yang berubah
di balik kain
selain ancaman terjerumus
bila sekali saja berani
mendongakkan kepala

sedang ia berharap tersesat
ke masa kecil
kembali memukul air kolam
berkecipak dengan muka

sendiri

Kembang Kuning, 2019



Sajak Dua Bagian

-kepada fikhan ghazali

aku ingin menulis puisi yang paling indah untukmu. tapi aku tak punya apaapa sebagai perumpamaan selain katakata yang kupinjam dari penyairpenyair bohemian, aku ingin menulis kedalaman matamu dengan meniru ungkapan dari penyair yang terkenal karena sajak cintanya. tapi yang terlintas hanya riuh kafe tempat penyair itu pernah memotret buku puisinya yang ditujukan untuk orangorang patah hati. untuk mereka yang dikhianati, barangkali ada juga di kafe ini, katanya. orangorang dengan muka bebal yang berbicara segala sesuatu tanpa mengetahui seluruhnya.

di mana aku mencari katakata paling sedikit, paling pendek, dan paling dalam yang berbicara sekaligus dalam satu petikan? keramaian di kafe itu adalah kekosongan yang timbul dari rasa rindu tak berbalas. kekosongan yang membuatku ingin melenyapkan diri dengan mengubah diriku menjadi jus limun dalam gelas si penyair, serentak tandas dalam satu tegukan. atau aku akan diamdiam menyusup ke jantungnya, yang dipercaya dalam dongengdongeng sebagai muasal rasa sakit dan mendengar ia mengakui sajak cintanya tak berguna samasekali.

aku ingin menulis kesedihan yang paling sedih. hingga ia menjadi nyanyian putus asa dan menyela di keheningan rumahrumah yang pernah kita lewati dalam sebuah tamasya ketika tak ada satu pun yang menjual hiburan untuk kita. aku akan memberitahumu di salah satu rumah itu aku pernah menulis namamu sambil mendengar tukang kebun memangkas habis bayam nyonya rumah yang dikiranya rumput liar. aku akan menunjuk salah satu sudut di halaman yang tertutup tanaman rambat tempat aku pernah mencuci piring dan menyaksikan piring itu pecah serta membayangkan membawa pecahan itu ke hadapanmu dan berkata: ini perumpamaan hatiku yang terbelah. aku akan senang mengulang pengalaman ketika aku mendorong pel menumpahkan busa sabun seember sambil menunjukkan bagian mana yang kubersihkan dan bagian mana yang kuhindarkan sebab aku ingat potongan lantai yang kau jejaki dan kenangan apa saja yang kau tinggali rumah itu sangat gelap bahkan ketika seluruh jendela dibuka. aku merasakan kehadiranmu melalui angin yang membanting pintu, keran yang lupa dimatikan.

juga kepergianmu yang begitu lama begitu sayu seperti potongan bayambayam itu.

Pejarakan, 2019




=======================
Iin Farliani lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Menulis puisi, esai dan cerita pendek. Karya-karyanya telah disiarkan di pelbagai surat kabar dan termaktub dalam beberapa buku bunga rampai terpilih seperti Himpunan Puisi Penyair Perempuan Nusa Tenggara Barat Taman Pitanggang (2015), Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos Pelabuhan Merah (2015), NUN Yayasan Haripuisi Indonesia (2015), Puisi Pilihan Suara NTB Kembang Mata (2015), Puisi Pilihan Suara NTB Ironi Bagi Para Perenang (2016), serta masuk dalam antologi Situs Kesedihan: Puisi-puisi Terbaik Basabasi.co 2019. Cerpennya terangkum dalam antologi Melawan Kucing-Kucing (2015) dan Mata yang Gelap (2016).

Sejak tahun 2013 hingga sekarang masih terlibat aktif dalam kegiatan komunitas sastra Akarpohon Mataram. Kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019).

Sebelum Pesta Berakhir

0




Benih Karmila

Karmila, kembang desa pertama
putri kedua pasangan petani tua
puluhan tahun mengairi ladang
dengan air mata

di tengah kemarau panjang
namanya diambil begitu saja
dari judul lagu Farid Hardja

ia lahir sempurna

entah berapa lama
petani tua itu menanam benih Karmila
padahal tak ada kembang berbunga
hanya batu dan kayu yang semusim lagi jadi abu

bulankah yang melahirkannya?

rambut bijangnya memanjang
setiap siang terurai diterpa angin pantai
saat bukit-bukit digunduli jadi lahan jagung
orang-orang memandang laut dan Karmila

di ladang-ladang tadah hujan
petani dan nelayan menunggu
dikutuk Karmila jadi debu

Lombok, 2019




Menjadi Ayah

di hadapan cermin aku bertanya
akan jadi siapakah darah daging kita
saat ruh yang kudus berhembus
pada tiga bulan pertama

dari perut ibunya aku berbisik,
darahku mengalir di tubuhmu
seperti santan dan minyaknya

dan aku, dan kau adalah yang terpilih
yang terbaik bisa abadi
yang terburuk tak mungkin pergi

kenangan tak memberi pilihan
‘hidup yang kelak kau jalani
adalah langkah yang setiap saat kusesali’

Lombok, 2019





Pagi yang Lain

berikan aku pagi yang lain
tanpa surat kabar harian

suguhkan secangkir kopi
dengan gula semanis mimpi

meja sarapan
sepiring khayalan

di kamar mandi
apapun bisa terjadi

dan di atas ranjang
istriku berseru,

‘tidurlah sayang,
tak ada fakta hari ini’

Lombok, 2019





Nyanyian Musim Kemarau  

seribu dulang tersaji di tanah lapang
perempuan desa memanggul harapan
di atas kepalanya

      setundun pisang matang,
      sepanggang ayam kampung
      telur ayam, bebek, dan puyuh,
      sepiring nasi kuning dan putih,  
      semangkuk kacang asin,
      dan segala yang berkuah, digoreng,
      juga dipanggang

mereka berpesta untuk menyatukan doa
meminta tuhan membuka kolam langitnya

seolah yang diminta telah mengamini
akan selalu ada keinginan
dibalik melimpahnya pemberian

sebelum pesta berakhir,
ladang-ladang tak bertuan
dengan sunyi menyimpan harapan

batang-batang jagung terbakar
berkelakar tentang petani
yang menggunduli bukitnya sendiri

di bukit itu
tak ada yang tahu
doamu dan doa tanah telah beradu

Lombok, 2019





Pengobatan Pakon

arang batok kelapa
tak membakar kaki telanjangnya
agar ia melihat mahluk tak kasatmata
menyakiti dengan halus budak jelata

saat gendang-gending ditabuh
seruling panjang mendengung
ia meneguk air kembang mekar
beralas kain putih
bertabur asap dupa

namun sebelumnya
dengan daun pinang muda
tubuhnya berulang kali didera

rasa sakit menyembuhkan derita
bisik tengkorong kepada ia
sebelum menari di atas bara

ia tahu, siapa mahluk tak kasatmata
merasuki dengan halus budak jelata
sebagai penyakit
sekaligus penyembuhnya

Lombok, 2019




Tenun Purba Pringgasela

tumbangkan dua ekor kerbau
untuk mengibarkan selembar kain purba
dengan tiang dari pohon aren
setinggi sembilan lelaki

kibarkan selama dua malam tiga hari
turunkan sebelum senja
tepat di saat tulang punggung keluarga
pulang dari ladang-ladangnya

delapan ratus lima puluh tahun silam
perempuan penenun pertama di Pringgasela
menyesek benang jadi bekal perang lelakinya

ikat erat jadi sabuk di pinggang
niscaya kau akan terjaga dari satu dua tebasan parang
dengan cinta seputih kapas yang kupintal semalam suntuk
kau harus pulang mengasapi dapur, memberi peluk


anak cucu harus tahu, kunamakan kain ini tunggul
agar kalian senantiasa gemar memanggul
memikul peninggalan leluhur

kain purba jangan kau puja
kami menenun merajut cinta
jadi selimut keluarga

Lombok, 2019


=======================
Fatih Kudus Jaelani, lahir di Lombok Timur, 1989. Buku puisinya berjudul Asmara Ular Kayu (akarpohon, 2016). Kini bekerja sebagai wartawan di salah satu surat kabar harian lokal di Lombok dan aktif bergiat di komunitas rabulangit Lombok Timur.

Perjanjian di Hari-hari Berkabung

0



Kembang Karnaval

Cobalah datang kepada gempita bumi
tanpa harus menumpahkan darah,
ini adalah akhir kegelapan dan kesepian
umat manusia

Langit, telah menanggung pucat tulang,
tak bisa dipandang resah dari juru-juru
hari yang naas. Namun lewat sepasang kaki
telanjang di atas setumpuk buku, kata-kata
mengasuh luap air mata dalam mimpi.

Hati-hati, suara-suara ganjil, mulai menembak
orang-orang gagal dari dalam tanah, lusuh dan retak
seperti seorang tua, meminta hidup baru
untuk membuang separuh pulau, di atas pundaknya.

Setelah haru tersisa di batang pohon jambu,
tapi kian cepat, bunglon gaib merubah waktu
sepanjang zaman, maka, segala sesuatu
menjadi akrab dengan ajal.

Sia-sia, untuk menerima salam pagi, karena pada
akhirnya, urat leher akan dibanjiri kabut usia,
kecuali yang pernah tidur di ranjang hujan
akan mekar pada tempat-tempat rahasia.

2020 




Titanomakhia

Sudah lama, terkepung, lonceng-lonceng gereja,
mengingatkan kita, kepada sepasang mata yang
meledak, tepat, saat hawa sakti tak menoleh ke
belakang, rasa ngeri terbang lagi, kulihat, ia
bertumpu pada sayur-mayur mekar dalam cahaya

Pasar pemantau dari dekat saja susah benar
untuk diselip dalam surat yang terbakar
pada pukul 06:00 pagi, tak ada bau wangi sampai
berlama-lama tinggal di atas pundak setiap anak

Mungkin di hari-hari lain, dengan kaki tergesa-gesa
kita berjalan di permukaan kata, membuat beranda
atau taman yang diambil alih oleh detak jam, tanpa
menyebutkan nama

Kelak jika bangkit, di atas paras negeri, para pekerja,
semangat baru, dari bau garam yang telah dituliskan
laut dengan cara paling diam. Mereka memanggul
balok besi yang licin ke panggung bercadar, di antara
tamsil-tamsil, kita masuk ke pusat abadi

2020




Sindrom Werner

Lewat kerut kening yang ramai oleh pelangi beratus makna,
tafsir telah mengaburkan warna gambar pada lukisan
di tembok dewan, diam-diam dengan tubuh menuju renta,
cemas berupa atap-atap rumah panggung, menyimpan luka.

Banyak orang begitu jijik kepada yang melarikan diri
ke hutan benda-benda, namun, nama kecil dari rasa
lapar dan takut, memberi bunyi dalam kepala yang menyusun
perjanjian di hari-hari berkabung

Inilah pertempuran di atas pucuk rumput ilalang, sejarah manusia
berdiri menjangkau mayat-mayat api dari kota paling sinting,
terimalah pedang binal yang menusuk nafas dan bahasa
bagi segala yang tergelincir jatuh

Kecuali, di sebuah tempat, para penari, mengintip gerak hitam
yang memainkan payung di bandul jendela, mungkin duka,
atau ketentraman air dan tanah dari teka-teki sebuah doa

Ya, memang ada yang membatalkan niat, untuk berangkat
dari gang panjang, menuju kebuntuan batas di hari yang kini hangus,
hanya tinggal jurang tercipta, bila ditutup, letupan-letupan dunia
menjelma bongkahan batu, tanpa kenangan.

2020




Vacuum Cleaner

Hisaplah sedikit cahaya lampu taman itu!
ketika dongeng langit, memberi sebaris
kata mutiara, pada tahun-tahun yang tidak
menamatkan langkahnya di jalan berlobang.

Kemana arah bangku-bangku itu menghadap?
ketika jarum jarm berbaring seumur hidup
di bawah pohon cemara

Bekas luka dan kesendirian menjadikan manusia
seperti seekor anjing, mengangkat kaki belakangnya
kemudian menyembunyikan keresahan ruh-ruh sapardi

Mengalami tragedi di lubuk yang hanya tersedia
untuk bukit-bukit biru dan burung yang terbang
ke rahim sunyi, menunggu rasa gemas
menyerbu kaki langit itu

2020




Penguping

Dekatkan telingamu pelan-pelan
ke jendela plaza itu, maka, kau akan
mendengar bunyi jarum jam
yang omong kosong, mengental,
dalam kaleng-kaleng minuman.

Saat siang hari mengerut di keningmu
rombongan ibu-ibu turun di tepi kota
doa-doa memancar di sana
bersama separuh ilusi

15 menit berlalu, jalan-jalan beraspal berubah
menjadi tempat para ruh menunggu
sebelum beribu-ribu bendera
saling teraduh-aduh dalam radio dan televisi

Nah, cobalah tentukan, di tempat manakah
orang-orang melintasi akalnya sendiri?

2020




Sharp Sandwich Toaster

Pada sepotong roti kering
terdapat warna krem tua dari mimpi,
menjelmalah paras dunia, tanpa lama-lama
juga basa-basi, namun, cukup untuk menerka
jalan bagi debar jantung di sebuah rumah sakit

Rasanya baru sampai di urat saraf
seribu musim dingin, membetot pikiranku,
mencari-cari daftar nama yang lain,
mungkin telanjang, tanpa daun dan telah
patah nilai, semenjak mata ini, luput dari
nyalang pandang.

Lihat, cakar paling bunyi hanya dilahirkan
dari seonggok batu gelap, tetapi kita tak
pernah sampai habis, membikin senjata
di teduh duka mana pun

Kini memang banyak orang bergegas
demi menyentuh bulan dan putih lampunya,
walau jalan ke arah tebing terlalu curam
untuk diinjak oleh tanahliat itu

Tak usah takut, pasanglah hitam yang rata
di tiap kepak elang yang menjadikan penempuh,
mesti, terkotak-kotak oleh harkat, ingatlah bahwa
sesisa air mengalir dari kaki cokelat, telah tumbuh,
dalam lorong-lorong keyakinan purba

2020



==================
Yuris Julian adalah nama pena dari Diandra Tsaqib. Lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Saat ini bekerja di Bandung. Beberapa Puisi saya telah tersiar, antara lain di: Koran Tempo, Bali Post, Suara Merdeka, Radar Tasik, Radar Cirebon, Radar Mojokerto, Kurung Buka, Apajake, Takanta dan Pojok Pim.

Mengeja Diri Dalam Cuaca Dingin

1





Luka Musim

Di bukit-bukit yang sekarat
Syahdu terdengar jerit burung-burung  
Berkabar cerita dan hikayat kematian
Bau abu menghapus jejak di jalan-jalan
di mana ranting patah tergeletak penuh luka

Tiada kukenal lembah hijau
Kelopak mawar yang gugur perlahan
Mengeja diri dalam cuaca dingin
Di waktu yang hampir habis
Ketika kita bahkan tak lagi
Mengenal cahaya matahari
Langit yang selapang jiwa
orang-orang yang tulus mencintai
dan cuaca yang mulai lelah
melerai hal-hal buruk
satu demi satu

2020 




Rembulan Di Atas Bukit

Di tempat ini
Hanya suaraku yang tak kau dengar
Tetapi doaku sunyi yang mengalir
Melewati dingin cuaca
Dan tiba kepadamu

Kadang-kadang,
Saat itu gerimis sedang jatuh
Suaranya mengalahkan denyut nadi
atau malam yang sangat sunyi
Sementara hatiku berdiam diri
mengunjungi pintu-pintu langit
bertabur gemintang

Di tempat ini
Hanya suaraku yang tak kau dengar
Tetapi cintaku terus merekah
Bersemu merah memenuhi udara
Melangkahi takdir yang kau lupakan

Tetap saja
Senyummu tak habis-habisnya
Memunggungi rembulan di atas bukit

2020




Memandang Senja

Mungkin telah habis kata-kataku
Atau puisiku hanya sampai di sini
Tak bisa lagi kutulis apa-apa
Dari seluruh pikiranku
Maka kudengar saja gelegar tasbih burung-burung
beradu salak lolongan anjing
dari sebuah kebun kopi

Oi, siapakah gerangan yang membawa pergi
baris-baris kalimat di ujung gerimis
di tengah halimun yang kian utuh mendekat
menutup remang cahaya lampu-lampu jalan
menepi tak kutemui
meski kucari sampai ke ujung kuku

Sia-sia saja kutunggu sepotong bulan
muncul dari balik atap rumbia
sebuah rumah tua di kaki bukit
sementara yang tersisa hanyalah nestapa
di tengah laju detak jam  
yang menambah buih-buih minumanku

2020




Graviti Malam

Cuaca dingin menetes
Menggambar biru langit
Bintang malam
dan bisu alam
di atas bayang-bayang pohon
yang hanya nampak pucuk-pucuknya

Begitu banyak yang terkenang
Mengetuk dinding hati
Mendadak gigil
tergerus sampai ke tulang-tulang

Syahdu sembahyang tergelar lapang
Mengetuk pintu langit
Pecah dzikir ke relung sunyi
yang mendengar tabah
Ketika nafas tidur menciumi mimpi-mimpi
dalam tidur panjang mereka

Dari jauh suara hujan berdesak-desakan
hendak tiba
Lalu kupikirkan sekali lagi
Barangkali tiada seorang pun yang terjaga
oleh riuh angin di luar jendela

2020




Merayakan Hari Tua

: Kepada seorang ibu

Jangan tanya lagi
“Apa aku tidak kesepian?”
Sedang aku telah lebih dahulu menjadi penari
tua yang datang ke tubuhku sendiri
Merayakan sisa hidup
Tanpa gelisah yang harus tumbuh di mana-mana
Sebab aku cuma butuh gula pasir
untuk cangkir-cangkir tehku
dan semangkuk ikan untuk laukku
di meja makam

Selalu kupandang sunyi dengan takjub
Menemukan tangan-tangan Tuhan
menumbuhkan cahaya
sehingga malam-malam bukanlah
kelam yang harus kucemaskan

Seluruh kenangan
Nyeri dan perih
Telah jatuh ke sumur tua
Tempat cintaku lebur sampai ke dasar
Terkubur musim dan gerak langit
Kehampaan menjadi hal
yang tiada lagi terasa

Kenang saja dukaku
Ketika tiba-tiba aku pun tiada
Maka jasadku tak menyimpan air mata
Lewat air susu yang telah terenggut habis
di jejak kaki seluruh darah dagingku
ke tanah ikut terkubur
ke langit merangkak melalui
pangkal doa-doa

Tak mengapa menjadi tua
dalam kesendirian
Memandang haru dari sisi jendela tua
yang pelan turut meninggalkan jejak usia
Menyimpan ingatan panjang ranjang tua
yang masih menyimpan bau air kencing
pada kain-kain popok anak-anakku

2020




Kabut Manakarra

Seluruh pepohonan berlari ke dadaku
Segelintir senyummu
Menggelayut di bukit-bukit terjal
Menyapu pekatnya udara
Di jalan-jalan yang tiada letihnya
Mengirimiku suara dan nafasmu

Cahaya lampu bermekaran
Suara kota tenggelam dalam auman
ombak dan syair hujan
Aku menemukanmu
Dalam pelukan angin dingin
Terasa kehangatan jauh
dari genggam jari-jarimu
dan aku hilang dalam lingkaran
sejarah yang lahir dari rahim
tak kukenal

Semakin jauh
Menyeretku melalui garis waktu
Seperti hendak melarikan diri
Di bawah perjalanan burung-burung
Di atas runcing batu-batu karang

2020




Montana

Menjauh dari kelam gelombang rambutmu
Mengubur ingatan akan siapa sesungguhnya
Yang lebih dahulu menciptakan luka dan cinta
Ketika fajar dan musim dingin
tak punya banyak kata bijak
untuk dikatakan berulang dari lembut kasih
yang tertinggal di dada

Telah kuucap selamat tinggal
di telinga orang-orang
yang menyimpan langit purba
Kehendak melupakan siluet wajah
Dari keping-keping mimpi
Yang tiba senyata bidang padat
Mampu tersentuh ujung jemari
dan selalu kusaksikan
hangat mata adalah pelukan yang lebih manis
dari apapun

Seluruh jawaban membakar tubuhku sekali lagi
Seperti gerah dari kobar nyala api
Ketika buku kembali terbuka
Tahun-tahun yang mendekatkan
kata cinta yang keluar dari
mekarnya bunga-bunga
dan luruh daun-daun tua

Rumput hijau
Akan seterusnya menyimpan kenangan
di sulur akar-akarnya
Sampai mengering
Lalu mati
Luruh ke tanah
Di jalan-jalan yang lebih ramai dari isi kepala
Menjadi rahasia yang saling berbisik

2020



Kapan Terakhir Kali Kita Berbincang dalam Telfon?

Kuhafalkan namamu
Jendela biru dan langit kelabu

Ranting pohon sedang gelisah
menunggu cahaya purnama
yang sangat dikenalnya

Lampu-lampu yang kesepian
menyimpan segala percakapan dan kata-kata
yang hendak melepaskan diri dari keyakinan

Seperti menemukan cinta
Diantara tumpukan sampah plastik
dan kertas-kertas sisa
memasrahkan diri pada segala kehendak
yang akan membawanya menemukan
kenyataan paling menyedihkan

Kelak
Kita tak perlu saling bertanya kabar
Sebab segala sesuatu mampu kita baca
dalam bingkai dinding kaca
yang bercerita ribuan kisah

2020




Batas Kota

Gerimis belum juga selesai
Dan kecanggunan kita
Seperti halnya sejarah yang kelam itu
Membuntuti rona pipimu
Yang tak juga menciptakan hujan
Atau gelegar yang membangunkan
pejam mata

Namun pada cintaku
Malam-malam selalu terjaga
Seperti dongeng Marsinah yang hidup
berputar di arloji merah tangan kiriku
Seperti teriakan para buruh pabrik
yang turun ke jalan
berkoar di atas trotoar

2020



===================
Lula Arimbi. Penikmat sastra dari komunitas buku carabaca Makassar. Lahir di Bulukumba Sulawesi Selatan. Menulis Cerpen dan puisi. Beberapa tulisannya pernah dimuat di: Literasi Lombok Post, Fajar, Go Cakrawala, Sastra Sumbar dan Florest Sastra.

Terbaru

Mengembara dalam Cerpen-Cerpen Dunia Dongeng

Judul      : Pohon yang Tumbuh Menjadi Tubuh Jenis      : Kumpulan Cerpen Penulis    : Faisal Oddang, dkk. Penerbit   : Gora Pustaka, Makassar Cetakan    : Pertama, Maret 2018 Tebal      : 136 halaman ISBN       : 978-623-99344-2-0

Kunci

Ali Sabidin Menengok Bayinya

Dari Redaksi