Puisi

Home Puisi

Memeluk Tubuh Hujan

0



Definisi Lain Puisi

Puisi adalah jalan lain yang dipilih
untuk bahagia

Puisi adalah catatan lain yang ditulis
untuk keabadian

Puisi adalah bunga mekar yang tumbuh
di bebatuan waktu

Puisi adalah lubuk terdalam
dari sungai rindu   

Puisi adalah pertemuan antara
saya dan engkau

Indramayu, 2019 


Memilih Warna Hujan          

Sore pun ditumbuhi hujan
Tetes-tetesnya menjadi daun
Payung pelindung bunga

Hujan hari itu memiliki banyak warna
Saya pun memilihkannya untukmu
Biru muda seperti warna gaun

yang kaupakai

Saya pun memeluk tubuh hujan
Hangat seperti nyala puisi
Daging kelinci bakar 

Hujan adalah bahasa yang tercurah
Doa-doa yang dipanjatkan
Dan cara Tuhan menjawabnya

Indramayu, 2019



Epos Kita

Kita ceritakan hanya dalam puisi
tentang buah rindu,
epos kita dalam rahasia dulu.

kau matahari kehidupan hangat.

Pada cahaya prisma yang terpendar jatuh
diam-diam saya temukan,

Tadi malam membuka tulisan kau
seribu ingatan tergantung,
bait-bait rindu di dinding kenangan.

Bahkan segelas susu manis
tumpah di aliran bibir,
kita menyelam ke dasar kolam.

Daun, ranting, dan putik
dipeluk desir angin,
bunga-bunga mekar bergetar. 

Melimpah buah anggur merah
daging belarik-larik,
memerasnya menjadi lagu cinta.

Indramayu, 2019 



Omeros Kita

I
Seusai perbukitan itu, kota-kota kecil,
dan pelabuhan yang juga kecil,
di sanalah omeros kita.

Dermaga bagi pelabuhan jiwa

sebelum lautan kehidupan
segenap riak ombak dan gelombangnya.

Sebuah bahtera masih terpancang,
esok atau lusa kita akan berlayar
berenang bersama ikan.

II

Tahun adalah kebersamaan kita
bumi yang berkeliling bagai jarum jam,
menuliskan perjalanan itu.

            Kucium harum waktumu,

meraba bagai laba-laba menyulam jaring
barak yang melambungkan mimpi.

Semilir angin menggeraikan daun matamu,
mengantar bau gerimis ke luar jendela
jatuh di taman bunga.

III

Saya menyadari tak lagi membuatkanmu puisi,
Membacakan dongeng sebelum tidur
atau romantisme epos gilgames.

Januari telah jauh kita tinggalkan
aih, tak terasa Desember menebal bagai salju
mengangkat kesadaran kita.

            Cahaya di permukaan sungai,
memantulkan bayangan kita
dengan senyum bahagia

Indramayu, 2019



Hamlet Kita           

Dalam redup sorot lampu
Kita menaiki tangga panggung

Apa yang harus diperankan
sebenarnya?

Kita tak sedang mementaskan
tragedi bukan?

Dan skenario itu adalah
dawai-dawai yang menegang   

Saya mengandaikan gema
segera mereda

Dan perlahan adegan musim semi
mengganti aroma guguran

Lihatlah kebun yang kausulap
di atas pentas

Malam masih sejauh perjalanan
Memetik garis riuh tepuk

Indramayu, 2019



Lagu Cinta Kita

Mari kita menulis lirik
Larik-larik pelangi bergetar di bibir
Saat tatapan saling memberi kasih
Seperti matahari dan bulan
Bagi putaran bumi

Mari kita ke taman bunga
Memetik dawai pada tangkai gitar
Serbuk sayap lebah naik turun
Mendendangkan harum nada
Madu terkapar di bibir cangkir

Saya di sini memeluk bulan yang kau peluk
Kau di sana mengiris daging buah mangga
Manisnya seperti puisi

Kita bersama dendangkan asmara
Di padang rumput, pepohonan, dan bukit kekasih
Dan akan selalu ada waktu untuk itu

Indramayu, 2019



Hari Remaja Kita  

Dengan banyak cinta hari remaja kita
Seperti paruh burung memecah biji-biji buah
Melemparkannya pada tanah ohon liana

Merambat ke langit dunia

Dengan bendera cinta
Menebar kibar di mana-mana

Kepada saya kaubuatkan sekeranjang bunga
Memberi keindahan surga di kamar

Sewangi puisi yang kaubaca

Mari meneguk matahari cinta
Atau menggigit rembulan biskuit

Kita menjadi remaja selamanya

Indramayu, 2019   




===========
Faris Al Faisal lahir dan tinggal Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Namanya masuk buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia Yayasan Hari Puisi. Puisinya mendapat Augerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI dan HPI 2019. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (FORMASI). Menulis fiksi dan non fiksi. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018), dan Antologi Puisi Dari Lubuk Cimanuk Ke Muara Kerinduan Ke Laut Impian Rumah Pustaka (2018).

Tulisannya tersiar berbagai media, antara lain seperti: Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Koran Jakarta, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Haluan, Suara NTB, Riau Pos, dll.



Sebelum Pesta Berakhir

0




Benih Karmila

Karmila, kembang desa pertama
putri kedua pasangan petani tua
puluhan tahun mengairi ladang
dengan air mata

di tengah kemarau panjang
namanya diambil begitu saja
dari judul lagu Farid Hardja

ia lahir sempurna

entah berapa lama
petani tua itu menanam benih Karmila
padahal tak ada kembang berbunga
hanya batu dan kayu yang semusim lagi jadi abu

bulankah yang melahirkannya?

rambut bijangnya memanjang
setiap siang terurai diterpa angin pantai
saat bukit-bukit digunduli jadi lahan jagung
orang-orang memandang laut dan Karmila

di ladang-ladang tadah hujan
petani dan nelayan menunggu
dikutuk Karmila jadi debu

Lombok, 2019




Menjadi Ayah

di hadapan cermin aku bertanya
akan jadi siapakah darah daging kita
saat ruh yang kudus berhembus
pada tiga bulan pertama

dari perut ibunya aku berbisik,
darahku mengalir di tubuhmu
seperti santan dan minyaknya

dan aku, dan kau adalah yang terpilih
yang terbaik bisa abadi
yang terburuk tak mungkin pergi

kenangan tak memberi pilihan
‘hidup yang kelak kau jalani
adalah langkah yang setiap saat kusesali’

Lombok, 2019





Pagi yang Lain

berikan aku pagi yang lain
tanpa surat kabar harian

suguhkan secangkir kopi
dengan gula semanis mimpi

meja sarapan
sepiring khayalan

di kamar mandi
apapun bisa terjadi

dan di atas ranjang
istriku berseru,

‘tidurlah sayang,
tak ada fakta hari ini’

Lombok, 2019





Nyanyian Musim Kemarau  

seribu dulang tersaji di tanah lapang
perempuan desa memanggul harapan
di atas kepalanya

      setundun pisang matang,
      sepanggang ayam kampung
      telur ayam, bebek, dan puyuh,
      sepiring nasi kuning dan putih,  
      semangkuk kacang asin,
      dan segala yang berkuah, digoreng,
      juga dipanggang

mereka berpesta untuk menyatukan doa
meminta tuhan membuka kolam langitnya

seolah yang diminta telah mengamini
akan selalu ada keinginan
dibalik melimpahnya pemberian

sebelum pesta berakhir,
ladang-ladang tak bertuan
dengan sunyi menyimpan harapan

batang-batang jagung terbakar
berkelakar tentang petani
yang menggunduli bukitnya sendiri

di bukit itu
tak ada yang tahu
doamu dan doa tanah telah beradu

Lombok, 2019





Pengobatan Pakon

arang batok kelapa
tak membakar kaki telanjangnya
agar ia melihat mahluk tak kasatmata
menyakiti dengan halus budak jelata

saat gendang-gending ditabuh
seruling panjang mendengung
ia meneguk air kembang mekar
beralas kain putih
bertabur asap dupa

namun sebelumnya
dengan daun pinang muda
tubuhnya berulang kali didera

rasa sakit menyembuhkan derita
bisik tengkorong kepada ia
sebelum menari di atas bara

ia tahu, siapa mahluk tak kasatmata
merasuki dengan halus budak jelata
sebagai penyakit
sekaligus penyembuhnya

Lombok, 2019




Tenun Purba Pringgasela

tumbangkan dua ekor kerbau
untuk mengibarkan selembar kain purba
dengan tiang dari pohon aren
setinggi sembilan lelaki

kibarkan selama dua malam tiga hari
turunkan sebelum senja
tepat di saat tulang punggung keluarga
pulang dari ladang-ladangnya

delapan ratus lima puluh tahun silam
perempuan penenun pertama di Pringgasela
menyesek benang jadi bekal perang lelakinya

ikat erat jadi sabuk di pinggang
niscaya kau akan terjaga dari satu dua tebasan parang
dengan cinta seputih kapas yang kupintal semalam suntuk
kau harus pulang mengasapi dapur, memberi peluk


anak cucu harus tahu, kunamakan kain ini tunggul
agar kalian senantiasa gemar memanggul
memikul peninggalan leluhur

kain purba jangan kau puja
kami menenun merajut cinta
jadi selimut keluarga

Lombok, 2019


=======================
Fatih Kudus Jaelani, lahir di Lombok Timur, 1989. Buku puisinya berjudul Asmara Ular Kayu (akarpohon, 2016). Kini bekerja sebagai wartawan di salah satu surat kabar harian lokal di Lombok dan aktif bergiat di komunitas rabulangit Lombok Timur.

Menembus Dinding Kesunyian

0



Rindu Berdarah Dalam Batinku

Ya habibana yang berdarah dalam batinku
Yang kurindu dalam dukaku
Sebelum fajar kusingkap
Datanglah engkau ke selubung imanku
Tak ada yang kusembunyikan
Dari sisa-sisa rahasia
Nestapa yang kutelan
Adalah derita yang kuterima

Bagaimana aku
Pantas mengaku
Paling sengsara
Sementara dunia diciptakan
Bagi kegembiraan

2019


Mata Airmata

Suara-suara tangis
menikam
datang dari
kegelapan paling
kelam
mendengung
dari tubuhku
yang lemah
dan parau

Suara-suara
meminta
rahmatMu
bagai
gemuruh
gerimis
menghapus
sisa
perih
dan luka

O, Duka Mulia

Airmata bagai syair
tak melenyapkan
kesedihan apa pun

Bukan keheningan
yang aku cari
atau diam yang
Agung
tapi riwayat api
membakar bulan
menjadikannya gelap
sebentuk lorong
sinar lilin
di ujung tepi
dilalui
pejalan sepi
dalam sekarat
bumi hangus

2019




Amsal Kesedihan

Api membara dalam tubuhku
Tetaplah menyala
Oh, tapi tidak
Aku telah menjadi abu
Aku telah diterbangkan
Kepedihan. Sejak nyala
Cintamu membuatku
Berdarah dalam dekap
Demi dekap, saat rebah
Di bibirmu.

Kau yang bagai sinar
Hampir pasti tak mungkin
Aku menyatu dalam moksa
Aku hanya sanggup
Menjadi pengintai
Bagi perasaan
Yang dicari pencinta
Dalam detak
Dalam cahaya

Dan aku menapaki kembali
Cuaca buruk
Bagai angin sakit
Menerpa lampu-lampu
Kenangan ambruk
Mirip angin ribut

Aku menjejakinya lagi

Kalender musim hangus
Seperti aspal

Aku tinju
Langit jahanam ini
Bagai duka
Nyanyian
Burung-burung
Kesedihan

2018-2019




Amsal Amarah

/1/
Dunia rebah
Ke dalam
Amarah
Seperti pohon
Pada gejolak api

Apakah awan-awan
Menyimpan lahar
Sehingga turun ke atas dendam
Bagai sengit
Mata api?

/2/
Kesia-siaan datang
Dari sela pintu
Di sepotong siang
Yang angkuh

Apakah jarum-jarum cahaya
Telah menjadi
Mata biru
Di mataku
Yang rapuh?

2019




Meninggalkan Desember

Aku
membiarkan diri
memasuki tahun-tahun asing
tersesat dalam suara-suara
ketenangan
dari balik kaca

Kebisingan terdengar lebih pelan
bagai nada jauh
dari hiruk pikuk orang-orang
yang melampaui kesedihan
setiap malam cahaya bulan tak berhenti 
menembus dinding kesunyian

Aku
membiarkan diri tersesat
dalam lorong-lorong
musim yang risau
bergerak
dalam senyap yang kedap
mengikuti lentera dengan cahaya redup
dan retak

2019




Menanti Kabar

Dalam sepi yang asing, dalam sepi yang
Tak kukenal. Betapa panjang jarak
Perjalanan, jarak kerinduan. Jarak sakit
Menempuh jalan. Bagaimana
Menghapusnya? Mungkin dengan
Airmata. Atau anggur kecemasan.
Surat-surat yang tergeletak di meja, ingin
Aku mengirimnya. Tapi, kepada siapa?

2018




Setu Babakan

Arus yang mengarah kepadaku itu
Adalah engkau
Selembut maut
Semurni sengsara

Bagaimana bisa aku tenggelam
Dan hanyut
Dalam lagu-lagu yang kausenandungkan
Di malam sedih?
Sejauh aku melihat hanya danau sepi
Dan kekosongan mengalir ke dalam diri.

2019



Aku Akan

Aku akan menulis bagai air bah
Tsunami yang menerjang lembah
Kesedihan
Setelah kering sungai
Kata-kata

Barangkali aku akan menulis
Dengan tenaga ombak
Dirimu yang penuh kecemasan
Seperti kalimat yang tak selalu selesai

2019


===============
Restu A. Putra, saat ini bergiat dan belajar menulis di Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Bogor. Buku Kumpulan Cerpennya, Siapa Sebenarnya Ajengan Hamid Sebelum Diburu Anjing-Anjing? (Rua Aksara, 2019).

Pada Akhirnya Kau Kembali

0



Tabarak, Tabaruk

Aku sedekahkan diriku
untukmu. Kau sedekahkan dirimu
untuknya.

Ia murtad demi cinta
kepada, yang ia akui kekasih, tapi
telah miliki kekasih.

Pada akhirnya kau kembali,
seperti salju jatuh di pelataran masjid.
Sebagai ajaran agama baru untukku.

Dan meski telah kupelajari,
aku tak kunjung paham.

(2019)



Fahisyah

Awan dipecut malaikat.
Rum palu untuk kepala kami, kutu di baju takwa kami.

Mereka pembuatnya. Allahu akbar.
Berpijak di tempat yang goyang.

Banyak simpang di sana. Setiap ujungnya
mengarah ke lubang hitamnya masing-masing.

Angkasa— seperti para wanita kami lepas kerudung.
Sesuri sajak pada kulit-kulit kami, rasakan pecutan itu.

Arakan awan yang diarahkan ke utara.
Sudut lesat, bagi tiga buah mata angin.

Mereka genggam rum palu itu.
Mereka rendam baju takwa itu.

Kami pembuatnya. Allahu akbar.
Berkat terinjak tepat di ubun-ubun.

Angkasa— tetap seperti wanita kami lepas kerudung.
Mungkin itu sebab awan, enggan jalan, terpecut malaikat.

Tapi kami, mereka, kini berada sama di tengah simpang.
Untuk jemput lubang hitam masing-masing.

(2019)




Marjik

Fajar rekah, masyaallah.
Remah yang dulu, subhanallah.

Sisa racun dosa, subhanallah.
Perak pahala itu, alhamdulillah.

Menujuku di sini, menujumu di sana.

Ya Allah,
Magrib serupa selimut terbakar,

sayap-sayap malaikat ikut terbakar
di sebuah malam

pada sebelah wajahku
yang hijrah

seperti putih kupu-kupu
di suatu sore
dengan gerimis terhenti
di udara:

“shollu ‘alan nabi.”

(2019)



Barua

Wanita yang kini bercadar itu
membawa pedang untuk kekasihnya,
mantan kekasihnya.

“Aku hendak membunuhmu.”

Kekasihnya yang bagai udara itu
bernama dosa.

“Kau tak akan pernah
bisa membunuhku.”

Keesokan harinya, ia datang
membawa doa. Doa yang telah lama
ia lupakan.

Maka terbunuhlah kekasihnya itu,
Mantan kekasihnya itu.

Dan tumbuh di tubuh wanita lain.
Yang tidak bukan adalah dirinya juga.

(2019)

==================

Hakaik lahir di Ampenan, Lombok, 18 April 1996.  Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di UIN Mataram. Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Puisi yang Menetap dan Marak di Tubuhmu

0


Puisi-puisi Maulidan Rahman Siregar


LAGU IBU /7/

ibu, untuk seluruh puisi yang menetap dan
marak di tubuhmu
untuk laju kencang doa-doa yang
menenggelamkan hina
dan untuk pikir kafir penuh celaka
aku pulang ke rahimmu dan ingin
malas-malasan di situ
dongengkan aku dongeng cinta ribuan tahun
semisal pengusiran
Adam dari tanah purna
semisal meteor yang hempas seluruh
savana
yang menghancurkan peradaban jurasik
oh, ibu, basuh segala burukku
hina segala dosa
angkat aku, ibu
suruh bangun pukul 07 pagi
mandikan aku, ibu
agar purna intan dalam diri
pulang lagi ruh ke badan
dan buku-buku kiri yang mahal
segala peradaban yang alangkah gaya
bagaimana politik mungkin aku paham, ibu
untuk bodoh saja belum
dan tubuh hina ini
pikir lemah ini
kembali ingin pulang
ke rahimmu
tanah jauh alangkah panjang!
oh, doa-doa yang pending
oh kata kata
oh apa saja
bunyi jantung ribuan tahun
peluk, peluk, peluk!
tumbuk, tumbuk, tumbuk!

2019

LAGU IBU /9/

ibukota tak pernah memihak pada ibu
oleh sebab itu, ibu selalu menyulam doa-doa
seharum edelweiss yang selalu saja cetek
oleh keringat ayah sendiri yang meraihnya
di puncak jauh
besok, selalu saja misteri
meski tetap saja, jidat ibu
selalu rebah
dan tangan ibu
selalu tengadah
aku yang nackal dan unfaedah
aku lari, sejauh apa?
tetap saja, ibu
akan kupulangkan ibukota ke tubuhmu!

2019

LAGU IBU /5/

maafkan aku, ibu
tak hapal nomormu
eh, hapal kok
tapi jarang nelpon
sebab hidup pelik ini
dan lilin-lin kecil
di mulut seluruh manusia
telah membakar rumah
kita
bagaimana, bu?
kapan?
kita ke pantai, setelah menghabiskan
banyak uang di mall?

2019

LAGU IBU /4/

ibu, oh ibu
lagi ngapain, bu?
bikin puisi yuk
tentang doa-doa yang pending
tentang listrik mahal
yang bikin ayah
lupa pulang
ibu, oh ibu
di pasar, harga cabe sudah berapa?
bolehlah kita
menangis sejadi-jadinya

2019

LAGU IBU /8/

bila saja waktu bisa kutarik kembali
aku sungguh ingin kembali
ke dalam dekap ibu
ketika hangat dekapnya
dan belai lembut jemarinya
menjadi apa saja!
ibu, oh ibu,
aku selalu ingin pulang

2019

Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang 03 Februari 1991. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018) dan Menyembah Lampu Jalan (2019)

Zikir Para Pendosa

0



Langgar Tabing*

Di sana telah kami benamkan
Segala kemungkinan dari suluk harapan
Meski dengan dingin pagi
Yang terkadang selalu bermalam ke dalam sunyi

Keikhlasan yang berdampingan beserta ingatan
membawa kepastian-kepastian berkata di bawah ilalang,
“memang kami selalu mengerti, mengapa harus keheningan
Yang bersaudara dengan huruf-huruf sunyi”.

Pada pucuk keyakinan kami
Lunta dari segala arti mengisaratkan terbenamnya matahari
Senja yang terkadang menghibur pandangan kami
Berdiang kekal diantara perjalanan kekhusuaan
KepadaMulah kami bersemidi,
Meski dengan ketabahan zikir para pendosa
Yang meminta nasib untuk di sapa
              *)tempat belajar huruf-huruf Alquran, dulu ketika waktu masih kuno

Tirakat Rindu

            Kh. Naqib hasan

Hanya kepadamu
aku berlayar dari keburukan
Dan hanya kepadamu
aku melafadkan kerinduan

Dari berbagai doa yang aku lantunkan
Sebagai isyarat hamba pada tuhan
Pohon-pohon mengakar
Membalas segala kesedihan
Sebagai pendekar
Yang tersesat di medan perang

Biarkan angin tenggara itu
Mengusik dalam senyumku
Mendinginkan hasrat pilu
Yang telah kau kabarkan lewat rindu.

Juma’at manis,1440

Mata Luka

Memasuki guratan-guratan pesona di tubuhmu
Adalah kelupaan waktu pada masalalu
Rambut yang  separas di kening
Serta lirikan mata yang runcing,
Adalah awal bagi musim
setelah kebencian bersimbang tafsir.

Aku, tidak akan  pernah mengenalmu
Sebelum senyum merangkum segala rindu
Aku tadak akan bisa menyulam bayangmu
Sebelum siang bertepi di kedalaman warna semu.

Betapa sakit benci ketika disiram air lautan,
Bimbang dan penasaran bersedia menjaga bergantian
Di sepanjang siang dan malam,
Maka biarkan aku sedikit kagum pada sebaris bibirmu
Atau pada selembut kelopak matamu
Agar kekejaman yang kuanggap pilu
Tercelup kedalam madu.

Ruang ingatan,2018

Meraba Rindu

Di kedalaman malam ini
Rambutmu telah terurai di sepanjang jalan,
Sepertinya bukan lagi kesederhanaan
Bagi pagi yang berganti malam

Maka biarkan aku selalu berzikir
Di kedalaman bayanganmu
Meminta segala hal warna sontak di dadamu,
Sebelum keterasingan kita tafsir jadi rindu

Mungkin kepada sejarah kita akan bertemu
Atau kepada waktu kita akan berlalu
Menanam ketabahan rasa
Di sepanjang rasa yang sudah tiada

Ruang ingatan,2018

Renung Malam

Masih adakah pantulan sinar rembulan di keningmu
Mengilaukan liang-liang kepekatan rasa
Yang tiba-tiba tumpah menjadi makna,
Angin selalu menyapa daun-daun gugur
Maski kenyataannya membuat suasana tak lagi kagum

Begitupun kelelawar yang menghirup aroma buah-buahan
Walau kenyataannya ia lupa terhadap keindahan
Tapi ia selalu bertahan dari pekatnya pengharaman
Dengan perasangka suci yang menjadi keindahan.

Rumah nam-nam,2018

Rekayasa Kepergian

Jika datang kepadaku
Mata dengan lirikan ujung bambu
Semua bahana mulai bisu
Seperti para perindu menunggu layu

Nyatanya tak ada yang perlu kita diskusikan
Pada kelembahan duka ini, kecuali di hari nanti
Engkau akan kembali sebagai gosip yang menulak arti

Maka sisipkan jantungku
Pada pelapah kesetiaanmu
Jika itu memang rindu
Katakan saja kita belum bertemu.

Reguler,2018

Bisikan Luka

Sudah beragam kenangan
Kita tinggal di siang yang kehujanan
Pelangi di antara perbatasan siang dan sore
Menguncup di keningmu,
Mewartakan sebuah harkat rindu
Di pertengahan hijau dan semu.

Lalu kita hanya tau berjalan di pelataran kesunyian
Belajar menangkap beberapa cahaya
Sebelum luka benar-benar nyata.

Gubuk reyot, 2018

*)Penulis Adalah Santri Pengamat Litrasi Di Pondok Pesanten Annuqayah Sumenep Madura, Yang Karya-Karyanya Pernah Di Muat Di Berbagai Media, Dan Sekarang Aktif di Komunitas Lascar Pena.

Rahasia yang Rontok dari Ranting-Ranting

0



Dongeng Seribu Satu Malam

malam itu di suatu kota yang beku
dari lemari es dongeng seribu satu
malam mengabur diri

tetapi sialnya dia kesasar seumpama
seorang tualang yang lupa membaca
peta atau siut arah angin

apa ia tersesat? Tak ada sahut cuma
hening jatuh embun

tiba-tiba melengking salak anjing dari
arah bukit

dan seorang malaikat salah
ketuk pintu?

apa ia tersesat? Tak ada sahut
tiada seorang pun di luar cuma
angin menyusup membungkuk

Sudah pukul berapa sekarang? Di mana
arah kiblat? Seharusnya ke arah sana
dongeng beku itu mengabur diri

2020


Dialog Kupu-kupu dan Sebatang Pohon

Di suatu hutan yang suntuk,

seekor kupu-kupu mengepak
-ngepak sayap

dari sayap, yang sirip ikan itu
didengus suatu kabar gembira,

penaka yang dibawa seorang
nabi. Hutan dibentang dari warna
wahyu dan malam?

“Tapi.”

Lekas-lekas disangga sebatang pohon,
yang tersisa di hutan itu.

Hutan hanya horizontal. Tiada humus,
serat daun atau lapuk jasad-renik.
Kupu-kupu itu meracau?

engkau beri peringatan
atau tidak beri peringatan,
mereka tidak percaya.

Seketika, pohon itu cengeng.
Ia menangis. Karena hutan gelap
mengangah.

Kau punya lampion? Aku ingin
pergi dari sini, katanya

meski kami justru yang
berbuat kebaikan.

Di hadapan hutan yang suntuk

kupu-kupu ingat sebuah bahtera,
yang selamatkan Nuh dari bah.

Pakai ini. Kupu-kupu itu berikan
sebuah lampion, dan tiga wangsit:

sekali-kali jangan berkata dusta atau
ingkar janji. Atau lalai diberi amanat.

Di hutan yang suntuk kupu-kupu
itu bersinar dan pohon menyungkur
seperti hendak sujud.

2020




Bukit Cahaya

kita hampir tak mengenalnya,
tapi di balkon ini dia seorang
penyapu jalan

saban waktu dia senantiasa
menyapu helai rahasia yang
rontok dari ranting-ranting
malam

seperti Musa di thursina,
atau Isa di golgotha. Anak
yatim itu

suatu malam dia sulut api
di sebuah obor, seketika
itu bukit-bukit bercahaya

“Aku lihat langit lapang bagai
kerajaan sorga. Di sana tumbuh
sebuah pohon lebat.

Pada dahannya, burung-burung
menaruh sarang. Sementara di
sebuah telaga sepasang manusia
bagai orang asing.”

kita hampir melupakan suatu kitab
yang dia terima

“…ini tidak ada keraguan padanya,
Petunjuk bagi mereka…”.

Ibarat cermin. Dia berbicara kepada
dirinya sendiri. Yang sendiri.

Apakah anak yatim itu mengigau?
“Tidak! Dia tidak tidur,” sebuah suara
gaib.

Sejak saat itu di bukit cahaya,
anak yatim itu mencintai malam.
Yang gaib. Yang senantiasa ia sapu.

2020





Bila Rindu Kan Merayu

Bila rindu kan merayu maka
helai-helai hari yang terkelupas
adalah lembar taman berseri-seri

“Kemarilah kekasihku,” berseru-
seru seorang yang rupanya
tak asing bagi kita

:rindu adalah padang-padang
oase, di sana kita terjerembab
ke suatu masa ke negeri muasal

yang terus kita simpan dalam ingatan
dan sanubari seperti kota tua yang
kerap dikunjungi peziarah

Bila rindu kan merayu maka malam
memanjangkan sayap-sayap seperti
sebuah jalan bagi para suluk

bergegas menembus kabut—dibalik
helai kapas itu mengangah sebuah
liang hitam:

di sana ada berpuluh-puluh kucing
berbuluh hijau, kupu-kupu warna
violet, begitu khsuyuk meratib zikir

dan kita sudah kaku kaligrafi atau biji-
biji tasbih yang jatuh hingga ke liang
paling dalam

“Kami menyembut seruanMu,” suara-suara
itu melengking dari trapesium hitam. Atau
barangkali dari dalam hajar aswad?

Bila rindu kan merayu maka kami akan
datang dari delapan penjuru mata angin
menujuMu – memujiMu

2020





Sahaya

/1/

di ambang ini
aku membungkuk sahaya
seraya berharap cahaya

lantaran unggun api sajakku
hanyalah kunang-kunang dan
itu tiada cukup kubilas muka
mengenal rupaMu

/2/

setelah engkau bentangkan
bianglala di punggungku

hei, itu sederhana. Rukuklah
bersama orang yang sedang
rukuk, kataMu

dalam letup hening aku menyaksikan
segala: nasib, rahasia, maut dan kita
yang satu.

2020





Kukirimkan Sekebat Bunga

Duh, Gusti sudikah engkau
kukirimkan sekebat bunga?
Kan kutulis selarik kata dan
kuselipkan di antara buket

Sekiranya, hal itu bisa membuat
rindu menjalar merambat pada
sepasang lengan daun pintu yang
terbuka seumpama kegaiban sebuah pelukan  

Duh, Gusti cukupkah itu semua? Aku tak
punya apa-apa lagi selain segala adalah
kepunyaanMu

2020

=====================
Ishak R. Boufakar lahir di Kian, 23 Juli 1992. Cerpen dan puisi termuat dalam Antologi Cerpen Bertuan (2016), Antologi Surat  Untuk Tuhan (2016), Antologi Cerpen Mimpi (2016), Antologi 250 Puisi Cinta Terpendam (2016). Anggota komunitas menulis Paradigma Institute. Tulisan-tulisannya diterbitkan di beberapa media, antara lain: di Harian Fajar Makassar, Salam Papua, Ambon Ekspres, dan Majalah Lintas.

Lesat Ke Langit Hakikat

0



Sebagai Penyair

aku berjalan ke taman-taman, di samping berjajar mawar segar. durinya merobek keheningan kita. sebagai penyair yang selalu belajar pada setiap petaka, aku mengawasi setiap luruh embun dan sujud daun-daun. debu yang diterbangkan ke langit oleh angin timur. dan matahari yang bangkit dari ranjang memastikan dunia pantas berjalan. sementara biru doa, menggumpal di ini dada. membusung sebelum mengetuk pintu langit. aku selalu berjalan, menerobos kedalam pikiran orang-orang. menemukan luka yang sudah tidak lebam dan lengket. mengering.

sepanjang hari hanya dihabisi untuk menyederhanakan sakit. sesederhana mungkin. katamu, penyair hanya ditugaskan untuk menangkap setiap yang mengerjap. lalu diungkap dengan getar lain, dengan bunyi-bunyi asing di kuping. selebihnya penyair tidak mencintai kepedihan, hanya saja kesedihan lahir dengan wajah macam-macam.

Gapura, 2020




Sebelum Hijrah

dari Adam kepada Hawa

1//

kau bisa membayangkan, Hawa, ranting gigil setiap pagi dipeluk embun. dihajar debu-debu yang berangkat dan terbit dari balik bukit. dan kita dipeluk dingin yang sama dalam rentang kabut sisa subuh. aku hanya merasakan tanganmu halus membelai-belai tanganku. kita berciuman lekat, begitu dekat. kau menuding buah-buah ranum semerah bibirmu, berjumbai di atas kepala kita. kau begitu patuh, bahwa buah itu bisa mengekalkan cinta kita dan berahi dari balik kata-kata.

dari Hawa untuk Adam

2//

aku hanya menyembah puncak firasat yang lesat ke langit hakikat. kau sendiri, Adam, begitu lemah pada seorang perempuan; atas nama cinta dan belas kasihan. maka dengan melahap buah-buah sesegar bibirmu, kita akan abadi di sepi semadi. paling tidak kau tidak merasa kecewa oleh kata-kata. mendekatlah, Adam, tanganku yang membentuk lingkar ular begitu lihai mencabik-cabik daun. sebelum menggugurkan belahan buah yang kelak melekat di tenggorokanmu dan timbul di dadaku.

Gapura, 2020

Kota Sepi Tiba-Tiba

kita mengurung diri, Ayu, berteduh dari angin merah jambu yang bertudung gelisah sesuntuk rindu. angin-angin lain semakin asing di kota kita, Ayu, jalan yang selalu sempit semakin menghimpit. memburu nafas kita yang sebegitu pendek. sepi perkasa, Ayu, mengalahkan apapun. kerap nyaring dengan berbagai denting. kita suka dengan keberadaan sesederhana ini; meski sedikit rumit dan memeras ketenangan kepala.

keramaian berpindah ke dada, Ayu, membunuh kecamuk rindu dan perang batin seorang penyair. gamang meninggi seruncing sepi-sepi kita. sedang aku selalu berlindung dari terik merah matahari. sampai tiba, Ayu, kabar kepergian. kabar kedukaan yang sama bengisnya. demi apa saja, yang semakin molek dan bersarang di kepala. duh! Ayu, kita hanya merasakan kota yang kerasukan senyap berlebihan.

pintu-pintu biru tertutup, Ayu, polusi merobek langit ketujuh. awan berbentuk domba terus berputar di tempatnya. mengawal kepedihan. kesedihan yang sama puncak. bumi yang kita duduki, Ayu, tulang punggungnya sering ngilu. sampai kita mati terbunuh oleh udara itu.

Gapura, 2020



Semua Menutup Pintu

lihatlah! di halaman-halaman yang memanjang dengan warna merah kesumba. kesunyian tumbuh setelah kita benar menutup pintu. tempat biasa semilir angin melompat, sebagai jalan kedua setelah jendela. selebihnya, ketakutan merimbun dan memadat di dada kita. semestinya keramaian harus berpulang pada liang kefanaan. pada lubang-lubang hitam di halaman belakang. diganti senyap yang terus merayap dan mengendap, mengintip kita sepanjang siang.

dawai angin mengasingkan diri, perlahan menjauh dari daun dan ranting hampir patah. pulang pada sarang, pulang ke rahim hutan. hingga kita mengkhidmati gerah berkepanjangan. sampai ketenangan terus terusik di tempat duduk. sunyi mengacak-acak rambut kita, mendengungkan kidung nelangsa seasin tanah. meletup di halaman yang terus memanjang ke arah matahari. siapa yang berjalan di setapak, sama dengan menantang amuk maut.

malam dan siang bersetubuh, mendesah seperti yang sering kudengar di ranjang ibu. semua menutup pintu dan sama-sama berjalan di sunyi yang baru.

Gapura, 2020



Pemabuk Sepanjang Jalan

sepanjang jalan, sepanjang gerimis yang membentur kabel listrik. kau lihat, bagaimana seorang pemabuk berjalan, jalang. melipatkan kedua tangan ke punggung belakang. ia begitu mengerti, mengendap dalam sepi. menghindar dari kerumunan dan menjadi pemabuk sendirian. di kepalanya, hanya berkecamuk sisa-sisa perang. lalu melesat abad-abad pembantaian. ia hanya suka menjadi orang paling tidak sadar di jalan. berjalan semestinya, hanya sekadar berjalan.

sepanjang remang lampu-lampu taman, kita melihat ia duduk di sebuah bangku melompong. berteman pernak-pernik sepi, sedih. barangkali ia percaya, hanya dengan begini. hidup tidak begitu rumit dinikmati. demi musim yanh terus berganti-ganti, menebar segala bentuk perih. kuyakinan, kepalanya memberat. segala yang tumbuh di dalamnya hanya kepedihan. bekas-bekas darah seperti di selangkangan. ia semakin jalan, ke arah lampu yang lebih sering membunuh temaram.

sepanjang kesedihan yang kita miliki, kita seperti asing di tempat sendiri. sama seperti mereka, kita mabuk sepanjang jalan. sepanjang gang-gang sempit diselimuti petang.

Gapura, 2020



========================
Moh. Rofqil Bazikh. Lahir di pulau Giliyang kec. Dungkek kab. Sumenep Madura. Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP.
Puisi-puisinya terbit di pelbagai media cetak dan online antara lain: Harian Rakyat Sultra, Bali Pos, Pos Bali, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Galeri Buku Jakarta, Litera.co, KabarPesisir dll.
Karyakaryanya termaktub dalam antologi: Dari Negeri Poci 9; Pesisiran (KKK;2019), Bulu Waktu (Sastra Reboan; 2018),When The Days Were Raining (Banjarbaru Festival Literary 2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Membaca Asap (Komunitas Seni Sunting Riau) Segara Sakti Rantau Bertuah (Kepri 2019), Surat Berdarah di Antara Gelas Retak(2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019), Bandara dan Laba-Laba(Dinas Kebudayaan Provinsi Bali). Sekarang berdomisili di Gapura Timur Gapura Sumenep.

Jamuan Bintang di Tepi Kolam

0



Menuju Kamu

ke wajahmu aku mengendarai senja
tempat beradu segala pedih di hati lelaki
yang lengkap sepi bersemi
terutama aku yang menjumpaimu lewat mimpi

aku bersaksi atas dadaku sendiri
bahwa bedakmu abadi sebagai warna pagi
sebab kamu adalah rasa sakit yang jatuh
tepat di titik namamu jauh berteduh

mendoakanmu di sisi adalah puisi tanpa henti
dan di dekatmu seperti membaca kitab ilusi

Sumenep, 2019

Mendaki Kangen

semakin tinggi mendaki tangga kangenku
semakin terlihat bangunan-bangunan luka itu

padahal ketinggian belum sempurna dari arah timur
engkau menganyam janur,
semua telah tanpak kasihan apalagi semakin
menuju garis lintas paling atas
barangkali sungai air mata juga seperti sungai
yang mengalir sepanjang babad tanah jawa

aku sudah mengawali pendakian ini
dengan ritus-ritus suci dilengkapi azimat rimba
maka seturun nanti ia akan menggusur luka-luka
yang dibangun seperti bencana

Sumenep, 2019


Wangi Parfum

selintas kamu berlalu seperti kendaraan,
berlalu tanpa salam atau sedikit anggukan

tinggal wangi lewat pelat dan hidungku telanjang
menyertakan parfummu dan ciumaanku makin dalam
berai tubuh itu ternyata aroma lain
dari cara tuhan kabarkan rayu

wangi yang binal
memelihara mataku dari pakaian biru liris ungu
dan penunggu hutan lesu yang rapuh

wangi yang meninggalkan bekas rindu
di lantai dan di tengah-tengah pintu tanpa penghalang
antara aku dah wajahmu

semoga kamu padaku di ujung siang
tanpa parfum yang hilang

Sumenep, 2019

Menunggu Hujan Kita

aku menunggu engkau terkejut oleh hujan
dan kita basah kuyup kegembiraan
bersama ayunan berpasangan
di taman tempat tumbuhkan kenangan

kita menunggu hujan terutama aku
menunggu wajahmu sumringah
sambil mengayun-ngayun lentik jari
mempersilahkan rintik-rintik jatuh di pipi

sebelum hari ini
engkau pernah mengingatkan padaku
agar tak cemburu pada hujan
sebab bulirnya mendahului sentuhanku
pada bidang roti bolu di balik blush on

Sumenep, 2019

Malam di Tepi Kolam

malam di tepi kolam
berhamburan kembang angin dari sudut dingin
setiap kelopaknya menerpa wajah
tanpa menyisahkan peristiwa

engkau datang menuju kopiku yang santai
menghabiskan jamuan bintang
begitu juga mataku mengahbiskan langkahmu
yang juntai

oh sekotak kolam air mata
dari mana aku mulai kata-kata
agar perempuan ini tersentuh denyutnya

Sumenep, 2019

Puisiku Lagu Renjana

aku ingin menghabiskan sisa puisi
dengan suaramu sebagai pengiring jika kelak
puisi-puisiku dirubah menjadi lagu
atau kamu saja yang bernyanyi

biar aku petik gitar daun sambil mendengarkan
irama yang lewar di bibirmu dan menikmati
keresahan berguguran

dengan begitu tak ada hutangku pada jiwa-jiwa
yang menantiku menemuinya dengan prosa-prosa
sebagi tubuh pengganti kesah
begitu pula hutangmu pada gulita di mata

bukankah setiap dendang selalu mengantar pandang
pada pelantun kondang peramu bayang-bayang
ingin sekali itu aku yang melirikmu pertama
sebelum habis bunyi biola

Sumenep, 2019

Mendoakanmu Adalah Rindu Paling Puitis

hujan bulan juli baru saja mencoba menghampiri
tanahku dengan rintik kecil-kecil
sekaligus untuk kesekian kalinya aku memulai petualangan
melawan dingin tanpa mengindahkan wajahmu, bu,
serta terasa sangsi basah genting dan pintu-pintu rumah
sebab tiada lagi pengantar tidur siang tengah hujan

ini adalah musim yang paling banyak mengantar dongeng
seperti kupu-kupu yang kuyup oleh rindu
atau seekor burung kecil berwarna gerimis di ranting jauh
aku hafal sekali gerak bibirmu dan tatapan teduh
yang paling meneduhkan

hujan bulan juli baru saja mengirimkan raut wajahmu, bu,
dan mendoakanmu adalah rindu paling puitis
dan paling kelana sepanjang dingin berguguran
di halaman serta merindangkan daun-daun kenangan

Juli, 2019

Pada Sebuah Lagu Aku Menemukan Kamu Lagi

aku putar kembali lagu kesukaan yang bercambur suaramu
menyakitkan namun patut kurindu
setiap katanya merawat jalan-jalan pemberangkatan
dan setiap jeda dan ketukan irama
selalu meluaskan dadaku mempersilahkan
duka-duka manis bertamu menukar temu denganmu

tiga kali putaran barangkali,
wajahku hampir mendanau depan cermin
dan hati seperti diarak sekawanan luka-tawa
di kampung bernama penantian
meski waktu tak kunjung pasti berbunyi kembali
sebagai alarm yang kita nanti
aku sudah tahu bahwa kamu masih lama untuk kemari

Sumenep, 2019

Pada Suatu Pesta Bungaku Menjadi Tujuh

seluruh karangan bunga yang kususun
dari taman di belakang kesedihan
berserakan jatuh menjadi tujuh petakan
salah satunya kehilangan aroma dan warna

tinggal tulisan-tulisan bersilih pulang
mengendarai kembang luka
dan aku merasakan bola mata ini jingga
seperti warna gaunmu sewaktu pesta

lusuh segala kegombalan yang kusimpan
pada daun-daun dan kuncup aromanya
padahal kusaksikan waktu masih berjalan
dari utara melawan arahmu menghilang

mestinya masih banyak hembusan napasmu
sewaktu berdansa dan berpegangan tangan
paling tidak kita masih menyisahkan satu
gerakan yang kita pelajari dari kenangan

lalu harus aku apakan tangkai bunga ini
yang tidak lagi mampu berdiri
menanamnya kembali di kebun hujan
atau membiarkan luluh lantak sendirian

Sumenep, 2019

=====================
Romzul Falah, alumni pondok pesantren Aqidah Usymuni Terate, Sumenep. Sekarang menempuh pendidikan di Universitas Wiraraja Sumenep. Bergiat di UKM Sanggar Cemara, Pabengkon Sastra, Lesbumi Batuputih, Kelas Puisi Bekasi dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon SOSPOL Komisariat UNIJA. Puisi-puisinya tersiar di beberapa media dan antologi puisi bersama.

Merekah Meruah Cahaya

0



ROMANSA KEBUN KATA

sulur-sulur tumbuh merengkuh
di antara reranting penuh seluruh

bebunga liar di kebun asmara
merekah-rekah pancaran gelora

romansa mulai tertera
di kebun menjelma kata-kata
tunaikan kisah tentang cinta dan luka

dari pucuk pena tinta asmara
seratkan bait-bait pada daun cerita

cinta mulai merekah
dari kuncup yang pernah terluka

masalalu kian mereda
oleh sekuntum bunga di kebun kata

Jombang, 2019





AIR MATA PENA

pada ujung runcing mata pena
mengalir air mata kata-kata
tanpa berakhir walau seribu telaga
penuh dan meluap hingga samudera

syair-syair tentang semesta
atau rasa cinta pada pencipta
tak pernah berakhir oleh air mata pena

Jombang, 2019




RITME TASBIH

bergulut-gulut ritme bertasbih
tuntaskan hasrat dalam peran malam
purnama kian sempurna
merekah meruah cahaya dipeluk bumi
mengirap kata rindu pada pencipta rindu
meruap belas kasih dalam renjana

purnama kian merayap
melambai nyalang, menggulut waktu
sampai fajar merekah, subuh berlalu

Jombang, 2019




MENJELANG PAGI

denyar fajar di kala subuh
burung kutilang riuh gemuruh
pohon mangga tak sempat berteduh
air mata langit semalam membasuh

mutiara pagi di pucuk daun
sisa hujan pertama mengalun

adakah pemetik mutiara itu?
selain kumbang dan kupu-kupu

Jombang, 2019




OMBAK KECIL

kesabaran adalah ombak kecil
hilang terhempas tak menepi.
merindu pada siur angin
pengubah nasib.

kesabaran adalah ombak kecil.
lenyap seketika tergulung
dahaga ombak yang besar.

yang kecil tak menepi,

yang besar liar tanpa negosiasi.

Kesabaran adalah yang kecil.
entah kapan, yang besar sadar,
dari kami yang kecil, telah
membesarkannya.

Jombang, 2019




TERINGAT JANJI

sedari pagi aku teringat janji
yang terpatri di setiap dekap
ayah dan juga sanak adalah saksi
tentang cinta yang terucap
ikrar setia di tempat suci
sampai tua hingga menghadap

Jombang, 2019




ORASI JATUH CINTA

tiada yang dapat menahan
jika asmara mulai tersulut
bagai masa yang beraksi
tak peduli pagar berduri
diterjang hingga menepi
teriakan kata penuh emosi

entah apa yang dirasa
pada yang sedang menahan cinta
apakah harus berorasi?
ataukah diam
dengan kata yang sembunyi

bagi lelaki, cinta harus berorasi
namun tidak dengan emosi
pakailah hati: penuh filosofi

Jombang, 2019

=======================

MIFTACHUR ROZAK (Bang Jack) Tinggal dan Lahir di Jombang, 03 Februari 1988. Pernah menimba ilmu di MTs dan MA Umar Zahid Perak. Tahun 2011 lulus S1 PBSI STKIP PGRI Jombang. Sekarang mengabdi sebagai Guru Bahasa Indonesia di MTsN 2 Rejoso Jombang. Karya-karyanya dimuat di Koran: Riau Pos, Medan Pos, Fajar Maksar, Radar Mojokerto, dan Radar Jombang.

Terbaru

Zikir Para Pendosa

Langgar Tabing* Di sana telah kami benamkan Segala kemungkinan dari suluk harapanMeski dengan dingin pagiYang terkadang selalu bermalam...

Solawat Ikan-Ikan

Dari Redaksi