Puisi

Home Puisi

Puisi yang Menetap dan Marak di Tubuhmu

0


Puisi-puisi Maulidan Rahman Siregar


LAGU IBU /7/

ibu, untuk seluruh puisi yang menetap dan
marak di tubuhmu
untuk laju kencang doa-doa yang
menenggelamkan hina
dan untuk pikir kafir penuh celaka
aku pulang ke rahimmu dan ingin
malas-malasan di situ
dongengkan aku dongeng cinta ribuan tahun
semisal pengusiran
Adam dari tanah purna
semisal meteor yang hempas seluruh
savana
yang menghancurkan peradaban jurasik
oh, ibu, basuh segala burukku
hina segala dosa
angkat aku, ibu
suruh bangun pukul 07 pagi
mandikan aku, ibu
agar purna intan dalam diri
pulang lagi ruh ke badan
dan buku-buku kiri yang mahal
segala peradaban yang alangkah gaya
bagaimana politik mungkin aku paham, ibu
untuk bodoh saja belum
dan tubuh hina ini
pikir lemah ini
kembali ingin pulang
ke rahimmu
tanah jauh alangkah panjang!
oh, doa-doa yang pending
oh kata kata
oh apa saja
bunyi jantung ribuan tahun
peluk, peluk, peluk!
tumbuk, tumbuk, tumbuk!

2019

LAGU IBU /9/

ibukota tak pernah memihak pada ibu
oleh sebab itu, ibu selalu menyulam doa-doa
seharum edelweiss yang selalu saja cetek
oleh keringat ayah sendiri yang meraihnya
di puncak jauh
besok, selalu saja misteri
meski tetap saja, jidat ibu
selalu rebah
dan tangan ibu
selalu tengadah
aku yang nackal dan unfaedah
aku lari, sejauh apa?
tetap saja, ibu
akan kupulangkan ibukota ke tubuhmu!

2019

LAGU IBU /5/

maafkan aku, ibu
tak hapal nomormu
eh, hapal kok
tapi jarang nelpon
sebab hidup pelik ini
dan lilin-lin kecil
di mulut seluruh manusia
telah membakar rumah
kita
bagaimana, bu?
kapan?
kita ke pantai, setelah menghabiskan
banyak uang di mall?

2019

LAGU IBU /4/

ibu, oh ibu
lagi ngapain, bu?
bikin puisi yuk
tentang doa-doa yang pending
tentang listrik mahal
yang bikin ayah
lupa pulang
ibu, oh ibu
di pasar, harga cabe sudah berapa?
bolehlah kita
menangis sejadi-jadinya

2019

LAGU IBU /8/

bila saja waktu bisa kutarik kembali
aku sungguh ingin kembali
ke dalam dekap ibu
ketika hangat dekapnya
dan belai lembut jemarinya
menjadi apa saja!
ibu, oh ibu,
aku selalu ingin pulang

2019

Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang 03 Februari 1991. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018) dan Menyembah Lampu Jalan (2019)

Jalan Lengang Menuju Matamu

0

Mimpi-Mimpi Ibu

Sewaktu sirih-pinang masih betah
di gigi ibu, jalan setapak kampung penuh
remah raut pensil dan angka-angka yang jatuh
dari buku-buku tanpa sampul.

Di masa itu, ibu selalu luput dari lelap tidur,
sebab hama-hama selalu datang sebagai
mimpi buruk yang saban sembunyi
pada sunyi malam: kebodohan di kemudian hari
dan kecemasan pada hidup yang terasing.

Setelah ibu melarung tubuh ke pantai timur,
ia kembali sebagai sampan penuh bibit subur.
Maka ranumlah seluruh pulau dengan tumbuhan asing
dari mimpi-mimpi buruk ibu dahulu; vanili, cengkih, pala,
dan sebatang pokok yang menjulang serupa roket.

Pohon-pohon itu, Ibu, yang akan terbangkan kita
ke mimpi-mimpi indah di tanah baru.

2019


Mayang

Adalah bayang-bayang kematian itu
bagi siapa yang datang di depan pintu.

Pada setiap kepergian, kata-kata kadang
pantang terucap kepada pokok-pokok takdir
sepahit kopi dan semanis nira pagi.

Mungkin telah usai cecap daun sirsak
dan akar-akar, kauteguk sadapan
enau sebelum tubuhmu berubah mayang
berpalut seludang, subur di tepi kebun
tanpa nama tempat dua malaikat
berkunjung di gerbang pagi dan senja.

Yang dipanen orang kemudian hari:
ihwal bayang-bayang kematian itu
serupa nyiur pelepah, tumbuh ke segala arah.

2019

Ziarah

Lubang-lubang di batu karang dan kapur
bicara padaku tentang segala gua di tubuhmu
yang lama tak kusapa kabarnya. Telah lupakah
pada seorang peziarah?

Pada jalan lengang menuju matamu,
puing-puing ingatan tak bisa lagi diterka.
Ialah kenangan yang rubuh sehabis disapu
air mata dan diguncang kata-kata berupa
terka-terka tak masuk akal tentang perpisahan
di kemudian hari. Adakah keramat lain
tempat peziarah itu berpulang?

Setelah mati di dalam liar rimbanya rindu,
di sebuah gua tak jauh
dari dua buah bukit yang telah rimbun,
seorang peziarah berharap kembali hidup
sebagai doa atau nyanyian sebelum tidur.

2019

Katasrofe

            -1667
Benteng mana yang masih bertahan
setelah langit siang dikelami jelaga
bakaran sulang ribuan mayat dan pandan
di tepi jeladri tempat seekor penyu mati tenggelam?

Hingga ke cakrawala, ujung pandang penuh
ombak dendam dan amarah. Kapal-kapal
datang dengan armada bertombak dan suara letusan
yang menembus segala riuh gelombang.

Di hari ketika langit mulai merah saga,
hanya tersisa pudar ingatan, lapuk padas,
riak darah dan desau nama-nama
yang hilang meletup ke udara.

2019


Setelah 1667

Sejauh mana kita ingat para perompak yang berlayar
ke pantai-pantai barat setelah membakar
kapal-kapal para sultan dan serdadu bersenapan?
Bandar-bandar ramai oleh monopoli dan pajak tinggi,
para petarung melarung diri menuju laut:
hidup dan mati di (dan untuk) laut.

Tak ada perkabungan untuk itu
sebab orang-orang sibuk menabur pandan
dan melati di kubur mereka sendiri.

Tapi mungkin yang nahas dari kepergian
dan memutuskan hidup sebagai penjarah adalah putusnya ikatan dan ingatan tentang tanah
dan keluarga. Sejarah adalah laut,
dan di laut, semua orang adalah musuh,
sama halnya semua ikan adalah lauk.

Sejarah saban sembunyikan hal-hal berbahaya
dalam kedalaman. Ia memang mengenang nama,
namun ia memilah nama mana yang harus tenggelam
dalam arus tubuhnya. Adakah yang tahu satu
saja nama dari ratusan perampok itu?

Demikianlah, bagaimana nama-nama mereka
tak ubahnya lapuk kayu yang karam diamuk
gelombang selat Makassar, tak sepadan
dengan kokoh batang welenreng tempat Sawerigading
berlayar jauh ke ruang-ruang diskusi dan pertunjukan
seni. Ingatan tentang perompak itu, bahkan,
tak ada yang pulang ke kepala anak-cucu.  

2019

Stargazer

Mengapa bintang di kota tenggelam dalam
langit malam? Muara jawabannya sama mengapa
kunang-kunang tidak pernah berlalu lalang di
pekarangan dan beranda: lampu kota mengusirnya
dengan cara paling kurang ajar.

Pijar bintang dan seluruh pendar cahaya itu dikuras habis
demi energi yang menyuplai mimpi-mimpi orang kota
tentang desau angin pantai atau embun pagi di atas
teratai. Sebab pada mulanya, selain fusi nuklir,
Tuhan titahkan terang lahir dari bioluminesensi
untuk dunia yang mahakecil.

Cerita ibu lain lagi.
Katanya, bintang adalah
kunang-kunang yang terbang jauh tinggalkan rumah.
Mereka awalnya lahir bersama tawa bayi persis
seperti peri dunia magis dalam film animasi.
Namun semakin hari, bayi-bayi lucu seperti itu
tidak lagi lahir. Mereka keluar merobek rahim
sebagai tuan bagi ibu-bapaknya sendiri.

2019

Di Kaki Langit

Dimana batas cakrawala tempat pelangi mukim
dengan anak-anak hujan? Sepanjang pandang,
sejauh langit membentang, jalan yang kita lihat
melingkar di antara laut dan awan sebenarnya tidak ada.
Fana seperti semua teori tentang bumi dan manusia,
kosmologi yang kita pahami dengan berpura-pura.

Mungkin cakrawala adalah wujud masa lalu
dalam dimensi ketiga: ia terlihat sekaligus tidak nyata.
Ia ada di sekitar kita, hidup sebagai cerita, tapi tak
ada jalan dan tempat mukim di sana.

Aku mengajukan pernyataan itu untuk menggenapi
pertanyaanmu. Kita sepasang petualang yang jauh
dari diri sendiri. Mencari banyak jalan dan kemustahilan
namun lupa yang paling rintang adalah mendamaikan
mengapa di masa lalu dengan siapa di masa kini.

2019

Kepada Air

Kepada air yang mengubah tiada ke ada
juga dari ada ke tiada, keinginan Tuhankah
yang kaubawa mengalir sebagai pelampiasan
dosa dan rahmat?

Siapa yang menentukan?

Jumlah hujan yang jatuh di gersang padang
tempat nabi-nabi mati dan hidup sekali lagi
jauh lebih sedikit ketimbang yang turun di rimbun rimba
tempat tanah dahulu belum terpetakan. Ketimpangan itu
hanya serupa aliran kecil irigasi dari induk Nil.
Setimpalkah usaha utusan-utusan itu untuk sebuah
keesaan dengan seteguk air yang basahi tenggorokan?

Di banyak kota, air mengalir dimana-mana sebagai
konsekuensi logis dari hujan panjang. Dari bantaran kali
ke jalan raya, dari hati yang patah ke mata. Dimana saja,
sampah dan rindu bereproduksi lebih cepat dan berlipat
ganda dari cendawan. Keinginan Tuhankah hingga kau
akhirnya disebut nikmat atau bencana?

Siapa yang menentukan?

2019

***

Batara Al Isra lahir di Ujung Pandang, 9 Januari 1994. Sedang pusing kuliah antropologi di University of Auckland. Karyanya berupa cerpen dan puisi telah diterbitkan di berbagai media, juga pernah dimuat dalam beberapa buku antologi bersama, Selain itu, karya-karyanya pernah menjuarai beberapa lomba penulisan tingkat nasional. Bergelut di Forum Lingkar Pena, Komunitas Sastra Sungai Aksara dan Perpustakaan Antropologi FISIP Unhas.

Mengamini Rintik Hujan yang Jatuh Hari Ini

0

Gemuruh dari Timur

Dari timur, gemuruh yang kau Esakan tak sampai ke kepalaku, hanya rintik air matamu perlahan menetas di ceruk mataku dan hujan yang kau sebut itu telah bercakap dengan dedaunan, pohon-pohon besar, melinting diatas genting dan seringkali menyebut namamu

Hujan juga mengecup aspal, menggelinding ke selokan kemudian memercik dan beriak mengalirkan rinduku padamu, padahal aku t’lah menelponmu beberapa kali dan kita bercakap puas.

Seperti daun-daun yang mengarah ke langit ketika gelap kian runtuh dan doa-doa ditanggalkan lisan, yang kau Esakan telah sempurna merajut bianglala dan matamu adalah muara menuju debur ombak

Aku menabung rindu pada celengan musim itu, di bawah pohon selepas hujan kau mengecup dan kita adalah dua tubuh terpisah yang kembali bersatu.

2020


Seorang Peramal

Ia meramal banyak sekali, daun-daun di samping rumahnya kapan jatuh, pohon-pohon menjulang di belantara itu kapan rubuh, buah-buah apel kapan bisa dipanen dan bahkan air mata kapan akan menetas

Ia juga meramal sekian banyak orang, kapan seseorang akan lahir dengan anak lelaki, kapan seorang ibu akan mendapatkan rezeki, kapan sesuatu akan terjadi, bahkan ketika subuh ia menebak kokok ayam di waktu pagi

Ia meramal orang-orang yang datang kepadanya, memohon doa dan ramalan yang baik
Namun ia sendiri tak pernah sesekali meramal dirinya.

2020


Sujud Batu, 2

Tak ada yang mesti kutanyakan perihal rindu dan kata-kata
Seperti ihwal batu, diam dan bisu
Dan kau mengeram disana memilin biji-biji musim

Batu itu berzikir, tuan!” katamu
Sambil lalu dengan selendang bianglala kau mendahuluiku
membuka pintu pintu doa kemudian melemparkannya ke langit

Gigil daun di luar selepas hujan dan gemericik air di selokan adalah isyarat tuhan yang merindukan kita sebagai hamba, ketika kau mengutuk sendiri matamu sambil lalu mengumpat “Aku berdosa, wahai tuhan!”

“Batu juga bersujud, tuan! ” katamu kembali

Kau seperti membaca arah angin dari segala penjuru, kemudian diletakkannya batu itu di bawah ranjangmu seperti dahulu ibumu meletakkannya di atas nisan ayahmu

Batu yang kau sebut benda mati itu kini t’lah berdiam dalam diriku” ucapmu lirih.

2020


Sehabis Hujan

Kantuk dan zikir terbayarkan
Matahari mengembun, daun daun berkaca, batu kemudian bicara
Dalam diam paling nyeri dengan sepenggal puisi

Ombak yang mengasuh karang
Melepas segala resah dan kemudian gugurlah reranting cemara itu
Sampan dan lenguh nelayan
Adalah ihwal laut temaram

Sehabis hujan
Jalanan basah dan gigil lalu lalang
Di selokan  mengalir beribu doa dari hulu
Juga air mata telah layu

Bahkan setelah hujan hari ini
Semangkuk mie instan dengan cabai merah
Lebih hangat ketimbang rekah bibirmu yang membekas di bibirku

2020


Uji Coba Menulis Puisi

Awal januari tahun ini, hujan tak henti hentinya merubuhkan matahari dan malam tiba dengan sisa senja yang abadi dalam hangat bibirmu

di bibirku. Ranting patah yang jatuh ke hitam matamu seperti luruh daun pada muara yang dipinggirnya ilalang berdoa pada angin, pada

awan, pada segala yang diaminkan tuhan untuk kita

Aku mencoba menulis kembali nara, setiap yang berjuntai dari hitam rambutmu, juga yang dimatangkan hitam matamu, dan setiap kata-kata dari mulutmu dan mungkin juga pandangan waktu itu.

Sambil mengamini rintik hujan yang jatuh hari ini
Di depan rumah-Mu
Begitu juga diatas sajadah zikirku
Aku memohon
Berdoa

2020


1999

Di tugu kota, kepalamu meleleh mengalir ke hitam matamu namun kau tetap tak beranjak menunggui musim lalu yang datang dengan setangkai bunga

Kau tak pandai berkata-kata, sebuah doa yang tersusun rapi di lemari kamarmu begitu juga lipatan zikirmu yang biru dan ada juga yang merah

Dari matamu, kau meneguk api, menelan biji-biji kemarau Panjang dan di tahun ini kau tak lagi seperti manusia dan entah kau siapa

Tapi aku tetap mengenalimu berjalan di trotoar dan sesekali berhenti memperbaiki letak topengmu yang sewaktu-waktu berubah menjadi sepasang wajah manusia yang tidur, yang bercerai dan yang tertawa.

Kau bahkan tak pandai menghitung, jari-jarimu patah ketika menunjuk kapal di tengah laut, sesekali debur ombak akan menelan resahmu dan kau tertidur

Di tugu kota, yang sesak dengan kata-kata
Segala tubuhmu meleleh dan kusediakan mangkuk besar
Agar tubuhmu tak terbuang percuma

2020


22 Oktober 2002

Dimana kau dilahirkan sebagai perempuan dan manusia memujamu

Kau yang bisu dan tak mendengar apapun selain kidung purnama ibumu dan lantun zikir ayahmu ketika kau tertidur di Pundak mereka

Sesekali dahaga melecutmu seperti kerapan di tanah kerontang yang lenguhnya bergetar sampai ke dada, yang matanya merah memecah angin

Dimana kau dilahirkan sebagai perempuan, dan dedaunan merestui itu

Kau menerjemahkan debur ombak, celah-celah karang, beberapa kenangan, dan lagu sumbang nelayan begitu juga lumut di sampan-sampan gelombang

Barangkali kau juga menafsirkan bunga-bunga laut, menakwil angka musim, merujuk asin pada setiap peluh ayahmu

Dimana kau dilahirkan sebagai perempuan, dan aku mencintaimu

2020


Hikayat Orang Gila

Bahkan aku lebih gila, mama
Ketimbang orang-orang yang berjalan dan mengucapkan serapah sebuah nama
Tanpa sepenggal kain dan hitam kulitnya membunuh matahari

ia memakan bekas-bekas gigitan dan ciuman
memaksa rindunya habis dimakan sepi

aku dan dia sama saja
hanya aku kurang berhati-hati menjalani hidup

2020

=======================

Baidi Narayana adalah nama pena dari Ahmad Zubaidi. Alumnus MA Nasy’atul Muta’allimin dan MTs. Al-Ma’arif Manding. Aktif di komunitas ASAP dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Pemenang lomba cipta puisi nasional Fam Publishing tahun 2018.  Karyanya tercatat dalam antologi Bulu Waktu (Sastra Reboan, 2018), Sua Raya (Malam perayaan puisi ponorogo, 2019), Rumah Kayu (Oase Pubhlishing, 2019), Segara Sakti Rantau Bertuah (Festival Gunung Bintan, 2019).

Sebelum Pesta Berakhir

0




Benih Karmila

Karmila, kembang desa pertama
putri kedua pasangan petani tua
puluhan tahun mengairi ladang
dengan air mata

di tengah kemarau panjang
namanya diambil begitu saja
dari judul lagu Farid Hardja

ia lahir sempurna

entah berapa lama
petani tua itu menanam benih Karmila
padahal tak ada kembang berbunga
hanya batu dan kayu yang semusim lagi jadi abu

bulankah yang melahirkannya?

rambut bijangnya memanjang
setiap siang terurai diterpa angin pantai
saat bukit-bukit digunduli jadi lahan jagung
orang-orang memandang laut dan Karmila

di ladang-ladang tadah hujan
petani dan nelayan menunggu
dikutuk Karmila jadi debu

Lombok, 2019




Menjadi Ayah

di hadapan cermin aku bertanya
akan jadi siapakah darah daging kita
saat ruh yang kudus berhembus
pada tiga bulan pertama

dari perut ibunya aku berbisik,
darahku mengalir di tubuhmu
seperti santan dan minyaknya

dan aku, dan kau adalah yang terpilih
yang terbaik bisa abadi
yang terburuk tak mungkin pergi

kenangan tak memberi pilihan
‘hidup yang kelak kau jalani
adalah langkah yang setiap saat kusesali’

Lombok, 2019





Pagi yang Lain

berikan aku pagi yang lain
tanpa surat kabar harian

suguhkan secangkir kopi
dengan gula semanis mimpi

meja sarapan
sepiring khayalan

di kamar mandi
apapun bisa terjadi

dan di atas ranjang
istriku berseru,

‘tidurlah sayang,
tak ada fakta hari ini’

Lombok, 2019





Nyanyian Musim Kemarau  

seribu dulang tersaji di tanah lapang
perempuan desa memanggul harapan
di atas kepalanya

      setundun pisang matang,
      sepanggang ayam kampung
      telur ayam, bebek, dan puyuh,
      sepiring nasi kuning dan putih,  
      semangkuk kacang asin,
      dan segala yang berkuah, digoreng,
      juga dipanggang

mereka berpesta untuk menyatukan doa
meminta tuhan membuka kolam langitnya

seolah yang diminta telah mengamini
akan selalu ada keinginan
dibalik melimpahnya pemberian

sebelum pesta berakhir,
ladang-ladang tak bertuan
dengan sunyi menyimpan harapan

batang-batang jagung terbakar
berkelakar tentang petani
yang menggunduli bukitnya sendiri

di bukit itu
tak ada yang tahu
doamu dan doa tanah telah beradu

Lombok, 2019





Pengobatan Pakon

arang batok kelapa
tak membakar kaki telanjangnya
agar ia melihat mahluk tak kasatmata
menyakiti dengan halus budak jelata

saat gendang-gending ditabuh
seruling panjang mendengung
ia meneguk air kembang mekar
beralas kain putih
bertabur asap dupa

namun sebelumnya
dengan daun pinang muda
tubuhnya berulang kali didera

rasa sakit menyembuhkan derita
bisik tengkorong kepada ia
sebelum menari di atas bara

ia tahu, siapa mahluk tak kasatmata
merasuki dengan halus budak jelata
sebagai penyakit
sekaligus penyembuhnya

Lombok, 2019




Tenun Purba Pringgasela

tumbangkan dua ekor kerbau
untuk mengibarkan selembar kain purba
dengan tiang dari pohon aren
setinggi sembilan lelaki

kibarkan selama dua malam tiga hari
turunkan sebelum senja
tepat di saat tulang punggung keluarga
pulang dari ladang-ladangnya

delapan ratus lima puluh tahun silam
perempuan penenun pertama di Pringgasela
menyesek benang jadi bekal perang lelakinya

ikat erat jadi sabuk di pinggang
niscaya kau akan terjaga dari satu dua tebasan parang
dengan cinta seputih kapas yang kupintal semalam suntuk
kau harus pulang mengasapi dapur, memberi peluk


anak cucu harus tahu, kunamakan kain ini tunggul
agar kalian senantiasa gemar memanggul
memikul peninggalan leluhur

kain purba jangan kau puja
kami menenun merajut cinta
jadi selimut keluarga

Lombok, 2019


=======================
Fatih Kudus Jaelani, lahir di Lombok Timur, 1989. Buku puisinya berjudul Asmara Ular Kayu (akarpohon, 2016). Kini bekerja sebagai wartawan di salah satu surat kabar harian lokal di Lombok dan aktif bergiat di komunitas rabulangit Lombok Timur.

Menembus Dinding Kesunyian

1



Rindu Berdarah Dalam Batinku

Ya habibana yang berdarah dalam batinku
Yang kurindu dalam dukaku
Sebelum fajar kusingkap
Datanglah engkau ke selubung imanku
Tak ada yang kusembunyikan
Dari sisa-sisa rahasia
Nestapa yang kutelan
Adalah derita yang kuterima

Bagaimana aku
Pantas mengaku
Paling sengsara
Sementara dunia diciptakan
Bagi kegembiraan

2019


Mata Airmata

Suara-suara tangis
menikam
datang dari
kegelapan paling
kelam
mendengung
dari tubuhku
yang lemah
dan parau

Suara-suara
meminta
rahmatMu
bagai
gemuruh
gerimis
menghapus
sisa
perih
dan luka

O, Duka Mulia

Airmata bagai syair
tak melenyapkan
kesedihan apa pun

Bukan keheningan
yang aku cari
atau diam yang
Agung
tapi riwayat api
membakar bulan
menjadikannya gelap
sebentuk lorong
sinar lilin
di ujung tepi
dilalui
pejalan sepi
dalam sekarat
bumi hangus

2019




Amsal Kesedihan

Api membara dalam tubuhku
Tetaplah menyala
Oh, tapi tidak
Aku telah menjadi abu
Aku telah diterbangkan
Kepedihan. Sejak nyala
Cintamu membuatku
Berdarah dalam dekap
Demi dekap, saat rebah
Di bibirmu.

Kau yang bagai sinar
Hampir pasti tak mungkin
Aku menyatu dalam moksa
Aku hanya sanggup
Menjadi pengintai
Bagi perasaan
Yang dicari pencinta
Dalam detak
Dalam cahaya

Dan aku menapaki kembali
Cuaca buruk
Bagai angin sakit
Menerpa lampu-lampu
Kenangan ambruk
Mirip angin ribut

Aku menjejakinya lagi

Kalender musim hangus
Seperti aspal

Aku tinju
Langit jahanam ini
Bagai duka
Nyanyian
Burung-burung
Kesedihan

2018-2019




Amsal Amarah

/1/
Dunia rebah
Ke dalam
Amarah
Seperti pohon
Pada gejolak api

Apakah awan-awan
Menyimpan lahar
Sehingga turun ke atas dendam
Bagai sengit
Mata api?

/2/
Kesia-siaan datang
Dari sela pintu
Di sepotong siang
Yang angkuh

Apakah jarum-jarum cahaya
Telah menjadi
Mata biru
Di mataku
Yang rapuh?

2019




Meninggalkan Desember

Aku
membiarkan diri
memasuki tahun-tahun asing
tersesat dalam suara-suara
ketenangan
dari balik kaca

Kebisingan terdengar lebih pelan
bagai nada jauh
dari hiruk pikuk orang-orang
yang melampaui kesedihan
setiap malam cahaya bulan tak berhenti 
menembus dinding kesunyian

Aku
membiarkan diri tersesat
dalam lorong-lorong
musim yang risau
bergerak
dalam senyap yang kedap
mengikuti lentera dengan cahaya redup
dan retak

2019




Menanti Kabar

Dalam sepi yang asing, dalam sepi yang
Tak kukenal. Betapa panjang jarak
Perjalanan, jarak kerinduan. Jarak sakit
Menempuh jalan. Bagaimana
Menghapusnya? Mungkin dengan
Airmata. Atau anggur kecemasan.
Surat-surat yang tergeletak di meja, ingin
Aku mengirimnya. Tapi, kepada siapa?

2018




Setu Babakan

Arus yang mengarah kepadaku itu
Adalah engkau
Selembut maut
Semurni sengsara

Bagaimana bisa aku tenggelam
Dan hanyut
Dalam lagu-lagu yang kausenandungkan
Di malam sedih?
Sejauh aku melihat hanya danau sepi
Dan kekosongan mengalir ke dalam diri.

2019



Aku Akan

Aku akan menulis bagai air bah
Tsunami yang menerjang lembah
Kesedihan
Setelah kering sungai
Kata-kata

Barangkali aku akan menulis
Dengan tenaga ombak
Dirimu yang penuh kecemasan
Seperti kalimat yang tak selalu selesai

2019


===============
Restu A. Putra, saat ini bergiat dan belajar menulis di Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Bogor. Buku Kumpulan Cerpennya, Siapa Sebenarnya Ajengan Hamid Sebelum Diburu Anjing-Anjing? (Rua Aksara, 2019).

Pada Akhirnya Kau Kembali

1



Tabarak, Tabaruk

Aku sedekahkan diriku
untukmu. Kau sedekahkan dirimu
untuknya.

Ia murtad demi cinta
kepada, yang ia akui kekasih, tapi
telah miliki kekasih.

Pada akhirnya kau kembali,
seperti salju jatuh di pelataran masjid.
Sebagai ajaran agama baru untukku.

Dan meski telah kupelajari,
aku tak kunjung paham.

(2019)



Fahisyah

Awan dipecut malaikat.
Rum palu untuk kepala kami, kutu di baju takwa kami.

Mereka pembuatnya. Allahu akbar.
Berpijak di tempat yang goyang.

Banyak simpang di sana. Setiap ujungnya
mengarah ke lubang hitamnya masing-masing.

Angkasa— seperti para wanita kami lepas kerudung.
Sesuri sajak pada kulit-kulit kami, rasakan pecutan itu.

Arakan awan yang diarahkan ke utara.
Sudut lesat, bagi tiga buah mata angin.

Mereka genggam rum palu itu.
Mereka rendam baju takwa itu.

Kami pembuatnya. Allahu akbar.
Berkat terinjak tepat di ubun-ubun.

Angkasa— tetap seperti wanita kami lepas kerudung.
Mungkin itu sebab awan, enggan jalan, terpecut malaikat.

Tapi kami, mereka, kini berada sama di tengah simpang.
Untuk jemput lubang hitam masing-masing.

(2019)




Marjik

Fajar rekah, masyaallah.
Remah yang dulu, subhanallah.

Sisa racun dosa, subhanallah.
Perak pahala itu, alhamdulillah.

Menujuku di sini, menujumu di sana.

Ya Allah,
Magrib serupa selimut terbakar,

sayap-sayap malaikat ikut terbakar
di sebuah malam

pada sebelah wajahku
yang hijrah

seperti putih kupu-kupu
di suatu sore
dengan gerimis terhenti
di udara:

“shollu ‘alan nabi.”

(2019)



Barua

Wanita yang kini bercadar itu
membawa pedang untuk kekasihnya,
mantan kekasihnya.

“Aku hendak membunuhmu.”

Kekasihnya yang bagai udara itu
bernama dosa.

“Kau tak akan pernah
bisa membunuhku.”

Keesokan harinya, ia datang
membawa doa. Doa yang telah lama
ia lupakan.

Maka terbunuhlah kekasihnya itu,
Mantan kekasihnya itu.

Dan tumbuh di tubuh wanita lain.
Yang tidak bukan adalah dirinya juga.

(2019)

==================

Hakaik lahir di Ampenan, Lombok, 18 April 1996.  Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di UIN Mataram. Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Memeluk Tubuh Hujan

0



Definisi Lain Puisi

Puisi adalah jalan lain yang dipilih
untuk bahagia

Puisi adalah catatan lain yang ditulis
untuk keabadian

Puisi adalah bunga mekar yang tumbuh
di bebatuan waktu

Puisi adalah lubuk terdalam
dari sungai rindu   

Puisi adalah pertemuan antara
saya dan engkau

Indramayu, 2019 


Memilih Warna Hujan          

Sore pun ditumbuhi hujan
Tetes-tetesnya menjadi daun
Payung pelindung bunga

Hujan hari itu memiliki banyak warna
Saya pun memilihkannya untukmu
Biru muda seperti warna gaun

yang kaupakai

Saya pun memeluk tubuh hujan
Hangat seperti nyala puisi
Daging kelinci bakar 

Hujan adalah bahasa yang tercurah
Doa-doa yang dipanjatkan
Dan cara Tuhan menjawabnya

Indramayu, 2019



Epos Kita

Kita ceritakan hanya dalam puisi
tentang buah rindu,
epos kita dalam rahasia dulu.

kau matahari kehidupan hangat.

Pada cahaya prisma yang terpendar jatuh
diam-diam saya temukan,

Tadi malam membuka tulisan kau
seribu ingatan tergantung,
bait-bait rindu di dinding kenangan.

Bahkan segelas susu manis
tumpah di aliran bibir,
kita menyelam ke dasar kolam.

Daun, ranting, dan putik
dipeluk desir angin,
bunga-bunga mekar bergetar. 

Melimpah buah anggur merah
daging belarik-larik,
memerasnya menjadi lagu cinta.

Indramayu, 2019 



Omeros Kita

I
Seusai perbukitan itu, kota-kota kecil,
dan pelabuhan yang juga kecil,
di sanalah omeros kita.

Dermaga bagi pelabuhan jiwa

sebelum lautan kehidupan
segenap riak ombak dan gelombangnya.

Sebuah bahtera masih terpancang,
esok atau lusa kita akan berlayar
berenang bersama ikan.

II

Tahun adalah kebersamaan kita
bumi yang berkeliling bagai jarum jam,
menuliskan perjalanan itu.

            Kucium harum waktumu,

meraba bagai laba-laba menyulam jaring
barak yang melambungkan mimpi.

Semilir angin menggeraikan daun matamu,
mengantar bau gerimis ke luar jendela
jatuh di taman bunga.

III

Saya menyadari tak lagi membuatkanmu puisi,
Membacakan dongeng sebelum tidur
atau romantisme epos gilgames.

Januari telah jauh kita tinggalkan
aih, tak terasa Desember menebal bagai salju
mengangkat kesadaran kita.

            Cahaya di permukaan sungai,
memantulkan bayangan kita
dengan senyum bahagia

Indramayu, 2019



Hamlet Kita           

Dalam redup sorot lampu
Kita menaiki tangga panggung

Apa yang harus diperankan
sebenarnya?

Kita tak sedang mementaskan
tragedi bukan?

Dan skenario itu adalah
dawai-dawai yang menegang   

Saya mengandaikan gema
segera mereda

Dan perlahan adegan musim semi
mengganti aroma guguran

Lihatlah kebun yang kausulap
di atas pentas

Malam masih sejauh perjalanan
Memetik garis riuh tepuk

Indramayu, 2019



Lagu Cinta Kita

Mari kita menulis lirik
Larik-larik pelangi bergetar di bibir
Saat tatapan saling memberi kasih
Seperti matahari dan bulan
Bagi putaran bumi

Mari kita ke taman bunga
Memetik dawai pada tangkai gitar
Serbuk sayap lebah naik turun
Mendendangkan harum nada
Madu terkapar di bibir cangkir

Saya di sini memeluk bulan yang kau peluk
Kau di sana mengiris daging buah mangga
Manisnya seperti puisi

Kita bersama dendangkan asmara
Di padang rumput, pepohonan, dan bukit kekasih
Dan akan selalu ada waktu untuk itu

Indramayu, 2019



Hari Remaja Kita  

Dengan banyak cinta hari remaja kita
Seperti paruh burung memecah biji-biji buah
Melemparkannya pada tanah ohon liana

Merambat ke langit dunia

Dengan bendera cinta
Menebar kibar di mana-mana

Kepada saya kaubuatkan sekeranjang bunga
Memberi keindahan surga di kamar

Sewangi puisi yang kaubaca

Mari meneguk matahari cinta
Atau menggigit rembulan biskuit

Kita menjadi remaja selamanya

Indramayu, 2019   




===========
Faris Al Faisal lahir dan tinggal Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Namanya masuk buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia Yayasan Hari Puisi. Puisinya mendapat Augerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI dan HPI 2019. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (FORMASI). Menulis fiksi dan non fiksi. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018), dan Antologi Puisi Dari Lubuk Cimanuk Ke Muara Kerinduan Ke Laut Impian Rumah Pustaka (2018).

Tulisannya tersiar berbagai media, antara lain seperti: Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Koran Jakarta, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Haluan, Suara NTB, Riau Pos, dll.



Setiap Kali Namamu Kusebut

0

Laut Yang Melukis Kita

Akhirnya kudatangi lagi pantai ini:
di mana kita pernah mengarsir nama
di luas butir-butir pasirnya: waktu adalah ombak
yang menyapu setiap jejak menjadi buih-buih 
yang kita titi dengan hati-hati dan tertatih.

Akhirnya kupandang lagi laut ini:
di mana muasal birunya pernah saling kita debatkan
—dari langit yang tinggi itu ataukah matamu yang dalam—apa bedanya?
Bagi jangkauanku yang terlampau pendek,
keduanya toh sama belaka:
tak sampai kucapai,
tak saguh kusentuh.

Akhirnya kuhidu lagi udara beraroma garam ini:
di mana desaunya pernah mencipta riak-riak kecil
pada ombak rambutmu, rinduku tertaut di kusut kasaunya.

Laut adalah imaji yang melukis kita di sebidang puisi:
kau boleh jadi bangkai perahu
yang telah lapuk dipiuh waktu.
Tetapi aku tambang, yang mengikat kencang cinta
pada hati setugur pancang.

2020



Jadikan Aku Penyair yang Kau Cinta
: Adilah Pratiwi

“Tak segala yang ada pada bola matamu,
dapat ditampung kata-kataku, Adila. maka pejamkan matamu,
biarkanlah puisi itu kutulis dengan dawat kecupku!”
kataku dahulu, di suatu sore yang langitnya tersusun dari jingga senja,
yang sempat kuduga sebagai rona rindu kita.

Pernah suatu kali kusampaikan pula padamu,
di suatu malam yang langitnya terjalin dari gugus gemintang,
yang pernah kuduga sebagai kilau cinta kita.
“Hidup ini makin menyerupai labirin, Adila.
setiap jalur-jalur berkelok di dalamnya
mengantarku ke ruang-ruang yang setiap sudut dindingnya,
terpajang berbingkai senyummu!”


Tetapi begitulah kau, tak mau percaya kata-kata
dari mulut siapa saja yang kau anggap sebagai penyair.
“Tapi aku bukan penyair, Adila! Belum bisa disebut penyair.
Aku hanyalah pesakitan yang kerap menulis derita,
lewat deret derit kata-kata.”


Derita itu, kau tahu? ditanam oleh rindu,
sekian waktu sudah ia terpendam di gembur dadaku.
Dengan deras jarak, ia disiram.
Dengan rentang waktu, ia dipupuk.
Ia tumbuh jadi sebatang pohon,
akarnya jadi umbi yang tambun,
makanan pokokku sehari-hari.

Kemari, o, kemarilah, Adilaku!
Jangan biarkan rindu ini terus membuatku jadi pesakitan
yang hanya gemar menulis derita
lewat sederet derit kata-kata.
Kemari, o, kemarilah, Adilaku!
Jadikan aku penyair yang kau cinta,
walau masih sukar kau percaya
kata-katanya.

2020



Jika Cinta Adalah Perjalanan Hidup

Apa yang lebih gemar kita ulang-ulang saban hari,
selain percakapan-percakapan
tentang pertemuan tak sengaja
dan cinta yang jatuh seketika itu juga,
bagai serbuk sari pada suatu putik bunga
yang membuahkan rindu,
tak kenal jemu kita petik setiap waktu.

Apa yang lebih senang kita perbincangkan kembali
selain hari-hari yang t’lah lewat
dan tercatat di masing-masing ingatan kita
sebagai sebuah sejarah
di mana kenangan-kenangan istirah.

Sayangku, jika cinta adalah bagian dari perjalanan hidup,
bolehkah kujalani seluruh bagian hidupku
untuk sepenuhnya mencintaimu?

2020



Setangkup Selimut dan Setungku Api

Aku tubuh yang pernah terbelah dan tercacah.
Sebelum kau datang lalu menjadi mukjizat;
menjadikan bagian yang semula lepas
kembali rekat dan terikat.

Aku gigil tubuh dan gemeretakan gigi
Di malam-malam musim kemarau menuju pagi.
Sebelum kau datang dan hampiri;
menjadi setangkup selimut dan setungku api

2019




Setiap Kali Diretas Jarak

Setiap kali namamu kusebut,
aku jasad mati yang kembali
kau beri denyut.

Setiap kali mata kita bersipandang,
degup jantungku luka kecil
yang tiba-tiba meradang.

Setiap kali aku kau sentuh,
aku tegak tubuh
yang mendadak lumpuh.

Setiap kali kita diretas jarak,
tubuhku retak dan menyusun kembali
dirinya menjadi sajak.

2019




Pukul 03.00 Pagi

Melihat trotoar basah berkilauan
dibasuh hujan dan lampu jalan,
ia kepikiran juntai rambut kekasih
yang berkilauan disepuh matahari
di siang bolong.

Bersama kopi yang tinggal ampas
dan sepi tak kunjung tandas,
sebuah puisi belum selesai
harap-harap cemas
pada penyair
yang matanya merah berair

Pukul 03.00 pagi,
dingin kepalkan tangan
meninju pertahanan tubuhnya
yang rapuh
tanpa pelukan.

2019


=====================
Yohan Fikri Mu’tashim
, lahir di Ponorogo, 01 November 1998. Alumnus Pondok Pesantren HM Putra Al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri ini sekarang sedang menempuh pendidikan di Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang, sembari menimba ilmu agama di Ponpes Miftahul Huda Gading Malang. Aktif menulis puisi. Juara 1 Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional BATCH 2 yang diselenggarakan oleh Ruang Kreasi tahun 2020. Puisi-puisinya termuat dalam antologi bersama: Babu Tetek: Seibu Puisi (Penerbit Kuncup, 2018) dan Santri (Penerbit Sulur, 2019).

Lesat Ke Langit Hakikat

0



Sebagai Penyair

aku berjalan ke taman-taman, di samping berjajar mawar segar. durinya merobek keheningan kita. sebagai penyair yang selalu belajar pada setiap petaka, aku mengawasi setiap luruh embun dan sujud daun-daun. debu yang diterbangkan ke langit oleh angin timur. dan matahari yang bangkit dari ranjang memastikan dunia pantas berjalan. sementara biru doa, menggumpal di ini dada. membusung sebelum mengetuk pintu langit. aku selalu berjalan, menerobos kedalam pikiran orang-orang. menemukan luka yang sudah tidak lebam dan lengket. mengering.

sepanjang hari hanya dihabisi untuk menyederhanakan sakit. sesederhana mungkin. katamu, penyair hanya ditugaskan untuk menangkap setiap yang mengerjap. lalu diungkap dengan getar lain, dengan bunyi-bunyi asing di kuping. selebihnya penyair tidak mencintai kepedihan, hanya saja kesedihan lahir dengan wajah macam-macam.

Gapura, 2020




Sebelum Hijrah

dari Adam kepada Hawa

1//

kau bisa membayangkan, Hawa, ranting gigil setiap pagi dipeluk embun. dihajar debu-debu yang berangkat dan terbit dari balik bukit. dan kita dipeluk dingin yang sama dalam rentang kabut sisa subuh. aku hanya merasakan tanganmu halus membelai-belai tanganku. kita berciuman lekat, begitu dekat. kau menuding buah-buah ranum semerah bibirmu, berjumbai di atas kepala kita. kau begitu patuh, bahwa buah itu bisa mengekalkan cinta kita dan berahi dari balik kata-kata.

dari Hawa untuk Adam

2//

aku hanya menyembah puncak firasat yang lesat ke langit hakikat. kau sendiri, Adam, begitu lemah pada seorang perempuan; atas nama cinta dan belas kasihan. maka dengan melahap buah-buah sesegar bibirmu, kita akan abadi di sepi semadi. paling tidak kau tidak merasa kecewa oleh kata-kata. mendekatlah, Adam, tanganku yang membentuk lingkar ular begitu lihai mencabik-cabik daun. sebelum menggugurkan belahan buah yang kelak melekat di tenggorokanmu dan timbul di dadaku.

Gapura, 2020

Kota Sepi Tiba-Tiba

kita mengurung diri, Ayu, berteduh dari angin merah jambu yang bertudung gelisah sesuntuk rindu. angin-angin lain semakin asing di kota kita, Ayu, jalan yang selalu sempit semakin menghimpit. memburu nafas kita yang sebegitu pendek. sepi perkasa, Ayu, mengalahkan apapun. kerap nyaring dengan berbagai denting. kita suka dengan keberadaan sesederhana ini; meski sedikit rumit dan memeras ketenangan kepala.

keramaian berpindah ke dada, Ayu, membunuh kecamuk rindu dan perang batin seorang penyair. gamang meninggi seruncing sepi-sepi kita. sedang aku selalu berlindung dari terik merah matahari. sampai tiba, Ayu, kabar kepergian. kabar kedukaan yang sama bengisnya. demi apa saja, yang semakin molek dan bersarang di kepala. duh! Ayu, kita hanya merasakan kota yang kerasukan senyap berlebihan.

pintu-pintu biru tertutup, Ayu, polusi merobek langit ketujuh. awan berbentuk domba terus berputar di tempatnya. mengawal kepedihan. kesedihan yang sama puncak. bumi yang kita duduki, Ayu, tulang punggungnya sering ngilu. sampai kita mati terbunuh oleh udara itu.

Gapura, 2020



Semua Menutup Pintu

lihatlah! di halaman-halaman yang memanjang dengan warna merah kesumba. kesunyian tumbuh setelah kita benar menutup pintu. tempat biasa semilir angin melompat, sebagai jalan kedua setelah jendela. selebihnya, ketakutan merimbun dan memadat di dada kita. semestinya keramaian harus berpulang pada liang kefanaan. pada lubang-lubang hitam di halaman belakang. diganti senyap yang terus merayap dan mengendap, mengintip kita sepanjang siang.

dawai angin mengasingkan diri, perlahan menjauh dari daun dan ranting hampir patah. pulang pada sarang, pulang ke rahim hutan. hingga kita mengkhidmati gerah berkepanjangan. sampai ketenangan terus terusik di tempat duduk. sunyi mengacak-acak rambut kita, mendengungkan kidung nelangsa seasin tanah. meletup di halaman yang terus memanjang ke arah matahari. siapa yang berjalan di setapak, sama dengan menantang amuk maut.

malam dan siang bersetubuh, mendesah seperti yang sering kudengar di ranjang ibu. semua menutup pintu dan sama-sama berjalan di sunyi yang baru.

Gapura, 2020



Pemabuk Sepanjang Jalan

sepanjang jalan, sepanjang gerimis yang membentur kabel listrik. kau lihat, bagaimana seorang pemabuk berjalan, jalang. melipatkan kedua tangan ke punggung belakang. ia begitu mengerti, mengendap dalam sepi. menghindar dari kerumunan dan menjadi pemabuk sendirian. di kepalanya, hanya berkecamuk sisa-sisa perang. lalu melesat abad-abad pembantaian. ia hanya suka menjadi orang paling tidak sadar di jalan. berjalan semestinya, hanya sekadar berjalan.

sepanjang remang lampu-lampu taman, kita melihat ia duduk di sebuah bangku melompong. berteman pernak-pernik sepi, sedih. barangkali ia percaya, hanya dengan begini. hidup tidak begitu rumit dinikmati. demi musim yanh terus berganti-ganti, menebar segala bentuk perih. kuyakinan, kepalanya memberat. segala yang tumbuh di dalamnya hanya kepedihan. bekas-bekas darah seperti di selangkangan. ia semakin jalan, ke arah lampu yang lebih sering membunuh temaram.

sepanjang kesedihan yang kita miliki, kita seperti asing di tempat sendiri. sama seperti mereka, kita mabuk sepanjang jalan. sepanjang gang-gang sempit diselimuti petang.

Gapura, 2020



========================
Moh. Rofqil Bazikh. Lahir di pulau Giliyang kec. Dungkek kab. Sumenep Madura. Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP.
Puisi-puisinya terbit di pelbagai media cetak dan online antara lain: Harian Rakyat Sultra, Bali Pos, Pos Bali, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Galeri Buku Jakarta, Litera.co, KabarPesisir dll.
Karyakaryanya termaktub dalam antologi: Dari Negeri Poci 9; Pesisiran (KKK;2019), Bulu Waktu (Sastra Reboan; 2018),When The Days Were Raining (Banjarbaru Festival Literary 2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Membaca Asap (Komunitas Seni Sunting Riau) Segara Sakti Rantau Bertuah (Kepri 2019), Surat Berdarah di Antara Gelas Retak(2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019), Bandara dan Laba-Laba(Dinas Kebudayaan Provinsi Bali). Sekarang berdomisili di Gapura Timur Gapura Sumenep.

Merekah Meruah Cahaya

0



ROMANSA KEBUN KATA

sulur-sulur tumbuh merengkuh
di antara reranting penuh seluruh

bebunga liar di kebun asmara
merekah-rekah pancaran gelora

romansa mulai tertera
di kebun menjelma kata-kata
tunaikan kisah tentang cinta dan luka

dari pucuk pena tinta asmara
seratkan bait-bait pada daun cerita

cinta mulai merekah
dari kuncup yang pernah terluka

masalalu kian mereda
oleh sekuntum bunga di kebun kata

Jombang, 2019





AIR MATA PENA

pada ujung runcing mata pena
mengalir air mata kata-kata
tanpa berakhir walau seribu telaga
penuh dan meluap hingga samudera

syair-syair tentang semesta
atau rasa cinta pada pencipta
tak pernah berakhir oleh air mata pena

Jombang, 2019




RITME TASBIH

bergulut-gulut ritme bertasbih
tuntaskan hasrat dalam peran malam
purnama kian sempurna
merekah meruah cahaya dipeluk bumi
mengirap kata rindu pada pencipta rindu
meruap belas kasih dalam renjana

purnama kian merayap
melambai nyalang, menggulut waktu
sampai fajar merekah, subuh berlalu

Jombang, 2019




MENJELANG PAGI

denyar fajar di kala subuh
burung kutilang riuh gemuruh
pohon mangga tak sempat berteduh
air mata langit semalam membasuh

mutiara pagi di pucuk daun
sisa hujan pertama mengalun

adakah pemetik mutiara itu?
selain kumbang dan kupu-kupu

Jombang, 2019




OMBAK KECIL

kesabaran adalah ombak kecil
hilang terhempas tak menepi.
merindu pada siur angin
pengubah nasib.

kesabaran adalah ombak kecil.
lenyap seketika tergulung
dahaga ombak yang besar.

yang kecil tak menepi,

yang besar liar tanpa negosiasi.

Kesabaran adalah yang kecil.
entah kapan, yang besar sadar,
dari kami yang kecil, telah
membesarkannya.

Jombang, 2019




TERINGAT JANJI

sedari pagi aku teringat janji
yang terpatri di setiap dekap
ayah dan juga sanak adalah saksi
tentang cinta yang terucap
ikrar setia di tempat suci
sampai tua hingga menghadap

Jombang, 2019




ORASI JATUH CINTA

tiada yang dapat menahan
jika asmara mulai tersulut
bagai masa yang beraksi
tak peduli pagar berduri
diterjang hingga menepi
teriakan kata penuh emosi

entah apa yang dirasa
pada yang sedang menahan cinta
apakah harus berorasi?
ataukah diam
dengan kata yang sembunyi

bagi lelaki, cinta harus berorasi
namun tidak dengan emosi
pakailah hati: penuh filosofi

Jombang, 2019

=======================

MIFTACHUR ROZAK (Bang Jack) Tinggal dan Lahir di Jombang, 03 Februari 1988. Pernah menimba ilmu di MTs dan MA Umar Zahid Perak. Tahun 2011 lulus S1 PBSI STKIP PGRI Jombang. Sekarang mengabdi sebagai Guru Bahasa Indonesia di MTsN 2 Rejoso Jombang. Karya-karyanya dimuat di Koran: Riau Pos, Medan Pos, Fajar Maksar, Radar Mojokerto, dan Radar Jombang.

Terbaru

Rahasia yang Rontok dari Ranting-Ranting

Dongeng Seribu Satu Malam malam itu di suatu kota yang bekudari lemari es dongeng seribu...

Zikir Para Pendosa

Setipis Malam dan Sunyi

Dari Redaksi