Puisi

Home Puisi

Perjalanan Rahasia Tentang Angin

0

Hijrah Muhammad

aku tahu hidupmu lebih gersang dari padang pasir
bahkan padang batu sekalipun
namun detak nafasmu jujur, seperti tetes airmata
dari qalbu-qalbu hawa

Muhammad, kata-katamu terukir jadi sabda
dan bergulung seperti ombak di dada domba-domba
yang kau sebut di akhir hayat:
ummati, ummati, ummati, bisikmu
apakah gerangan maksud ibamu itu jika segalanya telah
terang jadi berlian di leher kebimbangan

perjalanan rahasia tentang angin
yang telah mengantarmu ke sebuah gua kecil di bukit jabal nur
tempat di mana kau menggoreskan sajak-sajak sakti

dari sana kau mengisahkan dirimu yang sesungguhnya
berkat Lahab dan Jahal yang murka atas sabda-sabda
melambung ke setiap jazirah yang dibawa unta-unta
di tengah padang lata

lalu keyakinan macam apa yang mengantar tubuhmu
menjadi tabah memegang erat sebuah nama dari cahaya
langit dan bumi yang menumbuhkan buah kurma

bukankah kau memulai riwayat cahaya dari gua ke gua,
dari kebimbangan, kesendirian menuju keheningan?

penciptaan Adam telah terukir pada kitab lembab
perihal ia mencari hawa
lalu melahirkan Qabil dan Habil dalam keadaan sahaya

Sirah Adam

wahai Qabil dan Habil, engkau bermula semisal ular
yang mempersiapkan sesaji bagi si dewi

tapi sebab pertengkaran melawan saudara
salah satu darimu berdarah,
barangkali sebab itu tubuhmu berubah jadi nanah

dan darahmu mengalir ke sebuah oase
di mana seekor burung nuri tiba membawa ibrah
bagaimana memusnahkan bangkai saudara
supaya aromanya tak menyengat ke anak cucunya

tapi angin telanjur lantang menyembunyikan
segurat kisah purba yang menyimpan rahasia di baliknya:

“kenapa tubuh kita tak sama semisal bangkai ular,
menghilang tak meninggalkan nisan atau jejak kehidupan?”

hai Adam, anak cucumu sungguh iri pada binatang melata
yang tak tahu dirinya lebih hening dari manusia

dalam buku sejarah leluhur yang ditinggalkan
sejarah mengalir ke selokan terakhir
berbusa-busa menyimpan rahasia

Teguh Iman

kadang segala yang datang goncang teguh iman 
tapi aku masih punya butir imanen yang kulentikkan
ke pundak bayangan supaya ia tak berani mendekati
si alai-lunglai tak bertuan ini.

aku juga punya cemeti yang kulecutkan bila jari-jari
mulai merasakan dingin-merinding
atau bising mengantar terasing di sudut rasa asin.
di antara sepasang bibir tubir keimanan.

kenapa iman terasa seperti pedati, semisal aku lembunya 
menghela kokoh diri supaya tak cepat rubuh dan melepuh
tercampak musuh ke kandang kekalahan.

meski memang kalah dan menang bukan soal pilihan
melainkan seberapa tegak diri tergenggam janji
terjaga atas setiap bahaya atau siasat waktu yang ragu-ragu
mengibaskan diri merubuhkan imanku.

maka aku segera menyalakan imanen dan ujung cemeti
supaya tampak berani jika musuh
menyerang dari depan atau belakang.

Baldwin Membawa Tentara Menuju Nil

tuntas sudah tugasnya di lembah kidron
baldwin bosan hanya jadi tukang pandu bagi
si cleopatra di kota tuanya, meski
adelaide  tak merestui perjamuan, sebab ia
hanya merindui palermo di bawah umbul-umbul.

tapi baldwin bosan pula bekerja dengan telunjuk
ke syiria dan armenia yang durhaka
hingga ia butuh ketenangan di deras nil
menatap ikan melompat nan mendarat.

baldwin memastikan hasratnya yang nekat,
merebut langit mesir dan syiria
di tangan atabeg yang 
tegak di tanah mosul dan damaskus.

aku meyakini yakin dalam dadaku

baldwin tak menghiraukan peringatan setan
juga rintihan frank seperti ada paragraf yang
hilang dalam ingatannya, hingga.

ia terkapar legam di perbatasan
tak sempat menangkap ikan yang
berkeliaran di nil yang panjang.

Peristiwa Doa

semisal kendaraan yang melintas di antara pemukiman dan sepetak lahan
hanya sejenak angin berwajah anggun mendesir ke punggung pejalan,
sementara para kiai masih menunggu tuhan di sudut mushalla
aku pernah membayangkan diri meninggalkan sebuah tempat yang pernah
menjadikanku tinggi. tapi lidah telanjur sedingin pohon pisang
tak mampu menghapus kelancangan
sementara aku masih menyesali setiap yang terlewat, semisal lelaki yang
menunggu seorang kekasih yang telanjur pulang
sekelebat bayangan tengah berjalan ke sudut paling rahasia dalam kerumun peristiwa
serta segunduk kawan yang muram membicarakan perihal perjalanannya
dan siasat doa supaya terkabulkan
tapi hanya melintas kembali, sejenak saja
segala dosa berguguran seperti daun tua

Ali Batu

perahu terbelah. lalu ia mengubah pasukan burung jadi batu. telunjuknya tongkat musa yang mengubah deret benda jadi batu dalam kesendirian di rahim tuhan yang menyatu. pernah suatu malam ia tak mampu memisahkan antara hidup dan mimpi lantas dijatuhkan sunyi yang sakti. turun wangsit untuk menyimpan paku, palu dan sebuhul sabuk saje yang diikat di pinggang waktu.

ali batu, aku membayangkanmu datang dari sudut malam bersama sebuhul kata yang pernah kau pendam dalam kesendirian.

=========

Mohamad Baihaqi Alkawy, lahir di Toro Penujak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Mei 1991. Banyak menulis puisi dan esai. Puisinya  tersiar di Indo Pos, Media Indonesia, Sinar Harapan, Suara Merdeka, Suara Karya, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Bali Post, Koran Kampung, Lampung Post, Haluan, Minggu Pagi, Riau Pos, JogloSemar, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Lombok Post, Suara NTB, Radar Lombok, Radar Mandalika, Buletin Egaliter, Jurnal Santarang, Majalah Sagang, dan Buletin Kappas. Juga Tersimpan dalam Buku Antologi 22 Penyair NTB, Dari Takhalli sampai Temaram (2012), Antologi Penyair Nusantara, Indonesia dalam Titik 13 (2013). Negeri Langit (2015). Salah satu cerpennya berhasil masuk antologi Lelaki Purnama dan Wanita Penunggu Taman (2012). Terpilih dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018. Bukunya, Tuan Guru Menulis, Masyarakat Membaca (2014). Kini tengah menyelesaikan studi Studi Agama dan Resolusi Konflik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Menembus Dinding Kesunyian

1



Rindu Berdarah Dalam Batinku

Ya habibana yang berdarah dalam batinku
Yang kurindu dalam dukaku
Sebelum fajar kusingkap
Datanglah engkau ke selubung imanku
Tak ada yang kusembunyikan
Dari sisa-sisa rahasia
Nestapa yang kutelan
Adalah derita yang kuterima

Bagaimana aku
Pantas mengaku
Paling sengsara
Sementara dunia diciptakan
Bagi kegembiraan

2019


Mata Airmata

Suara-suara tangis
menikam
datang dari
kegelapan paling
kelam
mendengung
dari tubuhku
yang lemah
dan parau

Suara-suara
meminta
rahmatMu
bagai
gemuruh
gerimis
menghapus
sisa
perih
dan luka

O, Duka Mulia

Airmata bagai syair
tak melenyapkan
kesedihan apa pun

Bukan keheningan
yang aku cari
atau diam yang
Agung
tapi riwayat api
membakar bulan
menjadikannya gelap
sebentuk lorong
sinar lilin
di ujung tepi
dilalui
pejalan sepi
dalam sekarat
bumi hangus

2019




Amsal Kesedihan

Api membara dalam tubuhku
Tetaplah menyala
Oh, tapi tidak
Aku telah menjadi abu
Aku telah diterbangkan
Kepedihan. Sejak nyala
Cintamu membuatku
Berdarah dalam dekap
Demi dekap, saat rebah
Di bibirmu.

Kau yang bagai sinar
Hampir pasti tak mungkin
Aku menyatu dalam moksa
Aku hanya sanggup
Menjadi pengintai
Bagi perasaan
Yang dicari pencinta
Dalam detak
Dalam cahaya

Dan aku menapaki kembali
Cuaca buruk
Bagai angin sakit
Menerpa lampu-lampu
Kenangan ambruk
Mirip angin ribut

Aku menjejakinya lagi

Kalender musim hangus
Seperti aspal

Aku tinju
Langit jahanam ini
Bagai duka
Nyanyian
Burung-burung
Kesedihan

2018-2019




Amsal Amarah

/1/
Dunia rebah
Ke dalam
Amarah
Seperti pohon
Pada gejolak api

Apakah awan-awan
Menyimpan lahar
Sehingga turun ke atas dendam
Bagai sengit
Mata api?

/2/
Kesia-siaan datang
Dari sela pintu
Di sepotong siang
Yang angkuh

Apakah jarum-jarum cahaya
Telah menjadi
Mata biru
Di mataku
Yang rapuh?

2019




Meninggalkan Desember

Aku
membiarkan diri
memasuki tahun-tahun asing
tersesat dalam suara-suara
ketenangan
dari balik kaca

Kebisingan terdengar lebih pelan
bagai nada jauh
dari hiruk pikuk orang-orang
yang melampaui kesedihan
setiap malam cahaya bulan tak berhenti 
menembus dinding kesunyian

Aku
membiarkan diri tersesat
dalam lorong-lorong
musim yang risau
bergerak
dalam senyap yang kedap
mengikuti lentera dengan cahaya redup
dan retak

2019




Menanti Kabar

Dalam sepi yang asing, dalam sepi yang
Tak kukenal. Betapa panjang jarak
Perjalanan, jarak kerinduan. Jarak sakit
Menempuh jalan. Bagaimana
Menghapusnya? Mungkin dengan
Airmata. Atau anggur kecemasan.
Surat-surat yang tergeletak di meja, ingin
Aku mengirimnya. Tapi, kepada siapa?

2018




Setu Babakan

Arus yang mengarah kepadaku itu
Adalah engkau
Selembut maut
Semurni sengsara

Bagaimana bisa aku tenggelam
Dan hanyut
Dalam lagu-lagu yang kausenandungkan
Di malam sedih?
Sejauh aku melihat hanya danau sepi
Dan kekosongan mengalir ke dalam diri.

2019



Aku Akan

Aku akan menulis bagai air bah
Tsunami yang menerjang lembah
Kesedihan
Setelah kering sungai
Kata-kata

Barangkali aku akan menulis
Dengan tenaga ombak
Dirimu yang penuh kecemasan
Seperti kalimat yang tak selalu selesai

2019


===============
Restu A. Putra, saat ini bergiat dan belajar menulis di Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Bogor. Buku Kumpulan Cerpennya, Siapa Sebenarnya Ajengan Hamid Sebelum Diburu Anjing-Anjing? (Rua Aksara, 2019).

Musafir dan Kisah Tresna yang Kekal

0

MENUJU FANA

/1/
selalu saja ada yang terbang. lepas dan melenggang begitu saja.
seperti laron yang memburu pagi. memburu arah utara

/2/
dipanggilnya nama-nama itu, segenap nama yang dihafalnya
namun semuanya berkelebat dengan diam.
dia mendengar lonceng-lonceng bergemerincing. seolah berbisik
: mungkin ini malam terakhir. melambailah!

gemerincing lonceng itu mengguncang pelan

/3/
terburu-buru, ia akhiri doa yang mestinya panjang itu.
: ini musim penghujan. mendung meratapi bulir-bulir airnya
sekejap lagi menetes diserap tanah atau ditelan laut dahaga

/4/
antara ranting cemara dan gugur daun akasia
manakah yang lebih dicintai bumi?

2018



SURAH CINTA (8)

Guru, apakah kematian selalu tiba dengan membawa tresna yang kekal?
jika maut datang dengan rahasia kekekalan tresna maka aku akan bersolek
menyambutnya dengan segenap kidung yang pernah kau ajarkan!

2018



SURAH CINTA (9)

/*/
Seperti para musafir lainnya kalian turut mendongengkan
kisah-kisah tresna yang kekal
di lorong-lorong kematian: jalan pendek menuju abadi!

tapi apakah tresna kekal hanya dalam riwayat atau justru tersimpan dalam biji sawi semenjak jasad hancur digerogoti belatung-belatung api?

/**/
kalian para musafir akankah mati di bukit yang sunyi atau di kamar kerjamu
sebelum kalian sempat menakwil kitab sejarah kematian yang gagal menemu rumah tuhan?

kalian para musafir akankah bahagia dengan harapan ataukah merana saat bilangan-bilangan berdusta?
tapi apakah kalian bisa menerka nujum yang sungguh-sungguh mewartakan kekekalan tresna?

/***/
kalian para musafir akankah tetap bahagia dengan perjalanan-perjalanan tanpa paspor dan pulpen di saku kemeja?

2018


SURAH CINTA (10)

di mana alamat tresna?

perempuan itu membisikkan sebuah alamat di telinganya
namun, lelaki itu tak mampu menghafalnya

kun, lelaki itu tambah menua serupa rahasia
yang selama ini digembolnya kesana-kemari
tak ingat lagi pada masa silamnya, tak tahu masa depannya

kun, di mana alamat tresna?

2018



SURAH CINTA (11)

Guru, biarkan aku jadi penujum pengembara dari gunung hingga ke ceruk lembah
mencari sisa tresna yang terlanjur jadi sabda-sabda yang harus ditakwil dan ditafsir

Guru, bagaimana kusyahwatkan tresna, saat masa silam pulang dengan lelah
sedang masa kini menjadi cuaca sarat dengan hujan halilintar
adapun masa depan kehilangan wajah ibu bersama riwayat tuhan yang ditanam di kubur

Guru, bagaimana kusiasati tak berdayaku melacak tresna
sedang dunia telah terlanjur menjadi meja perjamuan memuja kuasa
adapun surga adalah kamus yang gagal mencatat makna-makna

Guru, aku ingin patuh mendekap tresna, tapi dadu dan angka-angka telah dilempar
membuat segala perempatan jalan menuju lorong hasrat yang menjejalkan dusta

duh, guru! 

2018-2019


MEGATRUH

sama dengan bangkai ia sekejap akan sirna mungkin melesak
dalam kerak paling palung di tanah paling liat dan hitam
atau melesat ke angkasa, menabrak dan mengguncang pepohonan
sebelum lenyap jadi butir-butir molekul seperti gerimis tipis

seperti juga sama dengan semua mayat yang tak pernah tahu dalamnya neraka
ia tak akan lagi merapal ayat-ayat. segenap mantra dan jampi-jampi kidung suci
berubah menjadi serabut-serabut yang ringkih seperti putik merambat menuju layu

“hai, tak perlu kau menoleh ke belakang untuk mengingat-ingat
apapun. campakkan ingatan
bergegaslah kau telah ditunggu kereta
dihela delapan lembu melenguh tanpa henti!”

maka, engkau pun berjalan sendiri dengan berdebar-debar
mendengar lenguh itu.
cemas sendiri tanpa siapa-siapa, bahkan tanpa nama

Ngawi, 2018-2019



AKU TAHU

Akhirnya apakah aku harus pasrah dalam rayuan malaikat maut?
: “Tak perlu kau bertanya-tanya lagi!” bisiknya dengan bengis
“Sebentar, biar kucari catatan-catatan harian yang tercecer di kamar tidurku!”

Aku tahu kalender cuma bilangan ganjil dan genap
dan arah hanya dua, lurus atau belok
nasib pun cuma dua, meninggalkan atau ditinggalkan

Aku tahu jarum jam tak pernah berjalan mundur
laju detiknya selalu mendorong-dorong ke arah peti gelap
yang di dalamnya cuma koper-koper doa yang usang.

2019




WAJAH LANGIT OMPONG

Malam tanpa bulan
langit ompong tanpa gigi abu-abu
pohon-pohon berjalan menuju kelam
gagak dan burung hantu berlomba menjerit-jerit

Ruh-ruh kita berlompatan dengan riuh
berlomba berlari menuju perempatan-perempatan
melesat belingsatan melejit di ujung-ujung dahan
gonggong anjing memburunya sampai jauh di ujung sepi

Tak ada kapal yang datang
tak ada mercusuar yang menyala
tak ada syahbandar berdiri di dermaga
air laut memantulkan wajah langit ompong
sibuk menghisap ruh-ruh yang berlompatan

2019         


                                                    


RIWAYAT

Setiap kisah selalu mengundang dikenang
pun riwayat ini seperti biografi tubuh
melayang-layang di ombak-ombak riuh
sambil meneriakkan nama-nama.

masa lalu kelak menjadi sulur-sulur
merambati bilangan-bilangan dan susuri ramalan-ramalan

percayalah, tak hanya kecewa dan muram
yang sering menyapa atau harapan yang sekejap padam
namun, juga ruang-ruang pesta dan musik mempesona
dan kita  menuang anggur dalam piala lantas berdansa
menari seperti kaum sufi yang mencari teka-teki
: mengapa cinta tak dapat diurai dengan cium dan kata-kata?

Setiap kisah selalu mengundang untuk dikenang
segenap riwayat adalah biografi tubuh yang disumpali jejak sedih maupun gembira
pun setiap gagap dan bodoh yang berulang gagal menghafal dan mengkhatam kitab

riwayat panjang ini adalah perjalanan musafir yang tersaruk-saruk dengan cemas
sekaligus harapan-harapan yang sekejap menjadi berbait-bait puisi
: mencatat semuanya jadi kitab dongeng legenda cinta para darwis yang majnun! 

Ngawi, 2019



SUARA LAIN

Mimpi buruk melindap bersama datangnya cahaya dini. Khianat yang sempurna. Licik, licin hingga cerdik. “Kita ternyata menuju punah!” bisikmu gelisah dan tergesa.

Sejarah mengarus dan berayun-ayun pergi. Segenap manusia akan selesai dikubur dalam jurang-jurang  berapi. Kita terlanjur terengah-engah, lengah kompromi pada takdir, pasrah pada nalar yang mencekik pelan-pelan. Syahdu dan penuh rasa hormat pada setiap rasa sakit.

Tertinggal hanyalah yang paling lembut melampaui hasrat khusuk bercumbu. Itulah kenangan! Warisan tinggalan leluhur yang menggetarkan. Lahir melalui mulut-mulut
penyair  tragis: itulah suara yang lain!.

Mendengar gumamnya adalah menyimak waktu yang sekejap berlalu namun datang kembali dalam frase dan kata.

2019

=====================

 Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar pascasarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) tahun 2006 di bidang Linguistik dan Kesusastraan.Beberapa buku puisinya antara lain  Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja sajak (Salah satu lima buku puisi terbaik versi HPI 2016), Perbincangan Terakhir dengan Tuan Guru (2018),

dan Kitab Ibu dan Kisah Hujan (2019).

Waktu Akan Mencuci Tanganmu

0


Air Mata Para Petani

Kata orang tanah kita tanah surga
Kayu tongkat dan batu jadi tanaman
-Koes Plus

Di warung makan aku terdiam lama memandang
sedang kata-kata padam terbenam dalam renungan
mencium aroma nasi panas di pucuk jemari tangan
ternyata berasnya bau keringat petani Vietnam
sedangkan tempe goreng yang menjadi menu idola
dompetku dan juga dompet 100 juta orang Indonesia
ternyata kedelainya ditanam oleh petani Paman Sam
sambal tomat yang membuat mata petani merah dan marah
ternyata cabainya dipetik dari kebun petani Argentina
satu porsi makanan yang tersaji di depan mata
ternyata menjalani satu jalan yang panjang
sebelum mendarat di perutku dan perut orang Indonesia
seperti panjangnya sungai yang membawa air mata
para petani hingga ke pangkuan samudera raya
beginikah nasib para petani yang hidupnya digarami
air matanya sendiri



Perihal Bunga Mawar

Bunga mawar yang luput yang berserakan di jalan itu
hanyalah bunga, kata perempuan itu sambil berlalu.
Siapa yang sudah menelantarkan cinta? Siapa yang sudah
menabur air mata? Kata penjual bunga itu.
Kemudian dipungutinya setangkai demi setangkai –menyumpahi.



Keramahan Cinta

Membayangkanmu hanya mempertegas rasa sakitku
waktu akan mencuci tanganmu bekas lumuran darahku
ke mana kau sembunyikan pisau bekas jantungku itu?
karena cinta melulu bersembunyi di balik keramahan kata
kemudian tangis akan selalu mencuci sepasang mata kita



Mungkinkah Kau yang Menitihkan Air di Mataku

Kusambut gugur gerimis yang ramai di beranda itu
kubiarkan kesunyian yang lebat mengepung malamku
akankah rembulan tiba dan tergelincir di punggung pagi itu?
apakah kau yang barusan melintas di antara asap rokokku?
atau mungkinkah kau yang menitihkan air di mataku?
tanyaku sambil menyesap kesepian pada dada malam yang
pekat itu.



Hujan Sore Ini
: Revallina

Sayang, apakah kau melihat
langit murung sebab mendung?
Jika sore ini hujan turun
aku ingin berteduh pada tubuhmu

Hujan sore ini ialah alasan
bagi mata yang ingin bertemu
bagi bibir yang kering dan layu
sebab kemarau rindu itu

Lagi hati yang pedih
dan resah karena pisah
Sayang, hujan sore ini ialah alasan
kenapa aku harus pulang.



Apalah Artinya Surga Tanpamu
: Revallina

Apalah artinya surga tanpamu
seperti Adam dulu akulah lelakimu
yang kesepian itu.

Mungkin saja benar lelaki pandai berdusta
tapi Tuhan mengampuni dosa hamba-Nya
Yang sedang jatuh cinta.

Jika Suatu Malam Nanti
: Revallina

jikalau suatu malam nanti kita bertemu
akan kuseka ragu yang kukira menghalau
kita untuk melepas dahaga: mereguknya
dengan kata atau tatapan mata.


==================

Arian Pangestu, Menulis fiksi dan nonfiksi. Tulisannya dimuat di Radar Surabaya, Pikiran Rakyat, Bangka Pos, Solo Pos, Medan Pos, Pontianak Post, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Malang Post, Bangka Pos, Padang Ekspres, Minggu Pagi, Koran Merapi, Media Indonesia, Koran Jakarta, Harian Analisa, Republika, Tribun Jateng, Harian Rakyat Sultra, Radar Tegal, Satelit Post, Media Jatim, Tanjungpinang Post, Geotimes, dan Suara Kebebasan. Novel perdananya Lautan Cinta Tak Bertepi (2018).



Perjanjian di Hari-hari Berkabung

0



Kembang Karnaval

Cobalah datang kepada gempita bumi
tanpa harus menumpahkan darah,
ini adalah akhir kegelapan dan kesepian
umat manusia

Langit, telah menanggung pucat tulang,
tak bisa dipandang resah dari juru-juru
hari yang naas. Namun lewat sepasang kaki
telanjang di atas setumpuk buku, kata-kata
mengasuh luap air mata dalam mimpi.

Hati-hati, suara-suara ganjil, mulai menembak
orang-orang gagal dari dalam tanah, lusuh dan retak
seperti seorang tua, meminta hidup baru
untuk membuang separuh pulau, di atas pundaknya.

Setelah haru tersisa di batang pohon jambu,
tapi kian cepat, bunglon gaib merubah waktu
sepanjang zaman, maka, segala sesuatu
menjadi akrab dengan ajal.

Sia-sia, untuk menerima salam pagi, karena pada
akhirnya, urat leher akan dibanjiri kabut usia,
kecuali yang pernah tidur di ranjang hujan
akan mekar pada tempat-tempat rahasia.

2020 




Titanomakhia

Sudah lama, terkepung, lonceng-lonceng gereja,
mengingatkan kita, kepada sepasang mata yang
meledak, tepat, saat hawa sakti tak menoleh ke
belakang, rasa ngeri terbang lagi, kulihat, ia
bertumpu pada sayur-mayur mekar dalam cahaya

Pasar pemantau dari dekat saja susah benar
untuk diselip dalam surat yang terbakar
pada pukul 06:00 pagi, tak ada bau wangi sampai
berlama-lama tinggal di atas pundak setiap anak

Mungkin di hari-hari lain, dengan kaki tergesa-gesa
kita berjalan di permukaan kata, membuat beranda
atau taman yang diambil alih oleh detak jam, tanpa
menyebutkan nama

Kelak jika bangkit, di atas paras negeri, para pekerja,
semangat baru, dari bau garam yang telah dituliskan
laut dengan cara paling diam. Mereka memanggul
balok besi yang licin ke panggung bercadar, di antara
tamsil-tamsil, kita masuk ke pusat abadi

2020




Sindrom Werner

Lewat kerut kening yang ramai oleh pelangi beratus makna,
tafsir telah mengaburkan warna gambar pada lukisan
di tembok dewan, diam-diam dengan tubuh menuju renta,
cemas berupa atap-atap rumah panggung, menyimpan luka.

Banyak orang begitu jijik kepada yang melarikan diri
ke hutan benda-benda, namun, nama kecil dari rasa
lapar dan takut, memberi bunyi dalam kepala yang menyusun
perjanjian di hari-hari berkabung

Inilah pertempuran di atas pucuk rumput ilalang, sejarah manusia
berdiri menjangkau mayat-mayat api dari kota paling sinting,
terimalah pedang binal yang menusuk nafas dan bahasa
bagi segala yang tergelincir jatuh

Kecuali, di sebuah tempat, para penari, mengintip gerak hitam
yang memainkan payung di bandul jendela, mungkin duka,
atau ketentraman air dan tanah dari teka-teki sebuah doa

Ya, memang ada yang membatalkan niat, untuk berangkat
dari gang panjang, menuju kebuntuan batas di hari yang kini hangus,
hanya tinggal jurang tercipta, bila ditutup, letupan-letupan dunia
menjelma bongkahan batu, tanpa kenangan.

2020




Vacuum Cleaner

Hisaplah sedikit cahaya lampu taman itu!
ketika dongeng langit, memberi sebaris
kata mutiara, pada tahun-tahun yang tidak
menamatkan langkahnya di jalan berlobang.

Kemana arah bangku-bangku itu menghadap?
ketika jarum jarm berbaring seumur hidup
di bawah pohon cemara

Bekas luka dan kesendirian menjadikan manusia
seperti seekor anjing, mengangkat kaki belakangnya
kemudian menyembunyikan keresahan ruh-ruh sapardi

Mengalami tragedi di lubuk yang hanya tersedia
untuk bukit-bukit biru dan burung yang terbang
ke rahim sunyi, menunggu rasa gemas
menyerbu kaki langit itu

2020




Penguping

Dekatkan telingamu pelan-pelan
ke jendela plaza itu, maka, kau akan
mendengar bunyi jarum jam
yang omong kosong, mengental,
dalam kaleng-kaleng minuman.

Saat siang hari mengerut di keningmu
rombongan ibu-ibu turun di tepi kota
doa-doa memancar di sana
bersama separuh ilusi

15 menit berlalu, jalan-jalan beraspal berubah
menjadi tempat para ruh menunggu
sebelum beribu-ribu bendera
saling teraduh-aduh dalam radio dan televisi

Nah, cobalah tentukan, di tempat manakah
orang-orang melintasi akalnya sendiri?

2020




Sharp Sandwich Toaster

Pada sepotong roti kering
terdapat warna krem tua dari mimpi,
menjelmalah paras dunia, tanpa lama-lama
juga basa-basi, namun, cukup untuk menerka
jalan bagi debar jantung di sebuah rumah sakit

Rasanya baru sampai di urat saraf
seribu musim dingin, membetot pikiranku,
mencari-cari daftar nama yang lain,
mungkin telanjang, tanpa daun dan telah
patah nilai, semenjak mata ini, luput dari
nyalang pandang.

Lihat, cakar paling bunyi hanya dilahirkan
dari seonggok batu gelap, tetapi kita tak
pernah sampai habis, membikin senjata
di teduh duka mana pun

Kini memang banyak orang bergegas
demi menyentuh bulan dan putih lampunya,
walau jalan ke arah tebing terlalu curam
untuk diinjak oleh tanahliat itu

Tak usah takut, pasanglah hitam yang rata
di tiap kepak elang yang menjadikan penempuh,
mesti, terkotak-kotak oleh harkat, ingatlah bahwa
sesisa air mengalir dari kaki cokelat, telah tumbuh,
dalam lorong-lorong keyakinan purba

2020



==================
Yuris Julian adalah nama pena dari Diandra Tsaqib. Lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Saat ini bekerja di Bandung. Beberapa Puisi saya telah tersiar, antara lain di: Koran Tempo, Bali Post, Suara Merdeka, Radar Tasik, Radar Cirebon, Radar Mojokerto, Kurung Buka, Apajake, Takanta dan Pojok Pim.

Kata Kata Membelah Diri

1




Sejenak Menepi

aku berduka cita atas keriuhan kemarin
ketika jalan jalan penuh dengan orang tergesa
menjerat ranum dunia
dan nyaris kehilangan dirinya
yang tertinggal di balik lesap bayang
alibi pencarian sebuah riwayat

aku bersuka cita atas terbitnya lengang
yang mengulurkan jarak pandang
hingga orang orang pulang ke rumah
menyusur kembali ceruk silam
yang berdetak begitu tenang
membaca rindang masa kanak
buat berteduh menganggit riungan riang

aku mencarimu dan engkau pun mencariku
menembus sirat fantasi
yang melekap di gugusan 
jentera rapuh hari dan tafsir nyeri

kita hanyalah bagian dari kesementaraan 
yang bermabuk mimpi di kenap perjumpaan
dan gandrung untuk menjadi kekal

lalu apa yang tersisa
dan tereja akhirnya
bukan perihal kata kata
dan bukan lagi tentang nama

Bekasi, 2020 





Mencari Kata

di rumahnya yang sederhana 
tak kutemui kata kata
barangkali mereka tengah kelayapan 
ke masa depan, mengisi liburan

2019





Cahaya Kata

sebuah judul seperti kepala
ditopang larik larik
menjadi tubuh yang tegak 
menunggu tamu di sebuah halaman

koran, buku atau majalah 
yang menjadi jelajah permainan
meski tak pernah benar benar ramai 
tetapi selalu saja ada kegenitan menguar
dari tafsir yang mengunggah andai

mengapa mesti ada
pertanyaan yang begitu nyata
pada kenyataan yang penuh tanya

seperti biasa pula
tak pernah ada jawaban yang sempurna
dari kerisauan frasa 
bukankah memang tak pernah tetap dan tepat
singkapan rasa dari rahasia

bait bait menyusun otot yang kuat
menahan berbagai remasan sakit
juga sekelumit tumpasan pahit

lalu kalimat kalimat merawat bermacam alamat
yang diucapkan oleh pemberi tanda
meski kadang diseling suar senda
bergilir mengalir begitu biasa 
tak saling berebut untuk memilih di muka

kata kata pada sajak sederhana 
mengarus berjela memburakan cahaya
seperti dada setengah terbuka

2019





Mengenal Puisi

mengenalmu 
aku dikembalikan lagi
pada sepi yang pemalu
dan acap ragu

kutanya tentang kecemasan
tetapi kau tertawa setengah tertahan
katamu, kita adalah penyintas rahasia
dari kesedihan yang kerap jenaka

biarlah waktu bergegas melesat tua
sementara kita 
tetap pejalan lambat
yang selalu remaja

2019





Bisikan Puisi

pada apa yang kuangankan
puisi puisi itu seperti berkata:
nanti engkau juga akan sampai di sana
percaya padaku, aku akan menerbangkanmu
ke ranah ranah yang telah mendegubkan rahasia
di jantungmu

2019





Ke Dalam Puisi

malam setengah purnama
aku bermain petak umpet
bersama teman temanku yang bernama gembira

mereka menyebar mencari posisi aman
agar tak mudah diketahui
oleh yang tengah berjaga
sepintas ada sepoi angin yang sepi 
dari sebuah celah mirip gua 
yang sepertinya nyaman untuk bersembunyi
dan dengan diam diam kumasuki

teman temanku bersahutan memanggilku
terbayang usilnya mereka padaku selama ini
aku tekun terpekur sendiri

kucari jalan masuk yang tadi untuk keluar
tetapi tak kudapati pada semua sisi
sekelilingku menjadi sekat tembus pandang
tatapanku tersangkut pada bayang

siapa yang bisa mengeluarkanku

dari genggaman rahasia puisi ini
ternyata engkau pun tak kuasa 
bahkan cuma bisa memandangku saja

2019




Saat Di Dalam Puisi

aku berjalan sendiri
pada sebuah dunia 
yang kerap tak terpahami

tiba tiba kau muncul
entah lewat celah mana 
sedangkan selaput meliput ruang

“mengapa engkau di sini
aku sedang mencari jalan keluar”

“lebih enak di sini
di luar makin banyak manusia yang terancam
oleh mereka yang mengaku manusia”

“nanti akan banyak yang bermigrasi ke sini
mari kita nikmati kopi
di ruang yang tak pernah benderang
tempat kita mengekalkan 
segala percakapan
dalam santai pertemuan
masa lalu dan masa depan”

2019





Dari Pemeluk Puisi

kepadanya telah kusampaikan 
kecemasan waktu yang kerap kauigaukan
dalam berbagai gugusan gagu

ia tahu tentang kecamuk cuaca
yang kadang meremukkan inginmu
meski angin tak sedang bekerja

bukankah keganjilan bermula
dari gegap ritus api meronta
menggosongkan tahun tahun berjela

sengkarut tafsir bertabrakan di udara
berjatuhan kata kata lalu membelah diri
dan masing masing menyebar arti

memang ada sebagian menjadi lagu
meskipun tetap saja memuat birama ragu
siapa menduga lirik acap berpura pura

tak ada yang pernah selesai menandai
pada berbagai pengejaran bayang bayang

lalu masing masing pulang ke palung sunyi

2019





==================
Budhi Setyawan, atau’Buset’, kelahiran Purworejo, 9 Agustus 1969. Pencinta musik dan puisi. Mengelola Forum Sastra Bekasi (FSB) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Buku puisi terbarunya Mazhab Sunyi (2019). Saat ini tinggal di kota Bekasi, Jawa Barat.  

Jalan Lengang Menuju Matamu

0

Mimpi-Mimpi Ibu

Sewaktu sirih-pinang masih betah
di gigi ibu, jalan setapak kampung penuh
remah raut pensil dan angka-angka yang jatuh
dari buku-buku tanpa sampul.

Di masa itu, ibu selalu luput dari lelap tidur,
sebab hama-hama selalu datang sebagai
mimpi buruk yang saban sembunyi
pada sunyi malam: kebodohan di kemudian hari
dan kecemasan pada hidup yang terasing.

Setelah ibu melarung tubuh ke pantai timur,
ia kembali sebagai sampan penuh bibit subur.
Maka ranumlah seluruh pulau dengan tumbuhan asing
dari mimpi-mimpi buruk ibu dahulu; vanili, cengkih, pala,
dan sebatang pokok yang menjulang serupa roket.

Pohon-pohon itu, Ibu, yang akan terbangkan kita
ke mimpi-mimpi indah di tanah baru.

2019


Mayang

Adalah bayang-bayang kematian itu
bagi siapa yang datang di depan pintu.

Pada setiap kepergian, kata-kata kadang
pantang terucap kepada pokok-pokok takdir
sepahit kopi dan semanis nira pagi.

Mungkin telah usai cecap daun sirsak
dan akar-akar, kauteguk sadapan
enau sebelum tubuhmu berubah mayang
berpalut seludang, subur di tepi kebun
tanpa nama tempat dua malaikat
berkunjung di gerbang pagi dan senja.

Yang dipanen orang kemudian hari:
ihwal bayang-bayang kematian itu
serupa nyiur pelepah, tumbuh ke segala arah.

2019

Ziarah

Lubang-lubang di batu karang dan kapur
bicara padaku tentang segala gua di tubuhmu
yang lama tak kusapa kabarnya. Telah lupakah
pada seorang peziarah?

Pada jalan lengang menuju matamu,
puing-puing ingatan tak bisa lagi diterka.
Ialah kenangan yang rubuh sehabis disapu
air mata dan diguncang kata-kata berupa
terka-terka tak masuk akal tentang perpisahan
di kemudian hari. Adakah keramat lain
tempat peziarah itu berpulang?

Setelah mati di dalam liar rimbanya rindu,
di sebuah gua tak jauh
dari dua buah bukit yang telah rimbun,
seorang peziarah berharap kembali hidup
sebagai doa atau nyanyian sebelum tidur.

2019

Katasrofe

            -1667
Benteng mana yang masih bertahan
setelah langit siang dikelami jelaga
bakaran sulang ribuan mayat dan pandan
di tepi jeladri tempat seekor penyu mati tenggelam?

Hingga ke cakrawala, ujung pandang penuh
ombak dendam dan amarah. Kapal-kapal
datang dengan armada bertombak dan suara letusan
yang menembus segala riuh gelombang.

Di hari ketika langit mulai merah saga,
hanya tersisa pudar ingatan, lapuk padas,
riak darah dan desau nama-nama
yang hilang meletup ke udara.

2019


Setelah 1667

Sejauh mana kita ingat para perompak yang berlayar
ke pantai-pantai barat setelah membakar
kapal-kapal para sultan dan serdadu bersenapan?
Bandar-bandar ramai oleh monopoli dan pajak tinggi,
para petarung melarung diri menuju laut:
hidup dan mati di (dan untuk) laut.

Tak ada perkabungan untuk itu
sebab orang-orang sibuk menabur pandan
dan melati di kubur mereka sendiri.

Tapi mungkin yang nahas dari kepergian
dan memutuskan hidup sebagai penjarah adalah putusnya ikatan dan ingatan tentang tanah
dan keluarga. Sejarah adalah laut,
dan di laut, semua orang adalah musuh,
sama halnya semua ikan adalah lauk.

Sejarah saban sembunyikan hal-hal berbahaya
dalam kedalaman. Ia memang mengenang nama,
namun ia memilah nama mana yang harus tenggelam
dalam arus tubuhnya. Adakah yang tahu satu
saja nama dari ratusan perampok itu?

Demikianlah, bagaimana nama-nama mereka
tak ubahnya lapuk kayu yang karam diamuk
gelombang selat Makassar, tak sepadan
dengan kokoh batang welenreng tempat Sawerigading
berlayar jauh ke ruang-ruang diskusi dan pertunjukan
seni. Ingatan tentang perompak itu, bahkan,
tak ada yang pulang ke kepala anak-cucu.  

2019

Stargazer

Mengapa bintang di kota tenggelam dalam
langit malam? Muara jawabannya sama mengapa
kunang-kunang tidak pernah berlalu lalang di
pekarangan dan beranda: lampu kota mengusirnya
dengan cara paling kurang ajar.

Pijar bintang dan seluruh pendar cahaya itu dikuras habis
demi energi yang menyuplai mimpi-mimpi orang kota
tentang desau angin pantai atau embun pagi di atas
teratai. Sebab pada mulanya, selain fusi nuklir,
Tuhan titahkan terang lahir dari bioluminesensi
untuk dunia yang mahakecil.

Cerita ibu lain lagi.
Katanya, bintang adalah
kunang-kunang yang terbang jauh tinggalkan rumah.
Mereka awalnya lahir bersama tawa bayi persis
seperti peri dunia magis dalam film animasi.
Namun semakin hari, bayi-bayi lucu seperti itu
tidak lagi lahir. Mereka keluar merobek rahim
sebagai tuan bagi ibu-bapaknya sendiri.

2019

Di Kaki Langit

Dimana batas cakrawala tempat pelangi mukim
dengan anak-anak hujan? Sepanjang pandang,
sejauh langit membentang, jalan yang kita lihat
melingkar di antara laut dan awan sebenarnya tidak ada.
Fana seperti semua teori tentang bumi dan manusia,
kosmologi yang kita pahami dengan berpura-pura.

Mungkin cakrawala adalah wujud masa lalu
dalam dimensi ketiga: ia terlihat sekaligus tidak nyata.
Ia ada di sekitar kita, hidup sebagai cerita, tapi tak
ada jalan dan tempat mukim di sana.

Aku mengajukan pernyataan itu untuk menggenapi
pertanyaanmu. Kita sepasang petualang yang jauh
dari diri sendiri. Mencari banyak jalan dan kemustahilan
namun lupa yang paling rintang adalah mendamaikan
mengapa di masa lalu dengan siapa di masa kini.

2019

Kepada Air

Kepada air yang mengubah tiada ke ada
juga dari ada ke tiada, keinginan Tuhankah
yang kaubawa mengalir sebagai pelampiasan
dosa dan rahmat?

Siapa yang menentukan?

Jumlah hujan yang jatuh di gersang padang
tempat nabi-nabi mati dan hidup sekali lagi
jauh lebih sedikit ketimbang yang turun di rimbun rimba
tempat tanah dahulu belum terpetakan. Ketimpangan itu
hanya serupa aliran kecil irigasi dari induk Nil.
Setimpalkah usaha utusan-utusan itu untuk sebuah
keesaan dengan seteguk air yang basahi tenggorokan?

Di banyak kota, air mengalir dimana-mana sebagai
konsekuensi logis dari hujan panjang. Dari bantaran kali
ke jalan raya, dari hati yang patah ke mata. Dimana saja,
sampah dan rindu bereproduksi lebih cepat dan berlipat
ganda dari cendawan. Keinginan Tuhankah hingga kau
akhirnya disebut nikmat atau bencana?

Siapa yang menentukan?

2019

***

Batara Al Isra lahir di Ujung Pandang, 9 Januari 1994. Sedang pusing kuliah antropologi di University of Auckland. Karyanya berupa cerpen dan puisi telah diterbitkan di berbagai media, juga pernah dimuat dalam beberapa buku antologi bersama, Selain itu, karya-karyanya pernah menjuarai beberapa lomba penulisan tingkat nasional. Bergelut di Forum Lingkar Pena, Komunitas Sastra Sungai Aksara dan Perpustakaan Antropologi FISIP Unhas.

Memisahkan Rindu dan Kesedihan

0



Api Dua Penyair

(1)
Aku geram
Aku marah
jiwa kawanku telah dibeslah
sekarang jasadnya kaku
tanpa gerak
Sebuah pesan telah ditinggalkannya
“jadilah air di kala api membara
Itu kubaca berkali-kali
begitu sulit kutepis wajahnya
melekat erat di pandanganku
Kita larut dalam penggalan dusta
penghias bumi
Rabi’ah al-Adawiyah pun meminta padaku menulis sajak

(2)
// Syaikh Maula al-Arabi ad-Darqawi, r.a.
aku datang ke masamu
sebagian bumi menjepitku
lalu lalang hawa nafsu
seperti bara api menjulur
membakar kekotoran jiwa

sebuah khazanah di dinding waktu
membentang jiwa-jiwa suci
di bawahnya, kota telah ditinggalkan
seperti mengingatkan langkahku
memadamkan penglihatanku
agar malamku bisa bertasawuf
meluruskan isi pikiran
sebelum bumi terjamah gulita

(2020)



Taman Waktu

entah mengapa
hingga aku harus membaca dunia
dengan mataku yang mulai rabun
pikiranku pun mulai tak mampu
menangkap istilah yang sulit
adalah otakku bukan kamus
waktu seakan mengejar sisa napasku
mungkin kematian
yang harus kupikirkan
menghabiskannya di taman waktu
agar mata kertas tak menatapku
tajam menghunus
seperti belati atau sangkur
dan bibirnya tersenyum pahit
telah kunodai tubuhnya
kulumuri dengan tinta
hitam dan biru
hanya diam pilihannya
dan itu telah mengajarkan diriku
tentang sebuah kesabaran
tentang sebuah keikhlasan
yang senantiasa lisanku menistainya

bagai menghitung siang dan malam
bait-baitku tertidur pulas
hingga detik dan menit
selalu mengingatkan
untuk menaburkan bait-bait itu
di taman waktu

Malang – 2020


Rebana

: untuk ibu

perempuan, cerita yang tak pernah pupus
kau mainkan rebana
langit itu mulai mendung
mata senja pun mengurung aromamu

bila engkau tau
jemari tanganku kaku
penaku meninggalkan kertas
tangisan langit jatuh bergulir
membasuh sajak tubuhmu
kala aku menuangkan
butiran rindu di sebaris baitku

entah mengapa,
lisanku begitu hina menyebutmu perempuan
hingga detak jantungku berpaling dari rahimmu
dan mendendangkan kecapi
meranggas kesucian kasih yang ‘kau lahirkan
beranjak meninggalkan pangkuanmu

sebatas mana gejolak ini menatap langit
adalah kelembutan tanganmu
mengusap dan membelai rambutku
hingga matahari tak pongah melumat pikiranku

pernah kita satukan nalar
pada tempayan waktu
dimana sajak yang kutulis begitu dahaga
akan sabda-sabda cinta
dan ‘kau baringkan segala penatku
di atas pusaramu yang diam
dalam isyarat kidung duka

suara rebana itu mengalun syahdu
keabadian cinta memang hanya milik perempuan
ketika tanganku kaku menulismu, ibu
angin pun lelap memainkan irama alam
bagai kecapi melagukan simphoni duka

Malang – 2020



Puisi pun Bersujud

Sungguh engkau tak mengerti tentang jiwa
karena mata hatimu bukanlah pintu langit
Telah begitu banyak lisan hanya menjadi syair indah
tetapi tak pernah menjadi puisi surga
Pernahkah kita melihat seonggok dusta
yang menggumpal pada jasad dan mengingkari sujud-sujud kita?
Betapa jiwa itu meratap, menangis dan menyesali diri dalam puisi bisu
Aku berkata bahwa diam itu adalah catatan
yang membuat kita semakin mengerti
dimana jiwa-jiwa kita hanya bisa bersandar pada Sang Pemilik Kekal

Malang – 2020



Aku Datang ke Pusaramu

: untuk Jalaludin Rumi

Memisahkan rindu dan kesedihan
dimana emosi telah menikam jiwa
dua makna yang menguliti keindahan syair

Adalah buku, tempat menumpahkan kegelisahan tangan
berkelana mencari kebebasan
untuk hidup dalam masanya
sesuatu yang kita maknai ajaran
tetapi sesungguhnya adalah jalan
mencari sinar, membunuh kedangkalan kasat mata
hingga kita hanya mampu meraba
dalam catatan-catatan waktu dan sejarah

Kini masaku, tak setajam pena Rumi
untuk memisahkan rindu dan kesedihan
walau akupun sering larut
dalam perasaan yang sama
menumpahkan airmata dalam bait-bait hina

Mungkin suatu saat, sajakku terbaring bisu
di sisi pusara Rumi 
menjadi obat penawar rindu
dan mengulang catatan-catatannya:
Divan-i Syams-i Tabriz —
meski sesungguhnya ingin kujadikan sebuah doa
agar akupun bisa membaca:
Maqalat-i Syams Tabriz —

Malang – 2020



Majas Suci

Ketakutan ini telah mengusir keberanian malam
semestinya gelap duduk dan menemani
ketika rasa cinta telah merobek selaput angin
meski dingin itu bukan sahabat jejak kemarau

Biarlah air mengalir membasahi wajah kusam kita
agar ketakutan bukanlah cermin tanpa cahaya
Dan disitu terukir lisan, yang menghidupkan sajak
setelah mengungkung diri dalam gelap panjang
akupun terkesima, seperti membunuh semua kegelisahan
kutulis sajak yang berjalan menembus batas-batas waktu

Malam di bulan Mei mengingatkan ribuan petaka
entah mengapa sajak-sajakpun seakan berkabung
menunggu saat-saat sakral untuk membasuh
segala makna yang tertuang dalam catatan setahun
agar kita mendendangkan syair baru beraroma bunga fitri
bagai membangunkan malaikat
— yang tak pernah tidur —
kita tuangkan secangkir doa
dalam cawan-cawan tak tersentuh malaikat

Kita bakar malam, dengan sinar rembulan
dimana malaikat sering mengerlingkan pandangannya
saat bulan hadir tanpa busana
dan kita berharap kemenangan itu
bukan hanya sebuah majas suci
yang tertuang di sehelai lisan

Malang – 2020

Di Penghujung Ramadan

Di setaman aksara
kalam Ilahi memanggil subuh
malam pun bersujud, hening di pembaringan barat
angin enggan menyentuh gemintang
disini, kertas-kertas baru mulai tertulis
tumpahkan sesak dada
saat benci dan gelisah menyelinap
satu makna

Haruskah cinta dituangkan
dalam cangkir-cangkir rindu
segaris dalam shaf lantunan shalawat
menegakkan bening aksara
ketika lisan kita mulai luntur
terhempas dalam kasat mata yang selalu dangkal
hingga peraduan sajadah tebaring bisu
menghampar, menderu angin
dan berlari menembus alam sekeliling
melekat, bersandar di tubuh pepohonan
menghembuskan dingin, dedaunan pun menggigil
memanggil para malaikat
memohon dingin itu agar terselimutkan
berbaris dalam kehangatan shalawat
meski mata kita melihat, kemarau selalu membakar

Ingin kutegakkan aksara ini
membasuhnya dalam selimut malam
dimana kesunyian hadir dalam pikiran jernih
untuk memuliakan alam dan tanah
yang mulai bertelanjang diri
atau ini sebuah isyarat, bahwa alam pun merindukan cinta
saat perjalanan masa penuh makna menemukan senyumnya
di penghujung ramadan

Malang – 2020

Andai Sajakku Seperti Doa

Aku bukanlah sajak bertubuh sufi
tidak juga bait-baitku sepenggal doa
peziarah pun telah meninggalkan
sayap pusaraku, setahun lalu
meringkuk jiwa di ruang sepi
penuh malaikat
entah, apakah itu
pengadilan para jiwa

Meja-meja hidangan di depanku
seperti cahaya luka
membakar perih, tangis tak ada bedanya
di sekumpulan bocah-bocah, bertelanjang dada
dan seorang bocah berlari kencang
meneriakkan: api neraka!

Betapa perih mata ini memandang siksaan
nafsu dan dosa, meneriakkan kemenangan
tetapi kita memang terlalu angkuh
untuk menyebutnya
dan menghempaskannya di kolong langit
sekian rantai masa terikat
dan kita mengagungkan cinta

Adalah malam-malam penuh sajian rahmat
di hamparan langit malam untuk bermunajat
seharusnya semua ingkar
kita basuh di untaian tasbih
mengumandangkan asma dan istighfar
sebelum kereta penunggu kematian menghampiri

Bukankah kitab-kitab bersih
selalu mengingatkan
dimana tanah-tanah tempat terindah
bagi raga kita
tetapi jiwa itu senantiasa abadi
di akhirat nanti, surga atau neraka

Malang – 2020


Malaikat Malam

Malam mulai menghimpit kesetiaan sudut ruang nalarku
kudengar gemericik air di antara bisu angin, memecah gejolak resah
Aku mencoba meruncingkan garis-garis pena
menuangkan dalam bait penunggu malam
membiarkan pikiran ini berkecamuk, membakar gelisah

Semusim lalu, pikiranku telah terpasung
terlipat pada potongan waktu
terpisah jarak di antara kepingan hujan dan kemarau
di antara amukan ombak
di antara langit terluka
dan di antara nyanyian tanah duka

adalah seorang berjiwa putih telah terlupakan
terkapar ingatan kita
pintu-pintu menujunya tertutup
tiada jalan, darah pun mengalir
menerawang langit malam, hitam-putih
hitam berjalan, menyatu jelaga pekat
putih melintang, membagi cahaya

disini kutulis namamu, wahai Jibril
izinkan aku menulis puisi untukmu

Di bukit tandus,
adalah seorang gadis bagai bidadari memainkan nalarku
menari-nari, menaburkan semerbak aroma bunga
senja tersenyum, engkau bukanlah bidadari
selendang mawar dan melati, engkau tanam pada mataku

disini kutulis dalam sajakku, wahai malaikat malam
masih pantaskah kutitip rindu untukmu?
Agar malamku bertemu para malaikat
dan berbincang tentang kedangkalan doaku

Malang – 2020

Tak Pernah Kekal

cinta itu sepotong ilusi
saat diri kita merasa berarti
cinta itu tanpa warna
tetapi memberi warna
pada rindu dan gelisah
dan pada duka atau kebahagiaan
seperti lisan dan hati
bergejolak, mengartikan puasa
adalah mata kita tak pernah kekal
selain pandangan Ilahi
melekat dalam keagungan-Nya
bahwa mata kita telah mati dalam hidup

Malang – 2020



==================

Vito Prasetyo dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Menulis cerpen, puisi, esai, Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa media, antara lain: Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Republika, Suara Karya, Lombok Post, Magrib.id, Haluan, Travesia.co.id, dan Harian Ekspres Malaysia. Termaktub dalam Buku Apa Dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Penyair yang pernah kuliah di IKIP Makassar, ini kini menetap di Malang, Jawa Tengah. Buku Kumpulan Puisinya yang telah terbit, Biarkanlah Langit Berbicara  (2017), dan Sajak Kematian (2017).

Sehijau Engkau yang Masih Malu

1

MEKAR BUNGA PADI

bebunga padi
baru saja
bermekaran
harumnya tiba
di jendela kamar
hijau di tepiannya
sehijau engkau
yang masih malu
kala aku terbunuh
lalu melepas nyawa
karena cinta
mekar sebegitunya
padamu
pada bebungamu

September, 2019


ELEGI

andai para petani tembakau
adalah penyair-penyair piawai meracau
tentang suka, juga galau
menjadi bapak-ibu berlembar hijau
maka musim termulia yaitu kemarau

tetapi petani tetaplah petani
semua musim adalah bratawali
meski tembakau, mereka miliki biografi
yang dipatri tak beda dengan kedelai, juga padi
kisah mereka hanya tentang bangun pagi
berkeringat di sengat matahari
tengkulak datang mengibuli
miskin itu pasti

atas kebaikan Tuhan
; mereka pun cepat mati

Oktober, 2019


TAKZIAH
— Anshori Baru Saja Kehilangan Bapaknya

Lipatan bendera kuning masih kentara. Ungkap-ucap ikut berduka
masih hiasi telinga. /Kadang terdengar melolong panjang sarat lara,
kadang diseling gurau tawa, ingatkan bahwa  
kematian adalah milik siapa saja. Walau masa tibanya
serupa tanda tanya; seorang nabi pun tak tahu apa jawabnya.

Memandangi wajah anak muridnya yang tampak riang meski datang
dalam barisan duka pemakaman, Anshori seperti melihat bayangan
dirinya dalam cermin buram. Betapa kemiskinan tak harus ditangiskan.
Sepahit apa pun keadaan pun layak disenandungkan. Sebagaimana pilihan
yang dibuatnya untuk senantiasa bermimpi menjadi pegawai negeri
di ayun keterbatasan diri, juga keiblisan negeri ini.

November, 2019


TETEMBANGAN PURBANI

di ayunan tembang macapatan
debur ombak lautan hanya kenangan
mijil ingatkan tanpa memanggil
betapa yang lahir akan merasa gambuh
bersua asmaradhana, bertekuk pangkur,
sampai tiba kalamangsa bagi megatruh
kekasih pun serupa dwija
:”Nalikane mripat iki wis ketutup,
Nana sing bisa nulungi,
Kajaba laku kang luhur,
Kang ditampi marang Gusti,
Aja  ngibadah kang awon.” *)

November, 2019

*) lirik salah satu tembang Megatruh

Terjemahan:
Di saat mata ini sudah tertutup,
Tidak ada yang bisa menolong,
Selain amal kebaikan,
Yang diterima oleh Tuhan.
Jangan berbuat hal buruk.


PERINGATAN DAUN

peringatanmu tempo hari
tiba ketika kering adalah pantai
di lelahku yang terayun lantun kecapi
kau torehan warna Tuhan di kulit pori
lalu masuk dan masuk dalam sekali
ku rasa bahwa cinta-Nya tak selalu mati
; “Siapa engkau?”
tanyaku di antara air mata sesal berarti

“Aku adalah rumah bagi
pelayar yang masih sudi menemui Tuhan,
apa kau membaca sayangnya?”

Samudera di depan pun ku belah dengan telanjang.

November, 2019


TAK SEIKAT

  tak menanti lama
akhirnya terlepas telah kenangan
akan sebuah kota;
    dingin namun berkerabat
    penuh ingin namun tak seikat

beranjak lalu menjauh
dari bayang-bayang teduh
dulu di masa-masa itu;
   “Pepohon rindang sepanjang
     jalan di Landungsari menyaksikan,”
    tak mungkin keabadian
jatuh di usia perjalanan
yang memiliki pertemuan;
    “Ku pinta perpisahan,”
     jauh sebelum serupa kau bisikkan

Desember, 2019


DARI JANTUNG KOTA

dari jantung kota; kesaksian akan terangkan
langit di atas ruam luka

yang mengatup pun ternganga

bebatang palem dengan daun melambai
juga mengingatkan – masa terpendam
yang ditindih dan ditindih oleh narasi berpanjangan
sampai kenyataan dirompak berulang
tanpa jeda kemudian hilang

yang ternganga pun mengatup

“Di boulevard ini mungkin kita
sedemikian keji mencurangi
peradaban sebuah kota?”

yang mengatup pun ternganga

ruam luka memang tak laik dipelihara
dari jantung kota; kita dilarang lupa

2019

======================

Anjrah Lelono Broto, tinggal di Trowulan-Mojokerto. Aktif menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa (berbahasa Indonesia dan Jawa). Di antaranya Media Indonesia, Lampung Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Harian Surya, Pojok Seni, Galeri Buku Jakarta, Roemah Cikal, Jaya Baya, Panjebar Semangat, Kidung (DKJT), dll. Sekarang bergiat di Lingkar Studi Sastra Setrawulan (LISSTRA)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelukan yang Kehilangan Lengan

0




Melankolia Pengkhianatan

beginilah kita akan selesai seperti bahtera yang bertambat pada akhirnya
di dermaga yang bukan hatiku. kau kini atau kita barangkali hanya sepasang
pertautan mimpi yang kian renggang, berjarak, berlari saling melepas angan
dengan sela-sela jari kosong tak bergenggam.

kausemai cinta yang dituai seorang yang datang dari entah berantah kehidupan
tak ada yang tahu dari mana bunga-bunga yang lain mekar dalam perjalanan
membangun sebuah taman surga. burung-burung pun terbang selalu tahu arah
pulang ke dalam sangkar sedang kita perantau yang lupa letak rumah.

tak ada yang bisa membantu kita. puisi hanya sebuah pelukan yang kehilangan
lengan. tak ada dekap kecuali tebah dada yang menunjukkan dalih pengkhianatan.
kau atau aku pada bagian ini tak perlu mencari siapa yang lebih berhak memikul
dan memukul kelemahan kesetiaan kita.

Mamuju, 2018




Penerimaan

Aku ingin mencintaimu dengan keikhlasan
sebagaimana Maryam yang menerima Isa
sebagai titipan.  Sebagaimana Ismail yang
menerima penyembelihan sebagai ketaatan.

Aku ingin mencintaimu dalam kerelaan
kayu yang terbakar dalam tungku untuk
memberimu kehangatan. Seperti nyala
sumbu yang menjaga dirinya tetap hangus
untuk memberimu pandangan.

Aku ingin mencintaimu dengan pengorbanan
Rumi yang menerima kehilangan kebesaran
untuk menemukan kekerdilan. Serupa Syams
Tabriz yang jadi darwis pengembara untuk
menjaga bara api jiwanya agar tetap  melebur
dengan air kehidupan.

Mamuju, 2020



Agama Cinta

kau tidak bersimpuh pada apa yang kusembah
dan tidak pula kupasung apa yang kaujunjung
kita leluasa menyembah untuk saling membasuh
kita senantiasa merangkul untuk saling memikul
aku tidak mengimani apa yang kauamini
kau mengamini apa yang tidak aku imani
tetapi untukku agamaku menebar kasih
dan untukmu agamamu menabur sayang

Mamuju, 2020




Pada Bagian Apa

setelah gejolak batin dan pikiran bertarung
tak berkesudahan dalam kepalamu.
kaubertanya: pada bagian apa dari diriku
yang memantik cintamu?

kaudekap kemalangan nasib yang kaucintai
telah kaususuri jalan sunyi di tiap bait syair
rindu Jalaluddin Rumi, telah berkali-kali

kaulangitkan kesetiaan Qais dalam kesepian
yang terpangkas kata-kata. telah lama kau
nisankan perempuan Mandar yang mati
ditelan nestapa zaman.

pada bagian apa dari diriku yang memantik
kerinduan?

kaumenunggu dan terus menunggu lalu ia

datang kepadamu membawa rasa percaya
menepis segala keraguan Rabiatul al Adawiah
melantunkan harap pada nubuat menikam petuah
ia percaya kau seperti setianya seorang Ali
kendati ia bukan seorang Fatimah.

ia ungkap apa yang selalu ingin kausingkap:
keraguan lelaki yang patah oleh keras kehidupan
ia runtuhkan tameng ego di hadapanmu demi

sebuah cerah mimpi yang terpancar di sana

tetapi kaudiam seperti puisi yang belum
sempat dituliskan penyairnya. ada perasaan
yang tak mampu dijabarkan kata-kata.
ada taswir yang belum sempat diberi tafsir.

sebab bukankah cinta adalah lipatan-lipatan
keyakinan yang tak memiliki celah keraguan?

kaubertanya: pada bagian apa dari diriku
yang memantik cintamu?

Mamuju, 2018



Manifesto Air Mata

aku akan berhenti menulis puisi kesedihan
bila kau dengan hati yang lapang
merintangkan kembali kedua lengan.

Mamuju, 2019



======================
Syafri Arifuddin Masser
Lahir di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa Sastra Inggris Universitas Muslim Indonesia. Puisinya tergabung dalam beberapa antologi: kibul.in 2017, tembi.net 2019, biem.co 2019, Festival Seni Multatuli 2018, Makassar International Eights Festival & Forum 2018, Mandar Writer and Culture Forum 2019, Festival Literasi Tangsel 2019, Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum 2019, dan Gerakan Antiskandal Sastra 2018.

Terbaru

Jejak Nama Kami Dalam Lukisan

Rumah ini bagaikan galeri. Dindingnya rapat tertutup lukisan. Lekuk punggung pegunungan, halaman lapang, rerumputan, dan pohon rimbun. Ada...

Memeluk Tubuh Hujan

Dari Redaksi