Setipis Malam dan Sunyi

Maut Seperti Cintamu

Semesta Debar Dalam Dada

Puisi

Home Puisi

Musafir dan Kisah Tresna yang Kekal

0

MENUJU FANA

/1/
selalu saja ada yang terbang. lepas dan melenggang begitu saja.
seperti laron yang memburu pagi. memburu arah utara

/2/
dipanggilnya nama-nama itu, segenap nama yang dihafalnya
namun semuanya berkelebat dengan diam.
dia mendengar lonceng-lonceng bergemerincing. seolah berbisik
: mungkin ini malam terakhir. melambailah!

gemerincing lonceng itu mengguncang pelan

/3/
terburu-buru, ia akhiri doa yang mestinya panjang itu.
: ini musim penghujan. mendung meratapi bulir-bulir airnya
sekejap lagi menetes diserap tanah atau ditelan laut dahaga

/4/
antara ranting cemara dan gugur daun akasia
manakah yang lebih dicintai bumi?

2018



SURAH CINTA (8)

Guru, apakah kematian selalu tiba dengan membawa tresna yang kekal?
jika maut datang dengan rahasia kekekalan tresna maka aku akan bersolek
menyambutnya dengan segenap kidung yang pernah kau ajarkan!

2018



SURAH CINTA (9)

/*/
Seperti para musafir lainnya kalian turut mendongengkan
kisah-kisah tresna yang kekal
di lorong-lorong kematian: jalan pendek menuju abadi!

tapi apakah tresna kekal hanya dalam riwayat atau justru tersimpan dalam biji sawi semenjak jasad hancur digerogoti belatung-belatung api?

/**/
kalian para musafir akankah mati di bukit yang sunyi atau di kamar kerjamu
sebelum kalian sempat menakwil kitab sejarah kematian yang gagal menemu rumah tuhan?

kalian para musafir akankah bahagia dengan harapan ataukah merana saat bilangan-bilangan berdusta?
tapi apakah kalian bisa menerka nujum yang sungguh-sungguh mewartakan kekekalan tresna?

/***/
kalian para musafir akankah tetap bahagia dengan perjalanan-perjalanan tanpa paspor dan pulpen di saku kemeja?

2018


SURAH CINTA (10)

di mana alamat tresna?

perempuan itu membisikkan sebuah alamat di telinganya
namun, lelaki itu tak mampu menghafalnya

kun, lelaki itu tambah menua serupa rahasia
yang selama ini digembolnya kesana-kemari
tak ingat lagi pada masa silamnya, tak tahu masa depannya

kun, di mana alamat tresna?

2018



SURAH CINTA (11)

Guru, biarkan aku jadi penujum pengembara dari gunung hingga ke ceruk lembah
mencari sisa tresna yang terlanjur jadi sabda-sabda yang harus ditakwil dan ditafsir

Guru, bagaimana kusyahwatkan tresna, saat masa silam pulang dengan lelah
sedang masa kini menjadi cuaca sarat dengan hujan halilintar
adapun masa depan kehilangan wajah ibu bersama riwayat tuhan yang ditanam di kubur

Guru, bagaimana kusiasati tak berdayaku melacak tresna
sedang dunia telah terlanjur menjadi meja perjamuan memuja kuasa
adapun surga adalah kamus yang gagal mencatat makna-makna

Guru, aku ingin patuh mendekap tresna, tapi dadu dan angka-angka telah dilempar
membuat segala perempatan jalan menuju lorong hasrat yang menjejalkan dusta

duh, guru! 

2018-2019


MEGATRUH

sama dengan bangkai ia sekejap akan sirna mungkin melesak
dalam kerak paling palung di tanah paling liat dan hitam
atau melesat ke angkasa, menabrak dan mengguncang pepohonan
sebelum lenyap jadi butir-butir molekul seperti gerimis tipis

seperti juga sama dengan semua mayat yang tak pernah tahu dalamnya neraka
ia tak akan lagi merapal ayat-ayat. segenap mantra dan jampi-jampi kidung suci
berubah menjadi serabut-serabut yang ringkih seperti putik merambat menuju layu

“hai, tak perlu kau menoleh ke belakang untuk mengingat-ingat
apapun. campakkan ingatan
bergegaslah kau telah ditunggu kereta
dihela delapan lembu melenguh tanpa henti!”

maka, engkau pun berjalan sendiri dengan berdebar-debar
mendengar lenguh itu.
cemas sendiri tanpa siapa-siapa, bahkan tanpa nama

Ngawi, 2018-2019



AKU TAHU

Akhirnya apakah aku harus pasrah dalam rayuan malaikat maut?
: “Tak perlu kau bertanya-tanya lagi!” bisiknya dengan bengis
“Sebentar, biar kucari catatan-catatan harian yang tercecer di kamar tidurku!”

Aku tahu kalender cuma bilangan ganjil dan genap
dan arah hanya dua, lurus atau belok
nasib pun cuma dua, meninggalkan atau ditinggalkan

Aku tahu jarum jam tak pernah berjalan mundur
laju detiknya selalu mendorong-dorong ke arah peti gelap
yang di dalamnya cuma koper-koper doa yang usang.

2019




WAJAH LANGIT OMPONG

Malam tanpa bulan
langit ompong tanpa gigi abu-abu
pohon-pohon berjalan menuju kelam
gagak dan burung hantu berlomba menjerit-jerit

Ruh-ruh kita berlompatan dengan riuh
berlomba berlari menuju perempatan-perempatan
melesat belingsatan melejit di ujung-ujung dahan
gonggong anjing memburunya sampai jauh di ujung sepi

Tak ada kapal yang datang
tak ada mercusuar yang menyala
tak ada syahbandar berdiri di dermaga
air laut memantulkan wajah langit ompong
sibuk menghisap ruh-ruh yang berlompatan

2019         


                                                    


RIWAYAT

Setiap kisah selalu mengundang dikenang
pun riwayat ini seperti biografi tubuh
melayang-layang di ombak-ombak riuh
sambil meneriakkan nama-nama.

masa lalu kelak menjadi sulur-sulur
merambati bilangan-bilangan dan susuri ramalan-ramalan

percayalah, tak hanya kecewa dan muram
yang sering menyapa atau harapan yang sekejap padam
namun, juga ruang-ruang pesta dan musik mempesona
dan kita  menuang anggur dalam piala lantas berdansa
menari seperti kaum sufi yang mencari teka-teki
: mengapa cinta tak dapat diurai dengan cium dan kata-kata?

Setiap kisah selalu mengundang untuk dikenang
segenap riwayat adalah biografi tubuh yang disumpali jejak sedih maupun gembira
pun setiap gagap dan bodoh yang berulang gagal menghafal dan mengkhatam kitab

riwayat panjang ini adalah perjalanan musafir yang tersaruk-saruk dengan cemas
sekaligus harapan-harapan yang sekejap menjadi berbait-bait puisi
: mencatat semuanya jadi kitab dongeng legenda cinta para darwis yang majnun! 

Ngawi, 2019



SUARA LAIN

Mimpi buruk melindap bersama datangnya cahaya dini. Khianat yang sempurna. Licik, licin hingga cerdik. “Kita ternyata menuju punah!” bisikmu gelisah dan tergesa.

Sejarah mengarus dan berayun-ayun pergi. Segenap manusia akan selesai dikubur dalam jurang-jurang  berapi. Kita terlanjur terengah-engah, lengah kompromi pada takdir, pasrah pada nalar yang mencekik pelan-pelan. Syahdu dan penuh rasa hormat pada setiap rasa sakit.

Tertinggal hanyalah yang paling lembut melampaui hasrat khusuk bercumbu. Itulah kenangan! Warisan tinggalan leluhur yang menggetarkan. Lahir melalui mulut-mulut
penyair  tragis: itulah suara yang lain!.

Mendengar gumamnya adalah menyimak waktu yang sekejap berlalu namun datang kembali dalam frase dan kata.

2019

=====================

 Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar pascasarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) tahun 2006 di bidang Linguistik dan Kesusastraan.Beberapa buku puisinya antara lain  Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja sajak (Salah satu lima buku puisi terbaik versi HPI 2016), Perbincangan Terakhir dengan Tuan Guru (2018),

dan Kitab Ibu dan Kisah Hujan (2019).

Sebelum Pesta Berakhir

0




Benih Karmila

Karmila, kembang desa pertama
putri kedua pasangan petani tua
puluhan tahun mengairi ladang
dengan air mata

di tengah kemarau panjang
namanya diambil begitu saja
dari judul lagu Farid Hardja

ia lahir sempurna

entah berapa lama
petani tua itu menanam benih Karmila
padahal tak ada kembang berbunga
hanya batu dan kayu yang semusim lagi jadi abu

bulankah yang melahirkannya?

rambut bijangnya memanjang
setiap siang terurai diterpa angin pantai
saat bukit-bukit digunduli jadi lahan jagung
orang-orang memandang laut dan Karmila

di ladang-ladang tadah hujan
petani dan nelayan menunggu
dikutuk Karmila jadi debu

Lombok, 2019




Menjadi Ayah

di hadapan cermin aku bertanya
akan jadi siapakah darah daging kita
saat ruh yang kudus berhembus
pada tiga bulan pertama

dari perut ibunya aku berbisik,
darahku mengalir di tubuhmu
seperti santan dan minyaknya

dan aku, dan kau adalah yang terpilih
yang terbaik bisa abadi
yang terburuk tak mungkin pergi

kenangan tak memberi pilihan
‘hidup yang kelak kau jalani
adalah langkah yang setiap saat kusesali’

Lombok, 2019





Pagi yang Lain

berikan aku pagi yang lain
tanpa surat kabar harian

suguhkan secangkir kopi
dengan gula semanis mimpi

meja sarapan
sepiring khayalan

di kamar mandi
apapun bisa terjadi

dan di atas ranjang
istriku berseru,

‘tidurlah sayang,
tak ada fakta hari ini’

Lombok, 2019





Nyanyian Musim Kemarau  

seribu dulang tersaji di tanah lapang
perempuan desa memanggul harapan
di atas kepalanya

      setundun pisang matang,
      sepanggang ayam kampung
      telur ayam, bebek, dan puyuh,
      sepiring nasi kuning dan putih,  
      semangkuk kacang asin,
      dan segala yang berkuah, digoreng,
      juga dipanggang

mereka berpesta untuk menyatukan doa
meminta tuhan membuka kolam langitnya

seolah yang diminta telah mengamini
akan selalu ada keinginan
dibalik melimpahnya pemberian

sebelum pesta berakhir,
ladang-ladang tak bertuan
dengan sunyi menyimpan harapan

batang-batang jagung terbakar
berkelakar tentang petani
yang menggunduli bukitnya sendiri

di bukit itu
tak ada yang tahu
doamu dan doa tanah telah beradu

Lombok, 2019





Pengobatan Pakon

arang batok kelapa
tak membakar kaki telanjangnya
agar ia melihat mahluk tak kasatmata
menyakiti dengan halus budak jelata

saat gendang-gending ditabuh
seruling panjang mendengung
ia meneguk air kembang mekar
beralas kain putih
bertabur asap dupa

namun sebelumnya
dengan daun pinang muda
tubuhnya berulang kali didera

rasa sakit menyembuhkan derita
bisik tengkorong kepada ia
sebelum menari di atas bara

ia tahu, siapa mahluk tak kasatmata
merasuki dengan halus budak jelata
sebagai penyakit
sekaligus penyembuhnya

Lombok, 2019




Tenun Purba Pringgasela

tumbangkan dua ekor kerbau
untuk mengibarkan selembar kain purba
dengan tiang dari pohon aren
setinggi sembilan lelaki

kibarkan selama dua malam tiga hari
turunkan sebelum senja
tepat di saat tulang punggung keluarga
pulang dari ladang-ladangnya

delapan ratus lima puluh tahun silam
perempuan penenun pertama di Pringgasela
menyesek benang jadi bekal perang lelakinya

ikat erat jadi sabuk di pinggang
niscaya kau akan terjaga dari satu dua tebasan parang
dengan cinta seputih kapas yang kupintal semalam suntuk
kau harus pulang mengasapi dapur, memberi peluk


anak cucu harus tahu, kunamakan kain ini tunggul
agar kalian senantiasa gemar memanggul
memikul peninggalan leluhur

kain purba jangan kau puja
kami menenun merajut cinta
jadi selimut keluarga

Lombok, 2019


=======================
Fatih Kudus Jaelani, lahir di Lombok Timur, 1989. Buku puisinya berjudul Asmara Ular Kayu (akarpohon, 2016). Kini bekerja sebagai wartawan di salah satu surat kabar harian lokal di Lombok dan aktif bergiat di komunitas rabulangit Lombok Timur.

Rahasia yang Rontok dari Ranting-Ranting

1



Dongeng Seribu Satu Malam

malam itu di suatu kota yang beku
dari lemari es dongeng seribu satu
malam mengabur diri

tetapi sialnya dia kesasar seumpama
seorang tualang yang lupa membaca
peta atau siut arah angin

apa ia tersesat? Tak ada sahut cuma
hening jatuh embun

tiba-tiba melengking salak anjing dari
arah bukit

dan seorang malaikat salah
ketuk pintu?

apa ia tersesat? Tak ada sahut
tiada seorang pun di luar cuma
angin menyusup membungkuk

Sudah pukul berapa sekarang? Di mana
arah kiblat? Seharusnya ke arah sana
dongeng beku itu mengabur diri

2020


Dialog Kupu-kupu dan Sebatang Pohon

Di suatu hutan yang suntuk,

seekor kupu-kupu mengepak
-ngepak sayap

dari sayap, yang sirip ikan itu
didengus suatu kabar gembira,

penaka yang dibawa seorang
nabi. Hutan dibentang dari warna
wahyu dan malam?

“Tapi.”

Lekas-lekas disangga sebatang pohon,
yang tersisa di hutan itu.

Hutan hanya horizontal. Tiada humus,
serat daun atau lapuk jasad-renik.
Kupu-kupu itu meracau?

engkau beri peringatan
atau tidak beri peringatan,
mereka tidak percaya.

Seketika, pohon itu cengeng.
Ia menangis. Karena hutan gelap
mengangah.

Kau punya lampion? Aku ingin
pergi dari sini, katanya

meski kami justru yang
berbuat kebaikan.

Di hadapan hutan yang suntuk

kupu-kupu ingat sebuah bahtera,
yang selamatkan Nuh dari bah.

Pakai ini. Kupu-kupu itu berikan
sebuah lampion, dan tiga wangsit:

sekali-kali jangan berkata dusta atau
ingkar janji. Atau lalai diberi amanat.

Di hutan yang suntuk kupu-kupu
itu bersinar dan pohon menyungkur
seperti hendak sujud.

2020




Bukit Cahaya

kita hampir tak mengenalnya,
tapi di balkon ini dia seorang
penyapu jalan

saban waktu dia senantiasa
menyapu helai rahasia yang
rontok dari ranting-ranting
malam

seperti Musa di thursina,
atau Isa di golgotha. Anak
yatim itu

suatu malam dia sulut api
di sebuah obor, seketika
itu bukit-bukit bercahaya

“Aku lihat langit lapang bagai
kerajaan sorga. Di sana tumbuh
sebuah pohon lebat.

Pada dahannya, burung-burung
menaruh sarang. Sementara di
sebuah telaga sepasang manusia
bagai orang asing.”

kita hampir melupakan suatu kitab
yang dia terima

“…ini tidak ada keraguan padanya,
Petunjuk bagi mereka…”.

Ibarat cermin. Dia berbicara kepada
dirinya sendiri. Yang sendiri.

Apakah anak yatim itu mengigau?
“Tidak! Dia tidak tidur,” sebuah suara
gaib.

Sejak saat itu di bukit cahaya,
anak yatim itu mencintai malam.
Yang gaib. Yang senantiasa ia sapu.

2020





Bila Rindu Kan Merayu

Bila rindu kan merayu maka
helai-helai hari yang terkelupas
adalah lembar taman berseri-seri

“Kemarilah kekasihku,” berseru-
seru seorang yang rupanya
tak asing bagi kita

:rindu adalah padang-padang
oase, di sana kita terjerembab
ke suatu masa ke negeri muasal

yang terus kita simpan dalam ingatan
dan sanubari seperti kota tua yang
kerap dikunjungi peziarah

Bila rindu kan merayu maka malam
memanjangkan sayap-sayap seperti
sebuah jalan bagi para suluk

bergegas menembus kabut—dibalik
helai kapas itu mengangah sebuah
liang hitam:

di sana ada berpuluh-puluh kucing
berbuluh hijau, kupu-kupu warna
violet, begitu khsuyuk meratib zikir

dan kita sudah kaku kaligrafi atau biji-
biji tasbih yang jatuh hingga ke liang
paling dalam

“Kami menyembut seruanMu,” suara-suara
itu melengking dari trapesium hitam. Atau
barangkali dari dalam hajar aswad?

Bila rindu kan merayu maka kami akan
datang dari delapan penjuru mata angin
menujuMu – memujiMu

2020





Sahaya

/1/

di ambang ini
aku membungkuk sahaya
seraya berharap cahaya

lantaran unggun api sajakku
hanyalah kunang-kunang dan
itu tiada cukup kubilas muka
mengenal rupaMu

/2/

setelah engkau bentangkan
bianglala di punggungku

hei, itu sederhana. Rukuklah
bersama orang yang sedang
rukuk, kataMu

dalam letup hening aku menyaksikan
segala: nasib, rahasia, maut dan kita
yang satu.

2020





Kukirimkan Sekebat Bunga

Duh, Gusti sudikah engkau
kukirimkan sekebat bunga?
Kan kutulis selarik kata dan
kuselipkan di antara buket

Sekiranya, hal itu bisa membuat
rindu menjalar merambat pada
sepasang lengan daun pintu yang
terbuka seumpama kegaiban sebuah pelukan  

Duh, Gusti cukupkah itu semua? Aku tak
punya apa-apa lagi selain segala adalah
kepunyaanMu

2020

=====================
Ishak R. Boufakar lahir di Kian, 23 Juli 1992. Cerpen dan puisi termuat dalam Antologi Cerpen Bertuan (2016), Antologi Surat  Untuk Tuhan (2016), Antologi Cerpen Mimpi (2016), Antologi 250 Puisi Cinta Terpendam (2016). Anggota komunitas menulis Paradigma Institute. Tulisan-tulisannya diterbitkan di beberapa media, antara lain: di Harian Fajar Makassar, Salam Papua, Ambon Ekspres, dan Majalah Lintas.

Meretas Beribu Tahun Jarak

0

Maulid

Ada yang tak pernah habis ditafsir
atas sebuah kelahiran
putra dari bani Hasyim

Aminah, sayyidah yang disetiakan
bagi Abdullah
perempuan yang diliputi marwah

Muhammad… Muhammad
di hari pemberian nama
Abdul Muthalib yang termashur mengangkat
sang bayi dengan sepasang tangannya*

Kelak, hingga beribu tahun jarak
umatmu terus merayakan
kelahiranmu ya Rasul
maka selawat dan salam

Masuk lewat bibir kami, tenggorokan
pembuluh darah, berkumpul
di jantung membentuk simpul
tak terputus

aamiin


Ampenan, Maulud 1441 H

*sebuah adegan dalam film Muhammad: The Messenger of God karya Majid Majidi

Menyebut Tentang Laut

1/
Tuhan yang pemurah menjadikanmu sebentuk wadah
menampung bergulung-gulung air
juga gelombang pasang yang sanggup meraup pesisir

langit riang berkaca padamu
maka teranglah biru merupa mata
perempuan-perempuan terdahulu

jemarimu ombak lentur melepas riak
meretas beribu tahun jarak
lembar-lembar kitab ke musim-musim
semenjak tubuhmu terbelah tongkat sebilah

seorang mustakim

2/
Adalah pagi yang menumbuhkan nyanyian
selepas subuh kau deburkan
sementara ikan, kerang-kerang bergelung
menetaskan liur dalam palung

dan senja seumpama seseorang
mencari dan menemukan
jejak pada pasir yang kau tinggalkan

sebelum ombak membuatnya kembali tak ada

adalah malam pemilik wujud genap
gelap dan senyap
bintang menjatuhimu sekejap kerlap

maka darimu angin lepas
menyusur takzim ke banyak tingkap

sekudus selawat, menembus liang-liang lahat

Ampenan, 2019

Kemiri

dalam hidupmu apa yang lebih berat
melampaui segenap hasrat
selain perkawinan

gelar isteri akhirnya kau sandang
sekaligus menantu
di mana bahagia dan sedih berlepasan
dari pintu rumah ibu bapakmu

demi resap menu di meja makan
teguh kau berdiri berdamping
pundak ibu suamimu

menyerap bagaimana mahir tangannya
mengurai rahasia demi rahasia bumbu

bahwa untuk tiga ikat pakis
haruslah digenapkan; garam, cabai, bawang
tomat, lengkuas, kemiri juga terasi
dan gerak ulekanmu haruslah selentur
panggilanmu kepada suami

Ampenan, 2019

Kunyit

aku ingin sendiri, dilupakan
berpasang-pasang tangan

rebahkan tubuhku dalam pot tanah
berbibir rumpang hingga leher itu
di sisi utara dapurmu

agar cukup bagiku
kering matahari
basah air cucian berasmu

padamu kubalaskan kebaikan
bertunas segar, meninggi
menghijaukan batinmu saban pagi

kelak jika harinya sampai
kukuningkan kuahmu di kuali tanah itu
bersama potongan daging dan kentang
seempuk umbi matang

obat penyembuh anakmu;
busung, demam, tifus dan radang

Ampenan, 2019


Ruwat

ketika kau masih mewujud janin
bersemayam dalam Rahim
terbacalah oleh leluhurmu segurat tanda
kelak kau terlahir sebagai anak sukerta

“harus kau jalani ruwat

agar segala hendak menapak selamat.”

petuah-petuah menggantang, memalang pintu rumah
para leluhur tengadah, menangkis tulah
segala ubo rampen- sesajen kuncen
awak dalang awak sinden

lalu kelir mengembang
bertarunglah para wayang

“yang datang cepatlah pulang
yang datang cepatlah pulang
jangan kalian usik diri kami
yang dijaga para danyang.”

2019


Julung Ambung

ia lahir sebelum lunas waktu dhuha
waktu gaib dari seluruh yang gaib
saat segala kuntum pecah
menguarkan inti aroma

“jangan kau ambil jantungnya
hiruplah secukupnya
hanya wanginya

hanya bau tubuhnya…”

kau, yang datang dari rimba
berpalinglah kembali ke rimba

“penuhi tubuhmu dengan getah
damar, cendana, atau kamboja
atau getah wangi lainnya…”

biarkan ia tumbuh dengan sembada
menuntas laku putih kelam pedih sabda
hingga kelak ia berpulang
melepaskan akar sari segala aroma
yang menyertainya

*julung ambung; anak yang lahir bersamaan matahari terbit dalam mitologi jawa

2019

Memandang Sedih Pada Jalan

seperti daun-daun kering berkumpul
oleh sapu lalu dibakar
kita pandang sampai padam
tertinggal darinya
berjumput-jumput abu

kita berbalik memandang pada jalan
panjang amarah, iring-iringan
anak-anak belum terpercik dosa
dalam gendongan para ibu
paras yang kehilangan sari wudhu

Mataram, 2019

Gagak Hitam

gagak hitam
terbang hinggap terbang
mengincar pijakan/pucuk iman

Mataram, 2019

===========

Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur. Puisi-puisinya disiarkan di berbagai media nasional maupun lokal juga tergabung ke dalam antologi-antologi bersama. Pernah lama bekerja di Jakarta. Sejak tahun 2014 hingga sekarang  menetap di Mataram, turut menjadi bagian keluarga di komunitas Akarpohon Mataram-NTB

Waktu Akan Mencuci Tanganmu

0


Air Mata Para Petani

Kata orang tanah kita tanah surga
Kayu tongkat dan batu jadi tanaman
-Koes Plus

Di warung makan aku terdiam lama memandang
sedang kata-kata padam terbenam dalam renungan
mencium aroma nasi panas di pucuk jemari tangan
ternyata berasnya bau keringat petani Vietnam
sedangkan tempe goreng yang menjadi menu idola
dompetku dan juga dompet 100 juta orang Indonesia
ternyata kedelainya ditanam oleh petani Paman Sam
sambal tomat yang membuat mata petani merah dan marah
ternyata cabainya dipetik dari kebun petani Argentina
satu porsi makanan yang tersaji di depan mata
ternyata menjalani satu jalan yang panjang
sebelum mendarat di perutku dan perut orang Indonesia
seperti panjangnya sungai yang membawa air mata
para petani hingga ke pangkuan samudera raya
beginikah nasib para petani yang hidupnya digarami
air matanya sendiri



Perihal Bunga Mawar

Bunga mawar yang luput yang berserakan di jalan itu
hanyalah bunga, kata perempuan itu sambil berlalu.
Siapa yang sudah menelantarkan cinta? Siapa yang sudah
menabur air mata? Kata penjual bunga itu.
Kemudian dipungutinya setangkai demi setangkai –menyumpahi.



Keramahan Cinta

Membayangkanmu hanya mempertegas rasa sakitku
waktu akan mencuci tanganmu bekas lumuran darahku
ke mana kau sembunyikan pisau bekas jantungku itu?
karena cinta melulu bersembunyi di balik keramahan kata
kemudian tangis akan selalu mencuci sepasang mata kita



Mungkinkah Kau yang Menitihkan Air di Mataku

Kusambut gugur gerimis yang ramai di beranda itu
kubiarkan kesunyian yang lebat mengepung malamku
akankah rembulan tiba dan tergelincir di punggung pagi itu?
apakah kau yang barusan melintas di antara asap rokokku?
atau mungkinkah kau yang menitihkan air di mataku?
tanyaku sambil menyesap kesepian pada dada malam yang
pekat itu.



Hujan Sore Ini
: Revallina

Sayang, apakah kau melihat
langit murung sebab mendung?
Jika sore ini hujan turun
aku ingin berteduh pada tubuhmu

Hujan sore ini ialah alasan
bagi mata yang ingin bertemu
bagi bibir yang kering dan layu
sebab kemarau rindu itu

Lagi hati yang pedih
dan resah karena pisah
Sayang, hujan sore ini ialah alasan
kenapa aku harus pulang.



Apalah Artinya Surga Tanpamu
: Revallina

Apalah artinya surga tanpamu
seperti Adam dulu akulah lelakimu
yang kesepian itu.

Mungkin saja benar lelaki pandai berdusta
tapi Tuhan mengampuni dosa hamba-Nya
Yang sedang jatuh cinta.

Jika Suatu Malam Nanti
: Revallina

jikalau suatu malam nanti kita bertemu
akan kuseka ragu yang kukira menghalau
kita untuk melepas dahaga: mereguknya
dengan kata atau tatapan mata.


==================

Arian Pangestu, Menulis fiksi dan nonfiksi. Tulisannya dimuat di Radar Surabaya, Pikiran Rakyat, Bangka Pos, Solo Pos, Medan Pos, Pontianak Post, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Malang Post, Bangka Pos, Padang Ekspres, Minggu Pagi, Koran Merapi, Media Indonesia, Koran Jakarta, Harian Analisa, Republika, Tribun Jateng, Harian Rakyat Sultra, Radar Tegal, Satelit Post, Media Jatim, Tanjungpinang Post, Geotimes, dan Suara Kebebasan. Novel perdananya Lautan Cinta Tak Bertepi (2018).



Kamu Jantung Puisi

0

Nyanyian-nyanyian Luka

suara                                                      paling merdu
tangis para suami,     tinggal dalam mimpi buruknya.
kehidupan adalah permata mencebur lembah lumpur
tanpa ikan,                 kecuali tulang-tulang kematian.

dengarlah        nyanyian-nyanyian luka
keluar dari      dapur ibu dan nenek kita
tinggal air mata,     dan raut sedih-duka
siapa negara                 bagi yang lapar?
siapa bangsa             bagi yang melarat?
siapa merdeka bagi yang terperangkap?
siapa mereka semua bagi keluarga kita?
saudara?                                     teman?
                          kekasih?
                             atau
      daging yang dibiarkan membusuk?

kita perlu bertanya                pada bendera
berkibar di depan  rumah dan pinggi jalan:
“darah siapa yang               tumpah di kain
Presiden?                                      Menteri?
                               dan
                            Dewan?
hingga tergantung   di tempat penjemuran
dan angin menerbangkannya
seperti layangan              merah anak kecil
                                                yang punah”

dengarlah nyanyian-nyanyian        luka
petani. terpisah dengan sawah dan bibit
tanam                      mereka
tinggal sejarah hijau sawah
dan musim                panen
tinggal               nama

siapa milik  tanah air?
                 dan negeri?
                dan bangsa?
kalau bukan mobil-mobil  dan pemiliknya
tak mungkin para kuli yang menjemur diri
demi                                     anak istri
tak mungkin tukang becak yang tidur
saat                                                            penumpang sepi
tak mungkin pencari rongsokan                         yang sibuk
dengan botol plastik dan kardus bekas sampah toko China
tak               mungkin!

jika sesuap nasi adalah buah apel kerajaan
rakyat       adalah sebenar-benarnya semut
memburu,                    meski sisa kemarin
dengan                                   rapal mantra:
“kepala negara, adalah buldoser yang mendorong ke jurang
tumpukan rumah tergusur     dan tempat maut para busung.”

Probolinggo, Agustus 2019

 


Puisi Tanpa Kehidupan

——kepada penyair romantisme

bagaimana                                      mungkin
seorang ibu                  menyusui bayi
sangsi         hutan terlalap
tanah                          dan binatang musnah?

bagaimana                                      mungkin
redaktur koran, majalah akan sadar?
jika para penyair hanya bercerita: cinta
               [dilema dan mabuk asmara]
sedang guru-guru sastra hanya bahas abjad-abjad sementara
lepas dari derita pekerja                    dan kaum gelandangan
           [sampai tumbuh lelumut campak].
                bagaimana            mungkin
                          m   e   r   e   k   a
                           terselamatkan?

di Atas Kapal, Agustus 2019

 

Kesaksian Pujangga

aku lihat air tawar:             danau, sungai, rawa,
kotor       jadi   limbah   selokan      kumuh-bau
menyusup rumah ikan-ikan dan membunuhnya.

hutan                                                      terlalap
     hilang      dari sarang       burung-burung.
          matahari menebas kulit para petani
    sedang para pemuda dan petua berkemeja
di sebelah sana, mengintip gerombolan pelacur
telanjang                                       ganti pakaian.

lima              puluh              tahun               lagi,
  terjadi sekarang,               hotel jadi rumah tua
          pertemuan hantu-hantu kesepian
  dan    mobil parkir di bawah lampu jalan mati,
      anggap              kamar               baru
  [cinta memulai madu kasih tanpa kemanusian]
bertirai                   kaca                             hitam.

lalu bagaimana, dengan pabrik-pabrik                      menjinjit
pundak                                            mesin-mesinnya?
sedang puisi                 dan nada-nada                              gitar marah
bungkam          terhalang toko dan                bangunan      tinggi lain.

nenek kita menatap dari atas puncak                    gunung yang hilang
dan para  dewa haus                     tak bisa minum air laut
tercemar.          segala sampah dan bangkai
tangan tanpa                                 tanggung jawab.

lihat!                          di atas batu besar itu
seorang penyair melukis                            wajah cantik
                                 tubuh perempuan
dan di belakangnya anak-anak                       kelaparan
tak terjamah oleh                         kata-katanya.

[jika       mutiara         tak        disodorkan          kepada        mereka.     lalu       apa
yang        ‘kan         disajikan;          kalau         bukan      racun    dan     kematian.]

tujuh  hari ‘kan jadi pesta orang-orang munafik
sambil merapalkan                                               doa palsu.
dan piring dan gelas        dan sendok dan garpu
kotor.                                              menyerupai hati mereka.

Dan
AKU INGIN BERBICARA :

“wahai  para  guru-guru, sentuh  hati  para  murid  dengan lembut dan kasih sayang. jangan  bakar  bulu  kulit  mereka, dengan  api  yang  dibawa  dari  rumah penuh  dendam. ketuk  pintu  mulut  agar  terbuka,  dan  jendela  telinga  agar mendengar  kata-kata  yang  tak  tenggelam  dalam   caci   dan   maki  kehidupan.”

jangan tunggu dandang                             memasak beras
                  di atas tungku janji para partai.              sebut dan anggap komplotan
itu sebatas
musik                                                            para pemula.
                        jangan dengarkan!
lagu-lagunya tak ada yang bagus. tapi kalau mau telinganya rusak,
jantungnya rusak,   perutnya rusak,                      mulutnya rusak,    matanya rusak,
ya silakan!

namun

KALIAN PERLU DENGARKAN NASIHAT INI:

“mereka   belum   bisa     menciptakan    lagu    bagus   dan     baik,         ternikmati      semua        kalangan — bahkan      tersebar        sepanjang        masa. mereka hanya bisa menciptakan lagu penghibur khusus presiden yang sudah berganti-ganti,  namun      tak     bisa   selesaikan   masalah   dalam   negara. mereka hanya  bisa itu. mereka hanya tahu itu. mereka hanyacukup di situ.
terlepas                          dari                     derita                   para                   rakyat.”

tunggulah!                 seorang pujangga ‘kan segera tiba
sayat                  hati manusia terkutuk
sibuk dengan jabatan dan                       pangkat-pangkat
bertangga di atas pundak dan dadanya.
                                                                ‘kan dimusnah
‘kan dikejar
sebagaimana elang memburu sepasang merpati
di langit sampai                                                   tercabik
terdekap                                                  jari-jari kakinya.
paruh yang tajam ‘kan terus menyelami
                                                        daging segar mangsa

meski dari tiap penjuru mata angin
unjung                                               senapan mengintai.
ia ‘kan tetap       mencabik—mencabik—mencabik
sampai                                                      tinggal tulang
terbuang,                   termakan anjing milik petapa suci
turun dari                                                    Goa Munara.

Probolinggo, Agustus 2019

 

Lapar

aku     lapar. jika  makan
adakah nasi di dapur?


sepiring nasi      bungkus
lebih berharga ketimbang

                        menunggu
                 menunggu
       menunggu
janjimu

sekotak roti    berjamur
lebih berarti ketimbang
jagung dan    padi yang
kau tanam
     kau tanam
             kau tanam
                 di mimpi itu

daun-daun bunga                            bakung
terbakar api, makan tangkai dan akar
madu hilang          dari putik
kuntum gugur belum mekar
angin dan lebah pulang ke negeri dongeng
tempat surga:      taman mahluk tanpa dosa
dan petinggi-petinggi yang kelola                 perusahaan
sedang biarkan mereka terjebak dalam jurang kelaparan
tanpa tuang                        segar susu
dalam kering tenggorokan dan dahak
terus menendang, ingin muntah di lubang
hidung,             tempat bau busuk tersedot
dan tersaring      oleh bulu lebat
hitam, tiap dinding goa sengsara

jadi kalong                 gantung dalam gelap
jabatan, dan bawa terbang rasa sakit
ke puncak langit,                                     ketika istana runtuh-rata
dengan gubuk-gubuk yang digusur di pinggiran Sungai Ciliwung
nyatu dengan tanah darah
luka.                    Menjerit
demi lahan—demi uang—dan—demi jabatan
dipertahankan di atas penderitaan          rakyat

aku     lapar.   mereka pun lapar.
jika makan, adakah nasi di dapur?
dan sejulur tangan kepala negara?

                           Bali, Gianyar, Agustus 2019

 

Tangis Sungai

jika air mengalir    adalah impian
jangan salahkan ikan mata beling,
biawak         beranak,
dan telur-telur  katak
menolak pasir kering

janda dan bunga desa
harus ‘tap bermain di atas batu sungai basah
dengan                               tawa suara merdu
di balik air terjun dan rongkang
           persembunyian.

jangan hilang pada musim kemarau panjang
rumput                                   dan lalang mati
sebelum angin bergibas kencang
tabrak daun      dan ranting kayu.

sungai akan               sepi
tinggal lumpur jadi tanah
tinggal tulang jadi makan rayap
tinggal                             tangis dan mimpi yang hangus.
hujan datang      sekejap.
permisi pada bangkai-bangkai
geletak di atas batu      gersang
berselimut  daun gugur
‘nanti musim baru lahir
setelah            kematian.

siapa yang seharusnya menjadi air?
jika bumi      (tanah air)         mulai
membunuh                di kekeringan.

                           Probolinggo, Agustus 2019

 

Catatan Terakhir Pertemuan

                                   —— Zainal Hakim

tamu akan pulang                ke rumahnya
mengutuk pertemuan dengan perpisahan
karena yang                  datang akan pergi
dan yang hidup                         akan mati.

sedang di sebelah sana
tanah              kuburan
      memintamu
        terpenjar
           dalam
         kematian.
         tenanglah….
         tenanglah….
jangan kau  rindukan
tempat bunga-bunga tumbuh.
                             diam abadi
dalam rencana;
Tuhan                dan malaikat.

                                        salah terhormat
kepada pertemuan yang mengajari ikhlas
dalam menyikapi                    perpisahan.

                                   Probolinggo, 2016

Cerita Lama

—— kepada B. B.

peran orang tua adalah      nasihat nabi kedua
membunuh semak duri tumbuh dalam rumah.

kelahiran penentu siapa yang dipelihara!
malaikat dan            iblis diskusikan diri
menjadi         siapa?

jika siang menutup mata.      biarkan!
jika malam keliru berbuat. benarkan!
jangan menagih janji yang       sudah
rampuh           dan mati
rawat tiap bunga lalang
biar rumput tumbuh di halaman
petik                      bunga mekar
jangan tebang       sebelum usia!

biar sepiring nasi mengisi
perut kosong    anak-anak
dan segelas air putih         hapus
kemarau dalam tenggorokannya.
kehidupan akan lahir dari kedua telinga
dengan tangis ibu                  dan bapak
bukan meminta keringat otot-otot  batu
kembali,            bertukar air tebu.
kepada mereka janin harus percaya
orang tua adalah            nabi kedua.

                 di Atas Kapal, Agustus 2019

 

 

 

===============

B. Soegiono, lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo, tanggal 11 November 1996. Kini mengembara di Singaraja, Bali — menjadi seorang penyair, Buku antologi puisinya berjudul Saga Mentari. Tulisan-tulisannya pernah termuat di berbagai media massa Indonesia: cetak maupun elektronik; antara lain, Malang Post, Bangka Post, Rakyat Sumbar, Radar Bromo, Kabar Madura, Litera, Tatkala, Nusantara News, Flores Sastra, Biem.co Komunitas Kampung Jerami, Serikat News, Nyimpang, K awaca, Puan.Co, Berita Baru, Mandarnesia, Kumpulan, Kabapesisir, Takanda, dan Galeri Buku Jakarta. Salah satu pendiri “Jaringan Sosial Budaya”, sebuah platform yang mengintegrasi gerakan sosial, kesusastraan, tempat berproses kreatif, tempat berkesenian (tradisional dan kontemporer). Juga menerbitkan buletin setiap bulan bersama “Lentera Bayuangga”, yang berisikan tulisan tentang sosial-budaya.

Menembus Dinding Kesunyian

1



Rindu Berdarah Dalam Batinku

Ya habibana yang berdarah dalam batinku
Yang kurindu dalam dukaku
Sebelum fajar kusingkap
Datanglah engkau ke selubung imanku
Tak ada yang kusembunyikan
Dari sisa-sisa rahasia
Nestapa yang kutelan
Adalah derita yang kuterima

Bagaimana aku
Pantas mengaku
Paling sengsara
Sementara dunia diciptakan
Bagi kegembiraan

2019


Mata Airmata

Suara-suara tangis
menikam
datang dari
kegelapan paling
kelam
mendengung
dari tubuhku
yang lemah
dan parau

Suara-suara
meminta
rahmatMu
bagai
gemuruh
gerimis
menghapus
sisa
perih
dan luka

O, Duka Mulia

Airmata bagai syair
tak melenyapkan
kesedihan apa pun

Bukan keheningan
yang aku cari
atau diam yang
Agung
tapi riwayat api
membakar bulan
menjadikannya gelap
sebentuk lorong
sinar lilin
di ujung tepi
dilalui
pejalan sepi
dalam sekarat
bumi hangus

2019




Amsal Kesedihan

Api membara dalam tubuhku
Tetaplah menyala
Oh, tapi tidak
Aku telah menjadi abu
Aku telah diterbangkan
Kepedihan. Sejak nyala
Cintamu membuatku
Berdarah dalam dekap
Demi dekap, saat rebah
Di bibirmu.

Kau yang bagai sinar
Hampir pasti tak mungkin
Aku menyatu dalam moksa
Aku hanya sanggup
Menjadi pengintai
Bagi perasaan
Yang dicari pencinta
Dalam detak
Dalam cahaya

Dan aku menapaki kembali
Cuaca buruk
Bagai angin sakit
Menerpa lampu-lampu
Kenangan ambruk
Mirip angin ribut

Aku menjejakinya lagi

Kalender musim hangus
Seperti aspal

Aku tinju
Langit jahanam ini
Bagai duka
Nyanyian
Burung-burung
Kesedihan

2018-2019




Amsal Amarah

/1/
Dunia rebah
Ke dalam
Amarah
Seperti pohon
Pada gejolak api

Apakah awan-awan
Menyimpan lahar
Sehingga turun ke atas dendam
Bagai sengit
Mata api?

/2/
Kesia-siaan datang
Dari sela pintu
Di sepotong siang
Yang angkuh

Apakah jarum-jarum cahaya
Telah menjadi
Mata biru
Di mataku
Yang rapuh?

2019




Meninggalkan Desember

Aku
membiarkan diri
memasuki tahun-tahun asing
tersesat dalam suara-suara
ketenangan
dari balik kaca

Kebisingan terdengar lebih pelan
bagai nada jauh
dari hiruk pikuk orang-orang
yang melampaui kesedihan
setiap malam cahaya bulan tak berhenti 
menembus dinding kesunyian

Aku
membiarkan diri tersesat
dalam lorong-lorong
musim yang risau
bergerak
dalam senyap yang kedap
mengikuti lentera dengan cahaya redup
dan retak

2019




Menanti Kabar

Dalam sepi yang asing, dalam sepi yang
Tak kukenal. Betapa panjang jarak
Perjalanan, jarak kerinduan. Jarak sakit
Menempuh jalan. Bagaimana
Menghapusnya? Mungkin dengan
Airmata. Atau anggur kecemasan.
Surat-surat yang tergeletak di meja, ingin
Aku mengirimnya. Tapi, kepada siapa?

2018




Setu Babakan

Arus yang mengarah kepadaku itu
Adalah engkau
Selembut maut
Semurni sengsara

Bagaimana bisa aku tenggelam
Dan hanyut
Dalam lagu-lagu yang kausenandungkan
Di malam sedih?
Sejauh aku melihat hanya danau sepi
Dan kekosongan mengalir ke dalam diri.

2019



Aku Akan

Aku akan menulis bagai air bah
Tsunami yang menerjang lembah
Kesedihan
Setelah kering sungai
Kata-kata

Barangkali aku akan menulis
Dengan tenaga ombak
Dirimu yang penuh kecemasan
Seperti kalimat yang tak selalu selesai

2019


===============
Restu A. Putra, saat ini bergiat dan belajar menulis di Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Bogor. Buku Kumpulan Cerpennya, Siapa Sebenarnya Ajengan Hamid Sebelum Diburu Anjing-Anjing? (Rua Aksara, 2019).

Jalan Lengang Menuju Matamu

0

Mimpi-Mimpi Ibu

Sewaktu sirih-pinang masih betah
di gigi ibu, jalan setapak kampung penuh
remah raut pensil dan angka-angka yang jatuh
dari buku-buku tanpa sampul.

Di masa itu, ibu selalu luput dari lelap tidur,
sebab hama-hama selalu datang sebagai
mimpi buruk yang saban sembunyi
pada sunyi malam: kebodohan di kemudian hari
dan kecemasan pada hidup yang terasing.

Setelah ibu melarung tubuh ke pantai timur,
ia kembali sebagai sampan penuh bibit subur.
Maka ranumlah seluruh pulau dengan tumbuhan asing
dari mimpi-mimpi buruk ibu dahulu; vanili, cengkih, pala,
dan sebatang pokok yang menjulang serupa roket.

Pohon-pohon itu, Ibu, yang akan terbangkan kita
ke mimpi-mimpi indah di tanah baru.

2019


Mayang

Adalah bayang-bayang kematian itu
bagi siapa yang datang di depan pintu.

Pada setiap kepergian, kata-kata kadang
pantang terucap kepada pokok-pokok takdir
sepahit kopi dan semanis nira pagi.

Mungkin telah usai cecap daun sirsak
dan akar-akar, kauteguk sadapan
enau sebelum tubuhmu berubah mayang
berpalut seludang, subur di tepi kebun
tanpa nama tempat dua malaikat
berkunjung di gerbang pagi dan senja.

Yang dipanen orang kemudian hari:
ihwal bayang-bayang kematian itu
serupa nyiur pelepah, tumbuh ke segala arah.

2019

Ziarah

Lubang-lubang di batu karang dan kapur
bicara padaku tentang segala gua di tubuhmu
yang lama tak kusapa kabarnya. Telah lupakah
pada seorang peziarah?

Pada jalan lengang menuju matamu,
puing-puing ingatan tak bisa lagi diterka.
Ialah kenangan yang rubuh sehabis disapu
air mata dan diguncang kata-kata berupa
terka-terka tak masuk akal tentang perpisahan
di kemudian hari. Adakah keramat lain
tempat peziarah itu berpulang?

Setelah mati di dalam liar rimbanya rindu,
di sebuah gua tak jauh
dari dua buah bukit yang telah rimbun,
seorang peziarah berharap kembali hidup
sebagai doa atau nyanyian sebelum tidur.

2019

Katasrofe

            -1667
Benteng mana yang masih bertahan
setelah langit siang dikelami jelaga
bakaran sulang ribuan mayat dan pandan
di tepi jeladri tempat seekor penyu mati tenggelam?

Hingga ke cakrawala, ujung pandang penuh
ombak dendam dan amarah. Kapal-kapal
datang dengan armada bertombak dan suara letusan
yang menembus segala riuh gelombang.

Di hari ketika langit mulai merah saga,
hanya tersisa pudar ingatan, lapuk padas,
riak darah dan desau nama-nama
yang hilang meletup ke udara.

2019


Setelah 1667

Sejauh mana kita ingat para perompak yang berlayar
ke pantai-pantai barat setelah membakar
kapal-kapal para sultan dan serdadu bersenapan?
Bandar-bandar ramai oleh monopoli dan pajak tinggi,
para petarung melarung diri menuju laut:
hidup dan mati di (dan untuk) laut.

Tak ada perkabungan untuk itu
sebab orang-orang sibuk menabur pandan
dan melati di kubur mereka sendiri.

Tapi mungkin yang nahas dari kepergian
dan memutuskan hidup sebagai penjarah adalah putusnya ikatan dan ingatan tentang tanah
dan keluarga. Sejarah adalah laut,
dan di laut, semua orang adalah musuh,
sama halnya semua ikan adalah lauk.

Sejarah saban sembunyikan hal-hal berbahaya
dalam kedalaman. Ia memang mengenang nama,
namun ia memilah nama mana yang harus tenggelam
dalam arus tubuhnya. Adakah yang tahu satu
saja nama dari ratusan perampok itu?

Demikianlah, bagaimana nama-nama mereka
tak ubahnya lapuk kayu yang karam diamuk
gelombang selat Makassar, tak sepadan
dengan kokoh batang welenreng tempat Sawerigading
berlayar jauh ke ruang-ruang diskusi dan pertunjukan
seni. Ingatan tentang perompak itu, bahkan,
tak ada yang pulang ke kepala anak-cucu.  

2019

Stargazer

Mengapa bintang di kota tenggelam dalam
langit malam? Muara jawabannya sama mengapa
kunang-kunang tidak pernah berlalu lalang di
pekarangan dan beranda: lampu kota mengusirnya
dengan cara paling kurang ajar.

Pijar bintang dan seluruh pendar cahaya itu dikuras habis
demi energi yang menyuplai mimpi-mimpi orang kota
tentang desau angin pantai atau embun pagi di atas
teratai. Sebab pada mulanya, selain fusi nuklir,
Tuhan titahkan terang lahir dari bioluminesensi
untuk dunia yang mahakecil.

Cerita ibu lain lagi.
Katanya, bintang adalah
kunang-kunang yang terbang jauh tinggalkan rumah.
Mereka awalnya lahir bersama tawa bayi persis
seperti peri dunia magis dalam film animasi.
Namun semakin hari, bayi-bayi lucu seperti itu
tidak lagi lahir. Mereka keluar merobek rahim
sebagai tuan bagi ibu-bapaknya sendiri.

2019

Di Kaki Langit

Dimana batas cakrawala tempat pelangi mukim
dengan anak-anak hujan? Sepanjang pandang,
sejauh langit membentang, jalan yang kita lihat
melingkar di antara laut dan awan sebenarnya tidak ada.
Fana seperti semua teori tentang bumi dan manusia,
kosmologi yang kita pahami dengan berpura-pura.

Mungkin cakrawala adalah wujud masa lalu
dalam dimensi ketiga: ia terlihat sekaligus tidak nyata.
Ia ada di sekitar kita, hidup sebagai cerita, tapi tak
ada jalan dan tempat mukim di sana.

Aku mengajukan pernyataan itu untuk menggenapi
pertanyaanmu. Kita sepasang petualang yang jauh
dari diri sendiri. Mencari banyak jalan dan kemustahilan
namun lupa yang paling rintang adalah mendamaikan
mengapa di masa lalu dengan siapa di masa kini.

2019

Kepada Air

Kepada air yang mengubah tiada ke ada
juga dari ada ke tiada, keinginan Tuhankah
yang kaubawa mengalir sebagai pelampiasan
dosa dan rahmat?

Siapa yang menentukan?

Jumlah hujan yang jatuh di gersang padang
tempat nabi-nabi mati dan hidup sekali lagi
jauh lebih sedikit ketimbang yang turun di rimbun rimba
tempat tanah dahulu belum terpetakan. Ketimpangan itu
hanya serupa aliran kecil irigasi dari induk Nil.
Setimpalkah usaha utusan-utusan itu untuk sebuah
keesaan dengan seteguk air yang basahi tenggorokan?

Di banyak kota, air mengalir dimana-mana sebagai
konsekuensi logis dari hujan panjang. Dari bantaran kali
ke jalan raya, dari hati yang patah ke mata. Dimana saja,
sampah dan rindu bereproduksi lebih cepat dan berlipat
ganda dari cendawan. Keinginan Tuhankah hingga kau
akhirnya disebut nikmat atau bencana?

Siapa yang menentukan?

2019

***

Batara Al Isra lahir di Ujung Pandang, 9 Januari 1994. Sedang pusing kuliah antropologi di University of Auckland. Karyanya berupa cerpen dan puisi telah diterbitkan di berbagai media, juga pernah dimuat dalam beberapa buku antologi bersama, Selain itu, karya-karyanya pernah menjuarai beberapa lomba penulisan tingkat nasional. Bergelut di Forum Lingkar Pena, Komunitas Sastra Sungai Aksara dan Perpustakaan Antropologi FISIP Unhas.

Pada Akhirnya Kau Kembali

1



Tabarak, Tabaruk

Aku sedekahkan diriku
untukmu. Kau sedekahkan dirimu
untuknya.

Ia murtad demi cinta
kepada, yang ia akui kekasih, tapi
telah miliki kekasih.

Pada akhirnya kau kembali,
seperti salju jatuh di pelataran masjid.
Sebagai ajaran agama baru untukku.

Dan meski telah kupelajari,
aku tak kunjung paham.

(2019)



Fahisyah

Awan dipecut malaikat.
Rum palu untuk kepala kami, kutu di baju takwa kami.

Mereka pembuatnya. Allahu akbar.
Berpijak di tempat yang goyang.

Banyak simpang di sana. Setiap ujungnya
mengarah ke lubang hitamnya masing-masing.

Angkasa— seperti para wanita kami lepas kerudung.
Sesuri sajak pada kulit-kulit kami, rasakan pecutan itu.

Arakan awan yang diarahkan ke utara.
Sudut lesat, bagi tiga buah mata angin.

Mereka genggam rum palu itu.
Mereka rendam baju takwa itu.

Kami pembuatnya. Allahu akbar.
Berkat terinjak tepat di ubun-ubun.

Angkasa— tetap seperti wanita kami lepas kerudung.
Mungkin itu sebab awan, enggan jalan, terpecut malaikat.

Tapi kami, mereka, kini berada sama di tengah simpang.
Untuk jemput lubang hitam masing-masing.

(2019)




Marjik

Fajar rekah, masyaallah.
Remah yang dulu, subhanallah.

Sisa racun dosa, subhanallah.
Perak pahala itu, alhamdulillah.

Menujuku di sini, menujumu di sana.

Ya Allah,
Magrib serupa selimut terbakar,

sayap-sayap malaikat ikut terbakar
di sebuah malam

pada sebelah wajahku
yang hijrah

seperti putih kupu-kupu
di suatu sore
dengan gerimis terhenti
di udara:

“shollu ‘alan nabi.”

(2019)



Barua

Wanita yang kini bercadar itu
membawa pedang untuk kekasihnya,
mantan kekasihnya.

“Aku hendak membunuhmu.”

Kekasihnya yang bagai udara itu
bernama dosa.

“Kau tak akan pernah
bisa membunuhku.”

Keesokan harinya, ia datang
membawa doa. Doa yang telah lama
ia lupakan.

Maka terbunuhlah kekasihnya itu,
Mantan kekasihnya itu.

Dan tumbuh di tubuh wanita lain.
Yang tidak bukan adalah dirinya juga.

(2019)

==================

Hakaik lahir di Ampenan, Lombok, 18 April 1996.  Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di UIN Mataram. Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Perjalanan Rahasia Tentang Angin

0

Hijrah Muhammad

aku tahu hidupmu lebih gersang dari padang pasir
bahkan padang batu sekalipun
namun detak nafasmu jujur, seperti tetes airmata
dari qalbu-qalbu hawa

Muhammad, kata-katamu terukir jadi sabda
dan bergulung seperti ombak di dada domba-domba
yang kau sebut di akhir hayat:
ummati, ummati, ummati, bisikmu
apakah gerangan maksud ibamu itu jika segalanya telah
terang jadi berlian di leher kebimbangan

perjalanan rahasia tentang angin
yang telah mengantarmu ke sebuah gua kecil di bukit jabal nur
tempat di mana kau menggoreskan sajak-sajak sakti

dari sana kau mengisahkan dirimu yang sesungguhnya
berkat Lahab dan Jahal yang murka atas sabda-sabda
melambung ke setiap jazirah yang dibawa unta-unta
di tengah padang lata

lalu keyakinan macam apa yang mengantar tubuhmu
menjadi tabah memegang erat sebuah nama dari cahaya
langit dan bumi yang menumbuhkan buah kurma

bukankah kau memulai riwayat cahaya dari gua ke gua,
dari kebimbangan, kesendirian menuju keheningan?

penciptaan Adam telah terukir pada kitab lembab
perihal ia mencari hawa
lalu melahirkan Qabil dan Habil dalam keadaan sahaya

Sirah Adam

wahai Qabil dan Habil, engkau bermula semisal ular
yang mempersiapkan sesaji bagi si dewi

tapi sebab pertengkaran melawan saudara
salah satu darimu berdarah,
barangkali sebab itu tubuhmu berubah jadi nanah

dan darahmu mengalir ke sebuah oase
di mana seekor burung nuri tiba membawa ibrah
bagaimana memusnahkan bangkai saudara
supaya aromanya tak menyengat ke anak cucunya

tapi angin telanjur lantang menyembunyikan
segurat kisah purba yang menyimpan rahasia di baliknya:

“kenapa tubuh kita tak sama semisal bangkai ular,
menghilang tak meninggalkan nisan atau jejak kehidupan?”

hai Adam, anak cucumu sungguh iri pada binatang melata
yang tak tahu dirinya lebih hening dari manusia

dalam buku sejarah leluhur yang ditinggalkan
sejarah mengalir ke selokan terakhir
berbusa-busa menyimpan rahasia

Teguh Iman

kadang segala yang datang goncang teguh iman 
tapi aku masih punya butir imanen yang kulentikkan
ke pundak bayangan supaya ia tak berani mendekati
si alai-lunglai tak bertuan ini.

aku juga punya cemeti yang kulecutkan bila jari-jari
mulai merasakan dingin-merinding
atau bising mengantar terasing di sudut rasa asin.
di antara sepasang bibir tubir keimanan.

kenapa iman terasa seperti pedati, semisal aku lembunya 
menghela kokoh diri supaya tak cepat rubuh dan melepuh
tercampak musuh ke kandang kekalahan.

meski memang kalah dan menang bukan soal pilihan
melainkan seberapa tegak diri tergenggam janji
terjaga atas setiap bahaya atau siasat waktu yang ragu-ragu
mengibaskan diri merubuhkan imanku.

maka aku segera menyalakan imanen dan ujung cemeti
supaya tampak berani jika musuh
menyerang dari depan atau belakang.

Baldwin Membawa Tentara Menuju Nil

tuntas sudah tugasnya di lembah kidron
baldwin bosan hanya jadi tukang pandu bagi
si cleopatra di kota tuanya, meski
adelaide  tak merestui perjamuan, sebab ia
hanya merindui palermo di bawah umbul-umbul.

tapi baldwin bosan pula bekerja dengan telunjuk
ke syiria dan armenia yang durhaka
hingga ia butuh ketenangan di deras nil
menatap ikan melompat nan mendarat.

baldwin memastikan hasratnya yang nekat,
merebut langit mesir dan syiria
di tangan atabeg yang 
tegak di tanah mosul dan damaskus.

aku meyakini yakin dalam dadaku

baldwin tak menghiraukan peringatan setan
juga rintihan frank seperti ada paragraf yang
hilang dalam ingatannya, hingga.

ia terkapar legam di perbatasan
tak sempat menangkap ikan yang
berkeliaran di nil yang panjang.

Peristiwa Doa

semisal kendaraan yang melintas di antara pemukiman dan sepetak lahan
hanya sejenak angin berwajah anggun mendesir ke punggung pejalan,
sementara para kiai masih menunggu tuhan di sudut mushalla
aku pernah membayangkan diri meninggalkan sebuah tempat yang pernah
menjadikanku tinggi. tapi lidah telanjur sedingin pohon pisang
tak mampu menghapus kelancangan
sementara aku masih menyesali setiap yang terlewat, semisal lelaki yang
menunggu seorang kekasih yang telanjur pulang
sekelebat bayangan tengah berjalan ke sudut paling rahasia dalam kerumun peristiwa
serta segunduk kawan yang muram membicarakan perihal perjalanannya
dan siasat doa supaya terkabulkan
tapi hanya melintas kembali, sejenak saja
segala dosa berguguran seperti daun tua

Ali Batu

perahu terbelah. lalu ia mengubah pasukan burung jadi batu. telunjuknya tongkat musa yang mengubah deret benda jadi batu dalam kesendirian di rahim tuhan yang menyatu. pernah suatu malam ia tak mampu memisahkan antara hidup dan mimpi lantas dijatuhkan sunyi yang sakti. turun wangsit untuk menyimpan paku, palu dan sebuhul sabuk saje yang diikat di pinggang waktu.

ali batu, aku membayangkanmu datang dari sudut malam bersama sebuhul kata yang pernah kau pendam dalam kesendirian.

=========

Mohamad Baihaqi Alkawy, lahir di Toro Penujak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Mei 1991. Banyak menulis puisi dan esai. Puisinya  tersiar di Indo Pos, Media Indonesia, Sinar Harapan, Suara Merdeka, Suara Karya, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Bali Post, Koran Kampung, Lampung Post, Haluan, Minggu Pagi, Riau Pos, JogloSemar, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Lombok Post, Suara NTB, Radar Lombok, Radar Mandalika, Buletin Egaliter, Jurnal Santarang, Majalah Sagang, dan Buletin Kappas. Juga Tersimpan dalam Buku Antologi 22 Penyair NTB, Dari Takhalli sampai Temaram (2012), Antologi Penyair Nusantara, Indonesia dalam Titik 13 (2013). Negeri Langit (2015). Salah satu cerpennya berhasil masuk antologi Lelaki Purnama dan Wanita Penunggu Taman (2012). Terpilih dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018. Bukunya, Tuan Guru Menulis, Masyarakat Membaca (2014). Kini tengah menyelesaikan studi Studi Agama dan Resolusi Konflik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Terbaru

Upaya Jalu Menyelamatkan Ayah

Orang lain belum tentu tahu, Jalu betul-betul mencintai ayahnya. Bocah belum genap dua belas tahun itu teramat yakin...

Dongeng…

Merekah Meruah Cahaya

Dari Redaksi

Dibalap Sepeda

Ingatan yang Menyakitkan