Puisi

Home Puisi

Rahasia yang Rontok dari Ranting-Ranting

0



Dongeng Seribu Satu Malam

malam itu di suatu kota yang beku
dari lemari es dongeng seribu satu
malam mengabur diri

tetapi sialnya dia kesasar seumpama
seorang tualang yang lupa membaca
peta atau siut arah angin

apa ia tersesat? Tak ada sahut cuma
hening jatuh embun

tiba-tiba melengking salak anjing dari
arah bukit

dan seorang malaikat salah
ketuk pintu?

apa ia tersesat? Tak ada sahut
tiada seorang pun di luar cuma
angin menyusup membungkuk

Sudah pukul berapa sekarang? Di mana
arah kiblat? Seharusnya ke arah sana
dongeng beku itu mengabur diri

2020


Dialog Kupu-kupu dan Sebatang Pohon

Di suatu hutan yang suntuk,

seekor kupu-kupu mengepak
-ngepak sayap

dari sayap, yang sirip ikan itu
didengus suatu kabar gembira,

penaka yang dibawa seorang
nabi. Hutan dibentang dari warna
wahyu dan malam?

“Tapi.”

Lekas-lekas disangga sebatang pohon,
yang tersisa di hutan itu.

Hutan hanya horizontal. Tiada humus,
serat daun atau lapuk jasad-renik.
Kupu-kupu itu meracau?

engkau beri peringatan
atau tidak beri peringatan,
mereka tidak percaya.

Seketika, pohon itu cengeng.
Ia menangis. Karena hutan gelap
mengangah.

Kau punya lampion? Aku ingin
pergi dari sini, katanya

meski kami justru yang
berbuat kebaikan.

Di hadapan hutan yang suntuk

kupu-kupu ingat sebuah bahtera,
yang selamatkan Nuh dari bah.

Pakai ini. Kupu-kupu itu berikan
sebuah lampion, dan tiga wangsit:

sekali-kali jangan berkata dusta atau
ingkar janji. Atau lalai diberi amanat.

Di hutan yang suntuk kupu-kupu
itu bersinar dan pohon menyungkur
seperti hendak sujud.

2020




Bukit Cahaya

kita hampir tak mengenalnya,
tapi di balkon ini dia seorang
penyapu jalan

saban waktu dia senantiasa
menyapu helai rahasia yang
rontok dari ranting-ranting
malam

seperti Musa di thursina,
atau Isa di golgotha. Anak
yatim itu

suatu malam dia sulut api
di sebuah obor, seketika
itu bukit-bukit bercahaya

“Aku lihat langit lapang bagai
kerajaan sorga. Di sana tumbuh
sebuah pohon lebat.

Pada dahannya, burung-burung
menaruh sarang. Sementara di
sebuah telaga sepasang manusia
bagai orang asing.”

kita hampir melupakan suatu kitab
yang dia terima

“…ini tidak ada keraguan padanya,
Petunjuk bagi mereka…”.

Ibarat cermin. Dia berbicara kepada
dirinya sendiri. Yang sendiri.

Apakah anak yatim itu mengigau?
“Tidak! Dia tidak tidur,” sebuah suara
gaib.

Sejak saat itu di bukit cahaya,
anak yatim itu mencintai malam.
Yang gaib. Yang senantiasa ia sapu.

2020





Bila Rindu Kan Merayu

Bila rindu kan merayu maka
helai-helai hari yang terkelupas
adalah lembar taman berseri-seri

“Kemarilah kekasihku,” berseru-
seru seorang yang rupanya
tak asing bagi kita

:rindu adalah padang-padang
oase, di sana kita terjerembab
ke suatu masa ke negeri muasal

yang terus kita simpan dalam ingatan
dan sanubari seperti kota tua yang
kerap dikunjungi peziarah

Bila rindu kan merayu maka malam
memanjangkan sayap-sayap seperti
sebuah jalan bagi para suluk

bergegas menembus kabut—dibalik
helai kapas itu mengangah sebuah
liang hitam:

di sana ada berpuluh-puluh kucing
berbuluh hijau, kupu-kupu warna
violet, begitu khsuyuk meratib zikir

dan kita sudah kaku kaligrafi atau biji-
biji tasbih yang jatuh hingga ke liang
paling dalam

“Kami menyembut seruanMu,” suara-suara
itu melengking dari trapesium hitam. Atau
barangkali dari dalam hajar aswad?

Bila rindu kan merayu maka kami akan
datang dari delapan penjuru mata angin
menujuMu – memujiMu

2020





Sahaya

/1/

di ambang ini
aku membungkuk sahaya
seraya berharap cahaya

lantaran unggun api sajakku
hanyalah kunang-kunang dan
itu tiada cukup kubilas muka
mengenal rupaMu

/2/

setelah engkau bentangkan
bianglala di punggungku

hei, itu sederhana. Rukuklah
bersama orang yang sedang
rukuk, kataMu

dalam letup hening aku menyaksikan
segala: nasib, rahasia, maut dan kita
yang satu.

2020





Kukirimkan Sekebat Bunga

Duh, Gusti sudikah engkau
kukirimkan sekebat bunga?
Kan kutulis selarik kata dan
kuselipkan di antara buket

Sekiranya, hal itu bisa membuat
rindu menjalar merambat pada
sepasang lengan daun pintu yang
terbuka seumpama kegaiban sebuah pelukan  

Duh, Gusti cukupkah itu semua? Aku tak
punya apa-apa lagi selain segala adalah
kepunyaanMu

2020

=====================
Ishak R. Boufakar lahir di Kian, 23 Juli 1992. Cerpen dan puisi termuat dalam Antologi Cerpen Bertuan (2016), Antologi Surat  Untuk Tuhan (2016), Antologi Cerpen Mimpi (2016), Antologi 250 Puisi Cinta Terpendam (2016). Anggota komunitas menulis Paradigma Institute. Tulisan-tulisannya diterbitkan di beberapa media, antara lain: di Harian Fajar Makassar, Salam Papua, Ambon Ekspres, dan Majalah Lintas.

Lesat Ke Langit Hakikat

0



Sebagai Penyair

aku berjalan ke taman-taman, di samping berjajar mawar segar. durinya merobek keheningan kita. sebagai penyair yang selalu belajar pada setiap petaka, aku mengawasi setiap luruh embun dan sujud daun-daun. debu yang diterbangkan ke langit oleh angin timur. dan matahari yang bangkit dari ranjang memastikan dunia pantas berjalan. sementara biru doa, menggumpal di ini dada. membusung sebelum mengetuk pintu langit. aku selalu berjalan, menerobos kedalam pikiran orang-orang. menemukan luka yang sudah tidak lebam dan lengket. mengering.

sepanjang hari hanya dihabisi untuk menyederhanakan sakit. sesederhana mungkin. katamu, penyair hanya ditugaskan untuk menangkap setiap yang mengerjap. lalu diungkap dengan getar lain, dengan bunyi-bunyi asing di kuping. selebihnya penyair tidak mencintai kepedihan, hanya saja kesedihan lahir dengan wajah macam-macam.

Gapura, 2020




Sebelum Hijrah

dari Adam kepada Hawa

1//

kau bisa membayangkan, Hawa, ranting gigil setiap pagi dipeluk embun. dihajar debu-debu yang berangkat dan terbit dari balik bukit. dan kita dipeluk dingin yang sama dalam rentang kabut sisa subuh. aku hanya merasakan tanganmu halus membelai-belai tanganku. kita berciuman lekat, begitu dekat. kau menuding buah-buah ranum semerah bibirmu, berjumbai di atas kepala kita. kau begitu patuh, bahwa buah itu bisa mengekalkan cinta kita dan berahi dari balik kata-kata.

dari Hawa untuk Adam

2//

aku hanya menyembah puncak firasat yang lesat ke langit hakikat. kau sendiri, Adam, begitu lemah pada seorang perempuan; atas nama cinta dan belas kasihan. maka dengan melahap buah-buah sesegar bibirmu, kita akan abadi di sepi semadi. paling tidak kau tidak merasa kecewa oleh kata-kata. mendekatlah, Adam, tanganku yang membentuk lingkar ular begitu lihai mencabik-cabik daun. sebelum menggugurkan belahan buah yang kelak melekat di tenggorokanmu dan timbul di dadaku.

Gapura, 2020

Kota Sepi Tiba-Tiba

kita mengurung diri, Ayu, berteduh dari angin merah jambu yang bertudung gelisah sesuntuk rindu. angin-angin lain semakin asing di kota kita, Ayu, jalan yang selalu sempit semakin menghimpit. memburu nafas kita yang sebegitu pendek. sepi perkasa, Ayu, mengalahkan apapun. kerap nyaring dengan berbagai denting. kita suka dengan keberadaan sesederhana ini; meski sedikit rumit dan memeras ketenangan kepala.

keramaian berpindah ke dada, Ayu, membunuh kecamuk rindu dan perang batin seorang penyair. gamang meninggi seruncing sepi-sepi kita. sedang aku selalu berlindung dari terik merah matahari. sampai tiba, Ayu, kabar kepergian. kabar kedukaan yang sama bengisnya. demi apa saja, yang semakin molek dan bersarang di kepala. duh! Ayu, kita hanya merasakan kota yang kerasukan senyap berlebihan.

pintu-pintu biru tertutup, Ayu, polusi merobek langit ketujuh. awan berbentuk domba terus berputar di tempatnya. mengawal kepedihan. kesedihan yang sama puncak. bumi yang kita duduki, Ayu, tulang punggungnya sering ngilu. sampai kita mati terbunuh oleh udara itu.

Gapura, 2020



Semua Menutup Pintu

lihatlah! di halaman-halaman yang memanjang dengan warna merah kesumba. kesunyian tumbuh setelah kita benar menutup pintu. tempat biasa semilir angin melompat, sebagai jalan kedua setelah jendela. selebihnya, ketakutan merimbun dan memadat di dada kita. semestinya keramaian harus berpulang pada liang kefanaan. pada lubang-lubang hitam di halaman belakang. diganti senyap yang terus merayap dan mengendap, mengintip kita sepanjang siang.

dawai angin mengasingkan diri, perlahan menjauh dari daun dan ranting hampir patah. pulang pada sarang, pulang ke rahim hutan. hingga kita mengkhidmati gerah berkepanjangan. sampai ketenangan terus terusik di tempat duduk. sunyi mengacak-acak rambut kita, mendengungkan kidung nelangsa seasin tanah. meletup di halaman yang terus memanjang ke arah matahari. siapa yang berjalan di setapak, sama dengan menantang amuk maut.

malam dan siang bersetubuh, mendesah seperti yang sering kudengar di ranjang ibu. semua menutup pintu dan sama-sama berjalan di sunyi yang baru.

Gapura, 2020



Pemabuk Sepanjang Jalan

sepanjang jalan, sepanjang gerimis yang membentur kabel listrik. kau lihat, bagaimana seorang pemabuk berjalan, jalang. melipatkan kedua tangan ke punggung belakang. ia begitu mengerti, mengendap dalam sepi. menghindar dari kerumunan dan menjadi pemabuk sendirian. di kepalanya, hanya berkecamuk sisa-sisa perang. lalu melesat abad-abad pembantaian. ia hanya suka menjadi orang paling tidak sadar di jalan. berjalan semestinya, hanya sekadar berjalan.

sepanjang remang lampu-lampu taman, kita melihat ia duduk di sebuah bangku melompong. berteman pernak-pernik sepi, sedih. barangkali ia percaya, hanya dengan begini. hidup tidak begitu rumit dinikmati. demi musim yanh terus berganti-ganti, menebar segala bentuk perih. kuyakinan, kepalanya memberat. segala yang tumbuh di dalamnya hanya kepedihan. bekas-bekas darah seperti di selangkangan. ia semakin jalan, ke arah lampu yang lebih sering membunuh temaram.

sepanjang kesedihan yang kita miliki, kita seperti asing di tempat sendiri. sama seperti mereka, kita mabuk sepanjang jalan. sepanjang gang-gang sempit diselimuti petang.

Gapura, 2020



========================
Moh. Rofqil Bazikh. Lahir di pulau Giliyang kec. Dungkek kab. Sumenep Madura. Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP.
Puisi-puisinya terbit di pelbagai media cetak dan online antara lain: Harian Rakyat Sultra, Bali Pos, Pos Bali, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Galeri Buku Jakarta, Litera.co, KabarPesisir dll.
Karyakaryanya termaktub dalam antologi: Dari Negeri Poci 9; Pesisiran (KKK;2019), Bulu Waktu (Sastra Reboan; 2018),When The Days Were Raining (Banjarbaru Festival Literary 2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Membaca Asap (Komunitas Seni Sunting Riau) Segara Sakti Rantau Bertuah (Kepri 2019), Surat Berdarah di Antara Gelas Retak(2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019), Bandara dan Laba-Laba(Dinas Kebudayaan Provinsi Bali). Sekarang berdomisili di Gapura Timur Gapura Sumenep.

Pada Akhirnya Kau Kembali

0



Tabarak, Tabaruk

Aku sedekahkan diriku
untukmu. Kau sedekahkan dirimu
untuknya.

Ia murtad demi cinta
kepada, yang ia akui kekasih, tapi
telah miliki kekasih.

Pada akhirnya kau kembali,
seperti salju jatuh di pelataran masjid.
Sebagai ajaran agama baru untukku.

Dan meski telah kupelajari,
aku tak kunjung paham.

(2019)



Fahisyah

Awan dipecut malaikat.
Rum palu untuk kepala kami, kutu di baju takwa kami.

Mereka pembuatnya. Allahu akbar.
Berpijak di tempat yang goyang.

Banyak simpang di sana. Setiap ujungnya
mengarah ke lubang hitamnya masing-masing.

Angkasa— seperti para wanita kami lepas kerudung.
Sesuri sajak pada kulit-kulit kami, rasakan pecutan itu.

Arakan awan yang diarahkan ke utara.
Sudut lesat, bagi tiga buah mata angin.

Mereka genggam rum palu itu.
Mereka rendam baju takwa itu.

Kami pembuatnya. Allahu akbar.
Berkat terinjak tepat di ubun-ubun.

Angkasa— tetap seperti wanita kami lepas kerudung.
Mungkin itu sebab awan, enggan jalan, terpecut malaikat.

Tapi kami, mereka, kini berada sama di tengah simpang.
Untuk jemput lubang hitam masing-masing.

(2019)




Marjik

Fajar rekah, masyaallah.
Remah yang dulu, subhanallah.

Sisa racun dosa, subhanallah.
Perak pahala itu, alhamdulillah.

Menujuku di sini, menujumu di sana.

Ya Allah,
Magrib serupa selimut terbakar,

sayap-sayap malaikat ikut terbakar
di sebuah malam

pada sebelah wajahku
yang hijrah

seperti putih kupu-kupu
di suatu sore
dengan gerimis terhenti
di udara:

“shollu ‘alan nabi.”

(2019)



Barua

Wanita yang kini bercadar itu
membawa pedang untuk kekasihnya,
mantan kekasihnya.

“Aku hendak membunuhmu.”

Kekasihnya yang bagai udara itu
bernama dosa.

“Kau tak akan pernah
bisa membunuhku.”

Keesokan harinya, ia datang
membawa doa. Doa yang telah lama
ia lupakan.

Maka terbunuhlah kekasihnya itu,
Mantan kekasihnya itu.

Dan tumbuh di tubuh wanita lain.
Yang tidak bukan adalah dirinya juga.

(2019)

==================

Hakaik lahir di Ampenan, Lombok, 18 April 1996.  Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di UIN Mataram. Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Mengamini Rintik Hujan yang Jatuh Hari Ini

0

Gemuruh dari Timur

Dari timur, gemuruh yang kau Esakan tak sampai ke kepalaku, hanya rintik air matamu perlahan menetas di ceruk mataku dan hujan yang kau sebut itu telah bercakap dengan dedaunan, pohon-pohon besar, melinting diatas genting dan seringkali menyebut namamu

Hujan juga mengecup aspal, menggelinding ke selokan kemudian memercik dan beriak mengalirkan rinduku padamu, padahal aku t’lah menelponmu beberapa kali dan kita bercakap puas.

Seperti daun-daun yang mengarah ke langit ketika gelap kian runtuh dan doa-doa ditanggalkan lisan, yang kau Esakan telah sempurna merajut bianglala dan matamu adalah muara menuju debur ombak

Aku menabung rindu pada celengan musim itu, di bawah pohon selepas hujan kau mengecup dan kita adalah dua tubuh terpisah yang kembali bersatu.

2020


Seorang Peramal

Ia meramal banyak sekali, daun-daun di samping rumahnya kapan jatuh, pohon-pohon menjulang di belantara itu kapan rubuh, buah-buah apel kapan bisa dipanen dan bahkan air mata kapan akan menetas

Ia juga meramal sekian banyak orang, kapan seseorang akan lahir dengan anak lelaki, kapan seorang ibu akan mendapatkan rezeki, kapan sesuatu akan terjadi, bahkan ketika subuh ia menebak kokok ayam di waktu pagi

Ia meramal orang-orang yang datang kepadanya, memohon doa dan ramalan yang baik
Namun ia sendiri tak pernah sesekali meramal dirinya.

2020


Sujud Batu, 2

Tak ada yang mesti kutanyakan perihal rindu dan kata-kata
Seperti ihwal batu, diam dan bisu
Dan kau mengeram disana memilin biji-biji musim

Batu itu berzikir, tuan!” katamu
Sambil lalu dengan selendang bianglala kau mendahuluiku
membuka pintu pintu doa kemudian melemparkannya ke langit

Gigil daun di luar selepas hujan dan gemericik air di selokan adalah isyarat tuhan yang merindukan kita sebagai hamba, ketika kau mengutuk sendiri matamu sambil lalu mengumpat “Aku berdosa, wahai tuhan!”

“Batu juga bersujud, tuan! ” katamu kembali

Kau seperti membaca arah angin dari segala penjuru, kemudian diletakkannya batu itu di bawah ranjangmu seperti dahulu ibumu meletakkannya di atas nisan ayahmu

Batu yang kau sebut benda mati itu kini t’lah berdiam dalam diriku” ucapmu lirih.

2020


Sehabis Hujan

Kantuk dan zikir terbayarkan
Matahari mengembun, daun daun berkaca, batu kemudian bicara
Dalam diam paling nyeri dengan sepenggal puisi

Ombak yang mengasuh karang
Melepas segala resah dan kemudian gugurlah reranting cemara itu
Sampan dan lenguh nelayan
Adalah ihwal laut temaram

Sehabis hujan
Jalanan basah dan gigil lalu lalang
Di selokan  mengalir beribu doa dari hulu
Juga air mata telah layu

Bahkan setelah hujan hari ini
Semangkuk mie instan dengan cabai merah
Lebih hangat ketimbang rekah bibirmu yang membekas di bibirku

2020


Uji Coba Menulis Puisi

Awal januari tahun ini, hujan tak henti hentinya merubuhkan matahari dan malam tiba dengan sisa senja yang abadi dalam hangat bibirmu

di bibirku. Ranting patah yang jatuh ke hitam matamu seperti luruh daun pada muara yang dipinggirnya ilalang berdoa pada angin, pada

awan, pada segala yang diaminkan tuhan untuk kita

Aku mencoba menulis kembali nara, setiap yang berjuntai dari hitam rambutmu, juga yang dimatangkan hitam matamu, dan setiap kata-kata dari mulutmu dan mungkin juga pandangan waktu itu.

Sambil mengamini rintik hujan yang jatuh hari ini
Di depan rumah-Mu
Begitu juga diatas sajadah zikirku
Aku memohon
Berdoa

2020


1999

Di tugu kota, kepalamu meleleh mengalir ke hitam matamu namun kau tetap tak beranjak menunggui musim lalu yang datang dengan setangkai bunga

Kau tak pandai berkata-kata, sebuah doa yang tersusun rapi di lemari kamarmu begitu juga lipatan zikirmu yang biru dan ada juga yang merah

Dari matamu, kau meneguk api, menelan biji-biji kemarau Panjang dan di tahun ini kau tak lagi seperti manusia dan entah kau siapa

Tapi aku tetap mengenalimu berjalan di trotoar dan sesekali berhenti memperbaiki letak topengmu yang sewaktu-waktu berubah menjadi sepasang wajah manusia yang tidur, yang bercerai dan yang tertawa.

Kau bahkan tak pandai menghitung, jari-jarimu patah ketika menunjuk kapal di tengah laut, sesekali debur ombak akan menelan resahmu dan kau tertidur

Di tugu kota, yang sesak dengan kata-kata
Segala tubuhmu meleleh dan kusediakan mangkuk besar
Agar tubuhmu tak terbuang percuma

2020


22 Oktober 2002

Dimana kau dilahirkan sebagai perempuan dan manusia memujamu

Kau yang bisu dan tak mendengar apapun selain kidung purnama ibumu dan lantun zikir ayahmu ketika kau tertidur di Pundak mereka

Sesekali dahaga melecutmu seperti kerapan di tanah kerontang yang lenguhnya bergetar sampai ke dada, yang matanya merah memecah angin

Dimana kau dilahirkan sebagai perempuan, dan dedaunan merestui itu

Kau menerjemahkan debur ombak, celah-celah karang, beberapa kenangan, dan lagu sumbang nelayan begitu juga lumut di sampan-sampan gelombang

Barangkali kau juga menafsirkan bunga-bunga laut, menakwil angka musim, merujuk asin pada setiap peluh ayahmu

Dimana kau dilahirkan sebagai perempuan, dan aku mencintaimu

2020


Hikayat Orang Gila

Bahkan aku lebih gila, mama
Ketimbang orang-orang yang berjalan dan mengucapkan serapah sebuah nama
Tanpa sepenggal kain dan hitam kulitnya membunuh matahari

ia memakan bekas-bekas gigitan dan ciuman
memaksa rindunya habis dimakan sepi

aku dan dia sama saja
hanya aku kurang berhati-hati menjalani hidup

2020

=======================

Baidi Narayana adalah nama pena dari Ahmad Zubaidi. Alumnus MA Nasy’atul Muta’allimin dan MTs. Al-Ma’arif Manding. Aktif di komunitas ASAP dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Pemenang lomba cipta puisi nasional Fam Publishing tahun 2018.  Karyanya tercatat dalam antologi Bulu Waktu (Sastra Reboan, 2018), Sua Raya (Malam perayaan puisi ponorogo, 2019), Rumah Kayu (Oase Pubhlishing, 2019), Segara Sakti Rantau Bertuah (Festival Gunung Bintan, 2019).

Jamuan Bintang di Tepi Kolam

0



Menuju Kamu

ke wajahmu aku mengendarai senja
tempat beradu segala pedih di hati lelaki
yang lengkap sepi bersemi
terutama aku yang menjumpaimu lewat mimpi

aku bersaksi atas dadaku sendiri
bahwa bedakmu abadi sebagai warna pagi
sebab kamu adalah rasa sakit yang jatuh
tepat di titik namamu jauh berteduh

mendoakanmu di sisi adalah puisi tanpa henti
dan di dekatmu seperti membaca kitab ilusi

Sumenep, 2019

Mendaki Kangen

semakin tinggi mendaki tangga kangenku
semakin terlihat bangunan-bangunan luka itu

padahal ketinggian belum sempurna dari arah timur
engkau menganyam janur,
semua telah tanpak kasihan apalagi semakin
menuju garis lintas paling atas
barangkali sungai air mata juga seperti sungai
yang mengalir sepanjang babad tanah jawa

aku sudah mengawali pendakian ini
dengan ritus-ritus suci dilengkapi azimat rimba
maka seturun nanti ia akan menggusur luka-luka
yang dibangun seperti bencana

Sumenep, 2019


Wangi Parfum

selintas kamu berlalu seperti kendaraan,
berlalu tanpa salam atau sedikit anggukan

tinggal wangi lewat pelat dan hidungku telanjang
menyertakan parfummu dan ciumaanku makin dalam
berai tubuh itu ternyata aroma lain
dari cara tuhan kabarkan rayu

wangi yang binal
memelihara mataku dari pakaian biru liris ungu
dan penunggu hutan lesu yang rapuh

wangi yang meninggalkan bekas rindu
di lantai dan di tengah-tengah pintu tanpa penghalang
antara aku dah wajahmu

semoga kamu padaku di ujung siang
tanpa parfum yang hilang

Sumenep, 2019

Menunggu Hujan Kita

aku menunggu engkau terkejut oleh hujan
dan kita basah kuyup kegembiraan
bersama ayunan berpasangan
di taman tempat tumbuhkan kenangan

kita menunggu hujan terutama aku
menunggu wajahmu sumringah
sambil mengayun-ngayun lentik jari
mempersilahkan rintik-rintik jatuh di pipi

sebelum hari ini
engkau pernah mengingatkan padaku
agar tak cemburu pada hujan
sebab bulirnya mendahului sentuhanku
pada bidang roti bolu di balik blush on

Sumenep, 2019

Malam di Tepi Kolam

malam di tepi kolam
berhamburan kembang angin dari sudut dingin
setiap kelopaknya menerpa wajah
tanpa menyisahkan peristiwa

engkau datang menuju kopiku yang santai
menghabiskan jamuan bintang
begitu juga mataku mengahbiskan langkahmu
yang juntai

oh sekotak kolam air mata
dari mana aku mulai kata-kata
agar perempuan ini tersentuh denyutnya

Sumenep, 2019

Puisiku Lagu Renjana

aku ingin menghabiskan sisa puisi
dengan suaramu sebagai pengiring jika kelak
puisi-puisiku dirubah menjadi lagu
atau kamu saja yang bernyanyi

biar aku petik gitar daun sambil mendengarkan
irama yang lewar di bibirmu dan menikmati
keresahan berguguran

dengan begitu tak ada hutangku pada jiwa-jiwa
yang menantiku menemuinya dengan prosa-prosa
sebagi tubuh pengganti kesah
begitu pula hutangmu pada gulita di mata

bukankah setiap dendang selalu mengantar pandang
pada pelantun kondang peramu bayang-bayang
ingin sekali itu aku yang melirikmu pertama
sebelum habis bunyi biola

Sumenep, 2019

Mendoakanmu Adalah Rindu Paling Puitis

hujan bulan juli baru saja mencoba menghampiri
tanahku dengan rintik kecil-kecil
sekaligus untuk kesekian kalinya aku memulai petualangan
melawan dingin tanpa mengindahkan wajahmu, bu,
serta terasa sangsi basah genting dan pintu-pintu rumah
sebab tiada lagi pengantar tidur siang tengah hujan

ini adalah musim yang paling banyak mengantar dongeng
seperti kupu-kupu yang kuyup oleh rindu
atau seekor burung kecil berwarna gerimis di ranting jauh
aku hafal sekali gerak bibirmu dan tatapan teduh
yang paling meneduhkan

hujan bulan juli baru saja mengirimkan raut wajahmu, bu,
dan mendoakanmu adalah rindu paling puitis
dan paling kelana sepanjang dingin berguguran
di halaman serta merindangkan daun-daun kenangan

Juli, 2019

Pada Sebuah Lagu Aku Menemukan Kamu Lagi

aku putar kembali lagu kesukaan yang bercambur suaramu
menyakitkan namun patut kurindu
setiap katanya merawat jalan-jalan pemberangkatan
dan setiap jeda dan ketukan irama
selalu meluaskan dadaku mempersilahkan
duka-duka manis bertamu menukar temu denganmu

tiga kali putaran barangkali,
wajahku hampir mendanau depan cermin
dan hati seperti diarak sekawanan luka-tawa
di kampung bernama penantian
meski waktu tak kunjung pasti berbunyi kembali
sebagai alarm yang kita nanti
aku sudah tahu bahwa kamu masih lama untuk kemari

Sumenep, 2019

Pada Suatu Pesta Bungaku Menjadi Tujuh

seluruh karangan bunga yang kususun
dari taman di belakang kesedihan
berserakan jatuh menjadi tujuh petakan
salah satunya kehilangan aroma dan warna

tinggal tulisan-tulisan bersilih pulang
mengendarai kembang luka
dan aku merasakan bola mata ini jingga
seperti warna gaunmu sewaktu pesta

lusuh segala kegombalan yang kusimpan
pada daun-daun dan kuncup aromanya
padahal kusaksikan waktu masih berjalan
dari utara melawan arahmu menghilang

mestinya masih banyak hembusan napasmu
sewaktu berdansa dan berpegangan tangan
paling tidak kita masih menyisahkan satu
gerakan yang kita pelajari dari kenangan

lalu harus aku apakan tangkai bunga ini
yang tidak lagi mampu berdiri
menanamnya kembali di kebun hujan
atau membiarkan luluh lantak sendirian

Sumenep, 2019

=====================
Romzul Falah, alumni pondok pesantren Aqidah Usymuni Terate, Sumenep. Sekarang menempuh pendidikan di Universitas Wiraraja Sumenep. Bergiat di UKM Sanggar Cemara, Pabengkon Sastra, Lesbumi Batuputih, Kelas Puisi Bekasi dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon SOSPOL Komisariat UNIJA. Puisi-puisinya tersiar di beberapa media dan antologi puisi bersama.

Waktu Akan Mencuci Tanganmu

0


Air Mata Para Petani

Kata orang tanah kita tanah surga
Kayu tongkat dan batu jadi tanaman
-Koes Plus

Di warung makan aku terdiam lama memandang
sedang kata-kata padam terbenam dalam renungan
mencium aroma nasi panas di pucuk jemari tangan
ternyata berasnya bau keringat petani Vietnam
sedangkan tempe goreng yang menjadi menu idola
dompetku dan juga dompet 100 juta orang Indonesia
ternyata kedelainya ditanam oleh petani Paman Sam
sambal tomat yang membuat mata petani merah dan marah
ternyata cabainya dipetik dari kebun petani Argentina
satu porsi makanan yang tersaji di depan mata
ternyata menjalani satu jalan yang panjang
sebelum mendarat di perutku dan perut orang Indonesia
seperti panjangnya sungai yang membawa air mata
para petani hingga ke pangkuan samudera raya
beginikah nasib para petani yang hidupnya digarami
air matanya sendiri



Perihal Bunga Mawar

Bunga mawar yang luput yang berserakan di jalan itu
hanyalah bunga, kata perempuan itu sambil berlalu.
Siapa yang sudah menelantarkan cinta? Siapa yang sudah
menabur air mata? Kata penjual bunga itu.
Kemudian dipungutinya setangkai demi setangkai –menyumpahi.



Keramahan Cinta

Membayangkanmu hanya mempertegas rasa sakitku
waktu akan mencuci tanganmu bekas lumuran darahku
ke mana kau sembunyikan pisau bekas jantungku itu?
karena cinta melulu bersembunyi di balik keramahan kata
kemudian tangis akan selalu mencuci sepasang mata kita



Mungkinkah Kau yang Menitihkan Air di Mataku

Kusambut gugur gerimis yang ramai di beranda itu
kubiarkan kesunyian yang lebat mengepung malamku
akankah rembulan tiba dan tergelincir di punggung pagi itu?
apakah kau yang barusan melintas di antara asap rokokku?
atau mungkinkah kau yang menitihkan air di mataku?
tanyaku sambil menyesap kesepian pada dada malam yang
pekat itu.



Hujan Sore Ini
: Revallina

Sayang, apakah kau melihat
langit murung sebab mendung?
Jika sore ini hujan turun
aku ingin berteduh pada tubuhmu

Hujan sore ini ialah alasan
bagi mata yang ingin bertemu
bagi bibir yang kering dan layu
sebab kemarau rindu itu

Lagi hati yang pedih
dan resah karena pisah
Sayang, hujan sore ini ialah alasan
kenapa aku harus pulang.



Apalah Artinya Surga Tanpamu
: Revallina

Apalah artinya surga tanpamu
seperti Adam dulu akulah lelakimu
yang kesepian itu.

Mungkin saja benar lelaki pandai berdusta
tapi Tuhan mengampuni dosa hamba-Nya
Yang sedang jatuh cinta.

Jika Suatu Malam Nanti
: Revallina

jikalau suatu malam nanti kita bertemu
akan kuseka ragu yang kukira menghalau
kita untuk melepas dahaga: mereguknya
dengan kata atau tatapan mata.


==================

Arian Pangestu, Menulis fiksi dan nonfiksi. Tulisannya dimuat di Radar Surabaya, Pikiran Rakyat, Bangka Pos, Solo Pos, Medan Pos, Pontianak Post, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Malang Post, Bangka Pos, Padang Ekspres, Minggu Pagi, Koran Merapi, Media Indonesia, Koran Jakarta, Harian Analisa, Republika, Tribun Jateng, Harian Rakyat Sultra, Radar Tegal, Satelit Post, Media Jatim, Tanjungpinang Post, Geotimes, dan Suara Kebebasan. Novel perdananya Lautan Cinta Tak Bertepi (2018).



Berlayar Dengan Tiupan Napas

0

Satu Kemenangan Dibayar
dengan Beratus Penderitaan,
Bahkan Nyawa

:Traktat Saragosa 22 April 1529
Spanyol melepaskan klaim atas Maluku
dengan mendapat kompensasi 350.000
duket emas dari Portugal.

Kekasihku kita menyeret langkah
ke arah pintu nasib dan orkestrasi
jarum jam yang bergerak sentripetal
menyulam kisah. Sementara ingatan kita
tertinggal pada ceruk traktat dan
petaka menggali luka. 

:detik, kisah, dan memori membeku
dalam bubu; museum darah airmata
mengalir bagai minyak cat kita pakai
melukis sejarah.

“Kau suka lukisan apa,”
tanyaku. Tetapi kau membisu
di hadapan kanvas.

“Kamp-kamp genosida atau
perkenier,” tanyaku lagi. Tetapi
kau mengigil memeluk kuas.

“Kumohon jangan pernah
lakukan itu! Berapa seniman
lenyap karena perkara serupa?”

“Jangan khawatir!”

Sudah jamaknya begitu: hidup adalah
penderitaan sehingga manusia satu
melumat manusia lain. Tetapi lukisan
harus dilukis. Karena keberanian
karena perlawanan, karena itu
seniman ada.

Kekasihku kita tiba di hadapan relief
mendadak kau jatuhkan sebuah tanya,

“Kemana pergi seorang penjahat ketika
hilang nurani?”

Barangkali bukan akal budi
melainkan kegelapan. Itulah mengapa
para koruptor di hari ini atau seorang bajak laut
di masa silam, tidak pernah merasa berdosa.

Maka terkenanglah kita pada sebuah kisah
kelam lebam:

“Di atas gulungan ombak kapal-kapal bajak laut
mencari suaka pada ketiak jubah. Setelah di atas kabin
penuh hasil rampasan dan di dasar laut karam ratusan
nyawa dikait di tali sauh.

Bajak laut itu memang keras kepala! Hanya untuk
menemukan rute laut ke timur tiba di gudang rempah.
Mereka membutuhkan 40 tahun percobaan dengan
ratusan armada hancur dan ribuan awak tewas.

Untuk sampai di Ternate, Tidore, Ambon, Seram,
dan Banda. Pulang dengan kapal penuh pala, cengkih,
kayu manis, dan lada. Seorang membiarkan Mangellan
dan Enrique de Molucca; navigator piawai, melubangi
selangkangan isterinya atau demi sebuah liontin
yang berisi 3 buah pala 2 batang kayu manis
12 cengkih.

Mereka merayakan kemenangan itu dengan
sebuah pesta kecil diundang kerabat karena
berhasil bersekongkol dengan seorang raja
dan padri yang membiayai ekspedisi. Sedang
 di atas kapal budak-budak sekarat; terserang
tifoid dan busung lapar”.

“Sudikah mereka berkabung
atas pengorbanan itu,”
tanyamu.

“Aku tidak tahu persis!”

Tetapi yang pasti, satu kemenangan
dibayar dengan beratus penderitaan,
bahkan nyawa.

(2019)

Pelukan Gaib

:kepada Sir Henry Middleton

Kaukah itu, Tuan?
Yang ingin tiba di Banda
sebelum azan subuh, sebelum
buah pala gugur.

Tetapi, Tuan
laut bersungguh-sungguh
memahat maut dengan sempurna,
meskipun sedepa laut tetaplah laut
ganas dan memangsa orang asing
yang bernyali menikam pasak rumah
dalam badai.

Yang pada akhirnya
hanya lolongan ombak
hanya aroma kamboja.

Tetapi, Tuan
di tengah tubir ombak,
bagaimana kau klaim kemenangan
jikalau kekalahan lebih terang dari
matahari di tiang layar?

:kau patah dan menunggu pelukan gaib,
karena 1.200 orang awak yang turun ke laut,
800 orang telah raib.

Kaukah itu, Tuan?
Yang ingin tiba di Banda
sebelum azan subuh, sebelum
buah pala gugur.

Tetapi, Tuan
di atas kapal Ascensio
menuju Banda kau dengar
seorang merapal doa,
sekali waktu kau berharap
kata-kata memiliki tangan,
mengubah helaian rambut yang gelombang jadi wol.

Tetapi, Tuan
laut dan ombak tidak bisa dibujuk,
selain kau siapkan tumbal
berupa kepala budak atau nyawamu yang satu.

:demi selangkangan
dan 300 ton pala, 20 ton bunga lawang,
serta burung kakatua, cendrawasih, monyet,
dan kayu gaharu. Kau tak ingin putar kemudi.

Kaukah itu, Tuan?
Yang ingin tiba di Banda
sebelum azan subuh, sebelum
buah pala gugur.

Tetapi, Tuan
laut bersungguh-sungguh
memasang perangkap, meskipun sedepa laut tetaplah laut
ganas dan memangsa orang asingyang memainkan drama,
“Tragedi Hamlett dan King Richard II,”  
karya Shakespeare, saat-saat
menjemput kematian:

Tertambat di laut aku mencium
bau pemakaman, harusnya aku pergi
ke gereja tidak mengenal ombak dan

karang-karang menyentuh badan kapal
yang tipis menghamburkan rempah-rempah,
dilempar ke dalam arus berkafan air asin.
Kemudian lenyap.”

Kaukah itu, Tuan?

(2019)

Genosida di Benteng Nassau, Mei 1621

/Mei 1621/

parigi rantai kering
kilat kibas kubang darah
hari jadi anyir.
dan di kastil maut terpasung
pada bila bambu yang telentang
40 lelaki barane.

:mereka disayat di hadapan
Ibu-Bapak.

“Setelah ini siapa lagi,”
tanyamu.

“Kau kenal wajah pendosa,
tua Pieterszoon Ceon?”

“Jangan menangis, Nak!.
Lawan. Lawan. Lawan!”

Sampai maut menjemput,
kita hanya menunggu giliran,
gugur sebagai pala yang paling
matang atau yang paling busuk.

“Setelah ini siapa lagi,”
tanyamu.

“6.000 orang, jumlah ini sudah cukup?”

Menuju abadi selalu kau nantikan hal itu,
kau tak gentar meski sisa napas di tenggorokan.

Maka tiba pada waktunya
hanya sejumput senyum,
tiada gesekan biola tiada
penjamuan akhir, selain lolongan anjing.

“Setelah ini siapa lagi,”
tanyamu.

Di dermaga kau melihat 1.700 orang
menuju Banda Eli dan Banda Elat.
300 orang dijemput 20 kora kora dari
Seram Timur

:mereka berlayar dengan tiupan napas.
Saat itu laut tenang, tiada beriak ombak
hanya lonceng berbunyi hanya
aroma kamboja.

/Mei 2019/
parigi rantai basah
buah pala gugur.

Sedang di batu bata
dan dada seorang peziarah
masih terpahat lolong duka:

“Alfatihah kukirim untuk:
Ayub, Imam Dender
Kodiat Ali, Orang Kaya Salamon
Jareng, Orang Kaya Kumber
Kakiali, Hulubalang
Kalabaka Maniasa, Orang Kaya Lontor
Lebe Tomadiko, Orang Kaya Lontor
Makatita, Orang Kaya ratu
Pati Kiat, Imam Kiat

Orang-orang Lima, Boi San, Elias, Salem
Para hulubalang, Abdul Rahman, Asam,
Asan, Bai, Boi Niela,Husein, Idries, Islam,
Kakiaya, Kuat Kusin, Kodiat Omian, Lampa,
Mai Burang, Mai ari, Malim, Ralou,Saman,
dan Sanda

Para Orang Kaya, Boi Ira, Orang Kaya Salamon
Boi Wainia, Orang Kaya Tatang.”

(2019)

Pada Punggungmu yang Oase

Pada punggungmu yang oase
malaikat menjaring mimpi
maut menjelma kupu-kupu
lalu kamboja jatuh di kuburan
pelan-pelan layu.

Aku hanyalah seorang pelayat
gagal merapal doa dan sisa-sia
percakapan dunia entah, karena
kata-kata menguap kabut gelap
menganga.

Pada punggungmu yang oase
malaikat menanam pohon duka
lebat buah ratap, selembar daun
gugur jadi tragedi dan aku susah
payah menebangnya.

Aku hanyalah batu nisa
terpahat sepotong epitaf.
Tiada erang pecah, selain tubuh
disembul darah airmata sejak purba
dan tidak diketahui siapa-siapa.

Pada punggungmu yang oase
bulan bintang batu segalanya
menjerit: di sana tangisan adalah
kehidupan.

Sementara aku murung,
kekasih: 

pada matamu yang kausar
aku ingin tidur. Tiada jilat api,
selain bunga fajar merekah.
Ranting pohon menjelma jarum,
kupakai menjahit luka. Daun menjelma
hujan yang kupakai mengubur tangis. 

“Jangan bersedih, Kekasih.
Maut membidik arah kita—maut
Adalah morse—tidak ditulis dengan
huruf patah, serupa sajak atau kidung,”
katamu.

“Maut terlampau tergesa-gesa
untuk kita yang tak pernah berencana
pergi ke surga tanpa membawa apa-apa,”
kataku.

“Tidak! Tidak! Tuhan tidak butuh apa-apa
dari kita. Tuhan tidak seperti Salomo,
‘…mereka membawa emas, pakaian,
senjata, rempah, kuda, dan keledai,”
kaubaca sepotong ayat.

Pada punggungmu yang oase
malaikat maut menamam pohon duka
lalu kau menjelma kupu-kupu dan
aku batu nisan terpahat sepotong epitaf
(inilah tragedi Manusia Maluku: perampasan,
kekerasan, dan pembunuhan sejak purba, tidak
diketahui siapa-siapa).

(2019)

Ishak R. Boufakar/Lelaki Laut lahir di Kian, 23 Juli 1992. Puisi dan cerpen termuat dalam Antologi 250 Puisi Cinta Terpendam (2016), Antologi Cerpen Bertuan (2016), Antologi Surat Untuk Tuhan (2017), Antologi Cerpen Mimpi (2017). Tulisan-tulisan diterbitkan di koran Identitas UNHAS, Koran Fajar Makassar, Koran Salam Papua, koran Ambon Ekspres, Majalah LINTAS, dan Buletin Kala Paradigma Institute. Penulis aktif menulis di media online: @ekpresimaluku.com @rumahtulis.com @seramtimur.com dan @kalaliterasi.com

Perjanjian di Hari-hari Berkabung

0



Kembang Karnaval

Cobalah datang kepada gempita bumi
tanpa harus menumpahkan darah,
ini adalah akhir kegelapan dan kesepian
umat manusia

Langit, telah menanggung pucat tulang,
tak bisa dipandang resah dari juru-juru
hari yang naas. Namun lewat sepasang kaki
telanjang di atas setumpuk buku, kata-kata
mengasuh luap air mata dalam mimpi.

Hati-hati, suara-suara ganjil, mulai menembak
orang-orang gagal dari dalam tanah, lusuh dan retak
seperti seorang tua, meminta hidup baru
untuk membuang separuh pulau, di atas pundaknya.

Setelah haru tersisa di batang pohon jambu,
tapi kian cepat, bunglon gaib merubah waktu
sepanjang zaman, maka, segala sesuatu
menjadi akrab dengan ajal.

Sia-sia, untuk menerima salam pagi, karena pada
akhirnya, urat leher akan dibanjiri kabut usia,
kecuali yang pernah tidur di ranjang hujan
akan mekar pada tempat-tempat rahasia.

2020 




Titanomakhia

Sudah lama, terkepung, lonceng-lonceng gereja,
mengingatkan kita, kepada sepasang mata yang
meledak, tepat, saat hawa sakti tak menoleh ke
belakang, rasa ngeri terbang lagi, kulihat, ia
bertumpu pada sayur-mayur mekar dalam cahaya

Pasar pemantau dari dekat saja susah benar
untuk diselip dalam surat yang terbakar
pada pukul 06:00 pagi, tak ada bau wangi sampai
berlama-lama tinggal di atas pundak setiap anak

Mungkin di hari-hari lain, dengan kaki tergesa-gesa
kita berjalan di permukaan kata, membuat beranda
atau taman yang diambil alih oleh detak jam, tanpa
menyebutkan nama

Kelak jika bangkit, di atas paras negeri, para pekerja,
semangat baru, dari bau garam yang telah dituliskan
laut dengan cara paling diam. Mereka memanggul
balok besi yang licin ke panggung bercadar, di antara
tamsil-tamsil, kita masuk ke pusat abadi

2020




Sindrom Werner

Lewat kerut kening yang ramai oleh pelangi beratus makna,
tafsir telah mengaburkan warna gambar pada lukisan
di tembok dewan, diam-diam dengan tubuh menuju renta,
cemas berupa atap-atap rumah panggung, menyimpan luka.

Banyak orang begitu jijik kepada yang melarikan diri
ke hutan benda-benda, namun, nama kecil dari rasa
lapar dan takut, memberi bunyi dalam kepala yang menyusun
perjanjian di hari-hari berkabung

Inilah pertempuran di atas pucuk rumput ilalang, sejarah manusia
berdiri menjangkau mayat-mayat api dari kota paling sinting,
terimalah pedang binal yang menusuk nafas dan bahasa
bagi segala yang tergelincir jatuh

Kecuali, di sebuah tempat, para penari, mengintip gerak hitam
yang memainkan payung di bandul jendela, mungkin duka,
atau ketentraman air dan tanah dari teka-teki sebuah doa

Ya, memang ada yang membatalkan niat, untuk berangkat
dari gang panjang, menuju kebuntuan batas di hari yang kini hangus,
hanya tinggal jurang tercipta, bila ditutup, letupan-letupan dunia
menjelma bongkahan batu, tanpa kenangan.

2020




Vacuum Cleaner

Hisaplah sedikit cahaya lampu taman itu!
ketika dongeng langit, memberi sebaris
kata mutiara, pada tahun-tahun yang tidak
menamatkan langkahnya di jalan berlobang.

Kemana arah bangku-bangku itu menghadap?
ketika jarum jarm berbaring seumur hidup
di bawah pohon cemara

Bekas luka dan kesendirian menjadikan manusia
seperti seekor anjing, mengangkat kaki belakangnya
kemudian menyembunyikan keresahan ruh-ruh sapardi

Mengalami tragedi di lubuk yang hanya tersedia
untuk bukit-bukit biru dan burung yang terbang
ke rahim sunyi, menunggu rasa gemas
menyerbu kaki langit itu

2020




Penguping

Dekatkan telingamu pelan-pelan
ke jendela plaza itu, maka, kau akan
mendengar bunyi jarum jam
yang omong kosong, mengental,
dalam kaleng-kaleng minuman.

Saat siang hari mengerut di keningmu
rombongan ibu-ibu turun di tepi kota
doa-doa memancar di sana
bersama separuh ilusi

15 menit berlalu, jalan-jalan beraspal berubah
menjadi tempat para ruh menunggu
sebelum beribu-ribu bendera
saling teraduh-aduh dalam radio dan televisi

Nah, cobalah tentukan, di tempat manakah
orang-orang melintasi akalnya sendiri?

2020




Sharp Sandwich Toaster

Pada sepotong roti kering
terdapat warna krem tua dari mimpi,
menjelmalah paras dunia, tanpa lama-lama
juga basa-basi, namun, cukup untuk menerka
jalan bagi debar jantung di sebuah rumah sakit

Rasanya baru sampai di urat saraf
seribu musim dingin, membetot pikiranku,
mencari-cari daftar nama yang lain,
mungkin telanjang, tanpa daun dan telah
patah nilai, semenjak mata ini, luput dari
nyalang pandang.

Lihat, cakar paling bunyi hanya dilahirkan
dari seonggok batu gelap, tetapi kita tak
pernah sampai habis, membikin senjata
di teduh duka mana pun

Kini memang banyak orang bergegas
demi menyentuh bulan dan putih lampunya,
walau jalan ke arah tebing terlalu curam
untuk diinjak oleh tanahliat itu

Tak usah takut, pasanglah hitam yang rata
di tiap kepak elang yang menjadikan penempuh,
mesti, terkotak-kotak oleh harkat, ingatlah bahwa
sesisa air mengalir dari kaki cokelat, telah tumbuh,
dalam lorong-lorong keyakinan purba

2020



==================
Yuris Julian adalah nama pena dari Diandra Tsaqib. Lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Saat ini bekerja di Bandung. Beberapa Puisi saya telah tersiar, antara lain di: Koran Tempo, Bali Post, Suara Merdeka, Radar Tasik, Radar Cirebon, Radar Mojokerto, Kurung Buka, Apajake, Takanta dan Pojok Pim.

Seribu Badai Telah Dimuntahkan

0



Langit Merona Merah

Bintang telah mencabik langit
ketika rembulan hadir telanjang
tanpa busana
awan pun bergemuruh menumpahkan resah
wajah langit betul-betul sedang berduka
angin tiada henti menikam ruang-ruang hampa
tak ada satupun aksara suci terbaca
di atas sana, langit merona merah
seakan meniriskan semua kebohongan
mata kita sudah rabun untuk memaknai kata cinta
hingga berkali-kali langit murka
seribu badai telah dimuntahkannya

ajak kita bukan lagi gemuruh lisan
untuk membaca makna zaman
atau mungkin karena wajah kita
seperti tak ada bedanya
dengan rembulan yang tak berbusana

Malang – 2018

Senandung Biola

Masih terlalu pagi awan melangit
mata pun menjadi murung
tangan masih menggenggam temali usang
sesaat lagi mungkin akan rapuh
bersama kelabu yang kian dekat

Tangan-tanganku adalah bangkai hidup
di antara putih kertas
ketika sajakku mulai bermuram diri
ingin merepih mendung, membiaskan hujan
lalu menulis sejuta aksara
dalam bait-bait penghantar hujan berbalut doa
apakah langit kelabu selalu membuat resah
atau Tuhan mengirimkan isyarat agar kita merenung diri?

Pagi ini napasku kembali hidup
memainkan sajak yang tak pernah usai
saat gesekan biola bersenandung membelah angina
kuputar waktu saat langit masih membiru
kutiriskan duka pada bening kertas suci
dan kembali biola melantun
di antara nada-nada siang dan malam

2018

Yang Terdalam

ingin kutitip pelangi
pada lubuk hatimu
— yang paling dalam —
basuhlah dengan kesucian
agar terang
putih bersih

adalah sajakku telah berpaling
dari keindahan fatamorgana

2019

Tanah dan Langit

Engkau tak akan pernah bisa membaca pikiranku
jika engkau tak menatap dalamnya langit
Di sana aku pernah menulis sajak kematian,
tetapi bukan untuk tubuh dan jasadku
sebab jasadku hanya untuk tanah-tanah bisu
yang tak pernah menyimpan segala doaku

Lihatlah langit biru itu selalu membentangkan sayap-sayapnya
dari ujung timur, barat, utara hingga selatan
dan membuat camar-camar angkasa terkesima
Itu mengisyaratkan Sang Ilahi selalu menatap kita
dan pasti, pandangan-Nya lebih tajam dari bias sinar matahari

Hingga bumi ini akan berpaling dari hadapan kita semua

2018

Suatu Senja

Senja ini telah menatap kepergian sukmaku
dua larik malam menunggu
mengendap, jalan perlahan dari balik tirai langit

Pikiranku pun mulai menerawang jauh
menembus batas kaca-kaca langit
aku bangkit, mencari sebuah pena
menulis perjalanan kata-kataku
begitu banyak melintas dalam benak ini

Sedari tadi, meja dan kursi sinis memandang kebodohanku
enggan ‘tuk menyanggah tangan-tanganku menuangkan beban berat
kaki meja pun meratap pilu, berdiri diam
tak pernah kupedulikan kelelahannya
meringkuk batin dalam kebisuan panjang

Jika saja mampu berkata
“buat apa engkau menulis sajak!”
lihatlah berita di televisi, penuh metafora
bukankah itu bisa mengusir keresahan senja
Kembali kupandang meja
tetap diam membisu, disitu tanganku selalu menindihnya
membuncah rasa kopi, pagi dan sore
menulis di atasnya, mengalirkan keresahan nalar
kadang memukulnya, karena pikiranku kerasukan jalang

Kalau saja bisa melipatnya agar bisa diam sejenak
mungkin panorama senja di luar sana akan tersenyum manis

2018

Solitude

Rindu,
adalah sebaris kata
terbaring bisu
di atas batu pualam
Ingin kutikam bersama doa
agar cahaya datang mengucap salam
walau tak pernah kutahu maknanya

2018

Seperti Jiwa Mereka

Kawanku, Chairil Anwar
aku bukan sajak pada masamu
juga bukan seorang Von Goethe
yang bergelimang emas di hatinya
karena aku bukan bait-bait sufi seperti jiwa Rumi
Aku terempas di padang tandus
ketika sayap sajakku patah di ranting Jose Marti

2018

Sayap Pusara

Kau lukai sayap pusaraku
hingga aku tak sanggup
terbang ke langit
seonggok tanah menutup mataku
sayapku pun menanti para peziarah

2018

==========

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Tinggal di Malang. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya. Karya-karya Sastra (Cerpen, Puisi, Esai) dan Bahasa telah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Harian Republika, Pedoman Rakyat, Lombok Post, Haluan, dll. Buku Antologi Puisi: “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) – “2 September” terbitan Rose Book (2015) – “Jurnal SM II” (2015) terbitan Sembilan Mutiara Publishing (2016) – “Keindahan Alam” terbitan FAM Publishing (2017) “Ibu” terbitan FAM Publishing (2017).

Sebelum Pesta Berakhir

0




Benih Karmila

Karmila, kembang desa pertama
putri kedua pasangan petani tua
puluhan tahun mengairi ladang
dengan air mata

di tengah kemarau panjang
namanya diambil begitu saja
dari judul lagu Farid Hardja

ia lahir sempurna

entah berapa lama
petani tua itu menanam benih Karmila
padahal tak ada kembang berbunga
hanya batu dan kayu yang semusim lagi jadi abu

bulankah yang melahirkannya?

rambut bijangnya memanjang
setiap siang terurai diterpa angin pantai
saat bukit-bukit digunduli jadi lahan jagung
orang-orang memandang laut dan Karmila

di ladang-ladang tadah hujan
petani dan nelayan menunggu
dikutuk Karmila jadi debu

Lombok, 2019




Menjadi Ayah

di hadapan cermin aku bertanya
akan jadi siapakah darah daging kita
saat ruh yang kudus berhembus
pada tiga bulan pertama

dari perut ibunya aku berbisik,
darahku mengalir di tubuhmu
seperti santan dan minyaknya

dan aku, dan kau adalah yang terpilih
yang terbaik bisa abadi
yang terburuk tak mungkin pergi

kenangan tak memberi pilihan
‘hidup yang kelak kau jalani
adalah langkah yang setiap saat kusesali’

Lombok, 2019





Pagi yang Lain

berikan aku pagi yang lain
tanpa surat kabar harian

suguhkan secangkir kopi
dengan gula semanis mimpi

meja sarapan
sepiring khayalan

di kamar mandi
apapun bisa terjadi

dan di atas ranjang
istriku berseru,

‘tidurlah sayang,
tak ada fakta hari ini’

Lombok, 2019





Nyanyian Musim Kemarau  

seribu dulang tersaji di tanah lapang
perempuan desa memanggul harapan
di atas kepalanya

      setundun pisang matang,
      sepanggang ayam kampung
      telur ayam, bebek, dan puyuh,
      sepiring nasi kuning dan putih,  
      semangkuk kacang asin,
      dan segala yang berkuah, digoreng,
      juga dipanggang

mereka berpesta untuk menyatukan doa
meminta tuhan membuka kolam langitnya

seolah yang diminta telah mengamini
akan selalu ada keinginan
dibalik melimpahnya pemberian

sebelum pesta berakhir,
ladang-ladang tak bertuan
dengan sunyi menyimpan harapan

batang-batang jagung terbakar
berkelakar tentang petani
yang menggunduli bukitnya sendiri

di bukit itu
tak ada yang tahu
doamu dan doa tanah telah beradu

Lombok, 2019





Pengobatan Pakon

arang batok kelapa
tak membakar kaki telanjangnya
agar ia melihat mahluk tak kasatmata
menyakiti dengan halus budak jelata

saat gendang-gending ditabuh
seruling panjang mendengung
ia meneguk air kembang mekar
beralas kain putih
bertabur asap dupa

namun sebelumnya
dengan daun pinang muda
tubuhnya berulang kali didera

rasa sakit menyembuhkan derita
bisik tengkorong kepada ia
sebelum menari di atas bara

ia tahu, siapa mahluk tak kasatmata
merasuki dengan halus budak jelata
sebagai penyakit
sekaligus penyembuhnya

Lombok, 2019




Tenun Purba Pringgasela

tumbangkan dua ekor kerbau
untuk mengibarkan selembar kain purba
dengan tiang dari pohon aren
setinggi sembilan lelaki

kibarkan selama dua malam tiga hari
turunkan sebelum senja
tepat di saat tulang punggung keluarga
pulang dari ladang-ladangnya

delapan ratus lima puluh tahun silam
perempuan penenun pertama di Pringgasela
menyesek benang jadi bekal perang lelakinya

ikat erat jadi sabuk di pinggang
niscaya kau akan terjaga dari satu dua tebasan parang
dengan cinta seputih kapas yang kupintal semalam suntuk
kau harus pulang mengasapi dapur, memberi peluk


anak cucu harus tahu, kunamakan kain ini tunggul
agar kalian senantiasa gemar memanggul
memikul peninggalan leluhur

kain purba jangan kau puja
kami menenun merajut cinta
jadi selimut keluarga

Lombok, 2019


=======================
Fatih Kudus Jaelani, lahir di Lombok Timur, 1989. Buku puisinya berjudul Asmara Ular Kayu (akarpohon, 2016). Kini bekerja sebagai wartawan di salah satu surat kabar harian lokal di Lombok dan aktif bergiat di komunitas rabulangit Lombok Timur.

Terbaru

Sehijau Engkau yang Masih Malu

MEKAR BUNGA PADI bebunga padi baru saja bermekaran harumnya tiba di jendela kamar hijau di tepiannya sehijau engkau yang masih malu kala aku...

Dari Redaksi