Puisi

Home Puisi Page 2

Waktu Hanya Sebutir Apel

0


Puisi-puisi Gio Pratama


Seperti Hari Yang Tersesat

Musim berganti.
Aku hanya bergeser
dari kesepian ke kesepian.

Di antara sajak-sajak yang sakit,
malam terlipat dan langit semakin kelabu.
Kulihat perahu menembus gelap
ketika kesedihan berulangkali
menyebut namaku.

Kudengar lagi lagu pilu
dari dalam mimpi. Alangkah merdu
seperti hari yang berulangkali tersesat
ke dalam lukaku.

2020


Aku Ingin Pindah

Aku menempuh kehidupan yang sukar. Tempat yang kutinggali
adalah bangunan yang sekarang sedang sulit menemukan air.
Aku ingin pindah menemukan lagi air-air yang melimpah,
yang selalu meletakkan hidup pada pemandangan yang indah dan cerah.

Aku ingin pindah menuju bangunan-bangunan lain yang menyimpan
harum kenangan baru. Aku ingin merasakan betapa sejarah terus berubah,
mengubah jalan hidupku yang terkadang penuh liku,
terkadang penuh rindu.

Aku ingin pindah dan memunguti hari-hari yang rapuh dengan rasa sukacita.
Aku ingin pindah dan merasakan beban di punggungku meleleh
seperti salju yang ditempa cahaya musim panas.

2019



Dalam Sepi Yang Purba

Kautuliskan kembali peristiwa pilu
dalam hari yang panjang.
“Apakah masih ada mimpi
dari masa lalu yang terkutuk?”
Tapi senyap merayap.
Hanya jatuhan bulu matamu
yang menjawab.
Kaulipat usia
dalam sepi yang purba.

2019-2020



Sajak Bisu

untuk Willy Fahmy Agiska

Pada bising yang makin getir,
pada batas kesakitan yang bergetar,
aku bisu.

Seluruh suara pulang padaku
tanpa gema dan kata-kata.

Waktu hanya sebutir apel
yang terkupas dan membusuk
di mulutku.

Sedang di sini, puisi menggigil.
Bunyi dari seratus kefanaan terkapar
di antara hari yang dilucuti kenangan.

2019-2020



Keresahan Tak Pergi Ke Mana-Mana

Keresahan ini tak pergi ke mana-mana.
Ia disusun dari perasaan-perasaan
yang bagai batu.

Sejauh apa pun kita meninggalkannya,
satu-satunya yang pergi hanyalah waktu
dan sepi yang kian beku.

Keresahan ini tak pergi ke mana-mana.
Ia tak pernah ke mana-mana!

2020



Kipas Yang Berputar Cepat Tapi Tidak Sangat Cepat

Kipas itu berputar cepat.
Tapi tidak sangat cepat.

Ia sendiri saja berdiam di atas sana.
Ia sepertinya ingin menjadi rahim puisi
yang mahir merawat kata-kata.
Tapi ia tak bisa. Tak akan pernah bisa.
Sebab ia hanya terlahir sebagai benda yang setia
merawat angin. Bukan kata-kata. Bukan juga kita.

Kipas itu berputar cepat.
Tapi tidak sangat cepat.
Dan kehidupan menjadi semakin penat.
Dan kehidupan menjadi semakin pekat.

2019



Tanah Ini

Di tanah ini,
jejak-jejak menggema
tapi tidak abadi.

Sebab tanah ini pun fana
seperti kita.

2019

========================

Anugrah Gio Pratama lahir di Lamongan pada tanggal 22 Juni 1999. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa Indonesia di sana. Puisi-puisinya termuat di beberapa media massadan antologi bersama. Bukunya yang telah terbit berjudul Puisi yang Remuk Berkeping-keping (Interlude,  2019).

Mengamini Rintik Hujan yang Jatuh Hari Ini

0

Gemuruh dari Timur

Dari timur, gemuruh yang kau Esakan tak sampai ke kepalaku, hanya rintik air matamu perlahan menetas di ceruk mataku dan hujan yang kau sebut itu telah bercakap dengan dedaunan, pohon-pohon besar, melinting diatas genting dan seringkali menyebut namamu

Hujan juga mengecup aspal, menggelinding ke selokan kemudian memercik dan beriak mengalirkan rinduku padamu, padahal aku t’lah menelponmu beberapa kali dan kita bercakap puas.

Seperti daun-daun yang mengarah ke langit ketika gelap kian runtuh dan doa-doa ditanggalkan lisan, yang kau Esakan telah sempurna merajut bianglala dan matamu adalah muara menuju debur ombak

Aku menabung rindu pada celengan musim itu, di bawah pohon selepas hujan kau mengecup dan kita adalah dua tubuh terpisah yang kembali bersatu.

2020


Seorang Peramal

Ia meramal banyak sekali, daun-daun di samping rumahnya kapan jatuh, pohon-pohon menjulang di belantara itu kapan rubuh, buah-buah apel kapan bisa dipanen dan bahkan air mata kapan akan menetas

Ia juga meramal sekian banyak orang, kapan seseorang akan lahir dengan anak lelaki, kapan seorang ibu akan mendapatkan rezeki, kapan sesuatu akan terjadi, bahkan ketika subuh ia menebak kokok ayam di waktu pagi

Ia meramal orang-orang yang datang kepadanya, memohon doa dan ramalan yang baik
Namun ia sendiri tak pernah sesekali meramal dirinya.

2020


Sujud Batu, 2

Tak ada yang mesti kutanyakan perihal rindu dan kata-kata
Seperti ihwal batu, diam dan bisu
Dan kau mengeram disana memilin biji-biji musim

Batu itu berzikir, tuan!” katamu
Sambil lalu dengan selendang bianglala kau mendahuluiku
membuka pintu pintu doa kemudian melemparkannya ke langit

Gigil daun di luar selepas hujan dan gemericik air di selokan adalah isyarat tuhan yang merindukan kita sebagai hamba, ketika kau mengutuk sendiri matamu sambil lalu mengumpat “Aku berdosa, wahai tuhan!”

“Batu juga bersujud, tuan! ” katamu kembali

Kau seperti membaca arah angin dari segala penjuru, kemudian diletakkannya batu itu di bawah ranjangmu seperti dahulu ibumu meletakkannya di atas nisan ayahmu

Batu yang kau sebut benda mati itu kini t’lah berdiam dalam diriku” ucapmu lirih.

2020


Sehabis Hujan

Kantuk dan zikir terbayarkan
Matahari mengembun, daun daun berkaca, batu kemudian bicara
Dalam diam paling nyeri dengan sepenggal puisi

Ombak yang mengasuh karang
Melepas segala resah dan kemudian gugurlah reranting cemara itu
Sampan dan lenguh nelayan
Adalah ihwal laut temaram

Sehabis hujan
Jalanan basah dan gigil lalu lalang
Di selokan  mengalir beribu doa dari hulu
Juga air mata telah layu

Bahkan setelah hujan hari ini
Semangkuk mie instan dengan cabai merah
Lebih hangat ketimbang rekah bibirmu yang membekas di bibirku

2020


Uji Coba Menulis Puisi

Awal januari tahun ini, hujan tak henti hentinya merubuhkan matahari dan malam tiba dengan sisa senja yang abadi dalam hangat bibirmu

di bibirku. Ranting patah yang jatuh ke hitam matamu seperti luruh daun pada muara yang dipinggirnya ilalang berdoa pada angin, pada

awan, pada segala yang diaminkan tuhan untuk kita

Aku mencoba menulis kembali nara, setiap yang berjuntai dari hitam rambutmu, juga yang dimatangkan hitam matamu, dan setiap kata-kata dari mulutmu dan mungkin juga pandangan waktu itu.

Sambil mengamini rintik hujan yang jatuh hari ini
Di depan rumah-Mu
Begitu juga diatas sajadah zikirku
Aku memohon
Berdoa

2020


1999

Di tugu kota, kepalamu meleleh mengalir ke hitam matamu namun kau tetap tak beranjak menunggui musim lalu yang datang dengan setangkai bunga

Kau tak pandai berkata-kata, sebuah doa yang tersusun rapi di lemari kamarmu begitu juga lipatan zikirmu yang biru dan ada juga yang merah

Dari matamu, kau meneguk api, menelan biji-biji kemarau Panjang dan di tahun ini kau tak lagi seperti manusia dan entah kau siapa

Tapi aku tetap mengenalimu berjalan di trotoar dan sesekali berhenti memperbaiki letak topengmu yang sewaktu-waktu berubah menjadi sepasang wajah manusia yang tidur, yang bercerai dan yang tertawa.

Kau bahkan tak pandai menghitung, jari-jarimu patah ketika menunjuk kapal di tengah laut, sesekali debur ombak akan menelan resahmu dan kau tertidur

Di tugu kota, yang sesak dengan kata-kata
Segala tubuhmu meleleh dan kusediakan mangkuk besar
Agar tubuhmu tak terbuang percuma

2020


22 Oktober 2002

Dimana kau dilahirkan sebagai perempuan dan manusia memujamu

Kau yang bisu dan tak mendengar apapun selain kidung purnama ibumu dan lantun zikir ayahmu ketika kau tertidur di Pundak mereka

Sesekali dahaga melecutmu seperti kerapan di tanah kerontang yang lenguhnya bergetar sampai ke dada, yang matanya merah memecah angin

Dimana kau dilahirkan sebagai perempuan, dan dedaunan merestui itu

Kau menerjemahkan debur ombak, celah-celah karang, beberapa kenangan, dan lagu sumbang nelayan begitu juga lumut di sampan-sampan gelombang

Barangkali kau juga menafsirkan bunga-bunga laut, menakwil angka musim, merujuk asin pada setiap peluh ayahmu

Dimana kau dilahirkan sebagai perempuan, dan aku mencintaimu

2020


Hikayat Orang Gila

Bahkan aku lebih gila, mama
Ketimbang orang-orang yang berjalan dan mengucapkan serapah sebuah nama
Tanpa sepenggal kain dan hitam kulitnya membunuh matahari

ia memakan bekas-bekas gigitan dan ciuman
memaksa rindunya habis dimakan sepi

aku dan dia sama saja
hanya aku kurang berhati-hati menjalani hidup

2020

=======================

Baidi Narayana adalah nama pena dari Ahmad Zubaidi. Alumnus MA Nasy’atul Muta’allimin dan MTs. Al-Ma’arif Manding. Aktif di komunitas ASAP dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Pemenang lomba cipta puisi nasional Fam Publishing tahun 2018.  Karyanya tercatat dalam antologi Bulu Waktu (Sastra Reboan, 2018), Sua Raya (Malam perayaan puisi ponorogo, 2019), Rumah Kayu (Oase Pubhlishing, 2019), Segara Sakti Rantau Bertuah (Festival Gunung Bintan, 2019).

Musafir dan Kisah Tresna yang Kekal

0

MENUJU FANA

/1/
selalu saja ada yang terbang. lepas dan melenggang begitu saja.
seperti laron yang memburu pagi. memburu arah utara

/2/
dipanggilnya nama-nama itu, segenap nama yang dihafalnya
namun semuanya berkelebat dengan diam.
dia mendengar lonceng-lonceng bergemerincing. seolah berbisik
: mungkin ini malam terakhir. melambailah!

gemerincing lonceng itu mengguncang pelan

/3/
terburu-buru, ia akhiri doa yang mestinya panjang itu.
: ini musim penghujan. mendung meratapi bulir-bulir airnya
sekejap lagi menetes diserap tanah atau ditelan laut dahaga

/4/
antara ranting cemara dan gugur daun akasia
manakah yang lebih dicintai bumi?

2018



SURAH CINTA (8)

Guru, apakah kematian selalu tiba dengan membawa tresna yang kekal?
jika maut datang dengan rahasia kekekalan tresna maka aku akan bersolek
menyambutnya dengan segenap kidung yang pernah kau ajarkan!

2018



SURAH CINTA (9)

/*/
Seperti para musafir lainnya kalian turut mendongengkan
kisah-kisah tresna yang kekal
di lorong-lorong kematian: jalan pendek menuju abadi!

tapi apakah tresna kekal hanya dalam riwayat atau justru tersimpan dalam biji sawi semenjak jasad hancur digerogoti belatung-belatung api?

/**/
kalian para musafir akankah mati di bukit yang sunyi atau di kamar kerjamu
sebelum kalian sempat menakwil kitab sejarah kematian yang gagal menemu rumah tuhan?

kalian para musafir akankah bahagia dengan harapan ataukah merana saat bilangan-bilangan berdusta?
tapi apakah kalian bisa menerka nujum yang sungguh-sungguh mewartakan kekekalan tresna?

/***/
kalian para musafir akankah tetap bahagia dengan perjalanan-perjalanan tanpa paspor dan pulpen di saku kemeja?

2018


SURAH CINTA (10)

di mana alamat tresna?

perempuan itu membisikkan sebuah alamat di telinganya
namun, lelaki itu tak mampu menghafalnya

kun, lelaki itu tambah menua serupa rahasia
yang selama ini digembolnya kesana-kemari
tak ingat lagi pada masa silamnya, tak tahu masa depannya

kun, di mana alamat tresna?

2018



SURAH CINTA (11)

Guru, biarkan aku jadi penujum pengembara dari gunung hingga ke ceruk lembah
mencari sisa tresna yang terlanjur jadi sabda-sabda yang harus ditakwil dan ditafsir

Guru, bagaimana kusyahwatkan tresna, saat masa silam pulang dengan lelah
sedang masa kini menjadi cuaca sarat dengan hujan halilintar
adapun masa depan kehilangan wajah ibu bersama riwayat tuhan yang ditanam di kubur

Guru, bagaimana kusiasati tak berdayaku melacak tresna
sedang dunia telah terlanjur menjadi meja perjamuan memuja kuasa
adapun surga adalah kamus yang gagal mencatat makna-makna

Guru, aku ingin patuh mendekap tresna, tapi dadu dan angka-angka telah dilempar
membuat segala perempatan jalan menuju lorong hasrat yang menjejalkan dusta

duh, guru! 

2018-2019


MEGATRUH

sama dengan bangkai ia sekejap akan sirna mungkin melesak
dalam kerak paling palung di tanah paling liat dan hitam
atau melesat ke angkasa, menabrak dan mengguncang pepohonan
sebelum lenyap jadi butir-butir molekul seperti gerimis tipis

seperti juga sama dengan semua mayat yang tak pernah tahu dalamnya neraka
ia tak akan lagi merapal ayat-ayat. segenap mantra dan jampi-jampi kidung suci
berubah menjadi serabut-serabut yang ringkih seperti putik merambat menuju layu

“hai, tak perlu kau menoleh ke belakang untuk mengingat-ingat
apapun. campakkan ingatan
bergegaslah kau telah ditunggu kereta
dihela delapan lembu melenguh tanpa henti!”

maka, engkau pun berjalan sendiri dengan berdebar-debar
mendengar lenguh itu.
cemas sendiri tanpa siapa-siapa, bahkan tanpa nama

Ngawi, 2018-2019



AKU TAHU

Akhirnya apakah aku harus pasrah dalam rayuan malaikat maut?
: “Tak perlu kau bertanya-tanya lagi!” bisiknya dengan bengis
“Sebentar, biar kucari catatan-catatan harian yang tercecer di kamar tidurku!”

Aku tahu kalender cuma bilangan ganjil dan genap
dan arah hanya dua, lurus atau belok
nasib pun cuma dua, meninggalkan atau ditinggalkan

Aku tahu jarum jam tak pernah berjalan mundur
laju detiknya selalu mendorong-dorong ke arah peti gelap
yang di dalamnya cuma koper-koper doa yang usang.

2019




WAJAH LANGIT OMPONG

Malam tanpa bulan
langit ompong tanpa gigi abu-abu
pohon-pohon berjalan menuju kelam
gagak dan burung hantu berlomba menjerit-jerit

Ruh-ruh kita berlompatan dengan riuh
berlomba berlari menuju perempatan-perempatan
melesat belingsatan melejit di ujung-ujung dahan
gonggong anjing memburunya sampai jauh di ujung sepi

Tak ada kapal yang datang
tak ada mercusuar yang menyala
tak ada syahbandar berdiri di dermaga
air laut memantulkan wajah langit ompong
sibuk menghisap ruh-ruh yang berlompatan

2019         


                                                    


RIWAYAT

Setiap kisah selalu mengundang dikenang
pun riwayat ini seperti biografi tubuh
melayang-layang di ombak-ombak riuh
sambil meneriakkan nama-nama.

masa lalu kelak menjadi sulur-sulur
merambati bilangan-bilangan dan susuri ramalan-ramalan

percayalah, tak hanya kecewa dan muram
yang sering menyapa atau harapan yang sekejap padam
namun, juga ruang-ruang pesta dan musik mempesona
dan kita  menuang anggur dalam piala lantas berdansa
menari seperti kaum sufi yang mencari teka-teki
: mengapa cinta tak dapat diurai dengan cium dan kata-kata?

Setiap kisah selalu mengundang untuk dikenang
segenap riwayat adalah biografi tubuh yang disumpali jejak sedih maupun gembira
pun setiap gagap dan bodoh yang berulang gagal menghafal dan mengkhatam kitab

riwayat panjang ini adalah perjalanan musafir yang tersaruk-saruk dengan cemas
sekaligus harapan-harapan yang sekejap menjadi berbait-bait puisi
: mencatat semuanya jadi kitab dongeng legenda cinta para darwis yang majnun! 

Ngawi, 2019



SUARA LAIN

Mimpi buruk melindap bersama datangnya cahaya dini. Khianat yang sempurna. Licik, licin hingga cerdik. “Kita ternyata menuju punah!” bisikmu gelisah dan tergesa.

Sejarah mengarus dan berayun-ayun pergi. Segenap manusia akan selesai dikubur dalam jurang-jurang  berapi. Kita terlanjur terengah-engah, lengah kompromi pada takdir, pasrah pada nalar yang mencekik pelan-pelan. Syahdu dan penuh rasa hormat pada setiap rasa sakit.

Tertinggal hanyalah yang paling lembut melampaui hasrat khusuk bercumbu. Itulah kenangan! Warisan tinggalan leluhur yang menggetarkan. Lahir melalui mulut-mulut
penyair  tragis: itulah suara yang lain!.

Mendengar gumamnya adalah menyimak waktu yang sekejap berlalu namun datang kembali dalam frase dan kata.

2019

=====================

 Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar pascasarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) tahun 2006 di bidang Linguistik dan Kesusastraan.Beberapa buku puisinya antara lain  Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja sajak (Salah satu lima buku puisi terbaik versi HPI 2016), Perbincangan Terakhir dengan Tuan Guru (2018),

dan Kitab Ibu dan Kisah Hujan (2019).

Pengisah Nubuat Sunyi

0

MENGHAFAL SAJAK YANG KAU TULISKAN

serupa cinta yang kutempuh berulang
kau huruf lapar, berebut mendung makna
seketika lupa cium pertama:
rindu mengalir ke tebing-tebing kening
cinta menempuh mata, bersitatap warna
kukenang rute tubuhmu yang dulu
rahasia dan penuh liku

berebut sajak, kau ingin mencari jejak penyair
hilang dalam arus malam, setiap kata adalah anak-anak yang lupa arah pulang
bertamu ke bibir maha ranum, ada bahaya yang tak ingin lekang kau kenang
bayang-bayang yang tak gentar mengejar kelana perempuan petualang

Surabaya, oktober 2019

MUSIM KATA-KATA, KAU TENGOK IBU

ibu yang rindu, mencari kamu
kamu yang puisi, dicari aku
antara larik-larik sahaja. diammu arus
lebih mungkin mencintai perihal yang tak dikatakan

musim kata-kata, bunga bermekaran
langit cumbui waktu. ibu yang rindu
temui aku, makamkan bayang bocah nakal
merengek minta susu

surabaya, oktober 2019


KILOMETER RINDU

sajak ini membiarkan dirinya bebas menafsir
kekasih, sunyi rekah dari bola matamu, menandai gairah
terbakar rindu di hulu sungai jantungmu

penyair, mereka yang terjaga
diangsur kata-kata, bergegas meramu bahasa
ke dalam jalan sunyi pertapa

apa kau cari, kenangan
menandai ribuan jejak kita yang tandas
diperam air mata luka
: tubuh yang khusyuk
membasuh keinginan fana
atas nama kata-kata

apa kau cari, penyair
darah kitab puisi yang terbunuh kesepiannya
atau bayang-bayang lampau terkenang tanah kepulangan?

surabaya, oktober 2019


SAJAK YANG PENGHUJAN

di manakah semayam terakhir cinta yang dikultuskan
selain laut terkubur pada bola matamu

seseorang menyeduh kopi
mengingat kekasih
berbaring musim
di pangkuannya

cinta akan lengkap
tanpa celoteh rindu
kita lebih dulu hafal
sajak yang ditulis
bait-bait hujan

surabaya, oktober 2019


PEMBACA AIR MATA

karena kesedihan
membacamu
seperti puisi

aku ingin jatuh
luruh, mengeja kitab-kitab
pengisah nubuat sunyi

karena kesedihan
gigih mencari celah
memahamimu seutuhnya

aku ingin sebuah sajak
ditulis atas nama air mata

surabaya, oktober 2019


BIBIR YANG PUISI

duh, bibir siapakah?
menanam sinyal rindu

apakah ia puisi
yang diksinya seksi

apakah ia kekasih
dengan kata-kata yang dahaga

mengucap perumpamaan kisah
di bibirmu, serupa kesakralan

puisi yang sunyi

surabaya, oktober 2019


BERGURU KATA-KATA

mula kukenal sajak
kata-kata saling berontak
melawan
tak ingin diam

apakah sajak
adalah pertapa
mencari belukar cahaya

apakah sajak
adalah rahasia musim
mencari rumah singgah
sepulang pencarian
alamat tuhan

surabaya, oktober 2019


KITAB SENJA

puisi ini hadir
dari kerahasiaan cium
mula-mula adalah cinta:
dari heningnya kau baca tuhan
menebar bibit-bibit hujan
menggulung sedih sendiri

surabaya, oktober 2019


SURAT TERAKHIR

hanya sajak
yang mengetuk jantungmu, perlahan
nganga malam membuka tabir penciptaan
dari sajak ini, segala yang luka
menemu jawab

hanya sajak
menulis frasa murung dua pejalan
sedih siapa? kata menjelma larik mati

segala yang fana
bermuara dalam sajak

hanya sajak

surabaya, oktober 2019

Muhammad Daffa, lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. puisi-puisinya tersebar di sejumlah surat kabar lokal dan nasional. Buku puisi tunggalnya TALKIN (2017) dan Suara Tanah Asal (2018). Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga.

Bagi Siapakah Sajak Musim Semi Tergubah?

0

TERHENTI DI SEBUAH HUTAN KECIL SAAT BERSALJU

Siapa pemilik hutan ini sepertinya kutahu.
Ia berumah jauh di desa sebelah sana itu;
Tak akan terlihat olehnya aku singgah sebentar
Memandangi hutannya penuh ditutupi salju.

Kuda kecilku pasti terheran-heran
Mengapa berhenti jauh dari perkampungan
Di antara hutan terpencil dan danau beku
Adalah senja terkelam di sepanjang tahun.

Kudaku kelonengkan bel mungilnya
Mungkin bertanya ia adakah yang tak biasa.
Suara lain terdengar hanyalah sayup sapuan
Dari angin lembut dan guguran salju di udara.

Hutan ini alangkah menawan, dalam, dan gelap.
Sayang aku ada janji yang tak boleh tersilap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap.




BURUNG KECIL

Sempat kuberharap burung itu pergi
Tak berkicau dekat rumah di sepanjang hari
Sudah kutepukkan tangan dari pintu mengusirnya
waktu terasa tak kuasa menahan kesal lebih lama

Salahnya pasti padaku ada juga
Burung dan nadanya tak patut jadi terdakwa
Dan tentu ada yang keliru denganku
Jika ingin membungkam setiap lagu



SEBAYANG AWAN

Sehembus angin mendapati bukuku terbuka
Lalu mulai membolakbalik helaian kertas, mencari
Sebuah sajak yang dahulu pada musim semi
Kucoba sampaikan: tidak ada di sini yang seperti itu

Bagi siapakah sajak musim semi tergubah?
Sehembus angin hanya bergeming menjawabnya
Maka sebayang awan melintasi wajahnya, cemas
Aku membuatnya terkenang kangen akan tempat itu



KE LADANG

Aku akan keluar menyiangi ladang
Hanya singgah mengangkat timbunan daun
(dan sejenak menunggu alirnya bening, mungkin)
Ku tak bakal lama—kau ikutlah bersama

Aku akan keluar, menyapih si sapi kecil
Yang masih berdiri di sisi induknya, betapa mungil
Tubuhnya bergetar limbung kala dijilati induknya
Ku tak bakal lama—kau ikutlah bersama



SEJUMPUT EMAS

Debu selalu merubungi kota
Kecuali bila kabut laut meredakannya
Dan aku salah satu bocah yang diberi tahu
Boleh jadi ada emas di antara bubungan debu

Seluruh debu yang diterbangkan angin tinggi
Nampak bagaikan emas di langit senja hari
Tetapi aku salah satu bocah yang diberi tahu
Bahwa sungguh ada emas di antara debu-debu itu

Begitulah hidup di Kota Gerbang Kencana
Emas membubuhi minuman dan makanan kami
Dan aku dulu salah satu bocah yang diberi tahu
“Kita mesti makan habis sejumput emas itu.”

Catatan:
Kota Gerbang Kencana = Kota San Fransisco yang terkenal dengan jembatan Golden Gate-nya. Dahulu kota ini menjadi sasaran perantau berdatangan untuk menambang emas.


======================

Diterjemahkan dari The Poems of Robert Frost, The Modern Library, New York, 1950 oleh Hendragunawan S. Thayf, mahasiswa Fakultas Filsafat di Universitas Gadjah Mada. Saat ini bermukim di Yogyakarta.

Sehijau Engkau yang Masih Malu

0

MEKAR BUNGA PADI

bebunga padi
baru saja
bermekaran
harumnya tiba
di jendela kamar
hijau di tepiannya
sehijau engkau
yang masih malu
kala aku terbunuh
lalu melepas nyawa
karena cinta
mekar sebegitunya
padamu
pada bebungamu

September, 2019


ELEGI

andai para petani tembakau
adalah penyair-penyair piawai meracau
tentang suka, juga galau
menjadi bapak-ibu berlembar hijau
maka musim termulia yaitu kemarau

tetapi petani tetaplah petani
semua musim adalah bratawali
meski tembakau, mereka miliki biografi
yang dipatri tak beda dengan kedelai, juga padi
kisah mereka hanya tentang bangun pagi
berkeringat di sengat matahari
tengkulak datang mengibuli
miskin itu pasti

atas kebaikan Tuhan
; mereka pun cepat mati

Oktober, 2019


TAKZIAH
— Anshori Baru Saja Kehilangan Bapaknya

Lipatan bendera kuning masih kentara. Ungkap-ucap ikut berduka
masih hiasi telinga. /Kadang terdengar melolong panjang sarat lara,
kadang diseling gurau tawa, ingatkan bahwa  
kematian adalah milik siapa saja. Walau masa tibanya
serupa tanda tanya; seorang nabi pun tak tahu apa jawabnya.

Memandangi wajah anak muridnya yang tampak riang meski datang
dalam barisan duka pemakaman, Anshori seperti melihat bayangan
dirinya dalam cermin buram. Betapa kemiskinan tak harus ditangiskan.
Sepahit apa pun keadaan pun layak disenandungkan. Sebagaimana pilihan
yang dibuatnya untuk senantiasa bermimpi menjadi pegawai negeri
di ayun keterbatasan diri, juga keiblisan negeri ini.

November, 2019


TETEMBANGAN PURBANI

di ayunan tembang macapatan
debur ombak lautan hanya kenangan
mijil ingatkan tanpa memanggil
betapa yang lahir akan merasa gambuh
bersua asmaradhana, bertekuk pangkur,
sampai tiba kalamangsa bagi megatruh
kekasih pun serupa dwija
:”Nalikane mripat iki wis ketutup,
Nana sing bisa nulungi,
Kajaba laku kang luhur,
Kang ditampi marang Gusti,
Aja  ngibadah kang awon.” *)

November, 2019

*) lirik salah satu tembang Megatruh

Terjemahan:
Di saat mata ini sudah tertutup,
Tidak ada yang bisa menolong,
Selain amal kebaikan,
Yang diterima oleh Tuhan.
Jangan berbuat hal buruk.


PERINGATAN DAUN

peringatanmu tempo hari
tiba ketika kering adalah pantai
di lelahku yang terayun lantun kecapi
kau torehan warna Tuhan di kulit pori
lalu masuk dan masuk dalam sekali
ku rasa bahwa cinta-Nya tak selalu mati
; “Siapa engkau?”
tanyaku di antara air mata sesal berarti

“Aku adalah rumah bagi
pelayar yang masih sudi menemui Tuhan,
apa kau membaca sayangnya?”

Samudera di depan pun ku belah dengan telanjang.

November, 2019


TAK SEIKAT

  tak menanti lama
akhirnya terlepas telah kenangan
akan sebuah kota;
    dingin namun berkerabat
    penuh ingin namun tak seikat

beranjak lalu menjauh
dari bayang-bayang teduh
dulu di masa-masa itu;
   “Pepohon rindang sepanjang
     jalan di Landungsari menyaksikan,”
    tak mungkin keabadian
jatuh di usia perjalanan
yang memiliki pertemuan;
    “Ku pinta perpisahan,”
     jauh sebelum serupa kau bisikkan

Desember, 2019


DARI JANTUNG KOTA

dari jantung kota; kesaksian akan terangkan
langit di atas ruam luka

yang mengatup pun ternganga

bebatang palem dengan daun melambai
juga mengingatkan – masa terpendam
yang ditindih dan ditindih oleh narasi berpanjangan
sampai kenyataan dirompak berulang
tanpa jeda kemudian hilang

yang ternganga pun mengatup

“Di boulevard ini mungkin kita
sedemikian keji mencurangi
peradaban sebuah kota?”

yang mengatup pun ternganga

ruam luka memang tak laik dipelihara
dari jantung kota; kita dilarang lupa

2019

======================

Anjrah Lelono Broto, tinggal di Trowulan-Mojokerto. Aktif menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa (berbahasa Indonesia dan Jawa). Di antaranya Media Indonesia, Lampung Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Harian Surya, Pojok Seni, Galeri Buku Jakarta, Roemah Cikal, Jaya Baya, Panjebar Semangat, Kidung (DKJT), dll. Sekarang bergiat di Lingkar Studi Sastra Setrawulan (LISSTRA)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada Akhirnya Kau Kembali

0



Tabarak, Tabaruk

Aku sedekahkan diriku
untukmu. Kau sedekahkan dirimu
untuknya.

Ia murtad demi cinta
kepada, yang ia akui kekasih, tapi
telah miliki kekasih.

Pada akhirnya kau kembali,
seperti salju jatuh di pelataran masjid.
Sebagai ajaran agama baru untukku.

Dan meski telah kupelajari,
aku tak kunjung paham.

(2019)



Fahisyah

Awan dipecut malaikat.
Rum palu untuk kepala kami, kutu di baju takwa kami.

Mereka pembuatnya. Allahu akbar.
Berpijak di tempat yang goyang.

Banyak simpang di sana. Setiap ujungnya
mengarah ke lubang hitamnya masing-masing.

Angkasa— seperti para wanita kami lepas kerudung.
Sesuri sajak pada kulit-kulit kami, rasakan pecutan itu.

Arakan awan yang diarahkan ke utara.
Sudut lesat, bagi tiga buah mata angin.

Mereka genggam rum palu itu.
Mereka rendam baju takwa itu.

Kami pembuatnya. Allahu akbar.
Berkat terinjak tepat di ubun-ubun.

Angkasa— tetap seperti wanita kami lepas kerudung.
Mungkin itu sebab awan, enggan jalan, terpecut malaikat.

Tapi kami, mereka, kini berada sama di tengah simpang.
Untuk jemput lubang hitam masing-masing.

(2019)




Marjik

Fajar rekah, masyaallah.
Remah yang dulu, subhanallah.

Sisa racun dosa, subhanallah.
Perak pahala itu, alhamdulillah.

Menujuku di sini, menujumu di sana.

Ya Allah,
Magrib serupa selimut terbakar,

sayap-sayap malaikat ikut terbakar
di sebuah malam

pada sebelah wajahku
yang hijrah

seperti putih kupu-kupu
di suatu sore
dengan gerimis terhenti
di udara:

“shollu ‘alan nabi.”

(2019)



Barua

Wanita yang kini bercadar itu
membawa pedang untuk kekasihnya,
mantan kekasihnya.

“Aku hendak membunuhmu.”

Kekasihnya yang bagai udara itu
bernama dosa.

“Kau tak akan pernah
bisa membunuhku.”

Keesokan harinya, ia datang
membawa doa. Doa yang telah lama
ia lupakan.

Maka terbunuhlah kekasihnya itu,
Mantan kekasihnya itu.

Dan tumbuh di tubuh wanita lain.
Yang tidak bukan adalah dirinya juga.

(2019)

==================

Hakaik lahir di Ampenan, Lombok, 18 April 1996.  Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di UIN Mataram. Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Berdiam di Bumi Penuh Janji

0



Epitaf Musim

Kilau kala miris terbata
Barangkali diam di malam
Entah, entah apa sebab doa

Pulang, diam, bersuara,
dekat puisi yang mengaji.

Mengungsi ke amperan intuisi
Angin dari timur teriak lama
Berdiam di bumi penuh janji

Suara air, suara bocah, saling
menyiapkan mainan khayalan
Memilih fatamorgana sia-sia

Mencari siluet diksi seadanya.

Sumenep, 2019



Kemarau

Jumpa hura kedip mengincar
lima deru amarah waktu.
Kuntum menyeberang mata
berserah julur ke alun-alun.

Daun-daun, jarak-jarak, kita,
kering layu gugur menguning

Kemarau membakar duri
Menusuk tubuh-tubuh
Tertusuk timangan makna

Introspeksi, datang menyeleksi
kemarau-kemarau yang merantau.

Sumenep, Oktober 2019



Daun

Lambai tubuh daun merayu
di antara penat cuaca mata kata
Jingkat gugur ke tanah luka

Nun, mengaji hunian angin
Mencabik serumpun rumput
Hingga ada jeda kita, bersahaja.

Jejak angin tangan meniru mata
burung, melangkah terbang, oi!

Isap gundah lelah merambat
menaruh jejak tangan sajak

Bahkan, meramal kesepian
Ia, merindukan siluet cuaca
Ia, terkepung pundi peristiwa

Sumenep, 2019


Percakapan

Mata musim mengiring iga
timangan buih perjumpaan
Sebagai isyarat tangan Tuhan

Sepucuk janji yang terbuka
Meninggalkan temu jarak
Yang diringkus jalan tapak

Jejak kaki tubuh beraksi
di lamat lorong aba-aba
Semua, cakap dalam tatap

Tubuh tangan daun melamun
Kanak-kanak diam di amper
Sepeda beranjak pergi, diam.
Kadang, semua orang biasa gila
Sesekali tangis meraba peristiwa.

Sumenep, 2019



Mata Langit

Jauh sebelum jarak ia tapak
Dekat sebelum mendekap
Ia tabah di musim perkara

Tinggi jauh menjulang bayang
Awan tertutup putih redup.

Ada nyawa yang tersisa
dua ratus lima puluh kata

Janur melambai, bertabir
kemarau senyum sayup waktu
Bercerita tentang asmara.

Telanjang terang di langit tenang
Berserah pada lambai bambu
Silau, berjejak langkah tabah.

Sumenep, 2019


Tuhan

akar tubuh hujan bertanggal
melamun terik mata batin.
hujat dalam titip tatap tutup.

oi, ia lagi laga. tanggal tinggal
tunggal. hanya kami kemah di
koma, melumat lamat alamat:
berserah resah gelisah, berserah
rusuh seribu raba rabu. Tuhan.

secawan, puri riang bersua datang
merombak kegelisahan nan ayalan
meringkik rukuk doa yang terbata.

munajat kasih berkhalwat nafsu
pada-pada kelepak surau-surau abu

Sumenep, 2019


Oi

Oi, mari jangan ai, bangkit!
Oi, bersujudlah walau lelah!
Oi, berserahlah meski patah!

Mudah berserah susah tabah
Milad hari fana melingkar doa
Mata batin kasih bersua. Oi!

Surut dalam perlipur matahari
Menyublim origami merah muda
Melipat dengan tangan tanda seru

Oi, panggillah angin dan angan
Agar kenang tak meriang, panggil!
Agar sepi tak berada dengan nada

Buih kasih mata batin bersikeras
Melawan jumpa jejak kuil sejarah
Isap tangan diam merelakan. Oi.
Oi. Simpanlah kaki tangan waktu
Sebagai hunian derai-derai sendu.

(2019)


==============

Saiful Bahri, kelahiran Sumenep-Madura, O5 Februari 1995. Ia mengabdi di Madrasah Al-Huda. Selain menulis, ia juga seorang aktivis di kajian sastra dan teater “Kosong” Bungduwak.

Tulisannya pernah dimuat di koran Lokal maupun koran Nasional, seperti: Jawa Pos, Republika, Riau Pos, Bangka Pos, Palembang Ekspres, Radar Madura, Radar Surabaya, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Denpost Bali, dan Ideide.id.

Memeluk Tubuh Hujan

0



Definisi Lain Puisi

Puisi adalah jalan lain yang dipilih
untuk bahagia

Puisi adalah catatan lain yang ditulis
untuk keabadian

Puisi adalah bunga mekar yang tumbuh
di bebatuan waktu

Puisi adalah lubuk terdalam
dari sungai rindu   

Puisi adalah pertemuan antara
saya dan engkau

Indramayu, 2019 


Memilih Warna Hujan          

Sore pun ditumbuhi hujan
Tetes-tetesnya menjadi daun
Payung pelindung bunga

Hujan hari itu memiliki banyak warna
Saya pun memilihkannya untukmu
Biru muda seperti warna gaun

yang kaupakai

Saya pun memeluk tubuh hujan
Hangat seperti nyala puisi
Daging kelinci bakar 

Hujan adalah bahasa yang tercurah
Doa-doa yang dipanjatkan
Dan cara Tuhan menjawabnya

Indramayu, 2019



Epos Kita

Kita ceritakan hanya dalam puisi
tentang buah rindu,
epos kita dalam rahasia dulu.

kau matahari kehidupan hangat.

Pada cahaya prisma yang terpendar jatuh
diam-diam saya temukan,

Tadi malam membuka tulisan kau
seribu ingatan tergantung,
bait-bait rindu di dinding kenangan.

Bahkan segelas susu manis
tumpah di aliran bibir,
kita menyelam ke dasar kolam.

Daun, ranting, dan putik
dipeluk desir angin,
bunga-bunga mekar bergetar. 

Melimpah buah anggur merah
daging belarik-larik,
memerasnya menjadi lagu cinta.

Indramayu, 2019 



Omeros Kita

I
Seusai perbukitan itu, kota-kota kecil,
dan pelabuhan yang juga kecil,
di sanalah omeros kita.

Dermaga bagi pelabuhan jiwa

sebelum lautan kehidupan
segenap riak ombak dan gelombangnya.

Sebuah bahtera masih terpancang,
esok atau lusa kita akan berlayar
berenang bersama ikan.

II

Tahun adalah kebersamaan kita
bumi yang berkeliling bagai jarum jam,
menuliskan perjalanan itu.

            Kucium harum waktumu,

meraba bagai laba-laba menyulam jaring
barak yang melambungkan mimpi.

Semilir angin menggeraikan daun matamu,
mengantar bau gerimis ke luar jendela
jatuh di taman bunga.

III

Saya menyadari tak lagi membuatkanmu puisi,
Membacakan dongeng sebelum tidur
atau romantisme epos gilgames.

Januari telah jauh kita tinggalkan
aih, tak terasa Desember menebal bagai salju
mengangkat kesadaran kita.

            Cahaya di permukaan sungai,
memantulkan bayangan kita
dengan senyum bahagia

Indramayu, 2019



Hamlet Kita           

Dalam redup sorot lampu
Kita menaiki tangga panggung

Apa yang harus diperankan
sebenarnya?

Kita tak sedang mementaskan
tragedi bukan?

Dan skenario itu adalah
dawai-dawai yang menegang   

Saya mengandaikan gema
segera mereda

Dan perlahan adegan musim semi
mengganti aroma guguran

Lihatlah kebun yang kausulap
di atas pentas

Malam masih sejauh perjalanan
Memetik garis riuh tepuk

Indramayu, 2019



Lagu Cinta Kita

Mari kita menulis lirik
Larik-larik pelangi bergetar di bibir
Saat tatapan saling memberi kasih
Seperti matahari dan bulan
Bagi putaran bumi

Mari kita ke taman bunga
Memetik dawai pada tangkai gitar
Serbuk sayap lebah naik turun
Mendendangkan harum nada
Madu terkapar di bibir cangkir

Saya di sini memeluk bulan yang kau peluk
Kau di sana mengiris daging buah mangga
Manisnya seperti puisi

Kita bersama dendangkan asmara
Di padang rumput, pepohonan, dan bukit kekasih
Dan akan selalu ada waktu untuk itu

Indramayu, 2019



Hari Remaja Kita  

Dengan banyak cinta hari remaja kita
Seperti paruh burung memecah biji-biji buah
Melemparkannya pada tanah ohon liana

Merambat ke langit dunia

Dengan bendera cinta
Menebar kibar di mana-mana

Kepada saya kaubuatkan sekeranjang bunga
Memberi keindahan surga di kamar

Sewangi puisi yang kaubaca

Mari meneguk matahari cinta
Atau menggigit rembulan biskuit

Kita menjadi remaja selamanya

Indramayu, 2019   




===========
Faris Al Faisal lahir dan tinggal Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Namanya masuk buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia Yayasan Hari Puisi. Puisinya mendapat Augerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI dan HPI 2019. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (FORMASI). Menulis fiksi dan non fiksi. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018), dan Antologi Puisi Dari Lubuk Cimanuk Ke Muara Kerinduan Ke Laut Impian Rumah Pustaka (2018).

Tulisannya tersiar berbagai media, antara lain seperti: Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Koran Jakarta, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Haluan, Suara NTB, Riau Pos, dll.



Kamu Jantung Puisi

0

Nyanyian-nyanyian Luka

suara                                                      paling merdu
tangis para suami,     tinggal dalam mimpi buruknya.
kehidupan adalah permata mencebur lembah lumpur
tanpa ikan,                 kecuali tulang-tulang kematian.

dengarlah        nyanyian-nyanyian luka
keluar dari      dapur ibu dan nenek kita
tinggal air mata,     dan raut sedih-duka
siapa negara                 bagi yang lapar?
siapa bangsa             bagi yang melarat?
siapa merdeka bagi yang terperangkap?
siapa mereka semua bagi keluarga kita?
saudara?                                     teman?
                          kekasih?
                             atau
      daging yang dibiarkan membusuk?

kita perlu bertanya                pada bendera
berkibar di depan  rumah dan pinggi jalan:
“darah siapa yang               tumpah di kain
Presiden?                                      Menteri?
                               dan
                            Dewan?
hingga tergantung   di tempat penjemuran
dan angin menerbangkannya
seperti layangan              merah anak kecil
                                                yang punah”

dengarlah nyanyian-nyanyian        luka
petani. terpisah dengan sawah dan bibit
tanam                      mereka
tinggal sejarah hijau sawah
dan musim                panen
tinggal               nama

siapa milik  tanah air?
                 dan negeri?
                dan bangsa?
kalau bukan mobil-mobil  dan pemiliknya
tak mungkin para kuli yang menjemur diri
demi                                     anak istri
tak mungkin tukang becak yang tidur
saat                                                            penumpang sepi
tak mungkin pencari rongsokan                         yang sibuk
dengan botol plastik dan kardus bekas sampah toko China
tak               mungkin!

jika sesuap nasi adalah buah apel kerajaan
rakyat       adalah sebenar-benarnya semut
memburu,                    meski sisa kemarin
dengan                                   rapal mantra:
“kepala negara, adalah buldoser yang mendorong ke jurang
tumpukan rumah tergusur     dan tempat maut para busung.”

Probolinggo, Agustus 2019

 


Puisi Tanpa Kehidupan

——kepada penyair romantisme

bagaimana                                      mungkin
seorang ibu                  menyusui bayi
sangsi         hutan terlalap
tanah                          dan binatang musnah?

bagaimana                                      mungkin
redaktur koran, majalah akan sadar?
jika para penyair hanya bercerita: cinta
               [dilema dan mabuk asmara]
sedang guru-guru sastra hanya bahas abjad-abjad sementara
lepas dari derita pekerja                    dan kaum gelandangan
           [sampai tumbuh lelumut campak].
                bagaimana            mungkin
                          m   e   r   e   k   a
                           terselamatkan?

di Atas Kapal, Agustus 2019

 

Kesaksian Pujangga

aku lihat air tawar:             danau, sungai, rawa,
kotor       jadi   limbah   selokan      kumuh-bau
menyusup rumah ikan-ikan dan membunuhnya.

hutan                                                      terlalap
     hilang      dari sarang       burung-burung.
          matahari menebas kulit para petani
    sedang para pemuda dan petua berkemeja
di sebelah sana, mengintip gerombolan pelacur
telanjang                                       ganti pakaian.

lima              puluh              tahun               lagi,
  terjadi sekarang,               hotel jadi rumah tua
          pertemuan hantu-hantu kesepian
  dan    mobil parkir di bawah lampu jalan mati,
      anggap              kamar               baru
  [cinta memulai madu kasih tanpa kemanusian]
bertirai                   kaca                             hitam.

lalu bagaimana, dengan pabrik-pabrik                      menjinjit
pundak                                            mesin-mesinnya?
sedang puisi                 dan nada-nada                              gitar marah
bungkam          terhalang toko dan                bangunan      tinggi lain.

nenek kita menatap dari atas puncak                    gunung yang hilang
dan para  dewa haus                     tak bisa minum air laut
tercemar.          segala sampah dan bangkai
tangan tanpa                                 tanggung jawab.

lihat!                          di atas batu besar itu
seorang penyair melukis                            wajah cantik
                                 tubuh perempuan
dan di belakangnya anak-anak                       kelaparan
tak terjamah oleh                         kata-katanya.

[jika       mutiara         tak        disodorkan          kepada        mereka.     lalu       apa
yang        ‘kan         disajikan;          kalau         bukan      racun    dan     kematian.]

tujuh  hari ‘kan jadi pesta orang-orang munafik
sambil merapalkan                                               doa palsu.
dan piring dan gelas        dan sendok dan garpu
kotor.                                              menyerupai hati mereka.

Dan
AKU INGIN BERBICARA :

“wahai  para  guru-guru, sentuh  hati  para  murid  dengan lembut dan kasih sayang. jangan  bakar  bulu  kulit  mereka, dengan  api  yang  dibawa  dari  rumah penuh  dendam. ketuk  pintu  mulut  agar  terbuka,  dan  jendela  telinga  agar mendengar  kata-kata  yang  tak  tenggelam  dalam   caci   dan   maki  kehidupan.”

jangan tunggu dandang                             memasak beras
                  di atas tungku janji para partai.              sebut dan anggap komplotan
itu sebatas
musik                                                            para pemula.
                        jangan dengarkan!
lagu-lagunya tak ada yang bagus. tapi kalau mau telinganya rusak,
jantungnya rusak,   perutnya rusak,                      mulutnya rusak,    matanya rusak,
ya silakan!

namun

KALIAN PERLU DENGARKAN NASIHAT INI:

“mereka   belum   bisa     menciptakan    lagu    bagus   dan     baik,         ternikmati      semua        kalangan — bahkan      tersebar        sepanjang        masa. mereka hanya bisa menciptakan lagu penghibur khusus presiden yang sudah berganti-ganti,  namun      tak     bisa   selesaikan   masalah   dalam   negara. mereka hanya  bisa itu. mereka hanya tahu itu. mereka hanyacukup di situ.
terlepas                          dari                     derita                   para                   rakyat.”

tunggulah!                 seorang pujangga ‘kan segera tiba
sayat                  hati manusia terkutuk
sibuk dengan jabatan dan                       pangkat-pangkat
bertangga di atas pundak dan dadanya.
                                                                ‘kan dimusnah
‘kan dikejar
sebagaimana elang memburu sepasang merpati
di langit sampai                                                   tercabik
terdekap                                                  jari-jari kakinya.
paruh yang tajam ‘kan terus menyelami
                                                        daging segar mangsa

meski dari tiap penjuru mata angin
unjung                                               senapan mengintai.
ia ‘kan tetap       mencabik—mencabik—mencabik
sampai                                                      tinggal tulang
terbuang,                   termakan anjing milik petapa suci
turun dari                                                    Goa Munara.

Probolinggo, Agustus 2019

 

Lapar

aku     lapar. jika  makan
adakah nasi di dapur?


sepiring nasi      bungkus
lebih berharga ketimbang

                        menunggu
                 menunggu
       menunggu
janjimu

sekotak roti    berjamur
lebih berarti ketimbang
jagung dan    padi yang
kau tanam
     kau tanam
             kau tanam
                 di mimpi itu

daun-daun bunga                            bakung
terbakar api, makan tangkai dan akar
madu hilang          dari putik
kuntum gugur belum mekar
angin dan lebah pulang ke negeri dongeng
tempat surga:      taman mahluk tanpa dosa
dan petinggi-petinggi yang kelola                 perusahaan
sedang biarkan mereka terjebak dalam jurang kelaparan
tanpa tuang                        segar susu
dalam kering tenggorokan dan dahak
terus menendang, ingin muntah di lubang
hidung,             tempat bau busuk tersedot
dan tersaring      oleh bulu lebat
hitam, tiap dinding goa sengsara

jadi kalong                 gantung dalam gelap
jabatan, dan bawa terbang rasa sakit
ke puncak langit,                                     ketika istana runtuh-rata
dengan gubuk-gubuk yang digusur di pinggiran Sungai Ciliwung
nyatu dengan tanah darah
luka.                    Menjerit
demi lahan—demi uang—dan—demi jabatan
dipertahankan di atas penderitaan          rakyat

aku     lapar.   mereka pun lapar.
jika makan, adakah nasi di dapur?
dan sejulur tangan kepala negara?

                           Bali, Gianyar, Agustus 2019

 

Tangis Sungai

jika air mengalir    adalah impian
jangan salahkan ikan mata beling,
biawak         beranak,
dan telur-telur  katak
menolak pasir kering

janda dan bunga desa
harus ‘tap bermain di atas batu sungai basah
dengan                               tawa suara merdu
di balik air terjun dan rongkang
           persembunyian.

jangan hilang pada musim kemarau panjang
rumput                                   dan lalang mati
sebelum angin bergibas kencang
tabrak daun      dan ranting kayu.

sungai akan               sepi
tinggal lumpur jadi tanah
tinggal tulang jadi makan rayap
tinggal                             tangis dan mimpi yang hangus.
hujan datang      sekejap.
permisi pada bangkai-bangkai
geletak di atas batu      gersang
berselimut  daun gugur
‘nanti musim baru lahir
setelah            kematian.

siapa yang seharusnya menjadi air?
jika bumi      (tanah air)         mulai
membunuh                di kekeringan.

                           Probolinggo, Agustus 2019

 

Catatan Terakhir Pertemuan

                                   —— Zainal Hakim

tamu akan pulang                ke rumahnya
mengutuk pertemuan dengan perpisahan
karena yang                  datang akan pergi
dan yang hidup                         akan mati.

sedang di sebelah sana
tanah              kuburan
      memintamu
        terpenjar
           dalam
         kematian.
         tenanglah….
         tenanglah….
jangan kau  rindukan
tempat bunga-bunga tumbuh.
                             diam abadi
dalam rencana;
Tuhan                dan malaikat.

                                        salah terhormat
kepada pertemuan yang mengajari ikhlas
dalam menyikapi                    perpisahan.

                                   Probolinggo, 2016

Cerita Lama

—— kepada B. B.

peran orang tua adalah      nasihat nabi kedua
membunuh semak duri tumbuh dalam rumah.

kelahiran penentu siapa yang dipelihara!
malaikat dan            iblis diskusikan diri
menjadi         siapa?

jika siang menutup mata.      biarkan!
jika malam keliru berbuat. benarkan!
jangan menagih janji yang       sudah
rampuh           dan mati
rawat tiap bunga lalang
biar rumput tumbuh di halaman
petik                      bunga mekar
jangan tebang       sebelum usia!

biar sepiring nasi mengisi
perut kosong    anak-anak
dan segelas air putih         hapus
kemarau dalam tenggorokannya.
kehidupan akan lahir dari kedua telinga
dengan tangis ibu                  dan bapak
bukan meminta keringat otot-otot  batu
kembali,            bertukar air tebu.
kepada mereka janin harus percaya
orang tua adalah            nabi kedua.

                 di Atas Kapal, Agustus 2019

 

 

 

===============

B. Soegiono, lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo, tanggal 11 November 1996. Kini mengembara di Singaraja, Bali — menjadi seorang penyair, Buku antologi puisinya berjudul Saga Mentari. Tulisan-tulisannya pernah termuat di berbagai media massa Indonesia: cetak maupun elektronik; antara lain, Malang Post, Bangka Post, Rakyat Sumbar, Radar Bromo, Kabar Madura, Litera, Tatkala, Nusantara News, Flores Sastra, Biem.co Komunitas Kampung Jerami, Serikat News, Nyimpang, K awaca, Puan.Co, Berita Baru, Mandarnesia, Kumpulan, Kabapesisir, Takanda, dan Galeri Buku Jakarta. Salah satu pendiri “Jaringan Sosial Budaya”, sebuah platform yang mengintegrasi gerakan sosial, kesusastraan, tempat berproses kreatif, tempat berkesenian (tradisional dan kontemporer). Juga menerbitkan buletin setiap bulan bersama “Lentera Bayuangga”, yang berisikan tulisan tentang sosial-budaya.

Terbaru

Daun-daun Sepat

Aku mau menceritakan tentang sebuah waduk. Tempat anak-anak kecil di kampungku melempar dirinya sampai ke dalam perut air....

Merekah Meruah Cahaya

Dari Redaksi