Yang Lebih Sunyi dari Sunyi

Semesta Debar Dalam Dada

Merasuk Dalam-Dalam

Menyerbu Lapang Dada

10 Kisah-Kisah Kecil Kafka

Puisi

Home Puisi Page 2

Kisah Pohon dan Bagian-Bagiannya

0



Hikayat Pala

kisahku sampai juga di benua-benua ini
ditiup angin selatan dan angin barat, didendangkan nelayan
memburu marulaga pada bulan  alo kasuang
hinggap ditelinga nahkoda kaparo bersama serombongan kelasi berkudis
menyanding sebotol minuman keras dan peta yang kumal
berteriak-teriak parau, meracau nyaris putus asa
–“ad loca aromatum!”
perjalanan edan untuk persembahan maharaja yang lapar

ini si tua, hidangan rahasia penghuni sorga
mendekam dalam ceruk ceruk lembah
dilindungi mantram-mantram dan dentam tifa
pulau-pulau bukit menjulang, gunung api,
pasir-pasir perak serta laut warna kecubung
gumpalan-gumpalan padat sejarah yang mendadak telanjang

aku si tua, berhasil membuat para jagoan mengidap insomnia
mata caling beling terkesiap menatapku lalu dentam sepatu
anyir angin bersiutan, wangi amunisi, leher meriam yang dibelai
seringai badai api menggasak pantai-pantai
batang-batang lenganku terkayuh jauh
meninggalkan celah lembah, pasir perak dan laut warna kecubung
mengembara dan terbantai seperti nabi disalib di tengah bandar

ini si tua, korban sekaligus pahlawan
jadi penumpang sial dipaksa berlayar ke ujung-ujung jagat
tak kuasa mengutuk apalagi menolak

ini aku si tua, kini tak lagi digdaya
seperti dulu saat sebiji merah coklatku ditukar maharaja
dengan pulau di ujung dunia yang lain lagi





Lungkan*)


Pohon keramat tempat dewa-dewa menaburkan azimat
di pucuk-pucukku orang suci menaiki tangga langit
daun-daun bersayap seerti sajak-sajak rindu
mencari tambatan sauh untuk berlabuh

Dalam lemir daunku kugelar sebuah peta
amsal perjalanan yang diterjemahkan cahaya purnama
warna putih yang melumuri serabut-serabut hijauku
seperti kelokan sungai sejarah asa usul air susu ibu

Simpanlah rindumu pada helai daun-daunku
menyimpan rahasia cahaya sepanjang masa
bersembunyi dalam gericik sungai rerimbun belukar
selubung mantram-mantram paling rahasia
tempat di mana kau bisa menafsir waktu
yang begitu angkuh dalam dekapan
timbunan misteri paling musykil
dalam ingatan-ingatan yang mengerdil
tapak-tapak jejak makin samar dilacak

Dalam gembuk daunku
kusimpan cahaya meski kau tak pernah tahu
karena kini kau begitu asing pada purnama
juga makin asing dengan wajah sendiri
yang makin samar dirajam waktu

*)Pohon yang dianggap keramat di desa Banada, Talaud Sulawesi Utara.

Pohon ini ketika bulan purnama daunnya yang hijau berubah menjadi putih.





Kelor

di ringkih pucuk-pucuk daunku kuwartakan jam-jam keberangkatanmu
persis seperti Bisma yang memilih jam ajalnya sendiri
kutabuh denting-denting rahasia yang selama ini kau simpan di jakunmu
serupa bidadari menari  menodongkan lancip belati
sembari mengulurkan mawar cintanya

anggaplah ini  perjalanan pulang tamasya
dan anak-anak di pelataran rumah menanti gelisah
menunggu sepotong cerita tentang romantika
petualangan putri + pangeran beserta kuda putihnya
sebelum akhirnya menyerah pada mantram penyihir tua





Dua Jerit Bambu Dalam Nasib Yang Beda

~tabuh dara muluk

orang-orang larut dalam selimut
meski gaung bertalu-talu memanggil maut
kuterjemahkan dalam nyaring bunyi di dasar sunyi
bersama jagat yang bungkuk dalam hujan
dan rindu bersujud bersama sepukau nyeri
sebelum esok api membakar diri
menjelma abu larut dalam pedhut
beku dikungkum waktu

~tabuh titir

akhirnya sampai juga pada beringas ini
pada tabuh yang runtun dituntun malam
membara serupa gurun kerontang yang kejam
syahwat pemburu memburu anyir darah
hanya bumi yang ihlas menampung pusat panasnya





Membaca Urat-Urat Daun

bacalah dengan keluguan bocah mengeja aksara
meski dengan lidah cedal dan gemetar
bacalah dengan ketekunan pertapa
bersamadi menerka arah silir angin
menjumpa lumut-lumut yang perlahan
mengerak di punggung-punggung batu

membaca urat-uratku dapat kau temukan jarum kompas yang patah
bersama sejarah yang luka dan kampung-kampung kita yang dulu terbakar
di petilasannya bersama-sama dapat kita tanam kembali kebun-kebun bunga
dan akan bisa kembali kau hikmati kisah-kisah cinta bapa angkasa ibu bumi
yang membesarkan benihnya dengan kesabaran ruh petani.





Pisang Bakar Dan Sebiji Trembesi Serupa Khuldi

seseorang di dalam kamar
merajuk dalam mimpinya:
“aku ingin pisang
yang tumbuh di bilik sorga,
ditanam para malaikat,
dibakar dalam rahasia api!”

seseorang entah siapa
menjawab dalam mimpinya,
“tak ada pisang yang ditanam
dan bisa dibakar,  
di ceruk ini cuma ada
sebiji trembesi sebesar khuldi!”

seseorang terjaga dari mimpi,
di mejanya sepiring pisang bakar
telah jadi dingin dan basi
langsung ke luar kamar
pergi ke angkringan
memesan sebiji pisang
minta dibakar di perapian

pisang separo terbakar
mendadak ditinggal pergi
sebelum sempurna matang
karena pandang  matanya
terbentur hitam warna arang



===================
Tjahjono Widijanto. Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan sesekali cerpen di berbagai media nasional. Buku-bukunya a.l: Eksotika Sastra: Kumpulan Esai Telaah Sastra (2017); Metafora Waktu: Kumpula Esai Budaya (2017) Menulis Sastra Siapa Takut? (2014), Dari Zaman Citra ke Metafiksi, Bunga Rampai Telaah Sastra DKJ (Kepustakaan Populer Gramedian dan Dewan Kesenian Jakarta, 2010), Compassion & Solidarity A Bilingual Anthology of Indonesian Writing (UWRF 2009)

Diundang dalam berbagai acara sastra, antara lain: Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Cakrawala Sastra Indonesia (2004), memberikan ceramah sastra di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan (2009), Festival Sastra Internasional Ubud Writters and Readers Festival (2009). Tinggal di Ngawi, Jawa Timur.

Rahasia yang Rontok dari Ranting-Ranting

1



Dongeng Seribu Satu Malam

malam itu di suatu kota yang beku
dari lemari es dongeng seribu satu
malam mengabur diri

tetapi sialnya dia kesasar seumpama
seorang tualang yang lupa membaca
peta atau siut arah angin

apa ia tersesat? Tak ada sahut cuma
hening jatuh embun

tiba-tiba melengking salak anjing dari
arah bukit

dan seorang malaikat salah
ketuk pintu?

apa ia tersesat? Tak ada sahut
tiada seorang pun di luar cuma
angin menyusup membungkuk

Sudah pukul berapa sekarang? Di mana
arah kiblat? Seharusnya ke arah sana
dongeng beku itu mengabur diri

2020


Dialog Kupu-kupu dan Sebatang Pohon

Di suatu hutan yang suntuk,

seekor kupu-kupu mengepak
-ngepak sayap

dari sayap, yang sirip ikan itu
didengus suatu kabar gembira,

penaka yang dibawa seorang
nabi. Hutan dibentang dari warna
wahyu dan malam?

“Tapi.”

Lekas-lekas disangga sebatang pohon,
yang tersisa di hutan itu.

Hutan hanya horizontal. Tiada humus,
serat daun atau lapuk jasad-renik.
Kupu-kupu itu meracau?

engkau beri peringatan
atau tidak beri peringatan,
mereka tidak percaya.

Seketika, pohon itu cengeng.
Ia menangis. Karena hutan gelap
mengangah.

Kau punya lampion? Aku ingin
pergi dari sini, katanya

meski kami justru yang
berbuat kebaikan.

Di hadapan hutan yang suntuk

kupu-kupu ingat sebuah bahtera,
yang selamatkan Nuh dari bah.

Pakai ini. Kupu-kupu itu berikan
sebuah lampion, dan tiga wangsit:

sekali-kali jangan berkata dusta atau
ingkar janji. Atau lalai diberi amanat.

Di hutan yang suntuk kupu-kupu
itu bersinar dan pohon menyungkur
seperti hendak sujud.

2020




Bukit Cahaya

kita hampir tak mengenalnya,
tapi di balkon ini dia seorang
penyapu jalan

saban waktu dia senantiasa
menyapu helai rahasia yang
rontok dari ranting-ranting
malam

seperti Musa di thursina,
atau Isa di golgotha. Anak
yatim itu

suatu malam dia sulut api
di sebuah obor, seketika
itu bukit-bukit bercahaya

“Aku lihat langit lapang bagai
kerajaan sorga. Di sana tumbuh
sebuah pohon lebat.

Pada dahannya, burung-burung
menaruh sarang. Sementara di
sebuah telaga sepasang manusia
bagai orang asing.”

kita hampir melupakan suatu kitab
yang dia terima

“…ini tidak ada keraguan padanya,
Petunjuk bagi mereka…”.

Ibarat cermin. Dia berbicara kepada
dirinya sendiri. Yang sendiri.

Apakah anak yatim itu mengigau?
“Tidak! Dia tidak tidur,” sebuah suara
gaib.

Sejak saat itu di bukit cahaya,
anak yatim itu mencintai malam.
Yang gaib. Yang senantiasa ia sapu.

2020





Bila Rindu Kan Merayu

Bila rindu kan merayu maka
helai-helai hari yang terkelupas
adalah lembar taman berseri-seri

“Kemarilah kekasihku,” berseru-
seru seorang yang rupanya
tak asing bagi kita

:rindu adalah padang-padang
oase, di sana kita terjerembab
ke suatu masa ke negeri muasal

yang terus kita simpan dalam ingatan
dan sanubari seperti kota tua yang
kerap dikunjungi peziarah

Bila rindu kan merayu maka malam
memanjangkan sayap-sayap seperti
sebuah jalan bagi para suluk

bergegas menembus kabut—dibalik
helai kapas itu mengangah sebuah
liang hitam:

di sana ada berpuluh-puluh kucing
berbuluh hijau, kupu-kupu warna
violet, begitu khsuyuk meratib zikir

dan kita sudah kaku kaligrafi atau biji-
biji tasbih yang jatuh hingga ke liang
paling dalam

“Kami menyembut seruanMu,” suara-suara
itu melengking dari trapesium hitam. Atau
barangkali dari dalam hajar aswad?

Bila rindu kan merayu maka kami akan
datang dari delapan penjuru mata angin
menujuMu – memujiMu

2020





Sahaya

/1/

di ambang ini
aku membungkuk sahaya
seraya berharap cahaya

lantaran unggun api sajakku
hanyalah kunang-kunang dan
itu tiada cukup kubilas muka
mengenal rupaMu

/2/

setelah engkau bentangkan
bianglala di punggungku

hei, itu sederhana. Rukuklah
bersama orang yang sedang
rukuk, kataMu

dalam letup hening aku menyaksikan
segala: nasib, rahasia, maut dan kita
yang satu.

2020





Kukirimkan Sekebat Bunga

Duh, Gusti sudikah engkau
kukirimkan sekebat bunga?
Kan kutulis selarik kata dan
kuselipkan di antara buket

Sekiranya, hal itu bisa membuat
rindu menjalar merambat pada
sepasang lengan daun pintu yang
terbuka seumpama kegaiban sebuah pelukan  

Duh, Gusti cukupkah itu semua? Aku tak
punya apa-apa lagi selain segala adalah
kepunyaanMu

2020

=====================
Ishak R. Boufakar lahir di Kian, 23 Juli 1992. Cerpen dan puisi termuat dalam Antologi Cerpen Bertuan (2016), Antologi Surat  Untuk Tuhan (2016), Antologi Cerpen Mimpi (2016), Antologi 250 Puisi Cinta Terpendam (2016). Anggota komunitas menulis Paradigma Institute. Tulisan-tulisannya diterbitkan di beberapa media, antara lain: di Harian Fajar Makassar, Salam Papua, Ambon Ekspres, dan Majalah Lintas.

Sedalam Suara yang tak Putus

0


Yasmin

dapatkah penebus menempuh
jalan pintas dengan menyeru nyaring
hurufhuruf dari kitab?

dibacakan sesudah matahari tenggelam
ketika sang guru duduk melipat kaki
dan kedua telinganya tak lagi bebas merekam kabar

yasmin
melantunkan ayat
mendatangi kisahkisah nabi
menghamparkannya kembali
sedalam suara
yang tak putus pada tanda jeda

sang guru mengangguk
memberi jalan pada halaman kitab kesekian
membuka dengan doa
seperti penebus yang tak henti berupaya
keluar dari pusaran silapnya

Kembang Kuning, 2019




Ranu

sebelum memejam
ranu mengibaskan embun dari rambutnya
dingin menyapu tengkuk
dihantar kabut gunung yang puncaknya
disaksikan melalui jendela

setelah seteru terbelah
di tanah lapang
mari membuat lingkaran baru
dengan mata yang lebih awas
membedakan mana kawan
dan mana yang turut ingkar

ada yang mengintip masa kecil
dari celah rimbun bambu yang berderak
setiap saat ada yang mengintai mengira kita
hanya anakanak yang tersesat

mari menghambur ke dalam permainan lagi
melompat dari satu petak ke petak lain
terperangkap dalam jumlah yang terus bertambah
kita pemburu sekaligus tawanan

ranu menyelinap keluar

diamdiam mengurung udara dingin
dalam tangkupan tangan
dihantar kabut gunung yang puncaknya
disaksikan melalui jendela

Kembang Kuning, 2019



Gracilaria

membentangkan diri pada hangus tambak
menanti matahari menyilaukan
rimbun talus yang menyerah
mekar
sang penjaring terlalu belia
mengira kau semata berasal dari
merah marga
padahal lumpur turut mengurapi
sejak pertama berbaring di tambak ini
hingga bagai gadis pantai
berkulit coklat
masak
akan ia biarkan menjadi penangkar
nematoda bertubuh kaca atau remis yang terluka
ketika mencari jalan keluar
bagi rasa lapar
barangkali juga berakir
di genggaman penjaring
sesudah mengibaskan lumpur dengan air asin
tertawan dalam radula
:moluskamoluska

Pejarakan, 2019




Nokturna

apa yang nampak hanyalah penggalan
dari titik di kedalaman, dihuni seribu rupa bentukbentuk berdenyut
yang menjaga sang rumah sebagai tekateki

temuan ini mesti disambut tempik sorak
mesti ada gunting pita sesudah pelatuk
memunculkan kembang api

sedang mereka di atas hanya bisa menafsir
gelagat muka, bayangbayang yang urung rampung
dan ceritacerita dari penerus masa silam

mengelabui
mata buta
mengelabui
mata buta

Pejarakan, 2019




Perempuan

sedalam ngilu
di balik kain
dikancingkan
ditutupkan

akan meriuh segala yang gelap
ketika geraian tertangkap satu kedipan
bak cembung dada yang menantang

maka,
mesti ada seorang diutus paling depan
demi mengusung keluar dosa lama
mengulurulur waktu kutukan

sementara ia tetap menempuh
sebuah sepi
siapa mengerti
apakah imam itu?
para lelaki?

tak ada yang berubah
di balik kain
selain ancaman terjerumus
bila sekali saja berani
mendongakkan kepala

sedang ia berharap tersesat
ke masa kecil
kembali memukul air kolam
berkecipak dengan muka

sendiri

Kembang Kuning, 2019



Sajak Dua Bagian

-kepada fikhan ghazali

aku ingin menulis puisi yang paling indah untukmu. tapi aku tak punya apaapa sebagai perumpamaan selain katakata yang kupinjam dari penyairpenyair bohemian, aku ingin menulis kedalaman matamu dengan meniru ungkapan dari penyair yang terkenal karena sajak cintanya. tapi yang terlintas hanya riuh kafe tempat penyair itu pernah memotret buku puisinya yang ditujukan untuk orangorang patah hati. untuk mereka yang dikhianati, barangkali ada juga di kafe ini, katanya. orangorang dengan muka bebal yang berbicara segala sesuatu tanpa mengetahui seluruhnya.

di mana aku mencari katakata paling sedikit, paling pendek, dan paling dalam yang berbicara sekaligus dalam satu petikan? keramaian di kafe itu adalah kekosongan yang timbul dari rasa rindu tak berbalas. kekosongan yang membuatku ingin melenyapkan diri dengan mengubah diriku menjadi jus limun dalam gelas si penyair, serentak tandas dalam satu tegukan. atau aku akan diamdiam menyusup ke jantungnya, yang dipercaya dalam dongengdongeng sebagai muasal rasa sakit dan mendengar ia mengakui sajak cintanya tak berguna samasekali.

aku ingin menulis kesedihan yang paling sedih. hingga ia menjadi nyanyian putus asa dan menyela di keheningan rumahrumah yang pernah kita lewati dalam sebuah tamasya ketika tak ada satu pun yang menjual hiburan untuk kita. aku akan memberitahumu di salah satu rumah itu aku pernah menulis namamu sambil mendengar tukang kebun memangkas habis bayam nyonya rumah yang dikiranya rumput liar. aku akan menunjuk salah satu sudut di halaman yang tertutup tanaman rambat tempat aku pernah mencuci piring dan menyaksikan piring itu pecah serta membayangkan membawa pecahan itu ke hadapanmu dan berkata: ini perumpamaan hatiku yang terbelah. aku akan senang mengulang pengalaman ketika aku mendorong pel menumpahkan busa sabun seember sambil menunjukkan bagian mana yang kubersihkan dan bagian mana yang kuhindarkan sebab aku ingat potongan lantai yang kau jejaki dan kenangan apa saja yang kau tinggali rumah itu sangat gelap bahkan ketika seluruh jendela dibuka. aku merasakan kehadiranmu melalui angin yang membanting pintu, keran yang lupa dimatikan.

juga kepergianmu yang begitu lama begitu sayu seperti potongan bayambayam itu.

Pejarakan, 2019




=======================
Iin Farliani lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Menulis puisi, esai dan cerita pendek. Karya-karyanya telah disiarkan di pelbagai surat kabar dan termaktub dalam beberapa buku bunga rampai terpilih seperti Himpunan Puisi Penyair Perempuan Nusa Tenggara Barat Taman Pitanggang (2015), Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos Pelabuhan Merah (2015), NUN Yayasan Haripuisi Indonesia (2015), Puisi Pilihan Suara NTB Kembang Mata (2015), Puisi Pilihan Suara NTB Ironi Bagi Para Perenang (2016), serta masuk dalam antologi Situs Kesedihan: Puisi-puisi Terbaik Basabasi.co 2019. Cerpennya terangkum dalam antologi Melawan Kucing-Kucing (2015) dan Mata yang Gelap (2016).

Sejak tahun 2013 hingga sekarang masih terlibat aktif dalam kegiatan komunitas sastra Akarpohon Mataram. Kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019).

Sebelum Pesta Berakhir

0




Benih Karmila

Karmila, kembang desa pertama
putri kedua pasangan petani tua
puluhan tahun mengairi ladang
dengan air mata

di tengah kemarau panjang
namanya diambil begitu saja
dari judul lagu Farid Hardja

ia lahir sempurna

entah berapa lama
petani tua itu menanam benih Karmila
padahal tak ada kembang berbunga
hanya batu dan kayu yang semusim lagi jadi abu

bulankah yang melahirkannya?

rambut bijangnya memanjang
setiap siang terurai diterpa angin pantai
saat bukit-bukit digunduli jadi lahan jagung
orang-orang memandang laut dan Karmila

di ladang-ladang tadah hujan
petani dan nelayan menunggu
dikutuk Karmila jadi debu

Lombok, 2019




Menjadi Ayah

di hadapan cermin aku bertanya
akan jadi siapakah darah daging kita
saat ruh yang kudus berhembus
pada tiga bulan pertama

dari perut ibunya aku berbisik,
darahku mengalir di tubuhmu
seperti santan dan minyaknya

dan aku, dan kau adalah yang terpilih
yang terbaik bisa abadi
yang terburuk tak mungkin pergi

kenangan tak memberi pilihan
‘hidup yang kelak kau jalani
adalah langkah yang setiap saat kusesali’

Lombok, 2019





Pagi yang Lain

berikan aku pagi yang lain
tanpa surat kabar harian

suguhkan secangkir kopi
dengan gula semanis mimpi

meja sarapan
sepiring khayalan

di kamar mandi
apapun bisa terjadi

dan di atas ranjang
istriku berseru,

‘tidurlah sayang,
tak ada fakta hari ini’

Lombok, 2019





Nyanyian Musim Kemarau  

seribu dulang tersaji di tanah lapang
perempuan desa memanggul harapan
di atas kepalanya

      setundun pisang matang,
      sepanggang ayam kampung
      telur ayam, bebek, dan puyuh,
      sepiring nasi kuning dan putih,  
      semangkuk kacang asin,
      dan segala yang berkuah, digoreng,
      juga dipanggang

mereka berpesta untuk menyatukan doa
meminta tuhan membuka kolam langitnya

seolah yang diminta telah mengamini
akan selalu ada keinginan
dibalik melimpahnya pemberian

sebelum pesta berakhir,
ladang-ladang tak bertuan
dengan sunyi menyimpan harapan

batang-batang jagung terbakar
berkelakar tentang petani
yang menggunduli bukitnya sendiri

di bukit itu
tak ada yang tahu
doamu dan doa tanah telah beradu

Lombok, 2019





Pengobatan Pakon

arang batok kelapa
tak membakar kaki telanjangnya
agar ia melihat mahluk tak kasatmata
menyakiti dengan halus budak jelata

saat gendang-gending ditabuh
seruling panjang mendengung
ia meneguk air kembang mekar
beralas kain putih
bertabur asap dupa

namun sebelumnya
dengan daun pinang muda
tubuhnya berulang kali didera

rasa sakit menyembuhkan derita
bisik tengkorong kepada ia
sebelum menari di atas bara

ia tahu, siapa mahluk tak kasatmata
merasuki dengan halus budak jelata
sebagai penyakit
sekaligus penyembuhnya

Lombok, 2019




Tenun Purba Pringgasela

tumbangkan dua ekor kerbau
untuk mengibarkan selembar kain purba
dengan tiang dari pohon aren
setinggi sembilan lelaki

kibarkan selama dua malam tiga hari
turunkan sebelum senja
tepat di saat tulang punggung keluarga
pulang dari ladang-ladangnya

delapan ratus lima puluh tahun silam
perempuan penenun pertama di Pringgasela
menyesek benang jadi bekal perang lelakinya

ikat erat jadi sabuk di pinggang
niscaya kau akan terjaga dari satu dua tebasan parang
dengan cinta seputih kapas yang kupintal semalam suntuk
kau harus pulang mengasapi dapur, memberi peluk


anak cucu harus tahu, kunamakan kain ini tunggul
agar kalian senantiasa gemar memanggul
memikul peninggalan leluhur

kain purba jangan kau puja
kami menenun merajut cinta
jadi selimut keluarga

Lombok, 2019


=======================
Fatih Kudus Jaelani, lahir di Lombok Timur, 1989. Buku puisinya berjudul Asmara Ular Kayu (akarpohon, 2016). Kini bekerja sebagai wartawan di salah satu surat kabar harian lokal di Lombok dan aktif bergiat di komunitas rabulangit Lombok Timur.

Perjanjian di Hari-hari Berkabung

0



Kembang Karnaval

Cobalah datang kepada gempita bumi
tanpa harus menumpahkan darah,
ini adalah akhir kegelapan dan kesepian
umat manusia

Langit, telah menanggung pucat tulang,
tak bisa dipandang resah dari juru-juru
hari yang naas. Namun lewat sepasang kaki
telanjang di atas setumpuk buku, kata-kata
mengasuh luap air mata dalam mimpi.

Hati-hati, suara-suara ganjil, mulai menembak
orang-orang gagal dari dalam tanah, lusuh dan retak
seperti seorang tua, meminta hidup baru
untuk membuang separuh pulau, di atas pundaknya.

Setelah haru tersisa di batang pohon jambu,
tapi kian cepat, bunglon gaib merubah waktu
sepanjang zaman, maka, segala sesuatu
menjadi akrab dengan ajal.

Sia-sia, untuk menerima salam pagi, karena pada
akhirnya, urat leher akan dibanjiri kabut usia,
kecuali yang pernah tidur di ranjang hujan
akan mekar pada tempat-tempat rahasia.

2020 




Titanomakhia

Sudah lama, terkepung, lonceng-lonceng gereja,
mengingatkan kita, kepada sepasang mata yang
meledak, tepat, saat hawa sakti tak menoleh ke
belakang, rasa ngeri terbang lagi, kulihat, ia
bertumpu pada sayur-mayur mekar dalam cahaya

Pasar pemantau dari dekat saja susah benar
untuk diselip dalam surat yang terbakar
pada pukul 06:00 pagi, tak ada bau wangi sampai
berlama-lama tinggal di atas pundak setiap anak

Mungkin di hari-hari lain, dengan kaki tergesa-gesa
kita berjalan di permukaan kata, membuat beranda
atau taman yang diambil alih oleh detak jam, tanpa
menyebutkan nama

Kelak jika bangkit, di atas paras negeri, para pekerja,
semangat baru, dari bau garam yang telah dituliskan
laut dengan cara paling diam. Mereka memanggul
balok besi yang licin ke panggung bercadar, di antara
tamsil-tamsil, kita masuk ke pusat abadi

2020




Sindrom Werner

Lewat kerut kening yang ramai oleh pelangi beratus makna,
tafsir telah mengaburkan warna gambar pada lukisan
di tembok dewan, diam-diam dengan tubuh menuju renta,
cemas berupa atap-atap rumah panggung, menyimpan luka.

Banyak orang begitu jijik kepada yang melarikan diri
ke hutan benda-benda, namun, nama kecil dari rasa
lapar dan takut, memberi bunyi dalam kepala yang menyusun
perjanjian di hari-hari berkabung

Inilah pertempuran di atas pucuk rumput ilalang, sejarah manusia
berdiri menjangkau mayat-mayat api dari kota paling sinting,
terimalah pedang binal yang menusuk nafas dan bahasa
bagi segala yang tergelincir jatuh

Kecuali, di sebuah tempat, para penari, mengintip gerak hitam
yang memainkan payung di bandul jendela, mungkin duka,
atau ketentraman air dan tanah dari teka-teki sebuah doa

Ya, memang ada yang membatalkan niat, untuk berangkat
dari gang panjang, menuju kebuntuan batas di hari yang kini hangus,
hanya tinggal jurang tercipta, bila ditutup, letupan-letupan dunia
menjelma bongkahan batu, tanpa kenangan.

2020




Vacuum Cleaner

Hisaplah sedikit cahaya lampu taman itu!
ketika dongeng langit, memberi sebaris
kata mutiara, pada tahun-tahun yang tidak
menamatkan langkahnya di jalan berlobang.

Kemana arah bangku-bangku itu menghadap?
ketika jarum jarm berbaring seumur hidup
di bawah pohon cemara

Bekas luka dan kesendirian menjadikan manusia
seperti seekor anjing, mengangkat kaki belakangnya
kemudian menyembunyikan keresahan ruh-ruh sapardi

Mengalami tragedi di lubuk yang hanya tersedia
untuk bukit-bukit biru dan burung yang terbang
ke rahim sunyi, menunggu rasa gemas
menyerbu kaki langit itu

2020




Penguping

Dekatkan telingamu pelan-pelan
ke jendela plaza itu, maka, kau akan
mendengar bunyi jarum jam
yang omong kosong, mengental,
dalam kaleng-kaleng minuman.

Saat siang hari mengerut di keningmu
rombongan ibu-ibu turun di tepi kota
doa-doa memancar di sana
bersama separuh ilusi

15 menit berlalu, jalan-jalan beraspal berubah
menjadi tempat para ruh menunggu
sebelum beribu-ribu bendera
saling teraduh-aduh dalam radio dan televisi

Nah, cobalah tentukan, di tempat manakah
orang-orang melintasi akalnya sendiri?

2020




Sharp Sandwich Toaster

Pada sepotong roti kering
terdapat warna krem tua dari mimpi,
menjelmalah paras dunia, tanpa lama-lama
juga basa-basi, namun, cukup untuk menerka
jalan bagi debar jantung di sebuah rumah sakit

Rasanya baru sampai di urat saraf
seribu musim dingin, membetot pikiranku,
mencari-cari daftar nama yang lain,
mungkin telanjang, tanpa daun dan telah
patah nilai, semenjak mata ini, luput dari
nyalang pandang.

Lihat, cakar paling bunyi hanya dilahirkan
dari seonggok batu gelap, tetapi kita tak
pernah sampai habis, membikin senjata
di teduh duka mana pun

Kini memang banyak orang bergegas
demi menyentuh bulan dan putih lampunya,
walau jalan ke arah tebing terlalu curam
untuk diinjak oleh tanahliat itu

Tak usah takut, pasanglah hitam yang rata
di tiap kepak elang yang menjadikan penempuh,
mesti, terkotak-kotak oleh harkat, ingatlah bahwa
sesisa air mengalir dari kaki cokelat, telah tumbuh,
dalam lorong-lorong keyakinan purba

2020



==================
Yuris Julian adalah nama pena dari Diandra Tsaqib. Lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Saat ini bekerja di Bandung. Beberapa Puisi saya telah tersiar, antara lain di: Koran Tempo, Bali Post, Suara Merdeka, Radar Tasik, Radar Cirebon, Radar Mojokerto, Kurung Buka, Apajake, Takanta dan Pojok Pim.

Mengeja Diri Dalam Cuaca Dingin

1





Luka Musim

Di bukit-bukit yang sekarat
Syahdu terdengar jerit burung-burung  
Berkabar cerita dan hikayat kematian
Bau abu menghapus jejak di jalan-jalan
di mana ranting patah tergeletak penuh luka

Tiada kukenal lembah hijau
Kelopak mawar yang gugur perlahan
Mengeja diri dalam cuaca dingin
Di waktu yang hampir habis
Ketika kita bahkan tak lagi
Mengenal cahaya matahari
Langit yang selapang jiwa
orang-orang yang tulus mencintai
dan cuaca yang mulai lelah
melerai hal-hal buruk
satu demi satu

2020 




Rembulan Di Atas Bukit

Di tempat ini
Hanya suaraku yang tak kau dengar
Tetapi doaku sunyi yang mengalir
Melewati dingin cuaca
Dan tiba kepadamu

Kadang-kadang,
Saat itu gerimis sedang jatuh
Suaranya mengalahkan denyut nadi
atau malam yang sangat sunyi
Sementara hatiku berdiam diri
mengunjungi pintu-pintu langit
bertabur gemintang

Di tempat ini
Hanya suaraku yang tak kau dengar
Tetapi cintaku terus merekah
Bersemu merah memenuhi udara
Melangkahi takdir yang kau lupakan

Tetap saja
Senyummu tak habis-habisnya
Memunggungi rembulan di atas bukit

2020




Memandang Senja

Mungkin telah habis kata-kataku
Atau puisiku hanya sampai di sini
Tak bisa lagi kutulis apa-apa
Dari seluruh pikiranku
Maka kudengar saja gelegar tasbih burung-burung
beradu salak lolongan anjing
dari sebuah kebun kopi

Oi, siapakah gerangan yang membawa pergi
baris-baris kalimat di ujung gerimis
di tengah halimun yang kian utuh mendekat
menutup remang cahaya lampu-lampu jalan
menepi tak kutemui
meski kucari sampai ke ujung kuku

Sia-sia saja kutunggu sepotong bulan
muncul dari balik atap rumbia
sebuah rumah tua di kaki bukit
sementara yang tersisa hanyalah nestapa
di tengah laju detak jam  
yang menambah buih-buih minumanku

2020




Graviti Malam

Cuaca dingin menetes
Menggambar biru langit
Bintang malam
dan bisu alam
di atas bayang-bayang pohon
yang hanya nampak pucuk-pucuknya

Begitu banyak yang terkenang
Mengetuk dinding hati
Mendadak gigil
tergerus sampai ke tulang-tulang

Syahdu sembahyang tergelar lapang
Mengetuk pintu langit
Pecah dzikir ke relung sunyi
yang mendengar tabah
Ketika nafas tidur menciumi mimpi-mimpi
dalam tidur panjang mereka

Dari jauh suara hujan berdesak-desakan
hendak tiba
Lalu kupikirkan sekali lagi
Barangkali tiada seorang pun yang terjaga
oleh riuh angin di luar jendela

2020




Merayakan Hari Tua

: Kepada seorang ibu

Jangan tanya lagi
“Apa aku tidak kesepian?”
Sedang aku telah lebih dahulu menjadi penari
tua yang datang ke tubuhku sendiri
Merayakan sisa hidup
Tanpa gelisah yang harus tumbuh di mana-mana
Sebab aku cuma butuh gula pasir
untuk cangkir-cangkir tehku
dan semangkuk ikan untuk laukku
di meja makam

Selalu kupandang sunyi dengan takjub
Menemukan tangan-tangan Tuhan
menumbuhkan cahaya
sehingga malam-malam bukanlah
kelam yang harus kucemaskan

Seluruh kenangan
Nyeri dan perih
Telah jatuh ke sumur tua
Tempat cintaku lebur sampai ke dasar
Terkubur musim dan gerak langit
Kehampaan menjadi hal
yang tiada lagi terasa

Kenang saja dukaku
Ketika tiba-tiba aku pun tiada
Maka jasadku tak menyimpan air mata
Lewat air susu yang telah terenggut habis
di jejak kaki seluruh darah dagingku
ke tanah ikut terkubur
ke langit merangkak melalui
pangkal doa-doa

Tak mengapa menjadi tua
dalam kesendirian
Memandang haru dari sisi jendela tua
yang pelan turut meninggalkan jejak usia
Menyimpan ingatan panjang ranjang tua
yang masih menyimpan bau air kencing
pada kain-kain popok anak-anakku

2020




Kabut Manakarra

Seluruh pepohonan berlari ke dadaku
Segelintir senyummu
Menggelayut di bukit-bukit terjal
Menyapu pekatnya udara
Di jalan-jalan yang tiada letihnya
Mengirimiku suara dan nafasmu

Cahaya lampu bermekaran
Suara kota tenggelam dalam auman
ombak dan syair hujan
Aku menemukanmu
Dalam pelukan angin dingin
Terasa kehangatan jauh
dari genggam jari-jarimu
dan aku hilang dalam lingkaran
sejarah yang lahir dari rahim
tak kukenal

Semakin jauh
Menyeretku melalui garis waktu
Seperti hendak melarikan diri
Di bawah perjalanan burung-burung
Di atas runcing batu-batu karang

2020




Montana

Menjauh dari kelam gelombang rambutmu
Mengubur ingatan akan siapa sesungguhnya
Yang lebih dahulu menciptakan luka dan cinta
Ketika fajar dan musim dingin
tak punya banyak kata bijak
untuk dikatakan berulang dari lembut kasih
yang tertinggal di dada

Telah kuucap selamat tinggal
di telinga orang-orang
yang menyimpan langit purba
Kehendak melupakan siluet wajah
Dari keping-keping mimpi
Yang tiba senyata bidang padat
Mampu tersentuh ujung jemari
dan selalu kusaksikan
hangat mata adalah pelukan yang lebih manis
dari apapun

Seluruh jawaban membakar tubuhku sekali lagi
Seperti gerah dari kobar nyala api
Ketika buku kembali terbuka
Tahun-tahun yang mendekatkan
kata cinta yang keluar dari
mekarnya bunga-bunga
dan luruh daun-daun tua

Rumput hijau
Akan seterusnya menyimpan kenangan
di sulur akar-akarnya
Sampai mengering
Lalu mati
Luruh ke tanah
Di jalan-jalan yang lebih ramai dari isi kepala
Menjadi rahasia yang saling berbisik

2020



Kapan Terakhir Kali Kita Berbincang dalam Telfon?

Kuhafalkan namamu
Jendela biru dan langit kelabu

Ranting pohon sedang gelisah
menunggu cahaya purnama
yang sangat dikenalnya

Lampu-lampu yang kesepian
menyimpan segala percakapan dan kata-kata
yang hendak melepaskan diri dari keyakinan

Seperti menemukan cinta
Diantara tumpukan sampah plastik
dan kertas-kertas sisa
memasrahkan diri pada segala kehendak
yang akan membawanya menemukan
kenyataan paling menyedihkan

Kelak
Kita tak perlu saling bertanya kabar
Sebab segala sesuatu mampu kita baca
dalam bingkai dinding kaca
yang bercerita ribuan kisah

2020




Batas Kota

Gerimis belum juga selesai
Dan kecanggunan kita
Seperti halnya sejarah yang kelam itu
Membuntuti rona pipimu
Yang tak juga menciptakan hujan
Atau gelegar yang membangunkan
pejam mata

Namun pada cintaku
Malam-malam selalu terjaga
Seperti dongeng Marsinah yang hidup
berputar di arloji merah tangan kiriku
Seperti teriakan para buruh pabrik
yang turun ke jalan
berkoar di atas trotoar

2020



===================
Lula Arimbi. Penikmat sastra dari komunitas buku carabaca Makassar. Lahir di Bulukumba Sulawesi Selatan. Menulis Cerpen dan puisi. Beberapa tulisannya pernah dimuat di: Literasi Lombok Post, Fajar, Go Cakrawala, Sastra Sumbar dan Florest Sastra.

Lesat Ke Langit Hakikat

0



Sebagai Penyair

aku berjalan ke taman-taman, di samping berjajar mawar segar. durinya merobek keheningan kita. sebagai penyair yang selalu belajar pada setiap petaka, aku mengawasi setiap luruh embun dan sujud daun-daun. debu yang diterbangkan ke langit oleh angin timur. dan matahari yang bangkit dari ranjang memastikan dunia pantas berjalan. sementara biru doa, menggumpal di ini dada. membusung sebelum mengetuk pintu langit. aku selalu berjalan, menerobos kedalam pikiran orang-orang. menemukan luka yang sudah tidak lebam dan lengket. mengering.

sepanjang hari hanya dihabisi untuk menyederhanakan sakit. sesederhana mungkin. katamu, penyair hanya ditugaskan untuk menangkap setiap yang mengerjap. lalu diungkap dengan getar lain, dengan bunyi-bunyi asing di kuping. selebihnya penyair tidak mencintai kepedihan, hanya saja kesedihan lahir dengan wajah macam-macam.

Gapura, 2020




Sebelum Hijrah

dari Adam kepada Hawa

1//

kau bisa membayangkan, Hawa, ranting gigil setiap pagi dipeluk embun. dihajar debu-debu yang berangkat dan terbit dari balik bukit. dan kita dipeluk dingin yang sama dalam rentang kabut sisa subuh. aku hanya merasakan tanganmu halus membelai-belai tanganku. kita berciuman lekat, begitu dekat. kau menuding buah-buah ranum semerah bibirmu, berjumbai di atas kepala kita. kau begitu patuh, bahwa buah itu bisa mengekalkan cinta kita dan berahi dari balik kata-kata.

dari Hawa untuk Adam

2//

aku hanya menyembah puncak firasat yang lesat ke langit hakikat. kau sendiri, Adam, begitu lemah pada seorang perempuan; atas nama cinta dan belas kasihan. maka dengan melahap buah-buah sesegar bibirmu, kita akan abadi di sepi semadi. paling tidak kau tidak merasa kecewa oleh kata-kata. mendekatlah, Adam, tanganku yang membentuk lingkar ular begitu lihai mencabik-cabik daun. sebelum menggugurkan belahan buah yang kelak melekat di tenggorokanmu dan timbul di dadaku.

Gapura, 2020

Kota Sepi Tiba-Tiba

kita mengurung diri, Ayu, berteduh dari angin merah jambu yang bertudung gelisah sesuntuk rindu. angin-angin lain semakin asing di kota kita, Ayu, jalan yang selalu sempit semakin menghimpit. memburu nafas kita yang sebegitu pendek. sepi perkasa, Ayu, mengalahkan apapun. kerap nyaring dengan berbagai denting. kita suka dengan keberadaan sesederhana ini; meski sedikit rumit dan memeras ketenangan kepala.

keramaian berpindah ke dada, Ayu, membunuh kecamuk rindu dan perang batin seorang penyair. gamang meninggi seruncing sepi-sepi kita. sedang aku selalu berlindung dari terik merah matahari. sampai tiba, Ayu, kabar kepergian. kabar kedukaan yang sama bengisnya. demi apa saja, yang semakin molek dan bersarang di kepala. duh! Ayu, kita hanya merasakan kota yang kerasukan senyap berlebihan.

pintu-pintu biru tertutup, Ayu, polusi merobek langit ketujuh. awan berbentuk domba terus berputar di tempatnya. mengawal kepedihan. kesedihan yang sama puncak. bumi yang kita duduki, Ayu, tulang punggungnya sering ngilu. sampai kita mati terbunuh oleh udara itu.

Gapura, 2020



Semua Menutup Pintu

lihatlah! di halaman-halaman yang memanjang dengan warna merah kesumba. kesunyian tumbuh setelah kita benar menutup pintu. tempat biasa semilir angin melompat, sebagai jalan kedua setelah jendela. selebihnya, ketakutan merimbun dan memadat di dada kita. semestinya keramaian harus berpulang pada liang kefanaan. pada lubang-lubang hitam di halaman belakang. diganti senyap yang terus merayap dan mengendap, mengintip kita sepanjang siang.

dawai angin mengasingkan diri, perlahan menjauh dari daun dan ranting hampir patah. pulang pada sarang, pulang ke rahim hutan. hingga kita mengkhidmati gerah berkepanjangan. sampai ketenangan terus terusik di tempat duduk. sunyi mengacak-acak rambut kita, mendengungkan kidung nelangsa seasin tanah. meletup di halaman yang terus memanjang ke arah matahari. siapa yang berjalan di setapak, sama dengan menantang amuk maut.

malam dan siang bersetubuh, mendesah seperti yang sering kudengar di ranjang ibu. semua menutup pintu dan sama-sama berjalan di sunyi yang baru.

Gapura, 2020



Pemabuk Sepanjang Jalan

sepanjang jalan, sepanjang gerimis yang membentur kabel listrik. kau lihat, bagaimana seorang pemabuk berjalan, jalang. melipatkan kedua tangan ke punggung belakang. ia begitu mengerti, mengendap dalam sepi. menghindar dari kerumunan dan menjadi pemabuk sendirian. di kepalanya, hanya berkecamuk sisa-sisa perang. lalu melesat abad-abad pembantaian. ia hanya suka menjadi orang paling tidak sadar di jalan. berjalan semestinya, hanya sekadar berjalan.

sepanjang remang lampu-lampu taman, kita melihat ia duduk di sebuah bangku melompong. berteman pernak-pernik sepi, sedih. barangkali ia percaya, hanya dengan begini. hidup tidak begitu rumit dinikmati. demi musim yanh terus berganti-ganti, menebar segala bentuk perih. kuyakinan, kepalanya memberat. segala yang tumbuh di dalamnya hanya kepedihan. bekas-bekas darah seperti di selangkangan. ia semakin jalan, ke arah lampu yang lebih sering membunuh temaram.

sepanjang kesedihan yang kita miliki, kita seperti asing di tempat sendiri. sama seperti mereka, kita mabuk sepanjang jalan. sepanjang gang-gang sempit diselimuti petang.

Gapura, 2020



========================
Moh. Rofqil Bazikh. Lahir di pulau Giliyang kec. Dungkek kab. Sumenep Madura. Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP.
Puisi-puisinya terbit di pelbagai media cetak dan online antara lain: Harian Rakyat Sultra, Bali Pos, Pos Bali, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Galeri Buku Jakarta, Litera.co, KabarPesisir dll.
Karyakaryanya termaktub dalam antologi: Dari Negeri Poci 9; Pesisiran (KKK;2019), Bulu Waktu (Sastra Reboan; 2018),When The Days Were Raining (Banjarbaru Festival Literary 2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Membaca Asap (Komunitas Seni Sunting Riau) Segara Sakti Rantau Bertuah (Kepri 2019), Surat Berdarah di Antara Gelas Retak(2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019), Bandara dan Laba-Laba(Dinas Kebudayaan Provinsi Bali). Sekarang berdomisili di Gapura Timur Gapura Sumenep.

Memisahkan Rindu dan Kesedihan

0



Api Dua Penyair

(1)
Aku geram
Aku marah
jiwa kawanku telah dibeslah
sekarang jasadnya kaku
tanpa gerak
Sebuah pesan telah ditinggalkannya
“jadilah air di kala api membara
Itu kubaca berkali-kali
begitu sulit kutepis wajahnya
melekat erat di pandanganku
Kita larut dalam penggalan dusta
penghias bumi
Rabi’ah al-Adawiyah pun meminta padaku menulis sajak

(2)
// Syaikh Maula al-Arabi ad-Darqawi, r.a.
aku datang ke masamu
sebagian bumi menjepitku
lalu lalang hawa nafsu
seperti bara api menjulur
membakar kekotoran jiwa

sebuah khazanah di dinding waktu
membentang jiwa-jiwa suci
di bawahnya, kota telah ditinggalkan
seperti mengingatkan langkahku
memadamkan penglihatanku
agar malamku bisa bertasawuf
meluruskan isi pikiran
sebelum bumi terjamah gulita

(2020)



Taman Waktu

entah mengapa
hingga aku harus membaca dunia
dengan mataku yang mulai rabun
pikiranku pun mulai tak mampu
menangkap istilah yang sulit
adalah otakku bukan kamus
waktu seakan mengejar sisa napasku
mungkin kematian
yang harus kupikirkan
menghabiskannya di taman waktu
agar mata kertas tak menatapku
tajam menghunus
seperti belati atau sangkur
dan bibirnya tersenyum pahit
telah kunodai tubuhnya
kulumuri dengan tinta
hitam dan biru
hanya diam pilihannya
dan itu telah mengajarkan diriku
tentang sebuah kesabaran
tentang sebuah keikhlasan
yang senantiasa lisanku menistainya

bagai menghitung siang dan malam
bait-baitku tertidur pulas
hingga detik dan menit
selalu mengingatkan
untuk menaburkan bait-bait itu
di taman waktu

Malang – 2020


Rebana

: untuk ibu

perempuan, cerita yang tak pernah pupus
kau mainkan rebana
langit itu mulai mendung
mata senja pun mengurung aromamu

bila engkau tau
jemari tanganku kaku
penaku meninggalkan kertas
tangisan langit jatuh bergulir
membasuh sajak tubuhmu
kala aku menuangkan
butiran rindu di sebaris baitku

entah mengapa,
lisanku begitu hina menyebutmu perempuan
hingga detak jantungku berpaling dari rahimmu
dan mendendangkan kecapi
meranggas kesucian kasih yang ‘kau lahirkan
beranjak meninggalkan pangkuanmu

sebatas mana gejolak ini menatap langit
adalah kelembutan tanganmu
mengusap dan membelai rambutku
hingga matahari tak pongah melumat pikiranku

pernah kita satukan nalar
pada tempayan waktu
dimana sajak yang kutulis begitu dahaga
akan sabda-sabda cinta
dan ‘kau baringkan segala penatku
di atas pusaramu yang diam
dalam isyarat kidung duka

suara rebana itu mengalun syahdu
keabadian cinta memang hanya milik perempuan
ketika tanganku kaku menulismu, ibu
angin pun lelap memainkan irama alam
bagai kecapi melagukan simphoni duka

Malang – 2020



Puisi pun Bersujud

Sungguh engkau tak mengerti tentang jiwa
karena mata hatimu bukanlah pintu langit
Telah begitu banyak lisan hanya menjadi syair indah
tetapi tak pernah menjadi puisi surga
Pernahkah kita melihat seonggok dusta
yang menggumpal pada jasad dan mengingkari sujud-sujud kita?
Betapa jiwa itu meratap, menangis dan menyesali diri dalam puisi bisu
Aku berkata bahwa diam itu adalah catatan
yang membuat kita semakin mengerti
dimana jiwa-jiwa kita hanya bisa bersandar pada Sang Pemilik Kekal

Malang – 2020



Aku Datang ke Pusaramu

: untuk Jalaludin Rumi

Memisahkan rindu dan kesedihan
dimana emosi telah menikam jiwa
dua makna yang menguliti keindahan syair

Adalah buku, tempat menumpahkan kegelisahan tangan
berkelana mencari kebebasan
untuk hidup dalam masanya
sesuatu yang kita maknai ajaran
tetapi sesungguhnya adalah jalan
mencari sinar, membunuh kedangkalan kasat mata
hingga kita hanya mampu meraba
dalam catatan-catatan waktu dan sejarah

Kini masaku, tak setajam pena Rumi
untuk memisahkan rindu dan kesedihan
walau akupun sering larut
dalam perasaan yang sama
menumpahkan airmata dalam bait-bait hina

Mungkin suatu saat, sajakku terbaring bisu
di sisi pusara Rumi 
menjadi obat penawar rindu
dan mengulang catatan-catatannya:
Divan-i Syams-i Tabriz —
meski sesungguhnya ingin kujadikan sebuah doa
agar akupun bisa membaca:
Maqalat-i Syams Tabriz —

Malang – 2020



Majas Suci

Ketakutan ini telah mengusir keberanian malam
semestinya gelap duduk dan menemani
ketika rasa cinta telah merobek selaput angin
meski dingin itu bukan sahabat jejak kemarau

Biarlah air mengalir membasahi wajah kusam kita
agar ketakutan bukanlah cermin tanpa cahaya
Dan disitu terukir lisan, yang menghidupkan sajak
setelah mengungkung diri dalam gelap panjang
akupun terkesima, seperti membunuh semua kegelisahan
kutulis sajak yang berjalan menembus batas-batas waktu

Malam di bulan Mei mengingatkan ribuan petaka
entah mengapa sajak-sajakpun seakan berkabung
menunggu saat-saat sakral untuk membasuh
segala makna yang tertuang dalam catatan setahun
agar kita mendendangkan syair baru beraroma bunga fitri
bagai membangunkan malaikat
— yang tak pernah tidur —
kita tuangkan secangkir doa
dalam cawan-cawan tak tersentuh malaikat

Kita bakar malam, dengan sinar rembulan
dimana malaikat sering mengerlingkan pandangannya
saat bulan hadir tanpa busana
dan kita berharap kemenangan itu
bukan hanya sebuah majas suci
yang tertuang di sehelai lisan

Malang – 2020

Di Penghujung Ramadan

Di setaman aksara
kalam Ilahi memanggil subuh
malam pun bersujud, hening di pembaringan barat
angin enggan menyentuh gemintang
disini, kertas-kertas baru mulai tertulis
tumpahkan sesak dada
saat benci dan gelisah menyelinap
satu makna

Haruskah cinta dituangkan
dalam cangkir-cangkir rindu
segaris dalam shaf lantunan shalawat
menegakkan bening aksara
ketika lisan kita mulai luntur
terhempas dalam kasat mata yang selalu dangkal
hingga peraduan sajadah tebaring bisu
menghampar, menderu angin
dan berlari menembus alam sekeliling
melekat, bersandar di tubuh pepohonan
menghembuskan dingin, dedaunan pun menggigil
memanggil para malaikat
memohon dingin itu agar terselimutkan
berbaris dalam kehangatan shalawat
meski mata kita melihat, kemarau selalu membakar

Ingin kutegakkan aksara ini
membasuhnya dalam selimut malam
dimana kesunyian hadir dalam pikiran jernih
untuk memuliakan alam dan tanah
yang mulai bertelanjang diri
atau ini sebuah isyarat, bahwa alam pun merindukan cinta
saat perjalanan masa penuh makna menemukan senyumnya
di penghujung ramadan

Malang – 2020

Andai Sajakku Seperti Doa

Aku bukanlah sajak bertubuh sufi
tidak juga bait-baitku sepenggal doa
peziarah pun telah meninggalkan
sayap pusaraku, setahun lalu
meringkuk jiwa di ruang sepi
penuh malaikat
entah, apakah itu
pengadilan para jiwa

Meja-meja hidangan di depanku
seperti cahaya luka
membakar perih, tangis tak ada bedanya
di sekumpulan bocah-bocah, bertelanjang dada
dan seorang bocah berlari kencang
meneriakkan: api neraka!

Betapa perih mata ini memandang siksaan
nafsu dan dosa, meneriakkan kemenangan
tetapi kita memang terlalu angkuh
untuk menyebutnya
dan menghempaskannya di kolong langit
sekian rantai masa terikat
dan kita mengagungkan cinta

Adalah malam-malam penuh sajian rahmat
di hamparan langit malam untuk bermunajat
seharusnya semua ingkar
kita basuh di untaian tasbih
mengumandangkan asma dan istighfar
sebelum kereta penunggu kematian menghampiri

Bukankah kitab-kitab bersih
selalu mengingatkan
dimana tanah-tanah tempat terindah
bagi raga kita
tetapi jiwa itu senantiasa abadi
di akhirat nanti, surga atau neraka

Malang – 2020


Malaikat Malam

Malam mulai menghimpit kesetiaan sudut ruang nalarku
kudengar gemericik air di antara bisu angin, memecah gejolak resah
Aku mencoba meruncingkan garis-garis pena
menuangkan dalam bait penunggu malam
membiarkan pikiran ini berkecamuk, membakar gelisah

Semusim lalu, pikiranku telah terpasung
terlipat pada potongan waktu
terpisah jarak di antara kepingan hujan dan kemarau
di antara amukan ombak
di antara langit terluka
dan di antara nyanyian tanah duka

adalah seorang berjiwa putih telah terlupakan
terkapar ingatan kita
pintu-pintu menujunya tertutup
tiada jalan, darah pun mengalir
menerawang langit malam, hitam-putih
hitam berjalan, menyatu jelaga pekat
putih melintang, membagi cahaya

disini kutulis namamu, wahai Jibril
izinkan aku menulis puisi untukmu

Di bukit tandus,
adalah seorang gadis bagai bidadari memainkan nalarku
menari-nari, menaburkan semerbak aroma bunga
senja tersenyum, engkau bukanlah bidadari
selendang mawar dan melati, engkau tanam pada mataku

disini kutulis dalam sajakku, wahai malaikat malam
masih pantaskah kutitip rindu untukmu?
Agar malamku bertemu para malaikat
dan berbincang tentang kedangkalan doaku

Malang – 2020

Tak Pernah Kekal

cinta itu sepotong ilusi
saat diri kita merasa berarti
cinta itu tanpa warna
tetapi memberi warna
pada rindu dan gelisah
dan pada duka atau kebahagiaan
seperti lisan dan hati
bergejolak, mengartikan puasa
adalah mata kita tak pernah kekal
selain pandangan Ilahi
melekat dalam keagungan-Nya
bahwa mata kita telah mati dalam hidup

Malang – 2020



==================

Vito Prasetyo dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Menulis cerpen, puisi, esai, Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa media, antara lain: Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Republika, Suara Karya, Lombok Post, Magrib.id, Haluan, Travesia.co.id, dan Harian Ekspres Malaysia. Termaktub dalam Buku Apa Dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Penyair yang pernah kuliah di IKIP Makassar, ini kini menetap di Malang, Jawa Tengah. Buku Kumpulan Puisinya yang telah terbit, Biarkanlah Langit Berbicara  (2017), dan Sajak Kematian (2017).

Merekah Meruah Cahaya

0



ROMANSA KEBUN KATA

sulur-sulur tumbuh merengkuh
di antara reranting penuh seluruh

bebunga liar di kebun asmara
merekah-rekah pancaran gelora

romansa mulai tertera
di kebun menjelma kata-kata
tunaikan kisah tentang cinta dan luka

dari pucuk pena tinta asmara
seratkan bait-bait pada daun cerita

cinta mulai merekah
dari kuncup yang pernah terluka

masalalu kian mereda
oleh sekuntum bunga di kebun kata

Jombang, 2019





AIR MATA PENA

pada ujung runcing mata pena
mengalir air mata kata-kata
tanpa berakhir walau seribu telaga
penuh dan meluap hingga samudera

syair-syair tentang semesta
atau rasa cinta pada pencipta
tak pernah berakhir oleh air mata pena

Jombang, 2019




RITME TASBIH

bergulut-gulut ritme bertasbih
tuntaskan hasrat dalam peran malam
purnama kian sempurna
merekah meruah cahaya dipeluk bumi
mengirap kata rindu pada pencipta rindu
meruap belas kasih dalam renjana

purnama kian merayap
melambai nyalang, menggulut waktu
sampai fajar merekah, subuh berlalu

Jombang, 2019




MENJELANG PAGI

denyar fajar di kala subuh
burung kutilang riuh gemuruh
pohon mangga tak sempat berteduh
air mata langit semalam membasuh

mutiara pagi di pucuk daun
sisa hujan pertama mengalun

adakah pemetik mutiara itu?
selain kumbang dan kupu-kupu

Jombang, 2019




OMBAK KECIL

kesabaran adalah ombak kecil
hilang terhempas tak menepi.
merindu pada siur angin
pengubah nasib.

kesabaran adalah ombak kecil.
lenyap seketika tergulung
dahaga ombak yang besar.

yang kecil tak menepi,

yang besar liar tanpa negosiasi.

Kesabaran adalah yang kecil.
entah kapan, yang besar sadar,
dari kami yang kecil, telah
membesarkannya.

Jombang, 2019




TERINGAT JANJI

sedari pagi aku teringat janji
yang terpatri di setiap dekap
ayah dan juga sanak adalah saksi
tentang cinta yang terucap
ikrar setia di tempat suci
sampai tua hingga menghadap

Jombang, 2019




ORASI JATUH CINTA

tiada yang dapat menahan
jika asmara mulai tersulut
bagai masa yang beraksi
tak peduli pagar berduri
diterjang hingga menepi
teriakan kata penuh emosi

entah apa yang dirasa
pada yang sedang menahan cinta
apakah harus berorasi?
ataukah diam
dengan kata yang sembunyi

bagi lelaki, cinta harus berorasi
namun tidak dengan emosi
pakailah hati: penuh filosofi

Jombang, 2019

=======================

MIFTACHUR ROZAK (Bang Jack) Tinggal dan Lahir di Jombang, 03 Februari 1988. Pernah menimba ilmu di MTs dan MA Umar Zahid Perak. Tahun 2011 lulus S1 PBSI STKIP PGRI Jombang. Sekarang mengabdi sebagai Guru Bahasa Indonesia di MTsN 2 Rejoso Jombang. Karya-karyanya dimuat di Koran: Riau Pos, Medan Pos, Fajar Maksar, Radar Mojokerto, dan Radar Jombang.

Setiap Kali Namamu Kusebut

0

Laut Yang Melukis Kita

Akhirnya kudatangi lagi pantai ini:
di mana kita pernah mengarsir nama
di luas butir-butir pasirnya: waktu adalah ombak
yang menyapu setiap jejak menjadi buih-buih 
yang kita titi dengan hati-hati dan tertatih.

Akhirnya kupandang lagi laut ini:
di mana muasal birunya pernah saling kita debatkan
—dari langit yang tinggi itu ataukah matamu yang dalam—apa bedanya?
Bagi jangkauanku yang terlampau pendek,
keduanya toh sama belaka:
tak sampai kucapai,
tak saguh kusentuh.

Akhirnya kuhidu lagi udara beraroma garam ini:
di mana desaunya pernah mencipta riak-riak kecil
pada ombak rambutmu, rinduku tertaut di kusut kasaunya.

Laut adalah imaji yang melukis kita di sebidang puisi:
kau boleh jadi bangkai perahu
yang telah lapuk dipiuh waktu.
Tetapi aku tambang, yang mengikat kencang cinta
pada hati setugur pancang.

2020



Jadikan Aku Penyair yang Kau Cinta
: Adilah Pratiwi

“Tak segala yang ada pada bola matamu,
dapat ditampung kata-kataku, Adila. maka pejamkan matamu,
biarkanlah puisi itu kutulis dengan dawat kecupku!”
kataku dahulu, di suatu sore yang langitnya tersusun dari jingga senja,
yang sempat kuduga sebagai rona rindu kita.

Pernah suatu kali kusampaikan pula padamu,
di suatu malam yang langitnya terjalin dari gugus gemintang,
yang pernah kuduga sebagai kilau cinta kita.
“Hidup ini makin menyerupai labirin, Adila.
setiap jalur-jalur berkelok di dalamnya
mengantarku ke ruang-ruang yang setiap sudut dindingnya,
terpajang berbingkai senyummu!”


Tetapi begitulah kau, tak mau percaya kata-kata
dari mulut siapa saja yang kau anggap sebagai penyair.
“Tapi aku bukan penyair, Adila! Belum bisa disebut penyair.
Aku hanyalah pesakitan yang kerap menulis derita,
lewat deret derit kata-kata.”


Derita itu, kau tahu? ditanam oleh rindu,
sekian waktu sudah ia terpendam di gembur dadaku.
Dengan deras jarak, ia disiram.
Dengan rentang waktu, ia dipupuk.
Ia tumbuh jadi sebatang pohon,
akarnya jadi umbi yang tambun,
makanan pokokku sehari-hari.

Kemari, o, kemarilah, Adilaku!
Jangan biarkan rindu ini terus membuatku jadi pesakitan
yang hanya gemar menulis derita
lewat sederet derit kata-kata.
Kemari, o, kemarilah, Adilaku!
Jadikan aku penyair yang kau cinta,
walau masih sukar kau percaya
kata-katanya.

2020



Jika Cinta Adalah Perjalanan Hidup

Apa yang lebih gemar kita ulang-ulang saban hari,
selain percakapan-percakapan
tentang pertemuan tak sengaja
dan cinta yang jatuh seketika itu juga,
bagai serbuk sari pada suatu putik bunga
yang membuahkan rindu,
tak kenal jemu kita petik setiap waktu.

Apa yang lebih senang kita perbincangkan kembali
selain hari-hari yang t’lah lewat
dan tercatat di masing-masing ingatan kita
sebagai sebuah sejarah
di mana kenangan-kenangan istirah.

Sayangku, jika cinta adalah bagian dari perjalanan hidup,
bolehkah kujalani seluruh bagian hidupku
untuk sepenuhnya mencintaimu?

2020



Setangkup Selimut dan Setungku Api

Aku tubuh yang pernah terbelah dan tercacah.
Sebelum kau datang lalu menjadi mukjizat;
menjadikan bagian yang semula lepas
kembali rekat dan terikat.

Aku gigil tubuh dan gemeretakan gigi
Di malam-malam musim kemarau menuju pagi.
Sebelum kau datang dan hampiri;
menjadi setangkup selimut dan setungku api

2019




Setiap Kali Diretas Jarak

Setiap kali namamu kusebut,
aku jasad mati yang kembali
kau beri denyut.

Setiap kali mata kita bersipandang,
degup jantungku luka kecil
yang tiba-tiba meradang.

Setiap kali aku kau sentuh,
aku tegak tubuh
yang mendadak lumpuh.

Setiap kali kita diretas jarak,
tubuhku retak dan menyusun kembali
dirinya menjadi sajak.

2019




Pukul 03.00 Pagi

Melihat trotoar basah berkilauan
dibasuh hujan dan lampu jalan,
ia kepikiran juntai rambut kekasih
yang berkilauan disepuh matahari
di siang bolong.

Bersama kopi yang tinggal ampas
dan sepi tak kunjung tandas,
sebuah puisi belum selesai
harap-harap cemas
pada penyair
yang matanya merah berair

Pukul 03.00 pagi,
dingin kepalkan tangan
meninju pertahanan tubuhnya
yang rapuh
tanpa pelukan.

2019


=====================
Yohan Fikri Mu’tashim
, lahir di Ponorogo, 01 November 1998. Alumnus Pondok Pesantren HM Putra Al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri ini sekarang sedang menempuh pendidikan di Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang, sembari menimba ilmu agama di Ponpes Miftahul Huda Gading Malang. Aktif menulis puisi. Juara 1 Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional BATCH 2 yang diselenggarakan oleh Ruang Kreasi tahun 2020. Puisi-puisinya termuat dalam antologi bersama: Babu Tetek: Seibu Puisi (Penerbit Kuncup, 2018) dan Santri (Penerbit Sulur, 2019).

Terbaru

Tas Rotan di Tangan Sukap

Tas rotan berpelipir hiasan lokan dan manik itu sudah tiga hari ada di tangan Sukap. Isinya tetap utuh; dua lingkar cincin emas...

Katrina

Bermain di Danau Batin

Dari Redaksi

Dibalap Sepeda

Ingatan yang Menyakitkan