Puncak Gairah Musim

Maut Seperti Cintamu

Menanti Kau Mekar, Suatu Hari

Setipis Malam dan Sunyi

Puisi

Home Puisi Page 2

Lesat Ke Langit Hakikat

0



Sebagai Penyair

aku berjalan ke taman-taman, di samping berjajar mawar segar. durinya merobek keheningan kita. sebagai penyair yang selalu belajar pada setiap petaka, aku mengawasi setiap luruh embun dan sujud daun-daun. debu yang diterbangkan ke langit oleh angin timur. dan matahari yang bangkit dari ranjang memastikan dunia pantas berjalan. sementara biru doa, menggumpal di ini dada. membusung sebelum mengetuk pintu langit. aku selalu berjalan, menerobos kedalam pikiran orang-orang. menemukan luka yang sudah tidak lebam dan lengket. mengering.

sepanjang hari hanya dihabisi untuk menyederhanakan sakit. sesederhana mungkin. katamu, penyair hanya ditugaskan untuk menangkap setiap yang mengerjap. lalu diungkap dengan getar lain, dengan bunyi-bunyi asing di kuping. selebihnya penyair tidak mencintai kepedihan, hanya saja kesedihan lahir dengan wajah macam-macam.

Gapura, 2020




Sebelum Hijrah

dari Adam kepada Hawa

1//

kau bisa membayangkan, Hawa, ranting gigil setiap pagi dipeluk embun. dihajar debu-debu yang berangkat dan terbit dari balik bukit. dan kita dipeluk dingin yang sama dalam rentang kabut sisa subuh. aku hanya merasakan tanganmu halus membelai-belai tanganku. kita berciuman lekat, begitu dekat. kau menuding buah-buah ranum semerah bibirmu, berjumbai di atas kepala kita. kau begitu patuh, bahwa buah itu bisa mengekalkan cinta kita dan berahi dari balik kata-kata.

dari Hawa untuk Adam

2//

aku hanya menyembah puncak firasat yang lesat ke langit hakikat. kau sendiri, Adam, begitu lemah pada seorang perempuan; atas nama cinta dan belas kasihan. maka dengan melahap buah-buah sesegar bibirmu, kita akan abadi di sepi semadi. paling tidak kau tidak merasa kecewa oleh kata-kata. mendekatlah, Adam, tanganku yang membentuk lingkar ular begitu lihai mencabik-cabik daun. sebelum menggugurkan belahan buah yang kelak melekat di tenggorokanmu dan timbul di dadaku.

Gapura, 2020

Kota Sepi Tiba-Tiba

kita mengurung diri, Ayu, berteduh dari angin merah jambu yang bertudung gelisah sesuntuk rindu. angin-angin lain semakin asing di kota kita, Ayu, jalan yang selalu sempit semakin menghimpit. memburu nafas kita yang sebegitu pendek. sepi perkasa, Ayu, mengalahkan apapun. kerap nyaring dengan berbagai denting. kita suka dengan keberadaan sesederhana ini; meski sedikit rumit dan memeras ketenangan kepala.

keramaian berpindah ke dada, Ayu, membunuh kecamuk rindu dan perang batin seorang penyair. gamang meninggi seruncing sepi-sepi kita. sedang aku selalu berlindung dari terik merah matahari. sampai tiba, Ayu, kabar kepergian. kabar kedukaan yang sama bengisnya. demi apa saja, yang semakin molek dan bersarang di kepala. duh! Ayu, kita hanya merasakan kota yang kerasukan senyap berlebihan.

pintu-pintu biru tertutup, Ayu, polusi merobek langit ketujuh. awan berbentuk domba terus berputar di tempatnya. mengawal kepedihan. kesedihan yang sama puncak. bumi yang kita duduki, Ayu, tulang punggungnya sering ngilu. sampai kita mati terbunuh oleh udara itu.

Gapura, 2020



Semua Menutup Pintu

lihatlah! di halaman-halaman yang memanjang dengan warna merah kesumba. kesunyian tumbuh setelah kita benar menutup pintu. tempat biasa semilir angin melompat, sebagai jalan kedua setelah jendela. selebihnya, ketakutan merimbun dan memadat di dada kita. semestinya keramaian harus berpulang pada liang kefanaan. pada lubang-lubang hitam di halaman belakang. diganti senyap yang terus merayap dan mengendap, mengintip kita sepanjang siang.

dawai angin mengasingkan diri, perlahan menjauh dari daun dan ranting hampir patah. pulang pada sarang, pulang ke rahim hutan. hingga kita mengkhidmati gerah berkepanjangan. sampai ketenangan terus terusik di tempat duduk. sunyi mengacak-acak rambut kita, mendengungkan kidung nelangsa seasin tanah. meletup di halaman yang terus memanjang ke arah matahari. siapa yang berjalan di setapak, sama dengan menantang amuk maut.

malam dan siang bersetubuh, mendesah seperti yang sering kudengar di ranjang ibu. semua menutup pintu dan sama-sama berjalan di sunyi yang baru.

Gapura, 2020



Pemabuk Sepanjang Jalan

sepanjang jalan, sepanjang gerimis yang membentur kabel listrik. kau lihat, bagaimana seorang pemabuk berjalan, jalang. melipatkan kedua tangan ke punggung belakang. ia begitu mengerti, mengendap dalam sepi. menghindar dari kerumunan dan menjadi pemabuk sendirian. di kepalanya, hanya berkecamuk sisa-sisa perang. lalu melesat abad-abad pembantaian. ia hanya suka menjadi orang paling tidak sadar di jalan. berjalan semestinya, hanya sekadar berjalan.

sepanjang remang lampu-lampu taman, kita melihat ia duduk di sebuah bangku melompong. berteman pernak-pernik sepi, sedih. barangkali ia percaya, hanya dengan begini. hidup tidak begitu rumit dinikmati. demi musim yanh terus berganti-ganti, menebar segala bentuk perih. kuyakinan, kepalanya memberat. segala yang tumbuh di dalamnya hanya kepedihan. bekas-bekas darah seperti di selangkangan. ia semakin jalan, ke arah lampu yang lebih sering membunuh temaram.

sepanjang kesedihan yang kita miliki, kita seperti asing di tempat sendiri. sama seperti mereka, kita mabuk sepanjang jalan. sepanjang gang-gang sempit diselimuti petang.

Gapura, 2020



========================
Moh. Rofqil Bazikh. Lahir di pulau Giliyang kec. Dungkek kab. Sumenep Madura. Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP.
Puisi-puisinya terbit di pelbagai media cetak dan online antara lain: Harian Rakyat Sultra, Bali Pos, Pos Bali, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Galeri Buku Jakarta, Litera.co, KabarPesisir dll.
Karyakaryanya termaktub dalam antologi: Dari Negeri Poci 9; Pesisiran (KKK;2019), Bulu Waktu (Sastra Reboan; 2018),When The Days Were Raining (Banjarbaru Festival Literary 2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Membaca Asap (Komunitas Seni Sunting Riau) Segara Sakti Rantau Bertuah (Kepri 2019), Surat Berdarah di Antara Gelas Retak(2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019), Bandara dan Laba-Laba(Dinas Kebudayaan Provinsi Bali). Sekarang berdomisili di Gapura Timur Gapura Sumenep.

Memisahkan Rindu dan Kesedihan

0



Api Dua Penyair

(1)
Aku geram
Aku marah
jiwa kawanku telah dibeslah
sekarang jasadnya kaku
tanpa gerak
Sebuah pesan telah ditinggalkannya
“jadilah air di kala api membara
Itu kubaca berkali-kali
begitu sulit kutepis wajahnya
melekat erat di pandanganku
Kita larut dalam penggalan dusta
penghias bumi
Rabi’ah al-Adawiyah pun meminta padaku menulis sajak

(2)
// Syaikh Maula al-Arabi ad-Darqawi, r.a.
aku datang ke masamu
sebagian bumi menjepitku
lalu lalang hawa nafsu
seperti bara api menjulur
membakar kekotoran jiwa

sebuah khazanah di dinding waktu
membentang jiwa-jiwa suci
di bawahnya, kota telah ditinggalkan
seperti mengingatkan langkahku
memadamkan penglihatanku
agar malamku bisa bertasawuf
meluruskan isi pikiran
sebelum bumi terjamah gulita

(2020)



Taman Waktu

entah mengapa
hingga aku harus membaca dunia
dengan mataku yang mulai rabun
pikiranku pun mulai tak mampu
menangkap istilah yang sulit
adalah otakku bukan kamus
waktu seakan mengejar sisa napasku
mungkin kematian
yang harus kupikirkan
menghabiskannya di taman waktu
agar mata kertas tak menatapku
tajam menghunus
seperti belati atau sangkur
dan bibirnya tersenyum pahit
telah kunodai tubuhnya
kulumuri dengan tinta
hitam dan biru
hanya diam pilihannya
dan itu telah mengajarkan diriku
tentang sebuah kesabaran
tentang sebuah keikhlasan
yang senantiasa lisanku menistainya

bagai menghitung siang dan malam
bait-baitku tertidur pulas
hingga detik dan menit
selalu mengingatkan
untuk menaburkan bait-bait itu
di taman waktu

Malang – 2020


Rebana

: untuk ibu

perempuan, cerita yang tak pernah pupus
kau mainkan rebana
langit itu mulai mendung
mata senja pun mengurung aromamu

bila engkau tau
jemari tanganku kaku
penaku meninggalkan kertas
tangisan langit jatuh bergulir
membasuh sajak tubuhmu
kala aku menuangkan
butiran rindu di sebaris baitku

entah mengapa,
lisanku begitu hina menyebutmu perempuan
hingga detak jantungku berpaling dari rahimmu
dan mendendangkan kecapi
meranggas kesucian kasih yang ‘kau lahirkan
beranjak meninggalkan pangkuanmu

sebatas mana gejolak ini menatap langit
adalah kelembutan tanganmu
mengusap dan membelai rambutku
hingga matahari tak pongah melumat pikiranku

pernah kita satukan nalar
pada tempayan waktu
dimana sajak yang kutulis begitu dahaga
akan sabda-sabda cinta
dan ‘kau baringkan segala penatku
di atas pusaramu yang diam
dalam isyarat kidung duka

suara rebana itu mengalun syahdu
keabadian cinta memang hanya milik perempuan
ketika tanganku kaku menulismu, ibu
angin pun lelap memainkan irama alam
bagai kecapi melagukan simphoni duka

Malang – 2020



Puisi pun Bersujud

Sungguh engkau tak mengerti tentang jiwa
karena mata hatimu bukanlah pintu langit
Telah begitu banyak lisan hanya menjadi syair indah
tetapi tak pernah menjadi puisi surga
Pernahkah kita melihat seonggok dusta
yang menggumpal pada jasad dan mengingkari sujud-sujud kita?
Betapa jiwa itu meratap, menangis dan menyesali diri dalam puisi bisu
Aku berkata bahwa diam itu adalah catatan
yang membuat kita semakin mengerti
dimana jiwa-jiwa kita hanya bisa bersandar pada Sang Pemilik Kekal

Malang – 2020



Aku Datang ke Pusaramu

: untuk Jalaludin Rumi

Memisahkan rindu dan kesedihan
dimana emosi telah menikam jiwa
dua makna yang menguliti keindahan syair

Adalah buku, tempat menumpahkan kegelisahan tangan
berkelana mencari kebebasan
untuk hidup dalam masanya
sesuatu yang kita maknai ajaran
tetapi sesungguhnya adalah jalan
mencari sinar, membunuh kedangkalan kasat mata
hingga kita hanya mampu meraba
dalam catatan-catatan waktu dan sejarah

Kini masaku, tak setajam pena Rumi
untuk memisahkan rindu dan kesedihan
walau akupun sering larut
dalam perasaan yang sama
menumpahkan airmata dalam bait-bait hina

Mungkin suatu saat, sajakku terbaring bisu
di sisi pusara Rumi 
menjadi obat penawar rindu
dan mengulang catatan-catatannya:
Divan-i Syams-i Tabriz —
meski sesungguhnya ingin kujadikan sebuah doa
agar akupun bisa membaca:
Maqalat-i Syams Tabriz —

Malang – 2020



Majas Suci

Ketakutan ini telah mengusir keberanian malam
semestinya gelap duduk dan menemani
ketika rasa cinta telah merobek selaput angin
meski dingin itu bukan sahabat jejak kemarau

Biarlah air mengalir membasahi wajah kusam kita
agar ketakutan bukanlah cermin tanpa cahaya
Dan disitu terukir lisan, yang menghidupkan sajak
setelah mengungkung diri dalam gelap panjang
akupun terkesima, seperti membunuh semua kegelisahan
kutulis sajak yang berjalan menembus batas-batas waktu

Malam di bulan Mei mengingatkan ribuan petaka
entah mengapa sajak-sajakpun seakan berkabung
menunggu saat-saat sakral untuk membasuh
segala makna yang tertuang dalam catatan setahun
agar kita mendendangkan syair baru beraroma bunga fitri
bagai membangunkan malaikat
— yang tak pernah tidur —
kita tuangkan secangkir doa
dalam cawan-cawan tak tersentuh malaikat

Kita bakar malam, dengan sinar rembulan
dimana malaikat sering mengerlingkan pandangannya
saat bulan hadir tanpa busana
dan kita berharap kemenangan itu
bukan hanya sebuah majas suci
yang tertuang di sehelai lisan

Malang – 2020

Di Penghujung Ramadan

Di setaman aksara
kalam Ilahi memanggil subuh
malam pun bersujud, hening di pembaringan barat
angin enggan menyentuh gemintang
disini, kertas-kertas baru mulai tertulis
tumpahkan sesak dada
saat benci dan gelisah menyelinap
satu makna

Haruskah cinta dituangkan
dalam cangkir-cangkir rindu
segaris dalam shaf lantunan shalawat
menegakkan bening aksara
ketika lisan kita mulai luntur
terhempas dalam kasat mata yang selalu dangkal
hingga peraduan sajadah tebaring bisu
menghampar, menderu angin
dan berlari menembus alam sekeliling
melekat, bersandar di tubuh pepohonan
menghembuskan dingin, dedaunan pun menggigil
memanggil para malaikat
memohon dingin itu agar terselimutkan
berbaris dalam kehangatan shalawat
meski mata kita melihat, kemarau selalu membakar

Ingin kutegakkan aksara ini
membasuhnya dalam selimut malam
dimana kesunyian hadir dalam pikiran jernih
untuk memuliakan alam dan tanah
yang mulai bertelanjang diri
atau ini sebuah isyarat, bahwa alam pun merindukan cinta
saat perjalanan masa penuh makna menemukan senyumnya
di penghujung ramadan

Malang – 2020

Andai Sajakku Seperti Doa

Aku bukanlah sajak bertubuh sufi
tidak juga bait-baitku sepenggal doa
peziarah pun telah meninggalkan
sayap pusaraku, setahun lalu
meringkuk jiwa di ruang sepi
penuh malaikat
entah, apakah itu
pengadilan para jiwa

Meja-meja hidangan di depanku
seperti cahaya luka
membakar perih, tangis tak ada bedanya
di sekumpulan bocah-bocah, bertelanjang dada
dan seorang bocah berlari kencang
meneriakkan: api neraka!

Betapa perih mata ini memandang siksaan
nafsu dan dosa, meneriakkan kemenangan
tetapi kita memang terlalu angkuh
untuk menyebutnya
dan menghempaskannya di kolong langit
sekian rantai masa terikat
dan kita mengagungkan cinta

Adalah malam-malam penuh sajian rahmat
di hamparan langit malam untuk bermunajat
seharusnya semua ingkar
kita basuh di untaian tasbih
mengumandangkan asma dan istighfar
sebelum kereta penunggu kematian menghampiri

Bukankah kitab-kitab bersih
selalu mengingatkan
dimana tanah-tanah tempat terindah
bagi raga kita
tetapi jiwa itu senantiasa abadi
di akhirat nanti, surga atau neraka

Malang – 2020


Malaikat Malam

Malam mulai menghimpit kesetiaan sudut ruang nalarku
kudengar gemericik air di antara bisu angin, memecah gejolak resah
Aku mencoba meruncingkan garis-garis pena
menuangkan dalam bait penunggu malam
membiarkan pikiran ini berkecamuk, membakar gelisah

Semusim lalu, pikiranku telah terpasung
terlipat pada potongan waktu
terpisah jarak di antara kepingan hujan dan kemarau
di antara amukan ombak
di antara langit terluka
dan di antara nyanyian tanah duka

adalah seorang berjiwa putih telah terlupakan
terkapar ingatan kita
pintu-pintu menujunya tertutup
tiada jalan, darah pun mengalir
menerawang langit malam, hitam-putih
hitam berjalan, menyatu jelaga pekat
putih melintang, membagi cahaya

disini kutulis namamu, wahai Jibril
izinkan aku menulis puisi untukmu

Di bukit tandus,
adalah seorang gadis bagai bidadari memainkan nalarku
menari-nari, menaburkan semerbak aroma bunga
senja tersenyum, engkau bukanlah bidadari
selendang mawar dan melati, engkau tanam pada mataku

disini kutulis dalam sajakku, wahai malaikat malam
masih pantaskah kutitip rindu untukmu?
Agar malamku bertemu para malaikat
dan berbincang tentang kedangkalan doaku

Malang – 2020

Tak Pernah Kekal

cinta itu sepotong ilusi
saat diri kita merasa berarti
cinta itu tanpa warna
tetapi memberi warna
pada rindu dan gelisah
dan pada duka atau kebahagiaan
seperti lisan dan hati
bergejolak, mengartikan puasa
adalah mata kita tak pernah kekal
selain pandangan Ilahi
melekat dalam keagungan-Nya
bahwa mata kita telah mati dalam hidup

Malang – 2020



==================

Vito Prasetyo dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Menulis cerpen, puisi, esai, Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa media, antara lain: Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Republika, Suara Karya, Lombok Post, Magrib.id, Haluan, Travesia.co.id, dan Harian Ekspres Malaysia. Termaktub dalam Buku Apa Dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Penyair yang pernah kuliah di IKIP Makassar, ini kini menetap di Malang, Jawa Tengah. Buku Kumpulan Puisinya yang telah terbit, Biarkanlah Langit Berbicara  (2017), dan Sajak Kematian (2017).

Merekah Meruah Cahaya

0



ROMANSA KEBUN KATA

sulur-sulur tumbuh merengkuh
di antara reranting penuh seluruh

bebunga liar di kebun asmara
merekah-rekah pancaran gelora

romansa mulai tertera
di kebun menjelma kata-kata
tunaikan kisah tentang cinta dan luka

dari pucuk pena tinta asmara
seratkan bait-bait pada daun cerita

cinta mulai merekah
dari kuncup yang pernah terluka

masalalu kian mereda
oleh sekuntum bunga di kebun kata

Jombang, 2019





AIR MATA PENA

pada ujung runcing mata pena
mengalir air mata kata-kata
tanpa berakhir walau seribu telaga
penuh dan meluap hingga samudera

syair-syair tentang semesta
atau rasa cinta pada pencipta
tak pernah berakhir oleh air mata pena

Jombang, 2019




RITME TASBIH

bergulut-gulut ritme bertasbih
tuntaskan hasrat dalam peran malam
purnama kian sempurna
merekah meruah cahaya dipeluk bumi
mengirap kata rindu pada pencipta rindu
meruap belas kasih dalam renjana

purnama kian merayap
melambai nyalang, menggulut waktu
sampai fajar merekah, subuh berlalu

Jombang, 2019




MENJELANG PAGI

denyar fajar di kala subuh
burung kutilang riuh gemuruh
pohon mangga tak sempat berteduh
air mata langit semalam membasuh

mutiara pagi di pucuk daun
sisa hujan pertama mengalun

adakah pemetik mutiara itu?
selain kumbang dan kupu-kupu

Jombang, 2019




OMBAK KECIL

kesabaran adalah ombak kecil
hilang terhempas tak menepi.
merindu pada siur angin
pengubah nasib.

kesabaran adalah ombak kecil.
lenyap seketika tergulung
dahaga ombak yang besar.

yang kecil tak menepi,

yang besar liar tanpa negosiasi.

Kesabaran adalah yang kecil.
entah kapan, yang besar sadar,
dari kami yang kecil, telah
membesarkannya.

Jombang, 2019




TERINGAT JANJI

sedari pagi aku teringat janji
yang terpatri di setiap dekap
ayah dan juga sanak adalah saksi
tentang cinta yang terucap
ikrar setia di tempat suci
sampai tua hingga menghadap

Jombang, 2019




ORASI JATUH CINTA

tiada yang dapat menahan
jika asmara mulai tersulut
bagai masa yang beraksi
tak peduli pagar berduri
diterjang hingga menepi
teriakan kata penuh emosi

entah apa yang dirasa
pada yang sedang menahan cinta
apakah harus berorasi?
ataukah diam
dengan kata yang sembunyi

bagi lelaki, cinta harus berorasi
namun tidak dengan emosi
pakailah hati: penuh filosofi

Jombang, 2019

=======================

MIFTACHUR ROZAK (Bang Jack) Tinggal dan Lahir di Jombang, 03 Februari 1988. Pernah menimba ilmu di MTs dan MA Umar Zahid Perak. Tahun 2011 lulus S1 PBSI STKIP PGRI Jombang. Sekarang mengabdi sebagai Guru Bahasa Indonesia di MTsN 2 Rejoso Jombang. Karya-karyanya dimuat di Koran: Riau Pos, Medan Pos, Fajar Maksar, Radar Mojokerto, dan Radar Jombang.

Setiap Kali Namamu Kusebut

0

Laut Yang Melukis Kita

Akhirnya kudatangi lagi pantai ini:
di mana kita pernah mengarsir nama
di luas butir-butir pasirnya: waktu adalah ombak
yang menyapu setiap jejak menjadi buih-buih 
yang kita titi dengan hati-hati dan tertatih.

Akhirnya kupandang lagi laut ini:
di mana muasal birunya pernah saling kita debatkan
—dari langit yang tinggi itu ataukah matamu yang dalam—apa bedanya?
Bagi jangkauanku yang terlampau pendek,
keduanya toh sama belaka:
tak sampai kucapai,
tak saguh kusentuh.

Akhirnya kuhidu lagi udara beraroma garam ini:
di mana desaunya pernah mencipta riak-riak kecil
pada ombak rambutmu, rinduku tertaut di kusut kasaunya.

Laut adalah imaji yang melukis kita di sebidang puisi:
kau boleh jadi bangkai perahu
yang telah lapuk dipiuh waktu.
Tetapi aku tambang, yang mengikat kencang cinta
pada hati setugur pancang.

2020



Jadikan Aku Penyair yang Kau Cinta
: Adilah Pratiwi

“Tak segala yang ada pada bola matamu,
dapat ditampung kata-kataku, Adila. maka pejamkan matamu,
biarkanlah puisi itu kutulis dengan dawat kecupku!”
kataku dahulu, di suatu sore yang langitnya tersusun dari jingga senja,
yang sempat kuduga sebagai rona rindu kita.

Pernah suatu kali kusampaikan pula padamu,
di suatu malam yang langitnya terjalin dari gugus gemintang,
yang pernah kuduga sebagai kilau cinta kita.
“Hidup ini makin menyerupai labirin, Adila.
setiap jalur-jalur berkelok di dalamnya
mengantarku ke ruang-ruang yang setiap sudut dindingnya,
terpajang berbingkai senyummu!”


Tetapi begitulah kau, tak mau percaya kata-kata
dari mulut siapa saja yang kau anggap sebagai penyair.
“Tapi aku bukan penyair, Adila! Belum bisa disebut penyair.
Aku hanyalah pesakitan yang kerap menulis derita,
lewat deret derit kata-kata.”


Derita itu, kau tahu? ditanam oleh rindu,
sekian waktu sudah ia terpendam di gembur dadaku.
Dengan deras jarak, ia disiram.
Dengan rentang waktu, ia dipupuk.
Ia tumbuh jadi sebatang pohon,
akarnya jadi umbi yang tambun,
makanan pokokku sehari-hari.

Kemari, o, kemarilah, Adilaku!
Jangan biarkan rindu ini terus membuatku jadi pesakitan
yang hanya gemar menulis derita
lewat sederet derit kata-kata.
Kemari, o, kemarilah, Adilaku!
Jadikan aku penyair yang kau cinta,
walau masih sukar kau percaya
kata-katanya.

2020



Jika Cinta Adalah Perjalanan Hidup

Apa yang lebih gemar kita ulang-ulang saban hari,
selain percakapan-percakapan
tentang pertemuan tak sengaja
dan cinta yang jatuh seketika itu juga,
bagai serbuk sari pada suatu putik bunga
yang membuahkan rindu,
tak kenal jemu kita petik setiap waktu.

Apa yang lebih senang kita perbincangkan kembali
selain hari-hari yang t’lah lewat
dan tercatat di masing-masing ingatan kita
sebagai sebuah sejarah
di mana kenangan-kenangan istirah.

Sayangku, jika cinta adalah bagian dari perjalanan hidup,
bolehkah kujalani seluruh bagian hidupku
untuk sepenuhnya mencintaimu?

2020



Setangkup Selimut dan Setungku Api

Aku tubuh yang pernah terbelah dan tercacah.
Sebelum kau datang lalu menjadi mukjizat;
menjadikan bagian yang semula lepas
kembali rekat dan terikat.

Aku gigil tubuh dan gemeretakan gigi
Di malam-malam musim kemarau menuju pagi.
Sebelum kau datang dan hampiri;
menjadi setangkup selimut dan setungku api

2019




Setiap Kali Diretas Jarak

Setiap kali namamu kusebut,
aku jasad mati yang kembali
kau beri denyut.

Setiap kali mata kita bersipandang,
degup jantungku luka kecil
yang tiba-tiba meradang.

Setiap kali aku kau sentuh,
aku tegak tubuh
yang mendadak lumpuh.

Setiap kali kita diretas jarak,
tubuhku retak dan menyusun kembali
dirinya menjadi sajak.

2019




Pukul 03.00 Pagi

Melihat trotoar basah berkilauan
dibasuh hujan dan lampu jalan,
ia kepikiran juntai rambut kekasih
yang berkilauan disepuh matahari
di siang bolong.

Bersama kopi yang tinggal ampas
dan sepi tak kunjung tandas,
sebuah puisi belum selesai
harap-harap cemas
pada penyair
yang matanya merah berair

Pukul 03.00 pagi,
dingin kepalkan tangan
meninju pertahanan tubuhnya
yang rapuh
tanpa pelukan.

2019


=====================
Yohan Fikri Mu’tashim
, lahir di Ponorogo, 01 November 1998. Alumnus Pondok Pesantren HM Putra Al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri ini sekarang sedang menempuh pendidikan di Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang, sembari menimba ilmu agama di Ponpes Miftahul Huda Gading Malang. Aktif menulis puisi. Juara 1 Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional BATCH 2 yang diselenggarakan oleh Ruang Kreasi tahun 2020. Puisi-puisinya termuat dalam antologi bersama: Babu Tetek: Seibu Puisi (Penerbit Kuncup, 2018) dan Santri (Penerbit Sulur, 2019).

Menembus Dinding Kesunyian

1



Rindu Berdarah Dalam Batinku

Ya habibana yang berdarah dalam batinku
Yang kurindu dalam dukaku
Sebelum fajar kusingkap
Datanglah engkau ke selubung imanku
Tak ada yang kusembunyikan
Dari sisa-sisa rahasia
Nestapa yang kutelan
Adalah derita yang kuterima

Bagaimana aku
Pantas mengaku
Paling sengsara
Sementara dunia diciptakan
Bagi kegembiraan

2019


Mata Airmata

Suara-suara tangis
menikam
datang dari
kegelapan paling
kelam
mendengung
dari tubuhku
yang lemah
dan parau

Suara-suara
meminta
rahmatMu
bagai
gemuruh
gerimis
menghapus
sisa
perih
dan luka

O, Duka Mulia

Airmata bagai syair
tak melenyapkan
kesedihan apa pun

Bukan keheningan
yang aku cari
atau diam yang
Agung
tapi riwayat api
membakar bulan
menjadikannya gelap
sebentuk lorong
sinar lilin
di ujung tepi
dilalui
pejalan sepi
dalam sekarat
bumi hangus

2019




Amsal Kesedihan

Api membara dalam tubuhku
Tetaplah menyala
Oh, tapi tidak
Aku telah menjadi abu
Aku telah diterbangkan
Kepedihan. Sejak nyala
Cintamu membuatku
Berdarah dalam dekap
Demi dekap, saat rebah
Di bibirmu.

Kau yang bagai sinar
Hampir pasti tak mungkin
Aku menyatu dalam moksa
Aku hanya sanggup
Menjadi pengintai
Bagi perasaan
Yang dicari pencinta
Dalam detak
Dalam cahaya

Dan aku menapaki kembali
Cuaca buruk
Bagai angin sakit
Menerpa lampu-lampu
Kenangan ambruk
Mirip angin ribut

Aku menjejakinya lagi

Kalender musim hangus
Seperti aspal

Aku tinju
Langit jahanam ini
Bagai duka
Nyanyian
Burung-burung
Kesedihan

2018-2019




Amsal Amarah

/1/
Dunia rebah
Ke dalam
Amarah
Seperti pohon
Pada gejolak api

Apakah awan-awan
Menyimpan lahar
Sehingga turun ke atas dendam
Bagai sengit
Mata api?

/2/
Kesia-siaan datang
Dari sela pintu
Di sepotong siang
Yang angkuh

Apakah jarum-jarum cahaya
Telah menjadi
Mata biru
Di mataku
Yang rapuh?

2019




Meninggalkan Desember

Aku
membiarkan diri
memasuki tahun-tahun asing
tersesat dalam suara-suara
ketenangan
dari balik kaca

Kebisingan terdengar lebih pelan
bagai nada jauh
dari hiruk pikuk orang-orang
yang melampaui kesedihan
setiap malam cahaya bulan tak berhenti 
menembus dinding kesunyian

Aku
membiarkan diri tersesat
dalam lorong-lorong
musim yang risau
bergerak
dalam senyap yang kedap
mengikuti lentera dengan cahaya redup
dan retak

2019




Menanti Kabar

Dalam sepi yang asing, dalam sepi yang
Tak kukenal. Betapa panjang jarak
Perjalanan, jarak kerinduan. Jarak sakit
Menempuh jalan. Bagaimana
Menghapusnya? Mungkin dengan
Airmata. Atau anggur kecemasan.
Surat-surat yang tergeletak di meja, ingin
Aku mengirimnya. Tapi, kepada siapa?

2018




Setu Babakan

Arus yang mengarah kepadaku itu
Adalah engkau
Selembut maut
Semurni sengsara

Bagaimana bisa aku tenggelam
Dan hanyut
Dalam lagu-lagu yang kausenandungkan
Di malam sedih?
Sejauh aku melihat hanya danau sepi
Dan kekosongan mengalir ke dalam diri.

2019



Aku Akan

Aku akan menulis bagai air bah
Tsunami yang menerjang lembah
Kesedihan
Setelah kering sungai
Kata-kata

Barangkali aku akan menulis
Dengan tenaga ombak
Dirimu yang penuh kecemasan
Seperti kalimat yang tak selalu selesai

2019


===============
Restu A. Putra, saat ini bergiat dan belajar menulis di Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Bogor. Buku Kumpulan Cerpennya, Siapa Sebenarnya Ajengan Hamid Sebelum Diburu Anjing-Anjing? (Rua Aksara, 2019).

Waktu Akan Mencuci Tanganmu

0


Air Mata Para Petani

Kata orang tanah kita tanah surga
Kayu tongkat dan batu jadi tanaman
-Koes Plus

Di warung makan aku terdiam lama memandang
sedang kata-kata padam terbenam dalam renungan
mencium aroma nasi panas di pucuk jemari tangan
ternyata berasnya bau keringat petani Vietnam
sedangkan tempe goreng yang menjadi menu idola
dompetku dan juga dompet 100 juta orang Indonesia
ternyata kedelainya ditanam oleh petani Paman Sam
sambal tomat yang membuat mata petani merah dan marah
ternyata cabainya dipetik dari kebun petani Argentina
satu porsi makanan yang tersaji di depan mata
ternyata menjalani satu jalan yang panjang
sebelum mendarat di perutku dan perut orang Indonesia
seperti panjangnya sungai yang membawa air mata
para petani hingga ke pangkuan samudera raya
beginikah nasib para petani yang hidupnya digarami
air matanya sendiri



Perihal Bunga Mawar

Bunga mawar yang luput yang berserakan di jalan itu
hanyalah bunga, kata perempuan itu sambil berlalu.
Siapa yang sudah menelantarkan cinta? Siapa yang sudah
menabur air mata? Kata penjual bunga itu.
Kemudian dipungutinya setangkai demi setangkai –menyumpahi.



Keramahan Cinta

Membayangkanmu hanya mempertegas rasa sakitku
waktu akan mencuci tanganmu bekas lumuran darahku
ke mana kau sembunyikan pisau bekas jantungku itu?
karena cinta melulu bersembunyi di balik keramahan kata
kemudian tangis akan selalu mencuci sepasang mata kita



Mungkinkah Kau yang Menitihkan Air di Mataku

Kusambut gugur gerimis yang ramai di beranda itu
kubiarkan kesunyian yang lebat mengepung malamku
akankah rembulan tiba dan tergelincir di punggung pagi itu?
apakah kau yang barusan melintas di antara asap rokokku?
atau mungkinkah kau yang menitihkan air di mataku?
tanyaku sambil menyesap kesepian pada dada malam yang
pekat itu.



Hujan Sore Ini
: Revallina

Sayang, apakah kau melihat
langit murung sebab mendung?
Jika sore ini hujan turun
aku ingin berteduh pada tubuhmu

Hujan sore ini ialah alasan
bagi mata yang ingin bertemu
bagi bibir yang kering dan layu
sebab kemarau rindu itu

Lagi hati yang pedih
dan resah karena pisah
Sayang, hujan sore ini ialah alasan
kenapa aku harus pulang.



Apalah Artinya Surga Tanpamu
: Revallina

Apalah artinya surga tanpamu
seperti Adam dulu akulah lelakimu
yang kesepian itu.

Mungkin saja benar lelaki pandai berdusta
tapi Tuhan mengampuni dosa hamba-Nya
Yang sedang jatuh cinta.

Jika Suatu Malam Nanti
: Revallina

jikalau suatu malam nanti kita bertemu
akan kuseka ragu yang kukira menghalau
kita untuk melepas dahaga: mereguknya
dengan kata atau tatapan mata.


==================

Arian Pangestu, Menulis fiksi dan nonfiksi. Tulisannya dimuat di Radar Surabaya, Pikiran Rakyat, Bangka Pos, Solo Pos, Medan Pos, Pontianak Post, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Malang Post, Bangka Pos, Padang Ekspres, Minggu Pagi, Koran Merapi, Media Indonesia, Koran Jakarta, Harian Analisa, Republika, Tribun Jateng, Harian Rakyat Sultra, Radar Tegal, Satelit Post, Media Jatim, Tanjungpinang Post, Geotimes, dan Suara Kebebasan. Novel perdananya Lautan Cinta Tak Bertepi (2018).



Buku yang tak Lagi Dibaca

0




Aku Memukul Kepalaku dan Sesuatu Berjatuhan

aku memukul kepalaku dan sesuatu berjatuhan, seperti pikiran-pikiran yang tersesat, seperti jalan yang tertahan oleh palang. kepalaku tidak kosong seperti kata-kata politis atau berisik seperti berita dari internet di mana orang-orang kesepian butuh kesibukan sebab mereka jauh dari pelukan juga tak mesra. percayalah, kau tak akan temukan kata-kata cinta di sana. aku memunggut pikiranku yang berserakan. aku tak hendak membuangnya meski mereka takut, cemas dan ingin pergi. bagaimana aku bisa menenangkannya dari segala yang tak jernih? sekalipun butuh waktu tak lebih lama misalnya dari kotaku ke ibu kota atau memulai perdebatan-perdebatan heroik di sebuah laman tanpa spasi. aku dengar kepalaku bicara, sesuatu, tentang negara dan nasionalisme, meski tak satu orang pun benar-benar memilikinya, seperti bahasa indonesia dalam bahasa daerahmu.

2019



Hari-hari Paman

paman ingin melupakan diri sendiri, seperti balon udara yang sudah lama pergi, seperti ia melupakan semisal; nama kucing pemberiannya atau warna-warna hari.

paman sudah tua, seharian duduk di jendela, memandang hari rabu yang berwarna sabtu dan langit terlihat seperti topi. tapi topi semirip awan, melindungi dari panas, katamu, langit terlampau besar.

paman bilang, langit tidak mau mandi, sebab dia tidak kemana-mana, seperti topi di atas kepala paman, sedang awan gemar kemana-mana, tidak seperti topi.

di hari yang berwarna, paman mendengar musik Internasionale diputar, tangannya mengacung-ngacung, seperti hari saat pemakaman Pram. dia lupa nama semua hari.

siapa Pram? tanyamu. apakah ideologi punya identitas? orang-orang tak mengingat Pram seperti tak mengingat Tan seperti melupakan nama semua hari.

sejarah adalah buku yang tak lagi dibaca, begitu sebuah kalimat dilontarkan dalam pidato di seminar kebangsaan negara asing dan jauh dari jendela.

di suatu hari yang tak berwarna, paman, barangkali, tak lagi ada, juga apa-apa menjadi seolah tak pernah ada.

2019

Masa Silam Sebuah Kota

aku melihat kenangan
80 mil dari barat daya
melewati garis pantai

di sana,
dengan harum jahe, biji pala dan kenari
di mana negeri-negeri pernah bertemu
melabuhkan kapal

pasar raya hanya untuk cerita-cerita perang
harta yang hilang seperti buruh pengkhianat
dan kafilah bersiap pulang

meninggalkan gulungan kain,
permadani, karpet-karpet,
imperium yang agung

masa silam, adakah berharga bagi para peniaga?

aku temui kematian
sebuah kota, yang pada hari-harinya kerap terdengar
ayunan langkah, angin, suara denting barang-barang

2019

Di Tengah Kota

ia lihat jutaan lampu, menuruni kota
seperti kilau hujan, menjatuhi wajah

ia berjalan, melewati salju
seperti kerlip bintang, menyilau mata

dan malam terasa demikian dingin
di antara pohon-pohon tua
seperti puisi, seperti puisi-puisi

berhembus di udara terbuka

2019

Penyair yang Tersesat

penyair itu kerap terjerumus
meski telah lama mengaji
seperti domba yang tersesat
di ladang penggembalaan
sebagai martir yang celaka

barangkali ia luput
betapapun luas kata
semata nur yang menerangi
jalan sunyi puisi

2019

Doa

ia kecupi punggung tangan
ia dengar sebaris ayat
dibisikkan

doa itu
dari hembus udara
ataukah getar bahasa?

2019



====================
Irma Agryanti. lahir di Mataram, Lombok. Kumpulan puisinya “Anjing Gunung” mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2018-2019 dan sebagai nominasi Karya Sastra Puisi Pilihan Tempo 2019. Bergiat di Komunitas Akarpohon.

Jamuan Bintang di Tepi Kolam

1



Menuju Kamu

ke wajahmu aku mengendarai senja
tempat beradu segala pedih di hati lelaki
yang lengkap sepi bersemi
terutama aku yang menjumpaimu lewat mimpi

aku bersaksi atas dadaku sendiri
bahwa bedakmu abadi sebagai warna pagi
sebab kamu adalah rasa sakit yang jatuh
tepat di titik namamu jauh berteduh

mendoakanmu di sisi adalah puisi tanpa henti
dan di dekatmu seperti membaca kitab ilusi

Sumenep, 2019

Mendaki Kangen

semakin tinggi mendaki tangga kangenku
semakin terlihat bangunan-bangunan luka itu

padahal ketinggian belum sempurna dari arah timur
engkau menganyam janur,
semua telah tanpak kasihan apalagi semakin
menuju garis lintas paling atas
barangkali sungai air mata juga seperti sungai
yang mengalir sepanjang babad tanah jawa

aku sudah mengawali pendakian ini
dengan ritus-ritus suci dilengkapi azimat rimba
maka seturun nanti ia akan menggusur luka-luka
yang dibangun seperti bencana

Sumenep, 2019


Wangi Parfum

selintas kamu berlalu seperti kendaraan,
berlalu tanpa salam atau sedikit anggukan

tinggal wangi lewat pelat dan hidungku telanjang
menyertakan parfummu dan ciumaanku makin dalam
berai tubuh itu ternyata aroma lain
dari cara tuhan kabarkan rayu

wangi yang binal
memelihara mataku dari pakaian biru liris ungu
dan penunggu hutan lesu yang rapuh

wangi yang meninggalkan bekas rindu
di lantai dan di tengah-tengah pintu tanpa penghalang
antara aku dah wajahmu

semoga kamu padaku di ujung siang
tanpa parfum yang hilang

Sumenep, 2019

Menunggu Hujan Kita

aku menunggu engkau terkejut oleh hujan
dan kita basah kuyup kegembiraan
bersama ayunan berpasangan
di taman tempat tumbuhkan kenangan

kita menunggu hujan terutama aku
menunggu wajahmu sumringah
sambil mengayun-ngayun lentik jari
mempersilahkan rintik-rintik jatuh di pipi

sebelum hari ini
engkau pernah mengingatkan padaku
agar tak cemburu pada hujan
sebab bulirnya mendahului sentuhanku
pada bidang roti bolu di balik blush on

Sumenep, 2019

Malam di Tepi Kolam

malam di tepi kolam
berhamburan kembang angin dari sudut dingin
setiap kelopaknya menerpa wajah
tanpa menyisahkan peristiwa

engkau datang menuju kopiku yang santai
menghabiskan jamuan bintang
begitu juga mataku mengahbiskan langkahmu
yang juntai

oh sekotak kolam air mata
dari mana aku mulai kata-kata
agar perempuan ini tersentuh denyutnya

Sumenep, 2019

Puisiku Lagu Renjana

aku ingin menghabiskan sisa puisi
dengan suaramu sebagai pengiring jika kelak
puisi-puisiku dirubah menjadi lagu
atau kamu saja yang bernyanyi

biar aku petik gitar daun sambil mendengarkan
irama yang lewar di bibirmu dan menikmati
keresahan berguguran

dengan begitu tak ada hutangku pada jiwa-jiwa
yang menantiku menemuinya dengan prosa-prosa
sebagi tubuh pengganti kesah
begitu pula hutangmu pada gulita di mata

bukankah setiap dendang selalu mengantar pandang
pada pelantun kondang peramu bayang-bayang
ingin sekali itu aku yang melirikmu pertama
sebelum habis bunyi biola

Sumenep, 2019

Mendoakanmu Adalah Rindu Paling Puitis

hujan bulan juli baru saja mencoba menghampiri
tanahku dengan rintik kecil-kecil
sekaligus untuk kesekian kalinya aku memulai petualangan
melawan dingin tanpa mengindahkan wajahmu, bu,
serta terasa sangsi basah genting dan pintu-pintu rumah
sebab tiada lagi pengantar tidur siang tengah hujan

ini adalah musim yang paling banyak mengantar dongeng
seperti kupu-kupu yang kuyup oleh rindu
atau seekor burung kecil berwarna gerimis di ranting jauh
aku hafal sekali gerak bibirmu dan tatapan teduh
yang paling meneduhkan

hujan bulan juli baru saja mengirimkan raut wajahmu, bu,
dan mendoakanmu adalah rindu paling puitis
dan paling kelana sepanjang dingin berguguran
di halaman serta merindangkan daun-daun kenangan

Juli, 2019

Pada Sebuah Lagu Aku Menemukan Kamu Lagi

aku putar kembali lagu kesukaan yang bercambur suaramu
menyakitkan namun patut kurindu
setiap katanya merawat jalan-jalan pemberangkatan
dan setiap jeda dan ketukan irama
selalu meluaskan dadaku mempersilahkan
duka-duka manis bertamu menukar temu denganmu

tiga kali putaran barangkali,
wajahku hampir mendanau depan cermin
dan hati seperti diarak sekawanan luka-tawa
di kampung bernama penantian
meski waktu tak kunjung pasti berbunyi kembali
sebagai alarm yang kita nanti
aku sudah tahu bahwa kamu masih lama untuk kemari

Sumenep, 2019

Pada Suatu Pesta Bungaku Menjadi Tujuh

seluruh karangan bunga yang kususun
dari taman di belakang kesedihan
berserakan jatuh menjadi tujuh petakan
salah satunya kehilangan aroma dan warna

tinggal tulisan-tulisan bersilih pulang
mengendarai kembang luka
dan aku merasakan bola mata ini jingga
seperti warna gaunmu sewaktu pesta

lusuh segala kegombalan yang kusimpan
pada daun-daun dan kuncup aromanya
padahal kusaksikan waktu masih berjalan
dari utara melawan arahmu menghilang

mestinya masih banyak hembusan napasmu
sewaktu berdansa dan berpegangan tangan
paling tidak kita masih menyisahkan satu
gerakan yang kita pelajari dari kenangan

lalu harus aku apakan tangkai bunga ini
yang tidak lagi mampu berdiri
menanamnya kembali di kebun hujan
atau membiarkan luluh lantak sendirian

Sumenep, 2019

=====================
Romzul Falah, alumni pondok pesantren Aqidah Usymuni Terate, Sumenep. Sekarang menempuh pendidikan di Universitas Wiraraja Sumenep. Bergiat di UKM Sanggar Cemara, Pabengkon Sastra, Lesbumi Batuputih, Kelas Puisi Bekasi dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon SOSPOL Komisariat UNIJA. Puisi-puisinya tersiar di beberapa media dan antologi puisi bersama.

Seperti Apa Melupakan Cinta Pertama?

0


Musim Penghujan

matahari terbit dari arah selatan
sebelum hujan tumpah. gerah.
angin ribut. bambu berisik
seperti denyit pintu terbuka
hujan tumpah. tambah gerah.

di selatan, orangorang tidur lebih cepat
tak ada pekerja penebang bambu
malam di tengah jalan

di barat, sebelum menuju laut
jalan bendung air
dan pekarangan rumah
matahari terbenam terlambat
dua menit,
malamnya kelapa dibait bulan

2020




Jodoh

            : untuk A.

dengan siapapun kamu di rumah tikah
simpan aku di dadamu
jangan merasa berdosa
dosadosa kita dibakar cinta
qois-laila adalah hujjah

aku adalah kamu
kamu adalah aku

dengan siapapun kamu di rumah tikah
tetap simpan aku di dadamu
sampai mati. kita syahid.
di hari kemudian, kita bersama
orang yang kita cintai




Seperti Apa Melupakan
Cinta Pertama?

seperti memasukkan monyet
ke dalam lubang jarum

2020


Hari Jumat

ini jumat. hari libur
hari mencuci pakaian
di kejauhan
sibuk mencaci warna baju

ini jumat
hari bersihbersih
tapi di seberang ada yang
mengotori udara sebab setengah
kabar dari burung bermata satu

setelah berkumpul mengetuk
pintu rahim
mulut bergumul mengutuk
atas nama orang alim

sudah padamkah khotbah zharatustra,
rumi abad modern, seorang bijak
yang menyebarkan barakah di hari jumat
agar orangorang bisa menari di atas kepalanya sendiri

2020




Kalimat mimpi

kita tak butuh harta
hanya butuh kata

ucap seorang nenek yang kujumpai
di dalam mimpi
kalimatnya terngiang
sepanjang waktu

aku termenung di atas batu

kata adalah harta yang berada
di kedalaman batu

batu itu kepalaku
yang harus dipecah, dilebur jadi debu
hingga aku menemukan kataku sendiri

2020




Menuang Anggur

tiapkali menuang anggur
jatuh setetes dari mulut cangkir
hitam pasir menjadi merah

setetes kemabukan hilang

barangkali ditetes itu aku
bisa mendapatkan kemabukan cinta
paling purna
yang dapat membuat cangkir ini bergetar

anggur habis kuteguk
tapi hatiku yang merah
hitam kembali serupa pasir it

lainkali tiap menuang anggur
tak kubiarkan setetes pun jatuh

2020

=======================

Chaidir Amry lahir di Suradadi, 14 Juli. Puisi-puisinya pernah dimuat di Harian Umum Haluan, Linikini.id, Banjarmasin Post, Bali Post, Suara NTB, Radar Mojokerto, Litera.co.id.

Waktu Hanya Sebutir Apel

0


Puisi-puisi Gio Pratama


Seperti Hari Yang Tersesat

Musim berganti.
Aku hanya bergeser
dari kesepian ke kesepian.

Di antara sajak-sajak yang sakit,
malam terlipat dan langit semakin kelabu.
Kulihat perahu menembus gelap
ketika kesedihan berulangkali
menyebut namaku.

Kudengar lagi lagu pilu
dari dalam mimpi. Alangkah merdu
seperti hari yang berulangkali tersesat
ke dalam lukaku.

2020


Aku Ingin Pindah

Aku menempuh kehidupan yang sukar. Tempat yang kutinggali
adalah bangunan yang sekarang sedang sulit menemukan air.
Aku ingin pindah menemukan lagi air-air yang melimpah,
yang selalu meletakkan hidup pada pemandangan yang indah dan cerah.

Aku ingin pindah menuju bangunan-bangunan lain yang menyimpan
harum kenangan baru. Aku ingin merasakan betapa sejarah terus berubah,
mengubah jalan hidupku yang terkadang penuh liku,
terkadang penuh rindu.

Aku ingin pindah dan memunguti hari-hari yang rapuh dengan rasa sukacita.
Aku ingin pindah dan merasakan beban di punggungku meleleh
seperti salju yang ditempa cahaya musim panas.

2019



Dalam Sepi Yang Purba

Kautuliskan kembali peristiwa pilu
dalam hari yang panjang.
“Apakah masih ada mimpi
dari masa lalu yang terkutuk?”
Tapi senyap merayap.
Hanya jatuhan bulu matamu
yang menjawab.
Kaulipat usia
dalam sepi yang purba.

2019-2020



Sajak Bisu

untuk Willy Fahmy Agiska

Pada bising yang makin getir,
pada batas kesakitan yang bergetar,
aku bisu.

Seluruh suara pulang padaku
tanpa gema dan kata-kata.

Waktu hanya sebutir apel
yang terkupas dan membusuk
di mulutku.

Sedang di sini, puisi menggigil.
Bunyi dari seratus kefanaan terkapar
di antara hari yang dilucuti kenangan.

2019-2020



Keresahan Tak Pergi Ke Mana-Mana

Keresahan ini tak pergi ke mana-mana.
Ia disusun dari perasaan-perasaan
yang bagai batu.

Sejauh apa pun kita meninggalkannya,
satu-satunya yang pergi hanyalah waktu
dan sepi yang kian beku.

Keresahan ini tak pergi ke mana-mana.
Ia tak pernah ke mana-mana!

2020



Kipas Yang Berputar Cepat Tapi Tidak Sangat Cepat

Kipas itu berputar cepat.
Tapi tidak sangat cepat.

Ia sendiri saja berdiam di atas sana.
Ia sepertinya ingin menjadi rahim puisi
yang mahir merawat kata-kata.
Tapi ia tak bisa. Tak akan pernah bisa.
Sebab ia hanya terlahir sebagai benda yang setia
merawat angin. Bukan kata-kata. Bukan juga kita.

Kipas itu berputar cepat.
Tapi tidak sangat cepat.
Dan kehidupan menjadi semakin penat.
Dan kehidupan menjadi semakin pekat.

2019



Tanah Ini

Di tanah ini,
jejak-jejak menggema
tapi tidak abadi.

Sebab tanah ini pun fana
seperti kita.

2019

========================

Anugrah Gio Pratama lahir di Lamongan pada tanggal 22 Juni 1999. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa Indonesia di sana. Puisi-puisinya termuat di beberapa media massadan antologi bersama. Bukunya yang telah terbit berjudul Puisi yang Remuk Berkeping-keping (Interlude,  2019).

Terbaru

Waktu Akan Mencuci Tanganmu

Air Mata Para Petani Kata orang tanah kita tanah surgaKayu tongkat dan batu jadi...

Jadi Cerpenis Lagi

Sungai di Wajah Ibu

Magrib dan Sebuah Pertikaian

Dari Redaksi