Puisi

Home Puisi Page 3

Puisi yang Menetap dan Marak di Tubuhmu

0


Puisi-puisi Maulidan Rahman Siregar


LAGU IBU /7/

ibu, untuk seluruh puisi yang menetap dan
marak di tubuhmu
untuk laju kencang doa-doa yang
menenggelamkan hina
dan untuk pikir kafir penuh celaka
aku pulang ke rahimmu dan ingin
malas-malasan di situ
dongengkan aku dongeng cinta ribuan tahun
semisal pengusiran
Adam dari tanah purna
semisal meteor yang hempas seluruh
savana
yang menghancurkan peradaban jurasik
oh, ibu, basuh segala burukku
hina segala dosa
angkat aku, ibu
suruh bangun pukul 07 pagi
mandikan aku, ibu
agar purna intan dalam diri
pulang lagi ruh ke badan
dan buku-buku kiri yang mahal
segala peradaban yang alangkah gaya
bagaimana politik mungkin aku paham, ibu
untuk bodoh saja belum
dan tubuh hina ini
pikir lemah ini
kembali ingin pulang
ke rahimmu
tanah jauh alangkah panjang!
oh, doa-doa yang pending
oh kata kata
oh apa saja
bunyi jantung ribuan tahun
peluk, peluk, peluk!
tumbuk, tumbuk, tumbuk!

2019

LAGU IBU /9/

ibukota tak pernah memihak pada ibu
oleh sebab itu, ibu selalu menyulam doa-doa
seharum edelweiss yang selalu saja cetek
oleh keringat ayah sendiri yang meraihnya
di puncak jauh
besok, selalu saja misteri
meski tetap saja, jidat ibu
selalu rebah
dan tangan ibu
selalu tengadah
aku yang nackal dan unfaedah
aku lari, sejauh apa?
tetap saja, ibu
akan kupulangkan ibukota ke tubuhmu!

2019

LAGU IBU /5/

maafkan aku, ibu
tak hapal nomormu
eh, hapal kok
tapi jarang nelpon
sebab hidup pelik ini
dan lilin-lin kecil
di mulut seluruh manusia
telah membakar rumah
kita
bagaimana, bu?
kapan?
kita ke pantai, setelah menghabiskan
banyak uang di mall?

2019

LAGU IBU /4/

ibu, oh ibu
lagi ngapain, bu?
bikin puisi yuk
tentang doa-doa yang pending
tentang listrik mahal
yang bikin ayah
lupa pulang
ibu, oh ibu
di pasar, harga cabe sudah berapa?
bolehlah kita
menangis sejadi-jadinya

2019

LAGU IBU /8/

bila saja waktu bisa kutarik kembali
aku sungguh ingin kembali
ke dalam dekap ibu
ketika hangat dekapnya
dan belai lembut jemarinya
menjadi apa saja!
ibu, oh ibu,
aku selalu ingin pulang

2019

Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang 03 Februari 1991. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018) dan Menyembah Lampu Jalan (2019)

Aku yang Senantiasa Memujamu

0

AIR MATA DI SEPERTIGA MALAM

Dendang angin di daun jendela,
bersahutan dengan detak ruh jam dinding
membaca waktu, saat semesta
terbaring lelap tanpa bunga.

Dalam hening
sujudku takluk di bumi. Menggapai-gapai
pengampunan. Doa-doa terdengar
meraung dan nyaring sampai ruang langit.

Sujud demi sujud aku menyebut
Mahasuci
Mahaluhur
Mahaterpuji.
Terjalinlah kisah cinta yang tiada
banding untuk kusanding.

Riak air mata
mengalir dalam tawaf zikir yang panjang
bagai perjalanan sufi mencari ihsan.

Lalu doa-doa kembali menyiram sepertiga malam.
Mencencang sunyi. Menambal retak kalbu.
“Jika ini jalan hijrah, beri aku
air mata untuk menakar penyesalan.”

Aamiin para malaikat,
menggetar telapak dada.

Sumbawa, 2019

SEPASANG KEKASIH

Gemersik helai-helai waktu fardu dari ranting hari, gemercik pula
doa-doa dari mata air iman
kala wudhu membasuh segala jejak

Dengan cinta yang sahaja
aku menemukan-Mu dalam ketiadaan berwujud, dan
cahaya-Mu menyulam sujudku
sampai ujung salam

Lalu menjemput air mata dalam zikir
mengalir ke telaga iman, tempat di mana kita bercengkerama
bagaikan sepasang kekasih

2019

A.Rahim Eltara

PERCAKAPAN

Diamku
Adalah percakapan
Mendekatkan hati
Menjalin cinta kasih

Gerakku
Adalah percakapan
Berbisik di bumi
Menggema di langit

Tatapanku
Adalah percakapan
Bulan dan matahari
Membaca semesta

Percakapanku
Adalah jalan sufi
Merebut cintamu
Hidup dan matiku

Sumbawa, 2019

LUKISAN ILAHI

Matahari melukis senja di jendela
tempat di mana mata menitip kenangan.
Cakrawala terbakar di kanvas, dan
burung-burung memburu waktu menuju sarang


Ombak selalu menyapa dengan buih, memungut
jejak manis anak-anak pantai
yang pulang melepas rindu.

Rindu pun menuju alunan adzan
yang jauh lebih merdu dari kicauan burung subuh.

Laut kehilangan biru.
Rimba kehilangan hijau.
Tetapi sujud tak akan kehilangan khusuk.

Waktu pun melukis doa dengan wangi air wudhu. Ayat-ayat

Ilahi semakin delima di bibir insan putih hati.

BIR, 2019

BERCINTA DALAM TAHAJUD

malam lelap
ruh menuntun dalam hayat
menjumpaimu di sepertiga malam

jarum jam menghitung sisa waktu
gemercik air wuduh, cahaya
memancar dari mata langit

dalam hening
tahajud mengadu, terasa engkau
tak berjarak dengan detak jantung

bening cinta
mengalir dari ranting mata
menjadi sekuntum bunga

doa-doa semakin wangi
gugur dari bibir hati
sajadah berpeluh linang cinta

hanya aku dan engkau
bercinta di ruang sunyi
dalam samudra cintamu

Sbw, 30 Ramadan 1440 H

JEJAK ZIKIR

saat melewati
anak-anak tangga waktu
bergenggam-genggam doa
kuterbangkan ke tahta langit
kalbuku menjadi rahim
seribu zikir

lalu Nur-Mu
lebih terang dari sinar matahari
memancar dalam airmata yang gerimis
di mana aku berharap
menimba cinta yang manis

bagai air zamzam
menetesi kalbu
ketika zikir
mengalir ke hilir rahmatallilalamin

Sumbawa, 2019

SAJAK HAYAT

di ruang mata
kutanak cahaya matahari
kemilaunya
tiada berbatas

di sulam sajadah
kuhitung butiran debu
tasbih pun berlisan
di ceruk kalbu

tanpa perantara

di khusuk sujud
di sejuk riak zikir
kubuka pelupuk hati
yang tiada mati

Sumbawa,2018

LENTERA TUHAN

Menerangi biji-biji tasbih
Seterang warna darah
Mengalir dalam nadi-nadi
Adalah jalan tuhan

Menerangi ayat-ayat kitab suci
Lidah begitu fasih mengeja
Tanda baca menyala
Adalah firmanmu menyeru
Dari lembar-lembar langit

Menerangi gelar sajadah
Bulan tumpah di kening
Sujud pun kehilangan gulita
Ruang hati sebenderang matahari
Dialog saling menyatu khusuk

Aku bagai lilin
Meleleh dalam lenteramu
Menerangi jalan pulang

Sumbawa,2017

RUMAH SERIBU PINTU

Beduk bertalu-talu di tabuh waktu
Bulan sepotong, membagi cahaya
Benderang setapak jalan menuju jannah
Rumahmu terbuka seribu pintu
Kalam menggelegar di ruang langit

Segenggam doa mengepak sayap pelangi
Langit menjemput ampunan. Tanpa percakapan
Guyuran rahmat serupa hujan
Shalawat subur di rahim bumi
Di mana akan menjadi seberkas cahaya dalam rumah terakhir

Sumbawa, 2017

SEBUT SAJA AKU KEKASIHMU

Sebut saja aku kekasihmu
Tanpa ada keraguan saat aku meminangmu
Di antara siang dan malamku
Aku yang senantiasa memujamu
Seiring denyut hayat jantungku

Tiada cinta yang sempurna dari cintamu
Lebih dari sibak samudara
Tiada pula yang tulus dari setulus kasihmu
Lebih dari teduh seribu teluk

Ingin semua waktu menjadi fardu bagiku
Karena tak ingin dialogku berjeda
Dengan ayat-ayatmu yang paling wahyu

Sebut saja aku kekasihmu
Biar dalam sujudku yang makmum

Aku merasa selalu punya cinta selapang dada
Cinta yang paling baqa

Sumbawa,2017

==========

A.RAHIM ELTARA, lahir di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 16 Oktober. Penerima Anugerah Bahasa dan Sastra dari Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat.Tahun 2018 meraih Pemenang Puisi Pilihan dalam Gerakan 1000 Guru Menulis se-Asean.

Sebagian karyanya dalam bentuk antologi tunggal dan bersama, Kepak sayap Rasa (tunggal) 2011, Kidung Tambora (Puisi Esai,2018), Ladang Kekasih (tunggal)2018, Ketika Kata Berlipat Makna (bersama) 2018, Antologi Puisi 1000 Guru Menulis (bersama) 2018, Negeri Pesisiran (bersama) 2018-2019.

Saat ini sebagai anggota aktif Perkumpulan Rumah Seni Asnur, Komunitas dari Negeri Poci, Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Karya,Teori,Sejarah,dan Kritik Sastra, Rumah Litersi, Seni dan Sastra Reboeng.

Meretas Beribu Tahun Jarak

0

Maulid

Ada yang tak pernah habis ditafsir
atas sebuah kelahiran
putra dari bani Hasyim

Aminah, sayyidah yang disetiakan
bagi Abdullah
perempuan yang diliputi marwah

Muhammad… Muhammad
di hari pemberian nama
Abdul Muthalib yang termashur mengangkat
sang bayi dengan sepasang tangannya*

Kelak, hingga beribu tahun jarak
umatmu terus merayakan
kelahiranmu ya Rasul
maka selawat dan salam

Masuk lewat bibir kami, tenggorokan
pembuluh darah, berkumpul
di jantung membentuk simpul
tak terputus

aamiin


Ampenan, Maulud 1441 H

*sebuah adegan dalam film Muhammad: The Messenger of God karya Majid Majidi

Menyebut Tentang Laut

1/
Tuhan yang pemurah menjadikanmu sebentuk wadah
menampung bergulung-gulung air
juga gelombang pasang yang sanggup meraup pesisir

langit riang berkaca padamu
maka teranglah biru merupa mata
perempuan-perempuan terdahulu

jemarimu ombak lentur melepas riak
meretas beribu tahun jarak
lembar-lembar kitab ke musim-musim
semenjak tubuhmu terbelah tongkat sebilah

seorang mustakim

2/
Adalah pagi yang menumbuhkan nyanyian
selepas subuh kau deburkan
sementara ikan, kerang-kerang bergelung
menetaskan liur dalam palung

dan senja seumpama seseorang
mencari dan menemukan
jejak pada pasir yang kau tinggalkan

sebelum ombak membuatnya kembali tak ada

adalah malam pemilik wujud genap
gelap dan senyap
bintang menjatuhimu sekejap kerlap

maka darimu angin lepas
menyusur takzim ke banyak tingkap

sekudus selawat, menembus liang-liang lahat

Ampenan, 2019

Kemiri

dalam hidupmu apa yang lebih berat
melampaui segenap hasrat
selain perkawinan

gelar isteri akhirnya kau sandang
sekaligus menantu
di mana bahagia dan sedih berlepasan
dari pintu rumah ibu bapakmu

demi resap menu di meja makan
teguh kau berdiri berdamping
pundak ibu suamimu

menyerap bagaimana mahir tangannya
mengurai rahasia demi rahasia bumbu

bahwa untuk tiga ikat pakis
haruslah digenapkan; garam, cabai, bawang
tomat, lengkuas, kemiri juga terasi
dan gerak ulekanmu haruslah selentur
panggilanmu kepada suami

Ampenan, 2019

Kunyit

aku ingin sendiri, dilupakan
berpasang-pasang tangan

rebahkan tubuhku dalam pot tanah
berbibir rumpang hingga leher itu
di sisi utara dapurmu

agar cukup bagiku
kering matahari
basah air cucian berasmu

padamu kubalaskan kebaikan
bertunas segar, meninggi
menghijaukan batinmu saban pagi

kelak jika harinya sampai
kukuningkan kuahmu di kuali tanah itu
bersama potongan daging dan kentang
seempuk umbi matang

obat penyembuh anakmu;
busung, demam, tifus dan radang

Ampenan, 2019


Ruwat

ketika kau masih mewujud janin
bersemayam dalam Rahim
terbacalah oleh leluhurmu segurat tanda
kelak kau terlahir sebagai anak sukerta

“harus kau jalani ruwat

agar segala hendak menapak selamat.”

petuah-petuah menggantang, memalang pintu rumah
para leluhur tengadah, menangkis tulah
segala ubo rampen- sesajen kuncen
awak dalang awak sinden

lalu kelir mengembang
bertarunglah para wayang

“yang datang cepatlah pulang
yang datang cepatlah pulang
jangan kalian usik diri kami
yang dijaga para danyang.”

2019


Julung Ambung

ia lahir sebelum lunas waktu dhuha
waktu gaib dari seluruh yang gaib
saat segala kuntum pecah
menguarkan inti aroma

“jangan kau ambil jantungnya
hiruplah secukupnya
hanya wanginya

hanya bau tubuhnya…”

kau, yang datang dari rimba
berpalinglah kembali ke rimba

“penuhi tubuhmu dengan getah
damar, cendana, atau kamboja
atau getah wangi lainnya…”

biarkan ia tumbuh dengan sembada
menuntas laku putih kelam pedih sabda
hingga kelak ia berpulang
melepaskan akar sari segala aroma
yang menyertainya

*julung ambung; anak yang lahir bersamaan matahari terbit dalam mitologi jawa

2019

Memandang Sedih Pada Jalan

seperti daun-daun kering berkumpul
oleh sapu lalu dibakar
kita pandang sampai padam
tertinggal darinya
berjumput-jumput abu

kita berbalik memandang pada jalan
panjang amarah, iring-iringan
anak-anak belum terpercik dosa
dalam gendongan para ibu
paras yang kehilangan sari wudhu

Mataram, 2019

Gagak Hitam

gagak hitam
terbang hinggap terbang
mengincar pijakan/pucuk iman

Mataram, 2019

===========

Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur. Puisi-puisinya disiarkan di berbagai media nasional maupun lokal juga tergabung ke dalam antologi-antologi bersama. Pernah lama bekerja di Jakarta. Sejak tahun 2014 hingga sekarang  menetap di Mataram, turut menjadi bagian keluarga di komunitas Akarpohon Mataram-NTB

Berlayar Dengan Tiupan Napas

0

Satu Kemenangan Dibayar
dengan Beratus Penderitaan,
Bahkan Nyawa

:Traktat Saragosa 22 April 1529
Spanyol melepaskan klaim atas Maluku
dengan mendapat kompensasi 350.000
duket emas dari Portugal.

Kekasihku kita menyeret langkah
ke arah pintu nasib dan orkestrasi
jarum jam yang bergerak sentripetal
menyulam kisah. Sementara ingatan kita
tertinggal pada ceruk traktat dan
petaka menggali luka. 

:detik, kisah, dan memori membeku
dalam bubu; museum darah airmata
mengalir bagai minyak cat kita pakai
melukis sejarah.

“Kau suka lukisan apa,”
tanyaku. Tetapi kau membisu
di hadapan kanvas.

“Kamp-kamp genosida atau
perkenier,” tanyaku lagi. Tetapi
kau mengigil memeluk kuas.

“Kumohon jangan pernah
lakukan itu! Berapa seniman
lenyap karena perkara serupa?”

“Jangan khawatir!”

Sudah jamaknya begitu: hidup adalah
penderitaan sehingga manusia satu
melumat manusia lain. Tetapi lukisan
harus dilukis. Karena keberanian
karena perlawanan, karena itu
seniman ada.

Kekasihku kita tiba di hadapan relief
mendadak kau jatuhkan sebuah tanya,

“Kemana pergi seorang penjahat ketika
hilang nurani?”

Barangkali bukan akal budi
melainkan kegelapan. Itulah mengapa
para koruptor di hari ini atau seorang bajak laut
di masa silam, tidak pernah merasa berdosa.

Maka terkenanglah kita pada sebuah kisah
kelam lebam:

“Di atas gulungan ombak kapal-kapal bajak laut
mencari suaka pada ketiak jubah. Setelah di atas kabin
penuh hasil rampasan dan di dasar laut karam ratusan
nyawa dikait di tali sauh.

Bajak laut itu memang keras kepala! Hanya untuk
menemukan rute laut ke timur tiba di gudang rempah.
Mereka membutuhkan 40 tahun percobaan dengan
ratusan armada hancur dan ribuan awak tewas.

Untuk sampai di Ternate, Tidore, Ambon, Seram,
dan Banda. Pulang dengan kapal penuh pala, cengkih,
kayu manis, dan lada. Seorang membiarkan Mangellan
dan Enrique de Molucca; navigator piawai, melubangi
selangkangan isterinya atau demi sebuah liontin
yang berisi 3 buah pala 2 batang kayu manis
12 cengkih.

Mereka merayakan kemenangan itu dengan
sebuah pesta kecil diundang kerabat karena
berhasil bersekongkol dengan seorang raja
dan padri yang membiayai ekspedisi. Sedang
 di atas kapal budak-budak sekarat; terserang
tifoid dan busung lapar”.

“Sudikah mereka berkabung
atas pengorbanan itu,”
tanyamu.

“Aku tidak tahu persis!”

Tetapi yang pasti, satu kemenangan
dibayar dengan beratus penderitaan,
bahkan nyawa.

(2019)

Pelukan Gaib

:kepada Sir Henry Middleton

Kaukah itu, Tuan?
Yang ingin tiba di Banda
sebelum azan subuh, sebelum
buah pala gugur.

Tetapi, Tuan
laut bersungguh-sungguh
memahat maut dengan sempurna,
meskipun sedepa laut tetaplah laut
ganas dan memangsa orang asing
yang bernyali menikam pasak rumah
dalam badai.

Yang pada akhirnya
hanya lolongan ombak
hanya aroma kamboja.

Tetapi, Tuan
di tengah tubir ombak,
bagaimana kau klaim kemenangan
jikalau kekalahan lebih terang dari
matahari di tiang layar?

:kau patah dan menunggu pelukan gaib,
karena 1.200 orang awak yang turun ke laut,
800 orang telah raib.

Kaukah itu, Tuan?
Yang ingin tiba di Banda
sebelum azan subuh, sebelum
buah pala gugur.

Tetapi, Tuan
di atas kapal Ascensio
menuju Banda kau dengar
seorang merapal doa,
sekali waktu kau berharap
kata-kata memiliki tangan,
mengubah helaian rambut yang gelombang jadi wol.

Tetapi, Tuan
laut dan ombak tidak bisa dibujuk,
selain kau siapkan tumbal
berupa kepala budak atau nyawamu yang satu.

:demi selangkangan
dan 300 ton pala, 20 ton bunga lawang,
serta burung kakatua, cendrawasih, monyet,
dan kayu gaharu. Kau tak ingin putar kemudi.

Kaukah itu, Tuan?
Yang ingin tiba di Banda
sebelum azan subuh, sebelum
buah pala gugur.

Tetapi, Tuan
laut bersungguh-sungguh
memasang perangkap, meskipun sedepa laut tetaplah laut
ganas dan memangsa orang asingyang memainkan drama,
“Tragedi Hamlett dan King Richard II,”  
karya Shakespeare, saat-saat
menjemput kematian:

Tertambat di laut aku mencium
bau pemakaman, harusnya aku pergi
ke gereja tidak mengenal ombak dan

karang-karang menyentuh badan kapal
yang tipis menghamburkan rempah-rempah,
dilempar ke dalam arus berkafan air asin.
Kemudian lenyap.”

Kaukah itu, Tuan?

(2019)

Genosida di Benteng Nassau, Mei 1621

/Mei 1621/

parigi rantai kering
kilat kibas kubang darah
hari jadi anyir.
dan di kastil maut terpasung
pada bila bambu yang telentang
40 lelaki barane.

:mereka disayat di hadapan
Ibu-Bapak.

“Setelah ini siapa lagi,”
tanyamu.

“Kau kenal wajah pendosa,
tua Pieterszoon Ceon?”

“Jangan menangis, Nak!.
Lawan. Lawan. Lawan!”

Sampai maut menjemput,
kita hanya menunggu giliran,
gugur sebagai pala yang paling
matang atau yang paling busuk.

“Setelah ini siapa lagi,”
tanyamu.

“6.000 orang, jumlah ini sudah cukup?”

Menuju abadi selalu kau nantikan hal itu,
kau tak gentar meski sisa napas di tenggorokan.

Maka tiba pada waktunya
hanya sejumput senyum,
tiada gesekan biola tiada
penjamuan akhir, selain lolongan anjing.

“Setelah ini siapa lagi,”
tanyamu.

Di dermaga kau melihat 1.700 orang
menuju Banda Eli dan Banda Elat.
300 orang dijemput 20 kora kora dari
Seram Timur

:mereka berlayar dengan tiupan napas.
Saat itu laut tenang, tiada beriak ombak
hanya lonceng berbunyi hanya
aroma kamboja.

/Mei 2019/
parigi rantai basah
buah pala gugur.

Sedang di batu bata
dan dada seorang peziarah
masih terpahat lolong duka:

“Alfatihah kukirim untuk:
Ayub, Imam Dender
Kodiat Ali, Orang Kaya Salamon
Jareng, Orang Kaya Kumber
Kakiali, Hulubalang
Kalabaka Maniasa, Orang Kaya Lontor
Lebe Tomadiko, Orang Kaya Lontor
Makatita, Orang Kaya ratu
Pati Kiat, Imam Kiat

Orang-orang Lima, Boi San, Elias, Salem
Para hulubalang, Abdul Rahman, Asam,
Asan, Bai, Boi Niela,Husein, Idries, Islam,
Kakiaya, Kuat Kusin, Kodiat Omian, Lampa,
Mai Burang, Mai ari, Malim, Ralou,Saman,
dan Sanda

Para Orang Kaya, Boi Ira, Orang Kaya Salamon
Boi Wainia, Orang Kaya Tatang.”

(2019)

Pada Punggungmu yang Oase

Pada punggungmu yang oase
malaikat menjaring mimpi
maut menjelma kupu-kupu
lalu kamboja jatuh di kuburan
pelan-pelan layu.

Aku hanyalah seorang pelayat
gagal merapal doa dan sisa-sia
percakapan dunia entah, karena
kata-kata menguap kabut gelap
menganga.

Pada punggungmu yang oase
malaikat menanam pohon duka
lebat buah ratap, selembar daun
gugur jadi tragedi dan aku susah
payah menebangnya.

Aku hanyalah batu nisa
terpahat sepotong epitaf.
Tiada erang pecah, selain tubuh
disembul darah airmata sejak purba
dan tidak diketahui siapa-siapa.

Pada punggungmu yang oase
bulan bintang batu segalanya
menjerit: di sana tangisan adalah
kehidupan.

Sementara aku murung,
kekasih: 

pada matamu yang kausar
aku ingin tidur. Tiada jilat api,
selain bunga fajar merekah.
Ranting pohon menjelma jarum,
kupakai menjahit luka. Daun menjelma
hujan yang kupakai mengubur tangis. 

“Jangan bersedih, Kekasih.
Maut membidik arah kita—maut
Adalah morse—tidak ditulis dengan
huruf patah, serupa sajak atau kidung,”
katamu.

“Maut terlampau tergesa-gesa
untuk kita yang tak pernah berencana
pergi ke surga tanpa membawa apa-apa,”
kataku.

“Tidak! Tidak! Tuhan tidak butuh apa-apa
dari kita. Tuhan tidak seperti Salomo,
‘…mereka membawa emas, pakaian,
senjata, rempah, kuda, dan keledai,”
kaubaca sepotong ayat.

Pada punggungmu yang oase
malaikat maut menamam pohon duka
lalu kau menjelma kupu-kupu dan
aku batu nisan terpahat sepotong epitaf
(inilah tragedi Manusia Maluku: perampasan,
kekerasan, dan pembunuhan sejak purba, tidak
diketahui siapa-siapa).

(2019)

Ishak R. Boufakar/Lelaki Laut lahir di Kian, 23 Juli 1992. Puisi dan cerpen termuat dalam Antologi 250 Puisi Cinta Terpendam (2016), Antologi Cerpen Bertuan (2016), Antologi Surat Untuk Tuhan (2017), Antologi Cerpen Mimpi (2017). Tulisan-tulisan diterbitkan di koran Identitas UNHAS, Koran Fajar Makassar, Koran Salam Papua, koran Ambon Ekspres, Majalah LINTAS, dan Buletin Kala Paradigma Institute. Penulis aktif menulis di media online: @ekpresimaluku.com @rumahtulis.com @seramtimur.com dan @kalaliterasi.com

Zikir Para Pendosa

0



Langgar Tabing*

Di sana telah kami benamkan
Segala kemungkinan dari suluk harapan
Meski dengan dingin pagi
Yang terkadang selalu bermalam ke dalam sunyi

Keikhlasan yang berdampingan beserta ingatan
membawa kepastian-kepastian berkata di bawah ilalang,
“memang kami selalu mengerti, mengapa harus keheningan
Yang bersaudara dengan huruf-huruf sunyi”.

Pada pucuk keyakinan kami
Lunta dari segala arti mengisaratkan terbenamnya matahari
Senja yang terkadang menghibur pandangan kami
Berdiang kekal diantara perjalanan kekhusuaan
KepadaMulah kami bersemidi,
Meski dengan ketabahan zikir para pendosa
Yang meminta nasib untuk di sapa
              *)tempat belajar huruf-huruf Alquran, dulu ketika waktu masih kuno

Tirakat Rindu

            Kh. Naqib hasan

Hanya kepadamu
aku berlayar dari keburukan
Dan hanya kepadamu
aku melafadkan kerinduan

Dari berbagai doa yang aku lantunkan
Sebagai isyarat hamba pada tuhan
Pohon-pohon mengakar
Membalas segala kesedihan
Sebagai pendekar
Yang tersesat di medan perang

Biarkan angin tenggara itu
Mengusik dalam senyumku
Mendinginkan hasrat pilu
Yang telah kau kabarkan lewat rindu.

Juma’at manis,1440

Mata Luka

Memasuki guratan-guratan pesona di tubuhmu
Adalah kelupaan waktu pada masalalu
Rambut yang  separas di kening
Serta lirikan mata yang runcing,
Adalah awal bagi musim
setelah kebencian bersimbang tafsir.

Aku, tidak akan  pernah mengenalmu
Sebelum senyum merangkum segala rindu
Aku tadak akan bisa menyulam bayangmu
Sebelum siang bertepi di kedalaman warna semu.

Betapa sakit benci ketika disiram air lautan,
Bimbang dan penasaran bersedia menjaga bergantian
Di sepanjang siang dan malam,
Maka biarkan aku sedikit kagum pada sebaris bibirmu
Atau pada selembut kelopak matamu
Agar kekejaman yang kuanggap pilu
Tercelup kedalam madu.

Ruang ingatan,2018

Meraba Rindu

Di kedalaman malam ini
Rambutmu telah terurai di sepanjang jalan,
Sepertinya bukan lagi kesederhanaan
Bagi pagi yang berganti malam

Maka biarkan aku selalu berzikir
Di kedalaman bayanganmu
Meminta segala hal warna sontak di dadamu,
Sebelum keterasingan kita tafsir jadi rindu

Mungkin kepada sejarah kita akan bertemu
Atau kepada waktu kita akan berlalu
Menanam ketabahan rasa
Di sepanjang rasa yang sudah tiada

Ruang ingatan,2018

Renung Malam

Masih adakah pantulan sinar rembulan di keningmu
Mengilaukan liang-liang kepekatan rasa
Yang tiba-tiba tumpah menjadi makna,
Angin selalu menyapa daun-daun gugur
Maski kenyataannya membuat suasana tak lagi kagum

Begitupun kelelawar yang menghirup aroma buah-buahan
Walau kenyataannya ia lupa terhadap keindahan
Tapi ia selalu bertahan dari pekatnya pengharaman
Dengan perasangka suci yang menjadi keindahan.

Rumah nam-nam,2018

Rekayasa Kepergian

Jika datang kepadaku
Mata dengan lirikan ujung bambu
Semua bahana mulai bisu
Seperti para perindu menunggu layu

Nyatanya tak ada yang perlu kita diskusikan
Pada kelembahan duka ini, kecuali di hari nanti
Engkau akan kembali sebagai gosip yang menulak arti

Maka sisipkan jantungku
Pada pelapah kesetiaanmu
Jika itu memang rindu
Katakan saja kita belum bertemu.

Reguler,2018

Bisikan Luka

Sudah beragam kenangan
Kita tinggal di siang yang kehujanan
Pelangi di antara perbatasan siang dan sore
Menguncup di keningmu,
Mewartakan sebuah harkat rindu
Di pertengahan hijau dan semu.

Lalu kita hanya tau berjalan di pelataran kesunyian
Belajar menangkap beberapa cahaya
Sebelum luka benar-benar nyata.

Gubuk reyot, 2018

*)Penulis Adalah Santri Pengamat Litrasi Di Pondok Pesanten Annuqayah Sumenep Madura, Yang Karya-Karyanya Pernah Di Muat Di Berbagai Media, Dan Sekarang Aktif di Komunitas Lascar Pena.

Seribu Badai Telah Dimuntahkan

0



Langit Merona Merah

Bintang telah mencabik langit
ketika rembulan hadir telanjang
tanpa busana
awan pun bergemuruh menumpahkan resah
wajah langit betul-betul sedang berduka
angin tiada henti menikam ruang-ruang hampa
tak ada satupun aksara suci terbaca
di atas sana, langit merona merah
seakan meniriskan semua kebohongan
mata kita sudah rabun untuk memaknai kata cinta
hingga berkali-kali langit murka
seribu badai telah dimuntahkannya

ajak kita bukan lagi gemuruh lisan
untuk membaca makna zaman
atau mungkin karena wajah kita
seperti tak ada bedanya
dengan rembulan yang tak berbusana

Malang – 2018

Senandung Biola

Masih terlalu pagi awan melangit
mata pun menjadi murung
tangan masih menggenggam temali usang
sesaat lagi mungkin akan rapuh
bersama kelabu yang kian dekat

Tangan-tanganku adalah bangkai hidup
di antara putih kertas
ketika sajakku mulai bermuram diri
ingin merepih mendung, membiaskan hujan
lalu menulis sejuta aksara
dalam bait-bait penghantar hujan berbalut doa
apakah langit kelabu selalu membuat resah
atau Tuhan mengirimkan isyarat agar kita merenung diri?

Pagi ini napasku kembali hidup
memainkan sajak yang tak pernah usai
saat gesekan biola bersenandung membelah angina
kuputar waktu saat langit masih membiru
kutiriskan duka pada bening kertas suci
dan kembali biola melantun
di antara nada-nada siang dan malam

2018

Yang Terdalam

ingin kutitip pelangi
pada lubuk hatimu
— yang paling dalam —
basuhlah dengan kesucian
agar terang
putih bersih

adalah sajakku telah berpaling
dari keindahan fatamorgana

2019

Tanah dan Langit

Engkau tak akan pernah bisa membaca pikiranku
jika engkau tak menatap dalamnya langit
Di sana aku pernah menulis sajak kematian,
tetapi bukan untuk tubuh dan jasadku
sebab jasadku hanya untuk tanah-tanah bisu
yang tak pernah menyimpan segala doaku

Lihatlah langit biru itu selalu membentangkan sayap-sayapnya
dari ujung timur, barat, utara hingga selatan
dan membuat camar-camar angkasa terkesima
Itu mengisyaratkan Sang Ilahi selalu menatap kita
dan pasti, pandangan-Nya lebih tajam dari bias sinar matahari

Hingga bumi ini akan berpaling dari hadapan kita semua

2018

Suatu Senja

Senja ini telah menatap kepergian sukmaku
dua larik malam menunggu
mengendap, jalan perlahan dari balik tirai langit

Pikiranku pun mulai menerawang jauh
menembus batas kaca-kaca langit
aku bangkit, mencari sebuah pena
menulis perjalanan kata-kataku
begitu banyak melintas dalam benak ini

Sedari tadi, meja dan kursi sinis memandang kebodohanku
enggan ‘tuk menyanggah tangan-tanganku menuangkan beban berat
kaki meja pun meratap pilu, berdiri diam
tak pernah kupedulikan kelelahannya
meringkuk batin dalam kebisuan panjang

Jika saja mampu berkata
“buat apa engkau menulis sajak!”
lihatlah berita di televisi, penuh metafora
bukankah itu bisa mengusir keresahan senja
Kembali kupandang meja
tetap diam membisu, disitu tanganku selalu menindihnya
membuncah rasa kopi, pagi dan sore
menulis di atasnya, mengalirkan keresahan nalar
kadang memukulnya, karena pikiranku kerasukan jalang

Kalau saja bisa melipatnya agar bisa diam sejenak
mungkin panorama senja di luar sana akan tersenyum manis

2018

Solitude

Rindu,
adalah sebaris kata
terbaring bisu
di atas batu pualam
Ingin kutikam bersama doa
agar cahaya datang mengucap salam
walau tak pernah kutahu maknanya

2018

Seperti Jiwa Mereka

Kawanku, Chairil Anwar
aku bukan sajak pada masamu
juga bukan seorang Von Goethe
yang bergelimang emas di hatinya
karena aku bukan bait-bait sufi seperti jiwa Rumi
Aku terempas di padang tandus
ketika sayap sajakku patah di ranting Jose Marti

2018

Sayap Pusara

Kau lukai sayap pusaraku
hingga aku tak sanggup
terbang ke langit
seonggok tanah menutup mataku
sayapku pun menanti para peziarah

2018

==========

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Tinggal di Malang. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya. Karya-karya Sastra (Cerpen, Puisi, Esai) dan Bahasa telah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Harian Republika, Pedoman Rakyat, Lombok Post, Haluan, dll. Buku Antologi Puisi: “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) – “2 September” terbitan Rose Book (2015) – “Jurnal SM II” (2015) terbitan Sembilan Mutiara Publishing (2016) – “Keindahan Alam” terbitan FAM Publishing (2017) “Ibu” terbitan FAM Publishing (2017).

Perjalanan Rahasia Tentang Angin

0

Hijrah Muhammad

aku tahu hidupmu lebih gersang dari padang pasir
bahkan padang batu sekalipun
namun detak nafasmu jujur, seperti tetes airmata
dari qalbu-qalbu hawa

Muhammad, kata-katamu terukir jadi sabda
dan bergulung seperti ombak di dada domba-domba
yang kau sebut di akhir hayat:
ummati, ummati, ummati, bisikmu
apakah gerangan maksud ibamu itu jika segalanya telah
terang jadi berlian di leher kebimbangan

perjalanan rahasia tentang angin
yang telah mengantarmu ke sebuah gua kecil di bukit jabal nur
tempat di mana kau menggoreskan sajak-sajak sakti

dari sana kau mengisahkan dirimu yang sesungguhnya
berkat Lahab dan Jahal yang murka atas sabda-sabda
melambung ke setiap jazirah yang dibawa unta-unta
di tengah padang lata

lalu keyakinan macam apa yang mengantar tubuhmu
menjadi tabah memegang erat sebuah nama dari cahaya
langit dan bumi yang menumbuhkan buah kurma

bukankah kau memulai riwayat cahaya dari gua ke gua,
dari kebimbangan, kesendirian menuju keheningan?

penciptaan Adam telah terukir pada kitab lembab
perihal ia mencari hawa
lalu melahirkan Qabil dan Habil dalam keadaan sahaya

Sirah Adam

wahai Qabil dan Habil, engkau bermula semisal ular
yang mempersiapkan sesaji bagi si dewi

tapi sebab pertengkaran melawan saudara
salah satu darimu berdarah,
barangkali sebab itu tubuhmu berubah jadi nanah

dan darahmu mengalir ke sebuah oase
di mana seekor burung nuri tiba membawa ibrah
bagaimana memusnahkan bangkai saudara
supaya aromanya tak menyengat ke anak cucunya

tapi angin telanjur lantang menyembunyikan
segurat kisah purba yang menyimpan rahasia di baliknya:

“kenapa tubuh kita tak sama semisal bangkai ular,
menghilang tak meninggalkan nisan atau jejak kehidupan?”

hai Adam, anak cucumu sungguh iri pada binatang melata
yang tak tahu dirinya lebih hening dari manusia

dalam buku sejarah leluhur yang ditinggalkan
sejarah mengalir ke selokan terakhir
berbusa-busa menyimpan rahasia

Teguh Iman

kadang segala yang datang goncang teguh iman 
tapi aku masih punya butir imanen yang kulentikkan
ke pundak bayangan supaya ia tak berani mendekati
si alai-lunglai tak bertuan ini.

aku juga punya cemeti yang kulecutkan bila jari-jari
mulai merasakan dingin-merinding
atau bising mengantar terasing di sudut rasa asin.
di antara sepasang bibir tubir keimanan.

kenapa iman terasa seperti pedati, semisal aku lembunya 
menghela kokoh diri supaya tak cepat rubuh dan melepuh
tercampak musuh ke kandang kekalahan.

meski memang kalah dan menang bukan soal pilihan
melainkan seberapa tegak diri tergenggam janji
terjaga atas setiap bahaya atau siasat waktu yang ragu-ragu
mengibaskan diri merubuhkan imanku.

maka aku segera menyalakan imanen dan ujung cemeti
supaya tampak berani jika musuh
menyerang dari depan atau belakang.

Baldwin Membawa Tentara Menuju Nil

tuntas sudah tugasnya di lembah kidron
baldwin bosan hanya jadi tukang pandu bagi
si cleopatra di kota tuanya, meski
adelaide  tak merestui perjamuan, sebab ia
hanya merindui palermo di bawah umbul-umbul.

tapi baldwin bosan pula bekerja dengan telunjuk
ke syiria dan armenia yang durhaka
hingga ia butuh ketenangan di deras nil
menatap ikan melompat nan mendarat.

baldwin memastikan hasratnya yang nekat,
merebut langit mesir dan syiria
di tangan atabeg yang 
tegak di tanah mosul dan damaskus.

aku meyakini yakin dalam dadaku

baldwin tak menghiraukan peringatan setan
juga rintihan frank seperti ada paragraf yang
hilang dalam ingatannya, hingga.

ia terkapar legam di perbatasan
tak sempat menangkap ikan yang
berkeliaran di nil yang panjang.

Peristiwa Doa

semisal kendaraan yang melintas di antara pemukiman dan sepetak lahan
hanya sejenak angin berwajah anggun mendesir ke punggung pejalan,
sementara para kiai masih menunggu tuhan di sudut mushalla
aku pernah membayangkan diri meninggalkan sebuah tempat yang pernah
menjadikanku tinggi. tapi lidah telanjur sedingin pohon pisang
tak mampu menghapus kelancangan
sementara aku masih menyesali setiap yang terlewat, semisal lelaki yang
menunggu seorang kekasih yang telanjur pulang
sekelebat bayangan tengah berjalan ke sudut paling rahasia dalam kerumun peristiwa
serta segunduk kawan yang muram membicarakan perihal perjalanannya
dan siasat doa supaya terkabulkan
tapi hanya melintas kembali, sejenak saja
segala dosa berguguran seperti daun tua

Ali Batu

perahu terbelah. lalu ia mengubah pasukan burung jadi batu. telunjuknya tongkat musa yang mengubah deret benda jadi batu dalam kesendirian di rahim tuhan yang menyatu. pernah suatu malam ia tak mampu memisahkan antara hidup dan mimpi lantas dijatuhkan sunyi yang sakti. turun wangsit untuk menyimpan paku, palu dan sebuhul sabuk saje yang diikat di pinggang waktu.

ali batu, aku membayangkanmu datang dari sudut malam bersama sebuhul kata yang pernah kau pendam dalam kesendirian.

=========

Mohamad Baihaqi Alkawy, lahir di Toro Penujak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Mei 1991. Banyak menulis puisi dan esai. Puisinya  tersiar di Indo Pos, Media Indonesia, Sinar Harapan, Suara Merdeka, Suara Karya, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Bali Post, Koran Kampung, Lampung Post, Haluan, Minggu Pagi, Riau Pos, JogloSemar, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Lombok Post, Suara NTB, Radar Lombok, Radar Mandalika, Buletin Egaliter, Jurnal Santarang, Majalah Sagang, dan Buletin Kappas. Juga Tersimpan dalam Buku Antologi 22 Penyair NTB, Dari Takhalli sampai Temaram (2012), Antologi Penyair Nusantara, Indonesia dalam Titik 13 (2013). Negeri Langit (2015). Salah satu cerpennya berhasil masuk antologi Lelaki Purnama dan Wanita Penunggu Taman (2012). Terpilih dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018. Bukunya, Tuan Guru Menulis, Masyarakat Membaca (2014). Kini tengah menyelesaikan studi Studi Agama dan Resolusi Konflik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Jalan Lengang Menuju Matamu

0

Mimpi-Mimpi Ibu

Sewaktu sirih-pinang masih betah
di gigi ibu, jalan setapak kampung penuh
remah raut pensil dan angka-angka yang jatuh
dari buku-buku tanpa sampul.

Di masa itu, ibu selalu luput dari lelap tidur,
sebab hama-hama selalu datang sebagai
mimpi buruk yang saban sembunyi
pada sunyi malam: kebodohan di kemudian hari
dan kecemasan pada hidup yang terasing.

Setelah ibu melarung tubuh ke pantai timur,
ia kembali sebagai sampan penuh bibit subur.
Maka ranumlah seluruh pulau dengan tumbuhan asing
dari mimpi-mimpi buruk ibu dahulu; vanili, cengkih, pala,
dan sebatang pokok yang menjulang serupa roket.

Pohon-pohon itu, Ibu, yang akan terbangkan kita
ke mimpi-mimpi indah di tanah baru.

2019


Mayang

Adalah bayang-bayang kematian itu
bagi siapa yang datang di depan pintu.

Pada setiap kepergian, kata-kata kadang
pantang terucap kepada pokok-pokok takdir
sepahit kopi dan semanis nira pagi.

Mungkin telah usai cecap daun sirsak
dan akar-akar, kauteguk sadapan
enau sebelum tubuhmu berubah mayang
berpalut seludang, subur di tepi kebun
tanpa nama tempat dua malaikat
berkunjung di gerbang pagi dan senja.

Yang dipanen orang kemudian hari:
ihwal bayang-bayang kematian itu
serupa nyiur pelepah, tumbuh ke segala arah.

2019

Ziarah

Lubang-lubang di batu karang dan kapur
bicara padaku tentang segala gua di tubuhmu
yang lama tak kusapa kabarnya. Telah lupakah
pada seorang peziarah?

Pada jalan lengang menuju matamu,
puing-puing ingatan tak bisa lagi diterka.
Ialah kenangan yang rubuh sehabis disapu
air mata dan diguncang kata-kata berupa
terka-terka tak masuk akal tentang perpisahan
di kemudian hari. Adakah keramat lain
tempat peziarah itu berpulang?

Setelah mati di dalam liar rimbanya rindu,
di sebuah gua tak jauh
dari dua buah bukit yang telah rimbun,
seorang peziarah berharap kembali hidup
sebagai doa atau nyanyian sebelum tidur.

2019

Katasrofe

            -1667
Benteng mana yang masih bertahan
setelah langit siang dikelami jelaga
bakaran sulang ribuan mayat dan pandan
di tepi jeladri tempat seekor penyu mati tenggelam?

Hingga ke cakrawala, ujung pandang penuh
ombak dendam dan amarah. Kapal-kapal
datang dengan armada bertombak dan suara letusan
yang menembus segala riuh gelombang.

Di hari ketika langit mulai merah saga,
hanya tersisa pudar ingatan, lapuk padas,
riak darah dan desau nama-nama
yang hilang meletup ke udara.

2019


Setelah 1667

Sejauh mana kita ingat para perompak yang berlayar
ke pantai-pantai barat setelah membakar
kapal-kapal para sultan dan serdadu bersenapan?
Bandar-bandar ramai oleh monopoli dan pajak tinggi,
para petarung melarung diri menuju laut:
hidup dan mati di (dan untuk) laut.

Tak ada perkabungan untuk itu
sebab orang-orang sibuk menabur pandan
dan melati di kubur mereka sendiri.

Tapi mungkin yang nahas dari kepergian
dan memutuskan hidup sebagai penjarah adalah putusnya ikatan dan ingatan tentang tanah
dan keluarga. Sejarah adalah laut,
dan di laut, semua orang adalah musuh,
sama halnya semua ikan adalah lauk.

Sejarah saban sembunyikan hal-hal berbahaya
dalam kedalaman. Ia memang mengenang nama,
namun ia memilah nama mana yang harus tenggelam
dalam arus tubuhnya. Adakah yang tahu satu
saja nama dari ratusan perampok itu?

Demikianlah, bagaimana nama-nama mereka
tak ubahnya lapuk kayu yang karam diamuk
gelombang selat Makassar, tak sepadan
dengan kokoh batang welenreng tempat Sawerigading
berlayar jauh ke ruang-ruang diskusi dan pertunjukan
seni. Ingatan tentang perompak itu, bahkan,
tak ada yang pulang ke kepala anak-cucu.  

2019

Stargazer

Mengapa bintang di kota tenggelam dalam
langit malam? Muara jawabannya sama mengapa
kunang-kunang tidak pernah berlalu lalang di
pekarangan dan beranda: lampu kota mengusirnya
dengan cara paling kurang ajar.

Pijar bintang dan seluruh pendar cahaya itu dikuras habis
demi energi yang menyuplai mimpi-mimpi orang kota
tentang desau angin pantai atau embun pagi di atas
teratai. Sebab pada mulanya, selain fusi nuklir,
Tuhan titahkan terang lahir dari bioluminesensi
untuk dunia yang mahakecil.

Cerita ibu lain lagi.
Katanya, bintang adalah
kunang-kunang yang terbang jauh tinggalkan rumah.
Mereka awalnya lahir bersama tawa bayi persis
seperti peri dunia magis dalam film animasi.
Namun semakin hari, bayi-bayi lucu seperti itu
tidak lagi lahir. Mereka keluar merobek rahim
sebagai tuan bagi ibu-bapaknya sendiri.

2019

Di Kaki Langit

Dimana batas cakrawala tempat pelangi mukim
dengan anak-anak hujan? Sepanjang pandang,
sejauh langit membentang, jalan yang kita lihat
melingkar di antara laut dan awan sebenarnya tidak ada.
Fana seperti semua teori tentang bumi dan manusia,
kosmologi yang kita pahami dengan berpura-pura.

Mungkin cakrawala adalah wujud masa lalu
dalam dimensi ketiga: ia terlihat sekaligus tidak nyata.
Ia ada di sekitar kita, hidup sebagai cerita, tapi tak
ada jalan dan tempat mukim di sana.

Aku mengajukan pernyataan itu untuk menggenapi
pertanyaanmu. Kita sepasang petualang yang jauh
dari diri sendiri. Mencari banyak jalan dan kemustahilan
namun lupa yang paling rintang adalah mendamaikan
mengapa di masa lalu dengan siapa di masa kini.

2019

Kepada Air

Kepada air yang mengubah tiada ke ada
juga dari ada ke tiada, keinginan Tuhankah
yang kaubawa mengalir sebagai pelampiasan
dosa dan rahmat?

Siapa yang menentukan?

Jumlah hujan yang jatuh di gersang padang
tempat nabi-nabi mati dan hidup sekali lagi
jauh lebih sedikit ketimbang yang turun di rimbun rimba
tempat tanah dahulu belum terpetakan. Ketimpangan itu
hanya serupa aliran kecil irigasi dari induk Nil.
Setimpalkah usaha utusan-utusan itu untuk sebuah
keesaan dengan seteguk air yang basahi tenggorokan?

Di banyak kota, air mengalir dimana-mana sebagai
konsekuensi logis dari hujan panjang. Dari bantaran kali
ke jalan raya, dari hati yang patah ke mata. Dimana saja,
sampah dan rindu bereproduksi lebih cepat dan berlipat
ganda dari cendawan. Keinginan Tuhankah hingga kau
akhirnya disebut nikmat atau bencana?

Siapa yang menentukan?

2019

***

Batara Al Isra lahir di Ujung Pandang, 9 Januari 1994. Sedang pusing kuliah antropologi di University of Auckland. Karyanya berupa cerpen dan puisi telah diterbitkan di berbagai media, juga pernah dimuat dalam beberapa buku antologi bersama, Selain itu, karya-karyanya pernah menjuarai beberapa lomba penulisan tingkat nasional. Bergelut di Forum Lingkar Pena, Komunitas Sastra Sungai Aksara dan Perpustakaan Antropologi FISIP Unhas.

Terbaru

Mengamini Rintik Hujan yang Jatuh Hari Ini

Gemuruh dari Timur Dari timur, gemuruh yang kau Esakan tak sampai ke kepalaku, hanya rintik air matamu perlahan menetas di...

Kambing Hitam

Tas Rotan di Tangan Sukap

Dari Redaksi