Yang Lebih Sunyi dari Sunyi

Semesta Debar Dalam Dada

Merasuk Dalam-Dalam

Menyerbu Lapang Dada

10 Kisah-Kisah Kecil Kafka

Puisi

Home Puisi Page 3

Menembus Dinding Kesunyian

1



Rindu Berdarah Dalam Batinku

Ya habibana yang berdarah dalam batinku
Yang kurindu dalam dukaku
Sebelum fajar kusingkap
Datanglah engkau ke selubung imanku
Tak ada yang kusembunyikan
Dari sisa-sisa rahasia
Nestapa yang kutelan
Adalah derita yang kuterima

Bagaimana aku
Pantas mengaku
Paling sengsara
Sementara dunia diciptakan
Bagi kegembiraan

2019


Mata Airmata

Suara-suara tangis
menikam
datang dari
kegelapan paling
kelam
mendengung
dari tubuhku
yang lemah
dan parau

Suara-suara
meminta
rahmatMu
bagai
gemuruh
gerimis
menghapus
sisa
perih
dan luka

O, Duka Mulia

Airmata bagai syair
tak melenyapkan
kesedihan apa pun

Bukan keheningan
yang aku cari
atau diam yang
Agung
tapi riwayat api
membakar bulan
menjadikannya gelap
sebentuk lorong
sinar lilin
di ujung tepi
dilalui
pejalan sepi
dalam sekarat
bumi hangus

2019




Amsal Kesedihan

Api membara dalam tubuhku
Tetaplah menyala
Oh, tapi tidak
Aku telah menjadi abu
Aku telah diterbangkan
Kepedihan. Sejak nyala
Cintamu membuatku
Berdarah dalam dekap
Demi dekap, saat rebah
Di bibirmu.

Kau yang bagai sinar
Hampir pasti tak mungkin
Aku menyatu dalam moksa
Aku hanya sanggup
Menjadi pengintai
Bagi perasaan
Yang dicari pencinta
Dalam detak
Dalam cahaya

Dan aku menapaki kembali
Cuaca buruk
Bagai angin sakit
Menerpa lampu-lampu
Kenangan ambruk
Mirip angin ribut

Aku menjejakinya lagi

Kalender musim hangus
Seperti aspal

Aku tinju
Langit jahanam ini
Bagai duka
Nyanyian
Burung-burung
Kesedihan

2018-2019




Amsal Amarah

/1/
Dunia rebah
Ke dalam
Amarah
Seperti pohon
Pada gejolak api

Apakah awan-awan
Menyimpan lahar
Sehingga turun ke atas dendam
Bagai sengit
Mata api?

/2/
Kesia-siaan datang
Dari sela pintu
Di sepotong siang
Yang angkuh

Apakah jarum-jarum cahaya
Telah menjadi
Mata biru
Di mataku
Yang rapuh?

2019




Meninggalkan Desember

Aku
membiarkan diri
memasuki tahun-tahun asing
tersesat dalam suara-suara
ketenangan
dari balik kaca

Kebisingan terdengar lebih pelan
bagai nada jauh
dari hiruk pikuk orang-orang
yang melampaui kesedihan
setiap malam cahaya bulan tak berhenti 
menembus dinding kesunyian

Aku
membiarkan diri tersesat
dalam lorong-lorong
musim yang risau
bergerak
dalam senyap yang kedap
mengikuti lentera dengan cahaya redup
dan retak

2019




Menanti Kabar

Dalam sepi yang asing, dalam sepi yang
Tak kukenal. Betapa panjang jarak
Perjalanan, jarak kerinduan. Jarak sakit
Menempuh jalan. Bagaimana
Menghapusnya? Mungkin dengan
Airmata. Atau anggur kecemasan.
Surat-surat yang tergeletak di meja, ingin
Aku mengirimnya. Tapi, kepada siapa?

2018




Setu Babakan

Arus yang mengarah kepadaku itu
Adalah engkau
Selembut maut
Semurni sengsara

Bagaimana bisa aku tenggelam
Dan hanyut
Dalam lagu-lagu yang kausenandungkan
Di malam sedih?
Sejauh aku melihat hanya danau sepi
Dan kekosongan mengalir ke dalam diri.

2019



Aku Akan

Aku akan menulis bagai air bah
Tsunami yang menerjang lembah
Kesedihan
Setelah kering sungai
Kata-kata

Barangkali aku akan menulis
Dengan tenaga ombak
Dirimu yang penuh kecemasan
Seperti kalimat yang tak selalu selesai

2019


===============
Restu A. Putra, saat ini bergiat dan belajar menulis di Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Bogor. Buku Kumpulan Cerpennya, Siapa Sebenarnya Ajengan Hamid Sebelum Diburu Anjing-Anjing? (Rua Aksara, 2019).

Waktu Akan Mencuci Tanganmu

0


Air Mata Para Petani

Kata orang tanah kita tanah surga
Kayu tongkat dan batu jadi tanaman
-Koes Plus

Di warung makan aku terdiam lama memandang
sedang kata-kata padam terbenam dalam renungan
mencium aroma nasi panas di pucuk jemari tangan
ternyata berasnya bau keringat petani Vietnam
sedangkan tempe goreng yang menjadi menu idola
dompetku dan juga dompet 100 juta orang Indonesia
ternyata kedelainya ditanam oleh petani Paman Sam
sambal tomat yang membuat mata petani merah dan marah
ternyata cabainya dipetik dari kebun petani Argentina
satu porsi makanan yang tersaji di depan mata
ternyata menjalani satu jalan yang panjang
sebelum mendarat di perutku dan perut orang Indonesia
seperti panjangnya sungai yang membawa air mata
para petani hingga ke pangkuan samudera raya
beginikah nasib para petani yang hidupnya digarami
air matanya sendiri



Perihal Bunga Mawar

Bunga mawar yang luput yang berserakan di jalan itu
hanyalah bunga, kata perempuan itu sambil berlalu.
Siapa yang sudah menelantarkan cinta? Siapa yang sudah
menabur air mata? Kata penjual bunga itu.
Kemudian dipungutinya setangkai demi setangkai –menyumpahi.



Keramahan Cinta

Membayangkanmu hanya mempertegas rasa sakitku
waktu akan mencuci tanganmu bekas lumuran darahku
ke mana kau sembunyikan pisau bekas jantungku itu?
karena cinta melulu bersembunyi di balik keramahan kata
kemudian tangis akan selalu mencuci sepasang mata kita



Mungkinkah Kau yang Menitihkan Air di Mataku

Kusambut gugur gerimis yang ramai di beranda itu
kubiarkan kesunyian yang lebat mengepung malamku
akankah rembulan tiba dan tergelincir di punggung pagi itu?
apakah kau yang barusan melintas di antara asap rokokku?
atau mungkinkah kau yang menitihkan air di mataku?
tanyaku sambil menyesap kesepian pada dada malam yang
pekat itu.



Hujan Sore Ini
: Revallina

Sayang, apakah kau melihat
langit murung sebab mendung?
Jika sore ini hujan turun
aku ingin berteduh pada tubuhmu

Hujan sore ini ialah alasan
bagi mata yang ingin bertemu
bagi bibir yang kering dan layu
sebab kemarau rindu itu

Lagi hati yang pedih
dan resah karena pisah
Sayang, hujan sore ini ialah alasan
kenapa aku harus pulang.



Apalah Artinya Surga Tanpamu
: Revallina

Apalah artinya surga tanpamu
seperti Adam dulu akulah lelakimu
yang kesepian itu.

Mungkin saja benar lelaki pandai berdusta
tapi Tuhan mengampuni dosa hamba-Nya
Yang sedang jatuh cinta.

Jika Suatu Malam Nanti
: Revallina

jikalau suatu malam nanti kita bertemu
akan kuseka ragu yang kukira menghalau
kita untuk melepas dahaga: mereguknya
dengan kata atau tatapan mata.


==================

Arian Pangestu, Menulis fiksi dan nonfiksi. Tulisannya dimuat di Radar Surabaya, Pikiran Rakyat, Bangka Pos, Solo Pos, Medan Pos, Pontianak Post, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Malang Post, Bangka Pos, Padang Ekspres, Minggu Pagi, Koran Merapi, Media Indonesia, Koran Jakarta, Harian Analisa, Republika, Tribun Jateng, Harian Rakyat Sultra, Radar Tegal, Satelit Post, Media Jatim, Tanjungpinang Post, Geotimes, dan Suara Kebebasan. Novel perdananya Lautan Cinta Tak Bertepi (2018).



Buku yang tak Lagi Dibaca

0




Aku Memukul Kepalaku dan Sesuatu Berjatuhan

aku memukul kepalaku dan sesuatu berjatuhan, seperti pikiran-pikiran yang tersesat, seperti jalan yang tertahan oleh palang. kepalaku tidak kosong seperti kata-kata politis atau berisik seperti berita dari internet di mana orang-orang kesepian butuh kesibukan sebab mereka jauh dari pelukan juga tak mesra. percayalah, kau tak akan temukan kata-kata cinta di sana. aku memunggut pikiranku yang berserakan. aku tak hendak membuangnya meski mereka takut, cemas dan ingin pergi. bagaimana aku bisa menenangkannya dari segala yang tak jernih? sekalipun butuh waktu tak lebih lama misalnya dari kotaku ke ibu kota atau memulai perdebatan-perdebatan heroik di sebuah laman tanpa spasi. aku dengar kepalaku bicara, sesuatu, tentang negara dan nasionalisme, meski tak satu orang pun benar-benar memilikinya, seperti bahasa indonesia dalam bahasa daerahmu.

2019



Hari-hari Paman

paman ingin melupakan diri sendiri, seperti balon udara yang sudah lama pergi, seperti ia melupakan semisal; nama kucing pemberiannya atau warna-warna hari.

paman sudah tua, seharian duduk di jendela, memandang hari rabu yang berwarna sabtu dan langit terlihat seperti topi. tapi topi semirip awan, melindungi dari panas, katamu, langit terlampau besar.

paman bilang, langit tidak mau mandi, sebab dia tidak kemana-mana, seperti topi di atas kepala paman, sedang awan gemar kemana-mana, tidak seperti topi.

di hari yang berwarna, paman mendengar musik Internasionale diputar, tangannya mengacung-ngacung, seperti hari saat pemakaman Pram. dia lupa nama semua hari.

siapa Pram? tanyamu. apakah ideologi punya identitas? orang-orang tak mengingat Pram seperti tak mengingat Tan seperti melupakan nama semua hari.

sejarah adalah buku yang tak lagi dibaca, begitu sebuah kalimat dilontarkan dalam pidato di seminar kebangsaan negara asing dan jauh dari jendela.

di suatu hari yang tak berwarna, paman, barangkali, tak lagi ada, juga apa-apa menjadi seolah tak pernah ada.

2019

Masa Silam Sebuah Kota

aku melihat kenangan
80 mil dari barat daya
melewati garis pantai

di sana,
dengan harum jahe, biji pala dan kenari
di mana negeri-negeri pernah bertemu
melabuhkan kapal

pasar raya hanya untuk cerita-cerita perang
harta yang hilang seperti buruh pengkhianat
dan kafilah bersiap pulang

meninggalkan gulungan kain,
permadani, karpet-karpet,
imperium yang agung

masa silam, adakah berharga bagi para peniaga?

aku temui kematian
sebuah kota, yang pada hari-harinya kerap terdengar
ayunan langkah, angin, suara denting barang-barang

2019

Di Tengah Kota

ia lihat jutaan lampu, menuruni kota
seperti kilau hujan, menjatuhi wajah

ia berjalan, melewati salju
seperti kerlip bintang, menyilau mata

dan malam terasa demikian dingin
di antara pohon-pohon tua
seperti puisi, seperti puisi-puisi

berhembus di udara terbuka

2019

Penyair yang Tersesat

penyair itu kerap terjerumus
meski telah lama mengaji
seperti domba yang tersesat
di ladang penggembalaan
sebagai martir yang celaka

barangkali ia luput
betapapun luas kata
semata nur yang menerangi
jalan sunyi puisi

2019

Doa

ia kecupi punggung tangan
ia dengar sebaris ayat
dibisikkan

doa itu
dari hembus udara
ataukah getar bahasa?

2019



====================
Irma Agryanti. lahir di Mataram, Lombok. Kumpulan puisinya “Anjing Gunung” mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2018-2019 dan sebagai nominasi Karya Sastra Puisi Pilihan Tempo 2019. Bergiat di Komunitas Akarpohon.

Jamuan Bintang di Tepi Kolam

1



Menuju Kamu

ke wajahmu aku mengendarai senja
tempat beradu segala pedih di hati lelaki
yang lengkap sepi bersemi
terutama aku yang menjumpaimu lewat mimpi

aku bersaksi atas dadaku sendiri
bahwa bedakmu abadi sebagai warna pagi
sebab kamu adalah rasa sakit yang jatuh
tepat di titik namamu jauh berteduh

mendoakanmu di sisi adalah puisi tanpa henti
dan di dekatmu seperti membaca kitab ilusi

Sumenep, 2019

Mendaki Kangen

semakin tinggi mendaki tangga kangenku
semakin terlihat bangunan-bangunan luka itu

padahal ketinggian belum sempurna dari arah timur
engkau menganyam janur,
semua telah tanpak kasihan apalagi semakin
menuju garis lintas paling atas
barangkali sungai air mata juga seperti sungai
yang mengalir sepanjang babad tanah jawa

aku sudah mengawali pendakian ini
dengan ritus-ritus suci dilengkapi azimat rimba
maka seturun nanti ia akan menggusur luka-luka
yang dibangun seperti bencana

Sumenep, 2019


Wangi Parfum

selintas kamu berlalu seperti kendaraan,
berlalu tanpa salam atau sedikit anggukan

tinggal wangi lewat pelat dan hidungku telanjang
menyertakan parfummu dan ciumaanku makin dalam
berai tubuh itu ternyata aroma lain
dari cara tuhan kabarkan rayu

wangi yang binal
memelihara mataku dari pakaian biru liris ungu
dan penunggu hutan lesu yang rapuh

wangi yang meninggalkan bekas rindu
di lantai dan di tengah-tengah pintu tanpa penghalang
antara aku dah wajahmu

semoga kamu padaku di ujung siang
tanpa parfum yang hilang

Sumenep, 2019

Menunggu Hujan Kita

aku menunggu engkau terkejut oleh hujan
dan kita basah kuyup kegembiraan
bersama ayunan berpasangan
di taman tempat tumbuhkan kenangan

kita menunggu hujan terutama aku
menunggu wajahmu sumringah
sambil mengayun-ngayun lentik jari
mempersilahkan rintik-rintik jatuh di pipi

sebelum hari ini
engkau pernah mengingatkan padaku
agar tak cemburu pada hujan
sebab bulirnya mendahului sentuhanku
pada bidang roti bolu di balik blush on

Sumenep, 2019

Malam di Tepi Kolam

malam di tepi kolam
berhamburan kembang angin dari sudut dingin
setiap kelopaknya menerpa wajah
tanpa menyisahkan peristiwa

engkau datang menuju kopiku yang santai
menghabiskan jamuan bintang
begitu juga mataku mengahbiskan langkahmu
yang juntai

oh sekotak kolam air mata
dari mana aku mulai kata-kata
agar perempuan ini tersentuh denyutnya

Sumenep, 2019

Puisiku Lagu Renjana

aku ingin menghabiskan sisa puisi
dengan suaramu sebagai pengiring jika kelak
puisi-puisiku dirubah menjadi lagu
atau kamu saja yang bernyanyi

biar aku petik gitar daun sambil mendengarkan
irama yang lewar di bibirmu dan menikmati
keresahan berguguran

dengan begitu tak ada hutangku pada jiwa-jiwa
yang menantiku menemuinya dengan prosa-prosa
sebagi tubuh pengganti kesah
begitu pula hutangmu pada gulita di mata

bukankah setiap dendang selalu mengantar pandang
pada pelantun kondang peramu bayang-bayang
ingin sekali itu aku yang melirikmu pertama
sebelum habis bunyi biola

Sumenep, 2019

Mendoakanmu Adalah Rindu Paling Puitis

hujan bulan juli baru saja mencoba menghampiri
tanahku dengan rintik kecil-kecil
sekaligus untuk kesekian kalinya aku memulai petualangan
melawan dingin tanpa mengindahkan wajahmu, bu,
serta terasa sangsi basah genting dan pintu-pintu rumah
sebab tiada lagi pengantar tidur siang tengah hujan

ini adalah musim yang paling banyak mengantar dongeng
seperti kupu-kupu yang kuyup oleh rindu
atau seekor burung kecil berwarna gerimis di ranting jauh
aku hafal sekali gerak bibirmu dan tatapan teduh
yang paling meneduhkan

hujan bulan juli baru saja mengirimkan raut wajahmu, bu,
dan mendoakanmu adalah rindu paling puitis
dan paling kelana sepanjang dingin berguguran
di halaman serta merindangkan daun-daun kenangan

Juli, 2019

Pada Sebuah Lagu Aku Menemukan Kamu Lagi

aku putar kembali lagu kesukaan yang bercambur suaramu
menyakitkan namun patut kurindu
setiap katanya merawat jalan-jalan pemberangkatan
dan setiap jeda dan ketukan irama
selalu meluaskan dadaku mempersilahkan
duka-duka manis bertamu menukar temu denganmu

tiga kali putaran barangkali,
wajahku hampir mendanau depan cermin
dan hati seperti diarak sekawanan luka-tawa
di kampung bernama penantian
meski waktu tak kunjung pasti berbunyi kembali
sebagai alarm yang kita nanti
aku sudah tahu bahwa kamu masih lama untuk kemari

Sumenep, 2019

Pada Suatu Pesta Bungaku Menjadi Tujuh

seluruh karangan bunga yang kususun
dari taman di belakang kesedihan
berserakan jatuh menjadi tujuh petakan
salah satunya kehilangan aroma dan warna

tinggal tulisan-tulisan bersilih pulang
mengendarai kembang luka
dan aku merasakan bola mata ini jingga
seperti warna gaunmu sewaktu pesta

lusuh segala kegombalan yang kusimpan
pada daun-daun dan kuncup aromanya
padahal kusaksikan waktu masih berjalan
dari utara melawan arahmu menghilang

mestinya masih banyak hembusan napasmu
sewaktu berdansa dan berpegangan tangan
paling tidak kita masih menyisahkan satu
gerakan yang kita pelajari dari kenangan

lalu harus aku apakan tangkai bunga ini
yang tidak lagi mampu berdiri
menanamnya kembali di kebun hujan
atau membiarkan luluh lantak sendirian

Sumenep, 2019

=====================
Romzul Falah, alumni pondok pesantren Aqidah Usymuni Terate, Sumenep. Sekarang menempuh pendidikan di Universitas Wiraraja Sumenep. Bergiat di UKM Sanggar Cemara, Pabengkon Sastra, Lesbumi Batuputih, Kelas Puisi Bekasi dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon SOSPOL Komisariat UNIJA. Puisi-puisinya tersiar di beberapa media dan antologi puisi bersama.

Seperti Apa Melupakan Cinta Pertama?

0


Musim Penghujan

matahari terbit dari arah selatan
sebelum hujan tumpah. gerah.
angin ribut. bambu berisik
seperti denyit pintu terbuka
hujan tumpah. tambah gerah.

di selatan, orangorang tidur lebih cepat
tak ada pekerja penebang bambu
malam di tengah jalan

di barat, sebelum menuju laut
jalan bendung air
dan pekarangan rumah
matahari terbenam terlambat
dua menit,
malamnya kelapa dibait bulan

2020




Jodoh

            : untuk A.

dengan siapapun kamu di rumah tikah
simpan aku di dadamu
jangan merasa berdosa
dosadosa kita dibakar cinta
qois-laila adalah hujjah

aku adalah kamu
kamu adalah aku

dengan siapapun kamu di rumah tikah
tetap simpan aku di dadamu
sampai mati. kita syahid.
di hari kemudian, kita bersama
orang yang kita cintai




Seperti Apa Melupakan
Cinta Pertama?

seperti memasukkan monyet
ke dalam lubang jarum

2020


Hari Jumat

ini jumat. hari libur
hari mencuci pakaian
di kejauhan
sibuk mencaci warna baju

ini jumat
hari bersihbersih
tapi di seberang ada yang
mengotori udara sebab setengah
kabar dari burung bermata satu

setelah berkumpul mengetuk
pintu rahim
mulut bergumul mengutuk
atas nama orang alim

sudah padamkah khotbah zharatustra,
rumi abad modern, seorang bijak
yang menyebarkan barakah di hari jumat
agar orangorang bisa menari di atas kepalanya sendiri

2020




Kalimat mimpi

kita tak butuh harta
hanya butuh kata

ucap seorang nenek yang kujumpai
di dalam mimpi
kalimatnya terngiang
sepanjang waktu

aku termenung di atas batu

kata adalah harta yang berada
di kedalaman batu

batu itu kepalaku
yang harus dipecah, dilebur jadi debu
hingga aku menemukan kataku sendiri

2020




Menuang Anggur

tiapkali menuang anggur
jatuh setetes dari mulut cangkir
hitam pasir menjadi merah

setetes kemabukan hilang

barangkali ditetes itu aku
bisa mendapatkan kemabukan cinta
paling purna
yang dapat membuat cangkir ini bergetar

anggur habis kuteguk
tapi hatiku yang merah
hitam kembali serupa pasir it

lainkali tiap menuang anggur
tak kubiarkan setetes pun jatuh

2020

=======================

Chaidir Amry lahir di Suradadi, 14 Juli. Puisi-puisinya pernah dimuat di Harian Umum Haluan, Linikini.id, Banjarmasin Post, Bali Post, Suara NTB, Radar Mojokerto, Litera.co.id.

Waktu Hanya Sebutir Apel

0


Puisi-puisi Gio Pratama


Seperti Hari Yang Tersesat

Musim berganti.
Aku hanya bergeser
dari kesepian ke kesepian.

Di antara sajak-sajak yang sakit,
malam terlipat dan langit semakin kelabu.
Kulihat perahu menembus gelap
ketika kesedihan berulangkali
menyebut namaku.

Kudengar lagi lagu pilu
dari dalam mimpi. Alangkah merdu
seperti hari yang berulangkali tersesat
ke dalam lukaku.

2020


Aku Ingin Pindah

Aku menempuh kehidupan yang sukar. Tempat yang kutinggali
adalah bangunan yang sekarang sedang sulit menemukan air.
Aku ingin pindah menemukan lagi air-air yang melimpah,
yang selalu meletakkan hidup pada pemandangan yang indah dan cerah.

Aku ingin pindah menuju bangunan-bangunan lain yang menyimpan
harum kenangan baru. Aku ingin merasakan betapa sejarah terus berubah,
mengubah jalan hidupku yang terkadang penuh liku,
terkadang penuh rindu.

Aku ingin pindah dan memunguti hari-hari yang rapuh dengan rasa sukacita.
Aku ingin pindah dan merasakan beban di punggungku meleleh
seperti salju yang ditempa cahaya musim panas.

2019



Dalam Sepi Yang Purba

Kautuliskan kembali peristiwa pilu
dalam hari yang panjang.
“Apakah masih ada mimpi
dari masa lalu yang terkutuk?”
Tapi senyap merayap.
Hanya jatuhan bulu matamu
yang menjawab.
Kaulipat usia
dalam sepi yang purba.

2019-2020



Sajak Bisu

untuk Willy Fahmy Agiska

Pada bising yang makin getir,
pada batas kesakitan yang bergetar,
aku bisu.

Seluruh suara pulang padaku
tanpa gema dan kata-kata.

Waktu hanya sebutir apel
yang terkupas dan membusuk
di mulutku.

Sedang di sini, puisi menggigil.
Bunyi dari seratus kefanaan terkapar
di antara hari yang dilucuti kenangan.

2019-2020



Keresahan Tak Pergi Ke Mana-Mana

Keresahan ini tak pergi ke mana-mana.
Ia disusun dari perasaan-perasaan
yang bagai batu.

Sejauh apa pun kita meninggalkannya,
satu-satunya yang pergi hanyalah waktu
dan sepi yang kian beku.

Keresahan ini tak pergi ke mana-mana.
Ia tak pernah ke mana-mana!

2020



Kipas Yang Berputar Cepat Tapi Tidak Sangat Cepat

Kipas itu berputar cepat.
Tapi tidak sangat cepat.

Ia sendiri saja berdiam di atas sana.
Ia sepertinya ingin menjadi rahim puisi
yang mahir merawat kata-kata.
Tapi ia tak bisa. Tak akan pernah bisa.
Sebab ia hanya terlahir sebagai benda yang setia
merawat angin. Bukan kata-kata. Bukan juga kita.

Kipas itu berputar cepat.
Tapi tidak sangat cepat.
Dan kehidupan menjadi semakin penat.
Dan kehidupan menjadi semakin pekat.

2019



Tanah Ini

Di tanah ini,
jejak-jejak menggema
tapi tidak abadi.

Sebab tanah ini pun fana
seperti kita.

2019

========================

Anugrah Gio Pratama lahir di Lamongan pada tanggal 22 Juni 1999. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa Indonesia di sana. Puisi-puisinya termuat di beberapa media massadan antologi bersama. Bukunya yang telah terbit berjudul Puisi yang Remuk Berkeping-keping (Interlude,  2019).

Mengamini Rintik Hujan yang Jatuh Hari Ini

0

Gemuruh dari Timur

Dari timur, gemuruh yang kau Esakan tak sampai ke kepalaku, hanya rintik air matamu perlahan menetas di ceruk mataku dan hujan yang kau sebut itu telah bercakap dengan dedaunan, pohon-pohon besar, melinting diatas genting dan seringkali menyebut namamu

Hujan juga mengecup aspal, menggelinding ke selokan kemudian memercik dan beriak mengalirkan rinduku padamu, padahal aku t’lah menelponmu beberapa kali dan kita bercakap puas.

Seperti daun-daun yang mengarah ke langit ketika gelap kian runtuh dan doa-doa ditanggalkan lisan, yang kau Esakan telah sempurna merajut bianglala dan matamu adalah muara menuju debur ombak

Aku menabung rindu pada celengan musim itu, di bawah pohon selepas hujan kau mengecup dan kita adalah dua tubuh terpisah yang kembali bersatu.

2020


Seorang Peramal

Ia meramal banyak sekali, daun-daun di samping rumahnya kapan jatuh, pohon-pohon menjulang di belantara itu kapan rubuh, buah-buah apel kapan bisa dipanen dan bahkan air mata kapan akan menetas

Ia juga meramal sekian banyak orang, kapan seseorang akan lahir dengan anak lelaki, kapan seorang ibu akan mendapatkan rezeki, kapan sesuatu akan terjadi, bahkan ketika subuh ia menebak kokok ayam di waktu pagi

Ia meramal orang-orang yang datang kepadanya, memohon doa dan ramalan yang baik
Namun ia sendiri tak pernah sesekali meramal dirinya.

2020


Sujud Batu, 2

Tak ada yang mesti kutanyakan perihal rindu dan kata-kata
Seperti ihwal batu, diam dan bisu
Dan kau mengeram disana memilin biji-biji musim

Batu itu berzikir, tuan!” katamu
Sambil lalu dengan selendang bianglala kau mendahuluiku
membuka pintu pintu doa kemudian melemparkannya ke langit

Gigil daun di luar selepas hujan dan gemericik air di selokan adalah isyarat tuhan yang merindukan kita sebagai hamba, ketika kau mengutuk sendiri matamu sambil lalu mengumpat “Aku berdosa, wahai tuhan!”

“Batu juga bersujud, tuan! ” katamu kembali

Kau seperti membaca arah angin dari segala penjuru, kemudian diletakkannya batu itu di bawah ranjangmu seperti dahulu ibumu meletakkannya di atas nisan ayahmu

Batu yang kau sebut benda mati itu kini t’lah berdiam dalam diriku” ucapmu lirih.

2020


Sehabis Hujan

Kantuk dan zikir terbayarkan
Matahari mengembun, daun daun berkaca, batu kemudian bicara
Dalam diam paling nyeri dengan sepenggal puisi

Ombak yang mengasuh karang
Melepas segala resah dan kemudian gugurlah reranting cemara itu
Sampan dan lenguh nelayan
Adalah ihwal laut temaram

Sehabis hujan
Jalanan basah dan gigil lalu lalang
Di selokan  mengalir beribu doa dari hulu
Juga air mata telah layu

Bahkan setelah hujan hari ini
Semangkuk mie instan dengan cabai merah
Lebih hangat ketimbang rekah bibirmu yang membekas di bibirku

2020


Uji Coba Menulis Puisi

Awal januari tahun ini, hujan tak henti hentinya merubuhkan matahari dan malam tiba dengan sisa senja yang abadi dalam hangat bibirmu

di bibirku. Ranting patah yang jatuh ke hitam matamu seperti luruh daun pada muara yang dipinggirnya ilalang berdoa pada angin, pada

awan, pada segala yang diaminkan tuhan untuk kita

Aku mencoba menulis kembali nara, setiap yang berjuntai dari hitam rambutmu, juga yang dimatangkan hitam matamu, dan setiap kata-kata dari mulutmu dan mungkin juga pandangan waktu itu.

Sambil mengamini rintik hujan yang jatuh hari ini
Di depan rumah-Mu
Begitu juga diatas sajadah zikirku
Aku memohon
Berdoa

2020


1999

Di tugu kota, kepalamu meleleh mengalir ke hitam matamu namun kau tetap tak beranjak menunggui musim lalu yang datang dengan setangkai bunga

Kau tak pandai berkata-kata, sebuah doa yang tersusun rapi di lemari kamarmu begitu juga lipatan zikirmu yang biru dan ada juga yang merah

Dari matamu, kau meneguk api, menelan biji-biji kemarau Panjang dan di tahun ini kau tak lagi seperti manusia dan entah kau siapa

Tapi aku tetap mengenalimu berjalan di trotoar dan sesekali berhenti memperbaiki letak topengmu yang sewaktu-waktu berubah menjadi sepasang wajah manusia yang tidur, yang bercerai dan yang tertawa.

Kau bahkan tak pandai menghitung, jari-jarimu patah ketika menunjuk kapal di tengah laut, sesekali debur ombak akan menelan resahmu dan kau tertidur

Di tugu kota, yang sesak dengan kata-kata
Segala tubuhmu meleleh dan kusediakan mangkuk besar
Agar tubuhmu tak terbuang percuma

2020


22 Oktober 2002

Dimana kau dilahirkan sebagai perempuan dan manusia memujamu

Kau yang bisu dan tak mendengar apapun selain kidung purnama ibumu dan lantun zikir ayahmu ketika kau tertidur di Pundak mereka

Sesekali dahaga melecutmu seperti kerapan di tanah kerontang yang lenguhnya bergetar sampai ke dada, yang matanya merah memecah angin

Dimana kau dilahirkan sebagai perempuan, dan dedaunan merestui itu

Kau menerjemahkan debur ombak, celah-celah karang, beberapa kenangan, dan lagu sumbang nelayan begitu juga lumut di sampan-sampan gelombang

Barangkali kau juga menafsirkan bunga-bunga laut, menakwil angka musim, merujuk asin pada setiap peluh ayahmu

Dimana kau dilahirkan sebagai perempuan, dan aku mencintaimu

2020


Hikayat Orang Gila

Bahkan aku lebih gila, mama
Ketimbang orang-orang yang berjalan dan mengucapkan serapah sebuah nama
Tanpa sepenggal kain dan hitam kulitnya membunuh matahari

ia memakan bekas-bekas gigitan dan ciuman
memaksa rindunya habis dimakan sepi

aku dan dia sama saja
hanya aku kurang berhati-hati menjalani hidup

2020

=======================

Baidi Narayana adalah nama pena dari Ahmad Zubaidi. Alumnus MA Nasy’atul Muta’allimin dan MTs. Al-Ma’arif Manding. Aktif di komunitas ASAP dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Pemenang lomba cipta puisi nasional Fam Publishing tahun 2018.  Karyanya tercatat dalam antologi Bulu Waktu (Sastra Reboan, 2018), Sua Raya (Malam perayaan puisi ponorogo, 2019), Rumah Kayu (Oase Pubhlishing, 2019), Segara Sakti Rantau Bertuah (Festival Gunung Bintan, 2019).

Musafir dan Kisah Tresna yang Kekal

0

MENUJU FANA

/1/
selalu saja ada yang terbang. lepas dan melenggang begitu saja.
seperti laron yang memburu pagi. memburu arah utara

/2/
dipanggilnya nama-nama itu, segenap nama yang dihafalnya
namun semuanya berkelebat dengan diam.
dia mendengar lonceng-lonceng bergemerincing. seolah berbisik
: mungkin ini malam terakhir. melambailah!

gemerincing lonceng itu mengguncang pelan

/3/
terburu-buru, ia akhiri doa yang mestinya panjang itu.
: ini musim penghujan. mendung meratapi bulir-bulir airnya
sekejap lagi menetes diserap tanah atau ditelan laut dahaga

/4/
antara ranting cemara dan gugur daun akasia
manakah yang lebih dicintai bumi?

2018



SURAH CINTA (8)

Guru, apakah kematian selalu tiba dengan membawa tresna yang kekal?
jika maut datang dengan rahasia kekekalan tresna maka aku akan bersolek
menyambutnya dengan segenap kidung yang pernah kau ajarkan!

2018



SURAH CINTA (9)

/*/
Seperti para musafir lainnya kalian turut mendongengkan
kisah-kisah tresna yang kekal
di lorong-lorong kematian: jalan pendek menuju abadi!

tapi apakah tresna kekal hanya dalam riwayat atau justru tersimpan dalam biji sawi semenjak jasad hancur digerogoti belatung-belatung api?

/**/
kalian para musafir akankah mati di bukit yang sunyi atau di kamar kerjamu
sebelum kalian sempat menakwil kitab sejarah kematian yang gagal menemu rumah tuhan?

kalian para musafir akankah bahagia dengan harapan ataukah merana saat bilangan-bilangan berdusta?
tapi apakah kalian bisa menerka nujum yang sungguh-sungguh mewartakan kekekalan tresna?

/***/
kalian para musafir akankah tetap bahagia dengan perjalanan-perjalanan tanpa paspor dan pulpen di saku kemeja?

2018


SURAH CINTA (10)

di mana alamat tresna?

perempuan itu membisikkan sebuah alamat di telinganya
namun, lelaki itu tak mampu menghafalnya

kun, lelaki itu tambah menua serupa rahasia
yang selama ini digembolnya kesana-kemari
tak ingat lagi pada masa silamnya, tak tahu masa depannya

kun, di mana alamat tresna?

2018



SURAH CINTA (11)

Guru, biarkan aku jadi penujum pengembara dari gunung hingga ke ceruk lembah
mencari sisa tresna yang terlanjur jadi sabda-sabda yang harus ditakwil dan ditafsir

Guru, bagaimana kusyahwatkan tresna, saat masa silam pulang dengan lelah
sedang masa kini menjadi cuaca sarat dengan hujan halilintar
adapun masa depan kehilangan wajah ibu bersama riwayat tuhan yang ditanam di kubur

Guru, bagaimana kusiasati tak berdayaku melacak tresna
sedang dunia telah terlanjur menjadi meja perjamuan memuja kuasa
adapun surga adalah kamus yang gagal mencatat makna-makna

Guru, aku ingin patuh mendekap tresna, tapi dadu dan angka-angka telah dilempar
membuat segala perempatan jalan menuju lorong hasrat yang menjejalkan dusta

duh, guru! 

2018-2019


MEGATRUH

sama dengan bangkai ia sekejap akan sirna mungkin melesak
dalam kerak paling palung di tanah paling liat dan hitam
atau melesat ke angkasa, menabrak dan mengguncang pepohonan
sebelum lenyap jadi butir-butir molekul seperti gerimis tipis

seperti juga sama dengan semua mayat yang tak pernah tahu dalamnya neraka
ia tak akan lagi merapal ayat-ayat. segenap mantra dan jampi-jampi kidung suci
berubah menjadi serabut-serabut yang ringkih seperti putik merambat menuju layu

“hai, tak perlu kau menoleh ke belakang untuk mengingat-ingat
apapun. campakkan ingatan
bergegaslah kau telah ditunggu kereta
dihela delapan lembu melenguh tanpa henti!”

maka, engkau pun berjalan sendiri dengan berdebar-debar
mendengar lenguh itu.
cemas sendiri tanpa siapa-siapa, bahkan tanpa nama

Ngawi, 2018-2019



AKU TAHU

Akhirnya apakah aku harus pasrah dalam rayuan malaikat maut?
: “Tak perlu kau bertanya-tanya lagi!” bisiknya dengan bengis
“Sebentar, biar kucari catatan-catatan harian yang tercecer di kamar tidurku!”

Aku tahu kalender cuma bilangan ganjil dan genap
dan arah hanya dua, lurus atau belok
nasib pun cuma dua, meninggalkan atau ditinggalkan

Aku tahu jarum jam tak pernah berjalan mundur
laju detiknya selalu mendorong-dorong ke arah peti gelap
yang di dalamnya cuma koper-koper doa yang usang.

2019




WAJAH LANGIT OMPONG

Malam tanpa bulan
langit ompong tanpa gigi abu-abu
pohon-pohon berjalan menuju kelam
gagak dan burung hantu berlomba menjerit-jerit

Ruh-ruh kita berlompatan dengan riuh
berlomba berlari menuju perempatan-perempatan
melesat belingsatan melejit di ujung-ujung dahan
gonggong anjing memburunya sampai jauh di ujung sepi

Tak ada kapal yang datang
tak ada mercusuar yang menyala
tak ada syahbandar berdiri di dermaga
air laut memantulkan wajah langit ompong
sibuk menghisap ruh-ruh yang berlompatan

2019         


                                                    


RIWAYAT

Setiap kisah selalu mengundang dikenang
pun riwayat ini seperti biografi tubuh
melayang-layang di ombak-ombak riuh
sambil meneriakkan nama-nama.

masa lalu kelak menjadi sulur-sulur
merambati bilangan-bilangan dan susuri ramalan-ramalan

percayalah, tak hanya kecewa dan muram
yang sering menyapa atau harapan yang sekejap padam
namun, juga ruang-ruang pesta dan musik mempesona
dan kita  menuang anggur dalam piala lantas berdansa
menari seperti kaum sufi yang mencari teka-teki
: mengapa cinta tak dapat diurai dengan cium dan kata-kata?

Setiap kisah selalu mengundang untuk dikenang
segenap riwayat adalah biografi tubuh yang disumpali jejak sedih maupun gembira
pun setiap gagap dan bodoh yang berulang gagal menghafal dan mengkhatam kitab

riwayat panjang ini adalah perjalanan musafir yang tersaruk-saruk dengan cemas
sekaligus harapan-harapan yang sekejap menjadi berbait-bait puisi
: mencatat semuanya jadi kitab dongeng legenda cinta para darwis yang majnun! 

Ngawi, 2019



SUARA LAIN

Mimpi buruk melindap bersama datangnya cahaya dini. Khianat yang sempurna. Licik, licin hingga cerdik. “Kita ternyata menuju punah!” bisikmu gelisah dan tergesa.

Sejarah mengarus dan berayun-ayun pergi. Segenap manusia akan selesai dikubur dalam jurang-jurang  berapi. Kita terlanjur terengah-engah, lengah kompromi pada takdir, pasrah pada nalar yang mencekik pelan-pelan. Syahdu dan penuh rasa hormat pada setiap rasa sakit.

Tertinggal hanyalah yang paling lembut melampaui hasrat khusuk bercumbu. Itulah kenangan! Warisan tinggalan leluhur yang menggetarkan. Lahir melalui mulut-mulut
penyair  tragis: itulah suara yang lain!.

Mendengar gumamnya adalah menyimak waktu yang sekejap berlalu namun datang kembali dalam frase dan kata.

2019

=====================

 Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar pascasarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) tahun 2006 di bidang Linguistik dan Kesusastraan.Beberapa buku puisinya antara lain  Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja sajak (Salah satu lima buku puisi terbaik versi HPI 2016), Perbincangan Terakhir dengan Tuan Guru (2018),

dan Kitab Ibu dan Kisah Hujan (2019).

Pengisah Nubuat Sunyi

0

MENGHAFAL SAJAK YANG KAU TULISKAN

serupa cinta yang kutempuh berulang
kau huruf lapar, berebut mendung makna
seketika lupa cium pertama:
rindu mengalir ke tebing-tebing kening
cinta menempuh mata, bersitatap warna
kukenang rute tubuhmu yang dulu
rahasia dan penuh liku

berebut sajak, kau ingin mencari jejak penyair
hilang dalam arus malam, setiap kata adalah anak-anak yang lupa arah pulang
bertamu ke bibir maha ranum, ada bahaya yang tak ingin lekang kau kenang
bayang-bayang yang tak gentar mengejar kelana perempuan petualang

Surabaya, oktober 2019

MUSIM KATA-KATA, KAU TENGOK IBU

ibu yang rindu, mencari kamu
kamu yang puisi, dicari aku
antara larik-larik sahaja. diammu arus
lebih mungkin mencintai perihal yang tak dikatakan

musim kata-kata, bunga bermekaran
langit cumbui waktu. ibu yang rindu
temui aku, makamkan bayang bocah nakal
merengek minta susu

surabaya, oktober 2019


KILOMETER RINDU

sajak ini membiarkan dirinya bebas menafsir
kekasih, sunyi rekah dari bola matamu, menandai gairah
terbakar rindu di hulu sungai jantungmu

penyair, mereka yang terjaga
diangsur kata-kata, bergegas meramu bahasa
ke dalam jalan sunyi pertapa

apa kau cari, kenangan
menandai ribuan jejak kita yang tandas
diperam air mata luka
: tubuh yang khusyuk
membasuh keinginan fana
atas nama kata-kata

apa kau cari, penyair
darah kitab puisi yang terbunuh kesepiannya
atau bayang-bayang lampau terkenang tanah kepulangan?

surabaya, oktober 2019


SAJAK YANG PENGHUJAN

di manakah semayam terakhir cinta yang dikultuskan
selain laut terkubur pada bola matamu

seseorang menyeduh kopi
mengingat kekasih
berbaring musim
di pangkuannya

cinta akan lengkap
tanpa celoteh rindu
kita lebih dulu hafal
sajak yang ditulis
bait-bait hujan

surabaya, oktober 2019


PEMBACA AIR MATA

karena kesedihan
membacamu
seperti puisi

aku ingin jatuh
luruh, mengeja kitab-kitab
pengisah nubuat sunyi

karena kesedihan
gigih mencari celah
memahamimu seutuhnya

aku ingin sebuah sajak
ditulis atas nama air mata

surabaya, oktober 2019


BIBIR YANG PUISI

duh, bibir siapakah?
menanam sinyal rindu

apakah ia puisi
yang diksinya seksi

apakah ia kekasih
dengan kata-kata yang dahaga

mengucap perumpamaan kisah
di bibirmu, serupa kesakralan

puisi yang sunyi

surabaya, oktober 2019


BERGURU KATA-KATA

mula kukenal sajak
kata-kata saling berontak
melawan
tak ingin diam

apakah sajak
adalah pertapa
mencari belukar cahaya

apakah sajak
adalah rahasia musim
mencari rumah singgah
sepulang pencarian
alamat tuhan

surabaya, oktober 2019


KITAB SENJA

puisi ini hadir
dari kerahasiaan cium
mula-mula adalah cinta:
dari heningnya kau baca tuhan
menebar bibit-bibit hujan
menggulung sedih sendiri

surabaya, oktober 2019


SURAT TERAKHIR

hanya sajak
yang mengetuk jantungmu, perlahan
nganga malam membuka tabir penciptaan
dari sajak ini, segala yang luka
menemu jawab

hanya sajak
menulis frasa murung dua pejalan
sedih siapa? kata menjelma larik mati

segala yang fana
bermuara dalam sajak

hanya sajak

surabaya, oktober 2019

Muhammad Daffa, lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. puisi-puisinya tersebar di sejumlah surat kabar lokal dan nasional. Buku puisi tunggalnya TALKIN (2017) dan Suara Tanah Asal (2018). Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga.

Bagi Siapakah Sajak Musim Semi Tergubah?

0

TERHENTI DI SEBUAH HUTAN KECIL SAAT BERSALJU

Siapa pemilik hutan ini sepertinya kutahu.
Ia berumah jauh di desa sebelah sana itu;
Tak akan terlihat olehnya aku singgah sebentar
Memandangi hutannya penuh ditutupi salju.

Kuda kecilku pasti terheran-heran
Mengapa berhenti jauh dari perkampungan
Di antara hutan terpencil dan danau beku
Adalah senja terkelam di sepanjang tahun.

Kudaku kelonengkan bel mungilnya
Mungkin bertanya ia adakah yang tak biasa.
Suara lain terdengar hanyalah sayup sapuan
Dari angin lembut dan guguran salju di udara.

Hutan ini alangkah menawan, dalam, dan gelap.
Sayang aku ada janji yang tak boleh tersilap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap.




BURUNG KECIL

Sempat kuberharap burung itu pergi
Tak berkicau dekat rumah di sepanjang hari
Sudah kutepukkan tangan dari pintu mengusirnya
waktu terasa tak kuasa menahan kesal lebih lama

Salahnya pasti padaku ada juga
Burung dan nadanya tak patut jadi terdakwa
Dan tentu ada yang keliru denganku
Jika ingin membungkam setiap lagu



SEBAYANG AWAN

Sehembus angin mendapati bukuku terbuka
Lalu mulai membolakbalik helaian kertas, mencari
Sebuah sajak yang dahulu pada musim semi
Kucoba sampaikan: tidak ada di sini yang seperti itu

Bagi siapakah sajak musim semi tergubah?
Sehembus angin hanya bergeming menjawabnya
Maka sebayang awan melintasi wajahnya, cemas
Aku membuatnya terkenang kangen akan tempat itu



KE LADANG

Aku akan keluar menyiangi ladang
Hanya singgah mengangkat timbunan daun
(dan sejenak menunggu alirnya bening, mungkin)
Ku tak bakal lama—kau ikutlah bersama

Aku akan keluar, menyapih si sapi kecil
Yang masih berdiri di sisi induknya, betapa mungil
Tubuhnya bergetar limbung kala dijilati induknya
Ku tak bakal lama—kau ikutlah bersama



SEJUMPUT EMAS

Debu selalu merubungi kota
Kecuali bila kabut laut meredakannya
Dan aku salah satu bocah yang diberi tahu
Boleh jadi ada emas di antara bubungan debu

Seluruh debu yang diterbangkan angin tinggi
Nampak bagaikan emas di langit senja hari
Tetapi aku salah satu bocah yang diberi tahu
Bahwa sungguh ada emas di antara debu-debu itu

Begitulah hidup di Kota Gerbang Kencana
Emas membubuhi minuman dan makanan kami
Dan aku dulu salah satu bocah yang diberi tahu
“Kita mesti makan habis sejumput emas itu.”

Catatan:
Kota Gerbang Kencana = Kota San Fransisco yang terkenal dengan jembatan Golden Gate-nya. Dahulu kota ini menjadi sasaran perantau berdatangan untuk menambang emas.


======================

Diterjemahkan dari The Poems of Robert Frost, The Modern Library, New York, 1950 oleh Hendragunawan S. Thayf, mahasiswa Fakultas Filsafat di Universitas Gadjah Mada. Saat ini bermukim di Yogyakarta.

Terbaru

Nikotopia dan Ular Sawah di Kepalanya

Rasa kehilanganmu terhadap kepergian Nikotopia masih menyesakkan dadamu. Padahal yang kutahu dia salah satu...

Kakek Yiu Wai Ip

Dari Redaksi

Dibalap Sepeda

Ingatan yang Menyakitkan