Yang Lebih Sunyi dari Sunyi

Semesta Debar Dalam Dada

Merasuk Dalam-Dalam

Menyerbu Lapang Dada

10 Kisah-Kisah Kecil Kafka

Puisi

Home Puisi Page 5

Seribu Badai Telah Dimuntahkan

0



Langit Merona Merah

Bintang telah mencabik langit
ketika rembulan hadir telanjang
tanpa busana
awan pun bergemuruh menumpahkan resah
wajah langit betul-betul sedang berduka
angin tiada henti menikam ruang-ruang hampa
tak ada satupun aksara suci terbaca
di atas sana, langit merona merah
seakan meniriskan semua kebohongan
mata kita sudah rabun untuk memaknai kata cinta
hingga berkali-kali langit murka
seribu badai telah dimuntahkannya

ajak kita bukan lagi gemuruh lisan
untuk membaca makna zaman
atau mungkin karena wajah kita
seperti tak ada bedanya
dengan rembulan yang tak berbusana

Malang – 2018

Senandung Biola

Masih terlalu pagi awan melangit
mata pun menjadi murung
tangan masih menggenggam temali usang
sesaat lagi mungkin akan rapuh
bersama kelabu yang kian dekat

Tangan-tanganku adalah bangkai hidup
di antara putih kertas
ketika sajakku mulai bermuram diri
ingin merepih mendung, membiaskan hujan
lalu menulis sejuta aksara
dalam bait-bait penghantar hujan berbalut doa
apakah langit kelabu selalu membuat resah
atau Tuhan mengirimkan isyarat agar kita merenung diri?

Pagi ini napasku kembali hidup
memainkan sajak yang tak pernah usai
saat gesekan biola bersenandung membelah angina
kuputar waktu saat langit masih membiru
kutiriskan duka pada bening kertas suci
dan kembali biola melantun
di antara nada-nada siang dan malam

2018

Yang Terdalam

ingin kutitip pelangi
pada lubuk hatimu
— yang paling dalam —
basuhlah dengan kesucian
agar terang
putih bersih

adalah sajakku telah berpaling
dari keindahan fatamorgana

2019

Tanah dan Langit

Engkau tak akan pernah bisa membaca pikiranku
jika engkau tak menatap dalamnya langit
Di sana aku pernah menulis sajak kematian,
tetapi bukan untuk tubuh dan jasadku
sebab jasadku hanya untuk tanah-tanah bisu
yang tak pernah menyimpan segala doaku

Lihatlah langit biru itu selalu membentangkan sayap-sayapnya
dari ujung timur, barat, utara hingga selatan
dan membuat camar-camar angkasa terkesima
Itu mengisyaratkan Sang Ilahi selalu menatap kita
dan pasti, pandangan-Nya lebih tajam dari bias sinar matahari

Hingga bumi ini akan berpaling dari hadapan kita semua

2018

Suatu Senja

Senja ini telah menatap kepergian sukmaku
dua larik malam menunggu
mengendap, jalan perlahan dari balik tirai langit

Pikiranku pun mulai menerawang jauh
menembus batas kaca-kaca langit
aku bangkit, mencari sebuah pena
menulis perjalanan kata-kataku
begitu banyak melintas dalam benak ini

Sedari tadi, meja dan kursi sinis memandang kebodohanku
enggan ‘tuk menyanggah tangan-tanganku menuangkan beban berat
kaki meja pun meratap pilu, berdiri diam
tak pernah kupedulikan kelelahannya
meringkuk batin dalam kebisuan panjang

Jika saja mampu berkata
“buat apa engkau menulis sajak!”
lihatlah berita di televisi, penuh metafora
bukankah itu bisa mengusir keresahan senja
Kembali kupandang meja
tetap diam membisu, disitu tanganku selalu menindihnya
membuncah rasa kopi, pagi dan sore
menulis di atasnya, mengalirkan keresahan nalar
kadang memukulnya, karena pikiranku kerasukan jalang

Kalau saja bisa melipatnya agar bisa diam sejenak
mungkin panorama senja di luar sana akan tersenyum manis

2018

Solitude

Rindu,
adalah sebaris kata
terbaring bisu
di atas batu pualam
Ingin kutikam bersama doa
agar cahaya datang mengucap salam
walau tak pernah kutahu maknanya

2018

Seperti Jiwa Mereka

Kawanku, Chairil Anwar
aku bukan sajak pada masamu
juga bukan seorang Von Goethe
yang bergelimang emas di hatinya
karena aku bukan bait-bait sufi seperti jiwa Rumi
Aku terempas di padang tandus
ketika sayap sajakku patah di ranting Jose Marti

2018

Sayap Pusara

Kau lukai sayap pusaraku
hingga aku tak sanggup
terbang ke langit
seonggok tanah menutup mataku
sayapku pun menanti para peziarah

2018

==========

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Tinggal di Malang. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya. Karya-karya Sastra (Cerpen, Puisi, Esai) dan Bahasa telah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Harian Republika, Pedoman Rakyat, Lombok Post, Haluan, dll. Buku Antologi Puisi: “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) – “2 September” terbitan Rose Book (2015) – “Jurnal SM II” (2015) terbitan Sembilan Mutiara Publishing (2016) – “Keindahan Alam” terbitan FAM Publishing (2017) “Ibu” terbitan FAM Publishing (2017).

Perjalanan Rahasia Tentang Angin

0

Hijrah Muhammad

aku tahu hidupmu lebih gersang dari padang pasir
bahkan padang batu sekalipun
namun detak nafasmu jujur, seperti tetes airmata
dari qalbu-qalbu hawa

Muhammad, kata-katamu terukir jadi sabda
dan bergulung seperti ombak di dada domba-domba
yang kau sebut di akhir hayat:
ummati, ummati, ummati, bisikmu
apakah gerangan maksud ibamu itu jika segalanya telah
terang jadi berlian di leher kebimbangan

perjalanan rahasia tentang angin
yang telah mengantarmu ke sebuah gua kecil di bukit jabal nur
tempat di mana kau menggoreskan sajak-sajak sakti

dari sana kau mengisahkan dirimu yang sesungguhnya
berkat Lahab dan Jahal yang murka atas sabda-sabda
melambung ke setiap jazirah yang dibawa unta-unta
di tengah padang lata

lalu keyakinan macam apa yang mengantar tubuhmu
menjadi tabah memegang erat sebuah nama dari cahaya
langit dan bumi yang menumbuhkan buah kurma

bukankah kau memulai riwayat cahaya dari gua ke gua,
dari kebimbangan, kesendirian menuju keheningan?

penciptaan Adam telah terukir pada kitab lembab
perihal ia mencari hawa
lalu melahirkan Qabil dan Habil dalam keadaan sahaya

Sirah Adam

wahai Qabil dan Habil, engkau bermula semisal ular
yang mempersiapkan sesaji bagi si dewi

tapi sebab pertengkaran melawan saudara
salah satu darimu berdarah,
barangkali sebab itu tubuhmu berubah jadi nanah

dan darahmu mengalir ke sebuah oase
di mana seekor burung nuri tiba membawa ibrah
bagaimana memusnahkan bangkai saudara
supaya aromanya tak menyengat ke anak cucunya

tapi angin telanjur lantang menyembunyikan
segurat kisah purba yang menyimpan rahasia di baliknya:

“kenapa tubuh kita tak sama semisal bangkai ular,
menghilang tak meninggalkan nisan atau jejak kehidupan?”

hai Adam, anak cucumu sungguh iri pada binatang melata
yang tak tahu dirinya lebih hening dari manusia

dalam buku sejarah leluhur yang ditinggalkan
sejarah mengalir ke selokan terakhir
berbusa-busa menyimpan rahasia

Teguh Iman

kadang segala yang datang goncang teguh iman 
tapi aku masih punya butir imanen yang kulentikkan
ke pundak bayangan supaya ia tak berani mendekati
si alai-lunglai tak bertuan ini.

aku juga punya cemeti yang kulecutkan bila jari-jari
mulai merasakan dingin-merinding
atau bising mengantar terasing di sudut rasa asin.
di antara sepasang bibir tubir keimanan.

kenapa iman terasa seperti pedati, semisal aku lembunya 
menghela kokoh diri supaya tak cepat rubuh dan melepuh
tercampak musuh ke kandang kekalahan.

meski memang kalah dan menang bukan soal pilihan
melainkan seberapa tegak diri tergenggam janji
terjaga atas setiap bahaya atau siasat waktu yang ragu-ragu
mengibaskan diri merubuhkan imanku.

maka aku segera menyalakan imanen dan ujung cemeti
supaya tampak berani jika musuh
menyerang dari depan atau belakang.

Baldwin Membawa Tentara Menuju Nil

tuntas sudah tugasnya di lembah kidron
baldwin bosan hanya jadi tukang pandu bagi
si cleopatra di kota tuanya, meski
adelaide  tak merestui perjamuan, sebab ia
hanya merindui palermo di bawah umbul-umbul.

tapi baldwin bosan pula bekerja dengan telunjuk
ke syiria dan armenia yang durhaka
hingga ia butuh ketenangan di deras nil
menatap ikan melompat nan mendarat.

baldwin memastikan hasratnya yang nekat,
merebut langit mesir dan syiria
di tangan atabeg yang 
tegak di tanah mosul dan damaskus.

aku meyakini yakin dalam dadaku

baldwin tak menghiraukan peringatan setan
juga rintihan frank seperti ada paragraf yang
hilang dalam ingatannya, hingga.

ia terkapar legam di perbatasan
tak sempat menangkap ikan yang
berkeliaran di nil yang panjang.

Peristiwa Doa

semisal kendaraan yang melintas di antara pemukiman dan sepetak lahan
hanya sejenak angin berwajah anggun mendesir ke punggung pejalan,
sementara para kiai masih menunggu tuhan di sudut mushalla
aku pernah membayangkan diri meninggalkan sebuah tempat yang pernah
menjadikanku tinggi. tapi lidah telanjur sedingin pohon pisang
tak mampu menghapus kelancangan
sementara aku masih menyesali setiap yang terlewat, semisal lelaki yang
menunggu seorang kekasih yang telanjur pulang
sekelebat bayangan tengah berjalan ke sudut paling rahasia dalam kerumun peristiwa
serta segunduk kawan yang muram membicarakan perihal perjalanannya
dan siasat doa supaya terkabulkan
tapi hanya melintas kembali, sejenak saja
segala dosa berguguran seperti daun tua

Ali Batu

perahu terbelah. lalu ia mengubah pasukan burung jadi batu. telunjuknya tongkat musa yang mengubah deret benda jadi batu dalam kesendirian di rahim tuhan yang menyatu. pernah suatu malam ia tak mampu memisahkan antara hidup dan mimpi lantas dijatuhkan sunyi yang sakti. turun wangsit untuk menyimpan paku, palu dan sebuhul sabuk saje yang diikat di pinggang waktu.

ali batu, aku membayangkanmu datang dari sudut malam bersama sebuhul kata yang pernah kau pendam dalam kesendirian.

=========

Mohamad Baihaqi Alkawy, lahir di Toro Penujak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Mei 1991. Banyak menulis puisi dan esai. Puisinya  tersiar di Indo Pos, Media Indonesia, Sinar Harapan, Suara Merdeka, Suara Karya, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Bali Post, Koran Kampung, Lampung Post, Haluan, Minggu Pagi, Riau Pos, JogloSemar, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Lombok Post, Suara NTB, Radar Lombok, Radar Mandalika, Buletin Egaliter, Jurnal Santarang, Majalah Sagang, dan Buletin Kappas. Juga Tersimpan dalam Buku Antologi 22 Penyair NTB, Dari Takhalli sampai Temaram (2012), Antologi Penyair Nusantara, Indonesia dalam Titik 13 (2013). Negeri Langit (2015). Salah satu cerpennya berhasil masuk antologi Lelaki Purnama dan Wanita Penunggu Taman (2012). Terpilih dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018. Bukunya, Tuan Guru Menulis, Masyarakat Membaca (2014). Kini tengah menyelesaikan studi Studi Agama dan Resolusi Konflik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Jalan Lengang Menuju Matamu

0

Mimpi-Mimpi Ibu

Sewaktu sirih-pinang masih betah
di gigi ibu, jalan setapak kampung penuh
remah raut pensil dan angka-angka yang jatuh
dari buku-buku tanpa sampul.

Di masa itu, ibu selalu luput dari lelap tidur,
sebab hama-hama selalu datang sebagai
mimpi buruk yang saban sembunyi
pada sunyi malam: kebodohan di kemudian hari
dan kecemasan pada hidup yang terasing.

Setelah ibu melarung tubuh ke pantai timur,
ia kembali sebagai sampan penuh bibit subur.
Maka ranumlah seluruh pulau dengan tumbuhan asing
dari mimpi-mimpi buruk ibu dahulu; vanili, cengkih, pala,
dan sebatang pokok yang menjulang serupa roket.

Pohon-pohon itu, Ibu, yang akan terbangkan kita
ke mimpi-mimpi indah di tanah baru.

2019


Mayang

Adalah bayang-bayang kematian itu
bagi siapa yang datang di depan pintu.

Pada setiap kepergian, kata-kata kadang
pantang terucap kepada pokok-pokok takdir
sepahit kopi dan semanis nira pagi.

Mungkin telah usai cecap daun sirsak
dan akar-akar, kauteguk sadapan
enau sebelum tubuhmu berubah mayang
berpalut seludang, subur di tepi kebun
tanpa nama tempat dua malaikat
berkunjung di gerbang pagi dan senja.

Yang dipanen orang kemudian hari:
ihwal bayang-bayang kematian itu
serupa nyiur pelepah, tumbuh ke segala arah.

2019

Ziarah

Lubang-lubang di batu karang dan kapur
bicara padaku tentang segala gua di tubuhmu
yang lama tak kusapa kabarnya. Telah lupakah
pada seorang peziarah?

Pada jalan lengang menuju matamu,
puing-puing ingatan tak bisa lagi diterka.
Ialah kenangan yang rubuh sehabis disapu
air mata dan diguncang kata-kata berupa
terka-terka tak masuk akal tentang perpisahan
di kemudian hari. Adakah keramat lain
tempat peziarah itu berpulang?

Setelah mati di dalam liar rimbanya rindu,
di sebuah gua tak jauh
dari dua buah bukit yang telah rimbun,
seorang peziarah berharap kembali hidup
sebagai doa atau nyanyian sebelum tidur.

2019

Katasrofe

            -1667
Benteng mana yang masih bertahan
setelah langit siang dikelami jelaga
bakaran sulang ribuan mayat dan pandan
di tepi jeladri tempat seekor penyu mati tenggelam?

Hingga ke cakrawala, ujung pandang penuh
ombak dendam dan amarah. Kapal-kapal
datang dengan armada bertombak dan suara letusan
yang menembus segala riuh gelombang.

Di hari ketika langit mulai merah saga,
hanya tersisa pudar ingatan, lapuk padas,
riak darah dan desau nama-nama
yang hilang meletup ke udara.

2019


Setelah 1667

Sejauh mana kita ingat para perompak yang berlayar
ke pantai-pantai barat setelah membakar
kapal-kapal para sultan dan serdadu bersenapan?
Bandar-bandar ramai oleh monopoli dan pajak tinggi,
para petarung melarung diri menuju laut:
hidup dan mati di (dan untuk) laut.

Tak ada perkabungan untuk itu
sebab orang-orang sibuk menabur pandan
dan melati di kubur mereka sendiri.

Tapi mungkin yang nahas dari kepergian
dan memutuskan hidup sebagai penjarah adalah putusnya ikatan dan ingatan tentang tanah
dan keluarga. Sejarah adalah laut,
dan di laut, semua orang adalah musuh,
sama halnya semua ikan adalah lauk.

Sejarah saban sembunyikan hal-hal berbahaya
dalam kedalaman. Ia memang mengenang nama,
namun ia memilah nama mana yang harus tenggelam
dalam arus tubuhnya. Adakah yang tahu satu
saja nama dari ratusan perampok itu?

Demikianlah, bagaimana nama-nama mereka
tak ubahnya lapuk kayu yang karam diamuk
gelombang selat Makassar, tak sepadan
dengan kokoh batang welenreng tempat Sawerigading
berlayar jauh ke ruang-ruang diskusi dan pertunjukan
seni. Ingatan tentang perompak itu, bahkan,
tak ada yang pulang ke kepala anak-cucu.  

2019

Stargazer

Mengapa bintang di kota tenggelam dalam
langit malam? Muara jawabannya sama mengapa
kunang-kunang tidak pernah berlalu lalang di
pekarangan dan beranda: lampu kota mengusirnya
dengan cara paling kurang ajar.

Pijar bintang dan seluruh pendar cahaya itu dikuras habis
demi energi yang menyuplai mimpi-mimpi orang kota
tentang desau angin pantai atau embun pagi di atas
teratai. Sebab pada mulanya, selain fusi nuklir,
Tuhan titahkan terang lahir dari bioluminesensi
untuk dunia yang mahakecil.

Cerita ibu lain lagi.
Katanya, bintang adalah
kunang-kunang yang terbang jauh tinggalkan rumah.
Mereka awalnya lahir bersama tawa bayi persis
seperti peri dunia magis dalam film animasi.
Namun semakin hari, bayi-bayi lucu seperti itu
tidak lagi lahir. Mereka keluar merobek rahim
sebagai tuan bagi ibu-bapaknya sendiri.

2019

Di Kaki Langit

Dimana batas cakrawala tempat pelangi mukim
dengan anak-anak hujan? Sepanjang pandang,
sejauh langit membentang, jalan yang kita lihat
melingkar di antara laut dan awan sebenarnya tidak ada.
Fana seperti semua teori tentang bumi dan manusia,
kosmologi yang kita pahami dengan berpura-pura.

Mungkin cakrawala adalah wujud masa lalu
dalam dimensi ketiga: ia terlihat sekaligus tidak nyata.
Ia ada di sekitar kita, hidup sebagai cerita, tapi tak
ada jalan dan tempat mukim di sana.

Aku mengajukan pernyataan itu untuk menggenapi
pertanyaanmu. Kita sepasang petualang yang jauh
dari diri sendiri. Mencari banyak jalan dan kemustahilan
namun lupa yang paling rintang adalah mendamaikan
mengapa di masa lalu dengan siapa di masa kini.

2019

Kepada Air

Kepada air yang mengubah tiada ke ada
juga dari ada ke tiada, keinginan Tuhankah
yang kaubawa mengalir sebagai pelampiasan
dosa dan rahmat?

Siapa yang menentukan?

Jumlah hujan yang jatuh di gersang padang
tempat nabi-nabi mati dan hidup sekali lagi
jauh lebih sedikit ketimbang yang turun di rimbun rimba
tempat tanah dahulu belum terpetakan. Ketimpangan itu
hanya serupa aliran kecil irigasi dari induk Nil.
Setimpalkah usaha utusan-utusan itu untuk sebuah
keesaan dengan seteguk air yang basahi tenggorokan?

Di banyak kota, air mengalir dimana-mana sebagai
konsekuensi logis dari hujan panjang. Dari bantaran kali
ke jalan raya, dari hati yang patah ke mata. Dimana saja,
sampah dan rindu bereproduksi lebih cepat dan berlipat
ganda dari cendawan. Keinginan Tuhankah hingga kau
akhirnya disebut nikmat atau bencana?

Siapa yang menentukan?

2019

***

Batara Al Isra lahir di Ujung Pandang, 9 Januari 1994. Sedang pusing kuliah antropologi di University of Auckland. Karyanya berupa cerpen dan puisi telah diterbitkan di berbagai media, juga pernah dimuat dalam beberapa buku antologi bersama, Selain itu, karya-karyanya pernah menjuarai beberapa lomba penulisan tingkat nasional. Bergelut di Forum Lingkar Pena, Komunitas Sastra Sungai Aksara dan Perpustakaan Antropologi FISIP Unhas.

Terbaru

Kunci

BEBERAPA waktu ia tak kunjung mendapati kunci yang seharusnya dapat membuka pintu rumahnya. Ia...

Tiga Burane

Dari Redaksi

Dibalap Sepeda

Ingatan yang Menyakitkan