Dialektika Adat, Syarak dan Tauhid

Literature On Stage, “TIGA DATUK”:

Seorang teolog berkata bahwa hasrat kita akan kisah—teater, film, dan segala bentuk naratif—merupakan ciri khas ketidaksempurnaan manusia. Di alam baka, alih-alih kisah, penglihatan saja sudah cukup. Kita akan memahami hal-hal manusiawi maupun ilahi, menembus keduanya dengan tatapan, dan melihat ke dalam diri. Tetapi selagi kita di dunia, ceritakanlah sebuah kisah. Karena sisanya hanyalah keheningan.

Di tengah dunia yang saat ini sedang dipertontonkan oleh teater yang tidak dilatih dengan cermat—teater yang merampas hidup dan kehidupan orang lain, yang mempertontonkan penderitaan secara vulgar demi bertahan hidup—kisah tentang tiga datuk yang datang dari Minangkabau dan menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan (Sulsel) menawarkan sebuah sudut pandang alternatif. Ia bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin untuk melihat perjalanan hidup kita sendiri.

Mereka adalah Datuk Ri Patimang, Datuk Ri Bandang, dan Datuk Ri Tiro. Tiga nama yang dalam tradis lisan Sulawesi Selatan disebut sebagai Tiga Tonggak atau Tiga Datuk yang membawa Islam ke tanah Bugis-Makassar. Perjalanan mereka tidak dimulai dari istana, melainkan dari surau.

“Kami tak lahir di istana, tumbuh dari surau.
Malam kami diisi tafakur, siang kami ditempa silek dan sabar.”

Pernyataan Datuk ri Bandang yang merangkum dasar pendidikan Minangkabau. Surau bukan sekadar tempat ibadah melainkan juga pusat pendidikan, pengkaderan, dan transmisi ilmu. Di surau itulah terjadi dialektika awal antara tradisi lokal yang terkandung dalam “silek”. Seni bela diri silat dan nilai ajaran Islam (zikir, tafakur, fikih, tasawuf).

Di surau itulah para datuk belajar bahwa alam takambang jadi guru—alam yang terbentang menjadi guru. Di surau itulah mereka menginternalisasi prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Bukan sekadar slogan. Ia adalah fondasi yang mengatur hubungan antara adat (tradisi), syarak/syariat (hukum Islam), dan monoteisme (tauhid) dalam sebuah dialektika integratif yang tak tepisahkan.

Adat memberikan wadah—struktur sosial, terminologi, institusi—bagi syarak. Sementara syarak memberikan ruh dan arah bagi adat. Dalam diri para datuk, tidak ada dikotomi antara menjadi “orang beradat” dan “orang beragama”. Keduanya adalah satu kesatuan organik. Mereka berasal dari wilayah Darek, dataran tinggi sekitar Gunung Marapi, lalu turun ke pesisir: Pariaman, Tiku, dan Ulakan. Dari sanalah mereka kemudian berlayar membawa ajaran yang tidak turun dan berguru lewat “pedang”, melainkan lewat “hikmah” atas keteladanan.

“Di setiap langkah kami belajar: Islam tak turun dengan pedang, tapi dengan teladan.
Tak datang memutus adat, melainkan menyucikannya.”

Inti akulturasi etis, bukan sekadar kompromi budaya, melainkan transformasi dengan tetap menjaga hubungan sosial, bentuk-bentuk budaya, dan kearifan lokal yang selaras dengan nilai dinamis islami yang berinti pada “salaam” (damai): yang rahmatan lil-alaamin.

“Tiga Datuk” dan Konsep “Diperjalankan”

Konsep “diperjalankan” memiliki akar yang kuat dalam pandangan Islam. Islam tidak memandang perjalanan sebagai aktivitas fisik semata, tetapi sebagai ibadah, metode pendidikan, dan jalan menuju kesadaran tauhid. Para datuk benar-benar menempuh jalan itu. Perjalanan mereka bukan sekadar berpindah tempat, tetapi sebuah rihlah ilmiyyah—perjalanan intelektual dan spiritual yang sistematis. Sebuah konsep spiritual ber-hijarh dalam kehidupan: “life of journey”. Sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim menyatakan:

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu,
Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Adalah negeri “Serambi Mekah”: Aceh Darussalam, menjadi arah langkah perjalanan pertama mereka memperdalam keilmuan. Di dayah-dayah tua, mereka duduk di hadapan ulama besar. Di sana mereka mempelajari fiqih yang kokoh, tauhid yang tak goyah, dan yang tak kalah penting: adab menundukkan diri. Bahwa seorang datuk yang dihormati di Minangkabau tetap harus duduk di hadapan guru di Aceh menunjukkan sebuah prinsip fundamental: sumber ilmu tidak pernah tunggal. Hikmah dimulai dari kerendahan hati.

Di negeri-negeri semenanjung Melayu, yang secara historis merupakan gerbang datangnya pengaruh peradaban ke Nusantara, memberikan pendalaman pelajaran lain bagi mereka dalam berhikmah. Di sana Islam tidak hanya hidup di istana, tetapi juga di pasar, di pelabuhan, di antara bahasa dan bangsa. Para datuk belajar bahwa dakwah harus lentur, mampu menyesuaikan dengan konteks sosial ekonomi masyarakat, tanpa kehilangan arah. Pedagang di pasar membutuhkan pendekatan yang berbeda dari petani di pedalaman.

Menyusur darat, menyusur laut; Tiga Datuk menjejak Tanah Jawa, yang menawarkan perspektif khas tersendiri. Di tanah Jawa, para datuk menyimak jalan para wali. Mereka menyerap sirat serat-serat pemahaman subtantif simbolik dalam tembang dan pengkhidmatan pada bayang-bayang wayang menjadi pintu iman dan prilaku. Mereka menyaksikan bagaimana metode bijak Walisongo, alih-alih menafikan akar budaya, melainkan justru memanfaatkan sosio-kultur tersebut untuk menjulangkan makna tauhid melalui medium kearifan lokal yang telah lama tumbuh. Wayang, gamelan, tembang, arsitektur—semua menjadi media dakwah. Dari sanalah mereka kian tercerahkan dan berhikmah atas sebuah prinsip penting, bahwa: hikmah mendahului hukum. Bahwa “hukum” beralas “etik” dan “etika”. Bahwa sebelum menerapkan hukum secara tekstual, seorang dai harus mempertimbangkan maslahat (kebaikan publik), kondisi psikologis masyarakat, dan aspek budaya.

Tanah Bugis-Makassar, menjadi destinasi amanah utama dan jazirah akhir ke-khafilah-an mereka menetap dan berdakwah. Di tanah Bugis-Makassar, adat berdiri setegak sumpah. Masyarakat Bugis-Makassar memiliki budaya yang sangat menghargai sumpah, harga diri (siri’), dan perjanjian. Para datuk belajar bahwa Islam tidak bisa “dilemparkan” ke dalam masyarakat yang memiliki sistem nilai kehormatan yang kuat. Karenanya, Islam harus masuk melalui pintu kehormatan itu sendiri: melalui perjanjian yang menghormati adat, sekaligus mengajak adat untuk berpegang pada nilai-nilai tauhid. Akulturasi bukanlah peleburan, tetapi perjanjian suci antara nilai-nilai Islam dan nilai-nilai lokal yang luhur.

“Kami Datuk dari Minangkabau. Diasuh oleh banyak guru,
ditempa oleh banyak tanah, dan disatukan oleh satu kalimat tauhid.”

Prinsip luhur budaya Minangkabau: “di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”, mereka ejawantahkan dalam makna subtil yang terluhur dan terdalam. Karena itu mereka paham dan menerapkan prinsip: Iman tak boleh merendahkan martabat.

“Tiga Datuk”: Profil Selayang Pandang

Datuk Sulaiman atau “Khatib Sulung”, yang kemudian di Sulsel dikenal sebagai Datuk Ri Patimang, ahli dalam ranah ke-tauhid-an (teologi), menetap dan berdakwah di wilayah Kedatuan Luwu, sebuah kerajaan tertua di Sulsel dengan tradisi spiritual yang kuat. Kebutuhan akan pemurnian akidah. Berbekal literasi yang dalam terhadap “Sureq Galigo”, Datuk Sulaiman membuka tabir nilai tauhid dalam kisah agung yang telah lama bersemayam dalam sanubari pemimpin tertinggi dan rakyat Kedatuan Luwu. Juga ber-safar dalam dakwah antara lain ke Kedatuan Soppeng dan Kedatuan Suppa. Lahir di Koto Tangah pada akhir abad 16. Wafat dan dimakamkan di Patimang – Kedatuan Luwu (Kab. Luwu saat ini) pada abad 17.

Datuk Abdul Makmur atau “Khatib Tunggal”, yang populer dengan nama Datuk Ri Bandang, mendalami fikih (hukum Islam), mengenalkan Islam secara lebih mendalam di wilayah kekuasaan Kerajaan Kembar Gowa-Tallo, kerajaan maritim yang sedang bangkit sebagai pusat perdagangan dan interaksi lintas budaya. Kebutuhan akan aturan yang jelas dalam transaksi, tata sosial dan lain-lain menjadi sangat relevan. Juga berdakwah di wilayah kekuasaan Gowa Tallo pada masanya, antara lain Kerajaan Kutai – Kalimantan Timur dan Kesultanan Bima – Nusa Tenggara Barat. Lahir di Koto Tangah pada akhir abad 16. Wafat dan dimakamkan di Bandang wilayah Kerajaan Tallo (di Jl. Sinassara Kota Makassar saat ini) pada abad 17.

Datuk Abdul Jawad atau “Khatib Bungsu”, yang dikenal dengan gelar Datuk di Tiro di Sulsel, menguasai tasawuf (dimensi spiritual Islam), berdakwah di wilayah Bulukumba dan sekitarnya. Masyarakat pesisir selatan dengan tradisi dan kebahariannya membutuhkan pendekatan yang menyentuh aspek batiniah. Juga bersyiar ke Kerajaan Bantaeng (Buttatoa) dan Konfederasi Tellu Limpoe yang berpusat di Kerjaan Balangnipa – Sinjai. Lahir di Koto Tangah pada akhir abad 16. Wafat dan dimakamkan di wilayah Kerajaan Tiro (di Bontotiro Kab. Bulukumba saat ini) pada abad 17.

Tiga “dimensi” dan ranah keahlian Tiga Datuk, namun dalam satu tujuan, pada masing-masing tiga basis “zona” wilayah tersebut, menanamkan ajaran Islam secara integratif dan berakar pada tauhid dan syariat, namun berakulturasi dengan adat istiadat setempat. Pola ini menciptakan penyebaran Islam yang damai, yang diterima bukan karena paksaan, tetapi karena kesesuaian dan menjunjung martabat kehormatan personal (pemimpin/penguasa) dan komunal (rakyat/masyarakat).

Literature on Stage: Metode Pemanggungan Ekspresif Berbasis Literasi

Upaya mengangkat kisah ketiga datuk ke dalam bentuk literature on stage, bukanlah sekadar pertunjukan teater sebagaimana biasanya. Ini adalah upaya untuk menghidupkan kembali narasi besar tentang peradaban, identitas, dan kebijaksanaan di atas panggung.

Konsep literature on stage memberikan “arahan” yang relatif unik. Penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi juga aktif dalam membangun proses intersubjektif sebagai “pembaca” dan penafsir pertunjukan. Kerja pada tingkat naratif (dramaturgi) tidak bertujuan membangun alur cerita yang harus dipahami secara linear. Sebaliknya, ia menciptakan kondisi di mana setiap penonton dapat menafsirkan melalui kekayaan literasi dan diskursus atau wacana mereka sendiri.

Ini berbeda dari apa yang biasa disebut sebagai “dramaturgi naratif” dalam teater yang berangkat dari teks. Juga berbeda dari teater yang, meskipun tidak berangkat dari teks, bertujuan mengembangkan satu benang naratif yang sama bagi setiap penonton.

Dalam literature on stage, ruang kebebasan yang diberikan kepada penonton berkaitan dengan konotasi sastra, sosial, politik, agama, dan etis dari cerita. Sumber-sumber yang digunakan pun beragam: manuskrip, buku, jurnal, lontarak, hingga pesan lisan (pappaseng).

Semua anasir itu tidak hanya diedit atau difragmentasi, tetapi diolah secara kreatif melalui prinsip montase. Pembabakan (sequence) sebagai rangkaian plot menghimpun dimensi ruang dan waktu hingga peristiwa. Dimensi waktu penceritaan “melompat-lompat” dan kompresif untuk memberikan ruang bagi pendekatan interdisipliner dalam membangun kesinambungan.

Seni pertunjukan melalui konsep pemanggungan (mise en scene) berkontribusi sebagai benang merah yang menunjukkan waktu yang berjalan (timelapse). Unsur naratif digerakkan oleh figur: aktor, penari, dan pemusik.

Tata panggung (skenografi), pencahayaan, dan multimedia semuanya bekerja bersama agar penonton memahami bahwa dalam waktu kurang dari satu jam, mereka “aktif” dilibatkan dalam menafsirkan pertunjukan. Panggung menjadi ruang kontemplatif. Nilai-nilai luhur (values) tidak hanya diceritakan, tetapi juga dirasakan dan dihidupi bersama oleh para aktor dan penonton.

Literature on Stage “Tiga Datuk”: Adat, Syarak, dan Tauhid disutradarai oleh Sabilul Razak. Pementasan melibatkan puluhan pendukung dengan konsep transdisipliner yang menggabungkan hasil interaksi dialogis: sejarawan, budayawan, sastrawan, aktor, penari, pemusik, animator, hingga perupa.

Ilham Anwar memerankan Datuk ri Patimang, Boed Bismart memerankan Datuk ri Bandang, Syam Ancoeamar memerankan Datuk di Tiro. Digelar di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 28 Maret 2026, Pukul 19.00 WIB disimak dan diapresiasi oleh sejumlah tokoh signifikan dari beragam kalangan.

Di jajaran apresian penonton, hadir Datu Luwu ke-40, YM. H. Andi Maradang Mackulau, S.H., yang sebelum pertunjukan dimulai berkenan menyampaikan pesan-pesan kebijakan (pappaseng) dan impresi-nya tentang akluturasi nilai Islam dan budaya di Kedatuan Luwu dan masyarakat Sulsel pada umumnya.
Sebagai pertunjukan kolaboratif paduan seni-budaya Sulsel dan Sumatera Barat (Minangkabau), hadir pula mengapresiasi H. Ferry Tass, S.H., M.Hum., M.Si. (bergelar adat: Datuk Toembidjo), merupakan Pembina Ikatan Keluarga Sapayuang (organisasi paguyuban perantau Sumatera Barat) di wilayah Sulsel. Seorang birokrat jajaran Kejaksaan RI yang kenyang pengalaman menelusur karir di Sulsel (Kejati Sulsel, Kajari Luwu Timur, dan Kajari Takalar).
Dari kalangan birokrat pemangku kepentingan pemajuan kebudayaan nasional Indonesia, hadir mengapresiasi Prof. Ismunandar, Ph.D. (Staf Ahli Menteri Kebudayaan RI bidang Hubungan Antar Lembaga. Seorang akademisi Institut Teknologi Bandung yang pernah mengemban amanah sebagai Atase Pendidikan dan Kebudyaan pada Kedutaan Besar RI di Bangkok – Thailand dan Washington DC – Amerika Serikat, serta pernah menjabat ambasador Kepala Perwakilan Tetap Indonesia untuk kantor pusat UNESCO –United Nations for Education, Science, and Culture Organisation— di Paris) dan Andi Syamsu Rijal, M.Hum. (Direktur Budaya Digital, Direktorat Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan – Kementerian Kebudayaan RI).

Akademisi Institut Kesenian Jakarta dan sineas Dr. Muhammad Rivai Riza, MA, yang lebih dikenal publk dengan Riri Riza, membagikan apresiasinya terhadap pertunjukan yang diawaki oleh kaum muda tersebut. Sebagai bentuk apresiasi mendalam Riri Riza juga berpendapat. “Para penampil tradisi punya kekhususan, tubuh bisa terserap bumi dan menyerap energi set dan lampu.”

Kalangan seniman seni peran lainnya yang turut mengapresiasi, antara lain: dramawan dan actor film senior Aspar Paturusi, aktor teater dan film Teuku Rifnu Wikana, serta seniman tari Wiwiek Sipala. Putra-putra seniman dan budayawan pendiri dan mantan ketua Dewan Kesenian Makassar almarhum Arsal Alhabsyi, pun hadir: Abubakar Alhasbsyi, Umar Arsal Alhabsyi, Usman Soekarno Alhabsyi, dan Ali Alhabsyi.

Menyimak Kisah Literatif Dengan “Hening” di Tengah “Riuh”.

Demikianlah, Literature on Stage: 3 Datuk bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah upaya untuk memproyeksikan dan merepresentasikan nafas serta semangat ketiganya dalam kehidupan kita hari ini. Ia adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang bising dengan teater kekerasan, vulgaritas, dan absurd. Masih ada kisah tentang bagaimana agama disebarkan dengan damai, dengan teladan, dengan akhlak.

“Sebab dakwah bukan hanya suara, tetapi sikap.
Bukan hanya kata, tetapi akhlak.”

Para Datuk tidak syuhadah dalam pertempuran fisik. Tetapi dalam tabligh dan syiar dakwah menempuh perjalanan ribuan kilometer, meninggalkan kampung halaman di Minangkabau, menyeberang laut dan darat, duduk di hadapan puluhan guru, dan akhirnya mengabdikan sisa hidup mereka di tanah rantau—Sulsel. Mereka wafat di sana, dimakamkan di sana, dan hingga kini makam-makam mereka masih diziarahi.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka hidup di sisi Tuhannya, dianugerahi rezeki, dan mendapatkan kedudukan mulia di alam barzakh, meskipun kita tidak menyadarinya.” (QS. Ali Imran: 169)

Kisah tiga datuk adalah kisah tentang bagaimana tauhid tidak hanya diucapkan, tetapi dijalankan. Tentang bagaimana adat tidak dimusuhi, tetapi disucikan. Tentang bagaimana perjalanan tidak hanya mengubah peta, tetapi mengubah jiwa. Tentang bagaimana Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin bukan dalam retorika, tetapi dalam kenyataan sejarah yang konkret. Panggung Gedung Kesenian Miss Tjitjih pada 28 Maret 2026 menjadi ruang kisah itu diceritakan kembali. Bukan untuk dikenang sebagai masa lalu yang mati, tetapi untuk dihidupi sebagai warisan yang terus berbicara. Karena mereka yang pernah berjalan dengan ikhlas tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya berpindah dari satu bentuk ke bentuk lain—dari daging menjadi makna, dari suara menjadi keheningan yang penuh.

Dan di sanalah, di dalam keheningan itu, kisah sejati justru mulai terdengar.

Depok, 3 April 2026

Bagikan:

Penulis →

Syam Ancoeamar

Pembelajar dan Praktisi Seni Pertunjukan dan Sinema

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *