Esai

Home Esai

Ingatan yang Menyakitkan

0

“Seseorang mengatakan bahwa semuanya harus dibuang. Apa yang kau ingat adalah semua yang perlu diingat.”

“Bagaimana jika aku hanya mengingat rasa sakit? Lalu apakah hanya rasa sakit itu yang akan ada?”

Kalimat di atas adalah dialog antara Maria dan Rita, dua tokoh di antara sepuluh lainnya yang bernama Sofia, Pedro, Irene, Tatiana, Lydia, Enriques, Aurora, Hector, Eva, dan putri mereka (tanpa nama, digambarkan sebagai anak yang tak dapat berbicara). Semua nama tokoh itu mewakili warga Uruguay yang mengalami trauma akibat kekerasan politik di negaranya sehingga harus melarikan diri ke Norwegia.

Kisah sedih dan traumatis tersebut terangkum dalam sebuah naskah drama yang dibukukan dengan judul Waktu Tanpa Buku (WTB). WTB mengisahkan para eksil yang memanggil ingatan tentang tragedi berdarah saat demokrasi dirampas oleh para diktator.  Naskah asli berjudul Time Without Books (Oberon Books, London, 2019) ditulis oleh Lene Therese Teigen, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Faiza Mardzoeki, dan penggarapan pementasannya di Indonesia dilakukan oleh 5 kelompok teater dari 5 kota.

Pementasan itu sendiri merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang diinisiasi oleh Institut Ungu dalam rangka menyambut 16 Hari kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan Hari Hak Asasi Manusia, pada 25 November – 10 Desember 2020. Selain menyelenggarakan diskusi, kegiatan bertajuk Dialog Seni dan HAM tersebut juga mementaskan  pertunjukan teater film secara daring 1-10 Desember 2020. Pentas teater WTB diproduseri oleh Faiza Mardzoeki, digarap oleh 5 sutradara perempuan; Shinta Febriany dari Kala Teater (Makassar), Heliana Sinaga dari Mainteater (Bandung), Ramdiana dari Serikat Sapu Lidi (Aceh),  Ruth Marini dari Ruang Kala (Jakarta), dan Agnes Christina dari Yogyakarta juga Wawan Sofwan sebagai konsultan pertunjukan.

Mengalah Namun Mencari Celah

Sepertinya kalimat subjudul di atas tepat dijadikan ungkapan dalam situasi sekarang ini. Dunia dikepung pandemi, dan semua daftar rencana porak poranda dibuatnya. Tentu saja kita semua kali ini mesti mengalah untuk tidak ngotot menjalankan rencana dengan cara biasa. Dan sebagai manusia dengan kemampuan berpikir yang baik, kita harus mencari celah, bagaimana agar agenda bisa tetap terlaksana.

Begitu pula dengan WTB, sebuah rencana pementasan teater yang sejak awal akan digarap dan dipertunjukkan pada 2020 ini, harus melakukan adaptasi. Setelah nyaris semua acara selalu dilaksanakan daring, pentas ini pun mengikuti. 

Penamaan “Teater Film” itu tentu bukan tanpa alasan. Konsep pertunjukan teater di atas panggung tak mungkin dilakukan sebagaimana biasanya, harus dilakukan penyesuaian sesuai protokol kesehatan yang berlaku. Pendekatan garapan film pun dilakukan. Teknik pengambilan gambar yang tidak terfokus ke satu titik di panggung seperti pentas biasa, membuat tim produksi memiliki kreativitas berbeda. Pilihan pertunjukan daring jadi solusi yang dianggap cukup tepat, sehingga tetap dapat memberikan suguhan yang ciamik pada penonton.

Masa Lalu yang Menghantui

Jadwal pertunjukan teater film selama 10 hari itu dibagi jadi dua hari untuk masing-masing kelompok teater. Masa tayangnya dimulai sejak pukul 19.00 hingga pukul 22.00 keesokan harinya.

Kala Teater dari Makassar mengawali pertunjukannya pada 1-2 Desember 2020 dengan memunculkan 6 orang berbaju putih, berkacamata hitam, dengan kepala dibebat topeng wol berwarna merah. Para pemain memasuki  “panggung” sambil memutar-mutar badan masing-masing, kemudian kertas-kertas yang mereka pegang satu persatu berjatuhan. Adegan ini seolah simbol dari setiap bacaan para tokohnya yang kemudian terpaksa harus dibuang. Adegan demi adegan selanjutnya tetap terasa seperti menonton teater di atas panggung, dengan properti yang ditambahkan atau diambil sembari aktornya keluar masuk. Walaupun mestinya bisa dilakukan pengambilan gambar secara close up, Kala Teater masih teguh mempertahankan konsep pertunjukan teaternya dengan kuat. Tapi yang cukup menarik adalah sisi artistik yang dibangun dari warna-warni kontras di atas panggung, tubuh yang terjatuh dan bangun berulang, kursi yang dimainkan, hampir seluruhnya menyuguhkan tampilan estetik tanpa mengurasi emosi kesedihan yang mewarnai kisahnya. Terutama saat Pedro menceritakan bagaimana dia mengalami kengerian siksaan di penjara dengan detail.

Giliran kedua jatuh pada pertunjukan berdurasi 52 menit dari Yogyakarta. Agnes Christina membuat pementasannya di alam terbuka. Dengan pakaian para pemain berwarna putih, tampak kontras dengan rerumputan hijau di taman. Dan warna merah buah semangka menambah tegas impresi yang ingin disampaikan. Percakapan-percakapan anggota keluarga di tengah kegiatan piknik mereka membuka lembaran  trauma masa lalu. Kegembiraan piknik tak terlalu kentara dalam senyuman, yang ada hanyalah kepedihan kenangan. Dialog Pedro sempat terkalahkan suara air di latar belakang, tapi ekspresi para pemain mengirimkan rasa sunyi yang cukup memiliki daya renung.

Mainteater dari Bandung membuat pembabakan pentas seperti naskah aslinya, 23 bagian. Setiap judul babak dimunculkan sebagai permulaan menuju babak selanjutnya. Penyesuaian dilakukan dalam bagian interogasi. Ketakutan dan kebingungan aktor ditonjolkan untuk menghadirkan rasa mencekam. Durasi pementasan yang paling panjang di antara kelima kelompok teater jadi bukti bahwa Mainteater  menganggap setiap babak dalam kisah WTB penting untuk disampaikan pada penonton. Ruangan gelap dengan koran-koran dan tulisan berserakan, mesin ketik sebagai media menulis ulang peristiwa, boneka beruang, benang wol merah, jadi sarana para aktor mempresentasikan peristiwa penuh tragedi.

Kelompok Serikat Sapu Lidi mendapat giliran pentas pada 7-8 Desember 2020. Sepanjang 1 jam 19 menit, pengisahan trauma para tokoh dimulai dengan musik dan senandung penuturan hikayat khas Aceh. Para aktor perempuan berkerudung memainkan tokoh wanita, dan seorang laki-laki memerankan Pedro dan Hector sekaligus. Sebuah pohon di atas panggung menjadi artistik panggung berundak dengan kain dan kotak yang digantungkan di rantingnya. Kotak sebagai simbolisasi ingatan yang disimpan, rahasia masa lalu yang disembunyikan, namun tetap menjadi bagian dari diri para tokoh.

Ruang Kala sedikit berbeda, mereka memberi suguhan yang mendekati bentuk film pendek. Pengisahan dilakukan oleh setiap tokoh yang bermonolog. Teknik pengambilan gambar yang sinematik, dan pemilihan cast yang tepat dari lintas usia, membuat suguhan yang berdurasi 39 menit 24 detik itu bisa dinikmati dengan baik dan meninggalkan kesan dengan gema yang panjang di benak penonton. Tokoh anak diperankan oleh dua anak kecil, dan tokoh dewasa lainnya memiliki karakter kuat dalam setiap adegan. Pedro yang menceritakan kembali trauma akan siksaan, Lydia yang mengenang masa-masa penantian yang seolah tanpa ujung. Menanti suaminya dibebaskan atau mati, menanti suaminya pulang.  Rita yang gembira karena akan menikah tapi dibebani pertanyaan mengapa kedua orang tuanya, Sofia dan Pedro, menyembunyikan kisah masa lalunya dan tak mau menceritakan apa yang mereka alami. Kalimat Aurora, anak kecil yang manis itu, “Kalian tidak akan bisa melupakan aku,” jadi penutup yang bergaung. Tidak seperti kelompok teater lain yang menunjukkan bagaimana tari tango diakukan oleh Sofia dan Pedro jadi tarian yang indah sekaligus memilukan, Ruang Kala justru memberikan sajian gambar mengharukan ketika Lydia dan Enrique berpelukan setelah suaminya itu dibebaskan.

Penjara Ingatan

Lima kelompok teater tersebut telah menyajikan interpretasinya masing-masing pada naskah yang memiliki benang merah dengan peristiwa rezim politik di Indonesia. Uruguay mengalami periode kediktatoran dari 1973 sampai 1985. Pada tahun itu, sekira 20% penduduk Uruguay dipenjara, dalam waktu lama atau singkat, dan 10% diasingkan ke negeri lain. Mereka yang mengalami peristiwa tersebut tak pernah bisa betul-betul melupakan bagaimana rasanya hidup dalam teror dan ketidaktenangan. Kecemasan demi kecemasan mendera mereka dalam penjara ingatan.

Di Indonesia pun pernah terjadi pelanggaran HAM berat yang menorehkan luka sejarah. Ingatan yang menyakitkan tentang kekelaman bangsa Indonesia pun menghantui para pelaku sejarah dan orang-orang yang mengalami kekerasan di masa Orde Baru, yang dianggap sebagai rezim yang mengekang hak rakyat dalam banyak bidang, terutama hak untuk menjadi berbeda dalam pilihan politik dan idealismenya. Diberitakan banyak orang bisa tiba-tiba hilang tanpa jejak setelah memprotes keras, atau dimasukkan sel prodeo setelah menyuarakan gugatannya. Orang-orang bisa tiba-tiba dicap melawan pemerintah, jika terlalu melawan arus di saat itu.

Pertunjukan teater film Waktu Tanpa Buku menggugah sisi kemanusiaan kita, menggedor kesadaran bahwa sejarah dan masa lalu itu bukan hanya cerita milik kita sendiri, tapi juga milik anak-anak kita,  berpengaruh terhadap kehidupannya kelak. Kebenaran yang ditutupi akan terbuka pula pada akhirnya, sebab kenangan dapat menjadi sesuatu yang utama. Kenangan baik ataupun kenangan buruk. Serangkaian kenangan baik akan terus melekat, menjadi rasa bahagia yang bisa diingat. Kenangan buruk membuat kita merasa ingat sekaligus tak ingin mengingat, kita mengingat rasa sedih tanpa merasa sedih, tapi trauma yang membekas mempengaruhi langkah dan keputusan kita, bahkan secara tidak sadar. Jadi, walaupun diingkari dan berusaha dilupakan, sejarah kelam yang pernah mewarnai perjalanan kehidupan sebuah bangsa tetap akan tinggal dalam ingatan.

Semoga tahun-tahun kelam Indonesia yang memiliki kemiripan kisah dengan sejarah Uruguay dalam naskah WTB ini tidak akan pernah terulang lagi di masa depan. Semoga semua bangsa di dunia tidak perlu lagi mengalami kegetiran hidup yang menyakitkan dalam ingatannya.


====================
Ratna Ayu Budhiarti, penulis dan penikmat seni. Karyanya telah dimuat di berbagai media cetak lokal dan nasional serta diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Rusia, dan Korea. Menjadi peserta terpilih di beberapa acara sastra, di antaranya: Festival Puisi Internasional Indonesia (2012), Ubud Writers and Readers Festival (2012). Diundang oleh PENA Malaysia sebagai pembicara dan pembaca puisi (2016), serta Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (2018, 2019). Mengisi workshop dan menjadi juri pada beberapa lomba tingkat nasional. Buku puisi terbarunya, Sebelas Hari Istimewa (2019). Guru yoga ini baru saja menerbitkan kumpulan cerpen terbarunya, Perempuan yang Berhenti Membaca.

Suara di Aksara

0

Di novel anak garapan Kate DiCamillo, pemenang Newberry Book 2004, berjudul The Tale of Despereaux (2005), si tikus kastil Despereaux dihukum buang ke ruang tahanan bawah tanah sejak ketahuan mencintai seorang putri sekaligus menawarkan persahabatan. Setiap tikus kastil yang dibuang ke ruang bawah tanah, pasti tidak akan bertahan hidup. Ruang bawah tanah dijaga oleh sipir bernama Gregory yang kesepian dan terkesan sangar. Namun, Despereaux selamat dari kematian karena membisikkan cerita-cerita ke telinga Gregory. Meski kegelapan begitu pekat dan kehidupan bawah tanah begitu muram, telinga Gregory tetap awas, rindu, dan bahagia menerima cerita.

“Cerita ibarat cahaya. Cahaya sangat berharga di dunia yang begini gelap. Mulailah dari awal. Berceritalah pada Gregory. Hadirkan cahaya,” ucap Gregory yang selama bertahun-tahun bertungkus lumus dengan kegelapan, kesepian, dan kemuakan pada tikus got. Dan di halaman penutup buku, Kate DiCamillo berpesan agar pembaca menganggap Kate seolah Despereaux yang bercerita untuk saling menghangatkan dalam kegelapan. Kisah Despereaux jelas produk (aksara) cetak. Di luar permintaan Kate DiCamillo untuk dianggap sebagai penutur atau pendongeng, buku itu memang terkesan mewakili suara kelisanan untuk telinga-telinga yang merindukan bunyi.

Kelisanan dan keaksaraan dalam cerita anak hadir saling berkelindan, terkadang tumpang tindih, atau berbarengan. Meski penemuan teknologi cetak atau tulisan cenderung berpotensi menghabisi yang lisan, riwayat kelisanan yang panjang di Nusantara masih begitu kuat meninggalkan ciri pada keaksaraan. Bisa dikatakan bahwa fondasi awal sastra (anak) adalah suara. Orang-orang menyukai suara, terlebih anak-anak. Kita pun mengingat dalam peristiwa kelahiran, indera pertama yang peka adalah pendengaran.

Sastra anak adalah sastra yang dibunyikan. Hal ini terbukti lewat bagaimana prosa bagi anak, entah bentuknya cerita rakyat, folklor, cerita pendek anak, atau cerita bergambar ditampilkan atau dituliskan kembali. Di sampul depan, biasanya kita menemukan pernyataan “diceritakan kembali” atau “dikisahkan oleh”. Walter J. Ong (2013) mengatakan bahwa pergeseran kelisanan menuju keaksaraan terjadi pada aneka seni verbal (sajak, narasi, wacana, deskriptif, seni berpidato, drama, historiografi, biografi, karya-karya filosofis ataupun ilmiah). Narasi menjadi yang paling banyak memantik perhatian,  “…saya menyebut kelisanan suatu budaya yang sepenuhnya tidak tersentuh pengetahuan apa pun mengenai tulisan atau cetakan sebagai “kelisanan primer”. Kelisanan tersebut bersifat “primer” bila dibandingkan dengan “kelisanan sekunder” budaya teknologi tinggi masa kini, yang di dalamnya suatu kelisanan baru disokong oleh telepon, radio, televisi, dan alat elektronik lain yang keberadaan dan fungsinya tergantung pada tulisan dan cetakan. Budaya lisan primer masa kini dalam makna ketatnya nyaris tidak ada, karena semua budaya mengenal tulisan dan punya pengalaman mengenai efeknya. Meski begitu, dalam tingkatan yang berbeda-beda, banyak budaya dan subbudaya, bahkan dalam suasana teknologi tinggi, mempertahankan sebagian besar pola pikir kelisanan primer.”

Betapa pun canggih pendidikan modern membawa anak-anak menyadari diri sebagai bagian dari masyarakat keaksaraan dan melek cetak, mereka secara naluriah masih membutuhkan suara ragawi untuk memasuki jagat imajinasi. Kita sadar, peristiwa mendengar hari ini sangat jauh dari nuansa komunal dalam kosmologi adat. Sebagian sangat besar masyarakat saat ini tidak lagi terikat dalam komunitas-komunitas adat yang mengikat.

Buku bacaan anak lebih mutakhir, secara tersirat ataupun tersurat menekankan peran orangtua sebagai pencerita atau pendongeng. Tentu, kita bisa yakin orangtua lebih sadar dan melek aksara. Raga anak harus diasup makanan bergizi, sedang jiwanya harus diasuh oleh cerita-cerita bermakna. Di sini, rumah menjadi penting dan wilayah potensial untuk persemaian keaksaraan dibarengi oleh kelisanan. Salah satunya buku berjudul Istana dalam Perut Ikan dan Tiga Cerita Lainnya (Mizan, 2004) yang ditulis oleh Laila Hilaliyah dan digambari Pidi. Di sampul depan buku, ada label “Dongeng Sebelum Tidur.” Bersesuaian dengan label, buku secara khusus memberi halaman “Petunjuk bagi Orang Tua” untuk mendongengkan sebelum tidur dan orangtua bergaya seperti pendongeng.

Pendongeng Made Taro dalam penulisan-penceritaan kembali folklor Bawang dan Kesuna yang mengalami cetak ulang tiga kali (1997, 1998, 2000) oleh Balai Pustaka memiliki pengakuan lebih personal sekaligus kultural. Penerbit menulis, “Made Taro mendengar cerita ini ketika ia masih kecil yang diceritakan oleh ayah atau ibunya menjelang waktu tidur.” Sewaktu kecil, Made Taro menjadi seorang anak yang mendengar dan secara kultural menjadi bagian dari masyarakat kelisanan Bali. Ayah dan ibu Made Taro pasti berhasil membuat cerita Bawang dan Kesuna begitu hidup meski tanpa ilustrasi atau teks tercetak. Cerita itu diterbitkan ulang dan jelas mewujud sebagai produk keaksaraan.

Peralihan ini tidak saja menunjukkan peralihan suara ke teks, tapi juga kepemilikan. Secara kultural, Bawang dan Kesuna memang cerita rakyat dari Bali. Namun, sebaran buku memungkinkan cerita dimiliki pembaca Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Bangka, atau Papua yang juga mengingatkan cerita tentang anak perempuan baik dan anak perempuan jahat versi masing-masing daerah. Lantas dari teks, cerita sangat mungkin beralih lagi ke suara karena dibacakan oleh ibu kepada anak, guru kepada murid, atau seorang pendongeng kepada publik pendengar-pembaca anak.

Dalam teks keaksaraan, ciri kelisanan sering bahkan harus begitu kuat. Sampai hari ini, banyak cerita diawali dengan pengejawantahan waktu yang terkesan entah dan tanpa batasan, misalnya “pada suatu hari”, “pada zaman dahulu”, “dahulu kala”, atau “suatu ketika”. Begitu pernyataan terucap atau tertulis, dunia lain menawarkan penalaran pada tokoh, kejadian, kenyataan, atau perasaan-perasaan yang bisa diresapi atau terpantulkan dari diri pendengar. Tidak hanya tulisan berbasis kelisanan berjenis folklor, fabel, atau legenda mempertahankan pola ini seolah memang begitulah suatu kisah lumrahnya diawali dan spontan membayangkan sang narator bersuara daripada menulis.

Keampuhan “Pada suatu hari” atau “Pada zaman dahulu” bertambah sakti justru saat didukung teknologi. Ingat saja betapa populer acara berfigur kakek tradisional pencerita yang diidolakan kedua cucunya sekaligus penonton bocah di Indonesia. Kakek di tayangan salah satu stasiun televisi swasta ini memiliki tiga kata sakti “Pada zaman dahulu” yang seketika menghadirkan cerita-cerita dalam layar. Suara yang disokong teknologi ini tentu saja langsung disambut dengan antusias, entah antara bocah benar-benar rindu mendengar atau gerak animasi yang menyenangkan daripada sekadar menghadapi gambar diam dalam buku.

Namun, inilah tantangan yang sebenarnya dihadapi oleh kelisanan. Kelisanan sekunder, seperti dibahasakan Ong, hampir mengisi atau bisa dikatakan “menguasai” kebutuhan suara. Dari tontonan televisi sampai tayangan Youtube, suara dari teknologi lebih mudah dijangkau dan sanggup memberikan efek candu. Tidak dipungkiri memang teknologi menyokong sastra anak memenuhi kodratnya disuarakan. Misalnya saja membaca nyaring atau read-aloud lewat tayangan virtual yang belakangan sangat populer di masa pandemi, langsung menjadi alternatif sebelum ikatan kultural pada kelisanan primer ataupun intelektual pada keaksaraan benar-benar kuat tercipta.

Kelisanan dan keaksaraan harus berjalan berbarengan. Sastra anak adalah sastra yang dibunyikan, lalu dibaca. Anak-anak pasti sangat menyukai suara, bukan suara monoton menasihati atau suara seram mengkhotbahi. Suara itu cerita yang dibuka dari kedalaman buku. Suara yang membuat ilustrasi berpendar hidup dalam kepala. Pada mulanya, bersastra berarti mendengar. Untuk membuat cerita berumur panjang, harus ada suara berumur panjang pula.




=====================
Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2019). Tinggal di Boyolali.

Sepucuk Surat untuk Ayahku, Gabriel García Márquez

0



Gabo,

17 April adalah peringatan tahun keenam kematianmu, dan dunia terus berjalan seperti biasanya, di mana manusia berperilaku dengan kekejaman yang menakjubkan dan kreatif, kemurahan hati dan pengorbanan yang luhur, serta segala sesuatu di antaranya.

Satu hal yang baru: pandemi. Sejauh ini yang kita tahu, itu berasal dari pasar makanan di mana virus berjangkit dari hewan ke manusia. Satu langkah kecil untuk satu virus, tetapi lompatan besar untuk jenisnya. Itu dia makhluk yang berevolusi selama waktu yang tak terhitung melalui seleksi alam menjadi monster kecil yang rakus seperti sekarang. Tapi sangat tidak adil untuk merujuknya dalam istilah seperti itu, dan aku menyesal jika kata-kataku telah menyinggung. Sebenarnya tidak ada niat jahat khusus terhadap kita. Itu dialami dan terjadi, karena bisa. Tentunya, kita bisa tertaut. Ini bukan masalah pribadi.

Tiada hari berlalu tanpa aku menemukan referensi untuk novelmu “Love in the Time of Cholera,” atau irama pada judulnya atau pandemi insomnia dalam “Seratus Tahun Kesunyian”. Mustahil untuk tidak berspekulasi tentang apa yang akan kau ciptakan dari semua ini. Kau selalu terpesona dengan epidemi, nyata atau imajinasi sastra, serta dengan berbagai hal dan orang-orang yang berpulang.

Kau belum dilahirkan ketika pandemi flu Spanyol menjangkiti planet ini, tetapi kau tumbuh di sebuah rumah tempat dongeng berkuasa dan di mana wabah, seperti hantu dan penyesalan, pastilah tercipta untuk bahan sastra yang bagus. Kau mengatakan bahwa orang akan berbicara tentang peristiwa masa lalu sebagai hal-hal yang terjadi pada zaman komet, kemungkinan besar merujuk pada jatuhnya komet Halley di awal abad ke-20. Kuingat betapa berhasratnya kau melihatnya dengan mata kepala sendiri ketika kembali menjelang akhir milenium. Ini memukaumu, sebuah jam misterius yang menyerang masa hening setiap 76 tahun sekali, sebuah siklus yang mendekati waktu yang diberikan kepada manusia. Suatu kebetulan? Mungkin hanya ikan herring merah yang berbeda. Kau seorang ateis, tetapi kau juga merenungkan bahwa tidak dapat dibayangkan bahwa tidak ada rencana agung, ingat ‘kan? Tidak ada pencerita dari kisah itu. Dalam hal ini, kau kini memiliki lebih banyak wawasan daripada aku, barangkali.

Pandemi terjadi lagi. Terlepas dari kemajuan besar ilmu pengetahuan dan kecerdikan spesies kita yang paling terkenal, pertahanan terbaik kami sejauh ini adalah tetap tinggal di dalam rumah, bersembunyi di gua-gua dari pemangsa. Ini adalah momen yang merendahkan bagi mereka yang setidaknya memiliki sedikit kecenderungan ke arah kerendahan hati. Bagi yang lain, itu adalah hal yang mengganggu untuk dihancurkan.

Dua negeri yang kau sayangi, Spanyol dan Italia, termasuk yang paling parah. Beberapa teman tertua darimu memanfaatkan yang terbaik di flat yang sama di Barcelona, Madrid, dan Milan di mana kau dan Mercedes mengunjungi dalam waktu yang tak terhitung jumlahnya selama beberapa dekade. Pernah kudengar beberapa orang dari generasi itu mengatakan bahwa mereka bertekad untuk bertahan, jika bukan karena alasan lain kecuali menghindari terbunuh oleh flu setelah puluhan tahun bertahan dari kanker, tiran, pekerjaan, tanggung jawab, dan pernikahan.

Bukan hanya kematian yang membuat kami takut, tetapi juga keadaan. Jalan hidup terakhir tanpa perpisahan, dihadiri oleh orang asing yang berpakaian luar angkasa, mesin berbunyi tanpa perasaan, dikelilingi oleh orang lain dalam situasi serupa, tetapi jauh dari orang-orang yang kita cintai. Ketakutan terburukmu, kesepian.

Kau sering berbicara tentang “A Journal of the Plague Year” Daniel Defoe “sebagai salah satu pengaruh terbesar untukmu, tetapi sampai kemarin aku lupa bahwa bahkan favoritmu, “Oedipus Rex,” bergantung pada upaya raja untuk mengakhiri wabah. Itu selalu ironi tragis dari nasib raja yang berada di garis depan ingatanku, tetapi wabahlah yang melepaskan kekuatan yang memicu akhir. Kau pernah berkata bahwa apa yang menghantui kita tentang epidemi adalah mereka mengingatkan kita pada takdir pribadi. Terlepas dari tindakan pencegahan, perawatan medis, usia atau kekayaan, siapa pun dapat menarik angka sial. Nasib dan kematian, banyak subjek favorit penulis.

Kupikir jika kau ada di sini sekarang, kau akan, seperti biasa, terpesona oleh manusia. Istilah “laki-laki” tidak banyak digunakan dengan cara itu lagi, tapi aku akan membuat pengecualian bukan sebagai kesetujuan pada patriarki, yang kau benci, tetapi karena itu akan bergema di telinga pria muda dan  calon penulismu sekali waktu adalah, dengan lebih banyak kepekaan dan ide di kepalamu daripada yang kau tahu apa yang harus dilakukan, dan dengan perasaan yang kuat bahwa takdir ditulis, bahkan untuk makhluk dalam gambar Ilahi dan dikutuk dengan kehendak bebas. Kau akan mengasihani kelemahan kami; kau akan kagum pada keterkaitan kita, disedihkan oleh penderitaan, marah oleh kebodohan beberapa pemimpin dan digerakkan oleh kepahlawanan orang-orang di garis depan. Dan kau akan bersemangat mendengar bagaimana sepasang kekasih menantang setiap rintangan, termasuk risiko kematian, untuk bersama. Yang terpenting, kau akan disayang orang seperti sebelumnya.

Beberapa pekan yang lalu, selama beberapa hari pertama kami diasingkan di rumah, kepalaku berusaha menjelaskan kepada diriku sendiri apa artinya semua itu, atau setidaknya apa yang bisa keluar darinya. Aku gagal. Kabut itu terlalu berat. Sekarang hal-hal telah menjadi lebih kuantum, seperti yang terjadi pada akhirnya bahkan dalam perang yang paling menakutkan, aku masih tidak bisa membingkai semuanya dengan cara yang memuaskan.

Banyak yang yakin bahwa hidup tidak akan pernah sama. Mungkin sebagian dari kita akan membuat perubahan besar, lebih banyak dari kita akan membuat beberapa perubahan, tetapi aku curiga sebagian besar akan kembali ke pesta dansa. Tidak akan ada argumen yang baik untuk diajukan bahwa pandemi adalah bukti tentang hidup menghilang dengan cara yang paling tak terduga dan karenanya kita harus hidup besar dan hidup sekarang? Salah satu cucumu sendiri telah menyatakan pendapat itu.

Pembatasan gerak mulai longgar di beberapa tempat, dan sedikit demi sedikit dunia akan berusaha menjelajah ke arah normalitas. Bahkan melamunkan kebebasan segera sudah banyak yang mulai melupakan janji-janji mereka baru-baru ini kepada para dewa. Dorongan untuk memproses dampak pandemi pada diri kita yang terdalam, dan pada seluruh bangsa, semakin berkurang. Bahkan banyak di antara kita yang ingin memahami apa yang telah terjadi akan tergoda untuk menafsirkannya sesuai dengan keinginan kita. Belanja sudah mengancam akan kembali menjadi narkotika favorit kita.

Aku masih dalam kabut. Tampaknya untuk saat ini aku harus menanti para pakar, sekarang dan masa depan, untuk memetabolisme pengalaman bersama. Kutunggu hari itu. Sebuah lagu, puisi, film, atau novel akhirnya akan menggerakkan aku ke arah biasa di mana pikiran dan perasaanku tentang semua ini terbenam. Ketika aku sampai di sana, kuyakin aku masih harus melakukan beberapa penggalian sendiri.

Sementara itu, planet ini terus berputar dan kehidupan masih misterius, kuat, dan menakjubkan. Atau seperti yang biasa kau katakan dengan kata sifat yang lebih sedikit dan lebih banyak puisi, tidak ada yang mengajarkan apa pun tentang kehidupan.




===============
Rodrigo García (@rodgarcia59) adalah sutradara film “Four Good Days,” dibintangi Glenn Close dan Mila Kunis. Artikel ini diterbitkan New York Times, 6 Mei 2020. Diterjemahkan oleh Arpan Rachman, jurnalis lepas, yang menyelesaikan program sertifikasi English for Journalism dari University of Pennsylvania.

Kecenderungan Puisi Indonesia dalam Merespon Realitas Sosial

1

Arus modernisasi dan globalisasi yang dimotori oleh Barat telah membuat manusia modern tercerabut dari nilai budaya dan kearifan lokal. Dalam buku Muslim Tanpa Masjid (2001:96-97) Kuntowijoyo mengatakan, “Manusia terasing dari lingkungan yang sekian lama telah melingkupinya. Perasaan terasing ini menimbulkan hidup menjadi kurang bermakna dan frustasi (dehumanisasi)”.

Manusia modern ini menurut Kuntowijoyo (2013:17-19), terbangun dari pengaruh teknologi melalui mesin industri, yang kemudian penggunaan teknologi itu meluas dalam masyarakat di luar industri. Sebagaimana beragamnya penggunaan kata “teknik” dan “mesin” di berbagai bidang kehidupan, “teknik manusia” (human technique) melalui pendidikan, penataran, dan kursus-kursus. Hal itu menjadikan perilaku manusia mesin (l’homme machine), yang tidak lagi berdasar kepada akal sehat, nilai, dan norma. Pribadi yang semula bebas, utuh, dan rasional, bisa tenggelam dalam satuan yang disebut masyarakat massa. Massa menjadi satu-satunya entitas yang harus diperhitungkan. Kekuatan yang membentuk manusia dan masyarakat massa ialah teknologi (mekanisasi, industrialisasi), organisasi ekonomi (pabrik, pasar, advertensi), diferensiasi sosial (kelas, suku, agama), mobilisasi politik (negara, partai), dan budaya (sport, musik pop, pendidikan, media massa). Masyarakat massa terlahir dari manusia-manusia massa yang berperilaku manusia mesin. Mengutip Gabriel Marcel seorang filsuf Eksistensialis-Katolik, dalam masyarakat teknologis, manusia tidak lagi memahami dirinya berdasarkan gambaran tentang Tuhan (be image of God), tetapi gambaran tentang mesin (the image of machine).

Oleh sebab itu, seorang filsuf-penyair Muhammad Iqbal menyerukan kembali tentang keagungan, kekuatan, dan kegairahan hidup manusia. Muhammad Iqbal menyerukan pentingnya Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (terj. Ali Audah, dkk., 1982:xvii-xviii).

Di bidang filsafat, Roger Garaudy melalui dua bukunya yang terkenal, Janji-janji Islam dan Mencari Agama Abad Duapuluh, mempertanyakan kembali keberadaan filsafat analitik dan rasionalisme atau historis materialisme, yang mengalami jalan buntu karena dasar-dasar epistimologisnya meragukan, serta ekses-eksesnya yang mengasingkan manusia dari Tuhan dan dirinya sendiri (via Hadi WM, 2004:4).

Dalam pandangan Seyyed Hosein Nasr (terj. Hadi WM, 1994: 197-206), penyakit manusia modern yang parah karena kehilangan Tuhan, bisa dikurangi, suatu kehilangan yang dengan jelas digambarkan oleh kesusastraan dan seni modern dalam kekacauan yang dahsyat. Islam menyajikan pengobatan langsung terhadap penyakit ini. Secara umum, shalat menempatkan manusia dalam porosnya dan dalam dimensi vertikal yang tertuju kepada Sang Pusat. Tasauf adalah kendaraan pilihan untuk tujuan ini. Karena tasauf merupakan dimensi dalam daripada Islam, maka ia tidak bisa dipraktikkan terpisah dari Islam.

Sastra Transendental-Profetik

Pandangan-pandangan tersebut menjadi dasar bagi Kuntowijoyo terhadap pentingnya eksistensi sastra transendental dalam kehidupan Indonesia akibat dampak dari dehumanisasi global itu. Pada Temu Sastra 6-8 Desember 1982 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Kuntowijoyo menyerukan bahwa :

“Sastra transendental adalah kesadaran balik yang melawan arus dehumanisasi atau subhumanisasi. … Sebagai sebuah upacara bersih diri, sastra transendental menjadi sebuah ritual estetis. Simbol-simbol dalam sastra transendental berlalu sebagai formula-formula dari pesan pembersih. Jadi tujuan terakhir dari sastra transendental sebenarnya ialah manusia, bukan estetika itu sendiri. Karena hanya yang bermakna patut disebut sastra, maka sastra trandental harus sarat dengan makna. Sebagai manusia yang bertanggung jawab terhadap peradaban, kita ingin membuat dunia lebih bermakna, dan sastra adalah salah satu dari makna itu.”

Pada saat teks-teks sastra semacam itu, realitasnya memang ada dan eksis, Kuntowijoyo kemudian memperkenalkan apa yang kemudian dikenal sebagai sastra profetik. Hal itu dikemukakannya pada tahun 1986, dalam acara Temu Budaya, juga di Taman Ismail Marzuki.

Kesadaran ketuhanan (transendensi, Latin trancendere, melampaui) sudah banyak dalam sastra Indonesia, dan disebut dengan Sastra Transendental atau Sastra Sufi. Menurut Kuntowijoyo (2013:30), transendensi tidak harus berarti kesadaran ketuhanan secara agama saja, tetapi bisa kesadaran terhadap makna apa saja yang melampaui batas kemanusiaan. Meskipun demikian, Kuntowiyoyo yakin bahwa hanya di tangan orang beragamalah transendensi itu efektif bagi kemanusiaan sebab transendensi akan berarti iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ada perbedaan, namun semua agama setuju bila dikatakan bahwa peradaban dunia sedang mengalami krisis. Krisis peradaban itu menurut Muhammad Iqbal, Roger Garaudy, Seyyed Hosein Nasr, Kuntowijoyo, Abdul Hadi WM, dapat diatasi melalui transendensi.

Menurut Roger Garaudy dalam buku Janji-janji Islam, unsur transendensi ada tiga yaitu (1) pengakuan ketergantungan manusia pada Tuhan, (2) ada perbedaan yang mutlak antara Tuhan dan manusia, dan (3) pengakuan akan adanya norma-norma mutlak dari Tuhan yang tak berasal dari akal manusia (via Kuntowijoyo, 2013:31).

Dalam Islam, transendensi itu akan berupa sufisme. Kandungan sufisme, seperti khauf (penuh rasa takut), raja’ (sangat berharap), tawakkal (pasrah), qana’ah (menerima pemberian Tuhan), syukur, ikhlas, dan tingkatan-tingkatan ruhani selanjutnya adalah tema-tema Sastra Transendental.

Akan tetapi, menurut Kuntowijoyo (2013:10-15), sastra keagamaan selama ini dipahami oleh orang pada umumnya sebagai seni yang menggugah kesadaran ketuhanan belaka. Kesadaran ketuhanan ini barulah sepertiga dari kebenaran Sastra Profetik. Hal itu sebab Sastra Profetik mempunyai kaidah-kaidah yang memberi dasar kegiatannya sebab ia tidak saja menyerap, mengekspresikan, tetapi juga memberi arah realitas. Kaidah pertama, Sastra Profetik bermaksud melampaui keterbatasan akal-pikiran manusia dan mencapai pengetahuan yang lebih tinggi. Untuk keperluan itu Sastra Profetik merujuk pada pemahaman dan penafsiran Kitab-kitab Suci atas realitas, dan memilih epistimologi Strukturalisme Transendental. Kaidah kedua, sastra sebagai ibadah. Kaidah ketiga, keterkaitan antar-kesadaran, maka kesadaran ketuhanan harus mempunyai continuum kesadaran kemanusiaan dan sebaliknya.

Keinginan Sastra Profetik hanya sebatas bidang dimensi, itu pun sukarela, tidak memaksa. Etika itu disebut “profetik” karena ingin meniru perbuatan Nabi, Sang Prophet. Menurut Kuntowijoyo asal-usulnya begini:

Muhammad Iqbal dalam Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam mengutip ungkapan seorang sufi yang mengagumi Nabi dalam peristiwa Isra’-Mi’raj. Meskipun Nabi telah mencapai tempat paling tinggi yang menjadi dambaan ahli mistik, tetapi kembali ke dunia juga untuk menunaikan tugas-tugas kerasulannya.

Etika Profetik itu oleh Kuntowijoyo ditemukan dalam al-Qur’an Surah Ali Imran, 3:110, sebagai salah satu landasan penting Sastra Transendental (Sastra Sufi) yang menjadi bagian dari Sastra Profetik. Dalam ayat itu dinyatakan betapa dalam setiap tindakan seorang Muslim, dimensi sosial dan transendental harus sama-sama diperhatikan. Setelah menyatakan keterlibatan manusia dalam sejarah (ukhrijat linnas), Kuntowijoyo menafsirkan perkataan amar ma’ruf sebagai suatu ikhtiar pemanusiaan (humanisasi), dan nahi munkar sebagai pembebasan (liberasi) yaitu pembebasan dari belenggu materialisme dan kezaliman sewenang-wenang kuasa dunia, sedangkan yang terakhir tu’minima billah beriman kepada Tuhan sebagai ikhtiar transendensi yaitu kenaikan ke alam transendental atau ketuhanan.

Merespon Tradisi-Budaya

Berbagai cara dalam merespon realitas perkembangan kebudayaan modern, termasuk ideologi seni dan politik yang mempengaruhi sastra. Perkembangan tersebut melahirkan usaha untuk memadukan unsur-unsur tradisi dan modernitas. Ada beberapa sudut pandang dalam melihat terbentuknya tradisi dan kesinambungannya, di antaranya adalah lebih banyak dipengaruhi oleh kekuasaan politik dan orientasi budaya penguasa. Akan tetapi, ada pula yang melihat tradisi tidak semata-mata sebagai produk kuasa politik resmi, melainkan percaya bahwa nilai spiritualitas yang dibawa oleh sistem kepercayaan atau agama mengungguli faktor sejarah, dan dapat memberi corak tertentu kepada tradisi. Hal itu disebabkan oleh nilai-nilai universal yang ada dalam dirinya sendiri, walaupun secara politik mereka tidak memiliki kekuasaan. Corak pendekatan dan sikap tersebut dapat diidentifikasi dalam tiga kelompok kecenderungan: (1) mereka yang mengambil unsur-unsur budaya tradisional untuk keperluan inovasi dalam pengucapan, (2) mereka yang menumpukan perhatian hanya terhadap satu budaya daerah saja seperti Jawa, Minangkabau, Melayu Riau, Sunda, dan lainnya, (3) mereka yang mengambil tradisi langsung dari bentuk spiritualitas dan agama tertentu dengan kesadaran bahwa tradisi dan budaya masyarakat Indonesia terbentuk berkat masuknya beberapa agama besar seperti Hindu, Budha, dan Islam (Hadi WM, 1999:6).

Karya-karya yang termasuk dalam kecenderungan ketiga yang menonjol dalam dunia sastra ialah karya Danarto, Kuntowijoyo, M. Fudoli Zaini, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Mohamad Diponegoro, Ajip Rosidi, Emha Ainun Nadjib, K.H. A. Mustofa Bisri, D. Zawawi Imron, Ikranegara, Hamid Jabbar, Ajamuddin Tifani, Ahmad Nurullah, Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, dan beberapa lainnya.

Protes Sosial dan Eksplorasi Moralitas

Di samping cara merespon realitas kebudayaan modern yang mempengaruhi sastra melalui perpaduan unsur tradisi dan modernitas, bersamaan itu bertumbuhanlah sastra sosial keagamaan. Periode 1970-1990-an diwarnai oleh perkembangan realitas sosial di bawah perpolitikan rejim Orde Baru yang otoriter. Karenanya, kecenderungan puisi Indonesia dalam merespon realitas sosial mengarah pada dua tipologi, pertama dalam bentuk puisi “protes sosial”, dan kedua melakukan eksplorasi moralitas (melalui sastra transedental atau sufistik, dan sastra profetik).[]

=================

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Wachid lulus Magister Humaniora Sastra Indonesia UGM, jadi dosen-negeri di IAIN Purwokerto, dan lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo (15/1/2019). Buku terbaru karyanya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), dan Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus, Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020).

Kritik Sastra Dalam Kemandirian

1




Poin utama dalam membicarakan sastra adalah: kita musti paham batasan sastra. Lebih jauh lagi, kita perlu memahami apa itu sastra. Sejauh ini, sastra dijelaskan dalam pengertian yang kelewat variatif sehingga kadang-kadang malah terkesan terlalu cair, dan tidak ada batasan yang tegas.

Pada titik itulah masalah dalam kritik sastra muncul. Sulit bagi kita merumuskan teori kritik sastra manakala kejelasan definisi masih belum ditemui. Mengetahui definisi sastra beguna untuk memahami apa saja batasan-batasan dalam sastra. Batasan-batasan tersebut, berguna untuk menentukan apa yang harus dilakukan terhadap karya sastra.

Beberapa orang memahami sastra dalam pengertiannya sebagai tulisan. Pengertian tersebut amat problematis, sebab batasan sastra menjadi sangat tidak tegas. Seorang ekonom yang menulis tentang dampak covid-19 bagi ekonomi nasional, seorang matematikawan yang menulis dengan angka-angka, seorang kimiawan yang menulis zat dengan simbol-simbol kimia, dalam definisi tersebut, bisa dianggap sebagai sastrawan. Bahkan secara teoretis, seorang ayah yang menyuruh anaknya pulang melalui pesan telpon, juga merupakan seorang sastrawan. Maka pertanyaannya, apa yang membedakan sastrawan dengan ekonom, matematikawan, fisikawan, dan ayah di masa modern (yang sebagian besar menyuruh anaknya pulang melalui pesan telpon)?

Selain itu, pertanyaan lain pun perlu dijawab terkait definisi tersebut. Jika sastra dijelaskan dalam pengertiannya sebagai tulisan, apa sesungguhnya yang dipelajari? Atau barangkali sastra mau dianggap sebagai sinonim dari grafologi yang memang mempelajari tulisan.

Pengertian lain mengenai sastra misalnya terkait dengan sifatnya yang imajinatif. Pengertian ini kerap kali dikaburkan dengan pengertian bahwa imajinatif artinya bukan berdasarkan kebenaran, tidak sesuai dengan dunia riil. Karenanya, Kadang-kadang ada beberapa tokoh yang tidak dikenal dalam catatan sejarah dunia riil –kendati beberapa karya sastra bertalian dengan dunia riil.

Dalam pengertian tersebut, imajinatif, sejatinya tak lebih dari nama lain fantasi. Secara paradoksal, fantasi dianggap sebagai bagian dari sastra, namun di sisi lain fantasi adalah sastra itu sendiri.

Pengertian imajinatif sebagai fantasi, sesungguhnya merugikan bagi dunia kesusastraan kita. Beberapa karya besar, misalnya Tetralogi Buru, tidak serta-merta fantasi di dalamnya. Beberapa nama bisa kita kenal dalam catatan sejarah seperti Tirto Adi, Kartini, Thamrin, dan masih banyak lagi. Beberapa tempat dalam novel tersebut juga dapat ditemui dalam dunia riil, seperti Surabaya, Buitenzorg, Jakarta (Batavia), dan lain sebagainya. Maka, menganggap sastra sebagai imajinasi dalam pengertian fantasi berarti menganggap Tetralogi Buru sebagai bukan karya sastra.

Namun demikian, menganggap sastra sebagai sepenuhnya nyata–sebagai lawan dari fantasi–juga sama ruginya. Beberapa karya sastra mungkin tidak didasari oleh hal-hal yang nyata dalam dunia riil. Seperti adegan bangkitnya Ayu Dewi dari kuburan yang dapat kita temui dalam Cantik Itu Luka, misalnya. Menganggap sastra sepenuhnya nyata, berarti juga menganggap Cantik Itu Luka sebagai bukan karya sastra.

Selain itu, sikap kita dalam kritik sastra pun akan berbeda apabila sastra dikaitkan sepenuhnya dengan kenyataan. Keterkaitan dan validasi terhadap sastra dan dunia riil bisa jadi merupakan pekerjaan yang penting dalam kritik sastra. Sebagai konsekuensi, karya sastra yang unsur-unsurnya tidak ada dalam dunia riil, maka bukan hanya dianggap buruk, tapi bukan karya sastra.

Oleh karenanya, pembicaraan mengenai nyata (dalam artian sesuai dengan dunia riil) dan fantasinya karya sastra, sejatinya adalah pembicaraan yang buang-buang waktu. Sebab, sastra tidak musti tendensius terhadap salah satu dari kedua jenis tersebut. Dalam sastra, kenyataan dan fantasi, seharunya–dan memang begitulah adanya–dibicarakan sebagai pilihan, bukan keharusan.

Imajinasi dalam karya sastra, sebaiknya tidak didefinisikan sebagai fantasi, yang artinya isi dari karya sastra tersebut sama sekali bukan kenyataan. Imajinasi dalam karya sastra maksudnya adalah, bagaimana suatu peristiwa dalam karya sastra (baik sesuai atau tidak dengan sejarah) ditampilkan secara nyata seperti peristiwa dalam dunia riil. Dalam dunia riil, peristiwa berupa peperangan misalnya, dapat kita lihat dengan mata sebagai peristiwa konkret. Sedangkan dalam sastra, seakurat apa pun isi cerita itu dengan sejarah, tapi ia tak dapat kita lihat, ia hanya dapat kita bayangkan. Dan oleh karenanya, kita menyebut sastra sebagai imajinasi. Sebab, peristiwa dalam karya sastra hanya dapat diimajinasi dalam kepala kita.

Ketika Minke (Tirto Adi) bertemu dengan Thamrin, kendati barangkali pertemuan itu memang pernah terjadi dalam dunia riil (yang artinya cerita tersebut akurat dengan sejarah) –tapi ia hanya bisa kita bayangkan, tak dapat kita lihat, apalagi sentuh dan terlibat di dalamnya. Maka, kenyataan dan kefantasian isi suatu cerita, sejatinya, bukan persoalan yang penting dalam sastra.

Sastra tak bisa pula didefinisikan dengan pengertian yang merujuk pada paham tertentu. Misalnya, sastra didefinisikan dengan paham komunis yang hendak menghapuskan kelas sosial, atau paham liberal yang hendak menciptakan tatanan hidup yang merdeka. Artinya, sastra adalah suatu upaya untuk menghapus kelas sosial dalam masyarakat; atau sastra adalah suatu upaya pembebasan terhadap individu untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki.

Masalah pertama, tentu saja, ada pada sifatnya yang terlalu sempit. Jika sastra hanya didefinisikan sebagai upaya pembebasan perempuan dari stereotip negatif dalam seluruh kebudayaan (merujuk pada ajaran feminisme), maka beberapa karya seperti Animal Farm yang tidak membahas soal itu, mau tidak mau harus digugurkan statusnya sebagai karya sastra.

Masalah lainnya yakni pada, apa bedanya sastra dengan paham itu sendiri? Misalnya, jika sastra didefinisikan sebagai upaya meningkatkan intensitas ketaatan kepada Allah (merujuk pada ajaran Islam), maka apa perbedaan sastra dengan ajaran Islam? Dalam hal ini, sastra lagi-lagi, sejatinya, hanya sinonim dari ajaran Islam tanpa ada perbedaan apa pun di dalamnya.

Masalah selanjutnya, dan berkaitan dengan yang sebelumnya ialah, apa status sastra dalam suatu paham? Jika ada definisi berupa sastra adalah upaya pewujudan masyarakat tanpa kelas (merujuk pada ajaran komunisme), maka apa sejatinya status dan fungsi sastra dalam hal itu?

Namun demikian, masalah tersebut pada akhirnya memberikan sesuatu yang dapat kita cermati untuk mendefinisikan sastra. Sastra tak bisa didefinisikan berdasar pada paham tertentu, sebab pembahasan dalam sastra amatlah variatif. Maka, paham-paham tersebut seharusnya ditempatkan sebagai variasi dalam pembahasan sastra. Sastra bisa menjadi upaya untuk menciptakan masyarakat yang bebas, bisa pula menjadi upaya menciptakan masyarakat tanpa kelas, bisa pula menjadi upaya membebaskan perempuan dari stereotip dalam segala kebudayaan, dan seterusnya.

Namun begitu, sastra tidak sama dengan paham itu sendiri. Karenanya, ia dipelajari secara terpisah. Maka, status dan fungsi sastra dalam masing-masing paham tersebut ialah sebagai alat yang digunakan untuk menyampaikan ajaran tersebut. Itu berlaku dalam hal apa pun. Dalam hal cinta misalnya, sastra adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan gagasan mengenai cinta. Para teoretikus cinta mungkin bisa berbicara bahwa cinta adalah pengorbanan. Namun, dalam sastra sifat cinta sebagai pengorbanan tersebut diceritakan dalam rangkaian peristiwa (plot) di mana seseorang (tokoh) melakukan pengorbanan kepada orang lain di dalam suatu tempat tertentu (latar).

Maka, sastra perlu dipahami sebagai metode yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau gagasan tertentu. Metode penyampaian tersebut yakni dengan menciptakan suatu peristiwa tertentu yang mirip dengan peristiwa di dalam dunia riil di mana ada pelaku, tempat, dan masalah. Dalam dunia riil, peristiwa tersebut dapat disaksikan dengan mata. Namun, peristiwa tersebut hanya terjadi sekali. Mata hanya bisa melihatnya satu kali. Dalam sastra, hal tersebut disajikan dalam bentuk kata-kata yang nantinya dibayangkan dalam pikiran pembaca. Maka, peristiwa itu dapat disaksikan di dalam pikiran berkali-kali.

Ulama dan pengarang sastra mungkin bisa sama-sama berbicara mengenai lailatul qadar. Namun, cara yang digunakan bisa amat berbeda. Ulama mungkin akan mengatakan bahwa “ada satu malam di mana pahala amat berlipat diberikan Allah kepada hambanya, karenanya kita harus banyak beribadah”. Cara penyampaian gagasan dan informasi tersebut ialah dengan menyuruh secara langsung.

Namun, dalam sastra, pengarang tidak berbicara bahwa “kita harus melakukan ibadah pada suatu malam yang spesial di bulan Ramadhan”, melainkan dengan memberi contoh berupa rangkaian peristiwa di mana seseorang, di dalam tempat dan waktu tertentu, melakukan suatu peribadahan. Misalnya yang diceritakan Danarto dalam cerpen berjudul “Lailatul Qodar”.

Contoh aktivitas tersebut, kadang-kadang jauh lebih efektif digunakan. Karenanya, matematika yang rumit sekalipun membutuhkan cerita sebagai contoh peristiwa dalam suatu fenomena yang disebut sebagai “soal cerita”. Seorang guru fisika pun perlu contoh peristiwa untuk menjelaskan relativitas.

Maka, sastra semestinya dipahami pada aspek penyampaian gagasan, bukan pada gagasannya itu sendiri. Dalam sastra, poin utama bukan terletak pada gagasan atau pembahasan yang ada di dalamnya. Itulah sebabnya kita amat kesulitan manakala hendak memaksakan diri mendefinisikan sastra berdasarkan bahasan tertentu. Misalnya bahasan seputar cinta, sulit jika itu digunakan sebagai definisi sastra, yang artinya, sastra dapat disebut sebagai pembahasan mengenai sastra.

Lagipula, pembahasan dalam sastra sangat beragam sehingga tak mungkin mendefinisikan berdasarkan aspek tersebut. Sastra di satu sisi bisa membahas tentang peperangan, di sisi lain, bisa membahas seputar kehamilan. Maka, jika sastra hendak disimpulkan berdasarkan aspek pembahasan, mana yang sastra? Apakah perang atau kehamilan yang dapat mendefinisikan apa itu sastra? Tidak keduanya, sebab sastra bukan soal itu.

Kita dapat membandingkan dengan bidang seni yang lain. Jika seni pada dasarnya mau didefinisikan pada aspek pembahasannya, maka antara seni sastra dengan tari, misalnya, seharusnya tidak membahas satu topik yang sama. Namun, tidak demikian. Kita menemukan bahwa dalam sastra dan tari, kadang-kadang pembahasan yang sama bisa hadir. Misalnya pembahasan seputar peperangan. Novel Hadji Murat dapat membicarakan satu pembahasan yang sama dengan tarian Cakalele: peperangan. Maka, tak mungkin sastra–begitu pula tari–didefinisikan berdasarkan pada pembahasannya.

Namun, kita bisa mengajukan pertanyaan, apa yang membedakan sastra dengan tari? Sastra dan tari barangkali bisa membahas satu topik yang sama. Namun, kita sadar bahwa antara keduanya terdapat suatu perbedaan yang signifikan: metode yang digunakan dalam membahasa suatu topik.

Sastra membahas peperangan misalnya, dengan cara menyajikan rangkaian peristiwa seperti terjadi di dunia riil melalui kata-kata. Kata-kata tersebut, kemudian di proses dan menghasilkan suatu gambaran mengenai peristiwa peperangan tersebut. Proses penggambaran tersebutlah yang kemudian kita sebut sebagai imajinasi. Maka, imajinasi dalam karya sastra pada dasarnya adalah tentang bagaimana teknik yang digunakan pengarang dalam menyampaikan gagasan dapat memberikan gambaran peristiwa seperi terjadi di dunia riil–bukan tentang apa yang dibicarakan pengarang, yang sifatnya tidak atau bertentangan dengan kenyataan.

Dalam seni tari, topik bahasan mengenai peperangan disampaikan melalui gerakan-gerakan tertentu yang melambangkan peperangan. Maka perbedaannya amat jelas dalam hal ini, yakni tentang bagaimana suatu topik bahasan disampaikan, bukan tentang topik bahasan itu sendiri.

Kini, kita cukup memahami bahwa sastra dapat didefinisikan dalam pengertiannya sebagai metode untuk menyampaikan topik bahasan dengan cara memberikan gambaran berupa rangkaian peristiwa yang dialami tokoh dalam seting tertentu dengan kata-kata atau bahasa sebagai alatnya. Maka, pembahasan mengenai teknik tersebut perlu mendapat porsi berlebih dalam kritik sastra.

Sejauh ini, dalam ranah kritik sastra, upaya penyintesisan sastra dengan bidang lainnya banyak dilakukan. Misalnya dengan psikologi yang menghasilkan psikologi sastra. Dalam bidang tersebut, teori-teori psikologi digunakan dalam menjelaskan gejala-gejala mental tokoh karya sastra atau seorang pengarang. Misalnya lagi, penggabungan antara sastra dengan sosiologi yang menghasilkan sosiologi sastra.

Dalam dua bidang tersebut misalnya, sastra tidak hadir sebagai sosok yang mandiri. Bahkan, sastra hanyalah sebagai objek yang akan dibedah sana-sini untuk menghasilkan suatu pemahaman tertentu terhadapnya.

Bukannya buruk, namun hal itu menunjukkan bahwa sastra tidaklah mandiri. Ia membutuhkan orang lain untuk mengurus dirinya sendiri. Tapi itu tidak buruk, toh kita dimudahkan dalam memahami sastra.

Namun begitu, sastra harus pula bisa berdiri sendiri dengan teori-teori yang sesuai dengan batasannya. Setelah memahami sastra sebagai metode dalam menyampaikan suatu gagasan, kini kita perlu untuk banyak mengajukan pendekatan yang dapat membedah dan menjustifikasi teknik yang digunakan dalam pengarang untuk menyajikan suatu topik pembahasan.

Strukturalisme jauh-jauh hari telah melakukan itu, dengan cara melihat bukan terhadap apa yang dibicarakan, melainkan bagaimana hal itu dibicarakan. Dalam pandangan strukturalisme, teknik yang baik ialah manakala dalam suatu karya sastra, unsur-unsur di dalamnya saling berkaitan dan bersifat determinan satu sama lain.

Pendekatan lain yang membahas seputar teknik atau cara yang digunakan untuk menyampaikan suatu topik pembahasan dalam karya sastra pernah dan masih pula dilakukan oleh stilistika. Pada teori tersebut, sastra dinilai berdasarkan bahasa yang digunakannya dalam menyampaikan topik pembahasan.

Cara lain sejatinya perlu sekali dilakukan untuk menghadirkan kritik sastra yang mandiri, yang membahas sastra dalam batasannya sendiri. Dengan memahami bahwa terdapat kecenderungan dalam otak manusia untuk tertarik pada contoh peristiwa yang konkret ketimbang sebatas gagasan yang abstrak, maka teori yang relevan dengan hal itu mungkin bisa dimunculkan. Misalnya, teori tentang bagaimana sastra menghadirkan rangkaian peristiwa dalam upaya menyajikan gagasan atau topik bahasan tertentu secara konkret sebagaimana peristiwa dalam dunia riil.

Hal lain mungkin dapat dihadirkan pula dalam upaya merumuskan teori kritik sastra yang berdasar pada batasan sastra itu sendiri sebagai metode yang digunakan untuk menyampaikan suatu gagasan atau topik pembahasan tertentu. Yang utama, kita perlu mengingat bahwa batasan sastra bukan pada apa yang dibahas di dalamnya, melainkan pada bagaimana topik pembahasan tersebut dibicarakan–karenanya kita dapat membedakannya dengan kesenian lainnya. Maka, untuk menghadirkan teori kritik sastra yang mandiri, kesadaran mengenai hal itu (sastra sebagai metode menyampaikan suatu gagasan atau topik bahasa  tertentu) dapat digunakan untuk memulainya.

* Ditulis oleh Muhamad Reza Hasan, mahasiswa sastra yang lahir dan tinggal di Tangerang.

Setelah Pena Lebih Tajam dari Pedang, Selanjutnya Apa?

0




Pasase klasik pena lebih tajam dari pedang yang ditulis oleh Edward Bulwer-Lytton di naskah drama Cardinal Richelieu (1839) nampaknya akan bertransformasi. Teks-teks di sebuah buku kini akan berebut “panggung” dengan ragam wacana yang berseliweran di media sosial. Dari siniar (podcast), video blog dan ragam budaya populer lainnya. Sastrawan atau penulis yang menulis karya sastra di era digital kiranya akan mengalami beragam tafsir dan modifikasi ruang, dan juga bisa tercabut dari akar itu sendiri.

Beragam tafsir yang saya maksud adalah ketika seorang penyair menulis sebuah puisi secara tuntas—lalu akun pada sebuah media sosial memotong puisi utuh tersebut menjadi sebuah kutipan. Suasana yang terbangun akan berbeda dan mengalami modifikasi ruang; dapat disalin tempel dan direproduksi sedemikian rupa hingga beranak pinak. Ketika aksara cetak lahir dengan mesin buatan Gutenberg, kini ia dapat diproduksi dengan mesin kecerdasan buatan dan beralih rupa dengan hiperteks di berbagai kanal.

Kini kita dapat membaca fiksi interaktif di sebuah gim ponsel, puisi animasi, hingga karya sastra yang lahir dari rahim kecerdasan buatan. Ya! Kini korporasi di bidang teknologi telah mampu membuat karya sastra dan seni lewat mesin. Algoritma yang tercipta mampu menguasai indikator dari karya sastra atau seni yang bagus menurut kritikus. Penulis saat ini saya kira harus lebih meningkatkan kualitas karya dan eksploratif dalam menemukan premis agar umurnya panjang.

Penulis di era kiwari bukan hanya mengandalkan pena sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Ia butuh platform atau media untuk menyampaikannya. Saya ingat di tahun 2011, kala itu sekelompok masyarakat dan seniman Indonesia membuat gerakan Koin Sastra. Gerakan itu adalah bentuk keprihatinan atas kondisi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin yang saat itu mengalami pengurangan dana perawatan. Berawal dari maklumat yang telah mengalami reproduksi, retweet dan berbagai pesan berantai, maka gerakan itu menjadi nyata dan terhubung ke semua orang.

Era digital telah memunculkan lahirnya sastra siber dalam bentuk kebiasaan baru. Dari semula karya sastra dibuat secara personal, menjadi karya sastra yang dibuat secara bersama, yaitu puisi berantai. Ketika salah satu akun media sosial membuat suatu unggahan tematik dan para pengguna meresponnya dengan satu bait puisi, misalnya, maka karya tersebut akan menjadi totalitas komunal.

Setelah polemik sastra siber di awal milenum, kini ‘peradaban’ tersebut memasuki babak baru dalam ragam bentuk. Ketika dulu pembaca melakukan penilaian atau resensi secara konvensional, kini penulis menggunggahnya di caption Instagram, membicarakannya di siniar hingga mengulasnya dalam kebudayaan performatif-lisan, di Youtube.

Saat ini kita bisa melihat dan mencuri dengar gagasan seorang penulis. Ia hadir lebih dari teks: pertunjukan audiovisual di kanal Youtube. Hasan Aspahani dan Marhalim Zaini kerap membacakan puisi kemudian mengulasnya; Martin Suryajaya membicarakan filsafat dengan santai dan gaya kasual yang disukai anak muda. Saya kira perluasan itu untuk mendapatkan “pembaca” yang lebih luas dan gaungnya bisa menerobos rimba maya yang penuh notifikasi di ponsel generasi kiwari.

Platform dan Kuratorial

Dunia yang kita alami dan saksikan sekarang adalah sebuah dunia yang bisa digenggam dan dibawa ke mana saja. Kita dapat menyimak, membaca, menonton, menyebarluaskan gagasan di dalam sebuah layar elektronik dan semua seolah dalam genggaman. Untuk berdiskusi sastra pun kita tak harus bertemu secara fisik. Kita dapat berjejaring dan memiliki komunitas literasi yang sesuai dengan bentuk estetika kita. Semua tersaji secara daring. Semua yang tampak sakral dan profan tersaji dengan mudah dan cepat. Yang banal dan estetik hadir dengan segala kemungkinan. Kemudahan dan kecepatan itu bersinggungan erat dengan ketepatan dan kesalahan. Tarik menarik antar kebenaran versi A dengan kebenaran versi B.

Pada era informasi seperti sekarang, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan hanya pakar, melainkan juga para penganut teori konspirasi, orang awam sok tahu, hingga pesohor yang menyesatkan. Begitu petikan di wara (blurb) buku Matinya Kepakaran karangan Tom Nichols. Disrupsi memberikan kemudahan juga kedangkalan. Setiap orang dapat dengan cepat menjadi ahli pada suatu bidang yang tidak pernah ditekuni secara mendalam. Pada sisi lain, melubernya informasi membuat hilangnya nilai dan batas keilmuan.

Kita sekarang bisa melihat menjamurnya kelas pelatihan menulis secara daring. Tak ada yang salah dengan itu tentu. Namun Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan selaku lembaga negara yang memiliki otoritas untuk memberikan konten edukatif, kiranya mempunyai peran untuk mengarahkan itu. Badan Bahasa dapat menggandeng lembaga lainnya seperti Kemkominfo untuk membuat platform atau aplikasi kuratorial sastra yang berfungsi sebagai ensiklopedia dan direktori yang dialogis. Kemudian, data tersebut dapat diperbaharui setiap waktu dan menggapai bank data lainnya di arsip Dewan Kesenian Jakarta, misalnya. Koherensi dan kolaborasi menjadi hal yang penting di sini. Mengingat dinamika bahasa dan sastra begitu lentur seiring perkembangan zaman dan kredibilitas unggahan menjadi hal yang utama.

Ego sektoral antar lembaga pemerintahan yang kadang tidak sinkron, perlu diperbaiki tata kelolanya. Lihat bagaimana Kemendikbud bekerja sama dengan Netflix untuk menayangkan film dokumenter di TVRI untuk program Belajar dari Rumah, sementara sebelumnya Kemkominfo kontra atau memblokir tayangan di Netflix (mungkin akan berubah nantinya). Saya kira kalau program literasi khususnya sastra jelas dengan konsep dan konkret dalam pelaksanaan, penetrasi acara sastra di media arus utama seperti televisi pun akan terlaksana. Jelas dalam hal apa? Dalam bentuk sosialisasi dan pentingnya sastra atau literasi untuk kehidupan; memperhalus budi, memperluas cakrawala dan imajinasi serta dapat masuk ke lintas sektor seni dan kehidupan. Misalnya kita pahami dulu tentang literasi dasar: mulai dari literasi ekonomi sampai digital. Penyampaiannya bisa berbentuk gelar wicara interaktif atau simulasi permainan. Beberapa kali saya menemukan komentar sembrono di kolom komentar media sosial. Komentar yang tidak diiringi dari keterampilan dasar berbahasa: menyimak, membaca, menulis dan berbicara. Alhasil komentar semacam: Indonesia darurat membaca dan sebagainya menjadi diskursus yang selalu ada dan setelahnya menguap entah ke mana.  

Indonesia memang tidak selalu merata dalam distribusi sumber pengetahuan begitu juga dengan sinyal dan pasokan listrik. Namun tidak ada salahnya kalau mencoba terlebih dahulu dengan membuat sebuah platform, yang dari segi aksesibilitas mudah dijangkau cara dan penggunaannya. Platform tersebut kiranya dapat diunduh di Playstore dan ramah terhadap generasi muda. Meski begitu, substansi tetap yang utama; secara komprehensif memuat data terkait sastra Indonesia. Entri tersebut bisa dimulai dari sejarah sastra, kritik sastra, sayembara sastra, sastra populer, sastra avant garde hingga kemungkinan untuk berguru ke praktisi/sastrawan secara gratis dengan ragam persyaratan ketat. Misalnya ketika seseorang/pengguna sudah memiliki akun di platform tersebut, ia dapat mengikuti seleksi agar bisa mengikuti sebuah kelas penulisan daring secara gratis. Tentu ini dengan persyaratan dan kurasi yang transparan.

Saya kira kalau definisi disrupsi adalah tercabut dari akar, maka penulis kiwari bisa kembali menyemai benih kata, menyiram hingga tumbuh menjadi totalitas karya. Ketika ada pohon yang tercabut sampai akarnya, maka penulis bisa kembali membuka kavelingnya dengan menanam benih hingga jadi pohon yang kokoh. Seperti tanaman hidroponik, kita bisa menanamnya di mana saja. Penulis di era pascarealitas, terkadang membutuhkan pendengung atau pelantang agar karyanya didengar. Namun tentu saja, emas tidak perlu mengatakan dirinya emas. Pembaca akan tahu sebuah kualitas.

Saya sependapat dengan pernyataan Eka Kurniawan di catatan singkat Facebook-nya: Kalau ada orang yang suka membesar-besarkan dirinya, mungkin dia sedang merasa terancam. Dengan adanya plaftform/media/aplikasi yang telah diukur dengan instrumen dan variabel yang jelas, harapan saya sastra Indonesia akan dinikmati secara masif oleh generasi muda seperti mereka mengonsumsi konten popular: Netflix, Webtoon dan piranti hiburan lainnya. Jadi, kalau boleh merespons pasase pena lebih tajam dari pedang, maka saya akan menambahkan: dan pena membutuhkan tinta yang bagus agar senantiasa terukir jelas, terjaga dan tepat guna.

===================
Galeh Pramudita Arianto, lahir di Tangerang Selatan, 1993. Bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Makarios dan salah satu pendiri platform Penakota.id. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) menerima beasiswa penerjemahan dari Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020. Saat ini sedang mempersiapkan buku puisi: Kunjungan Alien Pertama ke Bumi.

Critical Pedagogy: Menggugat Pragmatisme Kampus Merdeka

0



Belum lama ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membuat gebrakan dengan menggulirkan kebijakan Kampus Merdeka. Belakangan gebrakan yang dibuat oleh Nadiem itu sukses membuat banyak orang mengerutkan kening. Karena dari istilah yang dipakai (Kampus Merdeka) terdengar revolusioner. Seakan-akan hendak mengaktifkan kembali ‘DNA’ kampus: kebebasan akademis. Namun, bukan itu yang dimaksud Nadiem. Kampus Merdeka ala Nadiem ialah sebuah usaha untuk mencetak mahasiswa siap kerja.

Keberadaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sepertinya belum cukup sehingga harus mengubah paradigma kampus lebih pragmatisme yang hanya menyoal menyiapkan tenaga kerja semata. Budaya pragmatisme itulah disindir pedas oleh M. Agus Suyatno (2011): pendidikan dan sekolah tidaklah identik dengan mencari kerja. Asumsi sekolah sama dengan mencari kerja adalah akibat terpengaruh budaya pragmatisme. Mencari kerja bukanlah inti orang belajar dan sekolah. Mencari kerja adalah bagian, bukan tujuan utama orang bersekolah.

Budaya pragmatisme

Sebaliknya, cara berpikir Nadiem dengan kebijakan Kampus Merdeka cenderung kapitalistik.  Seragama dengan kuatnya opini publik yang menganggap tujuan sekolah untuk mendapatkan pekerjaan layak. Hal ini tidak lain akibat dominannya budaya pragmatisme di masyarakat dan pendidikan kita. Senada dengan dugaan Ariel Heryanto yang mengatakan, “Jauh-jauh hari dalam dunia pendidikan di Indonesia sendiri sudah ditanamkan semangat kapitalisme dan hukum pasar sudah diterapkan, walau pada saat itu patrimonialisme dan feodalisme politik masih menjadi payung besarnya” (Industrialisasi Pendidikan: 2000).

Pada dasarnya filosofis pendidikan di bawah komando Nadiem dengan istilah Kampus Merdeka tidak sepenuhnya menjawab keresahan masyarakat dalam menyikapi persoalan publik. Mengingat begitu pentingnya peran kampus untuk memberi kritik dan mengolah diskursus publik dalam menanggapi persoalan bangsa. Sebut saja undang-undang pelemahan terhadap KPK, RUU Omnibus Law yang berpotensi melanggar hak lingkungan dan hak buruh sepi dari diskursus kampus. Sepertinya kampus telah menjadi kuburan bagi matinya kritik akademis.

Sementara itu dalam kebijakan Kampus Merdeka peran antara kampus dan mahasiswa ibarat cetakan dan adonan yang mengikuti selera pasar. Jika itu tujuannya seharusnya istilah atau terminologi yang tepat untuk dipakai bukan Kampus Merdeka, melainkan Kampus Link and Match. Misalnya pada poin pertama, kampus mempunyai otonomi untuk membuka prodi (program studi) baru dengan syarat sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan. Kata Nadiem, “Selama ini mahasiswa hanya dilatih berenang dengan satu gaya. Dalam Kampus Merdeka, mereka diceburkan ke laut, dilatih berbagai macam keahlian supaya bisa bertahan”.

Logika Kampus Merdeka yang mengutamakan ‘human capital’ dan menihilkan ‘social capital’, hanya akan menyebabkan ‘social distancing’. (Mahasiswa terasing dengan realitas sosialnya). Karena bagaimanapun juga keberadaan kampus tidak bisa dilepaskan dengan historisitas masyarakatnya. Dalam sejarah berdirinya republik ini peran ‘kampus’ selalu berdiri di garda terdepan dalam menghadapi pergulatan momen kebangsaan. Sebut saja angkatan cendekia Budi Utomo, angkatan Sumpah Pemuda, angkatan 66, angkatan 98 yang pelaku sejarahnya ialah para kaum terdidik. Mengingat romantisme antara mahasiswa dengan ‘penguasa korup’ di berbagai momentum menandakan kampus ialah motor penggerak kebangkitan sebuah bangsa.

Selain itu hal lain yang patut menjadi peremenungan bersama ialah persoalan kampus hari-hari ini dikelola dengan logika korporat; rektor mempunyai kewenangan untuk melakukan apa pun. Bahkan tak segan ‘menggebuk’ dosen dan mahasiswa jika tidak satu garis lurus dengan aturan yang dibuatnya. Padahal, akan lebih bijak jika kampus netral dari ‘politik praktis’ dalam menyikapi isu sosial. Sungguh sangat disesalkan jika penguasa ikut mengambil keuntungan dari peran kampus baik dengan cara ‘intervensi’ (hegemoni kekuasaan), maupun ‘okupasi politik’ (menggaet kalangan akademisi masuk ke sistem kekuasaan). Di situlah matinya gema lonceng akademik, karena kritik dan aksi moral dengan turun ke jalan ialah kegiatan yang tidak sehaluan dengan instruksi penguasa.

De omnibus dubitandum

Tentu kita menyadari bangsa ini sedang menghadapi persoalan ekonomi. Berbagai persoalan menguap ke permukaan. Akan tetapi, tanpa kritisisme kampus kekuasaan akan cenderung korup. Kekuasaan tanpa kritik hanya akan melahirkan penguasa yang otoritarian. Artinya penguasa mempunyai potensi menjadi Leviathan–dalam istilah Thomas Hobbes; tidak terkontrol dalam mengeluarkan kebijakan apa pun demi kepentingan tertentu. Dan mahasiswa akan kehilangan rasion d’etre-nya. Kehilangan kejernihan berpikir karena hegemoni rektorat.

Jika kita amati Kampus Merdeka versi Nadiem bukanlah sebuah penafsiran ‘radikalisme humanis’ ala Ivan Illich. Meminjam definisi Erich Fromm tentang ‘radikalisme humanis’, yakni bukan sekumpulan ide atau konsep ideologis tertentu, melainkan sebuah proses untuk memperluas kesadaran, dan pembebasan diri dari pemikiran yang memberhalakan. Oleh karena itu, dalam menyikapi kebijakan Kampus Merdeka perlunya mengedepankan logika de omnibus dubitandum; segala sesuatu harus diragukan. Bukan malah sebaliknya, menggelar karpet merah dengan mendiamkan setiap kebjiakan yang dibuat oleh penguasa sehingga bebas dari kritik.

Kampus Merdeka juga bukan penafsiran transformasi pembebasan ala Freire: pedagogy of the opopressed. Argumentasi Nadiem yang hendak menyederhanakan administrasi kampus justru membuat administrasi baru yang tak kalah kompleksnya. Lebih dari itu, juga tak kalah membelenggunya bagi kebebasan berpikir civitas akademik, karena kecenderungan rektorat yang antidialogis. Proses pedagogis seperti ini tidak akan bisa melahirkan critical subjectivity (kemampuan untuk melihat dunia dan persoalannya secara kritis).

Jika boleh jujur Kampus Merdeka tidak lebih dari industrialisasi pendidikan belaka, bukan dalam rangka membangun kebudayaan manusia, melainkan melayani kehendak pasar. Jika konotasiikan Kampus Merdeka menghamba pada pasar industri. Jika meminjam argumentasi M. Agus Suyatno (2011), ideologi pendidikan jelas berbeda dengan ideologi pasar. Ideologi pendidikan lebih mementingkan nilai etis-humanistik, sedangkan ideologi pasar bertumpu pada nilai-nilai pragmatis-materialistik.

Dengan demikian dapat dipastikan kebijakan Kampus Merdeka hanya akan menjadikan kampus bukan lagi menjadi tungku perapian untuk menggodok persoalan publik, akan tetapi memanggang mahasiswa untuk memenuhi hasrat industri dan pabrik. Pada akhirnya kita dibuat mengerti, bahwa kritisisme kampus yang berangkat dari kegelisahan karena suatu persoalan yang mengemuka di ruang publik, kini berada di persimpangan jalan sunyi. Jika boleh kita namai ‘masyarakat akademis yang kesepian’. Sebab, kampus dikerdilkan dan dipisahkan dengan realitas persoalan publik. Mahasiswa hanya disuruh menjadi penonton di atas puncak menara gading. Suatu keberhasilan pemerintah dalam usaha semacam itu ialah menjadikan mahasiswa kopong dalam menyelami persoalan sosial di tengah masyarakatnya.

====================
Ade Mulyono, pemerhati pendidikan. Tulisannya dimuat di Radar Surabaya, Pikiran Rakyat, Bangka Pos, Solo Pos, Medan Pos, Pontianak Post, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Malang Post, Bangka Pos, Padang Ekspres, Minggu Pagi, Koran Merapi, Media Indonesia, Koran Jakarta, Harian Analisa, Republika, Tribun Jateng, Harian Rakyat Sultra, Radar Tegal, Satelit Post, Media Jatim, Tanjungpinang Post, Geotimes, dan Suara Kebebasan.

Joko Pinurbo, Menjadi Penyair Adalah Menjadi Manusia Biasa

0

Mari kita buka
apa isi kaleng Khong Guan ini
biskuit
peyek
keripik
amplang
atau rengginang?

Simsalabim. Buka!

Isinya ternyata
ponsel
kartu ATM
tiket
voucer
obat
jimat
dan kepingan-kepingan rindu
yang sudah membatu.

(Bingkisan Khong Guan, 2019)

Seorang lelaki paruh baya berjalan tenang melintasi deretan kursi yang sudah penuh terisi. Puluhan pasang mata pirsawan yang hadir bergerak mengikuti langkah lelaki itu sampai ia tiba dan duduk di kursi di atas panggung. Dari kursi pirsawan, kaos berkerah dan celana kain yang membalut tubuhnya tampak longgar. Sementara bagian bawah matanya menghitam.

Begitulah Joko Pinurbo atau yang juga dikenal publik dengan akronim Jokpin malam itu (31/1/2020). Ialah penyair yang menulis puisi Bingkisan Khong Guan. Bersama puluhan puisi lain, puisi yang tak sungkan menyebut merek dagang itu belum lama diterbitkan sebagai buku dan lekas menjadi salah satu buku paling dicari pembeli.

“Saya menulis Khong Guan bukan karena saya duta Khong Guan, juga bukan karena pengen dapat sponsor dari Khong Guan. Saya tidak berhubungan sama perusahaannya. Mereka mungkin malah nggak tahu saya nulis tentang Khong Guan. Andaikan tahu, mungkin malah bingung sendiri membaca puisi-puisi saya. Saat saya sedang merenung, memikirkan citraan apa yang tepat untuk menampung hal-hal yang ingin saya sampaikan, misalnya soal toleransi, kemanusiaan, keberagaman, dan lain-lain, saya berusaha mengingat benda-benda di sekitar saya, yang dekat dengan saya dan masyarakat. Saya kemudian ingat biskuit Khong Guan,” ungkap Jokpin.

Konon, kehidupan Jokpin sejak kecil bersinggungan dengan biskuit Khong Guan. Biskuit Khong Guan menjadi ikon bingkisan yang mewah. Sampai kini, ia mendapati Khong Guan hadir di meja ruang tamu di berbagai perayaan hari raya umat beragama. Biskuit Khong Guan tidak termasuk jenis hidangan yang digemari tamu sehingga tidak lekas habis. Jokpin menyebutnya sebagai yang “biasa-biasa saja, akhirnya habis juga”.

Ia juga menangkap fenomena kaleng Khong Guan yang sering difungsikan untuk wadah rengginang atau jenis penganan lain. Kaleng Khong Guan melampaui manusia. Ia bisa hadir di segala jenis hari raya, ia menampung apa saja yang diletakkan manusia di dalamnya. Demikian Jokpin memberi penjelasan.

Sastra yang Dekat dengan Masyarakat

Siapa bilang dunia sastra itu dunia tersendiri yang terpisah dari masyarakat? Anggapan itu jadi tidak relevan dengan puisi yang ditulis Jokpin. Di Yogyakarta ini, siapa yang tidak tahu atau minimal tidak pernah dengar nama Pasar Beringharjo? Saya kira tidak ada. Masyarakat di luar Yogyakarta pun akrab dengan nama pasar tersebut. Di Kawasan Pasar Beringharjo terpampang sebuah mural dengan tulisan sebagai berikut, Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Mural yang sering dijadikan latar berfoto itu tidak lain ialah penggalan puisi Jokpin.

Penggalan puisi yang dijadikan mural itu menjadi bukti bahwa sastra tidak terpisah dari kehidupan masyarakat. Pilihan kata dalam puisi-puisi Jokpin yang lain juga terasa dekat dengan kita sebagai masyarakat pada umumnya. Kita bisa melihat dari judul-judul buku puisi Jokpin. Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007), Tahilalat (2012), Haduh, aku di-follow (2013), Baju Bulan (2013), Bulu Matamu: Padang Ilalang (2014), Surat Kopi (2014), Surat dari Yogya (2015), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), Buku Latihan Tidur (2017), Perjamuan Khong Guan (2020).

“Puisi Celana saya tulis ketika saya melihat orang-orang Indonesia banyak sekali yang memakai celana jeans. Di kampus saya, di Sanata Dharma, waktu saya main setelah lulus, itu hampir semua mahasiswanya memakai celana jeans. Fenomena itu belum ada waktu saya masih kuliah. Terus terpikirlah untuk menulis puisi tentang celana,” kenang Jokpin.

Demikian halnya dengan puisi-puisi Jokpin yang lain, idenya selalu datang dari pengamatan dan kemudian keinginan mengabadikan apa-apa yang terjadi di masyarakat dalam bentuk puisi. Puisi Telepon Genggam ditulis ketika penggunaan telepon genggam generasi pertama mulai marak di Indonesia. Di tahun 2000-an, telepon genggam yang beredar di Indonesia fungsinya masih terbatas untuk mengirim pesan pendek dan telepon, belum secanggih dan selengkap telepon genggam di era internet seperti saat ini.

Fenomena merebaknya kopi dan menjamurnya kafe-kafe dengan desain yang instagramable juga tak luput dari pengamatan Jokpin. Ia menulis puluhan puisi yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Surat Kopi (2014). Jokpin memilih menggunakan kata-kata biasa yang dekat dengan keseharian masyarakat misalnya ibadah, sarung, latihan tidur, dan lain sebagainya.

“Karena puisi saya memang refleksi dari apa yang sedang terjadi di masyarakat. Saya memilih menulis puisi dengan bahasa sehari-hari untuk menyampaikan ide-ide saya, misalnya tentang kemanusiaan, keberagaman, keluarga. Supaya apa? Supaya lebih banyak orang yang bisa memahami apa yang mau saya sampaikan,” ungkap Jokpin setelah menenggak air mineral di hadapannya.


Banyak Membaca, Sedikit Menulis

Lelaki berusia 57 tahun itu sudah menulis puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi ketenarannya saat ini bukan didapat begitu saja. Ada upaya tekun dan serius yang dilakoni Jokpin untuk menjadi penyair.

“Pesan saya untuk anak-anak muda yang ingin jadi penyair, jangan buru-buru. Meskipun dunia internet seperti sekarang mudah sekali mempublikasikan karya, tapi pesan saya jangan terburu-buru mempublikasikannya. Setelah menulis, coba biarkan dulu, diamkan dulu puisimu. Untuk mengambil jarak dengan apa yang kamu tulis. Biasanya kalau selesai menulis kamu langsung mengirimkan ke media massa, itu kamu dikuasai oleh rasa senang atau puas karena telah menyelesaikan tulisan. Padahal boleh jadi tulisanmu itu belum maksimal, masih bisa diperbaiki lagi,” demikian jawaban Jokpin ketika ditanya apa pesannya bagi anak-anak muda yang ingin menjadi penyair seperti dirinya.

Jokpin sendiri memiliki kebiasaan unik. Ia belum berhenti mengedit puisinya kalau belum sebelas kali. Ketika dikonfirmasi oleh merdeka.com, alasan mengapa ia memilih angka sebelas, ternyata sebelas adalah tanggal lahirnya. Ia percaya dan meyakini kalau puisinya belum diedit sebelas kali itu artinya belum layak untuk dikirim ke media massa.

Pesan Jokpin supaya anak-anak muda yang ingin menjadi penyair tidak buru-buru mempublikasikan puisinya ialah untuk meminimalisir kemungkinan puisi itu muncul selintas saja, atau tak diingat siapapun karena memang tidak berbeda dengan puisi-puisi lain yang muncul dengan sangat cepat di berbagai media sosial.

Satu lagi pesan Jokpin untuk anak-anak muda yang ingin menjadi penyair. Menurut Jokpin, penyair harus banyak membaca, baik itu buku atau kejadian sehari-hari. “Penyair atau penulis apapun, ia harus lebih banyak membaca daripada menulis. Katakanlah kalau dibuat perbandingan ya 3:1, 3-nya membaca, 1-nya menulis.” []



===================
Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.

Dongeng…

0

Wabah telah dongeng. Di buku-buku sejarah, wabah itu dicantumkan dan terbaca, dari masa ke masa. Wabah pun tuturan bakal terdengar dengan sekian imbuhan atau pengurangan. Wabah demi wabah digubah oleh para pengarang menjadi cerita atau puisi. Di hadapan sastra, wabah tak cuma imajinasi. Pada teks-teks sastra, kita perlahan mengerti dan mengingat wabah itu mematikan tapi menggerakkan tanda seru minta terjawab umat manusia.    

Pada hari-hari buruk memberi setumpuk takut dan duka, kita kangen dongeng-dongeng “menghibur” dan membahagiakan. Kangen atas imajinasi mengembara ke negeri-negeri jauh, mengagumi tokoh-tokoh ampuh, dan memanen pujian-pujian atas segala peristiwa. Dongeng tak berada jauh di masa lalu. Dongeng-dongeng masih bersama kita setiap hari tapi “terlelap” berbarengan nafsu memberi tatapan ke gawai di kisruh berita atau pameran pendapat mengakibatkan perkelahian. Kesibukan-kesibukan baru tak senikmat persinggahan dan pengelanaan di dongeng-dongeng. Kita merindu dongeng sejak dunia murung. Umat manusia sedang menanggungkan duka belum selesai.

Kita kangen dongeng. Singgah dulu ke novel berjudul Harun dan Samudra Dongeng (2011) gubahan Salman Rushdie. Kota-kota di suatu negeri sedang merana dihuni orang-orang bersikap berlawanan. Di mata para penggemar, pendongeng keliling itu dijuluki “Sang Samudra Khayal”. Musuh-musuh pendongeng memberi julukan “Raja Omong Kosong”. Orang-orang mengerti menjalani hidup tak keruan. Dongeng “terlalu” diperlukan tapi kandungan-kandungan hikmah dipertengkarkan berpamrih hiburan, politik, duit, etika, religiositas, keluarga, dan lain-lain. Pendongeng di keputusan-keputusan sulit meski selalu sibuk mengarang dan mendongeng, hari demi hari.

Harun, putra si pendongeng, memiliki dilema sulit terjawab. Ia memberi sangkalan faedah dongeng tapi selalu terpukau pada dongeng-dongeng bapak. Ia mengakui bapak memiliki dongeng berlimpahan dan beragam: “berselang-seling membingungkan tanpa pernah saling tertukar dan tak pernah membuat kesalahan sekali pun.” Bapak memang pendongeng sakti. Si pendongeng seperti menerima takdir mendongeng atau menghasilkan cerita seumur hidup, memiliki sumber dan mempersembahkan dongeng-dongeng di ribuan hari. Dongeng tak pernah mengering. Dongeng mustahil tamat bila menilik samudra terus berombak dan berlimpahan air.

Di sejarah peradaban manusia, dongeng memberi misi-misi mengubah tatanan hidup di titian waktu. Dongeng dimaksudkan acuan kemujaraban kaidah-kaidah hidup. Pada episode bencana dan petaka, dongeng-dongeng adalah peringatan atas kebiadaban, kebodohan, dan kepongahan manusia. Dongeng-dongeng bergerak di ruang-ruang magis, politis, ekologis, dan etis. Para leluhur menghidupi keturunan (anak-cucu) tak melulu dengan makanan dan minuman. Dongeng menjadi santapan “menolak” fana. Salman Rushdie memberi sindiran: “Ketika lapar, mereka akan menelan cerita melalui semua mulut, dan dalam isi perut mereka keajaiban terjadi. Sebagian dari satu cerita bergabung dengan gagasan dari cerita lain dan ketika mereka memuntahkan kisah itu keluar, kisah-kisah itu tak lagi serupa cerita lama, tapi suatu cerita baru.” Perjalanan dongeng tak ada ujung.

Dongeng di suatu negeri di alur waktu sering menjadi dongeng milik dunia. Dongeng-dongeng itu bersebaran selama ratusan atau ribuan tahun turut membentuk panggilan ke kodrat-kodrat peradaban kuno dan modern. Orang-orang di pelbagai negeri memiliki dongeng-dongeng semula bersemi di Yunani, Arab, India, Persia, Tiongkok, dan lain-lain. Di Indonesia, dongeng-dongeng bertumbuh di ribuan pulau dan “menghasilkan” dongeng-dongeng di perjumpaan peradaban-peradaban jauh berdatangan, dari zaman ke zaman. Arus dongeng di alur tak putus. Kita berhak menjadi ahli waris dongeng dari seribu negeri.

Dongeng-dongeng bersebaran di pelbagai negeri itu dinamai Kisah Seribu Satu Malam. Husain Hadawy (1993) mengingatkan: “Begitulah kain kehidupan diubah menjadi siratan benang roman (dongeng) ketika kisah-kisah ini dirajut selama berabad-abad di tengah pertemuan-pertemuan keluarga, perkumpulan-perkumpulan masyarakat, dan kedai-kedai kopi di Baghdad, Damaskus, atau Kairo. Setiap orang menyukainya sebab dia berhasil memikat orang-orang tua maupun muda dengan pesona kisahnya.” Dongeng-dongeng berusia tua, menampik lapuk, runtuh, atau punah. Para leluhur atau umat dongeng masa lalu seperti memiliki rumus mujarab di pengawetan dongeng-dongeng dan meramalkan dongeng-dongeng melintasi benua atau lautan.

Keampuhan dongeng lama sering merangsang kemunculan para pengarang ampuh. Dongeng-dongeng memberi panggilan di gubahan sastra modern  memuncak sebagai sastra dunia atau meraih Nobel Sastra. Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marques, Jorge Luis Borges, Mo Yan, Octavio Paz, Mark Twain, Charles Dickens, dan lain-lain memiliki ikatan ke dongeng-dongeng lama berupa tuturan atau edisi cetak. Para pendahulu memberi warisan-warisan terdengar dan terbaca sepanjang masa. Kita menjadi ahli waris bunga rampai dongeng dari pelbagai negeri. Kita pun memiliki sumber-sumber di pulau-pulau sebagai “tanah subur cerita”. Keberlimpahan dongeng tak memastikan kita membuat album ingatan atau menggerakkan dongeng di kehidupan keseharian. Kita sering terbujuk meremehkan dongeng-dongeng lawas berdalih pikat-pikat baru di keajaiban teknologi.  

Kita menilik cuilan biografi Hilmar Farid dimuat di buku berjudul Berkah Kehidupan (2011) disunting Baskara T Wardaya. Pengisahan diri, orangtua, dan buku. “Ayah saya adalah Agus Setiadi. Ia dikenal oleh anak Indonesia melalui penerjemahan seperti Lima Sekawan,” tulis Hilmar Farid. Pengasuhan dengan buku-buku cerita dunia memberi pengaruh besar, membentuk diri gandrung berpikir dan berimajinasi. Hilmar Farid kadang diajak bapak turut dalam menerjemahkan buku cerita anak dan mengetik. Hikmah diperoleh Hilmar Farid: “Sekolah untuk sementara saya lupakan dan saya semakin tenggelam dalam dunia buku. Saya suka buku sejak kecil. Ketika kembali ke Indonesia seluruh waktu perjalanan saya isi dengan membaca dua buku Enid Blyton.” Ia memang dibesarkan di Eropa, sebelum kembali ke Indonesia.

Bapak memberi teladan dan pengaruh besar. Di ingatan Hilmar Farid, bapak “pandai bercerita dan sangat meyakinkan”. Pengaruh terbesar ke Hilmar Farid adalah “soal bahasa dan kerja dengan kata.” Kita pun memiliki biografi-biografi berkaitan dongeng dan peran orangtua. Di keluarga, kehadiran pendongeng atau buku-buku cerita memungkinkan pembentukan identitas. Pematangan dalam perkara berpikir dan berimajinasi dengan pengantar dongeng-dongeng bakal meluweskan sikap hidup ketimbang ditimbuni ilmu-ilmu wajib dipelajari di sekolah selama belasan tahun.

Pada abad XXI, dongeng-dongeng belum punah meski berasal dari ribuan tahun lalu. Dongeng-dongeng baru bermunculan dengan garapan teknologi menawan. Kita selalu kaget dan terpukau menikmati dongeng-dongeng baru tersaji di buku, film, atau pentas. Misi-misi besar dimuat dongeng-dongeng baru berkaitan nasib Bumi, kemanusiaan, religiositas, atau etika global. Dongeng bertema besar kadang memberi beban-beban tafsir. Kerja tafsir saat kita di situasi tergesa dan patokan hidup adalah kecepatan.

Kita teringat penjelasan Naguib Mahfoudz, pengarang legendaris di Mesir,  dalam pidato penerimaan Nobel Sastra (1988). Ia mengaku: “Itulah takdir saya… dilahirkan dalam pangkuan dua peradaban untuk menyerap air susunya, melahap kesusastraan, dan kesenian mereka. Lalu, saya meminum nektar dari peradaban (Eropa) yang kaya dan memesona.” Pengarang kondang itu menerima warisan-warisan dongeng dari pelbagai negeri. Kita pun berhak mengaku ahli waris dongeng dunia meski tak menerima takdir sebagai pendongeng ulung di tulisan-tulisan terbaca atau telingan-telingan ingin ketakjuban sepanjang masa. Begitu.  


=======================
Bandung Mawardi, Penulis buku Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Wabah dan Para Penabuh Kentongan

0


Kisah umat manusia antara lain adalah kisah pergulatan sengit dengan wabah. Tidak heran tentu saja bila banyak suku maupun bangsa memiliki kata atau konsep lokal mengenai wabah. Di masa kanak nun dahulu di sebuah kampung di Tanah Bugis, sembari bermain atau bergelut dengan kawan sebaya, seringkali kami bertikai dan mengucapkan kata tanya nanreko sai? Kira-kira berarti “siapkah kau mati ditelan wabah?” Kata itu kami ucapkan setiap kali meragukan pernyataan atau bualan seorang kawan. Orang-orang tua biasanya memarahi kami setiap kali mendengar kami mengucapkan kata-kata itu.

Belakangan baru saya paham bahwa kata “sai” itu merujuk pada wabah, bukan hanya penyakit melainkan gering dalam skala penyebaran yang luas. Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, saya akhirnya mengenali kata-kata serupa dalam aneka bahasa suku selain Bugis. Kata garring pua dalam Bahasa Makassar, kata pageblug dalam Bahasa Jawa, kata gerubug dalam Bahasa Sasak memiliki makna yang kurang lebih sama. Kata atau konsep lokal itu berhimpitan dengan kata atau konsep mengenai wabah yang saya peroleh dari bangku pendidikan kedokteran dan kesehatan masyarakat seperti kata outbreak, epidemic maupun pandemic (wabah dalam skala dunia).

Wabah Covid-19 yang berskala besar bahkan mendunia (pandemi) yang kita alami saat ini tentu saja  bukanlah yang pertama yang melanda dunia dan juga Nusantara. Berabad-abad lampau wabah “kematian hitam” (black death) membuat dunia babak belur. Wabah pes yang mengerikan membuat banyak bangsa porak-poranda. Di masa yang lebih dekat, sekitar satu abad lalu, wabah akbar Flu Spanyol menerjang dunia, hampir bertepatan dengan berakhirnya Perang Dunia Pertama. Amukan Flu Spanyol (1918-1920) menelan korban jutaan jiwa dan menjalar jauh hingga ke Hindia Belanda. Sejumlah literatur menyebut 21 juta hingga kisaran 50-100 juta orang tewas akibat Flu Spanyol di seluruh dunia, dan sekitar 1,5 juta jiwa di berbagai daerah di Hindia Belanda. Liputan surat kabat dan juga sejumlah karya akademik berupa buku dan artikel jurnal merekam dahsyat dan mencekamnya wabah Flu Spanyol di Nusantara.

Namun selain mencatat besaran dan kengerian wabah Flu Spanyol di Hindia Belanda, literatur-literatur tersebut juga merekam kelambanan daya tanggap pemerintah kolonial dan peran penting kaum cendekia dalam upaya menanggulangi wabah tersebut. Di antara kaum cendekia bumiputera kala itu, peran Doktor-dokter Abdul Rivai, sangat menonjol. Rivai, sosok luar biasa dan berjasa sangat besar namun tidak banyak dikenal bahkan di kalangan medis di masa kini, lantang mengkritik tindakan lambat pemerintah. Berkat suara lugas Rivai dan kawan-kawan di Volksraad (parlemen semu Hindia Belanda) akhirnya Influenza Ordonantie—protokol resmi untuk menanggulangi epidemi influenza di masa depan—diresmikan pada Oktober 1920 setelah melalui debat sengit di parlemen dan pemerintahan (Ravando Lie, Seabad Flu Spanyol, Historia, 2018). Sebuah kemajuan penting meskipun jelas telat mengantisipasi wabah tersebut.

Wabah dan kaum cendekia memang memiliki hubungan unik. Di masa modern setelah penemuan mikroskop yang memungkinkan kaum cendekia seperti ilmuwan biomedis-kesehatan meneliti dan mengembangkan sains mengenai aneka kuman dan penyakit-penyakit infeksi, kalangan ini seringkali menjadi “penabuh kentongan” ketika ancaman wabah, penyakit dan kematian dalam skala besar datang. Ironisnya, sangat sering peringatan dari kaum tercerahkan ini diabaikan oleh para pengambil kebijakan.

Tentu tidak mengherankan bila Abdul Rivai menjadi sosok paling menonjol ketika wabah Flu Spanyol menyerang Hindia Belanda. Abdul Rivai jelas seorang perintis dan yang pertama dalam banyak tonggak sejarah ilmu pengetahuan modern, khususnya ilmu kedokteran-kesehatan di Nusantara. Ahli sejarah kedokteran, Professor Hans Pols dari Universitas Sydney (Australia), dalam bukunya yang mengharukan “Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan para Dokter Indonesia” (Kompas, 2019) menempatkan sosok dokter Rivai di bagian awal. Professor Pols tidak memiliki pilihan lebih baik karena sosok Rivai seperti sebuah gerbang untuk memasuki lorong waktu demi mengenali sosok-sosok yang melahirkan nasionalisme Indonesia dan konteks zaman itu.  

Rivai memang merupakan lulusan pertama Dokter Djawa (nama STOVIA dari tahun 1851-1902) dan ia pula yang pertama menerima pendidikan medis lanjutan di Belanda dan lalu meraih gelar doktor di bidang kedokteran di Universitas Ghent, Belgia. Rivai adalah pemuda keras kepala, bercita-cita tinggi dan pekerja amat keras. Namun ia sangat kecewa bahwa kualifikasi medis yang diraihnya dari Sekolah Dokter Djawa di Batavia hanya mengantar dirnya dalam posisi rendah dan penuh diskriminasi dalam sistem kesehatan kolonial.

Karena itu pemuda Rivai ingin membuktikan pada sistem rasis-diskriminatif itu bahwa seorang berkulit cokelatpun mampu meraih gelar medis bahkan doktoral di “jantung ilmu pengetahuan dunia” yakni di universitas di Eropa. Ketika berada di Belanda saat itu, ia juga menjadi mentor kaum nasionalis dan pelajar lebih muda seperti Mohamad Hatta dan Sutan Syahrir. Ia membuktikan diri sanggup menyelesaikan studi medis dan bahkan doktoralnya yang membuatnya secara hukum diakui setara orang kulit putih sekembalinya dari Eropa. Namun apa boleh buat, pengakuan hukum di atas kertas tidak dengan sendirinya membuat Rivai dapat sepenuhnya meraih perlakuan setara dari orang-orang kulit putih dalam kehidupan sehari-harinya  di Hindia Belanda ketika itu.

Diskriminasi dan rasa perih yang senantiasa ditorehkan oleh sistem kolonial membuat Rivai selalu tertarik pada bidang jurnalisme dan politik. Dua bidang yang bisa menjadi ajang pelampiasan rasa perih kaum bumiputera. Agak ironis sebenarnya menyadari bahwa tak banyak lagi yang mengingat sejarah betapa Rivai juga sebenarnya adalah perintis dunia jurnalisme dan kritik sosial di Nusantara. Ia merintis pendirian Bintang Hindia Belanda pada 1902, sebuah majalah bergambar untuk orang-orang bumiputera terpelajar. Dalam periode hidup selanjutnya  selain bekerja sebagai dokter ia kemudian masuk dalam bidang politik dan menjadi anggota Volksraad. Perannya sebagai ilmuwan, dokter, politikus sekaligus naluri sebagai wartawan yang membuatnya lantang “menabuh kentongan” mengingatkan pemerintah kolonial dan masyarakat kala itu mengenai ancaman wabah, “sai”, “garring pua”, “pageblug”, “gerubug” Flu Spanyol.

Abdul Rivai dan para sejawatnya yang telah memainkan peran “penabuh kentongan” terhadap bahaya Flu Spanyol tentu memiliki banyak kemiripan ketika sejak bulan Januari 2020 lalu sejumlah ilmuwan dan profesional kesehatan di Tanah Air juga mulai gencar mengingatkan pemerintah untuk  serius mewaspadai virus Corona baru yang waktu itu menerjang Wuhan di China tengah. Seperti dokter Rivai dan kawan-kawan, peringatan para ilmuwan dan tenaga kesehatan masa kini juga tidak segera ditanggapi pemerintah. Ada waktu dua bulan terbuang dan kini kita harus menebusnya dengan banyak korban jiwa, termasuk nyawa para profesional kesehatan, para dokter dan perawat serta tenaga kesehatan lainnya yang bekerja keras mengatasi Covid-19.

Doktor Rivai dan kawan-kawan segenerasinya di atas sana mungkin menangis melihat anak-anak cucu atau para pelanjut mereka menabuh kentongan mengingatkan bahaya wabah di depan mata namun jatuh di telinga yang tuli atau pura-pura tuli. Dokter Rivai dan kawan-kawan sejawatnya mungkin berurai air mata  melihat para tenaga kesehatan Indonesia yang harus berjuang mati-matian menghadapi Covid-19 tanpa alat pelindung diri memadai.

Rivai beserta para bapak dan ibu bangsa berduka melihat betapa kita belum benar-benar belajar dari sejarah.*



===================
Sudirman Nasir, peminat sejarah dan sastra, pengajar-peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Terbaru

Semesta Debar Dalam Dada

Burung Foniks: terilhami karakter tokoh manga one piece, marco. mungkin aku telah dikutuk venus di...

Kuda Bertanduk

Dari Redaksi