Esai

Home Esai

Basa-basi Literasi

0


Esai Akhmad Idris bertajuk Buku Cetak Tak Lagi Diminati? yang tayang di Magrib.id pada 28 Januari 2021 menarik dikaji lagi. Ia mengutarakan kegelisahannya atas fenomena perbukuan. Khususnya konvergensi buku cetak menuju digital berupa e-book.

Baik pembaca, penulis dan penerbit disorot Akhmad Idris. Namun ada fenomena lain yang belum disorot. Ini soal kewajiban menulis bagi orang yang berprofesi tertentu. Mereka tak memikirkan bukunya laik dan laku atau tidak. Yang penting terbit dan cetak. Beres!

Inilah fenomena yang saya sebut sebagai “basa-basi literasi” karena hanya formalistik simbolis. Yang penting profesi mereka aman dan pangkat mereka naik. Meski demikian, pengalaman saya ini menunjukkan fakta berbalik atas pendapat Akhmad Idris, yaitu buku cetak masih diminati.

Tugas Profesi

Setiap profesi memiliki tugas, pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing. Dalam konteks ini, menulis bukan tupoksi semua profesi. Sebab hanya profesi tertentu yang diwajibkan melakukan publikasi berupa buku. Kegiatan ini secara umum hanya dibebankan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN), guru, dosen dan profesi lain seperti peneliti.

Bagi yang tak terbiasa, menulis buku itu berat. Susahnya minta ampun. Bahkan tak sedikit yang melakukan plagiasi, fabrikasi, falsifikasi dan duplikasi. Jangan samakan dengan menulis status di Facebook atau di WhatsApp. Meski secara substansi ya sama-sama menuangkan ide. Namun keduanya beda.

Yang jelas, menulis buku itu berat. Sumpah! Ya, berat pikirannya, konsepnya, tenaga dan ongkosnya. Apalagi kalau ingin cepat terbit tak mungkin dikirim ke penerbit mayor. Melainkan di penerbit indie yang cepat dan tanpa kurasi yang bertele-tele.

Rata-rata ASN menulis artikel/esai di media massa maupun buku hanya untuk Penilaian Angka Kredit (PAK) untuk memenuhi syarat kenaikan pangkat mereka. Artinya, mereka menulis bukan bekerja demi kemajuan literasi, melainkan karena tuntutan, pangkat/golongan, jabatan, bukan tujuan mulia untuk memajukan pendidikan.

Tapi bagi saya tak ada masalah. Daripada tak ada buku terbit sama sekali, uangnya (para ASN) untuk kepentingan lain mendingan dibua menerbitkan buku. Meski mereka hanya mencetak 5-10 ekslempar karena hanya untuk berkas PAK, namun setidaknya judul dan dua ekslempar buku mereka ada di Perpusnas RI dan di Perpusda.

Begitu pula dengan dosen. Mereka yang ASN dan swasta memiliki kewajiban sama dalam hal menulis. Selain pendidikan-pengajaran dan pengabdian, penelitian yang bermuara pada luaran juga diwajibkan. Untuk kenaikan jabatan akademik dosen dari dosen tetap menuju asisten ahli, lektor, lektor kepala dan guru besar (profesor). Semua butuh buku, artikel ilmiah dan unsur lain.

Namun realitasnya, meski diwajibkan tidak semua dosen produktif menulis setiap semesternya. Padahal hal itu mutlak dan jika tidak memenuhi maka sampai kapanpun tidak bisa naik jabatan akademiknya.

Permenpan RB Nomor 16 tahun 2009 telah mengatur Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Dalam konteks profesi, PKB ini merupakan pengembangan kompetensi yang dilakukan guru/dosen/ASN sesuai kebutuhan, bertahap, dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan profesionalitasnya.

Bentuk PKB juga beragam karena meliputi unsur pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif. Aspek penulisan buku ada pada nomor dua dan tiga. Meski sudah diwajibkan, menjadi syarat kenaikan pangkat/golongan, namun jumlah guru menulis masih sedikit.

Guru: Pendidik yang Meneliti

Guru dan dosen adalah profesi mulia. Indikator mulia karena dilindungi regulasi yaitu Undang-undang (UU) No. 14 Tahun 2005 Guru dan Dosen. Meski realitasnya guru yang menulis hanya yang ASN, namun bukan berarti guru swasta tidak wajib menulis.

Tugas utama guru bukanlah sebagai peneliti. Maka saya menyebut guru itu pendidik yang meneliti. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Pertama, dalam seleksi guru berprestasi, hampir semua menyaratkan ada karya tulis ilmiah. Bisa berupa artikel ilmiah publikasi jurnal maupun buku. Jika tak punya hal itu, selamanya guru akan susah menjadi predikat guru berprestasi. Sebab, syarat menjadi guru tidak sekadar dilihat dari masa kerjanya melainkan juga rekam jejak karyanya.

Kedua, jika guru lanjut studi S2 atau S3, kini semua Program Pascasarjana juga mewajibkan guru untuk bisa menulis artikel jurnal dan buku. Beberapa program S2 sudah menyaratkan untuk ujian tesis adalah artikel yang sudah terbit di jurnal ilmiah terindeks Sinta 1-6. Syarat wisuda adalah buku ilmiah hasil tesisnya. Maka kalau tidak ada bekal sejak dini, lulus S2 sekarang sangat susah.

Ketiga, ketika seleksi beasiswa S2 atau S3, momok yang berat selain TOEFL adalah rekam karya ilmiah. Banyak guru-guru maupun kepala sekolah tumbang tak lolos seleksi beasiswa S2/S3 karena tidak punya karya meski TOEFL mereka nilainya tinggi. Keempat, seleksi lain seperti menjadi Guru Penggerak, Fasilitator dan sejenisnya juga menyaratkan guru memiliki rekam jejak karya ilmiah. Kelima, banyak karya ilmiah yang bisa dijadikan buku oleh guru. Bisa karya ilmiah seperti buku ajar, diktat, buku pengayaan, buku antologi puisi/cerpen/pantun/geguritan atau bisa berupa novel.

Jika guru ingin menjadi luar biasa ya syaratnya harus menulis buku. Kecuali kalau orientasi hanya status: “guru-guruan” atau “yang penting guru”. Jika mau serius menulis aslinya mudah. Guru dapat berkolaborasi dengan sesama guru, kepala sekolah, dosen, peneliti, atau bahkan dengan siswa-siswinya. Masalahnya, guru itu mau atau tidak?

Dosen: Peneliti yang Mendidik

Menulis buku bagi dosen juga berdampak pada reputasi lembaga dan menjadi laporan kinerja perguruan tinggi/program studi saat akreditasi, kenyataannya jumlah dosen menulis masih rendah. Problem produktivitas menulis di kalangan sivitas akademika (dosen dan mahasiswa) perguruan tinggi selama ini riil hanya soal administratif.

Entah untuk kenaikan pangkat bagi dosen atau syarat kelulusan atau tugas akhir bagi mahasiswa. Meski tak semuanya, hanya sedikit yang menjadikan menulis sebagai hobi atau bahkan menjadi candu.

Masih banyak dosen yang sudah mengajar bertahun-tahun namun jabatan akademiknya asisten ahli saja belum. Mereka terjegal karena unsur penelitian diabaikan dan tidak punya karya ilmiah. Mereka yang sudah doktor pun sama. Jika tidak terbiasa menulis maka ya sama saja.

Maka bagi saya, prinsip “peneliti yang mengajar” harus diperhatikan. Sebab, dosen dengan guru itu beda. Jika guru cukup mendidik, karena itu pekerjaan utamanya. Namun dosen tidak bisa demikian? Kalau hanya mendidik itu bukan dosen tapi itu guru. Benar nggak?

Maka solusinya ya jangan berbasa-basi dengan literasi. Dosen menyuruh mahasiswa menulis namun dosennya sendiri tidak pernah dan tak punya karya. Inikan lucu namanya! Apakah menjadi dosen dijadikan tujuan? Sehingga saat menjadi dosen ya sudah, mereka berada pada zona aman dan nyaman. Mereka hanya berprinsip “tetap dosen” daripada menjalankan tupoksi “dosen tetap”.

Bagi Anda yang berprofesi guru atau dosen, mari menulis. Sebab, saat ini banyak media, akses informasi serba melimpah, mudah dan murah. Jika tidak guru, dosen, peneliti yang menulis buku, lalu siapa lagi? Jika guru dan dosen tidak lagi menulis, apakah mereka basa-basi dalam menjalankan profesinya? Sebab, menulis itu bukan mukjizat. Benar nggak?





=====================
Hamidulloh Ibda, sehari-hari bekerja sebagai dosen dan kini sedang menempuh studi S3 Pendidikan Dasar UNY. Aktif menulis sejak 2008 yang dimuat di beberapa media cetak dan siber, seperti Harian Pelita, Jurnal Nasional, Kompas, Koran Jakarta, Media Indonesia, Republika, Sinar Harapan, Suara Karya, Beritagar.id, Detik.com, Islami.co, Tempo.co, Wartanasional.com, Basabasi.co, Ngopibareng.id, dan lainnya.

Dua Lembar Kertas dari Ernie

0

: memorabilia

Berapa seorang penulis dihargai dari dua lembar kertas? Rp92 juta!

Kaitan erat kita Indonesia dengan Ernest Hemingway diawali sastrawan Sapardi Djoko Damono menerjemahkan novel Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea) pada 1973. Novel ini juga menjadi topik disertasi Arso Setyaji, hingga dosen Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang meraih gelar doktor tahun lalu. Sementara Idrus dinilai memiliki gaya penulisan yang mirip dengan Hemingway. Menulis sejumlah novel, kumpulan cerita pendek, drama, cerita anak, dan karya terjemahan, pengarang Angkatan 45 itu jadi dosen di Universitas Monash Australia sampai wafat 1979.

Pepatah mengatakan: gajah mati meninggalkan gading dan harimau mati meninggalkan belang. Gading dan kulit belang menjadi peninggalan paling mahal dari gajah dan harimau. Nama baik ialah peninggalan termahal manusia.

Ernest Hemingway sudah lama meninggal dunia, 60 tahun lalu. Meninggalkan tanda tangan dan tulisan tangan berharga selain banyak karya besar yang abadi. Berharga Rp92 juta, dua lembar kertas warisannya ditawarkan melalui sebuah dealer barang antik terbesar dunia di Las Vegas. Selain dua lembar kertas, pelbagai koleksi langka warisan dari sastrawan Amerika yang meraih Hadiah Nobel pada 1954 masih banyak dijual. Koleksi lain dari warisan tokoh-tokoh termasyhur yang tersedia di galeri dealer itu melebihi 230.000 manuskrip dan tanda tangan bersejarah yang diperoleh selama periode 40 tahun.

Lahir di Illinois, 21 Juli 1899 (dan wafat 2 Juli 1961), Ernest Miller Hemingway merupakan seorang novelis, penulis cerita pendek, jurnalis, dan olahragawan. Gaya tulisnya yang ringkas dan bersahaja — dia sebut teori gunung es — memiliki pengaruh yang kuat pada fiksi abad ke-20. Sementara gaya hidup petualang dan citra publiknya membuatnya dikagumi generasi sesudah dia. Hemingway menghasilkan sebagian besar karyanya antara pertengahan 1920-an dan medio 1950-an. Ia menerbitkan tujuh novel, enam koleksi cerita pendek, dan dua karya nonfiksi. Tiga dari novelnya, empat kumpulan cerita pendek, dan tiga karya nonfiksinya diterbitkan secara anumerta. Banyak dari karyanya dianggap klasik di sastra Amerika.

Divisi dealer dari Gallery of History menjual dokumen berupa satu lembar Akta Kepercayaan di mana penulis itu dan istri keduanya menandatanganinya pada tahun 1930, untuk menyerahkan obligasi dan saham preferen ke perwalian. Dokumen yang diketik tersebut diteken: “Ernest Hemingway” dan “Pauline Pfeiffer Hemingway” pada halaman 7, seluruhnya terdiri 10 halaman, berukuran 8¾x11¼ inci. Dibuat di New York, pada 18 Februari 1930. Akta Kepercayaan dengan perusahaan, City Bank Farmers Trust Company.

Bentuk fisik dokumen sedikit berkerut. Berbayang cahaya melampaui tulisan dan ketikan. Kondisi koleksi ini disebut bagus oleh dealer.

Isinya berbunyi: Keluarga Hemingways, yang saat ini tinggal di Paris, Prancis, menyumbangkan properti yang dijelaskan pada Jadwal A untuk “Trust Estate”: “Obligasi 6% dari Kingdom of Belgium External Sinking Fund sebesar $10.000 jatuh tempo 1 Januari 1955; 100 Saham Obligasi Elektrik dan Perusahaan Saham 6.00 Saham Preferen Kumulatif; 300 Saham William H. Warner & Co. Inc. Saham Preferen Nilai Par $100”. Surat berharga itu juga ditandatangani oleh Trust Officer (Petugas Perwalian).

Menjadi penulis yang sedang terpuruk, Ernest Hemingway bertemu dengan Pauline Pfeiffer, editor majalah mode dan gaya hidup bulanan Vogue edisi Paris di sebuah pesta di kota itu pada tahun 1925. Hemingway, yang menikah dengan istri pertamanya, Hadley Richardson, saat itu menceraikan Hadley , ibu dari putra pertamanya, dan menikahi Pauline pada 10 Mei 1927, setahun setelah novelnya, The Sun Also Rises, diterbitkan. Penulis biografi Hemingway, Jeffrey Meyers, di kemudian hari menulis bahwa The Sun Also Rises diakui sebagai karya terbesar Hemingway.

Keluarga Hemingway, yang memiliki dua putra, Patrick dan Gregory, sering bepergian. Selama pernikahan mereka, Hemingway menulis delapan buku, termasuk A Farewell To Arms (1929), dan banyak cerita pendek. Pada tahun 1931, setahun setelah dokumen ini ditandatangani, Gus paman Pauline membeli rumah untuk pasangan itu di Key West, Florida. Pada tahun 1940, Hemingway menceraikan Pauline untuk menikahi ketiga dari empat istrinya, Martha Gellhorn, seorang koresponden perang yang pertama kali dia temui di Key West. Pauline tinggal di rumah Key West setelah perceraian mereka.

Seantik apa dokumen yang ditawarkan? Trust Agreement atau Akta Kepercayaan adalah perjanjian di mana satu orang mentransfer asetnya kepada pihak lain. Sesuai dengan ketentuan perjanjian ini dimungkinkan untuk mentransfer uang, sekuritas, real estat, kekayaan pribadi, hak intelektual, dan hak kepemilikan lainnya. Akta Kepercayaan menjadi dokumen hukum yang menjelaskan aturan yang dimaksudkan oleh wali atau pemberi yang pada awalnya memiliki properti yang akan disimpan dalam perwalian oleh wali untuk kepentingan pemberi atau penerima perwalian. Perwalian didirikan untuk memberikan perlindungan hukum atas aset wali amanat, untuk memastikan aset tersebut didistribusikan sesuai dengan keinginan wali, dan untuk menghemat waktu, mengurangi dokumen dan, dalam beberapa kasus, menghindari atau mengurangi warisan atau pajak tanah.

Suami-istri Hemingway menyerahkan Akta Kepercayaan kepada City Bank Farmers Trust Company. Perusahaan ini kemudian mendirikan City Bank Farmers Trust Building, dibangun tahun 1930 dan selesai 1931, sebagai kantor gabungan National City Bank of New York dan Farmers Loan and Trust Company. Bangunan itu tetap menjadi pusat perusahaan sampai 1956 dan akhirnya dijual pada 1979, berlokasi di Manhattan, New York.

Coba lihat lagi dokumen yang dijual: “Jadwal A untuk Trust Estate”, tertulis dalam isi tersebut. Jadwal A adalah formulir pajak pendapatan yang digunakan wajib pajak Amerika Serikat untuk melaporkan pengeluaran mereka yang dapat dikurangkan dari pajak untuk mengurangi jumlah uang yang harus mereka bayar. Formulir Jadwal A merupakan lampiran opsional pada formulir standar 1040 untuk wajib pajak AS yang melaporkan pajak penghasilan tahunan mereka. Trust Estate berarti semua uang, instrumen, hak, dan properti lain yang tunduk atau dimaksudkan untuk tunduk pada hak gadai dan jaminan Indenture (surat perjanjian rangkap dua) ini untuk kepentingan Pemegang Catatan (termasuk, tanpa batasan, semua properti dan kepentingan yang diberikan kepada Pengawas Indenture), termasuk semua hasil penjualannya.

Menariknya, isi dokumen selanjutnya menyatakan: “Obligasi 6% dari Kingdom of Belgium External Sinking Fund sebesar $10.000 jatuh tempo 1 Januari 1955”. Faktanya ternyata harian New York Times (NYT) dalam artikel edisi 14 November 1938 di halaman 32 memberitakan bahwa JP Morgan Co. dan Guaranty Trust Company, administrator sinking fund, telah memberi tahu pemegang obligasi eksternal tiga puluh tahun 6% Kingdom of Belgium, yang jatuh tempo pada 1 Januari 1955, bahwa $1.475.300 dari obligasi ini telah ditarik untuk penebusan pada 1 Januari setara dengan uang dana pembayaran hutang. Apakah sebesar $10.000 dari total $1.475.300 seperti diberitakan NYT itu ikut ditarik oleh Petugas Perwalian dari Akta Kepercayaan yang ditandatangani pasangan Hemingway belum ditemukan jejak sejarah ini.

Satu lagi dokumen yang diperdagangkan ialah naskah tulisan tangan tahun 1936 yang semula untuk diterbitkan di majalah Esquire. Isinya menggambarkan kengerian perang, dengan tanda tangan orang ketiga pada teks Autograph Manuscript dalam teks: “Mr. Ernest Hemingway” memakai pensil. Dokumen ini hanya satu halaman, berdimensi 8½x11 inci. Tidak tahu di mana dibuat, pada 1936.

Dokumen satu ini sangat rapuh. Berkerut. Ujung-ujungnya tergores dan aus. Pemisahan horizontal 6¼-inci dengan margin lipatan kosong bawah. Kencang. Dienkapsulasi secara profesional untuk perlindungan.

Isinya dimulai dengan: “Tolong Tuan Ernest Hemingway oleh Paul Harris, The American Criterion, Desember 1935, tentang ‘surat-surat’ yang muncul setiap bulan di Esquire….”

Ernest Hemingway menjadi kontributor tetap untuk majalah Esquire. Dia menulis total 31 surat yang diterbitkan dalam majalah itu pada tahun 1930-an. Dalam edisi September 1935, dia menulis: “Catatan tentang Perang Berikutnya: Surat Topik yang Serius”. Ini mungkin draf kasar dari salah satu dari 31 surat. Hemingway telah membuat tanda “X”, mencoret seluruh huruf di situ. Sebagian terbaca: “Tuan Hemingway, Anda berada di garis depan. Anda melihat korban tewas? Saya berumur sepuluh tahun dan saya melihat orang, saya melihat sesuatu di dalam diri mereka mati dan mereka harus terus percaya bahwa mereka masih hidup dengan nyali besar mencuat dari diri mereka. Saya melihat orang-orang menjadi tua. Saya melihat yang tak terlihat, wajah yang merengut, mata angker… Seorang anak sensitif terhadap perubahan pada orang yang dia kenal (dia mengacu pada seorang bibi, sepupu, yang terjangkit perubahan akibat kehidupan di masa perang). Saya merasakan kematian diam-diam menyelimuti hati orang-orang; sesuatu datang ke… mata mereka… tangan mereka… terkepal ketakutan. Mereka hidup setengah hati, energi mereka terkuras oleh kekhawatiran.”

Hemingway merangkai empat “Surat Pertama kepada Tuan Harris tanggal 12 Desember 1935 (kolomnya menjelaskan), Surat Kedua 21 Desember 1935 (jangan biarkan surat ini dipublikasikan), Surat Ketiga tanggal 24 Desember 1935 (ditembuskan kepada Lawson dan episode bunuh diri), Surat Keempat tertanggal 18 Juni 1936 (mengacu pada rilis Richter? … Anda jauh lebih baik daripada hati nurani saya sendiri sehingga kadang-kadang saya bertanya-tanya apakah Anda pasti tidak merasa cukup senang dengan betapa baiknya Anda. (benar-benar untuk melindungi dengan nama Perkins) atau seharusnya demikian… satu edisi Esquire tentang pembunuhan orang-orang yang bersalah atas pelanggaran publik….”

Pada Mei 1918, Ernest Hemingway secara sukarela bertugas di Korps Ambulans Palang Merah dalam Perang Dunia I. Pada 8 Juli 1918, artileri Austria menghantam pria berusia 19 tahun tersebut. Luka-lukanya begitu parah sehingga dia harus dirawat di rumah sakit di Milan. Hemingway kemudian mengutuk kebiadaban perang, terbukti dalam manuskrip yang ditawarkan di sini dan di banyak karyanya. Setelah kembali ke AS, dia menjadi reporter untuk surat kabar Kanada dan Amerika lalu segera dikirim kembali ke Eropa untuk meliput berbagai peristiwa seperti Revolusi Yunani. Novelnya A Farewell to Arms (1929) adalah studi tentang kekecewaan petugas ambulans Amerika dalam perang dan perannya sebagai pembelot. Hemingway menggunakan pengalamannya sebagai reporter selama perang saudara di Spanyol sebagai latar belakang untuk novelnya yang paling ambisius, For Whom the Bell Tolls (1940). Dia adalah seorang koresponden perang di Cina (1941) dan Eropa (1944-1945). Hemingway dianugerahi Penghargaan Pulitzer 1953 dalam kategori Fiksi untuk The Old Man and the Sea dan Hadiah Nobel 1954 dalam Sastra.

*

Biasanya dia dipanggil Ernie di antara 12 nama panggilannya yang lain seperti Bumby, Champ, Ernestoic, Hem, Hemingstein, Hemmy, Oinbones, Papa, Tatie, Tiny, Wax Puppy, dan Wemedge. Dia hampir meninggal pada tahun 1954 setelah kecelakaan pesawat beruntun beberapa hari berturut-turut, menyisakan cedera yang membuatnya kesakitan dan kesehatan yang buruk selama sebagian besar sisa hidupnya. Lima tahun setelah itu dia membeli sebuah rumah di Idaho di mana pada medio 1961 dia tewas karena bunuh diri dengan senapan.

“Gunakan kalimat pendek. Gunakan paragraf pendek pertama. Gunakan bahasa Inggris yang kuat. Jadilah positif, bukan negatif,” katanya.

Ernest Hemingway dengan terkenal pernah mengatakan, tentang The Star Copy Style, “Itu adalah aturan terbaik yang pernah saya pelajari untuk urusan menulis. Saya tidak pernah melupakannya. Tidak ada orang dengan bakat apa pun, yang merasakan dan menulis dengan sungguh-sungguh tentang hal yang ingin dia katakan, dapat gagal menulis dengan baik jika dia mematuhi aturan ini.” Dibuat oleh jurnalis dan editor di koran Kansas City Star, gaya tulis tersebut berguna karena mengajarkan melalui contoh. “Jangan pisahkan infinitif,” satu paragraf terbaca. “Dia ingin lebih lama hidup, bukan hidup lebih lama.




====================
Arpan Rachman, pengarang cerpen dan esai. Alumni program English for Journalism dari Coursera-University of Pennsylvania. Menulis berita pada beberapa media di Kuala Lumpur, Bangkok, Hong Kong, Kashmir, Amsterdam, London, dan Berlin.

Keterpisahan Irasional dan Pasung Transendental

0

Sesedih-sedihnya manusia yang terlempar begitu saja, lebih sedih manusia yang terpisah dari kerumunannya. Manusia terlempar masih bisa membangun keterkait-ikatan dengan sesama manusia terlempar. Bagaimana dengan manusia yang terpisah?

Heidegger mendasari filsafatnya dengan keterlemparan eksistensial. Manusia terlempar begitu saja sebagai bagian dari ‘ada dan waktu’. Manusia hanya bisa menjalani keterlemparannya tanpa bisa menundanya apalagi menolaknya. Keterlemparan melekat sebagai takdir. Bagi sebagian manusia, konsep dan gagasan keterlemparan ini membawa pertanyaan-pertanyaan penting tentang perasaan tak sempurna, serba kekurangan, dan terliputi kecemasan yang berujung pada kesedihan.

Salah satu cara yang ditempuh manusia untuk mengatasi kesedihan atas keterlemparan adalah dengan membangun kekerkait-ikatan dengan manusia lain. Tentu saja dengan sesama manusia terlempar. Manusia berkerumun dalam beragam entitas, membangun rumah bersama bernama keluarga serta masyarakat.  Rumah bersama ini dibangun dengan fondasi saling membutuhkan. Manusia butuh bahu manusia lain untuk menyandarkan kepala yang berbeban.

Namun, dalam perkembangannya, masyarakat justru berubah menjadi sumber keterlemparan. Manusia melempar sesama manusia dalam berbagai bentuk dan beragam rupa. Dalam masyarakat yang sama, manusia saling melempar.  Lebih menyedihkan daripada keterlemparan Heidegger, gejala saling melempar ini dilakukan oleh sesama manusia yang berada dalam ruang ‘ada dan waktu’ yang relatif sama.

Salah satu akibat saling lempar sesama manusia adalah keterpisahan. Manusia terpisah dengan sesama manusia. Keterpisahan ini terjadi dengan berbagai akar persoalan. Mulai dari persoalan politik-ekonomi, sosial-kultural, hingga psikologi-antropologi. Semua persoalan itu berjejalin dengan hiruk-pikuk keseharian manusia sehingga potensi destruktifnya menjadi samar.

Keterpisahan yang diabaikan menyeret manusia pada kecemasan, begitulah Erich Fromm melekatkan keterpisahan dengan kecemasan. Keterpisahan menumpulkan segala daya manusia mewujudkan tujuan-tujuannya. Baik tujuan hakiki seperti menemukan ruang aktualisasi diri maupun tujuan khayali seperti meraih semua mimpi masa kecil.

Tak jarang, keterpisahan menjadi penjara yang mengungkung upaya manusia menemukan kesejatian. Keterpisahan menjelma tembok tebal yang tingginya melebihi tingkat kewarasan manusia. Manusia seolah tak berdaya menaklukkan tembok penjara itu. Kewarasan pun menjadi daya manusia yang runtuh kali pertama.

Gejala keterpisahan merupakan gagasan yang layak diwartakan kepada banyak orang. Tak mengejutkan apabila banyak cerpenis mendedahkan gagasan keterpisahan dalam cerpen mereka. Tiga di antara banyak cerpenis itu adalah Faisal Oddang, Yusri Fajar, dan Agus Noor.  

Faisal Oddang menulis cerpen Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu untuk mengisahkan seorang perempuan yang tengah berdiri di simpang keterpisahan. Apabila ia menuruti bapaknya untuk mempertahankan agama di KTP, maka ia terpisah dari kekasihnya – seorang tentara. Sebaliknya, apabila ia tak menuruti, maka ia akan terpisah dari bapak. Rupanya, peraturan negara turut andil menyulut keterpisahan.

Senapas dengan itu, mahasiswa bernama Marwo harus rela hidup di negeri orang setelah keributan politik dalam negeri membuat beasiswanya dicabut. Ia melanjutkan hidup dalam keterpisahan dengan keluarga. Terpisah juga dengan negara yang selalu dirindukannya. Yusri Fajar merekam kisah Marwo ke dalam cerpen berjudul Surat dari Praha.  

Sementara Agus Noor menyipratkan keterpisahan dengan cerpen Penyair yang Jatuh Cinta pada Telepon Genggamnya. Cerpen ini mewakili keterpisahan yang disulut oleh teknologi. Ada penyair hendak mengekalkan hubungan dengan kekasihnya. Ia membeli telepon genggam demi menutupi kedekilan. Alih-alih makin dekat dengan kekasih, penyair itu justru jatuh cinta dengan telepon genggamnya. Tak mengapa terpisah dengan kekasih asalkan tak terpisah dengan telepon genggam, begitulah sang penyair tak menyadari teknologi membuatnya terpisah dari kekasih. Sekaligus terpisah dari kewarasan.

Ketiga cerpen di atas ditulis sebagai respon sosial atas kehidupan kota besar seperti Praha, Jakarta dan Makassar. Namun, penyakit keterpisahan juga terjadi di daerah-daerah seperti Nusa Tenggara Timur. Kita bisa menemukan bentuk keterpisahan yang bermuara pada gangguan jiwa dari cerpen-cerpen dalam antologi” Nadus dan Tujuh Belas Pasung”.

Penerbitan antologi ini digagas oleh Klinik Jiwa Renceng Mose bekerja sama dengan Yayasan Klub Buku Petra. Mereka berniat memberi gambaran nyata kepada khalayak tentang kehidupan orang-orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Juga untuk menghimpun dana guna meningkatkan layanan kepada ODGJ di Nusa Tenggara Timur.

Tujuh belas cerpen yang termaktub dalam antologi ini ditulis oleh cerpenis-cerpenis yang berasal dari NTT. Nyaris semuanya tinggal di NTT. Ada juga nama Mario F. Lawi sebagai editor. Ini menarik karena cerpenis dan editornya bukanlah orang yang berjarak dengan realita. Setiap cerpenis menangkap interaksi mereka bersama ODGJ dengan kacamata masing-masing yang tentu saja tak seragam.

Cerpen Nadus dan Sembilan Roh yang Merasukinya karya Marto Rian mengisahkan Nadus, pemuda gila berusia 24 tahun. Tiap hari ia berlari sepanjang jalan di tengah kampung. Ia lantang meneriaki warga yang hanya duduk minum kopi dan bermalas-malasan. Kegilaan membuatnya terpisah dari masyarakat, tetapi Nadus belum terpisah dari kewarasan.

“Kerja! Kerja! Kerja! Tuhan telah bersabda ada enam hari untuk bekerja. Mengapa kalian bermalas-malasan? Orang mati saja kerja, apalagi orang hidup.” (Lawi, 2020: 33)

Satir sekali. Orang gila mengucap sabda kerja kepada orang waras. Definisi gila dan waras barangkali hanya relativitas belaka, tergantung siapa memandang siapa dari sudut mana.

Segaris dengan cerpen itu, ada cerpen Seru Serangga dalam Diriku karya Christian Dan Dadi yang juga mencoba-dobrak pandangan umum bahwa kegilaan membuat orang gila terpisah dan tak bebas.

“Padahal, sementara kalian bergulat-gelut dengan wadak kosongku, aku sebenarnya sedang beterbangan liar di luar sana, melayah dengan kepak sayap yang bebas merdeka, sembari menyesap nektar harum wangi dari satu kelopak bunga ke kelopak bunga lainnya dengan sungut lengkungku. Bagaimana kalian pikir kalian bisa mengurungku wahai dokter bebal dan perawat cantik bak kuntilanak?” (Lawi, 2020:51)

Si ‘aku’ yang tak punya nama dan alpa usia meyakini ada serangga beranak-pinak di benaknya. Empat generasi ia mewarisi DNA ‘gila’. Ia adalah penyendiri di kamar sumpek redup. Ia berhalusinasi dalam kilatan sejarah dan filsafat. Bercakap dengan Zeus, berdebat dengan Socrates, meditasi bersama Gandhi, mendengarkan gelegar suara Soekarno, hingga berduaan dengan Nietzsche. Pun meminta bantuan Zeus ketika hendak dibawa ke klinik jiwa Sumber Waras, tempat dimana si ‘aku’ yang gila terbang bebas dan menemukan kebebasan.

Gejala keterpisahan berujung kegilaan tak hanya menghancurkan relasi individu dengan komunitas sosialnya, melainkan juga menggerogoti relasi dengan keluarga.

Cerpen Nion Ina Ema Bulakan karya Yanti Mesakh dan Membeli Ibu karya Anacy Tnunay menegaskan hal tersebut. Pada cerpen pertama, kepergian suami membuat sang istri gila. Ia dirantai karena bertindak memalukan di depan rumah orang. Akibatnya, anak lelaki mereka terpaksa jadi tulang punggung keluarga.

“Bukankah walaupun Ina mengidap kelainan jiwa, Nata dan adik-adiknya masih bisa bersekolah? Bukankah walaupun Ina mengidap kelainan jiwa, mereka semua masih bisa makan, tidur, dan berpakaian yang layak?” (Lawi, 2020:71).

Pada akhirnya, bersyukur adalah cara terbaik merawat kewarasan agar tak terhanyut dalam kegilaan. Apabila rasa syukur sudah luntur, bukan tak mungkin kegilaan akan menyeret keluarga pada kegilaan yang mengerikan. Lihatlah pergulatan dua bersaudara, Lori dan Sandri, yang masih duduk di bangku SD. Kedua ibu mereka sakit. Ibu Lori sakit jiwa, sedangkan ibu Sandri sakit raga. Kedua bapak mereka mengharapkan bisa saling bertukar kondisi. Sebagaimana kodrat para bocah sebagai peniru ulung, Lori dan Sandri diam-diam bersepakat.

“Lalu kau mau menjual ibumu?”

“Lalu ibumu, apakah kau mau juga menjualnya?” (Lawi, 2020:162)

Jual beli ibu di antara dua anak kecil sungguh memilukan. Ada keterpisahan tak terperi antara ibu dengan anak. Seandainya saja bapak Lori sanggup membangun ketak-terpisahan raga untuk menyulam keterpisahan jiwa dan bapak Sandri mau membangun ketak-terpisahan jiwa untuk menambal keterpisahan raga, dua anak kecil itu akan mengisi hari-hari dengan bahagia.

Lebih dalam, cerpen Segelas Teh untuk Ibu karya Maria Pankratia melukiskan bagaimana keterpisahan mendatangkan kegilaan lalu kegilaan mendatangkan keterpisahan berikutnya.

Seorang anak merantau hingga tersedot keangkuhan kota. Kesibukan kerja membuatnya enggan menjawab panggilan telepon ibu. Jadilah anak dan ibu terpisah lahir pun batin, fisikal maupun psikologis. Sang ibu memutuskan menjenguknya ke kota. Si anak menerima sang ibu dengan setengah hati. Entah apa yang melintasi kepalanya, si anak menghadiahi sang ibu dengan segelas minuman beracun.

“Ibu sebaiknya mati lebih dulu. Itu jauh lebih menenangkan.” (Lawi, 2020: 201)

Kegilaan yang dilakukan anak waras ini menandaskan betapa jahatnya keangkuhan kota memutus keterkait-ikatan ibu-anak. Kegilaan yang berawal dari keterpisahan lahir-fisikal bisa membukit menjadi keterpisahan batin-psikologis. Dampaknya mengerikan. Anak berani memilih terpisah selamanya dengan  ibu. Padahal, sang ibu tengah mencoba menyambung kembali keterpisahan di antara keduanya.  

Keterpisahan anak dan orang tua memang pedih. Obat kepedihan paling ampuh adalah kepedulian orang terdekat. Si mungil Gina dalam cerpen Gina karya Viktor Ara mencerminkan hal itu.

Gina, gadis kecil delapan tahun, menghabiskan hari-harinya di samping kios pasar. Ia selalu duduk di atas karung beras. Gina bisa menangis dan tertawa pada menit yang sama. Ia terpisah dari kenormalan orang-orang pasar yang menganggapnya gila. Mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri, sedangkan Gina semakin terasing dan terpisah di sela gelombang air matanya. Bersyukur masih ada kakak yang peduli.

Keterpisahan dengan orang-orang pasar bertumpuk dengan keterpisahan Gina dengan bapaknya yang tewas dalam kebakaran pasar. Gina tak menolak ketika ia terpisah dari orang-orang pasar, tetapi ia selalu mencoba tak-terpisah dengan bapaknya. Gina dan kakaknya menyalakan lilin mungil di tempatnya duduk sepanjang hari.

“Ini adalah kuburan ayah kami yang terbakar dengan kios kami satu setengah tahun silam.” (Lawi, 2020: 145)

Sementara itu, cerpen Antara Hujan dan Air Mata karya Riko Raden mengelindankan tiga keterpisahan dalam diri seorang perempuan bernama Maria. Ia pulang dari sawah dengan gelak tawa, teriakan meratap, dan tubuh berbalut sampah. Ia terpisah dari masyarakat. Sesungguhnya, keterpisahan itu hanyalah akibat.  Penyebab utama keterpisahan itu adalah dua keterpisahan yang lebih menyakitkan. Pertama, Maria terpisah dari suaminya yang mati mendadak. Kedua, Maria merasa terpisah dari Tuhan yang tak jua mengabulkan doanya memohon hujan.

Komplitlah keterpisahan Maria. Setelah terpisah dengan suaminya dan Tuhan, Maria diperhadapkan pada fakta manusia-manusia yang membuang sampah di sungai. Ia terancam terpisah dari alam yang bersih. Maria pun mengacungkan parang ke udara untuk menghardik orang kampung yang hendak membuang sampah di tepi kali.  

“Jangan buang sampah sembarangan. Pergi. Manusia-manusia keparat. Perusak lingkungan. Gara-gara ulah kalian hujan tak kunjung datang. Pergi!” (Lawi, 2020: 123)

Meski ada kejanggalan logika ketika ‘membuang sampah menyebabkan hujan enggan turun’, Maria mencoba merawat kewarasan masyarakat dengan mengusir orang-orang yang mengotori sungai.

Keterpisahan ternyata juga menerkam pendidik dan naradidik. Pendidik(an) yang mestinya bisa menjalankan peran mulianya sebagai pencegah segala keterpisahan justru menjadi sumber keterpisahan. Cerpen Ponakan karya Felix K. Nesi dan Laki-laki yang Mati Diam-Diam karya Afryantho Keyn menjadi narasi komplementer dimana pendidik dan naradidik sangat rentan terjangkit keterpisahan.

Ponakan bercerita tentang  seorang pendidik yang menggantung leher ponakan sendiri pada pohon cemara lantaran sering menganggu  konsentrasinya menulis. Sementara Laki-laki yang Mati Diam-Diam bercerita tentang Yosman, naradidik yang hidup bersama ayah seorang. Perundungan mental di sekolah membuatnya berontak dalam rupa kenakalan. Ia sering babak belur dikeroyok warga karena suka mencuri dan mabuk.  Yosman merantau ke Malaysia secara ilegal. Tak lama, Yosman pulang setelah keluar masuk hutan dikejar polisi. Perahunya celaka, mayat Yosman ditemukan di pantai. Segelintir warga menguburnya dekat gelaran pesta. Semua abai, termasuk rohaniwan yang dikenal sebagai pemerhati gangguan jiwa.

Pendidikan tinggi pun memanggul tanggung jawab atas penyakit keterpisahan yang mendera mahasiswa. Laki-Laki yang Melihat UFO karya Alex Pandang layak dicermati untuk meneropong hal tersebut. Ada mahasiswa bernama Lazarus yang berasal dari golongan tau ata (keturunan hamba), kasta terendah dalam budaya Sumba. Lazarus adalah perpaduan ketampanan, kecerdasan, dan ketenaran. Namun, ia menyimpan kesulitan ekonomi. Ayahnya yang petani sirih dan pinang musiman tak sanggup mengirimkan uang bulanan.

Lazarus naik gunung bersama untuk menenangkan diri. Sial, ia jatuh terperosok. Teman-teman menemukan Lazarus dalam kondisi hilang kewarasan. Bisikan UFO memenuhi kepalanya. Keluarga menjemput Lazarus pulang. Keluarganya dicibir. Sebagian menuding Lazarus kena kutukan leluhur karena mengingkari kodratnya sebagai tau ata. Pondok kecil di kebun belakang rumah menjadi pilihan terakhir untuk memasung Lazarus.

Keterpisahan manusia dengan entitas sosial yang melingkupinya bisa jadi penanda betapa terpisahnya manusia dengan Pencipta. Pergulatan itu terentang sepanjang sejarah umat manusia. Manusia pun mencoba kembali pada kondisi tak-terpisah dengan Pencipta. Ikhtiar rohani tersebut ada kalanya ditempuh dengan memohon bimbingan rohaniwan. Tak pelak, rohaniwan sebagai pemimpin punya peran mulia mengajak manusia tak-terpisah dengan Pencipta. Namun, ikhtiar rohani tak pernah selancar seremoni.  

Cerpen Orang Gila Berisik Sekali karya Yuf Fernandes dan Pasung karya Defri Ngo mengajak kita mengritisi ulah rohaniwan yang bertindak melawan panggilan rohaninya.  

Dalam Orang Gila Berisik Sekali ada Maria dan Tryana, sepasang ibu dan anak. Keduanya hidup dalam lingkaran perundungan selangkangan. Maria memilih bunuh diri setelah membunuh lelaki yang menghancurkan hidup Tryana. Anak itu pun menjadi pelacur gila. Seorang calon pastor yang seharusnya menjadi payung hujan justru menjadi serigala selangkangan. Tryana melanjutkan hidup dalam pasungan di bawah pohon Ketapang depan gereja. Namun, Pencipta selalu punya cara merengkuh manusia ke dalam dekapanNya.

“Orang-orang yang melihat semua itu berkata satu sama lain, “Sungguh orang itu tidak bersalah.” (Lawi, 2020: 88).  

Berikutnya adalah keterpisahan lantaran rohaniwan terpasung kesempitan berpikir. Rofinus yang terpasung dalam cerpen Pasung merasakan pahitnya lahir dari rahim ibu dalam keadaan terpasung tradisi. Si ibu tak bisa menghelat tradisi menyambut kelahiran anak karena tak punya cukup biaya. Suaminya merantau tanpa kabar.

“… saya bagai hidup seorang diri. Tidak ada seorang pun yang membantu hidup saya. Semua orang begitu jauh.” (Lawi, 2020: 110).

Rofinus tumbuh menjadi anak gila. Kerap bernyanyi dan berteriak tengah malam. Orang-orang memasungnya. Seorang pastor tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Rofinus mati dalam keterpisahan di bawah langit yang berubah warna oleh kembang api orang-orang yang merayakan Natal.

Dalam bahasa matematika, keterpisahan bisa dikatakan sehimpunan dengan bilangan π{\displaystyle \pi \,\!} (pi), bilangan irasional sekaligus transendental. Desimal bilangan irasional tidak akan pernah berakhir dan tidak akan pernah memiliki pola yang sama. Digit-digit desimalnya terdistribusikan secara acak. Transendensi bilangan pi mengerucut pada ketidakmungkinan mengkuadratkan lingkaran dengan hanya menggunakan jangka dan penggaris. Sejak ribuan tahun lalu sampai hari ini, tak satupun matematikawan menemukan jawaban memuaskan.

Keterpisahan pun irasional sekaligus transendental. Ia acak dan tidak akan berakhir. Ia adalah teka-teki yang membersamai garis sejarah umat manusia.

***



====================
Wahyu Kris, pendidik dan penulis. Menulis esai, opini, cerpen, dan puisi. Nyaris semua tulisannya yang tersebar di berbagai media bertema pendidikan, sastra, dan seni budaya. Menjadi peserta terpilih Honeywell Educator Space Academy di NASA Education Centre, Alabama, USA (2016). Menjadi peserta terpilih Borobudur Writer and Cultural Festival (2018). Mendapatkan penghargaan Adi Acarya Award Gerakan Menulis Buku Indonesia (2019) dan Kepala Sekolah Inovatif Literasi Kemendikbud (2020). Menulis buku Mendidik Generasi Z dan A (2018) dan Secangkir Kopi Inspirasi (2019). Pemenang 2 Sayembara Kritik Sastra Nasional Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (2020). Bergiat di komunitas Sastra Tiga Indonesia. Senang diajak berkawan lewat IG wahjoekris ataupun FB Wahjoekris.

Buku Cetak Tak Lagi Diminati?

0

Digitalisasi sempat membuat beberapa pihak (dalam hal ini berarti penerbit dan penulis) ketar-ketir tentang nasib percetakan buku mereka. Mereka khawatir buku cetak tak lagi diminati sebab e-book lebih mudah dicari. Mereka takut buku cetak hanya akan menjadi kenangan karena e-book telanjur memberikan kenyamanan. Padahal; fakta yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Fakta telah membuktikan bahwa e-book tidak lebih diminati daripada buku cetak. Fakta yang pertama adalah penuturan General Manager Penerbit Republika (Syahruddin El-Fikri) yang menyebutkan bahwa tren penjualan buku cetak dari tahun ke tahun di era online atau digital masih terus mengalami peningkatan.  

Fakta yang kedua adalah hasil riset yang disampaikan oleh Muhammad Syarif Bando (Kepala Perpustakaan Nasional). Syarif menyampaikan bahwa dari 132 juta pengguna internet di Indonesia, hanya 2,5% pengguna yang mengakses ilmu pengetahuan (termasuk membaca buku). Hal ini menunjukkan bahwa akses kebutuhan ilmiah dan literasi masih cenderung memakai buku teks atau cetak daripada bentuk digital atau elektronik. Fakta yang ketiga adalah hasil riset yang telah dilakukan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada tahun 2016 tentang penjualan buku di Indonesia. Wakil Ketua Bidang Humas, Riset, dan  Informasi IKAPI Pusat (Indra Laksana); menyatakan bahwa masyarakat pembaca Indonesia lebih memilih buku fisik (cetak) daripada buku digital (e-book). Fakta yang keempat sekaligus yang terakhir adalah survei dari Pew Research Center (pusat penelitian di Amerika Serikat yang merilis informasi tentang tren isu sosial, opini publik, dan demografi di Amerika Serikat dan dunia) tentang minat baca di kalangan warga Amerika. Hasil survei menunjukkan bahwa 65% warga Amerika lebih memilih membaca buku cetak dalam setahun belakangan ini daripada buku dalam bentuk digital.

Fakta-fakta yang telah disajikan di atas seharusnya sudah cukup untuk menghilangkan rasa ketar-ketir pihak penerbit maupun penulis tentang eksistensi buku cetak yang mereka terbitkan. Buku cetak akan tetap baik-baik saja, meskipun diterpa arus digitalisasi yang tiada hentinya. Terdapat beberapa faktor yang membuat buku cetak tetap diminati, diantaranya adalah sebab era digital justru membantu penjualan buku cetak melalui lapak online. Misalnya saja gramedia.com, togamas.com, berdikaribook, mojokstore, dan situs-situs jual-beli buku lainnya. Era digital mampu mempermudah pembaca dalam melengkapi koleksi bacaannya tanpa perlu ribet berdandan untuk pergi ke toko buku offline. Keberadaan teknologi digital yang dikhawatirkan menjadi ancaman, ternyata berbalik menjadi kesempatan.

Faktor lainnya yang membuat buku cetak lebih diminati adalah karena aspek kenyamanan yang diberikan adalah kenyamanan semu, sebab menikmati buku dengan format digital masih dipenuhi keterbatasan. Batasan yang dimaksud adalah pancaran sinar radiasi dari gawai yang membuat pembaca tidak bisa berlama-lama menatap layar telepon cerdas atau komputer. Faktor terakhir yang membuat buku cetak lebih diminati adalah fakta bahwa membaca buku cetak lebih menyehatkan daripada buku digital. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian Harvard Medical School di dalam Proceedings of The National Academy of Sciences yang menyebutkan bahwa cahaya yang dihasilkan oleh e-book dapat menyebabkan kesulitan tidur bagi pembacanya. Sementara itu, tidur yang kurang berkualitas dapat meningkatkan faktor risiko penyakit kardiovaskular dan penyakit metabolisme (seperti kanker, obesitas, dan diabetes).

Digitalisasi Membuat Para Penulis Merugi?

Berdasarkan pada uraian sebelumnya, telah ditunjukkan bahwa digitalisasi tidak akan membuat para penulis merugi. Jika diamati lebih jauh, sebenarnya digitalisasi lebih memperlebar ruang gerak para penulis. Selain membukukan karya; di era digital, para penulis bisa menerbitkan serpihan-serpihan tulisannya (karya-karya tipis, seperti esai ringan, puisi yang hanya beberapa lembar, atau cerpen yang hanya beberapa halaman) di beberapa media online yang selalu mengupdate kontennya setiap hari. Tak hanya itu, beberapa media online juga menyediakan honorarium bagi penulis-penulis yang karyanya dimuat (seperti detik.com, mojok.co, kurungbuka.com, bacapetra.co, buruan.co, islami.co, alif.id, iqra.id, dan beberapa media online lainnya). Hal ini tentu saja menjadi pundi-pundi keuntungan bagi para penulis, sebab hobi menulis yang menjadi kebahagiaan mampu menjadi penopang kehidupan.

Benarkah Buku Digital Lebih Praktis dari Buku Cetak?

Jawaban dari pertanyaan di atas bergantung pada satuan ukur yang digunakan, sebab satuan ukur yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda pula. Komparasi nilai praktis antara buku digital dan buku cetak ditentukan oleh karakter dan kebutuhan pembaca (inilah satuan ukurnya). Perbedaan karakter pembaca akan mempengaruhi nilai praktis dari buku digital maupun buku elektronik. Bagi seseorang dengan karakter teliti, fokus, dan mumpuni dalam literasi digital; buku digital tentu saja lebih praktis baginya. Namun bagi seseorang dengan karakter teledor, sulit fokus, dan tidak mumpuni dalam literasi digital; buku cetak tentu lebih praktis baginya.

E-book yang tersimpan di dalam smartphone atau flash disk rentan mengalami kendala teknis bagi seseorang dengan karakter teledor dan sulit fokus. Misalnya saja, flash disk yang hilang, tertinggal, atau bahkan jatuh ketika dalam perjalanan sebab saking teledornya. Tidak hanya itu masalah teknisnya, bisa saja file e-book di dalam smartphone terhapus karena kecerobohan me-restart atau smartphone kehabisan daya baterai ketika hendak dibaca pada saat yang genting (misalnya untuk kepentingan presentasi pembelajaran atau urusan pekerjaan). Selain itu, buku digital sering tersimpan di dalam benda-benda berharga mahal (smartphone, tablet, atau notebook), sehingga memiliki risiko kehilangan lebih tinggi daripada buku cetak. Sejauh pengamatan penulis, penulis belum pernah menjumpai maling buku. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa buku digital tidak selalu lebih praktis dari buku cetak.

Sebuah Simpulan

Akhir kata, penulis hanya ingin menyampaikan bahwa buku cetak masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat, sebab kelebihan-kelebihannya yang tidak dimiliki oleh buku elektronik. Digitalisasi merupakan bagian dari arus perkembangan zaman yang tidak akan bisa dihindari. Satu-satunya pilihan yang dimiliki adalah memanfaatkan ancaman yang dibawa oleh digitalisasi untuk diolah menjadi sebuah kesempatan.




=====================
Akhmad Idris, lahir 1 Februari 1994. Lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat ini menjadi seorang dosen bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra Satya Widya Surabaya. Karya solonya yang telah diterbitkan adalah buku kumpulan esai berjudul Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia (2020). Baru-baru ini ia lolos dalam seleksi terbuka peserta Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) yang ke-3 yang diadakan oleh Balai Bahasa. Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa media cetak seperti: Harian Surya, Kompas, Harian Fajar, Harian BMR Fox, Harian Sultra, New Malang Pos, dan beberapa platform digital. Selain menulis, Ia juga sering mengisi beberapa kepelatihan Jurnalistik.

Ingatan yang Menyakitkan

0

“Seseorang mengatakan bahwa semuanya harus dibuang. Apa yang kau ingat adalah semua yang perlu diingat.”

“Bagaimana jika aku hanya mengingat rasa sakit? Lalu apakah hanya rasa sakit itu yang akan ada?”

Kalimat di atas adalah dialog antara Maria dan Rita, dua tokoh di antara sepuluh lainnya yang bernama Sofia, Pedro, Irene, Tatiana, Lydia, Enriques, Aurora, Hector, Eva, dan putri mereka (tanpa nama, digambarkan sebagai anak yang tak dapat berbicara). Semua nama tokoh itu mewakili warga Uruguay yang mengalami trauma akibat kekerasan politik di negaranya sehingga harus melarikan diri ke Norwegia.

Kisah sedih dan traumatis tersebut terangkum dalam sebuah naskah drama yang dibukukan dengan judul Waktu Tanpa Buku (WTB). WTB mengisahkan para eksil yang memanggil ingatan tentang tragedi berdarah saat demokrasi dirampas oleh para diktator.  Naskah asli berjudul Time Without Books (Oberon Books, London, 2019) ditulis oleh Lene Therese Teigen, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Faiza Mardzoeki, dan penggarapan pementasannya di Indonesia dilakukan oleh 5 kelompok teater dari 5 kota.

Pementasan itu sendiri merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang diinisiasi oleh Institut Ungu dalam rangka menyambut 16 Hari kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan Hari Hak Asasi Manusia, pada 25 November – 10 Desember 2020. Selain menyelenggarakan diskusi, kegiatan bertajuk Dialog Seni dan HAM tersebut juga mementaskan  pertunjukan teater film secara daring 1-10 Desember 2020. Pentas teater WTB diproduseri oleh Faiza Mardzoeki, digarap oleh 5 sutradara perempuan; Shinta Febriany dari Kala Teater (Makassar), Heliana Sinaga dari Mainteater (Bandung), Ramdiana dari Serikat Sapu Lidi (Aceh),  Ruth Marini dari Ruang Kala (Jakarta), dan Agnes Christina dari Yogyakarta juga Wawan Sofwan sebagai konsultan pertunjukan.

Mengalah Namun Mencari Celah

Sepertinya kalimat subjudul di atas tepat dijadikan ungkapan dalam situasi sekarang ini. Dunia dikepung pandemi, dan semua daftar rencana porak poranda dibuatnya. Tentu saja kita semua kali ini mesti mengalah untuk tidak ngotot menjalankan rencana dengan cara biasa. Dan sebagai manusia dengan kemampuan berpikir yang baik, kita harus mencari celah, bagaimana agar agenda bisa tetap terlaksana.

Begitu pula dengan WTB, sebuah rencana pementasan teater yang sejak awal akan digarap dan dipertunjukkan pada 2020 ini, harus melakukan adaptasi. Setelah nyaris semua acara selalu dilaksanakan daring, pentas ini pun mengikuti. 

Penamaan “Teater Film” itu tentu bukan tanpa alasan. Konsep pertunjukan teater di atas panggung tak mungkin dilakukan sebagaimana biasanya, harus dilakukan penyesuaian sesuai protokol kesehatan yang berlaku. Pendekatan garapan film pun dilakukan. Teknik pengambilan gambar yang tidak terfokus ke satu titik di panggung seperti pentas biasa, membuat tim produksi memiliki kreativitas berbeda. Pilihan pertunjukan daring jadi solusi yang dianggap cukup tepat, sehingga tetap dapat memberikan suguhan yang ciamik pada penonton.

Masa Lalu yang Menghantui

Jadwal pertunjukan teater film selama 10 hari itu dibagi jadi dua hari untuk masing-masing kelompok teater. Masa tayangnya dimulai sejak pukul 19.00 hingga pukul 22.00 keesokan harinya.

Kala Teater dari Makassar mengawali pertunjukannya pada 1-2 Desember 2020 dengan memunculkan 6 orang berbaju putih, berkacamata hitam, dengan kepala dibebat topeng wol berwarna merah. Para pemain memasuki  “panggung” sambil memutar-mutar badan masing-masing, kemudian kertas-kertas yang mereka pegang satu persatu berjatuhan. Adegan ini seolah simbol dari setiap bacaan para tokohnya yang kemudian terpaksa harus dibuang. Adegan demi adegan selanjutnya tetap terasa seperti menonton teater di atas panggung, dengan properti yang ditambahkan atau diambil sembari aktornya keluar masuk. Walaupun mestinya bisa dilakukan pengambilan gambar secara close up, Kala Teater masih teguh mempertahankan konsep pertunjukan teaternya dengan kuat. Tapi yang cukup menarik adalah sisi artistik yang dibangun dari warna-warni kontras di atas panggung, tubuh yang terjatuh dan bangun berulang, kursi yang dimainkan, hampir seluruhnya menyuguhkan tampilan estetik tanpa mengurasi emosi kesedihan yang mewarnai kisahnya. Terutama saat Pedro menceritakan bagaimana dia mengalami kengerian siksaan di penjara dengan detail.

Giliran kedua jatuh pada pertunjukan berdurasi 52 menit dari Yogyakarta. Agnes Christina membuat pementasannya di alam terbuka. Dengan pakaian para pemain berwarna putih, tampak kontras dengan rerumputan hijau di taman. Dan warna merah buah semangka menambah tegas impresi yang ingin disampaikan. Percakapan-percakapan anggota keluarga di tengah kegiatan piknik mereka membuka lembaran  trauma masa lalu. Kegembiraan piknik tak terlalu kentara dalam senyuman, yang ada hanyalah kepedihan kenangan. Dialog Pedro sempat terkalahkan suara air di latar belakang, tapi ekspresi para pemain mengirimkan rasa sunyi yang cukup memiliki daya renung.

Mainteater dari Bandung membuat pembabakan pentas seperti naskah aslinya, 23 bagian. Setiap judul babak dimunculkan sebagai permulaan menuju babak selanjutnya. Penyesuaian dilakukan dalam bagian interogasi. Ketakutan dan kebingungan aktor ditonjolkan untuk menghadirkan rasa mencekam. Durasi pementasan yang paling panjang di antara kelima kelompok teater jadi bukti bahwa Mainteater  menganggap setiap babak dalam kisah WTB penting untuk disampaikan pada penonton. Ruangan gelap dengan koran-koran dan tulisan berserakan, mesin ketik sebagai media menulis ulang peristiwa, boneka beruang, benang wol merah, jadi sarana para aktor mempresentasikan peristiwa penuh tragedi.

Kelompok Serikat Sapu Lidi mendapat giliran pentas pada 7-8 Desember 2020. Sepanjang 1 jam 19 menit, pengisahan trauma para tokoh dimulai dengan musik dan senandung penuturan hikayat khas Aceh. Para aktor perempuan berkerudung memainkan tokoh wanita, dan seorang laki-laki memerankan Pedro dan Hector sekaligus. Sebuah pohon di atas panggung menjadi artistik panggung berundak dengan kain dan kotak yang digantungkan di rantingnya. Kotak sebagai simbolisasi ingatan yang disimpan, rahasia masa lalu yang disembunyikan, namun tetap menjadi bagian dari diri para tokoh.

Ruang Kala sedikit berbeda, mereka memberi suguhan yang mendekati bentuk film pendek. Pengisahan dilakukan oleh setiap tokoh yang bermonolog. Teknik pengambilan gambar yang sinematik, dan pemilihan cast yang tepat dari lintas usia, membuat suguhan yang berdurasi 39 menit 24 detik itu bisa dinikmati dengan baik dan meninggalkan kesan dengan gema yang panjang di benak penonton. Tokoh anak diperankan oleh dua anak kecil, dan tokoh dewasa lainnya memiliki karakter kuat dalam setiap adegan. Pedro yang menceritakan kembali trauma akan siksaan, Lydia yang mengenang masa-masa penantian yang seolah tanpa ujung. Menanti suaminya dibebaskan atau mati, menanti suaminya pulang.  Rita yang gembira karena akan menikah tapi dibebani pertanyaan mengapa kedua orang tuanya, Sofia dan Pedro, menyembunyikan kisah masa lalunya dan tak mau menceritakan apa yang mereka alami. Kalimat Aurora, anak kecil yang manis itu, “Kalian tidak akan bisa melupakan aku,” jadi penutup yang bergaung. Tidak seperti kelompok teater lain yang menunjukkan bagaimana tari tango diakukan oleh Sofia dan Pedro jadi tarian yang indah sekaligus memilukan, Ruang Kala justru memberikan sajian gambar mengharukan ketika Lydia dan Enrique berpelukan setelah suaminya itu dibebaskan.

Penjara Ingatan

Lima kelompok teater tersebut telah menyajikan interpretasinya masing-masing pada naskah yang memiliki benang merah dengan peristiwa rezim politik di Indonesia. Uruguay mengalami periode kediktatoran dari 1973 sampai 1985. Pada tahun itu, sekira 20% penduduk Uruguay dipenjara, dalam waktu lama atau singkat, dan 10% diasingkan ke negeri lain. Mereka yang mengalami peristiwa tersebut tak pernah bisa betul-betul melupakan bagaimana rasanya hidup dalam teror dan ketidaktenangan. Kecemasan demi kecemasan mendera mereka dalam penjara ingatan.

Di Indonesia pun pernah terjadi pelanggaran HAM berat yang menorehkan luka sejarah. Ingatan yang menyakitkan tentang kekelaman bangsa Indonesia pun menghantui para pelaku sejarah dan orang-orang yang mengalami kekerasan di masa Orde Baru, yang dianggap sebagai rezim yang mengekang hak rakyat dalam banyak bidang, terutama hak untuk menjadi berbeda dalam pilihan politik dan idealismenya. Diberitakan banyak orang bisa tiba-tiba hilang tanpa jejak setelah memprotes keras, atau dimasukkan sel prodeo setelah menyuarakan gugatannya. Orang-orang bisa tiba-tiba dicap melawan pemerintah, jika terlalu melawan arus di saat itu.

Pertunjukan teater film Waktu Tanpa Buku menggugah sisi kemanusiaan kita, menggedor kesadaran bahwa sejarah dan masa lalu itu bukan hanya cerita milik kita sendiri, tapi juga milik anak-anak kita,  berpengaruh terhadap kehidupannya kelak. Kebenaran yang ditutupi akan terbuka pula pada akhirnya, sebab kenangan dapat menjadi sesuatu yang utama. Kenangan baik ataupun kenangan buruk. Serangkaian kenangan baik akan terus melekat, menjadi rasa bahagia yang bisa diingat. Kenangan buruk membuat kita merasa ingat sekaligus tak ingin mengingat, kita mengingat rasa sedih tanpa merasa sedih, tapi trauma yang membekas mempengaruhi langkah dan keputusan kita, bahkan secara tidak sadar. Jadi, walaupun diingkari dan berusaha dilupakan, sejarah kelam yang pernah mewarnai perjalanan kehidupan sebuah bangsa tetap akan tinggal dalam ingatan.

Semoga tahun-tahun kelam Indonesia yang memiliki kemiripan kisah dengan sejarah Uruguay dalam naskah WTB ini tidak akan pernah terulang lagi di masa depan. Semoga semua bangsa di dunia tidak perlu lagi mengalami kegetiran hidup yang menyakitkan dalam ingatannya.


====================
Ratna Ayu Budhiarti, penulis dan penikmat seni. Karyanya telah dimuat di berbagai media cetak lokal dan nasional serta diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Rusia, dan Korea. Menjadi peserta terpilih di beberapa acara sastra, di antaranya: Festival Puisi Internasional Indonesia (2012), Ubud Writers and Readers Festival (2012). Diundang oleh PENA Malaysia sebagai pembicara dan pembaca puisi (2016), serta Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (2018, 2019). Mengisi workshop dan menjadi juri pada beberapa lomba tingkat nasional. Buku puisi terbarunya, Sebelas Hari Istimewa (2019). Guru yoga ini baru saja menerbitkan kumpulan cerpen terbarunya, Perempuan yang Berhenti Membaca.

Suara di Aksara

0

Di novel anak garapan Kate DiCamillo, pemenang Newberry Book 2004, berjudul The Tale of Despereaux (2005), si tikus kastil Despereaux dihukum buang ke ruang tahanan bawah tanah sejak ketahuan mencintai seorang putri sekaligus menawarkan persahabatan. Setiap tikus kastil yang dibuang ke ruang bawah tanah, pasti tidak akan bertahan hidup. Ruang bawah tanah dijaga oleh sipir bernama Gregory yang kesepian dan terkesan sangar. Namun, Despereaux selamat dari kematian karena membisikkan cerita-cerita ke telinga Gregory. Meski kegelapan begitu pekat dan kehidupan bawah tanah begitu muram, telinga Gregory tetap awas, rindu, dan bahagia menerima cerita.

“Cerita ibarat cahaya. Cahaya sangat berharga di dunia yang begini gelap. Mulailah dari awal. Berceritalah pada Gregory. Hadirkan cahaya,” ucap Gregory yang selama bertahun-tahun bertungkus lumus dengan kegelapan, kesepian, dan kemuakan pada tikus got. Dan di halaman penutup buku, Kate DiCamillo berpesan agar pembaca menganggap Kate seolah Despereaux yang bercerita untuk saling menghangatkan dalam kegelapan. Kisah Despereaux jelas produk (aksara) cetak. Di luar permintaan Kate DiCamillo untuk dianggap sebagai penutur atau pendongeng, buku itu memang terkesan mewakili suara kelisanan untuk telinga-telinga yang merindukan bunyi.

Kelisanan dan keaksaraan dalam cerita anak hadir saling berkelindan, terkadang tumpang tindih, atau berbarengan. Meski penemuan teknologi cetak atau tulisan cenderung berpotensi menghabisi yang lisan, riwayat kelisanan yang panjang di Nusantara masih begitu kuat meninggalkan ciri pada keaksaraan. Bisa dikatakan bahwa fondasi awal sastra (anak) adalah suara. Orang-orang menyukai suara, terlebih anak-anak. Kita pun mengingat dalam peristiwa kelahiran, indera pertama yang peka adalah pendengaran.

Sastra anak adalah sastra yang dibunyikan. Hal ini terbukti lewat bagaimana prosa bagi anak, entah bentuknya cerita rakyat, folklor, cerita pendek anak, atau cerita bergambar ditampilkan atau dituliskan kembali. Di sampul depan, biasanya kita menemukan pernyataan “diceritakan kembali” atau “dikisahkan oleh”. Walter J. Ong (2013) mengatakan bahwa pergeseran kelisanan menuju keaksaraan terjadi pada aneka seni verbal (sajak, narasi, wacana, deskriptif, seni berpidato, drama, historiografi, biografi, karya-karya filosofis ataupun ilmiah). Narasi menjadi yang paling banyak memantik perhatian,  “…saya menyebut kelisanan suatu budaya yang sepenuhnya tidak tersentuh pengetahuan apa pun mengenai tulisan atau cetakan sebagai “kelisanan primer”. Kelisanan tersebut bersifat “primer” bila dibandingkan dengan “kelisanan sekunder” budaya teknologi tinggi masa kini, yang di dalamnya suatu kelisanan baru disokong oleh telepon, radio, televisi, dan alat elektronik lain yang keberadaan dan fungsinya tergantung pada tulisan dan cetakan. Budaya lisan primer masa kini dalam makna ketatnya nyaris tidak ada, karena semua budaya mengenal tulisan dan punya pengalaman mengenai efeknya. Meski begitu, dalam tingkatan yang berbeda-beda, banyak budaya dan subbudaya, bahkan dalam suasana teknologi tinggi, mempertahankan sebagian besar pola pikir kelisanan primer.”

Betapa pun canggih pendidikan modern membawa anak-anak menyadari diri sebagai bagian dari masyarakat keaksaraan dan melek cetak, mereka secara naluriah masih membutuhkan suara ragawi untuk memasuki jagat imajinasi. Kita sadar, peristiwa mendengar hari ini sangat jauh dari nuansa komunal dalam kosmologi adat. Sebagian sangat besar masyarakat saat ini tidak lagi terikat dalam komunitas-komunitas adat yang mengikat.

Buku bacaan anak lebih mutakhir, secara tersirat ataupun tersurat menekankan peran orangtua sebagai pencerita atau pendongeng. Tentu, kita bisa yakin orangtua lebih sadar dan melek aksara. Raga anak harus diasup makanan bergizi, sedang jiwanya harus diasuh oleh cerita-cerita bermakna. Di sini, rumah menjadi penting dan wilayah potensial untuk persemaian keaksaraan dibarengi oleh kelisanan. Salah satunya buku berjudul Istana dalam Perut Ikan dan Tiga Cerita Lainnya (Mizan, 2004) yang ditulis oleh Laila Hilaliyah dan digambari Pidi. Di sampul depan buku, ada label “Dongeng Sebelum Tidur.” Bersesuaian dengan label, buku secara khusus memberi halaman “Petunjuk bagi Orang Tua” untuk mendongengkan sebelum tidur dan orangtua bergaya seperti pendongeng.

Pendongeng Made Taro dalam penulisan-penceritaan kembali folklor Bawang dan Kesuna yang mengalami cetak ulang tiga kali (1997, 1998, 2000) oleh Balai Pustaka memiliki pengakuan lebih personal sekaligus kultural. Penerbit menulis, “Made Taro mendengar cerita ini ketika ia masih kecil yang diceritakan oleh ayah atau ibunya menjelang waktu tidur.” Sewaktu kecil, Made Taro menjadi seorang anak yang mendengar dan secara kultural menjadi bagian dari masyarakat kelisanan Bali. Ayah dan ibu Made Taro pasti berhasil membuat cerita Bawang dan Kesuna begitu hidup meski tanpa ilustrasi atau teks tercetak. Cerita itu diterbitkan ulang dan jelas mewujud sebagai produk keaksaraan.

Peralihan ini tidak saja menunjukkan peralihan suara ke teks, tapi juga kepemilikan. Secara kultural, Bawang dan Kesuna memang cerita rakyat dari Bali. Namun, sebaran buku memungkinkan cerita dimiliki pembaca Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Bangka, atau Papua yang juga mengingatkan cerita tentang anak perempuan baik dan anak perempuan jahat versi masing-masing daerah. Lantas dari teks, cerita sangat mungkin beralih lagi ke suara karena dibacakan oleh ibu kepada anak, guru kepada murid, atau seorang pendongeng kepada publik pendengar-pembaca anak.

Dalam teks keaksaraan, ciri kelisanan sering bahkan harus begitu kuat. Sampai hari ini, banyak cerita diawali dengan pengejawantahan waktu yang terkesan entah dan tanpa batasan, misalnya “pada suatu hari”, “pada zaman dahulu”, “dahulu kala”, atau “suatu ketika”. Begitu pernyataan terucap atau tertulis, dunia lain menawarkan penalaran pada tokoh, kejadian, kenyataan, atau perasaan-perasaan yang bisa diresapi atau terpantulkan dari diri pendengar. Tidak hanya tulisan berbasis kelisanan berjenis folklor, fabel, atau legenda mempertahankan pola ini seolah memang begitulah suatu kisah lumrahnya diawali dan spontan membayangkan sang narator bersuara daripada menulis.

Keampuhan “Pada suatu hari” atau “Pada zaman dahulu” bertambah sakti justru saat didukung teknologi. Ingat saja betapa populer acara berfigur kakek tradisional pencerita yang diidolakan kedua cucunya sekaligus penonton bocah di Indonesia. Kakek di tayangan salah satu stasiun televisi swasta ini memiliki tiga kata sakti “Pada zaman dahulu” yang seketika menghadirkan cerita-cerita dalam layar. Suara yang disokong teknologi ini tentu saja langsung disambut dengan antusias, entah antara bocah benar-benar rindu mendengar atau gerak animasi yang menyenangkan daripada sekadar menghadapi gambar diam dalam buku.

Namun, inilah tantangan yang sebenarnya dihadapi oleh kelisanan. Kelisanan sekunder, seperti dibahasakan Ong, hampir mengisi atau bisa dikatakan “menguasai” kebutuhan suara. Dari tontonan televisi sampai tayangan Youtube, suara dari teknologi lebih mudah dijangkau dan sanggup memberikan efek candu. Tidak dipungkiri memang teknologi menyokong sastra anak memenuhi kodratnya disuarakan. Misalnya saja membaca nyaring atau read-aloud lewat tayangan virtual yang belakangan sangat populer di masa pandemi, langsung menjadi alternatif sebelum ikatan kultural pada kelisanan primer ataupun intelektual pada keaksaraan benar-benar kuat tercipta.

Kelisanan dan keaksaraan harus berjalan berbarengan. Sastra anak adalah sastra yang dibunyikan, lalu dibaca. Anak-anak pasti sangat menyukai suara, bukan suara monoton menasihati atau suara seram mengkhotbahi. Suara itu cerita yang dibuka dari kedalaman buku. Suara yang membuat ilustrasi berpendar hidup dalam kepala. Pada mulanya, bersastra berarti mendengar. Untuk membuat cerita berumur panjang, harus ada suara berumur panjang pula.




=====================
Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2019). Tinggal di Boyolali.

Sepucuk Surat untuk Ayahku, Gabriel García Márquez

0



Gabo,

17 April adalah peringatan tahun keenam kematianmu, dan dunia terus berjalan seperti biasanya, di mana manusia berperilaku dengan kekejaman yang menakjubkan dan kreatif, kemurahan hati dan pengorbanan yang luhur, serta segala sesuatu di antaranya.

Satu hal yang baru: pandemi. Sejauh ini yang kita tahu, itu berasal dari pasar makanan di mana virus berjangkit dari hewan ke manusia. Satu langkah kecil untuk satu virus, tetapi lompatan besar untuk jenisnya. Itu dia makhluk yang berevolusi selama waktu yang tak terhitung melalui seleksi alam menjadi monster kecil yang rakus seperti sekarang. Tapi sangat tidak adil untuk merujuknya dalam istilah seperti itu, dan aku menyesal jika kata-kataku telah menyinggung. Sebenarnya tidak ada niat jahat khusus terhadap kita. Itu dialami dan terjadi, karena bisa. Tentunya, kita bisa tertaut. Ini bukan masalah pribadi.

Tiada hari berlalu tanpa aku menemukan referensi untuk novelmu “Love in the Time of Cholera,” atau irama pada judulnya atau pandemi insomnia dalam “Seratus Tahun Kesunyian”. Mustahil untuk tidak berspekulasi tentang apa yang akan kau ciptakan dari semua ini. Kau selalu terpesona dengan epidemi, nyata atau imajinasi sastra, serta dengan berbagai hal dan orang-orang yang berpulang.

Kau belum dilahirkan ketika pandemi flu Spanyol menjangkiti planet ini, tetapi kau tumbuh di sebuah rumah tempat dongeng berkuasa dan di mana wabah, seperti hantu dan penyesalan, pastilah tercipta untuk bahan sastra yang bagus. Kau mengatakan bahwa orang akan berbicara tentang peristiwa masa lalu sebagai hal-hal yang terjadi pada zaman komet, kemungkinan besar merujuk pada jatuhnya komet Halley di awal abad ke-20. Kuingat betapa berhasratnya kau melihatnya dengan mata kepala sendiri ketika kembali menjelang akhir milenium. Ini memukaumu, sebuah jam misterius yang menyerang masa hening setiap 76 tahun sekali, sebuah siklus yang mendekati waktu yang diberikan kepada manusia. Suatu kebetulan? Mungkin hanya ikan herring merah yang berbeda. Kau seorang ateis, tetapi kau juga merenungkan bahwa tidak dapat dibayangkan bahwa tidak ada rencana agung, ingat ‘kan? Tidak ada pencerita dari kisah itu. Dalam hal ini, kau kini memiliki lebih banyak wawasan daripada aku, barangkali.

Pandemi terjadi lagi. Terlepas dari kemajuan besar ilmu pengetahuan dan kecerdikan spesies kita yang paling terkenal, pertahanan terbaik kami sejauh ini adalah tetap tinggal di dalam rumah, bersembunyi di gua-gua dari pemangsa. Ini adalah momen yang merendahkan bagi mereka yang setidaknya memiliki sedikit kecenderungan ke arah kerendahan hati. Bagi yang lain, itu adalah hal yang mengganggu untuk dihancurkan.

Dua negeri yang kau sayangi, Spanyol dan Italia, termasuk yang paling parah. Beberapa teman tertua darimu memanfaatkan yang terbaik di flat yang sama di Barcelona, Madrid, dan Milan di mana kau dan Mercedes mengunjungi dalam waktu yang tak terhitung jumlahnya selama beberapa dekade. Pernah kudengar beberapa orang dari generasi itu mengatakan bahwa mereka bertekad untuk bertahan, jika bukan karena alasan lain kecuali menghindari terbunuh oleh flu setelah puluhan tahun bertahan dari kanker, tiran, pekerjaan, tanggung jawab, dan pernikahan.

Bukan hanya kematian yang membuat kami takut, tetapi juga keadaan. Jalan hidup terakhir tanpa perpisahan, dihadiri oleh orang asing yang berpakaian luar angkasa, mesin berbunyi tanpa perasaan, dikelilingi oleh orang lain dalam situasi serupa, tetapi jauh dari orang-orang yang kita cintai. Ketakutan terburukmu, kesepian.

Kau sering berbicara tentang “A Journal of the Plague Year” Daniel Defoe “sebagai salah satu pengaruh terbesar untukmu, tetapi sampai kemarin aku lupa bahwa bahkan favoritmu, “Oedipus Rex,” bergantung pada upaya raja untuk mengakhiri wabah. Itu selalu ironi tragis dari nasib raja yang berada di garis depan ingatanku, tetapi wabahlah yang melepaskan kekuatan yang memicu akhir. Kau pernah berkata bahwa apa yang menghantui kita tentang epidemi adalah mereka mengingatkan kita pada takdir pribadi. Terlepas dari tindakan pencegahan, perawatan medis, usia atau kekayaan, siapa pun dapat menarik angka sial. Nasib dan kematian, banyak subjek favorit penulis.

Kupikir jika kau ada di sini sekarang, kau akan, seperti biasa, terpesona oleh manusia. Istilah “laki-laki” tidak banyak digunakan dengan cara itu lagi, tapi aku akan membuat pengecualian bukan sebagai kesetujuan pada patriarki, yang kau benci, tetapi karena itu akan bergema di telinga pria muda dan  calon penulismu sekali waktu adalah, dengan lebih banyak kepekaan dan ide di kepalamu daripada yang kau tahu apa yang harus dilakukan, dan dengan perasaan yang kuat bahwa takdir ditulis, bahkan untuk makhluk dalam gambar Ilahi dan dikutuk dengan kehendak bebas. Kau akan mengasihani kelemahan kami; kau akan kagum pada keterkaitan kita, disedihkan oleh penderitaan, marah oleh kebodohan beberapa pemimpin dan digerakkan oleh kepahlawanan orang-orang di garis depan. Dan kau akan bersemangat mendengar bagaimana sepasang kekasih menantang setiap rintangan, termasuk risiko kematian, untuk bersama. Yang terpenting, kau akan disayang orang seperti sebelumnya.

Beberapa pekan yang lalu, selama beberapa hari pertama kami diasingkan di rumah, kepalaku berusaha menjelaskan kepada diriku sendiri apa artinya semua itu, atau setidaknya apa yang bisa keluar darinya. Aku gagal. Kabut itu terlalu berat. Sekarang hal-hal telah menjadi lebih kuantum, seperti yang terjadi pada akhirnya bahkan dalam perang yang paling menakutkan, aku masih tidak bisa membingkai semuanya dengan cara yang memuaskan.

Banyak yang yakin bahwa hidup tidak akan pernah sama. Mungkin sebagian dari kita akan membuat perubahan besar, lebih banyak dari kita akan membuat beberapa perubahan, tetapi aku curiga sebagian besar akan kembali ke pesta dansa. Tidak akan ada argumen yang baik untuk diajukan bahwa pandemi adalah bukti tentang hidup menghilang dengan cara yang paling tak terduga dan karenanya kita harus hidup besar dan hidup sekarang? Salah satu cucumu sendiri telah menyatakan pendapat itu.

Pembatasan gerak mulai longgar di beberapa tempat, dan sedikit demi sedikit dunia akan berusaha menjelajah ke arah normalitas. Bahkan melamunkan kebebasan segera sudah banyak yang mulai melupakan janji-janji mereka baru-baru ini kepada para dewa. Dorongan untuk memproses dampak pandemi pada diri kita yang terdalam, dan pada seluruh bangsa, semakin berkurang. Bahkan banyak di antara kita yang ingin memahami apa yang telah terjadi akan tergoda untuk menafsirkannya sesuai dengan keinginan kita. Belanja sudah mengancam akan kembali menjadi narkotika favorit kita.

Aku masih dalam kabut. Tampaknya untuk saat ini aku harus menanti para pakar, sekarang dan masa depan, untuk memetabolisme pengalaman bersama. Kutunggu hari itu. Sebuah lagu, puisi, film, atau novel akhirnya akan menggerakkan aku ke arah biasa di mana pikiran dan perasaanku tentang semua ini terbenam. Ketika aku sampai di sana, kuyakin aku masih harus melakukan beberapa penggalian sendiri.

Sementara itu, planet ini terus berputar dan kehidupan masih misterius, kuat, dan menakjubkan. Atau seperti yang biasa kau katakan dengan kata sifat yang lebih sedikit dan lebih banyak puisi, tidak ada yang mengajarkan apa pun tentang kehidupan.




===============
Rodrigo García (@rodgarcia59) adalah sutradara film “Four Good Days,” dibintangi Glenn Close dan Mila Kunis. Artikel ini diterbitkan New York Times, 6 Mei 2020. Diterjemahkan oleh Arpan Rachman, jurnalis lepas, yang menyelesaikan program sertifikasi English for Journalism dari University of Pennsylvania.

Kecenderungan Puisi Indonesia dalam Merespon Realitas Sosial

1

Arus modernisasi dan globalisasi yang dimotori oleh Barat telah membuat manusia modern tercerabut dari nilai budaya dan kearifan lokal. Dalam buku Muslim Tanpa Masjid (2001:96-97) Kuntowijoyo mengatakan, “Manusia terasing dari lingkungan yang sekian lama telah melingkupinya. Perasaan terasing ini menimbulkan hidup menjadi kurang bermakna dan frustasi (dehumanisasi)”.

Manusia modern ini menurut Kuntowijoyo (2013:17-19), terbangun dari pengaruh teknologi melalui mesin industri, yang kemudian penggunaan teknologi itu meluas dalam masyarakat di luar industri. Sebagaimana beragamnya penggunaan kata “teknik” dan “mesin” di berbagai bidang kehidupan, “teknik manusia” (human technique) melalui pendidikan, penataran, dan kursus-kursus. Hal itu menjadikan perilaku manusia mesin (l’homme machine), yang tidak lagi berdasar kepada akal sehat, nilai, dan norma. Pribadi yang semula bebas, utuh, dan rasional, bisa tenggelam dalam satuan yang disebut masyarakat massa. Massa menjadi satu-satunya entitas yang harus diperhitungkan. Kekuatan yang membentuk manusia dan masyarakat massa ialah teknologi (mekanisasi, industrialisasi), organisasi ekonomi (pabrik, pasar, advertensi), diferensiasi sosial (kelas, suku, agama), mobilisasi politik (negara, partai), dan budaya (sport, musik pop, pendidikan, media massa). Masyarakat massa terlahir dari manusia-manusia massa yang berperilaku manusia mesin. Mengutip Gabriel Marcel seorang filsuf Eksistensialis-Katolik, dalam masyarakat teknologis, manusia tidak lagi memahami dirinya berdasarkan gambaran tentang Tuhan (be image of God), tetapi gambaran tentang mesin (the image of machine).

Oleh sebab itu, seorang filsuf-penyair Muhammad Iqbal menyerukan kembali tentang keagungan, kekuatan, dan kegairahan hidup manusia. Muhammad Iqbal menyerukan pentingnya Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (terj. Ali Audah, dkk., 1982:xvii-xviii).

Di bidang filsafat, Roger Garaudy melalui dua bukunya yang terkenal, Janji-janji Islam dan Mencari Agama Abad Duapuluh, mempertanyakan kembali keberadaan filsafat analitik dan rasionalisme atau historis materialisme, yang mengalami jalan buntu karena dasar-dasar epistimologisnya meragukan, serta ekses-eksesnya yang mengasingkan manusia dari Tuhan dan dirinya sendiri (via Hadi WM, 2004:4).

Dalam pandangan Seyyed Hosein Nasr (terj. Hadi WM, 1994: 197-206), penyakit manusia modern yang parah karena kehilangan Tuhan, bisa dikurangi, suatu kehilangan yang dengan jelas digambarkan oleh kesusastraan dan seni modern dalam kekacauan yang dahsyat. Islam menyajikan pengobatan langsung terhadap penyakit ini. Secara umum, shalat menempatkan manusia dalam porosnya dan dalam dimensi vertikal yang tertuju kepada Sang Pusat. Tasauf adalah kendaraan pilihan untuk tujuan ini. Karena tasauf merupakan dimensi dalam daripada Islam, maka ia tidak bisa dipraktikkan terpisah dari Islam.

Sastra Transendental-Profetik

Pandangan-pandangan tersebut menjadi dasar bagi Kuntowijoyo terhadap pentingnya eksistensi sastra transendental dalam kehidupan Indonesia akibat dampak dari dehumanisasi global itu. Pada Temu Sastra 6-8 Desember 1982 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Kuntowijoyo menyerukan bahwa :

“Sastra transendental adalah kesadaran balik yang melawan arus dehumanisasi atau subhumanisasi. … Sebagai sebuah upacara bersih diri, sastra transendental menjadi sebuah ritual estetis. Simbol-simbol dalam sastra transendental berlalu sebagai formula-formula dari pesan pembersih. Jadi tujuan terakhir dari sastra transendental sebenarnya ialah manusia, bukan estetika itu sendiri. Karena hanya yang bermakna patut disebut sastra, maka sastra trandental harus sarat dengan makna. Sebagai manusia yang bertanggung jawab terhadap peradaban, kita ingin membuat dunia lebih bermakna, dan sastra adalah salah satu dari makna itu.”

Pada saat teks-teks sastra semacam itu, realitasnya memang ada dan eksis, Kuntowijoyo kemudian memperkenalkan apa yang kemudian dikenal sebagai sastra profetik. Hal itu dikemukakannya pada tahun 1986, dalam acara Temu Budaya, juga di Taman Ismail Marzuki.

Kesadaran ketuhanan (transendensi, Latin trancendere, melampaui) sudah banyak dalam sastra Indonesia, dan disebut dengan Sastra Transendental atau Sastra Sufi. Menurut Kuntowijoyo (2013:30), transendensi tidak harus berarti kesadaran ketuhanan secara agama saja, tetapi bisa kesadaran terhadap makna apa saja yang melampaui batas kemanusiaan. Meskipun demikian, Kuntowiyoyo yakin bahwa hanya di tangan orang beragamalah transendensi itu efektif bagi kemanusiaan sebab transendensi akan berarti iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ada perbedaan, namun semua agama setuju bila dikatakan bahwa peradaban dunia sedang mengalami krisis. Krisis peradaban itu menurut Muhammad Iqbal, Roger Garaudy, Seyyed Hosein Nasr, Kuntowijoyo, Abdul Hadi WM, dapat diatasi melalui transendensi.

Menurut Roger Garaudy dalam buku Janji-janji Islam, unsur transendensi ada tiga yaitu (1) pengakuan ketergantungan manusia pada Tuhan, (2) ada perbedaan yang mutlak antara Tuhan dan manusia, dan (3) pengakuan akan adanya norma-norma mutlak dari Tuhan yang tak berasal dari akal manusia (via Kuntowijoyo, 2013:31).

Dalam Islam, transendensi itu akan berupa sufisme. Kandungan sufisme, seperti khauf (penuh rasa takut), raja’ (sangat berharap), tawakkal (pasrah), qana’ah (menerima pemberian Tuhan), syukur, ikhlas, dan tingkatan-tingkatan ruhani selanjutnya adalah tema-tema Sastra Transendental.

Akan tetapi, menurut Kuntowijoyo (2013:10-15), sastra keagamaan selama ini dipahami oleh orang pada umumnya sebagai seni yang menggugah kesadaran ketuhanan belaka. Kesadaran ketuhanan ini barulah sepertiga dari kebenaran Sastra Profetik. Hal itu sebab Sastra Profetik mempunyai kaidah-kaidah yang memberi dasar kegiatannya sebab ia tidak saja menyerap, mengekspresikan, tetapi juga memberi arah realitas. Kaidah pertama, Sastra Profetik bermaksud melampaui keterbatasan akal-pikiran manusia dan mencapai pengetahuan yang lebih tinggi. Untuk keperluan itu Sastra Profetik merujuk pada pemahaman dan penafsiran Kitab-kitab Suci atas realitas, dan memilih epistimologi Strukturalisme Transendental. Kaidah kedua, sastra sebagai ibadah. Kaidah ketiga, keterkaitan antar-kesadaran, maka kesadaran ketuhanan harus mempunyai continuum kesadaran kemanusiaan dan sebaliknya.

Keinginan Sastra Profetik hanya sebatas bidang dimensi, itu pun sukarela, tidak memaksa. Etika itu disebut “profetik” karena ingin meniru perbuatan Nabi, Sang Prophet. Menurut Kuntowijoyo asal-usulnya begini:

Muhammad Iqbal dalam Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam mengutip ungkapan seorang sufi yang mengagumi Nabi dalam peristiwa Isra’-Mi’raj. Meskipun Nabi telah mencapai tempat paling tinggi yang menjadi dambaan ahli mistik, tetapi kembali ke dunia juga untuk menunaikan tugas-tugas kerasulannya.

Etika Profetik itu oleh Kuntowijoyo ditemukan dalam al-Qur’an Surah Ali Imran, 3:110, sebagai salah satu landasan penting Sastra Transendental (Sastra Sufi) yang menjadi bagian dari Sastra Profetik. Dalam ayat itu dinyatakan betapa dalam setiap tindakan seorang Muslim, dimensi sosial dan transendental harus sama-sama diperhatikan. Setelah menyatakan keterlibatan manusia dalam sejarah (ukhrijat linnas), Kuntowijoyo menafsirkan perkataan amar ma’ruf sebagai suatu ikhtiar pemanusiaan (humanisasi), dan nahi munkar sebagai pembebasan (liberasi) yaitu pembebasan dari belenggu materialisme dan kezaliman sewenang-wenang kuasa dunia, sedangkan yang terakhir tu’minima billah beriman kepada Tuhan sebagai ikhtiar transendensi yaitu kenaikan ke alam transendental atau ketuhanan.

Merespon Tradisi-Budaya

Berbagai cara dalam merespon realitas perkembangan kebudayaan modern, termasuk ideologi seni dan politik yang mempengaruhi sastra. Perkembangan tersebut melahirkan usaha untuk memadukan unsur-unsur tradisi dan modernitas. Ada beberapa sudut pandang dalam melihat terbentuknya tradisi dan kesinambungannya, di antaranya adalah lebih banyak dipengaruhi oleh kekuasaan politik dan orientasi budaya penguasa. Akan tetapi, ada pula yang melihat tradisi tidak semata-mata sebagai produk kuasa politik resmi, melainkan percaya bahwa nilai spiritualitas yang dibawa oleh sistem kepercayaan atau agama mengungguli faktor sejarah, dan dapat memberi corak tertentu kepada tradisi. Hal itu disebabkan oleh nilai-nilai universal yang ada dalam dirinya sendiri, walaupun secara politik mereka tidak memiliki kekuasaan. Corak pendekatan dan sikap tersebut dapat diidentifikasi dalam tiga kelompok kecenderungan: (1) mereka yang mengambil unsur-unsur budaya tradisional untuk keperluan inovasi dalam pengucapan, (2) mereka yang menumpukan perhatian hanya terhadap satu budaya daerah saja seperti Jawa, Minangkabau, Melayu Riau, Sunda, dan lainnya, (3) mereka yang mengambil tradisi langsung dari bentuk spiritualitas dan agama tertentu dengan kesadaran bahwa tradisi dan budaya masyarakat Indonesia terbentuk berkat masuknya beberapa agama besar seperti Hindu, Budha, dan Islam (Hadi WM, 1999:6).

Karya-karya yang termasuk dalam kecenderungan ketiga yang menonjol dalam dunia sastra ialah karya Danarto, Kuntowijoyo, M. Fudoli Zaini, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Mohamad Diponegoro, Ajip Rosidi, Emha Ainun Nadjib, K.H. A. Mustofa Bisri, D. Zawawi Imron, Ikranegara, Hamid Jabbar, Ajamuddin Tifani, Ahmad Nurullah, Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, dan beberapa lainnya.

Protes Sosial dan Eksplorasi Moralitas

Di samping cara merespon realitas kebudayaan modern yang mempengaruhi sastra melalui perpaduan unsur tradisi dan modernitas, bersamaan itu bertumbuhanlah sastra sosial keagamaan. Periode 1970-1990-an diwarnai oleh perkembangan realitas sosial di bawah perpolitikan rejim Orde Baru yang otoriter. Karenanya, kecenderungan puisi Indonesia dalam merespon realitas sosial mengarah pada dua tipologi, pertama dalam bentuk puisi “protes sosial”, dan kedua melakukan eksplorasi moralitas (melalui sastra transedental atau sufistik, dan sastra profetik).[]

=================

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Wachid lulus Magister Humaniora Sastra Indonesia UGM, jadi dosen-negeri di IAIN Purwokerto, dan lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo (15/1/2019). Buku terbaru karyanya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), dan Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus, Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020).

Kritik Sastra Dalam Kemandirian

1




Poin utama dalam membicarakan sastra adalah: kita musti paham batasan sastra. Lebih jauh lagi, kita perlu memahami apa itu sastra. Sejauh ini, sastra dijelaskan dalam pengertian yang kelewat variatif sehingga kadang-kadang malah terkesan terlalu cair, dan tidak ada batasan yang tegas.

Pada titik itulah masalah dalam kritik sastra muncul. Sulit bagi kita merumuskan teori kritik sastra manakala kejelasan definisi masih belum ditemui. Mengetahui definisi sastra beguna untuk memahami apa saja batasan-batasan dalam sastra. Batasan-batasan tersebut, berguna untuk menentukan apa yang harus dilakukan terhadap karya sastra.

Beberapa orang memahami sastra dalam pengertiannya sebagai tulisan. Pengertian tersebut amat problematis, sebab batasan sastra menjadi sangat tidak tegas. Seorang ekonom yang menulis tentang dampak covid-19 bagi ekonomi nasional, seorang matematikawan yang menulis dengan angka-angka, seorang kimiawan yang menulis zat dengan simbol-simbol kimia, dalam definisi tersebut, bisa dianggap sebagai sastrawan. Bahkan secara teoretis, seorang ayah yang menyuruh anaknya pulang melalui pesan telpon, juga merupakan seorang sastrawan. Maka pertanyaannya, apa yang membedakan sastrawan dengan ekonom, matematikawan, fisikawan, dan ayah di masa modern (yang sebagian besar menyuruh anaknya pulang melalui pesan telpon)?

Selain itu, pertanyaan lain pun perlu dijawab terkait definisi tersebut. Jika sastra dijelaskan dalam pengertiannya sebagai tulisan, apa sesungguhnya yang dipelajari? Atau barangkali sastra mau dianggap sebagai sinonim dari grafologi yang memang mempelajari tulisan.

Pengertian lain mengenai sastra misalnya terkait dengan sifatnya yang imajinatif. Pengertian ini kerap kali dikaburkan dengan pengertian bahwa imajinatif artinya bukan berdasarkan kebenaran, tidak sesuai dengan dunia riil. Karenanya, Kadang-kadang ada beberapa tokoh yang tidak dikenal dalam catatan sejarah dunia riil –kendati beberapa karya sastra bertalian dengan dunia riil.

Dalam pengertian tersebut, imajinatif, sejatinya tak lebih dari nama lain fantasi. Secara paradoksal, fantasi dianggap sebagai bagian dari sastra, namun di sisi lain fantasi adalah sastra itu sendiri.

Pengertian imajinatif sebagai fantasi, sesungguhnya merugikan bagi dunia kesusastraan kita. Beberapa karya besar, misalnya Tetralogi Buru, tidak serta-merta fantasi di dalamnya. Beberapa nama bisa kita kenal dalam catatan sejarah seperti Tirto Adi, Kartini, Thamrin, dan masih banyak lagi. Beberapa tempat dalam novel tersebut juga dapat ditemui dalam dunia riil, seperti Surabaya, Buitenzorg, Jakarta (Batavia), dan lain sebagainya. Maka, menganggap sastra sebagai imajinasi dalam pengertian fantasi berarti menganggap Tetralogi Buru sebagai bukan karya sastra.

Namun demikian, menganggap sastra sebagai sepenuhnya nyata–sebagai lawan dari fantasi–juga sama ruginya. Beberapa karya sastra mungkin tidak didasari oleh hal-hal yang nyata dalam dunia riil. Seperti adegan bangkitnya Ayu Dewi dari kuburan yang dapat kita temui dalam Cantik Itu Luka, misalnya. Menganggap sastra sepenuhnya nyata, berarti juga menganggap Cantik Itu Luka sebagai bukan karya sastra.

Selain itu, sikap kita dalam kritik sastra pun akan berbeda apabila sastra dikaitkan sepenuhnya dengan kenyataan. Keterkaitan dan validasi terhadap sastra dan dunia riil bisa jadi merupakan pekerjaan yang penting dalam kritik sastra. Sebagai konsekuensi, karya sastra yang unsur-unsurnya tidak ada dalam dunia riil, maka bukan hanya dianggap buruk, tapi bukan karya sastra.

Oleh karenanya, pembicaraan mengenai nyata (dalam artian sesuai dengan dunia riil) dan fantasinya karya sastra, sejatinya adalah pembicaraan yang buang-buang waktu. Sebab, sastra tidak musti tendensius terhadap salah satu dari kedua jenis tersebut. Dalam sastra, kenyataan dan fantasi, seharunya–dan memang begitulah adanya–dibicarakan sebagai pilihan, bukan keharusan.

Imajinasi dalam karya sastra, sebaiknya tidak didefinisikan sebagai fantasi, yang artinya isi dari karya sastra tersebut sama sekali bukan kenyataan. Imajinasi dalam karya sastra maksudnya adalah, bagaimana suatu peristiwa dalam karya sastra (baik sesuai atau tidak dengan sejarah) ditampilkan secara nyata seperti peristiwa dalam dunia riil. Dalam dunia riil, peristiwa berupa peperangan misalnya, dapat kita lihat dengan mata sebagai peristiwa konkret. Sedangkan dalam sastra, seakurat apa pun isi cerita itu dengan sejarah, tapi ia tak dapat kita lihat, ia hanya dapat kita bayangkan. Dan oleh karenanya, kita menyebut sastra sebagai imajinasi. Sebab, peristiwa dalam karya sastra hanya dapat diimajinasi dalam kepala kita.

Ketika Minke (Tirto Adi) bertemu dengan Thamrin, kendati barangkali pertemuan itu memang pernah terjadi dalam dunia riil (yang artinya cerita tersebut akurat dengan sejarah) –tapi ia hanya bisa kita bayangkan, tak dapat kita lihat, apalagi sentuh dan terlibat di dalamnya. Maka, kenyataan dan kefantasian isi suatu cerita, sejatinya, bukan persoalan yang penting dalam sastra.

Sastra tak bisa pula didefinisikan dengan pengertian yang merujuk pada paham tertentu. Misalnya, sastra didefinisikan dengan paham komunis yang hendak menghapuskan kelas sosial, atau paham liberal yang hendak menciptakan tatanan hidup yang merdeka. Artinya, sastra adalah suatu upaya untuk menghapus kelas sosial dalam masyarakat; atau sastra adalah suatu upaya pembebasan terhadap individu untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki.

Masalah pertama, tentu saja, ada pada sifatnya yang terlalu sempit. Jika sastra hanya didefinisikan sebagai upaya pembebasan perempuan dari stereotip negatif dalam seluruh kebudayaan (merujuk pada ajaran feminisme), maka beberapa karya seperti Animal Farm yang tidak membahas soal itu, mau tidak mau harus digugurkan statusnya sebagai karya sastra.

Masalah lainnya yakni pada, apa bedanya sastra dengan paham itu sendiri? Misalnya, jika sastra didefinisikan sebagai upaya meningkatkan intensitas ketaatan kepada Allah (merujuk pada ajaran Islam), maka apa perbedaan sastra dengan ajaran Islam? Dalam hal ini, sastra lagi-lagi, sejatinya, hanya sinonim dari ajaran Islam tanpa ada perbedaan apa pun di dalamnya.

Masalah selanjutnya, dan berkaitan dengan yang sebelumnya ialah, apa status sastra dalam suatu paham? Jika ada definisi berupa sastra adalah upaya pewujudan masyarakat tanpa kelas (merujuk pada ajaran komunisme), maka apa sejatinya status dan fungsi sastra dalam hal itu?

Namun demikian, masalah tersebut pada akhirnya memberikan sesuatu yang dapat kita cermati untuk mendefinisikan sastra. Sastra tak bisa didefinisikan berdasar pada paham tertentu, sebab pembahasan dalam sastra amatlah variatif. Maka, paham-paham tersebut seharusnya ditempatkan sebagai variasi dalam pembahasan sastra. Sastra bisa menjadi upaya untuk menciptakan masyarakat yang bebas, bisa pula menjadi upaya menciptakan masyarakat tanpa kelas, bisa pula menjadi upaya membebaskan perempuan dari stereotip dalam segala kebudayaan, dan seterusnya.

Namun begitu, sastra tidak sama dengan paham itu sendiri. Karenanya, ia dipelajari secara terpisah. Maka, status dan fungsi sastra dalam masing-masing paham tersebut ialah sebagai alat yang digunakan untuk menyampaikan ajaran tersebut. Itu berlaku dalam hal apa pun. Dalam hal cinta misalnya, sastra adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan gagasan mengenai cinta. Para teoretikus cinta mungkin bisa berbicara bahwa cinta adalah pengorbanan. Namun, dalam sastra sifat cinta sebagai pengorbanan tersebut diceritakan dalam rangkaian peristiwa (plot) di mana seseorang (tokoh) melakukan pengorbanan kepada orang lain di dalam suatu tempat tertentu (latar).

Maka, sastra perlu dipahami sebagai metode yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau gagasan tertentu. Metode penyampaian tersebut yakni dengan menciptakan suatu peristiwa tertentu yang mirip dengan peristiwa di dalam dunia riil di mana ada pelaku, tempat, dan masalah. Dalam dunia riil, peristiwa tersebut dapat disaksikan dengan mata. Namun, peristiwa tersebut hanya terjadi sekali. Mata hanya bisa melihatnya satu kali. Dalam sastra, hal tersebut disajikan dalam bentuk kata-kata yang nantinya dibayangkan dalam pikiran pembaca. Maka, peristiwa itu dapat disaksikan di dalam pikiran berkali-kali.

Ulama dan pengarang sastra mungkin bisa sama-sama berbicara mengenai lailatul qadar. Namun, cara yang digunakan bisa amat berbeda. Ulama mungkin akan mengatakan bahwa “ada satu malam di mana pahala amat berlipat diberikan Allah kepada hambanya, karenanya kita harus banyak beribadah”. Cara penyampaian gagasan dan informasi tersebut ialah dengan menyuruh secara langsung.

Namun, dalam sastra, pengarang tidak berbicara bahwa “kita harus melakukan ibadah pada suatu malam yang spesial di bulan Ramadhan”, melainkan dengan memberi contoh berupa rangkaian peristiwa di mana seseorang, di dalam tempat dan waktu tertentu, melakukan suatu peribadahan. Misalnya yang diceritakan Danarto dalam cerpen berjudul “Lailatul Qodar”.

Contoh aktivitas tersebut, kadang-kadang jauh lebih efektif digunakan. Karenanya, matematika yang rumit sekalipun membutuhkan cerita sebagai contoh peristiwa dalam suatu fenomena yang disebut sebagai “soal cerita”. Seorang guru fisika pun perlu contoh peristiwa untuk menjelaskan relativitas.

Maka, sastra semestinya dipahami pada aspek penyampaian gagasan, bukan pada gagasannya itu sendiri. Dalam sastra, poin utama bukan terletak pada gagasan atau pembahasan yang ada di dalamnya. Itulah sebabnya kita amat kesulitan manakala hendak memaksakan diri mendefinisikan sastra berdasarkan bahasan tertentu. Misalnya bahasan seputar cinta, sulit jika itu digunakan sebagai definisi sastra, yang artinya, sastra dapat disebut sebagai pembahasan mengenai sastra.

Lagipula, pembahasan dalam sastra sangat beragam sehingga tak mungkin mendefinisikan berdasarkan aspek tersebut. Sastra di satu sisi bisa membahas tentang peperangan, di sisi lain, bisa membahas seputar kehamilan. Maka, jika sastra hendak disimpulkan berdasarkan aspek pembahasan, mana yang sastra? Apakah perang atau kehamilan yang dapat mendefinisikan apa itu sastra? Tidak keduanya, sebab sastra bukan soal itu.

Kita dapat membandingkan dengan bidang seni yang lain. Jika seni pada dasarnya mau didefinisikan pada aspek pembahasannya, maka antara seni sastra dengan tari, misalnya, seharusnya tidak membahas satu topik yang sama. Namun, tidak demikian. Kita menemukan bahwa dalam sastra dan tari, kadang-kadang pembahasan yang sama bisa hadir. Misalnya pembahasan seputar peperangan. Novel Hadji Murat dapat membicarakan satu pembahasan yang sama dengan tarian Cakalele: peperangan. Maka, tak mungkin sastra–begitu pula tari–didefinisikan berdasarkan pada pembahasannya.

Namun, kita bisa mengajukan pertanyaan, apa yang membedakan sastra dengan tari? Sastra dan tari barangkali bisa membahas satu topik yang sama. Namun, kita sadar bahwa antara keduanya terdapat suatu perbedaan yang signifikan: metode yang digunakan dalam membahasa suatu topik.

Sastra membahas peperangan misalnya, dengan cara menyajikan rangkaian peristiwa seperti terjadi di dunia riil melalui kata-kata. Kata-kata tersebut, kemudian di proses dan menghasilkan suatu gambaran mengenai peristiwa peperangan tersebut. Proses penggambaran tersebutlah yang kemudian kita sebut sebagai imajinasi. Maka, imajinasi dalam karya sastra pada dasarnya adalah tentang bagaimana teknik yang digunakan pengarang dalam menyampaikan gagasan dapat memberikan gambaran peristiwa seperi terjadi di dunia riil–bukan tentang apa yang dibicarakan pengarang, yang sifatnya tidak atau bertentangan dengan kenyataan.

Dalam seni tari, topik bahasan mengenai peperangan disampaikan melalui gerakan-gerakan tertentu yang melambangkan peperangan. Maka perbedaannya amat jelas dalam hal ini, yakni tentang bagaimana suatu topik bahasan disampaikan, bukan tentang topik bahasan itu sendiri.

Kini, kita cukup memahami bahwa sastra dapat didefinisikan dalam pengertiannya sebagai metode untuk menyampaikan topik bahasan dengan cara memberikan gambaran berupa rangkaian peristiwa yang dialami tokoh dalam seting tertentu dengan kata-kata atau bahasa sebagai alatnya. Maka, pembahasan mengenai teknik tersebut perlu mendapat porsi berlebih dalam kritik sastra.

Sejauh ini, dalam ranah kritik sastra, upaya penyintesisan sastra dengan bidang lainnya banyak dilakukan. Misalnya dengan psikologi yang menghasilkan psikologi sastra. Dalam bidang tersebut, teori-teori psikologi digunakan dalam menjelaskan gejala-gejala mental tokoh karya sastra atau seorang pengarang. Misalnya lagi, penggabungan antara sastra dengan sosiologi yang menghasilkan sosiologi sastra.

Dalam dua bidang tersebut misalnya, sastra tidak hadir sebagai sosok yang mandiri. Bahkan, sastra hanyalah sebagai objek yang akan dibedah sana-sini untuk menghasilkan suatu pemahaman tertentu terhadapnya.

Bukannya buruk, namun hal itu menunjukkan bahwa sastra tidaklah mandiri. Ia membutuhkan orang lain untuk mengurus dirinya sendiri. Tapi itu tidak buruk, toh kita dimudahkan dalam memahami sastra.

Namun begitu, sastra harus pula bisa berdiri sendiri dengan teori-teori yang sesuai dengan batasannya. Setelah memahami sastra sebagai metode dalam menyampaikan suatu gagasan, kini kita perlu untuk banyak mengajukan pendekatan yang dapat membedah dan menjustifikasi teknik yang digunakan dalam pengarang untuk menyajikan suatu topik pembahasan.

Strukturalisme jauh-jauh hari telah melakukan itu, dengan cara melihat bukan terhadap apa yang dibicarakan, melainkan bagaimana hal itu dibicarakan. Dalam pandangan strukturalisme, teknik yang baik ialah manakala dalam suatu karya sastra, unsur-unsur di dalamnya saling berkaitan dan bersifat determinan satu sama lain.

Pendekatan lain yang membahas seputar teknik atau cara yang digunakan untuk menyampaikan suatu topik pembahasan dalam karya sastra pernah dan masih pula dilakukan oleh stilistika. Pada teori tersebut, sastra dinilai berdasarkan bahasa yang digunakannya dalam menyampaikan topik pembahasan.

Cara lain sejatinya perlu sekali dilakukan untuk menghadirkan kritik sastra yang mandiri, yang membahas sastra dalam batasannya sendiri. Dengan memahami bahwa terdapat kecenderungan dalam otak manusia untuk tertarik pada contoh peristiwa yang konkret ketimbang sebatas gagasan yang abstrak, maka teori yang relevan dengan hal itu mungkin bisa dimunculkan. Misalnya, teori tentang bagaimana sastra menghadirkan rangkaian peristiwa dalam upaya menyajikan gagasan atau topik bahasan tertentu secara konkret sebagaimana peristiwa dalam dunia riil.

Hal lain mungkin dapat dihadirkan pula dalam upaya merumuskan teori kritik sastra yang berdasar pada batasan sastra itu sendiri sebagai metode yang digunakan untuk menyampaikan suatu gagasan atau topik pembahasan tertentu. Yang utama, kita perlu mengingat bahwa batasan sastra bukan pada apa yang dibahas di dalamnya, melainkan pada bagaimana topik pembahasan tersebut dibicarakan–karenanya kita dapat membedakannya dengan kesenian lainnya. Maka, untuk menghadirkan teori kritik sastra yang mandiri, kesadaran mengenai hal itu (sastra sebagai metode menyampaikan suatu gagasan atau topik bahasa  tertentu) dapat digunakan untuk memulainya.

* Ditulis oleh Muhamad Reza Hasan, mahasiswa sastra yang lahir dan tinggal di Tangerang.

Setelah Pena Lebih Tajam dari Pedang, Selanjutnya Apa?

0




Pasase klasik pena lebih tajam dari pedang yang ditulis oleh Edward Bulwer-Lytton di naskah drama Cardinal Richelieu (1839) nampaknya akan bertransformasi. Teks-teks di sebuah buku kini akan berebut “panggung” dengan ragam wacana yang berseliweran di media sosial. Dari siniar (podcast), video blog dan ragam budaya populer lainnya. Sastrawan atau penulis yang menulis karya sastra di era digital kiranya akan mengalami beragam tafsir dan modifikasi ruang, dan juga bisa tercabut dari akar itu sendiri.

Beragam tafsir yang saya maksud adalah ketika seorang penyair menulis sebuah puisi secara tuntas—lalu akun pada sebuah media sosial memotong puisi utuh tersebut menjadi sebuah kutipan. Suasana yang terbangun akan berbeda dan mengalami modifikasi ruang; dapat disalin tempel dan direproduksi sedemikian rupa hingga beranak pinak. Ketika aksara cetak lahir dengan mesin buatan Gutenberg, kini ia dapat diproduksi dengan mesin kecerdasan buatan dan beralih rupa dengan hiperteks di berbagai kanal.

Kini kita dapat membaca fiksi interaktif di sebuah gim ponsel, puisi animasi, hingga karya sastra yang lahir dari rahim kecerdasan buatan. Ya! Kini korporasi di bidang teknologi telah mampu membuat karya sastra dan seni lewat mesin. Algoritma yang tercipta mampu menguasai indikator dari karya sastra atau seni yang bagus menurut kritikus. Penulis saat ini saya kira harus lebih meningkatkan kualitas karya dan eksploratif dalam menemukan premis agar umurnya panjang.

Penulis di era kiwari bukan hanya mengandalkan pena sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Ia butuh platform atau media untuk menyampaikannya. Saya ingat di tahun 2011, kala itu sekelompok masyarakat dan seniman Indonesia membuat gerakan Koin Sastra. Gerakan itu adalah bentuk keprihatinan atas kondisi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin yang saat itu mengalami pengurangan dana perawatan. Berawal dari maklumat yang telah mengalami reproduksi, retweet dan berbagai pesan berantai, maka gerakan itu menjadi nyata dan terhubung ke semua orang.

Era digital telah memunculkan lahirnya sastra siber dalam bentuk kebiasaan baru. Dari semula karya sastra dibuat secara personal, menjadi karya sastra yang dibuat secara bersama, yaitu puisi berantai. Ketika salah satu akun media sosial membuat suatu unggahan tematik dan para pengguna meresponnya dengan satu bait puisi, misalnya, maka karya tersebut akan menjadi totalitas komunal.

Setelah polemik sastra siber di awal milenum, kini ‘peradaban’ tersebut memasuki babak baru dalam ragam bentuk. Ketika dulu pembaca melakukan penilaian atau resensi secara konvensional, kini penulis menggunggahnya di caption Instagram, membicarakannya di siniar hingga mengulasnya dalam kebudayaan performatif-lisan, di Youtube.

Saat ini kita bisa melihat dan mencuri dengar gagasan seorang penulis. Ia hadir lebih dari teks: pertunjukan audiovisual di kanal Youtube. Hasan Aspahani dan Marhalim Zaini kerap membacakan puisi kemudian mengulasnya; Martin Suryajaya membicarakan filsafat dengan santai dan gaya kasual yang disukai anak muda. Saya kira perluasan itu untuk mendapatkan “pembaca” yang lebih luas dan gaungnya bisa menerobos rimba maya yang penuh notifikasi di ponsel generasi kiwari.

Platform dan Kuratorial

Dunia yang kita alami dan saksikan sekarang adalah sebuah dunia yang bisa digenggam dan dibawa ke mana saja. Kita dapat menyimak, membaca, menonton, menyebarluaskan gagasan di dalam sebuah layar elektronik dan semua seolah dalam genggaman. Untuk berdiskusi sastra pun kita tak harus bertemu secara fisik. Kita dapat berjejaring dan memiliki komunitas literasi yang sesuai dengan bentuk estetika kita. Semua tersaji secara daring. Semua yang tampak sakral dan profan tersaji dengan mudah dan cepat. Yang banal dan estetik hadir dengan segala kemungkinan. Kemudahan dan kecepatan itu bersinggungan erat dengan ketepatan dan kesalahan. Tarik menarik antar kebenaran versi A dengan kebenaran versi B.

Pada era informasi seperti sekarang, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan hanya pakar, melainkan juga para penganut teori konspirasi, orang awam sok tahu, hingga pesohor yang menyesatkan. Begitu petikan di wara (blurb) buku Matinya Kepakaran karangan Tom Nichols. Disrupsi memberikan kemudahan juga kedangkalan. Setiap orang dapat dengan cepat menjadi ahli pada suatu bidang yang tidak pernah ditekuni secara mendalam. Pada sisi lain, melubernya informasi membuat hilangnya nilai dan batas keilmuan.

Kita sekarang bisa melihat menjamurnya kelas pelatihan menulis secara daring. Tak ada yang salah dengan itu tentu. Namun Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan selaku lembaga negara yang memiliki otoritas untuk memberikan konten edukatif, kiranya mempunyai peran untuk mengarahkan itu. Badan Bahasa dapat menggandeng lembaga lainnya seperti Kemkominfo untuk membuat platform atau aplikasi kuratorial sastra yang berfungsi sebagai ensiklopedia dan direktori yang dialogis. Kemudian, data tersebut dapat diperbaharui setiap waktu dan menggapai bank data lainnya di arsip Dewan Kesenian Jakarta, misalnya. Koherensi dan kolaborasi menjadi hal yang penting di sini. Mengingat dinamika bahasa dan sastra begitu lentur seiring perkembangan zaman dan kredibilitas unggahan menjadi hal yang utama.

Ego sektoral antar lembaga pemerintahan yang kadang tidak sinkron, perlu diperbaiki tata kelolanya. Lihat bagaimana Kemendikbud bekerja sama dengan Netflix untuk menayangkan film dokumenter di TVRI untuk program Belajar dari Rumah, sementara sebelumnya Kemkominfo kontra atau memblokir tayangan di Netflix (mungkin akan berubah nantinya). Saya kira kalau program literasi khususnya sastra jelas dengan konsep dan konkret dalam pelaksanaan, penetrasi acara sastra di media arus utama seperti televisi pun akan terlaksana. Jelas dalam hal apa? Dalam bentuk sosialisasi dan pentingnya sastra atau literasi untuk kehidupan; memperhalus budi, memperluas cakrawala dan imajinasi serta dapat masuk ke lintas sektor seni dan kehidupan. Misalnya kita pahami dulu tentang literasi dasar: mulai dari literasi ekonomi sampai digital. Penyampaiannya bisa berbentuk gelar wicara interaktif atau simulasi permainan. Beberapa kali saya menemukan komentar sembrono di kolom komentar media sosial. Komentar yang tidak diiringi dari keterampilan dasar berbahasa: menyimak, membaca, menulis dan berbicara. Alhasil komentar semacam: Indonesia darurat membaca dan sebagainya menjadi diskursus yang selalu ada dan setelahnya menguap entah ke mana.  

Indonesia memang tidak selalu merata dalam distribusi sumber pengetahuan begitu juga dengan sinyal dan pasokan listrik. Namun tidak ada salahnya kalau mencoba terlebih dahulu dengan membuat sebuah platform, yang dari segi aksesibilitas mudah dijangkau cara dan penggunaannya. Platform tersebut kiranya dapat diunduh di Playstore dan ramah terhadap generasi muda. Meski begitu, substansi tetap yang utama; secara komprehensif memuat data terkait sastra Indonesia. Entri tersebut bisa dimulai dari sejarah sastra, kritik sastra, sayembara sastra, sastra populer, sastra avant garde hingga kemungkinan untuk berguru ke praktisi/sastrawan secara gratis dengan ragam persyaratan ketat. Misalnya ketika seseorang/pengguna sudah memiliki akun di platform tersebut, ia dapat mengikuti seleksi agar bisa mengikuti sebuah kelas penulisan daring secara gratis. Tentu ini dengan persyaratan dan kurasi yang transparan.

Saya kira kalau definisi disrupsi adalah tercabut dari akar, maka penulis kiwari bisa kembali menyemai benih kata, menyiram hingga tumbuh menjadi totalitas karya. Ketika ada pohon yang tercabut sampai akarnya, maka penulis bisa kembali membuka kavelingnya dengan menanam benih hingga jadi pohon yang kokoh. Seperti tanaman hidroponik, kita bisa menanamnya di mana saja. Penulis di era pascarealitas, terkadang membutuhkan pendengung atau pelantang agar karyanya didengar. Namun tentu saja, emas tidak perlu mengatakan dirinya emas. Pembaca akan tahu sebuah kualitas.

Saya sependapat dengan pernyataan Eka Kurniawan di catatan singkat Facebook-nya: Kalau ada orang yang suka membesar-besarkan dirinya, mungkin dia sedang merasa terancam. Dengan adanya plaftform/media/aplikasi yang telah diukur dengan instrumen dan variabel yang jelas, harapan saya sastra Indonesia akan dinikmati secara masif oleh generasi muda seperti mereka mengonsumsi konten popular: Netflix, Webtoon dan piranti hiburan lainnya. Jadi, kalau boleh merespons pasase pena lebih tajam dari pedang, maka saya akan menambahkan: dan pena membutuhkan tinta yang bagus agar senantiasa terukir jelas, terjaga dan tepat guna.

===================
Galeh Pramudita Arianto, lahir di Tangerang Selatan, 1993. Bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Makarios dan salah satu pendiri platform Penakota.id. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) menerima beasiswa penerjemahan dari Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020. Saat ini sedang mempersiapkan buku puisi: Kunjungan Alien Pertama ke Bumi.

Terbaru

Menelusuri Sejarah Sepak Bola Dengan Sukacita

Judul Buku : Mengapa Sebelas Lawan Sebelas? ...

Share-loc

Firasat

Dari Redaksi