Esai

Home Esai

Sepucuk Surat untuk Ayahku, Gabriel García Márquez

0



Gabo,

17 April adalah peringatan tahun keenam kematianmu, dan dunia terus berjalan seperti biasanya, di mana manusia berperilaku dengan kekejaman yang menakjubkan dan kreatif, kemurahan hati dan pengorbanan yang luhur, serta segala sesuatu di antaranya.

Satu hal yang baru: pandemi. Sejauh ini yang kita tahu, itu berasal dari pasar makanan di mana virus berjangkit dari hewan ke manusia. Satu langkah kecil untuk satu virus, tetapi lompatan besar untuk jenisnya. Itu dia makhluk yang berevolusi selama waktu yang tak terhitung melalui seleksi alam menjadi monster kecil yang rakus seperti sekarang. Tapi sangat tidak adil untuk merujuknya dalam istilah seperti itu, dan aku menyesal jika kata-kataku telah menyinggung. Sebenarnya tidak ada niat jahat khusus terhadap kita. Itu dialami dan terjadi, karena bisa. Tentunya, kita bisa tertaut. Ini bukan masalah pribadi.

Tiada hari berlalu tanpa aku menemukan referensi untuk novelmu “Love in the Time of Cholera,” atau irama pada judulnya atau pandemi insomnia dalam “Seratus Tahun Kesunyian”. Mustahil untuk tidak berspekulasi tentang apa yang akan kau ciptakan dari semua ini. Kau selalu terpesona dengan epidemi, nyata atau imajinasi sastra, serta dengan berbagai hal dan orang-orang yang berpulang.

Kau belum dilahirkan ketika pandemi flu Spanyol menjangkiti planet ini, tetapi kau tumbuh di sebuah rumah tempat dongeng berkuasa dan di mana wabah, seperti hantu dan penyesalan, pastilah tercipta untuk bahan sastra yang bagus. Kau mengatakan bahwa orang akan berbicara tentang peristiwa masa lalu sebagai hal-hal yang terjadi pada zaman komet, kemungkinan besar merujuk pada jatuhnya komet Halley di awal abad ke-20. Kuingat betapa berhasratnya kau melihatnya dengan mata kepala sendiri ketika kembali menjelang akhir milenium. Ini memukaumu, sebuah jam misterius yang menyerang masa hening setiap 76 tahun sekali, sebuah siklus yang mendekati waktu yang diberikan kepada manusia. Suatu kebetulan? Mungkin hanya ikan herring merah yang berbeda. Kau seorang ateis, tetapi kau juga merenungkan bahwa tidak dapat dibayangkan bahwa tidak ada rencana agung, ingat ‘kan? Tidak ada pencerita dari kisah itu. Dalam hal ini, kau kini memiliki lebih banyak wawasan daripada aku, barangkali.

Pandemi terjadi lagi. Terlepas dari kemajuan besar ilmu pengetahuan dan kecerdikan spesies kita yang paling terkenal, pertahanan terbaik kami sejauh ini adalah tetap tinggal di dalam rumah, bersembunyi di gua-gua dari pemangsa. Ini adalah momen yang merendahkan bagi mereka yang setidaknya memiliki sedikit kecenderungan ke arah kerendahan hati. Bagi yang lain, itu adalah hal yang mengganggu untuk dihancurkan.

Dua negeri yang kau sayangi, Spanyol dan Italia, termasuk yang paling parah. Beberapa teman tertua darimu memanfaatkan yang terbaik di flat yang sama di Barcelona, Madrid, dan Milan di mana kau dan Mercedes mengunjungi dalam waktu yang tak terhitung jumlahnya selama beberapa dekade. Pernah kudengar beberapa orang dari generasi itu mengatakan bahwa mereka bertekad untuk bertahan, jika bukan karena alasan lain kecuali menghindari terbunuh oleh flu setelah puluhan tahun bertahan dari kanker, tiran, pekerjaan, tanggung jawab, dan pernikahan.

Bukan hanya kematian yang membuat kami takut, tetapi juga keadaan. Jalan hidup terakhir tanpa perpisahan, dihadiri oleh orang asing yang berpakaian luar angkasa, mesin berbunyi tanpa perasaan, dikelilingi oleh orang lain dalam situasi serupa, tetapi jauh dari orang-orang yang kita cintai. Ketakutan terburukmu, kesepian.

Kau sering berbicara tentang “A Journal of the Plague Year” Daniel Defoe “sebagai salah satu pengaruh terbesar untukmu, tetapi sampai kemarin aku lupa bahwa bahkan favoritmu, “Oedipus Rex,” bergantung pada upaya raja untuk mengakhiri wabah. Itu selalu ironi tragis dari nasib raja yang berada di garis depan ingatanku, tetapi wabahlah yang melepaskan kekuatan yang memicu akhir. Kau pernah berkata bahwa apa yang menghantui kita tentang epidemi adalah mereka mengingatkan kita pada takdir pribadi. Terlepas dari tindakan pencegahan, perawatan medis, usia atau kekayaan, siapa pun dapat menarik angka sial. Nasib dan kematian, banyak subjek favorit penulis.

Kupikir jika kau ada di sini sekarang, kau akan, seperti biasa, terpesona oleh manusia. Istilah “laki-laki” tidak banyak digunakan dengan cara itu lagi, tapi aku akan membuat pengecualian bukan sebagai kesetujuan pada patriarki, yang kau benci, tetapi karena itu akan bergema di telinga pria muda dan  calon penulismu sekali waktu adalah, dengan lebih banyak kepekaan dan ide di kepalamu daripada yang kau tahu apa yang harus dilakukan, dan dengan perasaan yang kuat bahwa takdir ditulis, bahkan untuk makhluk dalam gambar Ilahi dan dikutuk dengan kehendak bebas. Kau akan mengasihani kelemahan kami; kau akan kagum pada keterkaitan kita, disedihkan oleh penderitaan, marah oleh kebodohan beberapa pemimpin dan digerakkan oleh kepahlawanan orang-orang di garis depan. Dan kau akan bersemangat mendengar bagaimana sepasang kekasih menantang setiap rintangan, termasuk risiko kematian, untuk bersama. Yang terpenting, kau akan disayang orang seperti sebelumnya.

Beberapa pekan yang lalu, selama beberapa hari pertama kami diasingkan di rumah, kepalaku berusaha menjelaskan kepada diriku sendiri apa artinya semua itu, atau setidaknya apa yang bisa keluar darinya. Aku gagal. Kabut itu terlalu berat. Sekarang hal-hal telah menjadi lebih kuantum, seperti yang terjadi pada akhirnya bahkan dalam perang yang paling menakutkan, aku masih tidak bisa membingkai semuanya dengan cara yang memuaskan.

Banyak yang yakin bahwa hidup tidak akan pernah sama. Mungkin sebagian dari kita akan membuat perubahan besar, lebih banyak dari kita akan membuat beberapa perubahan, tetapi aku curiga sebagian besar akan kembali ke pesta dansa. Tidak akan ada argumen yang baik untuk diajukan bahwa pandemi adalah bukti tentang hidup menghilang dengan cara yang paling tak terduga dan karenanya kita harus hidup besar dan hidup sekarang? Salah satu cucumu sendiri telah menyatakan pendapat itu.

Pembatasan gerak mulai longgar di beberapa tempat, dan sedikit demi sedikit dunia akan berusaha menjelajah ke arah normalitas. Bahkan melamunkan kebebasan segera sudah banyak yang mulai melupakan janji-janji mereka baru-baru ini kepada para dewa. Dorongan untuk memproses dampak pandemi pada diri kita yang terdalam, dan pada seluruh bangsa, semakin berkurang. Bahkan banyak di antara kita yang ingin memahami apa yang telah terjadi akan tergoda untuk menafsirkannya sesuai dengan keinginan kita. Belanja sudah mengancam akan kembali menjadi narkotika favorit kita.

Aku masih dalam kabut. Tampaknya untuk saat ini aku harus menanti para pakar, sekarang dan masa depan, untuk memetabolisme pengalaman bersama. Kutunggu hari itu. Sebuah lagu, puisi, film, atau novel akhirnya akan menggerakkan aku ke arah biasa di mana pikiran dan perasaanku tentang semua ini terbenam. Ketika aku sampai di sana, kuyakin aku masih harus melakukan beberapa penggalian sendiri.

Sementara itu, planet ini terus berputar dan kehidupan masih misterius, kuat, dan menakjubkan. Atau seperti yang biasa kau katakan dengan kata sifat yang lebih sedikit dan lebih banyak puisi, tidak ada yang mengajarkan apa pun tentang kehidupan.




===============
Rodrigo García (@rodgarcia59) adalah sutradara film “Four Good Days,” dibintangi Glenn Close dan Mila Kunis. Artikel ini diterbitkan New York Times, 6 Mei 2020. Diterjemahkan oleh Arpan Rachman, jurnalis lepas, yang menyelesaikan program sertifikasi English for Journalism dari University of Pennsylvania.

Kecenderungan Puisi Indonesia dalam Merespon Realitas Sosial

1

Arus modernisasi dan globalisasi yang dimotori oleh Barat telah membuat manusia modern tercerabut dari nilai budaya dan kearifan lokal. Dalam buku Muslim Tanpa Masjid (2001:96-97) Kuntowijoyo mengatakan, “Manusia terasing dari lingkungan yang sekian lama telah melingkupinya. Perasaan terasing ini menimbulkan hidup menjadi kurang bermakna dan frustasi (dehumanisasi)”.

Manusia modern ini menurut Kuntowijoyo (2013:17-19), terbangun dari pengaruh teknologi melalui mesin industri, yang kemudian penggunaan teknologi itu meluas dalam masyarakat di luar industri. Sebagaimana beragamnya penggunaan kata “teknik” dan “mesin” di berbagai bidang kehidupan, “teknik manusia” (human technique) melalui pendidikan, penataran, dan kursus-kursus. Hal itu menjadikan perilaku manusia mesin (l’homme machine), yang tidak lagi berdasar kepada akal sehat, nilai, dan norma. Pribadi yang semula bebas, utuh, dan rasional, bisa tenggelam dalam satuan yang disebut masyarakat massa. Massa menjadi satu-satunya entitas yang harus diperhitungkan. Kekuatan yang membentuk manusia dan masyarakat massa ialah teknologi (mekanisasi, industrialisasi), organisasi ekonomi (pabrik, pasar, advertensi), diferensiasi sosial (kelas, suku, agama), mobilisasi politik (negara, partai), dan budaya (sport, musik pop, pendidikan, media massa). Masyarakat massa terlahir dari manusia-manusia massa yang berperilaku manusia mesin. Mengutip Gabriel Marcel seorang filsuf Eksistensialis-Katolik, dalam masyarakat teknologis, manusia tidak lagi memahami dirinya berdasarkan gambaran tentang Tuhan (be image of God), tetapi gambaran tentang mesin (the image of machine).

Oleh sebab itu, seorang filsuf-penyair Muhammad Iqbal menyerukan kembali tentang keagungan, kekuatan, dan kegairahan hidup manusia. Muhammad Iqbal menyerukan pentingnya Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (terj. Ali Audah, dkk., 1982:xvii-xviii).

Di bidang filsafat, Roger Garaudy melalui dua bukunya yang terkenal, Janji-janji Islam dan Mencari Agama Abad Duapuluh, mempertanyakan kembali keberadaan filsafat analitik dan rasionalisme atau historis materialisme, yang mengalami jalan buntu karena dasar-dasar epistimologisnya meragukan, serta ekses-eksesnya yang mengasingkan manusia dari Tuhan dan dirinya sendiri (via Hadi WM, 2004:4).

Dalam pandangan Seyyed Hosein Nasr (terj. Hadi WM, 1994: 197-206), penyakit manusia modern yang parah karena kehilangan Tuhan, bisa dikurangi, suatu kehilangan yang dengan jelas digambarkan oleh kesusastraan dan seni modern dalam kekacauan yang dahsyat. Islam menyajikan pengobatan langsung terhadap penyakit ini. Secara umum, shalat menempatkan manusia dalam porosnya dan dalam dimensi vertikal yang tertuju kepada Sang Pusat. Tasauf adalah kendaraan pilihan untuk tujuan ini. Karena tasauf merupakan dimensi dalam daripada Islam, maka ia tidak bisa dipraktikkan terpisah dari Islam.

Sastra Transendental-Profetik

Pandangan-pandangan tersebut menjadi dasar bagi Kuntowijoyo terhadap pentingnya eksistensi sastra transendental dalam kehidupan Indonesia akibat dampak dari dehumanisasi global itu. Pada Temu Sastra 6-8 Desember 1982 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Kuntowijoyo menyerukan bahwa :

“Sastra transendental adalah kesadaran balik yang melawan arus dehumanisasi atau subhumanisasi. … Sebagai sebuah upacara bersih diri, sastra transendental menjadi sebuah ritual estetis. Simbol-simbol dalam sastra transendental berlalu sebagai formula-formula dari pesan pembersih. Jadi tujuan terakhir dari sastra transendental sebenarnya ialah manusia, bukan estetika itu sendiri. Karena hanya yang bermakna patut disebut sastra, maka sastra trandental harus sarat dengan makna. Sebagai manusia yang bertanggung jawab terhadap peradaban, kita ingin membuat dunia lebih bermakna, dan sastra adalah salah satu dari makna itu.”

Pada saat teks-teks sastra semacam itu, realitasnya memang ada dan eksis, Kuntowijoyo kemudian memperkenalkan apa yang kemudian dikenal sebagai sastra profetik. Hal itu dikemukakannya pada tahun 1986, dalam acara Temu Budaya, juga di Taman Ismail Marzuki.

Kesadaran ketuhanan (transendensi, Latin trancendere, melampaui) sudah banyak dalam sastra Indonesia, dan disebut dengan Sastra Transendental atau Sastra Sufi. Menurut Kuntowijoyo (2013:30), transendensi tidak harus berarti kesadaran ketuhanan secara agama saja, tetapi bisa kesadaran terhadap makna apa saja yang melampaui batas kemanusiaan. Meskipun demikian, Kuntowiyoyo yakin bahwa hanya di tangan orang beragamalah transendensi itu efektif bagi kemanusiaan sebab transendensi akan berarti iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ada perbedaan, namun semua agama setuju bila dikatakan bahwa peradaban dunia sedang mengalami krisis. Krisis peradaban itu menurut Muhammad Iqbal, Roger Garaudy, Seyyed Hosein Nasr, Kuntowijoyo, Abdul Hadi WM, dapat diatasi melalui transendensi.

Menurut Roger Garaudy dalam buku Janji-janji Islam, unsur transendensi ada tiga yaitu (1) pengakuan ketergantungan manusia pada Tuhan, (2) ada perbedaan yang mutlak antara Tuhan dan manusia, dan (3) pengakuan akan adanya norma-norma mutlak dari Tuhan yang tak berasal dari akal manusia (via Kuntowijoyo, 2013:31).

Dalam Islam, transendensi itu akan berupa sufisme. Kandungan sufisme, seperti khauf (penuh rasa takut), raja’ (sangat berharap), tawakkal (pasrah), qana’ah (menerima pemberian Tuhan), syukur, ikhlas, dan tingkatan-tingkatan ruhani selanjutnya adalah tema-tema Sastra Transendental.

Akan tetapi, menurut Kuntowijoyo (2013:10-15), sastra keagamaan selama ini dipahami oleh orang pada umumnya sebagai seni yang menggugah kesadaran ketuhanan belaka. Kesadaran ketuhanan ini barulah sepertiga dari kebenaran Sastra Profetik. Hal itu sebab Sastra Profetik mempunyai kaidah-kaidah yang memberi dasar kegiatannya sebab ia tidak saja menyerap, mengekspresikan, tetapi juga memberi arah realitas. Kaidah pertama, Sastra Profetik bermaksud melampaui keterbatasan akal-pikiran manusia dan mencapai pengetahuan yang lebih tinggi. Untuk keperluan itu Sastra Profetik merujuk pada pemahaman dan penafsiran Kitab-kitab Suci atas realitas, dan memilih epistimologi Strukturalisme Transendental. Kaidah kedua, sastra sebagai ibadah. Kaidah ketiga, keterkaitan antar-kesadaran, maka kesadaran ketuhanan harus mempunyai continuum kesadaran kemanusiaan dan sebaliknya.

Keinginan Sastra Profetik hanya sebatas bidang dimensi, itu pun sukarela, tidak memaksa. Etika itu disebut “profetik” karena ingin meniru perbuatan Nabi, Sang Prophet. Menurut Kuntowijoyo asal-usulnya begini:

Muhammad Iqbal dalam Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam mengutip ungkapan seorang sufi yang mengagumi Nabi dalam peristiwa Isra’-Mi’raj. Meskipun Nabi telah mencapai tempat paling tinggi yang menjadi dambaan ahli mistik, tetapi kembali ke dunia juga untuk menunaikan tugas-tugas kerasulannya.

Etika Profetik itu oleh Kuntowijoyo ditemukan dalam al-Qur’an Surah Ali Imran, 3:110, sebagai salah satu landasan penting Sastra Transendental (Sastra Sufi) yang menjadi bagian dari Sastra Profetik. Dalam ayat itu dinyatakan betapa dalam setiap tindakan seorang Muslim, dimensi sosial dan transendental harus sama-sama diperhatikan. Setelah menyatakan keterlibatan manusia dalam sejarah (ukhrijat linnas), Kuntowijoyo menafsirkan perkataan amar ma’ruf sebagai suatu ikhtiar pemanusiaan (humanisasi), dan nahi munkar sebagai pembebasan (liberasi) yaitu pembebasan dari belenggu materialisme dan kezaliman sewenang-wenang kuasa dunia, sedangkan yang terakhir tu’minima billah beriman kepada Tuhan sebagai ikhtiar transendensi yaitu kenaikan ke alam transendental atau ketuhanan.

Merespon Tradisi-Budaya

Berbagai cara dalam merespon realitas perkembangan kebudayaan modern, termasuk ideologi seni dan politik yang mempengaruhi sastra. Perkembangan tersebut melahirkan usaha untuk memadukan unsur-unsur tradisi dan modernitas. Ada beberapa sudut pandang dalam melihat terbentuknya tradisi dan kesinambungannya, di antaranya adalah lebih banyak dipengaruhi oleh kekuasaan politik dan orientasi budaya penguasa. Akan tetapi, ada pula yang melihat tradisi tidak semata-mata sebagai produk kuasa politik resmi, melainkan percaya bahwa nilai spiritualitas yang dibawa oleh sistem kepercayaan atau agama mengungguli faktor sejarah, dan dapat memberi corak tertentu kepada tradisi. Hal itu disebabkan oleh nilai-nilai universal yang ada dalam dirinya sendiri, walaupun secara politik mereka tidak memiliki kekuasaan. Corak pendekatan dan sikap tersebut dapat diidentifikasi dalam tiga kelompok kecenderungan: (1) mereka yang mengambil unsur-unsur budaya tradisional untuk keperluan inovasi dalam pengucapan, (2) mereka yang menumpukan perhatian hanya terhadap satu budaya daerah saja seperti Jawa, Minangkabau, Melayu Riau, Sunda, dan lainnya, (3) mereka yang mengambil tradisi langsung dari bentuk spiritualitas dan agama tertentu dengan kesadaran bahwa tradisi dan budaya masyarakat Indonesia terbentuk berkat masuknya beberapa agama besar seperti Hindu, Budha, dan Islam (Hadi WM, 1999:6).

Karya-karya yang termasuk dalam kecenderungan ketiga yang menonjol dalam dunia sastra ialah karya Danarto, Kuntowijoyo, M. Fudoli Zaini, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Mohamad Diponegoro, Ajip Rosidi, Emha Ainun Nadjib, K.H. A. Mustofa Bisri, D. Zawawi Imron, Ikranegara, Hamid Jabbar, Ajamuddin Tifani, Ahmad Nurullah, Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, dan beberapa lainnya.

Protes Sosial dan Eksplorasi Moralitas

Di samping cara merespon realitas kebudayaan modern yang mempengaruhi sastra melalui perpaduan unsur tradisi dan modernitas, bersamaan itu bertumbuhanlah sastra sosial keagamaan. Periode 1970-1990-an diwarnai oleh perkembangan realitas sosial di bawah perpolitikan rejim Orde Baru yang otoriter. Karenanya, kecenderungan puisi Indonesia dalam merespon realitas sosial mengarah pada dua tipologi, pertama dalam bentuk puisi “protes sosial”, dan kedua melakukan eksplorasi moralitas (melalui sastra transedental atau sufistik, dan sastra profetik).[]

=================

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Wachid lulus Magister Humaniora Sastra Indonesia UGM, jadi dosen-negeri di IAIN Purwokerto, dan lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo (15/1/2019). Buku terbaru karyanya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), dan Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus, Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020).

Kritik Sastra Dalam Kemandirian

1




Poin utama dalam membicarakan sastra adalah: kita musti paham batasan sastra. Lebih jauh lagi, kita perlu memahami apa itu sastra. Sejauh ini, sastra dijelaskan dalam pengertian yang kelewat variatif sehingga kadang-kadang malah terkesan terlalu cair, dan tidak ada batasan yang tegas.

Pada titik itulah masalah dalam kritik sastra muncul. Sulit bagi kita merumuskan teori kritik sastra manakala kejelasan definisi masih belum ditemui. Mengetahui definisi sastra beguna untuk memahami apa saja batasan-batasan dalam sastra. Batasan-batasan tersebut, berguna untuk menentukan apa yang harus dilakukan terhadap karya sastra.

Beberapa orang memahami sastra dalam pengertiannya sebagai tulisan. Pengertian tersebut amat problematis, sebab batasan sastra menjadi sangat tidak tegas. Seorang ekonom yang menulis tentang dampak covid-19 bagi ekonomi nasional, seorang matematikawan yang menulis dengan angka-angka, seorang kimiawan yang menulis zat dengan simbol-simbol kimia, dalam definisi tersebut, bisa dianggap sebagai sastrawan. Bahkan secara teoretis, seorang ayah yang menyuruh anaknya pulang melalui pesan telpon, juga merupakan seorang sastrawan. Maka pertanyaannya, apa yang membedakan sastrawan dengan ekonom, matematikawan, fisikawan, dan ayah di masa modern (yang sebagian besar menyuruh anaknya pulang melalui pesan telpon)?

Selain itu, pertanyaan lain pun perlu dijawab terkait definisi tersebut. Jika sastra dijelaskan dalam pengertiannya sebagai tulisan, apa sesungguhnya yang dipelajari? Atau barangkali sastra mau dianggap sebagai sinonim dari grafologi yang memang mempelajari tulisan.

Pengertian lain mengenai sastra misalnya terkait dengan sifatnya yang imajinatif. Pengertian ini kerap kali dikaburkan dengan pengertian bahwa imajinatif artinya bukan berdasarkan kebenaran, tidak sesuai dengan dunia riil. Karenanya, Kadang-kadang ada beberapa tokoh yang tidak dikenal dalam catatan sejarah dunia riil –kendati beberapa karya sastra bertalian dengan dunia riil.

Dalam pengertian tersebut, imajinatif, sejatinya tak lebih dari nama lain fantasi. Secara paradoksal, fantasi dianggap sebagai bagian dari sastra, namun di sisi lain fantasi adalah sastra itu sendiri.

Pengertian imajinatif sebagai fantasi, sesungguhnya merugikan bagi dunia kesusastraan kita. Beberapa karya besar, misalnya Tetralogi Buru, tidak serta-merta fantasi di dalamnya. Beberapa nama bisa kita kenal dalam catatan sejarah seperti Tirto Adi, Kartini, Thamrin, dan masih banyak lagi. Beberapa tempat dalam novel tersebut juga dapat ditemui dalam dunia riil, seperti Surabaya, Buitenzorg, Jakarta (Batavia), dan lain sebagainya. Maka, menganggap sastra sebagai imajinasi dalam pengertian fantasi berarti menganggap Tetralogi Buru sebagai bukan karya sastra.

Namun demikian, menganggap sastra sebagai sepenuhnya nyata–sebagai lawan dari fantasi–juga sama ruginya. Beberapa karya sastra mungkin tidak didasari oleh hal-hal yang nyata dalam dunia riil. Seperti adegan bangkitnya Ayu Dewi dari kuburan yang dapat kita temui dalam Cantik Itu Luka, misalnya. Menganggap sastra sepenuhnya nyata, berarti juga menganggap Cantik Itu Luka sebagai bukan karya sastra.

Selain itu, sikap kita dalam kritik sastra pun akan berbeda apabila sastra dikaitkan sepenuhnya dengan kenyataan. Keterkaitan dan validasi terhadap sastra dan dunia riil bisa jadi merupakan pekerjaan yang penting dalam kritik sastra. Sebagai konsekuensi, karya sastra yang unsur-unsurnya tidak ada dalam dunia riil, maka bukan hanya dianggap buruk, tapi bukan karya sastra.

Oleh karenanya, pembicaraan mengenai nyata (dalam artian sesuai dengan dunia riil) dan fantasinya karya sastra, sejatinya adalah pembicaraan yang buang-buang waktu. Sebab, sastra tidak musti tendensius terhadap salah satu dari kedua jenis tersebut. Dalam sastra, kenyataan dan fantasi, seharunya–dan memang begitulah adanya–dibicarakan sebagai pilihan, bukan keharusan.

Imajinasi dalam karya sastra, sebaiknya tidak didefinisikan sebagai fantasi, yang artinya isi dari karya sastra tersebut sama sekali bukan kenyataan. Imajinasi dalam karya sastra maksudnya adalah, bagaimana suatu peristiwa dalam karya sastra (baik sesuai atau tidak dengan sejarah) ditampilkan secara nyata seperti peristiwa dalam dunia riil. Dalam dunia riil, peristiwa berupa peperangan misalnya, dapat kita lihat dengan mata sebagai peristiwa konkret. Sedangkan dalam sastra, seakurat apa pun isi cerita itu dengan sejarah, tapi ia tak dapat kita lihat, ia hanya dapat kita bayangkan. Dan oleh karenanya, kita menyebut sastra sebagai imajinasi. Sebab, peristiwa dalam karya sastra hanya dapat diimajinasi dalam kepala kita.

Ketika Minke (Tirto Adi) bertemu dengan Thamrin, kendati barangkali pertemuan itu memang pernah terjadi dalam dunia riil (yang artinya cerita tersebut akurat dengan sejarah) –tapi ia hanya bisa kita bayangkan, tak dapat kita lihat, apalagi sentuh dan terlibat di dalamnya. Maka, kenyataan dan kefantasian isi suatu cerita, sejatinya, bukan persoalan yang penting dalam sastra.

Sastra tak bisa pula didefinisikan dengan pengertian yang merujuk pada paham tertentu. Misalnya, sastra didefinisikan dengan paham komunis yang hendak menghapuskan kelas sosial, atau paham liberal yang hendak menciptakan tatanan hidup yang merdeka. Artinya, sastra adalah suatu upaya untuk menghapus kelas sosial dalam masyarakat; atau sastra adalah suatu upaya pembebasan terhadap individu untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki.

Masalah pertama, tentu saja, ada pada sifatnya yang terlalu sempit. Jika sastra hanya didefinisikan sebagai upaya pembebasan perempuan dari stereotip negatif dalam seluruh kebudayaan (merujuk pada ajaran feminisme), maka beberapa karya seperti Animal Farm yang tidak membahas soal itu, mau tidak mau harus digugurkan statusnya sebagai karya sastra.

Masalah lainnya yakni pada, apa bedanya sastra dengan paham itu sendiri? Misalnya, jika sastra didefinisikan sebagai upaya meningkatkan intensitas ketaatan kepada Allah (merujuk pada ajaran Islam), maka apa perbedaan sastra dengan ajaran Islam? Dalam hal ini, sastra lagi-lagi, sejatinya, hanya sinonim dari ajaran Islam tanpa ada perbedaan apa pun di dalamnya.

Masalah selanjutnya, dan berkaitan dengan yang sebelumnya ialah, apa status sastra dalam suatu paham? Jika ada definisi berupa sastra adalah upaya pewujudan masyarakat tanpa kelas (merujuk pada ajaran komunisme), maka apa sejatinya status dan fungsi sastra dalam hal itu?

Namun demikian, masalah tersebut pada akhirnya memberikan sesuatu yang dapat kita cermati untuk mendefinisikan sastra. Sastra tak bisa didefinisikan berdasar pada paham tertentu, sebab pembahasan dalam sastra amatlah variatif. Maka, paham-paham tersebut seharusnya ditempatkan sebagai variasi dalam pembahasan sastra. Sastra bisa menjadi upaya untuk menciptakan masyarakat yang bebas, bisa pula menjadi upaya menciptakan masyarakat tanpa kelas, bisa pula menjadi upaya membebaskan perempuan dari stereotip dalam segala kebudayaan, dan seterusnya.

Namun begitu, sastra tidak sama dengan paham itu sendiri. Karenanya, ia dipelajari secara terpisah. Maka, status dan fungsi sastra dalam masing-masing paham tersebut ialah sebagai alat yang digunakan untuk menyampaikan ajaran tersebut. Itu berlaku dalam hal apa pun. Dalam hal cinta misalnya, sastra adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan gagasan mengenai cinta. Para teoretikus cinta mungkin bisa berbicara bahwa cinta adalah pengorbanan. Namun, dalam sastra sifat cinta sebagai pengorbanan tersebut diceritakan dalam rangkaian peristiwa (plot) di mana seseorang (tokoh) melakukan pengorbanan kepada orang lain di dalam suatu tempat tertentu (latar).

Maka, sastra perlu dipahami sebagai metode yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau gagasan tertentu. Metode penyampaian tersebut yakni dengan menciptakan suatu peristiwa tertentu yang mirip dengan peristiwa di dalam dunia riil di mana ada pelaku, tempat, dan masalah. Dalam dunia riil, peristiwa tersebut dapat disaksikan dengan mata. Namun, peristiwa tersebut hanya terjadi sekali. Mata hanya bisa melihatnya satu kali. Dalam sastra, hal tersebut disajikan dalam bentuk kata-kata yang nantinya dibayangkan dalam pikiran pembaca. Maka, peristiwa itu dapat disaksikan di dalam pikiran berkali-kali.

Ulama dan pengarang sastra mungkin bisa sama-sama berbicara mengenai lailatul qadar. Namun, cara yang digunakan bisa amat berbeda. Ulama mungkin akan mengatakan bahwa “ada satu malam di mana pahala amat berlipat diberikan Allah kepada hambanya, karenanya kita harus banyak beribadah”. Cara penyampaian gagasan dan informasi tersebut ialah dengan menyuruh secara langsung.

Namun, dalam sastra, pengarang tidak berbicara bahwa “kita harus melakukan ibadah pada suatu malam yang spesial di bulan Ramadhan”, melainkan dengan memberi contoh berupa rangkaian peristiwa di mana seseorang, di dalam tempat dan waktu tertentu, melakukan suatu peribadahan. Misalnya yang diceritakan Danarto dalam cerpen berjudul “Lailatul Qodar”.

Contoh aktivitas tersebut, kadang-kadang jauh lebih efektif digunakan. Karenanya, matematika yang rumit sekalipun membutuhkan cerita sebagai contoh peristiwa dalam suatu fenomena yang disebut sebagai “soal cerita”. Seorang guru fisika pun perlu contoh peristiwa untuk menjelaskan relativitas.

Maka, sastra semestinya dipahami pada aspek penyampaian gagasan, bukan pada gagasannya itu sendiri. Dalam sastra, poin utama bukan terletak pada gagasan atau pembahasan yang ada di dalamnya. Itulah sebabnya kita amat kesulitan manakala hendak memaksakan diri mendefinisikan sastra berdasarkan bahasan tertentu. Misalnya bahasan seputar cinta, sulit jika itu digunakan sebagai definisi sastra, yang artinya, sastra dapat disebut sebagai pembahasan mengenai sastra.

Lagipula, pembahasan dalam sastra sangat beragam sehingga tak mungkin mendefinisikan berdasarkan aspek tersebut. Sastra di satu sisi bisa membahas tentang peperangan, di sisi lain, bisa membahas seputar kehamilan. Maka, jika sastra hendak disimpulkan berdasarkan aspek pembahasan, mana yang sastra? Apakah perang atau kehamilan yang dapat mendefinisikan apa itu sastra? Tidak keduanya, sebab sastra bukan soal itu.

Kita dapat membandingkan dengan bidang seni yang lain. Jika seni pada dasarnya mau didefinisikan pada aspek pembahasannya, maka antara seni sastra dengan tari, misalnya, seharusnya tidak membahas satu topik yang sama. Namun, tidak demikian. Kita menemukan bahwa dalam sastra dan tari, kadang-kadang pembahasan yang sama bisa hadir. Misalnya pembahasan seputar peperangan. Novel Hadji Murat dapat membicarakan satu pembahasan yang sama dengan tarian Cakalele: peperangan. Maka, tak mungkin sastra–begitu pula tari–didefinisikan berdasarkan pada pembahasannya.

Namun, kita bisa mengajukan pertanyaan, apa yang membedakan sastra dengan tari? Sastra dan tari barangkali bisa membahas satu topik yang sama. Namun, kita sadar bahwa antara keduanya terdapat suatu perbedaan yang signifikan: metode yang digunakan dalam membahasa suatu topik.

Sastra membahas peperangan misalnya, dengan cara menyajikan rangkaian peristiwa seperti terjadi di dunia riil melalui kata-kata. Kata-kata tersebut, kemudian di proses dan menghasilkan suatu gambaran mengenai peristiwa peperangan tersebut. Proses penggambaran tersebutlah yang kemudian kita sebut sebagai imajinasi. Maka, imajinasi dalam karya sastra pada dasarnya adalah tentang bagaimana teknik yang digunakan pengarang dalam menyampaikan gagasan dapat memberikan gambaran peristiwa seperi terjadi di dunia riil–bukan tentang apa yang dibicarakan pengarang, yang sifatnya tidak atau bertentangan dengan kenyataan.

Dalam seni tari, topik bahasan mengenai peperangan disampaikan melalui gerakan-gerakan tertentu yang melambangkan peperangan. Maka perbedaannya amat jelas dalam hal ini, yakni tentang bagaimana suatu topik bahasan disampaikan, bukan tentang topik bahasan itu sendiri.

Kini, kita cukup memahami bahwa sastra dapat didefinisikan dalam pengertiannya sebagai metode untuk menyampaikan topik bahasan dengan cara memberikan gambaran berupa rangkaian peristiwa yang dialami tokoh dalam seting tertentu dengan kata-kata atau bahasa sebagai alatnya. Maka, pembahasan mengenai teknik tersebut perlu mendapat porsi berlebih dalam kritik sastra.

Sejauh ini, dalam ranah kritik sastra, upaya penyintesisan sastra dengan bidang lainnya banyak dilakukan. Misalnya dengan psikologi yang menghasilkan psikologi sastra. Dalam bidang tersebut, teori-teori psikologi digunakan dalam menjelaskan gejala-gejala mental tokoh karya sastra atau seorang pengarang. Misalnya lagi, penggabungan antara sastra dengan sosiologi yang menghasilkan sosiologi sastra.

Dalam dua bidang tersebut misalnya, sastra tidak hadir sebagai sosok yang mandiri. Bahkan, sastra hanyalah sebagai objek yang akan dibedah sana-sini untuk menghasilkan suatu pemahaman tertentu terhadapnya.

Bukannya buruk, namun hal itu menunjukkan bahwa sastra tidaklah mandiri. Ia membutuhkan orang lain untuk mengurus dirinya sendiri. Tapi itu tidak buruk, toh kita dimudahkan dalam memahami sastra.

Namun begitu, sastra harus pula bisa berdiri sendiri dengan teori-teori yang sesuai dengan batasannya. Setelah memahami sastra sebagai metode dalam menyampaikan suatu gagasan, kini kita perlu untuk banyak mengajukan pendekatan yang dapat membedah dan menjustifikasi teknik yang digunakan dalam pengarang untuk menyajikan suatu topik pembahasan.

Strukturalisme jauh-jauh hari telah melakukan itu, dengan cara melihat bukan terhadap apa yang dibicarakan, melainkan bagaimana hal itu dibicarakan. Dalam pandangan strukturalisme, teknik yang baik ialah manakala dalam suatu karya sastra, unsur-unsur di dalamnya saling berkaitan dan bersifat determinan satu sama lain.

Pendekatan lain yang membahas seputar teknik atau cara yang digunakan untuk menyampaikan suatu topik pembahasan dalam karya sastra pernah dan masih pula dilakukan oleh stilistika. Pada teori tersebut, sastra dinilai berdasarkan bahasa yang digunakannya dalam menyampaikan topik pembahasan.

Cara lain sejatinya perlu sekali dilakukan untuk menghadirkan kritik sastra yang mandiri, yang membahas sastra dalam batasannya sendiri. Dengan memahami bahwa terdapat kecenderungan dalam otak manusia untuk tertarik pada contoh peristiwa yang konkret ketimbang sebatas gagasan yang abstrak, maka teori yang relevan dengan hal itu mungkin bisa dimunculkan. Misalnya, teori tentang bagaimana sastra menghadirkan rangkaian peristiwa dalam upaya menyajikan gagasan atau topik bahasan tertentu secara konkret sebagaimana peristiwa dalam dunia riil.

Hal lain mungkin dapat dihadirkan pula dalam upaya merumuskan teori kritik sastra yang berdasar pada batasan sastra itu sendiri sebagai metode yang digunakan untuk menyampaikan suatu gagasan atau topik pembahasan tertentu. Yang utama, kita perlu mengingat bahwa batasan sastra bukan pada apa yang dibahas di dalamnya, melainkan pada bagaimana topik pembahasan tersebut dibicarakan–karenanya kita dapat membedakannya dengan kesenian lainnya. Maka, untuk menghadirkan teori kritik sastra yang mandiri, kesadaran mengenai hal itu (sastra sebagai metode menyampaikan suatu gagasan atau topik bahasa  tertentu) dapat digunakan untuk memulainya.

* Ditulis oleh Muhamad Reza Hasan, mahasiswa sastra yang lahir dan tinggal di Tangerang.

Setelah Pena Lebih Tajam dari Pedang, Selanjutnya Apa?

0




Pasase klasik pena lebih tajam dari pedang yang ditulis oleh Edward Bulwer-Lytton di naskah drama Cardinal Richelieu (1839) nampaknya akan bertransformasi. Teks-teks di sebuah buku kini akan berebut “panggung” dengan ragam wacana yang berseliweran di media sosial. Dari siniar (podcast), video blog dan ragam budaya populer lainnya. Sastrawan atau penulis yang menulis karya sastra di era digital kiranya akan mengalami beragam tafsir dan modifikasi ruang, dan juga bisa tercabut dari akar itu sendiri.

Beragam tafsir yang saya maksud adalah ketika seorang penyair menulis sebuah puisi secara tuntas—lalu akun pada sebuah media sosial memotong puisi utuh tersebut menjadi sebuah kutipan. Suasana yang terbangun akan berbeda dan mengalami modifikasi ruang; dapat disalin tempel dan direproduksi sedemikian rupa hingga beranak pinak. Ketika aksara cetak lahir dengan mesin buatan Gutenberg, kini ia dapat diproduksi dengan mesin kecerdasan buatan dan beralih rupa dengan hiperteks di berbagai kanal.

Kini kita dapat membaca fiksi interaktif di sebuah gim ponsel, puisi animasi, hingga karya sastra yang lahir dari rahim kecerdasan buatan. Ya! Kini korporasi di bidang teknologi telah mampu membuat karya sastra dan seni lewat mesin. Algoritma yang tercipta mampu menguasai indikator dari karya sastra atau seni yang bagus menurut kritikus. Penulis saat ini saya kira harus lebih meningkatkan kualitas karya dan eksploratif dalam menemukan premis agar umurnya panjang.

Penulis di era kiwari bukan hanya mengandalkan pena sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Ia butuh platform atau media untuk menyampaikannya. Saya ingat di tahun 2011, kala itu sekelompok masyarakat dan seniman Indonesia membuat gerakan Koin Sastra. Gerakan itu adalah bentuk keprihatinan atas kondisi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin yang saat itu mengalami pengurangan dana perawatan. Berawal dari maklumat yang telah mengalami reproduksi, retweet dan berbagai pesan berantai, maka gerakan itu menjadi nyata dan terhubung ke semua orang.

Era digital telah memunculkan lahirnya sastra siber dalam bentuk kebiasaan baru. Dari semula karya sastra dibuat secara personal, menjadi karya sastra yang dibuat secara bersama, yaitu puisi berantai. Ketika salah satu akun media sosial membuat suatu unggahan tematik dan para pengguna meresponnya dengan satu bait puisi, misalnya, maka karya tersebut akan menjadi totalitas komunal.

Setelah polemik sastra siber di awal milenum, kini ‘peradaban’ tersebut memasuki babak baru dalam ragam bentuk. Ketika dulu pembaca melakukan penilaian atau resensi secara konvensional, kini penulis menggunggahnya di caption Instagram, membicarakannya di siniar hingga mengulasnya dalam kebudayaan performatif-lisan, di Youtube.

Saat ini kita bisa melihat dan mencuri dengar gagasan seorang penulis. Ia hadir lebih dari teks: pertunjukan audiovisual di kanal Youtube. Hasan Aspahani dan Marhalim Zaini kerap membacakan puisi kemudian mengulasnya; Martin Suryajaya membicarakan filsafat dengan santai dan gaya kasual yang disukai anak muda. Saya kira perluasan itu untuk mendapatkan “pembaca” yang lebih luas dan gaungnya bisa menerobos rimba maya yang penuh notifikasi di ponsel generasi kiwari.

Platform dan Kuratorial

Dunia yang kita alami dan saksikan sekarang adalah sebuah dunia yang bisa digenggam dan dibawa ke mana saja. Kita dapat menyimak, membaca, menonton, menyebarluaskan gagasan di dalam sebuah layar elektronik dan semua seolah dalam genggaman. Untuk berdiskusi sastra pun kita tak harus bertemu secara fisik. Kita dapat berjejaring dan memiliki komunitas literasi yang sesuai dengan bentuk estetika kita. Semua tersaji secara daring. Semua yang tampak sakral dan profan tersaji dengan mudah dan cepat. Yang banal dan estetik hadir dengan segala kemungkinan. Kemudahan dan kecepatan itu bersinggungan erat dengan ketepatan dan kesalahan. Tarik menarik antar kebenaran versi A dengan kebenaran versi B.

Pada era informasi seperti sekarang, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan hanya pakar, melainkan juga para penganut teori konspirasi, orang awam sok tahu, hingga pesohor yang menyesatkan. Begitu petikan di wara (blurb) buku Matinya Kepakaran karangan Tom Nichols. Disrupsi memberikan kemudahan juga kedangkalan. Setiap orang dapat dengan cepat menjadi ahli pada suatu bidang yang tidak pernah ditekuni secara mendalam. Pada sisi lain, melubernya informasi membuat hilangnya nilai dan batas keilmuan.

Kita sekarang bisa melihat menjamurnya kelas pelatihan menulis secara daring. Tak ada yang salah dengan itu tentu. Namun Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan selaku lembaga negara yang memiliki otoritas untuk memberikan konten edukatif, kiranya mempunyai peran untuk mengarahkan itu. Badan Bahasa dapat menggandeng lembaga lainnya seperti Kemkominfo untuk membuat platform atau aplikasi kuratorial sastra yang berfungsi sebagai ensiklopedia dan direktori yang dialogis. Kemudian, data tersebut dapat diperbaharui setiap waktu dan menggapai bank data lainnya di arsip Dewan Kesenian Jakarta, misalnya. Koherensi dan kolaborasi menjadi hal yang penting di sini. Mengingat dinamika bahasa dan sastra begitu lentur seiring perkembangan zaman dan kredibilitas unggahan menjadi hal yang utama.

Ego sektoral antar lembaga pemerintahan yang kadang tidak sinkron, perlu diperbaiki tata kelolanya. Lihat bagaimana Kemendikbud bekerja sama dengan Netflix untuk menayangkan film dokumenter di TVRI untuk program Belajar dari Rumah, sementara sebelumnya Kemkominfo kontra atau memblokir tayangan di Netflix (mungkin akan berubah nantinya). Saya kira kalau program literasi khususnya sastra jelas dengan konsep dan konkret dalam pelaksanaan, penetrasi acara sastra di media arus utama seperti televisi pun akan terlaksana. Jelas dalam hal apa? Dalam bentuk sosialisasi dan pentingnya sastra atau literasi untuk kehidupan; memperhalus budi, memperluas cakrawala dan imajinasi serta dapat masuk ke lintas sektor seni dan kehidupan. Misalnya kita pahami dulu tentang literasi dasar: mulai dari literasi ekonomi sampai digital. Penyampaiannya bisa berbentuk gelar wicara interaktif atau simulasi permainan. Beberapa kali saya menemukan komentar sembrono di kolom komentar media sosial. Komentar yang tidak diiringi dari keterampilan dasar berbahasa: menyimak, membaca, menulis dan berbicara. Alhasil komentar semacam: Indonesia darurat membaca dan sebagainya menjadi diskursus yang selalu ada dan setelahnya menguap entah ke mana.  

Indonesia memang tidak selalu merata dalam distribusi sumber pengetahuan begitu juga dengan sinyal dan pasokan listrik. Namun tidak ada salahnya kalau mencoba terlebih dahulu dengan membuat sebuah platform, yang dari segi aksesibilitas mudah dijangkau cara dan penggunaannya. Platform tersebut kiranya dapat diunduh di Playstore dan ramah terhadap generasi muda. Meski begitu, substansi tetap yang utama; secara komprehensif memuat data terkait sastra Indonesia. Entri tersebut bisa dimulai dari sejarah sastra, kritik sastra, sayembara sastra, sastra populer, sastra avant garde hingga kemungkinan untuk berguru ke praktisi/sastrawan secara gratis dengan ragam persyaratan ketat. Misalnya ketika seseorang/pengguna sudah memiliki akun di platform tersebut, ia dapat mengikuti seleksi agar bisa mengikuti sebuah kelas penulisan daring secara gratis. Tentu ini dengan persyaratan dan kurasi yang transparan.

Saya kira kalau definisi disrupsi adalah tercabut dari akar, maka penulis kiwari bisa kembali menyemai benih kata, menyiram hingga tumbuh menjadi totalitas karya. Ketika ada pohon yang tercabut sampai akarnya, maka penulis bisa kembali membuka kavelingnya dengan menanam benih hingga jadi pohon yang kokoh. Seperti tanaman hidroponik, kita bisa menanamnya di mana saja. Penulis di era pascarealitas, terkadang membutuhkan pendengung atau pelantang agar karyanya didengar. Namun tentu saja, emas tidak perlu mengatakan dirinya emas. Pembaca akan tahu sebuah kualitas.

Saya sependapat dengan pernyataan Eka Kurniawan di catatan singkat Facebook-nya: Kalau ada orang yang suka membesar-besarkan dirinya, mungkin dia sedang merasa terancam. Dengan adanya plaftform/media/aplikasi yang telah diukur dengan instrumen dan variabel yang jelas, harapan saya sastra Indonesia akan dinikmati secara masif oleh generasi muda seperti mereka mengonsumsi konten popular: Netflix, Webtoon dan piranti hiburan lainnya. Jadi, kalau boleh merespons pasase pena lebih tajam dari pedang, maka saya akan menambahkan: dan pena membutuhkan tinta yang bagus agar senantiasa terukir jelas, terjaga dan tepat guna.

===================
Galeh Pramudita Arianto, lahir di Tangerang Selatan, 1993. Bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Makarios dan salah satu pendiri platform Penakota.id. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) menerima beasiswa penerjemahan dari Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020. Saat ini sedang mempersiapkan buku puisi: Kunjungan Alien Pertama ke Bumi.

Critical Pedagogy: Menggugat Pragmatisme Kampus Merdeka

0



Belum lama ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membuat gebrakan dengan menggulirkan kebijakan Kampus Merdeka. Belakangan gebrakan yang dibuat oleh Nadiem itu sukses membuat banyak orang mengerutkan kening. Karena dari istilah yang dipakai (Kampus Merdeka) terdengar revolusioner. Seakan-akan hendak mengaktifkan kembali ‘DNA’ kampus: kebebasan akademis. Namun, bukan itu yang dimaksud Nadiem. Kampus Merdeka ala Nadiem ialah sebuah usaha untuk mencetak mahasiswa siap kerja.

Keberadaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sepertinya belum cukup sehingga harus mengubah paradigma kampus lebih pragmatisme yang hanya menyoal menyiapkan tenaga kerja semata. Budaya pragmatisme itulah disindir pedas oleh M. Agus Suyatno (2011): pendidikan dan sekolah tidaklah identik dengan mencari kerja. Asumsi sekolah sama dengan mencari kerja adalah akibat terpengaruh budaya pragmatisme. Mencari kerja bukanlah inti orang belajar dan sekolah. Mencari kerja adalah bagian, bukan tujuan utama orang bersekolah.

Budaya pragmatisme

Sebaliknya, cara berpikir Nadiem dengan kebijakan Kampus Merdeka cenderung kapitalistik.  Seragama dengan kuatnya opini publik yang menganggap tujuan sekolah untuk mendapatkan pekerjaan layak. Hal ini tidak lain akibat dominannya budaya pragmatisme di masyarakat dan pendidikan kita. Senada dengan dugaan Ariel Heryanto yang mengatakan, “Jauh-jauh hari dalam dunia pendidikan di Indonesia sendiri sudah ditanamkan semangat kapitalisme dan hukum pasar sudah diterapkan, walau pada saat itu patrimonialisme dan feodalisme politik masih menjadi payung besarnya” (Industrialisasi Pendidikan: 2000).

Pada dasarnya filosofis pendidikan di bawah komando Nadiem dengan istilah Kampus Merdeka tidak sepenuhnya menjawab keresahan masyarakat dalam menyikapi persoalan publik. Mengingat begitu pentingnya peran kampus untuk memberi kritik dan mengolah diskursus publik dalam menanggapi persoalan bangsa. Sebut saja undang-undang pelemahan terhadap KPK, RUU Omnibus Law yang berpotensi melanggar hak lingkungan dan hak buruh sepi dari diskursus kampus. Sepertinya kampus telah menjadi kuburan bagi matinya kritik akademis.

Sementara itu dalam kebijakan Kampus Merdeka peran antara kampus dan mahasiswa ibarat cetakan dan adonan yang mengikuti selera pasar. Jika itu tujuannya seharusnya istilah atau terminologi yang tepat untuk dipakai bukan Kampus Merdeka, melainkan Kampus Link and Match. Misalnya pada poin pertama, kampus mempunyai otonomi untuk membuka prodi (program studi) baru dengan syarat sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan. Kata Nadiem, “Selama ini mahasiswa hanya dilatih berenang dengan satu gaya. Dalam Kampus Merdeka, mereka diceburkan ke laut, dilatih berbagai macam keahlian supaya bisa bertahan”.

Logika Kampus Merdeka yang mengutamakan ‘human capital’ dan menihilkan ‘social capital’, hanya akan menyebabkan ‘social distancing’. (Mahasiswa terasing dengan realitas sosialnya). Karena bagaimanapun juga keberadaan kampus tidak bisa dilepaskan dengan historisitas masyarakatnya. Dalam sejarah berdirinya republik ini peran ‘kampus’ selalu berdiri di garda terdepan dalam menghadapi pergulatan momen kebangsaan. Sebut saja angkatan cendekia Budi Utomo, angkatan Sumpah Pemuda, angkatan 66, angkatan 98 yang pelaku sejarahnya ialah para kaum terdidik. Mengingat romantisme antara mahasiswa dengan ‘penguasa korup’ di berbagai momentum menandakan kampus ialah motor penggerak kebangkitan sebuah bangsa.

Selain itu hal lain yang patut menjadi peremenungan bersama ialah persoalan kampus hari-hari ini dikelola dengan logika korporat; rektor mempunyai kewenangan untuk melakukan apa pun. Bahkan tak segan ‘menggebuk’ dosen dan mahasiswa jika tidak satu garis lurus dengan aturan yang dibuatnya. Padahal, akan lebih bijak jika kampus netral dari ‘politik praktis’ dalam menyikapi isu sosial. Sungguh sangat disesalkan jika penguasa ikut mengambil keuntungan dari peran kampus baik dengan cara ‘intervensi’ (hegemoni kekuasaan), maupun ‘okupasi politik’ (menggaet kalangan akademisi masuk ke sistem kekuasaan). Di situlah matinya gema lonceng akademik, karena kritik dan aksi moral dengan turun ke jalan ialah kegiatan yang tidak sehaluan dengan instruksi penguasa.

De omnibus dubitandum

Tentu kita menyadari bangsa ini sedang menghadapi persoalan ekonomi. Berbagai persoalan menguap ke permukaan. Akan tetapi, tanpa kritisisme kampus kekuasaan akan cenderung korup. Kekuasaan tanpa kritik hanya akan melahirkan penguasa yang otoritarian. Artinya penguasa mempunyai potensi menjadi Leviathan–dalam istilah Thomas Hobbes; tidak terkontrol dalam mengeluarkan kebijakan apa pun demi kepentingan tertentu. Dan mahasiswa akan kehilangan rasion d’etre-nya. Kehilangan kejernihan berpikir karena hegemoni rektorat.

Jika kita amati Kampus Merdeka versi Nadiem bukanlah sebuah penafsiran ‘radikalisme humanis’ ala Ivan Illich. Meminjam definisi Erich Fromm tentang ‘radikalisme humanis’, yakni bukan sekumpulan ide atau konsep ideologis tertentu, melainkan sebuah proses untuk memperluas kesadaran, dan pembebasan diri dari pemikiran yang memberhalakan. Oleh karena itu, dalam menyikapi kebijakan Kampus Merdeka perlunya mengedepankan logika de omnibus dubitandum; segala sesuatu harus diragukan. Bukan malah sebaliknya, menggelar karpet merah dengan mendiamkan setiap kebjiakan yang dibuat oleh penguasa sehingga bebas dari kritik.

Kampus Merdeka juga bukan penafsiran transformasi pembebasan ala Freire: pedagogy of the opopressed. Argumentasi Nadiem yang hendak menyederhanakan administrasi kampus justru membuat administrasi baru yang tak kalah kompleksnya. Lebih dari itu, juga tak kalah membelenggunya bagi kebebasan berpikir civitas akademik, karena kecenderungan rektorat yang antidialogis. Proses pedagogis seperti ini tidak akan bisa melahirkan critical subjectivity (kemampuan untuk melihat dunia dan persoalannya secara kritis).

Jika boleh jujur Kampus Merdeka tidak lebih dari industrialisasi pendidikan belaka, bukan dalam rangka membangun kebudayaan manusia, melainkan melayani kehendak pasar. Jika konotasiikan Kampus Merdeka menghamba pada pasar industri. Jika meminjam argumentasi M. Agus Suyatno (2011), ideologi pendidikan jelas berbeda dengan ideologi pasar. Ideologi pendidikan lebih mementingkan nilai etis-humanistik, sedangkan ideologi pasar bertumpu pada nilai-nilai pragmatis-materialistik.

Dengan demikian dapat dipastikan kebijakan Kampus Merdeka hanya akan menjadikan kampus bukan lagi menjadi tungku perapian untuk menggodok persoalan publik, akan tetapi memanggang mahasiswa untuk memenuhi hasrat industri dan pabrik. Pada akhirnya kita dibuat mengerti, bahwa kritisisme kampus yang berangkat dari kegelisahan karena suatu persoalan yang mengemuka di ruang publik, kini berada di persimpangan jalan sunyi. Jika boleh kita namai ‘masyarakat akademis yang kesepian’. Sebab, kampus dikerdilkan dan dipisahkan dengan realitas persoalan publik. Mahasiswa hanya disuruh menjadi penonton di atas puncak menara gading. Suatu keberhasilan pemerintah dalam usaha semacam itu ialah menjadikan mahasiswa kopong dalam menyelami persoalan sosial di tengah masyarakatnya.

====================
Ade Mulyono, pemerhati pendidikan. Tulisannya dimuat di Radar Surabaya, Pikiran Rakyat, Bangka Pos, Solo Pos, Medan Pos, Pontianak Post, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Malang Post, Bangka Pos, Padang Ekspres, Minggu Pagi, Koran Merapi, Media Indonesia, Koran Jakarta, Harian Analisa, Republika, Tribun Jateng, Harian Rakyat Sultra, Radar Tegal, Satelit Post, Media Jatim, Tanjungpinang Post, Geotimes, dan Suara Kebebasan.

Joko Pinurbo, Menjadi Penyair Adalah Menjadi Manusia Biasa

0

Mari kita buka
apa isi kaleng Khong Guan ini
biskuit
peyek
keripik
amplang
atau rengginang?

Simsalabim. Buka!

Isinya ternyata
ponsel
kartu ATM
tiket
voucer
obat
jimat
dan kepingan-kepingan rindu
yang sudah membatu.

(Bingkisan Khong Guan, 2019)

Seorang lelaki paruh baya berjalan tenang melintasi deretan kursi yang sudah penuh terisi. Puluhan pasang mata pirsawan yang hadir bergerak mengikuti langkah lelaki itu sampai ia tiba dan duduk di kursi di atas panggung. Dari kursi pirsawan, kaos berkerah dan celana kain yang membalut tubuhnya tampak longgar. Sementara bagian bawah matanya menghitam.

Begitulah Joko Pinurbo atau yang juga dikenal publik dengan akronim Jokpin malam itu (31/1/2020). Ialah penyair yang menulis puisi Bingkisan Khong Guan. Bersama puluhan puisi lain, puisi yang tak sungkan menyebut merek dagang itu belum lama diterbitkan sebagai buku dan lekas menjadi salah satu buku paling dicari pembeli.

“Saya menulis Khong Guan bukan karena saya duta Khong Guan, juga bukan karena pengen dapat sponsor dari Khong Guan. Saya tidak berhubungan sama perusahaannya. Mereka mungkin malah nggak tahu saya nulis tentang Khong Guan. Andaikan tahu, mungkin malah bingung sendiri membaca puisi-puisi saya. Saat saya sedang merenung, memikirkan citraan apa yang tepat untuk menampung hal-hal yang ingin saya sampaikan, misalnya soal toleransi, kemanusiaan, keberagaman, dan lain-lain, saya berusaha mengingat benda-benda di sekitar saya, yang dekat dengan saya dan masyarakat. Saya kemudian ingat biskuit Khong Guan,” ungkap Jokpin.

Konon, kehidupan Jokpin sejak kecil bersinggungan dengan biskuit Khong Guan. Biskuit Khong Guan menjadi ikon bingkisan yang mewah. Sampai kini, ia mendapati Khong Guan hadir di meja ruang tamu di berbagai perayaan hari raya umat beragama. Biskuit Khong Guan tidak termasuk jenis hidangan yang digemari tamu sehingga tidak lekas habis. Jokpin menyebutnya sebagai yang “biasa-biasa saja, akhirnya habis juga”.

Ia juga menangkap fenomena kaleng Khong Guan yang sering difungsikan untuk wadah rengginang atau jenis penganan lain. Kaleng Khong Guan melampaui manusia. Ia bisa hadir di segala jenis hari raya, ia menampung apa saja yang diletakkan manusia di dalamnya. Demikian Jokpin memberi penjelasan.

Sastra yang Dekat dengan Masyarakat

Siapa bilang dunia sastra itu dunia tersendiri yang terpisah dari masyarakat? Anggapan itu jadi tidak relevan dengan puisi yang ditulis Jokpin. Di Yogyakarta ini, siapa yang tidak tahu atau minimal tidak pernah dengar nama Pasar Beringharjo? Saya kira tidak ada. Masyarakat di luar Yogyakarta pun akrab dengan nama pasar tersebut. Di Kawasan Pasar Beringharjo terpampang sebuah mural dengan tulisan sebagai berikut, Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Mural yang sering dijadikan latar berfoto itu tidak lain ialah penggalan puisi Jokpin.

Penggalan puisi yang dijadikan mural itu menjadi bukti bahwa sastra tidak terpisah dari kehidupan masyarakat. Pilihan kata dalam puisi-puisi Jokpin yang lain juga terasa dekat dengan kita sebagai masyarakat pada umumnya. Kita bisa melihat dari judul-judul buku puisi Jokpin. Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007), Tahilalat (2012), Haduh, aku di-follow (2013), Baju Bulan (2013), Bulu Matamu: Padang Ilalang (2014), Surat Kopi (2014), Surat dari Yogya (2015), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), Buku Latihan Tidur (2017), Perjamuan Khong Guan (2020).

“Puisi Celana saya tulis ketika saya melihat orang-orang Indonesia banyak sekali yang memakai celana jeans. Di kampus saya, di Sanata Dharma, waktu saya main setelah lulus, itu hampir semua mahasiswanya memakai celana jeans. Fenomena itu belum ada waktu saya masih kuliah. Terus terpikirlah untuk menulis puisi tentang celana,” kenang Jokpin.

Demikian halnya dengan puisi-puisi Jokpin yang lain, idenya selalu datang dari pengamatan dan kemudian keinginan mengabadikan apa-apa yang terjadi di masyarakat dalam bentuk puisi. Puisi Telepon Genggam ditulis ketika penggunaan telepon genggam generasi pertama mulai marak di Indonesia. Di tahun 2000-an, telepon genggam yang beredar di Indonesia fungsinya masih terbatas untuk mengirim pesan pendek dan telepon, belum secanggih dan selengkap telepon genggam di era internet seperti saat ini.

Fenomena merebaknya kopi dan menjamurnya kafe-kafe dengan desain yang instagramable juga tak luput dari pengamatan Jokpin. Ia menulis puluhan puisi yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Surat Kopi (2014). Jokpin memilih menggunakan kata-kata biasa yang dekat dengan keseharian masyarakat misalnya ibadah, sarung, latihan tidur, dan lain sebagainya.

“Karena puisi saya memang refleksi dari apa yang sedang terjadi di masyarakat. Saya memilih menulis puisi dengan bahasa sehari-hari untuk menyampaikan ide-ide saya, misalnya tentang kemanusiaan, keberagaman, keluarga. Supaya apa? Supaya lebih banyak orang yang bisa memahami apa yang mau saya sampaikan,” ungkap Jokpin setelah menenggak air mineral di hadapannya.


Banyak Membaca, Sedikit Menulis

Lelaki berusia 57 tahun itu sudah menulis puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi ketenarannya saat ini bukan didapat begitu saja. Ada upaya tekun dan serius yang dilakoni Jokpin untuk menjadi penyair.

“Pesan saya untuk anak-anak muda yang ingin jadi penyair, jangan buru-buru. Meskipun dunia internet seperti sekarang mudah sekali mempublikasikan karya, tapi pesan saya jangan terburu-buru mempublikasikannya. Setelah menulis, coba biarkan dulu, diamkan dulu puisimu. Untuk mengambil jarak dengan apa yang kamu tulis. Biasanya kalau selesai menulis kamu langsung mengirimkan ke media massa, itu kamu dikuasai oleh rasa senang atau puas karena telah menyelesaikan tulisan. Padahal boleh jadi tulisanmu itu belum maksimal, masih bisa diperbaiki lagi,” demikian jawaban Jokpin ketika ditanya apa pesannya bagi anak-anak muda yang ingin menjadi penyair seperti dirinya.

Jokpin sendiri memiliki kebiasaan unik. Ia belum berhenti mengedit puisinya kalau belum sebelas kali. Ketika dikonfirmasi oleh merdeka.com, alasan mengapa ia memilih angka sebelas, ternyata sebelas adalah tanggal lahirnya. Ia percaya dan meyakini kalau puisinya belum diedit sebelas kali itu artinya belum layak untuk dikirim ke media massa.

Pesan Jokpin supaya anak-anak muda yang ingin menjadi penyair tidak buru-buru mempublikasikan puisinya ialah untuk meminimalisir kemungkinan puisi itu muncul selintas saja, atau tak diingat siapapun karena memang tidak berbeda dengan puisi-puisi lain yang muncul dengan sangat cepat di berbagai media sosial.

Satu lagi pesan Jokpin untuk anak-anak muda yang ingin menjadi penyair. Menurut Jokpin, penyair harus banyak membaca, baik itu buku atau kejadian sehari-hari. “Penyair atau penulis apapun, ia harus lebih banyak membaca daripada menulis. Katakanlah kalau dibuat perbandingan ya 3:1, 3-nya membaca, 1-nya menulis.” []



===================
Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.

Dongeng…

0

Wabah telah dongeng. Di buku-buku sejarah, wabah itu dicantumkan dan terbaca, dari masa ke masa. Wabah pun tuturan bakal terdengar dengan sekian imbuhan atau pengurangan. Wabah demi wabah digubah oleh para pengarang menjadi cerita atau puisi. Di hadapan sastra, wabah tak cuma imajinasi. Pada teks-teks sastra, kita perlahan mengerti dan mengingat wabah itu mematikan tapi menggerakkan tanda seru minta terjawab umat manusia.    

Pada hari-hari buruk memberi setumpuk takut dan duka, kita kangen dongeng-dongeng “menghibur” dan membahagiakan. Kangen atas imajinasi mengembara ke negeri-negeri jauh, mengagumi tokoh-tokoh ampuh, dan memanen pujian-pujian atas segala peristiwa. Dongeng tak berada jauh di masa lalu. Dongeng-dongeng masih bersama kita setiap hari tapi “terlelap” berbarengan nafsu memberi tatapan ke gawai di kisruh berita atau pameran pendapat mengakibatkan perkelahian. Kesibukan-kesibukan baru tak senikmat persinggahan dan pengelanaan di dongeng-dongeng. Kita merindu dongeng sejak dunia murung. Umat manusia sedang menanggungkan duka belum selesai.

Kita kangen dongeng. Singgah dulu ke novel berjudul Harun dan Samudra Dongeng (2011) gubahan Salman Rushdie. Kota-kota di suatu negeri sedang merana dihuni orang-orang bersikap berlawanan. Di mata para penggemar, pendongeng keliling itu dijuluki “Sang Samudra Khayal”. Musuh-musuh pendongeng memberi julukan “Raja Omong Kosong”. Orang-orang mengerti menjalani hidup tak keruan. Dongeng “terlalu” diperlukan tapi kandungan-kandungan hikmah dipertengkarkan berpamrih hiburan, politik, duit, etika, religiositas, keluarga, dan lain-lain. Pendongeng di keputusan-keputusan sulit meski selalu sibuk mengarang dan mendongeng, hari demi hari.

Harun, putra si pendongeng, memiliki dilema sulit terjawab. Ia memberi sangkalan faedah dongeng tapi selalu terpukau pada dongeng-dongeng bapak. Ia mengakui bapak memiliki dongeng berlimpahan dan beragam: “berselang-seling membingungkan tanpa pernah saling tertukar dan tak pernah membuat kesalahan sekali pun.” Bapak memang pendongeng sakti. Si pendongeng seperti menerima takdir mendongeng atau menghasilkan cerita seumur hidup, memiliki sumber dan mempersembahkan dongeng-dongeng di ribuan hari. Dongeng tak pernah mengering. Dongeng mustahil tamat bila menilik samudra terus berombak dan berlimpahan air.

Di sejarah peradaban manusia, dongeng memberi misi-misi mengubah tatanan hidup di titian waktu. Dongeng dimaksudkan acuan kemujaraban kaidah-kaidah hidup. Pada episode bencana dan petaka, dongeng-dongeng adalah peringatan atas kebiadaban, kebodohan, dan kepongahan manusia. Dongeng-dongeng bergerak di ruang-ruang magis, politis, ekologis, dan etis. Para leluhur menghidupi keturunan (anak-cucu) tak melulu dengan makanan dan minuman. Dongeng menjadi santapan “menolak” fana. Salman Rushdie memberi sindiran: “Ketika lapar, mereka akan menelan cerita melalui semua mulut, dan dalam isi perut mereka keajaiban terjadi. Sebagian dari satu cerita bergabung dengan gagasan dari cerita lain dan ketika mereka memuntahkan kisah itu keluar, kisah-kisah itu tak lagi serupa cerita lama, tapi suatu cerita baru.” Perjalanan dongeng tak ada ujung.

Dongeng di suatu negeri di alur waktu sering menjadi dongeng milik dunia. Dongeng-dongeng itu bersebaran selama ratusan atau ribuan tahun turut membentuk panggilan ke kodrat-kodrat peradaban kuno dan modern. Orang-orang di pelbagai negeri memiliki dongeng-dongeng semula bersemi di Yunani, Arab, India, Persia, Tiongkok, dan lain-lain. Di Indonesia, dongeng-dongeng bertumbuh di ribuan pulau dan “menghasilkan” dongeng-dongeng di perjumpaan peradaban-peradaban jauh berdatangan, dari zaman ke zaman. Arus dongeng di alur tak putus. Kita berhak menjadi ahli waris dongeng dari seribu negeri.

Dongeng-dongeng bersebaran di pelbagai negeri itu dinamai Kisah Seribu Satu Malam. Husain Hadawy (1993) mengingatkan: “Begitulah kain kehidupan diubah menjadi siratan benang roman (dongeng) ketika kisah-kisah ini dirajut selama berabad-abad di tengah pertemuan-pertemuan keluarga, perkumpulan-perkumpulan masyarakat, dan kedai-kedai kopi di Baghdad, Damaskus, atau Kairo. Setiap orang menyukainya sebab dia berhasil memikat orang-orang tua maupun muda dengan pesona kisahnya.” Dongeng-dongeng berusia tua, menampik lapuk, runtuh, atau punah. Para leluhur atau umat dongeng masa lalu seperti memiliki rumus mujarab di pengawetan dongeng-dongeng dan meramalkan dongeng-dongeng melintasi benua atau lautan.

Keampuhan dongeng lama sering merangsang kemunculan para pengarang ampuh. Dongeng-dongeng memberi panggilan di gubahan sastra modern  memuncak sebagai sastra dunia atau meraih Nobel Sastra. Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marques, Jorge Luis Borges, Mo Yan, Octavio Paz, Mark Twain, Charles Dickens, dan lain-lain memiliki ikatan ke dongeng-dongeng lama berupa tuturan atau edisi cetak. Para pendahulu memberi warisan-warisan terdengar dan terbaca sepanjang masa. Kita menjadi ahli waris bunga rampai dongeng dari pelbagai negeri. Kita pun memiliki sumber-sumber di pulau-pulau sebagai “tanah subur cerita”. Keberlimpahan dongeng tak memastikan kita membuat album ingatan atau menggerakkan dongeng di kehidupan keseharian. Kita sering terbujuk meremehkan dongeng-dongeng lawas berdalih pikat-pikat baru di keajaiban teknologi.  

Kita menilik cuilan biografi Hilmar Farid dimuat di buku berjudul Berkah Kehidupan (2011) disunting Baskara T Wardaya. Pengisahan diri, orangtua, dan buku. “Ayah saya adalah Agus Setiadi. Ia dikenal oleh anak Indonesia melalui penerjemahan seperti Lima Sekawan,” tulis Hilmar Farid. Pengasuhan dengan buku-buku cerita dunia memberi pengaruh besar, membentuk diri gandrung berpikir dan berimajinasi. Hilmar Farid kadang diajak bapak turut dalam menerjemahkan buku cerita anak dan mengetik. Hikmah diperoleh Hilmar Farid: “Sekolah untuk sementara saya lupakan dan saya semakin tenggelam dalam dunia buku. Saya suka buku sejak kecil. Ketika kembali ke Indonesia seluruh waktu perjalanan saya isi dengan membaca dua buku Enid Blyton.” Ia memang dibesarkan di Eropa, sebelum kembali ke Indonesia.

Bapak memberi teladan dan pengaruh besar. Di ingatan Hilmar Farid, bapak “pandai bercerita dan sangat meyakinkan”. Pengaruh terbesar ke Hilmar Farid adalah “soal bahasa dan kerja dengan kata.” Kita pun memiliki biografi-biografi berkaitan dongeng dan peran orangtua. Di keluarga, kehadiran pendongeng atau buku-buku cerita memungkinkan pembentukan identitas. Pematangan dalam perkara berpikir dan berimajinasi dengan pengantar dongeng-dongeng bakal meluweskan sikap hidup ketimbang ditimbuni ilmu-ilmu wajib dipelajari di sekolah selama belasan tahun.

Pada abad XXI, dongeng-dongeng belum punah meski berasal dari ribuan tahun lalu. Dongeng-dongeng baru bermunculan dengan garapan teknologi menawan. Kita selalu kaget dan terpukau menikmati dongeng-dongeng baru tersaji di buku, film, atau pentas. Misi-misi besar dimuat dongeng-dongeng baru berkaitan nasib Bumi, kemanusiaan, religiositas, atau etika global. Dongeng bertema besar kadang memberi beban-beban tafsir. Kerja tafsir saat kita di situasi tergesa dan patokan hidup adalah kecepatan.

Kita teringat penjelasan Naguib Mahfoudz, pengarang legendaris di Mesir,  dalam pidato penerimaan Nobel Sastra (1988). Ia mengaku: “Itulah takdir saya… dilahirkan dalam pangkuan dua peradaban untuk menyerap air susunya, melahap kesusastraan, dan kesenian mereka. Lalu, saya meminum nektar dari peradaban (Eropa) yang kaya dan memesona.” Pengarang kondang itu menerima warisan-warisan dongeng dari pelbagai negeri. Kita pun berhak mengaku ahli waris dongeng dunia meski tak menerima takdir sebagai pendongeng ulung di tulisan-tulisan terbaca atau telingan-telingan ingin ketakjuban sepanjang masa. Begitu.  


=======================
Bandung Mawardi, Penulis buku Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Wabah dan Para Penabuh Kentongan

0


Kisah umat manusia antara lain adalah kisah pergulatan sengit dengan wabah. Tidak heran tentu saja bila banyak suku maupun bangsa memiliki kata atau konsep lokal mengenai wabah. Di masa kanak nun dahulu di sebuah kampung di Tanah Bugis, sembari bermain atau bergelut dengan kawan sebaya, seringkali kami bertikai dan mengucapkan kata tanya nanreko sai? Kira-kira berarti “siapkah kau mati ditelan wabah?” Kata itu kami ucapkan setiap kali meragukan pernyataan atau bualan seorang kawan. Orang-orang tua biasanya memarahi kami setiap kali mendengar kami mengucapkan kata-kata itu.

Belakangan baru saya paham bahwa kata “sai” itu merujuk pada wabah, bukan hanya penyakit melainkan gering dalam skala penyebaran yang luas. Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, saya akhirnya mengenali kata-kata serupa dalam aneka bahasa suku selain Bugis. Kata garring pua dalam Bahasa Makassar, kata pageblug dalam Bahasa Jawa, kata gerubug dalam Bahasa Sasak memiliki makna yang kurang lebih sama. Kata atau konsep lokal itu berhimpitan dengan kata atau konsep mengenai wabah yang saya peroleh dari bangku pendidikan kedokteran dan kesehatan masyarakat seperti kata outbreak, epidemic maupun pandemic (wabah dalam skala dunia).

Wabah Covid-19 yang berskala besar bahkan mendunia (pandemi) yang kita alami saat ini tentu saja  bukanlah yang pertama yang melanda dunia dan juga Nusantara. Berabad-abad lampau wabah “kematian hitam” (black death) membuat dunia babak belur. Wabah pes yang mengerikan membuat banyak bangsa porak-poranda. Di masa yang lebih dekat, sekitar satu abad lalu, wabah akbar Flu Spanyol menerjang dunia, hampir bertepatan dengan berakhirnya Perang Dunia Pertama. Amukan Flu Spanyol (1918-1920) menelan korban jutaan jiwa dan menjalar jauh hingga ke Hindia Belanda. Sejumlah literatur menyebut 21 juta hingga kisaran 50-100 juta orang tewas akibat Flu Spanyol di seluruh dunia, dan sekitar 1,5 juta jiwa di berbagai daerah di Hindia Belanda. Liputan surat kabat dan juga sejumlah karya akademik berupa buku dan artikel jurnal merekam dahsyat dan mencekamnya wabah Flu Spanyol di Nusantara.

Namun selain mencatat besaran dan kengerian wabah Flu Spanyol di Hindia Belanda, literatur-literatur tersebut juga merekam kelambanan daya tanggap pemerintah kolonial dan peran penting kaum cendekia dalam upaya menanggulangi wabah tersebut. Di antara kaum cendekia bumiputera kala itu, peran Doktor-dokter Abdul Rivai, sangat menonjol. Rivai, sosok luar biasa dan berjasa sangat besar namun tidak banyak dikenal bahkan di kalangan medis di masa kini, lantang mengkritik tindakan lambat pemerintah. Berkat suara lugas Rivai dan kawan-kawan di Volksraad (parlemen semu Hindia Belanda) akhirnya Influenza Ordonantie—protokol resmi untuk menanggulangi epidemi influenza di masa depan—diresmikan pada Oktober 1920 setelah melalui debat sengit di parlemen dan pemerintahan (Ravando Lie, Seabad Flu Spanyol, Historia, 2018). Sebuah kemajuan penting meskipun jelas telat mengantisipasi wabah tersebut.

Wabah dan kaum cendekia memang memiliki hubungan unik. Di masa modern setelah penemuan mikroskop yang memungkinkan kaum cendekia seperti ilmuwan biomedis-kesehatan meneliti dan mengembangkan sains mengenai aneka kuman dan penyakit-penyakit infeksi, kalangan ini seringkali menjadi “penabuh kentongan” ketika ancaman wabah, penyakit dan kematian dalam skala besar datang. Ironisnya, sangat sering peringatan dari kaum tercerahkan ini diabaikan oleh para pengambil kebijakan.

Tentu tidak mengherankan bila Abdul Rivai menjadi sosok paling menonjol ketika wabah Flu Spanyol menyerang Hindia Belanda. Abdul Rivai jelas seorang perintis dan yang pertama dalam banyak tonggak sejarah ilmu pengetahuan modern, khususnya ilmu kedokteran-kesehatan di Nusantara. Ahli sejarah kedokteran, Professor Hans Pols dari Universitas Sydney (Australia), dalam bukunya yang mengharukan “Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan para Dokter Indonesia” (Kompas, 2019) menempatkan sosok dokter Rivai di bagian awal. Professor Pols tidak memiliki pilihan lebih baik karena sosok Rivai seperti sebuah gerbang untuk memasuki lorong waktu demi mengenali sosok-sosok yang melahirkan nasionalisme Indonesia dan konteks zaman itu.  

Rivai memang merupakan lulusan pertama Dokter Djawa (nama STOVIA dari tahun 1851-1902) dan ia pula yang pertama menerima pendidikan medis lanjutan di Belanda dan lalu meraih gelar doktor di bidang kedokteran di Universitas Ghent, Belgia. Rivai adalah pemuda keras kepala, bercita-cita tinggi dan pekerja amat keras. Namun ia sangat kecewa bahwa kualifikasi medis yang diraihnya dari Sekolah Dokter Djawa di Batavia hanya mengantar dirnya dalam posisi rendah dan penuh diskriminasi dalam sistem kesehatan kolonial.

Karena itu pemuda Rivai ingin membuktikan pada sistem rasis-diskriminatif itu bahwa seorang berkulit cokelatpun mampu meraih gelar medis bahkan doktoral di “jantung ilmu pengetahuan dunia” yakni di universitas di Eropa. Ketika berada di Belanda saat itu, ia juga menjadi mentor kaum nasionalis dan pelajar lebih muda seperti Mohamad Hatta dan Sutan Syahrir. Ia membuktikan diri sanggup menyelesaikan studi medis dan bahkan doktoralnya yang membuatnya secara hukum diakui setara orang kulit putih sekembalinya dari Eropa. Namun apa boleh buat, pengakuan hukum di atas kertas tidak dengan sendirinya membuat Rivai dapat sepenuhnya meraih perlakuan setara dari orang-orang kulit putih dalam kehidupan sehari-harinya  di Hindia Belanda ketika itu.

Diskriminasi dan rasa perih yang senantiasa ditorehkan oleh sistem kolonial membuat Rivai selalu tertarik pada bidang jurnalisme dan politik. Dua bidang yang bisa menjadi ajang pelampiasan rasa perih kaum bumiputera. Agak ironis sebenarnya menyadari bahwa tak banyak lagi yang mengingat sejarah betapa Rivai juga sebenarnya adalah perintis dunia jurnalisme dan kritik sosial di Nusantara. Ia merintis pendirian Bintang Hindia Belanda pada 1902, sebuah majalah bergambar untuk orang-orang bumiputera terpelajar. Dalam periode hidup selanjutnya  selain bekerja sebagai dokter ia kemudian masuk dalam bidang politik dan menjadi anggota Volksraad. Perannya sebagai ilmuwan, dokter, politikus sekaligus naluri sebagai wartawan yang membuatnya lantang “menabuh kentongan” mengingatkan pemerintah kolonial dan masyarakat kala itu mengenai ancaman wabah, “sai”, “garring pua”, “pageblug”, “gerubug” Flu Spanyol.

Abdul Rivai dan para sejawatnya yang telah memainkan peran “penabuh kentongan” terhadap bahaya Flu Spanyol tentu memiliki banyak kemiripan ketika sejak bulan Januari 2020 lalu sejumlah ilmuwan dan profesional kesehatan di Tanah Air juga mulai gencar mengingatkan pemerintah untuk  serius mewaspadai virus Corona baru yang waktu itu menerjang Wuhan di China tengah. Seperti dokter Rivai dan kawan-kawan, peringatan para ilmuwan dan tenaga kesehatan masa kini juga tidak segera ditanggapi pemerintah. Ada waktu dua bulan terbuang dan kini kita harus menebusnya dengan banyak korban jiwa, termasuk nyawa para profesional kesehatan, para dokter dan perawat serta tenaga kesehatan lainnya yang bekerja keras mengatasi Covid-19.

Doktor Rivai dan kawan-kawan segenerasinya di atas sana mungkin menangis melihat anak-anak cucu atau para pelanjut mereka menabuh kentongan mengingatkan bahaya wabah di depan mata namun jatuh di telinga yang tuli atau pura-pura tuli. Dokter Rivai dan kawan-kawan sejawatnya mungkin berurai air mata  melihat para tenaga kesehatan Indonesia yang harus berjuang mati-matian menghadapi Covid-19 tanpa alat pelindung diri memadai.

Rivai beserta para bapak dan ibu bangsa berduka melihat betapa kita belum benar-benar belajar dari sejarah.*



===================
Sudirman Nasir, peminat sejarah dan sastra, pengajar-peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar.

COVID-19 dan Paradoks Homo Deus

0

Catatan sejarah telah memberi pelajaran mengenai serangan mikroba yang terus menerus menyerang manusia secara bergelombang. Beberapa diantaranya diklaim telah mengubah dunia secara dramatis. Pertama, wabah Antonine atau wabah Galen (165 M) diperkiran menelan korban 5 juta orang. J. Rufus Fears (2004) menyebutkan bahwa pandemi Antonine adalah salah satu dari tiga pandemi yang paling mematikan di zaman klasik. Wabah Antonine menimpa seluruh wilayah imperium Romawi mulai dari perbatasan Timur di Irak sampai ke perbatasan Barat sungai Rhine dan wilayah Gaul (Perancis) sampai Jerman Barat. Christopher Muscato, menyebutkan bahwa di puncak terajdinya wabah, kematian menyentuh angka 2,000 orang setiap hari. Total kematian sekitar 7-10% dari total penduduk imperium Romawi mulai dari Spanyol, Italia, Yunani, Anatolia, Mesir dan Afrika Utara. Di wilayah perkotaan lebih tragis lagi. Wabah ini diperkirakan menelan korban sekitar 10-15% penduduk yang salah satunya adalah kaisar Marcus Aurelius Antonine. Dampak dari wabah Antonine tidak hanya berimbas terhadap demografi, tetapi juga ekonomi yang terus memburuk serta kekuatan militer dan jumlah prajurit Romawi yang terus melemah. Sejarawan A. E. R. Boak, Kyle Harper dan Eriny Hanna sepakat bahwa merebaknya wabah Antonine dan terjadinya serangkaian peristiwa kelaparan di seantero wilayah telah menjadi titik awal kejatuhan imperium Romawi di Barat. (John Horgan, Antonine Plague, Ancient History Encyclopedia, published, May 02, 2019).

Kedua, wabah hitam (Black Death, 1347-1351). Penyebab dari pandemi ini adalah bakteri Yarsinia Pestis atau kutu dari tikus yang awalnya terjadi di China kemudian menyebar melalui jalur perdagangan (silk road) sampai ke Crimea tahun 1346 (C.J. Duncan, S.Scott, 2005). Bakteri ini kemudian menembus Eropa melalui jalur perdagangan di sepanjang laut Mediterrania. Di awal Oktober 1347, kapal-kapal dari Caffa berlabuh di pelabuhan Messina Sicilia. Para penumpangnya turun dengan membawa serta wabah mematikan yang menerjang seluruh daratan Eropa dari tahun 1348 sampai 1352. Pandemi ini memusnahkan separuh penduduk Eropa, yang kemudian dikenal dengan nama wabah hitam. Pandemi ini diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan penduduk dunia sebesar 350 sampai 400 juta di tahun 1400. Dampak dari wabah hitam ini menimbulkan gejolak sosial, ekonomi, politik dan keagamaan yang sangat berpengaruh terhadap jalannya sejarah Eropa. Dibutuhkan waktu selama satu setengah abad untuk pemulihan Eropa pasca bencana. Pandemi ini menghantam Eropa berkali-kali sampai akhirnya berlalu di abad ke-19. 

Ketiga, Wabah Spanyol (Spanish Flu, 1918). Wabah flu H1N1 ini diperkirakan menewaskan 50 juta orang di seluruh dunia, termasuk sekitar 675.000 orang di Amerika. Meski sebatas perkiraan, korban akibat pandemi ini melebihi nyawa manusia yang hilang akibat dari PD I yaitu sekitar 12-14 juta jiwa. Walaupun penyakit ini pertama dilaporkan terjangkit di Amerika, pandemi ini kemudian dinamai sebagai flu Spanyol. Hanya media Spanyol yang secara terus-menerus memberitakan perkembangan pandemi ini berikut jumlah korbannya, karena Spanyol memilih netral di PD I. Makanya wabah ini diberi nama flu Spanyol. Media di negara-negara yang terlibat perang tidak meliput pemberitaan mengenai wabah ini karena ingin menjaga mental dan spirit dari prajuritnya (Juditha Wojcik dan Sebastian Vollmer, 2017). Meski banyak penulis yang menegaskan kalau wabah ini bermula di Amerika, sejarawan Mark Humphries dari Memorial University, Newfoundland menyatakan bahwa virus yang mematikan ini kemungkinan berasal dari Cina. Humphries mencatat bahwa terdapat mobilisasi sekitar 96.000 buruh dari Cina yang membantu Inggris dan Perancis membangun infrastruktur perang di front Barat (Dan Vergano, 2014).

Keempat, Flu Asian (1957). Pandemi ini merupakan salah satu yang terbesar dampaknya dalam sejarah. Flu Asian ini masuk pandemi kategori 2 yang untuk pertama kalinya terjadi di China di awal tahun 1956 dan berakhir di tahun 1958. Wabah flu Asian ini merupakan pandemi kedua terbesar dalam sejarah di abad ke-20 setelah flu Spanyol di tahun 1918-1919. Penyebab dari pandemi ini adalah virus yang dikenal dengan influenza A subtipe H2N2. Di bulan Agustus 1957 Flu Asian merebak yang menjadi asal muasal flu babi tipe A yang akhirnya menjadi wabah di tahun 2009. Pada mulanya wabah ini menyerang sekumpulan orang yang tinggal dalam suatu komunitas yang berdekatan seperti kamp militer dan perkemahan musim panas. Virus kemudian menyebar begitu cepat ke sekolah-sekolah ibarat angin yang berhembus kencang menerpa rumput kering. Akhirnya di bulan Oktober, seluruh negeri terkena virus influenza. Flu ini memberi dampak yang sangat besar bagi usia muda. Pada saat wabah ini dinyatakan berakhir, 40% kematian terjadi di usia di bawah 65 tahun, presentase yang lebih besar dari kejadian flu biasa.

Imajinasi Pandemik (Pandemic Imaginary)

Berbagai penelitian ilmiah multidisipliner berusaha mengungkap asal muasal dari pandemi, dampak yang ditimbulkan, bagaimana wabah itu berakhir dan kenapa wabah itu muncul kembali. Sayangnya, tidak ditemukan jawaban saintifik yang meyakinkan mengenai misteri dari pandemi ini. Akibat nihilnya jawaban atas pandemi yang terus berulang maka terjadilah apa yang disebut oleh Albert Camus dan Thomas Mann, sebagai “dysfunctional society”. Setiap terjadi pandemi, semua mengalami kepanikan, kegagapan dan kebingungan. Stephen Kinzer, kolumnis The Washington Post, menyebutnya sebagai kegagalan manusia dalam ber-imajinasi atau dalam istilah antropolog Christos Lynteris, “pandemic imaginary”. Lebih jauh Kinzer meguraikan bahwa manusia terbukti gagap menghadapi ancaman selain dari apa yang telah dialaminya. Manusia paham mengenai bahaya mematikan dari penyakit kanker atau tertabrak kendaraan.  Manusia sudah mengetahui akibat fatal dari keduanya. Otak manusia menurut Kinzer akan mengalami kesulitan mengatasi bahaya yang datang dari luar imajinasinya. 

Kompleksitas dan keistimewaan otak manusia menurut Kinzer tetap saja tidak mampu menghadapi ancaman baru yang justeru lebih berbahaya dan mematikan. Manusia mendefinisikan bahaya sama dengan yang dilakukan oleh suku-suku tradisional dan negara-bangsa selama berabad-abad yaitu ancaman dan agresi orang asing. Untuk menghadapi serangan dari luar, manusia membangun persenjataan baik untuk menyerang mau pun untuk bertahan. Hanya saja, serangan dari mikroba, bahaya perang nuklir dan perubahan iklim adalah tiga ancaman utama yang paling tak terbayangkan. Ironisnya manusia tetap saja menggunakan model tradisional untuk menghadapi dan menghindari ancaman-ancaman itu yakni kekuatan politik dan kronfontasi bersenjata. Sekiranya Amerika dan China mengeluarkan belanja negara dalam dua dekade terakhir untuk membenahi fasilitas kesehatan — sama dengan membiayai persenjataan — maka kemungkinan pandemi ini tidak akan terjadi.

Mengapa manusia terus menerus berkutat di wacana yang sama saat terjadi pandemi seperti apa yang disebut Prisilla Wald sebagai “outbreak narratives” atau dalam istilah Frank Snowden sebagai “dress rehearsal?” Mengapa selama rentang waktu ribuan tahun, manusia selalu kalah menghadapi serangan mikroba? Di mana kecerdasan sapiens sebagai species yang mampu bertahan menaklukkan alam selama ribuan tahun (antroposentris), membuat sistem sosial-budaya yang kompleks, menemukan teknologi canggih serta berambisi hidup selamanya (immortality) menyerupai sifat-sifat Tuhan (homo deus)?

Ambisi Homo Sapiens

Dalam bukunya Homo Deus (2017), Yuval Noah Harari dengan sangat meyakinkan mengeja kedigdayaan sapiens. Harari menegaskan bahwa sapiens telah menaklukka tiga hal yang membuat peradaban manusia terseok-seok selama ribuan tahun yaitu kelaparan, wabah penyakit dan peperangan. Penopang utama bagi sapiens sehingga menjadi spesies yang dominan menurut Harari adalah keunikannya untuk berimajinasi, membuat ceritera dan memberi pemaknaan. Kemampuan ini menjadikan manusia semakin kreatif dalam menemukan solusi saintifik terhadap permasalahan yang dihadapinya, sekaligus memberi keleluasaan bagi manusia untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Memasuki abad ke-21, Harari mengajukan beberapa prediksi mengenai dahsyatnya inovasi sapiens. 

Pertama, manusia bercita-cita menyerupai sifat-sifat Tuhan. Manusia sedang mengejar keabadian (immortality). Berbeda dengan cara pandang agama-agama seperti Islam, Kristen dan Hindu tentang kematian sebagai  sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Tuhan, sapiens menempatkan kematian sebagai semata persoalan teknis. Sapiens mendefinisikan kematian sebagai fenomena berhentinya jantung berdetak karena tidak cukup suplai oksigen untuk memompa darah. Olehnya itu, keabadian adalah persoalan teknis saja. Berkat kemajuan ilmu kedokteran, penemuan obat-obatan dan vaksin serta fasilitas kesehatan yang lengkap manusia dapat hidup lebih lama. Seiring dengan peningkatan kesejahteraan, pendapatan per kapita, angka harapan hidup manusia pun semakin panjang. Di masa depan, manusia dapat  hidup selama 150 tahun, 200 tahun bahkan mungkin 500 tahun. 

Kedua, munculnya kelas pekerja yang tidak relevan. Algoritma dan kecerdasan artifisial akan mengakibatkan disrupsi yang ekstrim bagi kelas pekerja. Saat ini tengah berlangsung transisi yang menyakitkan bagi jutaan tenaga kerja yang menjadi anak kandung revolusi industri. Mayoritas keahlian mereka menjadi tidak relevan karena algoritma dan kecerdasan artifisial telah menggantikannya. Toko-toko online (amazone, tokopedia, buka lapak, alibaba dll) telah mematikan bisnis swalayan dan berbagai macam bisnis retail. Transportasi berbasis online (grab, uber, gojek dll) mengambil alih transportasi umum yang dikelola secara konvensional. Jutaan pekerja terpaksa menganggur karena keahliannya menjadi tidak relevan lagi. Profesi seperti guru, pengacara bahkan dokter sekalipun akan menghadapi tantangan berat untuk tetap bertahan di masa depan. Melalui teknologi, jutaan orang bisa belajar dari rumah mengenai materi apa saja yang ingin mereka pelajari. Berbagai macam silabus dan kurikulum dilengkapi dengan panduan praktik lapangan tersedia di berbagai website. Tata cara merakit senjata dan membuat bahan peledak sekalipun dapat dipelajari secara online. Bagi mereka yang mengalami permasalahan hukum, panduan untuk mendapatkan nasihat dan pembelaan dengan dalil-dalil hukum aktual tersedia di berbagai website. Bagi mereka yang sakit tidak perlu antri berlama-lama di rumah sakit hanya untuk diperiksa oleh dokter spesialis dengan bayaran mahal. Perangkat teknologi berbasis telepon pintar dapat digunakan untuk mendeteksi semua gangguan kesehatan. Melalui teknologi biometrik, ganguan kesehatan dapat terdeteksi dilengkapi dengan rekomendasi pengobatan yang praktis.

Paradoks Homo Deus

Karena kecerdasan berimajinasi, berkelompok dan memberi pemaknaan terhadap fenomena di sekitarnya, sapiens menjadi satu-satunya spesies yang mampu bertahan dan mengubah ekologi dunia –sejak adanya makhluk hidup di bumi– sekitar 4 milyar tahun yang lalu. Sapiens berhasil mengubah aturan main bahkan berhasil menaklukkan ekosistem bumi selama 70.000 tahun. Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, mengapa manusia terseok-seok, gagap dan kebingungan bahkan beberapa kali hampir kalah menghadapi wabah yang disebabkan oleh mikroba, makhluk dan entitas yang tidak kasat mata?  

Setiap terjadi serangan mikroba terhadap manusia, respon yang dilakukannya relatif sama. Mulai dari wabah Antonine (165 M), Black Death (1347), Flu Spanyol (1918), Flu Asian (1957), Flu Burung (1997), MERS-COV (2012), Virus Ebola (2013) dan Covid-19 (2020). Cara manusia menghadapi serangan misterius ini hanya sebatas melakukan karantina (quarantine), jaga jarak (physical distancing), penyemprotan disinfektan, kebersihan dan pola hidup sehat dan pengawasan dan penutupan perbatasan (darat, laut dan udara). Tradisi karantina adalah warisan dari abad ke-14 saat terjadi wabah hitam. Karantina berasal dari bahasa Italia “quaranta giorni” atau empat puluh hari. Pada awalnya karantina diberlakukan bagi kapal-kapal kargo yang berasal dari pelabuhan yang terkena infeksi virus yang akan berlabuh di pelabuhan di Venesia. Kapal-kapal ini tidak diperbolehkan melakukan bongkar muat barang dan penumpang selama empat puluh hari. Sementara strategi jaga jarak, menghindari kerumunan, penyemprotan disinfektan dan pola hidup bersih dan sehat telah diadopsi sejak pandemi flu Spanyol di tahun 1918. Strategi isolasi dalam menghadapi pandemi bahkan telah diterapkan di zaman Nabi Muhammad SAW. Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh HR Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda “Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu”. 

Melihat miskinnya kreatifitas manusia dalam menghadapi pandemi, maka kedigdayaan sapiens sebagai homo deus patut dipertanyakan. Sapiens sepanjang sejarahnya telah mempersaksikan kekalahannya berkali-kali melawan mikroba. Pertahanan manusia menghadapi serangan mikroba hanya mengandalkan dua hal; kekebalan tubuh dan nasib baik. Pada akhirnya, wabah ini berlalu bukan karena intervensi atau upaya yang dilakukan oleh manusia tetapi dari faktor-faktor yang tidak tampak (invisible). Inilah yang disebut antropolog Chrystos Lynteris sebagai “the problem of untimely ends”. Suatu peristiwa menggemparkan, membuat frustasi secara global dan berakhir secara tiba-tiba. Dokter dan Sejarawan Howard Markel melukiskannya: “I feel like quoting Yogi Berra, “It’s dejavu all over again”. Manusia benar-benar kekurangan “clio epidemiology”, yaitu pelajaran dari pandemi masa lalu yang dijadikan acuan untuk menghadapi pandemi yang akan datang atau sedang berlangsung. Kolumnis CNN, Jennifer Le Zotte menggambarkan bahwa dari pandemi ke pandemi terungkap budaya prilaku manusia berkutat seputar peran sentral pemerintah, perbedaan pandangan perihal kebebasan individu dan percaya kepada ilmu pengetahuan. Prilaku ini mengikuti pola yang sama setiap terjadi pandemi (recycle), seakan telah menjadi kebenaran sejarah. Manusia saling mengabaikan, saling mengingkari dan saling menyalahkan.  

Gambaran tentang perilaku berulang dari sapiens setiap menghadapi pandemi atau kejadian yang membuatnya putus harapan sebelum menghadapi kematian, digambarkan sangat apik oleh Elisabeth Kubler-Ross, psikiater blasteran Swiss-Amerika dalam bukunya On Death and Dying (1969). Kubler Ross memperkenalkan lima tahapan keluhan (five stages of grief); serangkaian respon emosi yang tidak linear yang dikenal dengan DABDA yaitu pengingkaran (denial), marah (anger), depresi (depression), tawar menawar (bargaining) dan kepasrahan (acceptance). Kelima tahapan respon emosi yang terulang setiap manusia ditimpa musibah atau bencana menggambarkan dengan sangat jelas bahwa sesungguhnya sapiens sangat jauh dari kualitas homo deus. Sapiens adalah spesies yang tidak stabil, arogan dan egois yang menganggap dirinya telah menjadi penakluk dunia, tetapi tak berdaya melawan mikroba.

Sapiens: Makhluk Lemah Pembuat Kerusakan

Jauh sebelum kajian-kajian psikologis tentang sifat dasar manusia sebagai makhluk yang sangat lemah dan tidak stabil, Alqur’an sangat jelas menggambarkan bahwa terdapat empat tabiat utama yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang sangat lemah. Pertama, tabiat mengeluh dan kikir. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.’ (QS. Al-Ma’arij:19). Disadari atau tidak, mengeluh adalah sifat dasar manusia yang timbul saat ia tertimpa musibah atau dalam kesempitan. Sedangkan kikir dalam hasa Arab disebut bakhil, secara detail diuraikan dalam QS. Al-Israa’:100. “…Dan adalah manusia itu sangat kikir.” Kedua, tabiat manusia lemah secara fisik dan lemah dalam melawan hawa nafsu buruk. “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah…” (QS. Ar-Rum:54). Ketiga, manusia memiliki tabiat kezaliman dan kebodohan. “Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan amat bodoh (QS. AL-Ahzab:72). Kezaliman dan kebodohan manusia dalam ayat di atas disebabkan karena rusak dan kotornya bumi, karena pertumpahan darah dan ulah manusia itu sendiri yang tidak merawat bumi dan seisinya sesuai ketentuan Allah. Keempat tabiat manusia adalah tidak adil. Berlaku adil adalah tindakan yang susah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum Madyan yang tidak berlaku adil, akhirnya diazab Allah, seperti dalam firman-Nya, “Dan Syaib berkata, ‘Hai kaumku, cukupkanlah takaran dalam timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. Hud:85). (Ina, Salma Febriani, 2012). Empat Karakter Manusia Dalam Alqur’an, Republika.co.id).

Berbagai catatan sejarah membuktikan betapa kekuasaan manusia atas bumi berimplikasi terhadap kerusakan yang sangat parah, bahkan kejatuhan peradaban yang tengah berada di puncak kejayaanya. Jared Diamond (2015) dalam bukunya “Collapse: How Societies Choose to Fail or Survive” memaparkan dengan sangat detail runtuhnya peradaban dunia seperti suku Maya di Semenanjung Yucatan, Anazasi dan Cahokia di Amerika, Moche dan Tiwanaku di Amerika Selatan, Angkor Wat dan Harappan di lembah sungai Indus di Asia dan Pulau Easter di Samudera Pasifik. Diamond menegaskan bahwa salah satu faktor utama yang menjadi penyumbang terbesar kejatuhan peradaban ini adalah kerusakan ekologis. Manusia secara serampangan mengekspoitasi sumber daya alam yang menjadi sandaran utama kehidupannya. Diamond menyebutnya sebagai bunuh diri ekologis (ecological suicide). Temuan ini terkonfirmasi dari hasil penelitian yang dilakukan oleh arkeologis, klimatologis, sejarawan, palaentologis, dan palynologis. Terdapat proses yang panjang dimana manusia melakukan pengrusakan ekologis melalui delapan kategori yaitu deforestasi dan kerusakan habitat, kerusakan tanah (erosi, salinisasi, dan hilangnya kesuburan tanah), kerusakan sumber air, perburuhan berlebihan, menangkap ikan berlebihan, pengenalan spesies baru terhadap spesies asli, pertumbuhan penduduk dan dampak peningkatan perkapita penduduk.

Diamond memprediksi bahwa beberapa dekade mendatang bunuh diri ekologis semakin parah dan akan mengalahkan ancaman perang nuklir atau munculnya berbagai penyakit yang akan mengancam peradaban dunia. Delapan ancaman ekologis di atas ditambah empat ancaman baru yang disebabkan oleh ulah manusia yaitu perubahan iklim, penggunaan zat kimia berlebihan, kelangkaan energi, dan pemanfaatan kapasitas fotosintetis bumi dapat memicu terjadinya kepunahan dan kejatuhan apokaliptik peradaban manusia moderen. Diamond akhirnya menegaskan bahwa skenario kejatuhan peradaban masa depan juga dapat terjadi akibat perang berkepanjangan karena perebutan sumber daya alam yang langka atau merebaknya wabah penyakit secara global. Semoga pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung tidak menjadi pemicu jatuhnya peradaban yang mengarah ke punahnya manusia di muka bumi. 

Sapiens masih punya waktu untuk terus belajar mengubah kualitas dirinya dalam lintasan evolusi yang dilewatinya. Sapiens masih punya kesempatan untuk beranjak dari kodratnya yang lemah, zalim dan pembuat kerusakan menjadi sapiens yang pandai bersyukur. Sapiens masih punya waktu untuk saling berbagi dan hidup berkecukupan tanpa harus mengekploitasi alam tanpa batas. Sapiens tidak punya pilihan kecuali legowo menghentikan pertumpahan darah atas nama kekuasaan dan penaklukan. Tidak ada kata terlambat dalam belajar. Untuk menghindari kekalahan beruntun dari mikroba, dan menghindari kemungkinan dari kepunahan, sapiens tidak punya banyak pilihan. Ia harus bekerjasama lintas peradaban tanpa sekat kebangsaan, agama, etnisitas dan warna kulit. Kehadirannya di muka bumi harus memberi manfaat bagi seluruh alam serta berbuat adil bagi sesama.(*)




Referensi:

Dan Vergano, (2014). “1918 Flu Pandemic That Killed 50 Million Originated in China, Historian Say”, National Geographic. (api.nationalgeographic.com).

Harari, Yuval, Noah, (2015). “Homo Deus: A Brief History of Tomorrow”, Penguin, Random House, UK.

Priyanto, Wibowo, dkk, 2009), “Yang Terlupakan: Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda”, 2009, Departemen FIB UI-UNICEF Jakarta_Komnas FBPI

Juditha Wojcik dan Sebastian Vollmer, (2017). “The long-term consequences of the global influenza pandemic: A system analysis of 117 IPUMS international census data sets” Working Paper Series, Program on The Global Demography of Aging At Harvard University, 2017.

Howard, Phillips, (2014), “Influenza Pandemic,” International Encyclopedia of the First World War, last updated, 08 Oktober 2014. (encyclopedia.1914-1918-online.net/article/influenza_pandemic)

 J. Rufus Fears, (2004), “The plague under Marcus Aurelius and the decline and fall of the Roman Empire, Elsevier, Saunders, Inc, 2004).

DesOrmeaus, Louise, Anna, (2007), “The Black Death and its effect on fourteenth and fifteenth-century art”. Louisiana State University and Agricultural and Mechanical College.

Ole J. Benedictow, (2005), “The Black Death: The Greatest Catastrophe Ever” 2005, “History Today, Volume 55 Issue 3 March, 2005”.

Charles River Editors, (2020). “The Antonine Plague: The History and Legacy of the Ancient Roman Empire’s Worst Pandemic, Published by Charles River Editor.

S, Scott, CJ. Duncan, (2005), “What caused the Black Death?”, Medical Journal: First Published as 10.1136/pgmj.2004.024075 on May 2005. Downloaded from http://pmj.com

Christopher Muscato, (2020). “The Antonine Plague: History, Start, Spread & Facts, Study.com


=====================
Dr. Sawedi Muhammad, esais, sosiolog, pengajar di Universitas Hasanuddin.

Corona, Vietnam dan Masa Lalu yang Gemilang

0




Di antara negara-negara Asean, soal memerangi Pandemi Corona, Vietnam adalah juaranya. Bayangkan pada 26 Februari 2020, semua penderita corona, yaitu 16 orang termasuk orang tua berusia 73 tahun dinyatakan sembuh dan hingga saat ini belum terdapat satu pun korban meninggal. “Bila diandaikan pertempuran melawan Covid19 adalah perang, maka kami telah memenangkan putaran pertama tetapi tidak seluruhnya karena situasinya bisa sangat tidak terduga,” kata Menteri Kesehatan Vietnam mengutip wakil Perdana Menteri Menteri Vu Duc Dam di media daring Aljazeera.com.

Bagaimana keajaiban itu muncul? Dari penjelasan Media Kumparan yang mengutip penjelasan World Health Organitation (WHO), kuncinya pada respon atau penanganan pertama saat kejadian belum begitu merebak. Sejak munculnya kasus pertama pada 23 Januari 2020, sembilan hari kemudian, Pemerintah langsung menetapkan corona sebagai wabah. Ketika wabah muncul lagi di Pedesaan Son Loi, pemerintah langsung mengisolasi 10.600 penduduk desa itu selama 20 hari. Begitu halnya saat ada lagi kasus di pemukiman tertentu, besoknya pemukiman tersebut di karantina dan rumah korban didisinfektan.

Tentu, keajaiban Vietnam ini bukanlah muncul tiba-tiba. Kita tak dapat melupakan sejarah Vietnam yang gemilang. Sejarah yang penuh perjuangan, baik melawan Cina, Prancis, Amerika, hingga saat ini, melawan Corona.

Kita masih ingat perjuangan rakyat Vietnam Utara saat melawan pasukan terlatih Amerika Serikat sejak 1957 hingga 1975, Negeri Paman saat itu menganggap Vietnam sebagai gembong Komunis, dan berupaya memutus mata rantai Soviet-Cina di Asia Tenggara. Rakyat bahu membahu di bawah kepemimpinan Jenderal Vo Nguyen Giap. Giap yang juga berstatus Guru Besar Ilmu Sejarah, pernah menjadi guru sejarah militer di Prancis dan sempat mempelajari sejarah langsung taktik militer Napoleon di negeri penjajahnya. Saat itu, Ngunyen maupun Bapak Bangsa, yaitu Ho Chi Minh sepakat dengan ungkapan cendekia Vietnam abad ke-15, Nguyen Trai, yaitu untuk mengalahkan musuh, orang harus mengenal musuhnya terlebih dahulu.

Selain itu mereka percaya bahwa pendidikan sejarah pada rakyat akan menguatkan moral mereka untuk melawan penjajah. Bersama tim kecil, saat berjuang melawan penjajahan Jepang saat Perang Dunia ke-2, mereka begitu getol mengajarkan sejarah kepada pemuda dan rakyat, bahwa kita harus kembali ke jaman dahulu kala, ketika kita bebas mandiri, tidak di bawah Cina, tidak di bawah Prancis maupun Jepang.

Saat itu, pasukan Vietnam adalah pasukan tambal sulam dari para petani yang ada di pedesaan. Sedangkan pasukan Amerika adalah pasukan dengan peralatan lengkap, disertai dengan truk maupun helikopter. Giap tak kehabisan akal, berbekal dengan pengetahuan Gerilya, yaitu pukul mundur, jebak lari, yang berlangsung terus menerus, hingga membuat mental pasukan Amerika jatuh.

Pasukan Vietnam bekerjasama dengan rakyat biasa, para petani di pedesaan, untuk menggerakkan logistik ke seluruh area perjuangan. Hal ini sesuai dengan pola gerakan yang diajarkan oleh Paman Ho, bahwa basis pergerakan ada dua, pertama adalah ”co sa” atau tempat berpijak, yaitu keluarga ataupun rakyat yang bersimpati, dan kedua adalah “chien ku” atau partai dan gerilyawan.

Pasukan gerilya yang dibantu petani desa hanya berbekal tangan, kaki, dan punggung untuk mengangkut logistik dari hutan yang satu ke hutan yang lain. Helikopter Amerika tak dapat memantau pergerakan mereka. Bahkan, ketika mereka ingin menyeberang sungai, mereka melintasi tambang dengan bergelantungan dengan tubuh sepenuhnya berada di dalam air.

Perang yang berlangsung terus menerus dan seperti tak ada ujungnya ini membuat pasukan Amerika kehilangan orientasi. Pada akhirnya, rakyat Amerika sendiri yang menuntut pemerintahnya untuk menghentikan perang. Hal ini berkat tayangan secara langsung di televisi yang disaksikan oleh rakyat Amerika, yang menunjukkan kesia-siaan berperang dan kelanjutan peran akan membunuh lebih banyak anak muda Amerika. Pun pada akhirnya Amerika menyerah.

Pelajaran apa yang dapat diperoleh? Salah satunya adalah kedisiplinan. Inilah yang membebaskan Vietnam dari Jepang, dari Prancis, Amerika, maupun dari Corona.

Pemerintah dan rakyat sudah menjadi satu. Bukan saja saat ini, tapi jauh sebelumnya, bahkan sebelum Amerika menyerang. Bibit ini disemai oleh banyak pihak, dan kontribusi terbesar adalah dari pemimpin terbesar Vietnam sendiri, yaitu Ho Chi Minh. Paman Ho menurut William J. Duiker adalah separuh Lenin dan separuh Gandhi. Sosok ini menjadi jangkar pemersatu dan model pembangunan karakter rakyat Vietnam.

Nama yang melekat saat ini itupun adalah nama yang digunakannya saat menyamarkan diri ke Cina, nama aslinya adalah Nguyen Tat Thanh atau Nguyen Ai Quoc. Berdasarkan literatur, Ho Chi Minh memiliki belasan nama samaran. Ho Chi Minh sendiri adalah anak dari seorang revolusioner, yang meluangkan sebagian besar hidupnya untuk mempelajari seni konfusianisme, di samping terus menerus mengkompori rakyatnya untuk membenci Prancis, melalui sastra dan ilmu sejarah. Dari ayahnya ia memiliki kepekaan Bahasa, di samping gurunya yang bernama Vuong Thuc Do, mendorong untuk mencintai sastra. Bacaan favoritnya waktu beliau masih belia, yaitu Journey to the west, karya Xuan Zang.

Ho pernah bertanya kepada kerabatnya yang lebih senior, bagaimana Jepang dapat berhasil dalam pengembangan teknologi? Rekannya menjawab, bahwa Jepang belajar dari barat. Sejak itu ia termotivasi ke barat. Mulanya ia ke London, bekerja serabutan, pembersih salju dan koki restoran pun dijalaninya. Sembari itu, ia meluangkan waktu untuk berkumpul dengan orang-orang Asia. Di samping itu, Ho bersimpati pada perjuangan rakyat Irlandia untuk merdeka dari Inggris. Suana perang dunia 1 begitu mencekam, ia memutuskan untuk meninggalkan London dan bergerak ke Amerika. Di sana ia begitu terenyuh melihat penindasan orang Amerika terhadap para budak Afrika. Ia tak betah di Amerika, melihat kelakuan Ku Klux Klan, dan bergerak lagi ke Prancis pada 1917. Di Prancis ini ia terlibat bersama ribuan orang Vietnam dalam perjuangan bersama Prancis untuk mengusir tentara Jerman. Ia pun sadar, bahwa Prancis adalah negeri yang rentan.

Pasca perang, ia pun bergabung di organisasi sosialis Prancis, sebagai pencarian bentuk pergerakan yang cocok untuk memerdekakan Vietnam kelak. Dari sinilah ia belajar teori komunis-leninisme. Ia pun terlibat dalam pembentukan Partai Komunis Prancis. Dari sini ia menjadi agen komunis, bergerak kemana-mana, ke Moskow, ke Leningrad, ke Toilers, hingga ke Kanton. Di Kanton inilah ia mengkader begitu banyak anak muda Vietnam, yang nantinya dapat menjadi bibit-bibit kemerdekaan Vietnam.         

Paman Ho selalu mengandalkan organisasi sebagai kunci. Berbeda dengan slogan Mao Zedong, yang mengandalkan kekuasaan berada di ujung bedil. Kalau menurut Le Duan dalam buku Ho Chi Minh dan Sukarno, istilah tepat dalam keseluruhan proses revolusioner adalah : atur – atur dan atur. Makanya, sedikit berbeda dengan Tan Malaka, Paman Ho menghabiskan sebagian besar usia mudanya (28 tahun) keliling dunia untuk mempelajari organisasi dan bagaimana memerdekakan Vietnam, menyempatkan waktu untuk mengkader generasi muda berkebangsaan Vietnam dimana saja ia berada. Kadernya hingga beratus-ratus orang. Sedang Tan Malaka, yang kisah hidupnya sangat mirip dengan Paman Ho, memiliki sedikit kesempatan untuk mengkader pemuda. Sehingga strategi defensif tidak begitu efektif ketika beliau kembali ke Indonesia.

Paman Ho mengistilahkan gerakan revolusionernya seperti buah. Bila kita melihat buah, kita hanya melihat kulitnya, tidak melihat isinya yang terus berkembang beserta bijinya yang keras. Ketika buah itu jatuh ke tanah dan membusuk, bijinya kembali berkembang untuk menjadi pohon, dan kembali menghasilkan buah lagi.

Saya pernah diskusi dengan seorang teman yang biasa berwisata ke luar negeri. Ia tampak kagum dengan rakyat Vietnam yang begitu bangga dengan sejarah dan pemimpinnya. Di sana, anak muda tidak ragu untuk menceritakan sejarahnya, bahkan dengan mata berkaca-kaca saking bangganya. Lantas, bagaimana dengan sejarah kita sendiri Indonesia. Apakah kita berkaca-kaca untuk menceritakannya?

Selain itu, kata Babra Kamal — seorang kawan yang baru pulang dari Vietnam – dengan setengah bercanda menyebutkan, “Bung, di sana cewek-ceweknya kuat-kuat. Kalau kita jabat tangan, tangan kita bisa diremuknya.” Saya tersenyum seolah membenarkan perkataannya.

Pernah suatu waktu Saya berbincang berdua dengan Istri, bahwa negara yang harus kami datangi pertama kali adalah Vietnam. Namun, impian itu sampai detik ini belum kesampaian lantaran beragam kesibukan dan lain-lain. Mudah-mudahan, setelah wabah Corona ini, kami bisa jalan-jalan ke sana dan menapak tilas perjuangan Paman Ho dan Paman Nguyen Giap.

***

Bagaimana dengan konteks Indonesia dalam melawan Corona? Sama halnya yang lalu-lalu. Kita seperti kehilangan pola untuk bergerak secara bersama. Rasa kebersamaan kita sebagai bangsa, tak tahu tempatnya di mana. Kita kesulitan mencari rasa kebersamaan kita, antara pemimpin dan rakyat, antara rakyat dan rakyat. Kita kehilangan narasi untuk berjuang secara bersama untuk melawan virus bernama Corona ini.

Kita memang tak punya orang sekelas Ho Chi Minh, yang pikirannya seperti Lenin dan batinnya seperti Gandhi. Tapi kita punya Soekarno sang penyambung lidah Rakyat, punya Hatta yang budinya sekelas Gandhi (Gandhi from Java). Dan, masih banyak lagi tokoh-tokoh pergerakan Indonesia yang dapat menginspirasi kita. Hanya saja butuh kebesaran dari para pemimpin kita untuk belajar dari sejarah dan menginspirasi kita untuk berjuang secara bersama melawan Corona.  


Sumber:
1) Media video pendek Kumparan tentang Vietnam dan Corona, diakses pada tanggal 22 Maret 2020. 2) Ho Chi Minh & Sukarno, oleh Tim Majalah Historia, diterbitkan oleh Kompas pada 2018. 3) The 33 Strategies of War by Robert Greene, 2006. 4) Artikel www.aljazeera.com 29/02/2020.


=================
Idham Malik,
Pegiat Literasi di Makassar. Buku esainya yang telah terbit berjudul “Gerundelan Peristiwa” terbitan Akasia. Selain itu, beberapa tulisannya dibukukan dalam antologi esai berjudul “Esai tanpa Pagar” dan “Telinga Palsu” terbitan Nala Cipta Litera. Saat ini bekerja sebagai staff akuakultur pada organisasi WWF-Indonesia.

Terbaru

Critical Pedagogy: Menggugat Pragmatisme Kampus Merdeka

Belum lama ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membuat gebrakan dengan menggulirkan kebijakan Kampus Merdeka. Belakangan gebrakan...

Ikan Besar

Serumpun Folklor

Dari Redaksi

Kembara Senyap

Iblis Betina