Esai

Home Esai

Masa Depan Kesenian di Era Digital

0

HUBUNGAN dan keterkaitan jagat seni dengan perkembangan teknologi bukan sesuatu hal yang baru. Ketegangan antara jagat seni dan perkembangan teknologi tersebut menguat ketika mempersoalkan apakah estetika dalam karya seni akan mengabur ketika perkembangan teknologi secara radikal seperti era digital memungkinkan terjadinya produksi seni secara massal dan instan.

Di paruh tahun 1939 silam, seorang filsuf kontemporer, bernama Walter Benjamin telah memprediksi ketegangan atara karya seni dan perubahan teknologi tersebut. Melalui esainya yang fenomenal berjudul, The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction, Benjamin mengkaji keberadaan dan kondisi karya seni ketika teknologi dan masyarakat kapitalis menghegomoninya melalui produksi seni secara besar-besaran dan massal.

Pada saat Benjamin menulis esai tersebut tentu saja dunia belum sampai pada titik global dan teknologi belum menjangkau kemampuan digital. Namun, ternyata apa yang dianalisis sekaligus diprediksi Benjamin ternyata terjadi di era saat ini. Sekarang ini, tak bisa ditolak, zaman telah sampai revolusi teknologi digital yang ‘gila-gilaan’. Produksi karya seni tak lagi hanya digandakan dan disebarluaskan melalui kehadiran material, namun melalui kedigdayaan internet produksi karya seni lebih mudah di produksi secara massal dan besar-besaran tanpa kehadiran material. Melalui handphone dan media sosial lain, berbagai produk seni seperti lukisan, foto, film, bahkan teks, dengan sekali sentuh (teknologi digital) dapat dengan mudah digandakan dalam jumlah tak terbatas sekaligus dapat disebarluaskan dalam waktu sekejap mata. Kedigdayaan digital telah mendematerialisasi  produk-produk seni, baik dari bahan, hasil, maupun media penyebarannya.

Benjamin meramalkan (dan ternyata ramalannya benar) bahwa perkembangan teknologis bisa menggeser fungsi karya seni. Realitanya, teknologi digital di zaman ini, memang mampu tidak hanya menggeser fungsi karya seni, namun bahkan mampu menjungkirbalikkan  fungsi karya seni.

Pada awalnya semua karya seni bertolak dari hasil kontemplatif individu. Seorang penikmat seni dengan khusuk akan mengalami proses perjumpaan personal yang kontemplatif (penuh perenungan) dengan seni yang dinikmatinya. Karya seni adalah objek kontemplasi individu. Situasi kontemplatif yang khusuk semacam itu tidak lagi dijumpai ketika karya seni diproduksi secara massal oleh teknologi digital. Produksi seni secara besar-besaran, massal dan dalam ruang waktu yang cepat serta instan menjadikan karya seni tidak lagi menjadi sarana kontemplasi individual tetapi sekedar menjadi tontonan massa yang selintas tanpa perenungan.

Sebelum teknologi digital menghegomoni jagat seni, seni memiliki otonomi sendiri. Kekuatan-kekuatan estetika dalam karya seni saat itu sangat ditentukan oleh otononomi karya seni itu sendiri. Teknologi digital menghancurleburkan otonomi seni. Seni diproduksi secara besar-besaran dan dalam waktu sekejap bukan karena pertimbangan estetikanya tetapi karena musabab yang lain, utamanya kepetingan ekonomi yang kapitalistik dan kepentingan politik. Pendek kata otonomi seni hancur berantakan oleh kepentingan-kepentingan praktis dari kapilatistik dan politik yang bersenjatakan teknologi digital.

Kesenian yang pada awalnya tercipta dari kontemplatif yang filosofis bahkan sakral dan spiritual oleh kekuatan teknologi digital telah didangkalkan melalui proses reproduksi massal. Pendek kata reproduksi seni oleh teknologi digital menjadikan karya seni tercopot dari nilai-nilai yang profan dan filosofis. Produk-produk seni akhirnya hanya terjebak menjadi sekedar kerajinan tanpa kedalaman filosofis.

Dampak yang nyata adalah pada bentuk-bentuk seni tradisional. Pada awalnya seni-seni tradisional yang menitikberatkan pada pelayanan tujuan-tujuan ritual yang sakral dan spiritual oleh teknologi digital dipaksa mencopot tujuan-tujuan tersebut. Misalnya, seni pertunjukkan wayang yang sebenarnya sarat dengan filosofis yang sakral dan penuh nilai spiritual hanya diproduksi secara besar-besaran satu sisi yang menguntungkan secara kapitalistik yaitu dibagian hiburannya saja. Maka yang bisa kita saksikan saat ini adalah ribuan potongan-potongan pertunjukkan wayang yang sekedar ‘ndagel’ atau klangenan. Maka teknologi digital tidak lagi menjadi seni sebagai tontonan sekaligus tuntunan, namun terjebak hanya sekedar tontonan tanpa tuntunan.

Dampak mengerikan yang lain dari digitalisasi seni adalah politisasi seni. Teknologi digital dengan mudah mampu memproduksi seni secara massal dan cepat sehingga dapat memanfaatkan untuk manipulasi massa, propaganda dan kepentingan-kepentingan politik yang dangkal. Produksi seni secara massal oleh teknologi digital mejadikan seni bisa dengan gampang dinikmati semua orang tanpa proses kontemplasi dan apresiasi sehingga memiliki fungsi lain yaitu fungsi politis. Reproduksi massal oleh digitalisasi telah mengubah kaya seni menjadi apa ang disebut oleh Howart Caygill sebagai ‘pergeseran sihir estetis ke politis’.

Boleh jadi, reproduksi massal oleh teknologi digital menjadikan demokratisasi seni yang memungkinan karya seni dapat dinikmati oleh siapa saja, oleh semua lapisan masyarakat. Akan tetapi demokratisasi seni semacam itu juga berdampak pada pendangkalan pengalaman estetis, karena batasan-batasan yang indah tidak lagi dialami melalui kontemplasi namun sekedar sensasi.

Yang tak bisa disangkal pula, bahwa proses reproduksi seni melalui teknologi digital juga menyebabkan karya seni tidak lagi otentik. Otentitas seni sebagai salah satu parameter kecemerlangan pencapaian estetis menjadi kabur karena menjadi banyak, tidak lagi orisinal dan tiruannya bermunculan di mana-mana. Parameter estetis yang bertumpu pada singular, unik, orisinal dan karakteristik menjadi kabur. Situasi kekaburan semacam itu menjadikan bermunculan epigon-epigon bahkan plagiasi-plagiasi.

Reproduksi massal oleh teknologi digital atas karya seni memang bisa memunculkan demokratisasi seni yang menjadikan semua lapisan masyarakat bisa mengakses dan menikmati karya seni. Namun, hal tersebut bukan berarti otomatis melahirkan penikmat-penikmat seni yang apresiatif dan cerdas. Realitanya yang terjadi, karena produksi seni yang massal oleh digital hanya melahirkan sensasi-sensasi belaka maka yang muncul adalah sikap yang pasif dari mereka yang mengkonsumsi produk seni massal tersebut. Cara mereka mempersepsi karya seni hanya sebatas elementer, mekanis, dan tidak kritis. Aksesibilitas massal pada karya seni ternyata juga mengubah kualitas persepsi yang mejauh dari aspek ‘kedalaman’, nilai, kontemplasi, kritis dan spiritual, dan sekedar menilainya dari nominal dan aspek ekonomi belaka.

Memang dalam kenyataannya, teknologi digital adalah sebuah keniscayaan. Teknologi digital adalah anak kandung globalisasi yang mau tidak mau harus dijalani sebagai salah satu fase kebudayaan dan peradaban manusia.Menjadi tugas bersama bagi para praktisi seni dan pemerhati seni untuk meminimalisasi dampak digitalisasi seni sehingga fungsi seni sebagai sarana kontemplasi nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan dapat dipertahankan. Semoga!  




===============
Tjahjono Widarmanto, sastrawan, esais, dan guru yang tinggal di Ngawi. Buku puisinya “Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak” menjadi salah satu penerima anugerah buku puisi terbaik versi HPI di tahun 2016. Buku puisi terbarunya “Kitab Ibu dan Kisah-Kisah Hujan” (2019) menjadi salah satu buku puisi terpuji versi HPI tahun 2019

Romantisme Minggu

0

HARI INI Minggu. Tak ada yang spesial. Tak seperti dulu. Meskipun saat ini saya merasa setiap hari adalah Minggu. Saya sedang tak punya aktivitas rutin, selain kesulitan tidur yang menyebabkan bangun siang. Padahal dulu Minggu senantiasa yang diidam-idamkan. Melihat tulisan terbit di media cetak lokal bahkan nasional. Momen yang menyenangkan. Awal-awal menulis––saya belum tamat SMA––menunggu Minggu penuh antusias. Malam Minggu saya kesulitan tidur. Membayangkan tulisan kami, saya atau ibu dimuat atau tidak. Membayangkan tata letaknya di halaman koran serta ilustrasi yang menyertainya.

Minggu pagi bangun dengan perasaan gegas. Bersiap pergi ke warnet terdekat, untuk mengecek koran dalam versi e-paper. Saya belum memiliki laptop maupun android masa itu. Pergi ke warnet adalah aktivitas menyenangkan. Intensitas debar Minggu pagi tak terelakkan. Rasa cemas yang berdentum dalam dada, akan tergantikan dengan sorak kemenangan begitu melihat tulisan dimuat. Meski tak jarang saya menelan kecewa. Pulang ke rumah dengan lunglai, tak membawa berita gembira buat ibu.

Apabila kabar gembira yang dibawa, maka saya harus bergegas mengayuh sepeda ke arah pusat kota, untuk membeli koran pertama yang tiba di kota itu. Pukul 11 pagi biasanya koran Minggu sudah habis. Di samping toko koran itu, diatas sepeda, dengan gemetar, saya buka halaman koran yang memuat tulisan saya. Bangga, sekaligus tak percaya! Nama saya tercetak di lembar koran yang lebar itu. Jarak 15 km pulang-pergi, keringat yang mengucur, sama sekali tak terasa.

Begitulah bertahun-tahun, bahkan setelah saya berpindah ke Medan untuk melanjutkan studi sarjana di Universitas Sumatera Utara. Minggu selalu dinantikan. Minggu menjadi hari menggembirakan. Selama di Medan, nyaris setiap Minggu tulisan kami dimuat koran. Bahkan beberapa kali dimuat bersamaan, di koran yang sama, di halaman yang sama.

Minggu adalah hari pertaruhan. Setelah kerja keras menulis, mengeditnya, lalu mengirimnya ke koran, menunggu pemuatan adalah pertaruhan. Bertaruh dimuat atau tidak. Menulis tentu saja butuh modal. Bahan bacaan, laptop, koneksi internet, meja, kursi, beberapa teknis lainnya, dan tentu saja yang penting dari itu semua ialah ide dan kemampuan menuangkan apa yang dipikirkan ke dalam bentuk kata-kata. Mudah? Kalau sudah biasa tentunya mudah. Sulit? Ya, kalau tak pernah mencoba.

Sangking produktifnya, saya bahkan membuat list honor tulisan agar memudahkan saat mengambilnya sekaligus, dua-tiga bulan sekali. Nominalnya tak banyak. Lantas bagaimana saya dan ibu bisa hidup layak dari hanya mengandalkan menulis? Kemari kawan, let me tell you a secret! Menulislah di media nasional. Honornya besar, dalam kisaran setengah sampai sejuta. Bayangkan, dalam sebulan bisa membuat 4 tulisan untuk media nasional berhonor setengah juta saja, maka sudah mengantongi dua juta. Enak? Tentu saja. Tertarik jadi penulis? Oho! Tunggu dulu.

Semua itu tak begitu saja saya dapatkan. Tentunya butuh proses panjang, bahkan bertahun-tahun. Saya butuh empat tahun untuk menembus Koran Tempo. Itupun barangkali karena saya beruntung. Pada umur 19 tahun saya sudah berhasil menembus The Jakarta Post dan umur 20 untuk Kompas. Berapa tulisan yang saya kirim sebelum akhirnya berhasil menembus media nasional? Tak cukup jari menghitungnya. Ketika itu, saya bisa bilang kunci untuk bisa menembus media nasional ialah teruslah menulis dan pantang menyerah.

Sayangnya kawan, kini semua sudah berbeda. Benar-benar berbeda dengan “masa kejayaan” yang saya lalui itu. Kini koran sudah sedikit. Sebutlah yang nasional, tinggal Kompas, Jawa Pos, Republika, Media Indonesia, yang masih terbit cetak. Sementara untuk media online ada Korantempo.co, Kompas.id, Detik.com, Basabasi.co, Cendananews.co, Bacapetra.co, Lensasastra.id, Beritabaru.co dan media yang memuat tulisan ini, Magrib.id.

Media diatas menyediakan honor yang jumlahnya merosot dibanding “masa kejayaan” yang saya lalui. Bahkan berdasarkan informasi terbaru, yakni Media Indonesia, Detik.com dan Cendananews.co menghentikan honor sejak 2022. Ini menimbulkan frustasi bagi sebagian besar penulis. Apalagi disamping soal honor, koran-koran cetak juga lebih memilih untuk memuat tulisan karya penulis tenar dan tinggi jam terbangnya. Sudah pasti koran cetak tak mau ambil risiko memuat karya penulis pemula, sekalipun kualitas karyanya bagus.
Sedihnya, penulis yang sudah tenar justru banyak berpulangan belakangan ini. Sebutlah yang sering muncul di Kompas, yakni Sori Siregar dan Budi Darma. Maka Kompas berstrategi dengan memancang cerita bersambung Sindhunata setiap harinya. Nama besar akan memancing minat pembaca, begitukan?

Alhasil media online menjadi sasaran serangan para penulis, muda dan senior, sama saja. Sebagian tak lagi mengharapkan honor, tapi lebih menginginkan karyanya terpublikasi oleh media “kredibel”––yang artinya mempunyai susunan redaksi, redaktur yang mumpuni dan publikasi yang rutin. Honor media online terbilang kecil, antara Rp 50-300 ribu. Angka yang tak bisa diharapkan untuk melanjutkan hidup layak.

Begitulah akhirnya nasib para penulis––menerima, tanpa bisa berbuat. Bagi sebagian penulis, menulis tak lagi menjadi aktivitas yang menyenangkan. Setelah selesai ditulis, bingung: hendak dipublikasikan dimana? Facebook dan grup Whatsapp? Ah, murahan sekali. Sudahlah tak dibayar, cuma dapat jempol palsu, dan sanjungan yang nir-faedah. Syukur tak dapat ejekan atau sinisme.

Ya, kawan. Beginilah situasi kita saat ini. Minggu hanya sekadar Minggu. Tak lagi mendebarkan. Tak lagi dinantikan. Ya benar, besok Minggu. Wahai para penulis marilah tidur hingga siang. Berhentilah berharap tulisanmu dimuat, dan mulailah berpikir untuk banting setir menjadi novelis atau sekaligus politikus.

================

Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 1997. Menempuh studi magister di Universitas Padjadjaran. Menulis esai dan sajak untuk sejumlah media, seperti Kompas, Koran Tempo, Horison, Republika, The Jakarta Post, Media Indonesia, Investor Daily, Detik.com, Alinea.id, Utusan Malaysia, Azahar Revista Poetica. Buku puisinya Yang Hangus dalam Peti Linguis (2021) dan tahun ini berencana menerbitkan kumpulan esainya Hidup adalah Serangkaian Penderitaan yang Sesekali Diselingi Kebahagiaan.

Fana dan Baqa dalam pandangan Imam Al-Qusyairi

0

SEBELUM masuk dalam pemikirannya alangkah baiknya kita mengenal imam Al-Qusyairi terlebih dulu. Al-Qusyairi atau yang memiliki nama lengkap Abul Qasim Abdul Karim Khawazin lahir pada bulan Rabiul awal tahun 376 H/ 986 M di kota Ustawa. Tidak banyak yang mengetahui kehidupan masa kecil Al-Qusyairi kecuali sedikit. Di antaranya bahwasannya beliau menjadi yatim sejak masih kecil selanjutnya diserahkan kepada Abul Qasim Al-Alimani seorang sahabat dari keluarga al-Qusyairi.

Al-Qusyairi bercita-cita meringankan beban apa yang telah dikeluhkan masyarakat. Oleh karena itu beliau pergi ke Naisabur untuk belajar ilmu hitung yang berkaitan dengan pajak. Pada saat itu Naisabur berposisi sebagai ibu kota Khurasan yang sebelumnya tempat para ulama dan pujangga. Setelah sampai di Naisabur Al-Qusyairi belajar berbagai ilmu pengetahuan pada seorang guru yang dikenal sebagai imam yaitu Abu Ali Al-Hasan bin Ali An-Naisabur dan lebih dikenal sebagai Ad-Daqaq.

Pengertian Fana’ dan Baqa’ Perspektif Al-Qusyairi

Istilah fana’ oleh kaum sufi dipakai untuk menunjukkan keguguran sifat-sifat tercela. Sedangkan baqa’ untuk menandakan ketampakan sifat-sifat terpuji. Jika pada diri salik tidak ditemukan dari salah satu kelompok sifat ini, maka pasti ditemukan sifat-sifat lain. Barang siapa kosong (fana’) dari sifat-sifat tercela, maka sifat-sifat terpuji mengada. Barangsiapa dirinya dikalahkan oleh sifat-sifat tercela, maka sifat-sifat terpuji tertutupinya.

Ketahuilah, apa yang menjadi sifat seorang salik pasti mengandung tiga hal,yaitu af’al, akhlak, dan ahwal. Af’al (perbuatan-perbuatan salik) adalah tingkah laku manusia yang diperagakan dengan kemampuan ikhtiarnya. Akhlak merupakan perangainya. Akan tetapi, keberadaannya selalu berubah seiring dengan tingkat penanganannya berlangsung mengikuti perjalanan pembiasaan. Sedangkan ahwal merupakan awal langkah keberadaan kondisi salik. Ahwal mengembalikan posisi salik pada tahapan awal. Kejernihannya terjadi setelah kebersihan af’al.

Dengan demikian, keberadaan ahwal seperti akhlak. Karena jika salik turun ke gelanggang kehidupan untuk memeranti akhlaknya dengan hatinya, lalu meniadakan sifat-sifat jeleknya dengan kesungguhan jihadnya maka Allah menganugerahinya dengan perbaikan akhlak (maqam baqa’). Demikian juga jika salik menekuni penyucian af’al-nya dengan (pemanfaatan) curahan (rahmat) yang diperluaskan untuknya. Maka Allah pasti akan menganugerahinya pembersihan ahwal-nya, bahkan menyempurnakannya.

Barang siapa meninggalkan af’al tercela dengan lidah syariatnya, maka dia fana’ dari syahwatnya. Sebaliknya barang siapa fana’ dari syahwatnya, maka dengan niat dan ikhlasnya dia menjadi baqa’ dalam ibadahnya. Barang siapa zuhud dalam dunianya dengan hatinya, maka dia fana’ dari kesenangannyaa. Jika fana’ dari kesenangan dunia, maka dia baqa’ dengan kebenaran tobatnya.

Antara Af’al, Akhlak dan Ahwal

Barang siapa terobati akhlaknya sehingga hatinya fana’ dari sifat hasud, dendam, bakhil, rakus, marah, sombong, dan sifat-sifat lain yang merupakan jenis kebodohan nafsu, maka dia fana’ dari akhlak tercela. Jika fana’ dari ketercelaan akhlak, maka dia baqa’ dengan fatwa dan kebenaran. Barang siapa telah mampu menyaksikan gerak aliran kekuasaan-(Nya) dalam manifestasi pemberlakuan hukum-hukum (ketuhanan), maka dia dikatakan sebagai orang yang fana’ dari perhitungan dua kejadian yang berlaku pada semua makhluk.

Barang siapa fana’ dari bayangan pengaruh-pengaruh sesuatu yang berubah-ubah, maka dia baqa’ dengan sifat-sifat al-Haqq. Selanjutnya barang siapa dikuasai oleh kekuasaan hakikat (penampakan al-Haqq) sehingga tidak bisa menyaksikan hal-hal yang berubah-ubah, baik berupa zat, bekas-bekas, tapak-tapak, catatan-catatan, maupun reruntuhannya, maka dia fana’ dari makhluk dan baqa’ dengan Al-Haqq.

Fana’-nya salik dari af’al yang tercela dan ahwal yang rendah, dan dengan ke-fana’-an (ketiadaan) af’aI dan ke-fana’-an dirinya dari dirinya dan keseluruhan makhluk dengan ditandai ketiadaan rasa pada dirinya sendiri dan sesuatu yang di luar (makhluk), maka dia menjadi fana’ dari af’al, akhlak, dan ahwal . Jika salik benar-benar fana’ dari ketiga-tiganya, maka tidak boleh ada sesuatu dari ketiga fana’ tersebut muncul (mengada).

Apabila dikatakan seseorang fana’ dari dirinya dan keseluruhan makhluk, maka sebenarnya dirinya masih ada dan keseluruhan makhluk juga masih ada. Akan tetapi, orang yang mengalami demikian sudah tidak lagi memiliki pengetahuan, rasa, dan kabar yang berkaitan dengan dirinya dan semua makhluk. Hakikat dirinya masih ada, keberadaan keseluruhan makhluk pun masih ada, namun dia sudah lupa terhadap dirinya dan mereka. Dia tidak mampu merasakan keberadaan dirinya dan semua makhluk. Hal itu disebabkan kesempurnaan (klimak) kesibukannya dengan sesuatu (Dzat) yang lebih tinggi dari itu semua.

Contoh Fana’ dalam Kisah Yusuf

Barangkali kamu pernah menyaksikan bagaimana gambaran seorang pria yang masuk ke ruangan seorang penguasa atau raja yang bengis. Tentu dia akan kebingungan dan kehilangan nalar. Dia tidak sadar terhadap keberadaan dirinya dan orang-orang di majelis raja. Bagaimana bentuk ruangan yang dimasukinya, apa isinya, dan bagaimana rupa dirinya, dia tidak tahu dan tidak mungkin mengabarkan perihalnya.

Dalam Al-Quran, gambaran semacam ini pernah diperlihatkan Allah dalam kisah Nabi Yusuf a.s.

فَلَمَّا رَاَيْنَهٗٓ اَكْبَرْنَهٗ وَقَطَّعْنَ اَيْدِيَهُنَّۖ

“Maka, ketika wanita-wanita itu melihatnya (Nabi Yusuf a.s,), mereka mengucapkan takbir (takjub) dan (lalu) memotong tangan mereka (sendiri).” (QS.Yusuf: 31)

Wanita-wanita bangsawan Mesir ini ketika melihat ketampanan wajah Yusuf a.s. saat melintas di depan mereka, mereka terkejut, malu, kagum, dan amat kesengsem. Sehingga tidak terasa pisau yang dipegangnya memotong tangan mereka sendiri. Mereka adalah selemah-lemahnya manusia.

وَقُلْنَ حَاشَ لِلّٰهِ مَا هٰذَا بَشَرًاۗ اِنْ هٰذَآ اِلَّا مَلَكٌ كَرِيْمٌ

“Dan, mereka mengatakan, ‘Maha Sempurna Allah, tidaklah ini manusia melainkan malaikat yang mulia.” (QS. Yusuf: 31)

Ini merupakan gambaran makhluk yung lupa terhadap keberadaan (kondisi) dirinya ketika bertemu makhluk yang lain.

Maka, bagaimana menurutmu jika seseorang tersingkap (muka syafah) dari tabir yang menutupi Al-Haqq. Jika makhluk saja bisa lupa akan keberadaan rasa terhadap dirinya dan sesama makhluknya, maka apa tidak akan lebih menakjubkan jika yang ditemuinya adalah Al-Haqq.

Fana’ dalam Keburukan, Maka Baqa’ dalam Kebaikan

Barangsiapa fana’ dari kebodohannya, maka dia baqa’ dengan ilmunya. Siapa yang fana’ dari syahwatnya, maka dia baqa’ dengan tobatnya. Barang siapa fana’ dari kesenangan dunia, maka dia baqa’ dengan zuhudnya. Siapa yang fana’ dari angan-angannya, maka dia baqa’ dengan kehendaknya, dan demikian seterusnya dalam keseluruhan proses penyempurnaan akhlak.

Jika salik fana’ dari sifat-sifatnya yang tersebut di atas, maka dia naik dari ke-fana’-annya yang fana’ dari fana’-nya. Salik yang mengalami fana’ semacam ini sadar akan ke-fana’-annya dan melihat proses ke-fana’-annya. Hal ini seperti yang tergambar dalam syair di bawah ini:

“Suatu kaum tersesat di tanah lengang yang sunyi kaum yang lain tersesat di medan (gemuruh) cinta maka mereka fana’ kemudian fana’ kemudian fana’ (lagi) dan baqa’ dengan baqa’ dari (karena) dekatnya dengan Tuhan”

Yang pertama fana’ dari dirinya lalu muncul sifat-sifatnya, dan ke-baqa’-an sifat-sifatnya mengada dengan sifat-sifat A l-Haqq, kemudian  mengalami fana’ lagi dari sifat-sifat Al- Haqq, lalu muncul kesaksiannya bersama penampakan Al-Haqq, kemudian timbul fana’ berikutnya dari kesaksian ke-fana’-annya bersama kehancuran dirinya dalam wujud Al-Haqq.





===============
Fadhel Fikri, Co-Founder Sophia Institute, Palu.

Basa-basi Apresiasi

0

 
PERTAMA-tama, para penulis atau penyair di Indonesia patut bersyukur bahwa ruang publikasi karya sastra (baik prosa maupun puisi) di media massa sampai hari ini masih tetap ada di tengah-tengah situasi di mana tak sedikit media massa yang bertumbangan, meskipun di saat yang sama para penulis/penyair juga wajar bersedih karena sejumlah media yang tetap mempertahankan ruang sastranya itu kini tak lagi menyediakan honorarium. Sedih, bukan semata-mata soal uang atau materi, tetapi juga agaknya dengan demikian, kurasi di media massa tersebut menjadi lebih longgar dibanding ketika ia masih menyediakan honorarium, lantaran barangkali sebagian penulis atau penyair menjadi enggan mengirimkan lagi karyanya ke media tersebut.

Terlepas dari itu, berkat eksistensi ruang sastra yang masih bertahan itu, penulis/penyair masih terus mendapat pengumuman perihal karya-karya siapa yang tayang pada akhir pekan—dan kini ada juga yang tayang pada tengah pekan. Pengumuman itu biasanya akan disambut dengan riang gembira, terutama oleh penulis yang karyanya dimuat.

Namun, mengenai bagaimana sikap audiens (dalam hal ini terutama penulis/penyair lain) merespons tayangnya karya seseorang, saya pikir layak menjadi perhatian. Sejauh saya mengamati, kebanyakan atau hampir semua respons hanya berbentuk ucapan ‘selamat’ atau ‘keren’ atau ‘mantap’, atau sejenisnya. Ucapan-ucapan yang melambungkan kebahagiaan si penulis/penyair yang dimaksud. Seolah tak ingin merusak kegembiraan si penulis/penyair tersebut, sangat jarang atau bahkan hampir tidak pernah ada penulis/penyair lain yang merespons dengan memberikan masukan atau kritik (tentu saja setelah melakukan pembacaan yang serius dan cermat).

Setidaknya begitulah yang saya perhatikan di Grup Sastra Minggu di Facebook selama bertahun-tahun belakangan, yang saban akhir pekan konsisten mengumumkan karya-karya yang tayang. Tetapi, pada intinya bukan cuma di grup itu saja, di luar grup itu pun sama saja keadaannya.

Sebagai orang yang masih terus belajar, saya tidak tahu mengapa demikian. Lebih tepatnya, saya heran mengapa seolah-olah harus demikian. Saya tidak tahu sejak kapan atmosfernya seperti itu: apakah memang sudah berlaku sejak zaman ketika belum ada media sosial atau justru baru terjadi sejak kehadiran media sosial? Dan saya ingin sekali tahu, apakah tidak ada di antara anggota grup tersebut yang tidak terusik dengan atmosfer yang seperti itu? Apakah apresiasi terhadap karya sastra memang hanya harus berupa kata-kata ‘selamat’, ‘keren’, ‘mantap’, atau sejenisnya?

Bagi saya pribadi, kok ya, rasa-rasanya kata-kata itu terdengar seperti basa-basi penuh kehampaan; dan basa-basi, kita tahu, biasanya sejalan dengan kurangnya kadar perhatian, kurangnya kadar keseriusan, dan bahkan pada kadar dan oleh orang tertentu, tidak ada perhatian dan keseriusan sama sekali.

Maksud saya begini: orang-orang yang sekadar mengucapkan ‘selamat’ atau ‘keren’ atau ‘mantap’ itu, apakah benar-benar sudah membaca karya orang lain yang diselamatinya, dikereninya, atau dimantapinya? Saya tahu, pastilah ada yang sungguh-sungguh membaca sebelum mengucapkan ‘selamat’ atau ‘keren’ atau ‘mantap’, tetapi berapa banyak? Dan kalaupun memang sudah membaca dengan saksama, apakah ia tidak geregetan untuk merespons lebih dari itu? Apakah ia memang punya semacam pengendalian diri yang begitu hebat sehingga dirinya mampu menahan diri untuk tidak memberi tanggapan lebih dari sekadar kata-kata selamat yang penuh basa-basi atau kata-kata pujian kosong?

Saya kira akan tak berlebihan jika kita berasumsi bahwa ia memang tidak membaca karya-karya orang yang diselamatinya atau dipujinya itu; atau setidaknya, ia tidak/belum membaca dengan serius dan saksama.

Dianggap Iri dan Nyinyir

Dunia kekaryaan itu mestinya riuh dengan kritik alih-alih pujian kosong dan ucapan selamat yang hampa. Tidak cuma sastra, tetapi dalam hal karya apapun itu. Saya pribadi, pada setiap karya saya yang tayang, saya sangat menanti-nanti ada teman penulis yang menyampaikan tanggapan berupa kritik, misalnya, “Alinea pertamamu kurang enak, kurang mewakili isi cerita yang kamu tulis”; atau “Gaya ungkapmu terlalu bertele-tele, sampai-sampai kau lupa kalau porsi konflik yang harusnya kaupaparkan lebih detail malah tak tersampaikan”; atau “Penutup ceritamu terlalu klise. Tidak ada kesegaran di sana”; atau “Ceritamu tidak logis. Bagaimana bisa seorang gelandangan bisa dikenal oleh seorang menteri? Aku tidak menemukan penjelasan apapun yang menjadikannya logis”; dan sebagainya. Dengan begitu, saya bisa mendapat pelajaran dari kritik-kritik itu dan membaca ulang tulisan saya.

Beberapa kali saya pernah mencoba menerapkan apa yang saya harapkan itu terhadap karya teman-teman penulis/penyair setelah saya membaca secara cermat karya mereka, namun sayang hasilnya sungguh menyedihkan. Alih-alih mendapatkan tanggapan atau penjelasan atas kritik yang saya layangkan, penulis yang bersangkutan malah diam seribu bahasa. Barangkali mereka tak senang atau marah. Bahkan ada yang sampai meng-unfriend saya di Facebook. Pernah suatu kali, menyempil di antara orang-orang yang semuanya memberi selamat dan pujian, saya malah menuliskan komentar “tak sedap” pada unggahan foto karya seorang penulis di Facebook. Penulis itu saya tahu tergabung dalam sebuah komunitas sastra terkenal. Saya kritik puisinya, saya uraikan apa-apa saja keganjilannya, dan saya minta pertanggungjawaban dari si penulis yang bersangkutan. Sampai berhari-hari komentar saya itu tak berbalas, namun pada waktu yang bersamaan, penulis yang bersangkutan sempat membalas komentar-komentar lain yang memberinya ucapan selamat dan pujian.

Yang lebih menyedihkan, saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak, seorang kawan berkali-kali mengingatkan saya untuk tidak usah repot-repot mengkritik karya orang lain karena, katanya, “Nanti kau malah dianggap nyinyir!” Yang lebih parah, kata kawan saya itu lagi, “Kau akan dianggap iri dan tak mampu.”

Ini barangkali perlu dikonfirmasi. Apakah benar kalau kita mengkritik karya orang lain, apalagi di ruang publik (misal unggahan di Facebook), kita akan dianggap nyinyir? Apa betul kita akan dianggap iri dan tak mampu? Kalau sampai apa yang dibilang kawan saya benar, itu sungguh gawat.

Kritik Adalah Bentuk Tertinggi Apresiasi

Sebenarnya apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini, saya yakin sangat disadari oleh para penulis/penyair. Dari lubuk hati mereka yang paling dalam, lebih menginginkan dikritik daripada dipuja-puji, apalagi dipuja-puji tanpa disimak secara saksama karyanya. Hanya saja, barangkali, atmosfer yang selama ini terbentuk membuat laku kritik-mengkritik atau laku saling mengkritik menjadi redup, kalau bukan mati. Mengkritik seolah-olah pantang dan dosa.

Atmosfer yang saya maksud adalah atmosfer di mana para penulis/penyair kelewat menjaga perasaan orang lain sehingga sungkan mengkritik. Padahal masalahnya sederhana saja. Mana yang lebih penting: menjaga perasaan orang lain (tidak meruntuhkan kegembiraannya di hadapan publik) atau memberinya pelajaran berharga demi perkembangan atau perbaikan kualitas tulisannya?

Bagaimanapun, suka atau tak suka, saya kira kritik adalah bentuk tertinggi apresiasi. Di dalamnya terkandung pembacaan yang saksama (bahkan bisa berulang-ulang), dan itu berarti ada waktu dan tenaga yang tak sedikit yang diluangkan oleh si pengkritik. Dengan kata lain, kritik justru merupakan bentuk perhatian dan kepedulian yang serius dan mendalam terhadap karya yang kita hasilkan. Bukankah sejak awal kita menulis, yang paling kita harapkan adalah karya kita dibaca orang, apalagi dibaca secara serius?

Dengan atmosfer saling mengkritik, seorang penulis/penyair tidak akan sembarangan dalam berkarya. Upaya untuk menghasilkan karya yang sebagus mungkin, akan lebih ia tingkatkan karena ia harus bersiap-siap menghadapi kritik dari sesama penulis/penyair ketika karyanya dimuat. Laku kritik-mengkritik atau saling kritik saya pikir justru akan membuat dunia kepenulisan sastra kita lebih semarak, lebih bergelora, dan lebih hidup. Yang dikritik tak usah baper, yang mengkritik tak perlu sungkan. Mengkritik tidak berarti tidak sopan. (*)






=================
Abul Muamar, lahir dan besar di Perbaungan, Serdangbedagai. Menulis reportase dan cerpen. Alumnus Pascasarjana Filsafat UGM. Menulis buku kumpulan cerpen bertajuk ‘Pacar Baru Angelina Jolie’ (Gorga, 2019)

Ihwal Keterampilan Berbahasa

0


ADA
sepotong adagium menarik terkait bahasa. Bunyinya, “Siapa yang menguasai bahasa, ia akan menguasai dunia.” Dari yang sepotong itu terlihat betapa pentingnya kedudukan bahasa. Tidak perlu mengangkat senjata, melakukan penjajahan, ataupun mengobarkan perang Dunia Ketiga. Cukup dengan bahasa, seseorang bisa menaklukkan dunia.

Bahasa merupakan unsur yang senantiasa melekat pada manusia di sepanjang hidupnya. Dari bangun tidur sampai terlelap lagi. Dari A hingga Z, semua aktivitas manusia pasti menggunakan bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi, sarana untuk berekspresi, dan instrumen kemanusiaan. Tak berlebihan kiranya apabila mengatakan bahasa adalah segala-galanya. Sebab segala apa yang ada di alam semesta ini pun, baik yang nyata maupun yang niskala, dapat dikenali, dipahami, dan dimaknai lewat perantaraan bahasa.

Lantas, bagaimana jadinya jika manusia tidak berbahasa, atau tak mampu berbahasa dengan baik? Oh, tentu ia akan kehilangan kemanusiaannya, kesejatiannya, karena bahasa bersifat eksistensial—ia yang membedakan manusia dengan selainnya. Maka, fardu hukumnya bagi seseorang untuk menguasai bahasa, terampil menggunakannya.

Kecakapan berbahasa yang paling dasar yang mesti dimiliki ialah menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Menyimak dan membaca bersifat reseptif, berbicara dan menulis bersifat ekspresif.

Menyimak menjadi keterampilan berbahasa yang pertama dimiliki manusia, tentu dari level yang paling sederhana. Bermula sejak ia dilahirkan—kecuali kalau menangis dianggap sebagai bagian dari berbicara, dan barangkali juga menjadi keterampilan berbahasa yang terakhir merekat pada manusia.

Meski sudah dimiliki sejak seseorang muncul pertama kali ke dunia, menyimak bukan perkara yang bisa dianggap kecil. Ada orang yang menyimak, tetapi tidak memahami. Bila disampaikan sesuatu kepadanya, sesuatu itu hanya melintas masuk dari kuping kiri, keluar lewat kuping kanan. Orang-orang yang seperti tempayan tertiarap dalam air. Orang-orang bebal. Ditambah lagi, pada zaman kiwari ini, orang-orang sudah mulai enggan menyimak suatu penuturan berlama-lama. Semua inginnya serba cepat dan instan, to the point, antibasa-basi. Sehingga efeknya bukan saja menimbulkan ketidakpahaman, tetapi lebih buruk lagi, yaitu kesalahpahaman—dan kesalahpahaman, sebagaimana lazim diketahui, adalah pangkal dari banyak kekacauan.

Sedangkan membaca, walau fungsinya paralel dengan menyimak, menjadi keterampilan berbahasa yang lebih atau bahkan yang paling populer. “Literasi, tingkatkan literasi!” Orang-orang berseru sambil menggunakan buku sebagai simbol di mana-mana. Menandakan kepedulian terhadap aktivitas membaca—walau literasi bukan hanya berarti kemampuan membaca. Namun, sepertinya saat ini seruan-seruan untuk menggairahkan minat membaca masih sebatas slogan dan formalitas belaka. Tengoklah hasil survei-survei terkait tingkat minat membaca orang-orang dan akan ditemukan betapa mungilnya angka-angka yang muncul. Padahal membaca adalah kegiatan yang punya banyak keajaiban.

Ialah Maria Keller, sebagai contoh salah satu orang yang menemukan keajaiban membaca dan membagikan keajaiban tersebut pada orang lain. Bayangkan saja, di umurnya yang baru tiga belas tahun (pada tahun 2013) ia sudah mendirikan organisasi bernama Read Indeed dan telah mendonasikan lebih dari satu juta buku! Kepada anak-anak yang tidak memiliki akses bacaan ia mendedikasikan kepeduliannya tersebut.

Pertanyaan yang penting untuk diajukan: dari mana munculnya kesadaran untuk bertindak luar biasa seperti itu? Ternyata sejak kecil Keller sudah diajarkan oleh orang tuanya untuk bertamasya bersama buku. Dari aktivitas membaca sejak kecil itulah semua kisah heroiknya bermula. Maka, alangkah indahnya jika semua orang punya hobi membaca seperti dirinya sehingga bisa melahirkan lebih banyak lagi keajaiban untuk dunia.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa dua keterampilan berbahasa tersebut punya pengaruh yang signifikan terhadap kualitas seseorang. Melalui menyimak dan membaca seseorang bisa memiliki ilmu pengetahuan. Lewat menyimak dan membaca jugalah perbendaharaan pengalaman dan pemikiran manusia dibangun. Dua aktivitas tersebut merupakan gerbang yang mengantarkan seseorang untuk memahami realitas, mengungkap pelbagai rahasia kehidupan dan dunia, sampai puncaknya menggapai derajat kemanusiaan yang lebih tinggi.

Tentu menyimak dan membaca yang dimaksud bukan sekadar menerima atau mengonsumsi rangkaian aksara. Lebih dari itu. Menyimak dan membaca yang baik ialah mencerna, menguraikan, menganalisis, mengkritisi. Bukan sebatas terhadap “kata-kata”, tetapi segenap bahasa yang diciptakan manusia—perilaku, sifat, dan segala sistem tanda. Setelah semua proses menyimak dan membaca, yang sangat penting juga, adalah mengejawantahkan seluruh hasilnya melalui perilaku, sikap, dan cara-cara melakoni kehidupan.

Dua keterampilan itu pula yang selanjutnya akan meningkatkan kecakapan berbicara dan menulis. Makin baik kemampuan menyimak dan membaca seseorang, kian baik juga potensi keterampilannya untuk berbicara dan menulis. Telah menjadi aksioma bahwa mereka yang hebat dalam mengekspresikan diri adalah mereka yang hebat dalam menyerap ilmu pengetahuan. Sebaliknya, pepatah tong kosong nyaring bunyinya selalu menempel pada mereka yang tidak memiliki kecakapan menyimak dan membaca, tetapi banyak bualnya, entah melalui bicara atau tulisannya.

Jika dianalogikan, pentingnya keterampilan berbicara seperti pentingnya keahlian mengoper bola dalam permainan sepak bola. Tidak mungkin permainan sepak bola bisa berlangsung tanpa adanya oper-operan bola, begitu pula tak terbayangkan bagaimana kehidupan tanpa komunikasi lisan atawa berbicara. Sebagaimana juga permainan sepak bola akan berantakan apabila para pemainnya begitu buruk dalam mengoper bola, jalannya kehidupan seseorang pun akan menemui banyak kendala kalau keterampilan berbicaranya berada di bawah level rata-rata.

Seiras berbicara, menulis juga punya posisi yang vital dalam kumpulan hal-hal penting kehidupan seseorang. Jika berbicara berguna untuk komunikasi langsung, menulis bermanfaat untuk komunikasi tak langsung. Verba volant scripta manent, begitu bunyi ungkapan dalam bahasa Latin yang jika diterjemahkan secara sederhana berarti ‘yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi’. Jika dijelajahi, tidak akan terbilang jumlah ungkapan, peribahasa, ataupun nasihat dari para bijaksanawan yang juga tak terbilang jumlahnya tentang keutamaan menulis.

Dengan demikian, akhirnya, intelektualitas seseorang dapat diukur melalui apa yang ia tulis dan bicarakan serta bagaimana ia menyampaikannya. Tentu, sebagaimana menyimak dan membaca, berbicara dan menulis pun tak bisa disimplifikasi begitu saja. Bahaya akibatnya jika seseorang hanya asbun, asal bunyi. Bukan sekadar menjadikan dirinya sulit dimengerti dan membuat orang lain susah memahami, tetapi juga merendahkan bahasa itu sendiri. Apa gunanya bahasa kalau pemakainya tetap saja tidak dapat menangkap maksud satu sama lain?

Empat keterampilan berbahasa itu yang apabila ada dalam diri seseorang, lengkaplah dirinya. Memang hampir semua orang memiliki kemampuan untuk menyimak, membaca, berbicara, dan menulis, tetapi sedikit jumlahnya mereka yang benar-benar terampil. Untuk itu penting kiranya disadari bahwa untuk terampil dalam menggunakan senjata yang bernama bahasa itu dibutuhkan proses belajar dan latihan yang panjang dan melelahkan. Sebab bukan main dahsyatnya kemampuan bahasa itu. Sebab dengan bahasa seseorang bisa menjelajahi apa saja dan berpetualang ke mana saja. Ia dapat menjelajahi dirinya dan orang lain, menelusuri dunia dan alam semesta. Memahami kehidupan dan bahkan kematian—serta hal-hal yang menyertainya. Sepenuhnya.

Yogyakarta, 7 Agustus 2021




====================
Febrian Eka Ramadhan. Masih belajar di Universitas Negeri Yogyakarta pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Juga aktif sebagai anggota di Komunitas Literasi Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta. Beralamat di Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bagaimana Saya Selamat dari Menjadi Serangga?

0

Bermula ketika saya membuka buku “Metamorfosa Samsa”. Bukan di kalimat pembuka cerita atau di tengah-tengah cerita, tunggu dulu, melainkan sebelum segalanya dimulai, persis pada kata pengantar penerjemah.

“…Namun, aku harus memegangi tanganmu karena cerita yang kuberi judul Metamorfosis (Die Verwandlung) ini sedikit menakutkan.” Kafka menulis itu sebagai isi suratnya kepada Felice, kekasihnya.

Saya merampungkan kata pengantar itu dan di dalam diri saya tahu-tahu menggeliat suatu ketakutan yang tidak bisa saya jelaskan atau mengerti. Tetapi mungkin itu awal yang baik untuk memulai membaca cerita yang menakutkan perihal seseorang yang berusaha melenyapkan atau meredam ketakutannya sendiri, tetapi berakhir mati.

Surat Kafka selanjutnya:

“Menangislah, Sayangku, menangislah. Sekarang waktunya menangis. Pahlawanku baru saja meninggal. Jika kau mau menghiburnya, ia akan mati dengan tenang dan damai.”

Sekadar untuk diketahui, sebetulnya banyak orang telah mengetahui ini, Kafka menginginkan seluruh tulisannya dibakar. Ia tidak mau ada jejak kepengarangannya sedikit pun diketahui setelah kematiannya. Tetapi keinginan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Oleh temannya, tulisan-tulisan Kafka yang berhasil dihimpun, diterbitkan. Kafka yang mati “bangkit” kembali, orang-orang di seluruh penjuru dunia menyebut-nyebut namanya, menghidmati buah pemikirannya, merayakan ceritanya yang cenderung murung dan gelisah, dan sedih. Tokoh Gregor Samsa dalam Metamorfosa Samsa adalah seorang yang terpuruk, tersuruk, suatu kemalangan betul-betul menimpanya, dan akhirnya ia mati.

Dan mungkin itu semua terjadi karena beban yang begitu berat menghimpit kepala dan dadanya. Sehingga, pada suatu pagi ketika Gregor bangun dari mimpi buruknya, ia telah berubah menjadi serangga raksasa. Bagaimana itu bisa terjadi? Apa saja bisa terjadi, dan begitulah cerita yang baik, ia memberimu sesuatu yang tidak sepenuhnya kau sadari itu apa.

Bila Gregor Samsa adalah seorang yang terlibat dalam suatu bisnis yang siang-malamnya habis di jalanan, selalu dalam kepayahan, dan bagaimanapun ia bertanggung jawab atas kebutuhan keluarganya (ayah, ibu, adik perempuan), nyaris tak ada hari senggang untuknya, sementara saya bekerja sebagai salah seorang penjaga warung kelontong di sebuah gang di Jakarta sejak beberapa tahun lalu, mungkin tiga atau empat, perkiraan tahun 2018 atau 2019 saya mulai meninggalkan rumah berbekal sesuatu yang orang kampung saya sebut sebagai jimat keselamatan: doa orang tua, sebelum virus korona datang, dan saya masih bertahan di ibu kota hingga saat ini–dan pandemi mengubah segalanya. Orang-orang digiring ke dalam rumah, tidak ke jalan-jalan atau ke pusat-pusat keramaian. Bangku-bangku di taman bunga dan di halte-halte sepi, kursi-kursi di teras rumah dan di angkot kosong, meja-meja di mana saja senyap dari percakapan dan kepul asap teh atau kopi. Orang-orang beringsut ke kamar masing-masing dan sama menyerukan kesepian di mana-mana, di telepon genggam tak terkecuali. Pertemuan menjadi semata ruang virtual. Dan sekali lagi, orang-orang mencatatkan kesepian di kepala dan di bagian terdalam tubuh.

Jauh hari sebelum saya benar-benar berangkat ke Jakarta, dia (saya tak ingin menyebut nama) yang telah punya pengalaman banyak berkata:

“Seseorang yang datang ke Jakarta dengan tujuan piknik tentulah berbeda dengan yang datang untuk bekerja sebagai penjaga warung. Kau mesti menanggung segala bentuk kesepian dan keterasingan yang sangat, juga kerinduan yang kadang membuatmu lelah dan ingin menangis banyak-banyak.” Semula saya tersenyum mendengar pitutur demikian. Tetapi pada waktunya saya dibuat termenung-menung di belakang etalase sembari melihat ke luar ke jalan gang yang lengang dan kata-kata itu berputar-putar di kepala. “Baiklah, saya mulai paham yang kau maksudkan,” ucap saya sendiri.

Seseorang yang sekian tahun menjaga warung di Jakarta, bukan sekadar mendengar cerita dari mulut ke mulut, atau sekadar memperhatikan dari jauh, lewat medsos lagi, tentulah tahu bagaimana persisnya berjaga sepanjang hari atau sepanjang malam di dalam warung yang sesak. Tetapi bisa jadi apa yang saya rasakan tidak persis sama dengan selain saya sesama penjaga warung, dan memang tidak akan pernah sama kiranya. Dan siapa pun tahu, bagaimana kemurungan dan kecemasan bisa datang tiba-tiba waktu siang atau malam sementara kita hanya duduk termenung-menung di belakang etalase. Mencoba mengalihkan kesumpekan dengan menonton televisi: sepakbola atau serial tengah malam, misalnya, atau menelengkan kepala menonton stand-up comedy di youtube, atau warkop sekalian. Baiklah, masing-masing pribadi memiliki cara tersendiri mengatasi segala penat yang suka menghantam bertubi-tubi. Beruntunglah orang-orang yang bisa tahan.

Entah sejak kapan, namun saya sempat berpikir: jika suatu hari (entah malam atau siang) saya terbangun dari mimpi buruk dan mendapati diri saya telah berubah menjadi seekor serangga, apa yang akan saya lakukan? Sungguh suatu perasaan yang menyiksa. Dan tampaknya seluruhnya masih baik-baik saja, saya tidak berubah menjadi seekor serangga terkutuk yang tiada sesiapa peduli, lantas mati mengenaskan. Saya memang tidak berubah menjadi serangga meski potensi ke arah itu tetap ada. Ajaibnya, itu berkat buku cerita yang Kafka tulis, sebuah cerita yang konon mirip dirinya sendiri, secara aneh, pelan-pelan saya terselamatkan. Saya merasa beruntung menemukan novela ini di sebuah toko buku online, memesannya yang lalu diantar seorang kurir, dan membacanya lembar demi lembar meski kadang harus menahan diri untuk tidak mengutuk keadaan tiap kali pembeli datang meminta dilayani lekas-lekas–demikian berturut-turut. Untuk membesarkan hati saya berucap, “Oh, semacam godaan yang menyenangkan. Barangkali ini yang dimaksud ‘banyak baca banyak rezeki’.”

Begitulah tampaknya bagaimana saya bisa selamat dari berubah menjadi serangga. Saya merasa itu berkat Gregor Samsa atau Kafka–Samsa dan Kafka sama saja. Dari lembar-lembar kertas yang berisi cerita menakutkan itu, ia mengingatkan saya untuk waspada terhadap kemungkinan paling buruk, bahwa seseorang dapat saja berubah menjadi serangga menjijikkan di suatu pagi yang entah, bahkan ketika di malam harinya ia merasa baik-baik saja.

Kepedulian, saya menduga Gregor Samsa mati di akhir cerita sebab kepedulian yang pelan-pelan sirna dari keluarganya (ibu dan adik perempuannya yang semula peduli terhadapnya), kecuali ayahnya, ia sedari awal memusuhi serangga Samsa, begitu keras terhadapnya. Samsa yang luka, tulis teman Facebook saya di sebuah komentar waktu saya mengunggah foto novela Metamorfosa Samsa dengan sedikit kata-kata. Ya, Gregor Samsa yang luka, saya setuju, sesuatu yang sedih dan murung, begitu menakutkan.

Lain-lain hal, banyak hal lain yang patut dicatat dari novela Kafka; Metamorfosa Samsa, selain tulisan ringkas ini.

Jakarta, 2021




===================
Acik Giliraja. Lahir dan besar di Sumenep. Menyukai puisi dan cerita pendek. Saat ini tinggal di Jakarta.

Penulis di Sekitar Nabi, Bagaimana Jurnalisme Sekarang, dan Upaya Melawan Kebatilan

0

NABI MUHAMMAD adalah nabi yang menerima wahyu berupa kumpulan tulisan (kitab suci Al-qur’an). Tulisan-tulisan itu kelak akan menjadi pedoman bagi manusia untuk menentukan mana yang ‘benar’ dan mana yang ‘keliru’. Tugas Nabi Muhammad saat menerima wahyu pertamanya adalah membaca: “bacalah!” kata Malaikat Jibril yang kala itu berperan sebagai pengantar wahyu untuk Nabi Muhammad. Sontak Nabi Muhammad menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Singkat cerita, isi dari kitab suci Al-quran turun secara berangsur-angsur hingga sepeninggal Nabi Muhammad di umur 40 pada tahun 632. Atas usulan Umar bin Khattab dan persetujuan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, serta sahabat-sahabat nabi lainnya, tulisan-tulisan Al-quran pun kembali disusun (kemudian dibukukan) berdasarkan apa yang telah ditulis Zaid bin Tsabit (juru tulis Al-quran di masa Rasulullah) dan dibantu oleh para hafiz (penghafal Al-Quran).

Nabi memiliki banyak pengikut yang cerdas utamanya di bidang kepenulisan: Zaid Bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Al-Mughirah, dan sebagainya. Pada masa itu belum ada teknologi yang memungkinkan manusia dapat merekam ucapan manusia lainnya. Artinya, bilamana nabi mulai berbicara, para sahabat ini benar-benar akan memperhatikannya untuk mencegah kesalahpahaman atau ketidak sesuaian maksud dengan apa yang akan ditulis. Hal ini membuktikan betapa pekerjaan menulis adalah sesuatu yang berat dan sungguh sangat dipertanggung jawabkan.

Seiring dewasanya peradaban, teknologi komunikasi berkembang. Tulisan hadir menjadi teks yang serta-merta. Medium untuk mendistribusikannya juga kian banyak dan terus berjejaring. Setiap manusia sama-sama memiliki kesempatan menulis dan membaca. Namun tidak semuanya merasa bertanggung jawab atas apa yang telah ditulis dan dibacanya. Kita tak perlu mengadu data tentang negara di belahan dunia bagian mana yang memiliki tingkat literasi paling tinggi. Hal tersebut sia-sia belaka selama wajah global masih dipenuhi ketidakadilan. Tulisan tidak lagi disodorkan sebagai pedoman manusia dalam menentukan jalan baik, melainkan diturunkan semata-mata sebagai instruksi pembunuhan.

Kebebasan berpendapat menjadi buah simalakama. Kini semua orang berpotensi menjadi penjahat. Bahkan bagi dirinya sendiri. Pada masa setelah Al-quran rampung disusun lalu disebarkan ke berbagai penjuru, perselisihan sesama umat malah kian nampak. Lebih sering disebabkan oleh perbedaan tafsir terhadap kalimat-kalimat di dalam Al-quran. Bukan rahasia lagi bahwa di dalam tubuh Islam sekali pun, bermunculan kelompok-kelompok kecil yang membela tafsirannya masing-masing sebagai yang paling benar.

Akhirnya, ketika masyarakat disodorkan banyak sekali pilihan kebenaran, justru membuat kebenaran itu sekaligus memudar (post-truth). Kita tidak tahu mana yang sesungguhnya adalah pedoman hidup atau sekadar belukar propaganda. Pada situasi seperti inilah jurnalisme bekerja – seseorang dengan “lisensi” kepenulisan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jurnalis adalah orang yang pekerjaannya mengumpulkan dan menulis berita dalam surat kabar dan sebagainya; wartawan (https://kbbi.web.id/jurnalis).


Jurnalisme

Dalam kajian-kajian media, banyak disebutkan kalau para jurnalis sejatinya adalah mereka yang tidak bisa lepas dari pengaruh kehidupan masyarakat di sekitarnya. Maka, apa yang ditulisnya senantiasa merupakan cerminan sosial. Dapat dikatakan juga, jurnalisme adalah “juru bicara” bagi realitas yang membesarkannya.

Lantas akan samakah ceritanya, jika jurnalis tersebut hidup di dua realitas yang berbeda secara bersamaan: realitas dari dunia maya dan dunia nyata?

Ketika jurnalis hidup di dua realitas yang berbeda, risikonya ia pun berpotensi rentan mengonsumsi fakta dan data dari tempat yang berbeda pula. Dari apa yang dikonsumsinya kemudian, pengetahuannya terbentuk, dan berdasarkan pengetahuan yang telah terbentuk itulah jurnalis pun menjalankan tugasnya.

Namun, satu hal yang perlu kita ingat yakni, bahwa sesungguhnya realitas bukanlah ruang kosong yang bebas dari kekuasaan. Segala prodak teks serta pengetahuan yang beredar di dalamnya, tak mungkin lepas dari kepentingan – (penguasa) – individu atau kelompok-kelompok yang berdiri di balik realitas tersebut. Oleh karena itu, boleh pula kita menduga, fakta dan data yang menyeruak di tengah realitas bukan tidak mungkin merupakan kepunyaan individu atau kelompok yang berada di balik realitas tersebut, yang niscaya membawa kepentingannya masing-masing. Sebab bagaimana pun, data adalah fakta yang tersaring, dan fakta yang tersaring didapatkan melalui realitas.

Namun sebelum itu, mari kita sepakat dulu untuk menamakan situasi di mana realitas hanya dikuasai narasi dari elit-elit kecil seperti termaksud di atas dengan menyebutnya sebagai realitas dominan. Sejauh ini, realitas dominan tak pernah mempertahankan posisinya dengan cara yang adil: tidak ragu menggunakan tulisan-tulisan yang mengandung kebohongan besar semata-mata agar dapat memonopoli makna kebenaran dan sampai kepercayaan masyarakat termasuk jurnalis. Maka artinya, realitas dominan yang dikangkangi elit-elit ini besar kemungkinan adalah biang dari persebaran berita bohong. Dan ke mana realitas dominan itu akan di bawa – entah pada kebajikan atau kebatilan – tentu tetap harus dipertanyakan.

Pada titik kenyataan seperti itu, yang amat samar dan berbahaya, pekerjaan menulis seperti jurnalis kembali menjadi sesuatu yang berat dan sungguh amat dipertanggung jawabkan sebagaimana ketika zaman nabi. Bayangkan bila jurnalis merasa dirinya sebagai orang yang tidak dianggap penting, maka pada saat itulah urat nadi kita dipertaruhkan. Kalau selanjutnya terlontar pertanyaan begini: “Memangnya jurnalis mana yang merasa dirinya tidak penting?”

Jawabannya adalah: jurnalis merasa dirinya tidak penting ketika masyarakat tidak lagi menghargainya serta kabar yang disampaikannya, tidak turut menjaganya, dan ketika negara abai terhadap keberlanjutan hidupnya. Pasca reformasi saja yang menjadi tanda dibukanya era kebebasan berpendapat, sudah ada setidaknya lebih dari enam kasus kematian jurnalis dalam upayanya mengabarkan kebenaran; Ersa Siregar (2003), Herliyanto (2006), AA Prabangsa (2009), Ridwan Salamun (2010), Ardiansyah Matra’is Wibisono (2010), Alfrets Mirulewan (2010), dan lain-lain.

Whatsapp?

Pada masa kemunculan makhluk renik bernama covid-19 ini ke lingkungan hidup kita, banyak informasi bohong yang beredar melalui internet atau media sosial (Whatsapp) dan bukan dari jurnalis yang mengabarkan melalui media profesional (kredibel). Tirto.id (13/5/2019) pernah memuat data yang mengungkapkan, bahwa 66,67% masyarakat yang berumur di atas 45 tahun memercayai berita yang tersebar melalui Whatsapp, dan 66,88% memuat berita tentang kesehatan (https://tirto.id/siapa-penyebar-hoaks-di-indonesia-dCr2). Maret lalu (19/03/2020), Tirto.id kembali memuat berita yang membahas soal serupa, berjudul: Cara Cek dan Cegah Penyebaran Berita Hoaks Covid-19 di Whatsapp.

Di berita itu dijelaskan tentang cara mengenali informasi hoaks melalui Whatsapp sekaligus juga membantu para petugas medis menghidupkan jaringan komunikasi yang memudahkan pertukaran fakta seputar Covid-19 (https://tirto.id/cara-cek-dan-cegah-penyebaran-berita-hoaks-covid-19-di-whatsapp-eGb3). Berita ini merupakan bentuk respons dari banyaknya beredar informasi hoaks mengenai Covid-19 yang menyebabkan kekacauan di lingkungan masyarakat.

Dalam masa pandemi ini pun, mulanya masyarakat nyaris bersikap santai karena pemerintah berulang-ulang menyatakan yang pada intinya menganggap Covid-19 jangan dianggap serius karena tidak berbahaya. Tidak lama kemudian, anggapan itu salah alias dusta belaka setelah sempat menimbulkan perdebatan sengit antara mau memilih santai atau awas.

Secara bersamaan, kita juga bisa menilai, betapa sulitnya bagi masyarakat berusaha mencari berita dari sumber yang valid sebelum benar-benar menentukan sikap. Andaikata masyarakat menganggap bahwa keberadaan jurnalis itu penting, dan dari merekalah informasi dapat dipertanggung jawabkan, semestinya kita bisa berjalan sesuai pedoman yang benar tanpa perlu tersesat terlebih dahulu. Di sisi lain, jurnalis berhak mendapatkan keistimewaan, dalam hal ini hak-hak keamanan saat melakukan kerja jurnalistik. Sehingga jurnalis memiliki cukup keyakinan kalau-kalau perlu melawan intervensi dari para penguasa realitas dominan itu dan tetap memberi kebenaran terkini kepada masyarakat. Betapa pun itu pahit.

Pada zaman nabi, para sahabat yang berprofesi sebagai penulis bekerjasama dengan hafiz untuk menuliskan ulang isi Al-quran. Jika pola kerjasama ini diterapkan dalam konteks dan kasus sekarang, maka bisa dibilang, para jurnalis harus pula bekerjasama dengan masyarakat (yang memiliki keahlian) untuk menyampaikan kebenaran terkini mengenai Covid-19, supaya berdampak baik pula pada proses penanganannya. Dan tentu saja, upaya tersebut akan lebih mudah diwujudkan apabila diimbangi dengan kepekaan (kebijaksanaan) para pemimpin, sebagaimana yang telah dilakukan Umar bin Khattab dan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.




======================
Robbyan Abel Ramdhon, adalah alumnus di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Sekarang bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Murata Sayaka: Ruang Itu Bernama Kesepian

1

KESEPIAN. Kata ini begitu melekat dalam diri karakter karya dari para penulis Jepang. Karya yang datang dari penulis Negeri Sakura bisa sangat subtil dalam menarasikan kesepian. Tentu, kita bisa menyebut beberapa karya yang karib mempersoalkan rasa sepi, mulai dari Kitchen milik Banana Yoshimoto sampai The Wind Up Bird Chronicle atau Norwegian Woold karya Haruki Murakami. Namun begitu, dua karya ini sebatas membabarkan perasaan sepi secara umum: Kau sendirian setelah anggota keluargamu meninggal dan merasa sepi; dan kau ditelan hiruk-pikuk perkotaan hingga merasa dirimu kesepian.

Memangnya, ada berapa jenis kesepian? Mungkin kita bertanya-tanya. Berbeda dengan pemaknaan kesepian dari dua nama penulis tadi, Murata Sayaka menjadi sedikit nama yang mengangkat suara kesepian dari sudut pandang yang lain. Kesepian dalam ruang imajinasi Sayaka adalah sebentang rasa yang menghantuimu dari dekat, yang datangnya dari sisi anggota keluarga, yang dirawat oleh segala tuntutan dan aturan di tengah masyarakat. Dan corak kesepian ini pun bukannya datang dari ruang hampa, sebab Sayaka menangkapnya langsung dari fragmen-fragmen kehidupannya selama ini. Ia pernah terjebak dalam alienasi yang dibentuk keluarga dan masyarakat atas dirinya.

Perasaan itu, kemudian menjelma kesepian yang kerap hadir bahkan di dalam keramaian sekalipun, baik dalam lingkup keluarga sendiri ataupun dalam interaksi dengan masyarakat sekitar. Dari situlah, tumbuh pemaknaan baru dalam memandang masyarakat. Sayaka sebenarnya tidak puas dengan segala aturan, nilai, dan dogma yang ditentukan oleh masyarakat, baik secara langsung ataupun tidak. Dalam pandangannya, masyarakat terlampau sibuk mengatur citra seseorang. Mereka akan sedemikian gagap tatkala mendapati sesuatu yang tak biasa, atau sesuatu yang tampak tidak normal yang ditunjukkan oleh seseorang. Makanya, suatu kali ia pernah berkata, “Bukankah tidak masalah menjadi lain atau anomali di tengah masyarakat?”

Anomali. Pemaknaan itu yang lantas ia tiupkan terhadap karakter Keiko dalam novel debutnya sebagai penulis global, Convenience Store Woman (Gadis Minirmarket: GPU. 2020). Novel ini tampak menjadi corong pemikiran pertamanya yang paling gamblang. Sebab pengalamannya yang menjadi pegawai minimarket, turut memengaruhi pandangan si tokoh utama, Keiko, dalam menjalani hari-harinya. Dikisahkan, Keiko lama menjadi anomali dalam masyarakat. Selama delapan belas tahun ia menggantungkan hidup menjadi pegawai minimarket paruh waktu. Ia memiliki kesulitan dalam bersosialiasi, ditambah pula masih melajang di usianya yang ketiga puluh enam tahun. Hidup seperti itu sebenarnya cukup membuatnya nyaman. Kendati ia mesti menjalani hari-hari yang berputar serupa sistem, tapi minimarket itu sudah menjadi jagat yang sifatnya seperti ibu: nyaman dan menghadirkan keamanan.  

Namun, Sayaka tidak meniupkan keutuhan dalam diri Keiko. Sebetulnya, ia justru mempertontonkan tipikal manusia modern yang gagap dan rapuh dengan lesatan perubahan dalam masyarakat. Pemaknaan minimarket sebagai jagat kecil yang menenangkan Keiko, bisa juga dianggap sebagai responsnya terhadap dunia sosial di luar sana yang dirasa gagal ia masuki. Keiko mencipta jagatnya sendiri. Ia meniru beberapa orang pegawai dan pengunjung dalam hal berpenampilan dan bersikap, semata-mata supaya jagat yang diciptanya itu tidak mengalienasinya seperti yang dilakukan masyarakat kepadanya. Keiko merasa dunianya melulu minimarket, sebab ia tak menemukan kenyamanan ketika membaur dengan keluarga ataupun teman-temannya. Itulah yang ia yakini sampai akhir, bahkan sampai ia suatu kali mesti keluar dari jagatnya demi memenuhi tuntutan orang-orang, tapi kemudian kembali lagi dengan keyakinan bahwa ia sepenuhnya Gadis Minirmarket.

“Kesepian telah memperkaya hidupku,” kata Murata Sayaka dalam diskusi “Reading The People of Asia” yang diadakan Makassar International Writers Festival (25/06/2021). Keiko lahir dari buah permenungannya dalam gelembung yang lahir dari kesepiannya. Sayaka memang ditelan gelembung itu, merasa menjadi anomali di masyarakat dengan merasa “Bukannya tidak masalah kalau dalam suatu sesi foto pernikahan temanmu, kau menjadi satu-satunya yang tidak tersenyum?” Gelembung itulah yang membuatnya bisa berintereksi dengan tokoh-tokoh khayalannya. Bagi Sayaka, tokoh dalam dunia fantasinya tidak kalah eksis dan pentingnya dengan orang-orang yang ia temui di dunia nyata. Hal ini, yang agaknya membawa Sayaka dalam kecenderungan menghasilkan prosa yang tak biasa. Sisi surealis Sayaka adalah sesuatu yang berbeda dengan, semesta bermatahari ganda dan hujan ikan sarden dalam novel Haruki Murakami, misalnya.

Berbeda dengan surealisme Murakami yang termanifestasikan dalam keganjilan dunia para tokohnya, sisi surealis Sayaka lebih seperti sesuatu yang hadir dari dalam tokoh-tokohnya. Itu seperti respons atas keengganan untuk begitu saja menerima kenyataan atau sisi realis orang-orang atau masyarakat dengan segala bentuk standar dan tatanannya. Lebih jauh lagi, bentuk respons Sayaka yang lebih ekstrem, tergambarkan secara jelas dalam novelnya yang lain, yakni Earthlings. Bahkan, walau tidak sepenuhnya, Sayaka sudah memisahkan kelompok manusia dalam novel itu menjadi dua dikotomi yang saling bertentangan, Earthlings dan Popinpobia.

Lewat pandangan si tokoh utama, Natsuki, Earthlings merupakan sebutan bagi penduduk bumi yang kehidupannya memenuhi segala bentuk aturan dan tatanan yang ditetapkan masyarakat. Ciri seorang Earthlings, lebih lanjut, adalah sudah dicuci-otak oleh Factory (Natsuki menganalogi kotanya dengan Factory atau Pabrik) hingga tujuan mereka hanyalah menikah dan memiliki anak. Sementara itu, Popinpobia merupakan planet khayalan Natsuki, planet itu ia yakini sebagai muasal dari boneka landak mini bernama Piyyut, yang dikirim untuk membantu penduduk bumi menghadapi krisis. Natsuki juga yakin kalau ia telah mendapat kekuatan magis dari sosok Piyyut. Semua keyakinan itu tumbuh ketika ia kanak-kanak dan baru duduk di bangku sekolah dasar.

Lantas, apakah itu sebatas buah fantasi kanak-kanak Natsuki? Bisa jadi. Namun, keyakinan itu terus dibawanya sampai ia dewasa, dimulai sejak ia mencintai sepupunya sendiri, menjadi korban kekerasan seksual oleh gurunya, terus diperlakukan sebagai kotak sampah oleh keluarganya, sulit membentuk hubungan asmara di sekolah, sampai akhirnya menjalin pernikahan sebatas formalitas semata. Semua hal ini, selanjutnya, yang membuat kisah Natsuki ini tampak menjadi upaya Sayaka dalam membenturkan berbagai entitas dan genre, dari fantasi kanak-kanak menjadi horror, dari sepenuhnya realis menjadi absurd dan surealis.  

Lalu, apa yang ingin dicapai Sayaka sebenarnya? Suara apa yang ingin ia gaungkan dari ruang kesepiannya itu? Dari dua karya ini, bisa kita berpendapat kalau gugatan atas sekian bentuk aturan dan tatanan dalam masyarakatlah yang menjadi sorotannya. Sayaka jelas melawan anggapan yang dikatakan Sartre bahwa, l’enfer c’est les autres, atau  “neraka dunia berwujud orang lain.” Sayaka menolak kendali atas orang lain terhadap entitas tokoh-tokohnya. Kendati upaya mereka tidak dikatakan berhasil, tapi semangat itu seolah mendarah-daging dan menjadi ciri khas mereka. Kalau Keiko condong menyoroti “bagaimana menemukan jagat atau tempat yang membuatmu nyaman” dan upaya mempertanyakan nilai-nilai kenormalan, Natsuki dengan dunianya menjadi antitesis Sayaka dengan bereksperimen menciptakan jagat dan aturan yang sepenuhnya baru.  

Akhirnya, ruang sepi bagi Sayaka adalah muasal segala bentuk permenungan, kritik, dan alternatif pandangan yang coba ia tawarkan melalui karya-karyanya. Ruang itu mungkin menjelma gua yang menariknya ke dalam semesta penuh makhluk-makhluk khayali, tapi dengan jendela yang terpampang dalam beberapa celah, Sayaka bisa dengan bebas mengamati berbagai hal. Hasil pengamatannya itulah yang mengandung kesegaran dan keunikan perspektifnya.


================
Wahid Kurniawan, penikmat buku. Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

Pandemi dan Politik Kematian

1

“Kematian tunggal adalah tragedi; satu juta kematian adalah statistik” (Joseph Stalin, 1947).

PERANG antara manusia melawan mikroba telah berlangsung selama ribuan tahun. Bakteri dan virus – selain dari perang dan bencana kelaparan – terbukti menjadi musuh manusia paling tangguh sekaligus paling mematikan dalam sejarah. Memori kolektif menyisakan kepedihan dari pandemi wabah hitam (the black death 1347-1352). Dari sekian pandemi, wabah hitam merenggut korban terbanyak antara 75-200 juta orang dan berkontribusi mengurangi sekitar 60% penduduk Eropa (Michael S. Rosenwald, The Washington Post, 2021). Pandemi adalah peristiwa luar biasa yang menelanjangi seluruh struktur sosial sebuah bangsa bahkan komunitas global. Ia memperlihatkan karakter wabah sebagai “awal yang mengerikan” yang meruntuhkan hubungan sosial dan memprovokasi kepanikan. Philip Strong, sosiolog asal Inggris menegaskan bahwa pandemi merepresentasi momentum transparansi tatanan sosial. Institusi sosial menjadi lumpuh. Aparatur negara kelimpungan. Interaksi sosial dan relasi antar aktor dalam masyarakat menjadi problematik; saling mencurigai, saling menyalahkan bahkan saling memusuhi. Asumsi mengenai bekerjanya sistem dan struktur sosial dipertanyakan. Keseluruhan tatanan bermasyarakat dan berbangsa mengalami guncangan bahkan beberapa diantaranya mengalami disfungsi sosial (Epidemic Psychology, Sociology of Health and Illness, 1990).

Di saat masyarakat dunia membutuhkan kerjasama global mengatasi pandemi, berbagai negara mempertontonkan politik populisme dan nasionalisme sempit melalui aksi penimbunan alat perlindungan diri, persekusi kelompok tertentu berdasarkan RAS serta komersialisasi berlebihan terhadap vaksin dan obat-obatan. Di bulan Januari 2020, Tiongkok mengimpor 2,5 milyar alat-alat kesehatan yang berhubungan dengan pandemi, termasuk diantaranya lebih dari 2 milyar masker kesehatan. Langkah Tiongkok dianggap sebagai aksi penimbunan yang dapat membahayakan suplai masker dunia (Sam Cooper, Global News, 2020). Sejak awal pandemi Covid-19, sentimen terhadap orang Asia di Amerika meningkat tajam. Mereka diludahi, dipukuli, dikata-katai, ditendang bahkan banyak yang ditusuk oleh orang yang tak dikenal (Helier Cheung dkk, BBC News, 2020).

Sosiologi berpeluang untuk menyingkap kontribusi pandemi terhadap berbagai persoalan sosial non-medis di masyarakat – perampasan mayat, menolak test PCR/Swab, tidak memakai masker di tempat umum, menolak isolasi, menentang pelarangan mudik, anti vaksinasi dan menganggap pandemi Covid-19 sebagai konspirasi politik global. Studi sosiologi juga dapat mengungkap kebijakan politik berbagai pemimpin dunia di masa pandemi dan mengurai implikasinya terhadap kehidupan dan tatanan sosial, termasuk diantaranya ketimpangan, pengangguran, kemiskinan, layanan kesehatan, ketersediaan obat, vaksinasi dan politik kematian.

Tulisan ini akan membahas pandemi dari perspektif necropolitics, konsep yang dikemukakan oleh pemikir kenamaan Kamerun Achille Mbembe yang ditulis dalam artikelnya yang berjudul necropolitics tahun 2013, kemudian diterbitkan dalam buku dengan judul yang sama di 2019.

Politik Kematian (Necropolitics)

Necro berasal dari bahasa Yunani nekros yang berarti “mayat” atau “bangkai”. Necropolitics kemudian diartikan sebagai “politik kematian”. Achille Mbembe mendefiniskan necropolitics sebagai “kedaulatan untuk menentukan siapa yang dihargai dan siapa yang tidak, siapa yang dibuang dan siapa yang diselamatkan”. Dengan kata lain, necropolitics adalah sebuah kerangka yang menegaskan bagaimana pemerintah atau otoritas negara memberi pemaknaan yang berbeda tentang kehidupan. Semakin dekat seseorang dengan kekuasaan maka hidupnya semakin berharga. Sebaliknya, semakin jauh dari supremasi kekuasaan maka nilai hidupnya semakin berkurang dari logika necropolitics – dan eksistensinya semakin rentan terhadap marabahaya (Namrata, Verghese, teenvogue, 2021). Dalam bukunya yang berjudul “Necropolitics, (2019)”, Mbembe menegaskan bahwa necropolitics adalah penggunaan kekuatan sosial-politik untuk menentukan bagaimana seseorang dapat hidup dan sebagian lainnya harus mati. Menurut Mbembe, “Ekspresi tertinggi dari kedaulatan terletak pada kekuatan dan kapasitas untuk mendikte siapa yang boleh hidup dan siapa yang harus mati”.

Necropolitics sering dianggap sebagai perpanjangan konsep biopolitik dari Michael Foucault, pemikir postmodernisme asal Perancis. Meski terdapat kesamaan dalam penggunaan kekuatan sosial-politik dalam mengontrol kehidupan, biopolitic tidak mampu menjelaskan kematian kontemporer yang disponsori oleh negara. Mbembe menjelaskan bahwa dalam kondisi necropower, tirai antara perlawanan dan bunuh diri, pengorbanan dan pertaubatan, martir dan kebebasan menjadi kabur. Mbembe menambahkan bahwa necropolitics lebih dari sekadar hak untuk membunuh (droit de glaive), tetapi juga hak untuk melakukan ekspose kepada orang lain (termasuk warga negaranya) terhadap kematian. Pandangan Mbembe tentang necropolitics juga termasuk hak untuk memaksakan kematian sosial dan kematian sipil, hak untuk memperbudak dan berbagai bentuk kekerasan politik lainnya. Siapa saja pemimpin negara yang menerapkan necropolitics di masa pandemi? Dalam situasi seperti apa logika necropolitics ini bekerja?

Necro-maskulinitas Donald Trump

Dalam artikelnya yang berjudul “Donald Trump, Dominating Masculine Necropolitics, and Covid-19, Sage, 2020”, James Messerschmidt, menjelaskan gaya kepemimpinan Trump yang disebutnya sebagai “necropolitics maskulin yang dominan”. Gaya kepemimpinan Trump yang dominan-maskulin menunjukkan dirinya sebagai pusat kekuasaan. Trump memberi perintah dan mengontrol berbagai interaksi, menjalankan kekuasaan, mengawasi pergerakan dan mengontrol peristiwa. Trump juga merumuskan dan menjalankan kebijakannya sendiri, memaksakan kepatuhan dan menunjukkan sangat sedikit penghargaan terhadap opini orang lain. Ketika kasus pertama Covid-19 terungkap di Amerika pada tanggal 20 Januari 2020, Trump secara konsisten meremehkan masukan dan peringatan pakar kesehatan agar penyebaran virus direspon secara serius. Pakar kesehatan sedari awal mendesak agar dikeluarkan kebijakan nasional mengenai jaga jarak, testing, tracing, isolasi dan penyiapan alat pelindung diri. Trump bahkan menasihati pakar kesehatan agar tidak perlu panik dan khawatir berlebihan. Ketimbang mengeluarkan kebijakan domestik, Trump justru mendominasi diskursus tentang virus. Pada tanggal 22 Januari 2020, ia sesumbar menyatakan bahwa virus covid-19 telah sepenuhnya dapat dikendalikan. Meski pakar kesehatan Gedung Putih terus menerus mengingatkan untuk segera melakukan langkah mitigasi, Trump secara konsisten meremehkan ancaman virus corona bahkan mengklaim bahwa “kami sangat memahami apa yang sesunggguhnya terjadi”.

Pada tanggal 25 Februari, 2020, terdapat 15 kasus yang telah diketahui di Amerika. Di hari yang sama, Dr. Nancy Messonnier, Direktur Center for Disease Control and Prevention (CDC) yang juga anggota Gugus Tugas Virus Corona Gedung Putih menayindir Trump melalui jumpa pers dan menegaskan bahwa “Kami berharap masyarakat terus melakukan aktivitas di negeri ini. Sekarang bukan saatnya menanyakan kapan virus ini akan menyebar, tetapi pada saat itu terjadi berapa banyak orang Amerika yang akan terinfeksi secara serius”. Segera setelah jumpa pers, Trump mendiamkan Mosennier dan sesudahnya tidak pernah terdengar lagi komentarnya di media selaku anggota Gugus Tugas. Pembungkamannya merupakan ilustrasi betapa kepemimpinan Trump menuntut kepatuhan terhadap otoritas dan kekuasaannya. Akibat necro-maskulinitas dari Trump, penyebaran visrus Covid-19 di Amerika menjadi tidak terkendali. Di awal April 2020, tercatat 2.850 kasus meninggal dan di bulan Mei angkanya mencapai 55.337 orang. Sebuah studi diterbitkan online di bulan Mei menyimpulkan bahwa Amerika dapat melakukan pencegahan sebesar 62% kasus infeksi yang tercatat dan mencegah 55% kasus kematian seandainya Trump melakukan langkah mitigasi secara nasional seminggu atau dua minggu sebelumnya. (Pei, Kandula, Shaman, 2020).

Di bulan Juni 2020, angka kematian akibat Covid-19 di Amerika menyentuh angka 102.640. Jumlahnya terus meningkat menjadi 151.265 di bulan Agustus, dan angkanya di atas 200.000 di bulan Oktober. Di bulan November, angka kematian sudah melebihi 250.000 dan mencapai angka 300.000 di bulan Desember. Covid-19 merenggut nyawa satu dan dua orang setiap menit, menempatkan virus corona sebagai mesin pembunuh terganas di Amerika. Meski demikian, Trump tetap mengklaim dirinya sukses karena Covid-19 belum membunuh 2.2 juta warga Amerika. Di sinilah relevansi kutipan Joseph Stalin di awal artikel ini, “Kematian tunggal adalah tragedi; satu juta kematian adalah statistik”. Bagi Trump, kematian ratusan ribu orang adalah tragedi, tetapi masih jauh lebih baik ketimbang kematian jutaan orang penduduk Amerika.

Necro-ekonomi Bolsonaro

Bagaimana dengan kepemimpinan Presiden Brazil dalam mengatasi pandemi? Oliver Basciano menuliskan artikelnya  melalui teknik jurnalisme investigatif di Artreview dengan judul “War Without End: The Necropolitcs of Bolsonaro’s Brazil, April, 2021”. Pada saat menuliskan laporannya di bulan April 2021 – dengan nada frustrasi dan putus asa – Basciano sulit membayangkan bagaimana buruknya sistem pelayanan kesehatan di Brazil. Selama sepekan, rata-rata 3.000 kematian per hari, sepertiga diantaranya berasal dari negara bagian Saõ Paulo; menjadikan total kematian kumulatif sebanyak 360.000 sejak awal pandemi. Prediksi lebih buruk dikhawatirkan terjadi. Seluruh rumah sakit kolaps bahkan di wilayah yang paling kaya sekalipun; kapasitas ICU mencapai angka 90% di mayoritas negara bagian.

Menurut Basciano, kondisi penanganan pandemi di Brazil semakin suram karena masalah kompetensi presiden Bolsonaro dan ketidakseimbangan penanganan antara isu ekonomi dan masalah sosial. Bolsonaro dianggap sebagai presiden yang lebih dari sekadar ceroboh dalam menangani pandemi. Tindakannya yang menyangkali keberadaan virus, mempromosikan pengobatan melalui dukun dan menolak vaksinasi, menurut Basciano dapat dikategorikan sebagai kriminal. Luiz Inácio Lula da Silva, mantan presiden sekaligus calon penantang kuat Bolsonaro di pilres 2022 menyatakan bahwa Bolsonaro membatalkan pengadaan 700 juta vaksin di delapan perusahaan tahun lalu. Tindakan Bolsonaro yang berusaha mengakhiri pembatasan sosial dan tidak mempercayai penguncian wilayah – guna mencegah penularan penyakit menular – menurut konstitusi Brazil dapat dikategorikan sebagai kriminal. Dimas Covas, kepala lembaga pendidikan kedokteran di Sâo Paulo yang sekaligus bertanggung jawab untuk memproduksi vaksin CoronaVac menyatakan, “Presiden mempraktikkan Darwinisme sosial. Ia memperhadapkan antara virus dan manusia; yang kuat akan menang dan yang lemah akan punah”.

Di bulan Mei 2021, total kasus yang dilaporkan sudah mencapai 14 juta dan 400.000 diantara meninggal dunia. Angka ini menempatkan Brazil sebagai episentrum Covid-19 dunia. Menurut Alfredo Fillo (The Conversation, 2021), respon Brazil di bawah kebijakan presiden Jair Bolsonaro adalah yang terburuk sejagad raya. Fillo menjelaskan bahwa terdapat tiga hal yang saling bertautan yang menyebabkan Brazil menjelma menjadi neraka di bumi. Pertama, Brazil adalah salah satu negara yang paling tinggi kesenjangan sosialnya dan mereka yang di lapis terbawah semakin rentan selama pandemi Covid-19, terutama warga kulit hitam, kelompok miskin dan pengangguran. Kedua, Brazil selalu terperangkap kedalam sistem politik yang akut dan keterbatasan kelembagaan. Sejak pemerintah mensponsori kebijakan reformasi neoliberal di tahun 2016,  buruh paruh waktu meningkat, merosotnya jaminan sosial dan pelayanan publik kekurangan pembiayaan secara dramatis. Perubahan kebijakan ini didasari oleh amandemen konstitusi yang menghentikan pembiayaan non-finansial pemerintah pusat selama 20 tahun. Rezim fiskal yang baru secara brutal melakukan pemotongan anggaran, menyebabkan sistem perlindungan kesehatan yang ditiru dari NHS Inggris mengalami kemunduran beberapa tahun terakhir akibat program pengetatan anggaran. Ketiga, Peran kontoversial yang dimainkan oleh Bolsonaro. Sejak awal pandemi, presiden secara sistematis meremehkan resikonya dan memblokade semua respon yang terkoordinasi secara terpusat. Presiden juga mencibir wali kota dan gubernur negara bagian yang berusaha menerapkan penguncian wilayah, pembatasan jarak sosial dan kewajiban memakai masker. Presiden justru memaksa menteri kesehatan – yang sudah berganti sebanyak empat kali sejak tahun lalu – untuk fokus pada obat penyembuh yang belum terbukti seperti ivermectin dan hydroxychloroquine. Kebijakan Bolsonaro yang berdalih untuk semata menyelamatkan ekonomi ternyata tidak hanya menyebabkan kematian yang meningkat tajam tetapi juga guncangan sosial-politik serta kontraksi ekonomi terburuk dalam sejarah Brazil.

Necro-statistik Rezim Jokowi

Meski tidak memiliki keterkaitan sejarah, sosial-politik dan kebudayaan, kebijakan Jokowi menghadapi pandemi Covid-19 memiliki kemiripan dengan apa yang dilakukan presiden Brazil, Jair Bolsonaro. Sebelum kasus pertama diumumkan tanggal 2 Maret 2020, pemerintah secara terbuka menganggap remeh virus Covid-19. Pemerintah bahkan mengklaim bahwa virus yang awalnya berkembang di Wuhan itu tidak akan menulari masyarakat Indonesia (Kompas, 2 September, 2020). Dari rangkuman berbagai berita di Harian Kompas, berikut beberapa statemen menteri bahkan presiden yang meremehkan dampak virus mematikan ini. Pada tanggal 17 Februari 2020, Menteri Kesehatan yang waktu itu dijabat oleh Dr. Terawan Agus Putranto menyatakan bahwa virus corona tidak masuk di Indonesia karena doa. Merespon pertanyaan wartawan, Terawan berujar, “Kita ini negara berketuhanan Yang Maha Esa. Apapun agamanya selama kita berpegang teguh pada Pancasila, doa itu menjadi hal yang harus diutamakan. Makanya ora et labora (berdoa dan berusaha)”.

Pada tanggal 25 Februari, 2020, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto justru mengumumkan paket pembiayaan untuk promosi pariwisata di Istana Negara. Pemerintah bahkan menganggarkan Rp 72 milyar untuk membayar jasa influencer dan promosi media demi menggenjot pariwisata Indonesia yang lesu karena terdampak penyebaran virus corona. Anggaran sebesar itu menjadi bagian dari total insentif sebesar Rp 298,5 milyar yang dikeluarkan pemerintah untuk menarik minat wisatawan mancanegara (Kompas, 25/2/2020).

Pernyataan paling menghebohkan datang dari presiden Jokowi. Saat ditanya mengapa pemerintah tidak melarang masyarakat untuk mudik sejak penetapan tanggap darurat Covid-19 sehingga mata rantai penularan ke daerah bisa terputus sejak awal, Jokowi berujar, “Kalau itu bukan mudik. Itu namanya pulang kampung. Memang bekerja di Jabodetabek, di sini sudah tidak ada pekerjaan, ya mereka pulang kampung. Karena anak istrinya ada di kampung, jadi mereka pulang”. Demikian kata Jokowi saat menjawab pertanyaan Najwa Shihab dalam program “Mata Najwa” yang tayang pada Rabu, 22/4/2020. Tidak berhenti sampai disitu. Kontroversi Jokowi selanjutnya adalah anjuran berdamai dengan Covid-19. Pernyataan Jokowi agar masyarakat berdamai dengan Covid-19 mendapat beragam respons, termasuk respons negatif. Pasalnya, narasi pemerintah sebelumnya adalah perang melawan Covid-19. Penyataan berdamai dianggap sebagian masyarakat bahwa pemerintah telah putus asa menangani penularan Covid-19. Dalam pernyataannya, selama wabah masih terus ada, Jokowi meminta seluruh masyarakat untuk tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan. “Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan,” katanya di Istana Merdeka, jakarta, dalam video yang diunggah Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden pada kamis (7/5/2020).

Akibat dari ketidaksiapan mengantisipasi dampak terburuk pandemi sedari awal, Indonesia dijuluki sebagai episentrum Corona Dunia. Laporan detiknews tanggal 25 Juli, 2021 menyebutkan bahwa beberapa hari terakhir ini, angka kasus harian dan kematian merupakan tertinggi di dunia. Berdasarkan update kasus harian dunia, Jum’at 23 Juli, 2021, Indonesia masih menjadi yang pertama dengan jumlah penambahan kasus harian corona sebesar 49.071 kasus dengan angka kematian tertinggi harian sebanyak 1.566, berdasarkan data Wordometers. Bisa dikatakan hari ini menjadi juara di urutan pertama dalam kasus harian corona tertinggi di dunia (detiknews, 25 Juli, 2021). Dari sekian banyak masalah seputar penanganan Covid-19 – kontroversi statemen pejabat negara, kesalahan pendataan penerima bansos, keterlambatan insentif tenaga kesehatan, korupsi dana pandemi, insentif dana triliunan untuk BUMN – penghapusan angka kematian dalam penilaian level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) adalah yang paling menghawatirkan. Dalam kapasitasnya sebagai Koordinator PPKM Darurat Wilayah Jawa Bali, Luhut Binsar Panjaitan (LBP) menjelaskan bahwa indikator kematian itu menimbulkan distorsi karena adanya pemasukan data yang tidak diperbaharui. Langkah LBP ini direspon sangat keras oleh Analis data lapor Covid-19 Said Fariz Hibban. Said mengatakan, ketidakakuratan data kematian seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan data tersebut. “Dengan menyadari bahwa data kematian itu tidak akurat, pemerintah seharusnya berupaya memperbaiki data tersebut agar benar-benar akurat (Tempo.Co, 11 Agustus, 2021).

Berdasarkan data yang dikumpulkan tim lapor Covid-19, ada lebih dari 19.000 kematian yang sudah dilaporkan oleh pemerintah kabupaten/kota, tetapi tidak tercatat di data pemerintah pusat. Data dari 510 pemerintah kabupaten/kota menunjukkan, hingga 7 Agustus 2021, terdapat 124.790 warga yang meninggal dengan status positif Covid-19. Sementara itu, jumlah kematian positif Covid-19 yang dipublikasikan pemerintah pusat pada waktu yang sama sebanyak 105.598 orang. Artinya, antara data pemerintah pusat dan kabupaten/kota, terdapat selisih 19.192 kematian. Penghapusan angka kematian dari indikator penilaian PPKM serta ditemukannya selisih puluhan ribu angka kematian antara pemerintah pusat dan kabupaten/kota, menunjukkan apa yang penulis sebut sebagai necrostatistics.

Necrostatistics dalam Necropolitics

Dalam necrostatistics, negara menjadi aktor tunggal pemegang legitimasi atas kematian. Negara mendikte siapa saja dan berapa banyak yang tercatat di kolom kematian. Kedaulatan negara atas angka-angka sama dengan state of exception, meminjam istilah Georgio Agamben. Negara memiliki kekuatan penuh untuk bertindak diluar akal sehat dan segala yang normatif dengan alasan situasi dan kegentingan yang memaksa. Kehadiran necrostatistics dalam necropolitics di masa pandemi baik di Amerika di masa Donald Trump, Brazil di masa Bolsonaro dan Indonesia di bawah rezim Jokowi, membawah implikasi yang sangat memilukan bagi  jutaan umat manusia. Mereka menjadi korban bukan atas kelalaiannya semata, tetapi ketidakmampuan para pemimpinnya membuat kebijakan dan peta jalan penanggulangan dan mitigasi penyebaran virus Covid-19. Mereka tumbang tidak semata karena imunitasnya yang tidak tangguh, tetapi kebijakan pemerintahnya yang gagal menyiapkan infrastruktur dan layanan kesehatan yang prima. Mereka terpapar bukan karena tidak patuh terhadap protokol kesehatan, melainkan tinggal di rumah bukanlah pilihan karena tiada lagi yang tersisa untuk bertahan hidup. Baik di Amerika, Brazil dan Indonesia, pemimpin puncaknya menunjukkan ketidakmampuan membawa bangsanya keluar dari krisis pandemi Covid-19. Bukannya memperkuat koordinasi dan konsolidasi, mereka bertahan dengan legitimasinya, menggunakan hukum besi necropolitics, necrostatistics dan state of exception sebagai senjata pamungkas.

Di ranah necrostatistics publik dipaksa untuk menerima bahwa di dalam sistem yang sangat demokratis sekalipun, negara memiliki kedaulatan tak tertandingi untuk memanipulasi, merekayasa bahkan menghapus angka-angka. Di ranah necropolitics, mereka yang meninggal karena covid dikubur seadanya dalam senyap, tanpa liturgi dan kidung kematian, tanpa do’a talkin, tanpa rambu solo. Mereka yang tersisa dipaksa menanggung beban psikologis yang sangat berat – berjuang dalam isolasi, penguncian, keterbatasan ekonomi, kemiskinan dan pengangguran – serta berjuang melawan penindasan, ketakutan, penyesalan dan rasa bersalah. Di pandemi yang tak berujung, hidup dan mati nyaris tak ada bedanya. Mereka yang bernafas seakan hanya menunggu giliran kapan saatnya tiba menuju alam keabadian. Eksistensi necrostatistics, necropolitics dan state of exception adalah simbol hadirnya kediktatoran dan kesewenang-wenangan. Ia merepresentasi penindasan dan ketidakberdayaan, sekaligus puncak kedunguan segenap elemen bangsa yang tidak lagi mampu membedakan antara tragedi, parodi dan komedi. []




=====================
Sawedi Muhammad, alumni Graduate Studies, Sociology & Anthropology, Ateneo de Manila University, Filipina.

Irasional Dan Rasional: Meneroka Kekuatan “Mitis” Dan “Fungsional” Pada Kebudayaan

0
Ilustrasi Miftahur Rozak, sketsa pensil dan akrilik di atas kertas.


MARILAH kita melihat alam tidak sebagai sebuah kepolosan semata. Tetapi sebuah fenomena yang memiliki kekuatan, baik kekuatan “mitis” — yaitu kekuatan-kekuatan gaib supranatural, maupun kekuatan “fungsional” yang berkaitan dengan potensi dan kegunaan alam beserta isinya terhadap manusia.

Kekuatan “mitis” dari alam biasanya menimbulkan ketakutan dan berdampak negatif pada kehidupan manusia. Satu-dua orang yang bisa “menjinakkan” kekuatan mitis untuk memanfaatkannya bagi kehidupan manusia, tapi ketakutan terhadap dampak negatifnya tetap ada. Misalnya, orang-orang yang berharap mendapatkan kedigdayaan, kekayaan atau kekuasaan pada kekuatan “mitis” akan dibayangi oleh ketakutan akan “tumbal” yang harus dibayarnya, atau dibayar oleh keturunan-keturunannya kelak. Dan tumbal ini biasanya lebih besar dari apa yang diberikan oleh kekuatan “mitis”.

Sangat bebeda dengan kekuatan “fungsional” dari alam. Para petani, peladang, pelaut adalah para pengguna dan perekayasa kekuatan alam secara “fungsional”. Mereka membaca gejala, tanda-tanda, isyarat-isyarat dari alam untuk memanfaatkan kekuatan alam secara prima bagi kehidupannya; sekaligus untuk menghindari bencana-bencana yang dapat juga ditimbulkan oleh alam manakala terjadi kesalahan pada sistem pengelolaan dan pengolahannya. Karena itu pada petani dan peladang tradisional akan turun sawah atau membuka ladang manakala musim hujan telah tiba, tetapi para pelaut tidak akan melaut manakala hujan lebat, angin ribut, dan gelombang besar yang biasanya datang pada musim hujan untuk menghindari bencana-bencana. Adapun petani akan bercocok tanam pada musim kemarau manakala fungsi pengairan benar-benar dapat diandalkan untuk mengairi sawahnya.

Dapat disimpulkan bahwa mengelola kekuatan “mitis” –kekuatan supranatural membutuhkan pemikiran irasional karena hal-hal yang dapat terjadi tidak bisa dinalar secara rasional, sementara mengelola/merekayasa kekuatan “fungsional”  –kekuatan natural, membutuhkan pemikiran rasional untuk meletakkannya pada fungsi-fungsi yang benar dari alam.

Baik yang percaya pada adanya kekuatan “mitis” dari alam maupun yang hanya percaya pada kekuatan “fungsional” yang bisa dikelola dari alam, keduanya pernah menjadi paham dalam kehidupan kebudayaan kita. Orang-orang dahulu, katakanlah manusia-manusia purba, hampir seluruh hidupnya dikepung oleh kekuatan-kekuatan “mitis”. Karena itulah manusia-manusia purba tak pernah bisa lepas dari berbagai upacara “mitis” seperti  pemberian sesajen (Bahasa Bugis: Massorong-sorong) di tempat-tempat “mitis” seperti di sungai-sungai, di bawah pohon beringin yang diyakini angker, di kuburan-kuburan nenek moyang, di tepi laut, di goa-goa, di sawah dan di mana saja untuk menghormati dewa-dewa, roh-roh, arwah-arwah nenek moyang,  atau para  “penghuni” tempat-tempat angker tertentu.  Ada dua keyakinan yang mengiringi setiap upacara seperti itu, yaitu  “munajab” (lebih baik disebut “hasrat”) untuk mendapat berkah dari kekuatan “mitis” (hasrat positif), dan sebagai ekspresi “tolak bala” bagi bencana-bencana yang dapat ditimbulkan oleh kekuatan “mitis” (kekuatan negatif)  manakala “alam” tak terurus dengan benar.

Orang-orang sekarang yang hidup dalam kemajuan teknologi  adalah para penganut kebudayaan “fungsional”. Mereka tak percaya lagi pada kekuatan-kekuatan “mitis” yang irasional itu. Mereka lebih percaya pada fungsi-fungsi setiap benda dan bagaimana mengelola (merekayasa) fungsi-fungsi tersebut agar dapat memberikan manfaat secara maksimal kepada manusia. Para petani di desa maju tidak lagi melaksanakan upacara “maddoja bine” dan membaca epos “Meongpalo Karellae” untuk memuja-muja “Sangiasseri” (Dewi padi) agar padi bisa tumbuh dengan subur dan tak diganggu hama. Tapi mereka merekayasa bibit unggul yang tahan hama dan dapat berbuah banyak. Mereka “memuja” kesuburan tanah dengan pupuk urea, TSP, ZA dan lain-lain dan  mengusir hama dengan pestisida. Dan rekayasa bioteknologi telah bermain pula dalam rangka menciptakan kekuatan-kekuatan fungfional yang bisa memberi manfaat lebih maksimal lagi. Demikian juga dengan pelaut, mereka sudah membuang layar dan tak lagi  mengandalkan angin darat untuk membawa perahunya  ke laut dan angin malam yang bertiup dari laut untuk membawanya pulang. Sekarang para pelaut bisa pergi dan pulang melaut kapan saja dengan menggunggunakan diesel untuk mendorong perahunya. Cara-cara menangkap ikan pun tak lagi dengan “mantera pattorani” dan upacara sesajen di tepi laut atau di perahu,  tetapi dengan canggih dibuatnya alat-alat penangkap ikan seperti “bagan bergerak”,  sonar untuk mendeteksi keberadaan ikan, lighting berkekuatan ribuan megawatt untuk mengumpulkan ikan sebelum menangkapnya. Tentu saja semua ini dibangun dengan prinsip teknologi HOTS (Higher Order Thinking Skills).  Dan prinsip dari kemajuan teknologi –semua teknologi adalah efisiensi, efektifitas, dan dapat memberi manfaat maksimal.

Meski demikian tidak sedikit di antara kita yang sudah menganut paham kebudayaan “fungsional” diam-diam masih juga memuja paham kebudayaan  “mitis”. Ungkapan Bugis yang mengatakan “De’nawedding iyabbeang attoriolongnge” (Nasihat orang-orang tua yang artinya lebih kurang: Kita tidak boleh membuang adat-istiadat orang dulu”) adalah ekspresi keengganan untuk melepas sama sekali paham “mitis” yang lama mengepung alam pikirannya. Maka terjadilah pandangan “ontologis” yang berada di antara “mitis” dan “fungsional”.  Paham “ontologis” yaitu meyakini adanya kekuatan “mitis” yang irasional itu  dari alam, namun mereka juga memahami fung-fungsi rasional dari alam. Karena mereka pada dasarnya sudah berada pada alam kebudayaan “fungsional” yang rasional, maka mereka lalu memandang kebudayaan “mitis” yang sarat dengan kepercayaan pada kekuatan “gaib”  benda-benda di sekelilingnya sebagai suatu kenangan yang tak mudah lepas dari alam pikirannya.  Di sana memang sudah terbentang  jarak –sebuah jarak  pandang antara kebudayaan “mitis” dan kebudayaan “fungsional” secara nyata.  Karena itu orang-orang yang berpandangan “ontologis” ini  tinggal  menjadikan kebudayaan “mitis” itu sebagai objek kajian. Adapun semangat-semangat “mitis” yang pernah mengepung alam pikirannya, kini hanya bisa direvitalisasi jika ingin mengalaminya kembali. Dalam rangka itulah –bahwa masih banyak orang yang memercayai kekuatan “mitis” di tengah-tengah berlangsungnya kebudayaan “fungsional” yang didukung oleh IPTEK ini, banyak lembaga kebudayaan yang merasa perlu melakukan “revitalisasi” kebudayaan-kebudayaan “mitis” untuk memetik nilai-nilai adiluhung di dalamnya. Badan Bahasa misalnya, beberapa waktu lalu telah membuat program revitalisasi “Maddoja Bine” di daerah-daerah untuk tujuan pengkajian seperi itu. Seminar Internasional La Galigo antara lain juga untuk merevitalisasi kembali hal-hal “mitis” dari La Galigo untuk memetik nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Juga dengan perawatan dan pemeliharaan benda-benda pusaka, seperti keris yang dianggap bertuah, tak lain dari upaya “revitalisasi” nilai-nilai “mitis” yang diyakini masih tersimpan pada benda-benda antik yang bersangkutan.

Pada dasarnya pandangan kebudayaan “mitis”, “ontologis”, dan “fungsional” masih tetap hidup dan berdampingan di era teknologi abad 21 atau di abad revolusi industri  4.1 ini. Masyarakat kita yang memiliki pandangan kebudayaan berbeda masih tetap tumbuh, meyakini dan melaksanakan “syariat-syariatnya” masing-masing. Puritanisme kebudayaan masih juga terpelihara.  Dan pemerintah pun –sesuai dengan peran dan fungsinya—tetap melindungi semua bentuk dan pandangan kebudayaaan yang berkembang di tengah masyarakat kita, hingga bentuk dan pandangan kebudayaan itu punah. Bahkan sebelum punah pemerintah masih juga berkewajiban melakukan proteksi, revitalisasi, upaya-upaya pelestarian agar generasi kita pada masa yang akan datang masih memiliki bukti-bukti akan kekayaan budaya bangsanya. Karena itu pandangan “mitis” dan “fungsional” pada kebudayaan kita memang masih harus diterima sebagai tahapan kebudayaan saja.

Barru, 2021



====================
Badaruddin Amir lahir di Barru pada 4 Mei 1962. Menulis esei, puisi, cerpen di beberapa media, memenangi berbagai lomba menulis puisi dan cerpen. Bukunya “Aku Menjelma Adam” (kumpulan puisi, 2002), “Latopajoko & Anjing Kasmaran” (kumpulan cerpen, 2007),  “Laki-Laki yang Tidak Memakai Batu Cincin” (kumpulan cerpen, 2015), “Risalah” (kumpulan cerpen, 2019), dan “Karya Sastra Sebagai Bola Ajaib” (kumpulan esai, 2008). Karya-karyanya yang lain termuat dalam puluhan antologi puisi dan cerpen. November 2005 menerima anugrah seni sastra “Celebes Award” dari Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan,  Desember 2017 menerima “Acarya Sastra” dari Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan Desember 2019 dinobatkan sebagai “Promising Writers” pada Banjarbaru’s Rainy day Literary Festival 2019. Aktif sebagai pengawas SMP dan wartawan majalah Dunia Pendidikan.

Terbaru

Mimpi Sehitam Mawar

Bulir keringat menetes di dahi Anwar Saleh ketika terbangun dari mimpi yang sudah empat...

Tas Rotan di Tangan Sukap

Dari Redaksi