Esai

Home Esai

Corona, Vietnam dan Masa Lalu yang Gemilang

0




Di antara negara-negara Asean, soal memerangi Pandemi Corona, Vietnam adalah juaranya. Bayangkan pada 26 Februari 2020, semua penderita corona, yaitu 16 orang termasuk orang tua berusia 73 tahun dinyatakan sembuh dan hingga saat ini belum terdapat satu pun korban meninggal. “Bila diandaikan pertempuran melawan Covid19 adalah perang, maka kami telah memenangkan putaran pertama tetapi tidak seluruhnya karena situasinya bisa sangat tidak terduga,” kata Menteri Kesehatan Vietnam mengutip wakil Perdana Menteri Menteri Vu Duc Dam di media daring Aljazeera.com.

Bagaimana keajaiban itu muncul? Dari penjelasan Media Kumparan yang mengutip penjelasan World Health Organitation (WHO), kuncinya pada respon atau penanganan pertama saat kejadian belum begitu merebak. Sejak munculnya kasus pertama pada 23 Januari 2020, sembilan hari kemudian, Pemerintah langsung menetapkan corona sebagai wabah. Ketika wabah muncul lagi di Pedesaan Son Loi, pemerintah langsung mengisolasi 10.600 penduduk desa itu selama 20 hari. Begitu halnya saat ada lagi kasus di pemukiman tertentu, besoknya pemukiman tersebut di karantina dan rumah korban didisinfektan.

Tentu, keajaiban Vietnam ini bukanlah muncul tiba-tiba. Kita tak dapat melupakan sejarah Vietnam yang gemilang. Sejarah yang penuh perjuangan, baik melawan Cina, Prancis, Amerika, hingga saat ini, melawan Corona.

Kita masih ingat perjuangan rakyat Vietnam Utara saat melawan pasukan terlatih Amerika Serikat sejak 1957 hingga 1975, Negeri Paman saat itu menganggap Vietnam sebagai gembong Komunis, dan berupaya memutus mata rantai Soviet-Cina di Asia Tenggara. Rakyat bahu membahu di bawah kepemimpinan Jenderal Vo Nguyen Giap. Giap yang juga berstatus Guru Besar Ilmu Sejarah, pernah menjadi guru sejarah militer di Prancis dan sempat mempelajari sejarah langsung taktik militer Napoleon di negeri penjajahnya. Saat itu, Ngunyen maupun Bapak Bangsa, yaitu Ho Chi Minh sepakat dengan ungkapan cendekia Vietnam abad ke-15, Nguyen Trai, yaitu untuk mengalahkan musuh, orang harus mengenal musuhnya terlebih dahulu.

Selain itu mereka percaya bahwa pendidikan sejarah pada rakyat akan menguatkan moral mereka untuk melawan penjajah. Bersama tim kecil, saat berjuang melawan penjajahan Jepang saat Perang Dunia ke-2, mereka begitu getol mengajarkan sejarah kepada pemuda dan rakyat, bahwa kita harus kembali ke jaman dahulu kala, ketika kita bebas mandiri, tidak di bawah Cina, tidak di bawah Prancis maupun Jepang.

Saat itu, pasukan Vietnam adalah pasukan tambal sulam dari para petani yang ada di pedesaan. Sedangkan pasukan Amerika adalah pasukan dengan peralatan lengkap, disertai dengan truk maupun helikopter. Giap tak kehabisan akal, berbekal dengan pengetahuan Gerilya, yaitu pukul mundur, jebak lari, yang berlangsung terus menerus, hingga membuat mental pasukan Amerika jatuh.

Pasukan Vietnam bekerjasama dengan rakyat biasa, para petani di pedesaan, untuk menggerakkan logistik ke seluruh area perjuangan. Hal ini sesuai dengan pola gerakan yang diajarkan oleh Paman Ho, bahwa basis pergerakan ada dua, pertama adalah ”co sa” atau tempat berpijak, yaitu keluarga ataupun rakyat yang bersimpati, dan kedua adalah “chien ku” atau partai dan gerilyawan.

Pasukan gerilya yang dibantu petani desa hanya berbekal tangan, kaki, dan punggung untuk mengangkut logistik dari hutan yang satu ke hutan yang lain. Helikopter Amerika tak dapat memantau pergerakan mereka. Bahkan, ketika mereka ingin menyeberang sungai, mereka melintasi tambang dengan bergelantungan dengan tubuh sepenuhnya berada di dalam air.

Perang yang berlangsung terus menerus dan seperti tak ada ujungnya ini membuat pasukan Amerika kehilangan orientasi. Pada akhirnya, rakyat Amerika sendiri yang menuntut pemerintahnya untuk menghentikan perang. Hal ini berkat tayangan secara langsung di televisi yang disaksikan oleh rakyat Amerika, yang menunjukkan kesia-siaan berperang dan kelanjutan peran akan membunuh lebih banyak anak muda Amerika. Pun pada akhirnya Amerika menyerah.

Pelajaran apa yang dapat diperoleh? Salah satunya adalah kedisiplinan. Inilah yang membebaskan Vietnam dari Jepang, dari Prancis, Amerika, maupun dari Corona.

Pemerintah dan rakyat sudah menjadi satu. Bukan saja saat ini, tapi jauh sebelumnya, bahkan sebelum Amerika menyerang. Bibit ini disemai oleh banyak pihak, dan kontribusi terbesar adalah dari pemimpin terbesar Vietnam sendiri, yaitu Ho Chi Minh. Paman Ho menurut William J. Duiker adalah separuh Lenin dan separuh Gandhi. Sosok ini menjadi jangkar pemersatu dan model pembangunan karakter rakyat Vietnam.

Nama yang melekat saat ini itupun adalah nama yang digunakannya saat menyamarkan diri ke Cina, nama aslinya adalah Nguyen Tat Thanh atau Nguyen Ai Quoc. Berdasarkan literatur, Ho Chi Minh memiliki belasan nama samaran. Ho Chi Minh sendiri adalah anak dari seorang revolusioner, yang meluangkan sebagian besar hidupnya untuk mempelajari seni konfusianisme, di samping terus menerus mengkompori rakyatnya untuk membenci Prancis, melalui sastra dan ilmu sejarah. Dari ayahnya ia memiliki kepekaan Bahasa, di samping gurunya yang bernama Vuong Thuc Do, mendorong untuk mencintai sastra. Bacaan favoritnya waktu beliau masih belia, yaitu Journey to the west, karya Xuan Zang.

Ho pernah bertanya kepada kerabatnya yang lebih senior, bagaimana Jepang dapat berhasil dalam pengembangan teknologi? Rekannya menjawab, bahwa Jepang belajar dari barat. Sejak itu ia termotivasi ke barat. Mulanya ia ke London, bekerja serabutan, pembersih salju dan koki restoran pun dijalaninya. Sembari itu, ia meluangkan waktu untuk berkumpul dengan orang-orang Asia. Di samping itu, Ho bersimpati pada perjuangan rakyat Irlandia untuk merdeka dari Inggris. Suana perang dunia 1 begitu mencekam, ia memutuskan untuk meninggalkan London dan bergerak ke Amerika. Di sana ia begitu terenyuh melihat penindasan orang Amerika terhadap para budak Afrika. Ia tak betah di Amerika, melihat kelakuan Ku Klux Klan, dan bergerak lagi ke Prancis pada 1917. Di Prancis ini ia terlibat bersama ribuan orang Vietnam dalam perjuangan bersama Prancis untuk mengusir tentara Jerman. Ia pun sadar, bahwa Prancis adalah negeri yang rentan.

Pasca perang, ia pun bergabung di organisasi sosialis Prancis, sebagai pencarian bentuk pergerakan yang cocok untuk memerdekakan Vietnam kelak. Dari sinilah ia belajar teori komunis-leninisme. Ia pun terlibat dalam pembentukan Partai Komunis Prancis. Dari sini ia menjadi agen komunis, bergerak kemana-mana, ke Moskow, ke Leningrad, ke Toilers, hingga ke Kanton. Di Kanton inilah ia mengkader begitu banyak anak muda Vietnam, yang nantinya dapat menjadi bibit-bibit kemerdekaan Vietnam.         

Paman Ho selalu mengandalkan organisasi sebagai kunci. Berbeda dengan slogan Mao Zedong, yang mengandalkan kekuasaan berada di ujung bedil. Kalau menurut Le Duan dalam buku Ho Chi Minh dan Sukarno, istilah tepat dalam keseluruhan proses revolusioner adalah : atur – atur dan atur. Makanya, sedikit berbeda dengan Tan Malaka, Paman Ho menghabiskan sebagian besar usia mudanya (28 tahun) keliling dunia untuk mempelajari organisasi dan bagaimana memerdekakan Vietnam, menyempatkan waktu untuk mengkader generasi muda berkebangsaan Vietnam dimana saja ia berada. Kadernya hingga beratus-ratus orang. Sedang Tan Malaka, yang kisah hidupnya sangat mirip dengan Paman Ho, memiliki sedikit kesempatan untuk mengkader pemuda. Sehingga strategi defensif tidak begitu efektif ketika beliau kembali ke Indonesia.

Paman Ho mengistilahkan gerakan revolusionernya seperti buah. Bila kita melihat buah, kita hanya melihat kulitnya, tidak melihat isinya yang terus berkembang beserta bijinya yang keras. Ketika buah itu jatuh ke tanah dan membusuk, bijinya kembali berkembang untuk menjadi pohon, dan kembali menghasilkan buah lagi.

Saya pernah diskusi dengan seorang teman yang biasa berwisata ke luar negeri. Ia tampak kagum dengan rakyat Vietnam yang begitu bangga dengan sejarah dan pemimpinnya. Di sana, anak muda tidak ragu untuk menceritakan sejarahnya, bahkan dengan mata berkaca-kaca saking bangganya. Lantas, bagaimana dengan sejarah kita sendiri Indonesia. Apakah kita berkaca-kaca untuk menceritakannya?

Selain itu, kata Babra Kamal — seorang kawan yang baru pulang dari Vietnam – dengan setengah bercanda menyebutkan, “Bung, di sana cewek-ceweknya kuat-kuat. Kalau kita jabat tangan, tangan kita bisa diremuknya.” Saya tersenyum seolah membenarkan perkataannya.

Pernah suatu waktu Saya berbincang berdua dengan Istri, bahwa negara yang harus kami datangi pertama kali adalah Vietnam. Namun, impian itu sampai detik ini belum kesampaian lantaran beragam kesibukan dan lain-lain. Mudah-mudahan, setelah wabah Corona ini, kami bisa jalan-jalan ke sana dan menapak tilas perjuangan Paman Ho dan Paman Nguyen Giap.

***

Bagaimana dengan konteks Indonesia dalam melawan Corona? Sama halnya yang lalu-lalu. Kita seperti kehilangan pola untuk bergerak secara bersama. Rasa kebersamaan kita sebagai bangsa, tak tahu tempatnya di mana. Kita kesulitan mencari rasa kebersamaan kita, antara pemimpin dan rakyat, antara rakyat dan rakyat. Kita kehilangan narasi untuk berjuang secara bersama untuk melawan virus bernama Corona ini.

Kita memang tak punya orang sekelas Ho Chi Minh, yang pikirannya seperti Lenin dan batinnya seperti Gandhi. Tapi kita punya Soekarno sang penyambung lidah Rakyat, punya Hatta yang budinya sekelas Gandhi (Gandhi from Java). Dan, masih banyak lagi tokoh-tokoh pergerakan Indonesia yang dapat menginspirasi kita. Hanya saja butuh kebesaran dari para pemimpin kita untuk belajar dari sejarah dan menginspirasi kita untuk berjuang secara bersama melawan Corona.  


Sumber:
1) Media video pendek Kumparan tentang Vietnam dan Corona, diakses pada tanggal 22 Maret 2020. 2) Ho Chi Minh & Sukarno, oleh Tim Majalah Historia, diterbitkan oleh Kompas pada 2018. 3) The 33 Strategies of War by Robert Greene, 2006. 4) Artikel www.aljazeera.com 29/02/2020.


=================
Idham Malik,
Pegiat Literasi di Makassar. Buku esainya yang telah terbit berjudul “Gerundelan Peristiwa” terbitan Akasia. Selain itu, beberapa tulisannya dibukukan dalam antologi esai berjudul “Esai tanpa Pagar” dan “Telinga Palsu” terbitan Nala Cipta Litera. Saat ini bekerja sebagai staff akuakultur pada organisasi WWF-Indonesia.

Mencari Karya yang Problematis

0

Sebuah Esai pengantar Kuss Indarto untuk “Dactyl Exhibiton”: pameran Seni Rupa 8 mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar, 25-30 Desember 2019, Bikin-Bikin Creative Hub, Mall Nipah, Makassar.

===============

Pada sebuah cafe bernama Les Select di kawasan Montparnasse, Paris, sekitar musim panas 1993, seniman Christian Boltanski dan Bertrand Lavier berbincang selama berjam-jam bersama kurator muda (waktu itu), Hans Ulrich Obrist. Kurator asal Swiss, Obrist bahkan mengaku nongkrong nyaris 24 jam di situ. Mereka membincangkan banyak problem dan perkembangan jagat seni rupa dalam seabad terakhir–yang mereka baca, amati, dan dirasakan bersama– terutama di Eropa Barat.

Salah satu poin penting yang ditangkap oleh Obrist kala itu –seperti yang kemudian ditulis dalam buku “Ways of Curating” (Faber and Faber inc.: 2014)– adalah bahwa karya seni rupa itu bukan sekadar sebentuk objek atau artefak yang terdisplai (dalam sebuah pameran), namun juga instruksi atau petunjuk untuk mengeksekusi gagasan perihal karya seni tersebut. Lebih lanjut dikatakan bahwa tantangan tradisional tentang seni itu berkait dengan soal pemahaman kreativitas, kesenimanan, dan interpretasi. Ya, bagaimana kreativitas itu muncul dan lalu dieksekusi, bukan dibiarkan mengambang. Bagaimana kesenimanan seseorang itu bukan sekadar atribusi sosial, namun masalah kemampuan untuk mengeksekusi  secara artistik dan estetik dalam berkarya. Bagaimana interpretasi atas sebuah teks itu muncul, berkembang. melahirkan tesa dan antitesa, lalu dieksekusi. Bukan digantung dalam senyap. Obrist menambahkan  kalimat dari Bertrand Lavier yeng menyatakan bahwa instruksi atau petunjuk itu juga memberi daya hidup atas  karya dalam kesadaran yang lebih real (nyata): karya-karya itu menjadi provokatif, bukan sekadar bersifat kontemplatif penuh kesenyapan. Tapi menjadi sebuah “gerakan” dan aksi yang “mengganggu” para apresian saat karya tersebut terpajang dalam ruang seni. Boltanski melihat bahwa instruksi atau petunjuk bagi karya seni instalasi itu serupa alat hitung musik analog yang repetitif namun mampu menggugah interpretasi berbeda.

Hal ini mengisyaratkan kembali perkara klasik dalam semesta seni rupa bahwa dalam tiap karya seni rupa nyaris selalu bersangkutan dengan dunia bentuk dan dunia gagasan. Dunia bentuk itu menyangkut problem fisik atau material ketika seorang seniman berproses kreatif. Dia membutuhkan material berikut teknis untuk mengeksekusi sebuah karya dengan kecakapan teknis dan artistiknya. Sedang pada dunia gagasan itu lebih menyoal tentang perkara ide-ide, imajinasi. atau ruang abstrak yang ada dalam alam pikiran seniman. Dunia bentuk membincangkan tentang aspek tampilan fisik sebuah karya seni, sementara dunia gagasan menyoal perihal aspek muatan atau substansi karya seni.

Pada karya seni rupa dua dimensi, dunia bentuk ini dapat ditukikkan pada masalah teknis seperti kecakapan seniman dalam mengeksplorasi bidang, ruang, garis, warna, komposisi, barik atau tekstur, dan semacamnya. Berseberangan dengan problem teknis itu, aspek dunia gagasan akan memberi ruh atau jiwa bagi karya seni rupa. Tak pelak lagi, kini, dalam zaman seni rupa kontemporer,  gagasan dalam dunia seni rupa kian kaya dan dinamis ikut mewarnai jagat pewacanaan budaya secara umum.

Lewat dunia gagasan seniman itu karya seni rupa terus dikayakan fungsi fungsinya di medan sosial seni. Konsep kuno ars imitator naturam atau “seni  untuk meniru alam” yang dilontarkan Aristoteles di abad 6 SM, kini, tidak bisa sepenuhnya diaplikasikan atau dibenarkan seratus persen. Seni tidak sekadar memindahkan gejala fisik alam ke dalam kanvas atau karya seni yang lain. Sebaliknya, karya seni pada beberapa kasus justru dijadikan sebagai medium bagi imajmasi, kegelisahan dunia dalam (dan lainnya) sang seniman.

Dengan demikian fungsi-fungsi seni kian lama kian kaya dan dinamis. Tidak saja sekadar ditempatkan sebagai perangkat untuk meniru alam, untuk fungsi personal, namun juga diperluas seperti sebagai fungsi sosial, fungsi literasi, dan berbagai fungsinya –dari yang konvensional hingga yang kontroversial, dan seterusnya.

Lukisan Guernica (1937) karya Pablo Picasso –sebagai salah satu contoh kasus (“kecil”)– bisa diperbincangkan sekilas bahwa garis opini politik sang seniman turut memberi pengaruh terhadap karya yang diciptakannya. Bukan karena karya itu berukuran besar (3,49 x 7,76 meter) semata, namun secara substansial Picasso telah menempatkan dirinya sebagai homo socius (makhluk sosial) yang resah terhadap kondisi negaranya yang terancam porak-poranda akibat perang saudara. Karya tersebut menjadi tanda zaman bahwa pada suatu kurun waktu tertentu pernah seorang seniman yang memberi warning atau peringatan kultural bagi negerinya yang terancam hancur karena perbedaan politik yang berakibat saling membinasakan.

Pameran Dactyl ini mengisyaratkan sebuah upaya untuk hilir mudik mengisi  ruang-ruang fungsi seni yang selama ini ada dan terjadi di sekitar masyarakat kita. Dactyl adalah sebuah kolektif seni (art collective) yang terdiri dari 8 mahasiswa Jurusan Seni Rupa, Universitas Muhammadiyah Makassar angkatan 2014. Nama angkatan ini dianggap sebagai simbol pemersatu mahasiswa yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Kemudian disatukan dalam bingkai Dactyl. Dactyl sendiri merupakan sebutan pendek dari pterodactyl, sebutan popular dari pterosaurus. Ya, pterosaurus artinya “kadal bersayap”, salah satu jenis reptile terbang dari ordo Pterosauria yang kini telah punah. Mereka diduga hidup dari akhir masa Trias hingga akhir masa Kaur atau sekitar 228 hingga 66 juta tahun yang lalu. Sebutan dan identifikasi diri sebagai “kadal bersayap” ini bisa diduga sebagai spirit bahwa kolektif seni ini diandaikan bisa merasuk di berbagai “segmentasi”, dari yang “di  darat” dan “di udara”. Personil dalam komunitas ini diandaikan mampu adaptif bersama personal dari kelompok atau komunitas yang lain, yang luas cakupannya.

Dengan mempresentasikan karya seni sebanyak 56 buah, para seniman ini tidak  sekadar mengabsenkan diri ke hadapan publik, namun juga seperti berhasrat untuk mendiseminasikan gagasan kreatif dan kulturalnya ke masyarakat luas. Lingkup atau cakupan tanggung jawab akademik dan sosial direngkuh oleh Dactyl dalam satu kesempatan ini. Karya-karya seni ilustrasi, lukis dan grafis dipertaruhkan untuk direspons secara bebas dan terbuka di tengah publik (non akademik).

***

Digital paint menjadi medium kreatif pilihan Abd. Rahman dalam pameran ini.  Gagasan dasar karya-karyanya menggambarkan tentang dunia fantasi ketika dirinya masih kecil. Abd. Rahman serasa masih terkesan dengan dunia anak ketika segala imajinasi yang bebas dan keinginan yang diwujudkan pada sebuah dunia yang tidak terbatasi oleh aturan-aturan. Namun ada upaya lain yang ingin dibenamkan dalam karyanya, yakni menyisipkan aspek kearifan lokal Indonesia, khususnya Sulawesi. Aspek  kemajuan teknologi juga dijadikan salah satu elemen penting pada karya-karyanya. Gagasan seperti sudah lazim dieksplorasi oleh banyak seniman di dunia. Mulai dari Jean Dubuffet di Prancis, hingga seniman Indonesia semacam Eddie Hara, Faizal, Erca Hestu Wahyuni dan masih banyak lagi. Catatan saya, karya-karya Abd. Rahman masih seperti terperangkap oleh logika orang dewasa. Mungkin ditambah oleh logika orang yang terdidik. Hasilnya, kebebasan ala dunia anak-anak belum tergali dengan optimal dan eksploratif. Abd. Rahman masih tampak ragu, terjerat oleh logika orang dewasa dan logika akadermk tersebut.

Sementara upaya untuk mengayakan medium  mulal tampak pada karya-karya Abdul Rahman. Karyanya diterakan pada potongan kayu yang bentuknya tidak cukup beraturan, tidak simetris. Di atas medium itulah spirit literasi atas kekayaan kultural di sekitarnya, sebagai misal, dibedah dan digali. Misalnya, ilustrasi tentang perahu dengan berbagai jenis dan ragam fisiknya dijadikan sebagai sumber ide Abdul Rahman menyadari betul tentang atribut Indonesia sebagai Negara Maritim terbesar di dunia.

Dan “impact”-nya adalah kekayaan jenis perahu, setidaknya yang disaksikannya di Sulawesi. Ada kapal pinisi yang banyak dibuat oleh orang suku Bugis di Sulawesi Selatan. Ciri khas pinisi adalah adanya dua tiang kapal utama dan tujuh layar, tiga ujung depan. dua di tengah dan dua di belakang. Pinisi banyak dibuat di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Lalu ada perahu jenis Patorani yang difungsikan sebagai kapal nelayan khusus untuk menangkap ikan terbang. Konon perahu jenis ini pernah digunakan oleh armada Kerajaan Goa. Hingga saat ini kapal patorani  masih bisa dijumpai di Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Dan ada  pula perahu jenis Sandeq. Kapal sandeq khas suku Mandar, Sulawesi Barat, ini  memiliki lambung yang ramping, cadik ganda, dan penahan arus di depan  mencuat. Lalu ada perahu Pledang yang digunakan oleh para pemburu paus di Nusa Tenggara Timur menjadikan kapal jenis perahu layar ini sebagai identitas mereka. Karya Abdul Rahman ini ditampilkan secara bersahaja dengan teknik  pewarnaan monochrome yang terkesan sebagai benda atau artefak berusia lama. Di balik kebersahajaannya, karya semacamm ini berpotensi sebagai medium  untuk transfer of of knowledge. Tergantung bagaimana content selanjutnya akan digarap oleh sang seniman.

Pilihan kreatif menarik juga dikerjakan oleh Aidillah Naring. Alternatif mediumnya sederhana: drawing di atas kertas dengan menggunakan ballpoint.  Dia membincangkan narasi besar, yakni tentang kebudayaan. Pada intinya seniman ini galau ketika kini melihat masyarakat seakan-akan cuek pada budaya yang terserak di sekitar. Tapi langsung ribut dan heboh ketika budayanya diklaim  oleh negara lain, seperti kasus kuda lumping, motif batik dari Jawa, reog, angklung, dan lainnya. Tema-tema seperti ini sangat menarik karena berpotensi masuk ke ruang diskursif yang kompleks. Apalagi bila kemudian secara visual Aidlllah mampu menampilkan sisi unik tema, misalnya aspek ironi yang kontradiktlf. Aspek ini yang tampaknya belum tergarap dengan kuat. Juga upaya untuk mengayakan medium dengan, misalnya menggunakan ballpoint di atas kanvas yang pasti akan punya titik beda ketimbang media kertas.

Relatif satu rel dengan Aidillah adalah Eki Asfari yang menguliti tema berbau sosial politik. Terna ini diberangkatkan oleh pengidolaan Eki terhadap tokoh-tokoh yang digamberken. Ada tokoh  pembela HAM, Munir, lalu buruh pabrik arloji, Mersinah dan Sidoarjo, dekat Surabaya, Jatim, dan tokoh penyair aktivis, Wiji Thukul. “Saya sangat mengidolakan mereka. Mereka adalah orang-orang yang rela hidupanya terancam demi orang lain. Membela dan mewakili suara masyarakat, hak yang kita miliki sejak lahir,” tutur Eki. Eki menggambarkan  tokoh-tokoh ini dengan teknik blok dan pewarnaan hitam-putih atau monochrome. Terna “Melawan lupa” dari karya-karya Eki ini mengingatkan  publik pada kata-kata tokoh Mirek dalam novel fiksi Milan Kundera, Book of laughter and Forgetting  (Kitab lupa dan Gelak Tawa, 1971). Tokoh Mirek mengatakan  bahwa “perjuangan melawan  kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa” yang merujuk pada insiden tewasnya tokoh protagonist Clementis yang digantung oleh penguasa komunis Gottwald yang totaliter. Sosok Munir, Marsinah, Wiji Thukul, adalah deretan nama yang mereprsentasikan simbol perjuangan melawan kekuasaan yang cenderung menghalalkan segala cara atau machevelian. Mereka secara faktual tewas dengan cara misterius dan sudah bisa dipastikan karena perjuangan mereka melawan kekuasaan negara yang otoriter. Karya Eki ini menarik, dan akan lebih menarik pula ketika memunculkan sosok-sosok korban politik kekuasaan dari berbagal Negara yang telah ikonik dengan problem perjuangan serupa.

Serupa dengan Abdul  Rahman, karya-karya Fathul Fajeri Mahdar menggunakan  medium yang relatif sama, yakni potongan  kayu. Kayu dibelah horizontal dan kemudian garis tepi potongan bidang kayu itu adalah diameter dari pohon tersebut. Lalu di atas kayu itu digambarkanlah wajah-wajah satwa asli Indonesia yang terbilang langka seperti Dicerorhinus sumatrensis (Badak Sumatra), Panthera tigris sumatrae (harimau Sumatera), Elephas maximus borneensis  (gajah Kalimantan),  hingga Cervus unicolor (rusa sambar). Semuanya adalah satwa yang dilindungi secara hukum di beberapa ekosistemnya di Sumatera atau pulau lain.

Fathul  menuturkan bahwa, “Saya mengangkat tema ini bermula dari kegelisahan terhadap beberapa satwa yang terancam punah akibat oknum yang memanfaatkan hewan ini untuk diperdagangkan, dan mengambil alih habitat hewan tersebut untuk permukiman dan perkebunan. Ekosistem hewan-hewan ini pun hilang.” Fathul memanfaatkan secara maksimal wama yang ada untuk karyanya. lni titik bedanya dengan karya Abdul Rahman yang menggali keunikan karya monochrome (satu warna). Masing-masing memiliki  kekuatan dan kelemahan. Kemampuan Fathul dalam mengelaborasi objek secara cukup detail menjadikan karya-karyanya menjadi kuat dan berkarakter.

Sementara itu lswan Bintang menukikkan tema budaya sebagai pokok soal pada karya-karyanya dengan membincangkan masalah benda pusaka lokal Sulawesi. lswan menghadirkan beberapa bentuk senjata atau benda pusaka dan makna yang divisualkan dalam media kanvas. Tujuannya, tentu, untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi dalam hal ini benda pusaka atau heritage object.  lswan menggarap tema tersebut dengan asumsi “agar di era modernisasi mi tidak mengalami degradasi kepedulian terhadap peninggalan leluhur kita.” Lewat karya ini lswan Bintang ingin menyampaikan kepada publik bahwasanya Benda Pusaka yang dibuat oleh para leluhur bukan sekadar berfungsi sebagai perkakas (alat  perang), melainkan juga memiliki fungsi estettk dan juga fungsi spiritual.

Minat yang kuat dari lswan Bintang terhadap tema Budaya atau Benda Pusaka antara lain ingin  “menyalakan alarm kepedulian” dalam masyarakat terhadap budaya dalam bentuk visual dua dimensi  (lukisan). Dengan siasat tersebut kiranya masyarakat terutama generasi muda tidak mengalami alienasi atau  gegar  budaya ketika menyimak benda pusaka. Karya ini juga sebagai bentuk apresiasi kepada mahakarya orang-orang terdahulu – dimana tiap bentuk dan ornament-ornamen bilah besinya mengandung makna dan mengandung  unsur spiritual. Ya, memang  lswan Bintang dengan sengaja menghadirkan benda atau senjata lokal khas Sulawesi, dan mempertautkannya dengan simbol visual tertentu, seperti   bentuk ornamen ukir dan potongan huruf-huruf kuno yang dulu pernah dijadikan sebagai sarana komunikasi atau transfer of knowledge bagi masyarakat setempat. Dari tampilan karya lswan ini sebenarnya publik makin dikuatkan pemahamannya bahwa karya seni rupa dapat difungsikan secara lebih meluas. Misalnya –untuk konteks karya ini– sebagai bentuk dokumentasi visual atas kekayaan pusaka, atau sebagai salah satu wujud karya antropologi visual.

Pada karya-karya Ma’ruv Ghani publik disuguhi lukisan 7 wajah Presiden RI. Karya diekspresikan di media kanvas ukuran  80 x 120cm, dieksekusi dengan  teknik airbrush. Ma’ruv membilang bahwa, “Karya ini dibuat dengan tujuan untuk mengajak kembali generasi muda –entah itu pelajar, mehasiswa, atau yang sudah  menyelesaiakan pendidikannya– yang mungkin saat ini  masih banyak yang belum mengetahui biograli ke-7 pemimpin Indonesia tersebut.” Lebih jauh, seniman ini menaruh pengharapan agar kaum muda bangsa bisa belajar tentang spirit memperjuangkan kedaulatan bangsa.

Sebagai sebuah gagasan untuk “mengurutkan kembali deretan orang-orang yang pernah menjabat sebagai presiden RI, tentu sangat menarik. Juga menampilkan  kliping surat kabar yang mengangkat peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi pada masing-masing pemimpin, pasti ada dalihyang telah terkonsep sebelumnya. Problemnya adalah, seberapa kuat nilai representativeness kliping surat kabar tersebut dalam memperkuat konstruksi sosok Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, dan seterusnya? Bagaimana pula pertimbangan artistik atas elemen visual tersebut dalam keseluruhan karya? lnilah yang saya lihat pada karya-karya  Ma’ruv ini. Karakter Bung Karno, atau Pak Harto yang relatif telah mulai cukup kuat, justru terkurangi oleh kehadiran potongan (berita) surat kabar yang ditempatkan dengan pertimbangan artistik cukup minimal. Bahkan terkesan mengganggu sosok utama tiap karya. Citravisual simbolik dan ikonik khas pencapaian masing-masing  presiden, mungkin, akan menjadi alternatif solusi. Misalnya drawing pesawat terbang CN 235 mungkin pas ditempatkan di latar belakang Habibie. Satelit Palapa mengiringi figur Soeharto. Patung-patung simbol kebebasan mendampingi sosok Bung Karno, dan semacamnya.

Terakhir, bila menyimak karya-karya Zaki Fausan, publik seperti dipersuasi  untuk ikut merasakan keresahan atau pengalaman empirik menyoal tentang kehidupan manusia pulau. Keterbatasan sudah Keterbatasan sudah menjadi hal yang identik tentang Zaki dan masyarakat di sekitarnya yang hidup di kawasan pesisir. Dalam proses berkarya, Zaki menghadirkan beberapa simbol yang nyata terjadi di sana, serta beberapa mitos yang dipercayai manusia pulau.

Zaki menuturkan, “Simbol itu misalnya tentang hewan lumba-lumba yang dtanggap sebagai hewan penolong. Simbol tentang keterbatasan tekhnologi, simbol kapal sebegai media mata pencaharian, simbol pendidikan yang menjadi  persoalan subtansial di pesisir, simbol anak pulau dengan permainannya seperti kapal-kapalan, bola. dan kelereng.”

Semuanya jadi semacam early warning karena tujuan dari konsep ini tentu memberikan notilikasi khusus kepada penguasa setempat bahwa ada manusia-manusia pesisir yang juga butuh perhatian yang lebih, terkhusus pada wilayah pendidikan dan keterbatasannya.

Zaki  mengeksekusi gagasan kreatif dan keresahan sosial tersebut dengan media  digital menggunakan software Sketchbook dan Photoshop serta pen tablet. Ya,  digital paint menjadi pilihan kreatifnya. Tak ada problem dengan pilihan medium  dan perangkat tersebut. Pertanyaan yang bisa mengemuka justru pada pilihan ekspresi visual yang diungkapkan oleh karya garapan Zaki: kenapa gagasan dasar yang menarik ini nyaris semuanya dieksekusi dengan corak karya yang serupa karikatur atau poster (minus teks)? Saya tidak menyatakan bahwa karya rupa jenis karikatur atau poster  menempati kasta yang lebih rendah. Bukan! Namun  menyimak kecakapan teknis Zaki yang relatif cukup memadai ini, sayangnya, belum dioptinalkan untuk mencipta karya rupa atau lukis problernatis. Artinya tiap bentang karyanya adalah serupa pelukisan lengkap dan komprehensif serta di dalamnya menyertakan substansi problema yang ingin disampaikan. Kita bisa berkaca pada karya S. Sudjojono –misalnya– yang menggambarkan dengan cukup detil, riuh, kompleks suatu lanskap sebuah kawasan, namun di dalamnya tetap dibenamkan problem kritis sebagai sebuah pesan.

Secara umum, pameran kolektif seni Dactyl atau Pterodactyl dari 8 seniman dengan 56 karya ini menarik untuk disimak. Masing-masing memiliki ketertarikan isu dan tema, dan tiap-tiap dari personal di dalamnya mempunyai  skill yang beragam. Pencapaian artistik dan estetiknya pun pasti telah nampak (meski ini akan bisa dinilai secara subyektif oleh masing-masing orang).

Andaikan menjadi seniman masih tetap sebagai pilihan hidup ke depan, ada berbagai agenda persoalan yang perlu dikedepankan. Pertama, ada kehendak atau hasrat untuk mengelola isu dan tema yang lebih fokus. Ada banyak contoh bagaimana seniman yang memiliki kemampuan teknis sangat memadai namun secara substansial kurang cakap mengelola isu dan tema sebagal basis dan ruh  karyanya. Akhirnya karya yang dilahirkan (mungkin) bagus secara teknis, namun kurang pendalaman. Kedua, ada kehendak untuk membangun jejaring kerja secara  personal dan komunal ke ruang-ruang kerja yang lebih luas dan beragam.  Problem besar akan segera memerangkap ketika seseorang seniman hanya berhenti dari satu titik tujuan tanpa mencoba membangun pengayaan gagasan, pengayaan jejaring kerja untuk menangkap setiap gejala kebaruan di dalam dan di luar diri dan lingkungannya. Ketiga, ada kehendak untuk terus melakukan kolaborasi (collaboration), bukan sekadar berpartisipasi (participation) –khususnya ketika seniman dihadapkan pada sebuah kolektif seni atau komunitas semacamnya. Dalam kolaborasi, tiap-tiap individu memiliki kesempatan yang setara dalam mengisi konten, konsep dan kepemilikan hingga keputusan kreatif. Sementara dalam pola relasi seniman sebagai partisipan sebuah komunitas, karena posisi tawarnya yang bisa mengambang, maka garis tanggung jawabnya bisa lemah dan abai terhadap kebersamaan atau kolektivitas.

Selamat berpameran untuk Dactyl atau Pterodactyl. Jalan masih panjang dan terbuka untuk orang-orang yang selalu menggenggam pengharapan dan optimisme.

============

Kuss Indarto, Kurator dan penulis Seni Rupa, tinggal di Yogyakarta.

Hutan, Sungai, Kenangan, dan Manusia Samin*

0


*Kuratorial Bojonegoro Literary Festival 2019

Melalui puisi-puisi para penyair dalam buku antologi puisi Bojonegoro Literary Festival (BLF) 2019 kita diajak untuk melihat sebuah kepingan bernama Bojonegoro. Sebuah ruang memberi dan menerima antara manusia dan lingkungannya dalam dimensi waktu (dulu, kini, akan datang), yang membawa seperangkat nilai. Nilai-nilai yang mengalami nasib yang berbeda-beda. Ada yang berjalan harmonis dengan realita, dan ada yang berbenturan dengan realita. Di atas pijakan semacam inilah para penyair memainkan suasana puitikanya.

Hutan dan Sungai

Kabar tentang kondisi hutan di Bojonegoro dapat kita simak melalui bait puisi  Warung Kopi karya penyair Tofiq Widodo. A yang berbunyi: pojok warung kopi // lembut kulepas dahaga // kutanggalkan sejenak anganku // tentang hutan jati yang tak lagi kokoh berdiri // tentang pipa-pipa memeras bumi.

Hutan Bojonegoro dalam tangkapan Tofiq itu seperti sedang menghadapi sebuah siklus menuju kematian yang mengerikan. Siklus yang membangkitkan kecemasan dan sedang menyekap pikiran penyair dalam sebuah dahaga (yang kelihatannya tak kunjung mendapatkan selesaian) seperti hutan jati yang tak lagi kokoh saat pipa-pipa memeras bumi. Dalam hal ini penyair menunjukan keterikatan batin yang kuat dengan alamnya (Bojonegoro). Ia, penyair, ikut menanggung rasa sakit yang mendera hutan dan bumi Bojonegoro.

Dalam konteks Bojonegoro, frase pipa-pipa memeras bumi dalam puisi Tofiq Widodo A sangat mudah dipahami. Bojonegoro ialah kawasan yang kaya dengan minyak bumi. Pada tahun 2018 menurut data dari Kementrian Keiangan RI, Bojonegoro menerina dana bagi hasil.sumber daya alam (SDA) terbesar dengan besaran nominal mencapai 2,27 trilyun. Namun, eksplorasi minyak bumi yang berlangsung di sana, oleh para penyair, digambarkan sebagai eksplorasi yang mengancam kehidupan.

Secara lebih jelas, peristiwa pipa-pipa memeras bumi itu dapat dilihat dalam puisi karya Yonathan Rahardjo berikut ini:

Jatiminyakbumi

Tronton besar pengangkut pipa-pipa besar
Orang-orang proyek berpakaian lusuh berlumur keringat dan minyak
Langit menggelap
Ini jam kerja di titik henti
Mereka pulang kerja, pastinya
Wajah-wajah rumah penduduk latar pemandangan
menyiratkan taraf hidup
berselubung Tanya
Pompa alir minyak
Dialirkan ke mana
Pantaikapur
Yang untuk penduduk Jatiminyakbumi mana
Ada di depan sana, sebagian di situ
Sebagian besar dialirkan ke Amerika
Yang untuk penduduk Jatiminyakbumi mana
Jangan tanya lagi soal minyak bagianmu
Guna berjalan kaki beriring tronton proyek itu
Bukan minyak energimu
Tenagamu sudah cukup dari hasil tegalanmu


menyok

Yonathan memainkan ironi kekayaan tanah Bojonegoro dan kemiskinan yang dialami oleh masyarakat dalam puisinya. Sebuah rong-rongan yang membuat batin pembaca terusik. Pada bagian-bagian tertentu bahkan terasa sangat provokatif.

Yonathan mengawali puisinya dengan sebuah tuntutan pembagian hasil. Sebuah ekspresi yang lugas sebagai pewaris bumi Bojonegoro. Tetapi, seakan memahami kekuatannya dan apa yang akan dihadapinya, Yonathan pada akhirnya menyerah. Jangan tanya lagi soal minyak bagianmu// Guna berjalan kaki beriring tronton proyek itu// Bukan minyak energimu// Tenagamu sudah cukup dari hasil tegalanmu// Menyok.

Yonathan tidak menuntut hasil atas ungkapan (olok-olok) sarkasnya itu. Ia pun tak hendak berharap kepada siapa-siapa. 

Selain hutan, Bojonegoro juga mempunyai hubungan khusus dengan Bengawan Solo. Sungai yang mencapai panjang hampir 600 km dan menjadi sungai terpanjang di pulau Jawa ini turut merawat kehidupan di Bojonegoro melalui sumber daya air yang dimilikinya. Dan, meskipun di musim hujan ia mendatangkan banjir, Bojonegoro tetap menerima Bengawan Solo sebagai berkah. Sebagai bukti, untuk pertama kalinya, pada bulan November 2019 ini pemerintah kabupaten Bojonegoro menggelar Festival Bengawan, yang direncanakan akan berlangsung setiap tahun.

Dalam puisi Anak Bengawan, Wahyu Subakdiono menggambarkan dua wajah bengawan dengan sangat efektif. Wahyu, di antaranya, menulis: Air adalah teman canda paling setia sedang kemarau panjang adalah Medan pertempuran, rumah sahaja segala doa.

Bengawan (alam), oleh Wahyu, dihadirkan sebagai Ibu yang bukan hanya memberikan kegembiraan, tetapi juga pengajaran.

Kekeringan seperti diungkapkan Wahyu memang merupakan salah satu masalah yang cukup serius di Bojonegoro. Hingga bulan Oktober 2019 ini saja, sebagaimana diberitakan oleh beritajatim.com, telah ada 71 desa  dari 20 kecamatan di Bojonegoro yang mengajukan permintaan bantuan air bersih. Seiring dengan kejadian itu, pemerintah kabupaten juga telah menetapkan status tanggap darurat di Bojonegoro terhitung mulai September hingga 30 November 2019.

Untuk mendapatkan gambaran suasana kemarau yang dialami Bojonegoro kita dapat menyimak penggalan puisi-puisi berikut ini:

Bulan tegak tengadah
Matanya nanar menatap kemarau yang kian memerah
Dan telapak kaki bapak mendera luka
Berdarah, bernanah,
Tertancap duri-duri sawah

(Lagu Kemarau, Retno Susanti)

angkasa hanya menjadi arena main layangan
angin bercampur debu berterbangan
bumi menjerit panas melewati takaran

(Hutan-Hutan Telanjang, Gampang Prawoto)

Ilalang panjang
Mengubur pesawahan
Menutup pemukiman
Meratakan sendang
Atas nama harapan

(Sekeping Senja di Ujung Kemarau Suwandi Adisuroso)

hawa panas berserak daun-daun kering,
seperti mantra dan doa saat jenazah teriring

(Lebur, Abdul Jalil)

Sementara dalam puisinya yang lain, Abdul Jalil menulis : ingin mencium tanah basah meski lama kian harap tak tiba pernah (Harapan)

Kerinduan pada hujan sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Jalil juga dapat kita baca dalam puisi karya Retno Susanti berikut ini:

Hujan

Padamu rindu kutautkan
Di antara gersang
jati dan flamboyan
Dan susu ibu yang kerontang
Meronta mulut kecilku tak berkesudahan

Ibu adalah rintik hujan
Pada luka kasihnya tersiram
Karena bisa dunia terhisap
Mengerang dan mematikan

Ibu adalah wangi melati yang kuhirup
Padanya segala kesah kuadu
Karena tak pernah  kutahu
Mana kawan, mana sekutu

Ibu adalah titik air yang menapak
Darinya bau tanah menyeruak
Menyawa pada raga yang sesak
Kala tapak kakinya  telah  kudekap 
Bau  surga pun  kucecap 

Bila Abdul Jalil secara sederhana hanya merindukan bau tanah saat hujan tiba, Retno Susanti membayangkan mencecap bau surga. Imajinasi Retno dalam hal ini melangkah melintasi objek yang ditatapnya (hujan). Surga dalam puisi Retno agaknya bisa kita sejajarkan dengan puisi Tandur karyaTofiq Widodo. A. Dalam puisi itu penyair menulis:

Bias awan di ujung selatan// Berserakan//

Daun-daun enggan berujar pada angin// yang telah menggugurkan// Hujan baru saja berhenti// Menyegarkan jengkal demi jengkal sawah// yang haus// Haus menghidupi kantong-kantong petani// lapar// Ulah gagal panen// Cahaya mentari menetas di balik awan// Nasi dan telur bersolek di ujung// pematang// Doa dirapal pada sang Hyang// Sorot mata penuh harap// Mengiringi kata amin penutup doa// Waktu akan menjadi saksi// Asa ditabur mimpi di gapai.

Kecemasan Transisi

Waktu yang dioperasikan oleh kekuasaan (politik atau modal) akan menanggalkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan hasrat kekuasaan. Penyair, sementara itu, memungut kembali nilai-nilai yang berjatuhan itu untuk dipertentangkan dengan nilai-nilai yang diproduksi oleh kekuasaan.

Dalam puisi Darurat Tanah Lapang, Siswo Nurwahyudi, di antaranya, menulis : tanah lapang, tempat anak-anak belajar// tentang rumus-rumus hidup dan kehidupan//

menjaga generasi menjadi// manusia-manusia yang tahu makna// semesta dan cinta// kini dirampas tanpa merasa berdosa, tanpa// pengganti yang memadai// anak-anak jaman telah kehilangan hak// milik mereka yang paling berharga// ditenggelamkan ke dalam bilik darjah yang// hanya berisi buku, bangku, dan soal ujian//dicetak dan dikemas suka-suka untuk// kemudian dilepas di rimba raya tanpa// norma.

Dengan bahasa yang terbuka, Siswo menggambarkan terjadinya pembantaian nilai-nilai oleh pembangunan fisik yang bermuara pada kepentingan modal.

Hampir senada dengan Siswo, Agus Sighro Budiono dalam puisi Cerita Bengawan menulis: anak anak tak lagi percaya onggo inggi// kisah penjaga bengawan agar tetap lestari// mesin mesin penyedot pasir yang terus// beroperasi// melumat dongeng misteri// mahluk air berambut api.

Baik Siswo maupun Agus sama-sama menunjukan rasa cemasnya terhadap proses penghancuran generasi yang terjadi di Bojonegoro.

Perhatian kepada isu sosial kelihatannya merupakan basis kekuatan kreatif kedua penyair ini.

Eksplorasi terhadap kenangan yang gamang dalam menghadapi peristiwa hari ini juga tampak dalam beberapa bait puisi-puisi berikut ini:

Palagan Temayang telah berlalu
Dalam balutan rindu

Antara celah tanah retak
Dan kering daun jati
Kurajut benang yang terlupa

(Napak Tilas, Burhanudin Joe)

Di situ dulu penduduk bercocok tanam
Menggembalakan ternak
Kini mereka tak dapat lagi masuk menjejak
Setiap hari cuma melihat lalu lalang
Kendaraan mewah masuk area
Negara di dalam Negara

(Negara Kabut, Yonathan Rahardjo)

Empat persemayaman abadi
Saksi bisu perjuangan
Meratap dalam liang
Tampa lirikan apalagi tatapan

(Layar Terkembang, KRT Mardi Sratu) 

Diantara keabadian terurai mengulur
waktu
Kerinduan akan dongeng-dongeng tua
Seperti ilalalang menembus jantung
bumi

(Kau Lepaskan Angin, J.F.X. Hoery)

rimbunan bambu dengan daun-daun yang meluruh
adalah kalender berdebu dari masa lalu
berderak meraung, menghempaskan ingatan,

(Jumo Kulon, Salis Susmiati)

Di atas trotoar itu pernah terlahir mimpi-mimpi
Dari cangkir-cangkir kopi
Dari wajan di atas api api

(Trotoar, Asrie Dede)

Manusia Samin

Komunitas Sedulur Sikep saling mengikatkan diri melalui hubungan nasab atau seperangkat nilai. Nasab merupakan hubungan genetik yang tidak bisa ditransformasikan ke luar komunitas kecuali melalui proses perkawinan. Sedangkan nilai-nilai ialah sesuatu yang bisa merembes ke luar komunitas dan atau mempunyai kembaran, yang barangkali juga diyakini oleh para penyair.

Ajaran Samin Soerosentiko sendiri, sementara itu, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sebuah bait dalam puisi Samin itu Ayat karya Gampang Prawoto mengisyaratkan bahwa Samin (nilai) bergerak di luar kendali fisik.

ingin aku menulismu tanpa tatapan mata, tanpa napsu, tanpa berahi, tanpa bidangnya dada montoknya payudara, tanpa ramping pinggang, padatnya pantat, kemulusan betis,  lentik jemari, mempur pipi bahkan merahnya bibir perempuan.

Samin dalam puisi Gampang tersebut dipisahkan dengan mata, dada, pinggang, betis, dan bibir. Samin dipisahkan dari teks.

Dalam sebuah wawancara dengan media Suara Pembaruan yang diunggah oleh beritasatu.com, Hardjo Kardi, ketua Komunitas Samin di dusun Jipang, desa Margomulyo, kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, mengatakan bahwa saat ini jumlah anggota komunitas di dusunnya—di mana belum lama ini didirikan tugu Samin oleh pemerintah kabupaten Bojonegoro—hanya tersisa 100 Kepala Keluarga.

Tapi, biar begitu, Hardjo menyatakan akan tetap teguh mengemban nilai-nilai ajaran leluhurnya di tengah perkembangan jaman. Keterasingan Komunitas Samin adalah keterasingan yang dijalani dengan kesadaran dan keberanian, semacam puisi luka di ladang aksara yang dinyatakan oleh Siswo Nurwahyudi: melewati pematang panjang, aku di ladang// aksara// kaki yang senantiasa telanjang, meniti// dengan hati// jiwa dan rasa menjelma anai-anai, tajam// kugenggam// sebatang demi sebatang kata, kupetik// sepenuh kasih// diriku menjadi keranjang tua, nampak// renta dan kusam// tersendiri, tegak teronggok entah bahagia// entah sedih. (Aku Puisi Luka di Ladang Aksara).

Sementara itu pusi-puisi yang menunjukan hasrat cinta kepada alam dan kemanusiaan dapat ditemukan dalam pusi Emy Sudarwati (Pelangi Bojonegoro), Safandi Mardinata (Sepiku Asyik Sendiri), Susanto (Ibuku Ratuku),  Nono Warnono (Merawat Meruwat), Hendro Lukito  (ricik kali), Hembing Kriswanto (Rindu Randu Pitu).

Sedangkan puisi Gombal Warming karya Em. Sholeh menunjukan sebuah pengembaraan keresahan yang lintas batas administratif.

Satu-satunya puisi yang menampilkan wajah Bojonegoro sebagai ruang pluraritas ialah puisi Perempuan Imlek 3 karya Arieko:

Perempuan Imlek 3

Di segara dupa
selalu ada Thian
yang tertawa

Menjadi kamu adalah cinta
bahwa agama senyatanya
cuma sandangan atas
budimu, pekertimu,
jiwamu

Melelehlah wengi mewangi
menjadilah air bergemiricik
kepada surga
kepada bumi

Aku dan kamu
tetep bersholawat
untuk seluruh nabi-nabi
di dalam kelenteng
yang sepi

Hong

Kelihatannya puisi ini cukup berhasil dalam menghadirkan suasana seperti yang diharapkan oleh penyairnya.

Sementara Benny Hassim dalam puisi Kita ini Siapa? Berbicara tentang pluralisme dalam ruang yang lebih luas.

Satu puisi lain dalam buku kumpulan puisi BLF ini adalah puisi berjudul Bunga, Mengapa Engkau Tak Punah Saja? Karya Ajun Pujang Anom. Menurut saya puisi ini telah menanggung beban tradisi ewuh pakewuh dalam menyatakan dirinya, sehingga serangan yang diutarakan dalam bahasa yang vulgar justru bergerak menjauhi objeknya.

Demikianlah sekelumit catatan tentang buku puisi BLF 2019. Sebagai sebuah produk kesenian, tentu saja buku ini tak akan lepas dari kekurangan. Namun, sebagai sebuah dokumen perayaan nilai, pastilah buku ini sangat berarti bagi perkembangan kesusastraan di Bojonegoro.

(November, 2019)

Kurator Bojonegoro Literary Festival 2019

Didik Wahyudi
Timur Budi Raja
Alek Subairi

Terbaru

Dilarang Menangis

Mendadak segalanya jadi begitu genting di Desa Salbut. Ya, genting dan berbahaya. Itu semua setelah...

Serumpun Folklor

Kuda Bertanduk

Dari Redaksi