Dongeng

Home Dongeng

Vanny Menjadi Ratu Lebah

0

Aku bisa menjadi ratu lebah, tepatnya sejak liburan musim panas, dan mungkin kau akan menyebutku penipu ketika aku menceritakan kisah ini padamu.

Sebelum meninggal, Mama menebar benih-benih bunga matahari di kebun. Bunga-bunga itu mulai mencuat dari tanah pada hari ketika Mama dimasukkan ke tanah; bunga-bunga itu berderet dalam sepuluh barisan di kebun, dan kesemuanya telah berdiri tegak dan mekar sempurna pada liburan musim panas. Aku jadi malas pergi berlibur ke mana pun: aku lebih suka merawat kebun, atau sekadar duduk di lantai beranda sambil memandangi kebun, atau duduk sambil membacakan dongeng Putri Bunga Matahari pada bunga-bunga tersebut, meski di beranda tubuhku jadi cepat berkeringat dan terasa lengket.

Aku juga suka melihat lebah-lebah beterbangan di kebun.

Aku suka melihat apa pun yang ada di kebun, kecuali saat tiba-tiba Doddy muncul di depan gerbang rumahku.

Doddy adalah seorang lelaki remaja, dan setiap lelaki yang tumbuh remaja biasanya menjadi nakal, dan sialnya ia tinggal dekat rumahku. Doddy bertubuh segemuk sekarung penuh pasir, dan dahinya selebar satu jengkal tanganku, dan ada segaris bekas luka di sana karena ia adalah remaja yang nakal. Ia sering bersenang-senang dengan memanggilku wajah-bersarang-lebah, sebab di pipiku ada bintik-bintik cokelat yang kupikir-pikir memang mirip sarang lebah, sesekali juga ia menungging ke arahku dan menepuk-nepuk bokong gemuknya.

Aku pernah mengadukan tingkah Doddy pada Papa. Tetapi Papa tak memarahi remaja itu; ia hanya bilang padaku, “Ia hanya ingin bermain denganmu.” Sial, tidak ada yang ingin bermain dengan remaja lelaki nakal. Gara-gara Papa tak memarahinya, aku sempat berpikir untuk tak usah duduk lagi di beranda, tetapi aku begitu ingin memandangi bunga-bunga matahari itu, jadi aku tetap saja sering duduk di sana dan menahan diri menghadapi nakalnya Doddy.

Dan di hari terakhir liburan musim panas, tiba-tiba saja kesemua bunga matahari di kebun menunduk, persis orang-orang yang bersedih di hari pemakaman Mama. Selain itu, kelopak mereka dipenuhi bercak-bercak cokelat—persis pipiku—dan lebah-lebah bergeletakan di tanah. Aku coba mencium bunga-bunga itu satu per satu, dan aromanya membuat muntahanku tertahan di kerongkongan. Lalu sesuatu memanggil-manggilku, “Vanny! Vanny!” dan kupikir itu adalah salah satu bunga matahariku, dan aku mendekat ke sumber suara. Rupanya, yang memanggil-manggilku adalah salah seekor lebah. Di antara lebah-lebah lainnya, hanya ia yang masih berdiri, suaranya terdengar parau, dan lebah itulah yang tampak paling cantik: ia mengenakan mahkota super kecil di kepalanya: pasti ia ratu lebah.

“Para iblis menyerang bunga-bungamu. Mereka juga menyerang kami!”

Aku melihat ke sekeliling; aku tak melihat iblis.

“Kau harus menjadi kami untuk dapat melihat mereka. Jika kau bersedia menolong kami, jika kau ingin bunga-bungamu tegak kembali, ambil mahkotaku dan letakkan di kepalamu.”

Aku pun mengambil mahkota itu dengan ujung jempol dan telunjuk, aku menyentuhnya hati-hati sekali, aku takut mahkota itu hancur di tanganku, dan aku meletakkannya di kepalaku. Tiba-tiba, tubuhku menyusut sampai sekecil lebah! Dan di punggungku ada sepasang sayap lebah, dan aku bisa menggunakannya untuk terbang, dan di bokongku tumbuh sebatang sengatan, panjangnya setara kakiku dan cokelat warnanya dan berkilau terkena sinar mentari. Karena tubuhku menyusut, maka mahkota ratu lebah pas sekali di kepalaku.

Semua di sekelilingku tentu tampak membesar, dan semua tampak lebih mengaggumkan karena tampak membesar, terutama bunga-bunga matahari itu: aku bisa duduk di mahkotanya sambil membacakan dongeng Putri Bunga Matahari.

Satu-satunya yang tampak tak mengaggumkan dengan tubuh sekecil ini adalah aku jadi bisa melihat iblis-iblis itu: mereka bundar dan hijau dan berukuran sebesar perutku, mereka bersayap mirip kelelawar, dan di antara kedua mata merah mereka yang lebar mencuat sebatang jarum. Mereka ada di mana-mana: hinggap di kelopak bunga-bunga matahari, hinggap di tanah di samping lebah-lebah yang mati, juga beterbangan di atas bunga-bungaku—kepak sayap mereka berisik sekali, seperti mulut Doddy.

Di tanah, ratu lebah mulai memejamkan mata dan tergeletak dan tak lagi bergerak. Iblis-iblis mulai mendekatinya dan menyentuh-nyentuh tubuhnya dengan jarum mereka, dan aku tak suka ratu lebah itu kenapa-kenapa. “Jangan ganggu dia!” pekikku, dan semua iblis sontak menoleh ke arahku, dan aku menukik tajam ke bawah dengan sengatan terhunus, dan sengatanku menembus punggung salah seekor iblis yang mendekati sang ratu lebah. Tubuh iblis itu langsung pecah menjadi asap hijau yang baunya persis muntahan di tong sampah!

Sesaat iblis-iblis di sekeliling refleks mundur menjauhiku. Tetapi sesaat berikutnya banyak sekali iblis mulai mengepungku. Mereka masih diam di tempat, namun kepak sayap mereka menjadi ribut sekali dan jarum mereka terarah padaku seorang. Mereka memang kecil dan mudah kutusuk, tapi karena mereka banyak sekali mungkin ini akan serepot menghadapi Doddy.

Dan satu per satu mereka langsung meluncur ke arahku!

Aku segera terbang dan mengelak ke sana kemari di udara, aku mampu bergerak lincah dan aku tak tahu diriku bisa selincah itu, meski beberapa kali aku hampir tertusuk jarum mereka. Desing tubuh mereka menyakiti kupingku, dan tiap meluncur mereka meninggalkan aroma muntahan di udara. Baju bagian perutku sempat sekali tersayat jarum mereka dan sobek lumayan lebar, untung kulit perutku tidak kenapa-kenapa. Iblis yang meluncur menyayat bajuku tampaknya terlambat mengerem di udara: ia malah menusuk tubuh temannya sendiri yang pecah jadi asap hijau dan aku tertawa-tawa.

Tapi mestinya aku tidak tertawa-tawa dan tetap waspada. Karena tertawa, aku kurang waspada terhadap serangan iblis lainnya, aku agak terlambat menghindar dan tubuhku tersenggol keras olehnya dan aku terpental. Saat mendarat di tanah, mahkotaku terlepas dan seketika aku kembali ke ukuran biasa.

“Hei! Wajah-bersarang-lebah!” Doddy mengejekku dari balik gerbang, entah sejak kapan ia berdiri di sana; ia menungging mengarahkan bokong jeleknya padaku dan menepuk-nepuknya dengan bangganya.

Aku sedang tak ingin mengurusi remaja nakal mana pun. Aku berjongkok dan merendahkan wajah ke tanah untuk mencari mahkota itu, yang ternyata ada di dekat ujung jempol kakiku dan untung saja tak terinjak. Aku segera mengambilnya dan mengenakannya kembali. Aku kembali menjadi ratu lebah; padaku iblis-iblis menatap marah.

“Vanny! Ke mana kau?!” pekik Doddy

Aku tahu apa yang harus kulakukan—untung ada Doddy yang nakal di sana. Aku menungging di udara dan sengatanku pasti tampak mengacung dengan cantiknya. Saat iblis-iblis menyerbuku, aku berputar-putar di udara seperti balerina kelas dunia! Atau seperti gasing? Entahlah. Yang jelas, iblis-iblis yang menyerbu segera tersayat sengatanku, dan asap hijau dengan cepat memenuhi sekelilingku. Kemudian iblis-iblis mulai menjauhiku dan aku berhenti berputar sejenak.

Pusing juga … dan bau!

Dan aku tak akan memberikan mereka ampun: aku berputar lagi seperti balerina kelas dunia atau gasing dan aku meluncur mengejar iblis-iblis itu. Semua mati dengan cepat! Dan kupikir tak lama lagi mereka akan pergi dari bunga-bunga matahariku. Tetapi tahu-tahu saja sesuatu yang lebih cepat dariku meluncur menyenggolku; aku terlempar dan buru-buru mengendalikan diri dan kembali terbang stabil sebelum menumbuk tanah. Lalu aku melihat ke sekelilingku, mengikuti arah terbangnya sesuatu yang sangat cepat itu.

Ia berhenti di hadapanku, sesuatu yang cepat itu. Keadaan mulai terasa tak lucu. Ia seekor iblis juga, tetapi sebesar tubuhku, jarumnya dua kali lebih panjang ketimbang iblis-iblis lainnya. Dan, ia mengenakan mahkota—ini akan menjadi pertarungan ratu lebah melawan raja iblis! Dan jelas ini akan menjadi pertarungan yang luar biasa; iblis-iblis lainnya bahkan sampai mengumpet ke balik kelopak-kelopak bunga, sesekali mereka mengintip kami dengan ketakutan.

Aku tidak takut: aku meluncur ke arah raja iblis dengan sengatan terhunus, dan ia cepat sekali menghindar, dan sengatanku menancap di satu mahkota bunga. Kupikir iblis-iblis yang bersembunyi di balik kelopak bunga itu akan langsung mengeroyokku, berhubung aku sedang tersangkut. Tetapi mereka malah langsung kabur, dan aku menoleh ke belakang, ke sesuatu yang membuat mereka kabur: raja iblis sedang meluncur kencang ke arahku. Aku cepat-cepat melepaskan sengatanku dari mahkota bunga untuk menghindar, dan sang raja pun menabrak mahkota bunga yang sama. Namun, bukannya jarum sang raja menancap di sana, tubuhnya menembus bunga itu, bunga yang segera pecah berkeping-keping di udara!

Sang raja iblis berbalik, dan ia sekali lagi meluncur ke arahku, dan aku berhasil mengelak. Kemudian hal serupa terulang lagi berkali-kali hingga napasku tersengal-sengal dan aku mulai lelah. Sial, aku tak ingin pecah seperti bunga. Dan ia sekali lagi meluncur ke arahku, dan bahuku berhasil dirobeknya! Bahuku jadi terasa panas sekali, dan pandanganku seketika berkunang-kunang, dan punggungku mulai terasa kaku—terbangku mulai merendah. Iblis-iblis yang menonton dari balik kelopak-kelopak bunga pun bersiul-siul senang untuk raja mereka.

“Vanny! Di mana kau?!” teriak Doddy sekali lagi, setelah itu ia berjalan menjauh dari gerbang rumahku.

Doddy! Aku terbang mendekatinya dan raja iblis mengejarku. Aku memutari kepala lelaki itu dan ia mulai panik pasti sebab takut kusengat. Ia pun berlari kencang menuju rumahnya seraya mengibas-ngibaskan tangan di udara dan memekik. Aku tetap mengejarnya dan memutar-mutarinya dan bersusah payah menghindari kibasan tangannya, begitupun yang dilakukan oleh sang raja iblis yang tetap mengejarku.

Doddy sampai di halaman rumahnya, dan ia memungut ranting pohon berdaun lebat di tanah, dan ia mengibas-ngibaskannya ke udara. Aku semakin kesulitan mendekatinya, tetapi setidaknya sang raja iblis jadi kesulitan mendekati aku yang mendekati Doddy. Begitu lengan Doddy mulai lelah, begitu kibasannya melambat, aku langsung meluncur ke arahnya dan menancapkan sengatanku ke ujung hidungnya. Ia menjerit, tentu saja. Dan selagi sengatanku tertancap, raja iblis meluncur ke arahku. Tepat saat ujung jarum raja iblis hampir menyentuh tubuhku, aku berhasil melepas sengatan dan mengelak ke samping, sehingga giliran jarum sang iblis yang menancap pada hidung Doddy. Saat itulah, sesuai dugaanku, telapak tangan Doddy terayun menuju wajahnya, dan pufff!!!

Aku melihat asap hijau menyeruak dari hidung lelaki itu—asap yang dengan cepat tersapu angin!

Doddy terjatuh-terduduk dan menjerit sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Aku segera terbang ke ruang dalam rumahnya. Aku tidak melihat siapa-siapa di dalam sana, aku hanya mendengar Waltz of the Flowers karya Tchaikovsky diputar kencang dari lantai atas, dan aku melihat kotak obat di meja dekat televisi. Aku melepas mahkota dan kembali ke ukuran normal, lantas aku mengantungi mahkota itu dan aku membawa kotak obat ke halaman untuk menolong Doddy—lelaki itu bingung bagaimana bisa aku berada di rumahnya.

***

Liburan usai keesokan harinya. Aku keluar ke beranda dengan seragam sekolah, dan aku kaget melihat bunga-bunga matahari kembali berdiri tegak, aku bisa mencium wanginya dari sini, dan lebah-lebah kembali beterbangan di atasnya. Yang lebih mengejutkan lagi adalah Doddy telah berdiri di balik gerbang, plester luka menempel pada hidungnya, dan ia tersenyum seraya menyodorkan kotak makanan padaku.

“Makan siang untukmu,” katanya.

Kami pun berjalan kaki menuju sekolah, dan kami berpisah di pertigaan—karena kami berbeda sekolah—dan kupikir aku akan menceritakan kisah hebat ini kepada siapa pun, kecuali kepada Doddy!




===================
Surya Gemilang
, lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Ia telah lulus dari Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Buku-bukunya antara lain: Mengejar Bintang Jatuh (kumpulan cerpen, 2015), Cara Mencintai Monster (kumpulan puisi, 2017), Mencicipi Kematian (kumpulan puisi, 2018), dan Mencari Kepala untuk Ibu (kumpulan cerpen, 2019). Karya-karya tulisnya yang lain dapat dijumpai di lebih dari sepuluh antologi bersama dan sejumlah media massa, seperti: Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Suara NTB, Bali Post, Riau Pos, Basabasi.co, dan lain-lain.

Negeri Tanpa Tawa

0


Alkisah di sebuah negeri yang tak terlihat dari jendela rumahmu, yang kita harus berjalan kaki tujuh hari sebelas malam untuk tiba di sana, menembus tujuh hutan dan menyeberangi tiga sungai, di kaki bukit pada tepi sungai yang tak mengalir, hiduplah seorang tukang batu dengan istrinya.

Mereka begitu bahagia karena putri yang mereka nanti-nantikan sekian lama  telah lahir ke dunia. Suara pekik bayi menangis telah memecahkan udara sunyi. Tukang batu tak menyadari betapa ia bahagia, sebab kini ia menjadi ayah, terlalu bahagia hingga ia lupa dan ia pun tertawa terbahak-bahak, begitu pula dengan istrinya yang telah berjuang menangis mengejan sehari semalam. Si ibu baru pun larut dalam haru hingga ia memekikkan rasa syukur dengan bersemangat. Putrinya adalah putri yang pertama lahir, setelah hampir lima puluh tahun tiada kelahiran di negeri itu. Saat suami istri tersebut menyadari, semua sudah terlambat. Kesalahan telah memberikan buahnya.

Di sini di negeri lesu nun jauh, hukum lesu pun berlaku. Tawa adalah hal yang dianggap tidak sopan, antusiasme adalah dosa besar dan bersemangat merupakan tindakan yang melanggar undang-undang. Di sini hanya boleh ada duka, nestapa dan kesunyian.

Seperti yang terjadi di negeri sana sini, semua bermula dari kesalahan sejarah. Dahulu kala ia adalah sebuah negara yang wajar. Semua orang bebas menjadi dirinya sendiri, tetapi sejak sebuah bencana kesialan menimpa sang putri raja secara bertubi-tubi. Semua menjadi berubah, budaya bergeser, kehidupan normal tersingkir dan hukum baru pun terjadi.

Semua penduduk harus menghormati putri Ego– putri raja. Sebab putri Ego terluka, semua orang harus terluka. Bila putri Ego sedih, semua orang harus berempati. Tidak pernah boleh ada kontradiksi, dari mulai hukum, adat, norma semuanya pun  berganti dan sejak itulah negeri mereka disebut dengan nama negeri lesu.

Lebih dari seratus tahun yang lalu, semua orang gembira tersingkir. Mereka semua pergi mengungsi dan terjadilah ekspansi besar-besaran. Tak ada yang datang ke negeri itu lagi, kecuali mereka yang murung, si berhati iri, atau para pemintal dengki.

Larangan tertawa diberlakukan di mana-mana. Semua orang yang memiliki antusiasme, semangat, kebahagiaan akan sesuatu apa pun, pasti dihukum pancung. Bunga-bunga tak lagi tumbuh, suara burung bernyanyi tak terdengar lagi, derap langkah prajurit pun hilang tertelan bumi, segalanya menjadi hening.

Orang-orang berjalan dengan lambat, penduduk kehilangan ekspresi, tetapi semua orang tak merasa kekurangan. Penduduk negeri lesu merasa baik-baik saja. Mereka tak merasa kehilangan tawa karena tawa sudah tak dikenali lagi.

Hingga pagi ini datang setelah sekian lama tiada kelahiran. Sejak cinta hanyalah sebuah pekerjaan, saat itulah lahir bayi perempuan dari istri tukang batu. Pasangan itu tak menyadari bahwa mereka memiliki sisa cinta murni. Tawa sang ayah baru membuat tunas-tunas muncul di sela-sela batu. Pekik semangat sang ibu membuat matahari pagi yang telah lama terbenam, terbit kembali di balik bukit.

Semua penduduk heran, hingga mereka semua gempar dan orang-orang keluar rumah, guna menyaksikan sinar matahari pagi. Wajah lesu bertanya-tanya tentang keganjilan yang ada. Namun, sebagian dari mereka merasa janggal karena mereka tak mengenal jenis perasaan baru ini.

” Apa itu?” tanya seseorang tukang kayu.

“Aku tidak tahu, tetapi ia memancarkan rasa hangat yang aneh!” sebut seorang mantri desa yang terkenal paling pandai.

“Ya, ini mengerikan, apa ia sebenarnya!” Tukang kayu masih tidak puas dan ia terus bertanya-tanya.

“Aku pun tidak tahu, aku tak pernah melihatnya, ia terlihat seperti jeruk besar yang menyesatkan, mungkin ia penyihir?”

“Tangkap saja, ya, tangkap ia telah tersenyum!” Si gembala merasa marah.

“Ya, ia telah lancang, hukum saja!” seru yang lain bersamaan.

Orang-orang yang mulai mengenali perasaan hangat atau tumbuh perasaan senang, gegas menyimpan perasaan mereka rapat-rapat, sebagian justru menangis dengan ketakutan. Tak satu pun dari mereka mengenali atau memahami situasi yang ganjil ini. Sebab yang mereka ketahui: Bahagia adalah virus.

Suasana menjadi gaduh, orang-orang memilih untuk pergi berbondong ke kerajaan. Mereka harus melaporkan kejadian. Semua orang yang tinggal di sana terus memandang ke arah bukit. Orang-orang tak kuasa menahan senyuman dan berusaha keras untuk menahan seutas otot pipinya agar tak tertarik ke belakang. Mereka berupaya menghakimi matahari dengan kebencian. Tetapi matahari tak peduli, ia terus bergerak naik, hingga mereka pun kesal. Mereka pulang bergerombol hanya untuk kembali mengambil tangga, lalu mereka berusaha memanjat.

“Tangkap penyihir jingga itu … tangkap!” teriak mereka bersemangat. Yang tak mereka sadari, semangat mereka menggerakkan aliran sungai dan membuat biru warna bukit dan menumbuhkan  bunga pink pada dedaunan.

Kerajaan berwarna kelabu itu terlihat tak sesuram biasanya. Para penduduk yang berbondong-bondong masuk telah merusak aneka jaring laba-laba dan mereka berusaha menemui sang Raja Ego IXI. Tetapi, mereka lupa, semakin mereka menginjak bumi dengan kuat, dengan cepat,  dengan setengah berlari, semakin bumi berubah. Tanah hitam menjadi coklat kemerahan, kontras dengan permadani hitam yang berubah menjadi hijau. Negeri lesu mengubah dirinya.

 Saat penduduk negeri mengeraskan suara memanggil rajanya. Angin yang telah lama tak berembus mulai menari semilir. Rintik-rintik hujan menghadirkan pelangi. Semakin mereka merasa panik, semakin banyak warna yang muncul.

Negeri lesu yang selama berabad-abad hanya kelabu, hitam, biru tua kini mulai terlihat hijau, kuning, merah muda dengan banyak warna lainnya. Semua orang menjadi panik sekaligus merasa kagum. Mereka semua tak memahami apa yang telah terjadi. Bagi mereka semuanya terasa menakutkan.

Di bawah bukit jauh dari kemegahan serta hiruk pikuk istana seorang bayi sedang tertawa. Orang tuanya yang merasa aneh ditikam kecemasan. Sebab mereka menganggap tawa adalah dosa, maka mereka pun menangis tersedu-sedu. Mereka sibuk menyesali diri karena tak sengaja telah mengajarkan bayinya tertawa. Namun, sang bayi tetap tertawa sekuat apa pun ibunya mengajarkan menangis dan ia tetap tersenyum dan ia terus menularkan kebahagiaan. Semakin lebar senyum si bayi dan semakin gempita suara tawanya, semakin takutlah tukang batu dan istrinya.

Mereka berusaha menenangkan putrinya, membuat ia menjadi lesu layaknya orang-orang normal di negeri lesu. Namun, semua sia. Sebab rumahnya telah berwarna-warni. Aneka bunga telah semarak di luar, kupu-kupu beterbangan dan segenap tetangga telah berteriak-teriak.

“Keluar tukang batu … keluar!” teriak si pemintal dengki bersama si pengadu domba.

Saat si pemintal dengki berteriak, angin berembus dan  perdu-perdu yang berubah warna–yang semula hitam menjadi hijau. Semua terlihat semarak memanjakan mata. Domba-domba dalam jerat tukang berlari meronta ke kebun sebab mereka terpukau melihat padang rumput baru.

Sang orang tua merasa kebingungan. Si Ibu semula ingin menyembunyikan bayinya di dalam lesung. Tetapi, ia tahu itu percuma. Maka, ia pun berlari ke sungai dan ia letakkan si bayi di keranjang ke atas rakit. Ia tak sanggup membiarkan bayi tertawa itu, dibunuh raja, walau ia tak suka melihat bayinya tertawa. Sedangkan si tukang batu–ayah yang lebih mengedepankan akal  berusaha sekuat tenaga menerima keganjilan putrinya, ia telah memutuskan untuk membiarkan bayi itu mati dengan sendirinya. Ia keluar dengan wajah terluka lagi lesu menghadapi kegaduhan si pengadu domba dan si pemintal dengki.

“Tak perlu berteriak, putriku pasti kini telah mati, semua akan normal kembali, kalian bisa bersemayam ambisi duka setiap hari!” ucapnya dengan tenang dalam suara yang lemah.

Tetapi, tawa telah menjadi seperti penyakit menular, begitu pula dengan pertahanan pada kekakuan. Hasutan, fitnah, asumsi mewabah di mana-mana. Kini penduduk terpecah belah. Kelompok gembira disebut aliran baru, kelompok kaku mempertahankan tradisi.

Di kerajaan kelabu rapat besar diadakan dan semua penasehat berkumpul; ahli sejarah mimpi buruk, ahli hukum asumsi, jenderal julid, mereka semua mengadakan rapat darurat, ‘Siaga virus bahagia.’ Raja Ego IXI kebingungan, ia bimbang memutuskan. Ahli sidik gosip telah menemukan sumber masalah, tetapi pertapa duka si orang paling tua di negeri lesu yang dihormati telah memutuskan untuk mengorbankan nyawanya sendiri demi mencari si bayi tertawa. Sepuh itu menyelusuri sungai dengan rakit, hanya untuk membiarkan sisa tawa tetap ada.

Pertapa duka telah menghadap raja semalam. Ia mengungkapkan rahasia pada raja yang tak dipahami oleh sang raja. Bagi raja semua rasa baru yang ia lihat adalah misteri dan ia melihatnya seperti teka-teki.

“Paduka, aku mengatakan kebenaran dari ayahnya–ayah–ayahku bahwa dahulu negeri kita sesungguhnya tak sama, tetapi dahulu semua baik-baik saja. Negeri kita pernah berada di dalam dunia ganda!” ucap pertapa duka itu dengan suara yang sangat sedih.

“Aku tak paham!” kata raja Ego.

“Dunia ganda adalah dunia sebelumnya, saat semua berada di dalam suatu kesatuan, ada tawa dan ada tangis, ada pekik dan ada pula rintihan, ada lesu dan ada juga semangat, saat itu semua perasaan rukun dalam satu kesatuan  seimbang yang apik, tak ada asumsi, semua orang bebas bertumbuh menjadi dirinya sendiri, tak ada pula persaingan, semua orang merasa satu di dalam dunia yang saling mendukung dan semua komponen bekerja sama secara selaras. Pun bahkan, saat hewan saling memakan semua masyarakat melihatnya sebagai kewajaran  yang tak menimbulkan persaingan sebab setiap komponen memiliki kesadaran diri!” jelas Pertapa itu lagi.

“Lalu, mengapa semua menjadi begini?” tanya raja Ego.

“Ibu dari ayahnya ayahmu, lahir sebagai pribadi tak cakap, ialah putri Ego–ia tak dilahirkan unggul, tetapi ia bahagia. Namun, bagi orang tua yang mencintainya, ketidakpiawaian itu adalah suatu kesialan dan perasaan tak puas itu menumbuhkan dengki untuk pertama kali dan ayah dari ayahnya ayahku telah membuat pula kesalahan. Ia menciptakan pepatah padi guna menyemangati keluarga raja!” ucap pertapa semakin tertunduk.

“Pepatah apakah yang sungguh dasyat itu petapa?” tanya Raja dan petapa itu pun berbisik di telinga sang Raja.

“Semakin berisi semakin menunduk?” tanya Raja heran, “tak masuk akal, bagaimana mungkin pepatah bagus bersalah?”

“Ya, raja seperti itulah, mulanya ia hanya terdengar sebagai pepatah yang bagus, padahal sebenarnya ia adalah pepatah yang gegabah, sebab waktu itu semua makhluk telah memiliki kesadaran diri, sehingga mengajarkan menunduk tak perlu lagi. Tiada pula satu pun yang mengolok atau tak berempati pada putri, semua orang bahagia, andai dengki tak ada. Semua orang saling membantu. Namun, raja telah tertipu hatinya sendiri, kemudian budaya menjadikan pepatah itu hukum masyarakat dan ia menjadi norma, lalu ia menjadi aturan. Sejak itu semua orang menundukkan kepala, tak ada lagi yang bersemangat, semua orang takut menunjukkan kesenangannya, takut bermimpi, takut terlihat bahagia, meskipun oleh hal-hal sederhana, lalu tawa semakin surut dan kemudian tawa sirna. Sekarang tak ada lagi orang yang bahagia.” ucap pertapa.

“Ya tetapi itu benar, seseorang yang terlalu bersemangat adalah orang yang terlihat seperti mencari-cari perhatian, orang yang antusias adalah orang yang menjijikkan , mereka sok, tak tahu malu dan kenapa pula harus menunjukkan bahagia?” tanya raja lalu ia terdiam sesaat, “itu bukan tradisi kita, negeri kita lahir karena penderitaan yang agung!”

“Tapi, yang mulia … setelah saya melihat matahari itu muncul, saya bahagia dan itu membuat antusiasme bukan ambisi. Saya rasa bahagia yang sederhana tak bersalah, begitu pun saat orang membaca, atau saat orang melihat bunga, semua orang berhak bahagia. Bukankah putus asa yang menjadi budaya dalam mencapai ilmu di negeri ini tak menghadirkan apa pun? Bukankah sungai ilmu pengetahuan kita telah berhenti mengalir yang mulia?” Pertapa mencoba melunakkan hati raja.

“Tidak bisa pertapa, tak boleh, sudah hukumnya sebuah antusiasme melahirkan sebuah kesenangan dan kesenangan saat bekerja itu mengerikan, ia melibas mereka yang menangis diam-diam, mereka orang-orang senang itu harus dihancurkan sebelum mereka mengalahkan orang-orang yang meratapi kegagalan!” Raja Ego berpegang pada ilmu pengetahuan yang diyakini olehnya seumur hidup. Baginya menjaga tradisi adalah hukum mutlak.

Sang Pertapa bertahan pada pendapatnya dan ia pun diusir dari istana, lalu raja memerintahkan siapa saja untuk mencari bayi tertawa. Di mana pun ia ditemukan, maka ia berhak dibunuh. Seluruh prajurit berkejar-kejaran dan mereka berkeliling ke seluruh penjuru negeri dan mereka beradu-pacu dengan waktu, guna mengejar pertapa yang terseok-seok berjalan sejak semalam.

Di sungai ilmu pengetahuan ikan-ikan meloncat riang. Airnya yang berwarna menghitam kini cerah berwarna turkish. Sang bayi terus tertawa di atas rakit. Pertapa berusaha meraih rakit dengan ujung tongkatnya. Ia melawan arus kebiasaan dengan sisa kekuatan. Satu tangisan panjang ia keluarkan agar arus air berhenti mengalir. Bayi itu terdiam dan secepat kilat ia menyambar keranjang dan bayi itu pun kembali tertawa lagi.  Sungai ilmu pengetahuan  kembali mengalir bersama sang pertapa yang membawa keranjang bayi. Mereka memilih bermuara di tepian batas kebajikan.

Saat menepi, pertapa menggendong sang bayi menuju pohon kesabaran di dekat air terjun. Ia menimang si bayi dalam pelukan. Ia hanya ingin menyelamatkan sisa tawa di negeri itu. Sebab, ia memiliki kemampuan menangis paling pedih, maka ia bisa membuat semua mati. Tak ada yang berani mendekati mereka dan ia membiarkan sisa tawa yang sedikit itu tumbuh. Pertapa memberinya nama anak antusias.

“Ketahuilah nak, kau akan selalu hadir di  tengah negeri lesu dan semua yang putus asa akan membunuhmu, tetapi kau tetap hidup, dan setiap kali mereka menyakitimu,  kau hanya perlu berlindung di bawah pohon kesabaran, sebab kau tumbuh dalam perawatan kebijakan. Ingat ingatlah nak, orang bijak tak pernah menganggap diri mereka terlalu serius!” kata sang pertapa.

Dan begitulah awal mula antusias hadir hanya dalam sedikit porsi di dunia yang miskin kebahagiaan.



===================
Afrilia, lebih dikenal sebagai Adhe Afrilia penulis novel Hawwa, Carcajadas dan aneka cerpen. Seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Cileungsi.

Terbaru

Ketika Ayah Sebaya Denganku

KETIKA Ayah seumuran denganku saat ini, beliau tengah mengalami cobaan berat dalam hidupnya. Sesuatu yang barangkali tak terduga sama sekali bakal terjadi....

Dari Redaksi