Buku

Home Buku

Al-Masih dan Kezaliman Perbudakan

0
Judul Buku   : Al-Masih: Putra Sang Perawan
Penulis      : Tasaro GK
Penerbit     : Bentang Pustaka
Cetakan      : Pertama, September 2020
Halaman      : v + 450 halaman
ISBN         : 978-602-291-742-7

Membaca “Al-Masih: Putra Sang Perawan” novel sejarah karya Tasaro GK, memunculkan rasa benci yang dalam dan jijik terhadap perbudakaan. Kekejaman dan kekejian apa yang tidak dilakukan seorang majikan terhadap hamba sahayanya? Kita sudah mengetahuinya. Sudah terpatri dalam benak kita. Dan ketika diingatkan kembali, dendam pun muncul ingin membalasnya. Kekejaman-kekejaman memang silih berganti terjadi selama bumi terbentang, hingga kini.

Sang Majikan memperlakukan budaknya lebih buruk dari seekor hewan tunggangan, dan selanjutnya perwalian gila ini, menjadikan seorang majikan menggenggam nyawa sang budak. Selayaknya Firaun yang celaka.

Adalah dua Nyonya Belanda, Lyzbeth van Hor dan Chatarina Floris, keduanya pengusaha landeform yang berhasil di tanah Batavia. Dalam novel ini kedua mereka sosok yang mewakili kekejaman masa perbudakan di Nusantara abad 17. Di tangan keduanya, beberapa orang budak  mengalami kematian tak wajar setelah disiksa sedemikian rupa. Digantung di sebuah tiang dengan kepala ke bawah, kaki dan tangan terikat. Sang majikan tangannya tetap bersih, sebab budak lain yang disuruh melakukan pembunuhan itu.

“Kenapa budak hitam itu?”

“Di…dia, sepetinya sudah mati, Nyonya.”

Lyzbeth membelalak. Dia menoleh pada Hendrick. Bibirnya gemetar, kehilangan ketenangan. (hal. 438)

Batavia sudah maju saat itu sebagai cikal sebuah kota besar. Benteng Rotterdam menjadi tameng menghadapi serangan kembali Portugis. Kesultanan Banten dan Kerajaan Mataram yang sudah beberapa kali menyerang Batavia. Pangeran Jaccatra, penguasa Batavia sudah lari ke Banten, setelah Belanda menguasai kota yang kini menjadi ibukota republik ini.

Kisah kelahiran Nabi Isa Alaihissalam diceritakan versi Injil dan versi Al-Quranulkarim. Dilengkapi dengan surat dan ayat-ayatnya. Maka bagi sesiapa yang membaca kisah ini, akan terang duduk perkara kenabian Isa dan ibundanya Maryam versi dua agama samawi Islam dan Kristen. Bahkan cerita menoleh sampai ke masa nabi Zakaria Alaihissalam, yang merupakan pakcik Maryam dan silsilah ibunya. Kedua versi ini sangat berlainan. Dengan ini pula, Tasaro menengahkan aura toleransi dalam novelnya setebal 450 halaman ini.

Lalu ada diselipkan cerita tentang kelompok Bhairawa yang keji melebihi perbudakaan, yang saat itu beraksi kembali untuk kepentingan kekuasaan Belanda.  Kelompok ini disebutkan berasal dari India. Mereka hidup berkelompok, dan melakukan penyerangan kepada orang-orang pribumi Nusantara. Mereka suka membunuh dan selanjutnya berpesta memakan daging korban manusianya. Dalam agama Hindu, kelompok ini sangat berlainan dalam cara-cara pencapaian moksa.

“Sultan Al-Gabah dari Rum, Persia, ratusan tahun lalu mengirim ribuan keluarga Islam ke tanah Jawa. Semua dibunuh, bahkan dimakan orang-orang Bhairawa dan pemimpin mereka yang disebut Banaspati. Sultan Al-gabah sangat murka, lalu mengirim ulama yang memiliki karomah Syekh Subakir. Beliau memulai dakwah Islam melawan Bhairawa yang diteruskan oleh Wali Sanga dan para pendahulu kita.” (hal. 404)

Alur cerita sangat menarik, tidak sampai membosankan. Masih di halaman awal, pencapaian-pencapaian estetis sudah tercapai. Pembaca dipastikan penasaran dengan halaman-halaman selanjutnya.

Tokoh misionaris Kristen, baik Katolik maupun Protestan saling mengintai. Saat itu, sesuai dengan perintah agung dari kerajaan Belanda, hanya Kriten Protestan yang disahkan menjadi agama tanah Nusantara atau Hindia Belanda. Seorang pendeta Katolik, Pater Abreu mengalami hukuman di bawah tanah dan meninggal dunia karena ketahuan oleh Belanda masih menyebarkan Kristen Katolik secara diam-diam.

Kebijakan ini merupkan pemaksaan yang sangat ditolak dalam Islam. Ada 3000 warga Muslim yang tinggal di Batavia, yang merupakan separuh jumlah dari warga Batavia. Dua orang muslim yang dituduh Belanda hendak melakukan makar dihukum mati. Dilaga dengan kuda-kuda yang sengaja dilaparkan. Tak ubah seperti yang dilakukan oleh para pemimpin Romawi ketika menjatuhkan hukuman mati.

Sesudah membacakan surat Yunus ayat 99, Syekh Akhmat tersenyum sambil mengucapkan, “Sifat ayat ini istifham istinkari; pertanyaan untuk mengingkari. Maknanya penolakan mutlak terhadap pemaksaan dalam agama. Memaksakan agama kepada seseorang bukanlah kemampuan Rasullullah, apalagi kita. Sebab bertentangan dengan kehendak Allah. Siapapun yang ingin menghapus kenyataan perbedaan agama dan memaksa semua manusia masuk Islam, berarti dia menentang kehendak Allah.” (hal. 400)

Adalah tiga bersaudara, Shathi, Byoma dan Mletik, yang menjadi asesories novel ini, bersifat menggemilangkan. Ketiganya adalah bocah yang merantau dari Mataram dengan maksud ngamen di Batavia. Yang lainnya adalah Matteo de Gesua laki-laki muda, asal Italia,  berprofesi naturalis, yang juga seorang misionaris Kristen Katolik yang terjebak dengan berbagai kesulitan selama berada di Batavia. Sudah hampir kehabisan biaya hidup.

Novel ditutup dengan sirah kenabian dua Masyiak yang akan datang di 100 tahun sebelum masehi. Permainan plot sangat kreatif, tidak memanjakan pembaca. Tasaro GK, akan menerbitkan kisah selanjutnya dari “Al-Masih, Putra Sang Perawan” sebagai trilogi.

Novel ini dikerjakan selama pandemi korona dan menjadi Pemenang Ketiga Kompetisi Ide se-Asia Tenggara. Pemilihan tema yang cocok dalam pergulatan ketidakharmonisan antara pemimpin dan rakyat bangsa kita saat ini, yang kita khawatirkan bisa menjurus ke perbudakan. Seperti yang terjadi dalam novel berpeluh kebencian dan kejahatan ini.





==================
Nevatuhella, lahir di Medan, 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya Perjuangan Menuju Langit (2016) dan buku puisinya Bila Khamsin Berhembus (2019).

Inspirasi dari Ketangguhan Perempuan

0
Judul Buku   : Perempuan Yang Berhenti Membaca
Penulis      : Ratna Ayu Budhiarti  
Penerbit     : Langgam Pustaka
Cetakan      : Pertama, Oktober 2020
Halaman      : 176 halaman, 13 x 20 cm 
ISBN         : 978-623-7461-36-4

Untuk pemesanan, silakan hubungi:
0821-2742-4881  

Sesederhana apa pun persoalannya, akan menjadi kompleks ketika melibatkan perasaan, apalagi jika menyangkut perasaan seorang perempuan. Bila hati adalah samudra yang tak terukur kedalamannya, maka sepotong hati perempuan adalah samudra terdalam yang berselimut misteri. Para lelaki tak pernah tahu keseluruhan isinya meski bertahun-tahun berdiam di sana. Suatu saat bisa saja muncul gelombang yang tak terduga dan menggerus semua yang ada, atau tiba-tiba saja para lelaki tersesat dalam sebuah palung yang tak kasat mata sebelumnya.

Sisi misteri itulah yang membuat persoalan sepele dan sederhana di lingkaran perempuan menjadi menarik atau mengesalkan—tergantung dari sudut mana memandang. Bagi sebagian lelaki, barangkali sulit memahami bagaimana sepotong handuk saja memiliki nilai istimewa. Bagi seorang perempuan, sepotong handuk tua pun tidak bisa dipandang sebagai benda mati yang akan berakhir sebagai kain pel atau di tong sampah. Bukan handuknya yang berharga, tetapi kenangan yang melekat di handuk tersebut yang membuatnya harus dirawat sepenuh hati. Di tengah kepungan zaman digital yang mengagungkan kecermatan dan materi, merawat kenangan dari sepotong handuk bisa dianggap berlebihan dan buang-buang waktu.

Barangkali sama halnya ketika perempuan memandang lelaki. Tidak bisa mengerti mengapa seorang lelaki bisa begitu mementingkan makanan seekor burung dibandingkan dengan nasib keluarga. Beberapa lelaki memiliki hobi yang kebangetan sampai mengabaikan tanggung jawab dan urusan hidup-mati. Dalam situasi seperti ini, justru lelaki yang terlihat tidak rasional, tidak seperti yang digambarkan Louann Brizendine dalam buku Female Brain yang menyebutkan kadar estrogen menekan tombol-tombol dalam otak perempuan sehingga menunjukkan emosi secara berlebihan.  

Namun, kisah-kisah dalam kumpulan cerpen Perempuan yang Berhenti Membaca ini bukan hendak membantah hasil penelitian Dr. Brizendine selama 20 tahun. Penulisnya, Ratna Ayu Budhiarti yang seorang perempuan, seorang ibu, berupaya menghadirkan sosok perempuan sebagaimana manusia biasa, kendati ada yang harus tampil trengginas untuk mengatasi permasalahan hidup yang mendera. Itu bukan pemaksaan karakter, tetapi reaksi normal atas situasi yang sering kali tidak memihak perempuan.

Ketidakberpihakan tersebut terlihat dalam berbagai keputusan politik, ekonomi, budaya diskriminatif yang masih dipertahankan, serta  dalam status sosial yang terkadang diperkuat dengan dalil-dalil religi yang keliru. Dalam beberapa cerpen di sini, para perempuan ditampilkan melawan ketidakberpihakan tersebut dengan segala cara, meski terkadang berakhir tragis.   

Sosok perempuan dalam buku ini bukan wonder woman yang memiliki kekuatan super. Mereka adalah “siapa” yang “bukan siapa-siapa”, tetapi bisa jadi mereka adalah diri Anda sendiri atau orang yang Anda kenal, Anda cintai atau benci, atau sosok yang diabaikan atau dirindukan selama ini. Bahkan bisa jadi sosok yang menginspirasi meski mereka bukan siapa-siapa.  

Semua kisah dalam buku ini menggambarkan sosok perempuan dari berbagai kelas, tingkat pendidikan dan ekonomi, serta latar dan konflik yang melingkupinya. Sosok seperti Kokom yang gigih atau Neneng yang lebih rasional dibandingkan suaminya dalam pemilihan kepala daerah dalam Pilbub Putaran Dua atau ketegaran Diah dalam Cincin Kawin, dan semua tokoh perempuan yang ada dalam kumpulan cerpen ini, adalah sosok yang ada di sekitar kita. Mereka adalah sosok yang begitu mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan hanya sosok karakternya yang begitu dekat, konflik yang mereka alami juga menjadi konflik yang kita hadapi sehari-hari, baik lelaki maupun perempuan. Situasi ini membuat proses merekonstruksi fakta di sekitar dalam karya sastra menjadi penuh tantangan. Di satu sisi harus mampu menghadirkan konflik yang terlihat nyata dan dekat, sekaligus harus menampilkan dalam sajian berbeda agar tidak terkesan klise. Meski tema perempuan konflik yang menyertainya sudah banyak terdapat dalam menu sastra, ketika dimasak dan disajikan dengan cara berbeda, bisa memberikan kenikmatan batin yang berbeda pula.     

Karakter lelaki yang sering dilukiskan sebagai sosok yang tangguh, bisa saja ada pada diri seorang perempuan, meski tanpa meninggalkan sisi feminitasnya, seperti yang terlihat dalam sosok Kokom yang harus bertarung sebagai pedagang asongan di atas kereta. Di tengah ketangguhannya, dia juga terlihat sebagai perempuan yang panik ketika kedapatan melanggar aturan dan mengambil tindakan terburu-buru yang mengabaikan keselamatan jiwa.

Keberagaman sosok perempuan dan konflik dalam kisah ini menempatkan buku keluar dari barisan sastra untuk kelas tertentu. Berbagai persoalan keperempuanan bisa disajikan dengan begitu mendalam. Ini menuntut kepekaan terdalam dan kemahiran semantik, kekayaan diksi yang melimpah, estetika, serta teknik penulisan yang memikat. Tanpa keseimbangan di antara unsur tersebut, ekspresi perasaan terdalam dari seorang perempuan bisa gagal dicerna pembaca. Pesan yang disampaikan mungkin tercapai, tapi tidak dengan rasa terdalam yang menggetarkan. Kalau itu yang terjadi, maka membaca sastra tak ubahnya seperti membaca sebuah berita.  

Hadirnya buku ini akan selalu relevan untuk segala zaman, tidak hanya dengan situasi belakangan ini di tengah tingginya angka kekerasan (fisik, seksual, dan psikis) terhadap perempuan dan perdebatan tak kunjung selesai tentang Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Catatan tahunan Komnas Perempuan menunjukkan adanya peningkatan angka kekerasan setiap tahun. Namun, angka tersebut diyakini hanya puncak gunung salju sebab sekitar 90 persen kasus kekerasan terhadap perempuan tidak pernah dilaporkan (Komnas Perempuan, 2016).

Kumpulan cerpen ini tentunya tidak dimaksudkan untuk momentum apa pun, sebab masalah hati dan perasaan, konflik rumah tangga dan sosial yang menyangkut perempuan, akan tetap relevan dengan momen apa pun dan kapan pun, sepanjang masa.[]

Ayi Jufridar, penulis dan penikmat sastra.


Pagar Kawat, Beling, dan Dusta

0

Judul Buku   : Kokokan Mencari Arumbawangi
Penulis      : Cyntha Hariadi
Penerbit     : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan      : Pertama, Juli 2020
Halaman      : 338 halaman
ISBN         : 978-602-0640-25-9


Setidaknya ada tiga benda yang digambarkan Cyntha Hariadi dalam novel Kokokan Mencari Arumbawangi ini mendarat dari langit. Ketiganya ialah burung kokokan atau kuntul putih, burung pipit, dan sebuah drone. Ketiga benda dihadirkan tidak hanya dalam adegan penting yang membangun novel, sekaligus mewakili masing-masing peran dan simbolisasi. Tiga hal ini melengkapi jalinan hidup tiga tokoh, Nanamama, Kakaputu, dan Arumbawangi.

Kehidupan Nanamama dan Kakaputu di desa yang damai berubah ketika tiga benda itu muncul. Kokokan menukik turun ke ladang milik Nanamama dan membawa bayi perempuan yang menggemaskan. Bayi turun jatuh ke ladang bawang merah, tubuhnya kotor, tetapi raut wajahnya sungguh menggemaskan. Membuat Nanamama dan Kakaputu langsung sayang dan menjadikannya bagian dari keluarga mereka. Meski orang desa menganggap kehadiran bayi perempuan itu ibarat mala yang diwahyukan langit, tidak diterima, dan dianggap tiada sebab asal-usulnya tidak terang. Namun, Nanamama bergeming dan menamai bayi itu Arumbawangi; harum-bawang-wangi.

“Anggap saja anak ini kiriman dewa-dewi langit untuk kelangsungan hidup manusia di bumi. Tak beda seperti hujan, cahaya, angin, dan petir. Tapi kali ini seorang manusia yang lahir bukan dari rahim manusia, tapi perut angkasa,”

Kokokan mewakili kehangatan yang hadir dari langit. Sedangkan pipit yang menukik ke ladang-ladang adalah bencana bagi Nanamama dan petani lainnya. Pipit parasit pemakan biji harus diusir. Inilah benda kedua yang datang dari langit. Bila kokokan kawan petani, pipit musuh yang harus dihindari. Ketika gerombolan pipit datang, Wajah mereka marah menantang. Tak rela hasil keringat berbulan-bulan dirampas pencuri-pencuri kecil yang ganas itu. (hal.25)

Sifat orang-orang desa boleh diibaratkan burung pipit. Mereka menihilkan kehadiran Arumbawangi, mengolok-oloknya sebagai anak burung pembawa sial, juga usil soal status orangtua tunggal Nanamama. Pak Wawatua dan Lurah, misalnya, dengan culas mengupayakan agar Nanamama turut menyetujui pembangunan hotel dan alih fungsi lahan persawahan. Perbedaan sikap Nanamama ini yang kelak membuatnya terasing, dimusuhi, bahkan harus meninggal dalam dakwaan bersalah.

Mereka sama-sama orang desa, hidup dari tanah desa justru bersikap seperti burung pipit yang pandai menyedot keuntungan.

Kemunculan drone yang asing nan ganjil mengusik Nanamama. Drone milik Pak Rudi si pengembang hotel tanda tanah mulai digerogoti mesin-mesin, besi pancang, atau kawat-semen bangunan. Yang bukan hanya membuat lahan sawah mati, tetapi juga kehidupan manusia mati. Bagi Nanamama, tanah adalah sumber penghidupan kekal selama kaki manusia menginjak tanah.

Satu hotel ramai, pasti akan muncul hotel-hotel yang lain. Sawah kita lama-lama akan hilang. Aku lebih bisa mengandalkan tanahku yang kukenal seperti diriku sendiri. Dan tanah tak akan pernah mati, asal kita masih punya tangan dan kaki,” tegas Nanamama.

Persoalan utama Nanamama ialah menentang kesepakatan perkara alih fungsi lahan persawahan. Sampai kapan pun Kakaputu dan Arumbawangi tidak boleh menjual tanah. Berdikari dengan mengolah sawah. Mandiri tanpa harus menghamba pengembang resort maupun hotel.

Novel ini dilabeli novel anak. Pembaca bisa menemukan percik keajaiban khas dongeng yang menjadi tulang belakang cerita; kemunculan Arumbawangi lewat burung kokokan, interaksi arwah Jojo dan Nanamama, atau kedatangan kokokan di pungkasan cerita membalut penokohan anak-anak dengan penuh kepolosan dan keriangan.

Penting untuk mengaitkan novel ini dengan salah satu cerita milik Hans Christian Andersen “The Storks” (1838). Cyntha Hariadi mengakui bahwa dia dihantui oleh sosok burung dalam cerita Andersen, meski sikap bangau dalam cerita itu tampak begitu aneh dan sedikit kejam.

Novel ini juga memberi kesan berbeda dan cara lain menikmati dongeng. Dongeng tidak selalu menghadirkan kisah manis, ada sisi gelap yang mungkin disembunyikan penulis dan itu adalah tugas pembaca menemukannya.

“…kalau yang di bawah tidak boleh kurang ajar terhadap yang di atas. Binatang ya binatang, harus tunduk pada manusia. Mereka lupa manusia yang mempunyai sifat-sifat hewani jauh lebih banyak dari binatang yang manusiawi,” tulis Cyntha.

Dan bagaimana bengisnya orang-orang desa merebut tanah leluhur dalam novel ini adalah bukti nafsu hayawaniyah manusia kadang lebih menggila. Dengan apik novel ini mengkritik bagaimana manusia serakah melahap apa saja. Alam dan tanah yang ikhlas menumbuhkan segala yang dibutuhkan kerap dilukai, lantas mengubahnya menjadi lahan bangunan. Bukan hanya tanaman yang mati, kelak manusia juga mati ditelan keserakahan bila diterus-teruskan.

Yang paling menonjol adalah gigihnya keluarga Nanamama menjalani hidup. Tatkala Nanamama tiada, Kakaputu dan Arumbawangi gigih bertahan hidup dan melawan saat tanah mereka hampir diambil alih. Namun, bila berharap cerita ini ditutup dengan “bahagia selama-lamanya”, pembaca akan dirubung kecewa. Selalu berlaku hukum dimangsa-memangsa dalam hidup. Sekuat apa daya Kakaputu-Arumbawangi melawan orang-orang desa?

Kokokan Mencari Arumbawangi juga membawa kembali pembaca kita yang hampir selalu dijejali oleh cerita-cerita urban, berlatar glamor Jakarta, atau bahkan luar negeri. Cyntha Hariadi mengembuskan nuansa perkampungan dengan kental budaya Bali, bentang alam indah, atau permainan kanak-kanak yang menggembirakan. Namun, pilihan Cyntha pun tidak terlampau pelosok hingga menjadi novel lokalitas. Novel ini meminjam latar budaya Bali dengan tidak overdosis.

Simbolisasi yang menarik, kepolosan anak-anak, latar budaya Bali dan pedesaan yang menarik kemudian dijalin dengan pilihan diksi Cyntha menguatkan daya magis dan kesan manis dari novel ini. Cyntha yang mengawali debut dengan kumpulan puisi berjudul Ibu Mendulang Anak Berlari (2016) yang juga adalah pemenang ketiga sayembara manuskrip puisi Dewan Kesenian Jakarta. Maka tak ayal bila kita akan sesekali menemukan kalimat-kalimat yang disusun presisi seperti puisi.

Bukan hanya ceria dan membahagiakan sebab menawarkan nuansa asri pedesaan, Cyntha dalam novel ini juga menawarkan pilihan peran manusia. Kokokan yang lembut dan menenteramkan, pipit yang parasit, atau drone yang asing sekaligus merusak tatanan. []




=================
Khoimatun Nikmah, mahasiswa Universitas Semarang.

Ilmu Ekonomi dalam Perspektif Feminisme

0



Judul Buku   : Siapa yang Memasak Untuk Adam Smith?
Penulis      : Katrine Marçal
Penejemah    : Ninus D. Andarnuswari
Penerbit     : Marjin Kiri
Cetakan      : Pertama, Mei 2020
Halaman      : viii + 226 halaman
ISBN         : 978-979-1260-99-2

Penulis menegaskan feminisme selalu berkisar tentang ekonomi. Virginia Woolf berpendapat, ia memerlukan ruang untuk dirinya sendiri. Dan dalam pengadaan ruang tersebut, dibutuhkan uang sebagai penyambung kehidupannya. Maka, tercetuslah anggapan umum, “Pada tahun 1960-an kaum perempuan pergi bekerja.” Sayangnya, ada hal yang luput: Kaum perempuan sudah selalu bekerja. Yang terjadi selama berdekade-dekade belakangan ini adalah bahwa perempuan berganti pekerjaan (hlm. 6). Hilangnya atau dilupakannya fakta perempuan selalu bekerja inilah yang menjadi pemantik isi buku ini. Katrine Marçal, penulis asal Swedia ini pun memberi judul “Siapa yang Memasak Makan Adam Smith?”  sebagai sebuah upaya pengingat akan kedudukan perempuan yang acap absen dalam persoalan ekonomi.

Penulis mengawali diskusi dengan ihwal Adam Smith yang pada tahun 1776 menuliskan kata-kata yang membentuk pemahaman modern kita tentang ilmu ekonomi: “Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan-diri mereka sendiri-sendiri.” Di sini pertanyaan, “Siapa yang menyiapkan makan malam kita?” menjadi pertanyaan fundamental dalam ilmu ekonomi. Banyak pihak yang dilibatkan. Dan di balik itu semua, adalah kepentingan-dirilah yang melandasi orang-orang tersebut dalam memproduksi produk mereka.

Atas kepentingan-diri tersebut, para ekonom berpendapat bahwa uang bukanlah satu-satunya hal penting, dan bukan hakikat ilmu ekonomi sesungguhnya. Sebab ilmu ekonomi adalah sejarah tentang cara kita berperilaku guna mendapat untung dari suatu situasi apa pun (hlm. 12). Hal ini pun seiring berjalannya waktu, menjadi titik awal dari adanya teori-teori ekonomi. Apabila kita membicarakan “cara berpikir ekonomi”, itu artinya kita membicarakan keuntungan. Nilai ini tertiup dalam napas para ekonom yang memandang dunia dengan realistis, atau bagaimana dunia senyatanya berjalan. Dan sebab diamini dan sebagai cara kita bergerak sepanjang hidup, ada banyak aspek dari hidup kita tersangga karenanya. Inilah yang oleh Adam Smith disebut sebagai “Tangan tak terlihat”.

Dikatakan, “tangan tak terlihat” menjamah segala sesuatu, memutuskan segala sesuatu, ada dalam segala sesuatu, memutuskan segala sesuatu—tapi Anda tidak bisa melihat atau merasakannya (hlm. 12). Tangan ini menjadi semacam sistem di dalam sistem, dengan pasarlah yang menjadi ladang dari sistem tersebut. Dan bila kita membicarakan tentang pasar, maka kita berbicara tentang manusia, sebab pasar hidup dalam sifat manusia.

Di samping adanya “tangan tak terlihat”, buku ini pula membeberkan kalau dalam perjalanan hidupnya, Adam Smith bersentuhan dengan istilah “hati tak terlihat”. Istilah ini mewujud dalam hadirnya sosok ibu—Margaret Douglas—yang menghidangkan makan malam untuknya. Oleh karena itu, bisa dibilang, Adam Smith hanya menjawab separuh dari pertanyaan fundamental ilmu ekonomi itu. Sebab bukan saja makan malamnya terhidang karena para pedagang memenuhi kepentingan diri mereka sendiri melalui perdagangan, melainkan karena ibunyalah yang tiap malam memastikan makanannya terhidang dengan baik.

Hal itu pun menjadikan ilmu ekonomi tak memandang penting aktivitas seperti yang dilakukan ibu Adam Smith. Aktivitas menghidangkan makan malam, tak masuk dalam statistik ekonomi. Dalam kalkulasi PDB (Pendapatan Domestik Bruto), yang mengukur total aktivitas ekonomi suatu negara, ia tidak dihitung (hlm. 18). Hal ini pun sejalan dengan apa yang dikatakan oleh feminis Prancis, Simone de Beauvonir  yang menggambarkan perempuan sebagai “jenis kelamin kedua”. Dan sebagaimana ada “jenis kelamin kedua”, ada pula “perekonomian kedua”, sehingga kerja yang dihitung adalah kerja yang dilakukan oleh laki-laki. Kerja inilah yang merumuskan pandangan kita atas dunia ekonomi.

Tak berhenti sampai di situ, terkait ekonomi lainnya, juga hal memiliki relasi dengan pemetaan dikotomi gender adalah menyoal manusia ekonomi atau Homo economicus. Pandangan umum ekonomi mengatakans, cetak biru paling sempurna atas mewujudnya “manusia ekonomi” ada pada diri tokoh novel Daniel Defoe. Novel yang terbit tahun 1719 itu mengisahkan tokoh Robinson Crusoe yang terdampar di satu pulau selama 26 tahun. Di pulau tersebut, Crusoe-lah yang memegang kendali penuh atas kepentingan-dirinya, sebab tidak adanya hukum atau aturan sosial di sana. Di pulau Crusoe, kepentingan-diri yang menggerakkan perekonomian terpisah dari pertimbangan-pertimbangan lain, sehingga cerita itu pun menjadi semacam alat pembelajaran untuk para ekonom (hlm. 21).  

Sayangnya, lagi-lagi, manusia ekonomi bukan seorang perempuan. Ini bukan berdasar atas replika tokoh novel di atas, melainkan dari pandangan ekonom, terutama yang hidup di kisaran 1800-an. Mereka beranggapan, kerja rumah tangga yang dilakukan perempuan bersifat siklus. Perempuan selalu melakukan kerja yang berlandaskan kasih sayang, dan itu bukan sesuatu yang perlu secara khusus dikuantifikasi. Kerja itu berasal dari suatu logika yang berbeda dengan logika ekonomi (hlm 33).

Atas pandangan itulah, penulis melayangkan kritiknya lewat buku ini. Memang, memasukkan pendekatan feminisme ke ranah ekonomi yang penuh nilai-nilai patriarki adalah tindakan yang tak langsung jadi, tepat sasaran, dan langsung kentara buahnya. Terlebih, yang dibicarakan adalah perekonomian global dengan pemantik permasalahan lingkungan hidup, kepailitan Lehman Brothers tahun 2008, dan juga pembahasan bahwa ekonomi merambah lini yang semestinya tak ia jajaki.

Dan betapa pentingnya peran keperawatan ibu Adam Smith, tetapi hal tersebut tak terendus dalam etos pemikirannya. Perempuan itu seolah terhapuskan dalam perhitungan yang semestinya ada. Namun, bukan soal marah kepada Adam Smith yang kemudian ditekankan oleh penulis. Lebih jauh lagi, godaan manusia ekonomilah yang agaknya mesti diperhatikan. Dalam pembahasan yang panjang, godaan tersebut merasuk ke beragam lini kehidupan yang berdenyut dalam tubuh kita dan terepresentasi dalam kapitalisme yang tak memedulikan masyarakat dan alam, serta neoliberal yang menguntungkan segelintir orang dan menjauhkan jarak si miskin dan si kaya. Sampai akhirnya, kita tidak dapat menentang manusia ekonomi tanpa feminisme dan kita tidak bisa mengubah apa pun yang penting dewasa ini tanpa menantang manusia ekonomi (hlm. 196).

Atas hal tersebut, buku ini setidaknya menjadi oase segar dalam memandang perekonomian dari perspektif yang berbeda. Perspektif feminim yang acap luput dalam perhatian kita. Dan dalam upayanya, feminisme jauh lebih besar dari sekadar “hak perempuan”. Sejauh ini baru separuh dari revolusi feminis yang telah berlangsung. Langkah berikutnya adalah menyadari betapa pergeseran yang telah terjadi ini, lalu secara aktual mengubah masyarakat, ekonomi, dan politik kita agar sesuai dengan dunia baru yang telah kita ciptakan (hlm. 202). Pada akhirnya, ini semua tentang arti menjadi menusia. Dan feminisme membersamai usaha kita.




Tentang Penulis

Wahid Kurniawan, penikmat buku. Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

Di Pandemi; Urusan Sains dan Solidaritas Global yang ditanda Tanya.

0


Judul Buku   : Wabah, Sains, dan Politik
Penulis      : Yuval Noah Harari, dkk.
Penerbit     : Antinomi
Cetakan      : Pertama, Juni 2020
Halaman      : 107 halaman
ISBN         : 978-602-51908-5-8

Pada medio Maret lalu, Yuval Noah Harari menyempatkan menulis esai panjang bertajuk “Dunia setelah Virus Corona”. Tayang pertama kalinya dalam edisi bahasa Inggris “The World After Corona Viruses” di Financial Times. Esai futuristis menyuguhkan sebuah cara pandang Harari mencerna realitas mutakhir usai pandemi.

Sebagai seorang sejarawan merangkap filsuf yang hidup di abad modern dengan karya-karyanya melulu orientasi perkiraan masa depan manusia, ia begitu getol mencerna setiap isu narasi yang terjadi pada umat manusia saat ini dalam menghadapi pandemi Covid-19. Manifestasi praksis bidang keilmuannya atas pengamatan pada krisis itu dapat dilihat dari esai-esainya yang terbit belakangan.

Ia menulis beberapa esai panjang nan kritis. 20 Maret 2020, secara bersamaan dua esainya terbit di Financial Times dan Time. “Dalam Perang Melawan Virus Corona, Manusia Kehilangan Pemimpin” dan “Dunia Setelah Virus Corona” adalah dua esai tersebut. Keduanya tidak sedikit pun berpaling dari isu masa depan manusia. Argumentasi analitisnya begitu menggairahkan dan meyakinkan pencinta buku bertema Manusia.

Relevansi spesialis bidang penulis buku-buku Manusia memantik wawasan ke dalam kemungkinan berekspresi ihwal krisis. Ia ditemani beberapa penulis lainnya yang membahas hal serupa dalam perspektif analitis bidang yang berbeda. Di Wabah, Sains, dan Politik merupakan sekelumit esai translasi dari para ahli yang tertungkus lumus sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Harari dalam buku tampak begitu dominan dengan tiga buah esainya. Ringkas narasi historis  wabah pun tercatat apik lengkap detail jumlah korban. Dirinya mulai menarasikan bermacam wabah jauh sebelum globalisasi tiba. Saat sebelum globalisasi, sekira abad ke-14, wabah mengerikan Maut Hitam (Black-Death) mulai menerungku umat manusia.

Saat itu, kata Harari, belum ada transportasi lintas negara di suatu benua yang sama.  Tetapi wabah menyebar sebegitu cepatnya. Suasana pun tetiba mencekam. Sekitar 75 juta sampai 200 juta orang terbunuh. Atau seperempat lebih dari populasi Eurasia. Tidak ada sains modern sebagai instrumen pencegahan di abad 14.

Masyarakat terinfeksi di titimangsa pra-modern itu, memercayai Black Death sebagai wujud kemarahan dewa, iblis jahat atau udara buruk. Nirgagasan pada kecurigaan ihwal pertanda eksistensi virus dan bakteri. Mereka hanya percaya pada malaikat dan orang-orang pintar. Lalu,  otoritas publik setempat mengumpulkan masyarakat untuk melakukan ritus sembari memohon agar wabah segera berakhir, sekurang-kurangnya bisa meminimalisir terjadinya penyebaran. Alih-alih berdoa pada Tuhan kepercayaan masing-masing, justru menggalakkan upaya perkumpulan masyakat semacam ini akan memicu merebaknya penularan, kata Harari.

Begitulah cara kerja kebanyakan masyarakat modern. Kelumpuhan sains kembali meringkih ketika fanatisme beragama kembali menemukan momentumnya. Di saat para penceramah agama dengan cepat memaknai wabah sebagai bentuk hukuman Tuhan untuk orang-orang gay misal, masyarakat modern justru mengabaikan pandangan semacam itu dan meletakkannya pada sisi yang fanatik. Dan akhir-akhir ini kata Harari, secara umum kita melihat penyebaran epidemi lainnya yang terjadi sebagai bentuk kegagalan organisasional (hal-37).

Mengapa demikian? para pemimpin dunia saat awal wabah merebak hingga data positif terinfeksi kian melonjak signifikan, terlalu lambat-dan bahkan tidak saling memercayai satu sama lain-untuk menggalang solidaritas global antar sesama pemimpin. Negara-negara saling tuding satu sama lain. Para politisi dunia saling lempar tanggung jawab. Lihatlah mereka yang seakan berkampanye-berkerumun demi mendapat perolehan suara terbanyak di pemilu mendatang tanpa sedikit pun berbenak dalam berbenah di wilayah terinfeksi.   

Adalah Santiago Zabala dengan menakik representasi realitas pemimpin populis yang justru abai dalam pencegahan wabah.  Profesionalisme seorang ilmuwan ditentang. Mereka di pihak oposisi menampik wacana media dan kinerja ilmuwan yang mewartakan  protokol kesehatan. Dalam hal ini, ia menyebut Jair Bolsonaro –presiden Brasil –yang juga secara bertubi-tubi mempersoalkan saran dari para ilmuwan dan WHO. Tak hanya itu, Bolsonaro pun sinis ketika meratapi wabah ini sebagai “fantasi”, “pilek kecil”. Sehingga seseorang tidak akan merasakan  dampak apapun.

Dirinya bahkan dituntut oleh 25 dari 27 gubernur Brasil untuk melakukan upaya preventif anti-wabah. Namun, usaha para gubernur itu terbangai sia-sia. Dia menuduh mereka sebagai “perampas pekerjaan” yang ingin menyabotase pemillihan kembali dirinya yang akan berlangsung dalam dua setengah tahun mendatang. Atas sinisme inilah ia juga menghasut publik untuk melawan otoritas lokal dan menyalahkan terjadinya krisis ekonomi untuk menutupi kesalahan dirinya dalam menangani situasi akut ini (hal-62).

Kasus seperti ini tidak hanya terjadi pada diri pemimpin Brasil itu. Donald Trump, dan Victor Orban (Perdana Menteri di Hungaria) juga membuat kasus serupa. Yaitu kesalahan dalam upaya preventif anti-wabah. Keduanya menutupi kesalahan dalam menangani wabah dengan janji-janji palsu, menghasut publik, melawan media, dan tidak mentaati imbauan WHO. Dan terbukti pada 6 Juli 2020, PBB secara resmi mengumumkan Amerika keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia itu.

Secara garis besar, narasi turunnya pandemi yang menimbulkan terungku nestapa dan bikin diri bergidik sebenarnya merupakan cambuk bagi dunia sains modern dan uji kompetensi bagi pemimpin dunia. Di pandemi, urusan sains dan solidaritas global benar-benar tersorot. Melalui sains virus terdeteksi, ia juga dapat mengukur temperatur tubuh dengan baik,dan melakukan pemodelan riset  termutakhir yang nanti akan memberi informasi membantu pada tenaga medis, juru rawat, dan para dokter.

Ini dapat dicapai ketika sebuah penelitian didasari oleh rasa ingin tahu (Curiosity-driven),  kata Ethan Siegel. Riset yang telah dibangun di atas fondasi rasa ingin tahu dari para ahli virologi evolusioner, ahli ekologi penyakit, ahli biofisika, dan para ilmuwan inilah yang nantinya akan berkabar informasi di seputar dunia medis pada setiap bagian penelitian termutakhir yang berada di perbatasan saat ini. Dan setiap penyelidikan atas aspek realitas itu bagi Siegel seringkali memiliki aplikasi turunannya masing-masing.

Aplikasi turunan yang akan menjadi investasi jangka panjang hingga 50 tahun atau bahkan 100 tahun mendatang. Covid-19 menjadi waktu yang tepat untuk menggandakan usaha dunia saintifik semacam itu. Setidaknya apa yang diungkap Ethan Siegel dengan manifestasi memajukan peradaban merupakan langkah sains agar terus bisa mereproduksi teknologi yang relevan. Butuh jalinan solidaritas global yang begitu sublim dibanding konspirasi tak berdasar untuk mencapai taraf ini.

Kita diajak beranjangsana ke wabah Maut Hitam (Black death) di abad ke -14 oleh Harari. Saat itu belum ada sains modern sebagai instrumen vital pencegahan. Keberhasilan dalam mencegah Maut Hitam teramat sukar. Namun ada pelajaran esensial dari tragedi Maut Hitam itu. Para otoritas dunia saat itu dengan segera membangun solidaritas global. Dan alhasil, Maut Hitam perlahan lenyap dari dunia abad ke- 14.

Solidaritas global mesti teraktualisasi di setiap praksis berikhtiar memberantas wabah. Di bidang medis misal, negara-negara kaya dengan kasus positif terinfeksi sedikit perlu mendistribusikan secara gratis obat-obatan pada negara miskin yang jumlah terinfeksinya jauh lebih banyak. Selain itu perjalanan internasional bagi para jurnalis, ilmuwan, dokter, politisi, dan orang penting perlu adanya kesepakatan global dengan melakukan penyaringan terlebih dahulu saat awal keberangkatan dari asal negara mereka.

Di ranah global, pihak yang terkait urusan kesehatan juga seharusnya memantau setiap warga negaranya yang acuh pada protokol kesehatan. Negara harus tegas dengan memberi hukuman bagi siapa saja yang ditemukakan melanggar. Ini dilakukan agar ada semacam efek jera bagi mereka. Semua butuh ikatan solidaritas yang amat massif antar sesama pemimpin negara-negara untuk mencapai ini.

Akhirnya, piramida solidaritas global dan kinerja dunia saintifik perlu beriringan juga dengan penyatuan rasa saling percaya. Rasa percaya berkait kelindan dengan elan vital mengedukasi warga negara di mana pun. Untuk itu dalam memantik tumbuhnya rasa saling percaya, Harari mengungkit kembali sebuah persoalan pelik yang harus diselesaikan.

Di mana para warga negara hendaknya kembali memercayai kinerja ilmuwan, percaya media, dan otoritas publik. Kulminasi dari penyatuan rasa saling percaya itu akan berakhir pada terbaginya informasi, vaksinasi, dan ragam penanggulangan lainnya. Sebuah ikhtiar memberantas wabah hari ini dan masa depan menemukan momentumnya.

===================
Muhammad Ghufron, anggota komunitas Bilik Huma Aksara, Pare, Kediri. Alumnus Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura.

Sehimpun Nasib To Balo

0

Judul Buku   : Manusia Belang
Penulis      : Alfian Dippahatang
Penerbit     : Basabasi
Cetakan      : Pertama, Maret 2020
Halaman      : viii + 160 halaman; 14x20 cm
ISBN         : 978-623-7290-77-3

Maret 2019, kumpulan cerpen Alfian Dippahatang terbit dengan judul Bertarung dalam Sarung dan Kisah-kisah Lainnya. Rentetan cerpen bertema tradisi dan lokalitas Alfian dalam buku termaksud diawali cerpen berjudul “Ustaz To Balo”. To balo adalah “manusia belang” penghuni kawasan Pegunungan Bulu Pao, yang meliputi Kabupaten Barru dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Tubuh to balo sama seperti tubuh manusia pada umumnya, kecuali kulit mereka yang dipenuhi bercak-bercak putih.

“Ustaz To Balo” mengisahkan seorang to balo yang minggat untuk menghindari kematian, entah kematiannya atau kematian anggota keluarganya. Ia diterima dengan baik oleh seorang tokoh agama Islam, yang bukan saja mengajarinya ilmu agama, tetapi juga menyerahkan anak perempuannya untuk diperistri to balo tadi. Pernikahan mereka diarungi dengan baik untuk beberapa waktu, tidak ada masalah-masalah yang menimpa mereka kecuali satu: apakah nanti anak mereka akan to balo juga? Istri to balo tentu tidak mengharapkan jawaban “iya”.

“Dewata memberi tanda balo pada kulit mereka, agar mereka bisa merenungi kesalahan masa lalu. Leluhur mereka yang diutus-Nya, memercayai roh yang Ia ciptakan sebagai tipuan. Hal itu sengaja Ia lakukan untuk menguji mental dan kesetiaan mereka. Dewata kecewa, sebab Ia menghendaki terciptanya semesta, agar mereka menggunakan akal dan tak berpaling. Dewata juga menghendaki mereka beranak pinak agar semakin banyak golongan mereka menyembah kepada-Nya,” tulis Alfian dalam sinopsis—dan rupanya juga sekaligus epilog—novel Manusia Belang (2020).

Lain dari cerpen “Ustaz To Balo” yang sudah disinggungkan dengan Islam, dalam novel Manusia Belang, Alfian lebih mengeksplorasi keyakinan dan semesta to balo itu sendiri. Alfian mengawali novelnya dengan prolog sangat singkat: “Jadilah!” pungkas Dewata. Kata “jadilah” sarat ihwal ketuhanan dan penciptaan. Alfian telah memberi isyarat bahwa novel ini mencapai hal-hal yang tidak tergapai indra, alih-alih melihat to balo sekadar sebagai fenomena. Alfian, dalam novel ini, mengisahkan to balo secara kosmologis.

Manusia Belang terdiri dari sepuluh bab, yang masing-masing bab berlatar ruang dan waktu—bahkan tokoh!—berbeda-beda. Bab pertama mengisahkan to balo semasa gerilya Kahar Muzakkar, tepatnya pada September 1954. To balo bernama Mappi tewas terbunuh pasukan gurilla. Menghadapi mayat Mappi, Monri, salah satu personel gurilla, mengalami gejolak batin, antara rasa bersalah membunuh sesama manusia dan prestasi membela agama Allah.

“Ia merasa bersalah, sebab ini adalah dosa. Ia kembali mengingat pelajaran agama Islam yang pernah ditempuhnya dan didengarnya dari penjelasan ayahnya sendiri, bahwa tak ada alasan, membunuh sesama manusia adalah dosa besar… Monri membunuh orang yang tak tahu apa-apa persoalan Negara Islam. Monri menutup kebahagiaan Mappi untuk menikah dengan gadis tiga puluh dua tahun asal Bonto Payung.”

Mappi terbunuh menjelang hari pernikahan dengan Manni, pujaan hatinya. Monri, tokoh di pihak antagonis, mengalami pergulatan batin. Saya lantas penasaran apa yang terjadi dengan Monri, juga Manni, kelak. Apakah plot cerita Alfian akan mengarahkan keduanya untuk bertemu, mengalami relasi ganjil dan pelik? Ternyata tidak. Begitu bab pertama selesai, bab kedua, ketiga, dan seterusnya, mengisahkan tokoh-tokoh lain, pada waktu yang juga lain. Dari bab pertama ke bab kedua, misalnya, terjadi lompatan waktu yang sangat jauh, dari 1954 ke 1996.

Bab-bab dalam Manusia Belang masing-masing terasa utuh sebagai cerita, tanpa mempunyai ketergantungan pada bab sebelum maupun setelahnya. Misalkan saya iseng membaca novel ini dari bab ketiga, lalu bab kesembilan, dilanjutkan ke bab kelima, dan seterusnya secara acak, pokok-pokok novel ini tetap dapat dicerna sempurna. Pembaca, dengan demikian, mungkin bertanya-tanya apakah Manusia Belang benar-benar novel atau lebih tepat disebut kumpulan cerpen?

Saya ingat dua buku yang mengalami dilema serupa: 9 dari Nadira (2009)—edisi termutakhirkan berjudul Nadira (2015)—oleh Leila S. Chudori dan Serayu Malam dan Kisah-kisah Lainnya (2018) oleh Muhamad Wahyudi, keduanya sama-sama diterbitkan dengan label kumpulan cerpen. 9 dari Nadira bertokoh Nadira dan keluarga, cerpen-cerpennya menyerupai bab-bab novel yang disusun nonlinier. Namun, Leila menyebut 9 dari Nadira sebagai kumpulan cerpen, bukan novel.

Serayu Malam dan Kisah-kisah Lainnya memang kumpulan cerpen. Bedanya dari kumpulan cerpen lain, cerpen-cerpen Wahyudi punya cara sendiri untuk terhubung satu sama lain. Artinya, Wahyudi tidak mengumpulkan cerpen-cerpennya yang berserakan di berbagai media massa. Wahyudi menulis cerpen-cerpennya dengan kesadaran masing-masing cerpen mesti berkaitan. Perjalanan pulang kampung naik kereta Serayu Malam menjadi benang merahnya. Seandainya Wahyudi mau, sungguh, Serayu Malam sudah layak disebut novel. Toh, Serayu Malam tetap terbit sebagai kumpulan cerpen.

Lantas, apa yang menjadikan Manusia Belang sah disebut sebagai novel? Padahal, Alfian menggunakan tokoh-tokoh yang berbeda dalam tiap bab, dan masing-masing bab dapat berdiri sendiri. Apakah hanya karena Manusia Belang telanjur dinobatkan sebagai juara #3 Sayembara Novel Basabasi 2019? Tentu saja, itu bukan jawaban valid.

Misalkan satu alasan saja cukup untuk menyebut Manusia Belang sebagai novel, sudah jelas karena semua bab dalam buku ini mengisahkan to balo. Masing-masing bab seperti sedang menceritakan aspek-aspek dalam semesta to balo. Alfian mungkin tidak ingin merasa terbatas, sehingga memilih tokoh-tokoh yang berbeda—pada zaman yang berbeda pula—tanpa merasa perlu harus saling berkaitan, demi tersampaikannya seluruh aspek kehidupan to balo dalam buku ini.

“Jika anggota keluarga genap, pasti ada keturunan yang meninggal,” tulis Alfian. Keyakinan bahwa jumlah anggota keluarga to balo harus ganjil itulah yang kerap Alfian jadikan premis cerita dalam bab-bab Manusia Belang. Setiap kali ada kelahiran, yang menjadikan jumlah anggota keluarga to balo genap, senantiasa disambut kematian. Bab-bab dalam novel menunjukkan berbagai kemungkinan kematian to balo, baik kematian yang dikehendaki atau yang tidak diinginkan, yang disengaja maupun “sudah kehendak Dewata”.

Saya ingat kicauan yang disematkan akun Twitter Ryu Hasan, “Kematian adalah risiko terbesar bagi organisme hidup, karena tidak akan pernah ada risiko lagi setelah organisme itu mati.” Kematian adalah “nasib” terakhir manusia, dan sebelum itu, tiap-tiap manusia menjalani nasib yang berbeda satu sama lain. Itulah yang dialami para to balo dalam Manusia Belang: bergulat dengan nasibnya masing-masing hingga Dewata memungkasi, “Jadilah!” []





=======================
Udji Kayang. Editor buku menyambi penulis lepas. Penulis buku Keping-keping Kota (2019)

Menelusuri Sejarah Sepak Bola Dengan Sukacita

0


Judul Buku   : Mengapa Sebelas Lawan Sebelas? 
               Dan Serba-Serbi Sejarah Sepak Bola.
Penulis      : Luciano Wernicke
Penerbit     : Marjin Kiri
Penerjemah   : Mahir Perdana
Cetakan      : Pertama, September 2020
Halaman      : x + 175 halaman
ISBN         : 978-979-1260-91-6

Sepak bola adalah olah raga dengan paling banyak penggemar di muka bumi. Kecintaan masyarakat global terhadap tim-tim sepak bola dan para pemain bintangnya mampu menghapus batas jarak, ruang, dan waktu. Sebagai ilustrasi,  Real Madrid (Spanyol) memiliki akun Instagram yang diikuti oleh lebih dari 85 juta orang yang tersebar di berbagai negara. Cristiano Ronaldo, pemain Portugal yang kini bermain di Juventus (Italia), memiliki akun Instagram yang diikuti oleh lebih dari 200 juta orang seantero dunia.

Mereka yang menggemari sepak bola tentu memahami bahwa olah raga tersebut dimainkan oleh dua buah kesebelasan yang saling berhadapan dalam waktu 2 x 45 menit. Setiap tim akan berusaha mencetak gol ke gawang lawan demi meraih kemenangan. Ada wasit yang memimpin pertandingan dan ada aturan main yang mesti dipatuhi oleh kedua tim yang bertanding. Setiap gol yang tercipta akan menciptakan euforia bagi para pendukung setia yang menyaksikan langsung di dalam stadion maupun yang berada di depan televisi belaka. Senantiasa terdapat banyak momen berkesan saban menyaksikan sebuah pertandingan. Kegembiraan atau kedukaan secara silih berganti akan dirasakan dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya.

Namun, pernahkah kita mengetahui dari mana asal sepak bola? Siapa penyusun aturan-aturan awal sepak bola? Mengapa sepak bola dimainkan sebelas lawan sebelas? Mengapa pertandingan sepak bola berdurasi 90 menit? Siapa wasit pertama dalam sejarah?

Buku ini menjelaskan asal-usul dan evolusi olah raga terpopuler tersebut. Ada 100 teka-teki yang barangkali tidak bisa dijawab dengan mudah melalui sumber-sumber daring. Luciano Wernicke, penulis olah raga terkenal Argentina, melakukan penelitian mendalam dari buku-buku, surat kabar, dan dokumen di perpustakaan seluruh dunia untuk menemukan jawabannya dan merangkumnya dalam wujud sebuah buku yang terbit pertama kali di Kolombia pada 2017 dalam bahasa Spanyol.

Setelah rancangan peraturan umum pertama disusun pada 1863, sepak bola terus berkembang dipengaruhi berbagai peristiwa dunia selama lebih dari satu setengah abad kompetisi resmi. Dinamika permainan sepak bola menciptakan berbagai situasi unik dan lucu. Kemunculan berbagai elemen yang kini telah umum, seperti durasi pertandingan, aturan tentang jaring gawang, atau kartu kuning dan merah, dijelaskan secara gamblang di buku ini.

Sejarah awal Piala Dunia, Copa America, Liga Champions di Eropa, dan Copa Libertadores di Amerika Selatan menjadi materi yang dibahas pula oleh Wernicke. Sungguh banyak hal menarik dan fakta unik yang disampaikan dalam buku ini. Misalnya, ada pertandingan yang ditunda karena kembang api untuk pertama kalinya. Ternyata pernah ada seorang penonton yang diajak bermain di tengah pertandingan tim nasional.  

Siapa pemain yang mencetak skor terbanyak sepanjang karier? Siapa kiper yang paling banyak menahan penalti di satu pertandingan? Siapa pemain paling sukses mengeksekusi penalti? Wernicke memiliki data yang lengkap untuk menjawabnya.

Perlakuan diskriminatif terhadap pemain kulit hitam adalah salah satu masalah besar dalam sepak bola yang belum kunjung usai. Rasisme masih saja terjadi hingga awal tahun 2020 ini, seperti yang menimpa Mario Balotelli di Liga Italia Serie A 2019/2020. Balotelli adalah pemain Italia berkulit hitam keturunan Ghana yang pernah menjadi andalan timnas negaranya. Lantas, siapa pemain kulit hitam pertama dalam pertandingan resmi? Siapa pesepak bola pertama yang mengalami hinaan rasis?

Mungkin comeback paling dramatis yang pernah terjadi di laga final adalah pada 25 Mei 2005 di Istanbul, tempat tempat dimainkannya final ke-50 Liga Champions UEFA. AC Milan sudah unggul 3-0 di babak pertama. Liverpool berhasil menyamakan kedudukan di babak kedua menjadi 3-3 hingga menit ke-90.. The Reds akhirnya mampu merebut Piala Champions setelah menundukkan I Rossoneri dalam adu penalti.

Sebenarnya kemenangan Manchester United atas Bayern Muenchen dalam final Liga Champions Eropa 1998/1999 pada 26 Mei 1999 juga menyimpan kisah comeback yang dramatis. Muenchen sudah unggul 1-0 hingga menit ke-89. Ternyata United berhasil membuat dua gol dalam menit tambahan dan akhirnya sukses menjadi juara. Namun, pertandingan yang sungguh impresif tersebut tidak dicatat oleh Wernicke dalam buku ini.

Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mahir Pradana dari bahasa Spanyol. Yang menarik, sejarah awal sepak bola sebagai olah raga modern kebanyakan berasal dari Inggris. Judul-judul buku yang mengisi daftar pustaka pun sebagian besar berbahasa Inggris. Jadi, Luciano Wernicke mendapatkan sejumlah data penelitiannya dalam bahasa Inggris, lalu ditulis sebagai sebuah buku dalam bahasa Spanyol, dan akhirnya bisa dinikmati penggemar sepak bola di tanah air dalam bahasa Indonesia.

Buku ini menambah jumlah buku bertema sepak bola yang beredar di Indonesia, yang mesti diakui masih cukup sedikit jumlahnya. Apalagi sejak 2018 lalu sudah tidak ada lagi media cetak sepak bola yang beredar setelah Tabloid BOLA dan majalah Bolavaganza berhenti terbit. Pencinta sepakbola yang gemar membaca bisa sedikit memuaskan dahaganya akan bacaan berkualitas dan bisa menelusuri sejarah sepak bola dengan sukacita.


===================
Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpen dan esainya pernah dimuat di sejumlah media cetak maupun daring. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).  

Mengintip Kehidupan Keras di Jakarta Lewat Wesel Pos Milik Ratih Kumala

1



KALAU memosisikan diri sebagai pendatang yang mengadu nasib di Jakarta, bagi saya, hidup di sana pasti betul-betul tidak mudah melebihi hidup di kampung sendiri. Jangankan mengadu nasib, sehari berada di Jakarta saja saya sudah tidak betah dan menyerah dengan kemacetan, keruwetan, dan udaranya yang begitu panas. Memang, “Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.” (hlm. 1). Lantaran perlu kesabaran, kesiapan fisik dan mental, serta ketahanan yang tinggi agar tidak mati dikalahkan oleh kerasnya Jakarta. Kehidupan keras di Jakarta cukup jelas tergambar dalam Wesel Pos karya Ratih Kumala melalui kisah Elisa Fatunisa yang merantau.

Elisa hendak mengabarkan kematian Ibu pada kakaknya, Ikbal Hanafi, di Jakarta sekaligus mencari peruntungan dengan bekerja di sana. Belum lama tiba di Jakarta, Elisa sudah dihadapkan pada ketidakberuntungan, merasakan kerasnya Jakarta, dan kenyataan-kenyataan yang mengejutkan dirinya. Hidupnya sudah dramatis dan penuh ujian. Mulai dari kehilangan tas yang ia titipkan kepada ibu-ibu penjual kopi keliling, terjebak berjam-jam di kantor polisi, kesulitan menemukan kakaknya akibat informasi yang ia punya tidak lengkap, dicap perek oleh tetangga, hingga disebut sebagai cewek hot oleh bos penjual narkoba.

Berbekal alamat yang tertera pada wesel pos yang dikirim Ikbal, Elisa mencari Ikbal yang sudah lebih dari dua tahun tidak menjumpainya di Purwodadi. Namun, nyatanya tidak segampang yang ia duga. Minimnya informasi membuat Elisa kebingungan ketika ditanya mengenai Ikbal. Beruntung, sekuriti penjaga gerbang gedung di mana Ikbal bekerja menyuruh Elisa bertanya pada Fahri, sopir kantor pribadi Bos Lukman—pemilik Megantara Grup. Selagi mencari Ikbal, Elisa menumpang di rusun tempat Fahri tinggal. Tinggal bersama Fahri pun tidak mudah. Ia kerap menjadi bahan gunjingan dan menerima tatapan penuh curiga yang kurang menyenangkan dari tetangga.

Keesokan harinya, ketika Elisa sedang membereskan isi laci-laci lemari, ia terkejut sekaligus bingung mendapati bukti pengiriman wesel pos dan surat untuk Ikbal yang masih utuh dan belum terbuka—yang ia kirim beberapa minggu sebelum Ibu meninggal. Tak lama setibanya Fahri di rumah, Elisa langsung menanyakan hal tersebut dan mendapati jawaban yang membuatnya kehabisan kata-kata dan tak percaya. Kebenaran akan kiriman wesel pos yang rutin Elisa terima setiap bulan sekaligus menghapus rasa penasaran yang selama ini mengganjalnya. Kenyataan kadang memang menyakitkan dan pada akhirnya diam menjadi satu-satunya hal yang bisa kita lakukan.

Kabar dan segala hal yang ingin diketahui Elisa perihal Ikbal sudah ia dapatkan. Jelas tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain kembali ke kampung. Namun, terjadi sesuatu pada Fahri dan membuat Elisa memutuskan untuk tetap tinggal. Keputusan Elisa merawat Fahri dan kepedulian terhadapnya telah mengubah rencana dan ikatan antara keduanya. Elisa semakin mengenal Fahri dan mengetahui fakta kehidupan keras yang dijalaninya, baik untuk bertahan hidup dan menggantikan Ikbal maupun membantu keluarga yang kesusahan. Cerita kemudian berfokus pada Fahri dan upayanya untuk bisa lepas dari pekerjaan sampingannya sebagai kurir narkoba.

Penokohan yang Kuat dan Wesel Pos sebagai Penutur

Sama dengan dua buku Ratih yang sudah saya baca, penokohan dalam novelet ini pun kuat. Para tokoh yang dihadirkan, baik tokoh utama maupun tokoh yang hanya hadir sekejap, semuanya memiliki peran yang pas dan menggerakkan cerita. Tidak ada tokoh yang sekadar tampil dan mubazir. Salah satunya bisa kita lihat dari sikap empat tokoh yang paling menarik perhatian sejak awal; Elisa, Fahri, Bu Hilda, dan Mas Memet. Keempat tokoh yang, menurut saya, paling menghidupkan cerita. Elisa dengan keluguannya, Fahri dan kehidupan kerasnya, Bu Hilda dengan kekepoan dan penilaian negatifnya, serta Mas Memet dengan kelucuannya.

Kenaifan dan keluguan Elisa tampak jelas sejak cerita dimulai. Kita bisa lihat dari sikap Elisa yang percaya begitu saja kepada penjual yang kelihatannya baik dan menganggap semua pelaku kriminal bisa ditangkap dengan melapor pada polisi—termasuk percaya polisi bisa menangkap gembong narkoba dan membereskan masalah Fahri. Kesederhanaannya terus diuji selama tinggal di Jakarta. Di mata Elisa seperti tidak ada orang yang betul-betul jahat dan semua masalah bisa diselesaikan dengan cara yang menurutnya benar meskipun tidak sesederhana kelihatannya.

Pilihan-pilihan yang diambil Fahri mulanya muncul atas dasar peduli dan pertalian saudara yang, walaupun tidak baik, tetap ada keterikatan. Hal ini terlihat dari niat baiknya untuk memperbaiki hubungan dan menolong sekalipun harus bekerja dengan bos penjual narkoba. Gaji yang pas-pasan dan banyaknya biaya yang mesti Fahri penuhi memaksanya untuk mengambil jalan pintas. Kalau melihat realitas, tokoh Fahri ini tampaknya hampir mustahil ada. Mungkin ada, tetapi saya pikir sangat sulit menemukan laki-laki yang masih bisa bersikap baik ketika bertemu perempuan naif seperti Elisa.

Ratih menggambarkan secara jelas bagaimana kebanyakan orang sering menilai dan berasumsi yang tidak-tidak terhadap seseorang seakan-akan asumsinya benar—misalnya, anggapan umum tentang laki-laki dan perempuan yang tinggal seatap dan bukan muhrim—dan rasa kepo yang besar atas kehidupan seseorang lewat Bu Hilda dan gunjingan lain yang diselipkan dalam narasi. Mas Memet boleh dibilang sebagai penyimbang tokoh Bu Hilda yang cukup menyebalkan. Sebab, kelucuannya mampu menetralkan kesebalan, baik dari cara berbicara, banyolan, maupun ucapannya.

Deskripsi yang detail tentang kebiasaan tokoh, tempat, dan lain-lain membuat ceritanya semakin terasa nyata dan dekat. Namun, sayangnya, penggunaan Wesel Pos sebagai penutur justru terasa semakin hilang menjelang pertengahan buku. Cerita dari kacamata Wesel Pos hanya ada pada empat bagian awal, kemudian keberadaannya tidak diketahui dan sampai bab sepuluh tidak diceritakan lagi sehingga memunculkan keanehan. Lantaran pada bab akhir tiba-tiba muncul penuturan Wesel Pos yang seolah-olah selalu melihat atau tahu setiap peristiwa yang terjadi, baik di unit Fahri maupun di luar. Sudut pandang yang digunakan pun berujung kurang jelas.

Kehidupan kaum kecil yang disajikan dalam Wesel Pos cukup menarik dan memperlihatkan Jakarta yang sulit ditaklukkan, serta orang sakti dan orang sakit yang hidup di Jakarta—meskipun dari segi cerita kurang memuaskan dan kurang gereget karena konflik yang sederhana dan plot yang mudah tertebak. Selain itu, hampir serupa dengan cerita-cerita yang biasa kita jumpai dalam film televisi (FTV). Namun, wajar saja kalau melihat dari bentuknya dan mungkin memang Ratih sengaja mengambil tema yang ringan agar bisa dihabiskan dalam sekali duduk.

Novelet ini tidak berhasil membuat saya takjub seperti ketika membaca Gadis Kretek—novel sarat pesan yang memuat sejarah kretek di Indonesia—maupun kumpulan cerpen menyenangkan berisi cerita-cerita tidak membahagiakan dalam Bastian dan Jamur Ajaib. Akan tetapi, Wesel Pos berhasil menghibur lewat penokohan yang kuat dan penceritaan yang apik. Keadaan kadang mengharuskan kita untuk bertahan dan memilih pilihan ataupun jalan yang bertentangan dengan hati—seperti yang dilakukan Fahri dan Elisa—sekalipun kita tidak tahu kedua hal itu akan membawa kita pada keberuntungan atau kemalangan lainnya, bahkan akhir yang tragis.

Ingatan dari Kehilangan Ibu

0
Judul      : Please Look After Mom
Penulis : Kyung Sook Shin
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetak : Kelima, Februari 2020
Tebal : 296 halaman
ISBN : 978-602-031-540-9


Novel mengharukan berjudul Please Look After Mom (2020) garapan Kyung Sook Shin, bercerita tentang hilangnya Ibu saat hendak mengunjungi anak-anaknya di Seoul. Ayah tidak sadar Ibu terpisah di stasiun kereta bawah tanah dan mengira masih mengikuti dari belakang. Hilangnya Ibu menjadi titik balik memikirkan hal-hal emosional; kasih sayang, buku, makanan, rumah, kelelahan, kebanggaan, kenakalan, sakit, atau cinta yang lain. Namun secara sosial-kultural, kejadian sangat sehari-hari digunakan penulis untuk memikirkan pola asuh, capaian pendidikan, tata kehidupan patriarki, peran domestik, dan masyarakat yang berubah seiring Korea Selatan menjelang modernitas-dari kehidupan agraris ke industri.

Ibu memiliki lima anak dan hampir mengabdikan hidupnya untuk mengurusi keluarga dan rumah. Anak-anak jelas mencintai Ibu, tapi sayangnya Ibu lebih jauh tidak terukur. Ketika Ibu hilang, anak-anak tergugat rasa bersalah dan saling menyalahkan. Ada ketakutan mengakui bahwa mereka tidak lagi menganggap terlalu “penting” Ibu. Kehidupan kerja, karir, dan rumah tangga membuat hubungan berubah. Cerap, “Di suatu titik, percakapan-percakapan antara kau dan Ibu menjadi seperlunya saja. Bahkan itu pun tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui telepon. Paling-paling kau sekadar bertanya apakah Ibu sudah makan, apakah Ibu sehat-sehat saja, bagaimana keadaan Ayah, bahwa Ibu harus menjaga kesehatan supaya tidak masuk angin, bahwa kau akan mengirimkan uang.”

Sering yang terpikirkan Ibu bukan uang dikirim anak, tapi suatu kunjungan atau lebih emosional “kepulangan” ke rumah. Bagi anak menetapkan jejak di kota, pulang justru permintaan terlalu mewah dan sulit. Sebaliknya, Ibu menjelmakan diri pada kiriman-kiriman, terutama makanan yang selalu jadi penghubung sejak anak-anak belia di desa, “Ibu bercerita bahwa dia membuat kimchi dan mengirimkannya sedikit, bahwa dia suka bermimpi aneh-aneh, bahwa dia mengirimkan nasi, atau saus bumbu, bahwa dia merebus sedikit tanaman obat untuk dikirimkan padamu, dan bahwa kau jangan sampai mematikan teleponmu, sebab kurir akan menelepon dulu sebelum mengantarkan paket-paket itu.”

Pendidikan dan Makanan

Dalam kehidupan tradisional bahkan sulit dihilangkan dalam kehidupan modern, keistimewaan selalu milik anak pertama. Kepada Hyong-chol, Ibu meletakkan kasih sekaligus kebanggaan. Hyong-chol pun membalas Ibu dengan personal sangat membanggakan; patuh, pintar, dan mandiri. Anak pertama sering terbebas dari tugas rumah tangga, mendapat makanan terenak, dan setiap kebutuhan didahulukan meski anak pertama juga paling dulu meninggalkan rumah, “Ketika makanan lezat bernama mi ini memasuki hidupmu, dia pun mengalahkan setiap masakan yang pernah dibuat Ibu. Ibu akan membeli mi dan menyembunyikannya di dalam guci kosong di antara deretan guci tanah liat, untuk disimpan sambil menunggu kedatangan Hyong-chol. Tetapi walaupun sudah larut malam, aroma mi rebus pasti membuat kau dan saudara-saudaramu terbangun. Kalau Ibu berkata tegas, “Kalian semua tidur lagi,” kalian semua akan menatap Hyong-chol yang hendak makan. Karena kasihan, dia akan menawarkan sedikit mi pada kalian.”

Meski mengistimewakan anak pertama, masalah pendidikan anak sama ambisius bagi ibu tradisional ataupun modern Korea-di desa dan di kota. Sejak Korea memodernkan diri usai Perang Korea, pendidikan tidak hanya dinikmati oleh kaum ningrat dan konglomerat. Di sini, kegigihan Ibu mengumpulkan uang tampak di sela kerja dosmetik. Bahkan, jenis kesempatan ekonomi Ibu sangat domestik. Cerap, “Di desa ada keluarga yang memproduksi tahu, dan ketika ibu membawa raginya kepada mereka, mereka menjualnya ke pabrik bir dan memberikan uangnya kepada Ibu. Ibu menyimpan uang di dalam sebuah mangkuk putih, menumpuknya di bawah enam atau tujuh mangkuk lainnya, lalu menaruhnya di atas deretan lemari […] Kalau kau membawa pulang lembar tagihan uang kuliah, Ibu mengambil uang di mangkuk itu, menghitungnya, dan menaruhnya di tanganmu.”

Pukulan telak datang ketika Hyong-chol ternyata tidak lulus ujian universitas. Rencana hidup harus lekas dibelokkan. Hyong-chol memilih ikut ujian pegawai negeri, bekerja, dan mengambil kelas hukum di malam hari. Hyong-chol tidak bisa “berleha-leha” menunggu pendaftaran tahun depan. Di kondisi ini, jelas Ibu paling merasa bersalah dan terus mengatakan, “Maafkan Ibu, Hyong-chol.” Meski Hyong-chol akhirnya makmur bekerja di wilayah properti, tetap ada kekecewaan besar tidak bisa menyokong mimpi anak laki-laki.  

“Tidak ada yang namanya orangtua yang santai,” tulis jurnalis Myung Oak Kim dan Sam Jaffe di buku The New Korea (2013). Orangtua di Korea sangat mengemban peran dan pengasuhan dengan sangat serius. Capaian pendidikan salah satunya, menjadi indikator keberhasilan menjadi orangtua. Jika anak sakit atau gagal bahkan gagal sebagai manusia sukses kala dewasa, selalu berarti orangtua salah. Setiap tindakan perlindungan, semangat, dan tata asuh yang teliti sejak belia, memuat konsekuensi pada nasib anak di masa mendapat.

Secara emosional, Ibu hampir selalu ada dalam hari-hari tumbuh anak meski secara intelektual Ibu bukan orang terdidik. Hari-hari Ibu di dapur pun dijadikan Kyung Sook Shin membabar peran domestik yang terlalu dibebankan pada perempuan. Setelah Ibu menghilang, mereka sadar tidak pernah menanyakan apa benar-benar disukai Ibu. Ibu selalu di dapur sebagai keharusan dan tidak pernah ada anak yang menggugatnya. Begini, “Masih ingat betapa besar periuk nasi kita? Dan ibu mesti menyiapkan makan siang juga untuk kita semua, termasuk semua lauk sampingan yang dibuatnya dengan bahan apa pun yang bisa didapatnya di desa…Bagaimana Ibu menjalani itu setiap hari? […] Kau tak pernah membayangkan sosok Ibu di luar dapur. Ibu dan dapur seolah sudah menyatu dan tak terpisahkan. Ibu adalah dapur dan dapur adalah ibu. Kau tidak pernah bertanya-tanya, “Sukakah Ibu berada di dapur?”

Ingatan dapur secara sengaja disodorkan kepada Chi-hon, anak ketiga, perempuan, mandiri, berkarir sebagai penulis cerita anak, dan belum menikah di usia yang menurut tata sosial sudah seharusnya menikah. Di sini, dapur pun menjadi ruang antara gagasan modern dan tradisional. Bagi Ibu, memasak harus dilakukan suka atau tidak suka. Tata sosial dan pengasuhan menjadikannya seolah wajib. Bagi Chi-hon, peristiwa dapur dipersepsikan sebagai pilihan untuk dijalani atau ditolak.

Penikmat film, drama, atau prosa Korea, tentu sangat sadar peristiwa makan sesederhana apa pun bentuknya, pasti hadir dalam kehidupan para tokoh. Bahkan meski arus urbanisasi semakin menuntut berpindah dari kehidupan komunal ke individual, makan tetap membawa pengingatan kepada keluarga, kebersamaan, kasih sayang. Anjuran selamat makan, makan yang banyak, makanlah dengan kenyang, atau ayo makan dulu memang terdengar biasa saja, tapi menyiratkan ekspresi penguatan mental menghadapi hidup. Korea memiliki masa lalu menyakitkan dijajah Jepang lalu perang saudara yang pernah membawa pada krisis identitas sekaligus pangan. Makan dengan kenyang secara politis, juga menunjukkan ekspresi pembebasan.

Di Look After Mom, Kyung Sook Shin memang akan selalu membawa ingatan kembali pada makan dan makanan. Ibu sering tampak di pekarangan, dapur, dan rumah. Lewat makanan, Ibu menciptakan dunia yang aman, membebaskan anak dari lapar, dan menyiapkan amunisi paling emosional. Cerap, “Bahkan waktu aku sibuk bukan main sehingga tidak sempat membetulkan ikatan handuk di kepalaku, kalau melihat kalian duduk di seputar meja, sambil makan dan menyembunyikan sendok dengan berisik di mangkuk-mangkuk, rasanya tidak ada lagi yang kuinginkan di dunia ini. Kalian semua begitu gampang. Kalian makan dengan lahap walau aku hanya membuat sayur labu dan kacang yang sederhana, dan wajah kalian berseri-seri kalau aku mengukus ikan sesekali […] Kalau aku menanak nasi sepanci besar dan membuat sup di panci yang lebih kecil, aku tidak memikirkan betapa capeknya aku. Aku hanya merasa senang karena semua makanan itu untuk mengenyangkan anak-anakku.”

Sembilan bulan Ibu menghilang, sama lama Ibu mengandung anak-anak. Sampai akhir novel Kyung Sook Shin tetap membuat Ibu tidak ditemukan. Lacakan mengarahkan ke tempat-tempat yang dulu pernah didatangi Ibu. Jangan-jangan, Ibu memang sengaja menghilang-sengaja tidak ingin ditemukan. Ibu barangkali sadar kehidupan (anak-anak) perlahan berubah. Segala upaya Ibu tidak akan sanggup melawan dekapan modernitas, terutama yang ditawarkan oleh pesona kota.



====================
Setyaningsih, Esais dan penulis Kitab Cerita (2019). Tinggal di Boyolali.


Kegamangan dan Keterombang-ambingan: Bagaimana Umat Manusia Menyikapi Realitas Pasca-Manusia yang Menantinya

0
Judul Buku   : Asteroid dari Namamu
Penulis      : Galeh Pramudianto
Penerbit     : Basabasi
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, 2019
Halaman      : 128
ISBN         : 978-602-5783-65-4

Sebuah realitas di mana alam semesta sebagai makrokosmos dan manusia sebagai mikrokosmos bertemu, dan menyatu, lantas hadir dalam sebentuk simultanitas. Sebuah realitas di mana teknologi sebagai citraan masa depan yang digital dan permenungan sebagai aktivitas masa kini yang analog bertemu, berbenturan, atau berkelindan satu sama lain. Sebuah realitas di mana realitas itu sendiri digugat, dipertanyakan-ulang, dicoba-lampaui, dalam upaya menuju sebuah realitas baru yang dijalani oleh entitas-entitas pasca-manusia. Itulah kiranya yang coba ditawarkan puisi-puisi Galeh Pramudianto dalam Asteroid dari Namamu (BasaBasi, 2019), khususnya di bagian pertamanya—Setelah Dentuman Besar.

Yang menarik dari apa yang ditawarkan Galeh ini, tentu saja, adalah hadir dan terasanya sebuah situasi tarik-menarik, sebentuk tegangan, dan kita selaku pembaca dibuat terjebak di dalam situasi ini, terombang-ambing, seperti gamang akan dibawa ke mana dan menjadi (si)apa di sana. Sewaktu-waktu kita diajak untuk berpikir bahwa realitas analog yang sampai saat ini masih kita jalani akan terlewati, akan terlampaui sebagai sesuatu yang silam, namun di waktu-waktu lain kita didorong untuk beranggapan bahwa realitas digital yang serba-mudah dan serba-praktis yang akan menggantikannya itu bukanlah sesuatu yang baik bagi kita; sebab ada sejumlah banyak kegelapan yang menyertainya dan mereka pada akhirnya bisa saja akan menghancurkan kita. Umat manusia di ambang menuju kehancuran tersebut dan seperti tak punya cukup daya dan kuasa untuk mencegahnya terjadi, dan si pemeran utama dalam membayangnya ancaman ini tak lain dan tak bukan adalah mereka sendiri. Homo sapiens membentuk masa depan mereka, di planet ini, di alam semesta ini, dan masa depan itulah yang kelak akan menyingkirkan mereka, membuat mereka punah.

Akan tetapi realitas yang dihadirkan Galeh dalam puisi-puisinya tidak semuram dan segelap itu. Masih ada sebentuk optimisme, meski sekilas kadang tak terasa seperti optimisme. Ia hadir dalam wujud perayaan-perayaan atas realitas yang saat ini tengah berjalan, yang cenderung sangat individual dan personal, yang sebagian berasal dari permenungan sebagai aktivitas analog tadi. Adapun wujud konkretnya bisa berupa kesedihan, atau kerinduan, atau harapan, atau perasaan yang membuai; hal-hal yang akan lekas mengingatkan kita bahwa kita masih manusia dan bahwa realitas analog yang tengah kita jalani inilah yang paling nyata, yang secara konkret benar-benar ada—kita indrai dan rasakan dengan tubuh dan diri kita. Kita mungkin memang dihadapkan pada akan datangnya realitas pasca-manusia yang muram dan gelap itu, tetapi bukan berarti kita lantas akan melupakan realitas yang tengah kita jalani saat ini. Kita bisa menikmatinya, atau paling tidak menenggelamkan diri kita di dalamnya.

Simak, misalnya, satu bait dari puisi berjudul “Partikel Hantu” ini—efek cetak miring dari saya: di hadapan cinta/ bunuh diri terjadi/ berulang kali. Sesuatu yang sentimental. Sebuah permenungan yang memaksa kita menjejak di saat ini. Bait ini diletakkan tepat sebelum bait terakhir yang benar-benar jauh dari sentimentalitas itu, yang juga menjauhkan kita dari diri personal kita: di hadapan neutrino/ massa tak kasatmata/ dan lesap di kerak bumi. Sedangkan situasi yang adalah paduan dari keduanya kita dapati saat membaca satu bait panjang tepat sebelumnya, yang menguatkan efek terombang-ambing yang kita rasakan itu:  sesuatu telah datang/ dan aku melihatmu bergantungan/ dari selubung ke selubung/ dan materi bergelayut tak pasti/ seperti parafrenia/ di atas bukit/ atau gema tak berujung/ menggelepar di ekor/ dan memantul di dinding detektor. Bisa kita lihat, yang saintifik dan yang personal bertemu, mungkin berusaha menyatu, atau justru saling menghantam satu sama lain. Sebuah realitas yang kita singgung di awal tadi. Sebuah realitas yang menjebak kita di dalam kegamangan dan keterombang-ambingan. Dan kita, Homo sapiens, bisa memilih untuk menenggelamkan diri kita di dalamnya; mencoba menikmatinya.

Hal serupa kita dapati di puisi berjudul “Setelah Dentuman Besar”. Simak salah satu baitnya ini: Setelahnya/ yang terjadi adalah/ daun-daun gugur/ pohon trembesi menjadi besi/ bangku taman punah/ bersama tanah-tanah terjajah. Lagi-lagi sebuah sentimentalitas, meski kali ini sifatnya cenderung komunal alih-alih individual, politis alih-alih personal. Dan berikut bait setelahnya: Semesta kian meluber/ membeberkan ihwal nasab/ di tikungan nasib/ menggarami udara kian muhal/ menjelma teriakan penuh sesal. Dan berikut bait sebelumnya: Gugusan galaksi mewarnai/ kelahiran bintang menerjang cahaya/ tirai kosmik telah terbuka/ pada horison suatu masa/ telah menjadi kalender abadi/ dihadirkan Tuhan ataupun entah. Dua bentangan makrokosmos. Keduanya mengapit mikrokosmos tadi. Sebagai akibatnya keterombang-ambingan pun jadi sesuatu yang niscaya. Kita sebagai pembaca dibawa untuk mengalami keduanya secara bergantian, dalam sebuah pengalaman yang dari dekat mungkin terasa temporal namun dari jauh terasa spasial; seakan-akan ada sebentuk simultanitas jika kita melihat si puisi secara keseluruhan. Dan apa yang kemudian kita rasakan, selain keterombang-ambingan itu? Tentu saja kegamangan yang kita singgung di awal tadi. Kita tidak tahu akan dibawa ke mana atau menuju ke mana. Dan kita pun tidak tahu di sana kita akan menjadi (si)apa. Dan dari kegamangan ini muncul permenungan-permenungan lain, pertanyaan-pertanyaan eksistensial lain, seperti tergambarkan di sebuah bait puisi berjudul “Setelah Data” ini: aku seperti ikan di sebuah hologram/ diproyeksikan ke permukaan bak air/ tenggelam dalam enigma kaca/ dan dinding-dinding kolaps di sekelilingmu/ menembus ruang dan menguliti waktu.

___

Kegamangan, keterombang-ambingan; dua hal ini senantiasa membayang-bayangi kehidupan kita, sejak dulu, sedari si “manusia pertama” ada. Kita seperti “bermukim/ pada geliat cemas/ yang tak pernah padam”, sedangkan “waktu terus menderu/ bersama kidung antariksa”—dari puisi berjudul “Bintang Jatuh”. Kita seperti “datang untuk sehelai jawaban”, namun malah “pergi dengan berlembar-lembar/ pertanyaan”—dari puisi berjudul “Hibernasi”. Namun ada satu kabar baik: kegamangan dan keterombang-ambingan ini mendorong kita untuk bergerak maju, membangun peradaban demi peradaban, mengembangkan sains dan teknologi untuk membentuk masa depan kita sendiri; sebuah masa depan yang, dalam bayangan kita, akan bisa kita kendalikan, akan bisa memberi kita kebaikan-kebaikan. Sayangnya, ada juga kabar buruknya. Dalam upaya membentuk masa depan yang kita bayangkan tersebut kita melakukan kesalahan demi kesalahan, kita berbuat kerusakan demi kerusakan, dan pada akhirnya yang dilahirkannya kemudian adalah kegamangan dan keterombang-ambingan itu, sehingga kita seperti terjebak dalam semacam siklus penderitaan yang mungkin kekal. Semula kita mengira kita “lebih dekat dengan bintang”, bahwa pencarian yang kita lakukan adalah “pencarian cahaya”, namun ternyata yang sebenarnya kita lakukan adalah “pencarian kegelapan”, dan kita pun kembali “terpental dari surga”, “jatuh ke bumi karena dosa”—dari puisi berjudul “Hibernasi”. Dan dengan “dosa” yang kita tanggung inilah kita kembali memulai perjalanan kita di dunia ini, sebagai manusia.

Dan itu artinya kita akan kembali berhadapan dengan momen-momen sentimental tadi, dengan saat-saat di mana diri personal kita muncul, seperti tergambarkan di puisi berjudul “Multisemesta”. Dua barisnya ini, misalnya: Aku mendengar suaramu jauh dari sini/ pantulan gemanya memanggil-manggil namaku. Membiarkan diri kita tenggelam dalam sentimentalitas ini, kita lantas “mengembung menjadi gelembung tak terhitung/ serupa air yang dididihkan dalam panci”. Namun ingat, sebab kita bisa memilih untuk menikmatinya, kita bisa mencoba untuk merangkul sedikit optimisme: bicaralah padaku kasih/ meski kau jauh dan dikerubungi pilu/ suaramu masih terdengar nyaring. Dan sekali lagi kita pun menjejak di saat ini, mencoba menikmati realitas yang tengah kita jalani ini. Memang kita masih merasa gamang dan terombang-ambing, dan dari situ permenungan-permenungan muncul, dan yang kita dapati setelahnya hanyalah pertanyaan-pertanyaan eksistensial lainnya, tetapi kita tak perlu terpuruk, sebab kita bisa mencoba meyakini bahwa jawaban untuk pertanyaaan-pertanyaan tersebut akan kita temukan suatu hari nanti, meski mungkin bukan oleh kita tetapi oleh orang-orang setelah kita, seperti tergambarkan di bait ini: Apakah kita sendirian?/ pertanyaanmu tertanam/ di benih waktu/ dan bisa kita tuai/ setelah kepunahan kesekian.

Kita, dengan kata lain, bisa memilih untuk tidak menjalani kehidupan ini dalam kemurungan yang tak habis-habis, yang pada akhirnya bisa membuat kita putus asa. Caranya sekali lagi adalah dengan menikmati momen-momen sentimental itu, dengan menenggelamkan diri kita di dalamnya, lantas mencoba-leburkan yang sentimental dan personal itu dengan yang rasional dan saintifik. Bisa jadi kemurungan itu masih ada, masih benar-benar ada, namun ia justru bisa membuat kita jadi kuat, dan optimis. Dan kepada seseorang yang kita cintai kita pun mengatakan sesuatu seperti ini: cintaku padamu seperti kehancuran dunia/ akan tiba pada suatu masa/ semesta membeku dan lenyap/ dan kita masih bebal pada suatu harap. Atau sesuatu lainnya seperti ini: kita melipat jarak dengan sebuah pertanyaan/ di mana waktu berhenti oleh hangatnya ketidakpastian.

___

Makrokosmos dan mikrokosmos, ketika keduanya bertemu, pada akhirnya tak saling menghilangkan satu sama lain. Justru keduanya saling melengkapi, memperkaya realitas yang tengah kita jalani. Dan kita tentulah masih menjalaninya sebagai manusia, sebagai bagian dari satu-satunya spesies Homo yang tersisa di planet ini. Dan sebab melakukan permenungan demi permenungan adalah sesuatu yang natural bagi kita, kita pun terus melakukannya, dari waktu ke waktu. Kita, misalnya, untuk kesekian kalinya bertanya-tanya apa itu surga, seperti apa itu kehidupan setelah kehidupan ini. Dan, sebagaimana yang kita dapati di salah satu bait puisi berjudul “The Conquest of the Pole”, kita pun menyimpulkan seperti ini: atau barangkali/ surga sudah abadi/ dalam petualang kepala/ dan tubuh yang terpenggal/ mengerucut di arus komikal/ hingga/ kamera telah berpindah/ dan penonton tenggelam/ dengan indah.

Permenungan-permenungan seperti inilah yang membuat kita tetap manusia. Dan di tengah ancaman akan datangnya masa depan yang didominasi oleh entitas-entitas pasca-manusia, permenungan-permenungan tersebut jadi terasa begitu penting, sebab dengan melakukannya kita seperti melakukan perlawanan terhadap realitas pasca-manusia yang tengah menanti dan mengancam kita itu. Tidak apa menjadi sentimental. Tidak apa sesekali tenggelam di dalam sentimentalitas dan kembali mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya telah berulangkali dipertanyakan. Itu bagian dari meng-ada di kehidupan ini sebagai manusia. Itu sesuatu yang sewajarnya kita lakukan sebagai manusia. Terkait hubungan personal dengan seseorang yang kita cintai, misalnya, seperti tercantum di puisi berjudul “Kucing Schrödinger”, kita bisa bertanya seperti ini: Jika kucing Schrödinger/ dapat hidup dan mati/ di waktu bersamaan/ mengapa aku tidak bisa/ memilikimu/ di saat aku/ kehilanganmu? Atau, sebagaimana tercantum di puisi berjudul “Saturnus”, kita bisa berkata seperti ini: Aku ingin berjalan/ dalam lengkung cincinmu/ atau terbang menuju bulan/ Di haribaan Titan/ tanpa majal ataupun ajal.

Sentimentalitas. Permenungan-permenungan yang mengarahkan kita ke sentimentalitas. Rupa-rupanya bagi kita hal ini begitu penting sampai-sampai kita tak bisa menjalani hidup tanpa melakukannya, tanpa berhadapan dengannya, tanpa menenggelamkan diri kita di dalamnya. Jika masa depan berupa realitas pasca-manusia itu kita posisikan sebagai sesuatu yang mengancam eksistensi kita, yang pada akhirnya akan membuat kita punah dengan sendirinya, melakukan permenungan-permenungan itu bisa jadi sebuah coping mechanism, sebuah coping strategy, agar kita bisa bertahan dan bertahan, agar kita bisa mencoba sedikit optimis dan bergerak maju. Sebab hidup ini, sebagaimana dikatakan si aku-lirik dalam puisi berjudul “Fragmen Nördlingen”, “bisa jadi anugerah/ bisa jadi keluh kesah”, namun kita bisa mencoba untuk “percaya bahwa hantaman/ ialah halaman panjang masa depan”. Kita umat manusia masih punya masa depan, dengan kata lain. Atau paling tidak kita bisa berharap masa depan itu ada, yakni sebuah masa depan yang, dalam bayangan kita, akan bisa kita kendalikan dan memberi kita kebaikan-kebaikan.

Namun tidakkah itu berarti kita menipu diri kita sendiri, sebab itu tak ubahnya kita membayangkan sesuatu yang baik akan menyambut kita padahal kita sesungguhnya yakin betul bahwa yang akan menyambut kita itu adalah sesuatu yang buruk—bagi kita? Itu pertanyaan bagus. Benar-benar pertanyaan bagus. Kerusakan-kerusakan yang telah diperbuat umat manusia di planet ini, kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan sejauh ini, memang lebih berpeluang membuat planet ini kelak tak akan lagi bisa kita huni. Dan realitas pasca-manusia yang menanti kita itu, kiranya, tak akan seramah dan sebaik yang kita harapkan. Tetapi ia, masa depan tersebut, sejatinya masihlah sesuatu yang belum konkret, yang belum benar-benar ada, yang masih hanya ada di dalam bayangan kita. Dan kalaupun memang ia seburuk itu, kita toh tidak tahu pasti akan menjadi seperti apa kita di saat itu, ketika ia akhirnya menjadi konkret dan benar-benar ada. Kita, dengan kata lain, mungkin tak perlu juga terpuruk memikirkannya. Dan sebagai gantinya kita bisa menikmati apa yang ada saat ini, realitas yang tengah kita jalani ini, hal-hal yang benar-benar konkret dan kita tahu pasti itu apa. Mengutip pernyataan si aku-lirik di puisi berjudul “Lubang Hitam”: hitam bukanlah warna/ ia hanyalah kisah-kisah peragu/ yang tak tahu ke mana/ akhirnya akan dibawa.(*)

—Cianjur, 22 Maret 2020

======================
Ardy Kresna Crenata tinggal di Bogor Kumpulan cerita pendek termutakhirnya: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelanya: Realitas & Kesadaran (BasaBasi, 2019).

Terbaru

Di Atas Kesunyian Perahu

Yunus AS di Perut IkanYunus tak tahu masih berapa lama. ikan di perutnya menelan dirinyatak ada laut yang...

Aku, Kamu dan Riuh Angin

Dongeng…

Sophia

Dari Redaksi