Buku

Home Buku

Komunitas Lokal : Masyarakat Pasca-Negara dan Tantangannya

0

 

Judul Buku   : Politik Jatah Preman: Ormas dan Kuasa Jalanan di 
               Indonesia Pasca Orde Baru 
Penulis      : Ian Douglas Wilson
Penerbit     : Marjin Kiri
Cetakan      : Pertama, 2018
Tebal Buku   : 315 halaman 
ISBN         : 978-979-1260-83-1   

MULANYA saya tahu buku ini sewaktu masih mahasiswa, tepatnya di penghujung tahun 2018. Kala itu, penerbit Marjin Kiri mengadakan acara bedah buku di salah satu toko buku yang ramah harga pada pembelinya. Ian Douglas Wilson, penulis buku tersebut datang bersama dengan tim penerbit. Selang beberapa hari sebelumnya buku ini telah launching di Jakarta, kemudian melawat ke Yogyakarta, demikian ujar mas Rony Agustinus dari Marjin Kiri. Di sore yang kemarau, saya berangkat bersama dua orang teman yang belum lama membuat penerbit kecil, dan telah menerbitkan buku tentang kajian kuasa yang serupa dalam konteks media, rencananya buku tersebut akan diberikan pada Ian Wilson, sambil berharap ia mau di potret bersama buku itu untuk kepentingan promosi penerbitan yang baru berdiri.

Beberapa bulan yang lalu, buku Politik Jatah Preman ini sempat dibedah pula oleh sebuah komunitas di Tasikmalaya, namanya Komunitas Kuluwung, kebetulan saya ikut serta di dalamnya. Pertama, adalah usaha membaca karya buku tersebut pada konteks sosial-politik di daerah, terlebih menjelang pilkada serentak waktu itu. Kedua, pada bulan sebelumnya, komunitas mengadakan serial kelas politik, yaitu upaya memberikan pendidikan politik dan usaha melihat realitas sosial kemasyarakatan di lingkungan komunitas itu sendiri.

Buku ini adalah hasil riset seorang antropolog asal Australia bernama Ian Douglas Wilson. Penelitian ini memadukan narasi sejarah, sosiologi politik, dan etnografi. Kurun waktu yang dikerjakan sejak 2006 hingga 2014, menjadi semacam catatan pinggir disamping penelitian pada periode tahun sebelumnya (1999-2001). Ian Douglas telah tinggal di Bandung, menggarap riset doktoral tentang sejarah organisasi dan politik pencak silat. Jika boleh dikata, akan lebih teruraikan, dalam membaca buku ini, lebih dulu kita membaca karya lain, oleh Wijaya Herlambang berjudul Kekerasan Budaya Pasca 1965 (terbit pertama kali tahun 2013), diterbitkan oleh penerbit yang sama, yaitu Marjin Kiri. Dengan begitu, kita akan melihat bagaimana Orde Baru dan kekerasan non-negara terus terjadi bukan karena negara dengan sengaja melakukan pembiaran, tetapi karena kenyataan bahwa elite-elite politik dan ekonomi mengandalkan kekerasan itu untuk mengkonsolidasi kekuasaan dan kepentingan mereka sendiri.

Ian Wilson memaknai Istilah “jatah preman” sebagai hubungan di mana kekuatan koersif dan intimidasi dipakai untuk meraih uang, sumber daya, atau dengan dalih menawarkan jasa pengamanan dari ancaman eksternal. Dengan kata lain, sumber dan solusi bagi ancaman itu, ya, dia-dia juga; sang preman tampil sebagai pelindung sekaligus pemeras. Tradisi Weberian, menyebutnya sebagai kekerasan, kekuasaan, dan legitimasi.

Dalam logika negara, hal itu dianggap sebagai balasan dari upeti warga, negara mengklaim sedang melindungi mereka dari ancaman yang sebenarnya imajiner, atau merupakan produk dari praktik-praktik negara itu sendiri.  Dilihat dari dinamikanya, Ian Wilson mengemukakan bahwa jatah preman merupakan bagian dari produk kurun sejarah, dan sebagai tahap pembentukan negara. Dalam pandangan Horkheimer, hal ini disebut sebagai “arketipe dominasi”, yaitu suatu prinsip historis yang akan mewujud bukan karena waktu dan tempat, namun bila sesuai dengan kondisi khusus dari waktu dan tempat tertentu.

Dilihat dari lanskap sejarah sosial-politik Nusantara, kehidupan jatah preman terjadi ketika realitas politik sedang mengalami pertikaian. Pada abad ke-19, seiring dengan menguatnya pemerintah kolonial yang terorganisir secara birokratis, membuat jagoan lokal perlahan-lahan terpinggirkan. Mereka tergusur dari peran tradisional dalam kehidupan modern. Guna mengkonsolidasi kekuasaannya, Belanda mengukuhkan pemerintahan tak langsung yang bersifat paralel, dan dikepalai oleh para pejabat pribumi yang dikenal sebagai bupati dan pangreh praja. Di tingkat desa, semua yang menyerupai monopoli atas kekerasan berada dalam wilayah jago/preman, dengan begitu setiap upaya untuk mengukuhkan “tatanan” mau tak mau harus mengikut-sertakan para preman itu.

Periode Orde Baru, di mana geng-geng preman kian terlembagakan guna pemeliharaan kekuasaan negara, dan pengumupulan pajak. Dalam perekonomian upah rendah Orde Baru, di mana akses kemakmuran kaum miskin kota sangatlah terbatas, premanisme bagi sebagian orang menjadi strategi penghidupan yang rasional untuk mengakses surplus kemakmuran ini melalui setoran liar. Pada periode sebelumnya, tercatat pula pada periode sebelumnya, Partai Komunis Indonesia (PKI) secara aktif merekrut para jawara/preman ke dalam jajarannya.

Seperti halnya partai-partai politik hari ini, PKI melihat jawara sebagai perantara antara pejabat partai dan penduduk lokal, dan pengaruh mereka terbukti krusial dalam memperoleh dukungan luas di kalangan tani, baik melalui ancaman kekerasan dan kemampuan mengelola pengerahan tenaga kerja. Para pemimpin PKI menyatakan bahwa jawara berkomitmen pada cita-cita kerakyatan, padahal kenyataannya aksi-aksi kriminal terus mereka jalankan.

Salah satu yang paling kentara dari warisan Orde Baru adalah politik identitas, politik belah bambu berimplikasi pada populisme Islam. Hal ini terjadi karena pergeseran ideologi dan simbolisme negara. Simbol-simbol, semakin banyak diambil dari identitas-identitas teritorial yang bersifat komunal dan sub-nasional. Kepentingan predatoris berkelindan dengan klaim-klaim hak dari berbagai kelompok etnis dan komunal, serta agenda-agenda “moral” kebangkitan Islam Politik.

Fenomena tersebut masih bisa kita lihat hingga belakangan tahun yang terjadi; pemilu DKI yang turut memenangkan Anis Baswedan, hingga kepulangan Rizieq Shihab dari Saudi Arabia. Meski sepintas hanya terjadi di Jakarta, namun memiliki pengaruh meluas di kota-kota lain. Kekuasaan yang dilakukan Orde Baru, dan citra-citra keragaman lokal, terseragam dan terporoskan di Jakarta seluruhnya, maka ia berakibat menjadi desentralisasi koersif.

Seorang pemikir budaya bernama Hilman Farid, mengatakan bahwa sejarah Orde Baru adalah sejarah kekerasan. Ia menggambarkannya sebagai mesin raksasa kekerasan negara, meski ambisi totaliter melalui lembaga-lembaga negara tidak sepenuhnya tercapai. Meskipun kekuasaan Orde Baru telah berakhir, format dalam struktur lembaga-lembaga negara itu masih tergunakan dalam konteks sosial yang berubah saat ini.

Maka, di akhir pembahasan buku ini, Ian Wilson berusaha mensintesakan atas kajian mendalamnya terkait ormas dan negara, bahwa tantangan dan solusi terkuat untuk menghadapi para milisi dan preman populis serta patron-patronnya, adalah kekuatan-kekuatan sosial kontra-hegemoni, yaitu bentuk-bentuk pengorganisasian akar-rumput, salah satunya komunitas lokal terpelajar. Karenanya, mereka terhubung langsung pada basis-basis sosial-budaya dan ekonomi, sebagai bagian langsung dari dirinya.

Premanisme akan tergerus dengan munculnya komunitas-komunitas lokal, yang mampu berbicara dan menembus langsung pada jantung permasalahan, kebutuhan warga masyarakat, dan kaum mustadl’afin pada akses layanan publik; yaitu pendidikan, jaminan sosial, layanan kesehatan, ruang-ruang kreatif, lingkungan hidup konflik agraria, hingga pemberantasan korupsi oleh abdi negara dan para elite, yang telah melumpuhkan negara untuk menghadirkan semua itu secara efektif.





===================
Mohammad Hagie menyelesaikan studi di ilmu sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, sedang menekuni dunia antropologi dan kesusastraan. Bergegiat di Komunitas Kuluwung, dan bekerja penuh waktu di Langgar.co

Mengasah Aktualisasi Diri bersama Beauvoir

0
Judul Buku   : Beauvoir Melintas Abad
Penulis      : Ester Lianawati
Penerbit     : EA Books
Cetakan      : Pertama, Juli 2021
Tebal Buku   : xiv + 418 halaman 
ISBN         : 978-623-96940-4-3   


USAI menyelesaikan buku non-fiksi Beauvoir Melintas Abad, saya berpikir bahwa karya Ester Lianawati ini sepertinya perlu dibaca oleh para remaja—baik remaja awal usia 11 – 14 tahun, remaja pertengahan usia 15 – 17 tahun, atau pun remaja akhir usia 18 – 21 tahun. Pada rentang usia tersebut manusia sedang senang dan bersemangat mengolah eksistensinya; dan sejumlah gagasan Beauvoir tentang eksistensialisme di dalamnya sangatlah menarik untuk dicerna oleh mereka.

Buku terbitan EA Books ini hadir dengan narasi yang mudah dicerna; ditambah hadirnya detail catatan kaki, membuat pembaca tak perlu menjeda pembacaan mereka hanya untuk mencari informasi tambahan di internet. Dua poin tersebut, bagi pembaca serius dengan referensi memunjung, mungkin akan terbaca boros dan berpotensi mengurangi bobot keseriusan sebuah buku biografi—karena segalanya dijelas-jelaskan dengan bahasa sederhana, sehingga kompleksitas narasi tidak kental. Akan tetapi, dari sudut pandang seorang pendidik, saya nyatakan buku ini tergolong ramah pembaca awam.

Selain tiga poin di atas, konsistensi Lianawati menulis keterangan judul buku, judul naskah drama, dan judul artikel karya Simone de Beauvoir dalam bahasa asli ialah tambahan poin yang juga menarik. Hal tersebut, bagi saya, merupakan sebuah penghormatan, sekaligus—sadar tak sadar—upaya mendekatkan diri dengan sang filsuf melalui bahasanya: bahasa Prancis.

Beranjak ke isi buku, begitu membaca daftar isi, kita akan tahu bahwa buku ini disusun secara kronologis usia Beauvoir. Terdapat tujuh bab yang di dalamnya muncul juga sub-bab; betapa detail! Dan, tentu saja, Bab 1 dimulai dengan cerita tentang kelahiran sang filsuf, bagaimana latar belakang keluarga dan posisi mereka di strata sosial masyarakat Paris, juga perbedaan metode asuh ayah dan ibunya terhadap dirinya dan saudara perempuannya, Hélène Bertrand de Beauvoir—yang kemudian dipanggil Poupette. Metode asuh ini pun ternyata, nantinya, menjadi titik balik kesadaran seorang Simone de Beauvoir dalam menyikapi dunia.

Demikian, kegelisahan atas identitas dan laku eksistensi diceritakan mulai dari Bab 2, dan semakin menggairahkan—dalam hal gejolak darah muda—beranjak ke Bab 3 yang membahas kegigihan Simone de Beauvoir untuk bersaing sekaligus menjalin persahabatan sejati dengan Zaza, salah satu sosok berpengaruh dalam hidupnya.

Beauvoir dan Zaza lahir dengan privilese kelas sosial, tapi posisi tersebut tak lantas membuat mereka terlena dan ikut arus gaya hidup kaum borjuis; alih-alih berusaha berenang melawan arus. Mendapati Zaza frustasi berhadapan dengan lingkungan yang memosisikan perempuan sebagai manusia serba dibatasi geraknya—baik gerak tubuh atau pun gerak pikiran, membuat Beauvoir bertanya-tanya perihal lingkungan tempatnya tumbuh.

Mengerucut ke perjalanan hidup Beauvoir di ruang intelektual, persaingan sengit pun tergambarkan dilakoni oleh Beauvoir secara mengagumkan. Ia, yang tidak mengalami kesulitan mengakses institusi pendidikan tinggi, berkegiatan di ruang redaksi media massa, serta ruang publik yang bersifat intelektual, sempat dianggap tak peka terhadap kondisi perempuan pada masa itu. Dalam buku ini, sikap-sikap Beauvoir atas itu dijelaskan secara runut. Tersurat terjelaskan bahwa—nantinya—roses berpikir seorang perempuan bukanlah hal di luar kenormalan; mereka hanya belum diberi kesempatan seluas yang diberikan kepada laki-laki.

Meski terbaca banal—sebab isu macam di atas sudah sering dibahas oleh banyak orang dewasa ini, kisahan Beauvoir terbilang berbeda. Ia mengalami pergeseran sikap meski nilai yang dijunjung tetaplah sama, malahan makin mengkristal. Salah satu dari pergeseran tersebut ialah pengakuan dirinya sebagai seorang feminis yang baru terjadi setelah ia menginjak usia paruh baya. Sebelumnya, bahkan, Beauvoir merupakan seorang yang dibenci banyak kelompok feminis kala itu.

Satu dari sekian banyak penyebab dirinya dibenci adalah prinsip hubungan asmara yang dijalinnya bersama Jean-Paul Sartre. Prinsip cinta esesial yang, hingga kini masih kontroversial/tabu karena tak kunjung “normal” di masyarakat, secara detail dibahas dalam buku ini. Hal tersebut, saya pikir, akan jadi kacamata yang menarik bagi para pembaca dalam memandang hubungan asmara. Bahwa di dunia ini, bahkan lebih dari seabad lalu, telah berkembang sebuah prinsip hubungan yang memegang teguh kebebasan individu.

Dalam buku ini, eksistensialisme Beauvoir dibahas tidak selesai sampai kematian sang filsuf saja. Sebaliknya, setelah Beauvoir wafat, sejumlah gagasannya semakin luas dibicarakan, diperdebatkan, sampai-sampai dipelintir hingga menghasilkan bias. Guna menguatkan kaitan peristiwa, tak jarang Lianawati menuliskan kembali informasi yang sebelumnya telah ada di bab awal. Sayangnya, menurut hemat saya, upaya tersebut terasa boros di beberapa bagian.

Sebagai penyuka gagasan Beauvoir, saya tentu akan bersemangat membaca bagian detail perjalanan sang filsuf dalam mengulik gagasan serta menyebarkan ilmu yang dimilikinya melalui praktik mengajar. Namun, saya tak begitu menikmati penjelasan—atau lebih tepatnya klarifiksi—perihal orientasi seksual Beauvoir. Poin tersebut sudah pasti tak dapat dipisahkan dari biografi karena memang itulah yang dijalani Beauvoir, dan porsinya yang cukup banyak bukanlah sebuah kelemahan objektif. Hanya saja, secara subjektif, saya kurang merasa penting hal tersebut mendapat porsi banyak.

Di sisi lain, saya cukup terpancing untuk ikut berasumsi ketika penulis menjabarkan sejumlah asumsinya perihal sikap-sikap tokoh lain terhadap Bauvoir, juga sikap kerabat sang filsuf terhadap karya dan gaya hidup yang dijalaninya.

Saya bayangkan, seandainya saya mengenal gagasan-gagasan Simone de Bauvoir sejak masih remaja, tentu sekarang saya sudah menuai berbagai keberanian untuk bergerak mewujudkan apa-apa yang terasa ideal bagi hidup saya. Kini, bila sedang berbincang dengan teman-teman perempuan sebaya, kami kerap merasa kecut sendiri sebab melalui hal serupa: takut dan tak punya panutan semasa remaja untuk terus menggali aktualisasi diri—yang kini kebanyakan tak terurus.

Oleh sebab itulah saya ingin buku ini dibaca oleh para remaja—laki-laki pun perempuan, agar mereka tahu bahwa perempuan yang mengejar eksistensi autentik bukanlah sikap melawan kondrat; juga laki-laki yang memandang perempuan sebagai manusia utuh nan setara—bukan sebagai makhluk kelas dua—bukanlah seorang pengecut/penakut.




==================
Ilda Karwayu, domisili Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menulis puisi, fiksi, dan non-fiksi. Telah menerbitkan dua buku puisi, yakni: Eulogi (PBP, 2018) dan Binatang Kesepian dalam Tubuhmu (GPU, 2020). Aktif berkegiatan di Komunitas Akarpohon Mataram.

Metafiksi Tentang Pencipta dan Ciptaannya

0


Judul Buku   : The Hour of the Star 
Penulis      : Clarice Lispector
Penerbit     : Benjamin Moser
Cetakan      : Centennial Edition, Oktober 2020
Tebal Buku   : 128 halaman 
ISBN         : 978-081-1230-04-9 


“Who hasn’t ever wondered: am I a monster or is this what it means to be a person?”

The Hour of the Star; judul yang sangat memikat. Jamnya Bintang? Waktunya Bintang? Aneh dan sulit memang, bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Begitu juga saat mengalihbahasakan novel pendek ini dari bahasa Portugis ke bahasa Inggris. Penerjemah dari edisi The Hour of the Star yang saya baca dari terbitan New Directions, Benjamin Moser, berujar bahwa prosa ciptaan Clarice Lispector ditulis dengan “Pemilihan kata yang aneh, pemakaian sintaksis nan tak biasa, dan tak patuh pada aturan tata bahasa konvensional saat membuat kalimat.” Bahkan, Clarice Lispector mengakui bahwa “Memang kalimat-kalimat ini tak seperti bahasa yang umumnya kita ucapkan sehari-hari; tapi beginilah adanya dalam bahasa Portugis.” Walaupun begitu, artian kalimat yang ingin ia sampaikan sangatlah jelas.

Lispector sendiri menekankan bahwa dia sadar tentang alasannya memakai tata bahasa yang seperti itu dan bersikeras bahwa keputusannya perlu “dihormati” oleh para editor dan penerjemah. Dan untungnya, keinginan bulatnya tersebut makbul mencapai tujuan yang diinginkan, yakni untuk mengirimkan pesan yang ingin ia sampaikan kepada para pembaca karyanya secara benar dan utuh, dan akhirnya membuat Clarice Lispector dapat menghasilkan sebuah mahakarya yang berhasil menahbiskannya sebagai salah seorang penulis terbaik di seluruh dunia — bukan hanya di negeri Samba.

The Hour of the Star menceritakantentang kisah seorang perempuan bernama Macabéa, gadis miskin yang tinggal di wilayah kumuh kota Rio de Janeiro. Seorang perawan yang bekerja sebagai seorang juru ketik dan tinggal bersama dengan 4 orang (yang semuanya bernama Maria) dalam satu kamar yang sempit. Hobinya cuma duduk sembari melihat pemandangan lautan di dermaga. Macabéa hanya mengetahui dunia berdasarkan siaran radio yang ia dengarkan tiap hari. Gadis jelek yang bernasib malang ini tidak tahu apa-apa, sangat bodoh hingga tak sadar bahwa selama ini dia hidup sengsara. Kebodohan mencegahnya untuk merasakan penderitaan sejak awal dia lahir ketika ditinggal ayah dan ibunya, lalu tinggal dengan bibinya yang jahat, pindah dan hidup melarat di kota besar, merasakan patah hati setelah ditinggal oleh pacarnya, dan begitu banyak kemalangan lainnya. Namun, dia baik-baik saja menghadapi semuanya. Dirinya tak pernah bertanya. Ia menerka bahwa memang tak ada jawaban. Macabéa adalah korban atas eksistensi dirinya sendiri.

“Ia tak tahu bahwa dirinya adalah dirinya, layaknya anjing yang tak tahu bahwa ia adalah sebuah anjing. Yang ia inginkan hanyalah untuk hidup. Dirinya tak tahu untuk apa; ia tak pernah bertanya. Mungkin ia berpikir bahwa ada hal yang menyenangkan dalam hidup. Ia berpikir bahwa orang-orang pasti bahagia. Jadi ia turut bahagia.”

Namun, dalam beribu-ribu kemalangan yang menimpanya, Macabéa pernah merasakan bahagia — sampai-sampai ia menangis karenanya. Ia bahagia karena telah mendengar sebuah lagu yang ia dengarkan di radio, berjudul “Una furtiva lacrima. Lagu itu menjadi setetes kebahagiaan dalam lautan penderitaan yang Macabéa arungi sepanjang hidupnya —meski tak pernah sedetik pun ia menyadarinya.

Narasi Tak Biasa

Memang, premisnya terdengar biasa saja, tapi ada faktor pembeda dari roman yang pertama kali terbit pada tahun 1977 ini dalam menarasikan cerita yang dikandungnya. Ada unsur metafiksi dalam struktur novel ini. Kisah pilu Macabéa diceritakan langsung oleh si penulis sekaligus narator kisah ini, Rodrigo S. M.. Ia seperti menceritakan secara lisan kepada para pembaca akan kisah yang dibuatnya. Namun, tak berhenti di situ saja. Si Narator ini malah ngelantur kemana-mana saat mendongengkan kisah Macabéa, apalagi di sepertiga awal cerita. Ia malah bersolilokui dan berkontemplasi seenak udelnya tentang apa saja yang ada di kepalanya saat menulis cerita ini, berikut salah satunya:

“I do not intend for what I’m about to write to be complex, though I’ll have to use the words that sustain you. The story — I determine with false free will — will have around seven characters and I’m obviously one of the more important. I, Rodrigo S.M. An old tale, this, since I don’t want to be all modern and invent trendy words to make myself look original. So that’s why I’ll try contrary to my normal habits to write a story with a beginning, middle, and “grand finale” followed by silence and falling rain.”

Coba perhatikan kalimat ini: “Ceritanya — yang kutentukan dengan kehendak bebas palsu — akan memuat kira-kira tujuh tokoh yang ada di ceritanya dan tentu saja aku jadi salah satu tokoh yang lebih penting.” Rodrigo ingin mencuri spotlight yang seharusnya tertuju kepada Macabéa selaku pemeran utama serta tokoh-tokoh lain di novelnya. Narsistik sekali bukan? Sialan memang.

Walaupun begitu, Rodrigo juga menulis ceritanya dengan beberapa kalimat dan aforisme puitis yang menohok dan membuat kita berpikir:

“Meanwhile the clouds are white and the sky is all blue. Why so much God. Why not a little for men.”

Paragraf singkat tersebut bisa diinterpretasikan dengan mengelaborasikannya melalui perbandingan Tuhan : manusia, dengan Rodrigo : Macabéa. Tuhan Yang Mahakuasa sanggup membuat keindahan berupa gumpalan awan nan putih cemerlang di langit biru yang seluas itu, tapi di kolongnya, miliaran ciptaannya ditelantarkan, hidup melarat dengan menyeret kaki tiap hari, tak pernah bisa merasakan keindahan seperti yang telah Tuhan ciptakan di langit. Mirip seperti judul buku Leo Tolstoy: Tuhan Mahatahu, Tapi Dia Menunggu. Menunggu apa?

Begitu juga Rodrigo, selaku penulis kisah ini, memiliki kehendak absolut terhadap kehidupan Macabéa. Ia bisa saja membuat Macabéa berbahagia sepanjang hidupnya: Gadis Brasil cantik yang bekerja sebagai bos di gedung pencakar langit, memiliki kekasih tampan bak pangeran Eropa, hidup bahagia di rumah mewah, mobil Mercedes jadi tumpangan, dan lain sebagainya. Macabéa bisa saja hidup layaknya putri Cinderella. Namun, realita tidak semanis itu. Sebaliknya, Rodrigo selaku pencipta yang mengatur nasib Macabéa membuat hidupnya penuh sengsara . Mirip sekali dengan yang di atas.

Ruang Milik Diri Sendiri

Selain akan menjumpai aforisme yang menyentil pertanyaan dan kontemplasi filosofis yang diperdebatkan sejak zaman Aristoteles hingga zaman kiwari tentang “Apakah sebenarnya ‘free will’ itu nyata adanya?”, para pembaca juga dapat menemukan bahwa Clarice Lispector mengangkat tema feminisme di novel ini. Ada sebuah adegan di mana Macabéa kecapekan dan mengelabui bosnya agar diizinkan bolos kerja sehari untuk istirahat di rumah— kamar sempit lebih tempatnya. Pada momen itu, untuk pertama kali di sepanjang hidupnya, ia merasakan hal yang paling berharga di dunia: kesendirian. Ia memiliki ruangan kamar itu untuk dirinya sendiri. Menarilah dia dengan diiringi sembarang lagu yang disiarkan oleh radio mungilnya. Macabéa sangat menikmati kebahagian kecil yang berasal dari kesunyian yang diperoleh dengan susah payah ini, dari radio yang volumenya diatur sekeras mungkin, dan luasnya ruangan tanpa para Maria. 

Entah disengaja maupun tidak, Clarice Lispector seperti memparafrasakan esai panjang berjudul A Room of One’s Own gubahan Virginia Woolf, salah satu penulis yang gencar menyuarakan kesetaraan dan hak-hak perempuan. Intisari dari esai tersebut adalah bahwa setiap wanita membutuhkan kamarnya sendiri — sesuatu yang dapat dengan mudah dinikmati oleh seorang pria. “Sebuah kamar pribadi akan memberi seorang wanita ruang dan waktu yang diperlukan untuk menulis tanpa gangguan,” sabda Woolf. Ia memakai metafora “ruangan” sebagai simbolisasi untuk mewakili masalah-masalah yang lebih besar, seperti privasi, waktu luang, kemandirian finansial, dan hak-hak lainnya. A Room of One’s Own ditulis pada tahun 1929, masa di mana perempuan masih dipandang sebagai warga kelas dua, tak punya kedaulatan untuk bekerja di luar rumah, mengenyam pendidikan, menulis fiksi, dan hak-hak lainnya tak seperti laki-laki. Dan yang sangat disayangkan, esai tersebut masih saja relevan hingga masa kini, nan dirasakan juga oleh Macabéa.

Seribu-lebih kata yang telah saya tulis di atas pun tak bisa merangkum isi dan maksud novel yang tebalnya cuma setipis dompet saya ini. Seratus dua puluh-halaman yang penuh dengan pertanyaan & aforisme filosofis tentang kepenulisan, penindasan, penderitaan, toxic machismo, dan apa artinya menjadi manusia. Juga sedikit tentang pengalaman pribadi dari Clarice Lispector sendiri. Dia bilang bahwa inti dari cerita dari novela ini adalah tentang “Hancurnya kepolosan, tentang kesengsaraan tak bernama.”

Sebenarnya membaca resensi ini agak sia-sia. Kamu harus membaca sendiri The Hour of the Star untuk mendapatkan pengalaman unik dan pengertian secara mendalam dari cerita yang dikandungnya. Jika kamu suka gaya narasi Joyce yang bermain-main dengan kata, absurditas tak berujung ciptaan Kafka, dan menyukai penulis dengan semangat feminisme seperti Woolf, kamu akan menyukainya. Ah, sepertinya pernyataan di atas perlu saya ralat: “Lispector mempunyai, sama dengan Borges dalam fiksinya, kemampuan untuk menulis seolah-olah tidak ada yang pernah menulis tentang hal tersebut sebelumnya, seolah-olah orisinalitas dan kesegaran karya itu tiba di dunia kita dengan sangat tidak terduga.” tutur Colm Tóibín, di kata pengantar dari edisi yang kubaca. Dan kurang lebih, saya setuju dengannya.



===============
Muhammad Rizki Ardhana, penikmat film Wong Kar-Wai yang berasal dari Ungaran.

Perihal “Aku” yang Mencari Waktu

0

Judul Buku   : Jalan Pulang dan Omong Kosong yang Menunggu Selesai
Penulis      : Hari Niskala
Penerbit     : Rua Aksara
Cetakan      : Pertama, 2021
Tebal Buku   : vi + 358 halaman 
ISBN         : 978-602-53388-2-3 

ALANGKAH menyebalkan jika kita dipertemukan dengan narasi yang rumit sepanjang sebelas bab, lalu dikejutkan dengan perubahan sudut pandang secara ekstrim di bab berikutnya.

Hal demikian saya peroleh manakala membaca novel ini. Kesan ciut, geram, haru, waswas, takjub, kagum, dan miris berkelindan mengekor dalam narasi yang dibangun dari awal hingga akhir. Semula saya menduga, judul yang dituliskan akan mengisahkan seorang yang merantau jauh dan akhirnya tak pulang sama sekali. Namun kemudian narasi-narasi di novel ini menggiring saya melihat hal baru, yakni tentang seorang lelaki yang dengan bijaknya mengambil keputusan pelik. Demi mempertanggungjawabkan pembunuhan yang dilakukannya, tanpa melibatkan keluarga kecilnya, ia kemudian “berpura-pura” merantau.

Beriringan dengan hal tersebut di atas, penulis kemudian mengambil sudut pandang orang pertama, yakni tokoh Aku, untuk mengantar pembaca pada narasi lebih intim. Nyatanya Aku memang lebih banyak bercerita, sesekali menjadi narator yang sok kuat namun lebih banyak tenggelam dalam melankoli. Aku adalah anak dari seorang lelaki yang katanya merantau tersebut, yang mengangankan kehidupan ideal yang selama ini tak dimilikinya.

Aku adalah pribadi pemurung, mungkin juga misterius. Aku mengetahui hal-hal personal tentang tokoh Juki alias Kambang, Sopiah, Mbok Sri, Haji Sami’un, Mandor Nasir, Rukin, Rosmia, Nandini, Yudo Basundoro, dan Pranoto. Aku ingin merangkul tokoh-tokoh itu untuk sekadar membaurkan diri atau menemukan pengertian universal tentang kehidupan ideal. Kehidupan ideal—barangkali—hanya omong kosong, namun penulis ingin menjejalkan “omong kosong” lain dalam porsi lebih banyak tanpa ada maksud membikin bosan pembaca.

Pada bab 2 dan 3 Aku ditampakkan sebagai remaja berusia empat belas tahun. Ia tak lupa bagaimana mesti berjalan kaki beberapa kilometer demi memperoleh sinyal seluler, menanggung lapar di pos ronda, hingga tak pulang berhari-hari—semata-mata demi menuruti harapan, siapa tahu, ayahnya yang di tanah rantau akan memberi kabar. Sialnya harapan itu tak pernah terwujud, maka Aku yang telah bersabar selama bertahun-tahun harus mengakhiri “penantian melompong” itu. Di dua bab itu juga Aku mengenang penyebab kepergian ayahnya dengan cara dramatis. Sementara di bab 4 dan 5 ada gambaran masa muda tokoh Mbok Sri sebelum memutuskan pindah dari kota ke kampung pesisir.

Bab 6, 7 dan 8 boleh disebut sebagai fase peralihan nan ajaib. Aku yang merupakan remaja sekolah berbicara banyak tentang antipati pada sekolah (bab 6), entah mengapa, menemukan penyulut pembenarannya (bab 7) sebelum makin bulat membenci sekolah yang baginya tak lebih dari “kurungan” (bab 8). Pada bab 8 juga pembaca akan menemukan sedikit sempalan cerita tentang narapidana, di mana si narapidana akan dijelaskan di bab berikutnya sebagai tokoh Juki alias Kambang, ayah tokoh Aku. Di sini aku juga bertemu dengan tokoh Rukin, sosok penyair yang digambarkan dekil dan urakan. Rukin adalah jenis manusia yang banyak berkutat dengan lembar dan pena, yang dianggap membuka kesadaran tokoh Aku akan makna kehidupan. Di bagian mendekati pamungkas, penyair dekil itulah yang rupanya berbalik mengisahkan Aku dengan pelbagai kemungkinan hidup hingga kemungkinan mati.

Bab 9 jadi titik pertemuan ganjil antara Aku dengan tokoh Nandini, gadis manis dari kota Plat N yang memungkinkannya terpikat sejak pandangan pertama. Asmaraloka, demikianlah biasa disebut. Aku mengagumi Nandini sedemikian rupa sebagai pribadi paling naif, sementara sempalan cerita mengenai si narapidana masih menyelinap secara tiba-tiba di bab ini. Di bab 10 tokoh Pranoto, sahabat baik tokoh Aku, digambarkan mati oleh suatu kecelakaan kerja: tertimpa bongkahan marmer. Barangkali melalui kejadian itu penulis hendak menyisipkan satu kritik tentang sisi kekejaman kapitalisme.  

Kesedihan kehilangan sosok sahabat, kisah cinta yang makin mekar, dan keputusasaan tokoh narapidana berjalin membentuk narasi kian rumit. Rukin bersedia membantu Aku membalas dendam akan kematian Pranoto dan ayah Nandini yang memutuskan bunuh diri(tidak dengan cara yang pernah dilakukan  Ernest Hemingway) menambah keruh narasi yang dibangun. Meski keruh, tak berarti jalinan narasi tersebut tak bisa dinikmati. Sedikit suasana mencekam dan penuh bau darah di bab 10 dan 11—barangkali—adalah satu hal, dan kemungkinan Aku membalas dendam pada pabrik yang membikin Pranoto tertimpa marmer adalah hal lain. Dua bab ini mungkin adalah sisi paling mengaduk emosi, namun rupanya penulis belum puas dengan “adukan” demikian. Bab 12 yang merupakan bab pamungkas nyatanya memberi “adukan” lebih besar.

Pembaca yang tak siap menerima kejutan mungkin akan mengernyitkan dahi dan mengira bab 12 hanyalah racauan yang perlu dituruti. Namun, bagaimanapun bab 12 adalah bab penghabisan. Pembaca harus menghabiskannya kendati sudut pandang “direbut” oleh sesuatu yang bahkan tak terlihat dan teraba. Bab 12 adalah milik “waktu”, demikian yang saya pahami. Tokoh Aku yang sempat saya kira sebagai tokoh utama hanya boleh disebut sebagai “si tokoh yang sempat memakai sudut pandang orang pertama” di bab ini. Ia masih tak bernama, harus berjalan jauh demi mencari pendonor darah golongan B, dan sesekali merindukan Nandini kala berada di dalam bus. Di sisi lain, tokoh narapidana diceritakan mulai dapat menghirup udara bebas. Ia bertekad menempuh jalan kaki untuk pulang ke kampungnya: kampung pesisir. Tempuhan jalan kaki itu tak mulus. Juki alias Kambang harus berurusan dengan beberapa preman sebelum dijatuhi beban psikis yang nyata-nyata lebih besar daripada sekadar kekasaran preman.

Sekali lagi, novel ini benar-benar mengisahkan dimensi kehidupan yang sangat kompleks. Pembaca diajak untuk berkelana menyusuri ruang dengan alur maju-mundurnya, juga tokoh yang misterius. Pembaca harus menemukan teka-teki itu, untuk akhirnya menemukan jalan pulang, meski pada akhirnya takkan selesai, hanya menunggu. Dari novel ini mungkin kita bisa belajar dengan cara mendalami semesta tokoh-tokohnya.

Pelbagai kekurangan teknis (typo, kesalahan ejaan, dll) mungkin sedikit mengganggu, namun pembaca tentu masih dapat menikmati jalinan cerita di dalamnya. Narasi patriarkal yang sesekali muncul mungkin juga agak mengganggu, namun tak lantas jadi alasan pembaca perempuan menghentikan kegiatan membacanya. Dan terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, novel ini mencoba menghadirkan (atau: menyinggung) muatan lain yang mungkin bisa menambah wawasan, mulai kredo-kredo terselubung tentang Filsafat; lirik-lirik lagu dari musisi adiluhung tanah air (Iwan Fals, Kla Project, Tony Q, Chrisye dan Waljinah); cerita pewayangan; nama-nama kritikus musik (Taufiq Rahman dan Nuran Wibisono); juga satu puisi dari pemuda asal Banyuwangi.

Dan akhirnya, Aku adalah milik para pembaca. Sudut pandang orang pertama yang berubah drastis pada bab terakhir menghendaki semua orang memiliki pandangan demikian. Seorang Guru Besar di salah satu universitas Yogyakarta yang saya setujui pendapatnya pernah berkata “Seringkali kita menganggap bahwa aku di dalam karya sastra adalah aku penulis. Padahal, aku itu bisa saja tidak menunjuk kepada pribadi tertentu, termasuk penulisnya, melainkan aku yang sifatnya kolektif atau transendental. Karena perasaan aku sebagai pribadi sudah menyatu dengan aku besar masyarakatnya bahkan aku besar kemanusiaan.”

Demikianlah, saya kira, Hari Niskala mencoba untuk menggugat segala ke’aku’an yang ada dalam diri pembaca, juga manusia pada umumnya. Tak ada “aku” mutlak pada manusia, sebab nyatanya “waktu” bisa mencerabutnya begitu saja. Dan di atas itu, di atas “aku” dan “waktu”, Anda tahu ada siapa.





================
Ummi Ulfatus Syahriyah
, mahasiswi yang sedang nyaman berada di rumah peraduan, LPM DIMeNSI dan CRIS (Center for Research and Islamic Studies). Karya bukunya yang pernah diterbitkan berupa novel berjudul “ Sepucuk Surat untuk Negeri Yaman” dan “Alila, Alalo, Alexandria.”

Ruang Transit (Mental) Diri

0
Judul Buku   : The Midnight Library
Penulis      : Matt Haig
Penerjemah   : Dharmawati
Penerbit     : Gramedia
Cetakan      : Pertama, 2021
Tebal Buku   : 368 halaman 
ISBN         : 978-602-064-932-0 

*

“Tidak bisakah kau langsung saja memberiku kehidupan yang kau tahu bagus?”
Nora Seed kepada Mrs. Elm.

*

SEPERTINYA tidak ada kehidupan yang benar-benar bagus, kecuali tafsir dan pilihan diambil setiap orang selama jangka (panjang) hidupnya. Novel The Midnight Library (2021) garapan Matt Haig mendapat penghargaan-pengakuan Goodreads Choice Awards 2020 Best Fiction kemungkinan karena menempatkan tema sangat relevan hari ini: kesehatan mental. Berlatar di kota kecil Bedford, Amerika, melalui tokoh utama seorang perempuan lajang berusia 35 tahun—Nora Seed—biang masalah yang mengganggu peredaran mental berkisar pada impian, asmara, hubungan keluarga, ataupun keberadaan diri.

Ketika Nora Seed memutuskan bunuh diri, ia tidak langsung mati. Nora berada di Perpustakaan Tengah Malam sebagai ambang kehidupan dan kematian. Sejak remaja perpustakaan memang menjadi ruang yang secara emosional dan signifikan menaungi hari-hari Nora. Penjaga perpustakaan sekolah masa SMA bernama Mrs. Elm hadir sebagai pembimbing. Dalam masa krisis di kehidupan akar Nora, Mrs.Elm tetap seseorang yang penting.

Perpustakaan Tengah Malam ibarat ruang transit menawarkan kemungkinan (buku) kehidupan yang belum Nora ambil dan bagaimana ia ingin hidup. Nora bisa mencoba menjadi glasiolog, vokalis, istri dan ibu, atlet, atau sekadar hal kecil menjadi teman baik bagi Voltaire, kucing peliharaannya. Setiap kali Nora merasa kecewa lagi sama persis di kehidupan akarnya, ia akan kembali ke Perpustakaan Tengah Malam. Percobaan menawarkan kebalikan dari isi Buku Penyesalan yang dimiliki Nora, “Aku belum menjadi atlet renang Olimpiade. Aku belum menjadi glasiolog. Aku belum menjadi istri Dan. Aku belum menjadi ibu. Aku belum menjadi vokalis The Labyrinths. Aku belum belum berhasil menjadi orang yang betul-betul baik hati ataupun bahagia. Aku belum berhasil mengurus Voltaire” (hlm. 47).

Setiap kehidupan yang dicoba atau setiap diri Nora di kehidupan lain ibarat buku. Matt Haig tidak menggunakan buku “orang lain” atau semacam tokoh hebat di dunia untuk dimasuki Nora. Nora dengan pelbagai kegagalan-kekecewaan di kehidupan asal, bisa menemukan diri yang sukses di kehidupan lain. Begini, “Kalau kau betul-betul sangat ingin menjalani kehidupan, kau tidak perlu cemas. Kau akan tetap berada di sana seolah-olah selama ini kau berada di sana. Karena di dalam satu semesta kau memang selalu berada di sana. Buku ini, katakanlah, takkan pernah dikembalikan. Buku ini lama-lama bukan lagi dipinjamkan, melainkan dihadiahkan. Begitu kau memutuskan kau menginginkan kehidupan itu, betul-betul menginginkannya, maka semua yang ada di dalam kepalamu, termasuk Perpustakaan Tengah Malam ini, akhirnya akan menjadi kenangan yang sangat samar dan tidak teraba hingga takkan ada di sana sama sekali” (hlm. 59).  

Namun, setiap kehidupan yang dicoba tetap saja setidaknya memiliki satu benih menanamkan kesedihan mental; kematian, obat depresi, ketidakpuasan pada asmara, ambisi orangtua kepada anak, penyakit, atau popularitas manipulatif. Kehidupan yang tidak diambil Nora seolah dengan sukses berkamuflase menjadi kebahagiaan. Yang klise untuk diingat, tidak ada kehidupan tanpa penderitaan!

Gangguan mental dalam banyak hal adalah efek jangka panjang. Nora mengalami, termasuk di lingkungan keluarga atau sekolah. Ada keresahan (identitas) di masa remaja, “Nora memikirkan masa lalunya. Kombinasi pemalu dan dikenal luas saat ia remaja dulu merupakan campuran bermasalah, tapi ia tidak pernah dirundung, mungkin karena semua orang kenal kakaknya, Joe, meskipun tidak pernah betul-betul tangguh, selalu dianggap keren dan cukup populer hingga adik kandungnya kebal terhadap tiran di halaman sekolah. Ia memenangi lomba-lomba di tingkat lokal, lalu kejuaraan-kejuaraan nasional, tetapi sewaktu mencapai umur lima belas tahun, ia kewalahan. Berenang setiap hari, meter demi meter demi meter” (hlm. 117).

(Selalu) Penderitaan

Sebagai anak, Nora tidak merasa bebas mengendalikan impiannya. Keinginan ayah melihat Nora sukses sebagai atlet renang, lebih terasa sebagai ambisi dari kegagalan ayah Nora di masa lalu. “Tapi yang betul-betul tidak dipahaminya pada umur lima belas tahun adalah seburuk apa penyesalan itu, dan seberapa besar sakit hati yang dirasakan ayahnya karena berada sedekat itu dengan realisasi mimpi pria itu hingga hampir bisa ia sentuh. […] Sejak cedera ligamen yang menghancurkan karier rugbinya, ayah Nora sangat yakin semesta menentangnya. Nora, setidaknya itulah yang ia sendiri rasakan, dianggap ayahnya sebagai bagian rencana semesta yang sama” (hlm. 118).

Bahkan di kehidupan lain yang dikira Nora bebas dari depresi dan kekecewaan, ia tetap menghadapi masalah bertumpuk. Kebahagiaan yang mencuat ke permukaan, selalu menyimpan penderitaan di dasarnya. Misalnya saat mencoba kehidupan sebagai vokalis sukses, musibah tetap berlimpah; sengketa-sengketa palsu, kasus pengadilan, isu-isu hak cipta, hubungan yang berantakan dengan Ryan Bailey, penerimaan pasar untuk album terakhir, rehabilitasi, dan yang paling berat kematian Joe, kakak Nora, karena overdosis.

Freda L. Paltiel, koordinator Kanada pertama untuk Status Wanita dan pernah menjadi anggota Executive Subcommittee on Women, Health, and Development Pan Amerika, di tulisan “Kesehatan Jiwa Wanita: Suatu Perspektif Global” (dihimpun-diterjemahkan dalam buku Kesehatan Wanita: Sebuah Perspektif Global, UGM Press, 1997), depresi rentan dialami perempuan dalam pelbagai latar geografi-ekonomi, status sosial, dan usia. Ini bukan saja masalah di negara-negara Dunia Ketiga dengan ciri kemiskinan dan kultur patriarki yang kuat, tapi juga di negara maju. Asosiasi Psikologi Amerika tentang Masalah Depresi Wanita misalnya, melakukan penelitian, kondisi kejiwaan perempuan terkait dengan persoalan reproduksi, pembagian peran atau kerja, lingkungan sosial. Kemiskinan, penyakit jasmani, hubungan keluarga, lingkungan kerja, diskriminasi, kekerasan seksual, dan situasi psikologis karena kehilangan atau kematian menciptakan ketegangan dan trauma. Pelayanan kesehatan jiwa lebih sering menempatkan perempuan sebagai pasien.   

The Midnight Library bisa dinikmati sambil menyantap biji-bijian organik atau burger vegan, menanam harapan di tengah perubahan iklim, bersyukur untuk setiap hal kecil—kucing peliharaan misalnya. Penyesalan yang dituntaskan adalah bukti implisit untuk terus mencintai diri sendiri. Inilah pesan kesehatan mental bagi manusia modern bahwa hidup harus disyukuri seperti dipesankan Matt Haig melalui tokoh Nora Seed. Bahkan pada kehidupan akar paling remuk dan gagal sekalipun, ke sanalah Nora kembali. Seolah, percobaan pada (kemungkinan) hidup yang dalam kenyataan tidak pernah diambil hanya ujian untuk menerima, mensyukuri, berdamai dengan penderitaan, mencintai diri sendiri, dan mengikis setiap penyesalan yang mengganggu mental diri. Pertobatan menuju happy ending dipilih Nora.





==============
Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2019). Tinggal di Boyolali.

Perjuangan Perempuan Melawan Stereotip Gender

0
Judul Buku   : Buku Besar Peminum Kopi
Penulis      : Andrea Hirata
Penerbit     : PT. Bintang Pustaka
Cetakan      : II, Januari 2021
Tebal Buku   : x + 354 halaman 
ISBN         : 978-602-291-664-2 

Kata mereka anak perempuan itu mustahil bisa menemukan timah. Bahwa dia akan menyerah seperti banyak orang lainnya, bahwa mendulang timah adalah keniscayaan lelaki, ladang tambang adalah lelaki, bahkan timah itu sendiri, adalah lelaki (Hal.66).

Tulisan ini langsung diawali dengan satu kutipan yang ngehe, Andrea Hirata berhasil menggambarkan salah satu contoh bagaimana diskriminasi gender terhadap perempuan di dunia kerja yang terjadi pada saat negara kita mengalami krisis moneter lalu.

Setelah 23 tahun krismon berlalu nyatanya diskriminasi terhadap perempuan masih terus dilanggengkan sampai hari ini, dan terus berdampak pada persepsi masyarakat yang akan menormalisasi pekerjaan-pekerjaan lainnya, misalnya bahwa bekerja di tambang hanya untuk laki-laki, otomotif hanya untuk laki-laki, pemadam kebakaran hanya untuk laki-laki. Sebaliknya baby sitter adalah pekerjaan perempuan, Pekerja Rumah Tangga (PRT) hanya untuk perempuan, perawat hanya untuk perempuan dan sebagainya.

Begitulah dunia patriarki kita memandang perempuan, stereotip yang dilekatkan pada perempuan seperti lebih sensitif dan emosian, lemah, tidak lebih kompeten dari laki-laki dsb., maka tidak heran perempuan lebih banyak ditempatkan bekerja di ranah domestik, mendapat pekerjaan yang tidak berbayar sampai harus mengalami diskriminasi upah.

Lalu dalam novel ini, Nong Maryamah, tokoh utama dalam novel ini harus mengalami diskriminasi gender yang berulang kali. Nong Maryamah merupakan anak pertama dari empat bersaudara, saat duduk di bangku SMP kelas 1 ayahnya mengalami kecelakaan di tempat kerja, ayahnya tewas tertimbun tanah di tempat ia menambang timah.

Semenjak kejadian tersebut, sebagai anak pertama dengan ketiga adiknya yang masih kecil ia harus menjadi tulang punggung keluarga. Tak ada pilihan lain, Nong Maryamah terpaksa berhenti sekolah dan merantau ke ibukota. Itulah keputusan paling pahit yang pernah ia ambil, ibukota terlalu keras untuk anak di bawah umur, tidak memiliki ijasah, ditambah ia seorang perempuan.

Tak hanya kegagalan yang ia dapat dalam mencari pekerjaan di ibukota, dari pagi ke pagi beberapa pedagang maupun pemilik pabrik justru memberinya uang untuk Nong pulang kampung. Ditambah lagi, ia harus ketakutan setiap menjelang malam karena banyak laki-laki yang akan mendekati dan mengganggunya.

Bahaya yang terus-menerus mengancam menajamkan naluri Nong untuk bertahan dan melindungi diri. Sepanjang malam ia tak pernah tidur. Dia selalu berusaha berada di tempat yang terang, yaitu di emper took atau di bawah benderang lampu jalan. Adakalanya, jika firasatnya buruk, dia berjalan sepanjang malam, bergerak terus dari satu lampu jalan ke lampu jalan lainnya. Nong hanya tidur menjelang dini hari. Dia senang tidur di kaki menara jam kota itu. Sebab jam rusak itu selalu menunjukkan angka 5 sehingga dia merasa matahari sudah menyingsing dan malam yang menakutkan telah berlalu. Jam kota itu adalah sahabat Nong satu-satunya (Hal.59).

Stereotip di masyarakat memang begitu; bahwa perempuan tidak boleh keluar malam, mengapa streotip tersebut tidak dibalik saja, atau laki-laki tetap boleh keluar malam dengan syarat tidak menggangu aktivitas orang lain. Atau yang lain; bahwa perempuan memang sengaja menggoda laki-laki, bahkan ada yang menyebut perempuan pantas menjadi tempat pelampiasan seks laki-laki. Lagi lagi seperti itulah dunia patriarki kita berjalan, mungkin perempuan dilahirkan saja sudah menjadi sebuah kesalahan.

Kepahitan yang Nong Maryamah alami membuat ia memutuskan untuk pulang kampung, dan satu-satunya kesempatan mendapatkan uang di Ketumbi adalah dengan cara mendulang timah. Tetapi alih-alih bekerja mendulang timah untuk menghidupi keluarganya juga untuk membuktikan kepada masyarakat yang telah meremehkan dan memandang rendah kemampuan seorang perempuan.

Mulanya semua yang bekerja di tambang menyuruhnya pulang, mereka berpikir bahwa seorang perempuan tidak akan ada yang sanggup mengerjakannya karena mendulang timah merupakan pekerjaan berat, pekerjaan laki-laki, ia ditertawakan karena tidak bisa menggunakan cangkul dll.

Tetapi pada akhirnya ia membuktikan tekadnya, ia berhasil menjadi seorang pendulang timah setelah 14 hari gagal. Nong membuat peringatan keras, bahwa masyarakat sudah seharusnya mulai berpikir bahwa baik laki-laki maupun perempuan harus diberi ruang yang sama dalam mengambil sebuah keputusan.

Setelah bekerja 11 tahun di tambang timah, Nong menikah, tetapi ternyata ia kurang beruntung sebab suaminya memiliki sifat pemarah dan sangat kasar. Nong menahan penderitaanya seorang diri sebab wasiat dari mendiang ibunya, yakni agar Nong menjadi istri yang selalu berbakti kepada suaminya.

Lagi lagi begitulah stereotip perempuan, yang penyabar, penurut dan tidak boleh berbeda pendapat apalagi membantah laki-laki, meski Nong Maryamah perempuan mandiri, meski Nong Maryamah tidak bersalah, tetapi bagaimana masyarakat masih memandang negatif perempuan yang sukanya melawan suami, masih memandang negatif janda, terlebih apabila keduanya tidak berpendidikan.

Menurut Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) milik Kemen PPPA bersama BPS, menyebutkan bahwa 36,3% korban KDRT adalah perempuan yang bekerja (yang mandiri secara ekonomi, berpendidikan dan tinggal di perkotaan). Yang sudah mandiri saja masih mengalami KDRT, tidak bisa membayangkan keadaan sosok  Nong Nong lain di luar sana yang sedang tidak berdaya.

Tak hanya di tempat kerja dan di rumah, perempuan juga masih berjuang dengan ketidakadilan dari lingkungan paling dekat, tetangga, teman ataupun sahabat. Setelah Nong memilih bercerai dengan suaminya, ia mencoba mengikuti lomba catur di kampungnya. Nong didukung? Tentu tidak. Tetangganya menertawakannya.

Perlu kau tahu, Nong, catur itu mainan otak, mainan orang pintar, orang kantoran, orang sekolahan, kau, ijazah hanya SD, mana bisa kau main catur! Lagi pula, mana pernah perempuan main catur di kampung ini?(Hal.107).

Bukan Nong Maryamah namanya jika menyerah begitu saja, Nong belajar catur dengan keras dari salah satu temannya, selain untuk membuktikan bahwa perempuan bisa bermain catur juga untuk membuktikan pada mantan suaminya yang selalu memandangnya rendah terhadap dirinya, meski yang harus dihadapi adalah master dengan posisi juara bertahan tiap tahunnya.

Sampai akhir, masyarakat di kampungnya, terutama para perempuan di Ketumbi merasa bangga sebab ternyata ada sejarah seorang perempuan yang mampu bekerja mendulang timah, menyuarakan kebenaran dan bermain catur.

Semoga kita (khususnya perempuan) dapat meneladani keberanian Nong Maryamah, lebih percaya diri dengan kemampuan kita, mengabaikan kalimat-kalimat negatif yang akan membuat mental kita down tentu lebih berani dalam mengambil sebuah keputusan. Hidup dalam dunia patriarki memang begitu menyesakkan maka kita bisa memulai menghapusnya dari dalam diri kita dan lingkungan terdekat.

Terakhir, ditutup dengan kutipan dari Nong: ”Serius, kalaupun nanti aku ditertawakan, dipermalukan, taka pa-apa, yang penting aku sudah maju untuk menantang mereka.” Nong menoleh lagi ke pria-pria tadi, yang jika lagi main catur seakan hanya ada mereka di dunia ini (Hal.109).




=================
Ana Khasanah, lahir di Kebumen 24 tahun yang lalu. Menulis puisi dan cerpen. Saat ini berdomisili di kota kelahirannya.

Fiksi Kriminal ala Sherlock Holmes Berbalut Lakon Wayang Kulit

0
Judul Buku   : Drama Vendetta
Penulis      : Intanera
Penerbit     : Laksana
Cetakan      : I, 2019
Tebal Buku   : 360 halaman 
ISBN         : 978-602-407-564-4 

Fiksi kriminal dan lakon wayang kulit mungkin bukan merupakan kombinasi yang umum ditemukan dalam sebuah cerita, termasuk dalam khazanah sastra Indonesia. Namun lewat buku ini, keduanya dapat berjalan beriringan sesuai dengan misi penulis untuk memasyarakatkan kisah teka-teki kejahatan yang selama ini belum begitu populer di kalangan pembaca nusantara, tentunya dengan latar belakang budaya Jawa yang membumi.

Berangkat dari kasus pembunuhan disertai perampokan terhadap seorang pebisnis dalam suatu acara pembukaan galeri seni di kota kecil Karangsabin, pembaca diajak melakukan penelusuran jejak-jejak pelaku kejahatan bersama dua tokoh utama, Danielle Collins seorang perempuan Inggris serta Eric Hilman si pria berdarah Jawa: dua kepribadian yang mencerminkan akulturasi barat dan timur yang terkandung dalam isi cerita.

Tak dapat dipungkiri bahwa eksekusi cerita banyak dipengaruhi oleh novel-novel detektif terjemahan. Akan tetapi, penggambaran upaya penyelidikan maupun pengintaian terhadap pelaku kejahatan tidak lantas membingungkan pembaca seperti halnya novel luar negeri yang lazimnya mengandung sejumlah istilah yang terlampau sophisticated. Pasalnya, sudut pandang orang pertama diambil dari kacamata Danielle, tokoh yang sejatinya tengah melakukan riset tentang wayang untuk menulis sebuah artikel alih-alih berprofesi sebagai polisi, ahli forensik, atau pekerjaan lain yang berhubungan dengan dunia kriminologi. Dengan kata lain, Danielle mewakili pembaca yang manusiawi, pihak yang ‘secara tidak sengaja berhadapan’ dengan suatu kasus pelik tanpa harus memiliki background seputar kriminalitas.

Di sisi lain, Eric merupakan tokoh yang sedikit lebih banyak ‘mengemban’ porsi detektif dibandingkan tokoh lainnya seperti Bintang Gautama, teman semasa sekolahnya yang kini bergabung dalam Satreskrim Karangsabin serta Komandan Thamrin, sosok aparat angkuh namun disiplin dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Akan tetapi, karakter Eric tidak lantas dilukiskan dengan begitu sempurna. Alih-alih memiliki kejeniusan di atas rata-rata, Eric lebih digambarkan sebagai sosok yang peka dengan daya pikir imajinatif sehingga dapat dengan mudah menemukan trivia yang banyak dilewatkan orang, di mana kemudian trivia-trivia tersebut menghadirkan diskusi seru antara dia dan Danielle. Alhasil, Eric hadir sebagai figur cerdas namun tidak muluk-muluk, mudah dicintai dan akrab dengan pembaca lewat sifatnya yang laidback, simpatik, juga flamboyan tanpa terkesan ‘baik terhadap semua wanita’.

Sekalipun hampir tiap bab mengandung ketegangan berupa penemuan fakta-fakta tak terduga di sekitar TKP, romansa yang terjalin antara Danielle dan Eric memberi fleksibilitas dalam alur cerita. Namun demikian, chemistry keduanya tidak otomatis dilukiskan bernuansa candle light dinner atau one night stand seperti yang biasa ditemui dalam kebanyakan novel bertema kriminal maupun agen rahasia. Kedekatan mereka cenderung terkesan platonik, malu-malu, bahkan kekanakan. Semua tergambar dalam sejumlah momen di mana mereka melewatkan waktu bersama seperti saat menyaksikan serba-serbi tatah sungging (proses memahat dan mewarnai wayang kulit) dalam bab Wayang dan Lakon. Keduanya sama-sama belajar, bertukar pikiran, serta memahami isi masing-masing kepala.

Deskripsi proses tatah sungging sendiri tidak dibuat kaku seolah mengutip langsung dari bibliografi. Semua tertulis dalam dialog-dialog ringan antar karakter yang mengajak pembaca untuk ikut tersenyum, terheran-heran, terkejut, serta tertawa seperti dalam penjelasan singkat namun jenaka mengenai lakon Petruk Dadi Ratu oleh tokoh Pak Tomo, salah satu pengrajin wayang kulit di Karangsabin.

Petruk Dadi Ratu, kisah tentang ambisi dan kekuasaan dalam serat Mahabarata sendiri merupakan lakon yang dipilih penulis untuk menyimbolkan polemik antar tokoh cerita: lakon yang merupakan sebuah cerminan tentang bagaimana karakter tak terduga manusia akan muncul ketika dihadapkan pada suatu problematika hidup. Persis seperti yang dikatakan oleh Pak Hilman, ayah Eric yang menyebut bahwa wayang menjadi demikian istimewa karena mengandung pitutur. “Kisah dalam pewayangan mengandung pelajaran tentang kehidupan yang disampaikan secara halus dan tersirat… Tapi ya itu, ndak semua orang bisa mengerti. Mereka mungkin melihat, tapi belum tentu mau memahami.” (hal. 43).

Maka seperti pertunjukan wayang, buku ini tak hanya bertujuan untuk menghibur pembaca. Drama Vendetta mengajak kita untuk belajar tentang pentingnya arti kehidupan bagi umat manusia untuk dijalani dengan sebaik-baiknya.

Untuk pemesanan buku silakan kontak di:
0818 0437 4879 (Bu Nita – Diva Press)

Presiden yang Sempat Memiliki Boneka

0
Judul Buku   : Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Biografi Kesaksian
Penulis      : Taufik Ikram Jamil
Penerbit     : Milaz Grafika, Tajungpinang
Cetakan      : I, 2021
Tebal Buku   : XLIV + 466 
ISBN         : 978-602-1173-61-9 


KADANG-kadang sesuatu yang di belakang karya senantiasa menarik untuk diketahui, sebab selain selalu tersembunyi, ihwal keberadaannya tidak bisa dianggap enteng untuk melihat pewujudan sebuah karya. Malahan, apa yang kemudian disebut latar belakang tersebut, kadang-kadang lebih penting dari karya itu sendiri karena bisa jadi, karya yang tampak ke permukaan hanyalah sebagai suatu gejala—bukan esensi suatu kehidupan. Dengan fitrah kreatifnya, orang senantiasa berusaha untuk memahami apa yang ada di balik suatu gejala.

Sebuah biografi dengan demikian menjadi cukup penting, mengiringi perjalanan seseorang dalam mencapai sesuatu. Begitu jugalah yang hendak diperlihatkan melalui buku bertajuk Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Biografi Kesaksian oleh Taufik Ikram Jamil. Buku ini menyingkap latar belakang kehadiran seorang penyair yang amat fenomenal, mulai dari kecil sampai dewasa, bahkan sampai beberapa bulan sebelum buku ini diterbitkan. Tentu tidak ketinggalan tentang capaian yang diperolehnya karena bagaimanapun, buku ini ada karena Sutardji Calzoum Bachri (SCB) berkarya.

Ada 17 bab yang dibentangkan buku ini. Bab pertama langsung menohok pada pengakuan SCB dalam kreativitas dengan satu kepercayaan bahwa pada dasarnya kerja kebudayaan adalah pengakuan dan diakui. Kenyataan ini sekaligus mengarahkan bagaimana buku tersebut ditulis tidak berdasarkan kalendaris, tetapi tema. Kisah SCB ketika kecil, baru ditemui pada bab keempat di bawah tajuk  Emak, Emak, Emak…, sedangkan dua bab berikutnya menceritakan latar daerah tempat lahir dan masa kecil SCB, kemudian sosok-sosok terkemuka yang memiliki hubungan sejarah dan tempat dengan SCB.

Contoh lain terlihat dari pemantik kreativitas SCB. Setelah berbab-bab membicarakan masa kecil, remaja, capai-capaian sampai mewariskan kepada dunia, buku ini memaparkan apa sebetulnya yang menjadi awal pengkaryaannya di bawah tajuk Sebelum Pantun Diakui UNESCO. Sebelum bab terakhir yakni bab 16, buku ini menceritakan karya SCB pertama, lalu keinginannya untuk terus berkarya. Dibicarakan pula pada bab ini tentang kredo puisi SCB yang tidak saja satu sebagaimana dikenal selama ini, tetapi dua kredo, dalam jahitan estetika dan kultural.

Bab terakhir bertajuk Mencari Jalan untuk Kembali, merupakan bab yang amat sedih karena memuat semacam wasiat, di mana ia hendak melabuhkan jasadnya kelak. Dibuka oleh H.M. Nasruddin Ansoryi Ch dengan catatan Maman S Mahayana, buku ini ditutup oleh pandangan sejumlah pakar dari Malaysia, Singapura, Brunei, Korea Selatan, Belanda, dan tentu Indonesia sendiri, yang menuturkan capaian SCB secara luar biasa, sehingga pantas mendapat Nobel.

Alkisah, sebagaimana halnya sebuah biografi, kisah sedih dan lucu saling jalin-menjalin, begitu jugalah biografi presiden penyair ini. Tentu kita terpingkal-pingkal ketika membaca bagaimana cara SCB kecil tidak menghendaki kehadiran gadis-gadis kecil di sekitarnya, juga mewawancari orang gila untuk suatu liputan. Dikenal urakan, ternyata SCB pernah memiliki boneka, tapi juga tidak pernah diketahui siapa pacarnya ketika remaja baik di Riau maupun ketika di Bandung, kemudian menambatkan hati pada seorang perempuan yang dikenalnya di Jakarta dan menikah dalam usia 42 tahun. SCB pintar masak lho, apalagi berkaitan dengan ikan.

Masih banyak lagi kisah-kisah menarik lainnya tentang SCB dalam buku ini, yang belum tentu diketahui khalayak ramai. Dalam setiap kisah yang diceritakan tentu saja bisa dipetik hikmah dan kebaikan bagi pembaca, seperti bagaimana pengalaman spiritual yang dialami SCB, misalnya.

Pengalaman spritualnya tak tanggung-tanggung pula. Selalu ia mengigau menyebut nama emak dan Allah, kemudian apa yang dipikirkannya hampir tiap hari, sehingga melahirkan sajak semacam amuk dan kucing. Dalam sebuah mimpi di Bandung, ia diperlihatkan batas umurnya yang akan berakhir pada usia 48 tahun oleh sebuah tulisan, sehingga ia harus ngebut di jalan Tuhan. Nyatanya, alhamdulillah, 24 Juni nanti, ia mencapai usia 80 tahun. Happy Birthday Tuan Presiden, berkah untukmu selalu. Amin.

::

Buku dengan hardcover ini dipatok harga Rp250.000. Jika memesan sebelum milad ke-80 SCB, 24 Juni, dapat potongan 15 persen dari harga Rp250.000 di luar ongkos kirim. Kontak Whatsapp 085738446577 (Ratna) 081261334682 (Megat), 0813-7189-0115 (Salmah), +62 823 2915 4827 (Ade).

Sejarah yang Terkenang

0

Judul Buku   : The Great Story of Muhammad
Penulis      : Ahmad Hatta, dkk.
Penerbit     : Maghfirah Pustaka
Cetakan      : kesepuluh, Oktober 2020
ISBN         : 978-979-25-2596-3


Nama Muhammad sudah tidak asing lagi bagi seluruh orang di belahan dunia manapun. Ya, Muhammad adalah sosok yang mulia bagi kaum Muslim dan seharusnya juga menjadi sosok yang mulia bagi siapapun, mengingat beliau adalah utusan Allah untuk seluruh umat manusia. Mengapa demikian? itulah yang ingin disampaikan oleh buku ini.

Sejak beliau berada dalam kandungan ibunya (Aminah), seseorang menghampirinya dan berkata, “Apabila anak ini telah lahir, berilah ia nama Muhammad, karena sesungguhnya namanya dalam kitab Taurat dan Injil adalah Ahmad sedangkan dalam Al-Quran adalah Muhammad. Semoga dengan nama itu ia dipuji oleh seluruh penduduk langit dan bumi.” (Ibnu Ishaq dan Baihaqi) dalam buku The Great Story of Muhammad hal 70.

Sejarah kemuliaan beliau mulai terukir sejak dalam kandungan. Berbagai bukti telah nampak saat ibunda Aminah tidak merasa lelah dan sakit seperti orang hamil pada umumnya. Saat tepat 50 hari sebelum Nabi lahir terjadi peristiwa pasukan gajah dan saat kelahiran Nabi, rahim ibunda Aminah mengeluarkan cahaya yang menerangi istana negeri Syam, berhala-berhala berjatuhan, istana Kisra terguncang dan api persembahan orang Persia padam. Secuil pembuka dari awal kisah yang disajikan dalam buku ini.

Perlu diketahui Nabi Muhammad telah menjadi yatim sejak beliau dalam kandungan ibunya. Abdullah (ayah Nabi) dikirim Abdul Muthallib (Kakek Nabi) ke Yatsrib untuk mengurusi kurma hingga Abdullah jatuh sakit serta meninggal pada usia 25 tahun. Saat Muhammad kecil berusia empat tahun yang tengah bermain, malaikat Jibril datang merengkuh tubuhnya hingga pingsan dan dengan cepat Jibril membuka baju Muhammad untuk membelah dada serta mengambil hatinya. Segumpal darah dikeluarkan dari hati tersebut sambil berkata, “ini bagian setan dalam dirimu!” kata Jibril sambil mencuci gumpalan darah itu didalam bejana emas dengan air zam-zam. Setelah hati itu bersih, dia kembalikan ke tempat semula di dalam tubuh Muhammad. (HR.Muslim).

Hari terus berlalu hingga suatu hari ibunda Aminah pergi ke Yatsrib untuk mengobati rindu mengunjungi makam suaminya (Abdullah). Ia mengajak Muhammad yang masih berusia enam tahun, mertuanya (Abdul Muthallib) dan pembantu setianya (Ummu Aiman). Satu bulan sudah mereka tinggal di Yatsrib dan akan kembali ke Makkah. Dalam perjalanan Aminah tiba-tiba sakit yang mengakibatkan ia wafat di Abwa (daerah antara Makkah dan Madinah). Inilah awal Muhammad menjadi yatim piatu yang kemudian beliau diasuh oleh kakek yang sangat sayang pada cucunya tersebut. Tak bertahan lama, Muhammad yang berusia delapan tahun harus ditinggalkan lagi oleh orang yang mencintainya. Sang kakek meninggal di Makkah dan ia diasuh oleh Abu Thalib (saudara kandung ayah Nabi).

Usia Muhammad terus bertambah, beliau tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah. Ia berjuang mencari nafkah untuk membantu pamannya dan menghidupi dirinya sendiri. Beliau dikenal sebagai pemuda yang berakhlak mulia, jujur, amanah, santun dan bersahaja. Akhlak mulia itu didengar oleh Khadijah, seorang wanita pedagang yang kaya. Khadijah pun menyuruh seseorang untuk menawari Muhammad sebagai pegawainya dan tawaran itu diterima. Saat bertugas perjalanan berdagang Khadijah menyuruh asistennya untuk menemani dan mengawasi Muhammad

Tanpa sepengetahuan Muhammad yang sedang berteduh pada pohon besar, seorang pendeta menghampiri asisten itu dan mengatakan, “Tidak seorang pun berteduh di bawah pohon itu, melainkan dia seorang Nabi. Ia adalah Nabi terakhir.”  Sesampainya, asisten itu menceritakan apa yang ia alami dalam perjalanan seperti mukjizat awan yang menaungi Muhammad di tengah teriknya matahari dan ucapan pendeta tersebut. Semua kisah membuat Khadijah kagum dan ia berkeinginan menikahi Muhammad dan meminta temannya menyampaikan. Inilah awal mulai Nabi berkeluarga

Biasanya saat bulan ramadhan Muhammad pergi sendiri ke Gua Hira untuk mentafakuri peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya. Tepat tahun ketiga malaikat Jibril turun membawa wahyu, inilah awal mula masa Kenabian Muhammad yang saat itu berusia 40 tahun. Inilah masa di mana perjuangan dimulai dan berbagai rintangan dalam menyebarkan agama dimulai serta menguji keimanan kaum muslim.

Telah banyak cerita yang mengisahkan sosok Nabi Muhammad, lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai umatnya? Jelas salah satunya adalah memahami sejarah dari biografi hidup beliau dengan begitu kita akan lebih merasakan makna mendalam dalam melaksanakan sunnah yang telah beliau contohkan. Itulah hal yang kebanyakan orang coba lakukan, dengan begitu semua cerita-cerita yang pernah didengar, ceramah yang pernah diikuti, buku yang pernah dibaca akan menjadi rangkaian puzzle yang utuh. Rasanya sangat penting memahami sejarah dari awal untuk melanjutkan membaca halaman demi halaman yang tersajikan secara ringkas di buku ini hingga membentuk suatu kesatuan informasi yang sempurna.

Sejarah memang panjang bahkan membuat kita letih untuk mempelajari. Orang awam seperti saya pun memilih membaca satu buku yang berisi tulisan cerita dari awal hingga akhir. Menghemat waktu dengan mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya, tapi tidak dengan buku sejarah Nabi Muhammad ini. Semakin dibaca akan menimbulkan rasa keingintahuan mendalam, bahkan ingin menambah membaca buku lain sebagai pelengkap.

Salah satu ciri khas kategori buku non fiksi adalah judul yang tidak pernah menghianati isi. Penyampaian ringkas dengan fokus pada inti cerita membuat buku ini semakin istimewa. Disajikan daftar isi dengan bab mulai dari dunia sebelum nabi diutus, jelang masa kenabian, masa kenabian dan periode Madinah dengan total kurang lebih 108 sub bab. Kertas yang digunakan adalah sejenis kertas majalah yang licin, mengkilap dan pastinya penuh gambar berwarna supaya kita dapat merasakan dan turut hadir menghayati cerita tersebut.

Jika membaca pada buku-buku lain ingin sekali rasanya sampai pada halaman terakhir, tapi tidak dengan buku ini. Rasa sedih dan tidak tega seakan menyelimuti perasaan pembaca jika harus menyentuh lembar penutup. Kita tahu akhir dari cerita ini adalah Rasulullah wafat sebagaimana beliau juga banyak menunjukkan tanda-tanda kewafatannya melalui pesan-pesan yang beliau ucapkan pada para sahabat dan orang kaum Muslim:

“Wahai manusia, dengarkanlah ucapanku! Karena aku tidak tahu, mungkin saja aku tidak bisa lagi berjumpa dengan kalian setelah tahun ini, di tempat ini lagi untuk selamanya,” (Ibnu Hisyam).

“Pelajarilah manasik kalian dariku, karena boleh jadi aku tidak berhaji lagi sesudah ini.”

“Sesungguhnya aku lebih dahulu meninggalkan kalian, aku menjadi saksi atas kalian dan demi Allah aku benar-benar akan melihat tempat kembaliku saat ini. Aku telah diberi kunci-kunci dunia dan demi Allah aku tidak takut engkau menjadi musyrik sepeninggalanku.”

“Aku telah tinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh padanya, kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitabullah.” (HR. Muslim).





================
“I’m an experience lovers and I love every single moments”. Itulah quote yang selalu diucapkan Putri Setyowati dalam menjalani hidup. Ia mengekspresikan passionnya sebagai reviewer pada “Self Improvement Book dan Local Guide Indonesia”. Dia memilih untuk menginvestasikan ilmu pengetahuan serta pengalaman melalui tulisan yang dapat diambil manfaatnya untuk orang lain.

Desa dan Beberapa Masalahnya

0

Judul Buku   : Ulid Sebuah Novel
Penulis      : Mahfud Ikhwan
Penerbit     : Shira Media
Cetakan      : Pertama, 2021

Desa merupakan gambaran dari dunia yang sederhana dan sarat akan harmoni. Dari desa kita bisa mengaca bagaimana memaknai hidup, belajar tentang solidaritas dan gotong royong, serta menyemai benih-benih kesederhanaan hidup. Desa menyimpan nilai luhur yang nampak alpa di kota, semisal solidatritas dan gotong rotong yang telah disebut tadi. Namun, apakah hari di era global ini, dengan giatnya modernisasi, nilai-nilai luhur tadi masih kekal pada diri masyarakat desa? Atau desa telah bersalin rupa dengan gegap gempita yang mengambil referensi dari kehidupan di perkotaan?

Menarik, untuk terus mengulik perihal desa dan semesta kehidupannya. Bagi pengarang, desa serupa ladang ide. Karya sastra menjadi salah satu media yang turut ‘mempromosikan’ kehidupan di desa kepada khalayak pembaca. Permasalahn di desa beserta bermacam tantangannya menjadi hal yang menarik untuk disajikan pengarang ke hadapan pembaca.

Salah satunya bagi Mahfud Ikhwan, relasi Mahfud Ikhwan dan desa nampak gamblang dalam karya-karyanya. Ulid, Kambing dan Hujan, Dawuk hingga novel terbarunya Anwar Tohari Mencari Mati begitu sarat akan pembahasan tentang eksotisme desa. Nampaknya, bagi Mahfud desa serupa tempat kembali bagi jiwa-jiwa pengembara. Desa adalah lumbung inspirasi baginya. Banyak kisah yang bisa diteroka dari sebuah desa.

Mahfud selalu menyuguhkan kemanusiaan yang tidak mendayu-dayu. Kisah-kisah yang ia sajikan merupakan kisah-kisah yang membumi. Narasi-narasi hidup yang mudah kita jumpai. Namun, kisah-kisah itu membuat kita sejenak merenung dan menghayati bahwa ada hal-hal kecil dalam hidup ini yang tidak tersentuh oleh pikiran kita yang melangit.

Karya Mahfud dikemas dengan bahasa yang renyah namun penuh makna. Apa yang diangkat dalam ceritanya bukan hal yang sensasional dan fenomenal. Namun, karya-karya itu kaya akan filosofi. Salah satunya bisa kita tilik melalui novel berjudul Ulid.

Sarat akan Aroma Desa

Ulid merupakan nama tokoh dalam novel berjudul Ulid yang digarap oleh Mahfud Ikhwan. Tokoh Ulid menjadi sentral dari cerita. Melalui petualangan dan kisah yang dialami Ulid, pembaca dikenalkan pada sebuah desa bernama Lerok. Lerok digambarkan sebagai desa yang cukup terisolir dan terancam akan geliat perubahan. Lerok adalah desa yang terisolir. Pasalnya, kendaraan umum dan aliran listrik belum menjamah desa itu. Ini disebabkan letak Lerok yang dipeluk dan dikelilingi oleh perbukitan. Kecelakaan yang pernah dialami oleh kusir dokar beserta kudanya ketika mencoba menuju ke Lerok membuat mereka jera untuk kembali membawa dokar ke sana.

Lerok yang menjadi latar cerita novel Ulid adalah sebuah desa di Jawa Timur. Tempat ini begitu kental akan aroma dan nuansa pedesaan. Masyarakatnya mayoritas adalah petani yang amat bergantung pada hasil bumi. Mereka menggantungkan hidup pada hasil panen.

Dalam novel Ulid, pembaca disuguhkan realita sebuah desa yang minim perhatian pemerintah dan kalah. Kehadiran pemerintah di Lerok nampak tiada. Ini bisa ditilik dari belum adanya listrik yang mengaliri desa. Ditambah lagi keadaan jalan yang masih apa adanya. Desa itu juga tengah kalah oleh pasar dan pemodal.

Bengkoang menjadi salah satu andalan pertanian di Lerok. Ulid selalu membanggakan dan menceritakan bengkoang Lerok sebagai bengkoang yang termanis dan terenak di muka bumi. Namun, kehidupan para petani bengkoang yang menggarap lahannya perlahan dan pasti terancam. Ketika harga bengkoang turun, mereka tidak bisa berbuat banyak. Bukan hanya kalah oleh persaingan pasar, mereka juga diresahkan oleh alih guna lahan yang saat itu direncanakan pemerintah.

Selain bengkoang, Lerok juga terkenal dengan produksi gamping. Masyarakatnya banyak yang berkarya dan bekerja sebagai pembakar gamping. Namun, keadaan pembakar gamping disanapun tak kalah sialnya. Mereka belum bisa menjamin tercukupinya kebutuhan hidup. Hadirnya pabrik semen membuat harga gamping anjlok.

Keadaan yang kurang bersahabat dan perasaan tidak dapat berkembang di Lerok menjadi muasal sebagian besar warganya memilih hijrah ke kota. Sebagian besar dari mereka memilih menjadi TKI di Malaysia. Keadaan ini menyebabkan wajah lerok perlahan namun pasti berubah. Lerok yang awalnya menggantungkan diri pada genset sebagai sumber asupan listrik mulai berubah setelah tiang-tiang beton listrik berdiri gagah di Lerok. Lerok mulai berbenah dan bercahaya. Televisi berwarna yang dulunya tidak ada di Lerok semakin mudah dijumpai.

Keadaan ini banyak mempengaruhi kebiasaan hidup di Lerok. Hadirnya listrik dan gejala urbanisasi membuat sawah dan ladang bengkoang mulai sepi. Masjid yang dulunya sebagai tempat tidur kebanyakan berapa remaja Lerok mulai jarang ditempati. Mereka lebih senang hanyut dalam tayangan-tayangan televisi. Jubung sebagai tempat membakar gamping perlahan namun pasti mulai ditinggalkan dan roboh.

Ini adalah sebagian cerita yang disampaikan Mahfud Ikhwan dalam novel Ulid. Kehidupan petani bengkoang dan pembakar gamping di Lerok begitu detail serta gamblang dikisahkan. Bagaimana gamping dan bengkoang ditinggalkan dan dilupakan juga secara rinci diceritakan. Perubahan orientasi hidup di desa ini juga menjadi bahan penceritaan. Di Lerok, perlahan Malaysia menjadi tujuan.

Gejala Urbanisasi

Urbanisasi dalam arti perpindahan orang-orang ke kota adalah hal yang wajar. Ini terjadi karena kota lebih banyak menawarkan pekerjaan dan kesuksesan. Di kota lapangan pekerjaan lebih banyak tersedia. Banyak narasi-narasi kesuksesan di kota sehinnga menarik orang desa untuk pergi ke sana. Dalam novel Ulid pun terjadi hal yang demikian.

Sebagian besar masyarakat Lerok mengais rejeki di Malaysia. Masyarakat Lerok dengan narasi kesuksesannya di negara tetangga menjadi magnet tersendiri bagi warga lainnya. Mereka mencoba mengikuti jejak langkah mereka yang sukses mengadu nasib di negeri Malaysia.

Keadaan ini sontak berimplikasi pada kehidupan di Lerok. Lerok mengalami transisi besar terkait mata pencaharian. Membakar gamping dan berladang bukan lagi menjadi pilihan. Pergi ke Malaysia kini menjadi impian. Berbondong-bondong mereka pergi merantau, sejenak meninggalkan desa. Mengadu nasib di kota besar dengan ikhtiar memperbaiki finansial

Banyaknya masyarakat Lerok yang pergi ke Malaysia berbanding lurus dengan masuknya barang-barang modern ke Lerok.. Hadirnya listrik di Lerok semakin menyemarakkan desa. Lerok mulai cerah. Selain karena lampu juga disebabkan oleh kesejahteraan secara finansial.

Lerok mulai bersalin wajah. Jalan-jalan di Lerok mulai layak. Pembangunan rumah di Lerok bukan hal yang baru. Rumah-rumah disana mulai berbenah. Kini, disana mudah dijumapi rumah-rumah yang indah dan berdiri secara megah. Sepeda motor juga bukan lagi hal yang baru asing lagi. Di sana, sepeda motor dengan begitu mudah dapat dijumpai.

Lerok yang bersalin rupa menjadi lebih modern bukan tanpa cela. Ulid salah satu orang yang merasakannya. Ia merasa banyak hal yang hilang dari masa kanak-kananknya. Ulid meratapi masa lalunya yang hilang. Bengkoang dan jubung serta bukit tempat bermainnya dulu kini telah tiada.

Tetapi pada saat yang bersamaan Ulid beserta warga Lerok lainnya juga bergembira pada saat modernisasi memoles desa itu. Ulid mahfum bahwa perubahan adalah hal yang wajar. Sudah sewajarnya Lerok terus berbenah menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Gejala urbanisasi dan modernisasi yang hadir di Lerok tidak serta-merta mengubur identitas masyarakat Lerok. Modernisasi dan urbanisasi tidak menjadikan masyarakat Lerok lupa akan jati dirinya. Di perantauan, warga Lerok tetap memegang teguh identitas kedesaan mereka. Aliran dana dari warga Lerok yang merantau pun tetap ditujukan untuk kemakmuran desa. Ini dibuktikan dengan hadirnya masjid yang lebih layak dan semakin bagusnya jalan desa. Masyarakat Lerok diperantauan tetap bangga pada identitas desa mereka. Singkatnya, masyarakat Lerok tetap memenangi modernisasi dan urbanisasi yang telah mereka bawa sendiri.***




===================
Muharsyam Dwi Anantama, mahasiswa Magister PBI UNS Surakarta yang juga penikmat sastra dan pembaca buku. Belajar sastra di Komunitas Penyair Institute (KPI) Purwokerto.

Terbaru

Ketuk Palu

SEGALA sesuatu transparan bagiku. Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun dari Julian sejak kami kenalan sampai akhirnya berjodoh...

Dari Redaksi