Buku

Home Buku

Menelusuri Sejarah Sepak Bola Dengan Sukacita

0


Judul Buku   : Mengapa Sebelas Lawan Sebelas? 
               Dan Serba-Serbi Sejarah Sepak Bola.
Penulis      : Luciano Wernicke
Penerbit     : Marjin Kiri
Penerjemah   : Mahir Perdana
Cetakan      : Pertama, September 2020
Halaman      : x + 175 halaman
ISBN         : 978-979-1260-91-6

Sepak bola adalah olah raga dengan paling banyak penggemar di muka bumi. Kecintaan masyarakat global terhadap tim-tim sepak bola dan para pemain bintangnya mampu menghapus batas jarak, ruang, dan waktu. Sebagai ilustrasi,  Real Madrid (Spanyol) memiliki akun Instagram yang diikuti oleh lebih dari 85 juta orang yang tersebar di berbagai negara. Cristiano Ronaldo, pemain Portugal yang kini bermain di Juventus (Italia), memiliki akun Instagram yang diikuti oleh lebih dari 200 juta orang seantero dunia.

Mereka yang menggemari sepak bola tentu memahami bahwa olah raga tersebut dimainkan oleh dua buah kesebelasan yang saling berhadapan dalam waktu 2 x 45 menit. Setiap tim akan berusaha mencetak gol ke gawang lawan demi meraih kemenangan. Ada wasit yang memimpin pertandingan dan ada aturan main yang mesti dipatuhi oleh kedua tim yang bertanding. Setiap gol yang tercipta akan menciptakan euforia bagi para pendukung setia yang menyaksikan langsung di dalam stadion maupun yang berada di depan televisi belaka. Senantiasa terdapat banyak momen berkesan saban menyaksikan sebuah pertandingan. Kegembiraan atau kedukaan secara silih berganti akan dirasakan dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya.

Namun, pernahkah kita mengetahui dari mana asal sepak bola? Siapa penyusun aturan-aturan awal sepak bola? Mengapa sepak bola dimainkan sebelas lawan sebelas? Mengapa pertandingan sepak bola berdurasi 90 menit? Siapa wasit pertama dalam sejarah?

Buku ini menjelaskan asal-usul dan evolusi olah raga terpopuler tersebut. Ada 100 teka-teki yang barangkali tidak bisa dijawab dengan mudah melalui sumber-sumber daring. Luciano Wernicke, penulis olah raga terkenal Argentina, melakukan penelitian mendalam dari buku-buku, surat kabar, dan dokumen di perpustakaan seluruh dunia untuk menemukan jawabannya dan merangkumnya dalam wujud sebuah buku yang terbit pertama kali di Kolombia pada 2017 dalam bahasa Spanyol.

Setelah rancangan peraturan umum pertama disusun pada 1863, sepak bola terus berkembang dipengaruhi berbagai peristiwa dunia selama lebih dari satu setengah abad kompetisi resmi. Dinamika permainan sepak bola menciptakan berbagai situasi unik dan lucu. Kemunculan berbagai elemen yang kini telah umum, seperti durasi pertandingan, aturan tentang jaring gawang, atau kartu kuning dan merah, dijelaskan secara gamblang di buku ini.

Sejarah awal Piala Dunia, Copa America, Liga Champions di Eropa, dan Copa Libertadores di Amerika Selatan menjadi materi yang dibahas pula oleh Wernicke. Sungguh banyak hal menarik dan fakta unik yang disampaikan dalam buku ini. Misalnya, ada pertandingan yang ditunda karena kembang api untuk pertama kalinya. Ternyata pernah ada seorang penonton yang diajak bermain di tengah pertandingan tim nasional.  

Siapa pemain yang mencetak skor terbanyak sepanjang karier? Siapa kiper yang paling banyak menahan penalti di satu pertandingan? Siapa pemain paling sukses mengeksekusi penalti? Wernicke memiliki data yang lengkap untuk menjawabnya.

Perlakuan diskriminatif terhadap pemain kulit hitam adalah salah satu masalah besar dalam sepak bola yang belum kunjung usai. Rasisme masih saja terjadi hingga awal tahun 2020 ini, seperti yang menimpa Mario Balotelli di Liga Italia Serie A 2019/2020. Balotelli adalah pemain Italia berkulit hitam keturunan Ghana yang pernah menjadi andalan timnas negaranya. Lantas, siapa pemain kulit hitam pertama dalam pertandingan resmi? Siapa pesepak bola pertama yang mengalami hinaan rasis?

Mungkin comeback paling dramatis yang pernah terjadi di laga final adalah pada 25 Mei 2005 di Istanbul, tempat tempat dimainkannya final ke-50 Liga Champions UEFA. AC Milan sudah unggul 3-0 di babak pertama. Liverpool berhasil menyamakan kedudukan di babak kedua menjadi 3-3 hingga menit ke-90.. The Reds akhirnya mampu merebut Piala Champions setelah menundukkan I Rossoneri dalam adu penalti.

Sebenarnya kemenangan Manchester United atas Bayern Muenchen dalam final Liga Champions Eropa 1998/1999 pada 26 Mei 1999 juga menyimpan kisah comeback yang dramatis. Muenchen sudah unggul 1-0 hingga menit ke-89. Ternyata United berhasil membuat dua gol dalam menit tambahan dan akhirnya sukses menjadi juara. Namun, pertandingan yang sungguh impresif tersebut tidak dicatat oleh Wernicke dalam buku ini.

Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mahir Pradana dari bahasa Spanyol. Yang menarik, sejarah awal sepak bola sebagai olah raga modern kebanyakan berasal dari Inggris. Judul-judul buku yang mengisi daftar pustaka pun sebagian besar berbahasa Inggris. Jadi, Luciano Wernicke mendapatkan sejumlah data penelitiannya dalam bahasa Inggris, lalu ditulis sebagai sebuah buku dalam bahasa Spanyol, dan akhirnya bisa dinikmati penggemar sepak bola di tanah air dalam bahasa Indonesia.

Buku ini menambah jumlah buku bertema sepak bola yang beredar di Indonesia, yang mesti diakui masih cukup sedikit jumlahnya. Apalagi sejak 2018 lalu sudah tidak ada lagi media cetak sepak bola yang beredar setelah Tabloid BOLA dan majalah Bolavaganza berhenti terbit. Pencinta sepakbola yang gemar membaca bisa sedikit memuaskan dahaganya akan bacaan berkualitas dan bisa menelusuri sejarah sepak bola dengan sukacita.


===================
Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpen dan esainya pernah dimuat di sejumlah media cetak maupun daring. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).  

Mengintip Kehidupan Keras di Jakarta Lewat Wesel Pos Milik Ratih Kumala

1



KALAU memosisikan diri sebagai pendatang yang mengadu nasib di Jakarta, bagi saya, hidup di sana pasti betul-betul tidak mudah melebihi hidup di kampung sendiri. Jangankan mengadu nasib, sehari berada di Jakarta saja saya sudah tidak betah dan menyerah dengan kemacetan, keruwetan, dan udaranya yang begitu panas. Memang, “Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.” (hlm. 1). Lantaran perlu kesabaran, kesiapan fisik dan mental, serta ketahanan yang tinggi agar tidak mati dikalahkan oleh kerasnya Jakarta. Kehidupan keras di Jakarta cukup jelas tergambar dalam Wesel Pos karya Ratih Kumala melalui kisah Elisa Fatunisa yang merantau.

Elisa hendak mengabarkan kematian Ibu pada kakaknya, Ikbal Hanafi, di Jakarta sekaligus mencari peruntungan dengan bekerja di sana. Belum lama tiba di Jakarta, Elisa sudah dihadapkan pada ketidakberuntungan, merasakan kerasnya Jakarta, dan kenyataan-kenyataan yang mengejutkan dirinya. Hidupnya sudah dramatis dan penuh ujian. Mulai dari kehilangan tas yang ia titipkan kepada ibu-ibu penjual kopi keliling, terjebak berjam-jam di kantor polisi, kesulitan menemukan kakaknya akibat informasi yang ia punya tidak lengkap, dicap perek oleh tetangga, hingga disebut sebagai cewek hot oleh bos penjual narkoba.

Berbekal alamat yang tertera pada wesel pos yang dikirim Ikbal, Elisa mencari Ikbal yang sudah lebih dari dua tahun tidak menjumpainya di Purwodadi. Namun, nyatanya tidak segampang yang ia duga. Minimnya informasi membuat Elisa kebingungan ketika ditanya mengenai Ikbal. Beruntung, sekuriti penjaga gerbang gedung di mana Ikbal bekerja menyuruh Elisa bertanya pada Fahri, sopir kantor pribadi Bos Lukman—pemilik Megantara Grup. Selagi mencari Ikbal, Elisa menumpang di rusun tempat Fahri tinggal. Tinggal bersama Fahri pun tidak mudah. Ia kerap menjadi bahan gunjingan dan menerima tatapan penuh curiga yang kurang menyenangkan dari tetangga.

Keesokan harinya, ketika Elisa sedang membereskan isi laci-laci lemari, ia terkejut sekaligus bingung mendapati bukti pengiriman wesel pos dan surat untuk Ikbal yang masih utuh dan belum terbuka—yang ia kirim beberapa minggu sebelum Ibu meninggal. Tak lama setibanya Fahri di rumah, Elisa langsung menanyakan hal tersebut dan mendapati jawaban yang membuatnya kehabisan kata-kata dan tak percaya. Kebenaran akan kiriman wesel pos yang rutin Elisa terima setiap bulan sekaligus menghapus rasa penasaran yang selama ini mengganjalnya. Kenyataan kadang memang menyakitkan dan pada akhirnya diam menjadi satu-satunya hal yang bisa kita lakukan.

Kabar dan segala hal yang ingin diketahui Elisa perihal Ikbal sudah ia dapatkan. Jelas tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain kembali ke kampung. Namun, terjadi sesuatu pada Fahri dan membuat Elisa memutuskan untuk tetap tinggal. Keputusan Elisa merawat Fahri dan kepedulian terhadapnya telah mengubah rencana dan ikatan antara keduanya. Elisa semakin mengenal Fahri dan mengetahui fakta kehidupan keras yang dijalaninya, baik untuk bertahan hidup dan menggantikan Ikbal maupun membantu keluarga yang kesusahan. Cerita kemudian berfokus pada Fahri dan upayanya untuk bisa lepas dari pekerjaan sampingannya sebagai kurir narkoba.

Penokohan yang Kuat dan Wesel Pos sebagai Penutur

Sama dengan dua buku Ratih yang sudah saya baca, penokohan dalam novelet ini pun kuat. Para tokoh yang dihadirkan, baik tokoh utama maupun tokoh yang hanya hadir sekejap, semuanya memiliki peran yang pas dan menggerakkan cerita. Tidak ada tokoh yang sekadar tampil dan mubazir. Salah satunya bisa kita lihat dari sikap empat tokoh yang paling menarik perhatian sejak awal; Elisa, Fahri, Bu Hilda, dan Mas Memet. Keempat tokoh yang, menurut saya, paling menghidupkan cerita. Elisa dengan keluguannya, Fahri dan kehidupan kerasnya, Bu Hilda dengan kekepoan dan penilaian negatifnya, serta Mas Memet dengan kelucuannya.

Kenaifan dan keluguan Elisa tampak jelas sejak cerita dimulai. Kita bisa lihat dari sikap Elisa yang percaya begitu saja kepada penjual yang kelihatannya baik dan menganggap semua pelaku kriminal bisa ditangkap dengan melapor pada polisi—termasuk percaya polisi bisa menangkap gembong narkoba dan membereskan masalah Fahri. Kesederhanaannya terus diuji selama tinggal di Jakarta. Di mata Elisa seperti tidak ada orang yang betul-betul jahat dan semua masalah bisa diselesaikan dengan cara yang menurutnya benar meskipun tidak sesederhana kelihatannya.

Pilihan-pilihan yang diambil Fahri mulanya muncul atas dasar peduli dan pertalian saudara yang, walaupun tidak baik, tetap ada keterikatan. Hal ini terlihat dari niat baiknya untuk memperbaiki hubungan dan menolong sekalipun harus bekerja dengan bos penjual narkoba. Gaji yang pas-pasan dan banyaknya biaya yang mesti Fahri penuhi memaksanya untuk mengambil jalan pintas. Kalau melihat realitas, tokoh Fahri ini tampaknya hampir mustahil ada. Mungkin ada, tetapi saya pikir sangat sulit menemukan laki-laki yang masih bisa bersikap baik ketika bertemu perempuan naif seperti Elisa.

Ratih menggambarkan secara jelas bagaimana kebanyakan orang sering menilai dan berasumsi yang tidak-tidak terhadap seseorang seakan-akan asumsinya benar—misalnya, anggapan umum tentang laki-laki dan perempuan yang tinggal seatap dan bukan muhrim—dan rasa kepo yang besar atas kehidupan seseorang lewat Bu Hilda dan gunjingan lain yang diselipkan dalam narasi. Mas Memet boleh dibilang sebagai penyimbang tokoh Bu Hilda yang cukup menyebalkan. Sebab, kelucuannya mampu menetralkan kesebalan, baik dari cara berbicara, banyolan, maupun ucapannya.

Deskripsi yang detail tentang kebiasaan tokoh, tempat, dan lain-lain membuat ceritanya semakin terasa nyata dan dekat. Namun, sayangnya, penggunaan Wesel Pos sebagai penutur justru terasa semakin hilang menjelang pertengahan buku. Cerita dari kacamata Wesel Pos hanya ada pada empat bagian awal, kemudian keberadaannya tidak diketahui dan sampai bab sepuluh tidak diceritakan lagi sehingga memunculkan keanehan. Lantaran pada bab akhir tiba-tiba muncul penuturan Wesel Pos yang seolah-olah selalu melihat atau tahu setiap peristiwa yang terjadi, baik di unit Fahri maupun di luar. Sudut pandang yang digunakan pun berujung kurang jelas.

Kehidupan kaum kecil yang disajikan dalam Wesel Pos cukup menarik dan memperlihatkan Jakarta yang sulit ditaklukkan, serta orang sakti dan orang sakit yang hidup di Jakarta—meskipun dari segi cerita kurang memuaskan dan kurang gereget karena konflik yang sederhana dan plot yang mudah tertebak. Selain itu, hampir serupa dengan cerita-cerita yang biasa kita jumpai dalam film televisi (FTV). Namun, wajar saja kalau melihat dari bentuknya dan mungkin memang Ratih sengaja mengambil tema yang ringan agar bisa dihabiskan dalam sekali duduk.

Novelet ini tidak berhasil membuat saya takjub seperti ketika membaca Gadis Kretek—novel sarat pesan yang memuat sejarah kretek di Indonesia—maupun kumpulan cerpen menyenangkan berisi cerita-cerita tidak membahagiakan dalam Bastian dan Jamur Ajaib. Akan tetapi, Wesel Pos berhasil menghibur lewat penokohan yang kuat dan penceritaan yang apik. Keadaan kadang mengharuskan kita untuk bertahan dan memilih pilihan ataupun jalan yang bertentangan dengan hati—seperti yang dilakukan Fahri dan Elisa—sekalipun kita tidak tahu kedua hal itu akan membawa kita pada keberuntungan atau kemalangan lainnya, bahkan akhir yang tragis.

Ingatan dari Kehilangan Ibu

0
Judul      : Please Look After Mom
Penulis : Kyung Sook Shin
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetak : Kelima, Februari 2020
Tebal : 296 halaman
ISBN : 978-602-031-540-9


Novel mengharukan berjudul Please Look After Mom (2020) garapan Kyung Sook Shin, bercerita tentang hilangnya Ibu saat hendak mengunjungi anak-anaknya di Seoul. Ayah tidak sadar Ibu terpisah di stasiun kereta bawah tanah dan mengira masih mengikuti dari belakang. Hilangnya Ibu menjadi titik balik memikirkan hal-hal emosional; kasih sayang, buku, makanan, rumah, kelelahan, kebanggaan, kenakalan, sakit, atau cinta yang lain. Namun secara sosial-kultural, kejadian sangat sehari-hari digunakan penulis untuk memikirkan pola asuh, capaian pendidikan, tata kehidupan patriarki, peran domestik, dan masyarakat yang berubah seiring Korea Selatan menjelang modernitas-dari kehidupan agraris ke industri.

Ibu memiliki lima anak dan hampir mengabdikan hidupnya untuk mengurusi keluarga dan rumah. Anak-anak jelas mencintai Ibu, tapi sayangnya Ibu lebih jauh tidak terukur. Ketika Ibu hilang, anak-anak tergugat rasa bersalah dan saling menyalahkan. Ada ketakutan mengakui bahwa mereka tidak lagi menganggap terlalu “penting” Ibu. Kehidupan kerja, karir, dan rumah tangga membuat hubungan berubah. Cerap, “Di suatu titik, percakapan-percakapan antara kau dan Ibu menjadi seperlunya saja. Bahkan itu pun tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui telepon. Paling-paling kau sekadar bertanya apakah Ibu sudah makan, apakah Ibu sehat-sehat saja, bagaimana keadaan Ayah, bahwa Ibu harus menjaga kesehatan supaya tidak masuk angin, bahwa kau akan mengirimkan uang.”

Sering yang terpikirkan Ibu bukan uang dikirim anak, tapi suatu kunjungan atau lebih emosional “kepulangan” ke rumah. Bagi anak menetapkan jejak di kota, pulang justru permintaan terlalu mewah dan sulit. Sebaliknya, Ibu menjelmakan diri pada kiriman-kiriman, terutama makanan yang selalu jadi penghubung sejak anak-anak belia di desa, “Ibu bercerita bahwa dia membuat kimchi dan mengirimkannya sedikit, bahwa dia suka bermimpi aneh-aneh, bahwa dia mengirimkan nasi, atau saus bumbu, bahwa dia merebus sedikit tanaman obat untuk dikirimkan padamu, dan bahwa kau jangan sampai mematikan teleponmu, sebab kurir akan menelepon dulu sebelum mengantarkan paket-paket itu.”

Pendidikan dan Makanan

Dalam kehidupan tradisional bahkan sulit dihilangkan dalam kehidupan modern, keistimewaan selalu milik anak pertama. Kepada Hyong-chol, Ibu meletakkan kasih sekaligus kebanggaan. Hyong-chol pun membalas Ibu dengan personal sangat membanggakan; patuh, pintar, dan mandiri. Anak pertama sering terbebas dari tugas rumah tangga, mendapat makanan terenak, dan setiap kebutuhan didahulukan meski anak pertama juga paling dulu meninggalkan rumah, “Ketika makanan lezat bernama mi ini memasuki hidupmu, dia pun mengalahkan setiap masakan yang pernah dibuat Ibu. Ibu akan membeli mi dan menyembunyikannya di dalam guci kosong di antara deretan guci tanah liat, untuk disimpan sambil menunggu kedatangan Hyong-chol. Tetapi walaupun sudah larut malam, aroma mi rebus pasti membuat kau dan saudara-saudaramu terbangun. Kalau Ibu berkata tegas, “Kalian semua tidur lagi,” kalian semua akan menatap Hyong-chol yang hendak makan. Karena kasihan, dia akan menawarkan sedikit mi pada kalian.”

Meski mengistimewakan anak pertama, masalah pendidikan anak sama ambisius bagi ibu tradisional ataupun modern Korea-di desa dan di kota. Sejak Korea memodernkan diri usai Perang Korea, pendidikan tidak hanya dinikmati oleh kaum ningrat dan konglomerat. Di sini, kegigihan Ibu mengumpulkan uang tampak di sela kerja dosmetik. Bahkan, jenis kesempatan ekonomi Ibu sangat domestik. Cerap, “Di desa ada keluarga yang memproduksi tahu, dan ketika ibu membawa raginya kepada mereka, mereka menjualnya ke pabrik bir dan memberikan uangnya kepada Ibu. Ibu menyimpan uang di dalam sebuah mangkuk putih, menumpuknya di bawah enam atau tujuh mangkuk lainnya, lalu menaruhnya di atas deretan lemari […] Kalau kau membawa pulang lembar tagihan uang kuliah, Ibu mengambil uang di mangkuk itu, menghitungnya, dan menaruhnya di tanganmu.”

Pukulan telak datang ketika Hyong-chol ternyata tidak lulus ujian universitas. Rencana hidup harus lekas dibelokkan. Hyong-chol memilih ikut ujian pegawai negeri, bekerja, dan mengambil kelas hukum di malam hari. Hyong-chol tidak bisa “berleha-leha” menunggu pendaftaran tahun depan. Di kondisi ini, jelas Ibu paling merasa bersalah dan terus mengatakan, “Maafkan Ibu, Hyong-chol.” Meski Hyong-chol akhirnya makmur bekerja di wilayah properti, tetap ada kekecewaan besar tidak bisa menyokong mimpi anak laki-laki.  

“Tidak ada yang namanya orangtua yang santai,” tulis jurnalis Myung Oak Kim dan Sam Jaffe di buku The New Korea (2013). Orangtua di Korea sangat mengemban peran dan pengasuhan dengan sangat serius. Capaian pendidikan salah satunya, menjadi indikator keberhasilan menjadi orangtua. Jika anak sakit atau gagal bahkan gagal sebagai manusia sukses kala dewasa, selalu berarti orangtua salah. Setiap tindakan perlindungan, semangat, dan tata asuh yang teliti sejak belia, memuat konsekuensi pada nasib anak di masa mendapat.

Secara emosional, Ibu hampir selalu ada dalam hari-hari tumbuh anak meski secara intelektual Ibu bukan orang terdidik. Hari-hari Ibu di dapur pun dijadikan Kyung Sook Shin membabar peran domestik yang terlalu dibebankan pada perempuan. Setelah Ibu menghilang, mereka sadar tidak pernah menanyakan apa benar-benar disukai Ibu. Ibu selalu di dapur sebagai keharusan dan tidak pernah ada anak yang menggugatnya. Begini, “Masih ingat betapa besar periuk nasi kita? Dan ibu mesti menyiapkan makan siang juga untuk kita semua, termasuk semua lauk sampingan yang dibuatnya dengan bahan apa pun yang bisa didapatnya di desa…Bagaimana Ibu menjalani itu setiap hari? […] Kau tak pernah membayangkan sosok Ibu di luar dapur. Ibu dan dapur seolah sudah menyatu dan tak terpisahkan. Ibu adalah dapur dan dapur adalah ibu. Kau tidak pernah bertanya-tanya, “Sukakah Ibu berada di dapur?”

Ingatan dapur secara sengaja disodorkan kepada Chi-hon, anak ketiga, perempuan, mandiri, berkarir sebagai penulis cerita anak, dan belum menikah di usia yang menurut tata sosial sudah seharusnya menikah. Di sini, dapur pun menjadi ruang antara gagasan modern dan tradisional. Bagi Ibu, memasak harus dilakukan suka atau tidak suka. Tata sosial dan pengasuhan menjadikannya seolah wajib. Bagi Chi-hon, peristiwa dapur dipersepsikan sebagai pilihan untuk dijalani atau ditolak.

Penikmat film, drama, atau prosa Korea, tentu sangat sadar peristiwa makan sesederhana apa pun bentuknya, pasti hadir dalam kehidupan para tokoh. Bahkan meski arus urbanisasi semakin menuntut berpindah dari kehidupan komunal ke individual, makan tetap membawa pengingatan kepada keluarga, kebersamaan, kasih sayang. Anjuran selamat makan, makan yang banyak, makanlah dengan kenyang, atau ayo makan dulu memang terdengar biasa saja, tapi menyiratkan ekspresi penguatan mental menghadapi hidup. Korea memiliki masa lalu menyakitkan dijajah Jepang lalu perang saudara yang pernah membawa pada krisis identitas sekaligus pangan. Makan dengan kenyang secara politis, juga menunjukkan ekspresi pembebasan.

Di Look After Mom, Kyung Sook Shin memang akan selalu membawa ingatan kembali pada makan dan makanan. Ibu sering tampak di pekarangan, dapur, dan rumah. Lewat makanan, Ibu menciptakan dunia yang aman, membebaskan anak dari lapar, dan menyiapkan amunisi paling emosional. Cerap, “Bahkan waktu aku sibuk bukan main sehingga tidak sempat membetulkan ikatan handuk di kepalaku, kalau melihat kalian duduk di seputar meja, sambil makan dan menyembunyikan sendok dengan berisik di mangkuk-mangkuk, rasanya tidak ada lagi yang kuinginkan di dunia ini. Kalian semua begitu gampang. Kalian makan dengan lahap walau aku hanya membuat sayur labu dan kacang yang sederhana, dan wajah kalian berseri-seri kalau aku mengukus ikan sesekali […] Kalau aku menanak nasi sepanci besar dan membuat sup di panci yang lebih kecil, aku tidak memikirkan betapa capeknya aku. Aku hanya merasa senang karena semua makanan itu untuk mengenyangkan anak-anakku.”

Sembilan bulan Ibu menghilang, sama lama Ibu mengandung anak-anak. Sampai akhir novel Kyung Sook Shin tetap membuat Ibu tidak ditemukan. Lacakan mengarahkan ke tempat-tempat yang dulu pernah didatangi Ibu. Jangan-jangan, Ibu memang sengaja menghilang-sengaja tidak ingin ditemukan. Ibu barangkali sadar kehidupan (anak-anak) perlahan berubah. Segala upaya Ibu tidak akan sanggup melawan dekapan modernitas, terutama yang ditawarkan oleh pesona kota.



====================
Setyaningsih, Esais dan penulis Kitab Cerita (2019). Tinggal di Boyolali.


Kegamangan dan Keterombang-ambingan: Bagaimana Umat Manusia Menyikapi Realitas Pasca-Manusia yang Menantinya

0
Judul Buku   : Asteroid dari Namamu
Penulis      : Galeh Pramudianto
Penerbit     : Basabasi
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, 2019
Halaman      : 128
ISBN         : 978-602-5783-65-4

Sebuah realitas di mana alam semesta sebagai makrokosmos dan manusia sebagai mikrokosmos bertemu, dan menyatu, lantas hadir dalam sebentuk simultanitas. Sebuah realitas di mana teknologi sebagai citraan masa depan yang digital dan permenungan sebagai aktivitas masa kini yang analog bertemu, berbenturan, atau berkelindan satu sama lain. Sebuah realitas di mana realitas itu sendiri digugat, dipertanyakan-ulang, dicoba-lampaui, dalam upaya menuju sebuah realitas baru yang dijalani oleh entitas-entitas pasca-manusia. Itulah kiranya yang coba ditawarkan puisi-puisi Galeh Pramudianto dalam Asteroid dari Namamu (BasaBasi, 2019), khususnya di bagian pertamanya—Setelah Dentuman Besar.

Yang menarik dari apa yang ditawarkan Galeh ini, tentu saja, adalah hadir dan terasanya sebuah situasi tarik-menarik, sebentuk tegangan, dan kita selaku pembaca dibuat terjebak di dalam situasi ini, terombang-ambing, seperti gamang akan dibawa ke mana dan menjadi (si)apa di sana. Sewaktu-waktu kita diajak untuk berpikir bahwa realitas analog yang sampai saat ini masih kita jalani akan terlewati, akan terlampaui sebagai sesuatu yang silam, namun di waktu-waktu lain kita didorong untuk beranggapan bahwa realitas digital yang serba-mudah dan serba-praktis yang akan menggantikannya itu bukanlah sesuatu yang baik bagi kita; sebab ada sejumlah banyak kegelapan yang menyertainya dan mereka pada akhirnya bisa saja akan menghancurkan kita. Umat manusia di ambang menuju kehancuran tersebut dan seperti tak punya cukup daya dan kuasa untuk mencegahnya terjadi, dan si pemeran utama dalam membayangnya ancaman ini tak lain dan tak bukan adalah mereka sendiri. Homo sapiens membentuk masa depan mereka, di planet ini, di alam semesta ini, dan masa depan itulah yang kelak akan menyingkirkan mereka, membuat mereka punah.

Akan tetapi realitas yang dihadirkan Galeh dalam puisi-puisinya tidak semuram dan segelap itu. Masih ada sebentuk optimisme, meski sekilas kadang tak terasa seperti optimisme. Ia hadir dalam wujud perayaan-perayaan atas realitas yang saat ini tengah berjalan, yang cenderung sangat individual dan personal, yang sebagian berasal dari permenungan sebagai aktivitas analog tadi. Adapun wujud konkretnya bisa berupa kesedihan, atau kerinduan, atau harapan, atau perasaan yang membuai; hal-hal yang akan lekas mengingatkan kita bahwa kita masih manusia dan bahwa realitas analog yang tengah kita jalani inilah yang paling nyata, yang secara konkret benar-benar ada—kita indrai dan rasakan dengan tubuh dan diri kita. Kita mungkin memang dihadapkan pada akan datangnya realitas pasca-manusia yang muram dan gelap itu, tetapi bukan berarti kita lantas akan melupakan realitas yang tengah kita jalani saat ini. Kita bisa menikmatinya, atau paling tidak menenggelamkan diri kita di dalamnya.

Simak, misalnya, satu bait dari puisi berjudul “Partikel Hantu” ini—efek cetak miring dari saya: di hadapan cinta/ bunuh diri terjadi/ berulang kali. Sesuatu yang sentimental. Sebuah permenungan yang memaksa kita menjejak di saat ini. Bait ini diletakkan tepat sebelum bait terakhir yang benar-benar jauh dari sentimentalitas itu, yang juga menjauhkan kita dari diri personal kita: di hadapan neutrino/ massa tak kasatmata/ dan lesap di kerak bumi. Sedangkan situasi yang adalah paduan dari keduanya kita dapati saat membaca satu bait panjang tepat sebelumnya, yang menguatkan efek terombang-ambing yang kita rasakan itu:  sesuatu telah datang/ dan aku melihatmu bergantungan/ dari selubung ke selubung/ dan materi bergelayut tak pasti/ seperti parafrenia/ di atas bukit/ atau gema tak berujung/ menggelepar di ekor/ dan memantul di dinding detektor. Bisa kita lihat, yang saintifik dan yang personal bertemu, mungkin berusaha menyatu, atau justru saling menghantam satu sama lain. Sebuah realitas yang kita singgung di awal tadi. Sebuah realitas yang menjebak kita di dalam kegamangan dan keterombang-ambingan. Dan kita, Homo sapiens, bisa memilih untuk menenggelamkan diri kita di dalamnya; mencoba menikmatinya.

Hal serupa kita dapati di puisi berjudul “Setelah Dentuman Besar”. Simak salah satu baitnya ini: Setelahnya/ yang terjadi adalah/ daun-daun gugur/ pohon trembesi menjadi besi/ bangku taman punah/ bersama tanah-tanah terjajah. Lagi-lagi sebuah sentimentalitas, meski kali ini sifatnya cenderung komunal alih-alih individual, politis alih-alih personal. Dan berikut bait setelahnya: Semesta kian meluber/ membeberkan ihwal nasab/ di tikungan nasib/ menggarami udara kian muhal/ menjelma teriakan penuh sesal. Dan berikut bait sebelumnya: Gugusan galaksi mewarnai/ kelahiran bintang menerjang cahaya/ tirai kosmik telah terbuka/ pada horison suatu masa/ telah menjadi kalender abadi/ dihadirkan Tuhan ataupun entah. Dua bentangan makrokosmos. Keduanya mengapit mikrokosmos tadi. Sebagai akibatnya keterombang-ambingan pun jadi sesuatu yang niscaya. Kita sebagai pembaca dibawa untuk mengalami keduanya secara bergantian, dalam sebuah pengalaman yang dari dekat mungkin terasa temporal namun dari jauh terasa spasial; seakan-akan ada sebentuk simultanitas jika kita melihat si puisi secara keseluruhan. Dan apa yang kemudian kita rasakan, selain keterombang-ambingan itu? Tentu saja kegamangan yang kita singgung di awal tadi. Kita tidak tahu akan dibawa ke mana atau menuju ke mana. Dan kita pun tidak tahu di sana kita akan menjadi (si)apa. Dan dari kegamangan ini muncul permenungan-permenungan lain, pertanyaan-pertanyaan eksistensial lain, seperti tergambarkan di sebuah bait puisi berjudul “Setelah Data” ini: aku seperti ikan di sebuah hologram/ diproyeksikan ke permukaan bak air/ tenggelam dalam enigma kaca/ dan dinding-dinding kolaps di sekelilingmu/ menembus ruang dan menguliti waktu.

___

Kegamangan, keterombang-ambingan; dua hal ini senantiasa membayang-bayangi kehidupan kita, sejak dulu, sedari si “manusia pertama” ada. Kita seperti “bermukim/ pada geliat cemas/ yang tak pernah padam”, sedangkan “waktu terus menderu/ bersama kidung antariksa”—dari puisi berjudul “Bintang Jatuh”. Kita seperti “datang untuk sehelai jawaban”, namun malah “pergi dengan berlembar-lembar/ pertanyaan”—dari puisi berjudul “Hibernasi”. Namun ada satu kabar baik: kegamangan dan keterombang-ambingan ini mendorong kita untuk bergerak maju, membangun peradaban demi peradaban, mengembangkan sains dan teknologi untuk membentuk masa depan kita sendiri; sebuah masa depan yang, dalam bayangan kita, akan bisa kita kendalikan, akan bisa memberi kita kebaikan-kebaikan. Sayangnya, ada juga kabar buruknya. Dalam upaya membentuk masa depan yang kita bayangkan tersebut kita melakukan kesalahan demi kesalahan, kita berbuat kerusakan demi kerusakan, dan pada akhirnya yang dilahirkannya kemudian adalah kegamangan dan keterombang-ambingan itu, sehingga kita seperti terjebak dalam semacam siklus penderitaan yang mungkin kekal. Semula kita mengira kita “lebih dekat dengan bintang”, bahwa pencarian yang kita lakukan adalah “pencarian cahaya”, namun ternyata yang sebenarnya kita lakukan adalah “pencarian kegelapan”, dan kita pun kembali “terpental dari surga”, “jatuh ke bumi karena dosa”—dari puisi berjudul “Hibernasi”. Dan dengan “dosa” yang kita tanggung inilah kita kembali memulai perjalanan kita di dunia ini, sebagai manusia.

Dan itu artinya kita akan kembali berhadapan dengan momen-momen sentimental tadi, dengan saat-saat di mana diri personal kita muncul, seperti tergambarkan di puisi berjudul “Multisemesta”. Dua barisnya ini, misalnya: Aku mendengar suaramu jauh dari sini/ pantulan gemanya memanggil-manggil namaku. Membiarkan diri kita tenggelam dalam sentimentalitas ini, kita lantas “mengembung menjadi gelembung tak terhitung/ serupa air yang dididihkan dalam panci”. Namun ingat, sebab kita bisa memilih untuk menikmatinya, kita bisa mencoba untuk merangkul sedikit optimisme: bicaralah padaku kasih/ meski kau jauh dan dikerubungi pilu/ suaramu masih terdengar nyaring. Dan sekali lagi kita pun menjejak di saat ini, mencoba menikmati realitas yang tengah kita jalani ini. Memang kita masih merasa gamang dan terombang-ambing, dan dari situ permenungan-permenungan muncul, dan yang kita dapati setelahnya hanyalah pertanyaan-pertanyaan eksistensial lainnya, tetapi kita tak perlu terpuruk, sebab kita bisa mencoba meyakini bahwa jawaban untuk pertanyaaan-pertanyaan tersebut akan kita temukan suatu hari nanti, meski mungkin bukan oleh kita tetapi oleh orang-orang setelah kita, seperti tergambarkan di bait ini: Apakah kita sendirian?/ pertanyaanmu tertanam/ di benih waktu/ dan bisa kita tuai/ setelah kepunahan kesekian.

Kita, dengan kata lain, bisa memilih untuk tidak menjalani kehidupan ini dalam kemurungan yang tak habis-habis, yang pada akhirnya bisa membuat kita putus asa. Caranya sekali lagi adalah dengan menikmati momen-momen sentimental itu, dengan menenggelamkan diri kita di dalamnya, lantas mencoba-leburkan yang sentimental dan personal itu dengan yang rasional dan saintifik. Bisa jadi kemurungan itu masih ada, masih benar-benar ada, namun ia justru bisa membuat kita jadi kuat, dan optimis. Dan kepada seseorang yang kita cintai kita pun mengatakan sesuatu seperti ini: cintaku padamu seperti kehancuran dunia/ akan tiba pada suatu masa/ semesta membeku dan lenyap/ dan kita masih bebal pada suatu harap. Atau sesuatu lainnya seperti ini: kita melipat jarak dengan sebuah pertanyaan/ di mana waktu berhenti oleh hangatnya ketidakpastian.

___

Makrokosmos dan mikrokosmos, ketika keduanya bertemu, pada akhirnya tak saling menghilangkan satu sama lain. Justru keduanya saling melengkapi, memperkaya realitas yang tengah kita jalani. Dan kita tentulah masih menjalaninya sebagai manusia, sebagai bagian dari satu-satunya spesies Homo yang tersisa di planet ini. Dan sebab melakukan permenungan demi permenungan adalah sesuatu yang natural bagi kita, kita pun terus melakukannya, dari waktu ke waktu. Kita, misalnya, untuk kesekian kalinya bertanya-tanya apa itu surga, seperti apa itu kehidupan setelah kehidupan ini. Dan, sebagaimana yang kita dapati di salah satu bait puisi berjudul “The Conquest of the Pole”, kita pun menyimpulkan seperti ini: atau barangkali/ surga sudah abadi/ dalam petualang kepala/ dan tubuh yang terpenggal/ mengerucut di arus komikal/ hingga/ kamera telah berpindah/ dan penonton tenggelam/ dengan indah.

Permenungan-permenungan seperti inilah yang membuat kita tetap manusia. Dan di tengah ancaman akan datangnya masa depan yang didominasi oleh entitas-entitas pasca-manusia, permenungan-permenungan tersebut jadi terasa begitu penting, sebab dengan melakukannya kita seperti melakukan perlawanan terhadap realitas pasca-manusia yang tengah menanti dan mengancam kita itu. Tidak apa menjadi sentimental. Tidak apa sesekali tenggelam di dalam sentimentalitas dan kembali mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya telah berulangkali dipertanyakan. Itu bagian dari meng-ada di kehidupan ini sebagai manusia. Itu sesuatu yang sewajarnya kita lakukan sebagai manusia. Terkait hubungan personal dengan seseorang yang kita cintai, misalnya, seperti tercantum di puisi berjudul “Kucing Schrödinger”, kita bisa bertanya seperti ini: Jika kucing Schrödinger/ dapat hidup dan mati/ di waktu bersamaan/ mengapa aku tidak bisa/ memilikimu/ di saat aku/ kehilanganmu? Atau, sebagaimana tercantum di puisi berjudul “Saturnus”, kita bisa berkata seperti ini: Aku ingin berjalan/ dalam lengkung cincinmu/ atau terbang menuju bulan/ Di haribaan Titan/ tanpa majal ataupun ajal.

Sentimentalitas. Permenungan-permenungan yang mengarahkan kita ke sentimentalitas. Rupa-rupanya bagi kita hal ini begitu penting sampai-sampai kita tak bisa menjalani hidup tanpa melakukannya, tanpa berhadapan dengannya, tanpa menenggelamkan diri kita di dalamnya. Jika masa depan berupa realitas pasca-manusia itu kita posisikan sebagai sesuatu yang mengancam eksistensi kita, yang pada akhirnya akan membuat kita punah dengan sendirinya, melakukan permenungan-permenungan itu bisa jadi sebuah coping mechanism, sebuah coping strategy, agar kita bisa bertahan dan bertahan, agar kita bisa mencoba sedikit optimis dan bergerak maju. Sebab hidup ini, sebagaimana dikatakan si aku-lirik dalam puisi berjudul “Fragmen Nördlingen”, “bisa jadi anugerah/ bisa jadi keluh kesah”, namun kita bisa mencoba untuk “percaya bahwa hantaman/ ialah halaman panjang masa depan”. Kita umat manusia masih punya masa depan, dengan kata lain. Atau paling tidak kita bisa berharap masa depan itu ada, yakni sebuah masa depan yang, dalam bayangan kita, akan bisa kita kendalikan dan memberi kita kebaikan-kebaikan.

Namun tidakkah itu berarti kita menipu diri kita sendiri, sebab itu tak ubahnya kita membayangkan sesuatu yang baik akan menyambut kita padahal kita sesungguhnya yakin betul bahwa yang akan menyambut kita itu adalah sesuatu yang buruk—bagi kita? Itu pertanyaan bagus. Benar-benar pertanyaan bagus. Kerusakan-kerusakan yang telah diperbuat umat manusia di planet ini, kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan sejauh ini, memang lebih berpeluang membuat planet ini kelak tak akan lagi bisa kita huni. Dan realitas pasca-manusia yang menanti kita itu, kiranya, tak akan seramah dan sebaik yang kita harapkan. Tetapi ia, masa depan tersebut, sejatinya masihlah sesuatu yang belum konkret, yang belum benar-benar ada, yang masih hanya ada di dalam bayangan kita. Dan kalaupun memang ia seburuk itu, kita toh tidak tahu pasti akan menjadi seperti apa kita di saat itu, ketika ia akhirnya menjadi konkret dan benar-benar ada. Kita, dengan kata lain, mungkin tak perlu juga terpuruk memikirkannya. Dan sebagai gantinya kita bisa menikmati apa yang ada saat ini, realitas yang tengah kita jalani ini, hal-hal yang benar-benar konkret dan kita tahu pasti itu apa. Mengutip pernyataan si aku-lirik di puisi berjudul “Lubang Hitam”: hitam bukanlah warna/ ia hanyalah kisah-kisah peragu/ yang tak tahu ke mana/ akhirnya akan dibawa.(*)

—Cianjur, 22 Maret 2020

======================
Ardy Kresna Crenata tinggal di Bogor Kumpulan cerita pendek termutakhirnya: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelanya: Realitas & Kesadaran (BasaBasi, 2019).

Pembelajaran Merdeka Ala Guru Aini

0
Judul Buku   : Guru Aini (Prekuel Novel Orang-Orang Biasa)
Penulis      : Andrea Hirata
Penerbit     : Bentang
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Februari 2020
Halaman      : xii + 336 halaman
ISBN         : 978-602-291-686-4



“Karena gempa bumi sekalipun tak dapat menggeser keinginan si bungsu manis itu untuk menjadi guru matematika,” halaman 7.

Tekadnya sudah bulat, ia hanya ingin menjadi guru, guru matematika. Bukan menjadi dokter, insinyur, sarjana hukum, sarjana ekonomi atau yang lainnya.

Ibu kandungnya, kepala sekolah, bahkan lelaki yang menjadi cinta pertamanya, merayu agar ia memilih yang lain, asalkan bukan guru. Tapi, ia tetap kukuh terhadap pilihannya. Ia telah jatuh cinta pada ilmu hitung itu. Ia merasa, menjadi guru matematika adalah alasan mengapa ia ada di dunia ini. Ayahnya, ya, ayahnyalah satu-satunya yang mendukung pilihannya.

Tak tanggung-tanggung Guru Desi, rela mengorbankan masa mudanya, mengajar di tempat yang paling jauh, dan tak pernah dibayangkan sebelumnya. Rela berjauhan dengan keluarganya dan fasilitas sekolah yang lebih baik, dibanding dengan sekolah tempatnya mengabdi. Ia rela bertukar tempat pengabdian dengan seorang temannya. Tapi, ia tidak pernah menyesal dengan pilihannya tersebut. Padahal waktu dinyatakan sebagai lulusan terbaik, di sekolah ikatan dinas itu, ia bisa saja menggunakan haknya untuk memilih tempat mengajar, di mana saja yang ia mau. Tetapi ia memilih untuk ikut dalam pengambilan undian.

Desi Istiqamah, demikianlah nama lengkapnya, dan keistiqamahannya pada idealisme pilihan hidupnya telah mewujudkan makna di balik namanya.

Sepatu kets berwarna putih strip merah, menjadi teman perjalanannya sejak awal meninggalkan rumah dan kampung halamannya. Bahkan dia telah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia tak akan pernah mengganti sepatunya, jika belum menemukan sosok murid yang genius dalam matematika.

Guru Desi juga menolak undangan pemberian penghargaan sebagai guru terbaik tingkat kabupaten yang disematkan kepadanya. Hanya karena alasan belum menemukan sosok murid yg hebat dalam matematika. Padahal, kecerdasan, dan idealismenya itu tak terbantahkan dan diakui seluruh guru, juga para murid yang telah diajarnya. Iming-iming dari kepala sekolahnya, menjadi guru terhebat sedunia pun, ditampiknya.

Pernah suatu ketika, dia sudah hampir menukar sepatu bututnya dengan sepatu baru. Karena telah merasa menemukan anak genius yang didambakannya. Tapi, si genius yang sudah disiapkan tempat khusus di rumahnya, telah meninggalkannya dengan begitu saja. (Kepergian Debut Awaluddin dari sekolah dapat pula dibaca pada novel Andrea Hirata yang berjudul Orang-Orang Biasa, 2019).

Kemampuan Guru Desi dalam mengajar, mendidik murid-muridnya, sungguh mumpuni. Tidak hanya menguasai ilmu matematika sebagai fokus keahliannya. Tapi, ia juga menguasai psikologi pendidikan, metode pengajaran yang beragam, serta ilmu pedagogik. Sehingga ia tidak pernah mati langkah atau menyerah dalam menghadapi murid-muridnya yang sama sekali tak punya minat atau bakat pada mata pelajarannya. Meskipun mencari murid impiannya di SMA Belantik, amatlah sulit.

Kemampuan Guru Desi, bukanlah kecerdasan yang given, atau semacam ilham, wangsit yang langsung jadi. Semua itu didapatkannya melalui proses yang panjang, dimulai saat ia masih duduk di les 3 SD. Ia terinspirasi dari gurunya yang bernama Ibu Marlis.

Salah satu kebiasan baik Guru Desi adalah melahap buku-buku. Tidak hanya sebatas matematika. Sangat doyan terhadap buku-buku sastra, novel dan sebagainya. Sejak masih sekolah, hingga saat menjadi guru pun ia terus membaca dan membaca.

Kontras dengan kelaziman kita sebagai guru. Rasanya, hampir tidak ada lagi waktu untuk membaca, memperbarui, dan mengembangkan ilmu yang sudah dimiliki. Buku yang dibaca sebatas buku teks pelajaran yang akan diajarkan di depan para siswa. Sementara ilmu untuk membangkitkan semangat belajar para siswa, nyaris tak pernah dibaca. Padahal, itu menjadi tuntutan kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, selain kompetensi profesional.

Jika Guru Desi di waktu luang memanfaatkannya ke perpustakaan, dan memperkaya literaturnya dengan buku-buku. Kebanyakan guru pada kenyataannya tidak demikian. Lebih senang berkumpul untuk ngerumpi, sibuk dengan gadget masing-masing. Serta lebih suka berbelanja barang-barang mewah tinimbang membeli buku.

Sebuah ironi, jika para guru mengajak siswa kita untuk mencintai buku, mencintai membaca. Tapi, guru itu tak memiliki sense, kepekaan dan dan kedekatan rasa pada hal tersebut.

Hingga pada suatu masa, Guru Desi bertemu dengan Aini. Awalnya, Aini termasuk murud yang tidak ingin diajar oleh Guru Desi, karena reputasi Guru Desi terkenal sebagai guru yang idealis, khususnya dalam pelajaran matematika. Bahkan, Aini dan teman-temannya, sangat bersyukur jika tidak sampai bertemu dan diajar oleh Guru Desi. Aini lebih senang diajar oleh Guru Tabah.

Kekuatan cita-cita dan cinta, itulah yang menggerakaan Aini, untuk mendatangi Guru Desi. Meskipun berkali-kali Guru Desi menolaknya, secara terang-terangan.

Ayah Aini jatuh sakit, dan tidak seorang pun yang bisa menyembuhkannya. Dukun maupun dokter di puskesmas. Kecuali, jika ditangani oleh dokter ahli. Tapi karena ketidakmampuan biaya, Ayah Aini, hanya dirawat di rumah saja.

Aini, bertekad akan menjadi seorang dokter yang akan mengobati dan menyembuhkan ayahnya. Dan untuk menjadi seorang dokter, Aini harus kuliah di fakultas kedokteran, dan untuk lolos ke fakultas bergengsi itu, Aini harus menguasai ilmu hitung-hitung, matematika.  

Guru Desi merasa takjub melihat keinginan Aini untuk belajar langsung matematika kepadanya. Sedangkan yang lain menghindarinya. Karena akan menjadi sebuah keberuntungan besar bila tidak sempat diajar oleh Guru Desi.

Tetapi, penyerahan diri Aini, ke Guru Desi, membuahkan hasil yang cemerlang, meskipun harus dilalui dengan perjuangan yang berat. Tidak hanya keringat yang bercucuran, air mata pun menetes, karena sulitnya belajar matematika.

Guru Desi mendidik Aini mulai dari 0 (baca: NOL), hingga ia betul-betul menguasai matematika. Dari murid yang paling buntut namanya dipanggil saat pembagian hasil ulangan, hingga ia menjadi bintang baru di kelasnya, bahkan di sekolahnya pasca ujian akhir SMA. Dari yang paling sering mendapat hukuman berdiri di depan kelas, hingga ia menjadi jawara lomba menjawab soal matematika di kelasnya.

Kemauan dan kegigihan Aini untuk belajar, meskipun diusir, didamprat dengan kata-kata kasar sekalipun, tak membuatnya menyerah dan mundur dari cita-citanya menguasai matematika demi menjadi seorang dokter, dan demi menyembuhkan ayahnya. Demikian pula kesabaran Guru Desi dalam mendidik dan mengajar Aini. Meskipun, dalam pandangan awal, Guru Desi, rasanya amat sangat sulit bagi Aini untuk menguasai matematika.

Kecintaan Guru Desi pada buku, pada membaca, berimbas kepada muridnya, Aini.

“Aini pun telah menjelma menjadi pembaca buku yang rajin. Dipinjamnya banyak buku dari perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah lalu digempurnya buku-buku itu tanpa ampun. Dia membaca sambil duduk, sambil berdiri, sambil berjalan, sambil naik angkot, sambil memencet-mencet balon ngik-ngok saat berjualan minan anak-anak di kaki lima,” halaman 252.

Demikianlah pentingnya kesabaran bagi pendidik dalam mengajarkan ilmu. juga kesabaran, keuletan dan kesungguhan seorang murid dalam berusaha meraih ilmu tersebut. Keduanya harus berkolaborasi, bekerjasama dengan baik.

Meskipun buku 336 halaman ini, 35 judul, banyak membahas matematika. Bukan berarti, novel ini hanya cocok untuk guru matematika. Bahkan bagi semua guru di pelosok negeri ini, orang tua dan peserta didik sekalipun,

Buku yang bergendre fiksi, misalnya novel, tidak harus selalu dipandang sebagai sesuatu yang fiktif. Tapi, ia bisa hadir menjadi pengisi relung jiwa. Bahkan bisa menjadi alat rekayasa sosial atau masyarakat. Karena ia hadir bukan di ruang hampa. Demikian halnya buku anggitan penulis Laskar Pelangi ini,

Bagi saya yang awam tentang matematika dan istilah-istilah yang melingkupinya, tentu menjadikannya sebagai tantangan tersendiri untuk memahaminya. Sekaligus merefresh kembali ingatan pembelajaran matematika yang saya dapatkan saat sekolah dulu.

Novel ini sungguh asyik dibaca, layak dijadikan buku referensi, terutama bagi yang berprofesi sebagai seorang guru.

Ada rasa haru, kocak, lucu, menggelitik nan kritik sosial secara halus, satire. Tanpa menghilangkan esensi pesan yang ingin disampaikannya. Dari novel pertamanya yang saya baca hingga yang sekarang ini, seperti itulah Andrea Hirata menghipnotis para pembacanya.

===================
Ahmad Rusaidi, pengajar di SMA Negeri 9 Takalar dan penggiat literasi di Sudut Baca Al-Syifa Ereng-Ereng dan Boetta Ilmoe Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Menganyam Delusi, Mengikhtiarkan Masa Depan dan Menyalakan Api di Sorot Mata yang Padam

0

Judul      : Memetik Keberanian: Kumpulan Cerita Anak-Anak
Jenis      : Cerita Anak
Penulis    : Deasy Tirayoh, dkk.
Penerbit   : Gora Pustaka, Makassar
Cetakan    : Pertama, April 2019
Tebal      : 140 halaman 
ISBN       : 978-623-90475-1-1

Menghargai anak-anak sama dengan menghargai masa depan. 

Gempa yang terjadi di Lombok pada akhir bulan Juli 2018 lalu, disusul tsunami di Palu dan Donggala, masih segar dalam ingatan. Seruan doa, jerit tangis dan air mata dari berbagai penjuru terbentang di seluruh siaran berita. 

Duka ini menepuk haru biru ingatan kita pada tujuh peristiwa bencana tsunami, setidaknya, yang melanda Indonesia sejak bertahun-tahun silam. Dimulai dari bencana tsunami di Sulawesi Tenggara (1968), tsunami Sumba (1977), tsunami Flores (1992), tsunami Banyuwangi (1994), tsunami Banggai (2000), tsunami Aceh 2004) dan tsunami Pangandaran (2006). 

Seperti halnya tsunami di Aceh, bencana tsunami Pangandaran dimulai dari gempa yang disertai gelombang tsunami yang membuat warga di pantai selatan Jawa Tengah dari Kebumen hingga Cilacap panik. 

Bencana tsunami di Aceh membawa korban paling besar. Sekitar 230.000 orang dari 14 negara tewas akibat tsunami dahsyat yang melanda Samudra Hindia pada 26 Desember 2004. Tsunami ini dipicu gempa berkekuatan 9,1 skala Richter yang episentrumnya berada Samudra Hindia, sekitar 85 km di barat laut Banda.

Bencana, seperti apa pun bentuknya tentu selalu membawa korban. Baik materi dan non materi, baik nyawa mau pun harta benda. Tak terkecuali kaum dewasa dan anak-anak. Traumatika kemudian berdiri sebagai momok yang disisakan sesudahnya. 

Pasca bencana gempa Lombok, senyum anak-anak raib dari rautnya. Keceriaan hilang dari matanya. Ketakutan dan trauma mengambil mimpi mereka. Masa depan yang membayang di luar sana, bahkan turut lantak bersama luruhnya tembok-tembok sekolah.

Seorang anak kecil pada sebuah wawancara di televisi mengatakan ingin kembali ke sekolah dan bermain bersama teman-temannya. Di matanya yang bersih tak tersirat kekhawatiran pada rasa lapar, tak tersirat rasa kehilangan atas harta benda orang tuanya yang terkubur di bawah reruntuhan bangunan. 

Bisa jadi mereka belum memiliki kecemasan sejauh perasaan yang terdapat di dalam benak manusia dewasa. Bisa jadi mereka belum mempunyai getir sejauh luka kekecewaan yang ditanggung orang dewasa. 

Adakah mereka merasakan takut pada ancaman bencana? Tentu, mereka pun merasakannya. Pada wawancara yang sama, beberapa dari mereka mengungkapkan, bahwa pengungsian merupakan tempat yang paling membosankan. Di sinilah kita dapat mengukur ketakutan yang hinggap di hati mereka. 

Terpisah dari sekolah dan berjarak dari teman-teman sepermainan dalam kurun waktu yang tak jelas hingga kapan di pengungsian, adalah salah satu dari sekian masalah yang mereka hadapi, selain persoalan logistik dan kesehatan yang tak bisa dipandang remeh. 

Di luar wujud dukungan material, Lombok, sebagai salah satu lingkungan terdampak bencana, tentu saja masih membutuhkan perhatian dari para pihak demi pemulihan. 

Dukungan yang bersifat fisik dan temporal bisa jadi lebih dari cukup. Sayangnya, bentuk dukungan dari para pihak, tak banyak yang terkonsentrasi pada kebutuhan pemulihan psikis anak-anak korban bencana. Trauma healing barangkali merupakan salah satu bentuk upaya yang dapat dilakukan. 

Anak-anak korban terdampak bencana perlu dipulihkan kembali mimpi-mimpinya. Anak-anak korban terdampak bencana membutuhkan pendampingan agar mereka tidak pernah merasa sendiri. Anak-anak korban terdampak bencana harus dapat memetik dan memiliki keberanian kembali. 

Dan kehadiran buku cerita anak ini sedianya merupakan jembatan untuk mempertemukan kembali dengan segala yang pernah raib dari mereka disebab bencana. Melalui bacaan yang menggugah harapan-harapan inilah, kita ingin meyakini, supaya anak-anak dapat segera pulang menemui keceriaannya. Menyalakan api di sorot mata yang padam. 

Terakhir, penyusunan cerita anak ini tentu bukanlah hal yang mudah. Kami, tim penyusun berterima kasih terhadap tingginya antusias dari rekan-rekan penulis yang mengirimkan karya, hingga kami merasa perlu untuk melakukan kerja kurasi.

Kerja kurasi yang sesungguhnya merupakan bentuk penyesuaikan dengan perihal yang berkaitan dengan penerbitan buku ini, termasuk di antaranya, penyesuaian tema dan komposisi. 

Kami mohon maaf, dengan sangat terpaksa tidak dapat mengikut sertakan semua naskah yang kami terima. Persoalan terkait pendanaan merupakan alasan riil yang dihadapi oleh penerbitan buku ini. 

Kami memutuskan menaruh harapan tersebut kepada kerelaan kita semua untuk memberikan donasi. Kita menyadari, bahwa ada saatnya kita benar-benar ingin memberi. Kesempatan tersebut salah satunya saat kita turut membantu menyebarkan ide atau cerita-cerita dalam buku ini. Silakan bagi yang berminat bisa menghubungi
via email:
storybookforlombok@gmail.com

atau via Whatsapp
(0819 4222 249/0813 3156 9963)

* Harga Rp. 100 ribu (satu examplar)
* Harga Rp.150 ribu (dua examplar)
* Harga Rp.200 ribu (tiga examplar)
* Setiap pembelian hanya dibatasi tiga examplar saja.

Anjing Gunung: Pengalaman Spasial, Pengalaman Temporal, dan Kesimpangsiuran

0
Judul      : Anjing Gunung
Jenis      : Kumpulan Puisi
Penulis    : Irma Agryanti
Penerbit   : BasaBasi, Yogyakarta
Cetakan    : Pertama, Desember 2018
Tebal      : 88 halaman + sampul
ISBN       : 978-602-5783-61-6

Sesuatu yang visual menawarkan kepada kita pengalaman spasial. Itu karena hal-hal yang tersaji padanya menghambur ke arah kita secara simultan, hampir-hampir di detik yang sama, dan kita seperti diberi kebebasan untuk menentukan hal-hal mana yang akan kita nikmati terlebih dahulu. Sesuatu yang tekstual, sementara itu, menawarkan kepada kita pengalaman temporal, di mana upaya kita untuk menikmatinya sangat terbatasi oleh adanya urutan-urutan. Sekarang bayangkan kedua hal ini dibenturkan. Tentulah, dengan sendirinya, kita akan berada dalam tarik-menarik antara pengalaman spasial dan pengalaman temporal.

         Benturan seperti inilah kiranya yang kita hadapi saat membaca puisi-puisi Irma Agryanti yang terkumpul dalam Anjing Gunung (BasaBasi, 2018), buku puisi yang menyabet Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 untuk kategori puisi. Dengan terang-benderang, sebagaimana tersaji di halaman belakang buku ini, Irma mengatakan bahwa (puisi-puisinya di) Anjing Gunung adalah bentuk hubungan antara tangkapan visual dan teks. Konkretnya, seperti diutarakannya di kata pengantarnya di buku ini, yang dilakukannya adalah memindahkan tangkapan visual itu ke dalam bahasa puisi.

         Tentu saja pemindahan seperti ini problematis. Sementara tangkapan visual yang dimaksud Irma itu menawarkan spasialitas dan simultanitas, bahasa puisi yang ditulisnya akan selalu berada di dalam kekangan temporalitas. Selain itu, apa-apa yang hadir pada tangkapan visual itu adalah hal-hal yang cenderung konkret, sedangkan apa-apa yang hadir di dalam bahasa puisinya justru adalah hal-hal yang cenderung abstrak, atau hal-hal konkret yang terabstrakkan. Tidak mudah mendamaikan dua hal yang berseberangan seperti ini. Salah-salah, yang kelak tersaji ke hadapan pembaca adalah sebuah kekacauan, sebuah kesimpangsiuran, bukannya harmoni.

         Simak, misalnya, puisi “Dingin”. Bait pertamanya: sebab terpisah dari api/ mangsi jatuh/ di hitam mata—tanda cetak miring dari saya. Mudah memang melafalkannya dan menikmatinya sebagai sesuatu yang puitis, tetapi ketika memvisualkannya kita lekas mendapati betapa abstraknya permainan visual bait tersebut. Mulanya kita diajak untuk membayangkan mangsi terpisah dari api. Sebelum kita bisa benar-benar menerimanya, kita sudah diajak untuk membayangkan si mangsi ini jatuh di hitam mata, dan itu pun entah mata siapa. Ingat, yang dilakukan Irma di puisinya ini adalah memindahkan tangkapan visual, sesuatu yang dihadapi dan dialaminya di dunia nyata, ke dalam bahasa puisi, ke dalam wujud teks yang dianggapnya puitis. Katakanlah yang dimaksud puitis oleh Irma salah satunya adalah melenyapkan makna praktis sesuatu hal untuk kemudian menggantinya dengan maknanya yang lain, yang non-praktis, dan dalam hal ini ia terbilang berhasil. Hanya saja, kita jadi bertanya-tanya situasi seperti apa yang dihadapi Irma di dunia nyata, di realitas yang dijalaninya, yang kira-kira “sebangun” dengan bentukan kalimatnya yang puitis itu.

         Dan ketika kita mencoba meraba-raba situasi tersebut, kita dihadapkan pada masalah yang kita singgung tadi: kekangan temporalitas. Kita dipaksa untuk membayangkan gambar demi gambar secara runut, diawali dengan munculnya api lalu bagian hitamnya—jika bukan mangsi itu sendiri—terpisah darinya dan setelah itu muncul mata, dan diikuti oleh menetesnya—atau tercipratnya—hitam itu ke mata tersebut. Meski di benak kita munculnya gambar-gambar ini mungkin berlangsung dalam rentang waktu yang sangat singkat, tak bisa dimungkiri bahwa kita mengalami tiap-tiap gambar sendiri-sendiri, secara terpisah, di mana yang satu menggantikan yang lain. Padahal, di dunia nyata, di dalam situasi yang dihadapi Irma itu, gambar-gambar tersebut mestilah muncul secara serentak, sebagai sebuah kesatuan. Sesuatu yang spasial, bukan temporal.

         Ini membawa kita ke sebuah pemahaman—atau setidaknya dugaan—bahwa puisi, di mata Irma, adalah diri lain yang lumayan jauh berbeda dari sesuatu hal di dunia nyata yang tertangkap oleh matanya. Pengalaman yang ditempuh Irma saat sesuatu itu hadir di hadapan matanya ia transformasikan menjadi sesuatu yang sangat lain, di mana ia menyingkirkan spasialitas dan simultanitas yang sejatinya melekat padanya dan menggantinya dengan temporalitas yang dipadukan dengan wujud visual yang lain, yang sangat abstrak itu. Pertanyaannya: kenapa hal ini dilakukan? Irma, dalam paparannya yang ditampilkan di sampul belakang buku, memang mengatakan bahwa puisi memunculkan detail-detail klise dari sesuatu hal untuk memungkinkan pemaknaan kita atasnya meluas; itu berarti penting bagi dirinya, selaku si penyair, untuk membubuhkan detail-detail lain ke dalam bahasa puisi hasil transformasinya itu—detail-detail yang tak ditemukannya saat sesuatu hal di dunia nyata itu tertangkap oleh matanya. Maka, mungkin bisa dikatakan seperti ini: Irma, selaku si penyair, memosisikan aktivitas menulis puisi sebagai upaya untuk melengkapi diri visual sesuatu hal, namun sekaligus juga mengganti diri visualnya ini dengan diri visual lain, yang bisa sangat berbeda dengannya. Sebuah upaya untuk melengkapi, sekaligus mengkhianati.

___

Sebenarnya, upaya semacam ini telah coba dilakukan oleh beberapa penyair sebelum Irma. Nirwan Dewanto adalah salah satunya. Di beberapa puisinya di Jantung Lebah Ratu (GPU, 2008) Nirwan membenturkan yang spasial dengan yang temporal dan ia membawanya lebih jauh lagi: bukan hanya menyajikan kesimpangsiuran, ia pun mengolah kesimpangsiuran ini menjadi semacam harmoni yang tak biasa. Baca, misalnya, puisi “Perenang Buta”. Dua kalimat pertamanya: Sepuluh atau seribu depa/ ke depan sana, terang semata./ Dan arus yang membimbingnya/ seperti sobekan pada jubah/ tanjung yang dicurinya.  Bisa dilihat bahwa Nirwan awalnya menawarkan hasil transformasi tangkapan-tangkapan visual yang masih terbilang konkret, lalu di satu titik ia menghancurkannya dengan menawarkan hasil transformasi yang terbilang astrak, yang tidak mudah kita terima sebagai sebuah tangkapan visual yang wajar. Dan strategi ini kembali dilakukan Nirwan di kalimat-kalimat berikutnya, di sepanjang tubuh puisi. Sebelumnya kita mungkin curiga Nirwan hendak melemparkan kita kepada kesimpangsiuran dengan menghancurkan struktur yang tengah berusaha dibangunnya itu, namun lambat-laun kita memahami bahwa yang coba dilakukan Nirwan adalah mengarahkan kita untuk menikmati tawaran harmoninya yang tak biasa itu. Semacam harmoni yang terbentuk dari sejumlah kesimpangsiuran yang terpola.

         Sekarang, mari kita bandingkan strategi Nirwan ini dengan strategi Irma. Tentu, kita tidak akan begitu saja menentukan mana yang lebih baik. Alih-alih demikian, yang akan kita coba lakukan adalah mengaitkan strategi yang berbeda ini dengan konteks yang melatarinya, supaya kita bisa memahami seperti apa relasi yang terbangun di antara keduanya. Dan dari situ, mungkin saja, kita pun bisa meraba-raba sikap si penyair—baik itu terhadap konteks tersebut maupun terhadap puisi itu sendiri.

         Jantung Lebah Ratu terbit pada 2008. Ketika itu, situasi sosial-politik di negeri ini masih terbilang kondusif, dan belum ada hantaman yang mengguncang dari pertumbuhan teknologi informasi dan hal-hal lain yang terkait dengannya. Ini kiranya menjadi alasan tersendiri mengapa puisi-puisinya Nirwan di buku ini relatif tidak mengaitkan dirinya dengan realitas yang tengah berlangsung ketika itu. Alih-alih dengan realitas yang konkret ini, Nirwan justru mengaitkan puisi-puisinya itu dengan teks-teks yang berasal dari khazanah yang abstrak, entah itu seni rupa, seni musik, teater, puisi itu sendiri, ataupun yang lainnya. Memang, apabila kita cermati beberapa puisinya di buku ini, seperti “Semu” dan “Apel”, Nirwan tampaknya memfokuskan pengalaman puitiknya sebagai pengalaman yang “kosong”, yang tidak mengarahkan pembaca kepada apa pun selain si puisi itu sendiri. Ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Melani Budianta di sampul belakang buku ini, bahwa puisi-puisi Nirwan bukanlah teka-teki melainkan sehamparan momen estetika; juga bahwa sejauh manapun maknanya berkelana pada akhirnya puisi-puisi Nirwan ini akan menariknya kembali ke dirinya sendiri.

         Anjing Gunung, sementara itu, terbit pada 2018, ketika situasi sosial-politik di negeri ini sedang sangat tidak kondusif, di mana rakyat masih terjebak dalam bineritas pasca-Pilpres 2014 dan pra-Pilpres 2019, di mana pertumbuhan teknologi informasi yang begitu pesat diikuti oleh dampak-dampak negatifnya seperti maraknya hoaks dan susutnya kedalaman—digantikan oleh momen dan reaktivitas. Maka mudah dipahami mengapa yang disajikan Irma dalam puisi-puisinya itu adalah kesimpangsiuran, adalah kekacauan, bukannya harmoni. Dalam hal keterkaitan dengan realitas yang tengah berlangsung itu sendiri, kita jelas-jelas menemukannya, seperti di puisi “Anjing Gunung”. Puisi ini menggambarkan sebuah situasi di mana perubahan besar akan terjadi, dan ini perubahan yang buruk sebab akan menyebabkan sungai-sungai mati dan para penggembala tak lagi ada. Musim kemarau yang panjang, katakanlah, yang bisa jadi adalah simbol dari sesuatu yang lebih gawat seperti matinya demokrasi atau bangkit kembalinya rezim otoriter. Dan, di tengah upaya untuk memaknai situasi ini, Irma menghadirkan tangkapan-tangkapan visual yang terabstrakkan, di titik-titik di mana struktur yang kemudian terbentuk adalah representasi dari kesimpangsiuran—bukannya harmoni.

___

Adapun kesimpangsiuran ini sendiri sejatinya bukan hal baru. Telah ada banyak orang yang mencoba menawarkannya, entah itu penyair, prosais, pemikir, ataupun yang lainnya. Afrizal Malna, misalnya, menawarkannya lewat puisi-puisinya, di mana ia melangkah sangat jauh hingga menjadikan kesimpangsiuran ini sesuatu yang akut, pekat, sekaligus legit; di mana pembaca, apabila ia membiarkan dirinya terlarut dalam racikan Afrizal ini, bisa terus terjebak di dalam pusaran demi pusaran, ledakan demi ledakan, sambil diam-diam menuju ekstase dan menikmati prosesnya. Baca, misalnya, “Seminar Puisi di Selat Sunda”, salah satu puisi di Berlin Proposal (Nuansa Cendekia, 2015). Puisi ini, bahkan dari sejak bait pertamanya, sudah kuat menjerat kita ke dalam kesimpangsiuran. Dan ia kesimpangsiuran yang akut, pekat, sekaligus legit, sebab bukan saja yang dibenturkan di sana adalah yang spasial dan yang temporal melainkan juga yang bergerak dan yang diam, yang tercatat dan tak tercatat, yang ada di saat ini dan yang ada jauh di masa silam. Afrizal bermain-main dengan kata dan bentukan kalimat, untuk memunculkan bukan hanya efek bunyi melainkan juga efek imaji, untuk membuat ruang yang ditampilkannya lebih mampu membangkitkan indra-indra pembaca dan setelah itu memerangkapnya. Pengalaman sekompleks ini tidak kita temukan di puisi-puisi Irma. Sehingga, apabila kita bicara soal kesimpangsiuran, apa yang ditawarkan Afrizal ini kiranya jauh melebihi apa yang ditawarkan Irma.

         Dan ini membawa kita ke sebuah pertanyaan penting: apakah puisi-puisi Irma di Anjing Gunung itu telah cukup mewarnai kesusastraan kita, juga realitas kita? Jawabannya barangkali adalah belum. Belum cukup. Ini karena, sebagaimana telah kita lihat bersama, dalam puisi-puisinya itu Irma masih sebatas menghadirkan kesimpangsiuran dengan cara membenturkan yang visual dengan yang tekstual, dan ini masih jauh dari sebuah kesegaran—hanya sebuah variasi saja. Dan kalaupun kita mau menyoroti sifatnya yang representasional, bahwa puisi-puisinya itu merepresentasikan situasi sosial-politik yang tengah kita hadapi saat ini, jujur saja, rasanya masih tertahan di tahap nanggung. Soal maraknya hoaks, misalnya, ficciones ala Borges jauh lebih berhasil merepresentasikannya, sebab pembaca benar-benar dibuat tak bisa membedakan mana fakta mana fiksi, mana yang benar-benar terjadi mana yang hanya bualan belaka. Dan beberapa prosais kita telah cukup baik melakukannya, seperti A.S. Laksana dan Dea Anugrah.

         Maka, kita pun sampai pada kesimpulan ini: Anjing Gunung, meski menawarkan puisi-puisi yang cukup menarik untuk dinikmati dan diresapi, dari segi konsep masihlah belum cukup kuat; tawaran-tawaran pemaknaan dan perspektifnya belum cukup mampu menggoyahkan kenyamanan dan keterbiasaan kita, seperti soal bagaimana kita membaca teks dan realitas. Memang, buku ini menyabet sebuah penghargaan bergengsi di tanah air, dan untuk capaiannya ini ia—juga Irma selaku si penyair—tentu patut diapresiasi. Tetapi, sebagai seorang pembaca yang kritis dan independen, kita harus selalu mengedepankan kejujuran. Kita, misalnya, harus berani mengatakan bahwa puisi-puisi Irma di buku ini, terlepas dari segala kelebihan dan daya tariknya, sesungguhnya masih akan kita kategorikan sebagai puisi-puisi yang biasa saja.(*)

Bogor, 30-31 Oktober 2019

Ardy Kresna Crenata menulis puisi, cerpen, esai, dan novela. Kumpulan cerpen termutakhirnya: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelnya: Realitas & Kesadaran (BasaBasi, 2019).

Kampung Kekasih (Info Buku)

0

Jenis: Kumpulan Puisi
Penulis: Daviatul Umam
Pengantar: Raedu Basha
Penerbit: Halaman Indonesia, Yogyakarta.
Cetakan: Pertama, November 2019
Tebal: 69 halaman
ISBN: 978-602-0848-30-7

Davit bicara tentang sisi-sisi pencitraan yang memungkinkan dapat kita nikmati imajinasi-imajinasinya. Sisi yang paling mencolok, puisi-puisi Davit menunjukkan sketsa-sketsa tentang spiritualitas masyarakat agraris dan maritim, hampir di semua sajak-sajaknya.
Citra-citra spiritualitas petani, juga nelayan, terhidangkan. Kita akan tahu bagaimana masyarakat Madura memandang kehidupan dari puisi-puisi Davit. Minimalnya dari sudut pandang seorang penyair muda ini.
Kita juga akan berjumpa sajak-sajak yang ingin dimanja sebagai puisi-puisi cinta. Semua penyair dapat melakukan hal serupa di belahan dunia. Kesan yang saya tangkap adalah pantulan lirik-lirik musik dangdut. Khas sekali sebagai selera musik dunia agraris dan alam kaum maritim.

(Raedu Basha, penyair, prosais, penulis buku Matapangara & Hadrah Kiai)
*
Puisi-puisi yang terhimpun dalam Kampung Kekasih menyandarkan diri pada peristiwa-peristiwa kecil yang riang menampilkan gambaran kampung halaman. Lewat pengungkapan diksi-diksinya yang khas, ia tidak hanya bergulat menampilkan apa yang telah terhampar di tengah riuh fitur-fitur alam pedesaan, tetapi sekaligus menuturkan tinjauan tentang rantauan, suara dari jauh, dengan melakukan perbandingan romantik antar keduanya. Menyelami Kampung Kekasih adalah menyelami dambaan perasaan penyair akan kemesraan, kedamaian, ketulusan pengabdian dan kerelaan yang lantang. Pendekatan puisi-puisi Daviatul Umam berpegang pada bentuk bait yang runut, menjadikan pengalaman di dalamnya memiliki pertautan dengan tafsir pembaca.

(Iin Farliani, penyair & cerpenis, penulis buku Taman itu Menghadap ke Laut)

Mengembara dalam Cerpen-Cerpen Dunia Dongeng

0
Judul      : Pohon yang Tumbuh Menjadi Tubuh
Jenis      : Kumpulan Cerpen
Penulis    : Faisal Oddang, dkk.
Penerbit   : Gora Pustaka, Makassar
Cetakan    : Pertama, Maret 2018
Tebal      : 136 halaman 
ISBN       : 978-623-99344-2-0

Cerpen-cerpen yang terpilih mengisi antologi “cerpen dunia dongeng” ini merupakan cerpen-cerpen yang ‘lolos’ dari kriteria yang disebut “Cerpen Dongeng”. Apa “Cerpen Dongeng” itu dan seperti apa kriterianya?

Cerpen dongeng bukan proklamasi sebuah ‘genre’ baru sebagaimana ‘puisi esai’ yang dikenal belakangan. Cerpen dongeng hanya sebuah ‘keisengan kreatif’ yang memcoba kembali ke akar tradisi, bercerita dengan ungkapan-ungkapan baru, gaya baru, dan juga imaji-imaji baru namun sumber inspirasinya dipungut dari khasanah sastra lama: dongeng!

Masyarakat kita sejak dahulu sudah tidak asing dengan ‘dunia dongeng’, sebuah fantasy yang indah dan menyenangkan. Dalam sebuah dongeng segala-galanya diupayakan menjadi indah oleh penuturnya:  Bidadari yang cantik, pangerang yang tampan, dan si miskin –kalau pun ada dalam dongeng—harus pula menjadi si miskin yang indah budi pekertinya. Tentu saja untuk menonjolkan keindahan-keindahan tersebut perlu pula ada karakteristik yang sebaliknya,  yang diperankan oleh tokoh-tokoh yang dalam istilah sastra disebut “antagonistis”, agar keindahan dongeng menjadi tidak vulgar. Tapi ‘dongeng’ yang ingin ditampilkan dalam cerpen-cerpen dari “dunia dongeng” ini bukanlah melulu keindahan yang meninabobokkan pembaca, bukan bacaan pengantar sebelum tidur. Ada sesuatu pergulatan kreatif untuk mengungkap kembali keindahan-keindahan dunia dongeng itu, dengan cara bertutur (bercerita) dalam khasanah sastra modern: cerpen!

Dongeng dikenal sebagai karya fiksi dalam khasanah sastra lama. Sebagaimana mantra, dongeng dianggap memiliki kekuatan ‘magis’ untuk memengaruhi ‘suyet’ (objek atau orang yang membaca/mendengarnya), hingga kekuatan tersebut dianggap sebagai sebuah sugesti. Sutardji Calzoun Bachri mengolah mantra menjadi puisi baru, dan Danarto dan cerpenis-cerpenis lain juga telah mengolah ‘dunia dongeng’ dalam sastra baru yang mengasyikkan. Jadi cerpen ‘dunia dongeng’ sesungguhnya sama sekali bukanlah sebuah genre baru dalam prosa Indonesia kita.

Cerpen-cerpen ‘dunia dongeng’ tentu saja harus mengalami perkembangan dalam ‘bentuk’ bercerita, ketimbang dengan ‘bentuk’ bercerita pada dongeng-dongeng asli yang masih menggunakan gaya, ungkapan, dan kata-kata dari khasanah sastra lama. Tentu saja kata-kata pembuka misalnya,  yang menjadi ciri khas sebuah dongeng asli seperti ‘syahdan’, ‘sahibulhikayat’. ‘pada zaman dahulu kala’, dan semacamnya tidak perlu dipertahankan pada cerpen-cerpen dunia dongeng.

Cerpen adalah bentuk praktis yang banyak digemari oleh kebanyakan penulis kita. Hampir semua penulis novel pada awalnya pernah menulis cerpen, atau merangkap menulis cerpen sekaligus novel. Cerpen juga adalah bentuk ekspresi prosa yang paling praktis dan paling memungkinkan untuk diciptakan secara kreatif dan baru. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya aliran cerpen yang telah diperkenalkan oleh para cerpenis kita sejak era sastra angkatan dua puluhan hingga saat ini. Idrus dalam ‘corat-coret di Bawah Tanah”nya telah memperkenalkan gaya kesederhanaaan baru dalam prosa Indonesia, dan ‘Stream of Consciousness’ (arus kesadaran) adalah satu contoh paling menonjol, pernah diperkenalkan oleh pengarang prosa Iwan Simatupang dalam novel maupun kumpulan cerpennya “Tegak Lurus dengan Langit”. Bahkan beberapa pengamat sastra menilai bahwa “Tegak Lurus dengan Langit” adalah cikal-bakal dari novel-novel Iwan Simatupan seperti Ziarah, Kering, Merahnya Merah dan Koong. Begitu juga dengan cerpen-cerpen Putu Wijaya. Kemudian Danarto, Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, dan  tokoh-tokoh prosa kuat lainnya telah memperkenalkan gaya dan aliran yang lain pula.

Menggali kembali khasanah sastra lama adalah semangat yang sesungguhnya menjadi tema-tema yang sering dibingkai dalam berbagai kegiatan sastra modern. “Kembali ke akar tradisi” adalah sebuah ajakan paling bijak, yang memang perlu mendapat perhatian dan apresiasi dari setiap kita yang memiliki kesadaran budaya, baik sebagai sastrawan,  akademisi, dan pekerja budaya lainnya.

Pada Forum Sastra Kepulauan VIII di Benteng Ford Rotterdam Makassar (2014) yang bertema “Jembatan Kenangan Komunitas Memori “, sesungguhnya adalah sebuah upaya untuk kembali ke akar tradisi. Ketua Forum Sastra Kepulauan Asia Ramli Prapanca mengatakan, “Forum Sastra Kepulauan akan membuat buku yang isinya mengenai kisah dari pengalaman, memori, catatan perjalanan, antropo-sastra, puisi, cerpen, yang berakar dari mitos, dongeng, cerita rakyat, nyanyian rakyat, berlatarkan kampung, laut dan kepulauan sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu, kini dan akan datang”.  Even tersebut mencoba menggali akar peradaban dengan mengusung tema yang dimaksud. Itulah sebabnya ‘Sinrili’ sebagai musik-sastra tutur-tradisional Makassar, dianggap sebagai pembuka kegiatan yang tepat pada perhelatan sastra tersebut. Meski dalam kegiatan-kegiatannya kata tradisi, tradisonal, dan tradisionalisme  masih dipertentangkan juga dengan kata modern, modernitas, dan modernisme. Batas-batas antara apa yang disebut sebagai ‘kesenian tradisional’ masih tampak jelas warna hitam-putihnya dengan apa yang disebut sebagai ‘kesenian modern’. Tradisi masih menganut pengertian linear sebagai sebuah peradaban atau sesuatu karya dari sebuah peradaban yang merujuk pada masa lalu.

Munsi II di Jakarta (2017) mengalami kemajuan pemahaman dengan mengusung tema ”sastra merekat kebinnekaan”. Salah seorang keynote speaker Munsi II, Abdul Hadi WM yang dikenal sebagai penyair dan budayawan, mencoba ‘mengurai’ lebih jauh makna tradisi, tardisional, dan tradisionalisme dilihat dari sudut pandang kebinnekaan. Di dalamnya sudah termasuk bagaimana memerlakukan sastra tradisi (onal) seperti dongeng, bisa diangkat kembali ke permukaan (ke pelataran sastra modern) dengan bentuk dan corak lain yang dapat diapresiasi dalam pandangan kekinian. Sastra tradisional harus dieksploatasi dalam bentuk baru sehingga nilai-nilai sastra tradisional yang agung itu tidak tenggelam dalam terungku zaman, atau tidak sekadar dipuja-puja sebagai sebuah ‘artefak’ dengan kebanggaan yang megalomania.

Demikianlah epos-epos besar seperi La Galigo, Mahabarata, Ramayana, harus dieksplotasi — harus diapresiasi, harus ‘ditulis’ kembali  dalam bentuk dan cara bercerita yang lain. Ia tidak cukup hanya dipuja-puja sebagai karya sastra agung yang pernah ada dalam khasanah sastra di masa lalu. Dan demikianlah cerpen ‘dunia dongeng’ ingin mengeksploatasi dongeng-dongeng yang pernah ada, atau dongeng-dongeng yang belum pernah ada sebelumnya, dengan bentuk dan gaya bercerita yang baru pula.

Mencapai tujuan tersebut memang tidaklah mudah, terutama karena masih absurdnya rumusan-rumusan atau kriteria yang menjadi dasar untuk menetapkan sebuah cerpen dapat disebut sebagai cerpen dunia dongeng ini. Pedoman yang telah disampaikan sebelumnya dalam pengumuman memberi keterangan bahwa cerpen dongeng adalah cerpen-cerpen yang ditulis dengan semangat berdongeng, namun “… yang tertinggal dalam sebuah cerita pendek yang berangkat dari dunia dongeng ini hanyalah gejala “atavisme” dari dongeng, sebuah gejala yang “mewahyakan” keturunan dari realitas dunia kedua (realitas imajiner) yang tentunya tidak bisa diukur lagi dengan menggunakan ukuran-ukuran realitas dunia pertama atau realitas keseharian. Dalam realitas dunia kedua ini tokoh-tokoh, latar belakang (setting) maupun alur cerita boleh bersifat manasuka. Orang-orang boleh tak lagi manusia darah-daging, boleh manusia-manusia lunatik, manusia-manusia super, atau bahkan manusia bukan “manusia”. Itulah manusia imajiner sebagai tokoh (tokoh) yang bermain dalam cerpen dari dunia dongeng ini. Demikian pula dengan setting boleh tidak di dunia, boleh di akhirat (seperti cerpen “Sebelum Pertemuan Dimulai” karya A.A. Navis), atau tidak di mana-mana (seperti cerpen “GODLOB” karya Danarto). Sedang alur pun boleh tanpa alur sama sekali. Inilah wajah cerpen-cerpen dari dunia dongeng. Sebuah wajah yang tidak perlu menakutkan, meski juga tidak harus membuat kita kesenangan karena pastilah tak akan menemukan  cerita kita di dalamnya. Dunia dongeng adalah dunia imajinasi yang mungkin memang tidak membingkai wajah kita. Cerpen dunia dongeng adalah sebuah cerpen modern yang lain dari sebuah cerita dongeng dalam pengertian “cerita rakyat” yang sepenuhnya bersifat fantasi itu.

***

Banyak peserta yang meminati kegiatan penulisan cerpen dunia dongeng yang digagas oleh “Mimbar Penyair Makassar” (MPM) ini. Akan tetapi sayangnya banyak di antara mereka yang masih salah menafsirkan apa yang sesungguhnya disebut sebagai cerpen dunia dongeng sebagaimana yang digagas MPM ini. Di antara yang salah tafsir itu ada yang memahami bahwa cerpen dunia dongeng adalah cerpen yang diangkat dari sebuah dongeng asli dari suatu daerah,  sehingga peran dari cerpenis tinggal menyalinnya saja dalam bahasa Indonesia tanpa berani mengutak-atiknya secara kreatif, misalnya mengganti karakter tokoh-tokohnya, seperti yang dilakukan Danarto maupun Putu Wijaya terhadap tokoh-tokoh perwayangan. Juga banyak diantara kontributor yang mengira cerpen dunia dongeng identik dengan cerpen-cerpen ‘aneh’, cerpen ‘horor’ atau cerpen ‘absurd’.

Mereka yang menafsirkan seperti itu tentu saja masih ada benarnya. Karena ‘dongeng’ yang kaya fantasi itu memang kadang-kadang juga memasuki wilayah cerita ‘aneh’, horor, dan absurd.  Bagi pengirim cerpen seperti itu editor antologi ini masih memaklumi, sepanjang cara atau gaya berceritanya memang cukup bagus dan dinilai layak menjadi bacaan sastra. Namun jika cara berceritanya sudah mengarah ke cerpen-cerpen horor ‘an sich’ tanpa sentuhan sastra, editor terpaksa mengabaikannya.

Di antara cerpen-cerpen yang dikirim kontributor ada pula yang  terpaksa kami tolak dengan alasan cerpen tersebut sama sekali tidak bermuatan ‘dunia dongeng’, juga ada karena cerpen-cerpennya sudah pernah termuat pada salah satu antologi cerpen atau buku kumpulan cerpen yang telah terbit sebelumnya. Cerpen-cerpen yang ditolak tentu saja tidak berkaitan dengan kualitas, hanya tidak bersesuaian dengan ‘angle’  yang ingin kami usung melalui antologi ini.

Akhirnya editor antologi cerpen “dunia dongeng” mengucapkan terimakasih kepada semua kontributor yang telah mengirim cerpen pada kami, baik yang telah kami nyatakan terpilih maupun yang belum sempat terpilih untuk mengisi antologi cerpen khas ini. Mari mengembara dalam certpen-cerpen dunia dongeng.

(Badaruddin Amir)

Terbaru

Aku yang Senantiasa Memujamu

AIR MATA DI SEPERTIGA MALAM Dendang angin di daun jendela,bersahutan dengan detak ruh jam dindingmembaca waktu, saat semestaterbaring lelap tanpa...

Memeluk Tubuh Hujan

Dari Redaksi