Buku

Home Buku

Anjing Gunung: Pengalaman Spasial, Pengalaman Temporal, dan Kesimpangsiuran

0
Judul      : Anjing Gunung
Jenis      : Kumpulan Puisi
Penulis    : Irma Agryanti
Penerbit   : BasaBasi, Yogyakarta
Cetakan    : Pertama, Desember 2018
Tebal      : 88 halaman + sampul
ISBN       : 978-602-5783-61-6

Sesuatu yang visual menawarkan kepada kita pengalaman spasial. Itu karena hal-hal yang tersaji padanya menghambur ke arah kita secara simultan, hampir-hampir di detik yang sama, dan kita seperti diberi kebebasan untuk menentukan hal-hal mana yang akan kita nikmati terlebih dahulu. Sesuatu yang tekstual, sementara itu, menawarkan kepada kita pengalaman temporal, di mana upaya kita untuk menikmatinya sangat terbatasi oleh adanya urutan-urutan. Sekarang bayangkan kedua hal ini dibenturkan. Tentulah, dengan sendirinya, kita akan berada dalam tarik-menarik antara pengalaman spasial dan pengalaman temporal.

         Benturan seperti inilah kiranya yang kita hadapi saat membaca puisi-puisi Irma Agryanti yang terkumpul dalam Anjing Gunung (BasaBasi, 2018), buku puisi yang menyabet Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 untuk kategori puisi. Dengan terang-benderang, sebagaimana tersaji di halaman belakang buku ini, Irma mengatakan bahwa (puisi-puisinya di) Anjing Gunung adalah bentuk hubungan antara tangkapan visual dan teks. Konkretnya, seperti diutarakannya di kata pengantarnya di buku ini, yang dilakukannya adalah memindahkan tangkapan visual itu ke dalam bahasa puisi.

         Tentu saja pemindahan seperti ini problematis. Sementara tangkapan visual yang dimaksud Irma itu menawarkan spasialitas dan simultanitas, bahasa puisi yang ditulisnya akan selalu berada di dalam kekangan temporalitas. Selain itu, apa-apa yang hadir pada tangkapan visual itu adalah hal-hal yang cenderung konkret, sedangkan apa-apa yang hadir di dalam bahasa puisinya justru adalah hal-hal yang cenderung abstrak, atau hal-hal konkret yang terabstrakkan. Tidak mudah mendamaikan dua hal yang berseberangan seperti ini. Salah-salah, yang kelak tersaji ke hadapan pembaca adalah sebuah kekacauan, sebuah kesimpangsiuran, bukannya harmoni.

         Simak, misalnya, puisi “Dingin”. Bait pertamanya: sebab terpisah dari api/ mangsi jatuh/ di hitam mata—tanda cetak miring dari saya. Mudah memang melafalkannya dan menikmatinya sebagai sesuatu yang puitis, tetapi ketika memvisualkannya kita lekas mendapati betapa abstraknya permainan visual bait tersebut. Mulanya kita diajak untuk membayangkan mangsi terpisah dari api. Sebelum kita bisa benar-benar menerimanya, kita sudah diajak untuk membayangkan si mangsi ini jatuh di hitam mata, dan itu pun entah mata siapa. Ingat, yang dilakukan Irma di puisinya ini adalah memindahkan tangkapan visual, sesuatu yang dihadapi dan dialaminya di dunia nyata, ke dalam bahasa puisi, ke dalam wujud teks yang dianggapnya puitis. Katakanlah yang dimaksud puitis oleh Irma salah satunya adalah melenyapkan makna praktis sesuatu hal untuk kemudian menggantinya dengan maknanya yang lain, yang non-praktis, dan dalam hal ini ia terbilang berhasil. Hanya saja, kita jadi bertanya-tanya situasi seperti apa yang dihadapi Irma di dunia nyata, di realitas yang dijalaninya, yang kira-kira “sebangun” dengan bentukan kalimatnya yang puitis itu.

         Dan ketika kita mencoba meraba-raba situasi tersebut, kita dihadapkan pada masalah yang kita singgung tadi: kekangan temporalitas. Kita dipaksa untuk membayangkan gambar demi gambar secara runut, diawali dengan munculnya api lalu bagian hitamnya—jika bukan mangsi itu sendiri—terpisah darinya dan setelah itu muncul mata, dan diikuti oleh menetesnya—atau tercipratnya—hitam itu ke mata tersebut. Meski di benak kita munculnya gambar-gambar ini mungkin berlangsung dalam rentang waktu yang sangat singkat, tak bisa dimungkiri bahwa kita mengalami tiap-tiap gambar sendiri-sendiri, secara terpisah, di mana yang satu menggantikan yang lain. Padahal, di dunia nyata, di dalam situasi yang dihadapi Irma itu, gambar-gambar tersebut mestilah muncul secara serentak, sebagai sebuah kesatuan. Sesuatu yang spasial, bukan temporal.

         Ini membawa kita ke sebuah pemahaman—atau setidaknya dugaan—bahwa puisi, di mata Irma, adalah diri lain yang lumayan jauh berbeda dari sesuatu hal di dunia nyata yang tertangkap oleh matanya. Pengalaman yang ditempuh Irma saat sesuatu itu hadir di hadapan matanya ia transformasikan menjadi sesuatu yang sangat lain, di mana ia menyingkirkan spasialitas dan simultanitas yang sejatinya melekat padanya dan menggantinya dengan temporalitas yang dipadukan dengan wujud visual yang lain, yang sangat abstrak itu. Pertanyaannya: kenapa hal ini dilakukan? Irma, dalam paparannya yang ditampilkan di sampul belakang buku, memang mengatakan bahwa puisi memunculkan detail-detail klise dari sesuatu hal untuk memungkinkan pemaknaan kita atasnya meluas; itu berarti penting bagi dirinya, selaku si penyair, untuk membubuhkan detail-detail lain ke dalam bahasa puisi hasil transformasinya itu—detail-detail yang tak ditemukannya saat sesuatu hal di dunia nyata itu tertangkap oleh matanya. Maka, mungkin bisa dikatakan seperti ini: Irma, selaku si penyair, memosisikan aktivitas menulis puisi sebagai upaya untuk melengkapi diri visual sesuatu hal, namun sekaligus juga mengganti diri visualnya ini dengan diri visual lain, yang bisa sangat berbeda dengannya. Sebuah upaya untuk melengkapi, sekaligus mengkhianati.

___

Sebenarnya, upaya semacam ini telah coba dilakukan oleh beberapa penyair sebelum Irma. Nirwan Dewanto adalah salah satunya. Di beberapa puisinya di Jantung Lebah Ratu (GPU, 2008) Nirwan membenturkan yang spasial dengan yang temporal dan ia membawanya lebih jauh lagi: bukan hanya menyajikan kesimpangsiuran, ia pun mengolah kesimpangsiuran ini menjadi semacam harmoni yang tak biasa. Baca, misalnya, puisi “Perenang Buta”. Dua kalimat pertamanya: Sepuluh atau seribu depa/ ke depan sana, terang semata./ Dan arus yang membimbingnya/ seperti sobekan pada jubah/ tanjung yang dicurinya.  Bisa dilihat bahwa Nirwan awalnya menawarkan hasil transformasi tangkapan-tangkapan visual yang masih terbilang konkret, lalu di satu titik ia menghancurkannya dengan menawarkan hasil transformasi yang terbilang astrak, yang tidak mudah kita terima sebagai sebuah tangkapan visual yang wajar. Dan strategi ini kembali dilakukan Nirwan di kalimat-kalimat berikutnya, di sepanjang tubuh puisi. Sebelumnya kita mungkin curiga Nirwan hendak melemparkan kita kepada kesimpangsiuran dengan menghancurkan struktur yang tengah berusaha dibangunnya itu, namun lambat-laun kita memahami bahwa yang coba dilakukan Nirwan adalah mengarahkan kita untuk menikmati tawaran harmoninya yang tak biasa itu. Semacam harmoni yang terbentuk dari sejumlah kesimpangsiuran yang terpola.

         Sekarang, mari kita bandingkan strategi Nirwan ini dengan strategi Irma. Tentu, kita tidak akan begitu saja menentukan mana yang lebih baik. Alih-alih demikian, yang akan kita coba lakukan adalah mengaitkan strategi yang berbeda ini dengan konteks yang melatarinya, supaya kita bisa memahami seperti apa relasi yang terbangun di antara keduanya. Dan dari situ, mungkin saja, kita pun bisa meraba-raba sikap si penyair—baik itu terhadap konteks tersebut maupun terhadap puisi itu sendiri.

         Jantung Lebah Ratu terbit pada 2008. Ketika itu, situasi sosial-politik di negeri ini masih terbilang kondusif, dan belum ada hantaman yang mengguncang dari pertumbuhan teknologi informasi dan hal-hal lain yang terkait dengannya. Ini kiranya menjadi alasan tersendiri mengapa puisi-puisinya Nirwan di buku ini relatif tidak mengaitkan dirinya dengan realitas yang tengah berlangsung ketika itu. Alih-alih dengan realitas yang konkret ini, Nirwan justru mengaitkan puisi-puisinya itu dengan teks-teks yang berasal dari khazanah yang abstrak, entah itu seni rupa, seni musik, teater, puisi itu sendiri, ataupun yang lainnya. Memang, apabila kita cermati beberapa puisinya di buku ini, seperti “Semu” dan “Apel”, Nirwan tampaknya memfokuskan pengalaman puitiknya sebagai pengalaman yang “kosong”, yang tidak mengarahkan pembaca kepada apa pun selain si puisi itu sendiri. Ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Melani Budianta di sampul belakang buku ini, bahwa puisi-puisi Nirwan bukanlah teka-teki melainkan sehamparan momen estetika; juga bahwa sejauh manapun maknanya berkelana pada akhirnya puisi-puisi Nirwan ini akan menariknya kembali ke dirinya sendiri.

         Anjing Gunung, sementara itu, terbit pada 2018, ketika situasi sosial-politik di negeri ini sedang sangat tidak kondusif, di mana rakyat masih terjebak dalam bineritas pasca-Pilpres 2014 dan pra-Pilpres 2019, di mana pertumbuhan teknologi informasi yang begitu pesat diikuti oleh dampak-dampak negatifnya seperti maraknya hoaks dan susutnya kedalaman—digantikan oleh momen dan reaktivitas. Maka mudah dipahami mengapa yang disajikan Irma dalam puisi-puisinya itu adalah kesimpangsiuran, adalah kekacauan, bukannya harmoni. Dalam hal keterkaitan dengan realitas yang tengah berlangsung itu sendiri, kita jelas-jelas menemukannya, seperti di puisi “Anjing Gunung”. Puisi ini menggambarkan sebuah situasi di mana perubahan besar akan terjadi, dan ini perubahan yang buruk sebab akan menyebabkan sungai-sungai mati dan para penggembala tak lagi ada. Musim kemarau yang panjang, katakanlah, yang bisa jadi adalah simbol dari sesuatu yang lebih gawat seperti matinya demokrasi atau bangkit kembalinya rezim otoriter. Dan, di tengah upaya untuk memaknai situasi ini, Irma menghadirkan tangkapan-tangkapan visual yang terabstrakkan, di titik-titik di mana struktur yang kemudian terbentuk adalah representasi dari kesimpangsiuran—bukannya harmoni.

___

Adapun kesimpangsiuran ini sendiri sejatinya bukan hal baru. Telah ada banyak orang yang mencoba menawarkannya, entah itu penyair, prosais, pemikir, ataupun yang lainnya. Afrizal Malna, misalnya, menawarkannya lewat puisi-puisinya, di mana ia melangkah sangat jauh hingga menjadikan kesimpangsiuran ini sesuatu yang akut, pekat, sekaligus legit; di mana pembaca, apabila ia membiarkan dirinya terlarut dalam racikan Afrizal ini, bisa terus terjebak di dalam pusaran demi pusaran, ledakan demi ledakan, sambil diam-diam menuju ekstase dan menikmati prosesnya. Baca, misalnya, “Seminar Puisi di Selat Sunda”, salah satu puisi di Berlin Proposal (Nuansa Cendekia, 2015). Puisi ini, bahkan dari sejak bait pertamanya, sudah kuat menjerat kita ke dalam kesimpangsiuran. Dan ia kesimpangsiuran yang akut, pekat, sekaligus legit, sebab bukan saja yang dibenturkan di sana adalah yang spasial dan yang temporal melainkan juga yang bergerak dan yang diam, yang tercatat dan tak tercatat, yang ada di saat ini dan yang ada jauh di masa silam. Afrizal bermain-main dengan kata dan bentukan kalimat, untuk memunculkan bukan hanya efek bunyi melainkan juga efek imaji, untuk membuat ruang yang ditampilkannya lebih mampu membangkitkan indra-indra pembaca dan setelah itu memerangkapnya. Pengalaman sekompleks ini tidak kita temukan di puisi-puisi Irma. Sehingga, apabila kita bicara soal kesimpangsiuran, apa yang ditawarkan Afrizal ini kiranya jauh melebihi apa yang ditawarkan Irma.

         Dan ini membawa kita ke sebuah pertanyaan penting: apakah puisi-puisi Irma di Anjing Gunung itu telah cukup mewarnai kesusastraan kita, juga realitas kita? Jawabannya barangkali adalah belum. Belum cukup. Ini karena, sebagaimana telah kita lihat bersama, dalam puisi-puisinya itu Irma masih sebatas menghadirkan kesimpangsiuran dengan cara membenturkan yang visual dengan yang tekstual, dan ini masih jauh dari sebuah kesegaran—hanya sebuah variasi saja. Dan kalaupun kita mau menyoroti sifatnya yang representasional, bahwa puisi-puisinya itu merepresentasikan situasi sosial-politik yang tengah kita hadapi saat ini, jujur saja, rasanya masih tertahan di tahap nanggung. Soal maraknya hoaks, misalnya, ficciones ala Borges jauh lebih berhasil merepresentasikannya, sebab pembaca benar-benar dibuat tak bisa membedakan mana fakta mana fiksi, mana yang benar-benar terjadi mana yang hanya bualan belaka. Dan beberapa prosais kita telah cukup baik melakukannya, seperti A.S. Laksana dan Dea Anugrah.

         Maka, kita pun sampai pada kesimpulan ini: Anjing Gunung, meski menawarkan puisi-puisi yang cukup menarik untuk dinikmati dan diresapi, dari segi konsep masihlah belum cukup kuat; tawaran-tawaran pemaknaan dan perspektifnya belum cukup mampu menggoyahkan kenyamanan dan keterbiasaan kita, seperti soal bagaimana kita membaca teks dan realitas. Memang, buku ini menyabet sebuah penghargaan bergengsi di tanah air, dan untuk capaiannya ini ia—juga Irma selaku si penyair—tentu patut diapresiasi. Tetapi, sebagai seorang pembaca yang kritis dan independen, kita harus selalu mengedepankan kejujuran. Kita, misalnya, harus berani mengatakan bahwa puisi-puisi Irma di buku ini, terlepas dari segala kelebihan dan daya tariknya, sesungguhnya masih akan kita kategorikan sebagai puisi-puisi yang biasa saja.(*)

Bogor, 30-31 Oktober 2019

Ardy Kresna Crenata menulis puisi, cerpen, esai, dan novela. Kumpulan cerpen termutakhirnya: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelnya: Realitas & Kesadaran (BasaBasi, 2019).

Kampung Kekasih (Info Buku)

0

Jenis: Kumpulan Puisi
Penulis: Daviatul Umam
Pengantar: Raedu Basha
Penerbit: Halaman Indonesia, Yogyakarta.
Cetakan: Pertama, November 2019
Tebal: 69 halaman
ISBN: 978-602-0848-30-7

Davit bicara tentang sisi-sisi pencitraan yang memungkinkan dapat kita nikmati imajinasi-imajinasinya. Sisi yang paling mencolok, puisi-puisi Davit menunjukkan sketsa-sketsa tentang spiritualitas masyarakat agraris dan maritim, hampir di semua sajak-sajaknya.
Citra-citra spiritualitas petani, juga nelayan, terhidangkan. Kita akan tahu bagaimana masyarakat Madura memandang kehidupan dari puisi-puisi Davit. Minimalnya dari sudut pandang seorang penyair muda ini.
Kita juga akan berjumpa sajak-sajak yang ingin dimanja sebagai puisi-puisi cinta. Semua penyair dapat melakukan hal serupa di belahan dunia. Kesan yang saya tangkap adalah pantulan lirik-lirik musik dangdut. Khas sekali sebagai selera musik dunia agraris dan alam kaum maritim.

(Raedu Basha, penyair, prosais, penulis buku Matapangara & Hadrah Kiai)
*
Puisi-puisi yang terhimpun dalam Kampung Kekasih menyandarkan diri pada peristiwa-peristiwa kecil yang riang menampilkan gambaran kampung halaman. Lewat pengungkapan diksi-diksinya yang khas, ia tidak hanya bergulat menampilkan apa yang telah terhampar di tengah riuh fitur-fitur alam pedesaan, tetapi sekaligus menuturkan tinjauan tentang rantauan, suara dari jauh, dengan melakukan perbandingan romantik antar keduanya. Menyelami Kampung Kekasih adalah menyelami dambaan perasaan penyair akan kemesraan, kedamaian, ketulusan pengabdian dan kerelaan yang lantang. Pendekatan puisi-puisi Daviatul Umam berpegang pada bentuk bait yang runut, menjadikan pengalaman di dalamnya memiliki pertautan dengan tafsir pembaca.

(Iin Farliani, penyair & cerpenis, penulis buku Taman itu Menghadap ke Laut)

Mengembara dalam Cerpen-Cerpen Dunia Dongeng

0
Judul      : Pohon yang Tumbuh Menjadi Tubuh
Jenis      : Kumpulan Cerpen
Penulis    : Faisal Oddang, dkk.
Penerbit   : Gora Pustaka, Makassar
Cetakan    : Pertama, Maret 2018
Tebal      : 136 halaman 
ISBN       : 978-623-99344-2-0

Cerpen-cerpen yang terpilih mengisi antologi “cerpen dunia dongeng” ini merupakan cerpen-cerpen yang ‘lolos’ dari kriteria yang disebut “Cerpen Dongeng”. Apa “Cerpen Dongeng” itu dan seperti apa kriterianya?

Cerpen dongeng bukan proklamasi sebuah ‘genre’ baru sebagaimana ‘puisi esai’ yang dikenal belakangan. Cerpen dongeng hanya sebuah ‘keisengan kreatif’ yang memcoba kembali ke akar tradisi, bercerita dengan ungkapan-ungkapan baru, gaya baru, dan juga imaji-imaji baru namun sumber inspirasinya dipungut dari khasanah sastra lama: dongeng!

Masyarakat kita sejak dahulu sudah tidak asing dengan ‘dunia dongeng’, sebuah fantasy yang indah dan menyenangkan. Dalam sebuah dongeng segala-galanya diupayakan menjadi indah oleh penuturnya:  Bidadari yang cantik, pangerang yang tampan, dan si miskin –kalau pun ada dalam dongeng—harus pula menjadi si miskin yang indah budi pekertinya. Tentu saja untuk menonjolkan keindahan-keindahan tersebut perlu pula ada karakteristik yang sebaliknya,  yang diperankan oleh tokoh-tokoh yang dalam istilah sastra disebut “antagonistis”, agar keindahan dongeng menjadi tidak vulgar. Tapi ‘dongeng’ yang ingin ditampilkan dalam cerpen-cerpen dari “dunia dongeng” ini bukanlah melulu keindahan yang meninabobokkan pembaca, bukan bacaan pengantar sebelum tidur. Ada sesuatu pergulatan kreatif untuk mengungkap kembali keindahan-keindahan dunia dongeng itu, dengan cara bertutur (bercerita) dalam khasanah sastra modern: cerpen!

Dongeng dikenal sebagai karya fiksi dalam khasanah sastra lama. Sebagaimana mantra, dongeng dianggap memiliki kekuatan ‘magis’ untuk memengaruhi ‘suyet’ (objek atau orang yang membaca/mendengarnya), hingga kekuatan tersebut dianggap sebagai sebuah sugesti. Sutardji Calzoun Bachri mengolah mantra menjadi puisi baru, dan Danarto dan cerpenis-cerpenis lain juga telah mengolah ‘dunia dongeng’ dalam sastra baru yang mengasyikkan. Jadi cerpen ‘dunia dongeng’ sesungguhnya sama sekali bukanlah sebuah genre baru dalam prosa Indonesia kita.

Cerpen-cerpen ‘dunia dongeng’ tentu saja harus mengalami perkembangan dalam ‘bentuk’ bercerita, ketimbang dengan ‘bentuk’ bercerita pada dongeng-dongeng asli yang masih menggunakan gaya, ungkapan, dan kata-kata dari khasanah sastra lama. Tentu saja kata-kata pembuka misalnya,  yang menjadi ciri khas sebuah dongeng asli seperti ‘syahdan’, ‘sahibulhikayat’. ‘pada zaman dahulu kala’, dan semacamnya tidak perlu dipertahankan pada cerpen-cerpen dunia dongeng.

Cerpen adalah bentuk praktis yang banyak digemari oleh kebanyakan penulis kita. Hampir semua penulis novel pada awalnya pernah menulis cerpen, atau merangkap menulis cerpen sekaligus novel. Cerpen juga adalah bentuk ekspresi prosa yang paling praktis dan paling memungkinkan untuk diciptakan secara kreatif dan baru. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya aliran cerpen yang telah diperkenalkan oleh para cerpenis kita sejak era sastra angkatan dua puluhan hingga saat ini. Idrus dalam ‘corat-coret di Bawah Tanah”nya telah memperkenalkan gaya kesederhanaaan baru dalam prosa Indonesia, dan ‘Stream of Consciousness’ (arus kesadaran) adalah satu contoh paling menonjol, pernah diperkenalkan oleh pengarang prosa Iwan Simatupang dalam novel maupun kumpulan cerpennya “Tegak Lurus dengan Langit”. Bahkan beberapa pengamat sastra menilai bahwa “Tegak Lurus dengan Langit” adalah cikal-bakal dari novel-novel Iwan Simatupan seperti Ziarah, Kering, Merahnya Merah dan Koong. Begitu juga dengan cerpen-cerpen Putu Wijaya. Kemudian Danarto, Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, dan  tokoh-tokoh prosa kuat lainnya telah memperkenalkan gaya dan aliran yang lain pula.

Menggali kembali khasanah sastra lama adalah semangat yang sesungguhnya menjadi tema-tema yang sering dibingkai dalam berbagai kegiatan sastra modern. “Kembali ke akar tradisi” adalah sebuah ajakan paling bijak, yang memang perlu mendapat perhatian dan apresiasi dari setiap kita yang memiliki kesadaran budaya, baik sebagai sastrawan,  akademisi, dan pekerja budaya lainnya.

Pada Forum Sastra Kepulauan VIII di Benteng Ford Rotterdam Makassar (2014) yang bertema “Jembatan Kenangan Komunitas Memori “, sesungguhnya adalah sebuah upaya untuk kembali ke akar tradisi. Ketua Forum Sastra Kepulauan Asia Ramli Prapanca mengatakan, “Forum Sastra Kepulauan akan membuat buku yang isinya mengenai kisah dari pengalaman, memori, catatan perjalanan, antropo-sastra, puisi, cerpen, yang berakar dari mitos, dongeng, cerita rakyat, nyanyian rakyat, berlatarkan kampung, laut dan kepulauan sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu, kini dan akan datang”.  Even tersebut mencoba menggali akar peradaban dengan mengusung tema yang dimaksud. Itulah sebabnya ‘Sinrili’ sebagai musik-sastra tutur-tradisional Makassar, dianggap sebagai pembuka kegiatan yang tepat pada perhelatan sastra tersebut. Meski dalam kegiatan-kegiatannya kata tradisi, tradisonal, dan tradisionalisme  masih dipertentangkan juga dengan kata modern, modernitas, dan modernisme. Batas-batas antara apa yang disebut sebagai ‘kesenian tradisional’ masih tampak jelas warna hitam-putihnya dengan apa yang disebut sebagai ‘kesenian modern’. Tradisi masih menganut pengertian linear sebagai sebuah peradaban atau sesuatu karya dari sebuah peradaban yang merujuk pada masa lalu.

Munsi II di Jakarta (2017) mengalami kemajuan pemahaman dengan mengusung tema ”sastra merekat kebinnekaan”. Salah seorang keynote speaker Munsi II, Abdul Hadi WM yang dikenal sebagai penyair dan budayawan, mencoba ‘mengurai’ lebih jauh makna tradisi, tardisional, dan tradisionalisme dilihat dari sudut pandang kebinnekaan. Di dalamnya sudah termasuk bagaimana memerlakukan sastra tradisi (onal) seperti dongeng, bisa diangkat kembali ke permukaan (ke pelataran sastra modern) dengan bentuk dan corak lain yang dapat diapresiasi dalam pandangan kekinian. Sastra tradisional harus dieksploatasi dalam bentuk baru sehingga nilai-nilai sastra tradisional yang agung itu tidak tenggelam dalam terungku zaman, atau tidak sekadar dipuja-puja sebagai sebuah ‘artefak’ dengan kebanggaan yang megalomania.

Demikianlah epos-epos besar seperi La Galigo, Mahabarata, Ramayana, harus dieksplotasi — harus diapresiasi, harus ‘ditulis’ kembali  dalam bentuk dan cara bercerita yang lain. Ia tidak cukup hanya dipuja-puja sebagai karya sastra agung yang pernah ada dalam khasanah sastra di masa lalu. Dan demikianlah cerpen ‘dunia dongeng’ ingin mengeksploatasi dongeng-dongeng yang pernah ada, atau dongeng-dongeng yang belum pernah ada sebelumnya, dengan bentuk dan gaya bercerita yang baru pula.

Mencapai tujuan tersebut memang tidaklah mudah, terutama karena masih absurdnya rumusan-rumusan atau kriteria yang menjadi dasar untuk menetapkan sebuah cerpen dapat disebut sebagai cerpen dunia dongeng ini. Pedoman yang telah disampaikan sebelumnya dalam pengumuman memberi keterangan bahwa cerpen dongeng adalah cerpen-cerpen yang ditulis dengan semangat berdongeng, namun “… yang tertinggal dalam sebuah cerita pendek yang berangkat dari dunia dongeng ini hanyalah gejala “atavisme” dari dongeng, sebuah gejala yang “mewahyakan” keturunan dari realitas dunia kedua (realitas imajiner) yang tentunya tidak bisa diukur lagi dengan menggunakan ukuran-ukuran realitas dunia pertama atau realitas keseharian. Dalam realitas dunia kedua ini tokoh-tokoh, latar belakang (setting) maupun alur cerita boleh bersifat manasuka. Orang-orang boleh tak lagi manusia darah-daging, boleh manusia-manusia lunatik, manusia-manusia super, atau bahkan manusia bukan “manusia”. Itulah manusia imajiner sebagai tokoh (tokoh) yang bermain dalam cerpen dari dunia dongeng ini. Demikian pula dengan setting boleh tidak di dunia, boleh di akhirat (seperti cerpen “Sebelum Pertemuan Dimulai” karya A.A. Navis), atau tidak di mana-mana (seperti cerpen “GODLOB” karya Danarto). Sedang alur pun boleh tanpa alur sama sekali. Inilah wajah cerpen-cerpen dari dunia dongeng. Sebuah wajah yang tidak perlu menakutkan, meski juga tidak harus membuat kita kesenangan karena pastilah tak akan menemukan  cerita kita di dalamnya. Dunia dongeng adalah dunia imajinasi yang mungkin memang tidak membingkai wajah kita. Cerpen dunia dongeng adalah sebuah cerpen modern yang lain dari sebuah cerita dongeng dalam pengertian “cerita rakyat” yang sepenuhnya bersifat fantasi itu.

***

Banyak peserta yang meminati kegiatan penulisan cerpen dunia dongeng yang digagas oleh “Mimbar Penyair Makassar” (MPM) ini. Akan tetapi sayangnya banyak di antara mereka yang masih salah menafsirkan apa yang sesungguhnya disebut sebagai cerpen dunia dongeng sebagaimana yang digagas MPM ini. Di antara yang salah tafsir itu ada yang memahami bahwa cerpen dunia dongeng adalah cerpen yang diangkat dari sebuah dongeng asli dari suatu daerah,  sehingga peran dari cerpenis tinggal menyalinnya saja dalam bahasa Indonesia tanpa berani mengutak-atiknya secara kreatif, misalnya mengganti karakter tokoh-tokohnya, seperti yang dilakukan Danarto maupun Putu Wijaya terhadap tokoh-tokoh perwayangan. Juga banyak diantara kontributor yang mengira cerpen dunia dongeng identik dengan cerpen-cerpen ‘aneh’, cerpen ‘horor’ atau cerpen ‘absurd’.

Mereka yang menafsirkan seperti itu tentu saja masih ada benarnya. Karena ‘dongeng’ yang kaya fantasi itu memang kadang-kadang juga memasuki wilayah cerita ‘aneh’, horor, dan absurd.  Bagi pengirim cerpen seperti itu editor antologi ini masih memaklumi, sepanjang cara atau gaya berceritanya memang cukup bagus dan dinilai layak menjadi bacaan sastra. Namun jika cara berceritanya sudah mengarah ke cerpen-cerpen horor ‘an sich’ tanpa sentuhan sastra, editor terpaksa mengabaikannya.

Di antara cerpen-cerpen yang dikirim kontributor ada pula yang  terpaksa kami tolak dengan alasan cerpen tersebut sama sekali tidak bermuatan ‘dunia dongeng’, juga ada karena cerpen-cerpennya sudah pernah termuat pada salah satu antologi cerpen atau buku kumpulan cerpen yang telah terbit sebelumnya. Cerpen-cerpen yang ditolak tentu saja tidak berkaitan dengan kualitas, hanya tidak bersesuaian dengan ‘angle’  yang ingin kami usung melalui antologi ini.

Akhirnya editor antologi cerpen “dunia dongeng” mengucapkan terimakasih kepada semua kontributor yang telah mengirim cerpen pada kami, baik yang telah kami nyatakan terpilih maupun yang belum sempat terpilih untuk mengisi antologi cerpen khas ini. Mari mengembara dalam certpen-cerpen dunia dongeng.

(Badaruddin Amir)

Terbaru

Memisahkan Rindu dan Kesedihan

Api Dua Penyair (1)Aku geramAku marah jiwa kawanku telah dibeslahsekarang jasadnya kakutanpa gerak Sebuah pesan telah ditinggalkannya “jadilah air...

Kambing Hitam

Dari Redaksi