Judul Buku : Kebangkitan: Antologi Puisi Film
Penulis : Acep Zamzam Noor, dkk.
Penerbit : Langgam Pustaka
Cetakan : Agustus 2025
Tebal Buku : 158 + xvi halaman
Kurator : Eddy D. Iskandar, Ratna Ayu Budhiarti, Rosyid E.
ISBN : 979-624-251-006-3
DI SEBUAH bioskop di Jakarta, sepasang remaja terdengar berisik sepanjang pemutaran film. Mereka mengomentari berbagai hal tentang film yang sedang berlangsung di layar lebar. Setiap komentar kerap diakhiri dengan tawa tertahan. Si cowok sempat terdengar meminta remote kepada kawannya untuk memindahkan saluran. Bahkan sampai keluar dari studio, Mereka masih meniru-niru dialog dalam film tersebut sambil tertawa. Kali ini dengan suara lebih lepas.
Begitulah nasib film puitik The Tree of Life yang diputar di beberapa bioskop di Indonesia pada akhir 2011 silam. Kekecewaan penonton muda seolah diwakili oleh sepasang remaja tersebut. Padahal, beberapa resensi di media arus utama, memuji film tersebut yang dinilai disajikan dengan puitis melalui visual, alih-alih melalui dialog seperti film kebanyakan.
Meski banyak pengamat memberikan penilaian berbeda, The Tree of Life yang dibintangi Brad Pitt itu memang film kelas kompetisi karena pada Festival Film Cannes, ia meraih penghargaan bergengsi, Palme d’Or atau Golden Palm yang membuatnya mendapatkan publikasi besar-besaran dan mendorong orang menonton di bioskop. Tapi begitulah—seperti halnya buku—film yang mendapatkan penghargaan dari juri belum mendapatkan respons positif dari penonton.
Pengamat menilai The Tree of Life adalah film eksperimen yang menyajikan sebuah puisi kehidupan. Penonton tidak biasa dengan karya semacam itu dan butuh waktu untuk menikmatinya. Namun, di situlah letak kekuatan—sekaligus kelemahan—sebuah film eksperimental.
Ketika film hanya dinikmati sebagai hiburan semata, penonton hanya mendapatkan kenikmatan dangkal dan sekejap. Tidak ada kesan mendalam atau imajinasi yang tersisa.
Imajinasi tanpa batas
Puisi tidak bisa diperlakukan hanya sebagai hiburan semata. Ia berbeda dengan film yang bisa dirasai dengan seluruh indera secara bersamaan. Puisi lebih luas memberikan ruang penafsiran terhadap makna dan membuka pintu imajinasi yang tanpa batas, tanpa dipagari dengan batasan-batasan visual.
Keduanya adalah karya seni yang tidak dapat dipertentangkan, bahkan sebaliknya saling menginspirasi, seperti yang terdapat dalam antologi puisi bertema film yang diberi label “Kebangkitan” yang diterbitkan Forum Film Bandung.
Antologi bertema film kedua setelah 2012 ini berisi 66 puisi. Tidak hanya karya penyair dan jurnalis, tetapi juga pekerja film, mulai dari aktor, aktris, sampai produser. Semuanya menuangkan imajinasinya dalam puisi tentang film dari berbagai aspek.
Ada penyair yang memotret sebuah judul film klasik melalui bait-bait puisi. Mendeskripsikan adegan dan dialog film yang potongannya viral di berbagai media sosial. Barangkali penyair bukan sedang mengingatkan tentang film itu sendiri, melainkan gambaran perjalanan kehidupan cinta anak manusia dalam makna luas. Jangankan satu judul film, sepotong adegan pun terkadang mewakili perjalanan hidup manusia, seperti film The Tree of Life yang mengeksplorasi pencarian Tuhan dan makna kehidupan.
Ada juga puisi melukiskan kehidupan pemeran film yang berjuang menjadi orang lain dan terlibat cinta di tempat syuting. Bisa jadi penyairnya sedang membicarakan pemeran sesungguhnya dalam film, tetapi bisa jadi juga sedang mengibaratkan kehidupan dalam perspektif berbeda, sebab kehidupan itu sendiri adalah rangkaian film dan setiap insan menjadi pemerannya, sedangkan Tuhan menjadi sutradara.
Puisi lain mengangkat suasana gedung bioskop dan membandingkan dengan dunia perfilman di masa lalu. Ada juga yang menyinggung tentang berbagai ide yang bisa diangkat dalam dunia film nasional. Indonesia memiliki kekayaan budaya dan cerita daerah yang menjadi sumber inspirasi tak pernah kering.
Samudra inspirasi itu juga diingatkan penyair melalui bait-bait puisinya. Buku ini seperti mengingatkan kita bahwa kekayaan budaya Nusantara takkan pernah habis untuk diangkat dalam media film. Kekayaan adat dan budaya itu, seperti disampaikan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, bukan semata menjadi bagian dari penguatan industri huburan, tetapi juga menjadi penguatan identitas nasional.
Momentum kolaborasi
Hadirnya buku kumpulan puisi ini, tidak hanya menjadi semacam kelatahan kreativitas yang berumur pendek; terbit, dibahas, lalu dilupakan. Kebangkitan harusnya meninggalkan jejak kuat dari sisi estetika, kultural, maupun reflektif. Perjodohan dua seni dalam sebuah antologi, menjadi energi kreativitas sekaligus kolaborasi antara sastra dengan sinema. Penyair dapat menangkap keindahan visual ke dalam kata, sementara sineas dapat menyerap kepekaan puitik dalam pengisahan film.
Berbagai elemen seniman yang dipersatukan dalam Kebangkitan, bisa melihat ini sebagai momentum untuk saling mengilhami. Film menjadi sumber inspirasi bagi puisi, dan puisi menjadi sumber gagasan untuk film. Perjodohan ini menjadi ekosistem kreatif yang menyuburkan perspektif tentang seni bercerita.
Kebangkitan, yang diangkat dari puisi karya Putu Wijaya, mengingatkan kita bahwa film bukan sekadar tontotan yang menyenangkan, melainkan bisa menjadi ruang renungan untuk mencari pendalaman makna, serta penjelajahan bagi kekayaan batin seperti yang dikandung dalam setiap kata dan bait. Kebangkitan memperkuat apresiasi terhadap film, terutama film bernuansa puitik dan filosofis.
Sejauh pencarian, antologi bertema film masih sangat jarang di Indonesia. Makanya Kebangkitan diharapkan bukan hanya sekadar eksperimen perjodohan seni yang dipaksakan, tetapi bisa menjadi jalan bagi lahirnya genre baru tentang kolaborasi dan sinergitas puisi sinematik. Ini membuka ruang bahwa puisi bisa lahir dari mana saja, termasuk dari dunia film. Dan film bisa lahir dari mana saja, termasuk dari dunia puisi.[]