Pengakuan Bapak


BAPAK pulang dalam keadaan babak-belur. Pipinya yang kiri membiru dan tengkuknya robek, darah sudah mengering, juga di bajunya yang kotor berlumpur bekas tapak sepatu. Dia membawa tas plastik bekas belanjaan, apa yang ada di dalamnya, kami tidak tahu, sampai kemudian diceritakannya pada kami, kejadian senja itu, yang menyebabkan pipinya biru dan tengkuknya robek. Dan sekiranya bukan karena mobil bagus, yang di dalamnya ada lelaki perlente rambut sebahu, yang serta-merta menembakkan pistol ke udara, entahlah apa jadinya. Ibu mengambilkan segelas air putih, dan Embak mengambil kapas miliknya yang tinggal sedikit itu untuk membersihkan luka Bapak di tengkuk. Embak baru saja pulang, dan karena dia kerja di supermarket, maka dia selalu punya kapas, meskipun sedikit, untuk kepentingan berias, karena hal demikian diharuskan oleh pekerjaannya. Ibu mengambil kembali gelas dari Bapak yang sudah kosong, sambil batuknya terus mengikik, batuknya hampir sembuh, tetapi kemudian kumat lagi karena terlambat diobati. Penyakit itu sungguh jahat, karena sudah menggerogoti habis badan Ibu sampai menyerupai sebatang pohon mahoni kering.

Bagaimana asal-usul pipi membiru dan tengkuk robek itu, saya tidak ingin menambahi atau mengurangi ceritanya. Karena seperti yang dikatakan oleh Bapak, beliau sudah bercerita sejujurnya, tanpa ada yang ditutupinya sama sekali. Tetapi karena alur ceritanya tidak beraturan, melompat-lompat, dan tampaknya Bapak lebih mengutamakan aspek dramatisnya, dan hanya dengan susah payah baru bisa dimengerti, bagaimanapun cerita itu harus saya perbaiki strukturnya supaya tampaknya lebih mudah dibaca, dalam bentuk cerita seperti ini. Dengan demikian, pembaca bisa diyakinkan bahwa ceritanya benar-benar terjadi dan diceritakan dengan sepenuh kejujuran. Sebab orang lain juga berbuat demikian, seperti yang dilakukan Bapak, maka janganlah diperpanjang lagi mengenai cerita ini. CUKUP SUDAH! Meskipun jelas perbedaannya, Bapak tidak makan pendidikan, berkebalikan dengan mereka yang sekolah sampai ke ujung dunia bernama Amerika. Tentu saja. Jika Bapak cukup pendidikan, Bapak tidak akan membebani punggungnya setiap hari dengan mesin pembabat rumput itu. Kamu pasti tahu, meskipun mesin itu mungkin tak lebih dari 10 Kg, tetapi dalam keadaan berbunyi, mesin itu akan menggetarkan seluruh isi tubuhmu, paru-parumu, jantungmu, dan ginjalmu. Sampai usia berapa kamu bisa bertahan dengan mesin seperti itu? Rumput tidak akan berhenti tumbuh untuk tetap menciptakan pekerjaan yang demikian. Rumput harus dibersihkan, dipangkas dan dibentuk sepatutnya, supaya orang senang melihatnya. Sehari = Rp. 135.000,- + makan siang, kamu bisa menghitung sendiri berapa penghasilan Bapak sebulan. Untuk kebutuhan pokok pun kurang. Mereka tidak seperti Bapak. Mereka sudah melampaui kebutuhan pokok itu, kemudian menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru untuk mengejar godaan dunia, sehingga tetap merasa kekurangan.

Ibumu tbc, tidak sembuh-sembuh, tetapi juga tidak lekas mati. Karenanya harus selalu beli obat yang seharusnya tidak usah dibeli sekiranya ibumu sehat… atau mati. Tarif listrik setiap tiga bulan sekali naik. Semua harga-harga naik, bahkan minyak goreng menjadi mahal sekali di negeri nyiur melambai ini. Itu semua terjadi setelah REFORMASI. Bapak tidak menyalahkan reformasi, sama sekali tidak, meskipun mungkin salah juga, dan lagi Bapak tidak peduli, mau reformasi mau enggak, Bapak tetap tukang babat rumput (Rp. 135.000,- sehari). Orang tidak bisa mengharapkan kesejahteraan dengan hanya menjadi tukang babat, sebab yang demikian itu tidak masuk akal, maksud Bapak, mengharapkan lebih dari yang seharusnya bisa diharapkan. Bapak cuma mau menunjukkan… setelah reformasi…. Kamu harus membeli buku, sebab buku bekas kakakmu tidak bisa dipakai lagi karena berbeda materi. Ganti tahun ganti buku. Karena buku itu HARUS, jika sekolahmu tak selesai kamu cuma jadi tukang babat, maka bagaimanapun caranya harus juga diusahakan. Bapak tidak ingin kamu jadi tukang babat. Tetapi uang tidak ada, jadi uang jugalah yang menyuruh orang menjadi pencuri. Semuanya berujung-pangkal pada uang. Jika ada orang yang tidak mengatakan demikian, maka dia sungguh-sungguh berbohong, dan lidahnya boleh dipotong, atau biarlah orang ngomong apa yang mau diomongkannya. Soal bohong biarlah menjadi urusan mereka juga. Bapak ceritakan, benar seperti kejadiannya.

Setelah mengembalikan mesin babat ke gudang di pabrik, Bapak tidak segera pulang, berjalan tanpa tujuan di pertokoan sambil memikirkan semuanya, melayang-layang, menimbang-timbang. Gadis kecil itu, kira-kira seusiamu, poninya sebelah kiri dicat cokelat muda, bersama kawan-kawannya yang lain dalam pakaian warna-warni (ada yang berjilbab dan roknya menyentuh tanah, tetapi ada juga yang pakai rok mini dan kaosnya sebentar-sebentar menampakkan pusarnya), di depan mall, berganti-ganti saling memotret dan tertawa-tawa, dan Bapak memikirkan bukumu, masa depanmu nanti. Setelah HP itu di tangan Bapak, gadis itu menjerit-jerit histeris. Copet! Maling! Bapak lari sekuat Bapak sambil ikut berteriak-teriak: Copet! Maling! Tetapi orang-orang di situ tahu, Bapaklah yang copet-maling itu. Mereka mengejar. Bapak lari. Sampai akhirnya, sudah jauh dari mall… kesalahan Bapak adalah masuk halaman masjid. Orang-orang baru saja keluar, banyak yang pakai sarung dan bertopi haji, bubaran jamaah magrib. Bagaimana orang yang baru saja menyembah Tuhan, menjadi demikian beringasnya, Bapak tidak mengerti. Masjid bukanlah tempat yang aman bagi pencuri yang mencari perlindungan. Orang-orang yang mengejar bersatu-padu dengan jamaah magrib. Bapak dikepung, dan tidak mungkin ada celah lagi. Mereka berlomba-lomba dalam memukuli Bapak dengan sandal dengan sepatu, menonjok, menginjak, dan sebatang bambu, entah dari mana, dipukulkan ke Bapak berkali-kali sampai bambu itu pecah dan tengkuk Bapak robek. Bapak terkapar di halaman masjid. Bakar! Bakar! Allahu Akbar! Sekiranya mobil biru itu tidak datang tepat waktu, sudah cukup kiranya waktu Bapak untuk merasakan semuanya, di dunia yang celaka ini.

Mobil sedan biru itu bagus sekali, masuk ke halaman masjid dengan kencang dan direm keras sehingga berputar ke arah datangnya dan roda belakangnya mengupas rumput bentuk setengah lingkaran, tepat di samping kepala Bapak. Dari dalam mobil turun lelaki yang berpakaian perlente itu. Semula Bapak kira malaikat yang akan menjemput nyawa Bapak, tetapi karena rambutnya sebahu, dan sepatunya dari kanvas… tidak ada malaikat bersepatu kanvas dan naik mobil bagus…. Badannya kekar, Bapak cuma seperti seonggok karung dalam cengkeramannya, orang-orang terus memukuli Bapak, juga setelah Bapak dilemparkan ke jok belakang mobil itu, bambu yang sudah pecah itu, lewat celah pintu yang belum tertutup rapat, sekali lagi disodokkan ke Bapak. Orang itu berusaha memblokir pintu mobil. Berhenti! Mundur semua! Saya polisi! Orang-orang tidak berhenti dan juga tidak mundur. Lelaki itu, yang rambutnya sebahu, bahkan kena tonjok mukanya. Orang-orang terus merangsek dan berteriak. Bakar sekalian mobilnya! Allahu Akbar! Demikian cepat kejadiannya. Lelaki itu mengeluarkan pistol dan menembak ke udara dua kali, sambil berteriak keras: Sudah saya bilang, saya POLISI! Jadi setelah dor dor itu, orang-orang mundur, dan pintu mobil bisa ditutup, dan Bapak dibawa pergi. Bapak tidak tahu apakah orang itu polisi atau bukan, sebab tidak berseragam, dan orang itu tidak menunjukkan kartunya. Dalam keadaan seperti itu tidaklah patut bagi Bapak untuk menanyakan, apakah benar dia polisi. Tetapi karena dia menyelamatkan Bapak dari orang-orang yang suka sekali membakar sehabis menyembah Tuhan, jadi mungkin juga dia malaikat… yang menyamar.

Bapak meringkuk di jok belakang mobil itu, berusaha sejujurnya menceritakan awal kejadiannya, juga tentang bukumu, dan pekerjaan Bapak (sehari = Rp. 135.000,- + makan siang), Embakmu yang harus bersolek setiap hari, dan Ibumu yang tbc (tetapi tidak mau mati), harga-harga yang terus naik, juga tentang harga HP, sekiranya bisa dijual di penadah, seberapalah harganya dibandingkan yang dicuri… orang bisa melihat setiap hari di televisi, sejumlah angka dengan banyak nol di belakangnya, dan karena itu cukup diwakili huruf T, dan setiap hari masih dicuri, dan orang bisa menyebut nama A sampai Z, AA sampai ZZ, AAA sampai ZZZ… dan Bapak sudah digebuki, masihkah harus dipenjara lagi? Sekiranya benar dia polisi, dan sekiranya dia malaikat…. Tuan malaikat yang baik hati… banyak yang hendak saya sampaikan, jika benar paduka diutus oleh Tuhan…. Orang itu cuma mengeluarkan suara: Huh! Mobil dihentikan dengan cara yang kasar sekali, Bapak ditarik keluar dari mobil seperti karung goni: PERGILAH! Lalu mobilnya melesat lagi. Mungkin dia bukan malaikat, dan mungkin juga bukan polisi, meskipun, ya benar, dia punya pistol. Demikianlah kejadiannya. Selesai sudah! Terserah kalian mau bagaimana melihat Bapak. Bapak sudah ceritakan semuanya, sejujurnya, juga orang-orang, A sampai ZZZ, kalian tahu, mereka curi lebih banyak, mungkin separuh negeri ini sudah mereka curi, dan juga mungkin mereka punya malaikat yang lebih banyak lagi, sekiranya benar orang berpistol itu malaikat, yang melindungi… sudah Bapak ceritakan. Sudah cukup dan jangan diperpanjang lagi.

Demikianlah cerita Bapak, sehingga dia pulang dengan wajah membiru dan tengkuknya robek. Dan yang membuat Embak berlari ke kamarnya menangis menjerit-jerit, menyalahkan Tuhan. Dan Ibu memandangi Bapak dengan bibir gemetar, seperti melihat hantu, sehingga cepat-cepat berlari ke kamar, dengan tangis bercampur batuk yang mengerikan itu. Saya membuka tas belanjaan yang dibawa Bapak: HP yang bagus sekali, dan pasti juga mahal sekali. Bagaimana barang itu masih tetap bisa bertahan di tangan Bapak, dalam huru-hara yang dia ceritakan tadi, saya tidak pikirkan lagi. Saya hanya bisa menyalahkan BUKU. Sekiranya tidak ada buku, maka tidak ada HP. Jika tidak ada HP, maka Bapak tidak jadi copet-maling….***

Bagikan:

Penulis →

Agus Fahri Husein

lahir di Singaraja (Bali), 28 Februari 1964, dibesarkan di Ngawi (Jawa Timur) dan Yogyakarta. Menyelesaikan studi di Fakultas Sastra UGM, Yogyakarta, 1995. Menulis sejak 1981, sebagian cerpennya terkumpul dalam Menunggu Pacar dan Cerita Lainnya (2004). Cerpennya “Orang Gila” (“The Madman”) diterjemahkan dalam Bahasa Inggris oleh Jan Lingard, dimuat dalam Diverse Lives: Contemporary Stories from Indonesia, Oxford University Press (1994), dan “Sang Hyang Dollar” (“Dollar Guden”) diterjemahkan dalam Bahasa Svenska oleh Stefan Danerek, dimuat dalam Indonesien berättar: Tusen gevärskulor, tusen fjärilar, Bokförlaget Tranan Swedia (2006). Cerpen-cerpennya dibahas di antaranya yang terpenting oleh Stefan Danerek, The Short Story Genre in Indonesia Post New Order Literature, tesis dipertahankan diLund University, Sweden (2005); Stefan Danerek, “Tjerita and Novel, Literary Discourse in Post New Order Indonesia” disertasi dipertahankan di Lund University, Swedia (2006); dan Abdul Aziz, “Kajian Nilai Moral dan Citraan Cerpen, Konten Proses Sosial Kabar Kaitannya dengan Pemilihan Bahan Ajar dan Hasil Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas” disertasi dipertahankan di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung (2011). Novelnya Uang Terbang (2014)  mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, termasuk diluar sastra, didiskusikan di sejumlah kota dan dijadikan kajian skripsi oleh Libertus Jemahan, “Konflik Sosial dan Politik dalam Novel Uang Terbang karya Agus Fahri Husein” (Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, 2015); dan Eko Ady Setyawan, “Realitas Sosial dalam Novel Uang Terbang karya Agus Fahri Husein: Kajian Realisme Sosialis Georg Lukacs” (Universitas Negeri Surabaya, 2015). Profilnya dimuat dalam Profil Seniman Muhammadiyah: 99 Berkhitmat di Kesenian (LSBO PP Muhammadiyah, 2021). Aktif sebagai anggota Dewan Pakar Lembaga Seni dan Budaya PW Muhammadiyah Provinsi Banten periode 2024-2029; dan anggota Dewan Kebudayaan Kota Cilegon Periode 2025-2028.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *