Dibalap Sepeda

Ingatan yang Menyakitkan

Mangga Dan Batu

Terjaga Mata Malam

Warta

Home Warta

Mengisi Ruang Kosong Narasi Karaeng Naba (Sebuah Performing Art)

0



Narasi tentang Karaeng Daeng Naba disusun dari potongan-potongan cerita yang tidak nyambung satu sama lain. Beberapa versi menautkan sosoknya dengan tokoh-tokoh arus utama dalam sejarah Kerajaan Gowa-Tallo yang kemudian eksodus ke Jawa pasca-perjanjian Bongayya. Di lain versi, dia digambarkan sebagai pemimpin pasukan bayaran asal Makassar dan Bugis didikan kompeni di Batavia. Ada juga sumber yang menyebutkan sosok ini telah muncul di zaman pra-Mataram, yakni di masa kerajaan Pajang. Namun, di dalam setiap versi, Daeng Naba digambarkan berakhir di tempat yang sama dan meninggalkan jejak yang sangat kentara: keberadaan bregada prajurit Bugisan dan Dhaengan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serta tanah perdikan (sekaligus pembaringan terakhirnya) di Mlati, Sleman-Yogyakarta.

Boleh jadi, jejaknya itulah yang membuat narasi–di luar dari sumber keraton dan sumber “resmi” lain–tentang Daeng Naba dapat direproduksi sedemikian rupa. Sebab narasinya menyisakan begitu banyak ruang kosong yang bisa diisi siapa saja dan dengan apa saja. Tak pelak, narasi tentang Daeng Naba pun berkembang, bahkan kadang dimistifikasi dan diglorifikasi.

Ruang kosong tersebut juga berupaya diisi melalui pertunjukan ini dengan meminjam sosok Daeng Naba. Bukan sebagai figur historis, melainkan sebagai gagasan untuk membicarakan persoalan diaspora dan hibriditas orang-orang Makassar serta Bugis di Yogyakarta. Oleh karena itu, pertunjukan ini tidak berangkat dari satu narasi sejarah yang tunggal dan linier. Ia dibangun dari petikan-petikan narasi yang serba-beragam, yang kemudian disusun dan diolah menjadi satu skenario pertunjukan.

Pertunjukan ini berlangsung secara paralel di dua tempat, yakni di Makassar (Layar Putih, Tanjung Bayang) dan Yogyakarta (Omah Kebon). Dimulai dari Makassar dengan mengambil latar peristiwa pasca-perang Makassar, lalu berlanjut hingga ke tanah Jawa. Ada kebebasan yang direnggut pasca-perang, lalu berusaha dicari di tanah perantauan.

Diaspora, asimilasi, dan hibriditas yang menjadi episentrum isu dalam pertunjukan ini dibaratkan gedebog (batang) pisang yang hanyut dibawa arus air, yang akan membusuk di mana pun ia tertambat. Gedebog itu pada akhirnya memang bakal membusuk, tetapi pembusukannya bukan tanpa manfaat. Ia membusuk sekaligus menjadi nutrisi bagi tanaman-tanaman lain yang baru tumbuh. Begitu juga orang-orang Makassar dan Bugis yang hijrah ke Jawa pada masa pasca-perjanjian Bongayya. Mereka berakhir di tanah perantauan, tetapi meninggalkan warisan berupa jejak kebudayaan dan pengetahuan.

Selain menguji-cobakan format pertunjukan secara paralel di dua lokasi berbeda, Performing Art Karang Naba juga mencoba bermain-main dengan teknologi. Pertunjukan paralel ini memang mengandalkan teknologi digital untuk menghubungkan dua lokasi tersebut. Biasanya, sebuah (katakan lah) pertunjukan digital acap kali bermasalah ketika telah ditransmisikan, yang sekadar tampak serupa “dokumentasi pertunjukan”. Pengalaman estetis yang didapatkan ketika menonton pertunjukan secara langsung seolah hilang saat ia ditampilkan secara daring. Pertunjukan ini berupaya memberikan tawaran strategi artistik untuk menampilkan sebuah pertunjukan secara daring. Teknologi digital tidak hanya diposisikan sebagai alat, tetapi juga sebagai medium yang sangat menentukan dimensi estetis dari pertunjukan ini.

Menurut Wildan Noumeru, pekerja film yang didapuk menjadi sutradara pertunjukan ini, mengatakan bahwa pilihan untuk menampilkan karya pertunjukan secara real time melalui teknologi digital ini mempunyai tantangannya sendiri.

“Berbeda dengan film yang dalam pengambilan gambarnya bisa diulang-ulang untuk mendapatkan adegan atau shoot terbaik. Pertunjukan berbeda karena tidak dapat diulangi dan dipilah bagian mana yang akan diambil. Pada titik itulah pertunjukan real time dengan basis digital bisa menarik dan menantang, terutama ketika di dalam prosesnya ada kekeliruan atau kesalahan. Ia tidak dapat diulangi, tetapi perlu diimprovisasikan.”

Wildan menambahkan, sebagai sebuah karya eksperimental, salah satu capaian dari karya ini adalah sejauh mana nantinya mampu memberikan penawaran bentuk sajian seni pertunjukan yang tidak sekadar sebagai sebuah video dokumentasi pertunjukan.

“Ide awal pertunjukan ini sebetulnya sejak lima tahun lalu. Justru kondisi pandemi ini memicu kami untuk merealisasikannya sekarang. Kita tentu memahami saat ini kita dipaksa untuk berubah dan beradaptasi di segala aktivitas keseharian, dari tatap muka ke teknologi virtual, termasuk wilayah seni pertunjukan. Dalam proses latihan dan persiapan yang berjalan selama tiga bulan ini, kami benar-benar aware terhadap protokol kesehatan sebagai hal yang utama.”

Pertunjukan ini akan berlangsung hari ini di Makassar dan Yogyakarta, 11 November 2020, pukul 20.00 wita, via platform Youtube (Wildan Noumeiru), Facebook (Ahmad Wildan Noumeiru), dan Instagram (wildan.noumeiru).

*

Sutradara: Wildan Noumeiru
Koreografer tim Yogya: Abdi Karya
Koreografer tim Makassar: Abidin Wakur & Ariayanti Sultan
Komposer: Jagad Sentana Art-Solo & Taufik Akbar

Mengintip Kehidupan Keras di Jakarta Lewat Wesel Pos Milik Ratih Kumala

1



KALAU memosisikan diri sebagai pendatang yang mengadu nasib di Jakarta, bagi saya, hidup di sana pasti betul-betul tidak mudah melebihi hidup di kampung sendiri. Jangankan mengadu nasib, sehari berada di Jakarta saja saya sudah tidak betah dan menyerah dengan kemacetan, keruwetan, dan udaranya yang begitu panas. Memang, “Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.” (hlm. 1). Lantaran perlu kesabaran, kesiapan fisik dan mental, serta ketahanan yang tinggi agar tidak mati dikalahkan oleh kerasnya Jakarta. Kehidupan keras di Jakarta cukup jelas tergambar dalam Wesel Pos karya Ratih Kumala melalui kisah Elisa Fatunisa yang merantau.

Elisa hendak mengabarkan kematian Ibu pada kakaknya, Ikbal Hanafi, di Jakarta sekaligus mencari peruntungan dengan bekerja di sana. Belum lama tiba di Jakarta, Elisa sudah dihadapkan pada ketidakberuntungan, merasakan kerasnya Jakarta, dan kenyataan-kenyataan yang mengejutkan dirinya. Hidupnya sudah dramatis dan penuh ujian. Mulai dari kehilangan tas yang ia titipkan kepada ibu-ibu penjual kopi keliling, terjebak berjam-jam di kantor polisi, kesulitan menemukan kakaknya akibat informasi yang ia punya tidak lengkap, dicap perek oleh tetangga, hingga disebut sebagai cewek hot oleh bos penjual narkoba.

Berbekal alamat yang tertera pada wesel pos yang dikirim Ikbal, Elisa mencari Ikbal yang sudah lebih dari dua tahun tidak menjumpainya di Purwodadi. Namun, nyatanya tidak segampang yang ia duga. Minimnya informasi membuat Elisa kebingungan ketika ditanya mengenai Ikbal. Beruntung, sekuriti penjaga gerbang gedung di mana Ikbal bekerja menyuruh Elisa bertanya pada Fahri, sopir kantor pribadi Bos Lukman—pemilik Megantara Grup. Selagi mencari Ikbal, Elisa menumpang di rusun tempat Fahri tinggal. Tinggal bersama Fahri pun tidak mudah. Ia kerap menjadi bahan gunjingan dan menerima tatapan penuh curiga yang kurang menyenangkan dari tetangga.

Keesokan harinya, ketika Elisa sedang membereskan isi laci-laci lemari, ia terkejut sekaligus bingung mendapati bukti pengiriman wesel pos dan surat untuk Ikbal yang masih utuh dan belum terbuka—yang ia kirim beberapa minggu sebelum Ibu meninggal. Tak lama setibanya Fahri di rumah, Elisa langsung menanyakan hal tersebut dan mendapati jawaban yang membuatnya kehabisan kata-kata dan tak percaya. Kebenaran akan kiriman wesel pos yang rutin Elisa terima setiap bulan sekaligus menghapus rasa penasaran yang selama ini mengganjalnya. Kenyataan kadang memang menyakitkan dan pada akhirnya diam menjadi satu-satunya hal yang bisa kita lakukan.

Kabar dan segala hal yang ingin diketahui Elisa perihal Ikbal sudah ia dapatkan. Jelas tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain kembali ke kampung. Namun, terjadi sesuatu pada Fahri dan membuat Elisa memutuskan untuk tetap tinggal. Keputusan Elisa merawat Fahri dan kepedulian terhadapnya telah mengubah rencana dan ikatan antara keduanya. Elisa semakin mengenal Fahri dan mengetahui fakta kehidupan keras yang dijalaninya, baik untuk bertahan hidup dan menggantikan Ikbal maupun membantu keluarga yang kesusahan. Cerita kemudian berfokus pada Fahri dan upayanya untuk bisa lepas dari pekerjaan sampingannya sebagai kurir narkoba.

Penokohan yang Kuat dan Wesel Pos sebagai Penutur

Sama dengan dua buku Ratih yang sudah saya baca, penokohan dalam novelet ini pun kuat. Para tokoh yang dihadirkan, baik tokoh utama maupun tokoh yang hanya hadir sekejap, semuanya memiliki peran yang pas dan menggerakkan cerita. Tidak ada tokoh yang sekadar tampil dan mubazir. Salah satunya bisa kita lihat dari sikap empat tokoh yang paling menarik perhatian sejak awal; Elisa, Fahri, Bu Hilda, dan Mas Memet. Keempat tokoh yang, menurut saya, paling menghidupkan cerita. Elisa dengan keluguannya, Fahri dan kehidupan kerasnya, Bu Hilda dengan kekepoan dan penilaian negatifnya, serta Mas Memet dengan kelucuannya.

Kenaifan dan keluguan Elisa tampak jelas sejak cerita dimulai. Kita bisa lihat dari sikap Elisa yang percaya begitu saja kepada penjual yang kelihatannya baik dan menganggap semua pelaku kriminal bisa ditangkap dengan melapor pada polisi—termasuk percaya polisi bisa menangkap gembong narkoba dan membereskan masalah Fahri. Kesederhanaannya terus diuji selama tinggal di Jakarta. Di mata Elisa seperti tidak ada orang yang betul-betul jahat dan semua masalah bisa diselesaikan dengan cara yang menurutnya benar meskipun tidak sesederhana kelihatannya.

Pilihan-pilihan yang diambil Fahri mulanya muncul atas dasar peduli dan pertalian saudara yang, walaupun tidak baik, tetap ada keterikatan. Hal ini terlihat dari niat baiknya untuk memperbaiki hubungan dan menolong sekalipun harus bekerja dengan bos penjual narkoba. Gaji yang pas-pasan dan banyaknya biaya yang mesti Fahri penuhi memaksanya untuk mengambil jalan pintas. Kalau melihat realitas, tokoh Fahri ini tampaknya hampir mustahil ada. Mungkin ada, tetapi saya pikir sangat sulit menemukan laki-laki yang masih bisa bersikap baik ketika bertemu perempuan naif seperti Elisa.

Ratih menggambarkan secara jelas bagaimana kebanyakan orang sering menilai dan berasumsi yang tidak-tidak terhadap seseorang seakan-akan asumsinya benar—misalnya, anggapan umum tentang laki-laki dan perempuan yang tinggal seatap dan bukan muhrim—dan rasa kepo yang besar atas kehidupan seseorang lewat Bu Hilda dan gunjingan lain yang diselipkan dalam narasi. Mas Memet boleh dibilang sebagai penyimbang tokoh Bu Hilda yang cukup menyebalkan. Sebab, kelucuannya mampu menetralkan kesebalan, baik dari cara berbicara, banyolan, maupun ucapannya.

Deskripsi yang detail tentang kebiasaan tokoh, tempat, dan lain-lain membuat ceritanya semakin terasa nyata dan dekat. Namun, sayangnya, penggunaan Wesel Pos sebagai penutur justru terasa semakin hilang menjelang pertengahan buku. Cerita dari kacamata Wesel Pos hanya ada pada empat bagian awal, kemudian keberadaannya tidak diketahui dan sampai bab sepuluh tidak diceritakan lagi sehingga memunculkan keanehan. Lantaran pada bab akhir tiba-tiba muncul penuturan Wesel Pos yang seolah-olah selalu melihat atau tahu setiap peristiwa yang terjadi, baik di unit Fahri maupun di luar. Sudut pandang yang digunakan pun berujung kurang jelas.

Kehidupan kaum kecil yang disajikan dalam Wesel Pos cukup menarik dan memperlihatkan Jakarta yang sulit ditaklukkan, serta orang sakti dan orang sakit yang hidup di Jakarta—meskipun dari segi cerita kurang memuaskan dan kurang gereget karena konflik yang sederhana dan plot yang mudah tertebak. Selain itu, hampir serupa dengan cerita-cerita yang biasa kita jumpai dalam film televisi (FTV). Namun, wajar saja kalau melihat dari bentuknya dan mungkin memang Ratih sengaja mengambil tema yang ringan agar bisa dihabiskan dalam sekali duduk.

Novelet ini tidak berhasil membuat saya takjub seperti ketika membaca Gadis Kretek—novel sarat pesan yang memuat sejarah kretek di Indonesia—maupun kumpulan cerpen menyenangkan berisi cerita-cerita tidak membahagiakan dalam Bastian dan Jamur Ajaib. Akan tetapi, Wesel Pos berhasil menghibur lewat penokohan yang kuat dan penceritaan yang apik. Keadaan kadang mengharuskan kita untuk bertahan dan memilih pilihan ataupun jalan yang bertentangan dengan hati—seperti yang dilakukan Fahri dan Elisa—sekalipun kita tidak tahu kedua hal itu akan membawa kita pada keberuntungan atau kemalangan lainnya, bahkan akhir yang tragis.

Kamera Pak Burhan

0



Apa pasal kasur tak mengering meski telah berhari-hari dijemur? Tentu tak ada jika hujan usai bergeser ke timur. Namun karena basah hati tak jua bersua penawar, maka basah kasur oleh amuk sungai Deli beberapa hari yang lampau tentulah menjadi amat sulit mengering.

Sedianya, sewaktu hendak menegakkan rukun Islam di hulu hari, Pak Burhan malah mendapati istrinya tak bangun subuh bersamanya. Tak ada yang menyangka sekalipun Pak Burhan juga Mak Sarinah barangkali, jika salat isya semalam adalah salat terakhir mereka sebagai pasangan yang terikat sumpah setia. Sumpah yang seperempat abad lebih mereka gotong dalam mengarungi legitnya suka dan bangkarnya duka. Lebih memilukan, sebelum tanggal di almanak gugur berganti, Mak Sarinah sama sekali tak merasakan ganjil di tubuhnya. Namun makhluk apa yang dapat menawar datangnya janji? Mak Sarinah pun pamit tanpa berpamitan.

Selesai mengembalikan Mak Sarinah ke muasal segala asal, satu demi satu tetangga yang mengantarkan Mak Sarinah menyodorkan pamit kepada Pak Burhan, kecuali seorang anak remaja tanggung tetangga Pak Burhan yang bernama Imam. Saban sore ia memang selalu main ke rumah Pak Burhan.  

Sekiranya Imam diberikan pilihan saat itu, pulang ke rumahnya atau tetap menemani Pak Burhan, pastilah ia memilih pulang beristirahat. Sebab sejak kabar duka itu menghampirinya, tak sedetik pun ia beranjak dari bahu Pak Burhan. Namun karena si bungsu Taufik yang suka mabuk tak terlihat urat lehernya, Imam pun menarik niat yang nyaris menjulur dari mulutnya.

Sungguh, selain Taufik pemabuk itu, Pak Burhan sebenarnya masih memiliki seorang lagi jantung hati. Marina namanya. Mula-mula merantau, Marina ingat pada orang tua. Selain mengirim uang, Marina pun tak luput berkabar. Minimal seminggu sekali. Tetapi beberapa tahun belakangan, jangankan uang, suaranya pun sudah tak terdengar lagi di telinga Pak Burhan.

”Ayah, Marina boleh cari kerja ke Bali?”

Lama Pak Burhan memilih-milih jawaban. Kecemasan begitu amat kasat mata terbit dari air mukanya. Wajarlah! Orang tua mana yang tak risau anak perawan jauh dari rumah. Dalam kebuntuan itu, Pak Burhan malah terjatuh menyorongkan pertanyaan.

”Mau kerja apa kau, Na? Ada saudara kau di sana?”

”Ina punya kawan kok, Yah. Si Nita, kawan sekolah Ina yang pernah Ina bawa menginap tempo hari. Ayah ingat tidak? Dia sudah sebulan di Bali. Katanya enak cari uang di sana.”

”Iya, tapi kerja kau di sana, apa? Sekolah saja kau belum tamat. Nanti kesasar-sasar kau baru tahu!”

”Kan ada si Nita! Kalau soal kerja banyak, Yah. Ina bisa kerja di restoran, kafe atau bar. Gajinya besar! Nanti Ina bisa bantu-bantu ayah dan mamak di sini. Boleh, Yah?”

Benteng pertahanan Pak Burhan roboh, habis digempur Marina. Bendera putih pun Pak Burhan kibarkan—tak kuat melihat nyala api memancar dari mata Marina. Setali dengan Pak Burhan, Mak Sarinah pun lebih-lebih tak berdaya bahkan tatkala Marina dengan sedikit tertatih menyeret koper—milik mereka dulu saat merantau ke Tanah Deli dari Bukittinggi—ke cerat pintu.

***

Nyaris sepertiga bulan setelah Mak Sarinah kembali kepada Sang Khalik, batang hidung Taufik dan Marina tak juga tampak. Begitu pula Pak Burhan, masih enggan menyapa kicau burung pagi. Beruntungnya, Imam selalu sedia mengeringi hati Pak Burhan yang basah. Sampai-sampai urusan makan-minum ia kerjakan.

Amboi, seakrab itukah Imam? Ya, bak empedu lekat di hati. Berlebih lagi Imam yatim sejak lahir. Ditambah pula Pak Burhan selalu mengajak Imam memotret turis-turis lokal ataupun mancanegara yang berkunjung ke Masjid Raya Al Mashun, Istana Maimun, dan sekitar Taman Sri Deli.   

Itulah mengapa saat malang menerjang Pak Burhan, sempat terbetik niat Imam mengambil alih pekerjaan memotret turis. Akan tetapi sungguh berat lidah menyampaikan, mungkin Imam khawatir tak mendapat restu. Terlebih kamera SLR Canon G III QL milik Pak Burhan tergolong sulit ditakluki.

“Ini kamera lama, Mam. Jika tak pakai hati memegangnya, bisa tak nyala dia,” gurau Pak Burhan sekali waktu.

Sungguh tak berlebihan orang tua itu perihal kameranya. Kisah yang melekat pada kamera itu bukan sembarang.

“Kau tahu, Mam? Ini kamera bapak dapat dari kawan di Kowilhan pasca meletusnya Peristiwa 65. Waktu itu kawan bapak kasihan melihat bapak luntang-lantung tak ada pekerjaan. Alkisah, dimintanya bapak datang ke Kowilhan untuk membantu dia memotret orang-orang yang dituduh PKI. Tentu saja tawaran itu bapak terima. Meski sebenarnya bapak tak pandai menyalakan kamera. Apalagi menggunakannya,” cerita Pak Burhan bersemangat diselipi tawanya yang khas.   

”Tapi jujur, bapak tak sampai hati memotret mereka, Mam.” Tiba-tiba suara Pak Burhan parau seperti mengisyaratkan kesedihan dan penyesalan yang dalam.

”Kenapa, Pak?” sela Imam.

”Tak mengapa, Mam,” Pak Burhan memungut nafas panjang melepaskan segumpal beban yang jenak menindih tipis dadanya.

”Nah, setelah pekerjaan memotret orang-orang itu selesai, kamera bapak kembalikan. Semula diterima kawan bapak. Tapi seminggu kemudian dia mendatangi rumah kontrakan bapak dan menyerahkan kembali kamera itu,” Pak Burhan memetik udara lalu menyambung cerita. ”Katanya, dia selalu mimpi buruk setiap malam setelah membawa pulang kamera itu ke rumah. Mimpi didatangi manusia-manusia tanpa kepala.”

”Lalu kenapa bapak terima kamera itu? Tidak takut mimpi didatangi manusia tanpa kepala seperti mimpi kawan, bapak?” kejar Imam penasaran.

”Ya, semula bapak juga takut, Mam. Tapi karena tak punya pekerjaan, bapak terima saja kamera itu. Bapak pikir kamera itu pasti ada gunanya. Ternyata benar, sampai hari ini kamera itu yang menopang bapak menafkahi keluarga.”

”Bapak tidak pernah mimpi didatangi manusia-manusia tanpa kepala itu?”

”Tidak, Mam. Sekalipun tak pernah bapak mimpi seperti itu. Mungkin pandai-pandainya kawan bapak saja bercerita.”

”Maksudnya, Pak?”

”Ya, maksudnya, biar kamera itu untuk bapak. Lagi pula diakan tahu kalau bapak pengangguran. Hitung-hitung dia bantu bapaklah, Mam.”

”Ooo…” sambut Imam dengan anggukan kepala.

Ihwal itulah yang akhirnya menyeret Pak Burhan menyelami profesi tukang potret keliling. Entah sudah berapa banyak kenangan diawetkan Pak Burhan dalam kamera, bahkan ketika teknologi semakin menepikan segala hal yang berbau manual, Pak Burhan surut mundur dari pekerjaan yang telah membuatnya dikenal orang banyak.

Jika pun sungguh ditelisik, cintanya pada kamera serta pengabdiannya mengawetkan kenangan bukanlah semata alasan ia masih lihai berseloroh dengan para pelanggan. Apalagi usia tentu tak pandai bersembunyi. Namun janji haruslah tunai dibayar! Meskipun kepada anak kandung sendiri—janji membelikan Taufik sepeda motor. Konon, itulah penyebab si Taufik pemabuk enggan berlama-lama duduk di bangku perguruan tinggi.

Ampun! Seperti mendapat label pembenaran, Taufik pun merasa pantas serta berhak uring-uringan jika sedang di rumah dan mabuk jika di luar rumah. Hidup teratur sekarang adalah yang tak teratur menurutnya. Sujud pun kontan tak dikerjakan bahkan melayangkan lengan ke wajah orang tuanya, sungguh tak sungkan Taufik lakukan.

***

Sepertinya kasur sudah mengering dan matahari sungguh teramat terik. Lagi pula tak elok terlalu lama menjemur duka. Bukankah hidup pantang hanyut ke belakang? Ya, itulah mengapa hari ini dengan semangat yang masih menyembul-nyembul Pak Burhan tekad keluar mengekas rezeki. Sekalipun sangon duka yang Pak Burhan terima cukup berdaging, tetap saja jerih keringat lebih lempang di kerongkongan. 

Lantas, siapa sangka istirahat panjang malah melicinkan rezeki! Sampai-sampai Pak Burhan tak lepas sahut-menyambut panggilan turis mancanegara. Walaupun hanya dibesarkan dengan sekolah bambu, dua bahasa asing benua biru begitu gemulai di lidah Pak Burhan.

Demikianlah, untung-malang adalah mempelai teka teki. Pak Burhan niat membagi sukacitanya dan ingin mengajak Imam makan enak selepas magrib. Betapa bahagia seharusnya pulang ke rumah nanti. Namun, setiba kaki menjejak di moncong pintu, Taufik yang terlihat gayang langsung melantas Pak Burhan.

”Sini! Sini, kamera itu!” kata Taufik dengan mulut busuk tuak.

”Untuk apa sama kau, Fik?” pelan Pak Burhan bertanya.

”Bukan urusan, Ayah! Sudah sini! Cepatlah!” suara Taufik meninggi ke udara. Pak Burhan bergeming. Ia masuk ke kamarnya, meninggalkan Taufik di ruang tamu yang mulai beringas. Darah Taufik mendaki makin ke puncak. Disusulnya Pak Burhan ke kamar dengan sebilah pisau lipat.

Sungguh, baru satu-dua kancing kemeja yang Pak Burhan lepaskan, Taufik yang sudah seleher tiba-tiba masuk sambil mengayunkan pisau ke arah perut Ayah kandungnya. Nasib baik. Tusukan Taufik meleset. Tapi, sehebat apakah orang tua seperti Pak Burhan sanggup terus-menerus mengelak?

Taufik muntab. Melaung mengeluarkan kata-kata kotor. Didekatinya Pak Burhan yang semakin tersudut. Dan…

Krepaaaak.

Taufik roboh. Kental darah lamat-lamat menggenangi lantai kamar Pak Burhan. Hening sesaat. Kemudian…

“Lari! Cepat lari! Tak usah pedulikan dia! 

Surabaya, 2019



=====================
Ilham Wahyudi lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Ia seorang fundraiser dan penggemar berat Chelsea Football Club. Beberapa karyanya telah dimuat di koran-koran dan antologi.

Pelukan yang Kehilangan Lengan

0




Melankolia Pengkhianatan

beginilah kita akan selesai seperti bahtera yang bertambat pada akhirnya
di dermaga yang bukan hatiku. kau kini atau kita barangkali hanya sepasang
pertautan mimpi yang kian renggang, berjarak, berlari saling melepas angan
dengan sela-sela jari kosong tak bergenggam.

kausemai cinta yang dituai seorang yang datang dari entah berantah kehidupan
tak ada yang tahu dari mana bunga-bunga yang lain mekar dalam perjalanan
membangun sebuah taman surga. burung-burung pun terbang selalu tahu arah
pulang ke dalam sangkar sedang kita perantau yang lupa letak rumah.

tak ada yang bisa membantu kita. puisi hanya sebuah pelukan yang kehilangan
lengan. tak ada dekap kecuali tebah dada yang menunjukkan dalih pengkhianatan.
kau atau aku pada bagian ini tak perlu mencari siapa yang lebih berhak memikul
dan memukul kelemahan kesetiaan kita.

Mamuju, 2018




Penerimaan

Aku ingin mencintaimu dengan keikhlasan
sebagaimana Maryam yang menerima Isa
sebagai titipan.  Sebagaimana Ismail yang
menerima penyembelihan sebagai ketaatan.

Aku ingin mencintaimu dalam kerelaan
kayu yang terbakar dalam tungku untuk
memberimu kehangatan. Seperti nyala
sumbu yang menjaga dirinya tetap hangus
untuk memberimu pandangan.

Aku ingin mencintaimu dengan pengorbanan
Rumi yang menerima kehilangan kebesaran
untuk menemukan kekerdilan. Serupa Syams
Tabriz yang jadi darwis pengembara untuk
menjaga bara api jiwanya agar tetap  melebur
dengan air kehidupan.

Mamuju, 2020



Agama Cinta

kau tidak bersimpuh pada apa yang kusembah
dan tidak pula kupasung apa yang kaujunjung
kita leluasa menyembah untuk saling membasuh
kita senantiasa merangkul untuk saling memikul
aku tidak mengimani apa yang kauamini
kau mengamini apa yang tidak aku imani
tetapi untukku agamaku menebar kasih
dan untukmu agamamu menabur sayang

Mamuju, 2020




Pada Bagian Apa

setelah gejolak batin dan pikiran bertarung
tak berkesudahan dalam kepalamu.
kaubertanya: pada bagian apa dari diriku
yang memantik cintamu?

kaudekap kemalangan nasib yang kaucintai
telah kaususuri jalan sunyi di tiap bait syair
rindu Jalaluddin Rumi, telah berkali-kali

kaulangitkan kesetiaan Qais dalam kesepian
yang terpangkas kata-kata. telah lama kau
nisankan perempuan Mandar yang mati
ditelan nestapa zaman.

pada bagian apa dari diriku yang memantik
kerinduan?

kaumenunggu dan terus menunggu lalu ia

datang kepadamu membawa rasa percaya
menepis segala keraguan Rabiatul al Adawiah
melantunkan harap pada nubuat menikam petuah
ia percaya kau seperti setianya seorang Ali
kendati ia bukan seorang Fatimah.

ia ungkap apa yang selalu ingin kausingkap:
keraguan lelaki yang patah oleh keras kehidupan
ia runtuhkan tameng ego di hadapanmu demi

sebuah cerah mimpi yang terpancar di sana

tetapi kaudiam seperti puisi yang belum
sempat dituliskan penyairnya. ada perasaan
yang tak mampu dijabarkan kata-kata.
ada taswir yang belum sempat diberi tafsir.

sebab bukankah cinta adalah lipatan-lipatan
keyakinan yang tak memiliki celah keraguan?

kaubertanya: pada bagian apa dari diriku
yang memantik cintamu?

Mamuju, 2018



Manifesto Air Mata

aku akan berhenti menulis puisi kesedihan
bila kau dengan hati yang lapang
merintangkan kembali kedua lengan.

Mamuju, 2019



======================
Syafri Arifuddin Masser
Lahir di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa Sastra Inggris Universitas Muslim Indonesia. Puisinya tergabung dalam beberapa antologi: kibul.in 2017, tembi.net 2019, biem.co 2019, Festival Seni Multatuli 2018, Makassar International Eights Festival & Forum 2018, Mandar Writer and Culture Forum 2019, Festival Literasi Tangsel 2019, Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum 2019, dan Gerakan Antiskandal Sastra 2018.

Maklumat Perayaan Hari Puisi Indonesia 2020

1


Sejak perayaan pertama Hari Puisi Indonesia, 2013, sampai perayaan ketujuh, 2019, Yayasan Hari Puisi (YHP) dengan segala keterbatasannya, terus berbuat, bertindak, dan bergerak memperjuangkan eksistensi puisi dan peranannya dalam kehidupan bangsa Indonesia. Salah satu mata acara yang selalu ditunggu para penyair Indonesia di pelosok Tanah Air adalah Sayembara Buku Puisi Anugerah Hari Puisi Indonesia. Dengan hadiah total 100 juta rupiah, yaitu 50 juta rupiah untuk buku puisi peraih Anugerah Hari Puisi Indonesia dan lima buku puisi pilihan dengan masing-masing mendapat 10 juta rupiah, para penyair di seluruh Indonesia mengirimkan buku-buku puisi terbaiknya.

Dalam perjalanan penyelenggaraan Hari Puisi Indonesia sejak 2013 sampai 2019, para penyair di kawasan Asean, diundang membaca puisi dan ikut memeriahkan Hari Puisi Indonesia. Demikian juga, sejumlah atase, diplomat, dan duta-duta besar negara sahabat dari belahan dunia: Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin, ikut hadir dan membacakan puisi para penyair dari negaranya masing-masing. Mengingat Hari Puisi Indonesia milik bangsa Indonesia, dalam setiap perayaannya, para menteri, gubernur dan kepala daerah lainnya, pejabat negara, anggota DPR, dan tokoh-tokoh masyarakat, ikut pula ambil bagian membaca puisi dan memberi apresiasi yang tinggi pada Hari Puisi Indonesia. Dapat dipahami, jika pada perayaan Hari Puisi Indonesia tahun 2016, Wakil Presiden RI, M. Yusuf Kalla, ikut mencanangkan Hari Puisi Indonesia dengan membaca puisi karyanya sendiri berjudul “Ambonku, Ambon Kita Semua,” sebuah puisi hasil refleksi dan perenungannya tentang kecintaannya pada Ambon, pada Indonesia!

Perayaan Hari Puisi Indonesia hakikatnya hendak memuliakan puisi dan memberi apresiasi—penghormatan dan penghargaan—pada para penyair Indonesia. Maka, puncak perayaan Hari Puisi Indonesia adalah Hari Raya Para Penyair. Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan itu, YHP menandai perayaan Hari Puisi Indonesia dengan penerbitan buku, antara lain, antologi puisi Matahari Cinta Samudra Kata, sebuah buku antologi puisi paling tebal se-Indonesia (bahkan mungkin juga sedunia) dengan jumlah halaman 2016; Apa dan Siapa Penyair Indonesia yang menghimpun biodata penyair Indonesia sejak Hamzah Fansuri (abad ke-17) sampai tahun 2018; Hari Raya Puisi, antologi puisi para pemenang HPI 2013—2017; majalah Hari Puisi Indonesia dan peluncuran prangko Indonesia serial penyair yang dimulai dari penyair Raja Ali Haji dan Chairil Anwar.

Begitulah, Hari Puisi Indonesia telah menjadi perayaan segenap komponen bangsa untuk terus-menerus meneguhkan semangat keindonesiaan dan sekaligus merayakan keberagaman dan keberbedaan sebagai kekayaan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki banyak bangsa lain di dunia.

***

Berkenaan dengan Sayembara Buku Puisi Anugerah Hari Puisi Indonesia, dalam setiap tahun, panitia menerima sekitar 300—400 judul buku puisi. Dari sana, bermunculan nama-nama baru, tema-tema yang lebih beragam, dan gaya pengucapan yang menunjukkan heterogenitas latar budaya para penyair Indonesia. Sambutan dan antusiasme para penyair kita atas penyelenggaraan perayaan Hari Puisi Indonesia, sungguh luar biasa. Hal tersebut tampak dari bermunculannya penyelenggaraan Hari Puisi Indonesia di pelosok Tanah Air. Puisi sebagai ekspresi seni makin memperoleh berbagai macam apresiasi dan peranan penyair dalam kehidupan kemasyarakatan mulai mendapat tempat yang baik.

Kini, perayaan ke-8 Hari Puisi Indonesia, 2020, berhadapan dengan situasi anomali, absurd, tak terduga. Pandemi Corona telah meruntuhkan bangunan berbagai program. Meski begitu, cogan “Puisi tak pernah mati!” bukanlah basa-basi. Ia spirit, renjana, dan elan yang menjadikan penyair Indonesia dikenal sebagai makhluk responsif, adaptif, dan kreatif. Pandemi Corona disikapi dan direspons secara positif tanpa perlu berkeluh-kesah menyalahkan pihak mana pun. Mereka begitu luwes menyesuaikan diri dalam situasi apa pun. Maka, para penyair kita tiada henti melahirkan berbagai kreativitas cerdas dan inspiratif.

Puncak perayaan Hari Puisi Indonesia rencananya diselenggarakan di Kota Tua, Jakarta, 16—18 Oktober 2020. Salah satu mata acaranya, Pengumuman Pemenang Sayembara Buku Puisi Anugerah Hari Puisi Indonesia 2020. Tentu juga dengan naik panggungnya para penyair maestro, seperti Sutardji Calzoum Bahri, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, dan para jawara baca puisi untuk menunjukkan kekuatan sihirnya saat baca puisi. Tetapi, pada tanggal itu, tiada sesiapa pun yang tahu, apa yang bakal terjadi. Manusia berencana, Tuhan jualah yang menentukan! Oleh karena itu, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, sudah disiapkan pula Plan A, Plan B, Plan C, dan seterusnya yang memungkinkan program itu tetap berjalan dengan acara yang tetap meriah, bermarwah, bergengsi, dan reputasional.

Tema perayaan Hari Puisi Indonesia 2020 ini, “Puisi yang memberi: Keberagaman dan Keindonesiaan.” Tarikh dimulainya sayembara buku puisi Anugerah Hari Puisi Indonesia 2020, bertepatan dengan Hari Puisi Indonesia, 26 Juli. Mengingat tanggal 26 Juli merupakan hari lahir penyair legendaris, Chairil Anwar, maka untuk memeriahkannya, Yayasan Hari Puisi mengundang para penyair atau siapa pun yang tertarik pada puisi untuk memperingatinya dengan berdoa bersama, baca puisi bersama para penyair Indonesia dari Sabang sampai Merauke, peluncuran dan diskusi buku puisi Berbisik pada Dunia, pesan puisi Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri dan doa puisi Abdul Hadi WM.

Informasi lain tentang sayembara buku puisi Anugerah Hari Puisi Indonesia 2020 akan disampaikan dalam waktu dekat.
Mari meriahkan Hari Puisi Indonesia 2020 sebagai Hari Raya Penyair. Mari gaungkan spirit: puisi tak pernah mati! Mari berjabat tangan mengukuhtegakkan keberagaman dan keindonesiaan kita!

Salam dengan segenap takzim.

Maman S Mahayana
Ketua Yayasan Hari Puisi

“Perempuan Istimewa” Sebuah Undangan Antologi Puisi Bersama 2020

0

Salam Kreatif
Salam Literasi Sastra

ADALAH sebuah kemahfuman bahwa setiap pribadi –kaum adam maupun kaum hawa- dalam sepersekian momentum kehidupan memiliki sosok/figur/karakter/profesi/komunitas ‘Perempuan Istimewa’, baik di dalam realita maupun di dalam imajinasinya. Penyematan atribut ’Istimewa’ pada sosok/figur/karakter/profesi/komunitas perempuan tersebut tentu tidak lahir dalam keserta-mertaan, namun melalui perjalanan inspiratif yang membuka ruang-ruang kontemplatif bagi siapa saja yang mau dan mampu membacanya dengan kesungguhan.

Maklumat ini merupakan undangan resmi kepada segenap penyair (maupun yang merasa bukan penyair) dari seluruh penjuru Indonesia dan beberapa negara tetangga sebagai pribadi yang memiliki sosok/figur/karakter/profesi/komunitas ‘Perempuan Istimewa’ untuk diprasastikan bersama dalam sebentuk karya sastra berupa PUISI. Karya puisi yang nanti lolos proses kuratorial akan diterbitkan dalam satu buku “Antologi Puisi Bersama Perempuan Istimewa 2020”.

Ada pun ketentuannya adalah sebagai berikut:
1. Undangan ini berlaku bagi semua penyair maupun bukan penyair, laki-laki maupun perempuan, baik berdomisili di Indonesia maupun di luar negeri, tanpa batasan usia.
2. Naskah puisi ditulis dalam format Rich Text Format (RTF), ukuran kertas kuarto A4, Times New Roman 12, spasi 1.
3. Panjang naskah karya puisi maksimal 30 baris, 1 (satu) halaman untuk 1 (satu) puisi.
4. Peserta diperbolehkan mengirimkan 2 – 4 karya puisi (1 puisi bertema ‘Perempuan Istimewa’ dan sisanya bertema bebas).
5. Di bawah naskah karya puisi dicantumkan biodata peserta dalam bentuk narasi (maksimal 10 baris) serta foto diri dengan disertai alamat domisili lengkap (untuk pengiriman buku), e-mail, akun media sosial, nomor Whatssapp, dan atau nomor telepon yang dapat dihubungi.
6. Naskah dikirim ke email: lingkarstiga@gmail.com. Dengan subjek: PI_(NAMA ASLI PENULIS)_(NAMA KOTA DAN PROVINSI/NEGARA DOMISILI PENULIS). Contoh: PI_Iqbal Ramadhan_Tulangbawangbarat Lampung
7. Naskah boleh dikirimkan sejak pengumuman maklumat ini hingga 20 April 2020 Pukul 23.00 WIB.
8. Nama-nama penulis yang naskah puisinya LOLOS KURASI akan diumumkan di www.lingkarstudisastrasetrawulan.blogspot.com, media partner, dan diberitahukan via email sesuai dengan email yang digunakan saat mengirimkan naskah puisi
9. Setiap nama peserta yang telah mengirimkan naskah akan dipublikasikan di Group Facebook; Lingkar Studi Sastra Setrawulan.

Pihak penyelenggara hanya membantu seleksi naskah, menerbitkan menjadi buku, promosi, dan memberikan e-sertifikat kepada semua peserta dalam buku “Antologi Puisi Bersama Perempuan Istimewa 2020”. Buku akan diterbitkan secara indie/self publishing. Sedangkan biaya penerbitan, diusung bersama oleh penyair yang terpilih dengan cara membeli 1 (satu) eksemplar buku, dan atau membeli lebih dari satu buku. Biaya pembelian 1 (satu) eksemplar buku seharga Rp. 90.000,- (belum termasuk ongkos kirim). Ongkos kirim dihitung berdasarkan jauh-dekat tempat tinggal penyair.

Demikian maklumat ini disampaikan secara resmi dengan segala kerendahan hati. Semoga niatan dan itikad baik untuk lebih mengapresiasi sosok/figur/karakter/profesi/komunitas ‘Perempuan Istimewa’ dalam realitas maupun imajinasi melalui karya puisi ini sedikit banyak menjadikan diri kita, orang-orang yang kita sayangi, serta peradaban ini menjadi lebih baik. Terima kasih atas perhatiannya.

Anjrah Lelono Broto (Penanggungjawab)
*WA 085854274197




Penyelenggara:
Lingkar Studi Sastra Setrawulan (LISSTRA)
Sebuah Komunitas Non-Sanggar
e-mail: lingkarstiga@gmail.com
web: www.lingkarstudisastrasetrawulan.blogspot.com

Komposisi Hujan Bagi Kota yang Tergesa

0


Puisi-puisi Alexander Robert Nainggolan

Metamorfosa

bersemedilah di setiap tidurmu. berlindung di rekah kepompong. puasa dari gemetar sedih dan rasa takut. sebab ulat di tubuh acap ranggas, memamah biak. dan kesunyian hanyalah sebagian dari ingatan. lupakanlah derap langkah. kota yang hiruk, mengusung keranda bagi kematiannya sendiri. maka setiap kabar, hanya sekadar penanda. bagi pucat tahun yang terus berjatuhan. bertahanlah dalam semedimu. membaca ayat-ayat yang rapat. di setiap jalan napas.

sebelum menetas jadi kupu-kupu.

Edelweis, 2019




Khuldi

bagaimana jika adam tak jadi mencurinya? bisikan ulat, hanya aroma sesat. yang melangkah sekejap lewat. betapa lezat. buah khuldi yang ranum, warna yang cerah, kerap membuat gelisah? namun hawa terus merajuk. sebagai petaka. melontarkannya ke dunia. bisikan-bisikan yang terus rumpang. menggema di segala ruang.
*
pohon khuldi cuma satu. buahnya yang berkilauan. pasti manis di pangkal lidah. aroma yang membuat buta. liur yang terjulur. nafsu yang menggebu. dan khuldi memang hadir, sekadar mengobati sunyi. “ayo, makanlah! lekas, segera!” ulat terus bercakap. dengan gumam yang lebih halus dari rambut.
*
adam dan hawa, terlontar juga. tanah kembali pada tanah. bumi yang dipenuhi cuaca. hujan dan kemarau. musim salju dan semi. matahari yang melingkar, sepanjang hari. adam mengingat, berapa banyak buah yang dimakannya. dan mereka bertemu di sebuah padang.
*
tapi bisikan akan khuldi terus saja menerawang. berpantulan, bahkan saat manusia terus beranak-pinak. “ayolah, cicip lagi,” begitu banyak dosa yang merupa cahaya. khuldi demi khuldi. menempuh sunyinya sendiri.

Edelweis, 2019




Rielke

bersama syair, engkau kesepian. menanam musim dingin di tengkuk. jaket yang membeku serupa bongkahan es. membaca riwayat negeri sendiri. lalu kaupecahkan juga sebuah kata. yang lama retak, tersekap di dalam kaca. tahun-tahun mengurung tubuh, membawa segala butir salju. di matamu yang luka. setiap nisan yang kaupahat, barangkali ada sebuah nama. yang lama tersekap. tanpa senyum, kautulis juga puisi. dan dunia terkulum, kuntum demi kuntum. keringat yang membatu. desah hujan bagi kesedihan.

dan nama kecilmu, “sophia,” mengingatkan pada luka lama seorang ibu. yang angankan kelahiran anak perempuan. segala yang tersemat padamu. sebagai masalalu. namun kau tumbuh bersama riwayat musim yang karim. ah, betapa puisi tak jemu menghampirmu, di setiap pembuluh.

bersama syair, engkau merangkak. menempuh segala macam upacara luka.

2019




Komposisi dari Jalan

bukankah itu jejakmu yang rekat? saat kota tergesa membuka pagi. dengan orang-orang yang berlari, di kerumun kendaraan. maka engkau melalui jalan-jalan yang sama, menelusuri pecahan gedung, atau sebagian rambu jalan. menghimpun sebagian masa lalu. lahan-lahan kosong yang sekejap pecah. menjadi bangunan baru. taman-taman semakin sunyi. jalan demi jalan telah kehilangan tanda.

2019


Senja yang Kau Hitung

senja yang kauhitung, di padat kota telah mengapung. setiap orang memanggul keranda bagi cahaya tubuh. masing-masing. sendiri dan kesepian. meskipun engkau akan terus larut, masuk ke kelok jalanan, menyingkap usia tahun. dan gedung-gedung telah terik, memantulkan kilat hitam. dan kerumunan orang berjalan dengan duri di kepala.

senja yang kauhitung, mungkin telah remang. kota tertidur, dengan ketakutan yang memanjang. di sebuah kelokan, engkau memang harus berhenti. mencari sisa cahaya bagi matahari yang pernah terbenam di tubuhmu.

Edelweis, 2019




Hujan Memenggal Langkah

hujan memenggal langkah. engkau mengingat mimpi semalam. berdiri di pinggir toko. di sekitarmu mulut-mulut terkulum dusta, sementara sengat dingin merayap tengkuk. di depan, pintu rumah menunggu. renyah suara anak-anak yang memanggilmu ayah. tapi hujan memenggal langkah. sepi kembali berkerumun dalam kecut angin. ketika lampu mulai menyala, kota seperti kerumunan raksasa yang menelanmu. ponsel dan tubuhmu bergetar, setiap kenangan menjelma jadi buntut ular. mengikat dan menyimpanmu bersama deras hujan.

2019




Di Gigil Hujan

engkau berlayar di gigil hujan. lambai kenangan memanggil, menyimpan tahun-tahun yang menua. hanya tubuhmu yang gemetaran, menembus hujan yang panjang. meradang di genangan kota pucat. namun kau bersikeras, untuk tiba di rumah. berkelahi dengan hujan. secepatnya!

Edelweis, 2019


Mata Teduh Hujan

engkau adalah mata teduh hujan. yang mengurungku bertahun-tahun. lapar dalam asmara, dan aku menjelma jadi tawanan. yang kaubungkus setiap kali tepi tatapanmu menujah, sampai ke tubir dada. di teduh matamu, hari-hari meringkuk. menuju lembab tubuhmu. hingga peluh tak terkayuh. lalu percakapan hanya sekadar isyarat yang lama terkerat.

telah kutunggu engkau, bukan cuma di musim hujan. sebab lembing matamu telah runcing. menyiramiku dengan hujan yang paling kerling.

2019




Selepas Pagi

selepas pagi. kerumun tubuh lalu-lintas. kerumun yang menyimpanmu dalam kubur. kubur waktu yang terulur, tanpa pintu. selepas pagi, melupakan embun yang tertidur. di tangkai pohon, memanjati ranggas waktu yang berayun di arloji tanganmu.

Poris Plawad, 2019




Termometer Kota: 38 Derajat Celcius

hanya lidah matahari. menyengat ketiak aspal. peluh yang luruh. angin mati. tapi, bukankah kota ini selalu demam. bukan hanya saat ini, ketika termometer merujuk angka 38 derajat celcius. ingin mengunci diri di ruangan pendingin, membekukan sengat sedih yang merayap. mencacah kenangan tentang hujan. angin mati. ayolah, beri obat penurun panas buat kota ini. buka pintu kulkas agar dingin sembur keluar. angin gerah. langkah orang yang terseret resah. tapi jalanan masih padat dan rapat. sesak menembus kepala. labirin tubuh yang kehilangan angin.

hanya lidah matahari. terbaca di kawah gelisah. saat kota masih saja menunjuk tanda cuaca. 38 derajat celcius. jalanan memar dan kerumun orang yang tak punya kabar.

Jakarta, 2019





Hujan Sendiri

hujan sendiri. berjatuhan pada setiap helai sepi. di daun dan jalan. engkau melangkah merenangi kota yang kehilangan cahaya. payung-payung terbuka dengan cemas. melepas waktu yang gugur tiba-tiba. ada yang tak terbaca, mungkin serpih cahaya yang murung menunduk hinggap di bahumu.

hujan sendiri. kota yang menyepi. bayangan angin meremas keranda sedihmu. jeritan yang tergenang. memasuki sekolan-selokan yang remang. dan gerombolan orang berjalan dengan tubuh meriang. merayakan kesedihan.

2019


Variasi Jumat Pagi

terbangun di jumat pagi. di depan rumah tunas pohon hijau muda. kubah masjid tergambar di langit. namun sepi itu tak pernah habis, bahkan saat kaureguk kopi yang mulai dingin. di ujung jalan, suara orang berteriak, memanggul cemas bagi jantungmu. kata-kata membangun sarangnya di rak buku, lembaran yang tak pernah habis kaubaca. sendirian kaukayuh puisi, berharap segera tiba di dermaga aksara.

terjaga di jumat pagi. bayangan hujan semalam, menyergap tiba-tiba. hanya ada keriuhan yang tak bisa penuh kaucatat bagi usia.

Poris Plawad, 2019




Menyibak Angin

seperti ada yang salah dengan negeri ini, saat kausibak angin. cuma bayangan epitaf, penuh ketakutan. bergelayutan seperti ayunan, juga ketika kautanyakan di mana ibu yang sesungguhnya. di kembaramu, setiap pelosok adalah tangis orok. tak pernah bisa ditenangkan bahkan saat kauhibur dengan sebotol susu hangat, tapi bukan payudara ibu. lalu kau berusaha menemukan jalan baru, saat kerumun orang melempari batu ke jalanan. semacam ingin mengirim ratusan onak di dalam mimpimu nanti malam. saat itu, kota-kota nampak tenang. tanpa angin. tanpa jejak suara gaduh yang biasa merambat di gendang telingamu. suara kerumun yang penuh dengan keluh.

2019




Hari Akhir di Bulan Desember

                        – herry bustomi

senja itu tak pernah sampai padamu. dan kesedihan seperti tak memiliki pintu, engkau pergi menjauh. mungkin melintasi kota-kota yang sempat kau gambar dalam ingatan. dan hujan malam itu mengekalkan luka, membawa pergi segala keceriaan tentang orang-orang yang tumpah di jalan.

tapi hujan yang luruh itu, tak pernah melunturkan setiap ingatan padamu. semakin runcing, menelentarkanku pada musim kering. angin terasa lambat. terlalu cepat, terlalu panjang. kisahmu yang sendiri seperti usapan pada luka. selalu basah.

hujan makin menjadi, menembus badanku. engkau terus menjauh, meninggalkan segala sauh. kesendirianmu, anak-anakmu yang telah besar dan mendadak jadi yatim. segala sakitmu yang tak pernah kauungkapkan. maka aku kumpulkan lagi segala percakapan, di mana segala keriangan kerap tumbuh. dan kau tak lagi bisa memandang langit, kota yang gembira dengan kembang api, bunyi ledakan dan hujan yang membasuh seluruh kesedihanmu. sebelum kalender jatuh dan luruh, kerumunan yang mengiba waktu. tahun yang baru tanpa sempat memunguti masa lalu di pundaknya.

2019

====================

Alexander Robert Nainggolan (Alex R. Nainggolan) lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Unit Pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi antara lain di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jurnal Sajak, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Koran Tempo, dan Majalah Sagang Riau.

Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016).

Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum…(Bumi Manusia, 2002), Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Grafitti Imaji (YMS, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Seratus Puisi Qur’an (Parmusi, 2016). Kini berdomisili di Poris Plawad Kec. Cipondoh Kota Tangerang Banten.

Penyair Perempuan “Pulang ke Kampung Tradisi”

0

Pulang ke Kampung Tradisi merupakan program Penyair Perempuan Indonesia (PPI) yang pertama sejak berdiri akhir 2018. Kegiatan pertama dilaksanakan di Garut, Jawa Barat dengan berbagai rangkaian kegiatan. Antara lain, Kaji Budaya di situs Cangkuang dan diskusi serta bedah buku Palung Tradisi yang dimeriahkan oleh Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, Ketua PPI Kunni Masrohanti dan Deri Hudaya. Dari 64 anggota PPI di seluruh Indonesia 28 orang dipastikan hadir, ditambah simpatisan dari berbagai daerah. yakni:

1. Kunni Masrohanti (Pekanbaru, Riau)
2.Rini Intama (Tangerang)
3. Rissa Churria (Bekasi)
4. Ratna Ayu (Garut)
5. Ponnoer (Sukabumi-Jabar)
6. DM Ningsih (Pekanbaru Riau)
7. Eva Septiana (Tuban Jatim)
8. Mintarsih M(Lampung)
9. Sutardji Calzoum Bachri (Jakarta)
10.Dede Rostiana (Tasikmalaya)
11. Edrida Pulungan (Jakarta)
12. Oky Lasminingrat (Garut)
13.Yulia Sugiarti (Garut)
14. Hening Wicara (Pekanbaru)
15. Tati YA (Bandung)
16. Windhihati Kurnia (Bandung)
17. Arnita (Bandung)
18. Asmariah (Yogyakarta)
19. Julia Basri (Bogor)
20. Anne (Garut)
21. Nita (Garut)
22. Diana Ratna Inten (Garut)
23. Mien Ardiwinata (Bandung)
24. Febri (Garut)
25. Rosi (Garut)
26. Samsir (Pekanbaru)
27. K. Gober (Pekanbaru)

Dalam melaksanakan berbagai kegiatan, termasuk Pulang ke Kampung Tradisi, PPI mengedepankan sistem kolaborasi dengan berbagai pihak di antaranya Himpunan Sastrawan dan Dramawan Garut, Komunitas Budaya Posstheatron, Badan Promosi Pariwisata Daerah Kab. Garut, Kadin, dan Rumah Bambu. Pulang ke Kampung Tradisi sendiri merupakan program unggulan PPI yang menjadikan tradisi sebagai akar dalam melahirkan karya-karya puisi.

Untuk info lebih lanjut, silakan hubungi:
Kunni: +62 812-6849-986
Ratna: 085738446577

Penghargaan Sastra Kemendikbud 2020

0

Tahun ini Kemendikbud memberi penghargaan kepada para pengarang atau sastrawan yang punya buku yang terbit dalam 5 tahun terakhir.

Silakan kirim sebanyak 6 eksamplar per judul. Batas akhir pengiriman, 31 April 2020. Semoga Andalah pemenangnya.

Rubrik Cerita Ringkas

0

Awalnya, kami hanya menerbitkan cerpen ringkas seperti karya Ben Loory dan Osama Alomar. Kedua cerpen ini diterjemahkan oleh Doni Achmadi dan Erwin Setia. Namun mengingat adanya permintaan dari beberapa penulis ke redaksi kami agar menyediakan rubrik untuk cerita ringkas, maka mulai penerbitan bulan Maret 2020, kami membuka rubrik baru: Cermin Mini atau Cermin.

Syarat pengiriman karya:
1) Minimal 150 kata – maksimal 300 kata.
2) 5 – 10 judul dalam sekali pengiriman.

Para penulis yang budiman, kami menunggu karya Anda. Silakan kirim ke email kami: editormagrib@gmail.com

Salam,
TIM EDITOR

Terbaru

Sedalam Suara yang tak Putus

Yasmin dapatkah penebus menempuhjalan pintas dengan menyeru nyaringhurufhuruf dari kitab?dibacakan sesudah matahari tenggelamketika sang guru duduk melipat kakidan kedua...

Pulang

Dari Redaksi

Dibalap Sepeda

Ingatan yang Menyakitkan