Warta

Home Warta

Komposisi Hujan Bagi Kota yang Tergesa

0


Puisi-puisi Alexander Robert Nainggolan

Metamorfosa

bersemedilah di setiap tidurmu. berlindung di rekah kepompong. puasa dari gemetar sedih dan rasa takut. sebab ulat di tubuh acap ranggas, memamah biak. dan kesunyian hanyalah sebagian dari ingatan. lupakanlah derap langkah. kota yang hiruk, mengusung keranda bagi kematiannya sendiri. maka setiap kabar, hanya sekadar penanda. bagi pucat tahun yang terus berjatuhan. bertahanlah dalam semedimu. membaca ayat-ayat yang rapat. di setiap jalan napas.

sebelum menetas jadi kupu-kupu.

Edelweis, 2019




Khuldi

bagaimana jika adam tak jadi mencurinya? bisikan ulat, hanya aroma sesat. yang melangkah sekejap lewat. betapa lezat. buah khuldi yang ranum, warna yang cerah, kerap membuat gelisah? namun hawa terus merajuk. sebagai petaka. melontarkannya ke dunia. bisikan-bisikan yang terus rumpang. menggema di segala ruang.
*
pohon khuldi cuma satu. buahnya yang berkilauan. pasti manis di pangkal lidah. aroma yang membuat buta. liur yang terjulur. nafsu yang menggebu. dan khuldi memang hadir, sekadar mengobati sunyi. “ayo, makanlah! lekas, segera!” ulat terus bercakap. dengan gumam yang lebih halus dari rambut.
*
adam dan hawa, terlontar juga. tanah kembali pada tanah. bumi yang dipenuhi cuaca. hujan dan kemarau. musim salju dan semi. matahari yang melingkar, sepanjang hari. adam mengingat, berapa banyak buah yang dimakannya. dan mereka bertemu di sebuah padang.
*
tapi bisikan akan khuldi terus saja menerawang. berpantulan, bahkan saat manusia terus beranak-pinak. “ayolah, cicip lagi,” begitu banyak dosa yang merupa cahaya. khuldi demi khuldi. menempuh sunyinya sendiri.

Edelweis, 2019




Rielke

bersama syair, engkau kesepian. menanam musim dingin di tengkuk. jaket yang membeku serupa bongkahan es. membaca riwayat negeri sendiri. lalu kaupecahkan juga sebuah kata. yang lama retak, tersekap di dalam kaca. tahun-tahun mengurung tubuh, membawa segala butir salju. di matamu yang luka. setiap nisan yang kaupahat, barangkali ada sebuah nama. yang lama tersekap. tanpa senyum, kautulis juga puisi. dan dunia terkulum, kuntum demi kuntum. keringat yang membatu. desah hujan bagi kesedihan.

dan nama kecilmu, “sophia,” mengingatkan pada luka lama seorang ibu. yang angankan kelahiran anak perempuan. segala yang tersemat padamu. sebagai masalalu. namun kau tumbuh bersama riwayat musim yang karim. ah, betapa puisi tak jemu menghampirmu, di setiap pembuluh.

bersama syair, engkau merangkak. menempuh segala macam upacara luka.

2019




Komposisi dari Jalan

bukankah itu jejakmu yang rekat? saat kota tergesa membuka pagi. dengan orang-orang yang berlari, di kerumun kendaraan. maka engkau melalui jalan-jalan yang sama, menelusuri pecahan gedung, atau sebagian rambu jalan. menghimpun sebagian masa lalu. lahan-lahan kosong yang sekejap pecah. menjadi bangunan baru. taman-taman semakin sunyi. jalan demi jalan telah kehilangan tanda.

2019


Senja yang Kau Hitung

senja yang kauhitung, di padat kota telah mengapung. setiap orang memanggul keranda bagi cahaya tubuh. masing-masing. sendiri dan kesepian. meskipun engkau akan terus larut, masuk ke kelok jalanan, menyingkap usia tahun. dan gedung-gedung telah terik, memantulkan kilat hitam. dan kerumunan orang berjalan dengan duri di kepala.

senja yang kauhitung, mungkin telah remang. kota tertidur, dengan ketakutan yang memanjang. di sebuah kelokan, engkau memang harus berhenti. mencari sisa cahaya bagi matahari yang pernah terbenam di tubuhmu.

Edelweis, 2019




Hujan Memenggal Langkah

hujan memenggal langkah. engkau mengingat mimpi semalam. berdiri di pinggir toko. di sekitarmu mulut-mulut terkulum dusta, sementara sengat dingin merayap tengkuk. di depan, pintu rumah menunggu. renyah suara anak-anak yang memanggilmu ayah. tapi hujan memenggal langkah. sepi kembali berkerumun dalam kecut angin. ketika lampu mulai menyala, kota seperti kerumunan raksasa yang menelanmu. ponsel dan tubuhmu bergetar, setiap kenangan menjelma jadi buntut ular. mengikat dan menyimpanmu bersama deras hujan.

2019




Di Gigil Hujan

engkau berlayar di gigil hujan. lambai kenangan memanggil, menyimpan tahun-tahun yang menua. hanya tubuhmu yang gemetaran, menembus hujan yang panjang. meradang di genangan kota pucat. namun kau bersikeras, untuk tiba di rumah. berkelahi dengan hujan. secepatnya!

Edelweis, 2019


Mata Teduh Hujan

engkau adalah mata teduh hujan. yang mengurungku bertahun-tahun. lapar dalam asmara, dan aku menjelma jadi tawanan. yang kaubungkus setiap kali tepi tatapanmu menujah, sampai ke tubir dada. di teduh matamu, hari-hari meringkuk. menuju lembab tubuhmu. hingga peluh tak terkayuh. lalu percakapan hanya sekadar isyarat yang lama terkerat.

telah kutunggu engkau, bukan cuma di musim hujan. sebab lembing matamu telah runcing. menyiramiku dengan hujan yang paling kerling.

2019




Selepas Pagi

selepas pagi. kerumun tubuh lalu-lintas. kerumun yang menyimpanmu dalam kubur. kubur waktu yang terulur, tanpa pintu. selepas pagi, melupakan embun yang tertidur. di tangkai pohon, memanjati ranggas waktu yang berayun di arloji tanganmu.

Poris Plawad, 2019




Termometer Kota: 38 Derajat Celcius

hanya lidah matahari. menyengat ketiak aspal. peluh yang luruh. angin mati. tapi, bukankah kota ini selalu demam. bukan hanya saat ini, ketika termometer merujuk angka 38 derajat celcius. ingin mengunci diri di ruangan pendingin, membekukan sengat sedih yang merayap. mencacah kenangan tentang hujan. angin mati. ayolah, beri obat penurun panas buat kota ini. buka pintu kulkas agar dingin sembur keluar. angin gerah. langkah orang yang terseret resah. tapi jalanan masih padat dan rapat. sesak menembus kepala. labirin tubuh yang kehilangan angin.

hanya lidah matahari. terbaca di kawah gelisah. saat kota masih saja menunjuk tanda cuaca. 38 derajat celcius. jalanan memar dan kerumun orang yang tak punya kabar.

Jakarta, 2019





Hujan Sendiri

hujan sendiri. berjatuhan pada setiap helai sepi. di daun dan jalan. engkau melangkah merenangi kota yang kehilangan cahaya. payung-payung terbuka dengan cemas. melepas waktu yang gugur tiba-tiba. ada yang tak terbaca, mungkin serpih cahaya yang murung menunduk hinggap di bahumu.

hujan sendiri. kota yang menyepi. bayangan angin meremas keranda sedihmu. jeritan yang tergenang. memasuki sekolan-selokan yang remang. dan gerombolan orang berjalan dengan tubuh meriang. merayakan kesedihan.

2019


Variasi Jumat Pagi

terbangun di jumat pagi. di depan rumah tunas pohon hijau muda. kubah masjid tergambar di langit. namun sepi itu tak pernah habis, bahkan saat kaureguk kopi yang mulai dingin. di ujung jalan, suara orang berteriak, memanggul cemas bagi jantungmu. kata-kata membangun sarangnya di rak buku, lembaran yang tak pernah habis kaubaca. sendirian kaukayuh puisi, berharap segera tiba di dermaga aksara.

terjaga di jumat pagi. bayangan hujan semalam, menyergap tiba-tiba. hanya ada keriuhan yang tak bisa penuh kaucatat bagi usia.

Poris Plawad, 2019




Menyibak Angin

seperti ada yang salah dengan negeri ini, saat kausibak angin. cuma bayangan epitaf, penuh ketakutan. bergelayutan seperti ayunan, juga ketika kautanyakan di mana ibu yang sesungguhnya. di kembaramu, setiap pelosok adalah tangis orok. tak pernah bisa ditenangkan bahkan saat kauhibur dengan sebotol susu hangat, tapi bukan payudara ibu. lalu kau berusaha menemukan jalan baru, saat kerumun orang melempari batu ke jalanan. semacam ingin mengirim ratusan onak di dalam mimpimu nanti malam. saat itu, kota-kota nampak tenang. tanpa angin. tanpa jejak suara gaduh yang biasa merambat di gendang telingamu. suara kerumun yang penuh dengan keluh.

2019




Hari Akhir di Bulan Desember

                        – herry bustomi

senja itu tak pernah sampai padamu. dan kesedihan seperti tak memiliki pintu, engkau pergi menjauh. mungkin melintasi kota-kota yang sempat kau gambar dalam ingatan. dan hujan malam itu mengekalkan luka, membawa pergi segala keceriaan tentang orang-orang yang tumpah di jalan.

tapi hujan yang luruh itu, tak pernah melunturkan setiap ingatan padamu. semakin runcing, menelentarkanku pada musim kering. angin terasa lambat. terlalu cepat, terlalu panjang. kisahmu yang sendiri seperti usapan pada luka. selalu basah.

hujan makin menjadi, menembus badanku. engkau terus menjauh, meninggalkan segala sauh. kesendirianmu, anak-anakmu yang telah besar dan mendadak jadi yatim. segala sakitmu yang tak pernah kauungkapkan. maka aku kumpulkan lagi segala percakapan, di mana segala keriangan kerap tumbuh. dan kau tak lagi bisa memandang langit, kota yang gembira dengan kembang api, bunyi ledakan dan hujan yang membasuh seluruh kesedihanmu. sebelum kalender jatuh dan luruh, kerumunan yang mengiba waktu. tahun yang baru tanpa sempat memunguti masa lalu di pundaknya.

2019

====================

Alexander Robert Nainggolan (Alex R. Nainggolan) lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Unit Pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi antara lain di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jurnal Sajak, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Koran Tempo, dan Majalah Sagang Riau.

Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016).

Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum…(Bumi Manusia, 2002), Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Grafitti Imaji (YMS, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Seratus Puisi Qur’an (Parmusi, 2016). Kini berdomisili di Poris Plawad Kec. Cipondoh Kota Tangerang Banten.

Penyair Perempuan “Pulang ke Kampung Tradisi”

0

Pulang ke Kampung Tradisi merupakan program Penyair Perempuan Indonesia (PPI) yang pertama sejak berdiri akhir 2018. Kegiatan pertama dilaksanakan di Garut, Jawa Barat dengan berbagai rangkaian kegiatan. Antara lain, Kaji Budaya di situs Cangkuang dan diskusi serta bedah buku Palung Tradisi yang dimeriahkan oleh Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, Ketua PPI Kunni Masrohanti dan Deri Hudaya. Dari 64 anggota PPI di seluruh Indonesia 28 orang dipastikan hadir, ditambah simpatisan dari berbagai daerah. yakni:

1. Kunni Masrohanti (Pekanbaru, Riau)
2.Rini Intama (Tangerang)
3. Rissa Churria (Bekasi)
4. Ratna Ayu (Garut)
5. Ponnoer (Sukabumi-Jabar)
6. DM Ningsih (Pekanbaru Riau)
7. Eva Septiana (Tuban Jatim)
8. Mintarsih M(Lampung)
9. Sutardji Calzoum Bachri (Jakarta)
10.Dede Rostiana (Tasikmalaya)
11. Edrida Pulungan (Jakarta)
12. Oky Lasminingrat (Garut)
13.Yulia Sugiarti (Garut)
14. Hening Wicara (Pekanbaru)
15. Tati YA (Bandung)
16. Windhihati Kurnia (Bandung)
17. Arnita (Bandung)
18. Asmariah (Yogyakarta)
19. Julia Basri (Bogor)
20. Anne (Garut)
21. Nita (Garut)
22. Diana Ratna Inten (Garut)
23. Mien Ardiwinata (Bandung)
24. Febri (Garut)
25. Rosi (Garut)
26. Samsir (Pekanbaru)
27. K. Gober (Pekanbaru)

Dalam melaksanakan berbagai kegiatan, termasuk Pulang ke Kampung Tradisi, PPI mengedepankan sistem kolaborasi dengan berbagai pihak di antaranya Himpunan Sastrawan dan Dramawan Garut, Komunitas Budaya Posstheatron, Badan Promosi Pariwisata Daerah Kab. Garut, Kadin, dan Rumah Bambu. Pulang ke Kampung Tradisi sendiri merupakan program unggulan PPI yang menjadikan tradisi sebagai akar dalam melahirkan karya-karya puisi.

Untuk info lebih lanjut, silakan hubungi:
Kunni: +62 812-6849-986
Ratna: 085738446577

Penghargaan Sastra Kemendikbud 2020

0

Tahun ini Kemendikbud memberi penghargaan kepada para pengarang atau sastrawan yang punya buku yang terbit dalam 5 tahun terakhir.

Silakan kirim sebanyak 6 eksamplar per judul. Batas akhir pengiriman, 31 April 2020. Semoga Andalah pemenangnya.

Rubrik Cerita Ringkas

0

Awalnya, kami hanya menerbitkan cerpen ringkas seperti karya Ben Loory dan Osama Alomar. Kedua cerpen ini diterjemahkan oleh Doni Achmadi dan Erwin Setia. Namun mengingat adanya permintaan dari beberapa penulis ke redaksi kami agar menyediakan rubrik untuk cerita ringkas, maka mulai penerbitan bulan Maret 2020, kami membuka rubrik baru: Cermin Mini atau Cermin.

Syarat pengiriman karya:
1) Minimal 150 kata – maksimal 300 kata.
2) 5 – 10 judul dalam sekali pengiriman.

Para penulis yang budiman, kami menunggu karya Anda. Silakan kirim ke email kami: editormagrib@gmail.com

Salam,
TIM EDITOR

Lomba Cipta Puisi Asean-3 2020

2

Setelah sukses menggelar LCP ASEAN-1 dan LCP ASEAN-2 kami kembali dengan lebih fresh, new, dan lebih keren. Dengan mengusung tema CINTA DAN KASIH SAYANG kami mengundang segenap warga negara ASEAN untuk berpartisipasi mengirimkan puisi terbaiknya dalam acara LOMBA CIPTA PUISI ASEAN-3 2020. 100 karya terbaik akan dibukukan dalam “Kumpulan Sajak Penyair ASEAN-3” dan menjadi tamu istimewa saat launching buku, yang bertepatan dengan acara Temu Penyair ASEAN ke-3 di IAIN Purwokerto. Pengiriman Karya “Lomba Cipta Puisi ASEAN-3” dimulai dari tanggal 1 Agustus 2019 – 31 Januari 2020.

Launching Buku “Kumpulan Sajak Penyair ASEAN-3” sekaligus pengumuman pemenang dan Temu Penyair ASEAN ke-3 pada Sabtu, 14 Maret 2020 pukul 08.00 di Auditorium Utama IAIN Purwokerto, Jl. A. Yani 40-A Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia. Hadiah Utama :

  • Juara 1 mendapatkan uang pembinaan Rp.5.000.000,00 + trophy + sertifikat.
  • Juara 2 mendapatkan uang pembinaan Rp.3.000,000,00 + trophy + sertifikat.
  • Juara 3 mendapatkan uang pembinaan Rp.1.000.000,00 + trophy + sertifikat.

DEWAN JURI UTAMA:

Dr. Abdul Wachid B.S., M.Hum. (Penyair, Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia, Dosen IAIN Purwokerto); Prof. Dr. Irwan Abu Bakar (Presiden Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia (E-SASTERA), dan Presiden Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (Gaksa); Mahroso Doloh, M.Pd. (Guru Hatyai Wittayakarn School, Thailand, dan Penyair Patani); Rohani Dien (Sastrawan Singapura); Arif Hidayat, M.Hum. (Penyair, Kritikus Sastra, Dosen IAIN Purwokerto); Wahyu Budiantoro, M. Sos. (Kepala Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP), Esais); Dimas Indianto S., M.Pd.I./ Dimas Indiana Senja (Penyair, Dosen IAIN Purwokerto); Irna Novia Damayanti, M.Pd. (Penyair, Guru); Gani Sahidun, S.Pd. (Penyair, Founder LCPA, Founder Hadroh Nasyid Thailand, Komposer).

Untuk Syarat dan Ketentuan lebih lanjut:

Contact Persons:

081225143036 (Agung)
085802391425 (Naufal)
089697559345 (Ulfah)
087735332632  (Ade)

Membincang “Di Seberang Gelombang”

0
Launching dan diskusi buku "Di Seberang Gelombang".
Penulis: Batara Al Isra
Tempat: Warkop Juang, Jl. Perintis Kemerdekaan, Makassar.

Batara Al Isra, mahasiswa antropologi University of Auckland, Selandia Baru, akan meluncurkan buku puisi pertamanya berjudul Di Seberang Gelombang, Jumat, 27 Desember 2019 di Warkop Juang, Jl. Perintis Kemerdekaan km. 8, Makassar. Batara yang sementara merayakan liburan musim panasnya di Indonesia menggunakan kesempatan tersebut untuk menerbitkan kumpulan puisinya yang mulai ia tulis sejak 2014.

Peluncuran buku tersebut akan dilanjutkan dengan diskusi atau bincang-bincang santai yang rencananya akan difasilitasi oleh tiga orang penyair: Rachmat Hidayat Mustamin (sutradara dan penulis muda jebolan MIWF dan URWF), Liyana Zahirah (pegiat literasi di berbagai komunitas sastra dan penyair perempuan asal Makassar), dan Muhary Wahyu Nurba. Acara tersebut akan dipandu oleh Fitrawan Umar (direktur Penerbit Sofia yang juga penulis jebolan URWF)

Batara sendiri mengaku sudah lama memiliki niat untuk menelurkan buku pribadi, hanya saja selalu energinya selalu tersedot oleh tugas-tugas kuliah. Hingga desakan-desakan untuk memiliki buku sendiri datang dari berbagai pihak, terutama keluarga dan rekan-rekan sesama penulis yang bergerak di bidang literasi seperti di Forum Lingkar Pena, Batara pun merasa karya-karyanya memang perlu menemukan muara.

Puisi bukanlah hal yang mendarah daging dalam tubuhnya. Puisi bisa dibilang masih sesuatu yang baru bagi dirinya. Ia masih menempuh tapak-tapak awal dan mencari jalur-jalur tepat pada jalan kepenyairannya. Setidaknya, Batara mulai menulis puisi secara serius pada awal 2014 dan aktif mengirimkan karya-karyanya untuk dikritisi kepada penyair yang lebih senior, sebut saja Fitrawan Umar dan Azure Azalea. Puisi-puisi Batara dalam buku ini yang mengambil inspirasi dari hasil penelitian atau cerita-cerita orang (dan cerita pribadi tentunya). Batara mengakui bahwa puisi-puisi tersebut terinspirasi dari puisi etnografi  M. Junus Melalatoa yang oleh akademisi dikenal sebagai antropolog-penyair.

Batara berharap mendapat banyak masukan atau kritik dari para hadirin untuk pengembangan karyanya ke depan.

Hutan, Sungai, Kenangan, dan Manusia Samin*

0


*Kuratorial Bojonegoro Literary Festival 2019

Melalui puisi-puisi para penyair dalam buku antologi puisi Bojonegoro Literary Festival (BLF) 2019 kita diajak untuk melihat sebuah kepingan bernama Bojonegoro. Sebuah ruang memberi dan menerima antara manusia dan lingkungannya dalam dimensi waktu (dulu, kini, akan datang), yang membawa seperangkat nilai. Nilai-nilai yang mengalami nasib yang berbeda-beda. Ada yang berjalan harmonis dengan realita, dan ada yang berbenturan dengan realita. Di atas pijakan semacam inilah para penyair memainkan suasana puitikanya.

Hutan dan Sungai

Kabar tentang kondisi hutan di Bojonegoro dapat kita simak melalui bait puisi  Warung Kopi karya penyair Tofiq Widodo. A yang berbunyi: pojok warung kopi // lembut kulepas dahaga // kutanggalkan sejenak anganku // tentang hutan jati yang tak lagi kokoh berdiri // tentang pipa-pipa memeras bumi.

Hutan Bojonegoro dalam tangkapan Tofiq itu seperti sedang menghadapi sebuah siklus menuju kematian yang mengerikan. Siklus yang membangkitkan kecemasan dan sedang menyekap pikiran penyair dalam sebuah dahaga (yang kelihatannya tak kunjung mendapatkan selesaian) seperti hutan jati yang tak lagi kokoh saat pipa-pipa memeras bumi. Dalam hal ini penyair menunjukan keterikatan batin yang kuat dengan alamnya (Bojonegoro). Ia, penyair, ikut menanggung rasa sakit yang mendera hutan dan bumi Bojonegoro.

Dalam konteks Bojonegoro, frase pipa-pipa memeras bumi dalam puisi Tofiq Widodo A sangat mudah dipahami. Bojonegoro ialah kawasan yang kaya dengan minyak bumi. Pada tahun 2018 menurut data dari Kementrian Keiangan RI, Bojonegoro menerina dana bagi hasil.sumber daya alam (SDA) terbesar dengan besaran nominal mencapai 2,27 trilyun. Namun, eksplorasi minyak bumi yang berlangsung di sana, oleh para penyair, digambarkan sebagai eksplorasi yang mengancam kehidupan.

Secara lebih jelas, peristiwa pipa-pipa memeras bumi itu dapat dilihat dalam puisi karya Yonathan Rahardjo berikut ini:

Jatiminyakbumi

Tronton besar pengangkut pipa-pipa besar
Orang-orang proyek berpakaian lusuh berlumur keringat dan minyak
Langit menggelap
Ini jam kerja di titik henti
Mereka pulang kerja, pastinya
Wajah-wajah rumah penduduk latar pemandangan
menyiratkan taraf hidup
berselubung Tanya
Pompa alir minyak
Dialirkan ke mana
Pantaikapur
Yang untuk penduduk Jatiminyakbumi mana
Ada di depan sana, sebagian di situ
Sebagian besar dialirkan ke Amerika
Yang untuk penduduk Jatiminyakbumi mana
Jangan tanya lagi soal minyak bagianmu
Guna berjalan kaki beriring tronton proyek itu
Bukan minyak energimu
Tenagamu sudah cukup dari hasil tegalanmu


menyok

Yonathan memainkan ironi kekayaan tanah Bojonegoro dan kemiskinan yang dialami oleh masyarakat dalam puisinya. Sebuah rong-rongan yang membuat batin pembaca terusik. Pada bagian-bagian tertentu bahkan terasa sangat provokatif.

Yonathan mengawali puisinya dengan sebuah tuntutan pembagian hasil. Sebuah ekspresi yang lugas sebagai pewaris bumi Bojonegoro. Tetapi, seakan memahami kekuatannya dan apa yang akan dihadapinya, Yonathan pada akhirnya menyerah. Jangan tanya lagi soal minyak bagianmu// Guna berjalan kaki beriring tronton proyek itu// Bukan minyak energimu// Tenagamu sudah cukup dari hasil tegalanmu// Menyok.

Yonathan tidak menuntut hasil atas ungkapan (olok-olok) sarkasnya itu. Ia pun tak hendak berharap kepada siapa-siapa. 

Selain hutan, Bojonegoro juga mempunyai hubungan khusus dengan Bengawan Solo. Sungai yang mencapai panjang hampir 600 km dan menjadi sungai terpanjang di pulau Jawa ini turut merawat kehidupan di Bojonegoro melalui sumber daya air yang dimilikinya. Dan, meskipun di musim hujan ia mendatangkan banjir, Bojonegoro tetap menerima Bengawan Solo sebagai berkah. Sebagai bukti, untuk pertama kalinya, pada bulan November 2019 ini pemerintah kabupaten Bojonegoro menggelar Festival Bengawan, yang direncanakan akan berlangsung setiap tahun.

Dalam puisi Anak Bengawan, Wahyu Subakdiono menggambarkan dua wajah bengawan dengan sangat efektif. Wahyu, di antaranya, menulis: Air adalah teman canda paling setia sedang kemarau panjang adalah Medan pertempuran, rumah sahaja segala doa.

Bengawan (alam), oleh Wahyu, dihadirkan sebagai Ibu yang bukan hanya memberikan kegembiraan, tetapi juga pengajaran.

Kekeringan seperti diungkapkan Wahyu memang merupakan salah satu masalah yang cukup serius di Bojonegoro. Hingga bulan Oktober 2019 ini saja, sebagaimana diberitakan oleh beritajatim.com, telah ada 71 desa  dari 20 kecamatan di Bojonegoro yang mengajukan permintaan bantuan air bersih. Seiring dengan kejadian itu, pemerintah kabupaten juga telah menetapkan status tanggap darurat di Bojonegoro terhitung mulai September hingga 30 November 2019.

Untuk mendapatkan gambaran suasana kemarau yang dialami Bojonegoro kita dapat menyimak penggalan puisi-puisi berikut ini:

Bulan tegak tengadah
Matanya nanar menatap kemarau yang kian memerah
Dan telapak kaki bapak mendera luka
Berdarah, bernanah,
Tertancap duri-duri sawah

(Lagu Kemarau, Retno Susanti)

angkasa hanya menjadi arena main layangan
angin bercampur debu berterbangan
bumi menjerit panas melewati takaran

(Hutan-Hutan Telanjang, Gampang Prawoto)

Ilalang panjang
Mengubur pesawahan
Menutup pemukiman
Meratakan sendang
Atas nama harapan

(Sekeping Senja di Ujung Kemarau Suwandi Adisuroso)

hawa panas berserak daun-daun kering,
seperti mantra dan doa saat jenazah teriring

(Lebur, Abdul Jalil)

Sementara dalam puisinya yang lain, Abdul Jalil menulis : ingin mencium tanah basah meski lama kian harap tak tiba pernah (Harapan)

Kerinduan pada hujan sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Jalil juga dapat kita baca dalam puisi karya Retno Susanti berikut ini:

Hujan

Padamu rindu kutautkan
Di antara gersang
jati dan flamboyan
Dan susu ibu yang kerontang
Meronta mulut kecilku tak berkesudahan

Ibu adalah rintik hujan
Pada luka kasihnya tersiram
Karena bisa dunia terhisap
Mengerang dan mematikan

Ibu adalah wangi melati yang kuhirup
Padanya segala kesah kuadu
Karena tak pernah  kutahu
Mana kawan, mana sekutu

Ibu adalah titik air yang menapak
Darinya bau tanah menyeruak
Menyawa pada raga yang sesak
Kala tapak kakinya  telah  kudekap 
Bau  surga pun  kucecap 

Bila Abdul Jalil secara sederhana hanya merindukan bau tanah saat hujan tiba, Retno Susanti membayangkan mencecap bau surga. Imajinasi Retno dalam hal ini melangkah melintasi objek yang ditatapnya (hujan). Surga dalam puisi Retno agaknya bisa kita sejajarkan dengan puisi Tandur karyaTofiq Widodo. A. Dalam puisi itu penyair menulis:

Bias awan di ujung selatan// Berserakan//

Daun-daun enggan berujar pada angin// yang telah menggugurkan// Hujan baru saja berhenti// Menyegarkan jengkal demi jengkal sawah// yang haus// Haus menghidupi kantong-kantong petani// lapar// Ulah gagal panen// Cahaya mentari menetas di balik awan// Nasi dan telur bersolek di ujung// pematang// Doa dirapal pada sang Hyang// Sorot mata penuh harap// Mengiringi kata amin penutup doa// Waktu akan menjadi saksi// Asa ditabur mimpi di gapai.

Kecemasan Transisi

Waktu yang dioperasikan oleh kekuasaan (politik atau modal) akan menanggalkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan hasrat kekuasaan. Penyair, sementara itu, memungut kembali nilai-nilai yang berjatuhan itu untuk dipertentangkan dengan nilai-nilai yang diproduksi oleh kekuasaan.

Dalam puisi Darurat Tanah Lapang, Siswo Nurwahyudi, di antaranya, menulis : tanah lapang, tempat anak-anak belajar// tentang rumus-rumus hidup dan kehidupan//

menjaga generasi menjadi// manusia-manusia yang tahu makna// semesta dan cinta// kini dirampas tanpa merasa berdosa, tanpa// pengganti yang memadai// anak-anak jaman telah kehilangan hak// milik mereka yang paling berharga// ditenggelamkan ke dalam bilik darjah yang// hanya berisi buku, bangku, dan soal ujian//dicetak dan dikemas suka-suka untuk// kemudian dilepas di rimba raya tanpa// norma.

Dengan bahasa yang terbuka, Siswo menggambarkan terjadinya pembantaian nilai-nilai oleh pembangunan fisik yang bermuara pada kepentingan modal.

Hampir senada dengan Siswo, Agus Sighro Budiono dalam puisi Cerita Bengawan menulis: anak anak tak lagi percaya onggo inggi// kisah penjaga bengawan agar tetap lestari// mesin mesin penyedot pasir yang terus// beroperasi// melumat dongeng misteri// mahluk air berambut api.

Baik Siswo maupun Agus sama-sama menunjukan rasa cemasnya terhadap proses penghancuran generasi yang terjadi di Bojonegoro.

Perhatian kepada isu sosial kelihatannya merupakan basis kekuatan kreatif kedua penyair ini.

Eksplorasi terhadap kenangan yang gamang dalam menghadapi peristiwa hari ini juga tampak dalam beberapa bait puisi-puisi berikut ini:

Palagan Temayang telah berlalu
Dalam balutan rindu

Antara celah tanah retak
Dan kering daun jati
Kurajut benang yang terlupa

(Napak Tilas, Burhanudin Joe)

Di situ dulu penduduk bercocok tanam
Menggembalakan ternak
Kini mereka tak dapat lagi masuk menjejak
Setiap hari cuma melihat lalu lalang
Kendaraan mewah masuk area
Negara di dalam Negara

(Negara Kabut, Yonathan Rahardjo)

Empat persemayaman abadi
Saksi bisu perjuangan
Meratap dalam liang
Tampa lirikan apalagi tatapan

(Layar Terkembang, KRT Mardi Sratu) 

Diantara keabadian terurai mengulur
waktu
Kerinduan akan dongeng-dongeng tua
Seperti ilalalang menembus jantung
bumi

(Kau Lepaskan Angin, J.F.X. Hoery)

rimbunan bambu dengan daun-daun yang meluruh
adalah kalender berdebu dari masa lalu
berderak meraung, menghempaskan ingatan,

(Jumo Kulon, Salis Susmiati)

Di atas trotoar itu pernah terlahir mimpi-mimpi
Dari cangkir-cangkir kopi
Dari wajan di atas api api

(Trotoar, Asrie Dede)

Manusia Samin

Komunitas Sedulur Sikep saling mengikatkan diri melalui hubungan nasab atau seperangkat nilai. Nasab merupakan hubungan genetik yang tidak bisa ditransformasikan ke luar komunitas kecuali melalui proses perkawinan. Sedangkan nilai-nilai ialah sesuatu yang bisa merembes ke luar komunitas dan atau mempunyai kembaran, yang barangkali juga diyakini oleh para penyair.

Ajaran Samin Soerosentiko sendiri, sementara itu, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sebuah bait dalam puisi Samin itu Ayat karya Gampang Prawoto mengisyaratkan bahwa Samin (nilai) bergerak di luar kendali fisik.

ingin aku menulismu tanpa tatapan mata, tanpa napsu, tanpa berahi, tanpa bidangnya dada montoknya payudara, tanpa ramping pinggang, padatnya pantat, kemulusan betis,  lentik jemari, mempur pipi bahkan merahnya bibir perempuan.

Samin dalam puisi Gampang tersebut dipisahkan dengan mata, dada, pinggang, betis, dan bibir. Samin dipisahkan dari teks.

Dalam sebuah wawancara dengan media Suara Pembaruan yang diunggah oleh beritasatu.com, Hardjo Kardi, ketua Komunitas Samin di dusun Jipang, desa Margomulyo, kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, mengatakan bahwa saat ini jumlah anggota komunitas di dusunnya—di mana belum lama ini didirikan tugu Samin oleh pemerintah kabupaten Bojonegoro—hanya tersisa 100 Kepala Keluarga.

Tapi, biar begitu, Hardjo menyatakan akan tetap teguh mengemban nilai-nilai ajaran leluhurnya di tengah perkembangan jaman. Keterasingan Komunitas Samin adalah keterasingan yang dijalani dengan kesadaran dan keberanian, semacam puisi luka di ladang aksara yang dinyatakan oleh Siswo Nurwahyudi: melewati pematang panjang, aku di ladang// aksara// kaki yang senantiasa telanjang, meniti// dengan hati// jiwa dan rasa menjelma anai-anai, tajam// kugenggam// sebatang demi sebatang kata, kupetik// sepenuh kasih// diriku menjadi keranjang tua, nampak// renta dan kusam// tersendiri, tegak teronggok entah bahagia// entah sedih. (Aku Puisi Luka di Ladang Aksara).

Sementara itu pusi-puisi yang menunjukan hasrat cinta kepada alam dan kemanusiaan dapat ditemukan dalam pusi Emy Sudarwati (Pelangi Bojonegoro), Safandi Mardinata (Sepiku Asyik Sendiri), Susanto (Ibuku Ratuku),  Nono Warnono (Merawat Meruwat), Hendro Lukito  (ricik kali), Hembing Kriswanto (Rindu Randu Pitu).

Sedangkan puisi Gombal Warming karya Em. Sholeh menunjukan sebuah pengembaraan keresahan yang lintas batas administratif.

Satu-satunya puisi yang menampilkan wajah Bojonegoro sebagai ruang pluraritas ialah puisi Perempuan Imlek 3 karya Arieko:

Perempuan Imlek 3

Di segara dupa
selalu ada Thian
yang tertawa

Menjadi kamu adalah cinta
bahwa agama senyatanya
cuma sandangan atas
budimu, pekertimu,
jiwamu

Melelehlah wengi mewangi
menjadilah air bergemiricik
kepada surga
kepada bumi

Aku dan kamu
tetep bersholawat
untuk seluruh nabi-nabi
di dalam kelenteng
yang sepi

Hong

Kelihatannya puisi ini cukup berhasil dalam menghadirkan suasana seperti yang diharapkan oleh penyairnya.

Sementara Benny Hassim dalam puisi Kita ini Siapa? Berbicara tentang pluralisme dalam ruang yang lebih luas.

Satu puisi lain dalam buku kumpulan puisi BLF ini adalah puisi berjudul Bunga, Mengapa Engkau Tak Punah Saja? Karya Ajun Pujang Anom. Menurut saya puisi ini telah menanggung beban tradisi ewuh pakewuh dalam menyatakan dirinya, sehingga serangan yang diutarakan dalam bahasa yang vulgar justru bergerak menjauhi objeknya.

Demikianlah sekelumit catatan tentang buku puisi BLF 2019. Sebagai sebuah produk kesenian, tentu saja buku ini tak akan lepas dari kekurangan. Namun, sebagai sebuah dokumen perayaan nilai, pastilah buku ini sangat berarti bagi perkembangan kesusastraan di Bojonegoro.

(November, 2019)

Kurator Bojonegoro Literary Festival 2019

Didik Wahyudi
Timur Budi Raja
Alek Subairi

Empat Naskah Dalam Satu Panggung

0
Malam Jahanam (Motinggo Boesje)
Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Seno Gumira Ajidama)
Orang-orang Bawah Tanah (R. Giryadi)
Sepasang Merpati Tua (Bakdi Soemanto) 

Akhir bulan November tahun ini akan menjadi babak paling menegangkan sekaligus menyenangkan bagi mahasiswa Universitas Negeri Surabaya prodi Sastra Indonesia angkatan 2018. Pasalnya, mereka akan menggelar pementasan bertajuk Ilusi Monokrom: Menyusuri Labirin Cermin yang diselengarakan di Gedung Pertunjukan Sawunggaling Unesa pada hari Sabtu, 30 November 2019.

Muhammad Fathan Ardiansyah selaku pimpinan produksi menuturkan bahwa, meskipun pentas itu sebenarnya bertujuan untuk menuntaskan tugas akhir perkuliahan apresiasi drama, namun mereka berusaha mengemasnya dengan tampilan yang memanjakan mata penonton.

“Orientasi teman-teman sekarang bukan lagi sekadar tampil dan mendapat nilai. Tapi, konsep pementasan ini kami mengarapnya dengan detail-detail yang ‘menyentuh’ peristiwa terdalam, sehingga diharapkan mampu memukau mata para penonton,” ujar mahasiswa bertubuh tegap tersebut.

Hal berbeda yang coba mereka sajikan adalah akan ada empat naskah yang dipentaskan dalam satu panggung: Malam Jahanam karya Motinggo Boesje, Mengapa Kau Culik Anak Kami? karya Seno Gumira Ajidama, Orang-orang Bawah Tanah karya R. Giryadi, dan Sepasang Merpati Tua karya Bakdi Soemanto.

Komentar lain juga dilontarkan oleh Yuli Setiawan Atmaja, salah seorang mahasiswa yang didaulat menjadi aktor, kesulitan terbesar selama berproses adalah menyamakan pandangan bahwa drama ini merupakan kerja kolektif. Ada salah satu saja bagian yang tidak jalan, maka secara tidak langsung akan berpengaruh ke bagian lainnya.

“Kami sadar betul, setiap orang memiliki gagasan yang berbeda-beda dan menarik, tapi tidak semua bisa dipadukan. Jadi, kami harus memilih dan memilah ide mana yang bisa digunakan untuk kepentingan bersama,” tuturnya disela-sela kesibukan latihan.

Pemilihan dan penataan keempat naskah itu bukan tanpa sebab. Ada motif tersendiri yang direncanakan, seiring berjalannya pertunjukkan penonton dapat memaknai sesuatu yang sejak mula dekat dengan dirinya. Sesuatu yang parsial dari laku paling personal.

Tidak hanya itu, hal menarik lainnya, pasca-pentas penonton akan diarahkan untuk mengikuti sarasehan. Pengulasnya terdiri dari akademisi seni yang kemampuan analisisnya sudah tidak diragukan lagi: Nanang Bustanul Fauzi, S.S., M.Pd. dan Arif Hidajad, S.Sn., M.Pd. Keduanya akan membongkar masing-masing pertunjukan baik dari segi isi maupun teknik.

(Pewarta: Rizki Amir, Surabaya)

Workhop Teater Bersama Rahman Sabur di Studio Kita

0

Besok, Kamis, 31 Oktober 2019 mulai pukul 13.30 – 18.00 akan dilaksanakan Workshop Teater di Studio Kita di Jalan Daeng Tata Hartaco Indah Blok IV AD/10 Makassar. Menurut Koordinator acara Andi Taslim Saputera, Workshop Teater ini diselenggarakan oleh Teater Kita Makassar dan Teater Kampus FSD UNM bekerja sama dengan Studio Kita Makassar. “Workshop teater ini akan dibawakan oleh Dr. Rachman Sabur, M. Sn., dengan melibatkan para sutradara dan aktor,” ungkap Taslim. Selain itu juga melibatkan beberapa penulis dan jurnalis serta beberapa mahasiswa Prodi Teater ISBI Sulsel dan mahasiswa Prodi Seni Tari FSD UNM. Jumlah peserta diperkirakan sekitar 30 – 40 orang.

Menurut Direktur Studio Kita, Asia Ramli Prapanca, peserta Workshop Teater ini akan mendapatkan pengetahuan tentang materi Penyutradaraan, Pemeranan, dan Artistik yang akan dibawakan langsung oleh Dr. Rachman Sabur, M. Sn., sutradara dan pakar seni pertunjukan teater. “Rachman Sabur yang biasa dipanggil Babeh, adalah sosok yang mumpuni di bidangnya. Jam terbangnya sudah tidak diragukan lagi,” jelas Asia.

Babeh lahir di Bandung, 12 September 1957, itu mengajar di Jurusan Teater STSI Bandung (sekarang Institut Seni Budaya Indonesia – ISBI Bandung).  Ia lulusan ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Bandung tahun 1985 (Program Studi Keaktoran) yang kini telah menjadi ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Bandung. Kemudian melanjutkan Program S1 di STSI Surakarta Jurusan Tari dan lulus tahun 1992. Melanjutkan S2 Program Penciptaan Seni di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 2013. Dan tahun 2016 lulus Program S3 Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Ia telah menyutradarai pertunjukan Teater Payung Hitam selama 37 tahun dan lebih dari 100 pertunjukan yang di sutradarainya.

Rachman Sabur merupakan sutradara teater terkemuka di Indonesia yang dengan Teater Payung Hitam, dikenal sangat militan. Kepekaan, tenaga, emosi, disiplin, kerja keras dan perfeksionisme perwujudan pentas, kegigihan dan militansinya ia bangun bersama kelompok Teater Payung Hitam. Beberapa kali juga diundang untuk jadi  penguji pada Ujian Akhir di Akademik Teater Aswara, Malaysia. Terakhir mendapat Anugrah Budaya tahun 2013 dari Walikota Bandung.

Rachman Sabur mulai mendekonstruksi teks bahkan sampai pada tingkat yang sangat “dektrukif”. Mengganti verbalitas teks dengan medium tubuh. Tubuh dijadikan medium utama untuk dieksplorasi dan olah dalam setiap pertunjukannya. Tubuh juga dijadikan sebagai medium ungkap yang kemudian dikolaborasi dengan berbagai material. Dalam setiap pertunjukannya, tubuh menjadi media komunikasi ekspresif yang dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan kreatif serta untuk mengkomunikasikan pesan-pesan dalam setiap pertunjukan Teater Payung Hitam. Kekerasan, kesakitan dan perjuangan yang menentang budaya, menyakiti diri secara garang dan riuh seperti dalam pertunjukan Kaspar (1994) dan Merah Bolong Putih Doblong (1997). Pada tahun 2015, ia berkolaborasi dengan seniman musik etnic Taiwan di Cloud Gate Taipe. Pada tahun 2016, ia memberi workshop dan pertunjukan Red Emptines dan Tubuh Bunyi Kesakitan di University of Washington Seattle. Pada tahun yang sama, ia kembali pentas di Tainan (Taiwan) dengan pertunjukan Cak dan Pohaci.

Pada tahun 1982, Rachman Sabur mendirikan Teater Payung Hitam yang sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa dan alumni STSI Bandung. Dan sampai sekarang masih aktif memproduksi pertunjukan teater sebagai sutradara. Selain aktif dalam bidang penyutradaraan, ia juga masih menekuni dunia penulisan seperti menulis essei tentang kebudayaan, naskah teater dan puisi. Khusus dalam bidang Penyutradaraan Teater, ada beberapa catatan penting yang menjadi prestasi tersendiri.

Tahun 1993 mengikuti Festival Teater di Bangkok – Thailand, Tahun 1997 terlibat dalam kolaborasi Teater 3 Negara (Indonesia-Jepang-Philipina). Masih pada tahun 1997 memberikan Workshop Teater di Australia bekerjasama dengan Blackswan Theatre Perth-Australia.

Tahun 2003 mengikuti Laokoon Spring Festival di Hamburg – Jerman. Tahun 2005 mengikuti Kolaborasi Teater di Belanda yang bekerjasama dengan Koos Hogeweg dari The Lunatics Theatre – Dutch, dan ikut serta dalam Oerol Festival dan Therschelling Holland. Tahun 2007 mengikuti Festival Nusantara yang diselenggarakan oleh Brisbane Powerhouse Australia.

Beberapa Pertunjukan TeaterTubuh yang pernah disutradarai Rachman Sabur 1982 – sekarang: Blackmoon (bersama Koos Hogeweg), Merah Bolong Putih Bolong, Relief Air Mata, Perahu Noah, Opera Karung Beras, Katakitamati, Awasawas, Anzing, Ritus Pohaci, Dom (Daftar Orang Mati), BerasamaTengkorak, Airmataair, Etalase Tubuh yang Sakit, Ritus Topeng Ritus, Dunia Tony, Biografi Bunga, Dzikiran Bumi, S.O.S, Tiang ½ Tiang, Teater Musik Kaleng, Tuhan dan Kami, Metateater, Requiem Antigone, Puisi Tubuh Yang Runtuh, Tanah dan Batu dan Air, Gendjer-gendjer (Lagoe Jang Di Koeboerkan), Tubuh Tanah Air, Segera, Margin, Red Emptines, Cak dan Pohaci, Sangkuring, Post Haste, Blackout, Hantu Plastik, Tour Monolog Racun Tembakau, Kuda Lumping Urban, Mantra Tubuh, Universitas Kaspar, Godot Menunggu (Adaptasi Rachman Sabur).

Pemenang Sayembara Penulisan Cerpen Tentang Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

0

Berikut ini adalah nama-nama para pemenang sayembara. Selamat kepada para pemenang. Terima kasih kepada semua penulis atas partisipasinya dalam hajatan sederhana ini. Sayembara ini terlaksana berkat dukungan penerbit Gora Pustaka Indonesia dan magrib.id
=================================================

10 PENULIS TERBAIK:
(Berhak atas hadiah utama: Masing-masing Satu Juta Rupiah)

1. Hikayat Bulbul kepada Sebatang Pohon (Rosyid H. Dimas)
2. Penunggang Ababil (Ishak R. Boufakar)
3. Ammak, Senja yang Telah Berlalu (Dhito Nur Ahmad)
4. Miskonsepsi (Intan Novita)
5. Yang Tumbuh Dalam Diri Bapak (Inayah Natsir)
6. Nabi Tak Datang di Malam Jumat (Guntur Alam)
7. Tempat Terhormat (Ken Hanggara)
8. Jamuan (Ilham Fauzi)
9. Jejak Kekasih (Bia R)
10. Kupu-kupu Mbah Makrom (Robbyan Abel R)

=================================================

7 PENULIS TAMBAHAN:
(Berhak atas hadiah hiburan: Masing-masing Seratus Ribu Rupiah)

11. 1000 Kucing di Rumah Kontrakan (Diani Anggarawati)
12. Demi Namamu, Ya Rasulullah (Brita Rahaminta)
13. Dia Ibuku (Ari Istiyana)
14. Pohon-Pohon Surga (Adam Yudhistira)
15. Sumur Shalawat (Moch Taufiqurrohman)
16. Sarung Emak (Elok Teja Suminar)
17. Ning Wulan (Indah Darmastuti)

=================================================

Salam,
Muhary Wahyu Nurba

Terbaru

Bagi Siapakah Sajak Musim Semi Tergubah?

TERHENTI DI SEBUAH HUTAN KECIL SAAT BERSALJUSiapa pemilik hutan ini sepertinya kutahu.Ia berumah jauh di desa sebelah sana itu;Tak akan terlihat olehnya...

Dari Redaksi