Warta

Home Warta

Kembara Senyap

0



Kekal

Di antara bunga yang dipetik dan asingnya derma
adalah yang tak terkata





Ennui

Meski malam akan berlalu

Ini kembara senyap
mengguncang bayang-bayang trem
di kabut aspal

Aku melihat kepala para supir taksi
mengantuk
Leyeh





Karpet

Setiap warna memuai dan merentang
ke dalam warna-warna lain

Menjadi lebih mufrad jika kau melihatnya




Mungkin sebuah Sungai*

Halimun yang membercaki kita

Mungkin sebuah sungai yang terlahir di sini

Aku mendengarkan nyanyian Sirene
dari danau di mana ada kotanya


* Ungaretti menjelaskan bahwa halimun itu mengubah Milan menjadi danau yang ‘seperti khayalan’ mengingatkannya pada danau Mareotis, dekat Alexandria.





Pesakitan

Memaut bak dahaga burung-burung pipit
Di atas fatamorgana

Atau bak burung puyuh
Sesekali lautan membekas
Tak ada lagi
Keinginan untuk terbang
Binasa di belukar perdana

Tapi hidup bukan untuk meratap
Bak uang emas buta





Tentang Afrika

Matahari merampas di sepanjang kota
Kami tidak lagi bisa menatap
Bahkan makam yang sudah lama ada




Enyah*

Segaris asap
mengambang ayal
di jarak cincin tawang

Gemerincing tumit tepukan tangan
dan dihiasi lengkingan clarinet
dan tawang kelabu
menyepoi gigil gelisah
bak merpati

Dalam buritan emigran Suriah yang berjoget
Di haluan lelaki muda yang mufrad

Di malam-malam Sabtu ini
para Yahudi
di bagian-bagian itu
memboyong
maut mereka
melalui pilinan selongsong
tak menentu
lorong-lorong
cahaya

Putaran air
seperti raket dari buritan
telah aku dengar dalam bayang
yang
lelap

*Ungaretti meninggalkan tanah kelahirannya, Alexandria, menuju Perancis. ‘Di bagian-bagian itu’ mengacu pada Alexandria.




===================
Giuseppe Ungaretti
(1888-1970) adalah anak dari petani Tuscan yang beremigrasi ke Mesir dan menjalankan sebuah toko roti di pinggiran Alexandria. Ia adalah penyair pembaharu Itali, jurnalis, esais, kritikus, dan akademisi. Puisi di atas dialihbahasakan dari bahasa Itali ke bahasa Inggris oleh Patrick Creagh (Penguin Modern European Poets). Penerjemah dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia adalah Eka Ugi Sutikno yang giat di Kubah Budaya dan mengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang. Selain itu ia menyibukkan diri di Buletin Tanpa Batas.

Senjakala Metafora Pada Haiku

0

Pada mulanya adalah kata, begitulah sabda kitab suci pada kita. Lalu merambat menjadi lingua yang lebih akrab disebut dengan linguistik. Dalam pembelajaran bahasa tentunya sudah tak asing lagi dengan nama-nama seperti: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan pragmatik. Narasi perihal kosmos kebahasaan tersebut telah menjadi liyan bagi batang tubuh kebahasaan yang bermula dari sebuah kata lalu merambat jadi lah semesta raya.

Bahasa telah menjadi senjata yang ampuh untuk meneroka semesta bagi pesastra. Entah itu novelis, cerpenis atau pun penyair. Ketiga pegiat sastra itu saya katakan sebagai penganggit kata yang merekam segala peristiwa mikro di bentala raya agar mampu dibaca. Bedanya, jika novelis dan cerpenis mengurai kata demi kata menjadi untaian kalimat bercerita. Beda halnya dengan penyair. Penyair bekerja pada aspek semantis tiap kata supaya mampu menarasikan konotasi jamak pada tiap pembaca. Sehingga pembaca mampu mengapresiasi lewat intuisi.

Gerak hati yang timbul saat membaca puisi merupakan subjektivitas pada setiap diri. Hal ini tidak terlepas dari karakter puisi itu sendiri: bersifat estetika, hemat kata, dan bersifat figuratif. Aspek estetik pada puisi hadir karena perpaduan tiga aspek utama yang saling berkelindan: yang pertama ada diksi, majas dan yang terakhir ada metafora. Tapi apa jadinya jika puisi bisa eksis tanpa adanya metafora di batang tubuhnya?

Hakikat Puisi

Puisi sendiri adalah salah satu dari genre sastra: prosa, puisi dan drama. Kata puisi diadopsi dari bahasa Yunani yakni poeima yang berarti membuat atau poeisis yang berarti pembuatan. Puisi juga adalah karya sastra yang paling awal yang pernah ditulis oleh umat manusia. jadi, karya sastra tertua bukan novel, cerpen atau pun drama melainkan puisi. Dari hal itu banyak karya sastra lama yang berbentuk puisi, sebut saja: Mahabarata, Ramayana dari India yang berbentuk puisi atau kavya (kakawin). Drama-drama Sophocles (Oedipus Sang Raja, Oedipus di Kolonus, dan Antigone) dan drama-drama William Shakespeare (Hamlet, Macbeth dan Romeo dan Juliet) juga berbentuk puisi.

Puisi berkembang seiring berjalannya waktu. Mulai dari puisi lama hingga puisi modern. Dari yang terikat sampai ke yang bebas. Namun, bagi saya puisi Jepang memberikan khazanah penawaran baru bagi dunia kesusastraan. Terutama perihal kepenyairan. Dulu, pada era Muromachi muncul gagasan atau ide baru tentang perwajahan puisi di negeri Sakura. Namanya puisi haiku. Akan tetapi, kemunculan haiku pada masa itu bukan berarti orang Jepang belum mengenal puisi sebelumnya. Haiku hadir guna mengembalikan fitrah setiap liyan pada gerak alam melalui citraan dan daya bayang.

Komponen Haiku

Puisi haiku terdiri dari tujuh belas suku kata serta dibagi menjadi tiga larik. Pada larik pertama ada lima suku kata, larik kedua terdiri dari tujuh suku kata dan larik ketiga ada lima suku kata. Jadi totalnya ada tujuh belas suku kata. Tentunya, puisi yang masih bergantung pada aturan-aturan mengingatkan kita semua pada puisi-puisi lama yang sudah berkembang di Nusantara. Hanya bedanya haiku tidak menggunakan metafora.

Jika air laut dengan asinnya, Madura dengan Islamnya serta Bali dengan Hindunya. Dapatkah puisi hidup tanpa metafora di dalam tubuhnya? kita semua tahu, hadirnya metafora di dalam batang tubuh puisi adalah sebagai penyedap estetis pada tiap larik dan bait yang berkelindan. Metafora didefinisikan sebagai penyangkalan terhadap alam. Metafora hadir sebagai aspek estetik pada puisi namun terkadang semua penuh dengan intrik keragu-raguan terhadap alam. Hal ini yang saya kira dikritik oleh puisi haiku yang mengedepankan kejujuran terhadap buana.

Sistematika puisi haiku disamping ada tujuh belas suku kata dan terbagi dalam tiga larik ternyata, ada hal penting lain disamping itu. sederhananya, puisi haiku harus lah terdiri dari dua unsur cerita di dalamnya. Memotret dua peristiwa dalam satu waktu yang mana objeknya berfokus pada alam raya dengan memaksimalkan daya citraan: visual imagery, auditory imagery, smell imagery, taste imagery,taste imagery, tactile imagery, kinaesthetic imagery.

Syamsu tenggelam
Biduk menuju ufuk
Di gema magrib  
(Royyan Julian)

Objek material yang berfokus pada alam dinarasikan sebagai aspek ontologis berupa pemotretan terhadap karya ciptaan Tuhan. Ketiadaan metafora dalam puisi haiku memperbesar kejujuran pada tiap penganggit haiku. Artinya, kita senantiasa jujur terhadap apa yang dirasakan oleh indra. Bersetia pada kaki alam serta berusaha memotret apa adanya yang terjadi. Jika langit biru ya katakan biru, jangan mengatakan langit bahwa sedang kelabu misalnya (kata kelabu sudah merujuk pada metafora). Nah, hal itulah yang berusaha puisi haiku kemukakan. Yaitu kembali kepada alam dan menarasikan dengan kaca mata telanjang. Tidak ada kepura-puraan (metafora) dalam haiku.

Aspek estetis pada puisi haiku tidak menekankan pada bukan arti sebenarnya, akan tetapi berfokus pada kigo. Kigo merupakan isyarat alam yang bisa menenangkan pikirian. Entah suara alam ataupun bisa juga suara dentuman dan kebisingan alam. Di dalam kigo tersemat kireji yang berfungsi sebagai jeda pada tiap bahasa saat merekam simfoni alam.

Selain puisi haiku yang mengkiblatkan arahnya pada alam, ada filosofi Wabi Sabi yang juga mengembalikan manusia kepada marwah nenek moyangnya. Wabi Sabi dan puisi haiku sama-sama mengekalkan kesederhanaan bahwa bumi ini fana dan penuh dengan intrik drama di dalamnya. Keduanya, bisa menjadi penangkal yang menyegarkan bagi dunia kita untuk melambat sejenak, terhubung kembali kepada alam, dan bersikap lebih baik pada diri sendiri.   

Puisi haiku telah mengajarkan bagaimana manusia seyogyanya bersifat minimalis, hemat, apa adanya serta tidak perlu mempertahankan hal-hal yang tidak bisa dibawa mati. Serta dapat ditarik kesimpulan bahwasanya inti dari puisi haiku ini terletak pada aspek honest. Kejujuran menjadi barang yang amat sangat mahal di situasi sekarang ini. Haiku hadir sebagai tirta amerta di oase kehidupan yang kering nan tandus, menitik beratkan pada setiap aspek karakter dari setiap liyan melalui suara alam.




====================
Fahrus Refendi, mahasiswa Universitas Madura program studi Bahasa & Sastra Indonesia. Bergiat di Sivitas Kothѐka dan menetap di Pamekasan Madura. Keinginanya hanya satu: yakni bisa hidup bahagia mati masuk surga.

Dibalap Sepeda

0

Di akhir abad XX, kita teringat bahwa memiliki sepeda sama artinya dengan orang-orang yang tidak memiliki uang. Dahulu sepeda juga tak memiliki hak prerogatif di jalan seperti sekarang, dengan adanya jalur khusus sepeda. Sebab, jalan saja masih berlubang, bagaimana bisa memberikan hak bagi pesepeda. Iwan Fals mencoba mendendangkan realitas pada lagu Guru Oemar Bakri (1981). Kita simak, “Oemar Bakrie/ Profesor, guru, insinyur pun jadi/ Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie/ Seperti dikebiri?// Laju sepeda kumbang di jalan berlubang/ Selalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang//.

Kita mengerti bahwa Oemar Bakrie hanya sanggup membeli sepeda kumbang dari gaji minimnya. Ia tak sanggup beli motor bebek, atau mobil Avanza meskipun secara mengangsur. Namun, walau hanya dengan sepeda, Oemar Bakrie tetap bisa menghantarkan ilmu pada murid-murid. Meski harus mengayuh sambil cermat memperhatikan lubang agar sepeda tak ringsek masuk lubang. Itu tetap dilakukannya demi murid. Iwan Fals coba merajut cerita sedih lewat guru, gaji minim, dan sepeda. Ingat sepeda, ingat sedih.

Kini, pesepeda sudah tak akrab dengan kesedihan: jalan berlubang dan penghasilan minim. Di situasi kiwari, pesepeda Jakarta akrab dengan Jalanan M.H Thamrin – Jendral Sudirman yang beraspal mulus dan begitu bercahaya. Sorot cahaya lampu dan bangunan mungkin bermaksud agar pesepeda terhindar dari lubang di jalanan. Situasi bermaksud agar pesepeda terhindar dari kisah sepeda Oemar Bakrie yang selalu menjumpai lubang-lubang di jalan.

Ketidakberadaan lubang di jalan yang dijumpai pesepeda saat ini. Membuat mereka bisa menikmati bersepeda sekaligus mendengarkan lagu. Lagu didengarkan di telinga melalui gawai pesepeda. Lagu garapan Iga Massardi yang berjudul Krisis Hiburan (2020) pernah didapuk oleh para pesepeda sebagai kawan ketika mengayuh pedal. Lagu memang tak berkisah mengenai pesepeda seperti Guru Oemar Bakri yang didendangkan Iwan Fals. Tapi ia tetap dinikmati oleh banyak pesepeda saat berkendara. Penikmat tidak hanya teman-teman musisi seperti Jimi Multhazam dan Vincent Rompis. Atau jurnalis musik: Soleh Solihun. Berbagai kalangan pun menikmatinya.

Seharusmya, lagu sepeda perlu melaju meninggalkan Oemar Bakrie dengan sepeda kumbangnya. Kita perlu diingatkan kalau sepeda tidak lagi mengenai kisah-kisah kesedihan. Sepeda sudah moncer bersanding di jalan dengan motor-motor atau bahkan mobil. Sepertinya kita bisa membujuk Sir Dandy untuk mengubah lagunya Jakarta Motor City (2011), menjadi Jakarta Bicycle City. Ia bisa berkisah para pesepeda Jakarta dengan budaya barunya: eksistensi, harga diri, nominal, foto, dan lain-lain.

Kita coba simak lagu Sir Dandy yang berjudul Jakarta Motor City (2011). “Tak ada lagi yang berjalan kaki/ Naik bajaj atau metromini/ Semua orang punya motor satu/ Dari majikan sampai Pembantu// Woi/ Jakarta motor city/ Semua ngebut tak terkendali//. Rasanya tak perlu meminta Sir Dandy agar merubah isi lirik lagunya. Itu sudah apik. Dan permintaan terasa terlalu banyak. Malah akan membebankan Sir Dandy.

Mungkin kalian bisa hanya mengubah kata “motor” jadi “sepeda” di lagu Jakarta Motor City. Agar terasa bahwa kota Jakarta sudah mulai dikerubuti pesepeda yang hinggap di setiap jalan. Kini, Jakarta tak hanya terhinggapi sepeda saat hari Minggu—CarFreeDay—saja. Tiap pagi, siang malam yang tak kenal hari akan terjamahi para pesepeda.

Lagu sepeda memang tak melaju melewati motor atau mobil. Tapi, bukan berarti ia tak bisa digunakan untuk balapan. Di Jakarta, pesepeda sedang menyalip pemotor dan pemobil secara budaya. Kita juga bisa mengingat adegan balapan sepeda di film 3 Idiots (2009). Virus Sahastributi yang diperankan Boman Irani tak ingin dibalap pesepeda lain. Ia mencoba melewati pesepeda yang menyalipnya. Meski si penyalip tak bermaksud mengadu kecepatan dengan sepeda. Bersepeda jadi termaknai saingan. Virus mungkin hanya bersaing dengan kecepatan. Namun tidak dengan pesepeda Jakarta. Mereka tak hanya bersaing dengan kecepatan. Sebab jika kecepatan yang dijadikan ajang, kita bisa bersepeda dengan ikut lomba-lomba balap sepeda, seperti Tour de France. Atau buat saja acara bernama Tour de Jakarta.

Bersepeda itu balapan gengsi, merek, juga citra diri. Ia bukan sekadar alat untuk mengefisiensikan jarak tempuh, kepedulian lingkungan, atau kesehatan jasmani. Sepeda tak hanya bermakna sebagai hal-hal baik. Ia juga termaknai banyak hal dan kepentingan lain. Seperti kepentingan mengunggah di medis sosial, kepentingan tak ingin ditinggal budaya, kepentingan bederma pada rakyat, juga kepentingan-kepentingan lain.

Kepentingan-kepentingan itu belum muncul di film-film Indonesia. Di film Indonesia, kepentingan sepeda banyak teringat sebatas alat pemersatu cinta kasih muda-mudi. Situasi Oemar Bakrie dengan sepeda Kumbangnya belum direstui menjadi film. Kita coba tunggu, apakah Garin Nugroho, Mouly Surya, Gina S. Noer, atau Joko Anwar akan membuat film yang tak hanya menjadikan sepeda sebatas kendaraan romantis.

Kita tentu tidak menginginkan film berlatar balapan sepeda. Kisah yang mungkin akan mengingatkan kembali pesepeda dengan kesedihan. Seperti ketika pengemudi mobil yang diingatkan dengan kesedihan-kesedihan melalui film Ford vs Ferarri (2019) yang diperankan Christian Bale dan Matt Damon. Christian Bale yang berperan sebagai Ken Mills mati tanpa diingat sebagai orang Amerika Serikat pertama yang menjuarai Gran Prix F1 di Le Mans, Prancis tahun 1966. Sebab ditipu demi foto untuk promosi penjualan mobil ford kala itu. Ia hanya menjadi juara dua, sebab menunggu teman satu tim agar bisa terjepret bersamaan dengan apik di garis finis. Dengan kesedihan itu, ia terkubur.

Ada baiknya jika memang tak ada film bertema sepeda. Apalagi memadukannya dengan kesedihan. Jika ada, para pesepeda mungkin akan mundur kembali dan minder dalam balapannya dengan motor dan mobil di jalan, Instagram, Twitter, juga Youtube. Mereka tak jadi mengisi keriuhan yang ada. Hanya bisa menonton pengendara motor dan mobil di jalur daring dan luring saja. Begitu naas.

Tapi, film Iran yang berjudul Children of Heaven (1997) pernah memaknai sepeda sebagai sumber kesedihan. Ali dan ayahnya jatuh karena sepeda yang digunakan rusak di bagian pengereman. Mereka jatuh di jalanan menurun selepas bekerja. Mereka tidak jadi membelikan Zahra—adik Ali—sepatu. Sebab uang hasil kerja harus dialihkan untuk mengobati ayah. Di film, kita melihat bahwa sepeda jadi masalah kesedihan bocah. Bocah kalah ketika balapan dengan keadaan. Layaknya Oemar Bakrie, Ali pun bersedih dengan sepedanya. Ada baiknya film ini tak tercium endusan pesepeda Jakarta. Agar mereka tetap berani balapan.

Kita memang sudah semestinya meninggalkan kesedihan Oemar Bakrie dan Ali dengan sepedanya. Tidak perlu rasanya membangkitkan kesedihan pesepeda Jakarta melalui lagu-lagu ataupun film-film. Kisah-kisah sedih memang tak patut untuk diperlihatkan. Apalagi diumbar-umbar secara terang-terangan. Biarkan sepeda terus balapan dengan mengumbar citra yang dibalut malam, sorot cahaya, jalanan mulus, dan bentangan nama merek.





========================
Nu’man Nafis Ridho, esais, pernah menulis di Jalastoria.id, Remedial.id, dan Solopos (Mimbar Mahasiswa). Dan masih aktif menjadi buruh organisasi kampus Universitas Negeri Jakarta

Ingatan yang Menyakitkan

0

“Seseorang mengatakan bahwa semuanya harus dibuang. Apa yang kau ingat adalah semua yang perlu diingat.”

“Bagaimana jika aku hanya mengingat rasa sakit? Lalu apakah hanya rasa sakit itu yang akan ada?”

Kalimat di atas adalah dialog antara Maria dan Rita, dua tokoh di antara sepuluh lainnya yang bernama Sofia, Pedro, Irene, Tatiana, Lydia, Enriques, Aurora, Hector, Eva, dan putri mereka (tanpa nama, digambarkan sebagai anak yang tak dapat berbicara). Semua nama tokoh itu mewakili warga Uruguay yang mengalami trauma akibat kekerasan politik di negaranya sehingga harus melarikan diri ke Norwegia.

Kisah sedih dan traumatis tersebut terangkum dalam sebuah naskah drama yang dibukukan dengan judul Waktu Tanpa Buku (WTB). WTB mengisahkan para eksil yang memanggil ingatan tentang tragedi berdarah saat demokrasi dirampas oleh para diktator.  Naskah asli berjudul Time Without Books (Oberon Books, London, 2019) ditulis oleh Lene Therese Teigen, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Faiza Mardzoeki, dan penggarapan pementasannya di Indonesia dilakukan oleh 5 kelompok teater dari 5 kota.

Pementasan itu sendiri merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang diinisiasi oleh Institut Ungu dalam rangka menyambut 16 Hari kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan Hari Hak Asasi Manusia, pada 25 November – 10 Desember 2020. Selain menyelenggarakan diskusi, kegiatan bertajuk Dialog Seni dan HAM tersebut juga mementaskan  pertunjukan teater film secara daring 1-10 Desember 2020. Pentas teater WTB diproduseri oleh Faiza Mardzoeki, digarap oleh 5 sutradara perempuan; Shinta Febriany dari Kala Teater (Makassar), Heliana Sinaga dari Mainteater (Bandung), Ramdiana dari Serikat Sapu Lidi (Aceh),  Ruth Marini dari Ruang Kala (Jakarta), dan Agnes Christina dari Yogyakarta juga Wawan Sofwan sebagai konsultan pertunjukan.

Mengalah Namun Mencari Celah

Sepertinya kalimat subjudul di atas tepat dijadikan ungkapan dalam situasi sekarang ini. Dunia dikepung pandemi, dan semua daftar rencana porak poranda dibuatnya. Tentu saja kita semua kali ini mesti mengalah untuk tidak ngotot menjalankan rencana dengan cara biasa. Dan sebagai manusia dengan kemampuan berpikir yang baik, kita harus mencari celah, bagaimana agar agenda bisa tetap terlaksana.

Begitu pula dengan WTB, sebuah rencana pementasan teater yang sejak awal akan digarap dan dipertunjukkan pada 2020 ini, harus melakukan adaptasi. Setelah nyaris semua acara selalu dilaksanakan daring, pentas ini pun mengikuti. 

Penamaan “Teater Film” itu tentu bukan tanpa alasan. Konsep pertunjukan teater di atas panggung tak mungkin dilakukan sebagaimana biasanya, harus dilakukan penyesuaian sesuai protokol kesehatan yang berlaku. Pendekatan garapan film pun dilakukan. Teknik pengambilan gambar yang tidak terfokus ke satu titik di panggung seperti pentas biasa, membuat tim produksi memiliki kreativitas berbeda. Pilihan pertunjukan daring jadi solusi yang dianggap cukup tepat, sehingga tetap dapat memberikan suguhan yang ciamik pada penonton.

Masa Lalu yang Menghantui

Jadwal pertunjukan teater film selama 10 hari itu dibagi jadi dua hari untuk masing-masing kelompok teater. Masa tayangnya dimulai sejak pukul 19.00 hingga pukul 22.00 keesokan harinya.

Kala Teater dari Makassar mengawali pertunjukannya pada 1-2 Desember 2020 dengan memunculkan 6 orang berbaju putih, berkacamata hitam, dengan kepala dibebat topeng wol berwarna merah. Para pemain memasuki  “panggung” sambil memutar-mutar badan masing-masing, kemudian kertas-kertas yang mereka pegang satu persatu berjatuhan. Adegan ini seolah simbol dari setiap bacaan para tokohnya yang kemudian terpaksa harus dibuang. Adegan demi adegan selanjutnya tetap terasa seperti menonton teater di atas panggung, dengan properti yang ditambahkan atau diambil sembari aktornya keluar masuk. Walaupun mestinya bisa dilakukan pengambilan gambar secara close up, Kala Teater masih teguh mempertahankan konsep pertunjukan teaternya dengan kuat. Tapi yang cukup menarik adalah sisi artistik yang dibangun dari warna-warni kontras di atas panggung, tubuh yang terjatuh dan bangun berulang, kursi yang dimainkan, hampir seluruhnya menyuguhkan tampilan estetik tanpa mengurasi emosi kesedihan yang mewarnai kisahnya. Terutama saat Pedro menceritakan bagaimana dia mengalami kengerian siksaan di penjara dengan detail.

Giliran kedua jatuh pada pertunjukan berdurasi 52 menit dari Yogyakarta. Agnes Christina membuat pementasannya di alam terbuka. Dengan pakaian para pemain berwarna putih, tampak kontras dengan rerumputan hijau di taman. Dan warna merah buah semangka menambah tegas impresi yang ingin disampaikan. Percakapan-percakapan anggota keluarga di tengah kegiatan piknik mereka membuka lembaran  trauma masa lalu. Kegembiraan piknik tak terlalu kentara dalam senyuman, yang ada hanyalah kepedihan kenangan. Dialog Pedro sempat terkalahkan suara air di latar belakang, tapi ekspresi para pemain mengirimkan rasa sunyi yang cukup memiliki daya renung.

Mainteater dari Bandung membuat pembabakan pentas seperti naskah aslinya, 23 bagian. Setiap judul babak dimunculkan sebagai permulaan menuju babak selanjutnya. Penyesuaian dilakukan dalam bagian interogasi. Ketakutan dan kebingungan aktor ditonjolkan untuk menghadirkan rasa mencekam. Durasi pementasan yang paling panjang di antara kelima kelompok teater jadi bukti bahwa Mainteater  menganggap setiap babak dalam kisah WTB penting untuk disampaikan pada penonton. Ruangan gelap dengan koran-koran dan tulisan berserakan, mesin ketik sebagai media menulis ulang peristiwa, boneka beruang, benang wol merah, jadi sarana para aktor mempresentasikan peristiwa penuh tragedi.

Kelompok Serikat Sapu Lidi mendapat giliran pentas pada 7-8 Desember 2020. Sepanjang 1 jam 19 menit, pengisahan trauma para tokoh dimulai dengan musik dan senandung penuturan hikayat khas Aceh. Para aktor perempuan berkerudung memainkan tokoh wanita, dan seorang laki-laki memerankan Pedro dan Hector sekaligus. Sebuah pohon di atas panggung menjadi artistik panggung berundak dengan kain dan kotak yang digantungkan di rantingnya. Kotak sebagai simbolisasi ingatan yang disimpan, rahasia masa lalu yang disembunyikan, namun tetap menjadi bagian dari diri para tokoh.

Ruang Kala sedikit berbeda, mereka memberi suguhan yang mendekati bentuk film pendek. Pengisahan dilakukan oleh setiap tokoh yang bermonolog. Teknik pengambilan gambar yang sinematik, dan pemilihan cast yang tepat dari lintas usia, membuat suguhan yang berdurasi 39 menit 24 detik itu bisa dinikmati dengan baik dan meninggalkan kesan dengan gema yang panjang di benak penonton. Tokoh anak diperankan oleh dua anak kecil, dan tokoh dewasa lainnya memiliki karakter kuat dalam setiap adegan. Pedro yang menceritakan kembali trauma akan siksaan, Lydia yang mengenang masa-masa penantian yang seolah tanpa ujung. Menanti suaminya dibebaskan atau mati, menanti suaminya pulang.  Rita yang gembira karena akan menikah tapi dibebani pertanyaan mengapa kedua orang tuanya, Sofia dan Pedro, menyembunyikan kisah masa lalunya dan tak mau menceritakan apa yang mereka alami. Kalimat Aurora, anak kecil yang manis itu, “Kalian tidak akan bisa melupakan aku,” jadi penutup yang bergaung. Tidak seperti kelompok teater lain yang menunjukkan bagaimana tari tango diakukan oleh Sofia dan Pedro jadi tarian yang indah sekaligus memilukan, Ruang Kala justru memberikan sajian gambar mengharukan ketika Lydia dan Enrique berpelukan setelah suaminya itu dibebaskan.

Penjara Ingatan

Lima kelompok teater tersebut telah menyajikan interpretasinya masing-masing pada naskah yang memiliki benang merah dengan peristiwa rezim politik di Indonesia. Uruguay mengalami periode kediktatoran dari 1973 sampai 1985. Pada tahun itu, sekira 20% penduduk Uruguay dipenjara, dalam waktu lama atau singkat, dan 10% diasingkan ke negeri lain. Mereka yang mengalami peristiwa tersebut tak pernah bisa betul-betul melupakan bagaimana rasanya hidup dalam teror dan ketidaktenangan. Kecemasan demi kecemasan mendera mereka dalam penjara ingatan.

Di Indonesia pun pernah terjadi pelanggaran HAM berat yang menorehkan luka sejarah. Ingatan yang menyakitkan tentang kekelaman bangsa Indonesia pun menghantui para pelaku sejarah dan orang-orang yang mengalami kekerasan di masa Orde Baru, yang dianggap sebagai rezim yang mengekang hak rakyat dalam banyak bidang, terutama hak untuk menjadi berbeda dalam pilihan politik dan idealismenya. Diberitakan banyak orang bisa tiba-tiba hilang tanpa jejak setelah memprotes keras, atau dimasukkan sel prodeo setelah menyuarakan gugatannya. Orang-orang bisa tiba-tiba dicap melawan pemerintah, jika terlalu melawan arus di saat itu.

Pertunjukan teater film Waktu Tanpa Buku menggugah sisi kemanusiaan kita, menggedor kesadaran bahwa sejarah dan masa lalu itu bukan hanya cerita milik kita sendiri, tapi juga milik anak-anak kita,  berpengaruh terhadap kehidupannya kelak. Kebenaran yang ditutupi akan terbuka pula pada akhirnya, sebab kenangan dapat menjadi sesuatu yang utama. Kenangan baik ataupun kenangan buruk. Serangkaian kenangan baik akan terus melekat, menjadi rasa bahagia yang bisa diingat. Kenangan buruk membuat kita merasa ingat sekaligus tak ingin mengingat, kita mengingat rasa sedih tanpa merasa sedih, tapi trauma yang membekas mempengaruhi langkah dan keputusan kita, bahkan secara tidak sadar. Jadi, walaupun diingkari dan berusaha dilupakan, sejarah kelam yang pernah mewarnai perjalanan kehidupan sebuah bangsa tetap akan tinggal dalam ingatan.

Semoga tahun-tahun kelam Indonesia yang memiliki kemiripan kisah dengan sejarah Uruguay dalam naskah WTB ini tidak akan pernah terulang lagi di masa depan. Semoga semua bangsa di dunia tidak perlu lagi mengalami kegetiran hidup yang menyakitkan dalam ingatannya.


====================
Ratna Ayu Budhiarti, penulis dan penikmat seni. Karyanya telah dimuat di berbagai media cetak lokal dan nasional serta diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Rusia, dan Korea. Menjadi peserta terpilih di beberapa acara sastra, di antaranya: Festival Puisi Internasional Indonesia (2012), Ubud Writers and Readers Festival (2012). Diundang oleh PENA Malaysia sebagai pembicara dan pembaca puisi (2016), serta Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (2018, 2019). Mengisi workshop dan menjadi juri pada beberapa lomba tingkat nasional. Buku puisi terbarunya, Sebelas Hari Istimewa (2019). Guru yoga ini baru saja menerbitkan kumpulan cerpen terbarunya, Perempuan yang Berhenti Membaca.

Mangga Dan Batu

0

Mendapati mangga tergolek di bahu jalan, lelaki itu mengerem motornya, lalu memungut buah itu. Seusai membantingnya pada permukaan aspal, dengan begitu nikmat ia memakan pecahan dagingnya. Kemudian, karena di depan banyak mangga berserakan, kepada pejalan yang berpapasan, ia menawarkan, “Maukah kau menukar tasmu dengan motorku?”

“Kenapa kau mengajukan penawaran se-gemblung itu?”

“Aku butuh tasmu untuk mewadahi mangga-mangga itu, sementara kau, barangkali butuh motorku untuk melanjutkan perjalananmu…”

“Aku suka berjalan, aku tak butuh motormu. Tetapi karena kau butuh tasku, ini kuberi cuma-cuma…”

“Bagaimana kalau ditukar dengan satu mangga?”

“Baiklah, bila kau memaksa.”

Seiring pejalan itu pergi, ia menuntun motornya mendekati lalu memunguti mangga-mangga itu. Sementara itu di bawah pohon mangga, seorang perempuan tampak merenung. Lelaki itu yang sekonyong-konyong entah tahu dari mana bahwa dirinyalah yang sedang direnungi, mendekatinya lalu berkata, “Seperti kurang kerjaan, pagi-pagi merenungiku.”

“Karena kerja saya merenung, sepagi ini sudah merenung, berarti saya lagi ada kerjaan.”

“Kenapa kau merenungiku?”

“Kenapa Anda memunguti mangga-mangga itu?”

“Sewaktu kecil aku senang memunguti mangga di pekarangan-pekarangan rumah warga kampungku. Dan, seperti yang kau lihat, banyak mangga yang berserak di jalan ini, eman-eman bila tak dipunguti.”

“Lalu untuk apa mangga-mangga itu?”

“Sementara ini aku belum tahu, mungkin memakannya.”

“Semuanya?”

“Mungkin iya, mungkin sebagian, sebagian lagi kuberikan padamu, atau entah untuk siapa atau entah untuk apa. Sekarang yang penting aku memungutinya. O, ya, motor ini cukup membebaniku bila terus menuntunnya, kau mau?”

“Menuntun motor itu?”

“Bukan, maksudku motor ini untukmu, kau mau?”

“Motor sepertinya bukan objek menarik untuk saya renungkan. Kenapa tak Anda geletakan saja di sini, siapa tahu nanti ada orang yang membutuhkannya,”

“Saran bermutu. Hal seperti itu kenapa tak terpikir olehku?”

“Bisa jadi pikiran Anda terlalu sibuk memunguti, sampai tak sempat mikir meletakan,”

Setelah lelaki itu berlalu, motor ditumpaki dua lelaki tampak berhenti di depan si perempuan. Lalu satu diantara mereka sekonyong-konyong berkata, “Apakah motor ini punyamu? Karena kau menggelebakannya begitu saja, seolah tak peduli dengan apa yang kau punya, bolehkah kami mencurinya?”

“Curilah.”

Seiring mereka pergi dengan motor masing-masing, perempuan itu menggelengkan kepala, entah untuk maksud apa. Kemudian ia berjalan ke arah lelaki itu. Sementara lelaki itu sibuk memunguti mangga, bisa jadi daripada tak berbuat apa-apa, perempuan itu memunguti batu-batu yang teronggok di jalan itu. Beberapa saat kemudian seorang polisi menghentikan motor di depan mereka. Mereka berhenti memunguti saat polisi itu bertanya, “Apakah kalian sedang sekongkol mencuri mangga?”

“Tidak, pak!” jawab mereka serempak.

“Lalu kenapa masing-masing kalian, satu memegang batu sedang yang lain memegang mangga?”

“Aku lagi memunguti mangga yang berserakan ini, Pak Polisi.”

“Saya sedang memunguti batu-batu yang teronggok di jalan ini.”

“Baiklah, kalau begitu lanjutkan…”

“Pak Polisi, apakah kau mau mangga?”

“Mangga, buat apa?”

“Barangkali istri simpananmu lagi ngidam, ngidam mangga.”

“Tahu dari mana aku punya istri simpanan, tahu dari mana ia lagi ngidam?”

“Aku hanya ngarang, Pak Polisi, sekadar basa-basi demi menawarkan mangga ini.”

“Aku memang punya istri simpanan yang lagi ngidam, baiklah, aku mau, dua saja.”

“Apakah Anda mau batu?”

“Batu, buat apa?”

“Melempar dua pencuri yang sedang Anda kejar.”

“Aku memang sedang mengejar dua pencuri, bagaimana kau bisa tahu? Apa kau juga cuma ngarang, sekadar basa-basi untuk menawarkan batu itu?”

“Saya sendiri tak tahu kenapa ijig-ijig—tiba-tiba—saya tahu hal itu, bahkan beberapa saat tadi saya diberitahu peristiwa yang bakal terjadi pada Anda dan kedua pencuri itu. Anda mau tahu?”

“Tidak, kukira tak ada lagi keasyikan bila apa yang akan terjadi telah kuketahui. Jika demikian, masih bergunakah batu itu buatku?”

“Justru karena itu, batu ini amat berguna buat Anda.”

“O, ya, untuk apa?”

“Melempar mereka. Seperti yang Anda tahu, mereka kebal peluru.”

“Dengan demikian, bukankah kau secara tak langsung memberitahuku peristiwa yang bakal kualami: melempar mereka dengan batu itu?”

“Bisa ya, bisa tidak. Cerita yang baik bagaimanapun sukar ditebak ke mana arahnya. Penawaran terakhir, apakah Anda mau batu?”

“Baiklah, dua saja.”

Setelah polisi itu memasukan dua mangga dan dua batu itu ke dalam tasnya, ia pun berlalu. Sementara itu mereka melanjutkan memunguti batu-batu dan mangga-mangga itu. Karena batu makin banyak di tangan, perempuan itu mulai kerepotan, meminta pada lelaki itu berbagi tas dengannya. Baiklah, sambut lelaki itu. Pada akhirnya mereka berjalan bersisian. Itu mereka lakukan setelah si perempuan bertanya, “Kenapa Anda hanya memunguti mangga, kenapa tidak sekalian batu-batu itu?”

“Bila itu kulakukan, lantas apa yang kau lakukan?”

“Tentu merenungi Anda melakukan itu.”

“Tak bisakah merenungkan sesuatu sambil melakukan sesuatu?”

“Baiklah, saya mencobanya.”

Beberapa saat kemudian, dengan tampang cukup mengkhawatirkan, seorang lelaki berkaos kuning celana hitam mendekati mereka, lalu berkata, “Sudah tiga hari tiga malam aku tak makan. Maukah kalian berbagi denganku apa yang ada dalam tas itu?”

“Tas ini hanya berisi batu dan mangga, bila kau ingin memakan batu atau mangga, lihat, banyak batu dan mangga berserakan di jalan,” jawab lelaki itu.

“Aku tahu banyak mangga dan batu berserakan sebagaimana banyak lubang ternganga di jalan. Bila aku ingin memakan mangga atau batu, tentu aku sudah mengambil sendiri, tak perlu meminta pada kalian. Tetapi aku ingin makan apa yang di dalam tas itu, itu pun jika kalian berikan.”

“Meskipun mangga dan batu?”

“Meskipun mangga dan batu.”

Lelaki itu merogoh tas itu, meraba apa yang kiranya mangga dan mengambilnya, begitu keluar dari tas itu, ternyata ia memegang sebungkus nasi, lalu ia pun memberikannya pada si peminta. Giliran perempuan itu merogoh tas itu, meraba apa yang kiranya batu dan mengambilnya, begitu keluar dari tas itu, ternyata ia memegang sepotong mendoan, lalu ia pun memberikannya pada si peminta. Sementara lelaki berkaos kuning celana hitam tampak makan dengan amat lahap, dua orang itu beradu mata—heran.

Seusai makan, seusai beberapa kali bersendawa, ia mengucap syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Dan, seusai menyampaikan terima kasih pada mereka, ia pamit melanjutkan perjalanan.

Sebagaimana dikatakannya, memang banyak lubang menganga di jalan. Karena tas itu makin penuh, sementara masih banyak mangga dan batu yang berserak, lelaki itu mengusulkan untuk menutup lubang-lubang itu dengan mangga dan batu.

“Bagaimana jika nanti tumbuh pohon mangga di lubang-lubang itu?” tukas perempuan itu.

“Bagaimana jika nanti tumbuh batu di lubang-lubang itu?” balas lelaki itu.

“Bagaimana jika nanti tumbuh pohon mangga berbuah batu di lubang-lubang itu?”

“Bagaimana jika nanti tumbuh batu berbuah mangga di lubang-lubang itu?”

Karena mereka sama-sama tak tahu bakal tumbuh apa atau malah tak tumbuh apa-apa pada lubang-lubang itu, mereka sepakat menutup lubang-lubang itu dengan mangga dan batu setelah sebelumnya mereka kumpulkan dalam tas itu. Demikianlah, untuk beberapa hari ke depan, mereka terus berjalan, memunguti mangga dan batu yang berserakan itu, menutupi lubang-lubang di jalan itu.

Sementara itu, sampean lihat, polisi itu terus menggeber motornya, mengejar buronannya. Tahu sedang dikejar, mereka pun mempercepat laju motor masing-masing. Karena keterampilan bermotor mereka jauh di atas polisi itu, dengan gampang mereka meninggalkannya.

Setelah polisi itu tak tampak di belakang mereka, satu di antara mereka memberi kode untuk berhenti. Mereka pun berhenti, seperti yang seringkali mereka lakukan, menanti polisi itu tampak lagi, begitu mendekat, mereka pun kabur lagi. Tetapi tidak kali ini, mereka ingin mengerjai polisi itu habis-habisan atau bila perlu menghabisinya. Sepertinya mereka telah bosan terus-menerus dikejar tanpa sekali pun ditangkap.

Mendapati mereka berdiri dengan santainya tanpa geliat akan kabur, polisi itu merasa bimbang. Bahkan, cemas merambatinya perlahan. Karena pelurunya tak mampu menembus tubuh mereka. Setelah menguatkan keberanian dengan menegaskan dirinya adalah polisi, ia menghentikan motornya beberapa jarak dari mereka. Lalu ia segera merogoh satu batu dari dalam tasnya dan melemparkannya ke salah seorang dari mereka.

Polisi itu terkejut, cepat-cepat menghindar, batu itu ternyata memantul, balik menyerangnya. Entah karena tak percaya atau panik, polisi itu merogoh lagi isi tasnya. Kali ini ia mendapati sebuah mangga, lalu melemparkannya pada orang itu lagi. Tak dinyana, sasarannya itu sekonyong-konyong ambruk begitu terserampang mangga. Ia pun mengeluarkan mangga yang satu lagi dan bersiap melemparkannya pada lelaki yang tengah bingung, memandangi temannya: apakah temannya betul-betul ambruk atau hanya pura-pura ambruk. Bahkan, begitu mangga itu mengenai tubuhnya, ia pun langsung ambruk. Sesaat sebelum ia ambruk ia tak yakin apakah dirinya betul-betul ambruk atau pura-pura ambruk.

Polisi itu mendekati mereka, memborgol dan mengikat mereka pada tiang listrik. Konon, bertahun-tahun kemudian, seorang pejabat negara begitu melihat tiang listrik itu, sekonyong-konyong ingin menabrakkan mobilnya pada tiang listrik itu. Lalu polisi itu mengontak markas, meminta bantuan untuk mengurus tangkapannya itu.

Kemudian dengan wajah sumringah ia pergi ke rumah istri simpanannya. Sampai tujuan, ia menyesal kenapa tak mengambil lagi dua mangga yang ia lemparkan tadi. Tetapi penyesalannya tak berlangsung lama—seketika berganti ketercengangan tingkat tinggi—, karena begitu pintu rumah terbuka, sekonyong-konyong wanita itu menyaut dan menggeledah tasnya, lalu berkata, “Terima kasih telah membawakanku batu, bagaimana kau tahu aku sedang ngidam batu?”

Kesugihan, 17 Februari 2018 – 11 Nopember 2020


====================
Baitul Muttaqin Al Majid, menulis beberapa cerita dan dimuat di beberapa media, baik daring maupun cetak. Cerpen Sedekah Pepohonan masuk finalis 30 naskah terbaik Festival Menulis Cerita Anak Nasional, Oktober 2020 Funbahasa, Surabaya. Hikayat Sepucuk Duri dan Shalawat Nabi masuk 50 naskah terbaik Lomba Cerpen Nasional Pena Persma, Oktober 2020 LPM Dinamika Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatra Utara. Jeruk Surga memenangi Juara 2 Lomba Cerita Inspiratif Festival Sastra Aksara (FSA) ke-VII Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Tasikmalaya, Oktober 2020. Ragu adalah antologi cerpen bersama yang mengambil judul cerpennya sebagai cerpen terbaik pertama Tantangan Menulis Cerita Pendek September 2020 CV. Penerbit, Yogyakarta.

Terjaga Mata Malam

0

Requiem Buruh Pabrik Dari Carrickfergus

Terinspirasi dari balada rakyat Irlandia yang diterbitkan di abad 19, berjudul
“Carrickfergus” dan “On The Dawning of The Day”

Andaikan aku terlelap di tilam Carrickfergus
dan meneguk kelam malam Ballygran.
Kata-kataku mengarungi lautan terdalam, membusuk
dalam tanah liatmu.
Tetapi laut itu luas. Dan aku,
tak mampu berenang. Tangan dan betisku terbujur kaku
oleh deras nafas London. Kepalaku terbenam di lumpur  
kubang orang Katolik terpanjat ke langit 
yang mencibir. Dan senandung batuk laparmu,
O Irlandia yang mabuk. 
Aku, tak punya sayap ‘tuk terbang. 
Sebab di langit itu para malaikat mati 
berguguran dengan rambut dicukur
dan tersedak hitam abu arang. 

Langit, temukanlah aku dengan pelaut tampan
untuk menuntunku mengarungi lautan, mati di dekapan cintaku,
Carrickfergus yang berambut hitam. Aku ingat betul
bahwa rambut hitamnya menenun jerat dan berkisah tentang dukanya:
“biarlah duka itu menjadi daun yang gugur,” tuturnya mengantar tidur. 

Kawananku meleleh seperti salju ketika bunga bakung tersingkap.
Hari-hari yang siuman itu berkelana tiada henti,
bermimpi rerumputan dan daun shamrock melapisi
ranjang bebatuanku,
dan lumpur dan abu mendekap awan-awan angkuh
London yang mengantuk.
Lumpur tuak, lumpur mengutuk dunia, lumpur mayat-mayat,
lumpur neraka, lumpur ciuman dan lumpur yang bersenandung
tentang suara dan bebatuan. Suara abu, suara sungai kelabu,
suara batu-bata, suara roda menggilis waktu, suara kilang
yang tertawa menyiksa, suara piston menindas khotbah para pendeta.

“Apa kabar anak-anakku?” sahut abu diriku yang tenggorokannya
masih terbakar dan terlilit wiski basi, dan kaki itu mengayuh roda
hingga menjadi bulu. Puisi rindu yang ia hadiahkan
kini rusak dirayap. Ia tak ingat bunga anting-anting lembayung
seperti senja yang ditanam Carrickfergus, air mata Tuhan itu. 
“Apa kabar diriku?” ia hanya ingat namanya adalah roda-roda,
yang lama-kelama menggilis bibirnya. Ia hantu yang terjebak
di dinding pabrik,
jarum jam pingsan yang terus berdetik, matahari yang terus
terbenam terbit.
Adakah letih dan duka di dalam seorang matahari? 

Di ujung jalan, Brick Lane yang menganga di mulut malam,
telinganya tampak sebagai calincing kupu membalas dendam.
Kupu-kupu hitam legam. Mungkin kupu itu haus,
haus beterbangan sampai kiamat nanti. 
Kau, anak-anakku, sungguh ingin menangkapnya.
Tapi yang kau tangkap hanyalah suam-suam debu mayat kelelahan. 

Malam itu hening. Meradang ke dalam sisa tidurku.
Aku terjaga mata malam. 
Kau mencariku di dekat tungku api dan berharap rusukku hangus,
meliarkan rasa lapar dan tawa bengismu. 
Dalam hening kusimak malaikat yang tak kukenal
berambut hitam, merajut doa yang porak-poranda,
menjerit: mereka memberontak pada makam-makam
yang berkisah tumpukan abu yang rindu
pada laut merdeka Belfast dan retak dedaunan. 
Bibir daun, kaki daun, telapak daun, rambut daun,
mata daun yang tertinggal
di cermin buram meriasi kerut ibuku. 

Ia sedih rahimnya sudah tak bisa ditanam lagi. Lalu ia mencangkul
dan menanam bunga pada kuburannya sendiri. Sedang ayah berendam
mabuk di jelai hitam, menghardik pada kentang-kentang yang mengerang nyeri. 
“Kerandamu sudah siap,” ucap ibu pada ayah yang lidahnya
bernyanyi pada tukak di lambungnya, meleleh-leleh karena kosong.

Dalam hening kusimak nyawa berguguran seperti daun kering
ketika fajar merebakkan lukanya.
Andaikan jasadku terbenam di Carrickfergus,
surga yang merintih dengan lagu laparnya itu.

Surabaya, Juli 2020




Kościół Mariacki

O apa arti keagungan – lihatlah! Bayangan kita ini,
jika seluruh kerajaan di bumi, di mana kita bersemayam,
disuguhi nafas, lahir dan mati seperti tanah,
tidak lain hanyalah dekorasi belaka mimpi-mimpi kita
bak vas dari tangan pengrajin di kubah-kubah Perancis?
Tetapi kubah! Dengan busur dan lengkung berani, melipat
langit-langit tak terhingga yang meledakkan warna
dan kanopi megahnya berderau dengan deretan suci
biru azur dan merah lembayung para malaikat dan rasul-rasul.
Bahwa bumi, dan surga penuh nyali ini hanya dibangun dari
gelimangan mimpi manusia-manusia terdahulu?

Tak ada cacat. Kepala dan tangan kita menciptakan pilar-pilar tinggi,
udara wangi berbau doa, horizon orang-orang
berdecak kagum dan putus asa.

Di bawah kristal Tubuh yang terpasak berdarah itu
berkobarlah api emas orang-orang Krakow.

*Ditulis tahun 2013 lalu, lalu disunting kembali ketika mengunjungi Basilika St. Mary di alun-alun utama kota tua Krakow, Maret 2017




Wanita Jasna Góra

Dara suci, mengapa kau dan Anakmu
bermuka gumul hitam debu, pernis cat mati,
jelaga dari tangis lilin, dan harum sakramen yang terbakar?
Mengapa kau rela bercoreng debu peradaban lusuh kami,
mengenakan jubah bunga lili yang membingkaimu
dengan emas, doa-doa lelah, memberimu naungan
dan kilau sajak-sajak yang tak berasal dari dunia?

Seorang pelukis tak tahu cara memperbaiki wajahmu
dengan lilin lebah mendidih. Ia tak mampu
menghapus bekas goresan luka pedang Hussite
di pipi yang sudah kering dari peluh dan garam itu.

Kau dan Anakmu tetap termenung di sana, memberi candu
dan penawar sakit pada orang-orang Czestochowa.
Ketika Hussite datang merajah kau rela dilukai
seakan bersabda “tusuklah aku.
Aku memang hadir di dunia ini untuk ditusuk-tusuk.”

Basilika Jasna Gora, Czestochowa, Maret 2017





Bergamo

Bukit-bukit menjulang tinggi di atas, dililiti benteng batu
yang merangkul Italia tua yang membeku.
Terbujur jalan berbatu denga noda lumpur, lorong bata kapur,
bau wangi kemenyan dan bau masam anggur
dari katedral dan gereja tak berkaca yang termenung sunyi.
“Bergamo sudah lama mati, sebidang tanah dililit dinding batu ini
adalah kuburannya yang cantik.”

Masih banyak orang Jerman membekur seperti burung dara
di kios oleh-oleh dan mengais pastri roti
tetapi dinding itu berkoar tentang duka dan anak-anak
mereka yang menghilang, ketika pasukan Mussolini
mencabuli gereja-gereja.

Di kaki bukit-bukit itu berdiri angkuh gedung-gedung baru
dan tanah yang selama ini dipijak oleh para Don di atas bukit
kini hidup dan bersuka ria, acuh pada kepalanya yang tua.
Mereka menyebutnya “Italia baru” dan jalan itu menuju
ke etalase toko dan galeri mode Milan.

Di samping stasiun funicolare tua di Bergamo, Maret 2018





Mengenang Perantauan di Jerman

Untuk setiap manusia yang teralienasi. 

/1./
Lonceng gereja putih itu menyetubuhi angin subuh,
kumandang landai sholat membelit langit
Düren terbengkalai. 
Orang turun dari kereta ketika ingat mencari ramai. 
Orang terjun ke rel seperti debu, ingin lupa pada ramai.
Ramai Aachen yang berkerudung abu knalpot bis merah.
Ramai Köln yang memabuk pada sungai kelabunya.
Ramai Düsseldorf yang menyajikan tawa teh boba
dan lengang gedung besinya. 

Di taman kuburan nan damai itu. Di Friedhof.
Mayat-mayatnya mengantuk diselimuti bunga-bunga
anyelir dan dilintasi para pelari.
Nisan-nisan tegap itu bertuliskan : Mati diminum Pilsner.
Mati dicekik anggur merah. Mati dilahap Bratwurst.
Mati marah-marah pada orang Turki. Mati dicabik-cabik
mimpi perang. Mati bermimpi nyeri kamp konsentrasi.

Mengapa mataku masih melihat
hantu perawan remaja tersedu duduk di nisannya
menyayat-nyayati pergelangannya yang tiada?

/2./
Masih saja kah tentang lubang menganga itu, Berlin?
Kau berseru lantang: “Enyah kau semua, dunia,
orang-orang, dewa-dewa, hakim alam baka,
halte bis berbanjir kendaraan, gedung koran yang angkuh!”

Semua tahu bahwa nyawaku bahkan tak seharga karcis bis.
Coba maniskan hari-hari mudamu dengan video kucing,
harajuku atau dengan bau pesing Pilsner
di stasiun kereta penuh graffiti. 

Aih, rindu diriku pada kolam dangkal, utopia cepat saji ini.
Tuang air panas saja ke kota ini, lalu aduk perlahan : jadilah!
Hiasi dinding rumah mayamu dengan kata-kata mutiara,
ciuman sayu nan modis, serta foto dirimu
dan pacar cantikmu, setengah telanjang berbikini,
mabuk berlinangan oleh tragedi. 
Katedral Berlin masih tegap dingin dan kosong,
seperti dinding yang disemprot pelangi itu.
Ia membekukan jeritan tahun 1989. Mangkuk penampung
jeritan timur dan barat yang berpilin. Jeritan sungai.
Jeritan abu. Jeritan senjata api. Jeritan merdeka.
Jeritan heroin. Jeritan menggebu sepak bola. Jeritan pahlawan
kelamin Schönenberg dari tepi laut seberang. 
Tetapi tetap saja bocah Jerman-Syria melangkah ke jalan.
Ia menjerit dengan air mata peluru senapan. 
Runtuhnya dinding itu mengkhianati darah pasirnya.
“Aku terlahir sebagai orang Berlin! aku tumbuh di jalan
orang-orang asing yang dikurung dinding”.

*Mengenang korban serangan teroris di Berlin dan Munich tahun 2017 silam. Mengenang orang-orang yang melarikan diri demi merdeka ketika Berlin masih terbelah.

===================
Diang Kameluh, penulis bernama lengkap Sarita Rahel Diang Kameluh ini lahir di Surabaya, pada tanggal 10 April 1997. Kini menempuh pendidikan di jurusan Teknobiomedik di universitas ilmu terapan FH Aachen, Jülich, Jerman. 

Yang Rembang Saat Purnama Nanti

0


Kun

kita pernah belajar
bagaimana memadukan abu, darah,
dan peletik damar
agar bisa dibentuk jadi tembikar
sehingga kelak bisa dipakai di saat yang tepat
ketika suatu hari nanti, kota kita
terbakar hebat

kita juga pernah belajar
memadankan selembar lurik dan kain batik
saat tubuh kelak telanjang
oleh yang Maha Sanik

Kun,
maka, jadilah!

Saat di kepala kita tumbuh kecambah
dan urat di ujung jari mulai lelah

sebab, kita telah belajar
bahwa tujuan tak ubahnya
sekadar obat
untuk dada kita
yang memar,
dan ingatan yang gegar

Jogja, 2020




Perkenalan

aku mengenalmu dari seutas tali panjang,
yang tergantung di dahan pohon kepal
di sebuah malam pejal.

Lalu kulihat tubuhmu berayun,
mengikuti detak arloji di lengan kiri, anggun
sembari menghitung sisa butiran embun.

Kutahu, diammu retak dan berkarat,
saat seekor kadarsih hinggap, kau tangkap
dan malam kembali senyap.

Aku mengenalmu dari tenang riak sendang,
ketika ikan-ikan berbisik pada pukat berjaring jarang
kemudian saling hanyut di pekatnya lembang

“o, senja, kenapa ia selalu penuh dengan teka dan sederet angka-angka,”
begitu teriakmu, sambil coba kau biarkan manyar
terkapar, menggelepar di dalam sangkar.

Jogja, 2020




Sonder Siang 

Tak ada siang di kota kami

hujan menggetarkan membran keheningan
sepi berkecambah, meregah,
berubah, lalu terungkah

Tak ada siang di kota kami

selaput langit masih saja
berputarpendar di atas kotakota
berkata tanpa bahasa:
yang ada hanya bibir berpara-para

Tak ada siang di kota kami

cahaya terperangkap
dalam setangkup tarup,
serupa domba yang saling menerkup
dan segelas teh panas tanpa tutup
tersaji di meja sesaji, saat malam kian redup

Jogja, 2020




Musafir

sebab senyumanmu,
sore di sini terlihat lesu

aku mencari kebahagiaan
di rimbun rerumputan

debu di ujung jari
adalah bukti

betapa dadu yang kulempar
serupa nasib yang kuhampar

hidup lalu berjalan mundur
saat kulihat bayangan ibu di kedalaman sumur

Jogja, 2020




Sunyi

baru sekarang kita tahu,
pada gazal yang gagal,
selama ini kita berpijak dan menghafal

begitu juga dengan rubaiat,
di dalamnya,
kita salah memaknai setiap riwayat

ketika dengan darah kita yang mencair,
kutulis amsalamsal getir,
dan sunyi yang terasa satir

lalu siapa yang mencipta hening,
saat ingatan kita terpelanting,
bertumbuk dengan lentin,

siapa pula yang membikin sunyi,
ketika pagi tak lagi bernyanyi,
dan partitur kehilangan nadanada tinggi

Jogja, 2020




Bukan Rambutmu

bukan rambutmu,
jemariku cuma mampu mengelus waktu
sebagai bukti bahwa hari ini
masih ada sedikit rindu

bukan rambutmu,
tanganku hanya bisa menyisir lelatu
sebab hidup tak lebih dari sekadar percik api
yang rembang saat purnama nanti

Jogja, 2020




Utari

sampai menjelang pagi
aku masih mengenangmu sebagai Utari,
sebagai riak yang memanjang
hingga menabrak tepi dermaga lengang

aku pun masih mengingatmu
dalam jarak yang masih terjengkal
toh, ombak tak pergi kemana-mana
dan barque pun masih menopang angin samudra

dari ujung teluk ini, Utari
aku memandangmu tanpa alas kaki
tanpa epitaf yang gagal menuliskan sebuah nama

sebab semua nama
bagimu, Utari
tak lebih dari sekadar deretan luka

Jogja, 2019




Ode Untuk Waktu

sebab tak pernah tegas kau bercerita soal langit, tak pernah tegas berkisah soal surga di sela dua awan yang mengambang di kamarmu. tak pernah pula kau tulis surat untuk daun-daun gugur itu. lalu dimana ukiran wajahmu kau sembunyikan: di bangkai malam, di sebalik cermin buram, atau sebuah telegram yang tak pernah terkirimkan.

kau di mana, aku bertanya pada sisa swaramu yang mendengung di secangkir kopi pahit yang tak mampu kuhabiskan pagi ini. sebab semua begitu getir, saat tarianmu mulai mengalir, tanah basah depan rumah hanya bisa meraung melihat keningmu diukir mendung.

bukan pantai, hanya segaris senja di teras rumahmu yang tampak menyala. hanya secarik kertas berisi sebuah prosa tentang kematian. tentang tubuhmu yang mendadak dingin ketika kau lihat matahari di ujung jariku mulai pecah. seperti tak mampu kau temukan aku, kau bayangkan bergemetarannya bibirmu: mengucap namaku.

betapapun, aku ingin tahu di mana kau kini. sebongkah alamat yang teronggok di pucuk kartu pos bergambar nabi seperti benar-benar telah menyesatkanmu. jangan kau buang kartu pos itu, sebab aku masih mencarimu: sebuah alif yang begitu naif.

mungkin aku yang keliru menerjemahkan setiap kertap dan ceracap, yang selama ini selalu kau dengungkan ke dalam asbak yang penuh dengan bangkai bebatang kretek yang tak habis terhisap. maka, kuminta selalu salahkan aku, hanya demi segaris sungai di bibirmu yang selalu ingin kulihat meluap.

Jogja, 2019


===================
A. Junianto
, lahir di Surabaya, 4 Juni 1984 dengan nama lengkap Arief Junianto. Lulusan Sastra Indonesia Universitas Airlangga, Surabaya. Hingga kini karya-karyanya banyak terdapat di beberapa antologi bersama, seperti Monolog Kelahiran (Sasindo Unair, 2003), Senjakala (Lima, 2005), Ruang Hitam (Lima, 2006), Mozaik Ingatan (CdR, 2010), Menggapai Asmara (Mafaza, 2014), dan Di Balik Hitam Putih Kata (Poetry Praire Publishing, 2014). Karya-karyanya beberapa kali juga sempat dimuat di beberapa media cetak dan online lokal maupun nasional seperti, Bali Post, Suara Karya, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Media Indonesia, Radar Tasikmalaya, Lampung Post, dan Surabaya Post. Kini tengah menyiapkan antologi tunggal puisi berjudul Kota Api. Saat ini menetap di Bantul, DIY.

Mengisi Ruang Kosong Narasi Karaeng Naba (Sebuah Performing Art)

0



Narasi tentang Karaeng Daeng Naba disusun dari potongan-potongan cerita yang tidak nyambung satu sama lain. Beberapa versi menautkan sosoknya dengan tokoh-tokoh arus utama dalam sejarah Kerajaan Gowa-Tallo yang kemudian eksodus ke Jawa pasca-perjanjian Bongayya. Di lain versi, dia digambarkan sebagai pemimpin pasukan bayaran asal Makassar dan Bugis didikan kompeni di Batavia. Ada juga sumber yang menyebutkan sosok ini telah muncul di zaman pra-Mataram, yakni di masa kerajaan Pajang. Namun, di dalam setiap versi, Daeng Naba digambarkan berakhir di tempat yang sama dan meninggalkan jejak yang sangat kentara: keberadaan bregada prajurit Bugisan dan Dhaengan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serta tanah perdikan (sekaligus pembaringan terakhirnya) di Mlati, Sleman-Yogyakarta.

Boleh jadi, jejaknya itulah yang membuat narasi–di luar dari sumber keraton dan sumber “resmi” lain–tentang Daeng Naba dapat direproduksi sedemikian rupa. Sebab narasinya menyisakan begitu banyak ruang kosong yang bisa diisi siapa saja dan dengan apa saja. Tak pelak, narasi tentang Daeng Naba pun berkembang, bahkan kadang dimistifikasi dan diglorifikasi.

Ruang kosong tersebut juga berupaya diisi melalui pertunjukan ini dengan meminjam sosok Daeng Naba. Bukan sebagai figur historis, melainkan sebagai gagasan untuk membicarakan persoalan diaspora dan hibriditas orang-orang Makassar serta Bugis di Yogyakarta. Oleh karena itu, pertunjukan ini tidak berangkat dari satu narasi sejarah yang tunggal dan linier. Ia dibangun dari petikan-petikan narasi yang serba-beragam, yang kemudian disusun dan diolah menjadi satu skenario pertunjukan.

Pertunjukan ini berlangsung secara paralel di dua tempat, yakni di Makassar (Layar Putih, Tanjung Bayang) dan Yogyakarta (Omah Kebon). Dimulai dari Makassar dengan mengambil latar peristiwa pasca-perang Makassar, lalu berlanjut hingga ke tanah Jawa. Ada kebebasan yang direnggut pasca-perang, lalu berusaha dicari di tanah perantauan.

Diaspora, asimilasi, dan hibriditas yang menjadi episentrum isu dalam pertunjukan ini dibaratkan gedebog (batang) pisang yang hanyut dibawa arus air, yang akan membusuk di mana pun ia tertambat. Gedebog itu pada akhirnya memang bakal membusuk, tetapi pembusukannya bukan tanpa manfaat. Ia membusuk sekaligus menjadi nutrisi bagi tanaman-tanaman lain yang baru tumbuh. Begitu juga orang-orang Makassar dan Bugis yang hijrah ke Jawa pada masa pasca-perjanjian Bongayya. Mereka berakhir di tanah perantauan, tetapi meninggalkan warisan berupa jejak kebudayaan dan pengetahuan.

Selain menguji-cobakan format pertunjukan secara paralel di dua lokasi berbeda, Performing Art Karang Naba juga mencoba bermain-main dengan teknologi. Pertunjukan paralel ini memang mengandalkan teknologi digital untuk menghubungkan dua lokasi tersebut. Biasanya, sebuah (katakan lah) pertunjukan digital acap kali bermasalah ketika telah ditransmisikan, yang sekadar tampak serupa “dokumentasi pertunjukan”. Pengalaman estetis yang didapatkan ketika menonton pertunjukan secara langsung seolah hilang saat ia ditampilkan secara daring. Pertunjukan ini berupaya memberikan tawaran strategi artistik untuk menampilkan sebuah pertunjukan secara daring. Teknologi digital tidak hanya diposisikan sebagai alat, tetapi juga sebagai medium yang sangat menentukan dimensi estetis dari pertunjukan ini.

Menurut Wildan Noumeru, pekerja film yang didapuk menjadi sutradara pertunjukan ini, mengatakan bahwa pilihan untuk menampilkan karya pertunjukan secara real time melalui teknologi digital ini mempunyai tantangannya sendiri.

“Berbeda dengan film yang dalam pengambilan gambarnya bisa diulang-ulang untuk mendapatkan adegan atau shoot terbaik. Pertunjukan berbeda karena tidak dapat diulangi dan dipilah bagian mana yang akan diambil. Pada titik itulah pertunjukan real time dengan basis digital bisa menarik dan menantang, terutama ketika di dalam prosesnya ada kekeliruan atau kesalahan. Ia tidak dapat diulangi, tetapi perlu diimprovisasikan.”

Wildan menambahkan, sebagai sebuah karya eksperimental, salah satu capaian dari karya ini adalah sejauh mana nantinya mampu memberikan penawaran bentuk sajian seni pertunjukan yang tidak sekadar sebagai sebuah video dokumentasi pertunjukan.

“Ide awal pertunjukan ini sebetulnya sejak lima tahun lalu. Justru kondisi pandemi ini memicu kami untuk merealisasikannya sekarang. Kita tentu memahami saat ini kita dipaksa untuk berubah dan beradaptasi di segala aktivitas keseharian, dari tatap muka ke teknologi virtual, termasuk wilayah seni pertunjukan. Dalam proses latihan dan persiapan yang berjalan selama tiga bulan ini, kami benar-benar aware terhadap protokol kesehatan sebagai hal yang utama.”

Pertunjukan ini akan berlangsung hari ini di Makassar dan Yogyakarta, 11 November 2020, pukul 20.00 wita, via platform Youtube (Wildan Noumeiru), Facebook (Ahmad Wildan Noumeiru), dan Instagram (wildan.noumeiru).

*

Sutradara: Wildan Noumeiru
Koreografer tim Yogya: Abdi Karya
Koreografer tim Makassar: Abidin Wakur & Ariayanti Sultan
Komposer: Jagad Sentana Art-Solo & Taufik Akbar

Mengintip Kehidupan Keras di Jakarta Lewat Wesel Pos Milik Ratih Kumala

1



KALAU memosisikan diri sebagai pendatang yang mengadu nasib di Jakarta, bagi saya, hidup di sana pasti betul-betul tidak mudah melebihi hidup di kampung sendiri. Jangankan mengadu nasib, sehari berada di Jakarta saja saya sudah tidak betah dan menyerah dengan kemacetan, keruwetan, dan udaranya yang begitu panas. Memang, “Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.” (hlm. 1). Lantaran perlu kesabaran, kesiapan fisik dan mental, serta ketahanan yang tinggi agar tidak mati dikalahkan oleh kerasnya Jakarta. Kehidupan keras di Jakarta cukup jelas tergambar dalam Wesel Pos karya Ratih Kumala melalui kisah Elisa Fatunisa yang merantau.

Elisa hendak mengabarkan kematian Ibu pada kakaknya, Ikbal Hanafi, di Jakarta sekaligus mencari peruntungan dengan bekerja di sana. Belum lama tiba di Jakarta, Elisa sudah dihadapkan pada ketidakberuntungan, merasakan kerasnya Jakarta, dan kenyataan-kenyataan yang mengejutkan dirinya. Hidupnya sudah dramatis dan penuh ujian. Mulai dari kehilangan tas yang ia titipkan kepada ibu-ibu penjual kopi keliling, terjebak berjam-jam di kantor polisi, kesulitan menemukan kakaknya akibat informasi yang ia punya tidak lengkap, dicap perek oleh tetangga, hingga disebut sebagai cewek hot oleh bos penjual narkoba.

Berbekal alamat yang tertera pada wesel pos yang dikirim Ikbal, Elisa mencari Ikbal yang sudah lebih dari dua tahun tidak menjumpainya di Purwodadi. Namun, nyatanya tidak segampang yang ia duga. Minimnya informasi membuat Elisa kebingungan ketika ditanya mengenai Ikbal. Beruntung, sekuriti penjaga gerbang gedung di mana Ikbal bekerja menyuruh Elisa bertanya pada Fahri, sopir kantor pribadi Bos Lukman—pemilik Megantara Grup. Selagi mencari Ikbal, Elisa menumpang di rusun tempat Fahri tinggal. Tinggal bersama Fahri pun tidak mudah. Ia kerap menjadi bahan gunjingan dan menerima tatapan penuh curiga yang kurang menyenangkan dari tetangga.

Keesokan harinya, ketika Elisa sedang membereskan isi laci-laci lemari, ia terkejut sekaligus bingung mendapati bukti pengiriman wesel pos dan surat untuk Ikbal yang masih utuh dan belum terbuka—yang ia kirim beberapa minggu sebelum Ibu meninggal. Tak lama setibanya Fahri di rumah, Elisa langsung menanyakan hal tersebut dan mendapati jawaban yang membuatnya kehabisan kata-kata dan tak percaya. Kebenaran akan kiriman wesel pos yang rutin Elisa terima setiap bulan sekaligus menghapus rasa penasaran yang selama ini mengganjalnya. Kenyataan kadang memang menyakitkan dan pada akhirnya diam menjadi satu-satunya hal yang bisa kita lakukan.

Kabar dan segala hal yang ingin diketahui Elisa perihal Ikbal sudah ia dapatkan. Jelas tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain kembali ke kampung. Namun, terjadi sesuatu pada Fahri dan membuat Elisa memutuskan untuk tetap tinggal. Keputusan Elisa merawat Fahri dan kepedulian terhadapnya telah mengubah rencana dan ikatan antara keduanya. Elisa semakin mengenal Fahri dan mengetahui fakta kehidupan keras yang dijalaninya, baik untuk bertahan hidup dan menggantikan Ikbal maupun membantu keluarga yang kesusahan. Cerita kemudian berfokus pada Fahri dan upayanya untuk bisa lepas dari pekerjaan sampingannya sebagai kurir narkoba.

Penokohan yang Kuat dan Wesel Pos sebagai Penutur

Sama dengan dua buku Ratih yang sudah saya baca, penokohan dalam novelet ini pun kuat. Para tokoh yang dihadirkan, baik tokoh utama maupun tokoh yang hanya hadir sekejap, semuanya memiliki peran yang pas dan menggerakkan cerita. Tidak ada tokoh yang sekadar tampil dan mubazir. Salah satunya bisa kita lihat dari sikap empat tokoh yang paling menarik perhatian sejak awal; Elisa, Fahri, Bu Hilda, dan Mas Memet. Keempat tokoh yang, menurut saya, paling menghidupkan cerita. Elisa dengan keluguannya, Fahri dan kehidupan kerasnya, Bu Hilda dengan kekepoan dan penilaian negatifnya, serta Mas Memet dengan kelucuannya.

Kenaifan dan keluguan Elisa tampak jelas sejak cerita dimulai. Kita bisa lihat dari sikap Elisa yang percaya begitu saja kepada penjual yang kelihatannya baik dan menganggap semua pelaku kriminal bisa ditangkap dengan melapor pada polisi—termasuk percaya polisi bisa menangkap gembong narkoba dan membereskan masalah Fahri. Kesederhanaannya terus diuji selama tinggal di Jakarta. Di mata Elisa seperti tidak ada orang yang betul-betul jahat dan semua masalah bisa diselesaikan dengan cara yang menurutnya benar meskipun tidak sesederhana kelihatannya.

Pilihan-pilihan yang diambil Fahri mulanya muncul atas dasar peduli dan pertalian saudara yang, walaupun tidak baik, tetap ada keterikatan. Hal ini terlihat dari niat baiknya untuk memperbaiki hubungan dan menolong sekalipun harus bekerja dengan bos penjual narkoba. Gaji yang pas-pasan dan banyaknya biaya yang mesti Fahri penuhi memaksanya untuk mengambil jalan pintas. Kalau melihat realitas, tokoh Fahri ini tampaknya hampir mustahil ada. Mungkin ada, tetapi saya pikir sangat sulit menemukan laki-laki yang masih bisa bersikap baik ketika bertemu perempuan naif seperti Elisa.

Ratih menggambarkan secara jelas bagaimana kebanyakan orang sering menilai dan berasumsi yang tidak-tidak terhadap seseorang seakan-akan asumsinya benar—misalnya, anggapan umum tentang laki-laki dan perempuan yang tinggal seatap dan bukan muhrim—dan rasa kepo yang besar atas kehidupan seseorang lewat Bu Hilda dan gunjingan lain yang diselipkan dalam narasi. Mas Memet boleh dibilang sebagai penyimbang tokoh Bu Hilda yang cukup menyebalkan. Sebab, kelucuannya mampu menetralkan kesebalan, baik dari cara berbicara, banyolan, maupun ucapannya.

Deskripsi yang detail tentang kebiasaan tokoh, tempat, dan lain-lain membuat ceritanya semakin terasa nyata dan dekat. Namun, sayangnya, penggunaan Wesel Pos sebagai penutur justru terasa semakin hilang menjelang pertengahan buku. Cerita dari kacamata Wesel Pos hanya ada pada empat bagian awal, kemudian keberadaannya tidak diketahui dan sampai bab sepuluh tidak diceritakan lagi sehingga memunculkan keanehan. Lantaran pada bab akhir tiba-tiba muncul penuturan Wesel Pos yang seolah-olah selalu melihat atau tahu setiap peristiwa yang terjadi, baik di unit Fahri maupun di luar. Sudut pandang yang digunakan pun berujung kurang jelas.

Kehidupan kaum kecil yang disajikan dalam Wesel Pos cukup menarik dan memperlihatkan Jakarta yang sulit ditaklukkan, serta orang sakti dan orang sakit yang hidup di Jakarta—meskipun dari segi cerita kurang memuaskan dan kurang gereget karena konflik yang sederhana dan plot yang mudah tertebak. Selain itu, hampir serupa dengan cerita-cerita yang biasa kita jumpai dalam film televisi (FTV). Namun, wajar saja kalau melihat dari bentuknya dan mungkin memang Ratih sengaja mengambil tema yang ringan agar bisa dihabiskan dalam sekali duduk.

Novelet ini tidak berhasil membuat saya takjub seperti ketika membaca Gadis Kretek—novel sarat pesan yang memuat sejarah kretek di Indonesia—maupun kumpulan cerpen menyenangkan berisi cerita-cerita tidak membahagiakan dalam Bastian dan Jamur Ajaib. Akan tetapi, Wesel Pos berhasil menghibur lewat penokohan yang kuat dan penceritaan yang apik. Keadaan kadang mengharuskan kita untuk bertahan dan memilih pilihan ataupun jalan yang bertentangan dengan hati—seperti yang dilakukan Fahri dan Elisa—sekalipun kita tidak tahu kedua hal itu akan membawa kita pada keberuntungan atau kemalangan lainnya, bahkan akhir yang tragis.

Kamera Pak Burhan

0



Apa pasal kasur tak mengering meski telah berhari-hari dijemur? Tentu tak ada jika hujan usai bergeser ke timur. Namun karena basah hati tak jua bersua penawar, maka basah kasur oleh amuk sungai Deli beberapa hari yang lampau tentulah menjadi amat sulit mengering.

Sedianya, sewaktu hendak menegakkan rukun Islam di hulu hari, Pak Burhan malah mendapati istrinya tak bangun subuh bersamanya. Tak ada yang menyangka sekalipun Pak Burhan juga Mak Sarinah barangkali, jika salat isya semalam adalah salat terakhir mereka sebagai pasangan yang terikat sumpah setia. Sumpah yang seperempat abad lebih mereka gotong dalam mengarungi legitnya suka dan bangkarnya duka. Lebih memilukan, sebelum tanggal di almanak gugur berganti, Mak Sarinah sama sekali tak merasakan ganjil di tubuhnya. Namun makhluk apa yang dapat menawar datangnya janji? Mak Sarinah pun pamit tanpa berpamitan.

Selesai mengembalikan Mak Sarinah ke muasal segala asal, satu demi satu tetangga yang mengantarkan Mak Sarinah menyodorkan pamit kepada Pak Burhan, kecuali seorang anak remaja tanggung tetangga Pak Burhan yang bernama Imam. Saban sore ia memang selalu main ke rumah Pak Burhan.  

Sekiranya Imam diberikan pilihan saat itu, pulang ke rumahnya atau tetap menemani Pak Burhan, pastilah ia memilih pulang beristirahat. Sebab sejak kabar duka itu menghampirinya, tak sedetik pun ia beranjak dari bahu Pak Burhan. Namun karena si bungsu Taufik yang suka mabuk tak terlihat urat lehernya, Imam pun menarik niat yang nyaris menjulur dari mulutnya.

Sungguh, selain Taufik pemabuk itu, Pak Burhan sebenarnya masih memiliki seorang lagi jantung hati. Marina namanya. Mula-mula merantau, Marina ingat pada orang tua. Selain mengirim uang, Marina pun tak luput berkabar. Minimal seminggu sekali. Tetapi beberapa tahun belakangan, jangankan uang, suaranya pun sudah tak terdengar lagi di telinga Pak Burhan.

”Ayah, Marina boleh cari kerja ke Bali?”

Lama Pak Burhan memilih-milih jawaban. Kecemasan begitu amat kasat mata terbit dari air mukanya. Wajarlah! Orang tua mana yang tak risau anak perawan jauh dari rumah. Dalam kebuntuan itu, Pak Burhan malah terjatuh menyorongkan pertanyaan.

”Mau kerja apa kau, Na? Ada saudara kau di sana?”

”Ina punya kawan kok, Yah. Si Nita, kawan sekolah Ina yang pernah Ina bawa menginap tempo hari. Ayah ingat tidak? Dia sudah sebulan di Bali. Katanya enak cari uang di sana.”

”Iya, tapi kerja kau di sana, apa? Sekolah saja kau belum tamat. Nanti kesasar-sasar kau baru tahu!”

”Kan ada si Nita! Kalau soal kerja banyak, Yah. Ina bisa kerja di restoran, kafe atau bar. Gajinya besar! Nanti Ina bisa bantu-bantu ayah dan mamak di sini. Boleh, Yah?”

Benteng pertahanan Pak Burhan roboh, habis digempur Marina. Bendera putih pun Pak Burhan kibarkan—tak kuat melihat nyala api memancar dari mata Marina. Setali dengan Pak Burhan, Mak Sarinah pun lebih-lebih tak berdaya bahkan tatkala Marina dengan sedikit tertatih menyeret koper—milik mereka dulu saat merantau ke Tanah Deli dari Bukittinggi—ke cerat pintu.

***

Nyaris sepertiga bulan setelah Mak Sarinah kembali kepada Sang Khalik, batang hidung Taufik dan Marina tak juga tampak. Begitu pula Pak Burhan, masih enggan menyapa kicau burung pagi. Beruntungnya, Imam selalu sedia mengeringi hati Pak Burhan yang basah. Sampai-sampai urusan makan-minum ia kerjakan.

Amboi, seakrab itukah Imam? Ya, bak empedu lekat di hati. Berlebih lagi Imam yatim sejak lahir. Ditambah pula Pak Burhan selalu mengajak Imam memotret turis-turis lokal ataupun mancanegara yang berkunjung ke Masjid Raya Al Mashun, Istana Maimun, dan sekitar Taman Sri Deli.   

Itulah mengapa saat malang menerjang Pak Burhan, sempat terbetik niat Imam mengambil alih pekerjaan memotret turis. Akan tetapi sungguh berat lidah menyampaikan, mungkin Imam khawatir tak mendapat restu. Terlebih kamera SLR Canon G III QL milik Pak Burhan tergolong sulit ditakluki.

“Ini kamera lama, Mam. Jika tak pakai hati memegangnya, bisa tak nyala dia,” gurau Pak Burhan sekali waktu.

Sungguh tak berlebihan orang tua itu perihal kameranya. Kisah yang melekat pada kamera itu bukan sembarang.

“Kau tahu, Mam? Ini kamera bapak dapat dari kawan di Kowilhan pasca meletusnya Peristiwa 65. Waktu itu kawan bapak kasihan melihat bapak luntang-lantung tak ada pekerjaan. Alkisah, dimintanya bapak datang ke Kowilhan untuk membantu dia memotret orang-orang yang dituduh PKI. Tentu saja tawaran itu bapak terima. Meski sebenarnya bapak tak pandai menyalakan kamera. Apalagi menggunakannya,” cerita Pak Burhan bersemangat diselipi tawanya yang khas.   

”Tapi jujur, bapak tak sampai hati memotret mereka, Mam.” Tiba-tiba suara Pak Burhan parau seperti mengisyaratkan kesedihan dan penyesalan yang dalam.

”Kenapa, Pak?” sela Imam.

”Tak mengapa, Mam,” Pak Burhan memungut nafas panjang melepaskan segumpal beban yang jenak menindih tipis dadanya.

”Nah, setelah pekerjaan memotret orang-orang itu selesai, kamera bapak kembalikan. Semula diterima kawan bapak. Tapi seminggu kemudian dia mendatangi rumah kontrakan bapak dan menyerahkan kembali kamera itu,” Pak Burhan memetik udara lalu menyambung cerita. ”Katanya, dia selalu mimpi buruk setiap malam setelah membawa pulang kamera itu ke rumah. Mimpi didatangi manusia-manusia tanpa kepala.”

”Lalu kenapa bapak terima kamera itu? Tidak takut mimpi didatangi manusia tanpa kepala seperti mimpi kawan, bapak?” kejar Imam penasaran.

”Ya, semula bapak juga takut, Mam. Tapi karena tak punya pekerjaan, bapak terima saja kamera itu. Bapak pikir kamera itu pasti ada gunanya. Ternyata benar, sampai hari ini kamera itu yang menopang bapak menafkahi keluarga.”

”Bapak tidak pernah mimpi didatangi manusia-manusia tanpa kepala itu?”

”Tidak, Mam. Sekalipun tak pernah bapak mimpi seperti itu. Mungkin pandai-pandainya kawan bapak saja bercerita.”

”Maksudnya, Pak?”

”Ya, maksudnya, biar kamera itu untuk bapak. Lagi pula diakan tahu kalau bapak pengangguran. Hitung-hitung dia bantu bapaklah, Mam.”

”Ooo…” sambut Imam dengan anggukan kepala.

Ihwal itulah yang akhirnya menyeret Pak Burhan menyelami profesi tukang potret keliling. Entah sudah berapa banyak kenangan diawetkan Pak Burhan dalam kamera, bahkan ketika teknologi semakin menepikan segala hal yang berbau manual, Pak Burhan surut mundur dari pekerjaan yang telah membuatnya dikenal orang banyak.

Jika pun sungguh ditelisik, cintanya pada kamera serta pengabdiannya mengawetkan kenangan bukanlah semata alasan ia masih lihai berseloroh dengan para pelanggan. Apalagi usia tentu tak pandai bersembunyi. Namun janji haruslah tunai dibayar! Meskipun kepada anak kandung sendiri—janji membelikan Taufik sepeda motor. Konon, itulah penyebab si Taufik pemabuk enggan berlama-lama duduk di bangku perguruan tinggi.

Ampun! Seperti mendapat label pembenaran, Taufik pun merasa pantas serta berhak uring-uringan jika sedang di rumah dan mabuk jika di luar rumah. Hidup teratur sekarang adalah yang tak teratur menurutnya. Sujud pun kontan tak dikerjakan bahkan melayangkan lengan ke wajah orang tuanya, sungguh tak sungkan Taufik lakukan.

***

Sepertinya kasur sudah mengering dan matahari sungguh teramat terik. Lagi pula tak elok terlalu lama menjemur duka. Bukankah hidup pantang hanyut ke belakang? Ya, itulah mengapa hari ini dengan semangat yang masih menyembul-nyembul Pak Burhan tekad keluar mengekas rezeki. Sekalipun sangon duka yang Pak Burhan terima cukup berdaging, tetap saja jerih keringat lebih lempang di kerongkongan. 

Lantas, siapa sangka istirahat panjang malah melicinkan rezeki! Sampai-sampai Pak Burhan tak lepas sahut-menyambut panggilan turis mancanegara. Walaupun hanya dibesarkan dengan sekolah bambu, dua bahasa asing benua biru begitu gemulai di lidah Pak Burhan.

Demikianlah, untung-malang adalah mempelai teka teki. Pak Burhan niat membagi sukacitanya dan ingin mengajak Imam makan enak selepas magrib. Betapa bahagia seharusnya pulang ke rumah nanti. Namun, setiba kaki menjejak di moncong pintu, Taufik yang terlihat gayang langsung melantas Pak Burhan.

”Sini! Sini, kamera itu!” kata Taufik dengan mulut busuk tuak.

”Untuk apa sama kau, Fik?” pelan Pak Burhan bertanya.

”Bukan urusan, Ayah! Sudah sini! Cepatlah!” suara Taufik meninggi ke udara. Pak Burhan bergeming. Ia masuk ke kamarnya, meninggalkan Taufik di ruang tamu yang mulai beringas. Darah Taufik mendaki makin ke puncak. Disusulnya Pak Burhan ke kamar dengan sebilah pisau lipat.

Sungguh, baru satu-dua kancing kemeja yang Pak Burhan lepaskan, Taufik yang sudah seleher tiba-tiba masuk sambil mengayunkan pisau ke arah perut Ayah kandungnya. Nasib baik. Tusukan Taufik meleset. Tapi, sehebat apakah orang tua seperti Pak Burhan sanggup terus-menerus mengelak?

Taufik muntab. Melaung mengeluarkan kata-kata kotor. Didekatinya Pak Burhan yang semakin tersudut. Dan…

Krepaaaak.

Taufik roboh. Kental darah lamat-lamat menggenangi lantai kamar Pak Burhan. Hening sesaat. Kemudian…

“Lari! Cepat lari! Tak usah pedulikan dia! 

Surabaya, 2019



=====================
Ilham Wahyudi lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Ia seorang fundraiser dan penggemar berat Chelsea Football Club. Beberapa karyanya telah dimuat di koran-koran dan antologi.

Terbaru

Nasib di Tikungan Jalan

Memasuki tahun kedua, Re merasa orang-orang terdekat mulai keberatan dengan keadaan dirinya. Meski tidak disampaikan secara langsung, satu persatu dilihatnya telah menunjukkan...

Menjaga Nenek yang Sakit

Surat-Surat Cahaya

Ping & Pong

Dari Redaksi