Warta

Home Warta

Zikir Sepanjang Jalan

0


Seperti Kata, Fana

aku piatu
di kota tanpa ibu
kurindu payung
lindungi airmata
tak basahi diriku

selebihnya kau beri makna
aku — seperti kata, fana

kau yang menuntunku
dari ranjang yang belum
dibersihkan dari darah
kelahiranku;
“mataku kupinjam dari
matamu.” —

aku dibangunkan
riuh iringan di luar
: kiranya aku yang
ditandu. kau berjalan
di bawah katilku

selamat siang,
aku lupa terjaga
pagi tadi

2019/2020





Kalau pun Aku Mati

setelah tiba di kepala gunung itu
aku pun tak lagi mendongak, tapi
kuluruhkan pandang ke lereng jauh
segala hanya lembaran tikar
          tiada lagi lawan di sini
sebab aku adalah kawan juga musuh

dengan bayang aku bertengkar
pada tanganku saling cakar
di mataku setiap kulihat samar
masuk ke hati, tubuhku gemetar

di gunung itu kuterima suratsurat itu

sesampai di laut luas, baru kurindu
pulau mana pernah mengawinkan
sepasang kekasih, dan jadi aku
yang juga melata di luas tanah

       seekor ikan di depanku. sungguh,
kuingin lelap di perutnya. sampai
suatu kelak aku dilepeh ke daratan
“mahasuci Kau, aku termasuk orang
zalim!”

aku sendiri, hilang musuh pergi kawan

kalau pun aku mati
kau ziarah ke laut ini

tapi, sekiranya hutan menyesatkan aku
ke gunung aku tak punya kabar
di laut aku kehilangan mercusuar

kepada-Mu aku meminta?





Tentang Si Kisah

si kisah itu begitu cepat
menamatkan ceritanya
dari impian akan dikisahkan
bagi yang datang
kemudian. “biarkan yang
telah pergi membawa
kisahnya sendiri,” katanya
dalam dialog entah di halaman
berapa

kini, ini malam, ia rampungkan
kisahnya. si kisah mengatakan,
setelah ini hanya ingatan
tentangku: orang yang berada
di balik ceritacerita. dalam
halaman demi halaman kertas

         – di panggung ke panggung
            hanya si kisah. “itu namaku.” –

si kisah itu menamatkan lebih
cepat ceritanya. seperti terburuburu,
seakan ada yang menunggu cemas
di luar sana. “aku tak akan menunda
dan memanjangmanjangkan kisah ini,
ia sudah menagih. aku berutang,” kata
si kisah kemudian keluar. cepat sekali

2021





Tuhan, Betapa Dekat Kematian

alangkah akrab aku dengan kepergian
aroma bunga dan setanggi, dengung
tangis dan ketukan duka, kepala tertunduk
bersama zikir sepanjang jalan ke makam;
alangkah akrab begitu kematian

dari namanama yang tak bisa kusebut,
hingga orangorang yang amat dekat;
sebagai tubuhku juga, yang kadang
sakit perih lalu tertawa dan kembali sepi

sepilah aku, sepi tanpamu lagi

o Tuhan
betapa dekat kematian itu
kini





Buka Dirimu

bawakan pagi ke mari
malam amat letih
dan minta dilipat
sejak tadi, sebelum
tiang listrik dipukul
peronda yang jahil
(ia kira suara itu
membuat lari pencuri)
lalu aku lupa langkah
waktu, dingin di dinding
semayam di tidurku

     kau tahu, aku mimpi dirimu
     kuseret ke semak taman itu
     batang rumput kuyup; peluhku
     pengembara. telah kusunting
     tubuhmu ke dalam buku ini
     tertulis lekuk-molek di baitbait
     puisi. “bukankah kita petualang
     dan tak seorang petarung?”

kau buka dirimu, seluas taman
setinggi gunung. sedalam laut
yang tak terukur lebarnya: maut?

Pada liku tubuhmu
kueja setiap jejakku
yang turut putaran waktu
: langkah tak lelah

“kecuali aku,” kata usia





Panjang Dan Berkelok

Perjalanan Ini

panjang dan berkelok
perjalanan ini sebelum sampai
di ruangan; hanya aroma obat
selang yang terhubung di hidung
di situ mengalir antara mati
dan hidup; angka yang menurun
dan naik. serupa burung terbang
nuju langit atau pulang ke ranting

dunia goyang mata kerlip bagai
bintang, usia dimainkan gelombang:
dihanyutkan jauh atau diam dia pantai
menanti senja, menunggu subuh

di tangan cahaya suluh





Kepada Yang Berulang Tahun

                                    * Faisol Mursaid

kepada kau yang berulang tahun
kuberi sepohon usia padamu
nikmati sejuk anginnya, pilihlah
buahbuah manis-asam-kecut
darinya. cukup, sisakan untukku
seranting keriangan; ingin
kuhapus cemas dan ketakutan ini

     ketika badai ini kian amuk
         aku bisa mati terkutuk
           tak mampu ke pucuk
              ditolak oleh tanah

pandemi ini
      pandemi ini
seperti gurita abadi

cukup rayakan di satu meja
kecil, tiada lilinlilin itu
lupakan setampuk tart

pejam mata: adakah perjalanan
masih panjang yang terbentang
di depan? laut masih tak terbaca
padangpadang terhampar
                     sesak belukar

jalanlah!

aku ingin pula melangkah
tetap ingin menyanyikan
hidup yang jauh dari badai






===================
ISBEDY STIAWAN ZS lahir dan sampai kini menetap di Tanjungkarang, Lampung. Ia menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik. Saat ini sdh merampungkan trilogi buku puisi bertema kematian, kritik, dan pandemi covid yakni Burungburung dan Kisah Lain, Buku Tipis untuk Kematian (siap diterbitkan basabasi Yogyakarta), dan Musim Kabung.

Pecahan Lima Puluh Sen

0

1

SUDAH jadi perihal lumrah bila uang saku dua Yen yang diterima di tiap awal bulan ditaruh di dompet Yoshiko oleh ibunya dalam wujud empat keping uang logam pecahan lima puluh sen.

Jumlah koin-koin tersebut dalam peredaran kian menyusut di hari-hari itu. Mereka, koin-koin itu, tampak mengkilap dan punya bobot masa, dan mereka rupanya cukup punya makna bagi Yoshiko, yakni sebagai pengisi dompet kulit warna merahnya laiknya sebuah kemantapan harga diri. Agar tidak bersikap boros pada uang sakunya, Yoshiko sering menyimpan koin-koin itu pada satu kantong dalam tas tangannya hingga pengujung bulan. Dia tidak mencibir secara menggebu-gebu kesenangan anak-anak gadis sepantarannya yang pergi ke bioskop atau pergi ke kedai kopi bersama teman kerja, tapi sederhana saja: ia melihat kesenangan-kesenangan demikian sebagai hal yang berada di luar alur hidupnya. Kendati tak pernah punya pengalaman dengan hal-hal tersebut, dia tidak sekalipun tergiur.

Sekali dalam sepekan, sepulang dari kantornya, dia akan berhenti di sebuah pusat perbelanjaan dan membelanjakan sepuluh sen uangnya untuk sekerat roti asin Prancis yang sangat disukainya. Di luar itu, tidak ada hal yang secara istimewa jadi keinginannya.

Suatu hari, di toko alat tulis di daerah Mitsukoshi, sebuah penindih kertas dari kaca menyita perhatiannya. Berbentuk segi enam, ada bentuk gambar anjing di permukaannya yang timbul. Karena menyenangi anjing, tangan Yoshiko mengambil paperweight itu. Begitu mengharukan, tak disangkanya benda itu memuat perihal yang tiba-tiba memberinya sebuah rasa senang. Dia menyukai benda jenis itu, dari halusnya pengerjaan, sampai-sampai dirinya kemudian kepincut. Dia menimang-nimang benda itu di telapak tangannya, melihatnya dari berbagai sudut, dan dalam sebuah keengganan menaruh benda itu kembali ke tempatnya. Harganya empat puluh sen.

Dia kembali pada hari berikutnya dan meneliti penindih kertas itu lagi dengan cara yang sama. Dia datang dan melihatnya lagi pada hari sesudah itu. Setelah sepuluh hari, dia akhirnya memutuskan.

“Saya mau ambil ini,” ucapnya pada karyawan toko berbareng degup jantungnya yang kencang.

Saat tiba di rumah, ibu dan kakak perempuannya tertawa berolok-olok.

“Bagaimana bisa kamu membelanjakan uangmu hanya untuk satu mainan begini?”

Namun ketika masing-masing dari mereka mengambil benda itu dari tangan Yoshiko seraya saksama meneliti, mereka kemudian berucap, “Pilihanmu tepat, benda ini memang cantik. Dibikin dengan apik pula.”

Mereka menaruh benda itu dekat lampu. Permukaan kaca yang bening bersemburat selaras dengan gambaran kabut yang membeku di sisi kaca yang timbul, dan ada sebuah keelokan tak terperi pada bidangnya yang segi enam. Bagi Yoshiko, itu adalah sebuah kerja seni adiluhung.  

Setelah memakan waktu tujuh hari, delapan hari dan seterusnya demi menentukan bahwa si penindih kertas adalah sebuah benda miliknya yang cukup berharga, Yoshiko tak ambil peduli apa kata orang lain tentangnya, namun merasa aneka kebanggan atas anugerah itu berasal dari ibu dan kakaknya.

Bahkan jika dia ditertawakan untuk perhatian yang berlebihan—mengambil sepuluh hari itu demi membeli sesuatu bernilai empat puluh sen—Yoshiko tidak mengelak. Dia tidak akan menyesal karena terpacu membeli sesuatu di kala itu. Yoshiko si gadis tujuh belas tahun tidak (atau belum) memiliki satu jenis kecermatan membedakan, bahwa dia telah menyia-nyiakan hari-harinya dan berpikir menuju satu keputusan yang sembrono. Singkatnya, dia kemudian takut sekaligus khawatir pada kecerobohannya membelanjakan koin logam pecahan lima puluh sen yang dirogohnya dalam-dalam dari sesuatu yang selama ini dianggapnya penting itu.

Ketika cerita tentang penindih kertas hadir tiga tahun kemudian dan setiap orang meledakkan tawa olok-olok, ibunya berucap lirih dari hati, “Ibu pikir perangaimu cukup manis kala itu.”

Anekdot menyenangkan sejenis ini lalu disematkan pada tiap-tiap barang kepunyaan Yoshiko.

2

MEREKA mulai ambil lift ke lantai lima Mitsukoshi karena merasa lebih mudah berbelanja dari lantai atas ke bawah. Yoshiko telah sepakat menemani ibunya di suatu hari Minggu, berbelanja.

Kegiatan berbelanja di hari itu mestinya sudah selesai manakala mereka mencapai lantai bawah, namun sang ibu meneruskan turun ke sejenis tempat cuci gudang di basement yang tentu saja bakal menjadi persoalan buatnya.

“Di sana penuh sesak, Bu. Saya benci tempat itu,” Yoshiko bersungut-sungut, namun sang ibu kadung tenggelam dalam suasana berlomba-rebut barang-barang, hanya sesekali memandang ke Yoshiko, namun tak mendengar si anak.

Tempat cuci gudang telah diatur sedemikian rupa, semata-mata dan seolah-olah untuk membuat orang-orang menghambur-hamburkan uang mereka, tapi kemudian dia berbaik sangka: mungkin ibunya akan memperoleh sesuatu. Yoshiko mengikutinya dari sebuah jarak, mengawasinya dengan pandang mata. Ada penyejuk ruangan menyala di dekatnya sehingga tak dirasanya udara panas yang menekan-nekan.

Mula-mula sang ibu membeli tiga kotak alat tulis berbandrol dua puluh lima sen, lalu menoleh ke Yoshiko. Mereka bertukar senyum. Terakhir, begitu ibunya menggunakan alat-alat tulisnya, Yoshiko merasa sangat jengkel. Sekarang kita bisa mengaso, demikian kiranya yang tersirat dari mata mereka begitu bertubrukan.

Melangkah mendekat ke gerai alat-alat dapur dan pakaian dalam, sang ibu tidak cukup berani mendorong langkahnya menyelinap dalam kerumunan. Ia berjinjit, menerawang ke atas pundak orang-orang, atau mengintip dari sela-sela lengan mereka, tapi tak membeli apa pun, malahan menuju ke pintu keluar, mondar-mandir gamang kalau-kalau tak memperoleh barang-barang kebutuhannya secara lengkap hingga akhirnya menyerah.

“Oh, barang-barang ini hanya sembilan puluh lima sen? Sa…” sang ibu mencomot satu payung yang dijajakan di dekat pintu keluar. Ketakjubannya pada setiap payung membawanya iseng meneliti gagang-gagang payung yang sama-sama mencantumkan harga sembilan puluh lima sen. Ia lalu berucap seolah energi dalam tubuhnya terisi kembali, “Barang-barang ini cukup murah, kan, Yoshiko? Begitu, kan?” seolah ia enggan meninggalkan jalan keluar yang ditemuinya. “Jadi, tidakkah kamu berpikir barang-barang ini murah?”

“Tampaknya begitu.” Yoshiko mencomot satu juga. Sang ibu pun meraih dan membuka payung di genggamannya samping menyamping dengan posisi berdirinya.

“Tepiannya sendiri memang murah dari segi harga”, kata sang ibu, “kainnya—ya, rayon, tapi dibuat amat baik, tidakkah kamu berpikir begitu juga?”

Bagaimana mungkin menjual benda bermutu patut begitu dengan harga demikian murah? Tak berapa lama pikiran aneh berkelebat di benak Yoshiko, seperti sebuah kebencian dalam dirinya atas ketertipuan mengambil produk cacat. Sang ibu mencoba menguaknya melalui gagang, membukai payung-payung itu satu demi satu demi memperoleh satu yang sesuai dengan usianya. Yoshiko menunggu beberapa menit sebelum berkata, “Ibu, bukankah Ibu sudah punya satu untuk digunakan tiap hari di rumah?”

“Ya, tapi itu satu…”, ia mengedip ke Yoshiko. “Payung itu sudah sepuluh tahun, ah tidak, lebih malah. Ibu telah memilikinya sejak lima belas tahun lalu. Dia, payung itu, usang dan kelewat tua. Akan tetapi jika Ibu memberikan payung ini pada seseorang, alangkah akan gembira dan semringah orang itu.”

“Benar. Alangkah baik jika Ibu membeli payung ini sebagai sebuah hadiah.”

“Siapa pun akan gembira mendapatkannya. Ibu yakin.”

Yoshiko tersenyum, namun dia ragu, berpikir kalau-kalau sang ibu benar-benar memilihkan payung-payung itu untuk seorang lain. Secara pasti, tidak ada seseorang yang dekat dengan mereka. Kalaupun ada, sang ibu tidak akan mengatakan “seseorang”.

“Bagaimana dengan yang satu ini, Yoshiko?”

“Hmmm, saya merasa kurang cocok.”

Yoshiko tak menunjukkan antusiasmenya, namun dia selangkah lebih dekat ikut mencari, berharap menemukan satu payung yang akan cocok dengan selera sang ibu.

Para penunjung toko yang lain, yang mengenakan gaun tipis musim panas dari rayon, sama-sama hilir mudik, lalu dengan cepat menyerbu payung-payung yang menarik perhatian mereka sebagai barang murah itu.

Yoshiko agak menyesal—dan murka pada dirinya sendiri—karena sikap ogah-ogahannya dalam membantu sang ibu yang tengah gerah dan tampak tegang.

Yoshiko berbalik, mendekati sang ibu, bersiap mengatakan, “Mengapa hanya beli satu, seseorang, cepat-cepat?”

“Ayo kita sudahi saja, Yoshiko.”

“Apa?”

Sang ibu tersenyum tipis, merangkul pundak Yoshiko seolah telah mengusir sesuatu yang mengganjal dan bergeser pergi dari toko tersebut. Kini keadaan berbalik, Yoshiko jadi menginginkan ini-itu, namun lima atau enam langkah yang ia tempuh mengantarnya pada perasaan lega.

Demi menyambut rangkulan sang ibu di pundaknya, dirapatkannya rangkulan itu dan ia ganti mengayunkan lengan. Keduanya pun saling rangkul, lekas-lekas menghampiri pintu keluar

Itu terjadi tujuh tahun silam, pada suatu waktu berangka tahun 1939.

3

MANAKALA hujan menumbuk lembaran logam bekas atap gubuknya yang hangus, Yoshiko mendapati dirinya sedang berharap—mereka membeli sebuah payung kala itu. Juga harapan dia dapat berkelakar bersama sang ibu tentang satu atau dua ratus Yen yang jadi harga payung saat ini. Namun sang ibu telah mati dalam satu ledakan bom di Kanda, Tokyo, lingkungan mereka.

Bahkan jika mereka membeli payung, benda tersebut mungkin akan habis dilahap api.

Beruntung, penindih kertas atau paperweight dari kaca itu selamat. Saat rumah mertuanya di Yokohama terbakar, penindih kertas itu adalah satu dari aneka jenis barang yang dimasukkaanya secara tergopoh-gopoh ke dalam tas darurat, dan sekarang benda itu jadi satu-satunya kenang-kenangan hidup di rumah masa kanak-kanaknya.

Begitu sore tiba, di lorong jalan, dia dapat dengar tangisan aneh gadis-gadis tetangga. Rumor yang sering berdengung mengatakan bahwa mereka bisa menghasilkan seribu Yen dalam satu malam. Saat ini dan seterusnya dia akan mendapati dirinya sendiri menggenggam paperweight empat puluh sen yang dibelinya setelah melewati kebimbangan sepuluh hari di mana saat itu ia barulah seusia gadis-gadis tersebut. Dan ketika dia mempelajari anjing kecil manis pada sisi permukaan yang timbul, ia akan menyadari seraya terkejut, bahwa tak seekor pun anjing tinggal di seluruh lingkungan yang terbakar.

(1946)



=====================
Cerpen di atas adalah satu dari sekian cerpen yang pernah ditulis oleh Yasunari Kawabata, pengarang kenamaan Jepang yang meraih Penghargaan Nobel di bidang kesusastraan pada 1968. Diterjemahkan Lane Dunlop dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris dengan judul “The Silver Fifty-Sen Pieces”, termuat dalam kumpulan cerita: “The Penguin Book of Japanese Short Stories” susunan Jay Rubin, terbitan Penguin Classics, 2018. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Hari Niskala.

Tunggal dan Tanggal di Tubuhmu

0


Kabar Gembira

Telah lahir dengan selamat dan ceria
Anak kami yang bernama Puisi

Ia lahir dari Ibu Bahasa Indonesia yang lucu
Dan malu-malu pada tanggal 28 Oktober 2021

Semoga puisi menjadi anak yang berbakti
Berguna bagi Bangsa, Negara, Agama dan
Cinta

Sumpah Pemuda 28 Oktober, 2021





Mata-Mata

Semua orang memiliki hak dan kewajiban
Yang sama di depan Mata Najwa

Sedang di mata hukum tergantung
Budgetnya.

September, 2021





Terima Kasih

Terima kasih sudah mau jujur dan
Terang-terangan masalah pendapatan
Dan tunjangan per bulan

Terima kasih sudah berani bersuara
Saat banyak yang memilih bungkam
Demi kepentingan pribadi dan
Golongannya

Terima kasih kami ucapkan atas segala
Keberanian dan kejanggalan yang dibuka

Atas nama rakyat yang optimis dan gembira,
Segala sesuatu yang menjadi milik bersama
Akan kami tagih dengan seksama dan dalam
Tempo yang sesingkat-singkatnya.

September, 2021





Keadilan?

Keadilan seperti apalagi yang
Hendak diperjuangkan?

Hutan telah gundul
Lautan menghitam
Langit penuh asap pabrik
Lalu daratan?

Di daratan sudah tidak ada tempat
Lagi untuk berdiri, semuanya menyempit
Penuh sesak dan sesal

Keadlian seperti apalagi
Yang hendak dipertahankan?

Keadilan sudah langka, yang punya
Cuma orang-orang kaya

September, 2021





Untuk Siapa Saja Yang Merasa Perlu Membacanya

Untuk mimpi yang belum terealisasi
Untuk cita-cita yang harus mundur dari rencana
Untuk pendidikan yang sedang diusahakan selesai tepat waktu
Untuk masa depan yang sering jadi pertanyaan

Untuk orang tua yang tanpa lelah dengan doanya
Untuk cinta yang merasa kesepian
Untuk ekspektasi yang sering digagalkan realita
Untuk siapa saja yang merasa perlu membacanya
;
Untuk dirimu yang harus terus tumbuh meski
Sering runtuh.

Oktober, 2021





Panduan Kangen Dan Rindu

Lihat dadaku penuh dengan rindu
Ada yang sunyi dan ada yang sendu

Setiap hari puisiku basah semua
Sebab kangen dan rindu adalah
kotamu

Oktober, 2021





Panduan Mencintaimu

Aku ingin tinggal,
Tunggal,
dan tanggal
Di tubuhmu

Oktober, 2021








===================
Raditya Andung Susanto, penyair kelahiran Bumiayu Brebes. Sedang menyelesaikan studinya di Cikarang, Bekasi. Anggota Bumiayu Creative City Forum (BCCF). Penulis puisi anak Balai Bahasa Jawa Tengah dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Buku pertamanya berjudul, Sorai (FAM Publishing, 2019).

No. Handphone : 085201305215

Facebook : Raeditya

No. Rekening : 0190-01-012765-53-2 (Bank BRI) a/n Raditya Andung Susanto

Ruang Transit (Mental) Diri

0
Judul Buku   : The Midnight Library
Penulis      : Matt Haig
Penerjemah   : Dharmawati
Penerbit     : Gramedia
Cetakan      : Pertama, 2021
Tebal Buku   : 368 halaman 
ISBN         : 978-602-064-932-0 

*

“Tidak bisakah kau langsung saja memberiku kehidupan yang kau tahu bagus?”
Nora Seed kepada Mrs. Elm.

*

SEPERTINYA tidak ada kehidupan yang benar-benar bagus, kecuali tafsir dan pilihan diambil setiap orang selama jangka (panjang) hidupnya. Novel The Midnight Library (2021) garapan Matt Haig mendapat penghargaan-pengakuan Goodreads Choice Awards 2020 Best Fiction kemungkinan karena menempatkan tema sangat relevan hari ini: kesehatan mental. Berlatar di kota kecil Bedford, Amerika, melalui tokoh utama seorang perempuan lajang berusia 35 tahun—Nora Seed—biang masalah yang mengganggu peredaran mental berkisar pada impian, asmara, hubungan keluarga, ataupun keberadaan diri.

Ketika Nora Seed memutuskan bunuh diri, ia tidak langsung mati. Nora berada di Perpustakaan Tengah Malam sebagai ambang kehidupan dan kematian. Sejak remaja perpustakaan memang menjadi ruang yang secara emosional dan signifikan menaungi hari-hari Nora. Penjaga perpustakaan sekolah masa SMA bernama Mrs. Elm hadir sebagai pembimbing. Dalam masa krisis di kehidupan akar Nora, Mrs.Elm tetap seseorang yang penting.

Perpustakaan Tengah Malam ibarat ruang transit menawarkan kemungkinan (buku) kehidupan yang belum Nora ambil dan bagaimana ia ingin hidup. Nora bisa mencoba menjadi glasiolog, vokalis, istri dan ibu, atlet, atau sekadar hal kecil menjadi teman baik bagi Voltaire, kucing peliharaannya. Setiap kali Nora merasa kecewa lagi sama persis di kehidupan akarnya, ia akan kembali ke Perpustakaan Tengah Malam. Percobaan menawarkan kebalikan dari isi Buku Penyesalan yang dimiliki Nora, “Aku belum menjadi atlet renang Olimpiade. Aku belum menjadi glasiolog. Aku belum menjadi istri Dan. Aku belum menjadi ibu. Aku belum menjadi vokalis The Labyrinths. Aku belum belum berhasil menjadi orang yang betul-betul baik hati ataupun bahagia. Aku belum berhasil mengurus Voltaire” (hlm. 47).

Setiap kehidupan yang dicoba atau setiap diri Nora di kehidupan lain ibarat buku. Matt Haig tidak menggunakan buku “orang lain” atau semacam tokoh hebat di dunia untuk dimasuki Nora. Nora dengan pelbagai kegagalan-kekecewaan di kehidupan asal, bisa menemukan diri yang sukses di kehidupan lain. Begini, “Kalau kau betul-betul sangat ingin menjalani kehidupan, kau tidak perlu cemas. Kau akan tetap berada di sana seolah-olah selama ini kau berada di sana. Karena di dalam satu semesta kau memang selalu berada di sana. Buku ini, katakanlah, takkan pernah dikembalikan. Buku ini lama-lama bukan lagi dipinjamkan, melainkan dihadiahkan. Begitu kau memutuskan kau menginginkan kehidupan itu, betul-betul menginginkannya, maka semua yang ada di dalam kepalamu, termasuk Perpustakaan Tengah Malam ini, akhirnya akan menjadi kenangan yang sangat samar dan tidak teraba hingga takkan ada di sana sama sekali” (hlm. 59).  

Namun, setiap kehidupan yang dicoba tetap saja setidaknya memiliki satu benih menanamkan kesedihan mental; kematian, obat depresi, ketidakpuasan pada asmara, ambisi orangtua kepada anak, penyakit, atau popularitas manipulatif. Kehidupan yang tidak diambil Nora seolah dengan sukses berkamuflase menjadi kebahagiaan. Yang klise untuk diingat, tidak ada kehidupan tanpa penderitaan!

Gangguan mental dalam banyak hal adalah efek jangka panjang. Nora mengalami, termasuk di lingkungan keluarga atau sekolah. Ada keresahan (identitas) di masa remaja, “Nora memikirkan masa lalunya. Kombinasi pemalu dan dikenal luas saat ia remaja dulu merupakan campuran bermasalah, tapi ia tidak pernah dirundung, mungkin karena semua orang kenal kakaknya, Joe, meskipun tidak pernah betul-betul tangguh, selalu dianggap keren dan cukup populer hingga adik kandungnya kebal terhadap tiran di halaman sekolah. Ia memenangi lomba-lomba di tingkat lokal, lalu kejuaraan-kejuaraan nasional, tetapi sewaktu mencapai umur lima belas tahun, ia kewalahan. Berenang setiap hari, meter demi meter demi meter” (hlm. 117).

(Selalu) Penderitaan

Sebagai anak, Nora tidak merasa bebas mengendalikan impiannya. Keinginan ayah melihat Nora sukses sebagai atlet renang, lebih terasa sebagai ambisi dari kegagalan ayah Nora di masa lalu. “Tapi yang betul-betul tidak dipahaminya pada umur lima belas tahun adalah seburuk apa penyesalan itu, dan seberapa besar sakit hati yang dirasakan ayahnya karena berada sedekat itu dengan realisasi mimpi pria itu hingga hampir bisa ia sentuh. […] Sejak cedera ligamen yang menghancurkan karier rugbinya, ayah Nora sangat yakin semesta menentangnya. Nora, setidaknya itulah yang ia sendiri rasakan, dianggap ayahnya sebagai bagian rencana semesta yang sama” (hlm. 118).

Bahkan di kehidupan lain yang dikira Nora bebas dari depresi dan kekecewaan, ia tetap menghadapi masalah bertumpuk. Kebahagiaan yang mencuat ke permukaan, selalu menyimpan penderitaan di dasarnya. Misalnya saat mencoba kehidupan sebagai vokalis sukses, musibah tetap berlimpah; sengketa-sengketa palsu, kasus pengadilan, isu-isu hak cipta, hubungan yang berantakan dengan Ryan Bailey, penerimaan pasar untuk album terakhir, rehabilitasi, dan yang paling berat kematian Joe, kakak Nora, karena overdosis.

Freda L. Paltiel, koordinator Kanada pertama untuk Status Wanita dan pernah menjadi anggota Executive Subcommittee on Women, Health, and Development Pan Amerika, di tulisan “Kesehatan Jiwa Wanita: Suatu Perspektif Global” (dihimpun-diterjemahkan dalam buku Kesehatan Wanita: Sebuah Perspektif Global, UGM Press, 1997), depresi rentan dialami perempuan dalam pelbagai latar geografi-ekonomi, status sosial, dan usia. Ini bukan saja masalah di negara-negara Dunia Ketiga dengan ciri kemiskinan dan kultur patriarki yang kuat, tapi juga di negara maju. Asosiasi Psikologi Amerika tentang Masalah Depresi Wanita misalnya, melakukan penelitian, kondisi kejiwaan perempuan terkait dengan persoalan reproduksi, pembagian peran atau kerja, lingkungan sosial. Kemiskinan, penyakit jasmani, hubungan keluarga, lingkungan kerja, diskriminasi, kekerasan seksual, dan situasi psikologis karena kehilangan atau kematian menciptakan ketegangan dan trauma. Pelayanan kesehatan jiwa lebih sering menempatkan perempuan sebagai pasien.   

The Midnight Library bisa dinikmati sambil menyantap biji-bijian organik atau burger vegan, menanam harapan di tengah perubahan iklim, bersyukur untuk setiap hal kecil—kucing peliharaan misalnya. Penyesalan yang dituntaskan adalah bukti implisit untuk terus mencintai diri sendiri. Inilah pesan kesehatan mental bagi manusia modern bahwa hidup harus disyukuri seperti dipesankan Matt Haig melalui tokoh Nora Seed. Bahkan pada kehidupan akar paling remuk dan gagal sekalipun, ke sanalah Nora kembali. Seolah, percobaan pada (kemungkinan) hidup yang dalam kenyataan tidak pernah diambil hanya ujian untuk menerima, mensyukuri, berdamai dengan penderitaan, mencintai diri sendiri, dan mengikis setiap penyesalan yang mengganggu mental diri. Pertobatan menuju happy ending dipilih Nora.





==============
Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2019). Tinggal di Boyolali.

Rakaat-rakaat Belum Selesai

0

Kubah yang Kita Saksikan

sebentar lagi surup,
langit menyolek wajahnya yang biru
menjadi saga semburat ungu.

Sementara kita masih sempoyongan
memikul seonggok hidup yang entah
sampai kapan kita perjuangkan.

Kita selalu melewati jalan yang sama
setiap hari, setiap senja,
hingga gulita.

Tak ada perubahan dalam kisah,
dan kubah-kubah yang kita saksikan masih basah
tak pernah kita sapa,
bahkan sekadar mendengarkan seruan
toa-toa di dalamnya.

Apakah kita tak pernah peduli,
atau memang selamanya tuli?

Marilah sejenak bertakhalli,
menyaksikan kubah-kubah tajalli
dan mendapati ketenangan, yang dilantunkan saban kali,
ketika kita lewati.

Jombang, September 2021.




Lelaki yang Mengumandangkan Tarhim

Lelaki itu datang tepat waktu
sebelum fajar bertandang, malu-malu.
Wajahnya layu, dan matanya musim kemarau.
Mengumandangkan tarhim,
dengan suara parau.
Seperti talqin di pemakaman:
penuh kesedihan,
haru.

Rambutnya seputih kafan,
berkerudung sorban
serta angan-angan kematian.
Sendiri, di serambi.

Kelelawar-kelewawar semalam bertualang,  
kini kembali menggantung tubuhnya,  
di sela-sela tarhim
dan atap-atap masjid:
menunggu lelaki itu menyampaikan Subuh.

Sementa burung kedasih di pucuk menara,
menyampaikan salam pada kekasih
dan malaikat subuh.

Hingga lelaki itu lekas berjumpa,
dengan cita-citanya.
Mengendarai amalannya,
terlepas raganya
selepas sujud Subuh, berlabuh.

Jombang, September 2021




Kendi Liat di Pelataran Masjid

Kendi liat mengajarkan kebaikan
di ujung mulutnya mengalir kedamaian:

menyeka segala bara di wajah
mereda segala gelisah

membasuh debu-debu dosa
yang melekat di tangan-tangan kita

mengaliri gersang ubun-ubun
hingga subur rambut dengan doa-doa

dan meluruskan langkah kaki
yang seharian menerjang jalan kekhilafan

Kendi liat mengalirkan kebaikan
di pelataran masjid ia bersemayam

Jombang,  2021




Lelaki dan Burung Gereja di Masjid


: untuk kawan perantau

Burung-burung gereja bersarang di masjid
sementara lelaki merenung memandang langit
matanya berkaca-kaca, mengingat sesuatu yang entah.

Dan burung-burung itu mulai bercicit
mengelepar, menyuapi anak-anaknya
setelah sekian waktu kelayapan
mencari serangga dan biji-bijian.

Lelaki yang merenung itu mengalihkan pandang,
pada burung-burung riuh di sarang.
Kemudian air matanya tumpah
disekanya dengan selawatan,
sembari hatinya berkata

“Andai saja aku burung itu, alangkah bahagianya aku.”

Lekas lelaki itu tersenyum,
memandangi foto yang terselip di halaman buku, dan dicium.

Jombang, September 2021





Menunggu Fajar

bila semalaman aku menulis puisi
seketika kau datang
dan bersandar dalam angan-angan.
lewat selawat daun-daun
hingga mengalir embun-embun.

Namun aku menyadari,
bahwa angin tak selamanya dingin
sebab, kenangan adalah api unggun
yang teramat hangat
meski datang hanya sekelebat
mengingatkan diksi, yang tak sempat
tercatat.

Dan kau tak pernah buru-buru pergi
selama rakaat-rakaat belum selesai
dan fajar menghampiri, menuntaskan puisi.

Jombang, September 2021




======================
Miftahur Rozak
lahir di Jombang Jawa Timur, 03 Februari 1988. Tahun 2011 ia menyelesaikan pendidikan S1 PBSI STKIP PGRI di Jombang, dan  kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang. Karya-karyanya tersiar di berbagai media lokal maupun nasional, antara lain di: Koran Tempo,UB Sabah Malaysia, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Harian Merapi, Solo Pos, Lampung News, Radar Malang, Radar Jombang, dan Magrib.id. Salah satu puisinya Masuk dalam Antologi tiga Negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku “Sang Acarya” Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas Dari Negeri Poci 2020. Ia juga aktif di KPB (Kelas Puisi Bekasi).

Di Puisi Ini Aku Ingin

1

Menjadi Mata Lampu

aku membayangkan kau sedang mencintai mata lampu.
ketika kaumatikan mata lampu kamarmu,
mata lampu lain sedang dinyalakan seseorang
yang sedang berusaha menulis tentangmu sekali lagi.

Kini aku membayangkan kau sedang membayangkan
langit dipenuhi mata lampu, dan kau pun mencintainya.
jika masa lampau dapat kujangkau kembali, jangan kaget
ketika langit tiba-tiba ada di bawah bantalmu.

aku juga membayangkan kau menjadi mata lampu
yang dapat kulihat di mana saja. jika seseorang ingin
memecahkanmu karena kau padam, mata lampu lain
akan merasakan kesedihan.

Dan kini aku juga membayangkan kau sedang membayangkan
dirimu menjadi mata lampu yang diam-diam memerhatikanku
menyusun struktur tubuhku yang tak pernah utuh lagi.




Telepon dari Masa Depan

telepon berdering.
halo, ini siapa?

Aku dirimu di masa depan yang sedang
membuat konstruksi kebahagiaan di
tubuhmu.

Kenapa kau meneleponku?

Di masa depan, malam dibatasi
pagi dan kau. kau adalah waktu.
kau adalah matahari yang menyembuhkan
nyeri di punggung ibumu.

Hari apa ini?

Hari mimpi

telepon dimatikan.





Di Jembatan Bolong

kita berjalan dituntun sepasang ngilu yang diam-diam
ingin mengubah warna kota ini.
di atas jembatan, kita menyaksikan angka-angka
gagal bunuh diri sebab seseorang memaksanya
menjadi huru-hara di rumah makan.

Apa yang mampu kita selamatkan dari deru cita-cita
yang telah mati? samar kudengar pertanyaanmu
di antara pekik klakson kendaraan.

Rindu yang kaurawat mati-matian adalah pilu
di dada kekasihmu.




Aku Ingin Meminjam Kantukmu

pukul 02.00
tiba-tiba, aku merindukanmu.
Aku ingin tidur dan bersembunyi
di alismu dan biarkan kesunyian
mengecupnya.

Aku terjaga menyaksikan
api yang terus membakar
kota ini. aku melihat kita
sedang berusaha menjangkau
lengan negara.

Dulu, aku ingin mengatakan cinta
sebelum bom dalam diriku meledak.
aku tak ingin mengatakannya lagi.
aku hanya ingin meminjam kantukmu
yang abadi.




Memiliki Adalah Menakar Kehilangan

Pada mulanya, aku ingin menyimpan
seluruh pagi ke dalam jantungmu sebelum
aku menyadari bahwa kecupan hanyalah
letupan yang bakal hilang dan tak mampu
kukenali lagi.

Kau adalah teka-teki yang mudah kutebak
sebelum peluru membuatnya kabur.
Resah yang tak pernah reda adalah kawan
sepanjang jam-jam menunggumu pulang.

Dendam telah memesan kematian untukmu.
Kau pergi dengan seluruh gemuruh di dadamu
Dan namamu adalah sunyi ladang yang ditinggalkan.

Pada akhirnya, waktu telah menutup semua pintu
menujumu.




Dengan Kata Lain, Aku Tak Berhasil Menyentuhmu

Di puisi ini, aku ingin menyentuhmu lagi.
Kubiarkan jendela terbuka dan kenangan
memasuki jantungku.

Setiap kutulis namamu, huruf-huruf
selalu berhasil menjatuhkan dirinya
kembali. Aku gagal menahanmu sekali
lagi.

Aku ingin mendengar jantungmu berdetak,
tapi tubuhku telanjur retak. Kau tak mampu
kutebak.

Di puisi ini, aku ingin menyentuhmu lagi.
Kubiarkan jendela terbuka dan kesedihan
menetap di tubuhku.




Debu-Debu Topoyo

siang menyaksikan angin membawa debu-debu
itu mengabarkan kesedihan.
kecemasan mulai menyentuh mimbar
yang agung.

Buah menolak dikupas. angka-angka tidak
percaya diri menghitung dirinya sendiri
sepanjang tahun.

Jalan adalah pangkal keraguan dan keyakinan
menganulir tata tertib di tengah rasa sakit
yang dipelihara negara ini.

Sementara itu, di selatan, seseorang ingin
pulang tanpa memerhatikan palang
yang ingin menyelamatkannya.






===============
Arham Taheer, lahir di Luwu, Sulawesi Selatan. Pernah menjadi salah satu Emerging Writers pada perhelatan Makassar International Writers Festival (MIWF) tahun 2017.

Seperti Lonceng yang Berderai

0

Catatan di Beranda

malam masuk lebih cepat ke dalam retina. luka dibasuh dengan luka. namun tak ada isak yang terdengar atau sekadar air mata untuk membaca dirinya. hanya gaung nokturno, melipat tubuhnya berkali, pendar lelampuan atau suara kendaraan dengan orang asing mencari alamat.

lampu taman bertopi pendekar cina *) memantulkan cahaya dengan tergesa. rimbun rumput di kegelapan menyatu siluet tanah. dan ia menunggu, seorang perempuan untuk memeluknya– meminta agar masuk ke dalam rumah. ia membaca belulang usia di beranda.

2021
*) Ingatan dari sebuah lagu Iwan Fals





Jantung Kota

di jantung kota, engkau terbelah. orang asing menyimpan ingatanmu yang makin kuning. ada sering telepon, memasuki celah-celah kering dari kilau warna lelampuan– sepanjang jalan, beberapa kelokan. tapi di keramaian ini, engkau merasa tumbuh sendirian. semestinya ada seseorang yang kauhubungi atau sekadar melepas pesan agar gelisah tak menggelebung penuh kawah. namun hanya ada kerumunan anak muda, para kekasih di bangku taman seperti menyeka kembali sebagian usiamu yang dulu.

di jantung kota. tubuhmu tercacah. rebah dan lungkrah di bangkai ingatan. dan kota semakin ramai. seperti lonceng yang berderai, melambai.

2021

Gata *)

dan kau tak akan mampu bercakap dengannya lagi. meski suaranya akan kerap bergema, jauh di kedalaman tempurung kepala. mungkin kau akan memunguti remah cahaya yang pernah disemai, sebelum ia melangkah jauh tak tertempuh.

ah, betapa engkau akan terus mengingat apa yang terlanjur luruh. percakapan dan tabiat, apa yang pernah tertinggal di tubuhmu. tiba-tiba rindu itu lungkrah, mengecupmu dengan gelisah.

2021
*) Telah pergi





Berita Kematian

kerap kita dicemaskan pada berita kematian. di ujung berita dan bertanya, nama siapa yang tercetak di sana. lalu kitapun masuk lagi ke dalam antrian, melengang sepanjang jalan kota dan menghitung waktu di pembuluh tubuh. mungkin, seseorang yang pernah dekat atau sekadar berlintasan. dan kita pernah pula merasa rapat dan akrab dengan seseorang– hingga cemas mengeras, jika kita tak pernah menduga esok hari akan datang berita yang baru lagi. tanpa pernah diduga.

berita demi berita membuat kilat tersimpuh. tak percaya namun tetap tegar dan tegak kembali.

2021




Nota Umur 39

ia mencemaskan puisi akan pergi dari kepala. sebelum pagi menjauh, menempuh segala kenangan yang berpantulan. meskipun ia kerap rindu untuk tetap menulis bahu dan rambut perempuan. maka ditelusuri lagi segala kalimat yang kerap melayang; sepanjang jalan atau sosial media. tapi tak bisa diucapkannya lagi bebal masa muda. ia tersengal, mengais tangis. hanya ada buku-buku lama dengan kertas menguning. remah lagu masalalu, menelantarkannya ke sebuah pelabuhan. mungkin ia mesti kembali berkemas.

Mencari kata-kata.

2021




Kerumun Tubuh

tak ada lagi pesta. tak ada lagi kerumun tubuh. di jalanan sunyi, melewati pandemi dengan langkah hati-hati. hanya orang-orang melintas, menjaga jarak, mengitung langkah dengan masker warna-warni. namun pagi terus menjemput kembali, membuka tirai kota dan jalanan lengang. maka kita lalui juga hari demi hari dengan kecambah gelisah yang berkawah di dada.

Segala yang luluh telah dikayuh. maka tubuh-tubuh hanya siluet sesaat. sebab kita akan menempuh hari demi hari dengan cemas sunyinya sendiri.

2021



========================
Alexander Robert Nainggolan (Alex R. Nainggolan) lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jurnal Sajak, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Seputar Indonesia, Berita Harian Minggu (Singapura), Sabili, Annida, Matabaca, dan Majalah Basis.

Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016).

Segala Cuaca di Dada

0
© muhary wahyu nurba


Tafakur Subuh


akhirnya sampai juga aku
di tubuhmu yang gemetar
menjalin hubungan dalam diam
dengan zikir sepanjang ilalang.

bila kulabuhkan
hangat badanku pada remang
dingin bagai daun-daun
berayun-ayun melepas embun

tak terasa
fajar menyentuh kelopak mata
jatuh di kebun anggur
menjelang angan diam di musim gugur.


Sampang,2020



Belaian Luka

sunyi yang mana lagi
yang ingin kau lahirkan
jika hening di kepalaku belum abadi
pada segala rasa yang kau bawa pergi.

Dari kidung bumi
aku dengar suara burung kepodang
menyanyikan zaman yang kerontang

seorang lelaki terus menjadi gila
bukan dengan cinta, tapi dunia

seribu danau yang hijau
dan laut yang biru
menggetarkan jiwamu
bukan karena rindu, tapi menyemu.

Kau lebih gelap dari malam
buta memandang kebaikan
hingga mataku ingin terpejam
untuk melupakan segala yang datang.

Sumenep,2020




Aku Ingin Bertemu
~
Pingkan

aku ingin bertemu
tanpa harus merindu
hanya sekedar menatap
di pangkuan mimpi
sebelum bangun pagi.

aku ingin bertemu
di lain kisah
yang tak bersejarah
seperti aliran darah
di kedalaman warna merah.

aku ingin bertemu
dalam doa yang kulupa
sebab hanya ini satu-satunya cara
mencintaimu tanpa kuduga.

Sumenep,2020





Setelah Pertemuan

kulepas segala cuaca di dada
dengan ketabahan ragu pada jalan pulang
merayu angin pasang dan lentik bayang-bayang
yang akan kau gambar pada gelap malam.

bukan tentang bagaimana cahaya itu menerangi
melainkan langkah pertama yang kuduga semakin pasti
menjadi nyanyian di sepanjang sunyi
ketika janji-janji tak pernah menyisakan mimpi.

maka angin yang menjauh
lebih dingin dari engkau yang bergemuruh
lebih gigil dari ayah di ladang
saat hujan datang mengejar.

Sumenep,2020




Kerlip Magrib

senja telah membunuh remang
dengan warna dasar doa-doa
saat cahaya berderai di atas gelombang
dan luka sembunyi di selat karang
tak tahan berlama-lama
hidup di sepanjang riuh makna.

lalu senja pulang
berbekal bekas senyum di dadanya
lari dari kefanaan yang sederhana
berseru di langit-langit daksina.

Sampang,2020





Saat Sunyi Datang


sebagaimana yang disampaikan angin
kepergian adalah sedih paling dingin
berdiam di kelopak mawar
memenuhi sekeliling pagar.

sia-sia cahaya mengilaukan makna
ketika sungai menampung daras hujan
tak seorang pun dapat menyentuh
kesepian yang lekat di tubuh.

lewat lamunan jejak-jejak hadir
perlahan mengalir ke lembah takdir
menyentuh mata-mata ingatan
hingga buta menentukan jalan.

Sampang,2020





Sayap Gelap


mata malam
rinai hujan menyentuhku
dari tepian redup kabut
gelap terbang setinggi rumput
mengelilingi bundar bayang
sebelum luka jatuh ke jurang.

beberapa detik lagi
dongeng senyap hinggap kembali
mencari jalan bagi akar doa
yang berjalar di dasar sandiwara.

tak ada kedap jarak
menjelang langkah melepas jejak
diam adalah macan hutan
yang mengintai tubuh perawan.

Sampang,2020





Tembang Musim Hujan

aku masih berteduh dalam lipatan kerudungmu
saat rona pipimu mengantarkan cahaya
pada bola mata dirundung kedipan
nampak mirah bibirmu dalam pejam.

tak ada lembut tangan, selain tanganmu
tangan mereka adalah batu
yang menghuni aliran bisu.

kupelihara lirikanmu
yang kuasa melempar sunyi
ke belantara ladang-ladang
saat runcing daun siwalan
hendak menjatuhkan sisa hujan.

bagaimana mungkin
kebosanan ini dapat tersalin
bila suaramu menolak risau
turun mengusir kemarau.

maka, cukuplah aku
yang tau jumlah lekuk di lehermu
yang lain biar menjumlah daun hijau
di musim hujan menjelma desau.

Sampang,2020



Sublim
-Niswa

bibirmu yang mirah delima
beraroma sengat asap tembakau
sungguh aku merindukanmu
seperti ramang pagi
menanti kilau matahari

alismu yang runcing
serupa anak panah pendekar
yang menggenggam takdir kematian.

Pipimu yang merona
pengembaraan para perjaka.

Kukenang kedip matamu pasrah
seperti gemuruh awan
perlahan menjatuhkan hujan
di hatiku tumbuh kembang ayu
yang mekar jadi rindu.

Sumenep,2020




=====================
J. Akid Lampacak, dikenal dengan Nama Panggilan B.J. Akid. Lahir di Lebeng Barat Sumenep Madura, Jawa Timur. Menulis esai dan puisi, sekarang sedang menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Annuqayah. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media cetak, seperti Republika, Suara Merdeka, Koran Haluan, Padang Ekpres dan media lainnya. Menjadi ketua komunitas Laskar Pena Lubangsa Utara dan pengamat litrasi di sanggar Becak Sumenep.

Mengubur Ingatan

1

Serenada 

seperti di kota lain
jalan gelap
tapi di langit ada
bintang

aku berjalan
tanpa jaket dan sarung tangan
menuju tempatmu  
menghayati kesunyian

kurang dari 1 kilometer
di halte penyeberangan
aku berhenti
lampu dan trotoar pendar

satu demi satu
aku periksa
kepala, pundak, dada dan perut
tangan, kaki, jemari, lidah dan gigi

semua lengkap
tapi di sebelah kiri
tepat di samping lengan
ada rusuk yang absen

barangkali tertinggal di sana
di atas meja makan  
tunggulah sejenak
kucari tangkai mawar

di tempatmu menghayati kesunyian
untuk rongga
dada yang hampa ini 

samarinda, juni 2021




Lima Haiku
mengenang Ikram Al-Qadrie

1.
yang tiba waktu
saling memejam mata
di gigir liang

2.
dua telinga
satu lantunan doa
menyapa kafan

3.
rerimbun lepas
garis cahaya misah
membuka barzah

4.
tanah berserak
sedih tak kunjung sudah
pusara tegak

5.  
kematian pun
seperti daun jatuh
melayang ringan

samarinda, juni 2021




Takada Lagi Kunangkunang di Tepian
untuk Lydia Apriliani

takada lagi kunangkunang di tepian dan aku lantas berdiri memanggil-manggil selembar angin untuk melayang-layangkan rindu.

tapi rindu takpernah sesederhana itu. tongkang terus mengambang berlayar membawa serpihan legam jejak leluhur kita di masa lalu, pergi ke sebuah negeri yang dingin dan kaku. lalu membakarnya demi hidup yang pantas dan berkepanjangan di depan perapian. mereka takpernah mau tahu. di sini, ada yang berulang kali mengubur ingatan.

sementara kita hanya menikmati sisa temaram lampu sepanjang sungai  dan bintik-bintik cahaya menjadi tarian mistis di atas gelombang. tapi itu bukanlah kunang-kunang. mataku yang mulai rabun, tak awas lagi menatap gesekan daun, garis-garis angka di meja kasir sebuah cafe, duka, atau sekadar melihat lekuk alis mata dan tahi lalat pada parasmu dalam pertemuan singkat itu.

bukankah aku masih bisa mengenali parasmu, mengenali peta harta karun pada garis-garis jejak usia yang misterius, atau aroma lavender pada lehermu? bukankah aku juga masih bisa melihat langit membiru dan awan pucat seperti kehilangan penyangga di antara bayang-bayang jembatan kuning tua di kejauhan?  

kenyataannya, di seberang sana, para lelaki bercanda dengan perahu kecil yang ditambatkan, keranjang ikan di tangannya separuh penuh. begitu pun nasibnya yang tambah membisu. di teras rumah, para bini hanya berdiri, menanti matang bubur sebentar lagi, dan berpura-pura tenang seolah kartu kesehatan dan simpanan dapur akan bersaldo kembali. tapi, siapakah nanti yang akan menangis di tubir pintu, ketika air susu taklagi terbeli?

kau pun menahan tawa. tanganmu bercakap-cakap dengan sebatang rokok. kakimu meliuk-liuk dengan tarian nyamuk. tapi matamu seperti genangan bendungan selepas hujan.  

aku taklagi mampu membacanya. dan kau merasa hidup makin praktis di atas meja seperti menebar merica pada semangkuk sup.

parasmu tenang, setenang kesedihan yang diam-diam menetes dan bersemayam di sungai terdalam. teh yang kaupesan, singkong dan keju yang takkunjung datang, adalah percakapan lain di antara lilin dan asbak. lalu suaramu selembut bisikan sungai di telingaku, “ini Juni yang kangen. tapi kau berulang membunuh kunang-kunang. aku tak pernah rindu padanya.”

samarinda, Juni 2021




Perempuan yang kemudian bergetar
FRK

perempuan yang kemudian bergetar di tepi pantai, takdilihatnya patahan dahan, akar-akar kering, daun yang mengambang, sebagai isyarat perpisahan.

angin menyisakan titik-titik air pada wajah yang lelah, musim yang cepat berganti, dan umang-umang yang tak lagi cerewet dengan ombak dan dusta.

di antara jejak pada pasir, garis-garis kaki hujan, atau pohon-pohon yang berbaris, adalah semacam alamat untuk menitipkan rindu.

tapi ini bukan tentang cinta yang banal atau sebuah ingatan yang terendam. ini tentang satu dua ikan yang berenang-renang pada matanya.

samarinda, juni 2021



================
Dwi Hendro Basuki. Lahir di Bandung, 8 Februari. Pernah belajar di Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran Bandung. Kini menetap di Samarinda, menjalani kerja jurnalistik di media siber kliksamarinda.com, dan menggiatkan diri dalam Kelompok Belajar Sastra Direct Message (Kabel Sastra DM) serta Kelompok Baca Buku Tetangga (Kebbat).

Tentang Deay, Ri, dan Rindu yang Belasan Musim Menghantu Tanpa Orang Tahu

0


AKU menatap parasnya, mencoba menerjemahkan mendung yang bergelayut di antara sepasang pipinya yang lembut. Mendung dan kabut, atau entah apa lagi yang harus aku lukiskan untuk memasuki ruang di tubuhnya yang menahan beban rindu yang begitu menghantu. Aku memang merasa mampu untuk memasuki ruang itu. Tubuhku sendiri penuh dengan gumpalan-gumpalan serupa itu.

Keheningan suasana malam di teras depan rumahnya terasa sedikit mencekam. Nyala lampu yang remang serupa muram yang sedang menenggelamkan kami ke dalam kenangan-kenangan silam yang hingga kini masih berdiam di batin kami yang terdalam. Hujan terasa akan mengguyur malam, dan ia seperti hari-hari dan malam-malam sebelumnya, mendadak tersengat saat langit malam mengirim kilat.

Ya, sudah belasan malam ini aku dan Masari saling dekat. Kesendirian dan kesunyian yang begitu panjang yang kami rasakan seperti ikatan yang mempertemukan. Selama dua bulan sebelumnya aku sering memperhatikan Masari duduk sendirian di teras depan rumahnya, menatap langit yang penuh dengan hujan dan petir dengan penuh kerinduan. Lalu senyumnya lepas, seolah tak ada lagi kesunyian yang ia rasakan.   

“Aku rasa Deay mungkin seperti dirinya di perjalanan hidupku, Kang,” ucap Masari dengan suara lirih namun terdengar jelas di telingaku. Masari mengucap itu mungkin sebagai prolog untuk aku bisa lebih memahaminya, memahami sunyi dan rindunya.

“Iya, Ri. Sembilan belas musim, ah… tepatnya sembilas belas tahun, Deay menghantu dalam rinduku tanpa ada orang tahu.” Aku baru menceritakan sosok Deay padanya setelah sekian malam aku sering menghabiskan waktu bersama dalam bisu. Kata yang sering kami ucapkan hanya kata “rindu”, selebihnya kami hanya banyak diam, tenggelam dalam ingatan masa silam. Itulah kenapa aku harus mengakhiri keganjilan yang kami lakukan.

Aku hidup hanya untuk menunggu. Ah… begitu dungu, dan aku menikmati kedunguan itu dengan sepenuh kalbu. Aku sendiri tentu tak setuju jika yang kulakukan adalah perbuatan dungu. Jiwaku justru tetap hidup dan begitu bersemangat menjalani kehidupan meski mungkin orang-orang melihatku sebagai sosok dengan keanehan. Hidupku dalam kesendirian dan kesunyian. Itu pandangan dan komentar orang dan beberapa teman yang kadang tak sengaja aku dengar, bahkan saudara-saudaraku juga menganggap begitu, aneh. Jika saja mereka tahu, rindu itulah yang membuatku bertahan. Rindu itu justru bagiku adalah harapan dan masa depan.

“Setelah kuceritakan padamu tentang Deay, sekarang, ceritakan padaku tentangnya, Ri,” desahku padanya tanpa rasa ingin memaksa. Aku rasa ini memang sudah saatnya bagi Masari bercerita. Aku yakin sosok Deay yang kuceritakan padanya akan membuat Masari tak ragu lagi bercerita.  

***

“Tujuh belas tahun lalu aku dekat dengan seorang lelaki bernama Dammad. Saat itu musim penghujan.” Masari mengawali ceritanya. Betapa bahagia hati Masari saat bersama lelaki itu. Ia memang jatuh cinta pada lelaki itu. Masari tak pernah berani mengungkap rasa itu. Tentu tak elok rasanya jika ada seorang perempuan mengungkapkan perasaan cintanya pada lelaki terlebih dahulu. Ia menunggu lelaki itu mengucapkan perasaannya, meski hati dan pikirannya sering gelisah tak menentu.

Selama musim penghujan, mereka selalu menghabiskan waktu berdua. Menikmati langit hujan yang sering mengirim kilat dan petir bersahutan di teras depan rumah kontrakannya. Saat itu Masari tinggal di sebuah kota tempat ia menimba ilmu sebagai seorang mahasiswi.

Masari sesungguhnya takut kilat dan petir sejak dari kecil. Sewaktu SD hingga SMP, ketika hari hujan dengan mengeluarkan suara petir yang menggelegar, Masari akan lari memeluk ayahnya yang kemudian akan menenangkan dirinya sambil berkata, “Tak perlu takut sayang, tak apa,” dan setelah itu Masari merasa aman dan nyaman. Setelah SMA, saat hari dan malam sedang hujan, ia akan lebih senang berdiam di kamar sambil mendengarkan musik tetapi lebih sering menutupi telinganya dengan sesuatu semisal kapas, pengorek kotoran telinga, atau kadang bantal, agar suara petir yang menakutkan itu tak mengganggu. Ayahnya telah berkata, “Engkau sudah besar, Ri. Kau harus bisa mandiri, melawan rasa takutmu pada petir itu sendiri, terlebih suatu ketika kau pasti akan pergi dan jauh dari kami.” Namun sejak ia dekat dengan Dammad – dan lelaki itu sering datang ke kontrakan – Masari merasa tak enak hati jika mengajak Dammad di dalam, di ruang tamu, karena Masari tinggal dengan beberapa teman di rumah kontrakan itu. Teman-teman Masari sering berkumpul dan berbincang di ruang tamu. Tak mungkin lagi baginya mengajak Dammad masuk ke dalam kamar. Ia dengan terpaksa namun penuh rasa bahagia berbincang dengan Dammad di depan.

“Duarrrrrrrr……..duarrrrrrrr….duarrrrrrr!” Suara petir membuat Masari menjerit ketakutan. Spontan Dammad memeluknya sambil menenangkan. Beberapa kali peristiwa seperti itu terjadi. Perlahan tapi pasti, Masari kini tak takut petir lagi, ia bahkan merasakan kehangatan suatu pelukan. Perasaan bahagia di hatinya begitu menggelora ketika langit dan hujan mengirim cahaya. Petir adalah pelukan spontan seseorang yang begitu menenangkan. Meski mereka dekat, Masari dan Dammad tak pernah berbuat macam-macam. Ya, kedekatan mereka tetap dalam batasan, kecuali saat petir mengirim pesan.

Beberapa bulan kemudian, Dammad pulang kampung halaman. Ia telah lebih dahulu menyelesaikan pendidikan, tepat saat berakhir musim penghujan, meninggalkan Masari tanpa perkataan dan ucapan tentang perasaannya. Tapi Masari sedikit lega karena lelaki itu berkata akan kembali lagi tahun berikutnya.

Setelah kepulangan lelaki itu, Masari sering diselimuti rindu. Tak ada kabar berita darinya. Masari pernah sekadar bertanya kabar melalui pesan pendek, namun nomor ponsel Dammad sudah tak aktif lagi. Beberapa bulan kemudian, saat musim penghujan datang, Dammad muncul di kontrakannya. Betapa bahagia tak terkira hati Masari. Dammad telah bekerja di kampung halamannya. Lebih menggembirakan lagi, Dammad sedang ditugaskan beberapa bulan di kota tempat Masari tinggal, kota di mana Dammad juga pernah menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Mereka menikmati musim penghujan bersama di teras depan. Memang tak ada lagi pelukan hangat saat kilat dan petir berkelebat. Ah… tidak, sempat sekali dekapan hangat itu terjadi. Waktu itu petir berdentum hebat dan Masari sangat terperanjat, dan spontan lelaki itu mendekap Masari kuat. “Kau tak perlu takut petir lagi,” kata lelaki itu singkat, dan Masari hanya mengangguk dengan sedikit rasa malu. Pipinya tersipu. Ia sangat mengharap Dammad mengucapkan kalimat lebih dari itu.

Beberapa bulan kemudian Dammad pulang kembali ke kampung halaman saat musim hujan masih menyisakan beberapa pekan. Tak meninggalkan ucapan seperti yang Masari harapkan. Beberapa pekan Masari akhirnya hanya menghabiskan waktu di teras depan dengan penuh kerinduan. Saat hujan dan petir menggelegar, Masari tersenyum lebar, seakan ia sedang mendapat kabar, dadanya kencang berdebar, di tubuhnya memenuh rindu yang membuatnya terbakar.

Satu tahun kemudian, Masari menyelesaikan pendidikan. Orangtuanya mengharapkan Masari pulang kampung halaman, di sebuah pulau lain yang jauh dari tempat Dammad. Masari sesungguhnya ingin bertahan, berharap lelaki itu datang dan mereka bisa menghabiskan waktu bersama, terlebih ketika musim penghujan tiba. Tapi entahlah, kenapa lelaki itu tak lagi tiba, padahal musim penghujan tahun itu telah berakhir.

“Bang Dammad sudah benar-benar tak ada kabar, Kang. Bahkan aku yakin nomor ponselnya telah berganti.” Aku memilih berdiam diri. Apa saja bisa terjadi. Sungguh aku tak mau berasumsi tentang lelaki yang begitu berarti dalam hidup Masari. Lelaki yang ia rindu seperti sosok Deay dalam hidupku.

Setelah itu Masari pulang kampung halaman. Ia masih menanti dengan penuh kerinduan. Meski ia memang tak tahu kenapa ia harus menunggu, kecuali karena rindu yang benar-benar menghantu dan di kampung halamannya tak ada orang tahu tentang itu.

Empat tahun kemudian, orangtua Masari mendorongnya untuk menikah. Betapa ayah dan ibu Masari telah begitu gelisah karena anak perempuannya asyik dengan kesendirian dan kesibukan tanpa berpikir tentang pernikahan, meski mereka juga memiliki keheranan bahwa anaknya mengalami perubahan, tak lagi takut petir dan hujan. Orangtua Masari justru sering melihat Masari duduk di teras depan saat hujan dan petir bersahutan. Masari menjalani pernikahan dengan kerinduan pada hujan, petir, dan pelukan hangat seseorang lain. Pernikahan itu tak berjalan lama meski lahir seorang anak dari rahimnya. Masari sesungguhnya merasa berdosa, tapi itu lebih baik daripada mereka saling tersiksa.

Masari memutuskan pergi jauh dari kampung halamannya dengan membawa anak perempuannya yang masih belia. Ia ingin menikmati cinta dan rindu dengan caranya, sambil membuka usaha. Ia pindah kembali ke kota di mana ia pernah menghabiskan waktu indahnya bersama lelaki itu, berharap saat musim penghujan datang, lelaki itu muncul di teras depan. Ya, Masari tinggal di dekat tak jauh dari rumah kontrakannya yang lama, saat orang-orang yang tinggal di sana telah berubah wajah dan nama.

Beberapa tahun menanti lelaki itu tiba, tak ada juga. Tapi Masari merasa tak ada yang sia-sia. Hujan dan petir adalah rindu dan semangatnya yang menyala. Seorang lelaki lain yang begitu tergila-gila padanya, membuat Masari merasa kasihan juga. Tapi ia tak ingin kembali hidup tersiksa dalam kehidupan rumah tangga karena ia telah menemukan sendiri cara membuatnya bahagia.

“Itulah, Kang, kenapa akhirnya aku harus pindah tempat lagi, dan aku menemukan tempat ini. Tak kusangka juga aku bisa bertemu Akang, seorang yang hidup dengan kerinduan yang bahkan lebih panjang. Aku kini tak lagi merasa sendirian.” Tak ada yang bisa kukatakan padanya. Kisah kami memang hampir serupa. Dammad dan Deay telah sama-sama menjelma rindu yang selama belasan musim menghantu di sepanjang hidup kami. Aku dan Masari sendiri yang mengerti. Aku sendiri pernah bermimpi Deay telah pindah ke kotaku ini, sementara Masari seakan telah menemukan rindu dan cintanya di teras depan, meski yang kubayangkan mungkin hanya saat-saat musim penghujan.

Hujan malam lalu turun deras, Masari menatap langit gelap luas, rasa rindunya lepas. Suara petir menggelegar seolah kalap, dan sungguh, aku membayangkan tubuh Masari sedang kudekap, meski tetap saja sosok Deay yang kutangkap. ***




===================
Mahan Jamil Hudani adalah nama pena dari Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April 1977. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO). Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan (KSI Tangsel) sebagai ketua. Kini juga sebagai kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), serta sebagai Redpel di portal sastra Litera.co.id. Karyanya tersiar di sejumlah media massa seperti Fajar Makassar, Batam Pos, Riau Pos, Sumut Pos, Lampung Pos, Bangka Pos, Solopos, Medan Pos, Pontianak Pos, Tanjungpinang Pos, SKH Amanah, Bhirawa Surabaya, Haluan Padang, Palembang Ekspress, Magelang Ekspress, Padang Ekspress, Rakyat Sumbar, Rakyat Aceh, Rakyat Sultra, Kabar Priangan, Analisa Medan, Majalah Semesta, Majalah Mutiara Banten, Majalah Kandaga, maarifnujateng.or.id, kareba.id, labrak.co, gadanama.my.id, lensasastra.id, Dinamika News, Cakra Bangsa, Lampung News, Radar Bromo, Radar Malang, dan Radar Mojokerto. Karyanya juga tersiar dalam sejumlah antologi bersama. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Raliatri (2016), Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019), dan Bidadari dalam Secangkir Kopi (2021)

Terbaru

Yang Datang dan yang Pergi

Demi Waktu demi waktu. aku meminta kekasihku jauhkan dari air matasetiap kepulangan dari perantauan ia...

Pernikahan Mutia

Dari Redaksi