Warta

Home Warta

Tentang Deay, Ri, dan Rindu yang Belasan Musim Menghantu Tanpa Orang Tahu

0


AKU menatap parasnya, mencoba menerjemahkan mendung yang bergelayut di antara sepasang pipinya yang lembut. Mendung dan kabut, atau entah apa lagi yang harus aku lukiskan untuk memasuki ruang di tubuhnya yang menahan beban rindu yang begitu menghantu. Aku memang merasa mampu untuk memasuki ruang itu. Tubuhku sendiri penuh dengan gumpalan-gumpalan serupa itu.

Keheningan suasana malam di teras depan rumahnya terasa sedikit mencekam. Nyala lampu yang remang serupa muram yang sedang menenggelamkan kami ke dalam kenangan-kenangan silam yang hingga kini masih berdiam di batin kami yang terdalam. Hujan terasa akan mengguyur malam, dan ia seperti hari-hari dan malam-malam sebelumnya, mendadak tersengat saat langit malam mengirim kilat.

Ya, sudah belasan malam ini aku dan Masari saling dekat. Kesendirian dan kesunyian yang begitu panjang yang kami rasakan seperti ikatan yang mempertemukan. Selama dua bulan sebelumnya aku sering memperhatikan Masari duduk sendirian di teras depan rumahnya, menatap langit yang penuh dengan hujan dan petir dengan penuh kerinduan. Lalu senyumnya lepas, seolah tak ada lagi kesunyian yang ia rasakan.   

“Aku rasa Deay mungkin seperti dirinya di perjalanan hidupku, Kang,” ucap Masari dengan suara lirih namun terdengar jelas di telingaku. Masari mengucap itu mungkin sebagai prolog untuk aku bisa lebih memahaminya, memahami sunyi dan rindunya.

“Iya, Ri. Sembilan belas musim, ah… tepatnya sembilas belas tahun, Deay menghantu dalam rinduku tanpa ada orang tahu.” Aku baru menceritakan sosok Deay padanya setelah sekian malam aku sering menghabiskan waktu bersama dalam bisu. Kata yang sering kami ucapkan hanya kata “rindu”, selebihnya kami hanya banyak diam, tenggelam dalam ingatan masa silam. Itulah kenapa aku harus mengakhiri keganjilan yang kami lakukan.

Aku hidup hanya untuk menunggu. Ah… begitu dungu, dan aku menikmati kedunguan itu dengan sepenuh kalbu. Aku sendiri tentu tak setuju jika yang kulakukan adalah perbuatan dungu. Jiwaku justru tetap hidup dan begitu bersemangat menjalani kehidupan meski mungkin orang-orang melihatku sebagai sosok dengan keanehan. Hidupku dalam kesendirian dan kesunyian. Itu pandangan dan komentar orang dan beberapa teman yang kadang tak sengaja aku dengar, bahkan saudara-saudaraku juga menganggap begitu, aneh. Jika saja mereka tahu, rindu itulah yang membuatku bertahan. Rindu itu justru bagiku adalah harapan dan masa depan.

“Setelah kuceritakan padamu tentang Deay, sekarang, ceritakan padaku tentangnya, Ri,” desahku padanya tanpa rasa ingin memaksa. Aku rasa ini memang sudah saatnya bagi Masari bercerita. Aku yakin sosok Deay yang kuceritakan padanya akan membuat Masari tak ragu lagi bercerita.  

***

“Tujuh belas tahun lalu aku dekat dengan seorang lelaki bernama Dammad. Saat itu musim penghujan.” Masari mengawali ceritanya. Betapa bahagia hati Masari saat bersama lelaki itu. Ia memang jatuh cinta pada lelaki itu. Masari tak pernah berani mengungkap rasa itu. Tentu tak elok rasanya jika ada seorang perempuan mengungkapkan perasaan cintanya pada lelaki terlebih dahulu. Ia menunggu lelaki itu mengucapkan perasaannya, meski hati dan pikirannya sering gelisah tak menentu.

Selama musim penghujan, mereka selalu menghabiskan waktu berdua. Menikmati langit hujan yang sering mengirim kilat dan petir bersahutan di teras depan rumah kontrakannya. Saat itu Masari tinggal di sebuah kota tempat ia menimba ilmu sebagai seorang mahasiswi.

Masari sesungguhnya takut kilat dan petir sejak dari kecil. Sewaktu SD hingga SMP, ketika hari hujan dengan mengeluarkan suara petir yang menggelegar, Masari akan lari memeluk ayahnya yang kemudian akan menenangkan dirinya sambil berkata, “Tak perlu takut sayang, tak apa,” dan setelah itu Masari merasa aman dan nyaman. Setelah SMA, saat hari dan malam sedang hujan, ia akan lebih senang berdiam di kamar sambil mendengarkan musik tetapi lebih sering menutupi telinganya dengan sesuatu semisal kapas, pengorek kotoran telinga, atau kadang bantal, agar suara petir yang menakutkan itu tak mengganggu. Ayahnya telah berkata, “Engkau sudah besar, Ri. Kau harus bisa mandiri, melawan rasa takutmu pada petir itu sendiri, terlebih suatu ketika kau pasti akan pergi dan jauh dari kami.” Namun sejak ia dekat dengan Dammad – dan lelaki itu sering datang ke kontrakan – Masari merasa tak enak hati jika mengajak Dammad di dalam, di ruang tamu, karena Masari tinggal dengan beberapa teman di rumah kontrakan itu. Teman-teman Masari sering berkumpul dan berbincang di ruang tamu. Tak mungkin lagi baginya mengajak Dammad masuk ke dalam kamar. Ia dengan terpaksa namun penuh rasa bahagia berbincang dengan Dammad di depan.

“Duarrrrrrrr……..duarrrrrrrr….duarrrrrrr!” Suara petir membuat Masari menjerit ketakutan. Spontan Dammad memeluknya sambil menenangkan. Beberapa kali peristiwa seperti itu terjadi. Perlahan tapi pasti, Masari kini tak takut petir lagi, ia bahkan merasakan kehangatan suatu pelukan. Perasaan bahagia di hatinya begitu menggelora ketika langit dan hujan mengirim cahaya. Petir adalah pelukan spontan seseorang yang begitu menenangkan. Meski mereka dekat, Masari dan Dammad tak pernah berbuat macam-macam. Ya, kedekatan mereka tetap dalam batasan, kecuali saat petir mengirim pesan.

Beberapa bulan kemudian, Dammad pulang kampung halaman. Ia telah lebih dahulu menyelesaikan pendidikan, tepat saat berakhir musim penghujan, meninggalkan Masari tanpa perkataan dan ucapan tentang perasaannya. Tapi Masari sedikit lega karena lelaki itu berkata akan kembali lagi tahun berikutnya.

Setelah kepulangan lelaki itu, Masari sering diselimuti rindu. Tak ada kabar berita darinya. Masari pernah sekadar bertanya kabar melalui pesan pendek, namun nomor ponsel Dammad sudah tak aktif lagi. Beberapa bulan kemudian, saat musim penghujan datang, Dammad muncul di kontrakannya. Betapa bahagia tak terkira hati Masari. Dammad telah bekerja di kampung halamannya. Lebih menggembirakan lagi, Dammad sedang ditugaskan beberapa bulan di kota tempat Masari tinggal, kota di mana Dammad juga pernah menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Mereka menikmati musim penghujan bersama di teras depan. Memang tak ada lagi pelukan hangat saat kilat dan petir berkelebat. Ah… tidak, sempat sekali dekapan hangat itu terjadi. Waktu itu petir berdentum hebat dan Masari sangat terperanjat, dan spontan lelaki itu mendekap Masari kuat. “Kau tak perlu takut petir lagi,” kata lelaki itu singkat, dan Masari hanya mengangguk dengan sedikit rasa malu. Pipinya tersipu. Ia sangat mengharap Dammad mengucapkan kalimat lebih dari itu.

Beberapa bulan kemudian Dammad pulang kembali ke kampung halaman saat musim hujan masih menyisakan beberapa pekan. Tak meninggalkan ucapan seperti yang Masari harapkan. Beberapa pekan Masari akhirnya hanya menghabiskan waktu di teras depan dengan penuh kerinduan. Saat hujan dan petir menggelegar, Masari tersenyum lebar, seakan ia sedang mendapat kabar, dadanya kencang berdebar, di tubuhnya memenuh rindu yang membuatnya terbakar.

Satu tahun kemudian, Masari menyelesaikan pendidikan. Orangtuanya mengharapkan Masari pulang kampung halaman, di sebuah pulau lain yang jauh dari tempat Dammad. Masari sesungguhnya ingin bertahan, berharap lelaki itu datang dan mereka bisa menghabiskan waktu bersama, terlebih ketika musim penghujan tiba. Tapi entahlah, kenapa lelaki itu tak lagi tiba, padahal musim penghujan tahun itu telah berakhir.

“Bang Dammad sudah benar-benar tak ada kabar, Kang. Bahkan aku yakin nomor ponselnya telah berganti.” Aku memilih berdiam diri. Apa saja bisa terjadi. Sungguh aku tak mau berasumsi tentang lelaki yang begitu berarti dalam hidup Masari. Lelaki yang ia rindu seperti sosok Deay dalam hidupku.

Setelah itu Masari pulang kampung halaman. Ia masih menanti dengan penuh kerinduan. Meski ia memang tak tahu kenapa ia harus menunggu, kecuali karena rindu yang benar-benar menghantu dan di kampung halamannya tak ada orang tahu tentang itu.

Empat tahun kemudian, orangtua Masari mendorongnya untuk menikah. Betapa ayah dan ibu Masari telah begitu gelisah karena anak perempuannya asyik dengan kesendirian dan kesibukan tanpa berpikir tentang pernikahan, meski mereka juga memiliki keheranan bahwa anaknya mengalami perubahan, tak lagi takut petir dan hujan. Orangtua Masari justru sering melihat Masari duduk di teras depan saat hujan dan petir bersahutan. Masari menjalani pernikahan dengan kerinduan pada hujan, petir, dan pelukan hangat seseorang lain. Pernikahan itu tak berjalan lama meski lahir seorang anak dari rahimnya. Masari sesungguhnya merasa berdosa, tapi itu lebih baik daripada mereka saling tersiksa.

Masari memutuskan pergi jauh dari kampung halamannya dengan membawa anak perempuannya yang masih belia. Ia ingin menikmati cinta dan rindu dengan caranya, sambil membuka usaha. Ia pindah kembali ke kota di mana ia pernah menghabiskan waktu indahnya bersama lelaki itu, berharap saat musim penghujan datang, lelaki itu muncul di teras depan. Ya, Masari tinggal di dekat tak jauh dari rumah kontrakannya yang lama, saat orang-orang yang tinggal di sana telah berubah wajah dan nama.

Beberapa tahun menanti lelaki itu tiba, tak ada juga. Tapi Masari merasa tak ada yang sia-sia. Hujan dan petir adalah rindu dan semangatnya yang menyala. Seorang lelaki lain yang begitu tergila-gila padanya, membuat Masari merasa kasihan juga. Tapi ia tak ingin kembali hidup tersiksa dalam kehidupan rumah tangga karena ia telah menemukan sendiri cara membuatnya bahagia.

“Itulah, Kang, kenapa akhirnya aku harus pindah tempat lagi, dan aku menemukan tempat ini. Tak kusangka juga aku bisa bertemu Akang, seorang yang hidup dengan kerinduan yang bahkan lebih panjang. Aku kini tak lagi merasa sendirian.” Tak ada yang bisa kukatakan padanya. Kisah kami memang hampir serupa. Dammad dan Deay telah sama-sama menjelma rindu yang selama belasan musim menghantu di sepanjang hidup kami. Aku dan Masari sendiri yang mengerti. Aku sendiri pernah bermimpi Deay telah pindah ke kotaku ini, sementara Masari seakan telah menemukan rindu dan cintanya di teras depan, meski yang kubayangkan mungkin hanya saat-saat musim penghujan.

Hujan malam lalu turun deras, Masari menatap langit gelap luas, rasa rindunya lepas. Suara petir menggelegar seolah kalap, dan sungguh, aku membayangkan tubuh Masari sedang kudekap, meski tetap saja sosok Deay yang kutangkap. ***




===================
Mahan Jamil Hudani adalah nama pena dari Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April 1977. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO). Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan (KSI Tangsel) sebagai ketua. Kini juga sebagai kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), serta sebagai Redpel di portal sastra Litera.co.id. Karyanya tersiar di sejumlah media massa seperti Fajar Makassar, Batam Pos, Riau Pos, Sumut Pos, Lampung Pos, Bangka Pos, Solopos, Medan Pos, Pontianak Pos, Tanjungpinang Pos, SKH Amanah, Bhirawa Surabaya, Haluan Padang, Palembang Ekspress, Magelang Ekspress, Padang Ekspress, Rakyat Sumbar, Rakyat Aceh, Rakyat Sultra, Kabar Priangan, Analisa Medan, Majalah Semesta, Majalah Mutiara Banten, Majalah Kandaga, maarifnujateng.or.id, kareba.id, labrak.co, gadanama.my.id, lensasastra.id, Dinamika News, Cakra Bangsa, Lampung News, Radar Bromo, Radar Malang, dan Radar Mojokerto. Karyanya juga tersiar dalam sejumlah antologi bersama. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Raliatri (2016), Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019), dan Bidadari dalam Secangkir Kopi (2021)

Ingatan Para Peziarah

0



Tamsil Sunyi

tatapanmu gemerlap cahaya
redup di kening malam
mengayuh ombak di gelombang langit
tersingkir didera murka angin
dan engkau melukisnya
dalam sempitnya pikiran
kemudian jatuh, mengalir puisi
aku terkurung dalam bait sajakmu
sepi, tanpa doa

(2021)




Padang Tandus

di padang tandus
tempat ragaku mengembara
jalan terasa sempit
langit berwajah pekat
awan hitam murka
matahari tak lagi bermata
hanya ada secuil cahaya mengintip
lantunkan gema kematian
menguntit di balik tirai halimun
puting jendela kata hanyalah kuburan
sepi dan gelap
kuingin semua puisiku bertasbih
Allahu Akbar!

Malang, 2021




Kuburan Masa lalu

mulut-mulut yang ‘kau satukan
dalam keranjang tidur
tak lagi menyapa senjasumbang, tertelungkup awan
menua, mendekap langit
menjelma sajak di tangan para pendosa aksara

berganti musim tangan penaku retak
merajam diksi di sudut waktu
sajak-sajak kita berselimut salju
menggigil dingin, mulut kita makin bisu
sebutir kata pun tak menuai makna
jatuh bergelimpangan di tumpukan jasad

ada bunyian tertadah di tembikarpenuh aksara,
yang belum kita tulis
tubuhnya mulai terpajang kusam
menanti lisan-lisan doa, berganti rupa
dan sajak kita kehilangan napas
tertatih berjalan merundung gelisah
meraba bunyian baru, menggali tanah
mata kita kian samar
memaknai pusara, tempat peninggalan harta karun
kilau tulang-belulang pun kita jadikan morfem
menelisik zaman terbaca purbakala
hingga kuburan berbusana mantra dan mistik
: kita semua adalah pemburu mimpi
gerabah menjelma seperti emas
menggali tanah semakin dalam

apakah tanah-tanah telah membutakan kita
atau hembusan angin senantiasa membisik
engkau, aku terjerat kisah absurd dan arkais

pusara tak pernah membangkitkan masa lalu
adalah kita menghidupkan sajak
di penggalan zaman setelah firaun abadi
menjadi morfem di kitab-kitab bersih
dan kita menunggu keabadian
di kitab nisan yang belum tertulis

Malang, 2021




Ta’aruf

senja merapuh
tergulung digegas magrib
hanya tersisa tetesan duka
terus menguliti rerimbun raga
jasad pun khilaf pada ketidak-sempurnaannya
terseok-seok, mencari peradaban taaruf

sesal pikiran bagai bayangan ingkar
mengejar jejak gundah hati
sesungguhnya jiwa merindumembasuh diri untuk bermunajat

biarkanlah bait-bait sajakku
menyesali diri dalam doa
penatku tak mampu lagi
memaknai kesucian kalam ilahi

Malang, 2021




Serupa Lafal

kita adalah sefana-fananya api
meringkuk batin di lisan dunia

kita adalah keabadian nafsu
meranggas musim di jejak sesat

kita adalah seruncing dusta
di sinar matahari, yang tak pernah ingkar

bumi dan langit adalah jarak
perjalanan singkat pikiran kita
tak pernah mampu kita satukan

adalah doa senantiasa kita lantunkan
tetapi lisan kita tak pernah serupa lafal
kering tak terbasuh

seharusnya kita tuangkan
semua aksara ke dalam bejana cinta
yang mengagungkan di atas segalanya
pemilik kalam kekal
hingga tuhan tersenyum
meski mata kita selalu saja samar
dengan segala makna yang tak berwujud

Malang, 2021




Sajak Suluk

setelah engkau pergi
entah kapan giliranku tiba
meski diam, langit senantiasa mengintai
di kakinya, kabut mengalir
terjerumus di penghentian angin
dan persetubuhan yang melaknati
segala kerinduan

langkah kakimu
serupa bunga kamboja
menggores ingatan para peziarah
menjulur di akar-akar tanah
dan sepasang angin menghembuskan aroma
menusuk dan menyengat lubang sajakku
tubuhku merapuh, linglung

percakapan kita telah tuntas
malam telah menggelar sepi
berbisik lembut di daun telinga
: kematian menjemput
Kita kibarkan kekalahan abadi

jiwaku berontak
aku ingin menggugatnya
di dadaku masih tersisa dua larik puisi
yang belum dibacakan malaikat

biarkan jiwaku pergi
menyisakan hidup ragaku
disitu, lantunan shalawat pernah kutangisi
tatkala semesta jiwaku kehilangan suluk

Malang, 2021




Penghentian Malam

: engkau yang merindukan Jalaludin Rumi

dalam tidur, tidaklah selalu diam
pikiran mengembara, mendendangkan puisi
merangkai bait-bait menuangkan dalam bejana mimpi

kawanku,
apakah seorang Rumi pernah datang
mengetuk pintumu
lalu meminjamkan jiwanya
untuk menghidupkan ranjang tidurmu
yang engkau sebut tempat membaringkan segala penatmu!?

adalah angin yang selalu beranjak
mengitari sudut-sudut matamu
hingga bayangan putih nan suci
telah mengingkari tatapanmu

betapa baitku bergetar
saat aku menyebutnya sinar putih
dan itu mungkin membuatnya terjungkal jatuh
jiwanya merintih tersayat
adalah dirinya lebih tersanjung
ketika aku memanggilnya, hamba sahaja

malam basah dan rapuh
di antara dingin yang menguap
kunyalakan lentera, membangkitkan hangat
walau gelap begitu pekat
menyelimuti langit-langit kamar

satu kata, ingin kupaku di tembok langit
kuberikan padamu sebelum fajar tiba
seorang Rumi ingin hidup dalam sajak-sajakmu

Malang – 2021 




Menuju Sunyi

aku takut ketika waktu berjalan lambat
datang menghentak dan menakutkan
membisikkan kematian
ketika sajakku belum sempurna
menuliskan doa
dan lisanku hanya mampu berdiam diri
kemana lagi waktu harus kutuangkan
jika semua jejak detik
tak lagi menyisakan catatan dan jalan bagi nafasku

Malang, 2021





===================
Vito Prasetyo dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Menulis cerpen, puisi, esai, Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa media, antara lain: Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Republika, Suara Karya, Lombok Post, Magrib.id, Haluan, Travesia.co.id, dan Harian Ekspres Malaysia. Termaktub dalam Buku Apa Dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Penyair yang pernah kuliah di IKIP Makassar, ini kini menetap di Malang, Jawa Tengah. Buku Kumpulan Puisinya yang telah terbit, Biarkanlah Langit Berbicara  (2017), dan Sajak Kematian (2017).






Obituarium Keabadian Cinta

0

GERIMIS yang turun pagi itu bagai membekap kota dalam keheningan yang mistis. Setiap bunga yang aku lihat di taman Sungai Seine seakan meringkuk dalam kesunyian. Melihat apa yang terjadi, kata-kata yang aku miliki seolah tak mampu untuk menggambarkan dunia di sekelilingku. Bahkan sekeras apapun aku berusaha untuk menjelaskan yang tampak di depanku, kata-kata yang aku miliki tidak bisa menjangkaunya. Apakah peristiwa ini terjadi karena sumpahku semalam yang mengutuk agar seluruh kata-kata di dunia musnah? Batinku.

Gerimis terus berjatuhan secara lurus menimpa kepalaku. Rintik hujan itu seperti mencoba membangkitkan ingatan atas kejadian semalam yang membuatku mengucapkan sepatah kata kutuk tersebut. Malam itu di Kafe Les Deux Magots, aku bersama Louisa—seorang mahasiswi Sastra yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya di Universitas Pantheon Assas—keluar untuk berjalan-jalan. Ia sudah lama aku taksir di kampus. Aku sengaja mengajaknya ke kafe ini untuk menikmati pasta yang cukup terkenal di kota. Sembari makan, kami menikmati suara indah seksofon dari panggung kecil yang terletak di dalam kafe.

Kami hikmat menikmati makan malam. Cahaya temaram yang dipendarkan lampu kafe membuat Louisa tampak sangat cantik. Belum lagi terusan gaun hitam selutut yang ia pakai pada kencan kami—membuatnya seolah tercipta dari cahaya surga. Setelah kami selesai makan, seperti yang sudah aku rencanakan, aku lekas mengatakan perasanku.

Je t’aime, Lou,” kataku singkat tapi penuh harapan.

Tu dis ca serieusement?” Balasnya seolah ragu dengan ucapanku.

“Aku benar-benar menyukaimu sejak pertama berjumpa dahulu di kafe ini,” jawabku jujur.

Aku pertama kali mengenal Louisa memang tidak di lingkungan kampus. Mungkin karena jurusan kuliah kami yang berbeda. Aku mengambil studi filsafat, sementara Louisa sastra. Tapi kami dipertemukan oleh karya Guy de Maupassant yang waktu itu sedang dibacakan oleh penulis lokal kota di kafe ini. Louisa sendiri waktu itu membacakan salah satu cerita pendek pengarang tersebut. Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihatnya.

Setelah acara itu, aku nekat mengajaknya kenalan. Lantas, dari situ aku tahu kalau kami satu kampus. Dan sejak itu pula, kami beberapa kali keluar bersama untuk berkencan.

Louisa masih diam saja menggantungkan pertanyaanku. Aku sendiri semakin gelisah menunggu jawabannya.

“Aku ragu akan cintamu,” balasnya murung.

Wanita itu tampak bersalah. Sepasang matanya yang jernih gelisah mencari sesuatu di tengah kerumunan orang-orang yang sedang tenggelam dalam cangkir-cangkir wine dan kebahagiaan di kafe.

“Kau tahu aku sudah tidak lagi mempercayai setiap kata-kata di dunia ini,” lanjutnya terdengar dingin. “Kata-kata hanya membuat ayah dan ibuku bercerai dahulu. Kata-kata hanya membuat dunia ini kotor. Barangkali kata-kata adalah sekumpulan dosa yang kelak akan menghancurkan dunia!”

Wanita itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi kepadaku. Angin malam pun seolah membakar tubuhku. Setelah kejadian itu, tubuhku menjadi begitu lemas. Aku kemudian merasa kepalaku berdenyut kencang. Pening. Aku lekas pulang dengan langkah sempoyongan. Sesampainya di apartemen, aku bersumpah agar kata-kata menghilang dari dunia ini!

Kemudian kini yang terjadi, pagi harinya, aku terbangun tanpa sebiji kata-kata yang dapat kuucapkan. Kota Paris pun bagai tenggelam dalam keheningan yang masygul.

***

AKU melangkah menyisir jalan Chemin de Halage yang berlandaskan bebatuan. Beberapa kali aku bertemu seseorang di sana. Mereka tampak tak lagi menggunakan bahasa untuk bicara. Aku terus berjalan hingga sampai di Parc des Tourelles, sebuah taman yang cukup ramai di pusat kota. Di sana aku tak juga menemukan kata-kata. Aku hanya menyaksikan setiap kata yang biasanya diucapkan berubah menjadi isyarat. Merde! Aku tak menyangka kalau sumpahku semalam terkabul.

Seluruh orang hari itu memang tak lagi menggunakan bahasa. Mereka pun menjadi tampak lucu mengatakan sesuatu dengan isyarat—mirip seperti aktor pantomim yang sekali pernah aku lihat di Folies-Bergere. Namun yang paling penting, hari ini, manusia tak lagi dapat berbohong ketika mengutarakan isi hati. 

Setelah mengelilingi taman Parc des Tourelles yang rimbun ditumbuhi pepohonan, aku duduk dengan pada sebuah bangku di taman itu. Aku menengadah menatap dedaunan yang hijau dan awan mendung di baliknya. Seekor burung melintas di atas kepalaku tanpa meninggalkan suara apapun dari kepaknya. Aku menikmati keheningan kota tanpa ada keributan. Hingga mataku tertumbuk pada sepasang kekasih yang sedang duduk berduaan tidak jauh dariku.

Mereka terlihat mesra saling berpegang tangan menikmati udara pagi. Sesekali wajah mereka tertunduk, tetapi saling mencari. Tak terdengar sepatah kata dari bibir mereka. Aku terus mengamati kegamangan sepasang kekasih itu. Pria itu tampak sibuk dengan sesuatu yang berada di dalam sakunya, sedangkan kekasihnya kukuh tepekur. Menunggu. Tetapi, tanpa aku sangka-sangka, pria itu membelah dadanya dengan sebilah silet dan mengeluarkan isinya.

Pria itu lantas memberikan jantungnya yang masih berlumuran darah dan berdenyut-denyut kepada kekasihnya.

Le monde est devenu fou!

Sekuntum senyum merekah dari sudut wajah wanita itu. Ia mengambil jantung yang berlumuran darah dan berdenyut-denyut itu. Ia menciumi dan mengendusnya beberapa kali, hingga sisa darah tertempel di wajahnya. Namun wanita itu tampak bahagia. Tidak begitu lama, wanita itu mengembalikan lagi jantung dan hati yang masih berlumur darah itu kepada si pria. Wanita itu kemudian menjahit dada kekasihnya dengan sebuah benang abstrak.

Aku terhenyak ketika menyaksikan pemandangan gajil itu. Aku tak menyangka kalau bungkamnya kata-kata dapat membuat kejadian tak masuk akal menjadi begitu nyata di dunia. Serba-serbi yang betele-tele tentang cinta dapat begitu saja diungkapkan lewat tindakan.

***

SENJA itu udara seperti menggumpalkan partikel-partikel kerinduan di dadaku. Aku tak dapat lagi membendung cinta yang terus bergejolak. Tetapi untuk mengucapkan kata-kata rindu, aku tak mampu. Maka, ragu-ragu, aku kembali mendatangi apartemen Louisa di Place Jacques Tachin.

Aku mengetuk pintu apartemennya beberapa kali. Louisa keluar menyambutku dengan wajahnya paling muram yang pernah aku lihat. Ia seakan tak suka melihat kehadiranku. Bahkan dari tatapannya, aku bisa mendengar kalau ia mengatakan, que voulez-vous de plus!  kepadaku.

Di lorong apartemen itu, kami hanya saling tatap. Tidak ada gerak. Tidak ada kata. Tetapi, di dalam hatiku meluap berbagai bentuk kata. Pelan-pelan, aku pun meraba dadaku. Aku kemudian merobeknya dengan sebuah couteau—yang telah aku persiapkan di dalam saku. Aku ingin mengutarakan cinta dan rinduku dengan segumpal jantung serta hatiku yang masih berdenyut-denyut segar itu.

Aku sodorkan jantung dan hatiku padanya. Namun Louisa malah memandangku dengan kening yang bergelombang. Aku berpikir: Mungkin untuk kedua kalinya cintaku kembali ditolak. Tetapi, tidak! Aku tak mau kekalahanku kembali terulang. Aku letakkan jantung dan hatiku di tangannya. Aku mengisyaratkan betapa kerasnya keinginanku kepadanya. Hanya saja sekali lagi, ia tak mau menerima cintaku. Ia bahkan tak segan membuang jantung dan hatiku ke tong sampah.

Aku termenung dengan perasaan kacau. Air mataku bahkan nyaris jatuh. Sungguh, cinta sudah membuatku gila. Aku tinggalkan lorong apartemen itu tanpa mengambil jantung dan hatiku. Aku berharap kalau ia berubah pikiran, syahdan mengambil kembali jantung dan hatiku yang menggelepar di tong sampah itu. Tetapi, ia kukuh dengan perasaannya yang asing itu. Sampai tidak lama kemudian, seekor anjing kurus mengambilnya, kemudian memakan jantung serta hatiku.

***

MALAM itu aku termenung di Kafe de la Gare yang sudah tutup. Di simpang jalan dekat kafe suasana begitu sunyi. Tak ada lagi yang dapat aku rasakan selain kekosongan seperti bangku-bangku yang tampak menggigil disepuh udara tengah malam.

Getir di dalam tubuhku terus menggeliat. Tetapi, cinta dan rinduku pada gadis itu masih kukuh bertahan. Aku sadar cinta yang sabar menunggu, memang akan sulit untuk dibunuh. Tiba-tiba, aku ingin memberikan sesuatu lagi pada wanita itu. Aku ingin menyakinkannya kalau betapa keras kepala cintaku ini.

Setelah kata, jantung, dan hatiku ditolak, apa yang paling tulus di dunia ini? Ahh, aku ingin memberikan jiwaku sebagai tanda kalau aku rela melakukan apa saja untuknya.

Tanpa banyak berpikir, aku mengerat jiwaku dalam selembar amplop. Lewat seekor burung kelelawar, aku pun mengirimnya. Aku berharap ini dapat menjadi kado cinta terindah untuknya, dan menegaskan ketulusan hatiku—kalau aku benar-benar menyayanginya.

Burung itu terbang membelah langit malam Kota Paris dengan membawa jiwaku. Sedangkan tubuhku, di tepi meja kafe, teronggok, menunggu membusuk.

Apakah menurutmu amplop berisi jiwaku itu akan diterimanya?




====================
Risda Nur Widia.
 Buku keempatnya yang sudah terbit berjudul Berburu Buaya di Hindia Timur (2020). Cerpennya tersiar di berbagai media.

Yang Jauh tak Tersentuh

0


Tahajud

kau desirkan desir angin
menyinggahi dada,
kepala dan pikiran
di sepertiga malam
yang melantunkan harap
dari sujud yang merindu
kau sudahi segala air mata

Pamekasan 2021





Tubuh subuh

aroma doa
merembes ke dinding-dinding
kulepas segala sepi
pada rinai embun
yang memulas pada daun-daun
lalu pada senyum malaikat
seluruh tapak rakaat mengikat
sujud-sujud merambat
mengakar pada amin yang hakikat

Pamekasan 2021





Demografi Melankolia

pertama-tama
kau menyoal seluruh isi dadaku
“bagaimana cinta itu mengendap
lalu menumbuhkan duka lara?” katamu
lalu kamu tak acuh
serupa pagi yang melelapkan dingin di meja makan

cinta adalah kata lain dari kesedihan
datang secepat cahaya dan tak bisa pergi
lalu kita sama mencari-cari
lewat pintu mana untuk keluar dari jebakan ini

Pamekasan 2021




Dada Kemarau

kita adalah musim yang berlabuh di dada kemarau
tapi dalam tapa hening kita
dingin masih saja belum reda

seperti rindu, serupa suaramu
yang memenuhi cawan
menyirami kerontang tubuh ini

malam sudah hampir beranjak kekasih
tapi dingin masih belum reda
dan kita masih tak melewati apapun
kecuali keheningan

Pamekasan 2021





Setiap Pagi

sebelum cahaya menjelma laut
setiap doa dan pengharapan
berkabung menuju langit
menembus cakrawala
dan waktu gugur satu per satu
; menjelma air mata

Pamekasan 2021





Kali Ini

kali ini,
sebelum malam ruah di ampas kopi
; dan menjadi pahit rindu ini
aku akan memilih pergi
dan kita akan saling mengenang dalam puisi
juga lewat senyum yang sembunyi

biarlah,
huruf-huruf namamu berjejalan di kepala
kan kutuntaskan dendam pekat kelahiran ini
dengan mata jalang
dan waktu yang tergenggam

Pamekasan 2021





Di warung kopi
: amalia

ingatanku yang mengembara
kembali pulang
mengguyur seisi kepala

lalu cemas menyinggahi seluruh pagi,
siang dan malam

kau pernah duduk manis di sini
kasihku,
maka peluklah kesabaranku
dengan kesadaranmu
yang jauh
tak tersentuh

Pamekasan 2021





================
Mohammad Latif lahir di Sumenep 28 Desember 1998 Taneyan Kesenian Bluto, Forum Belajar Sastra, Sanggar Asap dan saat ini sedang bergiat di Teater Fataria dan Klub Puisi Manifesco.

Seekor Ikan yang Jatuh Cinta pada Rembulan

0

Malam itu ia duduk di tepi dermaga. Wajahnya menengadah ke langit. Dan di matanya, cahaya rembulan telah menjadi biru. Perahu-perahu yang bergoyang di tepian berwarna biru. Bangku-bangku yang bisu berwarna biru. Pohon-pohon yang menyemak berwarna biru. Air segara yang beriak ringan juga berwarna biru. Dan ia pun merasa dirinya telah menjadi biru.

“Jika kesunyian punya warna, mungkin warnanya juga biru,” desahnya, dalam.

Ia seperti bertanya pada diri sendiri, kesunyian ini berpusat di mana? Mungkin di sini, di dada yang berlubang ini. Semua karena sepasang mata. Sepasang mata yang bisa berkedip, memejam, memutar, dan menangis. Sepasang mata ini.

Pada suatu hari, seratus tujuh belas hari sebelum hari ini, untuk pertama kalinya, ia diajak tuannya mengantarkan beberapa keranjang ikan ke dapur sebuah pesantren. Dengan tubuh hitam mengkilap yang ditempeli butiran-butiran sisik ikan, serta bau amis yang bisa bikin siapapun menumpahkan isi perut, ia memanggul keranjang penuh ikan. Tergopoh-gopoh. Menuju sebuah dapur yang begitu lapang. Dengan dinding penuh ukir kaligrafi dan kata-kata bijak. Ia dan beberapa kawan mengempaskan keranjang-keranjang penuh ikan itu ke lantai dapur. Ikan-ikan di permukaan goyah, beberapa ekor melesat ke lantai. Ia memungutinya dan mengembalikannya ke dalam keranjang.

Saat tuannya berunding soal harga, ia dan beberapa kawan duduk mencakung di lantai dapur. Di sana ada beberpa bangku makan. Namun, ia tidak mau duduk di sana. Ia tahu diri. Tubuhnya yang kotor dan bau amis itu akan meracuni bangku-bangku makan para santri. Para pencari ilmu yang mulia. Jika sampai itu terjadi, Tuhan pasti akan menghukumnya.

Pada saat tuannya membalikkan tubuh dengan tangan menggenggam segepok uang, ia melihat sepasang mata di balik tubuh tuannya itu dengan matanya. Sebuah anak panah melesat sudah. Seorang gadis dengan jilbab berwana putih bercahaya, tersenyum mengucapkan terima kasih pada para buruh nelayan. Ia merasa, gadis itu hanya tersenyum padanya seorang. Mengucapkan terima kasih khusus untuknya seorang. Anak panah yang sudah kadung melesat dan menyeruduk seraut wajah yang bakal membuatnya lunglai seketika. Itu tak pernah terjadi sebelumnya. Ketika balik ke mobil pikap yang mengusungnya, ia berjalan gontai bagai rusa tertembak, hingga seorang kawannya bertanya apakah ia baik-baik saja. Wajah gadis yang dikerubuti cahaya itu tak bisa hilang begitu saja.

Pada tuannya, nyaris setiap hari ia bertanya, “Kapan kita antar ikan ke pesantren lagi? Jangan lupa saya diajak!”

Di muka pesantren itu, di seberang jalan, ada sebuah warung makan di bawah tenda sederhana. Ada yang tiba-tiba menggerakkan hatinya untuk pergi ke sana saban pagi atau sore. Sambil melahap nasi dan meyeruput kopi, sepasang matanya tak henti-henti mengawasi gerbang pesantren di seberang jalan. Para santri berlalu lalang, mendekap buku dan kitab-kitab. Mereka saling berbincang. Tertawa. Mencium tangan para guru yang ditemuinya. Ia seperti melihat potongan surga di depan mata. Tak ada bau amis yang bisa bikin muntah, tak ada terik matahari yang benar-benar menyengat, dan tak ada barang-barang berat yang harus mereka panggul di bahu. Betapa terberkatinya hidup mereka. Para pencari ilmu itu.

Hari-hari pun berlalu seperti yang dulu-dulu. Ia mencecapnya tandas sampai ke pori-pori tubuh, ke lorong-lorong ingatan. Aroma asin laut. Dermaga yang riuh nyaris sepanjang hari. Pasar pelelangan ikan yang sudah seperti komplek neraka. Sebuah warung di seberang jalan muka pesantren… hanya saja, sepasang mata yang pernah ia lihat di dapur pesantren beberapa waktu silam itu tak pernah tampak. Ada perasaan aneh bergelung di dadanya. Seperti sesuatu yang menyiksa dan akan berlangsung lama.

Hingga tibalah hari itu, kali kedua ia mengantarkan keranjang-keranjang ikan itu ke dapur pesantren. Jantungnya berdegup tak karuan. Seekor kakap raksasa bagai menggelepar dalam perutnya. Ketika ia mengempaskan keranjang pertama, ia tak melihat siapapun di dapur itu. Namun, ketika ia memanggul keranjang kedua. Ia mulai menghirup aroma melati. Gadis itu muncul dari seberang pintu dan tersenyum padanya. Gadis itu mengenakan gamis berwarna hijau toska, dengan jilbab warna senada. Ia mendadak lunglai. Ia memanggul keranjang-keranjang berikutnya dengan langkah lebih pelan. Karena sendi di lulutnya mulai goyah. Gadis itu duduk di belakang sebuah meja. Dengan beberapa santriwati lain. Membaca kitab suci ukuran kecil. Aroma amis bertumbuk dengan aroma melati. Aroma amis menang.

Ketika tuannya merundingkan harga, ia mengambil posisi duduk yang lebih gamblang agar bisa memandangi wajah bercahaya itu dari kejauhan. Kakap raksasa di perutnya semakin liar, hingga jantungnya bagai siap meledak. Untuk menghentikan siksaan itu, ia mencoba membayangkan sepotong pistol dengan moncong mengarah ke jidatnya. Tak berhasil.

Ia tak mendengar suara gadis itu sepatah kata pun. Dan ketika keranjang-keranjang itu habis terempas, ia balik ke mobil pikap dengan hati berat. Hari-hari berikutnya telah menjadi hari-hari biasa yang membosankan. Sekitar seminggu berselang, pada suatu pagi menjelang siang, ketika ia sarapan di warung seberang jalan depan pesantren, ia melihat pesantren itu begitu riuh. Tak seperti biasanya. Terdengar suara rebana ditabuh. Melantunkan shalawat nabi. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa pesantren itu sedang punya gawe. Butuh beberapa detik pula baginya untuk menatap sepasang mempelai yang berjalan pelan menuju mobil pengantin. Ia berdiri dari duduknya untuk menerawang lebih jelas.

“Siapa itu yang menikah?” tanyanya pada orang-orang di warung.

“Oh, itu Ning Issa, putri bungsu Kiai Khalid.”

“Dapat putra Kiai dari Rembang,” sahut yang lain.

“Anak Kiai dapat anak Kiai, cocok!” imbuh yang lain pula.

Ia melihat sepasang mempelai itu naik mobil pengantin. Ia tak yakin, apakah mempelai putri yang ia lihat sekilas naik mobil pengantin itu adalah gadis berwajah cahaya yang ia temui di dapur pesantren. Sepertinya bukan, tapi sepertinya iya. Mempelai putri itu mengenakan riasan di wajah. Dengan gamis putih rapat mengembang, ekor kerudung beterbangan. Barangkali seperti itulah wujud nyata bidadari, batinnya. Mempelai lelakinya terlihat begitu tampan dan salih, mengenakan kacamata. Sepasang pengantin yang terberkati, yang akan terus berjalan sampai ke surga. Hari itu, ia merasakan lubang-lubang kecil mulai menganga di dadanya, puluhan peluru bagai menembus dadanya. Lubang-lubang di dada yang kian detik kian melebar.

Ia sadar sepenuhnya, bahwa untuk jatuh hati sekalipun, manusia tetap membutuhkan cermin. Ia telah banyak membaca dari yang sudah-sudah. Seorang gelandangan memiliki kemungkinan besar untuk berkahir di jalanan, sebagaimana seorang penjual parfum memiliki kemungkinan besar untuk mati dengan aroma wangi. Begitupula, seorang berilmu memiliki kemungkinan besar untuk menikahi seseorang yang juga berilmu. Buktinya, hari ini ia melihat putri Kiai menikah dengan putra Kiai. Dan beberapa kawan yang bekerja sebagai buruh nelayan juga menikahi anak-anak buruh nelayan. Begitu sepadan. Dan dunia ini sepertinya memang telah tercipta seperti itu. Yang sejajar hanya akan berjalan dengan yang sejajar. Yang sejenis akan akan menapak dengan yang sejenis. Dan seterusnya.

Sejarah berjalan sampai detik ini. Ia hanya bocah yatim piatu yang dirawat oleh adik ibunya—sepasang buruh nelayan miskin, lalu tumbuh besar di pesisir, setelah lulus sekolah menengah ia segera terjun ke lautan, menjadi seorang buruh nelayan yang baru. Tubuhnya hitam legam, wajahnya tidak tampan, tak punya banyak keahlian. Detik itu ia merasa dunianya begitu timpang. Dan ia merasa, bahwa Tuhan menganak tirikannya. Dalam hati kecil, ia menyangkal perasaan itu. Tuhan tak pernah salah. Kalaupun ada yang senjang, semua berkat dirinya sendiri. Pasti begitu. Ia mengaku memiliki Tuhan, namun benar-benar lupa kapan terakhir kali sembahyang. Ia tidak pernah berpuasa pada bulan Ramadan, dan lebaran baginya tak ubahnya sebuah pesta singkat. Ia minum dan berjudi, sesekali membayar perempuan untuk mendapat kesenangan. Apakah Tuhan memang menganak tirikannya?

Malam itu ia pergi ke dermaga. Duduk menghadap ke tengah segara. Wajahnya mendongak ke langit. Dan di matanya, cahaya rembulan telah menjadi biru. Perahu-perahu yang bergoyang di tepian berwarna biru. Bangku-bangku yang bisu berwarna biru. Pohon-pohon yang menyemak berwarna biru. Air segara yang beriak ringan juga berwarna biru. Dan ia pun merasa, dirinya telah menjadi biru. Apakah Tuhan melihatku? Hamba yang biru ini? Rasa sesak yang aneh memenuhi dadanya. Merongrong dirinya. Ia yakin, matanya sudah berair sejak tadi. Rasanya, ia tak ingin dilahirkan sebagai manusia. Lahir sebagai ikan mungkin lebih baik.

Dari tempatnya duduk, ia bangkit dan menyusuri jembatan buntu yang menjorok ke tengah segara. Di ujung jembatan buntu itu ia kembali duduk. Memandang kosong ke biru segara, sebelum akhirnya melompat ke dalam air. Hawa dingin itu membekap tubuhnya. Ia terus berenang. Semakin ke dalam. Terus meluncur. Sampai ke dasar. Ia merasa, kian detik tubuhnya kian menciut. Sisik-sisik mungil mulai tumbuh. Sepasang tangannya memipih menjelma sirip depan. Sepasang kakinya merapat membentuk sirip ekor. Dan tubuhnya telah berwarna biru gelap. Ia terus berenang dan berenang. Mencoba kembali ke permukaan.

Ia terus berenang dengan siripnya yang rapuh. Berenang dan berenang. Menuju permukaan. Dengan tubuhnya yang biru. Berenang dan berenang. Setelah perjalanan yang terasa begitu panjang dan melelahkan, akhirnya ia bisa mengucup udara di muka air. Ia terus menggerakkan sirip ekornya. Sepasang matanya yang bulat mendelik ke wajah langit. Menatap rembulan bulat biru yang agung. Rembulan bulat biru yang tak mungkin bisa ia sentuh.

Seekor ikan yang hidup di palung-palung laut terdalam tak akan mampu menyentuh rembulan. Bahkan untuk sekadar menatapnya, ia mesti melewati perjalanan panjang dan melelahkan untuk sampai ke permukaan. Sebuah keniscayaan, bahwa seekor ikan tak boleh jatuh cinta pada rembulan?***

Malang, 2017-2020






=====================
Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya terpercik di beberapa media. Buku terbarunya, Gelak Tawa di Rumah Duka (2020). Kini bermukim di Malang.

Senjakala Metafora Pada Haiku

0

Pada mulanya adalah kata, begitulah sabda kitab suci pada kita. Lalu merambat menjadi lingua yang lebih akrab disebut dengan linguistik. Dalam pembelajaran bahasa tentunya sudah tak asing lagi dengan nama-nama seperti: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan pragmatik. Narasi perihal kosmos kebahasaan tersebut telah menjadi liyan bagi batang tubuh kebahasaan yang bermula dari sebuah kata lalu merambat jadi lah semesta raya.

Bahasa telah menjadi senjata yang ampuh untuk meneroka semesta bagi pesastra. Entah itu novelis, cerpenis atau pun penyair. Ketiga pegiat sastra itu saya katakan sebagai penganggit kata yang merekam segala peristiwa mikro di bentala raya agar mampu dibaca. Bedanya, jika novelis dan cerpenis mengurai kata demi kata menjadi untaian kalimat bercerita. Beda halnya dengan penyair. Penyair bekerja pada aspek semantis tiap kata supaya mampu menarasikan konotasi jamak pada tiap pembaca. Sehingga pembaca mampu mengapresiasi lewat intuisi.

Gerak hati yang timbul saat membaca puisi merupakan subjektivitas pada setiap diri. Hal ini tidak terlepas dari karakter puisi itu sendiri: bersifat estetika, hemat kata, dan bersifat figuratif. Aspek estetik pada puisi hadir karena perpaduan tiga aspek utama yang saling berkelindan: yang pertama ada diksi, majas dan yang terakhir ada metafora. Tapi apa jadinya jika puisi bisa eksis tanpa adanya metafora di batang tubuhnya?

Hakikat Puisi

Puisi sendiri adalah salah satu dari genre sastra: prosa, puisi dan drama. Kata puisi diadopsi dari bahasa Yunani yakni poeima yang berarti membuat atau poeisis yang berarti pembuatan. Puisi juga adalah karya sastra yang paling awal yang pernah ditulis oleh umat manusia. jadi, karya sastra tertua bukan novel, cerpen atau pun drama melainkan puisi. Dari hal itu banyak karya sastra lama yang berbentuk puisi, sebut saja: Mahabarata, Ramayana dari India yang berbentuk puisi atau kavya (kakawin). Drama-drama Sophocles (Oedipus Sang Raja, Oedipus di Kolonus, dan Antigone) dan drama-drama William Shakespeare (Hamlet, Macbeth dan Romeo dan Juliet) juga berbentuk puisi.

Puisi berkembang seiring berjalannya waktu. Mulai dari puisi lama hingga puisi modern. Dari yang terikat sampai ke yang bebas. Namun, bagi saya puisi Jepang memberikan khazanah penawaran baru bagi dunia kesusastraan. Terutama perihal kepenyairan. Dulu, pada era Muromachi muncul gagasan atau ide baru tentang perwajahan puisi di negeri Sakura. Namanya puisi haiku. Akan tetapi, kemunculan haiku pada masa itu bukan berarti orang Jepang belum mengenal puisi sebelumnya. Haiku hadir guna mengembalikan fitrah setiap liyan pada gerak alam melalui citraan dan daya bayang.

Komponen Haiku

Puisi haiku terdiri dari tujuh belas suku kata serta dibagi menjadi tiga larik. Pada larik pertama ada lima suku kata, larik kedua terdiri dari tujuh suku kata dan larik ketiga ada lima suku kata. Jadi totalnya ada tujuh belas suku kata. Tentunya, puisi yang masih bergantung pada aturan-aturan mengingatkan kita semua pada puisi-puisi lama yang sudah berkembang di Nusantara. Hanya bedanya haiku tidak menggunakan metafora.

Jika air laut dengan asinnya, Madura dengan Islamnya serta Bali dengan Hindunya. Dapatkah puisi hidup tanpa metafora di dalam tubuhnya? kita semua tahu, hadirnya metafora di dalam batang tubuh puisi adalah sebagai penyedap estetis pada tiap larik dan bait yang berkelindan. Metafora didefinisikan sebagai penyangkalan terhadap alam. Metafora hadir sebagai aspek estetik pada puisi namun terkadang semua penuh dengan intrik keragu-raguan terhadap alam. Hal ini yang saya kira dikritik oleh puisi haiku yang mengedepankan kejujuran terhadap buana.

Sistematika puisi haiku disamping ada tujuh belas suku kata dan terbagi dalam tiga larik ternyata, ada hal penting lain disamping itu. sederhananya, puisi haiku harus lah terdiri dari dua unsur cerita di dalamnya. Memotret dua peristiwa dalam satu waktu yang mana objeknya berfokus pada alam raya dengan memaksimalkan daya citraan: visual imagery, auditory imagery, smell imagery, taste imagery,taste imagery, tactile imagery, kinaesthetic imagery.

Syamsu tenggelam
Biduk menuju ufuk
Di gema magrib  
(Royyan Julian)

Objek material yang berfokus pada alam dinarasikan sebagai aspek ontologis berupa pemotretan terhadap karya ciptaan Tuhan. Ketiadaan metafora dalam puisi haiku memperbesar kejujuran pada tiap penganggit haiku. Artinya, kita senantiasa jujur terhadap apa yang dirasakan oleh indra. Bersetia pada kaki alam serta berusaha memotret apa adanya yang terjadi. Jika langit biru ya katakan biru, jangan mengatakan langit bahwa sedang kelabu misalnya (kata kelabu sudah merujuk pada metafora). Nah, hal itulah yang berusaha puisi haiku kemukakan. Yaitu kembali kepada alam dan menarasikan dengan kaca mata telanjang. Tidak ada kepura-puraan (metafora) dalam haiku.

Aspek estetis pada puisi haiku tidak menekankan pada bukan arti sebenarnya, akan tetapi berfokus pada kigo. Kigo merupakan isyarat alam yang bisa menenangkan pikirian. Entah suara alam ataupun bisa juga suara dentuman dan kebisingan alam. Di dalam kigo tersemat kireji yang berfungsi sebagai jeda pada tiap bahasa saat merekam simfoni alam.

Selain puisi haiku yang mengkiblatkan arahnya pada alam, ada filosofi Wabi Sabi yang juga mengembalikan manusia kepada marwah nenek moyangnya. Wabi Sabi dan puisi haiku sama-sama mengekalkan kesederhanaan bahwa bumi ini fana dan penuh dengan intrik drama di dalamnya. Keduanya, bisa menjadi penangkal yang menyegarkan bagi dunia kita untuk melambat sejenak, terhubung kembali kepada alam, dan bersikap lebih baik pada diri sendiri.   

Puisi haiku telah mengajarkan bagaimana manusia seyogyanya bersifat minimalis, hemat, apa adanya serta tidak perlu mempertahankan hal-hal yang tidak bisa dibawa mati. Serta dapat ditarik kesimpulan bahwasanya inti dari puisi haiku ini terletak pada aspek honest. Kejujuran menjadi barang yang amat sangat mahal di situasi sekarang ini. Haiku hadir sebagai tirta amerta di oase kehidupan yang kering nan tandus, menitik beratkan pada setiap aspek karakter dari setiap liyan melalui suara alam.




====================
Fahrus Refendi, mahasiswa Universitas Madura program studi Bahasa & Sastra Indonesia. Bergiat di Sivitas Kothѐka dan menetap di Pamekasan Madura. Keinginanya hanya satu: yakni bisa hidup bahagia mati masuk surga.

Dibalap Sepeda

0

Di akhir abad XX, kita teringat bahwa memiliki sepeda sama artinya dengan orang-orang yang tidak memiliki uang. Dahulu sepeda juga tak memiliki hak prerogatif di jalan seperti sekarang, dengan adanya jalur khusus sepeda. Sebab, jalan saja masih berlubang, bagaimana bisa memberikan hak bagi pesepeda. Iwan Fals mencoba mendendangkan realitas pada lagu Guru Oemar Bakri (1981). Kita simak, “Oemar Bakrie/ Profesor, guru, insinyur pun jadi/ Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie/ Seperti dikebiri?// Laju sepeda kumbang di jalan berlubang/ Selalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang//.

Kita mengerti bahwa Oemar Bakrie hanya sanggup membeli sepeda kumbang dari gaji minimnya. Ia tak sanggup beli motor bebek, atau mobil Avanza meskipun secara mengangsur. Namun, walau hanya dengan sepeda, Oemar Bakrie tetap bisa menghantarkan ilmu pada murid-murid. Meski harus mengayuh sambil cermat memperhatikan lubang agar sepeda tak ringsek masuk lubang. Itu tetap dilakukannya demi murid. Iwan Fals coba merajut cerita sedih lewat guru, gaji minim, dan sepeda. Ingat sepeda, ingat sedih.

Kini, pesepeda sudah tak akrab dengan kesedihan: jalan berlubang dan penghasilan minim. Di situasi kiwari, pesepeda Jakarta akrab dengan Jalanan M.H Thamrin – Jendral Sudirman yang beraspal mulus dan begitu bercahaya. Sorot cahaya lampu dan bangunan mungkin bermaksud agar pesepeda terhindar dari lubang di jalanan. Situasi bermaksud agar pesepeda terhindar dari kisah sepeda Oemar Bakrie yang selalu menjumpai lubang-lubang di jalan.

Ketidakberadaan lubang di jalan yang dijumpai pesepeda saat ini. Membuat mereka bisa menikmati bersepeda sekaligus mendengarkan lagu. Lagu didengarkan di telinga melalui gawai pesepeda. Lagu garapan Iga Massardi yang berjudul Krisis Hiburan (2020) pernah didapuk oleh para pesepeda sebagai kawan ketika mengayuh pedal. Lagu memang tak berkisah mengenai pesepeda seperti Guru Oemar Bakri yang didendangkan Iwan Fals. Tapi ia tetap dinikmati oleh banyak pesepeda saat berkendara. Penikmat tidak hanya teman-teman musisi seperti Jimi Multhazam dan Vincent Rompis. Atau jurnalis musik: Soleh Solihun. Berbagai kalangan pun menikmatinya.

Seharusmya, lagu sepeda perlu melaju meninggalkan Oemar Bakrie dengan sepeda kumbangnya. Kita perlu diingatkan kalau sepeda tidak lagi mengenai kisah-kisah kesedihan. Sepeda sudah moncer bersanding di jalan dengan motor-motor atau bahkan mobil. Sepertinya kita bisa membujuk Sir Dandy untuk mengubah lagunya Jakarta Motor City (2011), menjadi Jakarta Bicycle City. Ia bisa berkisah para pesepeda Jakarta dengan budaya barunya: eksistensi, harga diri, nominal, foto, dan lain-lain.

Kita coba simak lagu Sir Dandy yang berjudul Jakarta Motor City (2011). “Tak ada lagi yang berjalan kaki/ Naik bajaj atau metromini/ Semua orang punya motor satu/ Dari majikan sampai Pembantu// Woi/ Jakarta motor city/ Semua ngebut tak terkendali//. Rasanya tak perlu meminta Sir Dandy agar merubah isi lirik lagunya. Itu sudah apik. Dan permintaan terasa terlalu banyak. Malah akan membebankan Sir Dandy.

Mungkin kalian bisa hanya mengubah kata “motor” jadi “sepeda” di lagu Jakarta Motor City. Agar terasa bahwa kota Jakarta sudah mulai dikerubuti pesepeda yang hinggap di setiap jalan. Kini, Jakarta tak hanya terhinggapi sepeda saat hari Minggu—CarFreeDay—saja. Tiap pagi, siang malam yang tak kenal hari akan terjamahi para pesepeda.

Lagu sepeda memang tak melaju melewati motor atau mobil. Tapi, bukan berarti ia tak bisa digunakan untuk balapan. Di Jakarta, pesepeda sedang menyalip pemotor dan pemobil secara budaya. Kita juga bisa mengingat adegan balapan sepeda di film 3 Idiots (2009). Virus Sahastributi yang diperankan Boman Irani tak ingin dibalap pesepeda lain. Ia mencoba melewati pesepeda yang menyalipnya. Meski si penyalip tak bermaksud mengadu kecepatan dengan sepeda. Bersepeda jadi termaknai saingan. Virus mungkin hanya bersaing dengan kecepatan. Namun tidak dengan pesepeda Jakarta. Mereka tak hanya bersaing dengan kecepatan. Sebab jika kecepatan yang dijadikan ajang, kita bisa bersepeda dengan ikut lomba-lomba balap sepeda, seperti Tour de France. Atau buat saja acara bernama Tour de Jakarta.

Bersepeda itu balapan gengsi, merek, juga citra diri. Ia bukan sekadar alat untuk mengefisiensikan jarak tempuh, kepedulian lingkungan, atau kesehatan jasmani. Sepeda tak hanya bermakna sebagai hal-hal baik. Ia juga termaknai banyak hal dan kepentingan lain. Seperti kepentingan mengunggah di medis sosial, kepentingan tak ingin ditinggal budaya, kepentingan bederma pada rakyat, juga kepentingan-kepentingan lain.

Kepentingan-kepentingan itu belum muncul di film-film Indonesia. Di film Indonesia, kepentingan sepeda banyak teringat sebatas alat pemersatu cinta kasih muda-mudi. Situasi Oemar Bakrie dengan sepeda Kumbangnya belum direstui menjadi film. Kita coba tunggu, apakah Garin Nugroho, Mouly Surya, Gina S. Noer, atau Joko Anwar akan membuat film yang tak hanya menjadikan sepeda sebatas kendaraan romantis.

Kita tentu tidak menginginkan film berlatar balapan sepeda. Kisah yang mungkin akan mengingatkan kembali pesepeda dengan kesedihan. Seperti ketika pengemudi mobil yang diingatkan dengan kesedihan-kesedihan melalui film Ford vs Ferarri (2019) yang diperankan Christian Bale dan Matt Damon. Christian Bale yang berperan sebagai Ken Mills mati tanpa diingat sebagai orang Amerika Serikat pertama yang menjuarai Gran Prix F1 di Le Mans, Prancis tahun 1966. Sebab ditipu demi foto untuk promosi penjualan mobil ford kala itu. Ia hanya menjadi juara dua, sebab menunggu teman satu tim agar bisa terjepret bersamaan dengan apik di garis finis. Dengan kesedihan itu, ia terkubur.

Ada baiknya jika memang tak ada film bertema sepeda. Apalagi memadukannya dengan kesedihan. Jika ada, para pesepeda mungkin akan mundur kembali dan minder dalam balapannya dengan motor dan mobil di jalan, Instagram, Twitter, juga Youtube. Mereka tak jadi mengisi keriuhan yang ada. Hanya bisa menonton pengendara motor dan mobil di jalur daring dan luring saja. Begitu naas.

Tapi, film Iran yang berjudul Children of Heaven (1997) pernah memaknai sepeda sebagai sumber kesedihan. Ali dan ayahnya jatuh karena sepeda yang digunakan rusak di bagian pengereman. Mereka jatuh di jalanan menurun selepas bekerja. Mereka tidak jadi membelikan Zahra—adik Ali—sepatu. Sebab uang hasil kerja harus dialihkan untuk mengobati ayah. Di film, kita melihat bahwa sepeda jadi masalah kesedihan bocah. Bocah kalah ketika balapan dengan keadaan. Layaknya Oemar Bakrie, Ali pun bersedih dengan sepedanya. Ada baiknya film ini tak tercium endusan pesepeda Jakarta. Agar mereka tetap berani balapan.

Kita memang sudah semestinya meninggalkan kesedihan Oemar Bakrie dan Ali dengan sepedanya. Tidak perlu rasanya membangkitkan kesedihan pesepeda Jakarta melalui lagu-lagu ataupun film-film. Kisah-kisah sedih memang tak patut untuk diperlihatkan. Apalagi diumbar-umbar secara terang-terangan. Biarkan sepeda terus balapan dengan mengumbar citra yang dibalut malam, sorot cahaya, jalanan mulus, dan bentangan nama merek.





========================
Nu’man Nafis Ridho, esais, pernah menulis di Jalastoria.id, Remedial.id, dan Solopos (Mimbar Mahasiswa). Dan masih aktif menjadi buruh organisasi kampus Universitas Negeri Jakarta

Mangga Dan Batu

0

Mendapati mangga tergolek di bahu jalan, lelaki itu mengerem motornya, lalu memungut buah itu. Seusai membantingnya pada permukaan aspal, dengan begitu nikmat ia memakan pecahan dagingnya. Kemudian, karena di depan banyak mangga berserakan, kepada pejalan yang berpapasan, ia menawarkan, “Maukah kau menukar tasmu dengan motorku?”

“Kenapa kau mengajukan penawaran se-gemblung itu?”

“Aku butuh tasmu untuk mewadahi mangga-mangga itu, sementara kau, barangkali butuh motorku untuk melanjutkan perjalananmu…”

“Aku suka berjalan, aku tak butuh motormu. Tetapi karena kau butuh tasku, ini kuberi cuma-cuma…”

“Bagaimana kalau ditukar dengan satu mangga?”

“Baiklah, bila kau memaksa.”

Seiring pejalan itu pergi, ia menuntun motornya mendekati lalu memunguti mangga-mangga itu. Sementara itu di bawah pohon mangga, seorang perempuan tampak merenung. Lelaki itu yang sekonyong-konyong entah tahu dari mana bahwa dirinyalah yang sedang direnungi, mendekatinya lalu berkata, “Seperti kurang kerjaan, pagi-pagi merenungiku.”

“Karena kerja saya merenung, sepagi ini sudah merenung, berarti saya lagi ada kerjaan.”

“Kenapa kau merenungiku?”

“Kenapa Anda memunguti mangga-mangga itu?”

“Sewaktu kecil aku senang memunguti mangga di pekarangan-pekarangan rumah warga kampungku. Dan, seperti yang kau lihat, banyak mangga yang berserak di jalan ini, eman-eman bila tak dipunguti.”

“Lalu untuk apa mangga-mangga itu?”

“Sementara ini aku belum tahu, mungkin memakannya.”

“Semuanya?”

“Mungkin iya, mungkin sebagian, sebagian lagi kuberikan padamu, atau entah untuk siapa atau entah untuk apa. Sekarang yang penting aku memungutinya. O, ya, motor ini cukup membebaniku bila terus menuntunnya, kau mau?”

“Menuntun motor itu?”

“Bukan, maksudku motor ini untukmu, kau mau?”

“Motor sepertinya bukan objek menarik untuk saya renungkan. Kenapa tak Anda geletakan saja di sini, siapa tahu nanti ada orang yang membutuhkannya,”

“Saran bermutu. Hal seperti itu kenapa tak terpikir olehku?”

“Bisa jadi pikiran Anda terlalu sibuk memunguti, sampai tak sempat mikir meletakan,”

Setelah lelaki itu berlalu, motor ditumpaki dua lelaki tampak berhenti di depan si perempuan. Lalu satu diantara mereka sekonyong-konyong berkata, “Apakah motor ini punyamu? Karena kau menggelebakannya begitu saja, seolah tak peduli dengan apa yang kau punya, bolehkah kami mencurinya?”

“Curilah.”

Seiring mereka pergi dengan motor masing-masing, perempuan itu menggelengkan kepala, entah untuk maksud apa. Kemudian ia berjalan ke arah lelaki itu. Sementara lelaki itu sibuk memunguti mangga, bisa jadi daripada tak berbuat apa-apa, perempuan itu memunguti batu-batu yang teronggok di jalan itu. Beberapa saat kemudian seorang polisi menghentikan motor di depan mereka. Mereka berhenti memunguti saat polisi itu bertanya, “Apakah kalian sedang sekongkol mencuri mangga?”

“Tidak, pak!” jawab mereka serempak.

“Lalu kenapa masing-masing kalian, satu memegang batu sedang yang lain memegang mangga?”

“Aku lagi memunguti mangga yang berserakan ini, Pak Polisi.”

“Saya sedang memunguti batu-batu yang teronggok di jalan ini.”

“Baiklah, kalau begitu lanjutkan…”

“Pak Polisi, apakah kau mau mangga?”

“Mangga, buat apa?”

“Barangkali istri simpananmu lagi ngidam, ngidam mangga.”

“Tahu dari mana aku punya istri simpanan, tahu dari mana ia lagi ngidam?”

“Aku hanya ngarang, Pak Polisi, sekadar basa-basi demi menawarkan mangga ini.”

“Aku memang punya istri simpanan yang lagi ngidam, baiklah, aku mau, dua saja.”

“Apakah Anda mau batu?”

“Batu, buat apa?”

“Melempar dua pencuri yang sedang Anda kejar.”

“Aku memang sedang mengejar dua pencuri, bagaimana kau bisa tahu? Apa kau juga cuma ngarang, sekadar basa-basi untuk menawarkan batu itu?”

“Saya sendiri tak tahu kenapa ijig-ijig—tiba-tiba—saya tahu hal itu, bahkan beberapa saat tadi saya diberitahu peristiwa yang bakal terjadi pada Anda dan kedua pencuri itu. Anda mau tahu?”

“Tidak, kukira tak ada lagi keasyikan bila apa yang akan terjadi telah kuketahui. Jika demikian, masih bergunakah batu itu buatku?”

“Justru karena itu, batu ini amat berguna buat Anda.”

“O, ya, untuk apa?”

“Melempar mereka. Seperti yang Anda tahu, mereka kebal peluru.”

“Dengan demikian, bukankah kau secara tak langsung memberitahuku peristiwa yang bakal kualami: melempar mereka dengan batu itu?”

“Bisa ya, bisa tidak. Cerita yang baik bagaimanapun sukar ditebak ke mana arahnya. Penawaran terakhir, apakah Anda mau batu?”

“Baiklah, dua saja.”

Setelah polisi itu memasukan dua mangga dan dua batu itu ke dalam tasnya, ia pun berlalu. Sementara itu mereka melanjutkan memunguti batu-batu dan mangga-mangga itu. Karena batu makin banyak di tangan, perempuan itu mulai kerepotan, meminta pada lelaki itu berbagi tas dengannya. Baiklah, sambut lelaki itu. Pada akhirnya mereka berjalan bersisian. Itu mereka lakukan setelah si perempuan bertanya, “Kenapa Anda hanya memunguti mangga, kenapa tidak sekalian batu-batu itu?”

“Bila itu kulakukan, lantas apa yang kau lakukan?”

“Tentu merenungi Anda melakukan itu.”

“Tak bisakah merenungkan sesuatu sambil melakukan sesuatu?”

“Baiklah, saya mencobanya.”

Beberapa saat kemudian, dengan tampang cukup mengkhawatirkan, seorang lelaki berkaos kuning celana hitam mendekati mereka, lalu berkata, “Sudah tiga hari tiga malam aku tak makan. Maukah kalian berbagi denganku apa yang ada dalam tas itu?”

“Tas ini hanya berisi batu dan mangga, bila kau ingin memakan batu atau mangga, lihat, banyak batu dan mangga berserakan di jalan,” jawab lelaki itu.

“Aku tahu banyak mangga dan batu berserakan sebagaimana banyak lubang ternganga di jalan. Bila aku ingin memakan mangga atau batu, tentu aku sudah mengambil sendiri, tak perlu meminta pada kalian. Tetapi aku ingin makan apa yang di dalam tas itu, itu pun jika kalian berikan.”

“Meskipun mangga dan batu?”

“Meskipun mangga dan batu.”

Lelaki itu merogoh tas itu, meraba apa yang kiranya mangga dan mengambilnya, begitu keluar dari tas itu, ternyata ia memegang sebungkus nasi, lalu ia pun memberikannya pada si peminta. Giliran perempuan itu merogoh tas itu, meraba apa yang kiranya batu dan mengambilnya, begitu keluar dari tas itu, ternyata ia memegang sepotong mendoan, lalu ia pun memberikannya pada si peminta. Sementara lelaki berkaos kuning celana hitam tampak makan dengan amat lahap, dua orang itu beradu mata—heran.

Seusai makan, seusai beberapa kali bersendawa, ia mengucap syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Dan, seusai menyampaikan terima kasih pada mereka, ia pamit melanjutkan perjalanan.

Sebagaimana dikatakannya, memang banyak lubang menganga di jalan. Karena tas itu makin penuh, sementara masih banyak mangga dan batu yang berserak, lelaki itu mengusulkan untuk menutup lubang-lubang itu dengan mangga dan batu.

“Bagaimana jika nanti tumbuh pohon mangga di lubang-lubang itu?” tukas perempuan itu.

“Bagaimana jika nanti tumbuh batu di lubang-lubang itu?” balas lelaki itu.

“Bagaimana jika nanti tumbuh pohon mangga berbuah batu di lubang-lubang itu?”

“Bagaimana jika nanti tumbuh batu berbuah mangga di lubang-lubang itu?”

Karena mereka sama-sama tak tahu bakal tumbuh apa atau malah tak tumbuh apa-apa pada lubang-lubang itu, mereka sepakat menutup lubang-lubang itu dengan mangga dan batu setelah sebelumnya mereka kumpulkan dalam tas itu. Demikianlah, untuk beberapa hari ke depan, mereka terus berjalan, memunguti mangga dan batu yang berserakan itu, menutupi lubang-lubang di jalan itu.

Sementara itu, sampean lihat, polisi itu terus menggeber motornya, mengejar buronannya. Tahu sedang dikejar, mereka pun mempercepat laju motor masing-masing. Karena keterampilan bermotor mereka jauh di atas polisi itu, dengan gampang mereka meninggalkannya.

Setelah polisi itu tak tampak di belakang mereka, satu di antara mereka memberi kode untuk berhenti. Mereka pun berhenti, seperti yang seringkali mereka lakukan, menanti polisi itu tampak lagi, begitu mendekat, mereka pun kabur lagi. Tetapi tidak kali ini, mereka ingin mengerjai polisi itu habis-habisan atau bila perlu menghabisinya. Sepertinya mereka telah bosan terus-menerus dikejar tanpa sekali pun ditangkap.

Mendapati mereka berdiri dengan santainya tanpa geliat akan kabur, polisi itu merasa bimbang. Bahkan, cemas merambatinya perlahan. Karena pelurunya tak mampu menembus tubuh mereka. Setelah menguatkan keberanian dengan menegaskan dirinya adalah polisi, ia menghentikan motornya beberapa jarak dari mereka. Lalu ia segera merogoh satu batu dari dalam tasnya dan melemparkannya ke salah seorang dari mereka.

Polisi itu terkejut, cepat-cepat menghindar, batu itu ternyata memantul, balik menyerangnya. Entah karena tak percaya atau panik, polisi itu merogoh lagi isi tasnya. Kali ini ia mendapati sebuah mangga, lalu melemparkannya pada orang itu lagi. Tak dinyana, sasarannya itu sekonyong-konyong ambruk begitu terserampang mangga. Ia pun mengeluarkan mangga yang satu lagi dan bersiap melemparkannya pada lelaki yang tengah bingung, memandangi temannya: apakah temannya betul-betul ambruk atau hanya pura-pura ambruk. Bahkan, begitu mangga itu mengenai tubuhnya, ia pun langsung ambruk. Sesaat sebelum ia ambruk ia tak yakin apakah dirinya betul-betul ambruk atau pura-pura ambruk.

Polisi itu mendekati mereka, memborgol dan mengikat mereka pada tiang listrik. Konon, bertahun-tahun kemudian, seorang pejabat negara begitu melihat tiang listrik itu, sekonyong-konyong ingin menabrakkan mobilnya pada tiang listrik itu. Lalu polisi itu mengontak markas, meminta bantuan untuk mengurus tangkapannya itu.

Kemudian dengan wajah sumringah ia pergi ke rumah istri simpanannya. Sampai tujuan, ia menyesal kenapa tak mengambil lagi dua mangga yang ia lemparkan tadi. Tetapi penyesalannya tak berlangsung lama—seketika berganti ketercengangan tingkat tinggi—, karena begitu pintu rumah terbuka, sekonyong-konyong wanita itu menyaut dan menggeledah tasnya, lalu berkata, “Terima kasih telah membawakanku batu, bagaimana kau tahu aku sedang ngidam batu?”

Kesugihan, 17 Februari 2018 – 11 Nopember 2020


====================
Baitul Muttaqin Al Majid, menulis beberapa cerita dan dimuat di beberapa media, baik daring maupun cetak. Cerpen Sedekah Pepohonan masuk finalis 30 naskah terbaik Festival Menulis Cerita Anak Nasional, Oktober 2020 Funbahasa, Surabaya. Hikayat Sepucuk Duri dan Shalawat Nabi masuk 50 naskah terbaik Lomba Cerpen Nasional Pena Persma, Oktober 2020 LPM Dinamika Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatra Utara. Jeruk Surga memenangi Juara 2 Lomba Cerita Inspiratif Festival Sastra Aksara (FSA) ke-VII Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Tasikmalaya, Oktober 2020. Ragu adalah antologi cerpen bersama yang mengambil judul cerpennya sebagai cerpen terbaik pertama Tantangan Menulis Cerita Pendek September 2020 CV. Penerbit, Yogyakarta.

Terjaga Mata Malam

0

Requiem Buruh Pabrik Dari Carrickfergus

Terinspirasi dari balada rakyat Irlandia yang diterbitkan di abad 19, berjudul
“Carrickfergus” dan “On The Dawning of The Day”

Andaikan aku terlelap di tilam Carrickfergus
dan meneguk kelam malam Ballygran.
Kata-kataku mengarungi lautan terdalam, membusuk
dalam tanah liatmu.
Tetapi laut itu luas. Dan aku,
tak mampu berenang. Tangan dan betisku terbujur kaku
oleh deras nafas London. Kepalaku terbenam di lumpur  
kubang orang Katolik terpanjat ke langit 
yang mencibir. Dan senandung batuk laparmu,
O Irlandia yang mabuk. 
Aku, tak punya sayap ‘tuk terbang. 
Sebab di langit itu para malaikat mati 
berguguran dengan rambut dicukur
dan tersedak hitam abu arang. 

Langit, temukanlah aku dengan pelaut tampan
untuk menuntunku mengarungi lautan, mati di dekapan cintaku,
Carrickfergus yang berambut hitam. Aku ingat betul
bahwa rambut hitamnya menenun jerat dan berkisah tentang dukanya:
“biarlah duka itu menjadi daun yang gugur,” tuturnya mengantar tidur. 

Kawananku meleleh seperti salju ketika bunga bakung tersingkap.
Hari-hari yang siuman itu berkelana tiada henti,
bermimpi rerumputan dan daun shamrock melapisi
ranjang bebatuanku,
dan lumpur dan abu mendekap awan-awan angkuh
London yang mengantuk.
Lumpur tuak, lumpur mengutuk dunia, lumpur mayat-mayat,
lumpur neraka, lumpur ciuman dan lumpur yang bersenandung
tentang suara dan bebatuan. Suara abu, suara sungai kelabu,
suara batu-bata, suara roda menggilis waktu, suara kilang
yang tertawa menyiksa, suara piston menindas khotbah para pendeta.

“Apa kabar anak-anakku?” sahut abu diriku yang tenggorokannya
masih terbakar dan terlilit wiski basi, dan kaki itu mengayuh roda
hingga menjadi bulu. Puisi rindu yang ia hadiahkan
kini rusak dirayap. Ia tak ingat bunga anting-anting lembayung
seperti senja yang ditanam Carrickfergus, air mata Tuhan itu. 
“Apa kabar diriku?” ia hanya ingat namanya adalah roda-roda,
yang lama-kelama menggilis bibirnya. Ia hantu yang terjebak
di dinding pabrik,
jarum jam pingsan yang terus berdetik, matahari yang terus
terbenam terbit.
Adakah letih dan duka di dalam seorang matahari? 

Di ujung jalan, Brick Lane yang menganga di mulut malam,
telinganya tampak sebagai calincing kupu membalas dendam.
Kupu-kupu hitam legam. Mungkin kupu itu haus,
haus beterbangan sampai kiamat nanti. 
Kau, anak-anakku, sungguh ingin menangkapnya.
Tapi yang kau tangkap hanyalah suam-suam debu mayat kelelahan. 

Malam itu hening. Meradang ke dalam sisa tidurku.
Aku terjaga mata malam. 
Kau mencariku di dekat tungku api dan berharap rusukku hangus,
meliarkan rasa lapar dan tawa bengismu. 
Dalam hening kusimak malaikat yang tak kukenal
berambut hitam, merajut doa yang porak-poranda,
menjerit: mereka memberontak pada makam-makam
yang berkisah tumpukan abu yang rindu
pada laut merdeka Belfast dan retak dedaunan. 
Bibir daun, kaki daun, telapak daun, rambut daun,
mata daun yang tertinggal
di cermin buram meriasi kerut ibuku. 

Ia sedih rahimnya sudah tak bisa ditanam lagi. Lalu ia mencangkul
dan menanam bunga pada kuburannya sendiri. Sedang ayah berendam
mabuk di jelai hitam, menghardik pada kentang-kentang yang mengerang nyeri. 
“Kerandamu sudah siap,” ucap ibu pada ayah yang lidahnya
bernyanyi pada tukak di lambungnya, meleleh-leleh karena kosong.

Dalam hening kusimak nyawa berguguran seperti daun kering
ketika fajar merebakkan lukanya.
Andaikan jasadku terbenam di Carrickfergus,
surga yang merintih dengan lagu laparnya itu.

Surabaya, Juli 2020




Kościół Mariacki

O apa arti keagungan – lihatlah! Bayangan kita ini,
jika seluruh kerajaan di bumi, di mana kita bersemayam,
disuguhi nafas, lahir dan mati seperti tanah,
tidak lain hanyalah dekorasi belaka mimpi-mimpi kita
bak vas dari tangan pengrajin di kubah-kubah Perancis?
Tetapi kubah! Dengan busur dan lengkung berani, melipat
langit-langit tak terhingga yang meledakkan warna
dan kanopi megahnya berderau dengan deretan suci
biru azur dan merah lembayung para malaikat dan rasul-rasul.
Bahwa bumi, dan surga penuh nyali ini hanya dibangun dari
gelimangan mimpi manusia-manusia terdahulu?

Tak ada cacat. Kepala dan tangan kita menciptakan pilar-pilar tinggi,
udara wangi berbau doa, horizon orang-orang
berdecak kagum dan putus asa.

Di bawah kristal Tubuh yang terpasak berdarah itu
berkobarlah api emas orang-orang Krakow.

*Ditulis tahun 2013 lalu, lalu disunting kembali ketika mengunjungi Basilika St. Mary di alun-alun utama kota tua Krakow, Maret 2017




Wanita Jasna Góra

Dara suci, mengapa kau dan Anakmu
bermuka gumul hitam debu, pernis cat mati,
jelaga dari tangis lilin, dan harum sakramen yang terbakar?
Mengapa kau rela bercoreng debu peradaban lusuh kami,
mengenakan jubah bunga lili yang membingkaimu
dengan emas, doa-doa lelah, memberimu naungan
dan kilau sajak-sajak yang tak berasal dari dunia?

Seorang pelukis tak tahu cara memperbaiki wajahmu
dengan lilin lebah mendidih. Ia tak mampu
menghapus bekas goresan luka pedang Hussite
di pipi yang sudah kering dari peluh dan garam itu.

Kau dan Anakmu tetap termenung di sana, memberi candu
dan penawar sakit pada orang-orang Czestochowa.
Ketika Hussite datang merajah kau rela dilukai
seakan bersabda “tusuklah aku.
Aku memang hadir di dunia ini untuk ditusuk-tusuk.”

Basilika Jasna Gora, Czestochowa, Maret 2017





Bergamo

Bukit-bukit menjulang tinggi di atas, dililiti benteng batu
yang merangkul Italia tua yang membeku.
Terbujur jalan berbatu denga noda lumpur, lorong bata kapur,
bau wangi kemenyan dan bau masam anggur
dari katedral dan gereja tak berkaca yang termenung sunyi.
“Bergamo sudah lama mati, sebidang tanah dililit dinding batu ini
adalah kuburannya yang cantik.”

Masih banyak orang Jerman membekur seperti burung dara
di kios oleh-oleh dan mengais pastri roti
tetapi dinding itu berkoar tentang duka dan anak-anak
mereka yang menghilang, ketika pasukan Mussolini
mencabuli gereja-gereja.

Di kaki bukit-bukit itu berdiri angkuh gedung-gedung baru
dan tanah yang selama ini dipijak oleh para Don di atas bukit
kini hidup dan bersuka ria, acuh pada kepalanya yang tua.
Mereka menyebutnya “Italia baru” dan jalan itu menuju
ke etalase toko dan galeri mode Milan.

Di samping stasiun funicolare tua di Bergamo, Maret 2018





Mengenang Perantauan di Jerman

Untuk setiap manusia yang teralienasi. 

/1./
Lonceng gereja putih itu menyetubuhi angin subuh,
kumandang landai sholat membelit langit
Düren terbengkalai. 
Orang turun dari kereta ketika ingat mencari ramai. 
Orang terjun ke rel seperti debu, ingin lupa pada ramai.
Ramai Aachen yang berkerudung abu knalpot bis merah.
Ramai Köln yang memabuk pada sungai kelabunya.
Ramai Düsseldorf yang menyajikan tawa teh boba
dan lengang gedung besinya. 

Di taman kuburan nan damai itu. Di Friedhof.
Mayat-mayatnya mengantuk diselimuti bunga-bunga
anyelir dan dilintasi para pelari.
Nisan-nisan tegap itu bertuliskan : Mati diminum Pilsner.
Mati dicekik anggur merah. Mati dilahap Bratwurst.
Mati marah-marah pada orang Turki. Mati dicabik-cabik
mimpi perang. Mati bermimpi nyeri kamp konsentrasi.

Mengapa mataku masih melihat
hantu perawan remaja tersedu duduk di nisannya
menyayat-nyayati pergelangannya yang tiada?

/2./
Masih saja kah tentang lubang menganga itu, Berlin?
Kau berseru lantang: “Enyah kau semua, dunia,
orang-orang, dewa-dewa, hakim alam baka,
halte bis berbanjir kendaraan, gedung koran yang angkuh!”

Semua tahu bahwa nyawaku bahkan tak seharga karcis bis.
Coba maniskan hari-hari mudamu dengan video kucing,
harajuku atau dengan bau pesing Pilsner
di stasiun kereta penuh graffiti. 

Aih, rindu diriku pada kolam dangkal, utopia cepat saji ini.
Tuang air panas saja ke kota ini, lalu aduk perlahan : jadilah!
Hiasi dinding rumah mayamu dengan kata-kata mutiara,
ciuman sayu nan modis, serta foto dirimu
dan pacar cantikmu, setengah telanjang berbikini,
mabuk berlinangan oleh tragedi. 
Katedral Berlin masih tegap dingin dan kosong,
seperti dinding yang disemprot pelangi itu.
Ia membekukan jeritan tahun 1989. Mangkuk penampung
jeritan timur dan barat yang berpilin. Jeritan sungai.
Jeritan abu. Jeritan senjata api. Jeritan merdeka.
Jeritan heroin. Jeritan menggebu sepak bola. Jeritan pahlawan
kelamin Schönenberg dari tepi laut seberang. 
Tetapi tetap saja bocah Jerman-Syria melangkah ke jalan.
Ia menjerit dengan air mata peluru senapan. 
Runtuhnya dinding itu mengkhianati darah pasirnya.
“Aku terlahir sebagai orang Berlin! aku tumbuh di jalan
orang-orang asing yang dikurung dinding”.

*Mengenang korban serangan teroris di Berlin dan Munich tahun 2017 silam. Mengenang orang-orang yang melarikan diri demi merdeka ketika Berlin masih terbelah.

===================
Diang Kameluh, penulis bernama lengkap Sarita Rahel Diang Kameluh ini lahir di Surabaya, pada tanggal 10 April 1997. Kini menempuh pendidikan di jurusan Teknobiomedik di universitas ilmu terapan FH Aachen, Jülich, Jerman. 

Yang Rembang Saat Purnama Nanti

0


Kun

kita pernah belajar
bagaimana memadukan abu, darah,
dan peletik damar
agar bisa dibentuk jadi tembikar
sehingga kelak bisa dipakai di saat yang tepat
ketika suatu hari nanti, kota kita
terbakar hebat

kita juga pernah belajar
memadankan selembar lurik dan kain batik
saat tubuh kelak telanjang
oleh yang Maha Sanik

Kun,
maka, jadilah!

Saat di kepala kita tumbuh kecambah
dan urat di ujung jari mulai lelah

sebab, kita telah belajar
bahwa tujuan tak ubahnya
sekadar obat
untuk dada kita
yang memar,
dan ingatan yang gegar

Jogja, 2020




Perkenalan

aku mengenalmu dari seutas tali panjang,
yang tergantung di dahan pohon kepal
di sebuah malam pejal.

Lalu kulihat tubuhmu berayun,
mengikuti detak arloji di lengan kiri, anggun
sembari menghitung sisa butiran embun.

Kutahu, diammu retak dan berkarat,
saat seekor kadarsih hinggap, kau tangkap
dan malam kembali senyap.

Aku mengenalmu dari tenang riak sendang,
ketika ikan-ikan berbisik pada pukat berjaring jarang
kemudian saling hanyut di pekatnya lembang

“o, senja, kenapa ia selalu penuh dengan teka dan sederet angka-angka,”
begitu teriakmu, sambil coba kau biarkan manyar
terkapar, menggelepar di dalam sangkar.

Jogja, 2020




Sonder Siang 

Tak ada siang di kota kami

hujan menggetarkan membran keheningan
sepi berkecambah, meregah,
berubah, lalu terungkah

Tak ada siang di kota kami

selaput langit masih saja
berputarpendar di atas kotakota
berkata tanpa bahasa:
yang ada hanya bibir berpara-para

Tak ada siang di kota kami

cahaya terperangkap
dalam setangkup tarup,
serupa domba yang saling menerkup
dan segelas teh panas tanpa tutup
tersaji di meja sesaji, saat malam kian redup

Jogja, 2020




Musafir

sebab senyumanmu,
sore di sini terlihat lesu

aku mencari kebahagiaan
di rimbun rerumputan

debu di ujung jari
adalah bukti

betapa dadu yang kulempar
serupa nasib yang kuhampar

hidup lalu berjalan mundur
saat kulihat bayangan ibu di kedalaman sumur

Jogja, 2020




Sunyi

baru sekarang kita tahu,
pada gazal yang gagal,
selama ini kita berpijak dan menghafal

begitu juga dengan rubaiat,
di dalamnya,
kita salah memaknai setiap riwayat

ketika dengan darah kita yang mencair,
kutulis amsalamsal getir,
dan sunyi yang terasa satir

lalu siapa yang mencipta hening,
saat ingatan kita terpelanting,
bertumbuk dengan lentin,

siapa pula yang membikin sunyi,
ketika pagi tak lagi bernyanyi,
dan partitur kehilangan nadanada tinggi

Jogja, 2020




Bukan Rambutmu

bukan rambutmu,
jemariku cuma mampu mengelus waktu
sebagai bukti bahwa hari ini
masih ada sedikit rindu

bukan rambutmu,
tanganku hanya bisa menyisir lelatu
sebab hidup tak lebih dari sekadar percik api
yang rembang saat purnama nanti

Jogja, 2020




Utari

sampai menjelang pagi
aku masih mengenangmu sebagai Utari,
sebagai riak yang memanjang
hingga menabrak tepi dermaga lengang

aku pun masih mengingatmu
dalam jarak yang masih terjengkal
toh, ombak tak pergi kemana-mana
dan barque pun masih menopang angin samudra

dari ujung teluk ini, Utari
aku memandangmu tanpa alas kaki
tanpa epitaf yang gagal menuliskan sebuah nama

sebab semua nama
bagimu, Utari
tak lebih dari sekadar deretan luka

Jogja, 2019




Ode Untuk Waktu

sebab tak pernah tegas kau bercerita soal langit, tak pernah tegas berkisah soal surga di sela dua awan yang mengambang di kamarmu. tak pernah pula kau tulis surat untuk daun-daun gugur itu. lalu dimana ukiran wajahmu kau sembunyikan: di bangkai malam, di sebalik cermin buram, atau sebuah telegram yang tak pernah terkirimkan.

kau di mana, aku bertanya pada sisa swaramu yang mendengung di secangkir kopi pahit yang tak mampu kuhabiskan pagi ini. sebab semua begitu getir, saat tarianmu mulai mengalir, tanah basah depan rumah hanya bisa meraung melihat keningmu diukir mendung.

bukan pantai, hanya segaris senja di teras rumahmu yang tampak menyala. hanya secarik kertas berisi sebuah prosa tentang kematian. tentang tubuhmu yang mendadak dingin ketika kau lihat matahari di ujung jariku mulai pecah. seperti tak mampu kau temukan aku, kau bayangkan bergemetarannya bibirmu: mengucap namaku.

betapapun, aku ingin tahu di mana kau kini. sebongkah alamat yang teronggok di pucuk kartu pos bergambar nabi seperti benar-benar telah menyesatkanmu. jangan kau buang kartu pos itu, sebab aku masih mencarimu: sebuah alif yang begitu naif.

mungkin aku yang keliru menerjemahkan setiap kertap dan ceracap, yang selama ini selalu kau dengungkan ke dalam asbak yang penuh dengan bangkai bebatang kretek yang tak habis terhisap. maka, kuminta selalu salahkan aku, hanya demi segaris sungai di bibirmu yang selalu ingin kulihat meluap.

Jogja, 2019


===================
A. Junianto
, lahir di Surabaya, 4 Juni 1984 dengan nama lengkap Arief Junianto. Lulusan Sastra Indonesia Universitas Airlangga, Surabaya. Hingga kini karya-karyanya banyak terdapat di beberapa antologi bersama, seperti Monolog Kelahiran (Sasindo Unair, 2003), Senjakala (Lima, 2005), Ruang Hitam (Lima, 2006), Mozaik Ingatan (CdR, 2010), Menggapai Asmara (Mafaza, 2014), dan Di Balik Hitam Putih Kata (Poetry Praire Publishing, 2014). Karya-karyanya beberapa kali juga sempat dimuat di beberapa media cetak dan online lokal maupun nasional seperti, Bali Post, Suara Karya, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Media Indonesia, Radar Tasikmalaya, Lampung Post, dan Surabaya Post. Kini tengah menyiapkan antologi tunggal puisi berjudul Kota Api. Saat ini menetap di Bantul, DIY.

Terbaru

Misi Bunuh Diri

Orang yang ada di atas sana sedikit-sedikit menggebyur, sehingga guyuran air itu menghambat gerakanku. Kandung kemih orang itu mungkin...

Solawat Ikan-Ikan

Dari Redaksi