Narasi tentang Karaeng Daeng Naba disusun dari potongan-potongan cerita yang tidak nyambung satu sama lain. Beberapa versi menautkan sosoknya dengan tokoh-tokoh arus utama dalam sejarah Kerajaan Gowa-Tallo yang kemudian eksodus ke Jawa pasca-perjanjian Bongayya. Di lain versi, dia digambarkan sebagai pemimpin pasukan bayaran asal Makassar dan Bugis didikan kompeni di Batavia. Ada juga sumber yang menyebutkan sosok ini telah muncul di zaman pra-Mataram, yakni di masa kerajaan Pajang. Namun, di dalam setiap versi, Daeng Naba digambarkan berakhir di tempat yang sama dan meninggalkan jejak yang sangat kentara: keberadaan bregada prajurit Bugisan dan Dhaengan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serta tanah perdikan (sekaligus pembaringan terakhirnya) di Mlati, Sleman-Yogyakarta.

Boleh jadi, jejaknya itulah yang membuat narasi–di luar dari sumber keraton dan sumber “resmi” lain–tentang Daeng Naba dapat direproduksi sedemikian rupa. Sebab narasinya menyisakan begitu banyak ruang kosong yang bisa diisi siapa saja dan dengan apa saja. Tak pelak, narasi tentang Daeng Naba pun berkembang, bahkan kadang dimistifikasi dan diglorifikasi.

Ruang kosong tersebut juga berupaya diisi melalui pertunjukan ini dengan meminjam sosok Daeng Naba. Bukan sebagai figur historis, melainkan sebagai gagasan untuk membicarakan persoalan diaspora dan hibriditas orang-orang Makassar serta Bugis di Yogyakarta. Oleh karena itu, pertunjukan ini tidak berangkat dari satu narasi sejarah yang tunggal dan linier. Ia dibangun dari petikan-petikan narasi yang serba-beragam, yang kemudian disusun dan diolah menjadi satu skenario pertunjukan.

Pertunjukan ini berlangsung secara paralel di dua tempat, yakni di Makassar (Layar Putih, Tanjung Bayang) dan Yogyakarta (Omah Kebon). Dimulai dari Makassar dengan mengambil latar peristiwa pasca-perang Makassar, lalu berlanjut hingga ke tanah Jawa. Ada kebebasan yang direnggut pasca-perang, lalu berusaha dicari di tanah perantauan.

Diaspora, asimilasi, dan hibriditas yang menjadi episentrum isu dalam pertunjukan ini dibaratkan gedebog (batang) pisang yang hanyut dibawa arus air, yang akan membusuk di mana pun ia tertambat. Gedebog itu pada akhirnya memang bakal membusuk, tetapi pembusukannya bukan tanpa manfaat. Ia membusuk sekaligus menjadi nutrisi bagi tanaman-tanaman lain yang baru tumbuh. Begitu juga orang-orang Makassar dan Bugis yang hijrah ke Jawa pada masa pasca-perjanjian Bongayya. Mereka berakhir di tanah perantauan, tetapi meninggalkan warisan berupa jejak kebudayaan dan pengetahuan.

Selain menguji-cobakan format pertunjukan secara paralel di dua lokasi berbeda, Performing Art Karang Naba juga mencoba bermain-main dengan teknologi. Pertunjukan paralel ini memang mengandalkan teknologi digital untuk menghubungkan dua lokasi tersebut. Biasanya, sebuah (katakan lah) pertunjukan digital acap kali bermasalah ketika telah ditransmisikan, yang sekadar tampak serupa “dokumentasi pertunjukan”. Pengalaman estetis yang didapatkan ketika menonton pertunjukan secara langsung seolah hilang saat ia ditampilkan secara daring. Pertunjukan ini berupaya memberikan tawaran strategi artistik untuk menampilkan sebuah pertunjukan secara daring. Teknologi digital tidak hanya diposisikan sebagai alat, tetapi juga sebagai medium yang sangat menentukan dimensi estetis dari pertunjukan ini.

Menurut Wildan Noumeru, pekerja film yang didapuk menjadi sutradara pertunjukan ini, mengatakan bahwa pilihan untuk menampilkan karya pertunjukan secara real time melalui teknologi digital ini mempunyai tantangannya sendiri.

“Berbeda dengan film yang dalam pengambilan gambarnya bisa diulang-ulang untuk mendapatkan adegan atau shoot terbaik. Pertunjukan berbeda karena tidak dapat diulangi dan dipilah bagian mana yang akan diambil. Pada titik itulah pertunjukan real time dengan basis digital bisa menarik dan menantang, terutama ketika di dalam prosesnya ada kekeliruan atau kesalahan. Ia tidak dapat diulangi, tetapi perlu diimprovisasikan.”

Wildan menambahkan, sebagai sebuah karya eksperimental, salah satu capaian dari karya ini adalah sejauh mana nantinya mampu memberikan penawaran bentuk sajian seni pertunjukan yang tidak sekadar sebagai sebuah video dokumentasi pertunjukan.

“Ide awal pertunjukan ini sebetulnya sejak lima tahun lalu. Justru kondisi pandemi ini memicu kami untuk merealisasikannya sekarang. Kita tentu memahami saat ini kita dipaksa untuk berubah dan beradaptasi di segala aktivitas keseharian, dari tatap muka ke teknologi virtual, termasuk wilayah seni pertunjukan. Dalam proses latihan dan persiapan yang berjalan selama tiga bulan ini, kami benar-benar aware terhadap protokol kesehatan sebagai hal yang utama.”

Pertunjukan ini akan berlangsung hari ini di Makassar dan Yogyakarta, 11 November 2020, pukul 20.00 wita, via platform Youtube (Wildan Noumeiru), Facebook (Ahmad Wildan Noumeiru), dan Instagram (wildan.noumeiru).

*

Sutradara: Wildan Noumeiru
Koreografer tim Yogya: Abdi Karya
Koreografer tim Makassar: Abidin Wakur & Ariayanti Sultan
Komposer: Jagad Sentana Art-Solo & Taufik Akbar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here