Judul Buku   : Perempuan Yang Berhenti Membaca
Penulis      : Ratna Ayu Budhiarti  
Penerbit     : Langgam Pustaka
Cetakan      : Pertama, Oktober 2020
Halaman      : 176 halaman, 13 x 20 cm 
ISBN         : 978-623-7461-36-4

Untuk pemesanan, silakan hubungi:
0821-2742-4881  

Sesederhana apa pun persoalannya, akan menjadi kompleks ketika melibatkan perasaan, apalagi jika menyangkut perasaan seorang perempuan. Bila hati adalah samudra yang tak terukur kedalamannya, maka sepotong hati perempuan adalah samudra terdalam yang berselimut misteri. Para lelaki tak pernah tahu keseluruhan isinya meski bertahun-tahun berdiam di sana. Suatu saat bisa saja muncul gelombang yang tak terduga dan menggerus semua yang ada, atau tiba-tiba saja para lelaki tersesat dalam sebuah palung yang tak kasat mata sebelumnya.

Sisi misteri itulah yang membuat persoalan sepele dan sederhana di lingkaran perempuan menjadi menarik atau mengesalkan—tergantung dari sudut mana memandang. Bagi sebagian lelaki, barangkali sulit memahami bagaimana sepotong handuk saja memiliki nilai istimewa. Bagi seorang perempuan, sepotong handuk tua pun tidak bisa dipandang sebagai benda mati yang akan berakhir sebagai kain pel atau di tong sampah. Bukan handuknya yang berharga, tetapi kenangan yang melekat di handuk tersebut yang membuatnya harus dirawat sepenuh hati. Di tengah kepungan zaman digital yang mengagungkan kecermatan dan materi, merawat kenangan dari sepotong handuk bisa dianggap berlebihan dan buang-buang waktu.

Barangkali sama halnya ketika perempuan memandang lelaki. Tidak bisa mengerti mengapa seorang lelaki bisa begitu mementingkan makanan seekor burung dibandingkan dengan nasib keluarga. Beberapa lelaki memiliki hobi yang kebangetan sampai mengabaikan tanggung jawab dan urusan hidup-mati. Dalam situasi seperti ini, justru lelaki yang terlihat tidak rasional, tidak seperti yang digambarkan Louann Brizendine dalam buku Female Brain yang menyebutkan kadar estrogen menekan tombol-tombol dalam otak perempuan sehingga menunjukkan emosi secara berlebihan.  

Namun, kisah-kisah dalam kumpulan cerpen Perempuan yang Berhenti Membaca ini bukan hendak membantah hasil penelitian Dr. Brizendine selama 20 tahun. Penulisnya, Ratna Ayu Budhiarti yang seorang perempuan, seorang ibu, berupaya menghadirkan sosok perempuan sebagaimana manusia biasa, kendati ada yang harus tampil trengginas untuk mengatasi permasalahan hidup yang mendera. Itu bukan pemaksaan karakter, tetapi reaksi normal atas situasi yang sering kali tidak memihak perempuan.

Ketidakberpihakan tersebut terlihat dalam berbagai keputusan politik, ekonomi, budaya diskriminatif yang masih dipertahankan, serta  dalam status sosial yang terkadang diperkuat dengan dalil-dalil religi yang keliru. Dalam beberapa cerpen di sini, para perempuan ditampilkan melawan ketidakberpihakan tersebut dengan segala cara, meski terkadang berakhir tragis.   

Sosok perempuan dalam buku ini bukan wonder woman yang memiliki kekuatan super. Mereka adalah “siapa” yang “bukan siapa-siapa”, tetapi bisa jadi mereka adalah diri Anda sendiri atau orang yang Anda kenal, Anda cintai atau benci, atau sosok yang diabaikan atau dirindukan selama ini. Bahkan bisa jadi sosok yang menginspirasi meski mereka bukan siapa-siapa.  

Semua kisah dalam buku ini menggambarkan sosok perempuan dari berbagai kelas, tingkat pendidikan dan ekonomi, serta latar dan konflik yang melingkupinya. Sosok seperti Kokom yang gigih atau Neneng yang lebih rasional dibandingkan suaminya dalam pemilihan kepala daerah dalam Pilbub Putaran Dua atau ketegaran Diah dalam Cincin Kawin, dan semua tokoh perempuan yang ada dalam kumpulan cerpen ini, adalah sosok yang ada di sekitar kita. Mereka adalah sosok yang begitu mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan hanya sosok karakternya yang begitu dekat, konflik yang mereka alami juga menjadi konflik yang kita hadapi sehari-hari, baik lelaki maupun perempuan. Situasi ini membuat proses merekonstruksi fakta di sekitar dalam karya sastra menjadi penuh tantangan. Di satu sisi harus mampu menghadirkan konflik yang terlihat nyata dan dekat, sekaligus harus menampilkan dalam sajian berbeda agar tidak terkesan klise. Meski tema perempuan konflik yang menyertainya sudah banyak terdapat dalam menu sastra, ketika dimasak dan disajikan dengan cara berbeda, bisa memberikan kenikmatan batin yang berbeda pula.     

Karakter lelaki yang sering dilukiskan sebagai sosok yang tangguh, bisa saja ada pada diri seorang perempuan, meski tanpa meninggalkan sisi feminitasnya, seperti yang terlihat dalam sosok Kokom yang harus bertarung sebagai pedagang asongan di atas kereta. Di tengah ketangguhannya, dia juga terlihat sebagai perempuan yang panik ketika kedapatan melanggar aturan dan mengambil tindakan terburu-buru yang mengabaikan keselamatan jiwa.

Keberagaman sosok perempuan dan konflik dalam kisah ini menempatkan buku keluar dari barisan sastra untuk kelas tertentu. Berbagai persoalan keperempuanan bisa disajikan dengan begitu mendalam. Ini menuntut kepekaan terdalam dan kemahiran semantik, kekayaan diksi yang melimpah, estetika, serta teknik penulisan yang memikat. Tanpa keseimbangan di antara unsur tersebut, ekspresi perasaan terdalam dari seorang perempuan bisa gagal dicerna pembaca. Pesan yang disampaikan mungkin tercapai, tapi tidak dengan rasa terdalam yang menggetarkan. Kalau itu yang terjadi, maka membaca sastra tak ubahnya seperti membaca sebuah berita.  

Hadirnya buku ini akan selalu relevan untuk segala zaman, tidak hanya dengan situasi belakangan ini di tengah tingginya angka kekerasan (fisik, seksual, dan psikis) terhadap perempuan dan perdebatan tak kunjung selesai tentang Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Catatan tahunan Komnas Perempuan menunjukkan adanya peningkatan angka kekerasan setiap tahun. Namun, angka tersebut diyakini hanya puncak gunung salju sebab sekitar 90 persen kasus kekerasan terhadap perempuan tidak pernah dilaporkan (Komnas Perempuan, 2016).

Kumpulan cerpen ini tentunya tidak dimaksudkan untuk momentum apa pun, sebab masalah hati dan perasaan, konflik rumah tangga dan sosial yang menyangkut perempuan, akan tetap relevan dengan momen apa pun dan kapan pun, sepanjang masa.[]

Ayi Jufridar, penulis dan penikmat sastra.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here