Cerpen

Home Cerpen

Hilangnya Badut-badut

0





TIADA lagi badut-badut di sekitar lampu lalu lintas. Atau, badut-badut yang disewa oleh seseorang demi membuat tawa anaknya terkembang. Baru-baru ini, para pelawak itu seperti dilahap bumi. Kabar itu, lantas membuat Nio ketakutan setengah mati.

***

Nio menjadi badut lantaran peruntungan sebagai loper tidak membawa kemujuran. Ia mengungkapkan pada Nurmala, bahwa profesi badut sedang digandrungi. Badut-badut di kota ini tak ubahnya selebriti. Keberhasilan menghibur menjadi buah ketenaran. Nio tergiur. Sejak kecil, ia kepengin dielu-elukan oleh banyak orang. Karena itulah, ia banting setir, memutuskan jadi badut. Kendatipun hanya sebagai badut jalanan.

“Aku ingin menjelma penghibur, macam entertainment di TV. Seandainya tidak ada yang terhibur, setidaknya aku dapat menghibur diriku sendiri,” kelakar Nio pada Nurmala di pagi yang hangat. Lelaki itu seperti menjumpai matahari terbit di wajahnya.

“Semoga, kau dapat mengembalikan senyum orang-orang yang hilang,” riang Nurmala, mengelus pipi Nio. Barangkali, ia bermaksud supaya matahari di wajah suaminya itu tidak lantas pudar maupun terbenam.

Profesi badut memanglah sedang digandrungi banyak orang. Itu lantaran kesedihan tengah merajalela. Semua orang percaya, bahwa kota mereka tengah dijadikan persinggahan bagi kesedihan. Kesedihan laksana banjir yang menenggelamkan orang-orang. Tiap hari, selalu ada orang yang menangis. Tempo waktu, Juleha menangis tergugu-gugu. Matanya beriak, lalu meluap bagai Sungai Ciliwung menenggelamkan Jakarta.

“Kaulihat, Juleha menangis. Istri Pak Walikota itu bersedih. Dan, barangkali aku juga bakal menangis. Istriku juga akan menangis dan anak-anakku meniru tangisan kami berdua. Apakah suatu saat nanti, kami akan menangis bersama seperti festival?”

Itulah yang dirasakan oleh orang-orang. Di tengah kesedihan yang mewabah, Nio merasa menjadi pahlawan. Tidak hanya sekadar selebriti, ia serasa jadi superhero. Nio, dengan pijar di matanya serta senyum yang selalu terkembang, mengenakan kostum badut; wig pelangi, hidung tomat, perut buncit, serta pakaian cerah lagi meriah.

Saban pagi, Nio mengangsurkan punggung tangannya supaya dicium Nurmala. Lepas itu, Nurmala menyiapkan keningnya buat dicium Nio. Mereka laksana pengantin yang baru menikah. Sebelum pergi, Nio merapikan kostum badutnya dan diakhiri dengan mengucap salam. Nurmala melambaikan tangannya, seraya membalas salam suaminya. Nio—dengan gagah—melangkah pergi, seperti pegawai hendak masuk kantor.

Hari ini merupakan hari keberuntungan Nio. Ia tak perlu berjoget bersama badut-badut lainnya di pinggir lampu lalu lintas. Tak perlu berkeringat di bawah terik matahari demi mendapat sepeser uang dari pengendara. Sebab, Kaji Moekijat telah menyewa jasanya untuk menghibur anaknya yang kini tengah merayakan ulang tahun.

“Dua juta rupiah, kurang tidak?” Begitu ucap Kaji Moekijat tempo waktu, yang lantas membuat senyum Nio mengembang seperti adonan kue berangsur matang.

Kaji Moekijat menyambut Nio seumpama pahlawan baru tiba di medan laga.

Begitu Nio selesai menghibur anak Kaji Moekijat, ia lantas pulang dengan membawa segepok uang. Senyumnya tak henti-hentinya meriap di bibirnya. Dan, sampai saat Nio pulang ke rumah, undangan demi undangan datang silih berganti. Tiap hari, selalu saja ada yang membutuhkan jasanya. Ada saja yang bertandang ke rumah Nio, membawa iming-iming berupa imbalan yang menggiurkan. Nio senang dan mulai membeli barang-barang.

Nurmala merasa senang, lantaran punya baju baru. Anak-anak Nio gembira, memiliki mainan anyar. Mereka tidak lagi menjadi keluarga yang menyedihkan. Dan, Bahkan, mereka mulai merencanakan vakansi ke luar negeri. Betapa kehidupan yang hangat.

Tetapi, Nio lupa bahwa dunia tidak akan berlangsung secara baik-baik saja. Hampir semua orang mungkin saja sudah mengenalnya sebagai pembawa berkah; badut kenamaan yang dielu-elukan banyak orang demi menyirnakan kesedihan. Dan, bahkan, sebagian telah memujanya. Menganggap Nio sebagai dewa. Akan tetapi (ya, tetapi), ia tidak sadar kalau dirinya tengah jadi incaran. Itulah yang dialami Nio ketika sekelompok orang menamakan diri sebagai Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu.

Seumpama sebuah rezim, komisi tersebut bertekad memberantas para pencemar kota. Pencemaran yang mereka maksud tatkala mendapati kualitas badut yang buruk dan kualitas itu dinilai berdasarkan lelucon yang para badut itu peragakan.

Badut-badut yang masuk DPO acap kali hilang tak keruan juntrungan. Minggu lalu, Kirun sudah tidak tampak batang hidungnya. Sehari setelah melawak di pinggir lampu lalu lintas, badut malang itu hilang bagai dilahap bumi. Tidak hanya Kirun semata. Bagio juga pernah mengalami hal serupa. Bahkan, lebih parah. Hanya berselang waktu beberapa jam setelah melawak, mayat Bagio ditemukan hanyut di mulut sungai.

“Mereka memperlakukan badut serupa seekor anjing. Bahkan, lebih dari itu; mereka membunuh belasan badut tanpa proses peradilan. Dan, yang jadi soal, apa kesalahan para badut itu hingga mereka tega membunuhnya? Apakah hanya karena dinilai kurang jenaka? Ladalah, kota ini makin lama makin kacau,” sedih seseorang.

“Profesi badut pun dihukumi macam koruptor saja. Padahal, sudah jelas-jelas bahwa mereka berusaha menghibur, bukan mengerat uang rakyat!”

Protes sebagian orang tidak akan menghasilkan apa-apa, selain kesia-siaan belaka. Anggota Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu tersebar di mana-mana. Mereka seperti hantu yang bergentayangan di tiap penjuru. Mata mereka mirip teropong. Dari jarak jauh, mereka lekas tahu: siapa badut yang mesti mereka hilangkan. Hingga, sejauh mata mereka memandang, berjumpalah para anggota komisi itu dengan sosok Nio.

“Surat kabar mewartakan bahwa namaku termaktub dalam DPO para komisi keparat itu,” sedih Nio, kepalanya terjerembap di ketiak Nurmala.

“Tenanglah. Tenang, Suamiku. Kau tidak akan kenapa-kenapa.”

“Tetapi, Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu tidak pernah mengingkari ucapan mereka. Aku takut bila esok, nyawaku melayang begitu saja hanya karena gagal menghibur anak Bu Juleha, istri Walikota itu.” Nio menangis sesenggukan seperti bayi.

“Kau, kan, dapat berkilah, bahwa kejadian itu hanyalah kecelakaan belaka.” Nurmala merangkul Nio, semupama merangkul seorang bocah. “Lagi pula, kau bermaksud mengibur, bukan beritikad membunuh anak Bu Juleha.”

“Apakah komisi itu akan membebaskanku?” cemas Nio, matanya beriak.

“Katakanlah pada komisi berengsek itu, bahwa kau telah mengembalikan senyum anak-anak yang hilang. Setidaknya, anak-anak di kota ini kembali mengenal senyuman. Kebahagiaan kembali merekah laksana setangkai mawar menjumpai musim berbunga. Kau tak ubahnya pahlawan, kendatipun tidak berperang melawan bala tentara.”

Nio tersenyum simpul. Kalimat Nurmala membikin kecemasan Nio menguap. Ia tak perlu khawatir terhadap ancaman Komisi Pemberantasan Badut Tidak Lucu. Sebab, ia merasa tidak bersalah dan dapat berkilah, atau membalikkan tuntutan. Hingga, sampailah Nio pada hari berikutnya. Hari di mana kebahagiaan datang bagai hantu yang sering tidak terduga. Kebahagiaan itu berupa seamplop undangan dari seseorang.

“Kau lihat, seseorang menawariku jadi badut di pesta ulang tahun anaknya. Dan, coba kautengok! Seseorang itu mengupahiku sepuluh juta. Sepuluh juta,” girang Nio, sembari menyerahkan surat undangan itu pada Nurmala. Sesaat, ia berjingkrak-jingkrak serupa anak SD dapat mobil-mobilan. “Sebentar lagi, kita akan bervakansi ke Jerman.”

Hari itu, Nio mulai berangkat. Dan, seperti hari-hari sebelumnya, ia mengangsurkan punggung tangannya buat dicium Nurmala. Setelahnya, Nurmala menyiapkan kening untuk dicium Nio. Lantas, Nio merapikan kostum badutnya. Menyapunya dari debu-debu yang merajalela. Nio juga memasang hidung tomat, serta memasukkan sejumlah perca, agar perut tak terlihat mengerut. Tampaklah ia serupa badut pahlawan pengusir kesedihan.

Nio beranjak pergi bagai pegawai kantor hendak menerima gaji. Dari jauh, Nurmala melambai-lambaikan tangannya. Melepas kepergian suaminya menuju medan laga. Sekilas, keluarga kecil itu tampak hangat. Sehangat matahari pukul tujuh pagi. Kendatipun mereka tidak sadar, bahwa Nio tidak akan pernah kembali pulang. ***

Kota Gadis, 2019





======================

Hendy Pratama, Lahir dan menetap di Madiun, Gemar menulis puisi, cerpen, dan esai. Berkegiatan di komunitas sastra Langit Malam. Heliofilia merupakan buku kumpulan cerpen perdananya

Katrina

0

Ketika radio di mobil memberitakan kasus orang hilang, Katrina menatap dedaunan oak mulai gugur, meriung ringkai di sepanjang sisi jalan. Kesenduan yang manis, desirnya. “Ini perempuan ketiga yang hilang secara misterius,” ucap Igors, hanya diserap bagai dengungan tak mengusik di telinganya.

Ia acuh tak acuh pada apa pun yang mengalihkan pandang. Sejam perjalanan dari pusat kota Riga menawarkan banyak keindahan. Mata Katrina menanar jauh ke rimbunan ilalang yang melintas. Ia ingat, ketika kecil sering berlari-lari membelah padang rumput liar yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah, meniup bulir-bulir dandelion hingga melayang terbawa embusan angin. Menurut Klavs, sahabat kecilnya, serbuk-serbuk itu akan terbang sejauh sayap-sayap halusnya mengepak hingga lelah—mencari kehidupan lain—lalu hinggap di suatu tempat dan tumbuh menjadi batang dandelion baru.

Ia menatap sepenuh arti lelaki di sampingnya. Cahaya senja mengelir sebagian rahang tegas di belakang kemudi. Bulir-bulir dandelion seolah menguar di atap kepala, bertebaran mengisi relung hati yang pernah kosong, gersang tak berbentuk.

***

“Jadi, bagaimana rupa wajah-wajah mati itu?”

“Seperti wajah yang hidup.”

“Kau kenal orang yang menyerupainya?”

Katrina menggeleng. Pandangannya bertolak ke luar jendela kafe, menatap mereka yang lalu-lalang di pedestrian.

“Ceritakanlah awal pertemuanmu dengan Igors.”

“Akan cukup panjang. Kau punya banyak waktu?”

“Cukup banyak sampai ada jatuh korban lagi.” Petugas berpakaian kasual itu menunggu Katrina sambil memainkan jempolnya, membuka-tutup Zippo.

“Awalnya sangat pedih.”

***

Ibu pernah bilang, “Semua perempuan itu cantik, Katrina,” sambil memeluk dan mengelus ubun-ubunku. Klavs melapor pada Ibu. Mereka menyebutku beruang bunting, kuda nil, “Anak babi pantasnya berkubang di lumpur,” sambil melempar tanah becek yang bau dan pekat di hari ulang tahunku. Itu bukan kado kejutan. Itu petaka. Mereka tak melakukan itu pada anak lain di hari ulang tahunnya. Hari-hari setelahnya menjadi tak lebih baik bahkan saat mereka urung merajalela, hanya senyum sinis setengah berbisik acap aku lewat, rasanya sungguh meremas jantung. Suatu sore, tergopoh-gopoh Ibu memasuki kamar. Dilihatnya pecahan kaca telah berserakan di lantai. Aku benci sekolah. Aku benci cermin. Aku benci tubuhku sendiri!

Setelah kelulusan, kuputuskan untuk pergi dari Lielvarde, mencari kehidupan baru di Riga. Masa-masa menyebalkan itu nyatanya mesti kutebus dengan waktu yang tak pernah cukup untuk sehari. Pagi kuliah, sisanya bekerja sambilan di beberapa tempat. Langkah gontai membawaku pulang ke flat tua yang sempit. Hari-hari selanjutnya tak jauh beda. Hidup sendirian di kota asing membuatku kerap memakai kacamata pengamat. Kursi-kursi kafe lebih banyak tertata ke dalam meja. Orang-orang saling mengambil jarak saat berjalan. Tak ada bunyi yang lebih nyaring selain deru mobil yang melintas dan obrolan singkat para turis. Jarang sekali ada karnaval atau parade tahunan. Para penghuni flat seperti saling menunggu untuk keluar, agar terhindar dari keharusan menyapa satu sama lain. Tiap orang bertanggung jawab dengan kehidupannya sendiri. Aku jadi terbiasa dengan kondisi ini setelah mengenal Janis, tetangga sebelahku yang kikuk. Aku lupa bagaimana, suatu kali kami sempat berbincang di depan pintu kamar. Sejak itu, ia agak mencair. Darinya, kutahu beberapa hal garib: tentang flat yang namanya diambil dari nama seorang pemimpin Soviet saat program komunal digencarkan, eksodus penduduk ke negara lain beserta hal-hal politisnya, utopia Baltik Raya, dan sekian narasi aneh yang menggebu-gebu ia ceritakan.

“Ada gap dan perubahan budaya setelah berakhirnya era Soviet,” tukas Janis dengan raut serius ketika kutanyakan mengapa suasana kota begitu sepi dan orang-orang cenderung tertutup.

Mungkin kita hanya harus saling mengenal. Tanpa diduga, dengan nada gugup, pada suatu hari tiba-tiba Janis mengajakku keluar untuk melihat aurora di sebuah Taman Nasional yang tak jauh dari Riga. Meski tertarik, aku tunda tawarannya dengan bahasa paling baik. Ia bukan tipeku. Mungkin agak jual mahal. Jika jalan dengan seseorang, aku harus merasa nyaman. Seperti dengan Klavs. Oya, setelah bertahun-tahun pisah, akhirnya aku berjumpa Klavs di sebuah restoran. Saat itu ia bilang hanya sebentar lewat Riga untuk urusan logistik. Ia bekerja di perusahaan ekspedisi. Sedangkan aku baru diangkat menjadi asisten pribadi di sebuah perusahaan konsultan. Ia pangling melihatku.

“Kau bukan lagi beruang bunting, Kat,” selorohnya memburai tawa. Waktu itu aku memang sedang getol berlatih dan berlatih di gym sampai lupa waktu. Tapi rasanya itu hanya basa-basi kawan lama.

Tubuhku tak sesusut sesuai pujian. Wajahnya yang berubah. Pipinya tak berbintik seperti dulu. Potongan rambutnya kekinian. Kami bercakap-cakap sore itu. Bercerita banyak tentang kampung halaman yang membikin kangen. Sebelum berpisah, ia berkata sesuatu; aku harus mulai membuka diri. Mungkin dia benar. Tapi tidak dengan tetangga aneh macam Janis. Beberapa kali pula aku tolak ajakan teman kantor untuk melepas weekend di pub lokal. Sampai seseorang memperkenalkanku dengan Si Brengsek, bayangan para Geng Ratu Kecantikan sekolah itu mencuat lagi merusak hari-hariku. Sebenarnya aku malas membicarakannya. Untuk kebutuhan penyelidikan, baiknya kusebut nama itu: Olegs. Perawakannya atletis, hingga perempuan mana pun dijamin tak bakal menolak ajakannya untuk minum dan berdansa, keluar mencari udara segar, lalu bersenang-senang di parkiran. Tak terkecuali aku. Si bodoh ini.

***

“Kau suka musik folk?”

Aku tak tahu apakah Igors termasuk tipe dokter yang kerap mengajak kencan pasiennya. Aku sendiri tak yakin bila ini sebuah kencan. Di kota ini jarang terjadi interaksi antara orang yang tak saling kenal. Bila mereka bilang menyukaimu, mereka memang menyukaimu. Bila mereka mengajakmu pergi, berarti mereka ingin mengenalmu lebih jauh.

Kami duduk bersebelahan di sebuah kafe menikmati alunan musik folk tradisional bercampur distorsi dengan volume sedang. Aku suka saat ia menerangkan sesuatu meski beberapa lesap dari pendengaran. Rona visual lebih teramat sayang terabaikan.  

“Aku membuat wajah mati,” tuturnya datar, menjawab pertanyaanku perihal hobi senggang.

“Wajah mati?” Mungkin aku terlalu banyak minum.

“Prostetik. Seperti wajah-wajah iblis yang kau lihat dalam film. Meski sekolah kedokteran, aku suka seni. Kupelajari serius lewat internet.”

“Terlalu serius untuk sebuah hobi.”

“Yah, tak banyak yang bisa kau lakukan saat musim dingin. Semacam anekdot dari buku komik yang pernah kubaca: salju kerap menolong orang memperkecil pertemuan beresiko.”

“Mungkin banyak penulis di kota ini.” Kalimatku barusan membuatnya tertawa.

“Jangan-jangan kau penulis.”

“Mengapa aku terlihat seperti penulis?”

“Entahlah, penulis suka satir pada kehidupannya sendiri. Bukumu tentang apa?” tanyanya yakin sekali menebak.

“Tentang rasa kehilangan,” jawabku sekenanya.

“Jadi, apa kau akan menelitiku?” tuturnya menatap lembut mataku, memperpendek jarak hingga napasnya tercium.

Awalnya aku mengenal Igors secara acak dari daftar dokter bedah yang ada di kota ini. Si Brengsek itu membuat duniaku anjlok. Saat sedang cinta-cintanya, ia main api dengan seseorang. Perempuan itu sangat cantik, tinggi semampai dengan rupa elok sempurna. Aku ingin Igors membantuku. Aku ingin mengubah bentuk hidungku. Tinggi badanku. Kelopak mataku. Apa pun hingga membuatku cantik sempurna. Tak seperti beruang bunting atau anak babi yang jelek. Alih-alih langsung setuju, Igors malah merujukku ke psikolog—setelah kuceritakan masalah pribadi tanpa canggung. Meski teknologi dapat membantu, beberapa hal lebih terkait kondisi emosional ketimbang kebutuhan, katanya, “Dan setiap operasi, semacam osteogenesis distraksi atau rhinoplasty pun, ada resikonya.” Beberapa kali aku datang, jawabannya selalu sama. Igors terkesan tak semangat bila kedatangan pasien untuk permintaan operasi. Dokter yang aneh.

Kami jadi lebih sering bertemu sejak malam folk itu. Mengunjungi museum rumah kayu tradisional, kastil di tepi sungai Daugava, merekam aurora di Kemeri yang urung kulakukan dengan Janis.

Nyala cahaya di langit begitu indah, seolah bergemulai, menaungi sepasang bibir kedinginan.

***

“Buatkan aku wajah itu,” pinta Katrina di rebahan bahu Igors.

“Kukira kita sudah membahasnya beberapa kali,”

“Bukan tentang operasi, Igors. Topeng wajah itu.”

Wajah-wajah mati terpampang di tembok. Rautnya seperti para pelaku bom bunuh diri. Di ruangan yang disebut workshop itu segala tekstur serupa kulit dan sayatan daging berbaur dengan potongan mirip tubuh manusia, rangka, dan wadah ukur berisi cairan merah pekat yang teronggok acak di setiap sudut. Satu wajah perempuan menarik perhatian Katrina sejak pertama datang ke tempat ini—rumah besar di pinggiran kota tempat Igors tinggal.

Setelah menutupi sekujur dadanya dengan kaus, Igors mengajak Katrina menuju ruangan lain. Ia duduk di sebuah kursi ketika Igors mulai mengaduk campuran silikon berwarna putih, berbau menyengat. Sapuan pertama membuat Katrina bergidik.

“Dingin, dan lembut seperti adonan. Apa semua wajah itu dicetak dengan cara begini?” tanya Katrina, melirik ke arah tembok.

“Ya. Supaya identik.”

“Banyak wajah perempuan di sini.”

Mata Igors fokus, terpaku menguas wajah.

“Siapa mereka?”

Igors tak langsung menjawab. Tangannya mengambil beberapa bahan di meja, mempersiapkan adonan yang disebutnya resin. Selapis demi selapis silikon akan menutupi seluruh wajah Katrina.

“Apakah satu dari mereka itu mantan pacarmu?”

 “Ya, beberapa.”

“Beberapa?”

“Pejamkan matamu.”

Gelap. Situasi begini mengundang perasaan ganjil. Bayangan masa lalu melintas. Kegelapan Rumah Hantu yang pernah Katrina masuki di sebuah pasar malam datang menyergap. Ia ditinggal pergi beberapa temannya hingga meringis ketakutan. Hantu-hantu itu semakin mendekat, hendak merengkuhnya.

 “Namanya Sovya. Sehari menjelang pertunangan, ia tiba-tiba hilang. Sejak itu aku mencetak wajah orang-orang yang kukenal agar mereka abadi, meski suatu saat nanti mereka pergi. Mereka bukan perempuan jelek, Katrina. Mereka adalah pasien-pasienku yang tak pernah merasa cukup. Buat mereka, jalan bagi cantik sempurna adalah upaya yang tak terbatas.”

Katrina kesulitan bicara. Wajahnya telah mengeras. Degub jantungnya mengencang.

Sovya adalah nama yang sama dengan nama perempuan yang membuat Si Brengsek tergoda. Nama salah satu korban yang turut menghilang sampai sekarang.

Di luar, cuaca menusuk. November akan berakhir dan salju-salju tetap turun menutupi jalan. Beberapa waktu sebelum sekarang, di sebuah kamar sempit, seseorang tengah duduk berteman lampu redup memerhatikan foto-foto perempuan cantik yang berserakan di meja. Sebuah tulisan diary bergaya fiksi tergeletak di sampingnya. Nampaknya ia sudah cukup lama menguntit calon korban.

“Tak boleh ada lagi yang membuatmu kecewa, Katrina.”

Sebuah foto bertanda silang ia raih.

“Tak boleh ada perempuan cantik selain kamu.”

Bojongsoang, 2019




====================
D. Hardi, Cerpenis, tinggal di Bandung. Tulisan telah tersiar di beberapa media cetak dan elektronik seperti Pikiran Rakyat, Jawa Pos, Solopos, Padang Ekspres, Detik.com, Bacapetra.co, Magrib.id, Satupena.id, dan lainnya. Kini sedang menyusun naskah kumpulan cerpen.

Hikayat Lelaki Musafir

0



Kisah ini bermula ketika Qudamah, lelaki alim dari timur hendak mengembara ke negeri Syam. Ia terpikat oleh kisah-kisah dalam kitab tarikh yang menceritakan perjuangan Sang Rasul. Baginya, meyakini saja tak akan cukup. Rasa cintanya terhadap Sang Rasul membuatnya bertekad akan menziarahi tempat-tempat perjuangannya semasa hidup, meski harus menempuh jarak ratusan bahkan ribuan mil sekalipun.

Pada hari, minggu, bulan dan tahun yang diyakininya dapat memperlancar misinya, ia mulai mengembara. Dengan berbekal restu ibu dan secarik peta usang, ia berjalan menembus gurun tandus, mendaki pegunungan berlembah curam, serta menyeberangi puluhan sungai berarus deras. Ia juga kerap singgah di kota-kota tua bersejarah yang menyimpan banyak kisah.

Pada hari keseratus satu perjalanan panjangnya, Qudamah singgah di sebuah kota kecil di tengah gurun tandus. Ia berteduh di sebuah gubuk yang lama ditinggal pemiliknya. Sejenak ia melepas lelah. Panas yang teramat sangat membuatnya kehilangan banyak tenaga. Namun demikian, tak sedikitpun dalam benaknya akan mengakhiri perjalanan. Ia beranggapan apa yang dilakukannya belum seberapa jika dibanding dengan perjuangan Sang Rasul dalam bersyiar.

Menjelang sore, di tengah persiapannya hendak melanjutkan perjalanan, Qudamah dikejutkan oleh kedatangan seorang kakek bongkok berpakaian lusuh. Sejenak ia tertegun memandang sang kakek, sebelum kemudian mempersilakannya untuk duduk.

“Apa Kakek musafir?” tanya Qudamah membuka keran pembicaraan.

Kakek mengangguk, “Benar. Apa kau juga musafir?”

“Ya, Kek.”

“Dari mana asalmu?” 

“Nun jauh dari timur sana, Kek.”

“Hendak kemana?”

“Ke Syam?”

“Syam?”

“Benar.”

“Apa yang akan kau cari di sana?”

“Berziarah, Kek. Mengunjungi jejak-jejak Sang Rasul.”

“Muhammad maksudmu?”

“Tentu. Siapa lagi?”

Kakek tergelak, “Kau sedang bermimpi atau sedang mencari sensasi?”

“Maksud Kakek?” Qudamah heran dengan sikap kakek yang menertawakannya.

“Tadi kau bilang beziarah mencari jejak Rasul di negeri Syam?”

Ia mengangguk.

“Tak ada jejak apapun di sana. Yang ada hanyalah padang tandus dan gersang, pokok-pokok kurma layu, unta-unta kurus, dan mata orang-orang yang kehilangan semangat hidup. Syam hanyalah negeri tua dengan setumpuk kisah usang yang mulai hilang ditelan zaman. Percayalah, kau tak akan menemukan apapun di sana.”

Qudamah terdiam. Sejenak ia bergelut dengan batinnya. Mencerna setiap perkataan si kakek dengan sedikit keraguan. Kemudian ia teringat perkataan guru ngajinya bahwa ia akan menemukan berbagai macam rintangan. Tak hanya sulitnya medan dan jauhnya perjalanan. Ia juga akan bertemu dengan jin yang menjelma manusia dengan tujuan akan menggagalkan perjalanannya.

“Sebaiknya kau pikirkan lagi niatmu, anak muda. Perjalanan ke Syam bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kau akan menemukan banyak rintangan. Jangan sampai niat baikmu hanya akan memperoleh kekecewaan.”

Qudamah mengangguk-angguk kecil.

“Apakah kau pernah ke Syam?”

Qudamah menggeleng.

Si kakek tertawa ringan, “Ya, kau memang masih sangat muda. Pengalamanmu masih terbilang hijau. Lain denganku. Aku sudah banyak makan asam garam di dunia pengembaraan. Apalagi Syam. Hampir seluk-beluk di sana aku sudah  sangat hafal.”

Sejenak Qudamah terdiam. Dipandanginya sang kakek dengan penuh kewaspadaan. Dan benar adanya, kewaspadaan Qudamah mulai menemukan titik terang ketika azan asar berkumandang. Sang kakek mendadak gelisah. Wajahnya pucat pasi. Tak lama berselang ia pamit untuk melanjutkan perjalanan. Dan, kewaspadaan Qudamah terbukti setelah keluar gubuk tak menemukan jejak apapun di atas tanah.

***

Senja baru saja purna ketika Qudamah menghentikan perjalanannya. Gelap malam membuatnya memutuskan untuk beristirahat. Karena tak juga menemukan perkampungan, ia pun memutuskan untuk bermalam di bawah sebuah pohon rindang. Setelah menggelar kain untuk alas tidur, ia pun merebahkan tubuhnya. Dan tak membutuhkan waktu lama, Qudamah pun terlelap.

Malam semakin pekat. Suara angin gurun yang datang bergemuruh membuat Qudamah terlempar dari mimpinya. Meski  demikian, Qudamah masih terpejam dan meringkuk di balik selimut.

Setelah angin selesai bergemuruh, Qudamah kembali mencoba membenamkan dirinya ke dalam mimpi. Namun gagal. Hingga tak lama kemudian ia mendengar suara orang bercakap-cakap.

“Sepertinya kau kedatangan tamu wahai Sahabi.”

“Ya, seorang musafir. Sepertinya ia sangat kelelahan.”

“Syukurlah, kau tak akan kesepian malam ini.”

Mendengar ada yang bercakap-cakap, kantuk Qudamah mendadak sirna. Ia pun terjaga. Kedua matanya waspada. Kalau-kalau yang bercakap-cakap orang jahat yang hendak mencelakainya. Lalu perlahan tangan Qudamah merogoh ke balik pinggang untuk mengambil badik.

“Benar. Sudah cukup lama tak ada orang yang datang ke sini. Terakhir kali ketika sepasang lelaki yang hendak mencelakaiku. Bersyukur kau datang datang dan menggigit salah satu diantara mereka.”

Qudamah bangkit, lalu memasang kuda-kuda sembari menghunus badik. Kedua matanya menyapu keseluruh penjuru mata angin. Dahan-dahan pohon yang menaunginya pun tak luput dari tatapannya. Namun ia tak menemukan apapun kecuali seekor ular derik yang bergegas pergi ke balik batu.

Sejenak Qudamah terdiam. Jelas-jelas ia mendengar orang bercakap-cakap. Namun kini ia hanya menemukan kekosongan. Hanya angin gurun yang sesekali menampar-nampar wajahnya. Setelah memastikan tak ada siapa-siapa, Qudamah pun melanjutkan tidurnya.

***

Matahari telah sepenggalah ketika Qudamah terbangun. Meski demikian, ia masih meringkuk di balik selimut. Tak lama berselang seekor pungguk terbang rendah, lalu hinggap disalah satu dahan. Tepat di atas Qudamah.

“Kau kedatangan tamu rupanya wahai Sahabi?”

“Ya. Seorang musafir. Sejak semalam ia tidur di sini.”

Qudamah tersentak dalam batin. Suara percakapan yang ia dengar semalam kini terdengar lagi. Namun kini ia yakin tak ada siapapun selain dirinya, seekor pungguk, dan pohon yang dijadikannya tempat berteduh.

“Apakah ia telah mengenalmu?”

“Sepertinya belum. Buktinya semalam ia tebangun dan tampak bingung ketika aku berbincang dengan Derik. Bahkan ia menghunuskan badik. Dipikirnya ada orang jahat yang hendak mencelakainya.”

“Hahaha… rupanya ia tak tahu siapa dirimu. Semestinya ia sangat beruntung ada di sini. Di dekat pohon Sahabi yang menjadi saksi sejarah orang termulia. Orang yang sedang ia cari jejak-jejaknya.”

Qudamah kembali tersentak dalam batin.

“Maksudmu apa wahai Pungguk?”

“Ya, aku telah mengikuti musafir ini sejak dari Kota Aswad. Ia mengemban misi mencari jejak-jejak Sang Rasul.”

Mendengar percakapan yang tak biasa, Qudamah hanya terdiam. Ingatannya menghambur pada kitab-kitab tarikh yang menceritakan tentang pohon sahabi. Hingga pada akhirnya ia teringat. Lalu serta-merta bangun.

“Benarkah kau pohon sahabi yang terkenal itu?” tanya Qudamah penasaran. Matanya tajam menatap pohon sahabi. “Benarkah kau yang menjadi saksi sejarah atas pertemuan Rasul dengan Buhaira?”

Angin gurun berhembus lirih menerpa wajah Qudamah.

“Ayo jawablah pertanyaanku. Aku tahu kau pandai berbicara layaknya manusia.” Qudamah berjalan mendekati pungguk, namun pungguk dengan segera berpindah ke dahan lain. “Aku tahu kau tadi berbicara dengan pohon ini wahai pungguk. Tolong jawablah. Bantulah aku mengatasi keraguanku.” Pungguk masih juga terdiam. Matanya tampak tak berkedip menatap Qudamah.

“Baiklah jika kalian tak hendak bicara padaku. “Qudamah kembali ke bawah pohon sahabi. Benaknya kembali menyimpan tanya. Apakah kedua makhluk yang baru saja diajaknya bicara sebenar-benarnya makhluk kasat mata atau sama halnya dengan perwujudan makhluk serupa jelmaan kakek bongkok? Untuk menjawab keraguannya, Qudamah menunda perjalanannya. Ia masih berdiam diri di bawah pohon sahabi sembari menunggu pertanyaannya terjawab.

***

Matahari kian menerik ketika Qudamah tak lagi sabar menunggu jawaban. Ia merasa apa yang ditunggu hanyalah sebuah kesia-siaan. Ia bangkit dan menghadap pohon sahabi.

“Baiklah jika kau tak mau menjawab pertanyaanku. Akan kucari jawaban di tempat lain.”

Dengan sedikit dongkol, Qudamah pun mengemasi barang-barangnya, lalu meninggalkan pohon sahabi. Namun baru duapuluh langkah, Qudamah terhenti ketika sekoloni awan tiba-tiba datang dan berhenti tepat di atas pohon sahabi.

“Apakah pemuda itu sedang mencari tahu jati dirimu wahai Sahabi?”

“Ya, benar sekali. Tapi aku memilih diam ketika ia bertanya.”

Merasa dipermainkan, Qudamah pun jengkel. Ia berbalik badan dan kembali menghampiri pohon sahabi dan awan.

“Beginikah cara kalian memperlakukanku? Wahai sahabi, sesungguhnya kau tengah menghinakan dirimu sendiri sebab sengaja tak bicara denganku. Kau tak lebih baik dari pohon-pohon tua yang lain! Dan kau awan, tak lebih baik dari musafir yang kehilangan arah dan tujuan.”

Sejenak suasana sunyi. Namun tak berapa lama, awan yang semula putih berubah menghitam seolah menyiratkan kemarahan. Lalu disusul suara gemuruh di langit dan angin kencang. Qudamah yang sedari tadi terdiam langsung menghambur ke bawah pohon sahabi untuk berlindung.

Menyadari apa yang diucapkannya menuai badai, Qudamah pun meminta maaf. Ia memohon agar awan tak lagi memanggil angin.

“Demi Tuhan. Demi Zat yang paling agung. Aku tak bermaksud meremehkan kalian.”

Mendengar Qudamah bersumpah, angin pun berangsur-angsur mereda.

“Baiklah jika kalian tak menghendaki kehadiranku di sini. Aku akan pergi.”

Qudamah pun meninggalkan pohon sahabi dan awan dengan harapan ia akan mendapatkan belas kasihan dari keduanya dengan memanggilnya untuk kembali. Namun semakin jauh ia berjalan, tak ada sepatah kata pun keluar dari keduanya. Akhirnya Qudamah menoleh ke belakang dan ia pun terkaget ketika tak mendapati apa pun di sana kecuali padang tandus dan gersang.




====================
M Arif Budiman, lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Buku kumpulan cerpen terbarunya Anjing Bersayap Malaikat (2020). Sekarang menetap di Kudus.

Penghuni Lantai 18

0

Seorang laki-laki meloncat dari balkon lantai 18 sebuah apartemen tua di pinggir kota, tempat di mana Tokoh Kita tinggal sendirian selama hampir lima tahun belakangan. Kepala laki-laki malang itu menghantam tembok lapangan bermain anak-anak, yang pada pagi dan sore hari biasanya menjadi tempat berkumpul ibu-ibu dan para pengasuh. Untung saja, saat laki-laki itu terjun bebas dari balkon apartemennya selepas azan Magrib, lapangan itu sedang sepi. Namun, bunyi berdebam dari benturan keras antara kepala dan tembok semen jelas telah menarik banyak mata untuk menoleh. Beberapa penghuni yang kebetulan duduk atau tengah lewat di sekitar situ langsung menghambur ke titik tempat laki-laki itu kini telah menjadi mayat. Dan, tak butuh waktu lama hingga kemudian orang-orang datang mengerubungi. Bukan untuk menolong, tentu saja, tapi untuk mengambil foto atau merekam video lalu membagikannya di media sosial masing-masing.

Kehebohan sempat berlangsung selama beberapa menit. Mungkin orang-orang di sana ingin memastikan bahwa yang bunuh diri itu bukan keluarga, kenalan, kekasih, ataupun simpanan mereka. Namun, begitu mereka yakin bahwa laki-laki itu bukanlah orang yang mereka kenal, satu per satu segera mundur, lalu kembali asyik-masyuk dengan gawai di tangan. Komentar teman-teman di dunia maya tentu lebih penting ketimbang berusaha sedikit saja menutupi jenazah korban dengan koran atau apa saja.

Dan, seperti biasa, seperti yang mungkin juga sudah Anda duga, petugas datang hampir setengah jam kemudian. Tentu saja bukan karena mereka tidak tahu tentang kejadian naas itu, melainkan karena demikianlah prosedur yang harus mereka patuhi.

Tokoh Kita hanya bisa bergidik menyaksikan pemandangan tak mengenakkan itu. Ia sebenarnya tak ingin ambil pusing dengan apa yang terjadi di sana, dan seperti biasa, seperti yang sudah-sudah, ia bergegas menuju lift untuk naik ke unit kontrakannya. Tapi, mulut para penghuni yang tak henti membicarakan tentang kemalangan laki-laki pelaku bunuh diri itu tetap saja sampai ke telinganya, dan bahkan, dari percakapan-percakapan mereka, ia bisa mendapatkan gambaran yang sangat rinci mengenai kondisi terakhir laki-laki itu: pinggangnya yang terpelintir patah; kedua bola matanya yang mendelik; hingga benaknya yang berceceran.

Kejadian seperti ini sebenarnya bukanlah hal baru di kota ini. Berita tentang orang bunuh diri terdengar hampir terjadi setiap hari, dengan motif yang beragam. Media pun seolah berlomba-lomba memburu berita tentang fenomena bunuh diri ini, menceritakan setiap detail peristiwa, sebab-musabab, hingga mewawancarai orang-orang terdekat pelaku. Meski sempat dilarang pemerintah karena alasan tertentu, orang-orang media sepertinya punya taring yang lebih kuat. Bahwa memberitakan peristiwa bunuh diri adalah cara terbaik untuk mencegah korban berikutnya, demikian mereka berargumen.

Bagaimanapun, kejadian orang mengakhiri nyawanya secara paksa tetap tak bisa dihentikan. Bahkan, belakangan, media pun tak lagi bisa mengulik motif para pelaku bunuh diri, yang beberapa di antaranya sengaja meninggalkan pesan singkat bahwa mereka bunuh diri hanya karena begitulah mereka ingin mengakhiri hidup, bukan karena himpitan masalah, depresi, ataupun sebab-sebab lainnya yang biasa dijadikan alasan oleh para pelaku.

Orang-orang mengarahkan telunjuk pada pemerintah, menyalahkan lambannya upaya pencegahan yang dilakukan selama ini. Pemerintah pun dinilai tidak tegas dalam menghentikan media mengabarkan berita terkait bunuh diri, yang oleh kelompok tertentu dianggap menjadi pembenaran bagi calon pelaku untuk melancarkan niatnya. Mereka pun menuduh pemerintah kongkalikong dengan media, dan pada beberapa kesempatan, isu ini dimanfaatkan oleh opisisi sebagai amunisi untuk menyerang pemerintah.   

Tokoh Kita, bagaimanapun, tak ingin melibatkan diri dengan semua itu. Sudah sejak lama ia tak lagi peduli dengan segala kebijakan yang diambil oleh pemerintah, pun dengan berbagai protes dan kritik yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok tertentu terhadap pemerintah. Hidup sudah terlalu rumit, dan ia tak ingin menambah pusing kepalanya dengan semua itu.

Begitulah, ketika akhirnya ia masuk ke apartemennya, Tokoh Kita akan segera memulai ritual malamnya: mengunci pintu dan jendela, menyalakan AC (yang suhunya selalu ia set pada 23 derajat), mengguyur badannya selama beberapa menit, lalu dengan telanjang bulat, ia akan masuk ke dalam sungkupan selimut. Biasanya ia akan tertidur pada menit ketujuh setelah kepalanya menyentuh bantal, atau jika matanya susah terpejam, ia akan memutar lagu-lagu kesukaannya, yang biasanya ampuh mengantarnya ke alam mimpi.

Alarm akan membangunkannya pada pukul lima lewat dua puluh menit. Lima menit akan ia habiskan dengan menatap langit-langit kamarnya, mengumpulkan kesadaran dari kelana malam. Bangkit, ia akan menuju lemari pendingin, mengambil segelas air dan menenggaknya hingga habis. Lima menit berikutnya, ia akan menuntaskan segala hajat di kamar mandi, membasuh diri sesegera mungkin, dan segera bersiap ke tempat kerja. Memulai rutinitas sebagai mesin pekerja, demikian ia mengistilahkan kesehariannya sebagai seorang karyawan di sekolah bahasa tempat ia bekerja.

Awalnya, bermodal ijazah yang ia peroleh dengan susah payah selama hampir lima tahun, Tokoh Kita melamar ke sekolah itu sebagai tenaga pengajar, seperti yang selalu ia cita-citakan sejak lama. Pendidikan adalah intervensi paling beradab untuk mengubah dunia ke arah yang lebih baik, begitu prinsip yang ia pegang. Ia ingin menuliskan jalan kebaikan di kepala anak-anak yang masih putih bersih, menuntun mereka secara perlahan menjadi manusia yang tidak hanya bisa menambah kerusakan di dunia yang sudah sakit ini.

Namun, liukan takdir membawanya ke jalan yang sedikit berbeda: ia tidak diterima sebagai tenaga pengajar di sana, tapi karena kebetulan mereka sedang mencari seorang tenaga administrasi untuk menggantikan petugas lama yang baru mengundurkan diri, ia pun ditawari posisi tersebut. Saya bersedia, jawabnya waktu itu, penuh keyakinan. Ia berpikir, meski tak bisa terjun langsung mengajar anak-anak, dengan menjadi petugas administrasi di sekolah, ia tentu masih bisa mempelajari perkembangan mereka, yang semoga suatu hari kelak bisa ia pergunakan untuk hal-hal lain seperti menulis buku, menjadi pembicara, dan – seperti yang terus ia usahakan – jika ia menjadi pengajar nantinya.

Tentu saja waktu itu Tokoh Kita tak pernah membayangkan bahwa kerja yang menunggunya adalah tumpukan kebosanan yang tak pernah berujung. Lembar-lembar kertas, dokumen dan surat-surat, buku-buku, semua menunggunya setiap pagi, menyita lebih dari delapan jam yang harus ia berikan untuk sekolah itu, di luar panggilan-panggilan telepon serta tugas-tugas lain yang tidak disebutkan secara rinci di kontrak kerja.

Meski sempat mencoba peruntungan dengan mengajukan surat lamaran ke tempat kerja lain, Tokoh Kita akhirnya belajar satu hal: ia tak seistimewa yang ia pikir. Dan, pekerjaan yang kini ia tekuni adalah hal yang sepatutnya ia syukuri, mengingat jutaan orang di luar sana masih terus terombang-ambing dalam gelombang pengangguran. Bukankah pekerjaan inilah yang mampu membawanya keluar dari kamar kontarakan kumuh di pusat kota dan mampu menyewa apartemen – terlepas dari kondisinya yang ternyata juga memperihatinkan – yang lebih layak?

Demikianlah, hingga tahun-tahun berlalu, hingga ia tak lagi bisa membedakan antara dirinya dengan mesin yang sudah disetel oleh teknisi untuk bekerja sesuai instruksi yang sistem yang ada. Bahkan, pada hari-hari yang sangat membosankan, ia merasa telah menjadi bagian dari lembaran-lembaran kertas dan dokumen-dokumen sekolah yang selalu menumpuk di meja kerjanya.

***

Tokoh kita pernah jatuh cinta, tentu saja. Seorang guru bahasa Prancis yang sedang magang di sekolah itu berhasil mencuri hatinya. Senyum rekah gadis itu adalah api yang menghangatkan hari-hari Tokoh Kita yang dingin, yang membuatnya bangun dengan lebih bersemangat dan melupakan kebosanan hidup yang memaksanya berputar pada siklus yang sama hampir setiap waktu. Kehadiran gadis berkacamata itu mampu mengubah warna langit menjadi lebih biru dan bunga-bunga apa saja yang tumbuh di halaman sekolah terlihat lebih indah. Lidahnya pun terasa lebih sensitif, bisa mencecap rasa yang lebih dalam, menikmati sensasi yang belum pernah hadir sebelumnya. Ia makan lebih banyak, memuji dan menandaskan makanan yang sebelumnya bahkan tak pernah sanggup ia habiskan.

Sebagai guru magang yang membutuhkan ini-itu terkait administrasi dan dokumentasi, ia mendapatkan banyak kesempatan untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan gadis itu. Namun, Tokoh Kita yang sopan tak pernah mempunyai keberanian yang cukup untuk membicarakan hal-hal lain di luar topik yang berkaitan dengan apa yang dibutuhkan oleh gadis itu. Bahkan, untuk sekadar menanyakan apakah gadis itu bersedia makan bersamanya di kantin sekolah pada saat jam istirahat saja – sesuatu yang rasanya sangat wajar dilakukan oleh seorang lelaki kepada gadis yang dipujanya – ia sungguh tak mampu. Akan datang masanya, begitu ia berulang-ulang mengatakan pada dirinya sendiri setiap kali godaan untuk melontarkan pertanyaan itu muncul. Akan datang waktu yang tepat untuk memulai semuanya dengan cara baik-baik, pikirnya. Diam-diam, Tokoh Kita mulai belajar beberapa frasa dan kalimat dalam bahasa Prancis yang rencananya akan ia ucapkan saat mereka bisa mengobrol santai suatu hari nanti.

Namun, genap tiga bulan gadis itu bekerja di sana, saat masa percobaan mengajarnya selesai, Tokoh Kita yang masih menunggu waktu yang tepat itu, akhirnya mengerti konsekuensi dari kepengecutannya. Pada hari saat ia tak lagi menyandang status guru magang, gadis itu datang ke mejanya bersama Eric, rekannya sesama guru bahasa Prancis yang blasteran. Setelah mengambil beberapa dokumen terkait pengangkatannya, gadis itu mengajak Tokoh Kita untuk bergabung bersama mereka di kantin sekolah siang itu. Tokoh Kita tentu paham bahwa ajakan itu tak lebih hanyalah basa-basi yang tak perlu ia tanggapi dengan serius. Ia hanya mengatakan, “Terima kasih banyak, tapi saya masih punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan….” lalu buru-buru mengangkat setumpuk besar dokumen ke meja kerjanya dan berpura-pura tak melihat genggaman tangan keduanya yang sedari tadi melekat seolah tak ingin dipisahkan barang sedekit pun.

Begitulah, hingga perlahan Tokoh Kita kembali menjalani kesehariannya dengan ritme yang sama: bangun pukul lima lewat dua puluh menit, menghabiskan waktu beberapa menit berikutnya untuk menatap langit-langit kamar, masuk ke kamar mandi untuk membuang hajat dan membersihkan diri, untuk kemudian segera bersiap berangkat ke tempat kerja. Di meja kerjanya, tumpukan laporan, surat, dan dokumen sudah menunggu untuk ia pilah, pelajari, salin, dan memasukkan semuanya ke dalam tabel-tabel atau grafik yang bisa dibaca dengan cepat oleh bagian manajemen. Begitu jam kerja usai, ia akan bergegas menuju halte, menunggu bus ke arah apartemen tua tempat ia tinggal.

Selama bertahun-tahun, semua akan berjalan persis seperti itu setiap hari, kecuali terjadi gangguan-gangguan kecil seperti kasus laki-laki yang meloncat dari lantai 18 itu. Dan, entah kapan Tokoh Kita akan menyadari bahwa laki-laki itu tak lain adalah dirinya sendiri. ***

Bekasi, 30 Desember 2019





======================
Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, Hikayat Bujang Jilatang terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul Di Palung Terdalam Surga bisa dibaca di Pitu Loka (2019). Kini menetap di Bekasi, Jawa Barat.

Lelaki Mercusuar

0

Ibu dan adikku dibawa kapal barang bertahun-tahun lalu dan aku selalu menunggu di tepi pantai hingga mereka datang. Aku duduk di sana setiap hari dari pagi sampai sore dan kadang dari pagi hingga pagi jika aku terlalu murung. Rutinitas melelahkan macam itu terjadi selama entah berapa tahun lamanya. Aku tinggalkan pekerjaan dan pacarku. Aku tinggalkan kehidupanku hingga orang kira aku mungkin sudah gila.

Aku tidak yakin apakah aku sudah gila atau belum, tetapi aku tidak dapat lepas dari pikiran soal ibu dan adikku yang pergi dibawa kapal ke tempat yang entah di mana. Aku bayangkan mereka kembali suatu hari nanti dan “suatu hari” itu sering kali cuma berupa “besok”. Dan tentu saja “besok” akan selalu berulang sepanjang waktu.

“Besok pasti mereka pulang,” pikirku tiap malam.

Jika besoknya ibu dan adikku tetap tidak muncul, malam berikutnya aku sekali lagi berkata, “Besok pasti mereka pulang.”

Ayah tak pernah berkata apa-apa tentang kepergian mereka; dia hanya menghidupi diri kami dengan pekerjaannya sebagai nelayan yang sederhana dan tidak banyak uang. Ingin sekali suatu hari aku membantu lelaki tua itu di laut, tapi jika nanti ibu dan adikku pulang dan tidak ada yang menunggu kedatangan mereka di pantai, tidak ada seorang pun yang menyambut, aku takut mereka tidak jadi pulang.

Bisa-bisa ibuku akan berkata, “Wah, seharusnya kita tak lagi ke sini. Lihat saja tak ada yang peduli menunggu kita pulang!”

“Iya, Bu, semua orang tak mengharapkan kita pulang, termasuk keluarga sendiri,” begitu mungkin sahut adikku.

Jadi aku harus tetap menunggu.

“Kampung tepi pantai ini sudah banyak berubah, dan jika suatu kali mereka datang dan melihat kondisi ini, mungkin mereka tidak percaya kita masih di sini, dan mungkin juga mereka akan pergi lagi dengan kapal itu untuk selamanya.” Itu kusampaikan pada Ayah yang kebanyakan cuma diam.

Aku tidak pernah tahu kejadian malam itu. Kabarnya Ibu dan Adik pergi gara-gara utang Ayah yang menggunung hingga mereka harus melarikan diri dari seorang juragan yang ingin mengawini adikku. Versi lain mengatakan kalau ibu dan adikku memang sengaja pergi sejauh mungkin dari sini karena muak menjalani hidup yang melarat.

Aku tidak pernah tahu apakah Ayah memang memiliki utang menggunung, tapi ia tidak pernah bercerita soal itu dan aku sendiri segan bertanya dan pula tak pernah ada tukang tagih utang mengobrak-abrik rumah kami, misalnya. Aku tahu selama aku di rumah ini, sebelum pergi ke kota sebelah demi mendapat pekerjaan yang lebih layak, Ayah bukan orang yang mudah berutang. Jadi, pikiranku terus menuju ke kemungkinan lain, yakni bahwa ibu dan adikku diculik entah oleh siapa.

Aku tidak tahu siapa penculik itu, tetapi benar-benar percaya memang itulah yang terjadi. Hanya karena aku tahu betapa adikku cukup cerdik saja, maka aku tetap percaya jika suatu hari nanti mereka bisa kembali setelah kabur dari si penculik. Mereka jelas dapat kabur dengan mudah oleh ide-ide brilian adikku. Mungkin pada saat ini mereka sudah lepas dari si penculik dan mungkin juga adikku sudah mendapat pekerjaan yang bagus di suatu kota yang sangat maju dan modern, dan dia perlu menabung dulu untuk bisa pulang ke sini.

Aku terus membayangkan kemungkinan baik macam itu, sepanjang hari, bertahun lamanya hingga memancang diriku di pantai ini bak pasak abadi yang mengawasi setiap pergerakan apa pun di perairan sekitar. Mataku sampai sangat terlatih karenanya. Aku bisa melihat bentuk-bentuk benda dari kejauhan yang mungkin saja tak mudah ditelaah mata normal. Mungkin, karena kebiasaan menunggu ini pula aku bukan sekadar pasak. Bisa dibilang akulah mercusuar hidup. Aku sendirian dan menua oleh angin pantai, dan itu terjadi demi alasan yang masuk akal.

Aku tidak peduli jika suatu kali ada sekumpulan bocah melempariku atau beberapa orang menggodaku meninggalkan pantai busuk ini demi bersenang-senang seperti yang seharusnya kulakukan sebagai seorang lelaki.

“Kamu belum terlalu tua, belum kepala empat. Kami pikir kamu dapat berbuat apa pun di luar sana ketimbang sekadar duduk menunggu sesuatu yang tidak pasti begini!” kata mereka selalu.

Aku tidak pernah peduli. Aku tetap pada rutinitasku. Pergi ke pantai sewaktu subuh dan pulang menjelang maghrib dan kadang pulang subuh jika terlalu asyik terbenam dalam pikiran-pikiran, seperti kataku tadi. Itu terjadi terus menerus tanpa peduli musim apa pun.

Suatu kali badai menghempas pantai ini dan aku terpaksa berlindung di kumpulan karang yang cukup jauh dari dermaga dan kembali pulang dengan tubuh remuk redam oleh dinginnya angin dan siraman air hujan. Di saat-saat seperti itulah Ayah baru dapat berbicara beberapa patah kata kepadaku, tetapi sebagian besar yang dia ucapkan tidak ada kaitannya dengan ibu atau adikku.

Ayah hanya berbicara soal masa kecilku yang bermakna baginya. Dia bilang, aku pernah hampir tenggelam di dekat dermaga. Saat itu yang dia pikirkan hanya bagaimana aku dapat diselamatkan.

“Jika saja seseorang harus mati pada hari itu, Nak, aku berharap itu bukan kamu,” tuturnya dengan suara yang begitu tua. “Aku harap dapat menukar nasib denganmu dan biarlah aku saja yang mati di tempat yang sama saat itu juga.”

“Tapi, sekarang aku masih hidup.”

“Ya, kamu masih hidup dan tumbuh jadi lebih besar dari anak-anak seumuranmu. Tak pernah kamu bertubuh lebih kecil daripada mereka. Semua anak selalu kalah besar darimu.”

“Dan kemudian aku pergi dari sini seakan-akan tidak ada yang berarti di antara kita. Bukan begitu?”

Aku ingat pengalaman saat masih remaja. Ketika itu adikku masih berumur empat atau lima tahun. Aku membantah nasihat Ayah tentang mencari pekerjaan di luar sana, dan kami bertengkar selama semalam dengan ucapan-ucapan yang tidak pernah kuduga dapat muncul dari mulut kami. Aku tidak pernah berpikiran dapat menyumpahi ayahku, dan barangkali begitu juga halnya yang Ayah pikirkan. Seumur-umur baru kali itu Ayah mengatakan hal-hal kasar di depanku, khusus ditujukan untukku. Itu terjadi sekali dalam satu malam itu. Sesudah itu aku pergi dari sini dan baru kembali setahun kemudian saat datang kabar dari tetanggaku bahwa ibu dan adikku pergi dibawa kapal barang.

Kejadian itu tidak pernah ada yang tahu bagaimana persisnya, tapi ada seorang gila dari kampung kami, yang agak tua dan biasanya berkata jujur tentang bencana-bencana, dan orang ini bersumpah melihat ibu dan adikku berada di atas kapal barang yang ketika itu berangkat berlayar entah ke mana.

Tidak pernah ada yang tahu kapal barang itu milik siapa serta pergi ke tujuan mana. Aku bicara tentang kapal barang, bukan berarti berbicara tentang kapal-kapal besar yang biasa ditemui di pelabuhan. Di kampung kami, sebutan kapal barang juga berlaku untuk perahu-perahu kecil yang memuat berkarung-karung barang yang hendak dijual dari dan ke pasar-pasar di pulau lain.

Tentu saja ada berbagai kemungkinan soal perginya ibu dan adikku, dan dua sebab tadi yang paling sering dibicarakan orang kampung. Aku sendiri tidak lagi memikirkan apa pun, kecuali bahwa ibu dan adikku tidak benar-benar menginginkan pergi dari sini, dan cuma ada seseorang yang secara paksa membawa mereka pergi dan bertahun-tahun kemudian kondisi mereka sudah menjadi lebih baik dan aman, lalu setelah itu mereka berusaha untuk kembali ke kampung asal mereka di mana aku selalu setia menunggu.

Yah, aku akan tetap menunggu mereka sebagai lelaki yang mengubah diri sendiri menjadi mercusuar.

Aku tidak peduli berapa lama lagi menunggu keduanya pulang, tetapi diriku di sini ditakdirkan sebagai mercusuar bernyawa yang memang harus sebatang kara sampai tua demi tujuan yang lebih besar.

“Barangkali inilah makna keberadaanku. Untuk memastikan mereka pulang. Jika tidak ada mercusuar, mereka akan tersesat dan tak jadi pulang. Tak jadi kembali kepada Ayah yang sudah renta dan kesepian,” pikirku selalu.

Ayah sungguh terlalu tua untuk ini dan aku hanya berharap kembalinya ibu dan adikku kelak dapat membawa ketenangan baginya. Aku tidak peduli bagaimana akhir kisah ini untukku pribadi. Tapi, yang jelas tidak ada yang dapat menghentikanku sampai mereka benar-benar kembali.

Pada saatnya, aku yang kelelahan berbaring di atas pasir dan berdoa kepada Tuhan di atas sana, bahwa kuatkan tubuhku sampai waktu yang tak terbatas hingga dua orang itu benar-benar kembali untuk kami. Setelah doa itu selesai, aku kembali duduk dengan tegak dan penuh percaya diri.

Aku tidak tahu apakah ibu dan adikku berpikir hal yang sama, tentang kami yang dapat berkumpul kembali, tetapi kuharap mereka tetaplah merasa betapa aku dan Ayah masih hidup dan menunggu di tempat yang sama, di dermaga yang sama, yang dahulu mereka pijaki sebelum hengkang dari pulau ini.

Hanya saja sampai Ayah meninggal, bahkan sampai tubuhku keropos dan ringkih oleh waktu, keduanya tidak pernah kembali.

Aku masih tetap memikirkan betapa adikku telah mendapatkan pekerjaan yang bagus dan mencoba berbagai cara untuk bisa kembali pulang. Aku terus memikirkan itu. Aku juga memikirkan soal Ibu yang masih hidup, sekalipun tubuhku sendiri (sebagai anaknya) sudah serenta ini.

Sampai pada titik ini, orang tidak lagi menyebutku gila. Orang hanya akan datang dan duduk tepekur, di kejauhan, dan saling berbisik. Aku tidak pernah mendengar suara mereka, tetapi angin mengabarkan padaku perihal gosip-gosip itu, yakni soal lelaki yang mengubah dirinya menjadi mercusuar demi sesuatu yang sia-sia. [ ]

Gempol, 2019-2020




======================
KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018). Segera terbit buku kumpulan cerita terbarunya berjudul Pengetahuan Baru Umat Manusia.

Stasiun Perpisahan

0




“Jika kereta ini sampai, kita tidak saling mencintai?” Tanyamu membuka percakapan di dalam kereta. Aku tidak menjawab.

Gerimis di luar gerbong terdengar sendu dari rintiknya yang bertampias pada kaca jendela. Wajah-wajah sepi di dalam gerbong takzim mengamati objek-objek yang mulai bergerak seolah mengejar tubuh kereta Bogowonto tujuan stasiun Tugu. Setelah kereta dengan gerbong panjang ini melaju, rasa rindu, sedih, dan kehilangan bercampur dalam hatiku. Bahkan carut-marut keadaan dari rumah kardus, sampah, gelandangan, bagai ikut menepi dari suntuknya Ibu Kota yang kini sedang ribut oleh gejolak detik-detik tumbangnya Orde Baru.

Kerusuhan telah membuat wajah Ibu Kota menjadi sendu. Apalagi pada pertengahan bulan Mei lalu, kekacauan seperti dilahirkan secara bertubi-tubi. Tidak aneh, ketika kereta ini melintasi sebuah stasiun, tampak lalu-lalang anak-anak muda yang datang atau pergi di Jakarta. Mereka yang datang seperti membawa harapan. Sementara mereka yang pergi terlihat malas membawa tubuh serta segala mimpi yang roboh. Dan, kekacauan ini juga bagai ikut mengusik kisah kita.

Ya, kau, di dalam gerbong ini hanya diam. Matamu tidak lelah menempel untuk memandang carut-marut keadaan yang ingin kau lupakan.

“Jadi setelah kita sampai nanti, segalanya berakhir?” Lagi kau berbicara.

Aku termangu dengan seribu kata yang ingin meledak di dada. Tetapi kata-kata itu mengeras bagai batu nisan di dalam rongga tenggorokanku. Aku hanya bisa menarik napas pelan. Lalu dengan harapan, dan segala mimpi yang memar, aku memincingkan mata. Syahdan, tanpa aku sangka, aku kembali mendengar teriakan, letus tembakan, pintu yang terbanting, serta segala keributan yang tak bisa aku bendung.

“Rasanya konyol,” katamu menyetak kesadaranku. “Kita jatuh cinta pada kesia-sian dan harapan.”

Mungkin apa yang kau katakan itu benar, tandasku dalam hati.

Cinta kita tidak lebih dari sekejap cahaya terang yang kemudian membuyar. Nasib cinta kita layaknya letusan kebang api di langit malam dalam suatu perayaan yang hinggar untuk kemudian surut. Tetapi, siapa yang bisa menghindari sebuah perayaan atas nasib dan cinta. Karena, takdir—seperti yang pernah kau bilang setelah banyak membaca buku karya Albert Camus—adalah sebuah festival yang berisik hingga seorang yang tuli pun bisa mendengarnya.

Dadaku seperti dijejali gabus basah dan membuatnya semakin berat. Apalagi ketika mengingat jauh ke belakang, pada pertemuan pertama kita dahulu…

***

Aku masih ingat, bagaimana dahulu waktu bertemu denganmu. Aku ketika itu adalah seorang ativis mahasiswa yang begitu tergila-gila dengan Albert Camus. Seluruh bukunya dari La Peste, Caligula, hingga L’tranger sudah aku baca tuntas. Karena kutipan pentingnya, ‘aku berontak, maka aku ada’ itu, akhirnya aku sering ikut demonstrasi. Pada waktu berdemonstrasilah, aku pertama menjumpaimu.

Kau, sebagai seorang wanita yang memiliki darah campuran Indonesia-Jerman, yang kuliah di sebuah universitas negeri Jogja dan memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi, acap ikut dalam demonstrasi-demonstrasi yang aku serta teman-teman buat.

“Aku Louisa Heathcote,” katamu memperkenalkan diri pertama kali.

Setelah pertemuan itu, hubunganmu denganku semakin dekat. Kami pun semakin dekat lagi karena sering berdiskusi mengenai buku Albert Camus.

“Albert Camus adalah pemikir yang gila,” katamu. “Dia tidak saja seorang pemikir di belakang meja, tapi ia mau turun ke jalan.”

“Benar!” Timpalku. “Dia seperti Jean Paul Satre. Dia melihat pembebasan baru terjadi ketika kata-kata digerakan secara politik. Maksudku, kata-kata adalah manifestasi atas politik pengetahuan. Dan pengetahuan ini perlu gerakan. Maka, ia memanfaatkan benar politik gerakan dalam arti yang nyata. Bukan sebagai politik praktis yang banyak kita temukan di negeri ini.”

Pertemana kami semakin erat. Karena banyaknya rapat rahasia, demonstrasi-demonstrasi yang panas dan menegangkan, penculikan rekan-rekan seperjuangan di bahwa pemerintah Orde Baru, semua itu seakan merekatkan kita pada satu perasan senasib. Hingga kemudian, kita menjadi sepasang kekasih.

Tetapi, cinta kita kembali dihadang oleh keadaan rumit di penghujung tumbangnya Orde Baru. Kau secara mendadak mengundurkan diri dari kelompok demonstran.

“Aku tidak bisa melanjutkannya,” katamu padaku. “Jika aku semakin jauh melangkah, aku sama seperti membunuh ayahku.”

Aku sangat terkejut saat tahu kalau ayahmu adalah salah satu dari antek penguasa yang terus membuat bodoh negeri ini. Tetapi, aku tidak bisa menyalahkanmu.

“Maafkan aku,” tambahmu lagi. “Seandainya Ayahku bukan seorang dari para penguasa yang sedang ingin kau dan teman-teman gulingkan, aku pasti ada di sana.”

“Sudahlah, Louisa!” Tandasku. “Aku tahu bagaimana posisimu.”

Kau akhirnya mengundurkan diri. Tetapi kita masih sering bertemu. Ketika bertemu, aku acap mendapatkan informasi-informasi penting mengenai rencana intelegen terhadap para mahasiswa.

Akhir-akhir ini, aku sering mendengar mengenai seorang mahasiswa yang hilang. Mereka kebanyakan diculik oleh aparat yang menyamar jadi masyarakat. Para mahasiswa itu kemudian disiksa dan diperas informasinya. Mereka yang tak kuat dengan siksaan biasanya akan berkhianat dan membocorkan keberadaan teman-temannya.

Dari sinilah, aku mengerti, kepercayaan dan keyakinan adalah hal yang nilainya hampir serupa dengan jiwa seseorang.

“Kini banyak penghianat yang  memilih mengorbankan nyawa temannya agar selamat,” ujarmu risau.

“Ketakuan memang sering membuat seseorang berubah,” jawabku.

Kau mendekap tubuhku, “Apakah kau akan melakukan hal yang sama bila tertangkap?”

Aku tak tahu harus menjawab apa. Hanya saja waktu itu melintas wajah kawan-kawanku yang penuh harapan untuk sebuah perubahan.

Aku menjawab, “Aku lebih memilih bungkam untuk perubahan yang lebih baik.”

“Jadi kau memilih mati?” Tanyamu.

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa memelukmu sembari berdoa agar takdir tidak memisahkan kita. Hanya yang terjadi dua minggu kemudian, adalah peristiwa lain…

Hari itu, kau tidak datang. Aku menunggumu berjam-jam lamanya di sebuah kontrakan kecil tempat biasa kita bertemu. Sampai tepat pada pukul sepuluh malam, datang seorang aparat yang meringkusku. Pria dengan pakaian militer itu menghajarku hingga babak belur. Ketika mataku terbuka, aku sudah berada di tempat lain yang gelap, pengap, dan bau.

Di sana, aku dipaksa untuk mengatakan keberadaan teman-temanku. Tetapi, aku memilih tidak mengatakannya.

“Di mana para bajingan itu sembunyi?!” Tanya aparat.

“Aku tidak tahu,” jawabku tegas.

Aku senantiasa menolak menjawab pertanyaan yang diacungkan lewat pukulan dan hantaman. Hingga dua hari kemudian, aku dibuang begitu saja di pembuangan sampah. Tetapi dalam keadaan tidak sadar, aku sempat melihatmu memohon kepada Ayahmu untuk melepaskanku. Usai drama tangisan itu, aku tidak tahu kejadian apa menimpaku.

Begitulah saat tersadar, aku sudah berada di ruangan asing lainnya. Ternyata kaulah yang membawaku. Kau merawatku hingga aku sedikit bisa mengunyah nasi dan berjalan dengan benar. Ketika aku sudah pulih, kau menuntutku untuk lekas meninggalkan kota ini dengan menangis.

“Kau harus meninggalkan kota ini,” katamu. “Sesegera mungkin!”

Aku sempat menolaknya. Tetapi, kau meyakinkan apabila aku masih bertahan di kota ini, teman-temanku yang lain akan terancam. Mendengar nasib rekan-rekan dan mimpi-mimpi perjuang dari pemberontakan menggulingkan rezim kolot ini, aku memutuskan untuk pulang ke Solo. Sementara itu kau dikirim Ayahmu untuk kembali ke Jogja—tinggal bersama nenekmu.

***

Kau masih diam di dalam gerbong kereta yang membawa seluruh kesedihan kita. Tanganmu semakin erat menjabatku. Dan ketika kereta melintasi Jembatan Serayu dengan senja menguning di ufuk barat, kau bekata bahwa ‘harapan memang tidak pernah diciptakan bagi orang-orang yang kalah.’ Aku tak bisa membalas apapun selain meremat tanganmu kencang.

“Jadi kalau kita sudah sampai nanti, semua ini akan berakhir?” Lanjutmu.

“Bila satu hal itu bisa menyelamatkan banyak hal,” aku ragu mengatakannya, tapi tetap meluncur juga. “Kita harus melakukannya.”

“Jadi kita tidak akan saling mencintai?”

Kereta terus melaju ke arah kotamu; ke arah kotaku; ke arah perpisahan yang sudah kita pahami pasti terjadi. Kereta ini melaju seperti cahaya yang begitu cepat. Bahkan kereta ini seperti tidak melaju di atas tanah—melainkan berjalan di atas bantalan udara yang membuatnya jauh lebih ringan.

Seketika aku ingin menghentikan kereta ini untuk beberapa waktu saja. Aku ingin menghentikan jalannya sebuah perpisahan yang sudah menunggu pelan-pelan di hadapanku. Mendadak, aku meraih bahumu dan kupeluk dirimu.

“Tubuhmu dingin,” ungkapmu. “Wajahmu pucat.”

“Aku lupa makan,” timpalku.

Setelah melintasi sungai Serayu, kereta menembus Stasiun Kebasen, Randengan, Kroya, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Ijo, hingga sampai stasiun di Kedundungan. Kereta terus melaju membawa rasa kehilanganku yang semakin mendekat.

Kau menatapku nanar. Kau tidak ingin perpisahan ini terjadi. Tetapi kita tidak memiliki pilihan lagi untuk bertahan. Aku harus lekas melepaskanmu untuk keselamatan rekan-rekanku yang kini sedang berjuang.

 Kereta melintasi stasiun kecil Patukan di Wates. Kita lantas saling tatap untuk membaca kesedihan masing-masing.

“Apakah kau masih mencitaiku bila kita sudah berpisah?”

Tidak ingin berkata-kata lagi, aku mengambil ranselku. Aku mengobrak-abrik isi ransel itu mencari sesuatu. Saat menemukanya, aku cepat menyodorkan sebuah kotak dengan ukuran sekepal tangan kepadamu.

“Apa ini?” Kau bertanya. “Hadiah terakhir untuk sebuah perpisahan?”

“Ini adalah cinta yang bisa kuberikan padamu,” jawabku menitikkan air mata.

“Jadi kau masih akan mencintaiku setelah kereta ini sampai?”

Aku tidak menjawab. Kau tampak kecewa. Kereta pun berhenti di stasiun Tugu. Kau turun bersama penumpang lainya—bersama air mata dan lubang di dada.

Kereta kembali berjalan. Aku menatapmu yang perlahan tertinggal dengan segala perasaan hampa di dadak.

***

Setelah kereta berhenti tak ada lagi hal yang bisa dipertahankan. Bahkan cinta kita. Hanya ketika kau sudah sampai rumah dan membuka isi kotak itu, kau terkejut. Kau menemukan sebuah jantung kering di dalamnya. Kau juga mendapati sebuah kalimat yang bertuliskan: Tubuhku memang bisa remuk dihancurkan oleh kekuasan, Louisa, tapi tidak untuk cintaku kepadamu. Tulisan dan jantung kering itu membuatmu bergetar.

Kau semakin berlinang air mata ketika mendapatkan kabar dari tayangan televisi bahwa terdapat seorang pemuda yang mati dengan luka pukul di tubuhnya pada area stasiun di Jakarta. Kau menangis saat mengetahui bahwa sosok itu adalah aku: orang yang menemanimu sepanjang perjalan menuju stasiun perpisahan. (*)



=====================
Risda Nur Widia. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Berburu Buaya di Hindia Timur (2020). Cerpennya telah tersiar di berbagai media nasional dan lokal.

Pulang

1




Aku kembali mengepulkan asap rokok ke udara sambil berjoged dengan dua orang pemandu lagu wanita. Kulihat Baron dan Maung, dua temanku itu tengah asyik cekikikkan dengan dua wanita seksi yang kusewa sambil menenggak minuman beralkohol yang dibawa diam-diam olehku ke tempat karaoke. Aku tertawa melihat mereka menikmati jamuanku malam ini sebagai imbalan karena mereka telah membantuku menghabisi musuh bebuyutanku, Si Godeg.

Dua hari yang lalu, Si Godeg mati. Mayatnya dibuang ke sungai Sarihurip. Aku yang membunuh laki-laki yang terkenal keji itu, memotong-motong tubuhnya hingga tujuh bagian. Mungkin sekarang tubuh busuknya itu sebagian besar sudah dimakan ikan-ikan di sungai. Aku terpaksa menghabisinya, karena bajingan itu telah memperkosa Marni, adikku yang baru enam belas tahun saat sepulang sekolah. Gadis polos yang selalu ceria itu ditemukan mati gantung diri di pohon mahoni dekat kuburan. Sebelum mati, Si Godeg berkali-kali menjelaskan bahwa dirinya tidak memperkosa Marni, tapi Si Maunglah pelakunya. Tapi aku tak percaya, Maung adalah anak buahku, tidak mungkin dia berani memperkosa adik bosnya sendiri.

Dulu aku dan Godeg berteman baik, sebelum kami berdua menjadi preman, kami sama-sama perantau dari kampung yang mencoba merubah nasib di ibukota. Namun, seiring berjalannya waktu kami malah berakhir sebagai preman yang menguasai terminal. Karena berselisih paham, aku dan Godeg bermusuhan. Si Godeg dan anak buahnya juga beberapa kali pernah mencelakakanku, tapi aku berhasil selamat. Awalnya aku diam dengan ulahnya selagi dia tidak mengganggu keluargaku. Tapi bajingan tengik itu membunuh titik terlemahku yaitu mengambil satu-satunya seseorang yang berharga dariku yaitu Marni. Bagaimana mungkin aku membiarkan laki-laki yang telah membuat adikku mati itu berkeliaran tanpa dosa? Dengan sedikit konspirasi akhirnya bajingan tengik itu masuk perangkapku. Tapi aku masih belum puas membalas dendam, kudengar Si Godeg masih memiliki seorang istri yang katanya cantik. Heh, aku menyeringai licik.

Kulihat Baron, pergi entah kemana dengan wanita yang kusewa, sedangkan Maung tengah menenggakkan minuman beralkohol pada wanita yang satunya lagi. Hah, aku bisa menerka apa yang akan diperbuat Maung pada si wanita itu jika mabuk. Tapi aku tak peduli. Aku kembali berjoged dengan dua pemandu lagu yang kutaksir masih berumur belasan tahun itu.

***

Seminggu kemudian, aku berhasil menemukan tempat tinggal istri Si Godeg di sebuah desa terpencil. Namanya Siti. Memang benar kata anak-anak buahku bahwa istri Si Godeg itu sangat cantik. Kulitnya putih bersih, matanya sipit, wajahnya mengingatkanku pada aktris Hongkong Zhang Zi Yi yang terkenal itu. Pesona Siti begitu mengagumkan dengan kerudung di kepalanya. Entah kenapa perempuan secantik dan seagamis itu mau dinikahi oleh preman bengis macam Si Godeg?

Aku mengucapkan salam beberapa kali. Kulihat Siti tergopoh-gopoh menuju pintu sambil membalas salamku. Ketika melihat wajahku dia langsung menundukkan kepalanya.

“Apa benar ini rumahnya Pak Wahyu yang baru meninggal itu?” Tanyaku ramah, Wahyu adalah nama asli Si Godeg. Sengaja aku mengenakan pakaian rapi agar tidak dicurigai sebagai preman oleh orang sekitar.

“Benar, anda siapa dan ada keperluan apa?” Jawabnya lembut, kulihat matanya sembab dan agak merah. Beruntung sekali Si Godeg, kematiannya ditangisi oleh wanita cantik. Apa Siti tidak tahu kelakuan suaminya di luar itu seperti apa?

“Saya temannya saat kami masih sama-sama bekerja di pabrik, saya turut berduka cita atas kematian Wahyu dan saya kemari untuk melayat.” Ujarku sedikit diplomatis, aku memuji kepandaianku bersandiwara. Siti hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih pelan. Aku dipersilakannya masuk, di dalam rumah ada mertuanya Si Godeg dan beberapa saudara yang masih berkumpul. Aku mengobrol banyak dengan anggota keluarga Si Godeg sambil menceritakan pertemananku dengan Si Godeg yang tentu saja hasil karangan. Ternyata Si Godeg pintar juga menutupi kebengisannya itu. Di mata istri dan mertuanya Si Godeg dikenal dengan sifat santun dan penyayang. Hahaha, ingin sekali aku menguraikan beribu kejahatan yang telah dilakukan oleh Si Godeg, salah satunya adalah memperkosa adikku.

***

Aku memutuskan tinggal di desa tersebut selama beberapa minggu seraya memuluskan rencana yang telah kusiapkan untuk menculik Siti. Untuk sementara waktu aku tinggal di rumah pamannya Siti, karena aku dianggap satu-satunya kerabat Si Godeg. Jelas ini membuat rencanaku semakin mudah.

Aku berusaha menyesuaikan diri di lingkungan keluarga Siti yang agamis. Untungnya aku cepat beradaptasi karena waktu kecil aku sering diajarkan sholat dan mengaji oleh almarhum ayahku. Meskipun sebenarnya hal itu sangat sulit, mengingat sudah puluhan tahun aku meninggalkan apa yang diajarkan ayahku dulu.

Pak Rusdi, paman Siti selalu mengajakku ikut serta ke kajian-kajian yang diselenggarakan di mesjid desa, aku juga sering diajaknya ke mesjid setiap lima kali sehari untuk melaksanakan sholat. Tiga dekade lebih aku meninggalkan semua yang diajarkan ayahku, bahkan aku sudah lupa bagaimana gerakan sholat. Aku sudah merasa letih dan hampir menyerah bersandiwara. Tujuan utamaku ke desa ini bukan untuk belajar agama, melainkan untuk membalas dendam. Aku harus segera bertindak, jika tidak identitasku akan segera ketahuan, tekadku. Aku kembali merumuskan rencanaku yang tertunda.

“Hijrah adalah meninggalkan kemungkaran menuju keshalihan, dari kekufuran menuju keimanan, dari dunia kelam menuju cahaya hidayah.” Kata Ustadz Fatan saat mengisi khutbah jumat. Sudah seminggu aku tinggal di desa ini, membuatku mengenal hampir semua orang yang tinggal di daerah ini. Sebenarnya banyak hal yang kudapatkan dari tempat ini, selain belajar agama aku juga diajarkan cara bercocok tanam, yang sebagian besar penduduk di desa tersebut adalah para petani. Disamping itu orang-orangnya sangat ramah, dalam lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya aku nyaman berada di lingkungan ini, lingkungan ini mengingatkanku pada kampung halamanku. Aku juga sempat memutuskan untuk tidak balas dendam, tapi mengingat apa yang sudah dilakukan Godeg pada Marni, darahku kembali mendidih. Aku harus balas dendam.

***

Malam beranjak tua, aku bersembunyi di balik pohon akasia. Jalanan sepi, semakin memudahkanku untuk beraksi. kamar Siti tak jauh dari tempat persembunyianku. Aku berjalan mengendap-endap menuju jendela kamarnya. Namun kulihat ada dua bayangan yang tengah mengendap-endap ke tempat yang kutuju. Dua bayangan itu ternyata adalah dua orang yang kukenal, Baron dan Maung, ‘sedang apa mereka?’ Batinku. Aku segera bersembunyi di balik pohon angsana ingin mengetahui apa yang sedang mereka lakukan disini.

“Beneran nih, istrinya Si Godeg itu cantik kayak bintang film?” Tanya Baron sambil menelan ludah.

“Aku jamin seratus persen deh, kecantikannya benar-benar alami, pokoknya yahud, kecantikannya itu sebelas dua belaslah sama Si Marni yang tempo hari aku perkosa.” Jawab Maung sambil cekikikan. Darahku berdesir, amarahku benar-benar di ujung tanduk. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Godeg bahwa Si Maunglah yang telah memperkosa adikku.

“Ah, sayang sekali aku tidak ikut mencicipi adiknya Si Bos, kau sih tidak ajak-ajak.” Sergah Baron yang membuatku sudah tidak tahan lagi dengan percakapan yang menyulut kemarahanku. Aku mencoba mencari parang yang kusimpan di kandang domba, dan aku langsung membacok mereka. Para warga segera berdatangan ke arah kami yang sedang berkelahi termasuk Siti dan keluarganya. Kami segera dileraikan oleh para penduduk desa. Kulihat Baron dan Maung terluka sangat parah akibat kibasan parang di kepala. Aku yakin dalam beberapa hari ke depan, mereka akan segera mati, karena hantaman parangku cukup dalam di kepala mereka.

***

Malam itu aku langsung menceritakan kejadian yang sebenarnya termasuk niatku datang ke desa ini. Kulihat Siti tampak pucat, airmatanya juga mengalir deras. Paman Siti juga terlihat menutup wajahnya, aku tahu aku telah membuat orang sebaik mereka kecewa.

Malam itu juga aku pergi dari desa, dendamku sudah selesai tapi perasaan bersalah diam-diam menjalar hebat dalam dadaku. Mungkin sebaiknya aku menyerahkan diri saja pada pihak yang berwajib atas perbuatan sadisku. Atau aku memilih jalan pulang, berserah diri, memohon ampunan Tuhan. Tapi jalan mana pun yang aku pilih, jika sempat aku menua, maka selama itu aku akan hidup bersama bayangan wajah Siti.

Tasikmalaya, Januari 2020




===================

Asih Purwanti, tinggal di Tasikmalaya, sering menulis cerpen berbahasa sunda, karyanya sering dimuat di majalah Mangle.

Kengi

0



“Oi, apa kabar, Lenin Bro,” katanya menyapa Lenin yang tak sengaja bertemu mata dengan dengannya; Kengi, salah satu pelanggan tetap bar yang setiap malam menonton pertandingan Rugby, Cricket, dan Darts. Malam terakhir pertandingan Darts yang dimenangkan oleh seorang wanita yang tak seberapa tinggi, tak seberapa berotot, berkaca mata, dan tak seberapa cantik itu mengejutkannya. Tiap kali terpikir pada wanita itu -yang bahkan tak bisa ia ingat namanya, akibat betapa asing melihat seorang wanita dalam pertandingan Darts kelas dunia- otaknya tak bisa menerima apa yang disaksikannya.

     Wanita itu melakukannya dengan sangat mengagumkan. Rasanya ruangan bar yang bertembok hijau tua dengan kesan lembab dan mengantuk itu jadi demikian hening; hening yang asing untuk bar yang biasanya riuh dengan apa saja. Setiap laki-laki yang menemani Kengi mungkin merasakan hal yang sama dengannya, termasuk Lenin. Ada sesuatu yang begitu memesona -yang gerak atau perawakan laki-laki tak bisa mengekspresikannya. Mungkin karena lengannya yang tak seberapa besar dan tak seberapa indah itu memanjang ketika melemparkan Dart terakhir yang menentukan akhir pertandingan itu. Suasana hening, tak ada pembicaraan apapun, hanya beberapa desahan dan cegukan dari buih bir dan lemon yang dipukul naik oleh asam lambung yang terlalu sulit untuk dihindari.

     Saat itu, belum ada yang tahu siapa yang akan memenangkan pertandingan. Wanita mungil berkaca mata itu memamerkan permainan yang memukau. Tapi lawannya, yang berdiri di belakangnya adalah seorang laki-laki berkulit putih, yang namanya sudah terkenal bertahun-tahun dalam perlombaan itu. Bahkan sebelum ia bisa melemparkan Dart, ayahnya sudah terlebih dahulu memasuki panggung Darts yang penuh puntung rokok dan tumpahan bir dari orang-orang mabuk.

     Dart melesat menembus cahaya lampu di dalam layar. Mendadak semua seperti melambat, mungkin karena orang-orang tak ingin cepat-cepat mengakhiri dugaan-dugaan yang akan segera mereka ketahui kebenarannya. Beberapa saat kemudian, mereka seperti bisa mendengar suara benturan Dart di titik biru yang melapisi titik merah tepat di tengah papan bundar; “Dug!

     Wanita berkaca mata, membelalak, membuat matanya terlihat lebih besar. Kengi melompat dan bertepuk-tepuk riuh, Lenin melihat Kengi, tak mengerti cara merespons teman duduknya itu. Ia ikut mengangkat gelas dengan tawa canggung yang aneh. Tak lama kemudian semua mata yang sudah mabuk, hampir mabuk, belum mabuk, dan mata-mata naif yang berusaha memikat wanita di hadapan mereka mengangkat gelas dan bersorak bersama Kengi. Bar itu riuh, berguncang seolah marah karena dipaksa bangkit dari tidur masa-bodoh masa tuanya. Kengi tentu saja sangat bahagia, jam 4 sore tadi ia sudah menitipkan $200 dolar taruhan untuk wanita itu. Ia bisa minum lebih banyak dan merokok lebih banyak dari biasanya.

     “Hari yang baik untuk Darts!” teriaknya sambil tertawa-tawa histeris.

     “Baik, hanya terlalu banyak yang masih harus dikerjakan, kau tahu!” jawab Lenin sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya.

     “Yah, lama-lama semua akan menjadi sama saja, kesibukan yang sama, makan pagi yang sama dan malam-malam yang tak banyak bedanya juga,” timpal Kengi. Sesaat kemudian ia tertawa kecil, “Hahaha, aku mendengar Koro terus mengeluhkan hal itu. Mengerti atau tidak, aku jadi pandai menirunya,” lanjutnya.

     “Sial, kukira kau benar-benar sudah muak?” Lenin meletakkan gelas bourbon-nya.

     “Yeah, Koro sudah terlalu tua untuk menikmati hidup,”

     “Jangan katakan hal semacam itu tentangnya, ia laki-laki yang baik.”

     “Aku tidak mengatakan ia tidak baik, ia hanya sudah tua,” katanya melawan.

     “Baiklah, aku dengar ibumu akan segera membawanya ke rumah.”

     “Sial, di kota ini berita bisa cepat sekali tersebar, lebih cepat dari penyakit,” katanya tertawa. “Ya, Koro sudah tidak lagi mampu diajak bicara, mungkin sudah bosan meladeni kami seumur hidupnya. Ia semakin keras kepala, dan menurutku membawanya ke rumah juga demi kebaikannya sendiri. Kau tahu, perempuan tuaku tinggal sendirian, sangat sulit baginya yang sudah mulai lelah juga menangani Koro.”  

     “Tentu, dia bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya dan mungkin akan punya waktu luang untuk bertemu kawan-kawannya. Tak lagi hanya menghabiskan waktu mengurung diri di rumahnya.”

     “Oh, tidak separah itu. Dia masih bisa pergi ke mana saja, hanya tidak bisa berlama-lama. Koro semakin cepat lupa pada hal-hal sepele. Kemarin, dia masuk ke toilet, tiga puluh menit setelah itu dia keluar sambil menggerutu. Aku tanya apa yang mengganggunya dia malah membentak-bentak. Ya, hal-hal semacam itu lah…”

     “Semoga saja keadaan akan membaik. Ngomong-ngomong bagaimana denganmu?” tanya Lenin.

     “Masih sama saja. Masih terjebak dengan kaki kiri ini.” Kengi berkata sambil mengangkat sedikit lutut kirinya untuk meyakinkan Lenin kaki mana yang ia bicarakan. Lenin tertawa, tak tahu harus berkata apa. “Kakimu baik-baik saja.”

     “Selalu seperti ini memang, baik-baik saja ketika ada orang lain bersamaku. Aku sedang mencari cara untuk melepaskannya dariku,” katanya acuh.

     “Maksudmu kau mau melepaskan kaki kirimu?” Lenin tak tahu akan ke mana pembicaraan mereka sekarang.

     “Ya, kaki ini bukan punyaku. Kurasa Tuhan sengaja menukarnya. Aku pernah berencana menunggu sampai orang yang memiliki kaki ini datang mencarinya. Tapi sudah bertahun-tahun tak pernah kutemukan pamflet pencarian kaki kiri.” Ia meneguk birnya yang masih berbuih “Aku pikir tak apa menunggu sedikit lebih lama, tapi bertahun-tahun membuatku semakin muak saja.”

     “Bagaimana kau tahu kaki itu bukan milikmu, Bro?”

     “Kau tahu kenyataan absolut?” Ia membakar sebatang rokok yang sudah sedari tadi disiapkannya. “Tak perlu cara-cara tertentu untuk meyakini sesuatu. Begitu, ya, begitulah.” Kengi menghentikan penjelasannya begitu saja. Senyap sejenak.

     “Sepertinya susah juga mengatasi kaki kirimu itu,” ujar Lenin karena terganggu oleh kesenyapan yang mendadak dari Kengi.

     “Yah, Bro, tidur dan bangun masih dengan kaki kiri yang sama. Aku tak ingin terlalu banyak bermimpi, tapi pasti akan sangat menyenangkan bangun tanpa kaki kiri sialan ini.” Diangkatnya lagi lutut kirinya, lalu berseru, “Cheers, Bro!” sambil mengacungkan gelas. Mereka bersulang dan sama-sama memutuskan untuk tinggal lebih lama, mengawasi lampu penyeberangan jalan. Seorang wanita berpakaian minim sibuk mengelus-elus layar telepon genggamnya.  

     Kengi menggaruk kaki kirinya.***

*Darts adalah olahraga melempar misil seperti anak panah ke papan bundar di dinding. Biasanya dimainkan oleh dua orang.

===================
Maywin Dwi-Asmara, lahir di Mataram, Lombok, 3 Mei 1992. Cerpenis dan peneliti. Kumpulan cerpennya berjudul Surat-surat Lenin Endrou (Basabasi, 2019). Kini, ia bermukim di Palmerston North, Selandia Baru.

Rahasia-rahasia

0




Dalam homilinya yang singkat, Romo Benediktus bicara tentang janji setia sehidup-semati yang sama artinya dengan membuka seluruh diri. “Tak boleh ada rahasia. Apa saja. Dari waktu kapan saja. Ceritakan seluruhnya. Utuh. Pada pasanganmu,” kata pastor muda itu. Aku ingat bagian itu sebab disampaikan setengah berteriak karena gerimis yang turun sejak kami tiba di pintu kapela, menjelma hujan yang deras ketika homili sudah setengah jalan. Kapela itu sudah tua. Beratap rendah dan tanpa plafon.

Perihal rahasia yang tak boleh ada dalam hidup perkawinan itu menjadi kekal dalam ingatan—dan hari ini meruak, selain oleh sebab disampaikan setengah berteriak (membuatnya terdengar sebagai perintah) juga karena alasan yang lain: aku abaikan perintah itu sejak pertama kali mendengarnya meski perintah itu datang dari pastor yang menikahkan kami. Sebuah rahasia akan aku simpan sendiri hingga waktu bercerita tiba. Aku telah berjanji, dalam hati, tak akan bercerita apa pun tentang Joshua, kepada siapa pun—mungkin nanti, jika saat kematianku menjelang.

Aku bertemu Joshua di luar negeri. Di kota B, pada sebuah acara pembacaan puisi. Perjumpaan tak sengaja yang kemudian membawaku pada babak hidup yang sama sekali berbeda. Dari penggemar puisi-puisi John Keats kepada seorang yang kini menyandang gelar penyair. Gelar itulah, kupikir begitu, yang kemudian memudahkanku menaklukkan Magda.

Jauh sebelum kami menikah di kapela tua itu, kepada gadis itu pernah kukirim penggalan puisi: … Dan di dalam hatimu masuklah aku!/ Oh, cintai aku dengan sungguh-sungguh!. Aku comot begitu saja kata-kata itu dari buku harian seorang teman. Tak membuat Magda mencintaiku seketika, tetapi membuka kesempatanku bercakap-cakap dengan siswi paling populer di sekolah kami itu. Itu percakapan pertama kami setelah sekian lama kutunggu kesempatan itu datang—keputusan nekat mengiriminya puisi terbukti membawa hasil—sekaligus membuatku tahu bahwa dia mencintai puisi dan bahwa penggalan yang kukirimkan padanya berasal dari puisi Keats.

Magda, hari itu, bahkan menunjukkan bait lengkapnya: O breathe a word or two of fire!/ Smile, as if those words should burn be,/ Squeeze as lovers should – O kiss/ And in thy heart inurn me!/ O love me truly!// 

Sejak hari itu aku mulai gemar membaca buku puisi. Semula hanya agar dapat lebih sering bercakap-cakap dengan Magda, aku lalu jadi pemuja puisi-puisi Keats. Ketika akhirnya pindah ke kota B dan tahu bahwa di kota itu, pada waktu-waktu tertentu, orang-orang melaksanakan malam pembacaan puisi, aku ke sana. Sekadar mengisi waktu luang sembari memelihara ingatan tentang Magda yang jauh—tempat dia tinggal dan juga hatinya, mengenal lebih banyak penyair dari mulut para peserta yang hadir, hingga akhirnya bertemu Joshua.

Kelak ketika kami menyewa kamar yang sama, Joshua berkisah bahwa di matanya aku adalah satu-satunya orang yang dengan jujur mengaku bukan penyair (dan hanya becus membacakan puisi penyair lain). Sebab aku bukanlah orang yang sok—Joshua melabel yang suka menamakan dirinya penyair dan membaca puisi-puisinya sendiri padahal puisi-puisi mereka tidak bermutu sebagai orang yang sok—dia mau berteman denganku.

Joshua penyakitan. Dia hidup menderita hingga waktu kematiannya. Barangkali satu-satunya hal yang membuat hari-harinya bahagia adalah dengan menulis puisi. Mungkin juga tidak. Sebab dia tak pernah merasa puisi-puisinya baik. Puisi-puisi itulah yang dia tinggalkan padaku bersama utang sewa kamar yang dibawanya mati. Puisi-puisi yang bagus menurutku. Lalu kusertakan pada sebuah lomba. Mendapat peringkat tiga. Tak ada nama Joshua di manuskrip yang kukirim itu.

Bahwa aku jadi pemenang ketiga lomba cipta puisi di luar negeri, kuceritakan pada semua orang di kota ini. Kepada pimpinan redaksi sebuah koran besar yang baru saja ditinggal mati redaktur puisi mereka, kepada orang-orang rumah, juga kepada Magda yang belum bersuami.

Aku akhirnya diterima kerja di koran besar itu sebab mereka membutuhkan seorang redaktur puisi yang baru dan aku adalah pemenang sebuah lomba di luar negeri. Gajiku lebih dari cukup sehingga aku bisa menyewa rumah, Magda sering berkunjung sebab bercakap-cakap dengan redaktur puisi sebuah koran terkenal adalah hal yang menyenangkannya.

Dia menangis bahagia ketika kupinang. Sangat bahagia ketika selain cincin pinangan, kuberikan padanya buku puisiku yang pertama; puisi-puisi peninggalan Joshua tentu saja.

Aku mencintainya sepenuh hati, cinta pertama yang tak akan kutukar dengan apa pun. Segala hal kulakukan agar tetap bersamanya: menjadi tua di bawah atap yang sama, mati dalam pelukannya jika boleh, dan dari surga melihatnya bercerita tentang betapa hidupnya telah sungguh bahagia sebab telah menikah dengan lelaki yang mencintai puisi. Karena itulah, tak pernah kuceritakan tentang Joshua; siapakah yang ingin merusak fantasi kekasihnya?

“Kita sudah tua,” katanya suatu malam, beberapa pekan yang lalu.

“Ya. Dan kita berhasil menua bersama.” Aku beringsut mendekat, mengecup keningnya, mengelus lembut rambutnya yang telah seluruhnya putih, lalu rebah rapat di sisinya. Dia bicara lagi, bahwa hidupnya sejak hari kami menikah adalah sebenar-benarnya kebahagiaan.

“Kau ingat Romo Benediktus?” Tanyanya kemudian.

Tentu saja aku ingat pastor itu (semoga dia beristirahat dalam damai) sebab seminggu setelah kami menikah aku menemuinya di sakristi, meminta pengakuan dosa: jika merahasiakan sesuatu dari istri adalah dosa, ampuni aku sebab tak akan pernah kuceritakan tentang Joshua padanya.

“Kau ingat homilinya pada hari pernikahan kita? Katanya, tak boleh ada rahasia, apa saja, dari waktu kapan saja, ceritakan seluruhnya, utuh pada pasanganmu. Kau ingat? Apa kau akan marah kalau tahu bahwa aku menyimpan satu rahasia selama ini?”

Kukatakan padanya, sekali lagi, bahwa kami telah berhasil menua bersama dan bahwa menyimpan satu rahasia bukanlah apa-apa.

“Tapi ini besar sekali,” katanya setengah berbisik, “dan kupikir tak boleh kubawa mati.”

“Rahasia apakah yang lebih besar dari kisah yang kau simpan bertahun-tahun bahwa rahimmu telah diangkat, Magda-ku sayang?”

Setelahnya, dalam kalimat yang diejanya perlahan, dia bercerita panjang lebar tentang buku-buku puisiku. Juga rahasia yang disimpannya tentang buku-buku itu: “Setelah buku kumpulan puisimu yang pertama, sepertinya, kau tak lagi bisa menulis puisi. Buku-bukumu berikutnya tak pernah mampu kubaca tuntas sebab mereka begitu buruk. Maaf aku merahasiakannya selama ini.”

Kukecup keningnya sekali lagi. Mengelus lembut rambutnya yang telah seluruhnya putih. Membisikkan selamat malam dan berjanji dalam hati: kelak, jika aku tahu hari kematianku sudah dekat, akan kuceritakan padanya rahasia di balik buku puisi yang pertama itu. Tetapi Magda tidak bangun lagi. Dia pergi untuk selamanya malam itu. Dengan damai. Sebab tak membawa rahasia apa-apa.



=====================
Armin Bell. Bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra, Ruteng. Cerpennya “Monolog di Penjara” meraih penghargaan Cerpen Terbaik Anugerah Sastra Litera 2018.

Tak Seperti Dendam, Cinta Tak Perlu Berbalas

1


Tetanggaku yang buta itu tiba-tiba saja membelah malam gulita dengan berteriak, “Cinta tak akan pernah berakhir! Cinta tak akan pernah berakhir!!!” Sambil berlari-lari tak tentu arah, ia terus meneriakkan kalimat itu. Namun, seketika ia terhenti, persis di depan pintu rumahnya, dan rubuh ke tanah.

Aku yang saat itu tengah membaca buku puisi penyair lokal di teras rumahku tercenung. Hantu jenis apa pula yang merasuk si buta Kipling malam-malam begini. Awalnya aku menduga ia mabuk, tapi melihat sikap anehnya itu aku bertanya-tanya. Dan keterkejutanku kian memuncak ketika tiba-tiba ia rubuh, bagai batang kayu rapuh.

Tak ayal, suasana sebelumnya yang sungguh lengang berubah menjadi bagai malam pergantian tahun. Semua mata yang dengan hadir ingin melihat apa yang terjadi. Dan, aku menjadi bulan-bulanan lontaran tanya mereka, “Ada apa!? Ada maling? Siapa, siapa? Pembunuhan? Ada apa!? Ada apa? Siapa yang mati!?” Rentet pertanyaan mereka aku bungkam dengan diam. Sebab, aku sendiri pun belum tahu pasti kronologi yang sebenarnya.

Tak berapa lama kemudian ambulance menderu. Tubuh kaku si buta Kipling diangkat, sempat kulihat wajahnya memutih, begitu kaku dan pucat. Begitu ambulance mengaung pergi, aku mengambil kesempatan lari balik ke rumahku. Segera menutup pintu. Tak kupedulikan buku puisi yang masih tertinggal di meja terasku.

***
Hari ini Minggu: pagi yang cerah. Aku membuka daun jendela lebar-lebar. Kudengar diluar suara-suara ribut. Kulongok kepalaku keluar. Terlihat orang-orang begitu ramai, bahkan ada juga beberapa polisi. Kulihat sekeliling rumah si buta Kipling dibatasi police-line.

Aku mengingat-ingat, memutar memori ke masa lalu tentang si buta Kipling. Hanya sekitar dua tahun lamanya kami bertetangga. Awalnya, ia hanya menyewa rumah di sebelahku. Namun, karena pemilik rumah itu mendadak butuh uang untuk biaya berobat orang tuanya, si buta Kipling pun bersedia membelinya. Selama dua tahun yang singkat itu, yang kulihat kehidupan sehari-harinya berjalan lancar. Ia jarang keluar rumah. Pada awal masa kepindahannya, aku tak begitu memperhatikannya. Hanya sekedar bertegur sapa untuk beramah-tamah saja. Tak lebih dari itu.

Namun, pada awal tahun kedua bertetangga, ia memberi kesaksian padaku bahwa ia memutuskan tidak akan pernah menikah. Ini membuatku tersentak. Ia mengakui selama hidupnya ia hanya pernah mencintai seorang wanita. “Namanya Ariel, ya Ariel Smithless. Ayahnya seorang pialang kaya-raya. Sangat kaya, hingga rumahnya hampir-hampir mengalahkan istana Ratu Inggris. Ayahnya telah bersumpah di depan mataku tak akan pernah merestui hubungan kami. Sungguh ayah yang kejam. Tidak punya hati! Kepada anaknya, putri tunggalnya, ia tega memisahkan dari lelaki yang dicintai putrinya. Sungguh sangat… ah!”

Di waktu yang lain, ada lagi cerita menarik darinya, masih seputar kisah cintanya. “Dulu aku tidak buta. Mataku terang-benderang memandang segala rupa, segala warna. Pandanganku senantiasa jernih, tanpa pernah kabus, apalagi rabun sedikitpun. Tapi, sejak itu… ya, sejak kejadian itu… jiwaku merasa tertutup. Tak lagi dapat merasakan apa-apa. Segalanya sirna, segalanya hampa! Hingga akhirnya mataku hanya dapat melihat kekelaman, kegelapan yang abadi.”

“Kau begitu mencintainya?” ujarku merespon ceritanya.

“Mencintainya? Pertanyaanmu konyol sekali, Kal. Tentu saja aku mencintainya. Mencintai setiap mili dari tubuhnya, mencintai seluruh isi jiwanya. Dia begitu sempurna, di mataku setidaknya. Dia selalu bilang aku telah melengkapi dirinya. Sepenuhnya aku mencintai Ariel dengan tulus. Bahkan, aku lebih rela menyembah Ariel daripada Tuhan.”

Aku tercenung mendengar ceritanya. Betapa cinta dapat merusak pengakuannya terhadap Tuhan. Betapa seorang wanita bernama Ariel begitu berharga di matanya dibanding Tuhan, sang penciptanya.

“Aku ingin tanya padamu, Kal, apakah semua orang akan menemukan kebahagiaan?”

“Tentu saja!” ujarku pasti.

“Ehmm, begini, begini. Pertama, mengertikah kau kebahagiaan? Maksudku kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang hakiki?”

“Ya, ya.. aku kira aku mengerti.”

“Kau paham maksudku?”

“Hmm, ya, aku kira sumber kebahagiaanmu adalah Ariel. Ia adalah kebahagiaanmu yang sesungguhnya, yang hakiki, begitu bukan?”

“Tepat, tepat sekali! Dan kini kebahagiaan itu hanyalah omong kosong dan hampa!”

Suasana mendadak hening. Aku menatapnya. Kulihat kedua matanya berkaca-kaca, menahan agar air matanya tidak tumpah. Bibirnya bergetar.

“Ariel adalah seorang wanita, yang mengumpulkan kepingan diriku. Seperti mengumpulkan pecahan kristal kembali bersatu,” ujarnya terisak.

“Lantas setelah kau berpisah dari Ariel, kristal itu kembali pecah?”

“Ya, pecah! Kristal itu pecah, dan tiap kepingnya menjadi sembilu di seluruh tubuhku.”

“Kau terlihat sebagai perangkai kata yang baik. Kau layaknya penyair…”

Tiba-tiba dia tersenyum, begitu simpul, seraya menghapus air mata yang coba dia sembunyikan. “Haa-haa, kau suka puisi, Kal?”

“Ya, khususnya puisi-pusi terjemahan. Aku penikmat Auden, Syzmborska, Rimbaud, Neruda, Slauerhoff, Paz…”

Ia mendadak sumringah. “Duhai, duhai… Erkal yang baik, yang sungguh budiman, bagaimana kau bisa tahu nama-nama itu? Mereka adalah para idolaku! Penyair yang sangat kukagumi! Aku selalu terpesona membaca puisi-puisi mereka. Tapi, tunggu dulu… apa yang kau lakukan dengan puisi-puisi itu?”

“Aku membacanya, menikmatinya, tentu saja.”

“Hmm, aku tak menduga dari wajahmu yang kaku, kau juga seorang penikmat puisi.”

“Lantas dari wajahmu yang sangar itu…”

“Haa-haaa..sudah, sudah, kau jangan tersinggung, Kal. Aku hanya bercanda. Biarlah orang tua ini sesekali tertawa, dan kuharap kau tidak keberatan.”

“Tidak, sama sekali tidak,” ujarku agak ketus.

“Baiklah, izinkan orang tua ini bercerita sedikit. Jadi, ya.. selepas Ariel tiada, atau tepatnya pergi menghilang bagai ditelan bumi, aku menjadi seorang penempa kata-kata. Pensil yang tumpul, kuraut menjadi seruncing luka yang aku derita. Ya, aku menulis ratusan, atau ribuan puisi, aku tak menghitung secara pasti. Diantara sekian banyak puisi itu, aku telah mengatakan hal-hal bodoh. Hal-hal yang terlalu kekanakan, layaknya kisah para remaja yang jatuh cinta, yang kemudian patah hati, lantas hendak mencoba bunuh diri. Ah, kira-kira begitulah… Namun, aku terus merangkai kata demi kata, waktu demi waktu terus menetaskan puisi demi puisi. Sebab setiap menuliskannya, ada perasaan lega yang hadir di rahang jiwaku. Jiwa yang telah terbakar oleh cinta, serasa menjadi sejuk seperti taman-taman surga…”

Aku bergumam sebentar, lantas menjawab, “Aku belum begitu yakin kau seorang penyair. Aku tidak pernah melihat nama Kipling di ruang sastra koran ataupun buku puisi. Sama sekali tidak pernah, sungguh.”

“Hmm, aku tak pernah merasa diriku seorang penyair. Dan perlu kau ketahui, aku tidak ingin mempublikasikan puisi-puisiku. Terlalu banyak hal pribadi yang memedihkan di situ, luka yang sedemikian perih ada di situ. Aku tak ingin membawa pembaca puisiku kepada hal-hal yang barangkali mereka anggap konyol. Aku tak ingin kisah pedihku ditertawakan. Puisi-puisi yang kutulis itu cukup menjadi pelipur lara bagiku di masa-masa sulit, masa dimana aku teringat akan Ariel. Ya, Ariel yang kucintai…”

Kali ini ia tak mampu menahan bendungan air dari mata butanya.

***
Pagi hari esoknya, setelah cerita panjang dengan si buta Kipling, ketika akan berangkat kerja, aku dikejutkan oleh setumpuk, oh ya, bukan setumpuk melainkan bertumpuk-tumpuk buku di meja terasku. Kuperhatikan satu demi satu. Semuanya buku puisi. Beberapa diantaranya ada karya-karya monumental dari penyair legendaris yang belum pernah kutemukan. Kemudian kutemukan sebuah kumpulan lembaran yang dililitkan dengan benang. Layaknya dijilid agar menyatu dan tidak lepas. Di lembar paling depan tertulis dengan huruf yang agak miring: Puisi dari Jiwa yang Terbakar.

Aku penasaran, kubalik-balik beberapa saat, beberapa dari lembaran itu sudah menguning. Isinya adalah puisi-puisi. Tiba-tiba sebuah kertas kecil berwarna merah terjatuh dari dalamnya, semacam memo, bertuliskan: “Kal, aku titip semua ini padamu. Terima kasih, dari Kipling yang telah buta karena cinta.”



=====================
Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Menyelesaikan studi ekonomi di Universitas Sumatera Utara. Menulis untuk Horison, Kompas, Koran Tempo, Utusan Malaysia, The Jakarta Post, Media Indonesia dan terangkum dalam sejumlah buku antologi.



Terbaru

Memisahkan Rindu dan Kesedihan

Api Dua Penyair (1)Aku geramAku marah jiwa kawanku telah dibeslahsekarang jasadnya kakutanpa gerak Sebuah pesan telah ditinggalkannya “jadilah air...

Penghuni Lantai 18

Kunci

Dari Redaksi