Cerpen

Home Cerpen

Tresno

0



PERSIS seperti namanya yang kultural dan membumi, ibarat doa yang disematkan oleh kedua orang tuanya kepadanya, begitu juga karakternya melekat rekat. Tresno, pria yang hangat jadi rebutan orang-orang kampung, bukan untuk dijadikan anak atau menantu, tetapi karena sikapnya yang baik hati dan ringan tangan kepada siapa pun tanpa pilih kasih dan tanpa pamrih. Sehari-hari pekerjaannya adalah menolong orang dan menyenangkan hati orang, dengan sikapnya itu Tresno jadi punya kesibukan melebihi pekerjaan orang-orang pada umumnya. Tentunya dia punya pekerjaan lain untuk mengurus kambing-kambingnya terlebih dahulu baru membuka tangan kepada orang lain.

Hampir segala pekerjaan yang umum dilakukan di kampung seperti gotong royong, sambatan, kerja bakti, nguli, gali kubur, hingga menggembalakan kambing orang, mereka mintakan tolong kepada Tresno, dan ia nyaris selalu bisa menyanggupinya. Bahkan ada yang sampai hati memintanya untuk melakukan hal-hal yang tak lazim seperti mengeruk kotoran sapi tetangganya, mengambil layangan anak-anak yang tersangkut di pohon, hingga saking baiknya, bahkan dia pernah menggarukkan punggung temannya yang gatal ketika diminta. Tentu yang kegiatan kampung tidak diupah, meski pekerjaan lainnya ada yang diupah ada yang tidak, kalau diminta secara khusus seringnya ia diupah. Semua itu atas dasar permintaan orang-orang, terkesan sepele dan seperti merendahkan di mata orang lain, tetapi Tresno tidak mempedulikannya, itu bukanlah kehinaan baginya. Sebab kebaikan adalah kompas utama dalam hidupnya.

Cara hidup Tresno pun sederhana dan wajar-wajar saja, dia punya dua ekor kambing hadiah dari pak dukuh dan sekarang telah beranak-pinak jadi sepuluh ekor. Kerja keras dan ketelatenan Tresno memang tak ada tandingannya. Meski terlihat sibuk di luar, tetapi Tresno selalu memprioritaskan ibunya dan segala sesuatu yang menyangkut kesehatan ibunya dia jaga dengan sepenuhnya. Tresno hanya lulusan sekolah dasar dan tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolahnya, bapaknya pergi dan tak pernah kembali saat dia umur sembilan tahun, sejak itu dia hidup bersama ibunya sampai sekarang. Dan sejak bapaknya minggat itulah ibunya yang mengurusi segala kebutuhannya, maka sudah sewajarnya yang jadi nomor satu hanya ibunya sekarang.

Karena keterbatasan pendidikan itu juga Tresno jadi tertinggal dari teman-temannya. Meski hanya bekerja serabutan atau seadanya, yang penting baginya adalah untuk selalu berbuat baik dan menolong. Hasil yang tak seberapa itu pun kalah atas keyakinan yang dipegangnya erat-erat, seperti pesan yang sering ibunya katakan dulu, “urep kuwi urup le” [1] dan Tresno pun selalu adem hatinya setelah mendengar kata-kata indah itu.

Sering kali ia dimintai orang-orang kampung dalam hal sambatan, nguli pasar, atau pekerjaan apa pun yang mengerahkan tenaga. Entah sebelum atau sesudah punya kambing pun ia tetap sibuk ke sana kemari membantu orang-orang. Sebagai laki-laki sebenarnya Tresno sudah matang, umurnya 48 tahun, tetapi masih setia melajang, ibunya juga sudah menyuruhnya untuk kawin, tapi ia tetap kekeh. Katanya masih pingin mengurus dan menemai ibunya ditambah tidak punya pekerjaan tetap, tetapi yang sebenarnya adalah tidak ada perempuan di kampung yang tertarik padanya dan ketika ia ingin melamar seorang perawan pasti ditolak, wong sudah jaka tua, muka pas-pasan, tidak jelas juga hidupnya. Memang siapa perempuan yang mau dan berani bertaruh kehidupan berkeluarga seperti itu?

Tresno jadi teringat semua perbuatan baiknya yang ternyata tak pernah dianggap orang selain hanya memanfaatkan dirinya. Ia hanya dianggap baik oleh orang-orang, tetapi ketika akan diminta anaknya mereka menolak, begitu juga puterinya. Tresno yang malang, namun tak pernah terpikir untuk putus asa. Ia mencoba peruntungan lain dengan turut melamar pekerjaan sebagai buruh di sebuah pabrik, layaknya bekerja normal seperti orang-orang kampungnya itu.

Ia mendengar jika ada sebuah pabrik ikan sarden yang tak jauh dari kampungnya sedang butuh 80 orang untuk dipekerjakan di sana.Tanpa pikir panjang dan bertanya-tanya dia mencoba melamar pekerjaan di pabrik itu, tentu saja dalam rangka mewujudkan harapannya dan agar “agak” dianggap memenuhi keinginan orang-orang. Karena baru kali ini ia menjalani pekerjaan yang terpaksa. Atau lebih tepatnya “dipaksa keadaan,” maka untuk sekali ini ia coba mengalah.

Tresno segera datang ke pabrik ikan itu dan mengatakan kalau dirinya akan melamar pekerjaan di sana. Tetapi kalimat satpam menjegalnya dan membuatnya bingung, “Berkas-berkas bapak mana?”  Tresno yang tidak pernah menahu apa-apa soal pekerjaan formal berusaha tetap di tempat dan bertanya balik kepada si satpam.

“Maaf, berkas apa ya, Pak?”

“Ya berkas lamaran kerja seperti surat lamaran, CV, KTP, Ijazah, dan segala yang diminta perusahaan, Pak.”

“Bagaimana itu pak, bukannya tinggal daftar saja ke sini ya, Pak?”

“Ini perusahaan pak, perusahaan itu ada aturannya.”

Si satpam awalnya menjelaskan dengan sabar, namun ujung-ujungnya dibuat kesal olehnya dan akhirnya diusirlah Tresno. Ia disuruh bertanya saja kepada temannya, setelah paham dan melengkapi berkasnya baru boleh kembali lagi. Maklum, orang yang biasa disibukkan dengan membantu dan menolong orang-orang di kampung itu dipaksa bekerja ke perusahaan yang tak pernah menahui sebelumnya. Ya memang seperti anak-anak, banyak tanya ia.

Setelah bertanya sekadarnya dan dibantu ala kadarnya oleh pak dukuh, Tresno mangut-mangut saja menyimak. Begitu selesai dan paham maksud pak dukuh ia mulai mengumpulkan berkas-berkas dan persyaratan yang diminta sekaligus menulis CV. Sekembalinya ke pabrik sambil membawa stopmap Tresno jadi percaya diri. Tak hanya itu, atas saran dari pak dukuh juga untuk memakai pakaian yang rapih dan sewajarnya orang mau melamar pekerjaan.

“Kalau melamar pekerjaan itu harus berpakaian rapi dan pantas, biar enak dilihat. Jangan berpakaian kayak orang mau nongkrong di warung.”

“Oh ya, Pak, akan saya ingat besok,” sahut Tresno santai.

Maka datanglah Tresno kembali ke pabrik, si satpam yang tengah berjaga menyapa dan memberi senyum sambil mengatakan, “Bagaimana pak sudah lengkap berkas-berkasnya?”

“O sudah beres semua, Pak. Ini, monggo dicek lagi,” jawab Tresno trengginas.

“Oh ya sudah, ditinggal dulu di sini ya, Pak. Besok akan dipanggil lagi. Sudah ada nomor teleponnya tho?”

“Ada pak, ada. Lho ndak langsung kerja, Pak?”

“Ya diseleksi dulu, kalau bapak lolos, baru bisa kerja di sini.”

“Owalah ribet juga ternyata, padahal saya orang baik-baik lho pak.”

“Ya bukan cuma urusan baik saja, Pak, kebijakan dari perusahaan memang seperti itu. Harus diseleksi dulu.”

 “Lho, kan cuma kerja per-ikan-nan pak, kenapa harus ribet sekali?”

Si satpam pun sudah mulai kesal lagi dan mempersingkat tanya jawab yang merepotkan dengan menyuruhnya pulang untuk menunggu panggilan berikutnya. Hari demi hari dihitung sabar oleh Tresno, tetapi hingga memasuki minggu ke empat dari waktu ia melamar tak kunjung ada panggilan. Tak bisa harus menunggu terus-terusan karena ia harus selalu siap untuk melakukan kebaikan, Tresno memutuskan untuk mendatangi pabrik ke sekian kali.

Setibanya di pabrik, seseorang dari HRD mengatakan jika dirinya tidak bisa diterima di pabrik itu karena ijazahnya SD. Sang HRD mengatakan kalau minimal syaratnya harus ijazah SLTA/sederajat.

“Lho apa bedanya pak, teman saya lulusan SLTA sama bodohnya seperti saya?”

“Begini pak, memang syarat minimal dari perusahaan mengatakan demikian. Jadi nggak ada hubungannya dengan teman bapak.”

“Lho tapi saya orang baik lho pak. Apa bapak tidak membaca CV saya di lamaran itu?”

Ternyata segala hal yang pernah dilakukan Treno ditulisnya di CV dengan berlembar-lembar kertas. Sang HRD juga heran, soalnya belum pernah ada yang seperti ini. Bayangkan saja, dari mengurusi kambing pak dukuh, sambatan, nguli, mengambil layang-layang, sampai menggaruk punggung temannya yang gatal ditulis semuanya. Ia ingat kata-kata pak dukuh, bahwa CV itu termasuk pengalaman pekerjaan yang pernah dilakukan, tetapi yang dipahami Tresno adalah semua yang pernah dilakukan ditulis semuanya. Jadi berkasnya kelihatan tebal.

Eyel-eyelan yang tak ada hasilnya itu membuat Tresno akhirnya memahami satu hal, bahwa orang baik pun ternyata bukan jadi syarat utama untuk dapat diterima bekerja di suatu perusahaan/pabrik. Ia memikirkan itu berhari-hari dan menyadari sesuatu pula antara pabrik dan orang-orang di kampungnya ternyata punya satu kesamaan, “Mau untungnya saja.” Bedanya kalau di pabrik ia dibayar, meski tetap saja tak sebanding dengan pekerjaannya, dan hanyalah buruh rendahan. Tresno yang sempat galau akhirnya kembali lagi pada pekerjaan semula, menggembala kambing dan tetap melakukan kebaikan di manapun. Ia tetap yakin jika kebaikan adalah mutiara yang harus dijaga selamanya, meski sering ia dimanfatkan orang-orang kampungnya. Di hatinya ia tetap baik dan tidak ada dendam kepada lainnya.

Akibat energi dan konsenstrasinya yang dihabiskan ke pabrik itu, kini kambing-kambingnya jadi kurus dan tidak terawat. Tresno yang baik dan polos, ia tidak memperoleh apa-apa selain kebaikannya makin benderang.

Keterangan:

[1] Hidup itu menyala/memberi manfaat bagi sekitar.




=============
Aji Shofwan Ashari, lahir di Pati, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pernah jadi kontributor di situs berita online Tagar.id. Masih aktif mencatat dan menulis sampai sekarang.

Bergelap-gelapan

0


DI PALU sebelum gempa bumi, para remaja — secara harfiah dan kiasan — mengendalikan segalanya.

Ah, sebenarnya aku tak ingin pergi, tetapi dia memaksa.

Kami sedang menuju pesta perpisahan. Hendri, seorang teman kami, pindah ke Makassar untuk selamanya. Sesungguhnya, aku tidak akan secara spesifik mengatakan Hendri adalah temanku, tetapi dia adalah salah seorang dari yang terlalu ramah, yang ingin tetap dekat dengan teman mereka dengan cara apa pun, dan oleh karena itu siapapun juga bisa menjadi temannya yang akrab. Dia adalah teman pacarku; tidak ada pilihan lain.

Komplek perumahan itu seperti keterasingan. Meskipun penuh orang, pemandangan kotak-kotak yang bertegel dan koper yang telah dikemas di lorong memberiku perasaan tidak nyaman. Hasratku sedang tidak mau bergaul, jadi aku mengambil sirup dari lemari es dan pergi ke balkon. Aku juga ingin memberi Sari dan Hendri ruang untuk waktu terakhir mereka sebelum perpisahan.

Aku selalu membenci balkon Hendri. Dalam pemandangan luas Palu dari Tadulako, yang menurut semua orang menakjubkan, aku tak melihat apa pun selain penderitaan yang melata di jalan-jalan kota, meratakan penduduknya. Aku tak mengetahui proses berpikir yang membuat Hendri memutuskan dia akan meninggalkan kota ini, tetapi apa pun yang mendorongnya, balkon itu pasti sangat berpengaruh.

Aku sedang berdiri di tempat yang gelap dan tersembunyi dengan sirupku, bersandar pada pagar besi yang kokoh, ketika Sari melangkah keluar ke balkon dan menemukanku. Sepertinya dia telah mencari beberapa lama.

“Ke mana saja ngoni?” dia bertanya marah.

“Menyendiri di sini,” jawabku tenang.

“Sejak kita tiba?”

“Iya.”

“Mengapa?”

“Aku tak kenal siapa pun.”

“Ngoni kenal Bassem dan Alia!”

“Aku sedang tak ingin bersosialisasi.”

“Kau bisa masuk dan membantu kami di dapur.”

“Kupikir akan memberi kau waktu berkualitas dengan Hendri.”

“Ya, benar. Betapa bijak ngoni.”

Aku tak yakin mengapa dia begitu tegang. Apakah Hendri pernah memberitahunya sesuatu yang membuatnya kesal? Aku menelan sarkasme yang menggigit dan mengikutinya ke dapur, dengan botol sirup kosong di tangan.

Tamu mulai menyedikit. Hendri berdiri dengan dua temannya di ambang pintu kamar tidurnya yang sekarang hampir melompong, sementara kelompok kecil lainnya duduk-duduk di sofa di depan TV. Kami memasuki dapur. Tidak ada orang lain di sana. Kulihat sekeliling untuk melihat apa yang dapat kulakukan untuk membantu. Kugulung lengan bajuku dan pergi mencuci piring.

“Ngoni luar biasa, ngoni tahu itu?” kata Sari.

Ah, apa yang kulakukan sekarang?

“Mengapa kau datang malam ini?” susulnya.

“Apa maksudmu kenapa aku datang? Kupikir kau ingin aku datang! “

“Nah, jika rencanamu adalah menghabiskan sepanjang malam sendirian di balkon, kau mungkin lebih baik tinggal di rumah.”

“Sari, apa masalahmu? Aku mencoba di sini. Kau tahu aku tak tahan dengannya, tapi kau mengisyaratkan bahwa alangkah baiknya jika aku datang, bahwa ini akan menjadi yang terakhir kalinya dan aku tak perlu melihatnya dalam waktu dekat, dan inilah aku.”

“Alah, persetan denganmu!” Itu adalah Hendri. Dia telah mendengarku. “Jika kau tidak menyukai aku, mungkin kau tidak harus meminum semua sirup punyaku!”

Aku akan memberitahunya bahwa hanya satu botol sirup yang kuminum, tapi kuputuskan itu tidak sopan.

“Sari, kenapa kau tidak menemani Hendri sampai dia pergi ke bandara? Kau bisa meneleponku begitu dia sudah masuk di pesawat.”

Aku meraih jaketku dan pergi. Aku tak terlalu marah, tetapi ada sesuatu yang berulang dalam hubunganku dengan Sari yang terus menggangguku; nada tertentu yang diambil suaranya ketika dia kesal karena sesuatu yang kulakukan. Nah, Sari kesal karena sesuatu yang kulakukan — itu terus berulang. Mungkin itulah yang benar-benar menggangguku.

Aku bertemu Sari di pesta Malam Tahun Baru tiga tahun lalu. Dia mendatangiku dan berkata, “Ku mengenalmu.” Dia tidak melanjutkannya, sungguh, tapi aku senang dia mengira dia kenal aku. Kami berkumpul pada awal Februari, dan merayakan Malam Tahun Baru berikutnya di kamar kontrakan kecil tempat kami pindah bersama. Semuanya berjalan lancar sampai kualami krisis keuangan yang mencekik. Aku tak pernah ditawari pekerjaan baru selama sekitar satu tahun dan bangkrut. Secara kebetulan, pada tahun yang sama Sari mulai memikirkan kami untuk menikah. Dia tidak pernah membicarakannya secara langsung, tetapi secara menyindir, dan arahnya jelas.

Dia sangat membantu, penuh perhatian, dan ramah tentang situasi keuangan secara keseluruhan. Tapi itu tidak mencegah ketegangan. Dia yang biasanya membayar ketika kami pergi ke tempat mewah bersama teman-teman atau ketika kami mengadakan pesta. Setelah percakapan melelahkan tentang rencana dan masa depan, dan dua bulan setelah kubayar bagian terakhir dari kontrakan, kuputuskan untuk pindah kembali ke rumah ibuku.

Berdiri di depan rumah Hendri, diselimuti oleh angin pantai Talise yang dingin, kuhitung uang di dompetku. Aku tak punya cukup uang untuk naik ojek pulang ke rumah, jadi kuputuskan untuk naik ke terminal terdekat sebagai gantinya; barat laut ke pusat kota atau ke barat daya, atau mungkin pergi ke tempat lain. Kuhentikan ojek dan memberi tahu pengemudi ke mana tujuanku. Dia sudah ngebut saat kududuki sadel penumpang, menceritakan semua tentang permainan domino yang harus dia teruskan setelah dia menurunkanku. Aku sibuk menghitung kembalian untuk membayarnya ketika teleponku berdering. Itu Sari.

“Hei,” katanya.

“Hei, sayang.”

“Dengar, kupikir kita harus bicara malam ini.”

Nada mendesak itu lagi. Aku tak menyukainya, sama sekali tidak. Kutahu dia tidak akan membiarkanku melupakan apa yang terjadi di rumah Hendri tanpa alasan yang tepat, tetapi perasaan mendesak dalam suaranya membuatku merasa ada yang lebih dari itu.

“Aku dalam perjalanan ke rumah.”

“Rumah ibumu?”

“Ya.”

Kupikir begitu.

Aku tak ingin bertengkar dengannya, jadi pura-pura tidak kudengar jawaban terakhirnya. “Aku akan meneleponmu saat bangun besok.”

“Kenapa kau tidak datang malam ini?”

Astaga, dia tidak akan membuatnya mudah. “Aku tidak mau, sayang.”

“Mengapa?”

“Karena kau agresif, itulah sebabnya.”

“Siapa yang agresif? Aku hanya ingin bicara.”

“Aku tak suka nada bicaramu dan lebih suka kita bicara besok.”

Dia menutup telepon tanpa sepatah kata pun.

Aku sedang mendidihkan amarah. Kuingat pertengkaran yang pernah kami alami karena tidak kubantu dia membersihkan ruang tamu untuk kunjungan ibunya. Energinya untuk terus bertengkar selama berjam-jam atas sesuatu yang dimulai dan diakhirinya sendiri hanya dalam beberapa saat benar-benar membuatku bingung.

Di terminal ku berdiri menunggu. Dua remaja yang tertawa sedang memainkan musik di ponsel China yang murah. Salah satu dari mereka memegangnya — jenis musik yang begitu keras dan berlebihan sehingga aliran itu sendiri disebut remix. Ketukan elektronik menghantam kepalaku ke dinding imajiner ketika angkot tiba. Pintu bergeser terbuka dan aku melompat ke dalam, sementara kedua remaja itu terus mendorong satu sama lain ke dalam dan ke luar mobil sampai pintu akhirnya tertutup.

Salah satu dari banyak keterampilan yang harus kukuasai sebagai lelaki sejati adalah kemampuan untuk mengabaikan keributan apa pun yang terjadi di sekitarku, tidak peduli seberapa kasarnya. Aku sedang dalam suasana hati yang buruk, jadi sedikit kesal. Kedua remaja itu bernyanyi dengan riuh diiringi alunan musik melalui speaker ponsel mereka. Kulihat sekeliling untuk melihat apakah ada orang lain yang merasa terganggu. Seorang wanita tua dengan salib di lehernya, mengenakan blus hitam dan kombinasi rok tengah hitam yang sering dipakai oleh pemeluk Kristen, duduk dengan pandangan jauh di wajahnya. Seorang buruh dalam perjalanan pulang tampak terlalu lelah untuk ikut campur, sementara pasangan yang berada di belakang tampak tidak menyadari segalanya kecuali satu sama lain, mencuri-curi ciuman cepat, didorong oleh fakta bahwa mobil angkutan itu relatif kosong.

Musik para remaja berhenti tiba-tiba. Dugaanku baterainya habis. Aku bersuka ria dalam keheningan yang menguasai mobil, sampai mereka mulai berbicara.

“Bilang saja, Modi, aku punya ide.”

“Apa?”

“Mengapa kita tidak mencoba dan membuka pintu saat mobil sedang melaju?”

“Wah, itu berisiko.”

“Ayo, kita buka saja dan mobilnya akan berhenti.”

Kuikuti percakapan itu dengan geli. Kutahu mereka tidak akan berani melakukannya. Tapi kemudian salah satu dari mereka — yang bukan Modi — meletakkan tangannya di pintu.

“Beri aku tangan, ngoni,” katanya pada temannya.

“Astaga, ini bikin masalah.”

“Jangan jadi banci. Tidak ada yang akan menghalangi,” desak Modi.

Sampai saat itu aku tak terlalu peduli. Mereka masih anak-anak dan mereka memiliki adrenalin tinggi. Tapi kepercayaan diri remaja itu membuatku tersinggung.

Kupertimbangkan pilihanku. Di satu sisi, aku tak ingin memecahkan kode: Jangan pernah berkelahi di jalan. (Juga, akan sangat menghina jika aku dipukuli oleh dua remaja itu.) Di sisi lain, aku bisa merasakan diriku menjadi gelisah karena marah.

Kutinggalkan kursiku dan berjalan menuju mereka dengan senyum palsu di wajahku.

“Apa yang kalian lakukan?”

Mereka membeku. Jelas mereka benar-benar percaya — Modi, khususnya — bahwa tidak ada yang akan ikut campur. Dia dengan cepat berkata, “Tidak ada.”

“Tidak ada? Kupikir kudengar kalian membahas soal membuka pintu saat mobil berjalan. “

“Mengapa kau peduli?”

“Aku tak peduli apakah kau membukanya atau tidak, tetapi kau memberi tahu temanmu di sini bahwa tidak ada yang akan menghalangi. Nah, aku berbicara kepadamu dan kuberi tahu kau: Jangan. Jika kau memikirkannya, jangan. Jika kau sudah memimpikannya sejak berusia sepuluh tahun, jangan.”

Suaraku naik satu tingkat, yang membuatku terkejut. Mereka saling memandang dengan gelisah. Modi melangkah mundur sementara kutahan tempatku di depan pintu. Tidak ada orang lain di dalam mobil yang melihat kami; tidak ada yang peduli. Kutemukan diriku memikirkan novel Pramudya Ananta Toer yang kubaca ketika masih muda— “Rumah Kaca” —di mana semua orang dalam cerita tahu bahwa rumah itu akan runtuh, namun tidak ada yang akan melakukan apa-apa.

Ini Palu, baiklah.

Modi dan temannya tampak tidak senang. Tentu saja mereka begitu. Mungkin itu salah satu kali pertama mereka berhadapan dengan batas kekuasaan mereka di ruang publik, di kota tempat remaja — secara harfiah dan kiasan — mengendalikan segalanya.

Salah satu dari mereka, teman Modi, mendekatiku dengan sebatang permen. Dia mengulurkan tangannya dengan sikap ramah yang gugup, menawarkanku untuk berbagi batangan itu dengannya. Itu adalah caranya mengatakan, ‘Kita ini sama saja, kau tahu, bukan?’ Kami tidak. Kuabaikan uluran tangannya dan malah bertanya, “Katakan padaku, Nak, siapa namamu?”

Sekali lagi mereka dikagetkan oleh keterkejutan. Dalam perseteruan jalanan, orang cenderung mempertahankan anonimitasnya; ketika tidak ada yang tahu siapa Anda, Anda dapat melakukan apa yang Anda lakukan tanpa mengkhawatirkan konsekuensinya; tidak ada yang tahu di mana Anda tinggal, tidak ada yang akan menangkap Anda. Tetapi begitu pertanyaan diajukan, begitu seseorang menantang Anda untuk itu, Anda tidak punya pilihan selain menjawab.

“Rama,” dia menjawabku.

“Dari mana asalmu?”

“Perintis.”

“Perintis di mananya?”

Dia diam.

Kuulurkan tangan dengan kepercayaan diri yang mantap. “Mahmud, dari Perumahan Vanda Land. Kita tetangga kalau begitu.”

Mereka bertukar pandangan khawatir lagi setelah mendengar nama pemukimanku. Dengan suara rendah, Modi memberi tahu Rama untuk bertanya apakah kukenal seseorang yang namanya tidak kuketahui.

“Apa yang temanmu katakan?”

“Apa kau tahu dengan Enggar?”

“Berapa usia kau?” Kutanya dia.

“Tujuh belas.”

“Apakah dia seusiamu?”

“Ya.”

“Kurasa tidak kekenal siapa pun seumur kau, tapi mungkin kau mengenal orang-orang yang lebih tua di perumahan itu: Arfah, Totan, dan orang-orang dari Masjid Baiturrahman? Mereka adalah temanku.”

Aku berbohong, total dan tanpa malu-malu. Telah kudengar nama-nama yang kusebutkan, tentu saja, dan telah bertemu beberapa dari mereka selama giliran ronda yang telah ditetapkan di jalan kami pada delapan belas hari pertama gempa bumi — ketika kekacauan yang datang merangkak di malam hari dan polisi telah meninggalkan jalan-jalan sepi — tetapi aku tak pernah benar-benar berhubungan dengan mereka.

Rama menggelengkan kepalanya. “Ya, tidak, kurasa aku tidak mengenal mereka.”

“Tidak apa-apa. Kau seharusnya tidak melakukannya. “

Kuucapkan kalimat terakhir untuk menekankan usia dan pengalamannya. Mobil berhenti menderu di tempat tujuanku. Aku turun, tapi kuperhatikan mereka tidak bergerak.

“Ini Perintis. Apa kalian tidak turun?”

Mereka bertukar tatapan cemas. Rama membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi mobil di arah yang berlawanan memasuki halte seberang jalan pada saat yang bersamaan, jadi aku tidak bisa mendengarnya. Pintu ditutup, dan mobil mulai bergerak, dengan dua remaja yang sekarang berkecil hati masih berada di dalamnya.

Rasa kemenangan yang sangat memuaskan menyapu diriku.

Turun di halte, kukeluarkan ponsel dari saku. “Sayang, apa kau sudah pulang? Aku akan datang.”

Selesai berkata, angin bergemuruh. Pohon di atas kepalaku berderak patah. Tanah tempatku berpijak tiba-tiba berguncang lagi. Tubuhku ditelan bumi. []






=============
Arpan Rachman, pengarang cerpen dan esai. Alumni program English for Journalism dari Coursera-University of Pennsylvania. Menulis berita pada beberapa media di Kuala Lumpur, Bangkok, Hong Kong, Kashmir, Amsterdam, London, dan Berlin.

Ledakan di Kepala Joya

0


NAMANYA Joya. Usianya sekitar empat belas tahun kala itu. Ia seorang gadis cantik juga cerdas. Saat itu, seharusnya ia sedang menikmati masa remaja yang penuh warna. Bermain, punya banyak teman, atau barangkali terjebak dalam sebuah kisah cinta monyet. Seperti kebanyakan remaja seusianya. Namun, sesuatu terjadi. Lebih tepatnya banyak hal terjadi dan harus dilewati Joya seorang diri. Masalah datang bertubi-tubi, memenuhi kepala kecil Joya, selayak udara yang ditiupkan ke dalam balon terus menerus hingga balon itu membesar. Semakin besar. Dan akhirnya, meledak.

Akhir pekan lalu, aku mengajak Zahra, anak semata wayangku untuk menginap di rumah Ibu. “Zahra sudah rindu sama neneknya,” jawabku ketika Ibu bertanya kenapa tidak biasanya aku datang selarut itu. Namun, sepertinya Ibu mencium aroma kebohonganku. Ya, di malam yang basah itu, aku memang pergi dari rumah setelah bertengkar hebat dengan suamiku.

 Seketika raut kecemasan bergelayut di wajah tua Ibu. Telapak tangannya yang keriput membelai lembut kepalaku. Aku yang berbaring seraya mendekap tubuh mungil Zahra tak kuasa menahan air mata. Dan ketika bocah lima tahun itu telah terlelap, untuk pertama kalinya Ibu menguak sebuah tabir rahasia masa lalunya yang begitu pekat.

Konon, dulu Ibu yang seorang yatim piatu ditampung di rumah salah satu saudara jauhnya, yang tak lain adalah ibunya Joya. Keluarga itu memenuhi segala kebutuhan hidup Ibu. Sebagai gantinya, Ibu bantu-bantu di rumah itu. Apa saja ia kerjakan. Dan itu menjadi awal pertemuannya dengan Joya, si gadis malang yang malam itu diceritakan Ibu kepadaku.

Maka kali ini, aku bermaksud menceritakan kembali kisah hidup Joya itu kepadamu. Namun, sebelumnya, kuharap kau bisa mengerti. Aku mengenal Joya semata-mata hanya dari mulut Ibu.

Ibu bilang, saat umur Joya baru genap delapan tahun, ayah dan ibunya memutuskan untuk bercerai. Ibuku tak tahu alasannya apa. Yang ia tahu hanyalah orang tua Joya sering terdengar bertengkar hebat. Teriakan, caci maki, bahkan sumpah serapah menjadi makanan mereka hampir setiap hari. Dan Joya dipaksa menjadi penonton setia drama pertengkaran itu.

Waktu itu, Ibu satu-satunya orang yang bisa menjadi tempat Joya menumpahkan segala kesedihannya. Joya kerap kali mengetuk pintu kamar Ibu di tengah malam buta hanya untuk minta dipeluk. Gadis kecil itu pun akan menangis tersedu-sedu di dalam dekapan Ibu. Dengan penuh perasaan iba, Ibu menyerahkan segenap jiwa dan raganya untuk Joya.

Saat orang tua Joya resmi berpisah, Ibu mendapat mandat agar merahasiakan perceraian itu dari Joya. Joya hanya boleh tahu bahwa ayahnya pergi dari rumah karena harus dinas ke luar kota. Orang tua Joya berpendapat, bahwa putri mereka masih terlalu kecil untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ibu yang masih remaja dan tak mengerti apa-apa hanya bisa menurut saja.

Namun, sepertinya orang tua Joya keliru. Nyatanya masalah baru datang bertubi-tubi setelah itu. Joya yang begitu dekat dengan ayahnya, serta merta merasa sangat kehilangan sosok yang amat disayanginya itu; yang menjadi pelindungnya dari segala amarah sang ibu; yang selalu berusaha memenuhi segala keinginannya. Mulanya, ayahnya rutin menelepon Joya setiap hari. Semakin lama hanya seminggu sekali. Lalu sebulan sekali. Hingga sampailah kisah itu pada saat Joya sama sekali tidak pernah mendapat kabar tentang ayahnya lagi. Nomor telepon ayahnya tidak pernah bisa dihubungi. Akibatnya, Joya berpikir ayahnya begitu jahat: pergi meninggalkan ia dan ibunya begitu saja, tanpa pernah kembali. Seiring berjalannya waktu, kerinduan Joya itu berubah menjadi kekecewaan.

Ibu kemudian bercerita, ia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya terjadi. Namun, Ibu terlalu takut. Lagi pula, ibunya Joya tiba-tiba saja begitu sering terdengar menanamkan benih-benih kebencian di benak Joya. Alih-alih menjaga perasaan Joya seperti saat di awal perceraian, ia malah menceritakan semua keburukan mantan suaminya itu kepada Joya.

Tak disangka, tak diduga. Setelah  lama menghilang, tiba-tiba ayah Joya datang membawa seorang wanita yang diperkenalkannya kepada Joya sebagai Mama.

Kala itu wajah Joya yang mulai beranjak remaja terlihat semakin kusut. Seolah banyak benang bergulung-gulung memenuhi kepalanya. Ia mencurahkan kebingungannya kepada ibuku. Ia bilang, “bagaimana mungkin aku punya dua ibu?” Mendengar itu ibuku hanya bisa mengelus dada yang ikut terasa sesak melihat beban berat yang harus ditanggung Joya seorang diri.

Tak lama setelah tahu mantan suaminya sudah menikah lagi, bak dibakar api cemburu ibunya Joya pun memutuskan untuk mengakhiri masa janda. Ia menikah dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak pernah dikenal Joya.

Ah, tentu saja itu bukan hal mudah bagi Joya. Seolah tanpa permisi, tiba-tiba ada orang asing datang dalam kehidupannya, bahkan harus tinggal serumah bersamanya. Kata ibuku, saat itu Joya semakin sering mendatangi kamarnya hanya untuk menangis. Sesekali ia memukul-mukulkan tangannya ke dinding sambil meracau tak karuan. Banyak hal ditanyakan Joya kepada ibuku: kenapa Om itu tinggal di rumahku? Kenapa Om itu tidur di kamar Ibu? Kenapa Ibu menyuruhku menghormatinya? Kenapa Ibu selalu marah setiap kali aku bertanya tentang semua ini? Lagi-lagi ibuku hanya bisa membisu, tak mampu menjawab semua pertanyaan itu. Kelak, kebisuan itulah yang membuat ibuku menyesal seumur hidupnya.

“Sudah! Itu bukan urusan anak kecil! Urusanmu sekolah saja yang benar.” Ibuku berdiri berkacak pinggang memperagakan gaya bicara ibunya Joya, ketika Joya kembali berusaha mencari jawaban dari semua kekacauan itu. Saat itu, katanya, ibuku melihat mata Joya menatap tajam mata ibunya. Seolah sedang menantang, ingin melawan. Ibuku menduga benih-benih pemberontakan mulai tumbuh di kepala Joya.

Setelah kejadian itu, keadaan di rumah itu semakin mengerikan. Ayah tirinya ternyata sangat temperamental. Ia bahkan berani berlaku semena-mena kepada Joya, yang dianggapnya sebagai pengganggu. Alih-alih membela, ibu Joya malah ikut mendukung sikap suami barunya itu.

Sejenak, ibuku menghentikan ceritanya. Matanya berkaca-kaca, dan tak lama ia mulai terisak. Menangis. Mungkin, mengingat semua rangkaian kejadian itu seolah membuka luka lama yang selama ini berusaha dipendamnya.

Setelah sedikit terlihat tenang, ibuku melanjutkan kembali kisahnya. Dengan suara parau dan terbata-bata ia bercerita: di suatu masa, tiba-tiba sikap Joya kepada ibuku berubah begitu saja. Joya mulai tertutup. Joya lebih sering mengurung diri di kamarnya.

Puncaknya, Joya menolak ketika disuruh ibunya berangkat ke sekolah. Padahal saat itu ia sudah kelas tiga SMP dan sebentar lagi harus mengikuti UAN. Sebelumnya, sudah seminggu Joya bolos dengan alasan kepalanya terasa sakit. Joya pun mengeluh merasa mual. Namun, setelah diperiksa, dokter bilang kondisinya baik-baik saja.

Seketika ibunya murka, menganggap Joya hanya mengada-ada. “Mau jadi apa kamu kalau malas sekolah begini, heuh?” Joya diseret paksa dari atas tempat tidur. Melihat kejadian itu, ibuku segera bersimpuh memeluk Joya yang tersungkur di lantai, berusaha melindunginya.

Ibu Joya mendengkus, lalu meninggalkan kamar dengan langkah mengentak kasar. Sementara itu, di dalam dekapan ibuku tubuh Joya gemetar hebat. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat.

Semenjak kejadian itu, Joya semakin sering terlihat duduk melamun dengan tatapan kosong sambil memeluk lutut di tempat tidurnya. Hanya berteman suara kipas angin di langit-langit kamar yang tak pernah berhenti menderu-deru. Ia enggan keluar kamar bahkan hanya untuk sekadar makan sekali pun. Ibuku pikir, Joya masih terlalu kesal kepada ibunya. Ibuku lalu berinisiatif mengantarkan makanan ke kamar. Namun, Joya sama sekali tak pernah mau menyentuhnya. Hingga dua hari berikutnya, wajah Joya mulai terlihat pucat pasi. Pandangannya kosong. Bibirnya kering. Saat ibuku menyentuh tangannya, hanya ada dingin di situ.

Merasa khawatir, ibuku lalu melaporkan semua itu kepada ibu Joya. Namun, ia masih menganggap anaknya hanya sedang cari perhatian. Setelah ibuku merajuk, akhirnya ibu Joya mau beranjak ke kamar anaknya. Dan, Oh, apa yang terjadi? Joya berteriak histeris ketika melihat ibunya muncul dari balik pintu. Bertubi-tubi Joya melemparkan barang-barang yang ada di sekelilingnya ke arah sang ibu. Dalam sekejap kamar itu porak-poranda. Joya mengamuk, terus berusaha melukai ibunya sendiri.

Singkat cerita, semakin hari kondisi Joya semakin tak terkendali. Gadis yang manis itu telah menjelma seperti hantu. Kelopak matanya menghitam, barangkali sepanjang hari ia tak pernah terpejam. Rambut yang lurus tergerai berubah awut-awutan. Kamarnya dipenuhi bau tak sedap sebab Joya hanya mau pipis dan buang air besar di sana. Ia tak mengizinkan siapa pun masuk ke kamarnya.

Seluruh kejadian itu terjadi begitu cepat. Mengejar seisi rumah tanpa memberi izin untuk berpikir barang sejenak. Belum sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi kepada anaknya, tangan takdir ternyata lebih dulu menampar ibu Joya dengan sangat keras. Tamparan itu membuat ibu Joya amat terluka. Luka yang akan terus menganga sepanjang hidupnya. Joya, gadis kecil yang malang itu, telah memilih sendiri cara untuk melepaskan segala beban yang mengimpitnya.

Tatkala mengisahkan bagian cerita ini, tangis ibuku meledak, bahunya berguncang hebat. Sambil sesenggukan ia berkata, saat itu, di pagi yang basah dan muram itu, ia melihat tubuh Joya berayun pelan di tengah kamar. Selembar gorden berwarna pink yang seharunya menjuntai menutupi jendela kamar, telah terikat dengan angkuh di tangkai kipas angin, sementara ujung satunya lagi melilit erat di leher Joya, membuat lidahnya terjulur. Matanya pun mendelik dan berair. Tak jauh dari situ, kursi belajar Joya terbaring pasrah di lantai. Mungkin, kursi itu pun tak sanggup menerima kenyataan harus menjadi satu-satunya saksi bisu dari tragedi itu.

“Ibu rasa,” kata wanita paruh baya di hadapanku itu dengan tatapan yang menusuk tepat di kedua mataku. “kau pasti tak mau jika Zahra harus bernasib sama seperti Joya ‘kan?” Ibu mengakhiri ceritanya.

Aku terenyak. Rasanya ada godam yang menghantam kepalaku berkali-kali, bertubi-tubi. (*)





=================
Teni Ganjar Badruzzaman. Ibu rumah tangga yang gemar menulis dan membaca cerita. Cerpen dan cerita anaknya dimuat di berbagai media massa.

Tujuh Helai Pelekat Cap Padi

1

DUA laki-laki gempal mengempang laluannya. Keduanya menggenggam parang panjang. Belum lagi Pakcik Sangkot sempurna turun dari sepedanya, seorang di antara kedua pria itu sudah menghunuskan parang ke arah leher pedagang kain berusia setengah abad itu. “Kalau mau selamat, jangan coba macam-macam,” hardiknya

Benak Pakcik Sangkot berputar menimbang keadaan. Umurku boleh tak muda lagi tapi tak sudi aku mati konyol, didengarnya suara kecil dari ceruk pikirannya. Kalau pun aku mati paling tidak kedua bajingan ini juga harus mati.

Sekelebat dia teringat kejadian sepuluh tahun yang lalu. Bagaimana di tangannya⸺tangan seorang pendekar dan guru pencak silat yang disegani⸺dua orang begundal macam begini terkapar mencium tanah. Untung tak sampai mampus. Tapi itu kan sepuluh tahun yang lalu. Barangkali sekarang ini gerakku tidak lagi segesit dulu, karena itu aku harus merebut parang, begitu gumam di rongga kepalanya.

Sembari menstandarkan sepeda, sekilas Pakcik Sangkot mengerling posisi tegak si penodong yang terbuka, serta merta tebersit siasat menghajar burungnya. Dia tahu risikonya sangat besar. Tapi jika tendangannya tepat menghunjam di kemaluan begal itu, cukup untuk membuatnya roboh menggelepar. Dalam hitungannya cukup dengan satu sapuan tendangan, parang sudah bisa berpindah tangan. Kalau pun tak menang, paling tidak dia tidak mati sendirian. Persis ketika sepeda sudah tegak di atas standar, dia mendengar bisikan halus suara perempuan bernada perintah di telinganya.

“Jangan kau ikuti hawa nafsu. Jangan bertarung. Jongkok! Merokoklah kau dulu!”

Kepada penodong itu Pakcik Sangkot berujar, “Aku tak bakalan mengapa-ngapa. Kelen ambil semuanya. Permisi aku duduk, aku mau merokok.”

Orang itu tidak berkata apa-apa. Didekatkannya parang ke badan Pakcik Sangkot, yang sudah terlanjur berjongkok. Ujung parang hampir menyentuh songkok di setentang ubun-ubunnya. Perlahan Pakcik Sangkot merogoh saku baju. Yang dikaisnya bukan bungkus rokok sigaret. Hanya satu batang rokok lintingan tembakau dibungkus klobot kering jagung muda. Sontak dia ingat siapa yang memberinya rokok itu. Api memercik dari batu mancis tua yang tergesek gerigi roda logam kecil yang dipulaskan jempolnya, menyalakan sumbu mancis yang berminyak. Diisapnya rokok itu dalam-dalam. Menguar aroma rokok kelembak-kemenyan. Tiga sedotan, asap yang dihembuskan menyebarkan wangi kemenyan. Seorang begal hampir selesai mengikatkan bal kain dagangan Pakcik Sangkot ke sadel sepeda motornya. Begal berparang, dengan mata nyalang bernyala, ketat mengawasi Pakcik Sangkot.

Baru Pakcik Sangkot menyadari, betapa posisinya saat ini membuatnya sama sekali tidak berdaya. Dalam keadaan berjongkok di ujung hunus parang, dia tidak bisa bergerak sedikit pun. Dalam situasi begini perampok itu akan dengan mudah memancung lehernya begitu mereka selesai membereskan barang dagangannya. Tiba-tiba dia menyesal mengapa tadi mengikuti saja perintah dalam bisikan itu.

Baru saja Pakcik Sangkot hendak mengisap rokoknya sedotan yang keempat, ketiga orang itu disentakkan oleh suara harimau mengaum. Gelegar aumannya seakan dekat di sisi telinga. Nalurinya membimbing Pakcik Sangkot memandang ke arah Timur. Dari jarak sekitar setengah kilometer, di antara barisan pangkal batang pohon rambung tua yang tajuknya tinggi menjulang, dari balik kepulan debu lantai kebun yang kering dipanggang kemarau, di antara daun-daun kering beterbangan, tampak olehnya sosok Ompung[1] berbelang itu menggebu berlari kencang ke arah mereka.

Kedua begal itu nampak seperti ingin melarikan diri. Pakcik Sangkot sempat melihat parang jatuh dari tangan begal yang menodongnya, sebelum keduanya yang nampak ketakutan bukan alang kepalang, limbung lalu roboh ke tanah. Tak sadarkan diri.

Sekujur tubuh Pakcik Sangkot menggeletar, menyadari Ompung melangkah melintasinya, menghampiri kedua begal itu lalu bergantian menjilati kepala keduanya. Serasa jantung Pakcik Sangkot hampir lepas dari sangkutannya. Apa jadinya kalau dia terpaksa menyaksikan sang raja hutan mengerkah kepala kedua begal itu dan melantak di depan matanya. Untunglah, ternyata tidak. Hanya menjilati saja. Setelah itu Ompung berbalik ke arahnya seraya mengeluarkan suara seperti berdeham. Dengan langkah gontai melangkah menuju arah Timur dari mana tadi dia datang, meninggalkan Pakcik Sangkot yang masih ternganga.

Rokok kelembak-kemenyan masih mengepulkan asap, masih terselip di antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya yang menggeletar. Aroma kemenyan memenuhi udara.

Pandangan matanya lekat pada makhluk yang berjalan membelakangi, menjauh hingga sosoknya hilang di kejauhan. Kesadarannya berangsur-angsur kembali. Dipandanginya tangan dan kakinya. Baru menyadari, dia sudah terduduk di tanah, bukan lagi berjongkok. Dan masih gemetaran. Untuk menenangkan diri, diisapnya rokok klobotnya pelan-pelan. Sembari memikirkan bagaimana caranya dia bisa segera mencapai emplasemen, meminta pertolongan untuk meringkus kedua begal itu.

Sejurus kemudian tampak olehnya empat orang berboncengan dua sepeda motor bergegas ke arahnya. Pakcik Sangkot mengenali keempat orang itu. Dua orang di antaranya adalah centeng, sementara yang dua lagi polisi pengawas kebun. Kedua polisi itu menyandang bedil laras panjang. Rupanya senyampang mereka patroli mengawasi pencurian lateks yang belakang ini kerap terjadi, mereka melihat Pakcik Sangkot dan dua begal yang terbaring itu.

Kedua centeng memapah membantu Pakcik Sangkot berdiri. Seorang polisi memberi minum air dari sebuah veldples yang dibawanya. Yang seorang lagi menghampiri kedua begal yang tergoler pingsan, bergantian menarik kedua tangan seorang-seorangnya ke belakang tubuh dan memasangkan gari. Sembari menunggu siumannya kedua pentolan begal residivis, yang mereka sudah hafal wajahnya itu.

Ketika melihat Pakcik Sangkot mulai tenang, kedua polisi itu menanyakan apa sesungguhnya yang baru terjadi. Pakcik Sangkot menebarkan pandangan ke sekeliling. Dia melihat jejak Ompung bertebaran di sekitar dirinya dan kedua begal itu. Dan di sepanjang jalan tadi yang dilaluinya. Sungguh aneh keempat orang-orang ini tidak melihat apa-apa.

***

Pakcik Sangkot tak mungkin melupakan, hari itu Jum’at pertama di bulan Rajab. Dia sedang berjualan di poken[2] sebuah kampung di pinggir onderneming Brussels. Matahari masih sepenggalah tingginya. Ketika itu pembeli belum lagi ramai berdatangan.

Ke jongkonya mampir seorang nenek lanjut usia, tapi nampak sangat sehat dan gesit gerak-geriknya. Tubuhnya yang mungil dibalut kain pelekat hijau dan kebaya satin kuning potongan nyonyah. Kerudungnya kuning senada kebaya. Meskipun tersamarkan oleh keriput tapi wajahnya menampilkan guratan kecantikan masa mudanya yang pasti sangat jelita. Yang tidak biasa, aroma semerbak wewangian yang menenteramkan perasaan memancar dari tubuhnya.

Sedap kali wanginya. Tak pernah kucium minyak wangi macam ‘tu, kenang Pakcik Sangkot membatin.

Saking terkesima oleh pesona sang nenek dan sibuk membayangkan betapa cantiknya nenek ini ketika gadisnya, Pakcik Sangkot sampai menggeragap ketika sang nenek menanyakan apakah ada kain pelekat cap padi.

“Ada, Mak. Yang halus ada, yang biasa pun ada. Umak mau yang mana?”

“Yang halusnya-lah kuambil. Aku mau tujuh helai. Ada ‘nya?”

“Ada, Mak.”

Pakcik Sangkot menyebutkan harganya. Si nenek tak menawar. Sementara ketujuh kain pelekat itu dibungkus, nenek mengeluarkan uangnya untuk membayar. Diangsurkannya uang itu kepada Pakcik Sangkot, sembari diambilnya bungkusan kain.

“Kau ambil duit pulangnya, sama-sama ikhlas kita ya,” ujar sang nenek.

“Banyak kali lebihnya ini, Mak, alhamdulillah. Iyo Mak, kalau aku pastilah ikhlas,” sahut Pakcik Sangkot.

Hanya sejurus saja. Pakcik Sangkot menyimpankan uang ke dalam tasnya, ketika dia mengangkat kepalanya lagi nenek sudah tidak kelihatan. Dijulurkannya lehernya untuk melongok ke kiri dan ke kanan tetap saja nenek itu tidak nampak lagi.

“Cepat betul Nenek ‘tu bejalan. Macam menghilang dia,” gumamnya.

Dia tak tahu kenapa, tiba-tiba hatinya berdesir. Dikeluarkannya lalu dibukanya tas tempat menyimpan uang tadi. Tujuh helai daun kering tergolek di dalam tas itu. Jumlah lembar yang sama dengan uang yang dibayarkan nenek tadi. Dadanya berdegup kencang. Pikirannya melayang kepada cerita ayahnya di masa kecilnya dulu tentang orang Bunian, yang menghuni hutan tua. Mereka ini makhluk halus yang hidup bermasyarakat seperti lazimnya manusia. Kendati tidak kasat mata di hadapan manusia, kecuali ketika orang Bunian itu sengaja memperlihatkan diri, konon alam mereka seakan bersentuhan dengan alam manusia. Ada barang-barang keperluan mereka yang serupa dengan manusia. Kain adalah salah satunya. Dan nenek tadi membeli kain pelekat cap padi. Makin kuatlah Pakcik Sangkot curiga nenek itu orang Bunian. Kalau setiap kali berbelanja uangnya daun kering, lama-lama tumpurlah aku. Mudah-mudahan hanya sekali ini saja, bisik hatinya. Dia lalu beristighfar. Setelah itu dia berusaha mengikhlaskan.

Waktu melintas, musim berganti, tahun berlalu. Usaha perniagaan Pakcik Sangkot sudah membesar. Semakin laris dan berlipat untungnya. Persis setahun sejak kedatangannya yang pertama, pada hari Jum’at pertama bulan Rajab, nenek itu datang lagi. Pakcik Sangkot tak melihat ada perubahan pada perawakan dan wajah si nenek. Masih mengenakan kebaya satin kuning, kali ini berhiaskan sulaman bunga raya, dan kerudung berwarna kuning. Hanya kainnya yang berbeda. Pakcik Sangkot mengenali kain pelekat yang dikenakannya. Salah satu dari tujuh helai yang “dibelinya” setahun yang lampau.

“Panggil aku Mak Rodiah,” ujarnya mengenalkan diri.

“Aku mau beli tujuh helai kain pelekat cap padi yang halus. Masih ada barangmu?”

Ingatan Pakcik Sangkot melayang ke peristiwa setahun yang lalu. Tapi dia sendiri tak tahu kenapa dengan tangkas dia menjawab, “Masih banyak, Mak. Silahkan Mak Rodiah pilih.”

Tujuh helai kain pelekat halus itupun dibungkus rapi. Seperti adegan tahun yang lalu: kain berpindah tangan, Mak Rodiah membayar, tujuh lembaran uang baru dimasukkan ke dalam tas, ketika Pakcik Sangkot menengadah lagi Mak Rodiah sudah raib. Laksana ditelan bumi. Perlahan dibukanya kembali tas penyimpanan uang. Tujuh helai daun kering berkilau di dalamnya. Dielus-elusnya perlahan-lahan. Akan disatukannya dengan tujuh helai daun tahun yang lalu, yang sekarang tersimpan rapih di dalam kotak kecil mirip tepak sirih yang sengaja ditempahkannya. Untuk menyimpan “uang-uang” itu. Sebagai kenang-kenangan.

Jum’at awal bulan Rajab di tahun yang ketiga, Mak Rodiah datang lagi. Sejak kedatangan yang pertama kalinya, Pakcik Sangkot memperhatikan Mak Rodiah hanya datang kepadanya dan hanya membeli tujuh helai kain pelekat cap padi. Hanya itu.

Dia pun memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang sudah lama disimpannya dalam hati, “Kenapa Mak Rodiah tak pernah membeli di pedagang lain?”

“Tidaklah, jang. Bukannya mauku sendiri. Kau sendirian ‘nya kerabat kami di sini. Orang-orang ‘tu, orang lain ‘nya semua, bukan kerabat kita.” Kerabat kita? Kalimat itu mengiang dalam benak Pakcik Sangkot.

Menyalahi kebiasaannya yang datang membeli pelekat cap padi setahun sekali, setiap hari Jumat pertama di awal bulan Rajab, kali ini Mak Rodiah datang lagi sebulan sejak kedatangannya yang ketiga. Pagi hari Sabtu, sebelum kejadian itu, adalah pertemuan mereka yang keempat. Sebagai mana ritual biasanya, Mak Rodiah kembali membeli tujuh helai kain pelekat cap padi yang halus. Selain tujuh lembar uang kertas, dikasihkannya sebatang rokok tembakau lintingan dalam klobot kering jagung muda.

“Sengaja kubikinkan ini untuk kau Sangkot. Kau isap nanti ya. Sebatang saja ‘nya.

“Terima kasih, Mak.”

Perlahan Pakcik Sangkot menyelusupkan rokok itu ke dalam saku bajunya.

Ketika poken kukut, menjelang bersiap-siap pulang, menambahi stok barang dan melanjutkan berjualan di gajian besar di emplasemen Pernantian, Pakcik Sangkot menghitung dan merapihkan uang perolehan dagangnya hari itu. Berdetak keras jantungnya. Tujuh lembar uang kertas yang masih baru, dari Mak Rodiah tadi, tidak berubah menjadi daun kering.

Rupanya itulah pertemuan mereka yang penghabisan. Bulan Rajab tahun keempat dan tahun-tahun berikutnya berlalu tanpa kedatangan Mak Rodiah. Sesekali ada juga Mak Rodiah datang dalam mimpinya. Menyertai di belakangnya, dalam kegelapan, nampak bergerak-gerak sepasang nyala berbentuk mata. Dari arah mata menyala itu sesekali terdengar suara berdeham seperti yang dulu pernah didengarnya. Mak Rodiah hanya memandangi dari kejauhan, tanpa bicara sepatah kata. Hanya tersenyum saja. Tak lama. Lantas pergi lagi.

Pada saat kedatangan yang terakhir, sambil menerima pemberian sebatang rokok lintingan, diliputi keingintahuan mengenai siapa sebenarnya, dan bagaimana asal-usulnya, Pakcik Sangkot bertanya di mana Mak Rodiah tinggal.

“Tempatku jauh, di Sorba Huta[3],”jawabnya.

Sekejap Pakcik Sangkot tertegun, namun langsung paham. Terjawab sudah semua misteri itu. Tidak ada seorang manusia pun yang bermukim di Sorba Huta. Kecuali hanya orang Bunian.”(*)



[1]Ompung = Panggilan untuk menghormati harimau (ompung berarti kakek), karena pantang menyebutnya dengan harimau (Mbah, di Jawa).

[2] poken = Pasar (hari pekan) yang diadakan sekali dalam sepekan. Pedagangnya berdatangan dari berbagai tempat.

[3] Hamparan hutan tua yang hampir tidak pernah diinjak manusia, dipandang sebagai hutan larangan karena orang Bunian bermukim di hutan ini.




==================
Widjaya
Harahap menulis cerpen, esai dan puisi. Cerpennya tersiar di beberapa media cetak dan online serta buku kumpulan cerita bersama.

Pernikahan Mutia

0

SUDAH satu bulan kabar pernikahan Mutia kudengar. Sebulan itu juga hidupku menjadi tak menentu. Rasa kaget, gembira, sedih, dan haru bergantian berkunjung ke bilik hatiku. Tapi yang lebih sering datang adalah kekosongan, Elena. Ya, kekosongan!

Bagaimana tidak? Lima belas tahun aku menghilang dari kehidupanmu, juga kehidupan dua anak kita. Aku merasa tak pantas lagi diingat, apalagi dikenang. Ah, tidak! Kenangan tak mungkin luput. Tapi kenangan yang tersimpan di hatimu dan anak-anak pasti kenangan buruk tentangku. Membayangkan ingatan lampau itu menggenang di hatimu saja, aku sudah takut luar biasa. Lalu tiba-tiba kau meneleponku dan menyampaikan berita pernikahan Mutia.

Aku memang tak pernah berkirim kabar padamu Elena. Termasuk di saat aku berpisah dengan istriku—madumu yang dulu kau cemburui setengah mati, bahkan menyebabkan kau melapor pada atasanku hingga aku dipecat dengan tidak hormat dan akhirnya kita bercerai. Aku begitu mengenangmu, segala kebaikanmu, dan tentu aku rindu kedua anak yang kutinggalkan karena kemarahanku atas keputusanmu melaporkanku yang menikah siri dengan perempuan itu. Ada keinginan untuk menengokmu di rumah yang setelah perceraian itu jadi milikmu. Melihat anak-anak kita. Tapi kita seakan punya sekat yang tak tertembus.

Setelah dipecat, aku tak lagi bekerja, Elena. Bagaimana aku akan menghidupi perempuan itu tanpa pekerjaan? Aku luntang-lantung mencari uang. Dan hidup denganku yang tak lagi menjanjikan akhirnya membuat ia meninggalkanku. Aku menjalani hari yang sepi setelah perempuan itu pergi.

Aku kawin lagi. Kali ini dengan perempuan yang pernah jadi kupu-kupu malam. Perempuan yang pernah kukunjungi saat kita masih dalam ikatan pernikahan dulu. Aih, kau jadi tahu betapa bejatnya aku, Elena. Ternyata begitu  banyak wanita dalam kehidupanku saat kau menjadi istriku.

Perempuan ini mau kunikahi karena ia sedang tobat dan ingin menjadi wanita baik. Ia masih mengingatku dan mau menerimaku, sebab aku memang sedang mencoba menjadi lelaki baik-baik. Tapi kebaikan selalu dikalahkan dengan uang, Elena. Meski jika di film-film, kebaikan selalu menang di akhir, tapi siapa di antara kita yang sanggup berjuang hingga akhir? Kadang kita lelah sebelum tiba di akhir dan memilih berbalik ke belakang. Atau menempuh jalan lain yang ternyata justru lebih kejam. Atau bahkan berhenti, lalu meratapi kesalahan, putus asa menanti ujung dari kebaikan yang masih samar.

Pernikahanku berakhir lagi, Elena. Kami tak sanggup meneruskan atau sekadar bertahan. Setelah itu kuputuskan untuk tak menikah lagi. Tidak pacaran lagi. Bekerja serabutan, pindah dari kota yang satu ke kota yang lain. Bekerja di pabrik, menjadi kuli, menjadi petani. Tak ada yang kuminati sungguh-sungguh sejak meninggalkan—atau lebih tepatnya ditinggalkan—indikator kebahagiaan bagi orang-orang kebanyakan: hidup mapan, punya rumah dan kendaraan, punya uang, punya istri, dan punya anak. Bukankah itu adalah kehidupan saat aku masih bersamamu, Elena?

Aku menyepi dari orang-orang—termasuk keluargaku—kecuali  adikku yang bungsu. Entah kenapa, ia selalu berhasil menemukanku. Barangkali kau dapat nomor telepon selulerku darinya, Elena. Membuatmu bisa menyampaikan padaku, bahwa Mutia, anak sulung kita sebentar lagi akan menikah. Betapa cepatnya peristiwa menjadi lampau dan berlalu.

Aku tak tahu, sebagai ayah Mutia—yang brengsek ini—apa yang harus kusiapkan untuk pernikahannya. Acara akan digelar seminggu lagi. Hingga saat ini, aku hanya mampu mengumpulkan uang untuk ongkos perjalanan pulang ke kotamu, dengan tertatih. Berbongkah-bongkah pertanyaan sekaligus ketidakmengertian datang menyerbu, apakah peranku hadir di pernikahan anak kita, kecuali sebagai ayah biologisnya? Adakah cinta di hatinya untukku? Layakkah aku menjadi wali nikahnya? Tapi kata-katamu, bahwa kau dan anak-anakmu mengharapkan kehadiranku sebagai wali pernikahan membuat hatiku beriak. Aku telah tua. Dan tua pula kepahitan yang kutanam di hatimu dan anak kita.

Baiklah, aku akan datang, Elena. Janjiku padamu sambil menepis kenangan indah tentang rumah tangga kita sekaligus bencana dulu. Maka dua hari sebelum akad nikah, aku sudah tiba di kotamu. Aku singgah ke rumah adikku beberapa saat. Lalu setelah itu ke rumahmu, ke rumah kita dulu.

Tak banyak yang berubah. Rumah kita sejak dulu memang sudah besar. Pekarangan pun luas. Sudah ada tenda merah marun dengan list warna keemasan yang indah di sana. Dan saat aku datang, beberapa orang yang hilir mudik—tidak semuanya kukenali sebab banyak tetangga baru di sini—menoleh, memandangku, dan aku tak sanggup menebak apa yang ada di kepala mereka sebab isi kepalaku sendiri telah penuh dengan semua kenangan tentang kita.

“Pak,” seseorang mendekat dan aku seakan terpasung di tempatku berdiri. Lima belas tahun, Elena. Kau telah menua dengan anggun. Tak banyak berubah pada wajah dan tubuhmu.

Kita sama-sama terdiam, tak tahu mesti apa dan bicara apa. Ingin kupeluk dirimu, tapi semuanya tentu tak lagi sama. Kulihat titik bening jatuh di pipimu. Oh, Elena, hatiku berderap, tak tahu memaknai pertemuan ini. Kulihat sesosok perempuan muda nan jelita berdiri di sampingmu. Dan aku seakan melihat diriku sendiri di sana.

Perempuan muda itu memegang tangan Elena. Wajahnya tersirat pertanyaan yang ingin aku jawab. Tapi Elena hanya memandangku dengan wajah dipenuhi kabut. Bibirnya bergetar. Perempuan muda itu memapahnya untuk duduk lalu ia mendatangiku.

“Ayah,” akhirnya kata-kata yang kutunggu itu keluar juga. Aku mengangguk. Dan ia memelukku, erat sekali. Oh, Elena. Pantaskah aku mendapatkan pelukan dan cinta ini? Kutahan air mataku. Kucium keningnya. Dan kuusap rambutnya dengan hati yang menjeritkan kata “maaf” berulang-ulang.

Aku masuk ke dalam rumah. Isinya masih tak ada yang berubah. Lemari dan kursi jati, meja kerja yang sudah lebih dari lima belas tahun umurnya. Tiada yang berbeda sejak kutinggalkan dulu. Kenapa, Elena? Bahkan foto-foto kita masih ada. Oh, ada dua yang bertambah, foto Mutia wisuda—yang kau tanggung biaya sekolahnya sendirian—dan foto close up perempuan muda yang lain. Ah, itu tentu si bungsu, Rani, yang dulu umurnya masih lima tahun saat kutinggalkan.

Sungguh, hatiku tersayat-sayat melihatnya. Kau ingin menyimpan kenangan tentang kita begitu lengkap, sampai tak ada yang kau ubah.

Tak sadar, kakiku beranjak ke dalam kamar kita dulu. Aku ingin melihat-lihat isi rumah yang telah kutinggalkan belasan tahun itu. Tak kau cegah. Kubuka pintunya, ranjang serta almari pakaian dan meja hias masih sama, bahkan posisinya tak ada yang berubah. Persis seperti dulu sebelum kutinggalkan rumah ini.

Kubuka almari pakaian, seluruh pakaian dinasku masih tersimpan rapi di sana. Aku tergugu menatapnya. Apa yang telah kau lakukan, Elena? Kau tak membiarkan lelaki lain memasuki rumah ini, memasuki hatimu, bahkan kau menyuburkan semua kenangan tentangku dengan tabah. Betapa kau peluk erat setia, meski kita tak lagi bersama.

Aku terduduk di ranjang tua itu. Menghela napas dan menguatkan hati sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar kamar.

“Kau ingin beristirahat. Pak?” tanyamu dengan suara bergetar. Aku menggeleng. Beku rasanya hatiku mendengarnya.

Kami hanya bertiga di ruang tamu. Orang-orang sepertinya tak hendak mengganggu kehadiranku di rumah ini.

Seorang perempuan muda masuk. Aku terkesiap, serasa melihat Elena masih muda di sana.

“Ini Rani, Pak,” katamu lagi. Kuhampiri anak yang seakan tak mengenalku itu. Tentu saja. Apa yang bisa diingat dari anak usia lima tahun tentang aku ayahnya sebelum pergi dari kehidupannya?

Kupeluk si bungsu itu. Kukecup keningnya. Kutahan air mata yang hendak menyelinap keluar. Andai dapat kujaga rumah tangga yang penuh dengan cinta dan kesetiaan ini sejak dulu? Ah, tidak, tidak! Aku tak sanggup lagi. Tak lagi bisa kutahan air mata yang sedari tadi kupaksa untuk tak jatuh.

Kami bertangisan. Tapi ini tetap tak bisa diubah, Elena. Kau dan aku tetap tak bisa lagi bersama. Bagaimana mungkin kita akan rujuk lagi, menikah, meski cinta dan setiamu kau jaga utuh untukku, bahkan hingga menua? Mengetahui tentangmu, adalah derita yang lebih perih dari beragam penderitaan yang telah kualami hingga setua ini, Elena. Dan dari segala derita, baru kali ini aku merasa lebih baik mati.***

===========

Rumasi Pasaribu, lahir di Taba Pingin, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Cerpen dan puisinya termuat di beberapa antologi lokal dan nasional, serta di beberapa surat kabar. Novelnya berjudul Aku Masenja merupakan novel pemenang 1 pada lomba menulis novel tingkat nasional Penerbit Araska. Saat ini berdomisili di kota Bengkulu.

Nabi Khidir Singgah di Warteg Barokah

0

TAK biasanya persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya. Hal itu tentu membuat Rastam, juragan warteg, jadi curiga sekali. Padahal ia sudah menambah anggaran lebih untuk membeli kebutuhan stok ikan di dapur. Sebenarnya kecurigaan sang juragan mengerucut pada satu orang. Hanif namanya, tapi tentu tak elok mencurigai pekerja di wartegnya pilihan dari Kiai Bahtiar, guru spiritualnya.

“Turuti saja kemauan Hanif, meski tingkahnya kadang sering aneh, tapi justru sering benar di luar pemikiran kita yang awam,” pesan Kiai Bahtiar yang selalu diingat Rastam, meski dirinya sering dibuat jengkel dengan tingkah aneh Hanif, tapi selang beberapa hari kemudian ucapannya memang sering terbukti.

Rastam juga ingat nasihat Kiai Bachtiar, “Sabar saja, yang penting kau tidak dirugikan karena semua toh yang dilakukan tentu demi kebaikanmu. “

Menurut Kiai Bahtiar, ia tak menyesatkan. “Ingat, sebagai gurumu, aku tentu tidak akan menyesatkan kamu, tapi justru membimbingmu dari kehidupanmu yang dulunya hanya melirik bisnis oriented, sekarang kamu mulai membuka ladang amal demi bekal untuk dunia yang kekal, ” papar sang kiai panjang lebar.

“Kamu menerima Hanif kerja di wartegmu termasuk ladang amal juga, “ tegas Kiai Bahtiar, kemudian menerangkan, “Karena Hanif anak yatim-piatu yang tentu butuh pertolongan orang seperti kamu yang memang hidup berkecukupan.”

***

Rastam tercenung beberapa saat mengingat pesan-pesan bijak dari Kiai Bahtiar, guru spiritualnya. Memang menerima Hanif kerja di wartegnya termasuk ladang amal juga. Setelah itu, ia membayangkan awal pertama kali menerima Hanif kerja di wartegnya, betapa Hanif adalah sosok anak yang pintar, sederhana dan bersahaja. Ia masih ingat sekali, bagaimana Hanif saat awal bekerja tampak begitu amat senangnya bekerja di wartegnya. Bahkan terlihat begitu sangat bersemangat mengerjakan berbagai pekerjaan, mulai dari mencuci gelas-piring, menyapu, hingga melayani pembeli. Sungguh ia sangat terharu melihat semua itu.

Tapi Hanif lambat laun mulai memperihatkan tingkah-tingkah anehnya. Seperti di antaranya, memberi uang pada pengemis yang tampangnya kurang menyakinkan sebagai pengemis dengan pakaian yang masih bagus dan bersih. Sedangkan, pada pengemis yang pakaiannya kotor dan compang-camping, ia tak memberi uang sama-sekali, bahkan mengusirnya pergi. 

“Saya memberi uang pada pengemis yang berpakaian masih bagus dan bersih karena saya tahu kalau ia benar-benar butuh bantuan kita, “ kata Hanif penuh percaya diri dengan gaya sok tahunya itu. “Ia menghargai orang dengan berpakaian masih bagus dan bersih dan saya tahu kalau pakaian itu satu-satunya pakaian terbaiknya dan sangat menjaga kebersihan pakaian.”

Sedangkan, lanjut Hanif, ia tak memberi uang sama-sekali, bahkan mengusir pergi pengemis yang pakaiannya kotor dan compang-camping karena katanya ia tahu kalau pengemis itu hanya pura-pura miskin. “Padahal rumah pengemis itu di kampungnya begitu paling besar, terlihat megah dan mewah, dibanding rumah-rumah tetangga di kampungnya, “ papar Hanif masih dengan gaya sok tahunya.

Rekan-rekan sesama pekerja warteg tampak takjub mendengar penuturan Hanif yang begitu menyakinkan dan penuh percaya diri, meski tampak dengan gaya sok tahunya.

“Benar itu apa yang diucapkan Mas Hanif, “ terdengar salah seorang yang makan di warteg angkat bicara. “Kita memang tidak bisa menilai yang hanya tampak mata saja, tapi juga dengan mata batin yang jernih. Hanya orang tertentu dan punya kemampuan khusus yang bisa melakukan itu.”

“Hahaha, Bapak ini bisa aja, “ Hanif tergelak menanggapinya. “Saya hanya orang biasa kok, “ ujar Hanif merendah.

“Mas Hanif hebat!”

“Ah, saya bukan orang hebat.”

“Mas Hanif ini orangnya suka merendah.”

Rekan-rekan sesama pekerja warteg jadi lebih takjub lagi mendengar penuturan Hanif yang tak mau dianggap hebat itu. Bahkan, kemudian mereka sering minta Hanif cerita berbagai kisah-kisah unik dan ajaib yang di mata masyarakat awam aneh. Hal itu tentu membuat semua orang jadi penasaran.

Tapi Hanif selalu punya cara agar dirinya tak harus cerita terus kalau ceritanya nanti kalau warteg sudah tutup karena kalau cerita pada saat warteg buka itu sangat mengganggu kerja. Ia menjunjung tinggi profesional dalam kerja. Begitu warteg tutup, Hanif bukannya melanjutkan cerita, tapi langsung tidur lebih cepat dari rekan-rekan sesama pekerja warteg. Tapi saat semua orang terlelap dengan mimpi-mimpi indah, Hanif selalu bangun untuk menegakkan sholat di sepertiga malam.

***

Terkait persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya, Rastam masih belum tahu apa sebabnya. Ia tak enak hati kalau kejadian itu harus ditanyakan pada Hanif. Saat warteg tutup, ia memeriksa lauk, dimana lauk-lauk yang habis segera dicatat untuk kemudian dimasukkan ke daftar belanjaan.

“Ijah, apa benar persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya?” tanya Rastam pada Ijah yang tampak sedang nonton tiktok di hpnya.

“Benar, Gan, “ jawab Ijah masih tetap asyik menatap layar hpnya.

Rastam geleng-geleng kepala, kemudian bergumam, “Kok aneh ya padahal saya sudah menambah anggaran lebih untuk membeli kebutuhan stok ikan di dapur.”

“Iya aneh Gan, “ Ijah kembali menjawab dengan masih tetap asyik menatap layar hpnya. Bahkan diselingi ketawa cekikikan karena tayangan tiktok memang sering lucu-lucu dan begitu sangat menghibur.

Rastam tercenung kali ini penuh kebingungan karena hampir semua pekerja warteg selalu membenarkan kalau persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya. Kecuali Hanif yang belum ditanya, tapi tentu seperti biasa begitu warteg tutup, pembantu pilihan Kiai Bahtiar itu langsung tidur.

Benar juga, saat Rastam menyeret langkah ke lantai atas, tampak Hanif tidur pulas. Tapi begitu ia akan berbalik pergi, sebuah suara menghentikan langkah. “Juragan ingin tahu perihal persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya?” tanya Hanif seketika bangun dari tidur.

“Maaf, Han, kalau kehadiran aku di lantai atas ini membangunkan tidurmu, “ tutur Rastam tersipu-sipu.

“Jangan minta maaf, Gan, karena itu hak juragan untuk bertanya, “ kata Hanif, kemudian menerangkan, “Juragan jangan segan-segan bertanya tentang apapun pada saya, karena saya bawahan juragan tentu wajib hukumnya untuk menjawab pertanayaan juraga, karena saya memang bekerja untuk juragan.”

“Selama ini, juragan segan bertanya pada saya karena saya tahu juragan sangat hormat pada Kiai Bahtiar, “ imbuhnya.

Hanif mengaku kalau perlakuan itu tidak adil. “Saya merasa dibedakan dengan rekan-rekan pekerja warteg lainnya dan itu tidak adil. Mohon kiranya juragan memperlakukan saya sama dengan rekan-rekan pekerja warteg lainnya.”

Adapun, lanjut Hanif, mengenai persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya, ia membuka tabirnya. “Mungkin yang akan saya ceritakan ini terdengar aneh, tapi saya akan cerita sebatas pengetahuan saya yang sangat terbatas.”

Rastam mengangguk-angguk memakluminya.

Hanif menghela napas sejenak, setelah itu menceritakan, “Persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya karena beberapa ikan tiba-tiba hidup dan kemudian berloncatan keluar dari bak persediaan ikan, rekan-rekan pekerja warteg tidak ada yang tahu, kebetulan saya mengetahuinya, dan itu sebuah isyarat yang saya tangkap sepertinya Nabi Khidir singgah di Warteg Barokah ini.”

“Subhanallah alhamdulillah…” Rastam takjub menyebut-nyebut.

“Tapi maaf saya tidak tahu persis kapan Nabi Khidir singgah di Warteg Barokah ini, pagi, siang atau malam, entah, saya tidak mengetahuinya, “ tutur Hanif begitu lembut penuh kebijakan. “Juga sosok persisnya Nabi Khidir seperti apa, mohon maaf, saya tidak mengetahuinya. Saya hanya menangkap sebuah isyarat saat beberapa ikan tiba-tiba hidup dan kemudian berloncatan keluar dari bak penampungan ikan itulah mungkin saatnya Nabi Khidir singgah di Warteg Barokah ini.”

“Subhanallah alhamdulillah…” Rastam kembali menyebut-nyebut.

            “Oh-iya, saya jadi ingat tadi siang saat warteg sepi pembeli, datang seorang lelaki tua yang sekilas seperti seorang pengemis, namun hanya meminta minum. Saya menyuruh Ijah menyerahkan segelas air ke lelaki tua itu. Begitu selesai menegak air, lelaki tua itu mengucap alhamdulillah dan menyerahkan lagi gelas yang masih ada sisa airnya. Si lelaki tua mengucap terima kasih lalu mohon diri. Setelah lelaki tua itu pergi, pembeli begitu banyak berdatangan, saking banyaknya pembeli kita sampai kewalahan melayani. Alhamdulillah…”

“Subhanallah alhamdulillah…” Rastam menyebut-nyebut terus tiada henti.

Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2022






===============
Akhmad Sekhu, penulis kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, 27 Mei 1971. Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021). Kumpulan cerpennya “Semangat Orang-Orang Jempolan” (siap terbit).

Sepasang Penembak

0

TETANGGA baruku, sepasang suami-istri tua renta menyanyi bersama di halaman pagi itu sambil memamerkan dua pucuk pistol. Istriku kaget dan mengadu kepadaku soal itu. Ia tak sempat bertanya langsung kepada sejoli paruh baya itu karena ketakutan telanjur menguasainya. Aku buru-buru ke depan dan meniru seorang tokoh dalam film, aku angkat dua tangan di atas kepala saat pasangan tua itu mengarahkan moncong pistol mereka kepadaku. Mereka tertawa-tawa melihat kekagetanku. Istriku pingsan dan tak sadarkan diri sampai delapan menit kemudian. Di sela-sela antara pingsan dan siumannya istriku, pasangan tua Jo dan Gelna itu berbual-bual kepadaku.

“Kami dulu adalah atlet menembak.”

“Atlet menembak yang hebat. Kami pernah dapat dua medali emas di kejuaraan internasional,” tambah Gelna.

“Kau tak perlu khawatir. Kami sudah tak punya senjata api. Ini pistol mainan.”

“Pistol mainan hadiah dari anak semata wayang kami, Pedrik.”

Dengan semangat menggebu-gebu Gelna bercerita soal anaknya itu. Pedrik berusia tiga puluh tujuh dan hidup sebagai pengembara. Katanya saat ini mungkin Pedrik sedang berada di sabana Afrika sambil berusaha memotret seekor singa dari jarak terdekat yang ia mampu atau boleh jadi ia sedang berselancar bersama orang-orang lokal di Pantai Kuta, Bali. Pedrik suka petualangan dan hobi membaca kisah-kisah para petualang sejak kecil.

“Kadang aku menyesal terlalu banyak memberinya bacaan-bacaan semacam itu,” kata Jo agak sedih.

“Oh, kau tak perlu menyesal, Sayang. Pedrik pasti akan segera datang menemui kita.”

Gelna mendekap Jo dan mengusap-usap punggungnya. Pasangan tua yang sebelumnya tampak ceria itu tiba-tiba seperti keluarga duka. Ratapan Jo makin menjadi-jadi. Bahkan lelaki tua itu menangis. Gelna yang mulanya berusaha menenangkan suaminya, justru ikut-ikutan menangis. Orkestra tangisan itu membuatku menimbang-nimbang apa yang sebaiknya aku lakukan. Ketika aku hendak menghampiri mereka, sekadar memberi penghiburan dengan melemparkan kata-kata kosong semisal “Pedrik pasti baik-baik saja” atau “Ia pasti merindukan orang tuanya”, Gelna menggeleng dan menepis niat baikku. Aku membopong istriku yang pingsan ke dalam rumah. Kuciprati mukanya dengan air dari dalam gelas. Ia terbangun seperti orang yang baru selesai melewati mimpi buruk. “Aku ada di mana? Apa aku masih hidup? Apa peluru itu menembus dadaku?”

“Kau baik-baik saja, Sayang. Tenangkan dulu dirimu.”

Dari sofa Alena berpindah ke tempat tidur di kamar. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia memejamkan mata. Sebelum tidur ia memintaku untuk memberitahu apa saja yang telah dikatakan pasangan tua itu. Kuceritakan pada Alena apa yang Jo dan Gelna katakan. Istriku mengangguk, mengecup keningku, dan tidur.

Ia tidur begitu nyenyak. Selama Alena tertidur, aku menonton televisi dan menyaksikan tayangan ulang pertandingan sepak bola antara Wayang United vs FFV FC. Itu pertandingan yang membosankan karena kedua tim seperti tak tahu cara menyerang. Mereka hanya oper-operan seperti sekelompok pemain yang sudah kehilangan gairah mencetak gol. Aku mengganti kanal dan mendapati seorang motivator berkepala botak dan berkacamata yang selalu membentangkan senyum saban seperempat menit menyemburkan kata-kata bijak. Kata-katanya kelewat bijak sampai-sampai aku mual mendengarnya. Apalagi telah jadi rahasia umum bahwa ia terlibat skandal dengan menantunya sendiri dan ia diduga melakukan penipuan terhadap kliennya. Aku heran mengapa stasiun televisi masih memberikannya ruang.

Siang itu aku berkeliling kompleks menggunakan sepeda lipat. Tak ada bedanya hari biasa dengan hari libur di kompleks ini. Kompleks tetap sepi. Hanya sesekali saja kulihat orang atau kendaraan melintas. Pohon-pohon mangga dan jambu bertebaran di sepanjang jalan. Sebagian pohon-pohon itu daun-daunnya menggantung begitu rendah sehingga gampang bagi siapa pun menjangkaunya. Aku pernah iseng mengutip sebongkah jambu air. Ketika kumakan jambu air itu asam sekali. Aku tidak tahu apakah jambu itu betul-betul asam ataukah ulahku yang mengambil tanpa minta izin ke pemiliknya yang membuat jambu itu terasa asam. Sewaktu aku kecil ayahku cerita bahwa ia pernah mencuri pisang saat masih kanak-kanak. Pisang itu sangat bagus dan mengkal. Tapi saat ia makan rasanya asam dan agak aneh, seperti buah yang sudah busuk. Ketika tetangga pemilik kebun pisang memergokinya makan itu, ia buru-buru minta maaf dan pemilik pisang membolehkannya untuk memakan pisang itu. Ajaib, ketika ayahku melanjutkan makan pisang itu rasanya berubah manis dan lezat. Selepas menceritakan itu, ayahku bilang, “Janganlah sekali-kali kamu mencuri, karena akibat dari mencuri tidak pernah baik adanya.”

Aku tumbuh dengan kisah-kisah semacam itu. Setelah bersepeda selama sekitar dua jam dan tak sengaja menggilas seekor kucing hitam yang tiba-tiba melintas di jalan, pikiranku terbang menuju cerita lain yang pernah ayahku tuturkan. Cerita itu berkisah tentang seseorang yang sisa hidupnya penuh kutukan dan kesialan selepas mobilnya melindas kucing hitam. Aku bergegas menuju rumah dan berharap tak ada kesialan yang menimpaku. Toh, aku tidak sengaja menggilas kucing itu. Dan aku juga sudah sudah menguburkannya di salah satu tanah kosong di ujung jalan dengan menjadikan kaos yang kupakai sebagai kafan.

Ketika aku tiba di rumah, Alena sudah bangun. Ia bertanya-tanya kenapa aku telanjang baju. Kujelaskan soal kucing hitam dan kematiannya. Ia terperanjat dan andai saja tak cepat-cepat kupeluk, ia pasti bakal jatuh pingsan seperti tadi pagi. Alena seorang penyuka kucing. Ia meneriakkan “Oh, kucing yang malang!” berkali-kali seperti seorang penyanyi yang malang. Aku hendak membawanya ke dalam rumah ketika tetangga kami memanggil-manggil, “Hoi, ada apa dengan kalian?” Itu suara Jo. Kali ini tampaknya ia sudah terbebas dari kesedihan mengenang putranya. Gelna yang berada di sampingnya menambahkan, “Ada yang bisa kami bantu?” Aku bilang tidak ada apa-apa. Namun, bukannya menyingkir, mereka mendekatiku.

Seperti tadi pagi, keduanya menggenggam sepucuk pistol. Rasanya benda itu memang memiliki nilai khusus bagi mereka. Mungkin dengan memegang pistol setiap saat mereka dapat merasakan sensasi kebahagiaan saat mereka menjuarai berbagai turnamen menembak semasa muda. Orang-orang tua memang memiliki kebiasaan-kebiasaan tak lazim dan sudah semestinyalah aku memakluminya.

Melihat sepasang orang tua itu, Alena mendekap bahuku. Ia bersembunyi di belakangku. Barangkali ia masih menyimpan ketakutan kepada pasangan tua itu. Kubisikkan padanya bahwa Jo dan Gelna bukan pasangan yang membahayakan, mereka hanya orang tua yang selalu terseret arus sungai masa silam yang ada di kepala mereka. Alena tetap tidak menghiraukanku. Ia masih mendekapku dari belakang sambil memandangi pasangan tua itu dengan waspada.

Aku bilang kepada Jo dan Gelna aku harus masuk ke rumah dulu untuk mengenakan pakaian. Mereka buru-buru berkata, “Tidak perlu, tidak perlu!” sambil menggoyang-goyangkan telunjuk mereka, seperti isyarat larangan orang tua kepada anaknya. Aku menurut dan menunggu apa yang selanjutnya mereka lakukan.

“Lihat pertunjukan kami,” seru Jo.

“Kami akan membuktikan bahwa kami adalah penembak yang hebat.”

Pasangan tua itu mengangkat pelan-pelan pistol mereka sampai tegak lurus. Mereka sedang menghadap pohon mangga dan di dahan mangga tampak seekor burung gereja bertengger.

“Tembakan kami tidak akan meleset,” ucap Jo.

“Karena kami seorang penembak yang andal.”

Tak lama terdengar bunyi tembakan yang memekakkan telinga. Burung gereja jatuh dari pohon dengan jasad penuh darah. Pasangan tua itu berbohong. Pistol mereka bukan pistol mainan, tapi pistol sungguhan.

“Kami hebat, kan?” tanya mereka serentak. Mereka memandangiku dan mengarahkan pistolnya kepadaku. Sesaat berselang, tembakan meletus. Istriku berteriak. Pasangan tua itu tertawa-tawa. (*)

Tambun Selatan, 17 April 2020





============
Erwin Setia lahir tahun 1998. Penulis lepas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, dan Pikiran Rakyat.

20 Tahun Menemani

0

BETAPA masa sejatinya telah berjalan lama, adakalanya bagaikan sekejap rasanya. Seperti diriku yang dua puluh tahun sudah menemani seseorang menjalani hari-harinya dalam kegembiraan maupun kesedihan. Bayangkan saja, berapa banyak cerita yang bisa ditulis sepanjang waktu yang kami lewati bersama. Sungguh aku bahagia dan bangga, ada seorang lelaki yang begitu setia terhadapku. Dalam kurun masa yang sama, mereka yang sebangsa denganku barangkali sudah berkali-kali berganti pasangan atau malah –sialnya– telah menjadi potongan besi tua yang menghilangkan identitas sejatinya ketika hadir ke dunia. Bukankah beruntung sekali diriku yang tidak bakal membuat pangling mereka yang memandangnya? Penampilanku masih cukup anggun, tak jauh berbeda dengan ketika pertama kali dirilis dari pabrik, lantas dipajang di etalase toko, hingga aku menjadi kepunyaan satu orang belaka sampai hari ini.            

Seseorang yang memiliki diriku masih sangat belia ketika memilihku, lantas membawanya pulang. Ia belum terlalu lancar mengendarai sepeda motor, bahkan masih dalam taraf belajar. Maka ia selalu meminta ditemani kakak atau kerabatnya pada masa awal membawaku berjalan-jalan. Setelah ia menyimpan SIM C di dompetnya, barulah ia berani mengendaraiku ke sekolah atau ke mana saja ia mau. Ada kejadian lucu kala baru sehari majikanku memiliki lisensi resmi mengemudikan sepeda motor. Ia sedang pergi memboncengkan kakak perempuannya, tiba-tiba sebuah mobil yang berada tepat di depannya berhenti mendadak. Lantaran sangat terperanjat, ia sedikit terlambat mengerem lajuku. Jadilah, sebelah depan tubuhku membentur bagian belakang mobil itu. Pemuda yang mengendaraiku tampaknya cukup panik. Langsung saja ia tancap gas membawaku berlari sekencangnya menjauhi mobil yang ditabraknya tanpa sengaja. Peristiwa tersebut sedikit melecetkan bagian di atas roda depanku, tapi bukanlah problema berarti. Sehabis kejadian siang itu, pemilik diriku sungguh berhati-hati saban mengendaraiku, dan nyatanya masih utuh seperti sediakala wujudku ini.

Hanya ada sekali lagi insiden kecil yang sedikit melukaiku dan lucu juga sejatinya kala dikenang. Waktu itu di sebuah pertigaan aku dibawa berbelok ke arah kiri karena lampu hijau telah menyala. Tak tahunya, dari arah berlawanan ada sebuah sepeda onthel yang melanggar lampu merah, ia berbelok ke arah kanan dengan kecepatan tinggi. Sepeda itu tiba-tiba saja persis berada di sampingku, memepetku, maka serta-merta kami pun jatuh bersamaan ke samping kiri. Si pengendara sepeda onthel lekas berdiri, mengatakan maaf, kemudian mengayuh kendaraannya lagi dengan kencang. Majikanku tidak terluka sedikit pun. Ia berhasil melompat menghindari ambruknya tubuhku. Hanya hatinya pasti sempat berdebar-debar. Syukurlah, jalan sedang sepi sehingga tak terjadi hal yang bisa jadi lebih buruk. Terjadi sedikit ketidaknormalan pada salah satu organ tubuhku belaka, yaitu bagian pijakan kaki kanan yang menjadi bengkok. Segera dibawalah aku ke bengkel terdekat dan usai sudah masalahnya. Setiap kali pemilikku menceritakannya pada orang lain, senantiasa ia tersenyum geli. Ia menyebut insiden sore tersebut dengan nama ’Kisah Kejatuhan Sepeda’.

Seingatku, ada sejumlah perempuan yang pernah diboncengkan majikanku. Tentu masih banyak lagi yang pernah ditemuinya seorang diri. Namun, aku tak mengerti mengapa sampai hari ini belum ada satu pun dari mereka yang sesuai untuk hatinya hingga layak menjadi pendamping hidupnya. Tampaknya ia cukup betah dengan kesendiriannya. Yah, biarlah hal itu menjadi urusan pribadinya belaka, tak ingin aku mengusiknya. Aku akan tetap setia dan siap sedia menemaninya selagi ia perlu diriku hingga kapan saja.

***

Ternyata sejak jauh hari sudah menjadi rencana kedua orang tuaku membelikan sepeda motor kala usiaku tepat tujuh belas. Tanpa terduga, tiba-tiba berakhirlah perjalanan hidup Bapak di dunia, sekitar tiga pekan sebelum hari lahirku. Namun, hal itu tak membuat Ibu menunda rencana semula. Justru hatiku yang sempat tak nyaman dan kuungkapkan pada Ibu.

“Bu, apakah hadiah itu pantas saya terima saat ini? Bukankah wafatnya Bapak belum lama?” tanyaku.

            “Nak, walaupun Bapak sudah tiada, bukankah hidup harus tetap dijalani seperti biasa? Tetap bergembiralah dengan tujuh belas tahun usiamu. Ibu percaya, di sana Bapak pun tersenyum melihatmu bahagia hari ini menerima hadiah spesial dari kami berdua,” kata Ibu seraya menahan gejolak di kalbunya, terdengar dari suaranya.

Pada satu sisi, aku bahagia memiliki sepeda motor baru. Namun, di sisi lain sungguh sendu hatiku mengingat Bapak belum lama pergi selamanya. Ternyata peristiwa tersebut telah berlangsung dua puluh tahun silam. Rasanya baru sekejap waktu berselang, terjadinya dialog antara aku dan ibuku menjelang kuterima kado teristimewa. Ibu sudah berpulang ke hadirat Ilahi lima tahun silam, menyusul Bapak yang wafat lima belas tahun sebelumnya. Serta-merta terkenanglah diriku ketika pertama kali memiliki sepeda motor yang menjadi satu-satunya kendaraan pribadi yang kumiliki. Entah apa kata Bapak dan Ibu jika mereka mengetahui masih kumanfaatkan hadiah ulang tahun dari mereka dengan baik. Kuharap sungguh, mereka dapat senantiasa tersenyum bahagia di alam sana.

Terdapat sejumlah hal yang menjadi alasan mengapa aku belum pernah berganti sepeda motor selama dua dasa warsa. Pertama, kupegang prinsip untuk terus menggunakan sesuatu selagi ia masih bisa berfungsi dengan bagus. Tak jadi masalah jika seiring waktu berlalu semakin lawaslah barang itu. Bukankah sesuatu yang bersifat masa lalu lambat laun justru menjadi unik, kuno, eksotik, dan nilainya malah melonjak? Namun, biarpun harganya menjadi mahal sekalipun, belum pernah terbesit di benakku rencana menjual kendaraanku. Kedua, sudah jodohku dengannya menjalani masa nan panjang tanpa masalah signifikan. Sekian bulan sekali, aku pasti membawanya ke bengkel untuk diservis dan diganti olinya. Terkadang suku cadangnya mesti diganti. Ketika belum lama kumiliki, nyaris saban hari Minggu aku mencucinya sendiri. Seiring kesibukanku yang meningkat, aku memilih membayar orang lain saja yang membersihkannya.

Masalah yang sempat lama mengusik sepeda motorku adalah kebocoran ban, terutama yang belakang, yang menjadi semacam penyakit menahun. Bukankah biasanya ban motor bocor karena terkena paku? Tetapi, berkali-kali ban motorku habis anginnya tanpa alasan yang jelas, semacam terkena kutukan entah dari mana. Hal itu berlangsung selama sekitar dua hingga tiga tahun, ketika aku telah bekerja. Setiap bulan, setidaknya sekali –tapi seringnya lebih– selalu saja hal itu terjadi. Adakalanya tak hanya ditambal, bagian dalamnya sudah diganti sekian kali pula. Mungkin saja terjadi kesalahan tingkah laku yang selama ini kerap kulakukan tanpa disadari. Dampak negatifnya adalah kerepotanku menghadapi kasus ban bocor tersebut. Kucoba introspeksi diri selalu seraya tentunya memperbaiki sikap maupun tingkah laku. Sampai akhirnya aku berinisiatif mengganti ukuran ban motorku yang belakang, tentu disertai doa nan sungguh-sungguh, maka baru berakhirlah kutukan itu.  

Dua puluh tahun sudah sepeda motor itu menemaniku. Terima kasih belaka barangkali tak cukup kuucapkan baginya. Berlimpah nian kisah yang telah kami lewati bersama dalam beragam rasa. Bahkan tak hanya diriku yang pernah memakainya, kadang kala sejumlah kerabat maupun tetangga pernah meminjamnya. Tak akan kulupakan jasa-jasanya menyertai langkahku mengarungi hidup menjadi lebih ringan. Dalam kurun masa selama itu, begitu banyak fase kehidupan yang orang lain lewati. Sejak mereka masih menjadi anak SMA, mungkin lantas menjadi mahasiswa, sepeda motor pun dipakai bermain bersama kawan, juga berpacaran, lalu ada saatnya digunakan untuk bekerja, dan bisa jadi sampai membawa istri dan anak-anak mereka. Bagiku sendiri, sebagian fasenya serupa dengan yang mereka alami. Sepeda motor tersebut senantiasa menemaniku, baik ketika masih bersekolah maupun setelah bekerja, pastilah dengan segala pernak-perniknya. Tetapi, ada sesuatu yang tak berubah sedari dahulu. Aku mengendarai sepeda motorku hingga kini, masih sendiri. Kau tahu rasanya sendiri?

TAMAT




================
Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di sejumlah media cetak dan digital, seperti: Horison, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, kompas.id, dan magrib.id. Kumpulan cerpennya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).  

Ironi

0

DUA tahun yang lalu aku mengenal seorang perempuah paruh baya. Dia berpenyakitan yang hampir saja membunuhnya. Sebelah tubuhnya lumpuh. Lumpuh sebelah bagian badannya. Karena itulah mustahil baginya untuk bekerja seperti biasanya. Sendirian saja sehari-harinya, tuna-baca, asing terhadap sekitar, seluruh hidupnya telah dipasrahkannya padaNya. Dia mengimaniNya. Katanya dia mustahil bisa sembuh, karena itulah jadi buah bibir banyak orang di sekitarnya. Dengan segala yang demikian itu, baginya jadi sebuah keyakinan bahwa Tuhan yang Maha Kuasa sungguh mencintainya.

Suatu hari ada yang memedulikannya. Lelaki muda. (Ia, lelaki itu, juga tahu bahwa perempuan paruh baya itu bakal mati, tapi bukan itu melulu yang jadi kekuatirannya.) Ia merasa tertarik oleh keadaan perempuan itu. Dia tahu. Hal itulah yang tak pernah ia perkirakan sebelumnya. Ia ingin sekali berbagi tentang segala hal yang dideritanya: tiada lagi tempat bergantung, dan bagaimana kemudian ke depannya. Merasa bosankah dia? Tentu tidak.tak ada yang bicara padanya. Dia tersudut, seperti seekor anjing. Dia merasa putus-asa. Menurutnya lebih baik mati saja sekalian ketimbang menyusahkan yang lain.

Cekcok bisiknya seperti berebutan suatu hal. Lelaki muda itu mengerti. Meski, kiranya memang lebih baik mati saja ketimbang menyusahkan yang lain. Hanya satu hal yang terbukti: ia yakin dia takkan jadi beban siapapun. Dan tentu saja ia telah memberitahu perempuan itu—karena ia telah melihat tasbih itu: “Kamu masih punya Tuhan.” Itu benar. Tapi dia punya masalahnya sendiri. Jika dia kebetulan menghabiskan waktunya berdoa, jika matanya seakan mengalur kertas dinding, anaknya akan berkata: “Demikianlah, dia sedang berdoa lagi!”  “Kamu ngapain?” yang lain tanya. “Bukan urusanmu, yang jelas itu lancang.” Dan perempuan itu terdiam, membisu, menatap anaknya seperti meledek.

Lelaki muda itu mendengarkan seluruhnya dengan seksama, rasa sakit yang asing menyesak dadanya. Dan perempuan itu melanjutkan: “Dia akan tahu ketika sudah tua. Dia akan membutuhkannya pula.”

Pikirmu perempuan tua ini telah terbebas dari apapun kecuali Tuhan, tak tergoda oleh apapun, kesalihan yang tak-terbatas, demikian mudah diyakini bahwa yang masih tersisa hanyalah nilai cinta, yang berujung pada kepasrahan seorang lelaki terhada Tuhan. Tapi jika cinta dalam hidup dilahirkan-ulang, Tuhan tak berdaya ketimbang kehendak manusia.

Mereka duduk mengitari meja makan. Lelaki muda itu diundang makan malam. Perempuan tua tak makan sebab sulit mencerna makanan di malam hari. Dia memojok saja, duduk di belakang lelaki muda yang tengah mendengarkannya. Dan karena merasa ia sedang diperhatikan ia tak dapat makan banyak. Meski begitu, makannya tetap berlangsung. Mereka memutuskan untuk melanjutkan acara dengan pergi ke bioskop. Sebab, saat itu, ada film lucu minggu itu. Ia telah dengan bahagia diterima, tanpa kira orang yang berada di belakangnya.

Tetamu sudah beranjak dari meja dan hendak mencuci tangan sebelum pulang. Tentu saja tak ada pertanyaan mengenai perempuan itu. Bahkan meski dia telah setengah-lumpuh, dia tak terlalu peduli mengerti atau tidak-nya film itu. Dia tak suka filmnya, katanya. Nyatanya dia tak mengerti sama sekali. Bagaimanapun, dia berada di pojok, asyik-masyuk dengan butiran tasbihnya. Demikianlah dia dengan segala keyakinannya. Tiga hal yang selalu di dekatnya yang telah menjadikannya begitu dekat dengan Tuhan. Selain tasbih, patung Kristus, atau Santo Yusuf, yang sangat keterlaluan, di kedalaman yang gelap itulah dia menempatkan segala pengharapannya.

Tiap orang telah siap. Mereka mendekat kemudian menciumnya dan mengucapkan selamat malam. Dia telah menyadari yang tengah terjadi kemudian mencengkeram kuat tasbih di tangannya. Tapi tampak jelas semagangat itu sebagai keputus-asaan. Semua orang sudah menciumnya. Hanya lelaki muda itu saja tersisa. Telah dinyatakannya rasa cintanya dengan jabatan tangan dan ia telah berbalik pulang. Tapi dia melihatnya sebagai seuatu yang mengesankan dengan kepergiannya itu. dia tal ingin sendirian. Dia pernah merasakan kesendirian yang menakutkan, lama, tanpa tidur, keakraban dengan dengan Tuhan yang membikinnya frustasi. Dia takut, hanya bisa mengandalkan seorang lelaki, dan, melekatkannya pada seorang lelaki yang telah menyatakan perhatian padanya, memegang tangannya, menggenggamnya, berteimakasih padanya dengan penuh desakan justifikasinya. Lelaki muda itu merasa malu. Yang lain mengajaknya untuk bergegas segera. Film itu dimulai pukul sembilan dan lebih baik tiba lebih awal sehingga tak perlu mengantri.

Ia merasa dihadapkan pada penderitaan yang mengerikan yang pernah dialaminya: bahwa penyakit perempuan tua itu bakal menjadi tontonan dalam hidupnya. Ia ingin meninggalkannya, tak ingin tahu, mencoba untuk menutupinya. Untuk sementara, ia merasa benci yang terlalu pada perempuan itu, dan hampir saja menempelengnya.

Akhirnya dia memutuskan untuk pergi, sementara yang sakit, bangkit dari kursi rodanya, menatapnya menakutkan suatu yang memastikan dan kian menjauh, menyamar. Kini tak sesiapa pun melindunginya. Dan, tak berdaya menjelang mati, dia sendiri tak tahu apa sebenarnya yang menakutinya, tapi dia merasa tak ingin sendiri. Tuhan tak berguna baginya. Semua yang dilakukan lelaki itu menjauhkannya dari orang-orang dan membuatnya sendirian. Dia tak ingin tak ada orang. Maka menangislah dia.

Yang lain sudah berada di jalanan. Erat sangat lelaki muda itu digenggam tangannya. Ia tengadah menatap jendela yang benderang, terawang mata kosong di rumah sepi itu. matanya terpejam. Anak perempuan itu berkata padanya: “Dia selalu memadamkan lampu ketika dia sendirian. Dia suka duduk di kegelapan.”

Lelaki tua mengeryitkan dahinya dengan penuh kemenangan, menjentikkan telunjuknya: “Ketika aku muda,” katanya, “ayahku biasa memberiku lima franc seminggu sebagai uang jajan hingga hari Sabtu harus masih tersisa. Ya, aku harus menabung. Terutama, ketika aku menjumpai tunanganku, aku berjalan sejauh empat mil melewati perkampungan dan kembali berjalan pulang. Kini dengarkan aku, anak-anak muda sekarang tak tahu cara memperlakukan diri mereka sendiri.” Tiga lelaki muda duduk mengelilingi meja bundar bersama lelaki tua yang satu ini. Diceritakannya petualangan-petualangan remehnya—aksi-aksi kekanakan yang berlebihan, tentang kemalasan yang dianggapnya kemenangan. Tak kunjung berhenti ceritanya, dan, dengan tergesa-gesa menceritakan segala hal sebelum ditinggalkan semua orang, menyebut-sebut dirinya pada masa lalu seperti hendak memesonakan mereka. Tujuannya supaya orang-orang mendengarkannya: dienyahkannyalah kilasan ironi dan olok-olok orang lain padanya. Lelaki muda itu menemukan padanya seperti layaknya seekor burung saja yang pada hari itu segala mengagumkan, tatkala menurutnya dirinya menghargai yang lebih tua darinya yang memiliki pengalaman lebih. Tak tahulah bahwa pengalaman adalah sebuah kekalahan dan kita mesti kehilangan segalanya agar dapat memperoleh sedikit pengetahuan. Ia menderita. Ia tak pernah mengungkapkannya. Lebih baik terlihat bahagia. Dan jika ia salah, ia bahkan lebih bersalah lagi untuk mencoba orang lain bersimpati padanya. Derita apakah yang dialami seorang lelaki tua ketika hidup telah merengut segalanya? Ia bicara dan terus bicara, dan perhatian orang-orang semakin berkurang. Lelaki tua itu tak lagi lucu, lelaki tua itu memang tua. Dan para lelaki muda laksana bilyar dan kartu, yang mempersetankan kedunguan dengan keseharian mereka.  

Segera setelah itu ia sendiri, meskipun ia berusaha dan kebohongan yang disampaikannya demikian meriah. Tanpa usaha untuk meluangkan perasaan-perasaaannya, mereka pergi. Ia sendirian lagi. Tak lagi didengar: itukah hal yang paling menakutkan ketika menua. Ia menolak diam dan sendirian. Ia diberitahu bahwa ia segera mati. Dan seorang lelaki tua yang akan mati tidaklah berguna; bahkan teramat memelukan. Lepaskan. Harus bebas. Atau, setidaknya, paling tidak diamlah. Ia menderita, karena segera setelah berhenti bicara disadarinyalah ia telah tua. Namun ia belum bangkit dan beranjak, tersenyum ke sekelilingnya. Tapi wajah-wajah mereka terlihat berbeda atau terlihat kegirangan yang tak lumrah karena ketidak berhakannya bercerita. Seorang lelaki tertawa: “Ia tua, aku tak menyangkalnya, tapi kadang-kadang masakan yang enak dibikin dalam periuk tua.” Yang lain, bahkan lebih serius: “Begitulah, kita tak kaya tapi kita makan enak. Lihat cucuku kini, dia makan lebih banyak ketimbang ayahnya. Ayahnya paling sepon roti, sedang dia dua! Dan kau bisa melapisinya dangan saus dan keju perancis. Dan kadang ketika selesai makan dikatakannya: ‘Han, han!’ dan terus saja makan.” Lelaki tua beringsut. Dengan langkah pelannya, pendek-pendek seperti keledai berbelok, ia berjalan melewati kerumuna prang-orang di trotoar yang panjang. Ia merasa sakit dan tak ingin pulang. Biasanya ia cukup senang pulang mendatangi meja dan lampu minyaknya, makan di piring menggunakan jari-jarinya. Ia masih suka makan malam-malam dalam keheningan, dengan perempuan tua itu di hadapannya, mengunyah dengan makanan penuh di mulutnya, dengan kepala kosong, mata mengantuk. Malam ini, ia pulang larut. Makan malam mungkin sudah terhidang dan dingin, istrinya menunggu di ranjang, tak lagi mengkhawatirinya sebab sudah seringkali pulang larut tanpa diharapkan. Dia akan berkata: “Ia di bulan lagi,” dan demikianlah.

Dia terus saja berjalan dengan langkah-langkah tenangnya. Dia tua dan sendirian. Ketika hidup sampai pada ujungnya, masa adalah gelombang kemuakan. Segalanya tak terdengar lagi. Dia berjalan, berbelok di ujung jalanan, tersandung, dan hamper saja jatuh. Aku melihatnya. Konyol, tapi mau apa coba? Maka, dia lebih senang di jalanan, lebih suenang berada di sana dari(pada) di rumah, hingga perempuan tua berkerudung lusuh memanggilnya kemudian mengurungnya di kamarnya. Kemudian, kadang-kadang pintu terbuka perlahan dan sedikit ternganga sejenak. Seorang lelaki masuk. Berpakaian setelan cerah. Dia duduk menghadap lelaki tua itu dan tak berkata apapun beberapa lama. Tanpa gerakan, layaknya pintu yang menganga tadi. Beberapa saat dibenahinya rambutnya dan dia mendesah ringan. Ketika telah lama diperhatikannya lelaki tua itu dengan kesedihan yang sama beratnya tampak dari matanya, dia meninggalkannya, diam-diam. Gerendel pintu mendeklik di belakannya, dia ketakutan, dengan sakit perut yang terlalu. Di jalanan luar sanan, sesedikit apapun orang-orang yang ditemuinya, dia tak pernah kesepian. Dia senang bernyanyi. Dia berjalan agak lebih cepat: besok segalanya akan berbeda, besok. Tiba-tiba dia menyadari bahwa besok akan sama saja, setelah besoknya, bahkan hari-hari berikutnya. Dan dia terhenyak dengan kepatah-arangannya itu. Hal itulah yang membunuh seseorang. Orang-orang bunuh diri karena tak tahan akan sesuatu—atau, jika masih muda, mereka membuat epigram.   

Tua, marah, mabuk tak seorang pun tahu. Kehendaknya menjadi akhir, berair-mata dan dikagumi. Dia akan khusnul khatimah, demikian adanya, dia akan terluka. Akan jadi pelipur laranya. Selain itu, akan ke mana dia? Dia selalu merasa tua sekarang. Lelaki memang tumbuh di usia tua. Mereka mencoba menyerah, dikepung keputus-asaan, kemalasan yang tak tertahankan. Mereka ingin jadi mandor sehingga bisa pensiun untuk tinggal di pedesaan. Tapi sekali saja mereka baikan bertahun-tahun, harus didengankannyalah suoaya percaya akan hidupnya. Jalan lebih kelam dan lebih kosong kini. Masih ada bebunyian di sana.      

Perlukah kugambarkan sisi lain yang menyenangkan? Dengan yakinnya, dalam ruang gelap dan kotor, perempuan tua itu mengatur meja. Ketika makan malam terhidang dia duduk, melirik jam dinding, menunggu agak lama, kemudian mulai makan dengan seksama. Dia bergumam: “Ia di bulan.” Mungkin begitu.

Ada lima orang tinggal di sana: sang nenek, anak lelakinya, anak perempuannya, dan dua cucunya. Anak lelakinya agak dungu; anak perempuannya, cacat, menyulitkan; dan dua cucunya, seorang bekerja di perusahaan asuransi sementara yang satunya lagi masih bersekolah. Di usia enam puluh, neneknya masih mendominasi orang-orang itu. di atas ranjang terlihat fotonya ketika berusia lima tahun, berbaju hitam berkalungkan medali di lehernya, tiada kerutan di wajahnya. Dengan mata besarnya yang jernih, postur tubuhnya yang besar tampak melebihi usia yang disebutkan tadi, tapi kadang-kadang tak ketahuan jika dia pergi.

Mata jernihnya itulah yang menyimpan kenangan cucunya yang tetap saja membikinnya tersipu. Perempuan tua itu akan menunggu seandainya para pengunjung bertanya, menatapnya dengan kesungguhan, “Siapa yang benar-benar kau sukai? Ibumu atau nenekmu?” Permainan akan lebih baik dengan kehadiran anak perempuannya. Karena jawabnya: “Nenekku,” dengan, dalam hatinya, gelora cintanya bagi sang ibunya. Kemudian, ketika para tetamu terkejut dengan hal iut, sang ibu pun berkata: “Karena neneknyalah yang membesarkannya.”

Juga karena perempuan tua itu mengira bahwa cinta adalah suatu tuntutan. Pengetahuan yang dia sendiri pernah menjadikan cinta sebagai sesuatu yang kaku dan intoleran. Dia tak pernah menipu suaminya, dan sudah melahirkan Sembilan anak. Setelah kematiannya, di mendewasakan keluarganya dengan penuh semangat. Dengan sedikit peninggalan sebagai warisan, hingga mereka tua, mereka menjadi yang miskin di kota pinggiran itu.

Dan tentu saja perempuan ini tak kekurangan kualitas. Kepada cucu-cucunya, yang sedang tumbuh, dia hanya bisa menutup-nutupi hal itu. Seorang paman mereka telah memberitahu sebuah cerita penting: ia pergi mengunjungi ibu mertuanya, dan dari luar terlihat ibunya itu sedang bermenung di jendela. Tapi dia membukakan pintu meski tangannya berdebu kemudian meminta maaf karena mesti mengerjakan banyak hal sehingga hanya sedikit waktu yang dipunyainya. Harus diakui bahwa itu lumrah. Sebagaimana seharusnya terlelap setelah sebentar bercengkrama dengan keluarga. Dia menderita sakit hati pula. Tapi tak ditunjukkannya rasa sakitnya itu. diam-diam dimuntahkannya ke dalam tempat sampah di dapur. Lalu dia kembali ke ruang tengah, pucat, matanya berair, pamit kepada tiap orang untuk masuk kamar lebih dulu sebab mesti mempersiapkan makanan untuk seisi rumah: “Aku melakukan segalanya di sini.” Atau katanya lagi: “Aku tak tahu akan bagaimana tanpa aku.”

Anak-anak itu belajar mengacuhkan muntahan-muntahanya itu, “serangannya” sebagaimana katanya, adalah keluhannya. Suatu hari dia masuk kamar dan meminta seorang dokter. Anak-anaknya mengabulkannya untuk menyenangkan hatinya. Pada hari pertama dia mengalami sakit perut, hari berikutnya kanker hati, di hari ketiga penyakit kuningnya kian menguatirkan. Tapi anaknya yang paling muda bersikeras bahwa itu adalah hal lain, yang lebih mutakhir, dan tak ada keprihatinan nampak. Perempuan ini telah terlalu mengganggunya karena awal yang pesimstik. Dan taka da semacam keberanian yang sangat sebagai kejelasan dan penolakan cinta. Hari terakhir, anak-anaknya mengerubutinya, dia mulai memuntahkan semua isi perutnya. Dia melengos dan dengan enteng berkata pada cucunya: “Lihatlah,” katanya, “aku kentut seperti babi kecil.” Satu jam kemudian mati.

Karena cucunyalah, disadarinya bahwa ia tak mengerti yang sedang terjadi. Ia tak dapat menerima kenyataan bahwa telah disaksikannya keadaan seorang perempuan yang paling menakutkan dalam sepanjang hidupnya. Dan jika ia tanyakan pada dirinya sendiri apakah dirasanya dukacita, tak kunjung ditemukannya jua. Hanya pada hari pemakaman, karena riuh-rendah bunyi tangis, dia turut menangis, tapi dia tak ingin bermuka dua kemudian menceritakan kebohongannya pada hari kehadirannya itu. Ketika itu musim dingin yang cerah, sinar matahari terik. Di langit biru yang pucat, terasalah dingin saling berkelipan menguning. Pekuburan itu melandai, dan terlihatlah dari situ pancaran matahari di tepian pantai yang menggigil bercahaya, laksana bibir yang lembab. 

Tak seorang pun layak bersama? Betapa kiranya! Seorang perempuan yang ditinggalkan menonton, dan lelaki tua yang berhenti didengarkan, kematian yang tak menebus apapun, kemudian, pada sisi lain, seluruh sinar dunia. Apa yang akan membedakan dengan semua ini? Inilah tiga tujuan itu, berbeda sekaligus sama. Kematian bagi kita semua, tapi kematian pun bagi setiap kita. Bagaimanapun, matahari masih menghangati kita.






==================
Albert Camus adalah seorang filsuf, penulis, dan jurnalis Prancis, yang lahir pada 7 November 1913 Dan meninggal 4 Januari 1960. Dia dianugerahi Hadiah Nobel Sastra 1957 pada usia 44 tahun, menjadikannya penerima termuda kedua dalam sejarah. Dia menulis beberapa karya yang terkenal seperti Orang Asing, Sampar, Mitos Sisifus, Jatuh, dan Pemberontak. Esai ini diterjemahkan Dari bukunya yang berjudul “Lyrical and Critical Essays” karya Albert Camus (Vintage Books, 1970).

Acep Utsman Arifin lahir dan tumbuh di Bandung; alumnus Fakultas Satra Universitas Padjadjaran; selain menulis juga menerjemah karya-karya ber-Basa Sunda, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Beberapa karya berupa puisi, cerpen dan esai dipublikasikan di beberapa media. Buku Kumpulan Puisi pertamanya bertajuk “Ibadah Semut” (2016).

Alessandro dan Sepasang Mata Sayu

0

BIASANYA ia membunuh pebisnis atau lawan politik yang cukup diperhitungkan di sebuah negara bagian. Paling tidak seorang pemberontak yang amat membahayakan keberlangsungan negara. Namun, kali ini lain. Politikus itu hanya memintanya membunuh seorang pria murung bermata sayu.

Alessandro tidak perlu menceritakan dengan detil bagaimana ia harus bertindak. Di Altoona tindak kejahatan di ruang publik hampir tidak pernah ada. Bila malam hari jalanan bersih tanpa orang-orang mabuk atau perampas tas wanita. Wajar jika seandainya terdapat peristiwa pembunuhan akan menghebohkan seantero kota yang di negara bagian Pennsylvania itu.

Bagaimana bisa kejahatan luar biasa itu menimpa di wilayah ini? Begitu kira-kira yang akan ada di benak penduduk usai pembunuhan terjadi. Surat kabar, televisi, dan radio akan gencar menyiarkan kasus pembunuhan keji itu. Kepolisian setempat sibuk memecahkan kasus. Para aktivis turun ke jalan menenangkan warga yang panik. Khawatir peristiwa itu akan terulang kembali.

Sudah lima target yang ia hilangkan nyawanya. Semua berada di luar Altoona. Target berikutnya berada dalam satu negara bagian Pennsylvania, yaitu pria murung bermata sayu yang kedengarannya tidak perlu teknik khusus untuk membunuhnya. Tentu akan menjadi pengalaman menarik dalam perjalanan karier Alessandro.

Sebenarnya ia tidak benar-benar ingin menjadi seorang pembunuh. Ia bekerja serabutan, dari pelayan restoran hingga bekerja di barber shop. Namun, ketika usianya dua puluh, ia memutuskan menjadi pembunuh bayaran.

Keterampilannya membidik rusa atau babi hutan menjadi modal utama membunuh seseorang. Tentu, ia butuh uang. Namun, uang bukanlah tujuan utamanya. Bara yang tersimpan di dalam dada Alessandro terus-menerus tersulut hingga sulit untuk dipadamkan. Hasrat untuk membunuh saban hari berkilat-kilat dalam dadanya. Semua tidak terlepas dari Rico, adiknya yang mengkhianati kepercayaannya.

Musim gugur sedang berlangsung, kala itu. Dedaunan rontok dari pohon dan embun beku muncul di permukaan rumput setiap pagi. Saat itulah senapan angin mulai dibersihkan. Perlengkapan berburu disiapkan. Musim perburuan telah tiba. Seperti Halloween dan Thanksgiving, pemburuan menjadi bagian tradisi musim gugur yang penting untuk banyak warga Pennsylvania. Alessandro bertaruh dengan Rico, berburu menangkap anjing hutan atau rusa untuk dipersembahkan di hari ulang tahun ayahnya.

Mereka melewati pepohonan pinus, semak belukar, hingga menyeberangi danau berlintah. Mulanya, Alessandro hendak mengakhiri pertaruhan ketika ditemukannya babi hutan tengah keluar sarang untuk mencari pasangan. Matanya awas menamati gerak sang babi hutan. Namun, ketika hendak menekan pelatuk senapan angin, tetiba kehadiran Rico mengagetkan sang babi hutan. Babi hutan menyadari sedang diintai sebelum sempat tembakan Alessandro mengenai bagian tubuhnya.

Hingga malam menjelang, tidak ada satu pun yang berhasil mendapat hewan buruan. Mereka beristirahat di bawah ceruk gua untuk menghalau dingin. “Tidak ada yang memenangi pertaruhan ini,” kata Rico, ia merapatkan kedua tangan di depan jaket tebal yang dikenakannya.

“Parade musim gugur baru dimulai. Kita masih bisa bertaruh lagi,” balas Alessandro menghangatkan telapak tangannya di atas api unggun.

“Tidak ada yang patut dipertaruhkan. Aku tidak kuat lagi. Kau akan menjadi pecundang bila tetap mengajakku melanjutkan pertandingan ini.” Bibir Rico membiru. Bintik-bintik cokelat muncul di bawah matanya yang kuyu.

Alessandro melihat adiknya penuh iba. Satu tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket, berlanjut ke saku sebelahnya lagi. Tidak ditemukan apa-apa di sana. Perbekalannya telah habis. Tidak ada sesuatu yang bisa dimakan untuk mengganjal perut malam itu.

Alessandro melihat wajah Rico dari dekat hingga tersisa satu jengkal. Ia menatapnya tajam, mencari jawaban atas kekhawatirannya dengan kondisi adiknya itu. Melihat dadanya yang naik-turun pelan dan merasakan denyut jantungnya yang melambat. Beberapa buah setengah busuk telah berhasil ia dapatkan. Alessandro terdiam sesaat. Rico membuka mata. Tubuhnya bangkit, sampai-sampai hampir membentur dahi kakaknya.

Tetiba wajahnya semringah. “Lihat itu, Ale! Aku telah memenangkan pertaruhan.” Telunjuk Rico mengarahkan tatapan Alessandro berpindah pada seekor rusa dalam keadaan terikat di sebatang pohon.

Ia membuang napas kasar. Rongga dadanya tengah disulut api. “Kau curang!” tiba-tiba Alessandro bangkit sambil mengangkat senapan anginnya.

“Tidak ada yang curang, Ale. Kau sendiri yang bodoh!” Rico tidak mau kalah. Tanpa membuang waktu, Rico langsung menghunuskan belati ke arah dada kiri Alessandro. Tidak kena. Alessandro lebih dulu menangkis gerak tangan adiknya dan melempar belati ke sembarang arah. Alessandro mulai kalap. Ia arahkan senapan anginnya ke dada Rico. Rico menyentak ingin meraih, segera dibalas dengan tekanan pelatuk senapan angin di depan dadanya,  menyalak, dan seketika meremukkan tulang rusuk Rico. Ia sekarat.

Di ujung kematiannya, Rico sempat berkata, “Kau tidak akan pernah menang dariku, Ale.” Sorot matanya berkilat janggal dengan napas tersengal-sengal sebelum akhirnya tewas.

Sedari kecil Rico selalu memenangkan apapun itu. Ayahnya mewariskan banyak bisnis kepadanya, mulai dari bar, penggelapan dana beberapa politikus, hingga penjualan senjata terlarang. Sementara Alessandro hanya diamanahi mengurus perkebunan anggur saja.

Di mata Alessandro, pria itu bukanlah ayahnya lagi. Selepas itu Alessandro tidak menetap di Pennsylvania. Ia tiba di sebuah kota di lereng Timur Pegunungan Allegheny bernama Altoona. Di kota padat penduduk itu, gereja tua terbengkalai di sudut kota disulap menjadi rumah hunian sebagai tempat tinggal Alessandro.

***

KEMARIN malam seorang politikus terkemuka mengajaknya berbincang di bar sambil menikmati wine di awal musim gugur. Ia meminta Alessandro membunuh pria murung yang dalam foto buram sedang duduk di meja bundar seperti sedang melakukan transaksi tersembunyi. Tidak jelas bagaimana bentuk wajahnya. Potret itu telah rusak oleh bercak hitam lelehan tinta. Politikus itu hanya menunjukkan pria mana yang harus dihabisi oleh Alessandro.

“Apakah dia orang yang berbahaya?” tanya Alessandro sambil memutar foto, mengamati garis figur sekaligus memikirkan cara terbaik untuk membunuhnya.

“Jika kau melihatnya dengan kacamata awam, kau hanya akan mendapati pria murung bermata sayu semata. Tapi, jika kau melihat dari sorot matanya, kau akan mengetahui kejahatan apa yang telah ia perbuat. Dia tidak sebodoh yang kau kira. Berhati-hatilah!”

Sang politikus menceritakan siapa pria murung itu. Kisah dari politikus itu sulit diterima akal, namun Alessandro tetap tenang mendengar takzim. Alessandro menyanggupi pekerjaan itu kendati target kali ini bukan orang sembarangan.

Untuk memuluskan niatnya, Alessandro menunggu malam tiba. Ia hanya butuh kegelapan menyuruk-nyuruk ke kota itu sehingga ia leluasa menyusup rumah sasaran. Selongsong senjata api beserta kain penutup kepala ia persiapkan dengan teratur. Alessandro bersiap keluar. Ia nyalakan rokok lalu mengisapnya dalam-dalam sebelum mengambil jaket wol yang terserak di lantai. Alessandro mulai melajukan mobil membelah jalanan bersalju keluar dari Kota Altoona.

Alessandro tiba di sebuah rumah sesuai alamat yang diberikan politikus itu. Malam itu target sedang duduk menghadap jendela buram dengan salju yang menebal dan Alessandro telah berdiri di belakangnya tanpa ia sadari. Pria itu sedang mengelap senapan. Cahaya lampu temaram menyorot kepalanya yang pelontos dan tampak licin berminyak. Pria itu belum beranjak dari kursi rodanya meski uap panas dari tungku perapian yang terletak tepat di samping kirinya mulai ganas mencumbui kulit.

Sebagaimana kata politikus itu, sang pria murung memang gemar berburu. Terbukti dengan caranya mengelap penuh kehati-hatian. Alessandro tidak membekali diri dengan suatu apa, kecuali senjata api yang biasa ia gunakan dalam menjalankan misi.

Alessandro mengamati gerak-gerik target. Tidak ada tanda-tanda pria itu orang yang berbahaya. Ia sedikit gemetar, sebab barangkali dia orang baik, dan tidak masuk akal rasanya ia membunuh seseorang yang hari-harinya sudah dibunuh dengan kemurungan. Namun, tidak ada perasaan iba dalam hati seorang pembunuh. Sebagaimana ia pernah iba kepada Rico, justru kebaikannya dibalas dengan sebuah pengkhianatan yang amat keji.

Saat kesempatan terbuka lebar, tanpa membuang waktu, Alessandro melangkah mendekati pria itu untuk mengedor batok kepalanya dari dekat. Mula-mula Alessandro berjalan menuju perapian dengan penuh kehati-hatian. Dipelankan langkah dan dirapatkan tangan agar bayangan tubuhnya tidak memantul dari unggun itu.

Tiba-tiba saja pria itu menoleh dan memutar kursi rodanya. Sial! Belum pernah Alessandro sekaget itu, sampai ia mematung sejenak dengan senjata api masih menodong ke arah pria itu. Mereka saling menatap pada menit-menit singkat. Ia tidak berniat beranjak atau sedikit menggeser kursi rodanya menjauh dari unggun. Pria murung bermata sayu dengan senyum pahitnya, senyum yang menyerah pada kemungkinan yang mungkin bakal terjadi. Dugaan sang pria murung meleset. Alessandro tidak menekan pelatuk senjatanya. Ia hanya mematung, dan tetap mematung.

Dalam benak Alessandro dirinya tidak melihat kejahatan demi kejahatan dalam bisnis dari sorot mata itu sebagaimana dikisahkan sang politikus. Lebih dari itu, ia hanya melihat pria murung dengan sepasang mata sayu yang sedikit pun tidak pantas untuk dimaafkan atau sekadar diajak bicara.

Pikiran Alessandro tidak karuan. Namun, ia tetap mendekat dan makin dekat dengan sang pria murung bermata sayu. Sekitar empat langkah, telunjuk Alessandro ancang-ancang menekan pelatuk. Lalu, cahaya berkilat-kilat menyilaukan mata. Sesaat kemudian, suara berondongan senjata api memekak-mekak di kota itu.

Yogyakarta, Maret 2022




===============
Finka Novitasari, perempuan kelahiran Pacitan yang kebetulan sedang menempuh pendidikan di Universitas Alma Ata, Yogyakarta. Beberapa karyanya telah dimuat di media cetak maupun daring. Aktif dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) dan Kelas Menulis Daring (KMD) elipsis.

Terbaru

Sopir Bus yang Bercita-cita Menjadi Tuhan

CERITA ini adalah tentang kisah seorang sopir bus yang tidak akan pernah mau membukakan pintunya untuk mereka yang terlambat. Tidak untuk siapa...

Segala Rupa Kehilangan

Dari Redaksi