Cerpen

Home Cerpen

Hari Senin, Mereka akan Saling Menghabisi

0

1

HARI Senin dia akan mendatangi Dumasari ke rumahnya. Pada Minggu pagi Oloan berpamitan ke Langkat. Seperti biasa, Oloan akan menghabiskan satu pekan di Langkat. Pekerjaannya di perkebunan sawit akan menyita seluruh perhatiannya. Oloan bercerita perusahaan di Langkat mengalami kerugian. Oloan menduga ada korupsi dalam internal manajemen. Dalam hati dia mensyukuri hal itu, menganggapnya sebagai bukti bahwa Tuhan telah mengabulkan doanya agar memberi peringatan keras terhadap Oloan yang akhir-akhir ini semakin tak mensyukuri segala sesuatunya.

Rotua, orang yang disuruhnya memata-matai perempuan itu, sudah memberi tahu di mana persis rumah Dumasari. Oloan membelikan rumah itu untuk Dumasari tahun 2021 lalu, dua bulan sebelum mereka memutuskan menikah. Rumah itu terletak di Padang Sidimpuan, dia tahu persis alamat itu. Salamah, salah seorang kawannya sewaktu kuliah, tinggal satu daerah dengan Dumasari. Dia bisa berpura-pura bertamu ke rumah Salamah untuk melihat rumah Dumasari.

“Perempuan itu sedang hamil,” kata Rotua.

Dia sudah tahu soal kehamilan Dumasari dari Oloan. Pertama kali mendengarnya, dia merasa nyawanya bagai ditarik dari ubun-ubunnya secara paksa. Rasa sakitnya luar biasa sampai ke ujung jari-jari kakinya. Tapi dia tidak menangis. Tidak di hadapan Oloan. Di pelukan ibunya, dia meraung-raung bagai kesurupan. Ibunya ikut menangis, ayahnya emosi. Namun, kedua orang tuanya tak bisa berbuat apa-apa.

Oloan bukan orang lain. Tanpa pernikahan pun, Oloan masih saudara sepupunya. Ibu Oloan adalah adik kandung ayahnya. Anak gadis dari saudara laki-laki boleh dinikahi oleh anak laki-laki dari saudara perempuan. Adat membenarkannya dan menyebut hubungan itu sebagai pariban. Tapi, pernikahan itu boleh juga tidak terjadi jika kedua belah pihak bersepakat. Cuma, ayahnya menginginkan pernikahannya dengan Oloan, dan ibu Oloan berharap agar dia bersedia menjadi istri Oloan. Dia menolak, Oloan pun tidak setuju. Tapi, ibu Oloan memaksakan kehendak karena hanya dengan cara itu Oloan akan berpikir untuk menikah, sementara usianya sudah layak untuk berumah tangga.

Dia bilang kepada orang tuanya, bahwa dia akan mengajukan gugatan cerai. Ayahnya melarang karena hal itu akan merusak hubungan keluarga. Ibunya membantah, menilai ayahnya telah bersikap tidak adik terhadap anak mereka. Ayahnya bergeming dengan keputusan, menyuruhnya agar menerima kenyataan itu sambil berkata: “Kenapa pulak kau tidak bisa hamil.”

Ucapan ayah menyakitinya. Hubungannya dengan ayah menjadi renggang. Dia putuskan untuk tidak lagi mengadukan apapun persoalan keluarganya bersama Oloan. Dia akan menghadapi sendiri persoalan itu. Dia akan mencarikan solusinya. Dia pun terpikir untuk mendatangi Dumasari. Sebelum niat itu diwujudkan, dia menyuruh Rotua untuk mencari tahu semua hal tentang Dumasari.

Rotua bilang Dumasari tidak cantik, jauh lebih cantik dirinya. Demi Tuhan, mata Oloan sudah rabun. Dia pernah mengatakan hal itu kepada Oloan. “Kalau ingin menikah dan punya anak, carilah perempuan yang lebih dalam segala hal dibandingkan aku,” katanya.

“Aku hanya membutuhkan anak, dan kau tidak bisa memberikannya kepadaku,” kata Oloan.

Ucapan itu bagai ribuan tombak dihunjamkan ke jantungnya. Dia ingin marah, ingin mencakar wajah Oloan. Tapi, dia bisa menahan diri, dan berpikir bahwa semua laki-laki sama saja. Dia begitu tenang. Sangat tenang untuk seorang perempuan yang akan dimadu oleh suaminya.

“Kalau aku, pasti sudah kubunuh perempuan itu,” kata Lasmaria, kawan akrabnya, orang kepada siapa dia selalu mencurahkan isi hatinya sejak masih gadis. “Kenapa tidak kasih pelajaran perempuan itu?”

Dia tidak terpancing untuk mengumbar emosi. Dia berusaha memberi kesan, bahwa dia tabah menghadapi persoalan itu. Lasmaria justru tambah emosi melihat sikapnya yang begitu tenang, lalu menawarkan diri untuk memberi pelajaran kepada Dumasari.

“Kau hanya akan menambah persoalan,” katanya.

“Kenapa di dunia ini ada perempuan yang tega menghancurkan rumah tangga orang lain.”

Dia mencoba tersenyum. Senyum itu bermakna, bahwa dia tidak akan membagi persoalannya kepada siapa pun. Semua orang akan membuat emosinya teraduk-aduk. Semua orang akan menganggapnya bodoh. Semua orang akan menyalahkannya. Makanya, dia putuskan menyelesaikan sendiri persoalan itu, dan dia harus bertemu Dumasari.

2

DIA pilih hari Senin mendatangi rumah Naulinai karena pada hari itu tak ada Oloan. Oloan, malaikat pelindungnya, berangkat tugas di luar kota. Tanpa Oloan, perempuan tua yang sakit-sakitan dan tidak bisa hamil itu hanya seonggok daging tua dan nyaris membusuk oleh bibit penyakit yang menggerogoti tubuhnya dari dalam. Dia akan leluasa memperlakukan daging itu tanpa perlu mengkhawatirkan apapun.

Naulinai masih istri Oloan, meskipun dia dan Oloan sudah resmi sebagai suami-istri sejak enam bulan lalu. Dia mendesak Oloan agar segera melembagakan hubungan mereka. Awalnya Oloan tak langsung menyanggupi, memintanya agar lebih sabar. “Aku ceraikan dulu Naulinia, barulah kita menikah,” kata Oloan.

Dia memberi tenggat waktu satu bulan agar Oloan segera menyelesaikan proses perceraiannya dengan Naulinia.

“Dua bulan,” kata Oloan “Tidak mudah untuk bercerai.”

“Tidak ada yang sulit kalau kau pakai uang.”

“Itu tidak adil bagi Naulinia.”

“Kau pikir situasi seperti sekarang adil bagiku?” Dia bergeming dengan tenggat waktu pertama. Oloan akhirnya menurut seperti yang dia harapkan. Tapi dia tahu, Oloan tetap tidak yakin sanggup menceraikan istrinya itu. Ketidakyakinan Oloan itu membuat dia ragu pada kemampuan Oloan membuat keputusan.

Sebelum satu bulan, dia berubah pikiran dan mendesak Oloan agar segera menikahinya. Oloan merasa tertekan. Dia justru semakin menekan. “Aku hanya butuh status.” katanya. “Kita menikah dan kau jadi suamiku.”

Oloan akhirnya menyerah. Mereka menikah secara sederhana, tapi dengan catatan dia tetap mengizinkan Oloan bertemu dengan Naulinai. Dia setuju, tapi hatinya menolak. Bagaimana bisa berbagi suami? Dia tidak bisa. Oloan hanya untuk dirinya.

Makanya, Senin dia akan mendatangi Naulinai ke rumahnya. Dia sudah mengirim Rotua untuk memata-matai kebiasaan Naulinai. Rotua awalnya bekerja untuk Naulinai, tapi dia berhasil meyakinkan Rotua agar bekerja untuknya. Dia janjikan kepada Rotua, bila dia sukses dalam menjalankan tugas, nanti akan dia rekomendasikan kepada Oloan agar Rotua bekerja pada salah satu perusahaan milik Oloan.

Rotua tidak pernah ditawarkan seperti itu oleh Naulinai. Dia membayangkan akan mendapat pekerjaan yang bagus, dan dia memilih mengkhianati Naulinai.

“Hari Senin biasanya Naulinai sendirian di rumah,” kata Rotua.

“Kau yakin?”

“Apa yang akan kau lakukan kepadanya?”

“Dia satu-satunya penghalangku untuk menjadi istri Oloan.”

“Oloan sudah menikahimu. Oloan juga sudah membelikan rumah untukmu. Kau tak perlu lagi mengkhawatirkan Oloan. Kau sudah mengandung anak Oloan, satu hal yang tak bisa diberikan Naulinai.”

“Aku harus menyingkirkan Naulinai.”

“Bagaimana caramu….?”

“Selalui ada cara.” Dia diam, berpikir tentang cara menyingkirkan Naulinai. “Aku bisa memakai caramu.”

“Tidak. Aku tidak mau terlibat soal seperti itu.”

“Kau sudah terlibat.” Dia tertawa. “Sejak awal kau sudah terlibat.”

3

Dia sedang membaca laporan hasil audit perusahaan dan menemukan angka-angka yang tidak logis pada table-tabel. Ada banyak pengeluaran yang sebetulnya tidak diketahuinya sebagai pemilik perusahaan, dan ini meyakinkannya bahwa telah terjadi penyalahgunaan keuangan perusahaan. Dia mencoret bagian-bagian yang tidak logis itu dengan tinta merah. Tangannya gemetar menahan emosi. Dia ingin meledakkan emosinya, tapi dia tahankan sambil terus membaca laporan itu.

Telepon selulernya yang ditaruh di atas meja, bergetar. Di layar muncul nomor seseorang. Dia tak perduli, tapi suara telepon seluler itu memecahkan konsentrasinya. Ketika telepon itu kembali meandering, dia mengangkatnya.

Seseorang di seberang mengaku bernama Rotua dan menjelaskan kepadanya bahwa istrinya, Naulinai dan Dumasari, akan saling menghabisi pada hari Senin. “Kau harus mencegahnya sebelum mereka saling bunuh.”

“Saling menghabisi bagaimana maksudmu?”

“Saling membunuh.”

“Jangan mengada-ada! Aku bisa melaporkanmu ke polisi.”

“Aku hanya mengingatkan. Aku tak ingin kau menyesal nantinya.”

“Menyesal!?”

“Salah seorang di antara mereka akan ada yang terluka, atau malah mati,” kata Rotua. “Siapa pun orang itu, dampaknya pasti akan menyulitkan hidupmu.”

Sambungan telepon ditutup. Dia berteriak-teriak memanggil. Tentu saja tidak ada jawaban. Dia membanting teleponnya dengan kesal. Dia merasa sedang dikerjai, dan dia melupakan ucapan orang itu. Dia kembali membaca laporan audit keuangan itu, tapi konsentrasinya pecah karena memikirkan bagaimana jika orang yang menelepon itu benar soal Naulinai dan Dumasari yang akan saling bunuh. Dia ragu, antara percaya dan tidak. Tapi, kemudian, dia melupakan semua sambil berkata kepada dirinya: “Aku harus menyelamatkan perusahaanku.”[]






=================
Budi P. Hatees lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, pada 3 Juni 1972. Menulis cerpen, puisi, esai, dan novel dan sebagian karyanya diterbitkan di berbagai media dan sejumlah buku.  Sehari-hari bekerja sebagai peneliti budaya, sosial, politik untuk Institute Sahata dan Tapanuli Database Center for Researd Culture and Social (Tapanuli Database).

Katakan, Siapa yang Telah Mencuri Harta Ini?

0

TIBA-TIBA saja ia terbangun, mendapati dirinya rebah dalam tumpukan barang-barang yang kian menggunung. Ia mulai tidak mengenali dirinya sendiri, tiap kali ia bangun, pusing lagi-lagi menerpa kepalanya. Benarkah ia seorang pencuri? Selalu terbit tanya-tanya seperti itu. Lalu mengapa? Ia harus bagaimana?

Kian pagi, terus terpikir olehnya, dari matari terbit, berlalu menanjak tepat menusuk ubun, hingga kembali lagi menuju pembaringannya. Ia mencoba mengulik siapa yang telah mencuri barang-barang itu lalu membenamkan harta tersebut dalam rumahnya—sebenar-benarnya ia yakin benar bahwa bukan dirinya yang mencuri. Tetapi, mau bagaimanapun, tiada yang mengetahui, begitu pula dirinya sendiri. Ia gugu. Tak tahu harus bicara dengan siapa untuk menceritakan peristiwa ini.

Rumah tersebut cukup besar jikalau hanya berisi dirinya. Maka dari itu, ia beroleh seorang saudara jauh yang numpang menginap—yang telah lama menumpang dan tak jua kembali, bahkan setelah beranjak dewasa. Dan, satu orang pembantu pula yang mengurus kesehari-harian dua orang pemuda tersebut. Mereka hidup damai, tenteram, sentosa. Tak perlu jerih payah pergi membeli keperluan sehari-hari di kota. Ya, mereka benar-benar manja.

Terpikir, suatu kali, ia ingin bertanya mengenai harta yang tertimbun di kamar pada saudaranya. Baru sekilas, dan saudaranya yang satu itu mendekap dirinya sendiri erat, kian erat.

“Engkau tak apa?”

Ia yang tadinya hanya bingung itu jadi kian bingung, tidak hanya tentang harta, tetapi juga mengenai saudaranya yang seperti akan gila.

“Aku melihatnya! Aku melihatnya merangkak melewati pintu kamarku. Ia membawa sesuatu, aku tak tau itu. Apakah itu kau, Kakakku?” Dilihatnya saudaranya yang penakut itu, tangannya mengepal dan berjalan merangkak mengentak-entak ubin kamar. “Aku begitu mengenal langkah kakimu, langkahmu lembut dan mengalun pelan seperti tidak mengapak di bumi. Namun, langkah sosok yang kulihat itu begitu kuat, ia menghantam lantai-lantai itu dengan empat kaki. Akankah pijakan itu menangis dibuatnya? Ya, aku selalu mendengar derak-derak tangis lantai itu bersahutan. Tolong selamatkan aku, tolong!”

Ia mendekap saudaranya yang penakut itu. Ditenangkannya sebentar, lalu beranjak pergi tanpa memberi solusi. Berat, sungguh, berat rasanya melihat saudara kecilnya bertingkah selayaknya orang gila. Benarkah ada hantu? Hantu itu pula kah yang mencuri harta-harta lalu menimbun di dalam kamarnya? Ia tafakur, meratapi saudaranya—lebih dalam lagi pada harta-harta itu. Milik siapa saja ini? Adakah hakku untuk memiliki semua ini, batinnya. Ia masih gugu, tak dapat berbicara dengan siapa-siapa, begitu jua dengan saudaranya.

Hari berlalu lagi. Monoton. Namun, satu yang berubah akhir-akhir ini, harta-harta itu seakan bertumbuh dan semakin sesak memenuhi kamarnya. Ia agak bingung kala merebahkan badan, kadang terlelap di kasur, kadang terlelap di atas lapisan kain sutra—yang tak kita tahu dari mana asalnya.

Pembantu itu tak tahu-menahu, ia hanya membereskan kamar tanpa bertanya-tanya. Kadang terpikir olehnya bahwa orang tua Tuan majikannya sebelum meninggal mewariskan harta kekayaan yang memang sebanyak ini. Lagi pula ia takut kelewat batas ketika bertanya-tanya. Pernah sekali ia begitu penasaran, lalu berujar, “Tuan, apakah tuan tidak pekak mendengar gemerincing perhiasan ini berjatuhan tiap hari, bukankah menyakitkan mata pula melihat kilau keemasan terlalu pagi?” Sembari ia meraba-raba perhiasan tersebut. Dan, Tuannya pula tahu benar apa yang diinginkan seorang pengasuh tua yang tiap harinya dijemukan rasa kenyang dan pelipur dahaga bagi dua orang pemuda yang manja. Tuan—ia, pemuda yang sering bingung itu—memberikan beberapa perhiasan selagi pembantu itu menengadahkan tangan kepadanya—lagi pula ia tak benar-benar tahu dari mana semua ini berasal, apakah memang dari warisan Bapaknya atau bagaimana? Lagi-lagi, terlalu banyak teka-teki untuk persoalan sepele seperti ini.

Namun, keesokan hari, seisi kampung tetiba ramai. Kampung geger sebab tersiar berita barang-barang berharga warga hilang entah ke mana. Terjawab olehnya bahwa harta tersebut bukanlah warisan Bapaknya dan persoalan harta ini, sedikit demi sedikit tidak lagi menjadi persoalan yang sepele. Mereka—dua bersaudara itu—memang jarang pergi ke luar rumah, dan memang berkemungkinan warga tidak perduli sama sekali dengan mereka. Namun, sesekali para pemuda ini juga disinggung, meskipun ada pula yang menepisnya, “Lagi pula orang tuanya itu orang kaya,” ujar seorang tetua kampung yang juga kehilangan mesin tik antiknya.

Namun, tak pelak lagi, pemuda itu—Tuan muda itu—tumbuh ketakutan pada dirinya dan ia tersadar hanya seorang yang mengetahui akan hal ini, ya, pembantu itu.

Memang pada dasarnya, tabiat pembantu itu tak ada beda dari biasanya. Ia menyapu, mengepel, menyiapkan makan dan keperluan sehari-hari lainnya. Tetapi, pembantu itu juga manusia dan tabiat manusia siapa yang tahu, batin pemuda itu. Dus, setiap hari terus ia pantau perkembangan sifat pembantu ini. Diintainya benar, adakah muncul benih-benih ketamakan pada wajahnya, adakah gelagat lidahnya akan membeberkan harta yang tertimbun di kamarnya pada warga. Ia curiga, pemuda itu benar-benar curiga.

Lalu, sebab pikiran keras dan kotor itu, ia jatuh sakit. Mau tidak mau, pembantu itu bakal semakin keras dan sering pula berada di dekatnya. Detik-detik pertama syukur merayapi wajahnya, lalu detik selanjutnya ia mulai tersadar bahwa sebab ia sakit, pembantu itu jadi sering menjajak kaki ke luar rumah. Alasannya memang benar-benar biasa, “Membeli obat buat Tuan Muda,” ujarnya. Dus, ia—pemuda itu—jadi berkeinginan keras agar ia sembuh lekas-lekas.

Namun, satu hal yang agak membingungkan ia. Tiap hari, kala terik tepat memanggang kepala, pembantu itu sering mendengar rumor-rumor mengenai Tuannya. Sering kali ia menemui tuduhan-tuduhan mengenai pencurian harta itu, sebab itu pula, ia agak canggung untuk berbicara dengan tetangga, takut kelewat cakap dan tanpa sengaja membeberkan semuanya. Pembantu itu diam, bingung harus berbuat apa. Ia hanya melangkah, beranjak dari tempatnya berdiri dengan pikiran yang melayang ke sana-ke mari. Bagaimana nasib Tuan Muda jikalau kubeberkan harta tersebut kepada warga, begitu pula sebaliknya.

Lagi, ia menemui Tuan Mudanya dalam keadaan layu, tubuhnya menyusut di antara tumpukan kain sutra—yang entah sudah berapa tebal melapisi kasurnya.

“Mereka bilang Tuan pencuri.” Sembari tangannya gemetar menyuapi obat kepada Tuannya, tetapi mulut itu bergeming tak terbuka.

Pembantu itu mengistirahatkan tangannya, ia mengerti bahwa pemuda itu lebih tertarik akan rumor ini dari pada sesuap obat yang mungkin saja berisi racun di dalamnya.

“Lalu bagaimana?” gumam pemuda itu, sorot matanya menyiratkan api yang tak biasa, ada penasaran, ketakutan dan kemarahan bersembunyi di baliknya.

“Tetua bilang tak mungkin, sebab Tuan anak orang kaya, kakek Tuan pula bekas tuan tanah.”

Akhirnya pemuda itu menganga jua, ditenggaknya habis obat itu, cepat sekali. Pembantu itu yakin benar sudah ditelan bulat sirup itu, ditatapnya benar jakun Tuan Mudanya yang turun naik. Pemuda itu bingung, mengapa ia lekat menatapnya, lama mereka beradu tatap. Lalu pemuda itu berucap, “Kau tak bilang mengenai harta ini?”

Pembantu itu hanya menggelengkan kepala, lalu melanjutkan ceritanya, “Tapi orang bilang mungkin saja. Tuan Muda ini feodal orangnya, kata mereka, mungkin saja Tuan sudah gila harta dan kalap mata.”

Pemuda itu diam, pembantu itu jua. Ia tak ingin bilang bahwa seorang dari mereka—yang perhiasannya hilang entah ke mana—mengira bahwa kalung yang ia kenakan sekarang adalah miliknya. Mulutnya malu berucap, takut benar bahwa harta ini memang warisan dari orang tua tuannya.

“Bisa kau rahasiakan ini?” ucap pemuda itu, lalu pemuda itu memejamkan matanya perlahan. Ia tak tahu, tetiba terasa panas pada tubuhnya. Tenggorokannya terasa kering, diperas sehabis-habisnya. Badannya megap-megap, menggapai udara yang tak jua masuk-masuk ke paru-parunya. Dan, pada tarikan nafas penghabisan, wajahnya menatap nanar pembantu itu. Wajahnya menjadi dua, tidak, tiga, dan bahkan semakin banyak. Pembantu itu siapa?

Segurat senyum melukis wajahnya—wajah pembantu itu. Ia tak sadar ia sedang diintai jua, ia tak sadar ada dua orang pemuda. Pembantu itu berbalik, lalu mereka bertatap muka. Pemuda itu tak lagi ketakutan, terjawab sudah persoalannya, “Ya, kaulah hantu itu.” Dan, tubuhnya menyusut pula perlahan, telah tiada kesadaran dari kepala hingga kaki. Namun, mata yang telah mati itu lekat menatap sebuah sosok, sangat gelap, menggelapi bayang-bayang pada matanya dan berjalan kokoh, merangkak mendekatinya dengan empat kaki.

Banjarmasin, 13 Oktober 2021




==============
Muhammad Rifki lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 5 April 2000. Kini sedang menempuh pendidikan sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Lambung Mangkurat.

Lima Belas Tahun Banua

0
© Muhary Wahyu Nurba

KELUARGA ini adalah keluarga neraka. Katanya kami adalah bangsawan-bangsawan terhormat. Tapi, semua hanya penampakan saja. Tak lebih. Pemuja-pemuja setan di rumah ini telah merenggut semuanya. Kupikir nyawa Ayah juga tak lama lagi akan ditumbalkan oleh dirinya sendiri, ketika persyaratan dan aturan itu perlahan-lahan bertambah banyak dan menekan dirinya. Ya, kami adalah keluarga yang dipandang terhormat karena kami adalah pengikut Marpilapih.

Siapa pun tahu siapa itu Marpilapih. Para penyembah iblis nomor wahid di Bukit Sulap harus terikat dengannya—karena konon dialah iblis itu, tak terkecuali bagi kami, jin-jin yang hidup tak jauh berbeda dengan manusia. Kami memiliki apa-apa yang dimiliki makhluk yang tercipta paling sempurna tersebut. Kami memiliki daratan, sungai, gunung, rerumahan, hutan, istana, madrasah, tempat ibadah, dan masih banyak kelengkapan peradaban lainnya. Tapi sungguh, aku sudah tidak betah di negeri ini. Ingin rasanya aku pergi dari awang-awang yang menyeruput awan selatan Sumatera ini. Tapi aku selalu tak bisa, dan kerap dicerca sebagai makhluk yang tak tahu diri. Tak terima takdir dan tak bangga akan peradaban. Tak memiliki jiwa jinisme. Ah, dari mana mereka dapat istilah itu. Tak terlalu penting memang. Itu hanya bukti bahwa kami layaknya manusia-manusia Bumi.

Aku yakin, manusia juga punya Marpilapih, walaupun tak serupa benar dengan yang ada di entah berantah ini. Tapi entah mengapa, aku merasa ingin berada di Bumi. Aku pikir Marpilapih di sana tak sekejam di sini. Ah, aku merasa ini bukan ranahku. Aku benci Marpilapih di sini. Untuk apa ada aturan-aturan adat-budaya yang lebih mementingkan kehormatan kedaerahan daripada ketulusikhlasan dalam menjalankannya? Itu pun kehormatan yang dihormat-hormati sendiri. Tapi heran, mengapa orang memuja-muji darah biru kami, tanpa melihat kebat-kujut mati yang akan mencekik kehidupan kami.

* * *

ANAK perempuan bukan pewaris harta kerajaan. Anak raja atau orang-orang yang berbau kerajaan yang lahir tidak normal, di usia 15, dapat turun derajat menjadi abdi kerajaan—bahasa halus untuk pembantu, seorang pewaris kerajaan tidak boleh menikah dengan wanita yang lebih tua darinya kecuali untuk urusan mendapatkan anak laki-laki, dan setiap anak lelaki adalah pertanda baik dan kehormatan bagi keluarga kerajaan, karena ia adalah pewaris takhta.

Itulah Marpilapih, yang juga bisa menjelam jadi aturan-aturan yang mengebat-kujut kerajaan. Saat ini ia telah mencekik kehidupanku. Hanya menunggu waktu, aku akan menjadi gadis termalang di kampung besar ini. Kampung dengan raja kecil yang memahabesarkan dirinya.

Jelang usia 15 ini, aku lebih suka mengembara di hutan dekat kampung tetangga, mengintip musyawarah burung-burung di pelepah enau, menyaksikan tarian ular-ular sungai di dekat jeramba merbau, atau sekadar mendengar gemericik air yang menabrak bebatuan nan berlumut di Kelingi, sumber mata air yang menumbuk dasar dangkal alirannya.

Aku harus benar-benar memanfaatkan sisa-sisa waktu ini. Aku harus menikmati kebebasan sebelum menyongsong keterkungkungan sebagai pembantu di istana keluargaku sendiri. Paling tidak sebelum tiba-tiba aku memutuskan bunuh diri. Ya, sejujurnya, aku ingin bebas. Walaupun dengan cara memaksa ruhku meninggalkan jasad. Walaupun, mungkin, masuk neraka nantinya. Ah, aku juga mulai ragu apakah ada nian neraka-surga.

Aku tak pernah terharu sedikit pun mendengar rupa-rupa cerita tentang jasa-jasa kedua orangtua. Sedikit pun tidak. Biasa saja. Baik tentang seorang ibu maupun ayah.

Aku kerap memerhatikan bagaimana gadis-gadis kecil itu berharu-biru: saling bercerita tentang kebaikan ibunya yang selalu mendongeng menjelang tidur. Dan mereka tidur setelah sang ibu melahap berlembar-lembar halaman buku dongeng warisan buyut mereka. Aku yakin, sebenarnya mereka tidak benar-benar tertidur, alias berpura-pura, atau paling jauh mereka tidur-tidur ayam. Mereka melakukan itu semua bukan karena apa-apa. Mereka melakukannya karena turut merasakan bahwa perempuan yang berada di samping mereka saat itu sudah cukup parau suaranya, sudah berat jua matanya, dan sudah berbusa-busa mulutnya, memapas setiap kalimat yang mulai mengabur dari kitab cerita tersebut.

Calon-calon perempuan dewasa itu bercerita bahwa saat-saat terindah sebelum mati suri untuk melihat pagi adalah ketika sang ibu menyelimuti, membacakan doa tidur, dan mencium kening mereka dengan penuh perhatian, kasih sayang, dan cinta kasih yang dalam.

Mereka juga sering bercerita betapa ayah–masing-masing punya sebutan berbeda untuk laki-laki itu: papa, papi, daddy, bapak, pak e, apak, abah, atau sama sepertiku, ayah (ayah?! Puih!!)—memberikan perhatian besar terhadap batas ngaji, hafalan nama-nama rasul, kesehatan, bahkan sampai masalah yang tidak penting sedikitpun seperti kerapian pakaian, makan siang….

Ah aku masih belum yakin. Benarkah semua nyata adanya. Atau mereka berlomba-lomba menopengkan air muka, agar jangan tampak bahwa mereka keturunan Adam yang malang durja: hati yang meranggas dan kenyataan hidup yang masam, tiap malam mengepel lantai kamar yang memarun karena tetesan air mata merah. Darah. Mereka pasti tak terlalu berbeda denganku. Aku yakin itu ….

Walaupun Kek Guntur pernah menyuruhku untuk merenung beberapa kejap saja, aku tak bisa, lebih tepatnya aku tak mau mencoba. Untuk apa merenungi orang-orang yang tak menyisakan goresan emas dalam hidupku.

Ibu yang lebih tampak sebagai perempuan jejadian yang memakan masa hadapanku. Ayah yang lebih layak kupanggil lelaki serigala yang menggigit setiap bagian tubuhku hingga menyisakan jantungnya saja –sayang dia tak pernah melumatnya, hingga akhirnya aku hidup menggelambir amarah, dengan orang-orang liar yang bergelantungan di pantulan retinaku.

Aku sempat berpikir, tapi tak terlalu sungguh-sungguh. Mungkin karena aku tak pernah merasakan hal serupa, sehingga tiada gidikan haru, apalagi rinaian tangis, ketika Kek Guntur mengurai cerita tentang alangkah baiknya, alangkah tak terhingganya, dan alangkah mulianya jasa-jasa orangtua pada anak-anaknya.

Bagiku tak berorangtua adalah seribu kali lebih baik daripada berpunya. Ayahku diktator, suka main perempuan, sabung ayam, dan masih banyak lagi. Ia bangga dengan semuanya, karena ia satu-satunya pewaris tahta kerajaan yang masih dipegang kuat oleh penduduk yang sangat mengidam-idamkan menjadi bagian dari kedigdayaan palsu itu.

Ibuku juga setan. Ia telah menjerumuskanku dalam pelukan ayah, saat usiaku baru setara dengan jarum jam yang belum genap melintasi setiap angka penunjuk waktunya. Beberapa saat setelah aku lahir, ibu membawa dirinya entah kemana.

Aku lebih tersentuh ketika melihat Mak Anau saban sore melintasi pematang yang menghampar di kampung terpencil ini. Ketika mendapati tatapan senduku pada tubuh ringkihnya. Aku berpura-pura bersiul tanpa suara–bahkan seperti suara kentut yang tak sempurna, karena memang sejatinya aku tak bisa bersiul. Tapi tak selalu cara bodoh itu aku lakukan untuk menyembunyikan ketertangkapanku dari tatapannya. Lebih tepatnya, siulan abangan itu adalah cara yang refleks saja kulakukan apabila aku benar-benar mati gerak untuk berdalih.

Kadang aku memetik daun, mematah ranting lapuk, atau tiba-tiba mencium bebungaan, ketika masih sempat berpikir barang sejenak untuk bersandiwara dengan semua yang tiba-tiba kubisa. Tapi jujur, hati kecilku selalu berbisik bahwa perempuan itu pun sepertinya merasakan ketersentuhan yang serupa, sejak lama. Sejak aku pertamakali melihatnya– di mana sejak itu aku mulai tersentuh. Sejak aku mulai membodohi diri sendiri dengan siulan atau sandiwara rutinku. Mak Anau sudah tahu bahwa aku kerap memerhatikannya dengan perasaan terdalam hatiku. Tapi aku tak mau mengaku. Lagi pula untuk apa? Memangnya siapa dia?

Ya ya ya … aku benci semua serigala kecuali Kek Guntur. Aku juga benci semua jejalang kelamin kecuali Mak Anau. Menurutku, sebenarnya mereka berdua adalah pasangan yang paling sepinang bila berpadu. Ah, tak penting sekali pikiran itu.

* * *

AKU acapkali mendengar kalau masa muda adalah masa yang paling indah. Masa yang dimetafora para pujangga bak mawar yang sedang merekah. Namun bagiku, tampaknya ungkapan itu terlalu berlebihan. Itu tetaplah perumpamaan yang dipaksa-paksa indah di telinga. Semua hanya bunga-bunga kata, pengharum kebusukan kenyataan. Kalaupun aku memaksakan diri ’menjadi’ bunga, tiba-tiba saja pilihan untuk bermetamorfosa yang hadir di hadapanku adalah bunga tahi ayam, daun kentut, jelatang, ilalang berspinalus, atau miang yang berpadu dengan padi-padi menunduk.

“Ibumu memang wanita jalang. Jadi, kau tak mungkin berasal dari maniku. Aku normal, sehat, dan nyaris sempurna. Sedangkan kau, lahir dengan gigi jongor, bibir sumbing, mata juling, dan…ah kalau tak memikirkan Marpilapih, kau juga sudah kubuang jauh-jauh, Banua,” cerca Ayah saat usiaku sembilan tahun.

Saat itu, aku hanya bisa mencangkung di sudut bilik rumah kami yang dipenuhi pusaka dan barang antik dari Cordova dan China. Aku tak bergerak sedikitpun, mataku hanya menggapai-gapai Bi Inah, Mang Jali, dan Mbok Maryam yang mematung di balik gorden batik. Aku tak meminta bantuan mereka, aku hanya berharap mereka segera pergi, karena siluet tubuh mereka terlukis jelas di sana. Ah, aku terlambat. Ayah mendapati mereka. Tak lama, kudengar erangan minta ampun, capikan cambuk, cipakan tangan menampar, dan sumpah serapah khas serigala manusia—bukan manusia serigala.

“Ayah bisa melanggar Marpilapih, ‘kan?” tanyaku tepat di usiaku yang keempat belas, satu tahun yang lalu.

”Siapa yang mengurus kau?”

“Aku sendiri!”

“Ya, Banua, kini kau bisa berayat. Dulu, bagaimana kira-kira rupamu. Kau hanya bisa mengoek. Kau tak lebih dari onggokan daging anyir berdarah-berdarah dengan gerak yang sangat terbatas…”

Darahku mendidih.

“…dan saat itu, ibumu pergi jauh,”

Kutatap matanya hingga menembus bulatan hitam di dalamnya.

“Kau lupa ya, kalau aku keturunan raja. Melanggar Marpilapih, sama saja membunuh semua pengikutku, jin-jin abdi kerajaan.”

* * *

AKU benar-benar sumringah hari ini. Seperti masuk surga rasanya ketika Kek Guntur tiba-tiba bercerita malam tadi, “Ayahmu beristri tujuh, Banua. Ketujuh-tujuhnya melahirkan anak perempuan. Kalau tidak salah ada 16. Dan engkau adalah anak yang ke-16. Kakak-kakakmu sudah meninggal. Tak perlu kuurai cerita tentang itu. Nanti kau juga tahu. Atau kalau tak tahu, aku yakin kau cukup pintar menebak kekejian-kekejian marpliapih pada darah ayahmu. Kau tahu ayahmu bingung siapa yang akan mewarisi tahta kerajaan ketika semuanya perempuan. Kau tahu seperti apa Marpilapih mengazab para penganut dan orang-orang di sekitar penganut itu, bukan?”

Aku mengangguk ragu.

“Jangan hanya mengangguk, Banua. Kau tak cukup hebat dalam berkira-kira.”

Aku diam.

“Kau hanya memaksakan diri untuk mempercayai kata-kataku barusan, kan?”

Aku tetap diam.

“Tapi, Banua, aku juga tidak mengajakmu untuk tidak mempercayai Marpilapih. Awalnya aku juga tak begitu percaya. Tapi ternyata semuanya jelas terbentang terbentang. Azab, karma, dan hukuman-hukuman itu jelas menimpa pada sesiapa. Termasuk pada kami, manusia yang, entah mengapa, harus terbiasa hidup berdampingan dengan jin serupa kalian. Rupanya alam tak membatasi, namun justru menyatukan, dan membawa kami dalam derita yang berkepanjangan,” Kek guntur berhenti sejenak, mengelus rambutku. Aku merasa damai. “Semua nyata, Banua. Sampai istri keenam, semuanya meninggal tanpa sebab yang jelas.”

Aku mengerutkan kening.

“Dan topan, gempa bumi, puting beliung, banjir, longsor, bahkan sengatan halilintar beberapa kali menewaskan, membumihanguskan, memorakporandakan, bahkan memusnahkan  manusia dan tetek bengek peradaban kampung ini.”

 Aku masih khusyuk mendengar, berharap Kek Guntur segera menyambungnya.

“Kau tahu ibumu, Banua?”

“Jalang!”

“Apa lagi?”

“Lacur!”

“Apa lagi?!”

“Katakan sajalah, Kek, apa yang ingin Kakek tahu. Atau jangan-jangan Kakek lebih tahu dariku.” Aku mulai kesal.

Kek Guntur tersenyum.

Aku menatapnya dalam.

“Saat kau lahir tak normal, ayahmu kalap. Diusirnya ibumu dari kerajaan,”

“Dari mana Kakek mengetahuinya?”

Kek guntur tersenyum lagi.

“Bukannya Ibu yang meninggalkanku?” tanyaku seakan-akan menganggap pernyataan pertamanya adalah sebuah kebenaran yang sudah bisa kuterima.

“Kau harus belajar banyak mengaitkan sifat dan tabiat seseorang dengan keabsahan ucapannya, Banua.”

“Jadi Ayah berbohong?”

“Marpilapih tak mengatur perihal itu, kan? Apalagi yang berkoar-bingar itu seorang raja antah berantah,” Kek Guntur menyeringai.

Hening.

“Banua.”

Aku mendongak.

….

“Mak Anau adalah ibumu!”

Aku matikata.

“Ayahmu dapat wangsit untuk menikahi wanita yang dua puluh tahun lebih tua darinya agar dia berketurunan bujang. Tapi apa lacur, Mak Anau hanya melahirkan anak perempuan yang…”

* * *

AKU membuka wajah di balik kafan itu untuk yang keduakalinya. Ah Mak Anau, karena Marpilapih kau sampai seperti ini. Penduduk terlalu bodoh untuk melawan ayah. Mereka masih berusaha mempercayai bahwa Mak Anau mati karena ketuaan. Padahal ketika Kek Guntur tiba-tiba menghilang setelah menceritakan cerita surga padaku beberapa hari yang lalu, aku sudah cukup yakin bahwa ibuku ini akan bernasib sama. Walaupun ia seorang diri terbaring di alun-alun kampung ini, tapi aku sudah yakin di belahan kampung lainnya, Kek Guntur telah terlebih dahulu melepas ruhnya.

“Mengapa selama ini diam-diam kau menemui manusia itu, hah?” Ayah sudah ada di dekatku. “Banua, kau selalu bertegur sapa dengan Guntur, hah?”

“Mengapa kau tak pernah bilang kalau Mak Anau ini ibuku?“ Aku mendengus. Tanganku mengelus-elus geraian uban Mak Anau.

“Untuk apa, heh?” Ayah menyeringai, “kau perlu tahu. Dia hanya tumbal bagi dirinya sendiri. Ibumu berpikir pendek. Ia bersekutu denganku, seorang petinggi jin yang juga sekutu setan yang jangan-jangan pula ada sekutu dengan iblis yang jangan-jangan pula ada sekutu dengan Dajjal yang jangan-jangan pula ada sekutu dengan Iprit. Puas kau?!”

“Tidak, kau yang mengusir ibuku!” aku bangkit.

“Ya! Aku mengusirnya. Ia ingin kaya dan ingin menetap barang sejenak di negeri ini, padahal perempuan tua itu sudah berlaki. Guntur itu pula lakinya!”

Aku tambah terperanjat. Kerongkonganku serasa disekat.

“Untuk apa terkejut?!”

“Jadi?” aku tergugu.

“Ya! Kau manusia sebenar-sebenar manusia. Bukan jin yang memanusiakan diri seperti kami yang terikat Marpilapih. Berotaklah. Hanya kau, Guntur, dan Anau itu yang bisa melihat kami, kan? Penduduk yang lain hanya sebatas mempercayai dari berbagai tanda dan gejala alam yang kami rakit!”

Aku meneguk air liur. Tak pernah kusangka silsilahku adalah orang-orang yang selama ini kuakrabi.

“Sudah pernah kukatakan, tak mungkin ada darahku pada ragamu, Banua. Terlebih lagi, bercerminlah di Sungai Kelingi. Kaubandingkan rupamu dengan rupaku. Tak ada sedikitpun kesamarupaan benang yang menjahit daging kita, bukan? Aku nyaris sempurna, bukan? Jadi, sekali lagi, kau bukan hasil hubungan gelapku dengan Mak Anau-mu, walaupun kami pernah berpuas-puas melakukan perbuatan binatang itu, ha ha ha ….”

Aku terpekur.

“Siap-siap jadi abdi kami. Abdi seumur hidup yang hanya akan berakhir ketika bumi menutup riwayatnya, Banua.”

O o, aku baru sadar, hari ini usiaku tepat 15 tahun. Aku harus segera pergi dan terjun ke Kelingi. Mungkin dengan itu aku dapat segera menjumpai Mak Anau dan Kek Guntur. Walaupun aku tak tahu, di mana tempatku nanti bila jantung ini telah remuk tertumbuk bebatuan di bawah jeramba merbau itu. Sungguh, aku tak kalah berharapnya akan masih diberi kesempatan bertemu dengan Munkar dan Nakir untuk menjelaskan semuanya. * * *

Ankara, 2022





=============
Benny Arnas menulis 27 buku.

Doa Ustaz Japar

0

ADA satu doa Ustaz Japar untuk dirinya sendiri yang belum dikabulkan. Tak ada orang lain yang tahu tentang ini, kecuali dia dan istrinya. Meski begitu, ia sudah dianggap sebagai jaminan terkabulnya keinginan siapa pun jika meminta didoakan olehnya. Entah sudah berapa banyak yang mempercayai itu, mulai dari pedagang kaki lima sampai pengusaha besar, bahkan tak sedikit tokoh partai yang kemudian menjadi elite politik atau pejabat kelas atas di pemerintahan. Nyaris mereka semua mempercayai doa Ustaz Japar memang makbul.

Entah bagaimana mulanya dia menjadi terkenal di kalangan para peminta doa itu. Yang jelas, dari sekian banyak orang itu datang karena rekomendasi dari kawannya, atau kawan dari kawannya, dan seterusya. Ada juga yang datang karena bisikan dalam mimpinya, yang hanya menggambarkan sebuah lokasi dan ciri-ciri sosok Ustaz Japar, tapi yang pasti mereka berhasil menemukan tempat tinggal sang ustaz.

Beberapa waktu setelah mereka datang untuk didoakan, mereka datang lagi dengan membawa hadiah atau sejumlah uang sebagai wujud terima kasih. Dan sebagian dari semua itu, Ustaz Japar berikan kepada panti asuhan atau panti sosial lainnya. Dia merasa, hadiah-hadiah dalam bentuk apa pun yang jika ia tumpuk-tumpuk tidak akan menjadi manfaat bagi perjalanan ruhaninya.

Namun, meski telah berhasil menolong sekian banyak orang dengan doanya, Ustaz sendiri merasa sedih. Ada satu doanya yang ia dawamkan sejak masih menjadi santri hingga ia punya dua anak belum juga dikabulkan. Ia memang kadang merasa doanya cukup agak terlalu berani kepada Sang Pencipta. Ia meminta diperlihatkan surga dan neraka sekaligus tempat dirinya di sisi-Nya, apakah langsung ke surga atau mampir dulu ke neraka. Ia sempat mengatakan doanya itu pada istrinya, tapi tak pernah mengatakan punya alasan pasti atas doanya itu. Istrinya tersenyum, tak menanggapi dengan antusias, dan hanya berkomentar “Abah berdoa kok ya aneh-aneh begitu”. Meski sudah merasa doanya memang aneh dan istrinya begitu, ia tetap yakin Sang Pencipta Maha Mengabulkan segala doa hamba-Nya. Ia pun terus mendawamkan doa khususnya itu.

Hingga di sebuah malam, suara pintu yang di ketuk berulang membuatnya terjaga dengan kepala terasa sedikit pusing. Ia menggeleng-geleng kecil untuk mengusir pusing itu. Dan sambil menutup mulutnya ia menguap, disusul dengan memohon ampunan Tuhan. Sesaat kemudian, sudut matanya melirik jam dinding dan mengetahui baru sekitar seperempat jam ia terlelap, lalu menggumam, pantas saja kepalaku pusing begini. Pandangannya kembali terarah ke jam dinding. Dari bibirnya mengalir lirih tanya penasaran. Siapa yang bertamu lewat tengah malam begini? Apakah seseorang yang sangat membutuhkan bantuan sehingga harus datang di malam yang sudah menginjak dini hari ini? Ataukah penjahat? Jika memang penjahat, bagaimana caranya mengelabui petugas keamanan perumahan yang sudah sangat pengalaman mengenali berbagai jenis karakter manusia itu?

Terdengar suara pintu diketuk lagi. Kali ini disertai salam. Suaranya khas laki-laki.

Ia ragu untuk menjawab salam itu, apalagi membuka pintu. Ia menimbang dan mencari cara terbaik mengetahui siapa tamu itu.

Terdengar ketukan di pintu dan disusul salam lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya, tapi suara salam tamu itu terdengar kalem, sama sekali bukan jenis suara kasar umumnya penjahat.

Baru saja ia mempercayai tamunya bukan penjahat, seketika itu juga terlintas dalam benaknya sebuah pertimbangan lain: pejabat yang tampak jujur, kalem, dan bertutur lembut pun nyatanya juga banyak yang sebenarnya adalah penjahat.

Sekali lagi terdengar salam dan pintu diketuk. Kali ini disusul sebuah panggilan. “Tolong, Ustaz, waktunya sudah semakin mendesak.”

Mendengar nada permintaan yang mengiba itu, ia tidak menimbang lebih dalam lagi, tapi tetap menjaga kewaspadaan dan kehati-hatian. Ia bangkit sambil menguap dan menutupkan tangannya ke mulut. Sekilas ia melirik istrinya yang tidur pulas sebelum ia beranjak membuka pintu kamar.

Ia berdoa lirih memohon perlindungan terbaik, jika tamunya ternyata seorang penjahat.

Namun, untuk berjaga terhadap kemungkinan buruk, ia menyiapkan pentungan dan bersiap terhadap serangan. Ia membuka pintu depan dengan hati-hati. Pintu terbuka sedikit dan tampaklah di hadapannya seorang lelaki jangkung berpakaian selayaknya santri berdiri sambil tersenyum. Senyum yang menandakan kebaikan. Ia merasa lega melihat itu. Embusan angin menguatkan aroma menenangkan dari sosok di hadapannya. Itu membuatnya berani meletakkan pentungan di samping pintu dan membukanya lebar-lebar.

Assalamu’alaikum, Ustaz. Selamat malam,” kata sang tamu.

Waalaikumsalam. Maaf, bolehkah saya tahu siapa Anda dan kelihatannya ada hal yang sangat mendesak sehingga menemui saya dini hari begini.”

Lelaki jangkung itu tersenyum. “Benar, Ustaz. Saya diutus untuk menjemput Anda. Dan kita harus berangkat saat ini juga.”

Ustaz merasa aneh. Seingatnya, ia tidak pernah membuat janji dengan siapa pun hari ini. “Maaf, saya tidak paham dengan kata berangkat yang Anda maksud. Siapakah yang mengutus Anda?”

“Ustaz tentu sangat ingat dengan permintaan Ustaz, bahkan mengulang-ulang setidaknya lima kali dalam sehari.”

Meski merasa aneh dengan jawaban tamunya, ia segera ingat dengan doanya yang memang ia ucapkan lima kali sehari. Hatinya perlahan berdebar antara senang dan khawatir. Ia menduga-duga mungkinkah sosok di hadapannya adalah malaikat. Ia sangat senang jika sosok itu benar malaikat. Tapi, ia tidak mau doanya dikabulkan jika caranya harus mati.

“Artinya saya harus mati?”

Sosok jangkung itu tersenyum. “Mari, Ustaz. Waktu kita semakin berkurang.”

“Maafkan aku, ya Allah. Tapi, aku tidak ingin doa itu dikabulkan jika caranya aku harus mati.”

Begitu kalimat itu selesai terucap, sosok jangkung itu bergerak cepat menjajari dan menyambar sang Ustaz seumpama kilat. Membawanya melesat.

Ustaz Japar merasakan dirinya dicengkeram dengan kuat dan sempat melihat sosok jangkung itu membawanya melesat sangat cepat melebihi kilat. Tak kuasa melihat dengan kecepatan tak terkatakan itu, ia pejamkan mata kuat-kuat. Bahkan, ia tak lagi bisa mengingat apa yang dirasakan tubuhnya selama melesat itu. Ia baru berani membuka mata setelah sosok jangkung memintanya membuka mata, “Kita sudah sampai, Ustaz”.

Perlahan dia membuka mata.

“Amati baik-baik yang tampak di sekitar Anda, Ustaz,” ujar sosok jangkung kemudian.

Ustaz Japar melangkah menyusuri jalan panjang yang tak tampak ujungnya sambil terus mengamamati sekitarnya dengan saksama. Setelah cukup lama mengamati, ia mengernyit bingung, karena di sepanjang perjalanannya ia tidak bisa memastikan apakah itu surga atau neraka. Ia tidak melihat api menyala-nyala, tidak melihat bidadari, atau sesuatu sebagai gambaran yang ia ketahui sebagai ciri-ciri surga atau neraka. Sebanyak yang ia amati, ia hanya melihat sangat banyak orang dengan kondisi memprihatinkan, sedangkan di sekitar orang-orang itu, agak ke bagian dalam, penuh dengan makanan berlatar gedung atau barang-barang mewah. Ia merasa getir dengan sikap orang-orang yang kecukupan itu terhadap mereka yang kondisinya memprihatinkan.

“Apakah ini surga atau neraka? Mengapa orang-orang kaya itu tak mau berbagi rezeki dengan orang-orang yang memprihatinkan itu?” akhirnya Ustaz Japar bertanya.

“Ustaz, bukan saya tidak mau mengatakan ini surga atau neraka. Tapi, tidakkah Ustaz melihat dengan baik siapa saja mereka itu? Tidak adakah satu atau dua orang yang Ustaz kenal atau ingat wajahnya?”

Ustaz Japar menatap sejenak sosok jangkung yang mendampinginya, kemudian memperhatikan lagi orang-orang di sepanjang tepi jalan itu dengan lebih saksama. Orang-orang yang terlewat dari pandangannya. Dan, akhirnya bisa mengenali sebagian dari mereka, terutama orang-orang yang tertawa-tawa di teras gedung mewah atau yang menghadapi makanan dan buah-buahan semeja penuh. Mereka itu yang pernah datang padanya dan meminta tolong untuk di doakan. Lalu, apa artinya semua ini? Ia bertanya dalam hati.

“Ustaz sudah mengenalinya?” suara sosok jangkung membuyarkan perenungannya.

“Ya. Mereka orang-orang yang meminta saya mendoakannya.”

“Doa apa saja, Ustaz?”

“Soal kekayaan dan jabatan atau keberhasilan karir mereka.”

“Sedangkan kepada orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang tepi jalan ini, apakah Ustaz tak mengenalinya?”

Ustaz Japar memperhatikan dengan lebih saksama lagi. Cukup lama. Namun, tak ada yang ia kenali. Ia menggeleng.

Sosok jangkung tersenyum. “Doa seperti apa yang Anda panjatkan untuk tamu Anda?”

“Doa yang sesuai permintaan mereka; saya memohon agar hajat mereka berhasil, diluaskan dan dilimpahkan rezeki mereka.”

“Dan doa Anda untuk mereka dikabulkan.”

Perkataan sosok jangkung itu mengingatkannya pada doanya sendiri. Dia mengangguk. “Tapi, doa saya untuk diperlihatkan surga dan neraka rasanya belum dikabulkan.”

“Seperti saya katakan tadi, surga dan neraka soal gampang. Apa yang Ustaz lihat di sini adalah buah doa Anda untuk mereka dan doa khusus Anda. Ingatlah baik-baik sikap orang-orang yang Anda kenali itu.”

Ustaz Japar merasa tidak paham dengan keterangan sosok jangkung yang kini berdiri di hadapannya. Ia ingin meminta penjelasan, tapi sosok jangkung mendahului berkata. “Ustaz, ada doa yang Ustaz lupakan untuk mereka. Dan itulah jawaban yang Ustaz tanyakan tadi. Renungkan baik-baik doa yang bagaimanakah itu. Sebab, itulah kunci dari permintaan akan posisi Anda di sisi-Nya kelak.”

Kata-kata sosok jangkung semakin membuat Ustaz Japar mengernyit. Namun, lagi-lagi ia tidak sempat meminta keterangan lebih lanjut. Begitu kalimat itu selesai terucap, sosok jangkung itu bergerak cepat menjajari dan menyambar sang Ustaz seumpama kilat. Membawanya melesat.

Ustaz Japar membuka mata perlahan setelah terasa hawa hangat menyisir kulitnya dan mencium aroma tak asing. Ia mendapati dirinya berada di kamar dalam kondisi duduk di tepi tempat tidur. Ia melihat istrinya masih pulas. Dan, ia melihat jam dinding menunjukkan sesaat lagi waktu subuh. Apa yang baru saja terjadi dapat ia ingat dengan jelas, tapi ia mencurigainya sebagai mimpi belaka meskipun aroma khas sosok jangkung masih menempel di bajunya. Ia bangkit untuk memastikan. Pintu depan masih terbuka dan terlihat sebuah pentungan tergeletak di dekatnya.

Ingatannya segera melesat pada kejadian yang dialaminya dengan sosok misterius tadi. Ia mengingat semuanya. Tiba-tiba ia terhenyak, membuat matanya terbelalak karena menyadari kekhilafannya: sebuah doa yang ia lupakan. “Jadi, mereka abai kepada orang-orang miskin itu karena ketidaklengkapan doaku?” lirihnya. Ia terduduk. Berulang kali memohon ampunan Tuhan.




===================
Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Sebuah Perjalanan Tanpa Waktu

0

PULUHAN kunang-kunang mengitari kepalanya. Sengat matahari dan tekanan udara menembus batok kepalanya. Kerongkongannya sangat kerontang, hingga ia sulit bersua barang sedikit saja. Titik-titik keringat bermunculan dari kulitnya. Peluh yang keluar tak sebanding dengan cairan yang masih tersimpan di tubuhnya. Ia sangat merindukan—bahkan membutuhkan air.

Mata lelah itu mencari-cari telaga yang diceritakan orang-orang berpakaian serba putih dan hijau sebelum keberangkatannya menuju perjalanan terakhirnya. Tetapi ia tidak melihat barang sedikit saja telaga jernih dan sejuk itu. Bahkan setetes air pun ia tidak mendapatkannya. Ia telah berjalan melewatkan waktu yang seolah tidak bergerak sedikit saja—sehingga meragukan bahwa waktu benar-benar ada atau tidak. Ia tidak mengetahui siang dan malam, sebab tidak pernah ditemukannya langit yang gelap nan sejuk, kecuali kegelapan yang sesekali menyergap pandangannya ketika ia ambruk kemudian tersadar kembali dengan dahaga yang jauh lebih mendera. Sejauh ia berjalan, matahari tak pernah berpaling dari tubuh ringkihnya. Ia seolah menjadi benda tata surya yang paling serakah dalam hal menyaksikan perjalanannya.

Nas menatap langit yang begitu menyilaukan. Matahari terasa begitu dekat, tepat di atas ubun-ubunnya. Kawanan burung berbulu hitam terbang melintasinya. Nas menghela nafas demikian berat menatap kawanan burung itu. Ia begitu iri melihatnya. Ia berpikir mengapa Tuhan tidak menjadikannya sebagai burung saja, agar ia dapat menuju suatu tempat begitu mudahnya. Andai ada kereta ekspres, atau mobil di tempat itu tentu akan mudah baginya untuk lekas sampai pada tempat terakhirnya. Ia juga akan sangat mudah menemukan telaga yang sering diceritakan banyak orang itu, terutama Syekhan dan kawanannya.

“Di telaga itu, jika kau meminum airnya, dahagamu akan benar-benar terobati. Bahkan kau tidak akan pernah merasa dahaga lagi kendatipun berjalan sangat jauh. Airnya begitu sejuk,” kata Syekhan dulu, ketika ia masih berada di perantauan.

“Apakah aku bisa ke sana?” tanyanya dengan nada meremehkan, seakan yang diucapkan Syekhan bualan belaka.

“Tentu. Semua orang dapat ke sana, Nas.”

Nas hanya mengangguk ragu. Pikirnya, bagaimana mungkin di tempat yang telah dipenuhi pencemaran fatal di muka bumi ini ada telaga seindah yang dikisahkan lelaki bertopi hijau itu. Sebuah telaga yang begitu jernih airnya, dan saking jernihnya dasarnya yang dalam terlihat jelas Serta memantulkan warna hijau zamrud. Jika pun Tuhan masih menyisakan tempat seperti itu di muka bumi yang telah dipenuhi limbah dan sampah mengerikan ini, pastilah hanya orang tertentu yang dapat mengunjunginya. Ada tiket yang harus dibayar mahal untuk ke sana.

Tempat itu pasti dijaga sangat ketat agar tidak sembarangan orang dapat mengunjunginya. Sebab ia yakin jika tempat seindah itu dapat dikunjungi semua orang, pastilah tempat itu tidak akan indah lagi. Tercemar dan rusak. Manusia adalah pengagum keindahan sekaligus perusaknya.

Ia tidak mengerti akan tingkah orang-orang seperti Syekhan  yang suka sekali berkhayal dan membual. Seolah surga dan neraka adalah miliknya, sehingga mereka begitu antusias membicarakan omong kososng itu. Kendati pun tidak masuk akal menurutnya, Nas tetap berupaya baik-baik saja, dan tidak menunjukkan pertentangan. Ia tetap berupaya menghargai perasan Syekan yang usianya jauh lebih tua darinya.

Tentang telaga itu, rupanya bukan ia saja yang mendengarnya dari Syekhan dan kawannya, melainkan kerabat dan keluarganya sendiri. Bahkan istri dan tiga anaknya memercayai bualan itu. Hal inilah yang membuat Nas murka.

“Mengapa kalian percaya? Mereka hanya pendongeng.”

“Benar, Pak. Aku pun tidak percaya akan adanya telaga itu. Syekhan terlalu mengada-ada,” timpal putra sulungnya.

“Syekhan tidak mungkin berbohong, Pak,” istrinya mulai angkat bicara ketika mendengar kata pendongeng.

Hampir saja ia menempeleng perempuan itu karena ucapannya. Namun kesadarannya masih utuh betul sehingga ia masih dapat menahannya. Namun dari gerakan dan raut wajahnya pun istrinya telah mengetahui bahwa ia marah. Sejak perdebatan itu, hubungan dengan keluarganya menjadi pecah dan berjarak. Bahkan perlahan-lahan istrinya meninggalkan ia.

“Syekhan yang terlihat suci itu telah merebut Ibu darimu, Pak.”

“Biarkan saja. Nanti pun ia akan merasakan akibatnya. Kesehatan akalnya telah hilang,” timpal Nas pada putra sulungnya.

Karena perpecahan dengan keluarganya, Nas jadi membenci Syekhan. Apalagi jika mendengar sesuatu tentang telaga hijau yang jernih dan ajaib airnya. Kisah itu selalu mengingatkannya akan luka perih ditinggalkan istri tercinta dan ketiga anak yang amat ia sayangi. Semua hanya karena Syekhan sialan itu.

Nas tersungkur. Tubuhnya berdebum menimpa tanah  kerontang. Air matanya mengalir menetesi tanah dan menguap begitu saja. Ia teringat Mar’ah dan anaknya. Pula telaga hijau nan sejuk itu. Ia menyesal mengapa dulu tak mempercayai kebenaran yang disampaikan Syekhan.

Seekor burung gagak hinggap di hadapannya, bertengger pada pohon yang kering dan tinggal ranting. Gagak itu menatapnya kasihan. Nas terlihat mengenaskan. Ia tengkurap di atas tanah panas berdebu.

“Apa telaga itu benar-benar ada?”

“Ya, ada dan sangat indah,” jawab gagak.

“Apa aku dapat ke sana?” suaranya yang semakin parau membuat gagak kasihan.

“Ya, tentu. Setelah berjalan sedikit lagi.” Gagak itu terbang meninggalkan seonggok tubuh yang lemah dibakar terik matahari.

Nas menatap tubuh gagak yang terus menjauh lalu menghilang. Ia membayangkan jika dirinya adalah burung itu. Ia memiliki sepasang sayap, yang dapat dikepakkan hingga membubung tinggi di angkasa. Menatap daratan yang gersang dengan pongah dan lekas menemukan telaga hijau itu. Mungkin saja dengan memiliki sayap,  ia telah berada di telaga itu dan menikmati keindahan serta kesejukannya bersama famili.

Tiba-tiba  ia ingat istri dan anak-anaknya lagi. Mereka sudah tentu berbahagia di telaga itu karena mempercayai Syekhan. Kecuali putra sulungnya. Ia  menangis dan membayangkan kemungkinan buruk apa yang menimpa sulungnya. Nar sama sepertinya, tidak mempercayai ucapan Syekhan dan menistakan lelaki itu. Pikirnya, barangkali putranya mengalami hal sama seperti ia. Atau mungkin lebih parah lagi. Ia rindu Nar yang selalu mendukungnya, meski pada akhirnya, Nar meninggalkan Nas lebih dulu dengan sejumlah pil penenang yang membuat Nar melayang dan menggigil kedinginan lalu pergi dari perantauan.

“Bangunlah Ayah.”

Suara anak bungsunya membuat ia mengerjap. Ia mencari arah suara itu, tetapi tidak ada siapa pun di sana kecuali langit yang terlalu silau dipandangi dan tanah yang memeluknya erat. Ia menghela nafas berat. Rasanya ingin mati, tetapi tidak bisa. Ia abadi hingga tempat tujuan akhir nanti. Susah dan perih itu pun abadi menyertai perjalanan Nas. Bahkan saat sedang terdiam pun masih terasa lelah sekan tidak ada istirahat baginya.

“Percayalah Nas, kau dapat ke sana. Kau hanya perlu air matamu.”

Suara lembut istrinya Membuat ia bangkit. Ia tidak pula melihat perempuan itu. Tetapi ia yakin suara itu suara istri dan anak bungsunya. Ia berjalan tertatih. Dalam benaknya tak henti memikirkan air mata yang dimaksud istrinya. Air mata seperti apa yang dapat memudahkan ia pergi ke telaga itu. Ia telah berkali-kali menangisi kepedihan dan penderitaannya dalam perjalanan tak berujung ini. Tetapi tak juga membuatnya dekat dengan telaga yang diceritakan Syekhan. Dulu ia tidak percaya dan kini ia sangat percaya meskipun tak pernah melihatnya. Barangkali lebih tepatnya ia memang berharap telaga itu ada agar ia dapat minum dan mengistirahatkan diri di sana.

Nas menyeka peluh yang bercucuran di dahinya. Ia tidak lagi mengukur jarak perjalanannya, sebab ia yakin perjalanan masih sangat panjang. Ia sudah lelah berkali-kali mengukur jarak langkahnya, yang tidak pula menemukan tempat perhentian yang sesungguhnya. Ia tidak akan menghitung tetes peluh yang terus mengucur dan mencari tempat berteduh. Ia terus berjalan dan merasakan lelahnya sendiri. Berkali-kali ambruk, ia bangkit lagi. Ia ingin menyerah tetapi tidak bisa.

Angin panas berembus menerpa kulitnya. Nas tidak merasakan kesejukan dari embusannya. Beberapa orang berlalu melewatinya tanpa memedulikan ia sama sekali. Ada yang berlalu begitu santainya tapi terlihat lebih cepat dari langkah Nas. Ada pula yang berlalu tergesa dan ada  yang berlalu dengan melesat begitu saja dengan keriangan di wajahnya. Nas hanya menatap orang-orang itu nanar. Ia tidak seperti mereka, entah apa sebabnya, ia tidak mengerti.

“Kita akan menempati suatu tempat indah dan akan abadi di sana. Hanya saja perlu banyak pengorbanan yang ikhlas untuk menempuh perjalanan ke sana,” kata Syekhan suatu senja, ketika Nas tak sengaja melihat Syekhan sedang bercerita di hadapan pengikutnya.

Dalam letih perjalanannya kini, ia melihat Mar’ah dan anak-anaknya sedang bercengkerama di sisi telaga yang hijau dan indah. Mereka berpakaian bersih dan rapi. Tidak sepertinya yang kusut dan lusuh. Bertapa akan bahagianya ia jika dapat berkumpul dengan mereka. Namun semua sudah terlambat baginya. Ia telah memilih perpisahan dahulu. Rindunya semakin tak tertahankan pada Mar’ah dan anaknya.

Tak terasa air mata telah membasahi pipi Nas. Setelah mimpi buruk yang terus menyiksanya, ia dihadapkan pada perjalanan menuju tempat akhir yang begitu menyiksanya.  Ia tersedu meratapi nasibnya sendiri. Ia terhuyung lalu bersimpuh entah pada apa. Ia ingin kembali ke perantauan untuk memperbaiki dirinya, mengumpulkan perbekalan yang cukup untuk perjalanan ini. Kini ia begitu lelah dan tersiksa tanpa bekal untuk melalui perjalanan yang bahkan jika waktu masih ada—tanpa memedulikan hilangnya malam—barangkali telah ratusan bahkan ribuan tahun Nas melalui perjalanan ini.

Nas bersujud. Ia ingin lekas mengakhiri perjalanannya. Ia sudah tidak tahan dengan terik matahari yang menyiksa dan dahaga yang kian mendera. Nas tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan tangis penyesalan yang dimaksud suara istrinya itu tak juga mengurangi deritanya.

“Sebutlah nama-Nya Nas. Pujilah Ia dan menangislah dengan mengucapkan panji-panji-Nya. Sebut pula nama Kekasih-Nya, Nas.” Suara yang datang tiba-tiba itu membuat Nas terdiam. Siapa yang harus dipujinya? Bahkan lidahnya begitu kelu untuk mengucap satu kata saja. Nas bergeming. Air matanya mengalir deras membasahi tangannya. Ia menangis dan menyesal telah berkhianat pada diri sendiri dan tak sedikit pun mengenal penciptanya ketika dirinya di perantauan dulu. Ia terlalu besar kepala dengan akal dan nafsunya sendiri. Nas hanya menangis. Hanya itu yang dapat dilalukannya. Tidak ada lagi yang lainnya.

Sukabumi, 2022






==================
Bia R lahir dan tinggal di Sukabumi. Beberapa cerpennya dibukukan dalam antologi bersama.

Surat Mawar Berduri kepada Bulbul

0

BULBUL kekasihku…

Senang rasanya mendapatkan kabar darimu. Tujuh purnama kau tidak mengirim surat. Betapa aku merindukanmu, dan rindu ini benar-benar tak mampu lagi diibaratkan; seperti isi suratmu yang terakhir.

Bulbul tali rinduku…

Berdosakah bila aku membayangkan memeluk tubuhmu, atau membayangkan paruhmu mematuk kelopakku? Sumpah Bulbul, sering sekali saat angin malam mengerubungi tubuhku, aku selalu tergoda membayangkanmu. Kadang pikiran-pikiran liar itu tak dapat aku bendung; ia muncul begitu saja. Apakah itu hanya semata sir belaka?

Bulbul daging-darahku…

Jika benar tubuhmu kini kurus tak berdaging karena memikirkanku, maka maafkanlah aku yang lemah ini. Sebenarnya kondisi tubuhku pun tak kalah parah seperti tubuhmu yang kau ceritakan. Aku nyaris layu bagai selembar kertas ditimpa hujan. Namun bila kuingat pertemuan kita malam itu, tubuhku mendadak bergetar. Aku merasakan sesuatu masukiku; memenuhiku. Tapi aku tak tahu itu apa. Yang aku tahu, aku kembali bertenaga setelahnya. Hanya saja hal itu tidak pernah berlangsung lama, sehingga mau-tidak mau aku harus kembali mengingat peristiwa pertemuan kita. Terbayangkah olehmu sekuntum bunga yang terus bertahan hanya lewat mengingat pertemuan dengan kekasihnya?

Kau boleh saja berpikir kalau aku sedang memelas, atau barangkali merayumu agar kau segera menjemputku. Tapi demi kelopak yang memahkotahiku, ceritaku ini sungguh benar adanya.

Bulbul tambatan hatiku…

Jujur aku sempat menduga, jangan-jangan kau telah bermain api pada kuntum bunga yang lain. Setiap malam kau berkasih-kasih dengannya sambil membacakan puisi-puisi cintamu yang menggetarkan. Sementara aku, dengan kesetiaan yang gila ini terus saja menunggumu; bersama debar-getar yang tak kalah gilanya.

Tetapi Bulbul, seperti janjiku malam itu, aku sungguh tak berkeberatan jika kau membagi hatimu pada kuntum bunga yang lain. Aku sebenar percaya dengan semua ucapanmu, kalau hatimu memang tercipta untuk bunga-bunga. Tapi sungguh, aku tidak terima bila kau melakukannya sembunyi-sembunyi. Betapa menyakitkan hatiku; itu senyata-nyata perbuatan yang merendahkan martabat.

Aku tidak ingin martabatmu direndahkan, Bulbul. Meskipun dengan mewujudkan mimpimu itu, kau pun pasti akan direndahkan; dicemooh burung-burung serta bunga-bunga yang tidak pernah tahu maksud-tujuanmu. Dan aku sungguh tidak terima bila yang merendahkan itu burung-burung lawan politikmu.

Perlu kau tahu Bulbul, walaupun aku jauh dari hiruk-pikuk kehidupan negeri burung, aku sesungguhnya masih mengikuti perkembangan negeri burung melalui seekor Capung yang rajin mondar-mandir ke negeri burung. Melaluinya, aku tahu negeri burung sedang didera persoalan ekonomi yang nyaris stadium 4. Hutang negeri burung semakin membengkak, sehingga kau pun terpaksa menaikkan pajak-pajak.

Aku pun mendengar kalau saat ini kau ditekan lawan-lawan politikmu serta burung-burung pemodal besar yang menyokongmu pada pemilihan kepala burung tempo hari. Jujur, aku juga heran mengapa mereka begitu kukuh memaksamu mengambil sikap terhadap perang antara Negeri Beruang Putih dengan Negeri Tupai Tanah—seperti ceritamu dalam surat. Padahal apa urgensimu dalam persoalan itu.

Namun yang paling membuat hatiku terbakar-marah, tak lain tentu saja soal cemooh lawan-lawan politikmu perihal niatmu yang ingin memiliki banyak bunga. Betapa dangkal dan penuh sentimen argumen-argumen mereka terhadap niatmu itu.

Tapi percayalah Bulbul, aku akan tetap mendukung semua ide-idemu, pikiran-pikiranmu, tanpa satu hal pun yang aku sanggah kebenarannya. Bagiku itulah wujud cinta: menyerah-pasrah tanpa berpikir. Sebab cinta yang didasari pikiran-pikiran (untung-rugi) adalah transaksi. Patutkah cinta disamakan dengan jual-beli?

Bulbul surga duniaku…

Sesungguhnya aku begitu prihatin pada persoalan ekonomi yang sedang melanda negeri burung. Kalau boleh aku berpendapat, itu semua karena sistem ekonomi yang dianut negeri burung begitu melenceng jauh dari fitrah. Ditambah keserakahan burung-burung pemodal besar di negeri burung yang sudah kelewat batas. Mereka tega merusak sumber daya alam negeri burung demi memenuhi hasrat duniawi yang tak pernah cukup; bagai meminum air laut. Dan semua semakin diperparah dengan sifat rakyat negeri burung sendiri yang ikut-ikutan serakah seperti para burung pemodal besar. Mereka sanggup mempermainkan timbangan, kualitas produk, harga, bahkan sampai berani menimbun barang-barang kebutuhan pokok.

Saranku segeralah kau ganti sistem ekonomi negeri burung. Kembalilah ke fitrah; mengoptimalkan sumber daya alam negeri burung yang kaya dan subur. Jangan terlampau berambisi mengikuti negeri-negeri lain yang sesungguhnya sedang menuju kehancuran. Kalau kau tak sanggup melakukan itu, maka lepaskan saja jabatanmu! Itu hanya akan membuatmu semakin sulit tidur.

Sadar atau tidak, Bulbul, kau pun sesungguhnya telah pula berlaku zalim kepada rakyat negeri burung bila terus memaksakan diri memimpin negeri burung. Biarkan saja burung-burung palsu itu yang melanjutkan jabatanmu. Toh mereka juga pasti akan jatuh tersungkur bila terus bertahan pada sistem yang melawan fitrah.

Soal perang yang sedang terjadi, Bulbul, aku pikir sebagai kepala suku negeri burung, kau harus tetap berada dalam posisi yang menentang perang. Apa pun tujuan sebuah perang, pastilah selalu meninggalkan luka kesedihan dan dendam. Namun ada satu hal yang perlu kau cermati dengan seksama mengenai perang kali ini, betapa negeri-negeri di sekitar Negeri Beruang Putih dan Negeri Tupai Tanah tanpa sadar telah membuka kedok mereka sendiri. Lihatlah argumentasi-argumentasi politikus serta rakyat mereka yang cenderung bernada rasis. Sementara di tempat yang berbeda; yang jauh dari kedua negeri yang berperang itu, perang sudah berlangsung puluhan tahun. Tapi negeri-negeri di sekitar kedua negeri itu, hanya bisa diam seolah tidak tahu-menahu kejahatan kemanusian terjadi setiap hari terus menerus.

Maka berhati-hatilah Bulbul. Dunia ini sungguh penuh dengan tipu-daya. Apa yang kau dan aku lihat di permukaan, belum tentu gambaran yang sesungguhnya. Untuk itu, ingatlah selalu asal kita Bulbul, dan ke mana nanti kita akan kembali. Sebab semua perbuatan pasti akan dipertanggung jawabkan.

Bubul penyair hatiku…

Aku ingin bertanya, mengapa kau tidak menyertakan puisi cinta dalam surat terakhirmu kepadaku? Biasanya kau selalu mengirimi aku puisi cinta. O, aku tahu, pastilah beban menjadi kepala suku burung telah membuatmu sulit menuliskan puisi-puisi cinta. Sungguh, ingin rasanya aku ada di dekatmu; menemanimu melalui hari-hari yang sulit sebagai kepala suku burung.

Bulbul, aku benar-benar tergelitik dengan ceritamu tentang seekor burung hamil yang berdoa agar kelak anaknya menjadi kepala suku burung sepertimu. Jikalau menjadi kepala suku sungguh berat dan menderita, mengapa burung itu ingin anaknya menjadi kepala suku burung? Bukankah itu cita-cita yang konyol lagi keliru? Lagi pula apa enaknya menjadi kepala suku burung kalau setiap hari didemo dan diributi para pendengung.   

Ya, memang benar, menjadi kepala suku burung adalah puncak khayalan paling menggairahkan yang bisa dibayangkan oleh rakyat negeri burung. Namun sekiranya burung hamil itu sadar harga yang harus kau bayar untuk menebus posisi yang sekarang kau duduki…

Ah, tak sudah memang kalau kita membicarakan hal-hal yang terkait dengan nafsu dunia; dan menjadi kepala suku burung sungguh nafsu yang paling menggairahkan.  Mereka belum tahu saja bahwa menjadi kepala suku burung sebenarnya adalah kutukan ketimbang anugrah. Lihatlah, persoalan cinta kita pun tak kuasa kita selesaikan. Lantas, bagaimanakah akhir kisah cinta kita ini, Bulbul?

O, Bulbul, aku tidak ingin memberatkanmu lagi dengan pertanyaan-pertanyaanku. Aku tahu tugasmu sebagai kepala suku burung sangat berat dan berisiko. Biar nanti aku cari tahu sendiri jawabannya. Pintaku, segeralah selesaikan masalah ekonomi, perang, dan para pendengung lawan politikmu di negeri burung. Setelah itu jemputlah aku; bawalah aku ke taman Simurgh menyusul Hudhud, lalu hidup bersama Raja yang sesungguhnya.

Sampai di sini dulu suratku, Bulbul. Doakan aku tetap mekar sampai kau datang menjemputku. Duh, cepatlah Bulbul!!!


Kekasihmu…

Mawar Berduri.

Kalibata, 2022.

Kotak Amal

0

PEMBANGUNAN masjid Muhajirin masih setengah jadi: beratap genting tanpa langit-langit, dengan dinding yang masih berupa bata tanpa plester. Bahkan sisa-sisa kaleng cat masih berserakan, bersebelahan dengan piring tempat makan kucing yang masih bersisa. Bersyukur bagian dalam masjid sudah cukup nyaman untuk jamaah beribadah; koleksi sajadah sudah banyak dengan pengeras suara yang bisa memecah seisi kampung kalau berbunyi. Apalagi jika menyangkut info warga meninggal, warga yang sedang makan bisa tersedak dan yang beraktifitas bisa terhenti, untuk sekedar mendengar siapa jatah usia warga yang giliran habis.

“Itu suara masjid gak kurang besar apa?” gerutu salah seorang warga.

“Maklum, itu sound system mahal, khusus pengadaannya dibantu oleh Pak Husni, ketua RT kita,” jelas warga lainnya.

“Alaa beliau aja jarang ke masjid.”

“Kendati jarang sholat, soal kebutuhan masjid beliau tidak pelit. Beda sama kamu, udah jarang ke masjid kalau diminta sumbangan juga medit,”

Begitulah celoteh dua warga Pak Husni setiap TOA masjid bergema. Dia tak mempersoalkan berita miring soalnya. Cuma satu permintaannya; setiap kali masjid mengumumkan para penyumbang di hari Jumat, namanya harus disebut secara lantang. Alasan klasiknya untuk memacu warga biar ikut nyumbang masjid.

***

Soal pemilihan nama Muhajirin ini juga bukan tanpa alasan. Selain merujuk pada makna dan cerita kaum Muhajirin pada zaman Rasul, makna hijrah yang terkandung juga sejalan dengan kondisi warga di sepanjang lorong, yang memang sebelumnya jauh dari nilai agama. Bahkan sepanjang berdirinya masjid masih saja kejahatan sering terjadi. Bahkan terakhir, Bendahara masjid harus diberhentikan gegera menggelapkan uang sumbangan warga. Sontak setelah kejadian itu, jumlah jamaah semakin sepi dan warga menjadi kurang simpati dengan para pengurus masjid.

***

Pergantian pengurus masjid pun tak terelakan. Pak Murtado ditunjuk untuk menjadi Ketua Masjid yang baru. Banyak pekerjaan rumah yang harus lelaki paruh baya itu selesaikan, terutama mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk sholat ke masjid dan meyakinkan warga agar mau bahu-membahu berderma demi pembangunan satu-satunya masjid di RT mereka sudah lama mandek. Dari banyaknya usulannya untuk kembali meramaikan masjid, Pak Murtado memutuskan dua cara; Pertama: menaruh kotak amal di depan masjid, agar para pejalan tergerak untuk berinfak. Kedua: membuka kesempatan bagi warga yang menyumbang dengan iming-iming nama mereka akan disebut lantang sebelum sholat Jumat dimulai.

***

Hari itu setengah warga sudah siap untuk melaksanakan ibadah sholat Jum’at. Terutama Pak Husni yang hari itu juga turut sholat.

“Aku tidak ingin ada warga yang lebih besar menyumbang dariku,” ucapnya kepada tetangganya yang masih belum percaya dia mau pergi ke masjid.

***

Seperti biasa, setelah warga sudah ramai. Pengurus masjid bersiap mengumumkan para dermawan yang rela menyumbangkan harta mereka untuk membantu pembangunan masjid. Kali ini karena yang menyumbang cukup banyak, Pak Murtado harus turun tangan membacakan nama para penyumbang, sebagaimana sudah ditunjuk warga menjadi Ketua Masjid yang baru. Ini juga menjadi inisiatifnya menciptakan kepengurusan yang bersih dan transparansi soal keuangan Masjid.

Satu persatu warga saling pandang pasca nama tetangganya disebut.

“Pak Murat, menyumbang kipas angin agar jamaah tidak kepanasan lagi,” sontak semua memandang ke arah Pak Murat.

“Siapa dulu dong, Murat. Pak RT bukan apa-apa,” ucapnya pongah sambil menatap Pak RT.

“Selanjutnya Pak RT, mendermakan uangnya untuk membeli satu truk batu bata beserta pasir dan semen-semennya,” umum Pak Murtado lagi. Semua mata langsung tertuju kepada Pak RT, sontak dia langsung berdiri dan tersenyum sinis.

“Selanjutnya ada Hamba Allah yang akan membayar iuran listrik dan air selama satu tahun,” kembali semua warga menjadi bertanya-tanya atas nama Hamba Allah yang ternyata lebih besar menyumbang daripada jamaah yang lain.

Saat semua riuh rendah soal siapa pemilik nama Hamba Allah, dari barisan paling belakang, seorang warga tegak dan mengaku dia Hamba Allah tersebut. Tidak lain dan bukan dia adalah Pak Arif — Bendahara yang dulu sempat menggelapkan dana masjid. Semua warga sempat terpancing emosinya.

“Dengan menyumbang sebanyak itu, emang bisa menghapuskan dosa-dosamu dulu, Pak!” celetuk salah satu warga membuat suasana gaduh.

“Betul. Jangan-jangan uang yang disumbangkan itu uang yang dulu dia korupsi!” warga yang lain tak kalah emosi, sehingga panitia harus bersusah payah menenangkan jamaah sampai sholat Jumat dimulai.

***

“Alhamdulillah … untung hari ini warga bisa legowo semua, Pak Murtado,” ucap Pak Lilik sembari menghitung uang hasil sumbangan dari kotak amal masjid.

“Betul. Biarin aja warga seperti itu, setidaknya mereka bisa berlomba-lomba dalam kebaikan,” tandas Pak Murtado sembari menyodorkan setumpuk uang penuh lipatan “25 Lima Ribu”

“Ini juga aneh-aneh kalau nyumbang. Masak lipatannya belibet kayak gini, pas dibuka cuma 2000 perak,” celetuk Jiwo yang merupakan termuda dari ketiga pengurus tersebut.

“Pak Kadir mau ke mana?”

“Ngambil kotak amal pinggir jalan, Pak?” sangat hapal, Pak Murtado hanya mengangguk.

“Oke. Sementara uang ini disimpan di kotak amal besar ini. Nanti kalau rekening masjid sudah selesai baru kita masukan ke bank,” ucap Pak Murtado langsung mengambil ancang-ancang untuk membubarkan mereka.

“Tapi sebelum bubar, Jiwo kamu beli nasi bungkus dulu di warung Bu Sri, sisanya belikan air mineral saja,” Pak Murtado menyerahkan selembar uang 50 ribu-an yang sebelumnya diambil dari kotak amal. Ketiga temannya saling berkedip satu sama lain.

***

Cuaca sedikit gerimis. Biasanya kondisi seperti ini dimanfaatkan warga untuk diam di rumah. Kebetulan waktu sholat Maghrib masih lama.  Di suasana seperti ini juga aku habiskan untuk tidur nyaman di kasur terempuk. Tapi percuma, ketenanganku terganggu oleh kedatangan seorang lelaki renta dengan tampang semrawut. Pakaiannya lusuh bak gelandangan. Semakin meyakinkan, karena dia datang dengan gerobak pembawa sampah yang masih bercokol anak istrinya di dalamnya.

Apa dia mau mengejar sholat ashar?

Atau dia mau berteduh karena gerimis?

Ah! Tidak mungkin!

Semua rasa penasaranku terhenti tatkala melihatnya hendak menuju kotak amal besar sambil mengelus-elus perut. Tak lama, mungkin hanya beberapa menit, lelaki itu nekat menggondol semua uang jamaah yang baru dikumpulkan oleh Pak Murtado.

Andai aku seekor anjing, mungkin bisa menggonggong atau melolong-lolong agar dia ketakutan. Tapi aku hanya seekor kucing kampung, volume suaraku pun terbilang kecil. Paling kalau aku mengeong, cuma dianggap kelaparan atau sedang bergelut dengan kucing lain.

Lalu aku menyaksikan keluarganya tampak bahagia usai lelaki renta itu menunjukkan berbungkus uang di dalam plastik. Jangankan menggonggong, mengeongpun aku tak sanggup. Air mataku merembes.




=================
ES Ayata, lahir di Pedamaran, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Penyuka sastra dan seni, baik menulis, melukis dan film. Karya cerpennya termaktub dalam beberapa antologi bersama dan media sastra. Serta beberapa novel, antara lain: Pasukan Hujan (2018), novel Sialang dan Kubu Terakhir (2019) yang menjadi novel pilihan Festival Sastra Bengkulu (2019) dan sinopsis pilihan Scene (2021). Novel terbaru Hewan itu Bernama Manusia baru selesai dirampungkan.

Frans dan Pengamen Tua

0


FRANS selalu muncul di balkon flat ketika senja mulai sekarat di balik gedung-gedung bertingkat Kota Hole. Sinar jingga matahari yang menerpa membuat kulitnya tampak merah tembaga. Tubuhnya yang menjulang melebihi mistar pintu semakin mempertegas bahwa ia tak seperti orang-orang pada umumnya.

“Turunlah. Apa kau tak jenuh di atas sana?” pekik James, seorang pengamen tua dari trotoar seberang jalan sembari menenteng gitar. “Lebih baik kau temani aku di sini. Kita bernyanyi!”

Frans tak menjawab ajakan James. Ia hanya tersenyum seraya menampakkan deretan gigi kuning gading sebagai bentuk penolakan secara halus atas ajakan si pengamen tua.

Sebenarnya penolakan Frans hanyalah basa-basi belaka. Apalagi beberapa kali James membawakan lagu yang membuat jari jemarinya mengetuk-ketuk pagar balkon. Namun selalu ada kekhawatiran dalam dirinya. Ia khawatir apabila kehadirannya bersama si pengamen tua justru mengundang ketakutan orang-orang. Ia sadar betul bahwa dirinya tak seperti orang kebanyakan. Ia takut orang-orang akan pergi karena telah melihat wajahnya yang buruk, lalu merusak pertunjukan James. Maka, ia memutuskan untuk tetap berada di balkon.

Namun kekhawatiran Frans mulai goyah setelah melihat sedikitnya orang-orang yang melempar koin ke dalam koper gitar James sebagai tanda apresiasi. Frans pun kembali mempertimbangkan keluar dari flat untuk menemui James. Dan segala kekhawatiran Frans benar-benar hilang setelah James mengalunkan lagu; Start spreading the news/I’m leaving today/I want to be a part of it/New York, New York/….[1]

Meski suara James terdengar parau, namun terdengar nyaman di telinga Frans. Jemari tangan Frans pun mengetuk-ketuk pagar balkon.

***

Ketika Frans memutuskan keluar flat untuk mendatangi James, lagu yang membuat jemari tangannya mengetuk-ketuk pagar balkon telah usai dinyanyikan James. Sementara si pengamen tua itu tengah duduk di sebuah bangku trotoar.

“Selamat malam, James,” sapa Frans, dengan suara yang direndahkan.

James tersenyum. “Selamat malam.”

Frans sejenak memandang ke sekeliling.

“Apa kau tak mengenalku?”

Dahi James mengerut. Dipandanginya Frans dengan sedikit mendongak. Sejurus kemudian pengamen tua itu berpaling ke arah flat. “Apa kau pria tinggi-besar yang ada di atas sana?” James menunjuk balkon flat Frans.

Frans mengangguk.

“Ya Tuhan. Hampir saja aku tak mengenalmu.”

“Aku harus berpakaian seperti ini. Agar orang-orang tak takut padaku,” jawab Frans, sembari menunjukkan pakainnya; mantel di bawah lutut, topi laken, dan kacamata hitam.

“O, begitu ya. Namaku James Lennon. Kau boleh memanggilku James.”

“Ya, aku sudah mengenalmu sejak lama. Pelintas trotoar ini tentulah sangat mengenalmu, termasuk aku. Namaku Frans.”

“Senang rasanya berkenalan denganmu, Frans.”

Frans mengangguk. “Bagaimana kabarmu hari ini, James?”

Si pengamen tua menggeleng seraya menunjukkan peti gitar berisi uang receh. “Tak begitu menggembirakan. Malam yang tak bersahabat.”

“Apa yang bisa kubantu, James? Agar peti gitarmu penuh terisi.”

“Ah, kau tak perlu repot-repot.”

“Tak ada yang direpotkan. Meski aku tak pandai bernyanyi, tapi aku yakin suaraku dapat mengalahkan suaramu yang parau itu,” ucap Frans, diiringi gelak tawa James.

“Baiklah. Kau bernyanyi, aku yang mengiringi.”

Sejurus kemudian, mereka pun berkolabirasi. Frans menyanyikan sebuah lagu lama yang kerap dinyanyikannya tatkala dirundung sepi.

Way down among Brazilians/Coffee beans grow by the billions/So they’ve got to find those extra cups to fill/They’ve got an awful lot of coffee in Brazil // You can’t get cherry soda/’cause they’ve got to fill that quota/And the way things are I’ll bet they never will/They’ve got a zillion tons of coffee in Brazil//[2]

***

Keceriaan tergambar jelas di wajah James ketika para pejalan kaki berhenti dan ikut bernyanyi. Bahkan semakin malam, orang-orang ramai berkumpul mengelilingi James dan Frans. Sesekali Frans mempersilakan orang-orang untuk melempar uang ke dalam koper gitar.

“Kau istirahatlah dulu. Ada sekaleng bir di dalam tasku di bawah bangku,” bisik James ketika jeda.

“Terima kasih, James. Aku tak haus. Ayo kita lanjutkan saja.”

Frans pun kembali bernyanyi dan James semakin bersemangat memetik gitar. Kini, kekhawatiran Frans bahwa ia tak akan diterima oleh orang-orang, berangsur-angsur sirna. Ia seolah telah menemukan kembali kebahagiaannya yang telah lama hilang. Hingga waktu perlahan menuntun orang-orang meninggalkan pertunjukan mereka.

“Aku rasa perjumpaan kita malam ini telah usai, James,” ucap Frans ketika orang terakhir yang melihat pertunjukan mereka telah pergi.

“Terima kasih Frans. Ambillah beberapa lembar uang untukmu.”

Frans menggeleng.

“Ambillah,” paksa James.

“Tidak, James. Itu hakmu. Aku bisa membantumu sudah cukup senang.”

James tersenyum. “Kutraktir kau bir ya?”

“Tidak, James. Kau tak perlu repot-repot. Aku tak minum bir.”

“Baiklah Frans. Aku tak akan memaksamu. Ah, besok malam apa kau akan datang lagi?”

“Tentu saja. Duet kita malam ini cukup sukses, bukan?”

Keesokan harinya, Frans dan James kembali berduet menyanyikan lagu-lagu nostalgia. Orang-orang kembali berkumpul mengelilingi mereka. Melempar uang kertas dan koin ke dalam koper gitar. Namun kebersamaan mereka tak berlangsung lama setelah lagu kelima. Frans memutuskan untuk menghentikan pertunjukan setelah dua senar gitar James putus secara bersamaan.

“Kau tak bawa senar cadangan, James?” tanya Frans, setelah orang-orang berlalu.

James menggeleng. “Terkadang aku berpikir akan membuang gitar tua ini. Tapi selalu aku urungkan. Bagaimanapun gitar tua ini satu-satunya sumber penghidupanku. Dari gitar tua inilah aku dapat membeli obat untuk mengendalikan sesak napasku yang setiap saat datang menyergapku.”

Frans hanya terdiam mendengar perkataan James. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tengah memikirkan sesuatu.

***

Senja baru saja purna ketika Frans duduk di balkon flat. Matanya tak lepas dari bangku trotoar dimana beberapa malam terakhir ia berada di sana bersama James. Namun malam ini sepertinya itu tak akan terjadi. Sudah hampir satu jam Frans menunggu James dengan gelisah sembari memeluk gitar yang baru dibelinya. Pikirannya pun menghambur ke segala arah ketika memikirkan pengamen tua itu. Hingga malam terus merangkak naik, James tak juga muncul di bangku trotoar.

Pada malam ketiga selepas ketidakmunculan James, Frans melihat seorang bocah lelaki mendekap koper gitar tengah duduk di bangku trotoar. Tanpa berpikir panjang dan menunda-nunda, ia segera keluar flat untuk menemui bocah tersebut.

“Apa kau Frans?” tanya bocah lelaki, ketika Frans muncul di hadapannya.

“Benar. Bagaimana kau tahu namaku?”

“James menitipkan ini untukmu. Ia berpesan agar aku memberikan pada lelaki berbadan tinggi besar, bermantel panjang, dan bertopi laken.”

Frans mengulurkan tangannya untuk menerima koper gitar. Beberapa saat ia tertegun.

“Lalu, di manakah James sekarang?” tanya Frans, pada si bocah lelaki yang mulai berjalan menjauh.

“Dua hari yang lalu, Tuhan telah memanggilnya pulang,” jawab si bocah lelaki, tanpa menoleh sedikit pun.

Kudus, Juni 2021

Biodata

M Arif Budiman, lahir di Pemalang. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.


[1] Lagu New York, New York oleh Frank Sinatra
[2] Lagu The Coffee Song oleh Frank Sinatra

Ikan Salmon

0
© Sawedi Muhammad


SELEPAS
sholat subuh, aku menemukan istriku mengemasi sesuatu dari dalam kulkas. Bunyinya kresak-kresek! Dari kejauhan, aku hanya melihat sebagian wajahnya terpapar cahaya kulkas. Lampu dapur masih padam. Astaga, kantung matanya kian menghitam. Aku baru sadar semalam istriku tidak henti-hentinya membuka-tutup kulkas tua itu. Atau malah ia lakukan juga malam-malam sebelumnya, aku tak tahu. Aku memilih bungkam sambil terus memperhatikannya. Seketika bayang kengerian menjalari sekujur tubuhku.

Ingatanku merekam adegan sosok Kim Young Hye dalam novel Vegetarian karya Han Kang. Pada satu pagi, si lelaki mendapati istrinya berdiri termangu di depan kulkas. Tidak memerlukan waktu yang lama, perempuan ini mengemasi seluruh daging dalam kulkas itu. Ketika ditanya, ia hanya menjawab: aku bermimpi.

Aku memejamkan mata sejenak, mengorek yang tersisa di batok kepalaku. Seingatku, istriku tak pernah mengatakan ingin menjadi vegetarian. Namun, sejak kejadian celaka di meja makan itu, selepas ibu mertuaku pamit, aku merasa ada sesuatu yang tercerabut dalam diri istriku.

Sebulan yang lalu, saudara istriku—Irma dan Septi—datang berkunjung. Aku merasa dari sinilah akar masalahnya. Seperti biasa, dua orang itu selalu mengeluhkan penataan rumah ini yang menurut mereka kacau. Kali ini Irma hanya datang dengan suaminya, seorang fotografer. Anaknya yang bandelnya minta ampun, mereka titipkan pada mertuaku. Rendi datang lusa bersama Ibu, begitu kata Irma.

“Maka dari itu, kita hanya punya waktu sehari untuk merombak rumah ini!” lanjut  Irma sambil mencari-cari sesuatu yang tak jelas.

Aku terpaksa izin kerja sebelum kesabaran istriku benar-benar meledak akibat ulah dua adiknya ini. Terlihat Irma dan Septi mondar-mandir menata berbagai perabotan kami sesuka hati. Mereka seperti ditakdirkan memiliki kesamaan dalam segala hal. Maka tak heran jika dua perempuan ini sangat cocok dalam hal komposisi, warna, hingga suatu hal yang mereka anggap sebagai estetika ruangan. Sesuatu yang mereka pikir kami tidak memahaminya.

Lalu, istriku? Ia hanya diam, duduk di atas meja makan sambil menyangga dagu. Di hadapannya, ponsel menyala terang memperlihatkan proses delivery order dari salah satu restoran yang sebenarnya tidak ia sukai.

Aku paham. Istriku menahan geram. Oleh sebab itu, meski dia sebenarnya bisa memasak, namun lebih memilih memesan makanan saja. Menurutku, pilihan ini adalah jalan terbaik. Dari pada mendapatkan komentar soal cita rasa makanan yang sudah pasti tak cocok dengan lidah dua adiknya.

…. Mba, meja ini ngga cocok kalau di sini,

Hus, tambah vas bunga saja!

Iya benar, jadi tambah manis.

Duh! Kita harus beli korden baru, warna ini telalu kontras dengan suasana ruangan ini. Mas! Nanti beli korden ya!

Duh, mba, kenapa beli sapu yang warnanya ngga senada dengan warna ruangan si?

Duh mba? Kok pakai tisu merek ini si? Kan kasar…

Aku duduk di teras, menghadapi secangkir kopi yang telah dingin. Suara-suara itu bersaut-sautan mengisi kepalaku. Aku benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana perasaan istriku saat ini. Barusan aku melirik dari celah korden, ia tidak ada di ruang tamu dan ruang tengah. Itu artinya, masih di meja dapur. Itu artinya, ia masih diam, menahan geram.

Di seberang meja, suami Irma masih sibuk dengan kamera Sony A4 miliknya. Baru saja ia bercerita baru membeli kamera itu seminggu yang lalu. Kemarin aku disewa sebagai fotografer di acara pernikahan anak Kapolda, bisiknya.

“Acaranya megah! Tamunya ribuan!”

Ia berkata demikian sambil sesekali mengibaskan telapak tangannya. Ada dua jari berhias cincin akik berwarna hijau dan merah delima. Di tangan satunya, ia memakai cincin emas. Baru pernah aku melihat fotografer bergaya parlente seperti ini. Apalagi ia ngakunya sering dipakai pernikahan mempelai muda yang belum genap 25 tahun! Yang katanya konsep pernikahan, dekor, dan sebagainya serba kekinian.

Aku berdehem sesekali, namun lelaki ini tetap sibuk. Beberapa kali ia memamerkan hasil jepretannya. Sejujurnya, bukannya aku tidak tahu mana foto bagus atau tidak. Gini gini aku juga sedikit paham beberapa teknik foto, mulai dari permainan komposisi, cahaya, dan lain sebagainya. Namun sekali lagi, sudah kukatakan dalam hatiku berkali-kali: fotonya tidak bagus! Bahkan tergolong jelek! Terutama dalam pengambilan objek utama. Sungguh polos, lugu, dan banyak noise!

“Mas! Kok belum berangkat si? Kordennya dong!” Irma datang menepuk pundak suaminya. Lantaran kaget, kamera di tangannya terlepas. Jatuh ke lantai! Terdengar bunyi sesuatu yang pecah. Entah apa. Aku pilih beranjak pergi tanpa permisi. Kudengar, Irma mengomel ini itu tak keruan. Irma mengeluhkan soal korden, tambah lagi soal kamera baru itu, sedangkan suaminya hanya diam. Terlihat menciut.

Aku paham betul, di antara hubungan suami-istri Irma dan suaminya, Irma-lah yang menjadi tumpuan ekonomi mereka. Adik tertua istriku ini adalah Guru SD, sudah A-Es-En, dan bersertifikasi! Dibandingkan suaminya yang kudengar memang sepi orderan, Irma lebih kuat berkuasa dalam rumah tangga mereka. Terlebih, sikap Irma yang selalu merasa superior dan super woman, seolah semua hal bisa ia tangani sendiri. Aku membayangkan suaminya hanya numpang hidup saja di rumah. Karena si bandel Rendy anak mereka pun yang mengurus Irma. Segala sesuatunya!

Besok malamnya, Ibu mertuaku datang. Kami makan malam bersama, di ruang makanku. Ruang makan yang disulap menjadi tempat yang begitu asing. Istriku tidak memasak. Atau lebih tepatnya tidak dibolehkan memasak. Dari pagi hingga hingga siang, kedua adiknya giliran sibuk di dapur. Kali ini istriku malah membuka laptop, menyelesaikan pekerjaannya: menerjemahkan cerita anak.

Kami telah menikah lima tahun. Aku bekerja sebagai editor di penerbit buku independen, sedangkan istriku penerjemah sekaligus editor cerita anak di salah satu penerbit mayor. Meski sebenarnya tidak ada bedanya antara penerbit independen dan mayor, namun di mata keluarga istriku seolah-olah derajat pekerjaan istriku lebih tinggi. Katanya, penerbit tempatku bekerja belum sebesar penerbit istriku. Meski kami sama-sama editor. Meski yang memberi komentar tidak tahu-menahu tentang dunia perbukuan. Namun, begitulah hidup, terkadang komentar orang lain memang lebih tajam dari pada pisau dapur kita sendiri.

Kami hidup sederhana dan berkecupukan di perumahan Anggrek. Tempat ini memang didominasi keluarga-keluarga tua yang sudah beranak cucu. Ada satu mobil sedan Civic Dx berwarna abu-abu keluaran tahun 1989 di garasi rumah kami. Mobil ini peninggalan almarhum bapakku. Aku adalah anak tunggal dan ibu sudah meninggal dua tahun setelah pernikahanku. Rumah ini adalah museum kenanganku, sejak kecil.

Setiap hari, aku selalu mengantar jemput istriku lantaran kantor kami yang saling berdekatan. Kami belum punya anak. Kami tidak ada niat menunda keturunan. Meski begitu, kami juga masih nyaman hidup berdua. Namun, sialnya hal ini justru yang sering dipermasalahkan oleh ibu mertuaku.

“Ibu sudah bilang, sebelum nikah, ngga baik kalau ada niat menunda keturunan.” di meja makan malam itu, percakapan celaka itu dimulai. Meski perkataan Ibu terkesan pernyataan yang dilontarkan bebas di meja makan, semua orang tahu, itu tertuju pada istriku. Dan aku!

“Ajeng mboten wonten niat menunda Bu, tapi kalau belum rezeki mau gimana lagi.”

Ngga ada niat menunda, tapi upayanya juga harus maksimal dong mba!” ucap Septi. Seketika aku menunduk. Aku benar-benar kaget dan tidak paham maksud bocah ini.

“Maksimal piye maksudmu? Masa aku dan Mas Haryo harus kawin terus setiap hari? Apa itu yang dinamakan upaya maksimal!”

“Ya bukan gitu tho mba, maksud adik sudah barang tentu, salah satunya rajin minum jamu ramuan ibu. Irma lihat masih utuh di kulkas, padahal itu kan kiriman ibu bulan lalu.” Irma menambahkan sambil sesekali melirik padaku. Sial! Apakah ia menuduhku mandul!

“Nah! Kan! Ibu kan sudah bilang juga! Ikhtiar itu juga lahir batin! Secara lahir minum ramuan juga ngga papa tho? Lagi pula, mulai sekarang cobalah kurangi masakan minyak-minyakan kayak gini!

Empat bulan terakhir, ibu mertuaku sering mengirimi istriku ramuan-ramuan yang kami tak tahu dari apa bahannya. Katanya, sebagai penambah kesuburan, ingat ikhtiar lahir batin!

“Perbanyak sayur! Lihat, kulitmu terlihat kering. Pasti kurang sayur! Orang zaman sekarang makanannya ngga sehat! Sukanya makan minyak!” ketus ibu. Aku sempat berdehem sambil tersenyum kemenangan. Selain ibu, kita semua tahu, juru masak utama malam itu adalah Irma dan Septi.

Meja makan sesaat hening. Aku melihat istriku begitu menahan sesuatu meledak di wajahnya.

“Begini lho Nduk,”tiba-tiba ibu memecah keheningan. “Ibu kuatir, ngga bisa melihat cucu kedua Ibu. Dulu, sebelum Bapak meninggal, ia ingin sekali melihat masing-masing putrinya sudah menggendong anak. Apa salah, kalau ibu juga bermimpi demikian?”

Suasana mendadak hening. Senyap. Istriku menunduk. Tanpa sadar aku melirik Septi, ia sekilas memandang istriku dan ibu mertuaku secara bergantian. Aku sudah tidak peduli melihat wajah menyebalkan suami Irma yang sedikit menyunggingkan senyum seolah ia adalah laki-laki terbaik yang bisa memberikan cucu pada ibu mertuaku.

Sore berikutnya, kami mengantar ibu pulang bersama saudara istriku yang lain. Ketika berpamitan, ibu sempat berbisik: ingat ya Nduk, ikhtiar lahir batin.

Langit senja terlihat murung, semurung wajah istriku. Ia duduk menatap ke arah gerbang rumah kami yang masih terbuka. Aku tidak menutupnya, lantaran sebentar lagi kami juga akan keluar. Cari makan malam sambil refreshing, begitu bisikku sesaat setelah mobil Irma keluar dari halaman rumah kami.

Namun, yang terjadi sebaliknya. Aku mendapati istriku duduk membeku menatap pagar. Tatapannya kosong.

“Sayang, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin Tuhan akan menitipkan keturuan ketika kita dianggap siap.” Aku merangkulnya dari belakang.

“Mas, aku terpikir suatu hal. Dan sudah kupertimbangkan masak-masak.” ucap istriku. Kemudian memberikan jeda lagi.

“Mulai sekarang, kita harus lebih serius untuk program hamil ya!”

Aku diam. Kemudian duduk di sampingnya. Menatap wajahnya dari samping. Sejenak kemudian ia menoleh padaku: Mas? Aku harus hamil.

“Iya, sayang, bukankah sejak awal, kita tidak ada niat menunda. Nanti kita bicarakan lebih serius ya. Sekarang, ayo masuk.”

Ia hanya diam. Kemudian memalingkan wajah menatap ke depan. “Aku harus hamil mas, secepatnya.” ucapnya.

Sejak hari itu, aku merasa ada keanehan dalam diri istriku. Setiap kali memasak ia menghindari masakan berbau daging dan lemak jenuh. Ia banyak menyetok ikan salmon, kacang-kacangan, keju, dan hati sapi. Pernah sesekali aku menemukan istriku duduk berlama-lama di depan laptop dengan makan kuaci. Sangat banyak! Bahkan sampah kulit kuacinya menggunung hingga tumpah berantak di bawah meja.

Pernah juga suatu ketika, aku memasak masakan kesukaannya: lele goreng. Namun, ia menyisihkan. Dan hanya makan nasi dengan sayur. Lele mengandung banyak merkuri, ngga baik untuk promil mas, begitu katanya.

Selain mengganti pola makan yang begitu signifikan, istriku lebih sering mengajak berhubungan badan. Bahkan bisa dipastikan setiap hari. Pernah juga sehari tiga kali, ketika kami sama-sama libur.

Hingga pagi ini, aku baru menyadari satu hal, istriku semakin jarang tidur. Ia makan terlampau banyak. Kami berhubungan badan terlampau sering. Tubuhnya terlihat lebih berisi namun kulitnya terlihat kusam dan kering. Aku juga beberapa kali mengeluhkan bau keringatnya yang berubah ketika kami bercinta.

Semalam, sepulang dari kantor setelah mandi dan berganti baju, secara sekilas aku melihat istriku mondar-mandir di dapur. Kupikir ia memasak sesuatu lantaran lapar di tengah malam.

Pagi ini, selepas sholat subuh, aku menemukan istriku mengemasi sesuatu dari dalam kulkas. Bunyinya kresak-kresek! Dari kejauhan, aku hanya melihat sebagian wajahnya terpapar cahaya kulkas. Lampu dapur masih padam. Astaga, kantung matanya kian menghitam. Aku baru sadar semalam istriku tidak henti-hentinya membuka-tutup kulkas tua itu untuk melakukan suatu hal. Atau malah ia lakukan juga malam-malam sebelumnya, aku tak tahu. Aku memilih bungkam sambil terus memperhatikannya. Seketika bayang kengerian menjalari sekujur tubuhku. Sial! Aku terlalu hanyut dalam gelisah yang tak kumengerti!

Aku nekat berjalan perlahan ke arahnya. Dengan tangan gemetar, aku membuka pintu kulkas lebih lebar.

“Sayang! Apa yang kamu lakukan!” teriakku kaget. Aku melihat istriku makan ikan salmon mentah!

Ia menoleh kepadaku, kedua tangannya memegang ikan salmon utuh yang cuil satu gigitan. “Aku harus hamil mas, secepatnya!” ucapnya sambil mengunyah. []

Ponorogo, Januari 2022





==================
Sapta Arif N.W. Berkarya sebagai Kepala Humas STKIP PGRI Ponorogo. Kini sedang melanjutkan studi pascasarjana di Unitomo Surabaya. Berkomunitas di Malam Sastra Pandawa (MSP). Selain itu, menghabiskan waktu untuk membaca, menulis, menjadi pendaras di lensasastra.id

Arwana

0

AKU masih menahan-nahan, tapi Rusdi tetap nyerocos. Ia berusaha mengulitiku, membikinku tak berdaya. Padahal, kalau boleh jujur, injakan kakinya ke rumahku ini sangat tak kuharapkan. Soalnya sore nanti kedatangan tamu istimewa dan sebetulnya pintuku tak ingin kubukakan untuk siapa pun kecuali tamu itu.

Namun siang ini, tiba-tiba Jazz Rusdi mendarat di halaman rumah. Awalnya agak merasa berdosa ketika sebetulnya tak ingin kubukakan pintu untuknya. Tapi kemudian ia teriak-teriak memanggilku macam orang gila. Wah, kawan lama ini menyusahkan saja, jadi tak enak dengan tetangga.  Terpaksa kubukakan pintu.

Usai pintu menguak, selepas berjabat tangan dan kupersilakan duduk di ruang tamu, yang keluar dari mulutnya pertama bukan sapaan, tapi nada-nada pamer dan seolah beraroma dendam.

“Bagaimana mobilku ini? Pajaknya saja bisa buat beli mobil lagi.”

Ia tersenyum tengik sambil kemudian mengangkat satu kakinya, metingkrang. Lengan kirinya ia letakkan di sandaran sofa. Edan, macam bos besar saja. Belum sempat aku menjawabnya ia sudah nyerocos lagi.

“Lihat,…” kata Rusdi. Tatapannya seolah menyuruh pandanganku mengikuti gerak tangannya yang bergaya bak motivator itu. “Kau harus memikirkan masa depan, Bung. Masa depan yang jauh di ujung realitas hidup sekarang. Pandemi ini, Bung, semua jadi serba susah. Kau harus bisa berpikir out of the box. Cobalah sedikit-sedikit mencontoh cara kerjaku ini. Lihat kan hasilnya? Biar kau tak tipes seperti mereka-mereka itu.”

Ealah, kaget aku atas ucapannya yang tak awas itu. Tanpa basi-basi, dan jauh dari pertimbangan. Cara ngomongnya ini masih berlagak seperti dulu. Temponya lambat, seolah lawan bicaranya dipaksa menyimak tiap detail ucapannya. Dan pada akhirnya bertujuan mengakui kehebatannya.

Namun aku hanya tersenyum saja menanggapi sambil bangkit dari kursi dan pura-pura menyibukkan diri menyiapkan susunan filtrasi akuarium untuk jualan ikan hiasku. Sehari-hari memang aku peternak ikan hias. Ada delapan akuariumku, lima kutaruh di ruang tamu, sisanya kusimpan di dalam yang memang kusiapkan untuk ikan-ikan yang sudah dipesan orang. Meski keadaan itu kuduga bakal dijadikan bahan Rusdi untuk menembakku, biarlah. Sungguh, apa pun itu, diam-diam aku tak ambil peduli.

Cuma ya begini susahnya, demi menjaga kekariban sesama, kita harus pandai membatasi diri. Ada aurat istilahnya, ada batasan-batasan biar orang lain tak merasa tersinggung. Sialnya aku ini memang orangnya tak tegaan. Walau sebenarnya memiliki cukup bahan untuk membuatnya megap-megap.

Tapi biarlah, aku juga tak kepingin membuatnya paham lantas mengakui. Toh, pengakuan darinya tak miliki pengaruh apa pun bagi hidupku. Kupikir mubazir waktu juga, sia-sia dong nanti napasku keluar hanya untuk hal yang manfaatnya nihil belaka. Apalagi kami juga jarang ketemu. Ini saja dia menghubungiku tiba-tiba sejak bertahun lamanya tak bertemu. Selepas lulus kuliah, kabarnya ia lenyap ke luar negeri.

Rusdi ini, dandanannya selalu necis, up to date. Katanya, sebuah kemunduran jika ia tak mengenal style bersolek. Kepercayaan dirinya akan pudar seandainya ia tak nyemplung ke dalam arus orang modern. Dari model berpakaian celana gombrong dan kemeja dibedah mirip rockstar, Robert Plant, hingga kini rambut pirangnya mirip artis-artis korea ala-ala Park Ji-min. Beruntungnya, ia memiliki kontur wajah yang mendukung. Makanya, ia sadar harus memanfaatkan itu.

Sebetulnya bagiku, sebagai teman, itu adalah kabar yang menggembirakan. Ia amatlah maju. Ia tanggap, lunak, dan bisa dipasang pada perubahan-perubahan.

Cuma sayangnya, kupikir kemajuannya itu ia bawa pada bentuknya semata. Semestinya nilai-nilai diri yang harusnya ia utamakan agar kelunakannya itu tak meleset. Coba lihat cara bicaranya, cara bertamunya, aneh. Mekanisme memulai pembicaraannya, harusnya dari basa-basi baru menukik ke inti. Tapi Rusdi ini membalik tata letaknya, obrolan basa-basinya diletakkan terakhir. Kesannya tak ada unggah-ungguhnya. Tidak njawani. Agaknya memang ada yang tak waras ini dari otaknya.

Bolehlah kalau ia ingin terlihat mentereng di hadapanku. Berkilau seperti kerlip berlian. Tak masalah. Malahan bakal membuatku senang melihat kemajuannya. Tapi sudah lama tak bertemu, harusnya ia tanya kabar dulu. Berkabar soal pekerjaannya, istrinya. Atau ngobrol sedikit mengenai masa lalu. Bernostalgia saja, remeh temeh. Atau ia masih saja menaruh dendam kepadaku? Selain pernah merebut pacarnya yang kebetulan sekarang jadi istriku, aku juga pernah mendamprat omongannya di seminar kewirausahaan. Ia langsung kincep. Seingatku setelah itu sikapnya kepadaku berubah total. Ada jarak yang memang sedang ia jaga.

“Orang-orang barat itu, Bung, sekarang ini, sedang merancang battle of mind?”

Battle…?” jawabku sambil memperagakan atlet MMA. Gila. Kenapa pula aku ikut kejebur ke dalam arus pembicaraanya.

“Mereka sengaja menyiapkan maintenance yang rumit sekaligus menciptakan barang-barang luks yang seolah menjawab kebutuhan pasar. Di samping sedikit-sedikit memunculkan trend baru. Secara tak langsung orang-orang bakal terserang pola pikirnya. Yang tak kuat ya bakal tersisih. Lihat saja negeri ini, produsen kecil di ladang-ladang yang tak seberapa itu, mereka gagap pada perkembangan. Tampaknya orang-orang barat dulu tepat sekali merancang revolusi.”

O, baiklah. Ia mulai menyangkut-nyangkut soal konspirasi. Luar biasa. Jujur saja, sejak mengenalnya di himpunan kampusku dulu, aku mengakui teori-teorinya memang mutakhir, berdasar sumber yang terpercaya. Ia mampu menyelami ke alam pikiran yang lebih rumit dan sempit. Tapi sayangnya, beberapa kali kuketahui mesin dalam hatinya pada kenyataannya bergerak tumpang. Ia sering luput menempatkan diri.

“Coba kaupikir, kenapa Indonesia masih mengadakan impor beras? Padahal, negeri kita kaya raya?”

Aku mengrenyitkan dahi, tampaknya pembicaraannya melaju kian serius.

“Banyak sekali faktor, Bung. Salah satunya bisa ke efek kepercayaan, Bung. Ke-per-ca-ya-an!”

“Kepercayaan?”

“Betul, persis seperti itu. Orang Indonesia itu hobi berprasangka. Krisis kepercayaan. Petani Indonesia yang masih banyak mengandalkan keringat dan tak berusaha membuka matanya lebar-lebar, akan menjadi sansak bagi jaringan yang tidak terlihat itu, Bung. Dan Para Penguasa sudah kehilangan kepercayaan atas mesin yang geraknya lelet.”

“Begitu? Bukannya itu bisa mengarah ke soft-kriminalitas?” Aduh, bodohnya aku menanggapinya, mengaitkannya, ikut berkalimat macam-macam seperti dirinya.

“Hidup ini keras, Bung! Kalau kau tak mampu mengendalikan porosnya, kau cukup mengikuti dan memanfaatkannya. Nakal sedikit, itu bukan soal. Sebelum memikirkan jaminan kesejahteraan yang luas, kau harus memikirkan dulu perut sekitarmu, istrimu, anakmu. Paling tidak kau sudah selesai dengan kebutuhan pribadimu. Baru kau bisa enteng memikirkan hal-hal yang makro.”

Tuh kan. Sudahlah, tak ingin lagi aku menanggapinya macam-macam. Aku berusaha saja nylimur, bangkit dari kursi melangkah ke depan akuarium, memberi makan ikan-ikan hiasku. Sebetulnya aku hanya ingin memberinya tanda kalau aku tak tertarik pada obrolannya. Tapi, memang babi betul ini anak.

“Saya ini kemari ingin membagi pengalaman padamu. Biar ini…” ia menunjuk ke kepalanya, meski maksudnya mengarah ke kepalaku. “…komponen yang ada di dalam kepalamu ini jalannya biar gagah, outputnya nanti ya biar kinclong. Hidupmu biar tak begini-begini saja, Bung. Kudengar dari Aji, bendahara kita dulu, kau hanya jualan ikan hias. Ya kalau yang kaujual ikan-ikan kelas atas macam arwana. Tapi ternyata yang kau jual malah ikan-ikan menyedihkan macam oscar, koi, cupang seperti ini. Aduh-duh, aku kok merasa kasihan melihat kawan debatku dulu berakhir seperti ini.”

Oalah, memang benar-benar bandit ini anak. Agaknya mulutnya ini sudah salah kemasukkan sarapan. Ingin sebenarnya kupopor ucapannya, tapi entah kenapa sesuatu di dalam diriku memang sangat kuat menahan. Tetapi, semakin kutahan, kok ya semakin berahi pula keinginannya untuk menenggelamkanku. Terpaksa sedikit kupotong saja ia.

“Sebentar, Bung. Anda kok semangat sekali, kubuatin kopi ya?”

Ia tak menjawab, hanya menoleh dan menatapku dengan mata yang tampak runcing.

“Iya, kopi temanggung. Pahit atau manis?”

“Aduh. tak usahlah, Bung. Aku ke sini sebenarnya juga membawa niat baik padamu. Kebetulan aku sudah bawa kopi sendiri asli dari kafe baruku. Melihat realita hidupmu yang, maaf, mengenaskan seperti ini, aku ingin menawarimu pekerjaan.”

Ia langsung nyelonong ke mobilnya. Tak berlangsung lama ia kembali masuk membawa botol kopi dan menyodorkannya kepadaku.

“Kafe baruku ini kunamai Brenchtje, Bung. Dengan gaya Indis Belanda. Penyeduhan kopinya, Bung, sudah memakai mesin speedster. Kau tahu, Bung, mesin yang kumaksud itu? Wah, sepertinya kau terlalu lama bergaul sama ikan-ikanmu itu, sampai kopong begitu otakmu.”

Kami tertawa, namun gelak tawa kami tentu berbeda pemaknaanya. Ya, aku hanya ingin menyenangkannya saja.

“Sebetulnya, kafe baruku ini sedang membutuhkan waiters, Bung. Daripada berjualan ikan yang untungnya hanya mentok untuk makan sehari-hari, lebih baik kerja di kafeku. Soal gaji, beres. Tak perlu pusing. Lebih lah dari sekadar UMR. Kau harus memikirkan istrimu, Bung. Istrimu itu, perlu sekali-kali diajak berlibur. Ya, tapi kalau sehari-hari kau ngurusi ikan melulu, mau berlibur pakai apa?”

Ia tertawa lantang. Babi. Bisa-bisa kutumpahin sisa kopi ini ke mukanya. Namun kau beruntung, Rus, dering ponselku menyelamatkanmu. Pak Soeryono, juragan ekspor tuna dan sidat ke Jepang, tamu istimewa yang kumaksud, menelpon.

“Ya Pak, saya di rumah, langsung ke sini saja. Masih hafalkan rumah saya?”

…..

“Tenang, Pak, sudah saya simpan di tempat aman.”

…..

“Seperti kemarin, Pak, 500 juta.”

Aku melirik ke arah Rusdi. Ia tampak memperhatikan percakapan singkatku.

“Siapa sih? Kek orang sibuk saja kau ini.”

“Ada sih, klien.”

“Lagakmu bilang klien segala.”

Aku nyengir pahit kepadanya. Namun kurasa itu cukup membuatnya kehabisan bahan. Buktinya ia terlihat keki, dan tak lagi berkalimat-kalimat menjengkelkan seperti tadi. Bahkan, ia tiba-tiba meminta izin kepadaku untuk ke toilet. Mual kan perutmu, Rus? Biar mati penasaran dia.

“Lurus saja, nanti mentok ada akuarium, nah setelah akuarium belok ke kiri.”

Setelah Rusdi ke belakang, tiba-tiba klakson mobil mercy berbunyi beberapa kali di halaman rumah. Pak Soeryono! Ini dia. Daripada mengurusi Rusdi yang tenggorakannya perlu disemprot soda api itu, lebih baik kubukakan pintu, mempersilakan juragan ini masuk, membicarakan hal-hal yang lebih bergairah.

“Aman kan ikannya?”

“Beres, Pak.”

“Ini saya bawa teman. Dia sama seperti kita, pecinta arwana. Dia dari Jepang, tapi sudah lama pindah ke Indonesia.”

Aku mengangguk sambil memperkenalkan diri.

“Harga yang Sumo 500 juta seperti yang di kontes kemarin ya? Gamau dikurangin lagi nih?”

“Wah, belum berani saya, Pak. Itu paling susah bridingnya, bertahun-tahun.”

“Okelah, katanya kau ternak juga yang Batik Myanmar? Nah, ini si Nakata tertarik. Barang langka itu. Berapa pun dibayar.”

“Serius ini, Pak?”

Namun, di tengah percakapan kami, mendadak Rusdi muncul dari balik gordin ruang tamu. Bahkan tiba-tiba ia meminta izin pamit kepadaku, katanya ada urusan. Aku mengangguk padanya,

Dengan gegabah, dan tak hati-hati, kepalanya kejedot ruas atas pintu ruang tamu. Tampak sekali ia panik dan seolah sedang menyimpan sesuatu. Biarlah, memang orang tak waras. Aku kembali duduk, dan tentu dengan sumringah melanjutkan penawaran yang menggiurkan ini.






===================
Nafi Abdillah. Menulis puisi dan cerpen. Seorang pembelajar di salah satu padepokan di selatan Jawa Tengah. Hari-harinya ia habiskan dengan menulis dan mengurusi penerbitan buku indie (Sirus Media). Ia juga bergiat di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya pernah tersiar di beberapa media cetak maupun online dan beberapa kali menjuarai ajang perlombangan menulis tingkat nasional.

Terbaru

Menerjemahkan Pesan Mbah Kakung

Sepanjang hayat tak pernah kukenal sosok kakekku, ayah kandung bapakku. Pernah sekilas belaka Bapak...

Malaikat Bermata Terang

Ihwal Keterampilan Berbahasa

Dari Redaksi