Cerpen

Home Cerpen

Lady Elly

0

1897, awal musim hujan yang agak terlambat datang, dia dilahirkan untuk menjalani takdir kehidupan paling kelam yang pernah digariskan Tuhan untuk manusia di Hindia Belanda. Kelak dewasa, dia bahkan menyimpulkan kesialan itu berkaitan dengan darah pribumi yang mengalir dalam tubuhnya. Kalau bukan darah yang cair, mungkin saja dia akan datang ke dokter untuk memintanya mencopot lalu menggantinya dengan sesuatu yang baru, lebih baik darah babi yang mengalir di tubuhnya, pikirnya. Tentu saja semua itu tak pernah terjadi.

Ibunya anak seorang pengacara yang tentu saja dipandang terhormat. Keterhormatan itulah yang kemudian mengusir ibunya dari rumah. Ibunya masih bocah baru gede saat mengandungnya. Sialnya, ibunya sendiri tak bisa menyebutkan nama ayah anak dalam perutnya. Setelah dilahirkan, ia diserahkan ibunya ke panti asuhan yang dikelola suster-suster.

Setelah diadopsi sepasang suami-istri yang menikah pada usia yang terlalu tua untuk melahirkan keturunan Prancis, dia mendapat kasih sayang berlimpah dan pendidikan yang baik. Namun, nasib baik memang tak pernah ditakdirkan berkarib dengan dia. Pada usianya yang kedua belas, kedua orang tua angkatnya itu meninggal karena sebuah penyakit paru-paru dalam waktu yang berdekatan.

Mau tak mau ia kemudian kembali ke asrama untuk bocah-bocah bernasib sama sepertinya di Surabaya. Di sanalah, ia mendapat darah menstruasi pertamanya. Letupan darah remajanya itu pulalah yang menunjukkan celah sempit untuk keluar dari asrama yang pintu dan jendelanya selalu tertutup rapat sehingga membuat sesak, mendidih, dan ingin meledakkan kepada dan dadanya yang kian membusung. Pada usianya yang keempat belas itulah, untuk pertama kalinya, ia masuki dunia yang paling kelam yang akan mengenangnya sebagai aktris ternama dengan sederet julukan hiperbolik sekaligus sinis yang tercetak dalam halaman-halaman koran berbahasa Belanda dan Melayu.

Di koran, ia digambarkan seorang wanita dengan pesona, keanggunan, dan daya pikat. Dia tempat-tempat yang biasa berada orang-orang penting atau kaya, ia selalu muncul dengan dengan nama yang berbeda dengan penampilan yang lain pula. Jika ia melakukan sesuatu, dia melakukannya dengan semangat dan ketelitian yang mengagumkan, cara kerja yang sama untuk menghasilkan sebuah mahakarya semacam lukisan Monalisa atau nada-nada magis Ludwig van Beethoven. Mungkin kerena itu juga, di usia 18 tahun, seorang penata rambut terpikat dan menikahinya. Dari pernikahannya itu, ia kemudian melahirkan seorang putra. Namun, perkawinan dalam kebahagiaan selalu ingin berakhir dengan begitu cepatnya seperti menguapnya cairan spiritus yang tumpah ke lantai. Seperti dirinya, ia membiarkan putranya tumbuh di sebuah panti asuhan. Kelak, ibu dan anak itu akan berkomunikasi setelah Jepang mengakhiri masa pendudukannya sebagai tanda berakhirnya fasisme di kulit bumi.

Begitulah, ia akan selalu kembali ke masa-masa sulit yang akrab dengannya sejak ia terlahir ke dunia, mungkin karena itu dia diciptakan Tuhan. Karena itu, ia tak pernah peduli dengan surga atau neraka sebagaimana ia menganggap dunia ini begitu kejamnya melebihi gambaran mengerikan neraka Tuhan yang ada di kepalanya. Dalam keputusasaan yang mendera, ia pernah mencoba mengakhiri hidup dengan meminum cairan sublimat. Ketika ia merasa akan berhasil dengan rencananya memutus takdir sialnya, dan tersenyum mengejek kehidupan saat ia menahan sakit merasa dadanya akan meledak, petugas medis rumah sakit justru berhasil memompa sejumlah sublimat yang telanjur masuk ke lambungnya. Tuhan seolah begitu membutuhkan kehadiraanya di dunia ini seperti kisah seorang saleh yang tertelan ikan paus karena melarikan diri dari pekerjaannya.

Ia seorang aktris dengan kapasitas pilih tanding. Salah satu akting terbaiknya adalah saat ia memerankan diri sebagai Lady Elly, karakter yang memungkinkannya bepergian ke seluruh Jawa, tinggal di hotel kelas satu dan toko mewah tanpa kehilangan sepeser pun uang, bahkan ia mendapat semua yang diinginkannya dari sana. Lebih dari itu semua, ia bahkan berhasil membuat seorang letnan pertama Angkatan Darat Hindia Belanda bertekuk lutut mengemis-ngemis cintanya hingga kemudian mereka bertunangan; tentu saja setelah itu ia melekatkan nama sang tunangan di belakang namanya.

Sekali lagi, kesialan itu datang pada saat tak tepat padanya. Takdir kemudian membawanya ke hadapan pengadilan Batavia. Ketika muncul di muka persidangan, ia menunjukkan dirinya telah berdamai dengan takdirnya yang keji, ia tampil sederhana, tapi penuh selera. Ia mengenakan pakaian putih, stoking putih, sepatu hak tinggi putih, rambut pirang gelap dangan potongan penuh gaya. Orang-orang akan semakin terpesona padanya jika mereka berada di dalam persidangan yang berlangsung secara tertutup itu saat melihat tak ada reaksi berlebih tampak di wajahnya yang dipenuhi jerawat saat jaksa menuntutnya dengan delapan bulan bui. Setelah rangkaian persidangan, majelis hakim menghukumnya satu tahun penjara dan denda 500 gulden. Namun, dalam sidang banding, pengadilan memperberat hukuman menjadi dua tahun penjara.

Setelah bebas, beberapa kali ia masih harus keluar masuk bui karena bakat aktingnya itu. Awal 1930-an, ia bekerja di Hotel de Boer, Medan. Siapa pun tak berpikir hotel ternama itu akan mempekerjakan perempuan sepertinya untuk mengurus administrasi atau sekadar menjadi tukang kunci bukan? Begitulah, isu yang banyak berembus, ia menjadi penghibur tamu-tamu penting yang menginap di sana. Dan sangat mungkin, kerena alasan itu kemudian, ia disapa takdirnya yang lain, bertemu lalu menikah dengan seorang Inggris, meski hanya untuk waktu yang singkat. Kelak, ia akan menyadari dan amat bersyukur pernah betemu dengan lelaki Inggris yang menikahinya untuk menghabiskan masa hidupnya yang hanya menyisakan tiga tahun itu. Dengan menggunakan nama bekas mantan suaminya itu, ia dapat bertahan hidup dalam komunitas Inggris di Singapura, ia hijrah karena saat itu ketegangan pemerintahan Soekarno dengan Belanda mengalami eskalasi.

Pada masa pendudukan Jepang, ia mulai menjalani hubungan gelap dengan seorang priyayi Jawa. Lelaki itu bekerja sebagai petinggi di Djawatan Pos di Batavia. Sebagai pelengkap perkawaninan, mereka mengadopsi seorang anak laki-laki sebelum kemudian tinggal di Makassar. Di kota itu, ia terlibat dalam penyelundupan makanan dan informasi ke kamp-kamp tahanan orang Belanda (dan Eropa pada umumnya). Akibatnya, ia dipenjara dan dilecehkan dengan kejam oleh tentara Jepang. Sayang, kematian yang pernah diinginkannya belum berkenan padanya. Mungkin, itulah hal terbaik yang pernah dilakukannya semasa hidup. Itulah yang sering ia ulang-ulang dalam suratnya. Tapi, koran-koran itu lebih senang membicarakan tindakan-tindakan kriminalnya semasa hidup; mungkin begitulah cara jurnalisme bekerja.

Berakhirnya perang menandai juga berakhirnya hubungannya dengan sang priyayi. Sementara anak adopsinya tinggal dengan ayah angkatnya, ia memilih kembali ke kota kelahirannya, Surabaya. Dengan nama barunya, ia secara teratur melakukan kontak denganku, putra kandungnya.

Aku tak pernah bertemu dengannya secara fisik, kami hanya bicara melalui surat. Ada banyak alasan untukku memilih melakukan itu. Aku ingin menjaga kehormatan ibu dan ayah angkatku yang kebetulan seorang priyayi Jawa. Selain itu, aku tak mungkin mengatakan latar belakangku yang sedemikian kacau kepada istri dan anak-anakku. Aku telah berhasil memulai mendefinisikan identitas diriku yang baru dengan membangun keluarga, aku tak ingin merusaknya. Dari surat-surat yang ia tulis, aku kemudian tahu, ia hijrah ke Singapura pada 1957. Di sana, ia menyusup ke dalam komunitas Inggris Singapura dengan menggunakan nama mantan suami Inggrisnya.

Di hari-hari terakhirnya, dia tetap menjadi perempuan yang ditindas takdir yang sekaligus menjadi karibnya paling setia; miskin harta dan kehormatan. Beberapa tahun kemudian, ia berkabar telah menyeberang ke Kuala Lumpur. Dan, di sanalah, takdir kematian yang dulu sering menolak dengan angkuh saat ia panggil-panggil datang dengan sendirinya. Dan, ia menyambut kematian itu dengan keanggunan yang bercampur keangkuhan, kematian yang menguarkan aroma wiski yang harum. Di usia 77, ia meninggal. Aku hadir dalam upara pemakaman yang hidmat itu dengan pakaian serba gelap dan kacamata hitam, tanpa setitik pun air mata.

Dengan pandangan yang ajek ke kuburan yang tanahnya masih basah itu, istriku bertanya, “Jadi ia masa lalumu yang selama ini kaucoba sembunyikan dari kami, Sayang?”

“Kini kamu tahu segalanya. Dan itu sangat melegakan.”

Dia memelukku, semakin lama makin erat saja, hingga aku merasa ia adalah kulit dan dagingku yang menyelubungi tulang dan organ-organ dalam tubuhku.

Fakuntsin, 2020



======================
Mufti Wibowo lahir dan berdomisili di Purbalingga. Menulis puisi dan prosa.

Kejahatan Cinta

0


SUDAH banyak kekacauan yang disebabkan karena ulahnya, namun sang Ibu belum cukup dalam memberinya pelajaran. Berbagai macam cara sudah dilakukan agar anaknya mau berubah, rupanya sia-sia belaka.

Bocah kecil itu masuk ke dalam rumah dan membawa seekor katak untuk dia tunjukkan pada Ibunya. Ketika sedang berjalan ke arahnya, dia berteriak kaget saat katak dalam genggamannya hendak melompat. Tanpa berpikir panjang, bocah itu mengangkat kedua tangan sehingga katak pun lepas. Melihat katak melompat dan menempel pada baju sang Ibu, bocah itu kembali berteriak dengan menjerit-jerit ketakutan. Dia melempar katak itu ke tanah dan tumpahlah air dalam bejana yang terjatuh dari atas meja karena tangan ibu menyenggolnya..

Dia berlutut di hadapan Ibunya dengan kepala tertunduk, siap untuk menerima hukuman. Dirinya terlihat menyebalkan. Namun, alih-alih meluapkan amarah, si Ibu hanya tertawa melihat tingkah lakunya. Dia berusaha untuk tetap tenang seraya berkata, “Kalau dirimu takut dengan katak, mengapa kamu memegangnya? Kamu memang anak yang tidak juga mengerti.” Kemudian Ibunya mengambil bejana tadi dan berkata, “Pergilah ke sungai dan gantilah air yang sudah tumpah tadi.”

Dia mengambil bejana itu. Ternyata berat, lantas dirinya menggerutu,
“Ibu yang menjatuhkan, mengapa aku yang dihukum? Kalau aku keberatan membawa bejana kosong ini, mana mungkin aku bisa mengangkatnya bila terisi penuh?” Rupanya sang Ibu mendengar anaknya menggerutu, namun pura-pura tidak mengetahuinya. Dia hanya berharap dalam hati semoga hukuman ini dapat membuatnya jera.

Beberapa tahun telah berlalu…

Gadis itu tidak kunjung memiliki teman karib, apalagi seorang tambatan hati. Ayahnya telah meninggal beberapa tahun lalu. Kini, dia hidup bersama Ibunya seorang diri. Dia beranjak dewasa dan mulai tampak tanda kematangan di wajahnya. Seiring waktu pula, rasa malu timbul dalam diri yang memberi rona merah pada pipinya. Dia tidak pernah pergi ke luar kecuali menuju sungai yang terletak dekat dari rumahnya.

Di pinggir sungai desa dikelilingi oleh pepohonan yang besar. Di sampingnya terdapat banyak bebatuan. Gadis ini, orang biasa memanggilnya Sarah, duduk di pinggirnya lalu melempari sungai dengan bebatuan kecil sembari merenung tentang kehidupan. Tampak beberapa wanita sedang mencuci sayur-mayur dan pak tua penangkap ikan yang sudah sering dia lihat. Pak tua itu duduk di pinggir sungai sejak matahari mulai terbit hingga agak meninggi untuk memancing ikan yang nanti akan diberikannya kepada sang istri. Dia tidak memiliki anak. Sudah bertahun-tahun lamanya dia tinggal bersama sang istri dan tidak pernah berniat berpisah untuk selamanya. Selain pak tua itu, Sarah tidak tahu-menahu mengenai kehidupan orang-orang desa. Dia agak menjauh dari mereka. Dirinya juga tidak terlalu suka bergaul dengan banyak perempuan. Meski di waktu kecil sering membuat keributan, namun dia bukanlah tipe yang mudah bergaul.

Sementara itu, terlihat dari kejauhan seorang pemuda sebaya Sarah hendak menuju ke arah dirinya. Dia membawa senar pancing, keranjang berisi makanan dan umpan untuk ikan yang akan ditangkapnya. Dia berjalan dengan tenang, lewat di depan Sarah tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya lalu duduk menjauh. Tetapi, duduknya tidak jauh dari pak tua yang sedang memancing. Kini, si pemuda tampak jelas di mata Sarah. Sarah pernah melihat sebelumnya tetapi belum pernah dia melihat dengan sejelas ini. Dia memakai kaos putih tipis, mengikat erat pinggangnya dengan sabuk dan mengayunkan kailnya ke tengah- tengah sungai.

Sarah tidak mengetahui siapa pemuda itu. Sarah bukan tipe yang mudah bergaul seperti yang sudah aku katakan sebelumnya kepada kalian. Tetapi, dia memperhatikan dengan saksama bagaimana cara pemuda itu menangkap ikan. Bagaimana dia melompat ke dalam sungai sesekali waktu, kemudian menangkap ikan dengan menggiringnya di antara ikan buruan pak tua. Tak ayal, setiap pak tua hendak menangkap ikan buruannya, ikan-ikan tersebut berlarian sebelum dia sempat mendekatinya.

Keranjang pemuda itu rupanya sudah penuh dengan ikan. Dia akan menyudahi perburuannya hari ini. Setelah mengencangkan ikat pinggangnya, dia pun berlalu. Sesampainya di tepi jembatan yang menjadi penghubung antar sungai, dia berhenti sebentar. Dia menyeberangi jembatan untuk menghampiri bapak tua. Dia masukkan setengah keranjang ikannya ke dalam keranjang bapak tua itu lalu melanjutkan langkahnya pergi. Ternyata, Sarah masih memperhatikan gerak-gerik pemuda itu. Sesampainya di rumah, dia ceritakan semuanya kepada sang Ibu, “Dia pasti orang baik. Mungkin dia merasa bersalah kepada bapak tua itu karena akibat ulahnya dia tidak mendapatkan seekor pun ikan”. Waktu terus bergulir, pagi beranjak siang. Cahaya matahari mulai menembus sela-sela dahan pepohonan yang menenggelamkan cahaya bulan sehingga tak tampak, menandakan waktu malam benar-benar berakhir.

Tanpa terasa siang beranjak sore, dan malam telah tiba. Gadis itu duduk di dekat jendela kecil kamarnya. Matanya awas menatap sungai. Bulan menampakkan putih wajahnya, memantulkan keindahan dan menunjukkan kepadanya beberapa keelokan sungai. Pikirannya dipenuhi oleh pemuda yang tadi pagi sama sekali tidak menoleh ke arahnya namun rela berbuat baik demi bapak tua. Sarah memutuskan untuk pergi tidur. Dari atas ranjang, dia masih mengamati bulan sambil membayangkan pemuda itu. Berulang kali dia melihat ke arah bintang-bintang yang mengelilingi bulan. Dia tidak bisa berhenti memikirkannya. Namun, tidak terasa kelopak matanya menjadi berat dan perlahan-lahan terpejam, akhirnya dia tertidur.

Keesokan hari, dia sarapan bersama ibunya, membantu mencuci pakaian dan membereskan rumah. Dia membawa sayuran hijau dan mencucinya di pekarangan rumah. Setelah itu, dia pergi mandi kemudian berpakaian lengkap untuk bersiap-siap pergi bersama menuju sungai. Kali ini, dia melihat pemuda itu datang terlebih dahulu. Anehnya, si pemuda duduk di tempat yang biasanya diduduki oleh Sarah. Apakah mungkin dia sengaja melakukan itu atau hanya kebetulan?. Dirinya sejenak membatin.

Sarah pandai memahami apa yang dia maksud. Dia lewat di depan pemuda itu seperti apa yang sudah pernah dilakukan padanya, lalu duduk di tempat yang pemuda itu duduki sebelumnya. Sarah melemparkan pandangannya ke arah bapak tua di sisi lain sungai. Seperti biasa, belum satu ikan pun yang berhasil ditangkap oleh pak tua. Sarah menjadi teringat dengan apa yang dilakukan pemuda itu kemarin. Dia putuskan untuk menemui bapak tua dan membantunya. Dia menyeberangi jembatan kemudian mendekatinya dan berkata, “Hai kek, apakah engkau membutuhkan bantuan?”. Lelaki tua itu menganggukkan kepalanya, tersenyum.

Saat Sarah sedang berbincang-bincang dengannya, tiba-tiba seekor ikan besar menarik senar pancing. Terjadilah pertarungan antara si kakek melawan si ikan. Senarnya terus ditarik oleh kakek tua dan terlihat ikan menyembul terseret menuju pinggir sungai, lantas kakek berseru kepadanya, “Tahanlah ikan itu sebelum lepas”. Sarah turun ke sungai membawa keranjang besar untuk mendekati ikan yang menggelepar itu. Dia celupkan keranjang ke dalam air. Walhasil, ikan besar tersebut berhasil ditangkapnya. Alangkah senang hati kakek tua. Dia berseru kembali, “Sudah cukup penangkapan kita pagi ini”.

Sarah  menuju tepian sungai sambil menjinjing keranjang berisi ikan tadi. Begitu hendak meletakkan keranjang di pinggir sungai, kakinya terpeleset dan jatuhlah dia ke dalam sungai. Si kakek mendadak tertawa melihat pipi Sarah yang merona merah karena menahan malu. Dia mengulurkan tangan membantu Sarah untuk bangkit, lantas berujar, “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi berterima kasih kepadamu, nak. Kamu telah bersusah payah membantuku hari ini”. Sembari melihat pakaiannya yang basah kuyup, Sarah menjawab, “Sudahlah kek, aku tidak apa-apa”. Kemudian dia melihat ke arah pemuda itu, takut kalau-kalau dia melihatnya. Sayang, kejadian itu dilihat olehnya dan dia pun tertawa terbahak-bahak, sampai dia seka air matanya menggunakan lap karena terlalu banyak tertawa.

Hal ini lantas membuat Sarah naik pitam. Dengan langkah penuh kemarahan, dia mendekati pemuda itu dengan kaki yang dientak-entak, sehingga mengakibatkan jembatan itu bergoyang. Ketika sudah berdiri di hadapannya, dengan nada tinggi dia membentak, “Hei! Mengapa engkau tertawa?! Tidak kah kau kasihan melihat wanita terjatuh ke dalam sungai? Bukannya memberikan pertolongan, mengapa engkau terus saja menertawakanku!”.  Gadis itu berani. Meskipun menahan malu, dirinya tidak bisa tinggal diam apabila diperlakukan seperti itu. Si pemuda menjadi tergagap. Rasa takut bercampur malu menyelimuti dirinya. Dia tidak bisa menjawab sepatah kata pun.

Kemudian, Sarah bergegas pulang dengan perasaan marah. Dia tidak berbicara sepatah kata pun kepada ibunya. Dia hanya duduk di dekat jendela kamar, terdiam membisu hingga sore tiba. Ibunya sudah terbiasa melihat sikap anak gadisnya. Anaknya selalu bersikap begitu bila kesal dengan orang lain. Dia belum bisa mengendalikan emosinya. Sebenarnya, dia adalah gadis yang lembut bagai kucing penurut. Namun bila sedang marah, dia akan berubah menjadi seekor macam garang yang tidak seorang pun dapat meredam kemarahannya.

Tibalah waktu menjelang malam. Dia melihat bulan di atas langit sembari memikirkan sikap yang telah dia lakukan terhadap pemuda itu pagi tadi. Dia bergumam, “Wajar saja bila dia menertawakanku. Kejadian itu memang pantas untuk ditertawakan. Lalu, mengapa aku menggertaknya? Mengapa aku tidak ikut memarahi kakek tua ketika dirinya menertawakanku? Dia pejamkan kedua matanya, “Aku tidak mempunyai alasan untuk marah-marah kepadamu wahai pemuda “. “Ah, diriku benar-benar bodoh.. mengapa aku melakukan itu?”. Gadis itu tidak berhenti merutuki dirinya sendiri hingga tertidur. Cahaya bulan menunjukkan gurat kesedihan yang tampak pada kedua matanya yang sedang terpejam.

Pagi harinya, dia berniat membawakan beberapa buah untuk si pemuda sembari meminta maaf kepadanya. Dia meminta izin kepada sang ibu. Ibunya menyuruh dia menambah jumlah buah untuk diberikan juga kepada kakek tua. Di jalan, dia berbicara seorang diri, “Bagaimana supaya diriku bisa memulai pembicaraan? Sebaiknya aku mengatakan kepadanya bila aku ingin berbicara terkait kejadian kemarin”. “Ah, tidak-tidak, ini terlalu datar. Perkataanku harus lebih mengena. Apa sebaiknya diriku berkata, tolong jangan marah kepadaku atas kejadian kemarin, aku sudah berkata kasar. Aku bersalah dan ingin meminta maaf. Ya, mungkin ini lebih baik”.

Sesampainya Sarah di sungai, dilihatnya pemuda itu sedang duduk di tempat biasanya, lantas dia menghampirinya. Namun, rasa malu bercampur takut akan penolakan perlahan-lahan menghinggapi sekujur tubuhnya. Dia gugup dan mendadak lupa terhadap ucapan yang sudah dia dipersiapkan matang-matang. Oh ya Tuhan…

Ketika berhadapan dengannya, pemuda itu menatapnya. Dengan tergagap Sarah berkata, “Dengarkan aku.. a.. a.. aku ingin meminta maaf. Aku, aku… ambil buah-buahan ini.. jangan marah kepadaku..”. Mendadak pemuda itu tertawa. Namun terburu-buru dia menutup mulutnya dan tersipu malu mengingat kejadian kemarin. Akhirnya, Sarah tidak tahan untuk ikut tertawa pula. Dia menyodorkan beberapa buah kepadanya. Pemuda itu terpana. Tiada henti dia memperhatikan Sarah dan lupa terhadap kail pancingnya. Tangkai pancing itu bergerak dan ikan yang besar menyangkut pada kailnya. Dengan cepat Sarah menarik senar pancing dari sungai menuju ke bebatuan yang paling tinggi. Keduanya berlomba memperebutkan senar pancing hingga terjatuh ke dalam sungai bersama.

Dari kejauhan mendengar suara seseorang sedang terkekeh-kekeh. Ternyata, kakek tua itu sedang menyaksikan tingkah mereka. Mereka menjadi malu. Si pemuda bangkit lalu membantunya berdiri. Kemudian, dia mengambil beberapa buah pemberian Sarah dan mencucinya. Dia berujar, “Kita dipanggil oleh kakek itu. Ayo, kita ke sana dan makan buah bersama”. Sarah sangat bahagia dengan apa yang terjadi hari ini. Seakan hari ini adalah hari terindah yang pernah ada dalam hidupnya.

Awal pertemuan selalu menjadi momen indah di dalam hidup. Setiap mengingatnya, tanpa sadar dirimu akan tersenyum. Apakah kamu mengingat, bagaimana rasanya pertemuan pertama dengan seseorang yang kamu sukai diam-diam? Tersenyumlah, ayo tersenyum.. tidak akan ada orang yang melihatmu. Namun, apakah dirimu sadar, bahwa kamu juga membenci datangnya kesedihan setelah adanya kebahagiaan? Sadarkah bagaimana hubunganmu dengan orang yang kamu sukai itu sekarang?.

Kita bersedih karena masing-masih dari kita sudah berubah. Kita ingin banyak mendapat perhatian, dan berharap selalu bersama seperti awal kita berjumpa. Namun seiring berjalannya waktu, kita dapati diri kita keterlaluan. Kita banyak menuntut. Lantas baru tersadar bahwa semua yang menjadi keinginan kita terhadapnya hanya ada dalam angan-angan. Mengapa?  Hakikatnya, semua yang tampak indah-indah dalam hubungan itu akan terlihat di awal saja. Hal yang sebenarnya justru terlihat belakangan. Sikap yang diambil di dalam menghadapi masalah akan menunjukkan wajah kita yang sebenarnya.

“Aku bahagia.” Itulah kalimat pertama yang diucapkah oleh Sarah sesampainya di rumah. Sarah memeluk Ibunya erat, lantas beranjak untuk membuat beberapa manisan. Pikirannya masih terbayang oleh kesan pertamanya saat berjumpa dengan pemuda itu.

Satu bulan telah berlalu, pemuda itu datang melamarnya. Hal ini karena Ibunya Sarah tidak setuju apabila dia sering bertemu dengan anaknya tanpa ada ikatan pernikahan. Pemuda itu tidak berbohong dalam memperkenalkan  diri. Tetapi, dengan cepat dia utarakan maksudnya hendak melamar putrinya. Si Ibu menerima pertunangan itu, namun dia berencana untuk menunda pernikahan mereka selama satu tahun. Hal ini dilakukan agar putrinya dapat menemukan suatu hal yang belum terungkap pada diri pemuda itu.

Setiap pagi, Sarah menemuinya di sungai. Mereka mengobrol panjang lebar sambil menangkap ikan bersama. Terkadang, mereka membawa ikan hasil tangkapan ke rumah Sarah untuk dimakan bersama-sama. Adapun rumah pemuda itu terletak di desa seberang sungai. Hampir setiap hari pemuda itu pergi ke sungai. Seperti yang dikatakan sebelumnya, sungai adalah sumber kehidupan baginya. Saat itu, tidak banyak lahan pekerjaan bagi orang-orang desa sepertinya yang rata-rata hidup sederhana. Dan ikan adalah makanan yang biasa dimakan oleh segala macam orang, baik miskin maupun kaya.

Si gadis memiliki hati yang perasa dan mudah terobsesi kepadanya, sementara si pemuda memiliki sifat yang berlawanan dengan si gadis. Namun, suatu ketika dia memperlihatkan sifat jelek yang biasa dialami oleh kebanyakan orang, yaitu bosan. Apakah kalian masih bertanya-tanya, apa itu bosan? Kalian pun mengerti maknanya. Tetapi kalian tidak mengerti siapa yang sering kali bosan di dalam sebuah hubungan.

Ada banyak pria yang meluapkan semua gairah cintanya di awal hubungan. Sehingga, gairah itu perlahan-lahan berkurang dan lambat laun akan menghilang. Apabila telah hilang, mulai terlihat dari sikapnya yang menjauh dari sang kekasih. Si wanita menganggap bahwa pria menjauhinya karena sudah tidak mencintainya lagi atau sudah merasa bosan dengannya. Dan masalah yang kemudian membuat kita terhenyak adalah, apabila sang pria kemudian mengincar wanita lain padahal masih memiliki hubungan dengan wanita sebelumnya..

Pemuda itu amat pencemburu dan dia tidak ingin Sarah berpaling darinya. Namun di saat yang sama, si pemuda enggan berbicara dan tidak peduli terhadapnya. Bagaimana kalian melihat ketidakadilan ini? Itu hanya dialami oleh pria yang pembosan. Sarah melihat tanda-tanda tersebut ada padanya, bermula dari seringnya tidak datang ke sungai untuk bercakap-cakap dengannya hingga beralasan, “Maaf, aku sedang ada kesibukan di desa”. Dia membuat banyak alasan agar Sarah mempercayainya. Dia ingin bebas dan menghibur diri dari pembicaraan yang tiada habis dan melelahkan.

Kesedihan mulai menyusupi relung hatinya ketika melihat perubahan sikap pemuda itu dari hari ke hari. Dia berkata dalam hati, “Apakah diriku banyak kekurangan? Atau kah rasa curigaku yang berlebihan sehingga dia menghindariku?”. Hilanglah kepercayaan dirinya. Pemuda itu menjadi sosok yang lain semenjak menjauh dari Sarah. Setiap kali bertemu, dia selalu mengatakan sibuk sebagai alasannya. Sementara Sarah berpikir bahwa pemuda itu sudah tidak menginginkannya lagi.

Namun, kepada siapa dia hendak mengadu? Dia telah memilihnya dan tidak bisa mundur karena terlanjur cinta dan terpikat olehnya. Tidak hanya sekali Sarah bertanya, “Apa kau masih mencintaiku, atau hatimu sudah berubah? Aku berharap kau akan mengatakan yang sesungguhnya. Jangan menyiksaku lebih dari ini..”. Rupanya ucapan Sarah tidak dihiraukan olehnya. Hanya tanggapan ketus yang diterimanya. Pemuda itu berujar, “Kamu benar-benar gadis yang menyebalkan dan berlebihan, jangan sampai dirimu membuatku marah..”. Kemudian, dia meninggalkan Sarah yang menangis terisak di pinggir sungai seorang diri. Dia berlalu darinya. Dia tidak pernah seperti ini, mengapa berubah?

Sebenarnya, salah satu ciri pria pembosan yakni lebih penyayang daripada yang lain. Ya, jangan lah kamu heran. Mereka dipenuhi rasa cinta namun mudah untuk merasa jenuh. Apabila ada suatu hal dari dirimu yang berhasil memancing perhatiannya kembali, dia akan merasa senang sehingga kebosanan terhadap hubungan kalian menjadi hilang. Lalu muncul kembali sifatnya yang penyayang dan bertambah pula rasa cintanya kepadamu. Namun, begitu dia mendapati keluh kesah dan kerinduan tanpa adanya tantangan yang menyenangkan dalam sebuah hubungan, perlahan-lahan kebosanan itu kembali menghampirinya. Sayangnya, Sarah tidak menyadari hal ini. Perasaan cintanya mengalir begitu saja seperti aliran sungai yang mengalir di antara bebatuan.

Pada suatu hari, dia merasa begitu sedih. Dia memutuskan untuk mencarinya dengan berjalan di sepanjang tepian sungai. Banyak dahan-dahan pohon besar yang melintang di pinggir-pinggir sungai menghambat langkah kakinya. Dia berkata dalam hati, “Aku harus menemukan dimana pun dia berada. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai penangkap ikan”. Maka, mulailah Sarah mencari dan akhirnya menemukannya. Namun, dia tidak langsung menghampiri pemuda itu. Dia hanya melihatnya dari jarak yang cukup jauh.

Rupanya dia sedang terlihat gelisah. Beberapa kali dirinya menoleh ke kanan dan ke kiri seakan-akan menunggu seseorang yang akan datang. Sarah memperhatikan gerak-geriknya sembari bersembunyi di balik pepohonan untuk mengetahui mengapa dia ada di sini. Inilah yang disebut cinta. Cinta dapat membuat kita melakukan apa saja bahkan hal konyol sekalipun. Cintalah yang menggerakkan diri kita. Lakukan apa saja yang menjadi keinginanmu Sarah..

Tidak berselang lama, seorang gadis muncul dari seberang sungai. Dia membawa sebuah bejana. Pemuda itu menatap dengan mata berbinar penuh harap dan semangat saat gadis tersebut melempar senyum ke arahnya. Dengan tenang dia mengisi bejananya dengan air, lalu kembali menatap pemuda itu cukup lama. Dia membalasnya. Mereka pun saling berpandangan. Tak pelak, hal ini membuat dada Sarah menjadi sesak. Dalam hati berkata, “Tegakah dia melakukan itu? Mengapa selama ini dia tunjukkan cintanya kepadaku. Oh, rupanya ibu benar dalam menunda pernikahan kita.” Karena tidak tahan dengan perasaan yang sungguh menyesakkan, pecahlah tangis Sarah.

Saat gadis itu berlalu dengan menenteng bejananya, Sarah muncul mendekati tunangannya sambil terisak. Pemuda itu melihatnya dan mengetahui bahwa Sarah telah menyaksikan semua. Namun, hanya kalimat ini yang terucap, “Jangan berbicara padaku karena aku tidak ingin mendengar sepatah kata pun darimu. Aku bebas melakukan apa saja yang aku sukai. Sebaiknya, pulanglah..” Kemudian, pemuda itu memunguti beberapa ikan hasil tangkapannya lalu menenteng keranjangnya dan bergegas pergi. Di dalam hati dia berkata, “Dia pasti mengejarku, karena dia telah mencintaiku dan tidak bisa lepas dariku..”

Alih-alih mengejarnya, Sarah hanya terdiam, berdiri tertegun seolah  tidak menyangka pemuda itu berkata demikian terhadapnya. Lantas memutuskan untuk balik menuju tepi sungai tempat awal di mana dirinya hendak mencari si pemuda itu. Dia membasuh wajahnya, duduk sebentar lalu menangis lagi. Dari kejauhan si kakek tua itu melihatnya. Dia memberi isyarat agar Sarah datang kepadanya. Sarah menghampiri kakek tua itu dengan menyeberang jembatan, lalu duduk di dekatnya. Mereka saling terdiam hanyut dalam pikiran masing-masing. Setelah satu jam lamanya, mulailah kakek tua itu membuka suara.

Cucuku, sudah lama aku hidup bersama nenekmu tanpa dikaruniai seorang anak. Dahulu, aku berpikir bahwa masalah ada padanya. Lalu aku pergi meninggalkan nenekmu untuk menikah dengan wanita lain. Bertahun-tahun aku tinggal bersamanya. Akhirnya, dia meninggalkanku karena kita tidak juga memiliki seorang anak. Orang-orang menyadari bahwa penyebabnya ada padaku.

Aku kembali pada istriku yang pertama dan mencoba untuk menjelaskan semua yang sudah terjadi. Namun dia tak mengizinkanku berbicara. Tangannya menutup mulutku, kemudian dengan mudahnya dia berkata, “Lupakan semua yang sudah terjadi.”  Dia memberiku pancing ini sembari berkata, “Cobalah menangkap ikan.. sudah cukup bagi kita berdua hidup bahagia bersama.” Aku merasa sangat malu. Tidak berani diriku menatap matanya pada saat itu. Semenjak itulah, setiap hari aku menangkap ikan untuk kami makan. Bila ada kelebihan, ikan itu kami jual lalu hasilnya kami belikan sesuatu yang lain. Aku berjanji tidak akan pernah membuatnya menangis lagi.

Cucuku, kami para lelaki tidak akan pernah sadar sampai wanita yang kami cintai mencampakkan kami. Aku belum belajar ketika istri keduaku pergi meninggalkanku dan aku memohon kepada istri pertamaku untuk kembali. Jika bukan karena Allah yang memberinya kemurahan hati, niscaya sisa hidupku hanya habis untuk menanggung malu.

Kemudian, kakek itu mengambil seekor ikan dari keranjangnya, lalu berkata : “Ikan ini berenang menuju tepian sungai, mengira bahwa tempat ini lebih baik dari rumahnya. Ternyata, dia kehilangan nyawanya. Jangan mengorbankan hidupmu demi mengejar angan-angan semu. Jauhi semua yang membuatmu emosi dan berhentilah memandang kehidupan orang lain seolah-olah lebih baik dari hidupmu..”

Sarah berkata, “Tapi dia meninggalkanku karena mencintai yang lain”. Kakek tua menjawab, “Itu hanya pelampiasan kebosanannya saja. Dia akan kembali kepadamu setelah mengerti siapa yang sebenarnya mencintainya. Namun, siapa yang telah mengecewakan orang lain, tidak akan bertahan lama dia akan dikecewakan oleh orang lain juga”. Dunia terus berputar. Apa yang kamu tanam hari ini, itulah yang akan kamu tuai di hari esok. Semua perbuatanmu pasti kembali untukmu. Kamu harus membiarkan dirinya melakukan apa yang dia suka. Jika kamu tidak setuju dengan apa yang telah dia perbuat terhadapmu, maka dirimu berhak menolak dan tidak mencoba kembali kepadanya.

Mengapa diriku berkata seperti itu? Apabila pria melihat seorang wanita yang merendah, pasrah, lemah dan terlalu bergantung kepadanya, dia menjadi bangga dan bertambah sikap sewenang-wenangnya terhadap wanita. Sedikit dari pria bisa menghargai wanita seperti ini. Buatlah dirinya menyesal telah bersikap demikian dan jangan kembali kepadanya. Sebab, seorang mukmin tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kedua kali. Aku tidak bermaksud menyalahi hukum atau membuatmu takut untuk menunjukkan sisi lembutmu sebagai seorang wanita. Aku hanya berharap bisa memberikan pengertian ini dengan baik, agar kamu tidak menjadi wanita bodoh yang mengacaukan duniamu serta mengorbankan hidupmu sendiri. Allah telah memuliakanmu. Islam menjaga hak-hak mu. Maka, jangan kamu biarkan seseorang mempermainkan sikapmu.

Sarah kembali ke rumah. Hatinya menjadi agak tenang mendengar penuturan si kakek tua tersebut. Semenjak itu, dia banyak menghabiskan waktunya di rumah dan tidak pergi ke sungai. Dia tidak ingin bertemu dengan tunangannya. Karena kesedihan dan kedukaan telah menemukan tempat yang damai di dalam hatinya, perlahan-lahan dirinya mulai bangkit dari keterpurukan. Dia sibukkan hari-harinya dengan melakukan banyak kegiatan. Jika di waktu siang dirinya sibuk dengan pekerjaan dan jauh dari kata santai, maka di waktu malam dia gunakan untuk beristirahat karena merasakan capek dan penat. Hal ini membuat Sarah mudah terlelap tidur.

Ternyata benar. Pada mulanya, tunangan Sarah tidak menyadari hal itu dan tidak bertanya apa pun mengenai keadaannya. Satu bulan telah berlalu. Namun, pada suatu hari dia kembali ke sungai dan duduk di tempat seperti biasa. Dia tidak hendak menangkap ikan. Pikirannya dipenuhi oleh Sarah. Mengapa dia tidak datang dan tidak kembali?. Dia mengira Sarah akan kembali padanya dan mencarinya, ternyata dugaannya salah.

Lama sekali pemuda itu termenung. Raut mukanya terlihat murung. Mendadak dirinya ditimpa kesedihan yang teramat sangat dan merasa kehilangan. Hatinya pun diliputi kekacauan serta kegundahan. Bagaimana caraku bisa bertemu dengannya lagi? Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi, wahai Sarah? Mulailah banyak pertanyaan muncul di benaknya tanpa adanya sebuah jawaban. Pertanyaan itu terus mengusik hati dan pikirannya hingga kelelahan. Dia tidak berani mendekati rumahnya. Yang dia lakukan hanya menunggu dan menunggu dengan sia-sia.

Aku ingin menyampaikan suatu hal yang penting kepadamu wahai para wanita. Entah dia mengharapkanmu ataupun sebaliknya, jangan kembali kepadanya. Jangan kira bahwa dia yang membutuhkan perhatian pasti mencintaimu. Sekali-kali, tidaklah dia merasa senang kecuali melihat ketundukan dan kepasrahan cintamu kepadanya. Orang yang mengasihi tidak akan menyiksa orang yang dikasihinya.

Kekasih adalah mereka yang peduli kepadamu, menyebut namamu dan mendekapmu dengan penuh kehangatan. Bukan mereka yang mengabaikan, melupakan dan mengacuhkanmu. Mereka jua lah yang mau menyadari kesalahannya sejak awal dan tidak sudi berbohong kepadamu.





==================
Ibrahim al-Shamlan berasal dari Lebanon. Dia adalah seorang motivator sekaligus penulis aktif di media cetak maupun elektronik sejak tahun 2000-an hingga sekarang. Namanya dinisbahkan kepada daerah asalnya yakni Shemlan, sebuah desa di daerah pegunungan Lebanon. Karya-karyanya banyak membahas mengenai motivasi hidup, pengembangan diri dan pemikiran filosofis yang dibalut dengan gaya bahasa kekinian dan tidak kaku sehingga sesuai dengan minat pembaca muda zaman sekarang. Sudah puluhan karya diterbitkan berupa novel, cerpen dan buku serial, antara lain: Maharaat al-hayat – buku serial (2013), Ath-thalaq ash-Shomit (2013), Atsimul Hawa – Cerpen (2015), Sukuun al-Ruuh – Novel (2017), Rawai’ Aqwalu al-Hasan al-Bashri, dan masih banyak lagi. 
Nidda Amirotul Qori’ah, lahir di Purworejo, 26 Februari 1995, adalah mahasiswi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, program Bahasa Sastra Arab. Gemar menulis dan meminati bidang kritik sastra dan penerjemahan.

Gadis Pemburu-pengumpul

0

GEMERISIK terdengar dari tumpukan sampah di samping rumahku. Waktu kuperiksa, kudapati bahwa yang mengorek-ngorek sampah itu ternyata seorang perempuan, masih muda, bukan anjing tetangga sebelah. Dia berhenti sejenak dengan tatapan awas ketika kuperhatikan. Dari perawakannya, usianya kutaksir sekitar 15 atau 16 tahun. Kulitnya coklat muda dan rambutnya berwarna terang meski wajahnya kotor. Dia memakai pakaian dari kulit binatang yang aku duga itu kulit rusa atau sapi yang dikeringkan [1].

Karena dilihatnya aku tak menunjukkan tanda-tanda mengancam, dia melanjutkan mengendus-ngendus satu per satu kantung plastik di tumpukan sampah. Diambilnya bungkusan sate padang yang kemarin malam kubeli. Aku terkejut melihat dia melahap dengan rakus sisa sate yang tak habis kumakan. Sambil mengunyah dengan keadaan mulut penuh, dia tetap mengawasiku. Kubiarkan dia mengacak-acak tumpukan sampah itu sampai puas. Dikoreknya terus tumpukan sampah hingga ke dalam tanah. Dari dalam tanah dia keluarkan kantung-kantung plastik yang barangkali sudah tertimbun puluhan tahun dan tak bisa terurai. Tak lama, dengan cekatan dia memanjat pagar tembok tetanggaku.

Cepat-cepat kuikuti gadis itu. Kubawa kamera dan perekam. Ini kesempatan langka, pikirku. Dia berjalan menuju pasar. Langkahnya cepat. Antara takut dan heran, dia perhatikan apapun yang dilaluinya dengan waswas.

Dia berhenti di tenda penjual daging. Ditunjuk-tunjuknya daging merah yang tergantung. Si penjual tampak kebingungan karena tak paham dengan bahasanya.

“Mau beli daging?” tanya si penjual, berdiri menghampiri si gadis.

“Asiama sudesama noha (Ini pasti enak—bahasa rekaan pengarang; selanjutnya akan ada bahasa rekaan lainnya),” jawab gadis itu dengan gelisah. Tentu saja bahasa gadis itu tak dapat dimengerti oleh si pedagang daging.

“Maksudnya?”

Sudesama noha. Sude na soha (Ini enak. Ini sangat enak),” si gadis masih menjawab dengan bahasa yang tak dapat dipahami [2], sambil terus menunjuk-nunjuk daging yang tergantung. Orang-orang di sepanjang lorong itu menghentikan aktivitasnya, menonton tingkah gadis itu. Sementara si penjual, karena mengira si gadis hanya gelandangan pengidap skizofrenia, berhenti meladeni, dan kembali ke tempat duduknya sambil menyibak lalat yang mampir di ujung hidungnya.

Sejurus kemudian, orang-orang terperangah saat tiba-tiba si gadis menyambar daging yang tergantung, dan langsung mengoyak dan menelannya dengan lahap. Setengah ketakutan, si penjual langsung mengusir gadis itu dengan sapu lidi yang biasa digunakannya untuk mengusir lalat yang menghinggapi daging dagangannya. Tidak terdengar ada teriakan ‘maling, maling’ dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. Mereka setengah ketakutan alih-alih terpukau.

Saat berlari menghindari kerumunan orang-orang di pasar, dengan masih menggenggam sobekan daging di satu tangannya, gadis itu masih sempat menyambar wortel dengan tangan lainnya. Aku terus mengejarnya sambil memotretnya.

Setelah menjauh beberapa puluh meter dari pasar, gadis itu melambatkan jalannya. Daging dan wortel di tangannya tidak dimakannya, tapi juga tidak dibuangnya. Beberapa kali dia menoleh ke belakang, berhenti sebentar, mengamatiku, sebelum meneruskan jalannya. Dari rute jalan yang dilewatinya, meski bukan rute yang biasa dilewati orang-orang, aku tahu dia menuju sungai.

Benar saja, dia memang berhenti di sungai. Dugaan awalku bahwa dia tersesat tampaknya keliru. Entah bagaimana dia bisa tahu keberadaan sungai. Diminumnya air sungai yang keruh dengan kedua telapak tangannya. Setelah beberapa tegukan, dia muntah. Jelas saja, dia minum air yang tercemar limbah pabrik. Kini menyadari bahwa aku mengikutinya. Tapi dia tidak takut. Tatapannya tidak lagi awas seperti semula.

Tosa ma rapocoka (Kau orang asing),” katanya.

Tentu saja aku tak paham apa yang dia bilang. Tapi dengan yakin aku mendekatinya.

Tosa ma rapocoka,” dia mengulangi. Kupikir-pikir, mungkin dia bertanya aku ini siapa. Maka aku ulurkan tanganku agar bisa digapainya. Dia tampak keheranan. Bukan hanya terhadap ucapanku, tetapi juga terhadap uluran tanganku, rupaku, juga terhadap kaos, celana jins, dan sendal jepit yang kupakai. Dipindainya tubuhku dengan saksama dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Resta da ma boha. Tosa ma rapocoka (Aku akan membuat api. Aku akan memasak),” katanya lagi, kali ini sambil menumpuk batu-batu dari pinggir sungai. Dengan ranting-ranting bambu yang tumbuh di pinggir sungai, ditusuknya daging yang tadi diambilnya di pasar. Dari situ aku paham bahwa dia hendak memasak daging itu. Lalu, dikeluarkannya batu dari balik pakaian kulitnya. Diciptakannya percikan api dengan hanya beberapa kali gesekan. Sambil membuat api, dan seraya mengunyah wortel mentah-mentah, gadis itu mengucapkan kata-kata yang lagi-lagi aku tak paham.

Gaha ma loha. Estuadia na koko soha (Daging ini rasanya aneh. Air sungai ini juga rasanya aneh.),” katanya.

Sambil mengucapkan kata-kata yang aku tak mengerti, dia menoleh ke arahku. Aku pun mencoba berkata-kata kepadanya. Meski kami tak saling memahami bahasa masing-masing, beberapa kali gadis itu tertawa, dalam arti harfiah. Aku dapat menangkap bahwa dia tertawa meskipun tertawanya agak aneh. Tidak seperti cekikikan, tertawanya lebih menyerupai sesenggukan. Tetapi tentu saja dia tidak sedang menangis karena wajahnya semringah.

Setelah kuperhatikan garis mukanya, ekspresi-ekspresinya, serta gerak-geriknya yang cekatan dan lincah, aku mulai menyadari kalau gadis ini manusia purba. Tapi aku berpikir keras, bagaimana dia bisa datang? Ini sungguh mustahil. Bukankah manusia purba telah punah? Bukankah kepurbaan manusia telah tiada setelah melewati revolusi kognitif, revolusi pertanian, revolusi industri, dan revolusi sains dan teknologi?

Lamunanku buyar saat si gadis menawariku daging yang telah matang. Aku bisa tahu bahwa dia menawariku karena meskipun aku tak mengerti bahasanya, aku dapat menangkap maksudnya karena dia menyodorkan secuil daging ke arahku, meskipun tak disertai anggukan kepala sebagaimana orang-orang menggunakan bahasa isyarat. Sambil menatap air sungai yang berbau limbah, kami menyantap daging panggang itu bersama-sama.

Selama berada di sungai, gadis itu tak henti-hentinya mengawasi sekeliling. Hidungnya terus menerus mengendus, pandangannya ditebar ke sekitar, dan telinganya dipertajam. Bukan hanya ke sekitar, tapi juga ke kedalaman air.

***

Langit mulai gelap. Sudah seharian aku mengikuti dan mengamati si gadis purba ini. Kuabadikan momen selama di sungai dengan beberapa kali jepretan, beserta dengan perekam suara yang terus kunyalakan sejak awal. Kupotret dia dari jarak yang sangat dekat.

Aku pikir, foto-foto yang kudapatkan seharian ini sangat menarik. Sangat pas kukirim untuk majalah tempatku bekerja. Pada salah satu jepretan yang kuambil, aku bahkan telah memikirkan judul seperti ini: “Manusia Purba Muntah Minum Air Sungai yang Tercemar Limbah.”

Sebelum benar-benar gelap, si gadis bangkit dan berjalan menuju gua yang letaknya cukup jauh dari sungai. Aku terus mengikutinya. Di dalam, sudah ada tumpukan kayu. Si gadis membuat penerangan dengan membakar kayu. Maka teranglah seisi gua.

Di dinding-dinding dan langit gua, kulihat banyak coretan yang menyerupai lukisan. Ada beberapa coretan yang tampak jelas dan dapat aku terka apa artinya. Salah satunya lukisan manusia berkepala burung diseruduk oleh seekor bison. Di dekat manusia berkepala burung itu ada lukisan seekor burung yang kuduga itu arwah si manusia setelah tewas ditanduk oleh bison [3]. Di bagian dinding lainnya ada pula cap-cap tangan yang seolah-olah menggapai-gapai meminta pertolongan [4]. Bulu kudukku meremang melihat itu semua.

Syahdan, aku terpana ketika melihat sebuah lukisan perempuan, dengan payudara terbuka dan pakaian dari kulit hewan yang hanya menutupi kemaluan. Perempuan itu tampak memegang alat seperti tombak, dengan ujung yang runcing, dan di hadapannya ada hewan serupa kelinci dengan ukuran yang sangat besar. Lukisan itu seperti hidup, seolah-olah perempuan dalam lukisan itu benar-benar sedang berburu.

Te suma ha,” kata si gadis, saat melihatku memerhatikan lukisan itu. Suaranya memantul ke dinding gua, dan entah bagaimana teralihbahasakan menjadi “Itu aku.”

Aku mulai merinding. Berada di dalam gua membuatku merasa akulah yang tersesat ke zaman purba, bukan sebaliknya. Gadis itu lantas mengajakku menapakkan tangan ke dinding gua. Aku tak mengerti apa maksudnya. Dia lalu berkomat-kamit sambil menutup matanya dengan khusyuk. Aku pun mengikutinya menutup mata. Firasatku memberitahuku bahwa itu adalah cara si gadis berdoa. Ternyata, dia juga sudah memiliki keyakinan terhadap kekuatan maha besar yang menopang kehidupannya.

“Kami berterima kasih kepada-Mu karena telah memberikan kami napas, hewan-hewan, dan tumbuh-tumbuhan untuk kami makan,” begitu terjemahan yang dipantulkan oleh dinding gua.

Setelah selesai berdoa dan aku membuka mata, gadis itu menghilang. Lenyap. Sepintas lukisan perempuan yang kulihat tadi bergerak. Mungkin itu dia, menyampaikan perpisahan.

Dalam keadaan bingung seorang diri di dalam gua, kuputar perekam suara yang sedari tadi kunyalakan. Dinding gua menerjemahkan rekaman suara si gadis.

Aku manusia dari zaman batu. Hidupku berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Aku dan kelompokku hidup dengan memakan hewan dan tumbuhan di alam liar. Kami tidak mengandangkan hewan maupun bercocok tanam. Kalian menyebut kami sebagai manusia pemburu-pengumpul. Aku memang gadis pemburu-pengumpul. Kita berbeda dalam cara bertahan hidup. Pada mulanya kalian mulai bertani, lalu kalian bergegas menuju pabrik-pabrik dan kantor-kantor. Seiring dengan itu kalian terus menjarah Bumi dengan brutal, merusak tidak hanya air dan tanah, tapi juga udara. Alat-alat yang kalian gunakan semakin canggih, tapi itu tidak berarti bahwa kalian lebih kuat dalam bertahan hidup. Kalian justru sedang menuju arah pemusnahan diri sendiri karena kalian terus merusak Bumi. Selebihnya, kita sama-sama purba; makan, kawin, beranak-pinak, dan saling membunuh.” (*)

Keterangan:

  1. Gambaran spekulatif manusia Neanderthal (Homo Neanderthalensis) atau disebut juga ‘Manusia dari Lembah Neander’. Spesies homo ini hidup di zaman Pleistosen (sekitar 2,5 juta – 11.500 tahun yang lalu). Menurut Teori Penggantian (teori yang menyatakan bahwa spesies manusia saat ini merupakan hasil keturunan murni Homo Sapiens tanpa campuran dengan genus-genus homo lain), spesies ini tersebar di wilayah Eropa dan Asia Barat. Ciri-ciri tubuhnya lebih gempal dan berotot dibanding Homo Sapiens (manusia saat ini), mampu beradaptasi dengan baik terhadap iklim dingin di Zaman Es Erasia.
  2. Penelitian termutakhir menemukan bahwa manusia Neanderthal juga sudah menggunakan bahasa. Majalah Amerika Serikat Populer Science melansir bahwa bahasa Neanderthal juga mungkin beragam sebagaimana bahasa masyarakat kita saat ini. Sementara para ilmuwan berspekulasi bahwa bahasa Neanderthal memiliki ciri-ciri tak teratur dan memiliki kosakata yang mencapai puluhan ribu.
  3. Gambaran lukisan di Grotte de Lascaux (Gua Lascaux) di Montignac, Prancis. Gua ini ditemukan oleh Marcel Ravidat pada 1940 dan ditutup sejak 1963 demi menjaga keasliannya. Wisatawan saat ini hanya bisa mengunjungi replika Lascaux yang berada sekitar 200 meter dari gua asli.
  4. Gambaran di dalam Cueva de las Manos (Gua Tangan) di Santa Cruz, Argentina.

* Garapan poin 3 dan poin 4 tidak dimaksudkan untuk membaurkan ciri-ciri kedua gua tersebut, melainkan semata untuk keperluan alur cerita.




=================
Abul Muamar, lahir di Perbaungan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, 6 November 1988. Penyuka prosa, film, sejarah, dan filsafat.

Sejak Kapan Sebenarnya Kita tak Jadi Siapa-Siapa Lagi?

0

“Aku pulang. Sekarang di rumah,” katamu.

“Untuk apa?”

Kau putus panggilan, seketika, tak sampai sedetik setelah pertanyaanku itu. Kuduga kau marah sebab tak pernah dalam percakapan kita sebelumnya kau putus sambungan telepon sebegitu cepatnya.

___

Kita pernah habiskan dua puluh menit lamanya untuk menentukan yang lebih dahulu mematikan telepon—setelah kita bicara-saling diam-bersilang suara ratusan menit; kita perlu berhitung bersama agar mematikan telepon di waktu yang sama: hitungan ketiga ya…, satu, dua, tiga (lalu tertawa bersama beberapa menit lamanya sebab tak ada yang berani menjadi yang pertama memutus percakapan).

Setengah jam berlalu dan seperti bertahun-tahun. Bukan. Bermusim-musim. Kemarau, rindu, biru, hujan yang basah, gairah, resah, pindah. Kau, dulu, pergi tanpa kata sedang aku ingin dengar dari mulutmu sebuah tanya: Apa yang kau lakukan selama aku pergi?

***

“Aku sudah menikah,” katamu.

“KENAPA?”

Kau putus panggilanmu seketika. Aku marah. Tentu saja. Setelah tak mendengar pertanyaan darimu—padahal jawabannya masih kusimpan—kau tiba-tiba menelepon dan membawa kabar sepotong. Benar-benar sepotong.

Kita memang tak pernah lagi bicara. Kau pergi, dan aku tinggal di kota kecil ini memeluk sesal sebab tak nekat saja menghampirimu lebih dalam pada sebuah gairah yang hampir binal di belakang Gua Maria Golo Curu agar bertahun-tahun setelahnya bersama-sama tertawa memandangi anak-anak kita bermain dengan nakal.

Setengah jam berlalu, seperti bermusim-musim. Aku menyesalkan pertanyaan yang baru saja melesapkan kesempatan mendengar suara yang kurindu sekian lama; merindukan pertanyaanmu, tentu saja, agar aku boleh menumpahkan jawaban yang sepanjang ini penuh di kepala. Aku melihat wajahku sendiri pada suatu tempat. Pias sebab tak sempat mengatakan ini: menunggumu kembali! 

___

“Ada sopi, Om?”  Tanyaku. “Stok selalu ada,” katanya, “tapi harus minum di sini.” Aku setuju sebab untuk itulah aku datang ke tempat itu setelah pertanyaanku tentang alasanmu datang dengan kabar telah menikah melenyapkan suaramu dari percakapan yang kurindu puluhan purnama.

Namanya Om Frans Yosep, seperti legenda di kalangan penikmat sopi; kalau tidak ada teman minum tapi mau minum dengan seseorang yang siap mengantarmu pulang kalau semaput, kios Fryos tempatnya.

Kukira aku butuh tempat membunuh luka dan aku tahu kios itu. Setengah jam berlalu, seperti baru sebentar. Sopi sebotol sudah tandas dan dompetku cukup untuk berbotol-botol. Lagi. Kami minum berdua. Kuceritakan tentang pengalaman memelukmu erat di belakang Gua Maria Golo Curu sebab telah lebih dahulu kukatakan padanya: “Dulu kami beli lilin di sini waktu mau ke gua.”

Entah apa lagi yang kuceritakan malam itu.

Dan pada banyak malam setelahnya.

Tentang kita.

Kepada lelaki yang dulu menepuk-nepuk pundakku ketika memberi lilin dan uang kembalian: Saya senang lihat anak muda senang berdoa!

Suatu malam dia menepuk-nepuk pundakku lagi. “Kau harus merantau. Pergilah. Tidak bisa terus begini. Setiap sudut kota ini hanya membuatmu tak bisa menghapus kenangan-kenangan.” Dia katakan itu ketika aku melepas peluk di pinggangnya dan turun dari jok sepeda motornya yang sebagian telah penuh muntah, juga di punggung jaketnya.

“Oke, baik. Kalau aku pergi merantau,” kataku sambil mengelap bekas muntah di mulut dan daguku, “Om buat apa?”

“Menunggumu kembali.”

“Hei! Itu saya punya dialog, Bau Mayat!”

Lelaki tua itu terkekeh mendengarku memanggilnya Bau Mayat—usianya sudah uzur dan jatah hidupnya barangkali tidak akan lama lagi—dan senang sebab berhasil mengejek dengan kalimat yang tak sempat kusampaikan padamu; aku masih menunggu pertanyaan itu dari mulutmu.

Entah telah berapa purnama arak dari sadapan pohon aren itu menyelamatkan hidupku. Bukan. Membunuh patah hatiku. Sebentar… Entahlah. Tak pasti apakah sopi melakukan salah satu di antaranya, atau Om Frans Yosep melakukan dua-duanya, atau tidak ada yang melakukan apa-apa sebab sepanjang masa itu aku seperti tidak melakukan apa-apa.

___

Nona… Kuketik di ponselku. Dan selamanya di sana. Tak kukirim padamu. Semoga suatu saat bisa mengatakannya.

***

“Masih marah?” Tanyamu.

“Padamu?”

Kudengar desah tertahan. Kau seperti hendak menangis. Atau tertawa? Sambungan telepon tidak banyak menjelaskan tentang tanda dan sebab tafsir atasnya adalah sesuatu yang sangat pribadi. Kuputuskan saja bahwa kau sedang menahan sesak tangis. Aku menunggu. Kau juga, ternyata.

“Sudah berapa tahun?”

“Berabad-abad?”

“Om dan Tanta?”

“Mereka sehat. Dan masih seperti dulu.”

“Masih?”

“Sepertinya tak satu pun hal yang kulakukan yang mereka anggap benar.”

“Tetapi kau akan baik-baik saja. Hotel kalian masih jalan kan? Kemarin kulihat, dapat banyak bintang dari yang pernah nginap di sana. Review yang bagus. Kau akan dapat hotel itu setelah menikah, kan?”

“Tapi kau sudah menikah, Nona.”

Dan semua mengalir deras sejak malam itu. Kau ceritakan tentang kita—seolah lupa bahwa kau baru saja mengatakan kau telah bersuami; aku ceritakan juga tentang Om Frans Yosep—sebab kupikir hanya itu yang aku punya setelah kau pergi. Kita (seperti) jatuh cinta lagi.

___

“Peluk aku!” Kudengar desah tertahan.

“Kau kenapa?”

“Suamiku…” Kau hendak menangis, kutahu pasti, sebab telah beberapa bulan ini kita sering bicara tanpa membawa siapa-siapa lagi di antara kita; suamimu dan kios Fryos-ku.

Kau mulai memikirkan lagi hubungan yang telah kalian jalani sekian lama dan merasa tak banyak berarti. Kau ingin bekerja, suamimu ingin kau menjadi ‘istri yang baik’—kutahu itu artinya kau di rumah saja, kalian bertengkar, suamimu mencintai seorang yang lain.

Aku sudah lama mulai memikirkan lagi hubunganku dengan Om Frans Yosep karena dia menjadi marah ketika kuceritakan bahwa kita (seperti) jatuh cinta lagi. Itu istri orang. Kau menjijikkan sekali, katanya. Sejak itu, aku hanya sesekali ke kiosnya, pada malam-malam kita tak sempat saling bicara sebab suamimu bersamamu sepanjang waktu; aku benci pikiranku setiap kali itu terjadi dan sopi Frans Om Yosep membunuhnya dengan baik. Kau harus merantau. Pergilah! Om Frans Yosep mengatakan itu lagi.

***

“Aku pulang. Sekarang di rumah.”

“Untuk apa?” Tanyaku.

Kau putus panggilan, seketika, tak sampai sedetik setelah pertanyaanku itu. Lalu menelepon lagi setengah jam kemudian. Dan tak sedikitpun dari percakapan kita malam itu yang membuatku bisa mengatakan kalimat yang telah kusimpan sekian lama: menunggumu kembali.

Nona…, kuketik di ponselku, aku ini siapa?

Tak ada balasan.

___

“Dia sudah pergi,” Om Frans Yosep mengatakan itu dengan datar. Kau menangis. (*)





===================
Armin Bell. Tinggal di Ruteng. Anggota Klub Buku Petra dan Komunitas Saeh Go Lino.

Ketuk Palu

0





SEGALA sesuatu transparan bagiku. Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun dari Julian sejak kami kenalan sampai akhirnya berjodoh dan menikah. Tujuanku adalah agar tidak ada yang mengganjal di belakang hari setelah orang lain mengenalku. Aku berharap Julian demikian? Sayangnya aku kecewa dan di kepalaku hanya ada ketuk palu!  

Kami dua anak yang terberkati. Kedua orang tuaku sangat menyukai Julian. Terutama Ibu. Menurut Ibu, Julian itu pribadi yang sopan dan tidak banyak omong. Pada waktu itu aku belum tahu pasti sifat Julian karena kami baru juga kenalan. Sedikit heran, Ibu dengan cepat dapat menyimpulkan seperti itu. Aku senyum-senyum saja Ibu memberi komentar seperti itu. Bagiku, membawa seorang pria ke rumah dan diterima dengan baik sudah lebih cukup. Tidak terpikir lagi, pendapat Ibu seperti apa. Bapak? Aku belum berani membicarakan tentang Julian di depan Bapak. Padahal tidak ada hal yang perlu aku takutkan, dari segi usia kami berdua sudah cukup umur untuk melangkah ke jenjang mahligai pernikahan.

Seminggu kemudian, Bapak menanyakan tentang Julian padaku. Jelas membuat jantungku hampir copot. Sejenak aku lupa berpikir. Bapakku, seorang yang sangat kaku tiba-tiba menanyakan teman pria-ku? Oh, Laksamana Raja di Laut, tidak salah lagi pasti semua ini perbuatan Ibu? Aku mencari-cari wajah Ibu, di wajahnya aku menemukan bulan purnama penuh yang indah sekali. Julian! Kali ini kau benar-benar akan diuji.

Julian melampaui ujian itu dengan gemilang. Bapak seperti Ibu menyukainya. Berarti, ada tiga orang yang kini menyukainya. Aku berharap tidak perlu lagi yang keempat! Aku pasti membunuhnya. Bapak bergerak cepat untuk menikahkan kami dalam pernikahan yang khidmat. Aku tidak mungkin melupakan hari yang khusus dalam hidupku itu.

Aku datang lebih dulu. Mimpi siang sekali pun, aku tidak pernah membayangkan sampai di tempat ini. Kenyataannya, siang ini, mau tidak mau aku ada di lorong pengadilan ini. Tidak berapa lama, Julian muncul dengan pengacaranya. Aku sengaja mengalihkan pandang. Aku tidak ingin melihatnya. Aku tidak ingin berubah pikiran. Tangan Mitha menyentuh punggung tangan kananku. Aku tidak merasakan apa-apa dari sentuhan itu. Mitha selalu setia mendampingi diriku di masa sulit seperti ini. Aku sebenarnya mampu mengatasi sendiri keadaan ini. Tidak ada yang perlu didramatisir. Aku dan Julian memilih mengakhiri pernikahan kami. Kesepakatan kami adalah bercerai. Lamunanku terhenti. Petugas ruang memberi isyarat agar kami berdua memasuki ruang putusan akhir melalui sebuah palu.

Bapak menghadiahkan satu rumah mungil sebagai hadiah pernikahan kami. Sebagai anak tunggal tentu Bapak dapat melakukan apa saja. Tidak ingin kalah, kedua orangtua Julian melakukan hal yang sama. Memberi kami rumah baru selesai dibangun dan lebih besar dari pemberian Bapak. Bapak meminta aku memutuskan pilihan. Bukan tidak sayang Bapak, aku memilih pemberian rumah dari kedua orangtua Julian. Kami menempati rumah baru itu. Aku tidak asal memutuskan walau terdesak oleh waktu. Untungnya keputusanku memang tepat. Aku dan Julian bisa lebih mandiri karena sedikit jauh dari tempat tinggal orangtua kami masing-masing.

Sebagai istri yang baru saja resmi, aku banyak belajar dari Ibu. Sampai aku menikah, Ibu memang tidak pernah secara langsung melibatkanku di dapur. Aku tahu alasannya, dapur adalah tempat kekuasaan Ibu. Sebagai tempat kekuasaan tentu Ibu tidak ingin ada orang lain di sana. Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Ibu. Aku malas bertanya.

Aku tidak berperan seratus persen seperti Ibu di rumah baru kami. Julian sangat terampil urusan domestik. Aku tidak pusing peralatan makan kotor di bak cucian. Julian dengan senang hati mencuci semua itu hingga bersih. Aku tidak pernah pusing dengan pakaian kotor. Kami telah sepakat membeli mesin cuci terbaik mengatasi permasalahan itu. Tinggal cemplung-cemplung, taburkan detergen secukupnya, dan tambahkan air lalu pencet, selesai. Kami meninggalkan mesin cuci bekerja sendiri sambil membaca. Aku dan Julian keranjingan membaca. Setiap sudut rumah kami adalah tempat terbaik kami membaca buku. Aku tidak pernah dipusingkan urusan remeh-temeh rumah tangga. Julian sama sepertiku tidak ingin terlalu pusing.

Kami menciptakan rumah tangga penuh kesenangan. Kami menjadikan rumah tangga itu seringkas mungkin. Julian setuju, tidak ingin dipusingkan hal-hal yang tidak perlu. Kami melakukan segala tugas berdua. Perut tidak kami jadikan raja. Julian mengajariku membeli makanan kemasan. Dari Julian aku tahu, Ommason Kimchi, sawi yang telah difermentasi enak sekali. Kesukaan Julian, Nong Shim Shin Ramyun, mie kuah dengan tektur lembut terasa enak sekali. Sedikit berbeda dengan mie instan dalam negeri. Julian mengajakku mengubek-ubek dapur begitu perut kami keroncongan. Dapur terasa hangat karena keceriaan kami berdua. Memilih makanan yang kami suka. Sesekali, Julian mengecup tepian bibirku.

Kamar tidur kami! Segala cerita ada di sana. Julian tidak pernah menyentuh barang milikku terutama di atas meja rias. Kami sengaja memilih meja rias yang sedikit lapang. Pekerjaanku sebagai sekretaris tidak lepas dari berdandan. Tidak itu saja, Julian bahkan sering membantuku bagaimana riasan terbaru saat ini. Julian sering memberi masukan agar seni riasku tidak melulu itu itu saja. Julian mencatat dengan rajin, tiap-tiap hari apa saja yang telah aku kenakan di kulit wajahku. Warna lipstikku tidak boleh sama. Tidak lupa Julian menyesuaikan dengan kegiatan setiap harinya aku di kantor. Hasilnya? Rata-rata teman kantor takjub. Bahkan Pak Priyanto, atasanku, terang-terangan memuji. Kata mereka, aku justru semakin cantik setelah menikah.

Di kamar tidur dengan cahaya redup romantis dimanja sejuk udara pendingin yang semilir Julian total berubah. Aku diperlakukan layaknya ratu. Julian menyentuhku penuh rasa. Menciumiku tak kenal buru-buru. Aku benar-benar terbang tanpa sayap ke angkasa. Kulitnya menyentuh kulitku begitu rupa. Lengannya yang liat memberiku rasa aman. Julian tidak menuntut justru menuntun dengan penuh kesabaran. Julian mendorongku ke angkasa dengan perlahan. Aku melambung jauh hampir menyentuh awan-awan. Julian membiarkanku menikmati keindahan angkasa. Aku semakin melambung tinggi. Angkasa benar-benar berada di depan mataku. Senyum Julian menemaniku dan sekali pun tidak membiarkan aku terjatuh. Tangannya tak pernah lepas dari genggamanku. Julian terus membawaku terbang. Berdua kami melintasi angkasa menuju pintu masuk kayangan.

Sepanjang malam kami terus bercerita. Aku merebahkan diri di bawah dagunya. Mataku tak berkedip melihat ia membaca buku cerita untukku. Aku mengakui kemampuan Julian membaca buku cerita menjelang tidur. Malam-malam kami tidak pernah lalu tanpa sepotong cerita yang ia bacakan sebelum kami tidur. Aku justru menuntut Julian membaca satu cerita untukku agar aku dapat tidur dengan nyenyak. Intonasi suara Julian, kemampuan menjeda kalimat. Kemahiran mengisi ruh dari cerita yang ia baca benar-benar membuatku bertambah kagum pada Julian. Suara tegas Julian benar-benar mengisi tiap pori-pori dinding kamar tidur kami. Cerita-cerita Julian menjadi pengisi tetap malam-malam kami.

Aku lebih dulu tertidur tanpa sadar. Julian membiarkan lengannya menjadi sandaran kepalaku. Sehalus mungkin Julian menutup buku tebalnya meletakkan di meja samping lalu meredupkan lampu meja setelahnya memelukku dengan erat. Malam perlahan-lahan berubah tenang dan damai. Kami tidur berpelukan sampai pagi. Selalu seperti itu, selalu!

Aku dan Julian duduk di kursi di tengah ruangan. Di depan kami mengawasi pandangan tajam hakim ketua bersama anggotanya. Ini kali ketiga aku duduk di kursi panas itu. Julian di sebalah kananku. Kami berjarak kurang lebih satu meter. Aku benar-benar tidak ingin menolehnya. Aku mengambil kesibukan membenarkan posisi dudukku. Aku sama sekali tidak peduli dengan dirinya. Hakim ketua seakan memberi kami jeda untuk mempersiapkan diri sebelum ketuk palu itu diketukkan!

Julian mengantarku ke tempat kerja sebelum ia meneruskan ke tempat kerjanya. Mbak Mun tinggal di rumah seorang diri untuk membantu kami membereskan rumah. Ibu Julian yang mengantar Mbak Mun untuk kami. Aku sendiri merasa belum membutuhkan kehadiran orang lain. Toh kami tidak terlalu pusing dengan urusan rumah tangga. Julian menyerahkan putusan di tanganku. Aku berpikir demi menyenangkan semua pihak akhirnya aku menerima Mbak Mun tinggal di rumah kami. Kamarnya cukup jauh dari ruang utama jadi aku merasa tidak terganggu. Julian setuju-setuju saja. Adanya Mbak Mun justru mengubah kami seperti sepasang burung merpati bebas terbang ke mana saja setelah pulang kerja.

Julian menyukai pasar malam. Julian tidak begitu suka tempat seperti mal. Julian hapal di mana ada pasar malam baru buka. Aku sendiri tidak pernah tahu tentang pasar malam. Kata Julian, potret kehidupan asli ada di pasar malam. Berkumpul orang-orang kebanyakan dengan beragam keadaan. Julian menggandeng tanganku untuk menyusuri lorong-lorong pasar malam yang selalu penuh sesak. Makanan murah meriah. Minuman aneka rasa dan rupa. Gula-gula beragam bentuk. Penjual pakaian-pakaian murah meriah. Beragam lesehan tumpah ruah di pasar malam. Julian menjelaskan dengan sabar padaku tentang segala filosofinya. Termasuk pengamen, peminta sumbangan, dan pengemis. Julian tanpa canggung membaur cepat. Aku tiba-tiba teringat Ibu. Teringat cara Ibu dulu menyukai Julian.

Mbak Mun segera tanggap apa yang dimaksud Julian. Cekatan kedua tangan Mbak Mun membungkus sembako sesuai tulisan tangan Julian. Aku menjadi bertanya-tanya di dalam hati. Mengamati cara kerja Mbak Mun tidak mungkin rasanya Mbak Mun baru pertama ini melakukan tugas seperti ini. Aku sendiri ingin membantu tapi Mbak Mun mencegahnya. Termasuk Julian, suamiku cukup memintaku menghitung hasil akhirnya saja. Setiap akhir pekan, Julian mengajakku mengunjungi anak-anak kurang beruntung. Tidak melulu di panti asuhan. Julian memiliki rekapan tempat di mana anak-anak kurang beruntung itu berada. Aku terperangah membacanya. Benar-benar tidak percaya, Julian memiliki jiwa sosial yang begitu tinggi. Akhirnya Mbak Mun terbuka mengenai kebiasaan Julian.

Puluhan anak tidak asing dengan Julian. Mereka segera mendekat begitu kami tiba di bawa jembatan layang tempat berkumpul. Di sana teman-teman Julian sudah hadir. Aku sudah bertemu mereka saat kami menikah. Mitha salah satunya. Mereka membentuk kelas sederhana untuk mengajari anak-anak putus sekolah itu. Bagi yang sekolah, komunitas Julian menyokong beasiswa. Ada juga beberapa Ibu muda hadir mengikuti pertemuan. Sebagian besar menunggu pembagian sembako. Aku mengamati wajah-wajah membutuhkan dari mereka. Julian berdiri di sisiku mengawasi kegiatan teman-temannya.

“Mereka anak-anak tidak berdosa. Lahir ke dunia dengan beragam cerita. Rata-rata tidak jelas orangtuanya. Kasihan! Tidak terbayang berapa banyak anak-anak seperti ini di negeri kita. Mereka harus dientaskan supaya memiliki masa depan,” bisik Julian padaku.

“Ibu-ibu muda itu?” tanyaku pelan.

“Ada yang menikah ada yang tidak. Tetapi mereka melahirkan anak. Ada yang merawat sendiri ada yang meninggalkan di bidan. Semua alasan ekonomi. Tidak jelas nasib anak-anak yang ditinggalkan itu,” ujar Julian pelan.

“Oh!” jawabku terenyuh.

“Seperti itulah!” pungkas Julian. “Beberapa dari anak-anak itu adalah anak adposiku. Anak kita sekarang. Kita tidak perlu lagi menambah anak sebab anak-anak ini saja sudah terlalu banyak. Membutuhkan biaya dan perhatian. Kita adalah orangtua mereka!”

Aku melirik cepat pada Julian. Sayangnya ia tidak melihatku. Tugasnya menunggu menggantikan teman-temannya di depan. Kata-kata Julian terekam terus di otakku. Aku merasa aneh dengan maksud Julian barusan. Paling Julian bercanda. Batinku.

“Apa maksud dari kata-kata, kita tidak perlu menambah anak lagi di tempat pertemuan tadi. Aku masih belum paham?” tanyaku setelah Julian membaca sepotong cerita.

“Oh itu! Yaa, kau tidak perlu susah-susah mengandung bayi kita. Tubuhmu tidak perlu berubah karena itu. Kita selamanya hanya berdua saja. Kau menemaniku mendampingi anak-anak terlantar itu. Begitu maksudnya,” sahut Julian enteng.

Keningku berkerut makin tidak paham. “Bagaimana mungkin?”

“Aku sudah KB permanen. Vasektomi!” jawab Julian tersenyum.

Malam itu alam seperti menyumbat tenggorokanku. Suaraku ikut menghilang permanen. Aku menarik diri dari Julian secara halus. Bahunya tidak menarik lagi bagiku sebagai bantalku sepanjang malam. Aku mulai enggan menikmati suaranya membaca potongan-potongan cerita setiap malam. Aku menepis rangkulan tangan kokohnya. Aku tidak ingin lagi penerangan redup di kamar kami. Lebih mengerikan lagi aku tidak ingin tidur bersisian lagi dengannya. Aku merasa seperti hidup serumah dengan orang asing!

Permasalahan kami sudah jelas sekarang. Julian tidak transaparan sebelumnya. Tidak jelas apa Julian lupa atau sengaja merahasiakan diri? Aku memutuskan bercerai!

“Saudari Dinda!” Suara ketua Hakim menggema.

“Ya, Pak Hakim.” Aku meluruskan pandangan.

“Saudara Julian!” Ketua Hakim mengalihkan pandang.

“Ya, Pak Hakim.” Suara Julian terbata. Ruang sidang berubah hening.

Tidak lama keheningan itu bubrah oleh dorongan pintu yang dibuka paksa. Serta merta seluruh mata menoleh ke arah pintu. Aku terkejut setelah menyadarinya. Komunitas Sosial Julian hadir bersama anak-anak terlantar yang mereka bimbing. Ketua Hakim membiarkan sejenak untuk memastikan apa yang terjadi. Mitha berjalan mendekati mereka.

“Sebelumnya maafkan kami, Pak Hakim Ketua? Kami tidak ada niatan membuat keributan. Kami hanya ingin menggagalkan perceraian sahabat kami. Julian sahabat kami yang paling baik. Tidak adil sahabat kami menerima perlakukan seperti ini. Kami mohon waktu sebentar Pak Hakim Ketua?” Jono sahabat Julian maju ke tengah ruangan. Jono berjalan mendekati kursi tempatku duduk. Aku merasa dadaku berdebar kencang.

“Tolong jangan bercerai Dinda? Apakah anak-anak tidak berdosa itu tidak cukup menjadi anak kalian? Tolong Dinda. Saya mohon?” Jono menangkupkan kedua tangan di dada. Aku bergeming. Teman komunitas Julian tahu apa akar masalah kami.

Ruang sidang kembali hening. Pak Hakim Ketua membiarkan menit berjalan. Tanpa sadar aku menoleh pada Julian yang terus menunduk. Seberapa penting anak dari rahimku? Walau aku masih belum memahami keputusan Julian memilih KB alami!

“Julian! Ayo kita pulang?” Aku mengulurkan tangan kananku. Perlahan dagu itu terangkat lalu melihatku. Aku menyakinkannya. Julian menyentuh tanganku lembut.

Palu diketuk tiga kali secara beruntun. Aku berubah seketika karena cinta Julian.






================
Ricardo Marbun, kelahiran Jakarta, 27 Nopember. Lulusan Unesa. Menyukai menulis sejak tahun 2010. Karyanya dimuat di berbagai media nasional. Pemenang Utama Travel & Love tahun 2014. Satu Karyanya masuk dalam Kumpulan Cerpen Fakultas Sastra Universitas Negeri Yogyakarta. Pemenang Lomba Cerpen Preman dan Corona, ANP Books, 2020. Pemenang 2 Lomba Cerpen Narrative Writing, 2020, Pemenang 2, Lomba Cerpen Penulis Muslim, 2020, Pemenang 3 Lomba Cerpen Pejuang Antologi, 2020. Juara 1 Lomba Cerpen Morfeus 2021. Pengagum Budi Darma, Pramudya dan Mira W. Tinggal di Surabaya. Ingin menulis sepanjang hayat.

Buronan Kediri

0

JANGKRIK-jangkrik menyanyi. Di bingkai jendela kau berdiri, memandang dedaunan yang melambai-lambai ditiup lembut semilir angin. Aku melihat tatapan matamu kosong, seakan sudah tak mampu lagi membuat harapan. Di waktu hampir tengah malam seperti ini, seharusnya kau sudah terpejam, hanyut dalam aliran mimpi.

Jelas aku belum bisa sepenuhnya menerima keadaan ini. Gemuruh di hatimu mungkin juga belum hilang. Rasa-rasanya aku masih tidak percaya. Sungguh, suatu pengkhianatan yang tidak pernah kusangka. Aku mendekat padamu, meletakkan salah satu telapak tanganku pada pundak kananmu. Seharusnya aku menyentuh sehelai kain berwarna emas—pakaian petinggi kerajaan—tapi kini kain itu tidak tersampir di pundakmu. Kau mengalihkan pandanganmu sesaat kepadaku, aku menatapmu, rasa-rasanya aku tak kuasa melihat wajahmu. Kegagahanmu hilang, aku seperti bukan berhadapan dengan Sanggramawijaya yang kukenal.

“Tidurlah, Kanda. Besok kita akan kembali melakukan perjalanan. Perjalanan ke Sumenep masih begitu jauh,” ucapku, aku menjala kegelapan yang menetes di pohon-pohon.

“Aku belum mengantuk, kepalaku hanya berisi darah dan darah. Bayangan teriakan prajurit yang mengerang kesakitan di medan perang, pedang-pedang yang beradu, membuatku ingin kembali ke kedaton, dan membalaskan kematian ayahanda Prabu, Dinda,” ucapmu.

Kau menunduk, ujung ibu jari dan telunjukmu menyentuh matamu yang terkatup. Kusandarkan kepalaku ke pundak kirimu. Aku yakin apabila seseorang menggantikan posisimu saat ini, orang itu belum tentu sanggup menghadapi apa yang telah menimpamu; menimpa kami. Aku tahu di dadamu yang bergemuruh terdapat sebongkah penyesalan. Kepadaku kau bercerita, sebelum kau membawa lima ratus prajurit di perbatasan Kediri untuk menumpas pemberontakan, kau sempat mengeluhkan keadaan yang tidak mengenakkan ini.

“Aku masih tidak habis pikir, Dinda. Mengapa ayahanda Prabu masih begitu kolot. Mengapa masih juga menganggap kalau keadaan baik-baik saja? Jelas-jelas prajurit Kediri menyusun kekuatan dengan membangun perkemahan di hutan Mameling,” katamu berapi-api. Aku memelukmu dengan harapan kepalamu menjadi dingin dan kau tergoda padaku untuk melakukan ritual yang lazim dilakukan suami-istri. Harapanku hanya harapan belaka. Kau sama sekali tidak terusik.

“Sudahlah, Kanda. Tentara negeri kita tidak mungkin kalah, apalagi dengan kerajaan Kediri yang tidak seberapa itu. Swarnabumi saja bisa ditaklukkan, apalagi Kediri, Kanda.” Aku terus berupaya menenangkanmu. Kau sama sekali tidak terpengaruh dengan apa yang kuucapkan.

“Tidak. Ini tidak bisa dianggap remeh. Musuh dalam selimut tahu kelemahan-kelemahan kita, dan itu sangat berbahaya sekali.”

Sebelum kau mengutus petinggi-petinggi kerajaan untuk melakukan gerakan; menghimpun kekuatan sebagai antisipasi terhadap serangan pemberontak, kau sudah menyampaikan kepada ayahanda Prabu, informasi-informasi yang kau dapat dari telik sandimu. Yang paling kau curigai—sebelum kau melapor—begitu banyak orang Kediri keluar masuk wilayah Singasari. Menurutmu itu sesuatu yang aneh.

Berangkat dari hal itu, kau melakukan penyelidikan lebih lanjut. Kau berkata kalau ayahanda Prabu malah menuduhmu, kau merasa tersaingi dengan adik iparmu. Kau dianggap merasa posisimu sebagai senopati terancam.

Bentakan-bentakan ayahanda Prabu tidak mengurungkan niatmu. Begitulah pengakuanmu. Kau tidak gentar diancam. Pada saat kau hendak melakukan gerakan, salah seorang petinggi yang bernama Ranggalawe sudah memperingatkan mengenai langkah yang kau ambil. Kau tidak bisa diam. Tekadmu bulat. Kau bersedia menanggung segala resiko yang akan diterima. Mumpung belum terlambat, pikirmu.

Musuh ternyata lebih pintar dan semakin jelas sekali terpampang di depan mata kalau itu pemberontakan. ayahanda Prabu sudah telat dalam mengambil tindakan; mengutus untuk menyerang balik pasukan Kediri. Gerbang kerajaan jebol. Kotaraja menjadi lautan darah. Pasukan Kediri terlihat sekali lebih siap dan terlatih. ayahanda pun gugur. Kabar itu benar-benar membuatmu terpukul. Kini kau meminggul beban yang teramat berat. Tanggung jawab melanjutkan trah Wangsa Rajasa berada di pundakmu.

“Aku benar-benar menyesalkan sikap ayahanda Prabu,” ucapmu, rupanya penyesalan itu begitu membekas di hatimu. “Andai ayahanda mau mendengarkanku, kita tidak akan sesengsara ini. Masa depan begitu buram, Dinda. Apakah dinda memikirkan, bagaimana jika Paman Wiraraja tidak mau menerima kehadiran kita? Tentu dinda tahu, beliau begitu dekat dengan raja Kediri itu.”

“Kanda bertanya seperti itu, artinya kanda ragu. Kita sudah terlanjur berjalan, lagi pula Paman Ranggalawe sudah berjanji, bersedia nyawanya menjadi taruhannya dalam perkara ini. Itu artinya kemungkinan besar Paman Wiraraja akan bisa menerima kita, Kanda. Apakah kanda sudah tidak percaya lagi dengan Paman Ranggalawe?”

“Bukan begitu maksudnya, Dinda. Sebagai seorang petinggi, tidak ada salahnya aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih pelik.”

Gesekan dedaunan akibat sapuan angin, menguatkan kantukku. Aku pun kembali mengajakmu tidur, kau bersikukuh. Aku memaksamu berjanji agar tidak terlalu lama-lama berdiri di dekat jendela, kau hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Sekilas kutangkap dari sorot penglihatanmu; mata itu mewakilkan isi hatimu, bahwa kau ingin berterima kasih padaku dan merasa bangga karena perhatianku.

Aku pun mendekat pada ranjang. Kurebahkan badan, menatap lelangit penginapan yang sederhana. Biasanya aku memandang langit-langit istana yang indah, penuh ukiran, bukan langit-langit penginapan yang tampak tua usianya. Kini langit-langit istana itu sudah memayungi tuannya yang baru. Aku tidak bisa lagi dengan nikmat menyuruh emban-emban untuk memenuhi segala keinginanku. Sekarang aku harus melakukan apa-apa sendiri, dengan jiwa yang tidak tenang sebagai buronan Kediri. Aku sungguh tidak lebih daripada rakyat biasa.

Namun, tiba-tiba saja aku menjadi perempuan yang paling beruntung. Hanya aku, dari keempat istrimu, yang kini sedang bersamamu. Aku patut berterima kasih kepada Paman Lembusura, dialah yang menghimbauku untuk segera meninggalkan kedaton di tengah peperangan. Sekarang ini, aku bisa leluasa menghabiskan waktuku, meski dalam masa sulit, tanpa harus dijejali rasa cemburu.

Aku pernah berpikir, ingin menyingkirkan mereka—ketiga istrimu yang lain—dari hidupku dengan segala cara. Aku pernah berada di masa-masa itu, masa yang membuatku ingin sekali menguasaimu seorang diri. Ah, bukan menguasai, tepatnya lebih kepada memiliki. Pikiran itu kemudian aku kubur dalam-dalam. Tidak sepatutnya hal itu dilakukan oleh anak seorang raja besar. Lagi pula mereka juga masih saudaraku, rasanya aku juga tidak cukup tega untuk melakukannya.

Kau masih berdiri, walau aku sudah berpamitan untuk tidur lebih dulu, aku masih menahan. Aku masih berharap kau segera berada di sampingku dan memelukku. Kita terlelap bersama dalam mimpi-mimpi yang mendamaikan. Sebegitu kuatkah bayangan-bayangan peperangan mengisi tempurung kepalamu?

Ketika pagi sudah menjemput, aku bangun dari tidur dan sekujur tubuhku pegal-pegal. Kau masih nyenyak di sampingku. Hari sudah begitu terang. Wajahmu begitu layu. Pasti kau terlalu lama berdiri di dekat jendela. Mantan petinggi-petinggi Singasari mungkin sudah menunggumu. Aku mengalahkan perasaan ketidaktegaanku membangunkanmu. Bagaimanapun keadaannya kita harus segera meninggalkan penginapan ini dan kembali melakukan perjalanan.

Orang Kediri sewaktu-waktu bisa di hadap mata. Aku yakin mereka tentu tidak begitu saja melepaskan kami; orang-orang Singasari. Mereka akan terus mencari dan mencari. Mereka menghendaki kami semua mati.

“Memikirkan apa, Dinda?”

“Aku takut kalau sewaktu-waktu ada orang Kediri yang mengetahui keberadaan kita lalu berusaha menangkap kita untuk dibawa ke hadapan Gusti Prabu Jayakatwang.”

“Aku pun juga was-was dengan hal itu. Kita tidak mungkin melawan kalau itu sampai terjadi. Sedangkan jika menyerah, aku tidak bisa membayangkan perasaanku, perasaanmu, juga perasaan petinggi-petinggi lainnya.”

“Mengapa semua ini harus terjadi pada kita? Kita harus menjadi buronan, kita harus berkutat dengan rasa was-was karena merasa terancam.”

Kau memelukku. Aku tak lagi dapat membendung air mata. Kau terus berupaya menguatkanku dan berkata bahwa perjuangan ini harus dilanjutkan. Sudah begitu banyak nyawa yang hilang akibat pengkhianatan Jayakatwang. Mereka telah menjadi pahlawan bagi Singasari, katamu.

“Berdoalah, Dinda, kepada Dewata, agar perjalanan kita selalu diberikan keselamatan dan di tempat tujuan kita mendapat sesuatu yang berharga,” katamu setengah berbisik.

“Andaikan ayahanda…”

“Sudahlah, itu tidak perlu disesali. Kita sekarang butuh dorongan semangat, kalau kita menyesalkan terus ayahanda Prabu, itu akan membuat kita lemah. Semuanya sudah terjadi. Sekarang aku sadar, kita harus selalu menatap ke depan.”

“Terima kasih, Kanda, telah menguatkan Dinda.”

“Sekarang bersihkan dirimu, Dinda Tribuwana, kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini.”

Aku pun mengangguk. Kau tersenyum. Kuambil pakaian dari sebuah buntalan. Saat aku sudah berada di luar kamar, kata-katamu masih terngiang di kepala. Kata-kata soal bahwa kita harus selalu menatap ke depan!

*Cerpen ini terilhami serial FTV Tutur Tinular (1997) pada bagian saat Raden Wijaya bersama mantan petinggi Kerajaan Singasari meninggalkan Tumapel menuju Madura sebagai buronan.

Jejak Imaji, April 2021




====================
Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Pengkhianat

0


AKHIRNYA mereka bertemu setelah sebulan terakhir hanya berhubungan lewat telepon.

Mereka berpisah lima tahun lamanya, dan beberapa bulan lalu Ridwan, salah seorang kawan lama—yang mengenali mereka berdua dan tahu persis riwayat hidup keduanya – bertemu dengan si laki-laki di sebuah seminar, di mana si laki-laki menjadi keynote speaker. Dari Ridwan, si laki-laki memperoleh nomor telepon si perempuan, kemudian si laki-laki berusaha menghubungi si perempuan, tapi dia merasa tidak enak karena si perempuan telah menikah dengan laki-laki lain.

“Kau belum meneleponnya?” Ridwan meneleponnya dan menyinggung soal si perempuan. “Dia meragukan kalau aku sudah memberikan nomornya kepadamu.”

“Aku tak mungkin menghubungi istri orang lain.”

“Tergantung niatmu.”

“Suaminya harus mengizinkannya menerima telepon dari laki-laki lain.”

“Dia sudah pisah dengan suaminya.”

“Aku tak tahu soal itu.”

“Hubungilah! Siapa tahu kalian memang jodoh.”

Ridwan menutup telepon setelah menanyakan kapan lagi si laki-laki punya jadwal seminar karena dia ingin mengirimkan beberapa staf di perusahaannya untuk mengikuti seminar itu. Si laki-laki menimang-nimang telepon genggamnya, berpikir keras apakah dia akan menghubungi si perempuan atau tidak sama sekali. Tapi, akhirnya, dia putuskan tidak menghubungi si perempuan.

Awal Mei lalu, si laki-laki memutuskan menghubungi nomor telepon si perempuan, dan si perempuan mengaku sudah mendapatkan nomor telepon si laki-laki dari Ridwan tetapi dia tidak punya keberanian untuk menelepon. Mereka akhirnya saling mengaku kesalahan, kemudian berjanji bertemu, dan si laki-laki mengatakan bahwa dia akan berada di Jakarta, kota di mana si perempuan tinggal, untuk menghadiri sebuah seminar yang diselenggarakan Universitas Indonesia.

“Aku menginap di hotel,” kata si laki-laki, “kalau kau punya waktu, berkunjunglah ke hotel.”

Si perempuan bangkit dari sofa di ruang tunggu hotel begitu melihat si laki-laki keluar dari lif. Dia melambaikan tangan, khawatir si laki-laki tidak melihatnya. Si laki-laki melihatnya, tetapi meragukan apa yang dia lihat karena penampilan si perempuan jauh dari apa yang dia bayangkan ketika mereka berhubungan lewat telepon. Tubuh perempuan itu tampak kurus, lebih pendek, dan hitam. Hitam!?  

“Kau tampak berbeda,” kata si laki-laki.

“Katakan saja semakin jelek.” Si perempuan menjawab.

Keduanya bersitatap. Diam. Ada beberapa menit mereka begitu. Mereka baru bergerak ketika Sherly, sekretaris si laki-laki, menghampiri dan mengingatkan si laki-laki bahwa sepuluh menit lagi seminar akan dimulai.

“Ya.” Si laki-laki memberi isyarat kepada Sherly agar memberi waktu beberapa menit untuk mereka. “Kami sudah lima tahun tak bertemu,” kata si laki-laki.

“Oh!” Sherly undur.

“Kau tambah gagah!” Si perempuan mulai menguasai keadaan.

“Kalau kau tahu kondisiku di dalam, kau tidak akan bicara seperti itu?”

“Bagaimana aku bisa tahu.”

“Mestinya kau tahu.”

Si perempuan menunduk. Ya, mestinya dia tidak perlu mengatakan hal semacam itu, tetapi dia berpikir bahwa lima tahun waktu yang lebih dari cukup bagi seseorang untuk menjadi lebih baik. Lebih baik? Pikir si perempuan. Dia tersadar, bahwa lima tahun terakhir kondisinya bukan bertambah baik, tetapi justru lebih buruk. Dengan segera segalanya berkelebat dalam pikirannya, sesuatu telah membuat hidupnya berjalan tidak seperti diharapkannya. Impiannya, satu per satu, terbang bersama waktu.

Terbang! Ya, terbang tinggi. Ini terjadi karena kesalahannya sendiri, karena dia tidak punya sikap yang jelas, terlalu mudah berubah. Dan, dia ingat, itulah pernyataan si laki-laki lima tahun lalu. “Kau terlalu gampang berubah. Hubungan kita tidak akan berhasil,” kata si laki-laki.

“Semua salahku?” Si perempuan protes. “Ya, timpakan saja semua kepadaku. Aku salah, aku gampang berubah, aku tidak punya pendirian. Aku… “ Si perempuan menahan air matanya agar tidak tumpah. “Kau sendiri tidak pernah mengerti keadaanku.”

“Aku?!” Si laki-laki mencibir. “Aku tak mengerti keadaanmu. Ah, semakin jelas bagiku, hubungan ini percuma saja kita lanjutkan.”

“Baik! Kita pisah.”

Si laki-laki mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan, sekarang, si laki-laki berdiri di hadapannya, lalu mengingatkan bahwa beberapa menit lagi dia harus menghadiri seminar. “Sekarang kita sudah bertemu. Sebulan terakhir kau selalu bilang ingin bertemu dengan aku.”

“Bukan seperti ini pertemuan yang aku inginkan.”

“Situasinya tidak memungkinkan. Waktuku sangat terbatas. Besok aku harus sudah berada di Surabaya. Jadwalku padat.”

“Sekarang kau sudah sukses.”

“Tergantung kau melihat dari sisi mana?”

“Setidaknya kau banyak berubah dibandingkan lima tahun lalu.”

“Maksudmu, lima tahun lalu aku tidak membuatmu merasa layak untuk ….”

“Aku tidak ingin bertengkar denganmu.”

“Kita selalu bertengkar. Kau yang mengatakan itu.” Si laki-laki mengembalikan ingatan si perempuan pada lima tahun lalu, dan si perempuan menggeleng.

“Orang tuaku tidak menginginkanmu jadi menantu mereka.”

“Kau setuju begitu saja.”

“Aku tidak mungkin melawan kehendak orang tua.”

“Kau tak ingin kehilangan banyak hal.” Si laki-laki tersenyum. “Kau tak siap menderita jika memilih hidup bersamaku.”

“Aku menderita selama lima tahun ini.”

“Aku lihat sendiri.”

“Karena aku jadi jelek?”

Si laki-laki tersenyum. “Kau menyadari hal itu, tetapi kau membiarkannya.”

“Untuk apa?!” Si perempuan menggeleng. “Hidupku benar-benar hancur.”

“Karena suamimu dipenjara?”

“Kau tahu soal itu?”

“Aku melihat beritanya di televisi.”

“Dia bekas suamiku.”

“Setelah dia dipenjara. Sebelumnya aku dengar Kalian pasangan serasi.”

“Jangan mengejekku.”

“Bukankah itu fakta. Suamimu politisi yang hebat. Kariernya cepat menanjak.”

 “Sudah…sudah. Aku tak suka pembicaraan ini.”

“Aku tak tahu apa yang kau sukai dan apa yang tidak kau sukai. Lima tahun waktu yang lebih dari cukup bagiku untuk menjadi seperti sekarang. Semua usaha ini aku lakukan hanya untuk membuatmu merasa bersalah telah menolakku.”

“Aku tidak pernah menolakmu. Kau pergi begitu saja….”

“Sudahlah. Aku harus menghadiri seminar.”

“Kapan kita bertemu lagi?”

“Aku tidak tahu.”

“Tidak tahu atau tidak ingin?”

“Entahlah.”

“Baiklah.” Si perempuan mengangguk-angguk. “Seharusnya aku tak datang menemuimu.”

“Kenapa?”

“Entahlah! Lima tahun ini aku selalu dihantui rasa bersalah.”

“Jangan mulai lagi.”

“Kita harus bertemu lagi. Selesai seminar, bagaimana.”

“Aku tak bisa menjanjikan.”

“Kau memang tidak ingin.”

“Ya.” Si laki-laki mohon izin. “Kau tahu soal itu, tapi kau tetap memaksa ingin bertemu.” Si laki-laki berjalan ke arah lif.

“Aku minta maaf!” teriak si perempuan.

Si laki-laki mengangkat tangannya.

*

MALAM itu hujan turun di luar hotel. Setengah jam lalu si laki-laki masuk kamar hotel di lantai 5. Seminar menyita konsentrasinya, membuat kepalanya sedikit pening. Begitu masuk kamar, dia langsung mandi. Tubuhnya sedikit segar ketika berdiri di jendela dan melihat hujan di luar. Hujan itu membangkitkan kenangannya pada si perempuan, pada malam ketika mereka memutuskan berpisah, karena si perempuan baru saja menyampaikan sebuah kabar yang tidak disukainya.

“Ayah memaksaku menikah dengan Marihot. Aku tidak mungkin menolak.”

Marihot!? Si laki-laki mencibir. Dia kenal Marihot, sangat mengenalinya. Sejak SMP mereka satu kelas, dan mereka sempat akrab. Tapi, suatu peristiwa membuat hubungan mereka merenggang, dan peristiwa itu tidak ada kaitannya dengan si perempuan.

Si laki-laki tahu, hubungan Marihot dengan si perempuan sangat dekat, karena mereka masih punya hubungan saudara. Ayah si perempuan adalah saudara laki-laki dari ibu Marihot, dan mereka sah menikah sesuai adat-istiadat. Tapi, baik Marihot maupun si perempuan tidak pernah ingin menikah, dan keduanya telah mengungkapkan hal itu kepada si laki-laki. Itu sebabnya, si laki-laki tidak merasa telah merebut hak Marihot ketika dia menyatakan rasa cintanya kepada si perempuan, dan Marihot sendiri tidak mempersoalkan itu. Hubungannya dengan Marihot merenggang karena Marihot punya kebiasaan buruk, yaitu merasa dirinya memiliki kekuasaan lebih karena ayahnya adalah ahli waris raja panusunan bulung (leluhur pembuka kampung) di kampung. Dengan kekuasaan ayahnya, Marihot menganggap dirinya sebagai raja panusunan bulung yang harus mendapat hak-hak khusus di kampung, terutama dalam urusan menyenangkan diri sendiri.

Marihot telah menjelma jadi anak muda yang kurang hajar, yang menggiring anak-anak muda lain agar menjadi generasi muda tak bertanggung jawab dengan memperkenalkan narkoba. Sebagai teman sejak kecil, si laki-laki sudah memperingatkan Marihot agar menjaga nama baik orang tuanya, tetapi Marihot memintanya agar jangan turut campur. “Jangan sampai hubungan baik di antara kita menjadi buruk,” kata Marihot.

Si laki-laki sadar bahwa dia hanya seorang kawan, dan dia sudah mengingatkan Marihot, tetapi Marihot menolak. Si laki-laki memutuskan membiarkan, meskipun dia sudah meminta agar si perempuan ikut menasehati Marihot. Tapi, si perempuan menolak ikut campur urusan Marihot dengan alasan dia tidak mau tahu soal Marihot. Dan, kalimat itu, sedikit banyak, diterjemahkan si laki-laki sebagai bukti, bahwa hubungan keluarga Marihot dengan keluarga si perempuan, agak kurang harmonis. Lalu, tiba-tiba, setelah dua tahun berhubungan dekat, si perempuan mengatakan bahwa dia akan menikah dengan Marihot. Si laki-laki tidak mempercayai hal itu, dan menduga-duga bahwa si perempuan hanya mencari-cari alasan untuk mengakhiri hubungan mereka.

“Kau bisa menolaknya,” kata si laki-laki.

“Tidak.”

“Katakan kalau kau tidak mencintai Marihot.”

“Itu alasan yang mudah dibantah.”

“Kau mencintai Marihot?”

“Kau tahu aku tidak menyukai Marihot.”

“Kenapa kau menerima dinikahkan dengan dia.”

“Supaya keluarga ini tetap utuh.”

“Alasan yang mengada-ada.”

“Kau tahu kan hubungan keluarga kami sangat buruk selama ini. Pernikahan antara aku dengan Marihot akan memperbaiki semuanya.”

“Apakah pernikahan itu bisa menjamin….”

“Setidaknya sudah ada keputusan, dan itu berarti sudah ada upaya….”

“Bagaimana dengan aku?” Si laki-laki menuntut. “Bagaimana dengan hubungan kita selama ini. Bagaimana….”

“Kau bisa mencari perempuan lain.”

“Semudah itu?”

“Tidak ada yang sukar.”

Si laki-laki menggeleng.. “Kau terlalu gampang berubah. Hubungan kita tidak akan berhasil,” kata si laki-laki.

“Semua salahku?” Si perempuan protes. “Ya, timpakan saja semua kepadaku. Aku salah, aku gampang berubah, aku tidak punya pendirian. Aku…” Si perempuan menahan air matanya agar tidak tumpah. “Kau sendiri tidak pernah mengerti keadaanku.”

“Aku?!” Si laki-laki mencibir. “Aku tak mengerti keadaanmu. Ah, semakin jelas bagiku, hubungan ini percuma saja kita lanjutkan.”

“Baik! Kita pisah.”

Si perempuan tampak kesal dan pergi. Si laki-laki pergi ke arah berbeda. Hujan turun beberapa menit kemudian. Si laki-laki tidak memperdulikan hujan yang menguyur ubun-ubunnya.

Hari itu, si laki-laki pulang ke rumahnya, mengemas beberapa potong pakaian ke dalam tas, lalu pergi. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Orang tuanya kehilangan dan mencarinya ke mana-mana.

Telepon di kamar hotel mendering. Si laki-laki tersentak dari lamunannya. Setelah menguasai keadaan, si laki-laki mengangkat gagang telepon.

“Bapak sudah siap?” Suara Sherly terdengar di seberang.

“Ah, aku belum apa-apa.”

“Bagaimana kalau kita tunda keberangkatan besok pagi saja?” Sherly menawarkan. “Besok pagi Bapak akan lebih siap.”

Si laki-laki mengangguk. “Bagaimana kalau kita keluar malam ini?” tanya si laki-laki. “Mumpung kita di Jakarta.”

“Bapak ingin ke mana?”

“Ke mana saja.”

“Bapak ada masalah?”

“Kenapa kau bertanya begitu?”

“Sejak bertemu perempuan tadi, saya perhatikan Bapak kehilangan gairah. Tadi, saat seminar, Bapak kehilangan ciri khas yang humoris itu.”

“Aku tak menyadarinya.”

“Baiklah. Saya tunggu Bapak di lobby.”

“Sepuluh menit, aku turun.”

*

“DIA tidak pernah senang menikah dengan Marihot.” Si laki-laki bicara dalam pengaruh alkohol. “Dia harus menikah demi keluarga, padahal kami masih berhubungan.”

Sherly menatap si laki-laki. “Saya kasihan masih ada perempuan seperti itu.”

“Laki-laki yang dipilihnya bukan yang terbaik, tetapi memang yang paling kaya. Anak seorang pengusaha di kampung kami.”

“Kekayaan turunan tak akan membawa kebahagiaan.”

“Dia tidak pernah bahagia. Dia mengatakan seperti itu. Mungkin karena aku mengharapkan agar dia tidak pernah bahagia. Tuhan mengijabah doaku.”

“Bukan, bukan karena doa Bapak.” Sherly menimpali. “Kekayaan turun-temurun selalu ada batasnya. Dia sulit dipertahankan, apalagi bila ahli warisnya tidak punya kecakapan.”

“Hidup mereka memang pernah mewah. Aku sempat mengikuti, dan aku iri pada kebahagiaan mereka. Tapi, semua berubah sejak suaminya ditangkap dalam kasus korupsi. Sejak itu aku tak pernah tahu kabarnya, lalu salah seorang kawan lama memberi tahu kabarnya.”

“Bapak masih mencintainya?”

“Sampai tadi masih.” Si laki-laki mengangguk. “Tapi, setelah kami mengobrol tadi, segalanya berubah.”

“Berubah bagaimana?”

“Saya merasa bodoh karena menolak menikah gara-gara pernah sangat kecewa kepada perempuan.”

“Bapak tidak boleh menyalahkan diri sendiri.”

“Itulah faktanya.” Si laki-laki kembali menegak minumannya. “Saya tak bisa menerima kenyataan ditolak oleh orang lain.”

“Bapak seharusnya bersyukur.”

“Bersyukur?!”

“Ya. Bersyukur karena tidak berjodoh dengan dia. Bapak akan mendapat jodoh paling baik.”

“Entahlah, aku selalu takut membayangkan pernikahan.”

“Kenapa?!”

Si laki-laki menggeleng. “Tidak. Aku tak seharusnya membicarakan soal ini denganmu.”

“Kenapa tidak? Saya sekretaris Bapak.”

“Justru itu… Hubungan kita profesional, tapi pembicaraan kita sudah melampaui batas-batas profesionalisme.”

“Tidak. Itu hanya perasaan Bapak. Saya tahu cara memposisikan diri.”

“Aku tak meragukanmu, tapi aku meragukan diriku.”

“Maaf. Bapak memang selalu ragu jika berkaitan dengan kepentingan Bapak. Tapi soal lain, saya harus akui bahwa Bapak layak jadi anutan.”

“Apa maksudmu?”

“Keragu-raguan muncul karena Bapak tidak yakin dengan kemampuan Bapak.”

“Aku… Tidak mampu.” Si laki-laki tertawa.

“Jika Bapak menginginkan sesuatu, maka Bapak harus memperjuangkannya. Setiap pilihan punya risiko.”

“Aku selalu memperjuangkan apa yang aku inginkan.”

“Bagaimana dengan perempuan itu?” Sherly mencecar. “Bukankah seharusnya Bapak memperjuangkannya.”

“Tidak.”

“Bapak selalu mengingat keburukan perempuan itu. Kenapa Bapak tidak mengingat kebaikannya.”

Si laki-laki menggeleng. Kebaikan? pikirnya. Dia ingat si perempuan, tapi dia hanya mengingat semua yang buruk yang pernah dilakukan perempuan itu. “Tidak,” kata si laki-laki. “Tidak ada kebaikan. Dia pengkhianat sejak awal.”

*

SHERLY turun dari mobilnya. Dia berjalan ke halaman sebuah mal. Telepon genggamnya mendering. Dia berhenti melangkah, melihat layar telepon genggamnya. “Aku sudah sampai,” katanya. “Kau sudah di kafe itu?”

“Kau membawa apa yang kuinginkan?” tanya suara perempuan di seberang.

“Seperti yang kita sepakati.”

“Oke.” Perempuan di seberang menghela nafas. “Kapan kalian menikah?”

“Nanti saja aku ceritakan.” Sherly menutup teleponnya.

Mal tidak terlalu ramai. Sherly memasuki tempat perbelanjaan itu dengan langkah yang ringan. Dia menuju sebuah kafe, tempat yang dia janjikan untuk bertemu dengan perempuan itu.

Ketika Sherly memasuki kafe, mengedarkan pandangan ke dalam kafe, dia melihat perempuan itu melambaikan tangannya. Sherly menghampiri mejanya, meletakkan tas yang dibawanya di hadapan perempuan itu.

“Mau kau hitung sekarang?” tanya Sherly.

“Tidak perlu.” Perempuan itu tersenyum. “Aku percaya padamu.”

“Kau janji tak akan mengganggunya?”

“Kapan Kalian menikah?”

“Bulan depan.”

“Secepat itu?”

Sherly tersenyum. “Kau yang membuat segalanya lebih mudah. Terima kasih ya.”

“Aku hanya menjalankan skenario yang kau buat.” Perempuan itu tersenyum. “Kau yang hebat.”

“Aku harus melakukannya, karena dia tidak akan pernah mau menikah sebelum mengobrol denganmu.”

“Dia memang plin plan soal hubungan. Aku juga menunggu dia melamarku, tapi dia tidak kunjung melamar. Akhirnya aku menerima laki-laki lain.”

“Itulah kelemahannya. Dan dia makin lemah ketika kau meninggalkannya.”

“Dia laki-laki yang baik. Kau harus menjaganya dengan baik.”

“Aku mencintai hartanya.”

“Kau kurang hajar.”

“Kita sama. Kau meninggalkannya karena dia miskin.”

Keduanya tertawa. [*]





=======================
Budi P. Hatees lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara,  pada 3 Juni 1972.  Menulis cerpen, puisi, esai, dan novel dan sebagian karyanya diterbitkan di berbagai media dan sejumlah buku.  Sehari-hari bekerja sebagai peneliti budaya, sosial, politik untuk Institute Sahata dan Tapanuli Database Center for Researd Culture and Social (Tapanuli Database).





Share-loc

0

PETANG hari di sebuah persimpangan jalan yang sepi, Gogo duduk di pinggir trotoar perempatan jalan. Jalanan itu terbagi empat arah. Di bagian tengah titik pertemuannya, berdiri tugu kecil putih dengan jam besar pada bagian atasnya. Bulir keringat turun membasahi pelipis Gogo yang keriput, menuju area cambang lalu ke dagu. Kaki kirinya terangkat ketika tangan kanannya masih susah payah melepas sepatu bot tua cokelatnya.

“Kenapa sejak dulu susah sekali membuka sepatu ini? Huh!”

“Masih saja kau bersusah payah melepas sepatu itu, Gogo? Sudah tahu sepatu itu sulit kaulepas, kenapa selalu kaupakai lagi setelah beberapa saat melepasnya? Kemarin, kemarin dulu, bulan lalu, tahun lalu, kau bilang sudah mau bertobat tidak akan memakai sepatu itu lagi, tapi selalu begitu. Sepertinya kau tidak pernah kapok.” Didi menanggapi sambil mengisap rokoknya, tanpa menoleh sedikit pun kepada Gogo.

“Bukannya tidak kapok …“

“Lalu apa? Kau mau bilang tidak punya pilihan?”

“Bukan juga, entah mengapa, rasanya memang aku harus terus mengulang memakai sepatu itu lagi. Dan perasaan harus memakai sepatu itu selalu hadir, ketika aku telah berhasil melepasnya. Menurutmu itu kenapa ya?”

“Menurutku kau sudah gila. Aku pernah dengar seorang pemuda yang melintas kemarin sambil menelepon. Kau masih ingat? Ah! Kau pasti tidak ingat, kau, kan, sibuk melepas sepatu busukmu itu. Pemuda itu menyebutkan nama penyakit, obsessive compu …  apa lagi istilahnya itu? Semacam sakit jiwa, ketika seseorang mengulang-ulang kejadian yang sama. Ya seperti itulah kau!” Didi masih terus mengomentari Gogo.

Flop! Sepatu bot tua itu terlepas dari kaki Gogo, ia tersenyum puas, lalu melihat Didi dan berkomentar “Obsessive compulsive disorder! Huh! Begitu saja kau lupa! Aku saja bisa mengingatnya walau sambil melepas sepatu. Ini buktinya aku tidak sakit jiwa karena aku masih mengingat.”

Didi mencibir.

Gogo kini melepas sepatu botnya yang kanan. “Aku pun masih ingat, sekarang tahun 2020. Artinya sudah tujuh puluh tahun sejak kita menunggu Godot di persimpangan jalan ini. Lihatlah, jalan desa ini sudah berubah jadi beraspal. Dulu kita masih bisa melihat matahari terbenam di balik pohon ek, sekarang terhalang penuh karena gedung apartemen itu. Apa kau memperhatikan itu juga?”

“Itu terlalu gamblang,” Didi menjatuhkan sisa rokoknya, menginjaknya hingga rata, kemudian membuangnya ke lubang saluran air. “Semestinya kau memperhatikan fenomena yang lebih besar, kawan!”

“Seperti apa, misalnya?” Gogo masih berusaha melepas sepatu kanannya.

“Seperti: kenapa Popo dan Lulu tidak bersama kita lagi? Kenapa mereka bisa mati sedangkan kita masih di sini?”

“Entahlah! Aku juga heran, kenapa Godot tidak datang sampai sekarang?”

“Karena kita punya harapan, Gogo! Hope is the dream of a waking man. Makanya kita belum mati sampai sekarang. Itulah, Go, aku masih selalu berharap dan yakin sekali, Godot akan hadir di sini, melalui jalan ini.”

“Iya, lah, apa pun itu, tapi kau yakin, kan, ini tempatnya? Godot akan hadir di sini, di titik ini?”

“Iya aku yakin!”

“Seberapa yakin?”

“Sama yakinnya aku bahwa matahari masih akan terbenam di sebelah barat. Dan semakin kau menanyakannya setiap hari, semakin aku yakin.”

Gogo kini berhenti sejenak dari upayanya melepas sepatu, lalu menatap Didi “Kau sudah coba minta share-loc padanya?”

“Apa? Share-loc?”

“Aku kan, memperhatikan yang gamblang di sekitar sini. Orang-orang yang berlalu-lalang di sini sambil memegang telepon genggamnya selalu bilang ‘share-loc ya!’ dan kemudian mereka bisa bertemu dengan orang yang diteleponnya, orang yang ditunggunya. Tidak tersesat. Menurutmu, apakah Godot tersesat? Sepertinya kita perlu punya telepon genggam, supaya bisa share-loc ke Godot? Bagaimana menurutmu, Didi?”

Didi termangu, sebelum akhirnya menjawab. “Bagaimana caranya kita punya telepon genggam? Kita tak punya uang sepeser pun. Kita hidup dari belas kasih.”

Keduanya sama-sama termangu. Tak biasanya, angin tiba-tiba berembus kencang. Topi bulat mereka yang sudah amat lusuh terempas ke kiri. Gogo hanya diam, menatap topinya dengan malas. Didi dengan sigap mengejar, dan kembali duduk di sebelah Gogo. Seketika ia melihat sepatu bot milik sahabatnya itu dengan tidak biasa.

“Ah! Aku ada ide! Bagaimana kalau kita jual sepatumu? Keuntungannya begini: kau tak perlu repot melepas sepatu botmu, dan kita bisa membeli telepon genggam untuk share-loc kepada Godot. Bagaimana?” Didi tampak antusias.

“Ah! Kau gila, Didi! Kalau aku tidak punya sepatu bot, lalu apa yang akan aku pasang dan lepas lagi di kakiku?” Gogo spontan mengambil sepatu kirinya yang telah terlepas, lalu mendekapnya dalam dadanya.

“Jangan picik, Gogo! Bayangkan, kita bisa menemui Godot segera setelah kita memiliki telepon genggam. Dan persoalannya, hanya sepatu yang setidaknya masih bisa dijual.”

“Baiklah, tapi siapa yang akan pergi ke toko barang bekas? Harus ada yang menjaga di sini. Jangan-jangan pada saat kita pergi, Godot datang.”

“Pintar! Biar aku yang pergi ke toko itu dan menjual sepatumu. Ayo, cepatlah buka sepatumu!” Didi mengangkat kaki kanan Gogo, mencoba melepas sepatu bot itu. Peluh mereka bercucuran. Entah kenapa, membuka sepatu bot Gogo yang kanan selalu lebih sulit dari yang kiri.

Flop! Akhirnya sepatu itu terlepas, Didi terjengkang. Ia lalu bangkit mengambil sepatu itu, dan mengambil sepatu yang kiri. Didi pergi ke toko barang bekas. Gogo hanya mengamati punggung sahabatnya itu hingga menghilang di sudut jalan.

Dua jam berlalu, Didi kembali dengan wajah cerah, membawa sebuah benda kecil berbentuk telepon genggam dan sepatu bot. Gogo spontan berdiri menyambut kawannya itu, sambil menduga-duga apa yang terjadi.

“Gogo, kita sudah mendapatkan telepon genggam! Ada seorang pria berambut putih, dia merasa kasihan kepadaku karena tidak ada yang mau membeli sepatu bot tuamu itu. Begitu aku bilang telepon genggam itu untuk share-loc dan menemukan Godot, dia langsung memberikan telepon ini begitu saja, cuma-cuma! Bahkan dia mendoakan keberuntungan untuk kita.”

Tangan Gogo bergetar memegang benda itu, “Kau tahu bagaimana caranya share-loc, kan? Atau pria berambut putih itu memberitahumu caranya?”

Didi termangu, dengan pelan ia menjawab “Kukira kau tahu. Bukankah ide share-loc itu kau yang usulkan?”

Seketika seorang anak lelaki dengan sweater putih melewati mereka. Didi memanggilnya meminta bantuan. “Nak, bantu kami. Bagaimana caranya share-loc? Kami harus share-loc untuk Godot. Kami menunggunya puluhan tahun ini.”

Anak lelaki itu mengangguk dengan sopan, “Anda punya nomornya Tuan Godot? Untuk menghubunginya dan share-loc, Anda harus memiliki nomornya.”

Kedua sahabat tua itu saling berpandangan dan menggaruk kepala bersamaan.


Catatan: Kisah ini terinspirasi dari naskah drama “Waiting for Godot: a Tragicomedy” karya Samuel Beckett



=================
Astrid Wahono, Lahir di Surabaya 28 Juni 1983. Ibu rumah tangga yang senang berkelana dengan kamera, pena, dan buku saku di dalam tas kecilnya. Beberapa cerpennya telah dimuat dalam antologi “Lemonious Love”dan “Sepenggal Kisah Kita”. Selain menulis, juga menggemari fotografi. Karya fotonya pernah dipamerkan di Pameran Foto “Sammaratanna”, Gedung Kesenian Makassar tahun 2016.

Seungkap Lembaran Kecil

0



Angin pagi merayap lewat jendela yang terbuka, ketika kuberdiri tercenung di kamar ibu. Tiga hari yang lalu dia berpulang, setelah sekian tahun bertahan hidup menjanda karena ayah pun telah  mendahuluinya sejak aku SMA. Kenangan atas sosok ibu seolah melekat pada setiap benda yang ada di sekeliling ruangan ini. Gorden jendela, cermin rias, gantungan baju, bahkan seonggok keset di pintu, membuatku semakin larut tidak hanya dalam rasa kehilangan, tetapi juga sesal yang tak mungkin lagi kupadamkan.

Sedikit gemetar tanganku meraih pigura yang berdiri di atas meja. Saat pandanganku terpatri pada foto di  dalamnya, tak bisa kusangkal sorot keteduhan dari mata ibu yang tengah menggendongku. Kecantikan yang seperti itu kuharap menurun pada anak perempuanku nanti. Tergambar samar senyum keduanya, berlatar rumah petak berdinding kayu, mengalirkan serangkaian kisah kebersamaan kami di masa-masa susah dulu. Jemariku mengusap pelan debu tipis di kacanya sehingga lebih jelas kulihat wajah-wajah bahagia yang terpampang. Kembali kuteringat ibu, tentang kecermatannya menyisihkan uang demi membelikanku baju baru, juga perihal kegigihannya mengais rejeki dari pakaian kotor para tetangga agar ayah sedikit terbantu.

Lucia Utaminingsih, itulah nama yang tertulis di lelayu, disebutkan pula ketika upacara pemberangkatan jenazahnya. Saat remaja, baru kutahu makna di balik nama depan perempuan yang melahirkanku itu. Sejak saat itu aku sadar bahwa ibu harus menyesuaikan dirinya dengan keyakinan baru sejak menikah. Sesuatu yang tak sempat kuperhatikan sebelumnya, sama sekali belum pernah kulihat ibu mengerjakan sembahyang bersama ayah. Pada akhirnya aku pun jadi paham alasan dulu ibu suka marah besar manakala aku malas belajar mengaji ke masjid di dekat rumah. Meskipun beberapa ayat mampu dia lafalkan, ternyata memang ibu sama sekali tak bisa membaca kitab suci, apalagi untuk mengajariku.

Hingga saat aku lulus kuliah dan sempat kembali tinggal serumah, tak rela kulihat ibu masih saja memperlihatkan kemilau rambutnya yang mulai beruban. Kami juga sering bertengkar karena persoalan ibu yang tak mau segera insaf dengan kelalaiannya terhadap tuntunan agama. Sembari terus saja mengenang segala hal tentang ibu, satu persatu barang yang ada di kamar itu kubereskan. Tak henti-hentinya air mata kesedihan tumpah mengaliri pipiku.

“Ibu sudah tenang, apalagi yang kamu khawatirkan, Ais?” Terdengar suara suamiku, menyusul lembut elusan tangannya di punggungku.

“Kenapa ibu begitu keras kepala, Mas?” Tak kuat lagi kutahan sesal, menyertai ledakan tangis yang terhambur ke dalam dekapannya. Pundakku terguncang, ada sesak lain yang seketika datang, mengingat belasan tahun terakhir kutinggalkan ibu sendirian sejak kuliah hingga sekarang. Buku-buku baru yang dulu kubeli saat kuliah berjajar rapi di rak dengan bungkus plastik yang masih utuh, terlihat sia-sia karena sama sekali tak mampu menemani ibu dalam kesendiriannya.

Aku dan suamiku memang telah memutuskan untuk tinggal jauh dari orangtua, menetap di luar kota terkait alasan pekerjaan kami berdua. Meski telah lima tahun menikah, kebetulan kami belum dikaruniai anak. Karena itulah masing-masing dari kami menyibukkan diri bekerja, sambil melanjutkan kuliah S2 di almamater kami sebelumnya. Sebulan sekali belum tentu kami pulang, itupun dengan maksud sekadar memastikan kesehatan ibu, sekaligus menjawab kerinduannya terhadap anak satu-satunya. Ibu tak pernah protes. Tetapi seperti yang akhirnya kukatakan pada suamiku, bahwa sebetulnya ada kerinduan lain yang terpendam di batinku. Terutama sejak kepergian ayah yang membuat ibu semakin tak punya kesempatan belajar lebih dalam tentang agama.

Aku tahu, ayah bukan termasuk orang berpendidikan. Ijazah SMP hanya bisa mengantarkannya jadi buruh, mulai dari toko besi hingga terakhir dia habiskan usia produktifnya di sebuah pabrik konveksi. Pernah suatu ketika sebelum meninggal, ayah tak kurang-kurang meminta maaf atas segala kekurangan ibu. Sembari dia tumpahkan pula segenap permintaan maaf di hadapan anaknya, selama hidup bersama ibu.

“Aku memang bukan suami yang baik,” dengan terbata-bata ayah berusaha tegar mengatasi dirinya yang sedang sakit, meski genangan di mata tak bisa menyembunyikan kepedihan lain yang dirasakannya.

Tampaknya ayah pun pernah larut dalam sesal sebagaimana yang kini kurasakan. Berulangkali kalimatnya harus terhenti dengan sorot mata kosong menatap langit-langit kamar. Dia akui sejak awal menikah sempat berusaha mengajak ibu belajar sungguh-sungguh tentang keyakinan baru yang dipeluknya. Namun seperti yang dia katakan, ibu tak pernah sedikitpun menggubris apalagi serius menjalankannya. Ibu selalu menghindar atau bahkan sesekali bersitegang atas ajakan ayah. Sementara ayah sendiri tak kurang menyadari keterbatasannya perihal pelajaran agama. Sedangkan yang dia harapkan sebetulnya cukup sederhana, sekadar kesediaan ibu melaksanakan sembahyang selayaknya umat yang mengerti tentang kewajiban.

“Dibalik kelembutan sikap ibumu, dia sejatinya seorang yang tak mudah diberi pengertian.” Terlontar kesaksian ayah yang kian menenggelamkanku dalam kesedihan.

Kini setelah lama berselang, giliran pandanganku menerawang, menembus sekian banyak lapisan ingatan. Terlahir dari keluarga awam yang sederhana, lalu perjuangan orangtua menyekolahkanku hingga sarjana, membuatku tak mudah patah dalam menempuhnya. Sampai-sampai keputusanku mengenakan hijab hingga akhirnya kuterlibat dalam organisasi dakwah, semata-mata kuniatkan sebagai wujud kesungguhanku menggenapi kekurangan orangtua. Kupenuhi waktu luangku dengan banyak menghadiri pengajian, belajar sebanyak-banyaknya pemahaman agama yang tak kudapat dari mereka. Tapi apalah arti itu semua, jika ibuku sendiri tak dapat kuselamatkan. Dia tetap enggan menanggapi dan hanya merasa cukup dengan iman tanpa kesempurnaan amalan.

Suara ketukan membuat lamunanku buyar. Suamiku bergegas membukakan pintu depan. Baru kusadar hari telah beranjak siang. Beberapa barang telah kurapikan dalam kardus, kecuali pakaian yang masih utuh di almari. Sejujurnya kami telah berencana akan menyerahkan urusan rumah ini kepada Lik Kardi, sepupu jauh ibu yang hingga sekarang masih tinggal di rumah kontrakan. Kami pikir, keputusan itu lebih baik daripada membiarkan rumah ini kosong.

“Ais, seseorang mencari ibu,” tergopoh-gopoh suamiku kembali ke kamar.

“Loh, bukan Lik Kardi?” tanyaku keheranan.

“Bukan, yang ini aku gak kenal,” tandasnya.

Setelah merapikan kerudung, beberapa detik kemudian kulihat seorang ibu tua berpakaian kumal, berdiri di depan pintu dengan sebuntalan kain terikat di punggungnya.

“Iya ibu, ada apa ya?” sedikit gugup kubertanya.

“Bu Utami?” Dia balas dengan mata penuh tanda-tanya.

Setelah kupersilakan duduk, kusampaikan kabar kepergian ibu, sebelum kemudian kami larut dalam duka dan kenangan masa hidupnya. Dia mengaku bernama Mbok Ginem, seorang tunawisma yang sehari-harinya tinggal di pasar kota. Setiap hari dia terpaksa berkeliling pasar menengadahkan tangan demi mendapatkan belas kasihan para pengunjung yang ditemuinya. Sampai pada perkenalannya dengan ibu, dia ceritakan kesan yang berbeda. Ketika orang lain memberinya sedekah tanpa disertai pandangan mengacuhkan, ibu selalu mengajaknya bicara terlebih dahulu. Bahkan sekali waktu ibu menasihatinya, memberinya sajadah dan mukena, serta sedikit tambahan uang untuk makan seadanya. Satu hal lagi yang dia perhatikan, ibu tak pernah memberikan sesuatu kepadanya dengan uluran tangan dari atas, melainkan mengulurkan tangan ke hadapannya sehingga dia harus mengambil sendiri apa yang ibu berikan.

“Kenapa begitu, Mbok?” mataku mulai basah karena ceritanya.

Bu Ginem melanjutkan cerita perihal ibu yang memang tak ingin merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Ibu ternyata juga sering mengulang-ulang alasannya pergi ke pasar tiap hari Senin. Ibu ingin di hari kelahiran Nabi itu dia berbagi kebahagiaan, menyambung persaudaraan dan cinta kasih, meski sederhana. Seolah ibu betul-betul ingin meneladani budi pekerti Nabi dalam kesehariannya. Dan hari ini Bu Ginem merasakan hal yang berbeda, sebab hingga matahari meninggi tak dapat menjumpai ibu di hari yang sudah menjadi kebiasaannya. Akupun membalas cerita Bu Ginem dengan permintaan maaf dan ucapan terimakasih. Tak bisa kulukiskan sebentuk rasa apa yang timbul dalam keadaan seperti ini, mendengarkan banyak hal tentang ibu yang tak kualami sendiri. Sampai kemudian kuputuskan mengemasi beberapa pakaian ibu dan memberikannya pada Bu Ginem, sebagai pengganti ketidakhadirannya kali ini dan hari-hari Senin seterusnya. Bu Ginem mohon diri setelah kami berpelukan cukup lama, sembari saling mendoakan kebaikan untuk ibu dan tentu saja harapan tulus kami masing-masing agar bisa dipertemukan lagi di kesempatan yang lain.

Aku lepas kepergian Bu Ginem dengan pandangan kabur sebab genangan di kelopak mata yang kian tebal, mengalir jatuh menghempaskan sebagian rasa sesal sebelumnya. Lamat-lamat kudengar suamiku telah berbincang dengan seseorang di teras belakang. Rupanya Lik Kardi datang belum lama, ketika kusibuk ngambilkan pakaian ibu untuk Mbok Ginem.

Pripun niki, Mbak Ais?” dia ulurkan tangan menyalamiku.

Kutimpali sapaan itu sembari mengusapkan ujung kain kerudung ke muka sembabku. Sedikit terbata-bata kusampaikan rencana kami selanjutnya, tentang titipan rumah dan kewajiban apa saja yang sekiranya masih menjadi tanggungan kami. Kujelaskan perihal beberapa barang yang tak boleh dipindah dan sebaliknya, kupersilahan beberapa yang lain untuk dipakai keluarga Lik Kardi nantinya. Situasi batinku berangsur mereda, melihat kembali tumpukan buku di rak yang terlihat bersih terawat. Aku dulu memang termasuk rajin membeli buku, mulai dari buku-buku agama, sastra, hingga filsafat. Buku-buku itu kubeli dari hasil jualan baju dan tas rajut buatanku yang kusisihkan, setelah kupakai membiayai hidup dan kuliah jauh dari orangtua. Memang tak seberapa jumlahnya, namun ketika kubawa pulang, cukup memenuhi satu rak sendiri di ruang keluarga. Sejak saat itu belum pernah sekalipun buku-buku itu kubuka apalagi berpindah dari tempatnya. Dan rasa-rasanya saat inilah waktu yang tepat untuk membawanya.

“Mas, bantu Lik Kardi ya?” kuminta suamiku menemani Lik Kardi memasukkan buku-buku itu ke kardus, bersamaan terdengar suara azan, pertanda masuk waktu Zuhur.

Sementara, aku masih harus mengemasi beberapa barang yang bersifat kenangan, semacam album foto keluarga, cinderamata dan benda-benda pribadi lainnya. Satu persatu barang-barang itu seolah bercerita tentang kebersamaan, kerinduan, ataupun kesetiaan yang terajut sekian lama. Aku rasakan sebuah kemewahan, ketika barang-barang seperti itu dapat menggantikan sebentuk rasa kehilangan yang tak tergantikan.

“Ais, yang ini juga?” lantang suamiku bertanya, membuatku hampir saja menjatuhkan album foto yang sedang kupangku.

“Ya, memangnya?” kulangkahkan kaki mendekat.

Suamiku dengan wajah keheranan menyorongkan sebuah buku tipis bersampul ungu tanpa balutan plastik pembungkusnya. Sebaliknya, kuberikan apa yang masih ada di tanganku kepadanya.

“Tuntunan Shalat Lengkap?” gumamku.

Ketika kubuka lembar demi lembar halaman di dalamnya, kudapati beberapa bagian tulisan bergaris bawah. Garis bertinta biru itu terlihat bergelombang, seperti ditorehkan oleh jemari yang gemetar. Entah mengapa terasa dadaku sedikit berdebar. Kucoba mencari, sekadar goresan nama atau tulisan yang mungkin bisa membuatku tahu siapa pemilik buku ini. Sembari kucoba mengingat, siapa tahu ada teman kuliah yang tak sengaja meninggalkan buku ini sehingga terbawa olehku. Sampai di halaman terakhir sebelum sampul belakang, tertera dengan jelas tulisan tanggal. Tanpa sadar kedua tanganku mendekapkan buku itu ke dada. Betapa kuingat tanggal itu, sepuluh hari setelah kematian ayah.

Sebuah lembaran kecil terjatuh, mungkin semacam pembatas buku. Kuturunkan badan demi mengambil secarik kertas bertulisan yang semakin membuat batinku bertanya-tanya.

Kula gesang tanpa nyana

Kulo mboten gadhah seja

Mung kersane Kang Kuwasa

Gesang kula mung sak derma

Kueja empat larik tulisan di sobekan kecil kertas pembatas buku itu di saat terdengar lantunan pujian di masjid, seolah menuntun kesadaranku tentang hari-hari indah yang dilalui ibu.

***



====================
Ahmad M. Nizar Alfian Hasan, biasa dipanggil Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan), sebuah model prakarsa pendidikan alternatif berupa sanggar berbasis komunitas sejak 2013 lalu. Dunia pendidikan anak menjadi perhatiannya hingga kini, di sela kesibukannya sebagai juru rancang bangunan di Solo. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.

Omong Kosong!

0


Sungguh, betapa butuh lelaki itu pada omong kosong
. Setiap hari setelah berdoa, mandi dan sarapan pagi, ia pun mulai mengumpulkan omong kosong. Kebiasaan itu bermula setelah lelaki itu mimpi bertemu ibunya yang sudah lama tiada. Dalam mimpi itu ibunya berpesan agar ia berhati-hati dalam hidup: jangan menyakiti orang lain dan jangan sampai pula disakiti orang lain. Mimpi yang aneh. Tidak menyakiti orang lain mungkin bisa ia lakukan. Tapi bagaimana caranya agar tidak disakiti orang lain? Bukankah kita tidak punya kuasa mengontrol persepsi atau tindakan orang lain kepada kita?

Lama lelaki itu merenung mencari jawaban, namun tak kunjung jua ketemu jawabannya. Hingga akhirnya lelaki itu bermimpi kembali dengan ibunya.

“Kalau kau tidak ingin disakiti orang lain, maka kau harus memiliki kesiapan diri yang tangguh. Dan untuk mencapai kesiapan diri yang tangguh, kau harus banyak memakan omong kosong. Sebab semakin banyak omong kosong kau makan, tubuh dan jiwamu tidak akan mampu lagi disakiti siapa pun. Mulai sekarang kumpulkanlah sebanyak mungkin omong kosong!” kata ibu lelaki itu dalam mimpinya.

Maka sejak saat itu, lelaki itu pun mulai mengumpulkan omong kosong. Omong kosong pertama yang biasanya ia kumpulkan setiap pagi ialah omong kosong yang menyembur dari tabung televisi. Setelah habis ia kumpulkan omong kosong di televisi, lelaki itu pun bergegas keluar rumah mengumpulkan omong kosong yang lain. Di luar rumah lelaki itu biasanya memulai rutinitasnya dengan mengumpulkan omong kosong yang berserak di lapak-lapak koran yang gelisah sebab semakin menyusutnya penikmat berita. Setelah habis omong kosong ia kumpulkan dari lapak-lapak koran, lelaki itu lanjut ke pedagang-pedagang di pasar pagi.

Di pasar pagi, bukan hanya omong kosong dari penjual dan pembeli saja yang lelaki itu kumpulkan. Tetapi dari tukang parkir dan tukang minta-minta yang biasanya selalu muncul di pasar pagi, juga habis dikumpulkan lelaki itu. Bagi lelaki itu, omong kosong tetaplah omong kosong. Tak peduli dari mulut siapa ia menyembur; muncrat.

Bila semua omong kosong di pasar pagi telah selesai lelaki itu kumpulkan, ia pun melanjutkan perburuan omong kosongnya ke gedung rakyat. Biasanya di gedung itu ia lebih banyak menghabiskan waktu. Sebab produksi omong kosong paling banyak muncrat dari tempat seperti itu. Kadang-kadang saking melimpahnya, lelaki itu sampai lupa istirahat. Sungguh, lelaki itu tak mau melewatkan selembar pun omong kosong yang mereka semburkan terlepas begitu saja ke angkasa raya. Apalagi ketika mereka sedang rapat atau sedang membahas soal rakyat.

Setelah mengumpulkan seluruh omong kosong di gedung rakyat, lelaki itu biasanya kelayapan ke jalan-jalan padat ibu kota yang banyak menempatkan petugas pengatur disiplin. Di jalan-jalan padat itu ternyata banyak juga ia temukan omong kosong. Sehingga membuatnya cukup betah berlama-lama selain di gedung rakyat. Puas melucuti semua omong kosong yang muncrat dari mulut petugas pengatur disiplin dan masyarakat yang melanggar disiplin, lelaki itu lanjut ke gang-gang sempit yang banyak berserak di ibu kota. O, ya, jangan kira di gang-gang sempit itu tak banyak omong kosong. Malah menjelang tenggelam matahari omong kosong begitu banyak menyembur dari rumah-rumah sempit yang berderet-deret di dalam gang-gang sempit itu. Sebab baru menjelang tenggelam mataharilah para penghuninya pulang setelah seharian bertarung dengan omong kosong.

Begitulah keseharian lelaki itu sejak pagi hingga tenggelam matahari dalam upayanya mengumpulkan omong kosong. Tak pernah sekalipun ia merasa lelah atau malu karena setiap hari mengumpulkan omong kosong. Dengan penuh kesabaran dan ketekunan dipintalnya omong kosong yang ia kumpulkan itu sehasta demi sehasta. Sampai akhirnya rumah tempat ia tinggal dipenuhi omong kosong.

Semakin hari rumah lelaki itu semakin tak sanggup menampung omong kosong. Lambat laun benda-benda di rumahnya juga berubah menjadi omong kosong. Mula-mula pintu rumahnya berubah menjadi pintu omong kosong. Lalu kemudian jendela-jendela di rumahnya pun menjadi jendela omong kosong. Bertahap namun pasti, kini dinding-dinding rumahnya pun menjadi dinding-dinding omong kosong. Begitu juga dengan lantai rumahnya, tempat tidurnya, kamar mandinya, kompornya, sendoknya, gelasnya, piringnya, handuknya, bajunya, celana dalamnya dan apa saja yang ada di rumahnya—semua berubah menjadi omong kosong belaka. Sampai orang-orang kadang sulit membedakan itu rumah atau omong kosong.

Lelaki itu pun semakin terkenal di antero kota. Orang-orang yang sudah lama mengenalnya mulai memanggilnya dengan sebutan lelaki pengumpul omong kosong. Semua itu tak lain karena saban hari saban waktu orang-orang selalu melihat ia mengumpulkan omong kosong.

Jika awalnya orang-oranglah yang memanggilnya lelaki pengumpul omong kosong, belakangan malah ia sendiri yang mengenalkan dirinya sebagai lelaki pengumpul omong kosong. Sungguh tak sedikit pun ia merasa malu. Malah ia bangga bila dipanggil lelaki pengumpul omong kosong. Padahal kalau dilihat dari tampangnya, penampilannya dan cara bicaranya, ia sungguh tidak layak disebut lelaki pengumpul omong kosong.

Namun, lelaki itu sudah terlanjur suka dengan panggilan itu. Sudah terlanjur jatuh cinta pada pekerjaannya mengumpulkan omong kosong. Sehingga tak seinci pun daerah di kota tempat lelaki itu tinggal yang tak pernah ia jamah omong kosongnya.

Sampai pada suatu hari kota tempat lelaki itu tinggal kehabisan omong kosong. Tentu saja ia menjadi kebingungan, kelabakan mencari omong kosong. Padahal biasanya setiap hari di tempat-tempat seperti lapak-lapak koran, pasar-pasar pagi, gedung-gedung rakyat, jalan-jalan macet, dan gang-gang sempit, omong kosong begitu mudah lelaki itu dapati. Tapi, tidak kali ini!

Matahari sudah hampir terbenam dan ia tak juga mendapatkan satu lembar pun omong kosong dalam pencariannya. Ia benar-benar lelah. Belum pernah ia merasakan kelelahan setiap kali mengumpulkan omong kosong. Namun hari itu, hari ketika tak selembar pun omong kosong berhasil ia dapatkan, sungguh benar-benar telah menguras semua tenaganya. Dan di antara sisa-sisa tenaganya, di ujung pencariannya pada omong kosong, lelaki itu malah bertemu dengan seorang penyair yang ternyata adalah seorang pengumpul omong kosong juga.

Bagaimana lelaki itu bisa tahu penyair itu juga pengumpul omong kosong? Hal itu tentu tidak perlu dijelaskan lagi. Sebagai sesama pengumpul omong kosong pastilah mudah baginya mengetahui hal itu. Seperti seorang tukang sulap mengenali tukang sulap lainnya tanpa harus memakai tongkat atau topi sulap.

Dengan sedikit was-was, lelaki itu coba mendekati penyair pengumpul omong kosong. Alangkah terkejut lelaki itu ketika dilihatnya tubuh penyair itu ternyata terluka parah. Tampaknya penyair itu kebanyakan menelan omong kosong. Atau mungkin dia keracunan salah satu omong kosong yang dia telan hari itu. Tapi bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Bukankah omong kosong itu sendiri pada dasarnya beracun? Ah, sudah lupakan! Yang jelas melihat penyair itu terluka parah dan ditambah pula ia tak mendapatkan selembar pun omong kosong, pikiran lelaki itu tiba-tiba saja berbisik.

Kenapa tidak kau habisi saja penyair itu. Bukankah omong kosong yang keluar dari mulut penyair lebih gurih dan nikmat?

Mendengar bisikan itu, lelaki itu pun akhirnya nekat ingin menghabisi si penyair pengumpul omong kosong. Tapi saat ia ingin menghabisi si penyair, lelaki itu teringat kembali pada pesan ibunya. Ia pun ragu. Namun bisikan itu kembali merongrongnya. Dan karena sudah terlampau butuh akan omong kosong lelaki itu pun mencekik penyair pengumpul omong kosong sambil menghisap omong kosong yang terus menerus disemburkan penyair itu ke udara.

Akan tetapi setelah selesai  menghisap seluruh omong kosong dari tubuh penyair itu, pelan-pelan tubuh lelaki itu berubah menjadi seperti tubuh penyair pengumpul omong kosong. Ia pun menjadi takut dan merasa menyesal karena melanggar perintah ibunya. Tapi penyesalan sudah tak ada gunanya. Tubuh lelaki itu sudah sempurna berubah dan tak henti-hentinya menyemburkan omong kosong ke udara. 

Dalam upaya lelaki itu menghentikan semburan omong kosong yang muncrat dari mulutnya, matanya menangkap sesosok tubuh yang mengendap-endap mendekatinya. Sepertinya sedang mengincar omong kosong yang terus ia semburkan ke udara.

Akasia 11CT




=================
Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Beberapa cerpennya telah nimbrung dalam antologi serta dimuat koran-koran, dan majalah. Buku kumpulan cerpennya “Kalimance Ingin Jadi Penyair” akan segera terbit.

Terbaru

Sejarah Anggrek di Pohon Mangga

“Ayahku sebatang pohon mangga dan tumbuhan anggrek adalah ibuku,” demikian kata-kata yang berlompatan dari mulutku mendadak menjadi bibit asap pekat yang memenuhi...

Negeri Tanpa Tawa

Dari Redaksi