Di Antara

Martin

Cerpen

Home Cerpen

Setelah 15 Tahun Berpisah

0

Di satu pagi yang lembab, penulis kita berangkat ke ibukota mengenakan setelan orang kantoran. Kemeja putih, dasi, lengkap dengan jas, celana hitam dan sepatu mengkilat. Semalam, hujan lebat turun. Berjam-jam tidak mau berhenti, seperti tangisan penyair tua yang dijatuhi nasib malang. Membuat jalan-jalan menjadi becek, tanah liat menjadi lengket. Hanya satu-dua jalan saja yang sudah diaspal di kampung penulis kita. Ia berjalan dengan berjinjit dan sangat berhati-hati. Penulis kita tak mau sepatu dan celananya menjadi kotor. Ia akan malu.

Penulis kita mendapat sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal minggu lalu. Sebuah pesan yang membuat penulis kita panas-dingin. Sebuah pesan yang membuat penulis kita sangat terganggu. Tidurnya menjadi tak lelap, selera makannya hilang. Terlebih lagi ide-ide tulisannya. Berulangkali ia mencoba untuk meneruskan novel-novel yang tengah ditulisnya. Tetapi semua gagal. Penulis kita merasa geram sekali sampai memaki-maki.

“Hai, Prof. Apa kabar? Aku tahu janji ini sudah lama sekali, tetapi janji ini selalu kuingat. Karena janji itulah aku bisa mencapai posisiku sekarang. Kamu tentu masih ingat janji kita dulu kan? Setelah perpisahan sekolah, kita berjanji bahwa kita akan berjumpa lima belas tahun kemudian untuk saling bercerita mengenai kisah-kisah hebat kita. Oh, iya, jangan lupa bawa fotomu yang di Patung Liberty. Aku juga akan bawa…” demikianlah inti pesan yang menyerang mental penulis kita.

“Itu cuma ocehan bocah labil,” kesal penulis kita. “Enggak perlu dianggap seriuslah!”

Dulu, lima belas tahun lalu, penulis kita memiliki janji seperti itulah kepada kawan sekolahnya, Damario. Mereka juga berjanji bahwa mereka berdua akan pergi ke Patung Liberty—walaupun tidak bersama—sebagai wujud dari kesuksesan mereka. Penulis kita ingat janji itu. Ia berkata bahwa dirinya akan menjadi seorang yang besar, yang dikenal banyak orang karena opini-opini hebat, buku-buku bermutu. Lalu ia akan mengajar dan menjadi guru besar di sebuah universitas. Sementara Damario berkata bahwa ia akan menjadi seorang bintang model. Mereka berdua adalah dua siswa berprestasi di sekolah. Penulis kita banyak memenangkan kompetisi-kompetisi ilmiah, dari tingkat kecamatan hingga nasional. Begitu juga dengan Damario. Ia banyak memenangkan kontes foto sampul majalah dan cat walk. 

Namun, semua prestasi yang telah diraih oleh penulis kita ternyata tidak cukup untuk membuat dirinya menjadi seperti apa yang ia harapkan. Ia gagal. Ia belum pernah pergi ke Amerika atau pun Patung Liberty. Ia juga tidak terkenal. Ia bukan guru besar. Akan tetapi, syukurlah, ia telah menghasilkan dua buah novel yang penjualannya menyedihkan.

Sebelum menerima pesan Damario itu, penulis kita tahu bahwa janji itu akan terjadi minggu depan. Ia berpikiran bahwa jika Damario tidak menghubunginya maka ia pun tidak akan mencoba untuk mencari nomornya dan mengungkit perihal janji ini. Dengan begitu, walaupun mereka berdua sama-sama menjadi pecundang, setidaknya mereka berdua tidak perlu berlakon sebagai orang yang telah sukses. Namun, hal itu tidak terjadi. Bagaimana pun, ia mesti berlakon. Ia mesti memerankan tokoh itu karena pesan Damario tersebut.

Kini, lima belas tahun kemudian itu ialah hari ini. Mereka berjanji untuk berjumpa di satu restoran bintang lima pukul dua tengah hari.

Penulis kita tinggal di sebuah kampung di Kabupaten yang cukup jauh. Jarak antara kampungnya dan ibukota Provinsi adalah lima jam. Sebab itulah penulis kita telah berangkat pagi-pagi sekali menumpang taksi gelap.

Sejak seminggu lepas, penulis kita ragu. Apakah ia akan datang mewujudkan janji lama itu ataukah tidak. Apabila ia tidak datang maka tentu saja konsekuensinya adalah Damario akan mengecapnya sebagai pecundang dan si mulut besar. Tetapi, apabila ia datang, ia mesti melakonkan drama itu dengan sempurna.

“Bismillah,” pelan penulis kita mengawali dramanya—setelah merenggangkan tulang-tulangnya karena terjepit di kursi taksi bagian belakang yang sempit dan masuk ke restoran bintang lima itu.

Penulis kita menoleh ke kanan dan kiri. Mencari si Damario kawan lamanya itu. Lalu, penulis kita melihat seorang lelaki tinggi dan putih melambaikan tangan kepadanya.

Itulah kawan lamanya. Wajahnya putih-bersih bersinar-sinar. Berbeda dengan penulis kita, pakaian Damario bergaya casual yang santai tetapi memukau. Ia hanya memakai kaos polo berwarna biru muda, jeans hitam, sepatu putih Adiddas, serta jam tangan hitam yang tampak mahal.

Maka berpelukanlah penulis kita dengan Damario kawan lamanya, si model papan atas itu. Mereka mengobrol panjang lebar, dari A sampai Z. Seraya menyantap hidangan-hidangan mereka yang memukau, begitu lezat, dan tak terlupakan.

Damario bercerita bahwa karirnya cemerlang. Ia menjadi duta merk-merk pakaian terkenal. Ia melakukan fashion show dari kota ke kota, bahkan hingga ke luar negeri.

“Minggu depan aku pergi ke Singapore, ada meeting sama satu brand yang baru lahir sekaligus mau fashion show,” ucap Damario dengan bersemangat.

“Wah, Kamu memang luar biasa, Mar. Saya bangga sama Kamu,” balas penulis kita menanggapi cerita mengagumkan kawan lamanya itu.

Tak mau kalah, penulis kita pun berkelakar dengan megah. Ia mengatakan begitu banyak pencapaian halusinasinya. Singkat kata, penulis kita bukan hanya bisa menulis, tetapi juga seorang aktor yang handal.

Seraya mengobrol panjang lebar bersama Damario, penulis kita sesungguhnya sedikit gentar melihat hidangan-hidangan yang silih berganti dihidangkan oleh para pramusaji. Tentu saja semua hidangan itu lezat, mantap luar biasa. Namun, yang ditakutkan oleh penulis kita adalah harga dari makanan itu semua. Sementara uang yang ada di dompetnya tidaklah seberapa. Ia yakin bahwa uangnya tak akan cukup membayar hidangan-hidangan tersebut.

Penulis kita mencoba menenangkan diri bahwa semua makanan itu akan dibayar oleh Damario, mengingat ia adalah seorang model sukses—meskipun ia sedikit heran karena ia tak pernah sekali pun melihat batang hidung Damario di televisi maupun di internet.

Damario lalu mengeluarkan ponsel mahalnya dan menunjukkan foto kerennya berpose di patung Liberty. Melihat foto itu, penulis kita menelan ludah. Kemudian setelah ditanya oleh Damario mengenai fotonya, penulis kita mengeluarkan selembar foto dari dompetnya. Tentu saja foto itu tidak asli. Itu hanyalah foto editan seseorang yang bekerja di jasa cetak foto.

Seorang pramusaji datang mengeluarkan tagihan makanan.

“Biar aku saja yang bayar, Prof,” tegas Damario.

Penulis kita mengangguk, diam-diam mengembuskan nafas lega.

“Eh, Prof. Maaf sekali, Kamu boleh bayar dulu enggak? Nanti aku ganti. Uang tunaiku tak cukup!”

Penulis kita kaget bukan kepalang. Ia tak tahu mesti mengucapkan dialog yang seperti apa.

“Eh, saya … saya pun lupa ambil uang tadi,” tukas penulis kita.

Dua sekawan ini ribut saling suruh untuk membayar tagihan makan siang itu. Pada akhirnya, penulis kita mengeluarkan semua uang yang ia punya. Demikian juga dengan Damario. Namun, bahkan akumulasi uang mereka baru separuh dari tagihan restoran bintang lima tersebut.

Maka mereka berdua mesti bekerja di restoran itu sampai malam—menyuci piring, menyapu, mengepel, dan membuang sampah.

Di malam hari, ketika hendak pulang, penulis kita dan Damario saling berpamitan. Mereka berdua sama-sama mampus menahan malu. Penulis kita pulang berjalan kaki ke arah Selatan. Damario pulang berjalan kaki ke arah Utara.

Johor bahru, 16 Juli 2020




====================
Hadiwinata, lahir di Palembang 1998. Penulis di Perayaan Hari Puisi Makassar dan Riau 2017, Banjarbaru Literary Festival 2017, Bengkulu Literary Festival 2018, dan lainnya. Tulisannya dimuat di beberapa media cetak dan online dan turut hadir dalam beberapa buku antologi, seperti Menderas Sampai Siak (2017), The First Drop of Rain (2017), Negeri Bahari (2017), dan Pesan Damai Aisyah, Maria, Zi Xing (2018). Buku tunggal pertamanya: Sepanjang Jalan Kesedihan (Penerbit Kabisat, 2021).

Kupu Kupu dan Edelweis Seorang Perempuan

0

Perempuan itu dijumpainya pertama kali saat lelaki itu sedang duduk di atas sebuah bangku kayu, di samping lapak seorang pedagang makanan dan minuman. Perempuan yang mengaku baru pindah ke kota ini. Perempuan yang mengingatkannya pada seseorang yang jatuh ke dalam jurang. Perempuan yang bertanya: Di mana tempat beli bunga edelweis? Dan membuat lelaki dan pedagang itu kebingungan. Tak tahu jawabannya.

Sebulan setelah pertemuan pertama itu, si lelaki dan perempuan itu sudah akrab lalu menjadi sepasang kekasih.

Perempuan itu sering bercerita tentang dua ekor kupu-kupu dan seekor kumbang. Cerita yang selalu ditanyakan perempuan itu kala mereka sedang berdua; sebagai bukti apakah si lelaki menyimak ceritanya atau tidak. Dan perempuan itu jadi kesal jika lelaki itu salah menjawab. Maka, mau tak mau, lelaki itu wajib menghafal—walau tak mesti mendetail—cerita perempuan itu; meski lelaki itu sudah malas dan bosan mendengarnya.

Dan beginilah kisah yang diceritakan perempuan itu:

Ada seekor kumbang yang berkenalan dengan dua ekor kupu-kupu putih dan hitam, sewaktu si kumbang bertandang ke kerajaaan kupu-kupu;  membawa jutaan tetes madu, bersama rombongannya.

Kupu-kupu hitamyang memang lebih agresif dari kupu-kupu putihtanpa sungkan, bertanya di mana gerangan tempat si kumbang menghisap madu. Dan si kumbang menyebut nama sebuah gunung yang penuh bunga edelweis.

Diam-diam, kupu-kupu hitam mengintai si kumbang saat menyerbuk sari dari ragam bunga dan kala mengumpul nektar. Namun kupu-kupu hitam tak tahu bahwa kupu-kupu putih menguntit aksinya.

Terkadang, ketika kedua kupu-kupu itu sedang mengintip si kumbang, mereka juga melihat ada manusia di tempat itu.

Sewaktu di hutan; kedua kupu-kupu itu pernah melihat seorang wanita cantik memanjat pohon lalu berhenti di sebuah dahan yang kokoh. Lalu wanita itu berdiri. Satu tangannya menyangga sebuah dahan dan tangan yang satunya lagi mengelus–elus bagian dadanya yang tertempel secarik kertas berisi tulisan tangan si wanita; yang tak bisa dibaca oleh kedua kupu-kupu. Lalu wanita itu membuat dua simpul dari tali tambang. Satu dikaitkannya di sebuah dahan, sedang simpul satunya yang berbentuk lingkaran dikalunginya di lehernya. Wanita itu berbicara pelan dan kecil; entah pada siapa. Entah apa yang diucapkannya. Kupu-kupu tak paham. Lantas meluncurkan tubuhnya ke bawah dahan dan membuat tubuhnya tergantung hingga tak bernafas.

Ketika di pinggir sungai; kedua kupu-kupu itu pernah melihat dua orangpria dan wanitabertengkar. Entah apa yang dipertengkarkan. Kupu-kupu tak tahu. Tak lama kemudian, si pria menggebuk kepala si wanita dengan sebuah balok. Darah mengalir bercampur air sungai. Si pria masih terus menggebuk. Menggebuk bagian tubuh yang lain. Dan ketika si pria melihat si wanita tak bergerak, si pria mendorong tubuh si wanita mengikuti arus sungai yang lebar itu. Sepanjang mata memandangdari tempat kedua kupu-kupu hinggaptak ada batu menjorok yang nampak.

Saat di lembah; kedua kupu-kupu pernah melihat seorang wanita dikejar seorang pria. Ketika sampai di tepi tebing, si wanita menunjuk si pria sambil berkata dalam bahasa yang tak dimengerti kedua kupu-kupu itu. Pria itu berhenti melangkah. Menangis. Sambil berdiri, pria itu berbicara keras, tapi tak seperti orang yang sedang marah pada si wanita. Selama itu, kedua kupu-kupu itu melihat si wanita yang lebih banyak marah. Dan selang beberapa detik, si wanita menerjunkan dirinya; membiarkan badannya dikoyak batubatu cadas pun karang dan terbawa gelombang laut di bawahnya. Si pria memburu hingga pinggir tebing. Ia berteriak-teriak mengeluarkan sebuah kata yang kerap diulang-ulangnya. Kata yang kedua kupu-kupu tetap tak tahu artinya. Si pria, menangis sejadi-jadinya; sekeras-kerasnya.

Tapi di suatu senja yang lembab, kupu-kupu hitam kepergok si kumbang. Kupu-kupu hitam tersentak kaget. Kupu-kupu putih pun begitu. Tapi si kumbang tak marah. Ia malah nampak senang. Begitu yang dilihat kupu-kupu putih dari tempatnya mengintai.

Sejak itu, kupu-kupu hitam sering bertemu si kumbang di kala sore menyembul. Dan tak lupa berkisah pada kupu-kupu putih tentang setiap pertemuannya dengan si kumbang. Tapi kupu-kupu hitam tak pernah menyampaikan salam si kumbang pada kupu-kupu putih. Dan tak juga berkisah bahwa si kumbang selalu mencari si kupu-kupu putih.

Si kumbang tahu bahwa kupu-kupu hitam suka padanya. Meski dia lebih suka kupu-kupu putih. Kupu-kupu hitam pun tahu hal itu dan menyimpan cemburu di hatinya.

Kupu-kupu hitam pun senang kala si kumbang coba merayah hatinya. Kupu-kupu hitam tak peduli itu canda atau serius. Dan jadilah kupu-kupu hitam yang duluan bercinta dengan si kumbang. Lalu menceritakannya pada kupu-kupu putih. Kupu-kupu putih pun jadi patah hati.

Tapi di suatu senja, kupu-kupu hitam berubah muram, laksana mendung senja itu. Katanya pada si kupu-kupu putih bahwa si kumbang sepertinya sudah malas bersua dengannya. Lagipula kumbang-kumbang lain pun kayaknya bekerja sama dengan si kumbang. Sudah seminggu lebih, si kumbang tak lagi dijumpainya di tempat biasa mereka bertemu. Dan jika kupu-kupu hitam bertanya: Ke mana gerangan si kumbang?—pada kumbang lainnyajawabannya beda-beda; ada yang bilang pergi ke sawah, ada yang bilang ke istana lalat, ada pula yang bilang ke rumah manusia, dan lain-lain. Si kupu-kupu hitam mencari ke tempat-tempat itu tapi tak mendapatnya.

Hingga di suatu siang kupu-kupu hitam melihat si kumbang dan kupu-kupu putih asyik melebur asmara. Kupu-kupu hitam sakit hati.

Kupu-kupu putih lalu diracun oleh si kupu-kupu hitam. Bangkai kupu-kupu putih ditanam si kupu-kupu hitam sejauh mungkin. Jauh dari tempat si kumbang sering bersua dengan kupu-kupu putih, jauh dari kerajaan kumbang dan kerajaan kupu-kupu; pun dari gunung yang bertabur edelweis itu.

Dan si kumbang hanya bisa selalu menunggu kehadiran si kupu-kupu putih. Menunggu dan menunggu hingga kupu-kupu hitam berganti warna menjadi kupu-kupu putih.

***

Lelaki itu tak pernah banyak tanya lagi. Tak seperti waktu awal ia mendengar cerita perempuan itu. “Kenapa begitu? Kenapa begini? Terus bagaimana? Kenapa cuma sampai di situ ceritanya?” apalagi berkata, “Jelek ceritamu.”

Oh, tidak! Lelaki itu tak ingin mengatakannya pada perempuan itu, meski menurutnya cerita si perempuan terlalu mengada-ngada. Ia takut perempuan itu akan meninggalkannya.

Namun di suatu hari, lelaki itu memutus tali cintanya dengan perempuan itu; saat tahu bahwa perempuan itu adalah perempuan ayahnya juga. Perempuan yang banyak menghabiskan uangnya demi lelaki itu dan ayah si lelaki. Lelaki itu tak terima diduakan. Perempuan yang sempat melintas di halaman rumah seorang sahabat si lelaki di suatu malam saat pertandingan domino sudah masuk babak final. Perempuan yang menyebabkan lelaki itu sering salah turun kartu. Membuat kawan dan lawan mainnya sering terheran pun para penonton. Membuat ia dan pasangan mainnya mendapat juara dua, meski kesempatan untuk juara pertama sering berpihak padanya. Perempuan yang hadir di malam mappacci’  sahabat si lelaki.

Lelaki itu tak menyangka bahwa perempuan itu adalah mantan pacar kekasihnya yang jatuh ke dalam jurang. Seseorang yang dikenal lelaki itu di sebuah kelompok pencinta alam; seseorang yang pernah ingin mati bunuh diri, namun masih ada sang pencegah maut; seseorang yang pernah hanyut terbawa air sungai setelah terhantam balok, namun ajal belum menjemputnya kala itu. Seseorang yang sangat menyukai kupu-kupu dan bunga edelweis.***

Keterangan:  Mappacci: Salah satu bagian dari prosesi pernikahan suku Bugis yang artinya penyucian diri bagi calon mempelai. Acara ini diadakan sehari sebelum akad nikah.




===================
Emur Paembonan S, lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 1978. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media massa seperti: Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Radar Surabaya, Suara Pembaruan, Majalah Ekspresi, dan beberapa media lainnya. Buku antologi bersama: Benarkah Menantuku Parakang? Kumpulan Cerpen Serumah Parepare Menulis (Sampan Institute, 2017).

Kau Lebih Suka Menjadi Apa, Setangkai Mawar Atau Dandelion?

0
@Muhary Wahyu Nurba

BESOK, si botak Marcello, yang bertemu di kedai kopi bergaya kabin kayu, di pinggiran kota, seminggu yang lalu, akan menikah. Sore ini, Sean mati-matian memaksaku untuk ikut menemaninya ke pesta sahabat karibnya itu, dan aku juga berusaha menolaknya mentah-mentah, walau menyampaikannya secara halus. Sampai detik ini, saat kopi di hadapan kami masing-masing telah tandas tak bersisa, belum juga ada kata yang bisa menyatukan keinginan kami berdua. Perbincangan ini berjalan alot. Tarik ulur yang tak kunjung menemui titik kesepakatan.

“Ello sendiri yang mengundangmu, masa kamu tega mengecewakannya.”

“Bukan itu masalahnya…” nada suaraku mulai meninggi.

“Anjani…, itu cuma pesta pernikahan biasa. Ada ratusan orang yang akan hadir di sana, dan tidak akan ada yang peduli dengan kedatangan kita berdua.”

“Ya…, dan ada puluhan temanmu yang juga akan hadir dan bertanya-tanya dengan siapa kamu datang ke pesta itu!”

“Jangan terlalu cemas begitu, dong,” bujuk Sean lagi. “Cuma Ello yang tahu hubungan kita berdua! Kalau ada yang bertanya, jawab saja kita hanya berteman.”

“Teman…? Apa kita terlihat seperti dua orang sahabat?” tanyaku dengan nada penuh penekanan, memastikan ucapan Sean.

Pemilik mata sewarna kopi itu langsung menatapku tajam. Dipicingkan kedua matanya dengan kening berkerut. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.

“Penampilanmu memang terlihat dewasa, apalagi dengan blazer hitam yang sering kau kenakan. Tapi wajah imut dan melankolismu itu tak kalah cantik dan terlihat seumuran dengan model-model di majalah remaja itu,” tunjuk Sean pada sebuah majalah yang tergeletak tepat di sisi  dua cangkir kopi yang telah tandas, ditemani sepiring kecil opera cake yang belum  tersentuh sama sekali.

“Aku serius, Sean!” Kutunjukkan ekspresi tak suka dengan jelas agar dia mengerti.

Sean malah menarik kepalanya condong ke depan, agar dapat menatap wajahku lebih dekat. Menyisakan jarak beberapa senti bagi  kami untuk saling bertatapan, kemudian, dengan tiba-tiba, ditariknya kacamata yang bertengger di hidungku, tanpa permisi.

“Sean!” Aku berteriak. Terkesiap. Tak siap, dengan tindakannya yang tak kuprediksi. Lelaki di hadapanku ini memang sering melakukan sesuatu yang tidak diduga-duga. Adakalanya aku menyukai spontanitasnya itu, tapi terkadang aku menjadi kesal dibuatnya. Seperti saat ini, tanpa kacamata penglihatanku.menjadi sedikit terganggu.

“Apalagi jika sesekali kau mengganti kacamata minusmu ini dengan lensa kontak, dan rambut hitammu yang selalu menguar aroma wewangian bunga itu dibiarkan tergerai bebas,” lanjutnya tanpa memperdulikan protesku.

“Aku tidak butuh gombalanmu, Sean,” ucapku. Berusaha merebut kembali kacamataku dari tangannya.

“Aku berkata jujur,”  ucapnya sambil berkelit. Disembunyikan tangannya yang memegang kacamataku di bawah meja.

“Apa kamu pikir aku gadis belia yang hatinya gampang meleleh oleh rayuan?!”

“Sejak kapan aku pintar merayu?” tanyanya lagi.  Kali ini sambil menahan tanganku yang masih berusaha meraih kacamataku, dengan cara mencengkeramnya lembut. “Itu bukan gayaku, Anjani!”

“Ya…, tapi penilaianmu padaku terlalu naif!”

Sean menggeleng. “Kamu yang terlalu paranoid, Anjani.”

“Aku bukan paranoid! Kenapa sih, kamu tidak juga bisa mengerti.”

“Lalu apa  masalahnya?”

Aku menatapnya kesal. “Kalau kita datang berdua itu sama saja kita go public,” ada penekanan dalam kalimat terakhirku. “Dan aku belum siap melakukan itu.”

Sean terdiam. Ada jeda panjang di antara kami. Dibawanya kembali kacamataku yang dirampasnya beberapa detik yang lalu, mendekati wajahku. Sesaat Sean menatapku lekat-lekat. Kemudian dengan perlahan diletakkan kembali kacamata itu di atas hidungku, membatasi pandangan mataku dan matanya. Dilepasnya cengkeraman tangannya di lenganku. Secara bersamaan kami menarik tubuh kembali, bersandar di kursi masing-masing.

“Siapa yang bisa menjamin kalau di sana tidak ada orang yang mengenaliku, atau justru aku akan bertemu dengan teman-temannya Celina. Apa kamu bisa memastikan itu?” lanjutku lagi. “Sean…, kota ini tidak luas. Ada begitu banyak kesempatan untuk mempertemukan orang-orang yang dikenal secara tidak sengaja.”

“Kamu ini, kadang terlalu takut yang berlebihan. Kenapa sih tidak bisa santai sedikit saja?”

“Kamu benar-benar tidak mengerti! Tidak akan pernah mengerti!” Aku menggeleng lemah. “Bagaimana aku bisa tenang kalau siang tadi aku baru mendengar mahasiswa-mahasiswa di kampus mulai memperbincangkan kedekatan kita. Itu yang sempat kuketahui.  Bagaimana dengan banyak lagi gosip-gosip yang beredar di luar sana yang tidak kuketahui.”

“Kamu mulai tersiksa, Anjani…?” Sean menatapku lurus-lurus.

“Bukan itu maksudku!”

Wajahku tertunduk layu. Menatap cangkir kosong di atas meja dengan pandangan nanar. Ini sulit dijelaskan.Tapi Sean harus tahu kalau hatiku mulai gelisah. Dan aku harus menyuntikan logika ini ke kepalanya agar lelaki kritis dan selalu berada di garda terdepan dalam demo-demo mahasiswa, menuntut keadilan pada pemerintahan yang sedang berkuasa, ini mengerti.

Pelan kuangkat wajah. Memastikan kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya. Tidak peduli Sean senang atau tidak mendengarnya. Dia harus tahu kegelisahanku!

“Sean…” panggilku pelan. Menatapnya lebih dalam.

Sean balas menatap dengan ekspresi yang masih bertahan sama.

“Aku punya Celina. Tidak seperti kamu yang bebas,” ucapku tertelan.

“Dari awal aku tahu itu dan tidak pernah mempermasalahkannya!”

“Bukan kamu! Tapi orang-orang di luar sana!” jelasku.

“Apa urusan mereka dengan hidup kita? Tidak ada yang salah dengan hubungan ini, Anjani!” tegasnya.

“Ya…mereka memang tidak  peduli dengan apa yang kurasakan. Tapi aku punya kehidupan sosial yang harus dipertanggungjawabkan.  Moralitas! Norma sosial! Kita hidup di dalamnya, Sean. Mau tidak mau aku harus peduli dengan semua itu.”

Rahang Sean langsung mengeras.  

“Lalu… bagaimana dengan aku? Apa yang salah di sini, Anjani…? Salahkah rasa ini? Salahkah aku yang mencintaimu mati-matian? Begitu amoralkah perasaan ini?”

Aku tidak tahan lagi. Mataku mulai memanas. Aku mendapati diriku berada dalam dilema. Ini benar-benar menyakitkan. Aku baru menyadari kalau akar permasalahan ini begitu rumit. Harusnya aku memikirkan hal ini dari awal saat Sean menyatakan perasaannya padaku, di antara lembaran-lembaran skripsinya, di ruang kerjaku, di awal musim kemarau, enam bulan yang lalu. Di saat daun-daun acacia berguguran di balik jendela.

Entah apa yang merasuki pikiranku saat itu, hingga mengiyakan pernyataan lelaki paling cuek dan terkenal sebagai mahasiswa kritis dan idealis di kampus. Aku hanya melihat ada kejujuran dan kebebasan yang ditawarkan pemilik mata kelam itu. Seperti kupu-kupu yang selama ini hidup dalam kepompong keteraturan, Sean mampu memberi warna pada hidupku yang monokrom setelah aku kehilangan lelaki yang paling kucintai beberapa tahun yang lalu.

Aku yang selama ini hanya berkutat dengan jurnal-jurnal ilmiah dan menyibukkan diri dengan rutinitas di kampus, untuk pertama kali mengenal Imagine Dragons, dan Greta Van Fleet, jenis musik yang selama ini tak pernah kulirik, karena lelaki bermata kopi itu.

Sean telah berhasil mengubah rute perjalanan harianku dari rumah ke kampus, hingga seminggu sekali mengunjungi pemukiman kumuh padat penduduk di bantaran kali, dengan aliran sungai keruh dan dipenuhi sampah limbah rumah tangga dan pabrik. Bercengkerama dengan bocah-bocah polos  yang jarang mengenakan alas kaki. Tempat yang ternyata sudah beberapa tahun diakrabinya. Mengajari anak-anak yang tak mampu mengenyam pendidikan formal itu,mengenal huruf, berhitung, dan sesekali memainkan alat musik.

Karena Sean juga akhirnya aku bisa membedakan kopi arabica, robusta, liberika dan ekselsa, hanya dengan mencium aromanya, di kedai kopi yang didirikannya bersama Ello sahabatnya, yang menjadi penyebab kuliahnya sempat terbengkalai beberapa saat.

Keberadaan Sean di sisiku, tanpa kusadari, telah membuat jiwaku menjelma baru. Perspektif hidup yang selama ini kulihat dengan sudut pandang sempit dari balik kaca mata minusku mendadak menjadi begitu luas dan berwarna, dengan cara-cara sederhana. Dan entah kenapa, aku sangat menikmatinya.

“Mawar itu telah berubah menjadi dandelion.” Sean selalu menggodaku, setiap melihatku sesekali mengubah penampilan di hadapannya dengan bergaya lebih casual.

“Karena aku berteman dengan rumput liar,” balasku.

“Jadi kau berubah karena aku?”

“Tidak juga!” Aku berbohong. Padahal semua kulakukan karenanya. Sesekali aku ingin memantaskan diri bersisian dengannya, yang lebih senang mengenakan kaos oblong dan jaket denim daripada berkemeja. Walau aku juga telah berhasil mempengaruhinya untuk memangkas rambutnya yang dulu gondrong, hingga kini terlihat lebih rapi. Tapi kesan urak-an  entah kenapa masih sulit lepas dari dirinya. Mungkin karena cara bicara, dan karakter dirinya yang apa adanya.

“ Bagus…! Aku menyukai perempuan yang memiliki prinsip hidup,” ujarnya.

“Bagaimana mungkin aku mengubah diriku karena orang lain,” belaku lagi. Walau sejujurnya metamorfosa diriku ini terjadi, sejak kehadirannya, walau tak kentara. Tapi aku tak akan pernah mengakuinya di hadapan orang lain, apalagi di hadapan Sean. Rasa gengsiku terlalu besar untuk melakukan hal itu.

“Ya…penampilanmu memang terlihat lebih sederhana, tapi aku tidak ingin melihatmu rapuh dan mudah diterbangkan angin seperti setangkai dandelion. Aku ingin kau masih tetap memperlihatkan sifat-sifat mawarmu, indah tapi tak gampang goyah. Biarkan prinsip hidup yang selama ini kau pegang teguh  menjadi duri-duri yang melindungimu.”

“Karena itukah kamu menyukaiku?”

Ya,” jawabnya tegas. Tanpa ragu sedikitpun.

Aku tersenyum.

“Tapi kamu lebih nyaman menjadi mawar atau dandelion?” tanyanya lagi.

Di titik itu aku selalu terdiam. Sean juga tak mencecarku untuk mendapatkan jawabannya. Karena sampai detik ini, pertanyaan itu masih berupa kabut, di hatiku. Tidak seperti Sean yang berani dengan tegas dan jujur menyatakan apa yang dirasakannya.

“Anjani…” Sean menyentuh jemariku.

Aku terkesiap. Pikiranku yang beberapa detik sempat melayang, mengenang percakapanku dan Sean beberapa bulan yang  lalu, kembali menjejak. Tatapanku kembali berpijak di mata kelam Sean  yang senja ini, entah kenapa, mendadak terlihat redup.

“Apa tidak menyakitkan kita berdua jika menempatkan diri dalam posisi seperti itu? Tidak bisakah kita lupakan saja pikiran orang-orang tentang kita dan berjalan mengikuti kata hati,” suara Sean melunak.

“Cobalah berpikir realistis, posisi kita berdua memang sulit.”

“Kamu yang membuatnya terlihat rumit.”

“Pikirkan perasaan Celina yang terluka jika dia mengetahui hal ini.”

Sean menghela nafas, kemudian tertunduk dalam.

“Aku belum siap jika Celina membenciku. Cobalah mengerti posisiku, Sean!”

“Ya… ironisnya, aku harus selalu berusaha untuk mengerti, tanpa bisa memutuskan apapun. Padahal kamu tahu, itu bukan sifatku yang kamu kenal selama ini.”

“Kita hanya butuh waktu?”

“Sampai kapan?” tanyanya pelan penuh penekanan.

Inilah pertanyaan paling sulit yang pernah kutemui dalam hidup. Bahkan lebih sulit dari semua pertanyaan para penguji di sidang disertasi-ku, beberapa tahun yang lalu.

Kutatap mata Sean nanar, kemudian menggeleng pelan.

“Sampai kamu memiliki keberanian untuk berterus-terang kepada Celina, anakmu, kalau kakak kelasnya di kampus, lelaki yang disukainya, mencintai dosen yang juga ibu kandungnya!” jawab Sean akhirnya, menjawab sendiri pertanyaannya.

Mataku langsung terpejam. Ya… Sean benar. Aku tidak perlu mencari jawaban atas pertanyaannya, hanya butuh keberanian, yang entah kapan akan datang.

Sekian detik tertelan dalam keheningan yang tak beranjak. Ditemani desahan-desahan nafas berat yang menyayat. Mengambangkan rasa.

“Mungkin, memang lebih baik kamu tidak perlu datang ke pesta itu,” lirih Sean kemudian. Nadanya tawar.

“Ya… mungkin lebih baik begitu,” suaraku tertelan.

Serbuan angin kencang tiba-tiba menyusup masuk lewat jendela. Mempermainkan tirai putih tipis yang menutupinya. Senja yang biasa menyebar jingga, terlihat muram, diluar jendela.

Sean bangkit.  Berjalan menuju ke tepi  jendela yang terbuka lebar. Dia berdiri dalam diam di sana. Menantang angin senja yang menyerbu Tubuhnya. Dia bergeming. Tubuh tinggi itu kokoh dalam kerapuhan.

Airmataku menitik jatuh.***




===================
Triana Rahayu,
lahir di Langsa dan kini berdomisili di Bogor. Alumnus Institut Pertanian Bogor. Beberapa Cerita Pendek dan Cerita Bersambungnya pernah dimuat di Majalah Femina, Majalah Kartini, Tabloid Nova, Gogirl, Cendana News, Apajake.id, Koran Media Indonesia, Koran Serambi Indonesia dan Koran Minggu Pagi.

Catatan Kebencian Si Penulis Baru

0
@Raysa Ainun Maryam


“Cuih, ceritanya biasa saja!”

Aku berpikir kalau dia sebenarnya punya hubungan dengan pemilik, atau mungkin dengan redaksi, atau yang biasa dipanggil dengan editor itu. Sementara aku, entah sudah berapa kali kukirim cerpenku, tapi belum juga dilirik.

Kurasa dia sudah menemui orang-orang yang sebenarnya adalah temannya dan meminta mereka untuk memuat ceritanya. Paling dia akan memohon, dan berkata dengan kebohongan, “Tolong! Sekali ini saja! Aku hanya ingin lihat bagaimana pembaca menanggapi ceritaku.” Padahal nanti dia akan mengemis lagi, lagi, dan lagi. Jadi karena namanya sudah dikenal orang, tentu saja dengan berbagai siasat dan segala cara yang telah dia lakukan, maka cerpennya akan berkali-kali muncul, itu berarti tidak ada jalan untuk penulis baru macam aku ini untuk maju.

Aku bukannya cemburu atau apa, aku hanya ingin mengungkapkan unek-unekku. Setiap kali membaca cerita pendek yang tidak membuatku berdecak kagum—maksudku cerita biasa seperti yang baru saja aku baca ini, membuatku sedih memikirkan nasib tulisanku sendiri yang hanya mendekam di dalam folder. Kupikir punyaku lebih bagus dibanding cerita-cerita yang sudah lebih dulu muncul. Setidaknya, ceritaku bisa dikatakan sejajar dengan punya mereka.

Sama halnya juga cerita yang panjangnya sampai sepuluhribu kata, entah siapa yang akan bertahan lama-lama dengan bacaan sepanjang itu. Kalau aku, tidak mungkin kubaca sampai akhir, bikin mata selimpingan. Penglihatanku bakalan kabur ke mana-mana.

Kalau kukasih tahu mereka begitu, mereka nantinya akan bilang aku ini tidak mengerti sastra. Ya, kalau begitu, pembaca itu bakalan begitu-begitu saja. Tidak ada pertambahan. Hanya yang suka sastra saja yang akan menikmati, yang akan membaca. Meski memang cerpen ini termasuk karya sastra, tapi kalau harus bersusah payah untuk mengerti, pakai cara atau pemikiran ini-itu untuk bisa paham, maka sama saja kalau ini matematika. Sama-sama sulit, bedanya matematika ini lebih jelas karena punya akhir.

Tidak hanya sampai di situ, beberapa dari mereka nampaknya asal masukkan kata yang disukainya, sampai tidak jelas kenapa harus diikutkan. Sepertinya merasa kalau ada kata asing hasilnya akan membingungkan pembaca, dan pastinya akan disukai editor karena membuat penasaran.

Tidak hanya tentang alirannya, tapi juga tentang penerimaannya. Sok ikut penulis ini atau penulis itu. Hei, kenapa kau tidak bongkar saja isi kepalamu itu, luapkan semua idemu, tunjukkan gayamu sendiri. Sederhana bukan? Ah, aku harus katakan ini pada rekan sesama penulisku. Mereka mungkin tidak kenal aku yang belum punya cerita dimuat di surat kabar, dan yang jelas bikin aku kesal sama media-media yang hanya terbuka pada orang-orang lama, yang sudah terkenal.

Bagaimana pula juga waktu kukirimkan mereka surat elektronik, tidak ada yang membalas. Apa tidak ada yang menjaga kotak suratnya itu. setidaknya buatlah surat balasan. Bayangkan saja betapa menderitanya melakukan sesuatu yang sudah disungguh-sungguhi, tapi malah diabaikan. Kudengar alasannya karena cerita yang masuk itu ratusan, jadi tidak ada jalan bagi mereka untuk memberi kepastian pada penulis. Padahal aku ini tidak bisa tenang begitu saja. Apa aku harus mengirim seratus cerita, agar semua email yang terpampang itu menampakkan namaku? Bikin seratus cerita itu sama dengan menghitungi helai-helai rambutku.

Lah, waktu tunggunya pun terlalu lama dan aku tidak boleh mengirim ke tempat lain. Tidak ada waktu pasti untuk aku, tapi tidak bagi mereka. Aku tadinya mau bilang satu bulan saja, nanti kalau tidak ada balasan dari mereka, akan kukirim ke koran atau media lain. Tapi bagaimana kalau kutarik, lalu kukirim ke tempat lain, sebulan menunggu, kutarik lagi, kukirim lagi ke tempat lain, kutarik lagi, kukirim ke tempat lain, dan kalau begini, tidak ada yang akan baca tulisanku. Hanya menunggu saja. Jadi sama saja kalau mereka minta aku melupakan cerita yang sudah kukirim, untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.

Jika sudah menunggu, mereka akan mengatakan waktunya berurutan untuk membacanya. Lalu saat editor sudah berhadapan dengan naskah-naskah yang masuk, mereka hanya akan membaca bagian awal saja, dan tidak melanjutkan lagi. Kalau begitu kenapa tidak saat menerima email saja mereka menentukan lolos atau tidaknya cerpen itu. Katakan saja, “Oh ini untuk sementara OK.” 

Kudengar memang seperti itu. Ada kalanya editor akan melihat paragraf pertama saja. Jadi coba saja jika aku bisa memberi ide ini pada mereka, walau aku sudah bisa menebak, bagaimana mereka akan membenciku karena coba mengoreksi pekerjaan mereka.

Tapi kudapat dari teman seperjuanganku, mereka bilang jawabannya hanya satu, menulis lagi saja. Lalu bagaimana jika nasib ceritaku itu harusnya bersinar bulan ini, tapi karena ditahan-tahan malah jadi menghilang cahayanya.

Dan bagaimana juga kalau editor itu sebenarnya adalah penulis, bagaimana jika dia mengambil ideku, lalu menuliskannya dengan cara lain dan lebih panjang. Aku curiga pada setidaknya satu atau dua orang yang sebenarnya berada di balik surat elektronik. Kemungkinan dia tidak meloloskan ceritaku, lalu mencomot satu dua fragmen dan mengirimnya ke tempat lain. Atau mungkin saja, kalau sampai dimuat, akan ada yang bilang ceritaku ini mencontek dari penulis sebelumnya, Baiklah, nanti akan kubuktikan dengan banyak bukti.

Temanku ada juga yang bilang begini: tulis saja di tempat yang bebas seperti blog atau media pribadi. Cuih, memangnya gampang menarik pembaca. Memangnya ada yang mau baca. Ceritaku meski kusebar di berbagai tempat kalau tidak ada penggemar ya tidak mungkin kedatangan pembaca.

Alurnya kan begini, kita cari pembaca dulu dari media besar, lalu bawa mereka ke mana pun kita mau pergi, seperti menerbitkan novel atau kumpulan cerita. Tapi mereka yang sok-sok-an mau menentangku bilang, aku hanya mengharapkan uang saja dari media ini.

Padahal ada yang lebih besar dari uang: nama. Sudah kubilang kan namaku harus jadi besar untuk menjadi penulis yang sesungguhnya. Macam… siapalah itu aku lupa namanya meski ceritanya biasa kubaca karena namanya sudah besar. Kata orang, kalau mau belajar menulis, baca karyanya. Sayangnya, jalan pikiranku tidak sesuai dengannya. Aku tidak suka membaca tulisannya. Aku lebih cocok dan lebih bisa memahami cerita-cerita yang muncul di media online terkenal itu.

Ya, kurasa begitu saja. Catatan ini nanti akan kuketik ulang di komputer kalau aku sudah kembali bersemangat. Akan kutulis apa adanya, tanpa perlu lagi memikirkan untuk mengedit atau menghapus kalimat mana yang harus kubuang. Soalnya semuanya kurasa penting. Setidaknya dibanding tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Tapi kalau misalnya aku ingin mengirim catatanku ini, apa ada yang akan memuatnya ya?



==================
Jelsyah Dauleng, alumni Universitas Negeri Makassar, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Karya-karyanya telah dimuat di beberapa media. Tinggal di Siwa, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. 

Misi Bunuh Diri

0

Orang yang ada di atas sana sedikit-sedikit menggebyur, sehingga guyuran air itu menghambat gerakanku. Kandung kemih orang itu mungkin sedang bermasalah sampai bolak-balik ke kamar mandi. Untung di cekung pipa tersisa sedikit ruang dan ke situlah kurapatkan tubuh setiap gelontor air datang.

Ada tiga petak di rumah kontrakan ini. Setiap petak memiliki kamar mandi sendiri dengan saluran pembuangan yang berbeda membuatku lebih mudah mencapai kamar yang hendak kutuju. Ketika aku masuk, sepertinya orang itu sedang berganti baju. Aku berharap sekaranglah orang itu sering-sering ke kamar mandi, agar aku punya banyak waktu.

Tempatnya berganti baju –mungkin pula ruang tidur—dibatasi tirai kain sebagai pemisah dari mana aku masuk sehingga menghalangi pandangannya. Ruangan yang sempit sedikit membantu, dengan mudah kutemukan satu-satunya meja yang ada di situ. Kupastikan hanya di atas meja itu tempat yang paling mungkin untuk menyimpan dan menyiapkan bahan aksinya, makanya aku naik ke situ.

Di atas meja kudapati kantong plastik pembungkus gula pasir, di dalamnya ada dua dari kami yang sedang saling menatap bingung menunggu nasib. Tidak mungkin menyusup ke dalam situ karena mulut kantong plastik seperti itu biasanya disimpul dengan karet gelang. Namun, saat kuperiksa, ternyata hanya dilipat.

Lalu semua cara yang mampu kami lakukan agar lipatan mulut kantong plastik bisa sedikit terbuka. Kami sempat berhenti, terkejut ketakutan, karena di tengah upaya kami orang itu muncul dari bilik kainnya. Orang itu ternyata tidak segera mengambil kantong plastik, menoleh pun tidak, malah pergi ke petak sebelah. Beberapa dari kami yang sudah melakukan pengamatan, mengatakan bahwa yang tinggal di sebelah itu seorang perempuan, dan menurutnya mereka mitra kerja. Jadi orang itu ke petak sebelah menemui mitranya, mungkin mengatur sesuatu dan kami pun meneruskan upaya mengutak-atik mulut kantong plastik.

Upaya susah payah kami akhirnya berhasil juga meluruskan sebagian lipatan mulut kantong plastik dan membuat sedikit celah untuk dilalui. Aku segera menyusup ke dalam kantong. Sewaktu kembali, orang itu sempat tertegun, pasti heran melihat lipatan mulut kantong plastik tidak seperti sebelumnya dan jumlah kami pun menjadi tiga. Sikapnya itu sempat mencemaskan kami. Untung saja orang itu segera meraih kantong plastik, melipat lagi ujungnya dan menyurukkan kami ke balik jasnya.

***

Beberapa dari kami telah melapor bahwa ada orang yang sudah berkali-kali memanfaatkan kami menipu sejumlah restoran, dan dari laporan-laporan itulah sampai Ketua menganggap persoalan ini perlu disikapi. Ketua menganggap kaum kami telah dilecehkan, dan tidak satu pun dari kami rela diperlakukan begitu. Makanya kami berkumpul dan merundingkannya.

Keputusan yang kami ambil harus ada pemberani di antara kami yang bersedia melakukan semacam misi pembalasan untuk memberi pelajaran pada orang itu. “Kerjai orang itu,” putus Ketua, yang usianya paling sepuh di antara kami. “Sebisanya buat orang itu tertangkap, agar tidak ada lagi yang mau meniru perbuatannya. Kalau tidak, kita bisa terus dikorbankan, dibuat mati konyol sebagai alat penipuan.”

Aku segera mengajukan diri. “Tapi ingat,” pesan Ketua, “bisa jadi ini misi bunuh diri.” Kusadari memang bertaruh nyawa; tapi di samping aku tahu diri badanku paling kuat dan besar dibanding yang lain, juga karena aku sudah sangat geregetan ingin memberi pelajaran pada orang yang telah menjadikan kami sebagai alat menipu itu.

“Beberapa dari kita sudah melakukan pengamatan di mana orang itu tinggal, demikian juga cara dia memanfaatkan kita ketika menjalankan aksi penipuannya,” kujelaskan ulang pada Ketua, sebelum mematangkan rencana misi.

Ketua manggut-manggut, menyergah menahan murka, “Laksanakan misi!”

Hasil keputusan pertemuan itulah sampai aku dan dua lainnya berada di dalam kantong plastik ini. Untung kami dikaruniai kemampuan menahan napas, bahkan bisa sampai 40 menit, dan sekitar waktu itu pula kami di dalam kantong plastik sebelum terdengar alunan musik. Berarti kami telah berada di dalam restoran. Orang yang mengantongi kami tentu pula sudah duduk, karena guncangan-guncangan tidak ada lagi. Meski sedikit lemas, kami segera berkemas menyiapkan siasat.

Tidak terlalu lama menunggu, orang yang membawa kami mengeluarkan kantong plastik, membuat kami di dalamnya jumpalitan. Begitu lipatan mulut kantong plastik diluruskan, trakea kami menghirup lega bersamaan antena kami mendeteksi aroma makanan yang amat lezat. Secepat yang aku bisa, kudorong kedua dari kami agar segera menjatuhkan diri dan secepatnya pergi. Begitu keduanya menghilang di bawah meja, aku pura-pura mati, diam memasrahkan diri ketika orang itu menjatuhkan tubuhku ke dalam kuah makanan. Ujung-ujung kakiku kuusahakan tidak terlalu dalam tercelup, menghindari panasnya kuah yang terhidang.

Orang itu sempat tertegun, pasti heran melihat hanya aku yang ada di dalam kantong plastik. Namun, karena harus memanfaatkan waktu tepat untuk mulai melancarkan aksinya, orang itu tidak bisa lagi berlama-lama memeriksa isi kantong. Berteriak kemudian ke pelayan seraya menunjuk-nunjuk hidangan di depannya, orang itu sengaja membuat teriakannya sedemikian gaduh, bermaksud memancing manajer restoran segera ke mejanya.

“Restoran macam apa ini!” orang itu menyerapah. “Restoran semewah ini, makanannya diisi yang menjijikkan!”

Dua pelayan dan di belakangnya kuduga manajer restoran tergopoh-gopoh datang. Aku melihatnya saat kukepakkan sayap, mengangkat tubuh dari hidangan. Meski memiliki empat sayap, takdir kami yang hanya bisa terbang dalam jarak pendek sudah cukup untuk membuatku sedikit berputar sebelum menukik ke bawah meja. Aksiku itu berkat mencuri waktu sesaat ketika orang itu berteriak dan wajahnya terangkat dari mangkuk makanan, menatap ke tempat pelayan berdiri.

Aku tidak ingin buru-buru pergi dari bawah meja; aku ingin melihatnya digelandang, kalau bisa menyaksikannya ditonjok ramai-ramai oleh karyawan restoran ini.

“Yang mana menjijikkan, Pak?” Sahutan itu kuduga dari manajer restoran, tapi tidak bisa melihatnya karena aku masih menyempil di sudut bawah permukaan meja.

Aku yakin orang itu hanya bisa melongo bingung dengan muka pucat, karena yang dibilang ‘menjijikkan’ itu sudah tidak ada di dalam hidangan di depannya. Kemudian ada suara lain yang sedikit berat dan tajam. Ini pasti suara petugas keamanan, yang tadi kulihat kakinya bergegas dari pintu depan mendekati meja tempatku bersembunyi.

“Heh, rupanya Anda, ya? Saya ingat … wah, Anda juga dulu yang teriak-teriak bilang ada yang menjijikkan di dalam makanan, dan keberatan minta ganti rugi. Wah, wah … waktu itu kami langsung memberi uang kompensasi, agar Anda tidak meributkan, yang bisa menjatuhkan nama baik restoran kami. Ternyata ini modus Anda saja, ya? Tadi, dari pintu depan kami amati, Anda mengeluarkan kantong plastik dari saku jas Anda, lalu menjatuhkan sesuatu ke dalam makanan ini.”

Orang itu beserta perempuan mitranya lalu dibawa ke ruang belakang restoran. Penampilannya saat beraksi yang selalu bersetelan jas dan perempuan mitranya bergaun anggun, akhirnya tamat. Laku penipuannya dengan menjadikan kami sebagai umpan yang mati konyol di dalam kuah makanan yang mereka pesan, lalu ribut komplain minta ganti rugi –ada dari kami yang bilang sering pula mengancam akan membeberkan ke media– berakhir pula hari ini. Setelah selama ini menggilir beberapa restoran, rupanya tanpa sadar orang itu memasuki restoran yang sebelumnya sudah pernah dimasuki dan petugas keamanan restoran mengenalinya.

Sukses misiku ingin kurayakan dengan mengepakkan sayap, hinggap dari meja ke meja dengan girang, tapi heboh yang ditimbulkan kejadian tadi membuatku harus tetap bersembunyi dulu. Beberapa orang berlalu-lalang, dan bila ada yang melihatku kisahku bisa jadi lain. Riwayat hidup seekor kecoak, sepertiku, bisa pula berakhir di bawah telapak sepatu orang-orang yang sedang berseliweran, bukan? ***




======================
Pangerang P. Muda menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Telah menerbitkan 3 buku kumpulan cerpen, antara lain: Tanah Orang-Orang Hilang (2019). Guru SMK yang berdomisili di Parepare, ini sedang menyiapkan buku terbarunya.

Perkara Permanen

0



HAMPIR setahun lalu pemerintah mengumumkan bahwa virus corona telah masuk ke Tanah Air. Bermula dari Wuhan, Cina, lalu menjalar ke mana-mana. Di Jakarta korban pertama jatuh. Dua orang penari, anak-ibu. Membuat suasana mencekam. Tapi pemerintah memberi secercah harapan,”Badai akan cepat berlalu jika kita bahu-membahu.”

“Mereka baik sekali memberi tahu kita,” kata Imbar seolah di luar sadar. Ia sedang tidak membaca berita sebelas bulan lalu. Dalam masa “di rumah saja” yang tak menentu, dua kali ia tamatkan Penafsir Kepedihan karya Jhumpa Lahiri terjemahan Suparno. Malam itu, ia baca ulang “Masalah Sementara”, cerpen pertama di buku itu. Kalimat barusan diucapkan Shoba kepada Shukumar, suaminya—Imbar tirukan.

Ketika sadar menirukannya, Imbar merasa konyol. Tindakan pemerintah bukan perkara mereka orang baik, tapi wajib. WHO bahkan sudah wanti-wanti mustahil Indonesia belum terjangkit. Lagi pula, apa yang terjadi antara Shoba dan Shukumar adalah masalah sementara: untuk lima hari listrik akan padam selama satu jam, mulai pukul delapan malam. Sambungan terputus oleh badai salju, dan para tukang akan memanfaatkan malam-malam yang cuacanya lebih nyaman untuk memperbaikinya. Itulah persis narasi Lahiri.

Pasangan Shoba dan Shukumar menghabiskan waktu dengan cara membangkitkan kenangan dalam kegelapan. Sekali diterangi sisa lilin ulang tahun yang ditarok di bawah sulur anggur, dan empat hari dengan lilin lain yang dibiarkan redup dan padam. Mereka hikmati keadaan dengan bercerita (bukan bercinta), hanya sesekali bersintuhan tangan, tak sengaja. Suara mereka bergema di ruang hampa. Mereka bicarakan hal-hal sepele yang mulai dilupakan: pergi ke dokter gigi, kelakuan para sahabat, keadaan kampus, dan entah apalagi. Mereka memasak daging domba, berbagi tugas di dapur.

Mereka akhirnya menceritakan juga hal-hal konyol dan menyedihkan yang masing-masing pernah mereka lakukan. Shoba melarikan diri ke Gillian, menghindari ibu mertua, dan minum martini sepuasnya di sana. Ketika bayinya lahir di meja operasi dan meninggal, Shoba merasa sangat mengecewakan suaminya. Meski Shukumar mengatakan ia tetap bahagia, tapi Shoba diam-diam menyepi dengan menyewa apartemen di Beacon Hill. Ada pun Shukumar mencontek saat ujian kelulusan sarjana, memberi tips pelayan restoran secara curang demi mendapat perhatian Shoba. Ia pernah menangis mendekap jasad bayi laki-lakinya di dalam kamar mayat sebelum diperabukan. Apa pun, masalah sementara berhasil memperbaiki hubungan mereka.

***

IMBAR meletakkan Penafsir Kepedihan di lengan sofa. Sejenak ia lirik Kavisar yang masih duduk menghadapi layar laptop, entah mengerjakan apa. Ia tak yakin suaminya itu sudah dapat banyak ketikan dari gagasan yang ia pendam. Buktinya, sejak tadi tak terdengar tuts dimainkan. Mungkin ia membaca e-book atau berselancar ke grup janda dan gadis-gadis. Ah, mungkin pula ia berselancar ke tempat-tempat yang ia bayangkan: Tapaktuan, Bandar Muar, Sikakap atau Pulau Kei. Laki-laki itu sempat menceritakan tempat-tempat yang ingin ia kunjungi. Imbar memang mengenal Kavisar sebagai laki-laki pejalan. Mereka berkenalan di Bali, ketika Kavisar kehabisan ongkos dari Sumbawa, dan untuk sementara ia menumpang tinggal di sanggar kenalannya di Jalan Wahidin, Denpasar.

Merasa lega karena pasangannya tak mendengar apa yang tadi ia ucapkan, Imbar mendehem seolah kerongkongannya kering, mau basah. Ia mendehem lebih kuat, berharap komentar Kavisar,”Sana, minum air putih!” Atau,”Ada vicks di kulkas.” Aneh, ia rindukan sapaan seperti itu. Sudah hampir setahun, sepanjang masa pandemi, sapaan-sapaan itu hilang.

Dari pihaknya sendiri, Imbar ingin memperlakukan suaminya dengan sapaan dan sentuhan-sentuhan kecil. Tapi tiap kali mulai, misal hendak berkata,”Rambutmu sudah panjang, Kavisar, pergilah bercukur,” atau,”Nanti Jumatan pakai masker baru ya, masker merahmu terlalu kotor.” Tak pernah bisa ia lakukan. Rambut Kavisar makin panjang, dan ia masih bersetia dengan masker merahnya, yang sejak pandemi baru dua kali dicuci.

Kini mungkin ia harus mencoba. Imbar bangkit dari sofa. Mendekati Kavisar dari belakang. Tangan kanan lelaki itu terus men-scrolling mouse, dan tangan kirinya memegang gelas kopinya yang mulai dingin. Imbar menyentuh tangan di gelas itu, menyingkirkannya perlahan, tak jauh dari pinggangnya sendiri, lalu ia meneguk kopi. Imbar selalu berpikir seperti dulu, segelas kopi bukanlah “kopinya” atau “kopiku”, tapi kopi mereka berdua.

Ya, mereka selalu mereguk kopi dari gelas yang sama. Bahkan saat bertamu ke rumah teman, mereka minta dibikinkan satu gelas kopi saja, atau kalau terlanjur dua, hanya segelas mereka minum. Saat meneguk kopi, ia ingin tangan Kavisar yang ia tarok tak jauh dari tubir meja di mana pinggulnya menempel, akan memberi sensasi mengejutkan. Melingkari atau meremasnya perlahan. Tapi tidak. Ia melamakan bibir gelas di bibirnya, menahan nafas dari bau bacin kopi dingin, Kavisar malah memindahkan tangannya ke lengan kursi, dan melongos,”Kau bilang pemerintah baik memberi tahu kita tentang pandemi?”

Imbar terceguk. Ternyata Kavisar masih ingat kalimat yang ia ucapkan bermenit-menit lalu. Rasa lega yang tadi membuatnya tak merasa konyol, kini berganti rasa konyol yang lebih besar. “Maksudku, mereka masih memberi kita secercah harapan.”

“Iya. Mereka umumkan bantuan tunai,” kata Kavisar sinis.

“Dan sudah mereka tunaikan.”

“Dengan prosedur tak semudah waktu mereka didaftar sebagai peserta Pemilu.”

“Betul begitu. Tapi semua dapat bagian akhirnya. Kecuali kita,” Imbar terpingkal.

“Karena seniman tak tercatat di dokumen mana pun!”

“Dirjen Kebudayaan menyebarkan borang untuk subsidi seniman.” 

“Ya, pematung Ali Umar dua kali mengisi, tapi lihat status fb-nya: tak ada kabar!”

“Dinas Kebudayaan Daerah juga mendata 3000 pelaku budaya untuk disubsidi.”

“Hmm, pelaku budaya? Tiga ribu orang? Kategori apa itu, dari mana saja mereka?” Kavisar membakar rokok terakhirnya. “Apa kaudengar dana itu cair? Yang ada itu korupsi!”

Imbar menggeleng, lalu mengangguk. Ia kembali ke sofa, tapi lalu teringat ia belum memanaskan makan malam. “Kavisar sudah makan?” ia bertanya dari dapur. Ia jawab sendiri,”Eh, belum, ya? Saat keluar rumah tadi sore, daging ayam betutu ini segini juga.”

***

KAVISAR mendatangi Imbar ke dapur. Lengan mereka bersintuhan sebentar, sebelum akhirnya Kavisar mengambil pisau. “Aku melarangmu jangan sering keluar.” 

“Hanya ke rumah ibu,” Imbar membelakangi suaminya, berharap laki-laki itu akan melanjutkan sentuhan, pada pinggul, pada bahu, pada leher.

“Adikmu pasti menelepon kalau ibumu ada apa-apa.”

Ada jarak terasa ketika Kavisar mengucapkan “ibumu”, bukannya “ibu” saja.

“Iya, sih, tapi aku ada keperluan. ATM tinggal segini. Rokokmu juga yang terakhir,” ia tunjukkan ujung kukunya yang lentik.

Kavisar terbatuk seperti anak belajar merokok. Sisa rokoknya yang masih panjang ia buang. Imbar menyesal mengucapkan “rokokmu”. Buru-buru ia sebut “kita” dalam ucapan, “Kopi kita aman. Aku sudah pesan online ke Taufiq Bondowoso.”

“Aku juga sudah pesan tembakau ke Bernando. Aku akan gulung sendiri rokokku,” Kavisar merogoh rak mencari-cari sesuatu.

“Kau cari mie? Mau mie Aceh?”

Kavisar menatap istrinya dengan isyarat “ya.” 

“Biar kubikinkan. Mienya ada di lemari.”

“Terima kasih,” nada Kavisar melunak. Tapi pisau di tangannya tak dilepas. Ia kupas beberapa siung bawang putih dan bawang merah, ia puntir cabe rawit. Air kran mendesis. Lalu bunyi pisau di talenen.

Imbar mengangkat ayam betutu yang dipanaskan dari kompor. Kemudian menyiapkan wajan, sutil dan sedikit minyak. Ia ambil buncis dan sisa cumi di kulkas, ia berikan pada Kavisar. Saat mengambil bumbu hasil rajangan Kavisar, kembali bahu mereka bersentuhan. Tapi mereka diam, meski sama tahu bahwa semua itu menambah hangat dapur.

“Di mana kamu pertama makan mie Aceh, Kavisar?”

“Di Batam.”

“Kau pernah bilang ada mie Aceh rasa perlawanan?”

Kavisar tergelak. “Iya, di Selangor. Ada warung Aceh enak sekali. Semua dindingnya dicat pakai bendera Aceh. Meja, kursi hingga tempat kasir bertulisan Aceh Merdeka.”

“Merdeka itu tak selamanya enak.”

“Siapa bilang? Aku toh ingin merdeka.”

Ganti Imbar yang tergelak. “Merdeka dari pandemi…”

“Ya, minimal itu. Merdeka dari rumah.”

Hening sejenak.

“Sudah berapa lama kita di rumah saja, Kavisar?” tak ada jawaban. Ia jawab sendiri,”Sebelas bulan. Semua berantakan. Pameran virtual sulit jalan. Tak ada transaksi. Kontrak batal. Dan kamu tak pernah lagi bisa jalan-jalan,” ia menyebut nasibnya sebagai EO acara di galeri Gatot Santoso dan bersimpati pada nasib suaminya.

Kavisar mendehem seperti tak senang. Imbar yang perasa segera menyadari ucapan terakhir. “Tak bisa jalan-jalan” artinya tak bisa menghasilkan. Kavisar adalah travel writer. Ia juga mengisi workshop fotografi yang praktis terhenti sejak pandemi.  

Air menggelegak di wajan. Tak lama mie mereka masak. Kavisar membantu menyiapkan mangkok. Percakapan hangat yang tersendat-sendat seperti kompor menjelang habis gas, membangkitkan selera Imbar. Ia ikut makan menemani Kavisar yang lahap. Meski mie diberi irisan cabe, laki-laki itu masih menggigit cabe rawit. Pedas, berkeringat.

Keringat di dahi itu mengingatkan Imbar saat mereka bercinta. Tapi sejak pandemi, jarang mereka lakukan. Berita tentang jebolnya program KB karena banyak ibu hamil selama pandemi, tak terjadi di rumah ini. Wulan masih saja akan sendiri. Tanpa adik.

“SPP Wulan jatuh bulan depan,” Imbar berkabar. Wulan, anak semata wayang mereka mondok di Kajen, Pati. Pada awal pandemi, Wulan dipulangkan, tapi setelah lockdown, semua santri dipanggil masuk kembali.

Kavisar tak menjawab. Ia malah bertanya,”Apa kata ibumu?”

“Beliau bertanya keadaanmu.”

“Apa katanya?”

Imbar bingung dengan pertanyaan teknis itu. Ia pun tak menjawab, dan mengatakan yang lain. “Ibu ingin tanah di Cangkring dijual. Digadai, bakal merepotkan nanti.”

“Apa hubungannya dengan kita?”

Imbar senang mendengar kata “kita”, tapi merasa hambar soal hubungan. “Kata ibu, selain untuk pengobatannya, sebagian uangnya bisa dipakai dulu buat modal kita.”

“Dengan utang kita yang sudah menumpuk padanya?”

“Ibu tak mempersoalkan.”

“Tapi adikmu mempersoalkan.”

“Tak usah diambil hati!”

“Ibumu terpengaruh. Luka lamanya kambuh.”

“Akan kubicarakan baik-baik dengan Saiful. Ia tak boleh ikut campur urusan kita.”

“Coba saja kalau bisa,” Kavisar berdiri dan pergi ke ruang kerjanya. Ia datang lagi ke meja makan memperlihatkan hp-nya. “Lihat, bagaimana keluargamu memperlakukanku.”

Imbar baca pesan adiknya di WA. Saiful menyoal rumah yang mereka tempati sejak pindah dari Bali. Ini memang rumah jatah Saiful. Seharusnya, Saiful bisa mengontrakannya. Rumah jatah Imbar sudah dijual, sejak ia beli rumah di Nusa Dua, tapi juga terjual saat krisis moneter bertahun lalu. Kini krisis pandemi mengurungnya bukan di rumah sendiri.

Imbar gemetar. Ia geram adiknya tak berubah: menentang pernikahannya dulu dengan Kavisar yang disebut Saiful mirip “gipsi jalanan.” Ibunya terpengaruh. Baru setelah ada cucunya Wulan, perempuan itu reda. Tapi jika benar yang ditulis Saiful dalam berbalas pesan dengan Kavisar, jelas ibunya belum sepenuhnya berubah. Ibunya mendukung Saiful, padahal tadi sore ibunya tak menyinggung soal itu. Apa hanya fitnah Saiful?   

Ia berencana mencari Saiful besok. Sebenarnya, sebelum insiden perang WA ini, ia dan Kavisar bahkan punya rencana lebih dari itu. Pindah ke luar kota, mengontrak rumah di Kajen sambil menunggui Wulan mondok. Tapi rencana itu batal dihadang virus corona.

“Kita bisa segera pergi dari sini. Kita jalankan rencana awal,” Imbar melihat secercah harapan. “Aku ke Pak Gatot besok, pinjam uang, meski galerinya masih tutup.”

Hp Imbar berbunyi di lemari. Buru-buru ia lap tangannya, lalu bergegas mengambil hp.  Bunyi itu mati, tapi ia tahu siapa yang miss-call barusan: Kavisar, orang yang ada di depannya. Terasa asing. Ia menyesal hanya berbagi gelas, tapi tak pernah berbagi hp!

Mungkin Kavisar ingin memberi tahu sesuatu. Benar saja. Di WA-nya, banyak pesan masuk yang diteruskan Kavisar. Isinya berbalas kata antara Kavisar dan Saiful. Saiful juga mengutip pernyataan ibunya, mengungkit luka lama: kau menantu tanpa restu, camkan itu! 

Imbar terduduk di kursi. Ia seperti tak bisa berkata apa-apa lagi.

Di dapur, air mengucur dari kran yang diputar. Kavisar membasuh mukanya di bak cucian piring. Matanya perih. Hening. Hanya gemercik air.

“Aku menginginkan semua ini Masalah Sementara,” Imbar berkata seolah pada dirinya. Ia dekap Penafsir Kepedihan. Lekat ke dada. “Tapi yang terjadi seperti perkara permanen. Pandemi yang tak jelas kapan berakhir dan luka lama yang selalu diungkit kembali.” Tiba-tiba ia terisak. Ambyar. 

Di luar, terdengar bunyi tiiiit…tiiiit pertanda pulsa listrik akan habis. Meski baru pemberitahuan awal, dan listrik tak akan mati saat itu juga, refleks tangan Kavisar yang basah menekan stop kontak lampu dapur. Dapur jadi remang sekarang, dan dalam keremangan itu Imbar melihat Kavisar melap tangannya.

Imbar berdiri, mengambil handuk dan setengah sungkan ia lap wajah suaminya. Laki-laki itu menarik nafas panjang. Tercium aroma pewangi pada handuk. Aroma yang sejak dulu disukainya, dan Imbar bersetia, tak pernah mengganti merk pewangi cuciannya.

Dan cerita sama-sama berakhir di remang dapur. Hanya saja Shoba dan Shukumar menangis untuk hal-hal yang mereka sadari; sedang Imbar dan Kavisar menangis untuk hal-hal yang sampai kini tak mereka mengerti.

/Lemahdadi, 26 Januari 2021

________________________

Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, 19 Januari 1975. Buku cerpennya yang terbaru, Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan (2020). Ia mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia di Yogyakarta.

Déjà Vu

0
@Muhary Wahyu Nurba


Anak itu duduk menelungkup hingga dagu dan lutut bertemu. Tangannya memeluk kaki, merapatkan tubuhnya melawan dingin. Ia duduk di suatu teras toko mainan tua yang telah tutup. Aku yang saat itu sedang dalam perjalan pulang ketika hujan mendadak turun, segera membelokkan motorku ke sebuah kompleks pertokoan. Saat itulah aku tidak sengaja bertemu dengannya, anak kecil yang membangkitkan rasa getir di dadaku.

Aku bertemu dengannya di antara jeda waktu magrib dan isya. Namun karena pekatnya langit malam, diiringi deras gemuruh hujan, dan ditambah jalan yang sepi, membuatnya terlihat seperti telah lewat jam sepuluh. Kompleks pertokoan di sekitar jalan juga tutup semua. Hujan deras selalu membuat orang-orang ingin lebih cepat menutup hari. Kulihat seorang anak laki-laki duduk seorang diri, menundukkan wajahnya seolah beban dunia berada di pundaknya. Saat itu ia hanya ditemani sepeda butut yang tengah bermandikan hujan. Tidak ada seorang pun selain aku dan dia yang berteduh di kompleks pertokoan tua ini.

“Halo Dik, kamu mau kemana? Rumahmu dekat sini ya?”

Dia tidak menyahut. Menoleh pun tidak.

“Kenapa kamu menangis? Mau beli mainan tapi tokonya tutup ya?”

Dia tidak menyahut tapi kini menoleh, memperlihatkan wajahnya yang menyamar malam karena lampu tak cukup terang. Lampu toko itu terlihat begitu renta hingga aku berpikir sudah saatnya dipensiunkan. Meski aku tak bisa melihat jelas wajahnya, aku bisa merasakan ada kesal dari tatapan matanya yang samar-samar terlihat.

“Kamu ngapain malam-malam, di tengah hujan seperti ini, kok malah di jalanan? Jalanan seperti ini berbahaya untuk anak kecil.”

“Aku keluar dari tadi sore Om.”

Ketika ia menyebut Om, aku sempat tersinggung karena merasa diriku masih muda. Aku memang sering lupa bahwa usiaku telah lewat seperempat abad. Memang sudah pantas dipanggil Om. Namun setiap ada yang memanggilku Om, rasanya tetap aneh.

“Kenapa kamu di sini sendiri? Kenapa tidak pulang?”

“Hujan Om.”

Jawaban singkat itu dilakukan tanpa menoleh padaku. Sikap acuhnya membuatku agak kesal. Rasanya ia tidak menghargaiku sebagai lawan bicara. Aku melangkah mendekatinya hingga kini berdiri tepat di sebelahnya. Kuperhatikan ia memegang perutnya, sepertinya ia lapar.

“Kamu lapar?”

Ia menoleh tanpa menjawab, tapi aku tahu ia lapar. Aku tawarkan makan malamku, nasi kotak dan beberapa kue yang diberikan selesai seminar. Kuajak ia makan malam bersamaku, ia tidak menolak. Mungkin perutnya benar-benar lapar hingga ia menerima saja ketika orang asing yang tidak dikenalnya menawari makanan. Anak kecil memang hebat, orang dewasa mungkin tidak akan begitu saja percaya, mereka selalu curiga bahwa ada maksud di balik segala kebaikan orang lain.

Saat aku sedang makan malam bersama bocah kecil pemurung ini, aku merasa mengalami semacam Déjà vu. Aku merasa pernah mengalami ini sebelumnya. Kutelisik ingatakanku yang mulai pudar, pelan-pelan aku tersadar bahwa semua ini pernah kualami. Bedanya aku adalah anak kecil yang ditawarkan makanan oleh seorang bapak tak kukenal di tengah hujan, ketika aku kabur dari rumah.

Saat itu aku baru saja dipukul oleh nenekku sampai sapu patah jadi dua. Aku baru saja berkelahi dengan empat orang teman adikku yang mana satu di antara mereka hidungnya kubuat berdarah. Aku emosi ketika mereka yang mengolok-olok adikku tidak punya ayah dan ibu. Aku dan adikku memang tinggal bersama kakek dan nenekku, tapi kami punya ayah dan ibu, hanya saja kami tak pernah melihatnya. Baru hari itu aku tahu bahwa keduanya sudah berpisah dan menjalani hidup masing-masing dengan keluarga baru mereka. Lucunya, aku tahu ini dari mereka yang mem-bully adikku.

Saat itu aku sudah benar-benar mematangkan niatku untuk kabur dari rumah, membuang hidupku ke jalanan. Untung Tuhan mengirimkan seorang yang bijak, menasehatiku hingga kuurungkan niatku itu. Bapak baik hati itulah yang menyadarkanku, membuatku tetap bertahan di dalam rumah yang tidak pernah menjadi surga bagi penghuninya.

“Bertahanlah dengan apa yang kamu punya saat ini, jalanan terlalu keras untuk hidup. Keluarlah saat kamu sudah merasa bisa bertahan hidup tanpa perlindungan siapa pun. Meski kamu berpikir sampai saat ini rumahmu seperti neraka, jalanan tetap jauh lebih mengerikan.”

Sayangnya sampai sekarang aku tak pernah lagi bertemu bapak itu, bahkan wajahnya pun aku tak ingat. Mungkin karena saat itu terlalu gelap. Namun sedikit kata yang berikan padaku, kuserap dan kusimpan baik-baik dalam kantong ingatan.

Tiba-tiba anak itu mengeluarkan suaranya.

“Aku tidak ingin jadi dewasa.”

Begitu mendengarnya aku kaget sekali. Rasanya aku pernah berpikir seperti itu dulu. Aku tidak ingin menjadi dewasa, aku tidak ingin menjadi tua. Kulihat orang-orang tua di sekitarku, mereka semua menyebalkan. Masa laluku diliputi oleh orang-orang tua yang sok dewasa, orang-orang tua yang perkataannya seperti cuka yang menyiram luka. Aku jadi teringat bagaimana orang tuaku yang terobsesi menjadi menjadi orang tua—menikah di usia yang teramat muda—padahal mereka sama sekali tak tahu caranya.

“Orang dewasa itu menyebalkan.”

Lagi-lagi suara anak itu menyadarkanku dari lamunan.

“Kenapa begitu?”

“Mereka egois, melakukan sesuatu tanpa meminta pertimbangan orang lain. Mengatakan bahwa ini yang terbaik, padahal tidak sama sekali.”

Aku menangkap ada kebencian dari nada bicara anak ini. Namun ada yang lebih besar dari kebencian, yakni penderitaan. Anak ini punya beban hidup yang berat, beban hidup yang seharusnya tidak ada pada anak seusianya.

“Kamu bisa kok menjadi dewasa tanpa harus egois?”

“Bagaimana caranya?”

“Seiring waktu kamu akan tahu caranya.”

Nasi kotak yang kami makan telah habis. Setelah memberikan anak itu minum air, aku pun meminum sisanya. Kulihat ada cukup kue untuk dibagi bersama, lumayan untuk menghabiskan waktu dan teman mengobrol menunggu hujan benar-benar usai. Kami terus mengobrol dan ia terus mengungkapkan perasaannya. Dari apa yang disampaikannya aku mendengar ada kebencian pada orang tuanya dan orang-orang dewasa di sekitarnya.

Aku terus memancingnya, namun tidak sampai memaksanya untuknya bercerita. Aku tidak mau jadi orang dewasa yang seperti itu; orang dewasa yang sok tahu dan suka ikut campur dunia anak, dunia yang telah lama mereka lupakan. Kemudian aku mengetahui anak ini berencana kabur dari rumah tanpa tahu akan harus ke mana, melakukan apa, dan bagaimana cara bertahan hidup di luar sana. Barulah aku merasa perlu mengintervensi rencananya.

“Jalanan tidaklah sebebas yang kamu pikirkan Dik, tidak untuk anak kecil sepertimu. Para penguasa jalanan bisa jauh lebih kejam dari mereka yang berkuasa di atap rumah. Tidak ada Tuhan di jalanan.”

“Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan Om. Kamu tidak tahu hidupku seperti apa. Jangan hanya karena lebih tua, kamu merasa paling tahu.”

Seperti ditampar rasanya mendengar anak sekecil itu bicara begitu padaku. Agak tersinggung aku mendengarnya. Namun jika aku bereaksi seperti kebanyakan orang tua, maka ia akan pergi tanpa mau mendengarkanku. Persis seperti aku dulu. Aku mengerti saat ini ia sedang tidak bisa mendengar, ia hanya ingin didengar.

Aku mendengar saja dan ia terus berbicara mengungkapkan semua kekesalannya pada dunia, kekesalannya pada orang tuanya, dan kekesalannya pada orang tua dari orang tuanya—kakek dan neneknya. Kemudian kudengar nada bicaranya mulai teratur, kulihat ia mulai tenang, barulah aku bergantian berbicara. Dari semua yang diucapkannya aku tahu ia sepertiku, tidak tinggal bersama ayah dan ibunya. Ia juga memiliki adik yang merupakan satu-satunya teman di dunia. Akhirnya aku memberikan nasihat yang diberikan bapak itu dulu padaku.

Dia mulai bisa menerima apa yang aku sampaikan. Aku memberikannya kue terakhir. Dia tersenyum. Meski dalam kegelapan, senyuman dari seorang anak kecil yang menderita akan selalu bercahaya. Dia yang tadinya hanya bicara dengan nada ketus, kini kembali berbicara dengan bahasa anak-anak, bahasa yang lebih ceria. Aku turut merasa lega, seolah masalahku juga ikut menghilang.

Saat hujan mulai reda, kulihat jam tanganku telah menunjukkan hampir jam sepuluh. Terlalu malam untuk anak kecil pulang sendiri. Apalagi jalanan ini begitu sepi. Setidaknya aku akan mengantar ia sampai jalan yang kurasa aman, bila perlu sampai rumahnya.

“Hujan telah reda, aku antarkan kamu pulang Dik.”

“Aku berani pulang sendiri.”

“Tidak baik menolak tawaran orang lain.”

Anak itu kemudian mengambil sepedanya, menaiki, lalu mengayuhnya. Aku mengikutinya dari belakang menjaganya aman dari bahaya malam. Tiba-tiba aku merasa jalanan menjadi semakin tua, bangunan-bangunan sepanjang jalan terlihat semakin familiar. Bangunan-bangunan seperti ini bukannya sudah sudah tidak ada lagi? Sudah begitu aku merasa mengenal jalan dan bangunan ini. Aku mengenal toko-toko tua sejanjang jalan ini.

Tiba-tiba anak itu berhenti di bawah sebuah dari potongan kayu tua yang diukir sebuah nama jalan. Aku terkejut. Jalan ini, simpang lima ini, toko-toko tua ini, bukannya itu jalan ke arah rumahku dulu?

“Om, sampai sini saja rumahku sudah dekat.”

Aku dekati dia. Ketika dia berdiri di bawah cahaya lampu yang agak terang, barulah aku sadar dan melihat dengan jelas. Anak itu aku ingat sekali siapa dia. Aku kenal wajahnya yang pemurung. Itu kan wajahku dulu!

Ampenan, Oktober 2020




====================
Aliurridha Al Habsyi, penulis dan penerjemah lepas. Menulis esai, opini, cerpen, dan cerita horor. Karyanya tersebar di beberapa media, baik cetak maupun dari, lokal maupun nasional. Aktif berkegiatan dalam komunitas Akarpohon. Tinggal di Gunungsari, Lombok Barat.

Tiga Cerita Dalam Sehari

0


1. Kedelai yang Tumbuh di Dada

Mbah Martono memandang sejenak wajah istrinya yang sedang sibuk menyusun dua puluh lima kantong plastik berisi tempe-tempe asli buatan mereka sendiri saat ia tengah mengikatkan keranjang rotan di boncengan belakang sepeda tuanya dengan karet hitam panjang yang awalnya adalah sebuah ban dalam sepeda yang sudah bocor. Ia selalu merasa senang melihat wajah perempuan yang kini menua bersamanya itu. Meski hari ini pun ia ragu apakah tempe dagangannya akan laku atau tidak. Setidaknya ia masih memiliki semangat untuk berusaha. Apa lagi pada situasi yang terjadi saat ini. Di mana wabah corona yang sangat berbahaya itu semakin merajalela, yang mengharuskan semua orang tetap berada di rumah, menjaga jarak bertemu dan menghindari kerumunan. Hal itu sebetulnya membuat ia cemas, karena ia akan sulit menjajakan barang dagangannya.

“Sudah, Pak. Pas, dua puluh lima,” kata istrinya sambil tersenyum. “Hati-hati di jalan ya, Pak. Tetap pakai maskernya.”

“Iya. Doakan saja hari ini tempe kita laku. Ya setidaknya, walau tidak habis tetap ada yang beli.”

Istrinya mengaminkan harapan Mbah Martono. Perempuan itu sangat memahami betapa sulit perkara yang dihadapi lelaki yang menjadi teman hidupnya itu. Ia ingin ikut berdagang, tapi dilarang. Karena ia juga punya tanggung jawab di rumah. Apa lagi dalam situasi yang sedang tidak baik seperti sekarang. Mbah Martono sudah tentu tak ingin melihat istrinya bersusah payah. Oleh sebab itu, keduanya memutuskan untuk mengurangi jumlah bungkus tempe yang akan dijual. Biasanya Mbah Martono menjual hingga 40 bungkus tempe. Tapi hari terakhir dengan bawaan segitu, yang laku hanya sepuluh bungkus. Sisanya dimasak sendiri dan menunggu siapa tahu ada tetangga yang mau membeli.

Namun beliau tidak bersedih meski rasa kecewa kerap menjalar di dadanya. Ia tetap semangat bersama istrinya untuk mengolah kedelai, menabur ragi, dan membungkusnya dalam daun pisang hingga nanti menjadi tempe yang bagus. Ia percaya saja pada kuasa Tuhan bahwa selalu ada  jalan keluar yang baik untuk setiap masalah yang dihadapi manusia.

Mbah Martono terus mengayuh sepedanya sambil membunyikan klakson buatannya yang berdering khas. Menempuh jalan lurus dan tiap belokan yang kini semakin sepi. Padahal biasanya saat dering sepedanya berbunyi ibu-ibu akan memanggilnya untuk membeli tempe dagangannya sampai habis. Mereka bilang tempe buatan Mbah Martono itu enak dan tahan lama. Ditambah lagi ukuran tiap tempe yang dibungkus lebih besar, padat, dan harganya murah. Hanya lima ribu rupiah per kantong plastik berisi delapan bungkus tempe. Kadang Mbah Martono sampai kewalahan dan sedikit mengecewakan pelanggannya saat dagangannya sudah habis. Namun sekarang, sejak pandemi corona melanda semuanya berbeda. Bukan tidak ada yang membeli, tapi berkurangnya penghasilan yang diterima Mbah Martono itu yang membuat keadaan jadi rumit.

Para pembeli juga sering bertanya, kenapa Mbah Martono harus repot-repot berjualan keliling. Sudah tua sebaiknya berada di rumah bersama keluarga saja, biarkan anaknya yang berdagang. Apa lagi pada situasi darurat seperti sekarang. Mbah Martono sebetulnya sedih mendengar pertanyaan itu. Tapi ia pura-pura semuanya baik-baik saja. Padahal hatinya dipenuhi akar yang membuatnya gelisah.

Mbah Martono hanya punya seorang anak. Laki-laki. Berusia 37 tahun. Ia tumbuh dewasa. Tapi berbeda dari anak lelaki lainnya. Anak lelakinya itu mengidap kelainan mental dan sudah pasti tidak bisa hidup mandiri apa lagi harus sampai disuruh berdagang keliling. Tubuh anak lelakinya pun kurus dan cara berkomunikasinya tidak mudah dimengerti orang lain kecuali Mbah Martono dan istrinya. Awalnya Mbah Martono kecewa, berusaha keras ingin punya anak lagi. Namun Tuhan berkata lain. Semakin ia berusaha, semakin kecil ia memiliki keturunan lagi. Jadi, satu-satunya cara agar hidupnya bahagia adalah menerima keberadaan anak lelakinya dengan ikhlas. Dengan begitu ia memiliki alasan untuk bertahan hidup. Demikian pemikiran Mbah Martono.

Dan ketika hari sudah menjelang pukul dua belas siang, tempe dagangan Mbah Martono baru laku tujuh bungkus. Sisanya masih tertinggal dalam keranjang rotan. Dadanya mulai dipenuhi rasa tidak percaya diri dan kecewa. Tapi ia berusaha tegar dengan mengingat Tuhan lewat zikir pendek yang dlantunkan pelan. Sampai ketika waktu zuhur mulai masuk dan Mbah Martono hendak menuju masjid terdekat, sebuah mobil hitam mengilap berhenti di depannya.

“Kakek, tunggu sebentar.” Seseorang keluar dari pintu mobil. Perempuan berjilbab dan mengenakan masker wajah merah muda itu menghentikan langkah Mbah Martono. “Kakek dagang tempe, ya?”

“Iya, Bu.” Mbah Martono menjawab sambil mengangguk.

“Bagaimana kalau tempenya saya borong semua, Kek?” tawar perempuan itu, membuat Mbah Martono kaget. “Kebetulan saya sedang butuh tempe buat usaha catering saya. Agak susah mencarinya saat darurat corona begini. Bagaimana, Kek?”

Mbah Martono tersenyum lebar dan merasa sangat bersyukur Tuhan telah memberi jawaban atas harapannya. Ia tidak akan menolak pembeli yang mau memborong dagangannya ini. Segera ia membantu perempuan muda itu memasukkan bungkus-bungkus tempe ke dalam mobil belakangnya.

“Terima kasih ya, Bu.” Kata Mbah Martono saat menerima uang dari perempuan itu. Bahkan jumlahnya pun sengaja dilebihkan untuk sekalian bersedekah. Perempuan itu hanya tersenyum dan bergegas pergi.

Dada Mbah Martono sekarang dipenuhi rasa syukur, harapan, dan semangat baru. Seakan kedelai-kedelai dalam dadanya mulai berkecambah untuk tumbuh menyongsong matahari. Wajah istri dan anak lelakinya mengambang di langit biru cerah.

***

2. Menerbangkan Seekor Burung

Pria berseragam serba putih, bersarung tangan dan masker yang menutup sebagian wajahnya, itu mulai kesal saat mendapat penolakan keras dari perempuan muda bertampang kusut dengan rambut awut-awutan di satu halte yang kondisinya pun sama kusutnya dengan perempuan gila itu. Ia mulai tak sabar dan ingin marah. Bahkan semakin terpancing emosinya saat temannya yang juga berseragam lengkap cekikikan karena merasa dirinya melakukan hal lucu di hadapan dua polisi yang mengawal mereka.

“Kita ke sini apa hanya ingin membuatmu menertawakanku?”

“Tidak. Tidak. Maaf, aku cuma merasa lucu saja.”

“Tapi tidak lucu, kan?”

“Iya, tidak lucu. Tapi kita kan sudah sering begini. Kenapa harus marah? Perempuan itu gila.”

“Ya, sudah. Kamu coba saja!”

Akhirnya temannya mendapat giliran merayu perempuan gila itu agar mau naik ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit jiwa. Tapi hasilnya sama. Perempuan gila itu menolak bahkan marah. Perempuan itu sampai menjambak rambut temannya.

“Haha. Sudah tahu, kan, bagaimana rasanya merayu perempuan gila satu ini.” Ia menertawakan temannya yang kini tampak merana menahan sakit. Sampai akhirnya dua polisi ikut menangani, si perempuan tetap tidak mau.

Entah apa yang membuat perempuan gila ini sulit diajak kompromi. Biasannya orang gila mudah dirayu, asal rayuannya membuat nyaman. Tapi yang satu ini agak berbeda. Ia seperti ingin ikut, namun menolak karena seperti sedang menunggu seseorang di ujung jalan. Matanya selalu tertuju pada jalan itu. Padahal andai perempuan gila ini tahu kalau negeri sedang dalam masa sulit menghadapi pandemi virus corona, ia pasti menurut. Namun itu jelas tidak mungkin dapat disadarinya. Kalau ia sadar pun, tidak mungkin juga sekarang ia berpetualang sebagai orang gila, bukan? Lagi pula, siapa sebenarnya yang ia tunggu?

“Nggak mau! Nggak mau!” Begitu terus teriakannya.

“Saya nyerah, Pak!” Ia mengangkat tangan di hadapan kedua polisi yang mengawal. “Sudah, kita paksa saja.”

Karena merasa tak ada solusi lagi, kedua polisi itu memutuskan untuk main paksa. Ia menarik tangan perempuan gila itu kuat-kuat dan didorong naik ke mobil. Namun, seketika semua berbeda saat perempuan itu meledak tangisnya. Ia menunjuk-nunjuk ke arah jalan yang sejak tadi ditatapnya.

Kedua petugas rumah sakit jiwa bersama dua polisi tersebut langsung menoleh dan terkejut saat melihat siapa yang sedang dilihat perempuan gila itu. Seorang lelaki tua bersepeda dengan keranjang rotan di boncengan belakangnya.

“Maaf, Bapak kenal perempuan gila ini?” tanya salah seorang polisi ketika bapak tua bersepeda itu mendekat sambil menaikkan sebelah alisnya. Sementara si perempuan gila merasa senang. Tersenyum tak sudah-sudah.

“Saya tidak kenal anak perempuan ini, Pak. Tapi orang-orang memanggil dia Sela. Namanya Sela. Dia sudah di sini sekitar lima bulan.”

“Terus, kenapa saat melihat Bapak dia begitu senang? Saya pikir Bapak adalah orang tuanya.”

“Bukan, Pak. Saya bukan orang tuanya.” Pak tua itu tersenyum sambil menurunkan penyangga sepedanya. “Tapi sudah biasa kalau dia menunggu saya.”

“Maksudnya?” tanya salah seorang petugas rumah sakit jiwa yang tadi dijambak.

“Begini, Pak,” Pak tua itu mulai menjelaskan. “Setiap saya lewat sini, saya selalu membawa makanan buat dia. Walau cuma sedikit tapi dia senang. Dia ini gila, tapi tidak mengganggu orang lain, Pak. Jadi ya saya senang juga bisa berbagi sama dia. Kasihan.”

“Oh, begitu.” Polisi itu mengangguk paham. “Kami sedang melakukan penertiban, Pak. Menjaring orang-orang gila yang berkeliaran untuk ditempatkan di rumah sakit jiwa. Mengingat persebaran virus corona meningkat tajam. Jadi kami harus membawa dia pergi dari sini.”

“Ya tidak apa-apa, Pak. Malah senang akhirnya dia bisa punya tempat yang bagus.”

“Kalau begitu, bisa tolong kami beri pemahaman kepada perempuan ini? Sepertinya dia sudah kenal sekali dengan Bapak.”

“Bisa, Pak. Sebentar.”

Pak tua itu memastikan sepedanya aman tidak roboh, lalu melangkah menuju perempuan gila yang masih saja tersenyum di mobil bak terbuka sembari menyerahkan sebungkus makanan yang tadi dibelinya. “Sela, kamu harus ikut sama bapak-bapak ini. Mereka orang baik yang akan membawamu ke tempat yang bagus sekali. Di sana ada banyak keluarga burung merpati seperti di kabel itu.” Pak tua itu menunjuk ke rentangan kabel yang kosong sambil memerankan gerakan seperti burung terbang. “Jadi, kamu harus terbang sekarang. Pergi ke sana, ke tempat yang akan jadi rumah buatmu. Menurut saja sama bapak-bapak ini.”

Perempuan gila itu menjadi lebih santai dan menurut. Ia tersenyum sambil mengangguk dan menepuk-nepuk pundak lelaki tua itu. Seolah sudah mengerti pesan yang disampaikan oleh si bapak tua. Sementara para petugas rumah sakit jiwa dan polisi merasa asing dengan pemandangan seperti itu. Sebab mereka yang telah terbiasa menghadapi orang-orang gila belum pernah menyaksikan adegan yang demikian.

“Sudah, Pak. Silakan bawa dia pergi.”

“Terima kasih atas kerja samanya ya, Pak.” Para petugas itu merasa lega mendapat bantuan. “Jangan lupa, tetap kenakan masker, Pak. Agar tetap aman.”

“Iya, Pak. Saya yang harusnya berterima kasih.”

“Oh iya, nama Bapak siapa?”

“Martono, Pak. Mbah Martono. Pedagang tempe keliling.”


3. Setiap Daun Pasti Gugur

Dadanya tiba-tiba berdebar aneh. Perasaanya mendadak berubah. Tadi ia merasa lapang dan tenang. Tapi sekarang menjadi sesak. Ia tidak tahu apa yang sedang menggelayuti hatinya. Cuaca cerah. Awan-awan menenangkan untuk dipandang. Angin juga semilir. Namun semakin ia menuju arah jalan pulang, dadanya semakin penuh oleh perasaan getir.

Sekarang ia sudah berdiri persis di depan jalan setapak menuju rumahnya. Ia turun dari sepeda. Melangkah pelan sembari menuntun sepedanya. Sampai seseorang menepuk bahunya dari belakang membuat ia terkejut dan semakin khawatir.

“Mbah, ayo cepat ke rumah. Tadi kami mencari Mbah ke mana-mana, tapi tidak bertemu. Ayo, Mbah ditunggu!”

“Ditunggu siapa?”

“Saya nggak enak bilangnya, Mbah.”

Langkah yang semula pelan, ia gegas untuk segera sampai di rumah. Akan tetapi, semakin dekat kepada rumahnya, dadanya semakin berdebar tak karuan. Sebab orang-orang ramai terlihat di pekarangan. Padahal sudah ada pelarangan adanya kerumunan. Tapi, ada apa?

“Ada apa ini?” tanyanya kepada orang-orang. “Kok, ramai betul rumah saya.”

Ia mulai tak sabar untuk masuk ke dalam rumah. Sepedanya buru-buru ia sandarkan ke pohon jambu. Dan sesaat masuk ke dalam rumah, ia langsung disambut tangis istrinya yang sedang duduk di hadapan sesuatu yang terbujur diselimuti kain batik panjang.

“Masya Allah, ada apa ini?”

“Pak,” kata istrinya lirih, “Rusdi sudah pulang, Pak. Dia sudah pergi meninggalkan kita.”

Tanpa harus membuka penutup wajah seseorang yang telah terbujur kaku di depannya, ia hanya terdiam. Menatap lekat pada wajah di balik penutup itu. Wajah anak lelaki tunggalnya. Anak semata wayangnya. Rusdi. Anak lelaki yang tidak pernah tumbuh menjadi seorang pria pada umumnya.

Namun ia lekas mengambil alih seluruh emosi jiwanya. Ia sadar bahwa kepergian anak lelakinya adalah jalan terbaik yang ditetapkan Tuhan. Mungkin Tuhan tahu semisal dia berpulang lebih dulu, maka anak lelakinya akan terlantar dan istrinya akan semakin kesulitan. Lalu ia mencoba rileks dengan memikirkan hal-hal indah selama ia bersama putra kesayangannya dan menepis semua ratapan yang bisa mengakibatkan kesedihan lebih dalam.

Setidaknya hari ini ia telah meraih beberapa hal berharga untuk belajar tidak terlalu sedih. Pertama, ia telah menumbuhkan kedelai harapan dalam dadanya saat ia pikir semuanya begitu gersang. Kedua, ia telah menerbangkan seekor burung yang tersesat di sebuah halte menuju tempat yang kelak akan menjadi sarang yang bagus untuknya. Ketiga, ia menerima kenyataan, bahwa setiap daun yang tumbuh pada masanya akan tetap gugur, termasuk daun takdirnya. Karena ia hanyalah manusia biasa yang dadanya dipenuhi keinginan, doa dan rencana. Seorang tua pedagang tempe keliling bernama Martono.

***


=====================
M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Antologi Rantau Komunitas Negeri Poci (2020) Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019) dan telah tersebar di media.
Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) dan Kelas Puisi Alit.

Nasib di Tikungan Jalan

0



Memasuki tahun kedua, Re merasa orang-orang terdekat mulai keberatan dengan keadaan dirinya. Meski tidak disampaikan secara langsung, satu persatu dilihatnya telah menunjukkan ketidaksukaan terhadap kondisi, yang menurut mereka, sengaja ia buat berlarut-larut itu. Semisal Ibu yang pernah berkata, “Nanti jam 10 kamu ambil bajumu di laundry, ya.”

Ibu tidak marah setelah tahu pekerjaan yang bisa selesai hanya dengan berjalan tak lebih dari dua puluh meter dari rumah itu tidak dilaksanakan. Re juga tidak marah pada Ibunya. Hanya setelah itu, ia putuskan mencuci baju sendiri.

Laila-lah yang dirasanya paling sengit. Segala ketidaksanggupan Re dipandangnya sebagai kemanjaan belaka. Ia dengar, adik perempuannya itu menjuluki dirinya sebagai kucing persia.

Teman-teman juga tak berkunjung lagi. Puncaknya paska Re memergoki kebohongan Rizki. Sahabat karib itu membatalkan janji menyambangi. Alasannya ada tugas laporan yang harus dikerjakan. Ia tidak sakit hati kalau saja tak melihat instastory Adel yang mempertunjukan Rizki sedang nongkrong di café. Sejak itu, ia tak pernah meminta siapa pun untuk berkunjung ke rumah. Sejak itu pula ia menon-aktifkan seluruh akun sosial media. “Selamat tinggal perkawanan, nyatanya aku sendirian,” tegas Re kepada perasaan.

Hanya Ayah yang ia rasa belum berubah. Sosok penyabar itu tak pernah luput menafsirkan perasaan Re. Pernah Re curi dengar dari kamar, Ayah membelanya di hadapan Ibu dan Laila di ruang tengah.

“Luka Re itu bukan luka badan. Tidak berdarah, juga tak nampak meski dirontgen sekalipun. Seberapa dalamnya saja kita tidak bisa tahu, mana bisa kita menentukan kapan harus sembuhnya.”

“Tapi sudah setahun, Yah, masak mau begini terus?” kata Laila.

“Tidak ada yang ingin terus begini, termasuk kakakmu sendiri.”

“Sampai kapan lagi?”

“Kita tidak tahu. Tetapi yang pasti, tidak ada sakit yang selamanya. Dan semua yang hidup pasti menyembuhkan diri. Itu pasti. Kita hanya tidak tahu berapa lama kakakmu butuh waktu.”

Dari sebalik pintu, Re tahu Ibu juga berada di antara percakapan. Meski tak turut berpendapat, Re selalu menyimpulkan bahwa Ibu berada di pihak Laila. Ibu bukan tidak sayang kepadanya. Ia tak menyangkal itu. Hanya saja, Re selalu curiga bahwa Ibu telah terhasut oleh kewajaran, di mana perempuan sebaya Re yang rata-rata sudah memberi cucu. Ibu memang masih bisa menjaga perkataan, tetapi Re merasa, keluhan Laila sering Ibu biarkan mewakili pendapatnya. Begitu sangka Re, prasangka yang sebenarnya berangkat dari kecemasannya sendiri.

Percakapan keluarganya itu membuat Re urung keluar kamar untuk pipis. Re selalu merasa lebih baik jika orang lain mengira bahwa ia tidak tahu keresahan mereka. Ia tidak bermaksud bersembunyi di balik ketidaktahuan. Ia hanya ingin menghindari segala hal yang berujung pada pertanyaan, “akan sampai kapan?”

Karena ia sendiri tak tahu. “Bagaimana bisa aku menjawab? Pikiran bisa menerka apa, jika ketakutan masih menguasai separuh lebih jalannya berpikir? Jika begitu, bagaimana bisa aku menjanjikan diri? Bukankah jawaban hanya akan mengecewakan mereka lagi?”

***

Hampir dua tahun begini. Suara kendaraan dan aspal jalan tak sanggup Re jumpai. Keduanya  akan mendengingkan telinga dan melumat kesadaran hingga Re terlempar kembali kepada peristiwa kecelakaan yang menewaskan Rizal, kekasihnya.

Saat trauma kembali mengemuka. Kenangan buruk itu selalu berhasil terbabar jelas layaknya putaran film pendek yang keji. Dimulai dari motor yang mereka tunggangi terpeleset ceceran pasir di sebuah tikungan.

“Kenapa tidak kupejamkan mata saja kala itu?” sesal Re berulang kali, “toh pandanganku juga tidak bisa menyelematkannya dari kematian dan kini justru menyempurnakan ngerinya ingatan.”

Yang dimaksud Re ialah kesaksiannya pada tubuh Rizal tatkala terlempar masuk ke rongga truk yang sedang laju dari arah berlawanan. Dalam terkapar, semua disaksikan Re. Roda belakang truk sarat muatan itu melindas kekasihnya. Tubuh Rizal yang berada di lintasan roda, tak sanggup membuat jalan truk tertahan. Juga teriakan Re, tak berhasil membuat sopir menginjak rem untuk menghentikan laju kematian. Kendaraan itu hanya bergoyang sedikit tatkala melindas Rizal, seperti sedang melintasi polisi tidur saja. Lalu meninggalkan jejak tubuh yang luluh lantak, seperti sapi seusai berak. Teriakan Re kala itu justru berujung pada denging panjang di telinganya sendiri. Suara yang memekakkan kesadaran hingga ia jatuh pingsan. Di kemudian hari menjadi genta yang selalu menandai ketika trauma itu kembali mengguncang jagatnya.

Re selamat tapi cacat perasaan. Kehilangan kekasih dan keberanian untuk bersinggungan lagi dengan jalan raya. Aspal dan suara kendaraan selalu mendengingkan telinganya. Lagi, lagi, dan lagi. Sampai ia tak mau menjajal lagi. Memilih hidup sebagai orang yang tak sanggup menjumpai perjalanan. Hari-harinya habis di dalam rumah, persis seperti yang diolokkan Laila. Seperti kucing persia.

“Setidak-tidaknya kau telah menyadari sakitmu, itu satu tahapan menuju kesembuhan,” kata Rizal kepadanya.

Pada puncak sepi, selalu ia dapati kekasihnya kembali berbicara. Suara yang hanya ada di dalam kepala. Re enggan menyebut itu sebagai solilouki. Ia senang merasakannya sebagai percakapan. Meyakini suara itu bersumber dari serpihan Rizal yang tertinggal di jiwa. Ini memang sebuah kegilaan yang lain lagi. Tetapi ketakwarasaan ini selalu berhasil menentramkan dirinya.

“Aku ingin segera menyusulmu, Zal. Aku kesepian di sini.”

“Sabar, nanti akan ada waktunya, Re.”

Ketidakwarasan ini selalu berhasil mencegahnya bunuh diri.

“Kapan?”

“Nanti…”

Ujung percakapan itu selalu membuat Re kembali sanggup menunggu.

***

Rizal selalu berkata, nanti, belum waktunya, tunggulah, sabar… Tapi malam ini, ia berkata sebaliknya, “Sekarang Re, inilah saatnya, kemarilah sekarang, cepat ke sini.”

Rizal yang berkata itu dilihatnya sedang duduk memeluk lutut di tengah tikungan jalan. Tubuh lelaki itu menggigil, menanda kedinginan yang sangat. Re hendak berlari mendekat untuk mendekap. Tapi yang terjadi ialah Re tersentak dari tidur. Dalam terjaga, suara Rizal masih berulang, “Sekarang Re, inilah saatnya, kemarilah, cepat.”

“Kemana?”

“Kau tahu aku ada di mana.”

“Tidak mungkin aku ke sana!” protes Re.

“Kau harus menemuiku di sini.”

“Kenapa tidak kuakhiri hidup dari sini saja?”

“Ini bukan tentang kematian, Re, ini tentang…”

“Kau membohongiku! Kau bukan Rizal! Kau adalah suara kegilaanku sendiri! Kau hanyalah omong kosong!”

Re memukuli kepala sendiri. Tentu saja ia marah. Permintaan itu menyakiti perasaannya. Dirasanya sungguh kejam, karena memintanya menuju tempat di mana segala traumanya bermula. Ya, di sana Rizal memanggil dan minta dihampiri. Di tikungan jalan, tempat di mana hidup pernah memamerkan kekejamannya di hadapan Re.

Setelah marah reda Re kembali berkata, “Adakah cara lain, Zal? Kau tahu sendiri ‘kan? Aku tidak mungkin menempuh perjalanan. Apalagi ke tempat itu.”

Tidak ada jawaban.

“Zal?”

Hanya sepi. Sepi yang menekan perasaan.

“Maafkan kemarahanku tadi, Zal. Bicaralah lagi.”

Hanya kegelisahan yang menyerikan detak jantung.

“Zal, jawab Zal! Jawab!”

Re terus mengulang panggilan. Makin lama maka lantang dan ditegaskan dengan menempelengi kepala sendiri. Seperti menangani radio rusak, Re berharap suara Rizal kembali menyala. Re semakin menjadi-jadi, ia takut jika sampai kehilangan Rizal untuk kedua kalinya. Kegaduhan di kamar itu kini menjadi milik seluruh penghuni rumah. Ayah langsung mendekap Re ketika mendapati anaknya tengah menyakiti diri sendir. Ia dekap Re erat-erat, untuk menahan tingkah tangan Re. Ibu menyusul. Ronta tubuh Re telah dapat ditahan. Tetapi tidak tangisannya. Rengekan kemanusian dan wajah sengsara Re terus berlanjut dan menyayat perasaan siapa saja yang menyaksikannya. Pernyataan yang bukan bahasa itu menampar pengertian Laila. Menyaksikannya membuatnya paham, betapa getir kondisi yang sedang ditanggung kakaknya. Tangis Laila turut pecah, ia langsung berlari mendekap kaki Re. “Kak, maafkan Laila, Kak, maaf.” ujarnya di sela tangis penyesalannya.

Ibu membisiki, “Sabar Re, sabar, kami semua menyangimu.”

Kini Re tidak menangis sendirian. Kesedihan seakan meringan lantaran ditanggung bersama. Re berangsur tenang.

“Cerita Re, ada apa? Jangan ditanggung sendiri,” pinta Ayah

Re kemudian menceritakan semuanya. Dengan suara putus-putus yang menyaruk sisa-sisa sesenggukan, semuanya ia sampaikan. Tanpa kecuali, tanpa takut dianggap gila lagi. Ayah menatap Ibu, meminta persetujuan. Ibu mengangguk setuju. Laila berkata, “aku juga ikut.”

***

Tubuh Re bergetar seperti mesin mobil yang dinyalakan Ayah di depan gerbang. Ia genggam tangan Laila yang tengah menuntunnya. Meski cengkeraman Re membuatnya sakit, Laila membiarkan. Ia tahu kakaknya sedang berusaha menggenggam erat kesadaran.

Re telah berhasil dituntun masuk ke dalam mobil. Ia duduk di belakang bersama Laila. Mobil melaju membawa keluarga itu.

Jalan menuju daerah lereng Lawu itu sepi. Sebelum sampai tikungan yang dimaksudkan, Ayah telah meminggirkan mobil dan berhenti. Semua menengok kepada Re. Mereka khawatir, perjalanan yang telah berhasil ditempuh Re ini akan berujung pada kekecewaan lagi. Karena kenyataanya seperti yang sudah mereka duga, tak ada Rijal di tikungan itu. Ayah sengaja tetap menyalakan lampu untuk menunjukkan kenyataan di depan.

Re membuka pintu dan keluar. Tak nampak lagi tanda takut dalam gerakan tubuhnya. Ini menjadi satu tanda kesembuhan di mata keluarganya, kalau saja berikutnya Re tidak berteriak-teriak, “Rizal di mana kamu?”

Re terus mengulang panggilan sembari berjalan menuju tikungan. Ayah dan Laila segera menyusul. Ibu tetap tinggal di mobil. Ia tak sanggup menahan tangis. Dari balik kaca, ia saksikan, anaknya berteriak-teriak seperti orang gila di jalanan. Kesedihan Ibu beralih menjadi kekhawatiran. Ia lihat Re tiba-tiba berlari menuju satu penjuru. Ayah dan Laila mengekor dengan tergesa. Ibu bergegas menyusul.

Ternyata Re mendengar tangisan bayi. Bayi merah yang menjerit marah pada dinginnya malam. Seseorang nampaknya sengaja menggeletakkannya di sebalik terpal yang menyelimuti lapak buah di pinggir jalan. Re langsung memungut bayi itu tanpa Ragu. “Cup-cup-cup, kasihan,” ucap Re sembari menimang.

“Ini pasti dibuang Ibunya, ayo kita bawa ke kantor polisi,” kata Bapak.

“Ke rumah sakit dulu,” kata Ibu seraya membenarkan cara Re menggendong.

“Ih lucunya,” kata Laila.

Keluarga itu kemudian segera berangkat menuju rumah sakit. Meninggalkan tikungan jalan, dan segala sesuatu mengenai trauma Re, tak lagi menjadi perhatian mereka. Kini semuanya terpusat pada nasib bayi malang itu. Termasuk Re yang diam-diam sudah merasa memiliki dan menamai bayi laki-laki itu dengan Rizal. Itu mungkin sebuah kegilaan yang lain lagi. Tetapi yang jelas, karenanya, trauma di benak berhasil ia singkirkan. Sebab tempat itu harus diisi dengan sebuah hal baru, yakni tanggung jawab untuk merawat bayi yang ia temukan.

Sukoharjo, 21 Agustus 2020



=======================
Idnas Aral, penulis lakon di Teater Sandilara. Buku yang sudah diterbitkan: naskah lakon SRI (2017), Tentang Ketidakpastian (Kumpulan Cerpen dan Lakon Pendek, 2018), Catatan Guman (2020), dan Lelaki yang Tinggal di Selangkangan Kota (2020)

Mimpi Sehitam Mawar

0

Bulir keringat menetes di dahi Anwar Saleh ketika terbangun dari mimpi yang sudah empat kali dia alami dalam sepekan ini. Anwar Saleh tak tahu menahu mimpi itu membawa pertanda apa baginya, yang dia tahu hanya berdoa semoga itu hanyalah bunga tidur, bukan hal yang akan terjadi dalam kenyataan hidupnya.

Ketukan pintu terdengar, membuyarkan lamunan Anwar Saleh. Dia beringsut dari alas tidur di kamar kontrakannya yang berukuran dua kali dua setengah meter.

“War. War. Buruan nape, dah ditunggu yang laen!” teriak suara dari luar petak kontrakan.

Anwar Saleh hafal kalau jam sebelas siang begini Tono Wakuncar menghampirinya, mengajaknya berangkat ngedangdor. Hasil dari dangdut dorong itu memang tak seberapa, namun Anwar Saleh begitu menyukai pekerjaan itu karena dia menyukai dangdut. Lebih-lebih yang membuat Anwar Saleh senang karena Roheti atau Eti Ncus—nama panggung wanita itu, sesekali turut sebagai penyanyi dangdor di waktu senggangnya.

“Buset. Masih ileran aje, Lu!” hardik Tono Wakuncar ketika Anwar Saleh membuka pintu kontrakannya.

“Biasanya nggak buru-buru,” sahut Anwar Saleh.

Tono Wakuncar menjelaskan kalau kali ini ada tanggapan mendadak dari seseorang untuk perayaan buka toko baru. Mendengar itu Anwar Saleh langsung bergegas masuk lagi dan bersiap.

“Nggak usah mandi, War! Basuh muka aje.”

Anwar Saleh bergegas mengenakan kaos hijau yang menjadi semacam kaos kebanggaannya saat ada tanggapan dan dandan seadanya. Jarang sekali ada tanggapan akhir-akhir ini, Anwar Saleh tak mau melewatkan kesempatan emas itu. Baginya, lumayan karena dari satu tanggapan dia pasti mendapat gocap seperti sebelum-sebelumnya.

“Wah, ditanggap, War?” tanya seseorang saat berpapasan dengan Anwar Saleh dan Tono Wakuncar di pengkolan. Anwar Saleh mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Telah lupa ia pada mimpinya tadi, yang ada di pikirannya kini hanya uang tanggapan.

“Cik ah,” ucap Anwar Saleh pada Tono Wakuncar saat kawannya menyulut rokok di tengah perjalanan.

“Beli sendiri.” Tono Wakuncar langsung kembali memasukkan rokoknya ke kantong celana.

“Medit, Lu.”

“Nih. Atu aje dan kudu lu ganti.”

Anwar Saleh tak menjawab. Dia cepat mengambil dan menyulut rokok itu. Mereka mempercepat langkah kaki untuk segera tiba di tujuan.

Keakraban antara Anwar Saleh dan Tono Wakuncar memang sudah lama terjalin meski satu sama lain selalu ketus ketika bicara. Pertama kali Anwar Saleh bertemu Tono Wakuncar di kawasan Pasar Senen, saat masing-masing masih ngasong. Saat itu julukan Wakuncar belum melekat pada nama Tono. Nama itu baru benar-benar dia pakai saat mereka merintis dangdor dan Tono berseloroh kalau ingin terkenal harus pakai nama panggung. Dipilihlah wakuncar karena lagu dangdut itu disukai Tono. Anwar Saleh tak memakai nama panggung, meski Tono memaksanya saat itu. Hingga sekarang nama itu tetap digunakannya. Keakraban mereka semakin lekat karena setiap hari selalu bertemu dan bekerja bersama-sama, kerja yang mereka abadikan bukan untuk hal lain, kecuali hidup mereka masing-masing.

Setiba Anwar Saleh dan Tono Wakuncar di tujuan, empat kawan lain, termasuk Eti Ncus sudah menunggu. Anwar Saleh menyalami masing-masing dan yang terakhir dia mengulurkan tangan pada Eti Ncus.

“Libur, Ti?” tanya Anwar Saleh dengan muka tampak malu-malu.

“Duit dulu woy, pacaran belakangan,” seloroh Tono Wakuncar sebelum pertanyaan Anwar Saleh dijawab Eti Ncus. Rombongan dangdor berangkat menuju lokasi tanggapan. Anwar Saleh menyalakan orgennya. Memainkan musik sekenanya saja, berpikir barangkali dengan itu ada orang yang memberi seribu-dua ribu.

Eti Ncus meminta Anwar Saleh memainkan Dua Kursi, yang dimintai langsung memainkan lagu Rita Sugiarto itu. Masing-masing dari rombongan sudah fasih di luar kepala tentang tugasnya. Dua orang terus mendorong gerobak, satu orang menghampiri orang-orang yang berjalan kaki atau duduk-duduk saja di pinggir jalan sembari mengulurkan kaleng bekas biskuit, Tono Wakuncar tampak menikmati bermain kecrekan, Anwar Saleh sambil berjalan serupa kepiting menjaga fokus dengan permainan orgennya, dan Eti Ncus terus bernyanyi sambil sesekali mengeluarkan goyangan jarum suntik yang menjadi andalannya.

“Manteb ye, War,” ucap Tono Wakuncar pada Anwar Saleh. Dia tahu apa yang dimaksud kawannya tentulah Eti Ncus, namun Anwar Saleh tampak tak benar-benar hirau, meski sesekali melirik wajah Eti Ncus. Rambut model pendek sebahu, wajah dengan bedak tabur secukupnya, bibir beroles lipen warna merah bata, juga aroma parfum sachet yang menguar milik Eti Ncus melekat dalam benak Anwar Saleh.

“Udeh langsung lamar aje, War kalo demen. Jadiin bini tuh, lumayan gue kagak repot-repot lagi bangunin lu.”

“Maen kecrekan yang bener,” sahut Anwar Saleh menanggapi omongan kawannya itu.

Beberapa orang tampak menyawer, bahkan ada yang meminta mereka berhenti untuk ditanggap. Namun hal itu ditolak Tono Wakuncar karena kadung ditanggap sebelumnya. Mereka telah ditunggu oleh si pemilik toko yang menyewa mereka. Tanpa banyak basa-basi orang itu langsung menyodorkan secarik kertas pada Tono Wakuncar begitu rombongan dangdor tiba. Dua belas judul lagu tertera di sana, Tono Wakuncar menunjukkan itu pada Anwar Saleh dan Eti Ncus. Mereka hampir mengangguk bebarengan, tanda hafal dan semua lagu di kertas itu bisa dimainkan. Anwar Saleh memainkan orgennya, musik pembuka mengalun. Eti Ncus mengambil minum dan mulai bersiap. Tono Wakuncar memegang mic, menghaturkan salam.

“Nyak, babe, mpok, bang, cang-cing, semuanya. Artis yang kite tunggu, mantan penyanyi duteng, sekarang naek derajat ngikut dangdor, terkenal ame goyang jarum suntiknya. Kite sambut Etiiii Ncussss!”

Lagu Mawar Putih langsung dibawakan. Tono Wakuncar bergoyang sesekali menyahut menyebut nama pemilik toko. Anwar Saleh memainkan orgennya, badannya bergoyang tipis-tipis, matanya sesekali melirik Eti Ncus. Ada yang berdesir dalam hatinya ketika melihat itu, seperti seorang tukang ketipung menyentakkan pukulan membuat keinginan bergoyang para pendengarnya semakin menggelora.

Beberapa orang yang lewat di jalan depan ruko berhenti, ada yang sekadar melihat, namun lebih banyak yang akhirnya ikut terbuai suara dan goyangan Eti Ncus dan akhirnya turut bergoyang. Panen penghasilan hari itu didapat rombongan dangdor. Banyak orang yang bergoyang, beriring dengan saweran yang rombongan dapat. Semua wajah tampak puas di sana, seakan beban hidup yang membelenggu telah lepas sempurna.

Satu per satu lagu telah dibawakan, meski sesekali berhenti karena Eti Ncus haus. Saat seperti itu Tono Wakuncar akan memberikan pelantang pada penganggap untuk nyanyi. Dua azan terlewati dan pentas dangdor hari itu ditutup dengan lagu Pria Idaman.

Sifatmu yang peramah dan pendiam
Membuat aku rindu siang malam

Dada Anwar Saleh kembali berdegup, lebih keras dari sebelumnya. Dalam benaknya  teringat awal pertemuan dengan Eti Ncus dan betapa dia memang kasmaran pada wanita itu, meski tak ada keberaniannya untuk mengutarakan besar rasa cintanya. Anwar Saleh gusar dan merasa tak percaya hati bila cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun, pertanyaan-pertanyaan tentang rasa cintanya seperti baru saja dijawab Eti Ncus saat meliriknya—manis, sembari membawakan lagu itu.

***

Bulan pucat yang tak sempurna serupa koin yang separuhnya dimasukkan mulut celengan, menggantung di langit malam itu. Derit roda kereta bertumbuk dengan besi rel terdengar. Beberapa kendaraan roda dua melintas masuk-keluar gang. Rombongan dangdor masih ngaso di sebelah warung minuman dingin yang dijaga lelaki paruh baya. Jalan ke rumah masih lumayan jauh. Dua orang yang bertugas mendorong gerobak merasa kelelahan usai mengangkat gerobak saat harus melintasi rel di sekitaran stasiun Pasar Senen. Setelah dari tanggapan tadi, Tono Wakuncar memilih lanjut ngedangdor ke daerah Taman Menteng meski pendapatan hari ini sudah terhitung lumayan. Usulan itu mulanya ditolak Anwar Saleh, namun keras hatinya luluh begitu melihat Eti Ncus tampak setuju saja dengan usulan pimpinan dangdor itu.

Beberapa lelaki berbadan tambun menghampiri rombongan dangdor. Mulanya mereka memegang tape dan orgen yang ada di gerobak. Lantas meminta lagu untuk dimainkan.

“Maaf nih abang-abang. Satu lagu goceng, ye,” ucap Tono Wakuncar pada salah seorang di antara lelaki itu.

“Gampang!” bentak orang itu. Aroma arak murahan menguar kuat dari mulutnya.

“Bayarnye kudu di depan, Bang.”

“Lu nggak percaye!”

Anwar Saleh yang sedari tadi melihat itu lantas berdiri. Berbisik pada Tono Wakuncar untuk menuruti apa keinginan mereka. Semua bersiap dan lagu Duda Araban mulai dinyanyikan Eti Ncus. Di balik orgennya, Anwar Saleh gamang, sambil sesekali melirik Eti Ncus yang nyanyi dan terus digoda rombongan lelaki itu, dia teringat akan mimpi yang menyerangnya empat hari belakangan.

Ngomonge temenan janji kawinan
Nyatane sampean cuma bohongan

Beberapa lelaki itu meminta rombongan dangdor memainkan lagu Mawar Hitam milik Meggi Z. Mendengar itu Anwar Saleh menggigil di balik orgennya, hal itu seperti yang dialaminya dalam mimpi, tentang beberapa lelaki yang ngamuk di tengah lagu, merusak gerobak dangdor sewaan, dan Eti Ncus ditusuk botol pecah. Tono Wakuncar mengiyakan permintaan itu dengan terpaksa, Eti Ncus melirik Anwar Saleh yang belum juga memainkan musiknya.

Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020).

Terbaru

Mencari Karya yang Problematis

Sebuah Esai pengantar Kuss Indarto untuk "Dactyl Exhibiton": pameran Seni Rupa 8 mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Fakultas...

Semesta Debar Dalam Dada

Sungai di Wajah Ibu

Dari Redaksi

Kembara Senyap

Iblis Betina