Buronan Kediri

Pengkhianat

Share-loc

Omong Kosong!

Cerpen

Home Cerpen

Mengapa Lukisan Ibu Berdebu, Ayah?

0

Aku berharap—seperti halnya debu-debu yang selalu kubersihkan saban hari dari lukisan-lukisan ayah—kala ragaku telah lebur menjadi remahan partikel nanti, aku akan menghambur bersama angin. Menyelimuti suatu benda dan membuatnya kehilangan warna. Mungkin itulah dendamku seumur hidup. Tetapi alih-alih melampiasakan, aku justru menjadi korban pelampiasan dendam ayahku sendiri.

Aku tak paham, alasanku terus hidup selain mengikuti bayangan ayah. Lelaki bersuara serupa gergaji itu, semenjak aku berusia lima tahun selalu menyuruhku melakukan hal-hal menyebalkan. Setiap pagi, sekira dua puluh lima menit usai azan subuh menggemakan nama Tuhan ke segala arah mata angin, aku telah berdiri di ruang tamu rumah kami, yang oleh ayah disetting laiknya galeri seni. Memegang kemoceng dengan sorot mata redup. Aku diminta ayahku menyapu debu dinding demi dinding, kursi santai, lampu-lampu halogen mini dan deret panjang lukisan yang bertengger menyelubungi dinding.

Seperti pesan ayah, aku selalu berhati-hati ketika menyapu debu dari lukisan-lukisan itu. Dia bilang debu-debu bisa memudarkan warna asli lukisan. Dan ketika wewarnanya telah pudar, lukisan akan terihat usang. Tentu saja ketika telah usang, orang-orang pasti enggan melihatnya lagi alih-alih menyelami keindahannya.

Ketika ayahku tahu—dan memang selalu tahu—ada sedkit saja partikel debu menempel di atas lukisan, maka pasti sebuah rotan akan memanggang punggungku seperti seterika di level panas maksimum. Entah mengapa aku selalu berteriak, dan memohon ampun ketika ayahku mulai memegang rotan satu itu. Kenyataannya memohon amarahnya padam, terasa seperti berdoa pada berhala.

Yang akhirnya kupahami, aku selalu tak menemukan perbedaan warna pada setiap karya ayah. Dalam pandanganku, semua sebatas hitam putih semata, sejak lahir. Jika ada perbedaan, barangkali hanya tingkat kepekatan hitam-putihnya saja. Dan tentu saja untuk menemukan perbedaan itu aku haruslah menggunakan ketelitian pengamat politik ketika kedapatan beberapa janji kampanyenya tak terealisasi.

Berulangkali, ayah menyalahkanku tersebab ketidakmampuanku membedakan warna. Bahkan, pernah pula ia menyeret nama almarhum ibu dari liangnya dan memakinya karena telah menurunkan cacat padaku. Aku tak bisa melawan, sebab ayah memang seperkasa lokomotif buatan Belanda. Sementara aku tak lebih dari rakyat jelata, yang tak akan dikasih makan bila tak bekerja rodi.

Guernica, sejauh ini hanya lukisan satu itu, yang menurut ayahku bisa kunikmati. Nuansa monochrome dari lukisan yang menggambarkan kengerian perang Spanyol tahun 1937 itu, sangat berjodoh dengan mataku. Jika, Picasso masih hidup, maka aku pasti akan bersimpuh dan berterima kasih kepadanya.

Kebiasaan-kebiasaan ayah—tak hanya membuat punggungku gosong tetapi juga membuat dadaku sempit dan perih—lambat laun membuat aku berpikir arwah Picasso telah merasuk dan mewariskan trauma padanya, yang kesemua emosinya ditumpahkan padaku. Karenanya, aku tumbuh menjadi anak lelaki yang cengeng. Aku sering menangis tiba-tiba. Bahkan ketika bermain pun, ketika telingaku menangkap seringai napas gergaji ayah dari jauh, entah mengapa air mataku meleleh begitu saja. Teman-temanku sampai menjulukiku kucing penakut, karena keseringan menangis.

Sebetulnya, keinginanku hanya satu. Aku ingin menjadi seperti teman-temanku, aku ingin seperti ayahku, aku ingin seperti para pengunjung galeri ayah. Aku ingin tahu warna langit, warna tanah—kata guruku sama seperti warna kulitku, katanya pula aku tercipta darinya—lalu gunung, air, pelangi, bendera negaraku, seragam sekolahku, dan yang paling membuatku penasaran, lukisan-lukisan ayah. Seindah apa?

Suatu hari aku memberanikan diri bertanya pada ayah, “Apakah dokter bisa menyembuhkanku, Ayah?” ia malah terbahak, dan justru menyumpal mulutku dengan kegamangan, padahal kurasa tak ada yang lucu sama sekali.

“Apa kau sudah gila? Hanya Tuhan yang bisa!”

“Hanya Tuhan?” kepolosan menghalangiku untuk mengerti.

“Atau kau punya mesin waktu, sehingga aku bisa kembali dan memilih kawin dengan wanita selain ibumu. Lalu kau terlahir dari rahim yang berbeda, tanpa cacat,” tutur ayah, tangannya sibuk memegang kuas. Di atas kanvas terlihat sebuah sketsa mirip jam dinding, rambut panjang seorang wanita dan beberapa coretan lain yang belum tuntas.

“Mesin waktu? Apa maksud ayah?”

“Sudahlah, tak ada guna menjelaskannya pada orang sepertimu, kembali bekerja!”

Pada akhirnya, penyesalan dan rasa penasaranku tentangnya hanya berakhir dengan baku hantam, memperebutkan singgasana utama di alam bawah sadarku.

*

Kala usiaku dua belas, ayah memasukkanku ke suatu pesantren di Surabaya. “Biar kau lebih berguna. Buta warnamu itu masalah buatku!” katanya. Ia tak peduli pada cita-citaku sama sekali. Padahal aku hanya ingin menjadi pelukis sepertinya. Aku hanya bisa menurut. Sebab sejauh aku hidup, aku bersaksi tak ada seorang pun yang bisa melemahkan tangan besi ayah.

Di pesantren itu aku bertemu dengan seorang Kiai sepuh dengan kebersahajaan seorang wali. Beliau orang alim yang seolah tahu permasalahan hidup dan seluruh rahasia semua santri, termas aku. Tetapi beliau tak pernah membeberkannya pada siapa pun. Walau kehidupan di sini terasa seperti di penjara pada awalnya. Tetapi aku mencoba untuk tetap kerasan.

Oleh kesahajaan Mbah Kiai itu, aku merasakan ada suatu energi yang membuatku selalu mentaati setiap perintahnya. Semakin lama aku di sini, aku makin dibuatnya legawa pada kehidupan. Aku mulai mengerti bahwa kehidupan bukan tentang berapa banyak hal yang kita miliki, tetapi tentang sejarang apa kita menyesali dan beralih untuk mensyukuri. Seketika aku teringat pesan ibuku, beberapa saat belum ia kembali ke haribaan Tuhan, bersyukurlah, Nak, bersyukurlah terus betapa pun sulitnya kehidupanmu kelak, karena hanya dengan cara itulah kamu akan bahagia.

Aku kira tak ada tempat keramat di sekitarku selain sebuah akuarium mini di pojokan galeri ayah. Tempat aneh itu terasa angker, sebab ayah yang selalu menungguinya dengan pandangan iblis yang diminta minggat dari surga. Cupang halfmoon impor dari Thailand bermotif seperti langit dan berbercak awan sungsang disiikan ayah ke dalamnya. Para pengunjung sering memandanginya penuh gairah laiknya seorang maling, sebab kata ayahku pula, ikan satu itu bernilai jutaan. Aku tak mengerti daya tariknya sebab yang kulihat tak lebih hitam dan putih belaka.

Tak kusangka ada satu tempat pula, di pesantren ini yang dikeramatkan, yaitu sebuah blumbang yang menurut cerita, dahulu Sunan Ampel pernah menggunakannya sebagai jalan gaib menuju rumah Tuhan di Makkah. Aku lalu berpikir, jika aku bisa berkunjung ke rumah Tuhan, lalu bertemu denganNya di sana dan meminta agar buta warnaku disembuhkan, maka seperti kata ayah pasti akan dikabulkan, kan?

Aku telah terlampau bosan hidup dalam nuansa hitam putih. Aku ingin melihat dunia yang sebenarnya. Aku ingin melihat warna-warna. Aku ingin membantu ayahku melukis, dan membuat galerinya ramai pengunjung. Aku tak peduli, meski harus memperawani larangan pesantren.

Hingga di Jumat malam, ketika mulut sebagian santri masih komat-kamit, memuraja’ah Jurumiyah, sebelum mereka lelap dalam mimpi, tepat tengah malam aku menyelinap keluar kamar. Aku berjalan menyamarkan diri di balik kesunyian menuju blumbang. Dan tanpa meninggalkan jejak apa pun, selain bulir-bulir keringat dingin yang menetes ke tanah, aku menceburkan diri ke dalamnya.

***

Ini adalah hari Sabtu. Biasanya pengunjung galeri ayah lebih banyak dari hari-hari lain. Oleh karenanya ayah biasa membangunkanku lebih pagi guna melakukan persiapkan terbaik menyambut hari kesukaan ayah ini. Di hari ini ayah tak lagi segarang guru matematika. Ia bahkan mampu meminjam senyum tulus mahasiswa di hari pertamanya magang di institusi pendidikan.

Aku disadarkan sebuah suara: bacaan dzikir dan tahlil yang sering kubaca di pesantren. Khususnya ketika peringatan haul Mbah Nyai. Aku tak terlalu ingat mengapa tiba-tiba aku bisa berada di kamarku sendiri, bukan di kamar pesantren.

Bacaan itu kian nyaring dan terasa menyejukkan seiring tubuhku yang kian mendekat ke ruang tamu. Di galeri ayah itulah, orang-orang berkumpul mengenakan sarung dan peci. Puluhan berkat telah dijajar rapi di atas haparan permadani. Gemuruh rasa penasaran memaksaku mendekat ke ayah.

“Acara apa ini, Ayah?” tanyaku. Tetapi ayah bergeming. Kuwedarkan pandangan ke dinding ruangan, sementara ia tetap khusuk pada bacaannya. “Ke mana semua lukisanmu?” Ia tetap tak mendengar suaraku.

Akhirnya mataku terpaku pada sebuah lukisan—lukisan selainnya telah ditanggalkan dari tempat semula—di sudut galeri, di mana kelopak mawar segar mengelu-elukannya dari atas meja kecil tempat akuarium keramat ayah. Lukisan itu tak asing bagiku. Ini adalah lukisan terakhir ayah, sebelum aku ia masukkan ke pesantren. Aku terkejut karena dari setiap hal dan benda yang kulihat, hanya lukisan itulah yang berwarna, bahkan kini mulai memendarkan cahaya purnama. Menjadikan mataku sembab.

Cahaya itu seolah menghisapku. Kini setelah sekian lama, akhirnya aku bisa merasakan ada ribuan ikan cupang halfmoon aneka warna berenang di setiap lorong pembuluh darahku. Jadi, seperti ini keindahan sebuah lukisan: jam dinding menempel di perut besar seorang wanita, tempaknya sedang hamil, di pipi wanita itu, butiran permata berjatuhan, dan di belakang si wanita terlihat seorang lelaki bermata purnama, tubuhnya yang beramandikan pelangi terikat rantai besi serupa tali pusar yang bermuara di pusat jarum jam.

Aroma kasturi menyeruak ke segenap relung ruangan. Aku merasa telah mengeluarkan berliter-liter air mata, tetapi ketika kuusap pipiku tak basah sama sekali. Aku berbalik ingin mendekat pada ayah dan berterimakasih, karena telah melukis dengan sangat cantik.

Tetapi pandanganku mendadak kabur dan tubuhku terasa lemas. Ketika kulihat, kedua tanganku terasa transparan. Dan ketika menyentuh benda-benda aku merasa menembusnya. Beberapa saat kemudian, bersama dengan doa di penghujung dzikir tahlil, usai semua orang mengucap, “aamiin” tubuhku pudar, kesadaranku berantakan, aku berhamburan seperti debu hasil kremasi. Debu-debuku melayang bersama angin terhisap seluruhnya ke dalam lukisan ibu.

Klaten, Mei 2021




==================
Adnan Jadi Al-Islam, mantan mahasiswa yang kini hobi main bareng anak-anak SD. Pernah menjuarai lomba cipta cerpen di IAIN Surakarta beberapa tahun silam, sering menulis puisi di akun sosial media dan beberapa lomba. Karya puisi yang telah terbit berjudul “Jalan untuk Bertemu Sajak-Sajak Penunjuk Arah” yang diterbitkan oleh Guepedia (2020), dan beberapa karya lain di sejumlah antologi.

Tatkala Kesedihan Bekerja

0

Kau merayap perlahan di tengah semak-semak bunga arum dalu yang tumbuh rimbun di halaman rumah seorang perempuan. Dari balik jendela kau mengintip sedang apa perempuan yang hendak kau temui. Perempuan berwajah kuyu itu sedang merenung di dekat pendiangan, udara dingin memanglah sedang menjilat-jilat menunggangi angin malam. Kau terpana, benarkah perempuan itu yang akan menjadi sarang dirimu selama beberapa minggu ke depan nanti. Kau menimbang-nimbang, kapan waktu yang baik kau bertandang singgah di hatinya, tapi tunggu dulu, kau begitu khawatir melihat wajah itu.

“Aku bahkan belum sempat menyapa dirinya, tapi dia sudah demikian terluka.” Bisikmu kelu. Kerosak daun-daun arum dalu mengacau pendengaran. Dan kau masih sibuk berpikir.

Kau paham benar, tak ada yang peduli akan keberadaanmu kecuali jika kau sudah bertandang dan bersarang di dada seorang manusia. Seperti beberapa pekan lalu, tatkala kau melihat seorang pemuda yang gemar bercanda, menebar tawa dan seolah tak akan pernah menyentuh dilema di hidupnya harus kau datangi. Di pesta seorang kawannya, kau melihat bagaimana pemuda itu demikian bahagia. Tawanya membuncah mengalahkan busa di gelas bir yang selalu berulang dituang. Tak ada kecemasan di mata yang masih bersorot cerlang. Tak ada kurangnya dari pemuda itu. Tetapi, tatkala pesta mereda dan satu per satu dari mereka membubarkan diri, kau mengikuti pemuda itu. Perlahan kau merayap di punggungnya, dan kau siap bersarang di dadanya, yang kau tunggu hanya kerja sepasang mata.

Di kejauhan beberapa meter di depan sana, seorang gadis sedang bergelayut mesra di pundak seorang pemuda. Kau menebak, tentu pemuda yang bersamamu mengenal gadis itu. Kau tersenyum puas, tatkala pertengkaran pecah di tengah keheningan malam. Dua orang pemuda saling adu mulut, sang gadis hanya menatap keduanya dengan cemas.

“Brengsek! Kenapa kau bisa jalan dengan pacarku? Kau itu sahabatku, Tom!” teriakan pemuda itu melengking.

“Aku minta maaf. Tapi aku menyukainnya bahkan sebelum kau mengenalnya!” ujar Tom sembari menarik tangan gadis yang sedari tadi bermesraan dengannya.

Melihat sorot mata pemuda yang biasa menebar tawa itu, kau tahu bahwa saat inilah waktunya. Perlahan kau merayap, masuk ke dalam dada pemuda itu dan bersarang di sana. Panasnya sisa gelegak bir yang ditambah amarah membuat kau kurang nyaman. Tapi kau tak bisa memilih, saat itu juga kau harus bekerja. Kau mulai memutar kenangan di ingatan pemuda yang hatinya sedang kau jadikan sarang, tentang kisah-kisahnya bersama gadis dan sahabatnya yang bernama Tom. Air mata mulai leleh dari mata sang pemuda. Dan kau semakin bersemangat bekerja. Kecemasan dan kegalauan kau datangkan silih berganti, tak berhenti meski malam semakin larut.

Kau memilih bersarang selama beberapa hari di dada pemuda itu. Tapi ternyata cukup ringan bekerja di dada seorang pemuda yang murah tawa. Banyak waktu yang kau gunakan untuk beristirahat. Tidur atau sekadar ongkang-ongkang kaki ketika pemuda itu bertemu kawan-kawan lainnya. Tawanya yang murah meriah kerap menggelegar. Lalu di hari kedelapan kau memutuskan untuk berhenti bekerja di dada pemuda itu ketika sepasang mata milik seorang gadis manis berambut ikal bersitatap dengan kedua mata sang pemuda. Sapaan terdengar, dan mereka ternyata kawan lama yang telah lama tak bersua. Degup di dada pemuda tempat kau bersarang selama beberapa hari belakangan terasa berbeda, kau paham benar bahwa kerjamu telah usai. Perlahan kau keluar dari dada pemuda itu.

“Mendadak kesedihan di hatiku pergi setelah bertemu denganmu,” ucap pemuda itu diiringi senyum.

“Oh, memangnya kau sedang sedih?” gadis manis berambut ikal menatap dengan kedua mata menyipit.

“Iya, beberapa hari belakangan aku sedang sedih. Tapi sekarang kesedihanku sudah pergi. Lenyap entah ke mana.”

Mendengar ucapan pemuda itu kau melata pergi, di dalam daftar yang kau miliki, ada nama lain yang perlu kau datangi.


***

Kau masih menatap perempuan berwajah kuyu. Perlahan kau masuk ke ruang tengah, tempat perempuan berwajah kuyu berada. Api di pendiangan bergoyang-goyang. Tangan sang perempuan tampak gemetar, entah lantaran udara dingin yang masih berhasil menyelinap masuk ke dalam atau masalah lain. Kau berhenti beberapa langkah di depan perempuan itu. Matanya menatap api di dalam pendiangan dengan nanar. Melihat sepasang mata itu, untuk kali pertama kau pun merasa menderita. Bagaimana bisa kau merasakan penderitaan yang serupa dengan sepasang mata yang seolah telah lama mereguk luka.

“Telah lama aku bekerja untuk menggugah rasa di dada manusia dalam kesedihan. Tapi untuk kali ini mengapa aku merasa enggan bekerja dan bersarang di dadanya,” kau berbisik di tengah gemeretak kayu yang dibakar kobaran api di pendiangan.

Selama berabad kau telah bekerja sebagai kesedihan. Alam menuntunmu untuk bersarang di dada manusia guna membawa keresahan. Tapi baru malam ini kau resah dengan dirimu sendiri. Kau enggan bekerja, dan kau memilih termenung di hadapan perempuan berwajah kuyu yang tampak demikian merana.

“Mengapa Tuhan seakan tak pernah mendengar doaku. Dosa masa lalu apa yang kucipta di kehidupanku yang dulu,” perempuan berwajah kuyu mengucapkan kalimat itu dengan nada rendah yang menggelitik pendengaran.

Mendengar ucapan perempuan itu, kau tertegun. Sudah berapa lamakah perempuan di hadapanmu ini menderita? Kau ragu dan tak tahu harus berbuat apa. Perempuan berwajah kuyu itu hanya melemparkan potongan-potongan kayu bakar ke dalam pendiangan. Kau terpana menatapnya. Wajah perempuan yang kosong itu melahirkan rasa haru yang tak pernah kau kenal sebelumnya. Kau melihat bayang seorang ibu. Kau melihat wajah seorang perempuan yang kesepian. Kau berpikir lagi, menimbang-nimbang apakah kau akan bersarang di dada perempuan itu atau melata pergi.

“Selepas kematianmu, aku sungguh menderita. Rumah ini kosong tanpa dirimu. Terkadang aku berpikir bagaimana jika aku turut bersamamu, mati dan berkalang tanah. Kau tahu? Nisan dengan namaku pun sudah kusiapkan jauh hari yang lalu.” Perempuan berwajah kuyu itu berbicara sembari menatap sebuah wajah dalam bingkai foto.

Kau mengamati foto pria itu. Pria berbadan gempal dengan kumis melintang, senyumnya yang tampak demikian ramah dan menyenangkan mengembang seperti sapaan akrab untuk siapa saja yang memandang foto dirinya. Kau kembali mengamati perempuan berwajah kuyu. Perempuan yang demikian kesepian, ada lara yang selalu bermain di kedua matanya yang bersorot sendu tak bersemangat itu.

Kau mulai menebak-nebak, kesepian yang bagaimana pula dirasakan perempuan berwajah kuyu itu. Betapa mengerikannya kesepian bagi seorang manusia. Kau menimbang lagi apakah kau perlu bekerja atau tidak. Perlahan kau mengintip daftar nama di catatan kerjamu, benarlah perempuan ini yang harus kau pilih untuk bersarang di dadanya. Kau heran, bagaimana bisa bekerja jika keresahan-keresahan dan kepedihan sudah diteguk perempuan ini bahkan sebelum kau bekerja.

“Anak-anak kita itu, seakan tak peduli lagi dengan diriku setelah kepergianmu. Beberapa waktu lalu, putri sulung kita itu bertandang ke sini. Kau tahu apa yang dia tawarkan kepadaku? Sebuah panti jompo yang mungkin bisa kujadikan pilihan. Dia dan anak-anak kita lainnya terlalu sibuk bekerja. Mereka tak hendak merawatku. Dulu aku tak pernah menyangka, betapa menjadi tua adalah sebuah kemalangan yang menyedihkan.” Perempuan berwajah kuyu itu meraba wajah pria di bingkai foto.

Mendengar ucapan perempuan berwajah kuyu, kau demikian terluka. Betapa mengerikannya memiliki anak-anak yang tak peduli seperti itu. Kau memilih menunda kerjamu. Di sisi lain pun kau tampak bingung dengan keadaan di hadapanmu. Di daftar catatanmu, perempuan inilah yang harus kau jadikan sarang. Sebagai kesedihan kau harus bekerja mengoyak perasaannya, tetapi bagaimana bisa sebelum kau bertandang saja dia sudah terlalu menelan luka. Kesedihan seperti dirimu bukan hal baru lagi baginya. Kehilangan suami yang teramat setia, lalu serangkaian pengabaian dan penolakan dari anak-anaknya cukup melahirkan kesakitan yang teramat di hidupnya.

“Lalu, perlukah aku bekerja? Bahkan sebelum aku memulai, kesedihan lain seolah sudah bertandang lebih awal di hatinya.” Kau duduk di bawah kaki perempuan itu. Keresahanmu bertambah sangat, saat waktu yang mengharuskan kau bekerja berdentang di telingamu.

Perlahan kau merayap ke kaki perempuan berwajah kuyu itu. Dengan lembut kau masuk ke dadanya, dan kau mulai bekerja. Ingatan-ingatan yang seolah hendak ditenggelamkan perempuan itu di kepalanya, kau munculkan begitu saja. Sebenarnya kau pun terkejut, tak sengaja kau memunculkan kembali ingatan-ingatan kelam di kepala perempuan itu. Tapi bak air bah yang datang, ingatan-ingatan menyedihkan itu menyeruak di ingatan sang perempuan. Upacara kematian di tengah gerimis di satu hari Minggu kembali bertandang di ingatannya. Bagaimana dia meratapi kepergian lelaki yang teramat dicintainya. Lalu penolakan-penolakan dari anak yang dilahirkan dari rahimnya, melahirkan kesedihan yang teramat sangat di hatinya.

Kau mengawali pekerjaanmu dengan teramat mulus. Tangis perempuan itu pecah, air matanya bercucuran mengalir di pipinya yang cekung keriput. Kau mulai resah melihat bagaimana perempuan itu meratapi kesedihan yang kau cipta. Dengan tangan gemetar, perempuan itu melemparkan potongan-potongan kayu bakar ke dalam pendiangan. Api berkobar mulai keluar dari pendiangan. Kau terkejut melihat bagaimana perempuan itu menjejalkan potongan-potongan kayu ke dalam bara.

“Aku tak bisa lagi menahan kesedihanku, Simon. Aku akan turut bersamamu. Serta kenangan di rumah ini pun akan turut bersamaku untuk bertemu denganmu.” Ucap perempuan itu sembari mendekap foto suaminya.

Kau tertegun. Api menjilati apa saja dan mulai membakar rumah. Tapi perempuan itu tak beranjak meski lidah api telah membakar ujung gaun tidurnya. Tak lama kemudian api mulai menjilati dirinya, dan kau terlambat untuk keluar dari dadanya.[]

Salatiga, Januari 2019





===================
Artie Ahmad lahir dan besar di Salatiga, 21 November 1994. Saat ini menulis prosa adalah hobi yang digemari. Novel barunya Sunyi di Dada Sumirah’ terbit Agustus 2018 di Penerbit Buku Mojok. Kumpulan cerita pendeknya baru terbit ‘Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri’ terbit Januari 2019, di Penerbit Buku Mojok.

Jantung Nini

0

Setiap kali melihat liuk api menyala dalam kegelapan, degup jantung Nini berdetak lebih kencang. Seperti ingin meledak seluruh tubuhnya. Matanya nanap. Napasnya tercekik. Nini seolah terkena sengatan listrik bertegangan tinggi, yang membuatnya mati dengan beberapa getaran paling dramatis, menusuk dan menyakitkan, tepat di jantungnya. Lalu bersusah-payah hidup lagi, tersengat lagi dan hidup lagi. Begitu terus berkali-kali.

Perasaan itu membuatnya terintimidasi. Hingga merasakan semacam desakan ingin buang air kecil berkepanjangan, pada perut bagian bawah. Lalu rasa sakit itu kembali lagi.

Meskipun Nini sudah berupaya dengan berbagai cara agar ia tak tertekan setiap kali gulita menyergap dan pijar api mulai meliukkan nyala, selalu gagal. Bulir keringat dingin perlahan membanjiri dahi dan lehernya. Setelah itu degup jantungnya kembali meningkat tak beraturan. Napasnya memburu dan ujung jemarinya mendingin, pucat pasi. Tapi pandangannya enggan menunduk.

Nini menantang nyala yang berkobar kecil pada sumbu lilin di hadapannya. Tatapannya menyempit dan fokus, terarah lurus ke depan. Api itu meliuk-liuk kuning bercampur jingga kemerahan. Sesekali meninggi oleh semilir angin yang menerobos ruangan. Nini terus berdiam di pojok ruangan dan melawan nyala api di bibir lilin, sembari mengutuki PLN yang tak becus bekerja. Mengakibatkan listrik padam berkali-kali dalam sehari.

Ruangan itu tak lebih besar dari gudang tempat perempuan-perempuan desa menyimpan persediaan bahan makanan di rumahnya. Berlantai keramik tempo dulu, dengan warna hijau kuning yang memudar dan di sana-sini ada bagian yang retak, bahkan pecah. Sudut ruangan dipenuhi dengan tumpukan karung dan barang-barang plastik. Sebuah ranjang kayu dengan tilam kapas yang dilengkapi sebuah bantal dan guling, terletak di salah satu sisinya. Nini akan menghuninya selama sebulan ke depan. Tentu itu bukan keinginannya. Pemilik rumah menempatkannya di sana, atas rekomendasi kepala desa setempat. Ia berada di desa ini untuk membantu menuntaskan kegiatan penelitian yang dilakukan dosennya. Celakanya, sang dosen meminta Nini berangkat duluan, mengumpulkan bahan-bahan permulaan. Sedangkan perempuan parobaya itu dengan ringannya berkata, ia akan menyusul. Entah seminggu, atau dua minggu ke depan.

“Ada tugas bimbingan yang masih harus saya lakukan,” dalihnya.

Bisa apa Nini kecuali mematuhi? Ia hanya ingin menyelesaikan kuliahnya dengan cepat, lalu bekerja, bekerja dan terus bekerja sampai tua.

“Kamu sudah paham, kan, dengan apa yang kita butuhkan? Saya percayakan padamu, ya?” Katanya tempo hari, saat menemani Nini di peron, menunggu kereta. Ia mengangguk,

“Saya sudah menelepon kepala desa dan menitipkan kamu kepadanya. Jadi tak ada yang perlu dicemaskan. Semoga lancar seluruh misi kita, ya?”

Nini mengangguk lagi. Senyumnya dipaksakan. Nini dapat merasakan, sepotong kecemasan yang dingin mengapung di matanya, melambai-lambai memohon kehangatan. Tapi Bu Dosen yang sepanjang waktu disibukkan dengan pesan whatsapp dan dering telepon itu memilih berpaling ketimbang menangguk kecemasan Nini dan mempertaruhkan hasil penelitiannya yang tak selesai tepat waktu.

Mereka menunggu dalam carut-marut pikiran masing-masing. Nini diam-diam menghitung orang-orang yang berlalu-lalang di depannya. Kereta tiba jelang senja dan perempuan itu melepasnya dengan sebuah pelukan yang berjarak.

Deru roda kereta bergemuruh memenuhi rongga telinga dan kepala, menggilas seluruh persediaan doa yang seharusnya ia baca sepanjang perjalanan. Entahlah, ada perasaan yang menguat di dalam dirinya untuk membaca doa demi keselamatan perjalanan. Seperti yang dulu kerap diajarkan ibunya. Do’a itu menguatkan ketika kau merasa lemah dan sendirian, kata ibu. Tapi yang dilakukannya adalah menyumpal mulut dengan sebutir permen. Ia terus melumat permen dan melayangkan pandang ke luar. Sesekali cahaya lampu dari bangunan-bangunan yang seolah berlari, menerobos masuk melalui jendela kereta. Namun lebih banyak hanya gulita yang menyembunyikan sawah-sawah, tembok permukiman, lorong di bawah pilar-pilar jalan layang dan rawa-rawa.

Permen kedua menggantikan dominasi permen sebelumnya atas lidah dan geligi Nini, yang kemudian disadarinya dengan terlambat, berada dalam pengawasan sepasang mata yang seolah-olah terpejam, di bawah lindungan topi hitam. Berulangkali ia memergoki mata itu menatapnya, tapi secepat kilat memejam kembali. Jantung Nini mulai berdegup tak beraturan. Ia mencium aroma bahaya.

Nyala api terus meliuk-liuk, sesekali meninggi.  Berkilat-kilat menjangkau mata Nini. Dan gadis itu masih bergeming. Ia orang asing di desa ini. Maka dalam gulita, menetap di kamar adalah pilihan yang terbaik.

*****

Kota kecil itu seperti permukiman di daerah perang. Gelap, sunyi dan menerka-nerka takdirnya sendiri. Nyala kecil menjentik dari jendela-jendela rumah. Tak cukup terang untuk menelisik apa saja yang dilakukan orang pada setiap rumah. Pukul sebelas malam, cahaya berangsur padam. Orang-orang memilih tidur dalam kegelapan, ketimbang harus merelakan tidur mereka yang kurang nyenyak. Cemas nyala akan berkobar tanpa kendali dan membakar apa saja. Termasuk jiwa mereka yang masih tergantung di alam mimpi.

Tapi api kecil di jendela rumah Nini masih menyala. Ia menunggu ibu, ayah, Tita, Awi dan Fajar. Kata ibu, mereka tidak akan lama.

“Kalau kau takut, jangan tidur terlalu cepat. Bercakap-cakaplah dengan Paman Novan,” kata Ibu sebelum pergi.

“Apakah Paman Novan akan terus di sini?” tanyanya dengan penuh cemas.

“Tentu. Ayah sudah memintanya untuk menemanimu hingga kami pulang.”

“Apakah setan tidak akan muncul dan mencekikku?” kejarnya lagi.

Matanya berkitar memindai sekeliling ruangan dengan cepat. Menelisik sudut-sudut yang ada. Berharap seluruhnya bersih dari setan yang dipercakapkan beberapa bocah sebayanya. Bocah-bocah itu penghuni kompleks perumahan sebelah, yang umumnya dihuni orang-orang kaya. Rumah mereka selalu bersih dan terang-benderang, dengan gordyn-gordyn tipis menghiasi jendela kacanya yang bening. Kata ibu, setiap orang yang melintas di sana pada malam hari, mampu melihat apapun yang dikerjakan setiap penghuni rumah. Anak-anak perempuan yang bermain dengan bonekanya di meja belajar; anak lelaki yang memainkan robot-robotan atau mobil-mobilan di bingkai jendela dengan suara berisik berderum-derum; serta para lelaki dewasa yang membaca koran di sofa ruang keluarga. Tidak..tidak, mereka tak selalu membaca. Koran terbentang lebar, namun wajah mereka lebih sering tenggelam di tubuh para perempuannya yang susah-payah menahan geli dan meredam cekikikan nakal. Itu kompleks cahaya. Nyalanya benderang sama rata. Bukan nyala api.

“Bacalah doa dengan khusyuk. Setan-setan akan pergi dan ketakutanmu akan lenyap seketika,” kata Ibu lagi. Ia berjongkok dan mengusap sepasang mata Nini yang berkaca-kaca.

Ibu, ayah dan saudara-saudaranya pergi begitu lama. Setidaknya begitulah yang dirasakan Nini. Ia telah menyalakan dua batang lilin dan memandangi liuk apinya hingga mereka terbakar habis. Dimainkannya sisa lilin yang telah mencair dan masih panas dengan ujung batang korek api. Lilin ketiga baru saja dinyalakan. Hangat nyalanya menjilat wajah Nini.

Nini terus mengorek-ngorek sisa lilin yang mulai mengeras. Tiba-tiba ia merasakan adanya pandangan yang menusuk tepat di seberangnya, dipisahkan oleh cahaya lilin samar-samar. Sepasang mata. Sepasang mata yang akrab dengan ingatannya. Namun tatapan itu asing. Mata itu berair dan merah. Mata Nini membesar seketika oleh sebab rasa takut yang menjalar. Ia tak melihat wajahnya. Tapi mata itu terasa begitu mengancam.

Itu pasti setan!

Nini sontak menangkupkan kedua telapak tangannya menutupi wajah. Jantungnya berdegup kencang. Otaknya berputar cepat, mencoba mengingat doa-doa yang diajarkan ibu. Lupa. Nini tak bisa mengingat. Ia merutuki jantungnya yang terus berdegup kencang dan mengomeli otaknya yang bebal, tak mampu mengingat. Bahkan sebaris doa.

Setan itu masih di sana.

Nini mengintip dari sela jemarinya yang renggang. Lilin ketiga hampir lumat. Sumbunya  nyaris merupa abu. Nyalanya tiba-tiba meliuk liar. Ada angin yang meniupnya. Angin itu tak terasa hingga ke punggung tangan. Bahkan tak menyelinap ke wajahnya. Tapi Nini mendengar suaranya. Lirih. Lirih sekali.

Itu pasti angin yang diembus setan-setan. Bukankah gelap adalah kerajaan abadi mereka? Begitu dongeng-dongeng ibu menggambarkannya. Ah, doa-doa. Mengapa mereka pergi meninggalkan kepalaku di saat begini? Nini merutuk tiada henti. Rasanya ingin berlari. Namun kakinya melekat kuat ke bumi. Kaki kursi yang diduduki juga. Kakinya dan kaki kursi tengah mengalami kelumpuhan yang ganjil.

Nini memejamkan matanya dengan paksa. Tapi telinganya terbuka. Dan ia mendengar suara angin. Ia juga mendengar langkah kaki, mendekat. Jantungnya berdegup bertalu-talu. Ombak-ombak tinggi pecah di dadanya. Angin itu tiba-tiba berdesir di balik telinganya. Hangat. Seperti angin laut.

“Apakah kau tahu di mana letak jantungmu?” Sebuah suara, serak dan parau, menghampiri telinganya.

Setan itu menginginkan jantungnya.

Nini bergeming beku. Telapak tangannya membekap wajah kuat-kuat. Nini ingin berteriak sekencang-kencangnya, memanggil doa-doa yang bersembunyi di tingkap. Tapi suaranya tercekat.

“Jangan takut. Aku akan menunjukkan di mana letak jantungmu. Dan kau, akan mengingatnya selamanya.” Suara di belakang daun telinganya kini nyaris serupa bisikan. Ia mengakrabi suara itu. Entah di mana.

Nini terlempar pada suatu tempat, di suatu masa. Jauh sekali.

“Aku ingin terbang tinggi. Seperti burung.” Nini mendongak, menunjuk burung-burung yang melintas di atas kepalanya.

“Sini, kugendong.” Lelaki muda itu mengangkat tubuh Nini dengan kedua tangannya. Satu tangan pada dadanya. Satu tangan lagi pada pahanya.

“Rentangkan tanganmu! Kau akan terbang!” teriak lelaki itu. Nini melakukannya. Ia terbang. Berputar-putar. Menukik. Mencelat. Melesat.

Nyala lilin tiba-tiba memerah saga. Lidah apinya menjilat ke sana-kemari. Nini mengintip dari balik jemari. Nyala api memercik kecil, sesekali berkobar, seolah menekan kemarahan.

“Pejam terus matamu. Rasakan jantungmu, dan kau akan terbang.” Nini terhipnotis. Ia melakukan yang diminta suara itu.

Setan itu tak bicara lagi. Tapi Nini merasakan tubuh makhluk itu melekat berat di belakang punggungnya. Ia dapat merasakan irama degup jantung yang kencang di punggungnya. Sementara degup jantungnya semakin liar, tak beraturan. Ia ketakutan, namun seolah kehilangan daya. Satu tangan yang hangat membekap dada kirinya, meremasnya, tepat di dekat jantungnya yang seolah kehabisan darah. Tubuhnya dingin seketika. Gemetar. Lalu seluruh tenaganya terserap sempurna. Kesadarannya hilang.

*****

Nini merasakan dirinya terlempar cepat dan jatuh terjerembab. Ngilu sekujur jantungnya menyerang kembali, menyebar dengan cepat. Ia terduduk di bawah kursi kereta sembari memeluk tubuh erat-erat, melindungi jantungnya yang nyaris sekarat. Baru saja sebuah cengkeraman kasar merenggut daging dadanya dan permen di mulutnya mencelat ke tenggorokan, menyegel teriakannya. Telinganya masih merekam gema jejak-jejak kaki yang berlari menjauh, menuju gerbong belakang, terus ke belakang, lalu lenyap digerus deru roda kereta yang gemuruh. Bangku di depannya kosong, menyisakan satu topi hitam yang berhasil direnggutnya, dengan sisa tenaga yang dibanjiri amarah. Lamat-lamat airmatanya menitik, bergulir tersendat. Gerimis di luar, pelan-pelan mewujud hujan yang murka, menampar-nampar kaca jendela. Orang-orang mengusung mimpi hingga ke pintu surga.

Nini berjalan lambat, menuju meja di salah satu sudut kamar. Tempat di mana nyala api meliuk-liuk pada sebatang lilin yang ditopang mangkuk porselen. Jantungnya kembali bergemuruh, berketuk-ketuk kencang, seakan memuntahkan seluruh degup yang dimiliki.

Nini tersenyum lebar. Ia semakin dekat. Liuk api bergerak-gerak liar oleh angin yang menyusup dari lubang ventilasi di atas jendela. Nini mengulurkan tangannya. Dengan ibu jari dan telunjuk yang terulur berjajar, Nini mendekatkannya pada nyala api. Jantungnya semakin bertalu-talu.

Nini memejamkan mata, mencoba mendengar suara-suara. Kata seseorang –entah siapa- rasa sakit harus dilawan. Ketakutan harus dilawan. Maka dua jarinya yang terulur bersisian itu tiba di antara nyala api. Nini menarik napas panjang. Dilekatkannya ibu jari dan telunjuknya mengapit api yang menyala. Panas. Ditekannya kedua jari semakin kuat. Ia mampu mendengar jantungnya yang berdetak-detak dengan keras, merobek dada. Dan rasa sakit dari masa-masa yang sudah, seolah mengalir ke ujung jemari. Dalam satu sentakan yang kuat, jemarinya mencabut sumbu lilin dan melemparkan batangnya ke sudut ruangan.

Ruangan itu benderang dalam waktu cepat. Tapi Nini sudah menutup rapat matanya. Sembari memejam, senyum Nini terkembang, kedua tangannya terentang lebar. Ia berputar lambat di tempat, membaui asap. Udara sangit. Ia berputar lebih kencang. Semakin kencang. Sebentar lagi, ia terbang. Terbang. Dan jantungnya, akan berhenti menyiksa perasaannya.

Medan, 2020



====================
R. Yulia, lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada 22 Juli. Berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat antara lain di Harian Kompas, Majalah Sastra MAJAS, Seputar Indonesia (SINDO), Tribun Jabar, Tabloid Nova, Majalah Anita Cemerlang, Gadis, Sekar, Lisa, Gaul, Jelita, Story, Bobo, Harian Waspada, Analisa, Jurnal Medan, Singgalang, Haluan, Padang Ekspres dll.

Buku antologi yang juga memuat karyanya adalah Antologi A Cup of Tea for Single Mom (Stiletto Jakarta, 2011), Antologi 600 Fiksi Mini (Kosakatakita Jakarta, 2011), Antologi Kasih Ibu Tak Pernah Putus (Quanta, 2013), Antologi Negeri Poci : Negeri Langit (Kosakata Kita, Jakarta 2014, Antologi Negeri Poci : Negeri Laut (Kosakata Kita Jakarta, 2015), Antologi 1000 Haiku Indonesia (Kosakata Kita Jakarta, 2015), Antologi Taman Fiksi 01 (Taman Fiksi Jakarta, 2015), Antologi Sajadah (2019), Antologi Nominator Lomba Cerpen Kosambi (2020), Antologi Lomba Cerpen Firma Haris dan BWS (2020), dll.

Pada Hari Minggu Ia tak Turut Ayah Ke Kota

0
Jpeg

Hari Minggu yang tidak menyenangkan bagi Kalila. Ia demam setelah permintaannya untuk ikut ayahnya pergi ke kota ditolak keras-keras: tangan kecilnya yang berusaha memegang erat-erat ujung lengan kemeja laki-laki di depannya dikibaskan begitu saja, lalu bocah itu dibentak, “Menyingkirlah!” Padahal seharusnya hari ini ia bisa menabung cerita hari libur banyak-banyak agar besok ketika sekolah ia bisa menjawab pertanyaan teman-temannya, “Pergi ke mana saja kemarin?” atau “Diajak ke mana oleh ayah ibumu? atau “Bermain apa saja kemarin?” tapi agaknya keinginan itu harus lesap seperti uap bubur nasi yang dibawakan oleh ibunya pagi ini setelah selesai mengompres Kalila sambil sesekali menyeka matanya. Bau santan menguar di kamar itu. Di luar seseorang mengecat langit dengan warna biru cerah, tapi rumah bocah itu itu dipenuhi awan murung.

“Besok aku tak ingin ke sekolah,” rengek Kalila sebelum membuka mulut dan membiarkan sesendok bubur yang baru saja ditiupi ibunya berkali-kali masuk.

“Kau boleh tidak ke sekolah jika demammu belum turun.”

Ibunya terus meniup-niup sesendok bubur sebelum dimasukkan ke dalam mulutnya, sedangkan bocah itu membiarkan uap santan menusuk hidungnya dengan lembut, meski perutnya merasa sedikit mual.

“Aku ingin pergi dengan Ayah di hari Minggu, Bu.”

“Kau bisa pergi dengan Ibu, Sayang.”

“Aku ingin punya cerita tamasya bersama Ayah, seperti teman-teman yang lain.”

Kalila tak mendapat jawaban dari ibunya. Ia ingin mengulang kata-katanya tadi, tapi ibunya buru-buru menyuruhnya minum obat lalu segera tidur. Ia tetap tidak bisa tidur meski sudah berusaha memejamkan matanya rapat-rapat dan memeluk boneka beruang cokelat. Kepalanya berisik sekali: ia ingat keributan di rumahnya semalam, ia takut saat teriakan dan bentakan menabrak-nabrak cuping telinganya, sedangkan ia tidak suka bunyi sesuatu yang dibanting keras-keras seperti yang sering dilakukan ayahnya. Ia membayangkan ayahnya berubah menjadi monster berkulit hijau yang buruk rupa dan siap menyiksanya kapan saja.

Keributan-keributan itu terus terjadi sejak Kalila berumur tujuh tahun tujuh bulan dua belas hari, dan berakhir ketika ayahya membentak dan menolak keinginan bocah itu di sebuah Minggu pagi. Setelah demam yang menjakiti dirinya pergi, satu peristiwa yang paling tak bisa ia lupa adalah ketika ayahnya pergi mengabaikan tangisnya sambil menyeret kopor hitam besar dan masuk ke dalam taksi.  

***

Ini sudah satu minggu tapi ayahnya tak lekas pulang. Tiap Kalila bertanya pada ibunya, “Kenapa Ayah belum pulang?” ibunya akan memberi penjelasan bahwa ayahnya sedang tugas ke lain kota sampai entah kapan, atau kadang-kadang mengatakan sesuatu yang sama sekali tak dimengerti bocah itu, “Barangkali Ayahmu sedang dipinjam pekerjaan, atau mungkin kesenangan.”

Senin kemarin Kalila berhasil selamat dari pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya seperti yang terjadi di tiap awal pekan sebelum-sebelumnya karena demamnya masih betah berlama-lama tinggal di tubuhnya, tapi tidak dengan besok. Besok adalah hari Senin dan ia harus memakai seragam merah putih lengkap dengan dasi dan topi untuk mengikuti upacara bendera. Ia tak begitu menyukai upacara karena hanya akan membuat dirinya pusing dan mimisan akibat anemia, tapi ia tidak pernah diizinkan untuk tidak mengikuti oleh gurunya selagi terlihat baik-baik saja.

Kalila memasukkan buku-buku pelajaran yang harus ia bawa ke sekolah besok dengan malas sambil mencoba menawar pada ibunya, “Besok aku tak ingin ke sekolah, Bu.”

“Kau bertengkar dengan temanmu?”

Ia menggeleng.

“Lalu?”

“Aku tidak ingin diejek teman-teman karena tidak punya cerita bagus di hari Minggu.”

“Kau bisa bercerita pada mereka bahwa kau telah menghabiskan hari Minggumu untuk bersenang-senang bersama ibu.”

Kalila merasa tidak puas dengan jawaban ibunya. Ia pikir ia akan menjadi bahan ejekan teman-temannya sampai tamat sekolah nanti. Kalaupun ia bicara seperti yang disarankan ibunya, itu sama saja dengan berbohong karena memang ia tidak bersenang-senang bersama ibunya di hari Minggu, padahal kata guru mengajinya jangan sampai ia berbohong kalau tidak ingin dimakan ular yang menyimpan api di perutnya.

Ia pikir pekerjaan yang harus diselesaikan ibunya saat libur kerja di hari Minggu terlalu banyak: membersihkan wastafel, mengepel lantai, mencuci dua keranjang baju, menyetrika pakaian-pakaian yang mulai menggunung, membikin sarapan, berbicara dengan para tetangga, dan hal-hal lainnya. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan bocah itu untuk mendapatkan cerita berlibur di hari Minggu bersama ayahnya.

***

Kini ia tak lagi mendapati teman-temannya di sekolah dasar yang sering mengejeknya. Tidak ada lagi drama akhir pekan bersama ibu yang harus ia lakukan. Ia tumbuh menjadi gadis lima belas tahun dengan baik bersama ibunya. Kalila lelah menghabiskan masa kecilnya untuk memaksa, marah, atau menangis, tapi tidak sekalipun ia mendapatkan keinginannya: memiliki cerita berlibur menyenangkan di akhir pekan bersama ayah yang bisa ia banggakan di depan teman-teman. Ia mulai pandai membenci ayahnya yang tidak pernah datang, bahkan untuk sekedar mengajaknya berlibur di akhir pekan selama ia duduk di sekolah dasar.

Suatu ketika, di sebuah pagi di akhir pekan yang biasa saja, Kalila mendengar keributan di ruang depan dari kamarnya. Ibunya terdengar meneriakkan sesuatu, lalu terdengar meja atau semacamnya dipukul keras-keras. Ia bergegas keluar, tapi langkahnya terhenti ketika dari jauh ia mendapati seorang laki-laki yang sudah tak lagi ia tunggu datangnya. Segala sesuatu yang terjadi sepeninggal ayahnya ke kota pun berenang dan menyembul-nyembul di kepalanya.

“Pergi!” teriaknya dari kejauhan.

Pertikaian dan adu mulut terhenti. Ibunya masih terisak. Laki-laki itu berlutut menghadap ke arahnya.

“Ayah mohon, Kalila.”

“Tidak ada yang bisa dimohonkan lagi. Pergi!”

Kali ini teriakannya makin kuat, tapi hatinya makin sakit.

Laki-laki itu berdiri dan pergi. Langkahnya seperti orang yang tidak makan sehari, tapi Kalila tak lagi peduli. Pikiran dan hatinya ditusuk-tusuk ingatan buruk. Suara ejekan teman-temannya di sekolah dasar kembali terngiang dan berenang-renang di kepala. Ibunya datang dan buru-buru memeluknya. Mereka tak saling bicara, tapi agaknya peluk itu melegakan sesak di dada keduanya.

***

Tidak ada yang berubah setelah dua minggu sejak kedatangan laki-laki itu ke rumah Kalila. Ia sekolah seperti biasa, dan ibunya berangkat kerja tiap pagi dengan wajah seterang warna bunga matahari. Uap panggangan roti tawar juga tak pernah terlewat setiap pagi. Ia pikir semua sudah kembali baik-baik saja, sedangkan peristiwa tempo hari sudah menguap begitu saja.

Ibunya berpesan sebelum berangkat ke kantor pagi ini: ia akan pulang terlambat karena urusan kantor dan meminta Kalila untuk tidak tidur terlambat. Pagi ini ibunya terlihat lebih cantik dari biasanya: rambutnya sengaja digerai, setelan kemeja biru muda dan celana hitam, sepatu hitam dengan heels pendek yang lusa Kalila pilihkan untuknya saat pergi belanja, serta warna bibir seperti kulit buah stroberi yang mereka makan akhir pekan kemarin di Taman Mekar Sari.

“Ibu berangkat, Kalila. Jangan lupa mengunci pintu dan jendela nanti malam.”

Perempuan itu berlalu setelah sedikit mengacak rambut Kalila. Sepatunya meninggalkan bunyi seiring langkah kakinya. Bau parfum ibunya masih tertinggal dan membuatnya sedikit mual. Kalila menggelengkan kepala dan mengangkat kedua bahunya. Ia pikir ibunya sedang ingin gaya baru.

***

Agaknya semua anggapan Kalila salah. Ibunya tidak ingin gaya baru, tapi ingin kesenangan baru. Malam itu, ibunya dipinjam kesenangan dan lupa cara menyeberangkan dirinya untuk pulang. Pukul tiga dini hari ibunya pulang dengan wujud yang berantakan: dua kancing atas kemeja yang terbuka, rambut kusut, bau alkohol, dan aroma parfum lain yang menempel di tubuhnya. Kalila mendapati ibunya pulang selepas dari kamar kecil.

Berawal dari kejadian itu, Kalila membiarkan dirinya dimiliki kesedihan. Ia tak lagi bicara dengan ibunya sampai hari ke dua lima—hari ulang tahunnya. Pada hari itu, Kalila bercerita pada ibunya dengan tiba-tiba: bahwa ia ingin segulung ombak melalap dirinya cuma-cuma.

Magelang, 2021




===================
Estu Na adalah nama samaran Rifqi Fitriana, lahir di Magelang, 16 Desember 2000.

Teh Hijau Terakhir dan Hari Kepulangan

0

Dia memperkenalkan namanya yang aneh. Mioli. Mirip merek minyak goreng. Tak pernah kudengar nama ini sebelumnya. Barangkali diambilnya dari jenis tumbuh-tumbuhan, atau mungkin benda luar angkasa. Tak juga kutanya lebih jauh, tentang apa arti nama Mioli. Aku baru mengenalnya dua puluh menit yang lalu, dan tentang hal itu akan kutanyakan saat besoknya dan besoknya lagi, jika kami masih bertemu di taman kota ini.

Dia memilih untuk mati dalam keadaan tertidur, katanya seusai menyebut namanya yang aneh itu. Dan aku yang sesekali memperhatikan wajahnya dari arah samping : ada banyak bekas jerawat dan senyum yang manis dengan gingsul kanan kiri berjejalan di sana.

“Ayahku mati dalam keadaan tertidur, dan aku tidak pernah lupa hari itu, saat aku membangunkannya keesokan hari dan ruhnya yang ternyata sudah tidak bersatu dengan raganya.” Hening sejenak, kutunggu kelanjutan ceritanya dengan debar yang tak bisa kugambarkan.

“Padahal ayah masih sempat bercerita banyak di malam harinya, bercerita apa saja, tentang bayi yang baru lahir yang ternyata tidak mengeluarkan air mata saat menangis, juga pria yang kehilangan 40 helai rambut setiap hari dan wanita 70.” Dia masih mendominasi pembicaraan, dengan mata yang menerawang, amat dalam.  Sesekali diselipkannya di telinga, ujung rambut yang lebih sering menutupi matanya.

“Dari situ, aku menyadari satu hal, tak ada tempat paling damai di dunia ini selain di kamar dan sendirian, tak ada siapa-siapa, kemudian mati dalam keadaan tertidur.”

Selebihnya, kami larut dalam pikiran masing-masing. Atas dasar apa, kenapa dia menjadi seterbuka itu.  Hingga kemudian dia bungkam setelahnya, barangkali baru sadar telah bercerita terlalu banyak dengan orang yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu. Dan aku yang tak juga mengatakan apa-apa, selain namaku yang sempat kusebut pada saat perkenalan tadi.

Lato’ berpulang pagi kemarin. Kepulangan yang mendadak. Hanya sakit kepala sebagaimana umumnya dia memang sering mengeluhkan kepalanya sejak dulu, memintaku memijitnya, dan dia yang kemudian tidak bergerak lagi setelah itu. Napasku seolah ikutan lepas saat itu juga, bahkan untuk keluar sepatah kata pun, semua tertahan rapat di kerongkongan. Segala sesuatunya menjadi serba buru-buru. Lato’ dibawa ke rumah sakit. Dan pecahlah yang dari tadi tertahan, saat dokter keluar masih dengan seragamnya yang lengkap, membawa kabar yang tidak baik itu. Lato’ sudah tidak ada lagi di dunia.  

“Kamu mau mati dalam keadaan apa?”

Aku baru sadar, telah dari tadi mendiamkan pertanyaan Mioli. Pertanyaan yang jelas ditujukan kepadaku seorang. Dan aku yang sama sekali tidak siap untuk memberi jawaban apa-apa. Belum pernah terpikirkan sebelumnya. Bagiku, hidupku mungkin masih seribu tahun lagi, dan berharap lebih dari itu, jika boleh.

“Kamu mau mati dalam keadaan apa?” Pertanyaan yang kembali diulang.

“Membaca buku,” Jawabku ragu. Pun atas dasar apa, kenapa cuma kalimat itu yang terlintas saat ini.

“Membaca buku?” Dia menatapku dengan tawa yang sulit kujabarkan. “Duduk? Berbaring?”

“Apa saja … duduk atau berbaring, bagiku sama saja, aku ingin mati dalam keadaan membaca buku.” Kali ini, berangsur-angsur keraguanku menguap.

“Buku apa?”

“Buku apa saja, selama itu buku yang baik-baik …”

“Memang ada buku yang tidak baik?”

Mata kami bertatapan, sepersekian detik. Tak ada jawaban, karena sebenarnya dia pun tak butuh itu. Tapi menarik, sepertinya akan mulai kupikirkan buku apa yang harus kupersiapkan setelah ini. Barangkali Novel karangan Haruki Murakami akan menjadi salah satu kandidat terkuat, setelah menamatkan 1Q84 dan aku jatuh cinta dengan karakter Aomame.

Lato’ sering kudapati bangun tengah malam, terduduk lama di ruang tengah di bawah temaram lampu pijar yang cuma satu-satunya di dalam rumah yang akan menyala sampai pagi. Menekuri tumpukan-tumpukan buku yang sudah tidak beraturan di sana. Ada banyak buku, kata Lato’, hanya buku-buku yang bisa dia wariskan untuk keturunannya. Dan itu cuma aku, seorang. Pernah sekali dua kali kusampaikan, bahwa aku sepertinya tidak butuh buku. Bagiku, buku-buku hanya akan menambah sampah kertas yang membuat sesak isi bumi. Dan Lato’ yang mengacak rambutku dengan gemas, dengan umpatan kasarnya yang tak pernah benar-benar serius kumasukkan dalam hati.

“Tapi ada juga orang yang mau mati dalam keadaan sujud.” Mioli kembali mengoceh, menyadarkan kepalaku yang sudah bergerilya tak beraturan. “Biar dekat dengan Tuhan, katanya.”

“Benarkah orang yang mati dalam keadaan sujud sudah pasti masuk surga?” Dan mata kami yang kembali bertatapan, sepersekian detik. Dan lagi tak ada jawaban, karena sebenarnya dia pun tahu, aku tak tahu sama sekali hal itu.

Lato’ punya satu-satu anak di dunia, Emma’, ibuku, dan saban hari Lato’ sudah menganggapnya tak ada di dunia. Sudah kupertanyakan, bagaimana mungkin dia tidak menganggap ada kehadiran ibuku, sementara anak yang dilahirkannya dia rawat dengan baik. Katanya, kehadiranku bukan atas permintaan siapa-siapa, dan tak ada kesalahan sebesar biji zahrah pun yang kuperbuat atas apa yang telah dilakukan ibuku. Emma’ melahirkanku di usianya yang masih 14 tahun. Dan aku tak pernah mengetahui siapa bapakku. Kata Lato’, anggap saja aku terlahir sebagaimana halnya Nabi Isa dilahirkan. Tentu saja aku tak menerima itu, andaikan seperti Nabi Isa, kenapa Lato’ tak juga menganggap ada Emma’ sebagaimana halnya Maryam yang tetap dirawat penuh cinta oleh ayahnya, Imran. Dan lagi, Lato’ yang akan kembali mengumpat dengan kasar setiap ada dalil yang kuakui kebenarannya, dan tentu saja tak pernah benar-benar kuseriusi untuk memasukkannya kembali dalam hati. Baru belakangan ini, tiba-tiba saja kepalaku menjadi penuh, menebak-nebak bagaimana hubungan ayah dan anak antara Lato’ dengan ibuku. Karena sudah begitu lama, tak sekali pun kutemui kerinduan Lato’ terhadap ibuku, setidaknya mencari tahu dimana kini anak semata wayangnya berada. Sebagaimana halnya dia yang seringkali menyebut-nyebut nama nenekku yang sudah berpulang terlebih dahulu, bahkan mendapatinya menangis diam-diam dengan sebuah foto yang kadang dipeluknya begitu dalam seperti memeluk manusia.  

“Aku mau pulang, tadi siapa namamu? Besok jika berkenan kau datang lagi ke sini.” Mioli kembali mengacak-acak isi kepalaku, buyar seketika itu.

Bahkan namaku tak sempat kuulang, dia sudah beranjak pergi dengan ujung rambutnya yang berlomba diterbangkan angin sore paling nanar kala itu.

***

Seketika itu, aku dan Mioli menjadi pencerita dan pendengar yang saling melengkapi. Di taman kota yang tak pernah benar-benar ramai oleh pengunjung. Lebih seringnya mengakhiri perjumpaan dengan keheningan yang cuma kita bisa memaknainya masing-masing. Perjumpaan yang tak juga benar-benar bisa dikatakan panjang, hanya kisaran tiga puluh menit, mungkin sedikit lebih dari itu.

“Kemarin pagi, seorang penyair berpulang.” Sore itu dia membuka perjumpaan. “Kematian yang dijejali ucapan bela sungkawa dengan mengutip puisi-puisi ciptaannya, aku juga ingin mati dengan ingatan baik orang-orang kepadaku.”

Kembali hening, kali ini dia mengikat rambutnya hingga leher jenjangnya terlihat dengan sempurna.

“Dia masih sempat meneguk sedikit teh sebelum akhirnya pulang, dan itu teh terakhirnya di dunia.”

Tentang teh, akan sedikit kuceritakan bagaimana Lato’ begitu mencintainya. Baginya, pembuka hari yang baik adalah secangkir teh panas dengan camilan apa saja, atau tidak ada sama sekali tidak mengapa yang penting ada teh. Aku menjadi pembuat teh terbaik bagi Lato’. Takaran gulanya pas : tawar tapi manis, rasa yang sulit kujabarkan bagaimana Lato’ selalu memuji teh buatanku. Pada hari kepulangannya dia masih sempat meneguk habis teh buatanku, memujinya berulang kali, pujian yang sama setiap hari, dan aku tidak pernah tahu bahwa itu menjadi teh terakhirnya di dunia.

“Nanti sebelum aku mati, ingin kunikmati secangkir coklat dan roti bakar isi selai mentega.”

Kembali hening menyelimuti.

“Kamu sendiri? Makanan apa yang ingin kamu makan sebelum mati?” Mioli menangkap ekor mataku, penuh rasa penasaran, kira-kira jawaban asal apa lagi yang akan keluar dari mulutku.

“Jambu merah dengan cocolan kecap pakai garam dan tiga cabe rawit.”

Tawanya pecah. Tawa pertama yang terdengar semenjak pertemuan kami. Barangkali dia sudah menebak akan muncul kata-kata seperti itu. Pun dari mana kutemukan ide tentang makanan yang akan kumakan sebelum mati. Kutertawai diriku sendiri, dalam hati.

“Andai saja kita bisa meminta macam-macam … “ Dia masih berusaha menormalkan nada bicaranya, setelah diguncang tawa hebat beberapa saat lalu. Dan setelahnya, dia kembali mendominasi pertemuan-pertemuan, bercerita apa saja. Kali ini tentang langit yang lebih biru dari biasanya.

“Aku mau pulang, siapa lagi namamu? Besok jika berkenan kau datang lagi ke sini.”

 Dia sudah beranjak pergi dengan nama yang lagi-lagi tak sempat kuulang. Kuamati tubuhnya sampai benar-benar hilang. Tinggal aku sendiri, dengan orang-orang di sekitar yang juga punya kesibukannya masing-masing.

Aku dan Mioli kemudian menjadi teman yang aneh. Berjumpa kemudian berpisah, meninggalkan obrolan receh yang sebenarnya tak pernah benar-benar disebut obrolan. Yang sering malah hening yang membersamai, agak lama. Kemudian bubar begitu saja. Kemudian Mioli yang tak lagi muncul setelah hari itu. Berhari-hari. Terakhir pada hujan gemericik pada sore kala itu, di bawah pohon dan dia yang lebih sering dari biasanya menyelipkan ujung rambut di telinganya karena sudah mulai tumbuh panjang.

“Jika besok aku tak lagi datang, barangkali aku telah pulang.”

“Pulang kemana?”

“Pada Tuhan.”

Mata kami bertatapan, dan dia yang tertawa hebat lagi, dengan bola mata yang tak terlihat saking sipitnya. Barangkali, menertawakan wajah datarku atau mungkin menebak kata-kata asal apa lagi yang akan muncul kemudian. Dan aku yang tak menganggap lucu sama sekali semua ini. Melainkan, ada perih yang tiba-tiba saja menyeruak begitu hebat.

Lato’ pernah menyampaikan hal serupa. Persis seperti itu. Seminggu setelah kepulangannya, dan aku tak peka dengan firasat yang bisa saja menjadi alamat tentang kepulangannya. Pun Lato’ menyampaikan dengan nada bicara yang wajar sambil menyapu debu-debu yang menempel di bukunya, sambil sesekali meneguk teh buatanku yang barangkali sudah berembun dingin di sana.

Hingga berhari-hari, aku menunggu Mioli, dan selama itu pula dia tak lagi muncul. Aku menyesali, kenapa tak pernah kutanyakan alamatnya atau sedikit mengetahui latar kehidupannya. Kali ini, seperti orang gila, aku menunggu Mioli. Berharap dia tiba-tiba saja muncul, mengagetkanku, dengan menutup mataku terlebih dahulu, dan jika itu terjadi aku berjanji akan memeluknya sangat lama, menangis pun tak mengapa. Tapi Mioli tak pernah muncul. Dan rasanya, susah untuk menerima kenyataan jika Mioli benar-benar telah berpulang, dan aku yang belum pernah bercerita banyak. Tentang hari-hari kepulangan yang harus selalu dipersiapkan.

 “Dia berpulang beberapa hari yang lalu, kepulangan yang memprihatinkan, menenggak racun karena telah hamil empat bulan.”

Seorang perempuan yang menggantikan kehadiran Mioli sore itu, datang tiba-tiba dengan raut wajah yang pucat. Kemudian pergi begitu saja, tanpa ada kata lagi setelah itu, meninggalkanku dengan air mata yang mulai turun satu per satu.

Beberapa hari yang lalu, kuperhatikan baik-baik foto yang selalu dipeluk Lato’ dengan tangis diam-diam yang dilarungnya sendiri. Foto yang terselip di salah satu buku favoritnya, Kitab Ihya Ulumuddin, ada foto nenek di sana, juga ternyata ada foto ibuku yang ditempelnya berdekatan. Baru benar-benar kuperhatikan, dan sadar akan hubungan seorang ayah dan anaknya, bahwa dia akan memaafkan dengan cara yang berbeda, menerima, melepas dan mendoakan teramat dalam, diam dan tangis.  Karena barangkali teramat luka di hati sana, mengetahui anak kebanggaannya, yang dia siapkan untuk menjadi penceramah masa depan, ternyata hamil di luar nikah.

Mioli, ah … andai saja sempat aku menceritakan pada bagian ini saja. Bahwa masing-masing orang akan pulang dengan cara-cara yang tak bisa ditebak. Mioli, Mioli … dengan suara tertahan aku merapal nama itu dengan perih yang tak bisa kujabarkan.

“Hai … siapa lagi namamu? Aku kira kita tidak akan bertemu kembali, aku baru saja pulang dari Kalimantan, agak lama memang, mendiskusikan sesuatu dan aku tidak tahu bagaimana caranya mengabarkan hal itu kepadamu.”

 Tenggorokanku tercekat. Tangis yang tadinya jatuh berderai seolah masuk kembali. Bumi berhenti berputar seketika. Di depanku ada Mioli. Mioli yang aku kenal dengan ujung rambutnya yang lebih sering menutupi matanya.

“Bukannya kamu telah meninggal?” Ragu kusampaikan hal itu padanya, dan disambut dengan tawa sebagaimana tawa-tawa di hari sebelumnya.

“Meninggal dengkulmu.” Dia mengambil tempat di sebelahku, kembali mendominasi perjumpaan, dengan cerita-ceritanya, kali ini tentang Kalimantan, dengan cerita yang lain dari biasanya, tentang rekayasa genetika yang cepat atau lambat akan menjadi penyebab serius masalah kesehatan bagi manusia. Dan aku yang mengamatinya masih dengan perasaan yang tak lagi bisa kutebak.  

Aku ingin pulang sambil membaca buku, sirah nabawiyah, dan secangkir teh hijau dengan bolu gulung isi selai coklat. Akan kuralat sebagian yang pernah kusampaikan padanya, jika yang di hadapanku sekarang memang benar Mioli, dan semoga ini bukan halusinasi semata.***

Lato’ = kakek (dalam bahasa Bugis)

Emma’ = ibu (dalam bahasa Bugis)


===============
Chaery Ma, penikmat teh hangat dan menyukai segala hal tentang pagi. Sudah menulis sejak kecil dan punya mimpi bisa keliling dunia. Cerpen-cerpennya telah dimuat antara lain di Jawa Pos, Republika, dan Detikcom. Cerpen “Rumah Hujan” masuk dalam salah satu cerita anak terbaik tema kearifan lokal yang diadakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2016; Cerpen “Laki-laki Itu dan Mulutnya yang Selalu Berselawat” masuk dalam 10 besar terbaik tema Rasulullah oleh Penerbit Diva Press.

Lelaki di Persimpangan Jalan

0

Untuk ke sekian kalinya aku melihat gadis itu kembali berdiri tepat di balik jendela kamarnya yang berlapis jeruji besi. Matanya menatap lurus ke depan. Sesekali dia tersenyum tersipu malu, dan menundukkan wajahnya. Ah, ingin rasanya aku menyusup ke dalam benaknya: mencari tahu apa yang membuatnya tampak berbeda. Tenang, tak gelisah seperti biasanya.

Sudah seminggu gadis itu menjadi penghuni kamar VIP di ruang rawat tenang, setelah hampir tiga bulan menjalani perawatan di ruang rawat jiwa intensif. Kamarnya berada tepat di depan nurse station, tempat aku bergumul dengan setumpuk pekerjaan yang terkadang amat menjenuhkan. Di sela-sela kesibukan yang tak kunjung usai, acap kali aku mencuri-curi pandang pada jendela itu. Aku menyukai senyuman lembut di bibir indah gadis itu saat sinar matahari pagi mengecup wajah cantiknya. Tak jarang, matanya yang bening seperti air telaga itu beradu pandang dengan mataku yang tak kuasa menyembunyikan kekaguman.

Aku ingat saat pertama kali dia datang ke tempat ini. Diantar kedua orang tuanya gadis itu masuk ruang IGD. Aku yang saat itu bertugas begitu kerepotan dibuatnya. Gadis itu menolak untuk diperiksa. Dia menjerit, menerjang, memukul semua orang yang ada di dekatnya. Benda-benda yang ada di sekeliling pun tak luput menjadi sasaran amarahnya. Orang tuanya bilang, itu bukan kali pertama anak mereka mengamuk begitu. Aku pun terpaksa menghunjamkan suntikan penenang padanya, hingga dia terkulai tak berdaya, seperti bayi yang tertidur ditimang ibunya.

Berbilang hari hingga bulan berganti, pesona gadis itu semakin menjadi-jadi. Aku tak kuasa menahan diri. Bahkan kini, kehadiran sosoknya di balik jendela itu selalu kutunggu, serupa candu. Padahal, beberapa menit sebelumnya aku baru saja kembali dari kamarnya. Mungkin gadis itu pun merasakan hal yang sama, sebab setiap kali mata kami bertemu, bibir indah itu selalu merekah memperlihatkan dua gigi kelinci yang membuatnya semakin terlihat manis. Meski dari jauh, aku dapat menangkap isyarat yang dilemparkan gadis itu, bahwa ia menyukai keberadaanku.

“Kamu suka sama Nayla?”

Suara Dokter Fitri membuatku menahan napas. Entah sejak kapan psikiater senior itu berada di sebelahku. Aku gelagapan menyentuh benda apa pun yang ada di meja kerjaku.

“Saya perhatikan, kamu memberikan perhatian lebih pada Nayla dibandingkan pasien lainnya.” Dokter Fitri menarik bangku kosong, dan duduk di hadapanku.

Ah, sejak kapan Dokter Fitri memerhatikan gerak gerikku? Mungkinkah selama ini aku terlalu terlena dengan keberadaan gadis cantik bernama Nayla itu? Hingga tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasiku.

“Kondisi mental Nayla baru saja stabil. Jangan memberikan harapan apa pun padanya. Kita semua tahu bahwa itu tidak mungkin.” Suara Dokter Fitri terdengar penuh penekanan.

Rasanya ingin saat itu juga aku menghilang ke dasar bumi dan tak pernah muncul kembali di hadapan Dokter Fitri. Wanita paruh baya itu telah menelanjangi perasaanku, dan membuka tabir rahasia yang selama ini kututup rapat-rapat itu. Tak ada pilihan lain, aku hanya bisa mengangguk. Jika pasien-pasien di sini saja bisa luluh di hadapannya, lantas aku bisa apa?

Kuputuskan untuk mencoba mengubur dalam-dalam semua angan tentang Nayla. Menghindar untuk tidak menatapnya walau hanya sedetik saja. Aku takut kembali khilaf. Namun, aku terlambat. Tampaknya hati Nayla terlanjur masuk dalam jerat yang terpasang di depan jendela kamarnya. Setiap hari, dia memandangku dari kaca jendela berterali besi itu. Aku selalu pura-pura tak melihatnya. Namun, sesekali hatiku goyah juga. Sedikit saja aku meliriknya, dengan cepat dia akan melambaikan tangan sambil tersenyum. Lalu memberi isyarat agar aku datang ke kamarnya. Aku menggeleng. Nayla menempelkan kedua telapak tangannya sebagai tanda memohon padaku. Maka terjadilah peperangan putih dan hitam di jiwaku. Si hitam unggul dan berhasil menyeret kakiku untuk diam-diam menemui Nayla di kamarnya.

Stabil di bawah pengaruh obat, dia akan menceritakan banyak hal dan aku mendengarkannya dengan sabar. Aku pikir, siapa pun tak akan pernah menyangka bahwa mahasiswi tingkat empat fakultas farmasi itu menderita gangguan jiwa. Skizofrenia merenggut masa mudanya. Gadis itu jengah selalu dituntut menjadi anak yang sempurna. Masa kanak-kanak dan remajanya dirampas oleh jadwal les yang tak berkesudahan. Cita-citanya untuk menjadi pelukis terkenal, dibunuh oleh kehendak orang tuanya.

Semakin lama kami semakin dekat. Mungkin banyak hal yang membuatnya nyaman ketika berada di dekatku. Oh, Tuhan. Inikah rasanya dosa yang manis itu? Semanis senyum Nayla yang mengajakku ke taman rumah sakit. Aku menolak dengan halus. Dia merajuk, menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. Aku melirik Dokter Fitri yang berada di depanku untuk meminta izin. Dokter Fitri diam saja. Sepertinya dia juga bingung harus berbuat apa.

Pagi ini wajah Nayla bersinar secerah matahari yang terasa hangat di kulitku. Kami duduk berdua di bangku taman, menikmati kicau burung yang terbang rendah berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya.

“Mau lihat ini enggak?” tanyanya sambil menunjukkan sebuah gulungan karton putih yang sedari tadi digenggamnya. Aku mengangguk.

Perlahan dibukanya gulungan karton itu, sementara mataku mengikuti setiap gerakan jari-jarinya yang lentik itu. Sedetik kemudian aku tak tahu harus memberi reaksi apa saat gulungan itu terbuka. Terlihat sebuah sketsa wajah seorang perempuan dan laki-laki. Pipi kanan si lelaki menempel di pipi kiri si perempuan. Dalam sketsa itu, mereka tersenyum lebar hingga mata mereka menyipit, terlihat sangat bahagia.

“Ini … kita?” tanyaku ragu. Nayla menunduk, tersipu malu. Terlihat dari pipinya yang memerah. Tak bisa dipungkiri aku sangat bahagia. Ingin sekali aku menggenggam tangannya, dan memuji karyanya itu. Namun, aku menahan diri. Aku sadar banyak mata yang diam-diam sedang mengawasi kami. Aku juga tahu bahwa setiap dinding dan pintu di rumah sakit ini bertelinga. Nayla menyerahkan gulungan itu padaku. Aku tak sempat bilang terima kasih, sebab dia langsung berlari kembali ke kamarnya.

Nayla, Nayla, Nayla. Nama itu terus menggema di pikiranku. Wajahnya selalu hadir mengisi hari-hariku. Dia yang kekanak-kanakan, tetapi sangat kurindukan. Semenjak gadis itu pulang satu bulan lalu, aku hampir gila dibuatnya. Dokter Fitri mengizinkan Nayla untuk rawat jalan, sesuai permintaan keluarganya. Rasanya dunia ini begitu hampa. Tak ada lagi gadis yang berdiri menatapku dari jendela di depan sana. Tak ada lagi alasan yang bisa membuatku betah berlama-lama di rumah sakit. Aku merasa kehilangan gairah hidup. Apakah di sana dia pun merasakan hal yang sama? Atau bahkan sebaliknya: dia sudah melupakanku begitu saja?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja memenuhi ruangan di kepalaku. Hingga akhirnya, sore ini semua pertanyaanku itu terjawab sudah. Tergopoh-gopoh aku menuju tempat parkir. Dokter Fitri sudah menungguku di sana. Nayla relaps, dan berusaha melukai dirinya sendiri. Bukan tanpa alasan aku diminta Dokter Fitri ikut ke rumah Nayla. Ternyata selama di rumah, gadis itu tak pernah mau meminum obat. Padahal obat-obat itu adalah nyawa bagi seorang penderita skizofrenia. Nayla hanya mau minum obat jika aku yang memberikannya. Setidaknya, kabar itu yang disampaikan ayah Nayla pada Dokter Fitri lewat sambungan telepon.

“Maaf, Dok. Lama,” ucapku setelah menjatuhkan bokong di kursi penumpang. Dokter Fitri tersenyum tipis, kemudian mulai mengemudikan mobilnya keluar dari gerbang rumah sakit.

Bertahan Nayla, sebentar lagi aku akan berada di dekatmu. Dan aku ingin kamu dalam keadaan baik-baik saja. Hatiku mulai gelisah. Telapak tanganku basah. Segala pikiran buruk tentang Nayla memonopoli perasaanku. Hingga aku tak menyadari sejak kapan mobil ini memasuki jalan tol dan melaju dengan kecepatan tinggi. Samar di antara deru mesin mobil yang saling bersahutan, terdengar ponsel di tasku berdering. Kuambil, terlihat ada panggilan tak terjawab dan sebuah pesan di aplikasi whatsApp.

“Mas, cepat pulang! Aku pecah ketuban.” 

Tiba-tiba saja pandanganku mengabur ketika pesan itu selesai kubaca. Aku merasa terjepit di antara dua bukit. Napasku begitu sesak. Semakin sesak hingga jantung pun terasa berhenti berdetak saat Dokter Fitri mulai mengurangi laju mobilnya. Seratus meter lagi mobil ini akan keluar dari gerbang tol. Itu artinya aku hanya punya waktu beberapa menit saja untuk berpikir. Di depan sana, ada persimpangan jalan. Kanan menuju rumah Nayla. Kiri menuju rumah mertuaku, di mana istriku sedang menunggu. Lantas jalan mana yang harus segera kupilih?*



==================
Teni Ganjar Badruzzaman lahir di Ciamis 1988. Ibu rumah tangga yang gemar menulis dan membaca cerita. Cerpen dan cernaknya dimuat di beberapa media dan antologi.

Kutukan Hai Leng Ong

0

KAKEKKU seorang bajak laut dan penyelundup. Tidak terlalu produktif dalam pekerjaannya menurut standar modern, tetapi meskipun begitu cukup lumayan sebagai pencari nafkah. Keluarga kami pada saat itu tinggal di salah satu ruko sepanjang Jalan Telok Ayer dekat Kuil Thian Hock Keng. Namun Ah Kong, begitu kami memanggil Kakek meski kami tidak pernah mengenalnya secara pribadi, hampir sepanjang waktunya berada di laut. Atau di tempat lain.

Usai karirnya yang panjang tapi tidak terlalu sukses Ah Kong akhirnya ditangkap oleh Inggris dan dideportasi ke Amoy, di mana tanpa terhalang oleh usia dia segera memulai dengan gairah yang wajar untuk membangun keluarga lain. Setelahnya, dia juga mulai memohon tanpa henti kepada keluarganya di Singapura untuk mengirimkan uang tunjangan guna membantunya dan cabang Amoy baru dari keluarga kami.

Nenek menolak mengirimkannya sepeser pun dari timbunan hartanya yang sedikit yang tanpa bisa dihindari tertinggal bersamanya. Tapi anak-anak lelaki Ah Kong berhemat dan mengirimkan uang mereka sendiri secara berkala. Ya, kurang lebih. Berkurang seiring berjalannya waktu. Sampai mereka kehilangan kontak dengannya untuk selamanya (syukurlah!) pada saat perang terakhir.

Ah Kong pastinya tokoh yang sangat menarik. Banyak kisah diceritakan tentangnya. Bagaimana dia bertarung sendirian melawan segerombolan bajak laut lain dan menghindari penangkapan dengan melompat dari tebing setinggi 100 meter (Dari mana coba dia menemukan tebing seperti itu untuk melompat di bagian ini?). Bagaimana kapalnya karam di pulau terpencil dan hampir dimakan hidup-hidup oleh kepiting-kepiting pemakan manusia besar (dia selamat dengan mengalahkan kepiting-kepiting dan memakan mereka). Bagaimana dia suatu waktu berhasil berenang dengan tenang dan aman melewati sekumpulan hiu tidur.

Cerita yang paling luar biasa adalah mengenai saat dia jatuh dari kapalnya dan tenggelam. Iya, tenggelam sebagaimana mati.

Setidaknya dia mengaku dia mati. Dia adalah perenang yang tangguh, tapi dia menjelaskan dia tertarik jauh ke bawah permukaan oleh rantai jangkar kapal yang telah melilit kakinya saat dia jatuh dari kapal.

Lalu suatu keajaiban terjadi. Dia melihat, dalam semacam penglihatan kematian roh bawah laut yang terkenal jahat itu, sang Raja Naga Lautan, Raja Neptunus jika kau mau, Hai Leng Ong dalam bahasa Tionghoa, Nick tua dari Lautan Dalam. Tuan itu memberikannya tawaran yang tidak bisa dia tolak.

Maukah dia menerima kutukan sebagai imbalan untuk menyelamatkan hidupnya yang menyedihkan?

“Tentu saja,” balas Ah Kong yang tahu dia tidak dalam posisi untuk menawar.

“Maukah kau memberikanku salah satu anak perempuanmu sebagai pengantinku? Siapa pun yang kupilih?” tanya Hei Leng Ong.

“Pastinya,” jawab Ah Kong tanpa ragu sedikit pun. Dia tidak memiliki anak perempuan saat itu, sah maupun yang bukan. Sejauh yang diketahuinya.

“Itu termasuk anak perempuan yang belum dilahirkan,” Hai Leng Ong menyatakan dengan ketentuan tambahan, tersiagakan oleh kesediaan penuh rela Ah Kong.

“Tidak masalah,” Ah Kong setuju hanya setelah ragu sejenak. Lagi pula anak perempuan mudah didapat.

“Bagaimana jika aku tidak menyukai satu pun anak perempuannya?” renung Hai Leng Ong, lebih kepada dirinya sendiri daripada untuk Ah Kong.

“Kalau begitu siapa pun dari generasi berikutnya. Cucuku yang mana pun.” Ah Kong menawarkan, murah hati dan, boleh dibilang, dengan sangat tidak peduli.

Dengan disepakatinya perundingan yang memuaskan, Hai Leng Ong mengibaskan ekornya yang pendek tetapi kuat (Dia memiliki satu dan ekornya mempunyai mata panah di ujungnya, setajam tanduk-tanduk kecil yang menghiasi dahinya). Dengan sapuan agung trisulanya, Hai Leng Ong membebaskan Ah Kong dari rantainya dan mengirim tubuhnya terayun-ayun naik ke permukaan lengkap dengan nafas kehidupan baru. Rekan-rekan Ah Kong melihatnya dan menariknya.

Ah Kong terlahir kembali, bisa dibilang begitu, keluar dari air dan sejenis roh. Tetapi dia telah meninggalkan keturunannya dengan iblis untuk membayar.

Nenek biasanya menakuti kelima anak perempuannya dengan kisah itu. Sebagai anak-anak mereka ketakutan setengah mati. Tetapi seiring mereka dewasa ketakutan mereka juga berkurang.

Mungkin itu karena mereka menyadari kalau mereka tanpa terkecuali adalah lima gadis paling jelek di Singapura masa silam. Dan tentu saja masing-masing dari mereka mulai berkhayal secara diam-diam bahwa Hai Leng Ong akan dengan senang hati datang dan mengeklaim mereka, sesuatu yang lebih baik daripada tidak ada. Siapa yang tahu, bisa jadi dia seorang suami yang seksinya minta ampun, meskipun omongan buruk beredar tentangnya?

Ternyata, Hai Leng Ong rupanya memeriksa dengan teliti semua dari mereka dan akhirnya mereka harus puas bertunangan melalui pernikahan yang diatur dengan beberapa orang jelata miskin yang (orang-orang malang!) menerima mereka dengan tidak melihat terlebih dahulu sebagaimana praktik adat yang berlaku dalam transaksi semacam itu.

Mei dan aku lahir dari anak laki-laki ketujuh dan termuda Ah Kong yang masih bayi ketika Ah Kong diasingkan. Ibu kandung kami meninggal saat kami masih kanak-kanak dan kami dibesarkan oleh ibu tiri yang memberikan kami seorang saudara laki-laki tiri.

Setengah saudara laki-laki adalah tepat. Ah Too tampak seperti setengah saudara laki-laki, setengah saudara perempuan. Dia bisa jadi sangat kecewek-cewekan kadang-kadang.

Semenjak kanak-kanak dia akan sering berpakaian seperti perempuan dan lebih memilih ditemani gadis-gadis. Ini mugkin karena ibu tiri kami selalu sangat memanjakan dan protektif kepadanya. Dan mungkin juga karena dia terbiasa mendandaninya sebagai perempuan sampai dia memasuki usia sekolah. Bagaimanapun, ini dilakukan dengan alasan yang sangat logis, yaitu untuk mengelabui para roh jahat yang memiliki kebiasaan membunuh anak laki-laki. Ini juga adalah alasan kenapa dia dipanggil Ah Too (yang berarti “babi”)untuk mengelabui roh jahat bodoh yang sama kalau dia bahkan bukan manusia apalagi maskulin.

Saat kami tumbuh dewasa, pertama ayah meninggal dalam perkelahian geng perkumpulan rahasia (perkelahian pertamanya dan sangat disayangkan juga yang terakhir, walaupun seperti yang dikatakan pemimpin gengnya pada kami, kelompoknya menang). Dan kemudian ibu tiri kami meninggal karena tuberkulosis. Kedua penyebab kematian ini sangat umum pada waktu itu.

Hidup tidak terlalu buruk meski tanpa ayah dan ibu dan ibu tiri. Nenek seorang yang tahan banting dan dia merawat kami dengan tenang. Dia bekerja sebagai penjaja. Untuk pekerjaan sampingan dia adalah penyelundup untuk sindikat judi chap-ji-kee. Dan dengan ancaman kasar dan kutukan vulgar sejenisnya yang jarang terdengar sekarang bahkan dalam lingkungan paling tidak sopan sekalipun, dia mengumpulkan upeti dari anak-anak lelakinya yang lain. Dia berhemat tetapi dia membesarkan kami dengan pendidikan yang layak, bahkan juga Mei. Ini tidak biasa karena tidak banyak perempuan yang diberikan pendidikan pada masa itu.

Ah Too dan aku menikmati masa kanak-kanak kami. Kami bisa berkeliaran ke mana-mana sesuai keinginan kami, aku lebih banyak daripada Ah Too. Aku menangkap ikan dari Johnson Pier, menerbangkan layang-layang di lapangan sekolah Ai Tong dan saat bulan membahagiakan Ulambana, kami menonton wayang jalanan dan pelelangan makanan berlimpah sisa dari persembahan untuk Hantu Lapar (yang barangkali tidak lapar sama sekali).

Bagi Mei, hidup tidak semudah itu. Dia harus membantu pekerjaan rumah tangga yang tiada habisnya. Kamu harus ingat ini terjadi bahkan sebelum gerakan pembebasan perempuan diimpikan di Barat, apalagi di Timur.

Meskipun kekurangan cahaya matahari dan air segar, Mei berkembang menjadi gadis muda yang menawan dan pintar terutama keika dibandingkan dengan saudara laki-laki dan sepupunya yang kasar dan gaduh.

Bukan berarti Ah Too begitu kasar dan gaduh. Tahun-tahun awalnya sebagai perempuan telah agak melembutkan otaknya dan acap kali aku harus memaskulinkan dia dengan dosis jitakan kepala yang telah dikelola dengan matang dan permainan kasar tak terkendali. Namun kapan pun dia bisa menghindar dariku, dia akan kambuh lagi bermain boneka dan masak-masak (pura-pura masak).

Bagi Mei ada beban lain yang harus ditanggung. Beban yang menakutkan. Bayang-bayang gelap dari Hai Leng Ong.

Dia bukan hanya cucu tercantik Ah Kong. Lebih buruk lagi, dia adalah satu-satunya cucu perempuannya, cucu lainnya seluruhnya adalah laki-laki. Itu seperti semua anak perempuan Ah Kong lainnya dan menantu perempuannya telah sukses dalam permohonan mereka kepada Dewi Mah Chor yang kuat di Kuil Thian Hock Keng untuk tidak memberikan mereka apa-apa kecuali anak laki-laki.

Jadi Mei berdiri sendiri, bertambah hari demi hari dalam kecantikan dan dihantui, seolah-olah, oleh pelamar yang tidak diinginkan mendahului jatuh tempo suatu hari nanti untuk muncul dari wilayah neraka.

Pastilah itu akan cukup untuk mengekang gaya perempuan mana pun. Mei terdidik. Dan dengan begitu secara normal skeptis. Jadi, meskipun dia was-was, dia menertawai kisah lama itu dan dia tidak membiarkan kisah itu menekannya secara berlebihan, setidaknya begitu pada awalnya.

Dia akan sering mencemooh cerita itu, menyebutnya sebagai kutukan keluarga. Dia bahkan menyampaikan dengan bercanda kalau Hai Leng Ong akan kaya dan tampan dan datang dengan kapal pesiar super cepat. Sedemikian rupa hingga Nenek harus mengeluarkan catatan peringatan untuk membuatnya serius tentang kutukan itu.

“Kakekmu berkata akan ada tanda yang jelas. Kakekmu bilang Hai Leng Ong setuju untuk memberikan tanda. Setidaknya dia mendapatkan janji itu dari Raja Iblis… Jadi hati-hati, Mei! Perhatikan tandanya.”

Mei tertawa tetapi di dalam hatinya dia mengingat peringatan Nenek dengan baik.

Terlalu baik. Karena tanpa disadari dia mulai mencari tanda yang jelas harus ada itu di mana pun tanda itu mungkin bisa muncul. Jadi, kapan pun dia mulai dekat dengan pria mana pun dia akan berhenti sebentar dan dengan kehati-hatian mulai memeriksa tanda dan gejala yang menunjukkan kutukan Hai Leng Ong.

Wajah Mei lembut dan berwarna krem putih dengan pipi sedikit merah muda dan mata bulat besar. Rambutnya hitam dan lembut saat disentuh. Telinganya halus dan berbentuk lucu. Suaranya semanis madu. Dan dengan begitu dia memiliki aliran tanpa akhir calon pacar yang terus datang untuk berdengung di sekitarnya.

Suatu hari, Mei bertemu dengan lelaki ini, pria muda kaya tampan dan berpakaian modis bernama Bobby. Dia adalah seorang pengusaha yang memiliki perusahaan yang menangani barang-barang olahraga.

Pada mulanya mereka berhubungan baik sekali. Mei tampak menyukainya. Aku pribadi merasakan dia agak rewel terhadap hal-hal kecil seperti kerapian dan kebersihan di sekitar rumah kami. Dia tampak merasa derajatnya lebih tinggi. Dan aku dengan jelas melihatnya mengendusi perabotan sederhana rumah kami.

Ah Too menganggapnya memikattetapi si lembek itu lagi pula memang selalu menyukai orang yang bergaya. Ah Too sendiri pergi berkeliling dengan pakaian unisex kebesaran terbaru dan celana baggy dan rambut lucu.

Anggota keluarga lainnya, Nenek dan paman-pamanku dan bibi-bibiku, menganggap kekayaan Booby memikat.

Mei dan Bobby menghabiskan banyak minggu bersama di pantai dan laut. Ski air, snorkeling, selam skuba, berlayar, berenang. Mereka tampak menghabiskan lebih banyak waktu basah dibanding kering.

Nenek merasa senang. Mei sudah lama memasuki usia nikah (untuk Nenek dalam segi pernikahan, usia lanjut dua puluh lima), dan dengan begitu akan segera tua dan tidak menarik lagi. Bobby akan menjadi tangkapan yang bagus untuk Mei.

Mei merasakan ke mana hal-hal mengarah dan meminta umpan balik padaku pada suatu malam ketika Bobby sedang pergi untuk urusan bisnis.

“Apa pendapatmu tentang Bobby?” Dia bertanya.

“Tidak punya,” kataku jujur. Kemudian aku menyadari maksud perkataannya. “Maksudmu sebagai ipar?”

Mei tidak menjawab pertanyaanku secara langsung. “Aku takut kepada kisah lama itu. Kamu tahu, kisah fantastis Ah Kong tentang Hai Leng Ong.”

“Oh?” Aku merespon. “Apakah Bobby memperlihatkan sikap jahat apa pun? Kecenderungan kejam apa pun?”

“Tidak seperti itu, tapi kamu tahu dia tidak bermain tenis ataupun skuas. Dia tidak joging atau bermain boling…”

“Lalu kenapa?” Aku tidak mengerti maksudnya. Banyak orang baik tidak bermain boling atau joging atau skuas atau tenis. Jadi?

“Jadi, semua olahraganya ada di laut!”

“Ya ampun!” Aku berseru. “Betapa pintarnya kamu untuk menyimpulkan! Kamu tahu, jika dipikir-pikir lagi, kamu benar sekali.”

“Apa kamu pikir…” Mei memulai.

“Itu adalah tanda jelasnya?” Aku menarik kesimpulan untuknya.

Kami berdua merenungkan pertanyaan mengerikan itu untuk sejenak. Kami tertawa gugup. Tetapi kami tidak dapat menghilangkan keraguan itu.

“Bagaimana untuk memastikannya?” Mei bertanya.

“Arahkan dia kepada subjek itu,” aku menyarankan. “Kemudian bersikap terus terang. Tanya dia blak-blakan. Lagi pula, Ah Kong bilang kita akan mendapatkan tanda yang jelas.”

“Apakah kamu mau menanyakannya?” Mei menyerahkannya padaku.

“Aku? Kenapa aku?” Lain kali aku tidak akan membuka mulut besarku, aku memutuskan. Dibutuhkan seorang idiot bermuka tembok untuk menanyakan pertanyaan seperti itu ke orang mana pun.

Jadi aku secara alami memikirkan Ah Too.

“Ah Too selalu terus terang. Dia melucuti orang-orang dengan kejujurannya. Mari kita minta dia melakukannya.”

Jadi kami memilih Ah Too secara in absentia. Dan pergilah kami untuk mengarahkannya.

Keesokan harinya Bobby datang untuk berpacaran dalam pakaian necis seperti biasanya. Kami membiarkannya menunggu di ruang tamu di bawah. Kemudian Ah Too muncul seperti yang sudah direncanakan. Mei dan Aku menguping di tangga atas.

“Hai, Bobby, dasar cowok ganteng!” Ah Too memanggil dalam suaranya yang musikal.

“Huh,” Bobby berkenan untuk merespon.

“Itu baju bagus banget yang kamu pakai,” mulai Ah Too. “Sebagai pembuka,” pikirku. Tetapi tidak begitu. Keduanya saling teralihkan ke dalam debat menyeluruh mengenai mode, cukup banyak untuk membuat gigi kami bergeretak kesal di atas tangga. Dan ketika mereka beralih untuk mendiskusikan gaya rambut, kami hampir menarik rambut kami sampai putus.

Lama kemudian, Ah Too mendadak teringat tugasnya dan langsung melontarkan pertanyaan ke intinya.

“Ngomong-ngomong, kamu bukan Hai Leng Ong, ya kan?”

“Hai Leng siapa?”

“Kamu tahu, Hai Leng Ong, Raja Naga Lautan yang terkenal, Iblis dari Lautan Dalam,” Ah Too menerangkan dengan sabar.

Ada keheningan sejenak. Kami menajamkan telinga kami di atas, tegang menunggu balasannya.

“Ada apa dengan urusan Hai Leng Ong ini?” Bobby bertanya dengan tawa ringan dalam suaranya.

Tak kami sangka, Ah Too mulai membocorkan rahasia keluarga, mengenai kukutan Hai Leng Ong. Lalu dia menceploskan dengan naifnya kalau Mei khawatir apakah Bobby bisa jadi iblis itu.

Bobby berhenti tertawa. Dia tersakiti. Baginya ini bukan lagi sebuah persoalan yang lucu. “Maksudmu, Mei benar-benar berpikir aku adalah iblis itu?”

Mei tidak dapat menahan dirinya lebih lama. Dia buru-buru menuruni tangga sebelum aku dapat mencegahnya.

“Bobby, dengarkan aku…” dia memulai.

“Apa? Kamu mendengarkan sejak tadi? Ini sudah diatur!” Bobby naik pitam. Dia seharusnya bisa lebih pengertian. Bagaimanapun kutukan Hai Leng Ong tidak dapat dipikul dengan mudah oleh gadis mana pun yang belum menikah.

“Kamu benar-benar mau menanyakan pertanyaan bodoh itu padaku?” Bobby menuntut, tajam dan kasar secara bersamaan pada adikku yang malang. Sisi terburuk dari si pria sombong telah keluar.

“Ya, Mei harus tahu,” aku tidak dapat menahan diri untuk tidak ikut campur. “Dan jika kamu benar-benar peduli padanya, kamu akan mengerti kenapa dia harus tahu.”

“Bagaimana kalau aku adalah Hai Leng Ong?” tantang Bobby dengan kilatan jahat di matanya, “bisa saja aku, kamu tahu. Ya! Ya! Aku memastikannya. Akulah reinkarnasi dari iblis tua itu.”

Mei menatapnya, mata membelalak, bingung, gemetar, tidak tahu harus mengatakan apa. Dia belum pernah melihat Bobby seperti ini sebelumnya.

“Kamu, aku tidak keberatan,” Bobby memanggilnya dengan kejam, “tapi aku tidak tahan dengan keluarga kampunganmu. Maafkan aku. Sangat disayangkan untukmu. Aku sudah terbiasa bergaul dengan orang-orang kelas atas.”

“Kamu tidak mungkin Hai Leng Ong,” Mei menemukan suaranya. “Iblis itu lebih berkelas! Pergi saja dan jangan kembali lagi. Selamanya!”

Dia melakukannya. Dan dia tidak pernah muncul di depan pintu rumah kami lagi.

Episode Carlos bahkan lebih singkat lagi.

Carlos diperkenalkan oleh salah satu teman universitas Mei. Dia adalah pengajar sains dalam pertukaran dari sebuah universitas Filipina.

Mei akrab dengannya pada mulanya. Aku acuh tak acuh seperti biasa tapi Ah Too tidak menyukai penampilannya yang berantakan.

Setelah mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama, Mei dan Carlos tampaknya berkembang perlahan secara mulus dengan Mei mulai mengucapkan nama Carlos secara terus menerus di setiap obrolan santai. Kamu tahu, Carlos ini dan Carlos itu, apa pun subjek yang kamu kemukakan.

Kemudian aku menyadari penurunan dalam penilaian Carlos. Aku dapat melihat dalam mata Mei tatapan dihantui yang lama. Ketakutan telah dibangkitkan. Kutukan Hai Leng Ong.

“Ada apa, Mei?” aku bertanya padanya. Dia tahu dengan jelas apa maksudku.

“Kamu tahu dia seorang ilmuwan?”

“Iya, dia memberi tahu kita,” aku membalas.

“Apa kamu tahu cabang ilmu apa?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Nah, itu biologi kelautan!” Mei mengungkapkan dengan dramatis.

“Jadi?” tanyaku.

“Ya, itu tidak hanya subjek baginya. Itu gaya hidupnya. Dia menikmatinya. Dia menyukai semua kehidupan di lautan. Pada mulanya itu agak lucu. Kamu tahu, tidak biasa. Tidak seperti pria lain. Tapi setelah beberapa waktu itu tidak mungkin. Menjengkelkan! Dia berbicara mengenai kehidupan laut setiap saat. Dia tenggelam di dalamnya dan tidak ada yang lainnya. Benar-benar terpukau pada subjeknya. Basah semua! Dia terus mengoceh dan mengoceh tentang itu.”

“Tetap, itu tak berarti…” aku memulai.

“Dengarkan ini. Seminggu atau lebih yang lalu di pantai, dia melontarkan pertanyaan dengan mendadak: Bagaimana aku mau tinggal di bawah laut dengannya?”

“Aku pikir dia bermaksud tinggal di salah satu stasiun bawah laut. Kamu tahu, mesin bola Jules Verne tempat kita memandangi kehidupan pribadi ikan-ikan malang itu.”

“Aku memintanya untuk menjelaskan maksud perkataannya,” lanjut Mei, “tapi perhatiannya teralihkan oleh beberapa kepiting pasir.”

“Apakah itu sebuah lamaran?” Aku bertanya-tanya dengan suara terdengar.

“Lebih seperti usulan,” balas Mei. “Lagi pula, aku mengabaikan subjek itu. Aku tidak membalas. Dan apa pun yang terjadi kehadiranku telah menjadi kepentingan kedua dari minat utamanya dalam hidup. Kepiting-kepiting pasir itu mengalahkanku secara telak.”

Bibit keraguan telah tertanamkan dalam pikiran Mei. Lagian, dia juga mulai merasa kehidupan laut membosankan. Jadi mereka berpisah, Mei kembali ke tanah padat sekali lagi dan Carlos semakin jauh kepada penghuni bawah laut tercintanya.

Ada orang-orang lain yang menderita akibat perhatian singkat karena bayang-bayang kutukan yang selalu ada.

Misalnya, pria muda baik yang diperkenalkan kepada kami di suatu makan malam pernikahan. Dia tampak mendapatkan perhatian Mei sampai akhirnya dia memberitahukan nama perusahaan binsis keluarganya: “Raja Laut Pte Ltd”. Mungkin keserasiannya juga belum tepat.

Kemudian ada juga manajer makanan dan minuman yang tertarik pada kuliner. Mei tampak terpikat padanya. Sampai akhirnya dia memberitahukan:

“Untukku sendiri, aku hanya menyukai makanan laut. Aku tidak terlalu suka yang lainnya. Berikan aku makanan laut kapan saja dan aku akan merasa seperti raja.”

Mungkin keserasiannya juga kurang tepat. Mungkin karena terlalu banyak makan ikan.

Kasus masuk-dan-keluar tercepat adalah teknisi kelautan yang berhubungan dengan Mei di pesta malam tahun baru. Dia tampak benar-benar memikat Mei, terbantu oleh sampanye yang melimpah. Sampai akhirnya dia mengungkapkan nama kapalnya: S.S Poseidon.

“Apa artinya Poseidon?” Mei bertanya.

“Oh, itu nama Yunani untuk raja lautan,” si pelaut menggali kuburannya sendiri.

Setelah lama berlalu, datanglah seorang pria yang tampaknya sangat jelas adalah jodoh.

Hock Leng adalah seseorang yang begitu tidak menyukai laut dan sangat berpengalaman menyoal bumi. Dia adalah teknisi geoteknik dan pekerjaannya berurusan dengan fondasi untuk bangunan. Tidak ada yang bisa lerbih berhubungan dengan tanah atau lebih jauh lagi dari laut. Dia juga seorang pria yang mempesona dan pengertian. Dan dalam hal keserasian, dia sangat tepat untuk Mei. Positif sepanjang jalan.

Mereka berhubungan sangat baik sejak semula. Mereka sampai pada tahap bergandengan tangan dalam beberapa hari, yang mana tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.

Dalam hal kutukan, Hock Leng juga menambah poin demi poin. Dia membenci makanan laut. Dia tidak tertarik dengan olahraga laut. Dan yang lebih-lebih lagi, dia bahkan tidak bisa mengapung, apalagi berenang!

Walau begitu, pikiran menyeledik tanpa henti Mei berhasil menemukan satu poin minus utama. Nama Hock Leng.

Nama Hock Leng berarti “Naga Beruntung” dalam bahasa Tionghoa. “Beruntung” tak masalah tapi “Naga” mengkhawatirkan Mei.

Dia curhat kepadaku. Aku memberitahunya sejujur yang hanya kakak laki-laki bisa lakukan: dia paranoid. Banyak orang yang dipanggil “Sesuatu Naga” atau “Naga Sesuatu” di kalangan orang Tionghoa. Naga sangat biasa seperti Tom, Dick, dan Harry.

Mei merasa lebih tenang. Tetapi tidak untuk waktu lama. Oleh karena mimpi bodoh ini.

Dia berada di mobil bersama Hock Leng berkendara sepanjang Jalan Orchard. Tiba-tiba Jalan Orchard menjadi Sungai Singapura dan mobil mereka menjadi perahu. Banyak ikan yang mulai melompat ke perahu mereka, menatap Mei dengan mata melotot terbuka lebar. Mulut kecil mereka terbuka dan tertutup saat mereka berbisik.

“Waspada! Waspada!”

Kemudian dari belakang celana Hock Leng mencuat keluar ekor, sementara pakaiannya dan kulitnya berubah menjadi sisik ikan berlendir. Kepala tampannya berubah hijau dan berduri dan matanya terbuka lebar dan melotot dan menjadi merah dan menyala.

“Aku membodohimu! Aku membodohimu!” Hock Leng tertawa terbahak mengerikan.

Kemudian mata Mei sendiri mulai terbuka lebar dan melotot seperti ikan-ikan dan Hock Leng saat dia menemukan dirinya berubah menjadi bersisik dan berlendir.

Dia mencoba berteriak. Tetapi tidak ada suara. Dia mencoba lagi dan lagi, kengerian merasuki hatinya dan dengan cepat menguasai setiap serabutnya. Tidak ada suara. Itu adalah sejenis ketakutan yang melumpuhkan. Jenis yang mematungkan dan meninggalkanmu terjebak tanpa belas kasihan untuk terbebas bahkan jika itu hanya melalui jeritan putus asa.

Dalam perjuangannya untuk keluar, Mei akhirnya terbebas dari mimpinya. Dia terbangun mendadak, jantung berdetak begitu cepat dan butiran keringat membasahi keningnya.

Dengan begitu Mei menjadi tegang dan irasional. Kutukan Hai Leng Ong kembali menguasainya lagi. Tidak ada keraguan soal itu.

Itu sangat disayangkan tapi sepertinya Hock Leng akan segera disingkirkan tidak lama lagi. Mei merasa sama sekali tidak berdaya. Lebih buruk lagi, sangat fatal.

“Mungkin inilah makna sesungguhnya. Arti sebenarnya dari kutukan itu. Aku akan menjadi pengantin yang dijanjikan kepada Hai Leng Ong. Dia akan memaksaku menolak semua orang. Sampai akhir hidupku. Kemudian dia akan datang untuk menuntut jiwaku,” Mei memberitahukan padaku dengan sedih pada suatu malam.

Mereka bilang gelap terlebih dahulu sebelum fajar. Begitu pula dengan kutukan yang membebani Mei.

Bahkan saat Mei menyelami kedalaman keraguan dan keputusasaan, awan-awan hitam tanpa terduga menghilang dan hari cerah yang baru tampak di hadapannya. Solusinya berada sangat dekat daripada yang dia pikirkan.

Setelah acara malam, Mei dan Hock Leng menghampiri Jalan Bugis untuk makan malam. Keduanya tidak dalam semangat yang baik. Hock Leng sama murungnya dengan Mei yang muram.

Hock Leng hanya tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Mei. Dia telah diberi penjelasan tentang segala hal mengenai kutukan Hai Leng Ong. Dia menganggap itu aneh. Tapi dia lekas memahami kecemasan Mei yang mengakar dan dia bersimpati padanya. Dia menenangkan Mei kalau dia adalah benar-benar dirinya. Bukan raja laut. Sudah pasti tidak menyukai laut. Tapi dia tahu Mei tidak bisa hanya menerima kata-kata.

Apa yang bisa mereka lakukan? Itu sangat membuat frustrasi. Bagaimana cara mengalahkan pelamar hantu ini, saingan dalam bentuk bayangan yang seseorang tidak bisa hadapi ataupun pukul secara fisik di hidung atau ajak berargumen secara rasional untuk disingkirkan?

Di pihak Mei, Mei benar-benar dikalahkan. Dia mencintai Hock Leng. Dia tahu Hock Leng adalah jodohnya. Tapi Mei juga tahu dia tidak bisa memaksanya untuk bertahan kepada keraguan berlanjut itu yang akan terus mengikuti Mei sampai… sampai kapan? Sampai Hai Leng Ong memilih untuk membuat gerakan?

Mei berdoa dalam hatinya untuk keselamatannya dari penderitaan yang tidak dapat dijelaskannya. Dia berdoa untuk bertatap muka dengan iblis itu dan menyelesaikan urusannya.

Saat mereka duduk di sana di tempat makan terbuka, suara yang akrab terdengar memanggil Mei.

Itu adalah Ah Too. Tapi mulanya Mei tidak dapat mengenalnya. Bagaimana dia bisa? Ah Too memukau dalam balutan blus merah muda berkilau dan celana panjang merah longgar. Rambutnya dikeritingkan seluruhnya dan wajahnya ditutupi kosmetik.

“Ah Too!” seru Mei. “Kamu datang ke sini seperti itu?”

“Iya, Mei,” aku Ah Too dengan malu-malu, “aku sudah melakukannya untuk beberapa waktu. Diam-diam. Tapi tidak keberatan kalau kamu tahu sekarang. Aku senang datang ke sini. Bertemu dengan teman yang menyukai hal yang sama denganku—saudari-saudariku.”

Mei menatapi Ah Too, masih belum terbiasa dengan perubahannya. Hock Leng merasa jijik tapi dia tidak mengatakan apa pun. Dia selalu berpikir Ah Too kecewek-cewekan dan itu tidak mengejutkannya sama sekali untuk bertemu dengan Ah Too yang menjadi waria.

Ah Too berada dalam keadaan yang disukainya. Tidak sedikit pun malu. Dia sangat jelas telah minum-minum dan tidak sadar sepenuhnya. Di satu titik, dia sedikit kehilangan keseimbangan. Pada saat itulah mereka menyadari sepatu hak tingginya.

“Nenek akan membunuhmu,” Mei menyampaikan pikirannya.

“Aku tahu,” Ah Too mengucapkannya dengan senyuman. “Tapi dia tidak akan memiliki kesempatan itu. Aku akan pergi. Aku dalam perjalanan ke Eropa besok. Sebenarnya aku sudah meninggalkan pesan untukmu dan kakak tertua di rumah. Aku akan pergi untuk operasi. Operasi ganti kelamin. Temanku yang mengaturnya untukku.”

“Teman apa?” tanya Mei. Ah Too tidak langsung menjawab. Dia malah pergi dan datang kembali mengatakan. “Temuilah pacarku ini.”

Mei menatap pada orang asing yang ikut serta di belakang Ah Too. Dia seorang kaukasoid yang kasar tapi ramah. Mungkin seorang pelaut. Itu karena dia memiliki jangkar yang ditato di salah satu tangan berbulunya dan sesuatu yang mirip naga di tangan lainnya.

Dia langsung menyadari kalau mata Mei terpaku pada tatonya. Dia tersenyum menampakkan giginya yang hilang.

“Kau suka tatoku, eh? Mau lihat sesuatu yang sangat hebat?” tanyanya. Dan tanpa menunggu lebih lama dia membuka kaos oblongnya dengan cepat.

Di dada berbulunya terdapat tato besar. Itu menggambarkan raja berbulu yang dikerubungi oleh ikan. Tato itu memiliki penjelasan. Tertulis: “Raja Neptunus”.

Mei menatap dengan mata terbelalak pada tato itu, benar-benar mematung. Pada akhirnya dia datang, pikirnya.

“Kamu Hai Leng Ong!” dia lebih menyatakan daripada bertanya.

“Apa itu?” si pelaut bertanya. Dia juga agak mabuk dan goyah di kakinya yang besar. “Bagaimana kau bisa menebaknya? Kau tidak bicara dengan baik tapi, yup, aku Harley Young… Dan si cantik di sini adalah kekasih manisku. Orang yang aku pilih. Dari kalian semua di sekitar sini. Inilah yang kupilih.”

“Aku pikir kamu akan datang untuk seorang perempuan,” Mei menceploskan tanggapannya pada Hai Leng Ong.

“Sayangku di sini hampir perempuan. Aku tahu. Dia memberitahukanku segalanya. Itu tidak apa-apa. Kami sudah merencanakan operasi untuknya. Ketika kami tiba di Kopenhagen. Kemudian kami akan menikah… dan kami akan hidup bahagia selamanya… jauh di rumahku,” Harley Young bergumam dalam balasannya.

Dan dengan bergandengan, pasangan aneh itu menjauh dan menghilang ke dalam gelap malam.

Dan pada saat itulah, Mei tahu dia terbebas untuk selamanya dari kutukan Hai Leng Ong.


====================
“The Curse of Hai Leng Ong” ditulis oleh Goh Sin Tub dalam Goh’s 12 Best Singapore Stories (1993). Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Miguel Angelo Jonathan. Miguel merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa Mandarin di Universitas Negeri Jakarta. Berjualan buku di Toko Buku Rusa Merah. Kumpulan cerpen pertamanya Bagaimana Madelijn Mempertahankan Redoute Hollandia (2020) diterbitkan oleh Rua Aksara.

Galuh, Sang Pemikat

0

TERCIUM harum lulur yang menyentuh kesadaran Kodrat ketika ia menyelinap ke balik panggung. Memburu Sunti. Memikatnya. Menungguinya berdandan. Ngobrol. Mengajak bercanda. Hingga gadis itu merebahkan kepalanya ke dada Kodrat. Keringat gadis itu menggetarkan ujung jantung Kodrat. Jejaka itu senang memandangi bintik keringat di tengkuk Sunti.

Gempita panggung telah reda. Gamelan meredup. Santi, sang pemikat, yang telah menggetarkan panggung, terkulai di samping Kodrat. Sedikit basah rambut yang terurai.

Berseliweran anak-anak panggung. Tampak pula tatapan mata terbakar kecemburuan. Terhunjam ke arah Kodrat. Tertikam ke pusat rasa lelaki muda itu. Tapi mereka tak berani mengusik Sunti dan Kodrat. Cuma mendengus. Dan biyung emban, perempuan setengah baya, senantiasa melindungi Kodrat.

“Tidakkah kau lelah memburuku?” goda Sunti.

“Kalau aku lelah, tidak bakal sampai di tempat ini.”

“Kadang-kadang aku memikirkan istrimu.”

“Lupakan. Itu cuma akan merusak suasana kita.”

“Tentu dia kesepian. Tanpa anak, tinggal di desa yang sunyi, dan suami memburu perempuan lain.”

“Kamu mengutukku?”

Terjulurlah tangan Sunti yang ditumbuhi bulu-bulu lembut dan halus. Degenggamnya jemari tangan Kodrat. Kabut kesunyian melelapkan. Lengang tengah malam.

“Tak ada maksudku melecehkanmu. Aku cuma meledekmu,” Sunti menatap Kodrat. “Aku paham, kau sudah cukup menderita sejak dipindah dari kantor pusat ke daerah terpencil gara-gara memimpin protes pada atasan yang suka mengeruk keuntungan pribadi. Kau masgul, lantaran teman-teman cari selamat dan lantas menimpakan kesalahan padamu. Nasib buruk itu mesti kau tanggung sendiri.”

“Biar aku menanggungnya sendiri. Telah lama aku sadar, sulit sekali menentukan siapa kawan siapa lawan pada orang-orang di sekelilingku.”

“Begitu juga dengan aku?” Sunti merajuk.

Kodrat memijit hidung Sunti. “Ya, begitu pula dengan kau.”

Dan Sunti kian merajuk. Menyurukkan wajahnya ke dada Kodrat. Basah keringatnya terus meleleh ke tubuh Kodrat. Tiba-tiba kelincahannya bangkit. Dengan kelenturan tubuhnya, Sunti bergerak menggeliat. Seperti tertiup roh seorang dewi, menyalalah matanya membahasakan keinginan nalurinya.

“Akan kubawa kau keluar dari panggung ini, Sunti.”

Sunti tak lagi mau mendengar. Dia mencibir, meledek Kodrat. “Ini omongan orang masgul.”

“Aku akan terus memburumu, meski selalu menghindar.”

“Kau bercanda?”

Dalam satu tarikan napas yang berat, Kodrat menukas, “Aku tak mau menelantarkan Galuh, anak kita.”

Tertawalah Sunti seperti hendak menggugurkan kesungguhan Kodrat. “Omongan orang mabuk tak perlu digubris.”

Seketika bangkitlah Sunti, masih dengan derai tawa yang memecah ketulusan Kodrat. Tampak bahunya yang telanjang terguncang-guncang.

“Kelak kau bakal tersadar dari mabuk kekecewaan, dan membiarkan Galuh tumbuh sebagai anak panggung sepertiku. Nah, esok rombongan kami pindah ke kota lain. Kau masih bakal mengejarku?”

Liar tawanya menyibak sepi malam. Dia meninggalkan Kodrat. Lepas gerak tubuhnya. Tak canggung sama sekali. Tiba-tiba kesunyian menyentak kesadaran Kodrat. Lelaki itu seorang diri di belakang panggung yang temaram. Langkah-langkah kaki terdengar menghentak-hentak. Esok panggung ini bakal dibongkar. Terbentanglah kembali tanah lapang. Kosong. Tak lagi terlihat suasana panggung yang semarak serta orang-orang berduyun-duyun.

Lama Kodrat tersekap selubung suasana panggung yang bakal dibongkar. Gamelan tak bakal lagi mengalun, para penari tak lagi berkiprah, dan badut-badut tiada lagi mengguncang tawa orang-orang. Senyaplah panggung.

                                                               ***

DI barak belakang panggung itu Kodrat lama terdiam. Terhenyak. Anak-anak panggung tengah berdandan, mematut diri, memonyongkan bibir untuk dipoles gincu. Mengapung harum bedak memenuhi ruang berdinding anyaman bambu.

Geliat tubuh anak-anak panggung tampak liar dan seronok. Terkesan sembarangan. Sesekali terdengar omongan kenes. Mengumbar tawa. Lirikan seorang wanita menghunjam ke wajah Kodrat. Lalu mencibir nakal. Masih juga lelaki itu  mematung. Dan yang tergerak bangkit malah biyung emban, perempuan setengah baya berbedak tebal. Lincah gerak tubuhnya. Senyumnya masih memendam gairah, meski letih.

Menguntit di belakang pantat biyung emban itu seorang gadis yang lagi mekar kelepak kewanitaannya. Kodrat ingin meraih gadis itu dalam rengkuhan tangannya. Tapi gadis itu menghindar. Bersembunyi di belakang tubuh biyung emban. Cuma wajahnya yang sedikit nongol, menatapi Kodrat malu-malu.

Dan biyung emban itu memandangi Kodrat dengan cahaya mata yang meredakan gejolak perasaan. “Sudah kukatakan, kau tak usah mencari Sunti lagi. Biar dia menemukan kebahagiaannya.”

“Tak segampang itu dia menghindar dariku. Aku akan terus melacaknya.”

“Ia terus menghindar darimu.”

Kodrat mendengus. “Aku tak mau kehilangan masa laluku yang manis. Ingin kudapat kembali Sunti. Ingin kudapat anak kami.”

Tatkala Kodrat berlutut hendak meraih Galuh, gadis yang berlindung di balik tubuh biyung emban, seketika menepiskannya.

Tanggap keasingan Galuh, biyung emban segera membisik, “Jangan memaksakan kehendak. Tak baik. Galuh tak pernah tahu ayahnya.”

“Sunti tak pernah menceritakannya?” desak Kodrat menajam.

“Sssttt!” Telunjuk biyung emban tegak lurus di bibir yang dimonyongkan.

Di mata Kodrat, Galuh memancarkan kelenturan ragawi Sunti. Dialah Sunti kecil yang mekar kegadisannya, luruh dalam pusaran nasib dan zaman. Lengkung tebal hitam alisnya, bulat matanya, dan rekah bibirnya, mengingatkan Kodrat pada Sunti, sang pemikat yang senantiasa menyemarakkan panggung.

“Aku tak akan membiarkan Galuh hidup di barak ini, berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Akan kubawa dia dalam keluargaku.”

“Tidak,” biyung emban menukas lirih, penuh penolakan. “Dia bakal menggantikan Sunti sebagai anak panggung.”

“Jangan!” Kodrat hampir memekik.

“Sunti menyerahkan Galuh padaku.”

Biyung emban menatap Kodrat dengan cahaya mata membiaskan kemenangan. Tapi lelaki itu sudah berhasrat untuk kembali merenggut gadis itu untuk menebus dosa masa silam.

                                                                ***

SUARA gamelan mengalunkan isyarat anak-anak panggung untuk menuntaskan dandanan mereka. Tampak beberapa orang bangkit, menaiki panggung. Terpancar kebimbangan, bahkan keengganan dalam perangai mereka. Gairah telah sirna. Orang-orang tampak kehilangan peran, kehilangan kekuatan.

Di hadapan Kodrat, biyung emban masih saja melindungi Galuh dari renggutan tangan lelaki itu. Yang terpancar di matanya bukan lagi rasa takut, cemas, dan curiga. Tapi semburat cahaya kegeraman yang bernada berang.

“Jangan coba-coba membawa Galuh dari kami,” pinta biyung emban keras.

“Tapi kemana Sunti pergi?”

“Dia dibawa seorang juragan menuju ke suatu kota,” balas biyung emban, mengadukan kekesalannya. Diceritakannya kepergian Sunti, sang pemikat yang selama ini senantiasa menggerakkan penonton untuk memadati pergelaran.

“Rasanya Sunti tak bakal kembali lagi,” lanjut biyung emban. “Relakan saja Galuh bersama kami.”

Tegas, Kodrat menggeleng. “Tidak akan kubiarkan gadis manis itu lepas dariku.”

“Lihat, tobong hampir tanpa penonton!” biyung emban meyakinkan Kodrat. “Biar Galuh bersama kami, menggantikan ibunya.”

Menatap Galuh, rasanya seperti memandangi dan menelusuri perjalanan hidup Kodrat masa lampau bersama Sunti. Kodrat terkesima. Titisan Sunti ada pada gadis itu. Tapi Kodrat tak bakal membiarkan Galuh larut ditenggelamkan arus perjalanan hidup yang muram. Dalam  bening mata gadis itu terpancar pula harapan-harapan Kodrat.

Suara gamelan menggerakkan anak-anak panggung bangkit beranjak menuju pementasan, betapapun sepi penonton dan kehilangan gairah. Dan Galuh, gadis yang sedang mekar kedewasaannya, mestikah menanggung kesepian panggung, untuk kembali semarak seperti semasa Sunti menghidupkan pergelaran wayang orang dengan kekuatan nalurinya?

“Pulanglah! Jangan usik gadis ini lagi!” pinta biyung emban mendesak. Masih saja Kodrat berlutut memandangi Galuh. Tatkala ia mengurukan tangan dan Galuh menyambut ujung jemari Kodrat, cepat direngkuh gadis itu dalam pelukannya. Ia mengusap lengkung alis dan kelopak mata gadis itu. Mengusap lembut kulit pipinya. Ia merasakan getaran dan rasa mabuk yang lain sama sekali, yang baru kali ini dialami lelaki itu. Getarannya halus, merambat sampai pusat sanubari.

Dari tubuh Galuh tercium pula harum lulur. Kodrat menghangati tubuhnya dengan aliran darah anak gadisnya. Ada titisan darah dalam tubuh gadis itu.

“Bersiaplah ke panggung!” biyung emban mengingatkan.

Tersentaklah gadis itu. Kesadarannya kembali mekar. Dia mengurai rengkuhan tangan Kodrat yang belum rela melepaskannya.

“Aku mau naik panggung,” bisik Galuh. Matanya berbinar, bercahaya. “Nanti kita ketemu lagi, ya?”

Yang bisa dilakukan Kodrat cuma satu, melepaskan gadis itu. “Mau kau ikut aku?” bisiknya sebelum Galuh berlari meninggalkannya. Sekilas, sebelum mencapai panggung, gadis itu berpaling, mengerling dan menebarkan senyum tipis. Suara gamelan pun menenggelamkannya.

                                                               ***

LANGKAH kaki Kodrat lamban terseret hendakan kendang. Di depan panggung mulai banyak penonton duduk.  Orang-orang yang menemukan kekaguman baru, memandangi para penari, sambil melontarkan sanjungan. Kodrat mengambil salah satu kursi. Merasakan getaran yang sama seperti ketika dulu menunggu Sunti hadir ke panggung. Cuma, kali ini didorong napsu memiliki yang berbeda.

Tatkala muncul Galuh di panggung dengan gerak tari yang menjiwai seluruh getar ujung-ujung jari dan lekuk tubuhnya, hati Kodrat berdesir.

Orang-orang kelihatan mulai tertarik menatap panggung. Tak bisa diam mulut mereka. Leher-leher dipanjangkan, dijulurkan, untuk bisa menatap gadis yang tengah berkiprah di panggung, berpasangan dengan seorang lelaki berkumis tebal. Gagah. Gemerlap mata mereka.   

“Lihat!  Dia  pengganti Sunti!” kata seseorang.

“Apa? Dia memang anak Sunti!” sahut penonton lain.

“Gadis itu membuat aku jatuh hati!”

“Di mana sekarang Sunti?”

“Entah, kabur! Dibawa lari seorang juragan! Laki-laki yang dicintainya sudah beristri, dan menelantarkannya!”

“Siapa laki-laki itu?”

“Mana aku tahu?” seseorang menukas dengan berkelakar. “Jangan-jangan, dia ada di antara kita!”

Tawa tertahan, bergairah, mengguncang bahu para lelaki itu, sambil menatap lekat ke panggung. Telinga Kodrat memerah, tertampar gurauan mereka. Tak ingin lagi ia mendengar anak gadisnya dikagumi dan digunjing macam itu.

Kodrat bangkit, meninggalkan kursi penonton, dan terus ke belakang panggung. Ia menunggui Galuh sampai turun dari panggung. Tubuh gadis itu basah bersimbah keringat. Tercium lulur dan kembang melati. Terkuras sudah seluruh tenaganya. Terurai senyumnya melihat Kodrat menungguinya.

Kodrat menggamit lengan Galuh. “Ngerti kau, siapa ayahmu?”

Menggigit bibir, mata berair, Galuh mengangguk ragu. Lega hati Kodrat. Lebih mudah baginya untuk mengajak Galuh meninggalkan dunia panggung.

“Mau kau ikut aku?”

“Tinggal bersama Ayah?” suara Galuh parau.

“Kita hidup dalam satu keluarga.”

Kian tajam harum lulur yang melumuri tubuh Galuh, lantaran dia kian merapat. Kodrat merasakan wangi tubuh gadis itu menyusupkan harapan kebersamaan di masa depan.

“Rasanya aku tak mungkin meninggalkan panggung ini,” lirih suara Galuh. “Ayah bisa sesekali menengokku.”

Dalam gebyar sepasang mata Galuh yang berair, dia meyakinkan Kodrat dengan senyum. Dan suara gamelan bertalu-talu menarik Galuh ke panggung, menuntaskan lakon yang dibawakannya. Kodrat cuma bisa memandanginya.

                                                 ***

                                                                 Pandana Merdeka, Maret 2021

Potret Kakak di Figueres

1


Dadanya berdesir. Salvador José Maureira i Domenech takjub melihat wajahnya sendiri di potret itu, bagaikan melihat dirinya di cermin. Wajahnya cerah, berseri-seri. Setengah terpana melihat ketampanannya sendiri. Rambutnya ikal pendek, berwarna kurma majhul, berkilat, bergelung seolah ombak semenanjung Cap de Creus. Matanya bulat, berbinar-binar. Di foto itu tampak hitam pekat seperti langit malam. Diturutkannya telunjuknya, dari hulu hingga muara alisnya. Tampan sekali dirimu, ia membatin. Ia melirik ke leher yang telanjang dan hidung bangir itu. Jenjang. Putih. Mulus. Penuh aroma surgawi. Seperti hasil cakap tangan Michelangelo kepada David-nya. Tidak ada bekas luka atau lipatan apapun, katanya sembari meraba sekujur lehernya sendiri. Ya, potret itu memang mengembalikan Salva kepada kesempurnaan, di mana luka dan kenangan belum sempat memahatkan nodanya.

Ia tidak tahu ia mempunyai saudara sedarah. Ada yang ganjil. Ayah berkata bahwa itu adalah foto kakaknya. Tetapi di foto terpampang persis wajah dan perawakannya. Namanya pun sama: Salva Maureira.

“Kau dan kakakmu berasal dari rahim yang sama. Terpaut empat tahun, tetapi Dios mío! kalian sungguh serupa,” terang sang ayah, matanya yang seperti bohlam tua berpancar sedih, terpaku pada si kakak yang berbingkai kayu mahoni itu. Sudah dua dekade potret itu menggantung di dinding ruang tamu tidak jauh dari ornamen kayu Kristus yang tersalib. Nama Salva Maureira juga terukir di nisan pusara milik kakaknya di dekat Castell de Sant Ferran, Figueres, di samping kebun zaitun rindang yang dibatasi dengan dinding batu. Salva tua baru saja menjadi onggokan daging tak bernyawa. Bulu kuduknya meremang ketika ia melihat namanya sendiri terukir di nisan. Ia tak pernah bertatap muka pada sang kakak. Di tangannya tampak potret serupa dirinya yang dinyatakan sudah mati. Di pusara ia juga menemukan namanya. Tak pernah dalam hidup ia bertemu dengan lelaki yang bernama sama dengannya. Mungkin lelaki ini tak pernah ada.

“Setiap arwah gemar merasuki benda yang berhubungan dengannya sewaktu hidup. Setiap benda memiliki nyawa. Kakakmu mungkin sedang mengawasi kita dari potret itu,” ayahnya menuturkan kepercayaan orang-orang Gitano di Girona. Ia berkawan dengan para pengembara itu semenjak muda. Ketika Salva tua wafat, ayah membakar dan memusnahkan segala benda putra sulungnya, kecuali potret berbingkai mahoni ini.

“Ibumu wafat setelah melahirkanmu. Ketika kutanya nama bayi lelaki yang baru meluncur dari rahimnya, ia berbisik “Salvador” sebelum akhirnya tertelungkup tak bernyawa. Sejak itu, keluarga menganggap dirimu seorang pembunuh. Anak yang terkutuk. Di lubuk hati yang terdalam aku masih mengutuk hari kelahiranmu.”

Senja ketika Salva Maureira membunuh ibunya, Diego Arcadio Maureira, sang ayah, tengah menyandarkan kapal dengan jala penuh udang-udang di pantai Palamós, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang palem, ek gabus, bunyi falseto laut, dan tamparan angin hangat Mediterania merangkak di antara ganggang, sempreviva dan bebatuan cadas. Sepulangnya ke Figueres sejam kemudian, ia sudah menemukan istrinya setengah menjadi jasad dan berkubang darah. Bayi lelaki itu tak henti mendengking dan menangis lugu pada nyawa ibunya yang sudah tertambat di mulut. Seminggu setelah kelahirannya, ayahnya yang tenggelam dalam duka menitipkan bayi itu kepada seorang paman yang tinggal di Barcelona untuk diasuh. Kakaknya tumbuh bersama ayahnya. Ia dijauhkan dari kakaknya sebab bayi itu adalah seorang pembunuh.

Dari jendela lantai paling atas bangunan Carrer Monturiol ini tampak lanskap yang membuatnya tercenung. Teluk Rose memuntahkan kemilau biru bermil-mil jauhnya dan di seberang wilayah Emporada berdiri tegap Pegunungan Pirenia, serupa kuda yang ditarik tali kekang. Burung-burung camar beterbangan di sana sini membentuk noda-noda hitam di langit, berkoak di atas laut yang lidah putih berbusanya menjulur-julur di cadas karang dan tajam bebatuan vulkanik. Matahari terasa di kulit dan siang merayap di pohon-pohon gabus. Sayup-sayup ia mengantuk, menjadi angin teluk yang mendesah-desah, menjadi camar yang diterpa lanskap azur tak berawan. Pastinya arwah Salva tua sudah bebas berkibar seolah layar perahu nelayan gambas (1), barangkali ia menjadi salah satu dari camar. Matanya kembali meninjau potret itu. Potret seorang mati. Kini bibir Salva di dalam foto tampak merekahkan senyum. Mungkin sekarang dirinya sedang tersenyum. Cermin di belakangnya memancarkan dirinya. Atau kakaknya, ia tidak yakin lagi. Ia menghitung umurnya dari cermin. Lama-kelama rupa menawan bagai David itu memudar, lalu menghilang seperti udara yang kasat mata.

Aneh. Cermin seharusnya memantulkan rupa orang yang mematut diri di depannya. Cermin besar di atas meja itu sebaliknya. Saat memandang ke dalam cermin, yang terlihat hanyalah tempat tidur besar, lemari buku ek yang penuh sesak, gulungan permadani kusam dan lantai kayu yang sama tuanya seperti bangunan ini. Tidak ada wajahnya, atau rona kebingungannya di dalam situ.

“Kau sudah mati, Salva,” ucap ayah dari belakangnya. Bayangannya pula tak tampak di cermin.

******

Apakah memang benar, aku sudah menjadi arwah sekarang? Malam itu Salva Maureira menerawang pada langit-langit dari ranjangnya. Selembar kertas mazmur dan potret seorang mati itu masih bertengger di meja rias. Mungkin potretnya, mungkin kesepiannya. Mungkin cermin yang tak memantulkan dirinya itu rusak sehingga langit tampak menghapusnya. Tetapi bagaimana mungkin? Ia pandang kusen jendela yang terbuka itu sebab udara cukup panas. Kota kecil Figueres tampak menghilang dan sepi. Semacam ingatan yang memudar seolah lumut ditaklukan salju, dilupakan kosmos. Kota tampak tertidur dengan mimpi yang tanpa arah, dengan lelap dalam sihir orang Gitano. Seperti logat yang asing, atau angan-angan yang terbuang. Semuanya seperti pesona sihir yang sengaja ditebar menggoda dan menggiringnya ke jaring-jaring mimpi, ke taring-taring mimpi. Ia telungkup menjelma patung.

“Semua ini begitu lucu,” kata lelaki itu. Dan iapun termangu sedih. Ia pandang kembali potret kakaknya. Atau dirinya, ia tak yakin lagi. Sekonyong perlahan rupa potret itu tampak berputar, lalu meleleh seperti lumpur di tangannya. Gambar Salva Maureira sirna dan melekat di tangan. Sekelilingnya ikut meleleh dan penuh awang-awang mimpi memabukkan, seperti pemandangan Cap de Creus dan jam saku meleleh La Persistencia (2). Setelah itu potongan visualnya menghilang. Ia tidak ingat apa-apa lagi. Tetapi ia menemukan seakan tubuhnya mengecil seperti sisir dan berdiri tegap di meja rias. Matanya bisa menerawang ke seluruh kamar gelap itu. Bimasakti tampak keruh di kanopi langit dan rasi salib selatan bergelantung, tampak menyentuh reruntuhan tua kastil de Sant Salvador de Verdera di atas tebing.

Di ranjang itu tampak dirinya yang menerawang langit-langit. Ia bisa menghirau dirinya sendiri dari meja rias. Ketika ia ingin bergerak maju, tubuhnya terbentur oleh dinding keras kasat mata, seakan ia sedang terkurung di dalam cermin. Ia bergidik, lalu mengetuk dan menampar pemandangan luar yang menampakkan dirinya sedang menerawangi atap, tetapi usahanya sia-sia. Ia terjebak di dalam kaca, tubuhnya tak bisa bergerak ke segala arah. Tenggorokannya menjeritkan namanya, tapi suaranya hanya gaung kosong. Ia tahu, bahwa jiwanya merasuki potret Salva Maureira di atas meja rias. Tubuhnya mati rasa, sebab jika ia memberontak, ia memberontak kepada dunia lain, kepada angan-angan orang mati, seperti memungut kertas yang lumat dalam hujan. Salva yang di ranjang lalu berdiri tegap menatap dirinya di dalam potret itu. Senyumnya bengis dan liar seperti ajak, wajahnya seputih angsa.

“Aku adalah Salva tua, hermanito(3) akhirnya kita bertemu. Sudah muak diriku bergelut dengan kaca itu. Aku masih ingin hidup tetapi aku terkena penyakit tak bisa tidur orang Gitano. Setiap malam yang kuhabiskan untuk termenung menyedot jiwa keluar dari ubun-ubun sedikit demi sedikit. Gejolak nalarmu akan realita membuatku mampu menukar arwahku dengan milikmu.”

Ia berkata bahwa ia akan membinasakan foto itu supaya arwahnya tersemat selamanya di tubuh si adik. Ia akan menumbalkan si adik yang arwahnya terjebak di dalam foto, lalu memusnahkan seluruh benda miliknya supaya ia tak bisa merenggut kembali tubuhnya di dunia fana.

“Bukankah kita, Salva Maureira, adalah seorang pembunuh sedari lahir?” ucapnya terkekeh-kekeh pada potretnya sendiri. Tangannya sibuk menjentikkan arang dan kayu bakar di perapian, menyalakan korek api. Jilat suluh menari-nari membarakan tungku. Salva menjerit-jerit dari dalam bingkai, dan hanya menjadi gaung kosong yang lalu. Potret itu lalu terhempas ke perapian yang menyala. Potret yang dari malam ke malam makin kelabu seperti gunung sunyi, berpijaran melelehkan lava seperti kemarahan yang melabrak kaki bukit. Selama ini ayah sigap merawatnya, serupa mengganti bingkai dengan tanggul yang dibangunnya dari tanah dan batu kuburan, membendung lelehan potret Salva Maureira di dinding dari waktu yang bengis. Bau hangus dan dengus menyembur-nyembur. Kacanya mulai retak, bingkainya hangus menjadi abu. Salva melolong-lolong dijilat kobar api. Tubuhnya terpanggang di neraka yang disulut tangannya sendiri. Sekian menit berlalu, ia tak ingat apa-apa lagi. Gulita malam menyelimuti benaknya seperti dikubur. Di bingkai yang hangus menjadi abu jelaga, terpapar sebongkah jasad tak bernama. Ia telah membakar adiknya, atau ia telah membakar dirinya sendiri?

Setelah puas memantau potret dirinya yang terbakar di perapian, ia segera memandang diri di depan cermin. Cermin itu masih tidak memantulkan bayangannya. Bukankah ia seharusnya sudah kembali menjadi manusia? Tak ada yang ia rindukan di dunia manusia kecuali wajahnya sendiri, sebab ia tahu pantulan cermin itu nyata. Seperti Narkissos. Narkissos dan ia yang tidak bergerak, tidak dipantulkan. Di mana tumbuhan yang menggerogoti tubuhnya? Dan saat kepalanya akan runtuh, tenggelam, meledak, terbelah dan berpencar lagi, setangkai bunga lahir: bunga narsis (4). Tetapi ia tidak melihatnya. Hatinya meronta-ronta akan cinta matinya: wajahnya sendiri.

Malam itu ketika ia bercinta dengan dirinya sendiri penuh hasrat setelah sekian lama tidak memiliki tubuh, ia tak kuat menampung gairah sebab jiwanya sudah terserap nyaris seluruhnya. Jiwanya sudah rusak menjadi abu di perapian, kini terperangkap di tubuh fana yang tak bisa ia lihat. Ia pandang lagi bingkai dan foto yang hangus menjadi abu itu. Dari waktu ke waktu, ia berusaha melupakan potret dirinya yang terus meletus dan runtuh dalam kepung tanggul kuburan sekaligus tungku neraka. Foto yang terbakar itu kini menjadi satu-satunya yang memperlihatkan wajah tampannya. Bayangan di cermin, kamera maupun telepon genggam di seluruh dunia tidak sudi memantulkan. Ia mulai bertanya-tanya apakah ia sesungguhnya sudah hidup atau masih mati.

Hanya di dalam potret itu aku tampan. Hanya jiwaku yang terperangkap di tubuh ini. Aku seharusnya tampan. Dengan atau tanpa bayangan. Dengan atau tanpa potret.

Nemesis, dewi balas dendam, pasti sedang menuntunnya sekarang. Salva Maureira memukul cermin itu dengan keras hingga pecah. Tangannya berdarah. Ia mengambil pecahan kaca, lalu menggoreskannya ke urat lehernya. Ia hanya berharap menjadi setangkai bunga di pinggir sungai seperti Narkissos, mitos yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri.

Surabaya, 09.03.2021


Keterangan:
1. “Udang” dalam bahasa Spanyol.
2. Lukisan bergenre surealisme ternama karya Salvador Dali, “La

persistencia de la memoria”(1931).
3. “Adik (laki-laki)” dalam bahasa Spanyol.
4. Kutipan puisi “Metamorfosis Narkissos” (1937) oleh Salvador Dali untuk

menyertai lukisan kanvas dengan judul yang sama.





====================
Diang Kameluh, penulis bernama lengkap Sarita Rahel Diang Kameluh ini lahir di Surabaya, pada tanggal 10 April 1997. Kini menempuh pendidikan di jurusan Teknobiomedik di universitas ilmu terapan FH Aachen, Jülich, Jerman. Beberapa karyanya tersiar di media daring dan cetak.

Di Antara

0

ORANG-ORANG biasa memanggilnya Pon. Jika kau bertemu dia di jalan ada baiknya kau menyapa dia dengan nama pemberian orang-orang itu, ia pasti akan memberi senyum yang paling tulus kepadamu. Senyuman yang membuatmu menyadari jika masih ada bagian dari dunia ini yang tidak tersentuh kebohongan. Bagian yang dimiliki oleh dia yang dianggap gila oleh sebagian besar orang.

Sebenarnya Pon bukanlah orang gila, tidak sepenuhnya gila. Aku sendiri juga bingung tentang kriteria apa saja yang digunakan orang-orang kebanyakan hingga mengidentifikasi Pon sebagai orang gila.

Jika kau mau memperhatikan Pon, maka kau akan menyadari siklus yang unik. Di siang hari, Pon akan dikategorikan oleh kebanyakan orang sebagai orang gila; sedangkan di malam harinya, Pon akan menjadi seorang pemikir: duduk memandang rel kereta api dari tempat yang aman. Lalu, saat ia mengantuk ia akan pergi ke pasar terdekat dan tertidur. Dan yang paling unik adalah saat sore dan senja hari, karena aku tak bisa menemukannya, meski sudah kutelusuri seluruh kota yang tak terlalu besar ini.

Orang-orang mulai menganggapku aneh. Setidaknya bukan gila. Dan aku merasa bahwa sebutan aneh lebih tepat daripada gila, terlebih untuk Pon. Memang apa yang aneh? Dan bolehkan kita menyebut sesuatu yang berbeda dari diri ataupun kebanyakan menjadi sesuatu yang aneh dan gila? Sedangkan, di sisi yang sama, orang-orang itu ingin diidentifikasikan memiliki keunikan tersendiri. Cukup aneh, kan?

Aku juga mulai disebut-sebut orang-orang sebagai keponakan dari Pon. Sebelumnya maaf karena aku lupa bercerita bahwa Pon berusia hampir sama dengan bapakku, sedang aku adalah mahasiswa semester tiga di jurusan yang bukan favorit kebanyakan orang. Namun, aku menyukainya.

Saat aku berpapasan dengan Pon, aku akan menyapanya seperti dengan pamanku sendiri dan Pon akan memberikan senyum yang sudah kuceritakan padamu. Terkadang Pon memberikan tampahan kalimat yang selalu membekas di pikiranku: Sudah berapa lama kau tidur, Nak? Lalu, di akhir kalimat tanya itu selalu Pon bubuhi tawa yang khas. Pertanyaan itu amat membekas, bahkan saat aku kuliah pertanyaan itu lebih membekas dibanding materi perkuliahan yang sedang diajarkan ataupun sudah kudapat sebelumnya.

Jadi, sudah berapa lama aku tertidur?

HARI ini aku memutuskan untuk menunggu Pon di tempat yang ia sukai, tepian rel kereta api. Aku menunggunya selepas ashar hingga magrib, waktu di mana Pon menghilang dari kota yang tak terlalu besar ini. Aku begitu penasaran dari mana Pon akan muncul. Dan dari mana Pon sebenarnya pergi.

Aku benar-benar menunggu. Mulai mendengar suara orang-orang yang berlalu-lalang, berkata bahwa aku benar-benar pantas disebut sebagai keponakan Pon. Namun, aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu.  

Langit makin jingga!

Beberapa kereta telah lewat, meniup rambutku yang cukup panjang. Membuatku teringat akan kalimat itu: sudah berapa lama aku tertidur? Saat kebingungan itu datang, hal yang sama kulakukan seperti Pon. Menatap langit!

Aku seolah melihat lautan di atas sana.

Saat kecil, aku sering ke laut. Dan di saat sekolah menengah, lautan sudah kunamai dengan kebebasan. Aku tak bisa berenang dan hanya menikmati sisa-sisa ombak yang membasahi kakiku, dan agaknya itulah sebab kenapa kunamai lautan sebagai kebebasan. Cukup sederhana.

“Sudah berapa lama kau tertidur, Nak? Hehe…”

Aku terkejut. Pon sudah duduk di sampingku.

“Menungguku ya?”

Aku seolah kembali menjadi bocah. Hanya bisa mengangguk: iya. Ia benar-benar menjadi paman sedang aku keponakan kecilnya. Sungguh aneh. Tapi, apa yang tidak aneh di dunia ini?

“Apa kamu punya cita-cita?”

“Sepertinya iya,” jawabku singkat. Mendengar itu Pon tersenyum, dan dari sana aku tahu bahwa Pon meminta penjelasan lebih. “Aku ingin menjadi manusia.”

Pon tersenyum makin lebar! Lalu Pon tertawa sejadi-jadinya. Tawa yang amat tulus dan membahagiakan, bukan tawa penghinaan.

“Kamu memang bocah yang unik. Apa sekarang kamu bukan manusia?” Mendengar itu aku tersenyum cukup aneh tanpa kubuat-buat. “Kalau itu memang cita-citamu, maka jalani dan gapailah,” tambahnya sambil menatap langit dan entah mengapa aku mengikuti apa yang ia lakukan.

Kami menatap langit begitu lama, seolah langit menunjukan sebuah film yang amat menarik. Sudah berapa lama aku tak menatap langit? Sudahlah, lebih baik tetap begini. Melihat langit tanpa tepi. Tanpa tepi…

“Apa kau tahu, kenapa rel kereta api tidak dapat bertemu?”

“Saat masih sekolah menengah, kata guruku: karena dua garis yang sejajar tidak dapat bertemu. Jika mereka bertemu, maka bukan garis yang sejajar lagi.”  Pon tersenyum lagi mendengar jawabanku. Dan entah mengapa aku bahagia. “Namun, aku tetap memiliki keyakinan yang bodoh dan konyol jika kedua garis itu dapat bertemu.”

“Jika keyakinanmu itu tidak terwujud dan terjadi, apa kau akan kecewa?”

“Mungkin iya. Tapi, rasa-rasanya tidak. Bukankah keyakinan yang membuat manusia bisa merasa hidup dan mau tetap hidup?”

“Ya, kau benar, Nak. Tapi, dari kekecewaan manusia juga belajar untuk membuat keyakinan baru. Keyakinan yang lebih kuat. Dan entah mengapa, aku setuju denganmu bahwa kedua garis yang sejajar tetap bisa bertemu di kedua ujungnya. Dan tetap menjadi sejajar.”

Aku tersenyum mendengar ucapan itu. Senyum yang sama dengan Pon.

Apa aku sudah bisa jujur pada diriku sendiri?

PON mati! Jasadnya ditemukan di depan pasar saat ada yang ingin membuka gerbang. Pon berada tepat di depan gerbang. Orang yang hendak membuka tadi mengira Pon tengah tertidur, dan setelah mengeceknya ternyata ia sudah mati. Mati dengan senyum yang khas itu!

Orang-orang geger! Merasa sesuatu tertancap di hati mereka. Senyuman Pon! Senyum yang amat tulus dan jujur. Setelah pemakaman Pon, orang-orang pulang dan mengurung diri di rumah masing-masing, sampai hari menjadi malam. Lalu, orang-orang itu berjejer di tepian rel kereta api. Tempat kesukaan Pon saat dirinya tak dikira orang gila oleh orang-orang tadi.

Aku masih ingat kalau Pon berpesan padaku sebelum dirinya ingin pergi tidur di depan gerbang pasar. “Aku sudah mengantuk, Nak. Mungkin sekarang waktunya kamu bangun. Bangunlah dan jadilah manusia seperti yang kamu cita-citakan.”

Manusia seperti apa yang ingin kucapai? Aku bertanya pada diriku sendiri.

Aku melihat orang-orang itu berjejer menatap rel. Barisan yang amat panjang! Bagai pagar di sepanjang rel. Aku tak tahu pangkal dan ujungnya, yang pasti sepanjang rel berisi orang-orang itu.

“Pon belum mati!” kataku pada diriku sendiri, meyakinkan. “Aku harus segera menemukannya.”  

SEMUA berjalan selumrahnya. Orang-orang kembali pada kebiasaan dan kerutinan mereka. Semua seperti bisa, kecuali ketidakhadiran Pon! Orang-orang tadi seolah lupa pada Pon. Mereka seolah tak pernah bertemu dengan Pon yang memiliki senyuman yang khas itu. Pon menghilang di pikiran dan perasaan mereka. Menghilang! Mungkin juga dipaksa mereka menghilang.

Pikiranku seolah berjalan mundur. Memutar kenangan dan ingatan yang ada di tiap sisi kepalaku. Menikmati cerita yang Pon tulis di dalam batinku. Alurnya maju-mundur, terfragmen-fragmen, tetapi aku tetap menikmatinya; terbawa oleh sebuah daya yang tak kuketahui.

Kehidupan berjalan seperti biasa, benar-benar biasa. Di saat seperti inilah aku tahu bahwa yang biasa sudah tak biasa lagi. Sialan! Kulihat wajahku di cermin, air masih menetes, dan air kran benar-benar dingin rasanya. Ke mana perginya Pon? Ia bilang bahwa ia mengantuk dan ingin tidur, bukankah seharusnya yang tidur juga harus bangun? Namun di mana dan kapan Pon akan bangun? Pon menyuruhku bangun, tapi ia sendiri malah tertidur. Sialan!

Senja! Mungkin di sana jawabanya.

Kau pun bergeges menuju sana . . . . , dan kau menemukannya!

“Ke mana saja, Paman, pergi?”

“Aku sudah bilang bahwa aku sangat ngantuk, kan?”

“Tapi, kenapa…”

“Ada baiknya setiap pertanyaan tak dijawab. Biarkan pertanyaan itu menjadi indah tanpa jawaban. Menjadi sesuatu yang dapat kau nikmati berulang kali.”

Pon menatap langit! “Kau berhasil menemukan tempat persembunyianku sepertinya. Ada baiknya kuucapkan selamat.”

“Kau tidak pernah bersembunyi, kan? Kau hanya dinafikan olah orang-orang sehingga tak ada yang menyadarimu, kan?”

“Dan kau menemukanku, Nak.”

“Tidak. Kaulah yang menemukan aku! Dalam pencarian sang pencari tidak pernah berhasil menemukan apa yang ia cari. Ia hanya ditemukan olah yang ia cari.”

Pon tersenyum!

BERITA pagi ini:

Rel kereta api di kota X dinyatakan menghilang! Kejadian yang aneh ini membuat kereta api yang hendak melewatinya terpaksa mencari jalan lain. Diduga rel kereta api menghilang sebelum pukul enam pagi. Pihak kereta api merasa beruntung karena tidak ada kecelakaan yang terjadi. Kereta yang memiliki jadwal melewati rel kota X secara mendadak bisa sampai di tujuan masing-masing.

Orang-orang berjalan seperti biasa. Kehidupan bergerak selumrahnya. Dan Pon mengutukku menjadi anomali bagi semua itu.

Dan aku tersenyum!

(2021)




===================
Polanco S. Achri lahir di Yogyakarta, Juli 1998. Menetap pula di kota yang sama. Lulusan jurusan sastra. Menulis prosa serta drama. Dapat dihubungi via FB: Polanco Surya Achri dan/atau Instagram: polanco_achri.

Terbaru

Di Tubuhku, Durjana Itu Meledak, Teta

Teta-ku, Um Halimah sudah lama meninggal, jauh sebelum Zionis berhasil menduduki sebagian wilayah Gaza....

Dari Redaksi