Tanda Tanya Menuju Hindia

Cerita Lain Untuk Sabil

Tugas Sekolah

Cerpen

Home Cerpen

Firasat

0



“Apa yang aku bayangkan selalu terjadi!”

Kau hanya mendengus-dengus di depanku.

“Ini firasat, begitu buruk!”

“Tidak, tidak, kau harus pergi, Ril. Tidak mungkin kau menolak tawaran ini. Ini kesempatanmu, kesempatan satu-satunya. Kau harus pergi. Ya biarkan kami di sini. Aku akan menjaga Arisa untukmu, sepenuh ragaku.”

Setahun sejak percakapan itu, kau menikah dengan Arisa, kekasihku.

***

Aku tak pernah mengerti mengapa kau selalu ingin aku pergi. Bahkan ketika aku hanya berada di kota ini untuk beberapa hari, kau senantiasa gelisah. Kau merasa bahwa yang selalu kau bayangkan bakal benar-benar terjadi. Namun nampaknya itu tak pernah terjadi. Lihatlah aku kini, masih sehat, hidup sediakala, bahkan dengan perut yang semakin tambun.

Sama sekali aku tak membenci dirimu. Meski terang-terangan kau telah khianat. Ketika aku berada jauh di negeri lain, terlunta-lunta kesana kemari, kau justru dengan senang hati menikah dengan orang lain, dengan orang yang berjanji untuk menjaga dirimu, demi aku, demi persahabatan, kata keparat itu.

Tapi sudahlah, aku sudah terbiasa berdamai dengan segala hal, termasuk dirimu. Namun yang paling aku kesalkan adalah firasat-firasatmu terhadapku. Ini yang paling aku tidak suka––bukannya benci––dari dirimu. Kau seolah bisa melihat apa yang bakal terjadi kepadaku, seolah kau hendak menghalangi segala keburukan yang bakal terjadi, di masa yang mendatang. Sungguh aku muak betul dengan firasat-firasatmu itu, Arisa!

Siang itu, ketika aku baru saja hendak melepas sepatu, kau kembali meneleponku. “Ril, percayalah padaku. Kau tak seharusnya kembali ke kota ini. Kota ini bakal menyeretmu lebih dekat kepada kematian. Kumohon dengarkan aku kali ini. Aku tak ingin kau mati dalam usia muda. Aku tak ingin…”

Tuuut… tuut… telepon kumatikan.

Arisa, mengapa kau begitu peduli kepadaku? Bukankah kau telah memiliki orang lain yang lebih baik untuk kau pedulikan. Tak seharusnya lagi kau peduli atau bahkan mengingat-ingat aku. Atau kau masih merasa kita masih menjadi sepasang kekasih? Oh, tidak, Arisa, tidak lagi. Roda telah bergulir. Kau telah menjadi milik Andrea. Dan kau tidak memiliki aku. Begitu pula, aku tidak memiliki kau.

***

“Aku hanya akan pergi beberapa hari, bu.”

“Kau selalu begitu, selalu mengatakan beberapa, padahal bisa jadi kau pergi selama sebulan atau justru…” Mendadak kalimat ibunya berhenti. Ibunya tersedak.

“Pelan-pelan, Bu. Tak perlu terburu-buru. Ibu sebaiknya berlibur saja, kemana saja sesuka ibu. Kudengar di Osaka ada taman menakjubkan yang baru saja dibuka. Atau, ya kemana saja terserah Ibu…”

“Ah kau ini, selalu mengolok-olokku. Aku ini ibumu, tau! Sekarang cepat habiskan sarapanmu, ibu ikut mengantarmu ke bandara.”

***

Aku tak pernah menyangka ketika pesawat telah menjejakkan rodanya di kota ini, aku menerima sebuah pesan, bahwa mobil yang dikendarai ibu terperosok ke bawah badan truk raksasa yang tengah melintas.

Aku merasakan lemas pada kedua lututku. Beberapa orang membantuku ke arah tempat duduk, dan kemudian meninggalkanku. Aku tercenung beberapa saat, ketika kemudian teleponku bergetar. Arisa. Aku mengangkatnya dengan enggan.

“Maaf soal ibumu. Firasat kali ini terlambat datangnya. Tepatnya ketika baru saja hendak mandi pagi. Aku berulangkali mencoba meneleponmu. Namun tak aktif. Kukira kau tentu masih di dalam pesawat. Maafkan aku, Ril.”

Arisa mematikan teleponnya. Aku sama-sekali tak mengerti apa yang tadi diucapkannya. Aku bangkit dari duduk, dan mencoba keluar dari bandara. Sekian lama aku menyeret-nyeret diriku, aku melambai-lambaikan tangan memanggil taksi. Namun tak satu taksi pun mendekat. Justu ketika itu, di hadapanku telah berhenti sebuah mobil berwarna hitam. Aku tak berpikir terlalu panjang, aku masuk ke dalamnya tanpa tahu kemana arah tujuannya.

Tiba-tiba saja aku telah berada tepat di depan wajah Arisa. Ia baru saja menciumku. Aku masih merasakan bekas bibirnya di bibirku. Lalu ia menjauh, ke arah jendela yang membentang pemandangan kota ini. Ia bergumam-gumam kecil. Sementara aku sedikit demi sedikit mencoba mengumpulkan kembali kesadaranku.

“Aku tak pernah rela, Ril, tak pernah rela.”

Sambil mengucapkan kalimat itu, kedua bola matanya memandang ke arah luar. Namun aku tahu dari suaranya yang lirih itu, bahwa kedua bola itu sedang mengeluarkan air yang pedih.

“Sedikitpun aku tidak rela, kau pergi. Namun, kau tetap pergi, Ril. Kau meninggalkan aku di kota ini. Tidak sendiri memang. Tetapi, alangkah tega dirimu memisahkan cinta yang merekat kita selama bertahun-tahun. Dengan ringan hati kau menerima tawaran itu, tanpa mau mendengarkan pertimbangan.”

“Hei… hei… Apa yang kau bicarakan, Arisa!? Kau tahu ibuku baru saja mati tadi pagi. Dan kini kau meracau atas hal-hal gila!”

“Tadi pagi? Astaga, tidak sadarkah kau sudah tiga hari terbaring di sini!”

“Tiga hari? Benarkah? Ah, kau jangan bercanda, Arisa, aku sedang tidak main-main.”

“Aku tak berbohong. Aku tak pernah berbohong padamu. Racunlah aku jika aku dusta padamu. Namun kau…ya, kau! Kau tidak pernah mau mendengarkanku. Tidak pernah mau menerima pendapatku, sama-sekali! Bahkan ketika ibumu mati.”

“Diaaaaaam!” Aku berteriak sekerasnya, tak peduli dimana kini aku berada.

“Tidak, kali ini tidak lagi, Ril, aku tak lagi bisa diam. Aku tak ingin kau tersakiti. Aku tak ingin kau mati mengenaskan, Ril. Aku tidak akan sanggup untuk semua itu. Meski kau tidak percaya pada firasatku, namun aku tidak ingin itu semua terjadi!”

Aku termenung memandang Arisa. “Kau ini kenapa, sebenarnya!?”

“Ril, kemarilah, kemari… matilah denganku.” Ia menarik tanganku dengan perlahan-lahan namun begitu erat dan pasti.

“Apa-apaan! Kau gila Arisa, apa yang kau…”

“Matilah bersamaku, Ril! Aku mencintaimu.”

Tubuh sepasang manusia itu cukup menghamburkan jendela itu menjadi pecahan-pecahan kaca. Kedua tubuh itu meluncur dengan cepat, tak lagi sempat berteriak, dan tak menunggu lama menubruk keras atap sebuah sedan yang tengah melintas, tepat di bawah apartemen berlantai tiga-puluh-tujuh itu.




====================
Muhammad Husein Heikal
, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Menempuh studi ekonomi di Universitas Sumatera Utara. Menulis untuk Horison, Kompas, Koran Tempo, Utusan Malaysia, The Jakarta Post, Media Indonesia dan terangkum dalam beberapa buku antologi.

Menerjemahkan Pesan Mbah Kakung

0

Sepanjang hayat tak pernah kukenal sosok kakekku, ayah kandung bapakku. Pernah sekilas belaka Bapak bercerita, ayahnya tiada ketika dirinya masih remaja. Namun, beliau tidak pernah memberitahu kapan persisnya kakek atau Mbah Kakung tutup usia dan di mana pula makamnya. Adakalanya aku hanya diajak berziarah ke makam Mbah Putri di kota kecil yang pernah ditinggali Bapak, Ibu, dan kakak-kakakku sebelum aku lahir. Maka sebatas kutahu nama lengkap Mbah Kakung. Bahkan fotonya saja tak pernah kulihat di dinding rumah maupun di album foto usang milik Bapak. Ingin kutahu siapa sejatinya kakekku, sejarah nenek moyangku, tapi kepada siapa aku mesti bertanya hari ini? Bapak telah dua puluh tahun silam padam nyawa dan kerabat dekatnya yang kukenal segelintir belaka. Ibu pun sudah tiada delapan tahun lalu. Keempat kakakku tidak tahu banyak pula. Sementara sejumlah sepupuku pun tak pernah bercerita soal Mbah Kakung. Namun, hubunganku dengan mereka tak terlampau karib, jadi aku jarang bertemu, kecuali dengan Mas Widodo sesekali.

Orang tua berkemeja lusuh dan bersarung warna gelap itu berjalan menuju tempatku berdiri. Tak kukenal wajah lelaki berewokan dan berambut panjang warna putih yang usianya tampak amat uzur tersebut. Ia melangkah perlahan dengan tongkat. Cara berjalannya rada membungkuk. Setelah posisinya tak jauh dariku, ia mendongakkan kepalanya dan menatap ke arahku.

”Betul kan, kau bernama Bimo dan putra Sutejo?” tanya si kakek.

”Iya, benar. Dari mana kakek tahu dan siapakah kakek ini?” tanyaku takjub.

”Aku adalah Mbak Kakungmu, Bimo.”

”Tapi kata Bapak, Mbah Kakung sudah lama meninggal. Bagaimana bisa berada di sini?”

”Ya, cucuku. Aku memang sudah tiada di atas buana.”

“Jadi, Mbah Kakung ini tidak nyata atau bagaimana?”

“Tak usah pikirkan soal itu. Aku sekadar ingin menyampaikan sesuatu.”

“Apakah itu?”

“Ini menyangkut kakak perempuan bapakmu yang dahulu hilang. Dia sebetulnya masih hidup. Cobalah, kau cari dirinya. Aku yakin, cucuku bisa melakukannya. Itu saja pesanku.”

Tak kupahami apa yang dikatakan Mbah Kakung. Baru aku mau bertanya, mendadak sosok lelaki itu lenyap, dan terbukalah mataku. Aku tengah berada di atas dipan, sedangkan istriku terlelap di sisi kiriku. Ternyata aku sebatas bermimpi berjumpa dengan kakekku. Entahlah, mengapa tiba-tiba beliau hadir dalam bunga tidurku? Coba kurenungkan pesan Mbah Kakung. Sebelumnya memang pernah kudengar cerita tentang hilangnya kakak perempuan Bapak dari Mas Widodo. Antara percaya dan tidak, ketika kusimak kata-katanya tempo hari.

“Kakak perempuan bapakmu dahulu pergi waktu sore. Konon dia pergi dibawa makhluk halus, genderuwo atau wewe gombel, aku tidak hapal. Sejak saat itu, dia tak pernah pulang,” ujar Mas Widodo.

“Apakah Bapak saya sudah mencarinya?” tanyaku.

“Bapakmu sudah mencarinya, demikian pula bapakku. Tapi mereka tak pernah bisa menemukannya.”

Saudara kandung Bapak yang kukenal hanyalah ayah Mas Widodo, yaitu Pakde Sumpeno. Kata Bapak, sesungguhnya ada beberapa kakak adiknya yang lain, tapi mereka wafat dalam usia muda. Yang kuingat hanyalah cerita tutup usianya adik perempuan Bapak. Menurut Bapak, beliau meninggal dunia secara tidak wajar. Aku jadi penasaran, mengapa demikian nasib saudara-saudara Bapak?

Ingin kuceritakan soal mimpiku ditemui Mbah Kakung, tapi aku sempat tak mengerti pada siapa. Seluruh kakakku merupakan tipe orang yang sangat rasional dan agak susah menerima hal-hal yang dipandang kurang masuk akal. Istriku sama saja, tapi dia lebih terbuka menerima perbedaan karena cintanya terhadapku. Barangkali harus kutemui Mas Widodo, siapa tahu dia bisa menerjemahkan pesan Mbah Kakung.

“Kenapa untuk masalah itu, Mas Bimo sampai mau pergi jauh?” tanya istriku.

“Firasatku, dia bisa memecahkan misteri Mbah Kakung. Sepertinya ada sesuatu yang lebih bermakna dari mimpiku.”

“Mungkin maksudnya agar hubunganmu dengan Mas Widodo bisa lebih akrab.”

“Iya, aku sempat berpikir begitu. Rencanaku besok pagi berangkat, menginap semalam, dan pulang Minggu paginya.”

Jadilah aku pergi ke tempat tinggal Mas Widodo yang merupakan desa asal Bapak, sebelum beliau merantau ke berbagai daerah karena tugasnya, hingga akhirnya tinggal dan wafat di Yogyakarta. Begitu sampai di rumah sepupuku, langsung kukatakan maksudku. Mas Widodo takjub ketika kuceritakan mengenai Mbah Kakung.

”Kenapa justru Dik Bimo yang didatangi Mbah Kakung, ya?” tanya Mas Widodo.

”Entahlah. Menurut Mas Wid, bagaimana soal bibi kita yang katanya masih hidup itu? Siapa nama beliau? Saya lupa.”

”Namanya Sukarti kalau tidak salah, ya kita sebut saja Bu Kar atau Bude Kar buatmu. Bisa jadi beliau memang masih ada.”

”Tapi kita mesti mulai dari mana, Mas?”

”Seingatku, dulu Bu Kar hilang saat bapakmu tinggal di Solo. Jadi siapa tahu, beliau sekarang malah tinggal di Jogja?”

”Bisa jadi, Mas. Mungkin itu sebabnya saya didatangi Mbah Kakung.”

”Nah, sepertinya kita mulai bisa memecahkan teka-teki itu.”

Pagi hari berikutnya aku pamit pulang. Mas Widodo berjanji akan ke Jogja pada Sabtu selanjutnya. Kami bersepakat mencoba mencari Bude Kar, yang konon masih berada di atas buana.

***

Telah ada yang mengetuk pintu rumahku pada Sabtu pagi, tak lama seusai azan Subuh berkumandang. Mas Widodo datang memenuhi janjinya. Sekian jam kemudian, aku dan Mas Widodo mendatangi satu demi satu panti jompo yang berada di kotaku. Telah kumiliki daftarnya di seluruh penjuru Yogyakarta lewat internet. Sempat dua kali kami menemukan nama Sukarti, tapi bukan yang kami cari. Sukarti yang pertama berusia lebih muda dari bapakku dan tertera data keluarga yang menitipkannya. Sementara itu, Sukarti yang kedua baru wafat sekitar dua pekan berselang.

”Bagaimana jika Sukarti yang kedua ternyata Bude Kar yang kita cari, Mas?” tanyaku ketika kami makan siang di warung soto ayam.

”Bukankah kata Mbah Kakung, beliau masih hidup?” ujar Mas Widodo mengingatkanku.

”Iya, Mas. Tapi mimpi bisa saja ditafsirkan berbeda-beda, kan?”

”Sekarang, tanyakan pada hatimu saja. Menurutmu, apakah Sukarti kedua tadi yang kita cari atau bukan?”  

”Firasat saya, Bude Kar masih hidup, meski entah kapan ketemunya.”

”Kita sabar sajalah. Toh, kita baru mulai mencarinya.”

Hari berikutnya, aku dan Mas Widodo menyambangi sejumlah panti jompo yang belum kami kunjungi dan tiada lagi nama Sukarti.

“Mungkin pekan depan, kita bisa mencoba mencarinya di Solo atau Magelang,” usulku.  

“Ide yang bagus, Dik. Cuma aku tak bisa datang lagi pekan depan. Aku mesti membantu tetanggaku yang akan mantu.”

“Tidak apa-apa, Mas. Biar nanti saya mencarinya sendiri. Yang penting, kita telah berupaya serius menemukan kerabat kita yang hilang.”

Aku jadi menjelajahi panti jompo yang berada di Solo maupun Magelang, sepekan sehabis Mas Widodo pulang. Ada Gugun dan Irwan, dua keponakanku yang bersedia menyertai langkahku. Akhirnya aku bercerita pada kakak-kakakku soal mimpi itu. Mereka ternyata tidak memasalahkan hal tersebut. Malah Mas Kresno yang akhirnya menyuruh anak-anaknya menemaniku.

“Ketika kedua orang tua kita sudah wafat, kita tidak bisa lagi membahagiakan mereka, kecuali hanya dengan menjadi orang baik dan tak pernah berhenti mendoakan mereka. Namun, jika kakak mendiang Bapak ternyata masih hidup, mungkin kita bisa memuliakan beliau di masa tuanya,” kata Mas Kresno bijak.

Mendapat dukungan saudara-saudara terdekat membuatku lebih giat mencari Bude Kar. Sebenarnya aku berharap menemukan pertanda keberadaan beliau, meski entah apa wujudnya. Namun, sampai sebulan kemudian, tiada isyarat yang datang padaku. Aku berharap Mbah Kakung mengunjungiku lagi, tapi tak kunjung terjadi. Mungkin kulupakan saja pencarianku dan membiarkan pesan Mbah Kakung sebatas misteri yang tak berhasil dituntaskan.

***

Biasanya hampir setiap akhir pekan, aku dan istriku membawa anak-anak mengunjungi kakek nenek mereka. Namun, selama sebulan terakhir aku tak ikut datang ke rumah mertua karena kesibukanku menafsirkan mimpi Mbah Kakung. Sabtu petang itu, aku sedang duduk santai dengan bapak mertuaku, istriku, dan sejumlah saudaranya. Aku telah kembali bercengkrama bersama keluarga besar istriku. Anak-anak sedang ceria bermain di halaman rumah itu. Tiba-tiba datanglah nenek penjual pisang yang pernah kutemui sebelumnya.

”Eh, Mbah akhirnya datang juga. Ibu saya dari tadi sudah menunggu lho, kan rencananya kami mau bikin pisang goreng,” kata istriku sambil mendekati perempuan tua tersebut.

”Iya nih, masak teman minum teh dan kopi sore ini hanya roti? Mestinya memang ada pisang goreng panas, pasti jadi nikmat sekali rasanya,” ujar bapak mertuaku disambut senyum tawa kami semua. Aku ikut tersenyum, tapi melihat nenek penjual pisang itu, serta-merta terbesit perasaan aneh yang biasanya tak ada. Tampaknya sebuah isyarat baru telah kudapat. Ingin segera kutanyakan banyak hal kepadanya, tapi aku merasa tak nyaman karena banyak orang. Aku bergegas masuk mengikuti istriku yang sedang mengambil uang.

”Dik, sepertinya yang kucari sudah ketemu,” kataku.

”Apa maksud Mas Bimo? Masih juga terobsesi pada sosok Bude Kar, ya?”

“Iya, Si Mbah penjual pisang itu jawabannya.”

“Huss, Mas jangan bercandalah. Dia itu sudah bertahun-tahun menjual pisang di sini. Masak sih, selama ini kita tidak tahu?”

“Aku punya firasat yang kuat ketika melihat dirinya hari ini. Kau lihat saja, wajahnya mirip siapa?”

“Baik, cobalah kulihat. Eh, iya lho, Mas. Kok Si Mbah itu jadi ada miripnya dengan Mbak Utari? Terus, sekilas aku jadi ingat wajah bapakmu di foto pula,” ucap istriku seraya memandangi sosok perempuan tua itu lewat jendela.

“Iya, kan? Coba kau ajak dia masuk, di dapur atau ruang makan juga boleh. Ingin kuajak dia bicara. Kau nanti bantu aku, ya?”

Nenek penjual pisang itu bersedia dibawa istriku duduk di ruang makan. Ibu mertuaku pernah mengajaknya masuk, jadi bukan lagi hal istimewa baginya Aku ditemani istriku duduk di depan sang perempuan tua. Ibu mertuaku membuat pisang goreng dibantu putrinya yang lain. Terus terang, aku gugup dan tak tahu mau mulai bicara dari mana.

”Ada apa ya, Mbak dan Mas ini kok tumben mau ketemu saya?” tanya nenek itu.

”Ini suami saya, Mbah. Namanya Mas Bimo,” ujar istriku.

”Iya, sepertinya saya pernah lihat Mas Bimo.”

Aku tersenyum saja dan menunggu istriku kembali berkata. Hatiku berdebar-debar, berharap firasatku tepat adanya. Dengan bahasanya yang halus, istriku meminta sang nenek menceritakan siapa dirinya dan ternyata dia bersedia. Dahulu kala, dia pernah pergi dari rumah adiknya hingga tersesat, persis dengan cerita Mas Widodo tentang Bude Kar. Dia tidak bisa pulang sejak saat itu, hingga akhirnya menikah, dan memiliki anak cucu di daerah Bantul, tak jauh dari kota Yogyakarta. Ternyata dia sempat menderita amnesia. Ketika memorinya mulai kembali, dia mencoba mencari kerabatnya di mana-mana, tapi tak kunjung berhasil. Aku menyimaknya dengan saksama, sampai akhirnya mengajukan pertanyaan.

”Apakah Mbah masih ingat nama saudara-saudaranya?”

”Waktu saya pergi, saya masih punya kakak yang namanya Sumono atau Sumpeno, ya? Lalu, ada dua adik saya yang namanya Sutejo dan Sulastri.”

Nyaris tak kupercaya mendengarkan apa katanya. Aku menoleh ke arah istriku yang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Tangannya lantas menggenggam tanganku. Tanpa sadar, air mataku menetes begitu saja.  Aku segera menghampiri nenek penjual pisang itu dan berlutut di dekatnya.

”Mbah ini namanya Ibu Sukarti, kan?” ucapku dengan perasaan tak karuan.

”Iya, betul. Lalu, Mas Bimo ini siapa, ya?” tanya perempuan tua itu bingung.

“Bude Kar, saya ini keponakan Bude. Saya Bimo, anaknya Pak Sutejo.”

“Anaknya Sutejo? Masya Allah, jadi Mas Bimo keponakan saya?”

Kami pun berpelukan dengan rasa haru. Sungguh tak kukira bisa berjumpa dengan kakak mendiang Bapak yang pernah hilang, ketika aku bahkan belum lahir ke dunia. Bude Kar pergi dari rumah adiknya tatkala usianya masih sekitar awal tiga puluh, empat puluh enam tahun silam. Usiaku sendiri kini empat puluh. Jadi, usia Bude Kar kira-kira sudah tujuh puluh tujuh.

“Apakah bapakmu masih ada, Nak?” tanya Bude Kar.

“Bapak sudah meninggal dua puluh tahun lalu, Bude.”

“Ya Allah, adikku sudah lama pergi. Lalu pakdemu dan bulikmu?”

“Pakde Sum dan Bulik Lastri sudah lebih dulu wafat sebelum Bapak.”

“Jadi, tinggal aku sendiri, ya?” kata Bude Kar sendu.

“Lho, bukankah Bude masih punya anak cucu? Lantas, sekarang Bude juga punya saya sebagai keponakan Bude, kan?”

Bude Kar tersenyum bercampur air mata. Tak lama kemudian, ibu mertuaku mengajak kami menikmati kebersamaan di teras rumah. Rasanya tak sabar kuberitahu kakak-kakakku dan Mas Widodo tentang kabar gembira perjumpaanku dengan Bude Kar. Ternyata benar kata Mbah Kakung dalam mimpiku tempo hari. Lega rasanya, telah berhasil kuterjemahkan pesan beliau kini.




====================
Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jabar, kompas.id, dan sejumlah media lainnya. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).  

Kesedihan Lundu Paring, Kesedihan Seekor Kucing

0

Dua hari belakangan ini, Lundu Paring begitu sedih. Ia tetap saja tampak murung bahkan ketika di depan rumah ia melihat sejumlah bocah terpingkal-pingkal lantaran teman mereka terjerembap ke selokan. Ketika bocah yang jatuh ke selokan itu susah payah bangkit dengan tangis dan tubuh dilumuri lumpur nan busuk, Lundu Paring merasa kesedihan yang ia rasakan jauh lebih menyayat ketimbang yang bocah itu alami. Menurut Lundu Paring, bocah itu sial semata, tetapi dirinya sendiri (nyaris) kehilangan semangat hidup.

Barangkali benar kata orang yang pernah mengunjungimu pada suatu hari bahwa tidak ada yang terlampau sepele bikin orang putus asa. Mungkin bagimu kehabisan stok kopi adalah perkara kecil belaka, tetapi Lundu Paring (nyaris) kehilangan semangat hidup karena itu. Bagi Lundu Paring, kopi seumpama udara bagi paru-paru. Dan begitulah yang terjadi dua hari belakangan ini, bahwa Lundu Paring kehabisan kopi, ia tak lagi menyesap kopi, lantas ia jadi sedih.

Lundu Paring segera menelepon dan memesan kopi kepada pedagang langganannya di Sidikalang saat ia menakar persediaan hanya cukup untuk seminggu lagi. Pedagang itu menyanggupi dan mengirimkan paket kopi ke Kota Palangkaraya—tempat Lundu Paring menyeduh kopi, sekitar 3.300 kilometer dari tempat kopi ditanam dan dikemas. Akan tetapi, hingga hari ini—hari di mana Lundu Paring begitu sedih dan bocah-bocah menertawai teman mereka yang jatuh ke parit—kopi belum juga tiba di rumah Lundu Paring. Biasanya, lima hari sudah cukup waktu untuk mengirimkan kopi dari asal ke rumah.

Ia sempat berpikir untuk mengganti dengan jenis lain kopi yang dijual di sekitar rumah—bukan kopi Sidikalang. Namun, pikiran semacam itu mesti lekas ia singkirkan sebab Lundu Paring adalah tipe manusia yang setia, terutama pada kopi. Ia tak ingin merecoki lidahnya dengan mencicipi kopi jenis lain kendati hal itu ditanggungnya dengan kesedihan yang mengoyak.

Ia lantas mengumpati hampir apa saja, terutama wabah yang bikin jalur pengiriman barang jadi macet sehingga pesanan kopinya tak kunjung tiba. Ia kemudian semakin sedih tatkala ia menyadari bahwa menunggu merupakan satu-satunya hal yang ia bisa kerjakan agar kopi pesanannya tiba di rumah.

Lundu Paring betul-betul bersedih.

Lantas, apakah kau telah cukup memahami kesedihan Lundu Paring?

Supaya kau memahami kesedihan yang Lundu Paring rasakan saat kehabisan persediaan kopi, bayangkan saja berikut ini.

Tujuh bulan yang lalu, kau adalah seekor kucing yang terjatuh ke selokan setelah bocah-bocah begitu keras kepala hendak menyakitimu. Mereka mengejarmu sembari melemparimu dengan kerikil, walau jagat raya ini tahu kau tidak berbuat sesuatu kesalahan seperti mencuri ikan atau mencakar kaki salah seorang dari mereka. Tentu saja mereka melakukan itu dengan kegembiraan tiada banding, sementara kau hanyalah kucing kurus kurang gizi yang tengah ketakutan dan terlampau ringkih untuk berlari kencang.

Kau telah berupaya mengelak serangan para bocah itu, namun dua kerikil telah menumbuk tubuh kurusmu dengan agak keras. Kau kesakitan, tetapi upaya terbijak adalah kau harus terus menghindari serangan bocah-bocah itu. Kau terus berlari, mengelak lemparan, dan melompat ketika di depanmu terdapat selokan.

Ternyata lompatanmu tidak cukup menjangkau sisi lain selokan. Akhirnya kau terperosok. Rambut belang putih-pirang di tubuhmu seketika menghitam yang aromanya bikin perutmu mual.

Bocah-bocah itu semakin riang melihat keadaanmu. Mereka tergelak-gelak tanpa henti jika saja seorang pemuda tidak menghampiri mereka. Barangkali pemuda itu terusik oleh keriuhan yang mereka timbulkan.

Sementara itu, kau merasa kelakuan para bocah itu merupakan penghinaan ulung. Seumur hidup, kau tak pernah diperlakukan sehina itu, baik oleh sesama kucing maupun makhluk hidup lain. Tetapi hari itu makhluk yang disebut manusia telah menghinamu tanpa peduli bahwa hati kucing juga bisa koyak. (Barangkali mereka perlu ditatar ihwal peri-kekucingan.) Hari itu kau merasa berada di roda hidup paling hina, paling daif. Maka, tubuh kurusmu yang berlumur lumpur yang tengah diapit dinding selokan busuk serta di kitaran wajah-wajah manusia peleceh yang menatapmu, kau bersumpah atas harkat diri sendiri dan beberapa rekanmu kucing bahwa kau akan tertawa keras-keras jika suatu hari nanti kau mendapati salah satu dari bocah itu mengalami nasib serupa denganmu: Terperosok ke selokan.

Akan tetapi, kau keliru. Tidak semua wajah yang menatapmu di selokan busuk itu melecehkanmu. Pemuda itu mengomeli para bocah iseng, dan ia mengatakan kepada mereka untuk mengangkatmu dari selokan. Ia memerintahkan supaya mereka membasuh tubuhmu sampai bersih. Kau tahu, bocah itu menurut saja.

Seorang bocah menjawab bahwa kau adalah kucing jalanan ketika pemuda itu bertanya siapa tuanmu.

Pemuda itu mengatakan kepada para bocah bahwa ia akan mengurusmu. Pemuda itu menyampaikan keinginannya bukan dalam rangka meminta izin kepada bocah-bocah itu, tetapi semacam pengumuman bahwa kau bukan lagi kucing jalanan. Kau senang mendengarnya.

Hari-hari berlalu, kau mencecap kasih sayang pemuda itu yang merawatmu dengan baik. Ia memberi pakan enak hingga tubuhmu jadi gemuk dan wajahmu tampak segar. Nyaris saban malam ia mengelusmu lembut. Kau merasa sangat beruntung memiliki (atau dimiliki) pemuda itu. Kau merasa hidupmu indah, seperti kisah-kisah dongeng pengantar tidur yang pemuda itu pernah bacakan untukmu. Maka rela saja, menurutmu, bila kau menganggap pemuda itu sebagai tuanmu.

Semua berjalan baik-baik saja. Tuanmu masih merawatmu sebagaimana tuan yang baik terhadap piaraan. Tuanmu masih mengerjakan beberapa tugas kantor, walau itu tampak menjemukannya. Tuanmu masih melakukan kebiasaannya minum kopi hingga bergelas-gelas dalam sehari, seolah tanpa kopi bukanlah hidup. Seorang perempuan masih sering berkunjung ke rumah tuanmu—rumah kalian. Perihal seorang perempuan yang kerap mengunjungi tuanmu itu, kau tahu ia adalah kekasih tuanmu sebab demikianlah mereka menyebut satu sama lain. Kehadiran perempuan itu tak lantas mengurangi perhatian tuanmu kepadamu. Kau maklum saja, adakala seluruh perhatian tuanmu tercurah kepada perempuan itu. Semua tetap berjalan baik-baik saja ketika perempuan itu tak lagi datang berkunjung setelah pertengkaran antara sepasang kekasih itu pada suatu sore. Saat pertengkaran terjadi, kau terpaksa menghentikan kegiatan makan karena perempuan itu menampar kencang wajah tuanmu selepas tuanmu mengatakan dia adalah perempuan murahan. Menurut tuanmu, perempuan itu tidak lagi bisa mengelak karena ia sudah tertangkap basah selingkuh dengan seorang berperut buncit di satu taman. Perempuan itu berkilah bahwa dia tidak selingkuh, dan tuanmu hanya bilang tidak perlu mengelak dari sesuatu yang sudah jelas… Semua berjalan baik-baik saja.

Semua akan berjalan baik-baik saja manakala tuanmu cukup jeli. Tetapi, kau tahu, tuanmu keliru ketika ia mengira lima hari adalah waktu yang cukup untuk mengirimkan kopi dari Sidikalang ke rumahnya—rumah kalian. Segalanya dibikin susah oleh wabah yang bisa buat sesak napas sebelum mati semakin menyebar, sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan yang membatasi aktivitas di luar rumah dan melarang orang-orang bepergian ke luar wilayah, sehingga jalur pengiriman barang menjadi terhambat, sehingga kopi yang tuanmu pesan belum juga tiba di rumah, sehingga dua hari belakangan ini tuanmu tidak lagi menyesap kopi, sehingga tuanmu sedih dan merasa hidupnya akan berakhir, sehingga kau perlu berempati atas kesedihan tuanmu sebagai bentuk kesetiaan. Semua tidak berjalan baik-baik saja; sebab kau tahu, hidup tanpa kopi bukanlah hidup bagi tuanmu.

Sementara kau berupaya memahami kesedihan tuanmu, di luar sana bocah-bocah bikin bising. Kau didorong oleh perasaan terganggu yang membuatmu berjalan ke arah mereka—seolah-olah kau ingin mengajukan tuntutan—, dan mendapati seorang dari mereka terjerembap ke selokan. Mereka mengingatkanmu kepada wajah-wajah yang melecehkanmu tujuh bulan yang lalu. Kau menganggap jagad raya ini telah begitu baik kepadamu, dan kini waktunya membalas dendam. Kau ingin sekali berguling-guling, berlari-lari riang, terkekeh-kekeh di sekitar bocah-bocah itu.

Akan tetapi, kebaikan tuanmu telah mengajarkanmu tentang etiket. Bersukacita di hadapan tuan yang tengah disayat kesedihan bukanlah sikap terpuji. Kau diserang dilema yang rumit, sebelum akhirnya kau lebih peduli pada keakuran hubungan dengan tuanmu. Kau menggugurkan saja keinginan untuk mengolok-olok para bocah sialan itu, dan mendekat pada tuanmu dengan rasa yang kian sedih.

Kali ini, kau benar-benar sedih.

Lantas, bisakah kausebagai kucingmemahami kesedihanmu sendiri?

Tangerang, September 2020




===================
Jasman Fery Simanjuntak lahir dan tumbuh di Sibolga, satu kota kecil di Provinsi Sumatera Utara. Sejak Desember 2019, mulai belajar menulis cerita pendek. Sampai cerita ini dikirim, belum banyak cerita pendek yang disiarkan oleh media.

Ping & Pong

0


Sejak menyadari ada janin di dalam perutnya, mulai pula Ping memikirkan soal hukuman.
Jika aba-aba pelatih untuk melompati lingkaran api itu tidak ia patuhi, hukuman apa yang akan ia terima? Posisi jatuh yang tidak tepat akan membuat permukaan air terasa sekeras lantai tepi kolam. Tentu bisa berbahaya bagi keselamatan janinnya. Itulah sampai ia mencoba cara berbeda, berharap janin di dalam perutnya akan baik-baik saja seraya tetap menjalankan perintah pelatih.

Ketika memasuki lingkaran api, ia sedikit memuntir tubuh, sehingga saat jatuh bukan perutnya yang beradu dengan permukaan air, tapi bagian samping tubuhnya. Gerak yang tidak seperti biasanya itu ternyata berbuah tepuk riuh penonton. Alih-alih marah, pelatih yang berdiri di tepi kolam tersenyum lebar seraya mengacung dua jempol. Ping berharap, Pak Bos yang selalu ada di dalam bilik kaca di atas tribune penonton, juga sesenang pelatih dan penonton.

Ping pikir, mereka pasti menganggap gaya tadi semacam improvisasi. Padahal, hanya ia yang tahu, itu adalah upaya maksimalnya melindungi janin di dalam perutnya.

***

Seiring bertambahnya ukuran lingkar perutnya, janin yang meringkuk di baliknya tentu bertambah besar pula dan makin berisiko setiap ia melakukan gerak melompat. Pada pertunjukan siang ini, pelatih memberi aba-aba agar ia dan Pong melompat naik dan duduk di tepi kolam. Sebenarnya gerakan itu mudah saja, sudah berpuluh-puluh kali ia dan Pong lakukan. Namun, kali ini ia khawatir empas tubuhnya saat mendarat di permukaan tembok akan memberi efek guncangan berlebih sehingga mengancam keselamatan janinnya.

Harusnya ia dan Pong melakukannya dengan formasi berbarengan, tapi hanya Pong yang mendarat di tepi kolam. Ping sendiri memutuskan tetap di dalam air, sedikit merapat ke sisi kolam. Penolakannya itu membuat paras pelatih berubah aneh, mungkin marah, bahkan segera ke tepi kolam menunduk memelototinya. Sebelum berbalik menjauh, Ping melihat kepala Pong di depan pelatih mendongak dengan gerak-gerak kocak. Ping menduga itu upaya Pong menghibur gusar hati pelatih atas pembangkangannya.

Penonton tidak memberi aplaus, tapi bereaksi macam-macam: ada yang ketawa, ada yang mengomel, sebagian besar malah berteriak-teriak. Pada aba-aba perintah pertama yang tidak Ping lakukan, penonton sempat menduga bakal ada lagi gerakan atraksi improvisasi yang lebih memikat dari kejadian melompati lingkaran api tempo hari. Namun, setelah tiga kali aba-aba perintah melompat naik ke tepi kolam tidak juga Ping lakukan, penonton sontak melaung: “Huuu!”

Tingkah Ping di siang yang beringsang itu, membuat pertunjukan usai dengan menyisakan karut-keruh di wajah pelatih.

***

Kursi-kursi tribune belum terisi. Jeda jelang waktu pertunjukan itu digunakan pelatih mengetes apakah Ping masih dapat memahami aba-aba perintah. Sudah berulang-ulang, tapi Ping tetap saja berdiam di tengah kolam.

Ping dilamun kecele. Pelatih yang ia dan Pong hormati itu, ternyata tidak mau tahu risiko yang bisa mengancam janin di dalam perutnya. Menurutnya pelatih itu bekerja atas apa maunya Pak Bos semata. Hanya bagaimana supaya Pak Bos puas! Akhirnya ia merajuk, agar pelatih lebih perhatian dan mau memahami keadaannya. Setelah hampir tiga bulan mengetahui keberadaan janin itu, sekitar sembilan bulan ke depan ia akan melahirkan bayinya, dan ia tidak ingin proses itu gagal. Ia ingin sekali punya bayi.

Pelatih pun kehabisan akal. Saat itulah Pak Bos muncul, bersungut-sungut ke arah pelatih itu, “Kalau Ping terus bermalas-malas begitu, beri hukuman, supaya ia tahu kesalahannya!”

“Mungkin ia sakit….”

“Tidak mungkin!” Pak Bos menghardik, menyisihkan pembelaan pelatih. “Tampilannya cerah begitu. Kamu bilang makannya malah makin rakus. Heh, kalau jumlah penonton terus merosot, usaha kita ini bakal bangkrut. Karyawan kita lalu mau makan apa!” Suaranya melantang sebelum membalik punggung, kembali ke istananya di ruang kaca yang ada di atas.

Cukup lama waktu terlewati, Ping tetap tidak ingin beranjak dari tengah kolam. Ulahnya itu kembali memunculkan Pak Bos. Nampak Pak Bos murka melihat Ping ogah beratraksi justru pas saat bangku-bangku penonton di tribune mulai terisi. Pak Bos datang tergopoh-gopoh dan membawa parang.

“Potong-potong saja Ping itu!” sergahnya. “Biar karyawan memakan saja dagingnya….” Lalu tanpa membuka pakaian, Pak Bos meloncat ke dalam air. Di atas sana, beberapa orang penonton yang sudah duduk bertepuk riuh.

Penonton pasti mengira ini bagian dari pertunjukan. Padahal betapa mengkeret hati Ping mendengar ancaman Pak Bos tadi. Memang, bisa jadi hanya mengancam, tapi caranya berenang dengan tergesa-gesa ke arahnya, membuat Ping serta-merta mengambil ancang-ancang.

Ping tidak ingin pasrah, ia bertekad akan melawan. Ia mengancang: bila Pak Bos sudah dekat, ia akan membela diri dengan mencaplok saja kepala Pak Bos, tapi ia segera sadar lebar mulutnya tidak akan sanggup melakukan itu. Menggigit lengan Pak Bos, ia juga ragu, nanti gigitannya belum berhasil memutuskan lengan itu, parang Pak Bos sudah lebih dulu membelah tubuhnya.

Sejenak ia sedih, mengira cinta Pong ternyata takluk melayu oleh kilat parang di tangan Pak Bos. Ketika Pak Bos meloncat ke dalam air tadi, Pong hanya merapat ke dinding kolam dari sisi Pak Bos mencebur. Betapa tega Pong membiarkan parang Pak Bos membelah-belah tubuhnya, yang juga berarti memunahkan janin hasil buah cinta mereka. Namun, ternyata galau Ping itu keliru. Begitu tersisa dua atau tiga kali kayuh lengan Pak Bos berenang untuk mencapai posisinya, Pong meluncur dengan gerak cepat, lalu melompat ke atas punggung Pak Bos, langsung pula menekan sampai tubuh dan kepala Pak Bos tenggelam ke dalam air kolam.

Sempat ada gerak melawan, bahkan tangan Pak Bos berhasil meraih tubuh Pong, hendak membalikkan, atau menjadikan pegangan agar tubuh dan kepalanya bisa terangkat kembali dari dalam air, sedang tangan yang satunya lagi menyabetkan parangnya. Sabetan parang itu menyamping, geraknya cukup cepat ke kiri lalu ke kanan, sehingga kilat tajam mata parang itu mengancam tubuh Pong. Dalam situasi kritis begitu, sontak Ping menyadari apa yang harus ia lakukan: ia lekas meluncur merapat, lalu mencaplok lengan Pak Bos dengan gigi-giginya. Setarikan napas berikutnya, teriak kesakitan Pak Bos lenyap ke dalam air, menyusul tubuh dan kepalanya, menyisakan cipratan air hasil kecipak tubuh Ping dan Pong yang menindihnya.

Dari kedip kode mata Pong, Ping langsung paham. Segera ia rapatkan tubuh ke Pong, lalu bersama-sama menekan tubuh Pak Bos hingga ke dasar kolam. Keduanya menekan sekuat tenaga. Daya perlawanan Pak Bos tidak berlangsung lama, geliat gerak tubuhnya terus melemah sampai kemudian bergeming.

Saat muncul kembali ke permukaan air, Ping dan Pong masih saling berdempet. Keduanya lalu saling menyentuhkan moncong, diseling cicit suara-suara khas sebagai luap kemenangan. Seraya berenang pelan mengelilingi kolam, pipi mereka terus saling-lengket, terus pula bercicit. Dari atas tribune, bukan cuma tepuk tangan, bahkan suara kursi-kursi yang diguncang kegembiraan penonton sambung-menyambung, menyangka yang barusan terjadi adalah aksi atraksi model baru.

Di tepi kolam, pelatih berdiri gemetar. Ping dan Pong merasa kasihan. Keduanya tetap menyayangi pelatih itu. Pelatih itu yang memberi mereka makan, bahkan dengan penuh kasih menyuapkan ikan-ikan kecil setiap keduanya berhasil menjalankan aba-aba perintahnya.

Pada sesi pertunjukan kali ini, entah kenapa Ping dan Pong ingin sekali berkasih-kasih. Bahasa tubuh antarmereka saling mengirim sinyal. Dengan terus berdempet, keduanya memilih menyelam, membiarkan penonton penasaran. Biarlah penonton menduga-duga saja apa yang dilakukan kedua lumba-lumba itu sampai menyelam cukup lama, toh penonton yang sedang riuh bergembira itu sebentar lagi akan berhamburan keluar begitu tubuh kaku Pak Bos mengapung.



======================
Pangerang P. Muda menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Telah menerbitkan 3 buku kumpulan cerpen, yang terbaru Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Guru SMK dan berdomisili di Parepare.  

Rumah Bangkai

0


“Rumah ini dikelilingi bangkai,” kata pedagang reraon suatu hari. Kirsip mengangguk-angguk. Mulutnya mengunyah sirih dengan pelan. Hanya tersisa beberapa gigi saja di rongga mulutnya. Gigi hitam dan nyaris seperti besi berkarat.          

“Rumah ini benar-benar dikelilingi bangkai,” ulang perempuan tua pedagang reraon. Ia berkata sambil membuka plastik yang menutupi keraro dagangannya. Di dalam bakul terdapat panci besar berisi reraon, setumpuk daun pisang, beberapa bungkus kerupuk kulit sapi, dan sendok yang berlumuran kuah berwarna kuning tua. Lalat-lalat mendekat dan hinggap di tepian keraro, di bibir panci, dan di gagang serta ujung sendok. Ia menghalau pelan lalat-lalat itu dengan tangan kurus berurat-uratnya.

“Pindah aja dari sini,” lanjutnya. Kedua tangannya memegang tepian keraro.

Setiap kali ia datang ke Lelenggo, tepatnya ke rumah Kirsip, ia selalu berkata demikian. Bukan tanpa alasan. Begitu ia muncul di jebak, seolah melihat seorang yang selama ini ia tunggu-tunggu, Kirsip langsung menyergapnya dengan keluhan demi keluhan. Keluh-kesah yang mengalir begitu deras seolah ia telah terlatih bertahun-tahun untuk mengungkapkannya.  

Bawang mahal, cabe mahal, terasi mahal, beras mahal, semua mahal, keluhnya. Gerakan tangannya menyesuaikan dengan cepat-lambat suaranya. Ketika amarahnya meninggi ia akan berbicara dengan begitu cepat. Ia menyalahkan semua hal atas seluruh penderitaan yang ia rasakan. Mula-mula ia menyalahkan suaminya yang mati terlebih dahulu meninggalkan dirinya. Mengutuk suaminya dengan membabi buta seolah suaminya masih hidup dan tengah berada di hadapannya. Lalu ia mulai menyalahkan seorang warga yang menurutnya biang dari kematian suaminya. Laki-laki tua renta yang sebenarnya juga telah lama mati.

Tidak cukup sampai di situ, ia akan mengungkit kejadian yang terjadi puluhan tahun lalu. Saat orang tuanya bercerai dan kemudian ia diserahkan secara cuma-cuma kepada seorang pedagang tuak. Nadanya berubah sendu tatkala ia bercerita tentang kenangan masa kecilnya. Setiap hari ia mengikuti ibu angkatnya, menyunggi bakul, menuju gocekan, menebarkan aroma sate mentah di sepanjang jalan. Ia akan meladeni para laki-laki berperut buncit dan penuh keringat yang minum tuak di tempatnya. Ia melakukan itu sampai payudaranya mulai tumbuh, sampai kemudian seorang laki-laki bertubuh pendek dan berkepala kecil datang ke tempat jualannya. Laki-laki itu tidak minum tuak, hanya mampir sebentar untuk membeli sate. Sakunya penuh uang. Baru saja menang bermain boladil.

Para lelaki yang tengah duduk melingkar di tempat itu dapat dengan mudah mengendus kemenangannya. Ia memasukkan tangan kanannya ke saku dengan serampangan, meraih beberapa lembar uang lusuh, dan melemparkan ke sekelompok laki-laki yang tengah duduk melingkar itu. Mendarat tepat di atas sepiring sate usus dan juga jatuh di atas segelas tuak salah seorang dari mereka.

Kirsip menyaksikan semua kejadian yang sangat singkat itu dan langsung merasa laki-laki itu adalah penyelamat hidupnya. Ia jatuh cinta tepat ketika laki-laki bertubuh pendek dan berkepala kecil itu memasukkan tangan ke saku dan melemparkan uang itu ke arah sekelompok laki-laki yang setengah mabuk. Tidak sampai sebulan setelah itu, iring-iringan besar menyusuri jalan menuju rumah perempuan penjual tuak. Satu kelompok sireh mengiringi iring-iringan itu. Kirsip yang telah didandani dengan berbagai jenis emas imitasi tampak seperti seorang ratu.

“Sekarang dia sudah mati, dia sudah busuk di dalam tanah,” Kirsip melengking. “Saya sendiri di sini, susah sendiri.”

Keluhan yang ia sampaikan membentang begitu panjang tak berujung. Ia mulai berbicara tentang encok yang terus menyiksa dirinya. Sokek yang mengenai dirinya bertahun-tahun lalu dan tidak kunjung sembuh, membayangi dirinya seperti arwah yang ditolak bumi. Ditambah sakit kepalanya mulai kumat. Sakit kepala yang ia rasakan saat suaminya masih hidup dan hanya mampu diobati oleh seorang dukun pincang dari kampung tak bernama.

“Saya mau mati, mudahan saya mati sekarang, mudahan saya mati.” Ia berteriak, seolah Pedagang reraon akan mampu menyelamatkannya dari nasib buruk.

Melihat Kirsip begitu menderita, tampak benar-benar tidak mampu melanjutkan hidupnya lagi, pedagang reraon mulai berkata, “Rumah ini dikelilingi bangkai.” Berulang kali.

Ia tahu tentang rumah Kirsip dikelilingi bangkai dari Kirsip sendiri. Suatu malam saat hujan badai dan ia tidak bisa pulang. Sungai Popo, sungai yang harus ia seberangi jika ingin meninggalkan Lelenggo, meluap, mencerabut rumput-rumput gajah, pakis, dan segala hal; menghanyutkan batang-batang pohon.  

“Rumah ini dikelilingi bangkai,” kata Kirsip. Ia menenggak segelas tuak, lalu melanjutkan, “Di barat ini kubur, di utara kubur, selatan kubur, di timur ini juga kubur.” Ia menunjuk kuburan yang ia maksud dengan telunjuk tangan kanannya. Pedagang reraon menyendok reraon dari panci, reraon dagangannya yang tidak terjual, ke piring yang diletakkan di tengah-tengah mereka. Tangan kanannya meraih botol tuak, menuangkan isinya ke gelas Kirsip yang telah kosong, dan mengisi gelasnya sendiri, lalu menenggak segelas tuak itu hingga tandas; matanya terpejam dan wajahnya mengerut sedemikan rupa, berusaha mendapatkan lebih banyak kenikmatan.

“Di barat ini katanya kubur orang pertama di kampung ini. Katanya dia yang buat Sungai Keditan. Pakai cambuk. Dia pukulkan di tanah. Katanya dia juga bisa hidupkan orang mati. Dia mati ditebas pakai pedang ilalang. Kakek suami saya yang bunuh. Ndak kelihatan lukanya. Dimandikan pakai air kelapa gading baru kelihatan. Kakinya putus.”  

“Kalau di utara ini?” pedagang reraon mulai penasaran.

“Di utara ini kubur kakek suami saya yang sakti itu. Dia mati diracun. Empedu katak. Ada yang benci dia. Dia terlalu sakti. Ndak ada orang yang bisa kalahin dia. Ndak ada yang berani macam-macam sama dia. Tanahnya luas. Kalau ada orang yang berani mencuri di kebunnya, besoknya orang itu pasti bengkak-bengkak. Banyak yang mati gara-gara dia.”

Cerita tentang kakek suaminya ini panjang. Ia bercerita tentang peperangan tujuh hari tujuh malam dengan laki-laki yang dikuburkan di barat. Kakek suaminya pergi ke gunung paling keramat di dunia untuk bertapa. Dari perempuan tua penunggu gunung itu ia tahu bahwa musuhnya hanya bisa mati dengan pedang dari ilalang. Selama perkelahian tujuh hari tujuh malam itu hujan lebat mengguyur Lelenggo. Kilat menyambar-nyambar di langit. Katanya itu adalah kilatan pedang ilalang. Puluhan ekor ayam mati kedinginan dan juga mati terkejut oleh ledakan petir. Banyak sapi yang terlepas dari tambatan dan berlari liar ke kebun-kebun. Teriakan-teriakan mengutuk pendosa yang telah membuat bumi marah terdengar di mana-mana.

Hujan tujuh hari tujuh malam disertai petir menggila ini kembali terjadi saat kematian kakek suaminya. Banyak sekali orang yang datang. Orang-orang yang sama sekali tidak dikenal. Mereka seperti makhluk-makhluk yang tidak berasal dari dunia. Mereka tidak menampakkan tanda-tanda kedukaan. Beberapa malam setelahnya, suaminya bermimpi didatangi oleh kakeknya dan begitu terbangun ia berbisik kepada istrinya bahwa yang datang itu adalah makhluk penunggu hutan Lelenggo. Dan kakeknya telah diangkat menjadi raja.

Tanpa diminta Kirsip melanjutkan cerita tentang kubur di sebelah timur. Itu adalah kubur seorang warga miskin yang jatuh dari pohon enau. Ia mati karena sumpah istrinya. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk minum tuak dan mengkarak-karak mengutuk nasib buruknya. Sedikit pun ia tidak menaruh kasihan pada istrinya. Bahkan tidak jarang ia melayangkan tamparan ke pipi istrinya jika permintaannya tidak dipenuhi. Sebelum kematiannya, ia memukul istrinya habis-habisan lantaran istrinya tidak mau pergi menarep. Dalam keadaan geram ia mengambil kekelok dan pergi. Dari jebak istrinya melengking, mengutuk suaminya akan jatuh dari pohon enau dan kepalanya pecah. Benar saja, darah terus menetes dari telinga, hidung, mata, dan mulutnya ketika tubuh suaminya yang tak lagi bernyawa diusung pulang dengan setengah hati oleh para warga.

Sedang kubur di selatan Kirsip bercerita bahwa tak seorang pun yang mengetahui miliknya siapa. Namun para warga yakin itu bukan kubur orang sembarangan. Banyak orang-orang tidak dikenal datang ke tempat itu. Suatu hari langit Lelenggo dipenuhi suara lolongan anjing. Mereka melihat sekelompok orang menyusuri jalan ke tempat itu, mengusung seorang perempuan gemuk dengan keraro. Sepanjang jalan perempuan itu merintih kesakitan dan mendoakan dirinya akan segera mati. Empat laki-laki yang mengusungnya membentak-bentak, mencoba menghentikannya.

“Kalau rumah dikelilingi kubur kayak gini, ndak bisa bahagia kita, kita akan terus susah,” Pedagang reraon meyakinkan Kirsip. “Lebih baik pindah ke desa.”

Kirsip mengurut-urut betis, memandang jauh, dan berkata lebih kepada dirinya sendiri, “Buat apa,” katanya, “saya juga sebentar lagi jadi bangkai..” Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, dari arah selatan terdengar teriakan-teriakan, lama-lama berubah menjadi lengkingan menyayat-nyayat.

Terdengar juga lolongan anjing di kejauhan.*

2018-2020

 Catatan Kaki:

Reraon : Urat yang dimasak dengan santan.

Keraro : Bakul berukuran besar dari bambu yang biasa dipakai untuk membawa barang dagangan.

Kekelok  : Wadah dari bambu untuk menampung air nira.

Menarep  : Menyadap nira.

Sokek  : Sakit bengkak dan ngilu seluruh tubuh karena ilmu hitam.

Gojekan : Sabung ayam.



====================
Arianto Adipurwanto lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018) masuk 5 besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019. Aktif di Komunitas Akarpohon, Mataram, NTB.

Deadzone

0

1.
DENGAN tiket di tangan, aku hanya perlu lewat gerbang periksa–sedangkan tas bawaan diseret ban berjalan-, melalukan HP, lalu ke konter perusahaan penerbangan untuk boarding. Hanya mengantri saja–tidak banyak yang dibawa buat acara 2 hari 1 malam. Melayang 1 jam lebih, mengantri ke luar, mencari bus ke kota, turun di G, dan mencari taksi untuk 10 menit ke hotel–itu kalau tak mau bersabar menelepon panitia, menunggu jemputan, sambil mungkin menunggu yang lain yang juga dijemput. Abai. Masuk kamar setelah check in, mandi, kemudian turun untuk makan malam–bertemu dengan peserta seminar dan pembicara lain. Abai mengobrol.

Apa yang harus dirisaukan? Aku membawa laptop dan bisa bekerja kalau mau–tapi untuk apa, tabungan cukup buat santai selama 10 tahun. Meski santai bersimakna pikiran abai, dan bawah sadar akan spontan berbangkit mengkilaskan–flash–gagasan menulis, yang diperluas wawasan dari bacaan, pengalaman kluyuran, mendengar yang gairah cerita, serta angan-angan–selalu ingin disikongkritkan dengan memacu impuls menulis. Tidak ada santai bagi pengarang. Otak diprogram mengkomposisi, spontan terbiasa dengan disiplin menulis–terlebih kalau itu dirangsang dengan membaca serta memperhatikan dengan penyimakan intens.

Mungkin karena tiga puluh lima tahun aku melulu hidup subsitensif.

2.
TAK ada yang harus ditelepon ketika menunggu, di ruang tunggu merapat ke ke gateway arah garbarata sebelum masuk ke pesawat sekitar 1 jam lagi. Aku bersuntuk dengan buku. Aku tersadar ketika HP berbunyi. Panitia mempertanyakan posisi. ”Di Bandara–ya … sekitar 1 jam lagi berangkat,” kataku. Seberang mengiyakan, bilang: ia akan menyuruh mobil jemputan berangkat sebentar lagi–karena jarak yang pendek itu harus dengan mengatasi handikap kemacetan ibu kota. Aku senyum. Dan seberang meminta, agar segera menghubungi Coki begitu aku mendarat–ada nomor kontaknya. ”OK. Terima kasih banyak …” Lalu mengecek nomor kontak Coki, yang telah ada di memori HP–sambil pelan meng-save nomor baru itu. Jaga-jaga.

Ketika memasukkan kembali HP ke tas jinjing, ketika mau kembali ke halaman tertinggal dari buku yang lagi dibaca itu: aku tersadar kalau orang-orang di sekitar aku sedang memperhatikan. Aku berhenti (memulai) membaca, menengadah. Memandang sekeliling. Tersentak. Bingung menemukan pandangan yang (rasanya) penuh selidik–mempertanyakan. Rikuh. Cemas. ”Apa? Ada yang salah?” kataku. Mereka, semuanya, menggeleng. Mereka bertanya, apa provider-ku. Aku pelan menyebutkannya. ”Aneh,” bisik seseorang–yang lain mengangguk, terutamanya setelah melihat ke layar HP dan berulang kali melakukan kontak sembarangan.

”Kenapa?”

”Saya tak bisa menghubungi, padahal janji akan menelepon.”

”Tak bisa menelepon apa ditelepon?”

3.
AKU mengontak Puti, anak perempuan satu-satunya, tapi tak ada nada sambung dan bunyi khas ada kontak–celotehan anak bungsunya, cucu perempuan nomor 3, dari total 7 orang cucu dari 3 anak. Malahan hanya isyarat penanda, bahwa yang dihubungi ada di luar jangkauan. Jangkauan apa? Aku pelan menelepon Duano, anak nomor dua yang tempat kerjanya relatif lebih dekat ke bandara–meski dipisah suatu selat sempit. Hal seperti tadi terulang–juga saat menghubungi Bare, anak pertama, yang berada di Kalimantan Timur. Ada apa? Kenapa? Mengherankan. Kami serentak menghubungi siapa saja, secara acak, untuk sekedar sukses (bisa) membuktikan telah terbebas dari semacam isolasi komunikasi. Sia-sia!

Aku menekan tombol, melakukan telepon balik kepada orang yang terakhir kali menghubungi, tapi hal yang sama terulang. Mengherankan. Kenapa? Apa kami (kini) berada di area eksklusif? Diasingkan? Benarkah? Apa ada suatu usaha intelijen masif terstruktur buat membungkam area bandara ini, dijadikan satu blankspot komunikasi? Kenapa? Apa akan ada kunjungan pemimpin asing secara incognito? Atau kelompok alien mulai mengucilkan kami, sebagai uji coba respon mental? Aku tersenyum. Idea manis, sehingga mendadak ingin mengeluarkan laptop, dan mau mulai menulis. Tema asyik. Semacam alien? Seperti apa sosoknya? Warna hijau, kepala besar, kaki-tangan berjuntai seperti gurita? Atau membatu seperti Hulk–dan penuh jamur–?

Haruskah aku berhenti menelepon dan membaca, dan suntuk menulis?

4.
TIDAK bisa buat kontak e-mail, internet, dan live streaming–bahkan youtube–, kata seseorang. Nihil, meski laptop tetap bisa dipakai. Blank–total. Aku garuk-garuk rambut. Ikut bingung dengan banyak orang, yang tak bisa menghubungi, hingga rindu ada yang menghubungi. Gelisah tidak bisa berbalas SMS, kontak kata, kontak e-mail dan FB? Aku tersenyum. Aku mulai menulis semua kegeliasahan itu secara deskriptif. Detil–lengkap dengan dramatisasi pancaran kepribadian asli, yang selama ini ditutupi. Tapi apa asyiknya? Ketika si beberapa orang meninggalkan ruang tunggu, kembali di area lalu lintas orang bergegas masuk ke ruang tunggu, dan terlihat di situ amat bebas berkomunikasi–gairah hidup mereka kembali memancar.

Apa memang di sini wilayah khusus, meskipun pengalaman menunjukkan, bila di bandara manapun di selama ini hal seperti ini tidak pernah terjadi? Tapi apa peduliku? Draft–nanti–tinggal di-fix fantasi dan imajinasi liar, mewujudkan cerita tentang alien biru seperti Smurff. Aku senyum. Mentuntaskan pencatatan fakta, liukan dramatisasi, dan mematikan laptop setelah save. Memasukkannya di tas–serta kembali membaca. Suntuk sampai ada panggilan, dan beranjak ketika antrian sudah melengang. Berjalan abai, naik garbarata, dan pelan masuk ke dalam rongga badan pesawat di antara orang yang bergegas mencari kursi bagian mereka duduk, seakan dengan begitu mereka bisa mencelat lebih dulu.

Tapi mencelat ke mana? Bukankah yang akan terbang itu pesawat dengan segala isinya? Dan yang akan mendarat itu juga pesawat–dan setelah nyaman-stabil landing memuntahkan si semua penumpang dengan segala bawaan Aku pelan mematikan HP. Bersandar. Memasang sabuk pengaman. Mengunyah permen–tas di kaki. Memejam.

5.
ADA celoteh dari pimpinan penerbangan perihal para crew. Ada peragaan rutin ihwal keselamatan–semua terdengar membosankan. Kemudian pesawat taksi ke arah jalur lurus landasan pacu. Sesaat sepi. Tertinggal deru mesin yang mulai menggeram, kemudian putaran mendengung ketika melaju untuk beringsut naik di ujung landasan. Tekanan meningkat. Yang ditawarkan dengan kunyah permen–ini saat yang selalu tak menyenangkan. Kemudian ada derakan dari penguat sambungan pada badan pesawat. ketika terjadi peregangan saat pesawat mengejan dalam diagonal melaju naik serta si gravitasi menarik turun dan seperti ingin menghumbalangkannya.

Saat melirik via jendela, aku melihat keluasan berbingkai, di titik yang mungkin baru 200 mdpl–karenanya hamparan darat masih membayang tegas detail kasarnya–, karena laju ke muka pesawat masih mendiagonal naik. Semua berderak, dan perlahan terasa kalau kecepatan pesawat berkurang, tersendat sebelum pelan moncong miring ke kiri, dan menukik. Bersipuntiran. Pesawat meluncur turun. Kini sisi kanan pesawat menjadi dasar, dan sisi kiri pesawat naik menjadi atap. Lantas itu segera berubah, jadi berkebalikan. Dan lagi. Makin cepat berpuntir. Berputar. Menukik semakin cepat dan tajam–menjadi hunjaman yang landai.

Dan terdengar suara peringatan, supaya sabuk pengaman tetap dipasang, jangan dilepas, kemudian anjuran untuk duduk rendah, merunduk serta dua tangan melindungi kepala. Teoritis. Rutin–tapi terdengar getar galau tak seperti biasanya.

6.
ADA apa? Kenapa?

7.
AKU ingat rutinitas pagi di rumah, ketika masih teramat banyak waktu sebelum ke bandara menjemput pesawat. Menurut jadwal akan berangkat sekitar 14:00–dicutat dari ingatan–, tapi saat itu masih 09:00. Banyak waktu luang untuk jarak 50 kilometer dari bandara–mungkin cuma 1,1 jam ke terminal dengan bus, disambung oleh Damri khusus bandara, total jadi 1,5 jam, dan mungkin 2 jam bila faktor kemacetan dihitung. Tapi apa akan ada macet kalau berangkat saat semua siswa ada di kelas dan karyawan dan buruh di kantor dan pabrik? Tak akan ada kemacetan–seperti biasanya..

Aku senyum. Membuat kopi, teman santai membaca koran pagi yang tergeletak di teras–dilempar loper tadi pagi. Abai–pakaian ganti dan materi ceramah ada di tas.

Dan aku hanya baca opini, berita nasional serta manca dijejalkan TV, tersimak ketika meminggirkan tirai serta membuka jendela. Ketika minum segelas air putih, ketika aku berolahraga di sepeda statis selama 30 menit lebih–perlu buat yang berusia 60 tahun, dan melulu kerja depan komputer. Membikin mi godog dengan kecambah serta irisan sosis. Membawanya ke meja makan. Menungguinya dingin serta mengambil majalah sisa dibaca itu. Makan pelan. Mencucinya. Beranjak ke beranda dengan kopi–sampai hitungan waktu mendekati angka 10:00.

Mandi. Mengedit tulisan terakhir sebelum dikirimkan. Abai. Menelepon ojeg ke tepi jalan agar leluasa mencegat bus–pakaian, laptop, dan buku telah di dalam tas.

8.
TELAH terbiasa mengerjakan segalanya dari awal, dan pelan-pelan; setidaknya begitu anak-anak kuliah dengan kos, dan tak pernah kembali lagi setelah lulus karena mendapatkan pekerjaan–semakin ilang ketika menikah dan punya anak. Tinggal Isto, seperti ketika baru menikah serta menyewa rumah–membangun web pengertian yang lebih solid. Tiga puluh dua tahun lalu. Kemudian repot punya anak dan sekuat tenaga memiliki rumah sendiri. Mulai menabung lagi buat kuliah mereka. Jungkir balik. Lega ketika semua lulus dan (bahkan) bekerja. Meski semua, akhirnya, jadi senyap–rumah hanya dihuni sendiri ketika Isto bekerja, dan karenanya aku menulis.

Tercenggang ketika Isto meninggal, tapi aku menolak berpindah dari satu rumah anak ke yang lainnya. ”Tidak perlu–aku punya disiplin sendiri,’ kataku. Aku menulis meski aku kesepian. Sendirian. Hanya hidup dengan kulkas, makanan warungan, dan terkadang menu tetangga ketika slamatan. Untungnya dibantu peralatan serba listrik: menanak nasi, mencuci–selain setrika–, dan kalau tebal dan berat dimasukkan dalam kantung untuk dibawa ke laundry. Sederhana. Tinggal membersihkan rumah, sapu di luar-dalam, menyiangi rumput–olah raga luar ruangan seminggu tiga kali, dan kadang dilupakan bila keranjingan menulis. Rutin. Sehingga sunyi seperti oknum yang dipaksa akomodatif menyesuaikan diri dengan jadwal.

Aku ketawa. Aku merasa, pada satu saat nanti: sunyi itu akan merasuki diri, dan aku akan berubah jadi sunyi itu sendiri–tanpa saling menyakiti. Kami menjelma suatu mahluk dengan sayap perkasa, yang bentangannya menutupi langit hingga mendung–tanpa hujan serta kilau halilintar. Nun.

9.
TAPI apa itu bukan karena aku ini terlalu banyak baca? Aku menarik nafas, dan pelan berserah diri. Merapalkan ke-Esaan Allah ketika semua jadi berdengung dalam puntiran menukik. Aku tersenyum–ikhlas–: mungkin, dalam kabin, pilot dan kopilot mencoba meluruskan dan menstabilkan luncuran menukik dan bersipuntiran pesawat, sambil ia berteriak-teriak menyerukan isyarat mayday berulang kali. Mungkin. Tapi bukankah aku sedang menunggangi nasibku sendiri, sekaligus mau menjemput ujud takdirku sendiri? Dulu aku menulis ketika anak-anak ke luar rumah. Lalu keranjingan menulis–serta sukses–ketika Isto meninggal. Ya! Kini aku pasrah. Tersenyum. “Ya, Allah, ya Rabbi, apapun yang terjadi jadikanlah–aku ikhlas …”

Kini, di titik ini, aku mutlak merindukan kontak dengan-Nya–setelah, di selama bertahun, cuma rutinitas berhubungan–nyaris kehilangan kontak ketika menulis–, dan sesekali merindu ketika satu tulisan diselesaikan dan ingin segera dimuat koran.***




===================
Beni Setia, menulis puisi dan cerita pendek.

Sepanjang Perlanaan-Medan

0

Tiga perampok masuk. Salah satu dari mereka menarik tangan perempuan yang duduk di samping pintu masuk gerbong, yang sedang menggendong anaknya. Mata perempuan itu terbelalak dan hendak mengumandangkan hardikan. Namun niatnya urung setelah matanya melihat senapan panjang semi otomatis menenteng di dada perampok itu.

“Jangan bergerak, bila tak ingin tertembak,” imbuh perampok lainnya dengan lantang. Mula-mula tak ada yang memedulikan ucapan perampok itu, hingga kemudian ia menembak ke arah lantai gerbong. Kepanikan membuncah. Dan suara tembakan terdengar lagi.

“Kami hanya perampok, ingat itu!”

“Sekarang masukkan semua barang-barang berharga kalian kepada perempuan ini,” sambar perampok yang lain. Dengan kecemasan dan senapan panjang semi otomatis mengarah kepadanya, ia langsung mengambil kantong yang mereka siapkan.

Demikian ia titipkan anaknya kepada perempuan sebangkunya. Perempuan yang menitipkan anaknya itu kemudian menyambangi satu per satu tempat duduk penumpang.
“Jangan ada yang berani menyembunyikan satu barang pun!” tegas perampok yang menembakkan ke arah lantai tadi. “Ponsel, cincin, kalung, jam tangan, anting-anting, apa pun yang berharga segera serahkan.”

“Hei, kau, apa yang kau tunggu?!” teriak salah satu dari mereka. Tetapi Rusdi tak tahu perampok itu berteriak pada siapa. Hingga ia dongakkan kepala, perampok yang sempat menembak tadi telah berada di sampingnya. Bahkan perempuan itu telah berdiri di baris duduknya. “Cepat serahkan semuanya!”

Tergopoh-gopoh Rusdi kemudian memasukkan ponsel, jam tangan, dan dompet ke kantong itu. Perampok itu merampas tas yang ia bopong di paha. “Simpan ini. Ingat, kami memang penjahat tapi tidak terhadap buku.”

Perampok itu berbalik sembari mematut-matut setelah ia hanya melihat buku trilogi Roads to Freedom dan sebuah pena. Sebelum langkahnya menjauh, ia berbalik lagi dan berteriak kepada semua orang untuk mempercepat proses pengutipan barang berharga kepada perempuan itu.

Entah mimpi apa Rusdi semalam. Bisa-bisanya ia terjebak perampokan di dalam kereta jurusan Perlanaan-Medan kelas ekonomi. Barangkali ini hanya mimpi. Seperti yang dikatakan orang-orang, cubit pipimu atau gigit lidahmu untuk membuktikan mimpi atau bukan. Ah, kejadian ini benar-benar nyata dan bukan mimpi. Ingin rasanya ia melangkah keluar dan membenamkan kepalanya ke dalam air di toilet kereta.

Lelaki di samping Rusdi berpeluh melebihinya. Padahal AC menyala. Beberapa waktu yang lalu, lelaki itu masih bertelepon. Sedangkan di depan Rusdi, seorang perempuan yang lain terlihat mengalami syok berat. Perempuan yang di depannya itu serupa dengan lelaki yang di sampingnya; pucat dan menatap kosong. Terbetik dalam pikiran Rusdi untuk pindah ke samping perempuan itu, menggenggam tangannya yang dingin atau barangkali menyuruhnya merebahkan kepalanya di pundak atau di paha. Tapi ia urungkan niatnya sebab cerita ini akan kehilangan sisi seramnya.

“Heh, bayimu menangis. Cepat tenangkan!” Sebuah perintah keluar dari salah seorang perampok itu. Ia menghampiri perempuan yang ada di depan Rusdi itu untuk menggantikan tugas perempuan yang tadi. Rusdi tidak tahu yang berbicara tadi apakah perampok yang sempat menembak ke arah lantai atau yang menodongkan arah senapan ke perempuan itu. Wajah mereka semua sama, tertutup topeng.

“Kau lihat apa?!”

Bajingan! Rusdi hanya bisa membatin. Ia langsung mengalihkan pandangan ke luar kereta. Terlihat jajaran pohon-pohon sawit yang kokoh dan beberapa yang tumbang. Beberapa rumah orang di kejauhan begitu sedih kondisinya, dan bila dipandang lebih jauh lagi akan terlihat juga pepohonan karet.

Sebelum cerita ini dilanjutkan, pasti pembaca mengira cerita ini hasil mengada-ngada. Perampokan di kereta, senapan panjang semi otomatis. Agaknya, ini seperti film-film laga saja. Lebih-lebih mana ada perampok profesional yang merampok di kereta kelas ekonomi. Kenapa bukan di bank-bank? Atau paling tidak, merampok di kereta namun kelas bisnis atau eksekutif? Tetapi, ya, memang benar, cerita ini terinspirasi dari film laga. Lagipula polisi pasti menyadari bahwa hanya perampok tolol yang mau merampok di kereta api. Kemungkinan melarikan diri begitu sulit jika mereka berniat turun di stasiun yang baru beberapa saat meninggalkan gerbong lantas diteriaki para penumpang yang dirampoknya. Atau jika hendak memberhentikan kereta api di tengah jalan pasti merepotkan sebab urusan memanggul senapan selaras panjang dan hasil jarahan sudah membuat mereka kepayahan. Adapun alasan kenapa mereka merampok di kelas ekonomi, itu mudah saja. Di negeri ini, bukankah kemiskinan adalah budaya? Lagi pula tampaknya kemiskinan harus dipertontonkan. Meskipun, sebenarnya, yang ada di kelas ekonomi ini tidak semuanya tergolong miskin sebab dari banyaknya barang sitaan itu tentu muskil dikatakan orang miskin bisa mempunyai barang-barang tersebut. Atau jika masih belum percaya, coba naik kereta kelas bisnis dan eksekutif, lihat, apakah penumpangnya membeludak?

Rusdi lihat perempuan itu masih berupaya menenangkan bayinya. Sedangkan perempuan yang menggantikannya itu telah menyelesaikan tugasnya.

“Jika dari kalian kedapatan menyembunyikan satu barang berharga, bersiap darah kalian akan meruap!” Salah seorang perampok kembali menebar ancaman sebelum ketiganya berbalik. Tiba-tiba seorang lelaki yang duduk di belakang perempuan yang menenangkan bayinya itu berdiri. Ia bergerak cepat ke arah tiga perampok itu. Langkah kakinya panjang, hanya butuh dua kali melangkah untuk mendekati ketiga perampok itu. Dengan tangan kanannya ia layangkan pukulan keras ke salah satu dari perampok itu sambil berteriak: pertahanan terbaik adalah melawan!

Kereta bergoyang kencang, tanda kereta baru memasuki rel yang terpasang di jembatan untuk melewati sungai. Bersebab itu, pukulan lelaki itu hanya mengenai angin. Lalu ujung belakang senapan menyasar ke dahinya, darah menyeruak. Ia tak menyerah, kali ini tangan kirinya ingin ia layangkan. Sayang, lelaki itu kurang cepat berdiri sehingga kaki perampok itu menendang kakinya. Tumpuannya goyang dan menghasilkan pukulan untuk angin.

Jeritan terdengar dari orang banyak di gerbong ini. Perampok lainnya maju sambil berseru kepada para penumpang untuk diam. Setelah itu disusul peluru merajam ke lantai. Lelaki tadi hendak bangkit, namun lutut salah satu perampok itu terpahat ke wajahnya, dan darah menyeruak kembali dari batang hidung.

“Masih mau melawan?” kata si perampok.

Lelaki itu sungguh tangguh. Untuk kedua kalinya ia hendak bangkit. Ia tak menyadari perampok yang sempat melangkahinya tadi, menembak ke lantai dan menyuruh penumpang lainnya untuk diam, telah memberikan hantaman keras menggunakan ekor senapan, hantaman itu mengarah ke belakang lehernya.

Lelaki itu tersungkur. Pingsan.

“Ada lagi yang ingin mencoba?” kata perampok yang menumbangkan lelaki itu.

Hening membungkus gerbong ini. Lantas suara tembakan terdengar lagi.

Tiga perampok itu pergi. Dan lelaki yang sempat melawan itu diseret. Pintu tertutup. Satu perampok berjaga di depan pintu. Tubuh perampok yang lain hilang di balik baris-baris bangku.

Rusdi berpindah ke tempat perempuan yang di depannya itu. Ia ambil pena juga buku yang tadi diperiksa.

“Hentikan!” lirih wanita di itu.

“Apakah kau yang berbicara?” sambil Rusdi pandangi perempuan itu. Ia hanya diam dengan tatapannya yang kosong. Lantas Rusdi lanjutkan menulis di balik lembaran kosong.

“Bahaya,” lirih perempuan itu lagi. Namun, kali ini Rusdi abaikan. Ia terus melanjutkan tulisannya. Tepatnya membuat bagan mengenai kejadian ini yang sempat terhenti tadi. Ia mencatat hal-hal penting yang dilihatnya.

Saat Rusdi larut dalam tulisannya, bisik-bisik mulai tersiar. Makin membesar. Kata-kata “Ya, Allah” tak habis-habisnya terdengar. Karena kegaduhan itu, beberapa kali Rusdi menuliskan “Ya, Allah”. Dan tak lama ia coret dua kata itu sambil memaki dirinya sendiri. Orang-orang sekitar mulai mempertanyakan hidup mereka dan menggerutu kepada Tuhan, kenapa kesialan direbahkan pada diri mereka.

Rusdi memutar prasangka. Menyusun bagian-bagian penting cerita, kecuali di awal-awal, ia menulis sebab sedari tadi kepalanya seperti pohon pada musim panen. Mungkin saat ini kalian mengatakannya gila sebab masih sempat menulis cerita. Namun dengan apa ia harus cemas? Bila akhir perampokan ini akan merenggut ruhnya, ia sudah mengaku diri telah menuliskan sebuah cerita yang superior meski ia tidak tahu bagaimana mesti mengirimkannya ke media, seperti yang dulu sering ia lakukan. Atau bila ia selamat, bukankah cerita ini menjadi hal yang bagus untuk disebarkan? Terlebih belakangan ini ia tidak pernah menulis lagi.

Layak seorang yang kesurupan, Rusdi hampir merampungkan konsep ceritanya. Perempuan yang di depanya berkata: Bahaya! Rusdi meliriknya dengan senyuman melebar di pipinya. Rusdi merasakan ada kejanggalan. Lantas Rusdi mengedarkan pandang. Sambil mendongak, Rusdi lihat di kejauhan dua orang perampok menuju ke arah mereka. Meskipun bayangan tubuh dua perampok itu samar-samar, secara jelas gerbong demi gerbong terlewati. Perampok itu terlihat berlari kecil.

Dengan berang Rusdi menghantam wanita itu sekuat tenaga sehingga ia meringkuk di lantai. “Bajingan jalang!”

Namun, kecemasan tak berhenti di sana. Rusdi menatap lelaki yang ada di sampingnya. Wajah lelaki itu semakin mengerikan. Rusdi gelagapan. Keringatnya mengucur deras. Adegan demi adegan yang hendak disusunnya meriap tak bersisa di kepala.

Saat kecemasan Rusdi semakin meninggi, pelantang suara berbunyi. Pelantang suara yang biasa digunakan untuk mengabarkan bahwa kereta telah sampai di sebuah stasiun. Kali ini pelantang menyebutkan stasiun Medan. Saya terperanjat, sehingga ponsel saya terjatuh. Orang yang duduk di seberang saya merapatkan alisnya. Tetapi saya tak hiraukan dan malah mengutip ponsel itu dan mengantonginya. Saya keluar gerbong, mencari di mana gerangan pintu keluar sebab begitu sulit melihat ke arah jauh tanpa memakai kacamata. Saya belum juga bisa menemukan petunjuk arah pintu keluar tersebut sehingga saya memutuskan mengikuti orang-orang yang keluar dari gorbong kereta. Sambil mengekori banyaknya orang itu, saya ambil ponsel. Di layar masih terlihat aplikasi word, saya tutup dan ganti menekan aplikasi ojek online sambil menggerutu karena saldo uang elektronik saya habis, “Ah, sialan!”

Cerita ini nanti akan saya teruskan jika sudah sampai di rumah.

Perlanaan-Medan, 2020




===================
Radja Sinaga, alumni Kelas Menulis Prosa Balai Bahasa Sumatera Utara 2019. Berhimpun di Komunitas Lantai Dua (Koldu). Tulisannya terpercik di surat kabar, media digital, majalah,  antologi bersama, dan diadaptasi menjadi naskah teater.

Saudara Kembar Teman Sekantor

0

Sejak saya marah kepada seorang teman sekantor waktu itu, entah kenapa, ia seperti mengirimkan saudara kembarnya untuk selalu mengikuti saya. Saudara kembarnya itu datang dan pergi menjumpai saya macam siluman. Tiba-tiba ia hadir dan ada, entah masuk lewat pintu yang mana. Kadang-kadang ketika sedang mengendarai mobil, kembarannya itu ikutan duduk di jok sebelah kiri saya. Ketika saya sedang duduk sambil nonton atau membaca, kembarannya itu datang, ikutan nonton atau melongok ke buku yang terbuka di hadapan saya. Jika saya membuka gawai, saudara kembar teman saya itu jongkok persis di belakang layar sehingga wajahnya yang lonjong dan putih menguasai seluruh penglihatan saya. Parahnya, saat saya sedang mandi, tanpa permisi ia masuk, duduk di kloset, tak peduli saya sedang tak berpakaian sama sekali dan berteriak mengusirnya pergi.

Sungguh, saya amat lelah dan merasa terganggu dengan kehadiran saudara kembar teman sekantor itu. Kedatangannya membuat hari-hari saya terasa kian kusut. Saya merasa ia sengaja dikirimkan teman sekantor untuk merusak mood dan hidup saya. Tapi ketika perasaan itu saya sampaikan kepadanya, ia membantah dengan keras tuduhan saya. Bahkan, ia sampai bersumpah.

Saya bermaksud menyampaikan keresahan ini kepada teman sekantor saya, agar ia menasehati saudara kembarnya itu untuk tidak datang-datang lagi. Saya tidak ingin ia melekat dalam kehidupan saya seperti pacet. Tapi kemarahan padanya membuat saya enggan menyapanya. Setiap melihatnya di kantor, jantung saya seakan ditinju sekali. Membuat saya lemas dan tangan basah oleh keringat. Jadi, ini tak mungkin.

Baiklah, akan saya laporkan saudara kembar teman sekantor itu ke polisi dengan pasal mengganggu kenyamanan dan ketentraman. Tapi setelah menyelidiki silsilah keluarga teman sekantor itu melalui teman seruangannya, saya terkejut bukan main. Ternyata ia tak punya saudara kembar.

Astaga, lantas siapa yang telah mengganggu saya hampir seminggu ini kalau bukan saudara kembar teman sekantor saya itu? Wajah mereka sama persis. Muka berbentuk lonjong, berhidung mancung, dan terdapat sebuah andeng-andeng besar di pipi sebelah kanan. Rambut mereka sama-sama bergelombang berwarna hitam pekat. Kulit wajah dan tangan pun sama putihnya. Yang membedakan keduanya hanya gerak-geriknya. Teman sekantor saya itu terlihat tenang dan selalu berhati-hati, sementara lelaki yang menyerupainya itu tampak sembrono dan sembarangan.

Lalu, kalau bukan saudara kembarnya, siapa pula lelaki yang selalu punya waktu menguntit saya itu? Memikirkannya membuat kepala saya dilanda migrain berkali-kali.

Sore itu hujan deras menyisakan gerimis. Saya baru saja pulang dari kantor dan langsung berbaring di sofa panjang berwarna coklat tua—sewarna dengan gorden jendela—untuk menghilangkan lelah. Kemeja biru tua berlengan pendek yang lembab saya sampirkan di lengan sofa yang lain. Hanya dengan kaus dalam dan celana dasar hitam yang belum diganti, saya memejamkan mata.

Sebuah bayangan dan hempasan yang cukup keras di sofa yang berada di hadapan saya, membuat saya terjaga dan membuka mata. Saya melihat lelaki yang menyerupai teman sekantor itu duduk dengan kedua tangan di lengan sofa. Jari tangan kanannya mengetuk-ngetuk lengan sofa seakan-akan tengah menekan tuts keyboard.

Melihatnya, saya merasa sedikit terkejut. Saya sudah tidak merasa aneh jika ia tiba-tiba datang dan pergi, tapi saya agak kaget sebab sudah seharian ini ia tidak menampakkan batang hidungnya. Ingin rasanya meluapkan berkeranjang amarah seperti biasa, tapi lelah membuat saya membiarkannya. Bahkan, saya bertanya kenapa ia baru datang di sore ini.

“Sebetulnya seharian ini saya ada di dekatmu. Tapi kau amat sibuk sehingga tidak merasakan kehadiran saya. Lagi pula kalau di kantor, begitu melihat saya, kau seperti melihat kembaran saya. Padahal itu bukan dia,” katanya menjelaskan.

“Teman sekantor saya tak punya saudara kembar. Siapa kau sebenarnya? Apakah kau manusia atau sejenis makhluk gaib yang sedang menyamar menyerupai teman saya?” tanya saya dengan suara pelan dan tanpa ekspresi. Tawanya meledak. Saya tetap berbaring seraya memandang wajahnya yang tampak riang.

“Sudah saya katakan, saya adalah saudara kembar teman sekantormu. Bedanya saya bebas dan tak terikat seperti dia. Saya bisa bertualang ke mana saja semau saya. Kebetulan, minggu lalu saya mengunjunginya dan melihatmu di kantornya. Kau membencinya, bukan?”

“Itu bukan urusanmu,” jawab saya sambil kembali memejamkan mata.

“Karena itu saya menyukaimu,” ia terkekeh.

“Saya tidak menyukaimu. Meski saya belum menikah, tidak berarti saya bukan lelaki normal. Camkan itu!”

“Kalau yang ini, baru bukan urusan saya,” lagi-lagi ia terkekeh.

“Saya akan melaporkanmu. Jadi, pergilah sekarang dan jangan datang-datang lagi!” usir saya pelan. Saya masih sangat lelah dan tak memiliki energi untuk melayaninya. Saya dengar tawanya kembali membahana.

Saya tak memedulikannya. Tiba-tiba teringatlah kemarahan saya kepada saudara kembar lelaki yang masih saja bicara—meski tak saya gubris—di hadapan saya itu.

Kemarahan saya kepada teman sekantor itu dimulai ketika mengetahui ia mengatakan hal buruk tentang saya kepada atasan. Atasan membatalkan saya sebagai pimpinan proyek, padahal sebelumnya melalui empat mata telah menunjuk saya, dan hanya menunggu surat keputusan ditandatangani. Tapi saat keputusan resmi dibagikan, tercantum nama teman sekantor saya itu sebagai pemimpin proyek, bukan nama saya.

Saya ingin menghadap atasan dan mempertanyakan alasan pembatalan itu, tapi ia berangkat ke luar kota selama dua minggu. Meski kecewa, saya menerimanya dengan lapang dada, sampai tiba-tiba sekretaris atasan menyampaikan bahwa pimpinan proyek yang baru itu melobi atasan sehari sebelum surat keputusan ditandatangani. Ia mengatakan pada atasan bahwa saya kerap memprotes kebijakan pimpinan dan memengaruhi kawan-kawan sekantor.

Mendengar ini semua, saya benar-benar berang. Ingin saya labrak teman sekantor itu, tapi kata-kata ibu ketika masih kecil terngiang. Saya diajarkan untuk tidak mencari-cari jalan berkelahi atau mencari keributan. Saya diajarkan untuk menjadi anak baik dan menyenangkan. Meski kecewa? Ya, meski dikecewakan. Tuhan selalu punya cara membuka helai-helai kebenaran.

Suara rinai hujan telah berhenti. Saya terbangun dan melalui kaca jendela yang gordennya terbuka, saya melihat langit berwarna abu-abu gelap. Sebentar lagi malam akan tiba. Tercium aroma kenanga yang tumbuh di pekarangan rumah tetangga, yang harumnya benar-benar meruap saat terkena embun atau air hujan seperti kali ini. Dengan kepala sedikit pusing, saya duduk dan terlihatlah lelaki—yang mengaku saudara kembar teman sekantor saya itu—tertidur dengan suara mendengkur di sofa sebelah kiri saya. Baru kali ini saya melihatnya tidur. Biasanya, tanpa henti ia membicarakan kelebihan-kelebihan teman sekantor alias saudara kembarnya itu atau melakukan hal-hal yang menyerupainya, seperti menerima telepon dan melakukan lobi. Seluruh kata-kata dan tingkahnya membuat saya mual dan marah, sekaligus merasa tak berdaya sebab sedikit pun saya tak mampu mengusirnya.

Beberapa kejap saya memandangnya. Sebuah ide muncul di kepala. Saya tak ingin membuatnya terjaga. Perlahan-lahan saya berdiri dan berjalan ke meja kerja yang tak jauh dari sofa dan mengambil gunting. Saya ingin melenyapkan saudara kembar teman sekantor saya itu. Toh, kalau ia mati, siapa pula yang akan memusingkannya?

Sedikit lagi saya berada di hadapannya. Tapi tiba-tiba saya tak lagi mendengar suara dengkurnya. Sedikit heran, saya mengamatinya beberapa detik, lalu mengguncang bahunya pelan dengan tangan kiri. Ia tak bergerak sama sekali. Saya letakkan punggung jari telunjuk ke lubang hidungnya, napasnya sudah tak ada lagi. Astaga, saudara kembar teman sekantor saya ini sudah mati, bahkan sebelum saya sempat membunuhnya.

Buru-buru saya mencari ponsel untuk menghubungi teman sekantor saya itu. Terdengar nada panggilan, dan beberapa kejap suara di seberang terdengar. Tapi saya hanya diam, urung bicara. Mengingat pengkhianatannya, mengingat bagaimana ia melobi atasan saya, membuat dada saya tiba-tiba bergelenyar. Saya sangat kecewa dan marah. Lagi pula, untuk apa pula saya menghubunginya dan mengabarkan perihal kematian lelaki tak jelas ini, pikir saya. Seketika ponsel saya matikan.

Tiba-tiba saya merasa kepala saya dihantam sesuatu. Sakit sekali. Saya terjerembab, tersungkur di badan sofa. Ponsel terlepas dari tangan kiri saya. Gunting menusuk sofa dan ketika hendak dicabut, tangan saya sudah diinjak sepatu hitam mengilat. Saya menoleh dan terlihat saudara kembar teman sekantor saya itu tengah berdiri. Oh, bagaimana tiba-tiba ia menjadi hidup lagi dan menjadi sekejam ini?

Saya ingin membebaskan diri darinya. Tapi tangannya yang besar dan keras tiba-tiba mendarat di pipi saya. Kepala saya terasa semakin berat. Penglihatan saya menjadi kabur. Saya pejamkan mata, sementara hati saya tak henti berdoa agar ia pergi meninggalkan saya. Dalam kepasrahan, saya menyadari bahwa tiba-tiba ia menghilang. Saya tak lagi mendengar suaranya atau merasakan kehadirannya.***

====================
Rumasi Pasaribu, suka menulis puisi, cerpen, dan novel. Cerpennya pernah dimuat di beberapa surat kabar, seperti Haluan-Padang, Sumatera Ekspres, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, dan media online Kurung Buka.

Sungai Tanpa Nama

0


Bagi orang yang sedang gila, apa pun bisa dilakukan, termasuk merindukan gadis yang ada di mimpinya. Pemuda itu bernama Sunyi.

Beberapa bulan terakhir, ia menderita gangguan jiwa yang sukar disembuhkan kecuali pemuda itu dikawinkan dengan gadis yang ada di mimpinya. Aneh-aneh saja pemuda itu. Tapi terkadang cinta memang gila dan tidak masuk akal.

Sebenarnya, Sunyi adalah pemuda yang tampan, namun semenjak ia gila, ia tak pernah mandi. Tidak pernah mau menyisir rambut. Tak pernah gosok gigi. Tak pernah ganti baju. Kumisnya tak pernah dirapikan. Ia tak pernah risau dengan bau badannya, kecuali orang waras yang ada di dekatnya. Dan memang di dalam cerita ini, Sunyi diceritakan sebagai orang gila yang memiliki cinta yang tak main-main sampai akhir hayatnya.

Setiap sore, Sunyi tidak pernah melewatkan pemandangan senja yang menggantung di langit sebelah barat. Ia di atas jembatan menghadap sungai. Semilir angin membawanya tenggelam dalam lamunan. Tempias cahaya kuning senja dipantulkan oleh air sungai yang jernih. Terkadang, ia melihat bocah-bocah itu mandi di sungai dengan riang gembira. Terkadang, mereka terjun bebas dari jembatan untuk menceburkan diri di sungai. Teriakan canda tawa mereka mampu diredam oleh suara aliran sungai dan angin yang bergemuruh dari jembatan. Di sebelah sungai ada sebuah lahan kosong yang biasa digunakan untuk menerbangkan layang-layang bocah-bocah itu.

Sunyi melamun di atas jembatan dengan kaki menjuntai seperti mengayuh sepeda, berada di pagar besi jembatan. Keadaan kendaraan yang lalu-lalang di jembatan tak mampu untuk membuyarkan lamunannya. Terkadang, ia tertawa sendiri tanpa sebab. Ia merasa bahagia, ketika berada di jembatan itu.

Ia dengan setia menunggu gadis yang ada di mimpinya sampai matahari tenggelam. Ia akan kembali lagi di waktu yang sama keesokan harinya. Dan begitu seterusnya, sampai waktu ditentukan oleh maut.

Sunyi selalu menunggu gadisnya di jembatan itu. Baginya jembatan itu merupakan jembatan untuk menghubungkan dirinya dengan gadis impiannya. Ia menamakan jembatan itu dengan nama Jembatan Impian. Ia juga memberikan nama sungai itu dengan nama Sungai Tanpa Nama.

Jembatan itu menghubungkan antara dua kecamatan. Belasan tahun yang lalu, jembatan itu dibangun. Peresmiannya juga tidak main-main meriahnya. Dulu, sebelum jembatan itu dibangun, orang-orang memakai sampan untuk menyeberang agar sampai ke pasar.

***

Ayah dan ibu Sunyi sedih dengan keadaan putranya. Ayahnya seorang pengusaha tambang pasir, sekaligus seorang kepala desa.

Berbagai upaya dilakukannya untuk menyembuhkan Sunyi. Dari pengobatan secara medis maupun menggunakan non medis. Setiap dibawa ke rumah sakit jiwa, dokter tidak bisa mendiagnosis syaraf yang terganggu. Kadang kala, Sunyi bercakap-cakap seorang diri.

“Apakah kau mencintaiku?” ucap Sunyi.

“Tentu saja aku mencintaimu, kita akan menikah dan hidup bersama, apakah kau senang?”

“Aku senang sekali, jika kau bisa menjadi istriku. Kau akan aku ajak mengunjungi penangkaran rusa. Kau juga akan aku ajak ke jembatan untuk melihat senja yang lamat-lamat akan tenggelam.” Ia bercakap-cakap sendiri, dan ia menjawab sendiri.

Ayahnya berupaya mencari gadis itu. Ia mengadakan sayembara, siapa yang menemukan gadis yang dimaksud oleh putranya, akan diberi hadiah berupa beberapa petak sawah dan sepuluh sapi.

Tak jarang, orang-orang yang menginginkan hadiah itu mengakali dengan segala cara. Ada yang mengaku sebagai gadis itu. Ada juga yang kongkalikong dengan dukun desa supaya memberi tahu jika itu gadis yang dicari. Namun semua upaya licik itu tidak pernah berhasil, sebab Sunyi tahu siapa gadis yang dimaksud.

***

Rencana pembangunan tambang pasir itu akan segera dilaksanakan. Ayah Sunyi sudah merencanakan pembangunan tambang pasir itu sudah lama. Dulu, ia dan beberapa orang proyek sudah survei lokasi untuk menyiapkan segala sesuatunya. Dan, satu minggu ke depan, mereka mulai mengangkut alat-alat pertambangan dan mulai memproduksi pasir.

Perubahan pada sungai pun mulai tampak. Sungai menjadi keruh. Kedalamannya terus bertambah. Orang-orang yang memancing sudah sulit mendapat ikan. Bangau dan angsa yang biasa menghiasi permukaan dan bantaran sungai pun tak tampak lagi. Bahkan tumbuhan teratai dan enceng gondok yang biasanya menjalari di permukaan sungai juga musnah. Setiap hari terdengar suara bising mesin diesel dan alat-alat berat.

Beberapa hari kemudian, ada kabar bahwa Sunyi menghilang dari rumah. Ia minggat. Ayahnya dan para warga sudah mencari di berbagai tempat, termasuk tempat yang biasa disinggahinya, namun Sunyi tidak ditemukan.

Ayah Sunyi sudah melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib. Bahkan ia juga melibatkan paranormal. Menurut paranormal, Sunyi telah diculik oleh penunggu sungai. Ia menggambarkan, jika yang menculik Sunyi sesosok makhluk astral yang menjelma sebagai wanita cantik yang sudah lama masuk ke dalam mimpinya. Mendengar kabar itu, ayah Sunyi semakin resah atas keselamatan nyawa anaknya. Paranormal itu dimintai tolong agar menyelamatkan anaknya. Namun, menurut paranormal itu, itu pekerjaan yang sangat sulit, sebab jin yang menculik Sunyi telah menguasai raga Sunyi. Mendengar itu, ayah Sunyi pun tertunduk lesu. Kekhawatirannya semakin membuncah.

Keesokan harinya, warga dikagetkan dengan mayat Sunyi yang mengapung di sungai dengan keadaan kaku dan hampir busuk. Lalat mengerumuni mayatnya. Beberapa warga yang bisa berenang menceburkan diri mengambil mayat Sunyi untuk dibawa ke tepi. Sementara di bantaran sungai dan di jembatan ramai oleh pasang mata. Lalu lintas kendaraan di jembatan agak terhambat karena banyak orang yang menyaksikan mayat Sunyi dievakuasi.

***

Pak Joko mendesak agar ayah Sunyi untuk meneruskan proyek produksi pasir. Dengan terpaksa, ia meneruskan proyek itu. Hal ini sudah menjadi kesepakatan antara pemerintah desa dengan investor. Mau tak mau kedua belah pihak harus melaksanakan perjanjian yang sudah tertulis itu.

Dengan berat hati ayah Sunyi melanjutkan penambangan pasir yang ada di desanya. Selain di sungai, pertambangan juga dilakukan di bibir sungai di sebelah barat. Beberapa alat berat digunakan dalam penambangan itu. Kian hari, di wilayah itu semakin memprihatinkan. Beberapa bibir sungai mulai longsor. Beberapa jalan mulai rusak.

Setahun berlalu, area pertambangan menjadi tempat yang mengerikan. Akhir-akhir ini ditemukan dua mayat. Dua mayat itu mengapung di sungai. Dua orang yang diduga terpeleset saat buang hajat. Hal ini membuat geger warga.

Dari kurun waktu setahun, sungai itu sudah memakan tiga korban setelah dibangun pertambangan pasir. Menurut beberapa warga, peristiwa itu ada kaitannya dengan pembangunan pertambangan.

“Mungkin saja, penunggu sungai sedang marah karena keberadaannya terusik,” ucap salah seorang warga yang kebetulan sedang mengamati evakuasi jenazah.

“Kalau memang begitu, kita perlu adakan musyawarah dengan warga untuk membicarakan tentang ini. Jika ini tidak ditanggulangi dengan cepat, dikhawatirkan akan memakan korban lagi.”

“Betul. Ini masalah yang tidak sederhana. Kita harus segera membicarakan hal ini kepada Pak Kades.”

Beberapa hari kemudian, warga dipimpin oleh ketua adat beserta pemerintah desa melakukan ritual tolak bala. Warga menyembelih seekor kerbau dan kemudian kepalanya diapungkan ke sungai. Hal itu sebagai tumbal atas berdirinya pertambangan tersebut.

Beberapa bulan kemudian, terjadi longsor di area pertambangan. Tanahnya menjadi amblas kurang lebih sepuluh meter dari permukaan tanah.




===================
Anas S. Malo, lahir di Bojonegoro. Sekarang aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) Karya-karyanya sudah tersiar di media lokal maupun nasional. Finalis National Community Investors Award 2018. Antologi Cerpennya “Si Penembak Jitu” akan diterbitkan Belibis Pustaka.

Seperti Ramaparasu

0




Telah berkata seorang saleh dari masa kecilnya bahwa kiamat tidak akan terjadi sebelum matahari terbit dari barat. Namun jauh sebelumnya, binatang-binatang melata dari dasar bumi keluar dan angin yang lembut berhembus mengelus ubun-ubun, dan setiap yang beriman akan mangkat, meninggalkan bumi yang fana bagi orang-orang celaka, orang-orang ahli neraka belaka.

***

Pada hari ke-53 semenjak wabah merebak, seorang lelaki melihat dari balik kaca jendela kamarnya, binatang-binatang berwarna putih merangkak di halaman. Binatang-binatang itu berkaki empat, memiliki selaput tipis yang menghubungkan leher hingga paha kaki belakang serupa sayap kelelawar. Mereka bermoncong dan sesekali meringis memamerkan sepasang taring tajam. Lidah mereka terjulur seperti anjing.

Sepanjang hidup lelaki itu, 36 tahun, ia belum pernah melihat binatang-binatang semacam itu.

“Wabah yang datang bersama angin,” ia bergumam, “binatang-binatang aneh yang tiba-tiba keluar entah dari mana,” lanjutnya.

Lelaki itu mengusap wajahnya. Rambutnya acak-acakan. Ia beranjak ke kamar mandi. Mengguyur sekujur badan. Ia menggigil oleh air dingin.

“Tak diragukan lagi….”

***

Masih subuh. Lelaki itu baru saja menyelesaikan santap sahur ketika ia melongok ke luar jendela dan melihat binatang-binatang melata itu di bawah guyuran lampu halaman. Namun ia telah selesai mandi dan bersalin baju yang paling bagus, baju andalan yang ia beli ramadhan sebelumnya sebagai baju lebaran. Dengan baju itu, hampir setahun lalu, ia bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya dan memohon ampun atas segala kesalahan yang ia perbuat, sebagaimana lazimnya ritual lebaran yang ia kerjakan. Lebaran tahun ini, ia tahu ia tak akan pulang kampung seperti tahun-tahun sebelumnya. Semenjak wabah pecah dan pemerintah menerapkan peraturan bagi setiap warga untuk berdiam diri di rumah dalam rangka mencegah penularan, ia memang telah memutuskan untuk tidak mudik. Tidak ada yang tahu apa yang mungkin terjadi dalam perjalanan mudik. Bisa saja ia tertular wabah dan kemudian menularkannya kepada orang tuanya di kampung. Ia tak ingin melihat orang tuanya yang sudah lebih dari tujuh puluh tahun usianya, tercekik meregang nyawa karena kedatangannya. Dan seperti seorang warga negara yang baik, ia mematuhi peraturan. Sudah berhari-hari semenjak peraturan itu resmi dikeluarkan, ia mengurung diri dalam rumah. Lelaki itu telah mengosongkan tabungannya demi menimbun bahan makanan sebagai bekal karantina diri.

Subuh ini, dengan tangan gemetar, ia memutar kenop pintu rumah kontrakannya di Surabaya.

“Angin yang bertiup mengelus ubun-ubun orang-orang beriman,” gumamnya, seperti memberi kekuatan kepada dirinya sendiri. “Dan hanya orang-orang celaka yang tinggal di bumi yang fana dan tua ini.”

Rumahnya menghadap ke timur. Cahaya parak fajar yang hangat menyambutnya. Ia sedikit silau. Ia letakkan telapak tangan kananya di atas mata.

“Sebelum matahari terbit dari barat,” lafalnya, serupa mantra.

Di halaman, ia berjingkat menghindari binatang-binatang melata. Ia takut menginjak mereka. Siapa bisa memastikan bahwa binatang-binatang itu bukanlah makluk suci yang bertugas memberi peringatan kepada orang-orang beriman?

***

Jalanan lengang. Daun-daun kering yang diluruhkan angin berserakan di mana-mana. Plastik-plastik bekas teronggok di sembarang tempat. Seekor kucing liar menatap lelaki itu tajam, lantas melompat ke balik tempat sampah. Dua ekor tikus yang berat masing-masingnya tak kurang dari dua kilogram mengintipnya dari selokan. Adzan subuh sudah beberapa waktu menguap dari udara.

Lelaki itu menghirup napas dalam-dalam. Udara terasa begitu segar. Ia melihat langit. Biru jernih. Beberapa gumpalan awan berarak. Awan-awan itu terlihat seperti kuda dan sapi. Angin bertiup lembut mengelus ubun-ubunnya.

“Beri aku mati yang damai, Tuhan,” gumamnya.

Lalu ia teringat orang tuanya di kampung, di lereng Welirang yang dingin. “Beri mereka mati yang damai, Tuhan,” tambahnya. Lalu kedua telapak tangannya bertangkup di wajahnya. Matanya basah oleh doa yang khusuk.

Lelaki itu terus berjalan.

***

Delapan ratus tiga puluh empat meter kemudian, lelaki itu teringat satu hal. Ia merogoh kantongnya. Kosong belaka. Ponselnya pasti ketinggalan di rumah. Ia ingin mengecek media sosial, memastikan apakah kawan-kawannya di dunia maya tahu apa yang ia ketahui. Ia mendengus kesal. Fakta bahwa ia telah menyaksikan binatang-binatang melata, dan kesadaran bahwa wabah yang tengah melanda saat ini bergerak bersama angin, telah membuatnya kehilangan ketenangan. Ia lupa membawa ponselnya. Ia lupa mengabarkan fakta penting ini ke seluruh dunia.

Namun, pikirnya kemudian, bukankah setiap orang seharusnya sudah menyadari apa yang sedang terjadi? Atau, kalau pun ada yang belum menyadarinya, pasti sudah ada orang lain yang lebih dulu sadar dan menyebarkan kesadarannya ke khalayak.

Memikirkan hal itu, ia jadi sentimental. “Saat ini,” gumamnya seraya menatap pucuk akasia peneduh trotoar, “kematian sedang membunyikan loncengnya di internet, di televisi, di koran dan majalah. Semua orang pasti sudah menyadarinya.”

***

Lelaki itu terus berjalan. Sesekali, satu dua pengendara melintas di jalanan yang sepi. Mereka melaju dengan kecepatan tinggi.

“Sepertiku,” kata lelaki itu kepada dirinya sendiri, “mereka juga tengah memburu mati.”

Suara kenalpot yang meraung itu tiba-tiba berubah seperti madah dari surga. Madah yang hanya bisa didengar oleh orang-orang beriman, agar mereka buru-buru memburu mati. Sebab, seperti yang ia ketahui dari seorang saleh dari masa kecilnya, setiap orang yang masih memiliki keimanan, sekecil apa pun kadar keimanan itu, akan meninggal oleh angin lembut yang bertiup mengelus ubun-ubun sebelum matahari terbit dari barat dan bumi meletus dalam kiamat kubro.

Ia bayangkan orang-orang kini berada dalam kepanikan yang berbeda dari kepanikan ketika wabah pertama merebak. Bila awalnya mereka panik karena takut tertular wabah, kini mereka panik karena belum juga tertular wabah dan meninggal. Hanya orang-orang celaka yang tak akan meninggal karena hembusan angin lembut ini, gumamnya lagi, seperti menambah energi dan semangat dalam dirinya.

“Celakalah orang-orang yang masih memutuskan berdiam di rumah untuk menghindari wabah,” teriaknya. Angin Surabaya mengikis teriakannya.

“Ayo keluar dari rumah, jemputlah kematian kalian, kematian yang indah di bulan yang penuh berkah, sebelum kalian menyesal dan masuk ke dalam golongan orang-orang celaka yang akan menyaksikan dunia meletus!”

Kembali angin melenyapkan teriakannya.

***

Bahkan tak dijumpainya gelandangan atau orang gila selama ia berjalan. Apakah orang-orang yang sebelumnya ia anggap bernasib malang itu telah lebih dulu meninggal? Kalau memang mereka telah meninggal, alangkah beruntungnya mereka. Ah, pikirnya, nasib malang dan nasib baik, alangkah cepatnya bertukar tempat.

Ia mendengus. Ia kembali berjalan. Ia berharap angin yang membawa wabah segera mengelus ubun-ubunnya, mencekik tenggorokannya, menyesakkan dadanya, lantas menghancurkan paru-parunya, dan menghentikan detak jantungnya.

Ia ingin bertemu seseorang yang menyimpan wabah dalam napas dan air liurnya, lantas menularinya sesegera mungkin. Ia sampai di taman kota. Tangannya bergerak mengusap seluruh kursi logam yang ada di sana. Ia tahu, virus yang menjadi perantara wabah ini juga bisa berdiam di permukaan benda-benda. Setelah mengusap kursi-kursi logam itu, ia menciumi permukaan tangannya.

“Jangan masukkan aku ke dalam golongan orang-orang celaka, Tuhan,” isaknya, lalu ia jatuh berlutut dan menangis dengan kedua tangan tertangkup di wajahnya. Pundaknya berguncang pelan.

***

Ia terus berjalan. Ia telah memutuskan tak akan kembali ke rumahnya. Ia hanya ingin sesegera mungkin menemui mati. Segala yang dilarang oleh pemerintah sebagai upaya penanggulangan wabah telah ia langgar. Ia tidak memakai masker, ia berkeliaran di jalanan, ia tidak mencuci tangan, ia memegang segala benda yang ia temui dan segera menciumi telapak tangannya. Namun maut yang ia nanti-nantikan dalam wabah itu tak kunjung menjemputnya.

Lalu ia teringat dongeng bapaknya yang sering didengarnya sebelum tidur. “Ada seorang kesatria yang mengembara mencari mati. Namanya Ramaparasu. Ia menenteng gendewa ke mana-mana dan menantang setiap kesatria yang ia temui. Namun, tak satu pun kesatria itu yang bisa membunuhnya. Dan ia terus berjalan. Ia terus mengembara. Ia terus mencari mati.”

Kalimat-kalimat dari bapaknya itu kini terngiang-ngiang di telinganya. Ia menoleh, mengira bapaknya tengah berbisik di telinganya. Namun tak ada siapa-siapa di sampingnya.

Ia kini merasa bahwa dirinya sendirilah Ramaparasu itu. Mengembara mencari mati, namun tak mati-mati. Ia sudah hampir putus asa. Dan segera ia teringat bahwa pada akhirnya, Ramaparasu bertemu Ramawijaya, dan di tangan titisan Wisnu itulah akhirnya Ramaparasu menemui ajalnya.

Semangatnya kembali menyala. Lelaki itu tahu, ia harus berusaha lebih keras. Seperti Ramaparasu. Ia berhenti sebentar, memikirkan di mana Ramawijaya berada. Sejauh ini, hanya satu dua orang yang melintas di jalanan mengendarai kendaraan. Ia belum berpapasan dengan sesama pejalan kaki, ia belum bersalaman atau bercakap dengan orang asing. Orang-orang barangkali terlalu pengecut. Atau mungkin, orang-orang itu memang termasuk golongan orang-orang celaka yang tak memiliki kadar keimanan secuil pun.

“Rumah sakit,” matanya tiba-tiba bercahaya. “Di mana lagi tempat yang menyimpan lebih banyak wabah hari ini ketimbang rumah sakit?”

***

Menjelang sore, ia telah berhasil menyelinap ke dalam tiga rumah sakit berbeda, berkeliaran dari satu lorong ke lorong lain, dari satu bangsal ke bangsal lain, bertemu dari satu orang ke orang lain, dan mereka semua menatapnya dengan  pandangan heran dan cemas. Beberapa di antaranya bertanya, “Kenapa kau tidak memakai masker?”

***

Lelaki itu masih berjalan. Perutnya menjerit. Otot-ototnya terasa linu. Ia telah menempuh banyak kilometer dengan berjalan kaki. Keringat membanjiri tubuhnya. Namun ia merasa dirinya masih sesegar alang-alang di musim hujan. Dan udara masih terasa begitu segar.

“Tuhan, kenapa aku belum juga mati?” rintihnya.

Malam perlahan-lahan datang. Ia lupa salat, ia bahkan meluputkan buka puasa. Namun lelaki itu melihat hari yang semakin panjang di depan sana. Ia bergidik. Dan ia terus berjalan, seperti Ramaparasu.

==================

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

Terbaru

Tiga Dongeng yang Jatuh dari Langit

1. Penulis Suatu ketika, ada seorang pria yang ingin menjadi penulis, namun pria itu tidak tahu cara melakukannya. Kau harus...

Maut Seperti Cintamu

Tugas Sekolah

Dari Redaksi

Dibalap Sepeda

Ingatan yang Menyakitkan