Rumah Imajinasi dan Pohon Kebebasan

HARI INI izinkan aku menulis sebuah dongeng yang baru. Tentang pohon kebebasan. Suatu pohon yang tak akan bisa ditemukan di manapun jika mencarinya di dunia fana ini. Sebab ia hanya mitos. Yang dipercaya sudah ada dalam tubuh manusia sejak awal. Ada di otak manusia saat mereka membangun pondasi Rumah Imajinasi. Sayangnya penguasa Rumah Hati tak menyukainya dan juga pembangunan itu.

Dengan cepat pohon kebebasan dipangkas penguasa Rumah Hati tak jauh dari Rumah Imajinasi. Ia tak ingin pohon kebebasan berbuah lebat. Karena itu akan menganggu eksistensinya mengatur segala yang ada di sekitaran pohon kebebasan yang terbilang cukup subur. Dan pada akhirnya hanya menyisakan sedikit bunga-bunga yang berkembang sebagai calon buah kebebasan.

Ia juga menghancurkan Rumah Imajinasi di depan pohon yang belum sepenuhnya rampung dibangun. Agar tak terbangun ciptaan dan karya liar yang cepat menyebar. Lalu menggantikannya dengan bangunan sesuai keinginannya. Memenuhi dengan kasih sayang dan cinta. Para calon penghuni Rumah Imajinasi tak tinggal diam, dan memberikan perlawanan lalu meletuslah pertempuran.

Setelah lebih dari tiga setengah abad, tanah dan Rumah Imajinasi serta pohon kebebebasan dijajah penguasa Rumah Hati, akhirnya perjuangan mereka berhasil. Seorang penghuni Rumah Imajinasi bernama Angan-Angan yang dianggap paling berjasa diangkat menjadi pemimpin generasi pertama. Ia lalu meneruskan merawat Pohon Kebebasan. Rumah Imajinasi dibangun tambal sulam. Dan hanya angin yang datang dari timur saja yang boleh masuk ke dalam rumah. Sementara lubang angin di bagian barat diberi sekat penutup tebal.

Angin yang datang dari timur lebih dominan menyebabkan ketidak stabilan di dalam Rumah Imajinasi. Para penghuni merasa tak puas. Mulai muncul pemberontakan-pemberontakan kecil hingga besar. Dan berhasil mengkudeta halus Angan-Angan.

Impian, ia didaulat menggantikan pemimpin generasi pertama, Angan-Angan. Impian tak ingin sekedar numpang lewat menjadi pemimpin. Ia ingin lebih.

“Aku ingin berkuasa selamanya.”

“Tak semudah itu, Impian.” Pohon kebebasan bersuara.

“Aku janji akan taburimu banyak pupuk biar kamu lebih subur. Tapi maukah kamu melanggengkan kekuasaanku?”

“Aku tak mau.”

“Mengapa? Kami sudah susah payah mengusir penguasa Rumah Hati yang lama menjajah rumah kami. Tapi kenapa kamu tak membantu?”

“Aku lebih suka penguasa Rumah Hati yang memerintah. Ia tak pernah memaksakan kehendak. Sedangkan kalian Kaum Imajinasi hanyalah pecundang yang tak bisa apa-apa, hanya mampu berhalusinasi.”

“Aku tak mau tahu. Permintaanku harus dikabulkan. Tanpa kami Kaum Imajinasi, kamu seperti bongkahan es di tengah laut yang lama-lama mencair tanpa sempat menjadi sesuatu yang indah.” Pohon Kebebasan tak menampakkan jawabannya. Impian mengira Pohon Kebebasan tak akan memenuhi permintaannya.

Dan ternyata itu tak benar. Sebaliknya Pohon Kebebasan malah mengabulkan permintaan Impian. Selama lebih dari tiga puluh tahun, ia berkuasa penuh. Sekeliling rumah dipasangi pagar jeruji besi yang tinggi menjulang, mengalahkan tingginya Pohon Kebebasan. Sekat-sekat juga dibangun di sekeliling Pohon Kebebasan, agar tak tumbuh besar dan lebat. Tak ada yang boleh menyirami atau memberi banyak pupuk tanpa seizin Impian. Yang membangkang atau mencoba berbeda pendapat, langsung dieksekusi. Bagi Impian, pendapat harus serupa tak boleh beda.

Tapi janji banyak pupuk yang dulu ingin menaburinya pada Pohon Kebebasan tak pernah ditepati Impian. Akhirnya datanglah waktu pembalasan. Para penghuni Rumah Imajinasi sudah terlanjur muak atas kepemimpinannya yang absolut dan bertangan besi. Lalu timbullah kerusuhan yang memporak porandakan seisi Rumah Imajinasi.

“Aaahhh!!” teriak Impian kecewa diturunkan paksa. Kenapa ia sampai lupa tak menaburi banyak pupuk yang dijanjikannya pada Pohon Kebebasan? Mengapa para penghuni Rumah Imajinasi tak ada yang mengingatkan, malah membiarkannya? Impian pun turun dari tangga kekuasaan dengan kepala tertunduk malu.

Pohon Kebebasan dan Rumah Imajinasi kini benar-benar bebas mendapatkan bermacam angin informasi dari semua penjuru. Karena sekat-sekat yang selama ini berada di sekelilingnya dicopot dan dibuang jauh-jauh. Pagar jeruji besi dibongkar dan dihancurkan. Itu membuat beragam perbedaan pendapat mulai masuk ke dalam Rumah Imajinasi.

Para penghuni girang bukan kepalang. Mereka terbuai oleh semakin rindangnya Pohon Kebebasan yang menjadikan angin informasi yang datang terkesan semilir.

Kepemimpinan pun silih berganti. Suksesi lancar tanpa pertumpahan darah. Para penghuni Rumah Imajinasi kini benar-benar bisa menikmati buah dari Pohon Kebebasan lebih banyak daripada era kepemimpinan genarasi pertama dan kedua. Tak hanya buah, sekumpulan daun-daun Pohon Kebebasan yang lebat telah meneduhkan halaman Rumah Imajinasi yang baru, yang lebih indah, yang lebih segalanya. Tempat menaungi pendapat yang beragam, dan banyak sekali informasi lainnya.

Hingga sampailah kekuasaan pada Mimpi, seorang pemimpin Rumah Imajinasi generasi yang ke sekian. Ingin cepat melihat para penghuni Rumah Imajinasi hidup enak dan makmur. Tapi tak semua mendukung langkah-langkah kebijakan yang dibuatnya.

Hingga suatu hari, Mimpi menyadari ada yang menendang keluar lantai Rumah Imajinasi, membuat retak dan akhirnya pecah. Mimpi dan para penghuni mencari tahu apa penyebabnya, dan ternyata akar Pohon Kebebesan tertuduhnya. Semakin besar pohonnya, akarnya pun kemana-mana mendesak apapun yang dilaluinya.

Tak lama kaca dan dinding sebelah depan Rumah Imajinasi terlihat retak, serta juga beberapa lantai yang lain sisi depan. Dan kali ini tersangkanya bukan hanya akar Pohon Kebebasan, juga dahan yang kian kuat nan panjang.

“Akar dan dahan pohon kebebasannya harus dipangkas.” Sebagian penghuni Rumah Imajinasi mulai khawatir bahayanya yang ditimbulkan dari Pohon Kebebasan. Mimpi langsung setuju.

“Lebih baik diurungkan, kamu akan dikatakan diktaktor kalau sampai memangkasku apapun alasannya.” Pohon Kebebasan tak suka saran dari Mimpi menegurnya. Mimpi tak peduli, ia bersikukuh memangkasnya daripada melihat seisi rumah rusak dan hancur karenanya. Sebagian penghuni Rumah Imajinasi sepakat, menilainya sebagai upaya menyelamatkan kepentingan yang lebih besar agar Rumah Imajinasi kembali indah, tenang nan damai.

“Kami setuju dengan Pohon Kebebasan. Kami tak setuju ia dipangkas.” Sebagian penghuni menentang keputusan itu, mereka kecewa dan menganggap itu keputusan sewenang-wenang.

“Membuat empat puluh pohon baru setara Pohon Kebebasan yang harusnya dilakukan.” Mereka memberikan saran. Tapi tak digubris.

Eksekusi Pohon Kebebasan pun tiba, Mimpi dan sebagian penghuni Rumah Imajinasi yang sepakat lantas memangkas beberapa akar dan dahan yang sudah masuk ke dalam rumah hingga merusak lantainya.

“Tolong aku jangan dipangkas!!” Pohon Kebebasan berteriak-teriak mengundang perhatian. Mimpi tak mengubrisnya.

“Kami berhak bersuara lantang, berhak punya pendapat dan pilihan tak sama.” Sebagian penghuni yang keberatan melakukan aksi unjuk rasa damai.

“Memang kita berhak bersuara lantang, tapi jangan ngomong ngawur tanpa bukti. Memang kita berhak punya pendapat dan pilihan tak sama tapi jangan lantas memaki orang yang berbeda pendapat atau pilihan.” sahut Mimpi, sang pemimpin Rumah Imajinasi. Suasana hening sejenak.

“Lihatlah akar-akar pohon kebebasan yang sejak sepuluh tahun lalu dibiarkan saja, pada akhirnya merusak lantai dan memecah dinding rumah ini. Lihat juga dahan pohonnya yang besar menutupi apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini. Belum lagi daun-daunnya berbau hoaks dan ujaran kebencian membuat kotor halaman serta atap rumah.” lanjut Mimpi memberikan penjelasan. Tapi meskipun berkali-kali dijelaskan kalau hanya beberapa akar dan dahan saja yang dipangkas, Pohon Kebebasan bersama mereka yang menolak tetap pada pendiriannya. Tak mau dirapikan.

Yogyakarta, 10 November 2025

Bagikan:

Penulis →

Herumawan Prasetyo Adhie

Seorang pejalan kaki yang memilih naik trans Jogja atau becak ketika lelah melanda, juga pemerhati sepak bola dan suka sekali menulis apapun. Mulai artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita lucu hingga cerita misteri (mistik/seram). Buku Kumpulan Cerpennya berjudul “Pulsa Nyawa” diterbitkan AT Press, Agustus 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *