Cara Penyajian dan Komposisi dalam Cerita

PROLOG
Ketika aku masih mengalami gejala kebuntuan menulis untuk bagian kelima dari bakal bukuku yang keempat, saat editorku terus-menerus mengingatkan tenggat waktu, kala itu aku memutuskan untuk rehat beberapa jenak. Tiba-tiba saja pacarku berujar, “Ada dua hal yang akan kurindukan jika sampai di Jerman nanti.”
Tanpa harus berpikir, aku tahu bahwa namaku akan disebut pertama. Maka segera saja kutanya: “Nomor dua apa?”
“Kamu,” jawabnya.
“Pertama?”
“Mi instan.”
Sontak aku terkekeh. Ada tiga alasan kenapa aku tertawa: Pertama, karena kepercayadirianku akan jadi yang paling atas. Ini sebenarnya bukan sebatas keimanan buta. Ketika memproklamirkan pengakuan kerinduan tersebut, aku merasa ada nada-nada gombal pada suaranya, maka dengan sangat yakin kutafsirkan sosokku akan menempati juara.
Alasan kedua, karena aku luput menerka jawabannya. Padahal percakapan tersebut terjadi di warmindo langganan kami, tepat setelah mas-masnya menyimpan mi goreng rendang pesanan pacarku, dan mi kari pesananku. Selain itu, seharusnya aku bisa menebak ke arah mana perbincangan tersebut karena selama dua tahun kami berpacaran, perempuan yang kucinta ini bukanlah tipe yang menjawab ‘terserah’ jika ditanya mau makan di mana. Dia selalu dengan tegas menjawab: mi.
Alasan terakhir adalah keluguan pacarku yang mengira takkan ada mi instan di Jerman. “Aku tahu di sana ada mi, kok. Tapi pasti tidak seperti di sini,” belanya. Dia pun berkisah perihal temuannya di internet tentang harga mi di Eropa, cerita mahasiswa yang harus membeli daring untuk sekardus mi instan, serta tentang kota Berlin—di mana segalanya menjadi pusat, termasuk untuk mi instan, yang mana sangat disayangkan bukanlah kota yang akan ditinggalinya nanti.
Sambil menyantap mi dan memikirkan kelucuan yang terjadi saat itu, aku jadi terpikir untuk memberikan pacarku kado sebelum dia berangkat ke Jerman. Aku takkan memberikannya sekardus mi instan rasa ayam bawang, itu akan cukup berat dibawa ke pesawat. Aku terpikir memberikannya sepotong cerita, tak perlu sepanjang novel, bahkan tak perlu sependek cerpen. Cukup sepotong saja. Sepulang dari sana, aku langsung menulis fiksi itu, begini isinya:

BAGAIMANA JIKA MI INSTAN TIDAK DICIPTAKAN?
Tengah malam, kau terbangun dari mimpi indah: datang ke konser boyband k-pop yang sangat kau suka. Air liur di bantal, dan kau sadar bahwa kau begitu keroncongan. Lidahmu menginginkan rasa rendang, tapi mana ada masakan padang buka dini hari begini. Kau pun tak pernah mengerti bagaimana cara membuat makanan tersebut. Lidahmu harus mengalah, dan kau harus makan apa saja agar perutmu tak terus bersenandung. Lalu kau ingat bahwa tak ada apa pun yang bisa kau makan, kecuali pakan kucing kesayanganmu—yang tak pernah terbayangkan akan bisa hinggap di mulutmu. Maka kau memutuskan untuk kembali lelap.
Alarm berbunyi dan kau tak bergerak. Kucing mengganggu tidurmu, tapi kau tetap tak bergerak. Berkali-kali seperti itu sampai akhirnya kau bangun dan terburu-buru untuk membasuh badan serta mencuci rambutmu yang anggun. Sambil bernyanyi di kamar mandi, kau memikirkan hidangan yang tepat untuk sarapan sebelum berangkat kerja. Lidahmu mengidamkan gurih soto. Kau tahu bahwa takkan ada cukup waktu untukmu memasak soto sedangkan pekerjaan menunggu di kantor sana. Sehabis mandi dan memakai riasan wajah, kau segera pergi. Di jalan, kau membeli dua lapis roti yang akan kau makan di kereta.
Kau pahami segala keberdesakan ibukota yang selalu kau keluhkan, tapi sebenarnya kau nikmati juga. Sambil memakan bekal pagi, kau lewati stasiun-stasiun dan mencanangkan makan siang yang kau inginkan. Soto berganti jadi kari. Di kantor, pekerjaan menumpuk. Segala yang memusingkan itu kau selesaikan dengan senang hati. Tak seperti kebanyakan orang, kau malah bahagia dengan pekerjaan, terutama karena uangnya.
Siang tiba dan telah kau temukan kari. Kau makan lembutnya dengan sigap. Semua inginmu yang sederhana itu telah tercapai, membuatmu kesenangan dalam hidupmu bertambah. Namun jauh di lubuk jiwa, kau tahu ada lubang menganga yang tidak terisi. Kau tak tahu apa. Pekerjaanmu jadi terganggu karena memikirkan itu. Perjalanan pulang jadi tak nikmat. Kepadatan ibukota jadi terasa begitu sesak. Sampai ke apartemen dan kau lupa memberi pakan kucing. Malam tiba dan kau merasa senyap. Kau hanya tahu ada satu hal yang tak terwujud, keinginanmu yang begitu primordial, yang mungkin belum pernah ditemukan ….
“Mi instan takkan pernah tidak ada di dunia ini!” keluh pacarku setelah mengaku membaca diam-diam tulisanku di atas yang belum selesai. Dia cemberut dan merasa cerita itu sangatlah buruk. “Terutama karena alurnya terlalu cepat, dan tokohnya terlalu datar.” Aku tak banyak berkomentar. Aku pun tidak menjelaskan bahwa tulisan itu sejatinya kado. Pacarku jelas tak suka hadiahnya. Aku hanya diam dan merasa sebaiknya memang kukadoi saja dia sekardus mi rasa ayam bawang.
Sebenarnya, ada beberapa calon tulisan lain untuk kadonya. Karena cerita yang di atas sana sudah mentok. Aku terpikir untuk menceritakan mimpi burukku waktu bocah dulu: dikejar-kejar pocong dan dimasukkan ke dalam kardus mi. Namun, itu terlalu horor, aneh, dan harusnya hadiah ini tentangnya, bukan tentangku. Sempat juga terpikir soal: mi terakhir di dunia. Ini bisa kubuat jadi semacam kiamat tapi manusia adalah mi, atau bisa juga kubuat bagaimana manusia menghadapi mi terakhir. Namun, aku juga tak tahu kisahnya, baru ide dan tak berkembang lebih baik. Seperti halnya bakal bukuku yang selalu ditagih editor, semua cerita untuk pacarku yang akan merindukan mi, tak ada yang selesai.
“Pokoknya mi harus selalu ada di dunia ini!” ujarnya, yang kurasa cukup lucu, karena aku tahu dia cukup serius dengan ucapannya. Untuk ukuran perempuan yang akan menempuh beasiswa S2 ke Jerman, dia memang kekanak-kanakan. Kemudian, pacarku pergi. Aku yang cukup khawatir—karena aku tahu sifatnya—bahwa dia kesal dengan tulisanku, bertanya: “Mau ke mana?”
“Dapur. Masak mi.”
Jawaban singkat dan dipadat-padat itu adalah khas pacarku jika dia sedang kesal padaku. Maka kuikuti dia. Di dapur apartemenku, yang memang sering dikunjunginya, dia mendidihkan air. Dia membuka bungkus mi dan membuangnya. Aku menatap tempat sampah tersebut. Tiba-tiba saja kudapati satu ide yang lain, sebuah tulisan lain yang kuyakin akan disukai oleh pacarku.
Maka setelah sore yang hening—karena pacarku kesal padaku,dan setelah dia pulang sehabis menyantap mi, aku langsung menulis:

CARA PENYAJIAN DAN KOMPOSISI
Cara Penyajian:
– Rebus rindu dengan sekira-kiranya tiga perempat hati, dalam kasih sayang yang mendidih selama-lamanya.
– Sementara rindu direbus, campurkan bumbu cinta, minyak benci, bubuk kasih dan derita ke dalam piring.
– Tiriskan rindu, kemudian campurkan ke piring, diaduk hingga merata.
– Kerinduan yang lezat siap disajikan.

Komposisi:
Rindu: Jarak, senyum yang menghantui dalam mimpi, tangan yang ingin menggenggam, gundah yang mesra, tangis (campuran sedih dan senang), kalender jadwal bertemu, dan beberapa campuran zat lainnya.
Bumbu Cinta: Sayang, pertemuan pertama, rasa aman, kepemilikan (mengandung perasaan posesif), bubuk semangat hidup, foto-foto dalam dompet, rasa bahagia yang berlebih, masa-masa indah, serta hal-hal lain yang bersukacita
Minyak Benci: Semua yang berlawanan dengan bumbu cinta, tapi dalam kadar yang bisa bersatu.
Bubuk Kasih dan Desdklmgfc lkfsahifeas,./sa218

EPILOG
Lelaki itu membaca cerpennya sendiri pada komputer lipatnya. Angin tengah malam membuatnya harus membaca dengan berselimut. Rokok menempel di bibir. Sejujurnya, ia telah lupa kapan membuat tulisan itu, dan sejak kapan ditinggalnya dengan keadaan belum selesai. Hanya dua hal yang ia ingat: a. akhir tulisan yang hurufnya berantakan karena keyboard terinjak kucingnya, dan b. cerpen tersebut ditujukan kepada seorang perempuan yang istimewa di masa lalunya. Ia tulis dan tulis ulang sejak mereka resmi berhubungan, dan sampai detik ini, sampai mereka berpisah pun, tak pernah ia selesaikan.
Tokoh-aku di sana selalu dianggap sebagai representasinya. Sama-sama suka menulis. Meski di sana, si tokoh sudah menjadi penulis, dan ia masih begini-begini saja. Ia sedikit tersenyum menyadari itu. Sedangkan tokoh perempuan adalah representasi perempuan istimewa itu. Tidak, dia tak pergi ke Jerman. Dia hanya menyukai Bahasa Jerman. Kesamaan tokoh rekaannya tersebut dengan perempuannya hanyalah perihal mi instan.
Lelaki itu telah berniat untuk menyelesaikan cerpen ini sebelum pagi menjelang. Besok ia harus pergi ke pernikahan. Namun, tak ada satu pun kata yang mengalir untuk mengisi kelanjutan kisah itu. Yang ia rasakan sekarang hanyalah kenangan-kenangan yang menyerbu ingatannya, kerinduan atas masa-masa indah, dan perut yang lapar. Maka, ia pun melepas selimut dan bangkit, mengelus-ngelus kucingnya, lalu ia bawa sebungkus mi instan rasa kari, merebusnya, membuka bumbu, mencampurkannya ke mi. Kemudian, lama kemudian, ia hanya menatap lamat-lamat rebusan mi tersebut.[*]

Bagikan:

Penulis →

Jein Oktaviany

Lahir di Ciwidey. Aktif di komunitas Kawah Sastra Ciwidey, dan Sebelum Huruf A. Buku kumpulan cerpen perdananya, akan segera terbit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *