BANGSAT! Kata itu melesat dari mulut Bimo, menembus terik siang dan lumpuhnya arus lalu lintas.
Bimo yang suka bersuara itu berdiri di tempat paling tinggi, sehingga orang-orang di bawahnya tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya yang mengeras. Tapi bagi kawan-kawannya, Bimo bukan sekadar pemuda berambut gondrong dengan paras lumayan—ia adalah suara. Suara dari keresahan yang selama ini hanya berkumandang dalam batin orang-orang kecil.
Ia berdiri di atas bak sebuah mobil truk dengan pelantang suara di tangan dan kemarahan yang membara di dadanya, mobil truk yang terpaksa harus ia berhentikan untuk sebuah urusan yang genting.
Ya, genting. Itulah yang bergemuruh dalam kepala Bimo dan kawan-kawannya. Sebab apa yang harus disuarakan itu adalah hajat hidup orang banyak dan, merupakan hak-hak rakyat yang harus dipenuhi pemerintah.
Lengkingan Bimo menyeruak seperti sirene ambulans yang membawa pasien sekarat—mendesak, nyaring, tak bisa diabaikan.
“Apa gunanya bayar pajak, kalau jembatan-jembatan dan jalan raya dibiarkan rusak! Apa gunanya bayar pajak, kalau gedung-gedung sekolah tidak ada yang layak! Apa gunanya ada pemerintah kalau hidup rakyatnya selalu susah!”
Di bawah, lautan manusia menggema. Teriakannya disambut, diulang, dibakar amarah yang sama. Tapi juga menciptakan kemacetan panjang dan memancing sumpah serapah dari para pengguna jalan. Mereka yang terjebak di antara idealisme dan urusan pribadi.
***
“Apa tidak sakit tenggorokanmu itu teriak-teriak di jalan?” Aryo mengusik istirahat Bimo yang baru sejenak. Ia baru saja tiba di rumah dengan pakaian lusuh, wajah berminyak, rambut yang disarangi debu, dan bau senggak keringat yang melekat di tubuhnya.
Bimo yang merebahkan tubuh di lantai, tidak langsung menjawab. Mengambil satu batang rokok dari kantung celana lalu bangkit dari tikar, Bimo meraih pemantik api dan membakar ujung rokok dengan sikap dingin. Mengembus kepulan asap tipis dan menyibak rambut gondrong yang sedikit menutupi wajah, Bimo kemudian bersuara, “Untuk apa ada pemuda, kalau kerjanya diam saja. ”
Aryo terkekeh, “Lagakmu itu, persis lakon jagoan di film laga.”
“Saya gak berlakon, Bang. Keresahan saya ini beneran.”
“Masa depan kau pun beneran. Sudahi saja teriak-teriakmu itu. Ambil bukumu, cepat kau selesaikan kuliahmu yang sudah hampir busuk.”
“Abang juga dulu mahasiswa, kan? Teriak juga?”
Aryo terkekeh lagi. Tetapi, tawa yang terpingkal-pingkal itu terasa janggal. Sebuah tawa yang kosong.
“Apanya yang lucu, Bang?”
“Lucu sekali hidup ini. Ah…gak usah kita perpanjang. Kalau kau suka teriak, teriaklah. Biar aku kerja untuk biaya kuliahmu, kau teriaklah yang kencang.”
***
Di sebuah gudang kumuh penuh besi tua, denting besi beradu menyatu dengan dentuman musik koplo dari pick-up buruk rupa. Lukito duduk di kursi plastik, memangku kaki, memeriksa buku lusuh sambil menghitung pembayaran hasil timbang besi tua untuk para pemulung.
Tiga orang sedang antre di depannya. Wajah mereka semringah karena sebentar lagi akan menerima uang hasil mulung besi tua.
“Pak Jupri dapat sedikit hari ini,” kata Lukito dengan ekspresi datar.
“Iya, Gan. Susah dapat besi tua sekarang. Itu juga hasil mulung lima hari. Di perumahan-perumahan sudah ada tukang sampah, kita jadi kedahuluan.”
Jupri menerima harga timbangan besinya dengan hati nelangsa. Kemudian berlalu.
“Panen kamu, Cel! Mulung di mana?”
Boncel, pemuda tanggung berambut pirang persis warna sabut kelapa senyum-senyum sambil garuk-garuk kepala. “Anu, Bang, itu….” Boncel tidak meneruskan ucapannya. Senyumnya masih menetap, gusinya yang hitam pamer diri di depan Lukito. “Abang kayak gak tau aja. Abang, kan, jagonya dulu.”
Lukito membalas dengan wajah tak suka. “Huss!”
Gondo, laki-laki tua kurus dan dekil di sebelah Boncel menyambar, “Halah, kamu itu. Mentang-mentang si Aryo sudah sukses, sekarang jijik sama cara kita?”
Boncel yang merasa dibela ketawa girang. “Yang penting makan, Bang. Kalau ngikutin si Jupri bisa puasa berhari-hari kita.”
“Lukito udah enak, Cel. Udah jadi juragan, gak perlu tunggang langgang kayak kita tiap malam. Adiknya si Aryo sudah sukses, gak ada yang perlu dibiayain lagi. si Bimo juga diurusin si Aryo sekarang. Hidup dia sudah santailah.” Tawa Gondo yang meriah pecah, timbul tenggelam di antara denting besi yang beradu dalam timbangan dan suara serak mesin mobil pick up.
Kuping Lukito panas mendengar olok-olok dua pemulung besi tua di depannya. Mereka itu lebih patut disebut maling daripada pemulung. Mereka tidak membeli besi tua dari warga atau memungut besi tua yang dibuang, tapi mencungkil besi fasilitas umum. Mereka beraksi tanpa pandang bulu: jembatan, pagar, bangku taman, besi cor penutup selokan, semua digasak dengan garang. Kalau perlu, halte pun bisa mereka angkut sedikit demi sedikit untuk ditimbang. Hidung mereka bisa mengendus bau besi untuk dicuri ke mana pun mereka pergi.
Yang dikatakan Gondo itu bukan candaan, tapi memang benar Lukito dulu seperti mereka. Apa boleh buat, Lukito anak sulung dari tiga bersaudara yang menanggung nafkah keluarga. Ibunya seorang janda. Adiknya si Aryo sedang kuliah, dan Bimo waktu itu masih SMA. Kedua adiknya itu butuh biaya yang tidak sedikit. Mau tak mau, suka tak suka, Lukito terpaksa. Sekarang ia masih sama saja, cuma naik satu tingkat: jadi penadah.
Tawa Gondo hilang. Ia dan Boncel, si pemuda tanggung, sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Barangkali mereka sudah pergi ke warung Mami Enjel untuk menghamburkan uang, menyawer biduan, dan minum arak.
Dahulu, Lukito tidak pernah menjalani hidup seperti itu, meskipun dia sudah terlanjur jadi maling. Emaknya bisa naik darah kalau tahu dia mabuk dan main perempuan. Bahkan sampai perempuan tua itu mati, Lukito tidak pernah ketahuan nyolong besi. Kalau sampai ketahuan, sudah pasti dia disumpahi dan dipukuli habis-habisan.
Istri Lukito, si Mariatun, dulu tidak keberatan Lukito jadi maling. Menadah besi dari maling juga tidak apa-apa. Justru Mariatunlah yang mendorong Lukito untuk menadah besi curian. Meskipun Lukito enggan dan kepingin tobat, Lukito tidak bisa berkutik di depan Mariatun yang galak dan senang main golok. Jadi, Lukito sulit lepas dari lingkaran hidup para maling sebab dia adalah mantan maling.
Kata Mariatun, maling yang tidak lagi maling tetaplah maling sebab disebut mantan maling. Kata maling itu, di mulut orang-orang, akan ngikut sampai liang kubur.
***
Aryo, mendapat proyek bernilai fantastis. Perusahaannya yang bergerak di bidang konstruksi sipil memenangkan tender pembangunan jalan raya. Tetapi, ia memenangkan tender itu bukan karena harga, bukan karena kualitas.
“Kamu memang paling pengertian,” bisik Tris, sembari menepuk-nepuk ringan bahu Aryo. Tawa malu-malu dari laki-laki setengah tua yang buncit itu mengisyaratkan rasa puas.
Aryo membalas Tris dengan senyum kecil. Proyek yang jatuh di tangan Aryo adalah proyek pembangunan jalan raya milik pemerintah. Tris adalah pejabat yang berwenang, mengedipkan mata pada Aryo. Tris meminta sejumlah imbalan untuk proyek yang sudah ia luluskan untuk Aryo. Sebelum Aryo, Tris sudah menjanjikan proyek itu kepada kontraktor lain, tetapi mereka tidak sanggup membayar uang pelicin pada Tris. Tris melihat angka, menimbang jumlah. Siapa yang mampu membayar uang pelicin sebesar yang ia minta, dan menambah bonus paling banyak, dialah yang akan mendapatkan proyek-proyek milik pemerintah itu.
Mula-mula Aryo datang dengan semangat kejujuran untuk memulai usaha. Tetapi, Aryo melihat tidak ada peluang untuk dirinya yang ingin bekerja jujur, yang tidak mau ikut kongkalikong. Saat itu, hanya ada satu jalan yang bisa dilihat Aryo jika ingin menang tender—harus mau diajak main belakang. Saat ini, Bimo, adiknya, masih butuh biaya kuliah. Bimo menjadi tanggung jawabnya setelah ia memulai usaha dan berpenghasilan. Tanggung jawab itu ia ambil alih dari Lukito yang sudah sejak remaja menanggung nafkah keluarga dan kuliahnya dahulu. Ia sendiri sudah berumah tangga, anak istrinya mesti hidup senang dan sejahtera.
Apa boleh buat, sudah terlanjur nyemplung, ya sudah, menyelam saja sekalian, pikir Aryo. Menempuh jalan yang semestinya, sesuai aturan, ternyata tidak bisa membuat Aryo memenangkan tender proyek apa pun.
Tris mengulurkan tangan menjabat tangan Aryo. “Saya senang setiap kali bekerja sama dengan Pak Aryo. Pak Aryo tenang saja, selama masih ada saya, proyek-proyek pemerintah di provinsi ini akan saya berikan kepada Pak Aryo,” kata Tris menggenggam erat tangan Aryo. Senyumnya yang lebar, merentangkan dua sisi kumisnya yang serupa sayap burung.
***
Bimo berdiri dengan pelantang suara, di atas bak sebuah mobil truk yang ia cegat bersama teman-temannya.
“Koruptor bangsat! Gantung mati mereka di tiang bendera negeri ini! Jangan biarkan anak-anak negeri lahir dalam negara yang telah dicuri!”
Keringat Bimo mengucur. Itulah yang mereka sebut dengan keringat perjuangan kaum muda. Mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Membacakan puisi-puisi perlawanan.
Dari kejauhan, Lukito mendengar teriakan itu. Ia terjebak macet di jalan yang sama, di balik kemudi pick-up tuanya. Ia menyumpah, bukan karena marah pada korupsi, tapi karena tergesa menjemput besi tua.
Lukito tak paham isi teriakan itu. Ia tak punya pendidikan tinggi, tak tamat sekolah dasar. Beruntung saja ia masih bisa baca-tulis. Lukito sama sekali tak tertarik memikirkan negara. Dan dari semua teriakan itu, yang ia paham cuma satu kata:
“Bangsat!”
Makassar, April 2025.