Ingatan dari Balik Jendela Kereta

AKU hanya mengingat potongan-potongan kecil kenangan yang terus kuulang dalam kepalaku. Tunggu, jangan buru-buru kau tanya apa tepatnya kenangan itu, karena itulah kenangan milikku dari Bapak, jadi sabarlah, akan kucoba ceritakan pelan-pelan.
***
Suara orang mengaji yang kudengar hampir setiap hari kurasa telah mengukir masa kecilku. Bapak adalah seorang guru mengaji di kampungku dulu. Anak-anak tetangga yang menjadi murid Bapak akan datang ke rumah selepas solat Magrib dengan suaran langkah yang bergesekan dengan kerikil. Mereka akan mengaji hingga masuk waktu Isya, pelajaran mengaji akan ditutup dengan shalat Isya berjamah. Aku akan bergabung dengan anak-anak itu, mengaji bersama-sama dan shalat Isya berjamaah.
Hidup di kampung terasa begitu sederhana, aku merasa seperti itu, karena seperti itulah yang Bapak ajarkan kepadaku. Suatu hari selepas shalat Isya berjamaah dan murid-muridnya bubar, Bapak memintaku duduk saat aku hendak beranjak, aku dimintanya duduk di hadapannya.
“Kau sekarang sudah khatam Al-Quran tiga kali,” kata Bapak.
Aku hanya mengangguk menunggu kalimat Bapak berikutnya, dan benar saja Bapak melanjutkan kalimatnya.
“Sekarang sudah waktunya kau bantu aku mengajar mengaji anak-anak itu, kau akan menjadi penerusku yang akan mengajari anak-anak di kampung ini mengaji.”
“Tetapi Bapak,” sergahku lekas, “Aku rasa, aku perlu pekerjaan yang lain, uang dari mengajar mengaji, selama ini kerap kali kurang bukan?” lanjutku mencoba mendebat Bapak.
“Jangan kau pikirkan itu, toh Allah selalu mencukupkan rejeki kita, walaupun uang yang aku terima selama ini kurang, toh kita tidak pernah kekurangan bukan?”
Aku mengangguk, karena semua yang dikatakan Bapak benar, selama ini walaupun uang kami pas-pasan atau bahkan terkadang kurang, selalu ada saja tetangga yang memberi kami macam-macam, mulai dari hasil kebun, beras, masakan yang baru saja matang, dan terkadang oleh-oleh dari luar kota. Intinya semua kebutuhan kami selalu tercukupi.
Aku merenungkannya dan memang hidup di kampung itu sederhana, cukup dengan menjaga silaturahmi kita dapat hidup dengan nyaman tanpa rasa gelisah, dan bertetangga menjadi guyub.
Kehidupan di kampung kami tiba-tiba menjadi menegangkan. Suatu malam ketika baru saja selesai mengajar mengaji, rumahku di datangi beberapa orang yang tak kami kenal. Malam itu Bapak tak ikut mengajar, hanya mengawasi aku dan murid-muridku. Pintu rumah kami digedor oleh orang-orang itu, setelah kubuka pintu, mereka langsung membentak-bentak kami, dan meminta kami segera mengosongkan rumah.
Keesokan harinya, beberapa alat berat masuk kampung kami, alat-alat itu mau meratakan rumah kami, rumah yang berdiri di atas tanah yang sudah kami tempati puluhan tahun. Kami tidak pernah tau apa sebab kami mau digusur, semua serba tiba-tiba, mereka datang malam-malam dengan tiba-tiba, menggedor satu-satu rumah warga, keesokan paginya tanpa kami ketahui akar permasalahannya, tiba-tiba rumah kami mau diratakan.
Warga dengan spontan menghadang alat-alat berat itu, ibu-ibu menangis ketakutan, anak-anak menangis melihat ibu mereka menangis, Bapak sebagai yang dituakan mencoba berunding dengan mereka yang dikawal aparat kepolisian, hari itu mereka bersedia untuk pergi, tetapi tetap mengancam akan kembali untuk menggusur rumah kami.
Setelah kejadian itu, ketegangan terus terjadi, suasana kampung tak lagi nyaman, kami semua selalu diliputi oleh rasa takut, Bapak sudah berhenti mengajar mengaji atau sekedar mengawasi, urusan mengajar mengaji semua Bapak serahkan kepadaku. Bapak lebih sering mondar mandir, ke pengadilan, kantor inilah kantor itulah, bertemu orang inilah bertemu orang itulah. Bapak menjadi salah satu yang vokal dalam melawan penggusuran rumah di kampung kami. Hingga pada suatu pagi Bapak pamit pergi untuk mengikuti sidang di pengadilan negeri. Dari hasil kerja kerasnya melawan orang yang hendak menggusur rumah kami, Bapak dan kami yang datang menyaksikan sidang putusan bersorak sorai gembira saat putusan sidang dibacakan, kami menang, rumah kami tetap menjadi milik kami.
Namun, malam harinya setelah sidang itu, Bapak pergi keluar dengan beberapa orang yang menjemputnya di rumah, mereka tidak bertindak kasar, para tamu itu mengaku sebagai penegak hukum dan hendak memintai keterangan dari Bapak selaku tokoh masyarakat, hal itu diperlukan guna menindaklanjuti putusan pengadilan pagi tadi. Bapak kembali dengan wajah yang merah, ia tiba-tiba marah.
“Keterlaluan, mereka pikir siapa mereka, mengancamku seenak jidatnya.”
Begitulah jawaban bapak ketika aku tanya mengapa ia begitu marah.
Bapak tak kembali ke rumah. Bapakku memang sering pergi untuk waktu yang cukup lama setelah kejadian malam itu, tetapi ia pasti kembali ke rumah, walaupun hanya untuk beberpa hari atau mungkin beberapa jam. Setelah berbulan-bulan tak pulang dan tak tau rimbanya di mana, Ibu mulai melaporkan kehilangan Bapak. Muncul banyak prasangka tentang hilangnya Bapak.
Banyak kabar burung berseliweran tentang hilangnya Bapak, kabarnya Bapak telah mati ditembak di jalan, kabarnya Bapak diculik lalu dibunuh di dalam kamar yang pengap. Kabarnya Bapakku dijemput malaikat dalam keadaan babak belur karena disiksa oleh orang-orang, akibat kegigihannya mengistirahatkan kata-kata. Semua kabar itu datang silih berganti menyesaki telingaku.
Kami, aku, ibu dan adik masih menunggu kepulangan bapak. Kami masih menyimpan sedikit harapan, walaupun setelah bertahun-tahun kami pun mulai pasrah, mungkin bapak memang tak akan pernah kembali, mungkin bapak memang sudah mati. Di tengah-tengah penantian yang tak pernah pasti, jika aku begitu rindu kepada bapak, aku akan pergi naik kereta. Aku masih ingat tahun-tahun yang dipenuhi kerlap-kerlip lampu kota. Lampu-lampu itu melesat berlompatan dari balik jendela kereta. Ya, Bapak selalu mengajakku menyebrangi kota dengan kereta sebelum senja. Saat matahari perlahan-lahan menyembunyikan dirinya di balik gunung, kami akan menghitung lampu-lampu yang dapat kami tangkap dengan mata. Sebisa mungkin aku memincing mata mencoba menangkap cahaya merah, jingga, bahkan hijau. Cahaya itu semakin sulit kutangkap seiring laju kereta yang semakin cepat. Cahaya-cahaya itu berlesatan.
“Urip iku urup, le. Jadi seperti cahaya, hidup itu harus mampu menerangi. Kudu urup.”
Aku yang dulu belum mampu mengartikan pesan Bapak, hanya diam tak acuh terhadap kalimat yang Bapak sampaikan dan lebih memilih hanyut dalam pemandangan yang menakjubkan. Kini setelah kepergian Bapak, aku mulai sering teringat oleh kalimat itu dan memikirkan arti dari menjadi terang “Urip iku urup.”
Dari balik kaca jendela kereta, matahari tampak turun terburu-buru. Seperti malu terhadap lampu kota yang bercahaya semakin gila. Cahaya pada waktunya akan redup dan mati nak, bahkan bintangpun akan mati pada waktunya. Tak ada yang abadi di muka bumi. Semua hanya memiliki nyawa yang semata wayang. Namun, cahaya-cahaya itu hidup sebagai penunjuk arah. Sebagai penuntun dalam gelap. Begitulah kiranya hidup harus dijalankan. Selalu membawa kebaikan dan manfaat, hidup itu harus mampu menerangi, harus urup.
Gerbong kereta yang kutumpangi tiba-tiba menjadi terasa asing, demi mengusir rasa tak enak yang entah apa itu, aku memalingkan wajahku kembali memandangi pendaran cahaya kota dari balik jendela kereta.
Cahaya-cahaya lampu kota di luar terlihat semakin terang dan bergerak semakin cepat layaknya kilapan kilat sebelum guntur. Di kepalaku kalimat tentang hidup yang harus menerangi terus berputar-putar tak putus-putus. Semakin lama gerakan cahaya dan suara bisikan itu semakin seirama. Perlahan-lahan cahaya-cahaya itu menunjukan dirinya dalam satu warna. Oranye. Oranye yang semakin terang dan panjang tak terputus.
Perasaan aneh itu semakin memenuhi dadaku, setelah tanpa sengaja aku mengangkat sedikit pergelangan tanganku untuk melihat waktu. Gerak detiknya tak satu-satu, jarum jam itu berputar kehilangan jati diri. Keherananku semakin menjadi-jadi. Menghadapi keganjilan itu, aku memutuskan untuk beranjak dari tempatku duduk. Aku melangahkan kaliku menyusuri gerbong kereta, yang tanpa kusadari gerbong tempatku menumpang telah kosong, aku benar-benar telah hanyut dalam lamunan.
Sampai akhirnya aku sampai di gerbong terdepan. Syukurlah di gerbong itu aku temui seorang tua yang duduk sendiri. Tampaknya hanya tinggal kami berdua penumpang kereta itu.
“Pak, boleh saya duduk di sini?” Tanyaku, lelaki tua itu tak menjawab. Bahkan memalingkan wajahpun tidak. Tanpa menunggu keberkenanannya aku langsung duduk di samping seorang tua itu.
“Hendak kemanakah bapak pergi?” Lagi-lagi ia nampak tak perduli dengan kehadiranku.
Kereta yang kutumpangi masih terus melaju, bisikan kalimat yang asing itu masih berdengung-dengung di telinga, jarum jam tanganku masih bergerak dalam irama asing pula, cahaya di luar nampak bergerak perlahan, semakin perlaahan hingga hilang ditelan kecepatan laju kereta yang tak sedikitpun melambat.
“Perjalanmu tak akan pernah sampai pada tujuan, anak muda.” Jawab seorang tua itu tanpa memalingkan wajahnya.
“Maksud bapak?”
“Perjalanmu tak akan pernah sampai pada tujuan, anak muda.” Kali ini aku yang tak membalas pernyataan seorang tua itu. Aku merasa dekat dengan suara tua itu. Suara yang asing, tapi hadir dengan kenangan-kenangan masa kecilku. Aku merasakan ada kehangatan Bapak dalam suara lelaki tua itu.
Di antara kami tak ada lagi yang bersuara. Lelaki tua yang meninggalkan teka-teki di kepalaku. Kami hanya duduk berdua dalam hening. Aku terus masyuk pada keasingan-keasingan di dalam kereta yang kutumpangi. Kini jarum jamku berhenti bergerak dan perlahan-lahan kusadari kerata yang kutumpangi tak pernah berhenti.

Bagikan:

Penulis →

Jagad Wijaksono

Aktif di Komunitas Ngamparboekoe Cimahi. Menulis cerpen dan puisi, beberapa puisi terbit di media lokal dan termuat dalam antologi berjudul 3 Dermaga dan Bintang di Pulau Garam (Sastra Bunga Tunjung Biru, 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *