1
Wajahnya bermuka duka, sayu, serta penuh dengan tatapan kosong. Tubuhnya dipenuhi dengan rasa nyaris: nyaris setiap hari tidak pernah pakai baju, nyaris tidak pernah tersenyum bahkan nyaris tidak pernah kelihatan tidur. Satu-satunya benda yang menempel di tubuhnya hanyalah sarung lusuh—yang entah kapan terakhir dicuci. Orang-orang kampung tidak tahu sosok laki-laki itu kapan pertama kali datang. Yang jelas, setiap hari laki-laki tanpa nama itu selalu duduk di halte—sepanjang hari dan malam.
“Apa yang kamu tunggu?” seorang pemuda kampung melontarkan pertanyaan.
“Seseorang yang pernah berjanji tapi tak kunjung kembali,” jawab laki-laki tanpa nama dengan nada meyakinkan.
Tatapan kosong tapi penuh harapan selalu terpancar di mukanya. Orang-orang mengira bahwa dia adalah orang gila yang terus berjalan tanpa mengenal arah. Sementara yang lain berpendapat bahwa dia stres lantaran gagal jadi DPR. Desas-desus itu terus menjadi bahan pembicaraan orang desa.
Ada yang tidak biasa terhadap sikapnya. Para pemuda yang sering main domino si seberang halte sudah sangat hafal dengan tingkah lakunya. Awalnya mereka menganggap hal itu sebagai kekonyolan belaka. Mereka selalu melihatnya kemudian menertawakannya. “Lihatlah, setiap kali bus antarkota lewat laki-laki tanpa nama itu selalu berdiri.” Salah satu laki-laki menggumam dan yang lainnya melempar tawa.
Ketika pagi—laki-laki tanpa nama tetap tugur di halte seperti biasanya. Para ibu-ibu yang baru kembali dari pasar sering memberikan sebungkus nasi, kue basah dan air gelas kepadanya. Laki-laki tanpa itu menerima dan mengucapkan terima kasih. “Orang itu sakti, waktu saya memberikan nasi, laki-laki tanpa nama itu bilang bahwa aku akan dapat rezeki hari itu. Sore harinya aku mendapat lotre arisan.”
Berita tersebut cepat tersiar ke seluruh warga. Sehingga hal apa pun kerap kali ditanyakan—mulai dari masalah ekonomi sampai masalah asmara. Kadang ada juga sebagian orang yang membawa air untuk meminta didoakan, laki-laki tanpa nama tidak pernah menolak permintaan warga. Dia dianggap sakti sekaligus gila.
2
Aku tetap menapakkan kaki. Melangkah penuh keyakinan. Setelah pertemuan terakhir—kau berjanji akan kembali. Tapi entahlah, kurasa kamu mengingkari atau lupa untuk menepatinya. Kamu pergi dengan bus terakhir tepat minggu malam. Setelah itu, kurasa semua tidak baik-baik saja. Kamu berjanji untuk kembali dan aku yang selalu menunggu tanpa mengenal waktu. Orang mengira aku sudah gila. Aku menerima saja prasangka mereka.
Mereka semua tentu saja tidak tahu namaku, tidak tahu apa yang aku cari. Semua bermula ketika aku pertama kali melihatmu duduk di halaman depan rumah—dan aku hanya bisa berdiri di kejauhan di balik pagar rumahmu. Dulu, kamu sering sendiri sambil ditemani buku dan secangkir minuman.
Aku terus saja melihatmu dan berharap bisa berkenalan. Pernah aku menyamar menjadi pemulung dan pengamen dengan harapan bisa lebih dekat dengan wajah cantikmu. Semua telah kulakukan—tapi hingga saat terakhir kali aku melihatmu, aku tetap saja belum bisa berkenalan.
Beberapa hal kutahu perihal kesukaanmu. Kau suka meneduhkan diri ditemani buku yang selalu bersarang di tanganmu. Berjalan pagi menyusuri kompleks perumahan bersama anjing kesayanganmu. Hingga pada akhirnya kamu tidak pernah kelihatan lagi. Rumah yang kamu tempati sunyi. Tidak ada yang menghuninya lagi. Aku pun bertanya ke mana kamu pergi?
Ingatanku kepadamu sudah mulai pudar karena sudah saking lamanya tidak berjumpa. “Kamu yang sering mengamatiku, ‘kan?” tiba-tiba suara perempuan datang dari arah belakang, suara itu kutahu—persis dengan suara yang memberikanku uang receh ketika menyamar jadi pengamen. Tentu hal itu sangat mengagetkanku. Secepat kilat aku berusaha menolehkan kepalaku kepada sumber suara.
“Iya.” Sebenarnya hatiku diliputi rasa malu. Kemudian bertanya-tanya mengapa wanita ini tahu jika aku selalu melihatnya dari kejauhan. Tapi lama-lama aku tidak mengindahkan hal itu. Yang terpenting niat awalku sudah tercapai. Bisa berkenalan dan mengobrol bebas dengannya. “Datanglah ke rumahku besok!” ucapnya. Terasa berat kepalaku yang mau mengangguk. Tapi tawarannya tidak mungkin aku tolak. Aku hanya bisa melempar senyum kecil dan berharap ini menjadi awal terjalinnya hubungan baik.
“Kopi atau teh?” ucapmu dengan nada lirih.
“Kopi saja!”
“Laki-laki dengan nyali besar memang kesukaannya kopi.” Timpalnya sambil menyilahkan aku duduk di pekarangan rumahnya.
3
Semua berakhir di terminal. Asap-asap bus antarprovinsi mengepul dari balik knalpot. Kamu melambaikan tangan dari balik kaca bus yang berembun. Bus yang kamu tumpangi perlahan berjalan lirih ke luar dari terminal malam itu. Kepalaku terus bertanya. Sebenarnya kamu mau ke mana? Tapi pertanyaan selalu gagal menemukan jawaban. Kamu tidak pernah mau menjawab pertanyaanku itu. “Tenang saja aku selalu bersamamu, aku tidak akan pergi jauh.” Ucapmu malam itu.
Kami berdua menjadi seorang teman dekat. Kamu suka sekali membacakan puisi-puisi yang mengandung bahasa metaforis. Sedangkan aku selalu menjadi penonton dan pendengar yang baik. “Apa arti cinta menurutmu?” tanyamu waktu itu. Tentu pertanyaan yang kamu ajukan timbul dari hasil pembacaanmu dari berbagai literatur.
“Cinta adalah ketika kita mampu bertahan terhadap rasa sakit.” Kurasa pertanyaan yang kamu ajukan merupakan sebuah jebakan yang sebenarnya kamu sendiri sudah tahu jawabannya. Hanya saja kamu pura-pura menanyakannya padaku. “Cinta sia-sia belaka, cinta hanya membuat kita sakit pada akhirnya. Kita akan kembali hidup sendiri, seperti sediakala, sendiri dan sepi.”
Kutahu kamu tidak setuju dengan pendapatku. Aku bisa melihat dari raut wajahmu yang masam. Tapi tetap saja kuucapkan. Aku dengan isi kepalaku dan kamu dengan isi kepalamu. Persoalan cinta memang kadang membuat manusia menjadi setengah bahagia, sisanya kecewa. Keabadian menuntut kesendirian. Sebab hal-hal yang suci kerap berangka satu. Satu untuk keberadaan bulan. Satu untuk keberadaan matahari dan esa untuk keberadaan Tuhan semesta alam.
“Tapi kenapa Tuhan menciptakan cinta tapi pada akhirnya membuat kecewa? Tuhan kan Maha Pengasih. Tentu Tuhan penuh dengan cinta? Kenapa kadang manusia ingkar terhadap cinta?”
Aku berpikir sejenak, “Kupikir manusia adalah manifestasi dari keseluruhan keagungan Tuhan. Percikan cinta dari Tuhan menyemai ke dalam naluri manusia. Tapi manusia sering abai. Kadang cintanya manusia palsu penuh dengan topeng. Manusia bisa menipu atas nama cinta.”
4
Semua semakin jelas ketika ditafsirkan kecuali kerinduan. Begitu adanya—rindu selalu datang dalam bentuk harapan kosong. Aku tidak tahu apa yang tumbuh dalam dadaku, pertemanan atau lebih dari itu. Tapi aku merasa nyaman ketika kamu mulai rajin membacakan puisi-puisi di depanku. Masih terekam jelas ketika kamu pergi terakhir kali dengan bus malam. Semenjak itu kabarmu tidak terdengar lagi.
Bus patas dengan tempat duduk dua-dua. Interior lampu busnya dominan berwarna biru. Kasur tempat duduk penumpang bersih dan harum semerbak ketika orang-orang baru saja memasuki ruang kabin. Tidak ada bau keringat apalagi amis ikan, pantas saja perempuan yang sempat kukenal gemar menaiki bus yang kini kutumpangi. Aku sengaja berangkat malam, persis seperti yang kulakukan ketika mengantarkanmu terakhir kali. Hal yang kulakukan adalah menaiki bus dan duduk di tempat yang pernah kamu duduki.
Hal itu yang kulakukan ketika aku rindu padamu. Hanya bus malam ini yang jadi obat. Aku tetap tugur menikmati jalanan ditemani lampu-lampu kota dan jalan tol. “Yang baru … yang baru.” Ucap kondektur bus. Kuperhatikan penampilannya necis, pakai jam tangan dan bersepatu. Selekas mungkin kuraih uang di kantong kiri celana. Kondektur itu meraih uangku dan menyodorkan uang kembalian beserta karcisnya.
“Kita sampai di kota tujuan pukul berapa?” ucapku pada kondektur bus yang tepat berada di sampingku.
“Pukul tiga dini hari, Mas!”
Mendengar suara ketusnya aku tidak bertanya panjang lebar. Kualihkan pandanganku ke arah kaca luar. Banyak mobil-mobil berseliweran menyalip kanan dan kiri. “Hati-hati, Pak. Jangan sampai kejadian yang kemarin terulang lagi.” Sergah salah satu penumpang di depanku.
Penumpang di depanku mulai menggerutu. Awalnya kumaklumi karena dia seorang ibu-ibu. Tapi lama-lama aku tidak tahan juga dengan gerutunya itu. Dia agaknya merasa kecewa. “Memangnya kenapa, Bu?” Aku memberanikan diri mengajukan pertanyaan.
Dia mendongakkan kepalanya ke arahku. Ibu itu lalu menjelaskan bahwa dia sangat sering menaiki bus malam ini. Sebenarnya bus yang dinaikinya merupakan pengganti dari sebelumnya. Bus yang lama nahas, menabrak pembatas jalan kemudian menerjang bagian belakang truk. Bus itu terguling. Hanya satu penumpangnya yang selamat. Anak-anak berumur sepuluh tahun. Yang lainnya meninggal dunia.
***
Sudah tahu alasanku sekarang kenapa aku menempuh jarak ratusan kilometer? Berharap bisa kembali mendengarkan kamu baca puisi-puisi cinta di depanku. Aku ingin peristiwa pertama kali melihatmu terulang lagi. Tapi begitulah, kenangan kerap datang dengan rupa kecewa. Aku tetap memilih melanjutkan perjalanan. Mengikuti arah langkah kaki dan bertemu dengan banyak orang yang menganggapku gila.
(*)