Taman Cahaya yang tak Habis Berbunga

OH, MASJID SULTAN

Oh, Masjid Sultan,
kubah emasmu memantulkan matahari
berkilau bagai mahkota raja tua
yang berdiri di tengah arus dunia.

Aku datang padamu
tahun 2016, membawa tasbih
dari tanah seberang.
Seusai shalat aku duduk bersila,
baru sebiji istighfar melayang,
penjaga datang, berwajah bayang hitam:
“Bangun, jangan tidur di sini!”

Aku diusir,
seperti daun jatuh dari mihrab.

Oh, Masjid Sultan,
dari doa Sultan Husain Syah engkau lahir,
batu-batumu dipanggul rakyat,
menjadi jantung kesultanan,
tempat darah Melayu beredar
ke gang-gang dan pasar-pasar,
ke istana dan rumah pedagang.

Oh, Masjid Sultan,
rumah leluhur yang megah,
namun dijaga seketat museum,
di mana wirid dianggap tidur,
dan munajat terseret keluar pintu.

Lantai sembilan hotel jadi mihrabku.
Aku sujud di sana,
wirid dalam sunyi,
sementara mataku menatap kubahmu
yang berkilat dari jendela malam.

Azan berlari ke mataku,
doa menetes di kaca,
rohku dipeluk cahaya
yang menyeberang dari kejauhan.

Oh, Masjid Sultan,
tahun 2025 aku kembali padamu,
Singapura gemerlap bagai cermin raksasa.
Aku tak masuk lagi,
hanya memandang dari balik tirai hotel.

Kubacakan al-Fatihah
kepada Sultan Abdurrahman,
kepada tukang batu yang memanggul doa,
kepada ruh-ruh yang masih berjaga
di dindingmu yang dingin.

Oh, Masjid Sultan,
indah, terawat, dijaga ketat,
namun kini engkau bagai tubuh
dengan nadi yang pelan berdenyut.

Jantungmu tidak lagi memompa
ke gang-gang dan rumah-rumah Melayu,
kau lebih mirip cermin nostalgia
yang dipajang di tengah badai peradaban.

Oh, Masjid Sultan,
di hadapanmu aku hanyalah bayang seorang musafir,
namun bayang ini menyatu
dengan arwah tukang batu,
dengan doa Sultan Abdurrahman,
dengan semua darah yang menyalakan kubahmu.

Dan ketika aku menutup mata,
aku melihat engkau bangkit
sebagai kuda putih berlari
menembus malam Singapura,
membawa Melayu
ke takhta cahaya.

Singapura, 2025

.

.

.

BILA

Bila semua keindahan
dan kebaikan itu bersumber dari Allah,
Al-Kamaliyah,
maka wujudnya ialah Al-Qur’an
taman cahaya yang tak habis berbunga,
huruf-hurufnya berputar
seperti daun yang menari
di napas angin rahmat-Nya.

Bila Al-Qur’an itu bernafas
dan hidup pada manusia,
maka wujudnya ialah Rasulullah,
yang menuntun langkah,
menyalakan cahaya
dalam setiap jiwa.

Bila cahaya kekasih itu
menyentuh darah manusia,
maka wujudnya ialah bapak ibu,
dua wajah cinta
yang menangis dan tertawa
demi sepotong surga
di pelukan anaknya.

Bila kasih itu bergetar
seperti seruling bambu yang rindu hutan,
maka wujudnya ialah jiwa yang bersujud,
mencium debu kaki waktu,
mendengar Tuhan bersenandung
dalam setiap hembusan napas.

Bila rindu itu terus menyalakan nyala,
maka wujudnya ialah insan yang mencari,
yang menempuh jalan pulang
di antara gelap dan cahaya,
hingga seluruh semesta
berzikir bersama namanya.

2025
.

.

.

GUS AZHAR DARI SINGAPURA

Tiga kali engkau singgah,
namun tak terjumpa
seperti bayang yang melintas di lorong kampus,
meninggalkan jejak kata
tanpa wajah.

Wajahmu muda bagai daun basah,
usia lima puluh
menyamar jadi tiga puluh.
Aku tertegun:
mengapa waktu
enggan menuliskan kerut
di keningmu yang teduh.

Dari Banyuwangi darah ibumu mengalir,
menyambung tanahku dengan seberang.
Aku seperti melihat
bayangan nenek moyang
menyapa lewat senyum
yang kau titipkan.

Ilmu shalawatmu mengalir
seperti sungai pesantren,
namun rambutmu menyala pirang
bagai musim panas Eropa.
Aku terkesiap:
ada kitab kuning bersampul emas,
ada dzikir sunyi
dalam tubuh kosmopolitan.

Engkau ramah seperti air jernih,
lembut seperti doa ibunda.
Aku menyebutmu Gus Azhar,
mengingatkan aku pada ulama
yang telah wafat,
namun roh ilmunya
berdenyut di antara kita.

Singapura berdiri dengan tiang baja,
jalan-jalan berkilau kaca,
namun di tengahnya engkau bagai pohon teduh:
tempat musafir bernaung,
tempat kata-kata beristirahat,
tempat ilmu menetes jadi rahmah.

Kau bukan sekadar guru,
bukan sekadar pemikir,
tetapi bayang cahaya
yang menolak sirna,
suara yang menolak padam,
denyut yang menyalakan
hati-hati yang haus.

Engkau bukan saja seorang lelaki,
tetapi jembatan
yang menghubungkan pulau dengan pulau,
sejarah dengan masa depan,
kata dengan doa,
dan aku dengan diriku sendiri.

Gus Azhar,
aku melihatmu berdiri
di atas tiang-tiang kota,
membawa suara Melayu
menyilang laut,
menyalakan obor
di tengah badai peradaban.

2025

.

.

.

BALADA ROHANI DIN

Rohani Din, rohani Melayu,
dari kampung kata engkau lahir,
dari rahim sejarah engkau tumbuh,
membawa suara perempuan
yang tak pernah padam.

Rohani Din, rohani Melayu,
namamu bergetar seperti rebana,
berdenting seperti gendang laut,
bergema di dada penulis muda
yang haus akan cahaya.

Engkau datang ke Purwokerto,
bersama Fileski yang setia.
Tak menanyakan honor,
tak meminta upah,
hanya menyerahkan senyum
dan novel Kemelut Hati

sebuah obor kecil
yang mengusir gelap
di ruang kuliah.

Rohani Din, rohani Melayu,
kata-katamu menjelma sungai,
mengalir di antara buku-buku,
menghidupi akar kata,
menyirami dahaga jiwa.

Aku ingat langkahmu, Bunda,
yang renta namun tegar,
menyeberangi lautan waktu
untuk berbagi cerita:

bahwa perempuan Melayu
tak pernah berhenti bersuara,
bahwa pena masih bisa
mengalahkan sunyi.

Rohani Din, rohani Melayu,
ketika aku menjejak Singapura,
Changi berkilau
bagai cermin raksasa.

Namun dari riuh penumpang itu
akulah yang engkau jemput,
dengan tangan yang hangat,
mata yang teduh,
dan langkah yang lambat
tapi penuh kasih.

Engkau bawa aku dan istriku
ke rumahmu yang ramah.
Memberi tempat shalat,
memberi mandi,
memberi sarapan pagi

bukan makanan semata,
tetapi kasih.
Bukan hidangan semata,
tetapi doa.

Rohani Din, rohani Melayu,
engkau lebih dari sekadar nama:
engkau pelita di gang kecil,
engkau doa yang tak letih,
engkau denyut yang membuat
Melayu tetap hidup
di tengah kota baja dan kaca.

Oh, Bunda Rohani,
meski tubuhmu renta,
rohmu tetap muda:
roh yang membangunkan kata,
roh yang menyalakan puisi,
roh yang mengalirkan kasih
ke setiap wajah
yang menemuimu.

Rohani Din, rohani Melayu,
engkau bukan hanya perempuan,
engkau bukan hanya sastrawati.

Rohani Din, rohani Melayu
engkau merpati putih,
terbang menembus langit zaman,
membawa suara kasih
ke cakrawala Melayu.

2025

.

.

.
BALADA YATIMAN YUSOF

Di lorong-lorong kenangan,
nama-nama desa di Pati berbisik pelan,
mengalir dalam aliran waktu,
menghubungkan tanah air dan laut jauh
dengan kata-kata yang lembut dan tegas.

Dia berjalan di antara buku dan pena,
mengangkat huruf-huruf menjadi pelita,
menulis bukan untuk sekadar dibaca,
tetapi untuk ditemui,
oleh mereka yang haus
pada rasa dan akal.

Di meja diplomatiknya,
kertas dan tinta menjadi jembatan,
menghubungkan manusia dari jauh dan dekat.
Di setiap kata, ada kehangatan,
di setiap doa, ada rahmah yang tersimpan.

Dia tersenyum pada dunia,
tanpa menuntut balasan,
meninggalkan jejak lembut
di hati yang menatap dan menyimak,
seperti cahaya pagi
yang menembus jendela.

Pengalaman hidupnya bercampur dengan sejarah,
mengalir seperti sungai yang tenang,
menyapa anak-anak bangsa,
menjadi pengingat
bahwa kata adalah janji,
bahwa pena adalah pelita.

Di malam yang tenang,
namanya bergaung dalam hati,
tidak riuh oleh gemerlap kota,
tetapi abadi dalam ruang-ruang hati,
menjadi saksi bisu perjalanan seorang manusia,
yang hidupnya menyatu
dengan kata dan rahmah.

2025
.

.

.
BALADA PUAN NURAINI

Di lorong National Library,
mata teduh menembus riuh pengunjung,
senyum lembut berkilau,
bahasa Melayu halus mengalun
di antara rak-rak pengetahuan dan kaca kota.

Roh cahaya melintasi rak-rak,
membawa bayangan antara Bangla dan Madura,
rahasia yang menyeberangi sejarah,
menghubungkan pulau, laut, dan tanah kelahiran.

Oh, rahmah, rahmah yang menembus!
Pagi menyapa dengan wudhu dan doa,
sarapan bukan sekadar makanan,
tetapi gelombang rahmah
yang menyalakan hati-hati yang padam.

Istighfar berbisik di udara,
shalawat mengalun lembut,
Fatihah melintasi wajah-wajah yang haus,
menjadi aliran kasih,
menjadi sungai yang menghidupkan lorong-lorong kaca.

Oh, rahmah, rahmah yang menembus!
Kekayaan hadir sebagai bayangan,
namun anggun dan mulia menuntun tangan,
sapa tetap hangat, langkah tetap lembut,
gelombang rahmah menembus segala hiruk-pikuk,
mengalir dari satu hati ke hati lain,
mengalir bagai angin yang menyalakan lentera-lentera malam.

Ia adalah lentera yang berjalan,
cahaya yang menembus lorong-lorong kota,
menghidupkan nurani yang padam,
menabur rahmah di setiap sudut.

Tatapan yang jernih,
suara yang lembut,
mengalir seperti air,
menghadirkan kebaikan
di setiap sudut Singapura.

Oh, rahmah, rahmah yang menembus!
Dan ketika malam menutup jendela kota,
cahaya itu tetap hidup,
menjadi angin lembut
yang menyapu National Library dan jalanan,
mengukir jejak Melayu
di tengah riuh gemerlap dunia,
mengalir, mengalir, mengalir
hingga lorong menjadi nyala,
hingga hati menjadi lagu.

2025

.

.

.
BALADA MANUSKRIP ISLAM
Untuk Prof. Dr. Haji Brahim bin Ampuan Haji Tengah

Di lorong-lorong malam yang bergelut dengan cahaya,
manuskrip menangis dalam bahasa perak,
huruf-huruf menari di udara,
menebarkan rahasia dari bumi ke bulan,
dan waktu menahan napasnya, takut terlepas.

Seorang lelaki berjalan dengan peci hitam,
seperti kabut yang memeluk dinding waktu,
tangannya menepuk pena yang berdarah cahaya,
menulis nama para wali yang tertidur,
menutup luka sejarah dengan doa yang bergetar.

Api menyala di antara halaman yang rapuh,
menggigit sunyi, menyiram nurani,
kata-kata berloncatan seperti kuda liar,
membentuk bayangan di dinding malam,
dan rahasia bangkit, menggeliat, menjerit.

Sastra Melayu menari dalam gemuruh angin,
mengalir bersama ayat yang bersyair,
setiap nada adalah darah, setiap jeda adalah pelukan,
menghubungkan pulau, kota, manusia,
menjadi sungai cahaya di tengah bangsa yang haus.

Di ruang yang sunyi, namun bergetar,
matahari dan bulan menunduk, menunggu,
dan di tangannya, setiap halaman menjadi nyawa,
setiap huruf adalah doa, setiap garis adalah rahmah,
menjadi bayangan yang menembus dinding malam,
suara yang bergema di antara bintang-bintang yang menangis.

2025

BALADA ABANG
Untuk Dr. H. Abang Patdeli bin Abang Muhi

Malam membakar dirinya sendiri.
Abang berjalan, peci hitamnya menangkap semua bayangan.
Huruf-huruf berlari.
Kuda-kuda liar menjerit di udara.

Manuskrip menangis.
Halaman menghembuskan doa para wali.
Abang menulis, menulis, menulis.
Doa menyalakan nurani yang bersembunyi.

Api menggigit setiap kata.
Sastra Melayu menari dengan ayat suci, ular yang memeluk dunia.
Abang menunduk, menyelipkan rahasia di setiap celah.
Kata-kata pecah, membelah kegelapan.

Bayangan menyatu dengan cahaya.
Setiap garis adalah darah.
Setiap huruf adalah napas malam.
Abang menyalakan balada yang hidup di tubuh yang bisu.

Ia bukan sekadar manusia.
Ia malam yang berbicara, api yang menari,
bayangan yang menuntun,
sebuah legenda yang menembus jiwa.

Di ruang yang sunyi, namun bergetar
Abang menulis, dan dunia menunduk.

2025

BALADA PERTEMUAN DI UM
Untuk Prof. Dr. Hashim Ismail

Di halaman Universiti Malaya,
angin membawa bau tinta dan sejarah;
pohon tua berbisik dalam bahasa rahasia,
dan matahari menatap dari sela menara ilmu
dengan mata para cendekia
yang menulis cahaya di atas batu-batu waktu.

Seorang lelaki berdiri di antara bayang dan terang,
langkahnya bagai doa yang berulang,
membaca manuskrip langit
dan menulisnya kembali di dada bumi.
Suaranya seperti gema azan pengetahuan,
menggetarkan daun,
membangunkan nama-nama yang tertidur
dalam kamus peradaban.

Di matanya, Melayu bukan sekadar kata,
melainkan sungai panjang
yang mengalir dari doa ibu,
menyatu dengan laut sejarah,
mengangkat perahu bahasa
menuju benua yang tak lekang.

Kampus menjadi mihrab;
setiap buku, dzikir yang menyala.
Huruf-huruf berloncatan dari halaman
menjadi burung-burung putih,
menyapa langit,
mencari makna yang hilang di cakrawala.

Oh, malam Kuala Lumpur,
kau saksi dua cahaya bersua:
Melayu dan Indonesia,
dua lidah dari satu akar,
bertemu dalam tutur dan rasa,
dalam ziarah kata yang tak pernah putus.
Dari lembah Malaya ke bukit Nusantara,
mereka menulis kembali makna persaudaraan
dengan tinta persamaan dan takdir kebersamaan.

Kini, waktu kembali diam;
namun di lorong fakultas
masih terdengar langkahnya:
menyusuri sejarah,
meninggalkan aroma tinta
dan gema syair yang tak selesai disyairkan waktu.

2025

BALADA GANJAR DAN BAHASA INDONESIA
Untuk Dr. Ganjar Harimansyah

Di halaman Badan Bahasa,
angin menari membawa harum lontar dan tinta,
kata-kata bergetar: tubuh, jiwa, darah bangsa
menunggu langkah Ganjar menyalakan sejarah.

Dia muncul
oh, takdir berjalan di lorong ilmu,
mata menatap rak-rak buku
seakan membaca langit.

Langkahnya ringan,
tetapi pikir menembus dinding-dinding ruang,
mengubah diam menjadi gema,
menganyam angan menjadi jembatan
bagi anak-anak bangsa
yang belum lahir,
yang masih terbungkus bayang masa depan.

Badan menjaga nadi,
bahasa mengalir bagai sungai yang deras.
Cahaya pikir menembus setiap sudut,
menyingkap rahasia,
menyulam Sunda, Jawa,
dan seluruh Nusantara

menyampaikan:
takdir adalah permulaan,
ganjaran kebaikan menanti di ujung langkah,
bergema dalam setiap huruf,
setiap desah lantunan sejarah.

Oh, malam Indonesia
mendengar langkahnya.
Lampu-lampu menatap,
bayangan dan cahaya berpadu.

Dari Sunda,
dari Jawa,
dari pulau-pulau berbisik,
dia menulis takdir menjadi pahala,
menganyam ganjaran menembus ruang dan waktu,
mengubah angan menjadi harapan,
mengubah pikiran menjadi karya
yang menyapa bangsa,
menjadi bait-bait hidup
terukir dalam nadi peradaban.

Kini gedung diam
tapi, oh, langkah Ganjar masih terdengar.
Cahaya pikir dan bayangan angan
menyusuri Bahasa,
memeluk Badan,
memeluk rahasia.

Meninggalkan ganjaran tak berkesudahan
yang terus mengalir
seperti sungai takdir yang menuntun.

Karena takdir adalah
awal segala langkah anak-anak bangsa,
dan ganjaran iman
adalah akhir yang indah
menjadi Indonesia.

2025

Bagikan:

Penulis →

Abdul Wachid B.S.

Lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Wachid lulus Sarjana Sastra dan Magister Humaniora di UGM, dan menjadi dosen di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Abdul Wachid B.S. lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (15/1/2019). Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022). Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *