Benjamin Frederik Matthes (1818-1908) adalah salah satu nama yang sering mengisi entri halaman daftar pustaka dalam karya tulis mengenai sejarah dan kebudayaan Bugis-Makassar, tetapi jarang hadir dalam percakapan kita hari ini. Padahal, ia berperan besar terhadap penggalian dan pengarsipan khazanah kebudayaan Bugis. Selain mengumpulkan dan menyalin naskah epos I Lagaligo bersama Colliq Pujiè, ia juga mendokumentasikan bahasa Bugis dengan menyusun Kamus Bugis-Belanda (1874), dan menulis Ilmu Tata Bahasa Bugis (1875). Namanya seolah terimpit di bawah tilam. Kekosongan inilah yang coba dihadirkan Alan TH melalui novelnya.
Alan TH menulis novel trilogi berlatar sejarah dunia abad ke-19 di mana Sulawesi Selatan (Celebes Selatan) turut terhubung, dan pengumpulan naskah I Lagaligo menjadi episentrum peristiwanya. Novel pertama berjudul Matthes, terbit 2024. Kehadiran karya ini merupakan kesempatan untuk menilik ulang sosok Matthes dan keberadaannya pada dua kutub peradaban: Eropa dan Bugis.
Matthes adalah seorang ahli bahasa, sastra, dan teologi, yang menerima misi dari Lembaga Alkitab Belanda (Nederlandsch Bijbelgenootschap) untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan Makassar. Novel ini menggambarkan bagaimana perjalanan intelektual Matthes dan pertemuannya dengan khazanah pengetahuan dan nilai-nilai kebudayaan dalam karya sastra Bugis, yang tak pernah ia bayangkan berada di luar tradisi Eropa.
Di beberapa bab awal novel, Alan menyajikan data-data sejarah yang melukiskan negara-negara Eropa dengan semangat zaman kolonialismenya: persaingan negara kolonial (Inggris dan Belanda) dalam memperluas wilayah koloni, kebijakan ekonomi-politik mereka terhadap negara jajahan, dan produksi pengetahuan yang mengukuhkan dominasi dan otoritas mereka. Salah satu adegan yang memerikan hal ini ditampilkan oleh Alan dalam dialog Sekretaris Nederlandsch Bijbelgenootschap, Profesor Nieuwenhuis bersama Matthes:
“Sejarah telah menunjukkan bukti-buktinya. Bangsa-bangsa yang beriman, seperti bangsa kita ini, menjadi kuat dan maju karena iman Kristen. Kita sudah melewati zaman pencerahan dan reformasi, dan sekarang menjadi modern. Sangat maju. Kita terpilih untuk mengabarkan firman Tuhan yang kita imani kepada seluruh umat manusia. Seluruh manusia di muka bumi ini harus menjadi beradab berdasarkan iman Kristen. Misi kita adalah misi peradaban, Tuan Matthes,” (hal. 22).
Matthes mencemaskan pernyataan Profesor Nieuwenhuis yang mengabsolutkan kebenaran pengetahuannya tentang iman Kristen sebagai standar peradaban. Namun, ia memilih diam. Matthes memahami bahwa pengetahuan tentang keimanan adalah konsepsi, dan konsepsi bergantung pada bahasa. Kendati Matthes bertindak sebagai agen kolonial, ia belum sepenuhnya sepengertian dengan prinsip-prinsip kolonialisme. Ambivalensi sikap Matthes inilah yang menjadi ketegangan di sepanjang novel.
Ambivalensi Matthes semakin menguat ketika ia membaca buku The History of Java karangan Thomas Stamford Raffles, mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Raffles mengesankan negara-negara Eropa, terutama Inggris, lebih beradab, sementara negara Timur lemah dan perlu dibina. Di bagian akhir buku itu, Matthes menemukan aksara Celebes. Namun, Raffles menyebut huruf-huruf itu kuno tanpa menggunakan tolok ukur yang jelas. Bagi Matthes, berbahasa adalah berpengetahuan. Matthes menyadari bahwa penggunaan bahasa oleh Raffles merupakan hasil konstruksi yang hendak mengukuhkan otoritas kolonial. “Dengan huruf-huruf ini saja, menyebut orang-orang Hindia sebagai tidak beradab sudah batal, jelas salah. Mereka adalah orang-orang dengan adab yang berbeda,” tulis Alan TH melalui suara batin Matthes (hal. 83).
Jika dalam teks produk kolonial itu Matthes menemukan aksara Celebes/lontara yang direduksi, setiba di tanah Celebes, ia menjumpai lontara yang hidup. Pada titik inilah ia mula-mula mengenal karya sastra epos I Lagaligo dan takjub terhadapnya. Sebagai seseorang yang memilki kedalaman pengetahuan mengenai karya sastra, ia mengerti bahwa I Lagaligo adalah puisi, dan puisi adalah simbol, ekspresi budaya tinggi yang memuat banyak makna. Dan orang-orang Celebes Selatan sudah terbiasa bertukar pesan menggunakan simbol-simbol.
Matthes menginsafi bahwa untuk menjalankan misinya, ia harus membuat kamus dan tata bahasa Bugis-Makassar terlebih dahulu. Dan langkah awal untuk itu ialah mengumpulkan kosakata serta memahaminya dari naskah I Lagaligo yang tersebar di banyak tempat. Kesadaran itu mendorongnya melangkah lebih jauh.
Demi mengumpulkan naskah I Lagaligo, ia kemudian memutuskan untuk memasuki wilayah-wilayah pedalaman Celebes. Pada tahap inilah Matthes bertemu dengan Colliq Pujiè, seorang bangsawan Tanete yang menyimpan dan memahami banyak hal mengenai I Lagaligo. Sekitar dua bulan lamanya Matthes bertukar pikiran bersama Colliq Pujiè, dan semakin ia menyimak penuturannya, semakin ia terkesima akan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Colliq Pujiè.
Dalam pemahaman saya, segala perjalanan Matthes yang digambarkan oleh Alan TH dalam novel ini, juga dapat dilihat sebagai pelukisan kuasa bahasa dalam pertarungan epistemik, antara imperial versus vernakular. Epistemologi imperial mengoperasikan bahasa sebagai alat dominasi. Ia menempatkan kolonial sebagai subjek yang unggul dan beradab, sementara yang terjajah diposisikan sebagai tertinggal dan terbelakang. Sistem pengetahuan ini menegaskan distansi dan hierarki secara politik dan budaya, juga memonopoli definisi apa yang layak disebut kebenaran, kebaikan, dan keluhuran.
Sebaliknya, epistemologi vernakular adalah upaya membangun negosisasi atau bahkan menolak dominasi dari cara pandang kolonial. Adegan yang menunjukkan ini ialah dialog Mr. Mesman bersama Matthes: “Terlalu banyak yang tidak diketahui Eropa tentang negeri-negeri jajahan dan manusianya…. Andalah yang mendapat panggilan sejarah untuk memberi tahu dunia tentang Bugis dan Makassar, Hindia, dan segala peradabannya. Boleh saja Nederland dan agama kita membebankan misi kepada Anda untuk Hindia, untuk Celebes Selatan, tapi sejarah selalu punya kehendaknya sendiri, Celebes Selatanlah yang sekarang memberikan misi untuk Anda,” (hal. 411).
Di antara dua kutub peradaban inilah Matthes tampak sebagai agen ganda. Ia bertindak sebagai agen kolonial yang mengemban misi religius, dan di sisi lain sebagai agen pengetahuan Bugis yang mengemban misi membuka ruang bagi penyetaraan epistemik atau dekolonisasi.
Pada umumnya, novel berlatar sejarah yang berangkat dari sosok individu semacam ini cenderung melakukan glorifikasi dan intelektualisme berlebihan. Saya pikir, Alan TH mampu menghindari kedua hal tersebut. Uraiannya tentang sejarah dan situasi politik terasa cukup untuk hadir sebagai konteks peristiwa atau adegan. Hal ini membantu pembaca mendapatkan orientasi agar adegan dan dialog dapat terpahami.
Di luar dari pembacaan secara tematis di atas, ada aspek kepenulisan yang saya kira perlu mendapat sorotan. Penggunaan kata “hmm” sebagai bentuk artikulasi bergumam misalnya. Sepanjang novel, kata ini digunakan sebanyak 18 kali dan fungsinya tidak begitu berpengaruh untuk menciptakan karakterisasi tokoh maupun meningkatkan ketegangan.
Pada akhirnya, sebagai bahan retrospeksi kita: sejauh mana sebetulnya Alan merekonstruksi sosok Matthes? Apakah sikap politiknya terhadap kolonialisme sesuai dengan keadaan faktualnya? Bila arsip kelak menunjukkan bahwa Matthes memang menyimpan sikap kritis terhadap dominasi pengetahuan kolonial sebagaimana yang tergambar dalam novel, saya pikir ia layak mendapatkan penghormatan kita. []